Wednesday, April 22, 2026

Itsar

Mukadimah

“Innamal mukminuna ikhwah. Faaslihu baina akhawaikum” (QS 49 : 10). “Sesungguhnya mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah orang-orang yang berselisih diantaramu”

“Innal muslim akhul muslim” (sesungguhnya muslim itu saudara bagi muslim lainnya)

Ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan Islam adalah sarana efektif dalam dakwah fardhiyah, selain itu ia juga memberikan sekaligus manfaat duniawi, ukhrawi, dan diniyah.

Persatuan dan persaudaraan yang paling kekal adalah jika didasari kesamaan dan kesatuan aqidah. Jadi asas pemersatu yang paling kuat dan langsung adalah kesatuan aqidah.

Dalam QS 3 : 103 nampak jelas bahwa Allah yang mempersatukan hati-hati manusia dan menjadikan mereka bersaudara. Jadi ukhuwah Islamiyah, ta’liful qulub (persatuan hati) adalah kerja Allah dan bukan manusia.

Hanya saja manusia harus berikhtiar lebih dulu dengan sama-sama berpegang teguh kepada tali Allah (yakni Al Islam) dan berusaha menyelaraskan diri dengan Islam serta memperbaiki hubungan antar sesama manusia. (QS 8 : 1). Bila sudah demikian insya Allah ukhuwah Islamiyah akan terwujud dengan sendirinya.

Dalam harakah dikenal paduan antara iltizam yang sempurna dan ukhuwah Islamiyah. Bila yang ada hanya disiplin yang sempurna (iltizamul kamil), maka suasana akan terasa kaku, kering, gersang seperti di markas militer. Sedangkan bila hanya sibuk dengan masalah ukhuwah tetapi mengabaikan iltizam, disiplin maka akan seperti sekumpulan orang tanpa arahan dan bimbingan.

Pribadi-pribadi muslim yang shalih/shalihah yang memiliki iltizam yang baik namun tetap diwarnai ukhuwah, bila bersatu padu dan bekerja sama akan seperti bangunan yang kokoh.

1.     Ukhuwah Islamiyah dapat sekaligus memberi manfaat duniawiyah, diniyah, dan ukhrawiyah.

a.       Ditilik dari manfaat duniawiyah, ukhuwah Islamiyah dapat membuat seorang muslim dapat terkena imbas manfaat rizki dan kedudukan yang dimiliki saudaranya sepanjang tidak melenceng dari jalur kebenaran. Sikap seorang muslim yang baik, ia tidak akan pernah iri ataupun hasad terhadap kelebihan-kelebihan rezeki, kedudukan, keilmuwan dll yang dimiliki saudaranya. Bahkan seharusnya ia ikut merasa bersyukur karena ia pun dapat terkena efek positif dengan segala kelebihan yang dimiliki saudaranya. Kalau perlu dan mampu sebaiknya bahkan ia turut berpacu dalam kebaikan agar bermanfaat bagi orang lain.

Imbas manfaat memang tidak boleh menjadi tujuan utama dalam menjalin ukhuwah, tetapi sekedar efek samping yang harus disyukuri. Misalnya punya teman, saudara seaqidah yang pandai dalam bidang matematika kita bisa belajar darinya. Atau punya teman dokter, maka ia bisa menjadi konsultan kesehatan bagi kita, kapan saja kita butuh pertolongan medis, ia siap sedia menolong kita.

Jika imbas manfaat (intifa’) dijadikan tujuan utama, dikhawatirkan kita akan bersikap memilih-milih dalam berteman dan menda’wahi seseorang. Kemungkinan besar kita hanya mau berteman atau menda’wahi orang-orang yang kira-kira menguntungkan kita.

Manfaat duniawiyah yang kedua adalah kita akan memiliki soliditas dan kekompakan dalam hal kemaslahatan atau kebaikan. Kita akan tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa serta saling bercermin karena Rasulullah SAW. Juga besabda sesungguhnya, mukmin cermin bagi saudaranya yang lain kemudian Umar ra pernah mengatakan pula bahwa kalau bukan karena tiga hal, niscaya ia tidak akan betah hidup di dunia. Ketiga hal tersebut ialah:

·       Memiliki kuda perang terbaik yang digunakan untuk berperang di jalan Allah Taala.

·       Bersusah payah di waktu malam (qiamul lail)

·       dan bergaul dengan orang-orang yang sidiq (benar dalam sikap, lisan, dan perbuatannya).

b.      Ditilik dari manfaat diniyah (dari segi agama) paling tidak ada lima hal yang dapat diperoleh seseorang bila ia senantiasa menjaga ukhuwah Islamiyah.

                                             i.     Saling mencintai di jalan Allah Taala. Orang yang saling mencintai di jalan Allah Taala akan dapat merasakan manisnya iman, memperoleh naungan di hari kiamat (hadits 7 golongan, di antara orang-orang yang saling mencintai karena Allah Taala, menjadi sebaik-baiknya sahabat di sisi Allah Taala dan akhirnya akan memperoleh mimbar dari cahaya di hari kiamat)

                                           ii.     Tolong-menolong dalam ketaatan. Orang-orang yang berukhuwah akan selalu siap tolong-menolong dalam kebaikan dan ketaatan kepada Allah Taala dan Rasul-Nya. Di jaman Rasulullah hal itu jelas terlihat seperti menolong biaya orang yang akan menikah, sesama muslimah meminjamkan pakaian bagus agar saudarinya juga bisa hadir di shalat Idul Fitri atau Idul Adha, meminjamkan uang tanpa bunga. Jadi bukan menolong orang karena ada maksud-maksud tertentu atau ingin meraih keuntungan yang lebih besar.

                                         iii.     Mensucikan, mengagungkan Al haqq atau kebenaran. Dalam QS 103:3 disebutkan bahwa hendaknya kita saling tolong-menolong mengingatkan untuk menepati kebenaran dan untuk bersabar. Orang yang berukhuwah akan bahu membahu menegakkan kebenaran. Persahabatan mereka tulus karena sama-sama mencintai kebenaran.

                                          iv.     Persamaan dan kesejajaran, Firman Allah Taala QS 49:13 “Inna akramakum ‘indallahu atqaakum” benar-benar diwujudkan oleh orang-orang yang berukhuwah. Mereka benar-benar sadar dan merasa bahwa manusia sama, sejajar, setara di hadapan Allah Taala. Yang membuat seseorang lebih tinggi derajatnya di hadapan Allah Taala adalah jika kadar ketakwaannya lebih tinggi. Dalam hadits di tegaskan bahwa Allah Taala tidak melihat perbedaan fisik atau atribut-atribut duniawi melainkan langsung ke dalam hati manusia. Karena itu dalam Islam baik Abu Bakar yang bangsawan Arab berkulit putih maupun Bilal bekas budak berkulit hitam, kedua-duanya merupakan sahabat-sahabat yang wajib kita hormati dan kita teladani. Dan kedua-duanya sudah diketahui akan masuk surga, padahal mereka masih hidup saat itu.

                                            v.     Saling menghormati. Sesama muslim yang berukhuwah akan saling menghormati satu sama lain. Mereka juga saling berlomba memberi salam lebih dulu. Dalam hadits dikatakan Rasulullah saw., “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati orang-orang yang lebih tua dan menyayangi orang-orang yang lebih muda”

                                          vi.     Itsar: Mementingkan saudara seaqidahnya lebih dari dirinya sendiri. Bisa dikatakan bahwa itsar adalah puncak ukhuwah Islamiyah. Bila bentuk minimal ukhuwah adalah “Salamatus Shodr”, kelapangan dada terhadap saudara seiman maka Itsar adalah bentuk maksimal ukhuwah itu sendiri.

c.       Dan akhirnya manfaat tertinggi dan hakiki adalah manfaat ukhrawi yakni balasan optimal yang akan di peroleh di akhirat kelak. Ribathul Ukhuwah (ikatan ukhuwah) dan Ribathul Jamaah (ikatan jamaah) yang terjalin kuat di dunia insya Allah akan berlanjut di akhirat nanti.

Yang jelas tiga hal akan diterima orang-orang yang senantiasa menghidupkan ukhuwah, yakni:

1.     Mendapat mimbar dari cahaya pada saat menunggu dihisab.

2.     Mendapat pertolongan atau naungan Allah Taala di hari dimana tak ada pertolongan selain pertolongan-Nya.

3.     Mendapat Al-Jannah (surga)

Itsar, puncak ukhuwah

a.      Makna Itsar

Secara bahasa itsar berarti mementingkan orang lain lebih dari diri sendiri. Dari segi fitrah setiap manusia yang masih terjaga fitrah kemanusiaannya juga dapat berbuat mulia, mementingkan orang lain dan bukan diri sendiri serta menolong orang lain tanpa memikirkan diri sendiri. Di Inggris pernah terjadi kasus penyelamatan seorang anak yang jatuh di rel kereta api oleh seorang laki-laki. Alhamdulillah anak itu bisa diselamatkan, namun sebelah tangan laki-laki itu putus tersambar kereta api yang melaju kencang. Mungkin seumur hidupnya anak tersebut takkan bisa melupakan jasa seseorang yang rela mengorbankan sebelah tangannya untuk menyelamatkan nyawanya.

Dari segi istilah, itsar adalah salah satu manfaat diniyah (manfaat keagamaan) yang terwujud bila terjalin ukhuwah di antara orang-orang yang seaqidah. Ia juga dikatakan wujud maksimal ukhuwah Islamiyah yang dimiliki seseorang. Dalam rangka menggapai mardhatillah semata, seorang muslim bersedia berkorban mendahulukan kepentingan orang lain di atas dirinya sendiri.

b.     Urgensi dan keutamaan Itsar

Dalam QS 9:128 digambarkan sifat-sifat Rasulullah saw. yang mudah berempati pada penderitaan orang lain, senantiasa menginginkan kebaikan bagi orang lain dan santun serta pengasih dan penyayang terhadap sesama mukmin.

Kehidupan di dunia yang jauh dari sifat-sifat mulia akan dipenuhi keserakahan dan keegoisan, nafsi-nafsi, lu-lu, gua-gua. Semuanya mementingkan diri dan keluarganya saja termasuk para pemimpinnya yang mengidap penyakit kronis berupa KKN. Kehidupan yang individualistis (nafsi-nafsi) egoistis (mementingkan diri sendiri) dan apatis (masa bodoh terhadap orang lain) adalah cerminan masyarakat yang tidak menegakkan ukhuwah Islamiyah.

Contohnya kehidupan di masyarakat metropolis atau kosmopolis ada seorang tunawisma yang meninggal di dekat tempat sampah lalu di bawa ke RSCM akhirnya dikuburkan tanpa kehadiran sanak saudaranya. Atau orang-orang tua yang ditaruh di panti-panti jompo. Jarang dijenguk dan menjalani proses sakaratul maut sendirian tanpa didampingi atau ditalkinkan anak-cucu. Benar-benar mengenaskan. Sulit kita membayangkan keridhaan dan keberkahan Allah Taala akan tercurah kepada masyarakat yang jauh dari nilai-nilai kebaikan tersebut.

