Wednesday, April 15, 2026

Hukum Shalat


1. HUKUM, DAN KEUTAMAAN SHALAT SERTA HUKUM ORANG YANG      MENINGGALKANNYA

Shalat adalah satu dari lima rukun Islam. Shalat merupakan tiang agama yang tidak akan tegak tanpanya. Shalat adalah ibadah pertama yang Allah wajibkan. Shalat adalah amal pertama yang diperhitungkan di hari kiamat. Shalat adalah wasiat terakhir Rasulullah saw kepada ummatnya ketika hendak meninggalkan dunia. Shalat adalah ajaran agama yang terakhir ditinggalkan. 

Allah swt menyuruh memelihara shalat setiap saat, ketika mukim atau musafir, saat aman atau ketakutan. Firman Allah:

حَافِظُوْا عَلَى الصَّلَوٰتِ وَالصَّلٰوةِ الْوُسْطٰى وَقُوْمُوْا لِلّٰهِ قٰنِتِيْنَ ٢٣٨ فَاِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالًا اَوْ رُكْبَانًا ۚ فَاِذَآ اَمِنْتُمْ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَمَا عَلَّمَكُمْ مَّا لَمْ تَكُوْنُوْا تَعْلَمُوْنَ ٢٣٩

Peliharalah segala shalat (mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu`Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah (shalatlah), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui..(QS. Al-Baqarah: 238-239)

Sebagaimana Allah telah menjelaskan cara shalat di waktu perang, yang menegaskan bahwa shalat tidak boleh ditinggalkan dalam kondisi yang paling genting. Firman Allah:

وَاِذَا ضَرَبْتُمْ فِى الْاَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَنْ تَقْصُرُوْا مِنَ الصَّلٰوةِ ۖ اِنْ خِفْتُمْ اَنْ يَّفْتِنَكُمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْاۗ اِنَّ الْكٰفِرِيْنَ كَانُوْا لَكُمْ عَدُوًّا مُّبِيْنًا ١٠١ وَاِذَا كُنْتَ فِيْهِمْ فَاَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلٰوةَ فَلْتَقُمْ طَاۤىِٕفَةٌ مِّنْهُمْ مَّعَكَ وَلْيَأْخُذُوْٓا اَسْلِحَتَهُمْ ۗ فَاِذَا سَجَدُوْا فَلْيَكُوْنُوْا مِنْ وَّرَاۤىِٕكُمْۖ وَلْتَأْتِ طَاۤىِٕفَةٌ اُخْرٰى لَمْ يُصَلُّوْا فَلْيُصَلُّوْا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوْا حِذْرَهُمْ وَاَسْلِحَتَهُمْ ۚ وَدَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْ تَغْفُلُوْنَ عَنْ اَسْلِحَتِكُمْ وَاَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيْلُوْنَ عَلَيْكُمْ مَّيْلَةً وَّاحِدَةً ۗوَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ اِنْ كَانَ بِكُمْ اَذًى مِّنْ مَّطَرٍ اَوْ كُنْتُمْ مَّرْضٰٓى اَنْ تَضَعُوْٓا اَسْلِحَتَكُمْ وَخُذُوْا حِذْرَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ اَعَدَّ لِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابًا مُّهِيْنًا ١٠٢ فَاِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلٰوةَ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِكُمْ ۚ فَاِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ ۚ اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا ١٠٣

Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu menqashar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu. Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan seraka`at), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap-siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu. Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (QS. An Nisa:101-103)

Allah swt mengancam orang-orang yang mengabaikan shalat,

۞ فَخَلَفَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ اَضَاعُوا الصَّلٰوةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوٰتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا ۙ ٥٩

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. (QS. Maryam: 59)

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ ٤ الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ ٥

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, (QS. Al Ma’un: 4-5)

Rasulullah saw telah menjelaskan bahwa shalat menghapus kesalahan.

“Bagaimana pendapatmu jika ada sungai di depan pintu rumah di antaramu, mandi di sana lima kali sehari, apakah masih ada daki di tubuhnya? Mereka menjawab: tidak ada Ya Rasulallah. Sabda Nabi: itulah perumpamaan shalat lima waktu, Allah menghapus kesalahan denan shalat. HR Al Bukhariy dan Muslim.

Ada beberapa hadits dari Rasulullah saw tentang kafirnya orang yang meninggalkan shalat, antara lain:

1.     Hadits Jabir ra berkata: Rasulullah saw bersabda: بين الرجلِ والكُفر تركُ الصَّلاة Batas antara kufur dengan seseorang adalah shalat. HR Muslim, Abu Daud, At Tirmidziy, Ibnu Majah dan Ahmad.

2.     Hadits Buraidah, berkata: Rasulullah saw bersabda:           

                                                 العهدُ الذي بيننا وبَينهم الصَّلاة، فمن تَركها فَقد كَفَر

“perjanjian antara kami dengan mereka adalah shalat, maka barang siapa yang meninggalkannya, maka ia kafir.” HR. Ahmad dan Ashabussunan.

3.     Hadits Abdullah bin Syaqiq Al ‘Uqailiy, berkata: Para shahabat Nabi Muhammad saw tidak pernah menganggap amal yang jika ditinggalkan menjadi kafir selain shalat. HR. At Tirmidzi, Al Hakim dan menshahihkannya dengan standar Al Bukhari Muslim, 

Para sahabat dan para imam telah berijma’, bahwa barang siapa yang meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya, atau melecehkannya hukumnya kafir murtad. Sedangkan jika meninggalkannya dengan sengaja, tidak mengingkari kewajibannya, hukumnya kafir juga menurut sebagian shahabat, antara lain: Umar bin Khaththab, Abdullah ibnu Mas’ud, Abdullah ibnu Abbas, Mu’adz bin Jabal, demikian juga menurut imam Ahmad bin Hanbal. Sedangkan menurut jumhurul ulama, bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan tidak mengingkari kewajibannya tidak membuatnya kafir, akan tetapi fasik yang disuruh bertaubat, dan jika tidak mau bertaubat maka dihukum mati, bukan kafir murtad menurut Asy Syafi’iy dan Malik. Abu Hanifah berkata: Tidak dibunuh tetapi dita’zir dan disekap (dipenjara) sampai mau shalat.

Meskipun shalat tidak diwajibkan kecuali kepada muslim yang berakal, dan baligh, hanya saja ia dianjurkan untuk diperintahkan kepada anak-anak yang sudah berumur tujuh tahun, dan dipukul, jika tidak mengerjakannya setelah berusia sepuluh tahun, agar menjadi kebiasaannya. Seperti dalam hadits: “perintahkan anakmu shalat ketika berusia tujuh tahun, dan pukullah ia jika berusia sepuluh tahun, pisahkan tempat tidur mereka. HR Ahmad, Ab Daud, dan Al Hakim, yang mengatakan hadits ini shahih sesuai dengan persyaratan imam Muslim.

2.    WAKTU SHALAT

Shalat yang diwajibkan atas setiap muslim sehari semalam adalah lima waktu, sesuai dengan hadits seorang A’rabiy yang menemui Rasulullah saw dan bertanya: Ya Rasulullah beritahukan kepadaku tentang shalat fardhu yang telah Allah wajibkan kepadaku? Jawab Nabi: Shalat lima waktu, kecuali jika kamu beribadah sunnah”. Kemudian orang itu bertanya dan Rasulullah memebaritahukan beberapa syariat Islam. Orang itu berkata: Demi Allah yang telah memuliakanmu, saya tidak akan beribadah sunnah sedikitpun dan tidak akan mengurangi kewajiban sedikitpun. Lalu Rasulullah bersabda: «أفلحَ الأعرابيُّ إنْ صَدَق» Orang a’rabiy itu beruntung jika ia benar (dengan ucapannya). HR Al Bukhari dan Muslim.

Allah swt telah menetapkan waktu setiap shalat fardhu, dan memerintahkan kita untuk berdisiplin memeliharanya, dengan firman Allah: … Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. QS. An Nisa:103, waktu itu adalah:

1.     Shalat fajar, wakutnya sejak terbit fajar shadiq sehingga terbit matahari, disunnahkan pelaksanaannya di awal waktu menurut Syafi’iyah [1], inilah yang lebih shahih, dan disunnahkan melaksanakannya di akhir waktu meurut madzhab Hanafi.[2]

2.     Shalat zhuhur, waktunya sejak tergelincir matahari dari pertengahan langit, sehingga bayangan benda sama dengan aslinya. Disunnahkan mengakhirkannya ketika sangat panas, dan di awal waktu di selain itu. Seperti yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dari Anas ra.[3]

3.     Shalat ashar, waktunya sejak bayangan benda sama dengan aslinya, di luar bayangan waktu zawal, sampai terbenam matahari. Disunnahkan melaksanakannya di awal waktu, dan makruh melaksanakannya setelah matahari menguning. Shalat ashar disebut shalat wustha.

4.     Shalat maghrib, waktunya sejak terbenam matahari, sehingga hilang rona merah. Disunnahkan melaksanakannya di awal waktu,[4] dan diperbolehkan mengakhirkannya selama belum hilang rona merah di langit. 

5.     Shalat isya’, waktunya sejak hilang rona merak sehingga terbit fajar. Disunnahkan mengakhirkan pelaksanaannya hingga tengah malam. Diperbolehkan juga melaksanakannya setalah tengah malam, dan makruh hukumnya tidur sebelum shalat isya’ dan berbincang sesudahnya.

Dari Jabir bin Abdillah ra: Bahwa Rasulullah saw kedatangan Malaikat Jibril alaihissalam, dan berkata: Bangun lalu shalatlah, maka Rasulullah shalat zhuhur ketika matahari bergeser ke arah barat, kemudian Jibril as datang kembali di waktu ashar dan mengatakan: Bangun dan shalatlah. Maka Rasulullah saw shalat ashar ketika bayangan benda sudah sama dengan aslinya. Kemudian Jibril as mendatanginya di waktu maghrib ketika matahari terbenam, kemudian mendatanginya ketika isya’ dan mengatakan bangun dan shalatlah. Rasulullah shalat isya’ ketika telah hilang rona merah. Lalu Jibril mendatanginya waktu fajar ketika fajar sudah menyingsing. Keesokan harinya Jibril datang waktu zhuhur dan mengatakan: Bangun dan shalatlah. Rasulullah shalat zhuhur ketika bayangan benda telah sama dengan aslinya. Lalu Jibril mendatanginya waktu ashar dan berkata: Bangun dan shalatlah. Rasulullah saw shalat ashar ketika bayangan benda telah dua kali benda aslinya. Jibril as mendatanginya waktu maghrib di waktu yang sama dengan kemarin, tidak berubah. Kemudian Jibril mendatanginya di waktu isya’ ketika sudah berlalu separoh malam, atau sepertiga malam, lalu Rasulullah shalat isya’. Kemudian Jibril mendatanginya ketika sudah sangat terang, dan mengatakan: Bangun dan shalatlah. Maka Rasulullah shalat fajar. Kemudian Jibril as berkata: antara dua waktu itulah waktu shalat. HR Ahmad, An Nasa’i dan At Tirmidziy. Al Bukhari mengomentari hadits ini: Inilah hadits yang paling shahih tentang waktu shalat.

Waktu-waktu yang dijelaskan dalam hadits di atas adalah waktu jawaz (boleh), dan dalam kondisi udzur dan darurat, waktu shalat itu membentang sampai datang waktu shalat berikutnya. Kecuali waktu shalat fajar yang habis dengan terbitnya matahari. Seperti yang diriwayatkan dari Abudullah bin Amr bin Ash, bahwa Rasulullah saw bersabada: Waktu zhuhur itu ketika matahari telah bergeser sampai bayangan seseorang sama dengan tingginya, selama belum datang waktu ashar, dan waktu ashar itu selama matahari belum menguning, waktu maghrib selama belum hilang awan merah, waktu isya’ hingga tengah malam, dan waktu shubuh dari sejak terbit fajar sehingga terbit matahari….HR Muslim

·       Jika seorang muslim tertidur sebelum melaksanakan shalat fardhu atau lupa belum melaksanakannya, maka ia wajib melaksanakannya ketika ingat, seperti yang pernah disebutkan dalam hadits Rasulullah saw

·       Makruh hukumnya shalat sunnah setelah shubuh sehingga terbit matahari, dan sesudah ashar sehingga terbenam matahari. Sedangkan shalat fardhu maka sah hukumnya tanpa makruh. Dan menurut madzhab Syafi’iy tidak makruh shalat sunnah pada dua waktu ini jika ada sebab tertentu seperti tahiyyatul masjid. Sedangkan ketika matahari terbit, terbenam dan ketika tepat di tengah, maka hukum shalat di waktu itu tidak sah menurut madzhab Hanafi, baik shalat fardhu maupun sunnah, baik qadha maupun ada’ (bukan qadha). Dan menurut madzhab Syafi’iy makruh hukumnya shalat sunnah tanpa sebab. Kecuali jika sengaja shalat ketika sedang terbit atau saat terbenam, maka haram. Dan menurut madzhab Maliki haram hukumnya shalat sunnah pada waktu itu meskipun ada sebab. Tetapi diperbolehkan shalat fardhu baik qadha maupun ada’ pada saat terbit atau terbenam matahari. Sedang ketika saat matahari berada tepat di tengah maka hukumnya tidak makruh dan tidak haram.

