Wednesday, May 6, 2026

Hadits Arbain 40: Jangan Menunggu

Hadits Keempat Puluh

«عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي، فَقَالَ: كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ. وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ: إِذَا أَمْسَيْتَ، فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma yang berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memegang bahuku kemudian bersabda, ‘Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau pelintas jalan'. Ibnu Umar berkata, “jika engkau berada di sore hari, engkau jangan menunggu pagi hari. Jika engkau berada di pagi hari, engkau jangan menunggu sore hari. Gunakan kesehatanmu untuk sakitmu dan kehidupanmu untuk kematianmu". (Diriwayatkan Al-Bukhari). [1]

Hadits bab ini diriwayatkan Al-Bukhari dari Ali bin Al-Madini yang berkata, Muhammad bin Abdurrahman Ath-Thafawi berkata kepadaku, Al-A'masy berkata kepadaku, Mujahid berkata kepadaku dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma yang kemudian menyebutkan hadits tersebut. Banyak hafidz hadits mempersoalkan perkataan, "Mujahid berkata kepadaku”. Mereka berkata, "Itu tidak benar”. Mereka juga menolak itu dilakukan Ibnu Al-Madini. Mereka berkata, "Al-A’masy tidak mendengar hadits tersebut dari Mujahid, namun mendengarnya dari Laits bin Abu Sulaim. Ini dikatakan Al-Uqaili [2]) dan lain-lain.

Hadits tersebut juga diriwayatkan At-Tirmidzi [3]) dari Laits dari Mujahid. At-Tirmidzi menambahkan di haditsnya, "Anggaplah dirimu termasuk penghuni kuburan”. At-Tirmidzi juga menambahkan, 'Karena engkau, wahai Abdullah, barangkali tidak tahu apa namamu besok". Hadits tersebut juga diriwayatkan Ibnu Majah tanpa menyebutkan perkataan Ibnu Umar. Imam Ahmad dan An-Nasai meriwayatkan hadits Al-Auzai dari Abdah bin Abu Lubabah dari Ibnu Umar Rodhiyallahu Anhuma yang berkata, "Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memegang sebagian tubuhku kemudian bersabda, Beribadahlah kepada Allah seperti engkau melihat-Nya dan jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau pelintas jalan”. [4]) Abdah bin Abu Lubabah pernah melihat Ibnu Umar, namun ada perbedaan pendapat apakah ia mendengar hadits tersebut darinya atau tidak.

Hadits bab ini merupakan landasan tentang pendeknya angan-angan di dunia dan orang Mukmin tidak pantas menjadikan dunia sebagai tempat domisili yang ia tenteram di dalamnya, namun seyogyanya ia menganggap hidup di dunia ini seperti orang yang sedang bersiap-siap untuk bepergian. Ya, ia menyiapkan perbekalannya untuk bepergian.

Ini sesuai dengan wasiat-wasiat para nabi dan para pengikut mereka. Allah Ta'ala berfirman mengisahkan tentang orang beriman dari keluarga Fir'aun yang berkata,

"Ha,, kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal”. (Ghafir: 39).

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

"Apa urusanku dengan dunia? Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan dunia ialah seperti pengembara yang tidur siang di naungan pohon; ia istirahat kemudian meninggalkannya”. [5])

Di antara wasiat Nabi Isa Alaihis-Salam kepada sahabat-sahabat beliau bahwa beliau berkata kepada mereka, "Seberangilah dunia dan kalian jangan memakmurkannya”.

Juga diriwayatkan dari Nabi Isa Alaihis-Salam yang berkata, "Siapakah yang membangun rumah di atas gelombang laut? Itulah dunia, karenanya, kalian jangan menjadikannya sebagai tempat domisili”. [6])

Seseorang masuk ke tempat Abu Dzar kemudian mengarahkan pandangannya ke rumah Abu Dzar. Orang tersebut berkata, "Hai Abu Dzar, mana perabotanmu?" Abu Dzar berkata, "Kita mempunyai rumah yang sedang kita tuju”. Orang tersebut berkata, "Engkau harus mempunyai perabotan selama engkau berada di sini”. Abu Dzar berkata, "Sesungguhnya pemilik 'rumah' tidak meninggalkan kami di dalamnya”.

Orang-orang memasuki rumah salah seorang shalih dan mengarahkan pandangan ke rumah orang shalih tersebut. Mereka berkata, "Kami lihat rumahmu seperti rumah orang yang akan bepergian”. Orang shalih tersebut berkata, "Apa seperti rumah orang yang akan bepergian? Tidak, namun aku diusir darinya”.

Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu berkata, "Sesungguhnya dunia telah pergi dengan mundur sedang akhirat pergi dengan maju. Masing-masing dari dunia dan akhirat mempunyai anak-anak, karenanya, hendaklah kalian menjadi anak-anak akhirat dan kalian jangan menjadi anak-anak dunia, karena hari ini adalah hari amal tanpa hisab di dalamnya, sedang kelak adalah hari hisab tanpa amal di dalamnya”.

Salah seorang bijak berkata, "Aku heran kepada orang-orang, sedang dunia berpaling darinya dan akhirat datang kepadanya. Ia lebih sibuk dengan sesuatu yang mundur darinya (dunia) dan berpaling dari sesuatu yang maju kepadanya (akhirat)”.

Umar bin Abdul Aziz berkata di khutbahnya, "Sesungguhnya dunia bukan negeri tetap bagi kalian, karena Allah telah menetapkan kehancuran baginya dan memutuskan kepergian bagi penghuninya. Betapa banyak penghuni yang dipercayai tidak lama lagi hancur dan betapa banyak orang mukim yang bergembira tidak lama lagi akan pergi. Karena itu, hendaklah kalian - semoga Allah merahmati kalian - memperbaiki kepergian kalian darinya dengan kendaraan paling baik yang ada pada kalian dan berbekallah, sesungguhnya bekal paling baik ialah takwa”. [7])

Jika dunia bukan negeri domisili dan tempat tetap bagi orang Mukmin, maka orang Mukmin di dalamnya harus bersikap salah satu dari sikap;

Pertama, seperti orang asing yang menetap di negeri asing dan obsesinya ialah mencari bekal untuk pulang ke tanah airnya.

