Sunday, April 19, 2026

Aksi Sosial Muhammad Saw (13-39 Tahun)

(Catatan Sirah Pra Kenabian)

Sekilas tentang Masa Remaja (586 – 591 M)

Saat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berusia antara 15 – 20 tahun, beliau mengikuti perang Fijar, yakni perang yang terjadi antara kabilah Quraisy dan sekutu mereka dari Bani Kinanah melawan kabilah Qais dan ‘Ilan. Harb bin Umayyah terpilih menjadi komandan perang membawahi kabilah Quraisy dan Kinanah  karena faktor usia dan kedudukannya. Perang pun meletus, pada permulaan siang hari, kemenangan berada di pihak kabilah Qais terhadap Kinanah namun pada pertengahan hari keadaan terbalik; justeru kemenangan berpihak pada Kinanah. Dinamakan “Perang Fijar” karena dinodainya kesucian asy-Syahrul Haram pada bulan tersebut. Dalam perang ini, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ikut serta dan membantu paman-pamannya menyediakan anak panah buat mereka.

Hilful Fudhul (591 M)

Pada saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berumur 20 tahun, beliau mengikuti Hilful Fudhul, sebuah peristiwa perjanjian (kebulatan tekad/sumpah setia) untuk tidak membiarkan ada orang yang dizhalimi di Mekkah baik dia penduduk asli maupun pendatang, dan bila hal itu terjadi mereka akan bergerak menolongnya hingga orang yang terzalimi itu meraih haknya kembali.

Peristiwa ini terjadi pada bulan Dzul Qaidah di bulan haram. Hampir seluruh kabilah Quraisy berkumpul dan menghadirinya, mereka terdiri dari: Bani Hasyim, Bani al-Muththalib, Asad bin ‘Abdul ‘Uzza, Zahrah bin Kilaab dan Tiim bin Murrah. Mereka berkumpul di kediaman ‘Abdullah bin Jud’an at-Tiimy karena faktor usia dan kedudukannya.

Semangat perjanjian ini bertentangan dengan fanatisme Jahiliyyah yang digembar-gemborkan ketika itu. Penyebab terjadinya perjanjian tersebut terkait dengan peristiwa seorang laki-laki dari kabilah Zabiid datang yang datang ke Mekkah membawa barang dagangannya, kemudian barang tersebut dibeli oleh al-‘Ash bin Waa-il as-Sahmi akan tetapi dia tidak memperlakukannya sesuai dengan haknya.

Laki-laki tersebut meminta bantuan kepada sukutu-sekutu al-‘Ash namun mereka mengacuhkannya. Akhirnya, dia menaiki gunung Abi Qubais dan menyenandungkan sya’ir-sya’ir yang berisi kezhaliman yang tengah dialaminya seraya mengeraskan suaranya. Rupanya, az-Zubair bin ‘Abdul Muththalib mendengar hal itu dan bergerak menujunya lalu bertanya-tanya: “Kenapa orang ini diacuhkan?”. Tak berapa lama kemudian berkumpullah kabilah-kabilah yang telah menyetujui perjanjian Hilful Fudhul diatas, lantas mereka mendatangi al-‘Ash bin Waa-il dan mendesaknya agar mengembalikan hak orang tersebut, mereka berhasil setelah membuat suatu perjanjian.

Pada masa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diangkat menjadi Nabi dan Rasul, beliau pernah menceritakan peristiwa itu dengan sabdanya,

لَقَدْ شَهِدْتُ فِي دَارِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جُدْعَانَ حِلْفًا مَا أُحِبُّ أَنَّ لِيَ بِهِ حُمْرَ النَّعَمِ ، وَلَوْ أُدْعَى بِهِ فِي الإِسْلامِ لأَجَبْتُ

Aku menghadiri sebuah perjanjian di rumah Abdullah bin Jud’an. Tidaklah ada yang melebihi kecintaanku pada unta merah kecuali perjanjian ini. Andai aku diajak untuk menyepakati perjanjian ini di masa Islam, aku pun akan mendatanginya” (HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubra no 12110, dihasankan oleh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no.1900)

Menjadi Penggembala dan Berdagang

Untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bekerja menjadi seorang penggembala.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ. فَقَالَ أَصْحَابُهُ وَأَنْتَ فَقَالَ: نَعَمْ ,كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah Allah mengutus seorang nabi pun melainkan dirinya pasti pernah menggembala kambing”. Maka para sahabatnya bertanya: “Apakah engkau juga wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Ya, Aku pernah mengembala kambing milik seorang penduduk Mekah dengan upah beberapa qirath”. (HR. Bukhari)

Terhindar dari Kebiasaan Tidak Bermanfaat

Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar telah dipersiapkan oleh Allah Ta’ala menjadi seorang rasul. Diantaranya adalah dengan penjagaan dan pencegahan dari-Nya, agar beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak terjerumus pada hal-hal yang tidak bermanfaat.

Ibnu al-Atsir meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku hanya dua kali pernah berkeinginan untuk melakukan apa yang pernah dilakukan oleh ahli Jahiliyyah, namun semua itu dihalangi oleh Allah sehingga aku tidak melakukannya, kemudian aku berkeinginan lagi untuk melakukannya hingga Dia Ta’ala memuliakanku dengan risalahNya. Suatu malam aku pernah berkata kepada seorang anak yang menggembala kambing bersamaku di puncak Mekkah, “Maukah kamu mengawasi kambingku sementara aku akan memasuki Mekkah dan bergadang ria seperti yang dilakukan oleh para pemuda tersebut?”. Dia menjawab: “Ya, boleh!”. Lantas aku pergi hingga saat berada di sisi rumah yang posisinya paling pertama dari Mekkah, aku mendengar suara alunan musik (tabuhan rebana), lalu aku bertanya: ‘Apa gerangan ini?’ Mereka menjawab: ‘Prosesi pernikahan si fulan dengan si fulanah!’ Kemudian aku duduk-duduk untuk mendengarkan, namun Allah melarangku untuk mendengarkannya dan membuatku tertidur. Dan tidurku amat lelap sehingga hampir tidak terjaga bila saja terik panas matahari tidak menyadarkanku. Akhirnya, aku kembali menemui temanku yang langsung bertanya kepadaku tentang apa yang aku alami dan akupun memberitahukannya. Kemudian, aku berkata pada suatu malam yang lain seperti itu juga; aku memasuki Mekkah namun aku mengalami hal yang sama seperti malam sebelumnya; lantas aku bertekad, untuk tidak akan berkeinginan jelek sedikitpun”.

Menikah

Ketika berusia dua puluh lima tahun, beliau pergi berdagang ke negeri Syam dengan modal yang diperoleh dari Khadijah radhiallâhu ‘anha . Ibnu Ishaq berkata: “Khadijah binti Khuwailid adalah salah seorang wanita pedagang yang memiliki banyak harta dan bernasab baik. Dia menyewa banyak kaum lelaki untuk memperdagangkan hartanya dengan sistem bagi hasil. Kabilah Quraisy dikenal sebagai pedagang handal, maka tatkala sampai ke telinganya perihal kejujuran bicara, amanah dan akhlaq Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia, dia mengutus seseorang untuk menemuinya dan menawarkannya untuk memperdagangkan harta miliknya ke negeri Syam. Dia menyerahkan kepada beliau barang dagangan yang istimewa yang tidak pernah dipercayakannya kepada pedagang-pedagang yang lainnya. Beliau juga didampingi oleh seorang pembantunya bernama Maisarah. Beliau menerima tawaran tersebut dan berangkat dengan barang-barang dagangannya bersama pembantunya tersebut hingga sampai ke Syam.”

Ketika beliau pulang ke Mekkah dan Khadijah melihat betapa amanahnya beliau terhadap harta yang diserahkan kepadanya begitu juga dengan keberkahan dari hasil perdagangan yang belum pernah didapatinya sebelum itu, ditambah lagi informasi dari Maisarah, pembantunya tentang budi pekerti beliau, kejeniusan, kejujuran dan keamanahannya; maka dia seakan menemukan apa yang dicarinya selama ini (calon pendamping idaman-red) padahal banyak kaum laki-laki bangsawan dan pemuka yang sangat berkeinginan untuk menikahinya namun semuanya dia tolak.

Akhirnya dia menceritakan keinginan hatinya kepada teman wanitanya, Nafisah binti Munayyah yang kemudian bergegas menemui beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan meminta kesediaannya untuk menikahi Khadijah. Beliau pun menyetujuinya dan menceritakan hal tersebut kepada paman-pamannya. Kemudian mereka mendatangi paman Khadijah untuk melamar keponakannya.

Maka pernikahan pun berlangsung setelah itu dan ‘aqad tersebut dihadiri oleh Bani Hasyim dan para pemimpin Mudhar. Pernikahan tersebut berlangsung dua bulan setelah kepulangan beliau dari negeri Syam. Beliau memberikan mahar berupa dua puluh ekor onta muda sedangkan Khadijah ketika itu sudah berusia empat puluh tahun. Dia adalah wanita kabilahnya yang paling terhormat nasabnya, paling banyak hartanya dan paling brilian otaknya. Dialah wanita pertama yang dinikahi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dimana beliau tidak menikah lagi dengan wanita selainnya hingga dia wafat.

Semua putra-putri beliau shallallahu ‘alaihi wasallam lahir dari rahim Khadijah kecuali putranya, Ibrahim. Putra-putri beliau tersebut adalah: 1). al-Qasim (dimana beliau dijuluki dengannya). 2). Zainab. 3). Ruqayyah. 4). Ummu Kultsum. 5). Fathimah. 6). ‘Abdullah (julukannya adalah ath-Thayyib dan ath-Thaahir).

Semua putra beliau meninggal ketika masih kecil sedangkan putri-putri beliau semuanya hidup pada masa Islam, menganutnya dan juga ikut berhijrah namun semuanya meninggal dunia semasa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup kecuali Fathimah radhiallâhu ‘anha yang meninggal enam bulan setelah beliau wafat.

Perbaikan Ka’bah

Pada usia Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke 35, terjadi peristiwa penting yaitu robohnya Ka’bah disebabkan hantaman banjir. Saat itu orang-orang Quraisy bahu membahu mengadakan perbaikan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun turut serta dalam perbaikan tersebut.

