Pertama: Makna Al-I’jab bin Nafs
Penyakit kelima yang menjangkiti sebagian aktivis (pekerja
dakwah), yang mana mereka harus bersungguh-sungguh mengobati, membebaskan diri,
bahkan waspada dan membentengi diri darinya, adalah: Kekaguman pada diri
sendiri (Ujub).
Agar pembahasan kita mengenai penyakit ini memiliki dimensi
yang jelas dan batasan yang terukur, kita akan membaginya sebagai berikut:
Makna Al-I’jab bin Nafs secara Bahasa:
Secara etimologi (bahasa), istilah Al-I’jab bin Nafs
merujuk pada:
- (a)
Kegembiraan dan Anggapan Baik: Anda berkata: "Amruhu
a'jabahu" (perkara itu membuatnya takjub), artinya membuatnya
senang. "A'jaba bihi" artinya merasa senang dengannya. Di
antaranya adalah firman Allah Ta'ala:
"Sesungguhnya budak perempuan yang beriman lebih
baik dari perempuan musyrik, meskipun dia menarik hatimu (a’jabatkum)."
(QS. Al-Baqarah: 221).
"Katakanlah: Tidak sama yang buruk dengan yang baik,
meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu (a’jabaka)." (QS.
Al-Ma'idah: 100).
"...seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan
(a’jaba) para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat
warnanya kuning." (QS. Al-Hadid: 20).
- (b)
Keangkuhan atau Menganggap Besar: Anda berkata: "A'jabahu
al-amru", artinya dia merasa bangga dengannya, menganggapnya
agung dan besar. Seorang laki-laki yang "Mu’jab" adalah
orang yang sombong atau mengagung-agungkan apa yang ada pada dirinya, baik
itu hal baik maupun buruk. Di antaranya firman Allah Ta'ala:
"...dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu
kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu (a’jabatkum katsratukum), maka
jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun."
(QS. At-Tawbah: 25).
Makna secara Istilah:
Adapun dalam istilah para dai atau aktivis, I'jab bin
Nafs adalah: Perasaan senang atau gembira terhadap diri sendiri serta
apa yang keluar darinya, baik berupa perkataan maupun perbuatan, tanpa adanya
sikap melampaui batas terhadap orang lain. Hal ini berlaku baik perkataan
dan perbuatan tersebut berupa kebaikan atau keburukan, terpuji maupun tercela.
- Jika
perasaan tersebut disertai dengan sikap melampaui batas terhadap orang
lain dengan cara menghina dan meremehkan apa yang mereka lakukan, maka itu
disebut Ghurur (terpedaya) atau kekaguman diri yang sangat.
- Jika
disertai dengan sikap meremehkan orang lain secara personal (fisik/zatnya)
dan merasa lebih tinggi di atas mereka, maka itu disebut Takabbur
(sombong) atau kekaguman diri yang akut.
Kedua: Sebab-Sebab Kekaguman pada Diri Sendiri
Terdapat sebab-sebab yang mengarah pada penyakit ujub ini,
di antaranya:
1. Pola Asuh Awal (Lingkungan Pertumbuhan):
Terkadang sebabnya adalah lingkungan masa kecil. Seseorang
mungkin tumbuh di antara orang tua (atau salah satunya) yang memiliki sifat
suka dipuji, terus-menerus menyucikan diri sendiri (baik dengan kebenaran
maupun kebatilan), serta sulit menerima nasihat dan arahan. Anak tersebut
kemudian meniru mereka, dan seiring berjalannya waktu, ia terpengaruh hingga
sifat ujub menjadi bagian dari kepribadiannya, kecuali bagi mereka yang
dirahmati Allah.
Inilah rahasia mengapa Islam menekankan agar orang tua
berkomitmen pada manhaj Allah, sebagaimana yang telah kami jelaskan pada
penyakit kedua (Penyakit Israf/Berlebihan). Hanya manhaj Allah-lah yang mampu
melindungi orang tua dari penyimpangan, sehingga mereka layak menjadi teladan
bagi anak-anaknya.
