Hukum amal dakwah adalah
wajib syarie, tidak gugur selagi tidak ada pemerintahan yang bertanggungjawab dalam mempraktekkan dan mempertahankan Islam, bahkan setelah adanya pemerintahan Islam pun dakwah
masih wajib guna mempertahankan negara
Islam. Adapun status kewajibannya adalah Fardu `ain, bukan kifayah. Karena itu
seorang mukmin wajib melakukannya, jika tidak melakukannya akan berdosa, baik
laki-laki maupun perempuan. Seperti yang disebutkan dalam firman Allah :
“Dan
orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah)
menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang
ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan
mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah;
sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (At-Taubah : 71)
Dapat dilihat keterpaduan kerjasama antara lelaki dan wanita dalam melakukan amal dakwah ke
arah Islam dan penerapan hukum-hukumnya.
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa wanita Islam mempunyai peranan
istimewa dan memiliki
kewajiban melakukan amal dakwah seperti halnya laki-laki. Bahkan dalam
satu sisi peranan wanita dapat mengungguli peran laki-laki, terutama dalam bidang yang didominasi oleh kaum wanita. Ini kerana kaum
wanita mempunyai beberapa keistimewaan tersendiri dari sudut kesediaan,
kemampuan, sifat-sifat keperibadian, kejiwaan dan perasaan yang berbeda
daripada kaum lelaki. apalagi kalau kita lihat kondisi saat ini menunjukkan
bahwa keterlibatan wanita dalam dakwah dan kerja-kerja kemasyarakatan amat
penting, kerana wanita adalah salah satu dari sumber kekuatan Islam.
Ummu ‘Atiyyah al-Ansariyyah umpamanya menjadikan rumahnya markaz dakwah dan menimba ilmu. Beliau begitu terkenal kerana keaktifannya di dalam memberi
nasihat dan menyampaikan ajaran Islam di kalangan pelbagai qabilah pada zaman
Nabi s.a.w. Baliau pernah disiksa dan dipenjarakan. Namun semangatnya tidak
patah.
Menurut Zainab al-Ghazali di dalam bukunya yang berjudul Ila Ibnati,
keadaan umat masa kini sangat memerlukan kaum wanita memainkan peranan yang
aktif di dalam dakwah. Ini disebabkan penjajah Barat mengeksploitasi wanita di
dalam menabur benih-benih kejahatan dan keruntuhan nilai-nilai akhlak dan
kemanusiaan. Wanita Islam yang kurang agamanya serta sedikit
ilmunya akan terus menjadi alat propaganda syaitan di dalam menyebarkan kemungkaran melalui media massa, baik media cetak maupun
media elektronik.
Menurut penelitian beliau, wanita adalah orang yang memiliki peranan
penting dalam menjalankan operasi dakwah di kalangan yang sejenis
dengan mereka. Karena mereka lebih memahami
tabiat, kedudukan dan permasalahan yang dihadapi oleh kaum
mereka. Dengan itu mereka lebih berupaya masuk kedalam
hati
mad’u dengan pendekatan yang sesuai dan lebih serasi dengan fitrah mereka.
Dan dakwah tidak terbatas pada menyampaikan ceramah di masjid-masjid,
memberi tazkirah di dalam liqa’at mingguan atau majlis-majlis ta’lim, namun dakwah
yang mencakup pada usaha membentuk tingkah laku dan gaya hidup seseorang;
membentuk manusia yang memiliki akhlak mulia, tutur kata yang baik, kasih
sayang yang mendalam, persaudaraan yang jujur, kegigihan dalam bekerja, sabar
ketika bencana, teguh dan setia menanggung suka dan derita.
Karena itu medan dakwah cukup luas, setiap orang bisa bahkan wajib
memainkan peranan dalam berbagai medan dakwah, berusaha untuk bisa menyesuaikan
diri, meningkatkan kemampuan, kesesuaian masa, tempat, kapasitas dan kemampuan
yang dimiliki untuk kerja-kerja dakwah. Dan untuk menjadi da’iyah yang mumpuni,
maka harus memiliki bekal yang memadai baik aqidah, ibadah, akhlak dan ilmu
serta jihad dan hijrah, sehingga dengan bekal itu dapat menjadi penuntun dan
penunjang kelancaran dan keberhasilan dakwah.
Adapun bekal yang harus
dimiliki oleh seorang wanita (da’iyah) dalam berdakwah adalah sebagai berikut:
1.
Iman yang suci : Hati
yang selalu terpaut dengan Allah
Seorang wanita muslimah adalah wanita yang beriman bahwa
Allah SWT adalah Rabbnya, dan Muhammad Saw adalah nabi-Nya, serta islam pedoman
hidupnya. Dampak itu semua nampak jelas dalam perkataan, perbuatan, dan
amalannya. Dia akan menjauhi apa-apa yang menyebabkan murka Allah, takut dengan
siksa-Nya yang teramat pedih, dan tidak menyimpang dari aturan-Nya. Keimanan
yang berbuah pada ketaatan kepada Allah SWT terhadap
segala perintah dan larangan yang telah ditetapkan secara sunguh-sungguh. Ketaatan
kepada Allah SWT akan menelurkan kasih dan cinta yang tidak ternilai di sisi
manusia. Ketaatan dan cinta kepada Allah ini bukanlah mudah diperoleh
sekirannya persediaan kearah itu disepelekan. Bagi seorang da’iyah harus
memiliki bekal keimanan yang benar sehingga mampu menembus relung hati dan
dapat diterima oleh mad’unya terhadap materi yang disampaikan olehnya.
Ada sebab-sebab yang dapat menguatkan keimanan seseorang
sehingga kadar keimanannya naik dan bertambah.
Firman Allah: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman
itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan
apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka
karenanya dan kepada Tuhan merekalah mereka bertawakkal." (Q.S. 8:2).
Di samping itu ada pula perbuatan-perbuatan yang menyebabkan
turunnya kadar keimanan seseorang seperti: bermaksiat kepada Allah. Rasulullah
bersabda:
لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ
وَلَا يَسْرِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ
"Tidaklah seorang mukmin berzina ketika ia mukmin,
tidaklah seorang mukmin meminum khamar ketika mukmin, tidaklah seorang mukmin
mencuri ketika ia mukmin." (HR.
Bukhari, Muslim dan yang lainnya).
Untuk menjaga keimanan dibutuhkan penopang yang kokoh yaitu
berupa keyakinan kepada Allah SWT dengan diiringi perbuatan-perbuatan taqwa dan
menjauhi kemaksiatan sekecil apapun. Maka membersihkan hati dan menghilangkan
sekat-sekat yang menutupinya dari hidayah Allah SWT adalah langkah pertama
menuju keimanan yang hakiki.
1.
Sebagai syarat
diterimanya amal shalih
Allah SWT telah menjelaskan dalam kitab-Nya tentang hakikat
iman, yang dengannya Allah menerima amal perbuatan manusia, serta tercapainya
apa yang dijanjikan Allah SWT kepada orang-orang mukmin.
Firman Allah: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman
hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rosul-Nya kemudian mereka
tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan
Allah, mereka itulah orang-orang yang benar." (Q.S 49:15).
Bahwasannya keimanan yang benar adalah keyakinan yang tidak
tercampuri keraguan serta diiringi perbuatan sebagai buktinya seperti berjihad
di jalan Allah baik dengan jiwa maupun harta.
Keyakinan dalam hati saja tidaklah cukup untuk membuktikan
keimanan, hal ini tercermin dalam tindakan Iblis yang meyakini keesaan Allah
tapi membangkang terhadap perintah-Nya. Firman Allah: "Iblis berkata,
ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan."
(Q.S. 38:79).
Keimanan yang benar tersusun dari dua hal:
·
Keyakinan
yang mantap tanpa dicampuri keraguan dan kebimbangan.
· Amal perbuatan sebagai konsekwensi
keyakinan.
Sedangkan perbuatan itu dapat dibagi menjadi tiga macam:
·
Perbuatan
hati, seperti: Takut kepada Allah, bertawakkal kepada-Nya.
·
Perbuatan
lisan, seperti: Mengucapkan Syahadatain, bertasbih, istighfar dan lainnya.
· Perbuatan anggota tubuh seperti:
Sholat, puasa, berjihad di jalan Allah, berusaha mencari rizki dan lain-lain.
2.