Sempat terjadi perselisihan antar suku Quraisy berkenaan dengan peletakan kembali Hajar Aswad, masing-masing pihak merasa berhak mendapat kehormatan untuk meletakkanya ke tempat semula. Atas usul Walid bin Mughirah—ada juga yang mengatakan Huzaifah bin Mughirah—ketentuan peletakan disepakati akan diserahkan kepada orang yang esoknya pertama kali datang ke Masjidil Haram melalui pintu Bani Syaibah.

Ternyata Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang pertama datang, maka beliau kemudian memberikan solusi cerdas. Hajar Aswad beliau simpan di atas hamparan kain, kemudian diangkat bersama-sama oleh seluruh  kabilah.

Pribadi yang Peduli pada Sesama

Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dikenal oleh masyarakat Makkah sebagai orang yang peduli pada sesama; selalu membantu fakir miskin, menolong orang yang kesusahan, membela orang yang terzalimi.

Hal ini terungkap dari ucapan  Khadijah radhiyallahu ‘anha pada saat menenangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari ketakutannya ketika pertama kali mendapatkan wahyu dari Allah Ta’ala,

وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا ، إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ ، وَتَحْمِلُ الْكَلَّ ، وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ ، وَتَقْرِى الضَّيْفَ ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ .

Jangan takut, demi Allah, Tuhan tidak akan membinasakan engkau. Engkau selalu menyambung tali persaudaraan, membantu orang yang sengsara, mengusahakan barang keperluan bagi yang tidak berada, memuliakan tamu, menolong orang yang kesusahan karena menegakkan kebenaran.”

Ibrah:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pribadi yang dipersiapkan menjadi Nabi dan Rasul dengan ta’dib rabbani (pendidikan dari Allah Ta’ala langsung). Ibrahnya, hendaknya kita selalu berada dalam kondisi mempersiapkan diri dengan tarbiyah Islamiyah—terlebih lagi jika kita memiliki cita-cita luhur untuk memperjuangkan kalimat Allah Ta’ala.

Diantara aktivis tarbiyah yang harus kita lakukan adalah:

1.      Tarbiyah askariyah, yaitu membina kekuatan fisik dan keterampilan bela diri dan senjata.

2.      Tarbiyah siyasiyah, yaitu menumbuhkan kepedulian terhadap problematika sosial kemasyarakatan serta berupaya menjadi pribadi yang siap memberikan solusi.

3.      Tarbiyah iqtishadiyah, yaitu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sehingga mampu berpenghasilan.

4.      Tarbiyah khuluqiyah, yaitu membina sikap dan moralitas sehingga memiliki integritas diri.

5.      Tarbiyah maidaniyah, yaitu membekali diri dengan pengetahuan tentang situasi dan kondisi masyarakat meliputi pengenalan wilayah, adat, kebiasaan, kehidupan sosial, dan lain-lain.

Ringkasnya, sebagai seorang muslim dan khususnya sebagai da’i, penting  bagi kita untuk memiliki tamayyuz (keistimewaan).

 

Wallahu A’lam….

 

Sumber

https://risalah.id/interaksi-sosial-muhammad-saw-dalam-masyarakat-quraisy/

 

Pemeliharaan Ibu, Kakek, dan Abu Thalib (6-12 Tahun)

Diasuh Sang Ibu

Syaikh Shafiyur Rahman al-Mubarakfuri menyebutkan, dengan adanya peristiwa pembelahan dada atas diri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itulah yang membuat Halimah as-Sa’diyah mengembalikannya ke pangkuan ibunya Aminah. Halimah khawatir terjadi apa-apa dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun hidup bersama dengan ibundanya tercinta.

Setelah beberapa lama tingal bersama ibunya, pada usia enam tahun, sang ibu mengajaknya berziarah ke makam suaminya tak jauh dari Yatsrib. Maka berangkatlah mereka keluar dari Makkah, menempuh berjalan sepanjang sekitar 500 km, ditemani Ummu Aiman dan dibiayai Abdul Muththhalib. Di tempat tujuan, mereka menetap selama sebulan.

Setelah itu mereka kembali ke Makkah. Namun di tengah perjalanan, ibunya menderita sakit dan akhirnya meninggal di perkampungan Abwa’ yang terletak antara Makkah dan Madinah.

Ini ujian yang sangat besar bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di masa usianya yang belum masuk SD dalam umur anak-anak hari ini, ia sudah kehilangan kedua orangtuanya. Ayahnya wafat saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kandungan ibunya. Sedangkan sang ibu meninggal kala usia Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam belum sempurna enam tahun.

Di Bawah Asuhan Kakek

Sang kakek Abdul Muththalib, sangat iba terhadap cucunya yang sudah menjadi yatim piatu di usianya yang masih dini. Maka, dibawalah sang cucu ke rumahnya, diasuh dan dikasihi melebihi anak-anaknya sendiri.

Saat itu Abdul Muththalib memiliki tempat duduk khusus di bawah Ka’bah, tidak ada seorang pun yang berani duduk di atasnya, sekalipun anak-anaknya. Mereka hanya berani duduk di sisinya. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam—yang saat itu masih anak-anak—justru bermain-main dan duduk di atasnya. Tentu saja paman-pamannya mengambil dan menariknya. Namun ketika sang kakek melihat hal tersebut, ia malah melarang mereka seraya berkata, “Biarkan dia, demi Alah, anak ini punya kedudukan sendiri.”

Akhirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  kembali duduk di majlisnya, diusapnya punggung cucunya tersebut dengan suka cita melihat apa yang mereka perbuat.

Abdul Muththalin sangat menyayangi cucunya itu. Ia sering kali meminta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melakukan sesuatu dan selalu berhasil. Abdul Muththalib sangat senang ketika cucunya mampu melakukan apa yang diminta.

Dikisahkan, suatu saat Abdul Muththalib meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mencarikan seekor untanya yang belum kembali. Namun hingga cukup lama, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tak kunjung datang. Muncul kekhawatirang yang sangat dalam diri Abdul Muththalib.

Ketika tiba-tiba Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang sambil menggiring unta, betapa senangnya Abdul Muththalib. Ia pun berseru, “Sungguh aku merasa sedih kehilanganmu, seperti seorang wanita yang meratapi kehilangan anak selamanya,” (HR ath-Thabrani dan dishahihkan oleh Ibrahim al-Ali dalam kitabnya Shahih as-Sirah Nabawiyah).

Ini juga pelajaran bagi kita bahwa pendidikan kemandirian kepada anak sejak kecil harus dilakukan. Abdul Muththalib sangat sayang kepada cucunya. Namun bukan lantaran sayang, ia lalu memanjakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pernah menyuruhnya melakukan apa pun. Justru Abdul Muththalib sering meminta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melakukan sesuatu untuk mendidik jiwa kemandirian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abdul Muththalib juga sering membawa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam pertemuan-pertemuan besar bersama tokoh-tokoh Quraisy. Beliau mempersilakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk duduk di sampingnya dan memperkenalkannya kepada orang banyak. Tidak heran jika di usianya yang masih kecil, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah dikenal banyak kalangan. Dikenal sebagai anak yang mandiri, jujur dan bisa dipercaya.

Namun lagi-lagi kasih sayang sang kakek tak berlangsung lama dirasakan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kecil. Saat Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berusia 8 tahun, kakeknya meninggal dunia di Makkah. Sebelum wafat beliau berpesan agar cucunya tersebut dirawat oleh paman dari pihak bapaknya yaitu Abu Thalib.

Di Pangkuan Sang Paman

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada dalam asuhan pamannya yang juga sangat mencintainya. Abu Thalib merawatnya bersama anak-anaknya yang lain, bahkan lebih disayangi dan dimuliakan. Begitu seterusnya Abu Thalib selalu di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, merawatnya, melindungi dan membelanya, bahkan hingga beliau di angkat menjadi Rasul. Hal tersebut berlangsung tidak kurang selama 40 tahun.

Selama berada dalam pangkuan pamannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati masa tarbiyah ilahiyah. Allah menyiapkan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai calon seorang nabi yang akan memimpin umat sedunia. Untuk itu, ada beberapa hal yang disiapkan Allah atas nabi-Nya sebelum menjadi Rasul.

Pertama, manajerial dan leadership. Hal ini tampak pada aktivitas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menggembali ternak di usianya yang belia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah tidak mengutus seorang nabi melainkan ia pernah menggembali kambing.”

Para shahabat bertanya, “Apakah engkau juga?”

“Ya, aku pernah menggembalakan kambing milik salah seorang penduduk Makkah dengan imbalan beberapa qirath,” jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (HR Bukhari).

Bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menggembalakan kambing adalah pekerjaan yang bisa menenangkan jiwanya. Ia bisa menikmati indahnya hamparan rumput di tengah sahara.

Al-Hafidzh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani berkata, “Para ulama menyampaikan, bahwa hikmah di balik profesi para nabi sebagai penggembala kambing ialah agar memiliki pribadi yang tawadhu’ (rendah hati), terbiasa hati mereka dengan pengasingan (mandiri), dan sebagai tahapan sebelum mengatur umat-umatnya..” [Fat-hul Bari, 6/439].

Lebih dari itu, aktivitas  menggembala adalah ajang latihan mengembangkan beberapa sisi leadership. Menggembala akan memiliki manfaat kepemimpinan:

1.      Pathfinding (mencari) padang gembalaan yang subur;

2.      Directing (mengarahkan) menggiring ternak ke padang gembalaan;

3.      Controlling (mengawasi) agar tidak tersesat atau terpisah dari kelompok;

4.      Protecting (melindungi) dari hewan pemangsa dan pencuri;

5.      Reflecting (perenungan) alam, manusia, dan ciptaan Allah

Selain itu, profesi menggembalakan kambing bagi Nabi adalah sarana memupuk jiwa kemandirian secara ekonomi. Sebab, dengan menggembala kambing ia menerima upah. Bukan jumlahnya yang penting tapi nilai dari hasil usaha itu sendiri.