2. Sanjungan dan Pujian di Hadapan Muka tanpa
Mengindahkan Adab Syar'i:
Sebagian orang, ketika dipuji langsung di hadapannya tanpa
ikatan adab syar'i, akan dihinggapi bisikan setan karena ketidaktahuannya akan
tipu daya iblis. Ia mulai berpikir bahwa ia dipuji karena memang memiliki bakat
yang tidak dimiliki orang lain. Bisikan ini terus mengejarnya hingga ia
terjangkit penyakit ujub. Inilah rahasia mengapa Rasulullah ﷺ mencela pujian di
hadapan muka dan menekankan pentingnya adab jika memang harus memuji.
Diriwayatkan dari Mujahid, dari Abu Ma’mar, ia berkata:
"Seorang laki-laki berdiri memuji salah seorang gubernur, maka Miqdad bin
Al-Aswad menaburkan debu ke wajah orang itu dan berkata: 'Rasulullah ﷺ memerintahkan kami
untuk menaburkan debu ke wajah orang-orang yang suka memuji.'"
Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Abi Bakrah, dari ayahnya:
"Seorang laki-laki memuji orang lain di dekat Nabi ﷺ, maka beliau
bersabda: 'Celaka kamu! Kamu telah memenggal leher kawanmu!' (beliau
mengucapkannya berkali-kali). 'Jika salah seorang di antara kalian harus
memuji, maka katakanlah: Aku mengira fulan begini, dan Allah-lah yang
menghisabnya, dan aku tidak menyucikan seorang pun di hadapan Allah. Aku
mengiranya begini dan begitu (jika ia memang mengetahuinya).'”
3. Berteman dengan Orang-Orang yang Ujub:
Seseorang sangat mudah meniru dan terpengaruh oleh temannya,
apalagi jika temannya memiliki kepribadian yang kuat dan pengalaman luas,
sementara ia sendiri adalah orang yang lalai dan polos. Jika temannya
terjangkit penyakit ujub, maka "infeksinya" akan menular kepadanya.
Inilah rahasia mengapa Islam menekankan pentingnya memilih teman agar
membuahkan hasil yang baik.
4. Terpaku pada Nikmat dan Melupakan Pemberi Nikmat:
Ada tipe aktivis yang ketika Allah beri nikmat berupa harta,
ilmu, kekuatan, atau kedudukan, ia hanya melihat pada nikmat tersebut dan lupa
pada Sang Pemberi Nikmat. Di bawah kilauan bakatnya, jiwanya membisikkan bahwa
ia mendapatkan semua itu karena kelebihan yang ia miliki. Ini persis seperti
perkataan Karun: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu
yang ada padaku." (QS. Al-Qashash: 78). Perasaan ini terus mendesaknya
hingga ia merasa telah mencapai puncak, lalu ia merasa bangga pada dirinya
sendiri meskipun ia berada dalam kebatilan.
Inilah rahasia mengapa Islam menegaskan bahwa sumber segala
nikmat adalah Allah:
"Dan segala nikmat yang ada padamu, maka dari
Allah-lah datangnya..." (QS. An-Nahl: 53).
"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam
keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran,
penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur." (QS. An-Nahl: 78).
Bahkan seorang Muslim diajarkan bermunajat setiap pagi dan
sore sebanyak tiga kali: "Ya Allah, nikmat apa pun yang ada padaku di
pagi ini atau pada salah satu makhluk-Mu, maka itu hanya dari-Mu semata, tidak
ada sekutu bagi-Mu. Bagi-Mu segala puji dan syukur."
