فَلْيَنْظُرِ
الإِنْسَانُ إِلَى طَعَامِهِ
Hendaklah
Manusia Memperhatikan Makanannya
Tanya: Mengapa Allah swt
memerintahkan kita untuk memperhatikan makanan kita dalam firman-Nya:
فَلْيَنْظُرِ
الْاِنْسَانُ اِلٰى طَعَامِهٖٓ ۙ
Maka hendaklah manusia itu
memperhatikan makanannya. (80:24).
Mengapa?
Jawab: Allah swt telah
memerintahkan kita untuk memikirkan semua makhluk-Nya, dan pada ayat di atas
kita diminta memperhatikan apa yang kita makan, karena makanan termasuk
ciptaan-Nya dan telah dijelaskan sebelumnya bahwa pada semua makhluk terdapat
tanda dan bukti tentang sebagian sifat-sifat Allah swt.
Tanya: Sifat Allah
apakah yang dapat kita kenal melalui perhatian kita terhadap makanan?
Jawab: Banyak sekali,
diantaranya bahwa Allah swt Dialah:
الرَّازِقُ
Ar-Raziq (Maha Memberi rizki),
العَلِيْمُAl-‘alim
(Maha Mengetahui),
الخَبِيْرُAl-Khabir
(Maha Dalam Pengetahuan-Nya),
الحَكِيْمُAl-Hakim
(Maha Bijaksana),
الرَّحِيْمُAr-Rahim
(Maha Penyayang),
الكَرِيْمُAl-Karim
(Maha Mulia dengan pemberian-Nya),
الهَادِيAl-Hadi (Maha memberi
petunjuk),
المُحْيِيAl-Muhyi
(Maha Menghidupkan),
dan المُصَوِّرُAl
Mushawwir (Maha Membentuk).
Tanya:
Bagaimana kita mengetahui bahwa Allah adalah الرّزَّاقُ
(Ar-Razzaq – Maha Pemberi rizki)?
Jawab :
Allah swt Dialah yang memberi makan kepada janin dalam rahim ibunya. Ibu, ayah,
pemerintah, masyarakat, atau siapapun tidak mampu memberi rizki kepadanya.
Allah telah membuat untuknya tali pusat dari perut janin sampai ke dinding
rahim ibunya, dan melalui tali pusat inilah Allah swt memberikan makanan
untuknya selama sembilan bulan. Tatkala bayi lahir, dan tali pusat digunting,
Allah swt menutup saluran itu dan membuka jalan lain bagi masuknya makanan
(mulut, kerongkongan, lambung, usus, dan semua alat pencernaan makanan
lainnya).
Apakah ibu
kita yang menghentikan fungsi tali pusat tersebut? Lalu memfungsikan mulut dan
sebelumnya menciptakan alat pencernaan yang lain? Apakah ayah kita ikut andil
melakukannya? Apakah pemerintah negara kita atau masyarakat terlibat dalam
pembuatan setetes darah atau satu pembuluh darah? Ataukah semua itu dilakukan
oleh gunung, pohon, bintang, planet, atau benda lain di alam semesta ini?
Mereka kah yang mengatur semua rizki bayi itu???!
Setelah kita
keluar dari rahim ibu, kita belum dapat memakan buah-buahan dan biji-bijian,
roti atau daging. Sedangkan makanan kita yang sebelumnya datang melalui tali
pusat kini telah terputus, lalu apakah Allah swt meninggalkan kita tanpa
rizki??
Ternyata
tidak. Dia telah membuka untuk kita sumber rizki yang baru berupa air susu ibu
yang sebelum melahirkan kita ibu tak memilikinya. Lalu Allah swt mengilhamkan
kita untuk mengisap puting susu ibu agar mengeluarkan susu, padahal saat itu
kita belum tahu apa-apa.
Apakah alam
yang tak berilmu sedikitpun itu ‘tahu’ bahwa ada sekian banyak bayi telah
keluar dari rahim ibunya, dan makanan mereka dari tali pusat telah terputus,
lalu ia menciptakan air susu ibu? Bagaimana
mungkin bisa sedangkan alam semesta ini buta, tuli, dan tidak memiliki
pengetahuan sedikitpun.
Adakah makhluk lain yang turut
berkontribusi menyediakan air susu ibu bagi kita. Ibu kita yang susunya kita
minum tidak pernah melakukannya, ia hanya tunduk dengan aturan yang telah
ditetapkan oleh Rabb-nya, Allah swt.
Namun, sampai kapan kita bergantung kepada
ASI? Padahal adik-adik kita juga membutuhkannya. Akan tiba saatnya kita harus
berpisah dari rizki ASI tersebut kepada rizki yang lain..
