Saturday, April 18, 2026

Maratibul Mahabbah

 

Sinopsis

 

Iman kepada Allah SWT berdasarkan kepada sejauh mana enalan kepadaNya. Di antara konsekuensi kenal Allah adalah munculnya rasa cinta kepada Allah. Dengan cinta maka dapat membuat amal shaleh menjadi lebih khusyuk dan mantap. Dalam At Quran begitu banyak ayat yang meminta kita untuk mencintai Allah dan rasulNya (Q. 9: 24; 2: 165; 8:2). Dalam surat At Anfal ayat 2 digambarkan bagaimana tingkah laku cinta kepada Allah seperti bergetar hatinya mendengar ayat At Quran dan bertarnbah imannya ketika melihat ayat-ayat Allah.

 

Tingkah laku cinta yang digambarkan Allah dalam surat Ali Imran ayat 14 adalah kecenderungan manusia kepada hawa nafsunya seperti kepada wanita, anak, harta benda, binatang peliharaan, emas perak dan kendaraan. Bahkan cinta yang lebih diutamakan dari segalanya adalah cinta pada Allah, Rasul dan jihad. Hal ini disebutkan dalam surat 'Taubah ayat 24 bahwa ada manusia yang mencintai sesuatu dalam bentuk disibukkan dengan yang dicintainya. At Quran

juga menyebutkan dalam surat At Taubah ayat 111 dan surat Hujarat ayat 15, tentang orang yang mencintai Allah dengan cara mengorbankan jiwa raga dan hartanya untuk Islam. Dalam Al Quran terdapat beberapa informasi dan contoh tentang berbagai urutan dan tahap cinta.

 

Urutan cinta ini menggambarkan bagaimana sebaiknya kita bercinta dan menempatkan wujud cinta pada tempatnya yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.Secara umumnya cinta diawali dengan hubungan hati yang kemudian muncul rasa simpati. Setelah itu berkembang menjadi curahan hati dan rasa rindu yang akhirnya menghasilkan kemesraan dan bahkan cinta menghamba. Urutan ini memiliki beberapa konsekuensi dan contoh yang menggambarkan bobot dan tahap cinta tersebut. Cinta pada tahap hubungan hati dapat dilakukan dengan benda-benda yang dibunakan untuk memanfaatkan, misalnya cinta kepada kendaraan pribadi sehingga konsekuensi cintanya adalah merawat dan menjaga kendaraan tersebut.

 

Bentuk cinta berikutnya adalah munculnya rasa simpati yang diarahkan kepada manusia umumnya karena beberapa kelebihan dan ketertarikan terhadap orang tersebut. Pada tahap ini kita perlu berinteraksi lebih jauh agar dapat didakwahi. Kepada sesama muslim muncul rasa cinta berupa curahan hati yang diikat dalam tali persaudaraan muslim. Manakala rasa rindu sesama mukmin dilakukan dengan rasa saling kasih saying dan saling mencinta. Para sahabat Nabi SAW di antara sesamanya telah terjalin hubungan cinta demikian, mereka saling tolong menolong dalam dakwah dan perjuangan bahkan rindu apabila sekian lama tidak bertemu.

 

Cinta dalam wujud kemesraan selain dilakukan kepada sesama mukmin dan Rasul juga dilakukan kepada Islam. Sikap yang muncul adalah mengikuti nasehat dan perintahnya bahkan bersedia untuk berkorban. Tingkat cinta yang tertinggi adalah cinta hanya kepada Allah dalam bentuk menyembah atau mengabdikan diri.

Objek tingkatan cinta ini yang paling rendah adalah ada benda kemudian kepada manusia, muslim, mukmin, l/Islam dan yang paling tinggi adalah cinta kepada Al­lah.

 

 

Maratibul Mahabbah (Tingkatan Cinta)

 

Al `Alaqah (Kecenderungan) -> Al Madiyah (Benda­benda) -> Al Intifa' (Pemanfaatan)

 

Cinta yang dibenarkan oleh Islam terhadap benda-benda (fisik atau material) adalah sekedar melakukan hubungan hati. Kita tidak perlu mencurahkan hati kepada benda yang 1icintai dan dilarang mengabdinya. Bentuk cinta kepada benda lebih bersifat pemanfaatan untuk kepentingan hidup manusia dan untuk kepentingan dakwah. Cinta kepada mobil, berarti kita wajib memelihara dan 1menjaga agar mobil tersebut berjalan baik, awet, tidak rusak bahkan bersih. Mencintai mobil berarti kita mencucinya setiap hari dan menservice secara rutin. Begitu pula mencintai baju yang dipakai dengan cara menjaga dan itrtembersihkan baju yang kotor. Mencintai rumah berarti kita menyapu, membersihkan dan merawat rumah dengan baik. Cinta berupa kecenderungan hati masih dibenarkan ippabila diarahkan kepada benda untuk tujuan pemanfaatan, sebagai contoh para sahabat yang mencintai kuda kendaraannya dan senjata pedang yang dimilikinya. Namun demikian cinta berupa kecenderungan ini tidak boleh kepada Allah, Rasul dan Islam. Cinta kepada Islam diperlukan perjuangan dan pengorbanan.

