I. Kemungkinan dan Terjadinya Wahyu.
Perkembangan
ilmiyah telah maju dengan pesat, da cahayanya pun telah menyapu segala keraguan
yang selama ini merayap pada diri manusia mengenai roh yang ada dibalik materi.
Ilmu materialistis yang meletakkan sebagian besar dari apa yang ada dibawah
percobaan dan experimen percaya terhadap alam gaib yang ada dibalik dunia nyata
ini. Dan percaya pula bahwa alam gaib itu lebih rumit dan lebih dalam dari pada
alam nyata. Dan bahwa sebagian besar penemuan modern yang membimbing pemikiran
manusia menyembunyikan rahasia yang samar yang hakikatnya tidak bisa dipahami
oleh ilmu itu sendiri, meskipun pengaruh dan gejalanya dapat diamati. Hal yang
demikian ini telah mendekatkan jarak antara pengingkaran terhadap agama dengan
keimanan. Dan itu sesuai denga firman Allah :
`Kami akan
memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segala wilayah bumi dan pada
diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quraan itu adalah
benar.`( Fushilat :53 ). dan firman-Nya :
`Dan tidakkah
kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.` ( al-isra': 85 ).
Pembahasan
psiologik dan rohani kini mempunyai tempat yang penting dalam ilmu pengetahuan.
Dan hal itupun didukung dan diperkuat oleh perbedaan manusia dalam kecerdasan,
kecenderungan dan naluri mereka. Diantara inteligensia itu ada yang istimewa
dan cemerlang sehingga dapat menemukan segala yang baru. Tetapi ada pula yang
dungu dan sukar memahami urusan yang mudah sekalipun. Diantara dua posisi ini,
terdapat sekian banyak tingkatan, demikian pula halnya dengan jiwa.ada yang
jernih dan cemerlang. Dan ada pula yang kotor dan kelam.
Dibalik tubuh
manusia ada roh yang merupakan rahasia hidupnya. Apa bila tubuh itu kehabisan
tenaga dan jaringan-jaringan mengalami kerusakan jika tidak mendapatkan makanan
menurut kadarnya., maka demikian pula dengan roh. Ia memerlukan makanan yang
dapat menimbulkan tenaga rohani agar ia dapat memelihara sendi-sendi dan
ketentuan-ketentuan lainnya.
Bagi Allah bukan
hal yang jauh dalam memilih dari antara hamba-Nya sejumlah jiwa yang dasarnya
begitu jernih dan kodarat yang lebih bersih yang siap menerima sinar Ilahi dan
wahyu dari langit serta hubungan dengan mahluk yang lebih tinggi; agar
kepadanya diberikan risalah Ilahi ya g dapat memenuhi keperluan manusia. Mereka
mempunyai ketinggian rasa, keluhuran budi dan kejujuran dalam menjalankan
hukum. Mereka itulah para Rasul dan Nabi Allah. Maka tidaklah aneh jika
berhubungan dengan wahyu yang datang dari langit.
Manusia kini
menyaksikan adanya hipnitisma yang menjelaskan bahwa hubungan jiwa manusia
dengan kekuatan yang lebih tinggi itu menimbulkan pengaruh. Ini mendekatkan
orang kepada pemahaman tentang gejala wahyu. Orang yang berkemauan lebih kuat
dapat memaksakan kemauannya kepada orang yang kemauannya lemah. Sehingga yang
lemah ini tertidur pulas dan ia dikemudikan menurut kehendaknya sesuai dengan
isyarat yang diberikan, maka mengelirlah itu semua kedalam hati dan mulutnya.
Apa bila ini yang diperbuat manusia terhadap sesama manusia, bagaimana dengan
yang lebih kuat dari manusia itu ?
Sekarang orang
dapat mendengar percakapan yang direkam dan dibawa ole gelombang eter,
menyeberangi lembah dan dataran tinggi, daratan dan lautan tanpa melihat
sipembicara, bahkan sesudah mereka wafat sekalipun. Kini dua orang dapat
berbicara melalui telepon, sekalipun yang satu berada diujung timur dan yang
lain diujung barat. Dan terkadang pula keduanya bisa saling melihat dalm
percakapan itu, sementara orang-orang yang duduk disekitarnya tidak mendengar
apa-apa selain dengingan yang seperti suara lebah, persis seperti dengingan
diwaktu turun wahtyu.
Siapkah diantara
kita yang tidak pernah mengalami percakapan dengan diri sendiri. Dalam keadaan
sadar atau tidur yang terlintas dalam pikirannya tanpamelihat orang yang diajak
bicara dihadapannya ?
Yang demikian ini
serta contoh-contoh lain yang serupa cukup menjelaskan kepada kita tentang
hakikat wahyu.
Orang yang sezaman
dengan wahyu itu menyaksikan wahyu dan menukilkannya secara mutawatir dengan
segala persayaratannya yang meyakinkan kepada generasi-generasi sesudahnya.
Umat manusia pun menyaksikan pengaruhnya didalam kebudayaan bangsanya serta
dalam kemampuan pengikutnya. Manusia akan tetap menjadi mulia selama tetap
berpegang kepada keyakinan itu. Dan akan hancur dan hina apa bila
mengabaikannya. Kemungkinan terjadinya wahyu serta kepastiannya sudah tidak
diragukan lagi. Serta perlunya manusia kembali kepada petunjuk wahyu demi
menyiram jiwa yang haus akan nilai-nilai luhur dan kesegaran rohani.
Rasul kita
Muhammad saw. Bukanlah rasul pertama yang diberi wahyu. Allah juga telah
memberikan wahyu kepada rasul-rasul sebelum itu seperti yang
diwahyukankepadanya:
`Sesungguhnya
Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu
kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu
kepada Ibrahim, Isma'il, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, 'Isa, Ayyub, Yunus,
Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. Dan rasul-rasul yang
sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul
yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara
kepada Musa dengan langsung`( an-nisaa :163-164 ).
Dengan demikian
maka wahyu yang diturunkan kepada Muhammad saw itu bukanlah suatu hal yang
menimbulkan rasa heran. Oleh sebab itu Allah mengingkari rasa heran itu bagi
orang-orang yang berakal.
`Patutkah
menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki
di antara mereka: `Berilah peringatan kepada manusia dan gembirakanlah
orang-orang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan
mereka`. Orang-orang kafir berkata: `Sesungguhnya orang ini benar-benar adalah
tukang sihir yang nyata`.( Yunus : 2).
II. Arti Wahyu
Dikatakan wahaitu
ilaih dan auhaitu, bila kita berbicara kepadanya agar tidak diketahui orang
lain. Wahyu adalah isyarat yang cepat. Itu terjadi melalui pembicaraa yang
berupa rumus dan lambang, dan terkadang melalui suara semata, dan terkadang
pula melalui isyarat dengan sebagian anggota badan.
