Yahya As

Kehamilan istri Zakaria – yang menurut Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) bernama "Elizabeth" – terjadi pada masa yang sama saat Maryam sedang mengandung Isa. Kemudian lahirlah "Yahya". Baik kita maupun Ahli Kitab tidak memiliki informasi rinci mengenai masa kecilnya, hanya saja mereka menyebutkan bahwa ia terbiasa tinggal di padang belantara dan memakan belalang serta madu hutan.

Yahya adalah sosok yang sangat ahli dalam Syariat Musa dan menjadi rujukan penting bagi siapa pun yang meminta fatwa mengenai hukum-hukumnya. Saat itu, salah satu penguasa Palestina bernama "Herodes". Ia memiliki seorang keponakan perempuan bernama "Herodias" yang sangat cantik jelita. Pamannya (Herodes) ingin menikahinya. Si gadis dan ibunya pun menginginkan hal itu, namun Yahya tidak merestui pernikahan tersebut karena hukumnya haram. Penentangan Yahya atas hal ini pun dikenal luas.

Maka, ibu si gadis mengambil kesempatan dengan menyuruh putrinya menemui pamannya dalam keadaan bersolek (berhias) dan menari di hadapannya. Sang paman merasa sangat senang dan meminta si gadis untuk menyebutkan apa pun keinginannya agar ia penuhi. Ibu si gadis sebelumnya telah menghasutnya bahwa jika pamannya menawarkan hal itu, ia harus meminta kepala Yahya bin Zakaria di atas nampan ini. Gadis itu pun melakukannya, dan sang paman selaku penguasa memenuhi permintaan itu lalu membunuh Yahya.

Kaum Yahudi berbeda pendapat dalam masalah pernikahan dengan keponakan perempuan (anak saudara laki-laki atau anak saudara perempuan). Golongan "Rabbanites" membolehkannya, sedangkan golongan "Karaite" melarangnya. Argumen golongan pertama adalah bahwa larangan menikahi keponakan tidak disebutkan secara eksplisit dalam Taurat.

Yahya memiliki sifat kesalehan dan ketakwaan yang sempurna sejak masa mudanya. Allah Ta'ala berfirman mengenainya: "Dan Kami berikan kepadanya hikmah (ilmu/kenabian) selagi ia masih kanak-kanak." Tampaknya Allah Ta'ala menganugerahinya kemampuan untuk memahami syariat hingga ia menjadi ulama di masa kecilnya – dan ia telah diangkat menjadi nabi sebelum mencapai usia tiga puluh tahun. Ia menyeru manusia untuk bertaubat dari dosa-dosa dan membaptis mereka, yakni mencuci mereka di Sungai Yordan sebagai bentuk taubat dari kesalahan. Al-Masih (Isa) pun pernah dibaptis olehnya, dan mereka menyebutnya "Yohanes Pembaptis".

Ia pernah ditanya oleh kaum Yahudi apakah ia adalah Al-Masih? Ia menjawab: Bukan. Mereka bertanya lagi apakah ia sang Nabi (yang dijanjikan)? Ia menjawab: Bukan. Mereka berkata: "Lalu mengapa engkau membaptis jika engkau bukan Al-Masih dan bukan pula Nabi itu?" Ia menjawab: "Aku adalah suara yang berseru-seru di padang belantara; persiapkanlah jalan bagi Tuhan dan luruskanlah jalan-jalan-Nya."

Al-Qur'an dan Kisah Zakaria serta Yahya 'Alaihimas Salam

Allah Ta'ala berfirman dalam Kitab-Nya yang Mulia:

Kha Ya 'Ain Shad. (Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya, Zakaria, yaitu ketika dia berdoa kepada Tuhannya dengan doa yang lembut. Dia berkata, "Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku (kerabatku) sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi-Mu seorang putra, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya'qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai."

(Allah berfirman), "Wahai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki namanya Yahya, yang Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengannya sebelum ini."

Dia (Zakaria) berkata, "Ya Tuhanku, bagaimana aku akan mempunyai anak, padahal istriku seorang yang mandul dan aku sesungguhnya telah mencapai usia yang sangat tua?" Dia (Allah) berfirman, "Demikianlah." Tuhanmu berfirman, "Hal itu mudah bagi-Ku; sungguh, engkau telah Aku ciptakan sebelum itu, padahal (waktu itu) engkau belum berwujud sama sekali."

Zakaria berkata, "Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda." Dia (Allah) berfirman, "Tandamu ialah engkau tidak dapat berbicara dengan manusia selama tiga malam, padahal engkau sehat." Maka dia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu dia memberi isyarat kepada mereka; bertasbihlah kamu pada waktu pagi dan petang. "Wahai Yahya! Ambillah (pelajarilah) Kitab itu dengan sungguh-sungguh." Dan Kami berikan hikmah kepadanya selagi dia masih kanak-kanak, dan (Kami jadikan) rasa kasih sayang (kepada sesama) dari sisi Kami dan bersih (dari dosa). Dan dia pun seorang yang bertakwa, dan sangat berbakti kepada kedua orang tuanya, dan dia bukan orang yang sombong (lagi) durhaka. Kesejahteraan atas dirinya pada hari dia dilahirkan, pada hari dia wafat, dan pada hari dia dibangkitkan hidup kembali. (QS. Maryam: 1-15).

Allah Ta'ala juga berfirman:

... Dan Zakaria yang memeliharanya. Setiap kali Zakaria masuk menemui Maryam di mihrab, dia mendapati makanan di sisinya. Zakaria bertanya, "Wahai Maryam! Dari manakah ini engkau peroleh?" Maryam menjawab, "Itu dari Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan."

Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya. Dia berkata, "Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa." Kemudian para malaikat memanggilnya, ketika dia berdiri melaksanakan salat di mihrab, "Sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran) Yahya, yang membenarkan kalimat dari Allah, menjadi panutan, berkemampuan menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang nabi di antara orang-orang saleh."

Dia (Zakaria) berkata, "Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak, sedangkan aku sudah sangat tua dan istriku pun mandul?" Dia (Allah) berfirman, "Demikianlah Allah berbuat apa yang Dia kehendaki." Dia (Zakaria) berkata, "Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda." Dia (Allah) berfirman, "Tandamu ialah engkau tidak dapat berbicara dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah pada waktu petang dan pagi hari." (QS. Ali 'Imran: 37-41).

Allah Ta'ala juga berfirman:

Dan (ingatlah kisah) Zakaria, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, "Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan) dan Engkaulah pemberi waris yang terbaik." Maka Kami kabulkan (doa)nya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya, dan Kami jadikan istrinya (dapat mengandung). Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami. (QS. Al-Anbiya: 89-90).

Dan Allah Ta'ala berfirman:

(dan) Zakaria, Yahya, Isa, dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang saleh. (QS. Al-An'am: 85).

Pembahasan Mengenai Makna "Waris"

Sebagaimana telah disebutkan, Zakaria berdoa kepada Tuhannya agar dikaruniai anak yang berbakti, bertaqwa, dan diridhai. Oleh karena itu ia berkata: "Maka anugerahilah aku dari sisi-Mu" maksudnya adalah dari sisi-Mu dengan daya dan kekuatan-Mu, "(seorang putra) yang akan mewarisi aku" yaitu dalam hal kenabian dan kepemimpinan di kalangan Bani Israil, "dan mewarisi sebagian keluarga Ya'qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai."

