Pendahuluan
Sesungguhnya hal yang telah ditetapkan dalam agama ini
adalah: bahwa rezeki berada di tangan Allah dan telah ditentukan di sisi-Nya
Subhanahu wa Ta'ala. Allah Ta'ala berfirman:
"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi
melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam
binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang
nyata (Lauh Mahfuzh)." (QS. Hud: 6).
Dan Allah Ta'ala berfirman:
"Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan apa
yang dijanjikan kepadamu. Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang
dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu
ucapkan." (QS. Adz-Dzariyat: 22-23).
Dan Allah Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang
mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh." (QS. Adz-Dzariyat: 58).
Telah ditetapkan pula dalam agama ini: bahwa tidak ada
seorang manusia pun yang mampu menambah rezeki orang lain atau menguranginya.
Rasulullah SAW bersabda:
"Ketahuilah, bahwa jikalau umat manusia bersatu padu
untuk memberikan suatu manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak dapat memberikan
manfaat itu selain dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah bagimu. Dan
jikalau mereka bersatu padu untuk mencelakakanmu, niscaya mereka tidak dapat
mencelakakanmu selain dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah atasmu.
Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering." (HR.
Tirmidzi, ia berkata: Hadits Hasan Shahih).
Telah ditetapkan pula dalam agama ini: bahwa jiwa manusia
akan menyempurnakan (menghabiskan) rezekinya dan ajalnya sebelum kematiannya.
Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya Ruhul Qudus (Malaikat Jibril) membisikkan
ke dalam sanubariku bahwa suatu jiwa tidak akan mati sampai ia menyempurnakan
rezekinya dan ajalnya. Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah dalam
mencari (rezeki). Janganlah keterlambatan datangnya rezeki mendorongmu untuk
mencarinya dengan jalan bermaksiat kepada Allah, karena sesungguhnya apa yang
ada di sisi Allah tidak akan dapat diraih kecuali dengan ketaatan
kepada-Nya." (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya).
Berdasarkan fakta-fakta yang telah dipaparkan di atas, maka
seorang yang beriman kepada Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan
Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul, hendaknya rida terhadap apa yang Allah
bagikan untuknya berupa rezeki, baik itu sedikit maupun banyak, dan tidak
mendongak (iri) kepada harta atau kesenangan duniawi yang fana yang diberikan
kepada orang lain.
Definisi Qana'ah secara Etimologi (Bahasa) dan
Terminologi (Istilah)
Qana'ah secara Bahasa:
Secara bahasa, Qana'ah memiliki beberapa makna, di
antaranya:
- Rida
terhadap bagian: Yakni keberuntungan atau jatah. Dikatakan: "Si
fulan qana'a (puas) dengan qismihi", maksudnya dengan
keberuntungan dan jatahnya.
- Kecenderungan
pada sesuatu: Dikatakan: "Unta dan kambing itu qana'at
menuju tempat penggembalaan", jika hewan tersebut condong kepadanya.
- Menghadapkan
wajah pada sesuatu: Dikatakan: "Si fulan qana'a",
jika ia menghadapkan wajahnya pada sesuatu.
- Menutup
kepala: Dikatakan: "Si fulan qana'a", jika ia memakai
qina' (penutup kepala). Di antaranya ungkapan: "Si fakir itu qana'a",
maksudnya ia mengenakan penutup kepala untuk menutupi kefakirannya karena
menjaga kehormatan diri (ta'affuf).
- Membuka
kepala: Dikatakan: "Si fulan qana'a", jika ia membuka
penutup dari kepalanya. Di antaranya ungkapan: "Si fakir itu qana'a",
maksudnya ia membuka penutup kepalanya untuk meminta-minta (mengemis).
Kedua makna terakhir muncul dalam Al-Qur'an pada firman-Nya:
"Dan beri makanlah orang yang 'qani' dan orang yang 'mu'tar'..."
Dikatakan maknanya adalah orang yang meminta-minta, dan dikatakan pula orang
yang menjaga kehormatan diri (tidak meminta). Maka kata Qana'ah termasuk
dalam kata yang memiliki makna berlawanan (Al-Adhdad).
Tidak ada pertentangan di antara seluruh makna ini, karena
Qana'ah adalah: Rida terhadap pembagian (rezeki) meskipun itu menyelisihi
keinginan jiwa, dalam kondisi di mana seseorang tetap menghadap (bersyukur)
kepada Pemberi Nikmat, menjaga kehormatan diri, menjauhkan diri dari
meminta-minta, serta menjaga harga dirinya.
Qana'ah secara Istilah:
Ar-Raghib mendefinisikannya dengan perkataan:
"Qana'ah adalah merasa cukup dengan sedikit dari
harta/keperluan yang dibutuhkan."
Ayat-Ayat yang Menyebutkan Kata "Qana'ah"
- "Dan
telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syiar Allah,
kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama
Allah sewaktu kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah
terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya
dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang
tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah
menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur.
Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai
(keridaan) Allah, tetapi ketakwaan darimulah yang dapat mencapainya. Demikianlah
Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah atas
petunjuk-Nya yang telah diberikan kepadamu. Dan berilah kabar gembira
kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Hajj: 36-37).
Ayat-Ayat yang Mengandung Makna "Qana'ah"
- "(Berinfaklah)
kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka
tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka
orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka
dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara
mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah),
maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 273).
- "Dan
ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika
menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka
serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta
anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa
(membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barangsiapa (di antara
pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan
harta anak yatim itu) dan barangsiapa yang miskin, maka bolehlah ia
makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan
harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi bagi mereka.
Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat perhitungan." (QS. An-Nisa: 6).
Hadits-Hadits yang Menyebutkan Kata "Qana'ah"
- (Diriwayatkan
dari Fadhalah bin 'Ubaid —radhiyallahu 'anhu— bahwa ia mendengar
Rasulullah ﷺ
bersabda: "Beruntunglah bagi orang yang diberi petunjuk kepada
Islam, sedangkan kecukupan hidupnya sederhana (pas-pasan) dan ia merasa
qana'ah (puas).") (HR. Tirmidzi).
- (Diriwayatkan
dari Abdullah bin 'Amru bin al-'Ash —radhiyallahu 'anhuma— bahwa
Rasulullah ﷺ
bersabda: "Sungguh telah beruntung orang yang memeluk Islam,
dianugerahi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya qana'ah atas apa
yang diberikan-Nya.") (HR. Muslim).
- (Diriwayatkan
dari Abu Hurairah —radhiyallahu 'anhu— ia berkata: Rasulullah ﷺ
bersabda: "Wahai Abu Hurairah, jadilah orang yang wara'
(berhati-hati dari yang syubhat/haram), niscaya engkau menjadi manusia
yang paling bersyukur. Cintailah untuk manusia apa yang engkau cintai
untuk dirimu sendiri, niscaya engkau menjadi mukmin yang sejati.
Perbaguslah bertetangga dengan orang yang bertetangga darimu, niscaya
engkau menjadi muslim yang sejati. Dan kurangi lah tertawa, karena banyak
tertawa itu mematikan hati.") (HR. Ibnu Majah).
