Monday, April 27, 2026

Tafsir Surah At-Taghabun

Pengantar

Surah ini merupakan surah yang paling mirip dengan surah-surah Makkiyyah dalam temanya, arahannya, naungannya, nuansanya, dan isyarat-isyaratnya, khususnya bagian pertama darinya. Nuansa surah-surah Madaniyyah hampir tidak terlihat di dalamnya kecuali pada paragraf-paragraf akhir.

Bagian pertama dan paragraf-paragraf awal hingga awal seruan,

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu.. '' (at-Taghaabun: 13)

Sasarannya adalah pembinaan dan pembangunan asas-asas akidah dan pembentukan persepsi Islami dalam hati dengan gaya bahasa surah-surah Makkiyyah yang ditujukan kepada orang-orang musyrik dan kafir pertama kali. Mereka diserukan dengan persepsi ini dalam bentuk seruan yang pertama kali didengar dan dihadapi. la menggunakan pengaruh-pengaruh alam semesta dan jiwa, sebagaimana ia juga memaparkan tentang nasib dan hukuman atas orang-orang yang terdahulu dari para pendusta sebelumnya. Di samping itu, iajuga memaparkan tentang kejadian-kejadian dan fenomena-fenomena hari Kiamat guna menetapkan hari kebangkitan dan penekanannya dengan tekanan yang keras. Tekanan yang menunjukkan bahwa orang-orang yang diseru itu termasuk yang ingkar dan kafir.

Sedangkan, bagian dan paragraf akhir menyerukan orang-orang yang beriman dengan seruan yang mirip dengan seruan-seruan yang ada dalam surah Madaniyyah untuk menganjurkan mereka agar berinfak dan memperingatkan mereka dari fitnah harta benda dan anak. Seruan yang semisal dengan ini muncul berulang-ulang dalam periode Madinah disebabkan oleh problematika yang muncul pada masyarakat Islam yang baru dibentuk. Sebagaimana di sana sesungguhnya terdapat pula bentuk-bentuk hiburan atas musibah dan kejadian yang menimpa atau beban-beban yang ada di pundak orang-orang yang beriman. Kemudian penyerahan kembali segala urusan kepada takdir Allah dan penetapan persepsi Islami di dalam urusan itu.

Itulah tema yang sering berulang-ulang dibahas dalarn surah-surah Madaniyyah, khususnya setelah perintah jihad dan pengorbanan-pengorbanan yang timbul karenanya.

Di sana ada beberapa riwayat bahwa surah ini termasuk di antara surah Makkiyyah dan ada pula beberapa tiwayat bahwa surah ini adalah surah Madaniyyah dengan beberapa alasan penguat. Kami hampir-hampir saja condong memasukkan surah ini ke dalam surah Makkiyyah karena terpengaruh dengan gaya bahasanya yang terdapat dalam paragraf-paragraf pertama dan nuansanya.

Namun, kami tetap memasukkan ke dalam surah Madaniyyah bersama dengan pendapat yang paling kuat dalam masalah ini. Karena, sesungguhnya di sana tidak ada satu pun faktor yang menghalangi bahwa paragraf-paragraf pertama sebagai seruan kepada orang-orang kafir setelah hijrah, baik mereka adalah orang-orang kafir Mekah maupun orang orang kafir yang dekat dari Madinah. Sebagaimana sesungguhnya tidak ada pula rintangan dan larangan bahwa surah-surah Madaniyyah dalam beberapa kesempatan dan keadaan tertentu, menjadikan sasarannya adalah pembinaan dan pembangunan asas-asas akidah dan pencerahan tentang persepsi Islami dengan gaya bahasa yang sering digunakan untuk surah-surah Makkiyyah. Wallahu a’lam.

Persepsi Islam tentang Alam Semesta

Bagian pertama dan paragraf-paragraf awal, sasarannya adalah pembinaan dan pembangunan persepsi iman berkenaan dengan alam semesta, serta pemaparan tentang hakikat hubungan antara Penciptanya Allah dengan alam semesta yang diciptakan-Nya. la juga menetapkan tentang hakikat beberapa sifat AIlah dan asmaul husna serta pengaruhnya dan jejaknya dalam alam semesta dan dalam kehidupan manusia.

يُسَبِّحُ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُۖ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ١ هُوَ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ فَمِنْكُمْ كَافِرٌ وَّمِنْكُمْ مُّؤْمِنٌۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ ٢ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ بِالْحَقِّ وَصَوَّرَكُمْ فَاَحْسَنَ صُوَرَكُمْۚ وَاِلَيْهِ الْمَصِيْرُ ٣ يَعْلَمُ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُسِرُّوْنَ وَمَا تُعْلِنُوْنَۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ ۢبِذَاتِ الصُّدُوْرِ ٤

"Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang di langit dan apa di bumi. Hanya Allah-lah yang mempunyai semua kerajaan dan semua pujian-pujian; dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Dialah yang menciptakan kamu, maka di antara kamu ada yang kafir dan di antara kamu ada yang beriman. A llah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar. Dia membentuk rupamu dan dibaguskan-Nya rupamu itu, dan hanya kepada-Nyalah kembali(mu). Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi serta mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Allah Maha Mengetahui segala isi hati. " (at-Taghaabun:1-4)

Persepsi dan pandangan imani yang ada dalam alam semesta ini adalah persepsi yang paling detail dan luas yang dikenal oleh orang-orang yang beriman sepanjang sejarah. Risalah-risalah ilahiah telah datang. Semuanya membawa keyakinan tentang keesaan AIIah dan penciptaan-Nya atas seluruh alam semesta dan seluruh makhluk. Juga penjagaan dan perhatian-Nya atas segala yang ada di alam semesta.

Kita tidak boleh meragukan sedikitpun tentang perkara ini karena Al-Qur'an menceritakan tentang rasul-rasul dan risalah-risalah seluruhnya. Sedangkan, temuan-temuan yang diperoleh dari kajian dalam kitab-kitab yang dipalsukan dan menyimpang, tidak boleh dijadikan sandaran. Demikian pula kitab kitab yang ditulis oleh orang-orang yang tidak beriman kepada Al-Qur'an atau hanya beriman kepada sebagiannya saja.

Sesungguhnya penyimpangan dari akidah iman terjadi pada pengikut-pengikut rasul yang membawa risalah tersebut. Sehingga, tampak bahwa seolah-olah rasul itu tidak membawa risalah tauhid yang murni. Atau, ia seakan tidak datang membawa akidah tentang kekuasaan Allah yang mutlak atas alam semesta dan Dia selalu berhubungan dengan alam semesta itu. Ini timbul dari penyimpangan yang baru terjadi, bukan dari asas akidah yang murni.

Pasalnya, agama Allah itu adalah satu sejak dari awal risalah hingga akhir risalah. Dan, sangat mustahil Allah menurunkan suatu agama yang menyimpang dan bertentangan dengan kaidah-kaidah tauhid ini, sebagaimana yang diasumsikan oleh orang-orang yang menemukan penyimpangan-penyimpangan itu dalam kitab-kitab yang dipalsukan dan menyimpang atas nama agama.

Namun, penetapan hakikat ini tidak menafikan bahwa persepsi Islam tentang Zat Allah, sifat-sifatNya dan jejak-jejak, bekas-bekas dan pengaruh-pengaruh sifat-sifat itu dalam alam semesta dan dalam kehidupan manusia,... adalah lebih luas, lebih detail, dan lebih lengkap dari segala persepsi tauhid sebelumnya yang terdapat dalam agama-agama samawi yang terdahulu. Hal ini sesuai dengan tabiat risalah yang terakhir dan misinya yang terakhir serta sesuai hajat tuntunan manusia di mana risalah ini datang untuk menyerukannya dan mengarahkannya. Ia juga datang untuk membentuk persepsi yang total dan sempurna beserta segala permasalahan-permasalahan, cabang-cabang, jejak-jejak, bekas-bekas, dan pengaruh-pengaruhnya.

Dari persepsi ini diharapkan hati manusia (dengan kadar kemampuannya) mampu mengetahui hakikat ketuhanan dan keagungannya, serta merasakan kekuasaan Ilahi dan menyaksikannya dalam jejak-jejak yang dapat disaksikan di alam semesta. Dia juga bisa merasakannya dalam setiap makhluk yang hidup beserta jejak-jejak dan bekas-bekas yang dapat disaksikan dan diketahui. Dia hidup dalam ruang kekuasaan Ilahi beserta jejak-jejaknya yang tidak akan hilang dan tertutup dari indra, hati, dan ilham nurani. Dia bisa menyaksikannya bahwa hal itu meliputi segala sesuatu, menguasai segala sesuatu, mengatur segala sesuatu, menjaga dan memelihara segala sesuatu. Sehingga, tidak ada satu pun yang terlepas darinya baik yang besar, kecil, agung, mau pun remeh.

Di antara misi akidah dan persepsi itu adalah agar hati manusia memiliki daya sensitivitas sehingga selalu takut, menanti, tamak, berharap, dan bercita-cita. Manusia diharapkan menjalani kehidupan ini dengan selalu bergantung dalam setiap gerakan fisik dan getaran hatinya kepada Allah. Juga merasakan kekuasaan dan keperkasaan-Nya, merasakan ilmu-Nya dan pengawasan-Nya, merasakan rahmat dan karunia-Nya, dan merasakan kedekatan-Nya dalam setiap keadaan.

Akhirnya, tujuan sesungguhnya di antara misi akidah dan persepsi itu adalah agar manusia merasakan bahwa segala sesuatu yang ada mengarahkan dirinya kepada Allah. Sehingga, seharusnya dia pun mengarahkan dirinya kepada-Nya. Sesungguhnya segala yang ada bertasbih memuji-Nya. Maka, seharusnya dia pun bertasbih kepada-Nya. Allah mengatur segala urusannya dan menentukan hikmah segala sesuatu. Maka, seharusnya dia tunduk kepada syariat-Nya dan aturan-Nya.

Dengan demikian, ia merupakan persepsi iman dalam alam semesta dengan makna ini dan dengan segala makna lain yang tampak dalam tempat-tempat lain di Al-Qur'an yang telah memaparkan beberapa bagian dan sisi dari persepsi iman yang total, sempurna, meliputi, dan detail. Dan, contoh paling dekat adalah yang terdapat di dalam bagian dari surah al-Hasyr dalam juz 28 ini.

“Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang di langit dan apa yang di bumi. Hanya Allah-lah yang mempunyai semua kerajaan dan semua pujian-pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (at-Taghaabun: 1)

Jadi, semua yang ada di langit-langit dan di bumi mengarahkan diri menuju Tuhannya dan bertasbih memuji-Nya. Hati seluruh alam semesta ini adalah beriman. Ruh segala yang ada di dunia ini adalah beriman, dan Allah Maha Memiliki atas segala sesuatu. Segala sesuatu menyadari tentang hakikat ini.

Allah terpuji dalam diri-Nya sendiri dan diagungkan oleh makhluk-makhIuk-Nya. Bila manusia sendiri bersikap berseberangan dengan alam semesta yang besar ini, maka hatinya telah kafir dan ruhnya jumud, melanggar dan bermaksiat, tidak bertasbih kepada Tuhannya, dan tidak menghadapkan dirinya kepada Tuhannya. Dengan demikian, dia berperilaku aneh dan menyimpang seterang-terangnya seperti orang yang terbuang dan terusir dari segala yang ada dalam alam semesta.

Ia merupakan kekuasaan yang mutlak dan tidak terikat dengan apa pun. Ia merupakan hakikat yang terpatri dalam hati setiap mukmin sehingga mengetahuinya dan terpengaruh dengan bukti-bukti dan tanda-tandanya. Dan, dia mengetahui bahwa ketika dia bersandar kepada Tuhannya, maka dia telah bersandar kepada kekuatan yang dapat meIakukan segala sesuatu, dan merealisasikan wujud segala sesuatu tanpa batas dan ikatan apa pun.

Itulah gambaran tentang kekuasaan Allah dan tasbih segala sesuatu dalam memuji-Nya. Seluruh alam semesta mengarahkan pujian kepada-Nya Itu merupakan salah satu bagian dari pandangan iman yang besar.

Sentuhan kedua sasarannya ke dalam hati manusia yang bertentangan dan berseberangan dengan alam semesta yang beriman dan bertasbih memuji Allah dengan pujian. Sentuhan kedua ini adalah kenyataan bahwa di antara manusia ada orangyang beriman dan ada orang yang kafir. Hanya manusia saja yang bersikap yang aneh seperti ini, sedangkan alam semesta tidak demikian adanya,

"Dialah yang menciptakan kamu, maka di antara kamu ada yang kafir dan di antara kamu ada yang beriman. Allah Maha Melihat apa Yang kamu kerjakan. " (at-Taghaabun: 2)

Karena kehendak Allah dan kekuasaan-Nya, manusia itu terwujud. Allah memberikan manusia dua potensi, yaitu mengarah kepada kekafiran dan mengarah kepada keimanan. Dengan potensi dan kesiapan inilah, manusia menjadi istimewa di antara makhluk-makhluk ciptaan Allah. Dengan karakter kesiapan inilah, manusia dibebani amanat iman. la merupakan amanat yang besar dan beban yang sangat berat.

Namun, Allah memuliakan manusia dengan kemampuan untuk membedakan dan memilah serta kekuatan untuk memilih. Kemudian ada bekal Iain yaitu bekal pertimbangan yang dengannya dia dapat mengukur dan menimbang segala amal dan tujuannya. Itulah bekal agama yang diturunkan oleh Allah melalui rasul-rasuI-Nya. Allah membantu manusia untuk menunaikan amanat tersebut dengan bekal itu semua dan Dia tidak menzalimi mereka sedikit pun.

“Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. "

Jadi, Allah Maha Mengawasi terhadap apa yang dilakukan oleh manusia dan Maha Mengetahui atas niat dan tujuan setiap manusia. Maka, hendaklah setiap manusia bekerja dan beramal. Namun, dia harus berhati-hati terhadap pengawasan Allah Yang Maha Mengawasi dan Maha Melihat.

Persepsi tentang hakikat manusia dan sikapnya itu merupakan bagian dari persepsi Islam yang jelas dan Iurus berkenaan dengan sikap manusia dalam alam semesta ini, dengan kesiapan-kesiapannya dan potensi-potensinya di hadapan Pencipta alam semesta.

Sentuhan ketiga mengisyaratkan tentang kebenaran yang murni dan tersimpan dalam tabiat alam semesta. Dengan tabiat itulah, langit-langit dan bumi berdiri. Hal ini sebagaimana ia juga mengisyaratkan tentang penciptaan Allah yang indah dan mempesona dalam wujud manusia. Kemudian pada akhir ayat, terdapat ketetapan tentang kembalinya segala sesuatu kepada Allah,

"Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar, Dia membentuk rupamu dan dibaguskan-Nya rupamu itu, dan hanya kepada-Nyalah kembali(mu). " (at-Taghaabun: 3)

Bagian awal dari teks ayat ini adalah,

“Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar.. .. " la menekankan dalam perasaan setiap mukmin bahwa kebenaran adalah murni dalam alam semesta, bukanlah sesuatu yang baru ada atau hanya sekadar tambahan yang sekunder sifatnya. Jadi, bangunan alam semesta ini terbangun atas kebenaran yang murni itu. Yang menetapkan hakikat ini adalah Allah yang telah menciptakan alam semesta ini dan yang mengetahui atas apa saja kedua benda itu berdiri.

Kekokohan hakikat ini dalam perasaan orang memberikan kondisi ketenangan dan keyakinan tentang kebenaran yang di atasnya agama Islam berdiri dan di atasnya pula seluruh alam semesta berdiri. Oleh karena itu, Islam pasti menang, pasti kekal, dan pasti kokoh setelah hilangnya buih-buih kebatilan.

