Yahya As
Kehamilan
istri Zakaria – yang menurut Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) bernama
"Elizabeth" – terjadi pada masa yang sama saat Maryam sedang
mengandung Isa. Kemudian lahirlah "Yahya". Baik kita maupun Ahli
Kitab tidak memiliki informasi rinci mengenai masa kecilnya, hanya saja mereka
menyebutkan bahwa ia terbiasa tinggal di padang belantara dan memakan belalang
serta madu hutan.
Yahya
adalah sosok yang sangat ahli dalam Syariat Musa dan menjadi rujukan penting
bagi siapa pun yang meminta fatwa mengenai hukum-hukumnya. Saat itu, salah satu
penguasa Palestina bernama "Herodes". Ia memiliki seorang keponakan
perempuan bernama "Herodias" yang sangat cantik jelita. Pamannya
(Herodes) ingin menikahinya. Si gadis dan ibunya pun menginginkan hal itu,
namun Yahya tidak merestui pernikahan tersebut karena hukumnya haram.
Penentangan Yahya atas hal ini pun dikenal luas.
Maka,
ibu si gadis mengambil kesempatan dengan menyuruh putrinya menemui pamannya
dalam keadaan bersolek (berhias) dan menari di hadapannya. Sang paman merasa
sangat senang dan meminta si gadis untuk menyebutkan apa pun keinginannya agar
ia penuhi. Ibu si gadis sebelumnya telah menghasutnya bahwa jika pamannya
menawarkan hal itu, ia harus meminta kepala Yahya bin Zakaria di atas nampan
ini. Gadis itu pun melakukannya, dan sang paman selaku penguasa memenuhi
permintaan itu lalu membunuh Yahya.
Kaum
Yahudi berbeda pendapat dalam masalah pernikahan dengan keponakan perempuan
(anak saudara laki-laki atau anak saudara perempuan). Golongan
"Rabbanites" membolehkannya, sedangkan golongan "Karaite"
melarangnya. Argumen golongan pertama adalah bahwa larangan menikahi keponakan
tidak disebutkan secara eksplisit dalam Taurat.
Yahya
memiliki sifat kesalehan dan ketakwaan yang sempurna sejak masa mudanya. Allah
Ta'ala berfirman mengenainya: "Dan Kami berikan
kepadanya hikmah (ilmu/kenabian) selagi ia masih kanak-kanak."
Tampaknya Allah Ta'ala menganugerahinya kemampuan untuk memahami syariat hingga
ia menjadi ulama di masa kecilnya – dan ia telah diangkat menjadi nabi sebelum
mencapai usia tiga puluh tahun. Ia menyeru manusia untuk bertaubat dari
dosa-dosa dan membaptis mereka, yakni mencuci mereka di Sungai Yordan sebagai
bentuk taubat dari kesalahan. Al-Masih (Isa) pun pernah dibaptis olehnya, dan
mereka menyebutnya "Yohanes Pembaptis".
Ia
pernah ditanya oleh kaum Yahudi apakah ia adalah Al-Masih? Ia menjawab: Bukan.
Mereka bertanya lagi apakah ia sang Nabi (yang dijanjikan)? Ia menjawab: Bukan.
Mereka berkata: "Lalu mengapa engkau membaptis jika engkau bukan Al-Masih
dan bukan pula Nabi itu?" Ia menjawab: "Aku adalah suara yang
berseru-seru di padang belantara; persiapkanlah jalan bagi Tuhan dan
luruskanlah jalan-jalan-Nya."
Al-Qur'an dan Kisah Zakaria serta Yahya 'Alaihimas
Salam
Allah
Ta'ala berfirman dalam Kitab-Nya yang Mulia:
Kha Ya
'Ain Shad. (Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhanmu kepada
hamba-Nya, Zakaria, yaitu ketika dia berdoa kepada Tuhannya dengan doa yang
lembut. Dia berkata, "Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan
kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa
kepada-Mu, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku
(kerabatku) sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka
anugerahilah aku dari sisi-Mu seorang putra, yang akan mewarisi aku dan
mewarisi sebahagian keluarga Ya'qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang
yang diridhai."
(Allah
berfirman), "Wahai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira
kepadamu dengan seorang anak laki-laki namanya Yahya, yang Kami belum pernah
menciptakan orang yang serupa dengannya sebelum ini."
Dia
(Zakaria) berkata, "Ya Tuhanku, bagaimana aku akan mempunyai anak, padahal
istriku seorang yang mandul dan aku sesungguhnya telah mencapai usia yang
sangat tua?" Dia (Allah) berfirman, "Demikianlah." Tuhanmu
berfirman, "Hal itu mudah bagi-Ku; sungguh, engkau telah Aku ciptakan
sebelum itu, padahal (waktu itu) engkau belum berwujud sama sekali."
Zakaria
berkata, "Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda." Dia (Allah)
berfirman, "Tandamu ialah engkau tidak dapat berbicara dengan manusia
selama tiga malam, padahal engkau sehat." Maka dia keluar dari mihrab
menuju kaumnya, lalu dia memberi isyarat kepada mereka; bertasbihlah kamu pada
waktu pagi dan petang. "Wahai Yahya! Ambillah (pelajarilah) Kitab itu
dengan sungguh-sungguh." Dan Kami berikan hikmah kepadanya selagi dia
masih kanak-kanak, dan (Kami jadikan) rasa kasih sayang (kepada sesama) dari
sisi Kami dan bersih (dari dosa). Dan dia pun seorang yang bertakwa, dan sangat
berbakti kepada kedua orang tuanya, dan dia bukan orang yang sombong (lagi)
durhaka. Kesejahteraan atas dirinya pada hari dia dilahirkan, pada hari dia
wafat, dan pada hari dia dibangkitkan hidup kembali.
(QS. Maryam: 1-15).
Allah
Ta'ala juga berfirman:
... Dan
Zakaria yang memeliharanya. Setiap kali Zakaria masuk menemui Maryam di mihrab,
dia mendapati makanan di sisinya. Zakaria bertanya, "Wahai Maryam! Dari
manakah ini engkau peroleh?" Maryam menjawab, "Itu dari Allah.
Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa
perhitungan."
Di
sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya. Dia berkata, "Ya Tuhanku, berilah
aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar
doa." Kemudian para malaikat memanggilnya, ketika dia berdiri melaksanakan
salat di mihrab, "Sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu
dengan (kelahiran) Yahya, yang membenarkan kalimat dari Allah, menjadi panutan,
berkemampuan menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang nabi di antara
orang-orang saleh."
Dia (Zakaria) berkata, "Ya Tuhanku,
bagaimana aku bisa mendapat anak, sedangkan aku sudah sangat tua dan istriku
pun mandul?" Dia (Allah) berfirman, "Demikianlah Allah berbuat apa
yang Dia kehendaki." Dia (Zakaria) berkata, "Ya Tuhanku, berilah aku
suatu tanda." Dia (Allah) berfirman, "Tandamu ialah engkau tidak
dapat berbicara dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan
sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah pada waktu petang
dan pagi hari." (QS. Ali 'Imran: 37-41).
Allah
Ta'ala juga berfirman:
Dan (ingatlah kisah) Zakaria, ketika dia
berdoa kepada Tuhannya, "Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup
seorang diri (tanpa keturunan) dan Engkaulah pemberi waris yang terbaik."
Maka Kami kabulkan (doa)nya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya, dan Kami
jadikan istrinya (dapat mengandung). Sesungguhnya mereka adalah orang-orang
yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan dan mereka berdoa kepada
Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk
kepada Kami. (QS. Al-Anbiya: 89-90).
Dan
Allah Ta'ala berfirman:
(dan)
Zakaria, Yahya, Isa, dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang saleh.
(QS. Al-An'am: 85).
