Pada awalnya, Allah Ta’ala menciptakan seorang manusia di muka bumi ini, yaitu Adam AS. Setelah Iblis diusir Allah Ta’ala dari surga karena kesombongannya, tinggallah Nabi Adam AS sendirian di surga. Dia berjalan-jalan sendirian di surga dalam kesepian. Saat dia tertidur, kemudian bangun, terlihat seorang wanita tengah duduk di dekat kepalanya. Adam kemudian Menyapa:”Siapakah anda?” Jawab wanita tersebut:”Wanita”. Adam bertanya kembali:”Untuk apa anda diciptakan?” Jawab wanita tersebut:”Supaya anda jinak kepadaku”.Lalu, para Malaikat mendatangi Nabi Adam AS untuk mengetahui sejauh mana ilmunya. Mereka bertanya:”Siapakah namanya, Adam?” Jawab Adam:”Hawwa!” Malaikat bertanya:”Mengapa namanya Hawwa?” Jawab Adam:”Karena dia dijadikan dari benda hidup” (Tafsir Ibnu Katsir). Itulah interaksi sosial pertama yang terjadi antara dua manusia.Interaksi sosial merupakan fithrah basyariyah (naluri manusia) yang menjadikan hidup menjadi indah dan lebih bermakna.
Keadaan Nabi Adam AS sebelum kedatangan Hawwa
digambarkan dalam Tafsir Ibnu Katsir “berjalan-jalan sendirian dan kesepian”.Setelah
itu, lahirlah keturunan dari Adam dan Hawwa, baik keturunan laki-laki atau
perempuan, sehingga jumlahnya menjadi milyaran ummat manusia seperti sekarang
ini. Allah Ta’ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ
وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا
وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ
اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
Hai
sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang Telah menciptakan kamu dari
seorang diri, dan dari padanya [maksud dari padanya menurut Jumhur Mufassirin
ialah dari bagian tubuh (tulang rusuk) Adam a.s. berdasarkan hadis riwayat
Bukhari dan muslim. di samping itu ada pula yang menafsirkan dari padanya ialah
dari unsur yang serupa yakni tanah yang dari padanya Adam a.s. diciptakan]
Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan
laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan
(mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain[menurut kebiasaan
orang Arab, apabila mereka menanyakan sesuatu atau memintanya kepada orang lain
mereka mengucapkan nama Allah seperti :As aluka billah artinya saya bertanya
atau meminta kepadamu dengan nama Allah.], dan (peliharalah) hubungan
silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan Mengawasi kamu. (an-Nisa :
1)
Firman-Nya yang lain:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى
وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ
عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Hai
manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu
saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu
disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah
Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.(al-Hujurat:13)
Dengan semakin berkembang biaknya
laki-laki dan wanita dalam jumlah yang banyak, menjadi bersuku-suku dan
berbangsa-bangsa; maka mau tidak mau, suka tidak suka, manusia akan
berinteraksi dengan manusia lainnya. Baik dalam lingkungan yang padat, atau
dalam ligkungan yang jarang penduduknya.Keharusan berinteraksi inilah yang
menjadikan manusia sebagai makhluq sosial seperti kakeknya terdahulu, Nabi Adam
dengan Ibu Hawwa. Allah Ta’ala berfirman:”… Dan bertaqwalah kepada Allah yang
dengan mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan
(peliharalah)hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan
mengawasi kamu”(An Nisaa’ [4]: 1).Dalam firman-Nya yang lain:”… menjadikan kamu
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal …” (AlHujuraat
[49]: 13).
Demikianlah, Allah Ta’ala telah
menjelaskan kepada kita rahasia penciptaan manusia yang beragam kulit, bahasa,
tradisi dan alamnya. Semuanya tidak dalam rangka manusia saling bermusuhan dan
menumpahkan darah.Tetapi untuk saling mengenal, saling membutuhkan dan saling
mengunjungi.Rasulullah SAW sendiri tidak pernah berupaya merubah nama suku
shahabatnya;seperti suku Auz dengan Kazraj, meskipun kedua suku tersebut pernah
terlibat peperangan yang lama. Rasulullah SAW tidak merubah kedua nama suku
itu, yang dihilangkan bukan namanya, tetapi sikap permusuhan di antara keduanya
dan diganti dengan sikap persaudaraan. Demikian pula antara shahabat Muhajirin dan Anshar serta shahabat lainnya.
Dan dengan begitu, kehidupan menjadi indah dan menggairahkan.
