Amr bin Jamuh
RA adalah pemuka dari Bani Salimah, kisah keislamannya termasuk unik. Semua itu
berasal dari keisengan dua pemuda Bani Salimah yang telah memeluk Islam, yang
salah satunya adalah anaknya sendiri, yaitu Muadz bin Amr bin Jamuh dan Muadz
bin Jabal, keduanya memeluk Islam dan berba'iat kepada Nabi SAW di Aqabah.
Suatu malam,
dua orang pemuda ini masuk ke rumah Amr dan mengambil berhala sembahannya.
Berhala yang biasa dipanggil "manat" itu dilemparkan ke lubang
pembuangan kotoran dalam keadaan menungging, kepala menghunjam ke kotoran.
Keesokan harinya, Amr marah-marah karena kehilangan tuhannya, iapun mencarinya
dan menemukannya di lubang kotoran. Setelah mengambil dan membersihkannya,
Amr meletakkan
kembali di tempatnya semula dan berkata kepada berhala itu, "Demi tuhan,
jika aku tahu siapa yang melakukan kekejian ini kepadamu, aku pasti akan
membalasnya."
Pada malam
harinya, kedua pemuda ini mengulang perbuatannya, dan membuangnya pada tempat
yang sama. Pada pagi harinya, Amr terbangun dalam keadaan marah-marah karena
sekali lagi kehilangan tuhannya. Ia mencarinya dan menemukannya di tempat yang
sama. Ia membersihkan dan menempatkannya kembali seperti semula. Kejadian ini
berulang sampai beberapa kali. Karena jengkel hal ini berulang tanpa tahu siapa
yang melakukannya, ia meletakkan pedang di pundak berhala tersebut dan berkata,
"Sesungguhnya aku tidak tahu siapa yang bertanggung jawab atas perbuatan
ini. Jika engkau memang mempunyai kekuatan, pertahankanlah dirimu sendiri
dengan pedang ini."
Kedua pemuda
inipun kembali mengambil berhala tersebut. Melihat ada pedang tergantung,
keisengannya-pun bertambah, mereka menggantungkan pula bangkai anjing pada
berhala itu, dan kali ini membuangnya pada lubang kotoran dari Bani Salimah
yang digunakan oleh orang banyak. Sama seperti sebelumnya, berhala itu dalam
keadaan menungging.
Pagi harinya
ketika Amr terbangun dan tidak menemukan berhalanya, ia mencari ke tempat
biasa, tetapi ia tidak menemukannya di sana. Ketika ia melihat kerumunan orang
di lubang kotoran yang lainnya, ia menghampirinya, dan ia mendapati
"tuhannya" terhunjam ke kotoran dengan pedang dan bangkai anjing di
pundaknya. Amrpun sadar, berhala yang selama ini disembahnya tidak mempunyai
kekuatan apa-apa, bahkan untuk mempertahankan dirinya sendiri walaupun senjata
tersedia.
Beberapa orang
Bani Salimah yang telah memeluk Islam menghampirinya dan menceritakan tentang
agama Islam kepadanya, dan akhirnya ia memeluk Islam.
Amr bin Jamuh
RA adalah seorang sahabat yang kakinya pincang. Anak-anaknya selalu menyertai
Nabi SAW dalam perjuangan membela Islam. Dalam perang Uhud, ia ingin ikut serta
seperti anaknya, tetapi kaum kerabatnya melarang, keadaan kakinya dijadikan
alasan agar ia tinggal saja di Madinah. Ia hanya bisa berkata, "Sungguh
menyedihkan, anak-anakku masuk surga sedangkan aku ketinggalan di
belakang."
Istrinya, Ummu
Walad, sangat gencar mendorong suaminya untuk mengikuti perang Uhud. Karena itu
ketika ia kembali ke rumah, istrinya jadi uring-uringan, ia berkata,
"Wahai suamiku, aku tidak percaya mereka melarangmu mengikuti pertempuran
itu. Tampaknya engkau takut menyertai mereka dalam pertempuran."
