Tuesday, April 28, 2026

Tafsir Surah Al-Qiyaamah

Pendahuluan

Surah yang kecil (pendek) ini menghimpun ke dalam hati manusia beberapa hakikat, kesan, pandangan, pemandangan, getaran-getaran, dan sentuhan-sentuhan, yang pasti dihadapi manusia dan tidak dapat berpaling darinya.... Semuanya dihimpunnya dengan kokoh, dengan metode yang khusus, dengan karakter Qur'aninya yang istimewa, baik metode penyampaian pengungkapannya maupun kemasan bahasanya yang ritmik, yang keduanya menimbulkan kesan yang dalam dan kuat, yang sulit ditandingi dan sukar untuk ditinggalkan.

Surah ini dimulai dengan dua ayat yang menampilkan nuansa kiamat dan nuansa kejiwaan manusia, “Aku bersumpah dengan hari kiamat, dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).” Kemudian dilanjutkan dengan membicarakan hubungan segala sesuatu dengan jiwa dan dengan hari kiamat, sejak permulaan hingga bagian penutup, dengan menggabungkan pembahasan antara jiwa dan hari kiamat itu hingga terakhir. Seolah-olah bagian permulaan ini mengisyaratkan kepada tema surah, atau seakan-akan ia menjadi kelaziman kesan-kesan yang menjadi titik tolak semua kesan yang ada dalam surah dengan cara yang halus dan indah.

Di antara hakikat besar yang diungkapkan surah ini kepada hati manusia dan menjadi bingkai yang mereka tidak dapat berlari darinya, adalah hakikat kematian yang pasti dan menakutkan, yang akan dihadapi oleh setiap makhluk hidup, yang tak dapat ditolak, dan tidak seorang pun yang mampu menghindarinya. Kematian ini selalu terjadi berulang-ulang setiap waktu, dialami oleh para pembesar maupun orang-orangkecil, orang dewasa dan anak-anak, orang kaya dan orang miskin, orang kuat dan orang lemah, dan posisi mereka semua terhadap kematian adalah sama.. tidak dapat melakukan rekayasa untuk melepaskan diri dari kematian, tidak ada sarana untuk menghindari, tidak ada kekuatan untuk menjauhi, tidak ada pembelaan yang dapat membelanya dari kematian, tidak dapat menolak, dan tidak dapat menundanya, karena ia datang dari arah paling tinggi yang tidak ada campur tangan manusia sedikit pun, dan tidak ada tempat lari dari menyerah kepada kematian ini, dan menyerah kepada iradah arah tertinggi itu.... Inilah kesan yang diberikan surah ini ke dalam hati, ketika ia berkata, "SekaIi-kali jangan. Apabila napas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya), “Siapakah yang dapat menyembuhkan dan dia yakin bahwa sesunghuhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia). Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan). Kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau." (al-Qiyaamah: 26-30)

Dari hakikat-hakikat besar yang dipaparkan surah ini, hakikat penciptaan yang pertama dan petunjuknya atas kebenaran informasi akan adanya penciptaan yang Iain (dibangkitkan dari kubur), dan menunjukkan bahwa di sana terdapat program dan ukuran di dalam menciptakan manusia.... Hakikat yang disingkapkan Allah kepada manusia tentang peranan-peranannya yang rumit dan konsekuensikonsekuensi yang mengikutinya, dalarn suatu ciptaan yang mengagumkan, tidak ada yang berkuasa melakukannya kecuali Allah, dan tidak ada seorang pun yang mengaku dapat berbuat begitu dari orangorang yang mendustakan akhirat dan membantahnya. Maka hakikat ini memastikan bahwa terdapat Tuhan Yang Maha Esa yang mengatur dan menentukan segala urusan, dan memastikan adanya bukti yang tak.dapat dibantah tentang adanya hari akhirat. Juga terdapat isyarat yang kuat tentang kepastian adanya peristiwa akhirat ini, sejalan dengan ketentuan dan peraturan yang tidak membiarkan manusia lepas dari tanggung jawab, dan tidak membiarkm kehidupan dan tanpa timbangan dan tanpa perhitungan.... Inilah kesan yang diberikan oleh surah ini ke dalam hati manusia ketika pada bagian awalnya mengatakan, "apakah manusia mengira bahwasanya Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang-belulangnya?" (al-Qiyaamah: 3), dan mengatakan pada akhir surah, "Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban) ? Bukankah ia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, Ialu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya? Lalu Allah menjadikan darinya sepasang laki-Iaki dan perempuan? Bukanknh (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?" (al-Qiyaamah: 36-40)

Di antara pemandangan-pemandangan yang mengesankan yang ditampilkan surah ini dan dihadapkan kepada hati manusia dengan sungguh-sungguh ialah pemandangan hari kiamat dengan segala rangkaian peristiwanya seperti keamburadulan tata alam semesta, goncangan-goncangan jiwa, dan kebingungan di dalam menghadapi peristiwa-peristiwa besar yang saat itu tampaklah hal-hal yang mengerikan dan menakutkan di alam ini dan di dalam jiwa manusia yang berlarian ke sana ke mari seperti tikus di dalam perangkap. Ini sebagai jawaban terhadap kebimbangan dan keraguan manusia terhadap hari kiamat dan anggapan tentang ketidakmungkinan terjadinya hari yang penuh misteri itu, meremehkannya, dan terus-menerus di dalam kedurhakaan. Datanglah jawaban dengan mengemukakan kesan-kesan sepintas, pemandangan selintas, dan cahaya sekilas,

"Bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus-menerus. Ia bertanya, 'Bilakah hari kiamat itu ?' Maka apabila mata terbelalak (ketakutan), dan apabila bulan telah hilang cahayanya, dan matahari dan bulan dikumpulkan. Pada hari itu manusia berkata, 'Kemana tempat lari, sekali-kali tidak. Tidak ada tempat berlindung. Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali. Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya, bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya. (al-Qiyaamah: 5-15)

Di antara pemandangan-pemandangan itu adalah pemandangan orang-orang mukmin yang merasa tenteram terhadap Tuhannya, yang memandang wajah Tuhannya yang mulia pada saat yang genting dan menakutkan itu, dan pemandangan Iain yang berupa orangorang yang sudah putus hubungannya dengan Allah, putus harapan, yang sedang menantikan akibat dari kekafiran, kemaksiatan, dan pendustaan terhadap ayat-ayat Allah dan RasuI-Nya pada masa di dunia dulu. Pemandangan ini ditampilkan dengan sangat jelas dan hidup, seakan-akan sedang dihadapi seseorang pada saat membaca Al-Qur'an ini. Pemandangan ini ditampilkan untuk menolak kerakusan manusia terhadap kesenangan kini (dunia) dan pengabaian mereka terhadap akhirat, padahal di akhirat inilah pemandangan seperti ini benar-benar menjadi kenyataan,

"Sekali-kali janganlah demikian! Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia, dan meningalkan (kehidupan) akhirat. Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat. Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram, mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepada mereka malapetaka yang amat dahsyat. " (al-Qiyaamah: 20-25)

Di tengah-tengah surah dan hakikat-hakikatnya beserta pemandangan-pemandangannya ditampilkanlah empat ayat yang memuat pengarahan khusus kepada Rasulullah saw. dan pengajaran kepada beliau mengenai cara menerima Al-Qur’an ini. Tampaklah bahwapengajaran ini datang tepat dan sesuai dengan apa yang terdapat dalam surah ini sendiri. Karena Rasulullah saw. khawatir lupa terhadap apa yang diwahyukan kepada beliau, maka beliau berkeinginan keras untuk menjaga diri dari kelupaan yang keinginan itu mendorongnya untuk menyebutkan kembali bunyi wahyu sepatah demi sepatah kata pada saat sedang disampaikan kepada beliau, dan menggerakkan lidahnya supaya dapat memperkuat hafalannya. Maka datanglah pengajaran ini kepada beliau,

“Janganlah kamu mengerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur’an ini karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesunguhnya atas tangungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tangungan Kamilah penjeIasannya. " (al-Qiyaamah: 16-19)

Pengajaran ini datang untuk menenangkan hati beliau bahwa urusan wahyu, menjadikan hafal Al-Qur'an, mengumpulkannya di dalam dada, dan menjelaskan maksud-maksudnya, semuanya diserahkan kepada pemiliknya, dan tugas beliau hanya menerima dan menyampaikannya kepada masyarakat. Karena itu, hendaklah beliau menenangkan hati dan menerima wahyu itu dengan perhatian yang sempurna, karena beliau akan mendapati Al-Qur’an itu terukir dengan mantap di dalam hati beliau. Demikianlah yang terjadi....

Pengajaran dan pemberitahuan ini sebetulnya sudah ditetapkan pada posisinya sewaktu diturunkan.... Bukankah ia dari firman Allah? Sedang firman Allah itu terdapat di tempat mana pun yang dituju? Dan untuk urusan apa pun yang dikehendaki? Ini adalah salah satu dari kalimat-kalimatnya yang telah mantap di dalam lembaran Al-Kitab yang keadaannya seperti keadaan bagian-bagian lain kitab ini.... Petunjukyang menetapkan penempatan ayat-ayat ini di tempatnya di dalam sunahnya adalah petunjuk yang dalam dan mengesankan yang menunjukkan kepada sebuah hakikat yang halus di dalam keadaan setiap kalimat Allah ke arah mana pun..„ Mengenai keadaan Al-Qur'an ini dan pemuatannya terhadap setiap kalimat Allah yang diwahyukan kepada Rasulullah saw., tidak terdapat satu hurufpun yang diabaikan, dan tidak ada satu kalimatpun yang dihilangkan. Al-Qur'an itu adalah benar, jujur, penuh perhatian, dan penuh ketenangan!

Demikianlah yang dirasakan oleh hati - ketika ia menghadapi surah ini - bahwa ia terkepung dan tidak dapat lari. Ia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai amalnya dan tidak dapat lepas. Tidak ada tempat berlindung baginya dari Allah dan tidak ada yang dapat melindunginya. Penciptaannya dan langkah-langkahnya ditentukan dengan ilmu Allah dan pengatuhuan-Nya, dalam penciptaan pertarna maupun penciptaan kedua, sementara ia lengah, bermain-main, terpedaya, dan menyombongkan diri,

“Dan, ia tidak mau membenarkan (Rasul dan Al-Qur’an) dan tidak mau mengerjakan shalat. Tetapi ia mendustakan (Rasul) dan berpaling (dari kebenaran). Kemudian ia pergi kepada ahlinya dengan berlagak (sombong). " (al-Qyaamah: 31-33) 

Di dalam menghadapi sejumlah hakikat, kesan-kesan, sentuhan-sentuhan, dan pengarahan-pengarahan itu, terdengarlah ancaman yang menakutkan,

“Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan keceIakaanlnh bagimu. Kemudian, kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu!” (al-Qyaamah: 34-35)

Realitas yang demikian ini dengan segala maknanya benar-benar akan ia dapati.

Demikianlah surah ini mengobati kekerasan hati, keberpalingannya, kebandelannya, dan kelengahannya Dikesankannya keseriusan dan kesungguhan dalam urusan ini, urusan kiamat, urusan jiwa, dan urusan kehidupan yang sudah ditentukan ukurannya dengan perhitungan yang cermat dan teliti. Kemudian urusan Al-Qur'an ini yang tidak berkurang satu huruf pun, karena ia adalah firman Allah Yang Mahaagung lagi Mahaluhur, yang responsif terhadap sisi-sisi alam semesta dengan kalimat-kalimatnya, ditetapkan di dalam rekaman alam yang pasti dan di dalam lembaran kitab yang mulia ini.

Telah kami kemukakan beberapa hakikat surah ini dan pemandangan-pemandangannya secara tersendiri semata-mata untuk memberikan penjelasan, sedang susunan surah memiliki nuansa tersendiri. Karena urutannya di dalam susunan, percampuran persoalannya di sana-sini, sentuhannya terhadap hati pada segi hakikat suatu kali, dan kembalinya kepadanya pada segi lain sesudah selang beberapa waktu..semua itu merupakan kekhasan uslub qur'ani di dalam berbicara kepada hati manusia, yang tidak dapat dicapai oleh uslub lain dan metode lain.

Marilah kita ikuti surah ini sebagaimana yang dipaparkan secara khusus oleh Al-Qur'an.

Hari Kiamat dan Jiwa Yang Menyesali Dirinya Sendiri

لَآ اُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيٰمَةِۙ ١ وَلَآ اُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ ٢ اَيَحْسَبُ الْاِنْسَانُ اَلَّنْ نَّجْمَعَ عِظَامَهٗ ۗ ٣ بَلٰى قٰدِرِيْنَ عَلٰٓى اَنْ نُّسَوِّيَ بَنَانَهٗ ٤ بَلْ يُرِيْدُ الْاِنْسَانُ لِيَفْجُرَ اَمَامَهٗۚ ٥ يَسْـَٔلُ اَيَّانَ يَوْمُ الْقِيٰمَةِۗ ٦ فَاِذَا بَرِقَ الْبَصَرُۙ ٧ وَخَسَفَ الْقَمَرُۙ ٨ وَجُمِعَ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُۙ ٩ يَقُوْلُ الْاِنْسَانُ يَوْمَىِٕذٍ اَيْنَ الْمَفَرُّۚ ١٠ كَلَّا لَا وَزَرَۗ ١١ اِلٰى رَبِّكَ يَوْمَىِٕذِ ِۨالْمُسْتَقَرُّۗ ١٢ يُنَبَّؤُا الْاِنْسَانُ يَوْمَىِٕذٍۢ بِمَا قَدَّمَ وَاَخَّرَۗ ١٣ بَلِ الْاِنْسَانُ عَلٰى نَفْسِهٖ بَصِيْرَةٌۙ ١٤ وَّلَوْ اَلْقٰى مَعَاذِيْرَهٗۗ ١٥

“Aku bersumpah dengan hari kiamat, dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). Apaknh manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang-belulangnya? Bukan demikian, sebenarnya kami berkuasa menyusun (kembali) jari-jemarinya dengan sempurna. Bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus-menerus. la bertanya, 'Bilakah hari kiamat itu ?' Maka apabila mata terbelalak (ketakutan), dan apabila bulan telah hilang cahayanya, dan matahari dan bulan dikumpulkan, pada hari itu manusia berkata, 'Ke mana tempat lari? Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung. Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali. Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya Bahkan manusia itu menjadi saki atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya. "(al-Qyaamah: 1-15)

Penyampaian sumpah disertai dengan sikap berpalingnya manusia darinya ini lebih menyentuh perasaan daripada sumpah langsung begitu saja Sentuhan demikian inilah yang dimaksudkan dalam pengungkapan dengan metode seperti ini, yang begitu sempurna dengan metode khususnya, yang sering disebutkan secara berulang-ulang dalam beberapa tempat yang berbeda-beda di dalam Al-Qur'an.... Kemudian di belakangnya muncullah hakikat hari kiamat dan hakikat jiwa yang amat menyesali dirinya sendiri.