 

2. `Atfu (Simpati) -> Al Insan (Manusia) -> Ad da'wah (Berdakwah)

 

Cinta berupa simpati diobjekkan kepada manusia (secara umum) dan tidak semestinya kepada umat Islam saja. Biasanya muncul simpati apabila dilihat ada beberapa potensi dan daya tarik yang dapat diajak untuk terlibat dalam Islam. Di zaman Nabi SAW terdapat beberapa sahabat yang diajak ke dalam Islam karena dasar simpati misalnya kepada Abu Bakar Sidq dan Hamzah. Imam Syahid Hasan Al Bana ketika mendakwahi Umar Tilmisani diawali dengan simpati kepada beberapa tingkah laku dan kebiasaan Umar Tilmisani. Hubungan simpati lebih berdasarkan kepada nilai-nilai kemanusiaan yang dimiliki oleh manusia.

 

3. Ash Sobabah (Empati) -> Al Muslim (Muslim) -> Ukhuwah (Persaudaraan Islam)

 

·        Cinta dalam wujud empati diarahkan kepada kaum muslim dalam bentuk hubungan persaudaraan atas dasar kelslaman. Cinta berupa empati lebih tinggi dibandingkan dengan cinta berupa kecenderungan dan simpati. Empati biasanya didasarkan kepada hubungan persaudaraan yang kemudian diharapkan munculnya rasa saling memahami dan saling tolong menolong sesama muslim.

 

4. Asy Syauq (Rindu) -> Mukmin (Orang Beriman) -> Rahmah Wal Mahabbah (Kasih Sayang Dan Cinta Kasih)

 

 Rindu merupakan wujud cinta kepada sesama'mukmin dalam rangka mendapatkan rahmat dari Allah SWT. Rindu sebagai bukti dari bentuk kasih saying dan cinta kasih. Kerinduan ini bisa tergambarkan dalam sirah Nabi SAW ketika mereka telah beberapa tidak bertemu karena tugas perang. Dalam Al Quran surat 48: 29; 5: 54-56, digambarkan bentuk kasih sayang sesama orang yang beriman. Kelebihan umat Islam adalah sesama orang beriman bersatu, tidak berpecah belah dan di antaranya saling berkasih sayang. Allah SWT (Q.3: 103) melarang kita berpecah belah dan disuruh merujuk kepada Allah dan RasulNya apabila terdapat perselisihan. Kalaupun ditemukan banyak umat Islam yang berpecah, sebetulnya yang salah adalah umat Islam sendiri yang tidak memahami dan mengamalkan Islam secara baik.

 

5. Al `Isq (Mesra) -> Ar Rasul Wal Islam (Rasul Dan 1skun) -> Al Itiba' (Mengikuti)

 

Kemesraan merupakan wujud cinta berikutnya setelah rindu. Mesra diarahkan kepada Rasul dan Islam bukan kepada benda atau makhluk lainnya. Bentuk nyata dari mesra ini adalah kesediaan individu melakukan pengorbanan dan perjuangan untuk menegakkan nilai Is­lam yang dicintai tersebut. Mereka yang mesra dengan Is­4am selalu membaca Al Quran dengan khusyu dan tertib. Ia sangat menikmati membaca Al Quran dan mengamalkan nilai-nilai Islam. Muslim yang mencintai Islam dan Rasul bersedia mengikuti segala perintah Allah dan RasulNya.

 

6. At Tatayum (Menghamba)A Allah ( Allah) -> Al `Ubudiyah (Pengabdian)

 

Urutan cinta tertinggi adalah menghambakan diri hanya kepada Allah dalam bentuk pengabdian. Allah SWT menghendaki cinta kita kepadaNya dalam bentuk penghambaan yang sesuai dengan makna dari syahadatain. Bahkan penghambaan ini dilakukan dalam setiap waktu dengan mengikuti syariat yang telah ditentukanNya. Al­lah dalam Al Quran mengatakan bahwa ada manusia yang mau mengorbankan dirinya untuk beribadah kepada Al­lah. Dalam surat 2:2 1, kita disuruh menyembah Allah dalam kaitannya beribadah.

 

Ringkasan

·           Tingkatan cinta

·           Hubungan hati - hanya dengan benda-benda –untuk memanfaatkan

·          Rasa simpati - pada manusia umumnya -untuk didakwahi Curahan hati - untuk kaum muslimin umumnya -untuk persaudaraan Islam

·          Rasa rindu - dengan mukminin (keluarga atau jamaah) - untuk saling kasih sayang dan saling mencintai

·         Mesra - dengan Rasulullah dan Islam - untuk diikuti

·         Cinta menghamba - hanya dengan Allah – untuk menyembah atau mengabdikan diri

 

No comments:

Post a Comment

Shifatur Rasul