Sunday, April 26, 2026

Tafsir Surah Al-Haqqah

Pengantar

Ini adalah surah yang besar dan hebat, yang jarang diterima oleh perasaan kecuali dengan goncangan yang mendalam. Sejak pembukaan hingga penutupnya selalu mengetuk perasaan dan menunjukkan kepadanya sesuatu yang menakutkan dan mengerikan, dan keseriusan yang amat sangat pemandangan demi pemandangan. Semuanya senantiasa menyentuh perasaan dengan kebesaran dan keagungan, dari waktu ke waktu, dan dengan azab pada suatu waktu, serta dengan gerakan yang kuat pada setiap saat.

Surah ini secara keseluruhan menyampaikan ke dalam jiwa dengan kuat dan mendalam sebuah perasaan dengan satu makna... bahwa urusan ini, urusan agama dan akidah, adalah urusan yang serius, tulus, mantap, dan pasti. Semuanya serius,  tidak ada gurauan, dan tidak lapangan untuk bergurau dan bermain-main. Serius dalam urusan dunia dan akhirat, serta serius dalam timbangan Allah dan perhitungan-Nya. Serius, sehingga tidak ada sesuatu pun dari urusannya yang sia-sia, baik di sini maupun di sana, banyak maupun sedikit. Dan, urusan mana pun yang diabaikan seseorang tentu akan menjadikannya terkena kemurkaan Allah yang berat dan hukuman-Nya yang pedih, meskipun yang mengabaikan dan menyimpang itu seorang rasul. Maka, urusan AIah itu lebih besar daripada diri Rasul dan lebih besar daripada manusia itu sendiri. Sesungguhnya urusan ini adalah urusan ke benaran, haqqul-yaqin (kebenaran yang meyakinkan) , dari Tuhan semesta alam.

Makna ini tampak dari nama hari kiamat yang dipilih di dalam surah ini dan nama surah ini sendiri "al-Haaqqah" (yang pasti benar). Nama ini dengan lafalnya, gaungnya, dan maknanya memberikan kesan di dalam jiwa tentang makna keseriusan, kekerasan, kepastian, dan kemantapan. Lafal atau perkataan ini sendiri memberikan kesan yang lebih mirip dengan pengangkatan beban dalam waktu yang lama, kemudian menetapkan dan memantapkannya secara mantap. Mengangkatnya dengan membaca huruf ha' secara panjang yang disertai dengan alif. Keseriusannya tampak di dalam bacaan tasydid pada huruf qaf sesudahnya. Kemudian kemantapannya dengan disudahi dengan huruf ta' marbuthah yang dibunyikan dengan bunyi huruf ha' yang bersukun.

Makna ini juga tampak di tempat-tempat jatuhnya orang-orang yang mendustakan agama, akidah, dan akhirat, kaum demi kaum, kelompok demi kelompok, tempat-tempat jatuh mereka yang keras dan pasti.

"Kaum Tsamud dan 'Aad telah mendustakan hari Kiamat. Adapun kaum Tsamud maka mereka telah dibinasakan dengan kejadian Yang luar biasa. Adapun kaum 'Aad maka mereka tdah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus; maka kamu lihat kaum 'Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon korma yang telah kosong (lapuk). Maka, kamu tidak melihat seorang pun yang tinggal di antara mereka. Dan, telah datang Fir'aun dan orang-orang yang sebelumnya dan (penduduk) negeri-negeri yang dijungkirbalikkan karena kesalahan yang besar. Maka, (masing-masing) mereka mendurhakai rasul Tuhan mereka, lalu Allah menyiksa mereka dengan siksaan yang sangat keras. Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung), Kami bawa (nenek moyang) kamu ke dalam bahtera, agar Kami jadikan peristiwa itu peringatan bagi kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar. " (al-Haaqqah: 4-12)

Demikian pula setiap orang yang berpaling dari urusan ini, maka dia akan dihukumnya dengan hukuman yang menakutkan dan mengerikan, sesuai dengan keseriusan urusan yang sangat besar ini, yang tidak mengandung gurauan dan permainan, dan tidak boleh diabaikan di sini ataupun di sana!

Makna ini tampak dalam pemandangan hari kiamat yang menakutkan dan pada masa ber akhirnya alam semesta yang menakutkan. Juga pada waktu tampaknya kekuasaan dan keagungan Tuhan yang Iuar biasa yang lebih menakutkan dan menakutkan lagi,

"Maka, apabila sangkakala ditiup sekali tiup, dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur. Maka, pada hari itu terjadilah hari kiamat, dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah. Malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung Arasy' Tuhanmu di atas (kepala) mereka. " (al-Haaqqah: 13-17)

Begitu menakutkan, dan demikian agung. Keduanya melepaskan keseriusan yang indah dan agung terhadap pemandangan hisab tentang urusan yang besar itu, dan keduanya bersama-sama menambah dalamnya maknanya di dalam jiwa dan perasaan bersama seluruh kesan dan pengarahan surah ini. Sesudah itu dibicarakan orang-orang yang selamat dan yang dijatuhi siksaan.

"Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata, 'Ambillah, bacalah kitabku (ini). Sesungguhnya aku yakin bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhndap diriku. "' (al-Haaqqah: 19-20)

Maka, selamatlah orang ini. padahal dia hampir tidak percaya bahwa dirinya akan selamat..  "Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata, 'Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku dariku. (al-Haaqqah: 25-29)

Mereka berkeluh kesah dengan keluhan yang demikian panjang, yang menancap di dalam perasaannya pada saat sudah kembali ke alam akhirat

Kemudian, tampaklah keseriusan yang tajam dan ketakutan yang mengerikan itu pada perkataan luhur yang berisi keputusan yang menakutkan,  pada hari yang menakutkan, dan di tempat perhenuan yang besar.

"Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. " (al-Haaqqah: 30-32)

Tiap-tiap paragraf seakan-akan memikul beban langit dan bumi, dan runtuh dalam menghadapi urusan beşar yang membingungkan, dalam ketakutan yang mengerikan, dan dalam keseriusan yang berat

Kemudian di dalam mengomentari kata putus yang agung itu, dijelaskanlah hal-hal yang mengharuskan keputusan yang menakutkan dan akibat yang mengerikan itu.

"Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Mahabesar. Dan juga lidak mendorong (orang lain) unluk memberİ makan orang miskin. Maka, tiada seorang teman pun baginya pada hari ini di sini. Dan tiada (pula) makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa. " (al-Haaqqah: 33-37)

Kemudian tampak jelas pula makna itu di dalam penyampaian sumpah yang agung, di dalam penetapan Allah terhadap hakikat agarna terakhir ini.

“Maka, Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat dan dengan apa yang tidak kamu lihat. Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia, dan Al-Qur’ian İtu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya. Dan, bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran darinya. la adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam. (al-Haaqqah: 38-43)

Akhirnya tampaklah keseriusan itu pada pengarahan terakhir, pada ancaman yang pasti, dan pada hukuman yang keras terhadap siapa pun yang mempermainkan atau menggantİ urusan (agama) ini, siapa pun orangnya, meski Muhammad sang Rasul sekalipun.

“Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar benar Kamİ pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka, sekali-kali tidak ada seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami) dari pemotongan urat nadi itu. " (al-Haaqqah: 44-47)

Maka, ini adalah persoalan yang tidak ada kompromi, tidak ada belas kasih, dan tidak ada kelemah lembutan lagi padanya .

Pada waktu itu ditutuplah surah ini dengan memberikan ketetapan yang pasti dan keputusan terakhir mengenai urusan yang besar ini. "Sesungguhnya AI- Quian itu benar-benar suatu pelajaran bagı orang-orang yang bertakwa dan sesunguhnya Kami benar-benar mengetahui bahwa di anlara kamu ada orangyang mendustakan(nya). Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar menjadi penyesalan bagİ orang-orang kafir (di akhirat). Sesunguhnya AI-Qur’ an itu benar-benar kebenaran yang diyakini. Maka, bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha besar. (al-Haaqqah: 48-52)

İnilah penutup yang memutuskan semua perkataan, memberikan kata putus, membuang semua ketidakseriusan, dan bertasbih dengan menyebut nama Allah Yang Mahaagung.

Itulah makna yang hendak disampaikan oleh surah ini ke dalam perasaan, yang dijamin uslubnya, kesan-kesannya, pemandangannya, lukisannya, dan bayang-bayangnya dengan penyampaian dan penetapannya yang mendalam. Juga dengan bentuk yang mengesankan, hidup, dan mengagumkan.

Uslub surah ini membingkai perasaan dengan pemandangan-pemandangan yang hidup, dengan kehidupan yang sempurna, yang tidak mengandung celah dan kekurangan, dan tidak terlukiskan kecuali kehidupan nyata yang ada di hadapan manusia, yang terlihat daya hidupnya, kekuatannya, dan aktivitasnya dengan lukisan yang mengagumkan.

Puing-puing kaum Tsamud, kaum 'Aad, Fir'aun, dan desa Nabi Luth (Mu'tafikat) hadir dengan sosoknya, dan peristİwa-peristiwa besar yang menakutkan dengan segala pemandangannya tak terlepas dari perasaan. Juga pemandangan yang berupa terpaan angin badai yang sangat dingin beserta sisa-sisa manusianya yang diterpanya dilukiskan sepintas kilas dalam dua ayat... Siapa gerangan yang membaca ayat,

"Adapun kaum 'Ad, maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang. yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus; maka kamu lihat kaum 'Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon korma yang telah kosong (lapuk). Maka, kamu tidak melihat seorangpun yang tinggal di antara mereka. "(al-Haaqqah: 6-8)

Siapa yang membaca ayat itu kemudian tidak terbayangkan di dalam perasaannya pemandangan angin yang sangat dingin dan amat kencang yang merusakkan dan menghancurluluhkan, selama tujuh malam delapan hari? Pemandangan yang berupa kaum yang terkapar sesudah itu dengan mengenaskan, "Seakan-akan mereka tunggul-tungul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). "

Ini adalah pemandangan yang hidup, yang terbayang oleh mata, terkesan dalam hati, dan tampak dalam khayalan. Demikian pula dengan segala pemandangan yang berupa siksaan yang keras di dalam surah ini.

Kemudian pemandangan yang mengerikan tentang kesudahan alam semesta. Pemandangan yang membayang dalam perasaan, dengan suara gemeretak di sekitarnya, yang menakutkan dan mengerikan. Nah, siapakah gerangan yang mendengar fiman AIIah ayat14, "Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur", ... dan perasaannya tidak mendengar suara gemeretak sesudah matanya melihat diangkatnya bumi dan gunung-gunung lalu dibenturkan?

Siapakah gerangan yang mendengar firman Allah ayat 16-17, "Dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah. Malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit", ... tetapi tidak terbayang olehnya kesudahan alam yang menyedihkan dan pemandangan yang merisaukan tentang langit yang indah dan kokoh selama ini? Kemudian, siapakah gerangan yang hatinya tidak gemetar dan ketakutan ketika mendengar firman Allah,

"Malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung 'Arasy Tuhanmu di atas (kepala) mereka. Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah). '  (al-Haaqqah: 17-18)

Pemandangan yang berupa orang yang selamat dengan memegang kitab catatan amalnya dengan tangan kanannya. Dunia tidak dapat melukiskan kegembiraannya, ketika dia menyeru semua makhluk supaya membaca kitabnya itu dalam suasana kegembiraan dan keceriaan,

“Ambillah, bacalah kitabku (ini). Sesungguhnya aku yakin bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku. " (al-Haaqqah: 19-20)

Pemandangan orang yang binasa, yang menerima kitab catatan amalnya dengan tangan kirinya. Rasa penyesalan tampak dalam kalimat-kalimat yang diucapkannya dengan segenap tekanan dan perasaannya yang memilukan,

"Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), dan aku tidak mengetahui apa  hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku dariku. " (al-Haaqqah: 25-29)

Siapakah gerangan yang tidak gemetar perasaannya mendengar keputusan yang menakutkan itu? "Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. " (al-Haaqqah: 30-32)

Dia menyaksikan betapa para malaikat yang diperintahkan-Nya itu bersegera melaksanakan perintah yang menakutkan dan mengerikan, terhadap orang yang celaka dan penuh sesal itu.

Keadaannya di sana adalah,

"Maka, tiada seorang temanpun baginya Pada hari ini di sini. Dan tiada (pula) makanan sedikit pun (baginya) kecuali dari darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa. " (al-Haaqqah: 35-37)

Dan terakhir, siapakah gerangan yang tidak takut dan gemetar ketika membayangkan ancaman yang sangat keras ini?

"Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka, sekali-kali tidak ada seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami) dari pemotongan urat nadi itu. " (al-Haaqqah: 44-47)

Inilah pemandangan-pemandangan yang penuh kekuatan, hidup, dan hadir. Pemandangan yang jiwa manusia tidak akan dapat berpaling darinya sepanjang surah ini. Pemandangan yang terus diulang-ulang, ditekankan, yang menyelinap ke dalam saraf dan perasaan, dengan kesan yang sebenarnya dan sangat kuat.

Mengiringi kesan pemisahan di dalam surah ini, dengan gemanya yang khusus, dan aneka macam gema suara sedih ini, sesuai dengan berbagai pemandangan dan tempat perhentian di dalam merefleksikan kesan yang hidup dan dalam itu..., maka dijumpailah bacaan panjang (mad), tasydid, dan saktah (diam) pada permulaan surah.

اَلْحَاۤقَّةُۙ ١ مَا الْحَاۤقَّةُ ۚ ٢ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا الْحَاۤقَّةُ ۗ ٣

 "Hari kiamat. Apakah hari Kiamat itu ? Dan tahukah kamu, apakah hari kiamat itu.” (al-Haaqqah: 1-3)

hingga suara yang menggema pada huruf ya' dan ha' yang dibaca sukun sesudahnya, baik ya' marbuthah yang diwaqafi dengan bunyi sukun, maupun bunyi ha' karena perhentian sebagai tambahan untuk mengatur irama, sepanjang pemandangan-pemandangan penghancuran di dunia dan di akhirat, dan pemandangan-pemandangan tentang kegembiraan dan penyesalan sebagai balasan masing-masing.... Kemudian iramanya berubah ketika memulai pemaparan tentang keputusan yang berisi keluh kesah yang menakutkan, tinggi, dan panjang.

"Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala" (al-Haaqqah: 30-31)

Kemudian berubah lagi iramanya ketika menetapkan sebab-sebab keputusan yang begitu itu, dan menetapkan kelayakan urusan itu, hingga keluh kesah yang memilukan, sungguh-sungguh, pasti, berat, dan mantap pada huruf mim atau nun

“Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Mahabesar. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin. Maka, tiada seorang teman pun baginya Pada hari ini di sini. Dan, tiada (pula) makanan sedikit pun (baginya) kecuali dari darah dan nanah. " (al-Haaqqah: 33-36)

"Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar kebenaran yang diyakini. Maka, bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Mahabesar. " (al-Haaqqah: 51-52)

Perubahan pada huruf pemisah dan pada jenis mad sebelumnya serta pada iramanya semuanya tampak jelas mengikuti perubahan konteks, pemandangan, dan suasananya. Juga sesuai dengan tema, lukisan, dan bayang-bayangnya yang menambah kerapiannya, yang turut serta menghidupkan Iukisannya dan menguatkan kesannya di dalam hati, di dalam surah yang kuat dan dalam kesan dan pengaruhnya ini.

Ini adalah surah yang besar dan hebat. Jarang jiwa manusia menerimanya melainkan dengan guncangan yang dalam. Guncangannya itu sendiri Iebih kuat dari semua paparannya, uraiannya, dan semua komentar.

Al-Haaqqah, Apakah Gerangan Dia?

اَلْحَاۤقَّةُۙ ١ مَا الْحَاۤقَّةُ ۚ ٢ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا الْحَاۤقَّةُ ۗ ٣

"Hari kiamat. Apakah hari kiamat itu ? Dan, tahukah kamu apakah hari kiamat itu ?" (al-Haaqqah: 1-3)

Hari kiamat, pemandangan-pemandangannya, dan peristiwa-peristiwanya, memenuhi sebagian besar surah ini. Oleh karena itu, dimulailah surah ini dengan menyebutnya, dan dinamai dengannya. Dan, ini adalah nama yang dipilihkan untuknya, dengan segala gaung dan maknanya sebagaimana sudah kami kemukakan. Maka, al-Haaqqah adalah sesuatu yang pasti terjadi, sesuatu yang pasti, yang turun dengan hukum dan keputusannya atas manusia. Sesuatu yang pasti, dan apa yang terjadi pada nya adalah benar....

Semua ini adalah makna-makna penetapan yang pasti, yang sesuai dengan arah dan topik surah. Kemudian, ia dengan gaungnya sebagaimana kami terangkan sebelumnya, mengandung irama tertentu yang sangat serasi dengan makna yang dikandungnya. Juga sesuai pula dengan kebebasan nuansa yang dimaksudkan, serta sebagai pengantar bagi apa yang pasti akan diperoleh orang-orang yang mendustakannya, baik di dunia maupun di akhirat nanti.

Nuansa surah ini seluruhnya adalah nuansa keseriusan dan kepastian, sekaligus nuansa yang menakutkan dan mengerikan. Di samping apa yang telah kami kemukakan di dalam pengantar, surah ini juga menimbulkan kesadaran di dalam jiwa akan kekuasaan Ilahi yang sangat besar dari satu segi, dan kekerdilan wujud insani di hadapan kekuasaan yang besar ini dari segi lain. Juga menggambarkan hukuman yang pedih di dunia dan di akhirat, mana kala manusia menyimpang atau berpaling dari manhaj yang dikehendaki Allah buat manusia ini, Yang tercermin pada kebenaran, akidah, dan syari’at yang dibawa oleh para rasul.

Maka, manhaj itu tidak didatangkan untuk disia-siakan, bukan pula untuk diganti. Tetapi, ia datang untuk dipatuhi dan dihormati, dan diterima dengan penuh perhatian dan ketakwaan. Kalau tidak, maka hukuman dan siksaan akan ditimpakan dengan segala sesuatunya yang menakutkan dan mengerikan.

Lafal-lafal yang ada dalam surah ini dengan gaungnya dan makna-maknanya, kesatuan susunannya dan petunjuk yang dikandungnya, semuanya sejalan dengan kebebasan suasananya dan lukisannya. Ia dimulai dengan sebuah kata, tanpa predikat, dalam lafal yang jelas, "Al-haaqqah 'hari kiamat'," Kemudian disusul dengan kata tanya yang menunjukkan besarnya dan agungnya urusan peristiwa besar ini, "Mal-haaqqah (Maa al-haaqqah) 'Apakah hari kiamat itu'?" Lalu ditambah lagi kesan kebesaran dan keagungan urusan ini yang tidak diketahui, dan dikeluarkannya masalah ini dari batas-batas pengetahuan dan pemahaman, "Wa maa adraaka maa al-haaqqah 'Dan tahukan kamu apakah hari kiamat itu?'"

Setelah itu didiamkan, tiada jawaban terhadap pertanyaan ini. Dibiarkannya Anda berdiri di depan urusan besar dan agung ini, yang tidak Anda ketahui, dan tidak mungkin Anda ketahui! Karena urusannya terlalu besar untuk diliputi pengetahuan dan pengertian manusia!

Nasib Kaum yang Mendustakan Ayat-Ayat

Kemudian pembicaraan dimulai dengan membicarakan kaum yang mendustakannya beserta akibat besar yang akan diterimanya. Maka, urusan ini adalah urusan yang serius, tidak boleh didustakan, dan tidak akan selamat orang yang terus saja mendustakannya.

كَذَّبَتْ ثَمُوْدُ وَعَادٌ ۢبِالْقَارِعَةِ ٤ فَاَمَّا ثَمُوْدُ فَاُهْلِكُوْا بِالطَّاغِيَةِ ٥ وَاَمَّا عَادٌ فَاُهْلِكُوْا بِرِيْحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍۙ ٦ سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَّثَمٰنِيَةَ اَيَّامٍۙ حُسُوْمًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيْهَا صَرْعٰىۙ كَاَنَّهُمْ اَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍۚ ٧ فَهَلْ تَرٰى لَهُمْ مِّنْۢ بَاقِيَةٍ ٨

"Kaum Tsamud dan 'Aad telah mendustakan hari Kiamat. Adapun kaum Tsamud, maka mereka telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa. Adapun kaum 'Aad, maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus; maka kamu lihat kaum 'Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tungul-tunggul pohon korma yang telah kosong (lapuk). Maka, kamu tidak melihat seorang pun di antara mereka yang tinggal. " (al-Haaqqah: 4-8)

Ini (al-Qaari'ah) adalah nama baru bagi al-Haaqqah (sesuatu yang pasti terjadi, hari kiamat). Ia lebih dari sekadar pasti terjadi (al-Haaqqah), tetapi ia taqra'u (mengetuk) .... Sedangkan, al-qar'u adalah memukul sesuatu yang keras dan mengukirinya dengan sesuatu yang sepertinya. Dan, al-Qaari'ah itu mengetuk hati dengan sesuatu yang menakutkan, dan mengetuk alam dengan kehancuran dan kebinasaan. Nah, inilah dia hari Kiamat dengan gaung suaranya yang memerincing dan gemeretak, mengetuk dan mengagetkan. Namun demikian, kaum Tsamud dan kaum 'Aad mendustakannya. Oleh karena itu, kita perhatikanlah bagaimana akibat tindakan mendustakannya ini .

"Adapun kaum Tsamud, maka mereka telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa. " (al-Haaqqah: 5)

Kaum Tsamud bertempat tinggal di kawasan batu-batu gunung di sebelah utara Hijaz, di antara Hijaz dan Syam. Mereka dihukum dengan suara keras (petir) sebagaimana disebutkan di tempat Iain. Ada pun di sini, maka hanya disebutkan sifat suara keras itu sebagai "kejadian yang Iuar biasa”, tanpa menyebut lafal "shaihah" 'suara keras' itu sendiri. Karena, penyebutan sifat ini menimbulkan keseraman dan ketakutan yang sesuai dengan nuansa surah ini, dan lagi karena irama lafal sesuai dengan irama pemisahan dalam segmen ini. Satu ayat ini saja sudah cukup melipat riwayat kaum Tsamud, cukup melimpahinya, cukup mengembus mereka, dan cukup melampaui mereka sehingga tidak ada bayang-bayangnya lagi.

Adapun kaum 'Aad, maka persoalan bencana mereka diperinci dan diberlakukan dalam masa yang panjang, dan peristiwanya terjadi selama tujuh malam delapan hari nahas (sial). Sedangkan, bencana yang menimpa kaum Tsamud adalah sepintas kilas, dengan satu suara keras, yang Iuar biasa...

"Adapun kaum 'Aad, maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin Iagi amat kencang. " (al-Haaqqah: 6)

"Ar-riih ash-sharshar” artinya angin yang sangat dingin, dan Iafal itu sendiri sudah menunjukkan sangat dinginnya angin itu, dan ini menjadi semakin bertambah dingin dengan diberinya sifat "'aatiyah" 'amat kencang'”.. sesuai dengan kesombongan dan kekejaman kaum 'Aad sebagaimana diceritakan dalam Al-Qur'an. Mereka bertempat tinggal di kawasan bukit pasir di bagian selatan jazirah Arabia di antara Yaman dan Hadramaut. Mereka itu adalah kaum yang keras, kejam, dan bengis.

Angin yang sangat dingin dan amat kencang itu "Allah timpakannya kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari secara terus-menerus". Dan kata "al-husuum " itu artinya yang memotong dan terus-menerus memotong. Penggunaan kata ini menggambarkan pemandangan angin sangat kencang yang meraung-raung dan menghancurkan serta berlangsung terus-menerus dalam waktu panjang yang dibatasi dengan ungkapan yang halus, "Selama tujuh malam dan delapan hari. "

Kemudian dibentangkanlah pemandangan dengan jelas, "Maka, kamu lihat kaum 'Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tungul pohon korma yang telah kosong (lapuk). " "Maka kamu Iihat...”, pemandangan itu dibeberkan dan dapat dilihat. Pengungkapan kalimat ini terus menyeruak ke perasaan hingga memenuhinya. "Mati bergelimpangan... ", mereka mati bergelimpangan dan berserakan, "Seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon korma" dengan akar dan batangnya "yang telah kosong (lapuk)", kosong tengahnya, keropos, dan roboh ke bumi. Ya, ini adalah pemandangan yang tampak di depan mata dengan jelas. Pemandangan yang tenang dan bisu, setelah angin ribut yang meraung-raung dan memporakporandakan. "Maka, apakah kamu meIihat seorang pun yang tingal di antara mereka... ? " Tidak! Mereka tidak tersisa Iagi!!!