Hakikat kiamat akan dibicarakan dalam beberapa ayat di dalam surah ini. Sedangkan jiwa yang amat menyesali dirinya sendiri ini terdapat beberapa macam penafsiran ma'tsurat.... Al-Hasan al-Bashri berkata, “Orang mukmin itu, demi Allah, tidaklah Anda lihat melainkan menyesali dirinya (dengan mengatakan), 'Apa yang saya kehendaki dengan ucapan saya? Apa tujuan saya makan? Apa tujuan saya merenung... Sedangkan orangyang durhaka cuek saja, tidak menyesali dan tidak mencela dirinya sedikitpun.. .." AI-Hasan berkata lagi, “Tidak seorang pun dari penduduk langit dan bumi melainkan akan mencela dirinya sendiri pada hari kiamat.." Ikrimah berkata, “Dia mencela dilinya sendiri mengenai kebaikan dan keburukan (dengan mengatakan) , 'Seandainya aku dulu begini dan begini...."' Demikian pula diriwayatkan dari Sa'id bin Jubair.... Dan dari Ibnu Abbas, katanya, “Yaitu nafsu yang amat tercela...” Dan darinya lagi, “Al-Iawwaamah (yang amat menyesali dirinya sendiri) itu ialah yang tercela.” Dari Mujahid, “Menyesali apa yang luput dari dirinya sendiri dan mencelanya.. ..” Qatadah berkata ”Yaitu jiwa yang durhaka.” Jarir berkata “Semua pendapat ini berdekatan maknanya dan yang paling cocok dengan zahir ayat adalah jiwa yang mencela dirinya sendiri atas kebaikan dan keburukannya, serta menyesali kebaikan-kebaikan yang luput.

Makna yang kami pilih mengenai maksud “nafsu yang amat menyesali dirinya sendiri” adalah pendapat yang dikemukakan al-Hasan al-Bashri, “Sesungguhnya orang mukmin itu, demi Allah, tidaklah Anda lihat melainkan mencela dirinya sendiri: Apa yang kukehendaki dengan kata-kata yang kucapkan? Apa yang kukehendaki dengan makan ini? Apa yang kuinginkan dengan merenung begini? Sedang orang durhaka tidak ambil peduli dan tidak mencela dirinya sama sekali.”

Inilah nafsu lawwamah (nafsu yang amat menyesali dirinya sendiri), yang sadar, yang menjaga diri, selalu takut, yang berhati-hati dan selalu memperhitungkan dirinya sendiri, selalu memperhatikan sekelilingnya, dan menjadi jelas baginya hakikat hawa nafsunya serta waspada terhadap tidu dayanya. Maka inilah jiwa yang mulia menurut pandangan Allah, sehingga disebut-Nya bersama dengan menyebut hari kiamat, kemudian disebutkanlah kebalikannya, yaitu jiwa yang durhaka, jiwa manusia yang hendak terus berbuat durhaka dan maksiat dengan tidak menghiraukan kedurhakaannya, yang mendustakan Rasul Allah, berpaling dari kebenaran, dan pergi kepada keluarganya atau kelompoknya dengan berlagak sombong, tanpa menghisab dan memperhitungkan dirinya, tanpa mencelanya, tanpa memprihatinkannya, dan tanpa ambil peduli.

"Aku bersumpah dengan hari kiamat, dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). " (al-Qiyaamah: 1-2)

Allah bersumpah terhadap terjadinya hari kiamat ini. Akan tetapi ketika Ia berpaling dari sumpah, Ia berpaling dari menyebut apa yang dijadikan sumpah, dan disebutkannya dalam bentuk lain, seakan-akan sebagai pendahuluan untuk membicarakan sesuatu yang disebutkan sesudah peringatan ini, dengan paparan yang membangkitkan kesadaran,

“Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya ? Bukan demikian, sebenarnya Kami berkuasa menyusun (kembali) jari-jemarinya dengan sempurna.“ (al-Qiyaamah: 3-4)

Problematika perasaan pada kaum musyrikin ialah sulitnya membayangkan dikumpulkannya kembali tulang-belulang yang telah remuk redam, yang telah hilang di dalam tanah dan berserakan bersama debu, untuk dikembalikan dan dibangkitkan sebagai manusia yang hidup. Barangkali begitulah pikiran sebagian orang hingga saat ini. Al-Qur'an menyanggah anggapan ketidakmungkinan dikumpulkannya kembali tulang-belulang itu dengan mempertegas terjadinya peristiwa itu,

“Bukan demikian, sebenamya Kami berkuasa menyusun (kembali) jari-jemarinya dengan sempurna. "

Kata "al-banaan" artinya adalah ujung-ujung jari (sidik jari), dan nash ini menegaskan adanya aktivitas pengumpulan sidik-sidik jari itu dengan segala sesuatu yang lebih tinggi daripada sekadar mengumpulkan, yaitu menyempurnakannya dan menyusunnya pada tempat-tempatnya sebagaimana sedia kala. Ini sebagai kiasan tentang pengulangan pembentukan manusia dengan secermat-cermatnya dan dengan sesempurna mungkin hingga tidak ada satu pun ujung jari (sidikjari) yang hilang, tidak ada yang rusak. Bahkan, ia dalam keadaan utuh dan sempurna, tidak ada anggota yang hilang, dan tidak ada bentuk dan ciri anggota ini yang hilang, meski bagaimana pun kecil dan halusnya!

Di sini dicukupkan dengan menyebutkan penegasan ini dan akan disebutkan pada akhir surah dalil lain tentang realitas penciptaan pertama. Sesungguhnya pembicaraan di sini hanyalah untuk mengungkapkan alasan psikologis mengenai hisab ini dan menyangkal anggapan ketidakrnungkinan mengumpulkan kembali tulang-belulang...

Manusia berkeinginan untuk berbuat durhaka secara terus-menerus dengan tidak ada sesuatu pun yang menghalanginya dari tindakan durhakanya, dan dia juga menginginkan tidak adanya hisab (perhitungan dan pertanggungjawaban) di sana dan tidak ada hukuman. Oleh karena itu, dia menganggap jauh kemungkinan terjadinya hari kebangkitan dan kubur, dan menganggap jauhnya kemungkinan datangnya hari kiamat,

“Bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus menerus. 1a bertanya, Bilakah hari kiamat itu ?" (alQiyaamah: 5-6)

Pertanyaan dengan kata tanya "ayyaana" (bilakah)-dengan bunyi yang panjang-ini memberi kesan jauhnya kemungkinan terjadinya hari kiamat ini, dan hal ini sejalan dengan keinginan mereka untuk terus-menerus berbuat dosa dengan tiada merasa terhalang oleh kepercayaan adanya kebangkitan dari kubur dan adanya hari akhiraL. „ Karena kepercayaan kepada akhirat itu akan mengendalikan jiwa yang gemar melakukan kejelekan, dan mengekang hati yang kepada kedurhakaan. Oleh karena itu, dia atau mereka berusaha menghilangkan kekang dan kendali ini, agar dia bebas melakukan kejahatan dan kedurhakaan dengan tanpa ada perasaan akan dihisab pada hari kiamat

Karena itu, jawaban terhadap pelecehan terhadap hari kiamat dan anggapan tentang jauhnya kemungkinan terjadinya, diberikan dengan begitu cepat, amat cepat, dan pasti, tidak ditunda-tunda dan dilambat-lambatkan lagi, hingga dalam irarna baitnya dan bunyi lafalnya. Dan di dalam pemandangan hari kiamat itu juga diikutsertakan perasaan indrawi dan hati manusia, bersama pemandangan-pemandangan alam,

“Maka apabila mata terbelalak (ketakutan), dan apabila bulan telah hilang cahayanya, dan matahari dan bulan dikumpulkan. Pada hari itu manusia berkata, 'Ke mana tempat lari?"' (al-Qiyaamah: 7-10)

Mata terbelalak dan berbolak-balik dengan amat cepat seperti berbolak-baliknya kilat dan sambarannya Bulan redup dan hilang cahayanya. Matahari dan bulan dikumpulkan menjadi satu setelah berpisah, dan rusak dan amburadul sistem tata suryanya padahal selama ini berjalan dengan baik aturannya yang demikian cermat dan rumit sudah rusak berantakan. Di tengah-tengah kondisi alam yang menakutkan dan morat-marit seperti ini manusia bertanya-tanya dengan penuh ketakutan, "Ke mana tempat lari?”. Di dalam pertanyaannya itu tampaklah kebingungan dan ketakutannya, seakan-akan ia sedang melihat ke semua penjuru, tiba-tiba ia sudah terikat, tertangkap.

Tidak ada tempat berlindung, tidak ada perlindungan, tidak ada tempat dari kekuasaan dan hukuman Allah. Manusia kembali kepada-Nya, hanya ada tempat di sisi-Nya, ådak ada tempat lain lagi selain itu,

"Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung! Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali. " (al-Qiyaamah: 11-12)

Keinginan manusia untuk terus-menerus berbuat dosa tanpa hisab dan tanpa pembalasan, tidak akan terjadi pada hari itu. Bahkan, segala sesuatu yang pernah dilakukannya dihisab diingatkan kepadanya kalau ia lupa dan diberi balasan setelah dia mengingatnya melihatnya di hadapannya,

"Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya. "(al-Qiyaamah: 13)

Ya, akan diberitakan dan diberitahukan kepadanya apa saja yang pernah dilakukannya sebelum meninggal dunia, serta apa saja yang dilalaikannya dan segala dampak perbuatannya, yang baik ataupun yang buruk. Karena, di antara amalan-amalan manusia itü ada yang meninggalkan bekas-bekas yang akan disandarkan kepada pelakunya pada perhitungan terakhir.

Bagaimanapun beraneka ragamnya alasan yang diajukan seseorang, tidak akan diterima alasan-alasan itu, sudah diserahkan kepadanya dan dia diserahkan kepada jiwanya, dan dia ditugasi untuk menunjukkan dan membimbing jiwanya kepada kebaikan. Kalau dia sampai kepada kejelekan, dia akan dimintai pertanggungjawaban dan dipatahkan argumentasi-argumentasinya,

"Bahkan manusia itü menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya. " (alQiyaamah: 14-15)

Satu hal yang perlu diperhatikan bahwa segah sesuatunya berjalan dengan cepat dan singkat. Alinea-alinea, diksi-diksi (pemisahan kata-kata), irama musikalnya, pemandangan-pemandangan pintas, demikian pula dengan aktivitas perhitungan, "Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya. " Semuanya terjadi demikian cepat dan global. ... Hal itu dikarenakan ayat ini untuk menyanggah anggapan bahwa masa hidup di dunia ini amat panjang dan sikap meremehkan terhadap hari perhitungan.

Pengarahan kepada Rasulullah saw. di dalam menerima wahyu

Kemudian datanglah empat ayat khusus yang memberikan pengarahan kepada Rasulullah saw. mengenai urusan wahyu dan dalam menerima AIQur'an ini,

لَا تُحَرِّكْ بِهٖ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهٖۗ ١٦ اِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهٗ وَقُرْاٰنَهٗ ۚ ١٧ فَاِذَا قَرَأْنٰهُ فَاتَّبِعْ قُرْاٰنَهٗ ۚ ١٨ ثُمَّ اِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهٗ ۗ ١٩

“Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) AI-Qur’an kamu hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesunguhnya atas tangungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya. ” (al-Qjyaamah: 16-19)

Sebagai tambahan terhadap apa yang sudah kami kemukakan dalam pendahuluan surah ini mengenai ayat-ayat ini, maka kesan yang ditinggalkannya di dalam jiwa adalah adanya jaminan mutlak dari Allah mengenai urusanan ini dalam hal mewahyukan, memelihara, mengumpulkan, dan menjelaskannya, dan menyandarkan semuanya secara total kepada Allah SWT. Tidak ada urusan bagi Rasulullah saw. melainkan mengemban dan menyampaikan kepada manusia. Kemudian, perhatian dan keinginan yang kuat dari Rasulullah saw. untuk meliputi semua yang diwahyukan kepadanya, dan mengambilnya dengan serius dan sungguh-sungguh, serta kekhawatirannya jangan-jangan ada kalimat atau kata-kata yang terlupakan, maka beliau terdorong untuk mengikuti bacaan malaikat Jibril ayat per ayat dan kata per kata sehingga dapat dipercaya bahwa tidak ada satu pun kata yang terluput, dan mantaplah hafalan beliau terhadapnya sesudah itu.

Dicatatnya peristiwa ini di dalam Al-Qur'an yang terbaca ini memiliki nilai tersendiri tentang mendalamnya kesan-kesan yang kami sebutkan di sini dan di dalam pendahuluan surah ini secara khusus.

