Makna Etimologis (Bahasa) dari An-Nazhar, At-Tabashshur, dan At-Tafakkur
1.
Makna An-Nazhar (النظر) secara Bahasa:
An-Nazhar
secara bahasa adalah:
Nama
bagi indra mata, dan bentuk masdar (kata benda abstrak) dari ucapan mereka: Nazharahu
(ia melihatnya) atau Nazhara ilaihi (ia memandangnya) dengan makna: memperhatikannya
dengan matanya.
Dikatakan
pula: Nazhara lahum (نَظَرَ
لَهُمْ) yang bermakna ia merasa iba kepada mereka dan menolong mereka.
Sedangkan Nazhara bainahum (نَظَرَ بينهم) bermakna ia menghakimi/memutuskan perkara
di antara mereka. ([1])
Adapun
firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
"Wajah-wajah
(orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannya mereka
melihat." (QS. Al-Qiyamah: 22-23).
Maksudnya
adalah wajah-wajah tersebut menjadi indah/berseri karena kenikmatan surga dan
(karena) melihat kepada Tuhannya. ([2])
An-Nazhar
bisa ditujukan pada objek fisik (ajsam) maupun makna-makna abstrak (ma’ani).
Apa yang dilakukan dengan penglihatan mata (al-ibshar) maka itu untuk
objek fisik, dan apa yang dilakukan dengan mata batin (al-bashair) maka
itu untuk makna-makna abstrak. ([3])
Adapun
firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
"Dan
kamu melihat mereka memandang kepadamu, padahal mereka tidak melihat."
(QS. Al-A'raf: 198).
Makna
An-Nazhar di sini—sebagaimana dikatakan oleh Al-Qurtubi—adalah membuka
kedua mata ke arah objek yang dipandang. Yakni, engkau melihat mereka
(berhala-berhala itu) seolah-olah memandang kepadamu. Ada pula yang berpendapat
bahwa yang dimaksud adalah kaum musyrik; Allah mengabarkan bahwa mereka tidak
melihat karena mereka tidak mengambil manfaat dari penglihatan mereka. ([4])
Pemilik
kitab Al-Bashair berkata: Penggunaan kata An-Nazhar untuk
penglihatan mata lebih banyak digunakan di kalangan orang awam (al-'ammah),
sedangkan untuk mata batin digunakan di kalangan orang-orang khusus (al-khassah).
Dikatakan:
Nazhartu ila kadza (aku melihat kepada anu) jika engkau mengarahkan
pandangan mata ke arahnya, baik engkau melihatnya (secara jelas) atau tidak.
Dan Nazhartu ilaihi (aku memandangnya): jika engkau melihatnya dan
merenungkannya. Di antaranya adalah firman Allah Ta'ala:
"Maka
apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan?" (QS.
Al-Ghashiyah: 17).
Adapun
ucapan mereka: Nazhartu fi kadza (aku meneliti dalam hal anu), maka
maknanya adalah aku merenungkannya (ta’ammultuhu), sebagaimana dalam
firman Allah Ta'ala:
"Dan
apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi..." (QS.
Al-A'raf: 185).
Karena
yang dimaksud di sini adalah dorongan untuk merenungi hikmah Allah dalam
penciptaannya. An-Nazhar juga bermakna: Menunggu (al-intizhar),
di antaranya firman Allah Ta'ala:
"Tunggulah
kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu." (QS.
Al-Hadid: 13).
An-Nazhar
juga digunakan untuk kondisi kebingungan dalam suatu urusan, seperti firman
Allah Ta'ala:
"...lalu
kamu disambar petir, sedang kamu melihatnya (dalam keadaan
bingung/terpaku)." (QS. Al-Baqarah: 55).
An-Nazhar
juga bermakna: Penelitian/Pembahasan (al-bahts), dan ini lebih
umum daripada Qiyas (analogi), karena setiap qiyas adalah nazhar,
namun tidak setiap nazhar adalah qiyas.
2.
Makna At-Tabashshur (التَّبَصُّرُ) secara Bahasa:
At-Tabashshur
secara bahasa adalah masdar dari ucapan mereka: Tabashshara asy-syai’a
jika seseorang melihat sesuatu untuk mengetahui apakah ia mengenalinya? Kata
ini diambil dari materi (ب ص ر
/ b-sh-r) yang menunjukkan pengetahuan tentang sesuatu. Maknanya adalah: perenungan
dan pengenalan.
Adapun
At-Tabshir (التَّبْصير)
adalah pemberitahuan dan penjelasan. Dikatakan: Bashsharahu bil amri (ia
memberitahunya tentang urusan itu) secara tabshiran dan tabshiratan
yang artinya ia membuatnya paham.
Al-Bashirah
(البصيرة): Keyakinan hati. Ada
yang berpendapat itu adalah sebutan bagi apa yang diyakini di dalam hati berupa
agama dan pembuktian perkara. Ada yang berpendapat: kecerdasan (fathanah).
Ada pula yang berpendapat: keteguhan dalam agama.
Ucapan
mereka: "Melakukan hal itu atas dasar bashirah" artinya dengan
sengaja. "Tanpa bashirah" artinya tanpa keyakinan. Dikatakan
pula: Tabashshara fi ra’yihi dan Istabshara: ia menjadi jelas
baginya apa yang akan mendatanginya berupa kebaikan dan keburukan.
Adapun
ucapan: Istabshara fi amrihi wa dinihi artinya: ia memiliki mata batin (bashirah).
Mengenai firman Allah (tentang kaum 'Ad dan Tsamud):
"Padahal
mereka adalah orang-orang yang berpandangan tajam (mustabshirin)."
(QS. Al-Ankabut: 38).
Maknanya
adalah: mereka melakukan apa yang mereka lakukan padahal telah jelas bagi
mereka bahwa kesudahannya adalah azab bagi mereka. ([5])
Al-Fairuzabadi
berkata: Al-Bashirah adalah kekuatan hati yang menangkap/mempersepsi
sesuatu, dan disebut juga sebagai Bashar (penglihatan). Firman Allah
'Azza wa Jalla:
"Katakanlah:
'Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu)
kepada Allah dengan bashirah'." (QS. Yusuf: 108).
Maknanya
adalah: atas dasar pengetahuan dan pembuktian yang nyata. Adapun firman-Nya:
"Bahkan
manusia itu menjadi saksi (bashirah) atas dirinya sendiri." (QS.
Al-Qiyamah: 14).
Maknanya
adalah: atas dirinya ada saksi dari anggota tubuhnya yang melihatnya dan
bersaksi atasnya pada hari kiamat. Ada yang berpendapat huruf ha' (yakni
ta' marbuthah) pada kata bashirah adalah untuk mubalaghah
(hiperbola/penekanan), maknanya adalah bahwa manusia itu sangat melihat atas
dirinya sendiri hingga mencapai puncaknya. ([6])
Al-Qurtubi
berkata: Bentuk feminin (ta’nits) pada kata bashirah muncul
karena yang dimaksud dengan "manusia" di sini adalah anggota-anggota
tubuhnya, karena merekalah yang bersaksi atas diri manusia itu sendiri.
Seolah-olah dikatakan: "Bahkan anggota-anggota tubuh adalah saksi (bashirah)
atas diri manusia." ([7])
Materi
Kata Al-Bashar (Penglihatan) dalam Al-Qur'anul Karim:
Ibnu
al-Jauzi menyebutkan bahwa sebagian ahli tafsir menyatakan bahwa kata Al-Bashar
([8]) dalam Al-Qur'an memiliki empat aspek (makna):
- Penglihatan dengan Hati (Al-Bashar
bil Qalbi): Di antaranya firman Allah Ta'ala: "Dan kamu
melihat mereka memandang kepadamu, padahal mereka tidak melihat."
(QS. Al-A'raf: 198). ([9])
- Penglihatan dengan Mata (Al-Bashar
bil 'Aini): Di antaranya firman Allah Ta'ala: "Maka
penglihatanmu pada hari ini sangat tajam." (QS. Qaf: 22).
- Penglihatan dengan Hujjah
(Argumentasi): Di antaranya firman Allah Ta'ala: "Mengapa
Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah
seorang yang melihat?" (QS. Thaha: 125).
- Penglihatan sebagai I'tibar
(Mengambil Pelajaran): Di antaranya firman Allah Ta'ala: "Dan
(juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?"
(QS. Adh-Dzariyat: 21). Yakni: mengambil pelajaran (ta'tabirun).
Sebagian ulama memasukkan aspek ini ke dalam jenis pertama, yaitu
penglihatan dengan hati.
Catatan
Kaki (Referensi):
- ([1]) Al-Qamus Al-Muhith
hal. 663 (Cetakan Beirut).
- ([2]) Ibnu Manzhur menukil
di bagian ini dari Al-Azhari yang berkata: "Tidak ada dasar bagi
orang yang mengatakan bahwa makna 'nazhar' di sini adalah menunggu
(intizhar), karena fi'il 'nazhara' jika bertemu dengan huruf jar 'ila'
maka maknanya tidak lain adalah melihat dengan mata." Lihat Lisanul
Arab 5/216, 217.
- ([3]) Lisanul Arab
5/218 dengan modifikasi.
- ([4]) Tafsir Al-Qurtubi
7/344. Abu Ubaid memilih makna pertama namun menyebutkan bahwa yang
dimaksud adalah berhadapan (muqabalah). Lihat Lisanul Arab
5/218.
- ([5]) Al-Qurtubi menukil
pendapat ini dari Mujahid, Tafsir Al-Qurtubi 13/344.
- ([6]) Tafsir Al-Qurtubi
19/100, ia juga menyebutkan pendapat lain dari para Tabi'in.
- ([7]) Tafsir Al-Qurtubi
19/100.
- ([8]) Di naskah asli
tertulis "Al-Bashir", namun apa yang kami sebutkan (Al-Bashar)
lebih utama karena aspek keempat berkaitan dengan penglihatan secara
mutlak.
- ([9]) Tafsir ini didasarkan
pada anggapan bahwa yang dimaksud di sini adalah kaum musyrik, bukan
berhala.
An-Nazhar
dan At-Tabashshur secara Istilah:
An-Nazhar
secara Istilah:
Al-Fairuzabadi
berkata: An-Nazhar adalah membolak-balikkan mata batin (bashirah)
untuk menangkap dan melihat sesuatu. Terkadang yang dimaksud dengannya adalah
perenungan (at-ta'ammul) dan pemeriksaan (al-fahsh), dan
terkadang yang dimaksud adalah pengetahuan yang didapat setelah proses
pemeriksaan tersebut. ([1])
Adapun
At-Tabashshur:
Istilah
ini tidak ditemukan dalam buku-buku terminologi yang kami kaji, oleh karena itu
ia tetap pada asal penggunaannya secara bahasa. Jika kita merenungkan apa yang
disebutkan oleh penulis Al-Lisan bahwa at-tabashshur adalah
melihat sesuatu dengan tujuan untuk mengetahuinya ([2]), serta bahwa tabashshara
dan istabshara memiliki makna yang sama—dikatakan seseorang itu tabashshara
atau istabshara dalam pendapatnya: yakni telah jelas baginya apa yang
akan mendatanginya berupa kebaikan dan keburukan—dan jika kita merenungkan juga
apa yang disebutkan oleh Al-Qurthubi bahwa al-istibshar adalah
mengetahui sesuatu sesuai hakikatnya (melalui bukti-bukti) ([3]), serta bahwa
tambahan huruf Alif, Sin, dan Ta' menunjukkan makna
permintaan/pencarian (at-thalab) (dan ini adalah makna morfologis dari
wazan tersebut); jika keadaannya demikian, maka at-tabashshur dapat
didefinisikan melalui apa yang disebutkan oleh para ahli bahasa dan ahli tafsir
dengan ungkapan:
At-Tabashshur:
Mencari
pengetahuan tentang segala perkara sesuai hakikatnya melalui bukti-bukti
indrawi yang dapat dilihat oleh mata dan dapat direnungkan serta diyakini
kebenarannya oleh mata batin (yaitu kekuatan hati yang menangkap persepsi). Ini
merupakan langkah menuju pencapaian an-nazhar dengan makna terakhir yang
disebutkan oleh Al-Fairuzabadi. Adapun dua makna pertama dari an-nazhar
yaitu: membolak-balikkan mata batin, serta perenungan dan pemeriksaan, keduanya
merupakan kerja akal murni.
Oleh
karena itu, kami menghubungkan antara dua perkara ini (an-nazhar dan at-tabashshur)
karena di satu sisi masing-masing tidak bisa mengabaikan yang lain, dan di sisi
lain karena manusia berbeda-beda dalam kemampuannya. Ada orang yang mata
batinnya kuat sehingga melalui itu mereka mampu mencapai pengetahuan dan
keyakinan yang dibutuhkan, namun ada pula orang yang tidak dibekali kekuatan
serupa, maka mereka wajib melihat pada bukti-bukti indrawi yang dapat
mengantarkan mereka kepada tujuan yang diinginkan.
Kesimpulannya,
di antara kedua perkara tersebut (an-nazhar dan at-tabashshur)
terdapat integrasi/saling melengkapi, dan keduanya secara bersamaan memenuhi
kebutuhan semua orang dengan tingkat akal yang berbeda-beda. An-Nazhar
(secara akal) mungkin sudah cukup bagi sebagian orang, namun bagi sebagian
lainnya, ia harus mencari pengetahuan (terutama yang berkaitan dengan
makrifatullah/mengenal Allah 'Azza wa Jalla) melalui pengamatannya terhadap
keajaiban ciptaan-Nya dan keagungan ketelitian di dalamnya. Berdasarkan hal
tersebut, kita dapat merumuskan satu definisi untuk kedua perkara tersebut
secara bersamaan sebagai berikut:
An-Nazhar
dan At-Tabashshur: Membolak-balikkan mata batin untuk menangkap hakikat
segala sesuatu dan mengetahuinya setelah merenungkan dan memeriksanya, serta
mencari hal tersebut melalui bukti-bukti indrawi yang disaksikan. ([4])
At-Tafakkur
secara Bahasa:
At-Tafakkur
diambil dari materi kata (ف ك ر
/ f-k-r) yang menunjukkan—sebagaimana dikatakan Ibnu Faris—pada bolak-baliknya
hati dalam sesuatu. Dikatakan tafakkara jika ia membolak-balikkan
hatinya sembari mengambil pelajaran (mu'tabiran). ([5])
Lafal
at-tafakkur adalah bentuk masdar dari tafakkara, atau ia
merupakan ism masdar dari fakkara yang masdarnya adalah at-tafkir.
Dari materi kata ini juga bermakna perenungan (at-ta'ammul). Penulis Al-Lisan
berkata: Al-Fikr adalah perenungan dan memfungsikan lintasan pikiran
dalam sesuatu. Sibawayh berkata: Kata al-fikr tidak dijamakkan, namun
Ibnu Duraid menghikayatkan bentuk jamaknya sebagai afkar. ([6])
Secara
Istilah:
Aktivitas
hati dalam mengelola makna-makna dari segala sesuatu untuk mencapai apa yang
dicari/tujuan.
Hakikat
At-Tafakkur:
Ibnu
al-Qayyim —rahimahullah— berkata: Asal dari kebaikan dan keburukan bermula dari
at-tafakkur (berpikir); karena pikiran adalah permulaan dari keinginan,
pencarian, kezuhudan, meninggalkan sesuatu, cinta, dan benci.
Pikiran
yang paling bermanfaat adalah berpikir tentang kemaslahatan akhirat, cara-cara
untuk mendapatkannya, serta berpikir tentang kerusakan akhirat dan cara-cara
menghindarinya. Ini adalah empat macam pikiran yang paling agung. Kemudian
diikuti oleh empat lainnya: pikiran tentang kemaslahatan dunia dan cara
meraihnya, serta pikiran tentang kerusakan dunia dan cara mewaspadainya. Maka
di atas delapan pembagian inilah pikiran orang-orang berakal berputar.
Puncak
dari bagian pertama adalah berpikir tentang nikmat-nikmat Allah, karunia-Nya,
perintah-Nya, larangan-Nya, serta cara mengenal-Nya, nama-nama-Nya, dan
sifat-sifat-Nya melalui Kitab-Nya, Sunnah Nabi-Nya, dan apa yang berkaitan
dengan keduanya. Pikiran ini akan membuahkan cinta dan makrifat bagi pelakunya.
Jika ia berpikir tentang akhirat, kemuliaannya, dan kekekalannya, serta tentang
dunia, kerendahannya, dan kefanaannya, maka hal itu akan membuahkan keinginan
terhadap akhirat dan kezuhudan terhadap dunia.
Semakin
ia berpikir tentang pendeknya angan-angan dan sempitnya waktu, maka hal itu
akan mewariskan kesungguhan, ijtihad, dan pengerahan segenap kemampuan dalam
memanfaatkan waktu. Pikiran-pikiran ini akan mengangkat cita-citanya dan
menghidupkannya setelah sebelumnya mati atau rendah, serta menjadikannya berada
di suatu lembah (jalur) sementara manusia lainnya di lembah yang lain.
Sebaliknya,
terdapat pikiran-pikiran buruk yang berputar di hati kebanyakan makhluk,
seperti berpikir tentang hal-hal yang ia tidak dibebani untuk memikirkannya,
dan tidak diberikan kemampuan untuk meliputinya (mengetahuinya secara
menyeluruh) yang termasuk kelebihan ilmu yang tidak bermanfaat, seperti
berpikir tentang bagaimana hakikat (kaifiyah) Zat Tuhan, yang mana akal tidak
memiliki jalan untuk menangkapnya. ([7])
Catatan
Kaki (Referensi):
- ([1]) Bashair Dzawi
at-Tamyiz 5/82.
- ([2]) Redaksi Ibnu Manzhur
dalam Al-Lisan: Tabashshara asy-syai': melihat kepadanya,
apakah ia mengenalinya? (Al-Lisan 4/65).
- ([3]) Lihat Tafsir
Al-Qurthubi 13/343.
- ([4]) Kami menyimpulkan
paragraf ini dari perkataan para ulama mengenai materi kata ini.
- ([5]) Maqayis al-Lughah
(4/446).
- ([6]) Lisan al-Arab
dengan modifikasi hal. (5/65).
- ([7]) Al-Fawaid (255).
Di
Antara Ayat-Ayat yang Terkandung Mengenai An-Nazhar dan At-Tabashshur
Pertama:
Ayat-Ayat Mengenai An-Nazhar (Melihat/Memperhatikan):
A.
Perintah untuk memperhatikan makhluk-makhluk Allah —Azza wa Jalla—:
"Atau
seperti orang yang melewati suatu negeri yang (bangunannya) telah roboh
menutupi atapnya. Dia berkata: 'Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini
setelah hancurnya?' Maka Allah mematikan orang itu selama seratus tahun,
kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: 'Berapakah lamanya kamu
tinggal di sini?' Ia menjawab: 'Saya tinggal di sini sehari atau setengah
hari.' Allah berfirman: 'Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun
lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum berubah; dan lihatlah
kepada keledaimu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami hendak menjadikanmu
sebagai tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang
belulang keledai itu, bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami
membungkusnya dengan daging.' Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana
Allah menghidupkan yang mati) d iapun berkata: 'Saya mengetahui bahwa Allah
Maha Kuasa atas segala sesuatu'." ([1]) — (QS. Al-Baqarah: 259)
"Dan
Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air
itu segala macam tumbuh-tumbuhan maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu
tanaman yang hijau. Kami keluarkan dari tanaman yang hijau itu butir yang
banyak; dan dari pohon kurma dari mayangnya menjuntai tandan-tandan yang
menguntai rendah, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan
delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu
pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang
demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang
beriman." ([2]) — (QS. Al-An'am: 99)
"Dan
apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala
sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan
mereka? Maka kepada berita manakah lagi sesudah Al-Qur'an ini mereka akan
beriman?" ([3]) — (QS. Al-A'raf: 185)
"Katakanlah:
'Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat
tanda-tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi
orang-orang yang tidak beriman'." ([4]) — (QS. Yunus: 101)
"Katakanlah:
'Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah
menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali
lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu'." ([5]) — (QS.
Al-Ankabut: 20)
"Maka
apakah mereka tidak melihat ke langit yang ada di atas mereka, bagaimana
Kami membangunnya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak
sedikit pun?" ([6]) — (QS. Qaf: 6)
"Maka
apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan? Dan
langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?
Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?" ([7]) — (QS. Al-Ghashiyah:
17-20)
B.