Hakikat yang kedua adalah,

“Dia membentuk rupamu dan dibaguskan-Nya rupamu itu, dan hanya kepada-Nyalah kembali(mu)" (atTaghaabun: 3)

la menyadarkan manusia tentang kemuliaannya di hadapan Allah dan tentang karunia Allah dalam memperbagus dan memperindah bentuknya, yaitu bentuk penciptaannya dan bentuk perasaannya. Jadi, manusia merupakan makhluk hidup yang paling sempurna yang ada di muka bumi dari sisi pernbentukan tubuhnya, sebagaimana Allah pun meninggikan manusia dari sisi penciptaan perasaannya dan kesiapan ruhnya yang memiliki rahasia-rahasia yang menakjubkan. Oleh karena itu, pantaslah manusia diwakilkan bertugas sebagai khalifah di muka bumi ini dan dia ditetapkan sebagai penghuni dalam kerajaan yang terhampar sangat luas ini.

Penelitian dan penelusuran yang teliti terhadap susunan tubuh manusia dan kepada salah satu anggota di antara anggota-anggota badannya, pasti menetapkan hakikat itu dan menggambarkannya, “  Dia membentuk rupamu dan dibaguskan-Nya rupamu itu,.... ”

Suatu susunan yang menghimpun antara keindahan dan kesempurnaan. Keindahan dan kecantikan tubuh manusia pun bertingkat-tingkat antara bentuk yang satu dengan bentuk yang lain. Namun, dapat dipastikan bahwa setiap diri manusia memiliki keindahan tersendiri, penciptaannya sangat sempurna, dan memenuhi segala tugas-tugas dan karakter-karakter yang membuat manusia selalu lebih di atas bumi ini atas seluruh makhluk hidup.

“Dan hanya kepada-Nyalah kembali(mu). ” Yaitu, Dialah tempat kembalinya setiap sesuatu, setiap urusan, dan setiap makhluk. Dia juga tempat kembalinya alam semesta dan manusia. Dengan kehendak Allah, semua manusia ada dan kepada-Nya juga mereka kembali. Dari-Nya segala permulaan dan kepada-Nya segala sesuatu berakhir. Dia Yang Awal dan Dia Yang Akhir. Dia meliputi segala sesuatu dari dua sisinya; permulaannya dan akhirnya. Allah yang tidak terbatas dengan apa pun.

Sentuhan keempat dalam paragraf dan bagian ini adalah tentang gambaran ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu, yang bisa mendeteksi segala manusia maupun yang tampak darinya. Bahkan, atas apa yang lebih tersembunyi daripada rahasia itu sendiri, yaitu segala yang terdetik dan terbersit dalam hati,

”Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi serta mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Allah Maha Mengetahui segala isi hati. ” (at-Taghaabun: 4)

Kestabilan hakikat ini dalam hati orang yang beriman, menganugerahkan kepadanya makrifah tentang Tuhannya sehingga dia mengetahui-Nya dengan hakiki. Dengan demikian, dia akan dianugerahi sisi bagian dari persepsi iman tentang alam semesta. Sehingga, ia akan mempengaruhi perasaan dan arah tujuannya. orang demikian pun akan hidup dengan selalu menyadari bahwa dia selalu terdeteksi oleh radar Allah. Sehingga, tidak ada satu rahasia pun yang dapat dia sembunyikan dari-Nya dan tidak ada satu pun niat dalam hatinya yang dapat disembunyikan dari Allah. Karena, Allah Yang Mahatahu mampu mendeteksi segala yang ada dalam hati.

Tiga ayat seperti ini saja sudah cukup sebagai bekal bagi manusia untuk hidup dengan mengetahui hakikat keberadaannya, keberadaan seluruh alam semesta, hubungannya dengan Penciptanya, adabnya dengan Tuhannya, ketakutan dan ketakwaannya kepada-Nya dalam setiap gerakan, maksud, dan tujuan.

Kisah Terdahulu sebagai Pelajaran

Bagian kedua dari surah ini menyebutkan tentang nasib orang-orang terdahulu yang telah mendustakan para rasul dan keterangan-keterangan yang jelas dari Allah. Mereka menolak dan mengkritik status kemanusiaan dari para rasul. Hal ini sebagaimana orang-orang musyrik dan orang-orang kafr juga mendustakan dan menolak status kemanusiaan dari Rasulullah. Dan, mereka kufur kepada keterangan-keterangan yang jelas yang dibawa oleh beliau,

اَلَمْ يَأْتِكُمْ نَبَؤُا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ قَبْلُ ۖفَذَاقُوْا وَبَالَ اَمْرِهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ٥ ذٰلِكَ بِاَنَّهٗ كَانَتْ تَّأْتِيْهِمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنٰتِ فَقَالُوْٓا اَبَشَرٌ يَّهْدُوْنَنَاۖ فَكَفَرُوْا وَتَوَلَّوْا وَّاسْتَغْنَى اللّٰهُ ۗوَاللّٰهُ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ ٦

”Apakah belum datang kepadamu (hai orang-orang kafir) berita orang-orang kafir dahulu ? Maka, mereka telah merasakan akibat yang buruk dari perbuatan mereka dan mereka memperoleh azab yang pedih. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka (membawa) keterangan-keterangan, lalu mereka berkata, 'Apakah manusia yang akan memberi petunjuk kepada kami?' Lalu mereka ingkar dan berpaling; dan Allah tidak memerlukan (mereka). Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji. ” (at-Taghaabun: 5-6)

Seruan ini ditujukan umumnya terhadap orangorang musyrik. la merupakan peringatan bagi mereka tentang berita dan akibat yang menimpa orang-orang yang mendustakan. Juga merupakan ancaman terhadap mereka bahwa mereka pun bisa dihukum dengan hukuman serupa dengan orang-orang itu.

Gaya bahasa yang muncul dalam bentuk pertanyaan dalam ayat ini, bisa jadi timbul untuk mengingkari kondisi mereka setelah datang kepada mereka berita orang-orang kafir yang terdahulu hingga mereka mendapatkan hukuman atasnya. Dan, bisa jadi juga timbul untuk memalingkan dan mengarahkan perhatian mereka kepada berita yang diceritakan kepada mereka.

Orang-orang musyrik itu mengetahui, saling menukil, dan saling menceritakan secara turun temurun tentang kisah-kisah orang-orang yang telah binasa dari orang-orang yang terdahulu, seperti kaum 'Aad, Tsamud, dan negeri Luth. Orang-orang musyrik melihat langsung bekas-bekas dan sering melewatinya di semenanjung Jazirah Arab dalam perjalanan mereka dari utara ke selatan atau sebaliknya.

Al-Qur'an menambah informasi atas berita yang telah diketahui dan dikenal secara luas di dunia ini dengan informasi tentang hukuman dan azab yang menimpa mereka di akhirat.

"... dan mereka memperoleh azab yang pedih. " (at-Taghaabun: 5)

Kemudian Al-Qur’an menyingkap tentang sebab yang membuat mereka harus menerima hukuman itu dan harus menghadapi hukuman yang menanti mereka di akhirat,

“Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka (membawa) keterangan-keterangan, lalu mereka berkata, 'Apakah manusia yang akan memberi petunjuk kepada kami ?’”

Penolakan ini persis seperti penolakan orang-orang musyrik terhadap Rasulullah. Penolakan ini adalah penolakan yang sembrono dan serampangan yang timbul dari kebodohan terhadap hakikat tabiat risalah dan hakikatnya sebagai manhaj Ilahi yang diperuntukkan kepada manusia. Oleh karena itu, manhaj itu harus dicontohkan secara nyata oleh manusia, dia hidup dengannya, dan pribadinya merupakan terjemahan darinya. Sehingga, orang-orang yang Iain pun akan mencelupkan dirinya dengan contoh itu semampu mereka. Dan, contoh itu seharusnya tidak asing dari jenis manusia. Kalau contoh itu asing, maka manusia tidak menemukan contoh yang dapat ditiru dan diteladani dalam kehidupan nyata.

Penolakan itu juga timbul dari kebodohan terhadap tabiat manusia yang hakikatnya mulia. Padahal, dengan kemuliaan itu dia pantas menerima risalah langit dan menyampaikannya kepada seIuruh alam, tanpa dibutuhkan bantuan malaikat sebagaimana orang-orang musyrik menyarankan dan mengusulkan. Dalam diri manusia terdapat ruh dari Allah dan ruh itu mempersiapkan manusia untuk menyambut risalah dari Allah dan menunaikannya secara sempurna sebagaimana diterimanya dari utusan malaikat.

Hal itu merupakan kehormatan bagi seluruh manusia. Tidak akan ditolak melainkan hanya orang-orang yang bodoh dan tidak tahu tentang kadar kesempurnaan manusia di sisi Allah, ketika dia mewujudkan dalam dirinya hakikat ruh dari Allah yang ditiupkan ke dalam dirinya.

Penolakan itu juga timbul dari sikap keras kepala dan kesombongan yang dusta terhadap keengganan mengikuti utusan Allah yang berasal dari manusia. Dalam pandangan orang-orang itu, mengikuti manusia yang sama dengan mereka seolah-olah merupakan kekurangan dan penghinaan terhadap nilai dan kehormatan orang-orang yang sombong dan bodoh itu. Maka, dalam pandangan mereka, boleh saja mengikuti seorang rasul Allah bila ia berasal dari jenis makhluk Iain selain dari jenis mereka sendiri.

Sedangkan, bila mereka dituntut untuk mengikuti salah satu dari orang yang sejenis dengan mereka, maka dalam pandangan mereka itu merupakan kehinaan dan kekurangan nilai dan kehormatan. Oleh karena itu, mereka kafir dan berpaling dari para rasul dan penjelasan-penjelasan mereka. Kesombongan dan kebodohan itu telah mengunci hati mereka sehingga memilih untuk bersikap syirik dan kafir.

"...Lalu mereka ingkar dan berpaling; dan Allah tidak memerlukan (mereka). Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji. " (at-Taghaabun: 6)

Allah sama sekali tidak membutuhkan iman dan ketaatan mereka. Allah sama sekali tidak membutuhkan apa-apa dari mereka dan tidak pula dari orang-orang yang selain mereka. Dan, Allah sekali-kali tidak membutuhkan apa-apa.

Itulah berita orang-orang yang terdahulu dari orang-orang kafir yang telah mendapatkan hukuman atas kekufuran mereka. Inilah yang menyebabkan mereka harus menerima hukuman dan menghadapi azab Iain di akhirat. Oleh itu, bagaimana mungkin ada lagi orang-orang yang datang kemudian dan baru, lalu berani mendustakan rasul dan penjelasan dari Allah? Apakah mereka menerima hukuman yang serupa dengan hukuman mereka?

Kepastian Hari Kebangkitan

Bagian yang ketiga merupakan sisa dari bahasan yang terdapat dalam bagian kedua. la menceritakan tentang pendustaan orang-orang kafir kepada hari kebangkitan. Jelas sekali bahwa orang-orang kafir itu adalah orang-orang musyrik yang diarahkan dakwah kepada mereka oleh Rasulullah pada saat itu.

Di dalam bagian ketiga ini terdapat pengarahan kepada Rasulullah agar menekankan tentang perkara kebangkitan dengan penekanan yang tegas dan kuat. Di sana juga terdapat gambaran tentang fenomena kejadian dan peristiwa di hari Kiamat, tentang akibat yang menimpa orang-orang yang mendustakannya dan orang-orang yang membenarkannya. Juga ada seruan kepada mereka agar beriman dan taat serta mengembalikan segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan mereka kepada Alah semata-mata,

زَعَمَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَنْ لَّنْ يُّبْعَثُوْاۗ قُلْ بَلٰى وَرَبِّيْ لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْۗ وَذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌ ٧ فَاٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَالنُّوْرِ الَّذِيْٓ اَنْزَلْنَاۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ ٨ يَوْمَ يَجْمَعُكُمْ لِيَوْمِ الْجَمْعِ ذٰلِكَ يَوْمُ التَّغَابُنِۗ وَمَنْ يُّؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُّكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّاٰتِهٖ وَيُدْخِلْهُ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًاۗ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ ٩ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَكَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَآ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ ࣖ ١٠ مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗوَمَنْ يُّؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ يَهْدِ قَلْبَهٗ ۗوَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ١١ وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَۚ فَاِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَاِنَّمَا عَلٰى رَسُوْلِنَا الْبَلٰغُ الْمُبِيْنُ ١٢ اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ ١٣

"Orang-orangyang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, Tidak demikian, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. ' Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Maka, berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya serta kepada cahaya (Al-Qur’an) yang telah Kami turunkan. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan (untuk dihisab), itulah hari (waktu itu) ditampakkan kesalahan-kesalahan. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan mengerjakan amal saleh, niscayaAllah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar. Dan, orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Dan, itulah seburuk-buruk tempat kembali. Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (Dialah) Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Dan, hendaklah orang-orang mukmin bertawakal kepada Allah saja. "(at-Taghaabun: 7-13)

Sejak awal Al-Qur'an menyebutkan bahwa pernyataan orang-orang kafir tentang kemustahilan adanya peristiwa kebangkitan merupakan khayalan dan praduga yang dibuat-buat. Sehingga, Al-Qur'an memutuskan bahwa hal itu merupakan dusta dan kebohongan sejak awal ketika menceritakan tentang itu.

Kemudian Al-Qur'an mengarahkan Rasulullah untuk menekankan tentang perkara kebangkitan dengan setegas-tegasnya, yaitu dengan bersumpah atas nama Tuhannya. Tidak ada penegasan apa-apa setelah sumpah Rasulullah dengan nama Tuhannya itu;

" ..Katakanlnh, tidak demikian, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan. Kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan....

Jadi, tidak ada satu pun yang tertinggal dan diremehkan begitu saja dari segala perbuatan. Allah lebih tahu daripada manusia tentang amal mereka, hingga Dia memberitakannya kepada mereka nanti di hari Kiamat.

“Yang demikian itu adalah mudah bagiAllah. " (at-Taghaabun: 7)

Allah Maha Mengetahui atas apa-apa yang ada di langit dan di bumi. Dia Maha Mengetahui tentang segala yang tersembunyi dan yang terang. Dia Maha Mengetahui atas apa yang ada di dalam hati. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, sebagaimana yang telah disebutkan di awal surah sebagai pengantar dari penetapan ini.

Dalam nuansa penekanan yang tegas ini, Al-Qur'an mengajak manusia untuk beriman kepada Allah, rasuI-Nya, dan cahaya yang turun bersama rasul-Nya, yaitu Al-Qur'an. Cahaya itu juga adalah agama yang diberitakan dalam Al-Qur'an dan ia pada hakikatnya adalah cahaya karena datang dari sisi Allah Dan, Allah adalah cahaya langit dan bumi. la adalah cahaya dalam jejak-jejaknya di mana ia menyinari hati sehingga dengan sendirinya menjadi tercerahkan dan ia pun dapat melihat hakikat yang tersembunyi dalam dirinya sendiri.

Setelah seruan untuk beriman ditujukan kepada mereka, ada komentar tambahan yang menyadarkan mereka bahwa sesungguhnya mereka selalu tembus pandang di mata AIIah dan tidak ada perkara yang tersembunyi sedikitpun dari Allah tentang mereka.

"Maka, berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya sata kepada cahaya (Al- Qur’an) yang telah Kami turunkan. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. " (at-Taghaabun: 8)

Setelah seruan ini, redaksi Al-Qur’an kembali kepada penyempurnaan gambaran peristiwa hari kebangkitan, yang telah ditegaskan dengan penegasan yang kuat,

"(lngatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan (untuk dihisab), itulah hari (waktu itu) ditampakkan kesalahan-kesalahan.”

