(Definisi Al-Insan)
Manusia (al-insan) adalah makhluk yang proses kejadiannya
berawal dari tidak ada kemudian menjadi ada. Hal ini disebutkan oleh Allah
Ta’ala melalui firman-Nya,
هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا
مَذْكُورًا
“Bukankah
telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum
merupakan sesuatu yang dapat disebut?” (QS. Al-Insan, 76: 1)
Disebutkan bahwa manusia berasal dari tanah yang tiada
dikenal dan disebut-sebut sebelumnya, apa dan bagaimana jenis tanah itu.
Mengenai awal penciptaan manusia dari tanah disebutkan dalam
ayat berikut,
الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ
مِنْ طِينٍ
“Yang
membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai
penciptaan manusia dari tanah.” (QS. As-Sajdah, 32: 7)
Unsur-unsur yang membentuk manusia (setelah lewatnya masa
ciptaan pertama) adalah sperma (nutfah) laki-laki dan ovum perempuan yang
bercampur.
إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ
“Sesungguhnya
Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur…” (QS.
Al-Insan, 76: 2)
Dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman,
ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ
مَاءٍ مَهِينٍ
“Kemudian
Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina.” (QS. As-Sajdah, 32:
8)[1]
Dari unsur tanah (at-turab) tersebut terbentuklah al-jasadu
(jasad/jasmani). Tentang proses penciptaan manusia berawal dari unsur tanah
menjadi makhluk yang berjasad ini dijelaskan oleh Allah Ta’ala melalui
firman-Nya,
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِينٍ ثُمَّ جَعَلْنَاهُ
نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ
مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ
خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
“Dan
sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah.
Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh
(rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu
yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami
jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging.
Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah,
Pencipta yang paling baik.” (QS. Al-Mu’minun, 23: 12-14)
Selain tercipta dari unsur tanah (at-turab), manusia juga
tercipta dari unsur ruh (ar-ruh). Mengenai hal ini Allah Ta’ala berfirman,
ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ
وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ
“Kemudian
Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia
menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit
sekali bersyukur.” (QS. As-Sajdah, 32: 9)
Di dalam ruh manusia inilah, bersemayam al-qalb, yang dalam
bahasa sehari-hari kita menerjemahkannya dengan ‘hati’. Letaknya adalah di
dalam dada. Allah Ta’ala berfirman,
فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي
فِي الصُّدُورِ
“Karena
sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di
dalam dada.” (QS. Al-Hajj, 22 : 46)
Di dalam al-qalb inilah terletak al-‘azmu (tekad, keputusan,
niat, dan rencana).[2] Oleh karena itu, disinilah letak taqwa itu, sebagaimana
disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
لاَ تَحَاسَدوا، وَلاَتَنَاجَشوا، وَلاَ تَبَاغَضوا، وَلاَ تَدَابَروا،
وَلاَ يَبِع بَعضُكُم عَلَى بَيعِ بَعضٍ، وَكونوا عِبَادَ اللهِ إِخوَانَاً، المُسلِمُ
أَخو المُسلم، لاَ يَظلِمهُ، وَلاَ يَخذُلُهُ، وَلا يكْذِبُهُ، وَلايَحْقِرُهُ، التَّقوَى
هَاهُنَا – وَيُشيرُ إِلَى صَدرِهِ ثَلاَثَ مَراتٍ – بِحَسْبِ امرىء مِن الشَّرأَن
يَحْقِرَ أَخَاهُ المُسلِمَ، كُلُّ المُسِلمِ عَلَى المُسلِمِ حَرَام دَمُهُ وَمَالُه
وَعِرضُه
”Janganlah
kalian saling hasad, saling berbuat najasy (menawar barang dagangan lebih
tinggi untuk mengecoh pembeli lain), saling membenci, saling membelakangi, dan
janganlah salah seorang di antara kalian menjual barang di atas jual beli oleh
orang lain, dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim
adalah saudara bagi muslim yang lain, ia tidak boleh menzhaliminya,
menelantarkannya (tidak peduli padanya), berdusta kepadanya, meremehkannya.
