Pendahuluan
Allah سبحانه
وتعالى telah menciptakan makhluk, menetapkan kadar bagi mereka lalu
memberi petunjuk. Termasuk dalam ketetapan-Nya ialah bahwa Dia membagikan
kepada mereka bagian-bagian masing-masing dalam hal agama, akal, kekayaan, dan
keindahan. Termasuk pula yang Allah سبحانه bagi dan tetapkan bagi setiap manusia
adalah bagiannya dari semangat tinggi (himmah) dan kehendak.
Manusia sangat berbeda-beda dalam hal ini. Ada yang
semangatnya begitu tinggi hingga hampir mencapai batas kesempurnaan. Ada pula
yang semangatnya begitu rendah hingga keadaannya menjadi lebih buruk daripada
binatang ternak.
Jika hal itu telah dipahami, maka ketahuilah, wahai
saudaraku yang tulus, bahwa perkara himmah adalah perkara besar dan
kedudukannya sangat penting. Seorang muslim patut memahaminya, memberinya
perhatian, dan selalu membicarakannya kepada dirinya sendiri, mudah-mudahan ia
termasuk orang yang memiliki himmah yang tinggi sehingga memperoleh kemenangan
yang besar.
Dalam lembaran-lembaran ini terdapat pembahasan-pembahasan
yang menjelaskan makna himmah, tanda-tandanya, bagaimana cara meraihnya, dan
makna-makna lain yang dibutuhkan para da‘i.
Yang dimaksud dengan tingginya himmah
Al-hamm adalah sesuatu yang menjadi perhatian
seseorang berupa suatu urusan yang hendak dilakukan.
Adapun al-himmah adalah dorongan yang melahirkan
perbuatan, dan ia bisa disifati dengan tinggi atau rendah.
Dalam al-Mishbah disebutkan: al-himmah dengan
kasrah pada huruf ha’ adalah awal dari tekad. Kadang juga digunakan untuk makna
tekad yang kuat. Karena itu dikatakan: “Ia memiliki himmah yang tinggi.”
Ada yang mengatakan: Tingginya himmah adalah
“memandang kecil segala sesuatu yang berada di bawah puncak perkara-perkara
yang mulia.”
Dan ada yang mengatakan: “keluarnya jiwa menuju puncak
kesempurnaan yang mungkin dicapainya dalam ilmu dan amal.”
Penulis al-Manazil berkata:
Al-himmah adalah sesuatu yang sepenuhnya menguasai
dorongan menuju tujuan, sehingga pemiliknya tidak dapat menahannya dan tidak
berpaling darinya.
Ucapannya: “menguasai dorongan menuju tujuan”
maksudnya adalah ia menguasainya sebagaimana seorang pemilik menguasai
miliknya. Dan kata “ṣarfan” berarti murni sepenuhnya.
Maksudnya: apabila himmah seorang hamba telah terkait dengan
Al-Haqq سبحانه
وتعالى dengan tuntutan yang jujur, murni, dan sepenuhnya bersih, maka
itulah himmah yang tinggi, yang “pemiliknya tidak dapat menahannya”,
yakni ia tidak mampu menunda dan tidak mampu menahan kesabarannya, karena
kuatnya kekuasaan himmah itu atas dirinya, dan kuatnya dorongan yang
mewajibkannya untuk mengejar tujuan. Ia “tidak berpaling darinya” kepada
sesuatu selain ketentuan-ketentuannya. Pemilik himmah seperti ini cepat sampai
dan cepat memperoleh apa yang ditujunya, selama tidak ada penghalang yang
menghambatnya dan ikatan-ikatan yang memutuskannya. Wallahu a‘lam.
Himmah adalah kehendak, tujuan, dan tekad untuk beramal.
Jika himmah telah menguasai pemiliknya, ia akan mendorongnya
dengan kehendak yang kuat menuju tujuannya, sehingga ia tidak berpaling kepada
selainnya.
Himmah yang paling tinggi adalah himmah yang terkait dengan
Allah سبحانه
وتعالى dalam tuntutan dan tujuan, serta menyampaikan makhluk kepada
petunjuk Ilahi melalui dakwah dan nasihat. Inilah himmah para nabi dan rasul عليهم الصلاة والسلام.
Tingkatan himmah
Himmah itu ada tiga tingkatan:
Pertama
Himmah yang menjaga hati dari keterasingan karena
kecenderungan kepada dunia dan ketergantungan padanya. Sebab himmah ini membawa
pemiliknya untuk mencintai apa yang tetap kekal, yaitu Al-Haqq سبحانه وتعالى, dan membebaskannya
dari penyakit lesu, malas, dan menyia-nyiakan kewajiban.
Kedua
Himmah yang melahirkan rasa enggan untuk peduli terhadap
alasan-alasan yang melemahkan, enggan turun dari amal, dan enggan tertipu oleh
angan-angan. Hal itu karena pemiliknya telah menggantungkan tekadnya pada
sesuatu yang lebih tinggi daripada beratnya unsur tanah dan daya tarik materi.
Maka ia merasa hina jika harus turun dari puncak yang tinggi ke jurang yang
rendah.
Ketiga
Himmah yang berinteraksi dengan kehidupan sebagai bentuk
taqarrub kepada Allah تعالى.
Sebab pemiliknya tahu bahwa ia diangkat sebagai khalifah, dan ia tidak akan
puas sebelum tujuannya tercapai. Sebagaimana burung terbang tinggi dengan kedua
sayapnya, demikian pula manusia akan terangkat tinggi dengan himmahnya.
Gambaran himmah seorang mukmin
Ibnu al-Jauzi menggambarkan himmah seorang mukmin, ia
berkata:
“Himmah seorang mukmin terkait dengan akhirat. Segala
sesuatu di dunia menggerakkannya untuk mengingat akhirat. Jika ia mendengar
suara yang menakutkan, ia teringat tiupan sangkakala. Jika ia melihat
kenikmatan, ia teringat surga.
Maka himmahnya terkait dengan keduanya. Lalu ia membayangkan
dirinya bergelimang dalam kenikmatan surga yang kekal, sehingga ia terbang
karena gembira. Maka menjadi ringanlah baginya segala kesulitan dan ujian yang
ada di jalan menuju surga itu. Karena orang yang rindu ke Ka‘bah akan merasa
ringan jauhnya perjalanan, dan orang yang mendambakan kesembuhan tidak peduli
dengan pahitnya obat.
Kemudian ia membayangkan dirinya berada di dalam neraka,
maka hidupnya terasa pahit dan kegelisahannya semakin kuat. Dalam dua keadaan
ini, ia tersibukkan dari dunia dan segala isinya. Hatinya mengembara di padang
kerinduan pada satu waktu, dan di padang ketakutan pada waktu yang lain. Maka
jika suara memanggilnya dan datang orang yang bertanya kepadanya, sebagian
mereka berkata kepada sebagian yang lain: ‘Biarkan dia, baru saja sesaat ia
beristirahat...’”
Imam al-Banna menggambarkan orang yang memiliki himmah
tinggi dengan berkata:
“Orang yang berakidah melihat jalan itu panjang, tujuan itu
jauh, dan hambatan itu laksana gunung besar. Karena itu ia menyiapkan untuknya
kesabaran yang lebih panjang, himmah yang lebih jauh, dan bekal kekuatan yang
lebih kokoh, agar ia dapat melewati semua hambatan itu dengan ridha dan
senyuman...”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga melewati berbagai
kesulitan dakwah dengan himmah yang tinggi, seraya berkata:
“Apa yang bisa dilakukan musuh-musuhku terhadapku?
Surgaku dan kebunku ada di dalam dadaku. Ke mana pun aku pergi, surgaku
bersamaku. Penjaraku adalah khalwat, pembunuhanku adalah syahadah, dan
pengasinganku adalah perjalanan.”
Dari mana muncul besarnya himmah?
Besarnya himmah tumbuh melalui jalan keteladanan, atau
melalui jalan penanaman hikmah dan penjelasan tentang keutamaan besarnya himmah
serta kemuliaan dan kesempurnaan yang diperoleh pemiliknya, atau melalui kajian
sejarah dan melihat perjalanan hidup orang-orang besar.
Kalau kita meneliti kebesaran tokoh-tokoh yang namanya
selalu disebut-sebut sejarah, niscaya kita akan mendapati bahwa kebanyakan
kemuliaan mereka dibangun di atas akhlak yang kita sebut besarnya himmah
ini.
Al-Qur’an memenuhi jiwa-jiwa dengan kebesaran himmah.
Kebesaran inilah yang mendorong para wali Allah bergerak ke kanan dan ke kiri,
lalu mereka meruntuhkan singgasana-singgasana yang zalim hingga lenyap dari
muka bumi, kemudian mereka mengangkat panji keadilan dan kebebasan, serta
memancarkan sungai-sungai ilmu pengetahuan dengan deras.
Jika kita melihat pada sebagian pembacanya himmah yang kecil
dan jiwa yang lesu, itu karena mereka tidak mentadabburi ayat-ayatnya dan tidak
memahami hukum-hukumnya.
Keutamaan besarnya himmah
Al-Mawardi رحمه
الله berkata:
“Ketahuilah bahwa termasuk tanda-tanda keutamaan dan
bukti-bukti kemuliaan adalah muru’ah, yaitu perhiasan jiwa dan keindahan
himmah.
Di antara hak-hak muru’ah dan syarat-syaratnya ada hal-hal
yang tidak dapat dicapai kecuali dengan usaha yang berat, dan tidak bisa
diketahui kecuali dengan perhatian dan pengawasan. Maka jelaslah bahwa menjaga
jiwa agar berada pada keadaan terbaiknya itulah muru’ah. Jika demikian, maka
tidak akan tunduk pada muru’ah itu — dengan beratnya beban-bebannya — kecuali
orang yang merasa ringan menghadapi kesukaran demi meraih pujian, dan yang
memandang kecil kenikmatan demi takut terhadap celaan. Karena itu dikatakan: pemimpin
suatu kaum adalah orang yang paling berat bebannya.”
Penyair berkata:
Apabila jiwa-jiwa itu besar,
maka badan-badan akan letih dalam mengejar keinginannya.
Yang mendorong seseorang menganggap ringan semua itu ada dua
perkara:
pertama, tingginya himmah,
kedua, mulianya jiwa.
Adapun tingginya himmah, maka karena ia menjadi pendorong
untuk maju, dan pengajak untuk tampil unggul, karena enggan terhadap kehinaan
dan ketersembunyian, serta merasa jijik terhadap rendahnya kekurangan.
Akhlak ini mengangkat pemiliknya sehingga mengarahkannya
kepada puncak-puncak perkara mulia. Akhlak inilah yang membangkitkan orang
lemah yang ditindas atau diremehkan, lalu ia menjadi mulia dan terhormat.
Akhlak inilah pula yang mengangkat suatu kaum dari keterpurukan, mengganti
kehinaan mereka menjadi kemasyhuran, penindasan menjadi kebebasan, dan ketaatan
buta menjadi keberanian moral.
Benar, akhlak ini membuat pemiliknya menempuh jalan
kelelahan dan kesusahan. Namun kelelahan dalam rangka mencapai puncak kemuliaan
itu laksana obat pahit yang diminum pasien sebagaimana ia meminum minuman yang
manis dan dingin. Orang yang besar himmahnya terkadang sangat tamak terhadap
kemuliaan sampai-sampai hampir tidak merasakan kesulitan dan gangguan yang ia
hadapi di jalannya.
Syaikh al-Khadr Husain رحمه الله berkata:
“Di antara tabiat orang merdeka dan mulia adalah bahwa ia
tidak puas dari kemuliaan dunia dan akhirat dengan apa pun yang telah
terbentang baginya, selama ia masih berharap sesuatu yang lebih tinggi
derajatnya dan lebih luhur kedudukannya.
Karena itu Umar bin Abdul Aziz berkata kepada Dukain
ar-Rajiz: ‘Sesungguhnya aku memiliki jiwa yang selalu rindu. Setiap kali aku
mencapai suatu kedudukan, aku menginginkan kedudukan yang lebih mulia daripada
yang aku tempati ini.’ Ia mengucapkan itu ketika menjadi gubernur Madinah bagi
Sulaiman bin Abdul Malik. Ketika khilafah kemudian sampai kepadanya, Dukain
datang menemuinya. Maka ia berkata kepadanya: ‘Sebagaimana telah kuberitahukan
kepadamu, aku memiliki jiwa yang selalu rindu. Jiwaku telah merindukan
kedudukan-kedudukan dunia yang paling mulia. Ketika aku telah mencapainya,
ternyata jiwaku merindukan kedudukan-kedudukan akhirat yang paling mulia.’”
Dalam makna ini, ada syair:
Orang merdeka tidak akan puas meraih kemuliaan
hingga ia mengejar sesuatu yang di bawahnya ada kebinasaan.
Ia digerakkan oleh harapan yang di bawahnya ajal pun
terasa ringan,
dan bila rasa takut menahannya, maka hasratlah yang memanggilnya.
Karena itulah Musa berkata kepada Tuhannya:
“Perlihatkanlah diri-Mu kepadaku,”
padahal ia memandang kepada-Mu dengan penuh keheranan dalam pertanyaannya.
Ia adalah orang yang diajak bicara langsung, menerima
wahyu dan kitab-kitab,
namun tetap ingin bertambah dalam kemuliaan yang telah diraihnya.
Hadits-hadits tentang tingginya himmah
1
Dari al-Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:
Rasulullah ﷺ
bersabda:
“Sesungguhnya Allah Ta‘ala mencintai perkara-perkara yang
tinggi dan mulia, serta membenci perkara-perkara yang rendah dan hina.”