Artinya, sebagaimana ayah-ayahnya dan pendahulunya dari keturunan Ya'qub adalah para nabi, maka jadikanlah ia seperti mereka dalam kemuliaan yang Engkau berikan kepada mereka berupa kenabian dan wahyu. Maksud "waris" di sini bukanlah warisan harta, sebagaimana yang diklaim oleh sebagian kalangan Syiah dan disetujui oleh Ibnu Jarir dalam hal ini dengan mengutip dari Abu Shalih dari kalangan salaf. Pendapat ini ditolak karena beberapa alasan:

  1. Alasan Pertama: Sebagaimana telah kami sampaikan pada firman Allah: "Dan Sulaiman telah mewarisi Daud" (QS. An-Naml: 16), yang dimaksud adalah waris kenabian dan kekuasaan. Hal ini didasarkan pada hadits yang disepakati oleh para ulama, yang diriwayatkan dalam kitab-kitab Shahih, Musnad, Sunan, dan lainnya melalui jalur para sahabat, bahwa Rasulullah Saw bersabda: "Kami tidak diwarisi, apa yang kami tinggalkan adalah sedekah." Ini adalah teks tegas bahwa Rasulullah Saw tidak mewariskan harta. Karena itulah Abu Bakar Ash-Shiddiq menolak menyerahkan apa yang menjadi hak khusus Nabi semasa hidupnya kepada ahli warisnya—yang jika bukan karena teks ini, tentu akan diserahkan kepada mereka, yaitu putrinya Fatimah, sembilan istrinya, dan pamannya Abbas. Abu Bakar berhujah kepada mereka dengan hadits ini. Riwayat ini pun disetujui oleh Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abbas bin Abdul Muthalib, Abdurrahman bin Auf, Thalhah, Az-Zubair, Abu Hurairah, dan lainnya.
  2. Alasan Kedua: At-Tirmidzi meriwayatkannya dengan redaksi yang mencakup seluruh nabi: "Kami kalangan para nabi tidaklah diwarisi", dan ia menshahihkannya.
  3. Alasan Ketiga: Dunia ini terlalu hina di mata para nabi sehingga tidak mungkin mereka menumpuknya, menoleh kepadanya, atau merasa penting urusannya sampai-sampai meminta anak hanya untuk menguasai harta tersebut sepeninggal mereka. Jika orang yang kedudukan zuhudnya jauh di bawah para nabi saja tidak terlalu mementingkan harta hingga meminta anak khusus untuk menjadi ahli waris hartanya, maka apalagi para nabi.
  4. Keempat: Sesungguhnya Zakaria 'Alaihis Salam adalah seorang tukang kayu yang bekerja dengan tangannya sendiri dan makan dari hasil usahanya tersebut, sebagaimana Daud 'Alaihis Salam juga makan dari hasil jerih payahnya sendiri. Umumnya, terlebih lagi bagi mereka yang dalam kondisi seperti para nabi, ia tidak akan memforsir dirinya dalam bekerja secara berlebihan hingga menghasilkan harta yang melimpah untuk disimpan sebagai warisan bagi orang setelahnya. Hal ini adalah perkara yang sangat jelas bagi siapa pun yang merenungkan, memikirkan, dan memahaminya, insya Allah.

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Yazid (yaitu Ibnu Harun), telah mengabarkan kepada kami Hammad bin Salamah, dari Tsabit, dari Abu Rafi', dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw bersabda: "Zakaria adalah seorang tukang kayu." Demikian pula yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ibnu Majah melalui lebih dari satu jalur dari Hammad bin Salamah.

Allah Ta'ala berfirman:

"Kemudian para malaikat memanggilnya, ketika dia berdiri melaksanakan salat di mihrab, 'Sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran) Yahya, yang membenarkan kalimat dari Allah, menjadi panutan, berkemampuan menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang nabi di antara orang-orang saleh'." (QS. Ali 'Imran: 39).

Ketika ia diberi kabar gembira tentang lahirnya seorang putra dan kabar itu telah terbukti benar, ia mulai bertanya-tanya dengan nada takjub mengenai keberadaan anak tersebut dalam kondisi yang ia alami:

"Dia (Zakaria) berkata, 'Ya Tuhanku, bagaimana aku akan mempunyai anak, padahal istriku seorang yang mandul dan aku sesungguhnya telah mencapai usia yang sangat tua?'"

Maksudnya, bagaimana mungkin seorang anak lahir dari seorang laki-laki yang sudah sangat tua? Dikatakan bahwa usianya saat itu adalah 77 tahun, namun yang lebih mendekati kebenaran—wallahu a'lam—ia lebih tua dari itu. "Sedangkan istriku adalah seorang yang mandul," maksudnya: istriku sejak masa mudanya memang mandul dan tidak melahirkan anak, wallahu a'lam. Sebagaimana Al-Khalil (Ibrahim) pernah berkata: "Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal aku telah lanjut usia, maka dengan cara bagaimanakah (berita) yang kamu kabarkan ini?" (QS. Al-Hijr: 54). Dan Sarah berkata: "Sungguh ajaib, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku sudah tua, dan suamiku ini pun sudah sangat tua? Sesungguhnya ini benar-benar sesuatu yang ajaib." Para malaikat berkata, "Mengapa engkau merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya yang dicurahkan atasmu, wahai ahlul bait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah." (QS. Hud: 72-73).

Demikian pulalah Zakaria 'Alaihis Salam dijawab. Malaikat yang menyampaikan wahyu kepadanya atas perintah Tuhannya berkata: "Demikianlah." Tuhanmu berfirman, "Hal itu mudah bagi-Ku." Maksudnya, hal ini adalah perkara yang mudah dan ringan bagi-Nya. "Sungguh, engkau telah Aku ciptakan sebelum itu, padahal (waktu itu) engkau belum berwujud sama sekali." Artinya, dengan kekuasaan-Nya, Dia mewujudkanmu setelah sebelumnya engkau bukanlah sesuatu yang dapat disebut (tidak ada). Maka bukankah mudah bagi-Nya untuk mewujudkan anak darimu meskipun engkau sudah tua renta?

Allah Ta'ala berfirman:

"Maka Kami kabulkan (doa)nya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya, dan Kami jadikan istrinya (dapat mengandung). Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami." (QS. Al-Anbiya: 90).

Makna "memperbaiki istrinya" (أصلحنا له زوجه) adalah bahwa sebelumnya istrinya tidak mengalami haid (menopause/mandul), lalu kemudian ia mengalami haid kembali. Ada pula yang berpendapat bahwa sebelumnya ada sesuatu pada lidahnya, yakni ucapan yang kasar/tajam, lalu diperbaiki sifatnya.

Zakaria berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda," yakni tanda mengenai waktu dimulainya pembuahan pada rahim istrinya untuk anak yang dikabarkan ini. Allah berfirman: "Tandamu ialah engkau tidak dapat berbicara dengan manusia selama tiga malam, padahal engkau sehat." Allah berfirman bahwa tandanya adalah engkau akan mengalami kebuntuan bicara (diam) sehingga tidak bisa berucap selama tiga hari kecuali dengan isyarat, padahal saat itu kondisi fisikmu sempurna, sehat, dan seimbang. Ia diperintahkan untuk memperbanyak zikir dalam hati dan menghadirkan ingatan kepada Allah di dalam jiwanya pada waktu petang dan pagi hari.