Perintah untuk memperhatikan keadaan umat-umat terdahulu:
"Sesungguhnya
telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; karena itu berjalanlah kamu di
muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang
mendustakan (rasul-rasul)." ([8]) — (QS. Ali 'Imran: 137)
"Dan
mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati
mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah bagaimana pelenyapan
(akibat) orang-orang yang berbuat kerusakan." ([9]) — (QS. An-Naml:
14)
"Dan
apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi lalu memperhatikan
bagaimana akibat orang-orang sebelum mereka? Orang-orang itu adalah lebih kuat
dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya
lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada
mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah
sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang
berlaku zalim kepada diri mereka sendiri." ([10]) — (QS. Ar-Rum: 9)
"Telah
nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan
manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan
mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah: 'Adakanlah
perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan
orang-orang yang terdahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang
mempersekutukan (Allah)'." ([11]) — (QS. Ar-Rum: 41-42)
"Dan
apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu melihat bagaimana
kesudahan orang-orang sebelum mereka, sedangkan orang-orang itu lebih kuat dari
mereka? Dan tiada sesuatu pun di langit dan di bumi yang dapat melemahkan
Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa." ([12]) — (QS.
Fatir: 44)
"Dan
sesungguhnya telah Kami utus pemberi-pemberi peringatan di kalangan mereka.
Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi
peringatan itu." ([13]) — (QS. As-Saffat: 72-73)
D.
Perintah untuk memperhatikan urusan dunia dan penciptaan manusia:
"Maka
hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami
benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi
dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan
sayur-sayuran, zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan
serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang
ternakmu." ([14]) — (QS. 'Abasa: 24-32)
"Maka
hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia
diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan
tulang dada. Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (hidup
sesudah mati)." ([15]) — (QS. At-Tariq: 5-8)
Referensi
(Catatan Kaki):
([1])
Al-Baqarah: 259 (Madaniyyah). ([2]) Al-An'am: 99 (Makkiyyah). ([3]) Al-A'raf:
185 (Makkiyyah). ([4]) Yunus: 101 (Makkiyyah). ([5]) Al-Ankabut: 20
(Makkiyyah). ([6]) Qaf: 6. ([7]) Al-Ghashiyah: 17-20 (Makkiyyah). ([8]) Ali
'Imran: 137 (Madaniyyah). ([9]) An-Naml: 14 (Makkiyyah). ([10]) Ar-Rum: 9
(Makkiyyah). ([11]) Ar-Rum: 41-42 (Makkiyyah). ([12]) Fatir: 44 (Makkiyyah).
([13]) As-Saffat: 72-73 (Makkiyyah). ([14]) 'Abasa: 24-32 (Makkiyyah). ([15])
At-Tariq: 5-8 (Makkiyyah).
Kedua:
Ayat-Ayat yang Terkandung Mengenai At-Tabashshur
1.
Al-Bashir (Maha Melihat) sebagai Nama dan Sifat Allah —Azza wa Jalla—:
"Dan
sungguh, engkau (Muhammad) akan mendapati mereka (orang-orang Yahudi)
setamak-tamak manusia kepada kehidupan (dunia), bahkan (lebih tamak) daripada
orang-orang musyrik. Masing-masing dari mereka ingin diberi umur seribu tahun,
padahal umur panjang itu tidak akan menjauhkannya dari azab. Dan Allah Maha
Melihat (Bashiir) apa yang mereka kerjakan." ([1]) — (QS.
Al-Baqarah: 96)
"Dan
dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu
usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya di sisi Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Melihat (Bashiir) apa yang kamu kerjakan."
([2]) — (QS. Al-Baqarah: 110)
"Dan
perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya karena mencari rida Allah dan
untuk memperteguh jiwa mereka, seperti sebuah kebun di bukit yang tinggi yang
disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat.
Jika hujan lebat tidak menyiramnya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah
Maha Melihat (Bashiir) apa yang kamu kerjakan." ([3]) — (QS.
Al-Baqarah: 265)
2.
Penglihatan (Al-Bashar) sebagai Sarana Mengetahui Nikmat dan Mengenal Allah
—Azza wa Jalla—:
"Katakanlah
(Muhammad), 'Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu
terus-menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan
mendatangkan malam kepadamu sebagai waktu istirahat bagimu? Maka apakah kamu
tidak melihat (tubshiruun)?'" ([4]) — (QS. Al-Qashash: 72)
"Dan
tidakkah mereka memperhatikan, bahwa Kami mencurahkan air ke bumi yang tandus,
lalu Kami tumbuhkan dengan air itu tanaman yang menjadi makanan bagi
hewan-hewan ternak mereka dan diri mereka sendiri. Maka apakah mereka tidak melihat
(tubshiruun)?" ([5]) — (QS. As-Sajdah: 27)
"Dan
di bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan
(juga) pada dirimu sendiri; maka apakah kamu tidak melihat (tubshiruun)?"
([6]) — (QS. Adh-Dzariyat: 20-21)
"Inilah
neraka yang dahulu kamu dustakan. Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat
(tubshiruun)?" ([7]) — (QS. Ath-Thur: 14-15)
"Yang
menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu tidak akan melihat pada ciptaan
Tuhan Yang Maha Pengasih sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah sekali
lagi, adakah kamu melihat sesuatu yang cacat? Kemudian ulangi pandanganmu
sekali lagi dan sekali lagi, niscaya pandanganmu (al-bashar) akan
kembali kepadamu tanpa menemukan cacat dan ia dalam keadaan letih."
([8]) — (QS. Al-Mulk: 3-4)
3.
Bidang-Bidang dan Sarana At-Tabashshur:
"Dan
apabila engkau (Muhammad) tidak membawakan suatu ayat kepada mereka, mereka
berkata, 'Mengapa tidak engkau buat sendiri ayat itu?' Katakanlah (Muhammad),
'Sesungguhnya aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku.
(Al-Qur'an) ini adalah bukti-bukti nyata (bashaa'iru) dari Tuhanmu,
petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman'." ([9]) — (QS.
Al-A'raf: 203)
"Dialah
yang menjadikan malam bagimu agar kamu beristirahat padanya dan menjadikan
siang terang benderang (mubshiran). Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang
mendengar." ([10]) — (QS. Yunus: 67)
"Dan
Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran Kami), kemudian Kami
hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang benderang
(mubshirah) agar kamu (dapat) mencari karunia dari Tuhanmu, dan agar kamu
mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Dan segala sesuatu telah
Kami terangkan dengan jelas." ([11]) — (QS. Al-Isra: 12)
"Dan
sungguh, telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat) setelah Kami
binasakan umat-umat yang terdahulu, untuk menjadi pelajaran (bashaa'iru)
bagi manusia, petunjuk dan rahmat, agar mereka selalu ingat." ([12]) —
(QS. Al-Qashash: 43)
"Allah-lah
yang menjadikan malam untukmu agar kamu beristirahat padanya dan menjadikan
siang terang benderang (mubshiran). Sesungguhnya Allah benar-benar
memiliki karunia yang besar atas manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak
bersyukur." ([13]) — (QS. Ghafir: 61)
"Dan
bumi yang Kami hamparkan dan Kami pancangkan di atasnya gunung-gunung yang
kokoh dan Kami tumbuhkan di atasnya berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah,
untuk menjadi pelajaran (tabshirah) dan peringatan bagi setiap hamba
yang kembali (tunduk kepada Allah)." ([14]) — (QS. Qaf: 7-8)
4.
At-Tabashshur sebagai Sifat para Nabi dan Orang Beriman:
"Sungguh,
telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang berhadap-hadapan. Satu
golongan berperang di jalan Allah dan yang lain golongan kafir yang melihat
dengan mata kepala (ra'yal 'ain) bahwa mereka (golongan mukmin) dua kali
lipat jumlah mereka. Allah menguatkan dengan pertolongan-Nya siapa yang Dia
kehendaki. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran
bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan (aulil abshaar)."
([15]) — (QS. Ali 'Imran: 13)
"Katakanlah
(Muhammad), 'Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada
padaku, dan aku tidak mengetahui yang gaib dan aku tidak (pula) mengatakan
kepadamu bahwa aku malaikat. Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku.'
Katakanlah, 'Apakah sama antara orang yang buta dengan orang yang melihat
(al-bashiir)? Apakah kamu tidak berpikir?'" ([16]) — (QS.
Al-An'am: 50)
"Sungguh,
telah datang kepadamu bukti-bukti yang nyata (bashaa'iru) dari Tuhanmu;
barangsiapa melihat (abshara) (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi
dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihatnya), maka (kerugiannya)
akan kembali kepada dirinya sendiri. Dan aku bukanlah penjaga bagimu."
([17]) — (QS. Al-An'am: 104)
"Sesungguhnya
orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi waswas dari setan,
mereka segera ingat kepada Allah, maka seketika itu juga mereka melihat
(mubshiruun) (kesalahan-kesalahannya)." ([18]) — (QS. Al-A'raf:
201)
"Katakanlah
(Muhammad), 'Inilah jalanku, aku menyeru kepada Allah dengan bukti yang
nyata (bashirah), aku dan orang-orang yang mengikutiku. Mahasuci Allah, dan
aku tidak termasuk orang-orang musyrik'." ([19]) — (QS. Yusuf: 108)
"Tidakkah
engkau melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara
(bagian-bagian)-nya, kemudian menjadikannya bertumpuk-tumpuk, lalu engkau lihat
hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran)
es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung,
maka ditimpakan-Nya (butiran es) itu kepada siapa yang Dia kehendaki dan
dipalingkan-Nya dari siapa yang Dia kehendaki. Kilauan kilatnya hampir-hampir
menyilaukan penglihatan (al-abshaar). Allah mempergantikan malam dan
siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang besar bagi
orang-orang yang mempunyai penglihatan (aulil abshaar)." ([20])
— (QS. An-Nur: 43-44)
"Dan
ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub yang mempunyai
kekuatan-kekuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi (al-abshaar).
Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan) akhlak yang
tinggi, yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan
sesungguhnya mereka di sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang
paling baik." ([21]) — (QS. Sad: 45-47)
"Dan
tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat (al-bashiir),
dan tidaklah (sama) orang-orang yang beriman serta mengerjakan kebajikan dengan
orang yang berbuat jahat. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran."
([22]) — (QS. Ghafir: 58)
"Pada
hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang
dilalaikannya. Bahkan manusia itu menjadi saksi (bashirah) atas dirinya
sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya." ([23]) — (QS.
Al-Qiyamah: 13-15)
5.
Orang Kafir dan Munafik Tidak Mendapat Manfaat Tabashshur dari Allah:
"Allah
telah mengunci hati dan pendengaran mereka, dan pada penglihatan
(abshaarihim) mereka ada penutup. Dan bagi mereka azab yang berat."
([24]) — (QS. Al-Baqarah: 7)
"Dan
sungguh, Kami jadikan untuk (isi) neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan
manusia. Mereka mempunyai hati (tetapi) tidak dipergunakannya untuk memahami
(ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya
untuk melihat (yubshiruun) (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka
mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat
Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka
itulah orang-orang yang lengah." ([25]) — (QS. Al-A'raf: 179)
"Orang-orang
yang menghalang-halangi (orang lain) dari jalan Allah dan menghendaki (jalan)
itu menjadi bengkok, dan mereka itulah orang-orang yang tidak percaya adanya
hari akhirat. Mereka itu tidak mampu melepaskan diri (dari azab Allah) di bumi,
dan tidak ada bagi mereka pelindung selain Allah. Azab itu akan dilipatgandakan
kepada mereka. Mereka tidak mampu mendengar (kebenaran) dan tidak dapat melihat
(yubshiruun)." ([26]) — (QS. Hud: 19-20)
"Dan
kalaupun Kami bukakan kepada mereka salah satu pintu langit, lalu mereka
terus-menerus naik ke atasnya, tentulah mereka berkata, 'Sesungguhnya penglihatan
(abshaarunaa) kami dikaburkan, bahkan kami adalah kaum yang terkena
sihir'." ([27]) — (QS. Al-Hijr: 14-15)
"Maka
apakah mereka tidak pernah berjalan di bumi, sehingga hati mereka dapat
memahami, atau telinga mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata
(al-abshaar) itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam
dada." ([28]) — (QS. Al-Hajj: 46)
6.
At-Tabashshur yang Terlambat (Tidak pada Waktunya) Tidak Ada Gunanya:
"Dan
(alangkah ngerinya), jika sekiranya engkau melihat orang-orang yang berdosa itu
menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata), 'Ya Tuhan kami,
kami telah melihat (absharnaa) dan mendengar, maka kembalikanlah kami
(ke dunia), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan. Sesungguhnya kami adalah
orang-orang yang yakin'." ([29]) — (QS. As-Sajdah: 12)
"Dan
mereka berkata, 'Mengapa kami tidak melihat orang-orang yang dahulu kami anggap
sebagai orang-orang yang jahat? Apakah dahulu kami (salah) menjadikan mereka
sebagai ejekan, ataukah karena penglihatan (al-abshaar) kami yang tidak
menemukan mereka?' Sesungguhnya yang demikian itu pasti terjadi, (yaitu)
pertengkaran penghuni neraka." ([30]) — (QS. Sad: 62-64)
"Sesungguhnya
engkau dahulu lalai tentang (peristiwa) ini, maka Kami singkapkan tutup (yang
menutupi) matamu, sehingga penglihatanmu (basharuka) pada hari ini
sangat tajam." ([31]) — (QS. Qaf: 22)
"Sedang
mereka saling melihat (yubshsharuunahum). Orang yang berdosa ingin
sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan
anak-anaknya." ([32]) — (QS. Al-Ma'arij: 10-11)
Referensi
(Catatan Kaki):
Sama
seperti daftar referensi pada teks asli, merujuk pada nama surah dan nomor ayat
(Makkiyyah/Madaniyyah).
8.
At-Tabashshur Mencegah dari Perbuatan yang Membinasakan:
"Tidak
datang kepada mereka suatu peringatan pun yang baru dari Tuhan mereka,
melainkan mereka mendengarnya sambil bermain-main, (dalam keadaan) hati mereka
lalai. Dan orang-orang yang zalim itu merahasiakan pembicaraan mereka: 'Orang
ini (Muhammad) hanyalah seorang manusia (biasa) seperti kamu, maka apakah kamu
menerima sihir itu padahal kamu melihatnya (tubshiruun)?'"
([1]) — (QS. Al-Anbiya: 2-3)
"Dan
(ingatlah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: 'Mengapa kamu mengerjakan
perbuatan keji (homoseksual) itu, padahal kamu melihatnya (tubshiruun)?
Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk memuaskan syahwat(mu) bukan mendatangi
perempuan? Sungguh, kamu adalah kaum yang jahil (tidak mengetahui akibat
perbuatanmu)'." ([2]) — (QS. An-Naml: 54-55)
Ketiga:
Di Antara Ayat-Ayat yang Mengandung Makna At-Tabashshur:
"Lalu
Kami berfirman: 'Pukullah (mayat) itu dengan bagian dari (sapi betina) itu!'
Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan Dia memperlihatkan
kepadamu tanda-tanda (kekuasaan-Nya) agar kamu mengerti'." ([3]) —
(QS. Al-Baqarah: 73)
"Tidakkah
mereka memperhatikan (yaro) berapa banyak umat sebelum mereka yang telah
Kami binasakan, padahal (umat itu) telah Kami teguhkan kedudukannya di bumi,
yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan
hujan yang lebat untuk mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah
mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa-dosa mereka sendiri, dan
Kami ciptakan setelah mereka umat yang lain'." ([4]) — (QS.
Al-An'am: 6)
"Maka
apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu
itu benar, sama dengan orang yang buta? Hanya orang-orang yang berakal
saja yang dapat mengambil pelajaran'." ([5]) — (QS. Ar-Ra'd: 19)
"Dan
tidakkah mereka melihat (yaro) bahwa Kami mendatangi daerah-daerah
(orang kafir), lalu Kami kurangi (daerah-daerah itu) sedikit demi sedikit dari
tepi-tepinya? Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang
dapat menolak ketetapan-Nya; dan Dialah yang Maha Cepat perhitungan-Nya'."
([6]) — (QS. Ar-Ra'd: 41)
"Tidakkah
mereka memperhatikan (yaro) burung-burung yang dimudahkan terbang di
angkasa bebas. Tidak ada yang menahannya selain Allah. Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi
orang-orang yang beriman'." ([7]) — (QS. An-Nahl: 79)
"Dan
tidakkah mereka memperhatikan (yaro) bahwa Allah yang telah menciptakan
langit dan bumi adalah berkuasa (pula) menciptakan yang serupa dengan mereka,
dan Dia telah menetapkan waktu yang tertentu bagi mereka yang tidak ada
keraguan padanya? Maka orang-orang zalim itu tidak menyukai melainkan
kekafiran'." ([8]) — (QS. Al-Isra: 99)
"Dan
apakah orang-orang kafir tidak mengetahui (yaro) bahwa langit dan bumi
keduanya dahulu menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya; dan Kami
jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; maka mengapa mereka tidak
beriman?'" ([9]) — (QS. Al-Anbiya: 30)
"Sebenarnya
Kami telah memberi kesenangan kepada mereka dan nenek moyang mereka sehingga
panjang usia mereka. Maka apakah mereka tidak melihat (yaro) bahwa Kami
mendatangi negeri (yang berada di bawah kekuasaan orang kafir), lalu Kami
kurangi luasnya dari ujung-ujung wilayahnya? Maka apakah mereka yang
menang?'" ([10]) — (QS. Al-Anbiya: 44)
"Tidakkah
kamu memperhatikan (tarou) bahwa Allah telah menundukkan apa yang ada di
langit dan apa yang ada di bumi untuk (kepentingan)mu dan menyempurnakan
nikmat-Nya untukmu lahir dan batin? Dan di antara manusia ada yang membantah
tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu, tanpa petunjuk, dan tanpa Kitab yang
memberi penerangan'." ([11]) — (QS. Luqman: 20)
"Tidakkah
engkau memperhatikan (tara) bahwa kapal itu berlayar di laut dengan
nikmat Allah, agar diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda
(kebesaran)-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi setiap orang yang sangat sabar dan banyak
bersyukur'." ([12]) — (QS. Luqman: 31)
"Maka
apakah mereka tidak melihat (yarou) langit dan bumi yang ada di hadapan
dan di belakang mereka? Jika Kami menghendaki, niscaya Kami benamkan mereka di
bumi atau Kami jatuhkan kepada mereka kepingan-kepingan dari langit.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan
Allah) bagi setiap hamba yang kembali (kepada-Nya)'." ([13]) — (QS.
Saba: 9)
"Dan
tidakkah mereka melihat (yarou) bahwa Kami telah menciptakan hewan
ternak untuk mereka, yaitu sebagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan
kekuasaan Kami, lalu mereka menguasainya?'" ([14]) — (QS. Yasin:
71)
"Dan
tidakkah manusia memperhatikan (yaro) bahwa Kami menciptakannya dari
setetes mani, ternyata dia menjadi musuh yang nyata!'" ([15]) — (QS.
Yasin: 77)
"Kami
akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di
segenap penjuru dunia dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi
mereka bahwa Al-Qur'an itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa
Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?'" ([16]) — (QS.
Fussilat: 53)
"Dan
tidakkah mereka memperhatikan (yarou) bahwa Allah yang menciptakan
langit dan bumi dan Dia tidak merasa lelah karena menciptakannya, kuasa (pula)
menghidupkan orang-orang mati? Ya, (bahkan) sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas
segala sesuatu'." ([17]) — (QS. Al-Ahqaf: 33)
"Saat
(hari kiamat) sudah dekat, dan bulan telah terbelah. Dan jika mereka melihat
(yarou) suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: '(Ini adalah)
sihir yang terus-menerus'. Dan mereka mendustakan (Muhammad) dan mengikuti
keinginan mereka, padahal setiap urusan telah ada ketetapannya'."
([18]) — (QS. Al-Qamar: 1-3)
"Tidakkah
kamu memperhatikan (tarou) bagaimana Allah telah menciptakan tujuh
langit berlapis-lapis? Dan di sana Dia menciptakan bulan yang bercahaya dan
menjadikan matahari sebagai pelita (yang terang-benderang)?'" ([19]) —
(QS. Nuh: 15-16)
Hadis-Hadis
Tentang An-Nazhar (Melihat) dan At-Tabashshur (Kesadaran):
Dari
Abu Sa’id al-Khudri —radhiyallahu 'anhu— berkata: Rasulullah ﷺ suatu hari
menceritakan kepada kami hadis yang panjang tentang Dajjal. Di antara yang
beliau sampaikan adalah: "Dajjal akan datang ([20]), dan ia diharamkan
memasuki jalan-jalan (niqab) Madinah ([21]). Ia akan berhenti di sebuah tanah
lapang yang bergaram di dekat Madinah. Maka pada hari itu keluarlah seorang
laki-laki yang merupakan manusia terbaik —atau di antara manusia terbaik
([22])— lalu berkata kepada Dajjal: 'Aku bersaksi bahwa engkau adalah Dajjal
yang telah diceritakan oleh Rasulullah ﷺ kepada kami.' Dajjal berkata: 'Bagaimana
pendapat kalian jika aku membunuh orang ini kemudian aku menghidupkannya
kembali, apakah kalian masih ragu dalam urusan ini?' Mereka menjawab: 'Tidak.'
