Monday, May 18, 2026

Perbaikan Diri (2) - Haditsu Tsulatsa

Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah yang Mahasuci dan Mahatinggi. Kita ucapkan shalawat dan salam kepada penghulu kita Nabi Muhammad, keluarga, dan para sahabat serta siapa saja yang menyebarkan dakwah beliau hingga hari pembalasan.

Amma ba'du.

Salamullahi 'alaikum wa rahmatuhu wa barakatuh.

Pembicaraan kita pada maiam hari ini, wahai Ikhwan, meliputi mukadimah seperti biasa yang terasa manis manakala berulang-ulang, yang bersumber dengan begitu jernih dan bersihnya dari kedalaman hati, yang tampak bersinar dari limpahan berkah Allah swt. Itulah munajat hati dan ruhani, yang dengannya kita memunajatkan jiwa kita. Selanjutnya adalah serial yang telah kita mulai sebelumnya, yaitu tentang ishlah an-nafs. Hanya Allah-lah yang memberi taufiq dan hidayah.

Saya masih ingat akan salah seorang akh yang berbicara kepadaku, dan aku tidak tahu kenapa ia mengatakan begitu. la berkata, "Sebenarnya kita telah menghabiskan sebagian waktu untuk bermunajat seperti ini sekedar untuk membuka sebuah muhadharah (pengajian, ceramah)-” Hendaklah saudara tadi memaklumiku jika harus kukatakan kepadanya, "Sesungguhnya munajat ini dan penyingkapan hati itu dipenuhİ oleh perasaan jiwa dan diilhami oleh rasa persaudaraan. Itu dimaksudkan agar dapat sampai kepada sasaran amaliah, bukan sekedar ucapan belaka.” Saya menantikan malam ini, dan ketika saya sudah berada di tempat ini, saya tidak kuasa untuk tidak mengejutkan kalian dengan mukadimah İni.  Sungguh saya ingin menarik perhatian kalian kepada fikrah İslamiah İni, yaitu pentingnya saling bersaudara karena Allah, dan dalam keridhaan Allah. Jika tidak, maka bagaimana halnya dengan sabda Nabi saw.,

هَلِ الْإِيمَانُ إِلَّا الْحُبُّ وَالْبُغْضُ؟

“Iman itu tidak lain adalab cinta dan benci.”

Iman inilah yang telah membangkitkan masyarakat İslam, lalu menjadi bagian dan hidup mereka, sehingga "sebutan" mereka menjadi kekal dan "menara" mereka menjadi tinggi menjulang. "Dİ antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu. Dan mereka sedikitpun tidak mengubah janji itu.” (Al-Abzab: 23)

Saya dapat katakan bahwa iman inilah satu-satunya yang akan menghantar kita ke surga, bahkan menuju Firdaus-Nya yang tertinggi manakala keimanan itu berdiri di atas kecintaan demi Allah dan saling bersaudara demi Allah pula. Iman itulah yang akan menyatukan persatuan umat dan memecahkan segah persoalannya. "Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara." (Al-Hujurat: 10) "Kaum mukminin dan mukminat itu sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain." (At-Taubah: 71)

Dengan dua sayap inilah Islam diterbangkan tinggi-tinggi ke langit kemuliaan. Kiranya tidak berlebihan bila saya katakan bahwa -"Iman itu tidak dapat dibayangkan tanpa cinta”, dan "cinta tidak dapat digambarkan tanpa iman", Allah swt. berfirman, "Bagaimanakah kalian (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah telah dibacakan kepada kalian, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kalian?   Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus." (Ali Imran: 101)

Orang-orang mukmin tidak ada yang sampai kufur juhud (ingkar), akan tetapi mereka berselisih setelah sebelumnya bersatu, dan berpecah belah setelah sebelumnya menyatu. Ini pun hal yang berlawanan dengan iman. Iman itu tidak lain adalah kesatuan dan cinta. Percayalah bahwa kaum muslimin tidaklah kehilangan sesuatu yang. lebih besar daripada kehilangan dua unsur ini. Orang mukmin itu laksana sebuah bangunan; sebagiannya mengokohkan sebagian yang lain. la juga, seperti jasad yang satu; jika satu anggota tubuh ada yang sakit, maka seluruh anggota badan akan merintih.

Demi Tuhan semesta alam, sisi manakah di antara unsur-unsur kebaikan yang ada, yang kedudukannya lebih tinggi daripada unsur yang telah menjadikan Islam itu mulia? Nabi saw- pernah bersabda,

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:«إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ لَأُنَاسًا مَا هُمْ بِأَنْبِيَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ، يَغْبِطُهُمُ الْأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِمَكَانِهِمْ مِنَ اللَّهِ»قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، تُخْبِرُنَا مَنْ هُمْ؟قَالَ:«هُمْ قَوْمٌ تَحَابُّوا بِرُوحِ اللَّهِ عَلَى غَيْرِ أَرْحَامٍ بَيْنَهُمْ، وَلَا أَمْوَالٍ يَتَعَاطَوْنَهَا، فَوَاللَّهِ إِنَّ وُجُوهَهُمْ لَنُورٌ، وَإِنَّهُمْ عَلَى نُورٍ، لَا يَخَافُونَ إِذَا خَافَ النَّاسُ، وَلَا يَحْزَنُونَ إِذَا حَزِنَ النَّاسُ»ثُمَّ قَرَأَ:﴿أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ﴾(يونس: ٦٢)

"Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah itu terdapat satu golongan manusia biasa, bukan para nabi dan juga bukan syuhada. Namun para nabi dan syuhada' merasa iri kepada mereka pada hari kiamat, karena kedudukan mereka di sisi Allah swt. Para sahabat bertanya, 'Wahai Rasulullah, beritahukan kepada kami siapa mereka itu?' Beliau menjawab, “Mereka adalah suatu kaum yang saling mencintai dengan ruh Allah; bukan karena kekerabatan mereka dan bukan karena harta benda yang saling mereka berikan. Demi Allah, wajah-wajah mereka adalah cahaya dan mereka berada di atas cahaya. Mereka tidak merasa khawatir ketika manusia mulai khawatir, dan mereka tidak pula bersedih hati manakala orang lain bersedih hati. Selanjutnya beliau membaca ayat, Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Yunus: 62) Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Abu Dawud.

Wahai Ikhwan, oleh karena itu, saya selalu mengingatkan bahwa tidak akan ada kebangkitan tanpa cinta, dan tidak ada cinta tanpa imam Manakala gambaran mengenai masyarakat yang mulia ini terbersit ke dalam jiwa, ia akan melahirkan harapan yang mulia pula, Karena, kita semua sebagai umat Islam ini tidak akan kekurangan sesuatu sebagaimana bila kita ini kekurangan perasaan yang kuat, yang dapat menyatukan hati kita dan mampu mewujudkan ilustrasi yang digambarkan oleh Rasulullah saw. melalui sabdanya,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ؛ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ، تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

"Gambaran orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, sating mengasihi dan saling empati di antara sesama mereka adalah laksana satu tubuh; jika ada sebagian dari anggota tubuh yang sakit, maka selurub anggota tubuh Iainnya akan ikut merintih merasakan demam dan tak bisa tidur. "

Dari hadits ini kita akan dapat memahami realitas hidup yang dijalani oleh kaum muslimin generasi pertama.

"Gambaran orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, saling mengasihi..." Nilai seperti ini mulai saya pahami dalam kehidupan para pendahulu itu. Di dalam kehidupan mereka, Anda akan mendapatkan contoh-contoh yang cukup banyak. Adapun kehidupan kita yang sedang kita jalani ini jarang sekali yang sesuai dengan sebagian dari gambaran tersebut. Semoga kita bisa terhibur oleh perkumpulan yang menyatukan kalian di sini.

Hadits ini terbetik dalam benakku, bahkan saya gambarkan tidak sebagaimana menggambarkan kata-kata, akan tetapi saya gambarkan dan saya lihat seakan terlukis di depan mataku. Saya baca bahwa seorang lelaki dalam suatu peperangan terkena pedang sampai akhirnya kematian menjemputnya. Ia tidak mengaduh dan tidak pula berteriak, akan tetapi langsung jatuh tersungkur sebagaimana jatuhnya pahlawan. Bukan ini yang saya inginkan dari hadits tersebut. Tapi coba lihatlah, pukulan pedang menimpa tengkuknya, lalu tiba-tiba saudara yang lain yang sedang berada di sampingnya berteriak, ”Saudaraku, engkau mendahuluiku menuju surga!" Hal inilah yang membuatku bergetar. la yang terpukul, tapi justru orang lain yang berteriak. Yang terpukul tidak berteriak, namun tetap tabah, karena dia orang beriman yang mengetahui bahwa pukulan itu justru akan menghantarkannya ke surga. Tapi lihatlah orang yang berada di sebelahnya. la mengatakan, "Aaah..!", seakan pukulan itu mengenai dirinya. ”...saudaraku, engkau ielah mendahuluiku menuju surga.", lanjutnya. Hakikat inilah yang menggambarkan kepadaku akan sabda Rasulullah saw., "Kamu lihat orang-orang beriman dalam hal saling mencintai dan saling menyayangi serta saling empati di antara sesama mereka laksana satu tubuh.” Yang terkena pukulan justru tidak mengaduh, namun saudaranyalah yang mengaduh. Seakan keduanya merupakan hakikat yang satu. Yang menambah lagi keindahan ikatan nilai ini adalah bahwa orang yang mengatakan "aduh" tadi tidaklah mengucapkannya karena dibuat-buat, akan tetapi ia mengucapkannya karena ia merasakan kepedihan saudaranya yang tertimpa pukulan pedang.

Demikianlah sejarah kaum salaf telah memperlihatkan kepada kita, yang menunjukkan bahwa kumpulan manusia itu seluruhnya adalah laksana tubuh yang satu, melakukan aktivitas yang satu, serta merasakan perasaan yang sama, betapapun dalam kondisi yang teramat sulit. Dikisahkan, suatu ketika sepasukan dari kaum muslimin keluar untuk berperang. Posisi antara pasukan kaum muslimin dengan musuh terbatasi sebuah sungai. Kedua pasukan itu saling berhadapan. Sang komandan pasukan muslim berkata, ”Bagaimana pendapat kalian menghadapi musuh-musuh kalian, sementara mereka bisa memperoleh perbekalan dan air tanpa harus susah payah? Bagaimana pendapat kalian?" Salah seorang dari mereka kemudian menjawab, "Kita seberangi saja sungai ini, lalu kita perangi mereka di tempat mereka berada." 

"Barangsiapa yang mundur dari mereka di waktu itu, kecuali berbelok untuk siasat perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya adalah neraka Jahanam. Dan amatlah buruk tempat kembalinya itu." (Al-Anfal: 16) Mereka pun akhirnya menceburkan diri bersama kuda-kuda mereka melintasi sungai agar dapat bertempur dengan musuh. Di depan terlihat pasukan niusuh sudah siap siaga untuk menghunuskan pedang mereka. Tiba-tiba salah seorang di antara pasukan kaurn muslimin ada yang berteriak, "Qa'bku..qa'bku...., jatuh ke air!" (Qa'b adalah kantong air bejana yang terbuat dari kayu.) Mendengar hal İtu, sang komandan berkata, "Carilah dulu qa'b milik saudara kalian yang hilang itu!" Mereka pun sibuk mencarinya, sementara pasukan musuh sedang menanti mereka dan kematİan pun sedang mengitari kepala mereka. Ketika komandan pasukan musuh itu melihat perilaku mereka tersebut, ia berkata, “Apa-apaan mereka itu?" Bawahannya menjawab, "Salah seorang dari mereka kehilangan qa'bnya, dan mereka sedang sibuk mencarinya.” Sang komandan ini kemudian berkata, "Jika karena masalah qa'b saja mereka sudah seperti itu, lalu bagaimana jika kalian membunuh salah seorang saja dari mereka?! Pasukan. ..! Berdamai sajalah dengan mereka sesuai dengan apa yang mereka inginkan!"