Menjadikan hidup
memiliki tujuan
Dengan iman yang benar
maka kehidupan manusia menjadi terarah, dan memiliki tujuan yang jelas,
sebagaimana yang selalu dibaca oleh muslim dalam setiap mengawali shalatnya :
“Katakanlah; sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk
Allah Tuhan semesta alam”. (Al-An’am : 162)
Dalam syiar al-ikhwanul
muslimin juga disebutkan : “Allah Tujuan kami”.
Karena itu, seorang
wanita muslimah da’iyah harus mengetahui tujuan hidupnya, dalam berumah tangga,
menjadi istri untuk suaminya, menjadi ibu untuk anak-anaknya, menjadi bagian
masyarakat dan bergaul ditengah masyarakat, menjadi hamba Allah dan segala
aktivitas, sikap dan perbuatannya hanya ditujukan karena Allah yang
berlandaskan akidah yang benar dan iman yang mantap.
3.
Bekal tarbiyah generasi
awal
Rasulullah saw dalam
mengawali dakwahnya di Mekkah, yang pertama kali disampaikan dan diajarkan
kepada para sahabat adalah iman dan tauhid kepada Allah. Dalam kurun waktu 13
tahun para sahabat digembleng dengan
keimanan sehingga mampu mencetak generasi
yang teguh keimanan, kuat akidahnya dan lurus manhajnya.
Hendaknya wanita
muslimah da’iyah harus mengambil tauladan para salafus shalih generasi awal
untuk membekali diri dengan akidah dan iman, sehingga dengannya mencetak
pribadi yang shalih, teguh dan lurus dalam menjalankan hidup di muka bumi,
serta bisa menjadi tauladan bagi yang lain, terutama bagi anak-anak, saudara
dan teman-temannya.
4.
Menjadikan dakwah lebih
kokoh
Ingatlah wahai muslimah
bahwa dakwah yang tidak dilandasi dengan iman yang shahih tidak akan memberikan
manfaat sama sekali, dirinya akan rapuh dan tidak mampu bertahan lama. Ibarat
tong kosong nyaring bunyinya. Sekalipun ditopang dengan dana yang berlimpah,
perangkat yang canggih dan retorika yang memukau, jika tidak berdasarkan iman
maka semuanya merupakan fatamorgana yang tidak mampu memberikan manfaat dan
tidak akan mampu bertahan lama.
Faham komunis dan
sekularis merupakan dua contoh konkret akan rapuhnya sebuah ajaran yang tidak
berlandaskan iman. Begitupun dengan aliran sesat seperti Ahmadiyah, syiah,
al-qiyadah al-islamiyah dan lain-lainnya sekalipun mereka mengaku membawa
ajaran Islam namun tidak berlandaskan akidah yang murni pada sendirinya akan
hancur dan tidak akan bertahan lama.
5.
Kunci kebahagiaan dunia
akhirat
Dalam surat Al-Baqarah
ayat 202, Allah berfirman : “Dan diantara mereka ada yang mendo'a : '' Ya
Tuhan Kami , berilah kami kebaikan didunia dan kebaikan diakhirat dan pelihara
kami dari siksa Neraka. Merekalah Orang-orang yang mendapat kebahagian dari apa
yang mereka usahakan, dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.''
Firman Allah diatas
menjelaskan kepada kita tentang nasib baik bagi orang-orang yang berusaha dan
senantiasa berdo'a untuk mendapat keselamatan akhirat. Sebenarnya, itulah
tujuan utama seorang muslim, ialah diselamatkannya dari api neraka. Hakikat dan
tujuan hidup inilah yang merupakan kendali agar dalam hidupnya, manusia akan
berhati-hati, dia tidak akan berbuat semaunya sendiri.
Kita menyadari, bahwa
kehidupan dunia adalah sangat sementara, karena kita semua pada saatnya nanti
akan dipanggil kembali oleh Allah untuk meneruskan hidup di alam abadi di
akhirat nanti. Oleh sebab itu, Islam memerintahkan umatnya guna mempersiapkan
diri dengan bekal yang cukup untuk kehidupan yang tak terbatas, tentang
kehidupan dunia, dengan jelas Allah menjelaskan dalam Al-qur'an Surat Al-Hadid
ayat 20 sebagai berikut :
"Ketahuilah,
bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu adalah permainan. dan suatu yang
melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan
tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya
mengagumkan para petani; kemudian menjadi hancur. Dan akhIrat dan nanti ada
adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaannya dan kehidupan ini
tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu."
Jika Allah swt
melukiskan kehidupan dunia ini dengan perumpamaan yang rendah, bukanlah
maksudnya untuk meremehkan sama sekali kehidupan dunia ini. Akan tetapi,
sebagai satu peringatan zaman sampai manusia menyangkutkan hatinya kepada
kenikmatan yang sifatnya sementara.
Pada ayat tadi
sekaligus digambarkan pula tentang kenikmatan kehidupan di alam akhirat kelak
bagi orang-orang yang berbuat kebajikan di dunia ini, suatu kehidupan yang
penuh kasih sayang, penuh ampunan, dan penuh ridho Ilahi.
Menurut sudut pandang
Islam, diperlukan suatu tata hidup yang seimbang antara kebutuhan-kebutuhan
dunia dan akhirat. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Qashash ayat 77 :
“Dan carilah pada
apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu berupa kebahagiaan negeri akhirat,
tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu dari kenikmatan duniawi, dan berbuat
baiklah kepada orang lain sebagaiman Allah telah berbuat baik kepadamu dan
janganlah kamu berbuat kamu kerusakan di muka bumi sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.
Seorang muslim yang
betul-betul beriman, tidaklah akan terpesona oleh kemewahan dan kenikmatan
hidup di dunia. Sebab dia yakin bahwa semua itu akan sirna dan lenyap. Ia ingin
mendapatkan kenikmatan dunia dengan berusaha sekuat tenaga, tetapi dia juga berusaha
sekuat tenaga untuk menabung amal shaleh dan beribadah untuk kebahagiaannya
nanti di akhirat.
Dalam kehidupan dunia
yang sementara, tidak sedikit manusia yang terbujuk dan terpikat, ia lupa akan
hakikat dan tujuan hidupnya, lalu terjerumuslah ia ke lembah kesesatan dan
kehancuran. Ia berusaha menikmati manisnya dunia sepuas-puasnya, dan bersedia melakukan
berbagai cara untuk mendapatkan kenikmatan itu. Ia tak segan berbohong,
melakukan pemerasan dan penindasan terhadap sesama, dan lain sebagainya. Jika
sudah demikian, hilanglah rasa kasih sayang dan persaudaraan seseorang, lalu
hilanglah imannya kepada Allah.
2.
Ibadah yang shahih:
segala perbuatan yang dicintai dan diridhai Allah, baik dzahir dan bathin.
Allah SWT berfirman : "Dan
beribadahlah kepada Tuhanmu sampai mati mendatangimu,"(Al-Hijr:99). Dan
Allah juga berfirman : "Dan tidaklah aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali
untuk beribadah kepada-Ku" (QS. Adz-Dzariyat:56)
Allah menciptakan manusia bukan
untuk sia-sia, tetapi karena tujuan mulia yaitu untuk beribadah kepada-Nya.
Ibadah adalah kata yang mencakup segala hal yang dicintai dan diridhoi Allah
SWT. Kita menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangannya-Nya adalah
ibadah. Kita berbuat kebaikan kepada sesama muslim bahkan sesama manusia atau
kepada binatang sekalipun karena Allah adalah ibadah. Jadi Ibadah itu artinya
luas bukan hanya ibadah mahdhoh (murni) saja seperti shalat, puasa, zakat dan
haji, seperti dalam penjelasan Nabi saw bahwa cabang-cabang keimanan itu lebih
dari enam puluh atau lebih dari tujuh puluh cabang. Paling utama adalah Lailaha
illallah dan paling rendah adalah menyingkirkan duri di jalanan. Tapi ibadah
itu tidak berarti positif dunia maupun akhirat sampai memenuhi dua kriteria:
a.
Ibadah
itu harus dilakukan dengan ikhlas karena Allah.
b. Ibadah itu harus dilakukan sesuai
dengan petunjuk Rasulullah saw.