Al-wahy atau wahyu
adalah kata masdar ( infinitif ); dan materi kata itu menunjukkan dua
pengertian dasar, yaitu ; tersembunyi dan cepat. Oleh sebab itu maka dikatakan
bahwa wahyu adalah pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat dan khusus
ditujukan kepada orang yang diberitahu tanpa diketahui orang lain. Inilah
pengertian masdarnya. Tetapi terkadang juga bahwa yang dimaksudkan adalah
al-muha yaitu pengertian isim maf`ul, yang diwahyukan. Pengertian wahyu dalam
arti bahasa meliputi :
1. Ilham
sebagai bawaan dasar manusia, seperti wahyu terhadap ibu nabi Musa :
`Dan kami
ilhamkan kepada ibu Musa `susuilah dia �( al-Qasas :7 ).
2. Ilham yang
berupa naluri pada binatang seperti wahyu kepada lebah :
`Dan Tuhanmu
mewahyukan kepada lebah: `Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon
kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia`( an-Nahl : 68 ).
3. Isyarat yang
cepat melalui rumus dan kode, seperti isyarat Zakaria yang diceritakan Quran :
`Maka ia keluar
dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah
kamu bertasbih di waktu pagi dan petang`.( Maryam : 11 ).
4. Bisikan dan
tipu daya
setan untuk menjadikan yang buruk kelihatan indah dlam diri manusia.
Sesungguhnya
perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu
membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu`.( al-An`am : 121
).
`Dan
demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan
manusia dan jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain
perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu manusia.`( al-An`am :112 ).
5. Apa yang
disampaikan Allah kepada para malaikatnya berupa suatu perintah untuk
dikerjakan
:
`Ketika Tuhanmu
mewahyukan kepada para malaikat : `Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan
orang-orang yang telah beriman`.( al- Anfal : 12 ).
Sedang wahyu Allah
kepada para Nabi-Nya secara syara` mereka definisikan sebagai ` kalam Allah
yang diturunkan kepada seorang Nabi`. Definisi ini menggunakan pengertian
maf`ul, yaitu al muha ( yang diwahyukan ). Ustadz Muhammad Abduh mendefinisikan
wahyu didalam Risalatut tauhid sebagai ` pengetahuan yang didapati seseoranng
dari dalam dirinya dengan disertai keinginan pengetahan itu datang dari Allah,
baik dengan melalui perantara ataupun tidak; yang pertama melalui suara yang
terjelma dalam telinganya atau tanpa suara sama sekali. Beda antara wahyu
dengan ilham adalah bahwa ilham itu intuisi yang diyakini jiwa sehingga
terdorong untuk mengikuti apa yang diminta, tanpa mengetahui dari mana
datangnya. Hal sepeti itu serupa dengan rasa lapar, haus sedih da senang.`
Definisi diatas
adalah definisi wahyu dengan pengertian masdar. Bagian awal definisi ini
mengesankan adanya kemiripan antara wahyu dengan suara hati atau khasyaf.
Tetapi penbedaannya dengan ilham diakhir definisi meniadakan hal ini.
III. Cara Wahyu
Allah Turun Kepada Malaikat
1. Didalam Al-
Quranul Karim terdapat nash mengenai kalam Allah kepada para malaikatnya :
`Ingatlah
ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: `Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi.` Mereka berkata: `Mengapa Engkau
hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya .`(
al-Baqarah : 30 ).
Juga terdapat nash
tentang wahyu Allah kepada mereka :
`Ketika Tuhanmu
mewahyukan kepada para malaikat : `Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan
orang-orang yang telah beriman`.( al-Anfal : 12 ).
Disamping itu ada
pula nash tentang para malaikat yang mengurus urusan dunia menurut
perintah-Nya.
`Demi malaikat
yang mebagi-bagi urusan.`( ad-dzariyat : 4 ).
`Dan demi
malaikat-malaikat yang mengatur urusan dunia.` ( an-Naziat : 5 ).
Nash-nash diatas
dengan tegas menunjukkan bahwa Allah berbicara kepada para malaikat tanpa
perantaraan dan dengan pembicaraan yang dipahami oleh para malaikat itu. Hal
itu diperkuat oleh hadis dari Nawas bin Sam`an r.a yang mengatakan : Rasulullah
SAW berkata :
`apabila Allah
hendak memberikan wahyu mengenai suatu urusan, Dia berbicara melalui wahyu;
maka langitpun tergetarlah dengan getaran- atau Dia mengatakan dengan
goncangan-yang dahsyat karena takut kepada Allah Azza wa jalla. Apa bila
penghuni langit mendengar hal itu, maka pingsan dan bersujudlah mereka itu
kepada Allah. Yang pertama sekali mengangkat muka diantara mereka itu adalah
jibril, maka Allah membicarakan wahyu itu, kepada jibril menurut apa yang
dikehendaki-Nya. Kemudian jibril berjalan melintasi para malikat, setiap kali
dia melalui satu langit, maka bertanyalah kepadanya malaikat langit itu; apa
yang telah dikatakan oleh Tuhan kita wahai jibril ? jibril menjawab : Dia
mengatakan yang hak. Dan Dialah yang maha tinggi lagi Maha Besar. Para malikatpun
mengatakan seperti apa yang dikatakan jibril. Lalu jibril menyampaikan wahyu
itu seperti apa yang diperintahkan Allah azza wajalla.`
hadis ini
menjelaskan bagaimana wahyu turun. Pertama Allah berbicara, dan para malikatnya
mendengar-Nya. Dan pengaruh wahyu itupun sangat dahsyat; apa bila pada
lahirnya- didalam perjalanan jibril untuk menyampaikan wahyu-hadis diatas
menunjukkan turunnya wahyu khusus mengenai Quran, akan tetapi hadis tersebut
juga menjelaskan cara turunnya wahyu secara umum. Pokok permasalahan itu
terdapat didalam hadis sahih :
`Apa bila Allah
memutuskan suatu perkara dilangit, maka para malaikat memukul-mukulkan sayapnya
karena pengaruh oleh firman-Nya, bagaikan mata rantai diatas batu yang licin.`
2.Telah nyata
pula bahwa Quran telah dituliskan dilauhil mahfudz, berdasarkan firman Allah :
`Bahkan ia
adalah Quran yang mulia yang tersimpan dilauhil mahfudz.` (al-Buruj : 21-22 ).
Demikian pula
bahwa Quran itu diturunkan sekaligus ke baitul izzah yang berada dilangit dunia
pada malam lailatul Qadar di bulan Ramadhan.
`Sesungguhnya
Kami menurunkan Al-Quran pada malam lailatul qadar.`(al-Qadar:1)
`Sesungguhnya
Kami menurunkannya-Quran- pada suatu malam yang diberkahi.`(ad-Dukhan : 3 ).
`Bulan Ramadhan
-bulan yang didalamnya diturunkan Quran.`( al-Baqarah : 185 ).
Didalam sunnah
terdapat hal yang menjelaskan nuzul ( turunnya ) Quran yang menunjukkan bahwa
nuzul itu bukan lah nuzul kedalan hati Rasulullah SAW .