2
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Nabi ﷺ mengirim pasukan
berkuda ke arah Najd. Mereka datang membawa seorang lelaki dari Bani Hanifah
bernama Tsumamah bin Utsal. Mereka mengikatnya pada salah satu tiang masjid.
Maka Nabi ﷺ
keluar menemuinya dan bersabda:
“Apa yang engkau miliki, wahai Tsumamah?”
Ia menjawab: “Aku punya kebaikan, wahai Muhammad. Jika
engkau membunuh, engkau membunuh orang yang punya darah (kedudukan dan
pembela). Jika engkau memberi nikmat, engkau memberi nikmat kepada orang yang
tahu berterima kasih. Dan jika engkau menginginkan harta, mintalah sesukamu.”
Ia dibiarkan sampai keesokan harinya. Lalu Nabi ﷺ bertanya lagi:
“Apa yang engkau miliki, wahai Tsumamah?”
Ia menjawab: “Aku memiliki apa yang telah kukatakan
kepadamu.”
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
“Lepaskanlah Tsumamah.”
Lalu ia pergi ke kebun kurma dekat masjid, mandi, kemudian
masuk ke masjid seraya berkata:
“Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak
disembah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah. Wahai Muhammad,
demi Allah, dahulu tidak ada wajah di muka bumi yang lebih kubenci daripada
wajahmu, sekarang wajahmu menjadi wajah yang paling kucintai. Demi Allah,
dahulu tidak ada agama yang lebih kubenci daripada agamamu, sekarang agamamu
menjadi agama yang paling kucintai. Demi Allah, dahulu tidak ada negeri yang
lebih kubenci daripada negerimu, sekarang negerimu menjadi negeri yang paling kucintai.
Pasukanmu menangkapku ketika aku hendak melaksanakan umrah. Maka apa
pendapatmu?”
Rasulullah ﷺ
pun memberi kabar gembira kepadanya dan memerintahkannya untuk berumrah. Ketika
ia datang ke Makkah, seseorang berkata kepadanya: “Apakah engkau telah
berpindah agama?” Ia menjawab: “Tidak, demi Allah. Akan tetapi aku telah masuk
Islam bersama Muhammad Rasulullah. Dan demi Allah, tidak akan datang kepada
kalian sebutir gandum pun dari Yamamah sampai Nabi ﷺ mengizinkannya.”
3
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:
Sejumlah kaum muslimin berhijrah ke Habasyah, dan Abu Bakar pun bersiap hendak
berhijrah. Maka Nabi ﷺ
bersabda kepadanya:
“Tenanglah, sesungguhnya aku berharap akan diberi izin
juga.”
Dalam hadits itu disebutkan:
Aisyah berkata: “Suatu hari kami sedang duduk di rumah kami pada siang yang
sangat panas, lalu seseorang berkata kepada Abu Bakar: ‘Ini Rasulullah ﷺ datang dengan
menutupi kepalanya, pada waktu yang tidak biasa beliau datang kepada kami.’ Abu
Bakar berkata: ‘Demi ayah dan ibuku sebagai tebusan bagimu, demi Allah beliau
tidak datang pada waktu ini kecuali karena suatu urusan.’”
Nabi ﷺ
datang lalu meminta izin, maka beliau diizinkan masuk. Ketika masuk, beliau
berkata kepada Abu Bakar:
“Keluarkan orang-orang yang ada di sisimu.”
Abu Bakar menjawab: “Mereka hanyalah keluargamu, demi ayahku
sebagai tebusan bagimu, wahai Rasulullah.”
Beliau bersabda:
“Sesungguhnya aku telah diizinkan untuk keluar (hijrah).”
Abu Bakar berkata: “Apakah aku akan menjadi teman
perjalananmu, demi ayahku sebagai tebusan bagimu, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab:
“Ya.”
4
Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata:
Kami keluar dari kaum kami, yaitu Ghifar. Mereka biasa menghalalkan bulan
haram. Aku keluar bersama saudaraku Unais dan ibu kami, lalu kami singgah
kepada paman kami. Paman kami memuliakan dan berbuat baik kepada kami, lalu
kaumnya hasad kepada kami. Mereka berkata: “Jika engkau keluar meninggalkan
keluargamu, Unais akan mendatangi mereka.” Maka paman kami datang menyampaikan
kepada kami apa yang dikatakan orang-orang itu kepadanya. Aku berkata: “Adapun
kebaikanmu yang lalu, engkau telah mengeruhkannya. Tidak ada lagi hubungan
antara kami setelah ini.”
Maka kami mendekatkan hewan tunggangan kami, lalu memuat
barang di atasnya. Paman kami menutupi dirinya dengan pakaiannya sambil
menangis. Kami pun pergi hingga singgah di dekat Makkah. Lalu Unais bertaruh
dengan seseorang tentang hewan tunggangan kami dan semisalnya. Kami mendatangi
seorang kahin, dan kahin itu memenangkan Unais. Maka Unais datang membawa
tunggangan kami dan tambahan yang semisal dengannya.
Abu Dzar berkata:
“Aku telah salat, wahai anak saudaraku, tiga tahun sebelum bertemu Rasulullah ﷺ.”
Aku bertanya: “Untuk siapa?”
Ia menjawab: “Untuk Allah.”
Aku berkata: “Menghadap ke mana?”
Ia menjawab: “Aku menghadap ke arah mana Rabbku
mengarahkanku. Aku salat Isya, lalu ketika akhir malam aku rebah seperti kain
hingga matahari menyinari tubuhku.”
Lalu Unais berkata: “Aku punya keperluan di Makkah,
gantikanlah aku.” Maka Unais pergi ke Makkah dan terlambat datang kembali.
Ketika ia datang, aku bertanya: “Apa yang engkau lakukan?” Ia menjawab: “Aku
bertemu seorang lelaki di Makkah yang berada di atas agamamu. Ia mengaku bahwa
Allah mengutusnya.” Aku bertanya: “Apa kata orang-orang tentang dia?” Ia
menjawab: “Mereka mengatakan: penyair, dukun, tukang sihir.” Padahal Unais
sendiri termasuk salah seorang penyair.
Unais berkata:
“Aku telah mendengar ucapan para dukun, dan ini bukan perkataan mereka. Aku
telah mengukur ucapannya dengan berbagai pola syair, maka tidak mungkin menurut
lidah siapa pun setelahku bahwa ini adalah syair. Demi Allah, sungguh ia benar,
dan mereka benar-benar pendusta.”
Aku berkata: “Tolong gantikan aku sampai aku pergi
melihatnya sendiri.”
Maka aku datang ke Makkah. Aku mencari-cari seorang lelaki
lemah di antara mereka, lalu aku bertanya: “Di mana orang yang kalian sebut
orang yang keluar dari agama itu?” Ia memberi isyarat kepadaku dan berkata:
“Itu orang murtad!” Maka penduduk lembah menyerangku dengan batu tanah dan
tulang hingga aku jatuh pingsan. Ketika aku bangun, tubuhku seperti patung
merah karena darah. Aku mendatangi Zamzam, lalu mencuci darah dari diriku dan
meminum airnya.
Demi Allah, wahai anak saudaraku, aku tinggal selama tiga
puluh hari tiga puluh malam tanpa makanan selain air Zamzam. Aku menjadi gemuk
hingga lipatan-lipatan perutku terbelah, dan aku tidak merasakan lapar sama
sekali.
Abu Dzar berkata:
Suatu malam ketika penduduk Makkah berada di bawah cahaya bulan yang terang,
dan seakan-akan mereka tertidur nyenyak, tidak ada seorang pun yang thawaf di
Baitullah, kecuali dua orang wanita yang sedang menyeru Isaf dan Na’ilah.
Keduanya datang melewatiku dalam thawaf mereka. Aku berkata: “Nikahkanlah salah
satunya dengan yang lain!” Tetapi keduanya tidak menghentikan seruan itu.
Ketika keduanya datang lagi, aku berkata tentang keduanya suatu ucapan yang
kasar tanpa kinayah. Maka keduanya pergi sambil menjerit dan berkata:
“Seandainya ada seseorang dari kaum kami di sini!”
Lalu Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar bertemu keduanya ketika sedang turun. Beliau
bertanya:
“Ada apa dengan kalian berdua?”
Keduanya menjawab: “Orang yang keluar dari agama itu ada di
antara Ka‘bah dan kain-kain penutupnya.”
Beliau bertanya:
“Apa yang ia katakan kepada kalian berdua?”
Keduanya menjawab: “Ia mengatakan kepada kami satu kata yang
memenuhi mulut.”
Lalu Rasulullah ﷺ datang, mengusap Hajar Aswad, thawaf bersama sahabatnya, lalu
salat. Setelah beliau menyelesaikan salatnya, Abu Dzar berkata: “Akulah orang
pertama yang memberi salam Islam kepada beliau.” Aku berkata:
السَّلَامُ
عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ
“Semoga keselamatan tercurah kepadamu, wahai Rasulullah.”
Beliau menjawab:
“وعليك
السلام ورحمة الله”
“Dan kepadamu keselamatan dan rahmat Allah.”
Kemudian beliau bertanya:
“Siapa engkau?”
Aku menjawab: “Dari Ghifar.”
Beliau menundukkan tangannya dan meletakkan jari-jarinya di
dahinya. Dalam hatiku aku berkata: “Beliau tampaknya tidak suka aku menisbatkan
diri kepada Ghifar.” Maka aku hendak memegang tangan beliau, tetapi sahabat
beliau mencegahku — dan ia lebih mengetahui keadaan beliau daripadaku. Lalu
beliau mengangkat kepalanya dan bertanya:
“Sejak kapan engkau berada di sini?”
Aku menjawab: “Aku telah berada di sini selama tiga puluh
hari tiga puluh malam.”
Beliau bertanya:
“Siapa yang memberi makan kepadamu?”
Aku menjawab: “Aku tidak punya makanan selain air Zamzam.
Aku menjadi gemuk sampai lipatan-lipatan perutku pecah, dan aku tidak merasakan
panas lapar.”
Beliau bersabda:
“Sesungguhnya air itu diberkahi, ia adalah makanan yang
mengenyangkan.”
Abu Bakar berkata: “Wahai Rasulullah, izinkan aku menjamunya
malam ini.” Maka Rasulullah ﷺ,
Abu Bakar, dan aku pergi. Abu Bakar membuka sebuah pintu lalu mengambilkan
untuk kami kismis Thaif. Itulah makanan pertama yang kumakan di Makkah.
Kemudian aku tinggal beberapa waktu.
Lalu aku datang lagi kepada Rasulullah ﷺ. Beliau bersabda:
“Sesungguhnya telah diperlihatkan kepadaku suatu negeri
yang memiliki pohon kurma; aku tidak melihatnya kecuali Yatsrib. Maka maukah
engkau menyampaikan dariku kepada kaummu? Mudah-mudahan Allah memberi manfaat
kepada mereka melalui dirimu dan memberimu pahala pada mereka.”
Aku mendatangi Unais. Ia berkata: “Apa yang telah engkau
lakukan?” Aku berkata: “Aku telah masuk Islam dan membenarkannya.” Ia menjawab:
“Aku pun tidak membenci agamamu; sesungguhnya aku juga telah masuk Islam dan
membenarkannya.” Lalu kami mendatangi ibu kami. Ia berkata: “Aku pun tidak
membenci agama kalian berdua; aku juga telah masuk Islam dan membenarkannya.”
Maka kami membawa barang-barang kami hingga datang kepada
kaum kami Ghifar. Setengah dari mereka masuk Islam, dan yang mengimami mereka
adalah Ima’ bin Rahdhah al-Ghifari, pemimpin mereka. Setengah yang lain
berkata: “Jika Rasulullah ﷺ
telah datang ke Madinah, kami akan masuk Islam.” Setelah Rasulullah ﷺ tiba di Madinah,
setengah yang tersisa itu pun masuk Islam. Kemudian datanglah kabilah Aslam.
Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, saudara-saudara kami, kami masuk Islam di
atas apa yang mereka masuk Islam di atasnya.” Maka mereka pun masuk Islam. Lalu
Rasulullah ﷺ
bersabda:
“Ghifar, semoga Allah mengampuninya; dan Aslam, semoga
Allah menyelamatkannya.”
5
Dari Sulaiman bin Bilal radhiyallahu ‘anhu, bahwa ketika
Rasulullah ﷺ
keluar menuju Badar, Sa‘d bin Khaitsamah dan ayahnya sama-sama ingin ikut
keluar bersama beliau. Hal itu disebutkan kepada Nabi ﷺ, maka beliau memerintahkan agar salah
seorang dari keduanya yang berangkat. Keduanya melakukan undian. Khaitsamah bin
al-Harits berkata kepada putranya Sa‘d radhiyallahu ‘anhuma:
“Sesungguhnya salah seorang dari kita harus tinggal. Maka
tinggallah engkau bersama para wanitamu.”
Sa‘d menjawab:
“Kalau bukan karena surga, aku pasti akan mendahulukanmu. Sesungguhnya aku
sangat berharap syahid dalam perjalanan ini.”
Maka keduanya melakukan undian, dan undian jatuh kepada
Sa‘d. Lalu ia keluar bersama Rasulullah ﷺ menuju Badar, dan ia dibunuh oleh ‘Amr bin
‘Abd Wudd.
6
Dari Sa‘d radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
Aku melihat saudaraku, ‘Umair bin Abi Waqqash, sebelum Rasulullah ﷺ memeriksa kami pada
hari Badar, ia bersembunyi. Maka aku berkata: “Ada apa denganmu, wahai
saudaraku?” Ia menjawab: “Aku khawatir Rasulullah ﷺ melihatku lalu menganggapku terlalu kecil
dan menolakku, padahal aku sangat ingin keluar, mudah-mudahan Allah
menganugerahkan syahadah kepadaku.”
