Pengantar
Ini
adalah surah yang besar dan hebat, yang jarang diterima oleh perasaan kecuali
dengan goncangan yang mendalam. Sejak pembukaan hingga penutupnya selalu
mengetuk perasaan dan menunjukkan kepadanya sesuatu yang menakutkan dan
mengerikan, dan keseriusan yang amat sangat pemandangan demi pemandangan.
Semuanya senantiasa menyentuh perasaan dengan kebesaran dan keagungan, dari
waktu ke waktu, dan dengan azab pada suatu waktu, serta dengan gerakan yang
kuat pada setiap saat.
Surah
ini secara keseluruhan menyampaikan ke dalam jiwa dengan kuat dan mendalam
sebuah perasaan dengan satu makna... bahwa urusan ini, urusan agama dan akidah,
adalah urusan yang serius, tulus, mantap, dan pasti. Semuanya serius, tidak ada gurauan, dan tidak lapangan untuk
bergurau dan bermain-main. Serius dalam urusan dunia dan akhirat, serta serius
dalam timbangan Allah dan perhitungan-Nya. Serius, sehingga tidak ada sesuatu
pun dari urusannya yang sia-sia, baik di sini maupun di sana, banyak maupun
sedikit. Dan, urusan mana pun yang diabaikan seseorang tentu akan menjadikannya
terkena kemurkaan Allah yang berat dan hukuman-Nya yang pedih, meskipun yang
mengabaikan dan menyimpang itu seorang rasul. Maka, urusan AIah itu lebih besar
daripada diri Rasul dan lebih besar daripada manusia itu sendiri. Sesungguhnya
urusan ini adalah urusan ke benaran, haqqul-yaqin (kebenaran yang
meyakinkan) , dari Tuhan semesta alam.
Makna
ini tampak dari nama hari kiamat yang dipilih di dalam surah ini dan nama surah
ini sendiri "al-Haaqqah" (yang pasti benar). Nama ini dengan
lafalnya, gaungnya, dan maknanya memberikan kesan di dalam jiwa tentang makna
keseriusan, kekerasan, kepastian, dan kemantapan. Lafal atau perkataan ini
sendiri memberikan kesan yang lebih mirip dengan pengangkatan beban dalam waktu
yang lama, kemudian menetapkan dan memantapkannya secara mantap. Mengangkatnya
dengan membaca huruf ha' secara panjang yang disertai dengan alif.
Keseriusannya tampak di dalam bacaan tasydid pada huruf qaf sesudahnya.
Kemudian kemantapannya dengan disudahi dengan huruf ta' marbuthah yang
dibunyikan dengan bunyi huruf ha' yang bersukun.
Makna
ini juga tampak di tempat-tempat jatuhnya orang-orang yang mendustakan agama,
akidah, dan akhirat, kaum demi kaum, kelompok demi kelompok, tempat-tempat
jatuh mereka yang keras dan pasti.
"Kaum
Tsamud dan 'Aad telah mendustakan hari Kiamat. Adapun kaum Tsamud maka mereka
telah dibinasakan dengan kejadian Yang luar biasa. Adapun kaum 'Aad maka mereka
tdah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah
menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari
terus-menerus; maka kamu lihat kaum 'Aad pada waktu itu mati bergelimpangan
seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon korma yang telah kosong (lapuk). Maka,
kamu tidak melihat seorang pun yang tinggal di antara mereka. Dan, telah datang
Fir'aun dan orang-orang yang sebelumnya dan (penduduk) negeri-negeri yang
dijungkirbalikkan karena kesalahan yang besar. Maka, (masing-masing) mereka
mendurhakai rasul Tuhan mereka, lalu Allah menyiksa mereka dengan siksaan yang sangat
keras. Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung), Kami bawa
(nenek moyang) kamu ke dalam bahtera, agar Kami jadikan peristiwa itu peringatan
bagi kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar. "
(al-Haaqqah: 4-12)
Demikian
pula setiap orang yang berpaling dari urusan ini, maka dia akan dihukumnya
dengan hukuman yang menakutkan dan mengerikan, sesuai dengan keseriusan urusan
yang sangat besar ini, yang tidak mengandung gurauan dan permainan, dan tidak
boleh diabaikan di sini ataupun di sana!
Makna
ini tampak dalam pemandangan hari kiamat yang menakutkan dan pada masa ber
akhirnya alam semesta yang menakutkan. Juga pada waktu tampaknya kekuasaan dan
keagungan Tuhan yang Iuar biasa yang lebih menakutkan dan menakutkan lagi,
"Maka,
apabila sangkakala ditiup sekali tiup, dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung,
lalu dibenturkan keduanya sekali bentur. Maka, pada hari itu terjadilah hari kiamat,
dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah.
Malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Pada hari itu delapan orang
malaikat menjunjung Arasy' Tuhanmu di atas (kepala) mereka. " (al-Haaqqah:
13-17)
Begitu
menakutkan, dan demikian agung. Keduanya melepaskan keseriusan yang indah dan
agung terhadap pemandangan hisab tentang urusan yang besar itu, dan keduanya
bersama-sama menambah dalamnya maknanya di dalam jiwa dan perasaan bersama
seluruh kesan dan pengarahan surah ini. Sesudah itu dibicarakan orang-orang
yang selamat dan yang dijatuhi siksaan.
"Adapun
orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia
berkata, 'Ambillah, bacalah kitabku (ini). Sesungguhnya aku yakin bahwa
sesungguhnya aku akan menemui hisab terhndap diriku. "' (al-Haaqqah:
19-20)
Maka,
selamatlah orang ini. padahal dia hampir tidak percaya bahwa dirinya akan
selamat.. "Adapun orang yang
diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata, 'Wahai
alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), dan aku tidak
mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang
menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat
kepadaku. Telah hilang kekuasaanku dariku. (al-Haaqqah: 25-29)
Mereka
berkeluh kesah dengan keluhan yang demikian panjang, yang menancap di dalam
perasaannya pada saat sudah kembali ke alam akhirat
Kemudian,
tampaklah keseriusan yang tajam dan ketakutan yang mengerikan itu pada
perkataan luhur yang berisi keputusan yang menakutkan, pada hari yang menakutkan, dan di tempat
perhenuan yang besar.
"Peganglah
dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam
api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya
tujuh puluh hasta. " (al-Haaqqah: 30-32)
Tiap-tiap
paragraf seakan-akan memikul beban langit dan bumi, dan runtuh dalam menghadapi
urusan beşar yang membingungkan, dalam ketakutan yang mengerikan, dan dalam
keseriusan yang berat
Kemudian
di dalam mengomentari kata putus yang agung itu, dijelaskanlah hal-hal yang
mengharuskan keputusan yang menakutkan dan akibat yang mengerikan itu.
"Sesungguhnya
dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Mahabesar. Dan juga lidak mendorong
(orang lain) unluk memberİ makan orang miskin. Maka, tiada seorang teman pun
baginya pada hari ini di sini. Dan tiada (pula) makanan sedikitpun (baginya) kecuali
dari darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang
berdosa. " (al-Haaqqah: 33-37)
Kemudian
tampak jelas pula makna itu di dalam penyampaian sumpah yang agung, di dalam penetapan
Allah terhadap hakikat agarna terakhir ini.
“Maka,
Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat dan dengan apa yang tidak kamu lihat.
Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada)
Rasul yang mulia, dan Al-Qur’ian İtu bukanlah perkataan seorang penyair.
Sedikit sekali kamu beriman kepadanya. Dan, bukan pula perkataan tukang tenung.
Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran darinya. la adalah wahyu yang
diturunkan dari Tuhan semesta alam. (al-Haaqqah: 38-43)
Akhirnya
tampaklah keseriusan itu pada pengarahan terakhir, pada ancaman yang pasti, dan
pada hukuman yang keras terhadap siapa pun yang mempermainkan atau menggantİ
urusan (agama) ini, siapa pun orangnya, meski Muhammad sang Rasul sekalipun.
“Seandainya
dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya
benar benar Kamİ pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami
potong urat tali jantungnya. Maka, sekali-kali tidak ada seorang pun dari kamu
yang dapat menghalangi (Kami) dari pemotongan urat nadi itu. "
(al-Haaqqah: 44-47)
Maka,
ini adalah persoalan yang tidak ada kompromi, tidak ada belas kasih, dan tidak
ada kelemah lembutan lagi padanya .
Pada
waktu itu ditutuplah surah ini dengan memberikan ketetapan yang pasti dan
keputusan terakhir mengenai urusan yang besar ini. "Sesungguhnya AI- Quian
itu benar-benar suatu pelajaran bagı orang-orang yang bertakwa dan sesunguhnya
Kami benar-benar mengetahui bahwa di anlara kamu ada orangyang mendustakan(nya).
Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar menjadi penyesalan bagİ orang-orang
kafir (di akhirat). Sesunguhnya AI-Qur’ an itu benar-benar kebenaran yang
diyakini. Maka, bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha besar.
(al-Haaqqah: 48-52)
İnilah
penutup yang memutuskan semua perkataan, memberikan kata putus, membuang semua
ketidakseriusan, dan bertasbih dengan menyebut nama Allah Yang Mahaagung.
Itulah
makna yang hendak disampaikan oleh surah ini ke dalam perasaan, yang dijamin
uslubnya, kesan-kesannya, pemandangannya, lukisannya, dan bayang-bayangnya
dengan penyampaian dan penetapannya yang mendalam. Juga dengan bentuk yang
mengesankan, hidup, dan mengagumkan.
Uslub
surah ini membingkai perasaan dengan pemandangan-pemandangan yang hidup, dengan
kehidupan yang sempurna, yang tidak mengandung celah dan kekurangan, dan tidak
terlukiskan kecuali kehidupan nyata yang ada di hadapan manusia, yang terlihat
daya hidupnya, kekuatannya, dan aktivitasnya dengan lukisan yang mengagumkan.
Puing-puing
kaum Tsamud, kaum 'Aad, Fir'aun, dan desa Nabi Luth (Mu'tafikat) hadir dengan
sosoknya, dan peristİwa-peristiwa besar yang menakutkan dengan segala
pemandangannya tak terlepas dari perasaan. Juga pemandangan yang berupa terpaan
angin badai yang sangat dingin beserta sisa-sisa manusianya yang diterpanya
dilukiskan sepintas kilas dalam dua ayat... Siapa gerangan yang membaca ayat,
"Adapun
kaum 'Ad, maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi
amat kencang. yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam
dan delapan hari terus-menerus; maka kamu lihat kaum 'Aad pada waktu itu mati
bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon korma yang telah kosong
(lapuk). Maka, kamu tidak melihat seorangpun yang tinggal di antara mereka.
"(al-Haaqqah: 6-8)
Siapa
yang membaca ayat itu kemudian tidak terbayangkan di dalam perasaannya
pemandangan angin yang sangat dingin dan amat kencang yang merusakkan dan
menghancurluluhkan, selama tujuh malam delapan hari? Pemandangan yang berupa
kaum yang terkapar sesudah itu dengan mengenaskan, "Seakan-akan mereka
tunggul-tungul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). "
Ini
adalah pemandangan yang hidup, yang terbayang oleh mata, terkesan dalam hati,
dan tampak dalam khayalan. Demikian pula dengan segala pemandangan yang berupa
siksaan yang keras di dalam surah ini.
Kemudian
pemandangan yang mengerikan tentang kesudahan alam semesta. Pemandangan yang
membayang dalam perasaan, dengan suara gemeretak di sekitarnya, yang menakutkan
dan mengerikan. Nah, siapakah gerangan yang mendengar fiman AIIah ayat14,
"Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali
bentur", ... dan perasaannya tidak mendengar suara gemeretak sesudah
matanya melihat diangkatnya bumi dan gunung-gunung lalu dibenturkan?
Siapakah
gerangan yang mendengar firman Allah ayat 16-17, "Dan terbelahlah langit,
karena pada hari itu langit menjadi lemah. Malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru
langit", ... tetapi tidak terbayang olehnya kesudahan alam yang
menyedihkan dan pemandangan yang merisaukan tentang langit yang indah dan kokoh
selama ini? Kemudian, siapakah gerangan yang hatinya tidak gemetar dan
ketakutan ketika mendengar firman Allah,
"Malaikat-malaikat
berada di penjuru-penjuru langit. Pada hari itu delapan orang malaikat
menjunjung 'Arasy Tuhanmu di atas (kepala) mereka. Pada hari itu kamu
dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi
(bagi Allah). ' (al-Haaqqah: 17-18)
Pemandangan
yang berupa orang yang selamat dengan memegang kitab catatan amalnya dengan tangan
kanannya. Dunia tidak dapat melukiskan kegembiraannya, ketika dia menyeru semua
makhluk supaya membaca kitabnya itu dalam suasana kegembiraan dan keceriaan,
“Ambillah,
bacalah kitabku (ini). Sesungguhnya aku yakin bahwa sesungguhnya aku akan
menemui hisab terhadap diriku. " (al-Haaqqah: 19-20)
Pemandangan
orang yang binasa, yang menerima kitab catatan amalnya dengan tangan kirinya.
Rasa penyesalan tampak dalam kalimat-kalimat yang diucapkannya dengan segenap
tekanan dan perasaannya yang memilukan,
"Wahai
alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), dan aku tidak
mengetahui apa hisab terhadap diriku.
Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala segala sesuatu. Hartaku
sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku dariku.
" (al-Haaqqah: 25-29)
Siapakah
gerangan yang tidak gemetar perasaannya mendengar keputusan yang menakutkan
itu? "Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian
masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia
dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. " (al-Haaqqah: 30-32)
Dia
menyaksikan betapa para malaikat yang diperintahkan-Nya itu bersegera
melaksanakan perintah yang menakutkan dan mengerikan, terhadap orang yang
celaka dan penuh sesal itu.
Keadaannya
di sana adalah,
"Maka,
tiada seorang temanpun baginya Pada hari ini di sini. Dan tiada (pula) makanan
sedikit pun (baginya) kecuali dari darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya
kecuali orang-orang yang berdosa. " (al-Haaqqah: 35-37)
Dan
terakhir, siapakah gerangan yang tidak takut dan gemetar ketika membayangkan
ancaman yang sangat keras ini?
"Seandainya
dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya
benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami
potong urat tali jantungnya. Maka, sekali-kali tidak ada seorang pun dari kamu yang
dapat menghalangi (Kami) dari pemotongan urat nadi itu. " (al-Haaqqah:
44-47)
Inilah
pemandangan-pemandangan yang penuh kekuatan, hidup, dan hadir. Pemandangan yang
jiwa manusia tidak akan dapat berpaling darinya sepanjang surah ini.
Pemandangan yang terus diulang-ulang, ditekankan, yang menyelinap ke dalam
saraf dan perasaan, dengan kesan yang sebenarnya dan sangat kuat.
Mengiringi
kesan pemisahan di dalam surah ini, dengan gemanya yang khusus, dan aneka macam
gema suara sedih ini, sesuai dengan berbagai pemandangan dan tempat perhentian
di dalam merefleksikan kesan yang hidup dan dalam itu..., maka dijumpailah
bacaan panjang (mad), tasydid, dan saktah (diam) pada permulaan surah.
اَلْحَاۤقَّةُۙ ١ مَا الْحَاۤقَّةُ ۚ ٢ وَمَآ
اَدْرٰىكَ مَا الْحَاۤقَّةُ ۗ ٣
"Hari kiamat.
Apakah hari Kiamat itu ? Dan tahukah kamu, apakah hari kiamat itu.”
(al-Haaqqah: 1-3)
hingga
suara yang menggema pada huruf ya' dan ha' yang dibaca sukun sesudahnya, baik ya'
marbuthah yang diwaqafi dengan bunyi sukun, maupun bunyi ha' karena perhentian
sebagai tambahan untuk mengatur irama, sepanjang pemandangan-pemandangan
penghancuran di dunia dan di akhirat, dan pemandangan-pemandangan tentang
kegembiraan dan penyesalan sebagai balasan masing-masing.... Kemudian iramanya
berubah ketika memulai pemaparan tentang keputusan yang berisi keluh kesah yang
menakutkan, tinggi, dan panjang.
"Peganglah
dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam
api neraka yang menyala-nyala" (al-Haaqqah: 30-31)
Kemudian
berubah lagi iramanya ketika menetapkan sebab-sebab keputusan yang begitu itu,
dan menetapkan kelayakan urusan itu, hingga keluh kesah yang memilukan,
sungguh-sungguh, pasti, berat, dan mantap pada huruf mim atau nun
“Sesungguhnya
dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Mahabesar. Dan juga dia tidak
mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin. Maka, tiada seorang
teman pun baginya Pada hari ini di sini. Dan, tiada (pula) makanan sedikit pun
(baginya) kecuali dari darah dan nanah. " (al-Haaqqah: 33-36)
"Dan
sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar kebenaran yang diyakini. Maka,
bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Mahabesar. " (al-Haaqqah:
51-52)
Perubahan
pada huruf pemisah dan pada jenis mad sebelumnya serta pada iramanya semuanya
tampak jelas mengikuti perubahan konteks, pemandangan, dan suasananya. Juga
sesuai dengan tema, lukisan, dan bayang-bayangnya yang menambah kerapiannya,
yang turut serta menghidupkan Iukisannya dan menguatkan kesannya di dalam hati,
di dalam surah yang kuat dan dalam kesan dan pengaruhnya ini.
Ini
adalah surah yang besar dan hebat. Jarang jiwa manusia menerimanya melainkan
dengan guncangan yang dalam. Guncangannya itu sendiri Iebih kuat dari semua
paparannya, uraiannya, dan semua komentar.
Al-Haaqqah,
Apakah Gerangan Dia?
اَلْحَاۤقَّةُۙ ١ مَا الْحَاۤقَّةُ ۚ ٢ وَمَآ
اَدْرٰىكَ مَا الْحَاۤقَّةُ ۗ ٣
"Hari
kiamat. Apakah hari kiamat itu ? Dan, tahukah kamu apakah hari kiamat itu
?" (al-Haaqqah: 1-3)
Hari
kiamat, pemandangan-pemandangannya, dan peristiwa-peristiwanya, memenuhi
sebagian besar surah ini. Oleh karena itu, dimulailah surah ini dengan
menyebutnya, dan dinamai dengannya. Dan, ini adalah nama yang dipilihkan
untuknya, dengan segala gaung dan maknanya sebagaimana sudah kami kemukakan.
Maka, al-Haaqqah adalah sesuatu yang pasti terjadi, sesuatu yang pasti, yang
turun dengan hukum dan keputusannya atas manusia. Sesuatu yang pasti, dan apa
yang terjadi pada nya adalah benar....
Semua
ini adalah makna-makna penetapan yang pasti, yang sesuai dengan arah dan topik
surah. Kemudian, ia dengan gaungnya sebagaimana kami terangkan sebelumnya,
mengandung irama tertentu yang sangat serasi dengan makna yang dikandungnya.
Juga sesuai pula dengan kebebasan nuansa yang dimaksudkan, serta sebagai
pengantar bagi apa yang pasti akan diperoleh orang-orang yang mendustakannya,
baik di dunia maupun di akhirat nanti.
Nuansa
surah ini seluruhnya adalah nuansa keseriusan dan kepastian, sekaligus nuansa
yang menakutkan dan mengerikan. Di samping apa yang telah kami kemukakan di
dalam pengantar, surah ini juga menimbulkan kesadaran di dalam jiwa akan
kekuasaan Ilahi yang sangat besar dari satu segi, dan kekerdilan wujud insani
di hadapan kekuasaan yang besar ini dari segi lain. Juga menggambarkan hukuman
yang pedih di dunia dan di akhirat, mana kala manusia menyimpang atau berpaling
dari manhaj yang dikehendaki Allah buat manusia ini, Yang tercermin pada
kebenaran, akidah, dan syari’at yang dibawa oleh para rasul.
Maka,
manhaj itu tidak didatangkan untuk disia-siakan, bukan pula untuk diganti.
Tetapi, ia datang untuk dipatuhi dan dihormati, dan diterima dengan penuh
perhatian dan ketakwaan. Kalau tidak, maka hukuman dan siksaan akan ditimpakan
dengan segala sesuatunya yang menakutkan dan mengerikan.
Lafal-lafal
yang ada dalam surah ini dengan gaungnya dan makna-maknanya, kesatuan
susunannya dan petunjuk yang dikandungnya, semuanya sejalan dengan kebebasan
suasananya dan lukisannya. Ia dimulai dengan sebuah kata, tanpa predikat, dalam
lafal yang jelas, "Al-haaqqah 'hari kiamat'," Kemudian disusul dengan
kata tanya yang menunjukkan besarnya dan agungnya urusan peristiwa besar ini,
"Mal-haaqqah (Maa al-haaqqah) 'Apakah hari kiamat itu'?" Lalu
ditambah lagi kesan kebesaran dan keagungan urusan ini yang tidak diketahui,
dan dikeluarkannya masalah ini dari batas-batas pengetahuan dan pemahaman,
"Wa maa adraaka maa al-haaqqah 'Dan tahukan kamu apakah hari kiamat
itu?'"
Setelah
itu didiamkan, tiada jawaban terhadap pertanyaan ini. Dibiarkannya Anda berdiri
di depan urusan besar dan agung ini, yang tidak Anda ketahui, dan tidak mungkin
Anda ketahui! Karena urusannya terlalu besar untuk diliputi pengetahuan dan
pengertian manusia!
Nasib
Kaum yang Mendustakan Ayat-Ayat
Kemudian
pembicaraan dimulai dengan membicarakan kaum yang mendustakannya beserta akibat
besar yang akan diterimanya. Maka, urusan ini adalah urusan yang serius, tidak
boleh didustakan, dan tidak akan selamat orang yang terus saja mendustakannya.
كَذَّبَتْ ثَمُوْدُ وَعَادٌ ۢبِالْقَارِعَةِ
٤ فَاَمَّا ثَمُوْدُ فَاُهْلِكُوْا بِالطَّاغِيَةِ ٥ وَاَمَّا عَادٌ فَاُهْلِكُوْا
بِرِيْحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍۙ ٦ سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَّثَمٰنِيَةَ
اَيَّامٍۙ حُسُوْمًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيْهَا صَرْعٰىۙ كَاَنَّهُمْ اَعْجَازُ نَخْلٍ
خَاوِيَةٍۚ ٧ فَهَلْ تَرٰى لَهُمْ مِّنْۢ بَاقِيَةٍ ٨
"Kaum
Tsamud dan 'Aad telah mendustakan hari Kiamat. Adapun kaum Tsamud, maka mereka
telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa. Adapun kaum 'Aad, maka
mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang
Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari
terus-menerus; maka kamu lihat kaum 'Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan
mereka tungul-tunggul pohon korma yang telah kosong (lapuk). Maka, kamu tidak
melihat seorang pun di antara mereka yang tinggal. " (al-Haaqqah: 4-8)
Ini
(al-Qaari'ah) adalah nama baru bagi al-Haaqqah (sesuatu yang pasti terjadi,
hari kiamat). Ia lebih dari sekadar pasti terjadi (al-Haaqqah), tetapi ia
taqra'u (mengetuk) .... Sedangkan, al-qar'u adalah memukul sesuatu yang keras
dan mengukirinya dengan sesuatu yang sepertinya. Dan, al-Qaari'ah itu mengetuk
hati dengan sesuatu yang menakutkan, dan mengetuk alam dengan kehancuran dan
kebinasaan. Nah, inilah dia hari Kiamat dengan gaung suaranya yang memerincing
dan gemeretak, mengetuk dan mengagetkan. Namun demikian, kaum Tsamud dan kaum
'Aad mendustakannya. Oleh karena itu, kita perhatikanlah bagaimana akibat
tindakan mendustakannya ini .
"Adapun
kaum Tsamud, maka mereka telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa.
" (al-Haaqqah: 5)
Kaum
Tsamud bertempat tinggal di kawasan batu-batu gunung di sebelah utara Hijaz, di
antara Hijaz dan Syam. Mereka dihukum dengan suara keras (petir) sebagaimana
disebutkan di tempat Iain. Ada pun di sini, maka hanya disebutkan sifat suara
keras itu sebagai "kejadian yang Iuar biasa”, tanpa menyebut lafal
"shaihah" 'suara keras' itu sendiri. Karena, penyebutan sifat ini
menimbulkan keseraman dan ketakutan yang sesuai dengan nuansa surah ini, dan
lagi karena irama lafal sesuai dengan irama pemisahan dalam segmen ini. Satu ayat
ini saja sudah cukup melipat riwayat kaum Tsamud, cukup melimpahinya, cukup
mengembus mereka, dan cukup melampaui mereka sehingga tidak ada
bayang-bayangnya lagi.
Adapun
kaum 'Aad, maka persoalan bencana mereka diperinci dan diberlakukan dalam masa
yang panjang, dan peristiwanya terjadi selama tujuh malam delapan hari nahas (sial).
Sedangkan, bencana yang menimpa kaum Tsamud adalah sepintas kilas, dengan satu
suara keras, yang Iuar biasa...
"Adapun
kaum 'Aad, maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin Iagi
amat kencang. " (al-Haaqqah: 6)
"Ar-riih
ash-sharshar” artinya angin yang sangat dingin, dan Iafal itu sendiri sudah
menunjukkan sangat dinginnya angin itu, dan ini menjadi semakin bertambah
dingin dengan diberinya sifat "'aatiyah" 'amat kencang'”.. sesuai
dengan kesombongan dan kekejaman kaum 'Aad sebagaimana diceritakan dalam
Al-Qur'an. Mereka bertempat tinggal di kawasan bukit pasir di bagian selatan
jazirah Arabia di antara Yaman dan Hadramaut. Mereka itu adalah kaum yang
keras, kejam, dan bengis.
Angin
yang sangat dingin dan amat kencang itu "Allah timpakannya kepada mereka
selama tujuh malam dan delapan hari secara terus-menerus". Dan kata
"al-husuum " itu artinya yang memotong dan terus-menerus memotong.