Kedua, seperti orang asing yang tidak menetap sama sekali, namun pada malam dan siangnya ia berjalan menuju negeri abadi. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berwasiat kepada Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma agar ia di dunia ini berada di antara salah satu dari kedua sikap berikut;

Pertama: Orang Mukmin menempatkan dirinya di dunia ini seperti orang asing dan ia membayangkan bisa menetap, namun di negeri asing. Hatinya tidak menyatu dengan negeri asing tersebut namun menyatu dengan tanah airnya, tempat ia kembali kepadanya. Ia bermukim di dunia untuk menyelesaikan tujuan persiapannya untuk pulang ke tanah airnya. Al-Fudhail bin Iyadh berkata, "Orang Mukmin di dunia itu galau dan sedih. Obsesinya ialah menyelesaikan perbekalannya”.

Barangsiapa di dunia dalam keadaan seperti itu, ia tidak mempunyai obsesi selain mencari bekal dengan sesuatu yang bermanfaat baginya untuk kepulangannya ke tanah airnya, tidak bersaing dengan penduduk negeri yang ia asing dalam kejayaan mereka, dan tidak berkeluh-kesah dengan kehinaan di tengah-tengah mereka. Al-Hasan berkata, "Orang Mukmin di dunia itu seperti orang asing yang tidak berkeluh-kesah karena kehinaan di dalamnya dan tidak bersaing memperebutkan kejayaannya. Ia mempunyai urusan sedang manusia lainnya mempunyai urusan yang lain”.

Ketika Nabi Adam Alaihis-Salam dan istrinya ditempatkan di surga kemudian diturunkan darinya, maka keduanya dan anak keturunan keduanya yang shalih dijanjikan dikembalikan kepadanya. Jadi, orang Mukmin yang selalu merindukan tanah air pertamanya dan mencintai tanah air, hal seperti ini termasuk iman, seperti dikatakan salah seorang penyair,

'Betapa banyak tempat disenangi pemuda

Namun kerinduannya selalu ke tempat pertamanya”.

Salah seorang guru kami [8]) berkata,

"Mari ke surga surga Aden

Karena surga-surga Aden adalah tempatmu yang pertama

dan di dalamnya terdapat kemah-kemah

Namun kita adalah tawanan musuh

Duhai, kita kembali ke tanah air kita dan mengucapkan salam

Mereka menduga bahwa jika orang asing jauh

Dan tanah airnya jauh darinya, maka ia merugi

Adakah keterasingan di atas keterasingan kita

Di mana para musuh menjadi berkuasa atas kita?"

Atha' As-Sulami berkata dalam doanya, "Ya Allah, rahmatilah keterasinganku di dunia, rahmatilah ketakutanku di kubur, dan rahmatilah berdiriku kelak di hadapan-Mu”. [9])

Al-Hasan berkata, disampaikan kepadaku bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada para sahabat,

"Sesungguhnya perumpamaanku dan kalian dengan dunia ialah seperti kaum yang melintasi padang pasir. Ketika mereka tidak tahu sebagian besar perjalanan yang telah mereka lalui atau perjalanan yang masih tersisa, mereka kehabisan perbekalan, letih, dan berada di antara tepi padang pasir tersebut tanpa perbekalan dan muatan. Mereka semua yakin mati. Ketika mereka dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba keluarlah pada mereka seseorang yang mengenakan pakaian dan kepalanya meneteskan air. Mereka berkata, 'Orang ini baru datang dari perkampungan dan ia tidak datang kepada kalian kecuali dari tempat dekat. 'Ketika orang tersebut tiba di tempat mereka, ia berkata, ‘Ada apa dengan kalian?' Mereka berkata, 'Seperti yang engkau lihat sendiri'. Orang tersebut berkata, ‘Bagaimana pendapat kalian jika aku tunjukkan kalian ke air segar dan taman-taman hijau, apa yang akan kalian kerjakan?' Mereka berkata, 'Kami tidak akan membangkang sedikit pun kepadamu'. Orang tersebut berkata, ‘Perjanjian kalian dengan Allah'. Mereka pun memberikan perjanjian dengan Allah kepada orang tersebut bahwa mereka tidak akan membangkang sedikit pun kepadanya. Kemudian orang tersebut mengantar mereka ke air segar dan taman-taman hijau. Orang tersebut menetap bersama mereka beberapa lama seperti yang dikehendaki Allah kemudian berkata, 'Hai manusia, mari kita berangkat'. Mereka berkata, 'Ke mana?' Orang tersebut berkata, 'Ke air yang bukan seperti air kalian dan taman yang bukan seperti taman kalian'. Orang-orang terkemuka dari mereka dan berjumlah mayoritas berkata, ‘Demi Allah, itu tidak kami dapatkan bahkan kami menduga bahwa kami mustahil mendapatkannya dan kami tidak bisa membuat kehidupan yang lebih baik daripada kehidupan sekarang ini'. Sekelompok dari mereka dan mereka minoritas berkata, 'Bukankah kalian telah memberikan perjanjian kalian dengan Allah kepada orang ini bahwa kalian tidak akan membangkang sedikit pun kepadanya? Sungguh, ia berkata benar kepada kalian pada awal perkataanya dan demi Allah ia akan berkata benar kepada kalian pada akhir perkataannya'. Akhirnya orang tersebut berangkat dengan orang-orang yang mengikutinya sedang orang-orang lainnya tidak berangkat. Tiba-tiba musuh berhenti di tempat orang-orang yang tidak berangkat tersebut kemudian mereka menjadi di antara tawanan dan korban”. (Diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya). [10]

Hadits semakna diriwayatkan Imam Ahmad secara ringkas dari Ali bin Zaid bin Jud'an dari Yusuf bin Mihran dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma dari Nabi Shallallahu Alailu wa Sallam. [11])