Satu syarat saja tidak diterima
Allah, sampai betul memenuhi kedua persyaratan itu. Allah SWT berfirman :
“Yang
menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang
lebih baik amalnya. dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (Al-Mulk : 2),
Dan
Allah berfirman :
“Katakanlah:
Sesungguhnya Aku Ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku:
"Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa".
barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan
amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat
kepada Tuhannya". (Al-Kahfi : 110)
Salah
satu sikap yang harus dimunculkan pada diri seorang muslim adalah sikap tunduk
dan patuh serta taat kepada Allah, menjunjung tinggi perintah-Nya, menghormati
aturan-aturan-Nya di atas segala-galanya sebagai wujud rasa kehambaan
kepada-Nya. Maka langkah pertama menyampaikan kepada ketundukan dan totalitas
yang sempurna adalah menanamkan iman kepada Allah SWT kedalam hati,
menghujamkan keyakainan yang kuat kedalam sanubari. Bahwa Allah adalah pencipta
manusia, Dia lebih tahu seluk beluk manusia, Dia Maha mengetahui apa yang baik
bagi manusia dan apa yang tidak baik. Rasa iman ini harus dibuktikan melalui
kesiapan mengemban kewajiban yang telah diwajibkan Allah kepada manusia berupa
syariat Islam,serta melaksanakannya dengan tulus ikhlas. Maka dalam hal ini ia
tidak segan-segan berkata :
"Ya
Tuhan kami, sungguh telah mendengar himbauan penyeru yang mengajak;
"Berimanlah kamu kepada Tuhan kamu! "Maka kamipun beriman." (Q.S. Ali Imran :193)
Pengakuan
seseorang bahwa ia telah beriman dan berislam tidak cukup untuk membuktikan ia
seorang mu'min atau muslim sejati, akan tetapi iman dan islam membutuhkan
pembuktian yang lebih kongkrit dan mendalam. Tak cukup tersimpan dalam jiwa dan
hati saja, sebab Iman dan Islam adalah amalan lahir bathin. Maka dalam
membuktikannya seseorang harus melaksanakan ibadah-ibadah yang telah diwajibkan
Allah, baik dengan anggota tubuh, tenaga, harta dan jiwa. Karena iman yang
tidak dibuktikan secara kongkrit, akan menjadikan orang diam seribu bahasa,
menyeret orang menjadi jumud dan beku, duduk berpangku tangan, lalu menjauhkan
diri ketempat yang sepi, dengan anggapan demi memelihara hati dan jiwa. Padahal
sedikitpun pengakuannya itu tidak pernah terbukti.
Para ulama menyimpulkan bahwa efek
positif ibadah yang dilaksanakan oleh seorang hamba akan menumbuhkan tiga hal
dalam kehidupan manusia:
Ibadah membentuk manusia sempurna,
dengan ibadah-ibadah yang dilakukan, maka hati nurani manusia akan diterangi
dengan cahaya ilahiyah, lidahnya akan selalu terhiasi dengan
perkataan-perkataan yang mulia, seperti zikir dan lain-lainya, anggota tubuh
menjadi indah dan segar sehingga ia mencapai tingkat kemanusian yang tinggi,
dan akhirnya mencapai kebahagiaan dalam arti seluas-luasnya.
· Ibadah membentuk sifat amanah.
· Ibadah menciptakan kegembiraan dan
suka cita.
·
Ibadah
mengeluarkan manusia dari alam kesusahan ke alam kesenangan, dari alam gelap
gulita kepada cahaya yang terang benderang. Dan ia mengeluarkan manusia dari
kesulitan, memberikan jalan keluar dan pemecahan dari kesulitan tersebut.
Allah berfirman : "Barang
siapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan menunjukkan baginya jalan
keluar, dan memberikannya rizqi yang tidak tidak disangka-sangka."
(Ath-Thalaaq: 2-3)
Akhirnya, marilah kita renungkan
firman Allah :
"Maka bertasbihlah dengan
memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat),
dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)." (Al-Hijr: 98-99)
Ketika Allah SWT
memerintahkan Ummahatul Mukminin untuk berdiam di rumah mereka, Allah
gandengkan perintah tersebut dengan perintah beribadah. Allah berfirman :
“Dan tetaplah
kalian di rumah-rumah kalian dan janganlah bertabarruj seperti tabarrujnya
orang-orang jahiliyyah yang terdahulu, tegaklah shalat, tunaikanlah zakat dan
taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya.” (Al-Ahzab: 33)
Dengan
menegakkan ibadah kepada Allah SWT ini, akan sangat membantu seorang wanita
untuk melaksanakan perannya dalam rumah tangga. Dan dengan ia melaksanakan
ibadah disertai kekhusyuan dan ketenangan yang sempurna akan memberi dampak
positif kepada orang-orang yang ada di dalam rumahnya, baik itu anak-anaknya
ataupun selain mereka.
·
Tujuan utama diciptakannya jin dan
manusia
Ibadah
adalah merupakan hakikat tujuan penciptaan manusia dan jin, sebagimana yang
tercantum dalam Al-Qur'an : "Tiada Aku ciptakan jin dan manusia,
hanyalah supaya supaya mereka beribadah, mengabdi, berbakti kepadaKu."(QS.
Adzdzaariyaat: 56)
·
Tujuan dakwah para nabi dan rasul
Diantara tujuan asasi
dari dakwah para nabi dan rasul adalah menyeru hamba-hamba Allah (kaumnya)
untuk beribadah Allah, mengajak mereka untuk kembali kepada tauhid dan
mengabdikan diri kepada Yang Maha Esa.
Allah berfirman bahwa
sebelum nabi Muhammad diutus telah datang para nabi dan rasul yang memberikan
peringatan dan mengajak mereka untuk beribadah kepada-Nya. “Dan kami tidak
mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya
tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan
aku".
Nabi Nuh misalnya
diutus oleh Allah untuk mengajak kaumnya untuk bertaqwa kepada Allah dan
menyembah-Nya. Allah berfirman : “
Sesungguhnya kami Telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan
memerintahkan): "Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab
yang pedih",Nuh berkata: "Hai kaumku, Sesungguhnya Aku adalah pemberi
peringatan yang menjelaskan kepada kamu, (yaitu) sembahlah olehmu Allah,
bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku.” (Nuh : 1-3) dan kisah-kisah nabi
lainnya.
Beberapa dimensi ibadah
:
1.
Banyak sujud kepada Allah
Wanita muslimah harus mendirikan shalat lima waktu tepat pada waktunya.
Tidak melalaikan waktu-waktu shalat tersebut karena disibukkan
pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, atau tugas sebagai ibu dan istri. Sebab
shalat merupakan tiang agama, siapa yang menegakkannya berarti dia menegakkan
agama, dan siapa yang meninggalkan-nya berarti dia telah merobohkan agama.
Shalat merupakan amal yang paling utama.
عن عبد الله بن مسعود قال: سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ بِرُّ
الْوَالِدَيْنِ قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
Diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud ra dia berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW
apakah amal yang paling utama?” Beliau menjawab, “Shalat tepat pada waktunya.”
Aku bertanya, kemudian apa lagi? Beliau menjawab, ” Berbakti kepada orang tua.”
Aku bertanya, kemudian apa lagi? Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah.”
(Muttafaq Alaih).
Wanita muslimah yang taat tidak merasa cukup hanya melaksanakan shalat
wajib lima waktu, tetapi juga melaksanakan shalat-shalat sunnah rawatib dan
nawafil (sunnah secara mutlak), bersujud menghadap Allah sesuai dengan
kesempatan dan kesanggupannya, seperti shalat dhuha dan shalat tahajud. Sebab
shalat-shalat sunah ini dapat mendekatkan hamba kepada Rabb -nya, mendatangkan
kecintaan Allah dan ridhaNya, menjadikannya termasuk orang-orang yang shalih,
taat dan beruntung.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ
قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ
إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي
يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ
الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ
Sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadist qudsy Allah berfirman: “Barangsiapa yang memusuhi seorang
pemimpin untukku, maka Aku telah membolehkannya untuk memeranginya, dan hambaku
senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan melaksanakan shalat-shalat nafilah
hingga Aku mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya, maka Aku menjadi
pendengarannya, dengannya dia mendengar, Aku menjadi penglihatannya, dengannya
dia melihat, Aku menjadi tangannya, dengannya dia bertindak, Aku menjadi
kakinya, dengannya dia berjalan. Jika dia memohon kepadaKu maka Aku benar-benar
akan memberinya dan Jika dia meminta perlindungan kepadaKu maka Aku benar-benar
akan melindunginya”. (HR.Al-Bukhari).