Maka Dajjal membunuhnya lalu menghidupkannya kembali. Ketika ia telah
dihidupkan ([23]), lelaki itu berkata: 'Demi Allah! Tidak pernah aku memiliki kesadaran
(bashirah) yang lebih kuat tentang dirimu daripada saat ini!' Maka Dajjal
ingin membunuhnya lagi, namun ia tidak diberi kemampuan untuk menguasai lelaki
itu." ([24])
Dari
Abu Hurairah —radhiyallahu 'anhu— bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Jika salah seorang dari
kalian melihat (nazhara) kepada orang yang dilebihkan atasnya dalam hal
harta dan fisik, maka hendaklah ia melihat (falyanzhur) kepada orang
yang lebih rendah darinya dari kalangan orang yang dilebihkan atasnya."
([25])
Dari
Abu Hurairah —radhiyallahu 'anhu— berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Lihatlah (unzhuruu)
kepada orang yang berada di bawahmu, dan janganlah kalian melihat
(tanzhuruu) kepada orang yang berada di atasmu, karena hal itu lebih pantas
agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah ([26])." Abu Muawiyah
berkata: "atas kalian." ([27]) ([28]).
Dari
Abdullah bin 'Amru bin al-'Ash —radhiyallahu 'anhuma— berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Ada
dua perkara yang jika terdapat pada diri seseorang, maka Allah akan mencatatnya
sebagai orang yang bersyukur lagi bersabar. Dan barangsiapa yang tidak terdapat
dua hal itu padanya, maka Allah tidak mencatatnya sebagai orang yang bersyukur
maupun bersabar. Yaitu: Barangsiapa yang dalam urusan agamanya melihat
(nazhara) kepada orang yang berada di atasnya lalu ia meneladaninya, dan
dalam urusan dunianya ia melihat (nazhara) kepada orang yang berada di
bawahnya lalu ia memuji Allah atas kelebihan yang diberikan-Nya kepadanya, maka
Allah mencatatnya sebagai orang yang bersyukur lagi bersabar. Namun,
barangsiapa yang dalam urusan agamanya melihat kepada orang yang berada
di bawahnya, dan dalam urusan dunianya ia melihat kepada orang yang
berada di atasnya lalu ia bersedih atas apa yang luput darinya, maka Allah
tidak mencatatnya sebagai orang yang bersyukur maupun bersabar."
([29])
Catatan
Kaki (Referensi):
- ([20]) Yakni Dajjal.
- ([21]) Niqab al-Madinah
artinya jalan-jalan dan lorong-lorongnya. Niqab adalah bentuk jamak
dari naqb, yaitu jalan di antara dua gunung.
- ([22]) Keraguan dari perawi.
- ([23]) Yang berkata adalah
lelaki yang disifatkan Rasulullah ﷺ sebagai orang
terbaik atau di antara manusia terbaik.
- ([24]) Al-Bukhari - Al-Fath
13 (7132), dan Muslim 4 (2938), teks milik Muslim.
- ([25]) Al-Bukhari, Al-Fath
(6490), dan Muslim (2963).
- ([26]) Muslim (2963).
- ([27]) Abu Muawiyah adalah
perawi yang meriwayatkan hadis dari Al-A’masy dari Abu Shalih dari Abu
Hurairah.
- ([28]) Perbedaan antara
hadis ini dengan sebelumnya adalah di sini terdapat dorongan untuk melihat
sejak awal kepada yang lebih rendah, serta penyebutan sebabnya. Sedangkan
hadis sebelumnya, manusia mungkin mulai melihat kepada yang di atasnya dan
merasa sedih, lalu Rasulullah ﷺ memberi bimbingan untuk mengobati
kondisi tersebut; maka kami mencantumkan keduanya.
- ([29]) At-Tirmidzi (2512),
teks miliknya, ia berkata: Hasan Gharib. Sebagiannya ada dalam Muslim dari
hadis Abu Hurairah (2963). Ibnu Majah (4142). Hadis ini juga terdapat
dalam Al-Misykah (3/1446) no. 5256.
Di
Antara Ayat-Ayat yang Terkandug Mengenai At-Tafakkur (Berpikir/Merenung):
"Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang
mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan
mereka memikirkan (yatafakkuruun) tentang penciptaan langit dan bumi
(seraya berkata): 'Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan
sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan
kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka
sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim
seorang penolong pun'." ([1]) — (QS. Ali 'Imran: 190-192)
"Katakanlah
(Muhammad): 'Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada
padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku
mengatakan kepadamu bahwa aku malaikat. Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan
kepadaku'. Katakanlah: 'Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat?'
Maka apakah kamu tidak memikirkan (tatafakkuruun)?" ([2]) — (QS.
Al-An'am: 50)
"Dan
bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya
ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri
dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda),
maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki,
sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia
cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka
perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan
jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah
perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah
(kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir (yatafakkuruun)."
([3]) — (QS. Al-A'raf: 175-176)
"Apakah
mereka tidak memikirkan (yatafakkuruu) bahwa teman mereka (Muhammad)
tidaklah gila. Dia tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan lagi pemberi
penjelasan. Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan
segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan
mereka? Maka kepada berita manakah lagi sesudah Al-Qur'an ini mereka akan
beriman?" ([4]) — (QS. Al-A'raf: 184-185)
"Sesungguhnya
perumpamaan kehidupan duniawi itu adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan
dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi,
di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi
itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan
pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah
kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan
(tanam-tanamannya) lunas terbabat, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin.
Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang
yang berpikir (yatafakkuruun)." ([5]) — (QS. Yunus: 24)
"Allah-lah
Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia
bersemayam di atas 'Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing
beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya),
menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu)
dengan Tuhanmu. Dan Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan
gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan segala macam buah-buahan
menjadikan padanya pasangan dua-dua, Allah menutupkan malam kepada siang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi
kaum yang berpikir (yatafakkuruun)." ([6]) — (QS. Ar-Ra'd:
2-3)
"Dan
Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri
wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan
jika kamu tidak mengetahui, keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab.
Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur'an, agar kamu menerangkan pada umat manusia
apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka berpikir
(yatafakkuruun)." ([7]) — (QS. An-Nahl: 43-44)
"Dan
apakah mereka tidak memikirkan (yatafakkuruu) dalam (diri) mereka? Allah
tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan
dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya
kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya."
([8]) — (QS. Ar-Rum: 8)
"Dan
di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah,
kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak. Dan di antara
tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari
jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan
dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir
(yatafakkuruun)." ([9]) — (QS. Ar-Rum: 20-21)
"Allah
memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum
mati di waktu tidurnya; maka Dia tahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan
kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan.
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi
kaum yang berpikir (yatafakkuruun)." ([10]) — (QS. Az-Zumar:
42)
"Allah-lah
yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya
dengan seizin-Nya, dan supaya kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya dan
mudah-mudahan kamu bersyukur. Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di
langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan
Allah) bagi kaum yang berpikir (yatafakkuruun)." ([11]) — (QS.
Al-Jathiyah: 12-13)
"Tidak
sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni
surga itulah orang-orang yang beruntung. Kalau sekiranya Kami turunkan
Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah
belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu
Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir (yatafakkuruun)."
([12]) — (QS. Al-Hasyr: 20-21)
Hadis-Hadis
Tentang At-Tafakkur:
Dari
'Atha' berkata: Aku dan Ubaid bin 'Umair masuk menemui 'Aisyah, lalu ia berkata
kepada Ubaid bin 'Umair: "Sudah saatnya bagimu untuk mengunjungi
kami." Ubaid menjawab: "Wahai Ibu, aku berkata sebagaimana orang
terdahulu berkata: 'Zhur ghibban, tazdad hubban' (Berkunjunglah
jarang-jarang, niscaya rasa cinta akan bertambah)." 'Aisyah berkata:
"Tinggalkanlah perkataan kalian yang aneh ini." Ibnu 'Umair bertanya:
"Beritahukanlah kepada kami hal paling menakjubkan yang pernah engkau
lihat dari Rasulullah ﷺ."
'Aisyah terdiam sejenak lalu berkata: "Pada suatu malam, beliau bersabda:
'Wahai 'Aisyah, biarkanlah aku beribadah malam ini kepada Tuhanku.' Aku
menjawab: 'Demi Allah, sesungguhnya aku mencintai kedekatanmu dan aku mencintai
apa yang membuatmu bahagia.' Lalu beliau bangun, bersuci, dan berdiri
menunaikan salat. Beliau terus-menerus menangis hingga air matanya membasahi
pangkuannya. Beliau terus menangis hingga membasahi janggutnya. Beliau terus
menangis hingga membasahi tanah. Lalu Bilal datang memberitahu beliau untuk
salat (Subuh). Ketika Bilal melihat beliau menangis, ia bertanya: 'Wahai
Rasulullah, mengapa engkau menangis padahal Allah telah mengampuni dosamu yang
terdahulu dan yang akan datang?' Beliau bersabda: 'Tidakkah aku (ingin) menjadi
hamba yang banyak bersyukur? Sungguh telah turun kepadaku malam ini sebuah
ayat, celakalah bagi orang yang membacanya namun tidak memikirkan
(bertafakkur) di dalamnya: (Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan
bumi...)'." ([13])
Hadis
Tentang At-Tafakkur Secara Makna:
Dari
'Amru bin 'Abasah as-Sulami berkata: "Dahulu pada masa Jahiliyah, aku
mengira bahwa manusia berada dalam kesesatan dan mereka tidak berada di atas
kebenaran sedikit pun, karena mereka menyembah berhala. Lalu aku mendengar ada
seorang lelaki di Mekkah yang membawa berita-berita penting. Aku pun duduk di
atas kendaraanku dan menemuinya. Ternyata ia adalah Rasulullah ﷺ yang sedang
menyembunyikan diri karena kaumnya bersikap keras ([14]) terhadapnya. Aku
bersikap lembut hingga bisa menemuinya di Mekkah. Aku bertanya: 'Siapakah
engkau?' ([15]) Beliau menjawab: 'Aku adalah seorang Nabi.' Aku bertanya: 'Apa
itu Nabi?' Beliau menjawab: 'Allah telah mengutusku.' Aku bertanya: 'Dengan
urusan apa Dia mengutusmu?' Beliau menjawab: 'Dia mengutusku untuk menyambung
tali silaturahmi, menghancurkan berhala, dan agar Allah ditauhidkan (diesakan)
tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.' Aku bertanya: 'Siapa yang bersamamu
dalam hal ini?' Beliau menjawab: 'Orang merdeka dan budak.' (Perawi berkata:
Saat itu yang bersama beliau dari kalangan orang beriman adalah Abu Bakar dan
Bilal). Maka aku berkata: 'Sesungguhnya aku adalah pengikutmu'." ([16])
Atsar
(Perkataan Sahabat) dan Pendapat Ulama/Mufasir Tentang An-Nazhar dan
At-Tabashshur:
- Dari 'Aisyah
—radhiyallahu 'anha— berkata ([17]): "Sungguh Abu Bakar telah
memberikan kesadaran (bashshara) dan petunjuk kepada manusia, serta
mengenalkan mereka pada kebenaran yang wajib atas mereka. Mereka keluar
darinya sembari membaca ayat: (Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul yang
telah didahului oleh para rasul sebelumnya...) sampai (dan
orang-orang yang bersyukur) (QS. Ali 'Imran: 144)." ([18])
- Ibnu Abbas —radhiyallahu
'anhuma— berkata tentang firman Allah: "Bahkan manusia itu
menjadi saksi (bashirah) atas dirinya sendiri" (QS. Al-Qiyamah:
14): "Bashirah di sini berarti saksi, yaitu persaksian anggota
tubuh atas dirinya; kedua tangannya atas apa yang ia perbuat dengan kasar,
kedua kakinya atas apa yang ia tuju untuk berjalan, dan kedua matanya atas
apa yang ia lihat dengan keduanya." ([19])
- Al-Hasan —radhiyallahu
'anhu— berkata mengenai ayat di atas: "Artinya, manusia itu jeli
(bashir) terhadap aib orang lain namun bodoh terhadap aib dirinya
sendiri." ([20])
- Ibnu al-Jauzi
—rahimahullah— berkata: "Barangsiapa yang menyaksikan dengan mata
batinnya (bashirah) kesudahan segala perkara sejak dari
permulaannya, niscaya ia akan meraih kebaikannya dan selamat dari
keburukannya. Barangsiapa yang tidak melihat dampak/akibat, maka perasaan
indrawinya akan mengalahkannya, sehingga ia akan tertimpa rasa sakit dari
apa yang ia cari keselamatannya, dan tertimpa kelelahan dari apa yang ia
harapkan ketenangannya." ([21])
- Ibnu al-Jauzi juga
berkata: "Aku membaca ayat ini: (Katakanlah: 'Terangkanlah
kepadaku jika Allah mengambil pendengaran dan penglihatanmu serta mengunci
hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang akan mengembalikannya kepadamu?')
(QS. Al-An'am: 46). Maka nampaklah bagiku sebuah isyarat yang hampir
membuatku goyah, yaitu: jika yang dimaksud oleh ayat tersebut adalah indra
pendengaran dan penglihatan itu sendiri, maka pendengaran adalah alat
untuk menangkap suara dan penglihatan adalah alat untuk menangkap objek
pandang. Keduanya menyodorkan hasil tangkapan itu kepada hati, lalu hati
merenung dan mengambil pelajaran. Jika makhluk-makhluk diperlihatkan pada
pendengaran dan penglihatan, keduanya akan menyampaikan kabar-kabarnya ke hati,
bahwa semua itu menunjukkan adanya Sang Pencipta, mendorong ketaatan
kepada-Nya, dan memperingatkan dari siksa-Nya jika melanggar. Namun, jika
yang dimaksud adalah hakikat (makna) dari pendengaran dan
penglihatan, maka hal itu terjadi dengan kelalaian keduanya dari hakikat
apa yang ditangkap (karena) keduanya sibuk dengan hawa nafsu. Maka manusia
dihukum dengan dicabutnya makna/fungsi dari alat-alat tersebut; ia melihat
namun seolah tidak melihat, dan ia mendengar namun seolah tidak
mendengar." ([22])
- Ibnu al-Jauzi juga
berkata: "Aku melihat setiap orang yang tersandung sesuatu atau
tergelincir saat hujan, ia akan menoleh kepada apa yang membuatnya
tersandung lalu melihatnya. Hal ini merupakan watak yang diletakkan
pada makhluk; baik untuk waspada darinya jika ia melewatinya lagi, atau
untuk melihat—beserta kewaspadaan dan pemahamannya—bagaimana ia bisa luput
dari penjagaan terhadap hal semacam itu? Maka aku mengambil isyarat dari
hal itu dan berkata: 'Wahai orang yang telah tersandung berkali-kali,
mengapa engkau tidak melihat (absharta) apa yang membuatmu
tersandung?' atau 'Mengapa engkau tidak menganggap buruk kejadian itu
meski engkau telah berusaha waspada?'." ([23])
- Ibnu al-Jauzi
—rahimahullah— berkata: "Memperhatikan kesudahan (al- 'awaqib)
dan apa yang mungkin terjadi adalah urusan orang-orang berakal. Adapun
memperhatikan keadaan saat ini saja adalah keadaan orang-orang bodoh lagi
dungu; seperti orang yang melihat dirinya sehat lalu lupa akan sakit, atau
kaya lalu lupa akan miskin, atau melihat kelezatan sesaat lalu lupa akan
apa yang diakibatkan oleh kesudahannya. Tidaklah akal memiliki tugas
kecuali memperhatikan kesudahan, dan ia akan memberi petunjuk pada
kebenaran: dari arah mana ia harus menyambutnya?" ([24])
- Ibnu Muflih (dari Abi
al-Faraj) berkata: "Hanyalah akal itu dilebihkan atas perasaan
indrawi dengan cara memperhatikan kesudahan. Sebab, indra tidak
melihat kecuali apa yang hadir (saat ini), sedangkan akal memperhatikan
akhir dari segala perkara ([25]) dan bekerja berdasarkan apa yang
digambarkan akan terjadi. Maka tidak seyogianya bagi orang berakal untuk
lalai dalam mengamati kesudahan. Di antaranya adalah rasa malas dalam
menuntut ilmu dan lebih memilih istirahat sesaat, hal itu (ketika
diperhatikan dengan nazhar dan tabashshur) akan
mengakibatkan penyesalan abadi yang mana kelezatan pengangguran tidak akan
sebanding dengan sepersepuluh dari penyesalan tersebut." ([26])
- Ibnu al-Qayyim
—rahimahullah— berkata: "(Setan berkata kepada para pembantunya):
'Cegahlah celah mata agar penglihatannya tidak menjadi sebuah pelajaran
(i'tibar), melainkan jadikanlah ia sekadar tontonan, kekaguman, dan
hiburan belaka. Jika mata itu mencuri pandangan untuk mengambil pelajaran,
maka rusaklah ia dengan pandangan kelalaian, kekaguman (duniawi), dan
syahwat, karena hal itu lebih dekat dan lebih melekat pada jiwanya serta
lebih ringan baginya. Kuasailah celah mata karena kalian akan mencapai
keinginan kalian darinya. Sungguh, aku tidak merusak anak cucu Adam dengan
sesuatu yang melebihi pandangan (an-nazhar), karena dengannya aku
menanam benih syahwat di dalam hati, kemudian aku menyiramnya dengan air
angan-angan, lalu aku senantiasa menjanjikan dan memberi harapan palsu
padanya, dan aku menuntunnya dengan kendali syahwat menuju pelepasan diri
dari penjagaan (kesucian); maka janganlah kalian abaikan urusan celah
(mata) ini'." ([27])
- Ibnu al-Qayyim
—rahimahullah— berkata: "Tuhan Ta'ala menyeru hamba-hamba-Nya di
dalam Al-Qur'an untuk mengenal-Nya melalui dua jalan:
- Memperhatikan
(an-nazhar) pada ciptaan-ciptaan-Nya.
- Memikirkan
(at-tafakkur) pada ayat-ayat-Nya dan merenungkannya.
Maka
yang pertama adalah ayat-ayat-Nya yang disaksikan (al-masyhudah), dan
yang kedua adalah ayat-ayat-Nya yang didengar serta dipahami (al-masmu'ah
al-ma'qulah)."
Referensi
(Catatan Kaki):
Sama
seperti daftar referensi pada teks asli, merujuk pada nomor catatan kaki yang
tercantum di akhir teks (Ali 'Imran, An-An'am, Al-A'raf, dll).
- ([25]) Al-Akhirah di
sini bermakna akhir dari sebuah perkara/kejadian di dunia.
Maka
jenis yang pertama adalah sebagaimana firman Allah Ta'ala: “Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang
berakal.” (Ali 'Imran: 190). Dan yang semisal ini dalam Al-Qur'an sangat
banyak ([1]). Adapun yang kedua adalah seperti firman-Nya: “Maka apakah
mereka tidak merenungkan Al-Qur'an?” (An-Nisa: 82) ([2]), ([3]).
Seorang
penyair berkata:
Manusia
berada dalam kelalaian sedangkan kematian membangunkan mereka
Namun
mereka tidak kunjung sadar hingga usia habis binasa
Mereka
mengiringi jenazah keluarga mereka dengan perkumpulan mereka
Dan
mereka melihat ke tempat di mana keluarga itu dikuburkan
Lalu
mereka kembali kepada lamunan kelalaian mereka
Seolah-olah
mereka tidak melihat sesuatu pun dan tidak pernah memandang ([4])
Abu
Ja’far al-Qurasyi berkata:
Jika
engkau memandang dengan maksud mengambil pelajaran
Maka
pandanglah dirimu sendiri, sebab pada dirimu terdapat pelajaran ([5])
Di
Antara Atsar (Riwayat) dan Perkataan Ulama Mengenai At-Tafakkur
(Berpikir/Merenung)
Luqman
(Al-Hakim) sering duduk sendirian dalam waktu yang lama. Tuannya pernah lewat
di depannya dan berkata: “Wahai Luqman, engkau terus-menerus duduk sendirian,
sekiranya engkau duduk bersama orang-orang tentu itu akan lebih menyenangkan
bagimu.” Maka Luqman menjawab: “Sesungguhnya kesendirian yang lama itu lebih
memahamkan pikiran, dan pikiran yang lama adalah penunjuk menuju jalan surga.”