Begitulah keadaan kaum Tsamud dan kaum 'Aad. Begitulah keadaan kaum lainnya yang mendustakan hari kiamat, yang disebutkan dalam dua ayat yang merangkum berbagai peristiwa yang bermacam-macam.

وَجَاۤءَ فِرْعَوْنُ وَمَنْ قَبْلَهٗ وَالْمُؤْتَفِكٰتُ بِالْخَاطِئَةِۚ ٩ فَعَصَوْا رَسُوْلَ رَبِّهِمْ فَاَخَذَهُمْ اَخْذَةً رَّابِيَةً ١٠

"Dan telah datang Fir'aun dan orang-orang yang sebelumnya dan (penduduk) negeri-negeri yang dijungkir balikkan karena kesalahan yang besar. Maka, (masing-masing) mereka mendurhakai rasul Tuhan mereka, lalu Allah menyiksa mereka dengan siksaan yang sangat keras. " (al-Haaqqah: 9-10)

Fir’aun ini berdomisili di Mesir (dia adalah Fir’aun zaman Nabi Musa) dan kaum orang-orang yang sebelumnya itu tidak dijelaskan secara terperinci. Mu 'tafikat adalah negeri Nabi Luth yang telah dihancurkan atau dijungkirbalikkan sebagai akibat kedustaannya, dan kata "mu'tafikat” ini mengandung makna "ifk" 'kebohongan' dan "inqilab" 'penjungkir balikan' ini. Kalimat ini mencakup semua tindakan mereka. Maka, ayat ini membicarakan tentang mereka yang datang "bil-khaathi-ah", yakni dengan perbuatan dosa.

"Maka mereka mendurhakai rasul Tuhan mereka...”  mereka mendurhakai rasul-rasul yang banyak jumlahnya, tetapi hakikatnya adalah satu, karena pada dasarnya risalah mereka adalah satu. Dengan demikian, mereka adalah seorang rasul dengan satu hakikat yang sama (ini termasuk salah satu bentuk keindahan pengungkapan Al-Qur'an yang mengesankan) dan secara global disebutkan tempat kembali mereka dengan sebuah kalimat yang mengesankan urusan yang besar dan pasti serta menakutkan sesuai dengan nuansa surah ini, "Lalu Allah menyiksa mereka dengan siksaan yang sangat keras " Kata "raabiyah" 'sangat keras' ini asal artinya adalah tinggi, melimpah, dan amat sakit, sesuai dengan "thaaghiyah" 'kejadian yang luar biasa' yang telah menimpa kaum Tsamud dan "'aatiyah" 'amat kencang/angin' yang menimpa kaum 'Aad. Ini sesuai dengan nuansa ketakutan dan kengerian dalam susunan ayat tanpa dipisah dan diperpanjang.

Selanjutnya dilukiskan banjir dan perahu yang sedang berlayar, yang pemandangan ini mengisyaratkan kepada mayat-mayat kaum Nabi Nuh ketika mereka mendustakan ayat-ayat Allah. Juga untuk menunjukkan nikmat kepada manusia dengan diselamatkannya asal-usul (nenek moyang) yang menurunkan mereka. Tetapi, kemudian mereka tidak bersyukur dan tidak mengambil pelajaran terhadap peristiwa yang sangat besar itu.

اِنَّا لَمَّا طَغَا الْمَاۤءُ حَمَلْنٰكُمْ فِى الْجَارِيَةِۙ ١١ لِنَجْعَلَهَا لَكُمْ تَذْكِرَةً وَّتَعِيَهَآ اُذُنٌ وَّاعِيَةٌ ١٢

"Sesungguhnya Kami, tatkala (air telah naik (sampai kegunung), Kami bawa (nenek moyang) kamu ke dalam bahtera, agar kami jadikan peristiwa itu peringatan bagİ kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar. "(al-Haaqqah: 11-12)

Pemandangan yang berupa meluapnya air, dan pemandangan yang berupa bahtera yang berjalan di atas air yang meluap itu... keduanya sangat serasi dengan pemandangan-pemandangan yang ditampilkan surah ini dengan segala bayangannya. Bunyi kata "jariyah” dan "wa 'iyah” begitu serasi dengan irama sajak. Sentuhan kalimat "Agar Kami jadikan peristİwa itu peringatan bagİ kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar" İnİ juga mengenai hati yang beku dan telinga yang bandel. Keduanya terus saja mendustakan setelah dikemukakannya peringatan-peringatan dan dibentangkannya akibat-akibat yang menimpa kaum yang menduştakan ayat-ayat Allah. Juga setelah dikemukakannya ayat-ayat, nasihat-nasihat, karunia, dan nikmat-nikmat Allah kepada nenek moyang orang-orang yang lalai itu.

Kiamat, Peristiwa Mahadahsyat yang Menakutkan dan Mengerikan

Semua pemandangan yang besar dan menakutkan ini menjadi kecil bila dibandingkan dengan peristiwa menakutkan yang sangat dahsyat. Yaitu, peristiwa hari Kiamat yang didustakan oleh orang-orang yang mendustakannya. Padahal, mereka sudah menyaksikan puing-puing orang-orang terdahulu yang mendustakan hari Kiamat itu

Sesungguhnya ketakutan besar terhadap puing-puing kehancuran bangsa-bangsa terdahulu itu masih terbatas bila dibandingkan dengan ketakutan hari Kiamat yang tak terbatas, yang terjadi pada hari yang tersaksikan itu. Di sini, sesudah pendahuluan, disempurnakanlah penampilan hari Kiamat ini. Juga disingkapkanlah hal-hal yang sangat menakutkan itu, seakan-akan ia sebagai penyempurna terhadap pemandangan-pemandangan yang telah ditampilkan lebih dahulu.

 فَاِذَا نُفِخَ فِى الصُّوْرِ نَفْخَةٌ وَّاحِدَةٌ ۙ ١٣ وَّحُمِلَتِ الْاَرْضُ وَالْجِبَالُ فَدُكَّتَا دَكَّةً وَّاحِدَةًۙ ١٤ فَيَوْمَىِٕذٍ وَّقَعَتِ الْوَاقِعَةُۙ ١٥ وَانْشَقَّتِ السَّمَاۤءُ فَهِيَ يَوْمَىِٕذٍ وَّاهِيَةٌۙ ١٦ وَّالْمَلَكُ عَلٰٓى اَرْجَاۤىِٕهَاۗ وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَىِٕذٍ ثَمٰنِيَةٌ ۗ ١٧

"Maka, apabila sangkakah ditiup sekali tiup, dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur. Maka, pada hari itu terjadilah hari Kiamat, dan terbelahlah langİt, karena pada hari itu langit menjadi lemah. Malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung 'Arasy Tuhanmu di atas (kepala) mereka. ''(al-Haaqqah: 13-17)

Kita percaya bahwa di sana ada tiupan sangkakala, dan sesudah itu akan terjadi berbagai macam peristiwa. Namun, kami tidak akan menambah perincian peristiwa-peristiwa itu, karena semua itu merupakan perkara gaib. Sebab, kita tidak mempunyai petunjuk tentang itu melainkan semacam nash-nash yang global ini, dan kita tidak memiliki sumber lain untuk merinci nash yang global ini. Sedangkan, memberikan perincian sendiri itu tidak akan menambah hikmah nash itu sama sekali. Kalau kita lakukan hanya akan menambah daftar kesia-siaan yang tak berujung melainkan semata-mata mengikuti dugaan yang pada dasarnya terlarang.

Apabila sangkakala ditiup dengan sekali tiup, maka diikutilah tiupan ini oleh gerakan yang sangat menakutkan.

"Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung lalu dibenturkan keduanya sekali bentur. "(al-Haaqqah: 14)

Peristiwa diangkatnya bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur sehingga menjadi rata antara bagian atas dan bagian bawahnya, adalah suatu pemandangan yang menakutkan sekali. Bumi tempat manusia berkeliaran di celah-celahnya dengan aman tenteram, dan bumi sendiri  berada di bawah manusia dengan mantap dan tenang. Gunung-gunung yang menjulang dan menancap kokoh yang keangkeran dan kekukuhannya sendiri sudah menakutkan manusia. Makhluk-makhluk seperti ini akan diangkat lalu dibentur-benturkan seperti bola di tangan anak kecil saja ... Sungguh ini merupakan pemandangan yang menjadikan manusia merasa kerdil dan kecil berdampingan dengan qudrat yang berkuasa, pada hari yang beşar itu .

Apabila hal ini terjadi, sangkakala ditiup dengan sekali tiup, bumi dan gunung-gunung diangkat lalu dibenturkan dengan sekali bentur, maka pada waktu itu terjadilah sesuatu yang dibicarakan oleh surah ini

“Maka pada hari İtu terjadilah al-Waaqi’ah (sesuatu yang pasti terjadi, hari kiamat). "(al-Haaqqah: 15) "

Al- Waaqi'ah" adalah salah satu nama hari kiamat sebagaimana halnya al-Haaqqah dan al-Qaari'ah Maka, hari kiamat disebut al-Waaqi'ah karena ia pasti terjadi, seakan-akan tabiatnya dan hakikatnya yang abadi kini menjadi kenyataan. Dan, ini adalah nama yang memiliki arahan dan maksud tertentu di dalam menghadapi peraguan dan pendustaan terhadapnya!

Pemandangan yang menakutkan dan menyeramkan ini tidak hanya terbatas pada diangkatnya bumi dan gunung-gunung lalu dibenturkan antara keduanya saja. Tetapi, langit pun pada hari itu tidak lepas dari peristiwanya yang menakutkan.

"Dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah. ” (al-Haaqqah: 16)

Kita tidak tahu bagaimana kondisi langit yang dimaksudkan dengan lafal yang disebutkan dalam Al-Qur'an ini. Tetapi, nash ini dan nash-nash lainnya mengisyaratkan kepada peristiwa-peristiwa alam pada hari itu yang sangat besar. Semuanya mengisyaratkan terlepaslah segala ikatan alam yang terlihat ini dan rusaknya ikatan-ikatan dan hubungan-hubungannya yang menjalinnya dalam keteraturan yang indah dan cermat selama ini, dan terurailah bagian-bagiannya setelah lepas dari ikatan peraturan semesta. ...

Barangkali merupakan suatu kebetulan yang aneh di mana para ahli ilmu falak kini dapat menginformasikan sedikit tentang sesuatu yang mirip dengan masa kondisi berakhirnya alam ini. Hal itu mereka gali daň penelitian ilmiah murni dan sedikit pengetahuan yang mereka miliki tentang tabiat alam semesta beserta ceritanya sebagaimana yang mereka tentukan.

Akan tetapi, kita hampir menyaksikan pemandangan-pemandangan yang menakutkan ini dari celah-celah nash Al-Qur'an yang bersifat pasti, yang merupakan nash-nash global yang memberikan kesan tentang sesuatu yang bersifat umum.  Kita berhenti pada isyarat nash-nash ini, karena bagi kita nash-nash ini merupakan informasi satu-satunya yang akurat mengenai urusan ini. Pasalnya, ia bersumber dari Pemilik urusan ini sendiri, Yang menciptakannya, dan Yang mengetahui apa yang diciptakan-Nya itu dengan ilmul-yaqin.

Kita hampir-hampir menyaksikan bumi yang memuat gunung-gunung yang kukuh dan besar bila dibandingkan dengan diri kita ini... seakan-akan sesuatu yang kecil dibandingkan dengan alarn semesta ini. lalu, bumi dibenturkan sekali bentur.

Kita hampir-hampir menyaksikan langit yang terpecah-belah dan lemah sedang bintang-bintang berpelantingan ke sana-sini.... Semua itu tampak dari celah-celah nash Al-Qur'an yang hidup, yang menampilkan sosok pemandangan dengan segala kekuatannya seakan-akan peristiwa itu sedang terjadi di hadapan mata.

Kemudian pemandangan itu digenangi dan diliputi keagungan. Maka, menjadi redalah gemuruh yang memenuhi perasaan karena tiupan sangkakala dan benturan bumi dengan gunung-gunung serta terbelahnya langit dan berpelantingannya bintang-bintang. Semuanya menjadi reda, dan dalam pemandangan ini tampaklah Arasy Tuhan Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa.