Taqwa tempatnya di sini—beliau menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali. Cukuplah
seseorang itu dikatakan telah berbuat kejelekan manakala merendahkan saudaranya
sesama muslim. Setiap muslim atas muslim yang lain itu haram darahnya, harta,
dan kehormatannya.” (HR. Imam Muslim)
Di dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda tentang al-qalb,
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ
كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah,
sesungguhnya di dalam jasad (manusia) ada segumpal daging yang kalau dia baik
maka akan baik pula seluruh anggota tubuh, dan kalau dia rusak maka akan rusak
pula seluruh anggota tubuh, ketahuilah dia adalah hati.” (Muttafaqun alaih)
Di dalam ruh manusia bersemayam pula akal (al-‘aqlu).
Disebutkan bahwa tempat al-‘aqlu ini adalah di dalam al-qalb sebagaimana
al-‘azmu. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala berikut ini,
أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ
بِهَا
“Maka
apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang
dengan itu mereka dapat berakal dengannya.” (QS. Al-Hajj, 22: 46)[3]
Dengan al-‘aqlu inilah manusia dapat menyerap al-‘ilmu
(ilmu, pengetahuan, pelajaran, dan kesadaran). Allah Ta’ala berfirman,
وَلَقَدْ تَرَكْنَا مِنْهَا آيَةً بَيِّنَةً لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
“Dan
sesungguhnya Kami tinggalkan daripadanya satu tanda yang nyata bagi orang-orang
yang berakal.” (QS. Al-Ankabut, 29: 35)
كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
“Demikianlah
Kami jelaskan ayat-ayat bagi kaum yang berakal.” (QS. Ar-Ruum, 30: 28)
وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ
مِنْ رِزْقٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ آيَاتٌ
لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
“Dan
pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit
lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada
perkisaran angin terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang
berakal.” (QS. Al-Jatsiyah, 45: 5)
Dengan kesempurnaan penciptaan seperti itu, maka Allah
Ta’ala menjadikan manusia sebagai makhluk yang diberi amanah (al-amanah).
إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ
فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ
كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
“Sesungguhnya
Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka
semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan
mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia
itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. Al-Ahzaab, 33: 72)
Amanah yang diberikan kepada manusia ada dua.
Pertama, amanah al-ibadah (ibadah)
Dalam kehidupannya di dunia ini, manusia diberi tugas-tugas
agama, yaitu mengerjakan perintah dan menjauhi larangan, di mana jika
dikerjakan mereka akan mendapatkan pahala, dan jika ditinggalkan mereka akan
mendapatkan siksa.
Dalam memikul tugas amanah ini, manusia terbagi menjadi tiga
golongan:
Kaum munafik yang menampakkan dirinya bahwa mereka
melaksanakannya baik lahir maupun batin, padahal tidak.
Kaum musyrik yang tidak melaksanakannya sama sekali, baik
lahir maupun batin.
Kaum mukmin yang melaksanakannya lahir maupun batin.
Maka di ayat berikutnya, QS. Al-Ahzaab ayat 73, Allah Ta’ala
menerangkan akibat dari pemberian beban amanat ini ialah Allah mengazab
orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki
dan perempuan bila mereka mengabaikan amanat yang telah dipikulnya itu. Dan
Allah akan menerima tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan yang taat
dan patuh memenuhi amanat itu.
لِيُعَذِّبَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ
وَالْمُشْرِكَاتِ وَيَتُوبَ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَكَانَ
اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Sehingga
Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang
musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat
orang-orang mu’min laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzaab, 33: 73) [4]
Kedua, amanah al-khilafah (kepemimpinan di muka bumi)
Allah Ta’ala telah menegaskan amanah ini melalui firman-Nya,
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً
“Ingatlah
ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di bumi.’” (QS. Al-Baqarah, 2: 30)
Dijadikan khalifah di muka bumi maknanya adalah menugaskan
kepada manusia untuk mengelola bumi dan memberlakukan perintah-perintah Allah
Ta’ala di sana, di mana sebagiannya akan digantikan oleh yang lain.
