Saturday, April 18, 2026

Tauhidul Ibadah

Sinopsis

Pemurnian ibadah hanya kepada Allah saja, hanya dapat dilakukan apabila telah memahami Allah sebagai Pencipta, Pemberi Rezki, dan Penguasa alam. Sikap yang muncul dari pemahaman ini adalah menjadikan Allah sebagai Penolong, Pembuat Hukum dan Pemberi Perintah. Dengan pemahaman dan sikap demikian akan mudah bagi kita untuk menjadikan Allah sebagai satu-satunya tempat yang kita sembah dan kita abdi. Pemurnian ibadah terlaksana mesti diawali dengan kesiapan kita menjadikan Allah sebagai satu-satunya yang kita tuju dan kita abdi.

Manusia dapat mengabdi kepada siapa saja, sesuai dengan tingkat pemahaman dan keyakinan seseorang. Bagi Muslim, pengabdian hanya kepada Allah dengan penuh ikhlas. Diterima atau tidaknya ibadah kita kepada Allah dalam mengesakanNya sangat tergantung kepada sejauh mana keikhlasan dalam berniat ibadah tersebut. Allah hanya menerima ibadah seseorang dengan niat yang ikhlas. Keikhlasan dalam beribadah ini dapat dicapai melalui dua hal yang saling berkait satu sama lain.

Pertama, dengan menolak segala thagut (syetan), menjauhkan diri dari thagut (syetan) dan tidak mempersekutukan (syirik) Allah. Kedua, tertanam keimanan dan mengabdikan diri hanya kepada Allah. Ingkar kepada thagut dan iman kepada Allah merupakan sikap dalam memurnikan Allah dan memurnikan ibadah kita. Apabila tauhidullah tercapai dengan sempurna maka disitulah tercapainya tauhidulibadah. Karena asas tauhidulibadah adalah tauhidullah yang mantap.

1. Tauhidullah (Mengesakan Allah)

·        Mengesakan Allah (tauhidullah) tidak saja menjadikan Allah sebagai Rabb dan Malik, tetapi yang lebih penting dalam ibadah adalah mengesakan Allah sebagai Ilah. Allah adalah satu-satunya ilah yang patut disembah dan diabdi, hanya kepadaNya saja kita sembahyang, berdoa dan meminta tolong.

·       Dalam mewujudkan pengesaan Allah dalam ibadah, maka kitaharus berniat lebih dulu dengan keikhlasan. Tidak dibenarkan ibadah kita kepada kuburan, jimat, pohon, keris, gunung, patung, bahkan orang. Tidak dibenarkan kita meminta tolong dan bantuan kepada kuburan, jimat, pohon, keris dan sebagainya, termasuk meminta sesuatu kepada benda-benda keramat. Harapan dan permintaan kita hanya kepada Allah saja, tidak dibenarkan meminta dan berharap kepada yang lain termasuk kepada manusia.

2. Ikhlas (Bersih Hati)

Mentauhidkan Allah secara ikhlas dalam pengertian Rububiah, Mulkiah dan Uluhiah-Nya menjadikan kita betul­betul beriman kepada Allah dengan benar (shahih).

·   Keikhlasan dalam beribadah berarti mengikhlaskan pula bahwa Allah yang satu-satunya diabdi dan disembah. Keikhlasan dalam niat beribadah berarti tidak ada lagi yang lain dijadikan tujuan dan harapan, tetapi hanya Allah saja, karena Dialah yang Maha Penolong, Maha Pelindung dan Maha Pembantu.

·          Syirik terjadi apabila dalam ibadah tidak ikhlas artinya terdapat tandingan-tandingan lain yang dijadikan sembahan. Sembahan yang dituju tidak saja berupa materi, bahkan hawa nafsu juga banyak yang dijadikan tuhan sembahan manusia sehingga menjadikan manusia ini tersesat.

·          Tidak akan mungkin kita bergantung dan meminta tolong kepada sesuatu yang tidak berdaya dan tidak berkuasa seperti benda, juga tidak mungkin berharap kepada ciptaan seperti manusia dan alam. Tetapi kita bergantung hanya kepada Pencipta yang hebat dan segala-galanya. Oleh karena itu diperlukan keikhlasan dalam beribadah.

Dalil

·          Q. 112:1-3. Katakanlah Muhammad: Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada­Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.

·          Q. 38:83. Kecuali hamba-hamba Mu yang ikhlas di antara mereka.

·          Q. 98: 5. Beribadahlah dengan ikhlas.