Pembahasan Mengenai Makna "Waris"
Sebagaimana
telah disebutkan, Zakaria berdoa kepada Tuhannya agar dikaruniai anak yang
berbakti, bertaqwa, dan diridhai. Oleh karena itu ia berkata: "Maka anugerahilah aku dari sisi-Mu"
maksudnya adalah dari sisi-Mu dengan daya dan kekuatan-Mu, "(seorang putra) yang akan mewarisi aku"
yaitu dalam hal kenabian dan kepemimpinan di kalangan Bani Israil, "dan mewarisi sebagian keluarga Ya'qub; dan jadikanlah ia, ya
Tuhanku, seorang yang diridhai."
Artinya,
sebagaimana ayah-ayahnya dan pendahulunya dari keturunan Ya'qub adalah para
nabi, maka jadikanlah ia seperti mereka dalam kemuliaan yang Engkau berikan
kepada mereka berupa kenabian dan wahyu. Maksud "waris" di
sini bukanlah warisan harta, sebagaimana yang diklaim oleh sebagian
kalangan Syiah dan disetujui oleh Ibnu Jarir dalam hal ini dengan mengutip dari
Abu Shalih dari kalangan salaf. Pendapat ini ditolak karena beberapa alasan:
- Alasan Pertama:
Sebagaimana telah kami sampaikan pada firman Allah: "Dan Sulaiman telah mewarisi Daud" (QS.
An-Naml: 16), yang dimaksud adalah waris kenabian dan kekuasaan. Hal ini
didasarkan pada hadits yang disepakati oleh para ulama, yang diriwayatkan
dalam kitab-kitab Shahih, Musnad, Sunan, dan lainnya melalui jalur para
sahabat, bahwa Rasulullah Saw bersabda: "Kami tidak diwarisi, apa yang kami tinggalkan adalah
sedekah." Ini adalah teks tegas bahwa Rasulullah Saw tidak mewariskan harta. Karena itulah Abu Bakar
Ash-Shiddiq menolak menyerahkan apa yang menjadi hak khusus Nabi semasa
hidupnya kepada ahli warisnya—yang jika bukan karena teks ini, tentu akan
diserahkan kepada mereka, yaitu putrinya Fatimah, sembilan istrinya, dan
pamannya Abbas. Abu Bakar berhujah kepada mereka dengan hadits ini.
Riwayat ini pun disetujui oleh Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin
Abi Thalib, Abbas bin Abdul Muthalib, Abdurrahman bin Auf, Thalhah,
Az-Zubair, Abu Hurairah, dan lainnya.
- Alasan Kedua:
At-Tirmidzi meriwayatkannya dengan redaksi yang mencakup seluruh nabi: "Kami kalangan para nabi tidaklah diwarisi",
dan ia menshahihkannya.
- Alasan Ketiga: Dunia ini
terlalu hina di mata para nabi sehingga tidak mungkin mereka menumpuknya,
menoleh kepadanya, atau merasa penting urusannya sampai-sampai meminta
anak hanya untuk menguasai harta tersebut sepeninggal mereka. Jika orang
yang kedudukan zuhudnya jauh di bawah para nabi saja tidak terlalu
mementingkan harta hingga meminta anak khusus untuk menjadi ahli waris
hartanya, maka apalagi para nabi.
- Keempat:
Sesungguhnya Zakaria 'Alaihis Salam adalah seorang tukang kayu yang
bekerja dengan tangannya sendiri dan makan dari hasil usahanya tersebut,
sebagaimana Daud 'Alaihis Salam juga makan dari hasil jerih payahnya
sendiri. Umumnya, terlebih lagi bagi mereka yang dalam kondisi seperti
para nabi, ia tidak akan memforsir dirinya dalam bekerja secara berlebihan
hingga menghasilkan harta yang melimpah untuk disimpan sebagai warisan
bagi orang setelahnya. Hal ini adalah perkara yang sangat jelas bagi siapa
pun yang merenungkan, memikirkan, dan memahaminya, insya Allah.
Imam
Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Yazid (yaitu Ibnu Harun), telah
mengabarkan kepada kami Hammad bin Salamah, dari Tsabit, dari Abu Rafi', dari
Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw bersabda: "Zakaria adalah seorang
tukang kayu." Demikian pula yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ibnu
Majah melalui lebih dari satu jalur dari Hammad bin Salamah.
Allah Ta'ala berfirman:
"Kemudian
para malaikat memanggilnya, ketika dia berdiri melaksanakan salat di mihrab,
'Sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran)
Yahya, yang membenarkan kalimat dari Allah, menjadi panutan, berkemampuan
menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang nabi di antara orang-orang
saleh'." (QS. Ali 'Imran: 39).
Ketika
ia diberi kabar gembira tentang lahirnya seorang putra dan kabar itu telah
terbukti benar, ia mulai bertanya-tanya dengan nada takjub mengenai keberadaan
anak tersebut dalam kondisi yang ia alami:
"Dia
(Zakaria) berkata, 'Ya Tuhanku, bagaimana aku akan mempunyai anak, padahal
istriku seorang yang mandul dan aku sesungguhnya telah mencapai usia yang
sangat tua?'"
Maksudnya,
bagaimana mungkin seorang anak lahir dari seorang laki-laki yang sudah sangat
tua? Dikatakan bahwa usianya saat itu adalah 77 tahun, namun yang lebih
mendekati kebenaran—wallahu a'lam—ia lebih tua dari itu. "Sedangkan
istriku adalah seorang yang mandul," maksudnya: istriku sejak masa
mudanya memang mandul dan tidak melahirkan anak, wallahu a'lam. Sebagaimana
Al-Khalil (Ibrahim) pernah berkata: "Apakah kamu memberi kabar gembira
kepadaku padahal aku telah lanjut usia, maka dengan cara bagaimanakah (berita)
yang kamu kabarkan ini?" (QS. Al-Hijr: 54). Dan Sarah berkata: "Sungguh
ajaib, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku sudah tua, dan suamiku
ini pun sudah sangat tua? Sesungguhnya ini benar-benar sesuatu yang
ajaib." Para malaikat berkata, "Mengapa engkau merasa heran tentang
ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya yang dicurahkan
atasmu, wahai ahlul bait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha
Pemurah." (QS. Hud: 72-73).
Demikian
pulalah Zakaria 'Alaihis Salam dijawab. Malaikat yang menyampaikan wahyu
kepadanya atas perintah Tuhannya berkata: "Demikianlah." Tuhanmu
berfirman, "Hal itu mudah bagi-Ku." Maksudnya, hal ini adalah
perkara yang mudah dan ringan bagi-Nya. "Sungguh, engkau telah Aku
ciptakan sebelum itu, padahal (waktu itu) engkau belum berwujud sama
sekali." Artinya, dengan kekuasaan-Nya, Dia mewujudkanmu setelah
sebelumnya engkau bukanlah sesuatu yang dapat disebut (tidak ada). Maka
bukankah mudah bagi-Nya untuk mewujudkan anak darimu meskipun engkau sudah tua
renta?
Allah Ta'ala berfirman:
"Maka
Kami kabulkan (doa)nya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya, dan Kami jadikan
istrinya (dapat mengandung). Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu
bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan
penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada
Kami." (QS. Al-Anbiya: 90).
Makna
"memperbaiki istrinya" (أصلحنا له زوجه)
adalah bahwa sebelumnya istrinya tidak mengalami haid (menopause/mandul), lalu
kemudian ia mengalami haid kembali. Ada pula yang berpendapat bahwa sebelumnya
ada sesuatu pada lidahnya, yakni ucapan yang kasar/tajam, lalu diperbaiki
sifatnya.
Zakaria
berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda," yakni tanda
mengenai waktu dimulainya pembuahan pada rahim istrinya untuk anak yang
dikabarkan ini. Allah berfirman: "Tandamu ialah engkau tidak dapat
berbicara dengan manusia selama tiga malam, padahal engkau sehat."