3.    ADZAN DAN IQAMAT

Adzan artinya pemberitahuan tentang telah datang waktu shalat, dan lafadhnya adalah   : الله أكبر (4x)، أشهد أن لا إله إلا الله (2x)، أشهد أن محمداً رسول الله (2x) حيّ على الصلاة (2x) حيّ على الفلاح (2x)، الله أكبر (2x) لا إله إلا الله.

sedang iqamat dengan menambahkan (حيَّ على الفلاح) setelah: قد قامت الصلاة (2x)

  1. Adzan dan iqamat hukumnya sunnah muakkadah untuk melaksanakan shalat fardhu, bagi munfarid maupun berjamaah, menurut jumhurul ulama. Keduanya hukumnya wajib di masjid menurut imam Malik dan fardhu kifyaah menurut imam Ahmad
  2. Disunnhkan bagi yang mendengar adzn untuk menguapkan seperti yang diucapkan oleh muadzdzin kecuali dalam bacaan حيّ على الصلاة (2x) حيّ على الفلاح (2x) yang dijawab dengan : لا حولَ ولا قوة إلَّا بالله العلي العظيkemudian bershalawat atas Nabi sesudah adzan dan mengucapkan : اللهمَّ ربَّ هذهِ الدعوةِ التامَّةِ والصلاةِ القائمةِ آتِ مُحمّداً الوسيلة والفضيلة، وابعثه مقاماً محموداً الذي وعدته                  Ya Allah Pemiliki panggilan yang sempurna ini, dan shalat yang tegak. Berikan kepada Nabi Muhammad wasilah dan keutamaan, berikan kepadanya tempat yang terpuji yang telah Engkau janjikan. HR. Al Bukhariy
  3. Disunnahkan berdoa antara adzan dan iqamat. Di antara doa ma’tsur dalam hal ini adalah yang diriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqas, dari Rasulullah saw:”Barang siapa yang mengucapkan ketika mendengar mu’adzdzin:                                     وأنا أشهد أن لا إله إلّا الله وحده لا شَريكَ له، وأن مُحمداً عَبده ورسوله، رَضيت بالله رباً، وبالإِسلامِ ديناً، وبمحمدٍ صلى الله عليه وسلم رسولاً، غَفر الله له ذُنوبه                                           Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, Maha Esa, Tiada sekutu baginya. Dan bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusannya. Aku ridha Allah sebagai Tuhanku, Islam agamaku, Nabi Muhammad saw sebagai utusan. Akan diampuni dosa-dosanya. HR Muslim dan At Tirmidziy.
  4. Disunnahkan ada jarak antara adzan dan iqamat untuk memberi kesempatan orang hadir ke masjid. Diperbolehkan juga iqamat selain orang yang adzan[5]. Disunnahkan bagi yang mendengar qamat untuk menguapkan seperti yang dikatakan oleh orang yang qamat. Sebagaimana disunnahkan pula berdiri ketika orang yang qamat mengucapkan                     (قد قامت الصلاة
  5. Diajarkan bagi orang yang mengqadha shalat yang terlewatkan untuk adzan dan iqamat. Dan jika shalat yang ditinggalkan itu banyak maka adzan unutk shalat pertama dan qamat untuk setiap shalat.
  6. Diperbolehkan berbicara dll antara qamat dan shalat, dan tidak mengulang iqamat meskipun penghalang itu panjang. Hal ini ditetapkan dalam As Sunnah seperti dalam riwayat Al Bukhariy
  7. Wanita tidak disunnahkan adzan dan iqamat. Tetapi tidak apa-apa jika melakukannya. Aisyah ra pernah melakukannya seperti yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi.

4.     SYARAT SHALAT

Syarat shalat adalah segala sesuatu yang harus dilakukan sebelum seseorang menunaikan shalat. Dan jika ada salah satu di antaranya tidak terpenuhi maka batal shalatnya. Syarat shalat itu mencakup;

  1. Mengetahui telah datang waktu, meskipun cukup dengan asumsi terkuat. Firman Allah:

فَاِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلٰوةَ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِكُمْ ۚ فَاِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ ۚ اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا ١٠٣

Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. An Nisa: 103

  1. Suci badan. Seperti dalam sabda Nabi:  «توضَّأْ واغسِل ذَكرَك» berwudhu dan basuhah kemaluanmu (dari madzi) HR Al Bukhari. Bersih pakaian, firman Allah: 

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْۖ ٤

  Dan pakaianmu bersihkanlah, Al Muddatstsir : 4

bersih tempat, seperti dalam perintah Nabi untuk mengguyur bekas kencing orang  badui yang kencing di masjid.

  1. Bersih dari hadats kecil dan besar, dengan mandi dan wudhu. Seperti dalam firman Allah:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْنِۗ وَاِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوْاۗ وَاِنْ كُنْتُمْ مَّرْضٰٓى اَوْ عَلٰى سَفَرٍ اَوْ جَاۤءَ اَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَاۤىِٕطِ اَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَاۤءَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَاۤءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوْا بِوُجُوْهِكُمْ وَاَيْدِيْكُمْ مِّنْهُ ۗمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْ حَرَجٍ وَّلٰكِنْ يُّرِيْدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub Maka mandilah, QS. Al Maidah: 6

  1. Menutup aurat, seperti dalam firman Allah;

۞ يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ ࣖ ٣١

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid. QS. Al A’raf: 31

Dan yang dimaksud dengan zienah adalah penutup aurat, dan yang dimaksud dengan masjid adalah shalat. Aurat laki-laki antara pusar dan lutut, dan uarat wanita seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan.

  1. Menghadap kiblat langsung bagi yang dapat melihatnya langsung. Menghadap arahnya bagi yang tidak dapat melihat langsung. Dan wajib berusaha bagi orang yang sedang kebingungan arah kiblat. Namun ketika ketahuan salah setelah shalat tidak wajib mengulangnya, dan jika mengetahui kesalahan itu saat shalat, harus segera merubah dan menyempurnakannya. Kewajiban menghadap kiblat ini gugur bagi  orang yang terpaksa, sakit, ketakutan, shalat sunnah di atas kendaraan. Rasulullah saw shalat menghadap ke mana saja, dengan menundukkan kepalanya. Tetapi tidak dalam shalat wajib. HR Al Bukhari.

5.   RUKUN SHALAT

Rukun shalat juga disebut dengan fara’idhush shalat adalah amal perbuatan yang dilakukan selama dalam shalat, jika salah satunya ditinggalkan maka batal shalatnya. Rukun shalat itu mencakup:

  1. Niat, yaitu berniat melaksanakan shalat yang dimaksud. Niat adanya di hati. Oleh sebab itu tidak disyaratkan melafalkannya, dan tidak ada teks niat yang diajarkan oleh Rasulullah saw
  2. Takbiratul Ihram; yaitu takbir tanda masuk amaliah shalat. Lafalnya : “Allahu Akbar”. Seperti yang dikatakan oleh Rasulullah saw.

: «مفتاح الصلاة الطهور، وتحريمها التكبير، وتحليلها التسليم»

“Kunci pembuka shalat adalah bersuci, mulainya adalah takbir dan selesainya dengan bersalam”. HR Al Khamsah, kecuali An Nasa’iy dishahihkan oleh At Tirmidzi dan Al Hakim.

  1. Berdiri; bagi orang yang mampu berdiri dalam shalat fardhu. Sabda Nabi:

« صَلِّ قائِماً، فإن لَم تَستَطِع فقاعداً، فإنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فعلى جَنْب »

Shalatlah dengan berdiri, jika tidak mampu maka dengan duduk, jika tidak mampu maka dengan berbaring. HR. Al Bukhari.

Sedangkan untuk shalat sunnah maka diperbolehkan dengan duduk meskipun mampu berdiri; hanya nilai shalat duduk itu setengah shalat berdiri. HR Al Bukhari dan Muslim

  1. Membaca surah Al Fatihah setiap rakaat fardhu maupun sunnah.[6] Sabda Nabi:

« لا صَلاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرأ بِفَاتِحَةِ الكِتاب »

Tidak sah shalat orang yang tidak membaca Al Fatihah. HR Al Jama’ah

  1. Ruku’; yaitu membungkukkan badan sehingga tangan mampu menyentuh lutut, dengan thuma’ninah. Sabda Nabi:

« ثم اركَعْ حتى تَطْمَئِنَّ رَاكِعاً ». متفق عليه.

Lalu ruku’lah sehingga kamu tenang ruku’. Muttafaq alaih

  1. Bangun ruku’ dan berdiri tegak. Sabda Nabi:

« ثم ارفَع حتى تَعْتَدل قائماً » متفق عليه.

Kemudian bangunlah sehingga kamu berdiri tegak. Muttafaq alaih

  1. Dua kali sujud setia rakaatnya dengan thuma’ninah.

« ثمّ اسجُد حتى تَطْمَئِنّ ساجدا ً»، متفق عليه

Lalu sujudlah sehingga benar-benar sujud dengan thuma’ninah. Muttafaq alaih

Kesempurnaan sujud dengan tujuh anggota badan yaitu: wajah, dua telapak tangan, dua lutut, dan dua ujung kaki. HR Abu Daud dan At Tirmidziy

  1. Duduk akhir dan membaca tasyahhud, yang lafalnya:

« التَّحيات لله والصَّلوات والطَّيبات، السلام عليكَ أيُّها النَّبي ورحمةُ الله وبركاتُه، السَّلامُ علينا وعلى عِبادِ الله الصالحين، أشهد أن لا إله إلّا الله، وأشهد أن مُحمداً عبدُه ورسولُه...» رواه الجماعة

 

Bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW setelah tasyahhud,[7] menurut madzhab Syafi’iy

  1. Salam, seperti dalam hadits Nabi :

: «مفتاح الصلاة الطهور، وتحريمها التكبير، وتحليلها التسليم»

“Kunci pembuka shalat adalah bersuci, mulainya adalah takbir dan selesainya dengan bersalam”. HR Al Khamsah, kecuali An Nasa’iy dishahihkan oleh At Tirmidzi dan Al Hakim.

Sebagaimana telah disebutkan dari Rasulullah saw yang salam sekali, dan dua kali dalam beberapa hadits.

  1. Tartib, berurutan sesuai yang disebutkan di atas.

6.   SUNNAH SHALAT

Sunnah shalat adalah amalah yang dianjurkan untuk diamalkan dalam shalat agar mendapatkan pahala lebih banyak, dan jika ditinggalkan tidak membatalkan shalatnya, yaitu:

  1. Mengangkat tangan ketika takbiratul ihram, sehingga jari jempol setinggi daun telinga, atau bahunya, bagian dalam telapak tangan menghadap kiblat. Mengangkat tangan ini juga disunnahkan ketika hendak ruku’ dan bangun ruku’. Menurut jumhurul ulama. Tidak ada yang berbeda kecuali madzhab Hanafi dan sebagian madzhab Malikiy.
  2. Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di dada, atau di bawahnya, atau di bawah pusar. Semua ini bersumber dari Rasulullah saw. Sebagaimana melepaskan kedua tangan itu.
  3. Membuka shalat setelah takbiratul ihram dengan do’a istiftah yang diriwayatkan dari Rasulullah saw, di antaranya:

- « سبحانك اللَّهُمّ وبحمدِك وتَبارك اسمك وتَعالى جَدُّك ولا إله غيرك »، رواه أبو داود والحاكم وصحّحه ووافقه الذهبي.

- « وَجَّهت وجهي لِلَّذي فطر السماوات والأرضَ حنيفاً ومَا أَنَا من المشْركين، إنَّ صلاتي ونسُكِي ومَحْيَاي ومَماتي لِلَّهِ ربِّ العالمين، لا شَريك له، وبذلك أمرت وأنا مِن المسلمِين »، رواه مسلم وأبو داود والنسائي وابن حِبان وأحمد والطَّبراني والشافعي

  1. Membaca isti’adzah yaitu: (أعوذُ بِالله من الشيطانِ الرجيم)  setelah membaca doa iftitah, dan sebelum membaca AL Fatihah  di rakaat pertama. Dan tidak apa-apa jika dibaca setiap rakaat sebelum membaca.
  2. Membaca Amin setelah membaca Al Fatihah, baik mejadi imam, makmum maupun sendirian. Dengan suara keras pada shalat jahriyah, dan pelan pada shalat sirriyah. Setelah imam tidak boleh mendahuluinya atau terlalu lama ketinggalan.
  3. Membaca sebagian Al Qur’an setelah surah Al Fatihah, kecuali pada rakaat ketiga dan keempat, yang cukup dengan surah Al Fatihah. Membaca Al Qur’an yang disukai sedikit atau banyak. Satu surat sempurna atau sebagiannya. Semua ini bersumber dari Rasulullah. Disunnahkan membaca pada rakaat pertama lebih panjang daripada rakaat kedua. Diriwayatkan pula bahwa Rasulullah saw membaca surah-surah pendek pada shalat maghrib, sebagaimana pernah membaca surah surah Al A’raf, As Shaffat, dan Ad Dukhan. Disunnahkan pula memperindah suara ketika membaca Al Qur’an, waqaf setiap ayat. Ketika melewati ayat rahmat disunnahkan berdoa meminta anugerah Allah. Dan jika melintasi ayat adzab disunnahkan memohon perlindungan Allah darinya. Disunnahkan pula mengeraskan bacaan shalat subuh, jum’at, dua rakaat awal maghrib dan isya’, dan tidak bersuara pada shalat selainnya. Sedangkan dalam shalat sunnah disunnahka sirriyah pada shalat siang hari, dan jahriyah waktu tahajju, qiyamullail. Jahriyyah dan sirriyah pada tempat masing-masing adalah sunnah haiah shalat. Jika ditinggalkan dengan sengaja atau lupa, tidak mempengaruhi shalat.