Hari itu disebut hari pengumpulan karena semua makhluk dari segala generasi dibangkitkan pada saat itu, sebagaimana ia juga dihadiri oleh seluruh malaikat yang tidak diketahui jumlahnya secara pasti melainkan hanya oleh Allah. Namun, untuk mendekatkan ke dalam gambaran kita, sebaiknya kita simak hadits yang diriwayatkan dari Abu Dzar r.a. bahwa Rasulullah bersabda,

"Sesunguhnya aku melihat apa yang tidak kalian lihat, dan aku mendengar apayang tidak dapat kalian dengar. Langit bergetar, dan ia berhak untuk bergetar. Tidak ada satupun tempai seluas empat jari melainkan di sana pasti ada seorang malaikat yang meletakkan keningnya bersujud kepada Allah. Demi Allah, seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, pastilah kalian sedikit tertawa dan banyak menangis, dan pasti kalian tidak akan bersenang-senang dengan istri-istri kalian di atas kasur, dan pastilah kalian keluar menuju dataran-dataran yang tinggi, untuk memohon perlindungan kepada Allah. Dan, sesungguhnya aku Iebih senang menjadi batang pohon yang ditebang. " (HR Tirmidzi)

Tidak ada satu pun tempat di langit seluas empat jari melainkan di sana pasti ada seorang malaikat, padahal langit itu Iuar biasa Iuasnya. Tidak ada seorang manusia pun yang mengetahui tentang batas-batasnya. Bayangkan matahari yang demikian besarnya saja di langit tampak seperti debu yang beterbangan di udara. Apakah hal ini dapat mendekatkan ke dalam pandangan manusia tentang jumlah malaikat? Sesungguhnya malaikat itu hanyalah sebagian dari makhluk yang dikumpulkan di padang mahsyar di hari perhimpunan itu.

Dalam gambaran kejadian di hari perhimpunan, terdapat peristiwa penampakan kesalahan-kesalahan dan kerugian. Yaitu, gambaran tentang kejadian yang terjadi di mana orang-orang yang beriman mendapatkan kenikmatan dan keberuntungan meraih surga jannatun naim. Juga gambaran mengenai halangan terhadap orangorang kafir dari kenikmatan apa pun, kemudian tempat akhir mereka adalah neraka jahannam. Gambaran itu merupakan gambaran tentang dua nasib yang sangat berbeda. Seolah-olah di sana ada perlombaan meraih keberuntungan dan kemenangan dalam segala sesuatu; dan setiap orang harus mengalahkan saingannya dalam meraihnya.

Kemudian yang menang adalah orang-orang yang beriman dan yang kalah adalah orang-orang kafir. Jadi, kerugian itu adalah sesuai dengan gambaran yang bergerak dan tergambar dalam penjelasan yang ditafsirkan oleh ayat sesudahnya, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan mengerjakan amal saleh, niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar. Dan, orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Dan, itulah seburuk-buruk tempat kembali. " (at-Taghaabun: 9-10)

Sebelum Allah menyempurnakan seruan-Nya kepada manusia untuk beriman, Dia menetapkan salah satu kaidah dari kaidah-kaidah tentang pandangan iman dalam masalah takdir. Juga dalam jejak dan pengaruh iman kepada Allah dalam memberikan hidayah kepada hati,

“Tidak ada suatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.  (at-Taghaabun: 11)

Penyebutan tentang hakikat ini di sini, pertalian dan kaitannya hanyalah sekadar penjelasan tentang pemaparan hakikat iman yang diimbau dan diserukan dalam bagian paragraf surah ini. la merupakan hakikat iman yang mengembalikan segala sesuatunya kepada Allah dan berkeyakinan bahwa segala yang menimpa seseorang yang berupa kebaikan ataupun keburukan adalah terjadi dengan izin Allah la merupakan hakikat; di mana iman tidak akan ada dan sempurna bila tidak bersamanya.

Hakikat ini merupakan asas dari segala perasaan keimanan ketika menghadapi kehidupan dengan segala kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwanya, baik dan buruknya. Sebagaimana bisa jadi pula di sana terdapat kaitan dan hubungan yang erat dengan kejadian yang sedang terjadi pada saat surah ini turun, atau ayat-ayat dari surah ini turun, di antara kejadian-kejadian yang terjadi antara orang-orang yang beriman dan orang-orang musyrik.

Dalam hadits yang disepakati kesahihannya oleh Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Rasulullah bersabda, "Sungguh menakjubkan bagi seorang mukmin! Tidak ada satu pun takdir Allah tentang sesuatu melainkan selalu baik baginya. Bila dia ditimpa oleh suatu kemudharatan, diapun bersabar danperkara tersebut baik baginya. Dan, bila dia dianugerahkan suatu kesenangan, diapun bersyukur dan perkara tersebut baik pula baginya. Dan, perkara itu tidak diperuntukkan kepada seseorang pun melainkan hanya bagi seorang mukmin. "

"...Barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. " (at-Taghaabun: 11)

Sebagian ulama salaf terdahulu menafsirkan bahwa iman di ayat ini adalah iman kepada takdir Allah dan penyerahan diri secara total kepada-Nya ketika musibah menimpa. Pendapat Ibnu Abbas menyatakan bahwa maksudnya adalah Allah memberikan hidayah yang mutlak kepada hatinya, membukanya untuk menyingkap hakikat 'laduni' yang tersembunyi, serta menghubungkannya dengan segala sumber dari segala sesuatu dan segala kejadian. Sehingga, dia dapat melihatnya bahwa di sana penciptaannya dan puncaknya. Oleh karena itu, dia pun menjadi tenang, stabil, dan damai.

Kemudian dia mengetahuinya dengan suatu pengetahuan yang menghubungkannya kepada kaidah umum dan universal. Sehingga, dia tidak membutuhkan lagi penglihatan dan pandangan yang bersifat parsial yang biasanya sering salah dan terbatas.

Oleh itu, komentar yang datang setelahnya adalah, "..Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. " Jadi, petunjuk itu merupakan hidayah kepada sedikit dari ilmu Allah yang dianugerahkan kepada orang yang diberikan petunjuk oleh diri-Nya, ketika imannya benar-benar jujur dan sah. Sehingga, dia pun berhak mendapatkan anugerah Allah berupa lenyapnya tirai dan tersingkapnya rahasia-rahasia  ..dengan batasan tertentu....

Seruan terhadap mereka untuk beriman diikuti dengan seruan kepada mereka agar taat kepada Allah dan taat kepada rasul-Nya.

“Dan, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul. Jika kamu berpaIing, maka sesunguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. " (at-Taghaabun: 12)

Sebelumnya telah dipaparkan kepada mereka tentang hukuman atas orang-orang yang berpaling sebelum mereka. Dan, di sini Allah menetapkan bahwa rasul hanyalah sekadar penyampai. Apabila Rasulullah telah menyampaikan, maka beliau pun telah menunaikan amanat, menyelesaikan kewajib an, serta membangun hujah dan alasan. Yang tersisa hanyalah penantian terhadap hukuman yang menimpa mereka karena kemaksiatan dan keberpalingan mereka, di mana mereka telah diperingatkan sebelumnya.

Kemudian bagian ini ditutup dengan penetapan tentang hakikat keesaan Allah yang telah mereka ingkari dan dustakan. Dia pun menetapkan tentang urusan orang-orang yang beriman kepada Allah dalam bermuamalah dengan-Nya,

"(Dialah) Allah, tidak ada Tuhan (yang bahak disem bah) selain Dia. Dan, hendaklah orang-orang mukmin bertawakal kepada Allah saja. " (at-Taghaabun: 13)

Hakikat tauhid merupakan asas dan dasar dari segala pandangan iman. Dan, hal itu menentukan bahwa segala bentuk tawakal harus ditujukan hanya kepada diri-Nya semata-mata. Inilah salah satu pengaruh dari pandangan iman yang ada di dalam hati.

Dengan ayat tiga belas ini, redaksi surah ini menyeru ke dalam komunitas orang-orang yang beriman. la merupakan penghubung antara ayat-ayat sebelumnya dan ayat-ayat sesudahnya dalam surah.

Fitnah Keluarga dan Harta Benda

Pada bagian akhir, redaksi surah mengarahkan seruannya kepada orang-orang yang beriman untuk mengingatkan mereka tentang fitnah istri-istri, anak-anak, dan harta benda. la mengajak mereka untuk bertakwa kepada Allah, mendengarkan, menaati, dan berinfak. Sebagaimana ia pun memperingatkan mereka dari sikap bakhil dalam jiwa-jiwa mereka. Allah menjanjikan kepada mereka bila mampu mengatasinya bahwa bagi mereka adalah rezeki yang berlipat ganda, ampunan, dan kemenangan. Akhirnya, mereka diingatkan tentang ilmu Allah bagi sesuatu yang nyata dan yang gaib, kekuasaan-Nya dan kebesaran-Nya bersama dengan hikmah-Nya dan kemuIiaan-Nya,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّ مِنْ اَزْوَاجِكُمْ وَاَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْۚ وَاِنْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ١٤ اِنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗٓ اَجْرٌ عَظِيْمٌ ١٥ فَاتَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوْا وَاَطِيْعُوْا وَاَنْفِقُوْا خَيْرًا لِّاَنْفُسِكُمْۗ وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ١٦ اِنْ تُقْرِضُوا اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا يُّضٰعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ شَكُوْرٌ حَلِيْمٌۙ ١٧ عٰلِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ࣖ ١٨

"Hai orang-orangyang beriman, sesunguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sesunguhnya Allah Maha Pengampun Iagi Maha Penyayang. Sesunguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); di sisi Allah-lah pahala yang besar. Maka, bertakwalah knmu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipatgandakan (Pembalasannya) kepadamu dan mengampuni kamu. Allah Maha Pembalas jasa Iagi Maha Penyantun. Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata. YangMahaperkasa Iagi Mahabijaksana. " (at-Taghaabun: 14-18)

Telah disebutkan dari Ibnu Abbas r.a. tentang ayat pertama dari himpunan ayat-ayat ini, bahwa ia ditanya oleh seseorang, dan ia menjawab, "Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berislam di Mekah. Kemudian mereka hendak menghadap kepada Rasulullah dan mendatanginya, namun istri-istri dan anak-anak mereka menghalangi dan tidak membiarkan mereka pergi. Setelah mereka mendatangi Rasulullah dan melihat orang-orang telah diberikan pemahaman dalam agama, maka orang-orang itu pun hendak memberikan hukuman kepada mereka. Lalu Allah menurunkan ayat 14 surah ath-Taghaabun, “Hai orang-orang yang beriman, sesunguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sesunguhnya Allah Maha Pengampun Iagi Maha Penyayang.”

Demikianlah yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dengan sanadnya yang lain, dan dia berkata, "Hadits ini hasan dan sahih." Demikian pula yang dikatakan oleh Ikrimah pembantu dan maula Ibnu Abbas.

Tetapi, nash Al-Qur'an ini lebih umum dan lebih meliputi daripada kasus yang parsial itu, dan ia lebih jauh jangkauannya dan lebih panjang lingkupnya. Peringatan tentang fitnah istri-istri dan anak-anak ini seperti peringatan yang terdapat dalam ayat setelahnya yang diperingatkan tentang fitnah harta benda dan anak-anak sekaligus,

"Sesunguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); di sisi Allah-lah pahala yang besar. "  (at-Taghaabun: 15)

Di sana juga terdapat peringatan bahwa di antara istri-istri dan anak-anak ada yang menjadi musuh. Sesungguhnya hal ini mengisyaratkan tentang hakikat yang mendalam tentang kehidupan manusia, dan menyentuh hubungan-hubungan yang saling terkait secara terperinci dalam susunan struktur nurani dan sekaligus dalam kerumitan-kerumitan permasalahan hidup. Maka, bisa jadi istri-istri dan anak-anak menjadi faktor-faktor yang menyibukkan dan melalaikan seseorang dari berzikir kepada Allah. Hal ini sebagaimana merekajuga dapat menjadi faktor-faktor yang mendorong seseorang untuk bertindak curang dan tidak memenuhi beban-beban iman, karena menghindarkan diri dari kesibukan-kesibukan yang melelahkan dan meliputi mereka.

Seandainya seorang mukrnin benar-benar mengemban kewajibannya, maka dia pasti menemukan segala sesuatu yang diraih oleh seorang mujahid di jalan Allah! Seorang mujahid di jalan Allah pasti harus menghadapi segala kemungkinan kerugian duniawi dalam banyak hal dan dia harus mengorbankan banyak hal. Dia dan keluarganya juga akan menghadapi ujian dan ancaman. Kadangkala dia bisa bertahan terhadap siksaan dan ujian atas dirinya sendiri. Namun, dia tidak kuat bertahan bila siksaan dan ujian itu tertimpa kepada istri dan anakanaknya. Sehingga, dia pun menjadi bakhil dan penakut ingin memenuhi segala kebutuhan mereka; baik yang berupa keamanan, kestabilan, kenikmatan, maupun harta benda.

Dengan demikian, mereka pun menjadi musuh baginya, karena mereka telah menghalanginya dari berbuat kebajikan dan merintanginya dari meraih dan merealisasikan tujuan keberadaan hidupnya yang paling tinggi. Sebagaimana istri-istri dan anak-anak sering menghalangi jalannya dan melarangnya dari menunaikan kewajibannya karena ingin menghindarkan diri dari segala konsekuensinya dan atau karena mereka tidak mengikuti jalan yang ditempuhnya. Lalu, dia tidak bisa membebaskan dirinya dari mereka dan memurnikan dirinya hanya untuk Allah.

Semua itu merupakan bentuk-bentuk dari permusuhan dengan berbagai tingkatannya. Semua itu biasa terjadi dalam kehidupan seorang mukmin dari waktu ke waktu.

Oleh karena itu, kondisi yang runyam dan berbenturan ini, membutuhkan peringatan dari Allah untuk membangkitkan kesadaran dalam hati orangorang yang beriman. Juga peringatan agar berhati-hati dari pengaruh buruk perasaan-perasaan demikian dan tekanan dari pengaruh-pengaruh itu.

Kemudian Allah mengulang kembali peringatan tentang fitnah harta benda dan anak-anak ini dalam berbagai bentuk. Dan, kata 'fitnah' itu sendiri mengandung dua makna.

Pertama sesungguhnya Allah menguji kalian dengan fitnah harta benda dan anak-anak untuk menempa kalian, maka hendaklah kalian berhati-hati dengan harta benda dan anak-anak itu. Dan, ingat dan sadarlah selalu sehingga kalian lulus dalam ujian ini. Kemudian murnikan, ikhlaskan, dan bersihkanlah diri kalian hanya untuk Allah semata-mata. Hal ini hampir mirip dengan seorang pandai emas yang menempa emasnya sehingga menjadi murni dan bersih dari segala kotoran dan campuran lain.

Kedua, sesungguhnya harta benda dan anak-anak ini merupakan fitnah godaan bagi kalian yang dapat menjerumuskan kalian kepada penyimpangan dan maksiat. Maka, berhati-hatilah terhadap fitnah godaan ini, jangan sampai menjerumuskan kalian dan menjauhkan diri kalian dari Allah

Kedua makna itu adalah saling berdekatan.

Diriwayatkan dari Imam Ahmad sebuah hadits dengan sanadnya dari AbduIIah bin Buraidah bahwa ia mendengar ayahnya (Buraidah) berkata, "Rasulullah sedang berkhotbah, kemudian datanglah Hasan dan Husein r.a. yang keduanya memakai pakaian berwarna merah. Mereka berdua berjalan dan sering tergelincir jatuh. Maka, Rasulullah pun turun dari mimbar kemudian membopong keduanya dan meletakkan keduanya di hadapannya. Lalu Rasulullah bersabda, 'Mahabenar Allah dan rasul-Nya, sesungguhnya harta benda dan anak-anak kalian adalah fitnah. Aku melihat kepada dua balita ini, mereka berdua berjalan dan sering tergelincir jatuh, maka akupun tidak sabar untuk memutuskan khutbahku dan mengangkat keduanya. "'

Hadits ini diriwayatkan oleh Ashabus Sunan dari hadits Ibnu Waqid. Itulah Rasulullah dan itulah dua putra dari puteri beliau, Fathimah. Jadi, sesungguhnya perkara ini sangat berbahaya. Maka, sesungguhnya peringatan dan ancaman dalam perkara ini menjadi sangat penting, yang telah ditentukan oleh Pencipta hati manusia, dan meletakkan perasaan-perasaan di dalamnya, agar dapat merintanginya dari pelanggaran dan berlebih-lebihan. Beliau sangat menyadari bahwa ikatan-ikatan kasih sayang bisa menjerumuskannya seperti yang dilakukan oleh musuh-musuhnya, dan bisa mengelabuinya ke dalam perangkap-perangkap seperti perangkap-perangkap musuh.