Sa‘d berkata: Maka ia diperiksa oleh Rasulullah ﷺ, lalu beliau
menolaknya. Ia pun menangis, sehingga akhirnya beliau mengizinkannya. Sa‘d
radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku dulu mengikatkan tali pedangnya karena
tubuhnya yang kecil.” Lalu ia gugur, sedangkan umurnya baru enam belas tahun.
7
Keberanian Abu Mihjan ats-Tsaqafi radhiyallahu ‘anhu
(Pertempurannya pada hari Qadisiyah hingga mereka mengira ia malaikat)
Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ibnu Sirin, ia berkata:
Abu Mihjan ats-Tsaqafi radhiyallahu ‘anhu terus-menerus dicambuk karena minum
khamr. Ketika hal itu berulang, mereka pun memenjarakannya dan membelenggunya.
Ketika terjadi perang Qadisiyah, ia melihat orang-orang sedang berperang.
Seakan-akan ia melihat kaum musyrikin sedang menimpakan kerusakan besar kepada
kaum muslimin. Maka ia mengirim pesan kepada Ummu Walad Sa‘d — atau kepada
istri Sa‘d — katanya:
“Sesungguhnya Abu Mihjan berkata kepadamu: jika engkau
melepaskannya dan memberinya kuda ini serta menyerahkan senjata kepadanya,
niscaya ia akan menjadi orang pertama yang kembali kepadamu, kecuali jika ia
terbunuh.”
Lalu ia melantunkan syair:
Cukuplah kesedihanku ketika kuda-kuda bertemu tombak,
sedangkan aku dibiarkan terikat dengan belenggu.
Bila aku berdiri, besi menghalangiku,
dan pintu-pintu tertutup di hadapanku, seolah memekakkan seruan.
Maka wanita itu pergi dan menyampaikan hal itu kepada istri
Sa‘d. Lalu ia melepaskan belenggunya, membawanya ke seekor kuda belang yang ada
di rumah, memberinya senjata, lalu ia keluar berlari hingga menyusul pasukan.
Ia terus menyerang setiap orang hingga membunuhnya dan mematahkan punggungnya.
Sa‘d memandangnya dengan takjub dan berkata: “Siapakah penunggang kuda itu?”
Tidak lama kemudian Allah mengalahkan musuh. Abu Mihjan pun kembali,
mengembalikan senjata, dan memasukkan kembali kedua kakinya ke dalam belenggu
sebagaimana semula.
Ketika Sa‘d datang, istrinya atau Ummu Walad-nya berkata
kepadanya: “Bagaimana peperangan kalian?” Maka Sa‘d mulai menceritakan dan
berkata: “Kami bertemu dan bertemu... sampai Allah mengirim seorang lelaki di
atas kuda belang. Kalau bukan karena aku meninggalkan Abu Mihjan dalam keadaan
terbelenggu, pasti aku mengira itu adalah salah satu penampilan Abu Mihjan.”
Maka wanita itu berkata: “Demi Allah, itulah Abu Mihjan.
Kisahnya begini dan begitu.” Ia menceritakan kisahnya kepada Sa‘d. Maka Sa‘d
memanggilnya dan melepaskan belenggunya. Abu Mihjan radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Demi Allah, aku tidak akan meminumnya lagi selamanya. Sebelumnya aku merasa
enggan meninggalkannya karena cambukan kalian.” Maka setelah itu ia tidak
meminumnya lagi.
8
Dari Ma‘qil bin Yasar, bahwa Umar bin al-Khaththab
radhiyallahu ‘anhu bermusyawarah dengan al-Hurmuzan. Umar bertanya: “Menurutmu,
mana yang harus dimulai: Persia, Azerbaijan, atau Isfahan?”
Al-Hurmuzan menjawab: “Persia dan Azerbaijan itu dua sayap,
sedangkan Isfahan adalah kepala. Jika engkau memotong salah satu sayap, sayap
yang lain masih berdiri. Tetapi jika engkau memotong kepala, maka kedua sayap
itu akan jatuh. Maka mulailah dari kepala.”
Umar pun masuk masjid, sedangkan an-Nu‘man bin Muqarrin
radhiyallahu ‘anhu sedang salat. Umar duduk di sampingnya. Setelah ia selesai
salat, Umar berkata: “Aku ingin mengangkatmu.” An-Nu‘man bertanya: “Sebagai
pemungut pajak?” Umar menjawab: “Tidak, tetapi sebagai pejuang.” Ia menjawab:
“Kalau begitu aku siap sebagai pejuang.”
Maka Umar mengirimnya ke Isfahan. Dalam hadits itu
disebutkan, al-Mughirah berkata kepada an-Nu‘man: “Semoga Allah merahmatimu,
sesungguhnya ia telah terlalu cepat mendorong orang-orang. Maka serbulah!”
An-Nu‘man berkata: “Demi Allah, engkau memang orang yang
mulia. Aku pernah menyaksikan bersama Rasulullah ﷺ pertempuran. Jika beliau tidak berperang
di awal siang, beliau menunda peperangan sampai matahari tergelincir, angin
bertiup, dan pertolongan turun.”
Kemudian an-Nu‘man berkata:
“Aku akan mengguncangkan panjiku tiga kali. Guncangan pertama agar orang
menunaikan hajatnya dan berwudhu. Guncangan kedua agar seseorang melihat
persenjataannya dan tali sandalnya lalu memperbaikinya. Guncangan ketiga,
serbulah dan jangan seorang pun menoleh kepada yang lain. Jika an-Nu‘man
terbunuh maka jangan seorang pun menoleh kepadanya. Sesungguhnya aku akan
berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan suatu doa, maka aku tekankan kepada
setiap orang di antara kalian agar benar-benar mengaminkannya:
Ya Allah, berikanlah kepada an-Nu‘man pada hari ini
syahadah dalam kemenangan kaum muslimin, dan bukakanlah kemenangan untuk
mereka.”
Lalu ia mengguncangkan panjinya pertama kali, kemudian kedua
kali, lalu ia merapikan bajunya, kemudian maju menyerang. Maka ia menjadi orang
pertama yang gugur.
Ma‘qil berkata: “Aku datang kepadanya, teringat pesannya,
maka aku menaruh tanda di atasnya, lalu aku pergi. Kami kalau membunuh seorang
musuh, kawan-kawannya akan sibuk olehnya. Lalu pemilik alis tebal jatuh dari
bagalnya dan perutnya terbelah, maka Allah mengalahkan mereka. Kemudian aku
datang kembali kepada an-Nu‘man sambil membawa tempat air. Aku membersihkan
debu dari wajahnya. Ia bertanya: ‘Siapa engkau?’ Aku menjawab: ‘Ma‘qil bin
Yasar.’ Ia bertanya: ‘Bagaimana keadaan orang-orang?’ Aku menjawab: ‘Allah
telah memberikan kemenangan kepada mereka.’ Ia berkata: ‘Alhamdulillah.
Tuliskan berita itu kepada Umar.’ Lalu ruhnya keluar.”
Ath-Thabari juga meriwayatkan dari Ziyad bin Jubair dari
ayahnya radhiyallahu ‘anhuma hadits panjang tentang perang Nahawand. Di
dalamnya disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ apabila berperang, jika tidak memerangi musuh pada awal siang,
maka beliau tidak tergesa-gesa hingga datang waktu salat, angin bertiup, dan
peperangan menjadi baik. “Tidak ada yang menghalangiku selain itu. Ya Allah,
aku memohon kepada-Mu agar Engkau menyejukkan mataku pada hari ini dengan
kemenangan yang memuliakan Islam dan menghinakan orang-orang kafir, lalu
cabutlah aku kepada-Mu setelah itu dalam keadaan syahid.”
“Maka aminkanlah, semoga Allah merahmati kalian.”
Lalu kami mengaminkan sambil menangis.
9
Dari Ja‘far bin Abdullah bin Aslam al-Hamdani radhiyallahu
‘anhu, ia berkata:
Ketika terjadi Perang Yamamah, orang pertama yang terluka adalah Abu ‘Aqil
al-Anshari radhiyallahu ‘anhu. Ia dipanah, lalu panah itu menancap di antara
kedua bahunya dan jantungnya, namun bukan pada bagian yang mematikan. Panah itu
pun dicabut, dan sisi kirinya menjadi lemah akibat luka itu. Hal itu terjadi
pada awal siang, lalu ia ditarik ke tenda.
Ketika peperangan memanas dan kaum muslimin mundur melewati
tenda-tenda mereka — sementara Abu ‘Aqil lemah karena lukanya — ia mendengar
Ma‘n bin ‘Adi radhiyallahu ‘anhu berseru kepada kaum Anshar:
“Demi Allah! Demi Allah! Seranglah lagi musuh kalian!”
Ma‘n pun maju memimpin pasukan. Pada saat itulah kaum Anshar
berteriak: “Pisahkanlah kami! Pisahkanlah kami!” Lalu mereka maju satu per satu
agar bisa dibedakan.
Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata:
Abu ‘Aqil berdiri hendak mendatangi kaumnya. Aku berkata: “Mau ke mana engkau,
wahai Abu ‘Aqil? Engkau sudah tidak mampu berperang. Sesungguhnya seruan itu
ditujukan kepada kaum Anshar, bukan kepada orang-orang yang terluka!”
Ibnu Umar berkata:
Maka Abu ‘Aqil mengikat pinggangnya erat-erat, mengambil pedang dengan tangan
kanannya dalam keadaan terhunus, lalu berseru:
“Wahai kaum Anshar! Serangan kembali seperti pada hari
Hunain!”
Maka mereka semua berkumpul — semoga Allah merahmati mereka
— mendahului kaum muslimin lainnya menuju musuh sampai mereka masuk ke dalam
kebun. Lalu terjadi percampuran pasukan dan benturan pedang antara kami dan
mereka.
Ibnu Umar berkata:
Aku melihat Abu ‘Aqil, sementara tangannya yang terluka telah terputus dari
bahu dan jatuh ke tanah. Ia memiliki empat belas luka, semuanya mencapai bagian
yang mematikan. Dan musuh Allah, Musailamah, terbunuh.
Ibnu Umar berkata:
Aku mendatangi Abu ‘Aqil ketika ia sedang terbaring pada napas terakhir. Ia
berkata dengan lidah yang berat:
“Bagaimana keadaan pasukan? Siapa yang menang?”
Aku berkata: “Bergembiralah. Musuh Allah telah terbunuh.”
Aku pun meninggikan suaraku. Maka ia mengangkat jarinya ke langit memuji Allah,
lalu wafat رحمه
الله.
Ibnu Umar berkata:
Setelah aku datang, aku menceritakan seluruh kabarnya kepada Umar. Maka Umar
berkata: “Semoga Allah merahmatinya. Ia terus meminta syahadah dan mencarinya.
Dan sejauh yang aku tahu, ia termasuk sahabat Nabi kami ﷺ yang terbaik dan
termasuk orang yang telah lama masuk Islam.”
10
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Umar radhiyallahu
‘anhu berkata pada hari Uhud kepada saudaranya:
“Ambillah baju besi ini, wahai saudaraku.”
Ia menjawab: “Aku menginginkan syahadah seperti yang engkau inginkan.”
Maka keduanya meninggalkannya.
11
Diriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu
bahwa ia berkata:
“Janganlah kalian meremehkan himmah kalian, karena aku
tidak pernah melihat sesuatu yang lebih menghalangi dari kemuliaan selain
kecilnya himmah.”
12
Dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya, ia berkata:
Aku keluar bersama Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu ke pasar. Lalu
seorang wanita muda menyusul Umar dan berkata: “Wahai Amirul Mukminin, suamiku
telah meninggal dan meninggalkan anak-anak kecil. Demi Allah, mereka bahkan
tidak mampu memasak kaki kambing. Mereka tidak memiliki tanaman dan tidak
memiliki ternak. Aku khawatir mereka akan dimakan serigala. Aku adalah putri
Khuffaf bin Ima’ al-Ghifari, dan ayahku pernah menghadiri Hudaibiyah bersama
Nabi ﷺ.”
Maka Umar berhenti bersamanya dan tidak melanjutkan
langkahnya. Kemudian ia berkata: “Selamat datang, wahai nasab yang dekat.” Lalu
ia berbalik menuju seekor unta pengangkut yang terikat di rumah. Ia memuat di
atasnya dua karung yang dipenuhi makanan, dan di antara keduanya diletakkan
nafkah serta pakaian. Kemudian ia menyerahkan tali kekangnya kepada wanita itu
dan berkata: “Tuntunlah dia, karena ia tidak akan habis sebelum Allah
mendatangkan kebaikan kepada kalian.”
Lalu seorang lelaki berkata: “Wahai Amirul Mukminin, engkau
memberi terlalu banyak kepadanya.” Umar menjawab: “Semoga ibumu kehilanganmu!
Demi Allah, seakan-akan aku melihat ayah wanita ini dan saudaranya sedang
mengepung sebuah benteng pada suatu masa, lalu mereka menaklukkannya, dan
kemudian kami pun pulang membawa bagian-bagian rampasan kami darinya.”
13
Sa‘id bin ‘Amr bin al-‘Ash adalah orang yang memiliki harga
diri dan himmah. Ketika ia sakit, ada yang berkata kepadanya: “Sesungguhnya
orang sakit biasanya merasa lega dengan mengaduh dan menjelaskan penyakitnya
kepada tabib.” Ia menjawab:
“Adapun mengaduh, itu adalah keluh kesah dan aib. Demi
Allah, Allah tidak akan mendengar satu keluhan pun dariku sehingga aku menjadi
orang yang gelisah di sisi-Nya. Adapun menjelaskan keadaanku kepada tabib, maka
demi Allah, tidak ada yang memutuskan atas jiwaku selain Allah. Jika Dia
berkehendak, Dia menahannya; dan jika Dia berkehendak, Dia mencabutnya.”