5. Tampil ke Depan (Menjadi Pemimpin) Sebelum Matang dan
Sempurnanya Tarbiyah:
Kondisi amal Islami terkadang menuntut seseorang untuk
tampil memimpin sebelum pribadinya matang. Saat itulah setan masuk dan
membisikkan bahwa mereka terpilih karena kualifikasi dan bakat luar biasa yang
mereka miliki. Karena kebodohan akan tipu daya setan, mereka mempercayainya dan
mengangkat derajat diri melebihi porsinya.
Inilah rahasia mengapa Islam sangat mendorong tafaqquh
(pendalaman ilmu) sebelum seseorang memegang kepemimpinan. Sebagaimana firman
Allah:
"Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di
antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang
agama..." (QS. At-Tawbah: 122).
Nabi ﷺ
bersabda: "Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan, maka Dia akan
memahamkannya dalam urusan agama."
Umar bin Khattab ra. berkata: "Tafaqquh-lah
(belajarlah) sebelum kalian menjadi pemimpin." Artinya, pelajarilah
ilmu sebelum kalian menjadi tokoh atau pemegang tanggung jawab, agar kalian
menyadari penyakit-penyakit dalam kepemimpinan dan dapat menghindarinya.
6. Kelalaian atau Kebodohan terhadap Hakikat Diri:
Seseorang yang lupa bahwa ia diciptakan dari air yang hina
(mani) yang keluar dari tempat keluarnya air seni, bahwa kekurangan adalah
sifat dasarnya, dan bahwa akhirnya ia akan dilemparkan ke tanah menjadi bangkai
busuk yang baunya dijauhi makhluk lain, maka ia akan merasa dirinya
"sesuatu". Setan memperkuat pikiran ini hingga ia menjadi ujub.
Inilah rahasia mengapa Al-Qur'an dan Sunnah berulang kali
berbicara tentang hakikat manusia dari awal hingga akhirnya:
"Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan
sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia
menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina." (QS. As-Sajdah:
7-8).
"Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke
dalam kubur." (QS. Abasa: 21).
Berikut adalah terjemahan lengkap dan tidak diringkas dari
teks Arab yang Anda berikan:
7. Silsilah Keturunan yang Mulia atau Kehormatan
Asal-Usul:
Terkadang sebab dari kekaguman pada diri sendiri (ujub)
adalah silsilah keturunan yang mulia atau kehormatan asal-usul. Hal ini
dikarenakan sebagian aktivis (pekerja dakwah) mungkin merupakan keturunan dari
keluarga yang memiliki nasab mulia atau asal-usul yang terhormat. Hal tersebut
terkadang mendorongnya untuk merasa hebat terhadap dirinya sendiri dan apa yang
lahir darinya, seraya lupa atau pura-pura lupa bahwa nasab atau asal-usul
tidaklah dapat memajukan atau memundurkan seseorang. Justru yang menjadi
sandaran utama adalah amal yang dibarengi dengan usaha dan kerja keras.
Demikianlah, kemuliaan nasab atau kehormatan asal-usulnya berakhir pada
kekaguman pada diri sendiri.
Mungkin itulah rahasia penekanan Islam pada aspek amal, dan
hanya amal semata:
Sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta’ala:
"Apabila sangkakala ditiup maka tidak ada lagi
pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak pula mereka saling
bertanya." (QS. Al-Mu'minun: 101).
"(Pahala Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu
yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang
mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan
ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari
Allah. Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun
wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu akan masuk ke dalam surga
dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun." (QS. An-Nisa: 123-124).
Dan sebagaimana sabda Nabi ﷺ ketika diturunkan kepada beliau ayat: "Dan
berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat." Beliau
bersabda:
"Wahai kaum Quraisy, belilah diri kalian dari Allah
(tebuslah diri kalian dengan amal saleh), aku tidak dapat menolong kalian
sedikit pun dari (adzab) Allah. Wahai Bani Abdul Muthalib, aku tidak dapat
menolong kalian sedikit pun dari Allah. Wahai Abbas bin Abdul Muthalib, aku
tidak dapat menolongmu sedikit pun dari Allah. Wahai Fatimah binti Rasulullah,
mintalah kepadaku apa saja yang engkau mau, namun aku tidak dapat menolongmu
sedikit pun dari Allah."