Penggunaan kata ini menggambarkan pemandangan angin sangat kencang yang
meraung-raung dan menghancurkan serta berlangsung terus-menerus dalam waktu
panjang yang dibatasi dengan ungkapan yang halus, "Selama tujuh malam dan
delapan hari. "
Kemudian
dibentangkanlah pemandangan dengan jelas, "Maka, kamu lihat kaum 'Aad pada
waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tungul pohon korma
yang telah kosong (lapuk). " "Maka kamu Iihat...”, pemandangan itu
dibeberkan dan dapat dilihat. Pengungkapan kalimat ini terus menyeruak ke
perasaan hingga memenuhinya. "Mati bergelimpangan... ", mereka mati
bergelimpangan dan berserakan, "Seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon
korma" dengan akar dan batangnya "yang telah kosong (lapuk)",
kosong tengahnya, keropos, dan roboh ke bumi. Ya, ini adalah pemandangan yang
tampak di depan mata dengan jelas. Pemandangan yang tenang dan bisu, setelah
angin ribut yang meraung-raung dan memporakporandakan. "Maka, apakah kamu
meIihat seorang pun yang tingal di antara mereka... ? " Tidak! Mereka
tidak tersisa Iagi!!!
Begitulah
keadaan kaum Tsamud dan kaum 'Aad. Begitulah keadaan kaum lainnya yang
mendustakan hari kiamat, yang disebutkan dalam dua ayat yang merangkum berbagai
peristiwa yang bermacam-macam.
وَجَاۤءَ فِرْعَوْنُ وَمَنْ قَبْلَهٗ وَالْمُؤْتَفِكٰتُ
بِالْخَاطِئَةِۚ ٩ فَعَصَوْا رَسُوْلَ رَبِّهِمْ فَاَخَذَهُمْ اَخْذَةً رَّابِيَةً
١٠
"Dan
telah datang Fir'aun dan orang-orang yang sebelumnya dan (penduduk)
negeri-negeri yang dijungkir balikkan karena kesalahan yang besar. Maka, (masing-masing)
mereka mendurhakai rasul Tuhan mereka, lalu Allah menyiksa mereka dengan
siksaan yang sangat keras. " (al-Haaqqah: 9-10)
Fir’aun
ini berdomisili di Mesir (dia adalah Fir’aun zaman Nabi Musa) dan kaum
orang-orang yang sebelumnya itu tidak dijelaskan secara terperinci. Mu 'tafikat
adalah negeri Nabi Luth yang telah dihancurkan atau dijungkirbalikkan sebagai
akibat kedustaannya, dan kata "mu'tafikat” ini mengandung makna
"ifk" 'kebohongan' dan "inqilab" 'penjungkir balikan' ini.
Kalimat ini mencakup semua tindakan mereka. Maka, ayat ini membicarakan tentang
mereka yang datang "bil-khaathi-ah", yakni dengan perbuatan dosa.
"Maka
mereka mendurhakai rasul Tuhan mereka...”
mereka mendurhakai rasul-rasul yang banyak jumlahnya, tetapi hakikatnya
adalah satu, karena pada dasarnya risalah mereka adalah satu. Dengan demikian,
mereka adalah seorang rasul dengan satu hakikat yang sama (ini termasuk salah
satu bentuk keindahan pengungkapan Al-Qur'an yang mengesankan) dan secara
global disebutkan tempat kembali mereka dengan sebuah kalimat yang mengesankan
urusan yang besar dan pasti serta menakutkan sesuai dengan nuansa surah ini,
"Lalu Allah menyiksa mereka dengan siksaan yang sangat keras " Kata
"raabiyah" 'sangat keras' ini asal artinya adalah tinggi, melimpah,
dan amat sakit, sesuai dengan "thaaghiyah" 'kejadian yang luar biasa'
yang telah menimpa kaum Tsamud dan "'aatiyah" 'amat kencang/angin'
yang menimpa kaum 'Aad. Ini sesuai dengan nuansa ketakutan dan kengerian dalam
susunan ayat tanpa dipisah dan diperpanjang.
Selanjutnya
dilukiskan banjir dan perahu yang sedang berlayar, yang pemandangan ini
mengisyaratkan kepada mayat-mayat kaum Nabi Nuh ketika mereka mendustakan
ayat-ayat Allah. Juga untuk menunjukkan nikmat kepada manusia dengan
diselamatkannya asal-usul (nenek moyang) yang menurunkan mereka. Tetapi,
kemudian mereka tidak bersyukur dan tidak mengambil pelajaran terhadap
peristiwa yang sangat besar itu.
اِنَّا لَمَّا طَغَا الْمَاۤءُ حَمَلْنٰكُمْ
فِى الْجَارِيَةِۙ ١١ لِنَجْعَلَهَا لَكُمْ تَذْكِرَةً وَّتَعِيَهَآ اُذُنٌ وَّاعِيَةٌ
١٢
"Sesungguhnya
Kami, tatkala (air telah naik (sampai kegunung), Kami bawa (nenek moyang) kamu
ke dalam bahtera, agar kami jadikan peristiwa itu peringatan bagİ kamu dan agar
diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar. "(al-Haaqqah: 11-12)
Pemandangan
yang berupa meluapnya air, dan pemandangan yang berupa bahtera yang berjalan di
atas air yang meluap itu... keduanya sangat serasi dengan
pemandangan-pemandangan yang ditampilkan surah ini dengan segala bayangannya.
Bunyi kata "jariyah” dan "wa 'iyah” begitu serasi dengan irama sajak.
Sentuhan kalimat "Agar Kami jadikan peristİwa itu peringatan bagİ kamu dan
agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar" İnİ juga mengenai hati
yang beku dan telinga yang bandel. Keduanya terus saja mendustakan setelah
dikemukakannya peringatan-peringatan dan dibentangkannya akibat-akibat yang
menimpa kaum yang menduştakan ayat-ayat Allah. Juga setelah dikemukakannya
ayat-ayat, nasihat-nasihat, karunia, dan nikmat-nikmat Allah kepada nenek
moyang orang-orang yang lalai itu.
Kiamat,
Peristiwa Mahadahsyat yang Menakutkan dan Mengerikan
Semua
pemandangan yang besar dan menakutkan ini menjadi kecil bila dibandingkan
dengan peristiwa menakutkan yang sangat dahsyat. Yaitu, peristiwa hari Kiamat
yang didustakan oleh orang-orang yang mendustakannya. Padahal, mereka sudah
menyaksikan puing-puing orang-orang terdahulu yang mendustakan hari Kiamat itu
Sesungguhnya
ketakutan besar terhadap puing-puing kehancuran bangsa-bangsa terdahulu itu
masih terbatas bila dibandingkan dengan ketakutan hari Kiamat yang tak
terbatas, yang terjadi pada hari yang tersaksikan itu. Di sini, sesudah
pendahuluan, disempurnakanlah penampilan hari Kiamat ini. Juga disingkapkanlah
hal-hal yang sangat menakutkan itu, seakan-akan ia sebagai penyempurna terhadap
pemandangan-pemandangan yang telah ditampilkan lebih dahulu.
فَاِذَا نُفِخَ فِى الصُّوْرِ نَفْخَةٌ وَّاحِدَةٌ
ۙ ١٣ وَّحُمِلَتِ الْاَرْضُ وَالْجِبَالُ فَدُكَّتَا دَكَّةً وَّاحِدَةًۙ ١٤ فَيَوْمَىِٕذٍ
وَّقَعَتِ الْوَاقِعَةُۙ ١٥ وَانْشَقَّتِ السَّمَاۤءُ فَهِيَ يَوْمَىِٕذٍ وَّاهِيَةٌۙ
١٦ وَّالْمَلَكُ عَلٰٓى اَرْجَاۤىِٕهَاۗ وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَىِٕذٍ
ثَمٰنِيَةٌ ۗ ١٧
"Maka,
apabila sangkakah ditiup sekali tiup, dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung,
lalu dibenturkan keduanya sekali bentur. Maka, pada hari itu terjadilah hari
Kiamat, dan terbelahlah langİt, karena pada hari itu langit menjadi lemah.
Malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Pada hari itu delapan orang
malaikat menjunjung 'Arasy Tuhanmu di atas (kepala) mereka. ''(al-Haaqqah:
13-17)
Kita
percaya bahwa di sana ada tiupan sangkakala, dan sesudah itu akan terjadi
berbagai macam peristiwa. Namun, kami tidak akan menambah perincian
peristiwa-peristiwa itu, karena semua itu merupakan perkara gaib. Sebab, kita
tidak mempunyai petunjuk tentang itu melainkan semacam nash-nash yang global
ini, dan kita tidak memiliki sumber lain untuk merinci nash yang global ini.
Sedangkan, memberikan perincian sendiri itu tidak akan menambah hikmah nash itu
sama sekali. Kalau kita lakukan hanya akan menambah daftar kesia-siaan yang tak
berujung melainkan semata-mata mengikuti dugaan yang pada dasarnya terlarang.
Apabila
sangkakala ditiup dengan sekali tiup, maka diikutilah tiupan ini oleh gerakan
yang sangat menakutkan.
"Dan
diangkatlah bumi dan gunung-gunung lalu dibenturkan keduanya sekali bentur.
"(al-Haaqqah: 14)
Peristiwa
diangkatnya bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur
sehingga menjadi rata antara bagian atas dan bagian bawahnya, adalah suatu
pemandangan yang menakutkan sekali. Bumi tempat manusia berkeliaran di celah-celahnya
dengan aman tenteram, dan bumi sendiri
berada di bawah manusia dengan mantap dan tenang. Gunung-gunung yang
menjulang dan menancap kokoh yang keangkeran dan kekukuhannya sendiri sudah
menakutkan manusia. Makhluk-makhluk seperti ini akan diangkat lalu dibentur-benturkan
seperti bola di tangan anak kecil saja ... Sungguh ini merupakan pemandangan
yang menjadikan manusia merasa kerdil dan kecil berdampingan dengan qudrat yang
berkuasa, pada hari yang beşar itu .
Apabila
hal ini terjadi, sangkakala ditiup dengan sekali tiup, bumi dan gunung-gunung
diangkat lalu dibenturkan dengan sekali bentur, maka pada waktu itu terjadilah
sesuatu yang dibicarakan oleh surah ini
“Maka
pada hari İtu terjadilah al-Waaqi’ah (sesuatu yang pasti terjadi, hari kiamat).
"(al-Haaqqah: 15) "
Al-
Waaqi'ah" adalah salah satu nama hari kiamat sebagaimana halnya al-Haaqqah
dan al-Qaari'ah Maka, hari kiamat disebut al-Waaqi'ah karena ia pasti terjadi,
seakan-akan tabiatnya dan hakikatnya yang abadi kini menjadi kenyataan. Dan,
ini adalah nama yang memiliki arahan dan maksud tertentu di dalam menghadapi
peraguan dan pendustaan terhadapnya!
Pemandangan
yang menakutkan dan menyeramkan ini tidak hanya terbatas pada diangkatnya bumi
dan gunung-gunung lalu dibenturkan antara keduanya saja. Tetapi, langit pun
pada hari itu tidak lepas dari peristiwanya yang menakutkan.
"Dan
terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah. ” (al-Haaqqah:
16)
Kita
tidak tahu bagaimana kondisi langit yang dimaksudkan dengan lafal yang
disebutkan dalam Al-Qur'an ini. Tetapi, nash ini dan nash-nash lainnya
mengisyaratkan kepada peristiwa-peristiwa alam pada hari itu yang sangat besar.
Semuanya mengisyaratkan terlepaslah segala ikatan alam yang terlihat ini dan
rusaknya ikatan-ikatan dan hubungan-hubungannya yang menjalinnya dalam
keteraturan yang indah dan cermat selama ini, dan terurailah bagian-bagiannya
setelah lepas dari ikatan peraturan semesta. ...
Barangkali
merupakan suatu kebetulan yang aneh di mana para ahli ilmu falak kini dapat
menginformasikan sedikit tentang sesuatu yang mirip dengan masa kondisi
berakhirnya alam ini. Hal itu mereka gali daň penelitian ilmiah murni dan
sedikit pengetahuan yang mereka miliki tentang tabiat alam semesta beserta
ceritanya sebagaimana yang mereka tentukan.
Akan
tetapi, kita hampir menyaksikan pemandangan-pemandangan yang menakutkan ini
dari celah-celah nash Al-Qur'an yang bersifat pasti, yang merupakan nash-nash
global yang memberikan kesan tentang sesuatu yang bersifat umum. Kita berhenti pada isyarat nash-nash ini,
karena bagi kita nash-nash ini merupakan informasi satu-satunya yang akurat
mengenai urusan ini. Pasalnya, ia bersumber dari Pemilik urusan ini sendiri,
Yang menciptakannya, dan Yang mengetahui apa yang diciptakan-Nya itu dengan
ilmul-yaqin.
Kita
hampir-hampir menyaksikan bumi yang memuat gunung-gunung yang kukuh dan besar
bila dibandingkan dengan diri kita ini... seakan-akan sesuatu yang kecil
dibandingkan dengan alarn semesta ini. lalu, bumi dibenturkan sekali bentur.
Kita
hampir-hampir menyaksikan langit yang terpecah-belah dan lemah sedang
bintang-bintang berpelantingan ke sana-sini.... Semua itu tampak dari
celah-celah nash Al-Qur'an yang hidup, yang menampilkan sosok pemandangan
dengan segala kekuatannya seakan-akan peristiwa itu sedang terjadi di hadapan
mata.
