Masa Pertumbuhan dan Masuk Islamnya:
Ia
adalah Utsman bin Affan bin Abi Al-Ash bin Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi
Manaf bin Qushay. Ibunya adalah Arwa binti Kuraiz bin Rabi'ah bin Habib bin
Abdi Syams bin Abdi Manaf bin Qushay. Ibu dari ibunya (neneknya) adalah
Al-Baidha binti Abdul Muthalib, bibi Rasulullah ﷺ. Dengan demikian, nasabnya bertemu dengan
Rasulullah ﷺ
dari jalur ayahnya dan juga dari jalur nenek pihak ibunya [1].
Ia
dilahirkan di Thaif pada tahun 47 sebelum Hijriah, yang berarti ia berusia
lebih muda sekitar enam tahun dari Rasulullah ﷺ.
Ayahnya
adalah salah satu orang terkaya di Makkah dan termasuk pedagang besar di sana.
Putranya, Utsman, tumbuh sebagai seorang pedagang sehingga keuntungannya
melimpah. Ia adalah sosok yang dermawan, memberikan apa yang ia miliki kepada
kaumnya, sehingga ia dicintai di tengah-tengah mereka serta menjadi orang yang
terpandang dan pemimpin di kalangan Bani Umayyah.
Ketika
wahyu turun kepada Nabi ﷺ,
Utsman berusia tiga puluh empat tahun. Abu Bakar Ash-Shiddiq mengajaknya masuk
Islam, dan ia termasuk orang yang bersegera menyambut dakwah ini. Mengenai hal
ini, Ibnu Ishaq berkata: "Ia adalah orang yang pertama kali masuk Islam
setelah Abu Bakar, Ali, dan Zaid bin Haritsah." [2].
Saat
ia masuk Islam, pamannya yang bernama Al-Hakam bin Abi Al-Ash mencoba untuk
memalingkannya dari Islam dan berkata kepadanya: "Apakah engkau membenci
agama nenek moyangmu demi agama yang baru ini?" Namun Utsman tidak
menggubrisnya. Sang paman kemudian mengikatnya dengan tali dan mengurungnya
seraya berkata: "Aku tidak akan melepaskan ikatan ini selamanya sampai
engkau meninggalkan agama ini." Utsman menjawab: "Demi Allah, aku
tidak akan meninggalkan agama ini selamanya dan tidak akan berpisah
darinya." Ia tetap teguh memegang agamanya sampai pamannya berputus asa
[3].
Utsman
adalah orang yang sangat pemalu, oleh karena itu ia lebih banyak diam.
Abdurrahman bin Hathib berkata: "Aku tidak pernah melihat seorang pun dari
sahabat Rasulullah ﷺ
yang jika berbicara lebih sempurna dan lebih indah pembicaraannya daripada
Utsman bin Affan, namun ia adalah pria yang segan (hati-hati) dalam
berbicara." [4].
Sifat
malu ini dibarengi dengan tekad yang jujur dan keteguhan yang langka. Ia tidak
menuruti para pemberontak ketika mereka menuntutnya untuk turun dari jabatan
Khalifah; bukan karena cinta dunia, tetapi karena mereka mengangkat senjata
melawannya dan memberinya pilihan antara dibunuh atau mencopot jabatannya. Ia
menolak agar hal itu tidak menjadi preseden buruk (sunnah), dan berkata:
"Aku tidak akan menanggalkan pakaian (pakaian kepemimpinan) yang telah
Allah pakaikan kepadaku." [5].
Bukhari
dan Muslim meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Bagaimana aku tidak malu kepada seorang pria
yang para malaikat pun malu kepadanya." Dalam riwayat lain beliau
bersabda: "Orang yang paling jujur sifat malunya di umatku adalah
Utsman." [6].
Ia
menikah dengan Ruqayyah, putri Nabi ﷺ. Ruqayyahlah yang hijrah bersamanya ke Habasyah (Ethiopia)
kemudian hijrah bersamanya ke Madinah Al-Munawwarah. Mengenai hal ini Nabi ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya Utsman adalah orang pertama yang berhijrah kepada Allah
bersama keluarganya setelah Luth." [7].