ISLAM TIDAK ANTI SOSIAL
Rasulullah SAW mengajak ummatnya untuk
bergaul dengan masyarakatnya dan bershabar terhadap berbagai macam perilaku
mereka. Sabdanya:”Seorang Mu’min yang berinteraksi dengan masyarakat dan
bershabar terhadap segala macam cobaan dari mereka lebih agung pahalanya
daripada seorang Mu’min yang tidak berinteraksi dan tidak bershabar terhadap
cobaan manusia” (HR. Muslim).
Kata “lebih agung pahalanya” merupakan
dorongan Rasulullah SAW kepada ummatnya untuk bergaul atau berinteraksi dengan
manusia lainnya. Sedangkan hijrah untuk meninggalkan manusia ramai kemudian menyendiri
dalam kehidupan merupakan perkara yang tidak diajarkan dalam Islam, karena
Rasulullah SAW telah bersabda:”Tidak ada lagi hijrah setelah penaklukan kota
Makkah” (Riyadhush Shalihin). Sebagai gantinya, Islam mengajarkan ummatnya
untuk melakukan hijrah ma’nawi atau isolasi mental.Rasulullah SAW
bersabda:”Muhajir (orang yang hijrah) adalah mereka yang meninggalkan segala
sesuatu yang dilarang oleh Allah Ta’ala” (HR. Muslim).Dari sabda Rasulullah SAW
ini, dapat kita fahami bahwa yang dimaksud hijrah adalah meninggalkan segala
sesuatu yang dilarang Allah Ta’ala,tanpa harus berpindah secara fisik. Inilah
yang dimaksud dengan hijrah ma’nawiyah atau isolasi mental. Secara fisik
bergaul dengan masyarakat ramai, tetapi secara mental meninggalkan kemaksiatan
yang mereka lakukan.Tentu saja, yang dimaknai bergaul dengan masyarakat bukan berarti
bergaul secara akrab dengan para pelaku maksiat; sampai memberikan solidaritas
dan loyalitas kepada mereka. Karena Rasulullah SAW memberikan peringatan:”Seseorang itu bersama agama temannya.
Maka hendaklah seseorang memperhatikan dengan siapa dia berteman” (HR. Abu Daud
dan Tirmidzi).Berarti yang dimaknai bergaul adalah berinteraksi dalam perkara-perkara
mu’amalah seperti jual-beli, bertetangga, berteman,berorganisasi atau yang
lain; sembari berda’wah untuk mengarahkan mereka terbiasa dengan akhlaq-akhlaq
Islami.
Beberapa orang Muslim yang ingin
menyendiri dalam kehidupan dan tidak mau bergaul dengan masyarakat ramai
mempunyai alasan yang kurang tepat.Beberapa sikap dan pemikiran yang kurang
tepat adalah:
1. Belum berda’wah tetapi sudah memvonis
Islam tidak mangajarkan kepada ummatnya
untuk menjadi tukang vonis, tetapi Islam mengajak ummatnya untuk menjadi
seorang da’i. Allah Ta’ala berfirman:
فَذَكِّرْۗ اِنَّمَآ اَنْتَ مُذَكِّرٌۙ ٢١ لَّسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍۙ
٢٢
Maka
berilah peringatan, Karena Sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi
peringatan. Kamu bukanlah orang yang
berkuasa atas mereka, (al-Ghaasyiyah:21-22)
Seringkali kita memvonis masyarakat dengan
vonis yang menyakitkan, seperti: sesat, kafir, murtad, ahli neraka dan
lain-lain. Sementara kita sama sekali belum berd’awah kepada mereka dengan
cara-cara yang diajarkan Rasulullah SAW. Sikap seperti ini meneybabkan terjadi
rentangan jarak yang jauh antara kita dengan masyarakat. Atau, menyebabkan kita
lebih suka menyendiri daripada bergaul untuk berda’wah.Tentu saja sikap seperti
ini tidak tepat, karena berda’wah itu adalah langkah pertama yang harus
dilakukan dalam berhubungan dengan manusia.Dan dengan da’wah pulalah kita
bergaul dengan masyarakat ramai. Sedangkan sikap suka menjatuhkan vonis kepada
msyarakat bukanlah ajaran Islam, karena Rasulullah SAW bersabda:”Saya tidak
diutus untuk menjadi tukang cela, tetapi untuk menjadi pemberi rahmat” (Tafsir
Ibnu Katsir).
2. Semua jama’ah dan organisasi Islam
sesat dan firqah. Allah Ta’ala berfirman:
مِنَ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيَعًا ۗ كُلُّ حِزْبٍۢ بِمَا
لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ ٣٢
Yaitu
orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa
golongan. tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan
mereka (Ar-Rum: 32).
Rasulullah SAW bersabda: ”Ummatku terpecah
menjadi tujuhpuluhtiga firqah, tujuhpuluh dua masuk neraka dan satu yang masuk
surga; itulah jama’ah” (HR. Ahmad).