8. Berlebihan dalam Memberikan Penghormatan dan Takzim:
Penyebab ujub lainnya adalah sikap berlebihan dalam
memberikan penghormatan dan takzim. Hal ini terjadi karena sebagian aktivis
mendapatkan penghormatan dan takzim dari orang lain secara berlebih-lebihan
yang bertentangan dengan petunjuk Islam dan ditolak oleh syariat Allah yang
lurus, seperti terus-menerus berdiri selama ia berdiri atau duduk, mencium
tangannya, membungkuk kepadanya, berjalan di belakangnya, dan lain sebagainya.
Terhadap perilaku ini, jiwanya mungkin membisikkan bahwa ia
tidak mendapatkan penghormatan ini kecuali karena ia memiliki bakat dan
karakteristik yang tidak dimiliki orang lain. Bisikan ini terus menguat dan
menghebat hingga menjadi kekaguman pada diri sendiri —kita berlindung kepada
Allah darinya. Mungkin inilah rahasia larangan Nabi ﷺ kepada para sahabatnya untuk berdiri
menyambutnya dan mengagungkannya sebagaimana bangsa ajam (non-Arab)
mengagungkan raja-raja mereka. Beliau bersabda:
"Barangsiapa yang suka orang-orang berdiri untuknya,
maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka."
Suatu hari Nabi ﷺ keluar menemui para sahabatnya dengan bersandar pada tongkat,
lalu mereka berdiri untuknya, maka beliau bersabda:
"Janganlah kalian berdiri sebagaimana bangsa ajam
berdiri, di mana sebagian mereka mengagungkan sebagian yang lain."
9. Berlebihan dalam Ketundukan dan Ketaatan:
Penyebab ujub lainnya adalah berlebihan dalam
ketundukan dan ketaatan. Sebagian aktivis mungkin mendapatkan ketundukan dan
ketaatan dari orang lain secara berlebihan yang tidak sesuai dengan manhaj
Allah, seperti ketundukan dan ketaatan dalam segala hal, baik itu perkara
makruf maupun mungkar, baik maupun buruk.
Sebagai konsekuensinya, jiwanya mungkin membujuknya bahwa
ketundukan dan ketaatan itu tidak akan ada kecuali karena ia memiliki
karakteristik dan keistimewaan yang tidak dimiliki orang lain. Ia mungkin
mempercayai hal itu sehingga terjadilah kekaguman pada diri sendiri. Mungkin
itulah sebagian rahasia penekanan Islam bahwa ketundukan dan ketaatan itu hanya
dalam perkara makruf, bukan dalam kemaksiatan.
Nabi ﷺ
bersabda:
"Wajib bagi setiap Muslim untuk mendengar dan taat
dalam hal yang ia sukai maupun yang ia benci, kecuali jika ia diperintahkan
untuk berbuat maksiat. Jika ia diperintahkan berbuat maksiat, maka tidak ada
kewajiban mendengar maupun taat."
10. Lalai terhadap Dampak yang Ditimbulkan oleh Ujub:
Terakhir, penyebab ujub adalah lalai terhadap dampak
dan konsekuensinya. Hal ini dikarenakan perilaku manusia dalam hidup seringkali
bersumber dari kesadaran atau ketidaksadarannya terhadap konsekuensi dari
perilaku tersebut. Oleh karena itu, jika seorang aktivis atau dai tidak
menyadari konsekuensi yang timbul dari sifat ujub, ia mungkin akan
terjangkit penyakit tersebut dan menganggapnya sebagai perkara yang sepele dan
ringan, yang tidak perlu ia perhatikan atau tidak perlu membuang waktu untuk
memikirkannya. Mungkin itulah rahasia mengapa agama ini sangat antusias
menyajikan prinsip-prinsip dan tujuannya dibarengi dengan dampak serta
konsekuensinya.
