Friday, April 10, 2026

Ilmu Tauhid

Ta’rif, ruang lingkup, kedudukannya di antara ilmu lainnya, kewajiban mempelajarinya, Al Qur’an adalah kitab tauhid terbesar, perhatian kaum muslimin terhadap ilmu tauhid

  

 

 

 

 

 

Keterangan Skema:

Ilmu Tauhid:

  1. Makna ilmu tauhid : ilmu yang membahas pengokohan keyakinan-keyakinan agama Islam dengan dalil-dalil naqli maupun aqli yang pasti kebenarannya sehingga dapat menghilangkan semua keraguan.
  2. Bidang Pembahasan ilmu tauhid : 6 rukun iman
  3. Kedudukannya: ilmu yang paling mulia, karena:
    1. Temanya paling mulia : Allah swt Pencipta alam semesta
    2. Manfaatnya paling mulia: kebahagiaan dunia dan akhirat
  4. Hukum mempelajarinya:
    1. Agar memiliki keyakinan tentang kebenaran Islam : fardhu ‘ain
    2. Lebih dari itu : fardhu kifayah
  5. Al-Qur’an adalah kitab tauhid terbesar
  6. Sikap ummat Islam terhadap tauhid:
    1. Penuh perhatian : kemuliaan dan kepemimpinan
    2. Mengabaikan : kehinaan dan kekalahan

1.     Ilmu Tauhid

Tanya: Apakah ilmu tauhid itu?

Jawab: Ilmu tauhid adalah ilmu yang membahas pengokohan keyakinan-keyakinan agama Islam dengan dalil-dalil naqli maupun aqli yang pasti kebenarannya sehingga dapat menghilangkan semua keraguan, ilmu yang menyingkap kebatilan orang-orang kafir, kerancuan dan kedustaan mereka. Dengan ilmu tauhid ini, jiwa kita akan kokoh, dan hatipun akan tenang dengan iman. Dinamakan ilmu tauhid karena pembahasan terpenting di dalamnya adalah tentang tauhidullah (mengesakan Allah). Allah swt berfirman:

أَفَمَن يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُواْ الأَلْبَابِ

Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar, sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran (13:19).

2.     Bidang Pembahasan Ilmu Tauhid

Tanya: Apa saja yang dibahas dalam ilmu tauhid?

Jawab: Ilmu tauhid membahas beberapa hal yaitu:

-        Iman kepada Allah, tauhid kepada-Nya, dan ikhlash beribadah hanya untuk-Nya tanpa sekutu apapun bentuknya.

-        Iman kepada rasul-rasul Allah para pembawa petunjuk ilahi, mengetahui sifat-sifat yang wajib dan pasti ada pada mereka seperti jujur dan amanah, mengetahui sifat-sifat yang mustahil ada pada mereka seperti dusta dan khianat, mengetahui mu’jizat dan bukti-bukti kerasulan mereka, khususnya mu’jizat dan bukti-bukti kerasulan nabi kita Muhammad saw.

-        Iman kepada kitab-kitab yang diturunkan Allah kepada para nabi/rasul sebagai petunjuk bagi hamba-hamba-Nya sepanjang sejarah manusia yang panjang.

-        Iman kepada malaikat, tugas-tugas yang mereka laksanakan, dan hubungan mereka dengan kita di dunia dan akhirat.

-        Iman kepada hari akhir, apa saja yang dipersiapkan Allah sebagai balasan bagi orang-orang mukmin (surga) maupun orang-orang kafir (neraka).

-        Iman kepada takdir Allah yang Maha Bijaksana yang mengatur dengan takdir-Nya semua yang ada di alam semesta ini.

Allah swt berfirman:

"آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ

Rasul telah beriman kepada Al Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (2:285).

Rasulullah saw ditanya tentang iman, beliau menjawab:

أنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ.

Iman adalah engkau membenarkan dan meyakini Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,  rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan taqdir baik maupun buruk. (HR. Muslim).

3.     Kedudukan Ilmu Tauhid Diantara Semua Ilmu

 

Tanya: Bagaimana kedudukan ilmu tauhid diantara ilmu-ilmu yang lain?

Jawab: Kemuliaan setiap ilmu tergantung kemulian tema yang dibahasnya. Ilmu kedokteran lebih mulia dari teknik perkayuan, karena teknik perkayuan membahas seluk beluk kayu, sedangkan kedokteran membahas tubuh manusia. Begitu pula dengan ilmu tauhid, ia paling mulia karena pembahasannya adalah sesuatu yang paling mulia. Adakah yang lebih agung selain Pencipta alam semesta ini?! Adakah manusia yang lebih suci daripada para rasul?! Adakah yang lebih penting bagi manusia selain mengenal Rabb dan Penciptanya, mengenal tujuan keberadaannya di dunia, untuk apa ia diciptakan, dan bagaimana nasibnya setelah ia mati??!

Dan ilmu tauhid adalah sumber semua ilmu-ilmu keislaman sekaligus yang terpenting dan paling utama.

4.     Kewajiban Mempelajarinya

Tanya: Apakah hukum mempelajari ilmu tauhid itu fardhu ‘ain ataukah fardhu kifayah?

Jawab: Hukum mempelajari ilmu tauhid adalah fardhu ‘ain bagi setiap muslim dan muslimah sampai ia betul-betul memiliki keyakinan dan kepuasan hati serta akal bahwa ia berada di atas agama yang benar. Sedangkan mempelajari lebih dari itu hukumnya fardhu kifayah, artinya jika telah ada yang mengetahui, yang lain tidak berdosa. Allah swt berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq) melainkan Allah. (47:19).

5.     Al-Quran adalah Kitab Tauhid Terbesar

Tanya: Sejauh mana perhatian Al-Quran terhadap ilmu tauhid?