Jadi, yang telah memberi rizki kepada kita
di dalam rahim… Yang telah menyiapkan rizki kita kemanapun kita pergi.. Yang telah menyediakan tanah untuk
tumbuh-tumbuhan yang kita makan.. Yang telah menciptakan air bagi kebutuhan
kita dan kebutuhan tanaman yang kita makan.. Yang telah menyediakan oksigen
untuk tanaman agar dapat memproduksi makanan… Yang telah menciptakan matahari
yang sinarnya amat dibutuhkan bagi fotosintesis.. Yang telah menciptakan jumlah
tak terhingga tanaman untuk konsumsi manusia… Adalah Allah swt…
Dialah yang mengeluarkan untuk kita
buah-buahan.. Jika buahnya kecil, Dia jadikan buah itu berada dalam bulir
seperti padi dan gandum, atau berkumpul pada tangkai seperti anggur. Bila
buahnya besar atau sedang, Ia jadikan satu-satu seperti apel, jeruk, durian, …
Allah juga menjadikan untuk kita barisan
gigi, ada gigi seri untuk memotong, taring untuk mencabik, geraham untuk
mengunyah. Lalu ia jadikan lidah dan liur serta enzim-enzim untuk memudahkan
kita memakan buah-buahan.
Demikianlah dengan memikirkan
makhluk-makhluk Allah, kita dapat mengenal Allah swt sebagai Ar-Raziq - Maha
Pemberi rizqi.
Tanya : Lalu bagaimana kita mengetahui sifat-sifat Allah
lain yang tadi disebutkan?
Jawab : Kita mengenal bahwa Allah adalah العَلِيْمُ Al-‘Alim
(Maha Mengetahui), karena Zat yang telah menyediakan dan menyampaikan makanan
kepada Anda ketika Anda di rahim ibu telah mengetahui bahwa Anda amat
membutuhkan makanan tersebut, maka Diapun menyediakannya, dan menciptakan tali
pusat sebagai sarananya. Tatkala Anda keluar dari rahim ibu Anda, Dia Maha tahu
akan hal itu maka Dia sediakan untuk Anda air susu ibu. Allah Maha mengetahui
air di tanah yang dibutuhkan oleh tanaman yang Anda butuhkan, maka Dia ciptakan
akar untuk dapat menyerap air. Allah mengetahui bahwa daun-daun pepohonan
membutuhkan sinar matahari, maka Dia ciptakan dedaunan menantang matahari, Dia
tahu bahwa segalanya yang dibutuhkan tanaman. Jadi, tidak dapat disangsikan
lagi bahwa Allah, Dialah Pemberi Rizki Yang Maha Mengetahui.
Tanya : Dan bagaimana kita mengetahui bahwa Allah swt
adalah الحَكِيْمُ
(Al-Hakim - Maha Bijaksana)?
Jawab : Jika Anda menyaksikan ketelitian dan kesempurnaan
antara bentuk dan struktur tali pusat dengan tubuh janin yang keduanya
berkembang seirama dan seimbang di mana tali pusat berkembang sesuai
perkembangan tubuh janin dan rahim ibu,… dan jika Anda melihat kesempurnaan
dalam pembentukan air susu ibu yang komposisinya selalu menyesuaikan
perkembangan dan kebutuhan bayi, … dan jika Anda menyaksikan ketelitian dan
kesempurnaan dalam pembentukan bagian-bagian tumbuhan atau tanaman, dalam teِrbentuknya buah dan pemeliharaannya
sebelum dipetik,… semua itu menjadi saksi bagi kita bahwa Pencipta mereka
adalah Pemberi rizki yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.
Tanya : Bagaimana kita mengetahui bahwa Allah swt adalah ِالخَبِيْرُ (Al-Khabir - Maha Dalam
Pengetahuan-Nya)?
Jawab : Sesungguhnya pemindahan dan transportasi makanan
ibu yang telah ditelan kepada tubuh janin melalui darah dan lewat tali pusat
tidak mungkin terjadi kecuali dengan pengetahuan yang maha dalam dan luas.
Tidakkah Anda memperhatikan bahwa
menyuntikkan jarum ke pembuluh darah untuk mengirimkan obat ke tubuh pasien
memerlukan kecermatan? Lalu bagaimana dengan proses pemindahan makanan
terus-menerus dalam waktu sembilan bulan dari tubuh ibu ke janin?
Demikian pula proses produksi dan
mengeluarkan susu dari makanan yang dikonsumsi ibu tidak dapat dilakukan
kecuali dengan pengetahuan yang maha luas dan dalam.