Allah berfirman bahwa tandanya adalah engkau akan mengalami kebuntuan bicara
(diam) sehingga tidak bisa berucap selama tiga hari kecuali dengan isyarat,
padahal saat itu kondisi fisikmu sempurna, sehat, dan seimbang. Ia
diperintahkan untuk memperbanyak zikir dalam hati dan menghadirkan ingatan
kepada Allah di dalam jiwanya pada waktu petang dan pagi hari.
Setelah
menerima kabar gembira ini, ia keluar menemui kaumnya dari mihrabnya dalam
keadaan penuh kegembiraan. "Maka dia memberi isyarat kepada mereka:
bertasbihlah kamu pada waktu pagi dan petang." Makna wahyu di sini
adalah perintah yang samar, baik melalui tulisan (sebagaimana pendapat Mujahid
dan As-Suddi) atau melalui isyarat (sebagaimana pendapat Mujahid, Wahb, dan
Qatadah). Mujahid, Ikrimah, Wahb, As-Suddi, dan Qatadah berkata: Lidahnya tertahan
(terkunci) bukan karena penyakit. Ibnu Zaid berkata: Ia tetap bisa membaca
(kitab) dan bertasbih, namun tidak mampu berbicara kepada orang lain.
Firman
Allah Ta'ala: "Wahai Yahya! Ambillah (pelajarilah) Kitab itu dengan
sungguh-sungguh," Allah mengabarkan tentang kehadiran anak tersebut
sesuai dengan janji Ilahi kepada ayahnya, Zakaria 'Alaihis Salam, dan bahwa
Allah mengajarkannya Al-Kitab serta hikmah saat ia masih kecil. Abdullah bin
al-Mubarak berkata dari Ma'mar: Anak-anak sebaya berkata kepada Yahya bin
Zakaria, "Mari kita pergi bermain." Yahya menjawab, "Bukan untuk
bermain kita diciptakan." Ma'mar berkata: Itulah maksud firman Allah: "Dan
Kami berikan hikmah kepadanya selagi dia masih kanak-kanak."
Adapun
firman-Nya: "Dan rasa kasih sayang (kepada sesama) dari sisi
Kami," Ibnu Jarir meriwayatkan dari Amr bin Dinar dari Ikrimah dari
Ibnu Abbas bahwa ia berkata: "Aku tidak tahu apa itu Al-Hanan
(kasih sayang)." Namun dari Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Qatadah, dan
Ad-Dhahhak disebutkan: "Kasih sayang dari sisi Kami" maksudnya
adalah rahmat dari sisi Kami yang dengannya Kami merahmati Zakaria sehingga
Kami anugerahkan anak ini kepadanya. Dari Ikrimah: "Hananan"
berarti rasa cinta kepadanya. Ada kemungkinan juga bahwa itu adalah sifat
kelembutan Yahya kepada manusia, terutama kepada kedua orang tuanya, yaitu rasa
cinta, kasih sayang, dan baktinya kepada mereka.
Sedangkan
"Zakat" (زكاة) bermakna kesucian
akhlak dan kebersihan dari segala kekurangan dan kehinaan. Dan
"Taqwa" bermakna ketaatan kepada Allah dengan menjalankan
perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Kemudian
Allah menyebutkan bakti Yahya kepada kedua orang tuanya dan ketaatannya kepada
mereka dalam perintah maupun larangan, serta tidak durhaka kepada mereka baik
melalui ucapan maupun perbuatan. Allah berfirman: "Dan sangat berbakti
kepada kedua orang tuanya, dan dia bukan orang yang sombong (lagi)
durhaka."
Kemudian
Allah berfirman: "Kesejahteraan atas dirinya pada hari dia dilahirkan,
pada hari dia wafat, dan pada hari dia dibangkitkan hidup kembali."
Ketiga waktu ini adalah saat-saat yang paling sulit bagi manusia, karena pada
setiap waktu tersebut manusia berpindah dari satu alam ke alam lain. Ia
kehilangan alam yang pertama setelah ia merasa akrab dan mengenalnya, lalu
menuju alam berikutnya dalam keadaan tidak tahu apa yang ada di hadapannya.
Oleh karena itu, bayi yang baru lahir akan menangis keras saat keluar dari
rahim dan meninggalkan kelembutan serta dekapan rahim, berpindah ke dunia ini
untuk menghadapi kesusahan dan kesedihannya.
Demikian
pula ketika ia meninggalkan dunia ini dan berpindah ke alam barzakh (antara
dunia dan akhirat). Ia berpindah dari rumah dan istana menuju pelataran
orang-orang mati sebagai penghuni kubur, lalu menunggu di sana hingga ditiupnya
sangkakala untuk hari kebangkitan. Ada yang merasa bahagia dan gembira, ada
yang merasa sedih dan binasa; ada yang mulia dan ada yang hancur; sebagian
masuk surga dan sebagian masuk neraka Sa'ir.
Sungguh
indah apa yang dikatakan oleh sebagian penyair:
Ibumu melahirkanmu dalam keadaan
menangis menjerit,
Sementara orang-orang di sekitarmu
tertawa bahagia.
Maka berusahalah untuk dirimu sendiri,
agar saat mereka menangis
Di
hari kematianmu kelak, engkaulah yang tertawa penuh kegembiraan.
Karena
ketiga fase ini adalah yang paling berat bagi anak cucu Adam, maka Allah
memberikan keselamatan (salam) kepada Yahya pada setiap fase tersebut. Allah
berfirman: "Kesejahteraan atas dirinya pada hari dia dilahirkan, pada
hari dia wafat, dan pada hari dia dibangkitkan hidup kembali."
Saeed
bin Abi 'Arubah meriwayatkan dari Qatadah bahwa Al-Hasan berkata: Sesungguhnya
Yahya dan Isa pernah bertemu, lalu Isa berkata kepadanya: "Mohonkanlah
ampunan untukku, engkau lebih baik dariku." Namun Yahya membalas:
"Mohonkanlah ampunan untukku, engkau lebih baik dariku." Isa kemudian
berkata: "Engkau lebih baik dariku; aku mengucapkan salam (keselamatan)
atas diriku sendiri (saat lahir), sedangkan Allah-lah yang mengucapkan salam
atasmu." Maka demi Allah, ia mengakui keutamaan keduanya.
Adapun
firman-Nya dalam ayat yang lain: "Menjadi panutan, حصوراً (Hashur), dan seorang Nabi di antara orang-orang saleh."
(QS. Ali 'Imran: 39). Dikatakan bahwa yang dimaksud dengan Al-Hashur
adalah orang yang tidak mendatangi (berhubungan dengan) wanita. Ada pula
pendapat lain, namun pendapat tadi lebih mendekati karena sebelumnya Zakaria
berdoa: "Anugerahkanlah kepadaku dari sisi-Mu keturunan yang
baik." (QS. Ali 'Imran: 38).
Muhammad
bin Ishaq—dan dia adalah seorang mudallis (sering menyamarkan
riwayat)—meriwayatkan dari Yahya bin Saeed al-Anshari, dari Saeed bin
al-Musayyib, telah menceritakan kepadaku Ibnu al-'Ash bahwa ia mendengar
Rasulullah Saw bersabda: "Setiap anak Adam akan datang pada hari kiamat
dengan membawa dosa, kecuali Yahya bin Zakaria."
Ini
adalah riwayat Ibnu Ishaq yang merupakan seorang mudallis dan ia
menggunakan redaksi 'an'anah (kata sambung "dari") di sini.