Perumpamaan di atas sangat sinkron dengan kondisi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersama umat beliau. Ketika beliau datang kepada mereka, saat itu orang-orang Arab adalah manusia paling hina, paling minoritas, paling buruk kehidupannya di dunia dan akhirat. Kemudian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengajak mereka meniti jalan keselamatan dan petunjuk-petunjuk kejujuran beliau terlihat oleh mereka sebagaimana terlihatnya kejujuran orang yang datang kepada kaum di padang pasir di hadits di atas ketika kaum tersebut kehabisan perbekalan dan punggung mereka letih kemudian orang tersebut datang dengan mengenakan pakaian dan kepalanya meneteskan air. Ia tunjukkan kaum tersebut ke air dan taman yang hijau. Di sisi lain, orang-orang Arab melihat kejujuran sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melalui penampilan dan sikap beliau, karenanya mereka mengikuti beliau. Beliau menjanjikan kepada orang-orang yang mengikuti beliau tentang penaklukan Persia dan Romawi dan pengambilan gudang-gudang kedua negeri tersebut. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang mereka tertipu oleh itu semua dan memerintahkan mereka melintasi dunia dengan berjalan, serius, bersungguh-sungguh untuk mencari akhirat, dan membuat persiapan untuknya. Mereka melihat apa yang beliau janjikan itu terbukti terjadi. Ketika dunia ditaklukkan bagi mereka, sebagian besar manusia sibuk mengumpulkan dan menyimpannya, bersaing di dalamnya, ridha menetap di dalamnya, bersenang-senang dengan seluruh pesonanya, dan meninggalkan persiapan untuk akhirat yang beliau perintahkan kepada mereka dengan sungguh-sungguh dan serius untuk mendapatkannya. Sekelompok kecil manusia menerima pesan beliau untuk serius dan bersungguh-sungguh dalam mencari akhirat dan bersiap-siap untuknya. Kelompok minoritas tersebut selamat dan menyusui nabi mereka karena mereka meniti jalan beliau di dunia, menerima pesan beliau, dan melaksanakan apa yang beliau perintahkan. Sedang sebagian besar manusia, mereka masih berada dalam sekarat dunia dan memperkaya diri, akibatnya, hal tersebut melupakan mereka dari akhirat hingga mereka didatangi kematian dengan tiba-tiba dalam keadaan tertipu seperti itu. Mereka pun binasa dan menjadi di antara tawanan dan korban.

Sungguh indah apa yang dikatakan Yahya bin Muadz Ar-Razi, "Dunia adalah minuman keras syetan. Barangsiapa teler dengannya, ia tidak siuman kecuali di barak orang-orang yang telah meninggal dalam keadaan menyesal bersama orang-orang yang rugi”.

Kedua: Orang Mukmin menempatkan dirinya di dunia seperti musafir yang tidak pernah mukim di satu tempat, namun tetap berjalan melintasi tempat-tempat perjalanan hingga perjalanannya terhenti di tempat tujuan, yaitu kematian. Barangsiapa sikapnya seperti ini di dunia, obsesinya ialah mencari bekal untuk perjalanan dan tidak berobsesi memperkaya diri dengan perhiasan dunia. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berwasiat kepada sejumlah orang dari para sahabat agar bekal mereka dari dunia seperti bekal pengembara.

Dikatakan kepada Muhammad bin Wasi', "Bagaimana khabarmu pagi ini?" Muhammad bin Wasi' berkata, "Apa komentarmu tentang seseorang yang berjalan setiap hari melintasi tahapan ke akhirat?". [12])

Al-Hasan berkata, "Engkau tidak lebih dari kumpulan hari-hari. Jika satu hari berlalu maka sebagian darimu telah berlalu”. Al-Hasan juga berkata, "Hai anak keturunan Adam, engkau berada di antara dua kendaraan yang mengantarkanmu. Siang mengantarkanmu kepada malam dan malam mengantarkanmu kepada siang hingga kedua kendaraan tersebut; siang dan malam, menyerahkanmu kepada akhirat. Hai anak keturunan Adam, siapakah yang lebih besar nilainya dari engkau?" [13])

Al-Hasan juga berkata, "Kematian diikat di ubun-ubun kalian dan dunia dilipat dari belakang kalian”.

Daud Ath-Thai berkata, "Sesungguhnya malam dan siang adalah tahapan-tahapan, sedang manusia berhenti padanya tahap demi tahap hingga mereka tiba di akhir perjalanan mereka. Jika engkau mampu menyiapkan perbekalan di setiap tahapan untuk tahapan berikutnya, kerjakanlah, karena akhir perjalanan itu dekat dan apakah akhir perjalanan itu? Urusannya lebih cepat dari ini semua, karenanya cari bekal untuk perjalananmu dan selesaikan urusanmu yang ingin engkau selesaikan seperti engkau diserang perkara secara tiba-tiba”. [14])

Salah seorang dari generasi salaf menulis surat kepada saudaranya. Di suratnya, ia berkata, "Saudaraku, bayangkan engkau bermukim atau engkau terus-menerus berjalan. Engkau dituntun dengan penuntunan yang buruk, kematian diarahkan kepadamu, dan dunia dilipat dari belakangmu. Usiamu yang telah berlalu tidak kembali lagi kepadamu hingga hari ditampakkannya seluruh kesalahan (Hari Kiamat) dikembalikan kepadamu”.

Salah seorang penyair berkata,

'Jalanmu di dunia ialah jalannya musafir

Karenanya, dibutuhkan bekal bagi semua musafir

Manusia harus membawa perbekalan

Apalagi jika ia takut serangan orang ke perkara”.

Orang bijak berkata, "Bagaimana bahagia dengan dunia orang yang harinya menghabiskan bulannya, bulannya menghabiskan tahunnya, dan tahunnya menghabiskan umurnya? Bagaimana bisa bahagia dengan dunia orang yang dituntun usianya kepada ajalnya dan dituntun kehidupannya kepada kematian?"