Sedangkan bagi makmum wajib mendengarkan dan memperhatikan imam yang membaca daengan jahriyyah. Makmum membaca Al Qur’an ketika makmum membacanya dengan sirriyah, karena firman Allah:

وَاِذَا قُرِئَ الْقُرْاٰنُ فَاسْتَمِعُوْا لَهٗ وَاَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ ٢٠٤

Dan apabila dibacakan Al Quran, Maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.QS. Al A’raf: 204

Dan hadits Nabi:

« وإذا كبَّر الإِمام فكبِّروا، وإذا قَرأ فأنصتوا »، صحَّحه مسلم

Jika ia bertakbir, maka bertakbirlah, dan jika ia membaca maka (Al Qur’an) maka dengarkanlah. Dishahihkan oleh imam Muslim. [8]

  1. Disunnahkan bertakbir setiap turun naik, berdiri dan duduk, kecuali bangun ruku’. Dalam ruku’ disunnahkan rata antara kepala dan punggung, menggunakan kedua tangan bertumpu ke lutut, dengan membentangkan jari-jari, disertai dzikir, 

(سبحانَ ربي العَظيم)  3x atau lebih, atau dengan redaksi lain yang bersumber dari Rasulullah saw seperti:

 (سُبُّوحٌ قُدّوس رَبُّ الملائِكَة والرُّوح)،

(اللهمَّ لك ركعتُ، وبكَ آمنت، ولكَ أسلمت، أنت ربي، خَشع لك سَمعي وبَصري، ومُخِّي وعَظمي وعَصبي، وما استقلت به قَدمي لله رب العالمين)

  1. Disunnahkan ketika bangun ruku’ membaca : (سَمع الله لمن حَمِده)

Dan ketika sudah berdiri tegak membaca: (اللّهمّ ربَّنا ولكَ الحمد)

(اللهمَّ ربنا لك الحمد حَمداً كثيراً طيباً مباركاً فيه) Atau kalimat lain yang bersumber dari Rasulullah saw

  1. Mendahulukan lutut sebelum tangan ketika hendak bersujud, menempelkan hiudng, dahi dan kedua telapak tangan ke tanah (alas shalat) dengan menjauhkan kedua tangannya dari lambung, meletakkan kedua telapak tangan sejajar dengan telinga atau punggung, membuka jari-jari tangannya dan menghadapkanya ke kiblat. Minimal yang dibaca dalam sujud adalah  (سبحانَ ربي الأعلى)  dan dperbolehkan menambah tabih, dzikir, dan do’a khusus yang bersumber dari Rasulullah saw, seperti:

- اللّهمّ لك سجدتُ وبك آمنت، ولك أسلمت وأنت ربي، سَجد وجهي للذي خَلقه وصوَّره فأحسَن صوره، وشقَّ سَمعه وبصره فتباركَ الله أحسنُ الخالقين. رواه مسلم

  1. Duduk antara dua sujud dengan duduk IFTIRASY (duduk di atas kaki kiri) kaki kanan tegak, dan jari-jari kaki kanan menghadap kiblat, dengan membaca do’a ma’tsur(bersumber dari Nabi), antara lain:

(اللهمّ اغفر لي وارحَمني وعافِني واهدِنِي وارزُقني) رواه الترمذي

Menurut madzhab Syafi’iy, disunnahkan pula duduk istirahat setelah sujud kedua sebelum bangun, untuk rakaat yang tidak ada tasyahhud.

  1. Tasyahhud awal  (wajib menurut madzhab Hannafi) dengan duduk iftirasy, meletakkan tangan kanan di atas paha kanan dan tangan kiri di atas paha kiri, menunjuk dengan jari telunjuk kanan. Disunnahkan agak lebih cepat.
  2. Duduk tawarruk untuk tasyahhud akhir, yaitu dengan mendorong kaki kiri ke depan, mendirikan kaki kanan, dan duduk di tempat shalat (HR. Al Bukhari). Sebagaimana disunnahkan pula bershalawat keapda Nabi setelah tasyahhud dengan shalawat Ibrahimiyyah.
  3. Berdo’a sebelum salam dengan do’a am’tsur, antara lain:

« اللهمَّ اغفر لي ما قَدَّمتُ وما أخَّرت، وما أسْرَرت وما أعْلنت، وما أسرفْت وما أنتَ أعلم به مني، أنتَ المقدِّم وأنت المؤخِّر لا إله إلّا أنت ». رواه مسلم.

- « اللهمَّ إني أعوذ بك من عذاب جهنَّم، ومن عذاب القبر، ومن فتنةِ المَحيا والمَمات، ومن شَرِّ فتنةِ المسيح الدَّجال»، رواه مسلم.

 

  1. Memperbanyak dzikir setelah salam dengan dzikir ma’tsur, antara lain: 

- « اللَّهم أنتَ السلام ومنك السلام، تَباركت يا ذا الجلال والإِكرام »، رواه مسلم.

- « من سَبَّح في دُبر كلِّ صلاةٍ ثلاثاً وثَلاثين، وحَمد الله ثلاثاً وثلاثين، وكبَّر الله ثلاثاً وثلاثين، فتلك تِسعة وتِسعون، وقال تمام المائة: لا إله إلا الله وَحده لا شَريك له، لَه الملك ولَه الحمد وهو على كلِّ شيء قَدير، غُفرت خطاياه وإن كَانت مثل زَبد البَحر»، رواه مسلم.

- « اللهمّ أعنِّي على ذِكركَ وشُكرِكَ وحسنِ عبادَتك »، رواه أحمد وأبو داود والنّسائي.

- «لا إله إلا الله وَحده لا شَريكَ له، له المُلك ولَه الحَمد وهو على كلِّ شيءٍ قَدير، اللهم لا مانِع لما أَعطيت، ولا مُعطِي لما مَنَعت، ولا يَنْفَع ذا الجَدِّ مِنكَ الجَدُّ». رواه الشيخان.

7.   HAL-HAL YANG MAKRUH DALAM SHALAT

  1. Meninggalkan salah satu sunnah yang tersebut di atas
  2. Menggaruk-garuk baju atau anggota badan tanpa ada udzur
  3. Melihat ke atas –seperti yang diriwayatkan imam Al Bukhari-
  4. Memakai atau menghadap sesuatu yang mengganggu konsentrasi shalat –seperti yang diriwayatkan oleh imam Al Bukhariy-
  5. Shalat di tempat sampah, tempat pemotongan hewan, kuburan, jalanan, kamar mandi, peristirahatan onta, di atas ka’bah (HR Muslim)
  6. Memakai baju yang terbuka leher; menggulung lengan baju panjang; shalat dengan pakaian kerja padahal ada pakaian lain. Karena hal ini meninggalkan adab.
  7. Takhashshur – meletakkan tangan di pinggang- para ulama memakruhkannya kecuali imam Ibnu Majah-
  8. Menggunakan lengan tangan untuk tumpua ketika sujud  -makruh menurut jama’ah ulama-
  9. Ash Shaqd (berdiri dengan merapatkan kedua kaki; ash shaqn- berdiri dengan satu kaki
  10. Membaca surah (setelah Al fatihah) di rakaat kedua, sebelum surat di rakaat pertama (dalam urutan mushaf
  11. Sujud di atas tutup kepala yang menghalangi dahi dan tanah (tempat sujud)[9], mengusap bekas sujud selama dalam shalat –diriwayatkan oleh Ibnu Majah
  12. Miring ketika shalat, karena menyerupai Yahudi (riwayat Al Bukhari); menguap (riwayat imam Muslim dan At Tirmidzi), disunnahkan menutup dengan tangan ketika shalat atau di luar shalat
  13. Shalat dengan menahan hadats,[10] atau berhadapan dengan makanan (riwayat imam Muslim dan Abu Daud); atau ketika sangat mengantuk (riwayat Al Jama’ah)
  14. Memanjangkan kain sampai ke tanah; menutup mulut (riwayat lima imam dan Al Hakim)

8.    HAL-HAL YANG MUBAH (DIPERBOLEHKAN) DALAM SHALAT

  1. Menangis, merintih, seperti dalam firman Allah:

اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيّٖنَ مِنْ ذُرِّيَّةِ اٰدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوْحٍۖ وَّمِنْ ذُرِّيَّةِ اِبْرٰهِيْمَ وَاِسْرَاۤءِيْلَ ۖوَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَاۗ اِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِمْ اٰيٰتُ الرَّحْمٰنِ خَرُّوْا سُجَّدًا وَّبُكِيًّا ۩ ٥٨

Apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pemurah kepada mereka, Maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. QS. Maryam: 58

Diriwayatkan pula bahwa Rasulullah saw menangis ketika shalat, Abu Bakar juga menangis dalam shalatnya. Diriwayatkan pula bahwa Umar ra shalat shubuh dan membaca surah Yusuf, sehingga sampai pada ayat:

قَالَ اِنَّمَآ اَشْكُوْا بَثِّيْ وَحُزْنِيْٓ اِلَى اللّٰهِ وَاَعْلَمُ مِنَ اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ ٨٦

Ya'qub menjawab: "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah Aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, QS. Yusuf: 86

terdengar suara tangisnya.

Menurut madzhab Syafi’iy, jika dalam tangisnya itu ada terdengar satu atau dua huruf yang tidak difahami maka batal shalatnya.

 

  1. Menoleh dengan wajah ketika diperlukan saja. Sebab jika tidak ada kebutuhan yang mendesak masuk dalam kategori,

«اختلاس يَختلسه الشيطان من صلاةِ العَبد» رواه البخاري celingukan karena godaan syetan. Dan jika memalingkan dadanya dari arah kiblat, maka batal shalatnya.

  1. Membunuh hewan yang membahayakan, karena hadits Nabi:

«اقتلوا الأسودين في الصَّلاة، الحيَّة والعَقْرب»، رواه أصحاب السنن.

Bunuhlah dua hewan hitam dalam shalat, ular dan kala jengking.

  1. Berjalan sedikit karena ada kebutuhan tanpa merubah posisi dari arah kiblat. Rasulullan saw pernah melakukannya sebagaimana riwayat imam Ahmad, Abu Daud, At Tirmidziy dan An Nasa’iy, dari Aisyah ra, dengan syarat kurang dari tiga langkah pindah, atau tiga gerakan.
  2. Membawa anak kecil dengan digendong sambil shalat. Hal ini diriwayatkan oleh imam Ahmad, An Nasa’iy, Al Hakim dan Muslim dari Rasulullah saw
  3. Mengingatkan Al Fatihah imam jika kelupaan, atau salah dalam membaca. Abu Daud meriwayatkan kebolehannya. Bertahmid bagi orang yang bersin, Rasulullah saw pernah memperbolehkannya kepad Rifa’ah seperti diriwayatkan oleh Al Bukhari, An Nasa’iy dan At Tirmidziy. Demikian juga diperbolehkan tasbih bagi laki-laki dan tepuk tangan bagi wanita untuk mengingatkan. Sseperti diriwayatkan oleh imam Ahmad, Abu Daud, dan An Nasa’iy.
  4. Sujud di atas sorban atau pakaian yang dikenakan karena kondisi tertentu (seperti sangat panas). Rasulullah saw pernah melakukannya seperti yang diriwayatkan oleh imam Ahmad dengan sanad yang sahih.
  5. Membaca Al Qur’an dengan memegang mushaf. Seperti yang diriwayatkan oleh imam Malik. Hal ini menjadi madzhab imam Syafi’iy
  6. Menghentikan shalat karena untuk membunuh binatang yang membahayakan, atau mengembalikan hewan (kendaraan) yang kabur, atau takut kehilangan barang, atau menahan buang air besar dan kecil, atau karena panggilan salah satu orang tua jika khawatir bahaya. Bahkan wajib menghentikan shalat untuk menolong orang yang dalam bahaya, atau karena akan terjadi bahaya besar pada seseorang, atau kebakaran.

9.    HAL-HAL YANG MEMBATALKAN SHALAT

  1. Meninggalkan salah satu syarat shalat, atau rukunnya. Seperti sabda Rasulullah saw kepada orang a’rabiy (badui)  yang tidak bagus shalatnya:

«ارجع فصلِّ فإنك لم تصلِّ» رواه الشيخان

Kembalilah shalat karena kamu belum shalat. HR Asy Syaikhani. Diantaranya adalah terbuka aurat, berubah arah kiblat, berhadats saat shalat.

  1. Makan minum dengan sengaja meskipun sedikit. Sedang jika terjadi karena lupa, atau tidak tahu, atau ada selilit di antara gigi yang ditelan, maka itu tidak membatalkan menurut madzhab Syafi’iy dan Hanbali.
  2. Sengaja berbicara di laur bacaan shalat. Sedang jika dilakukan karena tidak tahu hukumnya, atau lupa maka tidak membatalkan shalat, seperti dalam hadits Muawiyah bin Al Hakam As Salamiy, yang berbicara ketika shalat karena tidak tahu hukumnya, dan Rasulullah tidak menyuruhnya mengulang shalat, tetapi mengatakan kepadanya:

: «إنَّ هذه الصلاة لا يصلح فيها شيء من كلام الناس، إنما هي التَّسبيح والتكبير وقراءة القرآن»، رواه أحمد ومسلم وأبو داود والنسائي

Sesungguhnya shalat ini tidak baik untuk bicara dengan sesama manusia, sesungguhnya ia adalah tasbih, takbir, dan membaca Al Qur’an. HR Ahmad, Muslim, Abu Daud dan An Nasa’iy

  1. Banyak bergerak dengan sengaja atau lupa di luar gerakan shalat. Tetapi jika terpaksa seperti menolang orang dalam bahaya, menyelamatkan orang yang hendak tenggelam, ia wajib menghentikan shalatnya.
  2. Tertawa dan terbahak-bahak keduanya membatalkan shalat. Tertawa adalah yang terdengar orang yang melakukan itu saja, sedang terbahak-bahak adalah yang terdengar orang lain. Sedang tersenyum tidak membatalkan.
  3. Salah baca yang merubah makna dengan perubahan yang keji, atau kalimat kufur.
  4. Makmum yang ketinggalan dua rukun fi’liyah dengan sengaja tanpa sebab, atau mendahuluinya dengan dua rukun fi’liyah menurut madzhab Syafi’iy meskipun ada sebab. Seperti jika imam membaca dengan cepat sehingga makmum di belakangnya ketinggalan asal tidak lebih dari tiga rukun dimaksud.
  5. Mengingatkan bacaan bukan imamnya. Atau imam membetulkan bacaan orang yang tidak ikut shalat bersamanya menurut madzhab Hanafi.