"Pancaran ukhuwah” tersebut sudah cukup untuk mengalahkan musuh dan memenangkan kaum mukminin, sekaligus menaklukkan kota itu. Iyu semua adalah buah dari kesatuan yang menjadi perhatian Rasulullah saw., "Kamu lihat orang-orang mukmin itu dalam hal saling mencintai dan berkasİh sayang...”

Wahai Ikhwan, sementara yang terjadi dalam masyarakat kita sekarang ini adalah bahwa nafsu dan kerakusan terhadap dunia telah menjadikan mereka berpecah-belah. sebab hati mereka kosong dari memahami potret semacam İni, yang dengan jelas disabdakan oleh Nabi saw., "Kamu lihat orang-orang mukmin itu dalam hal saling mencintai dan berkasih sayang...”, dan juga sabda beliau, “Orang mukmin terhadap mukrnin lainnya laksana sebuah bangunan, sebagiannya menguatkan bagian yang lain."

Ikhwan sekalian. Sekali lagi saya katakan bahwa sesuatu yang paling mahal dari manusia itu adalah "diri”-nya. Bahkan manusia itu tidak akan ada artinya tanpa dirinya. Diri inilah yang akan mendapatkan pengaruh karena berbagai faktor. Kebaikan diri memerlukan berbagai sarana. Di antara faktor perbaikan diri ini adalah usaha berhubungan dengan para "dokter hati" dan dengan ikhwan yang shalih, serta mengambil pelajaran baik dan buruk yang terjadi di tengah masyarakat. Keutamaan diri itu terletak pada kestabilan pribadinya. Diri itu berwatak ”cinta kepada kenikmatan dan tidak suka kepada kemudharatan.” Cinta kenikmatan mengharuskan adanya syahwat (hasrat, keinginan, nafsu) sementara menolak kemudharatan membutuhkan adanya amarah atau kebencian. Dorongan syahwat ada yang bersifat materi dan ada pula yang bersifat maknawi. Dorongan syahwat yang bersifat materi telah disusun sedemikian rupa oleh Allah swt. di dalam jiwa demi kelanggengan 'jiwa itu sendiri, sehingga hal ini memang sangat dibutuhkan. Ini terdapat pada diri manusia bukan sekedar demi kenikmatan, akan tetapi juga demi keberlangsungan eksistensi kemanusiaannya. la menjadi pendorong yang kuat yang menyebabkan keterpeliharaannya. Kenikmatan hanyalah sarana, bukan tujuan.

Manakala Islam mengakui adanya kenikmatan dengan segala bentuknya, Islam juga menjelaskan bahwa ia merupakan instink dan watak yang dominan. Selain itu juga menjelaskan pula bahwa jika ia berkuasa dan terlepas begitu saja tanpa kendali, ia akan menjadikan manusia ini ”predator" (binatang buas yang memangsa binatang lain). la juga mengandung unsur emosi dan sifat yang dominan atas akal orang yang berakal. Maka Islam memandangnya secara adil, Islam membentenginya dengan kendali syariat. Islam mengharamkan nazhar (memandang lawan jenis), khalwat (menyendiri dengan lawan jenis), dan tabarruj (berhias yang berlebihan) bagi wanita. Islam mendorong pernikahan serta menghilangkan segala rintangan yang menghalanginya, Adapun Eropa dan Barat, mereka memberikan kebebasan mutlak kepada nafsu serta membolehkannya untuk melakukan segala yang diinginkan. Mereka bahkan mempersenjatai dengan filsafat, dcngan berbagaİ majalah dan surat kabar, serta tarian dan perhiasan. Hasilnya adalah sebuah masyarakat yang hancur dan terperosok ke derajat yang paling rendah. Parahnya, ternyata kita pun bertaklid buta kepada mereka dalam dosa İni. Instink kita menjadi lepas begitu saja sehingga kita mudah berbuat maksiat. Jika kita menginginkan perbaikan, yakni memperbaiki instink itu, kita harus berpegang kepada batasan-batasan syara'. Kita harus mendudukkan diri sebagai orang yang mengoreksi diri secara berani dengan merasakan adanya muraqabah (pengawasaö) dari Allah swt. Hendaklah sejarah hidup nabi kita Yusuf as, menjadi contoh bagi kita. Beliau pernah diuji dengan posisi yang sangat sulit, namun beliau tetap tahan dan tidak melemah di hadapan godaan yang sedemikian rupa, sekalipun sifat kepemudaannya begitu kuat dan sifat kelelakiannya begitu sempurna, Yusuf as. mengatakan, ”Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang zhalim tidak akan beruntung.” (Yusuf: 23)

Kemudian ia menjadikan dirinya selalu dalam pengawasan Allah swt. manakala ia melihat tanda terang dari Tuhannya. Akhirnya, Allah pun menghindarkannya dari keburukan dan kekejian. Alasannya adalah: "Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamb-hamba Kami yang terpilih," (Yusuf: 24)

Abdullah bin Abdul Muthalib, ayah Nabi saw., pernah ditawari oleh seorang dukun wanita untuk berbuat serong dengannya dan diberi berbagai macam tawaran dan harta benda, namun Abdullah enggan menuruti kemauan wanita itu. la lebih merasa mulia dengan kelelakiannya yang utuh, akhlaknya yang mulia, serta dengan kesuciannya. la enggan untuk mengotori kesucian ini, sebagaimana syair terkenal bertutur:

أَمَّا الْحَرَامُ فَالْمَمَاتُ دُونَهُ، *وَالْحِلُّ لَا حِلٌّ فَأَسْتَبِيحُهُ.

فَكَيْفَ بِالْأَمْرِ الَّذِي تَبْغِينَهُ، *يَحْمِي الْكَرِيمُ عِرْضَهُ وَدِينَهُ.

Yang haram kematian taruhannya

Yang halal, pasti kutahu

Bagaimana dengan urusan yang kaıı inginkan

Orang muda menjaga harga diri dan agamanya

Yang dapat menjauhkan dari hal yang demikian itu, tidak lain adalah kemuliaan dan kehormatan dirinya.

Ketika Ummu Salamah ra. hijrah, ia tidak ditemani oleh seorang pun kecuali putranya yang masih kecil. Dia berarti hijrah sendirian. Kemudian dalam perjalanan bertemu dengan Utsman bin Thalhah, namun pandangan Utsman tidaklah tertuju padanya. Utsman bin Thalhah bertanya kepadanya, "Siapa yang menyertaimu?" Ummu Salamah menjawab, "Tidak ada siapa-siapa bersamaku, kecuali Allah." Utsman lalu berkata kepadanya, "Kalau begitu saya bisa menemanimu." Maka Utsman bin Thalhah pun menemaninya selama delapan hari delapan malam, sampai akhirnya Ummu Salamah tiba di Madinah. Ummu Salamah berkata, "Demi Allah, aku belum pernah melihat seorang ternan yang lebih baik darinya. la mengambil kendali unta, dan demi Allah, ia tidak melihat kepada siapa pun. Sampai ketika kami telah dekat dengan Madinah, ia berkata, "Nah, inilah dia kota Yatsrib itu, dan mereka itulàh sahabat-sahabatmu." Selanjutnya ia pun berpisah begitu saja dengan Ummu Salamah. Ummu Salamah ketika itu termasuk di antara wanita yang tercantik, dan Utsman ketika itu masih kafir dan berusia muda; namun demikian ia memiliki kehormatan. Ketika terjadi penaklukan kota Makkah, Abbas ingin menantangnya. Namun kemudian Nabi saw. bersabda, "Biarkan ia, karena dia mempunyai kehormatan dan harga diri.

Nilai kehormatan seperti ini jika muncul di dalam jiwamu, maka engkau pasti akan memperoleh kenikmatan tersendiri yang tidak mungkin engkau dapatkan pada saat memenuhi keinginan syahwatmu. Kemudian ada hal lain yang harus kita ingat, yaitu balasan atau pahala.

Di depan telah kami katakan bahwa jiwa itu memang tercetak untuk senang kepada kebaikan dan menolak keburukan. Dan yang berkaitan dengan kesenangan ini adalah cinta harta. Pada dasarnya, cinta harta merupakan sarana untuk mencapai tûjuan-tujuan nafsu dan meraih keinginan-keinginannya, di mana hal ini tidak mungkin tercapai kecuali dengan harta itu. Oleh karena itu, jiwa sangat tergantung sekali kepadanya. "Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan," (Al-Fajr: 20) "Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena kecintaannya yang sangat kepada harta." (Al-Adiyat: 8) "Jika ia meninggalkan harta yang banyak, agar berwasiat kepada ibu bapak dan karib kerabatnya secara ma'ruf, ini adalah kewajiban bagi orang-orang yang bertaqwa." (Al-Baqarah: 180)

Cinta kepada harta ada kalanya mulia dan ada kalanya pula hina. Manusia dalam masalah kecintaannya kepada harta terbagi menjadi tiga golongan.

Pertama, golongan yang berlebihan dalam mencintai harta sehingga seluruh waktunya habis demi harta, dan harta itu .saja yang selalu ia pikirkan.

Kedua, golongan yang meremehkan harta dan tidak menginginkan harta, sehingga ia tidak mau merasakan nikmatnya bekerja. Kedua golongan tersebut sama-sama keliru.

Ketiga, golongan yang senang kepada harta sehingga dapat meraih tujuan-tujuman mulia dan menjauhi yang selain itu. Kecintaannya kepada harta tidak sampai membawanya untuk melakukan dosa, dan juga tidak sampai menghalanginya untuk berbuat kebajikan. Itulah orang yang berbahagia.

Nabi saw. pernah mengatakan,

نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلرَّجُلِ الصَّالِحِ

“Sebaik-baik harta adalah yang ada di tangan orang yang shalih.”

Baginda Sa'ad (bin Abi Waqqash) pernah berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya (harta) sedikit itu tidak mencukupiku, maka berilah aku (harta) banyak yang memberiku manfaat dan memberikan maslahat untuk kaum muslimin."

Ini merupakan ungkapan yang patut dipuji. la menginginkan harta demi dua hal: agar memberikan manfaat baginya dan juga memberikan kemaslahatan bagi kaum muslimin. Hal semacam ini juga telah diperhatikan oleh Rasulullah saw. melalui sabda beliau, "Jika salah seorang di antara kalian mau mengambil tambang untuk dipikul di atas bahunya, lalu ia mencari kayu bakar dan diangkat dengan punggungnya; itu lebih baik baginya daripada meminta-minta kepada orang lain, baik mereka memberi atau. menolak."

Itu merupakan dorongan dari beliau terhadap kerja dan usaha. Beliau bahkan memohon perlindungan kepada Allah dari sifat lemah dan malas.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

“Ya Allah, sesunguhnya aku berlindung kepada-Mu dari rasa gelisah dan sedih, lemah dan malas, sifat pengecut dan bakhil, serta dari terbelit hutang dan tekanan orang lain.”