Al-Fudhail bin Iyadh berkata kepada seseorang, "Berapa usiamu?" Orang tersebut menjawab, "Enam puluh tahun”. Al-Fudhail bin Iyadh berkata, "Kalau begitu, sejak enam puluh tahun yang silam, engkau berjalan kepada Tuhanmu dan tidak lama lagi engkau tiba kepada-Nya”. Orang tersebut berkata, "Innaa lillahi wa innaa ilaihi raajiun”. Al-Fudhail bin Iyadh berkata, "Tahukah engkau penafsiran ucapanmu tadi? Penafsirannya, aku hamba Allah dan aku kembali kepada-Nya. Barangsiapa mengetahui ia hamba Allah dan ia kembali kepada-Nya, hendaklah ia mengetahui bahwa dirinya diberdirikan. Barangsiapa mengetahui bahwa dirinya diberdirikan, hendaklah ia mengetahui bahwa ia akan ditanya. Barangsiapa mengetahui dirinya akan ditanya, hendaklah ia menyiapkan jawaban pertanyaannya”. Orang tersebut berkata, "Apa triknya?" Al-Fudhail bin Iyadh berkata, "Sederhana sekali”. Orang tersebut berkata, "Apa itu?" Al-Fudhail bin Iyadh berkata, "Engkau memperbaiki umur yang masih ada, niscaya dosa-dosa silammu diampuni, karena jika engkau berbuat salah di sisa usia maka engkau disiksa karena dosa-dosa silam dan dosa-dosa sekarang”. Tentang makna ini, salah seorang ulama berkata,

"Sesungguhnya seseorang telah berjalan enam puluh tahun

Ke tempat minumnya yang sudah dekat”.

Orang bijak berkata, "Barangsiapa malam dan siang menjadi kendaraannya, maka kendaraannya tersebut berjalan dengannya kendati ia tidak berjalan”.

Penyair berkata,

"Hari-hari ini tidak lain adalah tahapan-tahapan

Yang dihimbau oleh penyeru kepada kematian

Yang paling aneh jika Anda berpikir- bahwa hari-hari itu

Adalah tempat-tempat yang dilipat dan musafirnya duduk”. [15])

Penyair lain berkata,

'Duhai celaka diriku karena siang yang menuntunnya

Ke barak kematian dan karena malam yang menyerbunya”.

Al-Hasan berkata, "Malam dan siang tidak henti-hentinya berjalan untuk mengurangi umur dan mendekatkan kepada ajal. Jauh sekali, sungguh malam dan siang telah menemani Nabi Nuh, 'Ad, Tsamud, dan banyak sekali kaum, kemudian mereka datang kepada Tuhan mereka dan tiba sesuai dengan amal perbuatan mereka. Malam dan siang terus-menerus mengurangi orang-orang baru tanpa peduli dengan apa saja yang telah berjalan untuk bersiap-siap mengambil orang-orang yang tersisa sebagaimana keduanya mengambil orang-orang yang telah lewat”.

Al-Auzai menulis surat kepada saudaranya, "Amma ba’du, sungguh engkau dikepung dari semua arah. Ketahuilah bahwa engkau dijalankan di setiap siang dan malam. Takutlah kepada Allah, hari engkau berdiri di depan-Nya, dan akhir perjanjianmu dengan-Nya. Was salam”. [16])

Penyair berkata,

"Kita berjalan kepada ajal di setiap detik

Hari-hari kita dilipat dan merupakan tahapan-tahapan

Aku tidak pernah melihat sesuatu yang hakiki seperti kematian

Jika sesuatu dilampaui angan-angan, maka batil

Sungguh jelek lalai di waktu muda

Bagaimana uban itu memenuhi kepala?

Ia berjalan dari dunia dengan bekal takwa

jadi, umurmu adalah hari-hari dan hari-hari itu sedikit”.

Sedang wasiat Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma di hadits bab ini, maka dipetik dari hadits yang ia riwayatkan. Wasiatnya berisi tentang akhir dari pendeknya angan-angan dan jika seseorang berada di sore hari maka ia tidak perlu menunggu pagi hari serta jika ia berada di pagi hari maka tidak perlu menunggu sore hari. Bahkan, ia menduga ajal menjemputnya sebelum itu. Banyak sekali ulama yang menafsirkan zuhud di dunia dengan pengertian seperti itu. Al-Marwazi berkata, aku bertanya kepada Abu Abdullah (Imam Ahmad), "Apakah yang termasuk sikap zuhud di dunia?" Abu Abdullah menjawab, "Pendek angan-angan, yaitu orang yang jika berada di sore hari, ia berkata, 'Aku tidak hidup sampai sore hari'. Hal ini juga ditanyakan Sufyan”. Dikatakan kepada Abu Abdullah, "Kiat apa yang bisa kita pakai untuk pendek angan-angan?" Abu Abdullah menjawab, "Aku tidak tahu karena ini termasuk petunjuk”.

Al-Hasan berkata, "Tiga ulama berkumpul kemudian mereka bertanya kepada salah seorang dari mereka, 'Apa angan-anganmu?' Ulama yang ditanya menjawab, 'Sebulan tidak datang kepadaku, melainkan aku menduga bahwa aku akan mati di dalamnya'. Dua ulama lainnya berkata, 'Ini termasuk angan-angan'. Dua ulama tersebut bertanya kepada salah seorang dari mereka, 'Apa angan-anganmu?' Ulama yang ditanya menjawab, 'Sepekan tidak datang kepadaku melainkan aku menduga bahwa aku akan mati di dalamnya'. Dua ulama berkata, 'Ini juga termasuk angan-angan'. Dua ulama bertanya kepada salah seorang dari mereka, 'Apa angan-anganmu?' Ulama yang ditanya tersebut menjawab, 'Tidak ada angan-angan bagi orang yang jiwanya ada di tangan pihak lain". [17])

Daud Ath-Thai berkata, "Aku pernah bertanya kepada Athwan bin Umar At-Tamimi, 'Apa angan-angan yang paling dekat itu?' Athwan bin Umar At-Tamimi menjawab, 'Sesuatu yang berada di antara keluar-masuknya nafas'“. Hal ini diceritakan Daud Ath-Thai kepada Al-Fudhail bin Iyadh yang kemudian menangis dan berkata, "Ia bernafas kemudian takut kalau ia mati sebelum nafasnya terhenti”. Athwan bin Umar At-Tamimi sangat takut kematian. [18])

Salah seorang dari generasi salaf berkata, "Aku tidak pernah tidur sekali pun kemudian jiwaku berkata bahwa aku akan bangun darinya”.

