Sinopsis
Iman kepada Allah SWT berdasarkan kepada sejauh mana enalan
kepadaNya. Di antara konsekuensi kenal Allah adalah munculnya rasa cinta kepada
Allah. Dengan cinta maka dapat membuat amal shaleh menjadi lebih khusyuk dan
mantap. Dalam At Quran begitu banyak ayat yang meminta kita untuk mencintai
Allah dan rasulNya (Q. 9: 24; 2: 165; 8:2). Dalam surat At Anfal ayat 2
digambarkan bagaimana tingkah laku cinta kepada Allah seperti bergetar hatinya
mendengar ayat At Quran dan bertarnbah imannya ketika melihat ayat-ayat Allah.
Tingkah laku cinta yang digambarkan Allah dalam surat Ali Imran
ayat 14 adalah kecenderungan manusia kepada hawa nafsunya seperti kepada
wanita, anak, harta benda, binatang peliharaan, emas perak dan kendaraan.
Bahkan cinta yang lebih diutamakan dari segalanya adalah cinta pada Allah,
Rasul dan jihad. Hal ini disebutkan dalam surat 'Taubah ayat 24 bahwa ada
manusia yang mencintai sesuatu dalam bentuk disibukkan dengan yang dicintainya.
At Quran
juga menyebutkan dalam surat At Taubah ayat 111 dan surat
Hujarat ayat 15, tentang orang yang mencintai Allah dengan cara
mengorbankan jiwa raga dan hartanya untuk Islam. Dalam Al Quran
terdapat beberapa informasi dan contoh tentang berbagai urutan dan tahap cinta.
Urutan cinta ini menggambarkan bagaimana sebaiknya
kita bercinta dan menempatkan wujud cinta pada tempatnya yang sesuai dengan
nilai-nilai Islam.Secara umumnya cinta diawali dengan hubungan hati yang
kemudian muncul rasa simpati. Setelah itu berkembang menjadi curahan hati dan
rasa rindu yang akhirnya menghasilkan kemesraan dan bahkan cinta menghamba.
Urutan ini memiliki beberapa konsekuensi dan contoh yang menggambarkan bobot
dan tahap cinta tersebut. Cinta pada tahap hubungan hati dapat dilakukan dengan
benda-benda yang dibunakan untuk memanfaatkan, misalnya cinta kepada kendaraan
pribadi sehingga konsekuensi cintanya adalah merawat dan menjaga kendaraan
tersebut.
Bentuk cinta berikutnya adalah munculnya rasa simpati yang
diarahkan kepada manusia umumnya karena beberapa kelebihan dan ketertarikan
terhadap orang tersebut. Pada tahap ini kita perlu berinteraksi lebih jauh agar
dapat didakwahi. Kepada sesama muslim muncul rasa cinta berupa curahan hati
yang diikat dalam tali persaudaraan muslim. Manakala rasa rindu sesama mukmin
dilakukan dengan rasa saling kasih saying dan saling mencinta. Para sahabat
Nabi SAW di antara sesamanya telah terjalin hubungan cinta demikian, mereka
saling tolong menolong dalam dakwah dan perjuangan bahkan rindu apabila sekian
lama tidak bertemu.
Cinta dalam wujud kemesraan selain dilakukan kepada sesama
mukmin dan Rasul juga dilakukan kepada Islam. Sikap yang muncul adalah
mengikuti nasehat dan perintahnya bahkan bersedia untuk berkorban. Tingkat
cinta yang tertinggi adalah cinta hanya kepada Allah dalam bentuk menyembah
atau mengabdikan diri.
Objek tingkatan cinta ini yang paling rendah adalah ada
benda kemudian kepada manusia, muslim, mukmin, l/Islam dan yang paling tinggi
adalah cinta kepada Allah.
Maratibul Mahabbah (Tingkatan
Cinta)
Al `Alaqah (Kecenderungan) -> Al
Madiyah (Bendabenda) -> Al Intifa'
(Pemanfaatan)
Cinta yang dibenarkan oleh Islam
terhadap benda-benda (fisik atau material) adalah sekedar melakukan hubungan hati.
Kita tidak perlu mencurahkan hati kepada benda yang 1icintai dan dilarang
mengabdinya. Bentuk cinta kepada benda lebih bersifat pemanfaatan untuk
kepentingan hidup manusia dan untuk kepentingan dakwah. Cinta kepada mobil,
berarti kita wajib memelihara dan 1menjaga agar mobil tersebut berjalan baik,
awet, tidak rusak bahkan bersih. Mencintai mobil berarti kita mencucinya setiap
hari dan menservice secara rutin. Begitu pula mencintai baju yang dipakai
dengan cara menjaga dan itrtembersihkan baju yang kotor. Mencintai rumah
berarti kita menyapu, membersihkan dan merawat rumah dengan baik. Cinta berupa
kecenderungan hati masih dibenarkan ippabila diarahkan kepada benda untuk
tujuan pemanfaatan, sebagai contoh para sahabat yang mencintai kuda kendaraannya
dan senjata pedang yang dimilikinya. Namun demikian cinta berupa kecenderungan
ini tidak boleh kepada Allah, Rasul dan Islam. Cinta kepada Islam diperlukan
perjuangan dan pengorbanan.