Oleh karena itu, hati yang beriman ditunjukkan kepada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah. Hal ini setelah ada peringatan terhadap fitnah harta benda dan anak-anak itu. Juga setelah ada seruan agar berhati-hati terhadap permusuhan yang tersebar dalam pribadi anak-anak dan istri-istri, karena itu semua adalah fitnah sedangkan di sisi Allah terdapat pahala yang besar.

Setelah itu Allah membisikkan kepada orangorang yang beriman agar bertakwa kepada Allah dalam batasan kemampuan dan kekuatan. Juga agar mendengar dan taat kepada-Nya,

"Maka, bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesangupanmu dan dengarlah serta taatlah,.”

Dalam batasan ini, “.Menurut kesanggupanmu  “ tampak sekali kelembutan dan kasih sayang Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Juga tampak ilmu-Nya tentang kadar kemampuan mereka dalanı bertakwa dan menaati-Nya. Dalam hadits Rasulullah bersabda, "Apabila aku menyuruh kalian melakukan sesuatu, maka kerjakanlah sesuai dengan kemampuanmu. Dan, apabila aku melarang kalian tcrhadap sesuatu, maka jauhilah perkara itu. "

Jadi, ketaatan dalam suatu perintah tidak ada batasannya Karena itu, Allah menerima ketaatan itu sesuai dengan kemampuan. Sedangkan, dalam perkara larangan, maka di sana tidak dispensasi. Karena itu, larangan tersebut harus dijauhi dengan sempurna tanpa pengecualian sedikitpun.

Allah menyerukan mereka agar berinfak,

"...Dan nafkahkanlah nafkah yang baik unluk dirimu ...”

Jadi, orang-orang yang beriman itu berinfak untuk diri mereka sendiri. Allah menyuruh mereka agar berinfak segala kebaikan untuk diri mereka. Allah menjadikan harta benda yang mereka infakkan seolah-olah harta benda yang mereka infakkan bagi keluarga mereka sendiri, dan Dia menjanjikan bagi mereka kebaikan ketika melaksanakannya.

Allah menyadarkan mereka bahwa sifat bakhil dalam diri sendiri adalah ujian yang selalu menyertainya. Maka, berbahagialah bagi orang-orang yang mampu melepaskan dirinya darinya. Orang yang mampu menjaga dirinya dari sifat itu telah mendapatkan keutamaan dan karunia dari Allah, "Barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. " (atTaghaabun: 16)

Allah terus merangsang orang-orang yang beriman untuk mengeluarkan dan menyenangkan diri mereka agar berinfak, sehingga sampai menyebutkan bahwa infak mereka merupakan pinjaman bagi Allah. Dan, siapa yang tidak beruntung bila meminjamkan sesuatu kepada tuannya, yaitu Allah? Dia (Allah) pasti mengambil pinjaman itu kemudian melipatgandakannya dan mengampuninya. Allah pasti berterima kasih kepada peminjam dan merahmatinya dengan kasih sayang dan kelembutan bila dia kurang dan tidak sempurna dalam bersyukur kepada-Nya.

"Jika kamu meminjamkan kepada Allah suatu pinjaman yang baik, niscaya Allah melipatgandakan (pembalasannya) kepadamu dan mengampuni kamu. Allah Maha Pembalas jasa lagi Maha Penyantun. ” (at-Taghaabun: 17)

Bertambah-tambahlah berkah dari Allah. Dia adalah Maha Pemurah, alangkah pemurah dan dermawannya Allah; dan alangkah agung dan mulianya Allah! Dia menciptakan para hamba kemudian memberikan rezeki kepada mereka. Kemudian Dia memohon kelebihan dari kebutuhan para hamba-Nya yang telah dianugerahkan-Nya dalam bentuk pinjaman, lalu pinjaman itu dibalas dengan berlipat ganda. Kemudian Allah pasti berterima kasih kepada hamba-Nya yang telah Dia ciptakan dan Dia berikan segala anugerah. Dan, Dia pasti merahmatinya dengan kasih sayang dan kelembutan bila dia kurang dan tidak sempurna dalam bersyukur kepada-Nya. Alangkah mulianya dan dermawannya Engkau Ya Allah!

Sesungguhnya Allah mengajarkan kepada kita dengan sifat-sifat-Nya bagaimana kita merangkak naik. Dia memuliakan diri kita dengan segala kekurangan dan kelemahan kita. Dia mengajarkan kita agar kita selalu berusaha meningkatkan diri ke derajat yang lebih tinggi untuk bercermin kepada-Nya, dan agar kita berusaha untuk meneladani-Nya dalam batas-batas kemampuan kita dan tabiat kita yang kecil.

Allah telah meniupkan ruh-Nya kepada manusia. Sehingga, menjadikannya selalu rindu dan tertarik mewujudkan keteladanan yang sempurna dan tertinggi yang mampu dia usahakan dalam batas-batas kemampuannya dan tabiatnya. Oleh karena itu, ufuk-ufuk yang tertinggi selalu terbuka agar manusia mencapai kesempurnaan, dan mengusahakan agar selalu naik tingkat demi tingkat hingga menjumpai Allah dengan kecintaan-Nya dan keridhaan-Nya.

Penelusuran ini diakhiri setelah sentuhan yang menakjubkan itu, dengan sifat Allah yang mengetahui dan mengawasi segala yang ada dalam hati. "Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata. Yang Mahaperkasa Iagi Mahabijaksana. "(at-Taghaabun: 18)

Jadi, setiap sesuatu pasti tersingkap dalam ilmu-Nya, tunduk kepada kekuasaan-Nya, dan terorganisir dengan hikmah-Nya. Semuanya bertujuan agar manusia hidup sambil merasakan dan menyadari bahwa mata Allah selalu melihatnya dan mengawasinya. Demikian pula kekuasaan-Nya menguasai mereka. Kebijakan-Nya mengatur dan mengelola segala urusan mereka baik yang lahiriah maupun yang batiniah. Dan, pandangan bila tertanarn kokoh dalam hati, cukuplah sebagai jaminan bagi hati agar bertakwa kepada Allah, memurnikan dirinya bagiNya, dan menyambut segala seruan-Nya.

Tafsir Surah Al-Ma'arij

Pengantar

Surah ini adalah salah satu putaran dari putaran pengobatan secara gradual, perlahan-lahan, lama, mendalam, dan halus terhadap penyakit-penyakit jahiliah di dalam jiwa manusia sebagaimana yang dihadapi oleh Al-Qur'an di Mekah. Juga sebagaimana yang mungkin dihadapinya di kalangan jahiliah manapun sesuai dengan perbedaan dan aneka Iahiriahnya - bukan bagian dalamnya - serta simbolnya, bukan hakikatnya.

Atau, ia adalah satu babak dari peperangan panjang dan berat yang terjadi di dalam jiwa manusia, yakni di sela-sela perjalanannya, belokan-belokannya, endapan-endapannya, dan tumpukan-tumpukannya. Peperangan ini lebih besar dan lebih panjang masanya daripada peperangan-peperangan fisik yang dihadapi kaum muslimin sesudah itu. Hal ini sebagaimana endapan-endapan dan penyakit-penyakit itu lebih besar dan lebih sukar daripada kekuatan-kekuatan yang disiapkan untuk melawan dakwah Islam yang senantiasa disiapsiagakan baik pada  zaman jahiliah kuno maupun jahiliah modern.

Hakikat pokok yang hendak dipecahkan dan ditetapkan oleh surah ini adalah hakikat akhirat dengan segala pembalasan yang ada di sana, dan secara khusus adalah tentang azab terhadap orang-orang kafir di sana sebagaimana yang diancamkan oleh Al-Qur'anuI Karim. Juga dibarengi dengan pengungkapan tentang hakikat jiwa manusia pada waktu menghadapi kesusahan dan kesenangan. Dalam hal ini, sudah tentu berbeda antara jiwa yang beriman dan yang kosong dari iman. Selain itu, juga dikemukakan ciri-ciri jiwa yang beriman beserta manhajnya di dalam merasa dan berperilaku, serta keberhakannya untuk dimuliakan. Dipaparkan pula kehinaan orang-orang kafir dalam pandangan Allah dan kehinaan yang diancamkan Allah untuk mereka yang sangat cocok bagi orang-orang yang sombong. Surah ini juga menetapkan perbedaan nilai, ukuran, dan timbangan yang ditetapkan Allah dengan yang dibuat oleh manusia.

Dengan hakikat-hakikat ini, terciptalah putaran dari putaran-putaran pengobatan yang panjang terhadap penyakit-penyakit dan pola pandang jahiliah, atau satu babak dari peperangan yang berat di dalam perjalanan jiwa manusia dan belokan-belokannya. Itulah peperangan yang dilakukan oleh Al-Qur'an yang pada akhirnya ia mendapat kemenangan dengan kekuatannya sendiri, terlepas dari kekuatan Iain manapun. Maka, kemenangan AI-Qur'an yang sebenarnya di dalam jiwa manusia sudah dimulai sebelum dia menggunakan pedang (senjata) untuk menolak fitnah dari yang beriman kepadanya, apalagi senjata untuk memaksa musuhnya untuk tunduk kepadanya!

Orang yang membaca AI-Qur’an dengan penuh konsentrasi dan merenungkan peristiwa-peristiwa perjalanan hidupnya, tentu akan merasakan adanya kekuatan dan kekuasaan hebat yang dengannya AI-Qur'an menghadapi jiwa-jiwa manusia di Mekah dan menjinakkannya sehingga mereka mau menerima bimbingannya dengan senang dan rela Tentu si pembaca tadi akan melihat bahwa Al-Qur'an menghadapi jiwa manusia dengan bermacam-macam metode yang mengagumkan.

Kadang-kadang Al-Qur'an menghadapi jiwa manusia dengan membawakan bukti-bukti dan petunjuk-petunjuk yang sangat mengesankan secara bertubi-tubi bagaikan banjir yang deras; dengan gaya yang halus dan lemah lembut seolah-olah tidak mempunyai kekuatan yang kokoh mengakar dalam pandangan-pandangannya; dengan gaya seperti cemeti yang sangat menyengat yang melecut perasaan, sehingga yang kena lecutan dan sengatannya merasa tak mampu bertahan; dan dengan bisikan yang penuh kecintaan dan kasih sayang, yang menenteramkan perasaan dan menenangkan hati. Namun, terkadang AI-Qur’an menghadapi jiwa manusia dengan sesuatu yang menakutkan dan mengejutkan, yang membukakan mata terhadap bahaya besar yang sudah dekat; dengan membeberkan hakikat persoalan secara luas dan jitu tanpa memberikan kesempatan dan peluang untuk berpaling dan membantah; dan dengan  memberikan harapan yang cerah dan keinginan  yang teduh, yang dibisikkan kepadanya.

Atau, dikoreknya relung-relung, jalan, dan tikungan-tikungannya, Iantas disorotnya dengan cahaya yang terang sehingga semuanya terungkap dan ia dapat melihat apa saja yang ada di dalamnya seperti melihat dengan mata kepala. Kemudian ia merasa malu terhadap sebagiannya, benci terhadap sebagian yang Iain, dan menjadi sadar terhadap semua gerakan dan perasaannya yang selama ini dilakukan tanpa menghiraukannya.

Pembaca AI-Qur’an akan menjumpai beratus-ratus sentuhan, sindiran, bisikan, dan kesan, kalau ia mengikuti peperangan yang panjang dan pengobatan yang telaten itu. la juga akan melihat bagaimana Al-Qur'an dapat mengalahkan kejahiliahan yang terdapat di dalam jiwa yang pembangkang dan keras itu.

Dari satu sisi, surah ini juga menyingkap usaha penetapan hakikat akhirat dan hakikat-hakikat Iain yang dirangkumnya pula bersamaan dengan itu.

Hakikat akhirat juga menjadi sasaran pembahasan surah al-Haaqqah, tetapi surah al-Ma'aarij ini membahasnya dengan jalan Iain, dan memaparkannya dari sudut, lukisan, dan bayang-bayang yang Iain pula.

Arah surah al-Haaqqah adalah melukiskan hal-hal yang menakutkan dan mengerikan pada hari kiamat itu, yang tercermin dalam gerakan-gerakan yang keras dalam pemandangan peristiwa-peristiwa alam yang besar. Juga tercermin dalam keagungan yang hebat pada pemandangan yang menakutkan itu. Dan, tercermin dalam pengungkapan secara transparan yang menakutkan dan menggetarkan perasaan.

Hal yang menakutkan dan menggetarkan itu juga terlihat dalam pemandangan-pemandangan tentang azab, hingga terucapkan dalam keputusan tentang siksaan ini sebagaimana tercantum dalam surah al-Haaqqah ayat 30-32.

Tampak pula ketakutan dan kengerian tersebut dalam teriakan, keluh kesah, dan penyesalan orang-orang yang terkena siksa itu seperti tercantm dalam surah al-Haaqqah ayat 25-27.

Namun, di dalam surah al-Ma'aarij, hal yang menakutkan itu tampak pada sifat-sifat, ciri-ciri, gejolak, dan langkah-langkah jiwa, yang melebihi apa yang tampak pada pemandangan-pemandangan alam dan gerakan-gerakannya. Sehingga, pemandangan-pemandangan kealaman yang menakutkan itu sendiri hampir-hampir bersifat kejiwaan pula. Bagaimanapun keadaannya, ia bukanlah sesuatu yang paling menakutkan, tetapi yang paling menakutkan itu bertempat di dalam jiwa, yang tampak sejauh kegoncangan, kebingungan, dan kegemetaran yang terjadi. Hal ini dapat dilihat dalam surah al-Ma'aarij ayat 8-14. Neraka itu di sini adalah "jiwa" yang mempunyai perasaan dan pengertian seperti makhluk hidup di dałam sifatnya yang menakutkan dan hidup. Sedangkan, azab iłu sendiri lebih banyak mengesankan karakter jiwa yang melebihi apa yang dirasakan indra.

Maka, pemandangan-pemandangan, lukisan-lukisan, dan bayang-bayang hari iłu berbeda dengan yang dibeberkan dałam surah al-Haaqqah, sesuai dengan perbedaan karakter kedua surah iłu secara umum, meskipun hakikat pokoknya sama.

Karena iłu, surah al-Ma'aarij ini melukiskan keadaan jiwa manusia ketika susah dan senang, serta ketika ada imannya dan kosong dari iman. Hal ini sangat serasi dengan karakter kejiwaan surah yang khas. Maka, di dałam menyifati manusia, surah ini mengatakan,

“Sesunguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Dan, apabila mendapat kebaikan, ia kikir. Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat yang mereka tetap  mengerjakan shalatnya." (al-Ma'aarij: 19-23)

Selanjutnya, di sini digambarkan sifat-sifat jiwa yang beriman beserta ciri-ciri Iahiriah dan batiniahnya sejalan dengan karakter dan usłub surah ini, sebagaimana tercantum dalam surah al-Ma'aarij ayat 22-34.

Arah pokok surah al-Haaqqah adalah menetapkan hakikat kesungguhan dan keseriusan mengenai bidang akidah. Karena iłu, hakikat akhirat adalah salah satu dari hakikat-hakikat yang ada dalam surah ini, seperti hakikat dihukumnya orang-orang yang mendustakan agama-Nya dengan hukuman yang berat di dunia ini, dan dihukumnya setiap orang yang mengganti akidahnya, tanpa toleransi. Sedangkan, arah pokok dałam surah al-Ma'aarij adalah menetapkan hakikat akhirat beserta pembalasan di sana dan timbangan pembalasan. Maka, hakikat akhirat menjadi hakikat pokok dałam surah ini.