Kemudian Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ma’mar, dari Qatadah, dari Saeed bin
al-Musayyib secara mursal. Kemudian aku melihat Ibnu Asakir
membawakannya dari Abu Usamah, dari Yahya bin Saeed al-Anshari. Lalu Ibnu
Asakir meriwayatkannya dari jalur Ibrahim bin al-Jauzani (Khatib Damaskus),
menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Asbahani, menceritakan kepada kami Abu
Khalid al-Ahmar, dari Yahya bin Saeed, dari Saeed bin al-Musayyib, dari
Abdullah bin 'Amru yang berkata: "Tidak ada seorang pun kecuali akan
menjumpai Allah dengan membawa dosa, kecuali Yahya bin Zakaria." Kemudian
ia membaca ayat: "Menjadi panutan dan Hashur." Lalu ia
memungut sesuatu dari tanah dan berkata: "Tidak ada bersamanya
(nafsu/dosa) kecuali sekecil ini, kemudian ia disembelih!"
Riwayat
ini berstatus mawquf (terhenti pada sahabat) melalui jalur ini, dan
status mawquf-nya lebih shahih daripada marfu' (disandarkan
langsung ke Nabi)—wallahu a'lam. Ibnu Asakir juga menyebutkannya dari berbagai
jalur dari Ma'mar, di antaranya dari hadits Ishaq bin Bisyir—dan dia perawi
yang lemah—dari Utsman bin Saj, dari Thaur bin Yazid, dari Khalid bin Ma'dan,
dari Mu'adz, dari Nabi Saw dengan makna yang serupa.
Diriwayatkan
juga dari jalur Abu Dawud al-Thayalisi dan lainnya, dari al-Hakam bin
Abdurrahman bin Abi Nu'aim, dari ayahnya, dari Abu Saeed yang berkata:
Rasulullah Saw bersabda: "Al-Hasan dan Al-Husein adalah pemimpin pemuda
ahli surga, kecuali dua putra bibi yaitu Yahya dan Isa 'Alaihimas Salam."
Israel
meriwayatkan dari Abi Hashin, dari Khaithamah, ia berkata: "Isa putra
Maryam dan Yahya bin Zakaria adalah putra dari dua bersaudara (sepupu dari
pihak ibu). Isa terbiasa mengenakan kain wol (shuf), sedangkan Yahya mengenakan
kulit binatang (wabar). Keduanya tidak memiliki satu dinar pun, tidak pula
dirham, tidak budak laki-laki maupun perempuan, dan tidak pula tempat tinggal
untuk menetap. Di mana pun malam tiba, di sanalah mereka berteduh. Ketika
keduanya hendak berpisah, Yahya berkata: 'Berilah aku wasiat.' Isa menjawab:
'Janganlah marah.' Yahya berkata: 'Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak
marah.' Isa berkata: 'Janganlah menumpuk harta.' Yahya berkata: 'Kalau yang
ini, semoga aku bisa'."
Telah
terjadi perbedaan riwayat dari Wahb bin Munabbih mengenai apakah Zakaria
'Alaihis Salam wafat secara alami atau terbunuh. Ada dua riwayat; Abdul Mun'im
bin Idris bin Sinan meriwayatkan dari ayahnya, dari Wahb bin Munabbih, bahwa ia
berkata: "Zakaria melarikan diri dari kaumnya lalu masuk ke dalam pohon.
Mereka datang lalu meletakkan gergaji di atasnya. Ketika gergaji itu sampai ke
tulang rusuknya, ia merintih. Maka Allah mewahyukan kepadanya: 'Jika rintihanmu
tidak berhenti, Aku akan membalikkan bumi dan seluruh isinya.' Maka rintihannya
pun diam hingga ia terpotong menjadi dua bagian." Namun Ishaq bin Bisyir
meriwayatkan dari Idris bin Sinan, dari Wahb, bahwa ia berkata: "Yang
masuk ke dalam pohon dan terbelah adalah Yesaya (Asya'ya), adapun Zakaria wafat
secara alami." Wallahu a'lam.
Imam
Ahmad meriwayatkan: Menceritakan kepada kami 'Affan, mengabarkan kepada kami
Abu Khalaf Musa bin Khalaf—ia termasuk golongan orang saleh
(Budala)—menceritakan kepada kami Yahya bin Abi Katsir, dari Zaid bin Sallam,
dari kakeknya Mamthur, dari Al-Harits al-Asy'ari bahwa Nabi Saw bersabda:
"Sesungguhnya Allah memerintahkan Yahya bin Zakaria dengan lima kalimat
agar ia mengamalkannya dan memerintahkan Bani Israil untuk mengamalkannya pula.
Hampir saja ia terlambat menyampaikannya, maka Isa 'Alaihis Salam berkata
kepadanya: 'Engkau telah diperintahkan dengan lima kalimat untuk diamalkan dan
diperintahkan kepada Bani Israil, maka pilihannya engkau yang menyampaikan atau
aku yang menyampaikan.' Yahya menjawab: 'Wahai saudaraku, aku takut jika engkau
mendahuluiku aku akan diadzab atau ditenggelamkan ke bumi.'
Maka
Yahya mengumpulkan Bani Israil di Baitul Maqdis hingga masjid itu penuh sesak.
Ia duduk di tempat yang tinggi, memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian
berkata: 'Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla memerintahkanku dengan lima kalimat
agar aku mengamalkannya dan memerintahkan kalian untuk mengamalkannya.
Pertama:
Sembahlah Allah dan janganlah mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.
Perumpamaannya seperti seseorang yang membeli hamba sahaya dengan harta
murninya berupa perak atau emas, namun hamba itu bekerja dan memberikan
hasilnya kepada selain tuannya. Siapakah di antara kalian yang senang jika
hambanya bersikap demikian? Sesungguhnya Allah menciptakan kalian dan memberi
rezeki kalian, maka sembahlah Dia dan jangan mempersekutukan-Nya.
Kedua:
Aku perintahkan kalian untuk shalat, karena Allah menghadapkan wajah-Nya kepada
hamba-Nya selama ia tidak berpaling (dalam shalatnya). Jika kalian shalat,
janganlah berpaling.
Ketiga:
Aku perintahkan kalian untuk berpuasa. Perumpamaannya seperti seseorang yang
membawa kantong berisi minyak misk di tengah sekelompok orang, semuanya mencium
aroma wangi misk tersebut. Sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih
harum di sisi Allah daripada aroma misk.
Keempat:
Aku perintahkan kalian untuk bersedekah. Perumpamaannya seperti seseorang yang
ditawan musuh, tangan mereka diikat ke lehernya dan mereka membawanya untuk
dipenggal. Ia berkata: 'Maukah kalian jika aku menebus diriku dari kalian?'
Maka ia menebus dirinya dengan harta yang sedikit maupun banyak hingga ia
terbebas.
Kelima:
Aku perintahkan kalian untuk banyak berzikir mengingat Allah 'Azza wa Jalla.
Perumpamaannya seperti seseorang yang dikejar musuh dengan cepat, lalu ia
mendatangi benteng yang kokoh dan berlindung di dalamnya. Sesungguhnya seorang
hamba berada dalam perlindungan paling kuat dari setan ketika ia sedang
berzikir kepada Allah 'Azza wa Jalla'."
Rasulullah
Saw bersabda: "Dan aku memerintahkan kalian dengan lima perkara yang
Allah perintahkan kepadaku: Al-Jama'ah (bersatu), mendengar, taat, hijrah, dan
jihad di jalan Allah. Barangsiapa yang keluar dari jama'ah sejauh satu jengkal,
maka ia telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya kecuali jika ia kembali.
Dan barangsiapa menyeru dengan seruan jahiliyah, maka ia termasuk penghuni
neraka Jahannam." Seseorang bertanya: "Wahai Rasulullah, meskipun
ia berpuasa dan shalat?" Beliau menjawab: "Meskipun ia berpuasa,
shalat, dan mengaku Muslim. Panggillah kaum Muslimin dengan nama-nama yang
telah Allah berikan kepada mereka: kaum Muslimin, kaum Mukminin, hamba-hamba
Allah 'Azza wa Jalla'."