Menyingkap Sikap Jiwa yang Menyesali Dirinya Sendiri

Ayat-ayat berikutnya memaparkan pemandangan hari kiamat dengan segala sesuatu yang ada padanya termasuk keadaan jiwa yang sangat menyesali dirinya sendiri. Diingatkanlah mereka terhadap jiwa mereka dengan segala sikapnya yang cinta dan sibuk kepada kehidupan dunia dan mengabaikan kehidupan akhirat serta tidak memperhatikannya, dan dihadapkanlah kepada mereka keadaan mereka di akhirat nanti sesudah ini, dan bagaimana jadinya mereka nanti. Kondisi ini ditunjukkan kepada mereka dalam lukisan pemandangan yang hidup, dengan kesan yang kuat dan mendalam,

كَلَّا بَلْ تُحِبُّوْنَ الْعَاجِلَةَۙ ٢٠ وَتَذَرُوْنَ الْاٰخِرَةَۗ ٢١ وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ نَّاضِرَةٌۙ ٢٢ اِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ۚ ٢٣ وَوُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍۢ بَاسِرَةٌۙ ٢٤ تَظُنُّ اَنْ يُّفْعَلَ بِهَا فَاقِرَةٌ ۗ ٢٥

“Sekali-kali janganlah demikian. Sebenamya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia, dan meninggalkan (kehidupan) akhirat. Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat. Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram, mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat. "(al-Qiyaamah: 20-25)

Pertama kali yang perlu diperhatikan dari sudut penggunaan kata dalam alinea ini adalah disebutnya kehidupan dunia dengan "al-'aajilah" (sesuatu yang cepat, hanya sepintas). Lebih dari itu, isyarat lafal tentang singkatnya kehidupan dunia dan cepatnya selesai, merupakan isyarat yang dimaksudkan, karena di sana ada kesesuaian antara bayang-bayang lafal dengan bayang-bayang keadaan yang ditunjukkan dalam rentetan ayat, dan firman Allah kepada Rasul-Nya saw.,

"Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. " (al-Qiyaamah: 16)

Maka menggerakkan dan cepat-cepat terhadap sesuatu ini adalah salah satu dari bayang-bayang sifat manusia di dalam kehidupan dunia ini.... Ini adalah keserasian yang halus dan lembut di dalam perasaan, yang diperhatikan oleh Al-Qur'an di dalam metode penyampaiannya. Kemudian sampailah kepada kondisi yang digarnbarkan oleh nash Al-Qur'an dengan pengungkapan yang unik ini,

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat. "(al-Qiyaamah: 22-23)

Kepada Tuhannya....? Ah, manakah ada posisi yang lebih tinggi daripada ini? Manakah kebahagiaan yang melebihi ini ?

Jiwa orang mukmin kadang-kadang benar-benar merasa senang dan bahagia dengan adanya secercah keindahan ciptaan Ilahi di dalam semesta atau pada dirinya, yang dilihatnya pada malam purnama atau pada waktu gelap gulita, atau ketika fajar merekah, atau bayang-bayang yang terus memanjang, atau laut yang bergelombang, atau padang yang luas membentang, atau taman-taman yang indah berseri, atau mayang-mayang yang tampak asri, atau kalbu yang cerdas dan pandai, atau keimanan yang penuh kepercayaan, atau kesabaran yang penuh keindahan... dan lain-lain wujud keindahan di semesta raya ini.... Maka penuhlah jiwanya dengan kesenangan, melimpahlah rasa bahagia, dikepakkannya sayap sayap cahaya untuk terbang bebas di penjuru alam. Lenyaplah darinya duri-duri kehidupan, penderitaan dan keburukan, beban tanah dan timbunan dagingndan darah, gejolak syahwat dan hawa nafsu....

Nah, bagaimanakah? Bagaimanakah ia ketika memandang-bukan kepada keindahan ciptaan Allah - melainkan kepada keindahan zat Alah sendiri?

Ingatlah, sesungguhnya ini adalah posisi yang pertama-tama memerlukan pertolongan dari Allah, dan kedua memerlukan pemantapan dari Allah, agar manusia itu dapat menguasai dirinya sehingga stabil dan menikmati kebahagiaan, yang tidak dapat diterangkan Iagi sifat-sifatnya, dan tidak dapat digambarkan ha.kikatnya!

"Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada TuhannyaIah mereka melihat. "

Nah, bagaimana mungkin ia tidak berseri-seri, ketika ia melihat keindahan Tuhannya?

Sungguh manusia dapat melihat sesuatu dari ciptaan Alah di dunia, seperti mayang elok, bunga yang segar, sayap yang mengepak, pikiran yang cerdas, atau perbuatan yang bagus. Dengan memperhatikan dan merenungkan semua ini, maka akan melimpahlah rasa bahagia dari dalam hati ke raut wajah, hingga tampak cerah dan ceria. Maka bagaimana Iagi kalau ia memandang keindahan Yang Maha Sempurna, yang tidak terikat dengan segala keindahan di alam wujud ini? Manusia tidak akan dapat mencapai tingkatan yang demikian itu kecuali setelah ia lepas dari semua kendala yang menghalanginya untuk mencapai tingkatan yang demikian tinggi Iagi sangat agung dalam angan-angan. Semua kendala yang bukan hanya ada di sekitarnya, melainkan ada di dalam dirinya sendiri yang berupa dorongan-dorongan kepada kekurangan dan kejelekan, dan mendorongnya kepada sesuatu yang tidak dapat mengantarkannya untuk memandang Allah di akhirat nanti....

Adapun masalah bagaimana cara melihat? Dengan anggota tubuh yang mana ia melihat? Dan, dengan sarana apa ia melihat wajah Allah„..? Semua itu adalah pembicaraan yang tidak terlintas di dalarn hati yang sedang disentuh kebahagiaan yang diinformasikan oleh Al-Qur'an, kepada hati yang beriman, dan kebahagiaan yang meluap kepada ruh, yang indah, nyata, dan merdeka.

Bagaimana keadaan orang-orang yang menghalangi dirinya sendiri untuk mendapatkan cahaya yang melimpahkan kegembiraan dan kebahagiaan ini? Mengapa mereka sibuk memperdebatkan seputar masalah yang mutlak, yang tidak dapat dicapai oleh akal biasa?

Naiknya derajat manusia dan terlepasnya mereka dari keterikatan terhadap alam dunia yang terbatas ini, yang demikian ini saja sudah menjadi terminal harapan untuk dapat memperoleh hakikat yang mutlak pada hari itu. Sebelum mendapatkan kebebasan dan kemerdekaan seperti ini, sudah terasa sebagai sesuatu yang besar bagaimana dia membayangkannya - semata-mata membayangkan-bagaimana terjadinya pertemuan itu.

Dengan demikian, merupakan perdebatan yang sia-sia perdebatan panjang dan bertele-tele yang sibuk dilakukan oleh golongan Mu'tazilah dan para penentangnya dari golongan Ahlus Sunnah dan para mutakallimin (ahli ilmu kalam) seputar hakikat masalah memandang dan melihat Allah di tempat seperti itu (surga).

Mereka mengukurnya dengan ukuran dunia; mereka bicarakan manusia menurut ketetapan akal di dunia; dan mereka bayangkan urusan itu dengan menggunakan sarana-sarana pengetahuan yang terbatas lapangannya.

Materi petunjuk kalimat ini sendiri terbatas pada apa yang dapat dipahami dan dibayangkan oleh akal kita yang terbatas Apabila sudah lepas dan bebas dari bayangan-bayangan ini maka berubahlah tabiat kalimat tersebut. Kalimat ini tidak lain hanyalah sekadar rumusan-rumusan yang berbeda-beda bunyinya sesuai dengan pikiran-pikiran dan bayangan-bayangan yang terkandung di dalam pikiran manusia Apabila kemampuannya berubah (berbeda) maka berbeda pulalah hasil bayangannya, dan berbeda pula materi yang ditunjuki kalimat itu. Kita memberlakukannya di bumi ini sesuai dengan rumusan-rumusan (bunyi) kalimat itu menurut ukuran kondisi kita. Maka, mengapa kita mau memasuki sesuatu yang kita tidak mengetahuinya secara pas hingga terhadap materi-materi yang ditunjuki kalimat-kalimat tersebut?

Marilah kita perhatikan luapan kebahagiaan yang menyenangkan, dan luapan kegembiraan yang penuh kesucian, yang lepas dari pandangan dan bayangan kita terhadap hakikat keadaan menurut ukuran kemampuan yang kita miliki. Marilah kita sibukkan ruh kita untuk melihat luapan kebahagiaan ini, karena melihat ini sendiri sudah merupakan nikmat, yang tidak dapat diungguli kecuali oleh kenikmatan memandang kepada wajah Yang Mahamulia.... ”Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram. Mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat. ” (al-Qyaamah: 24-25)

Itulah wajah-wajah yang Iayu, sayu, cemberut, muram, dan terhalang dari melihat wajah Allah, karena langkah-langkah dan tindakan-tindakan serta sikap hidupnya sewaktu di dunia dulu yang sibuk dengan hal-hal yang menjadikannya bermuram durja karena takut akan ditimpa bencana dan malapetaka yang amat dahsyat, yang meremukkan dan mematahkan tulang punggungnya.... Bencana yang amat dahsyat, yang akan menimpanya ketika mereka sedang bersedih hati dan bermuram durja ketika berduka dan bersusah hati.

Inilah akhirat yang mereka abaikan dan tidak mereka hiraukan, dan mereka konsentrasikan pikirannya kepada kehidupan dunia yang mereka cintai dan mereka perebutkan. Di belakang mereka adalah hari kiamat ini, hari yang ketika itu berbeda-beda tempat kembali dan raut wajah manusia,  dengan perbedaan yang amat jauh!! Di antaranya ada wajah-wajah yang berseri-seri memandang kepada wajah Tuhannya. Ada pula wajah-wajah yang muram, yang merasa yakin akan ditimpa malapetaka yang amat dahsyat !!

Pemandangan Saat Menghadapi Sakaratul Maut

Bila pemandangan-pemandangan hari kiamat dibentangkan.... Bila mata terbelalak ketakutan, bulan hilang cahayanya, matahari dan bulan dikumpulkan, manusia pada hari itu berkata, ”Kemana tempat lari?", sedang tempat lari tiada lagi. Apabila terdapat perbedaan tempat-tempat kembali dan wajah-wajah manusia dengan perbedaan yang amat jauh, ada wajah-wajah yang berseri-seri dengan memandang kepada Tuhannya, dan ada pula wajah-wajah yang muram yang yakin akan ditimpa malapetaka yang amat dahsyat...

Apabila pemandangan-pemandangan ini meninggalkan kesan yang kuat di dalam jiwa, karena kuatnya hakikat yang terkandung di dalamnya, dan kuatnya penyampaianAI-Qur'an yang mempersonifikasikannya dan menghidupkan nuansanya, maka sesudah membentangkan pemandangan-pemandangan itu surah ini mendekatkan berbagai sisinya sehingga menyentuh perasaan orang-orang yang menjadi sasaran pembicaraan dengan pemandangan lain yang sering terjadi berulang-ulang, yang tidak dibiarkannya berlalu begitu saja sehingga dihadapkannya kepada mereka di bumi ini dengan kekuatannya, kejelasannya, dan timbangannya yang berat!

Pemandangan itu adalah pemandangan kematian.... Kematian yang merupakan ujung perjalanan semua makhluk hidup, yang tidak dapat ditolak oleh makhluk hidup mana pun baik dari dirinya sendiri maupun dari orang Iain. Kematian yang memisahkan antar kekasih, yang terus berjalan di jalannya tak mau berhenti, tak mau berpaling, tak menghiraukan jerit tangis orang yang sangat sedih (yang akan mati itu sendiri ataupun yang ditinggalkannya - penj.) , tak menghiraukan penyesalan orang yang akan berpisah, tak menghiraukan keinginan orang yang berkeinginan, dan tak menghiraukan ketakutan orang yang takut ! Kematian yang akan menyerang orang-orang yang diktator dengan cara yang mudah sebagaimana menimpa orang-orang kecil dan hina dina, yang memaksa orang-orang yang berkuasa sebagaimana memaksa orang-orang yang lemah. Kematian yang tidak ada daya dan upaya bagi manusia untuk menghindarinya sedang dalarn hal ini mereka tak pernah mengatur kekuatan pemaksa yang dapat melepaskannya dari kematian itu,

كَلَّآ اِذَا بَلَغَتِ التَّرَاقِيَۙ ٢٦ وَقِيْلَ مَنْ ۜرَاقٍۙ ٢٧ وَّظَنَّ اَنَّهُ الْفِرَاقُۙ ٢٨ وَالْتَفَّتِ السَّاقُ بِالسَّاقِۙ ٢٩ اِلٰى رَبِّكَ يَوْمَىِٕذِ ِۨالْمَسَاقُ ۗ ࣖ ٣٠

"Sekali-kali jangan. Apabila napas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya), 'Siapakah yang dapat menyembuhkan?' dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau. "(al-Qiyaamah: 26-30)

Ini adalah pemandangan saat menjelang ke matian, saat sakaratul-maut (yang dihadapkan oleh Al-Qur'an kepada mereka, seakan-akan kematian itu sedang terjadi, dan seakan-akan ia sedang keluar dari celah-celah lafal dan sedang bergerak sebagaimana keluarnya sifat-sifat lukisan itu dari celah-celah sentuhan kuas.