Kedua, belajar berbisnis. Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berusia 12 tahun, Abu Thalib mengajaknya berdagang ke negeri Syam. Sesampainya di perkampungan Bushra yang waktu itu masuk wilayah negeri Syam, mereka disambut oleh seorang pendeta bernama Buhaira. Semua rombongan turun memenuhi jamuan Bahira kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallama.

Pada pertemuan tersebut, Abu Thalib menceritakan perihal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sifat-sifatnya kepada pendeta Buhaira. Setelah mendengar ceritanya, sang pendeta langsung memberitahukan bahwa anak tersebut akan menjadi pemimpin manusia sebagaimana yang dia ketahui ciri-cirinya dari kitab-kitab dalam agamanya. Maka dia meminta Abu Thalib untuk tidak membawa anak tersebut ke negeri Syam, karena khawatir di sana orang-orang Yahudi akan mencelakainya.    Akhirnya Abu Thalib memerintahkan anak buahnya untuk membawa pulang kembali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Makkah.

Namun bukan berarti karir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berbisnis berhenti. Setelah kondisi cukup nyaman dan usia Nabi sudah memasuki usia 15 tahun ke atas, ia pun ikut kembali melakukan pengembaraan bisnis. Sejarah mencatat bahwa beliau pernah ke Yaman, Irak, Bushra, Yordania, Damaskus, dan Bahrain (Lihat di buku Muhammad Sebagai Seorang Pedagang karya Afzalurahman hlm 6-7).

Bahkan, profesi inilah yang mengantarkan beliau berkenalan dengan Khadijah. Selanjutnya, setelah menikah dengan Khadijah, perjalanan bisnis Nabi semakin luas. Dengan demikian, di usianya yang muda, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah menjadi pedagang regional karena wilayah  yang ia jelajahi sudah meliputi hampir semua jazirah Arab (Baca: Beginilah Rasulullah Berbisnis karya Hepi Andi Bastoni, terbitan Pustaka al-Bustan).

Ketiga, berkecimpung di dunia militer. Pada usia 15 tahun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ikut serta dalam perang Fijar yang terjadi antara suku Quraisy yang bersekutu dengan Bani Kinanah melawan suku Qais Ailan. Dan peperangan dimenangkan oleh suku Quraisy. Pada peperangan tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membantu paman-pamannya menyiapkan alat panah.

Ini juga pelajaran bagi kita agar memperkenal dunia militer sejak kecil kepada anak. Generasi kita harus mendapatkan tarbiyah askariyah, pendidikan ketentaraaan. Bukan untuk berkelahi tapi memupuk jiwa perlawanan dalam diri mereka dan melatih fisik agar menjadi kuat.

Keempat, belajar diplomasi dan negosiasi. Setelah perang Fijar usai, diadakanlah perdamaian yang dikenal dengan istilah Hilful Fudhul, disepakati pada bulan Dzulqaidah yang termasuk bulan Haram, di rumah Abdullah bin Jud’an At-Taimi.

Semua kabilah dari suku Quraisy ikut dalam perjanjian tersebut. Di antara isinya adalah kesepakatan dan upaya untuk selalu membela siapa saja yang dizalimi dari penduduk Mekkah. Mereka akan menghukum orang yang berbuat zalim sampai dia mengembalikan hak-haknya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ikut serta menyaksikan perjanjian tersebut. Bahkan setelah menjadi Rasul, beliau masih mengingatnya dan memujinya, seraya berkata, “Saya telah menyaksikan perjanjian damai di rumah Abdullah bin Jud’an yang lebih saya cinta dari unta merah. Seandainya saya diundang lagi setelah masa Islam, niscaya saya akan memenuhinya.”

Bagian ini juga tak kalah pentingnya. Jauh sebelum menjadi Nabi, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah dilatih menjadi seorang negosiator yang ulung. Beliau hadir dalam majelis tersebut untuk belajar memutuskan perkara. Berbekal pengalaman ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mampu memenangkan berbagai negosiasi, termasuk di antaranya Shulhul Hudaibiyah.

Kelahiran Hingga Pemeliharaan di Bani Sa'd (Umur 0-4 Tahun)

Oleh: Hepi Andi Bastoni

Abdullah adalah putra kesayangan Abdul Muththalib. Setelah selamat dari (nadzar) penyembelihan dan Abdul Muththalib menggantinya dengan seratus unta, dia menikahkannya dengan wanita terhormat nasabnya di Makkah. Dialah Aminah binti Wahb binti Abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab.

Tidak berapa lama, Abdullah meninggal dunia saat Aminah mengandung janin Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu, Abdullah dimakamkan di Madinah, di sebuah lembah an-Nabighah tak jauh dari paman-pamannya Bani Adiyy bin an-Najjar. Saat itu dia pergi ke Syam lalu menjumpai ajalnya di Madinah saat kepulangannya, meninggalkan benih yang suci.

Pernikahan Abdullah dan Aminah bukanlah awal dari keberadaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pernah ditanyakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apa permulaan dari perkaramu ini?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku adalah buah dari doa ayahku Ibrahim, kabar gembira yang dibawa Isa, dan ibuku bermimpi bahwa ada cahaya keluar dari dirinya dan menerangi istana-istana Syam.”[1]

Adapun doa Nabi Ibrahim seperti dikisahkan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya, “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (al-Qur’an) dan al-Hikmah (as-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana,” (QS al-Baqarah: 129).

Ditambah lagi dengan kabar gembira yang disampaikan Nabi Isa, seperti yang ditunjukkan Allah ketika menceritakan tentang Isa, “… dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)….” (QS ash-Shaff: 6).

Didukung juga oleh pernyataan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ibuku bermimpi seakan cahaya keluar darinya yang menerangi istana-istana Syam.” Ibnu Rajab mengatakan, “Keluarnya cahaya ini saat menyusuinya adalah isyarat akan cahaya yang dibawanya sebagai petunjuk bagi seluruh penduduk bumi, dengan cahaya itu lenyaplah kegelapan syirik, seperti firman Allah SWT, “……sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap-gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seijin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS al-Maidah: 15-16).

Ibnu Katsir berkata, “Penyebutan Syam secara khusus dengan kemunculan cahayanya adalah isyarat akan kestabilan agamanya dan keberadaan tetapnya di wilayah Syam, sehingga pada akhirnya Syam menjadi pusat Islam dan kaum muslimin. Di tempat itu pula Nabi Isa akan turun, saat turun di Damaskus di Menara Timur yang putih. Karenanya sebuah hadits dalam dua kitab Shahih Bukhari dan Muslim menyatakan, “Segolongan umatku senantiasa tampak dalam kebenaran, tidak terpengaruh dengan orang-orang yang menghinakan  mereka dan orang-orang yang menyalahi mereka, hingga datang keputusan Allah sementara mereka seperti itu.” Dalam Shahih al-Bukhari disebutkan, “dan mereka berada di Syam.”[2]

Kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Masa Pertumbuhannya

Senin, 2 Rabiul Awwal, menurut riwayat lainnya 8 Rabiul Awal, ada riwayat lainnya mengatakan; sepuluh, ada lagi dua belas. Tanggal 12 riwayat yang banyak, pada Tahun peristiwa Gajah, lahirlah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kelahiran beliau di tengah-tengah Bani Hasyim, rumah yang selanjutnya disebut Rumah Muhammad bin Yusuf, saudara dari al-Hajjaj bin Yusuf. Rumah itu kini difungsikan sebagai Maktabah Makkah al-Mukarramah yang berdiri kokoh di tengah megahnya bangunan mewah di sekitar Masjidil Haram.

Wanita pertama yang menggendongnya adalah Ummu Aiman Barakah bintu Tsa’labah al-Habasyiyyah, budak milik ayahnya (Abdullah) yang kelak dikenal dengan Ummu Aiman, dan wanita pertama yang menyusuinya adalah Tsuwaibah, budak pamannya Abu Lahab bin Abdul Muththalib.

Ummu Habibah bertanya, “Wahai Rasulullah, nikahilah saudariku putri Abu Sufyan.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah engkau menyukainya?” Saya menjawab, “Ya, saya sungguh-sungguh, dan saya ingin orang yang bersamaku dalam kebaikan ini adalah saudariku.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Itu tidak boleh bagiku.”

Saya (Ummu Habibah) berkata, “Dulu kami berbincang-bincang bahwa engkau ingin menikahi putri Abu Salamah?” Beliau berkata, “Putri Abu Salamah?” Saya menjawab, “Ya.” Beliau berkata, “Kalau pun ia bukan anak tiriku dalam perawatanku maka ia pun tidak halal bagiku, sebab ia adalah putri dari saudaraku sesusuan. Aku dan Abu Salamah menyusu kepada Tsuwaibah, maka janganlah kalian tawarkan kepadaku anak-anak dan saudari-saudari kalian.” (HR Bukhari dan Muslim). Ini sebagai dalil bahwa Nabi saw pernah menyusu kepada Tsuwaibah.

Urwah juga mengatakan, Tsuwaibah sebelumnya adalah budak Abu Lahab, lalu Abu Lahab memerdekakannya dan kemudian menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika Abu Lahab mati salah satu keluarganya bermimpi melihatnya dalam keadaan yang mengenaskan, lalu ditanyakan kepadanya, “Apa yang engkau temui?” Abu Lahab menjawab, “Sesudah kalian, saya tidak bertemu kesenangan. Hanya saya telah memberi minum ‘orang ini’ dengan Tsuwaibah, budak yang telah saya merdekakan.”

Setelah itu beliau disusui oleh Halimah dari Bani Sa’d bin Bakar. Dalilnya, usai Fathu Makkah, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di Ji’ranah, Halimah as-Sa’diyyah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dikisahkan oleh Imam Bukhari dalam al-Adabul-Mufrad’ (1290), Abu Dawud dalam as-Sunan (5240), Abu Ya’la (900), Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (2249), al-Hakim dalam al-Mustadrak (3/618) dari hadits Abu Thufail Amir bin Watsilah; bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di Ji’ranah sedang membagi-bagikan daging. Abu Thufail menuturkan, saat itu saya adalah seorang anak kecil yang membawa beberapa daging unta, lalu datanglah seorang wanita Badui. Ketika ia mendekat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau membentangkan surbannya, lalu wanita itu duduk di atasnya. Lalu saya bertanya, “Siapakah dia?” Para shahabat berkata, “Ibunya yang dahulu menyusuinya.”