Dalil-dalil di atas atau yang serupa
dengannya, seringkali disikapi keliru oleh beberapa gelintir Kaum Muslimin.
Sikap yang keliru tersebut adalah:
a. Menganggap seluruh jama’ah Kaum
Muslimin adalah sesat dan firqah
b. Menganggap hanya jama’ahnya yang memenuhi kriteria di atas, sehingga hanya
jama’ahnya yang berhak masuk surga. Sedangkan jama’ah lain akan masuk neraka.
Kedua sikap ekstrem tersebut tentu saja
sikap yang tidak tepat.Karena ayat beserta hadits di atas, atau yang sejenis
dengannya, hanya menunjukkan sifat-sifat golongan yang benar atau kelompok yang
sesat.Dalil-dalil seperti itu sama sekali tidak menunjukkan suatu nama
tertentu.Sehingga setiap kelompok, golongan atau jama’ah yang memenuhi
sifat-sifat kebenaran seperti itu masuk dalam golongan yang selamat; apapun namanya.Demikian
pula sebaliknya, jika ada kelompok, golongan atau jama’ah yang memenuhi
sifat-sifat kesesatan, maka dia akan masuk dalam golongan yang celaka; apapun namanya.
Sehingga, tidak ada organisasi yang benar
sendiri tidak pula seluruh organisasi sesat. Kita lihat dulu sifat-sifat
organisasi tersebut secara obyektif. Sudut pandang inilah yang Islami dan
menghindarkan diri kita dari keengganan untuk bergaul dengan masyarakat ramai yang
mengikuti berbagai macam organisasi.
3. Berinteraksi dengan pelaku maksiat
dilarang dalam Islam
Rasulullah SAW pernah bersabda:”Seseorang
itu bersama agama temannya. Maka perhatikanlah dengan siapa seseorang itu
berteman” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi). Dengan sabda Rasulullah Saw ini ada
beberapa Kaum Muslimin yang beranggapan bahwa berinteraksi dengan pelaku maksiat itu
dilarang.
Tentu saja pemahaman ini tidak seratus
persen benar dan juga tidak seratus persen salah. Yang diingatkan Rasulullah
SAW adalah pertemanan bukan interaksi. Yang diamksud dengan pertemanan adalah
tempat seseorang meletakkan rasa solidaritas, menumpahkan perasaan dan tempat
memberikan loyalitas. Pertemanan seperti inilah yang harus dijaga tetap dengan
orang-orang yang shalih, bukan dengan para pelaku maksiat.Sedangkan interaksi
itu dapat bermakna sangat luas. Karena da’wah itu sendiri adalah sebuah bentuk
interaksi terus-menerus antara seorang juru da’wah dengan obyek da’wahnya. Di
antara obyek da’wah adalah para pelaku maksiat.Tentu saja, interaksi da’wah
dengan para pelaku maksiat bukan dalam rangka pertemanan, yaitu bukan dalam
rangka memberikan rasa solidaritas, menumpahkan perasaan serta tempet
memberikan loyalitas. Tetapi dalam rangka mengarahkan,meluruskan serta
mengurangi intensitas kemaksiatannya.Seseorang yang menganggap interaksi dengan
pelaku maksiat dilarang menyebabkan dia mengambil sikap menyendiri dan menyepi
serta mengindarkan diri dari bergaul dengan sesama manusia.Sikap inilah yang
tidak tepat.
4. Sekarang ini adalah masa kerusakan Rasulullah
SAW bersabda:”Akan datang suatu masa yang menimpa manusia; tidak ada Islam
kecuali tinggal namanya saja, tidak ada Al Qur’an kecuali tinggal tulisannya
saja, masjid-masjid mewah tetapi kosong dari petunjuk serta ulama’nya adalah
orang yang paling jahat yang berada di bawah langit…” (HR. Al Baihaqi).
Hadits di atas serta hadits-hadits yang
sejenis dijadikan sebagai alasan oleh beberapa Kaum Muslimin untuk
menggambarkan kondisi zaman sekarang ini. Sebagian berpendapat sangat ekstrem ,
yaitu sekarang adalah zaman paling rusak dan sudah tidak mungkin lagi untuk
diperbaiki kembali. Sehingga mereka memilih mundur dan menyepi dari keramaian
manusia; dengan anggapan supaya selamat dunia akhirat.Anggapan seperti ini
tentu saja tidak dapat dikatakan benar seratus persen. Karena masih banyak
hadits lain yang menunjukkan bahwa akhir zaman ditandai dengan kehadiran
Dajjal, Nabi Isa, Imam Mahdi, Ya’juj dan Ma’juj dan lain-lain. Semuanya itu
belum terjadi. Belum lagi Rasulullah SAW pernah bersabda:”… Kemudian akan
datang lagi masa kekhilafahan yang ditegakkan atas dasar-dasar kenabian ketika
Allah berkehendak untuk mendatangkannya …” (HR.Ahmad). Dan masa kekhilafahan
kedua ini juga belum terwujud. Bagaimana bisa bahwa zaman sekarang ini adalah
rusak-rusaknya zaman, sementara ciri-ciri akhirzaman belum terwujud?