10.   KAIFIYAH SHALAT (BAGAIMANA ANDA SHALAT)

Rasulullah saw bersabda: «صَلّوا كما رأيتموني أُصلي» متفق عليه

Shalatlah kamu sebagaimana aku shalat. Hadits Muttafaq alaih. Dan berikut ini akan kamu sebutkan amaliyah shalat secara berurutan dari pertama sampai terakhir, dengan disertai statusnya (fardhu) atau (sunnah) sesuai dengan pilihan pada fashal-fashal sebelumnya.

Setelah yakin waktu shalat sudah masuk, telah bersuci, menutup aurat, menghadap kiblat, kemudian melakukan hal-hal berikut ini :

1.     Niat shalat yang hendak ditunaikan (fardhu)

2.     Mengangkat kedua tangan sehingga ibu jari setinggi telinga atau bahu, telapak tangan menghadap kiblat (sunnah) kemudian bertakbiratul ihram, yang lafadlnya “ALLAHU AKBAR” (fardhu)

3.     Masih beridri (fardhu) tegak menghadapkan wajhanya ke arah sujud, meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di atas pusar, membuka kedua kakinya kira-kira empat jari (sunnah)

4.     Membaca doa iftitah, dengan salah satu lafadh yang ada (sunnah)

5.     Membaca isti’adzah dengan sirriyah (suara pelan), mengeraskan atau membaca pelan basmalah sebelum Al Fatihah di setiap rakaat. (sunnah)

6.     Membaca surah Al Fatihah setiap rakaat shalat fardhu atau shalat sunnah (fardhu) jika sebagai imam atau shalat sendirian. Sedang jika sebagai makmum, maka membaca Al Fatihah ketika imam membacanya siririyah (pelan) dan mendengarkan bacaan imam ketika membacanya jahriyah.

7.     Membaca satu surah atau ayat dari Al Qur’an setelah membaca Al Fatihah pada dua rakaat pertama setiap shaat (sunnah)

8.     Bertakbir (sunnah) lalau ruku’ (fardhu) dengan mengangkat kedua tangan (sunnah) bertasbih (sunnah) thuma’ninah ketika ruku’ (fardhu)

9.     Bangun ruku’ dan berdiri tegak (fardhu) dan memabaca : 

(سَمع الله لمن حَمِده، رَبَّنا ولَك الحمد)  dengan mengangkat kedua tangan (sunnah)

10.  Bertakbir (sunnah) turun untuk bersujud (fardhu) dengan memperhatikan sunnah cara bersujud, memperbanyak dzikir (sunnah)

11.  Bertakbir (sunnah) mengangkat kepala dan duduk (fardhu) dengan memperhatikan sunnah, lalu bertakbir (sunnah) dan sujud lagi (fardhu), bertakbir (sunnah) dan bangun dari sujud dengan mengangkat kedua tangan sebelum kedua kaki (sunnah) untuk meneruskan rakaat kedua.

12.  Pada rakaat kedua melakukan apa yang sudah di lakukan pada rakaat pertama, sesudah itu duduk untuk tasyahhud awal, dan bershalawat atas Nabi Muhammad saw (sunnah)

13.   Pada rakaat ketiga dan keempat, cukup dengan membaca surah Al Fatihah dengan sirriyah, meskipun dalam shalat jahriyah. Kemudian duduk tasyahhud akhir (fardhu) bershalawat atas Rasulullah saw (sunnah), berdo’a sebelum salam dengan doa ma’tsur yang disukai.

14.  Salam ke sisi kanan (fardhu) lalu ke kiri (sunnah), memperbanyak dzikir ma’tzur sesudah salam (sunnah).

وَقَد روى أبو هُريرة رَضي الله عنه قال: دَخل رجل المسجد فَصلى، ثم جاء إلى النبي صلى الله عليه وسلم يسلِّم، فرد عليه السلَّام، وقال: «ارجع فصلِّ فإنَّك لم تُصَلِّ» فرجع، ففعل ذلك ثَلاث مرات. قال: فقال: والذي بَعثك بالحقّ ما أُحسن غيرَ هذا، فعلِّمني. قال؛ « إذا قُمتَ إلى الصَّلاة فكبِّر، ثم اقرأ ما تَيسَّر مَعك من القُرآن، ثم اركَع حتى تَطمئِنَّ راكِعاً، ثم ارفَع حتى تَعتَدِل قائماً، ثم اسجُد حتى تَطمئِنَّ ساجداً، ثم ارفع حتى تَطمئِنَّ جالِساً، ثم اسجُد حتى تَطْمئِنَّ ساجِداً ثم افعَل ذلك في صَلاتِكَ كُلِّها »، رواه أحمد والشيخان

Abu Hurairah ra meriwayatkan: Ada seseorang masuk masjid lalu ia shalat, kemudian datanga menemui Nabi Muhammad saw, memberi salam, dan Nabi menjawab salamnya, dan bersabda: “Kembalilah shalat karena kamu belum shalat” lalu ia mengulanginya sampai tiga kali. Abu Hurairah berkata: Orang itu mengatakan: “Demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan benar. Saya tidak bisa shalat yang lebih baik lagi, maka ajarilah aku. Nabi bersabda: “Jika kamu berdiri shalat maka bertakbirlah, kemudian bacalah Al Qur’an yang paling mudah bagimu, kemudian ruku’lah sehingga thuma’ninah ruku’, kemudian bangunlah sehingga berdiri tegak, kemudian sujudlah sehingga tuma’ninah sujud, kemudian bangunlah sehingga tuma’ninah duduk, kemudian sujudlah sehingga tuma’ninah sujud, kemudian lakukan itu dalam seluruh shalatmu”. HR Asy Syaikhani

11.   MACAM SHALAT

Kedua : Shalat Jum’at

  1. Hukumnya

Shalat jum’at hukumnya fardhu ‘ain, seperti dalam firman Allah: QS Al Jum’ah: 9

Juga sabda Rasulullah saw. 

« لَقد هَمَمتُ أن آمُرَ رجلاً يصلي بالنّاس، ثم أُحرّق على رجالٍ يتخلَّفون عَن الجُمعة بيوتَهم » رواه أحمد ومُسلم،

Sungguh aku bermaksud untuk menyuruh seseorang shalat bersama kaum muslimin, kemudian aku membakar rumah orang-orang yang tidak ikut melaksanakan shalat jum’at. HR Ahmad, dan Muslim

Sabda Nabi yang lain: 

« لَينتهيَنَّ أقوامٌ عن وَدعِهم الجُمُعات - أي تَركِهم - أو ليختِمَنَّ الله على قُلوبهم، ثم لَيكونُنَّ من الغَافِلين »، رواه مسلم والنسائي وأحمد.

Kaum itu mau meninggalkan (pekerjaannya) untuk shalat jum’at, atau Allah akan kunci mati hati mereka, kemudian menjadi orang-orang yang lalai. HR Muslim, An Nasa’iy dan Ahmad.

Rasulullah mengancam orang yang meninggalkannya dengan bersabda:

« مَنْ تَرك ثَلاثَ جُمعٍ تَهاوناً طَبع الله على قَلْبه »، رواه أصحاب السنن والحاكم.

Barang siapa yang meninggalkan tiga shalat jum’at karena meremehkannya, maka Allah akan mengunci mati hatinya. HR Ashabussunan dan Al Hakim.

  1. Siapa Yang Berkewajiban

-        Shalat wajib bagi setiap muslim yang berakal, baligh, muqim (tidak musafir) dan mampu berjalan.

-        Shalat jum’at tidak wajib bagi wanita, anak-anak, orang sakit yang membahayakan kalu ikut jum’atan, perawat yang tidak dapat meninggalkan pasiennya,[11] musafir, orang yang dalam ketakutan, orang yang terhalang hujan lebat, atau gangguan keamanan.[12]

-        Ketika orang yang tidak berkewajiban jum’at melaksanakannya, maka sah shalatnya dan tidak berkewajiban shalat zhuhur.

  1. Waktu dan Syaratnya

Waktu shalat jum’at adalah waktu shalat zhuhur,[13] dan syaratnya adalah:

a.      Berjamaah, sabda Nabi:

 « الجُمعةُ حَقٌّ واجب على كلِّ مُسلم في جماعة »، رواه أبو داود

Jum’atan adalah kewajiban atas setiap muslim dengan berjamaah. HR Abu Daud. Dan berjamaah itu adalah tiga orang selain imam. Madzhab Syafi’iy mensyaratkan kehadiran empat puluh orang mukim. Madzhab Maliky mensyaratkan kehadiran dua belas orang laki-laki selain imam. 

b.     Madzhab Syafi’iy mensyaratkan pelaksanaannya di tempat yang sudah dibangun (ada bangunan)

c.      Madzhab Hanafi mensyaratkan izin imam (kepala negara) untuk pelaksanaannya

  1. Khutbah

-        Khutbah jum’at hukumnya wajib  menurut pendapat mayaoritas ulama.

-        Syarat Khutbah: Sebelum shalat, di waktu zhuhur, dihadiri oleh jumlah minimal shalat jum’at, dengan dua khutbah yang dipisah dengan duduk, berkhutbah dengan berdiri dan dalam keadaan suci (hal ini sunnah menurut madzhab Hanafi, dan syarat menurut madzhab Syafi’iy), antara khutbah dan shalat tidak terpisah dengan kegiatan lain, tidak disyaratkan dengan berbahasa Arab,[14] dan yang utama adalah berkhutbah dengan bahasa Arab, kemudian menjelaskan isinya dengan bahasa pendengar. Dalam khutbah harus ada: hamdalah, shalawat atas Rasulullah, membaca ayat Al Qur’an, doa untuk orang-orang beriman dan wasiat taqwa.

  1. Adab Jumat, dan hal-hal yang berkaitan dengan hari jum’at.

-        mandi; sabda Nabi: « إذا جاءَ أحدُكُم الجُمعةَ فَلْيَغتَسِل » متفق عليه jika salah seorang diantaramu menghadiri jumatan hendaklah mandi. Hadits Muttafaq alaih.

-        Berpakaian rapi, menggunting kuku, bersiwak, memakai wewangian, dan berpakaian yang paling bagus.

-        Memperbanyak do’a. Sabda Nabi:

« فَفي يوم الجمعة ساعة لا يوافقها عَبد مُسلم وهو قائم يُصلي يسأل الله شَيئاً إلّا أعطاه إياه » متفق عليه

Pada hari jum’at itu ada waktu yang jika seorang muslim mendapatkannya dalam shalat, lalu ia meminta sesuatu kepada Allah, maka pasti Allah akan berikan. Hadits Muttafaq alaih.

-        Memperbanyak membaca shalawat Nabi, sabda Nabi:

« إنَّ من أفضل أيامِكم يوم الجمعة فَأكثروا عليّ من الصَّلاة فيه، فإنَّ صلاتَكم معروضة علي ّ»، رواه أبو داود

Sesungguhnya di antara hari-harimu yang paling utama adalah hari jum’at, maka perbanyaklah bershalawat keapdaku pada hari itu, karena shalawatmu ditunjukkan padaku. HR Abu Daud

-        Membaca surah Al Kahfi. Sabda Nabi:

« مَن قرأ سورَةَ الكَهف يوم الجمعة أضاء له مِن النور ما بَينه وبَين الجمعتين » أخرجه الحاكم في المستَدرك، وقال: صَحيح الإِسناد

Barang siapa yang membaca surah Al kahfi pada hari jum’at, akan ada nur yang meneranginya diantara dua jum’at. HR Al Hakim, dalam Al Mustadrak, danberkata: Snadnya shahih

-        Banyak bersedekah, membaca Al Qur’an dan beramal shalih

Yang berkaitan dengan shalat dan Khutbah Jum’at

-        Semakin pagi berangkat ke masjid, berjalan dengan tenang dan khusyu

-        Tidak melangkahi pundak orang dan memisah antara kedua orang yang duduk

-        Tidak berjalan di depan orang yang shalat

-        Berusaha meraih shaf pertama

-        Tidak melakukan shalat sunnah setelah imam naik mimbar, berkonsentrasi menjawab seruan adzan dan mendengarkan khutbah

-        Tidak berbiacara sedikitpun. Rasulullah bersabda:

« إذا قلتَ لصاحِبك أنصِت يومَ الجمعةِ والإِمامُ يخطبُ فقد لَغوت َ» رواه الجماعة

Jika kamu berkata kepada sahabatmu “diam” pada hari jum’at, sewaktu imam berkhutbah, maka telah sia-sia jum’atanmu. HR Al Jamaah

Bahkan diharamkan makan minum dan menulis sewaktu khutbah.

-        Disunnahka shalat sesukanya sebelum adzan, dan sesudahnya empat rakaat, sesuai sabda Nabi saw:

Jika salah seorang di antaramu shalat jum’at, maka hendaklah shalat empat rakaat sesudahnya. HR Muslim.

-        Tidak disunnahkan shalat sesudah adzan kecuali shalat tahiyyatul masjid, seperti dalam hadits Nabi:

Jika salah seorang di antaramu datang pada hari jum’at, ketika imam berkhutbah maka hendaklah ia ruku’dua rakaat dengan agak cepat. HR Muslim

Ketiga : Shalat Janazah

  1. Shalat janazah hukumnya fardhu kifayah. Jika ada salah seorang telah menunaikannya maka gugur kewajiban atas yang lainnya. Dan jika tidak ada seorangpun yang menunaikan maka berdosa semua
  2. Shalat jenazah itu dengan empat kali takbir, satu kali berdiri, tanpa ruku’ dan sujud
  3. Syaratnya sama dengan syarat shalat lainnya. Ditambah lagi:
    1. ada mayitnya.[15]
    2. mayitnya buka syahid di medan perang[16]
  4. Cara shalat janazah adalah sebagai berikut:
    1. niat shalat janazah
    2. bertakbir dengan mengangkat kedua tangan, lalu membaca surah Al Fatihah
    3. bertakbir kedua dengan mengangkat tangan, lalu membaca shalawat Nabi (shalawat Ibrahimiyah)
    4. bertakbir ketiga dengan mengangkat kedua tangan, lalu berdoa untuk jenazah, dengan doa-doa ma’tsur (yang bersumber dari Nabi), antara lain:

« اللهمّ اغفر له وارحَمه، وعافِه واعفُ عنه، وأكرم نُزُله، ووسِّع له مُدخله، واغسِله بالماء والثَّلج والبَرَد، ونقِّه من الخَطايا كما نقَّيت الثوبَ الأبيض من الدَّنس، وأبدِلْه داراً خيراً من داره، وأهلاً خيراً من أهله، وزوجاً خيراً من زَوجه، وأدخله الجنَّة، وأعِذْه من عَذاب القَبر ومِن عَذاب النَّار »، رواه مسلم.