Jawab: Sesungguhnya pembahasan utama dalam Al-Quran adalah tauhid. Anda tidak akan menemukan satu halamanpun yang tidak mengandung ajakan untuk beriman kepada Allah, rasul-Nya, atau hari akhir, malaikat, kitab-kitab yang diturunkan Allah, atau taqdir yang diberlakukan bagi alam semesta ini. Bahkan dapat dikatakan bahwa hampir seluruh ayat Al-Quran yang dirunkan sebelum hijrah (ayat-ayat makkiyyah) berisi tauhid dan yang terkait dengan tauhid.

6.     Perhatian Kaum Muslimin Terhadap Tauhid

Tanya: Sejauh mana pula perhatian kaum muslimin terhadap tauhid?

Jawab: Perhatian kaum muslimin terhadap tauhid didasari oleh perhatian Al-Quran terhadapnya sehingga dapat kita katakan bahwa perhatian utama ummat Islam sejak dahulu adalah da’wah kepada agama Allah dengan hikmah dan pelajaran yang baik atau dengan kata lain da’wah kepada bukti-bukti kebenaran aqidah Islam agar manusia beriman kepada aqidah tersebut. Perhatian kaum muslimin ini berlangsung terus menerus dalam waktu yang amat panjang.

7.     Penderitaan Kaum Muslimin ketika Mengabaikan Tauhid

Tanya: Apa yang telah menimpa kaum muslimin saat mereka mengabaikan tauhid?

Jawab: Tatkala ummat Islam mengabaikan aqidah yang benar melalui ilmu tauhid yang didasari oleh bukti-bukti dan dalil yang kuat, mulailah kelemahan masuk ke dalam keyakinan sebagian besar kaum muslimin lalu berakibat mempengaruhi amal dan produktifitas mereka, kemudian meluaslah kerusakan sehingga mudah bagi musuh-musuh Islam untuk mengalahkan mereka dan menjajah negeri mereka, serta menghinakan mereka di negeri mereka sendiri.

8.   Kesimpulan

  • Ilmu tauhid mengedepankan dalil-dalil naqli dan ‘aqli terhadap kebenaran aqidah islamiyyah.
  • Pembahasan ilmu tauhid adalah rukun iman: iman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, para nabi dan rasul, hari akhir, dan takdir baik maupun buruk.
  • Ilmu tauhid adalah ilmu yang paling mulia, karena ia terkait dengan Allah swt pencipta alam semesta, dimana urgensi ilmu tauhid berasal dari keagungan Allah swt.
  • Mempelajari kadar minimal dari ilmu tauhid adalah fardhu ‘ain, yaitu sampai seorang muslim meyakini berdasarkan ilmu tentang kebenaran aqidah islam yang dianutnya sehingga imannya kepada enam rukun iman di atas menjadi kokoh dan kuat.
  • Perhatian Al-Quran terhadap pembahasan ilmu tauhid amat besar sehingga ayat-ayat makkiyyah hampir semuanya berisi tentang tauhid dan masalah-masalah yang terkait dengannya.
  • Ummat islam generasi awal sangat memperhatikan tauhid sehingga mereka mulia dan memimpin dunia, namun tatkala ummat Islam mengabaikannnya aqidah mereka menjadi lemah lalu menyebabkan kelemahan perilaku dan amal mereka sehingga orang-orang kafir dapat menjajah negeri dan tanah air mereka.

 


Kedudukan Ilmu Tauhid dalam Islam (Imam Asal Amal)

Diantara syarat diterimanya amal adalah Iman dan Islam, sedangkan pintu masuk Islam itu adalah syahadatain, dan syahadatain adalah tauhid itu sendiri sehingga dapat kita katakan bahwa tauhid itu amat sangat penting bagi semua manusia dan ia merupakan sumber segala ilmu dalam Islam.

A.   Iman adalah Asas Amal (الإِيْمَانُ أَسَاسُ العَمَلِ)

Tanya: Mengapa Allah swt tidak menerima amal kecuali dari mukmin (yang beriman kepada Allah dengan iman yang sesuai syariat Islam)?

Jawab: Orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, tak mengharapkan pahala dari-Nya, tidak takut dengan hukuman-Nya, beramal tanpa pernah menginginkan keridhaan-Nya, dan tak peduli apakah yang mereka lakukan halal atau haram, maka mereka jelas tidak berhak memperoleh ganjaran pahala atas amal mereka meskipun amalnya baik. Karena mereka adalah orang-orang kafir (mengingkari kenabian Muhammad saw) yang tidak berusaha mencari agama Allah yang benar, tidak mau mendengar penjelasan ilahi yang dibawa oleh para rasul alaihimussalam, disamping itu, jika mereka mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepada mereka, mereka mengolok-olokkannya, sehingga wajar kalau amal mereka tertolak dan mereka mendapat sangsi atas kekafiran mereka.

وَقَدِمْنَآ اِلٰى مَا عَمِلُوْا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنٰهُ هَبَاۤءً مَّنْثُوْرًا

Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan,[1] lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan. (25:23).

Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh. (14:18).

Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. (24:39).

Sebagai contoh :

John (misalnya) masuk ke sebuah kebun besar yang bukan miliknya, ia menemukan beragam buah-buahan di dalamnya, lalu ia makan dan minum serta melakukan berbagai perbuatan: mencabut beberapa pohon dan menanam pohon yang lain tanpa seizin pemilik kebun. Sementara Muhsin (misalnya) masuk ke dalam kebun yang sama namun ia berkata pada dirinya sendiri: “Saya tidak akan melakukan apa-apa sebelum saya bertemu dengan pemilik kebun atau orang yang ditugaskan oleh pemilik kebun mewakilinya.” Lalu ia mulai mencarinya. Pada saat bertemu, pemilik kebun marah dan menolak apa yang dilakukan oleh John tapi John tidak peduli dan tetap melakukan apa yang ia kehendaki tanpa izin pemilik kebun. Sedangkan Muhsin mendengarkan dan mentaati semua arahan pemilik kebun. Siapakah yang berhak mendapat penghargaan dari pemilik kebun, John ataukah Muhsin? Apakah John berhak mendapatkan ucapan terima kasih apalagi bayaran atas apa yang telah ia lakukan meskipun baik?