Rasulullah mengatakan bukan dari golongan kami orang yang tidur dalam keadaan kenyang sementara tetangganya kelaparan. Begitu pula di hadits lain “Bukan golongan kami orang yang tidak peduli pada urusan orang Islam

Jadi sifat itsar sangat penting untuk memerangi sifat-sifat buruk seperti egois, kikir, individualis dsb serta menumbuhsuburkan sifat-sifat mulia seperti peduli, empati, pemurah dll.

Keutamaan orang yang berbuat itsar di dunia ia akan dicintai oleh orang-orang yang pernah merasakan kebaikannya dan mempererat ukhuwah serta di akhirat nanti akan mendapatkan mimbar terbuat dari cahaya, naungan dan lindungan Allah Taala serta Al-Jannah (surga)

c.      Itsar generasi salafus shalih

Rasulullah pernah bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq manusia.” Dan beliau dengan pujian Allah Taala dalam QS 68:4 dan QS 9:128 yang sudah dicantumkan di bagian terdahulu tulisan ini menggambarkan sosok beliau yang mudah berempati, peka dan peduli terhadap penderitaan orang lain. Kemudian selalu menginginkan kebaikan bagi orang lain dan bersifat santun serta kasih sayang terhadap mukmin.

Bukti kemampuan berempati beliau, terlihat saat beliau segera tahu bahwa Abu Hurairah kelaparan tanpa harus diberitahu, padahal sebelumnya Abu Bakar dan Umar pun tak bisa menangkap sinyal-sinyal Abu Hurairah butuh bantuan.

Beliau tidak pernah menolak siapa saja yang minta bantuan dan pertolongan beliau padahal beliau sendiri sering kelaparan seperti nampak pada kisah beliau, Abu Bakar dan Umar ra sama-sama lapar dan dijamu makan oleh Abu Ayyub Al Anshari. Beliau meneteskan air mata kemudian berucap, “Kelak kalian akan ditanya akan nikmat ini, ketika kalian pergi dari rumah dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang”

Beliau hidup sangat sederhana dan tidur di atas tikar jerami sampai Umar menangis melihatnya dan Fatimah kelak bersyair di tepi kuburan bapaknya, “Ya ayahhandaku punggungnya penuh dengan bilur-bilur tikar”. Tetapi beliau tidak mau tikarnya itu dilipat terlalu banyak di bagian atasnya sebagai bantal karena takut tidurnya terlalu nyenyak bila terlalu empuk, sehingga khawatir tidak bisa bangun shalat malam.

Rasulullah juga menegaskan bahwa dunia bukan dari dan untuk keluarga Muhammad di saat Fatimah mendapat perhiasan, bagian dari rampasan perang hingga akhirnya putrinya mengembalikannya. Ia juga menasihati Fatimah dan Ali dengan bacaan-bacaan dzikir pada saat mereka minta khadimah dari tawanan perang. Rasulullah juga menghukum keras istri-istrinya yang meminta penghidupan (maisah) yang lebih dan perhiasan dengan cara mengasingkan diri selama sebulan hingga akhirnya Allah menawarkan opsi dalam wahyu-Nya di surat At Tahrim. Apakah istri-istri nabi tersebut memilih nabi dan kehidupan akhirat ataukah dunia. Tentu saja mereka memilih Rasulullah dan surga kelak walaupun kini hidup prihatin di dunia. Terlihat betapa Rasulullah lebih mementingkan yang lain ketimbang diri dan keluarganya karena pada saat yang bersamaan beliau ridha saja para sahabat dan istri-istrinya hidup berkecukupan dan memakai perhiasan hasil rampasan perang serta memiliki khadimah.

Bahkan sampai di saat-saat terakhir kehidupannya pun beliau tetap memikirkan umatnya dan bukan dirinya dan keluarganya sehingga ia tidak mewariskan apa-apa bagi keluarganya. Ucapan yang keluar dari mulut beliau di akhir kehidupannya adalah, “Ummati….Ummati….” (Umatku…Umatku…)Keteladanan Rasulullah saw. dalam hal tersebut ternyata membias pula pada

sahabat-sahabat yang utama seperti Abu Bakar, Abu Thalhah atau istri-istri beliau seperti Khadijah, Aisyah dan Zainab binti Jahsy serta Saudah binti Zum’ah.

Suatu saat ketika terjadi pengumpulan dana untuk berjihad fisabilillah semua sahabat berlomba-lomba untuk menginfaqkan segala yang dimilikinya.Termasuk sahabat-sahabat yang utama seperti Abu Bakar, Umar dan Utsman. Kemudian Rasulullah bertanya kepada Umar, “Bagitu banyak yang kau infaqkan Umar, adakah yang tersisa untuk keluargamu?” Umar pun lalu menjawab, “Sebanyak itu pula ya Rasulullah”. Jadi istilahnya fifty-fifty, atau separuh-separuh. Jawaban seperti itu pun meluncur pula dari lidah Utsman ketika ditanya juga oleh Rasulullah dengan pertanyaan yang sama. Namun tatkala pertanyaan tersebut diajukan kepada Abu Bakar As shidiq ra, jawabannya sungguh mencengangkan dan menimbulkan decak kagum.

“Untuk keluargaku kutinggalkan Allah dan Rasulnya” Artinya keseluruhannya (100%) diinfaqannya di jalan Allah, sedangkan urusan keluarganya ia pasrahkan kepada Allah. Umar sampai berucap, “Sungguh aku tak akan bisa mengalahkan Abu Bakar selama-lamanya”Begitu pula, pada saat Abu Bakar pergi hijrah mendampingi Rasulullah. Dananya dihabiskan untuk memb

iayai kepergiannya hijrah bersama Rasulullah. Namun istri dan putri-putrinya memang luar biasa pula. Ketika kakek Asma atau ayah Abu Bakar yakni Abu Quhafah marah-marah kepada Abu Bakar yang dianggapnya tidak bertanggung jawab meninggalkan keluarganya begitu saja, maka Asma menenangkan kakeknya yang buta itu dengan memperdengarkan bunyi kerikil-kerikil seolah itu kepingan dirham yang banyak. “Tenang saja kek, ayah tidak menyia-nyiakan kami”, ujar Asma. Barulah Abu Quhafah menjadi tenang.

Ada lagi kisah itsar yang sangat indah dan diabadikan oleh Allah dalam QS Al-Hasyr ayat 8 dan 9. Dalam terjemah singkat tafsir Ibnu Katsier jilid 8 diungkap tentang itsar yang ditunjukkan orang-orang Anshar terhadap saudara-saudara mereka kaum muhajirin (QS 59:8)Demi iman dan pembuktiann

ya kaum muhajirin meninggalkan sanak saudaranya, harta benda, dan kampung halamannya. Seperti Shuaib bin Sinan Ar Rumy yang dihadang dan dipaksa menyerahkan seluruh harta bendanya, dan Rasulullah saw. bersabda : ‘Beruntunglah Abu Yahya (Shuaib) dengan perniagaannya (artinya rela melepas harta benda dunia dengan keridhoan Allah da Rasul-Nya).

Ukhuwah Islamiyah yang dilandasi iman membuat suku Aus dan Khazraj di Yatsrib (kemudian menjadi Madinah) yang dahulunya bertikai menjadi damai dan bersaudara (QS 3:103) Kemudian, membuat kaum muhajirin yang datang dari Mekkah bersatu dengan kaum Anshar (penduduk asli Yatsrib) yang bersedia menolong dan menampung saudara-saudara seiman tersebut.

Ketika sahabat-sahabat Nabi saw. kaum muhajirin tiba di Yatsrib (Madinah), mereka segera dipersaudarakan dengan orang-orang Anshar. Di antaranya Abdurrahman bin Auf dengan Sa’ad bin Raby yang kemudian menawarkan separuh hartanya dan 1 dari 2 istrinya untuk Abdurrahman bin Auf. Jika Sa’ad memiliki sifat itsar, maka kebalikannya Abdurrahman bin Auf memiliki sifat iffah (memelihara diri dari meminta-minta). Ia menolak halus tawaran Sa’ad bin Raby dan hanya minta ditunjukkan pasar. Ia pun berusaha sampai berhasil dalam perniagaannya bahkan merintis dan membangun pasar Ukaz yang menandingi pasarnya Yahudi.

Di ayat kesembilannya disebutkan ada orang Anshar yang tulus mencintai, tanpa pamrih dan dan mengutamakan kawan lebih dari diri sendiri, meskipun mereka merasa lapar. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, merekalah orang yang berbahagia dan beruntung.

Dalam hadits riwayat muslim dari Abu Hurairah, sepasang suami istri yang memenuhi perintah Rasulullah untuk memberi makan musafir yang kelaparan itu adalah Abu Thalhah dan Ummu Sulaim/ Rumaisha binti Milhan. Mereka sendiri malam itu segera menidurkan anak-anak mereka yang lapar dan berpura-pura makan agar tamu mereka makan dengan tenang. Padahal yang sedang disantap oleh tamu mereka itu adalah saru porsi terakhir yang mereka miliki hari itu.

Di ayat 9 tersebut Allah menegaskan “Wa yu’ tsiruuna alaa anfusihim walau kana bihim khashan’shah” (mereka itsar terhadap orang lain dibanding ke diri mereka sendiri walaupun mereka sendiri kelaparan)

Ketika keesokan hari Rasulullah berjumpa dengan Abu Thalhah, beliau bersabda, “Sungguh Allah sangat gembira (tersenyum) menyaksikan perbuatan Anda berdua

Hampir kesemua istri Nabi saw. menunjukkan sifat pemurah dan itsarnya. Istri pertama yang paling dicintainya, dan tak pernah dapat dilupakannya: Khadijah menunjukkan itsar saat Rasulullah meminta pembantu Kahdijah: Zaid bin Haritsah untuk menjadi pembantunya. Beliau juga menginfqkan seluruh harta kekayaannya untuk perjuangan fisabilillah menyebarkan agama Islam.

Istri Rasulullah seperti Zainab binti Jahsy yang pandai berwiraniaga juga terkenal dermawan dan suka membantu orang lain. Saudah bunti Zum’ah istri Rasulullah yang walaupun hanya berjualan roti kuah ala Thaif pun ikut berinfaq dengan hasil dagangannya.

Ummul mukminin Aisyah ra yang terkenal kepandaiannya sekaligus juga kedermawanannya pernah mendapat uang 40.000 dirham dari baitul mal. Oleh Aisyah harta itu segera di bagi-bagikan kepada fakir miskin sampai-sampai lupa menyisihkan sedikit saja untuk dirinya. Sampai ditegur Ummu Burdah yang membantunya, “Ya Ummul mukminin kenapa tak kau sisihkan sedikit saja untuk membeli makanan berbuka, bukankah engkau sedang berpuasa,” “Ya Ummu Burdah, kenapa tadi tak kau ingatkan”, jawab Aisyah tenang.