Ketiga: Dampak Kekaguman pada Diri Sendiri (Al-I’jab
bin Nafs)
Kekaguman pada diri sendiri memiliki dampak yang buruk dan
konsekuensi yang fatal, baik bagi para pelakunya maupun bagi amal Islami.
Berikut adalah sebagian dari dampak dan konsekuensi tersebut:
Terhadap Para Pelaku (Aktivis):
Dampaknya terhadap individu adalah:
- Terjatuh
ke dalam Jeratan Ghurur (Terpedaya) bahkan Takabur (Sombong):
Dampak pertama adalah terjatuh ke dalam jeratan ghurur bahkan takabur.
Orang yang kagum pada dirinya sendiri seringkali mengabaikan dirinya,
serta menghapus dirinya dari proses pemeriksaan dan introspeksi (muhasabah).
Seiring berjalannya waktu, penyakit ini membengkak dan berubah menjadi
sikap merendahkan serta meremehkan apa yang lahir dari orang lain (itulah ghurur),
atau berubah menjadi perasaan lebih tinggi dari orang lain dan menghina
zat serta personalitas mereka (itulah takabur). Kedua sifat ini memiliki
dampak berbahaya dan konsekuensi membinasakan yang akan kita bahas detail
pada bagiannya masing-masing, insya Allah.
- Terhalang
dari Taufik Ilahi: Dampak kedua adalah terhalang dari pertolongan
Allah. Orang yang ujub seringkali berakhir dengan terpaku pada
zatnya sendiri dan bergantung padanya dalam segala hal, seraya lupa pada
Penciptanya, Pengaturnya, dan Pemberi segala nikmat lahir maupun batin.
Akhir dari orang semacam ini adalah kegagalan dan ketidaksuksesan dalam
apa yang ia lakukan maupun yang ia tinggalkan. Karena sunnatullah pada
makhluk-Nya adalah tidak memberikan taufik kecuali kepada mereka yang
melepaskan diri dari kepentingan pribadinya, mengeluarkan bagian setan
dari dirinya, dan bersandar sepenuhnya kepada Allah. Sebagaimana
firman-Nya: "Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari
keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan
Kami." (QS. Al-Ankabut: 69). Serta dalam Hadis Qudsi: "...dan
hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah
hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi
pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar..."
- Runtuh
di Saat Ujian dan Kesulitan: Dampak ketiga adalah keruntuhan di saat
menghadapi cobaan. Orang yang ujub sering mengabaikan penyucian
jiwa (tazkiyah) dan perbekalan di jalan dakwah. Maka ia akan runtuh
dan melemah pada kesulitan pertama yang ia hadapi, karena ia tidak
mengenal Allah di waktu lapang sehingga Allah "tidak
mengenalnya" (memberi pertolongan khusus) di waktu sempit.
Sebagaimana firman Allah: "Sesungguhnya Allah beserta orang-orang
yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS.
An-Nahl: 128). Nabi ﷺ
juga menasihati Ibnu Abbas: "Jagalah Allah, niscaya engkau
mendapati-Nya di hadapanmu. Kenalilah Allah di waktu lapang, niscaya Dia
akan mengenalmu di waktu sempit."
- Dijauhi
dan Dibenci oleh Orang Lain: Orang yang ujub telah memaparkan
dirinya pada kebencian Allah. Barangsiapa yang dibenci Allah, maka
penduduk langit akan membencinya, dan diletakkanlah kebencian untuknya di
bumi. Orang-orang akan menjauh darinya, membencinya, dan tidak tahan
melihatnya apalagi mendengar suaranya. Sebagaimana dalam hadis: "Sesungguhnya
Allah jika mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril... dan jika Allah
membenci seorang hamba, Dia memanggil Jibril dan berfirman: 'Sesungguhnya
Aku membenci si fulan, maka bencilah dia'..." hingga akhirnya
diletakkanlah kebencian baginya di bumi.
