Sinopsis
Pemurnian ibadah hanya kepada Allah
saja, hanya dapat dilakukan apabila telah memahami Allah sebagai Pencipta,
Pemberi Rezki, dan Penguasa alam. Sikap yang muncul dari pemahaman ini adalah
menjadikan Allah sebagai Penolong, Pembuat Hukum dan Pemberi Perintah. Dengan
pemahaman dan sikap demikian akan mudah bagi kita untuk menjadikan Allah
sebagai satu-satunya tempat yang kita sembah dan kita abdi. Pemurnian ibadah
terlaksana mesti diawali dengan kesiapan kita menjadikan Allah sebagai
satu-satunya yang kita tuju dan kita abdi.
Manusia dapat mengabdi kepada siapa
saja, sesuai dengan tingkat pemahaman dan keyakinan seseorang. Bagi Muslim,
pengabdian hanya kepada Allah dengan penuh ikhlas. Diterima atau tidaknya
ibadah kita kepada Allah dalam mengesakanNya sangat tergantung kepada sejauh
mana keikhlasan dalam berniat ibadah tersebut. Allah hanya menerima ibadah
seseorang dengan niat yang ikhlas. Keikhlasan dalam beribadah ini dapat dicapai
melalui dua hal yang saling berkait satu sama lain.
Pertama, dengan menolak segala thagut (syetan), menjauhkan diri dari thagut (syetan) dan tidak
mempersekutukan (syirik) Allah. Kedua, tertanam keimanan dan mengabdikan diri
hanya kepada Allah. Ingkar kepada thagut dan iman kepada Allah merupakan sikap
dalam memurnikan Allah dan memurnikan ibadah kita. Apabila tauhidullah tercapai dengan sempurna maka disitulah tercapainya tauhidulibadah. Karena asas tauhidulibadah adalah tauhidullah yang mantap.
1. Tauhidullah (Mengesakan Allah)
·
Mengesakan Allah (tauhidullah)
tidak saja menjadikan Allah sebagai Rabb dan
Malik, tetapi yang lebih penting
dalam ibadah adalah mengesakan Allah sebagai Ilah. Allah adalah satu-satunya ilah
yang patut disembah dan diabdi, hanya kepadaNya saja kita sembahyang,
berdoa dan meminta tolong.
·
Dalam mewujudkan pengesaan Allah
dalam ibadah, maka kitaharus berniat lebih dulu dengan keikhlasan. Tidak
dibenarkan ibadah kita kepada kuburan, jimat, pohon, keris, gunung, patung,
bahkan orang. Tidak dibenarkan kita meminta tolong dan bantuan kepada kuburan,
jimat, pohon, keris dan sebagainya, termasuk meminta sesuatu kepada benda-benda
keramat. Harapan dan permintaan kita hanya kepada Allah saja, tidak dibenarkan
meminta dan berharap kepada yang lain termasuk kepada manusia.
2. Ikhlas (Bersih
Hati)
Mentauhidkan Allah secara ikhlas
dalam pengertian Rububiah, Mulkiah dan
Uluhiah-Nya menjadikan kita betulbetul beriman kepada Allah dengan benar (shahih).
·
Keikhlasan dalam beribadah berarti
mengikhlaskan pula bahwa Allah yang satu-satunya diabdi dan disembah.
Keikhlasan dalam niat beribadah berarti tidak ada lagi yang lain dijadikan
tujuan dan harapan, tetapi hanya Allah saja, karena Dialah yang Maha Penolong,
Maha Pelindung dan Maha Pembantu.
·
Syirik terjadi apabila dalam ibadah
tidak ikhlas artinya terdapat tandingan-tandingan lain yang dijadikan sembahan.
Sembahan yang dituju tidak saja berupa materi, bahkan hawa nafsu juga banyak
yang dijadikan tuhan sembahan manusia sehingga menjadikan manusia ini tersesat.
·
Tidak akan mungkin kita bergantung
dan meminta tolong kepada sesuatu yang tidak berdaya dan tidak berkuasa seperti
benda, juga tidak mungkin berharap kepada ciptaan seperti manusia dan alam.
Tetapi kita bergantung hanya kepada Pencipta yang hebat dan segala-galanya.
Oleh karena itu diperlukan keikhlasan dalam beribadah.
Dalil
·
Q. 112:1-3. Katakanlah Muhammad:
Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadaNya
segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada
seorangpun yang setara dengan Dia.
·
Q. 38:83. Kecuali hamba-hamba Mu
yang ikhlas di antara mereka.
·
Q. 98: 5. Beribadahlah dengan
ikhlas.