Ya Allah, amunilah ia, sayangilah ia, ma’afkanlah ia, muliakanlah persinggahannya, lapangkanlah pintu masuknya, mandikan ia dengan air, salju, dan embun, bersihkan ia dari kesalahan sebagaimana bersihnya kain putih dari noda, gantikan rumah dengan rumah yang lebih baik dari rumah dunianya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya (di dunia) istri/suami yang lebih baik dari istri/suaminya (di dunia), masukkan ia ke dalam surga, hindarkan ia dari adzab kubur, dan adzab neraka. HR Muslim

* « اللَّهمَّ اغفِر لحيِّنا وميِّتنا، وشاهِدنا وغائبنا، وصَغيرنا وكَبيرنا، وذَكرنا وأُنثانا، اللهمَّ من أحييته مِنَّا فَأحيِه على الإِسلام، ومَن توفَّيْتَه منّا فَتَوفَّه على الإِيمان. اللهمَّ لا تَحرمنا أجره، ولا تُضلنا بعَده ». رواه مسلم والأربعة

Ya Allah, ampunilah yang hidup dan yang mati dari kami, yang hadir dan yang tidak hadir dari kami, yang besar dan yang kecil dari kami, lelaki dan wanita kami, Ya Allah, siapapun yang Engkai hidupkan di antara kami, hidupkanlah ia dalam Islam, dan siapapun yang Engkau matikan di antara kami, maka matikan ia dalam keadaan beriman. Ya Allah jangan Engkau halangi kami dari pahalanya, dan jangan Engkau sesatkan kami sesudahnya. HR Muslim dan empat imam.

    1. bertakbir ke empat dengan mengangkat kedua tangan, lalu membaca:

« اللهمّ لا تَحرمنا أجره ولا تَفْتِنّا بعَده ». - رواه الترمذي وأبو داود

Ya Allah, janganlah Engakau halangi kami dari pahalanya, dan janganlah Engkau berikan fitnah (ujian) atas kami sesudahnya. HR. At tirmidzi, Abu Daud – kemudian mengucapkan salam.

12.  SHALAT-SHALAT SUNNAH

Pertama: Shalat Witir

Shalat witir hukumnya sunnah muakkadah (ditekankan) menurut jumhurul fuqaha (ahli fiqh). Wajib menurut madzhab Hanafi. Hukum-hukum yang berkaitan dengan shalat witir adalah:

  1. Waktunya sesudah shalat isya’ sehingga terbit fajar. Disunnahka dikerjakan di akhir malam bagi yang mampu. Seperti hadits Nabi:

: «اجعَلوا آخِر صَلاتِكم باللَّيل وِتراً» متَّفقٌ عَليه،

Jadikanlah akhir shalatmu adalah witir. Muttafaq alaih. Dan sabdanya yang lain:

«إنَّ الله زَادكم صلاةً وهي الوِتر، فصلّوها بَين صلاةِ العشاء إلى صَلاة الفَجر»، أخرجه أحمد.

Sesungguhnya Allah menambahkan shalat atas kalian yaitu shalat witir, maka kerjakanlah shalat itu antara shalat isya sampai fajar. HR Ahmad.

  1. Bilangan rakaatnya: satu, tiga, lima, tujuh, sembilan, atau sebelas rakaat. Tiga rakaat adalah kesempurnaan minimal, boleh dengan bersambung dengan hanya sekali salam,[17] atau terpisah-pisah salam setiap dua rakaat, kemudian shalat yang ketiga. 
  2. Disunnahkan membaca doa qunut di rakaat akhir sebelum ruku’ (menurut madzhab Hanafi), sesudah ruku’ menurut madzhab Hanbali, Syafi’iy. Menurut madzhab Syafi’iy, qunut witir hanya ada di separo kedua bulan Ramadhan. Lafadh qunut itu adalah:

اللهمَّ اهدِني فيمَن هَديت، وعافِني فيمن عَافَيت، وتولَّني فيمن تولَّيت، وبارِك لي فيما أعطَيت، وقِني شرَّ ما قضَيت، فإنَّك تَقضي ولا يُقضى عليك، وإنَّه لا يَذِلُّ من والَيْتَ، تبارَكت ربنا وتعالَيت » رواه أحمد وأصحاب السنن

Ya Allah tunjukilah aku bersama orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk. Sehatkan aku bersama orang-orang yang telah Engakau beri kesehatan. Lindungilah aku sebagaimana orang-orang yang telah Engkau lindungi. Berkahilah apa saja yang Engkau beri. Lindungilah aku dari keburukan apa yang telah Engkau tetapkan. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Menetapkan, dan tidak bisa ditetapkan atasmu. Sesungguhnya tidak akan pernah nista orang yang telah Engkau lindungi. Engkaulah Rabb kami Maha Pemberi berkah, dan Maha Tinggi. HR. Ahmad dan Ashabussunan.  Atau dengan membaca do’a Umar, [18] yang diriwaytakan dari Abdullah ibn Mas’ud. Doa ini yang lebih afdhal menurut madzhab Hanafi.

  1. Disunnahkan shalat witir dengan berjamaah di bulan Ramadhan, mengikuti sunnahnya berjamaah shalat tarawih. Diperbolehkan pula shalat witir berjamaah di luar bulan Ramadhan. Sebagaimana diperbolehkan shalat jamaah untuk shalat sunnah lainnya yang tidak ditemukan dalil disunnahkan berjamaah untuk melaksanakannya.
  2. Disunnah mengqadha witir, jika sudak lewat waktunya. Jika telah menunaikan shalat witir di awal malam, kemudian bangun dan shalat sunnah nafilah, maka tidak usah mengulang shalat witir, karena sabda Nabi:

«لا وِترانِ في ليلة»، رواه أحمد والثلاثة

Tidak ada dua witir dalam satu malam. HR Ahmad dan tiga ulama hadits lain.

  1. Disunnahkan bagi orang yang shalat witir untuk mengucapkan sesudah shalat:

(سبحانَ الملِك القدُّوس) ثلاثاً. روى ذلك أبو داود في سننه

Maha Suci Yang Maha Kuasa dan Maha Suci.

Kedua : Shalat Rawatib lima waktu

Disunnahkan bagi setiap muslim untuk membiasakan shalat sunnah bersama dengan shalat lima waktu sebagaimana yang pernah Rasulullah lakukan.

فعن رَبيعة بن مالك الأسلمي رضي الله عنه، قال: قال لي رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: «سَل». فقلت: أسألك مرافَقتكَ في الجنَّة. فقال: «أَوَغَيْر ذلك؟» قلت: هو ذاك. قال؛ «فأعِني على نَفسِك بكثرة السُّجود». رواه مسلم

Dari Rabi’ah bin Malik Al Aslamiy ra berkata: Rasulullah saw berkata kepadaku: “Mintalah”, aku berkata: “Aku minta bisa bersamamu di sorga”. Tanya Nabi: “Apakah ada permintaan lain? Aku jawab: “Hanya itu”. Sabda Nabi: “Maka bantulah aku mencapai keinginanmu dengan banyak bersujud.”. HR. Muslim. 

وعن أُم المؤمنين أم حَبيبة بنتِ أبي سُفيان رَضي الله عنها قالَت: سمعتُ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم يقول: «ما مِن عبدٍ مُسلم يُصلي لله تعالى في كلِّ يوم ثِنتَي عشرة ركعة تَطوُّعاً غيرَ الفَريضة إلَّا بَنى الله له بَيتاً في الجنَّة»، رواه مسلم.

Dari Ummul mukminin, Ummu Habibah binti Abu Sufyan ra berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: Tidak ada seorang hamba muslim yang shalat karena Allah setiap hari dua belas rakaat sebagai tathawwu’ (tambahan kebaikan) selain shalat fardhu, kecuali Allah akan bangunkan untuknya rumah di surga. HR Muslim.

Shalat sunnah rawatib  yang menyertai shalat lima waktu itu ialah:

  1. Sunnah Fajar, dua rakaat dengan agak cepat, sebelum shalat fardhu, dan bisa diqadha jika terlewatkan. Seperti dalam hadits Imran bin Hushain, yang diriwayatkan Al Bukhari dan Muslim.

« لم يكن النبي صلى الله عليه وسلم على شيء من النوافِل أشدَّ تَعاهُداً منه على رَكعتَي الفَجر ».

Aisyah berkata: Rasulullah tidak pernah sangat menjaga amal sunnah melebihi dua rakaat sebelum fajar.

Rasulullah juga bersabada:

« رَكعتا الفَجر خيرٌ من الدُّنيا وما فيها » رواه مسلم

Dua rakaat fajar lebih baik dari dunia dengan segala isinya. HR Muslim, hukumnya sunnah muakkadah mendekati wajib.

  1. Sunnah Zhuhur; yaitu empat rakaat sebelum zhuhur[19], dan sua rakaat sesudahnya, ini sumber yang paling shahih. Bisa juga dengan dua rakaat sebelum dan sesudahnya[20], atau empat rakaat sebelum dan sesudahnya.[21] 
  2. Sunnah Ashar, dua rakaat (seperti yang diriwayatkan Abu Daud dari Ali ra) atau empat rakaat (seperti yang diriwayatkan Abu Daud dan At Tirmidziy dari Ibnu Umar ra) sebelum shalat fardhu.
  3. Sunnah Maghrib; yaitu dua rakaat sesudah shalat fardhu, hukumnya sunnah muakkadah (seperti riwayat Al Bukhari dan Muslim)

- dua rakaat sebelumnya sunnah bagi yang mau mengamalkannya (seperti riwayat Asy Syaikhani/Al Bukhari dan Muslim), demikianlah madzhab Syafi’iy dan Hanbali.

  1. Sunnah Isya’; dua rakaat  sesudah shalat fardhu (riwayat Al Bukhari dan Muslim)

- Dua rakaat sebelumnya sunnahbagi yang mau melakukannya, inilah madzhab Syafi’iy. Sedang menurut madzhab Hanafi sunnah Isya’ itu empat rakaat sebelumnya dan empat rakaat sesudahnya.

Ketiga : Shalat Sunnah lainnya.

  1. Shalat Dhuha; dari Abu Hurairah ra berkata:

«أوصاني خَليلي صلى الله عليه وسلم بصيام ثَلاثة أيام من كل شهر، ورَكعتي الضُّحى، وأن أوتِر قَبل أن أرقد» متفق عليه

Kekasihku (Rasulullah saw) telah berwasiat kepadaku untuk puasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat dhuha, dan shalat witir sebelum aku tidur”. Muttafaq alaih

« يُصبح على كلِّ سُلامى([22]) من أحدكم صَدقة، فكلُّ تسبيحة صدقة، وكل تَحميدة صَدقة، وكلّ تَهليلةٍ صَدقة، وكلّ تكبيرة صَدقة، وأمر بالمعروف صدقة، ونَهي عن المُنكر صدقة، ويجزي من ذلك رَكعتان يَركعهما من الضُّحى ». رواه مسلم وأبو داود وأحمد

Setiap sendi tubuh salah seorang di antaramu setiap apginya dapat bersedekah. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, amar ma’ruf adalah sedekah, nahi munkar adalah sedekah, dan cukup dari semua itu dengan dua rakaat di waktu dhuha. HR Muslim, Abu Daud, Ahmad.

 

Bilangan rakaatnya mulai dari dua rakaat, empat rakaat, delapan rakaat. Semua ini memiliki sumber hadist shahih dari Rasulullah saw. Adapula enam belas rakaat menurut madzhab Hanafi dengan bersumber dari beberapa hadits hasan.

Waktunya mulai matahari setinggi tombak sampai menjelang matahari bergeser ke barat.  

 

  1. Shalat Gerhana Matahari dan Bulan. Dari Abdullah ibnu Abbas ra berkata:

« انخسفت الشمس على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم فصلى، فقامَ قياماً طويلاً نحواً من قراءة سورة البقرة، ثم رَكع ركوعاً طويلاً، ثم رفع فقام قياماً طويلاً، وهو دون القيام الأول، ثم ركع ركوعاً طويلاً وهو دون الركوع الأول، ثم سَجد ثم قامَ قياماً طويلاً وهو دون القيام الأول، ثم رَكع ركوعاً طويلاً وهو دون الركوع الأول، ثم رفع فقام قِياماً طويلاً وهو دون القيام الأول، ثم رَكع ركوعاً طويلاً دون الركوع الأول، ثم رَفع رأسه ثم سَجد ثم انصرف وقد انجلتِ الشمس فخطب الناس ». متفقٌ عليه.

Terjadi gerhana matahari di masa Rasulullah saw, lalu Rasulullah shalat dengan berdiri lama sepanjang bacaan surah Al Baqarah, lalu ruku’ lama, lalu bangun dan beridiri lama tidak selama berdiri pertama, kemudian ruku’ kembali dengan lama tidak selama ruku’ pertama, lalu sujud. Kemudian bangun berdiri lama, tidak selama yang pertama, kemudian ruku’ lama tidak selama yang pertama, kemudian bangun dengan berdiri lama tidak selama yang perama, kemudian ruku’ lama tidak selama ruku’ pertaman, kemudian bangun ruku’, kemudian sujud dan ketika selesai shalat, matahari telah pulih kembali. Lalu berkhitbah di hadapan kaum muslimin. Muttafaq alaih. 