([6])
Dari
Ibnu Abbas —radhiyallahu 'anhuma—: “Dua rakaat yang sederhana namun disertai
dengan berpikir (tafakkur) itu lebih baik daripada salat malam semalam
suntuk namun dengan hati yang kosong.” ([7])
Dari
Ibnu Abbas —radhiyallahu 'anhuma— ia berkata: “Kaum Quraisy mendatangi
orang-orang Yahudi dan bertanya: ‘Mukjizat apa yang dibawa Musa kepada kalian?’
Mereka menjawab: ‘Tongkatnya dan tangannya yang putih bersinar bagi orang-orang
yang melihat.’ Kemudian mereka mendatangi kaum Nasrani dan bertanya: ‘Bagaimana
keadaan Isa di tengah kalian?’ Mereka menjawab: ‘Dia dapat menyembuhkan orang
buta sejak lahir, penyakit kusta, dan menghidupkan orang mati.’ Maka mereka
mendatangi Nabi ﷺ
dan berkata: ‘Berdoalah kepada Tuhanmu agar menjadikan bukit Shafa menjadi emas
bagi kami.’ Beliau pun berdoa kepada Tuhannya, lalu turunlah ayat: “Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (Ali 'Imran: 190).
Maka hendaknya mereka memikirkan (bertafakkur) di dalamnya.” ([8])
Dari
Ibnu Abbas —radhiyallahu 'anhuma— ia berkata: “Berpikirlah tentang segala
sesuatu (ciptaan-Nya), namun janganlah kalian berpikir tentang Zat Allah.”
([9])
Umar
bin Abdul Aziz berkata: “Berpikir (al-fikrah) tentang nikmat-nikmat
Allah termasuk ibadah yang paling utama.” ([10])
Dari
Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz, bahwasanya suatu hari ia menangis di
tengah para sahabatnya, lalu ia ditanya tentang sebab tangisannya, ia menjawab:
“Aku memikirkan tentang dunia, kelezatan, dan syahwatnya. Aku pun mengambil
pelajaran darinya bahwa syahwatnya hampir-hampir tidak pernah habis melainkan
akan dikeruhkan oleh kepahitannya. Jika tidak ada pelajaran di dalamnya bagi
orang yang mengambil pelajaran, sesungguhnya di dalamnya terdapat nasihat bagi
orang yang mau ingat.” ([11])
Dari
Abdullah bin Utbah ia berkata: Aku bertanya kepada Ummu ad-Darda: “Apakah
ibadah Abu ad-Darda yang paling utama?” Ia menjawab: “Berpikir (at-tafakkur)
dan mengambil pelajaran (al-i'tibar).” ([12])
Dari
Amir bin Abdi Qais ia berkata: Aku mendengar tidak hanya satu, dua, atau tiga
orang dari sahabat Muhammad ﷺ
berkata: “Sesungguhnya cahaya iman atau sinar iman adalah berpikir (at-tafakkur).”
([13])
Dari
Al-Hasan (Al-Bashri) —rahimahullah— ia berkata: “Sesungguhnya di antara amal
yang paling utama adalah sifat wara’ dan berpikir.” ([14])
Dari
Al-Hasan —rahimahullah— ia berkata: “Berpikir sesaat itu lebih baik daripada
salat malam semalam suntuk.” ([15])
Al-Hasan
berkata: “Orang-orang yang berakal senantiasa kembali dari dzikir kepada pikir,
dan dari pikir kepada dzikir, hingga mereka membuat hati mereka berbicara, maka
hati itu pun berbicara dengan hikmah.” ([16])
Dari
Muhammad bin Ka'ab al-Qurazhi ia berkata: “Sungguh aku membaca (surah) Idza
Zulzilat dan Al-Qari'ah di malam hariku hingga waktu subuh tanpa
menambah selain keduanya, sembari mengulang-ulang keduanya dan memikirkannya,
itu lebih aku cintai daripada aku membaca Al-Qur'an dengan tergesa-gesa semalam
suntuk.” ([17])
Dari
Thawus ia berkata: “Al-Hawariyyun (sahabat Nabi Isa) berkata kepada Isa bin
Maryam: ‘Wahai Ruhullah, apakah di bumi hari ini ada orang yang sepertimu?’
Beliau menjawab: ‘Ya, barangsiapa yang bicaranya adalah dzikir, diamnya adalah
pikir, dan pandangannya adalah pelajaran (ibrah), maka dialah
sepertiku’.” ([18])
Wahab
bin Munabbih berkata: “Tidaklah lama pikiran seseorang melainkan ia akan
mengetahui (mendapat ilmu), dan tidaklah seseorang mengetahui melainkan ia akan
beramal.” ([19])
Abdullah
bin al-Mubarak berkata: “Seorang laki-laki melewati seorang rahib di dekat
pemakaman dan tempat sampah, lalu ia memanggilnya dan berkata: ‘Wahai rahib,
sesungguhnya di sisimu ada dua perbendaharaan dari perbendaharaan dunia yang
padanya terdapat pelajaran bagimu; perbendaharaan manusia (kuburan) dan
perbendaharaan harta (sampah)’.” ([20])
Syeikh
Abu Sulaiman ad-Darani berkata: “Sesungguhnya aku keluar dari rumahku, dan
tidaklah pandanganku jatuh pada sesuatu melainkan aku melihat adanya nikmat
Allah di sana dan aku mendapatkan pelajaran di dalamnya.” ([21])
Bisyr
bin al-Harits al-Hafi berkata: “Sekiranya manusia berpikir tentang keagungan
Allah, niscaya mereka tidak akan bermaksiat kepada Allah —Azza wa Jalla.”
([22])
Mughits
al-Aswad berkata: “Ziarahilah kuburan setiap hari untuk membuat kalian
berpikir, dan saksikanlah tempat perhimpunan (hari kiamat) dengan hati kalian.
Lihatlah kepada kembalinya dua golongan (manusia) ke surga atau ke neraka.
Rasakanlah oleh hati dan fisik kalian tentang penyebutan neraka,
cambuk-cambuknya, dan tingkatan-tingkatannya.” Ia biasanya menangis setelah itu
hingga tersungkur pingsan di antara para sahabatnya karena hilang kesadarannya
(sangat takut).
Dikatakan
kepada Ibrahim bin Adham: “Sesungguhnya engkau memanjangkan pikiran.” Ia
menjawab: “Berpikir adalah inti dari akal.” ([23])
Imam
Syafi’i —rahimahullah— berkata: “Mintalah bantuan atas pembicaraan dengan diam,
dan atas penggalian hukum (istinbath) dengan berpikir.” Beliau juga
berkata: “Benarnya pandangan dalam segala urusan adalah penyelamat dari tipu
daya, keteguhan dalam pendapat adalah keselamatan dari kelalaian dan
penyesalan, pengamatan dan pikiran akan menyingkap ketegasan dan kecerdasan,
bermusyawarah dengan orang bijak adalah kemantapan bagi jiwa dan kekuatan bagi
mata batin (bashirah). Maka berpikirlah sebelum engkau bertekad,
renungkanlah sebelum engkau menyerang, dan bermusyawarahlah sebelum engkau maju
melangkah.” ([24])
Dari
Fudhail bin 'Iyadh ia berkata: “Pikiran adalah cermin yang memperlihatkan
kebaikan-kebaikanmu dan keburukan-keburukanmu.” ([25])
Abu
Sulaiman berkata: “Biasakanlah mata kalian untuk menangis dan hati kalian untuk
berpikir.” ([26])
Ia
juga berkata: “Memikirkan dunia adalah tirai/penghalang dari akhirat, sedangkan
memikirkan akhirat akan membuahkan hikmah dan menghidupkan hati.” ([27])
Dari
seorang wanita yang tinggal di pedalaman dekat Mekkah bahwasanya ia berkata:
“Sekiranya hati orang-orang bertakwa menengok dengan pikirannya kepada apa yang
telah disimpan untuk mereka di balik tirai ghaib berupa kebaikan akhirat,
niscaya tidak akan jernih kehidupan dunia bagi mereka dan tidak akan tenang
mata mereka di dunia.” ([28])
Al-Allamah
Ibnu al-Qayyim —rahimahullah— berkata: “Obat yang paling bermanfaat adalah
engkau menyibukkan dirimu dengan berpikir pada apa yang penting bagimu, bukan
pada apa yang tidak penting bagimu. Sebab, memikirkan hal yang tidak penting
adalah pintu segala keburukan. Barangsiapa berpikir pada hal yang tidak penting
baginya, maka akan luput darinya apa yang penting baginya, dan ia akan
tersibukkan dari hal yang paling bermanfaat baginya dengan sesuatu yang tidak
ada manfaat padanya. Maka pikiran, lintasan hati, keinginan, dan tekad adalah
hal yang paling berhak untuk engkau perbaiki dari dirimu sendiri; karena inilah
privasimu dan hakikat dirimu yang dengannya engkau menjauh atau mendekat kepada
Tuhanmu dan Sembahanmu—yang tidak ada kebahagiaan bagimu kecuali dengan dekat
kepada-Nya dan ridha-Nya bagimu. Segala kesengsaraan adalah dalam kejauhanmu
dari-Nya dan kemurkaan-Nya atasmu. Barangsiapa yang dalam lintasan hati dan
ranah pikirannya bersifat rendah dan hina, maka tidaklah sisa urusannya
melainkan akan menjadi seperti itu pula.” ([29])
Referensi
(Catatan Kaki):
Sama
seperti daftar referensi pada teks asli (merujuk pada buku Al-Ihya, Tafsir
Ibnu Katsir, Al-Fawaid, Said al-Khatir, dll).
Di
Antara Perkataan Para Penyair:
Sufyan
bin 'Uyainah —rahimahullah— berkata:
"Apabila
seseorang memiliki pikiran (yang merenung),
Maka
dalam segala sesuatu terdapat pelajaran baginya." ([1])
Beberapa
ahli sastra melantunkan syair:
"Sungguh
aku telah melihat kesudahan urusan dunia,
Maka
aku tinggalkan apa yang aku sukai demi apa yang aku takuti.
Aku
merenungkan tentang dunia dan isinya,
Ternyata
seluruh urusannya akan sirna.
Aku
telah menguji kebanyakan penghuninya, ternyata,
Setiap
orang sibuk berjuang demi urusannya sendiri.
Kedudukan
yang paling indah dan paling tinggi,
Dalam
kemuliaannya justru paling dekat dengan jurang kejatuhan.
Keburukannya
menghapus kebaikannya,
Tak
ada beda antara berita duka dan berita gembira.
Sungguh
aku telah melewati pemakaman, namun aku,
Tidak
bisa membedakan antara hamba sahaya dan tuannya.
Tahukah
engkau betapa banyak yang telah kau lihat,
Mereka
yang tadinya hidup lalu kemudian kau lihat telah mati." ([2])
Seorang
penyair berkata:
"Jika
engkau sedang dalam kenikmatan, maka jagalah ia,
Karena
sesungguhnya kemaksiatan itu melenyapkan kenikmatan.
Lindungilah
ia dengan ketaatan kepada Tuhan semesta alam,
Karena
Tuhan semesta alam sangat cepat siksaan-Nya.
Dan
jauhilah kezaliman semampu yang kau bisa,
Karena
menzalimi sesama hamba dampaknya sangat mematikan.
Mengembaralah
dengan hatimu di antara manusia,
Agar
engkau dapat melihat jejak-jejak orang yang telah berbuat zalim." ([3])
Pentingnya
Memperhatikan Kesudahan Urusan (Al-Awaqib)
Ibnu
al-Jauzi berkata dalam kitab Said al-Khatir:
Seyogianya
kesibukan orang yang berakal adalah melihat kepada kesudahan urusan dan waspada
terhadap apa yang mungkin terjadi.
Termasuk
kesalahan adalah hanya melihat pada keadaan saat ini yang selaras dengan mata
pencahariannya dan kesehatan fisiknya, padahal boleh jadi apa yang menyertainya
saat ini tidak akan berlangsung selamanya. Maka ia harus bertindak atas dasar
rasa takut akan terputusnya hal tersebut, sehingga ia selalu siap terhadap
perubahan keadaan.
Demikian
pula, hendaknya ia melihat kepada kelezatan yang akan sirna namun meninggalkan
beban dosa dan aibnya, serta (waspada terhadap) mendahulukan rasa malas dan
santai karena hal itu akan mengakibatkan kebodohan yang menetap. Begitu pula
dalam pencapaian keinginan-keinginan yang tidak dapat diraih kecuali dengan
kelembutan dalam tipu daya, terutama jika keinginan itu hendak diraih dari
orang yang cerdik, karena orang cerdik akan paham hanya dengan sedikit isyarat
(talwih) ([4]).
Maka
barangsiapa ingin mengalahkan orang yang cerdik, ia harus memperdalam
pengamatan dan bersikap lembut dalam siasat. Dalam kitab-kitab tentang siasat (al-hiyal)
telah disebutkan hal-hal yang dapat menajamkan (yasyhadzu) ([5])
pikiran, dan kami telah menyebutkan sebagian besarnya dalam kitab Al-Adzkiya'
(Orang-orang Cerdas).
Seperti
riwayat bahwa ada seorang lelaki dari kalangan bangsawan yang tidak pernah
berdiri menghormati siapa pun dan tidak takut kepada siapa pun. Suatu ketika,
salah seorang menteri lewat di depannya dan memberi salam, namun ia tidak
menjawab dan tidak pula berdiri. Menteri itu kemudian berkata kepada seseorang:
"Kabarkanlah kepada si fulan itu bahwa aku telah berbicara kepada Amirul
Mukminin tentang urusannya, dan beliau telah memerintahkan pemberian seratus
ribu (dirham) untuknya, maka hendaknya ia hadir untuk mengambilnya." Orang
itu pun mengabarkannya kepada si bangsawan. Sang bangsawan berkata: "Jika
beliau memang memerintahkan sesuatu untukku, maka laksanakanlah kiriman itu
padaku, sesungguhnya maksud menteri itu hanyalah ingin merendahkan martabatku
dengan membuatku bolak-balik mendatanginya."
Maka
kapan pun manusia berhadapan dengan orang yang cerdik, ia harus waspada
darinya, mencuri tujuannya dengan berbagai macam siasat, dan melihat apa yang
mungkin terjadi lalu mewaspadainya, sebagaimana pemain catur melihat
langkah-langkah perpindahan bidak (al-naqalat) ([6]).
Banyak
orang cerdik yang tidak mampu mencapai tujuan mereka terhadap orang cerdik
lainnya, lalu mereka memberinya sesuatu dan berlebihan dalam memuliakannya
untuk menjebaknya; jika orang itu kurang cerdas, ia akan jatuh ke dalam
perangkap, namun jika ia lebih cerdas dari mereka, ia akan tahu bahwa di balik
niat ini ada sesuatu yang tersembunyi, sehingga hal itu justru menambah
kewaspadaannya.
Dan
hal yang paling kuat yang harus diwaspadai adalah dari orang yang menaruh
dendam (mautur). Karena jika engkau menyakiti seseorang, sungguh engkau
telah menanam permusuhan di hatinya, maka janganlah merasa aman dari tumbuhnya
cabang-cabang pohon tersebut. Janganlah tertipu oleh sikap ramah yang ia
tampakkan meski ia bersumpah, jika engkau mendekatinya maka tetaplah waspada.
Termasuk
kelalaian adalah ketika engkau menghukum seseorang atau berbuat buruk yang
sangat besar kepadanya, dan engkau tahu hal semacam itu akan memperbarui rasa
benci, lalu engkau melihatnya tunduk, taat, bertaubat, dan berhenti dari
perbuatannya, kemudian engkau kembali merasa nyaman dengannya dan melupakan apa
yang telah kau perbuat, serta menyangka bahwa apa yang telah kau lakukan telah
terhapus dari hatinya. Boleh jadi ia sedang menyiapkan ujian bagimu dan
memasang perangkap untukmu, sebagaimana yang dilakukan Qushair terhadap
Az-Zabba' yang kisahnya sudah masyhur.
Maka
janganlah engkau tinggal tenang bersama orang yang telah engkau sakiti, bahkan
jika harus berhubungan pun, lakukanlah dari jarak jauh, karena engkau tidak
akan pernah aman dari rasa dendam.
Apabila
engkau melihat musuhmu dalam keadaan lalai yang tidak menghalanginya dari
berbuat baik, maka berbuat baiklah kepadanya, karena itu akan membuatnya lupa
akan permusuhanmu, dan ia tidak akan menyangka bahwa engkau menyimpan balasan
atas keburukan perbuatannya, barulah saat itu engkau mampu mencapai setiap
tujuan darinya.
Termasuk
kelemahan (al-khawar) ([7]) adalah menampakkan permusuhan kepada musuh.
Di antara sebaik-baik pengaturan (tadbir) adalah bersikap lembut kepada
musuh-musuh sampai memungkinkan untuk mematahkan kekuatan mereka. Kalaupun hal
itu tidak memungkinkan, maka kelembutan menjadi sebab tertahannya mereka dari
menyakiti, dan di antara mereka ada yang merasa malu karena kebaikan
perbuatanmu, sehingga hatinya berubah (menjadi baik) terhadapmu.
Dahulu
ada sekelompok ulama Salaf, jika sampai kabar kepada mereka bahwa ada seseorang
yang mencaci maki mereka, mereka justru memberi hadiah dan pemberian kepadanya.
Dengan begitu, secara cepat mereka menahan keburukannya, bersiasat dalam
membalikkan hatinya, dan dengan hal itu mereka mendapatkan waktu luang untuk
mengatur siasat terhadapnya jika mereka mau.
Cukuplah
bagi pikiran yang melihat kepada kesudahan urusan dan merenungkan setiap
kemungkinan sebagai pendidik (mu'addiban).
Catatan
Kaki:
- ([1]) Tafsir Ibnu Katsir
(1/438).
- ([2]) Al-Fawaid karya Ibnu
al-Qayyim (227).
- ([3]) Adab ad-Dunya wa
ad-Din karya Al-Mawardi (285).
- ([4]) Talwih: Isyarat
dan sindiran halus.
- ([5]) Yasyhadzu:
Menajamkan; Yasyhadzul khowathir artinya menjadikannya kuat dan
peka terhadap segala sesuatu.
- ([6]) Al-Ruq'ah:
Papan catur. Al-Naqalat: Langkah-langkah permainan.
- ([7]) Al-Khawar:
Kelemahan.
Contoh-contoh
Mengenai Mata Batin (Bashirah) dan Melihat Kesudahan Urusan
Di
antaranya adalah bahwa rasa malas dalam menuntut ilmu dan lebih mendahulukan
istirahat sesaat akan mengakibatkan penyesalan abadi yang mana kelezatan
pengangguran tidak akan sebanding dengan sepersepuluh dari penyesalan tersebut.
Pernah saudaraku duduk di sampingku—sedangkan ia adalah orang awam yang
fakir—maka aku berkata dalam hatiku: "Saat ini kita sama-sama sedang
duduk, lalu di manakah rasa lelahku dalam menuntut ilmu? Dan di manakah
kelezatan penganggurannya?" (Artinya: rasa lelah menuntut ilmu telah
hilang berganti ilmu, dan lezatnya santai telah hilang berganti kebodohan).
Di
antaranya pula adalah bahwa seseorang terkadang tidak mengetahui suatu ilmu,
namun ia merasa malu untuk bertanya dan belajar karena usianya yang sudah tua,
dan karena ia tidak ingin dipandang sebagai orang bodoh. Maka ia akan tertimpa
rasa malu (aib) jika ditanya tentang hal itu (di masa depan) berlipat-lipat
ganda dari rasa malu yang ia pertahankan saat ini (saat enggan bertanya).
Di
antaranya, tabiat manusia menuntut untuk bertindak sesuai dengan keadaan saat
ini, seperti membalas ucapan orang bodoh di saat marah, kemudian muncul
penyesalan di saat kedua (setelahnya); padahal kelezatan sifat santun (hilm)
lebih sempurna daripada balas dendam. Boleh jadi tindakan (balasan) itu justru
menyulut kebencian dari orang bodoh tersebut, lalu ia mendapatkan kesempatan
dan berlebihan dalam menyakitinya.
Di
antaranya, seseorang memusuhi orang lain padahal ia tidak merasa aman jika
suatu saat orang yang dimusuhi itu kedudukannya naik lalu menyakitinya.