Dan hal-hal lain yang merupakan kewajiban seorang wanita muslimah, dan
jangan lupa memohon taufik kepada Allah untuk merealisasikan semua itu!
2. Banyak
dzikir kepada Allah
Dzikir adalah amalan yang mudah, setiap orang mampu melakukannya, baik
orang kaya maupun miskin, orang yang berilmu maupun jahil, orang merdeka atau
budak, laki-laki maupun wanita, besar ataupun kecil.
Bagi Wanita muslimah, hendaknya berdzikir kepada Allah dalam setiap
keadaan, dan menjadikan dzikir sebagai amalan yang mengisi hari-harinya, karena
merupakan amalan yang amat mudah dilakukan, kapan saja dan dimana saja, dalam
keadaan bersuci atau berhadats, saat haidh, nifas dan kondisi lainnya.
Allah SWT berfirman :
“Hai orang-orang yang
beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dengan zikir yang
sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang hari”.
(Al-Ahzab : 41)
Dalam ayat diatas Allah
SWT memerintahkan kepada orang beriman –laki-laki dan wanita- untuk banyak bezikir kepada-Nya; Hal ini
karena pada hakikatnya seorang hamba memang sangat perlu berzikir mengingat
Allah. Bahkan merupakan kebutuhan yang sangat urgen. Ada sebuah perumpamaan
bagi orang yang selalu berzikir: Orang yang berzikir seperti orang yang dikejar
musuh dan segeralah ia berlindung di sebuah benteng yang kokoh, sehingga berhasil menyelamatkan
diri dari ancaman musuh. Orang yang
selalu berzikir insya Allah aman dari gangguan syetan dan dijaga dari mengikuti
hawa nafsu yang tidak baik.
Pengertian zikir disini
bisa berarti mengingat Allah SWT dengan banyak menyebut nama-Nya, baik secara
lisan maupun di dalam hati. Seperti banyak menyebut Subhanallah wabi hamdihi
subhanallah hil ‘azim dua kalimat ini kata Rasulullah merupakan kalimat yang
ringan di ucapkan oleh lisan tapi sangat memberatkan di timbangan dan sangat
begitu dicintai oleh Allah.
Sebagaimana Nabi
bersabda:
كَلِمَتَانِ خَفِيْفَتَانِ فِي الِّلسَانِ
ثَقِيْلَتَانِ فِي الْمِيْزَانِ مَحْبُوْبَتَانِ إِلىَ الرَّحْمَنِ : سُبْحَانَ
اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ العَظِيْمِ
“Dua kalimat yang
begitu ringan diucapkan lisan dan sangat berat ditimbangan serta dangat disukai
oleh Allah SWT yang Maha Pengasih, adalah Subhanallah wabihamdihi subhanallah
hil adzim”.
Dan berzikir bisa
berarti mengingat Allah dalam berbagai keadaan, bagaimanapun keadaannya ia
tetap mengingat Allah. Ia selalu merasa dilihat dan diawasi segala gerak
geriknya oleh Allah. Sehingga dimanapun berada ia tidak berani melakukan hal
yang dilarang oleh Allah.
Ibadah zikir juga
mempunyai beberapa keutamaan diantaranya: Allah akan menemtramkan hati orang
yang selalu berzikir. Sebagaiman Allah berfirman dalam surat Ar-Ra’ad ayat 28 :
“Ketahuilah bahwasanya
dengan mengingat Allah hati akan menjadi tentram” (Ar-Ra’ad : 28)
3.
Tilawah Al-Quran disertai tadabbur
Pada
dasarnya Al-Quran diturunkan kepada Manusia memiliki dua fungsi, seperti yang
disebutkan dalam firman Allah :
“Ini
adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya
mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang
yang mempunyai fikiran”. (Shad : 29)
·
Ditadabburkan, (dibaca dan
difahami)
· Dijadikan pelajaran (dihafal dan diamalkan)
Namun
dalam kenyataannya kadang seorang manusia –saya, anda dan kita- jauh dari
melakukan dua hal diatas, kecuali membaca dan membaca. Kurang dari melakukan
interaksi yang baik terhadap Al-Quran yang menjadi sumber rujukan, hukum,
petunjuk, dan pelita kehidupan baik dunia ataupun akhirat.
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا
اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ تَعَالَى يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ
السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ
اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
Rasulullah SAW bersabda
: "Orang-orang yang
berkumpul di masjid dan membaca Al Qur'an, maka kepada mereka Allah akan
menurunkan ketenangan batin dan limpahan rahmat, dan dilindungi para malaikat
serta Allah selalu memujinya pada siapa ada disisi-Nya' (HR Muslim).
Sebagian orang
mengartikan tadarus dengan membaca Al Qur'an secara patungan (secara
bergiliran). Kendatipun ada manfaatnya seperti yang disebutkan dalam hadits :
عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ : مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ فَلَهُ بِكُلِّ آيَةٍ عَشْرَ حَسَنَاتٍ، لاَ
أَقُوْلُ الم عَشْرٌ ، وَلَكِنْ أَلِفْ ، وَلاَم ، وَمِيْم ثَلاَثُوْنَ حَسَنَةً
"Barangsiapa
membaca satu huruf Al Qur'an, maka pahala untuknya sepuluh kali lipat kebaikan,
saya tidak katakana alif lam mim huruf, namun alif, lam dan mim 30 kabaikan
"(HR Tirmidzi).
Namun, membaca dalam
konteks hadits di atas, tidak perlu diartikan secara harfiah. Ketenangan batin
dan limpahan rahmat akan mungkin lebih bisa dicapai bila tadarusan diartikan
dengan mempelajari, menelaah, dan menikmati Al Qur'an. Sudah saatnya kita tidak
lagi mengandalkan "pengaruh psikologi magnetis" dalam membaca Al
Qur'an (tanpa mengetahui maknanya). Karena bagi kita sudah saatnya untuk
mendapatkan arti limpahan rahmat tersebut dari telaah kandungan isi Al Qur'an.
Bagi wanita shalihah
tidaklah seperti yang dicontoh diatas, namun dirinya memahami betul akan
kewajibannya terhadap Al-Quran, menjadikannya sebagai wirid harian dalam
hidupnya, minimal dalam sebulan dapat menghatamkan Al-Quran satu kali.
4.
Do’a dan munajat
Wanita muslimah selalu
mendekatkan diri kepada Allah dan hatinya selalu bergantung kepada-Nya, memohon
doa dan bermunajat hanya kepada Allah. Do’a merupakan permohonan seorang hamba
kepada Allah SWT dan merupakan ibadah yang sangat penting, sebagaimana Allah
SWT berfirman :
“Dan Tuhanmu berfirman:
“Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan kuperkenankan bagimu, sesungguhnya
orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (tidak mau berdo’a) akan
masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina.” (Q.S. Al-Mu;min: 60)
Nabi saw juga bersabda :
الدُّعَاءُ مُخُّ العِبَادَةِ
“Do’a itu otak
(inti) ibadah”
Dan wanita yang suka
berdoa, memohon kepada Allah SWT menjadi pertanda kerendahan hatinya, pengakuan
bahwa hanya Allah Yang Maha Kuasa dan Berkehendak, pemberi rizki, pemberi
kehidupan dan hidayah serta berbagai kenikmatan lainnya, sedangkan dirinya
adalah hamba yang lemah, yang mengharap petunjuk dan pertolongan dari-Nya. Oleh
karena itu Allah menyebutkan somnong orang yang tidak mau berdoa kepada-Nya dan
mengancamnya akan dimasukkan kedalam neraka jahannam dalamkeadaan hina dina.
Dan Doa wanita lebih makbul daripada lelaki karena sifat penyayangnya yang
lebih kuat dari lelaki.
5.
Shodaqoh dan infaq
Sedekah yang paling
utama adalah sedekah pada bulan Ramadhan (HR.
Tirmidzi)
Wanita shalihah adalah
wanita yang pandai menggunakan uangnya untuk kebaikan dan kemaslahatan yang
panjang, terutama dengan selalu bersedekah dan berinfak di jalan Allah SWT.