Setelah menerima kabar gembira ini, ia keluar menemui kaumnya dari mihrabnya dalam keadaan penuh kegembiraan. "Maka dia memberi isyarat kepada mereka: bertasbihlah kamu pada waktu pagi dan petang." Makna wahyu di sini adalah perintah yang samar, baik melalui tulisan (sebagaimana pendapat Mujahid dan As-Suddi) atau melalui isyarat (sebagaimana pendapat Mujahid, Wahb, dan Qatadah). Mujahid, Ikrimah, Wahb, As-Suddi, dan Qatadah berkata: Lidahnya tertahan (terkunci) bukan karena penyakit. Ibnu Zaid berkata: Ia tetap bisa membaca (kitab) dan bertasbih, namun tidak mampu berbicara kepada orang lain.

Firman Allah Ta'ala: "Wahai Yahya! Ambillah (pelajarilah) Kitab itu dengan sungguh-sungguh," Allah mengabarkan tentang kehadiran anak tersebut sesuai dengan janji Ilahi kepada ayahnya, Zakaria 'Alaihis Salam, dan bahwa Allah mengajarkannya Al-Kitab serta hikmah saat ia masih kecil. Abdullah bin al-Mubarak berkata dari Ma'mar: Anak-anak sebaya berkata kepada Yahya bin Zakaria, "Mari kita pergi bermain." Yahya menjawab, "Bukan untuk bermain kita diciptakan." Ma'mar berkata: Itulah maksud firman Allah: "Dan Kami berikan hikmah kepadanya selagi dia masih kanak-kanak."

Adapun firman-Nya: "Dan rasa kasih sayang (kepada sesama) dari sisi Kami," Ibnu Jarir meriwayatkan dari Amr bin Dinar dari Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata: "Aku tidak tahu apa itu Al-Hanan (kasih sayang)." Namun dari Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Qatadah, dan Ad-Dhahhak disebutkan: "Kasih sayang dari sisi Kami" maksudnya adalah rahmat dari sisi Kami yang dengannya Kami merahmati Zakaria sehingga Kami anugerahkan anak ini kepadanya. Dari Ikrimah: "Hananan" berarti rasa cinta kepadanya. Ada kemungkinan juga bahwa itu adalah sifat kelembutan Yahya kepada manusia, terutama kepada kedua orang tuanya, yaitu rasa cinta, kasih sayang, dan baktinya kepada mereka.

Sedangkan "Zakat" (زكاة) bermakna kesucian akhlak dan kebersihan dari segala kekurangan dan kehinaan. Dan "Taqwa" bermakna ketaatan kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Kemudian Allah menyebutkan bakti Yahya kepada kedua orang tuanya dan ketaatannya kepada mereka dalam perintah maupun larangan, serta tidak durhaka kepada mereka baik melalui ucapan maupun perbuatan. Allah berfirman: "Dan sangat berbakti kepada kedua orang tuanya, dan dia bukan orang yang sombong (lagi) durhaka."

Kemudian Allah berfirman: "Kesejahteraan atas dirinya pada hari dia dilahirkan, pada hari dia wafat, dan pada hari dia dibangkitkan hidup kembali." Ketiga waktu ini adalah saat-saat yang paling sulit bagi manusia, karena pada setiap waktu tersebut manusia berpindah dari satu alam ke alam lain. Ia kehilangan alam yang pertama setelah ia merasa akrab dan mengenalnya, lalu menuju alam berikutnya dalam keadaan tidak tahu apa yang ada di hadapannya. Oleh karena itu, bayi yang baru lahir akan menangis keras saat keluar dari rahim dan meninggalkan kelembutan serta dekapan rahim, berpindah ke dunia ini untuk menghadapi kesusahan dan kesedihannya.

Demikian pula ketika ia meninggalkan dunia ini dan berpindah ke alam barzakh (antara dunia dan akhirat). Ia berpindah dari rumah dan istana menuju pelataran orang-orang mati sebagai penghuni kubur, lalu menunggu di sana hingga ditiupnya sangkakala untuk hari kebangkitan. Ada yang merasa bahagia dan gembira, ada yang merasa sedih dan binasa; ada yang mulia dan ada yang hancur; sebagian masuk surga dan sebagian masuk neraka Sa'ir.

Sungguh indah apa yang dikatakan oleh sebagian penyair:

Ibumu melahirkanmu dalam keadaan menangis menjerit,

Sementara orang-orang di sekitarmu tertawa bahagia.

Maka berusahalah untuk dirimu sendiri, agar saat mereka menangis

Di hari kematianmu kelak, engkaulah yang tertawa penuh kegembiraan.

Karena ketiga fase ini adalah yang paling berat bagi anak cucu Adam, maka Allah memberikan keselamatan (salam) kepada Yahya pada setiap fase tersebut. Allah berfirman: "Kesejahteraan atas dirinya pada hari dia dilahirkan, pada hari dia wafat, dan pada hari dia dibangkitkan hidup kembali."

Saeed bin Abi 'Arubah meriwayatkan dari Qatadah bahwa Al-Hasan berkata: Sesungguhnya Yahya dan Isa pernah bertemu, lalu Isa berkata kepadanya: "Mohonkanlah ampunan untukku, engkau lebih baik dariku." Namun Yahya membalas: "Mohonkanlah ampunan untukku, engkau lebih baik dariku." Isa kemudian berkata: "Engkau lebih baik dariku; aku mengucapkan salam (keselamatan) atas diriku sendiri (saat lahir), sedangkan Allah-lah yang mengucapkan salam atasmu." Maka demi Allah, ia mengakui keutamaan keduanya.

Adapun firman-Nya dalam ayat yang lain: "Menjadi panutan, حصوراً (Hashur), dan seorang Nabi di antara orang-orang saleh." (QS. Ali 'Imran: 39). Dikatakan bahwa yang dimaksud dengan Al-Hashur adalah orang yang tidak mendatangi (berhubungan dengan) wanita. Ada pula pendapat lain, namun pendapat tadi lebih mendekati karena sebelumnya Zakaria berdoa: "Anugerahkanlah kepadaku dari sisi-Mu keturunan yang baik." (QS. Ali 'Imran: 38).

Muhammad bin Ishaq—dan dia adalah seorang mudallis (sering menyamarkan riwayat)—meriwayatkan dari Yahya bin Saeed al-Anshari, dari Saeed bin al-Musayyib, telah menceritakan kepadaku Ibnu al-'Ash bahwa ia mendengar Rasulullah Saw bersabda: "Setiap anak Adam akan datang pada hari kiamat dengan membawa dosa, kecuali Yahya bin Zakaria."

Ini adalah riwayat Ibnu Ishaq yang merupakan seorang mudallis dan ia menggunakan redaksi 'an'anah (kata sambung "dari") di sini. Kemudian Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ma’mar, dari Qatadah, dari Saeed bin al-Musayyib secara mursal. Kemudian aku melihat Ibnu Asakir membawakannya dari Abu Usamah, dari Yahya bin Saeed al-Anshari. Lalu Ibnu Asakir meriwayatkannya dari jalur Ibrahim bin al-Jauzani (Khatib Damaskus), menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Asbahani, menceritakan kepada kami Abu Khalid al-Ahmar, dari Yahya bin Saeed, dari Saeed bin al-Musayyib, dari Abdullah bin 'Amru yang berkata: "Tidak ada seorang pun kecuali akan menjumpai Allah dengan membawa dosa, kecuali Yahya bin Zakaria." Kemudian ia membaca ayat: "Menjadi panutan dan Hashur." Lalu ia memungut sesuatu dari tanah dan berkata: "Tidak ada bersamanya (nafsu/dosa) kecuali sekecil ini, kemudian ia disembelih!"