Mendengar
penuturan istrinya itu, ia berangkat lagi untuk menemui Nabi SAW. Setelah
keluar pintu rumahnya ia menghadapkan wajah ke kiblat dan berdoa, "Ya
Allah, janganlah engkau kembalikan aku kepada keluargaku..!"
Ia
mengucapkannya dua kali, dan Ummu Walad-pun mendengarnya. Ia melangkahkan kaki
menuju masjid, dan setelah bertemu Nabi SAW, ia berkata, "Wahai
Rasulullah, aku sangat menginginkan gugur syahid di medan pertempuran, tetapi
kaum kerabatku selalu melarangnya. Aku tidak bisa lagi menahan keinginanku, ya
Nabi SAW, ijinkanlah aku mengikuti pertempuran ini. Aku berharap dapat
berjalan-jalan di surga dengan kakiku yang pincang ini."
Nabi SAW
menasehatinya untuk tetap tinggal karena ia mempunyai udzur syar'i untuk tidak
mengikuti jihad atau pertempuran. Tetapi Amr tetap memaksa, sehingga akhirnya
Rasulullah SAW mengijinkannya.
Dalam perang
Uhud itu, ia berjuang bersisian dengan
anaknya, Walad bin Amr RA, dengan gigih ia menyerang musuh, sambil terus
berteriak, "Demi Allah, aku sangat mencintai surga!"
Dua orang anak
dan bapak ini akhirnya menemui syahidnya. Usai peperangan, istrinya, Ummu Walad
yang juga mendatangi medan perang Uhud, menaikkan dua jenazah ini ke atas
untanya, dan juga jenazah saudaranya, Abdullah, untuk dibawa ke Madinah. Tetapi
untanya ini tak mau bergerak, walau dipukul dan dicambuk.
Melihat hal
itu, Nabi SAW bersabda, "Sesungguhnya unta ini diperintahkan berlaku
demikian. Apakah Amr mengatakan sesuatu ketika meninggalkan rumah?"
"Benar, ya
Rasulullah," Kata Ummu Walad, "Sebelum meninggalkan rumah untuk
menyertai pertempuran ini, ia menghadapkan wajah ke kiblat dan berdoa agar
tidak dikembalikan kepada keluarganya."
Mendengar
penjelasan ini, akhirnya Rasullullah SAW memakamkan tiga syuhada ini di bukit
Uhud. Atas perintah Nabi SAW, Amr dimakamkan satu lobang dengan Abdullah bin
Amr bin Haram (Abu Jabir) karena keduanya saling mengasihi dan selalu
bersama-sama dalam kehidupan dunia.
Amr bin Jamuh adalah salah seorang pemimpin
Yatsrib pada masa jahiliyah. Dia ipar Abdull bin Amr bin Haram, juga kepala
suku Bani Salamah yang dihormati yang dihormati karena pemurah dan memiliki
peri kemanusiaan yang tinggi serta gemar menolong orang-orang yang membutuhkan
Telah menjadi
kebiasaan para bangsawan jahiliyah untuk menempatkan patung di rumah mereka
masing-masing. Dengan demikian, mereka bisa mengambil berkah dan dan memuja
patung tersebut setiap saat. Selain itu, untuk memudahkan mereka meletakkan
sesajen sembari mengadukan keluhan-keluhan mereka pada waktu yang diperlukan.
Patung di rumah
Amr bin Jamuh bernama “Manat”. Patung itu terbuat dari kayu, indah dan mahal
harganya. Untuk perawatannya, Amr bin Jamuh terkadang harus mengeluarkan biaya
yang tidak sedikit. Hampir setiap hari patung itu dibersihkan dan diminyaki
dengan wangi-wangian khusus dan mahal.
Tatkala cahaya
Islam mulai bersinar di Yatsrib dari rumah ke rumah, usia Amr bin Jamuh sudah
lewat 60 tahun. Tiga orang putranya: Mu’awadz, Mu’adz dan Khalad, serta seorang
kawan sebaya mereka, Mu’adz bin Jabal, telah masuk Islam di tangan Mush‘ab bin
Umair, sang duta Islam. Bersamaan dengan ketiga putranya, masuk Islam pula ibu
mereka Hindun, istri Amr bin Jamuh. Amr tidak mengetahui kalau mereka telah
masuk Islam.