Aisyah ra, ummul
mukminin adalah sosok wanita yang dermawan dan suka bersedekah dari harta yang
dimilikinya, pernah suatu ketika beliau diberi hadiah berupa uang sebesar 200
dinar (dalam riwayat lain 100 dinar), namun beliau segera menginfakkan seluruh
uangnya di jalan Allah tanpa ada tersisa sedikitpun.
6.
Puasa sunnah
Wanita yang shalihah
juga pandai membagi waktunya dalam beribadah, menjaganya agar tidak terbuang
sia-sia, termasuk dengan berusaha melakukan ibadah puasa sunnah jika suaminya
mengijinkannya. Karena puasa sunnah yang dilakukan oleh wanita shalihah harus
meminta izin terlebih dahulu, apalagi jika suami sedang berada dirumahnya.
Puasa sunnah adalah
puasa yang dikerjakan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan diwajibkan
tetapi hanya disunnahkan yang apabila dikerjakan mendapat pahala jika
ditinggalkan tidak apa-apa.
Adapun yang termasuk
puasa sunnah diantaranya :
·
Puasa sehari dan berbuka sehari. (atau yang dikenal
dengan puasa sunnah nabi Daud) Maksudnya puasa yang diseling, sehari mengerjakan puasa dan sehari tidak, dikerjakan
terus menerus.
·
Puasa pada awal bulan Dzulhijjah. Yaitu puasa dari
tanggal satu sampai tanggal sembilan bulan dzulhijjah. Termasuk dalam hari
tersebut adalah hari puasa Arafah tanggal 9 dzulhijjah yang mana ganjarannya
sangat besar disisi Allah. Puasa hari Arafah.
·
Puasa Muharram.
·
Puasa hari ke 9 dan 10 bulan Muharram
(Tasu’a dan Asyura).
·
Puasa pada hari senin dan Kamis.
·
Puasa tiga hari pada setiap bulan
Qomariyah.
· Puasa
enam hari pada bulan Syawal.
7.
Mencari rizki halal dan toyyib
Diantara ciri wanita
shlihah adalah mencari rizki halal, baik dengan mencarinya melalui tangannya
senduri atau dengan member wasiat kepada suaminya (jika sudah bersuami) untuk
mencari rizki yang halal dan toyyib: Allah SWT berfirman "Hai
orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling makan harta kamu dengan tidak
sah, kecuali dengan cara perdagangan atsa dasar suka sama suka. janganlah kamu
membunuh (menghancurkan) diri sendiri, Allah sungguh Maha Pengasih kepada kamu.
Dan barang siapa melakukannya dengan melanggar hukum dan tidak adil, akan Kami
lemparkan ke dalam api neraka. Dan yang demikian bagi Allah mudah sekali"
(An-Nisa: 29-30).
Ayat di atas hanya
mengimbau orang-orang yang beriman. Mengapa tidak kepada semua orang? Karena
Allah Maha Tahu, yang akan percaya merenungkan dan mengamalkan Alquran hanya
orang yang beriman. Maka Hanya sekali-sekali saja Alquran mengimbau seluruh
manusia.
"Janganlah kamu
saling makan harta kamu dengan tidak sah". Karena dalam
perekonomian mustahil bisa berjalan sendiri, maka tiap pelaksanaan kegiatan
ekonomi pada dasarnya dilakukan lebih dari satu orang atau membutuhkan banyak
pihak, Pedagang membutuhkan pembeli dan begitu sebaliknya.
Dalam ayat di atas
terdapat kata batil, yang secara harfiah mempunyai makna sia-sia atau
merugi. Tapi yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah melakukan kegiatan
ekonomi yang menyimpang, baik dari tuntunan syariat maupun dari
perundang-undangan. Jadi bisa dikatakan bahwa segala kegiatan perekonomian yang
menyimpang dari tuntunan syariat dan perundang-undangan yang berlaku atau
aturan-aturan yang telah ditetapkan termasuk dalam kategori batil
Alquran tidak melarang
kegiatan ekonomi di antara sesama manusia, khususnya orang-orang yang beriman,
karena dalam kehidupan ini manusia membutuhkan makan, minum, dan segala
kebutuhan hidup lainya. Kegiatan perekonomian ini tidak dilarang, tetapi
dianjurkan. Bahkan ada sebuah hadits mengecam orang yang bermalas-malasan.
Islam mengajarkan bahwa
dalam melaksanakan perekonomian harus didasarkan pada prinsip-prinsip:
a.
Suka sama suka, penjual merasa puas
karena barang-barang dagangannya laku terjual, begitupun pembeli merasa puas
karena barang yang dibelinya berkualitas tinggi dan bermanfaat.
b.
Usaha ekonomi harus mencerminkan unsur
keadilan antara kedua belah pihak. Jangan sampai salah satu pihak merasakan
ketidakadilan.
c.
Asas Manfaat, tingkah laku dalam usaha
perekonomian harus melahirkan manfaat bagi kehidupan manusia. Maka
barang-barang yang membawa madharat dan dampak negatif bagi kehidupan
manusia dilarang diperjualbelikan oleh agama, seperti: minuman keras,
obat-obatan terlarang dan sebagainya, karena tidak mempunyai nilai guna.
Dalam kehidupan, bahwa
makanan dan minuman yang masuk kedalam perut atau yang dikonsumsi akan
berpengaruh pada baik tidaknya perkembangan fisik maupun jiwa orang yang
memakan harta itu.
8.
Menghiasi diri dengan akhlak karimah:
yaitu merupakan gerak reflek yang menghasilkan perbuatan dan perkataan tanpa
melalui difikir lebih dahulu.
Kita memahami bahwa Allah tidak memandang paras
rupa (kecantikan) seseorang namun akhlak yang mulia yang menjadi nilai yang agung
disisi-Nya. Akhlak mulia dan sempurna menjadi pakaian yang kekal manakala
kecantikan akan luntur dimakan usia. Tetapi jika kecantikan ini dapat disepadankan
dengan akhlak yang mulia sudah tentu ia adalah pilihan utama setiap insan.
Untuk melahirkan wanita yang berakhlak baik
perlulah dididik dan diasuh dengan nilai-nilai yang begitu rupa agar
meninggikan lagi taraf kamanusian dan sekaligus membedakannya dengan sifat kehewanan.
Isteri yang berakhlak mulia dengan mudah dapat
memahami akan bentuk-bentuk pakaian yang harus dikenakan pada tubuhnya dalam
keadaan tertentu; dapat mengawal perkataan-perkataan yang ma’ruf ketika
berbicara dan mengetahui akan batas-batas bergaul sesama teman, suami, keluarga
dan juga saudara-saudara yang lainnya.
Di samping itu segala tindakannya mempunyai
perbedaan dengan wanita yang tidak soleh. Ia tidak gemar membeli tanpa izin
suaminya. Juga tidak bertindak menggunakan harta dan uang suami tanpa seizinnya.
Sekiranya tidak mencukupi maka dia mengambilnya secara yang ma’ruf sebagaimana
yang dilakukan oleh isteri Abu Sufian; Rasulullah menasihatkan agar mengambil
dengan ma’ruf dan sesuai kebutuhan. Isteri yang soleh juga akan mudah mengawal
harta benda suami ketika tidak berada dirumah.
Definisi
Akhlaq
Beberapa
definisi akhlaq antara lain adalah :
Menurut
Ibnu Abbas ra ketika menafsirkan firman Allah SWTa dalam surat Al Qolam ayat 4
yang terjemahannya berbunyi sebagai berikut “Dan sesungguhnya kamu
benar-benar memiliki akhlaq yang agung”, akhlaq yang agung tersebut adalah
dien yang agung (Islam).
Didalam
Shohih Muslim, Aisyah ra pernah ditanya tentang akhlaq Nabi saw, lalu beliau
menjawab bahwa akhlaq Beliau saw adalah Al- Quran, karena segala perintah yang
terdapat didalam Al Quran beliau laksanakan dan segala larangan yang terdapat
didalamnya beliau tinggalkan.
kata “al
khuluqu” dan “al khulqu” berarti dien, tabiat dan sifat hakikatnya
adalah potret batin manusia yaitu jiwa dan kepribadiannya.