Dari Ibnu Abbas
dengan hadis mauquf : ` Quran itu diturunkan sekaligus kelangit dunia pada mala
lailatul Qadar. Kemudian setelah itu diturunkan selama dua puluh tahun, lalu
Ibnu Abbas membacakan: Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu dengan
membawa sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu sesuatu yang
benar dan yang paling baik penyelesaiannya.`(al-Furqan : 33). `Dan Al Qur`an
itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya
perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.`(
al-Israa: 106 ).
Dan dalam satu
riwayat :
`Telah
dipisahkan Quran dari az-Zikr lalu diletakkan dibaitul Izzah dilangit dunia;
kemudian jibril menurunkannya kepada Nabi Muhammad saw.`
Oleh sebab itu
para ulama berpendapat mengenai cara turunnya wahyu Allah yang berupa Quran
kepada jibril dengan beberapa pendapat :
- Bahwa Jibril menerimanya secara mendengar dari Allah
dengan lafalnya yang khusus.
- Bahwa Jibril menghafalnya dari lauhul mahfudz.
- Bahwa maknanya disampaikan kepada Jibril, sedang
lafalnya adalah lafal Jibril, atau lafal Muhammad saw.
Pendapat yang
pertama itulah yang benar, dan pendapat itu yang dijadikan pegangan oleh
ahlussunnah wal jama`ah. Serta diperkuat oleh hadis Nawas bin Sam`an diatas.
Menisbahkan Quran
kepada Allah itu terdapat dalam beberapa ayat :
`Dan
sesungguhnya kamu benar-benar diberi Al Quraan dari sisi Yang Maha Bijaksana
lagi Maha Mengetahui`.(an-Naml : 6 ).
`Dan jika
seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka
lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia
ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak
mengetahui.`( at-Taubah : 6).
`Dan apabila
dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak
mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata: `Datangkanlah Al Qur`an yang lain
dari ini atau gantilah dia `. Katakanlah: `Tidaklah patut bagiku menggantinya
dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan
kepadaku.`(Yunus : 15 ).
Quran adalah kalam
Allah dengan lafalnya, bukan kalam Jibril atau kalam Muhammad. Sedang pendapat
kedua diatas itu tidak dapat dijadikan pegangan, sebab adanya Quran dilauhul
mahfudz itu seperti hal-hal gaib yang lain, termasuk Quran.
Dan pendapat yang
ketiga lebih sesuai denga hadis, sebab hadis itu wahyu Allah jepada Jibril,
kemudian kepada Muhammad saw. Secara maknawi saja. Lalu ungkapan itu
diungkapkan dengan ungkapan beliau sendiri.
`Dan tiadalah
yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain
hanyalah wahyu yang diwahyukan.`(an-Najm : 3-4 ).
Dan oleh sebab
itulah diperbolehkan meriwayatkan hadis menurut maknanya sedang Quran tidak.
Demikianlah telah kami perbincangkan perbedaan Quran dengan Hadis Kudsi dan
Hadis Nabawi.
Keistimewaan
Quran: 1) Qur`an adalah mukjizat; 2) Kepastiannya mutlak; 3) membacanya
dianggap ibadah; 4) wajib disampaikan dengan lafalnya. Sedang hadis kudsi,
sekalipun ada yang berpendapat lafalnya juga diturunkan, tidaklah demikian
halnya.
Hadis nabawi ada
dua macam: pertama : yang merupakan ijtihad Rasulullah SAW. Ini bukanlah wahyu.
Pengakuan wahyu terhadapnya dengan cara membiarkan, hanyalah bila ijtihad itu
benar. Kedua : yang maknanya diwahyukan, sedang lafalnya dari Rasulullah sendiri.
Oleh sebab itu ini dapat dinyatakan dengan maknanya saja. Hadis kudis itu
menurut pendapat yang kuat, maknanya saja yang diturunkan, sedang lafalnya
tidak. Ia termasuk dalam bagian yang kedua ini. Sedang menisbatkan hadis kudsi
kepada Allah dalam periwayatannya karena adanya nash syara` tentang itu, sedang
hadis-hadis nabawi lainnya tidak.
IV. Cara Wahyu
Allah Turun Kepada Para Rasul
Allah memberikan
wahyu kepada para rasul-Nya ada yang melalui perantaraan dan ada yang tidak.
Yang pertama :
melalui Jibril malaikat pembawa wahyu, dan hal ini akan kami jelaskan nanti.
Yang kedua : tanpa
melalui perantaraan. Diantaranya ialah; mimpi yang benar didalam tidur.
1. Mimpi yang
benar didalam tidur.
`Dari Aisyah
r.a dia berkata : sesungguhnya apa yang mula-mula terjadi pada Rasulullah SAW
adalah mimpi yang benar diwaktu tidur, beliau tidaklah melihat mimpi kecuali
mimpi itu datang bagaikan terangnya di waktu pagi hari.`
Hal itu merupakan
persiapan bagi Rasulullah SAW untuk menerima wahyu dalam keadaan sadar, tidak
tidur. Didalam Quran wahyu diturunkan ketika beliau dalam keadaan sadar,
kecuali bagi orang yang mendakwakan bahwa surah Kausar diturunkan melalui
mimpi. Karena adanya satu hadis mengenai hal itu. Didalam sahih Muslim, dari
Anas r.a ia berkata :
`Ketika
Rasulullah SAW disuatu hari berada diantara kami didalam masjid, tiba-tiba ia
mendekur, lalu mengengkat kepala beliau dalam keadaan tersenyum. Aku tanyakan
kepadanya : Apa yang menyebabkan Engkau tertawa wahai Rasulullah ? Ia menjawab
: Tadi telah turun kepadaku sebuah surah; lalu ia membacakan :
Bismillahirrahmanirrahim, inna a`taina kal kautsar fashalli lirabbika wanhar,
inna syaa niaka huwal abtar.`
Mungkin keadaan
mendengkur ini adalah keadaan yang dialaminya ketika wahyu turun.
Di antara alasan
yang menunjukkan bahwa mimpi yang benar bagi para Nabi adalah wahyu yang wajib
diikuti, ialah mimpi Nabi Ibrahim agar menyembelih anaknya, Ismail.
`Maka Kami beri
dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar . Maka tatkala anak itu
sampai berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: `Hai anakku sesungguhnya
aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!`
Ia menjawab: `Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya
Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar`. Tatkala keduanya
telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis, . Dan Kami
panggillah dia: `Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu
sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat
baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak
itu dengan seekor sembelihan yang besar . Kami abadikan untuk Ibrahim itu di
kalangan orang-orang yang datang kemudian, `Kesejahteraan dilimpahkan atas
Ibrahim`. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat
baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia
kabar gembira dengan Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh.`(
as-Saffat : 101-112 ).
Mimpi yang benar
itu tidaklah khusus bagi para rasul saja, mimpi yag demikian itu tetap ada pada
kaum mukminin, sekalipun mimpi itu bukan wahyu.hal itu seperti dikatakan oleh
Rasulullah SAW :
`Wahyu telah
terputus, tetapi berita-berita gembira tetap ada, yaitu mimpi orang mukmin.`
Mimpi yang benar
bagi para nabi diwaktu tidur itu merupakan bagian pertama dari sekian macam
cara Allah berbicara seperti yang disebutkan didalam firman- Nya:
`Dan tidak
mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali
dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang
utusan lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki.
Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.`(as-Syuraa : 51 ).
2. Yang lain
ialah kalam ilahi dari balik tabir tanpa melalui perantara.
Yang demikian itu
terjadi pada Nabi Musa a.s.
`Dan tatkala
Musa datang untuk pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman
kepadanya, berkatalah Musa: `Ya Tuhanku, nampakkanlah kepadaku agar aku dapat
melihat kepada Engkau`.( al-Araaf : 143 ).
`Dan Allah
telah berbicara kepada Musa secara langsung.` ( al-Ma`idah : 164 )
Demikian pula
menurut pendapat yang paling sah, Allah pun telah berbicara secara langsung
kepada Rasul kita Muhammad saw. Pada malam isra` dan mi`raj. Yang demikian ini
yang termasuk bagian kedua dari apa yang disebutkan oleh ayat diatas ( atau
dari balik tabir ). Dan didalam Quran macam wahyu ini tidak ada.
3. Cara
Penyampaian Wahyu Oleh Malaikat Kepada Rasul
Wahyu Allah kepada
Nabinya itu ada kalanya tanpa perantaraan, seperti yang telah kami sebutkan
diatas, misalnya mimpi yang benar diwaktu tidur, dan kalam ilahi dibalik tabir,
dalan keadaan jaga yang disadari. Dan ada kalanya melalui perantaraan malaikat wahyu.
Wahyu dengan perantaraan malaiakat wahyu inilah yang hendak kami bicarakan
dalam topik ini, karena Quran diturunkan dengan wahyu macam ini.
Ada dua cara
penyampaian wahyu oleh malaikat kepada Rasul
Cara pertama : datang kepadanya suara
seperti dencingan lonceng dan suara yang amat kuat yang mempengaruhi
faktor-faktor kesadaran, sehingga ia dengan segala kekuatannya siap menerima
pengaruh itu. Cara ini yang paling berat bauat Rasul. Apa bila wahyu yang turun
kepada Rasulullah SAW dengan cara ini maka ia mengumpulkan semua kekuatan
kesadarannya untuk menerima, menghafal dan memahaminya. Dan mungkin suara itu
sekali suara kepakan sayap-sayap malaikat, seperti diisyaratkan didalam hadis :
`Apa Allah
menghendaki suatu urusan dilangit, maka para malaikat memukul-mukulkan sayapnya
karena tunduk kepada firman-Nya, bagaikan gemercingnya mata rantai diatas
batu-batu licin.` . Dan mungkin pula suara malaikat itu sendiri pada waktu
rasul baru mendengarnya untuk yang pertama kali.
Cara kedua : Malaikat menjelma kepada
rasul sebagai seorang laki-laki dalam bentuk manusia. Cara ini lebih ringan
dari pada yang sebelumnya. Karena ada kesesuaian antara pembicara dan
pendengar. Rasul meraa senang sekali mendengar dari utusan pembawa wahyu itu.
Karena merasa seperti manusia yang berhadapan saudaranya sendiri.
Keadan jibril
menempakkan diri sebagai seorang laki-laki itu tidaklah mengharuskan ia untuk
melepaskan sifat kerohaniannya, dan tidak berarti pula bahwa dzatnya telah
berubah menjadi seorang laki-laki. Tetapi yang dimaksudkan bahwa ia menampakkan
diri dalam bentuk manusia tadi untuk meyenangkan Rasulullah SAW sebagai
manusia. Yang sudah pasti keadaan pertama- tatkala wahyu turun seperti
dencingan lonceng- tidak menyenangkan karena keadaan demikian menuntut
ketinggian rohani dari Rasulullah yang seimbang dengan tingkat kerohanian
malaikat. Dan inilah yang paling berat. Kata Ibn Khaldun : ` Dalam keadaan yang
pertama, Rasulullah melepaskan kodratnya sebagai manusia yang bersifat jasmani
untuk berhubungan dengan malaikat yang rohani sifatnya, sedang dalam keadaan
lain, sebaliknya, malaikat berubaha dari yang rohani semata menjadi manusia
jasmani.`
Keduanya itu
tersebut dalam hadis yang diriwayatkan dari Aisyah Ummul Mu`minin r.a bahwa
haris bin Hisyam r.a bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai hal itu dan jawab
Nabi :
` Kadang-kadang
ia datang kepadaku bagaikan dencingan lonceng, dan itulah yang paling berat
bagiku, lalu ia pergi, dan aku telah menyadari apa yang dikatakannya. Dan
terkadang malaikat menjelma kepadaku sebagai seorang laki-laki, lalu dia
berbicara kepadaku, dan akupun memahami apa yang ia katakan`.
Aisyah juga
meriwayatkan apa yang dialami Rasulullah SAW berupa kepayahan , dia berkata :
`Aku pernah
melihatnya tatkala wahyu sedang turun kepadanya pada suatu hari yang amat
dingin, lalu malaikat itu pergi. Sedang keringatpun mengucur dari dahi
Rasulullah`.
Keduanya itu
merupakan macam ketiga pembicaraan Ilahi yang didisyaratkan didalam ayat : `Dan
tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia
kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus
seorang utusan lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia
kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana`.(as-Syuraa : 51).
Mengenai hembusan
didalam hati, telah disebutkan didalam hadis Rasulullah SAW :
`Roh kudus
telah menghembuskan kedalanm hatiku bahwa seseorang itu tidak akan mati
sehingga dia menyempurnakan rezeki dan ajalnya. Maka bertaqwalah kepada Allah
dan carilah rezeki dengan jalan yang baik.`
hadis ini tidak
menunjukkan keadaan turunnya wahyu secara tersendiri, hal ini mungkin dapat
dikembalikkan kepada salah satu dari dua keadaan yang tersebut didalan hadis
Aisyah. Mungkin malaikat datang pada beliau dalam keadaan yang menyerupai
dencingan lonceng, lalu dihembuskannya wahyu kepadanya. Dan kemungkinan pula
bahwa wahyu yang melalui hembusan itu adsalah wahyu selain Qur`an.
V. Keraguan
Orang-orang yang Ingkar terhadap Wahyu.
Orang-orang
jahiliyah baik yang lam atau yang modern selalu berusaha untuk menimbulkan
keraguan mengenai wahyu dengan sikap keras kepala dan sombong. Keraguan
demikian itu lemah sekali dan tidak dapat diterima.
1. Pertama
Meraka mengira
bahwa Qur`an dari pribadi Muhammad; dengan menciptakan maknanya dan dia pula
yang menyusun ` bentuk gaya bahasanya` ; Qur`an bukanlah wahyu. Ini adalah
sangkaan yang batil. Apa bila Rasulullah SAW mengendaki kekuasaan atas dirinya
sendiri dan menantang manusia dengan mukjizat-mukjizat untuk mendukung
kekuasaannya, tidak perlu ia menisbahkan semua itu kepada pihak lain, dapat
saja menisbahkan Qur`an kepada dirinya sendiri. Karena hal itu cukup untuk
mengangkat kedudukannya dan menjadikan manusia tunduk kepada kekuasaannya.