Kemudian
Al-Hafizh Ibnu Asakir meriwayatkan dari jalur Abdullah bin Abi Ja'far al-Razi,
dari ayahnya, dari al-Rabi' bin Anas, ia berkata: "Telah disebutkan kepada
kami dari para sahabat Rasulullah Saw mengenai apa yang mereka dengar dari
ulama Bani Israil bahwa Yahya bin Zakaria diutus dengan lima kalimat..."
dan ia menyebutkan hal yang serupa dengan yang telah lalu.
Mereka
menyebutkan bahwa Yahya 'Alaihis Salam sering menyendiri dari kerumunan orang.
Ia lebih merasa tenang berada di padang belantara, memakan dedaunan pohon,
meminum air sungai, dan terkadang makan belalang. Ia sering berkata:
"Siapakah yang lebih diberi nikmat daripada engkau, wahai Yahya?!"
Ibnu
Asakir meriwayatkan bahwa kedua orang tuanya keluar mencari dirinya dan
menemukannya di tepi Danau Yordan. Ketika mereka bertemu, Yahya membuat
keduanya menangis sejadi-jadinya karena melihat kondisi ibadahnya dan rasa
takutnya kepada Allah 'Azza wa Jalla.
Ibnu
Wahb meriwayatkan dari Malik, dari Humaid bin Qais, dari Mujahid yang berkata:
"Makanan Yahya bin Zakaria adalah rumput-rumputan. Ia benar-benar menangis
karena takut kepada Allah hingga sekiranya ada aspal (cairan kental) di
matanya, niscaya tangisannya akan melubanginya."
Muhammad
bin Yahya al-Dzuhli berkata: Menceritakan kepada kami Al-Laits, menceritakan
kepadaku Uqail, dari Ibnu Syihab yang berkata: "Pada suatu hari aku duduk
bersama Abu Idris al-Khawlani saat ia sedang berkisah. Ia berkata: 'Maukah
kalian aku beritahu tentang orang yang paling lezat makanannya?' Ketika ia
melihat orang-orang memperhatikannya, ia berkata: 'Yahya bin Zakaria adalah
orang yang paling lezat makanannya. Ia hanya makan bersama binatang buas karena
benci berbaur dengan manusia dalam urusan mata pencaharian mereka'."
Ibnu
al-Mubarak meriwayatkan dari Wuhaib bin al-Ward, ia berkata: "Zakaria
kehilangan putranya, Yahya, selama tiga hari. Ia pun keluar mencarinya di
padang belantara, dan ternyata Yahya telah menggali sebuah liang kubur dan
berdiam di dalamnya sambil menangisi dirinya sendiri. Zakaria berkata: 'Wahai
anakku, aku mencarimu selama tiga hari, ternyata engkau di dalam kubur yang
engkau gali sendiri sambil menangis?' Yahya menjawab: 'Wahai ayahku, bukankah
engkau yang memberitahuku bahwa antara surga dan neraka ada padang luas yang
tidak bisa diseberangi kecuali dengan air mata orang-orang yang menangis?'
Zakaria pun berkata: 'Menangislah wahai anakku.' Maka keduanya menangis
bersama." Hal yang serupa juga dikisahkan oleh Wahb bin Munabbih dan
Mujahid.
Ibnu
Asakir meriwayatkan darinya (Yahya) bahwa ia berkata: "Sesungguhnya
penduduk surga tidak tidur karena kelezatan nikmat yang mereka rasakan. Maka
demikian pulalah seharusnya bagi orang-orang shiddiqin, mereka tidak tidur
karena nikmat cinta kepada Allah 'Azza wa Jalla yang ada di hati mereka."
Kemudian ia berkata: "Betapa jauh perbedaan antara kedua nikmat
tersebut." Mereka menyebutkan bahwa ia sangat banyak menangis hingga
tangisannya meninggalkan bekas di kedua pipinya karena banyaknya air mata.
Sebab
Terbunuhnya Nabi Yahya 'Alaihis Salam
Para
ulama menyebutkan beberapa alasan mengenai pembunuhannya. Yang paling masyhur
adalah bahwa salah seorang raja di masa itu di Damaskus ingin menikahi salah
seorang mahramnya (kerabat dekat) atau wanita yang tidak halal baginya untuk
dinikahi. Maka Yahya 'Alaihis Salam melarangnya melakukan hal itu, sehingga
wanita tersebut menyimpan rasa dendam kepadanya.
Ketika
terjadi hubungan antara wanita itu dengan sang raja, si wanita meminta hadiah
berupa darah Yahya. Raja pun memberikannya, lalu mengirim orang untuk
membunuhnya. Orang itu datang membawa kepala dan darah Yahya di dalam sebuah
baskom (tast) ke hadapan wanita tersebut. Dikatakan bahwa wanita itu langsung
binasa saat itu juga.
Ada
pula yang berpendapat bahwa istri raja tersebut mencintai Yahya dan mengirim
pesan kepadanya, namun Yahya menolaknya. Ketika wanita itu putus asa, ia
bersiasat dengan meminta (kepala) Yahya kepada raja sebagai hadiah. Awalnya
raja menolak, namun kemudian ia menurutinya. Raja mengirim orang untuk
membunuhnya dan membawakan kepala serta darahnya di dalam sebuah baskom ke
hadapan wanita itu.
Makna
ini disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ishaq bin Bisyir
dalam kitabnya "Al-Mubtada", di mana ia berkata: Mengabarkan
kepada kami Ya'qub al-Kufi, dari 'Amru bin Maimun, dari ayahnya, dari Ibnu
Abbas, bahwa Rasulullah Saw pada malam Isra' melihat Zakaria di langit, lalu
beliau mengucapkan salam kepadanya dan bertanya: "Wahai Abu Yahya,
beritahukanlah kepadaku tentang kematianmu, bagaimana itu terjadi dan mengapa
Bani Israil membunuhmu?"
Zakaria
menjawab: "Wahai Muhammad, aku kabarkan kepadamu bahwa Yahya adalah
orang terbaik di zamannya, paling tampan dan cerah wajahnya. Ia sebagaimana
firman Allah: 'Menjadi panutan dan Hashur (menahan diri dari wanita)'. Ia tidak
membutuhkan wanita, namun istri raja Bani Israil mencintainya. Wanita itu
adalah seorang pelacur (بغية). Ia mengirim pesan
kepada Yahya, namun Allah menjaganya sehingga Yahya menolak dan enggan
menurutinya. Maka wanita itu bertekad membunuh Yahya."
"Mereka
memiliki hari raya yang diikuti setiap tahun. Sudah menjadi tradisi sang raja
untuk menepati janji, tidak menyalahi dan tidak berdusta. Ketika raja keluar
menuju hari raya, istrinya berdiri mengantarnya, dan raja sangat kagum padanya
karena ia belum pernah melakukan hal itu sebelumnya. Saat mengantarnya, raja
berkata: 'Mintalah sesuatu kepadaku, apa pun yang kau minta pasti aku berikan'.
Wanita itu menjawab: 'Aku ingin darah Yahya bin Zakaria'. Raja berkata:
'Mintalah yang lain'. Ia menjawab: 'Hanya itu'. Raja berkata: 'Itu
milikmu'."
"Maka
raja mengirim para pengawalnya kepada Yahya saat ia sedang shalat di mihrabnya,
sementara aku (Zakaria) sedang shalat di sampingnya. Yahya disembelih di atas
baskom dan kepalanya serta darahnya dibawa kepada wanita itu."
Rasulullah Saw bertanya: "Bagaimana tingkat kesabaranmu saat itu?"
Zakaria menjawab: "Aku tidak memutuskan shalatku."