Sebagaimana pembentukan benih, biji,
hingga buah yang beragam bentuk, warna dan rasanya padahal tanah yang mewadahi
tumbuhnya tanaman tersebut mungkin satu dan juga disiram dengan air yang sama
dan menghirup udara yang sama disinari sinar matahari yang sama.
Ingatlah, bahwa semua itu menjadi saksi
bahwa mereka diciptakan oleh Yang Maha Luas dan Dalam Pengetahuan-Nya, Maha
Pemberi rizki, Maha Mengetahui, dan Maha Bijaksana.
Tanya : Bagaimana kita mengetahui bahwa Allah itu الرَّحْمنُ (Ar-Rahman - Maha Pengasih)?
Jawab : Bila kita menyadari betapa lemahnya janin dalam
perut ibunya dimana ia tak kan mampu mengatur dan memperoleh rizkinya, jika
kita merenungkan dan menyadari betapa lemahnya seorang bayi untuk memenuhi
kebutuhannya sendiri, betapa amat sangat tak berdayanya manusia untuk dapat
membuat biji padi atau buah-buahan sebagai makanannya, menciptakan hujan, dan
membuat udara… Jika Anda menyadari dan merenungkan semua itu, dan bagaimana
Allah menyediakan semua kebutuhan yang tak mampu kita lakukan, maka hal ini
menjadi bukti bahwa semua itu diciptakan oleh Yang Maha Luas dan Dalam
Pengetahuan-Nya, Maha Pemberi rizki, Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, dan Maha
Pengasih.
Tanya : Bagaimana kita memahami bahwa Allah swt adalah الكَرِيْمُ Al-Karim - Maha Mulia dengan
pemberian-Nya)?
Jawab : Sesungguhnya, kalau ada orang yang menjamin
nafkah dan kebutuhan 10 orang saja tanpa imbalan apapun, maka orang lain pasti
akan menjulukinya dermawan. Lalu bagaimana dengan Yang telah menjamin rizki
semua manusia bahkan seluruh makhluk hidup? Tentunya hal ini menunjukkan bahwa
yang berbuat demikian itu adalah Maha Mulia dengan pemberian-Nya :
۞ وَمَا مِنْ
دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ
مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ
Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan
Allah-lah yang memberi rezkinya, dan dia mengetahui tempat berdiam binatang itu
dan tempat penyimpanannya semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh
mahfuzh). (11:6).
Tanya: Bagaimana kita
mengetahui bahwa Allah swt adalah الهَادِي (al-Hadi - Maha
Pemberi petunjuk)?
Jawab: Jika Anda
melihat payudara ibu sesudah melahirkan penuh dengan air susu, lalu siapa yang
menunjuki payudara tersebut untuk melakukannya?? Dan siapa yang telah menunjuki
bayi yang baru lahir untuk mengisap puting susu ibunya yang telah penuh dengan
ASI itu?
Tidak dapat diragukan lagi bahwa semua itu adalah
perbuatan Sang Maha Pemberi petunjuk.
Anda melihat benih yang tumbuh merekah di tanah kemudian
batangnya mengarah ke atas sampai yang paling tinggi dan akarnya pun tetap
mengarah ke bawah meskipun posisi benih atau biji itu mungkin terbalik sebelum
tumbuh, hal ini jelas adalah pengaturan Zat Yang Maha Pemberi petunjuk. Begitu
pula daun-daun yang amat banyak namun tersusun demikian rapi di mana semuanya
mendapatkan sinar matahari yang mereka butuhkan dan tidak saling menutupi, lalu
siapa yang memberi petunjuk kepada masing-masing daun untuk menempati tempat
yang sesuai?
سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْاَعْلَىۙ ١ الَّذِيْ خَلَقَ فَسَوّٰىۖ ٢ وَالَّذِيْ
قَدَّرَ فَهَدٰىۖ ٣
Sucikanlah nama Tuhanmu yang Maha Tingi,Yang Menciptakan,
dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), Dan yang menentukan kadar (masing-masing)
dan memberi petunjuk. (87:1-3).
Tanya:
Bagaimana kita mengetahui bahwa Allah adalah المُحْيِيْ
(Al-Muhyi - Maha Menghidupkan)?
Jawab:
Tanah, air, udara dan cahaya semuanya adalah materi yang mati, tidak bernafas
atau bernyawa. Dari materi mati dan tak bernafas ini Allah swt menciptakan
tumbuhan yang hidup, berkembang biak, menghasilkan buah atau biji. Ini adalah
salah satu bukti bahwa Allah Zat yang Maha Menghidupkan.