Anggapan yang keliru seperti ini
menyebabkan manusia mengambil sikap yang tidak tepat pula; di antaranya adalah
dengan mengasingkan diri darimasyarakat ramai dan hanya asyik dengan
dirinya-sendiri.
SIKAP DIRI
Sebenarnya, ada potensi dasar pada diri
seseorang yang menyebabkan masyarakat mudah menerima kehadirannya. Beberapa
karakteristik dasar tersebut antara lain: Penduduk asli lebih diterima daripada
pendatang. Orang tua lebih diterima daripada anak muda Keturunan tokoh lebih
diterima daripada keturunan orang biasa
Orang kaya lebih diterima daripada orang miskin
Orang yang suka memberi lebih diterima daripada orang yang pelit
Orang yang suka menolong lebih diterima daripada orang yang berat untuk
menolong
Orang yang pandai bergaul lebih diterima
daripada tidak suka bergaul
Potensi dasar ini harus senantiasa
diupayakan supaya da’wah kepada masyarakat mengalami percepatan yang
signifikan. Proses percepatan
dapat melalui pernikahan, pelatihan, pendistribusian dana dan lain-lain.
Selain potensi dasar pada diri seseorang,
terdapat pula sikap diri yang harus dimunculkan dalam diri seseorang ketika
bergaul dengan masyarakat. Sikap diri inilah yang menyebabkan masyarakat lebih
mudah menerima kehadiran kita, tidak mempunyai alasan untuk memusuhi serta
menyambut da’wah kita atas ijin Allah Ta’ala.
1. Empati sebagai sikap dasar pergaulan
Sikap dasar pergaulan yang ideal adalah
empati. Yang dimaksud dengan empati adalah:
a. Memandang manusia dengan kacamata
kasih-sayang
Allah Ta’ala mengutus Rasulullah SAW
sebagai rahmah (kasih-sayang) bagi seluruh penghuni bumi. Firman-Nya:
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ
107. Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan
untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.(al-Anbiya:107)
Tentu saja kacamata rahmah (kasih-sayang)
bersifat universal, yaitu ditujukan kepada seluruh ummat di dunia. Baik yang
Muslim atau Non Muslim, bahkan untuk manusia atau binatang, tumbuhan dan
benda-benda lain di dunia. Tetapi dalam pembahasan kita kali ini, rahmat itu
ditujukan kepada seluruh ummat manusia.Inilah yang diajarkan Rasulullah SAW
kepada Abdurrahman Bin ‘Auf ketika dia meminta kepada Rasulullah SAW untuk
membalas celaan orang-orang kafir Quraisy. Rasulullah s.a.w bersabda:”Sesungguhnya
aku ini diutus bukan untuk menjadi tukang laknat (tukang cela), tetapi untuk
memberikan rahmah (kasih-sayang)”(Tafsir Ibnu Katsir).
Demikian pula, ketika Rasulullah SAW
dilempari batu olehpenduduk Thaif yang membawa kesedihan sangat mendalam di
hati beliau. Maka beliau berdo’a:”Ya Allah, ampunilah mereka. Karena
sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengetahui” (HR. Bukhary dan
Muslim).
Begitulah ketika kita berinteraksi dengan
masyarakat, kita harus memandang mereka dengan kacamata kasih-sayang, bukan
kebencian dan kemarahan.Rasulullah Saw mengingatkan:”Jauhkan dirimu dari
sangka-sangka, karena sangka-sangka itu sedusta-dusta berita. Dan jangan
meraba-raba dan jangan menyelidiki kesalahan orang …” (HR. Muslim).