Kemudian
pemandangan itu digenangi dan diliputi keagungan. Maka, menjadi redalah gemuruh
yang memenuhi perasaan karena tiupan sangkakala dan benturan bumi dengan
gunung-gunung serta terbelahnya langit dan berpelantingannya bintang-bintang.
Semuanya menjadi reda, dan dalam pemandangan ini tampaklah Arasy Tuhan Yang
Maha Esa lagi Mahaperkasa.
“Malaikat-malaikat
berada di penjuru -penjuru langit. Pada hari itu delapan orang malaikat
menjunjung 'Arasy Tuhanmu di atas (kepala) mereka. ” (al-Haaqqah: 17)
Para
malaikat berada di penjuru-penjuru dan ujung-ujung langit yang terpecah-belah
itu, dan Arasy di atas mereka dipikul oleh delapan malaikat delapan orang malaikat atau delapan baris
malaikat, atau delapan tingkatan malaikat, atau delapan apa lagi yang cuma
Allah yang mengetahuinya. Kita tidak mengetahui siapa mereka itu dan bagaimana
mereka itu, sebagaimana kita tidak tahu apakah Arasy itu? Juga kita tidak tahu
bagaimana cara memikul Arasy.
Kita
simpulkan saja semua perkara gaib yang kita tidak memiliki pengetahuan
tentangnya, dan Allah tidak menugasi kita untuk mengetahuinya kecuali apa yang
diceritakan-Nya kepada kita. Kita simpulkan dari perkara-perkara gaib ini
kepada bayang-bayangnya yang besar yang dilepaskannya di tempat perhentian ini,
dan inilah yang kita dituntut untuk kita rasakan dengan hati nurani kita Dan,
ini pulalah maksud disebutkannya peristiwa-peristiwa ini supaya hati manusia
merasakan keagungan, ketakutan, dan kekhusyuan, pada hari yang besar itu, di
tempat perhentian yang agung.
يَوْمَىِٕذٍ تُعْرَضُوْنَ لَا تَخْفٰى مِنْكُمْ
خَافِيَةٌ ١٨
"Pada
hari itu kamu dihadapknn (kepada Tuhanmu),
tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah).”
(al-Haaqqah: 18)
Semuanya
terbuka, terbuka fisiknya, terbuka jiwanya, terbuka hatinya, terbuka amalnya,
dan terbuka akibatnya dan tempat kembalinya. Runtuhlah semua penutup yang
dipergunakan untuk menutup rahasia-rahasia. Ditelanjangilah jiwa sebagaimana
telanjangnya fisik, dan tampaklah segala yang rahasia sebagaimana tampaknya
segala yang tersaksikan.... Manusia lepas dari kehati-hatiannya, lepas dari
tipu dayanya, lepas dari rencananya, dan lepas dari perasaannya. Maka,
terbukalah apa yang selama ini ia sangat antusias menutupinya, hingga terhadap
dirinya sendiri, karena dia malu dilihat orang karena dia merasa hina diketahui
mata orang banyak! Akan tetapi mata Allah, segala sesuatu yang tersembunyi
terbuka baginya setiap waktu. Namun, barangkali manusia tidak menyadari betul
hal ini, dia tertipu dengan ketertutupan bumi.
Nah,
sekarang dia merasakannya ketika dia seorang diri di hari kiamat. Segala
sesuatu yang ada di alarn ini tampak jelas. Bumi dibenturkan dan diratakan, dan
tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di baliknya, baik yang biasa tersembunyi
mau pun yang biasa tampak. langit terbelah dengan kondisinya yang lemah, dengan
tidak ada sesuatu pun yang tertutup di belakangnya, fisik telanjang dengan
tidak tertutup oleh sesuatu pun, dan jiwa pun terbuka secara transparan tanpa
ada yang tertutup dan tidak ada yang rahasia lagi!
Ingatlah,
sesungguhnya ini adalah urusan yang amat kritis, lebih kritis daripada
dibenturkannya bumi dengan gunung, dan lebih seru daripada terbelahnya langit.
Dan, lebih dari itu manusia telanjang fisiknya, telanjang jiwanya, telanjang
perasaannya, telanjang sejarahnya, dan telanjangnya amalnya yang selama ini
terbuka ataupun tertutup, di depan kumpulan sesuatu yang menakutkan dari
makhluk Allah, manusia, jin, dan malaikat. Juga di bawah keagungan Allah dan
Arasy-Nya yang tinggi di atas semuanya....
Tabiat
manusia itu sungguh ruwet. Di dalam jiwanya terdapat keinginan-keinginan dan
terdapat pintu-pintu yang bermacam-macam. Jiwanya menyambutnya dan menyelinap
dengan segala perasaannya, kemauan-kemauannya, kesenangannya, getarannya,
rahasianya, dan kekhususan-kekhususannya.
Manusia
melakukan sesuatu melebihi apa yang diperbuat oleh siput yang lunak yang
memanggil-manggil ketika menghadapi tusukan jarum, lalu ia melipat tubuhnya
dengan cepat, dan mengerut di dalam rumahnya, atau menggantungkan jiwanya
secara total. Dan, manusia melakukan sesuatu yang melebihi ini ketika ia merasa
ada mata yang memandangnya dan menyingkap apa yang disembunyikannya, dan
kerlingan pandangan mengenai jalannya yang samar atau tikungan yang misterius.
Dia merasakan kekuasaan yang kokoh terhadap penderitaan yang menembus ketika
seseorang melihatnya dalam kesendiriannya yang penuh perasaan.
Nah,
bagaimana dengan makhluk (manusia) yang dalam keadaan telanjang, benar-benar
telanjang (telanjang fisiknya, hatinya, perasaannya, niatnya, dan nuraninya)?
Telanjang dari semua penutup... telanjang dan telanjang.... Bagaimanakah
perasaannya dalam keadaan yang seperti itu di bawah Arasy Tuhan Yang
Mahaperkasa, di depan kumpulan khalayak ramai dengan tanpa penutup?!
Ingatlah,
ini adalah perkara yang sangat pahit, lebih pahit dari semua urusan!!!
Penerimaan
Rapot Amal dan Implikasinya
Sesudah
itu dibentangkanlah pemandangan mengenai orang-orang yang selamat dan
orang-orang yang disiksa, seakan-akan pemandangan ini hadir di depan mata ....
فَاَمَّا مَنْ اُوْتِيَ كِتٰبَهٗ بِيَمِيْنِهٖ
فَيَقُوْلُ هَاۤؤُمُ اقْرَءُوْا كِتٰبِيَهْۚ ١٩ اِنِّيْ ظَنَنْتُ اَنِّيْ مُلٰقٍ حِسَابِيَهْۚ
٢٠ فَهُوَ فِيْ عِيْشَةٍ رَّاضِيَةٍۚ ٢١ فِيْ جَنَّةٍ عَالِيَةٍۙ ٢٢ قُطُوْفُهَا دَانِيَةٌ
٢٣ كُلُوْا وَاشْرَبُوْا هَنِيْۤـًٔا ۢبِمَآ اَسْلَفْتُمْ فِى الْاَيَّامِ الْخَالِيَةِ
٢٤
"Adapun
orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia
berkata, 'AmbilIah, bacalah kitabku (ini). Sesungguhnya aku yakin bahwa sesungguhnya
aku akan menemui hisab terhadap diriku. 'Maka, orang itu berada dalam kehidupan
yang diridhai. Dalam surga yang tinggi. Buah-buahannya dekat. (Kepada mereka
dikatakan), Makan dan minumIah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakanpada
hari-hari yang telah lalu. (al-Haaqqah: 19-24)
Penerimaan
kitab (rapot) dengan tangan kanan, tangan kiri, atau sambil membelakangi itu
boleh jadi dalam arti kata yang sebenarnya. Namun, boleh jadi itu sebagai
ungkapan bahasa yang berlaku dalam istilah bahasa Arab di mana mereka
mengungkapkan segi kebaikan dengan kanan dan segi keburukan dengan kiri atau
dari belakang.... Baik dalam arti hakiki maupun kiasan, namun kandungan
petunjuknya hanya satu, dan ini tidak perlu diperdebatkan di hadapan urusan
yang demikian besar!
Pemandangan
yang dibentangkan adalah pemandangan tentang orang yang selamat pada hari yang
amat terik itu. la berjalan dengan penuh kegembiraan, di antara orang-orang
yang sedang berhimpun berjejal-jejal. Kegembiraan meliputi seluruh organ
tubuhnya hingga mencuat ke mulutnya seraya berteriak, "Ambillah, bacalah
kitabku (ini)!" Kemudian dengan terus terang dia mengatakan bahwa dia
tidak mengira bahwa dirinya akan selamat. Bahkan, dia mengira akan diuji dengan
hisab, padahal "barang siapa yang diuji (dites) dengan hisab, maka dia
sudah diazab" sebagaimana disebutkan dalam atsar.
Diriwayatkan
oleh Bukhari dan Muslim dari Aisyah r.a. dia bahwa Rasulullah bersabda,
«وَمَنْ
نُوقِشَ الْحِسَابَ عُذِّبَ» كَمَا
جَاءَ فِي الْأَثَرِ: عَنْ عَائِشَةَ —
رَضِيَ اللهُ عَنْهَا — قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ
— ﷺ —:«مَنْ
نُوقِشَ الْحِسَابَ عُذِّبَ» فَقُلْتُ:
أَلَيْسَ يَقُولُ اللهُ تَعَالَى: {فَأَمَّا
مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ * فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا *
وَيَنْقَلِبُ إِلَى أَهْلِهِ مَسْرُورًا}فَقَالَ: «إِنَّمَا ذَلِكَ
الْعَرْضُ، وَلَيْسَ أَحَدٌ يُحَاسَبُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا هَلَكَ»
"Barangsiapa
yang diuji (dites) dengan hisab, maka dia telah disiksa. "Lalu Aisyah
bertanya, "Bukankah AIIah berfirman, 'Adapun orang yang diberikan kitabnya
dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaanyang mudah,
dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan
gembira?"' Beliau menjawab,
'Sesungguhnya itu adalah pada waktu dihadapkan, dan tidak ada seorangpunyang
dihisab pada hari kiamat melainkan dia binasa. "
Ibnu
Abi Hatim meriwayatkan dari Basyar bin Mathar al-Wasithi, dari Yazid bin Harun,
dari Ashim, dari al-Ahwal, dari Abu Utsman bahwa dia berkata, "Orang
mukmin diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya secara rahasia dari
Allah, lalu dia membaca kejelekan-kejelekannya. Maka, ketika dia membaca satu
kejelekan, berubahlah warnanya. Sehingga, dia melewati kebaikan-kebaikannya,
Iantas dia membacanya, kemudian kembalilah warnanya sebagaimana semula.
Kemudian dia melihatnya lagi, tiba-tibanya kejelekan-kejelekannya sudah diganti
dengan kebaikan-kebaikan. Maka, pada waktu itu dia berkata, 'Ambillah, bacalah
kitabku ini!'" Diriwayatkan dari Abdullah bin Hanzhalah (yang jasadnya
dimandikan oleh malaikat) bahwa sesungguhnya Allah akan menghentikan hamba-Nya
pada hari Kiamat. Lalu, Dia menampakkan kejelekan-kejelekannya di sampul
lembaran catatannya. Allah bertanya kepadanya, "Apakah kamu tahu
ini?" Dia menjawab, “Tahu, wahai
Tuhan." Lalu Allah berfirman kepadanya, "Sesungguhnya Aku tidak ingin
mempermalukanmu, dan sesungguhnya Aku telah mengampunimu." Maka, pada
waktu itu dia Iantas berkata, "Ambillah, bacalah kitabku ini! Sesungguhnya
aku yakin bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku.'"
Diriwayatkan
dalam ash-Shahih dari hadits Ibnu Umar ketika ditanya tentang an-najwaa
'bisikan', lalu dia menjawab bahwa ia mendengar Rasulullah bersabda,
« يُدْنِي
اللهُ الْعَبْدَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيُقَرِّرُهُ بِذُنُوبِهِ كُلِّهَا، حَتَّى
إِذَا رَأَى أَنَّهُ قَدْ هَلَكَ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنِّي سَتَرْتُهَا
عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ. ثُمَّ يُعْطَى
كِتَابَ حَسَنَاتِهِ بِيَمِينِهِ. وَأَمَّا الْكَافِرُ وَالْمُنَافِقُ فَيَقُولُ
الْأَشْهَادُ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ، أَلَا لَعْنَةُ
اللهِ عَلَى الظَّالِمِينَ »
"Allah
akan mendekatkan hamba-Nya Pada hari Kiamat, lalu dia mengakui dosa-dosanya
semuanya. Sehingga, apabila dia telah berpendapat bahwa dirinya akan binasa,
maka Allah berfirman kepadanya, 'Sesungguhnya Aku telah menutupi dosa-dosamu
itu di dunia dan pada hari ini Aku mengampuninya. ' Kemudian Allah memberikan
kitabnya dari sebelah kanannya. Adapun orang kafir dan orang munafik, maka para
saksi akan berkata, 'Mereka itulah yang telah berdusta atas nama Tuhan mereka.