Tanya:
Bagaimana kita mengetahui bahwa Allah swt adalah المُصَوِّرُ
(Al-Mushawwir - Maha Pembentuk rupa)?
Jawab:
Bila Anda menyaksikan sebuah biji di tanah berubah menjadi sebuah pohon
berbuah, tentulah Anda dapat memastikan bahwa bentuk pohon yang sempurna itu
adalah hasil ciptaan Zat yang Maha Pembentuk. Kita menyaksikan setiap pohon
memiliki detil bentuk, warna dan buah yang amat beragam, demikian juga dengan
daun, ranting, bunga, dan struktur bagian dalamnya. Siapa yang telah mengubah
tanah, air, udara, sinar matahari menjadi kebun yang indah dengan sebaik-baik
bentuk? Semua itu menjadi saksi sifat Allah yang Maha Pembentuk rupa.
JADI,
dengan tafakkur terhadap penciptaan Allah, dan dengan merenungkan makanan yang
kita makan, kita dapat mengetahui sebagian sifat-sifat Allah swt:
- Perencanaan matang terhadap rizki kita menunjukkan
sifat Ar-Razzaq
- Kesempurnaan, manfaat, dan tujuan penciptaan dari
semua makhluk menjadi bukti sifat Al-Hakim.
- Kedalaman dan mendetilnya bentuk ciptaan Allah
menunjukkan sifat Al-Khabir
- Ilmu dan pengetahuan tak terbatas dalam penciptaan
makhluk menunjukkan sifat Al-‘alim.
- Kasih sayang yang terlihat pada
penciptaan makhluk menunjukkan sifat Allah Ar-Rahim...
Tanya:
Apa manfaat kita mengenal sebagian sifat-sifat Allah?
Jawab:
Dengan mengenal sifat berarti kita mengenal pemilik sifat (maushuf). Kita telah
mengetahui bahwa yang telah menciptakan makanan adalah Pemberi rizki, Maha
Bijaksana, dalam dan detil pengetahuan-Nya, Maha Pengasih, ... berarti pencipta
makanan bukanlah alam semesta, karena alam yang oleh orang atheis dan darwinis
dianggap pencipta makhluk hidup tidak mungkin memiliki sifat-sifat sempurna.
Hanya Allah saja yang mempunyai semua sifat-sifat kesempurnaan tersebut.
Alam tak punya kemampuan mengatur
hingga kita tidak mungkin mengatakan bahwa alam lah yang mengatur rizki.
Alam tak punya hikmah
(kebijaksanaan atau mengetahui tujuan perbuatannya).
Alam tak punya khibrah
(kedalaman ilmu dan pengalaman).
Alam tak punya pengetahuan sama sekali.
Alam tak punya sifat rahmat
(kasih sayang).
Alam tak punya karam
(kedermawanan).
Alam tak punya hidayah
(kemampuan memberi petunjuk).
Alam tidak hidup sendiri sehingga ia
mampu memberikan kehidupan kepada yang lain.
Alam
tak punya kemampuan tashwir (membentuk) sehingga kita berkhayal dialah
yang membuat bentuk-bentuk indah yang kita lihat di sekeliling kita.
Dan
seperti alam, begitu juga dengan berhala atau patung yang diagungkan oleh
manusia dulu maupun sekarang. Kita dapat memastikan dengan keyakinan seratus
persen bahwa yang memiliki semua sifat-sifat tersebut hanyalah Allah swt yang
telah berfirman:
فَلْيَنْظُرِ الْاِنْسَانُ اِلٰى طَعَامِهٖٓ ۙ ٢٤ اَنَّا صَبَبْنَا الْمَاۤءَ
صَبًّاۙ ٢٥ ثُمَّ شَقَقْنَا الْاَرْضَ شَقًّاۙ ٢٦ فَاَنْۢبَتْنَا فِيْهَا حَبًّاۙ
٢٧ وَّعِنَبًا وَّقَضْبًاۙ ٢٨ وَّزَيْتُوْنًا وَّنَخْلًاۙ ٢٩ وَّحَدَاۤىِٕقَ
غُلْبًا ٣٠ وَفَاكِهَةً وَّاَبًّا ٣١ مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِاَنْعَامِكُمْۗ ٣٢
Maka
hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah
mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya,
lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, zaitun
dan kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk
kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu. (80:24-32).
Kesimpulan
- Allah swt memerintahkan kita melakukan tafakkur
tentang makanan kita karena Dia menjadikan dalam setiap ciptaan-Nya
tanda-tanda yang dapat mengenalkan kita sebagian sifat-sifat-Nya.