Orang yang berakal pasti berkata bahwa Muhsinlah yang berhak mendapat penghargaan karena ia menuruti arahan dan aturan pemilik kebun, sedangkan John tidak memperolehnya karena perintah dan larangan dari pemilik kebun telah ia ketahui namun ia tak mau peduli, sehingga meskipun ada sebagian perbuatannya dianggap baik tetap saja ia tidak berhak memperoleh penghargaan.

Demikianlah, bumi ini dan semua isinya adalah milik Allah secara mutlak, para rasul-Nya adalah wakil Allah di bumi, orang yang beriman seperti “si Muhsin” yang beramal sesuai petunjuk Allah Penciptanya, dan orang kafir seperti “si John” yang berperilaku tanpa mau mengikuti petunjuk dan syariat Allah dan berpaling dari apa yang telah disampaikan rasul-Nya.

B.   Pintu Islam : Dua Kalimat Syahadat  (بَابُ الإِسْلاَمِ : الشَّهَادَتَانِ)

Tanya : Mengapa Islam menjadikan dua kalimat syahadat sebagai rukun yang pertama?

Jawab: Kalimat syahadatain kita adalah:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إلهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ 

Pengakuan dan pernyataan dengan syahadat pertama berarti: Anda meyakini dan membenarkan bahwa alam semesta ini ada Pencipta yang telah mengadakannya dari ketiadaan, mengatur dan menyempurnakannya, bahwa Dialah satu-satunya yang berhak disembah – tak ada sekutu bagi-Nya – bahwa Anda adalah salah satu ciptaan-Nya. Sedangkan  syahadat kedua berarti Anda beriman, membenarkan dan meyakini bahwa Muhammad adalah utusan Allah swt, Dia mengutusnya dengan membawa petunjuk dan penjelasan tentang hal-hal yang halal yang diridhai-Nya dan penjelasan tentang yang haram yang menyebabkan murka-Nya, bahwa dengan ketaatan Anda mengikuti Muhammad saw berarti Anda telah merealisasikan ketaatan kepada Allah. Dan sudah sama-sama kita ketahui bahwa jika Anda tidak beriman dengan tauhid maka syahadat Anda dapat dikatakan batal atau tidak diterima.

JADI, kita harus mempelajari ilmu tauhid agar syahadat kita diakui, keislaman kita benar, dan agar amal kita diterima di sisi Allah swt.

فَاعْلَمْ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْۢبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِۚ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوٰىكُمْ ࣖ

Maka Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah. (47:19)

شَهِدَ اللّٰهُ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۙ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ وَاُولُوا الْعِلْمِ قَاۤىِٕمًاۢ بِالْقِسْطِۗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (3:18).

Oleh karena itu, ilmu tauhid adalah dasar semua ilmu agama dan sekaligus ilmu yang paling baik.

C.   Kesimpulan (الخُلاَصَةُ)

  • Allah swt tidak akan menerima amal orang-orang kafir, Dia hanya menerima amal mereka yang muslim (beriman kepada Allah sesuai syariat yang dibawa rasul-Nya).
  • Alasannya: karena orang kafir bisa jadi melakukan amal yang baik namun tidak menginginkan keridhaan Pencipta dan Pemilik dirinya bahkan ia tidak peduli apakah Allah ridha atau murka, maka ia berhak dihukum dan tak berhak mendapat pahala.
  • Pintu masuk Islam adalah dua kalimat syahadat. Sedangkan syahadat tidak akan sempurna jika seseorang tidak mengetahui ilmu tauhid. Oleh karenanya ilmu tauhid adalah ilmu paling penting menurut agama Islam.


[1]Yang dimaksud dengan amal mereka disini ialah amal-amal mereka yang baik-baik yang mereka kerjakan di dunia, amal-amal itu tak dibalas oleh Allah karena mereka tidak beriman.

 

Atsar Tauhid dalam Kehidupan

أهَمِّيَّةُ عِلْمِ التَّوْحِيْدِ فِي الحَيَاةِ الدُّنْيَا

Atsar Tauhid dalam Kehidupan

A.    Bahaya Akibat Jahil terhadap Ilmu Tauhid  (أَضْرَارُ الجَهْلِ بِعِلْمِ التَّوْحِيْدِ  )

Tanya: Apa akibat negatif dari kejahilan terhadap ilmu tauhid dalam hidup manusia?

Jawab:

Pertama, orang yang tidak mengenal Penciptanya seperti orang buta di dunia ini, ia tidak tahu mengapa ia diciptakan, atau apa hikmah (tujuan) keberadannya di atas bumi ini. Hidupnya berakhir dalam keadaan ia tidak tahu mengapa ia memulai hidup. Ia keluar dari dunia tanpa tahu mengapa ia dulu masuk ke dalamnya.

اِنَّ اللّٰهَ يُدْخِلُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ ۗوَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا يَتَمَتَّعُوْنَ وَيَأْكُلُوْنَ كَمَا تَأْكُلُ الْاَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَّهُمْ

Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang mukmin dan beramal saleh ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka. (47:12).