Kisah itsar yang sangat heroik terjadi pada saat perang Yarmuk. Ikrimah bin Abu Jahl seorang mujahid bersama dua sahabat yang lain terbaring dengan luka-luka sangat parah. Ketika seorang sahabat hendak memberinya minum, ia menolak dan menyuruh air itu diberikan ke teman di sebelahnya. Ketika air itu akan diberikan kesebelahnya, orang tersebut juga menyuruh diberikan lagi ke sebelahnya pula. Ia memilih mengalah pula pada saat-saat yang penting tersebut. Namun orang ketiga yang dimaksud sudah meninggal, ketika kembali lagi si pemberi minum ke sahabat yang tengah, ternyata ia sudah syahid juga. Dan ketika beranjak ke Ikrimah, ia pun telah syahid. Subhanallah dalam detik-detik terakhir kehidupan atau di saat-saat kritis sekalipun mereka tetap menjaga itsar mereka.

Penutup

Hal yang sangat kontras terjadi pada kita, saat kita menoleh ke kondisi umat Islam saat ini yang terpecah-pecah, tercabik-cabik dan terkotak-kotak.

Doa Nabi saw. yang dikabulkan saat meminta umatnya diselamatkan dari bahaya banjir dan kelaparan dan tidak dikabulkan saat meminta umatnya diselamatkan dari bahaya perpecahan, seyogianya membuat kita berfikir bahwa kerja mempersatukan umat adalah kerja besar yang harus diikhtiarkan secara maksimal baru kemudian Allah berkenan membantu (QS 13:11)

Bila kita melihat QS 3:103, nyata jelas bahwa hanya dengan sama-sama I’tisham bi hablillah (berpegang teguh di jalan Allah) sajalah, persatuan hati dan persaudaraan akan terwujud.

Wallahu a’lam.

 

Takabbur

1.     PENGERTIAN TAKABBUR

Rasulullah SAW mendefinisikan “takabbur” sebagai sikap “menolak kebenaran dan merendahkan orang lain”.

Pengertian itu Nabi sampaikan kepada orang yang mempertanyakan sikap salah seorang sahabat yang suka memakai baju dan sendal bagus. Sabda Nabi : Sesungguhnya Allh itu indah dan mencintai keindahan. Takabbur adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain”. HR. Muslim. 

2.     BAHAYA TAKABBUR

Takabbur sangat berbahaya bagi manusia. Ia merupakan kesalahan pertama yang dilakukan makhluk Allah (iblis) di dunia ini, yang menyebabkannya diusir dari surga. Pada kenyataannya takabbur itu menyebabkan hal-hal berikut ini :

1.     Jauh dari kebenaran. Firman Allah :

“ Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku” 7:146

2.     Terkunci mati hatinya. Firman Allah :

“Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang” 40:35

3.     Mengalami kegagalan dan kebinasaan. Firman Allah :

“..dan binasalah semua orang yang berlaku sewenang-wenang lagi keras kepala” 14:35

4.     Tidak disukai Allah. Firman Allah :

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong”  16: 23

5.     Tidak akan masuk sorga. Sabda Nabi :

“Tidak akan masuk sorga orang yang di hatinya ada sebiji sawi kesombongan” HR. Muslim

6.     Akan menjadi penghuni neraka Jahannam.

“ Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku(berdoa) akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina” 40: 60

Ketika seseorang memiliki sifat sombong, maka ia akan tertutup dari akhlak mulia, antara lain :

1.     Tidak akan mencintai sesama muslim sebagaimana ia mencintai diri sendiri. ia selalu memandang orang lain lebih rendah dari dirinya sendiri.

2.     Tidak akan tawadhu’(rendah hati), karena selalu merasa lebih baik.

3.     Tidak akan dapat meninggalkan rasa dendam, karena merasa mampu membalas fihak yang merugikannya.

4.     Tidak dapat jujur. Karena untuk menutupi kekurangan tidak jarang ia harus berdusta.

5.     Tidak akan dapat mengendalikan marah. Karena merasa mampu melampiaskannya

6.     Tidak bisa melepaskan diri dari sifat hasad (iri)

7.     Tidak dapat menasehati atau menerima nasehat dengan lembut dan halus

8.      Selalu memandang rendah orang lain.

3.     MACAM-MACAM TAKABBUR

a.      Takabbur kepada Allah

Inilah bentuk takabbur terburuk, seperti yang pernah dilakukan oleh Namrud, Fir’aun dan sejenisnya. QS. 40:60,  25:60

b.     Takabbur kepada Rasul

Yaitu sikap tinggi hati, menolak mengikuti dan mematuhi Nabi, karena menganggapnya sebagai manusia biasa (QS. 23:34, 36:15). Seperti yang dinyatakan kaum kafir  Quraisy kepada Nabi : “Bagaimana kami bisa duduk di sisimu hai Muhammad, sementara yang ada di sekitarmu orang-orang faqir” 

c.      Takabur atas sesama manusia

Yaitu dengan membanggakan diri dan meremehkan orang lain. Takabbur ini meskipun tidak seberat yang pertama dan kedua, namun masih sangat berbahaya karena :

-        Kebesaran dan kehormatan hanya milik Allah, selainnya lemah dan  terbatas.

-        Ketika seseorang takabbur, ia merampas salah satu sifat kebesaran Allah.

4.     PENYEBAB TAKABBUR

Pada umumnya orang yang sombong adalah orang yang memiliki kebanggaan diri, karena memiliki sifat,kemampuan atau prestasi lebih dari yang lain.

1)     Ilmu

Takabbur karena ilmu sangat mudah terjadi, yaitu dengan munculnya perasaan lebih mulia dari orang lain. Atau merasa telah mendapatkan tempat mulia di sisi Allah dengan ilmunya (QS 58:11). Ia lebih mengkhawatirkan  orang lain daripada diri sendiri. Kesombongan karena ilmu ini mudah terjadi karena dua hal :

  1. ilmu yang dipelajari bukan ilmu hakiki. Karena hakekat ilmu adalah yang mampu memperkenalkan manusia akan Rabb-nya, keadaan ketika bertemu Allah dan hijab yang menghalanginya dari Allah. Ilmu yang demikian akan melahirkan sikap tawadhu’(rendah hati) bukan takabbur. QS 35:28
  2. keadaan hati yang kotor saat menuntut ilmu, sehingga salah niatnya dan jadilah takabbur dengan ilmu yang didapatnya.

2)     Amal Ibadah

Orang yang masuk dalam kehidupan zuhud (konsentrasi dalam ibadah) tidak otomatis terbebas dari takabbur. Misalnya dengan zuhudnya itu, merasa lebih layak dikunjungi daripada mengunjungi. Lebih layak dibantu daripada membantu, menganggap orang lain sengsara di neraka dan merasa hanya dirinya yang selamat. dst. Rasulullah bersabda :

“Jika kamu mendengar ada orang yang berkata : “Binasa semua manusia” maka dialah yang paling dahulu binasa.” HR Muslim.

Dengan pernyataan ini ia membanggakan diri dan meremehkan orang lain. 

3)     Hasab (kedudukan) dan Nasab (keturunan)

Orang yang berasal dari keluarga terhormat mudah meremehkan orang lain yang datang dari keluarga bukan terhormat, meskipun orang itu lebih baik ilmu dan amalnya, dan bahkan takabbur karena faktor ini sering kali membuat ia menganggap orang lain sebagai budaknya, dan rasa keberatan untuk berbaur dengan mereka.

Dari Abu Dzarr ra berkata: Suatu hari pernah aku bersengketa dengan seseorang (Bilal) di hadapan Nabi. Lalu aku berkata kepada orang itu “Hai anak hitam”. Nabi segera memotong ucapanku: “Hai Abu Dzarr, tiada lebih baik orang putih dari yang hitam, kecuali dengan taqwa”. Mendengar itu saya berbaring dan mempersilahkan Bilal untuk menginjak-injak muka saya. HR Ahmad.

Dalam hadits di atas, Rasulullah segera menegur orang yang merasa lebih baik keturunannya. Dan Abu Dzarr segera bertaubat menyesali perbuatannya. 

4)     Al Jamal (ketampanan/kecantikan)

Takabbur karena faktor ini lebih banyak terjadi di kalangan wanita, terwujud dalam celaan, atau gunjingan terhadap kekurangan fihak lain.

Aisyah ra berkata : Ada seorang wanita yang ingin bertemu Nabi, dan aku katakan kepada Nabi dengan isyarat tanganku yang menunjukkan bahwa wanita itu pendek. Sabda Nabi ketika itu :”Sesungguhnya kamu telah menggunjingnya”.

Sikap ini muncul karena adanya kesombongan dalam diri orang seperti Aisyah yang berpostur tubuh lebih baik dari orang tadi. Sebab jika ia berpostur tubuh pendek seperti orang yang diceritakan itu, tentu ia tidak akan mengatakannya. 

5)     Al Maal (kekayaan)

Takabbur karena kekayaan ini banyak terjadi di kalangan pejabat, penguasa, pedagang, tuan tanah, dan mereka yang memilikinya. Orang yang merasa lebih kaya meremehkan orang yang dipandang kurang kaya dengan ucapan maupun sikap-sikap lainnya. Seperti ungkapan : “uang jajan anak saya sehari, cukup kamu makan seumur hidupmu, dst.

Hal ini terjadi karena ketidak tahuannya akan fadhilah (keutamaan) orang miskin dan bahaya kekayaan. Seperti yang pernah terjadi pada pemilik dua kebun yang congkak dan akhirnya binasa (QS. 18:34-42) atau Qarun yang akhirnya binasa  bersama hartanya (QS 28:79-81).

6)     Al Quwwah (kekuatan)

Kekuatan dan kegagahan dapat memunculkan takabbur atas mereka yang lemah dan tidak berdaya.

7)     Al Atba’ (pengikut/pendukung)

Banyaknya pengikut, pendukung, murid, keluarga, kerabat, dsb. sering memunculkan kesombongan pada orang yang memilikinya. Seorang guru menjadi takabbur karena merasa banyak muridnya. Seorang pejabat menjadi takabbur karena banyak pengikutnya, dst.

Secara umum, setiap nikmat yang bisa dianggap sebagai nilai lebih pada seseorang berpotensi untuk melahirkan benih takabbur pada seseorang.

5.     TERAPI TAKABBUR

Takabbur adalah penyakit berbahaya yang bisa menyerang siapa saja. Pencegahan dan pemberantasan penyakit ini harus dilakukan dengan serius. Pengobatan intensif terhadap pengidap penyakit ini harus dilakukan dengan cermat dan seksama.

Terdapat dua tahapan  utama dalam melakukan terapi penyakit takabbur, yaitu :

1.   Pencabutan akar dan pohonnya dari hati.

Untuk mencabut pohon takabbur beserta akar-akarnya diperlukan dua kekuatan, yaitu ilmu dan amal

Ilmu yang dibutuhkan dalam hal ini adalah ma’rifatunnafsi (mengenal diri sendiri) dan ma’rifatullah (mengenal Allah). Dua hal ini sudah cukup untuk mencabut akar  takabbur dari hati manusia. Sebab jika seseorang sudah mengenali dirinya sendiri dengan pengenalan yang benar, maka ia akan sadar bahwa ia adalah makhluk hina, lebih lemah dari lainnya, lebih miskin dari siapapun juga. Tidak ada yang pantas baginya kecuali tawadhu’ kepada sesama. Dan jika ia mengenali Allah dengan sebenarnya maka akan diketahuinya bahwa tidak ada yang layak untuk takabbur kecuali Allah – Allahu Akbar.