Segala bentuk perilaku masyarakat, baik
yang menyenangkan atau menjengkelkan hati kita, kita sikapi dengan tatapan
kasih-sayang. Bukan balas-dendam,kemarahan dan kebencian. Sambil kita berdo’a
di hadapan Allah Ta’ala:” Ya Allah, ampunilah mereka. Karena sesungguhnya
mereka adalah kaum yang tidak mengetahui”
b. Ikut merasakan alunan perasaan orang
lain
Rasulullah SAW mengajarkan kepada seorang
Muslim untuk menghargai perasaan orang lain. Perasaan senang, sedih, gembira,
kecewa, susah dan lain-lain. Bentuk penghargaan perasaan kepada orang lain
adalah dengan ikut serta merasakan perasaan orang lain. Jika orang lain sedih,
kita ikut menampakkan ekspresi kesedihan. Jika orang lain bergembira, maka kita
juga semestinya menampakkan ekspresi kegembiraan. Begitu pula dengan perasaan-perasaan
yang lain. Rasulullah SAW bersabda:”Jangan menunjukkan kegembiraanmu dalam
kesusahan saudaramu, maka Allah akan menyembuhkan (menyelamatkannya) dan membalas ujian padamu” (HR. At Tirmidzi;
Riyadhush Shalihin II, 450).
Tentu saja, sikap ini bukan bertujuan
untuk memperparah keadaan.Misalkan seseorang yang bersedih menjadi sedih
berkepanjangan, atau seseorang yang bahagia melampiaskannya dengan hura-hura
berlebihan. Tetapi sikap ini bertujuan untuk melegakan perasaan seseorang,
terutama yang tengah dirundung derita. Karena dalam kesedihannya, masih ada
orang lain yang menanggapi dan memberi perhatian kepadanya. Dalam suasana
seperti itulah, nasihat yang baik akan lebih menghujam di dalam qalbu.
c. Perhatian
Perhatian adalah sebuah bentuk pencurahan
pikiran dan perasaan seseorang untuk kebaikan orang lain. Lawan perhatian
adalah cuek dan tidak mau tahu persoalan orang lain. Orang seperti ini, cuek
dan tak mau tahu, biasanya cenderung egois atau hanya asyik dengan dirinya
sendiri. Terserah saja apa yang terjadi pada orang lain, asalkan tidak menimpa
diri saya.
Bentuk perhatian ini tentu saja bukan
bertujuan untuk mengorek aib orang lain. Tetapi perhatian adalah lebih bertumpu
kepada komitmen seseorang untuk ikut membantu orang lain bergembira dan
berbahagia.
d. Basa-basi
Basa-basi yang dimaksud di sini bukan
berarti basa-basi tanpa arti. Tetapi basa-basi yang dapat melunturkan rasa
dengki dan kemarahan seseorang kepada kita. Selain itu, basa-basi ini memang diajarkan oleh Rasulullah
SAW. Sabdanya:”Janganlah kalian meremehkan sedikitpun kebaikan,meskipun hanya
dengan wajah manis ketika bertemu dengan saudaramu” (HR.Muslim).
Di antara bentuk basa-basi itu adalah:
i. Salam
Ucapan salam kelihatannya terkesan hanya
sebuah basa-basi.Tetapi sebenarnya, setiap manusia sangat suka menerima salam
dari orang lain;karena merasa mendapat perhatian. Rasulullah SAW bersabda:“Demi
Dia yang nyawaku berada di tangan-Nya. Kalian tidak akan masuk surga, sampai
kalian beriman. Dan kalian tidak akan beriman, sampai kalian saling
berkasih-sayang.Maukah kalian saya tunjukkan suatu perbuatan jika kalian
lakukan akan tumbuh rasa kasih-sayang di antara kalian? Sebarkanlah salam di
antara kalian” (HR.Muslim).
ii. Wajah Manis
Wajah ceria dengan senyum yang tulus
merupakan bantuan moril kepada orang lain untuk turut berbahagia menghadapi
hari ini. Karena dengan keceriaan wajah dan senyuman kita, seseorang akan
terhipnotis ikut bergembira.Untuk itulah Rasulullah SAW berpesan:“Janganlah
kalian meremehkan sedikitpun perbuatan yang ma’ruf meskipun hanya dengan
berwajah manis ketika bertemu dengan saudaramu” (HR. Muslim).
iii. Jabat-tangan
Jabat-tangan yang ikhlas akan melebur rasa
dendam dalam hati dan menggantikannya dengan rasa sayang serta saling
memaafkan. Jabat-tangan juga mampu menumbuhkan rasa akrab serta mencairkan
ketegangan suasana. Rasulullah SAW bersabda:“Tidaklah dua orang Muslim yang
bertemu kemudian berjabat-tangan,kecuali Allah mengampuni dosa di antara
keduanya sampai keduanya berpisah”(HR. Abu Dawud).
iv. Memanggil dengan nama yang disukai
Jika kita kenal nama seseorang, kemudian
memanggil dengan namanya, maka keakraban akan dengan cepat mudah terjalin.
Terlebih lagi, bila kita tahu nama kesukaan seseorang atau nama kebanggaannya,
dan kita panggilorang tersebut dengan nama-nama itu; maka perasaan in group
akan cepat tumbuh. Yaitu perasaan tidak terpisahkan antara kita dengan dirinya.