- Siksa
atau Balasan Ilahi di Dunia atau Akhirat: Orang yang ujub memaparkan
dirinya pada hukuman Allah di dunia, misalnya ditenggelamkan ke dalam bumi
sebagaimana umat terdahulu, atau setidaknya tertimpa kegelisahan dan
gangguan psikologis, atau di akhirat dengan diazab di neraka. Nabi ﷺ
bersabda: "Ketika seorang laki-laki berjalan dengan mengenakan
pakaian yang membanggakan dirinya, rambutnya tersisir rapi, tiba-tiba
Allah menenggelamkannya ke dalam bumi, maka ia terus terperosok ke
dalamnya hingga hari kiamat."
Terhadap Amal Islami:
Adapun dampaknya terhadap kerja-kerja dakwah (amal Islami)
berkisar pada:
- Mudah
Disusupi dan Dihancurkan: Atau setidaknya digagalkan sehingga tidak
membuahkan hasil kecuali setelah biaya yang besar dan waktu yang lama. Hal
ini karena runtuhnya para aktivis yang ujub di saat ujian, serta
terhalangnya mereka dari ketajaman mata hati (bashirah) yang
semestinya membantu mengenali orang-orang yang berpura-pura dan membedakan
penyusup dari yang lainnya.
- Berhenti
atau Lambatnya Perekrutan Pendukung: Mengingat orang-orang menjauh dan
benci kepada aktivis yang ujub. Hal ini mengakibatkan panjangnya
perjalanan dan besarnya biaya yang harus dikeluarkan.
Itulah dampak-dampak kekaguman pada diri sendiri terhadap
para pelaku dakwah dan terhadap amal Islami itu sendiri.
Keempat: Manifestasi (Gejala) Kekaguman pada Diri Sendiri
Penyakit ini dapat dideteksi melalui gejala-gejala berikut:
1. Menyucikan Diri Sendiri (Tazkiyatun Nafs):
Gejala pertama dari ujub adalah terus-menerus
menyucikan diri dan memuji diri sendiri, serta membanggakan nilai (prestasi)
dirinya, seraya melupakan atau pura-pura lupa akan firman Allah Azza wa Jalla:
"Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah
yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa." (QS. An-Najm:
32).
2. Sulit Menerima Nasihat:
Gejala kedua adalah membangkang terhadap nasihat, bahkan
merasa benci terhadapnya. Padahal, tidak ada kebaikan bagi suatu kaum yang
tidak saling menasihati dan tidak mau menerima nasihat.
3. Merasa Senang Mendengar Aib Orang Lain, Terutama Rekan
Sejawat:
Gejala ketiga adalah perasaan gembira saat mendengar aib
atau kekurangan orang lain, khususnya mereka yang setara/rekan sejawatnya.
Hingga Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata: "Sesungguhnya di
antara tanda orang munafik adalah ia merasa senang jika mendengar aib salah
seorang rekannya."
Kelima: Jalan Pengobatan terhadap Kekaguman pada Diri
Sendiri
Selama kita telah mengetahui sebab dan pemicu ujub,
maka mudah bagi kita untuk mengetahui jalan pengobatan dan mencabut akar
penyakit ini, bahkan mencegahnya. Hal ini terangkum dalam poin-poin berikut:
1. Selalu Mengingat Hakikat Diri Manusia:
Hendaknya orang yang ujub memahami bahwa jiwanya yang
ada di dalam raganya, jika bukan karena tiupan ruh dari Allah, maka tidak akan
bernilai apa-apa. Manusia diciptakan dari tanah yang diinjak kaki, kemudian
dari air yang hina (mani) yang dipandang jijik oleh orang yang
melihatnya, dan akan dikembalikan lagi ke tanah ini hingga menjadi bangkai yang
busuk, di mana semua makhluk lari dari baunya. Di antara masa awal (penciptaan)
dan masa kembali (kebangkitan), ia membawa kotoran di dalam perutnya, yaitu
sisa pencernaan yang berbau busuk, dan ia tidak akan merasa nyaman sebelum
membuang kotoran tersebut.