Riwayat ini berstatus mawquf (terhenti pada sahabat) melalui jalur ini, dan status mawquf-nya lebih shahih daripada marfu' (disandarkan langsung ke Nabi)—wallahu a'lam. Ibnu Asakir juga menyebutkannya dari berbagai jalur dari Ma'mar, di antaranya dari hadits Ishaq bin Bisyir—dan dia perawi yang lemah—dari Utsman bin Saj, dari Thaur bin Yazid, dari Khalid bin Ma'dan, dari Mu'adz, dari Nabi Saw dengan makna yang serupa.

Diriwayatkan juga dari jalur Abu Dawud al-Thayalisi dan lainnya, dari al-Hakam bin Abdurrahman bin Abi Nu'aim, dari ayahnya, dari Abu Saeed yang berkata: Rasulullah Saw bersabda: "Al-Hasan dan Al-Husein adalah pemimpin pemuda ahli surga, kecuali dua putra bibi yaitu Yahya dan Isa 'Alaihimas Salam."

Israel meriwayatkan dari Abi Hashin, dari Khaithamah, ia berkata: "Isa putra Maryam dan Yahya bin Zakaria adalah putra dari dua bersaudara (sepupu dari pihak ibu). Isa terbiasa mengenakan kain wol (shuf), sedangkan Yahya mengenakan kulit binatang (wabar). Keduanya tidak memiliki satu dinar pun, tidak pula dirham, tidak budak laki-laki maupun perempuan, dan tidak pula tempat tinggal untuk menetap. Di mana pun malam tiba, di sanalah mereka berteduh. Ketika keduanya hendak berpisah, Yahya berkata: 'Berilah aku wasiat.' Isa menjawab: 'Janganlah marah.' Yahya berkata: 'Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak marah.' Isa berkata: 'Janganlah menumpuk harta.' Yahya berkata: 'Kalau yang ini, semoga aku bisa'."

Telah terjadi perbedaan riwayat dari Wahb bin Munabbih mengenai apakah Zakaria 'Alaihis Salam wafat secara alami atau terbunuh. Ada dua riwayat; Abdul Mun'im bin Idris bin Sinan meriwayatkan dari ayahnya, dari Wahb bin Munabbih, bahwa ia berkata: "Zakaria melarikan diri dari kaumnya lalu masuk ke dalam pohon. Mereka datang lalu meletakkan gergaji di atasnya. Ketika gergaji itu sampai ke tulang rusuknya, ia merintih. Maka Allah mewahyukan kepadanya: 'Jika rintihanmu tidak berhenti, Aku akan membalikkan bumi dan seluruh isinya.' Maka rintihannya pun diam hingga ia terpotong menjadi dua bagian." Namun Ishaq bin Bisyir meriwayatkan dari Idris bin Sinan, dari Wahb, bahwa ia berkata: "Yang masuk ke dalam pohon dan terbelah adalah Yesaya (Asya'ya), adapun Zakaria wafat secara alami." Wallahu a'lam.

Imam Ahmad meriwayatkan: Menceritakan kepada kami 'Affan, mengabarkan kepada kami Abu Khalaf Musa bin Khalaf—ia termasuk golongan orang saleh (Budala)—menceritakan kepada kami Yahya bin Abi Katsir, dari Zaid bin Sallam, dari kakeknya Mamthur, dari Al-Harits al-Asy'ari bahwa Nabi Saw bersabda: "Sesungguhnya Allah memerintahkan Yahya bin Zakaria dengan lima kalimat agar ia mengamalkannya dan memerintahkan Bani Israil untuk mengamalkannya pula. Hampir saja ia terlambat menyampaikannya, maka Isa 'Alaihis Salam berkata kepadanya: 'Engkau telah diperintahkan dengan lima kalimat untuk diamalkan dan diperintahkan kepada Bani Israil, maka pilihannya engkau yang menyampaikan atau aku yang menyampaikan.' Yahya menjawab: 'Wahai saudaraku, aku takut jika engkau mendahuluiku aku akan diadzab atau ditenggelamkan ke bumi.'

Maka Yahya mengumpulkan Bani Israil di Baitul Maqdis hingga masjid itu penuh sesak. Ia duduk di tempat yang tinggi, memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian berkata: 'Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla memerintahkanku dengan lima kalimat agar aku mengamalkannya dan memerintahkan kalian untuk mengamalkannya.

Pertama: Sembahlah Allah dan janganlah mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Perumpamaannya seperti seseorang yang membeli hamba sahaya dengan harta murninya berupa perak atau emas, namun hamba itu bekerja dan memberikan hasilnya kepada selain tuannya. Siapakah di antara kalian yang senang jika hambanya bersikap demikian? Sesungguhnya Allah menciptakan kalian dan memberi rezeki kalian, maka sembahlah Dia dan jangan mempersekutukan-Nya.

Kedua: Aku perintahkan kalian untuk shalat, karena Allah menghadapkan wajah-Nya kepada hamba-Nya selama ia tidak berpaling (dalam shalatnya). Jika kalian shalat, janganlah berpaling.

Ketiga: Aku perintahkan kalian untuk berpuasa. Perumpamaannya seperti seseorang yang membawa kantong berisi minyak misk di tengah sekelompok orang, semuanya mencium aroma wangi misk tersebut. Sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma misk.

Keempat: Aku perintahkan kalian untuk bersedekah. Perumpamaannya seperti seseorang yang ditawan musuh, tangan mereka diikat ke lehernya dan mereka membawanya untuk dipenggal. Ia berkata: 'Maukah kalian jika aku menebus diriku dari kalian?' Maka ia menebus dirinya dengan harta yang sedikit maupun banyak hingga ia terbebas.

Kelima: Aku perintahkan kalian untuk banyak berzikir mengingat Allah 'Azza wa Jalla. Perumpamaannya seperti seseorang yang dikejar musuh dengan cepat, lalu ia mendatangi benteng yang kokoh dan berlindung di dalamnya. Sesungguhnya seorang hamba berada dalam perlindungan paling kuat dari setan ketika ia sedang berzikir kepada Allah 'Azza wa Jalla'."

Rasulullah Saw bersabda: "Dan aku memerintahkan kalian dengan lima perkara yang Allah perintahkan kepadaku: Al-Jama'ah (bersatu), mendengar, taat, hijrah, dan jihad di jalan Allah. Barangsiapa yang keluar dari jama'ah sejauh satu jengkal, maka ia telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya kecuali jika ia kembali. Dan barangsiapa menyeru dengan seruan jahiliyah, maka ia termasuk penghuni neraka Jahannam." Seseorang bertanya: "Wahai Rasulullah, meskipun ia berpuasa dan shalat?" Beliau menjawab: "Meskipun ia berpuasa, shalat, dan mengaku Muslim. Panggillah kaum Muslimin dengan nama-nama yang telah Allah berikan kepada mereka: kaum Muslimin, kaum Mukminin, hamba-hamba Allah 'Azza wa Jalla'."

Kemudian Al-Hafizh Ibnu Asakir meriwayatkan dari jalur Abdullah bin Abi Ja'far al-Razi, dari ayahnya, dari al-Rabi' bin Anas, ia berkata: "Telah disebutkan kepada kami dari para sahabat Rasulullah Saw mengenai apa yang mereka dengar dari ulama Bani Israil bahwa Yahya bin Zakaria diutus dengan lima kalimat..." dan ia menyebutkan hal yang serupa dengan yang telah lalu.