Ini jika usaha itu dari yang halal dan penggunaannya juga untuk yang halal. Adapun jika usahanya haram dan penggunaannya juga untuk hal yang haram, terapinya adalah muraqabatullah (merasa selalu diawasi oleh Allah swt.) dan mengingat-ingat akan suasana di hadapan Allah swt., yaitu di hari ketika harta maupun anak-anak tidak lagi bermanfaat kecuali yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, dan ketika tiada kedua telapak kaki hamba yang melangkah kecuali setelah ditanya terlebih dahulu mengenai umurnya untuk apa dia habiskan; mengenai masa mudanya untuk apa dia gunakan; mengenai ilmunya untuk apa dia amalkan; dan mengenai hartanya dari mana dia mendapatkan dan bagaimana dia belanjakan.

Pernah dikatakan kepada salah seorang yang shalih, "Engkau mempunyai harta yang banyak. Bukahkah jika engkau menyimpannya untuk keperluan anak-anakmu nanti lebih baik bagimu daripada engkau sedekahkan seluruhnya?" Ia kemudian menjawab, "Aku simpan hartaku untuk diriku dan aku simpan anak-anakku di sisi Allah." Mahabenar Allah yang telah berfirman, "Sedangkan ayah dari keduanya adalah seorang yang shalih. Maka Tuhanmu menghendaki agar mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu." (Al-Kahfi: 82)

Abdurrahman bin Abu Bakar pernah berkunjung ke rumah Aisyah Ummul Mukmimin, lantas Aisyah berkata kepadanya, "Engkau akan masuk surga dengan merangkak." Abdurrahman kemudian bertanya, "Mengapa begitu?" Aisyah menjawabi "Karena engkau termasuk orang yang paling banyak hartanya." Abdurrahman menyahut, "Aku akan masuk surga dengan berlari. Tentunya engkau telah mendengar tentang kafilah yang akan datang dari Mesir." Aisyah menjawab, "Ya." Abdurrahman kemudian berkata, "Kafilah itu, dan apa yang mereka bawa adalah untuk orang-yang miskin di antara kaum muslimin."

Harta itu, jika Allah membebaskan hati seseorang dari rasa mencintainya, maka pemiliknya akan dapat membeli surga dengannya. Adapun jika yang diinginkan dengan harta itu adalah pujian, kebanggaan, dan kesombongan, maka harta itu akan menjadi malapetaka bagi pemiliknya.

Ikhwan sekalian, sekarang mari kita beralih untuk berbicara mengenai hasrat spiritual, dan berapa besar pengaruhnya terhadap jiwa. Banyak di antara ulama mendahulukan cinta kedudukan daripada cinta harta. Sebab kedudukan itu lebih melekat pada diri dan lebih menempel pada hati. Biasanya jiwa lebih banyak cenderung kepada kedudukan daripada kepada harta. Sebagian manusia siap mengeluarkan harta sekian banyak demi meraih kedudukan, apakah berkaitan dengan jabatan, pangkat atau gelar. Kalau saja ia nafkahkan harta itu di jalan Allah, pastilah ia akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Namun ternyata banyak yang lebih suka kepada kedudukan.

Di antara maknanya adalah keagungan dan cinta popularitas. Manusia dalam kecintaannya kepada kedudukan terbagi menjadi dua golongan:

Pertama, golongan yang berlebihan, sehingga ia rela mengorbankan harta benda demi kedudukannya.

Kedua, golongan yang justru mengabaikan, sehingga ia kehilangan harga diri, kemuliaan, dan keutamaannya.

Setiap orang hendaklah dapat memelihara kedudukannya sesuai dengan keperluan untuk menjaga kemuliaan dan kehormatannya. "Sungguh telah Kami muliakan anak cucu Adam." (Al-lsra': 70) "Kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya, serta bagi orang-orang yang beriman." (Al-Munafiqun: 8) "Janganlah kalian bersikap Iemah dan jangan pula bersedih hati, karena kalianlah yang paling tinggi (derajatnya) jika kalian orang-orang yang beriman." (Ali Imran: 139)

Jika seseorang tidak bisa adil dan seimbang dalam menyikapi cintanya kepada kedudukan, hal itu akan membawanya kepada kesombongan. Jelas bahwa kesombongan merupakan perilaku yang tercela menurut syara', karena kesombongan berarti rneremehkan ciptaan Allah swt. dan menolak kebenaran. Di samping, itu kesombongan juga membawa kepada sikap ujub (bangga diri) yang juga tercela, yang terefleksi dalam bentuk keangkuhan. Ini mengakibatkan seseorang bersikap arogan dan memandang dirinya sebagai segala-galanya. Dengan demikian ia merasa bahwa pendapatnyalah yang benar, sedang pendapat yang Iain salah. Dia tidak dapat menerima nasihat dari orang lain. Lahirlah kemudian sifat riya' yang jelas-jelas dicela oleh agama, karena ia akan menghanguskan seluruh pahala. Selain itu, ujub juga mendorong seseorang untuk mencintai kedudukan. Sesungguhya hal inilah yang telah menghancurkan keagungan kaum muslimin dan memecah belah "kalimat" mereka.

Semua bencana ini merupakan buah dari cinta kepada kedudukan atau kehormatan. Jika engkau ingin mengobati dirimu dari penyakit yang kronis ini, engkau harus melakukan muraqabatullah. Sungguh kembalimu hanyalah kepada-Nya, dan Dia akan menghisabmu atas segala perilaku yang kecil maupun yang besar. Kemudian lihatlah orang-orang yang Iebih tinggi darimu dalam hal kedudukan. Ternyata, engkau jumpai mereka dalam jumlah yang banyak. Banyak orang yang Iebih tinggi darimu dalam hal harta, ilmu, amalan, kebaikan, dan seterusnya. Lalu ingatlah akan kelemahanrnu yang telah difitrahkan oleh Allah atasmu. "Dan manusia dijadikan memiliki sifat Iemah." (An-Nisa': 28) "Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah." (Al-Balad: 4) Ketahuilah bahwa kecintaan manusia itu tidak akan bermanfaat bagimu, dan kebencian mereka iuga tidak akan memberi madharat kepadamu.

"Katakanlah, 'Wahai Tuhan yang memiliki kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tanganMu-lah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu." (Ali Imran: 26) Selanjutnya bacalah sirah salafus shalih yang berisi berbagai pelajaran dan petuah.

Adalah Qadhi Raja' bin Haiwah. la seorang yang paling dekat kepada Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik. Suatu kali ia bertemu dengan Umar bin Abdul Aziz, Umar berkata, "Wahai Raja', aku yakin bahwa Amirul Mukminin (Sulaiman bin Abdul Malik) akan memilih pengganti dari kalangan kaum muslimin ini. Maka jangan engkau sebut aku di hadapannya. Jika engkau dapati ia mengingatku, maka palingkanlab ia dari mengingatku!" Raja' pun hanya terdiam. Ketika Raja' kembali menghadap Sulaiman, maka sang khalifah berkata, "Wahai Raja', siapa yang kamu lihat layak untuk menjadi khalifah sesudahku?" Raja' balik bertanya, "Tidakkah engkau ingin agar Tuhanmu menjadi ridha?" "Tentu." jawabnya. Raja' kemudian berkata, "Pilihlah Umar bin Abdul Aziz sebagai pengganti!" Amirul Mukminin Sulaiman kemudian berkata, "Catat ia sebagai khalifah sesudahku, dan sesudahnya lagi Yazid bin Abdul Malik." Waktu pun berlalu, dan akhirnya khalifah wafat. Raja' lalu mengumpulkan orang-orang di masjid, dan selanjutnya mengangkat surat wasiat itu dan berkata, "Wahai kaum muslimin, apakah kalian ridha untuk membaiat orang yang telah ditunjuk oleh Amirul Mukminin (sebelumnya)?" Mereka menjawab, "Ya, kami ridha." Raja' kemudian membuka surat itu dan berkataj "Sesungguhnya Amirul Mukminin Sulaiman bin Abdul Malik telah memilih Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah yang akan memimpin kalian." Seketika mereka pun mencari-cari Umar bin Abdul Aziz, dan ternyata beliau berada di masjid bagian belakang. Orang-orang pun menyampaikan selamat kepada beliau. Beliau naik mimbar dan kemudian berkata, "Wahai manusia, sesungguhnya aku tidak mampu memikul beban ini dan aku bukanlah ahlinya. Dan sesungguhnya aku menjadikan Allah sebagai saksi bahwa aku melepas khilafah ini.” Namun kaum muslimin ketika itu secara ijma' tetap membai'at beliau.

Yakinlah Saudara-saudara, bahwa jika nilai-nilai yang terdapat pada kaum mukminin awal ini terus dapat dipertahankan hingga seratus tahun, niscaya kaum mukminin akan memiliki kekuasaan di atas bumi ini.

Ołeh karena iłu, berbuatlah ikhlas, Ikhwan sekalian. Campakkan rasa cinta kepada kedudukan atau kehormatan dan popularitas. Beramallah dengan keyakinan, keteguhan, dan keberanian, serta tentunya dengan tawakkal kepada Allah swt. dałam menunaikannya. "Dan Allah tidaklah akan menyia-nyiakan iman kalian. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia." (Al-Baqarah: 143)

Semoga Allah swt. melimpahkan shalawat dan salam kepada penghulu kita Nabi Muhammad, serta kepada seluruh keluarga dan para sahabatnya. 

Sunday, May 17, 2026

Perbaikan Diri (1) - Haditsu Tsulatsa

Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah, Dzat Yang Mahasuci dan Mahatinggi. Kita sampaikan shalawat dan salam kepada penghulu kita Nabi Muhammad, keluarga, para sahabat serta kepada siapa saja yang mendakwahkan risalah beliau hingga hari pem„ balasan.

Amma ba 'du.

Assalamu 'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

Dengan pembukaan ini, dan dengan berbagai kajian yang menjadikan hati kita menyatu di sekelilingnya, serta dalam nuansa yang hiruk-pikuk oleh kesibukan hidup dengan segala dimensinya, saya ucapkan selamat kepada kalian atas kehadirannya kembali untuk mengikuti pengajian ini setelah fatrah (jeda) beberapa saat. Saya berharap kiranya tenggang waktu tersebut merupakan fatrah hisab, masa hitung-hitung diri. Sebab, seorang mukmin tentunya tiada pernah berpangku tangan atau pun bermain-main yang tidak mengandung manfaat. Kalau ia berangkat kerja, tentunya ia pun bekerja dengan serius. Semoga kalian semua telah menghabiskan waktu kalian untuk menghitung-hitung diri dengan seksama, lebih-lebih kita telah memperoleh “bulan Al-Qur'an”. Jika kalian belum juga menghisab diri kalian, tak usahlah berputus asa. Karena sesungguhnya setiap fatrah dari kehidupan seorang mukmin ini, wajib dipergunakan untuk menghisab diri dan kemudian memperbaharui taubatnya. Adalah taubat yang sangat bermanfaat jika diiringi dengan azam yang kuat dan dzikiŕ yang bermakna. “lngatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Ar-Ra'd: 28)

Wahai Ikhwan, saya juga berharap kiranya kalian telah mengerjakan amalan-amalan yang shalih dan telah menempuh langkah ke depan, Kebahagiaan kita tidaklah pada harta, tidak pada penampilan diri, tidak juga pada gemerlapnya perhiasan hidup dan keindahan dunia. Itu semua hanyalah sekedar kesenangan hidup sementara-

"Katakanlah, 'Maukah aku kabarkan kepada kalian sesuatu yang lebih baik daripada itu semua?' Untuk orang-orang yang bertaqwa (kepada Allah), maka pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan  (mereka dikaruniai) istri-istri yang disucikan, serta mendapatkan keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya. Yaitu orang-otang yang berdoa, 'Wahai Tuhan kami, sungguh kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka.' Juga orang-orang yang sabar, yang jujur, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang beristighfar (memohon ampun) di waktu sahur." (Ali Imran: 15-17)

Ikhwan sekalian, kita wajib mengukur kebahagiâan kita dengan nilai-nilai luhur yang berkait erat dengan hati dan ruh kita, sehingga menjadikan Allah ridha kepada kita dan membuat nurani kita tenteram, (Mintalah nasihat pada hatimu sendiri, sekalipun orang lain juga sudah menasihatimu.)