Ketika
bersiap untuk keluar pada hari Perang Badar, istrinya, Sayyidah Ruqayyah, jatuh
sakit, maka Rasulullah ﷺ
memerintahkannya tetap tinggal untuk merawatnya sampai ia wafat. Rasulullah ﷺ memberikan bagian
harta rampasan perang baginya bersama para mujahidin dalam Perang Badar
layaknya orang yang menghadirinya [8].
Setelah
wafatnya Ruqayyah, Rasulullah ﷺ
menikahkan Utsman dengan putri keduanya, Ummu Kultsum, dan ia tetap bersamanya
sampai wafat. Karena itulah ia dijuluki Dzun Nurain (Pemilik Dua
Cahaya). Tidak ada seorang pun sebelum maupun sesudahnya yang menikahi dua
putri seorang Nabi dari nabi-nabi yang ada. Nabi ﷺ bersabda setelah wafatnya Ummu Kultsum:
"Sekiranya aku memiliki putri yang ketiga, niscaya akan aku nikahkan ia
dengan Utsman." [9].
Setelah
masuk Islam, ia memerdekakan seorang budak setiap hari Jumat demi mencari ridha
Allah, kecuali jika pada minggu tersebut ia tidak memiliki apa-apa untuk
memerdekakan budak, maka ia akan memerdekakannya setelah itu [10].
Ia
juga yang menyiapkan pasukan Jaisyul Usrah (Pasukan di masa sulit) dan
membeli sumur Rumah dari seorang Yahudi yang menjual airnya kepada
orang-orang dengan harga yang tidak terjangkau oleh semua orang, lalu ia
mewakafkannya di jalan Allah. Ketika Nabi ﷺ menganjurkan kaum Muslimin untuk membeli
tanah di samping masjid Nabi ﷺ
guna perluasannya, Utsman pun membeli tanah tersebut [11].
Sistem
Syura dan Pembaiatannya sebagai Khalifah:
Ketika
si Majusi yang penuh dendam (Abu Lu'lu'ah) menikam Umar bin Al-Khaththab ra,
sebagian sahabat menyadari bahwa ini adalah fitnah yang ditujukan kepada Islam.
Ini merupakan konspirasi yang dipimpin oleh Al-Hurmuzan, salah satu panglima
pasukan Persia yang ditawan dan dikirim ke Madinah. Dahulu ia masuk menemui
Umar bin Al-Khaththab dengan mengenakan kain sutra dan emas yang bertabur batu
rubi serta mutiara. Khalifah bertanya kepadanya tentang alasan pengkhianatan
dan pelanggaran janjinya yang berulang kali terhadap kaum Muslimin. Ia
menjawab: "Aku takut engkau akan membunuhku sebelum aku
mengabarkannya." Ketika Khalifah memberinya jaminan keamanan, ia tidak
mengatakan apa-apa. Khalifah menganggap ini sebuah tipu daya dan berkata:
"Engkau telah menipuku, demi Allah aku tidak akan tertipu kecuali jika
engkau masuk Islam." Maka Al-Hurmuzan masuk Islam. Keislamannya dalam
bentuk ini hanyalah tipu muslihat agar tidak dibunuh karena pengkhianatannya
yang berulang kali. Mengenai hal ini Ath-Thabari berkata: "Ia yakin bahwa
pilihannya adalah dibunuh, maka ia masuk Islam." [12].
Abdurrahman
bin Auf dan Abdurrahman bin Abi Bakar telah melihat Al-Hurmuzan memegang belati
sebelum Abu Lu'lu'ah Al-Majusi melakukan tindak kriminal pembunuhan tersebut.
Al-Hurmuzan dan rekannya, Jufainah, berdalih bahwa belati itu ada pada mereka
untuk memotong daging.
Begitu
Umar ditikam, para sahabat senior menyadari konspirasi ini yang melibatkan
orang-orang yang berafiliasi dengan Persia dan Romawi; karena Jufainah adalah
seorang Nasrani, Al-Hurmuzan adalah panglima Persia, sedangkan Abu Lu'lu'ah
berasal dari Nahawand yang telah ditaklukkan oleh Arab Muslim. Karena itulah ia
sering mengusap kepala para tawanan dari kota tersebut dan berkata:
"Bangsa Arab telah memakan jantungku," sebagaimana ia juga berkata
"Umar telah memakan jantungku." [13].