Pengingat seperti ini sangat membantu dalam menundukkan
jiwa, mengembalikannya dari kesesatan, mencabut penyakit ujub, dan
melindunginya agar tidak terjerumus lagi.
Salah seorang ulama salaf pernah mengingatkan hal ini ketika
mendengar orang yang sombong berkata: "Tahukah kamu siapa aku?"
Beliau menjawab: "Ya, aku tahu siapa kamu. Kamu dulunya adalah setetes
sperma yang kotor, nantinya akan menjadi bangkai yang kotor, dan di antara
kedua masa itu kamu membawa kotoran (feses)."
2. Selalu Mengingat Hakikat Dunia dan Akhirat:
Menyadari bahwa dunia adalah ladang untuk akhirat. Sepanjang
apa pun umurnya, dunia pasti akan musnah, sedangkan akhirat adalah yang kekal
dan merupakan negeri ketetapan (darul qarar). Pengingat ini mendorong
seseorang memperbaiki perilakunya atau meluruskan jiwanya yang bengkok sebelum
hidup berakhir dan kesempatan hilang.
3. Mengingat Nikmat-Nikmat Allah yang Meliputi Manusia:
Nikmat Allah mengelilingi manusia dari atas hingga bawah,
sebagaimana firman-Nya:
"Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu
tidak akan mampu menghitungnya." (QS. Ibrahim: 34).
"Dan Dia menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan
batin." (QS. Luqman: 20).
Kesadaran ini akan membuat manusia merasa lemah, fakir, dan
selalu butuh kepada Allah, sehingga membersihkan jiwanya dari penyakit ujub.
4. Merenungkan Kematian:
Merenungkan kematian dan fase-fase setelahnya berupa
kesulitan dan kengerian (alam kubur/mahsyar). Hal ini cukup untuk mencabut rasa
bangga diri bagi mereka yang memiliki hati atau mau menggunakan pendengarannya
dengan saksama.
5. Senantiasa Mendengar atau Mentadabburi Kitabullah dan
Sunnah Nabi ﷺ:
Sebab di dalam keduanya terdapat penjelasan yang
menyembuhkan dan analisis akurat terhadap empat sarana yang disebutkan
sebelumnya. Dengan keduanya, manusia—jika ia objektif dan jujur pada
dirinya—dapat terbebas dari segala penyakit.
6. Senantiasa Menghadiri Majelis Ilmu:
Khususnya majelis yang membahas tentang penyakit-penyakit
jiwa dan cara melepaskan diri darinya. Majelis semacam ini sangat membantu
membersihkan jiwa dari penyakit ujub.
7. Melihat Kondisi Orang Sakit, Orang yang Cacat, Bahkan
Jenazah:
Terutama saat mereka dimandikan, dikafani, dan dikuburkan.
Kemudian berziarah kubur dari waktu ke waktu serta merenungkan nasib para
penghuninya. Hal ini menggerakkan batin manusia untuk mencabut ujub dan
penyakit hati lainnya.
8. Wasiat kepada Orang Tua agar Membebaskan Diri dari
Penyakit Ujub:
Agar mereka menjadi teladan yang baik bagi anak. Jika mereka
pernah berbuat salah (menunjukkan sifat ujub), hendaknya mereka
menjelaskan bahwa itu adalah kesalahan, mereka telah berhenti darinya, dan
mendorong anak untuk bertaubat kepada Allah pula.
