Posts

Showing posts from May, 2014

Cinta Karena Allah

Cinta adalah luapan perasaan suka, dengan segala ekspresinya, melalui ceria senyum wajahnya, dengan lembut dan baik lisannya, dengan kasih pelukan, dengan semangat sikap, dengan hati riang, dan selalu khusnudzan dalam pikirannya. Cinta kepada sesama dalam Islam adalah perasaan yang memancar karena adanya ketaqwaan dan bermuara kepada pengendalian yang kokoh dengan taliNya ( i'tisham bi hablillah ). Maka cinta seperti itu hanya akan tumbuh dengan subur dalam ikatan mulia yang bernama ukhuwwah (persaudaraan) yang didasarkan sendi-sendi tersebut. Ikatan tersebut merupakan tujuan suci, cahaya rabbaniyyah sekaligus merupakan nikmat Ilahiyyah. Oleh sebab itu Allah hanya akan menuangkan cahaya dan nikmatnya pada hati dari setiap hambaNya yang mukhlis (ikhlash), mensucikan dan melindungi diri-mereka dgn akhlaq yang terpuji. Untuk mengetahui segala-galanya tentang cinta, manusia perlu merujuk kepada pencipta cinta itu sendiri yakni Allah SWT. Tuhan menciptakan cinta, maka Dialah yang ...

Kaidah Dakwah ke-7: Bicaralah dengan manusia sesuai kemampuan akal mereka

D a’wah harus dibangun di atas dasar kebijaksanaan dan nasehat yang baik, kebijaksanaan yang dimaksud sesuai dengan forum dakwahnya dan tingkatan dan level audiennya. Da’i yang bijaksana tidak akan mengatakan setiap yang telah diketahuinya kepada setiap orang yang  telah mengetahuinya. Ia selalu berinteraksi  dengan akalnya sesuai kemampuan audiennya bukan kemapuan dirinya sendiri, tidak akan membebani mereka di luar kemampuannya. Oleh karena itu Ibnu Abbas RA.  Memahami ayat : ولكن كونوا ربانيين artinya ( كونوا حلماء فقهاء ) jadilah kalian orang-orang lembut dan pandai . Imam Bukhari berkata : : ( ويقال : الرباني الذي يربي الناس بصغار العلم قبل كباره) ( [1] ) . والبدء بصغار العلم مرجعه مراعاة العقول حتى لا تنفر من الدعوة .  Orang-orang Rabbani adalah mereka yang mentarbiyah manusia dari pengetahuan yang kecil sebelum yang besar. Mulai dari pengetahuan yang kecil adalah mengembalikannya kepada hal yang dapat menjaga akal pikiran agar tidak lari dar...

Kaidah Dakwah ke-6: Da'i adalah cermin bagi dakwahnya dan contoh teladan

Seorang da’i tidak akan terpisah dari da’wahnya, korelasi antara da’i dan da’wahnya selalu melekat dalam pikiran ummat. Da’i sendiri adalah bukti bagi da’wahnya, bukti itulah yang dapat mempengaruhi orang untuk menerima dakwah, bahkan menyebabkan mereka menolak dan menentangnya. Sedangkan orang-orang yang berinteraksi dengan nilai-nilai prinsip keislaman secara langsung (praktis) sangatlah sedikit di setiap zaman dan tempat, tetapi kebanyakan orang hanya berinteraksi dengan prinsip yang hanya menjadi slogan semata. Semakin besar nilai sebuah prinsip maka semakin kuat komitmen seorang da’i kepadanya. Untuk sampai kepada komitmen yang kuat lebih sulit, dan penderitaan dalam menunaikan kewajiban dan memikul beban, hal ini meyebabkan kesungguhan mencapai tingkat komitmen tersebut menjadi satu kontinyuitas yang tak boleh berhenti (futur) dan keberlangsungan yang tak boleh terputus. Ketika sang da’i jauh dari komitmen kewajiban keislamannya, maka hal itu menjadi bencana yang akan memali...

Kaidah Dakwah ke-5: Dai Harus mengerahkan upaya manusiawi saat ia mencari pertolongan Robbani

Allah yang Maha Agung menghendaki agar dakwah dilakukan dengan seluruh sarana kemanusiaan. Seorang da’i harus mampu mencari berbagai celah demi kepentingan dakwahnya. Rasulullah SAW menyambung malamnya dengan siangnya untuk mencari berbagai celah dengan mengunakan pendekatan yang sesuai dengan jamannya. Oleh karenanya Rasulullah SAW tidak selalu berkata : “Hal ini telah diwahyukan kepadaku”, tetapi  terkadang beliau  berkata : “aku punya cara dan ide lain”.  Kita akan banyak dapati dalam sirahnya implementasi yang luas terhadap prinsip tersebut.  Pada saat perang uhud sebagian sahabat berbeda pendapat dengan Nabi (dalam hal taktis dan strategi perang), walaupun Nabi berada di tengah-tengah mereka dan wahyu turun kepada beliau. Firman Allah لا يكلف الله نفساً إلا وسعها , bahwa Allah tidak membebani seseorang di luar kemampuannya (QS.Al-Baqarah : 286), adalah penjelasan yang menguatkan prinsip tersebut, pembebanan adalah perkara yang menyulitkan dan pembebana...