Karena iłu, hakikat-hakikat lain dałam surah ini berhubungan secara langsung dengan hakikat akhirat. Misalnya, pembahasan surah ini tentang perbedaan perhitungan Allah pada hari-hari-Nya dengan perhitungan manusia, dan ukuran Allah terhadap hari akhir dengan ukuran manusia, sebagaimana tercantum dalarn surah al-Ma'aarij ayat 4-7; perbedaan jiwa manusia ketika menghadapi kesusahan dan kesenangan, ketika beriman dan ketika kosong dari iman. Kedua hal ini Iayak mendapatkan pembalasan pada hari pembalasan; dan keinginan orang-orang kafir untuk masuk surga na'im, padahal dałam pandangan Allah mereka iłu sangat hina, dan tidak  mampu untuk berlari dan melepaskan diri dari azab-Nya. Masalah ini berkaitan erat dengan as (poros) pokok surah ini.

Demikianlah, hampir seluruh isi surah ini terbatas membahas masalah hakikat akhirat yang merupakan hakikat besar yang sangat urgen untuk dimantapkan ke dałam jiwa, di samping adanya bermacam-macam sentuhan dan hakikat lain yang menyertai tema pokoknya.

Fenomena adalah adanya irama musikal dałam surah ini, yang timbul dari bangunan dan bentuk pengungkapannya. Nuansa ritmis dałam surah al-Haaqqah timbul dari perubahan rima (sajak, kata terakhir) pada setiap baris atau ayatnya, sesuai dengan makna dan nuansanya. Sedangkan dałam surah al-Ma'aarij, keanekaragaman iłu lebih jauh jangkauannya. Karena ia meliputi macam-macam kalimat yang bernuansa musikal secara keseluruhan, bukan hanya rima pada akhir kalimat saja. Kalimat yang bernuansa musikal di sini lebih dałam, lebih luas, dan lebih kokoh susunannya. Jenis ini banyak ditemui dałam separo pertama surah ini dałam bentuk komentar.

Pada permulaan surah ini terdapat tiga kalimat musikal yang beraneka macam, meskipun sama irama akhirnya, dilihat dari segi panjang dan irama-irama parsialnya sebagaimana contoh berikut ini,

سَاَلَ سَاۤىِٕلٌۢ بِعَذَابٍ وَّاقِعٍۙ ١ لِّلْكٰفِرِيْنَ لَيْسَ لَهٗ دَافِعٌۙ ٢ مِّنَ اللّٰهِ ذِى الْمَعَارِجِۗ ٣ تَعْرُجُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ اِلَيْهِ فِيْ يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهٗ خَمْسِيْنَ اَلْفَ سَنَةٍۚ ٤ فَاصْبِرْ صَبْرًا جَمِيْلًا ٥ اِنَّهُمْ يَرَوْنَهٗ بَعِيْدًاۙ ٦ وَّنَرٰىهُ قَرِيْبًاۗ ٧ يَوْمَ تَكُوْنُ السَّمَاۤءُ كَالْمُهْلِۙ ٨ وَتَكُوْنُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِۙ ٩ وَلَا يَسْـَٔلُ حَمِيْمٌ حَمِيْمًاۚ ١٠

Rangkaian ini berakhir dengan memanjangkan bunyi alif pada baris (ayat) kelima.

اِنَّهُمْ يَرَوْنَهٗ بَعِيْدًاۙ ٦ وَّنَرٰىهُ قَرِيْبًاۗ ٧

Di sini terjadi perulangan rima (bunyi yang sama) dengan memanjangkan alif dua kali.

يَوْمَ تَكُوْنُ السَّمَاۤءُ كَالْمُهْلِۙ ٨ وَتَكُوْنُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِۙ ٩ وَلَا يَسْـَٔلُ حَمِيْمٌ حَمِيْمًاۚ ١٠

Rangkaian ini berakihir dengan memanjangkan bunyi alif pada ayat ketiga, dengan bermacam-macam rima di dalamnya.

يُبَصَّرُوْنَهُمْۗ يَوَدُّ الْمُجْرِمُ لَوْ يَفْتَدِيْ مِنْ عَذَابِ يَوْمِىِٕذٍۢ بِبَنِيْهِۙ ١١ وَصَاحِبَتِهٖ وَاَخِيْهِۙ ١٢ وَفَصِيْلَتِهِ الَّتِيْ تُـْٔوِيْهِۙ ١٣ وَمَنْ فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًاۙ ثُمَّ يُنْجِيْهِۙ ١٤ كَلَّاۗ اِنَّهَا لَظٰىۙ ١٥

Rangkaian ini berakhir dengan memanjangkan alif pada baris kelima sebagaimana pada bagian yang pertama di atas.

نَزَّاعَةً لِّلشَّوٰىۚ ١٦ تَدْعُوْا مَنْ اَدْبَرَ وَتَوَلّٰىۙ ١٧ وَجَمَعَ فَاَوْعٰى ١٨ ۞ اِنَّ الْاِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًاۙ ١٩ اِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعًاۙ ٢٠ وَّاِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوْعًاۙ ٢١

Di sini, perulangan bunyi yang sama pada alif panjang tejadi lima kali, dan dua di antaranya yang terletak pada kedua ayat terakhir berbeda dengan tiga ayat yang pertama.

Kemudian terjadi perulangan bunyi yang sama pada mim dan nun, yang sebelumnya didahului dengan wau atau ya’.

Penampilan aneka macam rima pada permulaan surah sangat mendalam dan mengikat dałam nuansa iramanya yang dirasakan oleh telinga begitu indah. Nuansa musikalnya tinggi, indah, dan terasa asing di lingkungan bangsa Arab, juga asing di kalangan sastrawan Arab. Akan tetapi, usłub Al-Qurțan ini memberikan kemudahan untuk masuk ke dałam telinga bangsa Arab sehingga dapat diterima, meskipun nilai sastranya sangat indah, mendalam, dan baru bagi irama-irama tradisional mereka.

Sekanng marilah kita paparkan surah ini secara terperinci.

Kondisi Alam dan Manusia ketika Terjadi Kiamat dan Kepedihan Derita Orang yang Banyak Dosa

سَاَلَ سَاۤىِٕلٌۢ بِعَذَابٍ وَّاقِعٍۙ ١ لِّلْكٰفِرِيْنَ لَيْسَ لَهٗ دَافِعٌۙ ٢ مِّنَ اللّٰهِ ذِى الْمَعَارِجِۗ ٣ تَعْرُجُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ اِلَيْهِ فِيْ يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهٗ خَمْسِيْنَ اَلْفَ سَنَةٍۚ ٤ فَاصْبِرْ صَبْرًا جَمِيْلًا ٥ اِنَّهُمْ يَرَوْنَهٗ بَعِيْدًاۙ ٦ وَّنَرٰىهُ قَرِيْبًاۗ ٧ يَوْمَ تَكُوْنُ السَّمَاۤءُ كَالْمُهْلِۙ ٨ وَتَكُوْنُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِۙ ٩ وَلَا يَسْـَٔلُ حَمِيْمٌ حَمِيْمًاۚ ١٠ يُبَصَّرُوْنَهُمْۗ يَوَدُّ الْمُجْرِمُ لَوْ يَفْتَدِيْ مِنْ عَذَابِ يَوْمِىِٕذٍۢ بِبَنِيْهِۙ ١١ وَصَاحِبَتِهٖ وَاَخِيْهِۙ ١٢ وَفَصِيْلَتِهِ الَّتِيْ تُـْٔوِيْهِۙ ١٣ وَمَنْ فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًاۙ ثُمَّ يُنْجِيْهِۙ ١٤ كَلَّاۗ اِنَّهَا لَظٰىۙ ١٥ نَزَّاعَةً لِّلشَّوٰىۚ ١٦ تَدْعُوْا مَنْ اَدْبَرَ وَتَوَلّٰىۙ ١٧ وَجَمَعَ فَاَوْعٰى ١٨

"Seseorang peminta telah meminta kedatangan azab yang bakal terjadi, untuk orang-orang kafir, yang tidak seorang pun dapat menolaknya, (yang datang) dari Allah Yang Mempunyai tempat-tempat naik. Malaikat-malaikat danJibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun. Maka, bersabarlah kamu dengan sabar yang baik. Sesunguhnya mereka memandang siksaan iłu jauh (mustahil). Sedangkan, Kami memandangnya dekat (pasti terjadi). Pada hari ketika langit menjadi seperti luluhan perak dan gunung-gunung menjadi seperti bulu (yang beterbangan), tidak  ada seorang teman akrab pun menanyakan temannya, sedang mereka saling melihat. Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari iłu dengan anak-anaknya, istrinya, saudaranya, dan kaum familinya yang melindunginya (di dunia) serta orang-orang di atas bumi seluruhnya. Kemudian (mengharapkan) tebusan iłu dapat menyelamatkannya. Sekali-kali tidak dapat. Sesungguhnya neraka iłu adalah api yang bergejolak, yang mengelupaskan kulił kepala, dan memanggil orang yang membelakang dan berpaling (dari agama), serta (memanggil orang yang) mengumpulkan (harta benda) lalu menyimpannya.” (al-Ma'aarij: 1-18)

Hakikat akhirat adalah salah satu dari hakikat-hakikat yang sulit dimengerti oleh orang-orang musyrik Arab. Hakikat ini mendapat penentangan yang mendalam di dalam jiwa mereka. Sehingga, mereka menghadapinya dengan penuh keheranan, keterkejutan, dan merasa aneh. Mereka menolak sekeras-kerasnya dan mereka menentang Rasulullah saw. dengan berbagai macam tantangan supaya beliau mendatangkan kepada mereka hari yang dijanjikan itu, atau agar beliau dapatmenyampaikan kepada mereka kapan terjadinya hari itu.

Diriwayatkan dari İbnu Abbas bahwa yang meminta azab ini adalah an-Nadhr ibnuI-Harits. Dalam riwayat lain dari İbnu Abbas juga, ia mengatakan bahwa itu adalah pertanyaan orang kafir mengenai azab Allah padahal azab itu bakal menimpa mereka.

Bagaimanapun halnya, maka surah ini menceritakan bahwa di sana ada orang yang meminta didatangkannya azab, bahkan meminta disegerakan datangnya. Surah ini juga menetapkan bahwa azab itu bakal terjadi, karena ia pasti akan terjadi sesuai dengan ke tentuan Allah dilihat dari satu segi, dan sudah dekat terjadinya dilihat dari segi lain. Tidak seorang pun yang akan dapatmenolak atau mencegahnya Maka, menanyakannya atau meminta disegerakan kedatangannya, padahal ia pasti terjadi dan tidak dapat ditolak oleh seorang pan, menunjukkan kesialan orang yang meminta disegerakan kedatangannya itu, baik personal maupun komunal.

Azab ini akan ditimpakan kepada orang-orang kafir secara mutlak, termasuk di dalamnya orang-orang yang meminta disegerakan kedatangannya dan setiap orang yang kafir. Azab ini pasti dari dari Allah "Yang Mempunyai tempat-tempat naik, suatu ungkapan tentang ketinggian dan keluhuran, sebagaimana disebutkan dalam surah lain, "Dialah Yang Mahatinggi derajat-Nya, Yang Mempunyai 'Arasy. "(al-Mu’min: 15)

Setelah pembukaan yang menetapkan kata pasti tentang masalah azab, bakal terjadinya, mengenai orang-orang yang layak mendapatkannya, sumbernya, dan ketinggian dan keluhuran sumber ini - yang menjadikan keputusan-Nya bersifat luhur, pasti terlaksana, dan tidak ada yang dapat menolaknya -, maka diterangkanlah kondisi hari yang bakal terjadi dengan segala azabnya itu, dan yang mereka minta disegerakan kedatangannya padahal kedatangannya itu sudah dekat. Hanya saja ukuran Allah tidak sama dengan ukuran manusia,

“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun. Maka, bersabarlah kamu dengan sabaryang baİk. Sesunguhnya mereka memandang siksaan itu jauh (mustahil). Sedangkan, Kami memandangnya dekat (pasti terjadi)." (al-Ma'aarij: 4-7)

Menurut pendapat yang lebih kuat, hari yang diisyaratkan di sini adalah hari kiamat, karena konteksnya hampir pasti menunjukkan makna ini. Pada hari ini para malaikat dan Jibril naik menghadap Allah. Dan, yang dimaksud dengan ar-ruh di sini adalah malaikat Jibril a.s. sebagaimana disebutkan dalam surah-surah lain. Disebutkannya malaikat Jibril sesudah disebutkannya para malaikat karena ia memiliki urusan khusus. Disebutkannya naiknya para malaikat dan malaikat Jibril pada hari ini menunjukkan penting dan khususnya mereka pada hari ini, yaitu mereka naik berkenaan dengan urusan dan kepentingan hari ini.

Kita tidak mengetahui dan tidak ditugasi untuk mengetahui bagaimana sifat kepentingan ini, bagaimana cara para malaikat itu naik, dan kemana mereka naik. Semua ini adalah urusan gaib yang tidak menambah hikmah nash kalau disebutkan perinciannya. Kıta tidak mempunyai jalan untuk mencapainya, dan tidak mempunyai pemandu yang menunjukkan ke sana. Maka, cukuplah bagi kita untuk merasakan betapa pentingnya hari itu dari celah-ceIah pemandangan ini. Yakni, pemandangan yang menunjukkan bagaimana para malaikat dan Jibril sibuk melakukan gerakan-gerakan yang berhubungan dengan kepentingan hari yang besar itu.

Adapun kalimat "kadarnya limapuluh ribu tahun" mungkin sebagai landasan terhadap lamanya hari itu, sebagaimana yang biasa terjadi dalam ungkapan bahasa Arab. Mungkin juga menunjukkan hakikat tertentu dan kadar hari itu adalah lima puluh ribu tahun hitungan tahun-tahun penduduk bumi, padahal waktu sepanjang ini hanya satu hari saja pada hari kiamat. Hakikat ini sekarang memang sangatdekat, karena hari kita dalam kehidupan dunia diukur dari perputaran bumi pada porosnya dalam masa dua puluh empat jam. Di sana terdapat bintang-bintang yang perputaran pada porosnya beribu-ribu kali lipat dari hari-hari kita İni bukan berarti bahwa yang dimaksud di sini adalah lima puluh ribu tahun itu. Akan tetapi, kami sebutkan hakikat ini untuk mendekatkan kepada pikiran mengenai gambaran tentang perbedaan ukuran hari ini dengan hari itu.

Apabila sehari dari hari-hari Allah itu sama dengan lima puluh ribu tahun, maka azab hari itu oleh mereka dianggap sesuatu yang sangat jauh, padahal menurut pandangan Allah adalah dekat. Karena ituIah, Alah menyeru Nabi-Nya saw. supaya bersabar dengan kesabaran yang baik di dalam menghadapi permintaan mereka agar disegerakannya azab dan di dalam menghadapi pendustaan mereka terhadap azab yang dekat itu.

“Maka, bersabarlah kamu dengan sabar yang baik. Sesunguhnya mereka memandang siksaan itu jauh. Sedangkan, Kami memandangnya dekat." (al-Ma'aarij: 5-7)

Seruan untuk bersabar dan mengarahkan diri kepada Allah itu senantiasa menyertai setiap dakwah, dan dilakukan secara berulang-ulang kepada setiap rasul dan para pengikutnya yang beriman. Seruan ini sangat vital, mengingat beratnya beban dan sulitnya jalan yang ditempuh untuk memelihara jiwa ini supaya teguh dan ridha, selalu berhubungan dengan tujuan jangka panjang, yang juga kelihatan di ufuk yang jauh.