"Sekali-kali jangan! Apabila napas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan.... "

Ketika ruh sampai ke kerongkongan pada waktu naza' terakhir, ketika sedang terjadi sakaratul-maut yang menakutkan dan membingungkan, ketika sedang terjadi kesedihan Iuar biasa yang menjadikan pandangan tidak normal lagi.., dan orang-orang yang hadir memandang ke kanan dan kiri mencari jalan untuk menyelamatkan ruh yang sedang sedih itu, "Dan dikatakan (kepadanya), Siapakah yang dapat menyembuhkannya ?” Barang-kali ada jampi-jampi yang berguna.. ! Melingkar-lingkarlah orang yang sedang susah itu karena sekarat dan naza'..., "Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan). "... Batallah segala upaya, tak berguna segala sarana, dan menjadi jelaslah jalan satu-satunya yang setiap makhluk hidup dihalau ke sana pada akhir perjalanan hidupnya, "Kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau. "

Pemandangan ini hampir-hampir bergerak dan berkata-kata, setiap ayat melukiskan gerakan, setiap alinea mengeluarkan kilatan cahaya, dan kondisi saat sakaratul-maut terlukis dan melukiskan ketakutan, kebingungan, dan kesedihan menghadapi kenyataan yang keras (tidak dapat ditawar-tawar) dan pahit, yang tidak dapat ditolak dan tidak dapat dihindari..„ Kemudian tampaklah kesudahan urusan dengan sangat jelasyang tak dapat dihindari, "Kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau.. .. " (al-Qiyamah: 30)

Layar diturunkan atas pemandangan yang menakutkan itu, dengan masih menampakkan bayang-bayang di mata, meninggalkan bekas dalam perasaan, dan meninggalkan kesedihan yang membisu dan menakutkan di seluruh angkasa.

Orang Yang Tidak Memiliki Persiapan Menghadapi Kematian

Setelah dibentangkannya pemandangan yang menyedihkan dan memilukan, serius dan realistis itu, dibentangkan pula pemandangan orang-orang yang hina dan mendustakan serta ayat-ayat Allah, dan tidak melakukan persiapan dengan amal saleh dan ketaatan, bahkan mereka suka melakukan kemaksiatan dan pelanggaran, berpaling dari peringatan-peringatan Allah, suka melakukan tindakan-tindakan yang sia-sia dan tiada berguna, bahkan congkak dan sombong di dalam melakukan kemaksiatan-kemaksiatan dan berpaling dari kebenaran,

فَلَا صَدَّقَ وَلَا صَلّٰىۙ ٣١ وَلٰكِنْ كَذَّبَ وَتَوَلّٰىۙ ٣٢ ثُمَّ ذَهَبَ اِلٰٓى اَهْلِهٖ يَتَمَطّٰىۗ ٣٣

“Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan Al-Qur’an) dan tidak mau mengerjakan shalat. Tetapi ia mendustakan (Rasul) dan berpaling (dari kebenaran). Kemudian ia pergi kepada ahlinya dengan berlagak (sombong). " (al-Qiyaamah: 31-33)

Disebutkan dalam suatu riwayat bahwa yang dimaksud oleh ayat-ayat ini adalah orang tertentu. Ada yang mengatakan bahwa orang tersebut adalah Abu Jahal "Amr bin Hisyam".... Dia sering datang kepada Rasulullah saw. untuk mendengarkan Al-Qur’an, tetapi kemudian pergi. Dia tidak mau beriman dan tidak mau mematuhi, tidak mau bersikap sopan dan tidak merasa takut kepada Allah, bahkan dia malah menyakiti Rasulullah saw. dengan perkataannya, dan menghalangi orang Iain dari mengikuti jalan (agama) Allah.... Kemudian dia menyombongkan diri dengan apa yang diperbuatnya, membanggakan kejahatan yang dilakukannya itu, seakan-akan dia telah melakukan sesuatu yang hebat dan perlu disebut-sebut...

Kalimat yang digunakan oleh Al-Qur'an ini adalah untuk merendahkan dan menghinakannya, juga untuk menyebarkan kesan kehinaannya itu, dengan digambarkan sikap sombongnya, bahwa dia "Yatamaththaa" (berlagak), berlagak dalam penampilan Iahirnya dan bersikap ujub dengan ujub yang berat dan memuakkan!

Nah, berapa kali orang yang bernamaAbu Jahal itu, sebagaimana diceritakan dalam sejarah dakwah, mendengar dan berpaling, melakukan berbagai cara dan tindakan untuk menghalangi manusia dari agarna Allah, menyakiti para juru dakwah, melakukan tipu daya yang buruk, dan berpaling dari kebenaran dengan lagak yang sombong dan membanggakan kejahatan dan keburukan yang dilakukannya, membanggakan kerusakan yang dilakukannya di muka bumi, membanggakan tindakannya menghalang-halangi manusia dari agama Allah, dan membanggakan tipu daya yang dilakukannya terhadap agama AlIah dan akidahnya..„ Hampir-hampir begitulah kebiasaannya setiap Al-Qur'an menghadapi kesombongan yang amat buruk ini dengan ancaman yang pedih,

اَوْلٰى لَكَ فَاَوْلٰىۙ ٣٤ ثُمَّ اَوْلٰى لَكَ فَاَوْلٰىۗ ٣٥

"Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu. Kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu. " (al-Qiyaamah: 34-35)

Ini adalah ungkapan istilahi yang mengandung makna yang berat. Dan, Rasulullah shallalahu alaihi wasallam sendiri sudah berusaha menghentikan kedengkian Abu Jahal ini suatu kali dan menggoyangnya seraya berkata kepadanya (menyampaikan ayat tersebut), "Kecelakaanlah bagimu, dan kecelakaanlah bagimu! Kemudian kecelakaanlah bagimu, dan kecelakaanlah bagimu”. Akan tetapi musuh Allah itu malah menjawab, "Apakah engkau hendak mengancamku, wahai Muhammad? Demi Allah, engkau dan Tuhanmu tidak akan mampu melakukannya sedikit pun. Sesungguhnya aku lebih mampu daripada sekadar berjalan di antara kedua gunungnya!" Lalu Allah menghukumnya pada waktu Perang Badar melalui tangan orang-orang mukmin, melalui Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasalam di bawah kekuasaan Tuhan Yang Mahakuat, Mahaperkasa, dan Mahaagung. Sebelum Abu Jahal, Fir’aun pernah berkata kepada kaumnya, "Aku tidak mengetahui adanya Tuhan bagimu selain aku.. .. " (al-Qashash: 38). Dan katanya Iagi, "Bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku (az-Zukhruf: 51). Kemudian Allah menghukumnya juga.

Berapa kali Abu Jahal di dalam sejarah dakwah menyombongkan keluarganya, kekuatannya, dan kekuasaannya, dan dianggapnya sebagai sesuatu yang patut dibangga-banggakan, lantas dia melupakan Allah, lalu Allah menghukumnya. Allah menilainya lebih hina daripada seekor nyamuk dan lebih rendah daripada seekor lalat... Sungguh ajal yang telah ditetapkan untuknya tidak dapat dimajukan dan dimundurkan sedeük pun.

Manusia Tidak Diciptakan dengan Sia-Sia

Pada bagian akhir surah ini, Al-Qur'an menyentuh hati manusia dengan mengemukakan hakikat Iain dalam realitas kehidupan mereka, hakikat yang menunjukkan adanya rencana dan pengaturan Allah terhadap kehidupan manusia ini. Juga menunjukkan adanya kehidupan lain yang sangat mereka ingkari kemungkinan terjadinya, padahal mereka tidak dapat lari darinya, dan tidak ada daya upaya dan kemampuan untuk menolaknya,

اَيَحْسَبُ الْاِنْسَانُ اَنْ يُّتْرَكَ سُدًىۗ ٣٦ اَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِّنْ مَّنِيٍّ يُّمْنٰى ٣٧ ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوّٰىۙ ٣٨ فَجَعَلَ مِنْهُ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْاُنْثٰىۗ ٣٩ اَلَيْسَ ذٰلِكَ بِقٰدِرٍ عَلٰٓى اَنْ يُّحْيِ َۧ الْمَوْتٰى ࣖ ٤٠

"Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban) ? Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan darinya sepasang: laki laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?" (al-Qiyaamah: 36-40)

Menurut pandangan suatu kaum, kehidupan ini hanyalah gerakan-gerakan yang tidak memiliki motivasi, tidak memiliki tujuan dan sasaran.... Kehidupan hanyalah rahim-rahim yang melahirkan dan kubur-kubur yang menelannya kembali, sedang masa-masa antara keluar dari rahim dan masuk kubur itu hanyalah untuk bersenang-senang, bermain-main, berhias dan bersolek, berbangga-banggaan, dan semua kesenangannya hanyalah sebentar dan sementara saja.... Di sana ada undang-undang dan peraturan, di belakangnya ada tujuan, dan di balik tujuan itu ada hikmah. Kedatangan manusia ke dalam arena kehidupan ini sesuai dengan takdir yang berlaku hingga kadar tertentu, dan akan berkesudahan dengan perhitungan dan pembalasan. Perjalanannya di atas bumi ini juga sebagai ujian yang kelak akan diperhitungkan dan diberi balasan.

Adapun pandangan yang cermat dan serasi, serta perasaan di baliknya tentang adanya Tuhan yang berkuasa, yang mengatur, dan bijaksana, Dia memberlakukan segala sesuatu dengan kadar tertentu, dan segala sesuatu di dunia ini akan berakhir pada suatu kesudahan yang telah ditentukan. Akan tetapi, pandangan yang demikian ini dirasa jauh menurut ukuran pandangan dan pengetahuan manusia pada saat itu.

Yang membedakan manusia dari binatang adalah perasaannya terhadap hubungan waktu, peristiwa-peristiwa, dan tujuan-tujuan, hubungan dengan keberadaan tujuan dan wujud manusia itu, dan wujud segala sesuatu yang ada -di sekitarnya. Kenaikan tingkat kemanusiaannya mengikuti perkembangan dan muatan perasaannya ini, kejelian pandangannya terhadap keberadaan undang-undang Tuhan, dan hubungan peristiwa-peristiwa serta segala sesuatu dengan undang-undang ini. Maka ia tidak hidup untukmenghabiskan umurnya dari waktu ke waktu, dari satu peristiwa ke satu peristiwa. Di dalam pikirannya ia selalu menghubungkan masa dan tempat, masa lalu, masa sekarang, dan yang akan datang. Kemudian ia hubungkan semua ini dengan keberadaan alam yang besar beserta undang-undangnya; dan setelah itu ia hubungkan semua itu dengan iradah 'ulya ‘kehendak tertinggi' yang menciptakan dan mengatur, yang tidak menciptakan manusia dengan sia-sia dan tidak membiarkannya tanpa pertanggungjawaban.

Inilah pandangan besar yang oleh Al-Qur'an ditransfernya manusia kepadanya sejak masa yang jauh itu, peralihan yang sangat besar bila dibandingkan dengan pandangan-pandangan hidup yang dominan pada waktu itu, dan senantiasa sangat besar dibandingkan dengan seluruh pandangan duniawi yang diperkenalkan oleh filsafat tempo dulu maupun sekarang.

Dan sentuhan, "Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertangungjawaban) ?" ini adalah salah satu sentuhan dan pengarahan Al-Qur'an terhadap hati manusia supaya memikirkan dan memperhatikan kaitan-kaitan dan hubungan-hubungan, sasaran dan tujuan, ilat dan sebab, yang menghubungkan keberadaannya dengan keberadaan seluruh alam semesta, dan dengan iradah yang mengatur wujud segala sesuatu ini.

Dan, dengan tidak menggunakan bahasa yang berbelit-belit dan rumit, datanglah ayat-ayat Al-Qur'an dengan membawakan petunjuk-petunjuk yang realistis dan sederhana yang memberikan kesaksian bahwa manusia tidak dibiarkan begitu saja tanpa pertanggunjawaban  yaitu petunjuk tentang kejadiannya yang pertama,

“Bukankah ia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim) ? Kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya? Lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang Iaki-laki dan perempuan?" (al-Qiyaamah: 37-39)

Apakah gerangan manusia ini? Dari apa ia diciptakan? Bagaimana keberadaannya? Bagaimana jadinya nanti? Dan, bagaimanakah dia menempuh perjalanannya yang panjang hingga datang kepada rombongan ini?

Bukankah ia dahulu setetes sperma yang ditumpahkan ke dalam rahim? Bukankah ia dahulu hanya setetes nuthfah dengan sebuah sel kecil yang kemudian berkembang menjadi ‘alaqah 'segumpal darah' dengan bentuk khusus di dalam rahim, yang menempel di dinding rahim untuk dapat hidup dan menyerap makanan? Maka, siapakah gerangan yang memberikan ilham kepadanya untuk melakukan gerakan seperfi ini? Siapakah gerangan yang memberinya kemampuan seperti ini? Dan, siapakah gerangan yang memberinya arahan seperti ini?

Kemudian, siapakah gerangan sesudah itu yang menjadikannya janin yang sempurna dengan susunan organ-organnya yang begitu rapi? Yang fisiknya tersusun dari bermiliar-miliar sel yang hidup, padahal asalnya hanya sebuah sel bersama ovum? Perjalanan panjang yang ditempuhnya dari sebuah sel hingga menjadi janin yang sempurna - yang lebih panjang tahapan-tahapannya daripada perjalannya dari Iahir hingga kematiannya, dan perubahan-perubahan yang teiadi pada eksistensinya dalam proses perjalanan janinnya lebih banyak dan lebih Iuas jangkauannya daripada semua peristiwa yang dialaminya dalarn perjalanannya mulai dari kelahirannya hingga kematiannya. Maka, siapakah gerangan yang memandu perjalanannya yang panjang ini, padahal dia hanya sejemput makhluk kecil dan lemah, yang belum punya akal, belum punya pengetahuan, dan belum berpengalaman?

Akhirnya, siapakah gerangan yang menjadikan laki-laki dan perempuan dari sebuah sel ini...? Iradah yang manakah yang menghendaki sel ini menjadi laki-laki? Iradah yang manakah yang menghendaki sel itu menjadi perempuan? Siapakah gerangan yang berani mendakwakan dilinya turut campur lalu me mandu langkah-langkahnya dan prosesnya dalam kegelapan rahim hingga terjadinya pemilihan jenis kelamin Iaki-laki dan perempuan ini?