- Jika kita renungkan bagaimana Allah swt mengucurkan
rizki kepada manusia ketika berada dalam rahim ibu, bagaimana Dia memberi
rizki untuknya berupa ASI, lalu rizki berupa tumbuh-tumbuhan, maka kita
dapat mengetahui bahwa Allah swt adalah Ar-Razzaq.
- Kita mengetahui bahwa Allah swt adalah Al-‘Alim,
karena Dia mengetahui kebutuhan Anda terhadap rizki ketika Anda dalam
rahim ibu lalu Ia kucurkan rizki-Nya untuk Anda. Allah swt mengetahui
kapan Anda keluar dari perut ibu sehingga Ia siapkan ASI untuk Anda. Allah
swt juga mengetahui keberadaan air dalam tanah sehingga ia ciptakan akar
untuk tanaman dan penghisap air, Dia mengetahui kebutuhan dedaunan dan zat
hijau daun terhadap sinar matahari sehingga Dia jadikan daun-daun itu
tumbuh menghadap ke arah sinar matahari.
- Kita mengetahui bahwa Allah swt adalah Al-Hakim
ketika kita menyaksikan kesempurnaan dan ketelitian yang tiada tara dalam
penciptaan tali pusat, juga tatkala kita menyaksikan kesesuaian yang amat
sangat antara perubahan formulasi ASI dengan perkembangan tubuh bayi,
begitu pula ketika kita melihat kesempurnaan dan ketelitian di setiap
bagian-bagian tumbuhan.
- Kita mengenal bahwa Allah swt adalah Al-Khabir saat
kita menyaksikan ketelitian dan ketepatan dalam mengirim makanan dari
tubuh ibu ke tubuh Anda saat Anda di dalam rahim, saat kita melihat
kesempurnaan terbentuknya ASI dan keluarnya ASI dari makanan yang
dikonsumsi ibu, juga ketika kita memperhatikan pembentukan buah-buahan
yang beragam dari tanah yang satu, disirami dengan air yang sama dan
dengan udara serta matahari yang sama.
- Kita mengetahui bahwa Allah swt adalah Ar-Rahim
ketika kita tahu bahwa tanpa rizki dari-Nya kita pasti mati. Namun ia
menyayangi kita dengan dengan curahan berbagai rizki karena rahmat dan
karunia-Nya.
- Kita mengetahui bahwa Dia adalah Al-Karim ketika
kita mengetahui bahwa rizki-Nya meliputi semua makhluk-Nya tanpa kecuali.
- Kita mengetahui bahwa Dialah Al-Hadi saat kita
menyaksikan arahan yang diberikan-Nya kepada payudara ibu yang segera
penuh dengan susu tepat setelah bayi lahir, saat Dia memberi ilham kepada
bayi yang belum dapat berpikir untuk mengisap payudara ibunya, saat kita
melihat tanaman yang berkembang dengan kadar tertentu (pada waktu
tertentu) dan juga perkembangan rizki.
- Kita mengetahui bahwa Allah adalah Al-Muhyi ketika
kita menyaksikan munculnya kehidupan pada benda-benda yang mati.
- Kita mengetahui bahwa Allah adalah Al-Mushawwir
ketika kita melihat berbagai bentuk yang indah muncul dari tanah, air dan
udara.
- Jika kita mengetahui bahwa yang telah meniciptakan
makanan adalah Ar-Razzaq, Al-‘Alim, Al-Hakim, Al-Khabir, Ar-Rahim,
Al-Karim, Al-Hadi, Al-Muhyi, dan Al-Mushawwir, kita dapat memastikan
Dialah Allah swt. Karena alam semesta atau berhala dengan berbagai
jenisnya sama sekali tidak memiliki sifat-sifat dan kemampuan seperti itu.
AWAN, CAIRAN YANG MENGAMBANG
Tanya:
Apakah sebenarnya awan itu?
Jawab:
Awan adalah air yang mengambang di udara. Jika dalam jumlah yang banyak maka
akan terbentuk hujan lebat yang turun ke bumi menghasilkan air sumur, sungai,
telaga, dan mata air yang dapat kita minum, kita gunakan untuk menyiram
tanaman, dan diminum pula oleh hewan ternak kita.
اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ اَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَسَلَكَهٗ
يَنَابِيْعَ فِى الْاَرْضِ ثُمَّ يُخْرِجُ بِهٖ زَرْعًا مُّخْتَلِفًا اَلْوَانُهٗ
ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَجْعَلُهٗ حُطَامًا ۗاِنَّ فِيْ
ذٰلِكَ لَذِكْرٰى لِاُولِى الْاَلْبَابِ ࣖ
Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah
menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi
kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam
warnanya. (Az-Zumar (39):21).