Merupakan kebiasaan Bangsa Arab untuk mencari wanita-wanita yang bersedia menyusui anak-anak mereka agar lebih memungkinkan bagi perkembangan anak. Mereka berkata, “Anak yang terpelihara di kota cenderung dangkal pikirannya, lemah tekadnya.” Datanglah para wanita dari Bani Saad bin Bakar yang mencari bayi-bayi untuk mereka susui. Ternyata bayi terpuji itu menjadi bagian Halimah as-Sa’diyyah.

Ketika berada di perkempungan Bani Saad, Nabi Muhammad kecil membawa keberkahan tersendiri. Umumnya, masa menyusui berlangsung selama dua tahun. Namun merasa keberkahan itu, Halimah minta perpanjangan hingga empat tahun.

Catatan Kaki:

                [1] HR Ahmad dan al-Hakim. Dia mengatakan, “Hadits ini shahih isnadnya meskipun tidak dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

                [2] Tafsir al-Qur’an al-Azhim Jilid 1 hal. 184. Cet. Al-Halbi. Sedangkan hadits diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Bab berpegang teguh pada al-Kitab dan Sunnah, dan Imam Muslim dalam bab pemerintahan

 

Sumber:

https://risalah.id/kelahiran-muhammad-shallallahu-alaihi-wa-sallam-hingga-pemeliharaan-di-bani-sad/

 

Birrul Walidain

Allah Ta’ala berfirman,

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا

“…dan kami telah mewasiatkan kepada manusia agar berbakti terhadap kedua orang tuanya.” (QS. Al-Ankabut: 8).

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي بِهِنَّ وَلَوْ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku bertanya kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Amal apakah yang paling dicintai Allah?’. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Shalat tepat pada waktunya.’ Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bertanya lagi: ‘Kemudian amal apa lagi?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bertanya lagi: ‘Kemudian amal apa lagi? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Jihad di jalan Allah’. (Setelah menyampaikan hadits ini) Abdullah nin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:   “Telah disampaikan kepadaku dari Rasuluullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hal-hal ini, seandainya aku menambah pertanyaan (kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) tentu akan ditambahkan kepadaku jawaban lainnya” (HR. Bukhari)

Dalam hadits ini disebutkan bahwa ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu—salah satu ahli fiqih di kalangan shahabat—bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ

“Amal apakah yang paling dicintai Allah?”

Diantara jawaban yang beliau sampaikan adalah,

بِرُّ الْوَالِدَيْنِ

“Berbakti kepada kedua orang tua.”

Dalam hadits ini birrul walidain disebut oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah as-shalatu ‘ala waqtiha, dan sebelum al-jihadu fi sabilillah. Hal ini mengisyaratkan bahwa selain as-shalatu ‘ala waqtiha dan al-jihadu fi sabilillah, birrul walidaian adalah termasuk amal yang utama dan perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh oleh setiap muslim.

Imam Ath-Thabari rahimahullah berkata, “Kenapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya menyebutkan tiga perkara ini? Karena, tiga perkara ini merupakan poros dari ketaatan-ketaatan kepada yang lainnya. Sebab, orang yang menyia-nyiakan shalat yang diwajibkan hingga keluar dari waktunya tanpa ada alasan yang bisa diterima, padahal begitu ringan kerjanya namun besar keutamaannya, maka untuk ketaatan-ketaatan lain, orang ini akan lebih menyia-nyiakan lagi. Orang yang tidak berbakti kepada kedua orang tua padahal begitu banyak hak mereka atasnya, maka kepada orang lain akan lebih tidak berbakti lagi. Begitu juga dengan orang yang meninggalkan jihad melawan orang-orang kafir padahal mereka begitu memusuhi agama, maka berjihad melawan orang yang bukan kafir, seperti orang-orang fasik, ia akan lebih meninggalkan lagi. Dengan demikian, nampak jelas bahwa siapa yang memelihara tiga perkara ini maka ia  akan lebih memelihara lagi untuk perkara lainnya, dan siapa yang menyia-nyiakannya maka untuk yang lainnya ia akan lebih menyia-nyiakan lagi.”

Makna Birrul Walidain

Birrul walidain artinya berbudi pekerti yang baik kepada walidain (kedua orang tua). Al-Birr dimaknai husnul khuluq (budi pekerti yang baik) berdasarkan hadits An-Nawasi Ibn Sim’an Al-Anshari yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang makna al-birr dan al-itsm; dia berkata,

سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْبِرِّ وَالْإِثْمِ فَقَالَ الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ

“Saya bertanya pada Rasul tentang arti al-Bir dan al-Itsm. Maka (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam)  menjawab: “Al-Birr adalah budi pekerti yang baik. Sedangkan al-Itsm adalah apa yang muncul di hatimu, dan kamu sendiri tidak senang tatkala manusia mengetahuinya.”  (HR. Muslim).

Maka, makna birrul walidain sekurang-kurangnya mencakup sikap: al-ihsaanu ilaihima (berbuat baik kepada keduanya), al-qiyaamu bi huquuqihima (menegakkan hak-hak keduanya), iltizaamu thaa’atihima (komitmen mentaati keduanya), ijtinaabu isaa-atihima (menjauhi perbuatan yang menyakiti keduanya), dan fi’lu maa yurdhiihimaa (melakukan apa-apa yang diridhai keduanya).

 

Birrul Walidain adalah Perintah Allah Ta’ala

 

Mengenai birrul walidain ini Allah Ta’ala berfirman,

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا وَإِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada kedua orangtuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-Ankabut: 8).

Sebab turunnya ayat ini ialah berkenaan dengan peristiwa Sa’ad bin Abu Waqas radhiyallahu ‘anhu ketika masuk Islam.  Ia adalah salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang termasuk as-sabiqunal awwalun; Ibunya bernama Hamnah binti Abu Sufyan.  Setelah Hamnah mengetahui bahwa Sa’ad secara sembunyi-sembunyi masuk Islam, maka sang ibu sama sekali tidak rela anaknya meninggalkan agama berhala. Ia memprotes tindakan Sa’ad dan bersumpah, “Hai Sa’ad, agama apa pula yang baru engkau ikuti itu? Demi Allah aku tak akan makan dan minum sampai engkau kembali kepada agama leluhurmu. Atau relakah aku mati sedang engkau menanggung malu sepanjang zaman gara-gara engkau meninggalkan agama kita? Engkau pasti dicap orang kelak sebagai pembunuh ibu kandungmu sendiri”.

Hamnah kemudian tidak makan dan minum sehari semalam lamanya dengan harapan anaknya kembali murtad dari Islam. Sa’ad tampaknya tidak menghiraukan protes dari ibunya itu. Di hari yang lain kembali Hamnah meninggalkan makan dan minum. Waktu itu Sa’ad datang menengok ibunya dan berkata, “Ibuku, andaikata engkau punya seratus nyawa, dan nyawa itu keluar dari tubuhmu satu persatu, aku tetap tidak akan tinggalkan keyakinanku” kata Sa’ad dengan tegas,  “Terserah pada ibulah, apa ibu mau makan atau tidak”. Akhirnya Hamnah berputus asa, tidak ada harapan lagi anaknya akan berbalik kepada agama berhala. Karena tak tahan akhirnya  ia makan dan minum seperti biasa. Peristiwa tersebut diabadikan oleh  Allah Ta’ala dengan menurunkan ayat di atas. Allah Ta’ala membenarkan tindakan Sa’ad, yakni tetap berbuat baik kepada orang tua, tetapi tidak boleh mengikuti kemauannya untuk berbuat syirik.

Mengenai larangan taat kepada siapa pun jika diajak berbuat maksiat kepada Allah Ta’ala disebutkan dalam hadits,

لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِيْ مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ

“Tidak boleh taat kepada makhluk (manusia) dalam mendurhakai Khaliq.” (H.R. Ahmad dan Hakim)

Targhib fi Birril Walidain (Motivasi tentang Birrul Walidain)

Pertama, birrul walidain termasuk akhlak para nabi.

Allah Ta’ala menyebut Nabi Yahya bin Zakariya ‘alaihimas salam dengan ungkapan,

وَبَرًّا بِوَالِدَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ جَبَّارًا عَصِيًّا

“Dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka.” (QS. Maryam: 14)

Juga menceritakan tentang Nabi Isa ‘alaihis salam dengan ungkapan,

قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آَتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ مَا دُمْتُ حَيًّا وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا

“Berkata Isa: ‘Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.’” (QS. Maryam: 30-32)

Kedua, birrul walidain lebih diutamakan dari jihad.

Abdullah bin Ash ia berkata,

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَاسْتَأْذَنَهُ فِى الْجِهَادِ فَقَالَ أَحَىٌّ وَالِدَاكَ . قَالَ نَعَمْ . قَالَ فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ

“Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu meminta kepada beliau untuk berjihad. Maka beliau bersabda, ‘Apakah kedua orang tuamu masih hidup?’ Ia menjawab, ‘Ya.’ Beliau pun bersabda,  ‘Maka bersungguh-sungguhlah dalam berbakti kepada keduanya.’” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

أَقْبَلَ رَجُلٌ إِلَى نَبِىِّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ أُبَايِعُكَ عَلَى الْهِجْرَةِ وَالْجِهَادِ أَبْتَغِى الأَجْرَ مِنَ اللَّهِ. قَالَ فَهَلْ مِنْ وَالِدَيْكَ أَحَدٌ حَىٌّ. قَالَ نَعَمْ بَلْ كِلاَهُمَا. قَالَ فَتَبْتَغِى الأَجْرَ مِنَ اللَّهِ. قَالَ نَعَمْ. قَالَ فَارْجِعْ إِلَى وَالِدَيْكَ فَأَحْسِنْ صُحْبَتَهُمَا

Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Saya berbai’at kepadamu untuk berhijrah dan berjihad, aku mengharapkan pahala dari Allah.” Beliau bertanya, “Apakah salah satu orang tuamu masih hidup?” Ia menjawab, “Ya, bahkan keduanya masih hidup.” Rasulullah bertanya lagi, “Maka apakah kamu masih akan mencari pahala dari Allah?” Ia menjawab, “Ya.” Maka beliau pun bersabda, “Pulanglah kepada kedua orang tuamu lalu berbuat baiklah dalam mempergauli mereka.” (HR. Muslim)