Hadits-Hadits yang Mengandung Makna "Qana'ah"
- (Diriwayatkan
dari Abu Umamah —radhiyallahu 'anhu— dari Nabi ﷺ beliau bersabda:
"Sesungguhnya waliku (kekasih Allah) yang paling aku iri adalah
seorang mukmin yang ringan tanggungan keluarganya (khofif al-haadz),
memiliki bagian dalam shalat, memperbagus ibadah kepada Tuhannya dan
menaati-Nya dalam kesunyian. Ia tersembunyi di tengah manusia, tidak
ditunjuk-tunjuk dengan jari (tidak populer), dan rezekinya cukup lalu ia
bersabar atas hal itu." Kemudian Nabi ﷺ mengibaskan
tangannya dan bersabda: "Kematiannya dipercepat, sedikit wanita
yang menangisinya, dan sedikit warisannya.")
(Dan dengan sanad yang sama dari Nabi ﷺ beliau bersabda: "Tuhanku
menawarkan kepadaku untuk menjadikan lembah Mekkah menjadi emas bagiku. Aku
berkata: 'Tidak wahai Tuhanku, melainkan aku kenyang sehari dan lapar sehari'
—beliau mengatakannya tiga kali atau semisalnya— 'Sehingga jika aku lapar, aku
merendahkan diri kepada-Mu dan mengingat-Mu, dan jika aku kenyang, aku
bersyukur kepada-Mu dan memuji-Mu'.") (HR. Tirmidzi).
- (Diriwayatkan
dari Abu Hurairah —radhiyallahu 'anhu— ia berkata: Rasulullah ﷺ
bersabda: "Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian dan
janganlah melihat kepada orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih
pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.")
(Muttafaqun 'Alaih).
- (Diriwayatkan
dari Hakim bin Hizam —radhiyallahu 'anhu— ia berkata: Aku meminta kepada
Rasulullah ﷺ
lalu beliau memberiku, kemudian aku meminta lagi lalu beliau memberiku,
kemudian aku meminta lagi lalu beliau memberiku, kemudian beliau bersabda:
"Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini hijau lagi manis. Barangsiapa
yang mengambilnya dengan kelapangan hati (tanpa ambisi), maka akan
diberkahi baginya. Dan barangsiapa yang mengambilnya dengan ambisi jiwa,
niscaya tidak akan diberkahi baginya, seperti orang yang makan namun tidak
pernah kenyang. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.")
(Hakim berkata: "Wahai Rasulullah, demi Dzat yang
mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan meminta (mengambil) harta siapa pun
setelahmu sedikit pun sampai aku meninggalkan dunia." Abu Bakar pernah
memanggil Hakim untuk memberinya pemberian, namun ia menolak menerimanya.
Kemudian Umar memanggilnya untuk memberinya sesuatu, namun ia tetap menolak.
Umar berkata: "Aku mempersaksikan kepada kalian wahai kaum muslimin atas
Hakim, bahwa aku menawarkan haknya dari harta fa'i ini namun ia menolak
mengambilnya." Maka Hakim tidak pernah meminta harta seorang pun setelah
Rasulullah ﷺ
sampai ia wafat.) (HR. Bukhari).
- (Diriwayatkan
dari Anas bin Malik —radhiyallahu 'anhu— ia berkata: Salman (Al-Farisi)
jatuh sakit, lalu Sa'ad menjenguknya dan melihatnya menangis. Sa'ad
berkata: "Apa yang membuatmu menangis wahai saudaraku? Bukankah
engkau telah mendampingi Rasulullah ﷺ? Bukankah begini
dan begitu?" Salman menjawab: "Aku tidak menangis karena satu
dari dua hal: bukan karena merindukan dunia dan bukan pula karena benci
akhirat. Akan tetapi Rasulullah ﷺ telah memberikan
janji/pesan kepadaku, namun aku merasa telah melampaui batas." Sa'ad
bertanya: "Apa pesan itu?" Salman menjawab: "Beliau
berpesan kepadaku hendaknya kecukupan salah seorang dari kalian itu
seperti bekal seorang pengendara." Padahal aku merasa telah
melampaui batas (merasa hartanya banyak). "Adapun engkau wahai Sa'ad,
bertakwalah kepada Allah saat engkau menghukumi jika engkau menjadi hakim,
dan saat engkau membagi jika engkau membagi (harta), dan saat engkau
berkehendak jika engkau bertekad." Tsabit berkata: "Telah sampai
berita kepadaku bahwa Salman tidak meninggalkan harta kecuali hanya dua
puluh sekian dirham dari nafkah yang ada di sisinya.") (HR. Ibnu
Majah).
- (Diriwayatkan
dari Abu Hurairah —radhiyallahu 'anhu— ia berkata: Rasulullah ﷺ
bersabda: "Kekayaan itu bukanlah dari banyaknya harta benda, akan
tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa.")
(Muttafaqun 'Alaih).
- (Diriwayatkan
dari Abu Darda' —radhiyallahu 'anhu— dari Rasulullah ﷺ
beliau bersabda: "Tidaklah matahari terbit melainkan di kedua
sisinya ada dua malaikat yang berseru sehingga didengar oleh seluruh
penduduk bumi kecuali jin dan manusia: 'Wahai manusia, kemarilah menuju
Tuhan kalian! Sesungguhnya apa yang sedikit namun cukup itu lebih baik
daripada yang banyak namun melalaikan.' Dan tidaklah matahari terbenam
melainkan di kedua sisinya ada dua malaikat yang berseru: 'Ya Allah,
berikanlah ganti bagi orang yang berinfak, dan berikanlah kehancuran bagi
orang yang menahan hartanya (kikir)'.") (HR. Ibnu Sanni &
Al-Hakim).
Contoh Praktis dari Kehidupan Nabi ﷺ dalam Hal
"Qana'ah"
- (Diriwayatkan
dari Ibnu Abbas —radhiyallahu 'anhuma— bahwa Rasulullah ﷺ
pernah berdoa: "Ya Allah, jadikanlah aku qana'ah (merasa cukup)
terhadap apa yang Engkau rezekikan kepadaku, berkahilah ia untukku, dan
gantilah setiap apa yang hilang dariku dengan kebaikan.")
(HR. Al-Hakim).
- (Diriwayatkan
dari Aisyah —radhiyallahu 'anha— bahwa ia berkata kepada 'Urwah:
"Wahai anak saudaraku, sungguh kami melihat hilal, kemudian hilal
berikutnya, sampai tiga kali hilal dalam dua bulan, namun tidak pernah
sekalipun api dinyalakan di rumah-rumah Rasulullah ﷺ
(untuk memasak)." Aku ('Urwah) bertanya: "Lalu apa yang
menyambung hidup kalian?" Aisyah menjawab: "Dua hal hitam:
Kurma dan air. Hanya saja Rasulullah ﷺ memiliki
tetangga dari kaum Anshar yang memiliki hewan ternak perahan (manaih),
mereka mengirimkan sebagian dari susu ternak mereka kepada Rasulullah ﷺ,
lalu beliau memberi minum kepada kami.") (HR. Bukhari dan
Muslim).