Tidak ada tempat lari dari merasakan adanya tangan halus yang mengatur dan memandu nuthfah yang ditumpahkan ke dalam rahim itu dalam perjalanan (proses)nya yang panjang, hingga sampai kepada kejadian itu ...., "Lalu Allah menjadikan darinya sepasang: laki-laki dan perempuan. " (al- Qiyaamah: 39)

Di depan hakikat yang menetapkan suatu kepastian terhadap perasaan manusia ini, datanglah kesan yang meliputi segenap hakikat yang dibicarakan surah ini,

"Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati ?' (al-Qyaamah: 40)

Ya, Mahasuci Allah! Dia benar-benar berkuasa untuk menghidupkan orang-orang mati!

Ya, Mahasuci Allah! Dia benar-benar berkuasa untuk menciptakan ulang!

Ya, Mahasuci Allah! Manusia tidak dapat lagi melainkan bersikap tunduk di hadapan hakikat yang menetapkan keberadaan dirinya ini.

Demikianlah surah ini ditutup dengan memberikan kesan yang pasti, kuat, dan dalam, yang memenuhi dan meluap di dalam perasaan, terhadap hakikat keberadaan manusia dan adanya pengaturan dan kekuasaan di belakangnya. ...

Monday, April 27, 2026

Tafsir Surah At-Taghabun

Pengantar

Surah ini merupakan surah yang paling mirip dengan surah-surah Makkiyyah dalam temanya, arahannya, naungannya, nuansanya, dan isyarat-isyaratnya, khususnya bagian pertama darinya. Nuansa surah-surah Madaniyyah hampir tidak terlihat di dalamnya kecuali pada paragraf-paragraf akhir.

Bagian pertama dan paragraf-paragraf awal hingga awal seruan,

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu.. '' (at-Taghaabun: 13)

Sasarannya adalah pembinaan dan pembangunan asas-asas akidah dan pembentukan persepsi Islami dalam hati dengan gaya bahasa surah-surah Makkiyyah yang ditujukan kepada orang-orang musyrik dan kafir pertama kali. Mereka diserukan dengan persepsi ini dalam bentuk seruan yang pertama kali didengar dan dihadapi. la menggunakan pengaruh-pengaruh alam semesta dan jiwa, sebagaimana ia juga memaparkan tentang nasib dan hukuman atas orang-orang yang terdahulu dari para pendusta sebelumnya. Di samping itu, iajuga memaparkan tentang kejadian-kejadian dan fenomena-fenomena hari Kiamat guna menetapkan hari kebangkitan dan penekanannya dengan tekanan yang keras. Tekanan yang menunjukkan bahwa orang-orang yang diseru itu termasuk yang ingkar dan kafir.

Sedangkan, bagian dan paragraf akhir menyerukan orang-orang yang beriman dengan seruan yang mirip dengan seruan-seruan yang ada dalam surah Madaniyyah untuk menganjurkan mereka agar berinfak dan memperingatkan mereka dari fitnah harta benda dan anak. Seruan yang semisal dengan ini muncul berulang-ulang dalam periode Madinah disebabkan oleh problematika yang muncul pada masyarakat Islam yang baru dibentuk. Sebagaimana di sana sesungguhnya terdapat pula bentuk-bentuk hiburan atas musibah dan kejadian yang menimpa atau beban-beban yang ada di pundak orang-orang yang beriman. Kemudian penyerahan kembali segala urusan kepada takdir Allah dan penetapan persepsi Islami di dalam urusan itu.

Itulah tema yang sering berulang-ulang dibahas dalarn surah-surah Madaniyyah, khususnya setelah perintah jihad dan pengorbanan-pengorbanan yang timbul karenanya.

Di sana ada beberapa riwayat bahwa surah ini termasuk di antara surah Makkiyyah dan ada pula beberapa tiwayat bahwa surah ini adalah surah Madaniyyah dengan beberapa alasan penguat. Kami hampir-hampir saja condong memasukkan surah ini ke dalam surah Makkiyyah karena terpengaruh dengan gaya bahasanya yang terdapat dalam paragraf-paragraf pertama dan nuansanya.

Namun, kami tetap memasukkan ke dalam surah Madaniyyah bersama dengan pendapat yang paling kuat dalam masalah ini. Karena, sesungguhnya di sana tidak ada satu pun faktor yang menghalangi bahwa paragraf-paragraf pertama sebagai seruan kepada orang-orang kafir setelah hijrah, baik mereka adalah orang-orang kafir Mekah maupun orang orang kafir yang dekat dari Madinah. Sebagaimana sesungguhnya tidak ada pula rintangan dan larangan bahwa surah-surah Madaniyyah dalam beberapa kesempatan dan keadaan tertentu, menjadikan sasarannya adalah pembinaan dan pembangunan asas-asas akidah dan pencerahan tentang persepsi Islami dengan gaya bahasa yang sering digunakan untuk surah-surah Makkiyyah. Wallahu a’lam.

Persepsi Islam tentang Alam Semesta

Bagian pertama dan paragraf-paragraf awal, sasarannya adalah pembinaan dan pembangunan persepsi iman berkenaan dengan alam semesta, serta pemaparan tentang hakikat hubungan antara Penciptanya Allah dengan alam semesta yang diciptakan-Nya. la juga menetapkan tentang hakikat beberapa sifat AIlah dan asmaul husna serta pengaruhnya dan jejaknya dalam alam semesta dan dalam kehidupan manusia.

يُسَبِّحُ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُۖ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ١ هُوَ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ فَمِنْكُمْ كَافِرٌ وَّمِنْكُمْ مُّؤْمِنٌۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ ٢ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ بِالْحَقِّ وَصَوَّرَكُمْ فَاَحْسَنَ صُوَرَكُمْۚ وَاِلَيْهِ الْمَصِيْرُ ٣ يَعْلَمُ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُسِرُّوْنَ وَمَا تُعْلِنُوْنَۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ ۢبِذَاتِ الصُّدُوْرِ ٤

"Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang di langit dan apa di bumi. Hanya Allah-lah yang mempunyai semua kerajaan dan semua pujian-pujian; dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Dialah yang menciptakan kamu, maka di antara kamu ada yang kafir dan di antara kamu ada yang beriman. A llah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar. Dia membentuk rupamu dan dibaguskan-Nya rupamu itu, dan hanya kepada-Nyalah kembali(mu). Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi serta mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Allah Maha Mengetahui segala isi hati. " (at-Taghaabun:1-4)

Persepsi dan pandangan imani yang ada dalam alam semesta ini adalah persepsi yang paling detail dan luas yang dikenal oleh orang-orang yang beriman sepanjang sejarah. Risalah-risalah ilahiah telah datang. Semuanya membawa keyakinan tentang keesaan AIIah dan penciptaan-Nya atas seluruh alam semesta dan seluruh makhluk. Juga penjagaan dan perhatian-Nya atas segala yang ada di alam semesta.

Kita tidak boleh meragukan sedikitpun tentang perkara ini karena Al-Qur'an menceritakan tentang rasul-rasul dan risalah-risalah seluruhnya. Sedangkan, temuan-temuan yang diperoleh dari kajian dalam kitab-kitab yang dipalsukan dan menyimpang, tidak boleh dijadikan sandaran. Demikian pula kitab kitab yang ditulis oleh orang-orang yang tidak beriman kepada Al-Qur'an atau hanya beriman kepada sebagiannya saja.

Sesungguhnya penyimpangan dari akidah iman terjadi pada pengikut-pengikut rasul yang membawa risalah tersebut. Sehingga, tampak bahwa seolah-olah rasul itu tidak membawa risalah tauhid yang murni. Atau, ia seakan tidak datang membawa akidah tentang kekuasaan Allah yang mutlak atas alam semesta dan Dia selalu berhubungan dengan alam semesta itu. Ini timbul dari penyimpangan yang baru terjadi, bukan dari asas akidah yang murni.

Pasalnya, agama Allah itu adalah satu sejak dari awal risalah hingga akhir risalah. Dan, sangat mustahil Allah menurunkan suatu agama yang menyimpang dan bertentangan dengan kaidah-kaidah tauhid ini, sebagaimana yang diasumsikan oleh orang-orang yang menemukan penyimpangan-penyimpangan itu dalam kitab-kitab yang dipalsukan dan menyimpang atas nama agama.

Namun, penetapan hakikat ini tidak menafikan bahwa persepsi Islam tentang Zat Allah, sifat-sifatNya dan jejak-jejak, bekas-bekas dan pengaruh-pengaruh sifat-sifat itu dalam alam semesta dan dalam kehidupan manusia,... adalah lebih luas, lebih detail, dan lebih lengkap dari segala persepsi tauhid sebelumnya yang terdapat dalam agama-agama samawi yang terdahulu. Hal ini sesuai dengan tabiat risalah yang terakhir dan misinya yang terakhir serta sesuai hajat tuntunan manusia di mana risalah ini datang untuk menyerukannya dan mengarahkannya. Ia juga datang untuk membentuk persepsi yang total dan sempurna beserta segala permasalahan-permasalahan, cabang-cabang, jejak-jejak, bekas-bekas, dan pengaruh-pengaruhnya.

Dari persepsi ini diharapkan hati manusia (dengan kadar kemampuannya) mampu mengetahui hakikat ketuhanan dan keagungannya, serta merasakan kekuasaan Ilahi dan menyaksikannya dalam jejak-jejak yang dapat disaksikan di alam semesta. Dia juga bisa merasakannya dalam setiap makhluk yang hidup beserta jejak-jejak dan bekas-bekas yang dapat disaksikan dan diketahui. Dia hidup dalam ruang kekuasaan Ilahi beserta jejak-jejaknya yang tidak akan hilang dan tertutup dari indra, hati, dan ilham nurani. Dia bisa menyaksikannya bahwa hal itu meliputi segala sesuatu, menguasai segala sesuatu, mengatur segala sesuatu, menjaga dan memelihara segala sesuatu. Sehingga, tidak ada satu pun yang terlepas darinya baik yang besar, kecil, agung, mau pun remeh.

Di antara misi akidah dan persepsi itu adalah agar hati manusia memiliki daya sensitivitas sehingga selalu takut, menanti, tamak, berharap, dan bercita-cita. Manusia diharapkan menjalani kehidupan ini dengan selalu bergantung dalam setiap gerakan fisik dan getaran hatinya kepada Allah. Juga merasakan kekuasaan dan keperkasaan-Nya, merasakan ilmu-Nya dan pengawasan-Nya, merasakan rahmat dan karunia-Nya, dan merasakan kedekatan-Nya dalam setiap keadaan.

Akhirnya, tujuan sesungguhnya di antara misi akidah dan persepsi itu adalah agar manusia merasakan bahwa segala sesuatu yang ada mengarahkan dirinya kepada Allah. Sehingga, seharusnya dia pun mengarahkan dirinya kepada-Nya. Sesungguhnya segala yang ada bertasbih memuji-Nya. Maka, seharusnya dia pun bertasbih kepada-Nya. Allah mengatur segala urusannya dan menentukan hikmah segala sesuatu. Maka, seharusnya dia tunduk kepada syariat-Nya dan aturan-Nya.

Dengan demikian, ia merupakan persepsi iman dalam alam semesta dengan makna ini dan dengan segala makna lain yang tampak dalam tempat-tempat lain di Al-Qur'an yang telah memaparkan beberapa bagian dan sisi dari persepsi iman yang total, sempurna, meliputi, dan detail. Dan, contoh paling dekat adalah yang terdapat di dalam bagian dari surah al-Hasyr dalam juz 28 ini.

“Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang di langit dan apa yang di bumi. Hanya Allah-lah yang mempunyai semua kerajaan dan semua pujian-pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (at-Taghaabun: 1)

Jadi, semua yang ada di langit-langit dan di bumi mengarahkan diri menuju Tuhannya dan bertasbih memuji-Nya. Hati seluruh alam semesta ini adalah beriman. Ruh segala yang ada di dunia ini adalah beriman, dan Allah Maha Memiliki atas segala sesuatu. Segala sesuatu menyadari tentang hakikat ini.

Allah terpuji dalam diri-Nya sendiri dan diagungkan oleh makhluk-makhIuk-Nya. Bila manusia sendiri bersikap berseberangan dengan alam semesta yang besar ini, maka hatinya telah kafir dan ruhnya jumud, melanggar dan bermaksiat, tidak bertasbih kepada Tuhannya, dan tidak menghadapkan dirinya kepada Tuhannya. Dengan demikian, dia berperilaku aneh dan menyimpang seterang-terangnya seperti orang yang terbuang dan terusir dari segala yang ada dalam alam semesta.

Ia merupakan kekuasaan yang mutlak dan tidak terikat dengan apa pun. Ia merupakan hakikat yang terpatri dalam hati setiap mukmin sehingga mengetahuinya dan terpengaruh dengan bukti-bukti dan tanda-tandanya. Dan, dia mengetahui bahwa ketika dia bersandar kepada Tuhannya, maka dia telah bersandar kepada kekuatan yang dapat meIakukan segala sesuatu, dan merealisasikan wujud segala sesuatu tanpa batas dan ikatan apa pun.

Itulah gambaran tentang kekuasaan Allah dan tasbih segala sesuatu dalam memuji-Nya. Seluruh alam semesta mengarahkan pujian kepada-Nya Itu merupakan salah satu bagian dari pandangan iman yang besar.

Sentuhan kedua sasarannya ke dalam hati manusia yang bertentangan dan berseberangan dengan alam semesta yang beriman dan bertasbih memuji Allah dengan pujian. Sentuhan kedua ini adalah kenyataan bahwa di antara manusia ada orangyang beriman dan ada orang yang kafir. Hanya manusia saja yang bersikap yang aneh seperti ini, sedangkan alam semesta tidak demikian adanya,

"Dialah yang menciptakan kamu, maka di antara kamu ada yang kafir dan di antara kamu ada yang beriman. Allah Maha Melihat apa Yang kamu kerjakan. " (at-Taghaabun: 2)

Karena kehendak Allah dan kekuasaan-Nya, manusia itu terwujud. Allah memberikan manusia dua potensi, yaitu mengarah kepada kekafiran dan mengarah kepada keimanan. Dengan potensi dan kesiapan inilah, manusia menjadi istimewa di antara makhluk-makhluk ciptaan Allah. Dengan karakter kesiapan inilah, manusia dibebani amanat iman. la merupakan amanat yang besar dan beban yang sangat berat.