Kedua, siapa yang tidak beriman kepada hari akhir, maka ia ditipu oleh dunia, ia jadikan semua cita-cita dan ambisinya adalah bagaimana mewujudkan kepentingannya di dunia sebelum mati, mengambil yang halal dan haram, tidak peduli apakah itu membahayakan orang lain atau tidak karena yang penting adalah kepentingannya. Dengan sikap egois ini masyarakat menjadi cerai berai, interaksi dan hubungan sesama anggota masyarakat menjadi rusak, mereka saling membenci dan memerangi, tidak seperti masyarakat yang beriman dan berpegang teguh dengan agamanya.

Ketiga, bila kejahilan terhadap ilmu tauhid ini merata di masyarakat, maka aqidah atau keyakinan masyarakat akan rusak, lalu amal pun akan rusak, ma’shiat dan dosa tersebar luas, kemudian mengakibatkan turunnya hukuman Allah swt atas ummat Islam yang mengabaikan atau meninggalkan prinsip agama mereka.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (30:41).

B.   Pengaruh Ilmu Tauhid dalam Kehidupan  (ثَرُ عِلْمِ التَّوْحِيْدِ فِي الحَيَاة ِ  )

Tanya: Apakah pengaruh ilmu tauhid dalam kehidupan?

Jawab:

Pertama : orang yang bertauhid dan beriman kepada Allah dan rasul-Nya pasti tahu mengapa Allah swt menciptakannya sehingga ia berada di atas jalan yang lurus, ia mengetahui dari mana awal dan ke mana akhir hidupnya, jauh dari kebutaan dan kesesatan.

اَفَمَنْ يَّمْشِيْ مُكِبًّا عَلٰى وَجْهِهٖٓ اَهْدٰىٓ اَمَّنْ يَّمْشِيْ سَوِيًّا عَلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ

Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapatkan petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus? (67:22).

Kedua, tauhid menjadikan hati-hati manusia bersatu dengan Rabb yang satu, satu kitab, satu risalah, dan satu qiblat, dan iman juga menjadikan manusia saling mencintai dan bersaudara seperti firman Allah swt:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ ࣖ

Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (49:10).

Rasulullah saw bersabda:

مَثَلُ المُؤْمِنِيْنَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالحُمََّى (رَوَاهُ مُسْلِمٌ عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ رضي الله عنه).

Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, saling menyayangi dan saling bersikap lemah lembut adalah seperti satu tubuh, jika salah satu anggota tubuh merasakan sakit maka semua anggota tubuh yang lain akan sulit tidur dan demam. (HR. Muslim dari An-Nu’man bin Basyir ra).

Masyarakat beriman adalah masyarakat yang malakukan ta’awun (saling bekerja sama) dalam kebaikan dan taqwa dimana anggota masyarakatnya saling melarang dari perbuatan dosa dan permusuhan, semua berusaha untuk sukses menggapai ridha Allah, individunya merasa takut untuk berbuat zhalim, mencuri, menipu, membunuh, berzina, menyuap atau menerima suap, berdusta, dengki, ghibah atau perbuatan jahat lain karena ia takut kepada Allah dan takut kepada hari di mana ia harus berhadapan dengan Allah swt untuk mempertanggungjawabkan semua amalnya.

Dan ketika kaum muslimin berpegang teguh dengan tauhid mereka menjadi orang-orang yang terbaik seperti firman-Nya:

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (3:110).

Ketiga, bila iman telah menyebar luas di masyarakat, maka pastilah akan membuahkan amal shalih yang diridhai Allah swt sehingga membuka berbagai pintu kebaikan dan mendatangkan pertolongan Allah dalam menghadapi musuh-musuh mereka.

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ

Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (47:7).

Begitulah dulu kaum muslimin, sebelumnya mereka adalah orang-orang yang lemah dan miskin, namun mereka beriman dan beramal shalih hingga Allah membuka pintu-pintu keagungan di dunia untuk mereka, Allah cukupkan mereka dengan karunia-Nya, dan Allah tolong mereka dari musuh-musuh mereka dengan pertolongan yang gilang-gemilang.

C.   Kesimpulan (الخُلاَصَةُ)

  • Siapa saja yang tidak mengenal tauhid maka ia buta seperti hewan yang mati berkalang tanah dalam keadaan tidak tahu mengapa ia dulu memulai kehidupan, ia meninggalkan dunia tanpa tahu mengapa dulu ia memasukinya.
  • Mereka yang tidak beriman kepada hari akhir tidak ada yang ia pikirkan kecuali pemenuhan kesenangan dunia tanpa peduli halal atau haram. Dengan begitu kehidupan menjadi rusak dan masyarakat pun terpecah belah.
  • Jika ia iman melemah, maka dosa akan bertambah sehingga mungkin saja Allah swt menurunkan azabnya bagi para pendosa.
  • Orang yang beriman mengenal Rabb dan Penciptanya, ia mengetahui mengapa Allah menciptakannya di dunia ini sehingga ia hidup dengan petunjuk dari Allah swt, berjalan di atas jalan yang lurus. Orang yang beriman dengan iman yang benar tidak akan berbuat zalim, mencuri, berzina, atau perbuatan haram lainnya, dengan demikian hidup masyarakat akan baik, anggota masyarakat bersaudara dan solid.
  • Iman itu berbuah amal shalih, membuat ridha Al-Khaliq, sehingga berbagai keberkahan pun Ia bukakan, bantuan-Nya kepada kaum mu’minin pun Ia kucurkan untuk menolong hamba-Nya mengahadapi musuh mereka sebagaiman terjadi dengan salaf shalih.