أَنَّ جَاهِمَةَ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَدْتُ أَنْ أَغْزُوَ وَقَدْ جِئْتُ أَسْتَشِيرُكَ فَقَالَ هَلْ لَكَ مِنْ أُمٍّ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَالْزَمْهَا فَإِنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ رِجْلَيْهَا

Jahimah pernah datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Ya Rasulullah, aku ingin berperang dan sungguh aku datang untuk meminta pendapatmu.” Beliau bertanya, “Apakah engkau masih memiliki ibu?” Ia menjawab, “Ya.” Maka beliau pun bersabda, “Tetaplah bersamanya karena sesungguhnya surga ada di kakinya.” (HR. Ibnu Majah dan An Nasa’i)

Ketiga, kedua orang tua adalah pihak keluarga yang paling berhak diperlakukan dengan baik.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ بِحُسْنِ صَحَابَتِى قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ أَبُوكَ »

“Seorang pria pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Siapa dari kerabatku yang paling berhak aku berbuat baik?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu.’ Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ayahmu’.” (HR. Bukhari dan Muslim)

An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat dorongan untuk berbuat baik kepada kerabat dan ibu lebih utama dalam hal ini, kemudian setelah itu adalah ayah, kemudian setelah itu adalah anggota kerabat yang lainnya. Para ulama mengatakan bahwa ibu lebih diutamakan karena keletihan yang dia alami, curahan perhatiannya pada anak-anaknya, dan pengabdiannya. Terutama lagi ketika dia hamil, melahirkan (proses bersalin), ketika menyusui, dan juga tatkala mendidik anak-anaknya sampai dewasa.” (Syarh Muslim, 8/331)

Hal senada disebutkan dalam hadits dari Al Miqdam bin Ma’dikarib, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يُوصِيكُمْ بِأُمَّهَاتِكُمْ ثَلَاثًا إِنَّ اللَّهَ يُوصِيكُمْ بِآبَائِكُمْ إِنَّ اللَّهَ يُوصِيكُمْ بِالْأَقْرَبِ فَالْأَقْرَبِ

“Sesungguhnya Allah telah mewasiyatkan kalian supaya berbakti kepada ibu-ibu kalian -beliau mengucapkan hingga tiga kali-, berbakti kepada bapak-bapak kalian, berbakti kepada kaum kerabat kalian, lalu kepada kerabat yang lebih dekat lagi.” (HR. Ibnu Majah)

Keempat, tetap wajib birrul walidain walaupun mereka tergolong musyrikin.

Di awal risalah ini telah dikemukakan perihal Sa’ad bin Abi Waqash, Allah Ta’ala membenarkan tindakan Sa’ad, yakni tetap berbuat baik kepada orang tua, tetapi tidak boleh mengikuti kemauannya untuk berbuat syirik.

Hadits lain yang menyebutkan kebolehan berbuat baik kepada orang tua yang musyrik dapat kita ketahui dari riwayat berikut,

عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ قَالَتْ قَدِمَتْ عَلَيَّ أُمِّي وَهِيَ مُشْرِكَةٌ فِي عَهْدِ قُرَيْشٍ إِذْ عَاهَدَهُمْ فَاسْتَفْتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدِمَتْ عَلَيَّ أُمِّي وَهِيَ رَاغِبَةٌ أَفَأَصِلُ أُمِّي قَالَ نَعَمْ صِلِي أُمَّكِ

Dari Asma` binti Abu Bakar ia berkata, “(Ketika terjadi gencatan senjata dengan kaum Quraisy) ibuku mendatangiku yang ketika itu masih musyrik. Lalu aku meminta pendapat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, saya bertanya, ‘Wahai Rasulullah, Ibuku mendatangiku karena rindu padaku. Bolehkah aku menjalin silaturahmi dengan Ibuku?’ Beliau menjawab, ‘Ya, sambunglah silaturahmi dengan ibumu.’” (HR. Muslim)

Fadhlu Birril Walidain (Keutamaan Birrul Walidain)

Pertama, birrul walidain termasuk amal yang dicintai Allah Ta’ala. Hadits di awal risalah ini menunjukkan hal ini dengan sangat jelas.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي بِهِنَّ وَلَوْ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku bertanya kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Amal apakah yang paling dicintai Allah?’. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Shalat tepat pada waktunya.’ Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bertanya lagi: ‘Kemudian amal apa lagi?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bertanya lagi: ‘Kemudian amal apa lagi? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Jihad di jalan Allah’. (Setelah menyampaikan hadits ini) Abdullah nin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:   “Telah disampaikan kepadaku dari Rasuluullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hal-hal ini, seandainya aku menambah pertanyaan (kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) tentu akan ditambahkan kepadaku jawaban lainnya” (HR. Bukhari)

Kedua, birrul walidain menjadi sebab diampuninya dosa besar.

أَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى أَصَبْتُ ذَنْبًا عَظِيمًا فَهَلْ لِى مِنْ تَوْبَةٍ قَالَ هَلْ لَكَ مِنْ أُمٍّ. قَالَ لاَ. قَالَ هَلْ لَكَ مِنْ خَالَةٍ. قَالَ نَعَمْ. قَالَ فَبِرَّهَا

Seorang laki-laki datang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Sesungguhnya aku telah melakukan satu dosa yang sangat besar. Apakah aku bisa bertaubat?” Beliau balik bertanya, “Apakah engkau masih memiliki ibu?” ia menjawab, “Tidak.” Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau masih memiliki bibi (saudari ibu)?” Ia menjawab, “Ya.” Maka beliau bersabda, “Berbaktilah kepadanya.” (HR. Tirmidzi)

Ketiga, birrul walidain menjadi salah satu sebab dipanjangkannya umur dan ditambahnya rizki.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُمَدَّ لَهُ فِى عُمْرِهِ وَيُزَادَ لَهُ فِى رِزْقِهِ فَلْيَبَرَّ وَالِدَيْهِ وَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan ditambah rezekinya, maka hendaklah ia berbakti kepada kedua orang tuanya dan menyambung silaturahim” (HR. Ahmad)

Keempat, birrul walidain adalah salah satu bentuk ketaatan kepada Allah Ta’ala dan menjadi sebab teraihnya keridhaan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

طَاعَةُ اللَّهِ طَاعَةُ الْوَالِدِ، وَمَعْصِيَةُ اللَّهِ مَعْصِيَةُ الْوَالِدِ

“Taat kepada Allah (salah satu bentuknya) adalah taat kepada orang tua. Durhaka terhadap Allah (salah satu bentuknya) adalah durhaka kepada orang tua” (HR. Thabrani)

رِضَا الرَّبِّ فِى رِضَا الْوَالِدِ وَسَخَطُ الرَّبِّ فِى سَخَطِ الْوَالِدِ

“Keridhaan Tuhan ada pada keridhaan orang tua dan kemurkaan Tuhan ada pada kemurkaan orang tua” (HR. Tirmidzi)

Kelima, birrul walidain adalah salah satu amal yang menghantarkan ke surga.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ». قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ »

“Sungguh terhina, sungguh terhina, sungguh terhina.” Ada yang bertanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “(Sungguh hina) seorang yang mendapati kedua orang tuanya yang masih hidup atau salah satu dari keduanya ketika mereka telah tua, namun justru ia tidak masuk surga.” (HR. Muslim)

الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوِ احْفَظْهُ

“Orang tua adalah paling pertengahan dari pintu-pintu surga. Jika kamu mau, sia-siakanlah pintu itu (kau tidak mendapat surga) atau jagalah ia (untuk mendapatkan pintu surga itu).” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Unsur-unsur Birrul Walidain

Ketika kita ingin berbakti kepada kedua orang tua, ada unsur-unsur sikap dan akhlak yang harus kita penuhi, yaitu:

Pertama, al–muhafadhatu ‘alal qaul (memelihara tutur kata)

Seorang anak hendaknnya menjaga dan memelihara tutur katanya di hadapan orang tua, terlebih terhadap mereka yang sudah berusia lanjut;  jangan sampai perkataan atau perbuatannya menyinggung perasaan mereka, sebagaimana dijelaskan oleh Allah Ta’ala,

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra, 17: 23)

Kedua, al-khafdhul janaah (merendahkan ‘sayap’, yakni bersikap sopan).

Gestur seorang anak hendaknya menunjukkan sikap merendahkan diri kepada kedua orangtuanya dengan penuh kasih sayang dan mendoakan mereka agar keduanya dikasihi Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman,

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil’” (QS. Al-Isra, 17: 24)

Ketiga, at-tha’atul mushahabah (taat dan akrab)

Seorang anak hendaknya menanamkan ketaatan dan keakraban terhadap kedua orang tuanya. Manakala terpaksa harus tidak mentaatinya pun—karena perintah keduanya mengarah kepada kemaksiatan—sikap mushahabah (keakraban) tetap harus dijaga. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Luqman, 31:15)

Keempat, tsabatul birri ba’da wafatihima (tetap berbakti setelah keduanya wafat).

Kita tetap berkewajiban berbakti kepada kedua orang tua meski keduanya telah wafat. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Allah Ta’ala memberikan kesempatan kepada manusia untuk memiliki simpanan amal kebaikan setelah wafatnya yang dapat diperoleh diantaranya dari anak-anaknya yang shaleh dan shalehah.

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَىٰ ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الْأَوْفَىٰ

“…dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna…” (QS. An-Najm ayat, 53: 39-41)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang shaleh” (HR. Muslim)

Juga diriwayatkan dari Abu Usaid Malik bin Rabi’ah As-Sa’idi, ia berkata,

بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا جَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ بَنِى سَلِمَةَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِىَ مِنْ بِرِّ أَبَوَىَّ شَىْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا قَالَ « نَعَمِ الصَّلاَةُ عَلَيْهِمَا وَالاِسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِى لاَ تُوصَلُ إِلاَّ بِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا ».