"Ketika
kepalanya dibawa ke hadapan wanita itu, pada sore harinya Allah menenggelamkan
(ke dalam bumi) sang raja, keluarganya, dan para pelayannya. Esok paginya, Bani
Israil berkata: 'Tuhannya Zakaria telah marah demi Zakaria, mari kita marah
demi raja kita dengan membunuh Zakaria'. Maka mereka keluar mencariku untuk
membunuhku. Datanglah seorang pemberi peringatan kepadaku, lalu aku lari dari
mereka sementara Iblis berada di depan mereka menunjukkan keberadaanku. Ketika
aku khawatir mereka akan menangkapku, tampaklah sebuah pohon yang memanggilku:
'Kemarilah!'. Pohon itu terbelah dan aku masuk ke dalamnya."
"Lalu
Iblis datang dan memegang ujung jubahku hingga pohon itu merapat kembali namun
ujung jubahku tetap berada di luar pohon. Bani Israil datang, dan Iblis
berkata: 'Tidakkah kalian lihat dia masuk ke pohon ini? Ini ujung jubahnya, dia
masuk dengan sihirnya'. Mereka berkata: 'Kita bakar pohon ini'. Iblis berkata:
'Belahlah dengan gergaji'. Maka aku ikut terbelah bersama pohon itu dengan
gergaji." Nabi Saw bertanya: "Apakah
engkau merasakan sentuhan (sakit) atau nyeri?" Zakaria menjawab: "Tidak,
aku hanya merasakannya pada pohon itu yang mana Allah menjadikan ruhku di
dalamnya."
Ibnu
Katsir berkomentar mengenai hal ini:
"Konteks
riwayat ini sangat aneh (garib) sekali, haditsnya ajaib, dan penyandarannya
kepada Nabi (marfu') adalah munkar. Di dalamnya terdapat hal-hal yang diingkari
dalam segala kondisi. Tidak terlihat dalam satu pun hadits-hadits Isra' yang
shahih penyebutan tentang (kematian) Zakaria 'Alaihis Salam kecuali dalam
hadits ini. Adapun yang terjaga (mahfuzh) dalam sebagian lafazh hadits Shahih
mengenai Isra' adalah: 'Aku melewati dua putra bibi, yaitu Yahya dan
Isa'."
Maka
hal ini sesuai dengan pendapat mayoritas ulama sebagaimana zahir hadits, bahwa
ibu Yahya (Elisabeth/Asyba') adalah putri Imran, saudara perempuan Maryam binti
Imran. Ada pula yang berpendapat bahwa Asyba' (istri Zakaria, ibu Yahya) adalah
saudara perempuan Hannah (istri Imran, ibu Maryam), sehingga Yahya adalah anak
bibinya Maryam. Wallahu a'lam.
Lokasi
Terbunuhnya Nabi Yahya
Para
ulama berbeda pendapat apakah ia dibunuh di Masjidil Aqsa atau di tempat lain.
- Ats-Tsauri meriwayatkan dari Al-A'masy, dari
Syamlah bin Athiyyah yang berkata: "Tujuh puluh nabi telah dibunuh
di atas batu (Sakhrah) yang ada di Baitul Maqdis, di antaranya adalah
Yahya bin Zakaria 'Alaihis Salam."
- Abu Ubaidah Al-Qasim bin
Sallam berkata: Menceritakan kepada kami Abdullah bin Shalih, dari
Al-Laits, dari Yahya bin Saeed, dari Saeed bin al-Musayyib yang berkata: "Nebukadnezar
(Bukhtanashar) tiba di Damaskus, lalu ia melihat darah Yahya bin Zakaria
sedang mendidih. Ia bertanya tentang hal itu dan diberitahu kisahnya. Maka
ia membunuh tujuh puluh ribu orang di atas darah tersebut sampai darah itu
tenang."
Sanad
ini shahih sampai ke Saeed bin al-Musayyib, dan ini menunjukkan bahwa Yahya
dibunuh di Damaskus. Ini juga menunjukkan bahwa kisah Nebukadnezar terjadi
setelah masa Al-Masih, sebagaimana dikatakan oleh Atha' dan Hasan al-Bashri.
Wallahu a'lam.
Al-Hafizh
Ibnu Asakir meriwayatkan dari jalur Al-Walid bin Muslim, dari Yazid bin Waqid
yang berkata: "Aku melihat kepala Yahya bin Zakaria ketika mereka
hendak membangun Masjid Damaskus. Kepala itu dikeluarkan dari bawah salah satu
sudut kiblat yang dekat dengan mihrab di sisi timur. Kulit dan rambutnya masih
dalam keadaan semula, tidak berubah." Dalam riwayat lain disebutkan: "Seolah-olah
baru dibunuh saat itu juga." Disebutkan bahwa dalam pembangunan Masjid
Damaskus, kepala itu diletakkan di bawah tiang yang dikenal sebagai Tiang
Sakasikah. Wallahu a'lam.
Al-Hafizh
Ibnu Asakir juga meriwayatkan dalam "Al-Mustaqsha fi Fadha'il
al-Aqsha" dari jalur Al-Abbas bin Subh, dari Marwan, dari Saeed bin
Abdul Aziz, dari Qasim (maula Muawiyah), ia berkata:
"Raja
kota ini (Damaskus) bernama Hadad bin Hadar. Ia menikahkan putranya dengan
keponakannya, Ariel, ratu Sidon. Di antara harta miliknya adalah Pasar Para
Raja di Damaskus (toko emas kuno). Raja telah bersumpah thalaq tiga kepadanya,
lalu ingin merujuknya kembali. Ia meminta fatwa kepada Yahya bin Zakaria, namun
Yahya menjawab: 'Ia tidak halal bagimu sampai ia menikah dengan suami lain'.
Maka wanita itu dendam kepadanya."
Atas
hasutan ibunya, wanita itu meminta kepala Yahya bin Zakaria kepada raja.
Awalnya raja menolak, namun kemudian menyanggupinya. Ia mengirim orang kepada
Yahya saat ia sedang shalat di Masjid Jabrun, lalu orang itu membawakan
kepalanya di atas nampan. Kepala itu terus berucap: "Ia tidak halal
baginya sampai ia menikah dengan suami lain". Wanita itu mengambil
nampan tersebut, menjunjungnya di atas kepala, dan membawanya kepada ibunya
sementara kepala itu terus berucap demikian.
Ketika
ia berdiri di hadapan ibunya, bumi menelan kakinya, kemudian menelan hingga
pinggangnya. Ibunya meratap dan para pelayan berteriak serta menampar wajah
mereka. Lalu bumi menelan hingga bahunya. Ibunya memerintahkan algojo untuk
memenggal leher putrinya agar ia bisa terhibur dengan kepala anaknya. Algojo
melakukannya, lalu bumi memuntahkan jasadnya saat itu. Mereka pun jatuh dalam
kehinaan dan kepunahan. Darah Yahya tidak berhenti mendidih sampai Nebukadnezar
datang dan membunuh tujuh puluh lima ribu orang di atasnya.
Saeed
bin Abdul Aziz berkata: "Itu adalah darah setiap nabi." Darah
itu terus mendidih sampai Nabi Yeremia (Armiya) 'Alaihis Salam berdiri di
dekatnya dan berkata: "Wahai darah, engkau telah membinasakan Bani
Israil, maka tenanglah dengan izin Allah." Darah itu pun tenang,
pedang diangkat, dan penduduk Damaskus yang melarikan diri ke Baitul Maqdis
dikejar oleh Nebukadnezar. Ia membunuh banyak orang di sana, menawan mereka,
kemudian kembali.