Seharusnya ia memendam saja permusuhan terhadap musuh (tanpa menampakkannya).
Di
antaranya, seseorang mencintai seseorang, lalu ia membocorkan
rahasia-rahasianya kepadanya, kemudian terjadi permusuhan di antara keduanya,
maka orang tersebut membongkar rahasianya.
Di
antaranya, seseorang melihat harta yang banyak, lalu ia menafkahkannya secara
berlebihan sembari lupa bahwa harta itu akan habis. Maka pada keadaan
berikutnya ia tertimpa berbagai kebutuhan, sehingga ia merasakan penyesalan
berlipat ganda dari kelezatan yang ia rasakan saat berfoya-foya. Maka
seyogianya bagi orang yang dikaruniai harta untuk membayangkan masa tua dan
ketidakmampuan untuk mencari nafkah, serta membayangkan hilangnya harga diri
saat harus meminta-minta kepada orang lain, agar ia menjaga harta yang ada
padanya.
Di
antaranya, seorang pemegang kekuasaan bersikap terlalu santai dalam
kekuasaannya (sewenang-wenang), maka ketika ia dicopot, ia menyesali apa yang
telah ia perbuat. Seharusnya ia membayangkan saat pencopotan itu dan bekerja
sesuai dengan konsekuensi tersebut.
Di
antaranya, seseorang mendahulukan kelezatan makanan hingga kekenyangan, lalu ia
kehilangan kesempatan salat malam (qiyamul lail), atau mendahulukan
kelezatan tidur sehingga ia kehilangan waktu tahajud. Atau ia makan atau
berhubungan intim dengan rakus lalu ia sakit. Atau ia bersyahwat untuk
menyetubuhi (budak) hitam dan lupa bahwa boleh jadi ia akan hamil dan
melahirkan anak perempuan yang hitam; betapa banyak penyesalan yang akan
menimpanya sepanjang zaman setiap kali ia melihat anak perempuan itu. Di zaman
kami, ada orang yang menyetubuhi wanita hitam lalu lahir baginya seorang anak
sehingga ia merasa malu (aib) karenanya, di antaranya adalah pemilik gudang (shahibul
makhzan) dan Hakim Agung (Qadhi al-Qudhat) ad-Damaghani; beliau
adalah seorang pedagang yang lahir baginya putra berkulit hitam, maka ketika ia
melihatnya ia berkata: "Semoga Allah melaknat syahwatku."
Di
antaranya, kesibukan seorang alim dengan simbol-simbol ilmu (formalitas),
padahal yang diinginkan adalah mengamalkannya dan ikhlas dalam mencarinya. Maka
waktu pun habis demi mencintai popularitas dan mencari pujian manusia, sehingga
kerugian terjadi ketika apa yang ada di dalam dada (niat) diperiksa (di
akhirat).
Di
antaranya pula, seorang alim merasa cukup dengan sebagian kecil ilmu; maka di
manakah persaingan dengan orang-orang sempurna dan pengamatan terhadap
kesudahan keadaan mereka? Terkadang ia memilih yang lebih mudah seperti
mendahulukan ilmu hadis di atas ilmu fikih, padahal penderitaan menaiki anak
tangga akan terasa mudah demi mencapai ketinggian.
Di
antaranya, memperbanyak hubungan intim dengan melupakan akibatnya, bahwa hal
itu melemahkan badan dan menyakitinya. Tabiat manusia hanya melihat kelezatan
saat ini, namun akal merenungkannya. Penjelasan tentang hal ini sangat panjang,
namun aku telah mengingatkan pokok-pokoknya.
Sungguh
aku pernah datang (ke rumah) dari panas yang sangat terik, lalu aku
terburu-buru ingin merasakan dingin, maka aku melepas bajuku (di depan
kipas/angin dingin), sehingga aku terserang flu yang hampir membuatku mati.
Seandainya aku bersabar sejenak, niscaya aku beruntung terhindar dari apa yang
aku alami. Maka kiaslah (bandingkanlah) setiap kelezatan sesaat dan biarkan
akal mengamati kesudahannya, wallahu a'lam.
Beliau
(Ibnu al-Jauzi) juga berkata: Aku merenungkan tentang berbagai kelezatan, dan
aku melihatnya terbagi antara kelezatan indrawi (hissi) dan kelezatan
maknawi. Adapun kelezatan indrawi, ia tidaklah berarti apa-apa bagi jiwa-jiwa
yang mulia; ia diinginkan hanya sebagai sarana bagi yang lain, seperti nikah
untuk mendapatkan anak dan untuk menghilangkan sisa metabolisme yang
menyakitkan, makan untuk mendapatkan nutrisi dan pengobatan, serta harta untuk
persiapan kebutuhan dan agar tidak bergantung pada makhluk. Kelezatan hanya
dijadikan sarana untuk mendapatkan hal-hal tersebut. Jika sesuatu dari hal itu
dicari hanya demi kelezatan itu sendiri, maka tabiat memang memiliki bagian di
sana, namun setiap kelezatan indrawi selalu disertai dengan dampak buruk (afat)
yang hampir-hampir tidak sebanding dengan kelezatannya. Nikah adalah kelezatan
sesaat, namun setelahnya ia diikuti oleh hilangnya kekuatan, beban untuk mandi
janabah, melayani istri, serta memberi nafkah kepadanya dan kepada anak-anak.
Maka kelezatan itu menyambar seperti sambaran kilat, namun yang menyertainya
adalah petir yang menggelegar. Begitu pula apa yang menyertai makanan sudah
dimaklumi berupa (urusan) bersuci dan selainnya. Dan sudah dimaklumi pula apa
yang menyertai cinta harta berupa penderitaan dalam mencari nafkah, terjun ke
dalam hal-hal syubhat, dan memalingkan hati dari memikirkan akhirat karena
sibuk dengan mencari harta. Berdasarkan hal ini, pada seluruh kelezatan indrawi
seyogianya seseorang mengambil yang bersifat darurat saja, maka penderitaan
yang terjadi pun adalah penderitaan yang darurat, sehingga terwujudlah sifat
qanaah seukuran kecukupan dan sifat menjaga diri (iffah) dari kelebihan
syahwat.
Hanyalah
kelezatan yang sempurna itu ada pada urusan maknawi, yaitu: ilmu, pemahaman
terhadap hakikat segala perkara, derajat yang lebih tinggi dengan kesempurnaan
di atas orang-orang yang kurang, dan membalas musuh—namun terkadang kelezatan
memaafkan itu lebih nikmat, karena ia tidak terjadi kecuali terhadap orang yang
sudah hina dan dikalahkan. Juga sabar dalam meraih setiap keutamaan dan
menjauhi setiap kehinaan, memperhatikan kesudahan segala urusan, dan cita-cita
yang tinggi (uluwwul himmah) sehingga tidak merasa puas sebelum mencapai
puncak tujuan yang diinginkan berupa keutamaan.
Barangsiapa
mengetahui bahwa dunia ini akan sirna, dan bahwa tingkatan manusia di surga
sesuai dengan kadar amal mereka di dunia, niscaya ia akan menyaingi mereka
sebelum sampai di sana agar ia tidak datang dengan derajat yang lebih rendah
dari mereka. Barangsiapa berpikir, ia akan tahu bahwa banyak penghuni surga
yang berada dalam kekurangan (derajat) dibandingkan dengan orang yang lebih
tinggi dari mereka, hanya saja mereka tidak menyadari kekurangan mereka karena
sudah ridha dengan keadaan mereka; namun hari inilah kita mengetahuinya. Maka
bersegeralah, bersegeralah dalam meraih keutamaan-keutamaan yang paling utama,
dan gunakanlah waktu yang berlalu cepat ini satu kali sebelum engkau menelan
minuman penyesalan yang sangat mengerikan kepahitannya. Katakanlah pada dirimu
sendiri: "Ada apa dengan si fulan dan si fulan dari orang-orang yang telah
mati (yang beramal shalih), maka bersainglah dengan mereka!"
Jika
engkau mengagumi pekerti seseorang
Maka
jadilah sepertinya, niscaya engkau menjadi seperti apa yang kau kagumi
Sebab
tidak ada pada kedermawanan dan kemuliaan
Ketika
engkau mendatanginya, penjaga pintu yang menghalangimu
Beliau
juga berkata: Kelezatan indrawi itu bersifat syahwat, dan semuanya bercampur
dengan kekeruhan. Adapun kelezatan jiwa tidak ada kekeruhan di dalamnya,
seperti aroma yang wangi, suara yang merdu, dan ilmu. Yang paling tinggi adalah
mengenal Sang Pencipta Subhanahu wa Ta'ala. Maka barangsiapa yang
didominasi oleh syahwat indrawi, ia serupa dengan binatang, dan barangsiapa
yang didominasi oleh keinginan jiwa (maknawi), ia bersaing dengan para
malaikat.
Beliau
juga berkata: Aku berpikir pada suatu hari dan aku melihat bahwa kita berada di
negeri perdagangan, keuntungan, dan keutamaan. Perumpamaannya seperti ladang;
barangsiapa yang membaguskan benihnya dan penjagaannya, serta tanahnya subur
dan pengairannya tercukupi, maka hasilnya akan banyak. Dan kapan saja terjadi
kekurangan pada salah satu hal tersebut, maka ia akan berpengaruh pada hari
panen. Amal di dunia ada yang bersifat wajib—dan banyak manusia yang lalai di
dalamnya—dan ada yang bersifat keutamaan (fadhilah)—dan kebanyakan
manusia malas dalam mencari keutamaan.
Manusia
terbagi dua: Orang alim yang dikalahkan oleh hawa nafsunya sehingga ia lamban
dalam beramal, dan orang bodoh yang menyangka dirinya berada di atas kebenaran,
dan inilah yang mendominasi makhluk. Penguasa hanya menjaga kekuasaannya dan
tidak peduli dengan pelanggaran syariat, atau ia melihat karena kebodohannya
bahwa apa yang ia lakukan itu boleh. Ahli fikih fokusnya adalah menyusun
pertanyaan demi menjatuhkan lawan. Pengkhotbah fokusnya adalah menghias
kata-kata agar pendengar kagum. Orang zuhud maksudnya adalah menghias
lahiriahnya dengan kekhusyukan agar tangannya dicium dan ia dijadikan sumber
berkah. Pedagang menghabiskan umurnya dalam mengumpulkan harta dengan cara apa
pun, pikirannya tercurahkan untuk hal itu sehingga lalai dari melihat keabsahan
akad. Orang yang terbuai syahwat tenggelam dalam memenuhi tujuannya, terkadang
dengan makanan, terkadang dengan persetubuhan, dan selainnya.
Jika
umur telah habis dalam hal-hal ini, dan hati sibuk memikirkan cara meraihnya,
maka kapankah engkau sempat untuk mengeluarkan maksud yang palsu dari maksud
yang murni (ikhlas), mengoreksi diri dalam perbuatan-perbuatannya, mengusir
kekeruhan dari batin yang terdalam, mengumpulkan bekal untuk perjalanan jauh,
serta bersegera meraih keutamaan dan kemuliaan?
Maka
yang tampak adalah kebanyakan orang akan datang (menghadap Allah) dengan
penyesalan; baik karena melalaikan kewajiban atau menyesali luputnya
keutamaan-keutamaan. Maka bertaqwalah kepada Allah, wahai orang-orang yang
memiliki pemahaman! Putuskanlah segala penghalang dari urusan yang penting
(akhirat) sebelum nyawa dicabut secara tiba-tiba di saat hati sedang
tercerai-berai dan urusan sedang terabaikan.
Contoh
Terapan dari Kehidupan Nabi ﷺ dalam Hal (Tafakkur/Berpikir)
Dari
'Aisyah Ummul Mukminin —radhiyallahu 'anha— bahwasanya ia berkata:
"Permulaan wahyu yang datang kepada Rasulullah ﷺ adalah mimpi yang saleh (benar) dalam
tidur. Tidaklah beliau melihat mimpi kecuali mimpi itu datang seperti cahaya
subuh yang terang. Kemudian beliau dijadikan suka menyendiri (khala'),
maka beliau sering menyendiri di Gua Hira untuk melakukan tahannuts
(yaitu beribadah) ([1]) selama beberapa malam yang berbilang jumlahnya sebelum
beliau kembali kepada keluarganya. Beliau membawa bekal untuk itu. Kemudian
beliau kembali kepada Khadijah dan mengambil bekal kembali untuk waktu yang
serupa, hingga datanglah kebenaran (Al-Haqq) kepada beliau saat beliau
berada di Gua Hira. Malaikat datang kepadanya dan berkata: 'Bacalah!' Beliau
menjawab: 'Aku tidak bisa membaca.' Nabi bersabda: 'Lalu malaikat itu
memegangku dan mendekapku dengan kuat hingga aku merasa kepayahan (al-jahdu)
([2]), kemudian dia melepaskanku dan berkata lagi: 'Bacalah!' Beliau menjawab:
'Aku tidak bisa membaca.' Maka dia memegangku dan mendekapku untuk kedua
kalinya hingga aku merasa kepayahan. Kemudian dia melepaskanku dan berkata
lagi: 'Bacalah!' Aku menjawab: 'Aku tidak bisa membaca.' Maka dia memegangku
dan mendekapku untuk ketiga kalinya hingga aku merasa kepayahan. Kemudian dia
melepaskanku dan berkata: 'Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang
menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan
Tuhanmulah Yang Maha Pemurah' (QS. Al-'Alaq: 1-3). Maka Rasulullah ﷺ pulang dengan membawa
ayat tersebut dalam keadaan hatinya ([4]) bergetar/gemetar ([3]) (karena
takut)."
Dari
Ibnu Abbas —radhiyallahu 'anhuma— ia berkata: "Aku menginap di rumah
bibiku, Maimunah. Rasulullah ﷺ
berbincang-bincang dengan istrinya sesaat kemudian beliau tidur. Ketika tiba
sepertiga malam yang terakhir, beliau duduk lalu melihat ke arah langit dan
membaca: 'Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih
bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal'
(QS. Ali 'Imran: 190). Kemudian beliau bangun, berwudu, dan bersiwak ([5]),
lalu beliau salat sebelas rakaat. Kemudian Bilal mengumandangkan azan, lalu
beliau salat dua rakaat (qabliyah), kemudian beliau keluar dan mengimami salat
Subuh."
Dari
Hudzaifah —radhiyallahu 'anhu— ia berkata: "Aku salat bersama Nabi ﷺ pada suatu malam.
Beliau membuka salat dengan membaca surah Al-Baqarah. Aku bergumam dalam hati
([6]) bahwa beliau akan rukuk pada ayat keseratus. Namun beliau terus membaca.
Aku bergumam: 'Beliau akan menyelesaikannya dalam satu rakaat', namun beliau terus
membaca. Aku bergumam ([7]): 'Beliau akan rukuk setelah menyelesaikannya'.
Namun beliau kemudian mulai membaca surah An-Nisa sampai selesai. Kemudian
beliau mulai membaca surah Ali 'Imran sampai selesai. Beliau membaca dengan
perlahan (mutarassilan). Jika beliau melewati ayat yang di dalamnya
terdapat tasbih, beliau bertasbih. Jika melewati ayat yang berisi permohonan,
beliau memohon. Jika melewati ayat yang berisi permohonan perlindungan, beliau
memohon perlindungan. Kemudian beliau rukuk dan mengucapkan: 'Subhana
Rabbiyal 'Adzim' (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung). Rukuk beliau lamanya
hampir sama dengan berdirinya. Kemudian beliau berucap: 'Sami'allahu liman
hamidah'. Lalu beliau berdiri lama, hampir sama dengan lamanya rukuk.
Kemudian beliau sujud dan mengucapkan: 'Subhana Rabbiyal A'la' (Maha
Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi). Sujud beliau lamanya hampir sama dengan
berdirinya."
(Perawi
berkata) Dan dalam hadis Jarir terdapat tambahan: Beliau berucap: "Sami'allahu
liman hamidah. Rabbana lakal hamd" ([8]).
Dari
Abdullah bin Mas'ud —radhiyallahu 'anhu— ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku:
"Bacakanlah Al-Qur'an untukku." Aku menjawab: "Wahai Rasulullah,
apakah aku membacakannya untukmu padahal Al-Qur'an diturunkan kepadamu?"
Beliau bersabda: "Sesungguhnya aku ingin mendengarnya dari orang lain."
Maka aku membacakan surah An-Nisa, hingga ketika sampai pada ayat: 'Maka
bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang
saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai
saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)' (QS. An-Nisa: 41). Aku mengangkat
kepalaku—atau seorang laki-laki di sampingku menyenggolku sehingga aku
mengangkat kepalaku—dan aku melihat air mata beliau mengalir ([9]).
Dorongan
untuk Berpikir (Tafakkur) dan Merenung (Tadabbur)
Al-Ghazali
—rahimahullah— berkata: "Banyak sekali dorongan dalam Kitab Allah Ta'ala
untuk merenung (tadabbur), mengambil pelajaran (i'tibar),
memperhatikan (nazhar), dan memikirkan (iftikar). Tidaklah samar
bahwa pikiran (al-fikr) adalah kunci dari segala cahaya dan awal dari
tumbuhnya mata batin (istibshar). Ia adalah jaring ilmu pengetahuan dan
perangkap bagi berbagai makrifat serta pemahaman. Kebanyakan manusia telah
mengetahui keutamaan dan kedudukannya, namun mereka bodoh (tidak tahu) tentang
hakikatnya, buahnya, dan sumbernya." ([10])
Penjelasan
tentang Hakikat Pikiran (Fikr) dan Buahnya
Ketahuilah
bahwa makna dari berpikir (al-fikr) adalah menghadirkan dua pengetahuan
di dalam hati untuk menghasilkan buah berupa pengetahuan ketiga. Contohnya
adalah seseorang yang cenderung pada kesenangan sesaat dan lebih mendahulukan
kehidupan dunia, namun ia ingin mengetahui bahwa akhirat lebih utama untuk
didahulukan daripada dunia yang sesaat ini. Ia memiliki dua jalan:
- Mendengar dari orang lain
bahwa akhirat lebih utama daripada dunia, lalu ia mengekor (taqlid)
dan membenarkannya tanpa adanya mata batin (bashirah) terhadap
hakikat perkara tersebut. Ia pun mengarahkan amalnya untuk akhirat hanya
bersandar pada ucapan orang tersebut. Ini disebut taqlid dan tidak
disebut makrifat (pengetahuan mendalam).
- Jalan kedua adalah ia
mengetahui (pengetahuan pertama) bahwa 'sesuatu yang kekal itu lebih utama
untuk didahulukan'. Kemudian ia mengetahui (pengetahuan kedua) bahwa
'akhirat itu kekal'. Maka dari dua pengetahuan ini, ia menghasilkan
pengetahuan ketiga, yaitu 'akhirat lebih utama untuk didahulukan'.
Pengetahuan ketiga ini tidak mungkin terwujud kecuali dengan dua
pengetahuan sebelumnya.
Maka,
menghadirkan dua pengetahuan sebelumnya di dalam hati untuk sampai pada
pengetahuan ketiga disebut sebagai tafakkur (berpikir), i'tibar
(mengambil pelajaran), tadzakkur (mengingat), nazhar
(memperhatikan), ta'ammul (merenungkan), dan tadabbur
(mendalami).
Adapun
istilah tadabbur, ta'ammul, dan tafakkur adalah
ungkapan-ungkapan yang sinonim (memiliki makna yang sama) dan tidak memiliki
perbedaan makna yang mendasar di bawahnya. Sedangkan istilah tadzakkur, i'tibar,
dan nazhar memiliki makna yang berbeda-beda meskipun objek yang dinamai
adalah satu. Hal ini seperti istilah: ash-sharim, al-muhannad,
dan as-saif (pedang); semuanya merujuk pada benda yang sama tetapi
dengan sudut pandang berbeda. Ash-sharim merujuk pada pedang dari sisi
ketajamannya yang memotong, al-muhannad merujuk pada penisbatannya ke
tempat asalnya (India), sedangkan as-saif adalah nama mutlak tanpa
memandang tambahan-tambahan sifat tersebut.
Demikian
pula i'tibar: digunakan untuk proses menghadirkan dua pengetahuan dari
sisi adanya "penyeberangan" darinya menuju pengetahuan ketiga. Jika
penyeberangan itu belum terjadi dan hanya sebatas berhenti pada dua pengetahuan
awal, maka ia dinamakan tadzakkur (mengingat), bukan i'tibar.
Adapun
nazhar (melihat/memperhatikan) dan tafakkur (berpikir): digunakan
dari sisi adanya upaya mencari pengetahuan ketiga. Maka, barangsiapa yang tidak
sedang mencari pengetahuan ketiga, ia tidak disebut nazhir (orang yang
memperhatikan).
Jadi,
setiap orang yang berpikir (mutafakkir) pastilah dia mengingat (mutadzakkir),
namun tidak setiap orang yang mengingat (mutadzakkir) itu sedang
berpikir (mutafakkir). Manfaat dari tadzakkur (mengingat) adalah
mengulang-ulang pengetahuan di dalam hati agar kokoh dan tidak terhapus dari
hati. Sedangkan manfaat tafakkur (berpikir) adalah menambah ilmu dan
mendatangkan pengetahuan baru yang sebelumnya tidak dimiliki. Inilah perbedaan
antara mengingat dan berpikir.
Pengetahuan-pengetahuan
itu jika berkumpul dan berpasangan di dalam hati dengan urutan yang khusus,
akan membuahkan pengetahuan lain. Pengetahuan adalah hasil dari pengetahuan.
Jika pengetahuan lain didapatkan, lalu dipasangkan lagi dengan pengetahuan lainnya,
maka akan menghasilkan hasil yang lain lagi. Demikianlah hasil demi hasil terus
berlanjut, ilmu terus bertambah, dan pikiran terus meluas tanpa batas. Jalan
bertambahnya makrifat hanyalah tertutup oleh kematian atau hambatan-hambatan
lainnya. Hal ini berlaku bagi mereka yang mampu mengolah ilmu dan mendapat
petunjuk menuju jalan berpikir.
Mengenal
jalan penggunaan dan pengolahan (ilmu) ini terkadang berasal dari cahaya Ilahi
di dalam hati yang didapat secara fitrah sebagaimana yang dimiliki para nabi
—semoga selawat Allah tercurah atas mereka semua— dan hal ini sangatlah langka.
Namun, terkadang ia didapat melalui belajar dan latihan, dan inilah yang paling
banyak terjadi.
Adapun
buah dari pikiran (fikr) adalah ilmu, keadaan (ahwal), dan amal
perbuatan. Namun buah khususnya adalah ilmu, tidak yang lain. Benar
bahwa jika ilmu telah didapat di dalam hati, maka keadaan hati akan berubah.
Jika keadaan hati berubah, maka amal perbuatan anggota badan akan ikut berubah.
Maka amal mengikuti keadaan hati, keadaan hati mengikuti ilmu, dan ilmu mengikuti
pikiran.
Oleh
karena itu, berpikir adalah permulaan dan kunci bagi segala kebaikan. Inilah
yang menyingkap bagimu keutamaan tafakkur, dan bahwa ia lebih baik
daripada dzikir dan tadzakkur (sekadar mengingat), karena tafakkur
adalah dzikir ditambah dengan nilai lebih. Dzikir hati lebih baik daripada amal
anggota badan, bahkan kemuliaan amal itu sendiri terletak pada dzikir yang ada
di dalamnya. Maka dari itu, tafakkur (berpikir/merenung) lebih utama
daripada keseluruhan amal perbuatan."
Catatan
Kaki:
- ([1]) Ucapan "yaitu
beribadah" adalah penafsiran dari perawi; karena maknanya adalah
meninggalkan dosa (al-hinst), dan barangsiapa meninggalkan dosa
maka ia masuk ke dalam ketaatan.
- ([2]) Al-Jahdu:
dengan fathah berarti kesukaran/kepayahan, dan dengan dhommah (al-juhdu)
berarti kemampuan/tenaga.
- ([3]) Yarjufu: yaitu
bergetar/guncang karena sangat takut.
- ([4]) Hadis lengkapnya ada
di Sahih Bukhari bab Bad'ul Wahyi.
- ([5]) Bukhari (Fathul Bari
1/3), dan Muslim (160), lafaz milik Muslim.
- ([6]) Bukhari (Fathul Bari
8/4569), dan Muslim (763).
- ([7]) Fa qultu: yakni
di dalam hatiku, maksudnya aku menyangka beliau akan rukuk pada ayat
keseratus.
- ([8]) Muslim (772).
- ([9]) Bukhari (Fathul Bari
8/4582), Muslim (800), lafaz milik Muslim.
- ([10]) Al-Ihya
(4/423).
Penjelasan
Mengenai Ranah/Bidang Objek Pikiran
Ketahuilah
bahwa pikiran (al-fikr) terkadang berjalan pada perkara yang berkaitan
dengan agama, dan terkadang berjalan pada hal-hal yang berkaitan dengan selain
agama. Namun tujuan kita hanyalah apa yang berkaitan dengan agama, maka
biarkanlah bagian yang lain. Yang kami maksud dengan agama adalah muamalah
(hubungan) antara hamba dengan Rabb Ta’ala. Semua pikiran hamba itu adakalanya
berkaitan dengan hamba itu sendiri (sifat-sifat dan keadaannya), atau berkaitan
dengan Sang Ma’bud (Sembahan) serta sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya; tidaklah
mungkin pikiran keluar dari dua bagian ini.
Adapun
apa yang berkaitan dengan hamba, adakalanya berupa pengamatan terhadap apa yang
dicintai di sisi Rabb Ta’ala, atau pada apa yang dibenci di sisi-Nya. Tidak ada
kebutuhan untuk memikirkan selain dua bagian ini. Sedangkan apa yang berkaitan
dengan Rabb Ta’ala, adakalanya berupa pengamatan pada Zat-Nya, sifat-sifat-Nya,
dan nama-nama-Nya yang indah (al-Asma' al-Husna), atau pada
perbuatan-perbuatan-Nya, kekuasaan-Nya, kerajaan langit dan bumi-Nya, serta
segala apa yang ada di antara keduanya.
Mari
kita mulai dengan bagian pertama, yaitu memikirkan tentang sifat-sifat diri dan
perbuatan-perbuatan diri sendiri untuk membedakan mana yang dicintai (oleh
Allah) dari yang dibenci. Sesungguhnya pikiran inilah yang berkaitan dengan ilmu
muamalah yang merupakan maksud dari kitab ini. Adapun bagian yang lain
berkaitan dengan ilmu mukasyafah.
Kemudian,
setiap hal yang dibenci di sisi Allah atau yang dicintai-Nya terbagi menjadi
yang zahir (tampak), seperti ketaatan dan kemaksiatan; dan yang batin,
seperti sifat-sifat penyelamat (al-munjiyat) dan sifat-sifat penghancur
(al-muhlikat) yang tempatnya berada di dalam hati.
Kemaksiatan
terbagi menjadi apa yang berkaitan dengan tujuh anggota badan, dan apa yang
dinisbatkan kepada seluruh tubuh, seperti lari dari medan perang, durhaka
kepada kedua orang tua, dan menetap di tempat tinggal yang haram. Wajib pada
setiap perkara yang dibenci tersebut untuk memikirkan tiga hal:
- Memikirkan apakah hal
tersebut dibenci di sisi Allah atau tidak? Karena sering kali sesuatu
tidak tampak dibenci padahal ia dapat diketahui melalui ketajaman
pengamatan.
- Memikirkan jika hal itu
memang dibenci, maka apa jalan untuk menghindarinya?
- Memikirkan apakah perkara
yang dibenci ini sedang ia sandang saat ini sehingga ia harus
meninggalkannya, ataukah ia akan menghadapinya di masa depan sehingga ia
harus waspada darinya? Ataukah ia telah melakukannya di masa lalu sehingga
ia butuh untuk memperbaikinya (bertaubat)?
Demikian
pula setiap hal yang dicintai (Allah) terbagi ke dalam pembagian-pembagian ini.
Jika bagian-bagian ini dikumpulkan, maka ranah pikiran dalam pembagian tersebut
akan melebihi seratus bagian, dan seorang hamba terdorong untuk memikirkan
semuanya atau sebagian besarnya. Penjelasan rinci tentang satu per satu
pembagian ini akan sangat panjang, namun bagian ini terangkum dalam empat
jenis: ketaatan, kemaksiatan, sifat-sifat penghancur, dan sifat-sifat
penyelamat. Mari kita sebutkan satu contoh pada setiap jenis agar seorang murid
(pencari kebenaran) dapat mengiaskan sisanya, sehingga pintu pikiran terbuka
baginya dan jalannya menjadi luas.
Jenis
Pertama: Kemaksiatan
Seyogianya
seseorang setiap pagi memeriksa ketujuh anggota badannya secara mendalam,
kemudian tubuhnya secara umum: Apakah saat ini ia sedang terlibat dalam
kemaksiatan dengannya sehingga ia harus meninggalkannya? Ataukah ia telah
melakukannya kemarin sehingga ia harus memperbaikinya dengan meninggalkannya
dan menyesal? Ataukah ia akan menghadapinya di siang hari nanti sehingga ia
bersiap untuk waspada dan menjauh darinya?
Maka
ia memperhatikan lidahnya dan berkata bahwa lidah rentan terhadap ghibah,
dusta, memuji diri sendiri, mengejek orang lain, berbantah-bantahan, bercanda
berlebihan, dan membicarakan hal yang tidak berguna, serta hal-hal dibenci
lainnya. Maka pertama-tama ia menetapkan dalam dirinya bahwa hal-hal itu
dibenci di sisi Allah Ta’ala, dan ia memikirkan bukti-bukti dari Al-Qur'an dan
Sunnah tentang kerasnya siksaan di dalamnya. Kemudian ia memikirkan keadaan
dirinya bagaimana ia bisa terjatuh ke sana tanpa disadari, lalu ia memikirkan
bagaimana cara menghindarinya, dan ia menyadari bahwa hal itu tidak akan
sempurna baginya kecuali dengan menyepi ('uzlah) dan menyendiri, atau
dengan tidak duduk kecuali bersama orang saleh yang bertakwa yang akan
menegurnya jika ia berbicara apa yang dibenci Allah. Jika tidak (bisa
menghindar), maka ia meletakkan batu di mulutnya ketika duduk bersama orang
lain agar hal itu menjadi pengingat baginya. Demikianlah hendaknya pikiran
bekerja dalam menyusun siasat untuk menghindar.
Ia
juga memikirkan pendengarannya yang ia gunakan untuk menyimak ghibah, dusta,
ucapan sia-sia, senda gurau, dan bid'ah; dan bahwa ia hanya mendengar hal itu
dari si Zaid atau si 'Amru, maka seyogianya ia menghindar darinya dengan
menjauh atau dengan mencegah kemungkaran (nahi munkar).
Kapan
pun hal itu terjadi, ia memikirkan perutnya; bahwa ia hanya bermaksiat kepada
Allah di dalamnya melalui makanan dan minuman. Adakalanya dengan banyak makan
dari yang halal, karena hal itu dibenci Allah dan menguatkan syahwat yang
merupakan senjata setan musuh Allah. Atau dengan memakan yang haram atau
syubhat. Maka ia melihat dari mana makanannya, pakaiannya, tempat tinggalnya,
dan penghasilannya, serta apa jenis usahanya? Ia memikirkan jalan yang halal
dan pintu-pintu masuknya. Kemudian ia memikirkan jalan siasat dalam mencari
penghasilan dari yang halal dan menghindari yang haram. Ia menetapkan pada
dirinya bahwa seluruh ibadah akan sia-sia jika dibarengi dengan memakan yang
haram, dan bahwa memakan yang halal adalah fondasi seluruh ibadah, serta bahwa
Allah Ta'ala tidak menerima salat seorang hamba yang di dalam harga pakaiannya
terdapat satu dirham harta haram ([1]), sebagaimana hadis yang telah
diriwayatkan.
Begitulah
hendaknya ia memikirkan anggota badannya, dan kadar ini sudah cukup tanpa perlu
pembahasan yang terlalu panjang lebar. Maka kapan pun kebenaran makrifat
tentang keadaan-keadaan ini tercapai melalui pikiran, ia menyibukkan diri
dengan muraqabah (merasa diawasi) sepanjang hari hingga ia menjaga
anggota badannya dari kemaksiatan tersebut.
Jenis
Kedua: Ketaatan
Ia
melihat pertama-tama pada kewajiban-kewajiban yang tertulis atasnya: bagaimana
ia menunaikannya, bagaimana ia menjaganya dari kekurangan dan kelalaian, atau
bagaimana ia menambal kekurangannya dengan memperbanyak ibadah sunnah? Kemudian
ia kembali pada satu per satu anggota badan, memikirkan perbuatan-perbuatan
yang berkaitan dengannya dari apa yang dicintai Allah Ta’ala. Ia berkata
misalnya:
"Sesungguhnya
mata diciptakan untuk melihat kerajaan langit dan bumi sebagai pelajaran ('ibrah),
dan untuk digunakan dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala dengan membaca Al-Qur'an
dan Sunnah, maka mengapa aku tidak melakukannya? Aku mampu melihat si fulan
yang taat dengan pandangan memuliakan sehingga aku memasukkan kegembiraan ke
dalam hatinya, dan aku mampu melihat si fulan yang fasik dengan pandangan
merendahkan agar aku mencegahnya dengan hal itu dari maksiatnya, maka mengapa
aku tidak melakukannya?"
Demikian
pula ia berkata pada pendengarannya: "Aku mampu mendengarkan ucapan orang
yang menderita (untuk menolong), atau mendengarkan hikmah dan ilmu, atau
mendengarkan bacaan dzikir, maka mengapa aku menyia-nyiakannya padahal Allah
telah memberikan nikmat ini kepadaku dan menitipkannya padaku agar aku
bersyukur? Mengapa aku mengkufuri nikmat Allah padanya dengan menyia-nyiakan
atau menganggurkannya?"
Demikian
pula ia memikirkan lidahnya dan berkata: "Aku mampu mendekatkan diri
kepada Allah Ta’ala dengan mengajar dan memberi nasihat, berkasih sayang kepada
hati orang-orang saleh, bertanya tentang keadaan orang-orang fakir, dan
memasukkan kegembiraan ke dalam hati si Zaid yang saleh serta si 'Amru yang
alim dengan kata-kata yang baik; dan setiap kata yang baik adalah
sedekah."
Demikian
pula ia memikirkan hartanya dan berkata: "Aku mampu menyedekahkan harta
fulan itu karena aku tidak membutuhkannya, dan kapan pun aku membutuhkannya
maka Allah Ta'ala akan memberiku rezeki yang semisalnya. Jika aku memang butuh
sekarang, maka aku terhadap pahala mendahulukan orang lain (itsar) jauh
lebih butuh daripada aku terhadap harta tersebut."
Demikianlah
ia memeriksa seluruh anggota badannya, seluruh tubuhnya, harta-hartanya, bahkan
hewan ternaknya, pelayannya, dan anak-anaknya. Karena itu semua adalah
alat-alat dan sarana-sarananya, dan ia mampu menaati Allah Ta’ala melaluinya.
Maka ia menggali dengan ketajaman pikiran berbagai macam bentuk ketaatan yang
memungkinkan melaluinya, dan memikirkan apa yang membuatnya gemar untuk
bersegera pada ketaatan tersebut, memikirkan tentang keikhlasan niat di
dalamnya, serta mencari tempat-tempat yang layak untuk menerimanya hingga
amalnya menjadi suci karenanya. Kiaslah (bandingkanlah) ketaatan-ketaatan
lainnya atas hal ini.
Jenis
Ketiga: Sifat-sifat Penghancur (al-Muhlikat)
Yaitu
sifat-sifat yang tempatnya di hati, yang ia ketahui dari apa yang telah kami
sebutkan dalam bagian al-Muhlikat: yaitu penguasaan syahwat dan amarah,
kebakhilan, kesombongan, rasa ujub (kagum pada diri sendiri), riya, dengki,
buruk sangka, kelalaian, tertipu (ghurur), dan selainnya. Ia memeriksa
sifat-sifat ini dalam hatinya. Jika ia menyangka bahwa hatinya bersih darinya,
maka ia memikirkan cara menguji hatinya dan membuktikannya dengan
tanda-tandanya. Karena nafsu itu selamanya selalu menjanjikan kebaikan dari dirinya
sendiri namun kemudian mengingkari.
Jika
nafsu mengaku telah tawadhu dan berlepas diri dari kesombongan, maka seyogianya
ia diuji dengan memikul seikat kayu bakar di pasar, sebagaimana orang-orang
terdahulu menguji diri mereka sendiri. Jika ia mengaku memiliki sifat santun (hilm),
maka hadapkanlah ia pada kemarahan yang datang dari orang lain, lalu ujilah ia
dalam menahan amarah. Demikian pula pada sifat-sifat lainnya. Ini adalah proses
berpikir apakah ia memiliki sifat yang dibenci atau tidak.
Untuk
hal itu ada tanda-tanda yang telah kami sebutkan dalam bagian al-Muhlikat.
Jika tanda tersebut menunjukkan keberadaan sifat buruk itu, maka ia memikirkan
sebab-sebab yang membuat sifat-sifat tersebut tampak buruk baginya, dan
menjelaskan bahwa sumbernya berasal dari kebodohan, kelalaian, dan rusaknya
hati.
Sebagaimana
jika ia melihat dalam dirinya ada rasa ujub terhadap amal, maka ia memikirkan
dan berkata: "Sesungguhnya amal ini dilakukan dengan tubuhku dan anggota
badanku, dengan kekuatanku dan kehendakku. Namun itu semua bukan dariku dan
bukan milikku, melainkan ciptaan Allah dan karunia-Nya atasku. Dialah yang
menciptakanku dan menciptakan anggota badanku, menciptakan kekuatanku dan
kehendakku. Dialah yang menggerakkan anggota badanku dengan kekuatan-Nya,
demikian pula kekuatan dan kehendakku. Maka bagaimana mungkin aku merasa ujub
dengan amalku atau diriku, sedangkan aku tidak mampu mengurus diriku sendiri
dengan kekuatanku sendiri?"
Jika
ia merasakan kesombongan dalam dirinya, ia menetapkan pada dirinya bahwa di
sana terdapat kebodohan. Ia berkata kepada nafsunya: "Mengapa engkau
merasa dirimu lebih besar? Orang yang besar adalah orang yang besar di sisi
Allah, dan hal itu baru akan tersingkap setelah mati. Betapa banyak orang kafir
saat ini yang mati dalam keadaan dekat kepada Allah karena ia meninggalkan
kekafirannya (masuk Islam), dan betapa banyak orang muslim yang mati celaka
karena berubah keadaannya saat mati dengan suul khatimah?"
Catatan
Kaki:
- ([1]) Dikeluarkan oleh Ahmad
dari Ibnu Umar dengan sanad yang di dalamnya terdapat orang yang tidak
dikenal (majhul), al-Kamil fi al-Dhu'afa oleh Ibnu 'Adi (Juz
1, hal. 283).
Maka
apabila ia telah mengetahui bahwa kesombongan itu membinasakan dan bahwa
asalnya adalah kebodohan, hendaklah ia memikirkan pengobatan untuk
menghilangkannya dengan cara mempraktikkan perbuatan orang-orang yang rendah
hati (tawadhu).
Dan
apabila ia mendapati dalam dirinya ada syahwat makanan dan kerakusan, hendaklah
ia memikirkan bahwa ini adalah sifat binatang. Seandainya di dalam syahwat
makanan dan persetubuhan terdapat kesempurnaan, niscaya hal itu akan menjadi
sifat-sifat Allah dan sifat-sifat malaikat seperti ilmu dan kekuasaan, dan
tidak akan menjadi sifat bagi binatang. Maka setiap kali kerakusan itu lebih
mendominasi dirinya, ia menjadi lebih mirip dengan binatang dan semakin jauh
dari malaikat yang didekatkan kepada Allah (muqarrabin). Demikian pula
hendaknya ia menetapkan pada dirinya dalam hal amarah, kemudian memikirkan
jalan pengobatannya.
Adapun
jenis keempat, yaitu hal-hal yang menyelamatkan (al-munjiyat),
maka itu adalah: taubat, menyesali dosa, sabar atas bala (ujian), bersyukur
atas nikmat, rasa takut (khauf), harap (raja'), zuhud terhadap
dunia, ikhlas dan jujur dalam ketaatan, mencintai Allah dan mengagungkan-Nya,
ridha terhadap perbuatan-perbuatan-Nya, rindu kepada-Nya, serta khusyuk dan
rendah hati kepada-Nya. Semua itu telah kami sebutkan dalam bagian ini, dan
telah kami sebutkan sebab-sebab serta tanda-tandanya.
Hendaklah
seorang hamba setiap hari memikirkan di dalam hatinya, sifat manakah yang
kurang padanya dari sifat-sifat yang mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala ini.
Jika ia merasa butuh pada sesuatu darinya, hendaklah ia mengetahui bahwa itu
semua adalah "keadaan" (ahwal) yang tidak akan membuahkan
hasil kecuali melalui "ilmu", dan bahwa "ilmu" tidak akan
membuahkan hasil kecuali melalui "pikiran".
Jika
ia ingin mendapatkan bagi dirinya keadaan taubat dan penyesalan, maka hendaklah
ia memeriksa dosa-dosanya terlebih dahulu, memikirkannya, mengumpulkannya di
dalam dirinya, dan membesarkannya di dalam hatinya. Kemudian hendaklah ia
melihat kepada ancaman dan peringatan keras yang datang dalam syariat mengenai
dosa tersebut, dan menetapkan dalam dirinya bahwa ia sedang berhadapan dengan
kemurkaan Allah Ta'ala, hingga bangkitlah dalam dirinya keadaan menyesal.
Jika
ia ingin membangkitkan dari hatinya keadaan syukur, maka hendaklah ia melihat
kepada kebaikan Allah kepadanya, curahan anugerah-Nya atasnya, dan kiriman
penutupan-Nya yang indah atas aib-aibnya—sebagaimana telah kami jelaskan
sebagiannya dalam Kitab Syukur, maka hendaklah ia mempelajarinya.
Jika
ia menginginkan keadaan cinta dan rindu, hendaklah ia memikirkan keagungan dan
keindahan Allah, serta kebesaran dan keagungan-Nya. Hal itu dilakukan dengan
melihat keajaiban hikmah-Nya dan keindahan ciptaan-Nya—sebagaimana akan kami
isyaratkan sebagiannya pada bagian kedua tentang pikiran.
Jika
ia menginginkan keadaan takut (khauf), maka hendaklah ia melihat
terlebih dahulu pada dosa-dosa lahir dan batinnya. Kemudian melihat kepada
kematian dan sakaratul maut, lalu apa yang ada setelahnya berupa pertanyaan
Munkar dan Nakir, siksa kubur, ular-ularnya, kalajengkingnya, dan cacing-cacingnya.
Kemudian pada kengerian panggilan saat sangkakala ditiup, kengerian padang
Mahsyar saat seluruh makhluk dikumpulkan di satu tanah luas, kemudian
pemeriksaan dalam hisab pada hal yang sekecil lubang biji kurma (naqir)
maupun kulit ari biji kurma (qithmir). Kemudian pada jembatan (shirath),
kelembutan, dan ketajamannya. Kemudian pada bahayanya urusan di sisinya; apakah
ia akan dipalingkan ke arah kiri sehingga menjadi penghuni neraka, atau
dipalingkan ke arah kanan sehingga menempati negeri yang kekal (surga).
Kemudian,
setelah kengerian kiamat, hendaklah ia menghadirkan dalam hatinya gambaran
neraka Jahanam dengan tingkatan-tingkatannya, cambuk-cambuknya, kengeriannya,
rantai-rantainya, belenggu-belenggunya, pohon zaqqumnya, dan nanahnya. Juga
berbagai jenis azab di dalamnya serta buruknya rupa malaikat Zabaniyah yang
ditugaskan menjaganya, bahwa setiap kali kulit mereka matang (hangus), maka
diganti dengan kulit yang lain. Bahwa setiap kali mereka ingin keluar darinya,
mereka dikembalikan ke dalamnya. Dan bahwa jika mereka melihat neraka dari
tempat yang jauh, mereka mendengar suaranya yang sedang bergolak dan suara
nafasnya yang mengerikan, dan seterusnya dari semua penjelasan neraka yang ada
dalam Al-Qur'an.
Dan
jika ia ingin mendatangkan keadaan harap (raja'), maka hendaklah ia
melihat kepada surga dan kenikmatannya, pohon-pohonnya, sungai-sungainya,
bidadari-bidadarinya, pelayan-pelayannya, serta kenikmatannya yang abadi dan
kerajaannya yang kekal.
Demikianlah
jalan pikiran yang dengannya dicari ilmu yang membuahkan keadaan-keadaan yang
dicintai, atau membersihkan diri dari sifat-sifat yang tercela. Kami telah
menyebutkan pada setiap keadaan ini satu kitab tersendiri yang dapat membantu
merinci pikiran tersebut. Adapun penyebutan secara umum, maka tidak ditemukan
yang lebih bermanfaat daripada membaca Al-Qur'an dengan berpikir (tadabbur).
Sesungguhnya Al-Qur'an mengumpulkan seluruh maqam (kedudukan) dan keadaan, di
dalamnya terdapat penawar bagi seluruh alam, di dalamnya terdapat hal yang
mewariskan rasa takut, harap, sabar, syukur, cinta, rindu, dan keadaan lainnya.
Di dalamnya juga terdapat hal yang mencegah dari seluruh sifat tercela.
Maka
seyogianya seorang hamba membacanya dan mengulang-ulang ayat yang ia butuhkan
untuk dipikirkan berkali-kali, walau seratus kali. Sebab, membaca satu ayat
dengan berpikir dan paham adalah lebih baik daripada khatam Al-Qur'an tanpa
tadabbur dan paham. Hendaklah ia berhenti untuk merenungkannya walau satu malam
saja, karena di bawah setiap katanya terdapat rahasia yang tidak terbatas, dan
tidak akan diketahui kecuali dengan ketajaman pikiran dari hati yang jernih
setelah kejujuran dalam bermuamalah.
Demikian
pula dengan mempelajari kabar-kabar (hadis) dari Rasulullah ﷺ, karena beliau telah
dianugerahi jawami' al-kalim (kata-kata singkat namun padat makna).
Setiap kata dari kata-kata beliau adalah samudra dari samudra hikmah.
Seandainya seorang alim merenungkannya dengan perenungan yang sebenar-benarnya,
niscaya pengamatannya tidak akan terputus sepanjang umurnya. Penjelasan satu
per satu ayat dan hadis akan sangat panjang, namun lihatlah sabda beliau ﷺ:
"Sesungguhnya
Ruhul Qudus (Malaikat Jibril) meniupkan ke dalam hatiku: Cintailah siapa yang
engkau cintai, karena sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya; hiduplah
sesukamu, karena sesungguhnya engkau akan mati; dan beramallah sesukamu, karena
sesungguhnya engkau akan diberi balasan atasnya."
Sesungguhnya
kata-kata ini mengumpulkan hikmah orang-orang terdahulu dan yang kemudian, dan
sudah cukup bagi orang-orang yang merenungkannya sepanjang umur. Sebab,
seandainya mereka memahami maknanya dan keyakinan tersebut menguasai hati
mereka, niscaya hal itu akan menenggelamkan mereka (dalam ibadah) dan akan
menghalangi mereka dari menoleh kepada dunia secara keseluruhan.
Inilah
jalan pikiran dalam ilmu muamalah dan sifat-sifat hamba dari sisi ia dicintai
di sisi Allah Ta'ala atau dibenci. Seorang pemula seyogianya menghabiskan
seluruh waktunya dalam pikiran-pikiran ini hingga ia memakmurkan hatinya dengan
akhlak yang terpuji dan kedudukan yang mulia, serta membersihkan batin dan
lahirnya dari hal-hal yang dibenci.
Hendaklah
ia mengetahui bahwa meskipun ini lebih utama dari seluruh ibadah lainnya, ini
bukanlah puncak pencarian. Bahkan, orang yang hanya sibuk dengan ini saja masih
terhijab (terhalang) dari pencarian para Shiddiqin, yaitu merasakan
nikmat dengan berpikir pada keagungan dan keindahan Allah Ta'ala, serta
tenggelamnya hati hingga ia fana (sirna) dari dirinya sendiri—artinya, ia
melupakan dirinya, keadaannya, kedudukannya, dan sifat-sifatnya, sehingga
seluruh perhatiannya tenggelam kepada Sang Kekasih. Ia tidak sempat lagi
melihat pada keadaan dirinya dan sifat-sifatnya, melainkan tetap dalam keadaan
terpesona dan lalai dari dirinya sendiri, dan inilah puncak kelezatan para
perindu.
Adapun
apa yang telah kami sebutkan (sebelumnya) adalah berpikir dalam membangun batin
agar layak untuk kedekatan dan pertemuan (wushul). Jika ia
menyia-nyiakan seluruh umurnya hanya untuk memperbaiki dirinya, maka kapankah
ia akan menikmati kedekatan itu? Oleh karena itu, Al-Khawwash dahulu
berkeliling di padang pasir, lalu ia bertemu dengan Al-Husain bin Manshur yang
bertanya: "Sedang apa engkau?" Ia menjawab: "Aku berkeliling di
padang pasir untuk memperbaiki keadaanku dalam hal tawakal." Al-Husain
berkata: "Engkau telah menghabiskan umurmu dalam membangun batinmu, lalu
di manakah kefanaan dalam tauhid?" Maka fana (larut) dalam Dzat Yang Maha
Esa dan Maha Benar adalah puncak tujuan para pencari dan puncak kenikmatan para
Shiddiqin.
Membersihkan
diri dari sifat-sifat yang membinasakan itu ibarat menjalani masa 'iddah dalam
pernikahan. Sedangkan berhias dengan sifat-sifat penyelamat dan seluruh
ketaatan itu ibarat mempersiapkan perlengkapan pengantin wanita, membersihkan
wajahnya, dan menyisir rambutnya, agar ia layak menemui suaminya. Jika ia
menghabiskan seluruh umurnya hanya untuk membersihkan rahim dan menghias wajah,
hal itu justru akan menjadi penghalang baginya untuk menemui kekasihnya.
Demikianlah
seharusnya engkau memahami jalan agama jika engkau termasuk ahli mujalasah
(orang yang dekat dengan Allah). Namun jika engkau seperti hamba yang buruk,
yang tidak bergerak kecuali karena takut dipukul atau karena tamak akan upah,
maka silakanlah engkau memayahkan badanmu dengan amal-amal zahir, karena antara
engkau dan hati terdapat hijab yang tebal. Jika engkau telah menunaikan hak-hak
amal tersebut, engkau akan menjadi penghuni surga, tetapi untuk kedudukan
"dekat" (mujalasah) ada kaum yang lain lagi.
Jika
engkau telah mengetahui ranah pikiran dalam ilmu muamalah antara hamba dan
Tuhannya, maka seyogianya engkau menjadikannya sebagai kebiasaan dan
rutinitasmu di pagi dan petang hari. Janganlah engkau lalai dari dirimu dan
dari sifat-sifatmu yang menjauhkanmu dari Allah Ta'ala, serta keadaanmu yang
mendekatkanmu kepada-Nya Subhanahu wa Ta'ala.
Bahkan,
setiap murid (pencari kebenaran) seyogianya memiliki lembaran catatan (jaridah)
yang di dalamnya ia menetapkan kumpulan sifat-sifat yang membinasakan, kumpulan
sifat-sifat penyelamat, serta kumpulan maksiat dan ketaatan, lalu ia
mengevaluasi dirinya pada catatan itu setiap hari.
Cukuplah
baginya dari sifat-sifat pembinasa untuk memperhatikan sepuluh hal—sebab jika
ia selamat darinya, ia akan selamat dari yang lain—yaitu: bakhil (pelit),
sombong, ujub, riya, dengki, sangat pemarah, rakus makanan, rakus persetubuhan,
cinta harta, dan cinta kedudukan.
Dan
dari sifat penyelamat ada sepuluh: menyesali dosa, sabar atas ujian, ridha atas
takdir, syukur atas nikmat, keseimbangan antara takut dan harap, zuhud terhadap
dunia, ikhlas dalam amal, berakhlak baik kepada makhluk, cinta kepada Allah
Ta'ala, dan khusyuk kepada-Nya.
Inilah
dua puluh perkara; sepuluh tercela dan sepuluh terpuji. Jika salah satu dari
yang tercela sudah hilang, ia mencoretnya dari catatannya, membiarkan pikiran
darinya, dan bersyukur kepada Allah atas kecukupan-Nya bagi hal itu serta
pembersihan hatinya dari sifat tersebut. Ia menyadari bahwa hal itu tidak
terjadi kecuali dengan taufik dan pertolongan Allah Ta'ala; jika Allah
menyerahkannya pada dirinya sendiri, niscaya ia tidak akan mampu menghapus
kehinaan yang terkecil sekalipun dari dirinya. Kemudian ia beralih pada
sembilan yang tersisa. Begitulah ia lakukan hingga ia mencoret semuanya.
Demikian pula ia menuntut dirinya untuk memiliki sifat penyelamat; jika ia
telah memiliki satu darinya seperti taubat dan penyesalan misalnya, ia
mencoretnya dan sibuk dengan yang tersisa. Hal ini sangat dibutuhkan oleh
seorang murid yang bersungguh-sungguh.
Adapun
kebanyakan manusia dari golongan yang dianggap sebagai orang-orang saleh, maka
seyogianya mereka menetapkan di dalam lembaran catatan mereka
kemaksiatan-kemaksiatan lahiriah; seperti memakan harta syubhat, melepaskan
lisan dalam ghibah (menggunjing), namimah (adu domba), mira’ (berdebat
kusir), memuji diri sendiri, berlebihan dalam memusuhi musuh dan (berlebihan)
dalam mencintai kawan, serta sikap menjilat (mudahanah) terhadap sesama
makhluk dalam hal meninggalkan amar makruf nahi mungkar. Sesungguhnya
kebanyakan orang yang menganggap dirinya sebagai tokoh orang saleh tidak
terlepas dari kumpulan maksiat pada anggota badan ini. Selama anggota badan
belum dibersihkan dari dosa-dosa, maka tidak mungkin seseorang menyibukkan diri
dengan membangun dan menyucikan hati.
Bahkan,
setiap kelompok manusia biasanya didominasi oleh jenis kemaksiatan tertentu,
maka seyogianya pemeriksaan dan pemikiran mereka difokuskan pada maksiat
tersebut, bukan pada maksiat yang jauh dari jangkauan mereka. Contohnya adalah
seorang alim (ulama) yang warak; ia biasanya tidak terlepas dari upaya
menonjolkan dirinya dengan ilmu, mencari popularitas, dan menyebarkan nama
baik, baik melalui aktivitas mengajar atau memberi nasihat. Barangsiapa
melakukan hal itu, berarti ia telah menghadapkan dirinya pada fitnah (ujian)
besar yang tidak akan selamat darinya kecuali para Shiddiqin. Sebab,
jika ucapannya diterima dan memberikan kesan baik di dalam hati manusia, ia
tidak akan terlepas dari rasa ujub (kagum pada diri sendiri), kesombongan,
berhias diri (pencitraan), dan kepura-puraan (tashannu’), yang mana
semua itu termasuk hal yang membinasakan (al-muhlikat).
Sebaliknya,
jika ucapannya ditolak, ia tidak akan terlepas dari rasa marah, harga diri yang
terusik, dan dendam kepada orang yang menolaknya, yang mana kemarahannya itu
lebih besar daripada kemarahannya saat ucapan orang lain yang ditolak.
Terkadang setan menipu dirinya dengan berkata: "Kemarahanmu ini hanyalah
karena kebenaran ditolak dan diingkari." Namun, jika ia mendapati adanya
perbedaan rasa antara saat ucapannya sendiri yang ditolak dengan saat ucapan
ulama lain yang ditolak, maka ia adalah orang yang tertipu dan menjadi bahan
tertawaan setan.
Kemudian,
selama ia masih merasa nyaman dengan penerimaan manusia, gembira dengan pujian,
dan merasa enggan/terhina jika ditolak atau dipalingkan, maka ia tidak akan
terlepas dari sikap membebani diri (takalluf) dan kepura-puraan dalam
memperindah lafaz dan penyampaian karena ambisi untuk menarik pujian. Padahal
Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan (al-mutakallifin).
Setan terkadang menipu dirinya dengan berkata: "Ambisimu untuk memperindah
lafaz dan membebani diri itu hanyalah agar kebenaran tersebar luas dan
memberikan kesan yang baik di dalam hati demi meninggikan agama Allah."
Namun, jika kegembiraannya terhadap indahnya lafaznya dan pujian manusia
atasnya lebih besar daripada kegembiraannya saat manusia memuji salah seorang
rekannya, maka ia telah terpedaya. Sesungguhnya ia hanya berputar-putar dalam
mencari kedudukan (jah), padahal ia menyangka bahwa tujuannya adalah
agama!
Kapan
pun bisikan ini bergejolak dalam batinnya, hal itu akan tampak pada
lahiriahnya; sehingga ia akan lebih menghargai orang yang menghormatinya dan
meyakini keutamaannya, serta merasa lebih gembira dan berseri-seri saat bertemu
orang tersebut dibandingkan saat bertemu orang yang sangat loyal kepada orang
lain, meskipun orang lain tersebut memang berhak mendapatkan loyalitas. Bahkan
terkadang perkara ini sampai membuat para ahli ilmu saling cemburu sebagaimana
kecemburuan para wanita; sehingga terasa berat bagi salah seorang dari mereka
jika sebagian muridnya belajar kepada orang lain, padahal ia tahu bahwa
muridnya itu mendapatkan manfaat dan faidah bagi agamanya dari orang lain
tersebut. Semua itu adalah rembesan dari sifat-sifat membinasakan yang tersembunyi
di dalam rahasia hati, yang mana sang alim menyangka telah selamat darinya
padahal ia tertipu. Hal ini hanya akan tersingkap dengan tanda-tanda tersebut.
Maka fitnah (ujian) bagi seorang alim itu besar; ia adakalanya menjadi raja
(beruntung) atau binasa, dan ia tidak memiliki harapan untuk keselamatan orang
awam (jika dirinya sendiri saja terancam).
Maka
barangsiapa merasakan sifat-sifat ini dalam dirinya, kewajibannya adalah
menarik diri ('uzlah), menyendiri, mencari ketidakterkenalan (khumul),
dan menolak untuk memberikan fatwa selama masih ditanya. Dahulu masjid di zaman
Sahabat menampung sekumpulan sahabat Rasulullah ﷺ yang semuanya adalah para ahli fatwa (muftun)
([1]), namun mereka saling dorong-mendorong (saling melempar) tugas fatwa
tersebut. Setiap orang yang berfatwa sangat berharap agar tugasnya dicukupkan
(diambil alih) oleh orang lain.
Pada
saat inilah ia harus mewaspadai setan-setan dari kalangan manusia ketika mereka
berkata: "Jangan lakukan ini (menarik diri), karena jika pintu ini dibuka,
maka ilmu akan lenyap dari tengah makhluk." Hendaklah ia berkata kepada
mereka: "Sesungguhnya agama Islam tidak butuh kepadaku. Islam tetap makmur
sebelum aku ada, dan akan tetap demikian setelah aku tiada. Jika aku mati pun,
pilar-pilar Islam tidak akan roboh. Agama ini tidak butuh kepadaku, namun
akulah yang butuh untuk memperbaiki hatiku."
Adapun
anggapan bahwa hal itu akan menyebabkan lenyapnya ilmu, maka itu adalah
khayalan yang menunjukkan puncak kebodohan. Sesungguhnya manusia itu,
seandainya mereka dipenjara, dibelenggu dengan rantai, dan tembok bentengnya
dihancurkan pun, mereka akan tetap berusaha keluar darinya dan sibuk mencari
ilmu. Ilmu tidak akan lenyap selama setan masih membuat makhluk mencintai
kepemimpinan (riyasah), dan setan tidak akan berhenti dari pekerjaannya
hingga hari kiamat. Bahkan, akan bangkit untuk menyebarkan ilmu kaum-kaum yang
tidak memiliki bagian di akhirat, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ: "Sesungguhnya
Allah menguatkan agama ini dengan kaum-kaum yang tidak memiliki bagian (pahala)
di akhirat" dan "Sesungguhnya Allah benar-benar menguatkan
agama ini dengan laki-laki yang fajir (pendosa)."
Maka
tidak seyogianya seorang alim terpedaya oleh tipu daya ini sehingga ia sibuk
berinteraksi dengan makhluk hingga tumbuh di hatinya kecintaan pada kedudukan,
pujian, dan pengagungan; karena hal itu adalah benih kemunafikan. Rasulullah ﷺ bersabda: "Cinta
kedudukan dan harta itu menumbuhkan kemunafikan di dalam hati sebagaimana air
menumbuhkan sayur-mayur." Rasulullah ﷺ juga bersabda: "Tidaklah dua ekor
serigala lapar yang dilepaskan di kandang kambing lebih merusak daripada
kerakusan seseorang terhadap kedudukan dan harta bagi agamanya." Dan
cinta kedudukan tidak akan tercabut dari hati kecuali dengan menjauhi manusia,
lari dari pergaulan dengan mereka, dan meninggalkan segala hal yang dapat
menambah kedudukannya di hati mereka.