Habib alias Abu Muhammad berwasiat setiap hari seperti wasiat yang diberikan orang yang hendak meninggal dunia yaitu pemandian dirinya, pengkafanannya, dan lain sebagainya. Ia menangis pada setiap pagi dan petang kemudian istrinya ditanya tentang tangisnya. Istrinya menjawab, "Demi Allah, ia takut jika ia berada di petang hari maka tidak bisa hidup sampai pagi hari dan jika ia berada di pagi hari maka ia tidak bisa hidup sampai petang hari”.

Jika Muhammad bin Wasi' hendak tidur, ia berkata kepada keluarganya, "Aku titipkan kalian kepada Allah, karena barangkali aku mati saat tidur dan aku tidak bangun lagi”. Itulah kebiasaan Muhammad bin Wasi setiap kali hendak tidur.

Bakr Al-Muzani berkata, "Jika salah seorang dari kalian dapat tidak tidur kecuali meletakkan wasiatnya secara tertulis di samping kepalanya, silahkan ia kerjakan, karena ia tidak tahu barangkali ia tidur bersama penghuni dunia kemudian pagi harinya ia bersama penghuni akhirat”.

Jika dikatakan kepada Uwais, "Bagaimana zaman padamu?" Uwais berkata, "Bagaimana zaman pada seseorang yang jika berada di petang hari maka ia menduga tidak sampai hidup hingga pagi hari dan jika ia berada di pagi hari maka ia menduga tidak hidup hingga petang hari kemudian ia diberi kabar surga atau neraka?" [19])

Aun bin Abdullah berkata, "Barangsiapa menganggap besok adalah kematiannya, ia tidak menempatkan kematian pada kedudukan yang sebenarnya. Betapa banyak orang hidup di satu hari, namun ia tidak sampai menuntaskan hari tersebut. Betapa banyak orang berangan-angan untuk hari besok namun ia tidak mendapatkan angan-angannya. Jika kalian melihat ajal dan perjalanannya, kalian pasti membenci angan-angan dan segala tipu-dayanya”.

Aun bin Abdullah juga berkata, "Hari-hari yang paling bermanfaat bagi orang Mukmin di dunia ialah hari di mana ia menduga tidak sampai hidup hingga akhir hari tersebut”.

Seorang wanita beribadah di Makkah. Pada sore hari, ia berkata, "Wahai diriku, malam adalah malammu. Tidak ada malam bagimu selain malam ini, karenanya, bersungguh-sungguhlah engkau”. Pada pagi hari, wanita tersebut berkata, "Wahai diriku, hari ini adalah harimu dan tidak ada hari bagimu selain hari ini, maka bersungguh-sungguhlah engkau”.

Bakr Al-Muzani berkata, "Jika engkau ingin shalat bermanfaat bagimu, katakan, 'Barangkali aku tidak bisa shalat setelah shalat ini.' Ini dipetik dari hadits yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Shalatlah seperti shalatnya orang yang akan berpisah”. [20])

Ma'ruf Al-Kurkhi sedang berdiri shalat kemudian berkata kepada seseorang, "Majulah dan jadilah engkau sebagai imam kami”. Orang tersebut berkata, "Jika aku sudah mengerjakan shalat ini denganmu, aku tidak mengerjakan shalat lainnya denganmu”. Ma'ruf Al-Kurkhi berkata, "Dirimu berkata kepadamu bahwa engkau mengerjakan shalat lainnya? Kami berlindung kepada Allah dari panjang angan-angan karena panjang angan-angan menghalangi perbuatan yang baik”. [21])

Salah seorang dari generasi salaf mengetuk pintu saudaranya dan menanyakan tentang saudaranya tersebut. Dikatakan kepada orang tersebut, "Saudaramu tidak ada di rumah”. Orang tersebut bertanya, "Kapan dia pulang?" Seorang gadis dari dalam rumah berkata kepada orang tersebut, "Barangsiapa jiwanya ada di tangan pihak lain, maka ia tidak tahu kapan ia pulang”.

Abu Al-Atahiyah menulis sejumlah bait syair,

"Aku tidak tahu kendati aku berangan-angan tentang usia

Barangkali ketika aku berada di pagi hari

maka aku tidak hidup hingga petang hari

Tidakkah engkau lihat bahwa setiap pagi hari

Dan umurmu di dalamnya adalah lebih pendek daripada kemarin?"

Bait kedua diambil Abu Al-Atahiyah dari perkataan yang ia riwayatkan dari Abu Ad-Darda' dan Al-Hasan yang keduanya berkata, "Hai anak keturunan Adam, engkau tidak henti-hentinya menghabiskan umurmu sejak engkau keluar dari perut ibumu”.

Salah seorang dari generasi salaf melantunkan syair,

Sungguh kita senang dengan hari-hari yang telah kita jalani

Dan setiap hari yang berlalu itu mendekatkan kepada ajal

Berbuatlah dengan sungguh-sungguh untuk dirimu sebelum mati

Karena keuntungan dan kerugian itu dalam perbuatan”.

Perkataan Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma, “Gunakan kesehatanmu untuk sakitmu dan kehidupanmu untuk kematianmu", maksudnya, kerjakan amal-amal shalih pada masa sehat sebelum engkau dipisahkan dengannya oleh sakit dan kerjakan amal-amal shalih di kehidupan sebelum engkau dipisahkan dengannya oleh kematian. Di riwayat lain, "Karena engkau, wahai Abdullah, barangkali tidak tahu apa namamu besok, "maksudnya, barangkali engkau besok termasuk orang-orang meninggal dunia dan bukannya orang-orang yang hidup.

Wasiat yang sama diriwayatkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dari banyak jalur. Di Shahih Al-Bukhari [22]) disebutkan hadits dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Ada dua nikmat, banyak sekali manusia merugi di dalamnya, kesehatan dan kekosongan (waktu luang)”.