Mereka menyebutkan bahwa Yahya 'Alaihis Salam sering menyendiri dari kerumunan orang. Ia lebih merasa tenang berada di padang belantara, memakan dedaunan pohon, meminum air sungai, dan terkadang makan belalang. Ia sering berkata: "Siapakah yang lebih diberi nikmat daripada engkau, wahai Yahya?!"

Ibnu Asakir meriwayatkan bahwa kedua orang tuanya keluar mencari dirinya dan menemukannya di tepi Danau Yordan. Ketika mereka bertemu, Yahya membuat keduanya menangis sejadi-jadinya karena melihat kondisi ibadahnya dan rasa takutnya kepada Allah 'Azza wa Jalla.

Ibnu Wahb meriwayatkan dari Malik, dari Humaid bin Qais, dari Mujahid yang berkata: "Makanan Yahya bin Zakaria adalah rumput-rumputan. Ia benar-benar menangis karena takut kepada Allah hingga sekiranya ada aspal (cairan kental) di matanya, niscaya tangisannya akan melubanginya."

Muhammad bin Yahya al-Dzuhli berkata: Menceritakan kepada kami Al-Laits, menceritakan kepadaku Uqail, dari Ibnu Syihab yang berkata: "Pada suatu hari aku duduk bersama Abu Idris al-Khawlani saat ia sedang berkisah. Ia berkata: 'Maukah kalian aku beritahu tentang orang yang paling lezat makanannya?' Ketika ia melihat orang-orang memperhatikannya, ia berkata: 'Yahya bin Zakaria adalah orang yang paling lezat makanannya. Ia hanya makan bersama binatang buas karena benci berbaur dengan manusia dalam urusan mata pencaharian mereka'."

Ibnu al-Mubarak meriwayatkan dari Wuhaib bin al-Ward, ia berkata: "Zakaria kehilangan putranya, Yahya, selama tiga hari. Ia pun keluar mencarinya di padang belantara, dan ternyata Yahya telah menggali sebuah liang kubur dan berdiam di dalamnya sambil menangisi dirinya sendiri. Zakaria berkata: 'Wahai anakku, aku mencarimu selama tiga hari, ternyata engkau di dalam kubur yang engkau gali sendiri sambil menangis?' Yahya menjawab: 'Wahai ayahku, bukankah engkau yang memberitahuku bahwa antara surga dan neraka ada padang luas yang tidak bisa diseberangi kecuali dengan air mata orang-orang yang menangis?' Zakaria pun berkata: 'Menangislah wahai anakku.' Maka keduanya menangis bersama." Hal yang serupa juga dikisahkan oleh Wahb bin Munabbih dan Mujahid.

Ibnu Asakir meriwayatkan darinya (Yahya) bahwa ia berkata: "Sesungguhnya penduduk surga tidak tidur karena kelezatan nikmat yang mereka rasakan. Maka demikian pulalah seharusnya bagi orang-orang shiddiqin, mereka tidak tidur karena nikmat cinta kepada Allah 'Azza wa Jalla yang ada di hati mereka." Kemudian ia berkata: "Betapa jauh perbedaan antara kedua nikmat tersebut." Mereka menyebutkan bahwa ia sangat banyak menangis hingga tangisannya meninggalkan bekas di kedua pipinya karena banyaknya air mata.

Sebab Terbunuhnya Nabi Yahya 'Alaihis Salam

Para ulama menyebutkan beberapa alasan mengenai pembunuhannya. Yang paling masyhur adalah bahwa salah seorang raja di masa itu di Damaskus ingin menikahi salah seorang mahramnya (kerabat dekat) atau wanita yang tidak halal baginya untuk dinikahi. Maka Yahya 'Alaihis Salam melarangnya melakukan hal itu, sehingga wanita tersebut menyimpan rasa dendam kepadanya.

Ketika terjadi hubungan antara wanita itu dengan sang raja, si wanita meminta hadiah berupa darah Yahya. Raja pun memberikannya, lalu mengirim orang untuk membunuhnya. Orang itu datang membawa kepala dan darah Yahya di dalam sebuah baskom (tast) ke hadapan wanita tersebut. Dikatakan bahwa wanita itu langsung binasa saat itu juga.

Ada pula yang berpendapat bahwa istri raja tersebut mencintai Yahya dan mengirim pesan kepadanya, namun Yahya menolaknya. Ketika wanita itu putus asa, ia bersiasat dengan meminta (kepala) Yahya kepada raja sebagai hadiah. Awalnya raja menolak, namun kemudian ia menurutinya. Raja mengirim orang untuk membunuhnya dan membawakan kepala serta darahnya di dalam sebuah baskom ke hadapan wanita itu.

Makna ini disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ishaq bin Bisyir dalam kitabnya "Al-Mubtada", di mana ia berkata: Mengabarkan kepada kami Ya'qub al-Kufi, dari 'Amru bin Maimun, dari ayahnya, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah Saw pada malam Isra' melihat Zakaria di langit, lalu beliau mengucapkan salam kepadanya dan bertanya: "Wahai Abu Yahya, beritahukanlah kepadaku tentang kematianmu, bagaimana itu terjadi dan mengapa Bani Israil membunuhmu?"

Zakaria menjawab: "Wahai Muhammad, aku kabarkan kepadamu bahwa Yahya adalah orang terbaik di zamannya, paling tampan dan cerah wajahnya. Ia sebagaimana firman Allah: 'Menjadi panutan dan Hashur (menahan diri dari wanita)'. Ia tidak membutuhkan wanita, namun istri raja Bani Israil mencintainya. Wanita itu adalah seorang pelacur (بغية). Ia mengirim pesan kepada Yahya, namun Allah menjaganya sehingga Yahya menolak dan enggan menurutinya. Maka wanita itu bertekad membunuh Yahya."

"Mereka memiliki hari raya yang diikuti setiap tahun. Sudah menjadi tradisi sang raja untuk menepati janji, tidak menyalahi dan tidak berdusta. Ketika raja keluar menuju hari raya, istrinya berdiri mengantarnya, dan raja sangat kagum padanya karena ia belum pernah melakukan hal itu sebelumnya. Saat mengantarnya, raja berkata: 'Mintalah sesuatu kepadaku, apa pun yang kau minta pasti aku berikan'. Wanita itu menjawab: 'Aku ingin darah Yahya bin Zakaria'. Raja berkata: 'Mintalah yang lain'. Ia menjawab: 'Hanya itu'. Raja berkata: 'Itu milikmu'."

"Maka raja mengirim para pengawalnya kepada Yahya saat ia sedang shalat di mihrabnya, sementara aku (Zakaria) sedang shalat di sampingnya. Yahya disembelih di atas baskom dan kepalanya serta darahnya dibawa kepada wanita itu." Rasulullah Saw bertanya: "Bagaimana tingkat kesabaranmu saat itu?" Zakaria menjawab: "Aku tidak memutuskan shalatku."

"Ketika kepalanya dibawa ke hadapan wanita itu, pada sore harinya Allah menenggelamkan (ke dalam bumi) sang raja, keluarganya, dan para pelayannya. Esok paginya, Bani Israil berkata: 'Tuhannya Zakaria telah marah demi Zakaria, mari kita marah demi raja kita dengan membunuh Zakaria'. Maka mereka keluar mencariku untuk membunuhku. Datanglah seorang pemberi peringatan kepadaku, lalu aku lari dari mereka sementara Iblis berada di depan mereka menunjukkan keberadaanku. Ketika aku khawatir mereka akan menangkapku, tampaklah sebuah pohon yang memanggilku: 'Kemarilah!'. Pohon itu terbelah dan aku masuk ke dalamnya."