Al Imam
Ibnul Qoyyim Al Jauziyah Rohimahullohu menyebutkan beberapa pendapat tentang
definisi akhlaq didalam bukunya Madarijus Saalikin antara lain : akhlaq yang
baik adalah berderma, tidak menyakiti orang lain dan tangguh menghadapi
penderitaan. Pendapat lain menyebutkan bahwa akhlaq yang baik adalah berbuat
kebaikan dan menahan diri dari keburukan. Ada lagi yang mengatakan, “membuang
sifat-sifat yang hina dan menghiasinya dengan sifat-sifat mulia”
Imam Ibnu
Qudamah menyebutkan dalam Mukhtashor Minhajul Qoshidiin bahwa akhlaq merupakan
ungkapan tentang kondisi jiwa, yang begitu mudah menghasilkan perbuatan tanpa
membutuhkan pemikiran dan pertimbangan, jika perbuatan itu baik maka disebut
akhlaq yang baik, dan jika buruk maka disebut akhlaq yang buruk.
Dari
beberapa makna akhlak diatas jelas bagi kita bahwa akhlak merupakan ciri dari
seorang muslim secara umum, termasuk merupakan kepribadian yang harus dimiliki
oleh seorang wanita muslimah, sehingga dengannya dapat memberikan kebaikan
terhadap dirinya, terhadap suami dan anaknya, orang tuanya dan orang lain yang
berada dilingkungannya serta masyarakat secara umum.
Keutamaan
akhlaq yang baik
Syaikh
Salim bin ‘Ied Al Hilali menyebutkan keutamaan-keutamaan akhlaq yang mulia
yaitu :
i.
Akhlaq yang mulia merupakan
penyebab masuknya orang yang memiliki akhlaq yang mulia tersebut kedalam Jannah
(surga)
Nabi saw
bersabda :
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي
رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ
الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ
الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى
الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ
“Saya
adalah penjamin bagi orang yang meninggalkan mira (debat kusir) meskipun ia ada
dipihak yang benar, dan dengan rumah di tengah surga bagi siapa yang
meninggalkan dusta walaupun sekedar bercanda, dan dengan mendapatkan rumah di
jannah yang tertinggi bagi orang yang baik akhlaqnya” (HR. Abu Daud)
Dalam suatu
hadits juga disebutkan :
سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَكْثَرُ مَا
يُدْخِلُ الْجَنَّةَ قَالَ التَّقْوَى
وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَسُئِلَ مَا أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ
النَّارَ قَالَ الْأَجْوَفَانِ الْفَمُ وَالْفَرْجُ
Rasulullah saw
pernah ditanya tentang perbuatan yang menyebabkan banyak manusia yang masuk
Jannah, maka beliau menjawab : “Takwa kepada Allah dan akhlaq yang baik”,
beliau ditanya pula tentang penyebab yang menjadikan banyak manusia masuk
neraka, maka beliau menjawab “mulut dan kemaluan” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah,
Ahmad,, Ibnu Hibban dan Bukhori).
ii.
Akhlaq yang mulia merupakan
penyebab seorang hamba dicintai Allah
Rasulullah Saw
bersabda :
أَحَبُّ
النَّاسِ إِلىَ اللهِ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
“Hamba-hamba
Allah yang paling dicintai-Nya adalah yang paling baik akhlaqnya diantara
mereka” (HR. Ibnu Hibban)
iii.
Akhlaq yang mulia merupakan
penyebab seorang hamba dicintai
Dari Amru
bin Syu’aib dari bapaknya dari Kakeknya, bahwa dia mendengar Rasulullah Saw.
Beliau Saw bersabda :
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي
مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَسَكَتَ الْقَوْمُ فَأَعَادَهَا مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا
قَالَ الْقَوْمُ نَعَمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَحْسَنُكُمْ خُلُقًا
“Maukah
Aku beritahukan kepada kalian orang yang paling aku cintai diantara kalian dan
yang paling dekat dengan majelisnya dariku di hari kiamat? Para sahabat terdiam
hingga beliau mengulanginya dua kali dan ketiga kali, mareka berkata : Benat wahai Rasulullah. Rasulullah saw
bersabda : yaitu yang paling baik akhlaqnya diantara kalian” (HR. Ahmad)
iv.
Akhlaq yang mulia
mendapatkan timbangan yang paling berat di hari kiamat.
Rasulullah Saw
bersabda :
مَا
شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ
“Sesuatu
yang paling berat dalam timbangan seorang mukmin di hari kiamat adalah akhlaq
yang baik” (HR. Abu Daud, Ahmad, Ibnu Hibban dan selain mereka)
v.
Akhlaq yang mulia
meninggikan derajat seseorang disisi Allah
Rasulullah Saw
bersabda :
إِنَّ
الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ
الْقَائِمِ
“Sesungguhnya
seseorang itu dengan sebab akhlaqnya yang baik, sungguh akan mencapai derajat
orang yang sholat malam dan shaum di siang hari” (HR. Abu Daud, Hakim dan
selainnya).
Beliau Saw
juga bersabda :
إِنَّ الْمُسْلِمَ الْمُسَدِّدَ لَيُدْرِكُ
دَرَجَةَ الصَّوَّامِ الْقَوَّامِ بِآيَاتِ اللَّهِ بِحُسْنِ خُلُقِهِ وَكَرَمِ ضَرِيبَتِهِ
“Sesungguhnya
seorang muslim yang dibimbing lurus (oleh Allah) benar-benar akan mencapai
derajat ahli shaum dan ahli ibadah (sholat) yang selalu melantunkan ayat-ayat Allah
disebabkan karakternya yang mulia dan akhlaqnya yang baik” (HR. Ahmad)
vi.
Akhlaq yang mulia merupakan
sebaik-baik amalan manusia
Rasulullah Saw
bersabda :
عَنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ
اللهِ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
- : يَا أَبَا ذَرٍّ أَلاَ أَدُلُّكَ عَلىَ
خَصْلَتَيْنِ هُمَا أَخَفُّ عَلىَ الظَّهْرِ وَأَثْقَلُ فِى الْمِيْزَانِ مِنْ غَيْرِهِمَا
عَلَيْكَ بِحُسْنِ الْخُلُقِ وَطُوْلِ الصُّمْتِ فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ مَا
يَتَجَمَّلُ الْخَلاَئِقُ بِمِثْلِهَا
” Wahai Abu
Dzar, maukah aku tunjukkan kepadamu dua hal ; keduanya itu sangat ringan
dipikul dan sangat berat dalam timbangan dibandingkan selain keduanya?” Abu
Dzar menjawab, “Tentu wahai Rasulullah.”, beliau bersabda, “Engkau harus
berakhlaq yang baik dan harus banyak diam, demi yang jiwaku berada
ditangan-Nya, tidak ada amalan manusia yang menyamai keduanya.” (HR. Ya’la dan
Baihaqi)
vii.
Akhlaq yang mulia menambah
umur
viii.
Akhlaq yang mulia menjadikan
rumah makmur
Dari Aisyah
ra berkata : Rasulullah Saw bersabda kepadanya:
عَنْ
عَائِشَةَ أَنَّ
النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهَا إِنَّهُ مَنْ أُعْطِيَ حَظَّهُ
مِنْ الرِّفْقِ فَقَدْ أُعْطِيَ حَظَّهُ مِنْ خَيْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَصِلَةُ
الرَّحِمِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَحُسْنُ الْجِوَارِ يَعْمُرَانِ الدِّيَارَ وَيَزِيدَانِ
فِي الْأَعْمَارِ
“sesungguhnya
barangsiapa yang diberikan kebaikan dari lemha lembutnya maka telah diberikan
kebaikan dunia dan akhirat, dan silaturrahim, khlaq yang baik dan bertetangga
yang baik, keduanya menjadikan rumah makmur dan menambah umur” (HR. Ahmad)
9.
Hijrah dan jihad dijalan Allah
Hijrah
merupakan sebuah kata kunci untuk memunculkan peradaban baru itu. Yang
memindahkan masyarakat yang didera berbagai kesulitan, serba kekurangan, yang
belum dapat memunculkan kejayaan Islam dan peradaban Islam ke sebuah kawasan
baru, pendukung baru, kesituasi baru dimana Islam bisa dimunculkan,
diperjuangkan, dimenangkan dan disebarluaskan bahkan menjadi agama abadi yang
rahmatan lil alamin.