Di Shahih Al-Hakim [23]) disebutkan hadits dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada seseorang ketika beliau menasihatinya,

'Manfaatkan lima hal sebelum datangnya lima hal; masa mudamu sebelum masa tuamu, kesehatanmu sebelum sakitmu, kekayaanmu sebelum kemiskinanmu, waktu luangmu sebelum kesibukanmu, dan kehidupanmu sebelum kematianmu”.

Ghanim bin Qais berkata, "Kami saling memberi nasihat pada zaman permulaan Islam, 'Hai anak keturunan Adam, bekerjalah pada masa luangmu sebelum masa sibukmu, pada masa mudamu untuk masa tuamu, pada masa sehatmu untuk masa sakitmu, di duniamu untuk akhiratmu, dan di kehidupanmu untuk akhiratmu”. [24])

Di Shahih Muslim [25]) disebutkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Dahuluilah enam hal dengan perbuatan-perbuatan; terbitnya matahari dari barat, atau kabut, atau dajjal, atau binatang atau perihal khusus salah seorang dari kalian, atau perihal orang umum (Hari Kiamat)”.

Di At-Trmidzi [26]) disebutkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

'Dahuluilah tujuh hal dengan perbuatan-perbuatan; kalian tidak menunggu kecuali kemiskinan yang melupakan, atau kekayaan yang membuat sewenang-wenang, sakit yang merusak, masa tua yang membuat pikun (lemah akal), atau kematian yang disiapkan, atau dajjal yang merupakan hal ghaib yang paling jelek ditunggu atau Hari Kiamat, dan Hari Kiamat itu amat dahsyat dan amat pahit”.

Maksudnya, kemiskinan, kekayaan, dan lain-lain membuat orang tidak dapat beramal. Sebagian dari hal-hal tersebut bersifat pribadi seperti kemiskinan, kekayaan, sakit, masa tua, dan kematiannya, dan sebagian yang lain bersifat umum seperti Hari Kiamat, keluarnya dajjal, da fitnah-fitnah yang mengguncang seperti disebutkan di hadits lain, "Dahuluilah fitnah-fitnah seperti potongan malam yang gelap dengan perbuatan-perbuatan”. [27])

Di sebagian kejadian-kejadian umum tersebut, amal perbuatan menjadi tidak berguna sesudahnya, seperti difirmankan Allah Ta'ala,

"Pada hari datangnya beberapa ayat dari Tuhanmu tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengerjakan kebaikan pada masa imannya”. (Al-An'am: 158).

Di Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda, "Hari Kiamat tidak terjadi hingga matahari terbit dari barat. Jika matahari terbit (dari barat) dan dilihat manusia, mereka semua beriman. Itulah saat di mana keimanan seseorang tidak bermanfaat baginya selagi ia tidak beriman sebelumnya atau belum mengerjakan kebaikan pada masa imannya". [28])

Di Shahih Muslim [29]) disebutkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Tiga hal jika telah keluar, maka keimanan seseorang menjadi tidak berguna baginya selagi ia tidak beriman sebelumnya atau mengerjakan kebaikan pada masa imannya; terbitnya matahari dari barat, dajjal, dan binatang bumi".

Di Shahih Muslim juga disebutkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Barangsiapa bertaubat kepada Allah sebelum matahari terbit dari barat, Allah menerima taubatnya". [30])

Di Shahih Muslim juga disebutkan hadits dari Abu Musa Al-Asy'ari Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Sesungguhnya Allah membuka Tangan-Nya di malam hari agar orang yang berbuat salah di siang hari bertaubat dan membuka Tangan-Nya di siang hari agar orang yang berbuat salah di malam hari bertaubat hingga matahari terbit dari barat”. [31])

Imam Ahmad, An-Nasai, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah meriwayatkan hadits dari Shafwan bin Assal Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Sesungguhnya Allah membuka pintu menghadap barat yang lebarnya (sepanjang perjalanan selama) tujuh puluh tahun untuk taubat. Pintu tersebut tidak ditutup hingga matahari terbit dari barat”. [32])

Di Al-Musnad [33]) disebutkan hadits dari Abdurrahman bin Auf, Abdullah bin Amr, dan Muawiyah dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Taubat senantiasa diterima hingga matahari terbit dari barat. Jika matahari telah terbit (dari barat), maka setiap hati ditutup dengan apa yang ada di dalamnya dan manusia dihentikan dari perbuatan”.

Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha yang berkata, "Jika tanda pertama (Hari Kiamat) keluar, maka pena-pena dilempar, para malaikat penjaga manusia ditahan, dan seluruh jasad bersaksi tentang perbuatan-perbuatan”. (Diriwayatkan Ibnu Jarir Ath-Thabari). [34]

Hal yang sama dikatakan Katsir bin Murrah, Yazid bin Syuraih, dan generasi salaf lainnya, "Jika matahari telah terbit dari barat, maka semua hati ditutup dengan apa saja yang ada di dalamnya, para malaikat penjaga manusia dan amal perbuatan diangkat, dan para malaikat diperintahkan tidak menulis perbuatan apa pun”.

Sufyan Ats-Tsauri berkata, "Jika matahari telah terbit dari barat, maka para malaikat melipat lembaran-lembaran mereka dan meletakkan pena-pena mereka”.

Jadi, orang Muslim wajib segera mengerjakan amal-amal shalih sebelum ia tidak sanggup mengerjakannya atau ia dipisahkan dengannya oleh sakit, atau kematian, atau ia melihat salah satu tanda Hari Kiamat, yang ketika itu amal tidak lagi diterima. Abu Hazim berkata, "Sesungguhnya komoditi akhirat tidak ramai dan nyaris habis kemudian tidak mengantarkan kepada sesuatu yang sedikit dan banyak”. [35])

Jika orang telah dipisahkan dari amal maka yang tersisa adalah kerugian dan ingin kembali kepada kondisi yang memungkinkannya untuk beramal, tapi angan-angan ini tidak bermanfaat baginya.