"Lalu Iblis datang dan memegang ujung jubahku hingga pohon itu merapat kembali namun ujung jubahku tetap berada di luar pohon. Bani Israil datang, dan Iblis berkata: 'Tidakkah kalian lihat dia masuk ke pohon ini? Ini ujung jubahnya, dia masuk dengan sihirnya'. Mereka berkata: 'Kita bakar pohon ini'. Iblis berkata: 'Belahlah dengan gergaji'. Maka aku ikut terbelah bersama pohon itu dengan gergaji." Nabi Saw bertanya: "Apakah engkau merasakan sentuhan (sakit) atau nyeri?" Zakaria menjawab: "Tidak, aku hanya merasakannya pada pohon itu yang mana Allah menjadikan ruhku di dalamnya."

Ibnu Katsir berkomentar mengenai hal ini:

"Konteks riwayat ini sangat aneh (garib) sekali, haditsnya ajaib, dan penyandarannya kepada Nabi (marfu') adalah munkar. Di dalamnya terdapat hal-hal yang diingkari dalam segala kondisi. Tidak terlihat dalam satu pun hadits-hadits Isra' yang shahih penyebutan tentang (kematian) Zakaria 'Alaihis Salam kecuali dalam hadits ini. Adapun yang terjaga (mahfuzh) dalam sebagian lafazh hadits Shahih mengenai Isra' adalah: 'Aku melewati dua putra bibi, yaitu Yahya dan Isa'."

Maka hal ini sesuai dengan pendapat mayoritas ulama sebagaimana zahir hadits, bahwa ibu Yahya (Elisabeth/Asyba') adalah putri Imran, saudara perempuan Maryam binti Imran. Ada pula yang berpendapat bahwa Asyba' (istri Zakaria, ibu Yahya) adalah saudara perempuan Hannah (istri Imran, ibu Maryam), sehingga Yahya adalah anak bibinya Maryam. Wallahu a'lam.

Lokasi Terbunuhnya Nabi Yahya

Para ulama berbeda pendapat apakah ia dibunuh di Masjidil Aqsa atau di tempat lain.

  • Ats-Tsauri meriwayatkan dari Al-A'masy, dari Syamlah bin Athiyyah yang berkata: "Tujuh puluh nabi telah dibunuh di atas batu (Sakhrah) yang ada di Baitul Maqdis, di antaranya adalah Yahya bin Zakaria 'Alaihis Salam."
  • Abu Ubaidah Al-Qasim bin Sallam berkata: Menceritakan kepada kami Abdullah bin Shalih, dari Al-Laits, dari Yahya bin Saeed, dari Saeed bin al-Musayyib yang berkata: "Nebukadnezar (Bukhtanashar) tiba di Damaskus, lalu ia melihat darah Yahya bin Zakaria sedang mendidih. Ia bertanya tentang hal itu dan diberitahu kisahnya. Maka ia membunuh tujuh puluh ribu orang di atas darah tersebut sampai darah itu tenang."

Sanad ini shahih sampai ke Saeed bin al-Musayyib, dan ini menunjukkan bahwa Yahya dibunuh di Damaskus. Ini juga menunjukkan bahwa kisah Nebukadnezar terjadi setelah masa Al-Masih, sebagaimana dikatakan oleh Atha' dan Hasan al-Bashri. Wallahu a'lam.

Al-Hafizh Ibnu Asakir meriwayatkan dari jalur Al-Walid bin Muslim, dari Yazid bin Waqid yang berkata: "Aku melihat kepala Yahya bin Zakaria ketika mereka hendak membangun Masjid Damaskus. Kepala itu dikeluarkan dari bawah salah satu sudut kiblat yang dekat dengan mihrab di sisi timur. Kulit dan rambutnya masih dalam keadaan semula, tidak berubah." Dalam riwayat lain disebutkan: "Seolah-olah baru dibunuh saat itu juga." Disebutkan bahwa dalam pembangunan Masjid Damaskus, kepala itu diletakkan di bawah tiang yang dikenal sebagai Tiang Sakasikah. Wallahu a'lam.

Al-Hafizh Ibnu Asakir juga meriwayatkan dalam "Al-Mustaqsha fi Fadha'il al-Aqsha" dari jalur Al-Abbas bin Subh, dari Marwan, dari Saeed bin Abdul Aziz, dari Qasim (maula Muawiyah), ia berkata:

"Raja kota ini (Damaskus) bernama Hadad bin Hadar. Ia menikahkan putranya dengan keponakannya, Ariel, ratu Sidon. Di antara harta miliknya adalah Pasar Para Raja di Damaskus (toko emas kuno). Raja telah bersumpah thalaq tiga kepadanya, lalu ingin merujuknya kembali. Ia meminta fatwa kepada Yahya bin Zakaria, namun Yahya menjawab: 'Ia tidak halal bagimu sampai ia menikah dengan suami lain'. Maka wanita itu dendam kepadanya."

Atas hasutan ibunya, wanita itu meminta kepala Yahya bin Zakaria kepada raja. Awalnya raja menolak, namun kemudian menyanggupinya. Ia mengirim orang kepada Yahya saat ia sedang shalat di Masjid Jabrun, lalu orang itu membawakan kepalanya di atas nampan. Kepala itu terus berucap: "Ia tidak halal baginya sampai ia menikah dengan suami lain". Wanita itu mengambil nampan tersebut, menjunjungnya di atas kepala, dan membawanya kepada ibunya sementara kepala itu terus berucap demikian.

Ketika ia berdiri di hadapan ibunya, bumi menelan kakinya, kemudian menelan hingga pinggangnya. Ibunya meratap dan para pelayan berteriak serta menampar wajah mereka. Lalu bumi menelan hingga bahunya. Ibunya memerintahkan algojo untuk memenggal leher putrinya agar ia bisa terhibur dengan kepala anaknya. Algojo melakukannya, lalu bumi memuntahkan jasadnya saat itu. Mereka pun jatuh dalam kehinaan dan kepunahan. Darah Yahya tidak berhenti mendidih sampai Nebukadnezar datang dan membunuh tujuh puluh lima ribu orang di atasnya.

Saeed bin Abdul Aziz berkata: "Itu adalah darah setiap nabi." Darah itu terus mendidih sampai Nabi Yeremia (Armiya) 'Alaihis Salam berdiri di dekatnya dan berkata: "Wahai darah, engkau telah membinasakan Bani Israil, maka tenanglah dengan izin Allah." Darah itu pun tenang, pedang diangkat, dan penduduk Damaskus yang melarikan diri ke Baitul Maqdis dikejar oleh Nebukadnezar. Ia membunuh banyak orang di sana, menawan mereka, kemudian kembali.

Pertanyaan, Diskusi, dan Ibrah (Pelajaran)

Yahya hadir melalui doa ayahnya: "Maka anugerahilah aku dari sisi-Mu seorang putra." Lalu ibunya mengandungnya, sementara sebelumnya Maryam juga sedang mengandung Isa putra Maryam pada waktu yang sama. Apakah kelahiran Yahya dari ayah dan ibu yang telah mencapai usia sangat tua merupakan pendahulu (persiapan) bagi kelahiran Isa tanpa ayah? Dan apakah hal itu diwahyukan kepada Zakaria, pengasuh Maryam, agar ia tidak menentang Maryam ketika melahirkan Isa kelak?