Saya bermohon kepada Allah semoga Dia berkenan memberikan taufiq dan petunjuk kepada kita untuk dapat mengamalkan apa yang kita ucapkan dan kita dengar sendiri. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar doa.

Wahai Ikhwan, kita sebelumnya telah memulai pembicaraan tentang serial mengenai sejarah Islam. Kita telah berulang-ulang mengkaji sirah penghulu kita, Rasulullah saw. dan khalifah (pengganti) beliau, yakni As-Shiddiq Abu Bakar, Amirul Mukminin Umar bin Al-Khathab, Sa’d bin Abi Waqqash, dan Khalid bin Al-Walid. Saya masih ingin meneruskan kajian tersebut hingga selesai. Namun, ketika saya sedang dalam perjalanan, tiba-tiba muncul di benakku suatu hakikat nilai luhur yang menghinggapi pikiranku. Ketika aku berusaha berpaling darinya menuju hal lain, hati ini rasanya masih saja terikat dengannya. Akhirnya saya katakan hal itu dengan terus terang kepada beberapa akh. Saya katakan, "Sungguh kita ini perlu sekali melakukan perubahan secara total dan hakiki. Kita jangan merasa cukup dengan melakukan 'tansiq' (koordinasi) dan penataan ilmu dan pembicaraan kita. Sebab, ini tidak akan memberikan faedah kepada kita jika diri kita masih saja belum berubah. Seoräng muslim memiliki banyak sifat. Di antaranya adalah shidq (jujur), ikhlas karena Allah, suka memberi nasihat, bersandar kepada Allah dengan kuat, dsb. la tidak akan peduli dengan celaan manusia, tidak akan menipu, dan tidak akan berbuat munafik, sekalipun terjadi permusuhan antara dirinya dengan orang lain. la tidak akan berpegang kecuali kepada perkataan yang benar. la akan teguh di atasnya dan mati di atas kebenaran itu pula." 

Apakah kita sudah demikian?

Saya sampaikan kepada kalian, wahai Ikhwan, bahwa mayoritas kaum muslimin hari ini belum matang dan belum merasakan akhlak seperti ini. Bahkan, terlintas di benak mereka pun beium. Mereka mengerjakan shalat sebagaimana yang mereka warisi dari bapak-bapak dan kakek-kakek mereka, demikian juga puasa mereka.

Adapun kalangan khusus dari kaum muslimin memang merasakan hal Iain yang tidak dirasakan oleh kebanyakan dari mereka. Mereka ini dapat merasakan nilai-nilai luhur dan merasakan adanya dorongan semangat yang sangat kuat. Namun, masih banyak di antara ikhwan yang masih juga belum mampu berpegang dengan ini sepenuhnya. Mereka menunaikan ibadah yang sifatnya lahir. Adapun mengenai jiwa dan ruh yang islami, yang akan terbentuk oleh arus yang islami, maka 90% belum juga teraih secara memadai.

Saya juga ingin menyampaikan pembicaraan kita pada kesempatan kali ini mengenai ishlah an-nafs (perbaikan jiwa/diri) serta memberikan penjelasan yang memadai. Karena sesungguhnya jika jiwa itu berubah, segalanya juga akan ikut berubah. "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mau mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (Ar-Ra'd:11)

Kadang dikatakan, Ikhwan sekalian, bahwa ini adalah salah satu dari kecenderungan-kecenderungan sufistik, sedangkan Ikhwan adalah orang-orang yang pragmatis, berorientasi pada kerja, dan bukannya para syaikh tarekat. Saya ingin katakan kepada kalian bahwa kita khawatir bila setan sampai menipu dan memperdayakan kita, sehingga ia menguasai kendali dalam diri kita. Manakala kita telah sampai pada sasaran, setan lantas membelokkan langkah kita dan memainkan kendalinya. Maka dari itu, yang ingin saya tekankan lebih dahulu adalah tentang "bahtera keselamatan", sebelum yang lain."..Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara seseorang dengan hatinya (Allah-lah yang menguasai hati manusia). Dan sesungguhnya kepada Allah-lah kalian akan dikumpulkan." (AI-Anfala; 24)

Sesungguhnya kita menginginkan adanya saat-saat di mana kita dapat mengkonsentrasikan diri untuk melakukan ishlah an-nafs. Kemudian kita berupaya melakukan terapi terhadapnya dengan berbagai macam sarana dan berbagai jenis pengobatan. Saya ingin berbicara kepada kalian mengenai arti penting dari nilai-nilai kejiwaan dengan anatomi dan medikasi. Akan tetapi jika itu kita mulai, pastilah kita memerlukan waktu yang panjang. Akhirnya, saya memperoleh suatu ilustrasi. Dalam berbagai ceramah, sering sekali saya katakan, "Mengapa Al-Qur'anul Karim itu dapat memberikan pengaruh yang demikian besar terhadap para salafus shalih, sehingga memberikan kemanfaatan bagi mereka, namun tidak demikian bagi kita? Mengapa juga ayat-ayat Al-Qur'an itu hanya dapat memberikan pengaruh dan dampak yang lemah pada diri kita?"

Saya katakan bahwa jika tukang listrik menyentuh arus listrik, tentu akan terkena pengaruh setrum. Pengaruhnya berbeda-beda sesuai dengan kuatnya arus listrik yang ada. Jika arusnya kuat bisa membuatnya pingsan dan akan mengakibatkan dirinya masuk rumah sakit. Bila kekuatannya bertambah lagi, pingsannya bisa-bisa tidak akan membuatnya siuman, tapi malah harus membawanya ke kuburan.

Mari kita beralih dari ilustrasi yang bersifat materiil ini menuju ilustrasi yang bersifat spiritual, serta menuju arus lain yang hakiki, yaitu Al-Qur'anul Karim. Permisalannya adalah sebagaimana arus listrik itu. "...Kami menjadikan Al-Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami." (Asy-Syura: 52)  "Dia menurunkan para malaikat dengan membawakan 'ruh' (wahyu) atas perintah-Nya, kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya." (An-Nahl: 2) "Dia mengutus Jibril dengan membawa perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki oleh-Nya di antara hamba-hamba-Nya." (Ghafir: 15)

Al-Qur'an ini, di dalarnnya terdapat muatan listrik yang berasal dari sisi Yang Mahabijaksana dan Maha Mengetahui. Dia sendirilah yang membuatnya. "Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al-Qur'an yang agung." (Al-Hijr: 87)

la akan memberikan pengaruh ke dalam jiwa, baik secara materiil maupun spirituil. Pengaruhnya yang menggelora akan tampak pada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah kepada jalan-Nya yang lurus. "Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik, yaitu Al-Qur'an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. itulah petunjuk Allah, yang dengan itu Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun pemberi petiljuk baginya." (Az-Zumar: 23)

Arus ini telah merasuk ke dalam hati mereka dan memberikan dampak yang konkret dalam diri mereka yang diciptakan oleh adanya "muatan listrik" itu. Pengaruh itu tampak nyata dalam kulit mereka. "Gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya," (Az-Zumar: 23)

Arus ini sesuai dengan kecenderungan atau daya tarik. Jika daya tariknya kuat, maka arus itu akan kuat pula. Suatu ketika Umar ra. mendengar firman Allah swt. "Seseorang telah meminta kedatangan azab yang pasti bakal terjadi, untuk orang-orang kafir, yang tidak seorang pun dapat menolaknya." (AI-Ma'arij: 1-2)

Maka, ia pun kemudian jatuh pingsan karena adanya pengarúh yang dahsyat dari ayat tersebut. la pun terpaksa harus dibawa ke rumah dan berbaring di atas ranjangnya selama sebulan. Sakit yang biasa bisa memakan waktu yang cukup lama, bahkan tak jarang sampai membawa kepada kematian. Demikian halnya dengan sakit yang disebabkan oleh adanya pengaruh spiritual ini, ia dapat juga menyebabkan pasiennya menuju ke liang lahat. Ada salah seorang di antara kaum shalihin mendengar firman Allah swt., "Wahai orang yang berselimut, bangunlah dan berilah peringatan! Dan Tuhanmu, agungkanlah! Dan pakaianmu, bersihkanlah! Dan perbuatan dosa, tinggalkanlah! Dan janganlah kamu memberi dengan maksud memperoleh balasan yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah. Apabila sangkakala telah ditiup; maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sangat sulit." (AI-Muddatsir; 1-9)

Akhirnya ia pun pingsan yang mengakibatkan nyawanya harus berpisah dengan jasadnya, dan harus membawanya ke liang kubur.

Demikian itu adalah hati yang telah mendapatkan pengaruh dari Al-Qur'an yang menjadikan ruhaninya bergelora. Gelora itu pun dapat melenturkan perasaan-perasaannya dan menghaluskan pendengarannya, serta menjadikan hati itu gemetar ketika mengingat Allah.

"Sesungguhnya orang-orang.yang beriman itu adalah mereka yang apabila nama Allah disebut, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, maka iman mereka menjadi bertambah karenanya." (Al-Anfal: 2)

Adapuñ kita, kita belum dapat merasakan pengaruh dari apa yang telah memberikan pengaruh kepada mereka, dan Al-Qur'an belum berdampak pada diri kita sebagaimana telah membawa dampak bagi mereka. Ibaratnya kita ini adalah tukang listrik yang membuat penghalang antara dirinya dengan listrik sehingga ia tidak terkena setrum atau tidak terkena dampak dari aliran listrik itu.

Maka tugas kita, wahai Ikhwan, adalah menghancurkan sekat ini, sehingga kita dapat bersentuhan dengan Al-Qur'anul Karim dan hati kita dapat bersambung dengannya, sehingga kita dapat menikmati kelezatannya.