Allah Ta'ala berfirman,

"Dan kembalilah kalian kepada Tuhan kalian dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang adzab kepada kalian kemudian kalian tidak dapat ditolong. Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepada kalian dari Tuhan kalian sebelum datang adzab kepada kalian dengan tiba-tiba, sedang kalian tidak menyadarinya. Supaya jangan ada orang yang berkata, Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah)'. Atau supaya jangan ada yang berkata, ‘Kalau sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku, tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa'. Atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat adzab, 'Kalau sekiranya aku dapat kembali (ke dunia), niscaya aku termasuk orang-orang berbuat baik". (Az-Zumar: 54-58).

Allah Ta'ala berfirman,

"(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dan mereka, ia berkata, 'Ya Tuhanku kembalikan aku (ke dunia). Agar aku dapat berbuat amal yang shalih terhadap yang aku tinggalkan'. Sekali-kali tidak, sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan”. (Al-Mukminun: 99-100).

Allah Azza wa jalla berfirman,

"Dan belanjakan sebagian dariapa yang Kami berikan kepada kalian sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kalian lalu ia berkata, 'Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkanku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih?' Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematian'. (Al-Munafiqun: 10-11).

Di At-Tirmidzi disebutkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Tidaklah seorang mayit meninggal dunia melainkan dalam keadaan menyesal”. Para sahabat berkata, "Apa penyesalannya?" Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Jika ia orang baik, ia menyesal tidak meningkatkan (kebaikannya). Dan jika ia orang tidak baik, ia menyesal tidak mengemukakan alasan”. [36])

Jika masalahnya demikian, orang Mukmin wajib memanfaatkan sebaik mungkin sisa umurnya. Oleh karena itu dikatakan, "Sesungguhnya sisa umur orang Mukmin itu tidak ada nilai baginya”. Sa'id bin Jubair berkata, "Setiap hari yang dijalani orang Mukmin adalah rampasan perang”. Bakr Al-Muzani berkata, "Tidaklah hari dikeluarkan Allah ke dunia, melainkan berkata, 'Hai anak keturunan Adam, pergunakan aku baik-baik, karena barangkali engkau tidak lagi mempunyai hari sesudahku'. Tidaklah malam dikeluarkan Allah ke dunia, melainkan berseru, 'Hai anak keturunan Adam, pergunakan aku baik-baik, karena barangkali engkau tidak lagi mempunyai malam sesudahnya”.

Seorang penyair [37]) berkata,

"Kerjakan ruku' yang baik di waktu luang

Sebab barangkali kematianmu datang secara tiba-tiba

Betapa banyak orang sehat yang tidak engkau lihat sakit

Namun jiwanya yang sehat pergi tanpa diduga”.

Mahmud Al-Warraq berkata,

"Kemarinmu telah berlalu sebagai saksi yang adil

Di susul hari baru lainnya padamu

jika kemarin engkau melakukan kesalahan

Maka gantilah dengan kebaikan, niscaya engkau dipuji

Harimu, jika engkau cela, maka manfaatnya kembali kepadamu

Sedang hari kemarin tidak lagi kembali kepadamu

Engkau jangan menunda pengerjaan kebaikan ke hari esok

Karena barangkali hari esok datang, sedang engkau telah mati".

 



[1] Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 6416, Al-Baihaqi 3/369, Ibnu Al-Mubarak di Az-Zuhdu hadits nomer 13, Al-Baghawi hadits nomer 4029. Al-Qadhai di Musnad Asy-Syihab hadits nomer 644, dan Ibnu Hibban hadits nomer 698. Takhrij secara lengkap, silahkan baca buku tersebut.

[2] Perkataanya disebutkan Al-Hafidz Ibnu Hajar di Fathul Bari 11/233-234 dan menjawabnya, jadi, silahkan baca buku tersebut.

[3] Hadits nomer 2333. Hadits tersebut juga diriwayatkan Imam Ahmad 2/24, 41, Ibnu Ma jah hadits nomer 4114, Ath-Thabrani di Al-Kabir hadits nomer 13537, 13538, Ash-Shaghir hadits nomer 63, dan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 1/312-313.

[4] Diriwayatkan Imam Ahmad 2/132 dan An-Nasai di Al-Kubra seperti terlihat di Tuhfatul Asyraaf 5/481. Abdah bin Abu Lubabah pernah melihat Ibnu Umar dan melihatnya di Syam seperti terlihat di Tahdzibut Tahdzib 6/408 dan Al-Maraasil Ibnu Abu Hatim, hal. 136.

[5] Dari Ibnu Mas'ud, hadits tersebut diriwayatkan Imam Ahmad 1/391 dan At Tirmidzi hadits nomer 2377. At-Tirmidzi berkata, "Hadits tersebut hasan shahih”.

[6] Disebutkan Imam Ahmad di Az-Zuhdu hal. 93.

[7] Al-Hilyah 5/292.

[8] Ia adalah Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah. Bait-bait syair di atas secara lengkap ia tulis di kata pengantar bukunya, Haadil Arwah ilaa Bilaadil Afrah (dalam edisi bahasa Indonesia berjudul Tamasya ke Surga diterbitkan Penerbit Darul Falah yang menerbitkan buku ini, Pent), Thariqul Hijratain hal 50-55, dan Madaarijus Salikin 3/200-201.

[9] Al-Hilyah 6/217.

[10] Juga diriwayatkan Ibnu Al-Mubarak di Az-Zuhdu hadits nomer 507. Ia berkata, disampaikan kepada kami dari Al-Hasan bahwa ia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "…."

Juga diriwayatkan Ibnu Al-Mubarak di Dzammud Dunya hadits nomer 88 dari jalur Ruh bin Ubadah yang berkata, Hisyam bin Hassan berkata kepada kami dari Al-Hasan yang berkata, “disampaikan kepada kami dan seterusnya”. Hadits ini mursal.

[11] Diriwayatkan Imam Ahmad 1/267, Ath-Thabrani di Al-Kabir hadits nomer 12940, dan Al-Bazzar hadits nomer 2407. Ali bin Zaid bin Jud'an adalah perawi dhaif. Kendati demikian, hadits tersebut di-hasan-kan Al-Hafidz Al-Haitsami di Majmauz Zawaid 8/260 dan Al-Hafidz Al-Iraqi di Takhrijul Ihya' 3/218.