Tanya:
Bagaimana awan terbentuk?
Jawab:
Allah swt mengirimkan panas matahari untuk menguapkan air di permukaan laut.
Uap air laut yang telah menjadi tawar naik ke atas namun hanya sampai ke
ketinggian tertentu agar ia dapat menjadi rahmat bagi hamba-hamba Allah swt.
Demikianlah Allah swt menetapkan sunnah-Nya di alam semesta, Ia tetapkan air
laut yang asin berubah menjadi hujan yang tawar dan amat dibutuhkan oleh
manusia.
Tanya:
Bagaimana Sunnatullah dalam pembentukan awan ini?
Jawab:
Pertama, Allah swt menjadikan panas matahari serta angin sebagai penyebab
naiknya uap air laut ke ketinggian yang melebihi ketinggian gunung agar
kumpulan uap air itu tidak terhalang oleh gunung ketika ia bergerak dari atas
laut menuju tengah-tengah daratan. Allah swt menguapkan air laut tanpa disertai
unsur garamnya agar dapat diminum oleh manusia, hewan dan tumbuhan.
اَفَرَءَيْتُمُ الْمَاۤءَ الَّذِيْ تَشْرَبُوْنَۗ ٦٨ ءَاَنْتُمْ
اَنْزَلْتُمُوْهُ مِنَ الْمُزْنِ اَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُوْنَ ٦٩ لَوْ نَشَاۤءُ
جَعَلْنٰهُ اُجَاجًا فَلَوْلَا تَشْكُرُوْنَ ٧٠
Maka Terangkanlah kepadaKu tentang air yang kamu minum.
Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya? Kalau Kami
kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?
(Al-waqi'ah (56): 68-70).
Kedua, Allah swt Dialah yang telah menjadikan
angin dan panas matahari sebagai sebab terangkatnya uap air dari laut melebihi
tinggi rata-rata gunung seperti firman-Nya:
وَهُوَ الَّذِيْ يُرْسِلُ الرِّيٰحَ بُشْرًاۢ بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهٖۗ
حَتّٰٓى اِذَآ اَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالًا سُقْنٰهُ لِبَلَدٍ مَّيِّتٍ
فَاَنْزَلْنَا بِهِ الْمَاۤءَ فَاَخْرَجْنَا بِهٖ مِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِۗ
كَذٰلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتٰى لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
Dan
dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan
rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, kami
halau ke suatu daerah yang tandus.
(Al-A'raf (7): 57).
Makna
أقَلَّّتْ pada ayat di atas adalah membawa dan
mengangkat. Allah swt menjadikan suhu yang dingin
di udara semakin dingin sampai pada ketinggian 8 mil saja. Ini membuat air
tidak dapat melebihi ketinggian tersebut.
Tanya:
Mengapa semakin ke atas suhu semakin dingin?
Jawab:
Seharusnya semakin kita naik ke atas kita akan semakin merasakan panas karena
jarak dengan matahari relatif semakin dekat. Namun di bawah ketinggian 8 mil
keadaan justru sebaliknya. Ini dimaksudkan agar uap air tidak terus naik ke
atas sehingga tidak kering atau hilang.
وَاَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءًۢ بِقَدَرٍ فَاَسْكَنّٰهُ فِى
الْاَرْضِۖ وَاِنَّا عَلٰى ذَهَابٍۢ بِهٖ لَقٰدِرُوْنَ ۚ
Dan
Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu
menetap di bumi, dan Sesungguhnya kami benar-benar berkuasa menghilangkannya.
(Al-Mu'minun (23): 18).
Tanya:
Bagaimana pengumpulan uap air dapat terjadi?
Jawab:
Uap air itu amat ringan dan tak dapat dilihat, karenanya ia naik ke atas. Lalu
Allah swt mengirim angin yang membawa zat-zat tertentu yang berfungsi
mengumpulkan uap-uap air itu di sekelilingnya sehingga terbentuk gumpalan besar
uap air yang kita lihat sebagai awan. Awan yang berat dengan uap air itu
membantunya untuk tidak terus naik ke atas.
اَللّٰهُ الَّذِيْ يُرْسِلُ الرِّيٰحَ فَتُثِيْرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهٗ فِى
السَّمَاۤءِ كَيْفَ يَشَاۤءُ وَيَجْعَلُهٗ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ
مِنْ خِلٰلِهٖۚ فَاِذَآ اَصَابَ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖٓ اِذَا هُمْ
يَسْتَبْشِرُوْنَۚ
Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu
menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang
dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan
keluar dari celah-celahnya, Maka apabila hujan itu turun mengenai
hamba-hamba-Nya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira. (Ar-Rum
(30): 48).