- (Diriwayatkan
dari Abu Hurairah —radhiyallahu 'anhu— ia berkata: Rasulullah ﷺ
berdoa: "Ya Allah, berikanlah rezeki kepada keluarga Muhammad
makanan yang sekadar cukup untuk bertahan hidup (qutan).")
(HR. Bukhari dan Muslim).
- (Diriwayatkan
dari Aisyah —radhiyallahu 'anha— ia berkata: "Kasur Rasulullah ﷺ
terbuat dari kulit yang disamak dan isinya adalah sabut kurma.")
(HR. Bukhari).
- (Diriwayatkan
dari Qatadah —radhiyallahu 'anhu— ia berkata: "Kami pernah mendatangi
Anas bin Malik sementara tukang rotinya sedang berdiri, Anas berkata:
'Makanlah! Aku tidak mengetahui Nabi ﷺ pernah melihat
roti yang lunak/tipis (muraqqaq) sampai beliau bertemu dengan Allah, dan
beliau tidak pernah melihat kambing yang dipanggang (setelah dibersihkan
bulunya dengan air panas) dengan mata kepalanya sendiri sama sekali.'")
(HR. Bukhari).
- (Diriwayatkan
dari Aisyah —radhiyallahu 'anha— ia berkata: "Sungguh Nabi ﷺ
telah wafat dan tidak ada di lemari rumahku sesuatu yang bisa dimakan oleh
makhluk hidup, kecuali sedikit gandum (sya'ir) di rak milikku.
Aku memakannya dalam waktu yang lama, lalu aku menimbangnya (ingin tahu
sisa berapa), maka seketika itu juga ia habis.") (HR. Bukhari dan
Muslim).
- (Diriwayatkan
dari Aisyah —radhiyallahu 'anha— istri Nabi ﷺ, ia berkata: "Rasulullah
ﷺ
telah wafat dalam keadaan beliau tidak pernah kenyang dari roti dan minyak
sebanyak dua kali dalam sehari.") (HR. Muslim).
- (Diriwayatkan
dari Anas —radhiyallahu 'anhu— ia berkata: "Nabi ﷺ
tidak pernah makan di atas meja makan yang tinggi (khuwan) sampai beliau
wafat, dan beliau tidak pernah makan roti yang lunak/halus sampai beliau
wafat.") (HR. Bukhari).
- (Diriwayatkan
dari Abu Hurairah —radhiyallahu 'anhu— ia berkata: Rasulullah ﷺ
bersabda: "Seandainya aku memiliki emas sebesar Gunung Uhud,
niscaya tidak akan menyenangkanku jika berlalu tiga hari sementara aku
masih menyimpan sesuatu darinya, kecuali sedikit yang aku siapkan untuk
membayar hutang.") (HR. Bukhari dan Muslim).
- (Diriwayatkan
dari 'Urwah, dari Aisyah —radhiyallahu 'anhuma— ia berkata: "Keluarga
Muhammad ﷺ
tidak pernah makan dua kali dalam sehari melainkan salah satunya adalah
kurma.") (HR. Bukhari dan Muslim).
- (Diriwayatkan
dari Aisyah —radhiyallahu 'anha— ia berkata: "Keluarga Muhammad ﷺ
tidak pernah kenyang dari roti gandum (sya'ir) selama dua hari
berturut-turut sampai Rasulullah ﷺ dicabut
nyawanya.") (HR. Muslim).
- (Diriwayatkan
dari Aisyah —radhiyallahu 'anha— ia berkata: "Keluarga Muhammad
tidak pernah kenyang dari makanan berbahan gandum halus (burr) selama tiga
malam berturut-turut semenjak beliau tiba di Madinah sampai beliau
wafat.") (HR. Bukhari dan Muslim).
Atsar (Riwayat) dan Perkataan Ulama Mengenai
"Qana'ah"
- (Umar
bin Khattab —radhiyallahu 'anhu— berkata: "Maukah aku beritahu
kalian apa yang aku halalkan untuk diriku dari harta Allah Ta'ala? Yaitu
dua pasang pakaian; satu untuk musim dingin dan satu untuk musim panas.
Serta seekor hewan tunggangan yang mencukupiku untuk haji dan umrahku.
Adapun makananku setelah itu adalah seperti makanan seorang lelaki dari
kaum Quraisy yang bukan termasuk golongan paling atas dan bukan pula
golongan paling bawah. Demi Allah, aku tidak tahu apakah itu pun halal
bagiku atau tidak?") (Ihya’ Ulumuddin).
- (Beliau
(Umar) juga berkata: "Sesungguhnya ketamakan adalah kefakiran, dan
rasa putus asa (terhadap apa yang ada di tangan orang lain) adalah
kekayaan. Sesungguhnya siapa saja yang berputus asa dari apa yang dimiliki
manusia, niscaya ia tidak butuh kepada mereka.") (Ihya’
Ulumuddin).
- (Dari
Abu 'Amru asy-Syaibani ia berkata: Musa —'alaihissalam— bertanya kepada
Tuhannya —'Azza wa Jalla—: "Wahai Tuhanku, siapakah hamba-Mu yang
paling Engkau cintai?" Allah menjawab: "Yang paling
banyak berzikir mengingat-Ku." Musa bertanya: "Wahai
Tuhan, siapakah hamba-Mu yang paling kaya?" Allah menjawab: "Yang
paling qana'ah (puas) terhadap apa yang Aku berikan kepadanya."
Musa bertanya: "Wahai Tuhan, hamba-Mu manakah yang paling
adil?" Allah menjawab: "Dia yang menghukumi dirinya
sendiri.") (Ibnu Sanni).
- (Sebagian
Bani Umayyah menulis surat kepada Hazim dan mendesaknya agar Hazim
melaporkan kebutuhan-kebutuhannya kepadanya. Maka Hazim membalas: "Sungguh
aku telah melaporkan kebutuhan-kebutuhanku kepada Tuanku (Allah). Maka apa
yang Dia berikan kepadaku, aku terima, dan apa yang Dia tahan dariku, aku
qana'ah (merasa cukup).") (Ihya’ Ulumuddin).
- (Abu
Dzu'aib al-Hudzali berkata dalam syairnya: "Jiwa itu akan selalu
berambisi jika engkau membiasakannya berambisi, namun jika dikembalikan
kepada hal yang sedikit, ia akan qana'ah.")
- (Ibnu
al-A'rabi berkata berbicara kepada jiwanya: "Janganlah engkau
mengira rumah-rumah putra Mudlij itu milikmu, sampai engkau berjalan malam
dan memasukinya. Maka qana'ah-lah dengan pohon 'Arfaj yang terkelupas,
dengan rumput Thumam, dan kulit pohon 'Aujas.") (Maknanya:
Puaslah dengan apa yang ada di alam meskipun sederhana).