[12] Al-Hilyah 2/348

[13] Ibid., 2/152.

[14] Ibid., 7/345-346.

[15] Madaarijus Salikin 3/201 tanpa disebutkan nama penyairnya.

[16] Al-Hilyah 6/140.

[17] Diriwayatkan Ibnu Al-Mubarak di Az-Zuhdu hadits nomer 253.

[18] Shafwatush Shafwah 2/83.

[19] Al-Hilyah 2/83.

[20] Hadits hasan. Dari Abu Ayyub Al-Anshari yang diriwayatkan Imam Ahmad 5/412, Ibnu Majah hadits nomer 4171, Abu Asy-Syaikh di Al-Amtsaal hadits nomer 226, dan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 1/462.

Dari Ibnu Umar, hadits tersebut diriwayatkan Al-Qadhai di Musnad Asy-Syihab hadits nomer 952 dan Ath-Thabrani di Al-Ausath seperti terlihat di Majmauz Zawaid 10/229. Al-Haitsami berkata, "Di sanadnya terdapat perawi-perawi yang tidak aku kenal”.

Dari Sa'ad bin Abu Waqqash. hadits tersebut diriwayatkan Al-Hakim 4/326-327 dan ia menshahihkannya dengan disetujui Adz-Dzahabi, padahal di sanadnya terdapat perawi Muhammad bin Abu Humaid yang merupakan perawi dhaif.

[21] Al-Hilyah 8/361.

[22] Hadits nomer 6412.

[23] 4/306. Al-Hakim menshahihkan hadits di atas dengan disetujui Adz-Dzahabi. Hadits tersebut seperti yang dikatakan keduanya. Hadits tersebut mempunyai hadits penguat, yaitu hadits dari Amr bin Maimun secara mursal yang diriwayatkan Ibnu Al-Mubarak di Az-Zuhdu hadits nomer 2, Abu Nu'aim di Al-Hilyah 4/148, dan Al-Khathib di Iqtidhaul ilmil Amal hadits nomer 170.

[24] Al-Hilyah 6/200 dan Iqtidhaul llmil Amal hadits nomer 171. Perkataan yang sama diriwayatkan Abu Nu'aim 3/97 dari Abu Nadhrah.

[25] Hadits nomer 2947. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 6790.

[26] Hadits nomer 2306. Hadits tersebut juga diriwayatkan Ibnu Adi di Al-Kamil 6/2434 dan Al-Uqaili di Adh-Dhuafa' 4/230. Di sanadnya terdapat perawi Mahraz bin Harun yang haditsnya munkar. Kendati demikian, At-Tirmidzi berkata, "Hadits ini hasan gharib”. Al-Uqaili dan Adz-Dzahabi di Al-Mizan 3/443 berkata, "Hadits ini juga diriwayatkan dengan sanad yang lebih shahih daripada sanad ini”.

Sanad yang dimaksud ialah yang diriwayatkan Al-Hakim 4/321 dari jalur Ibnu Al-Mubarak dari Ma'mar dari Sa'id Al-Maqbari dari Abu Hurairah. Hadits tersebut dishahihkan Al-Hakim menurut syarat Al-Bukhari dan Muslim dengan disetujui Adz-Dzahabi. Namun hadits tersebut menurut Ibnu Al-Mubarak di Az-Zuhdu hadits nomer 7 dan dari jalurnya menurut Al-Baghawi di Syarhus Sunnah hadits nomer 4022 dari Ma'mar dari seseorang yang mendengar Al-Maqbari menceritakan hadits dari Abu Hurairah. Sanad hadits tersebut dhaif karena dhaif-nya perawi yang tidak disebutkan namanya tersebut.

[27] Dari Abu Hurairah, hadits tersebut diriwayatkan Muslim hadits nomer 118 dan At-Tirmidzi hadits nomer 2195. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 6704. Kelanjutan hadits tersebut, "Pada pagi hari seseorang menjadi Mukmin kemudian petang harinya menjadi kafir dan pada petang hari ia Mukmin kemudian kafir di pagi hari. Ia menjual agamanya dengan harta dunia”.

[28] Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 4635, Muslim hadits nomer 157, Abu Daud hadits nomer 4312, dan Ibnu Majah hadits nomer 4068. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 6838.

[29] Hadits nomer 158.

[30] Diriwayatkan Muslim haidts nomer 2703 dan Imam Ahmad 2/327. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 629.

[31] Diriwayatkan Muslim hadits nomer 2759.

[32] Diriwayatkan Imam Ahmad 4/240, At-Tirmidzi hadits nomer 3536. An-Nasai di As-Sunan Al-Kubra seperti terlihat di Tuhfatul Asyraaf 4/192, dan Ibnu Majah hadits nomer 4070. At-Tirmidzi berkata, "Hadits tersebut hasan shahih”.

[33] 1/192. Hadits tersebut juga diriwayatkan Ibnu Jarir Ath-Thabari di Jamiul Bayan hadits nomer 14212 dan Ath-Thabrani di Al-Kabir 19/895. Sanad hadits tersebut hasan.

[34] Di Jamiul Bayan hadits nomer 14246.

[35] Al-Nilyah 3/242.

[36] Diriwayatkan At-Tirmidzi hadits nomer 2403 dari jalur Ibnu Al-Mubarak dan hadits tersebut diriwayatkan Ibnu Al-Mubarak di Az-Zuhdu hadits nomer 33.

Hadits tersebut juga diriwayatkan Abu Nua'im di Al-Hilvah 8/178 dari jalur Ibnu Al-Mubarak dan Al-Baghawi di Syarhus Sunnah hadits norner 4309. Di sanadnya terdapat perawi Yahya bin Ubaidillah bin Abdullah bin Muhib yang tidak bisa dijadikan sebagai hujjah.

[37] Ia adalah Imam Al-Bukhari penulis Shahih Al-Bukhari. Bait-bait syair di atas ada di Thabaqaatusy-Syafi'iyah, As-Subki 2/235.

Hadits Arbain 40: Jangan Menunggu