  

Hud As

 

۞ وَاِلٰى عَادٍ اَخَاهُمْ هُوْدًاۗ قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗۗ اَفَلَا تَتَّقُوْنَ ٦٥ قَالَ الْمَلَاُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ قَوْمِهٖٓ اِنَّا لَنَرٰىكَ فِيْ سَفَاهَةٍ وَّاِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ الْكٰذِبِيْنَ ٦٦ قَالَ يٰقَوْمِ لَيْسَ بِيْ سَفَاهَةٌ وَّلٰكِنِّيْ رَسُوْلٌ مِّنْ رَّبِّ الْعٰلَمِيْنَ ٦٧ اُبَلِّغُكُمْ رِسٰلٰتِ رَبِّيْ وَاَنَا۠ لَكُمْ نَاصِحٌ اَمِيْنٌ ٦٨ اَوَعَجِبْتُمْ اَنْ جَاۤءَكُمْ ذِكْرٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ عَلٰى رَجُلٍ مِّنْكُمْ لِيُنْذِرَكُمْۗ وَاذْكُرُوْٓا اِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاۤءَ مِنْۢ بَعْدِ قَوْمِ نُوْحٍ وَّزَادَكُمْ فِى الْخَلْقِ بَصْۣطَةً ۚفَاذْكُرُوْٓا اٰلَاۤءَ اللّٰهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ٦٩ قَالُوْٓا اَجِئْتَنَا لِنَعْبُدَ اللّٰهَ وَحْدَهٗ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعْبُدُ اٰبَاۤؤُنَاۚ فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ اِنْ كُنْتَ مِنَ الصّٰدِقِيْنَ ٧٠ قَالَ قَدْ وَقَعَ عَلَيْكُمْ مِّنْ رَّبِّكُمْ رِجْسٌ وَّغَضَبٌۗ اَتُجَادِلُوْنَنِيْ فِيْٓ اَسْمَاۤءٍ سَمَّيْتُمُوْهَآ اَنْتُمْ وَاٰبَاۤؤُكُمْ مَّا نَزَّلَ اللّٰهُ بِهَا مِنْ سُلْطٰنٍۗ فَانْتَظِرُوْٓا اِنِّيْ مَعَكُمْ مِّنَ الْمُنْتَظِرِيْنَ ٧١ فَاَنْجَيْنٰهُ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗ بِرَحْمَةٍ مِّنَّا وَقَطَعْنَا دَابِرَ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا وَمَا كَانُوْا مُؤْمِنِيْنَ ࣖ ٧٢

“Dan (kami telah mengutus) kepada kaum 'Aad saudara mereka, Huud. ia berkata, ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?’ Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata, ‘Sesungguhnya Kami benar benar memandang kamu dalam Keadaan kurang akal dan Sesungguhnya Kami menganggap kamu Termasuk orang orang yang berdusta.’ Huud herkata, ‘Wahai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikit pun, tetapi aku ini adalah utusan dari Tuhan semesta alam. Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu.’ Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu? dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Mereka berkata, ‘Apakah kamu datang kepada Kami, agar Kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami? Maka datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada Kami jika kamu Termasuk orang-orang yang benar.’ Ia berkata, ‘Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Tuhanmu. Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang Nama-nama (berhala) yang kamu beserta nenek moyangmu menamakannya, Padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu? Maka tunggulah (azab itu), Sesungguhnya aku juga Termasuk orang yamg menunggu bersama kamu.’ Maka Kami selamatkan Huud beserta orang-orang yang bersamanya dengan rahmat yang besar dari Kami, dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan Tiadalah mereka orang-orang yang beriman.” (Al-A’raf: 65-72)

Pada penggalan surat Al-Qur'an ini terdapat beberapa pelajaran dan ibrah mengenai kisah Huud as. dan tanggapan kaumnya terhadap dakwahnya, antara lain:

1.               Pendekatan maksimal yang dilakukan oleh Huud as. terhadap kaumnya yang masih musyrik. Di mana ia menyeru kaumnya dengan ungkapan, “Wahai kaumku,” untuk menggait simpati hati mereka dan untuk mengingatkan ikatan yang menghimpun mereka.

2.               Mempertegas bahwa tauhid, penghambaan kepada Allah swt., dan pengingkaran terhadap kesyirikan. Karena kesyirikan itu kedustaan kepada Allah swt.

3.               Huud as. adalah tokoh pembaru yang tulus; ia tidak mengharapkan balasan berupa jabatan, harta, atau prestise yang menghiasi jiwa dan mempermainkan pikiran mereka.

4.               Mengingatkan bahwa hujan lebat yang dapat mereka manfaatkan untuk minum dan bercocok tanam, adalah balasan atas istighfar dan ketaatan. Bukan karena kesyirikan, kekufuran terhadap nikmat, dan kedurhakaan. Juga penambahan kekuatan fisik dan akal tidak terjadi kecuali karena keistiqamahan dan sikap menjauhi kerusakan. Sebab semua itu terjadi karena rekayasa Allah swt. dan kehendak-Nya.

5.               Bukti kebenaran Huud as. terdapat pada syari’at dan ajaran-ajarannya yang luhur, bukan pada mu’jizat-mu’jizat fisik yang selalu dituntut oleh kebanyakan orang, tetapi setelah datang mereka mendustakannya. Dan, bukti yang berupa ajaran serta realitas yang terjadi dapat menyingkap fithrah yang sehat serta menggugah nurani.

6.               Keberanian Huud as. yang luar biasa. Di mana ia sendirian melawan tokoh-tokoh kemusyrikan dengan argument-argumen yang dapat meruntuhkan akidah mereka serta menampakkan kebodohan akal mereka. Inilah keimanan, keperyaan diri, keyakinan pada pertolongan Allah swt., dan ketentraman menunggu kemenangan dari-Nya. Allah swt. berfirman, “Sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.” (Huud: 55)

7.               Akhir perjalanan orang-orang zhalim selalu tragis, terutama jika mereka menentang para rasul dan menghalangi sampainya petunjuk kepada umat manusia.