Allah Ta’ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى
اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ
يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا
بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ
يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
11. Hai orang-orang yang beriman, janganlah
sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang
ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan
merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan
janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang
mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk
sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah
orang-orang yang zalim. (Al-Hujurat: 11)
v. Memberi hadiah
Hadiah dapat memupus rasa permusuhan dan
menggantinya dengan cinta. Rasulullah Saw bersabda:”Saling bertukar hadiahlah
sehingga kalian saling berkasih-sayang” (HR. Muslim).
2. Teladan sebagai contoh praktis
kehidupan
Masyarakat sangat tidak menyukai teori dan
konsep yang muluk-muluk dan melangit; terutama sekali masyarakat awam. Tetapi
masyarakat lebih membutuhkan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari yang
praktis dan aplikatif. Karena itu, teladan merupakan bahasa yang tepat untuk
berbicara kepada masyarakat. Pepatah Arab mengatakan:”Bahasa teladan lebih
fasih daripada bahasa lisan”.
Misalnya, dalam masalah ibadah; sebelum
kita mengajak masyarakat menegakkan shalat, maka harus dimulai dari diri kita
untuk senantiasa menegakkan shalat. Kita mencontoh kan rapi dan bersih dalam
penampilan, pakaian dan rumah tinggal serta kendaraan. Kita mencontohkan
senantiasa memulai berbuat baik kepada tetangga dengan menyapa, silaturahmi,
memberi hadiah dan yang sejenisnya.
Allah Ta’ala mengecam manusia yang hanya
mau berbicara, tetapi tidak berupaya untuk menerapkan ucapannya sendiri dalam
praktek amal keseharian. Firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ ٢
كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ ٣
Wahai
orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu
kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang
tidak kamu kerjakan.(as-shof:2-3)
Rasulullah Saw berpesan:”Mulailah dari
dirimu sendiri!” (HR.An Nasaa’i).
3. Memberi manfaat
Hendaklah kita tidak sekedar mencari
keuntungan material dalam
berhubungan dengan masyarakat. Segala sesuatu hanya diukur untung-rugi secara
ekonomi.
Bila kita berperilaku seperti itu, maka
masyarakat akan sulit meraba keikhlasan hati kita dalam bekerja atau dalam
berhubungan dengan mereka.Sehingga mereka berhati-hati dalam berhubungan dengan
kita, atau bahkan menghindari. Mereka takut menjadi korban materi dalam
berhubungan dengan kita Sudah semestinya, apabila kita justru berusaha banyak
memberi manfaat kepada masyarakat, tanpa terbesit dalam diri kita untuk mendapat
ganti;kecuali hanya keridhaan Allah semata. Demikian itulah yang diajarkan
RasulullahSAW dalam hidup bermasyarakat. Sebelum Muhammad menjadi Nabi, Khadijah
RA menceritakan pribadi beliau:”
4. Teguh pendirian
Banyak sekali perilaku masyarakat yang
belum sesuai dengan nilai-nilai Islam. Bahkan seringkali perilaku itu telah
mengakar dan membudaya dalam sebuah masyarakat. Misalnya sesaji ke kuburan,
sesaji setelah bersih desa,minuman keras saat ada hajatan dan lain-lain.Tentu
saja, kita dilarang untuk ikut-ikutan acara haram tersebut dengan alasan untuk
bermasyarakat. Bila kita mempunyai kekuasaan di masyarakat, menjadi perangkat
desa misalnya; maka kita dapat mengurangi sedikit demi sedkit tradisi tersebut
melalui jalur-jalur kekuasaan. Bika kita berani mengingatkan secara lisan
kepada mereka, maka dapat menegurnya. Tetapi, apabila kita tidak mampu
melakukan keduanya, cukuplah kita memiliki pendirian yang kuat untuk tidak mengikutinya.
Rasulullah SAW bersabda:”Janganlah kalian
menjadi orang yang imma’ah (tidak punya pendirian) yang hanya berkata:”Saya
bersama masyarakat. Bila masyarakat
baik, maka saya juga baik. Demikian pula, jika masyarakat buruk, saya juga
buruk”. Akan tetapi teguhkan pendirianmu, jika masyarakat berbuat baik,maka
berbuat baiklah. Dan jika masyarakat melakukan keburukan, maka tinggalkanlah
keburukan mereka” (HR.Muslim).
5. Memaklumi jangan minta dimaklumi
Rasulullah SAW telah menunjuk seluruh Kaum
Muslimin sebagai pemimpin dengan sabdanya:” Setiap dari kalian adalah pemimpin,
dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung-jawaban terhadap apa yang
dipimpinnya” (HR Bukhary).
