Saturday, April 18, 2026

Lawazimul Mahabbah

 

Sinopsis

Kelaziman cinta menggambarkan siapa dan apa saja yang patut dicintai dan yang patut dibenci. Cinta kepada Allah berarti juga mencintai siapa-siapa yang dicintai Kekasih (Al­lah) dan mencintai apa saja yang dicintai kekasih (Allah).

Mencintai siapa dan apa yang dicintai Allah ini akan menghasilkan wala (loyalitas) kepada Allah.

 

Sebaliknya apabila membenci siapa saja yang dibenci Kekasih (Allah) dan membenci apa saja yang dibenci Kekasih (Allah) akan menghasilkan bara (melepaskan diri) dari segala perbuatan kufur. Wala dan bara merupakan sikap yang jelas kepada objek cinta.

 

Al Wala' (Loyalitas)

 

Loyalitas kepada Allah dapat dibuktikan dengan mencintai siapa saja yang dicintai Allah. Misalnya Allah mencintai Nabi SAW, maka untuk mendapatkan balasan dan cinta dari Allah, kita harus pula mencintai Nabi SAW. Hal ini dijelaskan dalam banyak Al Quran tentang cinta kepada Allah wajib diikuti dengan cinta kepada Rasul. Apabila kita mencintai Allah maka cintailah Rasul. Begitu juga dengan apa yang dicintai Nabi SAW, kita ikut mencintai apa yang dicintai Nabi SAW.

 

A. Mahabbatu Man Ahabbatu Al Mahbub (Mencintai Siapapun Yang Dicintai Kekasih)

 

·         Mencintai siapapun yang dicintai kekasih merupakan bagian tingkah laku wujud dari cinta kepada yang dicintai. Mencintai Nabi SAW maka kita juga perlu mencintai para sahabat Nabi yang dicintai oleh Nabi. Misalnya Nabi SAW mencintai Abu Bakar Unar bin Khatab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Talib maka untuk lebih cintanya kepada Nabi, kita mesti juga mencintai para sahabat tersebut dengan mengikuti beberapa contoh teladan yang di­milikinya.

 

B. Mahabbatu Ma Ahabbatu Al Mahbub (Mencintai Apapun Yang Dicintai Kekasih)

 

·        Rasul mencintai beberapa kebiasaan dan benda yang biasa diamalkannya. Mencintai Rasul berarti kita perlu mengikuti amalan dan kebiasaannya. Rasul biasa mem­bersihkan giginya dengan siwak, maka dibolehkan kita menggunakan siwak. Banyak lagi tingkah laku nabi yang perlu diikuti sebagai bentuk cinta kepada Nabi SAW Mengikuti kebiasaan Nabi SAW juga wujud dari loyalitas kita kepada Nabi SAW

 

2. Al Baro (Melepaskan Diri)

 

·       Melepaskan diri dari kekufuran merupakan sikap muslim yang tegas. Di antara bara yang dikehendaki adalah membenci siapa saja yang dibenci kekasih (Allah dan Rasul) dan membenci apa saja yang dibenci kekasih (Allah dan Rasul). Hal-hal yang dibenci Nabi SAW seperti perbuatan mungkar perlu kita ingkari juga dengan sikap bara. Hal-hal yang dilarang oleh Allah dan RasulNya, juga perlu disikapi dengan bara. Sikap bara ini juga merupakan wujud cinta kepada Allah dan Rasulnya.

 

A. Bughdhu Man Abghadhahu Al Mahbub (Mem­benci Siapapun Yang Dibenci Kekasih)

 

Membenci siapa-siapa yang dibenci Nabi SAW, seperti membenci orang yang menyembah berhala, dan membenci orang yang melaksanakan perbuatan mungkar, merupakan bagian dari sikap cinta kepada Nabi dan bara kepada kemungkaran. Walaupun membeci orang yang berbuat mungkar tetapi tidak memusuhi orang tersebut. Kebencian lebih diarahkan kepada perbuatannya bukan kepada orangnya.

 

B. Bughdhu Ma Abghadhahu Al Mahbub (Membenci Apapun Yang Dibenci Kekasih)

 

Membenci apapun yang dibenci Rasul juga perlu kita ikuti, hal ini disebabkan karena kebencian Rasul kepada sesuatu bukan karena kemanusiaannya tetapi karena risalah yang dibawanya dan aqidah yang dipegangnya. Membenci apa­apa yang dibenci Rasul bagian dari sikap bara kita untuk menggambarkan cinta kita kepadanya.

Ringkasan

·            Perangkat cinta

·            Mencintai siapa-siapa yang dicintai Kekasih

·            Mencintai apa saja yang dicintai Kekasih

·            Menghasilkan wala (loyalitas)

·            Membenci siapa saja yang dibenci Kekasih Membenci apa saja yang dibenci Kekasih

 

No comments:

Post a Comment

Shifatur Rasul