Saat itu, para
bangsawan dan pemuka suku di Yatsrib (Madinah) telah banyak yang masuk Islam.
Hindun yang sangat mencintai dan menghormati suaminya khawatir kalau suaminya
mati dalam keadaan kafir lalu masuk neraka. Sebaliknya Amr sangat mencemaskan
keluarganya yang akan meninggalkan agama nenek moyang mereka. Dia takut
putra-putranya terpengaruh oleh dakwah yang disebarkan oleh Mush’ab bin Umair.
Karena dalam tempo singkat Mush’ab berhasil merubah agama orang banyak dan
menjadikan mereka Muslim.
Oleh sebab itu,
Amr selalu berkata kepada istrinya, “Hai Hindun, hati-hatilah menjaga
anak-anak, agar mereka jangan sampai bertemu dengan orang itu (Mush ‘ab bin
‘Umair)!”
“Ya,"
jawab istrinya. "Tapi apakah kau pernah mendengar putra kita bercerita
mengenai pemuda itu?”
“Celaka! Apakah
Mu’adz telah masuk agama orang itu?" tanya Amr gusar.
“Tidak, bukan
begitu! Tetapi Mu’adz pernah hadir dalam majelis orang itu, dia ingat
kata-katanya,” jawab istrinya menenteramkan hati Amr.
"Panggillah
dia kemari!” perintah suaminya.
Ketika Mu’adz
hadir di hadapan ayahnya, Amr berkata, “Coba baca kata-kata yang pernah
diucapkan orang itu. Bapak ingin mendengarkannya."
Mu’adz
membacakan surat Al-Fatihah kepada bapaknya.
“Alangkah bagus
dan indahnya kalimat itu. Apakah setiap ucapannya seperti itu?” tanya Amr.
“Bahkan lebih
bagus dari itu. Bersediakah ayah baiat dengannya? Rakyat ayah telah banyak yang
baiat dengan dia,” kata Mu’adz.
Orang tua itu
diam sebentar. Kemudian dia berkata, “Aku tidak akan melakukannya sebelum
musyawarah lebih dahulu dengan Manat. Aku menunggu apa yang dikatakan Manat.”
“Bagaimana
Manat bisa menjawab? Bukankah itu benda mati, tidak bisa berpikir dan tidak
bisa berbicara?” kata Mu’adz.
“Kukatakan
padamu, aku tidak akan mengambil keputusan tanpa dia!” tegas Amr.
Putra-putranya
mengetahui benar kapan ayah mereka menyembah berhala itu. Mereka juga tahu
kalau hati ayah mereka mulai goyah. Oleh sebab itu, mereka mencari jalan
bagaimana cara menghilangkan patung tersebut dari hati Amr bin Jamuh. Salah
satu jalannya adalah menyingkirkan berhala tersebut dari rumah mereka dan
membuangnya jauh-jauh.
Pada suatu
malam, putra-putra Amr dan bersama Mu’adz bin Jabal menyusup ke dalam rumah
lalu mengambil berhala tersebut dan membuangnya ke dalam lubang kotoran
manusia. Tidak seorang pun yang mengetahui dan melihat perbuatan mereka itu.
Pagi harinya,
Amr tidak melihat Manat di tempatnya. Ia bergegas mencari berhala tersebut dan
akhirnya menemukan di tempat pembuangan kotoran. Bukan main marahnya Amr bin
Jamuh melihat kondisi sesembahannya itu. Setelah membersihkan sang berhala dan
memberinya wewangian, ia kembali meletakkannya di tempat semula.
Malam
berikutnya, Muadz bin Jabal dan putra-putra Amr memperlakukan berhala itu
seperti sebelumnya. Demikian juga pada malam-malam berikutnya. Akhirnya,
habislah kesabaran Amr. Diambilnya pedang, kemudian digantungkannya di leher
Manat, seraya berkata, " Hai Manat, jika kamu memang hebat, tentu bisa
menjaga dirimu dari aniaya orang lain!"