Kesabaran yang baik adalah kesabaran yang menenangkan, yang tidak disertai oleh kemarahan, kegoncangan, dan keraguan terhadap kebenaran janji Allah. Kesabaran orang yang percaya kepada akibat yang bakal terjadi, yang ridha kepada kadar Allah, yang merasakan hikmah di balik ujian-Nya, selalu berhubungan dengan-Nya, dan mengharapkan pahala dari sisi-Nya pada setiap apa yang menimpa dirinya.

Kesabaran macam ini layak mengiringi pelaku dakwah karena dakwahnya adalah dakwah Allah dan dakwah kepada Alah. Tidak ada sedikitpun sahamnya terhadap dakwah itu, dan tanpa tujuan apa pun untuk dirinya di baliknya. Namun, segala sesuatu yang dijumpainya dalam dakwah adalah dalam rangka fi sabilillah, dan segala yang terjadi berkenaan dengan urusan dakwah ini adalah dari Allah. Maka, kesabaran yang baik tersebut serasi benar dengan hal dekat ini, dan serasi dengan perasaannya terhadap hakikat itu di dalam hati nuraninya yang dalam.

Allah adalah pemilik dakwah yang dihadapi oleh para pendustanya. Dia adalah pemilik janji yang mereka dustakan dan mereka minta segera direalisasikan. Dia menentukan segala peristiwa dan menentukan waktu-waktunya menurut kehendak-Nya sesuai dengan kebijaksanaan dan rencana-Nya terhadap alam semesta. Akan tetapi, manusia tidak mengetahui rencana dan ketentuan itu, lalu mereka meminta disegerakan kedatangan janji-Nya. Apabila waktunya lama, maka mereka menjadi ragu-ragu. Kadang-kadang kegoncangan ini merambat ke dalam diri para pelaku dakwah, dan umbul berbagai pikiran dan angan-angan mengenai penyegeraan realisasi janji dan datangnya apa yang dijanjikan itu. Pada saat seperti ini datanglah pemantapan dan pengarahan dari Allah Yang Maha Mengetahui, "Maka, bersabarlah kamu dengan sabar yang baik. "(al-Ma'aarij: 5)

Khithab (firman) ini ditujukan kepada Rasulullah saw. untuk memantapkan hati beliau di dalam menghadapi tantangan dan pendustaan orang kafir. Juga untuk menetapkan hakikat lain, yakni bahwa ketentuan Alah terhadap sesuatu urusan berbeda dengan ketentuan manusia, dan ukurannya yang mutlak tidak sama dengan ukuran manusia yang kecil dan kerdil,

"Sesunguhnya mereka memandang azab itu jauh. Sedangkan, kami memandangnya dekat (pasti terjadi). " (al-Ma'aarij: 6-7)

Kemudian, dilukiskanlah pemandangan-pemandangan hari itu dengan azabnya yang terjadi, yang selama ini mereka pandang jauh kemungkinan terjadinya sedang Allah memandangnya dekat Dilukiskan pemandangan-pemandangan ini di hamparan alam dan di dalam lubuk hati. Pemandangan yang sarat dengan hal-hal yang menakutkan, mengejutkan, membingungkan, dan menggoncangkan, baik di alam semesta maupun di dalam jiwa,

“Pada hari ketika langit menjadi seperti luluhan perak dan gunung-gunung menjadi seperti bulu (yang beterbangan). " (al-Ma'aarij: 8-9)

Al-MuhI adalah luluhan tambang yang kotor seperti kotoran minyak, dan al- 'Ihn adalah bulu-bulu yang beterbangan. Al-Qur'an menetapkan di surah atau ayat lain bahwa peristiwa-peristiwa alam yang sangat besar akan terjadi pada hari itu, yang akan mengubah aturan-aturan benda-benda alarn beserta sifat, hubungan-hubungan, dan ketentuan-ketentuannya Di antara peristiwa ini adalah langit menjadi seperti luluhan tambang.

Nash ini layak dipikirkan oleh para ahli fisika dan tata surya. Menurut pendapat yang kuat di sisi mereka, benda-benda langit tersusun dari tambang tambang yang meleleh hingga mencapai derajat gas, yaitu beberapa fase setelah meleleh dan mencair, yang boleh jadi pada hari kiamat akan padam (sebagaimana firman Allah 'Apabila bintang-bintang berjatuhan’ ) akan dingin sehingga menjadi tambang-tambang yang cair. Dengan demikian, berubahlah sifatnya sekarang, yaitu gas atau  uap.

Bagaimanapun, itu adalah semata-mata kemungkinanyang sangat bermanfaat bagi para peneliti ilmu-ilmu ini untuk memikirkan dan merenungkannya. Adapun kami hanya berhenti pada nash ini saja di dalam mengikuti pemandangan yang menakutkan itu di mana langit menjadi seperti luluhan tambang yang kotor, dan gunung-gunung menjadi seperti bulu-bulu yang beterbangan. Di balik ini kitamerasakan hal yang menakutkan dan membingungkan di dalam hati, sehingga diungkapkan oleh Al-Qur'an dengan ungkapan yang mendalam,

“Tidak ada seorang teman akrab pun menanyakan temannya, sedang mereka saling melihat. Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anak, istri, saudaranya, dan kaum familinya yang melindunginya (di dunia), serta orang-orang di atas bumi seluruhnya. Kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya. " (al-Ma'aarij: 10-14)

Manusia pada hari itu dalam kesedihan yang luar biasa, hingga tidak ada seorang pun yang memperhatikan orang lain, dan sudah tidak ada perasaan yang tertuju kepada orang lain,

“Tidak ada seorang teman akrab pun menanyakan temannya. " (al-Ma'aarij: 10)

Suasana yang menakutkan itu telah memutuskan semua hubungan, dan menahan sefiap orang untuk memperhatikan dirinya sendiri saja, tanpa merambah orang lain. Padahal, mereka saling melihat, seakan-akan mereka sengaja bersikap begitu. Akan tetapi, masing-masing mereka merasa sedih dan setiap hati sibuk sendiri-sendiri. Sehingga, tidak ada seorang teman pun yang tergerak hatinya untuk menanyakan keadaan temannya dan tidak ada seorang pun yang meminta tolong kepada yang lain. Kesusahan menimpa semuanya dan ketakutan menggelayuti semuanya.

Maka, bagaimana Iagi keadaan "orang yang berdosa"? Ketakutan menerpa perasaannya dan melanda jiwanya. Sehingga, seandainya dapat menebus dirinya dari azab hari itu dengan orang-orang yang paling dihormati dan disayangi sekalipun, ia akan melakukannya. Padahal, dalam kehidupan dunia sebelumnya, ia rela mengorbankan diri untuk membela dan melindungi mereka secara timbal balik dan hidup untuk mereka. Bahkan, karena keinginannya yang sangat besar untuk selamat, maka ia kehilangan perasaannya terhadap orang lain secara mutlak. Sehingga, ia ingin menjadikan seluruh manusia sebagai penebus dirinya, asalkan dapat menyelamatkannya.

Inilah gambaran kesedihan yang luar biasa, ketakutan yang membingungkan, dan keinginan yang menggebu-gebu untuk melepaskan diri ! Gambaran yang penuh dengan ketakutan, kesedihan, dan kesusahan, yang terbayang dari celah-celah pengungkapan Al-Qur'an yang mengesankan.

Ketika si pendosa dalam keadaan yang demikian, menghadapi siksaan yang akan ditimpakan, ia mendengarkan kalimat yang memutuskan segala harapan, atau mendengar semua perkataan yang menipu dari dalam jiwa, sebagaimana semua orang mendengar hakikat keadaan hari itu dengan segala sesuatu yang terjadi padanya,

"Sekali-kali tidak dapat. Sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergejolak, yang mengelupaskan kulit kepala, dan yang memangil orang yang membelakang dan berpaling (dari agama), serta (yang memanggil orang) yang mengumpulkan (harta benda) lalu menyimpannya. "(al-Ma'aarij: 15-18)

Sungguh ini merupakan pemandangan yang menjadikan jiwa terbang berserakan, setelah dibingungkan oleh kesedihan dan ketakutan saat itu. "Sekali-kali tidak dapat.” Ini sebuah kalimat untuk menyanggah angan-angan dan keinginan yang mustahil terwujud, untuk menebus diri dengan anak-anak, istri/suami, saudara, keluarga, dan semua orang di muka bumi. "Sesunguhnya neraka itu adalah api yang bergejolak " Api yang bergejolak dan membakar. "Yang mengelupaskan kulit kepala", mengelupaskan kulit dari wajah dan kepala, suatu kerusakan yang menakutkan.

Seakan neraka itu punya jiwa yang hidup, yang turut serta menakut-nakuti dan menyiksa, dengan kehendaknya, "Dan yang memangil orang yang membelakang dan berpaling (dari agama), serta (yang memangil orang yang) mengumpulkan (harta benda) lalu menyimpannya " Neraka memanggilnya, sebagaimana ia dulu dipanggil untuk menerima petunjuk, tetapi ia membelakang dan berpaling. Akan tetapi, pada hari kiamat ini yang memanggilnya adalah neraka Jahannam, dan ia tidak mampu Iagi untuk membelakang dan berpaling. Dahulu ia sibuk dengan mengumpulkan harta dan menyimpannya di dalam bejana (brankas dan sebagainya) sehingga tidak menghiraukan seruan-seruan dakwah. Namun, sekarang seruan ini datangnya dari neraka dan ia tidak dapat Iagi mengabaikannya. la tidak dapat menebus dirinya dengan segala sesuatu yang ada di bumi ini.

Taukid 'penegasan' di dalam surah ini dan surah sebelumnya, demikian juga dalam surah al-Qalam mengenai keengganannya berbuat baik dan tidak maunya menganjurkan manusia untuk memberi makan kepada orang-orang miskin, serta sibuk mengumpulkan harta dan kekayaan di dalam bejana-bejana di samping kekafiran, pendustaan, dan kemaksiatannya, menunjukkan bahwa dakwah di Mekah itu menghadapi suasana khusus. Di sana berkumpul menjadi satu sifat-sifat bakhil, rakus, keinginan kepada kekafiran, kebohongan, dan kesesatan. Sehingga, hal ini memerlukan pengulangan isyarat terhadap kondisi tersebut, dan perlu menakut-nakuti akibatnya. Karena, ia pasti mengundang datangnya azab setelah mereka kafir dan mempersekutukan Alah.

Di dalam surah ini terdapat beberapa isyarat Iain yang menunjukkan makna tersebut, dan menegaskan karakteristik lingkungan Mekah yang dihadapi dakwah Islam saat itu. Mekah saat itu disibukkan dengan aktivitas mengumpulkan harta dan menumpuk kekayaan melalui perdagangan dan praktik riba. Pembesar-pembesar Quraisy adalah para pemilik perdagangan-perdagangan ini dan pemilik kafilah-kafilah yang selalu membawa barang dagangannya pada waktu musim dingin dan musim panas. Mereka melakukan persaingan ketat untuk mendapatkan kekayaan. Jiwa-jiwa mereka sangat kikir hingga menjadikan orang-orang miskin terhalang; dan anak-anak yatim terabaikan.

Karena itu, diulang-ulanglah penyebutan urusan dan berulang-ulang pula peringatan dan kecaman yang diberikan. Naungan dan bayang-bayang AI-Qur’an mengobati kerakusan dan ketamakan ini, dan melancarkan serangan terhadap kedua itu di dalam Iubuk jiwa manusia baik sebelum Fathu Makkah maupun sesudahnya.

Hal itu tampak jelas bagi orang yang memperhatikan pelarangan riba, larangan memakan harta orang Iain dengan cara yang batil, larangan memakan (mempergunakan) harta anak-anak yatim dengan boros dan foya-foya agar segera habis sebelum anak yatim itu menginjak dewasa, dan larangan berlaku aniaya terhadap anak-anak wanita yatim dan memaksanya kawin secara sewenang-wenang karena hendak mendapatkan hartanya. Juga larangan dari membentak si miskin peminta-minta, menekan anak yatim, dan menghalangi orang-orang miskin dari mendapatkan sedekah dan infak, serta sikap yang keras dan kasar Iain yang menunjukkan karakteristik lingkungan itu.

Nah, Al-Qur'an memang merupakan pengarahan abadi untuk mengobati jiwa manusia dalam semua lingkungannya, untuk mengobati penyakit cinta harta, penyakit rakus, penyakit kikir, penyakit ingin memonopolinya sendiri, dan penyakit-penyakit Iain yang senantiasa menggelayuti jiwa manusia dan menawannya dengan ketat AI-Qur'an hendak membebaskannya dari tawanan-tawanan ini, dari ikatan-ikatannya, dan dari belenggu di lehernya, dengan memerangi penyakit-penyakit itu secara berkesinambungan dan mengobatinya dalam masa yang panjang.

Kondisi Jiwa Manusia dalam Menghadapi Kesusahan dan Kesenangan

Selesailah sudah menggambarkan kengerian yang dipampangkan dalam pemandangan hari kiamat dengan segala azabnya itu. Selanjutnya dilukiskanlah hakikat jiwa manusia di dalarn menyikapi kesusahan dan kebaikan atau kesenangan yang dihadapinya, dalam kondisi ketika ada iman dalam jiwa itu dan ketika kosong dari iman. Kemudian diterangkan dan ditetapkan bagaimana jadinya kelak dan di mana tempat kembalinya orang-orang mukmin dan orang-orang yang penuh dosa,

۞ اِنَّ الْاِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًاۙ ١٩ اِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعًاۙ ٢٠ وَّاِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوْعًاۙ ٢١ اِلَّا الْمُصَلِّيْنَۙ ٢٢ الَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَاتِهِمْ دَاۤىِٕمُوْنَۖ ٢٣ وَالَّذِيْنَ فِيْٓ اَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَّعْلُوْمٌۖ ٢٤ لِّلسَّاۤىِٕلِ وَالْمَحْرُوْمِۖ ٢٥ وَالَّذِيْنَ يُصَدِّقُوْنَ بِيَوْمِ الدِّيْنِۖ ٢٦ وَالَّذِيْنَ هُمْ مِّنْ عَذَابِ رَبِّهِمْ مُّشْفِقُوْنَۚ ٢٧ اِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُوْنٍۖ ٢٨ وَّالَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حٰفِظُوْنَۙ ٢٩ اِلَّا عَلٰٓى اَزْوَاجِهِمْ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُمْ فَاِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُوْمِيْنَۚ ٣٠ فَمَنِ ابْتَغٰى وَرَاۤءَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْعَادُوْنَۚ ٣١ وَالَّذِيْنَ هُمْ لِاَمٰنٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رٰعُوْنَۖ ٣٢ وَالَّذِيْنَ هُمْ بِشَهٰدٰتِهِمْ قَاۤىِٕمُوْنَۖ ٣٣ وَالَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُوْنَۖ ٣٤ اُولٰۤىِٕكَ فِيْ جَنّٰتٍ مُّكْرَمُوْنَ ۗ ࣖ ٣٥

"Sesunguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Dan, apabila mendapat kebaikan, ia amat kikir. Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat dan mereka tetap mengerjakan shalatnya; orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta); orang-orang yang mempercayai hari pembalasan; orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya); dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki. Maka, sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa yang mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Juga orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya; orang-orang yang memberikan kesaksiannya, dan orang-orang yang memelihara  shalatnya. Mereka itu (kekal) di surga Iagi dimuliakan. ” (al-Ma'aarij: 19-35)

Gambaran manusia ketika hatinya kosong dari iman, sebagaimana digambarkan oleh Al-Qur'an, adalah gambaran yang mengagumkan. Karena, Al-Qur'an menggambarkannya dengan sangat tepat dan lembut. Juga diungkapkannya dengan ungkapan yang sempurna tentang watak asli makhluk ini, yang tidak ada yang melindunginya dari sifat yang buruk dan menghilangkan sifat tersebut kecuali unsur iman, yang menghubungkannya dengan Sumber yang di sisi-NyaIah ia dapat memperoleh ketenangan. Sumber yang menjadi pegangannya dari kesedihan ketika ia menghadapi keburukan, dan melindunginya dari sifat kikir ketika dia memperoleh kebaikan.

”Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah Iagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah; dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir. ” (al-Ma'aarij : 19-21)

Sungguh seakan-seakan setiap perkataannya merupakan sebuah sentuhan dari goresan indah yang dibuat untuk melukiskan sifat-sifat manusia, dalam tiga ayat pendek dengan kalimat-kalimat singkat, yang membicarakan gambaran itu dan membicarakan kehidupan. Dari celah-celahnya digambarkanlah manusia dengan sifat-sifat dan ciri-ciri tetapnya. Yaitu, ”keluh kesah” ketika ditimpa kesusahan dan kesedihan. Ia mengira bahwa kesedihannya itu bersifat abadi, kekal, dan tiada yang dapat menghilangkannya. Ia juga mengira bahwa masa-masa yang akan datang itu akan terus menjadi petaka baginya. Maka, dipenuhinya hatinya dengan bermacam macam kesedihan, keburukan, dan duka nestapa. Sehingga, ia tidak pernah membayangkan bahwa di sana tidak akan ada keterlepasan dari kesedihan ini. dan ia tidak mengharapkan perubahan dari Allah. Karena itu, ia dimakan oleh kesedihan dan dirobek-robek oleh keluh kesah. Hal itu disebabkan ia tidak berlindung kepada pilar penyangga yang amat kuat bagi azamnya, dan menggantungkan segala cita-cita dan harapan kepada-Nya.

Selain itu, sifat-sifat dan ciri-ciri tetapnya yang lain adalah "sangat kikir” terhadap kebaikan jika ia mendapatkannya. Ia mengira bahwa kebaikan dan keberhasilannya itu adalah karena usaha dan jerih payahnya sendiri. Karena itu, ia lantas bersikap kikir kepada orang lain, dan memonopoli kekayaan itu untuk pribadinya sendiri. Sehingga, jadilah ia sebagai tawanan bagi kekayaannya, dan menjadi budak dari kerakusannya. Hal ini disebabkan ia tidak mengerti hakikat rezeki dan peranannya. Ia tidak melihat kebaikan Tuhan padanya karena sudah terputus hubungannya, dan hatinya sudah kosong dari merasakan keberadaan dan campur tangan-Nya.

Karena itu, ia selalu berkeluh kesah dalam kedua kondisinya. Yaitu, berkeluh kesah di saat susah, dan berkeluh kesah ketika mendapat kebaikan atau kesenangan. Inilah gambaran buruk manusia ketika hatinya kosong dari iman.

Dengan demikian, tampaklah bahwa iman kepada Allah merupakan masalah yang besar bagi kehidupan manusia. Iman bukan sekadar kata yang diucapkan dengan lisan, dan bukan pula sekadar simbol ubudiah yang diperagakan. Tetapi, iman adaIah kondisi jiwa dan manhaj kehidupan, serta pandangan hidup yang sempurna terhadap norma dan nilai, peristiwa-peristiwa, dan semua keadaan.

Ketika hati kosong dari iman yang menegakkan dan meluruskannya ini, maka ia akan senantiasa terombang-ambing, goyah, dan goyang, bagaikan bulu yang diembus angin. Ia akan senantiasa goncang dan takut. Ketika ditimpa kesusahan, ia mengeluh; dan ketika memperoleh kesenangan, ia amat kikir. Adapun jika hati ini disemarakkan dengan iman, maka ia akan senantiasa tenang dan sehat, karena selalu berhubungan dengan sumber segala peristiwa dan pengatur segala keadaan. Ia akan senantiasa tenteram terhadap kekuasaan-Nya, merasakan rahmat-Nya, mampu menerima ujian-Nya, selalu melihat pembebasan-Nya dari kesempitan, dan pemudahan-Nya dari kesulitan. Ia akan selalu menghadap kepada-Nya dengan kebaikan, karena ia tahu bahwa apa yang ia infakkan itu adalah rezeki dari-Nya, dan kelak ia akan mendapatkan balasan dari apa yang diinfakkannya di jalan-Nya, di dunia dan di akhirat.

Maka, iman adalah suatu usaha di dunia yang terwujud hasilnya sebelum mendapatkan balasan di akhirat, yang menimbulkan kegembiraan, ketenangan, kemantapan, dan kestabilan selama perjalanan hidupnya di dunia.

Sifat-sifat orang-orang mukmin yang dikecualikan dari sifat-sifat umum manusia itu dijelaskan batasan-batasannya dalam rangkaian ayat berikutnya, "Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat dan mereka tetap mengerjakan shalatnya. "(al-Ma'aarij: 22-23)

Shalat itu lebih sekadar rukun Islam dan simbol iman. la adalah sarana berhubungan dengan Allah dan tindak lanjut dari pengintaian (kesadaran batinnya) itu. Shalat adalah lambang ubudiah yang tulus, sebagai implementasi maqam rububiyyah dan maqam ubudiah dalam bentuk tertentu. Adapun sifat kekekalan yang dikhususkan untuk shalat di sini, "mereka tetap mengerjakan shalatnya", memberikan gambaran tentang keajegan dan keberlangsungannya. Maka, shalatnya ini adalah shalat yang tidak pernah terputus dengan ditinggalkannya karena sembrono atau malas. Dengan keajegannya menunaikan shalat ini, berarti dia terus-menerus berhubungan kepada AIIah tanpa pernah terputus. Rasulullah saw. selalu melakukan suatu ibadah dengan mantap, yakni konstan (ajeg). Beliau bersabda,

« وَإِنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ تَعَالَى مَا دَامَ وَإِنْ قَلَّ »

"Amalan yang paling disenangi Allah ialah apa yang dilakukan secara ajeg (rutin) meskipun hanya sedikit. " (HR enam ahli hadits dari Aisyah ra.)

Hal ini untuk menunjukkan perhatian terhadap sifat kemantapan, keseriusan, dan kesungguhan dalam berhubungan dengan Allah, sebagaimana hubungan ini pun harus dihormati. Hubungan ini bukanlah permainan yang dengan begitu saja boleh disambung dan diputuskan sesuai selera!

"Orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta). " (al-Ma'aarij: 24-25)

Yaitu, zakat secara khusus, dan sedekah-sedekah yang dimaklumi ukurannya, yang merupakan hak pada harta orang-orang mukmin. Atau, mungkin maknanya lebih lengkap dan lebih besar daripada ini. Yakni, mereka menjadikan bagian tertentu pada hartanya, karena mereka merasa bahwa itu adalah hak orang miskin baik yang meminta-meminta maupun tidak. Tindakannya ini membuktikan terlepasnya dari sifat kikir dan kebebasannya dari sifat rakus. Hal ini juga menunjukkan adanya kewajiban orang yang mampu terhadap yang tidak mampu, di kalangan umat yang saling menjamin dan saling menanggung.

Si miskin yang meminta-minta dan si papa yang tidak meminta-minta, tanpa menyatakan apa kebutuhannya, melainkan ia tetap tidak mau meminta-minta. Atau, barangkali ia adalah orang yang tertimpa bencana, lantas menjadi miskin papa, namun ia tetap tidak mau meminta-minta.

Perasaan dan kesadaran tentang adanya hak di dalam hartanya bagi orang miskin yang meminta-minta dan yang tidak meminta-minta, adalah kesadaran tentang adanya karunia Allah pada satu sisi, dan adanya unsur peri kemanusiaan pada sisi lain, yang melebihi keterbebasan perasaannya dan belenggu kekikiran dan kerakusan. Pada waktu yang sama, hal itu menunjukkan adanya rasa kesetiakawanan sosial dan rasa senasib sepenanggungan dengan umatnya. Maka, ini adalah kefardhuan yang memiliki implikasi yang Iuas dan beraneka macam, baik dalam hati sanubari maupun dalam dunia realita.

Al-Qur'an menyebutnya di sini, Iebih dari sekadar melukiskan sifat dan ciri-ciri jiwa yang beriman. Akan tetapi, ia adalah salah satu mata rantai pengobatan penyakit kikir dan tamak dalam surah ini.

“Orang-orang yang mempercayai hari pembalasan. " (al-Ma'aarij: 26)

Sifat ini. berhubungan langsung dengan tema sentral surah, dan pada waktu yang sama ia melukiskan garis pokok ciri-ciri jiwa yang beriman. Maka, mempercayai hari pembalasan adalah separuh dari iman, dan ia memiliki pengaruh yang pasti terhadap manhaj kehidupan, baik dalam perasaan maupun dalam perilaku. Timbangan di tangan orang yang mempercayai hari pembalasan itu berbeda dengan timbangan yang ada di tangan orang yang mendustakan atau meragukannya. Yaitu, timbangan kehidupan, timbangan nilai, timbangan amal, dan timbangan peristiwa-peristiwa.

Orang yang percaya kepada hari pembalasan beramal dengan memperhatikan timbangan langit, bukan timbangan bumi; dan hisab (perhitungan) akhirat, bukan hisab dunia. Ia terima semua peristiwa yang baik dan yang buruk dengan memperhitungkannya sebagai pendahuluan yang kelak akan diperoleh balasannya di sana nanti. Maka, ia akan menyandarkan kepadanya semua hasil yang dinantikan ketika ia menimbang dan menakarnya.

Sedangkan, orang yang mendustakan hari pembalasan, menghitung segala sesuatu dengan perhitungan sesuatu yang terjadi dalam kehidupan dunia yang singkat dan terbatas. Ia bergerak dan beraktivitas untuk sesuatu yang terbatas di bumi yang terbatas dan dalam masa yang terbatas oleh usia ini pula. Karena itu, hisabnya sering berubah-ubah, berbeda antara akibat dan pertimbangannya, dan berakhir pada akibat fatal yang melebihi keterbatasan ruang dan waktu yang memang terbatas ini. Akibatnya, ia sengsara, miskin, tersiksa, dan goncang hatinya. Karena, apa yang terjadi pada bagian kehidupan yang dipenuhi dengan angan-angan, perhitungan-perhitungan, dan perkiraan-perkiraannya ini sering tidak menenangkan hati, tidak menyenangkan, tidak adil, dan tidak rasional, selama tidak disadarkan pada bagian Iain yang Iebih besar dan Iebih panjang yakni iman kepada hari pembalasan.

Maka, celakalah orang yang tidak menghitung dengan perhitungan akhirat, atau mungkin juga akan menyengsarakan orang di sekitarnya. Tidak akan dapat tegak lurus kehidupannya yang tinggi dan tidak dijumpai balasannya di dunia ini. Karena itu, percaya kepada hari pembalasan merupakan bagian iman yang dapat menegakkan manhaj kehidupan dalam Islam.

"Orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya). " (al-Ma'aarij: 27-28)

Ini adalah tingkatan yang Iain di balik kepercayaan terhadap hari pembalasan. Yaitu, tingkat sensitivitas yang menggetarkan, kewaspadaan yang penuh kesadaran, dan perasaan mengenai kekurangan dirinya di sisi Allah padahal dia banyak dan rajin beribadah. Ia takut sewaktu-waktu hatinya berpaling dan ia layak mendapatkan azab. Karena takut, ia lantas menghadapkan diri kepada Allah untuk mendapatkan perlindungan dan pemeliharaan.

Rasulullah saw., orang yang tiada bandingnya tentang kedekatannya kepada Allah dan mengetahui bahwa Allah telah memilih dan memeliharanya, selalu merasa takut terhadap azab Allah. Beliau yakin bahwa amalan beliau saja tidak dapat melindunginya dan memasukkannya ke surga kecuali dengan kuunia dan rahat Allah. Beliau bersabda kepada sahabat-sahabatnya,

« لَنْ يُدْخِلَ الْجَنَّةَ أَحَدًا عَمَلُهُ »قَالُوا : وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ ؟قَالَ : وَلَا أَنَا، إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللهُ بِرَحْمَتِهِ

"Amal seseorang tidak akan dapat memasukkannya ke surga. " Para sahabat bertanya, 'Tidak juga engkau wahai Rasulullah. Beliau menjawab, 'Tidak juga aku, kecuali karena Allah meliputiku dengan rahmat-Nya. " (HR Bukhari, Muslim, dan an-Nasa'i)

Di dalam firman Allah, "Sesunguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya)", terdapat isyarat yang menunjukkan sensitivitas terus-menerus yang tidak pernah teralpakan sedetik pun. Karena, hal-hal yang mewajibkan azab dapat saja datang sewaktu-waktu sehingga yang bersangkutan lantas layak mendapatkan azab. Allah tidak menuntut kepada manusia melainkan sensitivitas dan kesadaran ini. Apabila mereka dikalahkan oleh kelemahannya, maka rahmat Allah itu luas dan ampunan-Nya senantiasa siap, sedang pintu tobat-Nya tidak pernah tertutup.

Demikianlah penegakan perkara dalam Islam, antara kelalaian dan kegoncangan, dan Islam bukanIah kelalaian dan kegoncangan ini. Sedangkan, hati yang selalu berhubungan dengan Allah akan senantiasa merasa takut dan berharap serta merasa tenang bersama rahmat Allah dalam kondisi apa pun,

"Dan, orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki. Maka, sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. "(al-Ma'aarij : 29-31)

Yang dimaksudkan oleh ayat-ayat ini adalah kesucian ptibadi dan masyarakat. Karena, Islam menghendaki masyarakat yang suci bersih, indah, dan transparan. Masyarakat yang siap menunaikan tugas tugas hidupnya, dan memenuhi panggilan fitrahnya. Akan tetapi, tanpa melakukan demoralisasi yang menghilangkan rasa malu yang indah, dan tanpa kebandelan yang mematikan transparansi yang berslh. Masyarakat yang ditegakkan di atas sendi kekeIuargaan syar'iyyah yang kuat dan tegak, dan rumah tangga yang transparan dan jelas tanda-tandanya. Masyarakat yang setiap anak mengetahui siapa bapaknya, dan kelahirannya tidak memalukan, bukan masyarakat yang perasaan malunya telah sirna dari wajah dan jiwanya. Namun, hubungan biologis itu harus dilakukan berdasarkan prinsip yang suci dan transparan untuk jangka panjang dengan sasaran jelas, yang membangkitkan semangat untuk menunaikan tugas kemanusiaan dan sosial, bukan semata-mata memenuhi naluri kehidupan dan hasrat biologis.

Karena itulah, di Al-Qur'an menyebutkan sifat-sifat orang-orang yang beriman, "Dan, orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki. Maka, sesunguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa yang mencari di balik itu, maka mereka itulah orangorangyang melampaui batas. "

Al-Qur' an menetapkan kesucian hubungan biologis dengan istri dan budak, yang diperoleh dengan jalan yang dibenarkan syara' dan diakui Islam. Yaitu, budak yang diperoleh sebagai tawanan di dalam perang fi sabilillah. Hanya jalan peperangan inilah satu-satunya yang diakui oleh Islam, dan sebagai dasar hukum tawanan ini ialah ayat Al-Qur'an yang tersebut dalam surah Muhammad,

"Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang), maka pancunglah batang leher mereka. Sehinga, apabila kamu telah mengalahkan mereka, maka tawanlah mereka. Sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti. " (Muhammad: 4)

Tetapi, adakalanya terdapat tawanan yang tidak dibebaskan dan tidak ditebus karena kondisi tertentu. Dengan demikian, ia menjadi budak apabila si tentara memperbudak tawanan kaum muslimin dalam bentuk perbudakan apa pun, walaupun disebut dengan istilah Iain. Nah, ketika itulah Islam memperbolehkan bagi pemiliknya saja untuk menggauli budak tersebut. Sedangkan, masalah pembebasannya diserahkan kepada yang bersangkutan dengan berbagai cara yang disyariatkan oleh Islam untuk mengalirkan sumber ini.