“Malaikat-malaikat berada di penjuru -penjuru langit. Pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung 'Arasy Tuhanmu di atas (kepala) mereka. ” (al-Haaqqah: 17)

Para malaikat berada di penjuru-penjuru dan ujung-ujung langit yang terpecah-belah itu, dan Arasy di atas mereka dipikul oleh delapan malaikat  delapan orang malaikat atau delapan baris malaikat, atau delapan tingkatan malaikat, atau delapan apa lagi yang cuma Allah yang mengetahuinya. Kita tidak mengetahui siapa mereka itu dan bagaimana mereka itu, sebagaimana kita tidak tahu apakah Arasy itu? Juga kita tidak tahu bagaimana cara memikul Arasy.

Kita simpulkan saja semua perkara gaib yang kita tidak memiliki pengetahuan tentangnya, dan Allah tidak menugasi kita untuk mengetahuinya kecuali apa yang diceritakan-Nya kepada kita. Kita simpulkan dari perkara-perkara gaib ini kepada bayang-bayangnya yang besar yang dilepaskannya di tempat perhentian ini, dan inilah yang kita dituntut untuk kita rasakan dengan hati nurani kita Dan, ini pulalah maksud disebutkannya peristiwa-peristiwa ini supaya hati manusia merasakan keagungan, ketakutan, dan kekhusyuan, pada hari yang besar itu, di tempat perhentian yang agung.

يَوْمَىِٕذٍ تُعْرَضُوْنَ لَا تَخْفٰى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ ١٨

"Pada hari itu kamu dihadapknn (kepada Tuhanmu),  tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah).” (al-Haaqqah: 18)

Semuanya terbuka, terbuka fisiknya, terbuka jiwanya, terbuka hatinya, terbuka amalnya, dan terbuka akibatnya dan tempat kembalinya. Runtuhlah semua penutup yang dipergunakan untuk menutup rahasia-rahasia. Ditelanjangilah jiwa sebagaimana telanjangnya fisik, dan tampaklah segala yang rahasia sebagaimana tampaknya segala yang tersaksikan.... Manusia lepas dari kehati-hatiannya, lepas dari tipu dayanya, lepas dari rencananya, dan lepas dari perasaannya. Maka, terbukalah apa yang selama ini ia sangat antusias menutupinya, hingga terhadap dirinya sendiri, karena dia malu dilihat orang karena dia merasa hina diketahui mata orang banyak! Akan tetapi mata Allah, segala sesuatu yang tersembunyi terbuka baginya setiap waktu. Namun, barangkali manusia tidak menyadari betul hal ini, dia tertipu dengan ketertutupan bumi.

Nah, sekarang dia merasakannya ketika dia seorang diri di hari kiamat. Segala sesuatu yang ada di alarn ini tampak jelas. Bumi dibenturkan dan diratakan, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di baliknya, baik yang biasa tersembunyi mau pun yang biasa tampak. langit terbelah dengan kondisinya yang lemah, dengan tidak ada sesuatu pun yang tertutup di belakangnya, fisik telanjang dengan tidak tertutup oleh sesuatu pun, dan jiwa pun terbuka secara transparan tanpa ada yang tertutup dan tidak ada yang rahasia lagi!

Ingatlah, sesungguhnya ini adalah urusan yang amat kritis, lebih kritis daripada dibenturkannya bumi dengan gunung, dan lebih seru daripada terbelahnya langit. Dan, lebih dari itu manusia telanjang fisiknya, telanjang jiwanya, telanjang perasaannya, telanjang sejarahnya, dan telanjangnya amalnya yang selama ini terbuka ataupun tertutup, di depan kumpulan sesuatu yang menakutkan dari makhluk Allah, manusia, jin, dan malaikat. Juga di bawah keagungan Allah dan Arasy-Nya yang tinggi di atas semuanya....

Tabiat manusia itu sungguh ruwet. Di dalam jiwanya terdapat keinginan-keinginan dan terdapat pintu-pintu yang bermacam-macam. Jiwanya menyambutnya dan menyelinap dengan segala perasaannya, kemauan-kemauannya, kesenangannya, getarannya, rahasianya, dan kekhususan-kekhususannya.

Manusia melakukan sesuatu melebihi apa yang diperbuat oleh siput yang lunak yang memanggil-manggil ketika menghadapi tusukan jarum, lalu ia melipat tubuhnya dengan cepat, dan mengerut di dalam rumahnya, atau menggantungkan jiwanya secara total. Dan, manusia melakukan sesuatu yang melebihi ini ketika ia merasa ada mata yang memandangnya dan menyingkap apa yang disembunyikannya, dan kerlingan pandangan mengenai jalannya yang samar atau tikungan yang misterius. Dia merasakan kekuasaan yang kokoh terhadap penderitaan yang menembus ketika seseorang melihatnya dalam kesendiriannya yang penuh perasaan.

Nah, bagaimana dengan makhluk (manusia) yang dalam keadaan telanjang, benar-benar telanjang (telanjang fisiknya, hatinya, perasaannya, niatnya, dan nuraninya)? Telanjang dari semua penutup... telanjang dan telanjang.... Bagaimanakah perasaannya dalam keadaan yang seperti itu di bawah Arasy Tuhan Yang Mahaperkasa, di depan kumpulan khalayak ramai dengan tanpa penutup?!

Ingatlah, ini adalah perkara yang sangat pahit, lebih pahit dari semua urusan!!!

Penerimaan Rapot Amal dan Implikasinya

Sesudah itu dibentangkanlah pemandangan mengenai orang-orang yang selamat dan orang-orang yang disiksa, seakan-akan pemandangan ini hadir di depan mata ....

فَاَمَّا مَنْ اُوْتِيَ كِتٰبَهٗ بِيَمِيْنِهٖ فَيَقُوْلُ هَاۤؤُمُ اقْرَءُوْا كِتٰبِيَهْۚ ١٩ اِنِّيْ ظَنَنْتُ اَنِّيْ مُلٰقٍ حِسَابِيَهْۚ ٢٠ فَهُوَ فِيْ عِيْشَةٍ رَّاضِيَةٍۚ ٢١ فِيْ جَنَّةٍ عَالِيَةٍۙ ٢٢ قُطُوْفُهَا دَانِيَةٌ ٢٣ كُلُوْا وَاشْرَبُوْا هَنِيْۤـًٔا ۢبِمَآ اَسْلَفْتُمْ فِى الْاَيَّامِ الْخَالِيَةِ ٢٤

"Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata, 'AmbilIah, bacalah kitabku (ini). Sesungguhnya aku yakin bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku. 'Maka, orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai. Dalam surga yang tinggi. Buah-buahannya dekat. (Kepada mereka dikatakan), Makan dan minumIah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakanpada hari-hari yang telah lalu. (al-Haaqqah: 19-24)

Penerimaan kitab (rapot) dengan tangan kanan, tangan kiri, atau sambil membelakangi itu boleh jadi dalam arti kata yang sebenarnya. Namun, boleh jadi itu sebagai ungkapan bahasa yang berlaku dalam istilah bahasa Arab di mana mereka mengungkapkan segi kebaikan dengan kanan dan segi keburukan dengan kiri atau dari belakang.... Baik dalam arti hakiki maupun kiasan, namun kandungan petunjuknya hanya satu, dan ini tidak perlu diperdebatkan di hadapan urusan yang demikian besar!

Pemandangan yang dibentangkan adalah pemandangan tentang orang yang selamat pada hari yang amat terik itu. la berjalan dengan penuh kegembiraan, di antara orang-orang yang sedang berhimpun berjejal-jejal. Kegembiraan meliputi seluruh organ tubuhnya hingga mencuat ke mulutnya seraya berteriak, "Ambillah, bacalah kitabku (ini)!" Kemudian dengan terus terang dia mengatakan bahwa dia tidak mengira bahwa dirinya akan selamat. Bahkan, dia mengira akan diuji dengan hisab, padahal "barang siapa yang diuji (dites) dengan hisab, maka dia sudah diazab" sebagaimana disebutkan dalam atsar.

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Aisyah r.a. dia bahwa Rasulullah bersabda,

«وَمَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ عُذِّبَ» كَمَا جَاءَ فِي الْأَثَرِ: عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا — قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ — ﷺ —:«مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ عُذِّبَ» فَقُلْتُ: أَلَيْسَ يَقُولُ اللهُ تَعَالَى: {فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ * فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا * وَيَنْقَلِبُ إِلَى أَهْلِهِ مَسْرُورًا}فَقَالَ: «إِنَّمَا ذَلِكَ الْعَرْضُ، وَلَيْسَ أَحَدٌ يُحَاسَبُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا هَلَكَ»

"Barangsiapa yang diuji (dites) dengan hisab, maka dia telah disiksa. "Lalu Aisyah bertanya, "Bukankah AIIah berfirman, 'Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaanyang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira?"'  Beliau menjawab, 'Sesungguhnya itu adalah pada waktu dihadapkan, dan tidak ada seorangpunyang dihisab pada hari kiamat melainkan dia binasa. "

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Basyar bin Mathar al-Wasithi, dari Yazid bin Harun, dari Ashim, dari al-Ahwal, dari Abu Utsman bahwa dia berkata, "Orang mukmin diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya secara rahasia dari Allah, lalu dia membaca kejelekan-kejelekannya. Maka, ketika dia membaca satu kejelekan, berubahlah warnanya. Sehingga, dia melewati kebaikan-kebaikannya, Iantas dia membacanya, kemudian kembalilah warnanya sebagaimana semula. Kemudian dia melihatnya lagi, tiba-tibanya kejelekan-kejelekannya sudah diganti dengan kebaikan-kebaikan. Maka, pada waktu itu dia berkata, 'Ambillah, bacalah kitabku ini!'" Diriwayatkan dari Abdullah bin Hanzhalah (yang jasadnya dimandikan oleh malaikat) bahwa sesungguhnya Allah akan menghentikan hamba-Nya pada hari Kiamat. Lalu, Dia menampakkan kejelekan-kejelekannya di sampul lembaran catatannya. Allah bertanya kepadanya, "Apakah kamu tahu ini?"  Dia menjawab, “Tahu, wahai Tuhan." Lalu Allah berfirman kepadanya, "Sesungguhnya Aku tidak ingin mempermalukanmu, dan sesungguhnya Aku telah mengampunimu." Maka, pada waktu itu dia Iantas berkata, "Ambillah, bacalah kitabku ini! Sesungguhnya aku yakin bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku.'"

Diriwayatkan dalam ash-Shahih dari hadits Ibnu Umar ketika ditanya tentang an-najwaa 'bisikan', lalu dia menjawab bahwa ia mendengar Rasulullah bersabda,

« يُدْنِي اللهُ الْعَبْدَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيُقَرِّرُهُ بِذُنُوبِهِ كُلِّهَا، حَتَّى إِذَا رَأَى أَنَّهُ قَدْ هَلَكَ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنِّي سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ. ثُمَّ يُعْطَى كِتَابَ حَسَنَاتِهِ بِيَمِينِهِ. وَأَمَّا الْكَافِرُ وَالْمُنَافِقُ فَيَقُولُ الْأَشْهَادُ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ، أَلَا لَعْنَةُ اللهِ عَلَى الظَّالِمِينَ »

"Allah akan mendekatkan hamba-Nya Pada hari Kiamat, lalu dia mengakui dosa-dosanya semuanya. Sehingga, apabila dia telah berpendapat bahwa dirinya akan binasa, maka Allah berfirman kepadanya, 'Sesungguhnya Aku telah menutupi dosa-dosamu itu di dunia dan pada hari ini Aku mengampuninya. ' Kemudian Allah memberikan kitabnya dari sebelah kanannya. Adapun orang kafir dan orang munafik, maka para saksi akan berkata, 'Mereka itulah yang telah berdusta atas nama Tuhan mereka. Ingatlah, laknat Allah atas orang-orang yang zalim! "'

Kemudian diumumkanlah di atas kepala para saksi kenikmatan yang telah disediakan bagi orang yang selamat ini, yang di sini tampak bermacammacam kenikmatan indrawi, sesuai dengan kondisi orang-orang yang diajak bicara waktu itu. Sedangkan, mereka baru saja mentas dari kejahiliahan dan belum lama beriman dan belum lama pula iman itu meresap ke dalam jiwanya. Diperkenalkanlah kepada mereka kenikmatan yang lebih halus dan lebih tinggi dari semua jenis kesenangan.