- (Ibnu
al-Qayyim berkata: "Kesempurnaan kekayaan hati dilengkapi dengan
kekayaan lainnya, yaitu kekayaan jiwa. Tandanya adalah keselamatannya dari
ambisi kepentingan pribadi dan bersihnya dari sikap pamer (riya).")
(Tahdzib Madarij as-Salikin).
- (Imam
al-Ghazali berkata: "Muhammad bin Wasi' pernah mencelupkan roti
kering ke dalam air lalu memakannya, seraya berkata: 'Siapa yang qana'ah
dengan ini, ia tidak akan butuh kepada siapa pun'." —maksudnya ia
tidak menghinakan diri di pintu-pintu penguasa atau makan (mencari nafkah)
dengan menjual ilmu dan agamanya).
- (Sebagian
ahli hikmah berkata: "Aku mendapati orang yang paling panjang
kesedihannya adalah orang yang pendengki, yang paling bahagia hidupnya
adalah orang yang qana'ah, yang paling sabar menanggung gangguan adalah
orang yang rakus jika sudah tamak, yang paling tenang hidupnya adalah yang
paling zuhud terhadap dunia, dan yang paling besar penyesalannya adalah
orang berilmu yang ceroboh/melampaui batas.")
(Syair berbunyi: "Aku rida dari dunia ini dengan
makanan yang menegakkan tubuhku, maka aku tidak mencari kelebihan harta
selamanya setelah itu. Dan tidaklah aku menginginkan makanan itu melainkan
karena ia membantuku dalam ilmu yang dengannya aku menolak kebodohan. Maka
dunia ini dengan segala kenikmatannya, tidaklah sebanding nilainya bahkan
dengan satu poin terkecil di dalam ilmu.")
- (Yang
lain berkata: "Rezeki itu memiliki sebab-sebab yang datang dan
pergi, dan sesungguhnya aku berada di antara yang datang dan yang pergi
itu.")
- (Sebagian
mereka berkata: "Zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia,
niscaya manusia mencintaimu. Dan berkeinginanlah terhadap apa yang ada di
sisi Allah, niscaya Allah mencintaimu.")
- (Dikatakan
kepada sebagian ahli hikmah: "Apa itu kekayaan?" Ia
menjawab: "Sedikitnya angan-anganmu, dan ridamu terhadap apa yang
mencukupimu.")
- (Dikatakan
kepada sebagian ahli hikmah: "Apa hartamu?" Ia menjawab: "Berpenampilan
baik (indah) secara lahiriah, bersahaja (sederhana) secara batiniah, dan
berputus asa (tidak berharap) terhadap apa yang ada di tangan
manusia.")
- (Dikatakan
mengenai Qana'ah: "Merendahlah kepada Allah, jangan merendah
kepada manusia. Dan qana'ah-lah dengan rasa putus asa (terhadap pemberian
makhluk), karena kemuliaan ada pada rasa putus asa itu. Janganlah
bergantung pada kerabat maupun saudara, karena orang kaya yang sebenarnya
adalah yang tidak butuh kepada manusia.")
- (Dikatakan
juga dalam makna ini: "Wahai orang lapar yang qana'ah sementara
waktu memperhatikannya, menebak pintu mana yang akan tertutup baginya. Ia
berpikir bagaimana ajalnya mendatanginya, apakah di pagi hari atau datang
mengetuk di malam hari. Wahai pengumpul harta, engkau telah mengumpulkan
harta, maka katakan padaku apakah engkau telah mengumpulkan hari-hari
(umur) untuk membagikannya? Harta di sisimu tersimpan untuk ahli warismu,
harta itu bukan milikmu sampai hari di mana engkau menafkahkannya.
Alangkah tenangnya hati pemuda yang melangkah dengan penuh percaya bahwa
Dzat yang membagi rezeki pasti memberinya rezeki. Maka kehormatannya
terjaga dan wajahnya tetap berseri tidak kusam. Sesungguhnya Qana'ah itu,
siapa yang singgah di pelataran-nya, ia tidak akan menemui di bawah
naungannya rasa cemas yang membuatnya terjaga di malam hari.")
- (Diriwayatkan
bahwa al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi (wafat 170 H) menolak untuk menjadi
guru pribadi bagi putra Sulaiman bin Ali, gubernur Ahwaz. Beliau
mengeluarkan roti kering kepada utusan gubernur itu dan berkata: "Selama
aku masih mendapatkan ini, aku tidak butuh kepada Sulaiman." Lalu
beliau bersyair: "Sampaikan pada Sulaiman bahwa aku dalam
kelapangan darinya, dan dalam kekayaan meskipun aku tidak memiliki harta.
Aku menjaga jiwaku karena aku tidak melihat seorang pun mati karena kurus
(sederhana) dan tidak ada pula yang kekal (abadi). Kefakiran itu ada pada
jiwa bukan pada harta, dan begitu pula kekayaan itu ada pada jiwa bukan
pada harta.")
- (Imam
Syafi'i —rahimahullah— berkata: "Aku melihat qana'ah adalah pokok
kekayaan, maka aku berpegang teguh pada ujung pakaiannya. Maka orang ini
tidak melihatku di depan pintunya, dan orang itu tidak melihatku sibuk
mengejarnya. Maka aku menjadi kaya tanpa satu dirham pun, berjalan di tengah
manusia layaknya seorang raja.")
Rasulullah Mendidik Kaum Muslimin di Atas Qana'ah
Sungguh Rasulullah ﷺ senantiasa mendidik para sahabatnya di
atas sifat qana'ah (merasa cukup) dan menanamkannya ke dalam jiwa
mereka. Contoh terbaik adalah apa yang terjadi pada Hakim bin Hizam رضي الله عنه. Beliau dahulu adalah
orang yang sangat mencintai harta dan banyak mencarinya, serta terus-menerus
meminta kepada Rasulullah ﷺ,
sampai akhirnya Rasulullah ﷺ
memberikan nasihat yang sangat mendalam ke dalam jiwanya. Maka seketika itu
juga, sifat qana'ah menggantikan posisi ketamakan terhadap harta,
kecintaan, dan ambisi mencarinya.
Mari kita baca apa yang dikatakan Hakim mengenai perubahan
dirinya dan usahanya menjaga kehormatan diri (ta'affuf) dari
meminta-minta serta dari mengambil pemberian orang lain, meskipun itu
sebenarnya adalah haknya. Hakim bin Hizam رضي الله عنه berkata:
"Aku meminta kepada Rasulullah ﷺ lalu beliau
memberiku, kemudian aku meminta lagi lalu beliau memberiku, kemudian aku
meminta lagi lalu beliau memberiku, kemudian beliau bersabda: 'Wahai Hakim,
sesungguhnya harta ini hijau lagi manis. Barangsiapa yang mengambilnya dengan
kelapangan hati (tanpa ambisi), maka akan diberkahi baginya. Dan barangsiapa
yang mengambilnya dengan ambisi jiwa, niscaya tidak akan diberkahi baginya, ia
laksana orang yang makan namun tidak pernah kenyang. Tangan di atas lebih baik
daripada tangan di bawah.' >
Hakim berkata: Aku menjawab: 'Wahai Rasulullah, demi Dzat
yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan meminta (mengurangi harta)
seorang pun setelahmu sedikit pun sampai aku meninggalkan dunia.'