14
Dari ‘Abbad bin Abdullah bin az-Zubair radhiyallahu ‘anhuma,
ia berkata:
Ayah yang menyusuiku menceritakan kepadaku — ia termasuk Bani Murrah bin ‘Auf
dan ikut dalam Perang Mu’tah — ia berkata: “Demi Allah, seakan-akan aku melihat
Ja‘far radhiyallahu ‘anhu ketika ia turun dari kuda pirangnya, lalu menyembelih
kuda itu, kemudian memerangi musuh hingga terbunuh, sambil mengatakan:
Betapa indah surga dan dekatnya,
baik dan dingin minumannya.
Bangsa Romawi itu Romawi, telah dekat azabnya,
kafir dan jauh nasabnya.
Atasku, ketika aku berjumpa dengan mereka, adalah
menghantam mereka.”
15
Sa‘id bin al-‘Ash berkata:
“Aku tidak pernah saling mencaci dengan seorang pun padahal
aku adalah seorang lelaki. Sebab aku tidak akan mencaci kecuali salah satu dari
dua jenis manusia:
jika ia orang mulia, maka aku lebih berhak memuliakannya;
dan jika ia orang hina, maka aku lebih layak meninggikan diriku darinya.”
16
Al-Hafizh adz-Dzahabi dalam Tadzkirat al-Huffazh pada
biografi Imam Muhammad bin Jarir ath-Thabari berkata:
Abu Muhammad al-Qurghani, murid Ibnu Jarir, berkata:
“Muhammad bin Jarir adalah orang yang tidak takut celaan
siapa pun di jalan Allah, meskipun gangguan yang dialaminya sangat besar.
Adapun para ahli agama dan ilmu, mereka tidak mengingkari ilmunya,
kezuhudannya, penolakannya terhadap dunia, dan sifat qana‘ahnya terhadap bagian
warisan yang ditinggalkan ayahnya di Tabaristan. Ia berkata: Muhammad bin Jarir
melakukan perjalanan mencari ilmu ketika mulai tumbuh dewasa, dan ayahnya
membolehkannya bepergian. Sepanjang hidupnya ayahnya terus mengirimkan kepadanya
sedikit demi sedikit nafkah ke berbagai negeri.”
Ia berkata:
“Aku pernah mendengarnya berkata: kiriman nafkah ayahku terlambat datang
kepadaku, sehingga aku terpaksa menjual pakaianku.”
Ibnu Jarir pernah berkata:
Jika aku dalam kesulitan, kawanku tidak mengetahuinya,
dan jika aku lapang, sahabatku ikut lapang.
Rasa maluku menjaga air mukaku,
dan kelembutanku dalam berbicara adalah temanku.
Seandainya aku rela menghinakan wajahku,
niscaya jalan menuju kekayaan menjadi mudah bagiku.
Dan ia juga berkata:
Dua akhlak yang tidak aku ridai jalannya:
kesombongan saat kaya dan kehinaan saat miskin.
Jika engkau kaya, janganlah sombong;
jika engkau miskin, janganlah mengeluh kepada zaman.
17
Qadhi Yahya bin Aktsam رحمه الله menceritakan, ia
berkata:
Suatu hari aku masuk menemui Khalifah Harun ar-Rasyid bin al-Mahdi, sedangkan
ia sedang tertunduk berpikir. Ia berkata kepadaku: “Apakah engkau mengetahui
siapa yang mengucapkan bait ini:
Kebaikan tetap tinggal walaupun waktu telah panjang
berlalu,
dan keburukan adalah seburuk-buruk bekal yang engkau simpan.”
Aku menjawab: “Wahai Amirul Mukminin, bait ini punya kisah
dengan pengucapnya.”
Ar-Rasyid berkata: “Bawalah dia kepadaku.”
Ketika orang itu dihadirkan, khalifah berkata kepadanya:
“Beritahukan kepadaku kisah bait ini.”
Ia menjawab: “Wahai Amirul Mukminin, pada salah satu tahun
aku sedang berhaji. Ketika kami sampai di tengah padang pasir pada hari yang
sangat panas, aku mendengar keributan besar di kafilah yang menghubungkan
bagian depan dengan bagian belakang. Aku bertanya tentang apa yang terjadi.
Seseorang berkata kepadaku: ‘Maju dan lihatlah sendiri.’
Aku pun maju ke kafilah dan ternyata ada seekor ular hitam
besar yang membuka mulutnya seperti batang pohon, mengerang seperti suara sapi
dan menderu seperti suara unta. Aku sangat ketakutan oleh urusannya dan tidak
tahu apa yang harus kuperbuat. Maka kami menghindar dari jalannya ke arah lain,
tetapi ia menghadang kami lagi untuk kedua kalinya. Maka aku tahu bahwa itu
karena suatu sebab. Tidak seorang pun dari rombongan berani mendekatinya.
Lalu aku berkata: ‘Biarlah aku menebus alam ini dengan
diriku, dan aku mendekatkan diri kepada Allah dengan menyelamatkan kafilah ini
darinya.’
Aku mengambil satu qirbah air, mengalungkannya, menghunus
pedangku, lalu maju mendekatinya. Ketika ia melihatku mendekat, ia pun tenang.
Aku tetap menunggu-nunggu seandainya ia menerkamku dan menelanku. Namun ketika
ia melihat qirbah, ia membuka mulutnya, lalu aku masukkan mulut qirbah ke dalam
mulutnya dan menuangkan air seperti menuangkan air ke dalam bejana. Setelah
qirbah itu kosong, ular itu menggelosor di pasir lalu pergi.
Aku pun heran atas caranya menghadang kami lalu berpaling
dari kami tanpa menimpakan bahaya apa pun. Maka kami meneruskan perjalanan haji
kami. Kemudian kami kembali melalui jalan itu, dan kami singgah di tempat itu
pada malam yang sangat gelap gulita. Aku mengambil sedikit air dan menepi dari
jalan, menunaikan hajatku, lalu berwudhu, salat, dan duduk berzikir kepada
Allah تعالى...”
18
Al-Fadhl — yaitu Ibn Ziyad — berkata:
“Aku mendengar Abu Abdullah berkata: ‘Engkau tidak menggabungkan seseorang
dengan Ma‘mar kecuali engkau akan mendapati Ma‘mar lebih unggul darinya. Ia
melakukan perjalanan mencari hadits ke Yaman, dan ia adalah orang pertama yang
melakukan perjalanan ke sana.’ Abu Ja‘far berkata kepadanya: ‘Dan Syam?’ Ia
menjawab: ‘Tidak, tetapi الجزيرة.’”
19
Imam Mak-hul ad-Dimasyqi berkata:
“Aku dahulu seorang budak milik seorang wanita di Mesir dari
kalangan Hudzail. Lalu ia memerdekakanku. Aku tidak keluar dari Mesir sementara
di sana masih ada ilmu kecuali aku telah menguasainya menurut dugaanku.
Kemudian aku datang ke Hijaz; aku tidak keluar darinya sementara di sana masih
ada ilmu kecuali aku telah menguasainya menurut dugaanku. Kemudian aku datang
ke Irak; aku tidak keluar darinya sementara di sana masih ada ilmu kecuali aku
telah menguasainya menurut dugaanku. Kemudian aku datang ke Syam dan
menelitinya dengan saksama. Semua itu kulakukan demi mencari hadits tentang nafl
(tambahan rampasan perang). Aku tidak menemukan seorang pun yang dapat
memberitahuku tentang hal itu sampai aku datang kepada seorang syaikh bernama
Ziyad bin Jariyah at-Tamimi. Aku berkata kepadanya: ‘Apakah engkau mendengar
sesuatu tentang nafl?’ Ia menjawab: ‘Ya, aku mendengar Habib bin Maslamah
al-Fihri berkata: Aku menyaksikan Nabi ﷺ memberikan seperempat pada serangan
pertama dan sepertiga pada kepulangan.’”
20
Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Demi Zat yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah
selain-Nya, sungguh aku telah membaca dari lisan Rasulullah ﷺ lebih dari tujuh
puluh surah. Seandainya aku mengetahui ada seseorang yang lebih mengetahui
Kitabullah daripadaku dan unta-unta dapat membawaku kepadanya, niscaya aku akan
mendatanginya.”
21
Abu Mas‘ud ‘Abdurrahim al-Hajji berkata:
Aku mendengar Ibnu Thahir berkata:
“Aku pernah kencing darah dua kali dalam menuntut hadits:
sekali di Baghdad dan sekali di Makkah. Aku berjalan tanpa alas kaki di tengah
panas hingga aku mengalami hal itu. Aku tidak pernah menaiki kendaraan sama
sekali dalam menuntut hadits, dan aku membawa kitab-kitabku di atas
punggungku.”
22
Dalam Kitab al-Hind disebutkan:
“Barang siapa tidak menunggangi bahaya, ia tidak akan
memperoleh cita-cita. Dan barang siapa meninggalkan suatu perkara yang mungkin
dengannya ia mencapai kebutuhannya karena takut terhadap sesuatu yang mungkin
akan menimpanya, maka ia tidak akan mencapai sesuatu yang besar. Sungguh
seorang lelaki yang memiliki muru’ah bisa saja tersembunyi namanya dan rendah
kedudukannya, tetapi muru’ahnya menolak kecuali agar ia meninggi dan terangkat,
seperti nyala api yang dijaga pemiliknya namun tetap menolak kecuali untuk naik
ke atas.”
23
Di antara sebab فتح عمورية (penaklukan ‘Amuriyyah) oleh al-Mu‘tasim
ialah bahwa seorang wanita dari wilayah perbatasan ditawan, lalu ia berseru:
“Wahai Muhammad! Wahai Mu‘tasim!” Kabar itu sampai kepadanya, maka ia segera
menaiki tunggangannya saat itu juga dan pasukan pun mengikutinya. Ketika ia
berhasil menaklukkannya, ia berkata:
“Aku penuhi panggilanmu, wahai orang yang memanggil.”
24
Dikatakan kepada sebagian ahli hikmah: “Apa hal yang paling
sulit bagi manusia?” Ia menjawab:
“Bahwa ia mengenal dirinya sendiri dan menyimpan rahasia.
Jika dua perkara ini berkumpul dan disertai oleh kemuliaan jiwa serta tingginya
himmah, maka keutamaan menjadi tampak dengannya, adab menjadi melimpah
dengannya, kesulitan meraih pujian menjadi ringan di antara keduanya, dan
syarat-syarat muru’ah menjadi kokoh di antara keduanya.”
25
Penyair berkata:
Demi umurmu, aku tidak pernah mengulurkan tanganku kepada
sesuatu yang mencurigakan,
dan kakiku tidak pernah membawaku menuju perbuatan keji.
Pendengaranku dan penglihatanku tidak pernah menuntunku
ke sana,
dan akal serta pertimbanganku pun tidak pernah menuntunku ke sana.
Aku tidak akan berjalan selama aku hidup menuju
kemungkaran,
dan pendapatku serta akalku tidak pernah menunjukkanku kepadanya.
Aku tidak akan mengutamakan diriku atas seorang kerabat,
dan aku lebih mengutamakan tamuku selama ia tinggal bersama keluargaku.
Aku tahu bahwa tidak ada musibah yang menimpaku dari
masa,
kecuali musibah itu juga pernah menimpa pemuda sepertiku.
26
Abu Shalih Ayyub bin Sulaiman tekun mempelajari kitab al-‘Arudh
sampai ia hafal. Sebagian orang bertanya kepadanya tentang kesungguhannya
mempelajari ilmu ini setelah usia tua. Ia menjawab:
“Aku hadir pada suatu kaum yang sedang membicarakannya. Maka
aku merasa hina dalam diriku bahwa ada satu cabang ilmu yang aku tidak bisa
berbicara tentangnya.”
27
Penyair berkata:
Mereka berkata kepadaku: pada dirimu ada sikap tertutup,
padahal mereka hanya melihat seorang lelaki yang enggan berdiri di posisi hina.
Aku melihat manusia: siapa yang terlalu dekat dengan
mereka akan hina di mata mereka,
dan siapa yang dimuliakan oleh عزّة النفس, akan mereka
muliakan.
Aku belum menunaikan hak ilmu, jika setiap kali
muncul satu keinginan, aku jadikan ia tangga bagiku.
Tidak setiap kilat yang tampak membuatku tergesa-gesa,
dan tidak setiap orang yang kutemui aku rela kepadanya sebagai pemberi nikmat.
Jika dikatakan: ini sumber air, aku berkata: aku
melihatnya,
tetapi jiwa orang merdeka sanggup menanggung dahaga.
Aku menahannya dari sebagian hal yang tidak merusaknya,
karena takut ucapan musuh: kenapa begini atau begitu?
Aku tidak mengorbankan jiwaku dalam melayani ilmu
agar aku melayani setiap orang yang kutemui, tetapi agar aku dilayani.
Apakah aku bersusah payah menanamnya lalu memetik
kehinaan?
Kalau begitu, mengikuti kebodohan justru lebih bijaksana.
Seandainya para ahli ilmu menjaganya, niscaya ilmu akan
menjaga mereka;
dan seandainya mereka memuliakannya dalam jiwa-jiwa, niscaya ia akan
dimuliakan.
Tetapi mereka menghinakannya, maka mereka pun hina,
dan mereka mengotori wajahnya dengan ketamakan hingga ia muram.
28
Habib ath-Tha’i berkata:
Wahai orang yang mencelaku, betapa kerasnya malam sebagai
tunggangan,
dan yang lebih keras darinya adalah penunggangnya di tengah kegelapan.
Biarkan aku menghadapi kengerian zaman,
karena sesudah kengerian-kengerian besar itu datanglah berbagai harapan.