“Maka, orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai, dalam surga yang tinggi. Buah-buahannya dekat. (Kepada mereka dikatakan), 'Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang sudah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu. ”' (al-Haaqqah: 21-24)

Warna kenikmatan ini, beserta jenis penghormatan ini di mana mereka dapat kembali kepada keluarganya (sesama mukmin) dan dikatakan kepadanya, 'Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu”, . melebihi jenis kenikmatan yang dapat dicapai oleh pemahaman orang-orang yang diajak bicara oleh Al-Qur'an pada masa-masa awal hubungannya dengan Allah. Yakni, sebelum perasaannya mengalami peningkatan hingga melihat kedekatan kepada Allah itu lebih menyenangkan dari segala macam nikmat apa pun. Lebih dari itu, Dia selalu memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia yang banyak jumlahnya sepanjang masa.  Kenikmatan selain ini banyak sekali dan bermacammacam-. ..

وَاَمَّا مَنْ اُوْتِيَ كِتٰبَهٗ بِشِمَالِهٖ ەۙ

”Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya”

Lalu dia tahu bahwa dia akan disiksa karena kejelekan-kejelekannya dan dia akan mendapatkan azab sebagai tempat kembalinya, maka dia berhenti di areal yang penuh sesak ini dengan penuh sesal, sedih, dan gundah gulana. . .

فَيَقُوْلُ يٰلَيْتَنِيْ لَمْ اُوْتَ كِتٰبِيَهْۚ ٢٥ وَلَمْ اَدْرِ مَا حِسَابِيَهْۚ ٢٦ يٰلَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَۚ ٢٧ مَآ اَغْنٰى عَنِّيْ مَالِيَهْۚ ٢٨ هَلَكَ عَنِّيْ سُلْطٰنِيَهْۚ ٢٩

Maka, dia berkata, 'Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku ini dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaan dariku.”' (al-Haaqqah: 25-29)

Ini adalah perhentian yang panjang, penyesalan yang panjang, kesedihan yang memutusasakan, dan kebingungan yang menyedihkan. Konteks ini menampilkan dengan panjang peristiwa ini sehingga terkhayalkan oleh pendengar bahwa peristiwa ini tidak akan berkesudahan serta kesedihan dan penyesalan ini tak akan berujung. Inilah di antara bentuk keajaiban penampilan masalah dengan diperpanjang pada beberapa tempat dan dipersingkat di tempat lain, sesuai dengan arahan jiwa yang hendak diberikan kepada manusia. Dan, yang dimaksudkan di sini adalah hendak menetapkan sikap penyesalan dan mengisyaratkan kesedihan di balik pemandangan yang menyedihkan ini.

Karena itulah, penayangannya dipanjangkan dan dipanjangkan, dengan tanpa ada pembicaraan tetapi serba terperinci. Orang yang celaka itu berangan-angan alangkah senangnya kalau peristiwa ini tidak terjadi, dia tidak perlu diberi kitab, dan tidak perlu tahu bagaimana hisab terhadap dirinya. Hal ini sebagaimana dia berangan-angan kalau kiamat ini menjadi pemutus segala sesuatu, hingga berakhirIah keberadaan mereka dan tidak akan kembali lagi setelah itu untuk selama-lamanya.

Kemudian dia menyesal, karena apa yang selama ini dibangga-banggakan atau dikumpulkan tidak memberi manfaat sedikit pun kepadanya.

“Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaan dariku. ”(al-Haaqqah: 28-29)

Harta tidak berguna dan tidak memberi manfaat lagi, kekuasaan pun sudah tidak ada dan tidak dapat membelanya.... Rintihan kesedihan dan penyesalan yang panjang penuh kesedihan terucapkan di ujung huruf pemisah yang bersukun dan pada ya' huruf illat sebelumnya sesudah huruf mad (panjang) dengan alif... penuh kesedihan dan penyesalan...  Inilah sebagian dari bayang-bayang perhentian yang mengisyaratkan penyesalan dan keputusasaan dengan kesan yang dalam dan mengena.

Tidak ada yang menghentikan rintihan kesedihan yang panjang ini kecuali perintah tertinggi yang pasti, dengan segala keagungannya, kebesarannya, dan kengeriannya.

خُذُوْهُ فَغُلُّوْهُۙ ٣٠ ثُمَّ الْجَحِيْمَ صَلُّوْهُۙ ٣١ ثُمَّ فِيْ سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُوْنَ ذِرَاعًا فَاسْلُكُوْهُۗ ٣٢

“(Allah berfirman), 'Peganglah dia lalu tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitIah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh  hasta. "' (al-Haaqqah 30-32)

Wahai, betapa menakutkan dan mengerikannya! Wahai, menakutkan dan mematikan! Wahai, betapa luhur dan agungnya!

“Peganglah dia! …”

Sebuah kalimat perintah yang bersumber dari Tuhan Yang Mahatinggi lagi Mahaluhur. Kemudian seluruh wujud bergerak menghadapi si miskin yang kecil dan kerdil ini, dan para petugas segera melaksanakan perintah dari segala penjuru, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abi Hatim dengan isnadnya dari al-Minhal bin Amr,

« إِذَا قَالَ اللهُ تَعَالَى: خُذُوهُ؛ ابْتَدَرَهُ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ. إِنَّ الْمَلَكَ مِنْهُمْ لَيَقُولُ هَكَذَا، فَيُلْقِي سَبْعِينَ أَلْفًا فِي النَّارِ »

"Apabila Allah telah berfirman, 'Peganglah dia!' maka tujuh puluh ribu malaikat segera melaksanakannya. Salah satu dari malaikat-malaikat itu berbuat demikian, lalu melemparkan tujuh puluh ribu orang ke dalam neraka.... " Masing-masing malaikat bersegera menjalankan perintah terhadap sejemput kecil manusia yang sedih dan kebingungan ini!

“Lalu belenggulah tangannya ke lehernya" (al-Haaqqah: 30)

Maka, entah siapa dari tujuh puluh ribu malaikat ini akan segera membelenggu tangannya ke lehernya...

"Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala!" (al-Haaqqah: 31)

Seakan-akan kira mendengar suara gemuruh api yang berkobar-kobar dan menyala-nyala

"Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuhpuluh hasta!" (al-Haaqqah: 32)

Satu hasta saja dari rantai neraka sebenarnya sudah cukup untuk membelitnya. Akan tetapi, isyarat panjang dan kengeriannya tersirat dari belakang lafal "tujuh puluh" dan gambarannya. Barangkali inilah isyarat yang dimaksudkan.

Nah, setelah selesai membicarakan urusan ini, maka pembicaraan dialihkan kepada sebab-sebab yang menjadikan mereka bernasib Sial seperti itu di akhirat nanti.

اِنَّهٗ كَانَ لَا يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ الْعَظِيْمِۙ ٣٣ وَلَا يَحُضُّ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِۗ ٣٤

"Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah YangMahabesar. Dan juga tidak mendorong (orang Iain) memberi makan orang miskin. "(al-Haaqqah: 33-34)

Hatinya telah kosong dari iman dan rasa kasih sayang kepada sesama hamba Allah. Karena itu, hati ini dianggap tidak pantas mendapatkan sesuatu selain api neraka dan azab yang pedih itu. Hatinya kosong dari iman kepada Allah, sehingga gersang dan mati, runtuh, dan hancur, kosong dari cahaya, nilainya sangat rendah, lebih rendah daripada binatang bahkan lebih rendah dari benda mati sekalipun. Karena segala sesuatu yang beriman, bertasbih dengan memuji Tuhannya, berhubungan dengan Sumber keberadaan dirinya. Sedangkan orang yang kafir ini, maka dia terputus hubungannya dari Allah, terputus hubungannya dengan setiap wujud yang beriman kepada Allah.

Hatinya kosong dari rasa kasih sayang kepada sesama hamba Allah, karena orang miskin adalah hamba yang paling membutuhkan kasih sayang. Tetapi, hati orang ini tidak merasakan seruan untuk memperhatikan urusan orang miskin ini, dan tidak menganjurkan orang Iain untuk memberi makan kepada orang miskin ini. Padahal, menganjurkan ini merupakan langkah awal untuk memberi makan itu, dan memberikan isyarat bahwa di sana ada ke wajiban sosial yang orang-orang mukmin saling menganjurkan dan saling mendorong untuk meIaksanakannya. Sikap dan perbuatan ini sangat erat hubungannya dengan iman, berdampingan di dalam nash dan beriringan pula di dalam timbangan.

فَلَيْسَ لَهُ الْيَوْمَ هٰهُنَا حَمِيْمٌۙ ٣٥ وَّلَا طَعَامٌ اِلَّا مِنْ غِسْلِيْنٍۙ ٣٦ لَّا يَأْكُلُهٗٓ اِلَّا الْخٰطِـُٔوْنَ ࣖ ٣٧

"Maka, tiada seorang temanpun baginya pada hari ini di sini. Dan tiada (pula) makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa. (al-Haaqqah: 35-37)

Ini merupakan kelengkapan pengumuman tertinggi dari tempat kembalinya orang yang celaka itu, karena dia tidak beriman kepada Allah Yang Mahaagung dan tidak menganjurkan manusia untuk memberi makan kepada orang miskin. Oleh karena itu, di sini dia terputus hubungannya dengan orang Iain,

"Maka, tiada seorang temanpun baginya pada hari ini di sini. " (al-Haaqqah: 35)

Dia terhalang untuk mendapatkan makanan,

"Dan tiada (pula) makanan sedikitpun baginya kecuali dari darah dan nanah. " (al-Haaqqah: 36)

Ghislin adalah cairan ahli neraka yang berupa darah Iuka dan nanah. Hal yang demikian ini cocok dengan hatinya yang kasar dan sunyi dari rasa kasih sayang terhadap sesama hamba Allah. Yah, makanan yang,

“Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa. " (al-Haaqqah: 37)

Yakni, orang yang suka berbuat dosa, yang disifati sebagai orang yang gemar berbuat dosa dan kesalahan... termasuk kelompok mereka.

Waba'du, begitulah dia yang dijadikan Allah sebagai orang yang pantas ditangkap, dibelenggu tangannya, dimasukkan ke dalam api neraka, dan dibelit dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta di dalam neraka yang apinya menyala-nyala itu. Dan, ini adalah tingkatan neraka jahanam yang sangat berat.

Nah, bagaimana lagi dengan orang yang menghalang-halangi orang Iain untuk memberi makan kepada orang-orang miskin, serta orang yang memperlapar anak-anak, kaum wanita, dan orang-orang lanjut usia? Bagaimana lagi dengan orang yang bersikap bengis seperti para diktator terhadap orang yang menadahkan tangannya meminta sesuap nasi dan sehelai pakaian untuk mengusir dingin? Di manakah hilangnya mereka ini, padahal sewaktu di dunia mereka mudah dijumpai dari waktu ke waktu? Apakah yang disediakan Allah bagi mereka padahal Allah telah menyediakan bagi orang yang tidak menganjurkan memberi makan kepada orang miskin itu azab yang seperti itu di dalam neraka?

Sampai di sinilah pemandangan yang keras dan menakutkan ini. Barangkali dia datang dalam Iukisannya yang menakutkan ini karena lingkungannya sangat kejam, bengis, dan keras kepala yang membutuhkan penampilan pemandangan-pemandangan yang keras ini supaya dapat mempengaruhinya, mengguncangkannya, dan menghidupkan hatinya. Lingkungan semacam ini banyak terdapat di kalangan jahiliah yang dilewati oleh manusia. Hal ini sebagaimana pada saat yang sama juga ditemukan lingkungan yang lemah lembut, sangat terpengaruh oleh peringatan ini, dan sangat responsif, karena hamparan bumi itu Iuas, dan distribusi kondisi dan kejiwaan itu berbeda-beda.

Al-Qur’an berbicara kepada semua tingkatan dan semua jiwa dengan sesuatu yang dapat mempengaruhinya, dan dengan sesuatu yang akan disambutnya kalau mereka diseru kepadanya. Dan bumi sekarang ini, di beberapa penjurunya, memuat hati-hati manusia yang keras, watak yang kasar, dan karakter yang tidak dapat tetpengaruh oleh apa pun kecuali kata-kata api neraka dan kobarannya seperti kalimat-kalimat Al-Qur'an ini. Juga pemandangan-pemandangan dan gambaran-gambaran yang mengesankan seperti pemandangan dan Iukisan yang mengesankan ini

Al-Qur’an Bukan Syair dan Bukan Tenung

Di bawah bayang-bayang pemandangan yang keras dan berkobar-kobar berupa hukuman di dunia dan di akhirat, kehancuran alam semesta yang menyeluruh, jiwa yang dan telanjang, serta kegembiraan yang membubung dan penyesalan yang memilukan...., datanglah ketetapan yang pasti tentang hakikat perkataan (Al-Qur'an) yang dibawa Rasul yang mulia kepada mereka ini. Tetapi, mereka terima dengan ragu-ragu, dengan dipermainkan, dan didustakan.