Ingatlah, laknat Allah atas orang-orang yang zalim! "'
Kemudian
diumumkanlah di atas kepala para saksi kenikmatan yang telah disediakan bagi
orang yang selamat ini, yang di sini tampak bermacammacam kenikmatan indrawi,
sesuai dengan kondisi orang-orang yang diajak bicara waktu itu. Sedangkan,
mereka baru saja mentas dari kejahiliahan dan belum lama beriman dan belum lama
pula iman itu meresap ke dalam jiwanya. Diperkenalkanlah kepada mereka
kenikmatan yang lebih halus dan lebih tinggi dari semua jenis kesenangan.
“Maka,
orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai, dalam surga yang tinggi.
Buah-buahannya dekat. (Kepada mereka dikatakan), 'Makan dan minumlah dengan
sedap disebabkan amal yang sudah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.
”' (al-Haaqqah: 21-24)
Warna
kenikmatan ini, beserta jenis penghormatan ini di mana mereka dapat kembali
kepada keluarganya (sesama mukmin) dan dikatakan kepadanya, 'Makan dan minumlah
dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah
lalu”, . melebihi jenis kenikmatan yang dapat dicapai oleh pemahaman
orang-orang yang diajak bicara oleh Al-Qur'an pada masa-masa awal hubungannya
dengan Allah. Yakni, sebelum perasaannya mengalami peningkatan hingga melihat
kedekatan kepada Allah itu lebih menyenangkan dari segala macam nikmat apa pun.
Lebih dari itu, Dia selalu memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia yang banyak
jumlahnya sepanjang masa. Kenikmatan
selain ini banyak sekali dan bermacammacam-. ..
وَاَمَّا مَنْ اُوْتِيَ كِتٰبَهٗ بِشِمَالِهٖ
ەۙ …
”Adapun
orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya”
Lalu
dia tahu bahwa dia akan disiksa karena kejelekan-kejelekannya dan dia akan
mendapatkan azab sebagai tempat kembalinya, maka dia berhenti di areal yang
penuh sesak ini dengan penuh sesal, sedih, dan gundah gulana. . .
فَيَقُوْلُ يٰلَيْتَنِيْ لَمْ اُوْتَ كِتٰبِيَهْۚ
٢٥ وَلَمْ اَدْرِ مَا حِسَابِيَهْۚ ٢٦ يٰلَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَۚ ٢٧ مَآ اَغْنٰى
عَنِّيْ مَالِيَهْۚ ٢٨ هَلَكَ عَنِّيْ سُلْطٰنِيَهْۚ ٢٩
Maka,
dia berkata, 'Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku
ini dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian
itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi
manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaan dariku.”' (al-Haaqqah: 25-29)
Ini
adalah perhentian yang panjang, penyesalan yang panjang, kesedihan yang
memutusasakan, dan kebingungan yang menyedihkan. Konteks ini menampilkan dengan
panjang peristiwa ini sehingga terkhayalkan oleh pendengar bahwa peristiwa ini
tidak akan berkesudahan serta kesedihan dan penyesalan ini tak akan berujung.
Inilah di antara bentuk keajaiban penampilan masalah dengan diperpanjang pada
beberapa tempat dan dipersingkat di tempat lain, sesuai dengan arahan jiwa yang
hendak diberikan kepada manusia. Dan, yang dimaksudkan di sini adalah hendak
menetapkan sikap penyesalan dan mengisyaratkan kesedihan di balik pemandangan
yang menyedihkan ini.
Karena
itulah, penayangannya dipanjangkan dan dipanjangkan, dengan tanpa ada
pembicaraan tetapi serba terperinci. Orang yang celaka itu berangan-angan
alangkah senangnya kalau peristiwa ini tidak terjadi, dia tidak perlu diberi
kitab, dan tidak perlu tahu bagaimana hisab terhadap dirinya. Hal ini
sebagaimana dia berangan-angan kalau kiamat ini menjadi pemutus segala sesuatu,
hingga berakhirIah keberadaan mereka dan tidak akan kembali lagi setelah itu
untuk selama-lamanya.
Kemudian
dia menyesal, karena apa yang selama ini dibangga-banggakan atau dikumpulkan
tidak memberi manfaat sedikit pun kepadanya.
“Hartaku
sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaan dariku.
”(al-Haaqqah: 28-29)
Harta
tidak berguna dan tidak memberi manfaat lagi, kekuasaan pun sudah tidak ada dan
tidak dapat membelanya.... Rintihan kesedihan dan penyesalan yang panjang penuh
kesedihan terucapkan di ujung huruf pemisah yang bersukun dan pada ya' huruf
illat sebelumnya sesudah huruf mad (panjang) dengan alif... penuh kesedihan dan
penyesalan... Inilah sebagian dari
bayang-bayang perhentian yang mengisyaratkan penyesalan dan keputusasaan dengan
kesan yang dalam dan mengena.
Tidak
ada yang menghentikan rintihan kesedihan yang panjang ini kecuali perintah
tertinggi yang pasti, dengan segala keagungannya, kebesarannya, dan
kengeriannya.
خُذُوْهُ فَغُلُّوْهُۙ ٣٠ ثُمَّ الْجَحِيْمَ
صَلُّوْهُۙ ٣١ ثُمَّ فِيْ سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُوْنَ ذِرَاعًا فَاسْلُكُوْهُۗ
٣٢
“(Allah
berfirman), 'Peganglah dia lalu tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia
ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitIah dia dengan rantai
yang panjangnya tujuh puluh hasta.
"' (al-Haaqqah 30-32)
Wahai,
betapa menakutkan dan mengerikannya! Wahai, menakutkan dan mematikan! Wahai,
betapa luhur dan agungnya!
“Peganglah
dia! …”
Sebuah
kalimat perintah yang bersumber dari Tuhan Yang Mahatinggi lagi Mahaluhur.
Kemudian seluruh wujud bergerak menghadapi si miskin yang kecil dan kerdil ini,
dan para petugas segera melaksanakan perintah dari segala penjuru, sebagaimana
dikatakan oleh Ibnu Abi Hatim dengan isnadnya dari al-Minhal bin Amr,
« إِذَا
قَالَ اللهُ تَعَالَى: خُذُوهُ؛ ابْتَدَرَهُ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ. إِنَّ
الْمَلَكَ مِنْهُمْ لَيَقُولُ هَكَذَا، فَيُلْقِي سَبْعِينَ أَلْفًا فِي النَّارِ »
"Apabila
Allah telah berfirman, 'Peganglah dia!' maka tujuh puluh ribu malaikat segera
melaksanakannya. Salah satu dari malaikat-malaikat itu berbuat demikian, lalu
melemparkan tujuh puluh ribu orang ke dalam neraka.... " Masing-masing
malaikat bersegera menjalankan perintah terhadap sejemput kecil manusia yang
sedih dan kebingungan ini!
“Lalu
belenggulah tangannya ke lehernya" (al-Haaqqah: 30)
Maka,
entah siapa dari tujuh puluh ribu malaikat ini akan segera membelenggu
tangannya ke lehernya...
"Kemudian
masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala!" (al-Haaqqah: 31)
Seakan-akan
kira mendengar suara gemuruh api yang berkobar-kobar dan menyala-nyala
"Kemudian
belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuhpuluh hasta!" (al-Haaqqah:
32)
Satu
hasta saja dari rantai neraka sebenarnya sudah cukup untuk membelitnya. Akan
tetapi, isyarat panjang dan kengeriannya tersirat dari belakang lafal
"tujuh puluh" dan gambarannya. Barangkali inilah isyarat yang
dimaksudkan.
Nah,
setelah selesai membicarakan urusan ini, maka pembicaraan dialihkan kepada
sebab-sebab yang menjadikan mereka bernasib Sial seperti itu di akhirat nanti.
اِنَّهٗ كَانَ لَا يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ الْعَظِيْمِۙ
٣٣ وَلَا يَحُضُّ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِۗ ٣٤
"Sesungguhnya
dia dahulu tidak beriman kepada Allah YangMahabesar. Dan juga tidak mendorong
(orang Iain) memberi makan orang miskin. "(al-Haaqqah: 33-34)
Hatinya
telah kosong dari iman dan rasa kasih sayang kepada sesama hamba Allah. Karena
itu, hati ini dianggap tidak pantas mendapatkan sesuatu selain api neraka dan
azab yang pedih itu. Hatinya kosong dari iman kepada Allah, sehingga gersang
dan mati, runtuh, dan hancur, kosong dari cahaya, nilainya sangat rendah, lebih
rendah daripada binatang bahkan lebih rendah dari benda mati sekalipun. Karena
segala sesuatu yang beriman, bertasbih dengan memuji Tuhannya, berhubungan
dengan Sumber keberadaan dirinya. Sedangkan orang yang kafir ini, maka dia
terputus hubungannya dari Allah, terputus hubungannya dengan setiap wujud yang
beriman kepada Allah.
Hatinya
kosong dari rasa kasih sayang kepada sesama hamba Allah, karena orang miskin
adalah hamba yang paling membutuhkan kasih sayang. Tetapi, hati orang ini tidak
merasakan seruan untuk memperhatikan urusan orang miskin ini, dan tidak
menganjurkan orang Iain untuk memberi makan kepada orang miskin ini. Padahal,
menganjurkan ini merupakan langkah awal untuk memberi makan itu, dan memberikan
isyarat bahwa di sana ada ke wajiban sosial yang orang-orang mukmin saling
menganjurkan dan saling mendorong untuk meIaksanakannya. Sikap dan perbuatan
ini sangat erat hubungannya dengan iman, berdampingan di dalam nash dan
beriringan pula di dalam timbangan.
فَلَيْسَ لَهُ الْيَوْمَ هٰهُنَا حَمِيْمٌۙ
٣٥ وَّلَا طَعَامٌ اِلَّا مِنْ غِسْلِيْنٍۙ ٣٦ لَّا يَأْكُلُهٗٓ اِلَّا الْخٰطِـُٔوْنَ
ࣖ ٣٧
"Maka,
tiada seorang temanpun baginya pada hari ini di sini. Dan tiada (pula) makanan
sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya
kecuali orang-orang yang berdosa. (al-Haaqqah: 35-37)
Ini
merupakan kelengkapan pengumuman tertinggi dari tempat kembalinya orang yang
celaka itu, karena dia tidak beriman kepada Allah Yang Mahaagung dan tidak
menganjurkan manusia untuk memberi makan kepada orang miskin. Oleh karena itu,
di sini dia terputus hubungannya dengan orang Iain,
"Maka,
tiada seorang temanpun baginya pada hari ini di sini. " (al-Haaqqah: 35)
Dia
terhalang untuk mendapatkan makanan,
"Dan
tiada (pula) makanan sedikitpun baginya kecuali dari darah dan nanah. "
(al-Haaqqah: 36)
Ghislin
adalah cairan ahli neraka yang berupa darah Iuka dan nanah. Hal yang demikian
ini cocok dengan hatinya yang kasar dan sunyi dari rasa kasih sayang terhadap
sesama hamba Allah. Yah, makanan yang,
“Tidak
ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa. " (al-Haaqqah: 37)
Yakni,
orang yang suka berbuat dosa, yang disifati sebagai orang yang gemar berbuat
dosa dan kesalahan... termasuk kelompok mereka.
Waba'du,
begitulah dia yang dijadikan Allah sebagai orang yang pantas ditangkap,
dibelenggu tangannya, dimasukkan ke dalam api neraka, dan dibelit dengan rantai
yang panjangnya tujuh puluh hasta di dalam neraka yang apinya menyala-nyala
itu. Dan, ini adalah tingkatan neraka jahanam yang sangat berat.
Nah,
bagaimana lagi dengan orang yang menghalang-halangi orang Iain untuk memberi
makan kepada orang-orang miskin, serta orang yang memperlapar anak-anak, kaum
wanita, dan orang-orang lanjut usia? Bagaimana lagi dengan orang yang bersikap
bengis seperti para diktator terhadap orang yang menadahkan tangannya meminta
sesuap nasi dan sehelai pakaian untuk mengusir dingin? Di manakah hilangnya
mereka ini, padahal sewaktu di dunia mereka mudah dijumpai dari waktu ke waktu?
Apakah yang disediakan Allah bagi mereka padahal Allah telah menyediakan bagi
orang yang tidak menganjurkan memberi makan kepada orang miskin itu azab yang
seperti itu di dalam neraka?
Sampai
di sinilah pemandangan yang keras dan menakutkan ini. Barangkali dia datang
dalam Iukisannya yang menakutkan ini karena lingkungannya sangat kejam, bengis,
dan keras kepala yang membutuhkan penampilan pemandangan-pemandangan yang keras
ini supaya dapat mempengaruhinya, mengguncangkannya, dan menghidupkan hatinya.
Lingkungan semacam ini banyak terdapat di kalangan jahiliah yang dilewati oleh
manusia. Hal ini sebagaimana pada saat yang sama juga ditemukan lingkungan yang
lemah lembut, sangat terpengaruh oleh peringatan ini, dan sangat responsif,
karena hamparan bumi itu Iuas, dan distribusi kondisi dan kejiwaan itu
berbeda-beda.