29
Ka‘b bin Zuhair berkata:
Tidak ada keinginan bagi orang yang tidak mau menunggangi
bahaya,
dan tidak ada yang dapat mengangkat beban yang Allah telah letakkan.
Jika engkau tidak berpaling dari kebodohan dan kekejian,
engkau akan bertemu orang sabar, atau orang bodoh akan menimpamu.
30
Imru’ul Qais berkata:
Seandainya apa yang aku usahakan hanyalah untuk kehidupan
yang rendah,
niscaya sedikit harta sudah mencukupiku — dan aku tidak perlu mencari lebih.
Akan tetapi aku berusaha untuk kemuliaan yang kokoh
berakar,
dan kemuliaan yang kokoh itu dapat diraih oleh orang-orang sepertiku.
Pendidikan Islam dalam menanamkan himmah tinggi
Kehidupan Rasulullah ﷺ penuh dengan berbagai bentuk pendidikan
kaum muslimin untuk membentuk akhlak tingginya himmah, yang menuntut
kesungguhan, kemuliaan diri, menjauhkan diri dari perkara remeh dan hina, serta
bercita-cita menuju kemuliaan.
Di antara bentuk pendidikan Islam terhadap kaum muslimin
dalam akhlak himmah tinggi adalah mengarahkan mereka untuk mencari rezeki
melalui kerja keras, usaha, dan berjalan di berbagai penjuru bumi, serta
mengarahkan mereka agar menjaga kehormatan diri dari meminta-minta kepada
manusia kecuali ketika darurat, dan memberitahu mereka bahwa tangan di atas
lebih baik daripada tangan di bawah.
Sebaliknya, Islam mencela sikap malas dan lemah,
memerintahkan untuk menjauhi senda gurau, hiburan, permainan, dan segala
sesuatu yang tidak diharapkan manfaatnya. Islam juga memerintahkan menjauhi
perkara-perkara rendah, hina, dan sepele, serta bersikap zuhud terhadap dunia
demi mencari sesuatu yang lebih agung dan lebih mulia.
Rasulullah ﷺ
dan seluruh rasul Allah memiliki akhlak himmah yang tinggi. Bahkan sebagian
mereka mencapai derajat Ulul ‘Azmi, karena itu Allah memerintahkan
Rasul-Nya Muhammad ﷺ
agar bersabar sebagaimana para rasul Ulul ‘Azmi bersabar, agar beliau termasuk
golongan Ulul ‘Azmi. Allah عز وجل
berfirman:
فَاصْبِرْ
كَمَا صَبَرَ أُولُوا الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ
“Maka bersabarlah sebagaimana para rasul yang memiliki
keteguhan hati telah bersabar.”
Semakin tinggi himmah seseorang, semakin tinggi pula
tuntutannya, dan semakin kecil tuntutan-tuntutan dunia di matanya. Ia tidak
terlalu memedulikannya, dan tidak mengejarnya kecuali sekadar untuk memenuhi
kebutuhan.
Manifestasi (Tanda-Tanda) Himmah yang Tinggi
Pertama: Kesungguhan dalam beramal dan tidak malas
Di antara tanda akhlak himmah yang tinggi dalam perilaku
adalah kesungguhan dan semangat dalam bekerja, tidak bermalas-malasan, tidak
lambat, dan tidak meremehkan.
Kesungguhan dan semangat dalam amal kebaikan yang diridhai
Allah تعالى
merupakan ciri orang-orang beriman yang jujur, yang senantiasa merasa diawasi
oleh Allah dan mengharapkan hari akhir.
Setiap kali mereka dipanggil untuk beramal, berdakwah, atau
berbuat kebaikan, mereka segera menyambutnya dengan penuh semangat dan
kesungguhan. Ketika diseru untuk berjihad di jalan Allah, mereka melesat
seperti burung elang, baik berjalan kaki maupun berkendara.
Ketika dipanggil untuk salat di tengah malam, mereka bangkit
dari tempat tidur. Ketika dipanggil untuk menuntut ilmu, mereka bergegas
mencarinya meskipun harus sampai ke tempat yang sangat jauh. Ketika dorongan
untuk mencari rezeki muncul, mereka berangkat pagi hari untuk meraih keberkahan
doa Nabi ﷺ:
“Diberkahi umatku pada waktu pagi mereka.”
Orang-orang beriman yang jujur membenci kemalasan,
merendahkannya, dan berlindung kepada Allah darinya. Mereka berdoa dengan doa
Nabi ﷺ:
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan
kemalasan, dari sifat pengecut dan kikir, serta dari lilitan utang dan tekanan
manusia.”
Orang yang memiliki himmah tinggi tidak akan menerima satu
pun dari sifat-sifat ini, karena semuanya bertentangan dengan himmah yang
tinggi.
Kedua: Semangat berjihad di jalan Allah
Di antara tanda himmah yang tinggi adalah semangat untuk
berjihad di jalan Allah dengan keberanian, aktivitas, dan kesiapan, seakan-akan
medan perang adalah ladang keuntungan.
Demikianlah keadaan orang-orang beriman yang jujur, yang
belajar langsung dari Rasulullah ﷺ dan para sahabat pilihan.
Rasulullah ﷺ
adalah teladan terbaik dalam himmah yang tinggi, keberanian, dan keberanian
menghadapi bahaya. Ketika peperangan memuncak, beliau adalah orang yang paling
berani, paling maju, dan paling tinggi himmahnya. Dalam sepuluh tahun, beliau
memimpin 27 peperangan.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya
tidak ada sebagian kaum muslimin yang merasa berat untuk tidak ikut bersamaku,
dan aku tidak mendapatkan tunggangan untuk mereka, niscaya aku tidak akan
tertinggal dari satu pun pasukan yang berjihad di jalan Allah. Demi Zat yang
jiwaku di tangan-Nya, aku ingin terbunuh di jalan Allah, lalu hidup kembali,
lalu terbunuh lagi, lalu hidup lagi, lalu terbunuh lagi.”
Inilah puncak himmah tertinggi.
Ketiga: Berusaha mencapai kesempurnaan dan menjauhi
kekurangan
Di antara tanda himmah tinggi adalah selalu berusaha
mencapai kesempurnaan, membenci kekurangan, menjauhinya, dan takut terlihat
memiliki sifat-sifat tersebut.
Dalam hadits:
“Sesungguhnya Allah mencintai perkara-perkara yang tinggi
dan membenci perkara yang rendah.”
Mencapai kesempurnaan tidak cukup dengan angan-angan, tetapi
harus dengan usaha, kerja keras, kesungguhan, dan kesabaran.
Allah تعالى
berfirman:
“Bukanlah (surga itu) dengan angan-angan kalian dan bukan
pula angan-angan Ahli Kitab. Barang siapa berbuat buruk, ia akan dibalas...”
Artinya: masuk surga dan meraih derajat tinggi tidak bisa
dengan angan-angan, tetapi dengan amal: melakukan kebaikan dan meninggalkan
keburukan.
Rasulullah ﷺ
bersabda:
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah
daripada mukmin yang lemah… Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu,
minta tolonglah kepada Allah dan jangan lemah…”
Keempat: Berusaha mencari rezeki
Di antara tanda himmah tinggi adalah berusaha mencari rezeki
sendiri, tidak bergantung pada orang lain, dan tidak meminta-minta kecuali
dalam keadaan darurat.
Allah تعالى
berfirman:
“Dialah yang menjadikan bumi mudah bagi kalian, maka
berjalanlah di penjuru-penjurunya dan makanlah dari rezeki-Nya.”
Nabi ﷺ
bersabda:
“Seseorang mengambil tali, lalu pergi ke gunung membawa
kayu bakar di punggungnya dan menjualnya, itu lebih baik daripada meminta
kepada manusia.”
Dan beliau juga bersabda:
“Tidak ada makanan yang lebih baik daripada hasil kerja
tangan sendiri.”
Para nabi pun bekerja:
- Nabi
Daud bekerja dengan tangannya
- Nabi
Zakaria adalah tukang kayu
- Nabi
Muhammad ﷺ
menggembala kambing
Kelima: Menjauhi perkara remeh dan mencintai perkara
mulia
Orang yang memiliki himmah tinggi menjauhi hal-hal kecil dan
rendah, serta mengejar perkara-perkara mulia.
Ia memandang dunia sebagai sesuatu yang kecil dan tidak
pantas menjadi tujuan utama dibandingkan pahala akhirat.
Namun zuhud bukan berarti meninggalkan dunia, melainkan:
- Tidak
menjadikan dunia sebagai tujuan hati
- Tetap
memanfaatkan dunia secara halal dan seimbang
Allah berfirman:
“Katakanlah: siapa yang mengharamkan perhiasan Allah dan
rezeki yang baik…”
Keenam: Bersikap tegas dan tidak menunda
Di antara tanda himmah tinggi adalah ketegasan dalam
bertindak dan tidak menunda pekerjaan.
Nabi ﷺ
bersabda:
“Orang cerdas adalah yang mengendalikan dirinya dan
beramal untuk setelah mati, dan orang lemah adalah yang mengikuti hawa
nafsunya.”
Dan sabda beliau:
“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara…”
Ketujuh: Fokus pada hal yang bermanfaat
Orang yang memiliki himmah tinggi akan sibuk dengan hal yang
bermanfaat dan meninggalkan yang tidak penting.
Nabi ﷺ
bersabda:
“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan
hal yang tidak bermanfaat baginya.”
Termasuk hal yang tidak bermanfaat:
- Ghibah
(menggunjing)
- Namimah
(adu domba)
Orang beriman menjauhi semua itu dan menjaga waktunya.
Allah berfirman:
“Dan hamba-hamba الرحمن berjalan di bumi
dengan rendah hati…”
Sebab-sebab memperoleh himmah tinggi
Di antaranya:
1. Fitrah manusia
Sebagian orang memang diciptakan dengan himmah tinggi.
2. Peran orang tua
Orang tua sangat berpengaruh dalam membentuk himmah anak.
3. Lingkungan
Lingkungan yang baik melahirkan himmah tinggi, sedangkan
lingkungan buruk melemahkannya.
4. Aqidah yang lurus
Aqidah yang benar:
- Memberi
ketenangan
- Mendorong
kesungguhan
- Membentuk
akhlak
5. Menjauhi kemewahan
Kemewahan berlebihan melemahkan himmah.
6. Harga diri
Orang yang menjaga kehormatan diri memiliki himmah tinggi.
7. Memaafkan
Memaafkan menunjukkan kemuliaan jiwa.
8. Bersikap adil (insaf)
Allah berfirman:
“Janganlah kebencian membuat kalian tidak adil.”
9. Mempelajari sirah Nabi
Sirah Nabi penuh dengan teladan himmah tinggi.
10. Merasa bertanggung jawab
Nabi ﷺ
bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai
pertanggungjawaban.”
11. Berteman dengan orang shalih
Lingkungan pertemanan sangat memengaruhi himmah.
12. Optimisme
Optimisme membangkitkan semangat, pesimisme melemahkan.
13. Sabar dan istiqamah
Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang sabar akan diberi pahala tanpa
batas.”
14. Kuatnya kemauan
Kemauan kuat adalah kunci kesuksesan.
15. Iman yang mendalam
Iman yang kuat tidak membuat hati tenang sebelum tujuan
tercapai.
16. Rindu surga
Mengingat surga memotivasi amal.
17. Memahami kondisi umat
Kesadaran kondisi umat mendorong perbaikan.
18. Zuhud terhadap dunia
Tidak terikat pada dunia.
19. Teladan yang baik
Bergaul dengan orang berhimmah tinggi meningkatkan semangat.
Bidang-bidang himmah tinggi
1. Dalam menuntut ilmu
Ilmu adalah hal paling mulia untuk dicari.
Ali رضي الله
عنه berkata:
Manusia ada tiga:
- Ulama
- Penuntut
ilmu
- Orang
awam yang mengikuti tanpa ilmu
Para salaf sangat semangat menuntut ilmu:
- Umar
bergantian hadir majelis Nabi
- Ibnu
Abbas mencari ilmu dengan sabar
- Imam
Syafi’i hafal Qur’an sejak kecil
- Bukhari
mengembara jauh untuk hadits
2. Dalam dakwah
Semua tokoh besar Islam memiliki himmah tinggi dalam dakwah.
Rasulullah ﷺ
berdakwah:
- Siang
malam
- Terang-terangan
dan sembunyi-sembunyi
- Kepada
semua manusia
Meskipun disakiti, dilempari, dan dihina, beliau tetap
berdakwah.
3. Dalam jihad
Para sahabat memahami keutamaan jihad:
- Mereka
menjual dunia untuk akhirat
- Mengorbankan
jiwa dan harta
Rasulullah ﷺ
adalah yang paling berani.
Ali رضي الله
عنه berkata:
“Jika perang memuncak, kami berlindung di belakang Rasulullah ﷺ.”
Khalid bin Walid berkata saat wafat:
“Aku telah menghadiri ratusan pertempuran, tetapi aku mati di atas tempat
tidur.”
Shalahuddin al-Ayyubi juga memiliki himmah luar biasa dalam
jihad hingga membebaskan Al-Quds.
Penutup
Himmah tinggi adalah karunia besar dari Allah. Ia adalah
kunci kemuliaan, kejayaan, dan keberhasilan dunia dan akhirat.
“Itulah karunia Allah, diberikan kepada siapa yang Dia
kehendaki.”