Sadarlah bahwa yang namanya manusia itu tidak lain adalah nafs atau jiwa. Inilah arti sebenarnya. Adapun jasad, maka ia tidak lebih dari sekedar pembungkus belaka bagi jiwa ini. Allah swt. telah menjadikan baiknya seseorang itu tergantung pada kebaikah dirinya, atau jiwanya. Kerusakannya pun tergantung kerusakan jiwanya pula, Allah swt. berfirman, “Demi jiwa serta penyempurnaannya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya. Sungguh, beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya." (Asy Syams: 7-10)

Allah swt. juga berfirman, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah sesuatu yang ada pada suatu kaum sehingga mereka sendiri yang mau mengubah sesuatu yang ada pada diri mereka itu." (Ar-Ra'd: 11)

Para malaikat tidaklah diperintah untuk sujud kepada Adam kecuali setelah dibentuk kejiwaannya. Inilah rahasia kemuliaan dan keutamaan yang diberikan oleh Allah swt. kepada Adam. "Dan sesungguhnya kami telàh memuliakan Bani Adam. Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan." (Al-Isra': 70)

Keutamaan yang diberikan ini bukan karena kuatnya jasad atau penampilan dan parasnya. Akan tetapi itu disebabkan oleh adanya nilai rabbani yang telah diletakkan oleh Allah padanya. Yaitu hakikat ruhani, di mana Allah menjadikan hal itu sebagai bagian dari urusan-Nya sendiri. “Dan mereka bertanya kepadamu tentang  ruh. Katakanlah, ‘Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan,tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit." (Al-lsra': 85)

Yang saya inginkan adalah agar di dalam jiwa bersemayam nilai-nilai ruhiah yang telah dialirkan oleh Allah swt. atas jasad kalian. Pangkal kebaikan dan kerusakannya terletak di dalam jiwa. Apa yang kita dengar tentang akhlak yang baik dan sebagainya bukanlah merupakan standar kebaikan dan kerusakan. Boleh jadi ketawadhuan itu memang karena hina, pemaaf lantaran pengecut, serta dermawan dan berani karena riya'. Boleh jadi pula sikap sombong itu disebabkan adanya dorongan kejiwaan, yang seringkali pula padanya muncul sisi baiknya, entah salah ataupun benar. Rasulullah saw. memuji orang yang menyombongkan diri dalam suasana perang, yaitu Abu Dujanah ra., karena keadaan memang menuntut demikian. Baik tidaknya akhlak itu bukan yang tampak oleh manusia dari bentuk lahiriahnya. Akan tetapi keutamaan yang semayam di dalam jiwa, yang membangkitkan perbuatan-perbuatan baik, sedangkan muatan negatif yang tersembunyi di dalamnya  akan melahirkan perbuatan-perbuatan tercela. Nabi saw. pernah bersabda,

عَنْ النَّوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ رضي الله عنه قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ عَنِ الْبِرِّ وَالْإِثْمِ، فَقَالَ: اَلْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ، وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي نَفْسِكَ، وَكَرِهْتَ أَنْ يَعْلَمَهُ النَّاسُ

“Kebajikan adalah akhlak yang balk, sedangkan dosa adalah sesuatu yang berbekas di dalam jiwa dan engkau tidak suka bila orang lain mengetahuinya."

Manusia dalam hal ini terbagi menjadi tiga golongan:

Pertama, golongan yang diberi petunjuk oleh Allah swt-dan dijadikan bahagia oleh-Nya dengan ma'rifat kepada-Nya. Mereka adalah para nabi yang memang diistimewakan oleh Allah dengan beberapa kekhususan dan dianugerahi dengan beberapa keutamaan. Mengenai penghulu kita Muhammad saw. , Allah berfirman, "Sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami." (At-Thur: 48)

Mengenai Nabi Musa as., Allah berfirman, “Dan Aku telah memilihmu untuk diri-Ku.” (Thaha: 41)

Mengenai Nabi Isa as., Allah berfirman, ”Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al-Kitab, Hikmah, Taurat, dan Injil." (Ali Imran: 48)

Dan, mengenai para rasul seluruhnya, Allah swt. berfirman, "Rasul-rasul mereka itu berkata kepada mereka, 'Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kalian, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.;” (Ibrahim: 11) Hati mereka memang dijaga oleh Allah swt. serta diberi jalan kepada petunjuk. 

Kedua, golongan yang tergoda oleh setan, yang menyebabkannya lebih memilih dunia, menanggalkan baju karakter keinsanannya serta kembali kepada nilai kebinatangannya. "Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Kalau Kami menghendaki, tentu Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayatayat itu, tetapi ternyata dia lebih cenderung kepada dunia dan menuruti hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya adalah seperti anjing; jika kamu mengusirnya, ia akan mengulurkan lidahnya, dan jika kamu membiarkannya, ia pun akan mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (AI-A 'raf: 175-176)

Golongan ini sudah pasti bakal menerima adzab ”Apakah kamu hendak mengubah nasib orang-orang yang telah pasti ketentuan adzab atasnya? Apakah kamu akan rnenyelamatkan orang yang berada dalam api neraka?” (Az-Zumar.' 19)

Ketiga, golongan yang memiliki hati; dadanya dilapangkan oleh Allah untuk menerima Islam; namun ia mengenal Allah dengan tidak sempurna. Ia mencoba untuk berpegang kepada Islam. Namun demikian, ia masih dikalahkan oleh hawa nafsunya, terbujuk oleh rayuan setan, dan masih dibelak-belokkan oleh berbagai keinginan dan tuntutan. Dalam sebuah atsar (perkataan para sahabat) dikatakan,

اَلْمُؤْمِنُ بَيْنَ خَمْسِ شَدَائِدَ: مُؤْمِنٍ يَحْسُدُهُ، وَمُنَافِقٍ يُبْغِضُهُ، وَكَافِرٍ يُقَاتِلُهُ، وَنَفْسٍ تُنَازِعُهُ، وَشَيْطَانٍ يُضِلُّهُ

“Orang mukmin itu di antara lima kekerasan: mukmin yang dengki kepadamu; munafik yang membencimu; kafir yang memerangimu; setan yang menyesatkanmu; dan jiwa yang memusuhimu.”

la masih mempertentangkan antara yang baik dan yang buruk. Yang sering dirasakan oleh manusia dalam sudut ini adalah manisnya mujahadah (jihad, perjuangan) dan pahitnya kekalahan. Oleh karena itu tidak boleh tidak harus dilakukan pengobatan terhadap jiwa. Jika kita mengobati orang sakit, maka yang pertama-tama kita lakukan adalah mendiagnosa penyakitnya. Demikian halnya jika kita mengobati jiwa. Semua tergantung pada pengetahuan tentang sebab dan jenis penyakitnya. Jadi, wajib mengetahui tentang penyebab penyakit jiwa dan jenis-jenis peryakitnya. Dalam hal ini dituntut kesabaran dalam menanggung pahitnya pengobatan yang memang harus dilakukan.

Orang-orang bijak mengatakan bahwa ada empat hal yang dapat membantu untuk mengetahui penyakit-penyakit jiwa:

Pertama, ilmu. Ini yang paling penting dan paling banyak membantu. Ilmu yang akan menjelaskan kepadamu tentang jalan-jalan penyakit dan yang akan dapat mengidentifikasikannya. la yang pertama menyingkapkan kepadamu tentang "tong-tong" penyakit.

Kedua, saudara yang suka memberi nasihat. Yaitu orang yang empati kepadamu sehingga ia mau memberitahukan tentang kekurangan dan kelebihanmu. Dia melihat hal itu sebagai suatu kewajiban dalam rangka mengamalkan sabda Nabi saw:

الدِّينُ النَّصِيحَةُ»قُلْنَا: لِمَنْ؟قَالَ:«لِلَّهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُولِهِ، وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ، وَعَامَّتِهِمْ

"Agama adalah nasihat. Para sahabat menanyakan, ‘Untuk siapa, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Untuk Allah, untuk Rasul-Nya, untukpimpinan-pimpinan kaum muslimin, dan untuk kaum muslimin secara umum. "

Ketiga, musuh atau lawan-lawanmu. Mereka tentu akan selalu mencari kelemahan dan kejelekanmu. Jika engkau mengetahui bahwa mereka sedang melakukan hal itu kepadamu, maka kamu tidak perlu marah. Namun justru pujilah Allah, karena Dia telah menjadikan untukmu orang Iain yang dapat mengerti kekuranganmu, sebab kamu sendiri tidak mengerti kekurangan itu. Mereka akan berterus-terang dalam menjelaskan kekuranganmu. Adapun teman kamu sendiri, maka ia tentu akan merasa malu dan sungkan untuk menunjukkan kekurangan itu.

Bait-bait syair menuturkan,

عَيْنُ الرِّضَا عَنْ كُلِّ عَيْبٍ كَلِيلَةٌ، وَلَكِنَّ عَيْنَ السُّخْطِ تُبْدِي الْمَسَاوِيَا

Mata yang ridha, kabur melihat aib; Mata yang benci, aib-aib belaka yang tampak

Karenanya, jika engkau ingin tahu aib-aibmu, maka ambillah ia dari musuh-musuhmu terlebih dahulu sebelum dari karib-karibmu. Dengarkan baik-baik apa yang mereka katakan tentangmu karena hal itu lebih patut untuk memantau dirimu.

Keempat, mengerti dan menyadari kritikan yang engkau berikan kepada orang Iain tentang kekurangan dan aibnya, serta usahamu yang sungguh-sungguh agar jangan sampai terperosok ke dalamnya. Jika engkau lihat orang-orang bersahut-sahutan dengan banyaknya bicara, umpamanya, maka menjauhlah engkau darinya. Dan jika kamu lihat mereka mulai jenuh berbicara tak karuan dan mulai bubar dari tempat itu, maka jadilah engkau seorang yang lembut dan penyayang.

Demikianlah, setiap kali engkau melihat sesuatu yang rendah atau hina dari perasaan yang mulia, maka berupayalah untuk selalu meninggalkannya. Sebaliknya berupayalah untuk berhias dengan akhlak yang mulia dan sifat-sifat yang baik, yang akan menjadikanmu cinta kepada mereka dan menjadikan mereka mencintai dirimu.

Semoga shalawat serta salam dicurahkan oleh Allah kepada penghulu kita Muhammad, keluarga serta para sahabatnya.

 

Saturday, May 16, 2026

Rumah Tangga Muslim Antara Realita dan Idealita

Pengaruh Peradaban Modern terhadap Keluarga Muslim

Para filsuf dan analis sosial mengamati bahwa masyarakat merupakan sebuah bangunan struktur yang tersusun dari keluarga-keluarga, dan bahwasanya karakteristik khas dari masyarakat mana pun dapat diketahui melalui pengenalan terhadap hubungan kekeluargaan di dalamnya. Studi-studi etika terdahulu menunjukkan bahwa masyarakat akan kehilangan kekuatannya ketika para anggotanya gagal dalam menunaikan kewajiban-kewajiban keluarga mereka. Demikian pula, para filsuf, reformis, dan para pemimpin—baik dari kalangan agamis maupun sekuler—di setiap kurun waktu, memiliki kesadaran yang sangat jelas mengenai pentingnya model-model keluarga sebagai elemen dasar dalam struktur sosial masyarakat mereka.

Oleh karena itu, memahami hubungan serta kewajiban keluarga mutlak diperlukan sebagai sebuah keniscayaan untuk memahami proses-proses sosial yang terjadi.

Adapun Islam, di samping perkara tersebut, ia memberikan urgensi tertinggi bagi pembangunan keluarga sebagai titik tolak utama yang bersifat fundamental bagi reformasi (perbaikan) apa pun, baik pada level kecil maupun besar. Nabi Muhammad telah memulai rencana agungnya untuk mengubah masyarakat Arab dengan cara mewajibkan pakem-pakem perilaku islami di dalam ruang lingkup keluarga dan kerabat dekatnya. Beliau menekankan pentingnya menggerakkan proses-proses kekeluargaan melalui upaya-upaya individu maupun kolektif (bersama).