Konspirasi
ini membuat para sahabat yang menyadarinya mendesak Umar bin Al-Khaththab agar
menunjuk seorang Amirul Mukminin penggantinya supaya tidak terjadi fitnah,
sementara pasukan Muslim saat itu sedang berada di tanah Persia dan Romawi.
Maka
Umar, dalam kondisi menghadapi kematian, meletakkan sistem syura untuk memilih
khalifah setelahnya yang terangkum dalam perkataannya:
"(Jika
aku mati), maka urusan kalian diserahkan kepada enam orang ini yang
ditinggalkan oleh Rasulullah ﷺ
dalam keadaan beliau ridha kepada mereka: Ali bin Abi Thalib dan yang setara
dengannya Az-Zubair bin Al-Awwam, Abdurrahman bin Auf dan yang setara dengannya
Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah dan yang setara dengannya Sa'ad bin
Abi Waqqash. Ketahuilah, aku mewasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada
Allah dalam menghukum dan berlaku adil dalam pembagian." [14].
Kemudian
Umar bin Al-Khaththab menugaskan Abu Thalhah Al-Anshari untuk menyiapkan lima
puluh orang dari kaum Anshar guna mengawal anggota dewan syura yang telah ia
tentukan agar mereka memilih salah satu di antara mereka sebagai Amirul
Mukminin. Umar berkata kepada Al-Miqdad bin Al-Aswad: "Jika kalian telah
meletakkanku di lubang kuburku, maka kumpulkanlah kelompok ini (yaitu lima
puluh orang di bawah pimpinan Abu Thalhah) di sebuah rumah sampai mereka
memilih seorang pria dari mereka."
Namun,
untuk mengantisipasi kemungkinan tiga orang dari anggota syura memiliki satu
pendapat dan tiga lainnya memiliki pendapat berbeda sehingga urusan tetap
menggantung, Umar memerintahkan putranya, Abdullah, untuk berada bersama mereka
sebagai pemberi pertimbangan (penengah) dan bukan sebagai pemegang jabatan
kepemimpinan [15].
Agar
waktu tidak berlarut-larut tanpa keputusan dari anggota dewan syura atau
terjadi hal baru yang menghalangi terpilihnya khalifah, Umar tidak cukup dengan
pengawalan tersebut dan tempat aman bagi pertemuan mereka, tetapi ia membatasi
waktu bagi mereka selama tiga hari untuk menyelesaikan tugas tersebut. Ia
berkata kepada Shuhaib ar-Rumi: "Engkaulah imam shalat selama tiga hari
ini," agar tidak ada satu pun dari enam orang calon tersebut yang
mengimami shalat, yang nantinya bisa dianggap sebagai bentuk pencalonan dari
Umar untuk jabatan Khalifah.
Umar
telah menyadari dimensi konspirasi dalam pembunuhannya dan khawatir akan
perselisihan di antara keenam orang tersebut, maka ia mengumpulkan mereka. Ia
menoleh kepada Ali dan berkata: "Mungkin kaum ini mengetahui kekerabatanmu
dengan Nabi ﷺ
serta apa yang Allah berikan kepadamu berupa pemahaman agama dan ilmu, maka
jika engkau memegang urusan ini, bertakwalah kepada Allah dan janganlah
sekali-kali engkau membebankan Bani Hasyim di atas leher orang-orang."
Kemudian
ia berkata kepada Utsman bin Affan: "Mungkin kaum ini mengetahui hubungan
besanmu dengan Rasulullah ﷺ,
umurmu, dan kehormatanmu, maka jika engkau memegang urusan ini, bertakwalah
kepada Allah dan janganlah sekali-kali engkau membebankan Bani Abi Mu'aith di
atas leher orang-orang."
Ia
memerintahkan Abdullah bin Umar untuk mengawasi mereka; jika lima orang sepakat
dan satu orang menolak, maka penggal kepalanya. Jika empat orang sepakat dan
dua orang menolak, maka tebas kepala keduanya dengan pedang. Jika tiga orang
ridha pada satu orang dan tiga lainnya pada orang lain, maka keputusan ada pada
Abdullah bin Umar, pihak mana pun yang ia pilih maka mereka memilih orang dari
pihak tersebut. Jika mereka menolak apa yang diputuskan Abdullah bin Umar, maka
keputusan ada pada pihak yang di dalamnya terdapat Abdurrahman bin Auf, dan
bunuhlah sisanya jika mereka berpaling dari apa yang telah disepakati
orang-orang.