8.               Cara hidup orang-orang angkuh adalah menyeru pada kejahatan serta kesesatan. Dan, cara hidup seperti itu akan berujung pada kebinasaan.

9.               Laknat di dunia selalu menyertai orang-orang yang berbuat sewenang-wenang, melakukan kerusakan, dan kufur.

10.            Siksa Allah swt. di akhirat lebih keras dan lebih menyakitkan. Inilah kerugian yang nyata.

Nabi Huud as. memulai dakwah dengan menyeru kaumnya agar meng-esakan Allah swt. Namun ia disambut dengan cacian, pengingkaran, dan ejekan. Maka ia pun menjelaskan bahwa dirinya adalah utusan Tuhan yang menciptakan dan menguasai alam semesta. Ia juga mengingatkan mereka tentang kisah Nabi Nuuh as. dan nikmat-nikmat yang dianugerahkan kepada mereka. Tetapi mereka malah bertambah ingkar dan menantang siksa yang diancamkan. Maka siksa itu pun diturunkan kepada mereka, sehingga mereka tercabut sampai ke akar-akarnya.

Pada penggalan Surat di atas dapat kita ketahui hal-hal berikut:

1.            Seruan pada tauhid yang diserukan oleh setiap nabi adalah inti dakwah Nabi Huud as.

2.            Tokoh-tokoh kaumnya, yaitu para pembesar adalah orang-orang yang paling cepat mendustakannya. Sebab merekalah yang paling diuntungkan dengan terjadinya kerusakan.

3.            Mereka menuduhnya bodoh dan tidak memahami urusan. Sebab keshalihan yang diserukannya dapat menjadi batu sandungan bagi kesewenang-wenangan dan kezhaliman yang memberikan keuntungan banyak kepada mereka.

4.            Nabi Huud as. membalas mereka dengan kebaikan dan memberikan penjelasan kepada mereka bahwa ia bukan orang yang mengada-ada, sebab sebelumnya Allah swt. mengutus Nuuh as. Dan, mereka adalah generasi setelah kaum Nabi Nuuh as. yang mendapat nikmat melimpah.

5.            Asingnya tauhid bagi mereka adalah pertanda bahwa kebatilan telah menguasai jiwa mereka, sehingga berubah menjadi kebenaran yang tidak dapat diperdebatkan dan ditentang.

6.            Pengorbanan mereka dalam membela kebatilan, meski berujung pada kebinasaan. Serta keheranan Nabi Huud as terhadap sikap mereka, sebab kebatilan mereka merupakan utopia yang diada-adakan dan nama-nama yang tidak mempunyai makna.

Kebatilan Selalu Mengantar Pada Kehancuran dan Hilangnya Nikmat.

“Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata, ‘Sesungguhnya Kami benar benar memandang kamu dalam Keadaan kurang akal dan Sesungguhnya Kami menganggap kamu Termasuk orang orang yang berdusta.’ Huud herkata, ‘Wahai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikit pun, tetapi aku ini adalah utusan dari Tuhan semesta alam. Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu.’ Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu? dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Mereka berkata, ‘Apakah kamu datang kepada Kami, agar Kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami? Maka datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada Kami jika kamu Termasuk orang-orang yang benar.’ Ia berkata, ‘Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Tuhanmu. Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang Nama-nama (berhala) yang kamu beserta nenek moyangmu menamakannya, Padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu? Maka tunggulah (azab itu), Sesungguhnya aku juga Termasuk orang yamg menunggu bersama kamu.’ Maka Kami selamatkan Huud beserta orang-orang yang bersamanya dengan rahmat yang besar dari Kami, dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan Tiadalah mereka orang-orang yang beriman.” (Al-A’raf: 65-72)

Pertama: Allah swt. memberitahu kepada kita bahwa ia mengutus Nabi Huud as. kepada kaum ‘Aad. Allah swt. menyebutnya dengan ungkapan, ‘Saudara mereka’ seolah-olah ada pertalian nasab, sebagaimana ungkapan, ‘wahai saudara bangsa Arab.’ Untuk menunjukkan kesamaan kebangsaan.

Nabi Huud as. menyeru mereka agar beribadah kepada Allah swt., sebagaimana yang juga diserukan oleh seluruh rasul. Kemudian ia mengatakan kepada mereka, “Apakah kalian tidak takut?” melakukan kesyirikan dan kemaksiatan yang dimurkai Allah swt.

Ini merupakan ungkapan pengingkaran Nabi Allah; Huud atas adanya kesyirikan dan kemaksiatan di tengah kaumnya. Padahal sebelumnya Allah swt. menurunkan siksa kepada kaum Nabi Nuuh as. Allah swt. juga berfirman dalam Surat Huud, “Apakah kalian tidak memikirkan (nya).” (Huud: 15) Artinya, apakah kalian tidak mempunyai akal yang dapat mencegah kalian dari kedurhakaan kepada Allah swt. dan pembangkangan terhadap perintah-Nya?

Allah swt. menggunakan dua redaksi yang berbeda untuk meragamkan manfaat dan mencegah kejenuhan pembaca. Dan, inilah kebiasaan Al-Qur'an dalam mengungkapkan kisah.