ثُمَّ جَعَلْنَاكُمْ خَلَائِفَ فِي الْأَرْضِ مِنْ بَعْدِهِمْ لِنَنْظُرَ
كَيْفَ تَعْمَلُونَ
“Kemudian
Kami jadikan kamu khalifah-khalifah (pengganti-pengganti) di muka bumi sesudah
mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat.” (QS. Yunus, 10: 14)
Di antara tugas khalifatullah fil ardi ialah menegakkan hak
dan keadilan di muka bumi, membersihkan alam ini dari perbuatan najis, syirik,
fasik serta meninggikan kalimat Allah. Allah akan memperhatikan dan mencatat
semua perbuatan manusia dalam melaksanakan tugasnya itu, apakah sesuai dengan
yang diperintahkan-Nya atau tidak, sebagaimana firman-Nya:
وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ
وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“Dan
Dialah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa dan adalah Arasy-Nya di
atas air agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya.”
(QS. Hud, 11: 7)
Sehubungan dengan ayat ini Qatadah berkata: “Tuhan kita
telah berbuat yang benar. Dia menjadikan kita sebagai khalifah di muka bumi,
tidak lain hanyalah untuk melihat amal-amal kita, maka perlihatkanlah kepada
Allah amalan-amalan kamu yang baik di malam dan di siang hari.” [5]
Jadi, berkenaan dengan dua amanah ini Allah Ta’ala telah
menyiapkan al-jaza-u (balasan). Mereka yang melakukan amal kebajikan akan
memperoleh balasan kebaikan yang setimpal, bahkan pahala yang lebih baik dari
apa yang telah mereka kerjakan,
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ
حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa
yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan
beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan
sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik
dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl, 16: 97)
Sementara balasan bagi orang-orang yang ingkar kepada
perintah-perintah Allah Ta’ala adalah
azab yang keras yang setimpal dengan keingkarannya itu.
فَلَنُذِيقَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا عَذَابًا شَدِيدًا وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ
أَسْوَأَ الَّذِي كَانُوا يَعْمَلُونَ ذَلِكَ جَزَاءُ أَعْدَاءِ اللَّهِ النَّارُ لَهُمْ
فِيهَا دَارُ الْخُلْدِ جَزَاءً بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ
“Maka
sungguh, akan Kami timpakan azab yang keras kepada orang-orang yang kafir itu
dan sungguh, akan Kami beri balasan mereka dengan seburuk-buruk balasan
terhadap apa yang telah mereka kerjakan. Demikianlah balasan (terhadap)
musuh-musuh Allah (yaitu) neraka; mereka mendapat tempat tinggal yang kekal di
dalamnya sebagai balasan atas keingkaran mereka terhadap ayat-ayat Kami.”
(Al-Fushshilat, 41: 27-28)
Kesimpulan
Dari uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa al-insan
(manusia) adalah makhluk Allah Ta’ala yang diciptakan dari unsur ruh dan tanah,
dibekali potensi kalbu sehingga memiliki
azam (tekad, keputusan, niat, dan rencana) serta akal (pengetahuan, pelajaran,
dan kesadaran), serta dibekali jasad sehingga dapat melakukan berbagai
aktivitas. Diberi amanah ibadah dan khilafah oleh Allah serta mendapat balasan
atas seluruh amal dan perbuatannya.
Wallahu A’lam.
[1] Pembahasan mengenai ayat-ayat yang berkaitan dengan
manusia ini silahkan dirujuk ke Al-Qur’anul Karim wa Tafsiruhu, Jilid X, Hal.
464 dan 468.
[2] Lihat: Kamus Mutarjim v 1.2, Ali Web Studio
[3] Lihat: http://al-atsariyyah.com/hati-menurut-islam.html
[4] Lihat: Al-Qur’anul Karim wa Tafsiruhu, Jilid VIII, Hal.
50 dan Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an yang disusun Al-Ustadz Abu Yahya
Marwabn bin Musa.
[5] Lihat: Al-Qur’anul Karim wa Tafsiruhu, Jilid IV, Hal.
276
No comments:
Post a Comment