Dan Surat "An-Nisa" di dalam Al-Qur'an al-Karim telah melukiskan dimensi-dimensi dari hubungan yang beraneka ragam di dalam membangun keluarga. Di antara apa yang dikandungnya adalah tema-tema terperinci seperti: perlakuan terhadap wanita, hak-hak wanita atas kepemilikan harta benda mereka, pertikaian (syiqaq) di antara suami istri, dan lain sebagainya.

Sesungguhnya daya dorong yang mengarahkan hubungan kekeluargaan di dalam Islam adalah kekuatan moral, dan tujuan tertinggi darinya adalah mengangkat derajat manusia secara akhlak maupun spiritual.

Studi-studi antropologi telah menunjukkan bahwa keluarga—di sepanjang proses evolusi dan pertumbuhannya, yang mana proses-proses tersebut memiliki tabiat yang bersifat universal—telah berkontribusi dalam hal ini dengan memberikan pelayanan-pelayanan mendasar, di antaranya adalah melahirkan keturunan, melindungi anggota keluarga, menentukan nasab (atau posisi) anak di dalam masyarakat, kemudian melakukan proses sosialisasi serta kontrol sosial.

Keluarga merupakan sebuah konsep populer yang dicintai masyarakat terlepas dari beban-bebannya yang berat, yang mana beban tersebut direpresentasikan pada fungsi-fungsi sosialnya yang bersifat tradisional maupun adaptif-perkembangan. Setiap individu merasakan bahwa keluarga itu penting bagi dirinya secara pribadi, sebagaimana keluarga juga telah membuktikan kemampuannya untuk menyerap tuntutan-tuntutan modern secara umum. Pada level global, ide tentang keluarga dianggap sebagai poros keterikatan di antara umat manusia. Keluarga juga merepresentasikan cinta, rasa aman, dan nilai-nilai luhur lainnya, serta berfungsi sebagai kekuatan dari kekuatan-kekuatan kohesi (pemersatu) sosial.

Akan tetapi, peradaban Barat cenderung melakukan orientasi ulang terhadap fungsi-fungsi dasar yang diemban oleh keluarga. Secara spesifik, sekularisme Barat—beserta apa yang menyertainya berupa legalisasi terhadap tren-tren pemuasan indrawi (hedonisme) serta paham pemberontakan yang mereka klaim sebagai dampak keniscayaan dari adaptasi terhadap era industri—telah mematikan secara bertahap makna-makna integritas (istiqamah), keikhlasan niat, serta kepedulian untuk menanamkan nilai-nilai luhur yang wajib dipegang teguh oleh keluarga muslim.

Sistem keluarga di kalangan kaum muslimin pada masa sekarang ini merupakan buah dari komplikasi-komplikasi merusak yang terlepas dari ikatannya, dan terus berlanjut secara berkesinambungan sebagai akibat dari dampak-dampak yang lahir sejak masa invasi Tartar (Mongol) hingga serangan ganas dari kekuatan-kekuatan Barat yang berorientasi duniawi (sekuler).

Secara spesifik, keluarga-keluarga muslim di wilayah India dan Pakistan dianggap sebagai hasil dari benturan budaya (clash of cultures) yang terjadi antara nilai-nilai dan idealisme Islam di satu sisi, dengan nilai-nilai dan idealisme Barat di sisi yang lain. Keluarga muslim di India, sebelum berdirinya pemerintahan Inggris di sana, sempat berada di bawah pengaruh lingkungan Hindu yang materialistis terhadap pemikiran dan nilai-nilai kaum muslimin. Hukum perdata Hindu dalam urusan keluarga (Ahwal al-Syakhshiyyah) sering kali memengaruhi kaum muslimin di sebagian besar keadaan.

Ritual-ritual, syiar, adat istiadat, serta tradisi—bahkan masih berlangsung hingga saat ini—merefleksikan pengaruh ini secara semakin kuat selama masa upaya para kaisar Dinasti Mughal untuk "meng-hindu-kan" Islam (sinkretisme). Sungguh "Aurangzeb" telah mencoba untuk mematikan pengaruh-pengaruh yang kontradiktif dengan Islam tersebut, namun upaya-upayanya kandas disebabkan oleh runtuhnya Imperium Islam dan munculnya kekuatan Barat di India. Dengan demikian, budaya Barat dan pengaruh Hindu saling bekerja sama dalam mematikan pengaruh-pengaruh Islam, sehingga membiarkan keluarga-keluarga muslim hidup dalam kondisi yang abnormal (rancu).

Ditambah lagi, kalangan elite yang "terbarat-baratkan" (westernized) dari anak-anak kaum muslimin telah mengadopsi kebiasaan, nilai-nilai, serta metode-metode para penjajah asing di dalam hubungan kekeluargaan mereka. Adapun golongan yang disebut sebagai kelas menengah dari minoritas kecil ini, mereka sempat mencoba untuk berpegang teguh pada tradisi-tradisi Islam, namun dengan cepat mereka ikut tertarik seperti yang lainnya menuju idealisme semu dari model-model keluarga Barat.

Sementara itu, mayoritas kaum muslimin yang jatuh terperosok dari puncak kejayaan menuju dasar keterpurukan dan dihantam oleh kemiskinan yang sangat parah, mereka berada dalam keadaan lalai dan sibuk dari tujuan hakiki kehidupan. Walaupun demikian, mereka masih tetap bergantung pada apa yang mereka warisi berupa kesesatan, khurafat, cerita-cerita aneh, serta tradisi yang dinisbatkan kepada para "wali" (yang diklaim secara sepihak).

Di atas latar belakang tanah inilah Pakistan muncul di ufuk dunia Islam dengan menyuarakan transformasi menuju apa yang selaras dengan prinsip-prinsip Islamnya. Akan tetapi, Pakistan—sebagai sebuah negara—tidak mampu memisahkan dirinya secara total dari tradisi-tradisi India, sebagaimana ia juga dikepung pada saat yang sama oleh berbagai kesulitan akibat dari tekanan-tekanan internasional.

Penetrasi pengaruh Barat mengalir dengan sangat deras, dan "Williams" telah mendeskripsikan kekuatan-kekuatan yang memengaruhi arus penyimpangan budaya baru ini sebagai "budaya teknologi atau atom bagi adat rasional yang bercorak individualistik".

Sebagai dampak dari munculnya transformasi budaya ini, keluarga Pakistan menjadi dihadapkan pada pengaruh baru yang kuat, yang sepenuhnya jenuh dengan pandangan sekuler terhadap kehidupan. Oleh karena itu, keluarga Pakistan berubah secara nyata dalam orientasi kerangka hubungannya, baik dari sisi formal maupun psikologis. Mode pakaian, cara berpikir, serta cara kerja mereka berubah dan menjadi berbeda dari cara hidup dan cara berpikir keluarga India.

Perubahan ini tidak hanya terjadi pada keluarga-keluarga di wilayah perkotaan saja, melainkan keluarga-keluarga di pedesaan pun mulai condong untuk meniru model-model Barat. Orang-orang mulai memandang dengan penuh kekaguman terhadap penggunaan alat-alat kosmetik, wewangian, pewarna bibir (lipstik), serta perangkat rias lainnya. Kaum wanita kita meniru wanita-wanita Barat secara buta dalam hal mode pakaian dan gaya rambut mereka, di mana media massa memiliki peran yang sangat efektif dalam proses pemberian pengaruh ini.

Demikian pula, penayangan film-film Barat, yang mengoyak standar-standar kesucian (iffah) pada diri wanita Timur, telah mengantarkan pada dampak-dampak destruktif (merusak) dalam meracuni moral kaum kaya baru yang berpikiran kosong serta masyarakat pedesaan yang berpikiran lugu. Penularan penyakit sosial ini tidak boleh dianggap remeh dampak-dampaknya yang terlihat jelas, karena di dalam kondisi ini terdapat isyarat yang gamblang mengenai penyimpangan level nilai-nilai luhur. Secara bertahap, kesederhanaan dan kemurnian yang dahulunya dibanggakan oleh tradisi Islam yang asli lagi jernih, kini telah sirna. Dan sejatinya, apabila keluarga dibiarkan hidup dengan cara seperti ini tanpa adanya benteng penghalang atau kendali kontrol, maka kondisi tersebut dipastikan akan mengantarkan pada terciptanya lebih banyak konflik lagi.

Kami—sebagai spesialis di dalam ilmu umran (sosiologi), dan atas dasar studi-studi berskala terbatas yang dilakukan terhadap sistem keluarga pada kami—telah berhasil menemukan fakta-fakta klinis (patologis) mendasar yang memungkinkan kami untuk mengenali karakteristik kesenjangan (gap) yang memisahkan kami dengan sistem keluarga islami. Di mana kesenjangan tersebut lahir sebagai akibat dari pengaruh yang sangat kuat dari cara-cara berpikir modern yang umum berlaku di dalam masyarakat Barat. Di dalam ranah prinsip (ideologi), kami menemukan bahwa kontradiksi-kontradiksi telah tersebar luas secara masif, yang mana perkara tersebut menekan sistem keluarga hingga mendorongnya ke arah penyimpangan.

Islam menganggap bahwa keutuhan keluarga merupakan poros utama bagi sebuah kohesi (keterikatan). Dan sesungguhnya bentuk keterikatan yang paling dalam lagi kuat di setiap masyarakat adalah bentuk-bentuk keterikatan keluarga, yang mana dalam batas minimalnya mencakup keterikatan antara suami istri, saudara laki-laki dan saudara perempuan, kedua orang tua dengan anak-anak, serta saudara laki-laki dengan saudaranya yang lain... dan seterusnya. Cakupan dimensinya sejatinya jauh lebih luas daripada ini, akan tetapi bentuk-bentuk tersebut memiliki makna-makna yang subur bagi mayoritas besar dari anggota masyarakat. "Dan peradaban Barat—melalui fokus perhatiannya terhadap pencapaian prestasi sebagai syarat mutlak bagi pertumbuhan individu—memberikan pengaruh yang sangat mendalam terhadap para remaja.

Dan perkara ini diterjemahkan secara aplikatif dalam bentuk proses belajar individu agar mampu beradaptasi dengan bentuk-bentuk keterikatan yang tegak di atas asas non-keluarga, atau bentuk yang tidak sejalan dengan ikatan yang dibangun atas asas keluarga. Mengingat sistem kapitalisme tegak di atas asas egosentrisme (berpusat pada diri sendiri) serta prinsip persaingan yang membara, maka sejumlah besar generasi muda mengabaikan keterikatan keluarga; dan dengan tindakan ini, mereka menyakiti perasaan orang lain." Muhammad Asad berkata: "Sesungguhnya dampak dari sisi kultural (budaya) adalah terciptanya tipe manusia yang standar moralitasnya hanya terbatas pada masalah kemanfaatan materi semata, dan kesuksesan materi menjadi tolok ukur tertinggi yang dimilikinya untuk mengukur kebajikan dan keburukan." Seiring dengan meningkatnya tren menuju individualisme, generasi muda mulai menghadapi problematika di dalam berinteraksi dengan orang-orang yang seharusnya mereka nafkahi/ayomi dengan metode yang direkomendasikan oleh Islam, yang mana mereka itu sering kali adalah para leluhurnya serta orang-orang yang lebih tua usianya darinya. Nilai-nilai moral individualistik ini—yang sangat kontras perbedaannya di antara sesamanya, dan sering kali dikenal dengan pakem-pakem moral yang liberal (bebas)—tampaknya telah marak di kalangan orang-orang yang belum menikah, bahkan juga di antara orang-orang yang sudah menikah namun dalam kadar yang lebih rendah.