Pertanyaan,
Diskusi, dan Ibrah (Pelajaran)
Yahya
hadir melalui doa ayahnya: "Maka anugerahilah aku dari sisi-Mu seorang
putra." Lalu ibunya mengandungnya, sementara sebelumnya Maryam juga
sedang mengandung Isa putra Maryam pada waktu yang sama. Apakah kelahiran Yahya
dari ayah dan ibu yang telah mencapai usia sangat tua merupakan pendahulu
(persiapan) bagi kelahiran Isa tanpa ayah? Dan apakah hal itu diwahyukan kepada
Zakaria, pengasuh Maryam, agar ia tidak menentang Maryam ketika melahirkan Isa
kelak?
Kehidupan
Yahya di masa mudanya—khususnya masa kanak-kanak—tidak disebutkan sama sekali
dalam Al-Qur'an maupun dalam literatur Ahli Kitab. Oleh karena itu, banyak
muncul desas-desus, spekulasi, dan cerita-cerita tentangnya. Apakah kita akan
hanyut mengikuti hal tersebut, ataukah apa yang termaktub dalam Al-Qur'an dan
dari Rasulullah Saw sudah cukup bagi kita?
Apakah
doa yang tulus kepada Allah agar dianugerahi anak bagi mereka yang belum
memilikinya bermanfaat bagi orang-orang saleh dan mereka yang gemar
beristighfar? Allah Ta'ala berfirman: "Maka aku berkata (kepada
mereka), 'Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya
Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak
harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan
sungai-sungai untukmu'." (QS. Nuh: 10-12).
Dan
apakah meminta bantuan medis di zaman sekarang dalam hal reproduksi dan
kehamilan termasuk bagian dari takdir Allah Subhanahu wa Ta'ala dan taufiq-Nya,
dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh para ulama? Apakah kisah Yahya
dan kelahirannya memberikan arahan dalam hal tersebut?
Apakah
warisan Yahya dari Zakaria berupa warisan harta, ataukah warisan ilmu,
pemahaman, dan kenabian, sebagaimana warisan Sulaiman dari Daud 'Alaihimas
Salam: "Dan Sulaiman telah mewarisi Daud"?
Apakah
harta para nabi diwariskan, ataukah keturunan mereka tidak mewarisinya
berdasarkan sabda Rasulullah Saw: "Kami kalangan para nabi tidak
diwarisi, apa yang kami tinggalkan adalah sedekah"? Mengapa demikian,
dan apakah engkau mampu memberikan alasannya?
Yahya
adalah seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, taat kepada mereka baik
dalam ucapan maupun perbuatan. Hal ini termasuk amalan paling mulia yang layak
mendapatkan pujian yang besar.
Mengapa
Allah memberikan keselamatan (salam) kepada Yahya 'Alaihis Salam pada tiga
waktu dengan berfirman: "Kesejahteraan atas dirinya pada hari dia
dilahirkan, pada hari dia wafat, dan pada hari dia dibangkitkan hidup
kembali"? Apakah karena waktu-waktu tersebut merupakan saat yang
paling berat bagi manusia karena ia berpindah dari satu alam ke alam yang lain?
Apa
makna perkataan Isa kepada Yahya: "Aku mengucapkan salam (keselamatan)
atas diriku sendiri (saat lahir), sedangkan Allah-lah yang mengucapkan salam
atasmu"?
Apakah
benar bahwa Yahya tidak memiliki dosa sama sekali? Mengapa?
Apakah
benar bahwa Yahya bin Zakaria dan Isa putra Maryam adalah orang-orang fakir
yang mengenakan kain wol, tidak memiliki satu dinar maupun dirham, tidak
memiliki budak laki-laki maupun perempuan, serta tidak memiliki tempat tinggal
untuk bernaung?
Bisakah
engkau menyebutkan wasiat Isa putra Maryam kepada Yahya?
Allah
memerintahkan Yahya bin Zakaria dengan lima kalimat untuk diamalkan dan
diperintahkan kepada Bani Israil agar mereka mengamalkannya pula. Apa sajakah
kalimat-kalimat tersebut? Bicarakanlah hal itu kepada saudara-saudaramu, dan
jadikanlah itu sebagai pelajaranmu bagi orang lain.
Rasulullah
Saw menambahkan lima perkara lain di atas lima kalimat tersebut. Apa sajakah
itu? Dan apakah apa yang diperintahkan kepada Yahya juga mengikat kita untuk
melakukannya karena Rasulullah Saw telah mengakuinya sehingga menjadi bagian
dari syariat kita, dan karena hal itu sesuai dengan syariat serta agama kita?
Dikatakan
tentang Yahya bahwa ia memiliki makanan yang paling lezat. Bagaimana hal itu
bisa terjadi dan mengapa?
Mungkinkah
seorang Muslim saat ini memutuskan hubungan dengan dunia (uzlah total) karena
mengikuti jejak Yahya bin Zakaria, ataukah ini adalah bentuk kerahiban (biara)
yang telah berlalu, dan kita diperintahkan dengan hal yang berbeda? Rasulullah Saw
pernah mendatangi orang-orang yang ingin hidup membujang/beribadah total, di
mana salah satu dari mereka berkata: "Aku akan berpuasa sepanjang tahun
dan tidak berbuka," yang lain berkata: "Aku akan shalat malam terus
dan tidak tidur," dan yang lain berkata: "Aku tidak akan menikahi
wanita." Maka Rasulullah Saw mendatangi mereka dan bersabda: "Kaliankah
yang berkata begini dan begitu? Adapun aku, aku berpuasa dan berbuka, aku
shalat malam dan juga tidur, dan aku menikahi wanita. Inilah sunnahku, dan
barangsiapa yang membenci sunnahku, maka ia bukan bagian dariku."
Diriwayatkan
bahwa Sahl bin Abi Umamah menceritakan bahwa ia dan ayahnya menemui Anas bin
Malik di Madinah pada zaman Umar bin Abdul Aziz saat ia menjadi gubernur. Anas
sedang mengerjakan shalat yang ringan, seolah-olah shalat seorang musafir atau
mendekatinya. Ketika selesai salam, Sahl bertanya: "Semoga Allah
merahmatimu, apakah ini shalat fardhu atau shalat sunnah?" Anas menjawab:
"Ini adalah shalat fardhu, dan ini adalah shalat Rasulullah Saw. Aku tidak
mengubahnya kecuali jika ada sesuatu yang aku lupa. Sesungguhnya Rasulullah Saw
bersabda: 'Janganlah kalian memberat-beratkan diri kalian sendiri, sehingga
Allah akan memberatkan kalian. Sesungguhnya ada suatu kaum yang memberatkan
diri mereka sendiri, lalu Allah memberatkan mereka. Itulah sisa-sisa mereka di
biara-biara dan tempat pertapaan; kerahiban yang mereka ada-adakan padahal Kami
tidak mewajibkannya kepada mereka'."'
Keesokan
harinya mereka pergi dan berkata: "Mari kita berkendara untuk melihat dan
mengambil pelajaran." Mereka semua berkendara hingga sampai di reruntuhan
rumah yang kosong, di mana penghuninya telah binasa, punah, dan lenyap;
atap-atapnya runtuh. Mereka bertanya: "Tahukah kalian rumah-rumah
ini?" Anas menjawab: "Betapa aku mengenal rumah ini dan penghuninya.
Mereka adalah penduduk yang dibinasakan oleh kezaliman dan kedengkian.
Sesungguhnya kedengkian itu memadamkan cahaya kebaikan, dan kezaliman itu membuktikannya
atau mendustakannya. Mata bisa berzina, begitu pula tangan, kaki, tubuh, dan
lisan, sedangkan kemaluanlah yang membuktikannya atau mendustakannya."