Al-Qur’an
berbicara kepada semua tingkatan dan semua jiwa dengan sesuatu yang dapat
mempengaruhinya, dan dengan sesuatu yang akan disambutnya kalau mereka diseru
kepadanya. Dan bumi sekarang ini, di beberapa penjurunya, memuat hati-hati
manusia yang keras, watak yang kasar, dan karakter yang tidak dapat tetpengaruh
oleh apa pun kecuali kata-kata api neraka dan kobarannya seperti
kalimat-kalimat Al-Qur'an ini. Juga pemandangan-pemandangan dan
gambaran-gambaran yang mengesankan seperti pemandangan dan Iukisan yang
mengesankan ini
Al-Qur’an
Bukan Syair dan Bukan Tenung
Di
bawah bayang-bayang pemandangan yang keras dan berkobar-kobar berupa hukuman di
dunia dan di akhirat, kehancuran alam semesta yang menyeluruh, jiwa yang dan
telanjang, serta kegembiraan yang membubung dan penyesalan yang memilukan....,
datanglah ketetapan yang pasti tentang hakikat perkataan (Al-Qur'an) yang
dibawa Rasul yang mulia kepada mereka ini. Tetapi, mereka terima dengan
ragu-ragu, dengan dipermainkan, dan didustakan.
فَلَآ اُقْسِمُ بِمَا تُبْصِرُوْنَۙ ٣٨ وَمَا
لَا تُبْصِرُوْنَۙ ٣٩ اِنَّهٗ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍۙ ٤٠ وَّمَا هُوَ بِقَوْلِ
شَاعِرٍۗ قَلِيْلًا مَّا تُؤْمِنُوْنَۙ ٤١ وَلَا بِقَوْلِ كَاهِنٍۗ قَلِيْلًا مَّا
تَذَكَّرُوْنَۗ ٤٢ تَنْزِيْلٌ مِّنْ رَّبِّ الْعٰلَمِيْنَ ٤٣
"Maka,
Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat dan dengan apa yang tidak kamu lihat.
Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar wahyu Allah (yang diturunkan kepada)
Rasul yang mulia, dan Al-Qur’an itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit
sekali kamu beriman kepadanya. Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit
sekali kamu mengambil pelajaran darinya. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari
Tuhan semesta alam. " (al-Haaqqah: 38-43)
Masalah
ini sebetulnya tidak memerlukan sumpah, karena sudah demikian jelas, mantap,
dan realistis. Tidak memerlukan sumpah karena dia adalah benar, bersumber dari yang
Mahabenar, bukan syair seorang pujangga, bukan tenung seorang tukang tenung,
dan bukan pula hasil kebohongan seorang pembohong. Tidak! Tidak begitu! Maka,
dia sama sekali tidak memerlukan penguatan dengan sumpah.
“Maka,
Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat dan dengan apa yang tidak kamu lihat.
" (al-Haaqqah: 38-39)
Dengan
keagungan dan kebesaran ini, dan dengan keagungan perkara gaib yang
tersembunyi, di samping yang tampak dan tersaksikan... Alam wujud itu sendiri
jauh lebih besar dari apa yang dapat dilihat manusia, bahkan lebih besar dari
apa yang tidak mereka Iihat. Bagian alam yang dapat mereka Iihat dan mereka
capai itu hanyalah ujung-ujung kecil yang terbatas, yang mereka perlukan untuk
memakmurkan dan mengelola bumi ini. Sedangkan, bumi itu sendiri secara
keseluruhan tidak lain hanyalah sebutir debu yang hampir tak terlihat dan tak
terasakan di dalam alam yang besar. Manusia tidak mampu melampaui apa yang
diizinkan untuk mereka Iihat dan mereka capai dari kerajaan yang terpampang
ini. Juga urusan-urusannya, rahasia-rahasianya, dan undang-undangnya yang
dibuat untuknya oleh Sang Pencipta alam semesta.
"Maka,
Aku bersumpah dengan apa yang kamu Iihat dan dengan apa yang tidak kamu lihat."
Isyarat
semacam ini akan membukakan hati dan menyadarkan pikiran bahwa di sana (di
balik jangkauan mata memandang, dan di balik batas-batas penglihatan manusia)
terdapat segi-segi dan alam-alam serta rahasia-rahasia lain yang tidak dapat
dilihat dan dijangkau oleh manusia. Dengan pengerfian seperti ini, maka menjadi
luaslah cakrawala pandang manusia terhadap alam dan hakikatnya. Sehingga,
mereka tidak hidup dengan terpenjara oleh apa yang terlihat oleh kedua matanya
dan tidak tertawan oleh pengetahuannya yang terbatas.
Alam
itu lebih luas dan hakikatnya lebih besar daripada persiapan dan perbekalan
manusia dengan kemampuannya yang terbatas sesuai dengan tugasnya di alam ini.
Dan, tugasnya di alam dunia adalah menjadi khalifah atau pengelola di bumi
ini.... Akan tetapi, ia memiliki kemampuan untuk menjangkau sasaran dan unik
yang lebih besar dan lebih tinggi pada saat ia meyakini bahwa pandangan mata
dan pengetahuan indranya terbatas. Sedangkan, di balik apa yang dapat dicapai
mata dan pengetahuannya ... terdapat alam-alam dan hakikat-hakikat yang lebih
besar dari apa yang dapat dicapainya. Pada waktu itu ia dapat mengungguli dan
melebihi dirinya sendiri. Juga berhubungan dengan sumber-sumber pengetahuan
yang menyeluruh yang melimpah pada hatinya dengan ilmu dan cahaya serta
hubungan langsung dengan apa yang ada di balik tabir penutup ini!
Sesungguhnya
orang-orang yang mengurung jiwanya di dalam batas-batas yang dapat dilihat oleh
mata dan dicapai pikirannya dengan perangkat yang dimudahkan untuknya, adalah
orang-orang miskin yang terpenjara oleh perasaannya dan pikirannya yang
terbatas. Juga terkepung di dalam alam yang sempit padahal alam ini luas, dan
kecil ketika dibandingkan dengan kerajaan yang besar itu.
Dalam
masa yang berbeda-beda dari sejarah manusia, banyak atau sedikit orang yang
memenjarakan jiwanya dengan tangannya dalam penjara perasaan yang terbatas, dan
pada apa yang tampak di depan mata. Mereka menutup jendela-jendela makrifah dan
cahaya bagi jiwanya, dan menutup hubungan dengan Allah Yang Mahabesar dan
Mahabenar Iewat iman dan perasaan. Mereka berusaha hendak menutup
jendela-jendela ini buat orang-orang lain sesudah mereka menutupnya dengan
tangan mereka buat diri mereka sendiri..
Sekali waktu dengan nama jahiliah, dan sekali tempo dengan nama
sekularisme. Keduanya adalah sama-sama merupakan penjara besar, penderitaan yang
pahit, dan keterputusan dari sumber-sumber makrifah dan cahaya.
Ilmu
di dalam Al-Qur'an terakhir ini terbebas dari terali besi yang disepuh dengan
kebodohan dan ketertipuan seputar dirinya selama dua abad yang lalu. la
terbebas dari terali itu dan berhubungan dengan cahaya melalui percobaan dan
pengalarnannya setelah manusia sadar dari mabuk ketertipuan dan terlepas dari
tawanan gereja yang lalim di Eropa. Ilmu
memperkenalkan batas-batasnya Juga telah berpengalaman bahwa
perangkat-perangkatnya yang terbatas membawanya kepada sesuatu yang tidak
terbatas di alam ini dan di dalam hakikatnyayang tersembunyi. Dan, kembalilah
"Ilmu Mengajak kepada Keimanan " dengan sikap tawadhu yang sejak awal
memberi kelapangan, yah nikmat kelapangan! Maka, tidaklah manusia memenjarakan
jiwanya di belakang terali kebendaan yang penuh kekeliruan ini melainkan dia
pasti mengalami kesempitan.
Kita
melihat ilmuwan semacam Alexis Karel, seorang dokter spesialis di dalam
penelitiannya mengenai masalah sel dan pemindahan darah, sibuk dengan teori dan
praktik kedokteran, serta mengajar di sekolah-sekolah kedokteran. Ia adalah peraih
hadiah Nobel pada tahun 1912, dan direktur Lembaga Kajian Kemanusiaan di
Prancis di tengah-tengah berkecamuknya perang dunia kedua. Dia bemendapat
"bahwa alam yang luas membentang ini penuh dengan pikiran-pikiran aktif
yang bukan pikiran kita, dan akal manusia berjalan di antara jalan-jalan padang
pasir yang ada di sekitarnya apabila semua yang dibuat pegangan menunjukkannya.
Sedangkan, shalat termasuk sarana perhubungan dengan akal yang ada di
sekeliling kita, dan dengan akal abadi yang berkuasa mengatur alam semesta,
mengenai sesuatu yang tampak oleh kita dan sesuatu yang tersembunyi dari kita dalam
lipatan kegaiban. "
Ia
berkata, "Merasakan kesucian akal yang Iain, yang merupakan aktivitas
ruhani yang kuat, memiliki nuansa khusus dalam kehidupan. Karena, dialah yang
menjadikan kita selalu berhubungan dengan cakrawala kegaiban yang besar dari
alam ruh. "
Kita
lihat dokter Iain seperti Des Neway yang sibuk membahas anatomi dan ilmu alam,
dan bekerjasama dengan Prof. Cory dan kawan-kawannya Ia diminta oleh Iembaga
Pendidikan Rockfeller untuk melanjutkan penelitian bersama anggota-anggotanya
dalam bidang-bidang spesialis dan pengobatan luka-luka. Dia berkata,
"Banyak
cendekiawan dan orang-orang yang memiliki niat baik yang memikirkan bahwa
mereka tidak dapat beriman kepada Allah karena mereka tidak dapat
mengetahuinya, padahal orang terpercaya yang hatinya memendam keinginan ilmiah
tidak harus menggambarkan wujud Allah melainkan seperti keharusan seorang ahli
ilmu pengetahuan alam menggambarkan listrik. Karena, penggambaran mereka
terhadap kedua hal ini adalah sesuatu yang tidak akan terpenuhi dan tidak
mungkin tepat. Dan, listrik itu sendiri tidak dapat dibayangkan dalam wujud
kebendaan, namun ia sangat dipercaya adanya karena bekas-bekasnya di dalam
memotong kayu." (Aqaaidul Mufakkirin lìl Qarnil Isyyrin)
Kita
Iihat seorang ahli ilmu alam seperti Sir Artur Thomson, pengarang dari
Skotlandia yang terkenal, berkata,
"Kita berada pada zaman di mana bumi yang keras terasa tipis, dan ether
kehilangan wujud materialnya. Maka, ia merupakan masa tersingkat kelayakannya
untuk berlebih-lebihan di dalam melakukan pentakwilan yang bersifat
material."
Di
dalam kumpulan karangan yang berjudul Ilmu Pengetahuan dan Agama, dia berkata,
"Sekarang, akal orang yang beragama tidak boleh putus asa, karena seorang
ahli ilmu alam tidak bisa Iepas dari
alam kepada Pernilik alam ini, sebab arahnya bukan ini. Kadang-kadang
kesimpulannya Iebih besar dari pada premisnya, ketika para ilmuwan menarik
kesimpulan dari alam ini kepada sesuatu yang di atas alam. Hanya saja kita
patut bergembira karena para pakar ilmu alam telah memudahkan para peminat ilmu
agama untuk bernapas lega dalam udara ilmu pengetahuan, padahal yang demikian
itu tidak mudah dilakukan pada masa-masa nenek moyang kita dahulu...
Kalau
bukan karena kerja para pakar ilmu alam yang membahas tentang Tuhan
(Allah)-sebagai mana keketapan Mr. Landown Daviz di dalam bukunya Keunikan
Manusia dan Dunianya—maka dengan melihat besarnya peranan ilmu pengetahuan,
kita dapat menetapkan bahwa manusia dapat terbimbing untuk berpikir tentang
adanya Allah dengan pikiran yang jitu dan Iuhur. Namun, kita tidak dapat
melampaui makna harfiah ketika kita mengatakan bahwa ilmu pengetahuan telah
menciptakan langit baru dan bumi baru bagi manusia, dan dari sana dia
mendorongnya untuk menggunakan akalnya secara maksimal. Dengan demikian, dalam
banyak kesempatan, tidaklah dapat didapati keselamatan kecuali bila manusia
melangkah sesuai dengan pemikiran yang benar serta dengan keyakinan dan
kemantapan kepada Allah."
Kita
Iihat seorang ilmuwan seperti Crazy Morison, ketua Iembaga keilmuan di New York
dan mantan anggota Senat di Amerika Serikat, berkata di dalam bukunya Manusia
tidak Hidup Sendirian, "Sesungguhnya kita praktis berdekatan dengan dunia
misteri yang besar, karena kita mengetahui bahwa seluruh materi ditinjau secara
ilmiah hanyalah lambang kesatuan alam yang ia berada dalam unsur listriknya.
Akan tetapi, tidak diragukan Iagi bahwa tidak ada unsur kebetulan di dalam penciptaan
alam ini, karena alam yang besar ini tunduk kepada undang-undang.
Sesungguhnya
perkembangan makhluk hidup yang bernama manusia kepada tingkatan sebagai
makhluk yang berpikir dan merasakan keberadaan dirinya, merupakan langkah yang
Iebih besar dari pada perkembangan materialnya, tetapi di bawah tujuan
penciptaan.