Maka Abu Bakar رضي الله عنه pernah memanggil Hakim untuk memberinya
pemberian (jatah harta), namun ia menolak menerimanya sedikit pun. Kemudian
Umar رضي الله عنه memanggilnya untuk
memberinya sesuatu, namun ia tetap menolak menerimanya. Umar lalu berkata:
'Wahai sekalian kaum muslimin, aku mempersaksikan kepada kalian atas Hakim,
bahwa aku menawarkan kepadanya haknya yang telah Allah bagikan untuknya dari
harta fa'i ini, namun ia menolak mengambilnya.' Maka Hakim tidak pernah meminta
harta seorang pun setelah Nabi ﷺ sampai ia wafat." (Muttafaqun 'Alaih).
Imam An-Nawawi berkata dalam penjelasannya terhadap hadits
ini:
"(Yarza’) dengan huruf ra’ kemudian zai
lalu hamzah: artinya ia tidak mengambil sesuatu pun dari seseorang. Asal
kata al-ruzu’ adalah pengurangan (al-nuqshan), maksudnya ia tidak
mengurangi harta siapa pun dengan mengambil sesuatu darinya. Sedangkan isyraf
(ambisi) terhadap sesuatu berarti ketamakan, mempedulikannya secara berlebihan,
dan kerakusan."
Rasulullah ﷺ
juga menanamkan sifat qana'ah di hati para sahabatnya dengan melarang
mereka tamak terhadap apa yang ada di tangan orang lain dan meminta sesuatu
dari mereka. Bahkan beliau mengambil baiat (janji setia) atas hal tersebut.
Diriwayatkan dari Abu Abdurrahman bin Auf bin Malik
Al-Asyja'i رضي الله
عنه, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
"Maukah kalian berbaiat kepada Rasulullah?"
Kami membentangkan tangan kami dan berkata: "Sungguh kami telah berbaiat
kepadamu wahai Rasulullah, maka atas dasar apa kami berbaiat kepadamu?"
Beliau bersabda: "Kalian menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya
dengan sesuatu pun, mendirikan shalat lima waktu, dan kalian taat."
Lalu beliau membisikkan satu kalimat rahasia: "Dan janganlah kalian
meminta sesuatu pun kepada manusia." >
Sungguh aku melihat sebagian dari kelompok orang tersebut,
jika cambuk salah seorang dari mereka jatuh, ia tidak meminta kepada siapa pun
untuk mengambilkan cambuk itu baginya. (HR. Muslim).
Di antara sarana menanamkan qana'ah adalah larangan
Rasulullah ﷺ
terhadap sifat rakus (asy-syarah). Karena kerakusan adalah lawan dari qana'ah
dan kebalikannya, dan memerangi kebalikan sesuatu berarti menetapkan hal
tersebut.
Diriwayatkan dari Ibnu Umar رضي الله عنهما bahwa Nabi ﷺ bersabda:
"Seseorang senantiasa meminta-minta kepada manusia
hingga ia menghadap Allah Ta'ala dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun di
wajahnya." (Muttafaqun 'Alaih).
Dan dari Abu Hurairah رضي الله عنه ia berkata:
Rasulullah ﷺ
bersabda:
"Barangsiapa meminta-minta kepada manusia untuk
memperbanyak harta, sesungguhnya ia hanyalah meminta bara api, maka silakan ia
mempersedikit atau memperbanyak (permintaannya)." (HR. Muslim).
Hal-hal yang Bertentangan dengan Qana'ah
Di antara hal yang bertentangan dengan qana'ah adalah
mencari penghasilan yang haram. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ melarang hal tersebut
dan mengancam pelakunya dengan neraka Jahanam.
Diriwayatkan dari Khaulah binti Qais —ia adalah istri dari
Hamzah bin Abdul Muthalib رضي الله
عنه وعنها— ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya harta ini hijau lagi manis.
Barangsiapa yang mendapatkannya dengan haknya (cara yang benar), maka akan
diberkahi baginya. Dan betapa banyak orang yang mengelola harta Allah dan
Rasul-Nya sesuai keinginan nafsunya, tidak ada bagian baginya di hari kiamat
kecuali neraka." (HR. Tirmidzi).
Ketamakan terhadap harta adalah lawan dari qana'ah.
Rasulullah ﷺ
telah memperingatkan dari ketamakan ini dan menganggapnya sebagai perusak agama
dan pembinasa bagi pemiliknya, laksana rusaknya kawanan kambing oleh dua
serigala yang kelaparan.
Imam Tirmidzi رحمه الله meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada
Ka'ab bin Malik Al-Anshari رضي الله
عنه, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
"Tidaklah dua serigala lapar yang dilepaskan di
tengah kawanan kambing lebih merusak daripada ketamakan seseorang terhadap
harta dan kedudukan bagi agamanya." (HR. Tirmidzi).
Termasuk dari sifat qana'ah adalah tidak
berlebih-lebihan (tasharruf) dalam makanan, minuman, pakaian, urusan
wanita (pernikahan berlebihan), tempat tinggal, serta segala kebutuhan yang
dapat melalaikan dari akhirat.
Termasuk qana'ah juga adalah memendekkan angan-angan
(qashr al-amal), tidak terlalu sibuk memikirkan masa depan finansial dan
rezeki secara berlebihan, serta tidak terlalu banyak mencemaskannya hingga
menjadi sebab lalainya seseorang dari ketaatan, ibadah, dan jalan menuju
akhirat.
Penjelasan tentang Tercelanya Kerakusan dan Ketamakan,
serta Pujian terhadap Qana'ah dan Rasa Putus Asa (Tidak Berharap) pada Apa yang
Ada di Tangan Manusia
Ketahuilah bahwa kefakiran itu terpuji, namun hendaknya
orang yang fakir itu memiliki sifat qana'ah (merasa cukup), memutus
ketamakan dari makhluk, tidak menoleh pada apa yang ada di tangan mereka, dan
tidak rakus dalam mengumpulkan harta kecuali dari jalan yang halal. Hal itu
tidak mungkin tercapai kecuali jika ia merasa cukup dengan kadar kebutuhan pokok
(darurat) berupa makanan, pakaian, dan tempat tinggal; ia membatasi diri pada
kadar yang paling sedikit dan jenis yang paling sederhana jika memang hanya itu
yang ia temukan. Hendaknya ia membatasi harapannya hanya untuk hari ini atau
bulan ini saja, dan tidak menyibukkan hatinya dengan apa yang terjadi setelah
satu bulan.
Sebab, jika ia merindukan harta yang banyak atau panjang
angan-angannya, maka ia akan kehilangan kemuliaan qana'ah, dan tak pelak
lagi jiwanya akan ternoda oleh ketamakan serta kehinaan kerakusan. Kerakusan
dan ketamakan tersebut akan menyeretnya kepada akhlak yang buruk serta
melakukan kemungkaran yang merusak harga diri (muru'ah). Manusia memang
telah dibekali tabiat rakus, tamak, dan kurang rasa syukur (qana'ah).