Contoh-Contoh Himmah yang Tinggi
Himmah Rasulullah ﷺ dan keteguhan beliau menanggung gangguan
dalam dakwah
Dari ‘Urwah bin az-Zubair radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:
Setelah Abu Thalib meninggal dunia dan gangguan terhadap
Rasulullah ﷺ
semakin bertambah, beliau menuju kabilah Tsaqif dengan harapan agar mereka
memberi perlindungan atau menolong beliau. Beliau mendapati tiga orang dari
mereka, yaitu para pemuka Tsaqif: ‘Abd Yalil bin ‘Amr, Suhaib bin ‘Amr, dan
Mas‘ud bin ‘Amr. Beliau menawarkan dirinya kepada mereka dan mengadukan
gangguan yang dilakukan kaumnya terhadap beliau.
Salah seorang dari mereka berkata:
“Aku akan merobek kain penutup Ka‘bah jika Allah benar-benar mengutusmu membawa
sesuatu.”
Yang lain berkata:
“Demi Allah, aku tidak akan berbicara lagi kepadamu sepatah kata pun setelah
pertemuan ini. Jika engkau benar-benar seorang rasul, maka sungguh engkau
terlalu mulia untuk aku ajak bicara. Dan jika engkau berdusta, maka engkau
terlalu hina untuk aku ajak bicara.”
Yang ketiga berkata:
“Apakah Allah tidak menemukan selain dirimu untuk diutus?”
Lalu mereka menyebarkan kabar itu di kalangan Tsaqif. Mereka
berkumpul untuk mengejek Rasulullah ﷺ. Mereka duduk berbaris di jalan yang akan beliau lewati, sambil
memegang batu di tangan mereka. Setiap kali beliau mengangkat kaki dan
meletakkannya, mereka melemparinya dengan batu, sambil mengejek dan mencemooh
beliau. Beliau tidak berhasil melewati dua barisan mereka itu kecuali kedua
telapak kaki beliau telah mengalirkan darah.
Namun semua itu tidak memengaruhi himmah Rasulullah ﷺ dalam menyampaikan
dakwah. Beliau tetap mendatangi kabilah-kabilah Bani ‘Amir, Bani Muharib, Bani
‘Abs, Kindah, Bani Ka‘b, Bani Kalb, Bani Hanifah, Bakr, Bani Syaiban, Aus, dan
Khazraj.
Himmah Umar bin al-Khaththab dalam hijrah
Ali bin Abi Thalib berkata:
Aku tidak mengetahui seorang pun dari kaum muhajirin
berhijrah kecuali secara sembunyi-sembunyi, selain Umar bin al-Khaththab.
Ketika ia bertekad untuk hijrah, ia menyandang pedangnya, memanggul busurnya,
menggenggam beberapa anak panah di tangannya, dan membawa tombaknya. Lalu ia
pergi menuju Ka‘bah, sementara para pembesar Quraisy berada di pelatarannya. Ia
thawaf di Baitullah tujuh kali dengan tenang dan mantap, kemudian mendatangi
maqam dan salat. Setelah itu ia berhenti di hadapan halaqah-halaqah mereka satu
per satu, lalu berkata kepada mereka:
“Buruklah wajah-wajah itu! Semoga Allah tidak menghinakan
selain hidung-hidung ini. Barang siapa ingin ibunya kehilangan anak, anaknya
menjadi yatim, atau istrinya menjadi janda, maka hendaklah ia menemuiku di
belakang lembah ini.”
Himmah Abu Bakar ash-Shiddiq dalam berinfak
Abu Dawud dan at-Tirmidzi meriwayatkan dari Umar bin
al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
Pada suatu hari Rasulullah ﷺ memerintahkan kami untuk bersedekah, dan
kebetulan saat itu aku memiliki harta. Aku berkata: “Hari ini aku akan
mengungguli Abu Bakar, jika memang aku bisa mengunggulinya suatu hari.”
Lalu aku datang membawa setengah hartaku. Rasulullah ﷺ bertanya:
“Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?”
Aku menjawab:
“Sebanding dengan ini.”
Kemudian Abu Bakar datang membawa seluruh hartanya.
Rasulullah ﷺ
bertanya:
“Wahai Abu Bakar, apa yang engkau sisakan untuk
keluargamu?”
Ia menjawab:
“Aku sisakan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.”
Umar berkata:
“Aku tidak akan pernah bisa mengunggulinya sama sekali.”
Himmah Ibnu Abbas dalam menuntut ilmu
Al-Hakim dalam al-Mustadrak meriwayatkan dari Ibnu
Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:
Ketika Rasulullah ﷺ wafat, aku berkata kepada seorang lelaki dari kalangan Anshar:
“Mari kita bertanya kepada para sahabat Rasulullah ﷺ, karena hari ini mereka masih banyak.”
Lelaki itu berkata:
“Sungguh mengherankan engkau, wahai Ibnu Abbas! Apakah engkau mengira manusia
akan membutuhkanmu, sementara di tengah mereka masih ada para sahabat
Rasulullah ﷺ?”
Ibnu Abbas berkata:
Maka aku tinggalkan perkataan itu dan aku mulai mendatangi para sahabat
Rasulullah ﷺ.
Apabila aku mendengar suatu hadits dari seseorang, aku mendatangi pintu
rumahnya saat ia sedang beristirahat siang. Aku pun menjadikan selendangku
sebagai bantal di depan pintunya, sementara angin meniupkan debu ke atasku.
Lalu orang itu keluar dan melihatku, maka ia berkata:
“Wahai sepupu Rasulullah ﷺ, apa yang membawamu ke sini? Mengapa
engkau tidak mengutus seseorang kepadaku sehingga aku datang menemuimu?”
Aku menjawab:
“Tidak, akulah yang lebih berhak datang kepadamu.”
Lalu aku bertanya kepadanya tentang hadits.
Himmah Abu Bakar ash-Shiddiq dalam berdakwah
Ibnu Ishaq berkata:
Ketika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu masuk Islam dan
menampakkan keislamannya, ia mulai berdakwah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Abu
Bakar adalah seorang yang dicintai kaumnya, ramah kepada sahabat-sahabatnya,
mudah bergaul, dan paling mengetahui nasab Quraisy serta paling mengetahui
keadaan mereka, baik yang baik maupun yang buruk.
Maka ia mulai mengajak kepada Islam orang-orang yang ia
percayai dari kaumnya, yang biasa mendatanginya dan duduk bersamanya. Melalui
tangannya masuk Islam az-Zubair bin al-‘Awwam, Utsman bin ‘Affan, Thalhah bin
‘Ubaidillah, dan Sa‘d bin Abi Waqqash.
Himmah seorang sahabat dari kalangan Arab Badui dan
kerinduannya kepada syahadah
Dari Syaddad bin al-Had, bahwa seorang lelaki Arab Badui
datang kepada Rasulullah ﷺ,
lalu beriman kepada beliau dan mengikuti beliau. Lelaki itu berkata:
“Aku akan berhijrah bersamamu.”
Maka Nabi ﷺ
menyerahkannya kepada sebagian sahabat beliau untuk diperhatikan. Ketika
terjadi perang Khaibar, Rasulullah ﷺ memperoleh ghanimah, lalu membagikannya, dan beliau membagikan
pula bagian untuk lelaki itu. Bagian itu diberikan kepada para sahabat untuk
disampaikan kepadanya, sementara ia sedang menggembalakan tunggangan mereka.
Ketika ia datang, mereka menyerahkan bagiannya itu
kepadanya. Ia bertanya:
“Apa ini?”
Mereka menjawab:
“Ini bagian yang dibagikan Rasulullah ﷺ untukmu.”
Lelaki itu berkata:
“Aku tidak mengikutimu demi ini. Aku mengikutimu agar aku dipanah di sini” —
sambil menunjuk tenggorokannya — “lalu aku mati dan masuk surga.”
Rasulullah ﷺ
bersabda kepadanya:
“Jika engkau jujur kepada Allah, niscaya Allah akan
membenarkanmu.”
Kemudian mereka bangkit memerangi musuh. Setelah itu lelaki
itu dibawa kepada Rasulullah ﷺ
dalam keadaan telah terkena panah tepat di tempat yang ia tunjuk. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apakah dia, orang itu?”
Mereka menjawab:
“Ya.”
Beliau bersabda:
“Ia jujur kepada Allah, maka Allah membenarkannya.”
Lalu Nabi ﷺ
mengkafaninya dengan jubah beliau, kemudian beliau mendahulukannya dan
menyalatkannya. Di antara doa yang terdengar dari salat beliau ialah:
“Ya Allah, hamba-Mu ini keluar berhijrah di jalan-Mu,
lalu terbunuh sebagai syahid, dan aku menjadi saksi atas hal itu.”
Himmah ‘Uqbah bin Nafi‘ dalam berjihad di jalan Allah
Panglima muslim ‘Uqbah bin Nafi‘ berdiri di tepi Samudra
Atlantik bersama sebagian sahabatnya setelah mereka menaklukkan Afrika Utara.
Mereka menunggang kuda-kuda mereka sampai memasuki air laut, hingga kaki-kaki
kuda itu tenggelam dan air mencapai dada mereka.
Lalu ‘Uqbah berhenti dan bermunajat kepada Tuhannya:
“Ya Tuhanku… Ya Tuhanku… Demi Allah, aku tidak keluar karena
kesombongan dan bukan pula karena keangkuhan. Aku tidak keluar kecuali untuk
berjihad di jalan-Mu, meninggikan kalimat-Mu, dan mencari keridhaan-Mu. Ya
Tuhanku, demi Allah, seandainya aku mengetahui bahwa di balik laut ini ada
orang yang kufur kepada-Mu, niscaya aku akan menyeberangi laut ini dan
memeranginya sampai ia beriman kepada-Mu semata.”
Himmah Hasan al-Banna dan cita-citanya dalam hidup
Dalam jawaban atas sebuah tema karangan dengan judul:
“Jelaskan cita-citamu yang paling besar setelah
menyelesaikan studi, dan sebutkan sarana yang engkau siapkan untuk
mewujudkannya.”
Hasan al-Banna menjawab:
“Aku meyakini bahwa pekerjaan yang manfaatnya tidak
melampaui pelakunya sendiri dan faedahnya tidak melebihi orang yang
mengerjakannya adalah pekerjaan yang sempit dan kecil. Sebaik-baik dan
semulia-mulia pekerjaan ialah pekerjaan yang hasilnya dinikmati oleh pelakunya
dan juga oleh orang lain, keluarganya, umatnya, dan sesama manusia. Sejauh mana
manfaat itu mencakup banyak pihak, sejauh itu pula keluhuran dan nilainya.
Semua itu aku yakini sebagai keyakinan yang telah berakar
kuat dalam diriku, menjulang cabang-cabangnya, menghijau daunnya, dan tinggal
menunggu berbuah. Maka cita-citaku yang paling besar setelah menyelesaikan masa
studiku ada dua:
Cita-cita khusus
Membahagiakan keluargaku dan kerabatku.
Cita-cita umum
Aku ingin menjadi pembimbing dan pengajar. Jika aku
menghabiskan siang dan sebagian besar tahun untuk mendidik anak-anak, maka aku
akan menghabiskan malamku untuk mendidik para ayah tentang tujuan agama mereka,
sumber kebahagiaan mereka, dan kesenangan hidup mereka; kadang dengan ceramah
dan dialog, kadang dengan penulisan dan pengarang, dan kadang dengan
berkeliling dan bepergian.
Untuk mewujudkan yang pertama, aku telah menyiapkan
pengetahuan tentang keindahan dan penghargaan terhadap kebaikan — dan bukankah
balasan kebaikan itu adalah kebaikan?
Sedangkan untuk mewujudkan yang kedua, aku menyiapkan
sarana-sarana akhlak berupa keteguhan dan pengorbanan. Keduanya bagi seorang
pembaharu laksana bayangannya sendiri; keduanya adalah rahasia seluruh
keberhasilannya. Tidak ada seorang pembaharu yang berhias dengan keduanya lalu
gagal dengan kegagalan yang menghinakan atau mencelakakannya.
Adapun sarana amaliahnya adalah belajar yang panjang, yang
aku harap lembar-lembar resmi dapat menjadi saksi atasnya, dan juga mengenal
orang-orang yang memeluk prinsip ini dan bersimpati kepada para pendukungnya;
tubuh yang meski kecil telah terbiasa dengan kekasaran dan akrab dengan
kesusahan; dan jiwa yang telah aku jual kepada Allah dalam transaksi yang
menguntungkan, dan perdagangan yang — insya Allah — menyelamatkan. Aku berharap
Allah menerimanya dan menyempurnakannya. Untuk kedua cita-cita itu, aku mengandalkan
kesadaran terhadap kewajiban dan pertolongan dari Allah سبحانه وتعالى, sebagaimana aku
membacanya dalam firman-Nya:
“Jika kalian menolong agama Allah, niscaya Dia akan
menolong kalian dan meneguhkan kaki-kaki kalian.”
Perubahan himmah para tukang sihir Fir‘aun dari cinta
dunia kepada cinta akhirat
Dorongan awal para tukang sihir Fir‘aun dalam menerima
tantangan Nabi Musa ‘alaihis salam adalah keinginan mendapatkan upah dan
ganjaran dari Fir‘aun. Mereka berkata kepada Fir‘aun:
“Apakah kami akan mendapat upah jika kami menjadi
pemenang?”
Fir‘aun menjawab:
“Ya, dan sungguh kalian akan termasuk orang-orang yang didekatkan.”
Namun ketika kebenaran telah tampak bagi mereka, mereka
meyakininya, dan iman menguasai hati-hati mereka, ancaman dan intimidasi
Fir‘aun tidak lagi dapat memalingkan mereka.
Fir‘aun berkata:
“Apakah kalian beriman kepadanya sebelum aku memberi izin
kepada kalian? Sungguh dia adalah pemimpin kalian yang mengajarkan sihir kepada
kalian. Maka sungguh aku akan memotong tangan dan kaki kalian secara bersilang,
dan aku akan menyalib kalian pada batang-batang kurma. Dan sungguh kalian akan
mengetahui siapa di antara kita yang lebih keras azabnya dan lebih kekal.”