Ancaman
dari Umar serta perintah dan prosedur ini cukup untuk menghindari fitnah, dan
pada saat yang sama mewujudkan sistem syura di mana Khalifah dipilih melalui
rakyat (perwakilan). Ketujuh orang ini mewakili dewan syura senior dan pemuka ahlu
halli wal 'aqdi yang dipilih dan diridhai kaum Muslimin. Konspirasi serta
kesibukan para sahabat dalam peperangan dengan Romawi dan Persia tidak menjadi
alasan bagi Khalifah yang darahnya sedang mengalir deras untuk mengabaikan
urusan syura dalam memilih penguasa.
Khalifah
tidak tersibukkan oleh orang-orang yang terkena serangan Abu Lu'lu'ah saat ia
melarikan diri dari masjid (sebelum bunuh diri), yang mana terdapat tiga belas
sahabat, tujuh di antaranya wafat. Beliau maupun khalifah setelahnya tidak
memberlakukan keadaan darurat dan tidak menangkapi para tersangka, bahkan
mereka (sebagian orang) menuntut hukuman mati bagi Ubaidullah bin Umar karena
ia membunuh Al-Hurmuzan, salah satu dari tiga mitra dalam pembunuhan tersebut.
Oleh karena itu, Khalifah Utsman menyerahkannya kepada Al-Qumadzban bin
Al-Hurmuzan (putra Al-Hurmuzan), lalu ia bertanya: "Apakah aku boleh
membunuhnya?" Mereka menjawab: "Ya." Maka ia membawanya keluar
menjauh, namun kemudian ia terpengaruh oleh prinsip-prinsip ini (pemaafan)
sehingga ia memaafkannya. Meski begitu, Khalifah bersikeras membayar diyat
syar'i dari harta pribadinya [16].
Referensi:
[1] Tarikh
Ath-Thabari jilid 3 hal. 444.
[2] Tarikh
al-Khulafa ar-Rasyidin Abdurrahman bin Bakr As-Suyuthi hal. 150, Ath-Thabaqat
al-Kubra Muhammad bin Sa'ad jilid 3 hal. 55.
[3] Ath-Thabaqat
al-Kubra Ibnu Sa'ad jilid 3 hal. 555.
[4]
Sumber yang sama hal. 66.
[5] Ath-Thabaqat
al-Kubra Ibnu Sa'ad jilid 3 hal. 66.
[6]
Sumber yang sama.
[7]
Sumber yang sama.
[8]
Sumber yang sama hal. 56.
[9]
Sumber yang sama hal. 56.
[10]
Tarikh al-Khulafa As-Suyuthi hal. 161 dan hal. 152.
[11]
Sumber yang sama.
[12]
Tarikh Ath-Thabari jilid 4 hal. 88 dan Al-Bidayah wa An-Nihayah
Ismail bin Umar bin Katsir jilid 7 hal. 87.
[13]
Ath-Thabaqat al-Kubra Ibnu Sa'ad jilid 3 hal. 347.
[14]
Ath-Thabaqat al-Kubra Ibnu Sa'ad jilid 3 hal. 61 dan Al-Kamil
Ibnu Atsir jilid 3 hal. 50.
[15]
Tarikh Ath-Thabari jilid 4 hal. 229 dan Al-Kamil Ibnu Atsir jilid
3 hal. 67.
[16]
Al-Tarikh al-Islami Mahmud Syakir jilid 3 hal. 238, Al-Maktab al-Islami
1411-1991.
Tata
Cara Pemilihan Utsman bin Affan
Setelah
Umar dimakamkan, Al-Miqdad bin Al-Aswad mengumpulkan para anggota dewan syura
di rumah Al-Miswar bin Makhramah, sementara saat itu Thalhah sedang tidak
berada di tempat (absen). Al-Miqdad memerintahkan Abu Thalhah untuk menghalangi
orang-orang agar tidak mengganggu mereka. Abu Thalhah berkata kepada anggota
dewan: "Demi Allah yang telah mewafatkan Umar, aku tidak akan memberikan
tambahan waktu bagi kalian lebih dari tiga hari."