Namun, Allah memuliakan manusia dengan kemampuan untuk membedakan dan memilah serta kekuatan untuk memilih. Kemudian ada bekal Iain yaitu bekal pertimbangan yang dengannya dia dapat mengukur dan menimbang segala amal dan tujuannya. Itulah bekal agama yang diturunkan oleh Allah melalui rasul-rasuI-Nya. Allah membantu manusia untuk menunaikan amanat tersebut dengan bekal itu semua dan Dia tidak menzalimi mereka sedikit pun.

“Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. "

Jadi, Allah Maha Mengawasi terhadap apa yang dilakukan oleh manusia dan Maha Mengetahui atas niat dan tujuan setiap manusia. Maka, hendaklah setiap manusia bekerja dan beramal. Namun, dia harus berhati-hati terhadap pengawasan Allah Yang Maha Mengawasi dan Maha Melihat.

Persepsi tentang hakikat manusia dan sikapnya itu merupakan bagian dari persepsi Islam yang jelas dan Iurus berkenaan dengan sikap manusia dalam alam semesta ini, dengan kesiapan-kesiapannya dan potensi-potensinya di hadapan Pencipta alam semesta.

Sentuhan ketiga mengisyaratkan tentang kebenaran yang murni dan tersimpan dalam tabiat alam semesta. Dengan tabiat itulah, langit-langit dan bumi berdiri. Hal ini sebagaimana ia juga mengisyaratkan tentang penciptaan Allah yang indah dan mempesona dalam wujud manusia. Kemudian pada akhir ayat, terdapat ketetapan tentang kembalinya segala sesuatu kepada Allah,

"Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar, Dia membentuk rupamu dan dibaguskan-Nya rupamu itu, dan hanya kepada-Nyalah kembali(mu). " (at-Taghaabun: 3)

Bagian awal dari teks ayat ini adalah,

“Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar.. .. " la menekankan dalam perasaan setiap mukmin bahwa kebenaran adalah murni dalam alam semesta, bukanlah sesuatu yang baru ada atau hanya sekadar tambahan yang sekunder sifatnya. Jadi, bangunan alam semesta ini terbangun atas kebenaran yang murni itu. Yang menetapkan hakikat ini adalah Allah yang telah menciptakan alam semesta ini dan yang mengetahui atas apa saja kedua benda itu berdiri.

Kekokohan hakikat ini dalam perasaan orang memberikan kondisi ketenangan dan keyakinan tentang kebenaran yang di atasnya agama Islam berdiri dan di atasnya pula seluruh alam semesta berdiri. Oleh karena itu, Islam pasti menang, pasti kekal, dan pasti kokoh setelah hilangnya buih-buih kebatilan.

Hakikat yang kedua adalah,

“Dia membentuk rupamu dan dibaguskan-Nya rupamu itu, dan hanya kepada-Nyalah kembali(mu)" (atTaghaabun: 3)

la menyadarkan manusia tentang kemuliaannya di hadapan Allah dan tentang karunia Allah dalam memperbagus dan memperindah bentuknya, yaitu bentuk penciptaannya dan bentuk perasaannya. Jadi, manusia merupakan makhluk hidup yang paling sempurna yang ada di muka bumi dari sisi pernbentukan tubuhnya, sebagaimana Allah pun meninggikan manusia dari sisi penciptaan perasaannya dan kesiapan ruhnya yang memiliki rahasia-rahasia yang menakjubkan. Oleh karena itu, pantaslah manusia diwakilkan bertugas sebagai khalifah di muka bumi ini dan dia ditetapkan sebagai penghuni dalam kerajaan yang terhampar sangat luas ini.

Penelitian dan penelusuran yang teliti terhadap susunan tubuh manusia dan kepada salah satu anggota di antara anggota-anggota badannya, pasti menetapkan hakikat itu dan menggambarkannya, “  Dia membentuk rupamu dan dibaguskan-Nya rupamu itu,.... ”

Suatu susunan yang menghimpun antara keindahan dan kesempurnaan. Keindahan dan kecantikan tubuh manusia pun bertingkat-tingkat antara bentuk yang satu dengan bentuk yang lain. Namun, dapat dipastikan bahwa setiap diri manusia memiliki keindahan tersendiri, penciptaannya sangat sempurna, dan memenuhi segala tugas-tugas dan karakter-karakter yang membuat manusia selalu lebih di atas bumi ini atas seluruh makhluk hidup.

“Dan hanya kepada-Nyalah kembali(mu). ” Yaitu, Dialah tempat kembalinya setiap sesuatu, setiap urusan, dan setiap makhluk. Dia juga tempat kembalinya alam semesta dan manusia. Dengan kehendak Allah, semua manusia ada dan kepada-Nya juga mereka kembali. Dari-Nya segala permulaan dan kepada-Nya segala sesuatu berakhir. Dia Yang Awal dan Dia Yang Akhir. Dia meliputi segala sesuatu dari dua sisinya; permulaannya dan akhirnya. Allah yang tidak terbatas dengan apa pun.

Sentuhan keempat dalam paragraf dan bagian ini adalah tentang gambaran ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu, yang bisa mendeteksi segala manusia maupun yang tampak darinya. Bahkan, atas apa yang lebih tersembunyi daripada rahasia itu sendiri, yaitu segala yang terdetik dan terbersit dalam hati,

”Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi serta mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Allah Maha Mengetahui segala isi hati. ” (at-Taghaabun: 4)

Kestabilan hakikat ini dalam hati orang yang beriman, menganugerahkan kepadanya makrifah tentang Tuhannya sehingga dia mengetahui-Nya dengan hakiki. Dengan demikian, dia akan dianugerahi sisi bagian dari persepsi iman tentang alam semesta. Sehingga, ia akan mempengaruhi perasaan dan arah tujuannya. orang demikian pun akan hidup dengan selalu menyadari bahwa dia selalu terdeteksi oleh radar Allah. Sehingga, tidak ada satu rahasia pun yang dapat dia sembunyikan dari-Nya dan tidak ada satu pun niat dalam hatinya yang dapat disembunyikan dari Allah. Karena, Allah Yang Mahatahu mampu mendeteksi segala yang ada dalam hati.

Tiga ayat seperti ini saja sudah cukup sebagai bekal bagi manusia untuk hidup dengan mengetahui hakikat keberadaannya, keberadaan seluruh alam semesta, hubungannya dengan Penciptanya, adabnya dengan Tuhannya, ketakutan dan ketakwaannya kepada-Nya dalam setiap gerakan, maksud, dan tujuan.

Kisah Terdahulu sebagai Pelajaran

Bagian kedua dari surah ini menyebutkan tentang nasib orang-orang terdahulu yang telah mendustakan para rasul dan keterangan-keterangan yang jelas dari Allah. Mereka menolak dan mengkritik status kemanusiaan dari para rasul. Hal ini sebagaimana orang-orang musyrik dan orang-orang kafr juga mendustakan dan menolak status kemanusiaan dari Rasulullah. Dan, mereka kufur kepada keterangan-keterangan yang jelas yang dibawa oleh beliau,

اَلَمْ يَأْتِكُمْ نَبَؤُا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ قَبْلُ ۖفَذَاقُوْا وَبَالَ اَمْرِهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ٥ ذٰلِكَ بِاَنَّهٗ كَانَتْ تَّأْتِيْهِمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنٰتِ فَقَالُوْٓا اَبَشَرٌ يَّهْدُوْنَنَاۖ فَكَفَرُوْا وَتَوَلَّوْا وَّاسْتَغْنَى اللّٰهُ ۗوَاللّٰهُ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ ٦

”Apakah belum datang kepadamu (hai orang-orang kafir) berita orang-orang kafir dahulu ? Maka, mereka telah merasakan akibat yang buruk dari perbuatan mereka dan mereka memperoleh azab yang pedih. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka (membawa) keterangan-keterangan, lalu mereka berkata, 'Apakah manusia yang akan memberi petunjuk kepada kami?' Lalu mereka ingkar dan berpaling; dan Allah tidak memerlukan (mereka). Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji. ” (at-Taghaabun: 5-6)

Seruan ini ditujukan umumnya terhadap orangorang musyrik. la merupakan peringatan bagi mereka tentang berita dan akibat yang menimpa orang-orang yang mendustakan. Juga merupakan ancaman terhadap mereka bahwa mereka pun bisa dihukum dengan hukuman serupa dengan orang-orang itu.

Gaya bahasa yang muncul dalam bentuk pertanyaan dalam ayat ini, bisa jadi timbul untuk mengingkari kondisi mereka setelah datang kepada mereka berita orang-orang kafir yang terdahulu hingga mereka mendapatkan hukuman atasnya. Dan, bisa jadi juga timbul untuk memalingkan dan mengarahkan perhatian mereka kepada berita yang diceritakan kepada mereka.

Orang-orang musyrik itu mengetahui, saling menukil, dan saling menceritakan secara turun temurun tentang kisah-kisah orang-orang yang telah binasa dari orang-orang yang terdahulu, seperti kaum 'Aad, Tsamud, dan negeri Luth. Orang-orang musyrik melihat langsung bekas-bekas dan sering melewatinya di semenanjung Jazirah Arab dalam perjalanan mereka dari utara ke selatan atau sebaliknya.

Al-Qur'an menambah informasi atas berita yang telah diketahui dan dikenal secara luas di dunia ini dengan informasi tentang hukuman dan azab yang menimpa mereka di akhirat.

"... dan mereka memperoleh azab yang pedih. " (at-Taghaabun: 5)

Kemudian Al-Qur’an menyingkap tentang sebab yang membuat mereka harus menerima hukuman itu dan harus menghadapi hukuman yang menanti mereka di akhirat,

“Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka (membawa) keterangan-keterangan, lalu mereka berkata, 'Apakah manusia yang akan memberi petunjuk kepada kami ?’”

Penolakan ini persis seperti penolakan orang-orang musyrik terhadap Rasulullah. Penolakan ini adalah penolakan yang sembrono dan serampangan yang timbul dari kebodohan terhadap hakikat tabiat risalah dan hakikatnya sebagai manhaj Ilahi yang diperuntukkan kepada manusia. Oleh karena itu, manhaj itu harus dicontohkan secara nyata oleh manusia, dia hidup dengannya, dan pribadinya merupakan terjemahan darinya. Sehingga, orang-orang yang Iain pun akan mencelupkan dirinya dengan contoh itu semampu mereka. Dan, contoh itu seharusnya tidak asing dari jenis manusia. Kalau contoh itu asing, maka manusia tidak menemukan contoh yang dapat ditiru dan diteladani dalam kehidupan nyata.

Penolakan itu juga timbul dari kebodohan terhadap tabiat manusia yang hakikatnya mulia. Padahal, dengan kemuliaan itu dia pantas menerima risalah langit dan menyampaikannya kepada seIuruh alam, tanpa dibutuhkan bantuan malaikat sebagaimana orang-orang musyrik menyarankan dan mengusulkan. Dalam diri manusia terdapat ruh dari Allah dan ruh itu mempersiapkan manusia untuk menyambut risalah dari Allah dan menunaikannya secara sempurna sebagaimana diterimanya dari utusan malaikat.

Hal itu merupakan kehormatan bagi seluruh manusia. Tidak akan ditolak melainkan hanya orang-orang yang bodoh dan tidak tahu tentang kadar kesempurnaan manusia di sisi Allah, ketika dia mewujudkan dalam dirinya hakikat ruh dari Allah yang ditiupkan ke dalam dirinya.

Penolakan itu juga timbul dari sikap keras kepala dan kesombongan yang dusta terhadap keengganan mengikuti utusan Allah yang berasal dari manusia. Dalam pandangan orang-orang itu, mengikuti manusia yang sama dengan mereka seolah-olah merupakan kekurangan dan penghinaan terhadap nilai dan kehormatan orang-orang yang sombong dan bodoh itu. Maka, dalam pandangan mereka, boleh saja mengikuti seorang rasul Allah bila ia berasal dari jenis makhluk Iain selain dari jenis mereka sendiri.

Sedangkan, bila mereka dituntut untuk mengikuti salah satu dari orang yang sejenis dengan mereka, maka dalam pandangan mereka itu merupakan kehinaan dan kekurangan nilai dan kehormatan. Oleh karena itu, mereka kafir dan berpaling dari para rasul dan penjelasan-penjelasan mereka. Kesombongan dan kebodohan itu telah mengunci hati mereka sehingga memilih untuk bersikap syirik dan kafir.

"...Lalu mereka ingkar dan berpaling; dan Allah tidak memerlukan (mereka). Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji. " (at-Taghaabun: 6)

Allah sama sekali tidak membutuhkan iman dan ketaatan mereka. Allah sama sekali tidak membutuhkan apa-apa dari mereka dan tidak pula dari orang-orang yang selain mereka. Dan, Allah sekali-kali tidak membutuhkan apa-apa.

Itulah berita orang-orang yang terdahulu dari orang-orang kafir yang telah mendapatkan hukuman atas kekufuran mereka. Inilah yang menyebabkan mereka harus menerima hukuman dan menghadapi azab Iain di akhirat. Oleh itu, bagaimana mungkin ada lagi orang-orang yang datang kemudian dan baru, lalu berani mendustakan rasul dan penjelasan dari Allah? Apakah mereka menerima hukuman yang serupa dengan hukuman mereka?

Kepastian Hari Kebangkitan

Bagian yang ketiga merupakan sisa dari bahasan yang terdapat dalam bagian kedua. la menceritakan tentang pendustaan orang-orang kafir kepada hari kebangkitan. Jelas sekali bahwa orang-orang kafir itu adalah orang-orang musyrik yang diarahkan dakwah kepada mereka oleh Rasulullah pada saat itu.