Mereka menjawab:
“Kami tidak akan mengutamakan engkau dibandingkan
bukti-bukti nyata yang telah datang kepada kami dan (dibandingkan) Tuhan yang
telah menciptakan kami. Maka putuskanlah apa yang hendak engkau putuskan.
Sesungguhnya engkau hanya dapat memutuskan untuk kehidupan dunia ini saja.”
Maka himmah para tukang sihir itu pun berubah: dari himmah
mengumpulkan harta, kedudukan, dan kedekatan dengan penguasa, menjadi himmah
yang terpaut dengan apa yang ada di sisi Allah سبحانه وتعالى — himmah yang tidak
dapat digoyahkan oleh ancaman atau siksaan.
Keteguhan Sayyid Quthb di jalan dakwah
Ketika Sayyid Quthb diminta untuk mengajukan permohonan
belas kasihan agar hukumannya diringankan atau agar ia dibebaskan dari penjara,
ia menolak. Ia mengucapkan kata-kata yang kemudian diwariskan dari generasi ke
generasi:
“Jika engkau telah memutuskan dengan hukum yang benar,
maka aku rela kepada kebenaran. Dan jika engkau memutuskan dengan kebatilan,
maka aku terlalu besar untuk meminta belas kasihan kepada kebatilan. Jari
telunjukku yang bersaksi tentang keesaan Allah berkali-kali setiap hari menolak
untuk menulis satu kata pun yang mengakui hukum seorang thaghut.”
Faedah Himmah
Pertama
Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang memiliki
himmah tinggi dan berjihad di jalan-Nya. Allah تعالى berfirman:
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan)
Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
Maka Allah سبحانه
وتعالى menganugerahkan kepada orang yang berjihad di jalan-Nya
petunjuk menuju jalan yang lurus, meneguhkannya di atas jalan kebenaran yang
nyata, dan menjauhkannya dari tergelincir di lereng-lereng tipu daya setan.
Kedua
Pertolongan Allah di dunia dan akhirat. Allah تعالى berfirman:
“Sesungguhnya Kami pasti menolong para rasul Kami dan
orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya para
saksi.”
Allah سبحانه
وتعالى telah menjanjikan pertolongan kepada jamaah muslimin, tetapi
Dia tidak menghendaki agar para pembawa dakwah dan penjaganya menjadi
orang-orang malas yang duduk bersandar, lalu pertolongan-Nya turun kepada
mereka dengan mudah tanpa kesukaran, hanya karena mereka mendirikan salat,
membaca Al-Qur’an, dan berdoa kepada Allah setiap kali mereka tertimpa gangguan
dan penindasan.
Allah menghendaki agar pembelaan-Nya terhadap orang-orang
beriman datang setelah mereka memberikan diri mereka untuk dakwah ini,
mengumpulkan seluruh kemampuan mereka, dan mengerahkan sekuat tenaga yang
mereka miliki. Tujuannya agar kemenangan itu tidak menjadi sesuatu yang murah
dan mudah. Karena kemenangan yang cepat dan mudah, yang turun kepada
orang-orang yang duduk santai, justru membuat potensi-potensi itu tertidur dan
tidak muncul. Selain itu, kemenangan yang murah dan mudah akan mudah hilang dan
lenyap, karena harganya murah, tidak dibayar dengan pengorbanan berharga, dan
para peraihnya tidak terlatih menjaga kemenangan itu melalui jihad dan
kesungguhan perjuangan.
Ketiga
Pemilik himmah yang tinggi mampu memikul beban dan tanggung
jawab yang tidak sanggup dipikul oleh orang lain. Seorang penyair berkata:
“Apabila jiwa-jiwa itu besar, maka badan-badan akan letih
dalam mengejar keinginannya.”
Keempat
Mengubah realitas yang menyakitkan — sesuatu yang tidak
sanggup diubah oleh orang yang lemah himmah, lemah tenaga, malas, bergantung
kepada orang lain, atau hanya menikmati keadaan saat lapang dan menghilang dari
pandangan saat sulit.
Kelima
Pemilik himmah tinggi yang berjihad akan mendapatkan balasan
hakikinya ketika wafat, sesuai dengan apa yang telah ia kerjakan. Allah تعالى berfirman:
“Orang-orang yang paling dahulu lagi yang paling dahulu.
Mereka itulah orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), berada dalam
surga-surga kenikmatan...”
Dan dari al-Mughirah bin Syu‘bah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
Musa bertanya kepada Rabbnya tentang penghuni surga yang paling tinggi
kedudukannya. Allah berfirman:
“Mereka itulah orang-orang yang Aku kehendaki. Kemuliaan
mereka Aku tanam dengan tangan-Ku sendiri dan Aku tutup atasnya, maka belum
pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah
terlintas dalam hati manusia.”
Keenam
Himmah yang tinggi adalah tanda kesempurnaan kelelakian dan
kemuliaan muru’ah.
Ketujuh
Ia membuahkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Kedelapan
Ia adalah akhlak yang mengantarkan kepada kecintaan Allah
dan kecintaan manusia.
Kesembilan
Ia mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi individu
dan bangsa.
Nilai pendidikan dari himmah yang tinggi
Pendidikan anak-anak kita, agar kelak berbuah menjadi
laki-laki yang kuat, generasi yang sehat jasmani dan akalnya, serta penjaga
akidah dan tanah air, memerlukan penanaman akhlak mulia ini — yaitu tingginya
himmah — sejak mereka masih kecil.
Keluarga, khususnya kedua orang tua atau orang yang
menggantikan peran mereka, adalah unsur lingkungan yang paling berpengaruh
dalam menampakkan bakat dan menanamkan himmah yang tinggi dalam hati anak-anak.
Hal inilah yang menjelaskan kepada kita rahasia berkesinambungannya mata rantai
orang-orang hebat dari keluarga-keluarga tertentu — seperti keluarga Ibnu
Taimiyah misalnya — di mana bakat bawaan, kemampuan kreatif, dan lingkungan
yang membantu berkumpul bersama untuk menemukan bakat-bakat itu sejak dini,
mengembangkannya, dan mengarahkannya ke jalan yang paling tepat.
Inilah az-Zubair bin al-‘Awwam radhiyallahu ‘anhu, yang Umar
menilai sebanding dengan seribu lelaki, tumbuh di bawah asuhan ibunya,
Shafiyyah binti ‘Abdul Muththalib, bibi Rasulullah ﷺ dan saudari Singa Allah, Hamzah. Dan
orang-orang besar seperti Abdullah, al-Mundzir, dan ‘Urwah — putra-putra
az-Zubair radhiyallahu ‘anhum — semuanya adalah buah pendidikan ibu mereka,
Dzat an-Nithaqain, Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuma.
Apa yang ditanamkan oleh dua perempuan ini memiliki pengaruh
yang sangat besar dalam meninggikan himmah anak-anak mereka. Sejarah juga
menyimpan ucapan Sayyidah Fathimah binti Asad kepada putranya, ‘Aqil bin Abi
Thalib:
“Apabila angin utara bertiup di malam hari, engkau akan
menjadi orang yang mulia dan bersungguh-sungguh.”
Maka ia tumbuh menjadi orang yang tinggi himmahnya, kuat
pendiriannya, dan tidak takut terhadap celaan orang yang mencela dalam membela
kebenaran.
Mu‘awiyah radhiyallahu ‘anhu pun bangga dengan pendidikan
ibunya. Jika seseorang membangga-banggakan diri kepadanya, ia berkata:
“Aku adalah putra Hind.”
Ia tentu tidak akan berkata seperti itu kecuali jika ibunya
dikenal dengan pendidikan yang baik, membesarkan anak-anaknya di atas
sifat-sifat yang indah, dan menanamkan dalam diri mereka ruh kepemimpinan dan
himmah yang tinggi. Pernah dikatakan kepada ibunya, ketika Mu‘awiyah masih bayi
di hadapannya:
“Sesungguhnya aku menduga bahwa anak ini kelak akan memimpin
kaumnya.”
Maka ibunya menjawab:
“Semoga aku kehilangan dia kalau ternyata dia tidak
memimpin kaumnya!”
Begitu pula ayah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab pada masa
yang lebih dekat, mendidik putranya untuk menanggung kesulitan dan melatihnya
dalam keberanian. Ia mengabulkan keinginannya untuk menunaikan haji pada usia
yang masih dini. Maka ia tumbuh kuat wataknya, tinggi himmahnya, percaya diri,
dan siap memikul tanggung jawab besar. Hal itu tampak dari surat yang ditulis
ayah sang syaikh kepada seorang temannya:
“Aku memastikan bahwa ia telah baligh sebelum mencapai usia
dua belas tahun. Aku melihatnya telah layak untuk salat berjamaah dan menjadi
imam. Maka aku mendahulukannya karena pengetahuannya tentang hukum-hukum
syariat. Aku pun menikahkannya segera setelah baligh. Kemudian ia meminta
kepadaku untuk berhaji ke Baitullah, maka aku pun mengabulkannya untuk mencapai
tujuan itu. Lalu ia pun berhaji dan menunaikan rukun Islam.”
Pendidikan anak-anak untuk memiliki himmah tinggi tidak
cukup dilakukan oleh keluarga saja. Itu juga merupakan tugas sekolah. Guru
harus menanamkan nilai agung ini ke dalam jiwa murid-muridnya. Demikian pula
media modern — baik audio, visual, maupun tulisan — memiliki peran besar dalam
menanamkan himmah yang tinggi ke dalam jiwa para pendengar, penonton, dan
pembacanya, agar lahir dari mereka orang-orang yang akan membangkitkan umat dan
menolongnya bangkit dari keterpurukan.
Di antara sarana pendidikan yang membantu menyebarkan ruh
ini adalah dorongan dan penghargaan, yang dilakukan oleh orang-orang kaya di
tengah umat, dengan mengadakan perlombaan dan memberi hadiah kepada orang-orang
yang berprestasi. Dalam hal ini, kita memiliki teladan yang baik pada generasi
salafus shalih.
Asy-Syathibi berkata tentang sarana ini — yaitu dorongan dan
motivasi — bahwa ia adalah fardhu kifayah. Jika sebagian orang telah
melaksanakannya, gugurlah kewajiban dari yang lain. Tetapi jika tidak seorang
pun melaksanakannya, maka semuanya berdosa: yang mampu karena lalai, dan yang
tidak mampu karena tidak mendorong pelaksanaannya, tidak memotivasi, tidak
membantu, bahkan tidak memaksa orang yang mampu untuk melakukannya.
Para khalifah dan para amir dahulu berada di barisan
terdepan dalam mendorong para penuntut ilmu dan mendidik mereka di atas himmah
yang tinggi. Inilah Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab yang memotivasi Ibnu
Abbas dan memasukkannya ke dalam majelisnya bersama para peserta Badar dari
kalangan muhajirin dan anshar.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:
Umar biasa memasukkanku bersama tokoh-tokoh tua peserta
Badar. Sebagian dari mereka merasa keberatan dan berkata:
“Mengapa engkau memasukkan anak ini bersama kami, padahal kami punya anak-anak
yang seumur dengannya?”
Umar berkata:
“Sesungguhnya ia sebagaimana yang kalian ketahui.”
Suatu hari Umar memanggilku dan memasukkanku bersama mereka.
Aku merasa bahwa hari itu ia memanggilku hanya untuk memperlihatkan kepada
mereka kelebihanku. Umar bertanya:
“Apa pendapat kalian tentang firman Allah:
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ
وَالْفَتْحُ ?”
Sebagian mereka menjawab:
“Kita diperintahkan untuk memuji Allah dan memohon ampun kepada-Nya jika kita
ditolong dan diberi kemenangan.”
Sebagian yang lain diam.
Lalu Umar bertanya kepadaku:
“Apakah begitu pendapatmu, wahai Ibnu Abbas?”
Aku menjawab:
“Tidak.”
Umar berkata:
“Lalu apa pendapatmu?”
Aku menjawab:
“Itu adalah pemberitahuan tentang ajal Rasulullah ﷺ yang Allah kabarkan kepada beliau.
Maksudnya: jika telah datang pertolongan Allah dan kemenangan — itulah tanda
dekat ajalmu — maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun
kepada-Nya, sesungguhnya Dia Maha Penerima tobat.”
Umar berkata:
“Aku tidak mengetahui maknanya kecuali seperti yang engkau katakan.”
Sebab-sebab lemahnya himmah
Pertama: Lemahnya iman
Iman adalah pendorong pertama untuk beramal di jalan Allah.
Lemahnya iman bukan hanya menyebabkan seseorang menjauh dari dakwah kepada
Allah, tetapi juga menjauh dari komitmen terhadap perintah-perintah Allah dan
larangan-larangan-Nya. Maka bagaimana mungkin ia dapat mencapai himmah yang
tinggi menjulang?
Himmah melemah seiring dengan melemahnya iman. Orang yang
benar-benar yakin terhadap apa yang Allah janjikan bagi hamba-hamba-Nya yang
ikhlas, berupa surga yang di dalamnya terdapat kenikmatan yang belum pernah
dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas di hati
manusia, pasti akan menyingsingkan lengan, mempercepat langkah, dan mengerahkan
segala yang mahal dan berharga untuk meraih surga itu.
Sebaliknya, jika iman dalam diri seseorang melemah dan
keraguan mulai masuk terhadap janji Allah, maka tekadnya pun menjadi lemah,
pengorbanannya berkurang, ia tidak sabar menghadapi kesulitan, tidak berusaha
mengejar derajat-derajat yang tinggi, lalu mulai menjauh dari beban-beban
kewajiban dan menghindar dari tanggung jawab. Sebagaimana Bani Israil berkata
kepada Nabi mereka Musa ‘alaihis salam:
“Pergilah engkau bersama Tuhanmu lalu berperanglah,
sesungguhnya kami duduk di sini saja.”