Karena dia juga salah seorang dari meraka yang dapat mendatangkan apa yang
mereka tidak sanggupi.
Tidak pula dapat
dikatakan bahwa dengan menisbahkan Qur`an pada wahyu Ilahi, ia menginginkan
untuk menjadikan kata-katanya terhormat sehingga dengan itu ia dapat memperoleh
sambutan manusia untuk menaati dan menuruti perintah-perintahnya. Sebab dia
juga mengeluarkan kata-kata yang dinisbahkan kepadanya pribadi, yaitu yang
dinamakan hadis nabawi, yang juga wajkib ditaati. Seandainya benar apa yang
mereka tuduhkan, tentu kata-katanya akan dijadikannya sebagai kalam Allah
ta`ala.
Sangkaan ini
menggambarkan bahwa Rasulullah SAW termsuk pemimpin yang menempuh cara-cara
bersdusta dan palsu untuk mencapai tujuan. Sangkaan itu ditolak oleh kenyataan
sejarah tentang perilaku Rasulullah SAW , kejujuran dan perilakunya yang
terkenal, yang sudah disaksikan oleh musuh-musuhnya sebelum disaksikan oleh
kawan-kawan sendiri.
Orang-orang
munafik menuduh isterinya, Aisyah dengan tuduha berita bohong, pada hal Aisyah
isteri yang sangat dicintainya. Tuduhan yang demikian itu menyinggung
kehormatan dan kemuliaannya. Sedang wahyupun datang terlambat, Rasulullah SAW
dan para sahabat merasa sedih sekali. Beliau berusaha dengan sungguh-sungguh
untuk meneliti dan memusyawarahkannya. Dan satu bulan pun telah berlalu, akan
tetapi akhirnya ia hanya dapat mengatakan kepadanya :
` Telah sampai
kepadaku berita yang begini dan begitu. Apa bila engkau benar-benar bersih,
maka Allah akan membersihkanmu, dan apa bila engkau telah berbuat dosa, mohon
ampunlah engkau kepada Allah.`
Keadaan
berlangsung secara demikian hinggga turunlah wahyu yang menyatakan kebersihan
isterinya itu. Maka apakah yang menghalanginya untuk mengatakan kata-kata yang
dapat mematahkan para penuduh itu dan melindungi kehormatannya, seandainya
Qura`n kata-katanya sendiri. Tetapi dia tidak mau berdusta kepada manusia dan
juga kepada Allah.
`Seandainya dia
mengadakan sebagian perkataan atas Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia
pada tangan kanannya . Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya.
Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi , dari
pemotongan urat nadi itu.`( al-Haqqah : 44-47 ).
Ada segolongan
orang meminta izin untuk tidak ikut berperang di Tabuk. Mereka mengajukan
alasan. Diantara mereka terdapat orang-orang munafik yang sengaja mencari-cari
alasan. Nabi mengizinkan mereka. Maka turunlah wahyu Allah yang mencela dan
mempersalahkan tindakannya itu :
`Semoga Allah
mema`afkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka , sebelum jelas bagimu
orang-orang yang benar dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta?` (
at-Taubah :43).
Seandainya teguran
ini datang dari perasaannya sendiri dengan menyatakan penyesalannya ketika
ternyata pendapatnya itu salah, tentulah teguran yang begitu keras itu tidak
aka di ungkapkannya.
Begitu pula
teguran kepadanya karena ia menerima tebusan tawanan perang Badar. `Tidak
patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan
musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah
menghendaki akhirat . Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau
sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu
ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil.` (al-Anfal : 67-68
).
Begitu juga adanya
teguran karena berpaling dari Abdullah bin Ummi Maktum r.a yang buta. Karena
menekuni salah seorang pembesar Quraisy untuk diajak masuk Islam.
`Dia bermuka
masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanyaTahukah kamu
barangkali ia ingin membersihkan dirinya , atau dia mendapatkan pengajaran,
lalu pengajaran itu memberi manfa`at kepadanya? Adapun orang yang merasa
dirinya serba cukup , maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada atasmu kalau dia
tidak membersihkan diri . Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan
bersegera , sedang ia takut kepada , maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali
jangan ! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan,`( `Abasa
: 1-11 ).
Yang dikenal dlam
peri kehidupan Rasulullah SAW bahwa dia sejak kecil merupakan teladan yang khas
dlam hal budi pekerti yang baik, perilaku yang mulia ucapan yang benar dan
kejujuran dalam kata dan perbuatan. Masyarakatnya sendiri pun telah
menyaksikannya ketika mengajak mereka pada permulaan dakwah, ia berkata pada
mereka : ` Bagaimana pendapatmu sikaranya aku beritahukan kepadamu bahwa
pasukan berkuda dibalik lembah ini akan menyerangmu, percayakah kamu kepadaku ?
mereka menjawab: `ya` kami tidak pernah melihat Engkau berdusta.`
Peri hidupnya yang
suci itu menjadi daya tarik bagi manusia untuk masuk Islam. Dari Abdullah bin
Sallam r.a dia berkata : ` Ketika Rasulullah SAW datang kemadinah, orang-orang
mengerumininya. Mereka mengatakan : `Rasulullah sudah datang,Rasulullah sudah datang.`
Lalu aku datang dalam kerumunan orang banyak itu untuk melihatnya. Ketika aku
melihat Rasulullah SAW tahulah aku bahwa wajahnya itu bukanlah wajah pendusta.`
Orang yang
memiliki sifat-sifat agung yang dihiasi oleh tanda-tanda kejujuran tidak pantas
diragukan ucapannya ketika dia menyatakan tentang dirinya bahwa bukan dialah
yang membuat Qur`an
`Katakanlah:
`Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak
mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.`( Yunus : 15 ).
2. Kedua
Orang-orang
jahiliyah dahulu dan sekarag, menyangka bahwa Rasulullah SAW mempunyai
ketajaman otak, kedalaman penglihatan, kekuatan firasat, kecerdikan yang hebat,
kejernihan jiwa dan renungan yang benar, yang menjadikannya memahami ukuran
ukuran yang baik dan yang buruk, benar dan salah melalui ilham ( inspirasi ),
serta mengenali perkara-perkara yang rumit melalui kasyaf. Sehingga Qur`an itu
tidak lain dari pada hasil penalaran intelektual dan pemahaman yang diungkapkan
oleh Muhammad dengan gaya bahasa dan retirikanya.
Apakah yang
sebenarnya didasarkan pada kecerdasan, penalaran dan perasaan didalam Quran itu
?
Segi berita yang
merupakan bagian terbesar dalam Quran tidak diragukan oleh orang yang berakal
bahwa apa yang diterimanya hanya berdaarkan kepada penerimaan dan pengajaran.