Dan telah menjadi hal yang jelas bahwasanya tindakan mengganti prinsip-prinsip Barat beserta metode-metodenya dalam berpikir dan menjalani kehidupan ke dalam posisi sistem keluarga yang integral serta berkohesi secara pemikiran, merupakan faktor pelemah bagi kami. Kepribadian-kepribadian kami telah dipengaruhi dan dibentuk secara kuat selaras dengan jenis nilai-nilai yang menyimpang lagi jauh dari sistem keluarga tempat kami dibesarkan. Dan di sini, wajib bagi kami untuk mengeksplorasi serta memetakan berbagai problematika yang timbul akibat runtuhnya sistem keluarga pada kami ketika kami mengukurnya dengan apa yang dituntut oleh sistem Islam.

Dan aku dapat menegaskan—berdasarkan hasil bacaanku—bahwasanya sistem kekeluargaan islami—sebagai sebuah rukun (pilar) mendasar di dalam masyarakat—telah bertahan selama setidaknya lima abad hijriah dalam kondisi berjalan dan berkembang dalam keselarasan yang akurat dengan perundang-undangan serta prinsip-prinsip yang eksis di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. Dan sungguh Nabi Muhammad di sepanjang kehidupannya di Makkah telah berupaya untuk membangun sebuah sistem kekeluargaan sebagai syarat awal bagi perkembangan masyarakat secara totalitas, yaitu perkembangan yang puncaknya ditandai dengan berdirinya negara baru (di Madinah).

Sesungguhnya bagi sistem keluarga di dalam Islam memiliki posisi yang sangat mendasar, sampai-sampai porsi terbesar dari Al-Qur'an dan As-Sunnah telah dikhususkan bagi pembangunan unit dasar dari unit-unit masyarakat ini serta pengembangannya. Demikian pula, perundang-undangan yang meregulasi proses pembangunan keluarga di dalam Islam telah datang dalam kondisi yang sangat sempurna, sampai-sampai kita dapat menemukan di dalam kitab-kitab akidah dan fikih Islam sebuah materi ilmiah yang sangat melimpah seputar problematika ini. Dan tidak diragukan lagi bahwasanya problematika keluarga—sebagai sebuah unit yang memiliki struktur khususnya sendiri serta fungsi-fungsinya yang distingtif (berbeda)—memiliki vitalitas dan urgensi yang menjadi pembenaran bagi para sejarawan dan filsuf—baik muslim maupun non-muslim—untuk melakukan banyak upaya guna mengenali asas-asas pembentukannya, dengan tujuan untuk mengkaji masyarakat muslim secara akademis-analitis.

Adalah hal yang memungkinkan bagi kita untuk memetakan asal-usul sistem keluarga di dalam Islam melalui Al-Qur'an dan As-Sunnah. Dan sejarah sistem keluarga di dalam Islam tidaklah berjalan dalam satu garis lurus, melainkan mengalami fluktuasi (pasang surut) mengikuti kondisi ruang dan waktu. Dan dampaknya adalah sistem keluarga islami bertransformasi menjadi sebuah model yang memiliki keragaman yang agung, akan tetapi sistem ini tidak pernah menyimpang secara hakiki dari nilai-nilai serta makna-makna aslinya.

Keluarga-keluarga kami pada hari ini telah berubah dan pasti akan berubah, akan tetapi bahaya yang nyata bagi mereka terletak—dalam pandangan kami—pada keruntuhan moralnya, dan secara khusus pada hilangnya keterikatan mereka dengan perundang-undangan Islam yang mendasar, prinsip-prinsipnya, nilai-nilainya, serta tujuan-tujuan syariatnya (maqashid). Meskipun sejarah kultural kami menunjukkan bahwa keluarga-keluarga kami telah berubah, akan tetapi mereka tetap bertahan sebagai unit "tauhid" (monoteistik) ideal yang saling terikat.

Dan termasuk sebuah keberuntungan bahwasanya pengaruh Barat terhadap keluarga barulah menyentuh ranah formalitas (kulit luar) saja, dan belum mengakar di dalam kedalamannya atau mengotori ruhaninya. Sungguh keluarga-keluarga yang dipengaruhi oleh Barat telah jatuh menjadi korban bagi pengikisan moral, akan tetapi mereka masih berada dalam batas aman dari kebejatan dan kerusakan moral yang tidak mengenal rasa malu. Kami telah memaparkan sisi pengaruh Barat dalam hal mode pakaian serta cara-cara Barat dalam menjalani kehidupan dan berperilaku.

Dan kami memuji Allah Ta'ala bahwasanya penyimpangan kami dari nilai-nilai—sebagaimana yang kami saksikan saat ini—masih steril dari penyakit-penyakit sosial yang menjijikkan seperti berlebih-lebihan dalam menjatuhkan talak tanpa adanya batasan, pemisahan ranjang/kehidupan di antara suami istri, pornografi/promiskuitas seksual, tradisi persahabatan terbuka (bebas) di antara lawan jenis, anak-anak hasil zina (luar nikah), dan yang seumpamanya. Akan tetapi bahaya tersebut tetaplah mengintai, dan jika kita tidak menghentikannya maka ada kemungkinan penyakit-penyakit yang telah merasuk di dalam masyarakat Barat tersebut akan menginvasi kita.

Terkadang kita mendengar sesekali tentang kasus-kasus hubungan seksual ilegal (di luar nikah). Dan telah diketahui bahwasanya kebebasan seksual (perzinaan) merupakan perkara yang mengontradiksi perundang-undangan pernikahan di dalam Islam, baik secara teks maupun ruhnya. Sebab Islam sangat menekankan pentingnya menikahkan para pemuda dan pemudi karena pernikahan—sebagaimana yang datang di dalam salah satu hadis nabawi—merupakan langkah mutlak yang mendasari perkembangan kepribadian secara normal serta kesempurnaan misi sosial. Sebagaimana yang datang di dalam "hadis" yang lain bahwasanya pernikahan adalah penyempurna bagi setengah agama, dan wajib bagi sepasang suami istri untuk bertakwa kepada Allah pada setengah bagian yang lainnya. Dan persepsi yang disajikan oleh hadis-hadis nabawi ini memberikan sebuah dimensi baru yang tidak memiliki eksistensi dalam teori modern mana pun mengenai pembentukan kepribadian dan pengembangannya.

Dan di sana terdapat karakteristik fadz (unik/istimewa) lainnya di dalam persepsi Qur'ani bagi perkembangan kepribadian, yang mana kita menemukannya di dalam arahan-arahannya bahwasanya keimanan merupakan salah satu elemen pembentuk bagi perkembangan kepribadian manusia. Maka iman adalah salah satu rukun dari bangunan spiritual; dan ketika Al-Qur'an menegaskan fakta tersebut, sesungguhnya ia sedang menyematkan corak spiritual ini pada seluruh elemen pembentuk kepribadian.

Dan sisi spiritual memiliki keterikatan dengan sisi psikologis. Maka Al-Qur'an-lah yang mendeklarasikan bahwasanya faktor psikologis itu mengandung kedalaman spiritual serta tujuan-tujuan spiritual.

Dan deklarasi bahwasanya "iman" merupakan kebutuhan mutlak bagi kesempurnaan kepribadian serta penetapan adanya korelasi kuat antara iman dengan pernikahan, di dalamnya terdapat isyarat mengenai kesucian yang disematkan oleh budaya Islam atas institusi yang tegak di atas pernikahan. Sesungguhnya tujuan dari keluarga dan pernikahan adalah untuk menegakkan tatanan sosial serta melindungi orientasi seksual manusia dari hubungan-hubungan seksual yang tidak sah. Dan anggota keluarga bukanlah sekadar anggota di dalam institusi domestik saja, melainkan mereka adalah (anggota di dalam masyarakat) yang berkhidmat melayaninya melalui institusi-institusi tersebut.

Sesungguhnya kewajiban kedua orang tua adalah membantu anak-anak untuk berjalan di atas manhaj kultural yang selaras, serta mempersiapkan mereka secara sosial sekaligus menanamkan di dalam diri mereka kesadaran akan nilai-nilai keluarga dan tujuan-tujuannya, yang mana perkara itu merupakan setengah bagian penyempurna bagi nilai-nilai masyarakat. Wajib ditanamkan di dalam jiwa anak-anak rasa tanggung jawab terhadap tindakan membantu kedua orang tua ketika keduanya telah melemah disebabkan faktor usia senja. Dan sungguh kita kerap mendengar tentang kasus-kasus insidental berupa penyimpangan di dalam ranah ini, yang mana fenomena tersebut wajib ditekan; jika tidak, maka akan menyebabkan masyarakat dihadapkan pada banyak problematika, karena hal itu merupakan indikator bagi keretakan serta pengikisan sosial.

Sesungguhnya fokus perhatian terhadap keuntungan dan kemegahan duniawi dari pihak generasi muda maupun orang tua, serta sikap apatis (tidak acuh) terhadap pemahaman tanggung jawab moral dan agama serta tidak menegakkan haknya, benar-benar menjadi perkara yang meretas jalan secara perlahan menuju terjangkitnya keluarga oleh pengikisan. Dan apabila kita membandingkan antara ilmu tentang Al-Qur'an dan pengamalannya pada dua generasi muslim terakhir, niscaya kita akan menyadari sejauh mana tingkat pengabaian yang menimpa kewajiban-kewajiban agama yang mendasar tersebut.

Dan adalah hal yang lumrah apabila kesenjangan ini kemudian dipenuhi oleh pemikiran-pemikiran serta praktik-praktik asing yang menyusup, yang mana perkara tersebut terkadang terkesan seolah-olah lebih memberikan kemanfaatan. Dan sungguh, sebuah studi yang dilakukan dalam skala lokal di Universitas Karachi (University of Karachi) telah menyingkap fakta bahwasanya generasi muda saat ini berstatus lebih bodoh (minim pengetahuan agama) dibandingkan kedua orang tua mereka yang tidak memberikan perhatian untuk mengajarkan prinsip-prinsip dasar Islam kepada mereka.

Sungguh, kedua orang tua dan para guru telah gagal, sebagaimana negara juga telah gagal dalam menyadari kewajiban mereka dalam hal edukasi dan sosialisasi yang selaras dengan metode-metode Islam dalam kehidupan dan pemikiran. Dampaknya adalah lahirnya rasa terasing (alienasi) pada diri generasi muda, keraguan terhadap nilai kebaikan manusia pada diri para remaja, serta sikap apatis/menjauh pada diri orang dewasa; yang mana ini semua merupakan bahaya yang wajib kita bentengi mereka darinya, karena begitulah realitas kondisi keluarga di Barat.

Dan kini para ilmuwan Barat mulai menyadari bahwasanya bahaya ini sedang mengintai, dan mereka sedang berjuang keras agar perjalanan institusi keluarga tetap berjalan dengan tenang.