Keesokan
harinya, Amr bin Jamuh tidak menemukan berhalanya kembali. Ketika ia cari,
benda tersebut ditemukannya di tempat pembuangan hajat, terikat bersama bangkai
seekor anjing. Di saat ia keheranan, marah dan kecewa, muncullah beberapa
pemuka Madinah yang telah masuk Islam. Sambil menunjuk berhala yang terikat
dengan bangkai anjing itu, mereka berusaha mengetuk hati Amr bin Jamuh agar
menggapai hidayah Allah.
Akhirnya ia
sadar, bahwa Manat tak dapat berbuat apa-apa. Manat ternyata tak mempunyai
sifat ketuhanan sedikit pun. Selama ini, ia berpikir bahwa kekayaan yang ia
miliki itu datang dari Manat. Sekarang ia sadar, bahwa Manat bukanlah Tuhan
yang dapat memberinya rezeki dan petunjuk.
Ia kemudian
membersihkan badan dan pakaiannya, memakai wewangian, lalu bergegas menemui
Nabi Muhammad SAW untuk menyatakan keislamannya. Amr bin Jamuh merasakan
bagaimana manisnya iman. Dia sangat menyesali dosa-dosanya selama dalam
kemusyrikan. Maka setelah masuk Islam, ia mengarahkan seluruh hidupnya,
hartanya, dan anak-anaknya dalam menaati perintah Allah dan Rasul-Nya.
Tatkala terjadi
Perang Badar, Amr bin Jamuh bersiap-siap hendak turut bergabung, namun sayang
Rasulullah tak mengizinkannya turut serta—melihat kondisinya yang renta dan
pincang. Beliau memberikan keringanan padanya untuk tidak ikut berperang.
Namun ketika
terjadi Perang Uhud, ia pun bersiap-siap hendak turut berjihad. Namun
putra-putranya melarang. Ia pun nekat menemui Rasulullah dan berkata,
"Wahai Rasulullah, putra-putraku melarangku berbuat kebajikan. Mereka
keberatan jika aku ikut berperang karena sudah tua dan pincang. Demi Allah,
dengan pincangku ini, aku bertekad meraih surga."
Rasulullah pun
akhirnya mengizinkan Amr bin Jamuh turut serta dalam Perang Uhud. Dengan suara
mengiba ia memohon kepada Allah SWT, "Ya Allah, berilah aku kesempatan
untuk memperoleh syahid. Jangan kembalikan aku kepada keluargaku."
Tatkala perang
berkecamuk, kaum Muslimin berpencar. Amr bin Jamuh berada di barisan paling
depan. Dia melompat dan berjingkat seraya mengelebatkan pedangnya ke arah
musuh-musuh Allah, sambil berteriak, "Aku ingin surga, aku ingin
surga!"
Apa yang
didambakan Amr akhirnya terwujud jua. Ia gugur sebagai syahid bersama beberapa
sahabat lainnya. Tatkala perang berakhir, Rasulullah SAW memerintahkan untuk
memakamkan jasad Abdullah bin Amr bin Haram dan Amr bin Jamuh dalam satu liang
lahat. Semasa hidup, mereka berdua adalah sahabat setia yang saling menyayangi.
Dalam riwayat lain disebutkan, Amr bin Jamuh dimakamkan satu liang dengan
putranya, Khalad bin Amr.
Setelah 46
tahun berlalu, tanah pemakaman itu dilanda banjir. Kaum Muslimin terpaksa
memindahkan jasad para syuhada. Kala itu, Jabir bin Abdullah bin Haram—putra
Abdullah bin Amr bin Haram—masih hidup. Bersama keluarganya, ia memindahkan
jasad ayahnya, Abdullah bin Haram dan Amr bin Jamuh. Mereka mendapatkan kedua
jasad syuhada itu tetap utuh. Tak sedikit pun dari tubuh mereka yang dimakan
tanah. Bahkan keduanya seperti tertidur nyenyak dengan bibir menyunggingkan
senyum.