Qur`an telah menyebutkan berita-berita tentang umat terdahulu,
golongan-golongan dan perisiwa sejarah dengan kejadian-kejadiannya yang benar
dan cermat, seperti halnya yang disaksikan oleh saksi mata. Sekalipun masa yang
dilalui oleh sejarah itu sudah amat jauh. Bahkan sampai pada kejadian pertama
alam semesta ini. Hal demikian tentu tidak dapat memberikan tempat bagi
penggunaan pikiran dan kecermatan firasat. Sedang Muhammad sendiri tidak semasa
dengan umat-umat dan peristiwperistiwa diatas dengan segala macam kurun
waktunya sehingga belaiu dapat menyaksikan kejadian-kejadian itu, dan menyampaikan
beritanya. Demikian pula beliautidak mewarisi kitab-kitabnya untuk dipelajari
secara perinci dan kemudian menyampaikan beritanya.
`Dan tidaklah kamu
berada di sisi yang sebelah barat ketika Kami menyampaikan perintah kepada
Musa, dan tiada pula kamu termasuk orang-orang yang menyaksikan. Tetapi Kami
telah mengadakan beberapa generasi, dan berlalulah atas mereka masa yang
panjang, dan tiadalah kamu tinggal bersama-sama penduduk Mad-yan dengan
membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka, tetapi Kami telah mengutus
rasul-rasul.`( al-Qashas:44-45 ).
`Itu adalah di
antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu ;
tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak kaummu sebelum ini.`( Hud :49 ).
`Kami
menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Qur`an ini
kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum nya adalah termasuk orang-orang yang
belum mengetahui.`( Yusuf : 3).
Dan diantaranya
ialah berita-berita yang cermat mengenai angka-angaka hitungan yang tidak
diketahui kecuali oleh orang terpelajar yang sudah sangat luas pengetahuannya,
didalam kisah Nabi Nuh : `Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada
kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun.
Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang
zalim.`(al-Ankabut : 29 ).
Hal ini sesuai
denga apa yang terdapat dalam kitab Kejadian dalam Taurat. Dan dalam kisah
Ashabul Kahfi ( penghuni Gua ) :
`Dan mereka
tinggal di dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun lagi.`
( al-Kahfi : 25 ).
Hitungan itu
menurut ahli kitab adalah tiga ratus tahun matahari, sedang sembilan tahun yang
disebutkan diatas ialah perbedaan perhitungan antara tahun matahari dengan
tahun bulan. Dari manakah Muhammada memperoleh angka-angka yang benar ini,
seandainya bukan karena wahyu yang diberikan kepadanya, sebab ia adalah seorang
buta huruf yang hidup dikalangan bangsa yang buta huruf pula. Tidak tahu tulis
manulis dan berhitung ? orang-orang jahiliyah lebih pintar menentang Muhammad
dari pada orang-orang jahiliyah modern. Sebab orang jahiliyah lama itu tidak
mengatakan bahwa Muhammad mendapatkan berita ini dari kesadaran dirinya seperti
dikataka orang-orang jahiliyah modern. Tetapi mereka mengatakan bahwa Muhammad
mempelajri berita itu dan kemudian dituliskan :
`Dan mereka
berkata: `Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan,
maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang.`(al-Furqaan :
5 ).
Muhammad tidak
menerima pelajaran dari seorang guru pun-akan kami jelaskan nanti-jadi dari
manakah berita-berita ini datang kepadanya secara seketika diwaktu usianya
telah empat puluh tahun. `Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang
diwahyukan.` (an-Najm : 4 ).
Itulah mengenai
segi berita dalam Quran, adapun ilmu-ilmu lain yang ada didalamnya, bagian
akaid saja mengandung perkara-perkara yang begitu terperinci tentang permulaan
mahluk dan kesudahannya. Kehidupan akhirat dan apa yang ada didalamnnya seperti
surga dengan segala kenikmatannya, neraka dengan segala azabnya dan lain
sebagainya. Seperti malaikat dengan segala sifat dan pekerjaannya. Pengetahuan
ini tidaklah memberikan tempat bagi kecerdasan akal dan kekuatan firasat
semata.
`Dan tiada Kami
jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat: dan tidaklah Kami
menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang
kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang
yang beriman bertambah imannya.` (al-Mudatsir : 31 ).
`Tidaklah
mungkin Al Qur`an ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi membenarkan
kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah
ditetapkannya , tidak ada keraguan di dalamnya, dari Tuhan semesta alam.` (
Yunus : 37 ).
Begitu juga
ketentuan-ketentuan yang memberi keputusan tentang berita-berita yang akan
datang yang berlaku pada sunnatullah yang bersifat sosial mengenai kelemahan
dan kekuatan, naik dan turun, mulia dan hina, bangun dan runtuh yang terdapat
didalam Qur`an :
`Dan Allah
telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan
amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa
dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka
berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah
diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar mereka, sesudah
mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku
dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.`(an-Nur : 55 ).
`Sesungguhnya
Allah pasti menolong orang yang menolong -Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar
Maha Kuat lagi Maha Perkasa, orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan
mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat,
menyuruh berbuat ma`ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada
Allah-lah kembali segala urusan.` (al-Hajj: 40-41 ).
`Yang demikian
itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu
ni`mat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah
apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri,` (al-Anfal : 53 ).
Dapat ditambahkan
pula bahwa AlQur`anul Karim telah menceritakan tentang Rasulullah bahwa dia
hanyalah mengikuti wahyu :
`Dan apabila
kamu tidak membawa suatu ayat Al Qur`an kepada mereka, mereka berkata: `Mengapa
tidak kamu buat sendiri ayat itu?` Katakanlah: `Sesungguhnya aku hanya mengikut
apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepadaku`(al-A`raf : 203 ).
Dan bahwa ia
adalah manusia yang tidak mengetahui perkara yang gaib dab tidak pulaberkuasa
atas dirinya sedikitpun.
`Katakanlah:
Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku:
`Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa`.( al-Kahfi : 110 ).
`Katakanlah:
`Aku tidak berkuasa menarik kemanfa`atan bagi diriku dan tidak menolak
kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang
ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan
ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa
berita gembira `.(al-A`raf : 188 ).
Rasulullah SAW
tidak sanggup memahami apa yang sebenarnya terjadi antara dua orang yang
berselisih yang datang mengahdapnya untuk meminta keputusan, meskipun dia
mendengarkan kata-kata mereka berdua. Maka tentu saja dia tidak sanggup untuk
mengetahui apa yang telah lalu dan apa yang akan datang.