Rasulullah ﷺ
bersabda:
"Seandainya anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya
ia akan mencari lembah yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak
Adam kecuali tanah (kematian), dan Allah menerima taubat orang yang
bertaubat."
Umar رضي الله
عنه berkata:
"Sesungguhnya ketamakan adalah kefakiran, dan rasa
putus asa (terhadap pemberian makhluk) adalah kekayaan. Sesungguhnya siapa saja
yang berputus asa dari apa yang dimiliki manusia, niscaya ia tidak butuh kepada
mereka."
Dikatakan kepada sebagian ahli hikmah: "Apa itu
kekayaan?" Ia menjawab: "Sedikitnya angan-anganmu, dan ridamu
terhadap apa yang mencukupimu."
Muhammad bin Wasi' pernah mencelupkan roti kering ke dalam
air lalu memakannya seraya berkata: "Siapa yang qana'ah dengan ini, ia
tidak akan butuh kepada siapa pun."
Asy-Sya'bi menceritakan: Hikayat tentang seorang lelaki yang
menangkap seekor burung pipit (Qunbarah). Burung itu bertanya: "Apa yang
ingin kau lakukan padaku?" Lelaki itu menjawab: "Aku akan
menyembelihmu dan memakanmu." Burung itu berkata: "Demi Allah, aku
tidak bisa menghilangkan nafsumu akan daging, tidak pula bisa mengenyangkanmu
dari lapar. Namun, aku akan mengajarimu tiga perkara yang lebih baik bagimu
daripada memakan aku. Perkara pertama aku ajarkan saat aku masih di tanganmu,
yang kedua saat aku sudah di atas pohon, dan yang ketiga saat aku berada di
atas gunung."
Lelaki itu berkata: "Sebutkan yang pertama."
Burung itu berkata: "Janganlah engkau bersedih hati (menyesal) atas apa
yang telah luput darimu." Maka lelaki itu melepaskannya. Tatkala burung
itu sampai di atas pohon, ia berkata: "Yang kedua: Janganlah sekali-kali
engkau membenarkan sesuatu yang mustahil terjadi." Kemudian burung itu
terbang hingga sampai di atas gunung dan berkata: "Wahai orang celaka!
Seandainya kau menyembelihku, niscaya kau akan mengeluarkan dari tembolokku dua
butir mutiara yang masing-masing beratnya dua puluh mitsqal."
Mendengar itu, lelaki itu menggigit bibirnya dan menyesal,
lalu berkata: "Sebutkan yang ketiga!" Burung itu menjawab:
"Engkau sudah melupakan yang kedua, bagaimana mungkin aku memberitahumu
yang ketiga? Bukankah aku sudah berpesan: Janganlah menyesali apa yang telah
luput darimu, dan jangan membenarkan hal yang mustahil terjadi. Padahal daging,
darah, dan buluku saja beratnya tidak sampai dua puluh mitsqal, bagaimana
mungkin di dalam tembolokku ada dua mutiara yang masing-masing beratnya dua
puluh mitsqal?" Kemudian burung itu terbang pergi.
Ini adalah perumpamaan bagi betapa besarnya ketamakan
manusia; ketamakan itu membutakannya dari kebenaran sehingga ia membayangkan
hal yang mustahil sebagai sesuatu yang mungkin terjadi.
Penjelasan Obat bagi Kerakusan dan Ketamakan, serta
Terapi untuk Mendapatkan Sifat Qana'ah
Ketahuilah bahwa obat ini terdiri dari tiga rukun: Sabar,
Ilmu, dan Amal. Gabungan dari hal tersebut terdiri dari lima perkara:
- Amal:
Bersahaja dalam penghidupan dan hemat dalam berinfak (pengeluaran).
- Jika
telah tersedia baginya apa yang mencukupi untuk saat ini, hendaknya ia
tidak terlalu cemas memikirkan masa depan. Hal yang membantunya adalah
memendekkan angan-angan dan meyakini bahwa rezeki yang telah ditetapkan
baginya pasti akan datang meskipun ia tidak terlalu rakus mencarinya.
- Menyadari
adanya kemuliaan dalam sifat qana'ah (tidak bergantung pada orang)
dan adanya kehinaan dalam kerakusan serta ketamakan. Jika hal ini telah
tertanam kuat, maka keinginannya untuk qana'ah akan bangkit. Sebab, dalam
kerakusan tidak lepas dari kelelahan, dan dalam ketamakan tidak lepas dari
kehinaan.
- Banyak
merenungkan tentang kemewahan hidup orang-orang Yahudi, Nasrani,
orang-orang rendah, orang bodoh, serta mereka yang tidak memiliki agama
dan akal. Kemudian bandingkan dengan keadaan para Nabi, Wali, kepribadian
Khulafaur Rasyidin, serta seluruh Sahabat dan Tabi'in. Dengarkan kisah
mereka dan telaah kehidupan mereka; biarkan akalmu memilih apakah ingin
menyerupai orang-orang rendah atau meneladani golongan makhluk yang paling
mulia di sisi Allah.
- Memahami
risiko dalam mengumpulkan harta, seperti rasa takut akan pencurian,
perampokan, dan kehilangan; serta memahami adanya rasa aman dan kelapangan
hati saat tangan sedang kosong (tidak memiliki banyak beban harta).
Melalui perkara-perkara inilah seseorang mampu memperoleh
akhlak qana'ah.
Qana'ah adalah Jalan Kebahagiaan
Qana'ah pada hakikatnya adalah jalan kebahagiaan di
dunia dan akhirat. Hal itu karena qana'ah berarti kemuliaan, kehormatan,
dan tidak meminta-minta kepada manusia meskipun dalam keadaan butuh. Jika
memang harus meminta, maka mintalah kepada Allah Tabaraka wa Ta'ala, karena
meminta kepada-Nya adalah ibadah dan hanya Dialah yang Maha Kuasa untuk menutupi
kebutuhan serta menolong orang yang kesulitan.
Dari Ubaidillah bin Mas'ud رضي الله عنه, ia berkata:
Rasulullah ﷺ
bersabda:
"Barangsiapa ditimpa suatu kesulitan (kemiskinan) lalu
ia mengadu/menggantungkannya kepada manusia, maka tidak akan tertutup
kesulitannya. Dan barangsiapa yang menggantungkannya (mengadu) kepada Allah,
maka hampir pasti Allah akan memberinya rezeki, baik segera maupun
lambat." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, ia berkata: Hadits Hasan).
Dalam Qana'ah Terdapat Keselamatan Dunia dan Agama
Aku melihat jiwa (manusia) sering kali memandang kepada
kenikmatan duniawi yang segera (sesaat) milik para penguasa harta, namun ia
lupa bagaimana kenikmatan itu diperoleh dan apa saja petaka yang terkandung di
dalamnya.
Penjelasan mengenai hal ini adalah: Jika engkau melihat
seorang pemilik kekuasaan dan kesultanan, lalu engkau mengamati nikmat yang ia
miliki, niscaya engkau akan mendapatinya telah tercampur (dengan keburukan).