Amal yang dibutuhkan adalah sikap tawadhu’ kepada sesama manusia karena Allah, dengan senantiasa meneladani akhlak orang-orang shalih sebelumnya seperti akhlak Rasulullah SAW yang makan di atas tanah  (tanpa kursi) dan mengatakan :”Sesungguhnya aku adalah hamba biasa yang  makannya seperti hamba lainnya”

Tawadhu’ tidak cukup dengan ilmu, ia harus berupa amal. Dari itulah rukun Islam utama setelah syahadat adalah menegakkan shalat karena dalam shalat itu terdapat sekian banyak rahasia hidup dan yang terpenting adalah pembiasaan agar seorang muslim yang mendirikan shalat dengan ruku’ dan sujudnya terbiasa tawadhu’ serta tidak lagi sombong.

Ada banyak hal yang dapat digunakan untuk menguji keberadaan takabbur pada diri seseorang, antara lain lima hal berikut ini :

a.      Berdiskusi dengan sesama teman. Jika kebenaran muncul dari orang lain, bagaimanakah tanggapannya, keberatan atau menrima dengan senang.

b.     Berkumpul dalam sebuah haflah (acara). Lalu ada orang lain yang lebih diprioritaskan, apakah sikapnya keberatan atau tidak.

c.      Memenuhi undangan orang miskin. Pergi ke pasar membelikan sesuatu untuk orang lain

d.     Membawa keperluan sendiri, keluarga, atau sahabat dari pasar atau tempat lainnya sampai rumah. Jika keberatan maka ada takabbur. Jika mau karena terpaksa maka itu kemalasan. Jika mau karena disaksikan banyak orang maka itu riya’.

e.      Mengenakan pakaian yang sudah kusam. Dsb.

Inilah beberapa kondisi berkumpulnya riya’ dan takabbur pada seseorang. Jika dalam keramaian maka riya’ ikut menjebak, jika dalam kesepian takabbur terus mengintai.

Dengan mengenali keburukan kita kenali kebaikan. Dan dengan mengenali penyakit kita temukan obatnya.   

2.     Penghindaran dan pengendalian diri

Penyebab takabbur adalah prestasi yang pernah dicapai manusia. Ketidak siapan dan ketidak mampuan menerima hasil  dari penyebab-penyebab tertentu berpotensi melahirkan sikap takabbur.

 Wallahu a’lam

 

Qana'ah

Pendahuluan

Sesungguhnya hal yang telah ditetapkan dalam agama ini adalah: bahwa rezeki berada di tangan Allah dan telah ditentukan di sisi-Nya Subhanahu wa Ta'ala. Allah Ta'ala berfirman:

"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." (QS. Hud: 6).

Dan Allah Ta'ala berfirman:

"Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu. Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan." (QS. Adz-Dzariyat: 22-23).

Dan Allah Ta'ala berfirman:

"Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh." (QS. Adz-Dzariyat: 58).

Telah ditetapkan pula dalam agama ini: bahwa tidak ada seorang manusia pun yang mampu menambah rezeki orang lain atau menguranginya. Rasulullah SAW bersabda:

"Ketahuilah, bahwa jikalau umat manusia bersatu padu untuk memberikan suatu manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak dapat memberikan manfaat itu selain dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah bagimu. Dan jikalau mereka bersatu padu untuk mencelakakanmu, niscaya mereka tidak dapat mencelakakanmu selain dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah atasmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering." (HR. Tirmidzi, ia berkata: Hadits Hasan Shahih).

Telah ditetapkan pula dalam agama ini: bahwa jiwa manusia akan menyempurnakan (menghabiskan) rezekinya dan ajalnya sebelum kematiannya. Rasulullah SAW bersabda:

"Sesungguhnya Ruhul Qudus (Malaikat Jibril) membisikkan ke dalam sanubariku bahwa suatu jiwa tidak akan mati sampai ia menyempurnakan rezekinya dan ajalnya. Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah dalam mencari (rezeki). Janganlah keterlambatan datangnya rezeki mendorongmu untuk mencarinya dengan jalan bermaksiat kepada Allah, karena sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah tidak akan dapat diraih kecuali dengan ketaatan kepada-Nya." (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya).

Berdasarkan fakta-fakta yang telah dipaparkan di atas, maka seorang yang beriman kepada Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul, hendaknya rida terhadap apa yang Allah bagikan untuknya berupa rezeki, baik itu sedikit maupun banyak, dan tidak mendongak (iri) kepada harta atau kesenangan duniawi yang fana yang diberikan kepada orang lain.


Definisi Qana'ah secara Etimologi (Bahasa) dan Terminologi (Istilah)

Qana'ah secara Bahasa:

Secara bahasa, Qana'ah memiliki beberapa makna, di antaranya:

  1. Rida terhadap bagian: Yakni keberuntungan atau jatah. Dikatakan: "Si fulan qana'a (puas) dengan qismihi", maksudnya dengan keberuntungan dan jatahnya.
  2. Kecenderungan pada sesuatu: Dikatakan: "Unta dan kambing itu qana'at menuju tempat penggembalaan", jika hewan tersebut condong kepadanya.
  3. Menghadapkan wajah pada sesuatu: Dikatakan: "Si fulan qana'a", jika ia menghadapkan wajahnya pada sesuatu.
  4. Menutup kepala: Dikatakan: "Si fulan qana'a", jika ia memakai qina' (penutup kepala). Di antaranya ungkapan: "Si fakir itu qana'a", maksudnya ia mengenakan penutup kepala untuk menutupi kefakirannya karena menjaga kehormatan diri (ta'affuf).
  5. Membuka kepala: Dikatakan: "Si fulan qana'a", jika ia membuka penutup dari kepalanya. Di antaranya ungkapan: "Si fakir itu qana'a", maksudnya ia membuka penutup kepalanya untuk meminta-minta (mengemis).

Kedua makna terakhir muncul dalam Al-Qur'an pada firman-Nya: "Dan beri makanlah orang yang 'qani' dan orang yang 'mu'tar'..." Dikatakan maknanya adalah orang yang meminta-minta, dan dikatakan pula orang yang menjaga kehormatan diri (tidak meminta). Maka kata Qana'ah termasuk dalam kata yang memiliki makna berlawanan (Al-Adhdad).

Tidak ada pertentangan di antara seluruh makna ini, karena Qana'ah adalah: Rida terhadap pembagian (rezeki) meskipun itu menyelisihi keinginan jiwa, dalam kondisi di mana seseorang tetap menghadap (bersyukur) kepada Pemberi Nikmat, menjaga kehormatan diri, menjauhkan diri dari meminta-minta, serta menjaga harga dirinya.

Qana'ah secara Istilah:

Ar-Raghib mendefinisikannya dengan perkataan:

"Qana'ah adalah merasa cukup dengan sedikit dari harta/keperluan yang dibutuhkan."


Ayat-Ayat yang Menyebutkan Kata "Qana'ah"

  1. "Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah sewaktu kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur. Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan darimulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang telah diberikan kepadamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Hajj: 36-37).

Ayat-Ayat yang Mengandung Makna "Qana'ah"

  1. "(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 273).
  2. "Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barangsiapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat perhitungan." (QS. An-Nisa: 6).

Hadits-Hadits yang Menyebutkan Kata "Qana'ah"

  1. (Diriwayatkan dari Fadhalah bin 'Ubaid —radhiyallahu 'anhu— bahwa ia mendengar Rasulullah bersabda: "Beruntunglah bagi orang yang diberi petunjuk kepada Islam, sedangkan kecukupan hidupnya sederhana (pas-pasan) dan ia merasa qana'ah (puas).") (HR. Tirmidzi).
  2. (Diriwayatkan dari Abdullah bin 'Amru bin al-'Ash —radhiyallahu 'anhuma— bahwa Rasulullah bersabda: "Sungguh telah beruntung orang yang memeluk Islam, dianugerahi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya qana'ah atas apa yang diberikan-Nya.") (HR. Muslim).
  3. (Diriwayatkan dari Abu Hurairah —radhiyallahu 'anhu— ia berkata: Rasulullah bersabda: "Wahai Abu Hurairah, jadilah orang yang wara' (berhati-hati dari yang syubhat/haram), niscaya engkau menjadi manusia yang paling bersyukur. Cintailah untuk manusia apa yang engkau cintai untuk dirimu sendiri, niscaya engkau menjadi mukmin yang sejati. Perbaguslah bertetangga dengan orang yang bertetangga darimu, niscaya engkau menjadi muslim yang sejati. Dan kurangi lah tertawa, karena banyak tertawa itu mematikan hati.") (HR. Ibnu Majah).

Hadits-Hadits yang Mengandung Makna "Qana'ah"

  1. (Diriwayatkan dari Abu Umamah —radhiyallahu 'anhu— dari Nabi beliau bersabda: "Sesungguhnya waliku (kekasih Allah) yang paling aku iri adalah seorang mukmin yang ringan tanggungan keluarganya (khofif al-haadz), memiliki bagian dalam shalat, memperbagus ibadah kepada Tuhannya dan menaati-Nya dalam kesunyian. Ia tersembunyi di tengah manusia, tidak ditunjuk-tunjuk dengan jari (tidak populer), dan rezekinya cukup lalu ia bersabar atas hal itu." Kemudian Nabi mengibaskan tangannya dan bersabda: "Kematiannya dipercepat, sedikit wanita yang menangisinya, dan sedikit warisannya.")

(Dan dengan sanad yang sama dari Nabi beliau bersabda: "Tuhanku menawarkan kepadaku untuk menjadikan lembah Mekkah menjadi emas bagiku. Aku berkata: 'Tidak wahai Tuhanku, melainkan aku kenyang sehari dan lapar sehari' —beliau mengatakannya tiga kali atau semisalnya— 'Sehingga jika aku lapar, aku merendahkan diri kepada-Mu dan mengingat-Mu, dan jika aku kenyang, aku bersyukur kepada-Mu dan memuji-Mu'.") (HR. Tirmidzi).

  1. (Diriwayatkan dari Abu Hurairah —radhiyallahu 'anhu— ia berkata: Rasulullah bersabda: "Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian dan janganlah melihat kepada orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.") (Muttafaqun 'Alaih).
  2. (Diriwayatkan dari Hakim bin Hizam —radhiyallahu 'anhu— ia berkata: Aku meminta kepada Rasulullah lalu beliau memberiku, kemudian aku meminta lagi lalu beliau memberiku, kemudian aku meminta lagi lalu beliau memberiku, kemudian beliau bersabda: "Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini hijau lagi manis. Barangsiapa yang mengambilnya dengan kelapangan hati (tanpa ambisi), maka akan diberkahi baginya. Dan barangsiapa yang mengambilnya dengan ambisi jiwa, niscaya tidak akan diberkahi baginya, seperti orang yang makan namun tidak pernah kenyang. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.")