Dengan hadits itu, berarti seluruh Kaum
Muslimin adalah pemimpin baik dalam skala yang luas, yaitu memimpin
masyarakatnya; dalam skala sedang,memimpin rumah-tangganya; atau dalam skala
kecil, yaitu memimpin dirinya sendiri.Mental khusus seorang pemimpin adalah
responsible (tanggung-jawab)dan sense of belonging (rasa memiliki). Dengan dua
setting mental inilah seorang Muslim harus bekerja menghadapi masyarakatnya,
karena dari sini tumbuh sikap berusaha memaklumi orang lain dan tidak malah
meminta untuk dimaklumi.Tingkah-polah masyarakat yang berada di sekiling kita,
kita respon dengan sikap maklum. Sehingga kita mampu menghadapi mereka dengan
tenang,tidak emosi serta menghilangkan dendam kesumat dalam jiwa. Jika mereka
mencela kita, menghina kita, mencibir atau yang sejenisnya; cukuplah kita
berdo’a sebagaimana Rasulullah SAW berdo’a untuk penduduk Tha’if:”Ya Allah ampunilah
mereka, karena mereka orang yang tidak mengetahui” (HR. Bukhary dan muslim).
INTERAKSI
1. Heterogenitas adalah anugerah Allah
Heterogentitas merupakan anugerah dari
Allah Ta’ala, karena Allah telah berfirman:” Hai manusia, sesungguhnya Kami
menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan
kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal …” …” (Al
Hujuraat [49]: 13).
Sehingga heterogenitas bukanlah sebuah
perkara yang harus kita sesali, tetapi justru merupakan hal yang harus kita
syukuri. Setiap suku memiliki tradisi dan cara masing-masing; bahkan setiap
orang memiliki perilaku masing-masing meskipun mereka adalah suadara kembar.
Tidak mungkin semua orang itu baik akhlaqnya serta sehat akalnya, tetapi ada
juga yang rusak moralnya serta kacau aqalnya. Tidak semua orang mudah menerima
kebenaran, tidak semua orang berani berjuang di jalan Allah, tidak semua orang
terhindar dari kriminalitas dan lain-lainnya.
Semua itu merupakan heterogenitas yang ada
di muka bumi,yang harus kita sadari sepenuhnya sebagai anugerah Allah Ta’ala.
Sehingga kita tidak mudah sempit dada melihat perbedaan-perbedaan yang tumbuh
di antara manusia, atau juga kita tidak cepat merasa putus-asa dengan
menjalarnya kemaksiatan dalam tubuh masyarakat kita. Semua itu sudah menjadi
hukum alam (sunnatullah)yang memang demikianlah keadaannya.
2. Mengenali obyek da’wah dengan
terperinci
Kita harus senantiasa berupaya mengenali
obyek da’wah kita dengan teliti. Semakin teliti kita menegnali obyek
da’wahkita, semakin tepat kita memberikan therapi kepada mereka, serta semakin
kecil tingkat kesalahan kita dalam berhadapan dengan mereka.
Setiap masyarakat memiliki potensi beragam
serta tingkat sensitifitas yang berbeda. Permasalahan ini harus kita teliti
secara mendalam,sehingga kita dapat menumbuhkan potensi mereka, seiring dengan
upaya kita untuk mereduksi perilaku mereka yang negatif.
3. Berbicara sesuai budaya setempat
Setiap kaum memiliki karakter dan tradisi
yang berbeda-beda.Dari sisi bahasa, misalnya, setiap kaum memiliki kosa-kata
yang bervariasi serta dialek yang beragam. Sesama Bahasa Jawa saja memiliki
kosa-kata yang bervariasi serta dialek yang beragam. Antara Bahasa Jawa Timur,
Tengah atau Barat terjadi berbagai macam perbedaan. Bahkan antara Bahasa Jawa
di Jawa Timur sendiri terdapat berbagai ragam perbedaan. Belum lagi antara
Bahasa Jawa dengan bahasa daerah lainnya. Tentu saja terjadi banyak perbedaan.
Apalagi antara bahasa nasional dengan bahasa asing.
Seorang da’i akan sangat mudah diterima
masyarakat apabila mengenali bahasa mereka dan adat komunikasi antar mereka.
Penerimaan secara pribadi ini akan berdampak terhadap penerimaan nilai-nilai
yang kita tawarkan kepada mereka, yaitu nilai-nilai Islam. Maka berbicaralah
dengan bahasa masyarakat setempat.