A. 1 Al Kufru Bit Thaghut
(Mengingkari Thagut/ Syetan)
·
Unsur pertama di dalam mentauhidkan
Allah secara ikhlas adalah unsur penolakan hati terhadap thagut. Hati tidak dapat menerima kehadiran thagut lantaran iman kepada Allah.
·
Yang menjadikan ibadah tidak ikhlas
adalah banyaknya pengaruh syetan dalam hati kita sehingga yang diperturutkan
tidak hanya kepada Allah tetapi juga kepada selain Allah. Syetan selalu
mengajak kita kepada jalan di luar Islam, mereka memang telah bertugas membawa
manusia jauh dari Islam. Bahkan prestasi syetan adalah berhasil mengajak
manusia tidak menjalankan ibadah Oleh karena itu Allah juga menyebutkan
kawan-kawannya syetan yang terdiri dari bangsa jin dan manusia yang
meninggalkan Islam.
·
Mengingkari syetan merupakan suatu
sikap utama dalarn meluruskan dan membersihkan ibadah. Ada kalanya kita
beribadah untuk suatu kepentingan misalnya agar dilihat orang alim, agar dapat
status di tengah masyarakat, untuk kepentingan politik tertentu dan banyak lagi
penyimpangan niat ibadah lainnya.
·
Tanpa sikap yang jelas dalam
mengingkari syetan maka kita akan terjerumus dalam langkah dan kegiatan mereka.
Thagut tidak saja berarti syetan,
tetapi juga tiran, orang yang melampaui batas, penguasa zalim dan mereka yang
berbuat salah.
Dalil
·
Q. 2:256. Siapa yang mengkufuri thagut dan beriman kepada Allah,
sesungguhnya dia telah berpegang dengan tali yang teguh
·
Q. 4:60. Mereka hendak berhakim
kepada thagut padahal, mereka telah
diperintah mengingkari thagut itu.
Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka dengan penyesatan yang sejauh-jauh.
A.2 Al Ibti'adu `Anit Thaghut
(Menjauhi Thagut)
·
Bukan sekedar penolakan hati saja,
bahkan secara amalnya juga berusaha sekuat tenaga menolak thagut dalam semua hal.
·
Begitu besarnya pengaruh thagut yang dilakukan dengan
langkah-langkah syetan yang strategis dapat menjadikan kita terperdaya. Bahkan
Allah menyebutkan agar kita tidak mengikuti langkah-langkah syetan (Q.2: 208).
Penolakan terhadap langkah-langkah syetan merupakan suatu kewajiban, karena
syetan itu adalah musuh yang nyata bagi kita.
Umar bin Khatab RA terkenal sebagai
jagoan di masa jahiliyahnya bahkan anak perempuannya pun dikubur sebagai suatu
bagian dari kebiasaan Arab jahiliyah di masa itu. Ia sebagai tokoh jawara yang
ditakuti oleh semua orang. Namun demikian, ketika mendengar ayat Al Quran yang
dibaca oleh adiknya, Umar tertarik dan kemudian menyatakan dirinya masuk Islam.
Kemudian serta merta ia tinggalkan semua perilaku syetan yang ia lakukan
sebelumnya, dan beriman kepada Allah dan RasulNya.
Dalil
·
Q. 16:36. Hendaklah kamu sembah
Allah dan jauhilah thagut.
·
Q. 39:16-18. Dan orang-orang yang
menjauhi thagut (yaitu tidak
menyembahnya) dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira, sebab itu
sampaikanlah berita itu kepada hamba-hambaku.
A.3 `Adamu Syirk (Tidak Mempersekutukan
Allah)
·
Apabila kita menolak dengan hati
dan perbuatan segala thagut dan hanya
tergantung kepada Allah, maka kita tidak lagi menduakan Allah dengan apapun.
·
Berhasil menjauhkan diri dari
segala perbuatan yang tidak Islami (perbuatan syetan) dan tidak menjadikan
tandingantandingan selain Allah yang diikuti maka kita terbebas dari pengaruh
syetan. Hal demikian akan dapat membersihkan ibadah kita kepada Allah.
·
Ibadah shalat misalnya akan
terganggu pelaksanaannya apabila masih ada kepentingan-kepentingan lain selain
Islam yang kita dahulukan. Mungkin saja kita akan meninggalkan shalat atau
melaksanakan shalat tidak dengan khusyu.
·
Ibadah berupa infak dan zakat akan
terganggu dengan kepentingan riya (agar dilihat orang lain). Ibadah demikian
tidak akan diterima Allah. Merugilah seseorang yang beribadah tetapi tidak
ikhlas. Oleh karena itu, mengingkari thagut
merupakan suatu kewajiban dalam melaksanakan ibadah.