Hijrah
merupakan sebuah ungkapan yang memindahkan dari periode Mekah ke periode
Medinah, dari periode Mekah yang ungkapannya adalah sekedar ’Wahai umat
manusia’ pada periode Madinah yang ungkapannya’ Wahai orang-orang yang
beriman’. Disini hijrah membawa sebuah peningkatan kualitas kemanusiaan dari
sekedar manusia Menjadi manusia yang beriman.
Hijrah
juga membawa sebuah perubahan dari sekedar masyarakat yang diam menjadi
masyarakat yang berpindah menuju munculnya sebuah peradaban. Itulah sebabnya
hijrah Rasulullah berhasil merubah sebuah kota yang namanya Yatsrib menjadi
namanya Al Madinah bahkan menjadi Al Madinah al Munawaroh yaitu sebuah kota
yang memiliki peradaban yang dicerahkan oleh nilai-nilai Islam.
Salah
satu kunci keberhasilan Rasulullah dalam hijrahnya secara konkrit dapat
memunculkan persaudaraan ukhuwah dikalangan umat Islam yaitu Muhajirin dan
Anshor.
Hijrah
membawa kepada persatuan umat. Sekalipun bukan berarti bahwa persatuan itu
artinya persetujuan dengan adanya kemungkaran-kemungkaran, tapi persatuan ini dilakukan dalam rangka menegakan syariat
Allah dan dalam rangka ber-amar ma’ruf dan nahyi munkar Dengan hijrah ini kita
sebagai aktivis partai da’wah harus dapat membuktikan kembali bahwa hijrah
adalah sesuatu yang memiliki makna.
Maka
sangat benar bila Umar bin Khatab menjadikan hijrahnya Rasulullah SAW sebagai
tonggak untuk munculnya penanggalan baru. Artinya ada sebuah kebudayaan baru
dan memang hijrah menghasilkan kebudayaan baru.
Hijrah
juga memunculkan pemahaman kehidupan plural yang penuh maslahat dalam konteks
ketaatan kepada Allah dan Rasulnya. Itulah yang dimunculkan Rasulullah dalam
Piagam Madinah Karenanya dalam konteks semacam ini apa yang dahulu dicontohkan
Rasullah di Madinah harus dijadikan sebagai rujukan dalam meningkatkan semangat
dalam mengisi tahun baru Hijriyyah. Kita semua, para aktivis partai da’wah
telah berikrar untuk berjuang mencapai kemulian Islam agar Islam ini menjadi
rahmat bagi sekalian alam, oleh karena itu sangat perlu kembali berhijrah
seperti yang dilakukan oleh Rasulullah saw dalam mewujudkan tatanan dunia baru
yang menciptakan sebuah peradaban. Maka selayaknya bila kemudian tahun baru
hijrah ini dijadikan sebagai momentum untuk melakukan aktivitas ke depan dengan
semangat hijrah menuju Allah dan Rasulnya dengan cara yang diridhoi oleh Allah
dan Rasulnya. Insya Allah dengan hasil yang telah dibuktikan oleh Allah dan
Rasulnya melalui mujtama madani itu. Selamat berhijrah, selamat berda’wah,
selamat bertahun baru hijriyah.
Dari
pemahaman hijrah dapat difahami akan manfaat hijrah dalam kehidupan umat
manusia, termasuk wanita muslimah, yaitu berusaha menjauhkan diri dari
kemaksiatan menuju rahmat Allah, dari murka menuju ridha-Nya, dan
bersungguh-sungguh (bermujahadah) untuk menjadikan landasan hidup dalam segala
aktivitasnya sehari-hari.
10.
Membekali diri dengan ilmu yang
bermanfaat
Ilmu merupakan
perhiasan tak ternilai bagi muslimah.
Seorang yang
mendambakan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat harus memiliki pedoman dalam
menapaki kehidupannya di dunia. Dan pedoman hidup seorang hamba semua telah
diatur dalam syariat Islam.
Seorang yang sukses
bukanlah orang yang hidup dengan bersemboyan ‘semau gue’ dengan mengikuti hawa
nafsunya, tapi orang yang sukses adalah orang yang mengambil Al Qur’an dan
Sunnah Rasulullah Saw dengan pemahaman Salafus Shalih sebagai pengikat aturan
hidupnya. Petunjuk Allah SWT dan Rasul-Nya Saw ini tidak mungkin dapat
diketahui tanpa menuntut ilmu syar’i. Karena itulah, Allah dan Rasul-Nya
memerintahkan setiap Muslim dan Muslimah yang baligh dan berakal (mukallaf)
untuk menuntut ilmu. Dalam sebuah hadits dari Anas bin Malik ra, Rasulullah Saw
bersabda: “Menuntut ilmu wajib bagi setiap Muslim.” (HR. Ahmad)
Imam Ahmad rahimahullah
mengatakan bahwa ilmu yang wajib dituntut di sini adalah ilmu yang dapat
menegakkan agama seseorang, seperti dalam perkara shalatnya, puasanya, dan
semisalnya. Dan segala sesuatu yang wajib diamalkan manusia maka wajib pula
mengilmuinya, seperti pokok-pokok keimanan, syariat Islam, perkara-perkara
haram yang harus dijauhi, perkara muamalah, dan segala yang dapat
menyempurnakan kewajibannya.
Sebagai hamba Allah,
seorang Muslimah wajib mengenal Rabbnya yang meliputi pengetahuan terhadap
nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan Allah SWT sebagaimana diberitakan dalam
Al Qur’an dan hadits-hadits yang shahih. Selain itu, ia harus mengetahui bahwa
Allah SWT bersendiri dalam Mencipta, Mengatur, Memiliki, dan Memberi Rezeki. Ia
pun wajib menunaikan hak-hak Allah, yaitu beribadah hanya kepada-Nya dan tidak
menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, sebagaimana tujuan penciptaannya. Allah
berfirman:
“Dan tidaklah Aku
ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (QS.Adz
Dzariyat: 56)
Seseorang tidak akan
berada di atas hakikat agamanya sebelum ia berilmu atau mengenal Allah Ta’ala.
Pengenalan ini tidak akan terjadi kecuali dengan menuntut ilmu Dien (Agama
Islam).
Di samping mengenal
Allah, seorang Muslimah juga wajib mengenal Nabi-nya, yaitu Muhammad Saw,
karena beliau merupakan perantara antara Allah dengan manusia dalam penyampaian
risalah-Nya. Sesuai dengan makna persaksiannya bahwa Muhammad Saw adalah hamba
dan Rasul-Nya, maka ia wajib mentaati segala yang beliau perintahkan,
membenarkan segala yang beliau khabarkan, menjauhi apa yang beliau larang dan
tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang beliau syariatkan. Hal ini
sesuai dengan perintah Allah SWT:
“Apa yang diberikan
Rasul kepada kalian maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagi kalian maka
tinggalkanlah, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras
hukumannya.” (QS.Al Hasyr: 7)
Ayat ini merupakan
kaidah umum yang agung dan jelas tentang wajibnya seluruh kaum Muslimin
mengambil sunnah yang telah tetap dan hadits-hadits shahih dalam aqidah,
ibadah, muamalah, adab, akhlak, seluruhnya. Hal ini tidak akan diketahui
kecuali dengan menuntut ilmu terlebih dahulu.
Selain mengenal Allah
dan Rasul-Nya, seorang Muslimah juga wajib mengenal agama Islam sebagai agama
yang dianutnya, dengan memperhatikan dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah
yang shahihah, sehingga ia memiliki pendirian kokoh, tidak mudah terombang-ambing.
Dan agar ia berada di atas cahaya, bukti, dan kejelasan dari agamanya.
Sebagai istri, seorang
Muslimah dituntut agar menjadi istri yang shalihah, sehingga ia dapat menjadi
perhiasan dunia yang paling baik, bukan justru menjadi fitnah atau musuh bagi
suaminya. Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash ra berkata, Rasulullah Saw bersabda:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
عَمْرٍو أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا
الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
“Dunia
adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.”
(HR. Muslim)
Allah SWT
berfirman tentang sifat-sifat wanita shalihah:
“… maka wanita shalihah, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri
ketika suaminya tidak ada, oleh karena itu Allah telah memelihara mereka.”