Sebab, jikalau ia sendiri tidak bermaksud melakukan kejahatan, maka kejahatan
itu bisa saja terjadi melalui tangan para pegawainya.
Kemudian, ia selalu berada dalam rasa takut dan tidak tenang
dalam segala urusannya; ia waspada terhadap musuh yang mungkin mencelakainya,
cemas terhadap atasan yang mungkin memecatnya, dan khawatir terhadap pesaing
yang mungkin memperdayanya.
Lalu, sebagian besar waktunya habis dihabiskan untuk
melayani sultan-sultan yang ia takuti, menghitung harta mereka, dan
melaksanakan perintah-perintah mereka yang sering kali tidak lepas dari hal-hal
yang mungkar. Jikalau ia dipecat, maka rasa sakit akibat pemecatan itu akan
melampaui seluruh kenikmatan yang pernah ia raih. Terlebih lagi, kenikmatan
tersebut senantiasa diliputi oleh rasa waswas di dalamnya, darinya, dan
atasnya.
Dan jika engkau melihat seorang pemilik perniagaan
(pedagang), engkau akan melihatnya menghabiskan tenaga melintasi berbagai
negeri. Ia tidak mendapatkan apa yang ia raih kecuali setelah usianya senja dan
perginya masa-masa untuk menikmati kelezatan.
Sebagaimana dikisahkan bahwa ada seorang pemimpin yang pada
masa mudanya dalam keadaan fakir. Tatkala ia telah tua, ia menjadi kaya raya,
memiliki banyak harta, membeli budak-budak dari Turki dan lainnya, serta
selir-selir dari Romawi. Maka ia menggubah bait-bait syair berikut untuk
menjelaskan kondisinya:
Apa yang dahulu aku harapkan saat aku berusia dua puluh
tahun,
Kini baru aku miliki setelah aku melampaui usia tujuh
puluh.
Di sekelilingku berkeliling para pemuda Turki yang
rupawan,
Laksana dahan-dahan di atas gundukan pasir Yabrina.
Dan para gadis perawan dari putri-putri Romawi yang
memesona,
Keindahan mereka menyerupai bidadari surga yang bermata
jeli.
Mereka memijatku dengan jari-jemari yang lembut,
Yang seakan-akan tertekuk karena saking gemulainya.
Mereka ingin menghidupkan mayat (diriku) yang sudah tak
berdaya,
Namun bagaimana mungkin mereka menghidupkan mayat yang
seolah sudah terkubur?
Mereka berkata: "Rintihanmu sepanjang malam membuat
kami terjaga,"
Maka apa yang engkau keluhkan? Aku menjawab: "Aku
mengeluhkan usia delapan puluh (tahun)."
Kondisi inilah yang mendominasi; sesungguhnya manusia hampir
tidak bisa mengumpulkan segala apa yang ia cintai kecuali saat sudah dekat
waktu keberangkatannya (kematian). Jika apa yang ia cintai itu datang di awal
masa mudanya, maka gairah masa muda sering kali menghalanginya dari pemahaman
tentang pengelolaan yang baik atau kenikmatan yang sempurna.
Manusia di masa kanak-kanak dan masa mudanya tidak
mengetahui di mana posisi dirinya sampai ia baligh. Tatkala ia sudah baligh,
maka semangatnya tercurah pada urusan pernikahan (syahwat) bagaimanapun
caranya. Jika ia telah menikah, lahirlah anak-anak, maka anak-anak itu
menghalanginya dari kenikmatan (fokus pada diri sendiri), jiwanya menjadi
lelah, dan ia menjadi sangat butuh untuk bekerja keras mencari nafkah bagi
mereka.
Maka di saat ia sedang bersusah payah dalam masa yang
singkat itu (mendekati usia tiga puluh), uban mulai menyelinap di rambutnya.
Saat itulah ia merasa asing dengan dirinya sendiri karena ia tahu bahwa para
wanita pun mulai menjauh darinya, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu
al-Mu'tazz Billah:
Sungguh aku telah meletihkan diriku di masa tuaku,
Maka bagaimana mungkin para gadis cantik nan jelita akan
mencintaiku?
Begitulah, engkau tidak akan melihat orang yang
bersenang-senang dengan hal-hal yang indah; jika ia menemukan keindahan itu, ia
tidak menemukan harta untuk mencapai maksudnya. Namun jika ia sibuk
mengumpulkan harta, maka hilanglah waktu untuk bersenang-senang. Dan jika
tujuan harta itu telah tercapai, maka uban adalah kotoran mata yang paling
buruk dan faktor pembenci yang paling besar.
Kemudian, pemilik harta itu selalu diliputi rasa takut atas
hartanya, sibuk menghisab (menghitung) mitra transaksinya, dicela jika ia boros
dan dicerca jika ia kikir. Anaknya selalu mengintai waktu kematiannya, dan
selirnya mungkin tidak rida dengan sosok pribadinya. Ia pun sibuk menjaga para
pengikutnya, sehingga waktunya habis dalam penderitaan, dan
kenikmatan-kenikmatan di dalamnya hanyalah curian-curian sesaat yang sudah
biasa sehingga tidak ada lagi kelezatan di dalamnya. Kelak di hari kiamat, para
pemimpin dan pedagang akan dikumpulkan dalam keadaan terhina, kecuali mereka
yang dijaga oleh Allah.
Maka, waspadalah! Janganlah sekali-kali engkau memandang
kepada gambaran kenikmatan mereka, karena engkau menganggapnya baik hanya
karena kenikmatan itu jauh darimu. Seandainya engkau telah mencapainya, niscaya
engkau akan membencinya.
Terlebih lagi, di balik itu semua terkandung penderitaan
dunia dan akhirat yang tidak dapat dilukiskan. Maka, wajib bagimu untuk
memegang teguh sifat qana'ah (merasa cukup) semampumu, karena di dalam
qana'ah terdapat keselamatan dunia dan agama.
Pernah dikatakan kepada seorang zahid yang di sisinya
terdapat roti kering: "Bagaimana engkau bisa berselera memakan ini?"
Ia menjawab: "Aku membiarkannya sampai aku merasa lapar (sehingga roti itu
terasa lezat)."
Di Antara Manfaat "Qana'ah"
- Qana'ah
merupakan bagian dari kesempurnaan iman dan baiknya keislaman seseorang.
- Orang
yang qana'ah jiwanya akan menjauh dari kesenangan dunia yang fana karena
mengharap apa yang ada di sisi Allah.
- Orang
yang qana'ah dicintai oleh Allah dan dicintai oleh manusia.
- Ia
memiliki jiwa yang bahagia dengan apa yang telah dibagikan untuknya di
dunia.
- Seandainya
manusia merasa cukup (qana'ah) dengan yang sedikit, niscaya tidak akan ada
lagi orang fakir maupun orang yang terhalang (kelaparan) di antara mereka.
- Qana'ah
menyebarkan keakraban dan kasih sayang di antara manusia.