Di dalam bagian ketiga ini terdapat pengarahan kepada Rasulullah agar menekankan tentang perkara kebangkitan dengan penekanan yang tegas dan kuat. Di sana juga terdapat gambaran tentang fenomena kejadian dan peristiwa di hari Kiamat, tentang akibat yang menimpa orang-orang yang mendustakannya dan orang-orang yang membenarkannya. Juga ada seruan kepada mereka agar beriman dan taat serta mengembalikan segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan mereka kepada Alah semata-mata,

زَعَمَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَنْ لَّنْ يُّبْعَثُوْاۗ قُلْ بَلٰى وَرَبِّيْ لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْۗ وَذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌ ٧ فَاٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَالنُّوْرِ الَّذِيْٓ اَنْزَلْنَاۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ ٨ يَوْمَ يَجْمَعُكُمْ لِيَوْمِ الْجَمْعِ ذٰلِكَ يَوْمُ التَّغَابُنِۗ وَمَنْ يُّؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُّكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّاٰتِهٖ وَيُدْخِلْهُ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًاۗ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ ٩ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَكَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَآ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ ࣖ ١٠ مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗوَمَنْ يُّؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ يَهْدِ قَلْبَهٗ ۗوَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ١١ وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَۚ فَاِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَاِنَّمَا عَلٰى رَسُوْلِنَا الْبَلٰغُ الْمُبِيْنُ ١٢ اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ ١٣

"Orang-orangyang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, Tidak demikian, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. ' Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Maka, berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya serta kepada cahaya (Al-Qur’an) yang telah Kami turunkan. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan (untuk dihisab), itulah hari (waktu itu) ditampakkan kesalahan-kesalahan. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan mengerjakan amal saleh, niscayaAllah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar. Dan, orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Dan, itulah seburuk-buruk tempat kembali. Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (Dialah) Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Dan, hendaklah orang-orang mukmin bertawakal kepada Allah saja. "(at-Taghaabun: 7-13)

Sejak awal Al-Qur'an menyebutkan bahwa pernyataan orang-orang kafir tentang kemustahilan adanya peristiwa kebangkitan merupakan khayalan dan praduga yang dibuat-buat. Sehingga, Al-Qur'an memutuskan bahwa hal itu merupakan dusta dan kebohongan sejak awal ketika menceritakan tentang itu.

Kemudian Al-Qur'an mengarahkan Rasulullah untuk menekankan tentang perkara kebangkitan dengan setegas-tegasnya, yaitu dengan bersumpah atas nama Tuhannya. Tidak ada penegasan apa-apa setelah sumpah Rasulullah dengan nama Tuhannya itu;

" ..Katakanlnh, tidak demikian, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan. Kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan....

Jadi, tidak ada satu pun yang tertinggal dan diremehkan begitu saja dari segala perbuatan. Allah lebih tahu daripada manusia tentang amal mereka, hingga Dia memberitakannya kepada mereka nanti di hari Kiamat.

“Yang demikian itu adalah mudah bagiAllah. " (at-Taghaabun: 7)

Allah Maha Mengetahui atas apa-apa yang ada di langit dan di bumi. Dia Maha Mengetahui tentang segala yang tersembunyi dan yang terang. Dia Maha Mengetahui atas apa yang ada di dalam hati. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, sebagaimana yang telah disebutkan di awal surah sebagai pengantar dari penetapan ini.

Dalam nuansa penekanan yang tegas ini, Al-Qur'an mengajak manusia untuk beriman kepada Allah, rasuI-Nya, dan cahaya yang turun bersama rasul-Nya, yaitu Al-Qur'an. Cahaya itu juga adalah agama yang diberitakan dalam Al-Qur'an dan ia pada hakikatnya adalah cahaya karena datang dari sisi Allah Dan, Allah adalah cahaya langit dan bumi. la adalah cahaya dalam jejak-jejaknya di mana ia menyinari hati sehingga dengan sendirinya menjadi tercerahkan dan ia pun dapat melihat hakikat yang tersembunyi dalam dirinya sendiri.

Setelah seruan untuk beriman ditujukan kepada mereka, ada komentar tambahan yang menyadarkan mereka bahwa sesungguhnya mereka selalu tembus pandang di mata AIIah dan tidak ada perkara yang tersembunyi sedikitpun dari Allah tentang mereka.

"Maka, berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya sata kepada cahaya (Al- Qur’an) yang telah Kami turunkan. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. " (at-Taghaabun: 8)

Setelah seruan ini, redaksi Al-Qur’an kembali kepada penyempurnaan gambaran peristiwa hari kebangkitan, yang telah ditegaskan dengan penegasan yang kuat,

"(lngatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan (untuk dihisab), itulah hari (waktu itu) ditampakkan kesalahan-kesalahan.”

Hari itu disebut hari pengumpulan karena semua makhluk dari segala generasi dibangkitkan pada saat itu, sebagaimana ia juga dihadiri oleh seluruh malaikat yang tidak diketahui jumlahnya secara pasti melainkan hanya oleh Allah. Namun, untuk mendekatkan ke dalam gambaran kita, sebaiknya kita simak hadits yang diriwayatkan dari Abu Dzar r.a. bahwa Rasulullah bersabda,

"Sesunguhnya aku melihat apa yang tidak kalian lihat, dan aku mendengar apayang tidak dapat kalian dengar. Langit bergetar, dan ia berhak untuk bergetar. Tidak ada satupun tempai seluas empat jari melainkan di sana pasti ada seorang malaikat yang meletakkan keningnya bersujud kepada Allah. Demi Allah, seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, pastilah kalian sedikit tertawa dan banyak menangis, dan pasti kalian tidak akan bersenang-senang dengan istri-istri kalian di atas kasur, dan pastilah kalian keluar menuju dataran-dataran yang tinggi, untuk memohon perlindungan kepada Allah. Dan, sesungguhnya aku Iebih senang menjadi batang pohon yang ditebang. " (HR Tirmidzi)

Tidak ada satu pun tempat di langit seluas empat jari melainkan di sana pasti ada seorang malaikat, padahal langit itu Iuar biasa Iuasnya. Tidak ada seorang manusia pun yang mengetahui tentang batas-batasnya. Bayangkan matahari yang demikian besarnya saja di langit tampak seperti debu yang beterbangan di udara. Apakah hal ini dapat mendekatkan ke dalam pandangan manusia tentang jumlah malaikat? Sesungguhnya malaikat itu hanyalah sebagian dari makhluk yang dikumpulkan di padang mahsyar di hari perhimpunan itu.

Dalam gambaran kejadian di hari perhimpunan, terdapat peristiwa penampakan kesalahan-kesalahan dan kerugian. Yaitu, gambaran tentang kejadian yang terjadi di mana orang-orang yang beriman mendapatkan kenikmatan dan keberuntungan meraih surga jannatun naim. Juga gambaran mengenai halangan terhadap orangorang kafir dari kenikmatan apa pun, kemudian tempat akhir mereka adalah neraka jahannam. Gambaran itu merupakan gambaran tentang dua nasib yang sangat berbeda. Seolah-olah di sana ada perlombaan meraih keberuntungan dan kemenangan dalam segala sesuatu; dan setiap orang harus mengalahkan saingannya dalam meraihnya.

Kemudian yang menang adalah orang-orang yang beriman dan yang kalah adalah orang-orang kafir. Jadi, kerugian itu adalah sesuai dengan gambaran yang bergerak dan tergambar dalam penjelasan yang ditafsirkan oleh ayat sesudahnya, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan mengerjakan amal saleh, niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar. Dan, orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Dan, itulah seburuk-buruk tempat kembali. " (at-Taghaabun: 9-10)

Sebelum Allah menyempurnakan seruan-Nya kepada manusia untuk beriman, Dia menetapkan salah satu kaidah dari kaidah-kaidah tentang pandangan iman dalam masalah takdir. Juga dalam jejak dan pengaruh iman kepada Allah dalam memberikan hidayah kepada hati,

“Tidak ada suatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.  (at-Taghaabun: 11)

Penyebutan tentang hakikat ini di sini, pertalian dan kaitannya hanyalah sekadar penjelasan tentang pemaparan hakikat iman yang diimbau dan diserukan dalam bagian paragraf surah ini. la merupakan hakikat iman yang mengembalikan segala sesuatunya kepada Allah dan berkeyakinan bahwa segala yang menimpa seseorang yang berupa kebaikan ataupun keburukan adalah terjadi dengan izin Allah la merupakan hakikat; di mana iman tidak akan ada dan sempurna bila tidak bersamanya.

Hakikat ini merupakan asas dari segala perasaan keimanan ketika menghadapi kehidupan dengan segala kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwanya, baik dan buruknya. Sebagaimana bisa jadi pula di sana terdapat kaitan dan hubungan yang erat dengan kejadian yang sedang terjadi pada saat surah ini turun, atau ayat-ayat dari surah ini turun, di antara kejadian-kejadian yang terjadi antara orang-orang yang beriman dan orang-orang musyrik.

Dalam hadits yang disepakati kesahihannya oleh Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Rasulullah bersabda, "Sungguh menakjubkan bagi seorang mukmin! Tidak ada satu pun takdir Allah tentang sesuatu melainkan selalu baik baginya. Bila dia ditimpa oleh suatu kemudharatan, diapun bersabar danperkara tersebut baik baginya. Dan, bila dia dianugerahkan suatu kesenangan, diapun bersyukur dan perkara tersebut baik pula baginya. Dan, perkara itu tidak diperuntukkan kepada seseorang pun melainkan hanya bagi seorang mukmin. "

"...Barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. " (at-Taghaabun: 11)

Sebagian ulama salaf terdahulu menafsirkan bahwa iman di ayat ini adalah iman kepada takdir Allah dan penyerahan diri secara total kepada-Nya ketika musibah menimpa. Pendapat Ibnu Abbas menyatakan bahwa maksudnya adalah Allah memberikan hidayah yang mutlak kepada hatinya, membukanya untuk menyingkap hakikat 'laduni' yang tersembunyi, serta menghubungkannya dengan segala sumber dari segala sesuatu dan segala kejadian. Sehingga, dia dapat melihatnya bahwa di sana penciptaannya dan puncaknya. Oleh karena itu, dia pun menjadi tenang, stabil, dan damai.

Kemudian dia mengetahuinya dengan suatu pengetahuan yang menghubungkannya kepada kaidah umum dan universal. Sehingga, dia tidak membutuhkan lagi penglihatan dan pandangan yang bersifat parsial yang biasanya sering salah dan terbatas.

Oleh itu, komentar yang datang setelahnya adalah, "..Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. " Jadi, petunjuk itu merupakan hidayah kepada sedikit dari ilmu Allah yang dianugerahkan kepada orang yang diberikan petunjuk oleh diri-Nya, ketika imannya benar-benar jujur dan sah. Sehingga, dia pun berhak mendapatkan anugerah Allah berupa lenyapnya tirai dan tersingkapnya rahasia-rahasia  ..dengan batasan tertentu....

Seruan terhadap mereka untuk beriman diikuti dengan seruan kepada mereka agar taat kepada Allah dan taat kepada rasul-Nya.

“Dan, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul. Jika kamu berpaIing, maka sesunguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. " (at-Taghaabun: 12)

Sebelumnya telah dipaparkan kepada mereka tentang hukuman atas orang-orang yang berpaling sebelum mereka. Dan, di sini Allah menetapkan bahwa rasul hanyalah sekadar penyampai. Apabila Rasulullah telah menyampaikan, maka beliau pun telah menunaikan amanat, menyelesaikan kewajib an, serta membangun hujah dan alasan. Yang tersisa hanyalah penantian terhadap hukuman yang menimpa mereka karena kemaksiatan dan keberpalingan mereka, di mana mereka telah diperingatkan sebelumnya.

Kemudian bagian ini ditutup dengan penetapan tentang hakikat keesaan Allah yang telah mereka ingkari dan dustakan. Dia pun menetapkan tentang urusan orang-orang yang beriman kepada Allah dalam bermuamalah dengan-Nya,

"(Dialah) Allah, tidak ada Tuhan (yang bahak disem bah) selain Dia. Dan, hendaklah orang-orang mukmin bertawakal kepada Allah saja. " (at-Taghaabun: 13)

Hakikat tauhid merupakan asas dan dasar dari segala pandangan iman. Dan, hal itu menentukan bahwa segala bentuk tawakal harus ditujukan hanya kepada diri-Nya semata-mata. Inilah salah satu pengaruh dari pandangan iman yang ada di dalam hati.

Dengan ayat tiga belas ini, redaksi surah ini menyeru ke dalam komunitas orang-orang yang beriman. la merupakan penghubung antara ayat-ayat sebelumnya dan ayat-ayat sesudahnya dalam surah.