“Suatu saat kami pernah berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu ada datang seseorang dari Bani Salimah, ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah masih ada bentuk berbakti kepada kedua orang tuaku ketika mereka telah meninggal dunia?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Iya (yaitu dengan) mendo’akan keduanya, meminta ampun untuk keduanya, memenuhi janji mereka setelah meninggal dunia, menjalin hubungan silaturahim (kekerabatan) dengan keluarga kedua orang tua yang tidak pernah terjalin dan memuliakan teman dekat keduanya.’” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)

Sekilas Kisah-kisah Para Nabi dan  Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Mempraktekkan Birrul Walidain

Nabi Ibrahim ‘alaihis salam

Nabi Ibrahim ‘alaihis salam mempunyai ayah yang bernama Azar yang aqidah-nya berseberangan dengan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Tetapi beliau tetap menunjukan sikap birrul walidain yang dilakukan seorang anak kepada bapaknya. Dalam menegur ayahnya, beliau menggunakan kata-kata yang santun dan ketika mengajaknya agar mengikuti jalan yang lurus, dipilihnya tutur kata yang lemah lembut. Hal ini dikisahkan oleh Allah Ta’ala melalui firman-Nya,

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا يَا أَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ ۖ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَٰنِ عَصِيًّا يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَٰنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا

“Ceritakanlah (Hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi. Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; ‘Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun? Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan’” (QS. Maryam, 19 : 41- 45)

Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditinggal wafat oleh ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthalib,  saat beliau masih dalam kandungan ibunya, Aminah. Ketika berusia 6 tahun, beliau diajak ibunya untuk berziarah ke makam ayahnya dengan perjalanan yang cukup jauh. Dalam perjalanan pulang, ibunda beliau jatuh sakit tepatnya didaerah Abwa hingga akhirnya meninggal dunia. Setelah itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diasuh oleh pamannya Abu Thalib. Rasulullah shallallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukan sikap yang mulia kepada pamannya walaupun berbeda aqidah. Rasulullah shallallallahu ‘alaihi wa sallam pun menunjukkan sikap berbakti kepada bibinya yang bernama Shafiyah binti Abdil Mutthalib.

Abu Bakar As–Shiddiq radhiyallahu ‘anhu

Abu Bakar As-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu adalah sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang patut diteladani dalam hal berbaktinya terhadap orang tua. Disaat orang tuanya telah memasuki usia yang sangat udzur, bukan hanya perkataan yang lemah lembut  dan sikap yang baik  saja yang ditunjukkannya, melainkan beliau juga dapat mengajak bapaknya, yakni Abu Quhafah untuk masuk Islam pada peristiwa Futuh Makkah. Hal ini telah dinanti oleh Abu Bakar As-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dengan cukup lama.

Sa’ad bin Abi Waqash radhiyallahu ‘anhu

Kisahnya telah disebutkan sebelumnya; Sa’ad bin Abi Waqash radhiyallahu ‘anhu menerapkan bagaimana birrul walidain kepada orangtuanya yang musyrik dengan tetap mempertahankan keimanan kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Saat ibunya mengetahui bahwa Sa’ad memeluk agama Islam, ibunya mempengaruhinya agar dia keluar dari Islam, sedangkan Sa’ad terkenal sebagai anak muda yang sangat berbakti kepada orang tuanya. Ibunya sampai mengancam jika Sa’ad tidak keluar dari Islam, maka ia tidak akan makan dan minum sampai mati. Dengan kata-kata yang lembut Sa’ad merayu ibunya , “Jangan kau lakukan hal itu wahai Ibunda, tetapi saya tetap tidak akan meninggalkan agama ini walau apapun resikonya”. Tidak bosan-bosannya Sa’ad menjenguk ibunya dan tetap berbuat baik kepadanya serta menegaskan hal yang sama dengan lemah lembut sampai suatu ketika ibunya menyerah dan menghentikan mogok makannya.

Demikianlah sekelumit pembahasan tentang birrul walidain. Semoga Allah Ta’ala senantiasa membimbing kita menjadi orang-orang yang mampu berbakti kedua orang tua.

Wallahu A’lam….

 

Sumber

https://risalah.id/birrul-walidain/

 

Hal-hal yang Membatalkan Keimanan (Syahadatain)

 Dengan mengucapkan dua kalimat syahadat seseorang berarti telah mempersaksikan diri sebagai hamba Allah semata. Kalaimat lailaaha illallahu dan Muhammadur rasulullah selalu membekas dalam jiwanya dan menggerakkan anggota tubuhnya agar tidak menyembah selainNya. Baginya hanya Allah sebagai Tuhan yang harus ditaati, diikuti ajaranNya, dipatuhi perintahNya dan dijauhi laranganNya. Caranya bagaimana, lihatlah pribadi Rasulullah saw. sebab dialah contoh hamba Allah sejati. Dalam pembukaan surat Al Israa', Allah telah mendeklarasaikan bahwa Rasulullah saw. adalah hambaNya: Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha (QS. Al Israa' 17/1).

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ١

Maha Suci Allah, yang Telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang Telah kami berkahi sekelilingnya[847] agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya dia adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.

Begitu juga dalam pembukaan surat Al Kahfi, Allah berfirman: Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al Qur'an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya (QS. Al Kahfi 18/1).

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ عَلٰى عَبْدِهِ الْكِتٰبَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَّهٗ عِوَجًا ۜ ١

Segala puji bagi Allah yang Telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Quran) dan dia tidak mengadakan kebengkokan[871] di dalamnya;

Ini menunjukkan bahwa agar makna dua kalimat syahadat - yang intinya adalah tauhid - benar-benar tercermin dalam jiwa dan perbuatan, tidak ada pilihan bagi seorang hamba kecuali mencontoh pribadi Rasulullah saw. dalam segala sisi kehidupannya, baik dari sisi akidah dan ibadah, maupun sisi-sisi lainnya seperti sikapnya terhadap istri dan pelayannya di rumah, pergaulannya bersama-sahabatnya, akhlaknya dalam melakukan tansaksi bisnis dan kepemimpinannya sebagai kepala Negara. Maka untuk menjaga kemurnian tauhid, seperti yang dicontohkan Rasulullah saw. seorang hamba hendaknya menghindar jauh-jauh dari hal-hal yang merusak kemurnian tauhid sebagai cerminan dua kalimat syahadat tersebut, yang setidaknya ada tiga: (a) Syirik ( menyekutukan Allah (b) Ilhad (menyimpang dari kebenaran) (c) Nifak (berwajah dua, menampakkan diri sebagai muslim, sementara hatinya kafir).

1. Syirik (meyekutukan Allah)

a). Definisi: Syirik adalah lawan kata dari tauhid. Yaitu sikap menyekutukan Allah secara dzat, sifat, perbuatan dan ibadah. Adapun syirik secara dzat adalah dengan meyakini bahwa dzat Allah seperti dzat mahlukNya. Akidah ini dianut oleh kelompok mujassimah. Syirik secara sifat artinya: seseorang meyakini bahwa sifat-sifat mahluk sama dengan sifat-sifat Allah. Dengan kata lain bahwa mahluk mempunyai sifat-sifat seperti sifat-sifat Allah, tidak ada bedanya sama sekali. Syirik secara perbuatan artinya: seseorang meyakini bahwa mahluk mengatur alam semesta dan rizki manusia seperti yang telah diperbuat Allah selama ini. Sedangkan syirik secara ibadah artinya: seseorang menyembah selain Allah dan mengagungkannya seperti mengagungkan Allah serta mencintainya seperti mencintai Allah. Syrik-syirik dalam pengertian tersebut secara eksplisit maupun implisit telah ditolak oleh Islam. karenanya seorang muslim harus benar-benar hat-hati dan menghindar jauh-jauh dari syirik-syirik seperti yang telah diterangkan di atas.

b) Bentuk-bentuk Syirik:

Pertama, menyembah patung atau berhala (al ashnaam). Allah swt. dalam surat Al Hajj 22/30 berfirman:

ذٰلِكَ وَمَنْ يُّعَظِّمْ حُرُمٰتِ اللّٰهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ عِنْدَ رَبِّهٖۗ وَاُحِلَّتْ لَكُمُ الْاَنْعَامُ اِلَّا مَا يُتْلٰى عَلَيْكُمْ فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْاَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوْا قَوْلَ الزُّوْرِ ۙ ٣٠

30.  Demikianlah (perintah Allah). dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah[989] Maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. dan Telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.

"maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta".

Dalam surat Maryam 19/42

اِذْ قَالَ لِاَبِيْهِ يٰٓاَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِيْ عَنْكَ شَيْـًٔا ٤٢

42.  Ingatlah ketika ia Berkata kepada bapaknya; "Wahai bapakku, Mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?

diceritakan bahwa Nabi Ibrahim menegur ayahnya karena menyembah patung:  Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya: "Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?".

Kedua, menyembah matahari, dalam surat Al A'raaf 7/54

اِنَّ رَبَّكُمُ اللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِۗ يُغْشِى الَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهٗ حَثِيْثًاۙ وَّالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُوْمَ مُسَخَّرٰتٍۢ بِاَمْرِهٖٓ ۙاَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْاَمْرُۗ تَبٰرَكَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ ٥٤

54.  Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang Telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu dia bersemayam di atas 'Arsy[548]. dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.

Allah menolak orang-orang yang menyebah matahari, bulan dan bintang: "Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas `Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam". Lalu dalam surat Fushshilat 41/37 lebih tegas lagi Allah berfirman:

وَمِنْ اٰيٰتِهِ الَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُۗ لَا تَسْجُدُوْا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوْا لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَهُنَّ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ ٣٧

"Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah".

Ketiga, menyembah malaikat dan jin, dalam surat Al An'aam 6/100 Allah berfirman:

وَجَعَلُوْا لِلّٰهِ شُرَكَاۤءَ الْجِنَّ وَخَلَقَهُمْ وَخَرَقُوْا لَهٗ بَنِيْنَ وَبَنٰتٍۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ سُبْحٰنَهٗ وَتَعٰلٰى عَمَّا يَصِفُوْنَ ࣖ ١٠٠

Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan): "Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan", tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan[495]. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan.

Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan): "Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan", tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan".  Dalam surat Saba' 34/40-41:

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيْعًا ثُمَّ يَقُوْلُ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اَهٰٓؤُلَاۤءِ اِيَّاكُمْ كَانُوْا يَعْبُدُوْنَ ٤٠ قَالُوْا سُبْحٰنَكَ اَنْتَ وَلِيُّنَا مِنْ دُوْنِهِمْ ۚبَلْ كَانُوْا يَعْبُدُوْنَ الْجِنَّ اَكْثَرُهُمْ بِهِمْ مُّؤْمِنُوْنَ ٤١

"Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat: "Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?".Malaikat-malaikat itu menjawab: "Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka: bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu".

Keempat, menyembah para nabi, seperti Nabi Isa as. yang disembah kaum Nasrani dan Uzair yang disembah kaum Yahudi. Keduanya sama-sama dianggap anak Allah.  Allah berfirman: "Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putera Allah". Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dila`nati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?" (QS. At Taubah 9/30).

وَقَالَتِ الْيَهُوْدُ عُزَيْرُ ِۨابْنُ اللّٰهِ وَقَالَتِ النَّصٰرَى الْمَسِيْحُ ابْنُ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ قَوْلُهُمْ بِاَفْوَاهِهِمْۚ يُضَاهِـُٔوْنَ قَوْلَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ قَبْلُ ۗقَاتَلَهُمُ اللّٰهُ ۚ اَنّٰى يُؤْفَكُوْنَ ٣٠

30.  Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al masih itu putera Allah". Demikianlah itu Ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?

Dalam surat Al Maidah 5/72 : 

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۗوَقَالَ الْمَسِيْحُ يٰبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اعْبُدُوا اللّٰهَ رَبِّيْ وَرَبَّكُمْ ۗاِنَّهٗ مَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّٰهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوٰىهُ النَّارُ ۗوَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ اَنْصَارٍ ٧٢

72.  Sesungguhnya Telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam", padahal Al masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.

 

Kelima, Menyembah Rahib atau Pendeta, Allah berfirman: "Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan". Adi bin Hatim ra. pernah bertanya kepada Rasulullah mengenai hal tersebut, seraya berkata: "Sebenarnya mereka tidak menyembah Pendeta atau Rahib mereka?" Rasululah saw. menjawab: Benar, tetapi para rahib atau pendeta itu telah mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram, sementara mereka mengikutinya. Bukankah itu tindak penyembahan terhadap mereka?

Keenam, menyembah Thaghuut. Istilah thaghuut diambil dari kata thughyaan artinya melampaui batas. Maksudnya: segala sesuatu yang disembah selain Allah. Setiap seruan para rasul intinya adalah mengajak kepada tauhid dan menjauhi thaghuut. Allah berfirman:  "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)" (QS. An Nahl 16/36). Dan tauhid yang murni tidak akan bisa dicapai tanpa menghindar dari menyembah thaghuut, Allah berifrman: Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS. Al Baqaqarah 2/256). Allah bangga dengan orang-orang beriman yang menjauhi thaghuut: "Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku: (QS. Az Zumar 39/17).

Ketujuh, menyembah hawa nafsu. Hawa nafsu adalah kecendrungan untuk melakukan keburukan. Seseorang yang menuhankan hawa nafsu ia mengutamakan keinginan nafsunya di atas cintanya kepada Allah. Dengan demikian ia telah mentaati hawa nafsunya dan menyembahnya. Allah berfirman:  Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? (QS. Al Furqaan 25/43). Dalam surat Al Jatsiyah 45/23:  "Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?"

c) Macam-macam Syirik: Ada dua macam syirik: (a) Syirik besar (b) syirik kecil. Masing-masing dari kedua macam ini mempunyai dua dimesi: hzahir (nampak) dan khafiy (tersembunyi). Marilah kita bahas satu-satu persatu dari kedua macam syrik tersebut.

Pertama, Syirik besar (Asy Syirkul Akbar), yaitu tindakan menyekutukan Allah dengan mahlukNya. Dikatakan syirik besar karena dengannya seseorang tidak akan diampuni dosanya dan tidak akan masuk surga. Allah berfirman: "Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya" (QS. An Nisaa' 4/116). Ilustarsi syirik besar ini dibagi dua dimensi: dzahir dan kafiy. Yang dzahir bisa dicontohkan seperti menyembah bintang, matahari, bulan, patung-patung, batu-batu, pohon-pohon besar, manusia (seperti menyembah Fir'un, raja-raja, Budha, Isa ibn Maryam, malaikat, Jin dan Sytena. Sementara yang khafiy bisa dicontohkan seperti meminta kepada orang-orang yang sudah mati dengan keyakinan bahwa mereka bisa memenuhi apa yang mereka yakini, atau menjadikan seseorang sebagai pembuat hukum, menghalalkan dan mengharamkan seperti Allah swt.

Kedua, syirik kecil (Asyirkul Ashghar), yaitu suatu tindakan yang mengarah kepada syirik, tetapi belum sampai ketingkat keluar dari tauhid, hanya saja mengurangi kemurniannya. Syirik Ashghar ini juga dua dimensi: dzahir dan khafiy. Yang zhahir bisa berupa lafal (pernyataan) dan perbuatan. (a) Yang berupa lafal contohnya: bersumpah dengan nama selain Allah dan mengarah ke syrik, seperti pernyataan: demi Nabi, demi Ka'bah, demi Kekek dan Nenek dan lain sebagainya. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda: man halafa bighairillahi faqad kafara wa asyraka (siapa yang bersumpah dengan selain maka ia kafir dan musyrik) (HR. Turmidzi no 1535). Termasuk lafal yang mengarah ke syirik pernyataan: kalau tidak karena Allah dan si fulan niscaya ini tidak akan terjadi, atau memberikan nama seperti abdul ka'bah dan lain sebagainya. (b) Adapun yang berupa perbuatan contohnya: mengalungkan jimat dengan kaykinan bahwa itu bisa menyelamatkan dari mara bahaya dan sebagainya.

Adapun syirik Ashghar yang khafiy, biasanya berupa niat atau keinginan, seperti riya' dan sum'ah. Yaitu melakukan tindak ketaatan kepada Allah dengan niat ingin dipuji orang dan lain sebagainya. Seperti menegakkan shalat dengan nampak khusyu' karena sedang disamping calon mertuanya, supaya dipuji sebagai orang saleh, padahal di saat shalat sendirian tidak demikian. Riya' adalah termasuk dosa hati yang sangat berbahaya. Sebab Islam sangat memperhatikan perbuatan hati sebagai factor yang menentukan bagi baik tidaknya perbuatan dzahir. Allah befirman: "Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan sipenerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir" (QS. Al Baqarah 2/264). Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda: man samma'a sammallahu bihii, waman yraa'ii yraaillahu bihii (Siapa yang menampakkan amalnya dengan maksud riya' Allah akan menyingkapnya di hari Kiamat, dan siapa yang menunjukkan amal shalehnya dengan maksud ingin dipuji orang, Allah mengeluarkan rahasia tersebut di hari Kiamat (HR. Bukhari 11/288 dan Muslim no. 2987).

d) Bahaya-bahaya Syirik:

Pertama, Syirik adalah kedzaliman yang nyata. Allah berfirman: innasy syirka ladzlumun adziim  (sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar) (QS. Luqman 31/13). Mengapa sebab dengan berbuat syirik seseorang telah menjadikan dirinya sebagai hamba makhluk yang sama dengan dirinya, tidak berdaya apa-apa.

Kedua, Syirik merupakan sumber khurafat, sebab orang-orang yang mayakini bahwa selain Allah seperti bintang, matahari, kayu besar dan lain sebagainya bisa memberikan manfaat atau bahayam berarti ia telah siap melakukan segala khurafaat dengan mendatangi para dukun, kuburan-kubutan angker dan mengalungkan jimat di lehernya.

Ketiga, Syrik sumber ketakutan dan kesengsaraan, Allah berfirman: "Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim" (QS. Ali Imran 3/151)

Keempat, Syirik merendahkan derajat kemanusiaan, Allah berfirman:  "Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh" (QS. Al Hajj 22/31).

Kelima, syirik menghancurkan kecerdasan manusia, Allah berfirman:  "Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfa`atan, dan mereka berkata: "Mereka itu adalah pemberi syafa`at kepada kami di sisi Allah". Katakanlah: "Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) di bumi?" Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan (itu)" (QS. Yunus 10/18).

Keenam, di akhirat nanti orang-orang musrik tidak akan mendapatkan mapunan Allah, dan akan masuk neraka selama-lamanya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya" (QS. An Nisaa' 4/116) Dalam surat Al Maidah 5/72: "Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun".

e) Sebab-sebab Syirik: Ada beberapa sebab fundamental munculnya syirik:

(a) Al Jahlu (kebodohan). Karenanya masyarakat sebelum datangnya Islam disebut dengan msyarakat jahiliyah. Sebab mereka tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Dalam kondisi yang penuh dengan kebodohan itu, orang-orang cendrung berbuat syirik. Karenanya semakin jahiliyah suatu kaum, bisa dipastikan kecendrungan berbuat syirik semakin kuat. Dan biasanya di tengah masyarakat jahiliyah para dukun selalu menjadi rujukan utama. Mengapa, sebab mereka bodoh, dan dengan kobodohannya mereka tidak tahu bagaimana seharusnya mengatasi berbagai peroslan yang mereka hadapi. Ujung-ujungnya para dukun sebagai nara sumber yang sangat mereka agungkan.

(b) dhu'ful iimaan (lemahnya iman). Seorang yang lemah imannya cendrung berbuat maksiat. Sebab rasa takut kepada Allah tidak kuat. Lemahnya rasa takut akan dimanfaatkan oleh hawa nafsu untuk menguasai dirinya. Ketika seseorang dibimbing oleh hawa nafsunya maka tidak mustahil ia akan jatuh ke dalam perbuatan-perbuatan syririk, seperti memohon kepada pohonan besar karena ingin segera kaya, datang ke kuburan para wali untuk minta pertolongan agar ia dilih jadi presiden atau selalu merujuk kepada para dukun untuk suapaya penampilannya tetap memikat hati banyak orang dan lain sebagainya.