Hendaklah
pikiran seorang alim difokuskan untuk menyadari ketersembunyian sifat-sifat ini
di hatinya, serta mencari jalan keluar darinya. Inilah tugas bagi alim yang
bertakwa. Adapun orang-orang seperti kita, seyogianya pikiran kita difokuskan
pada apa yang dapat memperkuat iman kita terhadap hari pembalasan. Sebab,
seandainya para pendahulu yang saleh (Salafush Shalih) melihat kita,
mereka pasti akan berkata: "Orang-orang ini tidak beriman pada hari
pembalasan," karena perbuatan kita bukanlah perbuatan orang yang percaya
adanya surga dan neraka! Sesungguhnya barangsiapa takut pada sesuatu, ia akan
lari darinya; dan barangsiapa berharap pada sesuatu, ia akan mencarinya. Kita
telah tahu bahwa lari dari neraka adalah dengan meninggalkan syubhat, hal yang
haram, dan kemaksiatan, namun kita justru tenggelam di dalamnya. Dan (kita
tahu) bahwa mencari surga adalah dengan memperbanyak ibadah sunnah, namun kita
justru lalai dalam ibadah wajibnya. Tidak ada buah dari ilmu yang kita dapatkan
kecuali bahwa kita dijadikan teladan dalam ambisi terhadap dunia dan kerakusan
padanya, sehingga dikatakan: "Seandainya dunia ini tercela, tentu para
ulama adalah orang yang paling berhak dan paling utama untuk menjauhinya
daripada kita." Alangkah baiknya jika kita seperti orang awam; jika kita
mati, mati pulalah dosa-dosa kita bersama kita. Betapa besarnya fitnah yang
kita hadapi jika kita mau berpikir. Kami memohon kepada Allah Ta’ala agar
memperbaiki kami, memperbaiki (orang lain) melalui kami, dan memberi kami
taufik untuk bertaubat sebelum Dia mewafatkan kami. Sesungguhnya Dia Maha
Pemurah lagi Maha Lembut kepada kami serta Maha Pemberi Nikmat atas kami.
Inilah
ranah pikiran para ulama dan orang-orang saleh dalam ilmu muamalah. Jika mereka
telah selesai darinya, perhatian mereka terhadap diri mereka sendiri pun
terputus, dan mereka naik darinya menuju pemikiran tentang keagungan dan
kebesaran Allah, serta menikmati penyaksian-penyaksian-Nya dengan mata hati.
Hal itu tidak akan sempurna kecuali setelah terlepas dari seluruh hal yang
membinasakan dan berhias dengan seluruh hal yang menyelamatkan. Jika muncul
sesuatu dari penyaksian itu sebelum proses tersebut selesai, maka hal itu
adalah sesuatu yang bercacat, berpenyakit, keruh, dan terputus; ia lemah
seperti kilat yang menyambar, tidak tetap dan tidak kekal. Ia seperti seorang
pecinta yang berdua-duaan dengan kekasihnya, namun di balik pakaiannya terdapat
ular dan kalajengking yang menyengatnya berkali-kali sehingga mengeruhkan
kelezatan penyaksiannya. Tidak ada jalan baginya untuk kesempurnaan nikmat
kecuali dengan mengeluarkan kalajengking dan ular dari pakaiannya. Sifat-sifat
tercela ini adalah kalajengking dan ular, mereka adalah penyakiti dan
pengganggu; dan di dalam kubur nanti, rasa sakit sengatannya akan melebihi
sengatan kalajengking dan ular (dunia). Kadar ini sudah cukup sebagai
peringatan atas ranah pikiran hamba mengenai sifat-sifat dirinya yang dicintai
dan dibenci di sisi Tuhannya Ta’ala.
Bagian
Kedua: Berpikir tentang Keagungan, Kebesaran, dan Kemuliaan Allah
Dalam
hal ini terdapat dua tingkatan:
Tingkatan
tertinggi adalah memikirkan tentang Zat-Nya, sifat-sifat-Nya, dan makna
nama-nama-Nya. Hal ini termasuk yang dilarang, sebagaimana dikatakan: "Berpikirlah
kalian tentang makhluk Allah dan janganlah kalian berpikir tentang Zat
Allah." Hal itu dikarenakan akal manusia akan kebingungan di dalamnya.
Tidak ada yang sanggup mengarahkan pandangan ke sana kecuali para Shiddiqin,
dan itu pun mereka tidak sanggup terus-menerus memandangnya. Bahkan, keadaan
penglihatan seluruh makhluk dibandingkan dengan keagungan Allah Ta’ala adalah
seperti penglihatan kelelawar dibandingkan dengan cahaya matahari; ia tidak
sanggup memandangnya sama sekali, bahkan ia bersembunyi di siang hari dan hanya
berkelana di malam hari untuk melihat sisa-sisa cahaya matahari yang jatuh ke
bumi. Adapun keadaan para Shiddiqin adalah seperti manusia yang melihat
ke arah matahari; ia mampu melihatnya namun tidak sanggup terus-menerus, dan ia
khawatir akan penglihatannya jika dipaksakan, karena pandangannya yang sekilas
ke arah matahari saja sudah menyebabkan kabur dan memecah penglihatan. Demikian
pula memikirkan Zat Allah Ta’ala; ia mewariskan kebingungan, ketakjuban yang
luar biasa, dan keguncangan akal. Maka yang benar adalah janganlah mencoba
masuk ke ranah pikiran tentang Zat Allah Ta’ala dan sifat-sifat-Nya, karena
kebanyakan akal tidak akan sanggup memikulnya. Bahkan, kadar sedikit yang
dinyatakan oleh sebagian ulama yaitu: bahwa Allah Ta'ala suci dari tempat,
bersih dari batasan ruang dan arah, bahwa Dia tidak di dalam alam dan tidak di
luar alam, tidak bersambung dengan alam dan tidak terpisah darinya; hal ini
saja telah membingungkan akal banyak kaum hingga mereka mengingkarinya karena
tidak sanggup mendengar dan mengetahuinya.
Karena
melihat pada Zat Allah Ta’ala dan sifat-sifat-Nya mengandung risiko dari sisi
ini, maka adab syariat dan kemaslahatan makhluk menuntut agar tidak masuk ke
ranah pikiran tersebut. Namun, kita beralih ke tingkatan kedua, yaitu
melihat pada perbuatan-perbuatan-Nya, ranah kekuasaan-Nya, keajaiban
ciptaan-Nya, dan keindahan urusan-Nya pada makhluk-Nya. Sesungguhnya semua itu
menunjukkan keagungan-Nya, kebesaran-Nya, kesucian-Nya, dan ketinggian-Nya. Hal
itu menunjukkan kesempurnaan ilmu-Nya, hikmah-Nya, serta berlakunya kehendak
dan kekuasaan-Nya. Maka kita melihat sifat-sifat-Nya melalui jejak-jejak (atsar)
sifat-sifat-Nya. Sesungguhnya kita tidak sanggup melihat sifat-sifat-Nya secara
langsung, sebagaimana kita (hanya) sanggup melihat bumi manakala ia disinari
oleh cahaya matahari. Kita berdalil dengan hal itu atas agungnya cahaya
matahari dibandingkan dengan cahaya bulan dan seluruh bintang, karena cahaya
bumi adalah salah satu jejak cahaya matahari. Melihat pada jejak menunjukkan
adanya Sang Pencipta Jejak (Al-Mu'atstsir) dengan suatu penunjukan
tertentu, meskipun ia tidak menempati kedudukan melihat langsung pada Diri Sang
Pencipta Jejak tersebut.
Seluruh
wujud di dunia ini adalah jejak dari kekuasaan Allah Ta’ala dan cahaya dari
cahaya Zat-Nya. Bahkan, tidak ada kegelapan yang lebih pekat daripada ketiadaan
(al-'adam) dan tidak ada cahaya yang lebih nyata daripada keberadaan (al-wujud).
Keberadaan segala sesuatu seluruhnya adalah cahaya dari cahaya Zat-Nya—Maha
Tinggi dan Maha Suci Dia—karena tegaknya keberadaan segala sesuatu adalah
dengan Zat-Nya yang Maha Berdiri Sendiri (Al-Qayyum), sebagaimana
tegaknya cahaya benda-benda adalah dengan cahaya matahari yang menerangi
dirinya sendiri.
Manakala
sebagian matahari tersingkap, sudah menjadi kebiasaan untuk meletakkan wadah
berisi air agar matahari dapat terlihat di dalamnya dan memungkinkan untuk
dipandang. Maka air menjadi perantara yang sedikit meredupkan cahaya matahari
sehingga pandangan sanggup melihatnya. Demikian pula perbuatan-perbuatan
(makhluk) adalah perantara yang di dalamnya kita menyaksikan sifat-sifat Sang
Pencipta, tanpa kita dibutakan oleh cahaya Zat setelah kita dijauhkan darinya
melalui perantara perbuatan-perbuatan tersebut. Inilah rahasia dari sabda
beliau ﷺ:
"Berpikirlah kalian tentang makhluk Allah dan janganlah kalian berpikir
tentang Zat Allah Ta’ala."
Catatan
Kaki:
- ([1]) Maksudnya, mereka
adalah orang-orang yang layak dan ahli untuk memberikan fatwa kepada
manusia dalam urusan agama mereka.
Penjelasan
Cara Berpikir (Tafakkur) pada Makhluk Allah Ta'ala
Ketahuilah
bahwa segala sesuatu yang ada di alam wujud ini selain Allah Ta'ala adalah
perbuatan dan ciptaan Allah. Setiap zarah (atom/partikel terkecil) dari segala
zarah, baik berupa substansi (jauhar), aksiden ('aradh), sifat,
maupun yang disifati, mengandung keajaiban dan keunikan yang menampakkan
hikmah, kekuasaan, keagungan, dan kebesaran Allah. Menghitung hal tersebut
secara terperinci adalah mustahil; sebab seandainya lautan dijadikan tinta
untuk mencatatnya, niscaya lautan akan habis sebelum habis sepersepuluh dari
sepersepuluhnya (seperatusnya). Namun, kami akan mengisyaratkan sebagian
besarnya agar dapat menjadi contoh bagi hal-hal lainnya.
Maka
kami katakan: Makhluk-makhluk yang ada terbagi menjadi:
- Sesuatu yang tidak diketahui
asalnya, sehingga kita tidak mungkin memikirkannya. Betapa banyak wujud
yang tidak kita ketahui sebagaimana firman Allah Ta'ala: "Dan Dia
menciptakan apa yang tidak kamu ketahui" ([1]), "Maha
Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari
apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang
tidak mereka ketahui" ([2]), dan Dia berfirman: "Dan
menciptakan kamu kelak (di akhirat) dalam keadaan yang tidak kamu
ketahui" ([3]).
- Sesuatu yang diketahui asal
dan garis besarnya, namun tidak diketahui rinciannya; maka kita mungkin
untuk memikirkan rinciannya. Hal ini terbagi menjadi:
- Apa yang kita tangkap
dengan indra penglihatan.
- Apa yang tidak kita
tangkap dengan penglihatan, seperti malaikat, jin, setan, Arsy, Kursi,
dan selainnya. Ranah pikiran dalam hal-hal ini sempit dan rumit.
Maka
mari kita beralih kepada hal yang lebih dekat dengan pemahaman, yaitu hal-hal
yang ditangkap oleh indra penglihatan: yaitu tujuh langit, bumi, dan apa yang
ada di antara keduanya. Langit dapat disaksikan dengan bintang-bintangnya,
mataharinya, bulannya, serta pergerakan dan putarannya saat terbit maupun
terbenam. Bumi dapat disaksikan dengan apa yang ada di dalamnya berupa
gunung-gunung, barang tambang, sungai-sungai, lautan, hewan, dan
tumbuh-tumbuhan. Sedangkan apa yang ada di antara langit dan bumi, yaitu
cakrawala, dapat ditangkap melalui awan, hujan, salju, petir, kilat,
halilintar, meteor, dan hembusan angin.
Inilah
jenis-jenis yang disaksikan dari langit, bumi, dan apa yang ada di antara
keduanya. Setiap jenis darinya terbagi menjadi beberapa tipe, setiap tipe
terbagi menjadi beberapa bagian, dan setiap bagian bercabang menjadi berbagai
macam kelas.
Di
Antara Manfaat Mengamati (Nazhar) dan Memperhatikan (Tabashshur)
- Mengamati dan memperhatikan
merupakan pelaksanaan perintah Allah Azza wa Jalla, di mana Dia
memerintahkan hal tersebut di banyak tempat dalam Al-Qur'anul Karim ([4]).
- Mengamati keajaiban
makhluk-makhluk Allah Azza wa Jalla dapat mengantarkan seseorang untuk
mengenal-Nya Subhanahu wa Ta'ala berdasarkan keyakinan.
- Mengamati dan memperhatikan
adalah sarana bagi manusia yang berakal menuju keyakinan (yaqin).
- Mengamati dan memperhatikan
adalah di antara sarana ilmu yang dengannya manusia mendapat petunjuk
untuk mengetahui kebenaran para Rasul atas apa yang mereka kabarkan dari
Allah Azza wa Jalla.
- Melihat pada kesudahan
segala urusan menjaga manusia dari bahaya ketergesa-gesaan dan terperosok
ke dalam kebinasaan.
- Mengamati segala urusan dan
memperhatikannya membiasakan manusia untuk bersikap tenang (al-ta'anni),
sehingga keputusan-keputusannya menjadi tepat dan perbuatannya menjadi
seimbang.
- Mengamati keadaan umat-umat
terdahulu membuahkan pelajaran (it'idzhaz) dari kondisi mereka dan
mendorong untuk taat kepada Allah Azza wa Jalla agar kita tidak ditimpa
apa yang menimpa mereka.
- Mengamati nikmat-nikmat
Allah dan keajaiban kekuasaan-Nya mendorong seseorang untuk membenarkan
dan mengimani apa yang telah Dia sediakan bagi orang-orang bertakwa di
negeri akhirat.
- Mengamati dan memperhatikan
mengangkat derajat manusia dari derajat hewaniyah dan menaikkannya ke
tingkatan makhluk yang paling tinggi.
- Dalam mengamati terdapat
unsur mengikuti Sunnah Al-Musthafa ﷺ, dan barangsiapa
menaati Rasul maka ia telah menaati Allah.
- Seorang manusia yang
melihat kepada orang yang berada di bawahnya dalam urusan dunia akan
membawanya pada sifat ridha, qanaah, dan syukur kepada Allah Azza wa
Jalla.
- Merupakan jalan yang
mengantarkan pada keridhaan Allah dan kecintaan-Nya.
- Membuat dada menjadi lapang
dan hati menjadi tenang.
- Berpikir (tafakkur)
mewariskan rasa takut dan khasyah kepada Allah Azza wa Jalla.
- Berpikir mewariskan hikmah
dan menghidupkan hati.
- Berpikir merupakan nilai
intelektual besar yang membawa pada kesadaran individu dan kebangkitan
umat.
Aktivasi
Praktis dari Hakikat Tema dan Nilai-nilainya Melalui Kegiatan Berikut:
Pertama
— Aktivitas Pendamping:
- Memberikan kesempatan bagi
setiap pelajar untuk menentukan masalahnya dalam tema pelajaran ini dan
menentukan cara pengobatannya.
- Menentukan beberapa bidang
pengamatan, perhatian, dan pemikiran.
- Rekomendasi untuk menentukan
waktu setiap hari bagi seseorang untuk menyendiri guna memperhatikan
keadaan dirinya.
- Setiap pelajar menyebutkan
satu contoh nyata di mana pengamatan, perhatian, dan pemikiran memiliki
pengaruh dalam mencapai kesuksesan.
- Setiap dari mereka
menyebutkan contoh nyata di mana kurangnya pengamatan, perhatian, dan
pemikiran menjadi sebab terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.
- Menentukan beberapa situasi
dakwah serta mengamati, memperhatikan, dan memikirkannya, serta menentukan
sarana yang sukses untuk mencapai tujuan.
Kedua
— Aktivitas Pendukung:
- Mengadakan perjalanan ke
alam terbuka (rihlah khalawiyah) untuk berpikir, merenung,
mengamati, dan memperhatikan.
- Menghafal ayat-ayat,
hadis-hadis, dan syair-syair yang disebutkan dalam tema ini.
- Membuat riset dan artikel
mengenai tema ini.
- Membuat drama, teater, dan
film yang menjelaskan kesudahan umat-umat terdahulu dan nasib para tiran
serta orang-orang zalim sebagai nasihat dan pelajaran.
- Membuat poster/spanduk yang
mengekspresikan pengamatan, perhatian, dan pemikiran.
- Menyampaikan kultum (khathirah)
tentang mengamati, memperhatikan, dan memikirkan kerajaan langit dan bumi.
- Menyampaikan nasihat
tentang melihat pada keadaan akhirat.
- Menulis riset tentang
pengamatan, perhatian, dan pemikiran dalam kehidupan Nabi ﷺ.
- Memberikan ceramah tentang
kemajuan kaum muslimin di masa lalu karena mereka memegang prinsip-prinsip
ilmu eksperimental.
- Mengadakan rihlah ke alam
terbuka untuk tafakkur, tadabbur, nazhar, dan tabshir.
- Membuat drama, teater, dan
film yang menjelaskan kesudahan umat-umat terdahulu dan nasib para tiran
serta orang-orang zalim untuk nasihat.
- Menyampaikan khutbah di
masjid atau ceramah di forum tentang mengamati, memperhatikan, dan
memikirkan.
Evaluasi
dan Pengukuran Mandiri:
Pertama
— Pertanyaan Esai:
- Definisikan masing-masing
dari Nazhar (Mengamati), Tabashshur (Memperhatikan), dan Tafakkur
(Berpikir) secara bahasa dan istilah.
- Apa hakikat berpikir? Dan
apa pendapat Ibnu Qayyim mengenainya?
- Sebutkan beberapa ayat yang
menyebutkan tentang Nazhar.
- Sebutkan beberapa ayat yang
menyebutkan tentang Tabashshur.
- Sebutkan beberapa ayat yang
menyebutkan tentang Tafakkur.
- Sebutkan beberapa hadis yang
menyebutkan tentang Nazhar dan Tabashshur.
- Sebutkan beberapa hadis yang
menyebutkan tentang Tafakkur.
- Ringkaslah beberapa
perkataan dan atsar yang menyebutkan tentang Nazhar, Tabashshur,
dan Tafakkur.
- Apa yang engkau ketahui
tentang keutamaan berpikir?
- Apa buah dari pikiran dan
manfaat-manfaatnya?
- Apa saja bidang-bidang
pikiran?
- Sebutkan contoh terapan dari
kehidupan Nabi ﷺ
dalam hal berpikir.
- Apakah engkau antusias untuk
berpikir dan merenung? Mengapa?
- Apakah engkau mengajak orang
lain untuk berpikir dan merenung? Mengapa?
- Jelaskan pentingnya melihat
pada kesudahan segala urusan (al-awaqib).
- Sebutkan beberapa contoh
bagi mata batin (bashirah) dan melihat pada kesudahan urusan.
- Jelaskan sebagian manfaat
mengamati dan memperhatikan.
Kedua
— Pertanyaan Objektif:
Berilah
tanda (V) pada pernyataan yang benar dan tanda (X) pada pernyataan yang salah.
- Melihat pada kesudahan
urusan adalah tipu daya orang yang lemah. ( )
- Memperhatikan segala urusan
sebelum menceburkan diri di dalamnya akan mengamankan dari
bahaya-bahayanya. ( )
- Mengamati, memperhatikan,
dan memikirkan termasuk konsekuensi dari amal untuk Islam. ( )
- Kecerobohan, sikap
emosional, dan ketergesa-gesaan tidak bertentangan dengan mengamati dan
memperhatikan. ( )
Kelima:
Referensi untuk Belajar Mandiri:
- Nadhrah al-Na'im. Dr.
Shalih bin Humaid, Abdurrahman bin Malluh.
- Ihya Ulumuddin. Oleh
Abu Hamid al-Ghazali.
- Zad al-Akhyar. Komite
Ilmiah Yayasan Al-Kalimah untuk Penerbitan dan Distribusi - Kuwait.
- Tazkiyah al-Nafs. Dr.
Muhammad Abdul Qadir Abu Faris.
- Mamarrot al-Haqq. Dr.
Ra'id Abdul Hadi.
- Rasa'il al-Ishlah.
Syekh Muhammad Al-Khidr Husain - Dar al-Ishlah - Arab Saudi.
Catatan
Kaki:
- ([1]) QS. An-Nahl: 8.
- ([2]) QS. Yasin: 36.
- ([3]) QS. Al-Waqi'ah: 61.
- ([4]) Lihat ayat-ayat yang
menyebutkan tentang dorongan untuk mengamati (al-Nazhar).