Penutup
Qana'ah adalah rida terhadap rezeki yang dibagikan oleh
Allah, merasa cukup dengannya meskipun sedikit, serta tidak mengejar harta yang
banyak dengan cara terus-menerus meminta kepada manusia dan menghinakan diri
(menjatuhkan harga diri). Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sungguh telah beruntung orang yang memeluk Islam,
dianugerahi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya qana'ah atas apa yang
diberikan-Nya." Rasulullah ﷺ juga bersabda:
"Beruntunglah bagi orang yang diberi petunjuk kepada
Islam, sedangkan kecukupan hidupnya sederhana (pas-pasan) dan ia merasa
qana'ah."
Rasulullah ﷺ
telah membimbing kita untuk rida terhadap apa yang Allah takdirkan bagi kita,
baik berupa nikmat kesehatan, keamanan, maupun makanan untuk hari ini. Beliau ﷺ bersabda:
"Barangsiapa di antara kalian yang menyongsong pagi
hari dalam keadaan aman pada dirinya (keluarganya), sehat jasmaninya, dan
memiliki makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia telah dikumpulkan
untuknya." (Makna 'as-sirbi' adalah diri sendiri, dan ada yang
berpendapat maknanya adalah kaumnya, sebagaimana disebutkan Imam Nawawi dalam
kitab Riyadhus Shalihin).
Allah Tabaraka wa Ta'ala telah memuji orang-orang fakir yang
menjaga kemuliaan mereka dengan iman, menjauhkan diri dari kehinaan
meminta-minta, dan merasa cukup dengan yang sedikit, sehingga orang yang tidak
mengenal mereka menyangka mereka adalah orang kaya karena tidak adanya
tanda-tanda kemiskinan pada mereka. Allah memerintahkan kaum muslimin untuk
memperhatikan dan menyambung tali kasih kepada mereka tanpa harus menunggu
mereka meminta atau mendesak dalam meminta. Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman:
"Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat
petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang
dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan
Allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan
sesuatu melainkan karena mencari keridaan Allah. Dan apa saja harta yang baik
yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang
kamu sedikit pun tidak akan dianiaya (dirugikan). (Berinfaklah) kepada
orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat
(berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena
memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat
sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja
harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 272-273).
Rasulullah ﷺ
juga mengabarkan kepada kita tentang orang-orang yang qana'ah meskipun mereka
dalam kondisi butuh dan fakir, beliau bersabda:
"Orang miskin itu bukanlah orang yang bisa berpaling
(pergi) hanya karena satu atau dua suap makanan, atau satu atau dua butir
kurma. Akan tetapi, orang miskin yang sebenarnya adalah orang yang tidak
memiliki kecukupan yang bisa mencukupinya, namun keadaannya tidak diketahui
sehingga orang tidak memberinya sedekah, dan ia pun tidak berdiri untuk
meminta-minta kepada orang lain." (Muttafaqun 'Alaih).
Qana'ah adalah simpanan (harta karun) yang tidak akan pernah
sirna, karena ia adalah kekayaan jiwa. Kekayaan jiwa jauh lebih mulia dan lebih
bermanfaat daripada kekayaan harta. Sebab, kekayaan jiwa menumbuhkan kemuliaan
dan sikap menjaga kehormatan diri (isti'faf), sedangkan kekayaan harta
dan ketamakan terhadapnya seringkali menumbuhkan kehinaan dalam jiwa dan
menghalangi pemiliknya dari taufik Allah Tabaraka wa Ta'ala yang dianugerahkan
kepada orang yang qana'ah, merasa cukup, dan menjaga diri.
Sunnah telah menjelaskan kepada kita bahwa kekayaan yang
hakiki adalah kekayaan jiwa. Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Kekayaan itu bukanlah dari banyaknya harta benda,
akan tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa."
Orang yang qana'ah akan diberi taufik oleh Allah untuk mampu
menahan diri dari (meminta kepada) manusia. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barangsiapa yang berusaha menjaga kehormatan
dirinya, maka Allah akan menjaganya. Barangsiapa yang berusaha merasa cukup,
maka Allah akan mencukupinya." (Muttafaqun 'Alaih).
Penerapan Praktis Materi dan Nilai-Nilainya Melalui
Aktivitas Berikut:
Pertama: Aktivitas Pendamping:
- Membuat
komitmen (janji) bersama saudara-saudaranya untuk senantiasa qana'ah.
- Para
pelajar menyebutkan contoh dan pengalaman nyata tentang qana'ah dan
bagaimana menerapkannya dengan baik.
- Para
pelajar menyebutkan contoh dan pengalaman nyata yang disaksikan tentang
ketamakan, kerakusan, dan buruknya dampak dari sifat tersebut.
Kedua: Aktivitas Penunjang:
- Memanfaatkan
kaset video atau kaset audio yang membahas tentang qana'ah untuk dibagikan
kepada khalayak.
- Berbicara
(berceramah) tentang qana'ah di hadapan jamaah shalat.
- Mengumpulkan
berbagai kisah dan hikayat tentang qana'ah serta nasib orang yang tamak,
lalu dikumpulkan dalam sebuah buku.
- Menulis
sebuah narasi/cerita yang menjelaskan pentingnya qana'ah dan buruknya
nasib orang yang rakus.
- Berpartisipasi
dalam pembuatan film atau serial yang menggambarkan pentingnya qana'ah
dalam kehidupan kita.
- Membuat
poster/spanduk berisi hadits, ayat, dan ungkapan yang mendorong qana'ah
serta mencela ketamakan.
- Menyampaikan
materi, khutbah, dan ceramah mengenai qana'ah dan buahnya, serta tentang
ketamakan dan bahayanya.
Evaluasi dan Pengukuran Mandiri:
Pertama: Pertanyaan Esai:
- Definisikan
qana'ah secara bahasa dan istilah.
- Sebutkan
beberapa ayat mulia dan hadits syarif yang mendorong sifat qana'ah.
- Bagaimana
sifat qana'ah dan rida tercermin dalam kehidupan Nabi ﷺ?
- Bagaimana
Nabi ﷺ
mendidik para sahabatnya di atas qana'ah? Sebutkan contoh qana'ah dari
para sahabat Nabi.
- Sebutkan
beberapa perkataan dan atsar para ulama mengenai qana'ah.
- Apa
dampak buruk dari kerakusan dan ketamakan bagi kehidupan individu muslim
dan masyarakat muslim?
- Dengan
apa Rasulullah ﷺ
memuji kaum Anshar terkait dengan sifat qana'ah?
- Jika
engkau diuji dengan sifat rakus dan tamak, bagaimana cara
menghilangkannya?
- Apakah
engkau pernah diuji dengan penyakit rakus dan tamak? Bagaimana engkau
membebaskan diri darinya?
- Apakah
engkau memperhatikan adanya penyakit rakus dan tamak pada sebagian
saudaramu? Apa yang engkau lakukan saat itu?
- Soal
1: Sebutkan beberapa hal yang bertentangan dengan qana'ah!
- Soal
2: Qana'ah memiliki banyak manfaat, sebutkan tiga manfaat terpenting!