(QS.An Nisa’: 34)
Maksud
ayat ini diterangkan oleh Asy Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi dan Asy Syaikh
Salim Al Hilali rahimahumullah bahwa wanita yang shalihah adalah yang
menunaikan hak-hak Allah SWT dan mentaati-Nya, mentaati Rasulullah Saw, dan
menunaikan hak-hak suaminya dengan mentaatinya dan menghormatinya, serta
menjaga harta suami, anak-anak mereka, dan kehormatannya tatkala suaminya tidak
ada. Untuk menjadi wanita shalihah yang seperti ini, seorang Muslimah
membutuhkan ilmu.
Sebagai
seorang ibu, ia mempunyai tanggung jawab mendidik anak-anaknya agar menjadi
anak-anak yang shalih dan shalihah. Di bawah kepemimpinan suami, istri adalah
penjaga rumah tangga suami dan anak-anaknya, sebagaimana dalam hadits dari Ibnu
‘Umar ra dari Nabi Saw bahwasanya beliau bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ
عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْأَمِيرُ رَاعٍ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَالْمَرْأَةُ
رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ
عَنْ رَعِيَّتِهِ
“setiap
kalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang yang dipimpinnya, laki-laki
adalah pemimpin atas keluarganya, wanita adalah pemimpin dalam rumah tangga
suaminya dan anak-anaknya, maka setiap kalian adalah pemimpin, akan ditanya
tentang yang dipimpinnya.” (Muttafaqun ‘Alaihi)
Hasil
didikan seorang ibu terhadap anak-anaknya inilah yang termasuk perkara yang
akan ditanyakan oleh Allah kelak di hari kiamat. Karena itulah Muslimah harus
menuntut ilmu syar’i sebagai bekal mendidik anak-anak sehingga fitrah mereka
tetap terjaga dan menjadi penyejuk hati karena keshalihan mereka.
Di
tempat lain, bila seorang Muslimah belum menikah, maka sebagai anak ia wajib
taat pada orang tuanya selama tidak memerintahkan kepada maksiat. Allah SWT
berfirman:
“Kami
wasiatkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya….”
(QS.Al Ankabut : 8)
Dalam
hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash ra dari Nabi Saw, beliau bersabda
tentang dosa-dosa besar atau ditanya tentang dosa besar:
الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَقَتْلُ النَّفْسِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ و قَوْلُ الزُّورِ
“Dosa-dosa
besar ialah menyekutukan Allah, durhaka pada orang tua, membunuh jiwa (tanpa
hak), dan sumpah palsu.” (HR. Bukhari)
Untuk
dapat berbuat baik dan menunaikan hak-hak orang tua dengan benar, seorang
Muslimah tidak bisa lepas dari ilmu.
Seluruh
kewajiban ini harus dapat ditunaikan dengan dasar ilmu. Karena jika tidak, akan
terjadi berbagai kesalahan dan kerusakan. Maka tidak heran, bila para Muslimah
yang bodoh terhadap agamanya melakukan berbagai praktek kesyirikan dan
kebid’ahan.
Akibat
kebodohannya pula, banyak Muslimah yang durhaka pada suami atau orang tuanya.
Atau terjadi berbagai kesalahan dalam mendidik anak sehingga muncullah generasi
yang berakhlak buruk, bahkan bisa jadi durhaka pada orang tua yang telah
merawat dan membesarkannya. Karena kebodohannya pula, banyak Muslimah yang
tidak mengetahui bagaimana ia harus menjaga kehormatannya, sehingga ia menjadi
fitnah dan terjerumus dalam perzinahan dan berbagai kemaksiatan. Kita
berlindung kepada Allah SWT dari yang demikian itu.
Usamah
bin Zaid ra berkata, telah bersabda Rasulullah Saw:
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اطَّلَعْتُ
فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ
فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ
“Aku diperlihatkan
penghuni surga dan aku dapatkan mayoritas penghuninya adalah orang-orang
miskin, dan aku diperlihatkan penghuni neraka, maka aku dapatkan mayoritas
penghuninya adalah para wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hanya
dengan menuntut ilmu, seorang Muslimah akan mengetahui jalan yang selamat. Kaum
Muslimah masa kini akan menjadi baik bila mereka mau mencontoh para Muslimah
generasi terdahulu (generasi salafuna shalih), mereka sangat memperhatikan dan
bersemangat dalam menuntut ilmu.
Dalam
sebuah hadits dari Abi Sa’id Al Khudri ra, ia berkata:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَتْ النِّسَاءُ
لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَلَبَنَا عَلَيْكَ الرِّجَالُ فَاجْعَلْ
لَنَا يَوْمًا مِنْ نَفْسِكَ فَوَعَدَهُنَّ يَوْمًا لَقِيَهُنَّ فِيهِ فَوَعَظَهُنَّ
وَأَمَرَهُن
“Seorang
wanita mendatangi Rasulullah Saw dan berkata: ‘Wahai Rasulullah! Kaum lelaki
telah membawa haditsmu, maka jadikanlah bagi kami satu harimu yang kami datang
pada hari tersebut agar engkau mengajarkan pada kami apa yang telah diajarkan
Allah kepadamu.’ Maka beliau bersabda : ‘Berkumpullah pada hari ini dan ini di
tempat ini.’ Maka mereka pun berkumpul, lalu Rasulullah Saw mendatangi mereka
dan mengajarkan apa yang telah diajarkan Allah kepada beliau.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
Rasulullah
Saw pun sangat bersemangat mengajar para shahabiyah, sampai-sampai beliau
menyuruh wanita yang haid, baligh, dan merdeka untuk menyaksikan kumpulan ilmu
dan kebaikan. Bahkan beliau Saw memutuskan udzur wanita yang tidak memiliki
hijab, sebagaimana yang disebutkan dalam Shahihain dari Ummu ‘Athiyah Al
Anshariyah radhiallahu 'anha, ia berkata: “Rasulullah Saw menyuruh kami
mengeluarkan wanita yang merdeka, yang haid, dan yang dipingit untuk keluar
pada hari Iedul Fithri dan Adha. Adapun yang haid memisahkan diri dari tempat
shalat, dan mereka pun menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum Muslimin. Aku
berkata : ‘Wahai Rasulullah! Salah seorang dari kami tidak memiliki jilbab.’
Beliau bersabda : ’Hendaklah saudaranya meminjamkan jilbabnya.’ “
Oleh
karena itulah, kita dapatkan dalam sejarah Islam, di antara mereka ada yang
menjadi ahli fiqih, ahli tafsir, sastrawati, dan ahli dalam seluruh bidang ilmu
dan bahasa. Sebagai contoh, Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiallahu 'anha yang
dididik dalam madrasah Rasulullah Saw sehingga beliau menjadi wanita yang
berilmu dan shalihah.
Imam Az
Zuhri rahimahullah berkata : ”Seandainya ilmu ‘Aisyah dikumpulkan dan
dibandingkan dengan ilmu seluruh wanita, maka ilmu ‘Aisyah lebih afdhal.”
Bahkan
‘Aisyah merupakan guru dari beberapa shahabat, ia menjadi bahan rujukan mereka
dalam masalah hadits, sunnah, dan fiqih. Urwah bin Az Zubair berkata : “Aku
tidak melihat orang yang lebih mengetahui ilmu fiqih, pengobatan, dan syi’ir
ketimbang ‘Aisyah.”
Para
wanita dari kalangan tabi’in juga berdatangan ke rumah ‘Aisyah untuk belajar,
di antara muridnya adalah Amrah bintu ‘Abdurrahman bin Sa’ad bin Zurarah. Ibnu
Hibban berkata : “Dia adalah orang yang paling mengetahui hadits-haditsnya
‘Aisyah.”
Di
antara deretan nama wanita generasi terdahulu yang cemerlang dalam ilmu adalah
Hafshah bintu Sirin yang masyhur dengan ibadahnya, kefaqihannya, bacaan Al
Qur’annya, dan hadits-haditsnya. Begitu pula Ummu Darda Ash Shuqra Hujaimah, ia
seorang yang faqih, ’alimah, banyak meriwayatkan hadits, cerdas, masyhur dengan
keilmuan, amalan, dan zuhudnya.
Demikianlah
--wahai saudariku Muslimah-- mereka adalah contoh terbaik bagi kita dan telah
terbukti bahwa Allah SWT mengangkat derajat orang-orang yang berilmu
sebagaimana firman-Nya:
“Allah
akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu
pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan.” (Al Mujadilah: 11)