فَلَآ اُقْسِمُ بِمَا تُبْصِرُوْنَۙ ٣٨ وَمَا لَا تُبْصِرُوْنَۙ ٣٩ اِنَّهٗ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍۙ ٤٠ وَّمَا هُوَ بِقَوْلِ شَاعِرٍۗ قَلِيْلًا مَّا تُؤْمِنُوْنَۙ ٤١ وَلَا بِقَوْلِ كَاهِنٍۗ قَلِيْلًا مَّا تَذَكَّرُوْنَۗ ٤٢ تَنْزِيْلٌ مِّنْ رَّبِّ الْعٰلَمِيْنَ ٤٣

"Maka, Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat dan dengan apa yang tidak kamu lihat. Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar wahyu Allah (yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia, dan Al-Qur’an itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya. Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran darinya. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam. " (al-Haaqqah: 38-43)

Masalah ini sebetulnya tidak memerlukan sumpah, karena sudah demikian jelas, mantap, dan realistis. Tidak memerlukan sumpah karena dia adalah benar, bersumber dari yang Mahabenar, bukan syair seorang pujangga, bukan tenung seorang tukang tenung, dan bukan pula hasil kebohongan seorang pembohong. Tidak! Tidak begitu! Maka, dia sama sekali tidak memerlukan penguatan dengan sumpah.

“Maka, Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat dan dengan apa yang tidak kamu lihat. " (al-Haaqqah: 38-39)

Dengan keagungan dan kebesaran ini, dan dengan keagungan perkara gaib yang tersembunyi, di samping yang tampak dan tersaksikan... Alam wujud itu sendiri jauh lebih besar dari apa yang dapat dilihat manusia, bahkan lebih besar dari apa yang tidak mereka Iihat. Bagian alam yang dapat mereka Iihat dan mereka capai itu hanyalah ujung-ujung kecil yang terbatas, yang mereka perlukan untuk memakmurkan dan mengelola bumi ini. Sedangkan, bumi itu sendiri secara keseluruhan tidak lain hanyalah sebutir debu yang hampir tak terlihat dan tak terasakan di dalam alam yang besar. Manusia tidak mampu melampaui apa yang diizinkan untuk mereka Iihat dan mereka capai dari kerajaan yang terpampang ini. Juga urusan-urusannya, rahasia-rahasianya, dan undang-undangnya yang dibuat untuknya oleh Sang Pencipta alam semesta.

"Maka, Aku bersumpah dengan apa yang kamu Iihat dan dengan apa yang tidak kamu lihat."

Isyarat semacam ini akan membukakan hati dan menyadarkan pikiran bahwa di sana (di balik jangkauan mata memandang, dan di balik batas-batas penglihatan manusia) terdapat segi-segi dan alam-alam serta rahasia-rahasia lain yang tidak dapat dilihat dan dijangkau oleh manusia. Dengan pengerfian seperti ini, maka menjadi luaslah cakrawala pandang manusia terhadap alam dan hakikatnya. Sehingga, mereka tidak hidup dengan terpenjara oleh apa yang terlihat oleh kedua matanya dan tidak tertawan oleh pengetahuannya yang terbatas.

Alam itu lebih luas dan hakikatnya lebih besar daripada persiapan dan perbekalan manusia dengan kemampuannya yang terbatas sesuai dengan tugasnya di alam ini. Dan, tugasnya di alam dunia adalah menjadi khalifah atau pengelola di bumi ini.... Akan tetapi, ia memiliki kemampuan untuk menjangkau sasaran dan unik yang lebih besar dan lebih tinggi pada saat ia meyakini bahwa pandangan mata dan pengetahuan indranya terbatas. Sedangkan, di balik apa yang dapat dicapai mata dan pengetahuannya ... terdapat alam-alam dan hakikat-hakikat yang lebih besar dari apa yang dapat dicapainya. Pada waktu itu ia dapat mengungguli dan melebihi dirinya sendiri. Juga berhubungan dengan sumber-sumber pengetahuan yang menyeluruh yang melimpah pada hatinya dengan ilmu dan cahaya serta hubungan langsung dengan apa yang ada di balik tabir penutup ini!

Sesungguhnya orang-orang yang mengurung jiwanya di dalam batas-batas yang dapat dilihat oleh mata dan dicapai pikirannya dengan perangkat yang dimudahkan untuknya, adalah orang-orang miskin yang terpenjara oleh perasaannya dan pikirannya yang terbatas. Juga terkepung di dalam alam yang sempit padahal alam ini luas, dan kecil ketika dibandingkan dengan kerajaan yang besar itu.

Dalam masa yang berbeda-beda dari sejarah manusia, banyak atau sedikit orang yang memenjarakan jiwanya dengan tangannya dalam penjara perasaan yang terbatas, dan pada apa yang tampak di depan mata. Mereka menutup jendela-jendela makrifah dan cahaya bagi jiwanya, dan menutup hubungan dengan Allah Yang Mahabesar dan Mahabenar Iewat iman dan perasaan. Mereka berusaha hendak menutup jendela-jendela ini buat orang-orang lain sesudah mereka menutupnya dengan tangan mereka buat diri mereka sendiri..  Sekali waktu dengan nama jahiliah, dan sekali tempo dengan nama sekularisme. Keduanya adalah sama-sama merupakan penjara besar, penderitaan yang pahit, dan keterputusan dari sumber-sumber makrifah dan cahaya.

Ilmu di dalam Al-Qur'an terakhir ini terbebas dari terali besi yang disepuh dengan kebodohan dan ketertipuan seputar dirinya selama dua abad yang lalu. la terbebas dari terali itu dan berhubungan dengan cahaya melalui percobaan dan pengalarnannya setelah manusia sadar dari mabuk ketertipuan dan terlepas dari tawanan gereja yang lalim di Eropa.  Ilmu memperkenalkan batas-batasnya Juga telah berpengalaman bahwa perangkat-perangkatnya yang terbatas membawanya kepada sesuatu yang tidak terbatas di alam ini dan di dalam hakikatnyayang tersembunyi. Dan, kembalilah "Ilmu Mengajak kepada Keimanan " dengan sikap tawadhu yang sejak awal memberi kelapangan, yah nikmat kelapangan! Maka, tidaklah manusia memenjarakan jiwanya di belakang terali kebendaan yang penuh kekeliruan ini melainkan dia pasti mengalami kesempitan.

Kita melihat ilmuwan semacam Alexis Karel, seorang dokter spesialis di dalam penelitiannya mengenai masalah sel dan pemindahan darah, sibuk dengan teori dan praktik kedokteran, serta mengajar di sekolah-sekolah kedokteran. Ia adalah peraih hadiah Nobel pada tahun 1912, dan direktur Lembaga Kajian Kemanusiaan di Prancis di tengah-tengah berkecamuknya perang dunia kedua. Dia bemendapat "bahwa alam yang luas membentang ini penuh dengan pikiran-pikiran aktif yang bukan pikiran kita, dan akal manusia berjalan di antara jalan-jalan padang pasir yang ada di sekitarnya apabila semua yang dibuat pegangan menunjukkannya. Sedangkan, shalat termasuk sarana perhubungan dengan akal yang ada di sekeliling kita, dan dengan akal abadi yang berkuasa mengatur alam semesta, mengenai sesuatu yang tampak oleh kita dan sesuatu yang tersembunyi dari kita dalam lipatan kegaiban. "

Ia berkata, "Merasakan kesucian akal yang Iain, yang merupakan aktivitas ruhani yang kuat, memiliki nuansa khusus dalam kehidupan. Karena, dialah yang menjadikan kita selalu berhubungan dengan cakrawala kegaiban yang besar dari alam ruh. "

Kita lihat dokter Iain seperti Des Neway yang sibuk membahas anatomi dan ilmu alam, dan bekerjasama dengan Prof. Cory dan kawan-kawannya Ia diminta oleh Iembaga Pendidikan Rockfeller untuk melanjutkan penelitian bersama anggota-anggotanya dalam bidang-bidang spesialis dan pengobatan luka-luka. Dia berkata,

"Banyak cendekiawan dan orang-orang yang memiliki niat baik yang memikirkan bahwa mereka tidak dapat beriman kepada Allah karena mereka tidak dapat mengetahuinya, padahal orang terpercaya yang hatinya memendam keinginan ilmiah tidak harus menggambarkan wujud Allah melainkan seperti keharusan seorang ahli ilmu pengetahuan alam menggambarkan listrik. Karena, penggambaran mereka terhadap kedua hal ini adalah sesuatu yang tidak akan terpenuhi dan tidak mungkin tepat. Dan, listrik itu sendiri tidak dapat dibayangkan dalam wujud kebendaan, namun ia sangat dipercaya adanya karena bekas-bekasnya di dalam memotong kayu." (Aqaaidul Mufakkirin lìl Qarnil Isyyrin)

Kita Iihat seorang ahli ilmu alam seperti Sir Artur Thomson, pengarang dari Skotlandia yang terkenal,  berkata, "Kita berada pada zaman di mana bumi yang keras terasa tipis, dan ether kehilangan wujud materialnya. Maka, ia merupakan masa tersingkat kelayakannya untuk berlebih-lebihan di dalam melakukan pentakwilan yang bersifat material."

Di dalam kumpulan karangan yang berjudul Ilmu Pengetahuan dan Agama, dia berkata, "Sekarang, akal orang yang beragama tidak boleh putus asa, karena seorang ahli ilmu alam tidak bisa Iepas dari  alam kepada Pernilik alam ini, sebab arahnya bukan ini. Kadang-kadang kesimpulannya Iebih besar dari pada premisnya, ketika para ilmuwan menarik kesimpulan dari alam ini kepada sesuatu yang di atas alam. Hanya saja kita patut bergembira karena para pakar ilmu alam telah memudahkan para peminat ilmu agama untuk bernapas lega dalam udara ilmu pengetahuan, padahal yang demikian itu tidak mudah dilakukan pada masa-masa nenek moyang kita dahulu...

Kalau bukan karena kerja para pakar ilmu alam yang membahas tentang Tuhan (Allah)-sebagai mana keketapan Mr. Landown Daviz di dalam bukunya Keunikan Manusia dan Dunianya—maka dengan melihat besarnya peranan ilmu pengetahuan, kita dapat menetapkan bahwa manusia dapat terbimbing untuk berpikir tentang adanya Allah dengan pikiran yang jitu dan Iuhur. Namun, kita tidak dapat melampaui makna harfiah ketika kita mengatakan bahwa ilmu pengetahuan telah menciptakan langit baru dan bumi baru bagi manusia, dan dari sana dia mendorongnya untuk menggunakan akalnya secara maksimal. Dengan demikian, dalam banyak kesempatan, tidaklah dapat didapati keselamatan kecuali bila manusia melangkah sesuai dengan pemikiran yang benar serta dengan keyakinan dan kemantapan kepada Allah."

Kita Iihat seorang ilmuwan seperti Crazy Morison, ketua Iembaga keilmuan di New York dan mantan anggota Senat di Amerika Serikat, berkata di dalam bukunya Manusia tidak Hidup Sendirian, "Sesungguhnya kita praktis berdekatan dengan dunia misteri yang besar, karena kita mengetahui bahwa seluruh materi ditinjau secara ilmiah hanyalah lambang kesatuan alam yang ia berada dalam unsur listriknya. Akan tetapi, tidak diragukan Iagi bahwa tidak ada unsur kebetulan di dalam penciptaan alam ini, karena alam yang besar ini tunduk kepada undang-undang.

Sesungguhnya perkembangan makhluk hidup yang bernama manusia kepada tingkatan sebagai makhluk yang berpikir dan merasakan keberadaan dirinya, merupakan langkah yang Iebih besar dari pada perkembangan materialnya, tetapi di bawah tujuan penciptaan.