Kedua: Al-Mala’ adalah para bangsawan dan pembesar. Dan, kaum bangsawan ini dibatasi dengan sifat ‘yang kafir,’ tidak sebagaimana penyebutan mala’ pada kaum Nabi Nuuh as. Karena sebagian bangsawan dari kaum Nabi Huud as. beriman dengan risalah yang dibawanya. Sementara bangsawan dari kaum Nabi Nuuh as. tidak ada yang beriman. Redaksi seperti ini mirip dengan redaksi dalam firman Allah swt.,

وَقَالَ الْمَلَاُ مِنْ قَوْمِهِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَكَذَّبُوْا بِلِقَاۤءِ الْاٰخِرَةِ وَاَتْرَفْنٰهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۙ مَا هٰذَآ اِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْۙ يَأْكُلُ مِمَّا تَأْكُلُوْنَ مِنْهُ وَيَشْرَبُ مِمَّا تَشْرَبُوْنَ

“Dan berkatalah pemuka-pemuka yang kafir di antara kaumnya dan yang mendustakan akan menemui hari akhirat (kelak) dan yang telah Kami mewahkan mereka dalam kehidupan di dunia, ‘(Orang) ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, Dia Makan dari apa yang kamu makan, dan meminum dari apa yang kamu minum’.” (Al-Mu’minun: 33)

Bisa juga pembatasan dengan sifat tersebut dimaksudkan untuk mencela, bukan untuk tujuan lain.

Kaum ‘Aad mensifati Nabi Allah; Huud dengan ungkapan, “Sesungguhnya Kami benar benar memandang kamu dalam Keadaan kurang akal,” untuk memberi kesan bahwa Nabi Huud as. benar-benar bodoh dan tidak terlepas dari kebodohan. Tidak cukup sebatas itu, mereka menambah ejekan dengan mengutarakan prasangka bahwa ia pendusta yang mengaku-aku mendapat risalah dari Allah swt. Dan, ungkapan mereka, “Sesungguhnya Kami menganggap kamu Termasuk orang orang yang berdusta,” dalam bentuk jama’ (plural), memberikan kesan bahwa mereka mendustakan seluruh rasul, di mana Nabi Huud as. salah satu dari mereka.

Nabi Huud as. membalas mereka dengan sangat sopan dan penuh maaf, tidak membalas mereka dengan ejekan, meski ia mengetahui lawannya adalah manusia yang paling sesat dan paling bodoh. Dan, adab yang baik dan akhlak yang mulia seperti ini sangat layak dimiliki oleh para pengusung dakwah.

Ia menjelaskan kepada mereka bahwa dirinya tidak terjangkiti kebodohan, namun ia adalah utusan Tuhan alam semesta, yang bertugas menyampaikan risalah Allah swt., pemberi nasihat yang tulus pada kebahagiaan, dan terpercaya dalam menyampaikan wahyu dari Allah swt.

Ia menyambung pernyataan dengan ungkapan, “Sesungguhnya aku tidak berdusta kepada kalian, sebagaimana yang biasa kalian ketahui dalam perjalanan hidupku. Dan, jika akutdk berdusta kepada kalian, maka bagaimana mungkin aku akan berdusta kepada Allah swt.?”

Ketiga:  “Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu?” Artinya, apakah kalian mendustakan dan heran kalau mendapat nasihat dari Tuhan melalui lisan seorang laki-laki dari kalangan kalian? Kemudian ia mengingatkan mereka dengan karunia Allah swt. yang telah diberikan kepada mereka, dengan harapan ada yang dapat mengambil manfaat dari peringatan tersebut. Ia menyeru mereka agar menghayati bahwa Allah swt. menjadikan mereka sebagai khalifah di muka bumi setelah kaum Nabi Nuuh as. dan memberi beberapa keunggulan dari generasi pendahulu, yaitu kekuatan fisik, keluasan kekuasaan, dan penyebaran peradaban. Kemudian menambahkan seruan agar mereka mau merenungkan nikmat-nikmat Allah swt. secara umum, sehingga mendapatkan keberuntungan. Seruan seperti ini mirip dengan seruan yang disampaikan oleh Nabi Nuuh, “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita? Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, Kemudian Dia mengambalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya. Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang Luas di bumi itu.” (Nuuh: 15 – 20)

Ia meragamkan komunikasi dengan mereka dan mahir dalam menggunakan metode dakwah. Sekali waktu memberikan ancaman, sekali waktu memberi kabar gembira, sekali waktu mengingatkan mereka dengan nikmat-nikmat Allah swt., dan sekali waktu menyampaikan ancaman siksa-Nya.

Keempat: Namun jawban mereka setelah mendapatkan itu semua adalah, “Apakah kamu datang kepada Kami, agar Kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami?”

Mereka mengingkari Huud as. yang mengajarkan ketauhidan dan meninggalkan kesyirikan serta berhala-berhala yang telah disembah oleh nenek moyang mereka. Setelah itu mereka menantang dengan ungkapan, “Maka datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada Kami jika kamu Termasuk orang-orang yang benar.” dalam seruan dan pengakuanmu, bahwa kamu adalah utusan Tuhan alam semesta.

Rasul menjawab tantangan terbuka tersebut dengan keyakinan penuh terhadap janji Tuhan-nya dan keperyaan utuh pada kemenangan yang dijanjikan-Nya, “Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Tuhanmu.”

Kemurkaan disebut setelah siksa untuk menjelaskan bahwa siksa tersebut dimaksudkan sebagian balasan yang pasti, yang tidak mungkin dihilangkan. Kita berlindung kepada Allah swt. dari siksa yang disertai kemurkaan.

Siksa yang dijanjikan oleh Huud as. adalah siksa yang dijelaskan oleh Allah swt. dalam Surat Al-Qamar, yaitu firman Allah swt., “Kaum 'Aad pun mendustakan(pula). Maka Alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus menerus, yang menggelimpangkan manusia seakan-akan mereka pokok korma yang tumbang. Maka Alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku.” (Al-Qamar: 18-21)

Huud as. mengingkari mereka dengan ungkapan, “Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang Nama-nama (berhala) yang kamu beserta nenek moyangmu menamakannya, Padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu? Maka tunggulah (azab itu), Sesungguhnya aku juga Termasuk orang yamg menunggu bersama kamu.”