A. 1 Al Kufru Bit Thaghut (Mengingkari Thagut/ Syetan)

·          Unsur pertama di dalam mentauhidkan Allah secara ikhlas adalah unsur penolakan hati terhadap thagut. Hati tidak dapat menerima kehadiran thagut lantaran iman kepada Allah.

·          Yang menjadikan ibadah tidak ikhlas adalah banyaknya pengaruh syetan dalam hati kita sehingga yang diperturut­kan tidak hanya kepada Allah tetapi juga kepada selain Allah. Syetan selalu mengajak kita kepada jalan di luar Is­lam, mereka memang telah bertugas membawa manusia jauh dari Islam. Bahkan prestasi syetan adalah berhasil mengajak manusia tidak menjalankan ibadah Oleh karena itu Allah juga menyebutkan kawan-kawannya syetan yang terdiri dari bangsa jin dan manusia yang meninggalkan Is­lam.

·          Mengingkari syetan merupakan suatu sikap utama dalarn meluruskan dan membersihkan ibadah. Ada kalanya kita beribadah untuk suatu kepentingan misalnya agar dilihat orang alim, agar dapat status di tengah masyarakat, untuk kepentingan politik tertentu dan banyak lagi penyim­pangan niat ibadah lainnya.

·         Tanpa sikap yang jelas dalam mengingkari syetan maka kita akan terjerumus dalam langkah dan kegiatan mereka. Thagut tidak saja berarti syetan, tetapi juga tiran, orang yang melampaui batas, penguasa zalim dan mereka yang berbuat salah.

Dalil

·        Q. 2:256. Siapa yang mengkufuri thagut dan beriman kepada Allah, sesungguhnya dia telah berpegang dengan tali yang teguh

·        Q. 4:60. Mereka hendak berhakim kepada thagut padahal, mereka telah diperintah mengingkari thagut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka dengan penye­satan yang sejauh-jauh.

A.2 Al Ibti'adu `Anit Thaghut (Menjauhi Thagut)

·       Bukan sekedar penolakan hati saja, bahkan secara amalnya juga berusaha sekuat tenaga menolak thagut dalam semua hal.

·       Begitu besarnya pengaruh thagut yang dilakukan dengan langkah-langkah syetan yang strategis dapat menjadikan kita terperdaya. Bahkan Allah menyebutkan agar kita tidak mengikuti langkah-langkah syetan (Q.2: 208). Penolakan terhadap langkah-langkah syetan merupakan suatu kewajiban, karena syetan itu adalah musuh yang nyata bagi kita.

Umar bin Khatab RA terkenal sebagai jagoan di masa jahiliyahnya bahkan anak perempuannya pun dikubur sebagai suatu bagian dari kebiasaan Arab jahiliyah di masa itu. Ia sebagai tokoh jawara yang ditakuti oleh semua or­ang. Namun demikian, ketika mendengar ayat Al Quran yang dibaca oleh adiknya, Umar tertarik dan kemudian menyatakan dirinya masuk Islam. Kemudian serta merta ia tinggalkan semua perilaku syetan yang ia lakukan sebelumnya, dan beriman kepada Allah dan RasulNya.

Dalil

·          Q. 16:36. Hendaklah kamu sembah Allah dan jauhilah thagut.

·          Q. 39:16-18. Dan orang-orang yang menjauhi thagut (yaitu tidak menyembahnya) dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira, sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hambaku.

A.3 `Adamu Syirk (Tidak Mempersekutukan Allah)

·          Apabila kita menolak dengan hati dan perbuatan segala thagut dan hanya tergantung kepada Allah, maka kita tidak lagi menduakan Allah dengan apapun.

·          Berhasil menjauhkan diri dari segala perbuatan yang tidak Islami (perbuatan syetan) dan tidak menjadikan tandingan­tandingan selain Allah yang diikuti maka kita terbebas dari pengaruh syetan. Hal demikian akan dapat membersih­kan ibadah kita kepada Allah.

·          Ibadah shalat misalnya akan terganggu pelaksanaannya apabila masih ada kepentingan-kepentingan lain selain Islam yang kita dahulukan. Mungkin saja kita akan meninggalkan shalat atau melaksanakan shalat tidak dengan khusyu.

·          Ibadah berupa infak dan zakat akan terganggu dengan kepentingan riya (agar dilihat orang lain). Ibadah demikian tidak akan diterima Allah. Merugilah seseorang yang beribadah tetapi tidak ikhlas. Oleh karena itu, mengingkari thagut merupakan suatu kewajiban dalam melaksanakan ibadah.