Islam menegakkan prinsip-prinsipnya dengan jelas dan bersih. Ia tidak memberi peluang kepada tawanan-tawanan wanita itu untuk melakukan hubungan seks yang kotor sebagaimana yang biasa terjadi dalam peperangan-peperangan zaman dahulu maupun sekarang. Ia tidak pula memanipulasi dengan menyebut mereka sebagai orang merdeka padahal hakikatnya adalah budak.

“Barangsiapa yang mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. "

Dengan demikian, tertutuplah semua pintu hubungan seks yang kotor. Yaitu, hubungan seks yang tidak melalui dua pintu yang jelas dan terang ini (yaitu perkawinan dan perbudakan yang diperoleh dari peperangan). Islam tidak memperbolehkan manusia memenuhi fungsi naluriahnya dengan cara yang kotor, melalui penyimpangan-penyimpangan. Islam itu bersih, jelas, dan lurus.

“Juga orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janji-janjinya. " (al-Ma'aarij : 32)

Ini termasuk standar akhlak yang di atasnya Islan menegakkan tatanan kemasyarakatannya.

Memelihara amanat dan janji di dalam Islam dimulai dengan memelihara amanat terbesar yang telah ditawarkan Allah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Tetapi, karena mereka menolak untuk memikulnya dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, maka dipikullah arnanat itu oleh manusia Hal ini sebagaimana tersebut dalam surah al-Ahzab ayat 72.

Amanat tersebut adalah amanat akidah dan komitmen padanya secara sukarela tanpa ada paksaan.  pun perjanjian pertama yang ditetapkan atas fitrah manusia ketika mereka di dalam sulbi adalah bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan mereka, dan mereka naik saksi atas penciptaan mereka pada perjanjian ini.

Dari amanat dan perjanjian ini timbullah semua amanat dan perjanjian di dalam pergaulan dunia. Islam sangat ketat terhadap masalah amanat dan janji ini. Ia menyebutkannya secara berulang-ulang dan  ipertegasnya, supaya masyarakat ditegakkan di atas landasan yang kokoh dari akhlak, kepercayaan, dan kemantapan. Juga menjadikan penunaian amanat dan perjanjian ini sebagai ciri jiwa yang beriman, sebagaimana ia menjadikan pengkhianatan terhadap amanat dan perjanjian ini sebagai ciri jiwa yang munafik dan kafir. Masalah ini disebutkan dalam banyak tempat di dalam Al-Qur' an dan As-Sunnah sehingga tidak dapat disangsikan lagi betapa pentingnya masalah ini dalam tradisi Islam.

"Orang-orang yang memberikan kesaksiannya. " (al-Ma'aarij: 33)

Allah menggantungkan banyak hak kepada penunaian kesaksian ini. Bahkan, pelaksanaan hudud (hukum had) pun digantungkan pada adanya kesaksian ini. Karena itulah, Allah mempertegas penunaian kesaksian ini dan tidak dibolehkan mengabaikan kesaksian sama sekali, serta tidak dibolehkan menyembunyikan kesaksian di dalam sidang peradilan. Di antara bentuk pemberian kesaksian itu adalah menyampaikannya secara benar tanpa ada kecenderungan kepada salah satu pihak. Bahkan, Allah menghubungkan penunaian kesaksian ini dengan ketaatan kepada-Nya sebagaimana firman-Nya,

“Tegakkanlah kesaksian karena Allah. "(ath-lhalaq: 2)

Di sini Allah menjadikan penunaian kesaksian  sebagai sifat orang-orang beriman yang merupakan salah satu dari sekian bentuk amanat, yang disebutkan sendiri di sini untuk menunjukkan betapa pentingnya hal ini.

Sebagaimana dimulainya penyebutan ciri-ciri jiwa yang beriman dengan shalat, maka penyebutan ini juga diakhiri dengån shalat,

"Dan, orang-orang yang memelihara shalatnya. " (al-Ma'aarij: 34)

Ini adalah sifat yang berbeda dengan sifat kekekalan yang disebutkan pada permulaan tadi. Sifat ini terwujud dengan memelihara shalat pada waktunya, sesuai dengan kefardhuan-kefardhuannya, memenuhi sunnah-sunnahnya, sesuai dengan aturannya, dan ditunaikan dengan ruhnya. Maka, mereka tidak meninggalkannya karena mengabaikannya atau malas, dan tidak menyia-nyiakannya tanpa menyesuaikannya dengan aturan-aturannya. Disebutnya shalat pada permulaan dan penutupan tema ini menunjukkan betapa pentingnya shalat itu, 'dan dengan penyebutan shalat tersebut diakhirilah semua sifat dan ciri-ciri orang-orang yang beriman.

Setelah itu ditetapkanlah tempat kembali golongan manusia beriman setelah sebelumnya ditetapkan tempat kembalinya golongan lain (yang tidak beriman) ,

"Mereka itu (kekal) di surga lagi dimuliakan. " (al-Ma'aarij: 35)

Kalimat singkat dalam nash ini menghimpun antara jenis kenikmatan indrawi dengan jenis kenikmatan spiritual. Mereka berada di dalam surga, dan mereka mendapatkan kemuliaan di sana. Maka, terkumpullah bagi mereka kelezatan dengan kenikmatan disertai dengan kemuliaan, sebagai balasan atas akhlaknya yang mulia, yang menjadi ciri khas orang-orang yang beriman.

Gangguan Kafir Mekah kepada Rasulullah saw.

Paragraf berikutnya menampilkan sebuah pemandangan tentang dakwah di Mekah. Di sana, kaum musyrikin mempercepat langkahnya menuju tempat Rasulullah saw. sedang membaca Al-Qur' an. Kemudian mereka berpencar di sekitar beliau dengan berkelompok-kelompok. Maka Allah menganggap buruk kebergegasan dan berkumpulnya mereka tanpa ada keinginan untuk mendapatkan petunjuk pada apa yang mereka dengarkan itu,

فَمَالِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا قِبَلَكَ مُهْطِعِيْنَۙ ٣٦ عَنِ الْيَمِيْنِ وَعَنِ الشِّمَالِ عِزِيْنَ ٣٧

"Mengapakah orang-orang kafir itu bersegera datang ke arahmu, dari kanan dan dari kiri dengan berkelompok-kelompok ?" (al-Ma'aarij.: 36-37)

"Al-muhthi  " ialah orang yang melangkah dengan cepat sambil mengulurkan lehernya seperti ditarik kendalinya. Sedangkan, "'izin" adalah bentuk jamak dari “izali” seperti kata "fi'ah' baik dalam wazan (timbangan kata) maupun maknanya. Pengungkapan dengan kata ini adalah celaan yang samar mengenai gerakan mereka yang meragukan. Juga untuk menggambarkan gerakan dan keadaan yang menjadi lengkap, dan menunjukkan keheranan terhadap sikap mereka, sekaligus mempertanyakan keadaan mereka. Mereka berbegas-gegas menuju Rasulullah saw. itu bukannya untuk mendengarkan (bacaan AI-Qur'an) dan mencari petunjuk. Akan tetapi, mereka hanya hendak muncul secara mengejutkan untuk mengacaukan. Kemudian mereka kembali berkumpul dengan sesama kelompok mereka untuk membicarakan tipu daya selanjutnya dan menangkal apa yang mereka dengar itu. Mengapa mereka itu?

اَيَطْمَعُ كُلُّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ اَنْ يُّدْخَلَ جَنَّةَ نَعِيْمٍۙ ٣٨

 "Adakah setiap orang dari orang-orang kafir itu ingin masuk ke dalam surga yang penuh kenikmatan.” (al-Maa'rij: 38)

Padahal mereka berada dalam kondisi yang tidak mengantarkannya ke surga yang penuh kenikmatan, malah mengantarkan mereka ke neraka yang apinya menyala-nyala tempat kembalinya orang-orang yang berdosa!

Atau, barangkali mereka mengira bahwa diri mereka adalah agung di sisi Allah, lantas mereka kafir dan mengganggu Rasul, serta mendengarkan Al-Qur’an dan berbisik-bisik satu sama lain untuk membuat tipu daya Kemudian mereka masuk surga, karena di dalam timbangan Allah mereka itu adalah sesuatu yang agung.

"Sekali-kali tidak. Ini sebuah perkataan untuk menghardik dan merendahkan mereka.

كَلَّاۗ اِنَّا خَلَقْنٰهُمْ مِّمَّا يَعْلَمُوْنَ ٣٩

"Sesungguhnya Kami ciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui (air mani). " (al-Ma'aarij: 39)

Mereka mengetahui dari apa mereka diciptakan. Yaitu, dari air hina yang sudah mereka kenal. Ungkapan Al-Qur’an yang indah ini memberikan sentuhan kepada mereka dengan sentuhan yang samar dan dalam. Dengan sentuhan ini dihapusnya kesombongan dan dijungkirkan kecongkakan mereka, tanpa menggunakan sepatah kata pun yang tidak mengenai sasaran, dan tidak menggunakan satu ungkapan pun yang melukai. Akan tetapi, isyarat sepintas ini menggambarkan kerendahan, tidak adanya perhatian, dan ketidakberhargaan dengan gambaran yang sangat sempurna. Maka, bagaimana mereka ingin masuk surga yang penuh kenikmatan itu, sedangkan mereka kafir dan tindakannya amat buruk? Mereka diciptakan dari sesuatu yang mereka ketahui. Dalam pandangan Allah, mereka itu terlalu hina untuk bertindak lancang terhadap-Nya dan merobek sunnah-Nya dalam pembalasan yang adil dengan api yang menyala-nyala lantas diganti dengan surga yang penuh kenikmatan.

Selanjutnya, di dalam menghinakan urusan mereka mengecilkan keadaan mereka, dan menjungkirkan kesombongan mereka, AI-Qur'an menetapkan bahwa Allah berkuasa untuk menciptakan kaum yang lebih baik daripada mereka dan mereka (kaum yang baru) itu tidak lemah serta dapatpergi tanpa terkena balasan azab yang pedih,

فَلَآ اُقْسِمُ بِرَبِّ الْمَشٰرِقِ وَالْمَغٰرِبِ اِنَّا لَقٰدِرُوْنَۙ ٤٠ عَلٰٓى اَنْ نُّبَدِّلَ خَيْرًا مِّنْهُمْۙ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوْقِيْنَ ٤١

"Maka, Aku bersumpah dengan Tuhan Yang Mengatur tempat terbit dan terbenamnya matahari, bulan dan bintang bahwa sesungguhnya Kami benar-benar Mahakuasa untuk mengganti (mereka) dengan kaum yang lebih baik dari mereka, dan Kami sekali-kali tidak dapat  dikalahkan. " (al-Ma'aarij: 40-41)

Masalah ini sebenarnya tidak memerlukan sumpah. Akan tetapi, penyebutan tempat terbit dan terbenamnya matahari mengesankan agungnya Sang Maha Pencipta "Masyaariq' dan "maghaarib" (yang diterjemahkan dengan tempat terbit dan terbenamnya matahari) di sini boleh jadi yang dimaksudkan adalah tempat-tempat terbitnya bintang di timur dan di barat yang banyak jumlahnya di alam semesta yang luas ini, sebagaimana boleh jadi yang dimaksudkan adaIah belahan timur dan belahan barat yang berkesinambungan di hamparan bumi ini. Karena, timur dan barat senantiasa berjalan silih berganti setiap waktu di tengah-tengah perputaran bumi pada porosnya dan dalam mengelilingi matahari yang terbit di sebelah timur dan tenggelam di sebelah barat. Apa pun yang dimaksud dengan masyaariq dan maghaarib ini, hal ini mengesankan di dalam hati betapa besarnya alam semesta, dan menunjukkan betapa agungnya Penciptanya. Nah, kalau begitu, apakah urusan makhluk yang diciptakan dari sesuatu yang sudah mereka ketahui itu memerlukan sumpah dengan Tuhan Yang Mengatur tempat terbit dan tenggelamnya matahari, sedangkan Allah Mahakuasa untuk menciptakan kaum yang lebih baik daripada mereka, dan mereka sendiri tidak dapat mendahului-Nya, tidak dapat lepas dari-Nya, dan tidak dapat lari dari tempat kembali yang sudah dipastikan bagi mereka?!

Biarkan Mereka Menghadapi Risiko Perbuatannya di Akhirat Nanti

Ketika pembicaraan sampai pada bagian ini, setelah melukiskan azab yang mengerikan pada hari yang disaksikan itu, dan setelah melukiskan kemuliaan nikmat bagi orang-orang mukmin dan kehinaan keadaan orang-orang kafir, maka ayat-ayat berikutnya ditujukan kepada Rasulullah saw. agar membiarkan mereka menghadapi hari kiamat dan azab itu. Ialu dilukiskanlah pemandangan mereka di sana dengan pemandangan yang menyedihkan dan penuh kehinaan.

فَذَرْهُمْ يَخُوْضُوْا وَيَلْعَبُوْا حَتّٰى يُلٰقُوْا يَوْمَهُمُ الَّذِيْ يُوْعَدُوْنَۙ ٤٢ يَوْمَ يَخْرُجُوْنَ مِنَ الْاَجْدَاثِ سِرَاعًا كَاَنَّهُمْ اِلٰى نُصُبٍ يُّوْفِضُوْنَۙ ٤٣ خَاشِعَةً اَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ۗذٰلِكَ الْيَوْمُ الَّذِيْ كَانُوْا يُوْعَدُوْنَ ࣖ ٤٤

"Maka, biarkanlah mereka tengelam (dalam kebatilan) dan bermain-main sampai mereka menjumpai hari yang diancamkan kepada mereka.  hari mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala (sewaktu di dunia), dalam keadaan mereka menekurkan pandangannya (serta) diliputi kehinaan. Itulah hari yang dahulunya diancamkan kepada maeka. "(al-Ma'aarij: 42-44)

Khithab ini mengandung penghinaan terhadap keadaan mereka dan ancaman untuk mereka, yang menimbulkan rasa takut. Pemandangan mereka dengan segala keadaan dan gerak mereka yang demikian pada hari kiamat itu juga menimbulkan rasa  takut, sebagaimana pengungkapan tentang pelecehan dan penghinaan terhadap mereka itu sangat sesuai dengan kesombongan diri mereka dengan kedudukan mereka

Mereka yang keluar dari kubur dengan bergegas-gegas itu seakan-akan sedang pergi kepada berhala-berhala sembahan mereka. Penghinaan yang demikian ini sesuai sekali dengan keadaan mereka sewaktu di dunia. Dahulu mereka bergegas-gegas menuju patung-patung mereka pada hari-hari besar, dan mereka berkumpul di sekitarnya. Maka, kini mereka sedang bergegas-gegas, tetapi keadaan pada hari ini jauh berbeda dengan hari itu!

Kemudian, lengkaplah penyebutan keadaan mereka dengan firman-Nya,

"Dalam keadaan mereka menekurkan pandangannya (serta) diliputi kehinaan. “

Dari celah-celah kalimat ini kita melihat keadaan mereka secara lengkap. Dan, dari roman muka mereka tampaklah bagi kita suatu gambaran yang jelas, gambaran manusia yang hina dan menderita Karena sewaktu di dunia, mereka suka mengada-ada dan bermain-main, maka pada hari ini mereka menjadi orang yang hina dan pesakitan.

"1tulah hari yang dahulunya diancamkan kepada mereka. "

Yang selalu mereka sangsikan, mereka dustakan, dan mereka minta segera didatangkan!

Dengan demikian, serasilah antara permulaan dan penutupan surah. Sempurnalah mata rantai pengobatan panjang tentang persoalan hari ke bangkitan dan pembalasan. Maka, selesailah salah satu putaran dari perjalanan peperangan yang panjang antara pandangan hidup jahiliah dan pandangan hidup islami.

Tafsir Surah At-Taghabun