2. `Atfu
(Simpati) -> Al Insan (Manusia) -> Ad da'wah (Berdakwah)
Cinta berupa simpati diobjekkan kepada manusia (secara
umum) dan tidak semestinya kepada umat Islam saja. Biasanya muncul simpati
apabila dilihat ada beberapa potensi dan daya tarik yang dapat diajak untuk
terlibat dalam Islam. Di zaman Nabi SAW terdapat beberapa sahabat yang diajak
ke dalam Islam karena dasar simpati misalnya kepada Abu Bakar Sidq dan Hamzah.
Imam Syahid Hasan Al Bana ketika mendakwahi Umar Tilmisani diawali dengan
simpati kepada beberapa tingkah laku dan kebiasaan Umar Tilmisani. Hubungan
simpati lebih berdasarkan kepada nilai-nilai kemanusiaan yang dimiliki oleh
manusia.
3. Ash Sobabah (Empati) -> Al Muslim
(Muslim) -> Ukhuwah (Persaudaraan
Islam)
·
Cinta dalam wujud empati diarahkan
kepada kaum muslim dalam bentuk hubungan persaudaraan atas dasar kelslaman.
Cinta berupa empati lebih tinggi dibandingkan dengan cinta berupa kecenderungan
dan simpati. Empati biasanya didasarkan kepada hubungan persaudaraan yang
kemudian diharapkan munculnya rasa saling memahami dan saling tolong menolong
sesama muslim.
4. Asy Syauq (Rindu) -> Mukmin
(Orang Beriman) -> Rahmah Wal
Mahabbah (Kasih Sayang Dan Cinta Kasih)
Rindu merupakan wujud cinta kepada sesama'mukmin dalam
rangka mendapatkan rahmat dari Allah SWT. Rindu sebagai bukti dari bentuk kasih
saying dan cinta kasih. Kerinduan ini bisa tergambarkan dalam sirah Nabi SAW
ketika mereka telah beberapa tidak bertemu karena tugas perang. Dalam Al Quran
surat 48: 29; 5: 54-56, digambarkan bentuk kasih sayang sesama orang yang
beriman. Kelebihan umat Islam adalah sesama orang beriman bersatu, tidak
berpecah belah dan di antaranya saling berkasih sayang. Allah SWT (Q.3: 103)
melarang kita berpecah belah dan disuruh merujuk kepada Allah dan RasulNya
apabila terdapat perselisihan. Kalaupun ditemukan banyak umat Islam yang
berpecah, sebetulnya yang salah adalah umat Islam sendiri yang tidak memahami dan mengamalkan Islam secara baik.
5. Al `Isq (Mesra) -> Ar Rasul
Wal Islam (Rasul Dan 1skun) -> Al Itiba'
(Mengikuti)
Kemesraan merupakan wujud cinta
berikutnya setelah rindu. Mesra diarahkan kepada Rasul dan Islam bukan kepada
benda atau makhluk lainnya. Bentuk nyata dari mesra ini adalah kesediaan
individu melakukan pengorbanan dan perjuangan untuk menegakkan nilai Islam
yang dicintai tersebut. Mereka yang mesra dengan Is4am selalu membaca Al Quran
dengan khusyu dan tertib. Ia sangat menikmati membaca Al Quran dan mengamalkan
nilai-nilai Islam. Muslim yang mencintai Islam dan Rasul bersedia mengikuti
segala perintah Allah dan RasulNya.
6. At Tatayum (Menghamba)A Allah ( Allah) -> Al `Ubudiyah (Pengabdian)
Urutan cinta tertinggi adalah
menghambakan diri hanya kepada Allah dalam bentuk pengabdian. Allah SWT
menghendaki cinta kita kepadaNya dalam bentuk penghambaan yang sesuai dengan
makna dari syahadatain. Bahkan penghambaan ini dilakukan dalam setiap waktu dengan
mengikuti syariat yang telah ditentukanNya. Allah dalam Al Quran mengatakan
bahwa ada manusia yang mau mengorbankan dirinya untuk beribadah kepada Allah.
Dalam surat 2:2 1, kita disuruh menyembah Allah dalam kaitannya beribadah.
Ringkasan
·
Tingkatan cinta
·
Hubungan hati - hanya dengan
benda-benda –untuk memanfaatkan
·
Rasa simpati - pada manusia umumnya
-untuk didakwahi Curahan hati - untuk kaum muslimin umumnya -untuk persaudaraan
Islam
·
Rasa rindu - dengan mukminin
(keluarga atau jamaah) - untuk saling kasih sayang dan saling mencintai
·
Mesra - dengan Rasulullah dan Islam
- untuk diikuti
·
Cinta menghamba - hanya dengan
Allah – untuk menyembah atau mengabdikan diri
No comments:
Post a Comment