Allah Ta’ala telah berfirman:
وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهٖ
لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۗفَيُضِلُّ اللّٰهُ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ
ۗوَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Kami
tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya supaya ia
dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan
siapa yang dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang dia kehendaki.
dan Dia-lah Tuhan yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.(Ibrahim:4)
4. Berbicara sesuai kadar akal
Kecerdasan setiap orang tentu saja
berbeda, demikian pula dengan kecerdasan rata-rata antara masyarakat yang satu
dengan masyarakat lainnya Rasulullah SAW memerintahkan supaya kita berbicara
disesuaikan dengan kadar akal masyarakat. Apabila mereka lemah akalnya, maka
berbicaralah dengan bahasa yangsederhana dan mudah dimengerti oleh akal mereka.
Sebaliknya, apabila kitaberbicara dengan masyarakat yang lebi cerdas,maka kita
dapat berdiskusi dengan mereka terhadap berbagai hal.
Rasulullah s.a.w bersabda:“Kami para Nabi
diperintahkan supaya berbicara kepada manusia sesuai dengan kadar akal mereka”
(HR. Muslim).
5. Tidak mengumbar janji
Janganlah mudah mengumbar janji kepada
masyarakat, karena mereka akan menagih janji kita untuk direalisasikan. Jika
kita kemudian memenuhi janji kita, mereka akan menganggap sebagai perkara yang
biasa; karena memang janji harus ditepati. Sedangkan bila kita tidak mampu
menepati janji, maka masyarakat akan mencemooh kita dan tentu saja kredibilitas
kita di hadapan mereka akan jatuh-berantakan.
Lain lagi apabila kita tidak berjanji. Apabila
kita tidak melakukannya, masyarakat akan maklum, karena memang kita tidak
pernah menjanjikannya. Sebaliknya, jika kita memenuhi sesuatu padahal kita
tidak berjanji sebelumnya, masyarakat justru akan salut kepada kita.Untuk itu,
fikirkanlah baik-baik sebelum kita menjanjikan sesuatu kepada masyarakat. Allah
Ta’ala juga telah berfirman ketika mencirikan orang yang beriman:
وَالَّذِيْنَ هُمْ لِاَمٰنٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُوْنَ ۙ
Dan
orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan
janjinya.(al-Mukminun:8)
MUSYAWARAH
Musyawarah merupakan cara penyelesaian
masalah di dalam bermasyarakat. Prinsip-prinsip musyawarah alam Islam telah
difirmankan Allah Ta’ala:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا
غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ
لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ
ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ
Maka
disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka.
sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan
diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi
mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila
kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya
Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.(Ali Imran:159)
Dari ayat di atas ada beberapa prinsip
musyawarah:
1. Lembut hati
Lembut hati merupakan prinsip pertama di
dalam bermusyawarah,terutama untuk pemimpin musyawarah, atau orang yang
mempunyai mental pemimpin.
Rasulullah SAW bersabda:”Setiap kalian
adalah pemimpin” (HR. Bukhary), sehingga kita harus memiliki mental pemimpin
pula; yaitu lembut hati dalam berhadapan dengan masyarakat. Terutama sekali
ketika bermusyawarah.Lembut hati tidak semakna dengan tidak memegang prinsip,
tidak tegas, pesimis atau rendah diri. Tetapi, lembut hati lebih bertumpu
kepada menampilkan segala sesuatu dengan halus, seperti menampilkan ketegasan
dengan bahasa yang lembut, mempertahankan prinsip dengan kehalusan dan
sejenisnya.
2. Kelembutan hati merupakan rahmat Allah
Kesadaran ini sangat penting, yaitu kelembutan hati itu semata-mata
merupakan rahmat Allah ta’ala kepada hamba-Nya; bukan karena kepiawaian
seseorang dalam menata hatinya. Perasaan ini penting untuk kita tanamkan dalam
diri kita karena:
1)
Menghindarkan diri dari rasa sombong dan takabur
2)
Menghadirkan kelembutan dengan cara yang
disyari’atkan Islam.
3) Segala hasilnya dapat
kita kembalikan kepada Allah
3. Hindarkan sikap keras dan kasar hati
4. Memaafkan
5. Mendoakan ampun
6. Musyawarah.
Ada beberapa prinsip musyawarah:
- Musyawarah merupakan tempat tertinggi
mengambil keputusan.
- Tidak ada musyawarah tandingan yang
se-level.
- Habis-habisan
dalam musyawarah
7. Azzam ketika tercapai kesepakatan
8. Tawakkal terhadap keputusan bersama
Demikianlah upaya kita dalam hidup
bermasyarakat dan ikut berperan-aktif di dalamnya. Semoga Allah Ta’ala memberi kekuatan kepada kita untuk
merealisasikannya. Amiin …