Kehidupan Yahya di masa mudanya—khususnya masa kanak-kanak—tidak disebutkan sama sekali dalam Al-Qur'an maupun dalam literatur Ahli Kitab. Oleh karena itu, banyak muncul desas-desus, spekulasi, dan cerita-cerita tentangnya. Apakah kita akan hanyut mengikuti hal tersebut, ataukah apa yang termaktub dalam Al-Qur'an dan dari Rasulullah Saw sudah cukup bagi kita?

Apakah doa yang tulus kepada Allah agar dianugerahi anak bagi mereka yang belum memilikinya bermanfaat bagi orang-orang saleh dan mereka yang gemar beristighfar? Allah Ta'ala berfirman: "Maka aku berkata (kepada mereka), 'Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu'." (QS. Nuh: 10-12).

Dan apakah meminta bantuan medis di zaman sekarang dalam hal reproduksi dan kehamilan termasuk bagian dari takdir Allah Subhanahu wa Ta'ala dan taufiq-Nya, dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh para ulama? Apakah kisah Yahya dan kelahirannya memberikan arahan dalam hal tersebut?

Apakah warisan Yahya dari Zakaria berupa warisan harta, ataukah warisan ilmu, pemahaman, dan kenabian, sebagaimana warisan Sulaiman dari Daud 'Alaihimas Salam: "Dan Sulaiman telah mewarisi Daud"?

Apakah harta para nabi diwariskan, ataukah keturunan mereka tidak mewarisinya berdasarkan sabda Rasulullah Saw: "Kami kalangan para nabi tidak diwarisi, apa yang kami tinggalkan adalah sedekah"? Mengapa demikian, dan apakah engkau mampu memberikan alasannya?

Yahya adalah seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, taat kepada mereka baik dalam ucapan maupun perbuatan. Hal ini termasuk amalan paling mulia yang layak mendapatkan pujian yang besar.

Mengapa Allah memberikan keselamatan (salam) kepada Yahya 'Alaihis Salam pada tiga waktu dengan berfirman: "Kesejahteraan atas dirinya pada hari dia dilahirkan, pada hari dia wafat, dan pada hari dia dibangkitkan hidup kembali"? Apakah karena waktu-waktu tersebut merupakan saat yang paling berat bagi manusia karena ia berpindah dari satu alam ke alam yang lain?

Apa makna perkataan Isa kepada Yahya: "Aku mengucapkan salam (keselamatan) atas diriku sendiri (saat lahir), sedangkan Allah-lah yang mengucapkan salam atasmu"?

Apakah benar bahwa Yahya tidak memiliki dosa sama sekali? Mengapa?

Apakah benar bahwa Yahya bin Zakaria dan Isa putra Maryam adalah orang-orang fakir yang mengenakan kain wol, tidak memiliki satu dinar maupun dirham, tidak memiliki budak laki-laki maupun perempuan, serta tidak memiliki tempat tinggal untuk bernaung?

Bisakah engkau menyebutkan wasiat Isa putra Maryam kepada Yahya?

Allah memerintahkan Yahya bin Zakaria dengan lima kalimat untuk diamalkan dan diperintahkan kepada Bani Israil agar mereka mengamalkannya pula. Apa sajakah kalimat-kalimat tersebut? Bicarakanlah hal itu kepada saudara-saudaramu, dan jadikanlah itu sebagai pelajaranmu bagi orang lain.

Rasulullah Saw menambahkan lima perkara lain di atas lima kalimat tersebut. Apa sajakah itu? Dan apakah apa yang diperintahkan kepada Yahya juga mengikat kita untuk melakukannya karena Rasulullah Saw telah mengakuinya sehingga menjadi bagian dari syariat kita, dan karena hal itu sesuai dengan syariat serta agama kita?

Dikatakan tentang Yahya bahwa ia memiliki makanan yang paling lezat. Bagaimana hal itu bisa terjadi dan mengapa?

Mungkinkah seorang Muslim saat ini memutuskan hubungan dengan dunia (uzlah total) karena mengikuti jejak Yahya bin Zakaria, ataukah ini adalah bentuk kerahiban (biara) yang telah berlalu, dan kita diperintahkan dengan hal yang berbeda? Rasulullah Saw pernah mendatangi orang-orang yang ingin hidup membujang/beribadah total, di mana salah satu dari mereka berkata: "Aku akan berpuasa sepanjang tahun dan tidak berbuka," yang lain berkata: "Aku akan shalat malam terus dan tidak tidur," dan yang lain berkata: "Aku tidak akan menikahi wanita." Maka Rasulullah Saw mendatangi mereka dan bersabda: "Kaliankah yang berkata begini dan begitu? Adapun aku, aku berpuasa dan berbuka, aku shalat malam dan juga tidur, dan aku menikahi wanita. Inilah sunnahku, dan barangsiapa yang membenci sunnahku, maka ia bukan bagian dariku."

Diriwayatkan bahwa Sahl bin Abi Umamah menceritakan bahwa ia dan ayahnya menemui Anas bin Malik di Madinah pada zaman Umar bin Abdul Aziz saat ia menjadi gubernur. Anas sedang mengerjakan shalat yang ringan, seolah-olah shalat seorang musafir atau mendekatinya. Ketika selesai salam, Sahl bertanya: "Semoga Allah merahmatimu, apakah ini shalat fardhu atau shalat sunnah?" Anas menjawab: "Ini adalah shalat fardhu, dan ini adalah shalat Rasulullah Saw. Aku tidak mengubahnya kecuali jika ada sesuatu yang aku lupa. Sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda: 'Janganlah kalian memberat-beratkan diri kalian sendiri, sehingga Allah akan memberatkan kalian. Sesungguhnya ada suatu kaum yang memberatkan diri mereka sendiri, lalu Allah memberatkan mereka. Itulah sisa-sisa mereka di biara-biara dan tempat pertapaan; kerahiban yang mereka ada-adakan padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka'."'

Keesokan harinya mereka pergi dan berkata: "Mari kita berkendara untuk melihat dan mengambil pelajaran." Mereka semua berkendara hingga sampai di reruntuhan rumah yang kosong, di mana penghuninya telah binasa, punah, dan lenyap; atap-atapnya runtuh. Mereka bertanya: "Tahukah kalian rumah-rumah ini?" Anas menjawab: "Betapa aku mengenal rumah ini dan penghuninya. Mereka adalah penduduk yang dibinasakan oleh kezaliman dan kedengkian. Sesungguhnya kedengkian itu memadamkan cahaya kebaikan, dan kezaliman itu membuktikannya atau mendustakannya. Mata bisa berzina, begitu pula tangan, kaki, tubuh, dan lisan, sedangkan kemaluanlah yang membuktikannya atau mendustakannya."

Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Nabi Saw bersabda: "Setiap nabi memiliki kerahiban, dan kerahiban umat ini adalah jihad di jalan Allah 'Azza wa Jalla." Dalam lafazh lain: "Setiap umat memiliki kerahiban, dan kerahiban umat ini adalah jihad di jalan Allah." Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Abu Saeed al-Khudri bahwa seorang laki-laki mendatanginya dan berkata: "Berilah aku wasiat." Ia menjawab: "Engkau bertanya tentang apa yang pernah aku tanyakan kepada Rasulullah Saw sebelummu. Aku wasiatkan kepadamu untuk bertakwa kepada Allah, karena itu adalah pokok segala sesuatu. Hendaknya engkau berjihad, karena itu adalah kerahiban Islam. Dan hendaknya engkau berzikir kepada Allah serta membaca Al-Qur'an, karena itu adalah ruhmu di langit dan sebutanmu di bumi." (Hanya Ahmad yang meriwayatkannya, Allahu A'lam).