Kalau
dilihat dari realitas tujuan, maka manusia dengan sifat-sifatnya ini boleh jadi
hanya merupakan alat. Akan tetapi, siapakah yang mempergunakan alat ini? Karena
tanpa memiliki peranan, maka dia tidak ada gunanya. Sedangkan, flrnu
pengetahuan tidak mempersoalkan siapa yang mengendalikan kehendaknya, demikian
pula ia tidak menganggap manusia sebagai materi
Dengan
kemajuan ini, kita mendapakan informasi bahwa kemajuan telah mencapai tingkatan
yang cukup meyakinkan bahwaAIlah telah memberi secercah cahaya kepada manusia
Demikianlah
ilmu mulai keluar dari penjara materialisme dan temboknya dengan
tangga-tangganya sendiri. Sehingga, dia dapat berhubungan dengan dunia bebas
yang diisyaratkan oleh AIQur'an seperti dalam ayat yang mulia ini, "Aku
bersumpah dengan apa yang kamu lihat dan dengan apa yang tidak kamu Iihat.
"Dan, ayat yang semacam ini banyak sekali jumlahnya. Hal ini terjadi
meskipun di antara kita terdapat orang-orang yang senantiasa menutupkan kedua tangannya
pada jendela-jendela cahaya atas dirinya dan orang-orang di sekitarnya atas
nama ilmu pengetahuan yang notabene ketinggalan pemikirannya dalam bidang ilmu,
ketinggalan ruhaniahnya dalam bidang agama, ketinggalan perasaannya dalam
kebebasan mutlak untuk mengetahui kebenaran, dan ketertinggalan kemanusiaan
dari sesuatu yang layak bagi keberadaan manusia yang mulia.
Oleh
karena itu, Aku (Allah) bersumpah dengan apa yang kamu lihat dan dengan apa
yang tidak kamu Iihat...
"Sesungguhnya
Al-Qur’an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul
yang mulia, dan Al-Qur’an itu bukanlahperkataan seorang penyair. Sedikit sekali
kamu beriman kepadanya. Dan, bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali
kamu mengambil pelajaran darinya. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tùhan
semesta alam. " (al-Haaqqah: 40-43)
Di
antara kebohongan yang dibuat-buat kaum musyrikin terhadap Al-Qur'an dan
terhadap RasuIullah adalah perkataan mereka bahwa Al-Qur'an itu adalah
perkataan seorang penyair dan perkataan seorang dukun (tukang tenung).
Perkataan mereka itu karena terpengaruh oleh kesamaran yang dangkal dengan
alasan bahwa perkataan (Al-Qur'an) ini karakternya di atas karakter perkataan
manusia. Sedangkan, penyair-menurut anggapan mereka— mendapatkan bisikan dari
jin yang membisikkan perkataan yang tinggi nilainya, dan tukang tenung juga
dapat berhubungan dengan jin. Maka, mereka itulah yang mengembangkannya dengan
ilmu tentang sesuatu di balik kenyataan. Dan, syubhat (kesamaran) ini akan
segera gugur kalau mereka mau berpikir sedikit saja tentang karakter Al-Qur'an
dan risalah, serta karakter syair atau pedukunan
Memang
syair itu kadang-kadang berirama musikal, indah khayalannya, bagus pelukisannya
dan bayang-bayangnya. Tetapi, dia sama sekali tidak bercampur dan tidak serupa
dengan Al-Qur’an, karena di antara keduanya terdapat perbedaan yang prinsipil
dan pemisahan yang jelas. Karena AI-Qur'an menetapkan manhaj yang lengkap bagi
kehidupan yang berpijak pada kebenaran yang mantap dan pandangan yang integral,
serta bersumber dari pandangan yang benar terhadap wujud Ilahi, alam semesta,
dan kehidupan. Sedangkan, syair hanyalah refleksi dari perasaan selintas yang
sangat jarang didasarkan pandangan yang integral terhadap kehidupan secara
urnum baik dalam keadaan ridha mau pun terpaksa, bebas maupun terbelenggu, suka
maupun benci, dan senantiasa terpengaruh oleh perubahan situasi dan kondisi.
Sedangkan,
tashawwur (pandangan) yang mantap yang dibawa oleh Al-Qur’an memang benar-benar
ditumbuhkan oleh Al-Qur'an secara mendasar, dalam globalitas dan
parsial-parsialnya, di samping sudah jelas semuanya bersumber dari Ilahi. Maka,
semua yang ada dalam tashawwur ini menunjukkan bahwa ia bukan dari perbuatan
manusia, karena bukan watak manusia untuk men ciptakan tashawwur alami yang
sempurna seperti tashawwur Al-Qur'an ini ... yang tidak ada yang mendahului dan
tidak ada pula menyusulinya.
Semua
tashawwur yang diciptakan oleh tabiat manusia terhadap alam semesta dan
terhadap kekuatan yang menimbulkannya dan mengatur undang-undangnya yang
dibeberkan dan dicatat dalam filsafat, di dalam syair-syair dan puisi-puisi,
dan lain-lain aliran berpikir apabila dibandingkan dengan tashawwur Qur'ani
akan tampak jelas bahwa tashawwur ini berbeda sumbernya dengan tashawwur
Qur'ani. Juga akan tampak bahwa Al-Qur’an memiliki tabiat tersendiri yang
membedakannya dari semua tashawwur buatan manusia.
Demikian
pula dengan perdukunan dan pertenungan beserta sumbernya. Maka, sejarah tidak
mengenal, baik sebelum maupun sesudah diturunkannya Al-Qur’an, seorang tukang
tenung atau dukun dengan manhaj yang lengkap dan mantap seperti manhaj yang
dibawa oleh Al-Qur'an. Semua yang dinukil dari para tukang tenung hanyalah kata-kata
bersajak, atau kebijaksanaan yang dibuatnya sendiri, atau isyarat-isyarat
semata-mata.
Di
sana terdapat unsur-unsur yang bukan menjadi bidang garap manusia lagi, dan
kadang-kadang kami berhenti pada sebagiannya di dalam Tafsir Azh-ZhilaIini.
Maka, baik sebelum maupun sesudah masa turunnya Al-Qur'an tidak ada seorang pun
yang dapat membuat ungkapan seperti Al-Qur'an ini tentang ilmu yang lengkap,
cermat, dan halus, seperti yang dilukiskan oleh Al-Qur'an.
“Dan
pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya
kecuali Dia sendiri. Dia mengetahui apa yang di daratan dan di Iautan, dan
tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula).
Tidakjatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah
atau yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfiłzh). ”
(al-An'aam: 59)
”Dia
mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya serta
apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan, dia bersama kamu
di mana saja kamu berada. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. ”
(al-Hadiid: 4)
“Tidak
ada seorang wanita pun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan
sepengetahuan-Nya. Dan, sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang
berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan)
dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah
mudah. ” (Faathir: 11)
Demikianlah,
tidak seorang pun manusia sebelum ataupun sesudah Al-Qur’an yang dapat membuat
kalimat seperti ini yang menunjukkan adanya kekuasaan yang mengendalikan dan
mengatur alam semesta.
”Sesunguhnya
Allah menahan langit dan bumi supaya jangan Ienyap. Dan, sungguh jika keduanya
akan lenyap, tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah.."
(Faathir: 41)
Atau,
yang mengarahkan perhatian kepada sumber kehidupan di alam semesta dari
kekuasaan yang mencipta dan segala sesuatu yang meliputi kehidupan yang sesuai
dengan alam yang teratur dan terkendali.
”Sesungguhnya
Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan
yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang
memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?
Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan
(menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang
Maha perkasa lagi Maha Mengetahui. Dialah yang menjadikan bintang-bintang
bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut.
Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada
orang-orang yang mengetahui. Dia-lah yang menciptakan kamu dari seorang diri,
maka (bagimu) ada tempat tetap dan tempat simpanan. Sesungguhnya telah Kami jelaskan
tandatanda kebesaran Kami kepada orang-orang yang mengetahui. Dialah yang
menurunkan air hujan dari langit, lalu kami tumbuhkan dengan air itu segala
macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman
yang menghijau, Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang
banyak, dan dari mayang kurma mengurai tangkai-tangkaiyang menjulai, dan
kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan
yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah, dan
(perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya Pada yang demikian itu ada
tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman. ” (al-An'aam:
95-99)
Perhatian
terhadap alam semesta seperti ini banyak sekali terdapat di dalam Al-Qur’an.
Tidak ada yang menandinginya dalam nuansa pengarahannya terhadap getaran hati
manusia yang mengungkapkan makna-makna seperti yang diungkałkan oleh Al-Qur'an
ini. Yang demikian ini saja rasanya sudah cukup untuk mengetahui sumber Kitab ini...
dengan memejamkan mata terhadap petunjukpetunjuk lain yang menunjukkan
orisinalitas sumber Al-Qur'an maupun hal-hal lain yang menyertainya.
Karena
kesamaran terhadap Al-Qur'an itu sangat lemah dan amat tipis. Sehingga,
seandainya AI-Qur'an tidak diturunkan secara lengkap melainkan hanya beberapa
surah dan ayat saja dengan ciri khas keilahiahannya, maka itu sudah menunjukkan
adanya pancaran sinar yang menunjukkan kepada sumbernya yang tunggal.
Pembesar-pembesar
Quraisy menyadari dan menolak syubhat-syubhat ini dari waktu ke waktu. Tetapi,
program mereka menjadikan bersikap buta dan yang notabene mereka tidak
menggunakan petunjuk Al-Qur'an. Oleh karena itu, mereka lantas mengatakan,
"Al-Qur’an ini hanyalah kebohongan yang besar", sebagaimana
disinyalir olehAl-Qur'anuI Karim sendiri.
Banyak
diceritakan di dalam kitab-kitab sirah (sejarah) tentang aneka macam sikap para
pemimpin Quraisy, ketika mereka menolak dan menghilangkan syubhat (kesamaran)
ini di antara mereka.
Di
antaranya adalah yang diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari al-WaIid
ibnuI-Mughirah, dari an-Nadhr ibnuI-Harits, dan dari Utbah bin Rabi'ah.
Diceritakan dalam riwayat orang pertama (al-Walid ibnul Mughirah) bahwa
sejumlah orang Quraisy berkumpul di rumah al-Walid ibnul-Mughirah, sedang dia
adalah orang yang dituakan di kalangan mereka. Ialu ia mendatangi pekan raya,
kemudian berkata kepada mereka, “Wahai segenap kaum Quraisy! Se sungguhnya
pekan raya ini telah tiba, dan utusan-utusan bangsa Arab akan datang kepadamu,
dan mereka sudah mendengar tentang urusan kawanmu (yakni Nabi Muhammad saw.)
ini. Karena itu, satukanlah pendapatmu, jangan sampai kamu berbeda pendapat
lantas sebagian mendustakan yang lain, dan sebagian menolak pendapat sebagian
yang lain."
Mereka
berkata, "Lantas, bagaimana pendapat Anda sendiri, wahai ayah Abdu Syams?
Katakanlah satu pendapat buat kami dan kami akan mengatakan apa pendapatrnu
itu." Dia menjawab, "Kalian sajalah yang menelorkan pendapat, saya
akan mendengarkan."
Mereka
berkata, "Kita katakan saja bahwa dia itu tukang tenung." Al-Walid
menjawab, “Tidak, demi Allah, dia bukan tukang tenung, karena kita sudah
mengenal tukang-tukang tenung, tetapi apa yang dikatakannya (Al-Qur’an) itu
bukan suara tukang tenung dan bukan pula sajaknya. "
Mereka
berkata, 'Kita katakan saja bahwa dia itu gila. " Al-Walid menjawab,
"Dia tidak gila. Kita sudah mengetahui bagaimana orang gila itu, dan kita
sudah mengenal dia. Dia tidak dicekik setan, tidak dikacaukannya, dan tidak
dibisikinya."
Mereka
berkata, "Kita katakan saja bahwa dia penyair." Al-Walid menjawab,
"Dia bukan penyair, karena kita sudah mengenal syair dengan rajaznya
hazajnya (bunyi dan lagunya) , bacaannya, yang dipendekkan dan yang
dipanjangkan. Karena itu, apa yang dikatakannya itu bukan syair."
Kemudian
mereka berkata, "Kita katakan bahwa dia tukang sihir." Al-Walid
menjawab, "Dia bukan tukang sihir, kita sudah mengetahui tukang-tukang
sihir dan sihir mereka. Apa yang dikatakannya itu bukan tiupan dan buhulan
tukang sihir."
Mereka
berkata, "Kalau begitu, apa yang kita katakan wahai ayah Abdu Syams?"
Al-Walid menjawab, "Demi Allah, sungguh kata-katanya itu manis, batangnya
banyak dahan dan rantingnya, dan cabang-cabangnya banyak buahnya yang ranum.
Tidak ada sesuatu pun yang kalian ucapkan mengenai Al-Qur’an ini melainkan akan
ketahuan bahwa perkataan kalian adalah batil. Oleh karena itu, tampaknya yang
paling mendekati adalah kita katakan saja bahwa dia itu tukang sihir yang
membawa perkataan yang berisi sihir untuk memisahkan antara seseorang dengan
ayahnya, saudaranya, istrinya, dan keluarganya, yang karena itu mereka
bercerai-berai. "
Kemudian
mereka duduk di jalan-jalan yang dilalui manusia (ketika sudah tiba masa pekan
raya) dan tidak ada seorang pun yang melalui mereka melainkan mereka
peringatkan orang itu. Dan, mereka katakan kepadanya tentang perihal Rasulullah
(sebagaimana yang mereka rencanakan).