Abdurrahman
bin Auf mengeluarkan dirinya sendiri dari pencalonan dan berkata: "Siapa
di antara kalian yang bersedia mengeluarkan dirinya dari kepemimpinan agar ia
bisa mewakili kami untuk memilihkan orang yang terbaik di antara kalian?"
Utsman menjawab: "Aku adalah orang pertama yang ridha (setuju)." Ali
berkata kepada Abdurrahman bin Auf: "Hendaklah engkau mengutamakan
kebenaran, jangan mengikuti hawa nafsu, dan jangan mengistimewakan
kerabat." Abdurrahman menjawab: "Berikanlah kepadaku janji-janji
kalian untuk bersamaku melawan siapa pun yang mengganti atau mengubah
(keputusan), dan kalian harus ridha terhadap siapa pun yang aku pilihkan untuk
kalian berdasarkan janji kepada Allah bahwa aku tidak akan mengistimewakan
kerabat karena kekerabatannya dan aku tidak akan lalai dalam membela kaum
Muslimin." Maka ia mengambil janji dari mereka dan memberikan janji yang
serupa kepada mereka [1].
Abdurrahman
bin Auf kemudian menemui para sahabat—semoga Allah meridhai mereka—dari
kalangan para panglima pasukan dan pemuka masyarakat. Ia mendatangi orang-orang
yang hadir di Madinah dari berbagai negeri yang telah mengetahui berita
pembunuhan Umar bin Al-Khaththab dan sengaja hadir untuk tujuan tersebut. Ia
mulai bermusyawarah dengan semua orang selama masa tenggang waktu, di mana
urusan kepemimpinan saat itu telah mengerucut kepada Ali bin Abi Thalib setelah
Az-Zubair bin Al-Awwam menyerahkan haknya kepada Ali, dan kepada Utsman bin
Affan karena Sa'ad bin Abi Waqqash menyerahkan haknya kepada Abdurrahman bin
Auf yang telah mengeluarkan dirinya sendiri. Karena itu, ia bertanya kepada
orang-orang tentang perbandingan keutamaan antara Ali atau Utsman.
Ditemukan
dari hasil musyawarah tersebut bahwa mayoritas lebih menyukai Utsman bin Affan;
sebab mereka merasa khawatir terhadap ketegasan Ali bin Abi Thalib setelah
sebelumnya mereka dipimpin oleh Umar dengan ketegasan dan pola hidup yang
keras, sementara Utsman terkenal dengan kedermawanan dan kelembutannya [2].
Abdurrahman
bertanya kepada Ali: "Sekiranya urusan ini dipalingkan darimu, menurutmu
siapa yang paling berhak dan layak memegangnya?" Ali menjawab:
"Utsman." Kemudian ia menanyakan pertanyaan yang sama kepada Utsman,
dan Utsman menjawab: "Ali." Ia juga bertanya kepada Sa'ad bin Abi
Waqqash, dan Sa'ad menjawab: "Utsman."
Ketika
orang-orang selesai shalat Subuh pada hari ketiga—yang merupakan hari terakhir
dari masa tenggang yang ditentukan—Abdurrahman mengumpulkan anggota dewan syura
dan mengundang kaum Muhajirin, Anshar, para panglima pasukan, serta orang-orang
yang hadir di Madinah setelah musim haji untuk menantikan pemilihan Khalifah
baru.
Semua
orang mendesak Abdurrahman agar segera mengumumkan hasil pilihan dari
musyawarah yang telah dilakukan berdasarkan mandat yang ia miliki. Ia melihat
kepada Utsman dan Ali lalu berkata: "Sesungguhnya aku telah bertanya
tentang kalian berdua dan tentang orang selain kalian, dan aku tidak mendapati
orang-orang menyetarakan siapa pun dengan kalian berdua." Ia mengatakan
hal itu kepada anggota syura, lalu bertanya kepada Ali: "Jika kekhalifahan
jatuh kepadamu, apakah engkau berjanji kepada Allah untuk beramal berdasarkan
Kitabullah, Sunnah Rasul-Nya ﷺ,
dan sirah (jalan hidup) dua khalifah setelahnya?" Ali menjawab: "Aku
akan beramal berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, kemudian aku akan
beramal sesuai dengan batas ilmu dan kemampuanku," yang berarti ia tidak
berkomitmen penuh pada sirah dua khalifah sebelumnya.