9. Memutus Hubungan dengan Teman yang Memiliki Sifat Ujub:
Serta mendekatkan diri kepada orang-orang yang rendah hati (tawadhu)
yang mengetahui kadar dan kedudukan dirinya. Ini membantu proses penyembuhan
dan pencegahan.
10. Menekankan Pentingnya Mengikuti Adab-Adab Syar'i:
Terutama dalam hal memuji, memberikan penghormatan,
ketundukan, dan ketaatan. Serta berpaling dan memberikan teguran keras kepada
mereka yang keluar dari adab-adab ini guna membebaskan jiwa dari ujub.
11. Menunda Tampil di Posisi Depan untuk Sementara Waktu:
Sampai jiwanya tegak (stabil), kepribadiannya kuat, dan
sulit ditembus setan. Hal ini mempermudah jalan pengobatan.
12. Senantiasa Melihat Sirah (Sejarah) Ulama Salaf:
Bagaimana mereka berinteraksi dengan diri mereka sendiri
saat melihat bibit-bibit sifat ini. Hal ini mendorong untuk meneladani atau
setidaknya meniru cara mereka dalam mencabut akar penyakit tersebut.
13. Menempatkan Diri pada Situasi yang Menghancurkan
Keangkuhan:
Secara berkala menempatkan diri pada posisi yang benar,
seperti melayani saudara-saudaranya yang secara kedudukan lebih rendah, membeli
makanan sendiri di pasar, atau membawa barang bawaannya sendiri, sebagaimana
riwayat dari para salaf.
Diriwayatkan dari Umar ra. bahwa ketika sampai di Syam, ia
menjumpai kubangan air. Beliau turun dari untanya, melepas alas kakinya, lalu
menyeberangi air sambil menuntun untanya. Abu Ubaidah bin Al-Jarrah berkata: "Engkau
telah melakukan hal besar hari ini di mata penduduk bumi (dianggap rendah oleh
orang lokal)." Umar memukul dada Abu Ubaidah dan berkata: "Aduh,
andai orang lain yang mengucapkannya, wahai Abu Ubaidah! Sesungguhnya kalian
dulu adalah orang yang paling hina, lalu Allah memuliakan kalian dengan
Rasul-Nya. Maka kapan pun kalian mencari kemuliaan dengan selain-Nya, Allah
akan menghinakan kalian."
Dalam riwayat lain: Saat akan masuk Syam, orang-orang
menyarankan agar beliau naik kendaraan yang lebih mewah agar terlihat wibawa di
depan pembesar Romawi, namun Umar menolak sambil menunjuk ke langit: "Urusan
kemuliaan itu datangnya dari sini (Allah), biarkan jalan untaku ini."
14. Pemantauan dari Orang Lain:
Adanya orang lain yang mendampingi dan memantau hingga ia
benar-benar mampu terbebas dari penyakit ini.
15. Introspeksi Diri (Muhasabah) Secara Rutin:
Agar aib/cacat diri dapat diketahui sejak masih dini,
sehingga mudah diobati dan dicegah.
16. Menyadari Dampak dan Konsekuensi dari Ujub:
Memahami dampak buruknya memiliki pengaruh yang kuat dalam
mengobati dan membentengi diri dari penyakit ini.
17. Memohon Pertolongan kepada Allah Azza wa Jalla:
Melalui doa, istighatsah (mohon bantuan mendesak),
dan bersandar kepada-Nya agar Allah membimbing tangannya, membersihkannya dari
penyakit ini, dan melindunginya dari jatuh kembali. Barangsiapa memohon
pertolongan kepada Allah, niscaya Allah akan menolong dan memberi hidayah ke
jalan yang lurus.
18. Menekankan pada Tanggung Jawab Individu:
Tanpa memandang status sosial atau nasab. Hal ini berperan
besar dalam mendidik jiwa dan menjaganya agar tidak terjerumus lagi ke dalam
jurang kekaguman pada diri sendiri.