` Rasulullah SAW
telah mendengar suatu perselisihan yang terjadi didekat pintu kamar beliau. Ia
mendatangi mereka dan berkata : ` Aku hanyalah seorang manusia; sedang kamu
meminta kepadaku untuk diadili. Mungkin salah satu puhak dari kamu akan lebih
baik dalam menyampaikan alasan, sehingga aku mengira bahwa dialah yang benar,
lalu aku memutuskan hal itu dengan memenangkannya. Yang kuputuskan dengan
memberikan kemenangan kepadanya dari hak seorang muslim itu adalah sepotong api
neraka. Dia boleh mengambilnya dan boleh pula meninggalkannya.`
Dr Muhammada
Abdullah Daraz mengatakan : `Pendapat inilah yang diramaikan oleh orang-orang
atheis masa kini dengan nama wahyu nafsi. Mereka mengira bahwa dengan nama ini
mereka telah memberikan kepada kita pendapat ilmiyah yang baru. Tetapi hal itu
sebenarnya tidak lah baru; ini adalh pendapat jahiliyah yang kuno; tidak
berbeda sedikitpun baik dalam garis besarnya maupun dalam perinciannya. Mereka
melukiskan Nabi saw. Sebagai seorang lelaki yang mempunyai imajinasi yang luas
dan perasaa yang dalam, maka dari beliau adalah seorang penyair.
Kemudian mereka
menambahkan bahwa kata hatinya mengalahkan inderanya, sehingga ia berkhayal
bahwa dia melihat dan mendengar seseorang berbicara kepadanya. Apa yag dilihat
dan didengarnya itu tidak lain dari pada gambaran khayal dan perasaannya
sendiri saja. Yang demikian itu suatu kegilaan dan ilusi. Namun mereka tidak
bisa berlama-lama mempertahankan alsan-alasan ini, mereka terpaksa harus
meninggalkan istilah ` gerak hati` ( al-wahyun-nafsi ), ketika mereka melihat
bahwa didalam Quran terdapat segi berita, baik berita masa lalu maupun berita
akan datang. Mereka mengatakan : mungkin berita-berita itu dia peroleh dari
para ahli ketika ia berdagang. Dengan demikian berati ia diajar oleh seorang
manusia. Jadi manakah yang baru menurut pendapat ini semua ? bukankah hal itu
hanyalah omongan biasayang menyerupai omongan kaum jahiliyah Quraisy ?
demikianlah atheisme dalam pakaiannya yang baru itu mempunyai bentuk yang
kotor, bahkan amat. Dan itulah yang menjadi sumber segala gagasan yang sudah
`maju` dimasa kini. Padahal ia hanyalah sisa-sisa hidangan yang diwariskan oleh
hati yang sudah membatu dimasa jahiliyah pertama.
`�Demikian pula
orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu;
hati mereka serupa.` ( al-Baqarah : 118 ).
Namun demikian
kalau ada orang heran, yang mengherankan lagi adalah kata-kata mereka yang
menyebutkan bahwa dia ( Muhammad ) adalah orang yang jujur dan terpercaya. Dan
bahwa dia beralasan menisbahkan apa yang dilihatnya sebagai wahyu ilahi. Sebab
mimpi-mimpinya yang kuat itu menunjukkan sebagai wahyu ilahi. Dia tidak mau
menjadi saksi kecuali apa yanh dilihatnya. Demikianlah Allah menceritakan
kepada kita tentang pendahulu-pendahulu mereka. `karena mereka sebenarnya bukan
mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat
Allah`.(al-An`am ; 33 ).
Apa bila ini
alasan Rasulullah SAW dalam menyatakan apa yang dilihat dan didengar, maka
alasannya dalam pengakuannya bahwa dia tidak mengetahui berita-berita itu, juga
tidak kaumnya sebelum itu. Sedang menurut sangkaan mereka dia telah
mendengarnya sebelumnya ? dengan demikian, mereka hendak mengatakan bahwa dia
mengada-ada, agar tuduham mereka itu sempurna. Tetapi mereka tidak mau
menyatakan kata-kata itu, sebab meraka mendakwakan diri mereka sendiri sebagai
orang yang subyektif dan bijaksana. Ingatlah sebenarnya mereka telah
mengatakannya tetapi mereka sendiri tidak merasa.
3. Ketiga
Orang-orang
jahiliyah dahulu dan modern menyangka bahwa Muhammad telah menerima ilmu-ilmu
Quran dari seorang guru. Yang demikian itu adalah benar, akan tetapi guru yang
menyampaikan Quran itu adalah malaikat wahyu, dan bukan guru dari golongannya
dan golongan lain.
Muhammada saw.
Tumbuh dan hidup dalam keadaan buta huruf dan tak seorang pun diantara merak
yang membawa simbol ilmu dan pengajaran, ini adalah kenyataan yang disaksikan
oleh sejarah, dan tidak dapat diragukan. Bahwa dia mempunyai guru yang bukan
dari masyarakatnya sendiri. Dalam sejarah tidaj ada kalangan peneliti yang
dapat memberikan kata sepakat yang patut dijadikan saksi bahwa, Muhammad telah
menemui seorang ulama yang mengajarkan agama kepadanya sebelum ia menyatakan
kenabiannya. Memang benar bahwa dimasa kecil ia pernah bertemu dengan Bahira
yang rahib itu, dipasar Busyra disyam. Dan di mekkah bertemu dengan Waraqah bin
Naufal setelah wahyu pertama turun kepadanya. Dan setelah hijrahbia bertemu
ulama-ulama yahudi dan nasrani. Tetapiyang pasti ia tidak pernah mengadakan
pembicaraan dengan mereka, sebelum ia menjadi Nabi. Sedang setelah ia menjadi
nabi, merekalah yan bertanya kepadanya untuk dijadikan bahan perdebatan,
sehingga mereka yang mengambil manfaat dan belajar kepadanya. Dan sekiranya
Rasulullah SAW yang belajar sedikitpun dari salah seorang diantara mereka,
sejarah tidak akan diam, sebab dia tidak ada perangainya yang buruk yang
diremehkan orang, terutama oleh mereka yang yang memang menentang Islam. Dan
apa yang disebutkan dalam sejarah mengenai rahib dari Syam atau Waraqah bin
Naufal merupakan sambutan gembira tentang kenabiannya atau sebagai pengakuan
Orang dapat
menanyakan kepada mereka yang menyangka bahwa Muhammad saw diajar oleh seorang
manusia: siapa nama gurunya itu ? ketika itu juga kita akan melihat jawaban
yang kacau balau yang mereka-reka, bahwa gurunya itu seorang ` pandai besi
Romawi` bagaiman dapat diterima akal bila ilmu-ilmu Al-Quran Al-Karim itu
datangnya dari yang tidak dikenal oleh mekkah sebagai orang yang pandai dan
mendalami kitab-kitab ? bahkan hanya seorang pandai besi yang sehari-harinya
hanya menepuni palu dan landasan besi, orang awam denga lidah asing, yang dalam
bacaanya dalam bahasa arab pun hanya mericau saja.