Dalil
·
Q. 39:3. Ingatlah hanya kepunyaan
Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).
·
Q. 39:11. Katakanlah:
"Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan
ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.
·
Q. 39:14. Katakanlah: "Hanya
Allah saja yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepadanya dalam (menjalankan)
agamaku.
B. 1 Al Imanu Billah (Iman Terhadap
Allah)
·
Unsur kedua di dalam mentauhidkan
Allah secara ikhlas adalah unsur penerimaan, artinya beriman kepada Allah
sepenuh hati. Keimanan yang benar tidak akan bersemayam di hati jika
karat-karat keyakinan kepada thagut tidak
di hilangkan.
·
Tidak cukup hanya pengingkaran
kepada thagut dalam menjalankan
Islam. Bersamaan ketika mengingkari thagut, kita harus menanamkan keimanan
dalam diri. Ingkar kepada thagut dan iman kepada Allah merupakan suatu kesatuan
bagaikan dua gambar di mata uang.
·
Iman kepada Allah secara murni
apabila kita berhasil ingkar kepada thagut, begitu pula sebaliknya. Dengan
demikian sikap jelas umat Islam adalah menolak kebatilan (ingkar kepada thagut) dan menerima kebenaran (iman
kepada Allah).
Dalil
·
Q. 2:256. Siapa yang mengkufuri thagut dan beriman kepada. Allah,
sesungguhnya dia telah berpegang dengan tali yang teguh.
B.2 `Ibadallahi Wahdah (Mengabdi
Hanya Kepada Allah)
·
Keimanan hati terhadap Allah tidak
akan dapat dilihat kecuali dengan bukti pengabdian diri yang sepenuhnya kepada
Allah. Tidak melakukan pengabdian dan ketaatan kepada segala sesuatu yang tidak
sesuai dengan tuntutan keimanan.
·
Wujud dari iman kepada Allah adalah
mengabdi kepada Allah saja. Dalam diri muslim yang beriman hanya terdapat
nilai-nilai kebenaran yang berasal dari Islam. Tidak ada nilai di luar Islam
yang mempengaruhi seorang yang beriman kepada Allah.
·
Para sahabat Nabi SAW ketika
menerima Islam kemudian mengimaninya dan langsung menanggalkan semua tata cara
ibadah jahiliyah, menjauhkan kebiasaan buruk, meninggalkan tingkah laku yang
kotor. Sahabat Nabi SAW seperti Mus'ab bin Umair RA yang dikenal sebagai anak
muda kaya yang glamour di masa jahiliyahnya langsung berubah menjadi seorang
muslim yang baik bahkan sebagai dai pertama ke Madinah. Walaupun ibunya sendiri
mogok makan untuk memprotes pendirian anaknya.
Dalil
·
Q. 16:36. Sesungguhnya kami telah
utuskan seorang rasul kepada tiap-tiap ummat. Hendaklah kamu sembah Allah dan
jauhilah thagut
B.3 Tauhidul Ibadah (Mengesakan Allah)
·
Dalam beribadah kepada Allah tidak
mencampur adukkan hal yang dapat mengandung arti syirik, riya, dan sebagainya.
Ibadah harus dalam kerangka mengesakan Allah.
·
Ibadah dalam mengesakan Allah mesti
didasari oleh keimanan, sehingga dapat mempercayai apa yang diturunkan dan
diperintahkan dari Allah. Para muslimah di zaman Nabi SAW ketika mendengar
perintah Allah untuk menutup kepala dengan kerudung (jilbab) maka serta merta
mereka mengambil kain-kain untuk menutup rambutnya, Begitu juga para sahabat
Nabi SAW yang mendengat perintah meninggalkan minuman khamar (arak),
langsung mereka buang semua minuman arak tersebut, yang digambarkan dalam sirah bagaikan membanjiri kota.
·
Dalam Al Quran disebutkan apabila
orang beriman mendengarkan perintah Allah maka mereka mengatakan kami dengan
dan kami taat melakukannya.
Dalil
·
Q. 98:5. Mereka tidaklah disuruh
melainkan supaya menyembah Allah serta mengikhlaskan agama untuk-Nya.
Ringkasan Dalil
·
Tauhidullah-ikhlas (Q. 112:1-3,
38:83)
·
Mengingkari thagut (Q. 2:256, 4:60)
·
Menjauhi thagut (Q. 16:36, 39:16-18)
·
Tidak adanya syirik (Q. 39:3,11,14)
·
Iman terhadap Allah (Q. 2:256)
·
Mengabdi hanya kepada Allah (Q.
16:36)
·
Mengahadkan Allah dalam beribadah
(Q. 98:5)
No comments:
Post a Comment