Sesungguhnya benturan budaya (clash of cultures) merupakan sebuah kenyataan, dan pengaruh-pengaruh yang kontradiktif merupakan bentuk perwujudan dari potensi-potensi internal. Dan sungguh ilmu sosiologi universal telah memberikan peringatan kepada umat manusia agar mereka dapat menyadari urgensi dari elemen ini. Dan telah menjadi hal yang pasti bahwasanya dampak-dampak dari era teknologi akan merambah ke setiap tempat di penjuru dunia, maka wajib bagi setiap umat untuk waspada dalam kadar yang cukup dan bekerja demi melindungi karakter serta identitas kultural dan sosialnya dari bahaya pengaruh-pengaruh ini. Dan apabila sistem keluarga pada kami—sebagai akibat dari stagnasi tradisi—belum sampai terdistorsi dalam derajat yang mengerikan setelah adanya serangan dari kekuatan-kekuatan destruktif (merusak) tersebut, maka sama sekali tidak ada jaminan bahwasanya ia akan tetap berada dalam kondisi aman dari bahaya yang mengancamnya, yang mana bahaya tersebut sejatinya telah menempatkan masyarakat Barat pada jalur kepunahan.

Dan aku ingin mengisyaratkan secara ringkas kepada fakta klinis lainnya, yaitu kenakalan remaja (juvenile delinquency). Problematika ini telah mencapai level yang mengerikan di Barat dan kini ia sedang mengintai kita tepat di depan pintu. Sesungguhnya awal mula dari pengobatan hal ini dimulai dari keluarga, yaitu dengan cara menegakkan kewajibannya dalam menekan angka kriminalitas anak-anak yang merebak luas serta tindakan membolos/pembangkangan mereka yang menakutkan.

Akan tetapi, seluruh indikator menunjukkan bahwasanya keluarga tidak memberikan perhatian yang semestinya di dalam mengarahkan tumbuh kembang generasi muda di dalamnya. Sering kali kita menjumpai kedua orang tua berada dalam kondisi yang sangat sibuk sampai-sampai melalaikan pengasuhan anak-anak yang masih kecil serta pelatihan mereka. Dan sesungguhnya aku benar-benar meyakini bahwasanya para lulusan universitas—jangankan anak-anak kecil—tidak mengetahui melainkan hanya sedikit sekali perkara tentang Al-Qur'an dan As-Sunnah. Kita ini adalah muslim hanya sebatas nama dan status kelahiran saja. Dan perilaku dari para pemegang otoritas di dalam keluarga serta dari para guru di lembaga-lembaga pendidikan ini—yang mana merupakan perilaku yang anti terhadap religiusitas—benar-benar meretas jalan bagi sistem keluarga Barat—yang merupakan buah dari produk pemikiran kultural yang berbeda total—untuk menjalankan misinya di dalam merusak keluarga muslim.

Bagaimanapun kondisinya, kita membutuhkan sebuah manhaj rasional dalam berpikir agar kita mampu memperjelas keterkaitan hubungan-hubungan sosial beserta kompleksitasnya, serta mampu memisahkan berbagai problematika sosial yang penting di dalam bidang ini. Demikian pula, kita membutuhkan adanya perencanaan upaya demi mengklasifikasikan berbagai usulan yang dilontarkan guna menghadapi problematika-problematika ini. Tindakan mengenali secara akurat titik-titik lemah di dalam sistem kultural merupakan suatu perkara yang mutlak diperlukan. Akan tetapi, minimnya data statistik yang vital serta fakta-fakta mendasar mengenai keluarga menjadi kendala lain di dalam jalur pembuktian kesahihan kesimpulan-kesimpulan ini.

Adapun bagi para peneliti Barat yang terlatih, sesungguhnya studi mereka terhadap problematika ini serta solusi-solusi yang mereka usulkan tegak secara keseluruhan di atas asas-asas dan metode Barat yang tidak sejalan dengan lingkungan kultural kami. Oleh karena itu, tidak ada penerimaan secara meluas di tengah masyarakat terhadap "Undang-Undang Hukum Keluarga" yang diterbitkan dan diterapkan pada masa pemerintahan "Ayub Khan", dan undang-undang tersebut saat ini sedang berada dalam tahap pengkajian dan peninjauan ulang oleh pihak "Dewan Pemikiran Islam" (Council of Islamic Ideology).

Dan secara ringkas, kami melihat bahwasanya keluarga muslim saat ini masih menegakkan fungsi-fungsi dasarnya yang telah kami isyaratkan, akan tetapi ia tidak kebal terhadap kekuatan-kekuatan yang dapat menimpakan kekacauan serta hambatan pada fungsi-fungsi tersebut. Dan perkara ini menuntut diambilnya tindakan-tindakan positif sebagai langkah preventif (pencegahan).

Dan bentuk pengobatannya adalah seperti merumuskan perundang-undangan sosial yang selaras dengan sistem moral kita, yang mana kita mencapainya melalui jalur "Ijtihad", dengan tujuan untuk menghalangi terjadinya penyimpangan yang lebih jauh dari struktur serta hubungan kekeluargaan yang suci murni ([[1]]).


(6) Aktivitas Pendukung (Al-Ansyithah al-Mushahibah):

  1. Berpartisipasi di dalam forum-forum diskusi yang berputar di seputar tema rumah tangga muslim dan keluarga muslim.
  2. Menyampaikan ceramah/kuliah mengenai urgensi keluarga muslim, asas-asas pembangunannya, serta hubungannya dengan individu dan masyarakat.
  3. Menyelenggarakan kursus-kursus pelatihan (edukasi) untuk membangun rumah tangga muslim dan tata kelola manajemennya yang baik.
  4. Berkontribusi dalam menyebarluaskan literasi (budaya) tentang rumah tangga muslim.
  5. Membuat pamflet, poster, dan brosur seputar tujuan-tujuan rumah tangga muslim dan keluarga muslim.
  6. Mengundang seorang spesialis di bidang pendidikan dan psikologi untuk berbicara mengenai asas-asas emosional dan rasional bagi perkembangan anak yang normal.
  7. Menyeleksi kisah-kisah yang berbicara tentang tokoh-tokoh ilmiah dan militer yang telah berkontribusi dalam membangun pilar peradaban Islam.
  8. Menyajikan tayangan-tayangan video kepada anak-anaknya yang mengajarkan mereka tentang adab-adab islami serta keterampilan berbicara dalam bahasa Arab.
  9. Menulis sebuah artikel seputar misi serta tanggung jawab seorang laki-laki di dalam keluarganya sebagaimana yang telah digariskan oleh Islam.
  10. Meneladani Rasulullah di dalam memperlakukan istri-istri beliau.
  11. Berpartisipasi semampunya di dalam memproduksi sebuah film yang bertujuan edukatif tentang pembangunan rumah tangga muslim, pengelolaannya, serta realisasi tujuan dan misinya.
  12. Menyusun panduan rujukan untuk melacak hukum-hukum keluarga di dalam kitab-kitab fikih klasik (turats).
  13. Menyampaikan ceramah yang menjelaskan tentang makar/konspirasi musuh-musuh Islam terhadap rumah tangga muslim dan keluarga muslim.

(7) Sarana Evaluasi dan Tindak Lanjut (Wasa'il al-Taqwim wa al-Mutaba'ah):

  1. Ujian pencapaian (achievement test) guna mengukur tingkat pemahaman dan penyerapan terhadap tujuan-tujuan serta sarana-sarana realisasinya.
  2. Pemantauan terhadap pelaksanaan aktivitas pendukung serta realisasi tujuan-tujuan perilaku (behavioral) dan emosional (afektif).
  3. Membuat kuesioner untuk mengukur dan mengevaluasi tingkat penyebaran literasi rumah tangga muslim.
  4. Melakukan observasi (pengamatan) terhadap anak-anak dari rumah tangga muslim dalam perilaku eksternal mereka sehari-hari.

(8) Target Pembelajaran Mandiri (Ahdaf al-Ta'allum al-Dzati):

  1. Memperdalam tujuan-tujuan kurikulum yang diambil dari kitab-kitab warisan Islam klasik (turats).
  2. Menelaah tulisan-tulisan modern seputar keluarga dan hubungannya dengan masyarakat.
  3. Mengenali konspirasi-konspirasi yang dirancang di seputar rumah tangga muslim dan keluarga muslim.
  4. Memantau gerakan westernisasi (pemberatan) terhadap masyarakat muslim yang bermula dari ruang lingkup keluarga melalui media massa.
  5. Menguasai kerangka umum yang disyariatkan oleh Islam untuk membangun rumah tangga muslim serta penunaian peran sosialnya.
  6. Memiliki kualifikasi untuk merumuskan rencana masa depan bagi pembentukan masyarakat muslim yang bermula dari institusi rumah tangga muslim.
  7. Membuktikan secara dalil bahwasanya pernikahan adalah sebuah ibadah.
  8. Menjelaskan misi dari rumah tangga muslim.
  9. Berbicara mengenai kedudukan mulia keluarga di dalam Islam.
  10. Menjelaskan hakikat dari kebahagiaan rumah tangga (suami istri).
  11. Menjelaskan karakteristik dari keluarga teladan (role model).
  12. Menerangkan keutamaan menyambung tali silaturahmi.
  13. Menjelaskan karakteristik dari anak-anak teladan.
  14. Menjelaskan fokus perhatian Islam terhadap urusan keluarga dengan menyebutkan contoh-contoh dalam perkara tersebut.
  15. Menyebutkan hadis-hadis dan ayat-ayat yang memberikan motivasi untuk menikahi wanita yang memiliki pemahaman agama yang baik (dzatu al-din).
  16. Memberikan argumentasi bahwasanya Islam menjaga keturunan dengan ajaran-ajarannya.
  17. Menyebutkan keutamaan rasa kasih sayang dan kelembutan di dalam mendidik anak-anak dengan menyertakan dalil ayat dan contoh kasus.
  18. Menjelaskan peran ibu di dalam membangun anak teladan dan memberikan contoh-contoh dalam perkara tersebut dari panggung sejarah.
  19. Menyebutkan kisah beberapa sosok ibu yang mendorong anak-anak mereka untuk berangkat berjihad.
  20. Menjelaskan misi dan peran laki-laki di dalam keluarga.

(9) Referensi Pembelajaran Mandiri (Maraji' al-Ta'allum al-Dzati):

  1. Tafsir Surat An-Nur dan Surat An-Nisa di dalam kitab Fi Zhilalil Qur'an (Di Bawah Naungan Al-Qur'an).
  2. Kitab Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam.
  3. Kitab Al-Rasul karya Dr. Muhammad Sadiq Arjun.
  4. Jurnal Al-Farhah terbitan Kuwait.
  5. Jurnal Al-Zuhur terbitan Mesir.
  6. Keputusan-keputusan Konferensi Kependudukan yang diselenggarakan di Kairo (Cairo International Conference on Population and Development).
  7. Kitab Risalatul Taliim karya Imam Syahid Hasan al-Banna beserta kitab-kitab syarahnya (penjelasannya).
  8. Kitab Shahih Imam Muslim.
  9. Kitab Shahih Imam Al-Bukhari.
  10. Kitab Al-Mar'ah al-Muslimah (Wanita Muslimah) karya Imam Syahid Hasan al-Banna.

Catatan Kaki:

[[1]] Lihat: Penelitian Dampak Peradaban Modern, Jurnal Al-Muslim al-Mu'ashir, Nomor 38, Halaman 107.

 

Perbaikan Diri (2) - Haditsu Tsulatsa