Maka umat Islam adalah umat amal (kerja), umat dakwah, dan umat perbaikan. Pahamilah hal ini. Rasulullah Saw pernah melihat seorang pria berdiri di bawah terik matahari dalam keadaan diam. Beliau bertanya tentangnya, dan orang-orang menjawab: "Ia bernazar untuk tidak berbicara, tidak berteduh, dan terus berpuasa." Beliau bersabda: "Perintahkan dia untuk berbicara, berteduh, dan sempurnakan puasanya. Sesungguhnya Allah tidak butuh terhadap penyiksaan pemuda ini terhadap dirinya sendiri." Maka diketahui bahwa agama Islam adalah agama amal, kekuatan, dan jihad untuk membasmi kerusakan, memperbaiki bumi, dan membahagiakan manusia.

Telah tetap bahwa Yahya 'Alaihis Salam dibunuh secara zalim. Riwayat-riwayat menyebutkan bahwa pembunuhannya adalah harga untuk memuaskan seorang pelacur (wanita nakal) yang dihalangi oleh Yahya dalam memuaskan syahwat haramnya. Betapa banyak orang yang terbunuh hari ini hanya demi memuaskan syahwat penguasa?

Dikatakan bahwa darahnya terus mendidih dan mengirimkan laknat bagi para pembunuhnya. Aku rasa bangsa-bangsa yang membunuh para mujahidin hari ini tidaklah berbeda; darah para dai mendidih, maka datanglah kehancuran dan kemusnahan dari segala sisi sampai mereka masuk ke liang lahat, dan Allah-lah yang akan mengadili urusan mereka di akhirat kelak.

Bisakah engkau menghitung mereka yang dibunuh secara zalim di zaman ini? Bisakah engkau menyebutkan nama-nama pembunuh mereka? Bisakah engkau menulis buku tentang para tiran dan korban-korban mereka, atau menulis risalah atau artikel tentang hal itu?

Bisakah engkau mengambil pelajaran dari sejarah dan mengajarkannya kepada orang lain, serta menjauhi kezaliman meskipun sedikit, karena kezaliman yang sedikit akan menarik kepada kezaliman yang banyak?

Implementasi Praktis Hakikat dan Nilai Materi Melalui Aktivitas Berikut:

Pertama – Aktivitas Pendamping (Activities Associated):

  1. Menyaksikan rekaman video tentang kisah Nabi Allah Yahya 'Alaihis Salam.
  2. Menampilkan beberapa foto dan cuplikan mengenai wilayah Palestina.
  3. Menampilkan ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan kisah tersebut.
  4. Membuat ringkasan buku yang membahas tentang Nabi Allah Yahya 'Alaihis Salam dan mempresentasikannya.
  5. Memaparkan nasihat dan pelajaran (ibrah) dari kisah Nabi Allah Yahya 'Alaihis Salam.
  6. Menggali ayat-ayat yang mendorong untuk tidak bergantung (cinta berlebihan) kepada dunia.
  7. Menghafal ayat-ayat yang berkaitan dengan topik pelajaran.
  8. Diskusi mengenai peran Yahudi dalam membunuh nabi-nabi mereka, pengubahan (tahrif) kitab-kitab, dan permusuhan mereka terhadap Islam.
  9. Menulis pelajaran-pelajaran terpenting yang dipetik dari diskusi tersebut.

Kedua – Aktivitas Pendukung (Supporting Activities):

  1. Membuat majalah dinding tentang kisah Nabi Allah Yahya 'Alaihis Salam.
  2. Menulis beberapa artikel tentang akhlak para nabi dan cara meneladani mereka.
  3. Membuat renungan (khawatir) mengenai pelajaran yang dipetik dari kisah Yahya 'Alaihis Salam.
  4. Membuat rekaman yang berbicara tentang kisah Nabi Allah Yahya 'Alaihis Salam dan mendistribusikannya.
  5. Berupaya mengajak orang lain untuk tidak bergantung pada dunia dan beramal demi agama ini.
  6. Menanamkan nilai-nilai dan prinsip moral ke dalam jiwa orang lain melalui kisah Yahya 'Alaihis Salam.
  7. Mendukung Al-Aqsa dan rakyat Palestina dengan sarana yang tersedia, baik dengan harta maupun waktu, serta mengajak orang lain untuk melakukan hal yang sama.
  8. Mengajarkan hakikat dan nilai yang dipelajari dari materi ini kepada sepuluh orang Muslim, termasuk anggota keluarga sendiri.

Evaluasi dan Pengukuran Mandiri:

I. Pertanyaan Esai:

  1. Berikan alasan (illat) bagi hal-hal berikut:
    • Permintaan Nabi Zakaria 'Alaihis Salam kepada Allah SWT untuk diberikan anak meskipun usianya sudah sangat tua.
    • Pentingnya keberadaan para dai dalam kehidupan seorang Muslim.
    • Nabi Yahya 'Alaihis Salam sangat ahli dalam syariat Nabi Musa 'Alaihis Salam.
  2. Jelaskan pandangan para nabi terhadap dunia dengan menyebutkan contoh-contoh yang menunjukkan hal tersebut.
  3. Apakah zuhud terhadap dunia menghalangi manusia dari bekerja, meneliti, dan belajar dengan alasan bahwa dunia ini fana? Jelaskan hal tersebut.
  4. "Berbakti kepada orang tua adalah jalan menuju surga dan ridha Allah SWT." Jelaskan pernyataan tersebut dengan memperkuat jawabanmu menggunakan contoh-contoh serta mengambil pelajaran dari kisah Yahya 'Alaihis Salam.
  5. Apa sebab-sebab yang menyebabkan terbunuhnya Nabi Yahya 'Alaihis Salam?

II. Pertanyaan Objektif:

  1. Berikan tanda (ü) di depan pernyataan yang benar dan tanda (û) di depan pernyataan yang salah:
    • Yahya 'Alaihis Salam mempelajari Taurat saat sudah berusia lanjut. ( )
    • Warisan Yahya dari ayahnya adalah harta yang banyak. ( )
    • Warisan terbesar yang diwarisi manusia adalah warisan ilmu dan takwa. ( )
    • Mendampingi ulama dan ahli kesalehan mengangkat derajat manusia menuju cinta dan ridha Allah. ( )
    • Di antara pentingnya berbakti kepada orang tua adalah Allah menyebutkannya setelah larangan berbuat syirik. ( )
    • Yahya 'Alaihis Salam tidak pernah bertemu dengan Isa 'Alaihis Salam kecuali sekali saja. ( )
    • Mendukung rakyat Palestina dan Masjid Al-Aqsa adalah kewajiban setiap Muslim, dan berdosa bagi yang meninggalkannya. ( )
  2. Tulis kembali pernyataan berikut setelah membetulkan kata yang bergaris bawah:
    • Yahya 'Alaihis Salam sangat ahli dalam syariat Nabi Ibrahim 'Alaihis Salam.
    • Warisan Yahya 'Alaihis Salam dari Zakaria 'Alaihis Salam adalah Harta.
    • Penyebutan Zakaria dalam Al-Qur'anul Karim sebanyak tiga kali.

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat