Iman kepada yang gaib adalah dasar keyakinan agama-agama samawi secara umum, dan aqidah Islam secara khusus. Sebagaimana juga hal itu bukan monopoli aqidah islamiyyah tetapi juga merupakan hal yang sama-sama ada di seluruh keyakinan agama.
Dan semua orang yang beriman kepada yang gaib selalu
berada di barisan terdepan perjalanan keimanan di muka bumi. Dan Allah dalam Al-Qur’an
telah memuji mereka dan menyanjung keimanan mereka bahwa mereka “beriman kepada
yang gaib” (Al-Baqarah: 3).
Sekat-sekat material tidak menghalangi mereka untuk
menjalin hubungan antara ruh-ruh mereka dengan Kekuatan Terbesar yang merupakan
asal mereka dan asal seluruh alam ini. Sekat-sekat material juga tidak menjadi
penghalang antara ruh-ruh mereka dengan semua hakikat, kekuatan, energi,
makhluk, dan semua eksistensi yang ada di balik materi.
Iman kepada yang gaib merupakan batasan yang harus
dilewati manusia untuk meningkatkan diri dari martabat hewan yang tidak dapat
menangkap selain apa yang ditangkap oleh panca indera menuju martabat manusia yang
mengetahui bahwa kosmos sesungguhnya lebih besar dan lebih luas dari sekedar
wilayah kecil yang terbatas yang dapat ditangkap oleh panca indera –atau
alat-alat yang merupakan perpanjangan dari panca indera.
Dan hal itu adalah peningkatan yang sangat jauh
pengaruhnya dalam pandangan manusia terhadap hakikat alam seluruhnya, hakikat
keberadaan dirinya, serta hakikat kekuatan-kekuatan yang ada dalam kosmos ini.
Juga berpengaruh pada penghayatan manusia terhadap kekuasaan dan pengendalian
alam ini dan yang di balik kosmos ini. Sebagaimana aqidah ini juga berpengaruh
sangat jauh dalam kehidupannya di atas bumi ini.
Tidaklah sama antara orang yang hidup dalam lingkup
materi yang kerdil dengan orang yang hidup dalam alam yang luas yang ditangkap
oleh kecerdasannya dan mata hatinya, di mana dia menerima pancaran dan
isyaratnya dengan jiwa dan nuraninya. Dia merasakan bahwa batasan tempat dan
waktunya lebih luas dari seluruh apa yang dicerna oleh alam sadarnya dengan
umurnya yang sempit dan terbatas. Dia juga menyadari bahwa di balik alam ini,
baik terlihat ataupun tidak, ada sebuah hakikat yang lebih besar dari dunia kosmos.
Hakikat itulah yang merupakan cikal bakal alam ini. Hakikat Zat Ilahiyah yang
tidak ditangkap oleh pengelihatan dan tidak dikuasai oleh akal.
Di kala itulah potensi pemikiran yang terbatas dapat
terpelihara dari kekacauan dan kesemerawutan dikarenakan oleh sesuatu yang
memang akal tidak diciptakan untuknya, tidak diberikan kemampuan untuk
menguasainya, dan juga tidak bermanfaat untuk di'belanjakan' di situ.
Sesungguhnya potensi pemikiran yang diberikan untuk
manusia, diberikan untuk berperan sebagai khalifah di bumi ini. Sehingga akal
tersebut diamanahi untuk mengurus kehidupan nyata yang dekat ini. Akal dapat
membahasnya, memperdalam dan menggalinya, lalu bekerja dan menghasilkan,
kemudian dia berhubungan dengan kehidupan ini dan memperindahnya. Semua itu
bersandar pada energi ruhiyah yang berhubungan langsung dengan seluruh alam dan
Sang Pencipta alam. Dan juga dengan membiarkan bagian hal-hal yang tidak diketahui
di koridor gaib yang tidak dikuasai oleh akal.
Sedangkan percobaan untuk menangkap dunia di belakang
realita dengan akal yang terbatas kemampuannya dengan batas-batas bumi dan
kehidupannya ini, tanpa dukungan ruh yang terilhami dan mata hati yang terbuka,
dan dengan mengenyampingkan sisi kegaiban yang tak terjangkau oleh akal
pikiran. Maka percobaan ini akan gagal pada awalnya dan percuma pada akhirnya.
Ketika akal manusia menerima aksioma logika pertama,
yaitu bahwa sesuatu yang terbatas tidak akan menangkap yang mutlak (tak
terbatas), maka –untuk menghormati logikanya sendiri- dia harus menerima bahwa
penguasaannya terhadap yang mutlak adalah mustahil, dan bahwa ketidakmampuannya
menangkap yang tidak diketahui tidaklah menafikan keberadaan hal itu di dunia gaib
yang tersembunyi. Dan hendaknya dia serahkan yang gaib itu kepada energi lain
selain energi akal, dan menerima ilmu tentang hal itu dari Yang Maha Mengetahui
dan Maha Ahli yang menguasai yang lahir dan batin, yang gaib dan nampak.
Dan penghormatan terhadap logika akal dalam masalah
ini adalah ciri mukmin dan sifat pertama dari sifat-sifat muttaqin.
Iman kepada yang gaib merupakan persimpangan jalan
dalam meningkatkan manusia dari dunia ternak. Akan tetapi kelompok meterialis
pada zaman ini, seperti juga materialis setiap zaman, menginginkan manusia
kembali mundur….ke dunia hewan yang tidak mengenal selain yang ditangkap oleh
panca indera. Dan mereka menamakannya “kemajuan”. Padahal itu adalah kemunduran
di mana kaum mukminin telah dipelihara oleh Allah. Sehingga Allah menjadikan
sifat kaum mukminin yang khas adalah sifat “Orang-orang yang beriman kepada
yang gaib” (Al-Baqarah: 3). Segala
puji bagi Allah atas nikmat-Nya, dan kemunduran bagi mereka yang terjungkir dan
terkotori. (lihat Fi Zhilalil Qur’an: 1/39-40).
Alam
Gaib
Telah kami
singgung di unit ini mengenai kedudukan Iman kepada yang Gaib dalam bangunan
aqidah agama secara umum. Dan akan kami tambahkan penjelasan di sini.
Nash-nash
al-Qur’an mengaitkan pembicaraan tentang alam gaib dengan alam nyata dalam
banyak tempat. Di antaranya firman Allah, “Dialah Allah yang tiada tuhan
selain-Nya, Yang Mengetahui dunia gaib dan nyata, Dialah Yang Maha Pengasih dan
Maha Penyayang” (al-Hasyr: 22). Juga firman Allah, “Yang Maha Mengetahui
yang gaib dan nyata.” (at-Taghabun: 18).
Dan firman
Allah, “Itulah Yang Maha Mengetahui yang gaib dan nyata Yang Maha Perkasa
dan Maha Penyayang.” (as-Sajdah: 6).
"Barangkali
anda memperhatikan seperti saya bahwa penggandengan antara alam gaib dan alam
nyata memiliki makna penting. Jika alam nyata adalah hakikat yang tampak di
depan pandangan, maka sesungguhnya alam gaib dalah hakikat terbesar yang tidak
menjadi kecil hanya karena dia tak terlihat. Dan bukti dari hal itu adalah
bahwa ayat-ayat Qur’an mendahulukan alam gaib sebelum alam nyata. Hikmahnya,
bahwa hal-hal yang gaib tidak terhingga luas dan batasnya, sedangkan hal-hal
yang mungkin kita capai dengan melihat dan mengenalnya adalah hal-hal yang
sederhana.” (Habannakah, Abdrrahman, al-Aqidah al-Islamiyyah Ususuha, 62).
Dan karena
Iman kepada yang gaib begitu pentingnya, maka perlu bagi kita untuk mengenal
lebih jauh tentang gaib, jenis-jenisnya, dalil-dalilnya, dan cara-cara
mengimaninya dalam pembahasan berikut.
Makna ”al-Ghaib”
Ada
berbagai pendapat ulama mengenai arti kata al-Ghaib. Akan kami tampilkan
beberapa dari mereka dalam masalah ini:
Ibnu
Manzhur mendefinisikan bahwa al-Ghaib adalah, “Segala hal yang hadir di
hadapanmu”. Dan beliau mengutip definisi ini dari Ibnul A’rabi bahwa al-Ghaib
adalah “hal yang tidak hadir di pandangan meskipun didapatkan di hati.” (Ibnu Manzhur,
Lisanul ‘Arab, materi ghaib)
Ibnu
Taimiyah mendefinisikan bahwa al-Ghaib adalah “hal yang tidak hadir
dalam penyaksian orang.” (Ibnu Taimiyah, Dar’u Ta’arudhil ‘Aql wan Naql, 5/172).
Ibnu
Tahanuwi mendefinisikan bahwa al-Ghaib adalah “hal yang tidak tampak dan
tidak ditangkap indera serta tidak dihasilkan oleh akal secara spontan.”
(Salamah Bassam, al-Iman bil Gaib, hal 10).
Dan masih
banyak definisi-definisi lain.
Dengan
memperhatikan beberapa definisi tersebut dapat kita tampilkan beberapa catatan
berikut:
a.
Semua definisi tersebut bertemu dalam hal, bahwa al-Ghaib
adalah yang absen dari manusia, tetapi mereka berselisih dalam hal, apakah yang
gaib itu yang absen dari pandangan atau absen dari indera secara umum.
b.
At-Tahanuwi berpendapat bahwa al-Ghaib
tidak dihasilkan dengan akal secara spontan. Pendapat ini jikalau tepat dalam
banyak hal seperti malaikat, adzab kubur, as-Shirath, timbangan amal,
akan tetapi tidak tepat pada masalah berkenaan dengan Allah. Iman kepada Allah
adalah hal fitri dihasilkan di hati seperti disebut oleh Ibnul A’rabi dalam
definisinya. Akal manusia merasakan keberadaan Allah secara spontan jika
dibiarkan tanpa tekanan hawa nafsu dan syahwat.
c.
Ketika kita katakan bahwa al-Ghaib tidak
dapat ditangkap indera bukan berarti bahwa al-Ghaib tidak mungkin
ditangkap sama sekali. Karena itu Ibnu Taimiyah sangat menentang mereka yang
mencampr aduk masalah ini. Beliau berkata, “Al-Ghaib yang dikabarkan
oleh para rasul secara umum dapat ditangkap dan bukan tidak mungkin ditangkap,
tetapi penyaksiannya dan penangkapannya baru mungkin setelah kematian dan hari
akhir. Di sana ada kehidupan dan pelengkap-pelengkapnya berupa pengideraan dan amal
lebih kuat dan sempurna. Karena negeri akhirat adalah kehidupan yang
sebenarnya. Para rasul tidak membedakan antara gaib dan nyata bahwa yang
pertama hanya ditangkap akal dan yang kedua ditangkap indera sebagaimana
persangkaan para ahli failsafat dan golongan Jahmiyah serta orang-orang yang
mengikuti mereka dalam hal itu. Sedangkan para rasul memberikan perbedaan bahwa
salah satunya terlihat sekarang dan yang lain gaib tidak kita saksikan
sekarang. Karena itu Allah namakan gaib. Allah berfirman, “Orang-orang yang
beriman kepada yang gaib” (al-Baqarah: 3).(Ibnu Taimiyah, Dar’u Ta’arudhil
‘Aqli wan Naql, 9/14-15).
d.
Jika al-Ghaib itu adalah yang absen dari
indera, maka di antara jenis-jenis gaib ada yang pada masa lalu termasuk dalam
alam nyata atau mungkin di suatu saat nanti menjadi bagian dari alam nyata.
Di antara
jenis pertama adalah kisah-kisah orang dahulu yang Allah kisahkan. Kisah-kisah
ini dahulu adalah realita kehidupan yang terlihat. Allah bercerita kepada kita
tentang Maryam putri Imran dan kisah kehamilannya, kemudian Allah akhiri dengan
firman-Nya, “Itu termasuk dari kabar-kabar gaib yang kami wahyukan kepadamu
(Muhammad saw.) dan engkau tidak pernah bersama dengan mereka ketika mereka
melemparkan pena-pena mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan
menanggung Maryam, dan engkau tidak bersama mereka ketika mereka bertengkar.”
(Ali Imran: 44).
Dan
al-Qur’an juga menampilkan kisah nabi Yusuf as. kemudian mengomentarinya dengan
kata-kata, “Itu termasuk kabar-kabar gaib yang Kami wahyukan kepadamu
(Muhammad saw.) dan engkau tidak bersama dengan mereka ketika mereka bersepakat
membuat makar” (Yusuf: 102).
Dan
termasuk dalam jenis kedua adalah hal-hal yang mungkin diungkap oleh ilmu pengetahuan
di berbagai bidang: fisika, kimia, biologi, falak, kedokteran, dan seterusnya.
Karena sesungguhnya semua penemuan sebelum dicapai adalah hal yang gaib. Dan
tidak diragukan lagi bahwa penggolongan hal ini termasuk hal yang gaib,
mengharuskan orang mukmin untuk “beriman” kepada perkembangan dan pembaharuan,
dan tidak hanya terpaku pada batas ilmu-ilmu eksperimental (empirik). Dan hal
itu memberi implikasi sangat positif kepada pemikiran Islam dalam pencapaian
ilmu pengetahuan. Bebarapa ulama tidak mendukung klasifikasi hal itu dalam
golongan al-Ghaib yang dimaksud dalam Kitabullah. Seperti Muhammad Abduh
berkata, “Sedangkan yang dikerjakan oleh beberapa orang dengan penguasaan dan
penggunaan mereka terhadap sebab-sebab yang tidak dikerjakan oleh selain mereka
karena kebodohannya terhadap sebab-sebab itu atau ketidakmampuan
menggunakannya, maka itu tidak termasuk dalam keumuman arti al-Ghaib
yang terdapat dalam Kitabullah. Dan sebab-sebab ini ada yang teoritis seperti
dalil-dalil yang rasional dan ilmiyah. Seperti para ahli matematika atau ilmu
lainnya, menyingkap detail-detail hal yang tidak diketahui yang tidak dapat
dikethui oleh kebanyakan orang. Mereka memprediksikan kejadian gerhana matahari
dan bulan dengan hitungan menit dan detik sebelum terjadi beribu-ribu tahun.
Dan di antara sebab itu ada juga yang praktis seperti telegraf, radio, dan
wireless yang dapat diakses seseorang dari negeri-negeri yang jauh di seberang
lautan yang berjarak beribu-ribu kilometer.” (Muhammad Abduh, Tafsir al-Manar,
7/422).
Syaikh
Muhammad Abduh cenderung membagi al-Ghaib menjadi dua jenis:
Pertama: gaib hakiki mutlak, yaitu semua yang
tidak diketahui oleh semua makhluk termasuk malaikat. Dalam hal ini Allah
berfirman, “Katakanlah (wahai Muhammad) semua yang di langit dan di bumi
tidak ada yang mengetahui yang gaib kecuali Allah.” (an-Naml: 65).
Kedua: gaib relatif, yaitu yang tidak diketahui
sebagian makhluk tapi diketahui oleh yang lain, seperti yang diketahui malaikat
dari dunia mereka dan tidak diketahui manusia misalnya.
Dalil-dalil
Iman kepada Yang Gaib
Al-Qur’an
menyebut al-Ghaib lebih dari 50 tempat. Pada ayat-ayat itu dikatakan
bahwa Allah adalah Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dan telah
kita sebutkan beberapa ayat-ayat tersebut. Sedangkan ayat-ayat lain membatasi
pengetahuan tentang al-Ghaib hanya pada Allah swt., “Katakanlah
(wahai Muhammad) semua yang di langit dan di bumi tidak ada yang mengetahui
yang gaib kecuali Allah.” (an-Naml: 65). “Yang gaib hanyalah (diketahui)
oleh Allah.” (Yunus: 20).
Dan
ayat-ayat jenis ketiga menafikan pegetahuan tentang gaib selain Allah, termasuk
malaikat, seperti firman Allah, “Mereka (malaikat) berkata, ‘Mahasuci engkau
tidak ada ilmu pada kami selain apa yang Kau ajarkan kepada kami.” (al-Baqarah:
32). Juga termasuk jin, seperti firman Allah, “…Ketika Sulaiman terjatuh,
jelaslah bagi para jin bahwa seandainya mereka mengetahui yang gaib mereka
tidak akan berada dalam siksaan yang menghinakan.” (Saba': 14), termasuk
juga manusia. “…Atau apakah mereka mengetahui yang gaib sehingga mereka
menulis?” (at-Thur: 41).
Lalu ayat
jenis keempat mendeskripsikan orang-orang mukmin bahwa mereka adalah “orang-orang
yang beriman kepada yang gaib, mendirikan sholat, dan menafkahkan sebagian dari
rizki yang Kami berikan kepada mereka.” (al-Baqarah: 3).
Sedangkan
hadits-hadits yang berhubungan dengan tema ini sangat banyak. Di antaranya:
وَالَّذِي
لاَ إلَهَ غَيْرُهُ مَا آمَنَ أحَدٌ أَفْضَلُ مِنْ إِيْمَانٍ بغَيْبٍ.
“Demi
yang tidak ada tuhan selain-Nya tidaklah seseorang beriman lebih baik dari iman
kepada yang gaib.” (Diriwayatkan Sufyan bin
Uyainah, Ibnu Abu Hatim, al-Hakim dan dishahihkan oleh al-Hakim).
طُوْبىَ
لِمَنْ رَآنِي وَآمَنَ بي، وَطُوْبىَ لِمَنْ آمَنَ بي وَلَمْ يَرَنِي، قَالَهَا سَبْعَ
مَرَّاتٍ
“Kebaikan bagi orang melihatku dan beriman kepadaku, dan kebaikan
bagi yang beriman kepadaku namun belum pernah melihatku.” (Diriwayatkan
oleh Ahmad, al-Bukhari dalam Tarikhnya, dan al-Hakim).
مَفَاتِيْحُ الْغَيْبِ
خَمْسٌ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ اللهُ لاَ
يَعْلَمُ مَا تَغِيْضُ الأَرْحَامُ إلاَّ اللهُ ، وَلاَ يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ
إلاَّ اللهُ، وَلاَ يَعْلَمُ مَتىَ يَأْتي الْمَوْتُ أحَدٌ إلاَّ اللهُ ، وَلاَ تَدْرِي
نفْسٌ بأيِّ أَرْضٍ تَمُوْتُ إلاَّ اللهُ، وَلاَ يَعْلَمُ مَتىَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ
إلاَّ الله.
“Kunci-kunci gaib itu ada lima. Tidak
ada yang mengetahuinya selain Allah. Tidak ada ang mengetahui yang susut dalam
rahim kecuali Allah, tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi esok kecuali
Allah, tidak ada yang mengetahui kapan datangnya maut kecuali Allah, sebuah
jiwa tidak mengetahui di bumi mana dia akan mati kecuali Allah, dan tidak ada
yang mengetahui kapan terjadinya Kiamat kecuali Allah..”
(Diriwayatkan oleh al-Bukhari).
Dalam riwayat lain,
مَفَاتِيْحُ
الْغَيْبِ خَمْسَةٌ : إِنَّ اللهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَينْزِلُ مِنَ
الْغَيْثِ ويَعْلَمُ مَا فِي الأرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ
غَداً وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بأيِّ أَرْضٍ تَمُوْتُ
“Kunci-kunci gaib ada lima: ‘Sesungguhnya
di sisi Allah-lah ilmu gaib itu dan Dia menurunkan hujan, mengetahui apa yang
ada dalam rahim, dan sebuah jiwa tidak apa yang dia kerjakan besok, dan sebuah
jiwa tidak tahu di bumi mana dia akan mati."
((Diriwayatkan al-Bukhari).
Hadits ini berkaitan dengan firman Allah,
اِنَّ اللّٰهَ عِنْدَهٗ عِلْمُ السَّاعَةِۚ وَيُنَزِّلُ
الْغَيْثَۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْاَرْحَامِۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَّاذَا
تَكْسِبُ غَدًاۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌۢ بِاَيِّ اَرْضٍ تَمُوْتُۗ اِنَّ اللّٰهَ
عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ࣖ
"Sesungguhnya di sisi Allahlah ilmu gaib
itu dan Dia menurunkan hujan, mengetahui apa yang ada dalam rahim, dan sebuah
jiwa tidak apa yang dia kerjakan besok, dan sebuah jiwa tidak tahu di bumi mana
dia akan mati.” (Luqman[31]: 34).
Dalil-dalil ini banyak menggugah perhatian para ulama dan
orang-orang awam dalam pemahaman dan
penafsirannya. Dan barangkali juga menimbulkan pertanyaan-pertanyaan sekitar
kandungannya. Bagaimana mengetahui ilmu tentang yang susut dalam janin, atau
jatuhnya hujan menjadi gaib yang tidak diketahui kecuali oleh Allah? Pada kita
mengetahui bahwa pengetahuan modern dapat menyingkap embrio sebelum terbentuk?
Dan ramalan cuaca melaporkan kepada kita tentang jatuhnya hujan sebelum
terjadi?
Saya ingin lebih dahulu memperlihatkan kepada anda apa
yang disebut oleh Ibnu Katsir dalam masalah ini. Beliau berkata, “Ini adalah
kunci-kunci gaib yang hanya diketahui oleh Allah. Tidak ada seorang pun yang
mengetahui kecuali setelah pemberitahuan dari Allah. Maka ilmu tentang waktu
kiamat tidak diketahui seorang nabi pun juga seorang malaikat pun. “Tidak
ada menyingkap waktunya kecuali Dia” (al-A’raf: 187). Begitu juga turunnya
hujan, tidak tidak diketahui kecuali oeh Allah, akan tetapi jika Allah memerintahkannya,
Allah memberitahukannya kepada malaikat yang ditugaskan untuk itu dan siapa
saja makhluk yang Allah kehendaki. Begitu juga tidak tahu apa yang akan Allah
buat dalam rahim. Akan tetapi jika Allah perintah untuk membuat janin menjadi
laki-laki atau perempuan, bahagia atau sengsara. Allah akan memberi tahu
malaikat yang ditugaskan untuk itu dan siapa saja makhluk yang Allah kehendaki.
Juga tak seorang pun tahu apa yang akan dia dapatkan esok hari baik untuk dunia
atau akhirat. Dan Tak seorang pun tahu di bumi mana dia akan mati, di negerinya
atau bumi Allah yang lain, tak seorang pun mengetahui hal itu.
Syaikh Ali at-Thanthawi berkata, “Ramalan cuaca hanyalah
mengabarkan tentang hujan setelah melihat sebab-sebabnya dan setelah sempurna
penciptaannya. Seperti orang yang melihat tukang pos dari jendela dan
memperkirakan kapan sampai ke rumahnya. Lalu ia berkata kepada keluarganya,
“Tukang pos akan datang lima menit lagi. Seperti juga orang yang melihat dengan
teleskop sebuah mobil yang datang, kemudian dia mengabarkannya sebelum mobil
itu terlihat orang. Sesungguhnya dia tidak mengetahui yang gaib. Akan tetapi
dia melihat kenyataan sebelum dilihat orang lain. Seperti itu juga orang yang
mengabarkan jenis janin setelah terbentuknya. Sedangkan terbentuknya awan dan
turunnya hujan di daerah yang Allah takdirkan kering, menahan hujan awan dari
tanah yang Allah turunkan hujan di atasnya, mengenali janin ketika masih
menjadi sperma yang baru bertemu sel telur, inilah yang dimaksudkan oleh ayat
tersebut."
Jalan-jalan Menuju Iman kepada yang Gaib
Telah kita
lalui penjelasan tentang makna alam gaib secara panjang lebar. Sekarang akan
kita bicarakan tentang sarana-sarana iman terhadapnya. Apakah hanya ada satu
jalan atau berbagai macam jalan? Jawaban dari pertanyaan itu bergantung kepada
pengetahuan kita tentang komponen-komponen alam gaib dan batasan cakupannya.
Telah kita dapatkan berbagai pendapat ulama dalam masalah ini ketika berbicara
tentang tafsir ayat,
"Sesungguhnya di sisi Allahlah ilmu gaib itu dan Dia
menurunkan hujan, mengetahui apa yang ada dalam rahim, dan sebuah jiwa tidak
apa yang dia kerjakan besok, dan sebuah jiwa tidak tahu di bumi mana dia akan
mati.” (Luqman[31]: 34).
Kita perlu berhenti sejenak pada poin ini sebelum kita
masuk pada pembahasan jalan dan metode iman kepada hakikat al-Ghaib.
Cakupan Alam Gaib
Para ahli tafsir telah secara gamblang menjelaskan apa
yang termasuk alam gaib. Mereka menukil banyak pendapat dari ulama salaf.([1]) Saya
akan menjelaskan kepada anda ringkasan dari berbagai pendapat tersebut dengan
menukil dari kitab Zadul Masir fi ‘Ilmit Tafsir karya Ibnul Jauzi. Beliau
menuntaskan perbedaan pendapat ulama dalam hal ini menjadi enam pendapat:
- Bahwa yang dimaksud dengan gaib di sini
adalah wahyu. Pendapat ini dikatakan oleh Ibnu Abbas dan Ibnu Juraij.
- Bahwa itu adalah al-Qur’an. Ini pendapat Abu
Razin al-Uqaili, dab Zirr bin Hubaisi.
- Bahwa itu adalah Allah. Dikatakan oleh Atha' dan Sa’id bin Jubair.
- Hal-hal yang tidak diketahui manusia seperti
masalah sorga dan neraka dan sejenisnya seperti disebut dalam al-Qur’an.
Ini diriwayatkan as-Suddi dari para syuyukh-nya dan juga pendapat
Abul ‘Aliyah dan Qatadah.
- Bahwa itu adalah takdir Allah. Dikatakan oleh
az-Zuhri.
- Bahwa itu adalah iman kepada
Rasulullah saw. bagi yang belum melihatnya. ‘Amr bin Murrah berkata,
قَالَ
أصْحَابُ عَبْدِاللهِ لَهُ : طُوبَى لَكَ ، جَاهَدْتَ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ r
وَجَالَسْتهُ فَقَالَ : إِنَّ شَأْنَ رَسُوْلِ اللهِ r
كَانَ مُبَيِّناً لِمَنْ رَآهُ ، وَلَكِنْ أَعْجَبُ مِنْ ذَلِكَ قَوْمٌ يَجِدُوْنَ
كِتاباً مَكْتُوْباً يُؤْمِنُوْنَ بهِ وَلَمْ يَرَوْهُ
Para murid
Abdullah bin Mas’ud berkata kepada Abdullah bin Mas’ud, "Betapa
beruntungnya anda. Anda berjihad dengan Rasulullah saw. dan berguru dari
beliau. Ibnu Mas’ud berkata, “Sesungguhnya perihal Rasulullah saw. adalah
jelas bagi yang melihatnya. Tetapi yang lebih mengagumkan adalah kaum yang
hanya menemukan kitab tertulis mereka beriman dengan Rasulullah saw. pada hal
belum melihat.” (Ibnul Jauzi, Zadul Masir, 1964, 1/24-25).
Ibnu Katsir
berpendapat bahwa semua pendapat ini benar. Al-Ghaib itu melingkupi
semua rukun Iman dari iman kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir
beserta isinya berupa seperti kebangkitan. Inilah pendapat yang rajih (unggul).
Tampak baik
buat kita saat kita membahas cakupan alam gaib, untuk menampilkan pendapat Imam
al-Ghazali dalam pandangannya tentang Dzat Ilahiyah. Beliau menegaskan secara
eksplisit bahwa Allah bukanlah gaib. Beliau berkata:
اعْلَمْ
أَنَّ أَظْهَرَ الْمَوْجُوْدَاتِ وَأَجْلاَهَا هُوَ اللهُ تَعَالَى
“Ketahuilah bahwa bahwa eksistensi yang
paling jelas dan nyata adalah Allah saw.”
Kemudian beliau bertanya-tanya, “Jikalau Allah begitu
nyata dan jelas, mengapa pemahaman kita dan indera kita tidak menjangkaunya?"
Beliau menjawab pertanyaan ini dan berkata bahwa kelemahan di satu sisi dan
kedahsyatan “kemunculan” dan pancaran Allah di sisi lain adalah sebab kesamaran
tersebut. Sehingga kejelasan Allah menjadi sebab kesamaran-Nya. Kondisi kita
ini sangat mirip dengan kondisi kelelawar yang terpukau dengan sinar matahari.
Sehingga kekuatan munculnya matahari beserta kelemahan pandangan kelelawar
menjadi sebab dia tidak dapat melihat.
Beliau juga membuat perumpamaan dari cahaya itu
sendiri. Cahaya matahari tidak
terlihat dengan sendirinya. Padahal cahaya itu sangat jelas dan sebab bagi
terlihatnya benda-benda lain. Allah adalah cahaya langit dan bumi. Dia adalah
eksistensi yang paling nyata dan dengan-Nya segala sesuatu tampak. (al-Ghazali,
Ihya Ulumiddin, 1968, 4/399-401).
Mudah-mudahan
dengan ringkasan pendapat al-Ghazali ini anda mempunyai persepsi yang sama
dengan saya yang didasarkan kepada analisa ilmiyah dan perenungan yang dalam.
Metode-metode
Para Ulama untuk Membuktikan Alam Gaib
Kita telah
jelaskan bahwa alam gaib mencakup beberapa hakikat, dan tidak terbatas pada
satu hakikat saja. Karenanya akan beragam metoda para ulama dalam
membuktikan hakikat-hakikat ini. Karena
suatu metode bisa cocok untuk satu hakaekat tetapi tidak cocok untuk hakikat
yang lain. Secara global ada tiga macam dalil dalam hal ini, yaitu: dalil akal,
dalil sam’i (dari nash-nash Qur’an dan Hadits), dan dalil mukasyafah
bagi yang mempercayainya.
Sebagai
tambahan penjelasan saya ingin menjelaskan metoda-metoda para ulama dalam
membuktikan hakikat alam gaib terbesar yaitu adalah iman kepada Allah.
a.
Bagi golongan al-Hasyawiyah jalan mengenal Allah
hanyalah dari nash-nash al-Qur’an dan Hadits bukannya akal. Cukup seorang
manusia menerima itu dari wahyu. Dan ini berlaku juga dalam masalah-masalah
alam gaib yang lain yang telah kita sebutkan. (Ibnu Rusyd, 1968, hal 42)
b.
Mayoritas Ahlus Sunnah juga
Mu’tazilah berpendapat bahwa jalan iman kepada Allah adalah akal dan pemikiran.
Dan telah kita lalui beberapa dalil atas keesaan Allah Azza wa Jalla di
dalam diktat ini sehingga tidak perlu kita ulang lagi.
c.
Sedangkan para sufi mereka
membangun iman mereka atas dasar mukasyafah ruhiyah (tersingkapnya jiwa) dan
ilham dengan terbebasnya dari hawa nafsu dan tidak menginginkan popularitas
(syuhrah).
Dalil-dalil Akal
Akal manusia, tidak dapat diingkari, memiliki
kedudukan khusus untuk memberikan bukti. Dan dalam banyak hal akal bertumpu pada informasi panca indera. Dengan
demikian maka kesimpulan-kesimpulan akal berkaitan dengan dunia materi dalam
kadar yang besar. Sedangkan hal-hal gaib di balik materi adalah hal yang di
luar kemampuan akal. Seorang filosof
Jerman, Kant, mengarang sebuah kitan terkenal yang menegaskan bahwa akal
tidak dapat menangkap selain materi saja. Dan itu juga yang ditegaskan oleh
ulama kita sehingga menjadi aksioma yang diterima. Sehingga pembicaraan tentang
hal itu menjadi tema yang biasa.
Kita
temukan bagaimana banyak para filosof menjadi sesat ketika mereka bergantung
pada akal dan pengamatan mereka saja. Mereka tidak sampai pada keyakinan, tidak
menggapai ketetapan. Imam as-Syahrisyani menggambarkan keadaan mereka. Beliau
berkata:
|
وَسَيّرَتُ طَرَفَيَّ بَيْنَ تِلْكَ الْمَعَالِمِ |
: |
لَعُمْرِي
لَقَدْ طُفْـُت الْمَعَاهِدَ كُلَّهَا
|
|
عَلَى ذَقْــنٍ أَوْ قَارِعِ سِنٍّ ناَدِمِ |
: |
فَلَمْ أَرَ إِلاَّ وَاضِــعاً كَفَّ حَائِرٍ |
"Sungguh telah kukitari seluruh lembaga
dan telah kuedarkan mataku di antara semua rambu
Aku tak melihat
selain telapak di atas dagu peragu
atau pengetuk gigi penyesal."