Di
samping kedua sunnatullah yang telah disebutkan (sunnah Allah swt berupa
naiknya uap air laut di atas ketinggian gunung dan sunnah Allah swt berupa
tertahannya gumpalan awan yang berisi uap air pada ketinggian 8 mil), juga
terdapat ni'mat lain bagi manusia (sunnatullah yang ketiga) berupa bergeraknya
awan yang telah berisi air itu menuju ke atas daratan yang dihuni manusia,
hewan dan tumbuhan.
وَهُوَ الَّذِيْ يُرْسِلُ الرِّيٰحَ بُشْرًاۢ بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهٖۗ
حَتّٰٓى اِذَآ اَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالًا سُقْنٰهُ لِبَلَدٍ مَّيِّتٍ
فَاَنْزَلْنَا بِهِ الْمَاۤءَ فَاَخْرَجْنَا بِهٖ مِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِۗ
كَذٰلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتٰى لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita
gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah
membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami
turunkan hujan di daerah itu, maka kami keluarkan dengan sebab hujan itu
pelbagai macam buah-buahan. seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang
telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. (Al-a'raf (7): 57).
Renungkanlah
bagaimana ukuran kecepatan angin yang amat sesuai dengan berat dan kepekatan
awan sehingga tidak membawa dampak kehancuran. Allah swt telah memberikan
beberapa pelajaran kepada kita dengan angin yang menghancurkan yang
kecepatannya 75 mil perjam. Dan bila kecepatannya mencapai 200 mil perjam maka
angin itu tidak akan menyisakan apapun. Dan agar Anda ketahui betapa besar
pengaruh rahmat Allah swt kepada kita ingatlah bahwa angin dengan kecepatan
tinggi itu ada pada ketinggian 5 mil
saja di atas kepala kita di mana arus angin dengan kecepatan 200 mil perjam
tersebut berada 5 mil di atas permukaan laut. Jika angin dengan kecepatan 200
mil perjam ini turun beberapa mil saja pasti semua struktur kehidupan akan
rusak setelah ia merusak sistem pengaturan hujan. Perlu diketahui bahwa daerah
di atas angin penghancur ini adalah daerah yang tak berangin. Jika urutan ini
terbalik maka rusaklah semua sistem yang telah ada. Anda lihat bagaimana
perencanaan dan program yang amat sempurna di atas permukaan bumi ini.
Keempat,
adalah sunnatullah turunnya hujan berupa butiran-butiran air yang kecil bukan
air bah yang dapat menghancurkan segala sesuatu.
Kelima,
sunnatullah mengalirnya sungai-sungai yang berpencar di permukaan bumi seperti
pembuluh darah bagi tubuh manusia.
Keenam,
sunnatullah menyerapnya sebagian besar air ke dalam bumi agar air tidak
tercemar dan agar tanah laik untuk ditelusuri tanpa gangguan air.
Ketujuh,
sunnatullah tersimpannya air di dalam bumi dengan jarak yang tidak jauh
sehingga dapat dimanfaatkan oleh manusia berupa mata air atau sumur. Air ini
tertahan oleh bebatuan yang seperti bejana penampung air sehingga tidak
menembus ke kedalaman bumi yang tak terjangkau manusia.
Firman
Allah swt:
قُلْ اَرَءَيْتُمْ اِنْ اَصْبَحَ مَاۤؤُكُمْ غَوْرًا فَمَنْ يَّأْتِيْكُمْ
بِمَاۤءٍ مَّعِيْنٍ ࣖ
Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika sumber air
kamu menjadi kering; Maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir
bagimu?" (Al-mulk (67): 30).
Jadi,
- Di
bumi ini ada program sempurna yang bekerja di bawah perintah Penciptanya
dengan amat rapi dan teratur.
- Ada juga di sana Sunnatullah yang tetap, berkadar, dan
sangat rapi yang bekerja membentuk air hujan, mengangkat air dari laut ke
ketinggian di atas gunung setelah dihilangkan unsur garamnya, kemudian air
itu dikirim untuk semua makhluk yang membutuhkannya di tengah-tengah
daratan luas dengan menurunkannya dalam bentuk tetesan lembut yang
bermanfaat dan tidak membahayakan. Lalu ia menjadi sungai-sungai yang
penuh manfaat atau diserap ke dalam bumi agar tidak menganggu kehidupan
dan agar terjaga dari polusi serta menjadi cadangan air yang ditampung
dengan jarak tidak jauh dari permukaan bumi oleh wadah dari bebatuan.