(c) taqliid (taklid buta). Di dalam Al Qur'an selalu digambarkan orang-orang yang menyekutukan Allah dengan alasan karena mengukiti jejak nenekmoyang mereka. Allah berfirman:  "Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: "Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya. Katakanlah: "Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji." Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?" (QS. Al A;raf 7/28). Dalam surat Al Baqarah 2/170: "Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?" Dalam surat Al maidah 5/104: "Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul". Mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?.

2. Al Ilhaad (Menyimpang Dari Kebenaran)

Penggunaan istilah al ilhaad dalam Al Qur'an: Al Qur'an menggunakan istilah ilhaad di banyak tempat, kadang berbentuk kosa kata yulhiduun sebagaimana berikut: Dalam surat Al A'raf :

وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَاۖ وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِيْٓ اَسْمَاۤىِٕهٖۗ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ۖ ١٨٠

Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (Al-A’raf: 180)

Dalam surat An Nahl 16/103:

 وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ

Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: "Sesungguhnya Al Qur'an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)". Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa `Ajam, sedang Al Qur'an adalah dalam bahasa Arab yang terang.

Dalam surat Fushshilat 41/40:

 إِنَّ الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي ءَايَاتِنَا لَا يَخْفَوْنَ عَلَيْنَا أَفَمَنْ يُلْقَى فِي النَّارِ خَيْرٌ أَمْ مَنْ يَأْتِي ءَامِنًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Kami, mereka tidak tersembunyi dari Kami. Maka apakah orang-orang yang dilemparkan ke dalam neraka lebih baik ataukah orang-orang yang datang dengan aman sentosa pada hari kiamat? Perbuatlah apa yang kamu kehendaki; sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Kadang berbentuk kosa kata ilhaad, Allah berfirman:

 إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ الَّذِي جَعَلْنَاهُ لِلنَّاسِ سَوَاءً الْعَاكِفُ فِيهِ وَالْبَادِ وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidilharam yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih (QS. Al Hajj 22/25)

Dan kadang berbentuk kosa kata multahadaa Allah berfirman:

وَاتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَلَنْ تَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا

Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhan-mu (Al Qur'an). Tidak ada (seorangpun) yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya. Dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain daripada-Nya (QS. Al Kahfi 18/27)

 قُلْ إِنِّي لَنْ يُجِيرَنِي مِنَ اللَّهِ أَحَدٌ وَلَنْ أَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا

Katakanlah: "Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorangpun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya" QS. Al Jin 72/22).

Arti al ilhaad menurut para ulama: Al farra' mengatakan bahwa kata yulhiduun atau yalhaduun artinya condong kepadanya. Imam Al Harrani dari Ibn Sikkit mengatakan: al mulhid artinya orang yang menyimpang dari kebenaran, dan memasukkan sesuatu yang lain kepadanya. Dalam Lisanul Arab dikatakan: al ilhaad artinya menyimpang dari maksud yang sebenarnya. Meragukan Allah juga termasuk ilhaad. Dikatakan juga bahwa setiap tindak kedzaliman dalam bahasa Arab disebut ilhaad. Karenanya dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa monopoli makanan di tanah haram itu termasul ilhad. Ketika dikatakan laa tulhid fil hayaati itu artinya jangan kau menyimpang dari kebenaran selama hidupmu.

Imam Ashfahani dalam bukunya mufradaat alfadhil Qur'an mengatakan bahwa kata al ilhaad artinya menyimpang dari kebenaran. Dalam hal ini –kata Al Ashfahani- ada dua makna: Pertama, ilhad yang identik dengan syirik, bila ini dilakukan maka otomatis seseorang menjadi kafir. Kedua, ilhad yang mendekati syirik, ini tidak membuat seseorang menjadi kafir, tetapi setidaknya telah mengurangi kemurnian tauhidnya. Termasuk sikap ini apa yang diganbarkan dalam firman Allah:

  وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

 siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih (QS. Al Hajj 22/25).

Dalam menafsirkan ayat وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ (dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya), Imam Al Ashfahani menyebutkan bahwa ada dua macam dalam ilhaad kepada nama-nama Allah: (a) mensifati Allah dengan sifat-sifat yang tidak pantas disebut sebagai sifat Allah (b) menafisirkan nama-nama Allah dengan makna yang tidak sesuai dengan keagunganNya (Lihat Mufradat Alfaadzul Qur'an h.737).

Hakikat Ilhad: berdasarkan keterangan di atas baik ditinjau dari segi bahasa maupun definisi yang disampaikan para ulama nampak bahwa istilah ilhad digunakan untuk segala tindakan yang menyimpang dari kebenaran. Jadi setiap penyimpangan dari kebenaran disebut ilhad. Tetapi secara definitif ia lebih khusus digunakan untuk sikap yang menafikan sifat-sifat, nama-nama dan perbuatan Allah. Dengan kata lain para mulhidun adalah mereka yang tidak percaya adanya sifat-sifat, nama-nama dan perbuatan Allah. Berbeda dengan kafir yang di dalamnya bisa berupa pengingkaran kepada Allah, menyekutukanNya dan pengingkaran terhadap nikmat-nikmatNya. Sementara ilhad lebih kepada pengingkaran sifat-sifat, nama-nama dan perbuatan Allah saja. Dari sini nampak bahwa tidak setiap kafir ilhad. Karenanya –seperti dikatakan dalam buku Al Furuuq Al Lughawiyah- orang-orang Yahudi dan Nasrani sekalipun mereka tergolong kafir, tetapi mereka tidak termasuk mulhiduun. Tetapi setiap tindakan ilhad itu termasuk kafir.

Bahaya-bahaya ilhaad:

Pertama, bahwa para ulama sepakat bahwa tauhid mempunyai tiga dimensi: (a) tauhid uluhiyah, (b) tauhid rububiyyah (c) tauhid asma' dan sifat. Karena ilhad adalah tindakan menafikan sifa-sifat, nama-nama dan perbuatan Allah maka dengan melakukan ilhad seseorang telah menghapus satu dimensi dari dimensi tauhid yang sudah baku. Para ulama sepakat bahwa mengingkari salah satu dari dimensi-dimensi tauhid adalah kafir. Karena itu orang-orang mulhid tergolong orang kafir.

Kedua, bahwa dengan menafikan sifat-sfat dan nama-nama Allah berarti ia telah mengingkari ayat-ayat Al Qur'an yang menegaskan adanya nama-nama dan sifat-sifat Allah. Para ulama sepakat bahwa mengingkari satu ayat dari ayat-ayat Al Qur'an adalah kafir.

Ketiga, bahwa mengingkari perbuatan Allah berarti mengingkari segala wujud di alam ini sebagai ciptaanNya. Bila ini yang diyakini berarti telah mengingkari kekuasaan Allah sebagai Pencipta. Mengingkari kekuasaan Allah adalah kafir.

3. An Nifaaq (Wajahnya Islam, Hatinya Kafir)

Imam Al Ashfahani menerangkan bahwa an nifaaq diambil dari kata an nafaq artinya jalan tembus. Dalam surat Al An'aam dikatakan:

 وَإِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكَ إِعْرَاضُهُمْ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَبْتَغِيَ نَفَقًا فِي الْأَرْضِ أَوْ سُلَّمًا فِي السَّمَاءِ فَتَأْتِيَهُمْ بِآيَةٍ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَمَعَهُمْ عَلَى الْهُدَى فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْجَاهِلِينَ

 Dan jika perpalingan mereka (darimu) terasa amat berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lobang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mu`jizat kepada mereka, (maka buatlah). Kalau Allah menghendaki tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk, sebab itu janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang jahil (QS. Al An'aam 6/35).

Orang Arab berkata: naafaqal yarbu' binatang yarbu' telah melakukan nifak, karena ia masuk ke satu lubang lalu kelar dari lubang yang lain. Dalam pengertian ini kata an nifaaq digunakan. Sebab orang-orang munafik ketika bertemu dengan orang-orang Islam mereka suka menampakkan dirinya sebagai seorang muslim, sementara ketika bertemu dengan kawan-kawan mereka sesama kafir, mereka kembali lagi ke wajah mereka yang asli, sebagai orang-orang kafir. Karenanya Allah berfirman:  “Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik” (QS. At Taubah 9/67).

Ciri-ciri orang munafiq: Di pembukaan surat Al Baqarah setelah menceritakan ciri-ciri orang-orang beriman dan ciri-ciri orang-orang kafir, Allah lalu menceritakan ciri-ciri orang-orang munafiq secara panjang lebar. Ringkasnya sebagai berikut: (a) Di mulut mereka mengatakan beriman kepada Allah dan hari Kiamat, sementara hati mereka kafir (lihat QS. Al Baqarah 2/8-10) (b) Ketika dikatakan kepada mereka agar jangan berbuat kerusakan, mereka mengaku berbuat baik(lihat QS. Al Baqarah 2/11-12). (c) Ketika bertemu dengan orang-orang beriman mereka menampakan keimanan, tetapi ketika kembali ke kawan-kawan mereka sesama syetan mereka kembali kafir. (d) Ibarat orang berbisnis mereka sedang membeli kekafiran dengan keimanan. Sebab setiap saat wajah mereka berganti-ganti tergantung dengan siapa mereka pada saat itu sedang bersam-sama. (e) Ibarat pejalan dalam kegelapan, setiap kali mereka menyalakan obor, seketika obor itu padam kembali. (d) Ibarat orang-orang yang ketakutan mendengarkan petir saat hujan turun, mereka selalu menutup telinga karena takut kebenaran yang disampaikan Rasulullah saw. Masuk ke hati mereka.

Penutup

Demikianlah hal-hal yang merusak kemurnian tauhid (baca: menghancurkan makna dua kalimat syahadat), yang secara singkat setidaknya ada tiga: Syirik, ilhaad dan nifaq. Masing-masing dari komponen tersebut mempunyai tujuan sendiri, hanya saja syirik lebih mengarah kepada sikap menyekutukan Allah, sementara ilhad lebih mengarah kepada sikap menafikan sifat, asma dan perbuatan Allah. Adapun nifaq lebih mengarah kepada penampilan dengan wajah dua. Tetapi ujung-ujungnya adalah kekafiran. Wallahu a’lam bishshawab.  

 

Aksi Sosial Muhammad Saw (13-39 Tahun)