Kedua: Terlalu condong kepada dunia
Allah تعالى
berfirman:
“Dijadikan indah bagi manusia kecintaan kepada apa-apa
yang diingini, berupa wanita-wanita, anak-anak, harta benda yang
bertumpuk-tumpuk dari emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah
ladang. Itulah kesenangan hidup dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali
yang baik.”
Sejauh mana cinta dunia masuk ke dalam hati seorang mukmin,
sejauh itu pula imannya melemah. Cinta dunia dan perhiasannya seperti rantai
dan belenggu yang mengikat pemiliknya, sehingga ia enggan melakukan sesuatu
yang mengusik kenyamanan dunia dan mengganggu ketenangannya.
Karena itu seorang mukmin dari keluarga Fir‘aun
memperingatkan kaumnya tentang dunia:
“Wahai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah
kesenangan sementara, dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.”
Adapun para pencinta dunia justru mengajak orang beriman
untuk memanjakan dirinya dan beristirahat dari beratnya taklif. Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang
orang-orang munafik:
“Sungguh Allah mengetahui orang-orang yang
menghalang-halangi di antara kalian dan orang-orang yang berkata kepada
saudara-saudaranya: ‘Kemarilah bersama kami.’”
Ketiga: Dosa dan maksiat
Dosa kecil, apabila pelakunya tidak peduli, akan membesar
sedikit demi sedikit. Dosa-dosa kecil itu berkumpul dan menorehkan titik-titik
hitam di hati, memadamkan cahayanya dan melemahkan imannya. Maka hati yang
tadinya penuh iman, berkobar di dalamnya semangat beramal dan kecintaan kepada
dakwah, berubah menjadi redup dan lesu: tidak lagi mengingkari kemungkaran dan
tidak lagi mengenal kebaikan.
Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu memahami bahaya
dosa-dosa ini, hingga ia berpesan kepada pasukannya dalam Perang Yarmuk:
“Bersatulah dan jadilah satu pasukan. Temuilah bala tentara
kaum musyrikin, karena kalian adalah penolong agama Allah. Allah akan menolong
orang yang menolong agama-Nya dan menghinakan orang yang kufur kepada-Nya.
Kalian tidak akan dikalahkan karena sedikitnya jumlah, tetapi kalian akan
dikalahkan karena dosa-dosa. Maka waspadalah terhadap dosa-dosa itu.”
Keempat: Takut terhadap rezeki dan takut terhadap
gangguan
Orang yang menempuh jalan dakwah akan menghadapi kesulitan,
kelelahan, penderitaan, gangguan, ujian, peperangan terhadap dirinya, dan juga
gangguan terhadap rezekinya. Allah سبحانه وتعالى berfirman:
“Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa
takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah
kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
Ujian seperti ini memengaruhi sebagian orang yang berjalan
di jalan dakwah. Akibatnya, pengorbanan mereka berkurang, dan mereka cukup puas
berada di barisan belakang karena takut menghadapi beratnya dakwah. Mereka
merasa aman dengan mundur dari kezaliman para pelaku aniaya dan merasa telah
menjaga harta dan anak-anak mereka.
Mereka berkata seperti yang disebut Allah:
“Kami tidak sanggup pada hari ini menghadapi Jalut dan
tentaranya.”
Kelima: Tergesa-gesa ingin menang dan panjangnya masa
penantian
Allah تعالى
berfirman:
“Kalau yang kamu serukan itu keuntungan yang mudah
diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, niscaya mereka mengikutimu.
Tetapi tempat yang dituju terasa jauh bagi mereka.”
Hari-hari berlalu, tahun-tahun terus berganti, sementara
seorang da‘i terus pergi dan pulang di jalan dakwah. Boleh jadi, setelah sekian
lama ia mulai berbicara kepada dirinya tentang lambatnya pertolongan Allah,
tentang belum tampaknya hasil dakwahnya pada manusia. Maka ia pun terkena
sejenis kelemahan tekad dan lemahnya himmah. Ia mulai condong kepada dunia
sedikit demi sedikit.
Padahal ia tidak menyadari bahwa Nabi Nuh ‘alaihis salam
telah berdakwah kepada kaumnya selama seribu tahun kurang lima puluh tahun,
tetapi yang beriman bersamanya hanya sedikit.
Pengarang Fi Zhilal al-Qur’an menjelaskan
keterlambatan pertolongan ini dengan berkata:
“Bisa jadi pertolongan itu terlambat karena bangunan umat
beriman belum matang sepenuhnya, belum sempurna pertumbuhannya, dan belum
terkumpul semua potensinya. Bisa jadi pertolongan itu terlambat karena umat
belum sepenuhnya ikhlas dalam perjuangan, pengorbanan, dan jihadnya untuk Allah
dan untuk dakwah-Nya. Mereka masih berjuang demi keuntungan yang ingin diraih,
atau demi fanatisme terhadap diri mereka, atau demi keberanian di hadapan
musuh-musuh mereka. Padahal Allah menghendaki agar jihad itu hanya untuk-Nya,
di jalan-Nya, dan bersih dari semua perasaan lain yang menempel padanya.
Allah سبحانه
وتعالى juga menghendaki agar umat itu semakin kuat hubungannya
dengan-Nya ketika ia menderita, terluka, dan berkorban, tanpa memiliki sandaran
selain Allah dan tanpa menghadap kepada siapa pun selain Dia semata.”
Keenam: Berpalingnya manusia dan sedikitnya pendukung
Berpalingnya manusia dari dakwah ini dapat melemahkan tekad
seorang da‘i, sehingga ia tidak memberikan dari dirinya kecuali sebanding
dengan respons yang ia terima. Bahkan ia bisa menjadikan banyaknya jumlah
pengikut sebagai ukuran keberhasilan dakwah, sehingga sedikitnya orang yang
menempuh jalan ini melemahkan semangatnya.
Padahal ia belum mendengar ucapan Dr. Yusuf al-Qaradawi:
Aku heran kepada mereka yang berkata: engkau terlalu jauh
dalam angan,
dalam cita-cita tinggi dan jalan mendaki yang sukar.
Maka berhentilah, jangan lelahkan penamu,
engkau hanya menabur benih di tanah yang tak subur.
Aku katakan kepada mereka: pelanlah, putus asa bukan
tabiatku,
aku akan menabur benihku, dan buahnya ada di tangan Rabbku.
Bila aku telah menyampaikan risalah dengan
sungguh-sungguh,
lalu aku tidak menemukan telinga yang mau menjawab, maka apa dosaku?
Ketujuh: Ejekan dan olok-olok
Senjata ejekan dan olok-olok adalah salah satu senjata
paling tajam yang dipakai musuh-musuh dakwah untuk melemahkan tekad para da‘i
dan berusaha menghalangi mereka dari jalan dakwah. Hal itu dilakukan dengan
menuduh mereka dengan berbagai tuduhan dan fitnah.
Tuduhan-tuduhan seperti ini sering kali terasa lebih
menyakitkan bagi para da‘i daripada sakit badan atau siksaan fisik. Jiwa
seorang da‘i bisa terpengaruh oleh ejekan seperti ini, sehingga himmahnya
melemah dan ia mengasingkan diri dari manusia karena takut terhadap ejekan itu.
Padahal yang seharusnya ia lakukan adalah bersabar atas
gangguan itu, sebagaimana Rasulullah ﷺ sabar. Beliau dituduh sebagai tukang sihir, pendusta, orang
gila, dan berbagai tuduhan lainnya, tetapi beliau tetap sabar menghadapi
semuanya demi menyampaikan dakwah.
Allah سبحانه
وتعالى berfirman:
“Sungguh telah diperolok-olok para rasul sebelum engkau,
maka turunlah kepada orang-orang yang mengejek itu azab yang dahulu mereka
olok-olok.”
Kedelapan: Suara-suara keraguan dan pelemahan
Bisikan-bisikan pelemahan dan pengenduran sering didengar
oleh orang yang menempuh jalan dakwah dari orang-orang di sekitarnya. Bisikan
itu kadang datang dalam bentuk nasihat atau peringatan dari orang-orang yang di
dalam hati mereka ada penyakit, atau dari mereka yang himmahnya terlalu pendek
untuk terus berjalan dan menanggung kesulitan, sehingga mereka lebih memilih
kesejukan keselamatan daripada panasnya jihad.
Allah سبحانه
وتعالى menggambarkan mereka dengan firman-Nya:
“Dan mereka berkata: ‘Janganlah berangkat di musim
panas.’ Katakanlah: ‘Api neraka Jahannam itu lebih panas.’”
Suara-suara seperti ini memengaruhi sebagian orang beriman,
sehingga menghalangi mereka dari banyak kebaikan dan menahan mereka dari
pengorbanan dan pemberian. Allah سبحانه وتعالى berfirman:
“Sekiranya mereka berangkat bersama kalian, niscaya
mereka tidak menambah bagi kalian selain kerusakan, dan mereka akan bergegas
menyebarkan fitnah di tengah-tengah kalian, sementara di antara kalian ada
orang-orang yang mau mendengarkan mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang
zalim.”
Jika orang-orang beriman mau mendengarkan orang-orang
munafik ini, maka keraguan dan kebimbangan akan masuk ke dalam hati mereka
tentang keberhasilan dakwah ini dan tentang datangnya pertolongan Allah.
Akibatnya mereka tertimpa kebimbangan dan keraguan, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman:
“Mereka itu bimbang di antara yang demikian, tidak
termasuk kepada golongan ini dan tidak pula kepada golongan itu.”
Keraguan seperti itu bertentangan dengan tekad yang tinggi.
Sebagaimana kata seorang penyair:
Jika engkau memiliki pendapat, maka milikilah pula tekad,
karena rusaknya pendapat adalah bila engkau ragu-ragu.
Ketiga: Rujukan untuk belajar mandiri dan pendalaman
Tidak ada satu rujukan khusus yang secara khusus membahas
materi ilmiah ini, tetapi ia dapat disarikan dari:
- kitab-kitab
adab,
- tafsir
Fi Zhilal al-Qur’an,
- risalah-risalah
Ustadz al-Banna,
- dan
kitab-kitab dakwah.
Implementasi praktis nilai-nilai tema ini melalui
aktivitas berikut
Pertama: aktivitas pendamping
- Setiap
peserta menentukan satu tujuan besar yang ingin ia capai.
- Setiap
peserta menyebutkan satu contoh nyata dari kehidupan yang berhasil karena
tingginya himmah.
- Menentukan
pelajaran-pelajaran yang dapat diambil dari setiap sikap dan bagaimana
mengubahnya menjadi penerapan nyata.
- Memberikan
bantuan antar peserta, dengan menetapkan bidang khusus bagi masing-masing
sesuai kecenderungannya, yang di situ ia dapat berkarya dengan baik, lalu
memantau perkembangannya.
Kedua: aktivitas penunjang
- Menyampaikan
ceramah tentang himmah yang tinggi dan dampak tersebarnya sifat ini dalam
kebangkitan masyarakat.
- Menyampaikan
beberapa khutbah yang mendorong para pemuda kepada cita-cita yang tinggi
dan himmah yang tinggi, serta menjelaskan cita-cita yang terpuji.
- Mengumpulkan
bait-bait syair dan kata-kata hikmah yang mengajak kepada himmah yang
tinggi.
- Menanamkan
sifat ini ke dalam jiwa para murid dengan terus-menerus mendorong mereka
kepadanya.
- Memasang
spanduk atau papan pengingat yang mendorong kepada himmah tinggi dan
cita-cita yang mulia.
- Mengelola
sebuah seminar tentang himmah yang tinggi.
Evaluasi dan pengukuran diri
Pertama: pertanyaan esai
- Apa
yang dimaksud dengan himmah yang tinggi?
- Apa
tingkatan-tingkatan himmah yang tinggi?
- Dari
mana lahirnya kebesaran himmah?
- Sebutkan
beberapa hadits yang mengajak kepada himmah yang tinggi.
- Apa
saja manifestasi himmah yang tinggi?
- Apa
saja sarana yang membantu memperoleh himmah yang tinggi?
- Dalam
bidang apa saja himmah yang tinggi itu tampak?
- Sebutkan
beberapa teladan yang dapat dicontoh dalam himmah yang tinggi.
- Apa
nilai pendidikan dari himmah yang tinggi?
- Apa
sebab-sebab lemahnya himmah?
- Mengapa
himmah pada zaman kita ini melemah di kalangan pemuda?
- Sebutkan
satu contoh himmah yang tinggi pada masing-masing bidang berikut:
- jihad
di jalan Allah,
- menuntut
ilmu,
- ibadah,
- dakwah
kepada Allah سبحانه,
- kemanfaatan
umum.
- Bandingkan
himmah kita dengan himmah generasi salafus shalih.
Kedua: pertanyaan objektif
- Berilah
garis bawah pada jawaban yang engkau anggap melengkapi pernyataan berikut:
A. Himmah yang tinggi ...
- bertentangan
dengan ajakan kepada tawadhu,
- tidak
bertentangan dengan ajakan kepada tawadhu,
- sulit
diwujudkan pada zaman kita.
B. Di antara sebab lemahnya himmah ...
- lemahnya
iman dan buruknya tabiat,
- kezaliman
para penguasa dan pemerintah,
- tidak
tersedianya kesempatan untuk memiliki himmah tinggi.
- Lengkapilah
yang berikut:
- Himmah
yang paling tinggi adalah himmah yang terhubung dengan .......... dalam
bentuk tuntutan dan tujuan, dan yang mengantarkan .......... melalui
dakwah dan nasihat, dan inilah himmah ............