Kalau dilihat dari realitas tujuan, maka manusia dengan sifat-sifatnya ini boleh jadi hanya merupakan alat. Akan tetapi, siapakah yang mempergunakan alat ini? Karena tanpa memiliki peranan, maka dia tidak ada gunanya. Sedangkan, flrnu pengetahuan tidak mempersoalkan siapa yang mengendalikan kehendaknya, demikian pula ia tidak menganggap manusia sebagai materi

Dengan kemajuan ini, kita mendapakan informasi bahwa kemajuan telah mencapai tingkatan yang cukup meyakinkan bahwaAIlah telah memberi secercah cahaya kepada manusia

Demikianlah ilmu mulai keluar dari penjara materialisme dan temboknya dengan tangga-tangganya sendiri. Sehingga, dia dapat berhubungan dengan dunia bebas yang diisyaratkan oleh AIQur'an seperti dalam ayat yang mulia ini, "Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat dan dengan apa yang tidak kamu Iihat. "Dan, ayat yang semacam ini banyak sekali jumlahnya. Hal ini terjadi meskipun di antara kita terdapat orang-orang yang senantiasa menutupkan kedua tangannya pada jendela-jendela cahaya atas dirinya dan orang-orang di sekitarnya atas nama ilmu pengetahuan yang notabene ketinggalan pemikirannya dalam bidang ilmu, ketinggalan ruhaniahnya dalam bidang agama, ketinggalan perasaannya dalam kebebasan mutlak untuk mengetahui kebenaran, dan ketertinggalan kemanusiaan dari sesuatu yang layak bagi keberadaan manusia yang mulia.

Oleh karena itu, Aku (Allah) bersumpah dengan apa yang kamu lihat dan dengan apa yang tidak kamu Iihat...

"Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia, dan Al-Qur’an itu bukanlahperkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya. Dan, bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran darinya. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tùhan semesta alam. " (al-Haaqqah: 40-43)

Di antara kebohongan yang dibuat-buat kaum musyrikin terhadap Al-Qur'an dan terhadap RasuIullah adalah perkataan mereka bahwa Al-Qur'an itu adalah perkataan seorang penyair dan perkataan seorang dukun (tukang tenung). Perkataan mereka itu karena terpengaruh oleh kesamaran yang dangkal dengan alasan bahwa perkataan (Al-Qur'an) ini karakternya di atas karakter perkataan manusia. Sedangkan, penyair-menurut anggapan mereka— mendapatkan bisikan dari jin yang membisikkan perkataan yang tinggi nilainya, dan tukang tenung juga dapat berhubungan dengan jin. Maka, mereka itulah yang mengembangkannya dengan ilmu tentang sesuatu di balik kenyataan. Dan, syubhat (kesamaran) ini akan segera gugur kalau mereka mau berpikir sedikit saja tentang karakter Al-Qur'an dan risalah, serta karakter syair atau pedukunan

Memang syair itu kadang-kadang berirama musikal, indah khayalannya, bagus pelukisannya dan bayang-bayangnya. Tetapi, dia sama sekali tidak bercampur dan tidak serupa dengan Al-Qur’an, karena di antara keduanya terdapat perbedaan yang prinsipil dan pemisahan yang jelas. Karena AI-Qur'an menetapkan manhaj yang lengkap bagi kehidupan yang berpijak pada kebenaran yang mantap dan pandangan yang integral, serta bersumber dari pandangan yang benar terhadap wujud Ilahi, alam semesta, dan kehidupan. Sedangkan, syair hanyalah refleksi dari perasaan selintas yang sangat jarang didasarkan pandangan yang integral terhadap kehidupan secara urnum baik dalam keadaan ridha mau pun terpaksa, bebas maupun terbelenggu, suka maupun benci, dan senantiasa terpengaruh oleh perubahan situasi dan kondisi.

Sedangkan, tashawwur (pandangan) yang mantap yang dibawa oleh Al-Qur’an memang benar-benar ditumbuhkan oleh Al-Qur'an secara mendasar, dalam globalitas dan parsial-parsialnya, di samping sudah jelas semuanya bersumber dari Ilahi. Maka, semua yang ada dalam tashawwur ini menunjukkan bahwa ia bukan dari perbuatan manusia, karena bukan watak manusia untuk men ciptakan tashawwur alami yang sempurna seperti tashawwur Al-Qur'an ini ... yang tidak ada yang mendahului dan tidak ada pula menyusulinya.

Semua tashawwur yang diciptakan oleh tabiat manusia terhadap alam semesta dan terhadap kekuatan yang menimbulkannya dan mengatur undang-undangnya yang dibeberkan dan dicatat dalam filsafat, di dalam syair-syair dan puisi-puisi, dan lain-lain aliran berpikir apabila dibandingkan dengan tashawwur Qur'ani akan tampak jelas bahwa tashawwur ini berbeda sumbernya dengan tashawwur Qur'ani. Juga akan tampak bahwa Al-Qur’an memiliki tabiat tersendiri yang membedakannya dari semua tashawwur buatan manusia.

Demikian pula dengan perdukunan dan pertenungan beserta sumbernya. Maka, sejarah tidak mengenal, baik sebelum maupun sesudah diturunkannya Al-Qur’an, seorang tukang tenung atau dukun dengan manhaj yang lengkap dan mantap seperti manhaj yang dibawa oleh Al-Qur'an. Semua yang dinukil dari para tukang tenung hanyalah kata-kata bersajak, atau kebijaksanaan yang dibuatnya sendiri, atau isyarat-isyarat semata-mata.

Di sana terdapat unsur-unsur yang bukan menjadi bidang garap manusia lagi, dan kadang-kadang kami berhenti pada sebagiannya di dalam Tafsir Azh-ZhilaIini. Maka, baik sebelum maupun sesudah masa turunnya Al-Qur'an tidak ada seorang pun yang dapat membuat ungkapan seperti Al-Qur'an ini tentang ilmu yang lengkap, cermat, dan halus, seperti yang dilukiskan oleh Al-Qur'an.

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. Dia mengetahui apa yang di daratan dan di Iautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula). Tidakjatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfiłzh). ” (al-An'aam: 59)

”Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya serta apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan, dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. ” (al-Hadiid: 4)

“Tidak ada seorang wanita pun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan, sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah. ” (Faathir: 11)

Demikianlah, tidak seorang pun manusia sebelum ataupun sesudah Al-Qur’an yang dapat membuat kalimat seperti ini yang menunjukkan adanya kekuasaan yang mengendalikan dan mengatur alam semesta.

”Sesunguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan Ienyap. Dan, sungguh jika keduanya akan lenyap, tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah.." (Faathir: 41)

Atau, yang mengarahkan perhatian kepada sumber kehidupan di alam semesta dari kekuasaan yang mencipta dan segala sesuatu yang meliputi kehidupan yang sesuai dengan alam yang teratur dan terkendali.

”Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling? Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha perkasa lagi Maha Mengetahui. Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui. Dia-lah yang menciptakan kamu dari seorang diri, maka (bagimu) ada tempat tetap dan tempat simpanan. Sesungguhnya telah Kami jelaskan tandatanda kebesaran Kami kepada orang-orang yang mengetahui. Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau, Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak, dan dari mayang kurma mengurai tangkai-tangkaiyang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah, dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya Pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman. ” (al-An'aam: 95-99)

Perhatian terhadap alam semesta seperti ini banyak sekali terdapat di dalam Al-Qur’an. Tidak ada yang menandinginya dalam nuansa pengarahannya terhadap getaran hati manusia yang mengungkapkan makna-makna seperti yang diungkałkan oleh Al-Qur'an ini. Yang demikian ini saja rasanya sudah cukup untuk mengetahui sumber Kitab ini... dengan memejamkan mata terhadap petunjukpetunjuk lain yang menunjukkan orisinalitas sumber Al-Qur'an maupun hal-hal lain yang menyertainya.

Karena kesamaran terhadap Al-Qur'an itu sangat lemah dan amat tipis. Sehingga, seandainya AI-Qur'an tidak diturunkan secara lengkap melainkan hanya beberapa surah dan ayat saja dengan ciri khas keilahiahannya, maka itu sudah menunjukkan adanya pancaran sinar yang menunjukkan kepada sumbernya yang tunggal.

Pembesar-pembesar Quraisy menyadari dan menolak syubhat-syubhat ini dari waktu ke waktu. Tetapi, program mereka menjadikan bersikap buta dan yang notabene mereka tidak menggunakan petunjuk Al-Qur'an. Oleh karena itu, mereka lantas mengatakan, "Al-Qur’an ini hanyalah kebohongan yang besar", sebagaimana disinyalir olehAl-Qur'anuI Karim sendiri.

Banyak diceritakan di dalam kitab-kitab sirah (sejarah) tentang aneka macam sikap para pemimpin Quraisy, ketika mereka menolak dan menghilangkan syubhat (kesamaran) ini di antara mereka.

Di antaranya adalah yang diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari al-WaIid ibnuI-Mughirah, dari an-Nadhr ibnuI-Harits, dan dari Utbah bin Rabi'ah. Diceritakan dalam riwayat orang pertama (al-Walid ibnul Mughirah) bahwa sejumlah orang Quraisy berkumpul di rumah al-Walid ibnul-Mughirah, sedang dia adalah orang yang dituakan di kalangan mereka. Ialu ia mendatangi pekan raya, kemudian berkata kepada mereka, “Wahai segenap kaum Quraisy! Se sungguhnya pekan raya ini telah tiba, dan utusan-utusan bangsa Arab akan datang kepadamu, dan mereka sudah mendengar tentang urusan kawanmu (yakni Nabi Muhammad saw.) ini. Karena itu, satukanlah pendapatmu, jangan sampai kamu berbeda pendapat lantas sebagian mendustakan yang lain, dan sebagian menolak pendapat sebagian yang lain."

Mereka berkata, "Lantas, bagaimana pendapat Anda sendiri, wahai ayah Abdu Syams? Katakanlah satu pendapat buat kami dan kami akan mengatakan apa pendapatrnu itu." Dia menjawab, "Kalian sajalah yang menelorkan pendapat, saya akan mendengarkan."

Mereka berkata, "Kita katakan saja bahwa dia itu tukang tenung." Al-Walid menjawab, “Tidak, demi Allah, dia bukan tukang tenung, karena kita sudah mengenal tukang-tukang tenung, tetapi apa yang dikatakannya (Al-Qur’an) itu bukan suara tukang tenung dan bukan pula sajaknya. "

Mereka berkata, 'Kita katakan saja bahwa dia itu gila. " Al-Walid menjawab, "Dia tidak gila. Kita sudah mengetahui bagaimana orang gila itu, dan kita sudah mengenal dia. Dia tidak dicekik setan, tidak dikacaukannya, dan tidak dibisikinya."

Mereka berkata, "Kita katakan saja bahwa dia penyair." Al-Walid menjawab, "Dia bukan penyair, karena kita sudah mengenal syair dengan rajaznya hazajnya (bunyi dan lagunya) , bacaannya, yang dipendekkan dan yang dipanjangkan. Karena itu, apa yang dikatakannya itu bukan syair."

Kemudian mereka berkata, "Kita katakan bahwa dia tukang sihir." Al-Walid menjawab, "Dia bukan tukang sihir, kita sudah mengetahui tukang-tukang sihir dan sihir mereka. Apa yang dikatakannya itu bukan tiupan dan buhulan tukang sihir."

Mereka berkata, "Kalau begitu, apa yang kita katakan wahai ayah Abdu Syams?" Al-Walid menjawab, "Demi Allah, sungguh kata-katanya itu manis, batangnya banyak dahan dan rantingnya, dan cabang-cabangnya banyak buahnya yang ranum. Tidak ada sesuatu pun yang kalian ucapkan mengenai Al-Qur’an ini melainkan akan ketahuan bahwa perkataan kalian adalah batil. Oleh karena itu, tampaknya yang paling mendekati adalah kita katakan saja bahwa dia itu tukang sihir yang membawa perkataan yang berisi sihir untuk memisahkan antara seseorang dengan ayahnya, saudaranya, istrinya, dan keluarganya, yang karena itu mereka bercerai-berai. "

Kemudian mereka duduk di jalan-jalan yang dilalui manusia (ketika sudah tiba masa pekan raya) dan tidak ada seorang pun yang melalui mereka melainkan mereka peringatkan orang itu. Dan, mereka katakan kepadanya tentang perihal Rasulullah (sebagaimana yang mereka rencanakan).