Diceritakan
dari orang kedua (an-Nadhr ibnul Harits) bahwa an-Nadhr berkata, 'Wahai segenap
orang Quraisy, demi Allah, sesungguhnya telah turun kepadamu sesuatu yang kamu
tidak akan dapat melakukan tipu daya terhadapnya sesudah itu. Dahulu, Muhammad
adalah seorang anak muda di kalangan kamu, yang paling kamu ridhai, yang paling
jujur perkataannya, dan paling dapat dipercaya di antara kamu. Sehingga,
apabila kamu sudah melihat uban di kedua pelipisnya dan dia datang kepadamu
dengan membawa sesuatu, apakah lantas kamu katakan bahwa dia tukang sihir?! Tidak,
demi Allah, dia bukan tukang sihir. Karena kita sudah kenal tukang sihir dan
sudah mengerti tiupan dan buhulannya.
Kamu
katakan dia sebagai tukang tenung?! Tidak, demi AIIah, dia bukan tukang tenung.
Karena, kita sudah mengetahui siapa tukang-tukang tenung itu beserta tindakan
mereka yang kacau-balau, dan kita sudah mendengar sajak-sajak mereka.
Kamu
katakan dia sebagai penyair?! Tidak, demi Allah, dia bukan penyair. Kita sudah
mengenal syair. Kita sudah mendengar jenis-jenisnya, lagunya, dan iramanya.
Dan
kamu katakan dia sebagai orang gila?! Padahal, kita sudah mengetahui apa gila
itu, sedangkan dia tidak dicekik setan, tidak dibisikinya, dan tidak dikacaukan
pikirannya. Wahai segenap kaum Quraisy, perhatikanlah urusanmu, karena demi
Allah, sesungguhnya telah turun kepadamu urusan yang besar."
Kesesuaian
antara perkataan al-Walid dengan perkataan an-Nadhr ini hampir sempurna Mungkin
dia adalah satu-satunya pemuda yang sekali tempo dinisbatkan kepada cerita yang
ini dan sekali tempo dinisbatkan kepada yang itu. Akan tetapi, semua itu tidak
menutup kemungkinan akan kesesuaian dua macam perkataan dari dua orang pembesar
Quraisy dalam dua sikap yang mirip ketika mereka sedang kebingungan dalam
menghadapi Al-Qur' an ini!
Adapun
sikap Utbah, maka sudah diceritakan di muka dalam paparan kami terhadap surah
al-Qalam dalam juz ini... yang sikapnya juga mirip dengan sikap al-Walid dan
an-Nadhr dalam menghadapi Nabi Muhammad saw. dan perkataan (Al-Qur’an) yang
dibawanya.
Maka,
perkataan mereka "tukang sihir" atau 'tukang tenung" hanyalah
tipu daya dan sekali tempo menunjukkan kesyubhatan yang memalukan. Pada hal,
persoalannya sangat jelas dan tidak ada kesamaran lagi sejak pertama kali orang
mau merenungkan dan memikirkannya. Oleh karena itu, tidak perlu bersumpah
dengan apa yang mereka lihat dan apa yang tidak mereka lihat, bahwa Al-Qur' an
adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Rasul yang mulia. la bukan perkataan
seorang penyair, dan bukan pula perkataan tukang tenung... Tetapi, ia hanyalah
wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam.
Ketetapan
bahwa Al-Qur'an adalah perkataan Rasul yang mulia (sebagaimana bunyi ayat itu
sebelum ditambah penjelasan—penj.) bukan berarti bahwa Al-Qur'an itu buatan
beliau. Akan tetapi, yang dimaksudkan di sini adalah bahwa Al-Qur'an itu adalah
perkataan jenis lain, yang tidak diucapkan oleh seorang penyair atau tukang
tenung, melainkan diucapkan oleh Rasul yang diutus oleh Allah, dan membawa
perkataan itu dari sana, dari sumber yang mengutusnya. Dan yang menopang makna
ini adalah perkataan "Rasul” yang berarti orang yang diutus membawanya
dari Sisi Tuhannya, dan bukan perkataan seorang penyair atau tukang tenung dari
dirinya sendiri, dengan bantuan jin atau setan.
Tetapi,
dia adalah seorang Rasul yang mengucapkan perkataan yang dibawanya dari Tuhan
yang mengutusnya. Penetapan ini dikukuhkan lagi dengan kalimat berikutnya,
"Ia
adalah wahyu yang diturunkan dari Tùhan semesta alam. " (al-Haaqqah: 43)
Komentar
pada ujung-ujung ayat, "Sedikit sekali kamu beriman kepadanya" dan
"Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran darinya "... menunjukkan
bahwa mereka tidak beriman dan tidak menyadari, sesuai dengan ungkapan bahasa
yang berlaku. Hadits yang menyifati Rasulullah sebagai " orang yang
sedikit sekali perbuatan sia-sianya berarti beliau sama sekali tidak pernah
berbuat sia-sia.
Jadi,
ayat tersebut meniadakan iman dan kesadaran mereka sama sekali. Sebab, tidak
mungkin seorang mukmin mengatakan tentang Rasulullah sebagai "seorang
penyair". Mustahil orang yang sadar dan mau merenungkan mengatakan beliau
sebagai "tukang tenung". Sebab, kedua perkataan itu adalah kekufuran
dan kelalaian yang terefleksikan dalam perkataan yang sangat mungkar ini!
Ancaman
Bagi yang Memalsukan Al-Qur-an
Pada
bagian akhir datanglah ancaman yang menakutkan bagi orangyang berdusta atas
nama Allah dalam urusan akidah, urusan serius yang tidak ada gurauan dan
permainan padanya. Ayat ini datang untuk menetapkan satu-satunya kemungkinan
yang tidak ada kemungkinan lain lagi. Yaitu, kebenaran dan kejujuran Rasulullah
di dalam menyampaikan wahyu Allah kepada mereka, dengan bukti bahwa Allah tidak
menyiksanya dengan siksaan yang pedih, sebagaimana yang akan ditimpakan
kepadanya seandainya beliau menyimpang sedikit saja dari ama-nat menyampaikan
wahyu ini.
وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْاَقَاوِيْلِۙ
٤٤ لَاَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِيْنِۙ ٤٥ ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِيْنَۖ
٤٦ فَمَا مِنْكُمْ مِّنْ اَحَدٍ عَنْهُ حٰجِزِيْنَۙ ٤٧
“Seandainya
dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya
benar-benar Kami pegang diapada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami
potong urat tali jantungnya. Maka, sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu
yang dapat menghalangi (Kami) dari pemotongan urat nadi itu. "
(al-Haaqqah: 44-47)
Faedah
ucapan ini dari segi penetapan ini adalah bahwa Nabi Muhammad saw. memang benar
dan jujur di dalam menyampaikan wahyu ini. Sebab, kalau beliau berdusta sedikit
saja dengan membuat kebohongan terhadap wahyu yang diturunkan kepada beliau,
niscaya Allah menindak beliau dengan tindakan sebagaimana disebutkan dalam
ayat-ayat itu. Karena hukuman ini tidak terjadi, maka nyatalah bahwa beliau
jujur dalam menyampaikan wahyu
Inilah
keputusan yang ditelurkan dari segi penetapan... Akan tetapi, pemandangan yang
bergerak di dalam penetapan Al-Qur'an ini merupakan sesuatu yang Iain lagi,
yang memberikan bayang-bayang yang jauh di belakang makna penetapan ini.
Bayang-bayang yang menakutkan dan mengerikan, sebagaimana di belakangnya juga
terdapat gerakan, kehidupan, pengarahan, isyarat, dan kesan-kesan.
Di sana terdapat gerakan yang berupa
penangkapan tangan kanannya dan pemotongan urat nadinya. Suatu gerakan yang
menakutkan dan mengerikan. Tetapi, pada waktu yang sama merupakan gerakan yang
hidup, dan di belakangnya mengisyaratkan adanya kekuasaan Allah yang agung dan
ketidakberdayaan makhluk manusia yang lemah.
Ayat
ini juga mengisyaratkan keseriusan urusan ini yang tidak mengenal toleransi dan
kompromi terhadap seorang pun, siapa pun orangnya, meski pun dia Nabi Muhammad
saw., orang yang mulia di sisi Allah dan sangat dicintai-Nya. Di balik semua
itu terkandung nuansa ketakutan, kengerian, dan ketundukan.
Urgensi
Al-Qur’an
Akhirnya,
datanglah bagian penutup surah yang menetapkan hakikat urusan ini beserta
karakternya yang kuat.
وَاِنَّهٗ لَتَذْكِرَةٌ لِّلْمُتَّقِيْنَ
٤٨ وَاِنَّا لَنَعْلَمُ اَنَّ مِنْكُمْ مُّكَذِّبِيْنَۗ ٤٩ وَاِنَّهٗ لَحَسْرَةٌ عَلَى
الْكٰفِرِيْنَۚ ٥٠ وَاِنَّهٗ لَحَقُّ الْيَقِيْنِ ٥١
"Sesunguhnya
Al-Qur’an itu benar-benar suatu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.
Sesungguhnya Kami benar-benar mengetahui bahwa sesungguhnya di antara kamu ada
orang yang mendustakan(nya). Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar menjadi penyesalan
bagi orang-orang kafir (di akhirat). Dan, sesungguhnya Al-Qur’an itu
benar-benar kebenaran yang diyakini. "
(al-Haaqqah: 48-51)
Di
sini Al-Qur' an mengingatkan hati yang percaya kepadanya, lantas ia menjadi
sadar. Sesungguhnya hakikat yang dibawanya terkandung di dalamnya. Maka,
Al-Qur'an menyebarkannya di dalamnya dan mengingatkan hati itu dengannya,
lantas hati itu menjadi ingat dan sadar serta mengambil pelajaran darinya.
Adapun orang-orang yang tidak bertakwa, maka hati mereka mati, Ialai, tidak
terbuka, tidak mau mengambil pelajaran,
dan tidak memanfaatkan kitab ini sedikit pun. Sedangkan, orang-orang yang
bertakwa menemukan di dalam kitab ini daya hidup, cahaya, pengetahuan, dan
peringatan yang tidak dijumpai oleh orang-orang yang Ialai.
"Sesungguhnya
Kami benar-benar mengetahui bahwa di antara kamu ada orang yang
mendustakan(nya). " (al-Haaqqah: 49)
Akan
tetapi, hal ini tidak mempengaruhi hakikat persoalan ini, dan tidak mengubah
hakikat tersebut. Karena, urusanmu terlalu enteng untuk mempengaruhi
hakikat-hakikat perkara.
“Sesungguhnya
Al-Qur’an itu benar-benar menjadi penyesalan bagi orang-orang kafir (di akhirat).
" (al-Haaqqah: 50)
Karena,
Al-Qur’an mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan menjatuhkan derajat orang-orang
yang mendustakannya. Juga karena Al-Qur'an dengan optimal menetapkan kebenaran
dan meIenyapkan kebatilan yang dipegang oleh orang-orang kafir. Selanjutnya,
Al-Qur'an menjadi hujah Allah untuk mempersalahkan orang-orang kafir pada hari
akhir. Mereka disiksa karenanya, dan menyesal karena ditimpa azab yang pedih
disebabkan kekafirannya terhadap Al-Qur'an itu. Karena itu, Al-Qur’an menjadi
penyesalan bagi orang-orang kafir di dunia dan di akhirat.
"Dan,
sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar kebenaran yang diyakini. "
(al-Haaqqah: 51)
Di
samping itu, Al-Qursan mendustakan orang-orang yang mendustakannya. Al-Qur’an
adalah kebenaran yang diyakini. Dia bukan semata-mata keyakinan, tetapi dia
adalah kebenaran di dalam keyakinan ini.
Ini
merupakan ungkapan khusus yang mempunyai makna ganda dan pengukuhan ganda.
AIQur’an ini sungguh-sungguh dalam kebenarannya, dan sungguh-sungguh diyakini
secara mendalam. Sesungguhnya dia benar-benar menyingkap kebenaran yang murni
pada semua ayatnya, yang hal ini mengisyaratkan bahwa sumbernya adalah Dia Yang
Mahabenar, kebenaran pertama dan mendasar.
Maka,
inilah dia tabiat urusan ini dan hakikatnya yang meyakinkan. la bukan perkataan
seorang penyair, bukan perkataan tukang tenung, dan bukan pula kebohongan yang
diada-adakan atas nama Allah. Tetapi, ia diturunkan dari Tuhan semesta alam. la
peringatan bagi orang-orang yang bertakwa, dan ia adalah kebenaran yang
diyakini.
Di
sini, datanglah pengajaran tertinggi kepada Rasul yang mulia, pada waktu dan
kondisi yang sangat tepat.
فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيْمِ ࣖ
٥٢
"Maka,
bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhan mu Yang Mahabesar. "
(al-Haaqqah: 52)
Tasbih
yang mengandung penyucian dan pujian, pengakuan dan pernyataan, ubudiah dan
kekhusyuan... adalah perasaan yang meresap di dalam hati sesudah penetapan
terakhir ini. Juga sesudah pemaparan yang panjang mengenai kekuasaan Allah Yang
Mahaagung, dan keagungan Tuhan Yang Mahamulia....
No comments:
Post a Comment