Buah-buah
perjuangan Islam mulai tampak di Madinah. Inilah Mush’ab bin Umair radhiyAllahu
‘anhu dikerubungi sejumlah pemuda Yatsrib yang menjadi kota yang baik dan
bersinar, tidak seperti sebelumnya, buruk dan gelap. Lebih-lebih menjadi kota
Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wasallam.
Disekitar
Mush’ab, duduklah Khallad, Mu’adz, dan Mu’awwadz, anak-anak ‘Amr bin Al-Jamuh,
tuan bani Salamah. Diantara mereka juga terdapat Mu’adz bin Jabal radhiyAllahu
‘anhu. Mereka mendengarkan Mush’ab bin Umair mengajarkan agama Islam dan
membaca Alquran. Akan tetapi, anak-anak ‘Amr bin Al-Jamuh merasa sedih karena
ayah mereka (‘Amr bin Al-Jamuh), tuan bani Salamah, masih berada dalam
kekafirannya. Ia menyembah berhala yang dinamakannyya Manaf. Ia tidak hanya
mencintai berhalanya bahkan sangat perhatian kepadanya. Ia menjadikan temapat
khusus baginya di salah satu pojok rumah. Tidak boleh ada yang masuk tempat
khusus itu, kecuali dirinya sendiri.
Setiap ingin
melakukan sesuatu ia masuk di tempat khusus tersebut, bersujud dan meminta
berkah darinya.
Melihat
keadaanya seperti itu, .anak-anaknnya ingin menunjukkannya jalan yang benar dan
mengajaknya masuk agama Islam. Ibu mereka sebenarnya telah masuk Islam, namun
secara sembunyi-sembunyi: dan Allah mengabulkan keinginan mereka ini, namun
dengan cara yang lembut, indah, dan menakjubkan.
‘Amr bin
Al-Jamuh adalah tuan diantara sejumlah tuan di Yatsrib yang masih kafir.
Anak-anak dan istrinya merahasiakan Islam yang telah mereka pegang. ‘Amr
mendengar apa yng dikatakan Mush’ab dan yang di dakwahkannya, maka ‘Amr
mengutus seseorang untuk bertanya kepada Mush’ab : “ Apa yang kamu bawa kepada
kami?”
Mush’ab berkata
: “ Jika kamu mau, maka kami akan datang kepadamu dan memperdengarkan
kepadamu.” Mereka pun membuat perjanjian untuk bertemu pada suatu hari.
Pertemuan
antara Mush’ab dan ‘Amr pada awalnya tampak kering dan keras. Akan tetapi,
Mush’ab bersabar, karena ia hanya berniat menunjukkan manusia pada jalan yang
lurus. Mush’ab membaca surat Yusuf :
“ Alif lam ra.
Ini adalah ayat-ayat kitab (Alquran) yang nyata (dari Allah). Sesungguhnya Kami
menurunkannya berupa Alquran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.”(QS.
Yusuf [12]: 1-2)
Ayat ini
membuat ‘Amr bin Al-Jamuh takjub. Akan tetapi, ia masih mencintai berhalanya
dan tidak memutuskan suatu perkara pun tanpa terlepas darinya. Oleh karena itu,
Mush’ab berkata : “ Sesungguhnya aku memiliki cara yang tepat untuk membuatnya
takluk pada Islam.”
‘Amr bin
Al-Jamuh kembali pada berhalanya, lalu bersujud kepadanya. Ia berkata : “ Wahai
Manaf, kamu mengetahui apa yang diinginkan orang-orang terhadapku, apakah kamu
menolaknya?”
‘Amr bin
Al-Jamuh meletakkan pedangnya di atas berhalanya. Kemudian meninggalkannya.
Mu’adz, anaknya mengambil pedang tersebut dan menyembunnyikannya. Tujuannya
agar ayahnya mengetahui bahwa berhala ini itdak menimbulkan manfaat atau
mudharat, tidak juga menguasai dirinya sendiri.