Mungkin anda
bertanya-tanya, bukankah hal ini berarti pengecilan makna akal dan
marginalisasi peranannya? Saya jawab anda dengan jawaban Ibnu Khaldun. Beliau
berkata, “Hal itu tidak menggores akal dan kemampuannya. Bahkan akal itu adalah
timbangan yang benar. Putusan-putusan akal bersifat yakin dan tidak dusta.
Tetapi anda jangan berambisi untuk menimbang urusan tauhid, hakikat nubuwat, hakikat
sifat-sifat tuhan dan semua yang ada di belakang batasannya. Karena itu adalah
ambisi yang mustahil. Perumpamaan hal itu seperti seseorang yang melihat
timbangan untuk menimbang emas lalu dia ingin menimbang gunung dengan itu. Hal
ini tidak berarti timbangan itu hasilnya tidak benar. Tetapi akal berhenti di
situ tidak melewati batasnya."
Dalil-dalil
Sam’i
Sebagian ulama
menamakannya dalil-dalil syar’i dan menjadikannya jenis baru yang bukan
dalil-dalil akal. Seolah-olah tidak ada kaitan antara dalil akal dan dalil
syar’i. Ini adalah prasangka yang tidak tepat yang ada di benak para penulis.
Tetapi yang tepat adalah bahwa dalil syar’i terkadang adalah dalil akal dan
terkadang dalil sam’i yang tidak dicapai akal sendirian.
Ibnu Taimiyah
dan murid-muridnya sangat bagus mengungkapkan hal ini dengan cara yang pantas
dikagumi. Lihat misalnya perkataan Ibnu Taimiyah dan murid-muridnya dalam hal
ini. Beliau berkata, “Banyak dari ahli Ilmu Kalam mengira bahwa dalil-dalil
syar’i terbatas pada kabar yang benar (khabar shadiq) saja. Sesungguhnya
al-Kitab dan as-Sunnah tidak menunjukkan selain dari sisi ini. Karena itu mereka menjadikan ushulud-din
dua bagian: aqliyat dan sam’iyat. Dan mereka menjadikan bagian
pertama adalah hal-hal yang tidak diketahui lewat al-Kitab dan as-Sunnah. Dan
ini adalah kerancuan dari mereka. Tetapi sesungguhnya al-Qur’an menunjukkan
dalil aqli, menjelaskan dan mengungkapkannya. Walaupun di antara dalil aqli
ada yang bisa diketahui dengan dengan penglihatan dan lain-lain. Seperti firman
Allah:
“Akan Kami
perlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di berbagai penjuru dan dalam diri
mereka sampai jelas bagi mereka bahwa hal itu adalah benar. Tidakkah bahwa
Allah menjadi saksi atas segala sesuatu?” (Fusshilat: 53). (Ibnu Taimiyah, Dar’u Ta’arudhl
‘Aql wan Naql, 1979, 1/199).
Tampak
pentingnya dalil-dalil sam’iyah jika kita tahu terbatas akal manusia
untuk menguasai hakikat alam gaib seperti shirat, timbangan amal, surga,
neraka dll. Begitulah wahyu menjadi penyempurna akal. Sehingga pengetahuan
menjadi lengkap dalam pancaran agama. Dan tidak benar ada pemisahan antara dua
sayap pengetahuan tersebut. Dalil akal menunjuki pada sam’i. Ibnu Taimiyah
menjelaskan koekuivalensi (keselarasan) antara akal dan sam’i.
Beliau berkata, “Ketika jalan menuju kebenaran adalah akal dan wahyu, dan
keduanya adalah saling terkait, maka siapa yang menelusuri jalan akal dia akan
sampai jalan wahyu, yaitu kebenaran Rasulullah saw. Dan siapa yang menelusuri
jalan wahyu dia akan jelas tentang dalil-dalil akal, sebagaimana diterangkan
oleh al-Qur’an. Dan orang celaka adalah yang tidak menjalani keduanya.
Sebagaimana penduduk neraka berkata, “Dan mereka berkata, ‘Seandainya kami
mendengar (wahyu) atau berpikir kami tidak akan menjadi penduduk neraka.” (al-Mulk:
10) Allah juga berfirman, “Tidakkah mereka berjalan dimuka bumi sehinggan
memiliki hati untuk berpikir atau telinga agar mereka mendengar. Karena
sesungguhnya bukanlah penglihatan yang buta tetapi hati yang ada di dada.”
(al-Hajj: 46). Karena itu Allah menafikan wahyu dan akal dari kesyirikan.
Agar kita kita
tidak ekstrim dalam mensakralkan akal manusia seperti ektrimnya kaum atheis
dalam menafikan alam gaib, saya ingin mengingatkan anda bahwa kepercayaan
terhadap yang gaib bukan hanya bagian agama samawi saja, bahkan akal juga memiliki
bagian juga. Bahkan dalam banyak bidang ilmu pengetahuan. Apakah sesungguhnya
gravitasi itu sebenarnya? Apa itu energi? Apa itu elektron, proton, hal-hal
yang tidak kita lihat tapi merupakan kenyataan lugas yang ditetapkan oleh ilmu
pengetahuan?