Imam
Ahmad meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Nabi Saw bersabda: "Setiap
nabi memiliki kerahiban, dan kerahiban umat ini adalah jihad di jalan Allah
'Azza wa Jalla." Dalam lafazh lain: "Setiap umat memiliki
kerahiban, dan kerahiban umat ini adalah jihad di jalan Allah." Imam
Ahmad juga meriwayatkan dari Abu Saeed al-Khudri bahwa seorang laki-laki
mendatanginya dan berkata: "Berilah aku wasiat." Ia menjawab:
"Engkau bertanya tentang apa yang pernah aku tanyakan kepada Rasulullah Saw
sebelummu. Aku wasiatkan kepadamu untuk bertakwa kepada Allah, karena itu
adalah pokok segala sesuatu. Hendaknya engkau berjihad, karena itu adalah
kerahiban Islam. Dan hendaknya engkau berzikir kepada Allah serta membaca
Al-Qur'an, karena itu adalah ruhmu di langit dan sebutanmu di bumi."
(Hanya Ahmad yang meriwayatkannya, Allahu A'lam).
Maka
umat Islam adalah umat amal (kerja), umat dakwah, dan umat perbaikan. Pahamilah
hal ini. Rasulullah Saw pernah melihat seorang pria berdiri di bawah terik
matahari dalam keadaan diam. Beliau bertanya tentangnya, dan orang-orang
menjawab: "Ia bernazar untuk tidak berbicara, tidak berteduh, dan terus
berpuasa." Beliau bersabda: "Perintahkan dia untuk berbicara,
berteduh, dan sempurnakan puasanya. Sesungguhnya Allah tidak butuh terhadap
penyiksaan pemuda ini terhadap dirinya sendiri." Maka diketahui bahwa
agama Islam adalah agama amal, kekuatan, dan jihad untuk membasmi kerusakan,
memperbaiki bumi, dan membahagiakan manusia.
Telah
tetap bahwa Yahya 'Alaihis Salam dibunuh secara zalim. Riwayat-riwayat
menyebutkan bahwa pembunuhannya adalah harga untuk memuaskan seorang pelacur
(wanita nakal) yang dihalangi oleh Yahya dalam memuaskan syahwat haramnya.
Betapa banyak orang yang terbunuh hari ini hanya demi memuaskan syahwat
penguasa?
Dikatakan
bahwa darahnya terus mendidih dan mengirimkan laknat bagi para pembunuhnya. Aku
rasa bangsa-bangsa yang membunuh para mujahidin hari ini tidaklah berbeda;
darah para dai mendidih, maka datanglah kehancuran dan kemusnahan dari segala
sisi sampai mereka masuk ke liang lahat, dan Allah-lah yang akan mengadili
urusan mereka di akhirat kelak.
Bisakah
engkau menghitung mereka yang dibunuh secara zalim di zaman ini? Bisakah engkau
menyebutkan nama-nama pembunuh mereka? Bisakah engkau menulis buku tentang para
tiran dan korban-korban mereka, atau menulis risalah atau artikel tentang hal
itu?
Bisakah
engkau mengambil pelajaran dari sejarah dan mengajarkannya kepada orang lain,
serta menjauhi kezaliman meskipun sedikit, karena kezaliman yang sedikit akan
menarik kepada kezaliman yang banyak?
Implementasi
Praktis Hakikat dan Nilai Materi Melalui Aktivitas Berikut:
Pertama – Aktivitas Pendamping
(Activities Associated):
- Menyaksikan rekaman video tentang kisah Nabi
Allah Yahya 'Alaihis Salam.
- Menampilkan beberapa foto dan cuplikan mengenai
wilayah Palestina.
- Menampilkan ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan
dengan kisah tersebut.
- Membuat ringkasan buku yang membahas tentang Nabi
Allah Yahya 'Alaihis Salam dan mempresentasikannya.
- Memaparkan nasihat dan pelajaran (ibrah)
dari kisah Nabi Allah Yahya 'Alaihis Salam.
- Menggali ayat-ayat yang mendorong untuk tidak
bergantung (cinta berlebihan) kepada dunia.
- Menghafal ayat-ayat yang berkaitan dengan topik
pelajaran.
- Diskusi mengenai peran Yahudi dalam membunuh
nabi-nabi mereka, pengubahan (tahrif) kitab-kitab, dan permusuhan
mereka terhadap Islam.
- Menulis pelajaran-pelajaran terpenting yang
dipetik dari diskusi tersebut.
Kedua – Aktivitas Pendukung (Supporting
Activities):
- Membuat majalah dinding tentang kisah Nabi Allah
Yahya 'Alaihis Salam.
- Menulis beberapa artikel tentang akhlak para nabi
dan cara meneladani mereka.
- Membuat renungan (khawatir) mengenai
pelajaran yang dipetik dari kisah Yahya 'Alaihis Salam.
- Membuat rekaman yang berbicara tentang kisah Nabi
Allah Yahya 'Alaihis Salam dan mendistribusikannya.
- Berupaya mengajak orang lain untuk tidak
bergantung pada dunia dan beramal demi agama ini.
- Menanamkan nilai-nilai dan prinsip moral ke dalam
jiwa orang lain melalui kisah Yahya 'Alaihis Salam.
- Mendukung Al-Aqsa dan rakyat Palestina dengan
sarana yang tersedia, baik dengan harta maupun waktu, serta mengajak orang
lain untuk melakukan hal yang sama.
- Mengajarkan hakikat dan nilai yang dipelajari
dari materi ini kepada sepuluh orang Muslim, termasuk anggota keluarga
sendiri.
Evaluasi dan Pengukuran Mandiri:
I. Pertanyaan Esai:
- Berikan alasan (illat) bagi hal-hal
berikut:
- Permintaan Nabi Zakaria 'Alaihis Salam kepada
Allah SWT untuk diberikan anak meskipun usianya sudah sangat tua.
- Pentingnya keberadaan para dai dalam kehidupan
seorang Muslim.
- Nabi Yahya 'Alaihis Salam sangat ahli dalam
syariat Nabi Musa 'Alaihis Salam.
- Jelaskan pandangan para nabi terhadap dunia
dengan menyebutkan contoh-contoh yang menunjukkan hal tersebut.
- Apakah zuhud terhadap dunia menghalangi manusia
dari bekerja, meneliti, dan belajar dengan alasan bahwa dunia ini fana?
Jelaskan hal tersebut.
- "Berbakti kepada orang tua adalah jalan
menuju surga dan ridha Allah SWT." Jelaskan pernyataan tersebut
dengan memperkuat jawabanmu menggunakan contoh-contoh serta mengambil
pelajaran dari kisah Yahya 'Alaihis Salam.
- Apa sebab-sebab yang menyebabkan terbunuhnya Nabi
Yahya 'Alaihis Salam?
II. Pertanyaan Objektif:
- Berikan tanda (ü) di depan pernyataan yang benar
dan tanda (û) di depan pernyataan yang salah:
- Yahya 'Alaihis Salam mempelajari Taurat saat
sudah berusia lanjut. ( )
- Warisan Yahya dari ayahnya adalah harta yang
banyak. ( )
- Warisan terbesar yang diwarisi manusia adalah
warisan ilmu dan takwa. ( )
- Mendampingi ulama dan ahli kesalehan mengangkat
derajat manusia menuju cinta dan ridha Allah. ( )
- Di antara pentingnya berbakti kepada orang tua
adalah Allah menyebutkannya setelah larangan berbuat syirik. ( )
- Yahya 'Alaihis Salam tidak pernah bertemu dengan
Isa 'Alaihis Salam kecuali sekali saja. ( )
- Mendukung rakyat Palestina dan Masjid Al-Aqsa
adalah kewajiban setiap Muslim, dan berdosa bagi yang meninggalkannya. (
)
- Tulis kembali pernyataan berikut setelah
membetulkan kata yang bergaris bawah:
- Yahya 'Alaihis Salam sangat ahli dalam syariat Nabi
Ibrahim 'Alaihis Salam.
- Warisan Yahya 'Alaihis Salam dari Zakaria
'Alaihis Salam adalah Harta.
- Penyebutan Zakaria dalam Al-Qur'anul Karim
sebanyak tiga kali.
Comments
Post a Comment