 

Para ulama telah bersepakat bahwa shalat gerhana itu hukumnya sunnah muakkadah (ditekankan) bagi semua laki-laki dan wanita, dilakukan dengan berjamaah. Seperti dalam hadits Al Mughirah bin Syu’bah ra berkata:

 «انكَسفت الشَّمس على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم مات إبراهيم - أي ابنه عليه السلام، مات في السنة العاشرة من الهجرة - فقال الناس: انكسفتِ الشمس لموت إبراهيم، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إنّ الشمس والقمر آيتان من آيات الله لا يَنكسفان لموتِ أحد ولا لحياتِه، فإذا رأيتموهما فادعوا الله وصلّوا حتى تنكشف ». متفقٌ عليه

Terjadi gerhana matahari di masa Rasulullah saw pada hari wafatnya Ibrahim (putra Rasulullah pada tahun sepuluh hijriyah) lalu orang-orang berkata: Gerhana matahari karena wafatanya Ibrahim. Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua ayat dari ayat-ayat Allah, tidak terjadi gerhana karena kematian seseorang atau kelahirannya. Maka jika kamu melihatnya berdoalah dan shalatlah sehingga terang kembali. Muttafaq alaih.

Shalat gerhana adalah dua rakaat setiap rakaat dua kali berdiri dan dua ruku’ seperti dalam hadits di atas.[23]  Disunnahkan pula memperpanjang berdiri dan ruku’. Waktunya sejak mulai gerhana matahari atau bulan, sampai selesai.

Khutbah sesudah shalat hukumnya adalah syarat menurut madzhab Syafi’iy, dan sunnah menurut Abu Hanifah dan Imam Malik setelah shalat gerhana matahari saja. Dengan dua kali khutbah. Membaca istighfar dalam kedua khutbah itu sebagai pengganti takbir (dalam shalat ied).

Diperbolehkan jahriyah dan sirriyah. Shalat jahriyah lebih shahih seperti yang dikatakan oleh Imam Al Bukhari. Dan ditekankan untuk dilakukan dengan jahriyah pada shalat gerhana bulan kaena terjadi di malam hari.

  1. Shalat Istikharah. Dari Jabir ra  berkata:

: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يُعلِّمنا الاستخارة في الأُمور كلها، كما يعلمنا السورة من القرآن، ويقول: «إذا هَمَّ أحدكم بالأمر، فليركع ركعتين من غَير الفريضة ثم ليقل:

اللَّهمَّ إني أَستَخيرُكَ بعلمك، وأستَقدِرُك بقُدرَتِك، وأسألك من فَضلِك العَظيم، فإنك تقدر ولا أقدر، وتَعلمُ ولا أعلم وأنت علّام الغيوب. اللَّهمَّ إن كنتَ تعلم أن هذا الأمر - ويسمي حاجته - خيرٌ لي في ديني ومَعاشي وعاقِبة أمري فاقدُره لي، ويَسِّره لي، ثم بارك لي فيه. وإن كنت تعلم أنّ هذا الأمر شَرٌ لي في ديني ومَعاشي وعاقبة أمري فاصرِفه عني، واصرفني عنه، واقدُر لي الخير حيثُ كان، ثمَّ رضني به». رواه الجماعة إلا مسلماً.

 

Rasulullah saw pernah mengajarkan kepada kami istikharah (memilih) dalam semua urusan sebagaimana mengajarkan bacaan surah dalam Al Qur’an. Dengan bersabda: “Jika salah seorang di antaramu bimbang atas sesuatu maka hendaklah ruku’ dengan dua rakaat, di luar shalat fardhu, kemudian berdoa: ”Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan dengan ilmu-Mu, dan meminta kemampuan dengan Kekuasaan-Mu, meminta dari anugerah-Mu yang besar, Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Kuasa dan aku tidak berdaya, Engkau Yang Maha Mengetahui dan aku tidak mengetahui, Engkaulah Yang Maha Mengetahui yang tersembunyi. Ya Allah, Engkau yang mengetahui jika urusan ini –menyebutkan urusannya- baik bagiku dalam agama, dunia dan akhir urusanku, maka tetapkan ia padaku dan mudahkan bagiku, lalu berkahilah aku dengannya. Dan Engkau yang mengetahui jika urusan ini buruk bagiku, dalam agama, dunia, dan akhir urusanku maka jauhkan ia dariku, jauhkan aku darinya, tetapkan bagiku apa yang ada, lalu ridhailah aku.  HR Al Jamaah, kecuali Imam Muslim.

  1. Shalat Taubat. Dari Abu Bakar ra berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda:

« مَا مِن رجلٍ يذنب ذَنباً ثم يقومُ فيتطهَّر، ثم يُصلي رَكعتين، ثم يستغفر الله إلّا غَفر له »، ثم قرأ هذه الآية:

Tidak ada seorangpun yang berbuat dosa kemudian ia bangun bersuci, lalu shalat dua rakaat, kemudian beristighfar kepada Allah pasti Allah akan mengampuninya. Lalu Rasulullah membaca ayat:  

وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُ ۗ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ ١٣٥ اُولٰۤىِٕكَ جَزَاۤؤُهُمْ مَّغْفِرَةٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَجَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا ۗ وَنِعْمَ اَجْرُ الْعٰمِلِيْنَۗ ١٣٦

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka Mengetahui.

Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan Itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal. QS. Ali Imran: 135-136

HR. Abu Daud, An Nasa’iy, Ibnu Majah, Al Baihaqi, dan At Tirmidziy yang menilainya hadits hasan.

  1. Shalat Istisqa; yaitu shalat untuk minta turun hujan dari Allah karena paceklik/kekeringan.

Shalat istisqa itu dua rakaat[24] tanpa adzan dan iqamat. Dilakukan di luar waktu yang dilarang shalat. Pada rakaat pertama imam membaca surah Al Fatihah dan surah Al A’la dengan jahriyah, dan pada rakaat kedua membaca Al fatihah dan Al Ghasyiyah. Kemudian berkhtbah dengan dua kali khutbah seperti khutbah ied. Menurut madzhab Hanbali dengan sekali khutbah dan berdoa[25].  Rasulullah membalik selendangnya yang semula di kanan ke kiri, dan yang semula di kiri ke kanan.

Bisa juga dengan doa dalam khutbah jum’at, seperti yang Rasulullah lakukan, dalam riwayat Asy Syaikhani dari Anas ra.

أن رجلاً دخل المسجد يوم الجمعة ورسول الله صلى الله عليه وسلم قائم يخطب، فقال: يا رسول الله، هلكَت الأموال وانقطعت السُّبُل، فادع الله يُغيثنا، فَرَفع رسول الله صلى الله عليه وسلم يَدَيه، ثم قال: « اللهمَّ أغِثْنا، اللهمّ أغِثْنَا... ».

Bahwa seseorang masuk masjik di hari jum’at saat Rasulullah sedang berdiri khutbah, orang itu berkata: Ya Rasulallah. Harta benda pada hancur dan perjalanan jadi terputus, maka berdoalah kepada Allah agar menurunkan hujan pada kami. Lalu Rasulullah mengangkat kedua tangannya dan berdoa: Ya Allah …

Bisa juga dengan berdoa saja selain hari jum’at, tanpa shalat di masjid atau lapangan. Seperti yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Majah, Al Baihaqi, Ibnu Abi Syaibah dan Al Hakim.

  1. Qiyamu Ramadhan/shalat tarawih; Rasulullah saw bersabda:

«من قام رَمضان إيماناً واحتساباً، غُفِر له ما تقدَّم من ذَنْبه» متفقٌ عليه

Barang siapa yang qiyamu Ramadhan dengan dengan iman dan mengharap Allah, maka Allah akan ampuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang. Muttafaq alaih

Qiyamu Ramadhan disebut tarawih karena mereka beristirahat setelah empat rakaat shalat. 

Shalat tarawih hukumnya sunnah muakkadah bagi laki-laki dan wanita di bulan Ramadhan. Waktunya sesudah shalat isya’ dan sebelum witir fajar. Tarwih dilakukan dengan dua rakaat-dua rakaat; sepetti dalam hadits :

«صَلاة اللَّيل مَثْنَى مَثْنى». متفقٌ عليه

Shalat malam itu dua-dua. Muttafaq alaih

Ditekankan delapan rakaat, seperti yang disebut dalam hadits-hadits shahih,[26] disunnahkan pula dua puluh rakaat seperti yang dilakukan oleh para shabat dan khulafaurrasyidin. Demikianlah madzhab Hanafi, Syafi;iy, Hanbali, dan jumhurul ulama. Disunnahkan dalam berjamaah. (lihat shalat tarawih dalam bab puasa di buku ini)

  1. Qiyamullail, yaitu bangun di tengah malam untuk shalat sunnah. Ia merupakan taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah yang paling besar. Allah swt telah memerintahkannya pada Nabi Muhammad saw, denngan ayat:

وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَافِلَةً لَّكَۖ عَسٰٓى اَنْ يَّبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا ٧٩

Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji. QS. Al Isra: 79

Allah memuji para hamba-Nya:

كَانُوْا قَلِيْلًا مِّنَ الَّيْلِ مَا يَهْجَعُوْنَ ١٧ وَبِالْاَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ ١٨

Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar. (QS. Adz Dzariyat: 17-18)

Waktunya sejak selesai shalat isya’sehingga terbit fajar, utamanya sepetiga malam terakhir, setelah bangun tidur, tidak ada batasan jumlah rakaat, bisa hanya dengan dua rakaat, atau sebelas rakaat seperti dalam riwayat Aisyah ra, dan tidak ada larangan lebih dari itu.

Di antara adabnya, adalah berniat sebelum tidur, memulai shalat dengan dua rakaat yang ringan (singkat), kemudian shalat sesuka hantinya. Sebaiknya membangunkan keluarga. Berhenti shalat ketika ngantuk. Tidak mempersulit diri sendiri –artinya berdiri shalat sesuai dengan kemampuan- berdoa dengan doa-dao ma’tsur dari Rasulullah saw. [27]

  1. Shalar Ied (fithri dan adha), hukumnya sunnah Muakkadah (ditekankan),[28] Rasulullah saw membiasakannya. Dan secara singkat hukum-hukumnya adalah sebagai berikut: 

-        dilakukan dengan dua rakaat berjamaah tanpa adzan dan iqamat, sebelum khutbah, seperti dalam hadits Jabir

: «شهدتُ مع رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم العيد فَبدأ بالصَّلاة قبل الخُطبة بلا أذان ولا إقامة، ثم قامَ مُتوكِّئاً على بِلال، فأمَر بتَقوى الله، وحثَّ على الطَّاعة، وَوَعظ النَّاس...» رواه مسلم

Aku menyaksikan shalat ied bersama Rasulullah saw  pada hari ied sebelum khutbah tanpa adzan dan iqamat, kemudia Rasulullah berdiri dengan didampingi Bilal, lalu memerintahkan bertaqwa kepada Allah, mendorong taat, dan memberi banyak nasehat....” HR Muslim.

-        Kaifiyahnya sama seperti shalat biasa, hanya saja pada rakaat pertama betakbir tujuh kali dengan mengangkat kedua tangan, dan pada rakaat kedua bertakbir lima kali sebelum membaca surah Al fatihah, seperti dalam hadits:

«التَّكبير في الفِطر سَبع في الأولى، وخَمسٌ في الأُخرى، والقِراءة بَعدهما كِلْتَيْهما» رواه التِّرمذي

Takbir dalam shalat iedul fitri adalah tujuh kali di rakaat pertama, dan lima kali di rakaat kedua, dan membaca (Al Fatihah+ surah lain) sesudahnya dalam dua rakaat itu. HR At Tirmidziy

Disunnahkan pula memisahkan antara takbir itu denga membaca :

سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر

Kemudian imam berkhutbah sesudah shalat dengan dua kali khutbah seperti khutbah jum’at.

-        Waktunya  sejak matahari naik sepenggalah (kira-kira enam meter) pada waktu iedul fitri dan tiga meter pada iedul adha, sampai matahari bergeser ke barat.

-        Shalat ied sah dikerjakan oleh laki-laki, wanita, anak-anak, musafir, atau mukim. Dan barang siapa yang ketinggalan berjamaah ia shalat munfarid. Dan menurut madzhab Hanafi, ia shalat empat rakaat tanpa tambahan takbir. Makruh shalat sunnah sebelumnya dan sesudahnya.[29] Karena Rasulullah saw tidak shalat sebelum dan sesudahnya. Seperti yang diriwayatkan oleh tujuh ulama hadits.

-        Disunnahkan bagi setiap muslim untuk mandi, bersiwak, memakai wewangian, memakai pakaian palign baik, menuju ke tempat shalat dari jalan yang berbeda dengan jalan pulangnya. Memperbanyak melantunkan takbir, yang bunyinya:

: الله أكبر الله أكبر لا إله إلّا الله، الله أكبر، الله أكبر، ولِلَّه الحمد

Sebagaimana disunnahkan makan kurma atau yang lainnya sebelum berangkat shalat iedul fitri.

13.  PEMBAHASAN LAIN-LAIN TENTANG SHALAT

Pertama: SHALAT BERJAMA’AH

 

A.    Fadhilah dan Hikmahnya

عَن عبد الله بن عُمر رضي الله عنهما، أنَّ رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «صلاةُ الجماعة أفضلُ من صَلاةِ الفَذِّ - أي الفَرد - بِسبعٍ وعِشرين دَرجة». متفق عليه

Dari Abdullah bin Umar ra, bahwasannya Rasulullah saw bersabda: Shalat berjamaah itu leih utama dari shalat sendiri dengan dua puluh tujuh derajat. Muttafaq alaiah.

  1. Fardhu Ain menurut Imam Ahmad bin Hanbal, Al Uza’iy, dan Zhahiriyah. Berdasarkan hadits imam muslim dari Abu Hurairah ra berkata:

: أتى النبيَّ صلى الله عليه وسلم رَجلٌ أعمى؛ قال: يا رَسول الله، لَيس لي قائِدٌ يَقودني إلى المسجد، وسأله أن يُرخِّص له، فَرخَّص له، فَلما وَلّى دَعاه فَقال: « هل تَسمَعُ النِّداء؟ » قال: نَعم، قال: «فَأجِب

Seorang lelaki buta menemui Rasulullah saw dan berkata: Ya Rasulallah saya tidak memiliki penuntun yang bisa menuntunku ke masjid” ia meminta keringanan kepada Rasulullah saw, lalu Rasulullah memberinya keringanan. Kemudian ketika orang itu kembali, Rasulullah memanggilnya dan bertanya: “Apakah kamu masih mendengar panggilan adzan?” ia menjawab: Ya. Sabda Nabi: Kalau begitu, maka penuhilah panggilan itu!.

Perintah untuk memenuhi panggilan itu adalah datang ke masjid shalat berjamaah. Juga terdapat hadits lain. Dari Abu Hurairah ra  bahwasannya Rasulullah saw bersbda:

«إنَّ أثقل الصلاة على المنافقين صَلاة العشاء وصَلاة الفَجر، ولو يَعلمون ما فيهما لأَتَوهُما حَبواً، ولَقد هَممت أن آمُر بالصَّلاة فَتُقَام، ثم آمر رَجلاً أن يصلي بالنّاس، ثم أنطلق مَعي برجال مَعهم حُزَم من حَطب إلى قَوم لا يَشْهدون الصَّلاة فأُحَرِّق عَليهم بُيوتَهم بالنّار». متَّفق عليه.

 

Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat isya’ dan shubuh. Jika seandainya mereka mengetahui isinya tentu mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak. Dan sesungguhnya aku pernah merencanakan untuk memerintahkan shalat, lalu aku menyuruh seseorang mengimaminya, kemudian aku pergi bersama beberapa orang dengan membawa kayu bakar, mendatangi orang-orang yang tidak dataang shalat berjamaah kemudian aku bakar rumahnya. Hadits Muttafaq alaih.

  1. Fardhu kifayah menurut jumhurul ulama, yang terdiri dari para Ulama pendahulu madzhab Syafi’iy, mayoritas madzhab Hanafi dan Maliki. Merujuk kepada dalil-dalil di atas yang menjadi dalil ulama yang menyatakannya fardhu ain, dengan mengalihkan makna wajib ke wajib kifayah.
  2. Sunnah Muakkadah  menurut imam Abu Hanifah dan dua orang muridnya, Zaid bin Ali dan Al Muayyid Billah. Dan shah shalat tanpa berjamaah. Dan jika satu kota meninggalkannya tanpa udzur mereka diperintahkan untuk melaksanakannya jika mereka mau, jika menolak maka mereka diperangi. Karena berjamaah adalah salah satu syiar Islam, dan karakterstik agama ini. Dalil untuk menyatakan sunnah itu antara lain:

(صلاة الجماعة أفضل من صلاة الفذ بسبع وعشرين درجة)

Shalat jamaah itu lebih utama dari pada shalat sendiri an dengan duapuluh tujuh derajat.

Jika shalat sendir itu tidak sah, maka ia tidak akan memiliki keutamaan sedikitpun. Mereka menjawab hadits-hadist di atas sebagai hadits untuk mengancam, bukan dipraktekkan, seperti yang dilakukan Rasulullah saw. 

 Hukum-hukumnya

  1. Sunnahnya berjamaah adalah di masjid. Sehingga menampilkan syiar Islam dan jumlah umat yang banyak. Dan utamanya bagi wanita shalat di rumahnya, meskipun tidak dilarang ke masjid, menghadiri shalat berjamaah.
  2. Disunnahkan shalat berjamaah itu juga dalam shalat yang diqadha, minimal ada imam dan makmum
  3. Disunnahkan agar wanita terpisah dari laki-laki. Salah satunya menjadi imam (menurut madzhab Syafi’iy dan Hanbali. Makruh wanita menjadi imam bagi wanita menurut madzhab Hanafi. Tidak boleh wanita menjadi imam bagi wanita menurut imam Malik, dan wanita berdiri di tengah shaff.
  4. Syarat sahnya laki-laki menjadi imam adalah: Islam, baligh, berkal, mampu membaca Al Qur’an, dan bebas dari udzur. [30]
  5. Orang yang paling berhak menjadi selain tuan rumah atau pejabat adalah: orang yang paling berilmu, kemudian yang paling banyak hafalan, yang paling wara’ (hati-hati dari perbuatan dosa, kemudian yang paling tua usianya.
  6. Seorang makmum berdiri di sisi kanan imam, jika lebih dari satu maka berdiri di belakang imam. Dimulai dari shaf orang dewasa, kemudian shaf anak-anak, kemudian shaf wanita. Sedangkan jika anak kecil sudah ada di shaf depan maka tidak boleh ditarik ke belakang. [31]   
  7. Sebaiknya imam memperingan shalat, tidak melebihi standar sunnah dalam bacaan shalat.
  8. Tidak sah orang yang shalat fardhu makmum kepada orang yang shalat sunnah menurut madzhab  Hanafi dan Jumhurul Ulama. Tetapi sah menurut madzhab imam Syafi’iy. Jika ada seorang muslim shalat sunnah kemudian ada orang makmum di belakangnya untuk shalat fardhu dan tahu bahwa orang yang di depannya itu shalat sunnah, maka sah shalatnya menurut madzhab Syafi’iy dan tidak sah menurut madzhab Hanafiy.
  9. Tidak sah seorang shalat fardhu makmum di belakang orang yang shalat fardhu lainnya, jika makmum mengetahui hal itu. Demikian juga tidak sah orang yang makmum melaksanaan shalat fardhunya tepat waktu, dengan imam yang mengqadha shalat fardhu. Tetapi madzhab Syafi’iy memperbolehkan semua ini.
  10. Makmum wajib mengikuti imam, dan haram mendahuluinya, sedang bersamaan hukumnya makruh.
  11. Makmum diperbolehkan mufaraqah (memisahkan diri) dari imam, yaitu dengan keluar dari shalatnya imam dan menyempurnakan shalatnya sendiri jika ada udzur. Seperti yang dilakukan sahabat ketika Mu’adz yang menjadi imam membaca surah Al Baqarah dalam shalatnya.  (HR. Al Jamaah)
  12. Disunnahkan bagi orang yang telah shalat munfarid, untuk mengulangi shalatnya dengan berjamaah, dan shalat munfaridnya menjadi shalat sunnah
  13. Disunnahkan bagi imam, setelah shalat dan salam untuk menengok ke kanan dan kiri, kemudian berpindah dari tempat shalatnya
  14. Makmum diperbolehkan mengikuti imam meskipun di antara keduanya ada sekat, jika makmum mengetahui pergerakan imam lewat pendengaran atau penglihatan, dengan syarat shafnya bersambung. Sehingga tidak sah shalat dengan siaran radio atau televisi
  15. Jika seorang imam mengalami sesuatu yang tidak bisa meneruskan shalatnya maka digantikan orang lain untuk menyempurnakan shalatnya dengan makmum yang ada.
  16. Makruh seorang imam mengimami kaum yang tidak menyukainya.
  17. Tidak sah orang yang shalat sendirian di belakang shaf, seharusnya ia menarik salah satu dari jamaah yang ada di depannya untuk shalat bersamanya. Seperti dalam hadits Wabishah:

«أن رسول الله صلى الله عليه وسلم رأى رَجلاً يصلي خلف الصف وَحده، فأمَره أن يُعِيد الصلاة»، رواه الخمسة إلّا النَّس

Bahwasannya Rasulullah saw melihat seseorang yang shalat sendirian di belakang shaf, lalu menyuruhnya untuk mengulang shalat. HR. Al Khamsah, kecuali An Nasa’iy.

Dan sah shalat wanita yang sendirian di belakang shaf pria. Dan tidak boleh baginya ia berdiri sejajar dengan pria dalam satu shaf.

 Menghadiri shalat berjamaah menjadi tidak wajib karena hujan, sangat dingin,  ketakutan, tertahan, sakit, atau lanjut usia, atau udzur-udzur lainnya yang disebutkan oleh para ulama untuk tidak memberatkan bagi kaum muslimin. Rasulullah saw pernah menyuruh muadzin untuk menyerukan: (صلوا في رحالكم)

Shalatlah di kendaraan kalian masing-masing; ketika malam sangat dingin, di malam saat turun hujan waktu musafir. HR As Syaikhani. Udzur-udzur yang lain diqiaskan dengan yang tersebut di atas.

  1. Ketika seorang yang masbuq (keduluan imam) di sebagian shalatnya, maka ia menyempurnakan sisa shalatnya itu setelah salam imam. Ia mengqadha awal shalatnya dalam hal bacaan, dan akhirnya dalam hal tasyahhud. Misalnya jika seseorang hanya mendapati rakaat terakhir imam dalam shalat maghrib maka ia mengqadha dua rakaat, dengan membaca Al Fatihah dan surah lainnya di setiap rakaat, karena ia mengqadha dua rakaat pertama dan kedua dilihat dari bacaan; dan duduk di rakaat pertama itu dengan bertasyahhud karena sesungguhnya itu rakaat kedua baginya, sehingga ia shalat maghrib dengan tiga kali duduk.
  2. Seseorang tidak disebut masbuq rakaat dengan imam, kecuali jika mendapati imamnya telah mengangkat kepala, bangun ruku’.

Kedua: SHALAT MUSAFIR

Allah swt berfirman:

وَاِذَا ضَرَبْتُمْ فِى الْاَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَنْ تَقْصُرُوْا مِنَ الصَّلٰوةِ ۖ اِنْ خِفْتُمْ اَنْ يَّفْتِنَكُمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْاۗ اِنَّ الْكٰفِرِيْنَ كَانُوْا لَكُمْ عَدُوًّا مُّبِيْنًا ١٠١

Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, Maka tidaklah Mengapa kamu men-qashar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. QS. An Nisa: 101

قال يعَلى بن أُمية: قلت لعمر بن الخطاب: أرأيتَ إقصار الناس الصلاةَ وإنما قال عزّ وجلّ:

{ إنْ خِفتم أن يَفتِنَكم الذين كَفروا } فقد ذهب ذلك اليوم. قال عُمر: عجبتُ مما عجبتَ منه، فذكرتُ ذلك لِرسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: « صَدقة تصدَّق الله بِها عَليكم فاقبَلوا صَدَقته »، رواه الجماعة

Ya’la bin Umayyah berkata: akubertanya kepada Umar bin Khaththab: Bagaimana pendapatmu tentang mengqashar shalat, padahal Allah swt berfirman:

اِنْ خِفْتُمْ اَنْ يَّفْتِنَكُمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْاۗ

Jika kamu takut diserang orang-orang kafir... . Dan sekarang hal itu tidak ada. Umar berkata: Aku heran dari apa yang kau herankan. Lalu aku sampaikan hal itu kepada Rasulullah saw yang bersabda: Itu adalah shadaqah Allah kepada kalian maka terimalah shadaqahnya. HR. Al Jamaah.

-        Menurut madzhab Hanafi, mengqashar shalat adalah ‘Azimah (hukum tetap), dan shalat sempurna hukumnya makruh berbeda dengan sunnah, tetapi tetap sah shalatnya; dan dua rakaat akhir dianggap sebagai shalat sunnah, dan tasyahhud awal menjadi wajib, jika ditinggalkan batal shalatnya.

-        Menurut madzhab Syafi’iy; qashar shalat adalah rukhshah (kemudahan), tetapi tidak dimakruhkan shalat sempurna yang berstatus Azimah, dan itu yang utama, jika safarnya belum sampai tiga marhalah, dan jika sudah melewatinya maka yang utama mengqashar shalat.

-        Para ulama berbeda pendapat tentang jarak safar yang diperbolehkan qashar shalat. Menurut madzhab Maliki, Syafi;iy, dan Hanbali sejauh kurang lebih 90 km (sembilan puluh kilo meter).[32]

-        Para ulama juga berbeda pendapat tentang lama safar. Empat hari menurut jumhurul ulama,[33] lima belas hari menurut madzhab Hanafiy, jika niat mukim melebihi batas itu dihitung mukim, dan tidak boleh mengkoshor shalat. Sedang jika ia tidak tahu berapa lama ia mukim, dan setiap hari menyatakan : BESOK MAU JALAN kemudian ia terpaksa harus menetap, maka dihitung musafir, mengqoshor shalat meskipun lama di situ. Demikianlah madzhab Hanafi dan salah satu pendapat madzhab Syafi’iy, yang merupakan amalah mayoritas sahabat.  Pendapat lain madzhab Syafi’iy jika lebih dari delapan belas hari dianggap muqim, dan tidak mengqashar apapun keadaannya.

-        Syarat untuk mengambil rukhshah qashar shalat agar keluar dari tempat tinggalnya, dan terus mengqashar sampai ia pulang ke negerinya.

-        Mengqashar shalat empat rakaat menjadi dua rakaat. Orang mukim boleh makmum kepada musafir, ketika musafir telah salam, yang mukim meneruskan, sebagaimana msafir yang shalat empat rakaat makmum kepada orang mukim. 

-        Diperbolehkan shalat sunnah di atas kendaraan, kapal, mobil, kereta, atau pesawat. Dan bagi yang mau shalat harus menghadap kiblat jika mampu. Dan gugur darinya beberapa rukun shalat dan kewajibannya yang tidak mungkin dilaksanakan, seperti cukup dengan isyarat membungkuk dengan kepala untuk ruku’ dan sujud. Menundukkan kepala ketika sujud lebih rendah daripada ruku’nya. Hal ini telah disepakati oleh para ulama fiqh, berdasar hadits Amir bin Rabi’ah ra berkata:

(رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو على راحلته يسبِّحُ يومئُ برأسِهِ قِبَلَ أي وجهةٍ توجه، ولم يكن يصنع ذلك في الصلاة المكتوبة)، متفق عليه.