(Hakim berkata: "Wahai Rasulullah, demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan meminta (mengambil) harta siapa pun setelahmu sedikit pun sampai aku meninggalkan dunia." Abu Bakar pernah memanggil Hakim untuk memberinya pemberian, namun ia menolak menerimanya. Kemudian Umar memanggilnya untuk memberinya sesuatu, namun ia tetap menolak. Umar berkata: "Aku mempersaksikan kepada kalian wahai kaum muslimin atas Hakim, bahwa aku menawarkan haknya dari harta fa'i ini namun ia menolak mengambilnya." Maka Hakim tidak pernah meminta harta seorang pun setelah Rasulullah sampai ia wafat.) (HR. Bukhari).

  1. (Diriwayatkan dari Anas bin Malik —radhiyallahu 'anhu— ia berkata: Salman (Al-Farisi) jatuh sakit, lalu Sa'ad menjenguknya dan melihatnya menangis. Sa'ad berkata: "Apa yang membuatmu menangis wahai saudaraku? Bukankah engkau telah mendampingi Rasulullah ? Bukankah begini dan begitu?" Salman menjawab: "Aku tidak menangis karena satu dari dua hal: bukan karena merindukan dunia dan bukan pula karena benci akhirat. Akan tetapi Rasulullah telah memberikan janji/pesan kepadaku, namun aku merasa telah melampaui batas." Sa'ad bertanya: "Apa pesan itu?" Salman menjawab: "Beliau berpesan kepadaku hendaknya kecukupan salah seorang dari kalian itu seperti bekal seorang pengendara." Padahal aku merasa telah melampaui batas (merasa hartanya banyak). "Adapun engkau wahai Sa'ad, bertakwalah kepada Allah saat engkau menghukumi jika engkau menjadi hakim, dan saat engkau membagi jika engkau membagi (harta), dan saat engkau berkehendak jika engkau bertekad." Tsabit berkata: "Telah sampai berita kepadaku bahwa Salman tidak meninggalkan harta kecuali hanya dua puluh sekian dirham dari nafkah yang ada di sisinya.") (HR. Ibnu Majah).
  2. (Diriwayatkan dari Abu Hurairah —radhiyallahu 'anhu— ia berkata: Rasulullah bersabda: "Kekayaan itu bukanlah dari banyaknya harta benda, akan tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa.") (Muttafaqun 'Alaih).
  3. (Diriwayatkan dari Abu Darda' —radhiyallahu 'anhu— dari Rasulullah beliau bersabda: "Tidaklah matahari terbit melainkan di kedua sisinya ada dua malaikat yang berseru sehingga didengar oleh seluruh penduduk bumi kecuali jin dan manusia: 'Wahai manusia, kemarilah menuju Tuhan kalian! Sesungguhnya apa yang sedikit namun cukup itu lebih baik daripada yang banyak namun melalaikan.' Dan tidaklah matahari terbenam melainkan di kedua sisinya ada dua malaikat yang berseru: 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak, dan berikanlah kehancuran bagi orang yang menahan hartanya (kikir)'.") (HR. Ibnu Sanni & Al-Hakim).

Contoh Praktis dari Kehidupan Nabi dalam Hal "Qana'ah"

  1. (Diriwayatkan dari Ibnu Abbas —radhiyallahu 'anhuma— bahwa Rasulullah pernah berdoa: "Ya Allah, jadikanlah aku qana'ah (merasa cukup) terhadap apa yang Engkau rezekikan kepadaku, berkahilah ia untukku, dan gantilah setiap apa yang hilang dariku dengan kebaikan.") (HR. Al-Hakim).
  2. (Diriwayatkan dari Aisyah —radhiyallahu 'anha— bahwa ia berkata kepada 'Urwah: "Wahai anak saudaraku, sungguh kami melihat hilal, kemudian hilal berikutnya, sampai tiga kali hilal dalam dua bulan, namun tidak pernah sekalipun api dinyalakan di rumah-rumah Rasulullah (untuk memasak)." Aku ('Urwah) bertanya: "Lalu apa yang menyambung hidup kalian?" Aisyah menjawab: "Dua hal hitam: Kurma dan air. Hanya saja Rasulullah memiliki tetangga dari kaum Anshar yang memiliki hewan ternak perahan (manaih), mereka mengirimkan sebagian dari susu ternak mereka kepada Rasulullah , lalu beliau memberi minum kepada kami.") (HR. Bukhari dan Muslim).
  3. (Diriwayatkan dari Abu Hurairah —radhiyallahu 'anhu— ia berkata: Rasulullah berdoa: "Ya Allah, berikanlah rezeki kepada keluarga Muhammad makanan yang sekadar cukup untuk bertahan hidup (qutan).") (HR. Bukhari dan Muslim).
  4. (Diriwayatkan dari Aisyah —radhiyallahu 'anha— ia berkata: "Kasur Rasulullah terbuat dari kulit yang disamak dan isinya adalah sabut kurma.") (HR. Bukhari).
  5. (Diriwayatkan dari Qatadah —radhiyallahu 'anhu— ia berkata: "Kami pernah mendatangi Anas bin Malik sementara tukang rotinya sedang berdiri, Anas berkata: 'Makanlah! Aku tidak mengetahui Nabi pernah melihat roti yang lunak/tipis (muraqqaq) sampai beliau bertemu dengan Allah, dan beliau tidak pernah melihat kambing yang dipanggang (setelah dibersihkan bulunya dengan air panas) dengan mata kepalanya sendiri sama sekali.'") (HR. Bukhari).
  6. (Diriwayatkan dari Aisyah —radhiyallahu 'anha— ia berkata: "Sungguh Nabi telah wafat dan tidak ada di lemari rumahku sesuatu yang bisa dimakan oleh makhluk hidup, kecuali sedikit gandum (sya'ir) di rak milikku. Aku memakannya dalam waktu yang lama, lalu aku menimbangnya (ingin tahu sisa berapa), maka seketika itu juga ia habis.") (HR. Bukhari dan Muslim).
  7. (Diriwayatkan dari Aisyah —radhiyallahu 'anha— istri Nabi , ia berkata: "Rasulullah telah wafat dalam keadaan beliau tidak pernah kenyang dari roti dan minyak sebanyak dua kali dalam sehari.") (HR. Muslim).
  8. (Diriwayatkan dari Anas —radhiyallahu 'anhu— ia berkata: "Nabi tidak pernah makan di atas meja makan yang tinggi (khuwan) sampai beliau wafat, dan beliau tidak pernah makan roti yang lunak/halus sampai beliau wafat.") (HR. Bukhari).
  9. (Diriwayatkan dari Abu Hurairah —radhiyallahu 'anhu— ia berkata: Rasulullah bersabda: "Seandainya aku memiliki emas sebesar Gunung Uhud, niscaya tidak akan menyenangkanku jika berlalu tiga hari sementara aku masih menyimpan sesuatu darinya, kecuali sedikit yang aku siapkan untuk membayar hutang.") (HR. Bukhari dan Muslim).
  10. (Diriwayatkan dari 'Urwah, dari Aisyah —radhiyallahu 'anhuma— ia berkata: "Keluarga Muhammad tidak pernah makan dua kali dalam sehari melainkan salah satunya adalah kurma.") (HR. Bukhari dan Muslim).
  11. (Diriwayatkan dari Aisyah —radhiyallahu 'anha— ia berkata: "Keluarga Muhammad tidak pernah kenyang dari roti gandum (sya'ir) selama dua hari berturut-turut sampai Rasulullah dicabut nyawanya.") (HR. Muslim).
  12. (Diriwayatkan dari Aisyah —radhiyallahu 'anha— ia berkata: "Keluarga Muhammad tidak pernah kenyang dari makanan berbahan gandum halus (burr) selama tiga malam berturut-turut semenjak beliau tiba di Madinah sampai beliau wafat.") (HR. Bukhari dan Muslim).

Atsar (Riwayat) dan Perkataan Ulama Mengenai "Qana'ah"

  1. (Umar bin Khattab —radhiyallahu 'anhu— berkata: "Maukah aku beritahu kalian apa yang aku halalkan untuk diriku dari harta Allah Ta'ala? Yaitu dua pasang pakaian; satu untuk musim dingin dan satu untuk musim panas. Serta seekor hewan tunggangan yang mencukupiku untuk haji dan umrahku. Adapun makananku setelah itu adalah seperti makanan seorang lelaki dari kaum Quraisy yang bukan termasuk golongan paling atas dan bukan pula golongan paling bawah. Demi Allah, aku tidak tahu apakah itu pun halal bagiku atau tidak?") (Ihya’ Ulumuddin).
  2. (Beliau (Umar) juga berkata: "Sesungguhnya ketamakan adalah kefakiran, dan rasa putus asa (terhadap apa yang ada di tangan orang lain) adalah kekayaan. Sesungguhnya siapa saja yang berputus asa dari apa yang dimiliki manusia, niscaya ia tidak butuh kepada mereka.") (Ihya’ Ulumuddin).
  3. (Dari Abu 'Amru asy-Syaibani ia berkata: Musa —'alaihissalam— bertanya kepada Tuhannya —'Azza wa Jalla—: "Wahai Tuhanku, siapakah hamba-Mu yang paling Engkau cintai?" Allah menjawab: "Yang paling banyak berzikir mengingat-Ku." Musa bertanya: "Wahai Tuhan, siapakah hamba-Mu yang paling kaya?" Allah menjawab: "Yang paling qana'ah (puas) terhadap apa yang Aku berikan kepadanya." Musa bertanya: "Wahai Tuhan, hamba-Mu manakah yang paling adil?" Allah menjawab: "Dia yang menghukumi dirinya sendiri.") (Ibnu Sanni).
  4. (Sebagian Bani Umayyah menulis surat kepada Hazim dan mendesaknya agar Hazim melaporkan kebutuhan-kebutuhannya kepadanya. Maka Hazim membalas: "Sungguh aku telah melaporkan kebutuhan-kebutuhanku kepada Tuanku (Allah). Maka apa yang Dia berikan kepadaku, aku terima, dan apa yang Dia tahan dariku, aku qana'ah (merasa cukup).") (Ihya’ Ulumuddin).
  5. (Abu Dzu'aib al-Hudzali berkata dalam syairnya: "Jiwa itu akan selalu berambisi jika engkau membiasakannya berambisi, namun jika dikembalikan kepada hal yang sedikit, ia akan qana'ah.")
  6. (Ibnu al-A'rabi berkata berbicara kepada jiwanya: "Janganlah engkau mengira rumah-rumah putra Mudlij itu milikmu, sampai engkau berjalan malam dan memasukinya. Maka qana'ah-lah dengan pohon 'Arfaj yang terkelupas, dengan rumput Thumam, dan kulit pohon 'Aujas.") (Maknanya: Puaslah dengan apa yang ada di alam meskipun sederhana).
  7. (Ibnu al-Qayyim berkata: "Kesempurnaan kekayaan hati dilengkapi dengan kekayaan lainnya, yaitu kekayaan jiwa. Tandanya adalah keselamatannya dari ambisi kepentingan pribadi dan bersihnya dari sikap pamer (riya).") (Tahdzib Madarij as-Salikin).
  8. (Imam al-Ghazali berkata: "Muhammad bin Wasi' pernah mencelupkan roti kering ke dalam air lalu memakannya, seraya berkata: 'Siapa yang qana'ah dengan ini, ia tidak akan butuh kepada siapa pun'." —maksudnya ia tidak menghinakan diri di pintu-pintu penguasa atau makan (mencari nafkah) dengan menjual ilmu dan agamanya).
  9. (Sebagian ahli hikmah berkata: "Aku mendapati orang yang paling panjang kesedihannya adalah orang yang pendengki, yang paling bahagia hidupnya adalah orang yang qana'ah, yang paling sabar menanggung gangguan adalah orang yang rakus jika sudah tamak, yang paling tenang hidupnya adalah yang paling zuhud terhadap dunia, dan yang paling besar penyesalannya adalah orang berilmu yang ceroboh/melampaui batas.")

(Syair berbunyi: "Aku rida dari dunia ini dengan makanan yang menegakkan tubuhku, maka aku tidak mencari kelebihan harta selamanya setelah itu. Dan tidaklah aku menginginkan makanan itu melainkan karena ia membantuku dalam ilmu yang dengannya aku menolak kebodohan. Maka dunia ini dengan segala kenikmatannya, tidaklah sebanding nilainya bahkan dengan satu poin terkecil di dalam ilmu.")

  1. (Yang lain berkata: "Rezeki itu memiliki sebab-sebab yang datang dan pergi, dan sesungguhnya aku berada di antara yang datang dan yang pergi itu.")
  2. (Sebagian mereka berkata: "Zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya manusia mencintaimu. Dan berkeinginanlah terhadap apa yang ada di sisi Allah, niscaya Allah mencintaimu.")
  3. (Dikatakan kepada sebagian ahli hikmah: "Apa itu kekayaan?" Ia menjawab: "Sedikitnya angan-anganmu, dan ridamu terhadap apa yang mencukupimu.")
  4. (Dikatakan kepada sebagian ahli hikmah: "Apa hartamu?" Ia menjawab: "Berpenampilan baik (indah) secara lahiriah, bersahaja (sederhana) secara batiniah, dan berputus asa (tidak berharap) terhadap apa yang ada di tangan manusia.")
  5. (Dikatakan mengenai Qana'ah: "Merendahlah kepada Allah, jangan merendah kepada manusia. Dan qana'ah-lah dengan rasa putus asa (terhadap pemberian makhluk), karena kemuliaan ada pada rasa putus asa itu. Janganlah bergantung pada kerabat maupun saudara, karena orang kaya yang sebenarnya adalah yang tidak butuh kepada manusia.")
  6. (Dikatakan juga dalam makna ini: "Wahai orang lapar yang qana'ah sementara waktu memperhatikannya, menebak pintu mana yang akan tertutup baginya. Ia berpikir bagaimana ajalnya mendatanginya, apakah di pagi hari atau datang mengetuk di malam hari. Wahai pengumpul harta, engkau telah mengumpulkan harta, maka katakan padaku apakah engkau telah mengumpulkan hari-hari (umur) untuk membagikannya? Harta di sisimu tersimpan untuk ahli warismu, harta itu bukan milikmu sampai hari di mana engkau menafkahkannya. Alangkah tenangnya hati pemuda yang melangkah dengan penuh percaya bahwa Dzat yang membagi rezeki pasti memberinya rezeki. Maka kehormatannya terjaga dan wajahnya tetap berseri tidak kusam. Sesungguhnya Qana'ah itu, siapa yang singgah di pelataran-nya, ia tidak akan menemui di bawah naungannya rasa cemas yang membuatnya terjaga di malam hari.")
  7. (Diriwayatkan bahwa al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi (wafat 170 H) menolak untuk menjadi guru pribadi bagi putra Sulaiman bin Ali, gubernur Ahwaz. Beliau mengeluarkan roti kering kepada utusan gubernur itu dan berkata: "Selama aku masih mendapatkan ini, aku tidak butuh kepada Sulaiman." Lalu beliau bersyair: "Sampaikan pada Sulaiman bahwa aku dalam kelapangan darinya, dan dalam kekayaan meskipun aku tidak memiliki harta. Aku menjaga jiwaku karena aku tidak melihat seorang pun mati karena kurus (sederhana) dan tidak ada pula yang kekal (abadi). Kefakiran itu ada pada jiwa bukan pada harta, dan begitu pula kekayaan itu ada pada jiwa bukan pada harta.")
  8. (Imam Syafi'i —rahimahullah— berkata: "Aku melihat qana'ah adalah pokok kekayaan, maka aku berpegang teguh pada ujung pakaiannya. Maka orang ini tidak melihatku di depan pintunya, dan orang itu tidak melihatku sibuk mengejarnya. Maka aku menjadi kaya tanpa satu dirham pun, berjalan di tengah manusia layaknya seorang raja.")

Rasulullah Mendidik Kaum Muslimin di Atas Qana'ah

Sungguh Rasulullah senantiasa mendidik para sahabatnya di atas sifat qana'ah (merasa cukup) dan menanamkannya ke dalam jiwa mereka. Contoh terbaik adalah apa yang terjadi pada Hakim bin Hizam رضي الله عنه. Beliau dahulu adalah orang yang sangat mencintai harta dan banyak mencarinya, serta terus-menerus meminta kepada Rasulullah , sampai akhirnya Rasulullah memberikan nasihat yang sangat mendalam ke dalam jiwanya. Maka seketika itu juga, sifat qana'ah menggantikan posisi ketamakan terhadap harta, kecintaan, dan ambisi mencarinya.

Mari kita baca apa yang dikatakan Hakim mengenai perubahan dirinya dan usahanya menjaga kehormatan diri (ta'affuf) dari meminta-minta serta dari mengambil pemberian orang lain, meskipun itu sebenarnya adalah haknya. Hakim bin Hizam رضي الله عنه berkata:

"Aku meminta kepada Rasulullah lalu beliau memberiku, kemudian aku meminta lagi lalu beliau memberiku, kemudian aku meminta lagi lalu beliau memberiku, kemudian beliau bersabda: 'Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini hijau lagi manis. Barangsiapa yang mengambilnya dengan kelapangan hati (tanpa ambisi), maka akan diberkahi baginya. Dan barangsiapa yang mengambilnya dengan ambisi jiwa, niscaya tidak akan diberkahi baginya, ia laksana orang yang makan namun tidak pernah kenyang. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.' >

Hakim berkata: Aku menjawab: 'Wahai Rasulullah, demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan meminta (mengurangi harta) seorang pun setelahmu sedikit pun sampai aku meninggalkan dunia.'

Maka Abu Bakar رضي الله عنه pernah memanggil Hakim untuk memberinya pemberian (jatah harta), namun ia menolak menerimanya sedikit pun. Kemudian Umar رضي الله عنه memanggilnya untuk memberinya sesuatu, namun ia tetap menolak menerimanya. Umar lalu berkata: 'Wahai sekalian kaum muslimin, aku mempersaksikan kepada kalian atas Hakim, bahwa aku menawarkan kepadanya haknya yang telah Allah bagikan untuknya dari harta fa'i ini, namun ia menolak mengambilnya.' Maka Hakim tidak pernah meminta harta seorang pun setelah Nabi sampai ia wafat." (Muttafaqun 'Alaih).

Imam An-Nawawi berkata dalam penjelasannya terhadap hadits ini:

"(Yarza’) dengan huruf ra’ kemudian zai lalu hamzah: artinya ia tidak mengambil sesuatu pun dari seseorang. Asal kata al-ruzu’ adalah pengurangan (al-nuqshan), maksudnya ia tidak mengurangi harta siapa pun dengan mengambil sesuatu darinya. Sedangkan isyraf (ambisi) terhadap sesuatu berarti ketamakan, mempedulikannya secara berlebihan, dan kerakusan."

Rasulullah juga menanamkan sifat qana'ah di hati para sahabatnya dengan melarang mereka tamak terhadap apa yang ada di tangan orang lain dan meminta sesuatu dari mereka. Bahkan beliau mengambil baiat (janji setia) atas hal tersebut.

Diriwayatkan dari Abu Abdurrahman bin Auf bin Malik Al-Asyja'i رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah bersabda:

"Maukah kalian berbaiat kepada Rasulullah?" Kami membentangkan tangan kami dan berkata: "Sungguh kami telah berbaiat kepadamu wahai Rasulullah, maka atas dasar apa kami berbaiat kepadamu?" Beliau bersabda: "Kalian menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, mendirikan shalat lima waktu, dan kalian taat." Lalu beliau membisikkan satu kalimat rahasia: "Dan janganlah kalian meminta sesuatu pun kepada manusia." >

Sungguh aku melihat sebagian dari kelompok orang tersebut, jika cambuk salah seorang dari mereka jatuh, ia tidak meminta kepada siapa pun untuk mengambilkan cambuk itu baginya. (HR. Muslim).

Di antara sarana menanamkan qana'ah adalah larangan Rasulullah terhadap sifat rakus (asy-syarah). Karena kerakusan adalah lawan dari qana'ah dan kebalikannya, dan memerangi kebalikan sesuatu berarti menetapkan hal tersebut.

Diriwayatkan dari Ibnu Umar رضي الله عنهما bahwa Nabi bersabda:

"Seseorang senantiasa meminta-minta kepada manusia hingga ia menghadap Allah Ta'ala dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun di wajahnya." (Muttafaqun 'Alaih).

Dan dari Abu Hurairah رضي الله عنه ia berkata: Rasulullah bersabda:

"Barangsiapa meminta-minta kepada manusia untuk memperbanyak harta, sesungguhnya ia hanyalah meminta bara api, maka silakan ia mempersedikit atau memperbanyak (permintaannya)." (HR. Muslim).

Hal-hal yang Bertentangan dengan Qana'ah

Di antara hal yang bertentangan dengan qana'ah adalah mencari penghasilan yang haram. Oleh karena itu, Rasulullah melarang hal tersebut dan mengancam pelakunya dengan neraka Jahanam.

Diriwayatkan dari Khaulah binti Qais —ia adalah istri dari Hamzah bin Abdul Muthalib رضي الله عنه وعنها— ia berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda:

"Sesungguhnya harta ini hijau lagi manis. Barangsiapa yang mendapatkannya dengan haknya (cara yang benar), maka akan diberkahi baginya. Dan betapa banyak orang yang mengelola harta Allah dan Rasul-Nya sesuai keinginan nafsunya, tidak ada bagian baginya di hari kiamat kecuali neraka." (HR. Tirmidzi).

Ketamakan terhadap harta adalah lawan dari qana'ah. Rasulullah telah memperingatkan dari ketamakan ini dan menganggapnya sebagai perusak agama dan pembinasa bagi pemiliknya, laksana rusaknya kawanan kambing oleh dua serigala yang kelaparan.

Imam Tirmidzi رحمه الله meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Ka'ab bin Malik Al-Anshari رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah bersabda:

"Tidaklah dua serigala lapar yang dilepaskan di tengah kawanan kambing lebih merusak daripada ketamakan seseorang terhadap harta dan kedudukan bagi agamanya." (HR. Tirmidzi).

Termasuk dari sifat qana'ah adalah tidak berlebih-lebihan (tasharruf) dalam makanan, minuman, pakaian, urusan wanita (pernikahan berlebihan), tempat tinggal, serta segala kebutuhan yang dapat melalaikan dari akhirat.

Termasuk qana'ah juga adalah memendekkan angan-angan (qashr al-amal), tidak terlalu sibuk memikirkan masa depan finansial dan rezeki secara berlebihan, serta tidak terlalu banyak mencemaskannya hingga menjadi sebab lalainya seseorang dari ketaatan, ibadah, dan jalan menuju akhirat.


Penjelasan tentang Tercelanya Kerakusan dan Ketamakan, serta Pujian terhadap Qana'ah dan Rasa Putus Asa (Tidak Berharap) pada Apa yang Ada di Tangan Manusia

Ketahuilah bahwa kefakiran itu terpuji, namun hendaknya orang yang fakir itu memiliki sifat qana'ah (merasa cukup), memutus ketamakan dari makhluk, tidak menoleh pada apa yang ada di tangan mereka, dan tidak rakus dalam mengumpulkan harta kecuali dari jalan yang halal. Hal itu tidak mungkin tercapai kecuali jika ia merasa cukup dengan kadar kebutuhan pokok (darurat) berupa makanan, pakaian, dan tempat tinggal; ia membatasi diri pada kadar yang paling sedikit dan jenis yang paling sederhana jika memang hanya itu yang ia temukan. Hendaknya ia membatasi harapannya hanya untuk hari ini atau bulan ini saja, dan tidak menyibukkan hatinya dengan apa yang terjadi setelah satu bulan.

Sebab, jika ia merindukan harta yang banyak atau panjang angan-angannya, maka ia akan kehilangan kemuliaan qana'ah, dan tak pelak lagi jiwanya akan ternoda oleh ketamakan serta kehinaan kerakusan. Kerakusan dan ketamakan tersebut akan menyeretnya kepada akhlak yang buruk serta melakukan kemungkaran yang merusak harga diri (muru'ah). Manusia memang telah dibekali tabiat rakus, tamak, dan kurang rasa syukur (qana'ah). Rasulullah bersabda:

"Seandainya anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari lembah yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian), dan Allah menerima taubat orang yang bertaubat."

Umar رضي الله عنه berkata:

"Sesungguhnya ketamakan adalah kefakiran, dan rasa putus asa (terhadap pemberian makhluk) adalah kekayaan. Sesungguhnya siapa saja yang berputus asa dari apa yang dimiliki manusia, niscaya ia tidak butuh kepada mereka."

Dikatakan kepada sebagian ahli hikmah: "Apa itu kekayaan?" Ia menjawab: "Sedikitnya angan-anganmu, dan ridamu terhadap apa yang mencukupimu."

Muhammad bin Wasi' pernah mencelupkan roti kering ke dalam air lalu memakannya seraya berkata: "Siapa yang qana'ah dengan ini, ia tidak akan butuh kepada siapa pun."

Asy-Sya'bi menceritakan: Hikayat tentang seorang lelaki yang menangkap seekor burung pipit (Qunbarah). Burung itu bertanya: "Apa yang ingin kau lakukan padaku?" Lelaki itu menjawab: "Aku akan menyembelihmu dan memakanmu." Burung itu berkata: "Demi Allah, aku tidak bisa menghilangkan nafsumu akan daging, tidak pula bisa mengenyangkanmu dari lapar. Namun, aku akan mengajarimu tiga perkara yang lebih baik bagimu daripada memakan aku. Perkara pertama aku ajarkan saat aku masih di tanganmu, yang kedua saat aku sudah di atas pohon, dan yang ketiga saat aku berada di atas gunung."

Lelaki itu berkata: "Sebutkan yang pertama." Burung itu berkata: "Janganlah engkau bersedih hati (menyesal) atas apa yang telah luput darimu." Maka lelaki itu melepaskannya. Tatkala burung itu sampai di atas pohon, ia berkata: "Yang kedua: Janganlah sekali-kali engkau membenarkan sesuatu yang mustahil terjadi." Kemudian burung itu terbang hingga sampai di atas gunung dan berkata: "Wahai orang celaka! Seandainya kau menyembelihku, niscaya kau akan mengeluarkan dari tembolokku dua butir mutiara yang masing-masing beratnya dua puluh mitsqal."

Mendengar itu, lelaki itu menggigit bibirnya dan menyesal, lalu berkata: "Sebutkan yang ketiga!" Burung itu menjawab: "Engkau sudah melupakan yang kedua, bagaimana mungkin aku memberitahumu yang ketiga? Bukankah aku sudah berpesan: Janganlah menyesali apa yang telah luput darimu, dan jangan membenarkan hal yang mustahil terjadi. Padahal daging, darah, dan buluku saja beratnya tidak sampai dua puluh mitsqal, bagaimana mungkin di dalam tembolokku ada dua mutiara yang masing-masing beratnya dua puluh mitsqal?" Kemudian burung itu terbang pergi.

Ini adalah perumpamaan bagi betapa besarnya ketamakan manusia; ketamakan itu membutakannya dari kebenaran sehingga ia membayangkan hal yang mustahil sebagai sesuatu yang mungkin terjadi.


Penjelasan Obat bagi Kerakusan dan Ketamakan, serta Terapi untuk Mendapatkan Sifat Qana'ah

Ketahuilah bahwa obat ini terdiri dari tiga rukun: Sabar, Ilmu, dan Amal. Gabungan dari hal tersebut terdiri dari lima perkara:

  1. Amal: Bersahaja dalam penghidupan dan hemat dalam berinfak (pengeluaran).
  2. Jika telah tersedia baginya apa yang mencukupi untuk saat ini, hendaknya ia tidak terlalu cemas memikirkan masa depan. Hal yang membantunya adalah memendekkan angan-angan dan meyakini bahwa rezeki yang telah ditetapkan baginya pasti akan datang meskipun ia tidak terlalu rakus mencarinya.
  3. Menyadari adanya kemuliaan dalam sifat qana'ah (tidak bergantung pada orang) dan adanya kehinaan dalam kerakusan serta ketamakan. Jika hal ini telah tertanam kuat, maka keinginannya untuk qana'ah akan bangkit. Sebab, dalam kerakusan tidak lepas dari kelelahan, dan dalam ketamakan tidak lepas dari kehinaan.
  4. Banyak merenungkan tentang kemewahan hidup orang-orang Yahudi, Nasrani, orang-orang rendah, orang bodoh, serta mereka yang tidak memiliki agama dan akal. Kemudian bandingkan dengan keadaan para Nabi, Wali, kepribadian Khulafaur Rasyidin, serta seluruh Sahabat dan Tabi'in. Dengarkan kisah mereka dan telaah kehidupan mereka; biarkan akalmu memilih apakah ingin menyerupai orang-orang rendah atau meneladani golongan makhluk yang paling mulia di sisi Allah.
  5. Memahami risiko dalam mengumpulkan harta, seperti rasa takut akan pencurian, perampokan, dan kehilangan; serta memahami adanya rasa aman dan kelapangan hati saat tangan sedang kosong (tidak memiliki banyak beban harta).

Melalui perkara-perkara inilah seseorang mampu memperoleh akhlak qana'ah.


Qana'ah adalah Jalan Kebahagiaan

Qana'ah pada hakikatnya adalah jalan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Hal itu karena qana'ah berarti kemuliaan, kehormatan, dan tidak meminta-minta kepada manusia meskipun dalam keadaan butuh. Jika memang harus meminta, maka mintalah kepada Allah Tabaraka wa Ta'ala, karena meminta kepada-Nya adalah ibadah dan hanya Dialah yang Maha Kuasa untuk menutupi kebutuhan serta menolong orang yang kesulitan.

Dari Ubaidillah bin Mas'ud رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah bersabda:

"Barangsiapa ditimpa suatu kesulitan (kemiskinan) lalu ia mengadu/menggantungkannya kepada manusia, maka tidak akan tertutup kesulitannya. Dan barangsiapa yang menggantungkannya (mengadu) kepada Allah, maka hampir pasti Allah akan memberinya rezeki, baik segera maupun lambat." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, ia berkata: Hadits Hasan).


Dalam Qana'ah Terdapat Keselamatan Dunia dan Agama

Aku melihat jiwa (manusia) sering kali memandang kepada kenikmatan duniawi yang segera (sesaat) milik para penguasa harta, namun ia lupa bagaimana kenikmatan itu diperoleh dan apa saja petaka yang terkandung di dalamnya.

Penjelasan mengenai hal ini adalah: Jika engkau melihat seorang pemilik kekuasaan dan kesultanan, lalu engkau mengamati nikmat yang ia miliki, niscaya engkau akan mendapatinya telah tercampur (dengan keburukan). Sebab, jikalau ia sendiri tidak bermaksud melakukan kejahatan, maka kejahatan itu bisa saja terjadi melalui tangan para pegawainya.

Kemudian, ia selalu berada dalam rasa takut dan tidak tenang dalam segala urusannya; ia waspada terhadap musuh yang mungkin mencelakainya, cemas terhadap atasan yang mungkin memecatnya, dan khawatir terhadap pesaing yang mungkin memperdayanya.

Lalu, sebagian besar waktunya habis dihabiskan untuk melayani sultan-sultan yang ia takuti, menghitung harta mereka, dan melaksanakan perintah-perintah mereka yang sering kali tidak lepas dari hal-hal yang mungkar. Jikalau ia dipecat, maka rasa sakit akibat pemecatan itu akan melampaui seluruh kenikmatan yang pernah ia raih. Terlebih lagi, kenikmatan tersebut senantiasa diliputi oleh rasa waswas di dalamnya, darinya, dan atasnya.

Dan jika engkau melihat seorang pemilik perniagaan (pedagang), engkau akan melihatnya menghabiskan tenaga melintasi berbagai negeri. Ia tidak mendapatkan apa yang ia raih kecuali setelah usianya senja dan perginya masa-masa untuk menikmati kelezatan.

Sebagaimana dikisahkan bahwa ada seorang pemimpin yang pada masa mudanya dalam keadaan fakir. Tatkala ia telah tua, ia menjadi kaya raya, memiliki banyak harta, membeli budak-budak dari Turki dan lainnya, serta selir-selir dari Romawi. Maka ia menggubah bait-bait syair berikut untuk menjelaskan kondisinya:

Apa yang dahulu aku harapkan saat aku berusia dua puluh tahun,

Kini baru aku miliki setelah aku melampaui usia tujuh puluh.

Di sekelilingku berkeliling para pemuda Turki yang rupawan,

Laksana dahan-dahan di atas gundukan pasir Yabrina.

Dan para gadis perawan dari putri-putri Romawi yang memesona,

Keindahan mereka menyerupai bidadari surga yang bermata jeli.

Mereka memijatku dengan jari-jemari yang lembut,

Yang seakan-akan tertekuk karena saking gemulainya.

Mereka ingin menghidupkan mayat (diriku) yang sudah tak berdaya,

Namun bagaimana mungkin mereka menghidupkan mayat yang seolah sudah terkubur?

Mereka berkata: "Rintihanmu sepanjang malam membuat kami terjaga,"

Maka apa yang engkau keluhkan? Aku menjawab: "Aku mengeluhkan usia delapan puluh (tahun)."

Kondisi inilah yang mendominasi; sesungguhnya manusia hampir tidak bisa mengumpulkan segala apa yang ia cintai kecuali saat sudah dekat waktu keberangkatannya (kematian). Jika apa yang ia cintai itu datang di awal masa mudanya, maka gairah masa muda sering kali menghalanginya dari pemahaman tentang pengelolaan yang baik atau kenikmatan yang sempurna.

Manusia di masa kanak-kanak dan masa mudanya tidak mengetahui di mana posisi dirinya sampai ia baligh. Tatkala ia sudah baligh, maka semangatnya tercurah pada urusan pernikahan (syahwat) bagaimanapun caranya. Jika ia telah menikah, lahirlah anak-anak, maka anak-anak itu menghalanginya dari kenikmatan (fokus pada diri sendiri), jiwanya menjadi lelah, dan ia menjadi sangat butuh untuk bekerja keras mencari nafkah bagi mereka.

Maka di saat ia sedang bersusah payah dalam masa yang singkat itu (mendekati usia tiga puluh), uban mulai menyelinap di rambutnya. Saat itulah ia merasa asing dengan dirinya sendiri karena ia tahu bahwa para wanita pun mulai menjauh darinya, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu al-Mu'tazz Billah:

Sungguh aku telah meletihkan diriku di masa tuaku,

Maka bagaimana mungkin para gadis cantik nan jelita akan mencintaiku?

Begitulah, engkau tidak akan melihat orang yang bersenang-senang dengan hal-hal yang indah; jika ia menemukan keindahan itu, ia tidak menemukan harta untuk mencapai maksudnya. Namun jika ia sibuk mengumpulkan harta, maka hilanglah waktu untuk bersenang-senang. Dan jika tujuan harta itu telah tercapai, maka uban adalah kotoran mata yang paling buruk dan faktor pembenci yang paling besar.

Kemudian, pemilik harta itu selalu diliputi rasa takut atas hartanya, sibuk menghisab (menghitung) mitra transaksinya, dicela jika ia boros dan dicerca jika ia kikir. Anaknya selalu mengintai waktu kematiannya, dan selirnya mungkin tidak rida dengan sosok pribadinya. Ia pun sibuk menjaga para pengikutnya, sehingga waktunya habis dalam penderitaan, dan kenikmatan-kenikmatan di dalamnya hanyalah curian-curian sesaat yang sudah biasa sehingga tidak ada lagi kelezatan di dalamnya. Kelak di hari kiamat, para pemimpin dan pedagang akan dikumpulkan dalam keadaan terhina, kecuali mereka yang dijaga oleh Allah.

Maka, waspadalah! Janganlah sekali-kali engkau memandang kepada gambaran kenikmatan mereka, karena engkau menganggapnya baik hanya karena kenikmatan itu jauh darimu. Seandainya engkau telah mencapainya, niscaya engkau akan membencinya.

Terlebih lagi, di balik itu semua terkandung penderitaan dunia dan akhirat yang tidak dapat dilukiskan. Maka, wajib bagimu untuk memegang teguh sifat qana'ah (merasa cukup) semampumu, karena di dalam qana'ah terdapat keselamatan dunia dan agama.

Pernah dikatakan kepada seorang zahid yang di sisinya terdapat roti kering: "Bagaimana engkau bisa berselera memakan ini?" Ia menjawab: "Aku membiarkannya sampai aku merasa lapar (sehingga roti itu terasa lezat)."


Di Antara Manfaat "Qana'ah"

  1. Qana'ah merupakan bagian dari kesempurnaan iman dan baiknya keislaman seseorang.
  2. Orang yang qana'ah jiwanya akan menjauh dari kesenangan dunia yang fana karena mengharap apa yang ada di sisi Allah.
  3. Orang yang qana'ah dicintai oleh Allah dan dicintai oleh manusia.
  4. Ia memiliki jiwa yang bahagia dengan apa yang telah dibagikan untuknya di dunia.
  5. Seandainya manusia merasa cukup (qana'ah) dengan yang sedikit, niscaya tidak akan ada lagi orang fakir maupun orang yang terhalang (kelaparan) di antara mereka.
  6. Qana'ah menyebarkan keakraban dan kasih sayang di antara manusia.

Penutup

Qana'ah adalah rida terhadap rezeki yang dibagikan oleh Allah, merasa cukup dengannya meskipun sedikit, serta tidak mengejar harta yang banyak dengan cara terus-menerus meminta kepada manusia dan menghinakan diri (menjatuhkan harga diri). Rasulullah bersabda:

"Sungguh telah beruntung orang yang memeluk Islam, dianugerahi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya qana'ah atas apa yang diberikan-Nya." Rasulullah juga bersabda:

"Beruntunglah bagi orang yang diberi petunjuk kepada Islam, sedangkan kecukupan hidupnya sederhana (pas-pasan) dan ia merasa qana'ah."

Rasulullah telah membimbing kita untuk rida terhadap apa yang Allah takdirkan bagi kita, baik berupa nikmat kesehatan, keamanan, maupun makanan untuk hari ini. Beliau bersabda:

"Barangsiapa di antara kalian yang menyongsong pagi hari dalam keadaan aman pada dirinya (keluarganya), sehat jasmaninya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia telah dikumpulkan untuknya." (Makna 'as-sirbi' adalah diri sendiri, dan ada yang berpendapat maknanya adalah kaumnya, sebagaimana disebutkan Imam Nawawi dalam kitab Riyadhus Shalihin).

Allah Tabaraka wa Ta'ala telah memuji orang-orang fakir yang menjaga kemuliaan mereka dengan iman, menjauhkan diri dari kehinaan meminta-minta, dan merasa cukup dengan yang sedikit, sehingga orang yang tidak mengenal mereka menyangka mereka adalah orang kaya karena tidak adanya tanda-tanda kemiskinan pada mereka. Allah memerintahkan kaum muslimin untuk memperhatikan dan menyambung tali kasih kepada mereka tanpa harus menunggu mereka meminta atau mendesak dalam meminta. Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman:

"Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikit pun tidak akan dianiaya (dirugikan). (Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 272-273).

Rasulullah juga mengabarkan kepada kita tentang orang-orang yang qana'ah meskipun mereka dalam kondisi butuh dan fakir, beliau bersabda:

"Orang miskin itu bukanlah orang yang bisa berpaling (pergi) hanya karena satu atau dua suap makanan, atau satu atau dua butir kurma. Akan tetapi, orang miskin yang sebenarnya adalah orang yang tidak memiliki kecukupan yang bisa mencukupinya, namun keadaannya tidak diketahui sehingga orang tidak memberinya sedekah, dan ia pun tidak berdiri untuk meminta-minta kepada orang lain." (Muttafaqun 'Alaih).

Qana'ah adalah simpanan (harta karun) yang tidak akan pernah sirna, karena ia adalah kekayaan jiwa. Kekayaan jiwa jauh lebih mulia dan lebih bermanfaat daripada kekayaan harta. Sebab, kekayaan jiwa menumbuhkan kemuliaan dan sikap menjaga kehormatan diri (isti'faf), sedangkan kekayaan harta dan ketamakan terhadapnya seringkali menumbuhkan kehinaan dalam jiwa dan menghalangi pemiliknya dari taufik Allah Tabaraka wa Ta'ala yang dianugerahkan kepada orang yang qana'ah, merasa cukup, dan menjaga diri.

Sunnah telah menjelaskan kepada kita bahwa kekayaan yang hakiki adalah kekayaan jiwa. Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah bersabda:

"Kekayaan itu bukanlah dari banyaknya harta benda, akan tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa."

Orang yang qana'ah akan diberi taufik oleh Allah untuk mampu menahan diri dari (meminta kepada) manusia. Rasulullah bersabda:

"Barangsiapa yang berusaha menjaga kehormatan dirinya, maka Allah akan menjaganya. Barangsiapa yang berusaha merasa cukup, maka Allah akan mencukupinya." (Muttafaqun 'Alaih).


Penerapan Praktis Materi dan Nilai-Nilainya Melalui Aktivitas Berikut:

Pertama: Aktivitas Pendamping:

  1. Membuat komitmen (janji) bersama saudara-saudaranya untuk senantiasa qana'ah.
  2. Para pelajar menyebutkan contoh dan pengalaman nyata tentang qana'ah dan bagaimana menerapkannya dengan baik.
  3. Para pelajar menyebutkan contoh dan pengalaman nyata yang disaksikan tentang ketamakan, kerakusan, dan buruknya dampak dari sifat tersebut.

Kedua: Aktivitas Penunjang:

  1. Memanfaatkan kaset video atau kaset audio yang membahas tentang qana'ah untuk dibagikan kepada khalayak.
  2. Berbicara (berceramah) tentang qana'ah di hadapan jamaah shalat.
  3. Mengumpulkan berbagai kisah dan hikayat tentang qana'ah serta nasib orang yang tamak, lalu dikumpulkan dalam sebuah buku.
  4. Menulis sebuah narasi/cerita yang menjelaskan pentingnya qana'ah dan buruknya nasib orang yang rakus.
  5. Berpartisipasi dalam pembuatan film atau serial yang menggambarkan pentingnya qana'ah dalam kehidupan kita.
  6. Membuat poster/spanduk berisi hadits, ayat, dan ungkapan yang mendorong qana'ah serta mencela ketamakan.
  7. Menyampaikan materi, khutbah, dan ceramah mengenai qana'ah dan buahnya, serta tentang ketamakan dan bahayanya.

Evaluasi dan Pengukuran Mandiri:

Pertama: Pertanyaan Esai:

  1. Definisikan qana'ah secara bahasa dan istilah.
  2. Sebutkan beberapa ayat mulia dan hadits syarif yang mendorong sifat qana'ah.
  3. Bagaimana sifat qana'ah dan rida tercermin dalam kehidupan Nabi ?
  4. Bagaimana Nabi mendidik para sahabatnya di atas qana'ah? Sebutkan contoh qana'ah dari para sahabat Nabi.
  5. Sebutkan beberapa perkataan dan atsar para ulama mengenai qana'ah.
  6. Apa dampak buruk dari kerakusan dan ketamakan bagi kehidupan individu muslim dan masyarakat muslim?
  7. Dengan apa Rasulullah memuji kaum Anshar terkait dengan sifat qana'ah?
  8. Jika engkau diuji dengan sifat rakus dan tamak, bagaimana cara menghilangkannya?
  9. Apakah engkau pernah diuji dengan penyakit rakus dan tamak? Bagaimana engkau membebaskan diri darinya?
  10. Apakah engkau memperhatikan adanya penyakit rakus dan tamak pada sebagian saudaramu? Apa yang engkau lakukan saat itu?
  • Soal 1: Sebutkan beberapa hal yang bertentangan dengan qana'ah!
  • Soal 2: Qana'ah memiliki banyak manfaat, sebutkan tiga manfaat terpenting!

Itsar