`Sesungguhnya
Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya ( Muhammad ). Padahal bahasa
orang yang mereka tuduhkan bahwa Muhammad belajar kepadanya bahsa asing, sedang
Quran dalam bahasa arab yang jelas. ( an-Nahl : 103 )
Orang-orang arab
sebenarnya ingin sekali menolak Quran karena dendam mereka kepada Muhammad
tetapi mereka tidak sanggup, tidak menemukan jalan dan usaha mereka jadi
sia-sia. Lalu kenapa orang-orang atheis kini mencar-cari jalan dalam
bekas-bekas sejarah, sekalipun kegagaln itu telah berlalu 13 abad lebih ?
dengan ini, jelasl;ah bahwa Quran tidak mengandung unsur manusia baik oleh
pembawanya atau oleh orang lain. Ia diturunkan oleh Tuhan yang maha bijaksana
dan maha terpuji.
Pertumbuhan
Rasulullah SAW dilingkungan yang buta huruf dan jahiliyah, dan perilakunya
ditengah-tengah kaumnya itu merupakan bukti yang kuat bahwa Allah telah
mempersiapkannya untuk membawa risalahnya. Allah mewahyukankepadanya Quran ini
untuk menjadi petunjuk bagi umatnya.
`Dan
demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu
tidaklah mengetahui apakah Al Kitab dan tidak pula mengetahui apakah iman itu,
tetapi Kami menjadikan Al Qur`an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa
yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu
benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. jalan Allah yang
kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah,
bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan.` ( as-Syuraa : 52-53)
Al Ustadz Muhammad
Abduh dalam risalatut Tauhid berkata : ` diantara tradisi yang dikenal adalah
bahwa seorang yatim yang fakir dan buta huruf seperti dia , jiwanya akan
diwarnai oleh apa yang dilihatnya sejak awal pertumbuhan sampai masa tuanya,
serta akalnya pun akan terpengaruh oleh apa yang didengar dari orang-orang yang
bergaul dengannya, terutama apa bila mereka kerabat dan satu suku. Sementara
itu dia tidak memiliki kitab yang dapat memberinya petunjuk, tidak pula guru
dan penolong yang akan memberi pelajaran dan melindunginya. Seandainya tradisi
berjalan seperti biasa, tentulah dia akan tumbuh dalam kepercayaan mereka dan
mengikutu aliran mereka pula hingga mencapai usia dewasa. Setelah itu, barulah
ia berpikir dan mempertimbangkan, lalu menentang mereka, bila ada dalil yang
menunjukkan kepadanya atas kesesatan mereka. Hal serupa itu juga telah
ditentukan oleh bebrapa orang yang semasa dengan dia.
Tetapi keadaannya
tidak demikian . sejak kecil ia sudah amat membenci penyembahan berhala. Dia
dibimbing oleh akidah yang berssih dan ahlak yang baik. Firman Allah menyatakan
:
`Dan Dia
mendapatimu sebagai seorang yang bingung , lalu Dia memberikan petunjuk.`( ad
Dhuha : 7 ).
Ayat ini tidak
mengandung pengertian bahwa dia berada dalam penyembahan berhala sebelum
mendapat petunjuk tauhid, atau berada dalam jalan yang tidak lurus sebelum
berahlak yang agung. Sekali-kali tidak ! semua itu tentu hanya kebohongan yang
nyata. Tetapi yang dia maksudkan ialah kebingungan yang mencekam hati
orang-orang yang ikhlas, yang mengharapkan keselamatan bagi umat manusia,
mencari jalan keluar dari kehancuran dan petunjuk dari kesesatan. Dan Allah
telah memberi petunjuk kepada nabi-nya atas apa yang dicarinya, dengan
dipilihnya dia untuk menyampaikan risalahnya serta menentukan syariat-Nya.
VI. Kesesatan
Ahli Ilmu Kalam
Para ahli ilmu
kalam telah tenggelam dalam cara-cara filsuf dalam menjelaskan kalam Allah
sehingga mereka telah sesat dan menyesatkan orang lain dari jalan lurus. Mereka
membagi kalam Allah menjadi dua bagian : kalam nafsi yang kekal yang ada pada
dzat Allah, yang tidak berupa huruf, suara, tertib dan tidak pula bahasa. Dan
kalam lafdzi ( verbal ) yaitu yang diturunkan oleh para nabi a.s., yang
diantaranya adalah empat buah kitab. Para ahli ilmu kalam ini semakin terbenam
dalam perselisihan skolastik yang mereka adakan; apakah Quran dalam pengertian
kalam lafdzi mahluk atau bukan ? mereka memperkuat pendapat bahwa Quran dalam
pengertian kalam lafdzi diatas adalah mahluk. Dengan demikian meraka telah
keluar dari jalan para mujtahid dahulu dalam hal yang tidak ada nasnya dalam
kitab dan sunnah. Mereka juga menggarap sifat-sifat Allah denga anlisis
filosofis yang hanya menimbulkan keraguan dalam akidah tauhid.
Sedang madzab
ahlussunah waljamaah menentukan nama-nama dan sifat-sifat Allah yang sudah
ditetapkan oleh Allah atau oleh Rasulullah SAW dalam hadis sahih yang datang
dari nabi. Bagi kita sdah cukup beriman bahwa kalam itu adalah salah satu sifat
diantara sekian sifat Allah, Allah berfriman :
` Dan Allah
telah berbicara kepada Musa secara langsung` (an-Nisa`: 164 ).
Demikian pula
Al-Quran Al-Karim -wahyu yang diturunkan kepada Muhammad- adalah kalamulllah,
bukan mahluk sebagaimana tersirat dalam ayat : `Dan jika seorang diantara
orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia
supaya ia sempat mendengar firman Allah,`(at-Taubah : 6 ).
Penetapan mengenai
apa yang dinisbahkan oleh Allah sendiri atau oleh Rasulullah SAW, sekalipun
sifat itu juga ditetapkan pada hamba-hamba Allah, tidaklah mengurangi
kesempurnaan kesucian-Nya dan membuat-Nya serupa dengan hamba-hamba-Nya. Dengan
demikian kesamaan dalam nama itu tidak menharuskan kesamaan apa yang dikandung
oleh nama itu. Amat berbeda antara Khalik dan mahluk dalam hal dza, sifat dan
perbuatannya. Zat Khalik adalah maha sempurna, sifatnya paling tinggi dan
perbuata-Nya pun paling sempurna dan tinggi. Apa bila kalam itu merupakan sifat
kesempurnaan mahluk, bagaimana sifat ini ditiadakan dari Khalik ? kita menerima
apa yang diterima oleh sahabat Rasulullah SAW para ulama tabi`in, para ahli
hadis dan fiqih yang hidup dimasa-masa yang dinyatakan baik, sebelum lahir
segala macam bidat ( bid`ah ) para ahli ilmu kalam. Kita beriman kepada apa
yang datang dari Allah atau sahih dari Rasulullah SAW mengenai sifat-sifat dan
perbuatan Allah baik yang ditetapkan atau tidak, tanpa dikurangi, diserupakan
dimisalkan ataupun ditakwilkan. Kita tidak berhak menetapkan pendapat kita
sendiri mengenai hakikat dzat Allah ataupun sifat-sifat-Nya :
`Tidak ada
sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan
Melihat.` ( as-Syura : 11 ).