Dalam hal ini
saya kagum dengan seorang pemikir muslim Wahiduddin Khan ketika beliau berkata,
“Tidak tepat kita mengatakan bahwa agama adalah percaya kepada yang gaib lalu
sains adalah percaya kepada pengamatan ilmiah. Karena agama dan sains bersandar
kepada percaya akan yang gaib. Tetapi ruangan agama yang sesungguhnya adalah
menentukan hakikat masalah secara tuntas dan mendasar. Sedangkan sains pembahasannya
terbatas pada fenomena luar dan awal. Maka ketika sains masuk medan penentuan hakikat
masalah secara hakiki dan tuntas yang merupakan medan agama yang sebenarnya,
ketika itu sains juga memakai jalan iman kepada yang gaib…” Sampai beliau
berkata, “Sains di bidang ini adalah pembahasan hakikat yang tidak diketahui
menggunakan hakikat yang sudah diketahui.” (Wahiduddin Khan, Islam Yatahadda,
1979, hal 50-51).
Dr. Muhammad
Fathi Utsman berkata, “Saya respek dengan mereka yang menolak mengatakan bahwa
keyakinan terhadap Allah dan hari Akhir adalah iman terhadap hal yang irasionil
akan tetapi itu adalah iman terhadap hal yang ultra rasionil.” (Basalamah,
al-Insan wal Ghaib, 1986, hal 10).
Dalil-dalil
Mukasyafah dan Pencerahan Ruh
Orang-orang sufi
berkeyakinan bahwa mukasyafah adalah salah satu jalan pengetahuan
terhadap ilmu-ilmu gaib. Dan ini berarti bahwa pengetahuan didapatkan oleh jiwa
ketika terbebas dari hawa nafsu. Dan mereka menjadikan para wali memiliki
kedudukan yang tinggi dalam kabar-kabar gaib. Dan mereka mewajibkan para
pengikut mereka untuk mempercayai kabar-kabar seperti itu. Mereka berdalil
untuk madzhab mereka itu dengan beberapa dalil, di antaranya:
1.
Firman Allah, “Wahai orang-orang beriman jika kalian bertakwa kepada Allah,
Allah akan menjadikan untuk kalian furqan.” (al-Anfal: 29) dan firman
Allah, “Dan bertakwalah kepada Allah dan Allah mengajarkan kepada kalian.”
(al-Baqarah: 282).
2.
Sabda Nabi saw.
اتَّقُوْا فِرَاسَةَ
الْمُؤْمِنِ فَإنَّهُ يَنْظُرُ بنُوْرِ اللهِ
"Hati-hatilah
dengan firasat mukmin karena dia melihat dengan cahaya Allah."
(Hadits riwayat at-Thabrani dan at-Turmudzi. Beliau berkata, hadits ini hadits
gharib).
3.
Meng-qiyaskan
para wali dengan para nabi. Para nabi itu mengabarkan tentang hal-hal yang
tersingkap dari berbagai hakikat permasalahan, dan tidak mustahil jika di dunia
ini ada orang yang dapat menyingkap berbagai hakikat dan dia itu adalah wali.” (al-Ghazali,
Ihya Ulumiddin, 1967, 3/32).
4.
Mimpi yang benar, karena itu
adalah jalan untuk mengetahui sebagian yang gaib, jika itu mungkin dalam tidur
maka tidak mustahil juga terjadi ketika sadar.
Dengan dalil-dalil di atas, tidak dapat diingkari bahwa mujahadatunnafs
dapat menjadi jalan penyingkapan tirai indera untuk melongok hakikat wujud yang
tidak mungkin didapatkan oleh selain mereka yang bermujahadah.
Tetapi kita juga tidak boleh lupa bahwa kabar-kabar yang
disampaikan oleh para nabi bukanlah hasil riyadhah kejiwaan atau mujahadah.
Tetapi itu adalah karunia rabbani untuk orang pilihan yang terbaik tersebut.
Dan cukup kita kita ingat di sini hadits Aisyah dalam as-Shahihain, Aisyah ra.
berkata,
مَنْ حَدَّثَكَ
أَنَّ مُحَمَّدًا رَأَى رَبَّهُ فَقَدْ كَذَبَ، وَهُوَ يَقُولُ: "لَا
تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ"، وَمَنْ حَدَّثَكَ أَنَّهُ يَعْلَمُ الْغَيْبَ
فَقَدْ كَذَبَ، وَهُوَ يَقُولُ: "لَا يَعْلَمُ الْغَيْبَ إِلَّا اللهُ"
“Siapa yang mengatakan bahwa Muhammad melihat Tuhannya
maka dia telah berbohong, padahal Allah telah berkata, Dia (Allah) tidak
dijangkau penglihatan. Dan siapa yang berkata bahwa Muhammad SAW mengetahui
yang gaib maka dia telah berbohong karena dia berkata “tidak ada yang
mengetahui yang gaib selain-Nya.”
Begitulah
karena sesungguhnya mengqiyaaskan wali dengan nabi adalah analogi dua hal yang
berbeda. Begitu juga antara tidur dengan sadar. Betapa banyak kita dengar
‘mimpi-mimpi sadar’ dari para sufi tersebut yang tidak dibenarkan oleh realita dan
tidak juga didukung oleh kesolehan sejarah hidup dan perilaku banyak orang dari
mereka.
Kita
katakan di sini di antara bahayanya mempercayai cara ini adalah memalingkan
kita dari bertafakkur dan bertadabbur. Dan kita telah sama-sama ketahui bahwa
al-Qur’an adalah ajakan tegas agar akal manusia bekerja dan berpikir.