Fitnah Keluarga dan Harta Benda

Pada bagian akhir, redaksi surah mengarahkan seruannya kepada orang-orang yang beriman untuk mengingatkan mereka tentang fitnah istri-istri, anak-anak, dan harta benda. la mengajak mereka untuk bertakwa kepada Allah, mendengarkan, menaati, dan berinfak. Sebagaimana ia pun memperingatkan mereka dari sikap bakhil dalam jiwa-jiwa mereka. Allah menjanjikan kepada mereka bila mampu mengatasinya bahwa bagi mereka adalah rezeki yang berlipat ganda, ampunan, dan kemenangan. Akhirnya, mereka diingatkan tentang ilmu Allah bagi sesuatu yang nyata dan yang gaib, kekuasaan-Nya dan kebesaran-Nya bersama dengan hikmah-Nya dan kemuIiaan-Nya,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّ مِنْ اَزْوَاجِكُمْ وَاَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْۚ وَاِنْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ١٤ اِنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗٓ اَجْرٌ عَظِيْمٌ ١٥ فَاتَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوْا وَاَطِيْعُوْا وَاَنْفِقُوْا خَيْرًا لِّاَنْفُسِكُمْۗ وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ١٦ اِنْ تُقْرِضُوا اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا يُّضٰعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ شَكُوْرٌ حَلِيْمٌۙ ١٧ عٰلِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ࣖ ١٨

"Hai orang-orangyang beriman, sesunguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sesunguhnya Allah Maha Pengampun Iagi Maha Penyayang. Sesunguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); di sisi Allah-lah pahala yang besar. Maka, bertakwalah knmu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipatgandakan (Pembalasannya) kepadamu dan mengampuni kamu. Allah Maha Pembalas jasa Iagi Maha Penyantun. Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata. YangMahaperkasa Iagi Mahabijaksana. " (at-Taghaabun: 14-18)

Telah disebutkan dari Ibnu Abbas r.a. tentang ayat pertama dari himpunan ayat-ayat ini, bahwa ia ditanya oleh seseorang, dan ia menjawab, "Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berislam di Mekah. Kemudian mereka hendak menghadap kepada Rasulullah dan mendatanginya, namun istri-istri dan anak-anak mereka menghalangi dan tidak membiarkan mereka pergi. Setelah mereka mendatangi Rasulullah dan melihat orang-orang telah diberikan pemahaman dalam agama, maka orang-orang itu pun hendak memberikan hukuman kepada mereka. Lalu Allah menurunkan ayat 14 surah ath-Taghaabun, “Hai orang-orang yang beriman, sesunguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sesunguhnya Allah Maha Pengampun Iagi Maha Penyayang.”

Demikianlah yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dengan sanadnya yang lain, dan dia berkata, "Hadits ini hasan dan sahih." Demikian pula yang dikatakan oleh Ikrimah pembantu dan maula Ibnu Abbas.

Tetapi, nash Al-Qur'an ini lebih umum dan lebih meliputi daripada kasus yang parsial itu, dan ia lebih jauh jangkauannya dan lebih panjang lingkupnya. Peringatan tentang fitnah istri-istri dan anak-anak ini seperti peringatan yang terdapat dalam ayat setelahnya yang diperingatkan tentang fitnah harta benda dan anak-anak sekaligus,

"Sesunguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); di sisi Allah-lah pahala yang besar. "  (at-Taghaabun: 15)

Di sana juga terdapat peringatan bahwa di antara istri-istri dan anak-anak ada yang menjadi musuh. Sesungguhnya hal ini mengisyaratkan tentang hakikat yang mendalam tentang kehidupan manusia, dan menyentuh hubungan-hubungan yang saling terkait secara terperinci dalam susunan struktur nurani dan sekaligus dalam kerumitan-kerumitan permasalahan hidup. Maka, bisa jadi istri-istri dan anak-anak menjadi faktor-faktor yang menyibukkan dan melalaikan seseorang dari berzikir kepada Allah. Hal ini sebagaimana merekajuga dapat menjadi faktor-faktor yang mendorong seseorang untuk bertindak curang dan tidak memenuhi beban-beban iman, karena menghindarkan diri dari kesibukan-kesibukan yang melelahkan dan meliputi mereka.

Seandainya seorang mukrnin benar-benar mengemban kewajibannya, maka dia pasti menemukan segala sesuatu yang diraih oleh seorang mujahid di jalan Allah! Seorang mujahid di jalan Allah pasti harus menghadapi segala kemungkinan kerugian duniawi dalam banyak hal dan dia harus mengorbankan banyak hal. Dia dan keluarganya juga akan menghadapi ujian dan ancaman. Kadangkala dia bisa bertahan terhadap siksaan dan ujian atas dirinya sendiri. Namun, dia tidak kuat bertahan bila siksaan dan ujian itu tertimpa kepada istri dan anakanaknya. Sehingga, dia pun menjadi bakhil dan penakut ingin memenuhi segala kebutuhan mereka; baik yang berupa keamanan, kestabilan, kenikmatan, maupun harta benda.

Dengan demikian, mereka pun menjadi musuh baginya, karena mereka telah menghalanginya dari berbuat kebajikan dan merintanginya dari meraih dan merealisasikan tujuan keberadaan hidupnya yang paling tinggi. Sebagaimana istri-istri dan anak-anak sering menghalangi jalannya dan melarangnya dari menunaikan kewajibannya karena ingin menghindarkan diri dari segala konsekuensinya dan atau karena mereka tidak mengikuti jalan yang ditempuhnya. Lalu, dia tidak bisa membebaskan dirinya dari mereka dan memurnikan dirinya hanya untuk Allah.

Semua itu merupakan bentuk-bentuk dari permusuhan dengan berbagai tingkatannya. Semua itu biasa terjadi dalam kehidupan seorang mukmin dari waktu ke waktu.

Oleh karena itu, kondisi yang runyam dan berbenturan ini, membutuhkan peringatan dari Allah untuk membangkitkan kesadaran dalam hati orangorang yang beriman. Juga peringatan agar berhati-hati dari pengaruh buruk perasaan-perasaan demikian dan tekanan dari pengaruh-pengaruh itu.

Kemudian Allah mengulang kembali peringatan tentang fitnah harta benda dan anak-anak ini dalam berbagai bentuk. Dan, kata 'fitnah' itu sendiri mengandung dua makna.

Pertama sesungguhnya Allah menguji kalian dengan fitnah harta benda dan anak-anak untuk menempa kalian, maka hendaklah kalian berhati-hati dengan harta benda dan anak-anak itu. Dan, ingat dan sadarlah selalu sehingga kalian lulus dalam ujian ini. Kemudian murnikan, ikhlaskan, dan bersihkanlah diri kalian hanya untuk Allah semata-mata. Hal ini hampir mirip dengan seorang pandai emas yang menempa emasnya sehingga menjadi murni dan bersih dari segala kotoran dan campuran lain.

Kedua, sesungguhnya harta benda dan anak-anak ini merupakan fitnah godaan bagi kalian yang dapat menjerumuskan kalian kepada penyimpangan dan maksiat. Maka, berhati-hatilah terhadap fitnah godaan ini, jangan sampai menjerumuskan kalian dan menjauhkan diri kalian dari Allah

Kedua makna itu adalah saling berdekatan.

Diriwayatkan dari Imam Ahmad sebuah hadits dengan sanadnya dari AbduIIah bin Buraidah bahwa ia mendengar ayahnya (Buraidah) berkata, "Rasulullah sedang berkhotbah, kemudian datanglah Hasan dan Husein r.a. yang keduanya memakai pakaian berwarna merah. Mereka berdua berjalan dan sering tergelincir jatuh. Maka, Rasulullah pun turun dari mimbar kemudian membopong keduanya dan meletakkan keduanya di hadapannya. Lalu Rasulullah bersabda, 'Mahabenar Allah dan rasul-Nya, sesungguhnya harta benda dan anak-anak kalian adalah fitnah. Aku melihat kepada dua balita ini, mereka berdua berjalan dan sering tergelincir jatuh, maka akupun tidak sabar untuk memutuskan khutbahku dan mengangkat keduanya. "'

Hadits ini diriwayatkan oleh Ashabus Sunan dari hadits Ibnu Waqid. Itulah Rasulullah dan itulah dua putra dari puteri beliau, Fathimah. Jadi, sesungguhnya perkara ini sangat berbahaya. Maka, sesungguhnya peringatan dan ancaman dalam perkara ini menjadi sangat penting, yang telah ditentukan oleh Pencipta hati manusia, dan meletakkan perasaan-perasaan di dalamnya, agar dapat merintanginya dari pelanggaran dan berlebih-lebihan. Beliau sangat menyadari bahwa ikatan-ikatan kasih sayang bisa menjerumuskannya seperti yang dilakukan oleh musuh-musuhnya, dan bisa mengelabuinya ke dalam perangkap-perangkap seperti perangkap-perangkap musuh.

Oleh karena itu, hati yang beriman ditunjukkan kepada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah. Hal ini setelah ada peringatan terhadap fitnah harta benda dan anak-anak itu. Juga setelah ada seruan agar berhati-hati terhadap permusuhan yang tersebar dalam pribadi anak-anak dan istri-istri, karena itu semua adalah fitnah sedangkan di sisi Allah terdapat pahala yang besar.

Setelah itu Allah membisikkan kepada orangorang yang beriman agar bertakwa kepada Allah dalam batasan kemampuan dan kekuatan. Juga agar mendengar dan taat kepada-Nya,

"Maka, bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesangupanmu dan dengarlah serta taatlah,.”

Dalam batasan ini, “.Menurut kesanggupanmu  “ tampak sekali kelembutan dan kasih sayang Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Juga tampak ilmu-Nya tentang kadar kemampuan mereka dalanı bertakwa dan menaati-Nya. Dalam hadits Rasulullah bersabda, "Apabila aku menyuruh kalian melakukan sesuatu, maka kerjakanlah sesuai dengan kemampuanmu. Dan, apabila aku melarang kalian tcrhadap sesuatu, maka jauhilah perkara itu. "

Jadi, ketaatan dalam suatu perintah tidak ada batasannya Karena itu, Allah menerima ketaatan itu sesuai dengan kemampuan. Sedangkan, dalam perkara larangan, maka di sana tidak dispensasi. Karena itu, larangan tersebut harus dijauhi dengan sempurna tanpa pengecualian sedikitpun.

Allah menyerukan mereka agar berinfak,

"...Dan nafkahkanlah nafkah yang baik unluk dirimu ...”

Jadi, orang-orang yang beriman itu berinfak untuk diri mereka sendiri. Allah menyuruh mereka agar berinfak segala kebaikan untuk diri mereka. Allah menjadikan harta benda yang mereka infakkan seolah-olah harta benda yang mereka infakkan bagi keluarga mereka sendiri, dan Dia menjanjikan bagi mereka kebaikan ketika melaksanakannya.

Allah menyadarkan mereka bahwa sifat bakhil dalam diri sendiri adalah ujian yang selalu menyertainya. Maka, berbahagialah bagi orang-orang yang mampu melepaskan dirinya darinya. Orang yang mampu menjaga dirinya dari sifat itu telah mendapatkan keutamaan dan karunia dari Allah, "Barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. " (atTaghaabun: 16)

Allah terus merangsang orang-orang yang beriman untuk mengeluarkan dan menyenangkan diri mereka agar berinfak, sehingga sampai menyebutkan bahwa infak mereka merupakan pinjaman bagi Allah. Dan, siapa yang tidak beruntung bila meminjamkan sesuatu kepada tuannya, yaitu Allah? Dia (Allah) pasti mengambil pinjaman itu kemudian melipatgandakannya dan mengampuninya. Allah pasti berterima kasih kepada peminjam dan merahmatinya dengan kasih sayang dan kelembutan bila dia kurang dan tidak sempurna dalam bersyukur kepada-Nya.

"Jika kamu meminjamkan kepada Allah suatu pinjaman yang baik, niscaya Allah melipatgandakan (pembalasannya) kepadamu dan mengampuni kamu. Allah Maha Pembalas jasa lagi Maha Penyantun. ” (at-Taghaabun: 17)

Bertambah-tambahlah berkah dari Allah. Dia adalah Maha Pemurah, alangkah pemurah dan dermawannya Allah; dan alangkah agung dan mulianya Allah! Dia menciptakan para hamba kemudian memberikan rezeki kepada mereka. Kemudian Dia memohon kelebihan dari kebutuhan para hamba-Nya yang telah dianugerahkan-Nya dalam bentuk pinjaman, lalu pinjaman itu dibalas dengan berlipat ganda. Kemudian Allah pasti berterima kasih kepada hamba-Nya yang telah Dia ciptakan dan Dia berikan segala anugerah. Dan, Dia pasti merahmatinya dengan kasih sayang dan kelembutan bila dia kurang dan tidak sempurna dalam bersyukur kepada-Nya. Alangkah mulianya dan dermawannya Engkau Ya Allah!

Sesungguhnya Allah mengajarkan kepada kita dengan sifat-sifat-Nya bagaimana kita merangkak naik. Dia memuliakan diri kita dengan segala kekurangan dan kelemahan kita. Dia mengajarkan kita agar kita selalu berusaha meningkatkan diri ke derajat yang lebih tinggi untuk bercermin kepada-Nya, dan agar kita berusaha untuk meneladani-Nya dalam batas-batas kemampuan kita dan tabiat kita yang kecil.

Allah telah meniupkan ruh-Nya kepada manusia. Sehingga, menjadikannya selalu rindu dan tertarik mewujudkan keteladanan yang sempurna dan tertinggi yang mampu dia usahakan dalam batas-batas kemampuannya dan tabiatnya. Oleh karena itu, ufuk-ufuk yang tertinggi selalu terbuka agar manusia mencapai kesempurnaan, dan mengusahakan agar selalu naik tingkat demi tingkat hingga menjumpai Allah dengan kecintaan-Nya dan keridhaan-Nya.

Penelusuran ini diakhiri setelah sentuhan yang menakjubkan itu, dengan sifat Allah yang mengetahui dan mengawasi segala yang ada dalam hati. "Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata. Yang Mahaperkasa Iagi Mahabijaksana. "(at-Taghaabun: 18)

Jadi, setiap sesuatu pasti tersingkap dalam ilmu-Nya, tunduk kepada kekuasaan-Nya, dan terorganisir dengan hikmah-Nya. Semuanya bertujuan agar manusia hidup sambil merasakan dan menyadari bahwa mata Allah selalu melihatnya dan mengawasinya. Demikian pula kekuasaan-Nya menguasai mereka. Kebijakan-Nya mengatur dan mengelola segala urusan mereka baik yang lahiriah maupun yang batiniah. Dan, pandangan bila tertanarn kokoh dalam hati, cukuplah sebagai jaminan bagi hati agar bertakwa kepada Allah, memurnikan dirinya bagiNya, dan menyambut segala seruan-Nya.

Tafsir Surah Al-Qiyaamah