Dalil

·         Q. 39:3. Ingatlah hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).

·        Q. 39:11. Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.

·        Q. 39:14. Katakanlah: "Hanya Allah saja yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepadanya dalam (menjalan­kan) agamaku.

B. 1 Al Imanu Billah (Iman Terhadap Allah)

·       Unsur kedua di dalam mentauhidkan Allah secara ikhlas adalah unsur penerimaan, artinya beriman kepada Allah sepenuh hati. Keimanan yang benar tidak akan bersemayam di hati jika karat-karat keyakinan kepada thagut tidak di hilangkan.

·       Tidak cukup hanya pengingkaran kepada thagut dalam menjalankan Islam. Bersamaan ketika mengingkari thagut, kita harus menanamkan keimanan dalam diri. Ingkar kepada thagut dan iman kepada Allah merupakan suatu kesatuan bagaikan dua gambar di mata uang.

·      Iman kepada Allah secara murni apabila kita berhasil ingkar kepada thagut, begitu pula sebaliknya. Dengan demikian sikap jelas umat Islam adalah menolak kebatilan (ingkar kepada thagut) dan menerima kebenaran (iman kepada Allah).

Dalil

·      Q. 2:256. Siapa yang mengkufuri thagut dan beriman kepada. Allah, sesungguhnya dia telah berpegang dengan tali yang teguh.

B.2 `Ibadallahi Wahdah (Mengabdi Hanya Kepada Allah)

·          Keimanan hati terhadap Allah tidak akan dapat dilihat kecuali dengan bukti pengabdian diri yang sepenuhnya kepada Allah. Tidak melakukan pengabdian dan ketaatan kepada segala sesuatu yang tidak sesuai dengan tuntutan keimanan.

·          Wujud dari iman kepada Allah adalah mengabdi kepada Allah saja. Dalam diri muslim yang beriman hanya terdapat nilai-nilai kebenaran yang berasal dari Islam. Tidak ada nilai di luar Islam yang mempengaruhi seorang yang beriman kepada Allah.

·          Para sahabat Nabi SAW ketika menerima Islam kemudian mengimaninya dan langsung menanggalkan semua tata cara ibadah jahiliyah, menjauhkan kebiasaan buruk, meninggalkan tingkah laku yang kotor. Sahabat Nabi SAW seperti Mus'ab bin Umair RA yang dikenal sebagai anak muda kaya yang glamour di masa jahiliyahnya langsung berubah menjadi seorang muslim yang baik bahkan sebagai dai pertama ke Madinah. Walaupun ibunya sendiri mogok makan untuk memprotes pendirian anaknya.

Dalil

·          Q. 16:36. Sesungguhnya kami telah utuskan seorang rasul kepada tiap-tiap ummat. Hendaklah kamu sembah Allah dan jauhilah thagut

B.3 Tauhidul Ibadah (Mengesakan Allah)

·          Dalam beribadah kepada Allah tidak mencampur adukkan hal yang dapat mengandung arti syirik, riya, dan sebagainya. Ibadah harus dalam kerangka mengesakan Allah.

·          Ibadah dalam mengesakan Allah mesti didasari oleh keimanan, sehingga dapat mempercayai apa yang diturun­kan dan diperintahkan dari Allah. Para muslimah di zaman Nabi SAW ketika mendengar perintah Allah untuk menutup kepala dengan kerudung (jilbab) maka serta merta mereka mengambil kain-kain untuk menutup rambutnya, Begitu juga para sahabat Nabi SAW yang mendengat perintah meninggalkan minuman khamar (arak), langsung mereka buang semua minuman arak tersebut, yang digambarkan dalam sirah bagaikan membanjiri kota.

·         Dalam Al Quran disebutkan apabila orang beriman mendengarkan perintah Allah maka mereka mengatakan kami dengan dan kami taat melakukannya.

Dalil

·         Q. 98:5. Mereka tidaklah disuruh melainkan supaya menyembah Allah serta mengikhlaskan agama untuk-Nya.

Ringkasan Dalil

·        Tauhidullah-ikhlas (Q. 112:1-3, 38:83)

·        Mengingkari thagut (Q. 2:256, 4:60)

·        Menjauhi thagut (Q. 16:36, 39:16-18)

·        Tidak adanya syirik (Q. 39:3,11,14)

·        Iman terhadap Allah (Q. 2:256)

·        Mengabdi hanya kepada Allah (Q. 16:36)

·        Mengahadkan Allah dalam beribadah (Q. 98:5)

 

No comments:

Post a Comment

Shifatur Rasul