Kemudian
ia memanggil Utsman dan mengambil janji yang sama jika urusan tersebut jatuh
kepadanya. Utsman menjawab: "Ya, aku akan beramal berdasarkan Kitabullah,
Sunnah Rasul-Nya, dan sirah dua khalifah setelahnya." Lalu ketiganya maju
menuju para ahli syura, ahli pikir, dan panglima pasukan yang berkumpul di
masjid. Utsman berdiri agak ke belakang karena sifat malunya di satu sisi, dan
kemungkinan bahwa jabatan tersebut akan diberikan kepada Ali di sisi lain; ia
terus mundur hingga berada di bagian belakang masjid.
Abdurrahman
bin Auf naik ke atas mimbar dengan menyandang pedangnya, lalu ia berdoa dengan
doa yang tidak didengar oleh hadirin. Kemudian ia memanggil Utsman, memegang
tangannya, dan berkata: "Ya Allah, dengarlah dan saksikanlah bahwa aku
telah menyerahkan apa yang menjadi tanggung jawab di leherku kepada
Utsman." Abdurrahman duduk di tempat duduk Nabi ﷺ di mimbar tersebut, dan mendudukkan Utsman
pada tingkatan kedua. Maka semua orang berbondong-bondong membaiatnya. Orang
pertama yang membaiat adalah Abdurrahman bin Auf sebagai pemegang mandat dari
anggota syura dan rakyat, kemudian diikuti oleh Ali bin Abi Thalib [3]. Karena
itulah Ibnu Sa'ad meriwayatkan dalam Ath-Thabaqat dari Umar bin Amru bin
Hani dari ayahnya dari kakeknya yang berkata: "Aku melihat Ali membaiat
Utsman sebagai orang pertama dari kalangan manusia, kemudian orang-orang
mengikuti membaiatnya."
Pada
hari yang sama saat pembaiatan Utsman, Thalhah bin Ubaidillah—salah satu
anggota dewan syura yang sebelumnya absen—telah tiba. Begitu mengetahui
kekhalifahan telah ditetapkan bagi Utsman, ia bertanya kepada orang-orang:
"Apakah seluruh Quraisy ridha?" Mereka menjawab: "Ya." Ia
bertanya lagi: "Apakah seluruh orang telah membaiatnya?" Mereka
menjawab: "Ya." Ia berkata: "Aku tidak membenci apa yang telah
disepakati oleh orang-orang," dan ia pun turut membaiatnya.
Khotbah
Utsman Setelah Pembaiatan:
Sumber-sumber
sejarah meriwayatkan bahwa ketika Utsman telah dibaiat, ia keluar dalam keadaan
yang paling sedih di antara manusia. Dari atas mimbar Rasulullah ﷺ, ia berkhotbah di
hadapan massa, memuji Allah dan menyanjung-Nya, serta bershalawat kepada Nabi ﷺ, kemudian berkata: (Sesungguhnya
kalian berada di tempat persinggahan yang akan fana dan dalam sisa umur yang
ada. Maka bersegeralah menuju ajal kalian dengan kebaikan terbaik yang kalian
mampu, karena kalian telah berada di waktu pagi atau sore (hampir ajal).
Ingatlah, sesungguhnya dunia diliputi oleh tipu daya, maka janganlah
sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu. Ambillah pelajaran dari
orang-orang terdahulu, bersungguh-sungguhlah dan jangan lalai, karena ajal
tidak akan lalai dari kalian. Di manakah putra-putra dunia dan
saudara-saudaranya yang dahulu menggalinya, membangunnya, dan menikmatinya
dalam waktu lama? Bukankah dunia telah membuang mereka? Buanglah dunia
sebagaimana Allah telah membuangnya...) [4].
Kekhalifahannya
ditetapkan pada tanggal 3 Muharram tahun 24 Hijriah, dan shalat pertama yang ia
imami bagi kaum Muslimin adalah shalat Ashar.
No comments:
Post a Comment