Diceritakan dari orang kedua (an-Nadhr ibnul Harits) bahwa an-Nadhr berkata, 'Wahai segenap orang Quraisy, demi Allah, sesungguhnya telah turun kepadamu sesuatu yang kamu tidak akan dapat melakukan tipu daya terhadapnya sesudah itu. Dahulu, Muhammad adalah seorang anak muda di kalangan kamu, yang paling kamu ridhai, yang paling jujur perkataannya, dan paling dapat dipercaya di antara kamu. Sehingga, apabila kamu sudah melihat uban di kedua pelipisnya dan dia datang kepadamu dengan membawa sesuatu, apakah lantas kamu katakan bahwa dia tukang sihir?! Tidak, demi Allah, dia bukan tukang sihir. Karena kita sudah kenal tukang sihir dan sudah mengerti tiupan dan buhulannya.

Kamu katakan dia sebagai tukang tenung?! Tidak, demi AIIah, dia bukan tukang tenung. Karena, kita sudah mengetahui siapa tukang-tukang tenung itu beserta tindakan mereka yang kacau-balau, dan kita sudah mendengar sajak-sajak mereka.

Kamu katakan dia sebagai penyair?! Tidak, demi Allah, dia bukan penyair. Kita sudah mengenal syair. Kita sudah mendengar jenis-jenisnya, lagunya, dan iramanya.

Dan kamu katakan dia sebagai orang gila?! Padahal, kita sudah mengetahui apa gila itu, sedangkan dia tidak dicekik setan, tidak dibisikinya, dan tidak dikacaukan pikirannya. Wahai segenap kaum Quraisy, perhatikanlah urusanmu, karena demi Allah, sesungguhnya telah turun kepadamu urusan yang besar."

Kesesuaian antara perkataan al-Walid dengan perkataan an-Nadhr ini hampir sempurna Mungkin dia adalah satu-satunya pemuda yang sekali tempo dinisbatkan kepada cerita yang ini dan sekali tempo dinisbatkan kepada yang itu. Akan tetapi, semua itu tidak menutup kemungkinan akan kesesuaian dua macam perkataan dari dua orang pembesar Quraisy dalam dua sikap yang mirip ketika mereka sedang kebingungan dalam menghadapi Al-Qur' an ini!

Adapun sikap Utbah, maka sudah diceritakan di muka dalam paparan kami terhadap surah al-Qalam dalam juz ini... yang sikapnya juga mirip dengan sikap al-Walid dan an-Nadhr dalam menghadapi Nabi Muhammad saw. dan perkataan (Al-Qur’an) yang dibawanya.

Maka, perkataan mereka "tukang sihir" atau 'tukang tenung" hanyalah tipu daya dan sekali tempo menunjukkan kesyubhatan yang memalukan. Pada hal, persoalannya sangat jelas dan tidak ada kesamaran lagi sejak pertama kali orang mau merenungkan dan memikirkannya. Oleh karena itu, tidak perlu bersumpah dengan apa yang mereka lihat dan apa yang tidak mereka lihat, bahwa Al-Qur' an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Rasul yang mulia. la bukan perkataan seorang penyair, dan bukan pula perkataan tukang tenung... Tetapi, ia hanyalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam.

Ketetapan bahwa Al-Qur'an adalah perkataan Rasul yang mulia (sebagaimana bunyi ayat itu sebelum ditambah penjelasan—penj.) bukan berarti bahwa Al-Qur'an itu buatan beliau. Akan tetapi, yang dimaksudkan di sini adalah bahwa Al-Qur'an itu adalah perkataan jenis lain, yang tidak diucapkan oleh seorang penyair atau tukang tenung, melainkan diucapkan oleh Rasul yang diutus oleh Allah, dan membawa perkataan itu dari sana, dari sumber yang mengutusnya. Dan yang menopang makna ini adalah perkataan "Rasul” yang berarti orang yang diutus membawanya dari Sisi Tuhannya, dan bukan perkataan seorang penyair atau tukang tenung dari dirinya sendiri, dengan bantuan jin atau setan.

Tetapi, dia adalah seorang Rasul yang mengucapkan perkataan yang dibawanya dari Tuhan yang mengutusnya. Penetapan ini dikukuhkan lagi dengan kalimat berikutnya,

"Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tùhan semesta alam. " (al-Haaqqah: 43)

Komentar pada ujung-ujung ayat, "Sedikit sekali kamu beriman kepadanya" dan "Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran darinya "... menunjukkan bahwa mereka tidak beriman dan tidak menyadari, sesuai dengan ungkapan bahasa yang berlaku. Hadits yang menyifati Rasulullah sebagai " orang yang sedikit sekali perbuatan sia-sianya berarti beliau sama sekali tidak pernah berbuat sia-sia.

Jadi, ayat tersebut meniadakan iman dan kesadaran mereka sama sekali. Sebab, tidak mungkin seorang mukmin mengatakan tentang Rasulullah sebagai "seorang penyair". Mustahil orang yang sadar dan mau merenungkan mengatakan beliau sebagai "tukang tenung". Sebab, kedua perkataan itu adalah kekufuran dan kelalaian yang terefleksikan dalam perkataan yang sangat mungkar ini!

Ancaman Bagi yang Memalsukan Al-Qur-an

Pada bagian akhir datanglah ancaman yang menakutkan bagi orangyang berdusta atas nama Allah dalam urusan akidah, urusan serius yang tidak ada gurauan dan permainan padanya. Ayat ini datang untuk menetapkan satu-satunya kemungkinan yang tidak ada kemungkinan lain lagi. Yaitu, kebenaran dan kejujuran Rasulullah di dalam menyampaikan wahyu Allah kepada mereka, dengan bukti bahwa Allah tidak menyiksanya dengan siksaan yang pedih, sebagaimana yang akan ditimpakan kepadanya seandainya beliau menyimpang sedikit saja dari ama-nat menyampaikan wahyu ini.

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْاَقَاوِيْلِۙ ٤٤ لَاَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِيْنِۙ ٤٥ ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِيْنَۖ ٤٦ فَمَا مِنْكُمْ مِّنْ اَحَدٍ عَنْهُ حٰجِزِيْنَۙ ٤٧

“Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang diapada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka, sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami) dari pemotongan urat nadi itu. " (al-Haaqqah: 44-47)

Faedah ucapan ini dari segi penetapan ini adalah bahwa Nabi Muhammad saw. memang benar dan jujur di dalam menyampaikan wahyu ini. Sebab, kalau beliau berdusta sedikit saja dengan membuat kebohongan terhadap wahyu yang diturunkan kepada beliau, niscaya Allah menindak beliau dengan tindakan sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat itu. Karena hukuman ini tidak terjadi, maka nyatalah bahwa beliau jujur dalam menyampaikan wahyu

Inilah keputusan yang ditelurkan dari segi penetapan... Akan tetapi, pemandangan yang bergerak di dalam penetapan Al-Qur'an ini merupakan sesuatu yang Iain lagi, yang memberikan bayang-bayang yang jauh di belakang makna penetapan ini. Bayang-bayang yang menakutkan dan mengerikan, sebagaimana di belakangnya juga terdapat gerakan, kehidupan, pengarahan, isyarat, dan kesan-kesan.

 Di sana terdapat gerakan yang berupa penangkapan tangan kanannya dan pemotongan urat nadinya. Suatu gerakan yang menakutkan dan mengerikan. Tetapi, pada waktu yang sama merupakan gerakan yang hidup, dan di belakangnya mengisyaratkan adanya kekuasaan Allah yang agung dan ketidakberdayaan makhluk manusia yang lemah.

Ayat ini juga mengisyaratkan keseriusan urusan ini yang tidak mengenal toleransi dan kompromi terhadap seorang pun, siapa pun orangnya, meski pun dia Nabi Muhammad saw., orang yang mulia di sisi Allah dan sangat dicintai-Nya. Di balik semua itu terkandung nuansa ketakutan, kengerian, dan ketundukan.

Urgensi Al-Qur’an

Akhirnya, datanglah bagian penutup surah yang menetapkan hakikat urusan ini beserta karakternya yang kuat.

وَاِنَّهٗ لَتَذْكِرَةٌ لِّلْمُتَّقِيْنَ ٤٨ وَاِنَّا لَنَعْلَمُ اَنَّ مِنْكُمْ مُّكَذِّبِيْنَۗ ٤٩ وَاِنَّهٗ لَحَسْرَةٌ عَلَى الْكٰفِرِيْنَۚ ٥٠ وَاِنَّهٗ لَحَقُّ الْيَقِيْنِ ٥١

"Sesunguhnya Al-Qur’an itu benar-benar suatu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Sesungguhnya Kami benar-benar mengetahui bahwa sesungguhnya di antara kamu ada orang yang mendustakan(nya). Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar menjadi penyesalan bagi orang-orang kafir (di akhirat). Dan, sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar kebenaran yang diyakini. "  (al-Haaqqah: 48-51)

Di sini Al-Qur' an mengingatkan hati yang percaya kepadanya, lantas ia menjadi sadar. Sesungguhnya hakikat yang dibawanya terkandung di dalamnya. Maka, Al-Qur'an menyebarkannya di dalamnya dan mengingatkan hati itu dengannya, lantas hati itu menjadi ingat dan sadar serta mengambil pelajaran darinya. Adapun orang-orang yang tidak bertakwa, maka hati mereka mati, Ialai, tidak terbuka, tidak  mau mengambil pelajaran, dan tidak memanfaatkan kitab ini sedikit pun. Sedangkan, orang-orang yang bertakwa menemukan di dalam kitab ini daya hidup, cahaya, pengetahuan, dan peringatan yang tidak dijumpai oleh orang-orang yang Ialai.

"Sesungguhnya Kami benar-benar mengetahui bahwa di antara kamu ada orang yang mendustakan(nya). " (al-Haaqqah: 49)

Akan tetapi, hal ini tidak mempengaruhi hakikat persoalan ini, dan tidak mengubah hakikat tersebut. Karena, urusanmu terlalu enteng untuk mempengaruhi hakikat-hakikat perkara.

“Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar menjadi penyesalan bagi orang-orang kafir (di akhirat). " (al-Haaqqah: 50)

Karena, Al-Qur’an mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan menjatuhkan derajat orang-orang yang mendustakannya. Juga karena Al-Qur'an dengan optimal menetapkan kebenaran dan meIenyapkan kebatilan yang dipegang oleh orang-orang kafir. Selanjutnya, Al-Qur'an menjadi hujah Allah untuk mempersalahkan orang-orang kafir pada hari akhir. Mereka disiksa karenanya, dan menyesal karena ditimpa azab yang pedih disebabkan kekafirannya terhadap Al-Qur'an itu. Karena itu, Al-Qur’an menjadi penyesalan bagi orang-orang kafir di dunia dan di akhirat.

"Dan, sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar kebenaran yang diyakini. " (al-Haaqqah: 51)

Di samping itu, Al-Qursan mendustakan orang-orang yang mendustakannya. Al-Qur’an adalah kebenaran yang diyakini. Dia bukan semata-mata keyakinan, tetapi dia adalah kebenaran di dalam keyakinan ini.

Ini merupakan ungkapan khusus yang mempunyai makna ganda dan pengukuhan ganda. AIQur’an ini sungguh-sungguh dalam kebenarannya, dan sungguh-sungguh diyakini secara mendalam. Sesungguhnya dia benar-benar menyingkap kebenaran yang murni pada semua ayatnya, yang hal ini mengisyaratkan bahwa sumbernya adalah Dia Yang Mahabenar, kebenaran pertama dan mendasar.

Maka, inilah dia tabiat urusan ini dan hakikatnya yang meyakinkan. la bukan perkataan seorang penyair, bukan perkataan tukang tenung, dan bukan pula kebohongan yang diada-adakan atas nama Allah. Tetapi, ia diturunkan dari Tuhan semesta alam. la peringatan bagi orang-orang yang bertakwa, dan ia adalah kebenaran yang diyakini.

 

Di sini, datanglah pengajaran tertinggi kepada Rasul yang mulia, pada waktu dan kondisi yang sangat tepat.

فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيْمِ ࣖ ٥٢

"Maka, bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhan mu Yang Mahabesar. " (al-Haaqqah: 52)

Tasbih yang mengandung penyucian dan pujian, pengakuan dan pernyataan, ubudiah dan kekhusyuan... adalah perasaan yang meresap di dalam hati sesudah penetapan terakhir ini. Juga sesudah pemaparan yang panjang mengenai kekuasaan Allah Yang Mahaagung, dan keagungan Tuhan Yang Mahamulia....

No comments:

Post a Comment

Tafsir Surah Al-Haqqah