 

Aku melihat Rasulullah saw di atas kendaraannya bertasbih dengan menundukkan kepalanya, menghadap ke mana saja, dan hal ini tidak pernah dilakukan di shalat fardhu. Muttafaq alaih. 



[1] Hujjah Imam Syafi;I adalah hadits Ibnu Mas’ud, Bahwa Rasulullah saw shalat shubuh pertama di awal waktu, lalu shalat hari berikutnya di akhir waktu, kemudian shalat Rasulullah pada saat masih gelap setelah itu sampai wafat. HR Al Baihaqi, dengan sanad shahih. Juga hadits Aisyah ra: “Bahwasannya para wanita mukminah kembali ke rumahnya setelah shalat shubuh bersama Nabi Muhammad saw, mereka tidak dapat dikenali karnea masih gelap. HR Al Jama’ah

[2] dalil madzhab Hanafi adalah hadits: Akhirkan shalat fajar, sesungguhnya ia lebih besar pahalanya.” HR Al Khamsah dan disahihkan oleh At Tirmidziy

[3] Adalah Rasulullah jika di saat sangat dingin mensegerakan shalat dan jika di waktu sangat pamas menunda sehingga agak dingin ketika shalat

[4] Hadits Rafi’ bin Khudaij: Kami shalat maghrib bersama Rasulullah saw, ketika selesai shalat di antara kami masih melihat letak sandalnya. HR Muslim.

[5] hadits yang menyatakan: Barang siapa adzan dia yang qamat, adalah dhaif

[6] Membaca surah Al Fatihah hukumnya wajib bagi imam atau munfarid (shalat sendirian) menurut kesepakatan Ulama. Sedang ma’mum, hukum membaca Al Fatihah adalah wajib menurut madzhab Syafi’iy, makruh menurut madzhab Hanafiy, karena firman Allah:

وَاِذَا قُرِئَ الْقُرْاٰنُ فَاسْتَمِعُوْا لَهٗ وَاَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ ٢٠٤

Dan apabila dibacakan Al Quran, Maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.QS. Al A’raf: 204

Sedangkan menurut madzhab Malikiy dan Hanbali, maka ma’mum wajib membaca Al Fatihah dalam shalat sirriyah (tidak bersuara) dan mendengarkan dalam shalat jahriyah. Makmum sebaiknya membacanya saat imam diam (antara dua bacaan).

[7] Minimal berbunyi:

اللهم صلِّ علىمحمد

Dan yang sempurna adalah:

( اللهم صل على محمد وعلى آل محمدٍ ، كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم ، وبارك على محمد وعلى آل محمد ، كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم ، في العالمين ، إنك حميدُ مجيد )

Hukumnya sunnah menurut madzhab Hanafiy, dan tidak termasuk dalam rukun shalat.

[8] Ini menurut madzhab Maliki, sedang menurut madzhab Syafi’iy mewajibkan membaca Al Fatihah setiap rakaat di belakang imam. Sedang madzhab Hanafi melerang membaca di belakang imam, baik dalam shalat jahriyah mauoun sirriyah.

[9] Batal menurut madzhab Syafii

[10] Kencing dan buang air besar

[11] Karena sabda Nabi Muhammad saw:

( الجمعة حق واجب على كل مسلم في جماعة إلا أربعة : عبد مملوك أو امرأة أو صبي أو مريض ) رواه أبو داود ، وقال النووي صحيح على شرط مسلم .

Jum’atan adalah kewajiban atas setiap muslim dengan berjamaah, kecuali empat orang yaitu: hamba sahaya, wanita, anak kecil, orang yang sedang sakit. HR Abu Daud, An Nawawiy berkata: Shahih menurut syarat Imam Muslim.

[12] Karena jawaban Nabi Muhammad saw yang ditanya : : ما العذر ؟ ( خوف أو مرض ) رواه أبو داود بسند صحيح .

Apa udzur itu? Jawabnya: ketakutan dan sakit. HR. Abu Daud dengan sanad shahih

[13] Menurut imam Ahmad bin Hanbal, dari waktu shalat ied/waktu dhuha, seperti dalam hadits Jabir, bahwa  Rasulullah pernah shalat jum’at, kemudian kami pergi ke onta kami, mengistirahatkan mereka pada saat mathari bergeser. HR Ahmad, Muslim, An Nasa’iy, dan yang utama dilaksanakan setelah matahari bergeser. Dan menurut madzhab Malikiy, waktu jum;at itu sampai waktu maghrib.

[14] Menurut madzhab Malikiy, khutbah harus berbahasa Arab, dan jika tidak ada orang yang mampu, maka tidak wajib jum’atan.

[15] Madzhab Syafi’iy dan Hanbali memperbolehkan shalat ghaib, seperti shalat Rasulullah atas An Najasyi, ketika mendengar berita kematiannya. HR. Al Jamaah

[16] Sebab jenazah syuhada tidak dimandikan dan tidak dishalatkan. Dan menurut madzhab Hanafi, syuhada tidak dimandikan tetapi wajib dishalatkan, meruju kepada Rasulullah yang mensholati syuhada Uhud, seperti yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi. Syahid yang dimaksud di sini adalah syahid di medan perang

[17] Inilah madzhab Hanafi, yang shalat witirnya seperti shalat maghrib.

[18] وهو : اللهم إنا نستعينك ونستهديك ونستغفرك ونتوب إليك ونؤمن بك ، ونتوكل عليك ، ونُثني عليك الخير كله ، نشكرك ولا نكفُرك ، ونخلع ونَترك من يفجُرك ، اللهم إياك نعبد ، ولك نصلِّي ونسجد ، وإليك نسعى ونحفِد ، نرجو رحمتك ونخشى عذابك ، إنَّ عذابك الجد بالكفَّار مُلحَق ( الجد : ضد الهزل وتأتي بمعنى العظيم

Ya Allah sesungguhnya kami mohon pertolongan-Mu, meminta petunjuk-Mu, meminta ampunan-Mu, bertaubat kepada-Mu, beriman dengan-Mu, berserah diri atas-Mu, memuji-Mu dengan seluruh kabaikan, bersyukur kepada-Mu, tidak mengingkari-Mu. Kami mencabut,meninggalkan orang-orang yang mendurhakai-Mu, Ya Allah, hanya kepada-Mu kami menyembar, dan hanya karena-Mu kami shalat dan sujur. Hanya kepada-Mu kami berusaha bergegas, kami mengharap rahmat-Mu, kami takut adzab-Mu, sesungguhnya adzab-Mu atas orang kafir pasti akan mengena.

[19] Hadits Aisyah ra:

" كان النبي r يُصلي في بيتي قبل الظهر أربعاً ، ثم يخرج فيصلي بالناس ، ثم يدخل فيصلي ركعتين . . . " . رواه مسلم وتؤيده أحاديث البخاري

Bahwa Nabi Muhammad saw shalat di rumahku empat rakaat sebelum zhuhur, kemudian keluar shalat dengan kaum muslimin, lalu masuk kembali dan shalat dua rakaat…HR. Muslim, dikuatkan oleh hadits Al Bukhariy

[20] Inilah standar yang ditekankan dalam sunnah zhuhur, karena hadits Abdullah ibnu Umar:

( حفظت عن النبي r عشر ركعات : ركعتين قبل الظهر وركعتين بعدها ، وركعتين بعد المغرب في بيته ، وركعتين بعد العشاء في بيته ، وركعتين قبل الصبح ) رواه البخاري وأحمد بسند جيد

Aku menghafal dari Nabi saw sepuluh rakaat: dua rakaat sebelum zhuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah maghrib di rumahnya, dua rakaat sesudah isya di rumahnya, dua rakaat sebelum shubuh. HR Al Bukhari, dan Ahmad dengan sanad shahih.

[21] Karena sabda Rasulullah saw:    " من صلّى أربعاً قبل الظهر وأربعاً بعدها حرم الله لحمه على النار " رواه الخمسة

Barang siapa shalat empat rakaat sebelum zhuhur dan empat rakaat sesudahnya Allah haramkan dagingnya dari api neraka. HR Lima perawi hadits. 

([22])         السُّلامى : عِظام الأصابع في اليد والقدم .

[23] Menurut madzhab Hanafi, bahwa shalat gerhana itu hanya dengan satu kali berdiri di setiap rakaat, sebagaimana shlat sunnah lainnya, karena ada hadits yang meriwayatkannya. Hal ini disetujui oleh madzhab Maliki dalam shalat gerhana bulan

[24] Menurut madzhab Syafi’iy, disunnahkan bertakbir dalam shalat itu sebagaimana takbr di shalat ied, seperti dalam hadits riwayat Ad Daru Quthniy dari Ibnu Abbad, dinilai dhaif seperti yang tercantum dalam Al Majmu’.

[25] Di antara doa ma’tsurnya adalah:

: " اللهم اسقنا غيثاً مغيثاً مريعاً غدقاً مجللاً عامَّاً طبقاً سَحّاً دائماً . اللهم اسقنا الغيث ولا تجعلنا من القانطين ، اللهم إن بالعباد والبلاد والبهائم والخلق من اللأواء ( أي التعب ) والجهد والذَّنك ما لا نشكوه إلا إليك . اللهم أنبت لنا الزرع ، وأدرّ لنا الضّ‍رع ، واسقنا من بركات السماء ، وأنبت لنا من بركات الأرض ، اللهم ارفع عنا الجهد والجوع والعُرى ، واكشف عنا من البلاء ما لا يكشفه غيرك . اللهمَّ إنا نستغفرك إنك كنت غفاراً ، فأرسل السماء علينا مدراراً " . قال الشافعي : وأحب أن يدعو الإمام بهذا .

              ( مربعاً : أي يخصب الأرض ) (غدقاً : كثير الماء ) مُجلِّلاِّ : يعم نفعه البلاد ) ( طبقاً : يكون المطر على البلاد كالطبق يغطيها ) ، ( سَحّاً : شديد الوقع على الأرض ) .

 

 

[26] Di antaranya hadits Aisyah ra;

( ما كان رسول الله r يزيد في رمضان ولا في غيره على إحدى عشرة ركعة ) متفق عليه .

Rasulullah saw tidak pernah lebih dari sebelas rakaat di bulan Ramadhan atau di luar Ramadhan. Muttafaq alaih

[27] " اللهم لك الحمد ، أنت نور السماوات والأرض ومن فيهن ولك الحمد ، أنت قَيِّم السَّماوات والأرض ومن فيهن ولك الحمد ، أنت الحق ، ووعدُك الحق ولقاؤك حق ، والجنة حق ، والنارُ حق ، والنبيون حق ، ومُحمد حق ، والساعة حق ، اللهم لك أسلمت ،وبك آمنت ، وعليك توكلتُ ، وإليك أنبتُ ، وبك خاصمت ، وإليك حاكمت ، فاغفر لي ما قدمت وما أخرت وما أسررت وما أعلنتُ ، أنت الله لا إله إلا أنت " .

 

[28] Menurut madzhab Maliki dan Syafi;iy. Madzhab Hanafi menyatakan hukumnya wajib. Madzhab Hanbali menngatakan hukumnya fardhu kifayah bagi setiap orang yang wajib shalat jum’at. 

[29] Menurut madzhab Syafi’iy tidak makruh shalat sunnah sebelum dan sesudahnya ketika matahari sudah meninggi bagi selain imam.

[30] Seperti mengalami penyakit beser kencing.

[31] Menurut madzhab Maliki makmum dianggap sah shalatnya meskipun di depan imam

[32] Jarak safar menurut madzhab Maliki, Syafi’iy dan Hanbali adalah empat pos, dan satu pos = empat farsah, satu farsah=tiga mil, maka kira-kira 90 km. seperti yang dibuktikan oleh Sayyid Ahmad Al Husaini dalam bukunya “ Zadul Musafir/Bekal orang bepergian”

Sedangkan menurut madzhab Hanafi; jarak safar itu diukur dengan waktu, yaitu tig ahari,

Dalil madzhab Maliki, Syafi’iy dan Hanbali, adalah riwayat Imam Malik, bahwa Abdullah bin Abbas mengqashar shalat dalam perjalanan antara Makkah dan Thaif, jarak ini seperti Makkah dan Asfan, Makkah dan Jeddah. Imam Malik berkata: itu kira-kira empat pos.

Demikian juga seperti yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari: Bahwa Abdullah bin Umar ra dan Abdullah ibn Abbas keduanya mengqashar shalat dan ifthar dalam jarak empat pos.

Sedangkan dalil madzhab Hanafiy adalah riwayat Al Bukhari:

Tidak halal bagi wanita beriman kepada Allah dan hari akhir melakukan safar sejauh tiga hari kecuali bersama dengan mahram, dan yang kurang dari tiga hari tidak dianggap safar.

Seperti dalam hadits Ya’la bin Murah: Bahwasannya Rasulullah saw bersama dengan para sahabat sampai ke Mudhayyaq, masih di atas kendaraannya, dalam keadaan hujan, tanah becek, datang waktu shalat, lalu menyuruh muadzdzin mengumandangkan adzan dan iqamat, kemudian Rasulullah maju ke depan dengan tetap menaiki kendaraannya, di depan para sahabat, lalu shalat bersama mereka –menjadi imam- dengan isyarat membungkuk sujud lebih rendah daripada ruku’. HR Ahmad, At Tirmidzi, An Nasa’iy, dan Ad Daru Quthniy.  

[33] Menurut madzhab Syafi’iy jika ia berniat mukim lebih dari tiga hari, ia menjadi orang mukim. Dan kurang dari empat hari dihitung musafir. Hari bearngkat dan pulang tidak dihitung.

Hukum Shalat