مُجِيْبُ الدُّعَاءِ
Yang Mengabulkan Doa
Tanyakan orang-orang bijak
tentang rahmat Tuhan-mu Yang Maha Mengabulkan doa, tanyakan tentang
pengabulan-Nya akan permohonan dan rintihan orang-orang yang terjepit dan
terhimpit.
Tanyakan betapa banyak tanah
tandus saat hujan tak jua turun, lalu kaum muslimin keluar seperti yang
diajarkan Rasulullah saw untuk menyeru Tuhan mereka sepenuh harapan. Ketika
suatu kaum jujur dan tulus dalam doanya Allah swt menjawab doa mereka dan
menurunkan hujan yang penuh rahmat. Hal ini disaksikan dan dialami oleh jutaan
kaum muslimin di segala penjuru bumi.
Itulah bukti nyata yang
dengannya kita mengetahui bahwa Pencipta hujan adalah Zat yang Mengabulkan doa.
Firman Allah swt:
وَاِذَا سَاَلَكَ
عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا
دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ
Dan
apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah),
bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa
apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala
perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada
dalam kebenaran. (Al-Baqarah [2]: 186).
Untuk Direnungkan:
- Siapakah Pemilik program sempurna dan bijaksana
dalam pengaturan bumi?
- Siapakah yang telah menetapkan hukum-hukum dan
ketetapan-ketetapan yang amat teratur, detil, dan sempurna?
- Siapakah yang telah mendengar doa para pemohon dan
menjawabnya? Menciptakan
awan dan menurunkan hujan?
- Berhala tidak mampu berbuat sesuatu dan memikirkan
apapun.
- Alam yang buta, tuli dan bisu tidak memiliki
kehendak dan pengaturan.
- Ataukah ketiadaan yang menciptakan, memrogram,
mengadakan, membentuk, menentukan ukuran, menyempurnakan, mendengar, dan
menjawab? Padahal ketiadaan -
sesuai namanya – tidak memiliki wujud, lalu bagaimana mungkin keberadaan
muncul dari suatu yang tidak ada?!
- Ataukah justru fenomena alam ini
semua sedang berbicara kepada akal manusia bahwa ia memiliki Rabb yang
Maha Bijaksana, Maha Kuasa, Maha Detil Pengetahuan-Nya, Maha Mendengar,
Maha Menjawab, Maha Pemberi rizki, Maha Menentukan waktu, Maha Penolong
bagi hamba-Nya? Hukum-hukum dan ketetapan-ketetapan yang sempurna dan
menentukan segalanya yang mengatur pembentukan hujan sedang berbicara
kepada akal manusia tentang kekuasaan Tuhannya, sebagian sifat-sifat
Penciptanya, keberadaan-Nya. Kalau bukan karena-Nya tidak ada
satupun aturan, kesempurnaan, dan perencanaan yang dapat kita saksikan
sama sekali.
Pandanglah dan perhatikan awan wahai
Saudara,
Bagaimana ia bak air yang terbang di
udara
Allah mengirimnya untuk kita sebagai
bukti rahmat-Nya
Hujan
yang dibawanya, sudahkah engkau mensyukuri-Nya?
Ia tundukkan mentari yang menyinari
lautan
Uap airnya naik melewati pegunungan
menuju langit dengan tepat ketinggian
Begitulah
agar luput dari jangkauan
Kesimpulan
- Allah swt adalah Pencipta bumi dan semua pengaturan
yang ada padanya.
- Allah swt Dialah yang menundukkan matahari dan
sinarnya yang panas untuk mengangkat uap air laut melewati ketinggian
gunung.
- Allah swt Dialah yang mengirim angin, menciptakan
awan dan menurunkan hujan.
- Allah swt Dialah yang mengalirkan sungai-sungai,
memancarkan mata air, menampung air dalam tanah dengan wadah bebatuan dan
tidak membuatnya hilang di kedalaman bumi.
- Allah swt Dialah yang menciptakan manusia, hewan,
dan tumbuhan kemudian menjamin makanan dan minuman mereka dengan
menyediakan sepenuhnya sarana-sarana untuk memperolehnya.
- Allah swt Dialah yang Maha Mendengar, Menjawab doa,
Menyingkap kesusahan, dan Menyelamatkan hamba-Nya yang terhimpit.
- Berhala-berhala yang lemah dan alam yang bodoh, tuli
dan bisu tidak akan mampu membuat, merencanakan, mendengar dan menjawab.
No comments:
Post a Comment