‘Amr bin
Al-Jamuh datang. Setelah melihat pedang tidak ada, ia berkata : “ Dimanakah
pedangku, wahai Manaf ? Celaka kamu! Kambing yang lemah saja mampu membela
dirinya.”
Selanjutnya ia
berkata lagi : “ Sesungguhnya aku besok akan pergi untuk melihat hartakku yang
berada Alya, Madinah.” Ia berpesan kepada keluarganya agar memperlakukan
berhalanya dengan baik.
Ia pun pergi ke
Alya, maka anak-anaknya mendatangi berhala. Mereka mengikatnya dengan tali dan
meletakkanya di lobang tanah yang digunakann penduduk Yatsrib sebagai tempat
sampah dan kotoran mereka.
Beberapa lama
kemudian ‘Amr bin Al-Jamuh pulang. Ia menuju berhalanya. Akan tetapi, betapa
terkejutnya ketika berhala tersebut tidak ditemukannya, maka ia berteriak
kepada keluarganya : “ Dimana Manaf ? Dimana Tuhanku yang aku cintai?” Namun
tidak ada seorang pun yang menjawabnya.
‘Amr
bersungguh-sungguh mencari berhalanya yang raib. Setiap sudut rumah dan tempat
yang dicurigainya diamatinya dengan baik. Tidak ketinggalan juga rumah-rumah
disekitarnya. Ia selalu menanyakan orang disekelilingnya : “ Tahukah kamu,
dimana berhalaku? “ Akhirnya, ia menemukan sesembahannya itu tergeletak di
tempat sampah. Baginya ini adalah hal yang tragis dan sangat menyedihkan.
Ia
mengambilnya, memandikannya, dan mengembalikannya ke tempat semula. Setelah itu
ia bersujud kepadanya seraya berkata : “ Jika aku tahu orang yang melakukan
perbuatan ini, maka aku akan membunuhnya.”
Pada malam
ketiga, anak-anaknya mendatangi lagi berhala tersebut. Mereka mengikatnya
dengan tali-tali pada bangkai anjing dan melemparkannya di sumur Bani Salamah
yang menjadi tempat pembuangan kotoran dan sampah mereka. Untuk ketiga kalinya,
‘Amr bertanya kepada anak-anaknya : “ Bagaimana keadaan kalian ?”
Mereka menjawab
: “ Baik, Allah telah meluaskan rumah kami dan mensucikannya dari kotoran.”
Selanjutnya,
‘Amr bin Al-Jamuh mendatangi berhalanya, namun dijumpai berhalanya tidak ada,
lalu ia bertanya : “ Dimanakah ia?”
Merka menjawab
: “ Ia berada disana. Lihatlah di dalam sumur itu.”
‘Amr bin
Al-Jamuh melihat berhalanya terlumuri kotoran lagi dan tidak mampu menolak
gangguan terhadap dirinya, maka ‘Amr bin Al-Jamuh pun yakin bahwa berhalanya
hanyalah batu yang tidak dapat mendatangkan manfaat atau menolak mudharat. Ia
menjadi tahu bahwa keimanan lebih baik daripada kekufuran.
Ia berkata
kepada anak-anaknya : “ Apakah kalian bersamaku ?”
Mereka menjawab
:” Ya, engkau adalah tuan kami.”
‘Amr berkata :
“ Sesungguhnya aku bersaksi di hadapan kalian bahwa aku beriman dengan apa yang
diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam.”
Lalu ia membaca
syair :
Segala puji
bagi Allah Yang Maha tinggi dan memiliki karunia
Sang Pemberi
karunia dan rizqi
Dan Sang
Pemilik agama ini
Dialah Yang
menyelamatkanku
Sebelum aku
berada dalam gelapnya kuburan
Demi Allah jika
kamu Tuhan, kamu tidak akan mungkin tergeletak bersama anjing di dalam sumur
bertahun-tahun
Setelah berada
di Madinanh, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam menngetahui ‘Amr
sebagai orang yang terhormat dan punya pendapat yang baik. Pada suatu hari
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Wahai Bani Salamah,
siapakah tuanmu ?”
Mereka menjawab
: “ Jadd bin Qais, tetapi kami melihatnya seorang yang kikir.”
Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Penyakit apakah yang lebih buruk
daripada kikir ? Tuanmu adalah orang yang putih, ‘Amr bin Al-Jamuh.
Sesungguhnya sebaik-baik manusia dalam jahiliyah adalah sebaik-baik manusia
dalam Islam.” Dengan demikian, ‘Amr bin Al-Jamuh radhiyallahu ‘anhu telah
menjadi seorang tuan, baik sebelum maupun setelah masuk Islam.
‘Amr bin
Al-Jamuh adalah seorang yang pincang. Karena itu, ia tidak dapat hadir dalam
perang Badar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Setelah pasukan
Islam kembali dari perang, maka kisah-kisah kepahlawanan menambah kerinduan
yang meluap-luap dalam hati orang-orang Islam untuk berperang. Orang-orang yang
tidak ikut perang Badar ingin menambal ketertinggalannya itu, maka perang Uhud
adalah tempat mereka memperoleh ganti apa yang sebelumnya mereka terlewatkan.
Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam berseru kepada kaum muslimin : “ Bangkitlah menuju
surga yang luasnya seluas langit dan bumi, disediakan untuk orang-orang yang
bertaqwa.”
‘Amr ingin
keluar dalam perang Uhud, namun anak-anaknya melarang. Mereka berkata : “ Allah
memaafkanmu.”
‘Amr datang
kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata kepadanya : “
Sesungguhnya anak-anakku menahanku agar aku tidak keluar berrsamamu dalam
perang. Demi Allah, aku ingin menginjak surga dengan kepincanganku ini.”
Rasulullah
Shallllahu ‘alaihi wasallam bersabda : “ Adapun kamu, maka Allah telah
memaafkan: tiada kewajiban jihad bagimu.”
Karena
permintaan yang terus menerus dari ‘Amr, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam pun bersabda kepada anak-anaknya : “ Tidak ada alasan bagi kalian
untuk menghalanginya, karena barangkali Allah akan mengaruniakannya mati
syahid. Karenanya, tinggalkan ia.”
Sementara itu
istrinya, Hindun binti ‘Amr bin Hizam, berkata : “ Sungguh ia telah mengambil
perisainya, kemudian berdoa kepada Allah : “ Ya Allah,, janganlah Engkau
kembalikan aku dalam keluargaku.”
Demikian ‘Amr
bin Al-Jamuh berangkat bersama dengan saudara kandung istrinya, ‘Abdullah bin
‘Amr bin Haram. Ikut bersama mereka berdua Khallad bin ‘Amr bin Al-Jamuh.
Pada awal
perang, medan perang dikuasai pasukan Islam karena mereka taat pada perintah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan perintah pemimpin pasukan mereka,
‘Abdullah bin Jubair. Akan tetapi, para pemanah tidak menaati Rasulullah dan
‘Abddullah bin Jubair, sehingga pasukan Islam terdesak dan barisan Islam pun
menjadi kacau tak terkendali.
Ketika itu ‘Amr
bin Al-Jamuh berteriak : “ Demi Allah, sungguh aku rindu kepada surga.” Ia
bersama anaknya, Khallad, ikut menceburkan diri dalam peperangan yang hebat
hingga keduanya mati syahid.
Insya Allah
‘Amr bin Al-Jamuh menginjak surga dengan kepincangannya seperti yang dia
inginkan. Ia tidak kembali kepada keluarganya sebagaimana yang telah ia mohon
kepada Allah sebelumnya dan Insya Allah, Allah pun kini mengabulkannya.
Setelah perang,
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melihatnya mati syahid dan tergeletak
disamping jasad ‘Abdullah bin ‘Amr bin Hizam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda : “ Kuburlah ;Amr bin Al-Jamuh bersama ‘Abdullah bin ‘Amr,
karena keduanya telah salimg mencintai dengan tulus di dunia.”
Sumber: Kisah Teladan 20 Sahabat Nabi untuk Anak, Dr. Hamid Ahmad Ath-Thair, Irsyad Baitus Salam 2006
No comments:
Post a Comment