Akhirnya Allah swt. menyelamatkan Huud as. berserta orang-orang yang beriman dan menghancurkan musuh-musuhnya dengan angin, “yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.” (Al-Ahqaf: 25)

***

Allah swt. berfirman, “Dan kepada kaum 'Ad (kami utus) saudara mereka, Huud. ia berkata, ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. kamu hanyalah mengada-adakan saja. Hai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan(nya)?’ Dan (dia berkata), ‘Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.’ Kaum 'Ad berkata, ‘Hai Huud, kamu tidak mendatangkan kepada Kami suatu bukti yang nyata, dan Kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan Kami karena perkataanmu, dan Kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu. Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan Kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu.’ Huud menjawab, ‘Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan, Dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus. Jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu. dan Tuhanku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikitpun. Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha pemelihara segala sesuatu.’ Dan, tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Huud dan orang-orang yang beriman bersama Dia dengan rahmat dari kami; dan Kami selamatkan (pula) mereka (di akhirat) dari azab yang berat. Dan Itulah (kisah) kaum 'Ad yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Tuhan mereka, dan mendurhakai Rasul-rasul Allah dan mereka menuruti perintah semua Penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang (kebenaran). Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan (begitu pula) di hari kiamat. Ingatlah, Sesungguhnya kaum 'Ad itu kafir kepada Tuhan mereka. ingatlah kebinasaanlah bagi kaum 'Ad (yaitu) kaum Huud itu.” (Huud: 50-60)

Dengan demikian Nampak jelaslah bahwa persoalan yang diperselisihkan oleh Huud as. dan kaumnya adalah persoalan ketuhanan dan ketundukan hanya kepada Tuhan swt. Dan, lebih jelas lagi terlihat dalam firman Allah swt., “Dan Itulah (kisah) kaum 'Ad yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Tuhan mereka, dan mendurhakai Rasul-rasul Allah dan mereka menuruti perintah semua Penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang (kebenaran).” (Huud: 59)

Persoalan mereka adalah kedurhakaan terhadap perintah para rasul dan ketundukan pada perintah orang-orang yang zhalim. Padahal Islam artinya ketaatan pada perintah para rasul –karena perintah para rasul adalah perintah Allah swt.- dan penentangan pada perintah orang-orang zhalim. Inilah persimpangan jalan antara kaum jahiliyah dan Islam, antara kekufuran dan keimanan.

Seruan ketauhidan sejak awal menegaskan pembebasan dari setiap ketundukan kepada selain Allah swt., pembangkangan terhadap kekuasaan para durjana yang mengaku tuhan, dan menganggap peleburan kepribadian karena mengikuti orang-orang yang angkara murka adalah criminal, kesyirikan, serta kekufuran yang layak mendapatkan kebinasaan di dunia dan siksa di akhirat. Sebab Allah swt. menciptakan manusia dalam keadaan merdeka dan tidak menghamba kepada seorang pun dari makhluk-Nya, baik pemimpin atau siapa saja. Inilah kemuliaan yang dikaruniakan Allah swt. kepada mereka. Apabila mereka tidak menjaganya, maka tiada kemuliaan dan tiada keselamatan bagi mereka di sisi Allah swt.

Tidak mungkin manusia mengklaim punya kemuliaan dan memili kemanusiaan, sementara ia menghambakan diri kepada selain Allah swt.

Orang-orang yang rela menghamba kepada sesama tidak bisa dimaklumi, sebab jumlah mereka banyak dan jumlah orang-orang yang disembah. Jika mereka mau merdeka, maka mereka akan berkorban untuk membebaskan diri dari kehinaan diperbudak oleh para diktator.

Kaum ‘Aad telah binasa karena mengikuti intruksi para dictator yang angkuh .. mereka binasa dengan diiringi laknat di dunia dan akhirat, “Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan (begitu pula) di hari kiamat.” Tidak hanya sampai di situ, mereka tidak dibiarkan binasa sebelum tercatat dalam sejarah, hingga menjadi peringatan yang dikumandangkan ke segenap umat manusia, “Ingatlah, sesungguhnya kaum Ad itu kafir kepada Tuhan mereka.” Kemudian ditegaskan lagi dengan doa agar mereka binasa. Dan, pernyataan itu dialamatkan secara tegas kepada mereka, “Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Ad (yaitu) kaum Hud itu.”

Pemaparan perjalanan dakwah dengan cara seperti ini dalam Al-Qur'an, dimaksudkan untuk merumuskan Garis Besar pergerakan aqidah di sepanjang masa. Bukan hanya untuk gerakan di masa lalu, tetapi juga untuk masa depan hingga akhir zaman. Bukan hanya untuk jamaah muslimah pertama yang disebut oleh Al-Qur'an dan yang bergerak melawan kejahiliyahan saat itu, tetapi untuk setiap jamaah muslimah yang menghadapi kejahiliyahan hingga akhir zamam. Inilah salah satu yang menjadikan Al-Qur'an sebagai buku dakwah Islam sepanjang masa. Buktinya adalah pergerakan yang ada di setiap masa.

 

Referensi Belajar Mandiri

Sama dengan referensi sebelumnya

 

Kegiatan Pendamping

1.     Menyiapkan rekaman audio atau audio visual.

2.     Menyiapkan satu bagian dalam perpustakaan yang berisi buku-buku mengenai kisah para nabi.

3.     Menyiapkan peta dan gambar untuk memperjelas berbagai tempat yang menjadi saksi sejarah.

4.     Menulis berbagai pelajaran yang diambil dari kisah Huud as. dan memuatnya dalam surat kabar atau majalah.

5.     Menyelenggarakan perlombaan ilmiah antar para pemuda.

6.     Menyelenggarakan pelatihan mengenai seni berdialog.

7.     Menghafal ayat-ayat yang terkait dengan tema.

8.     Menugaskan para khatib agar menyampaikan pelajaran yang diambil dari kisah Huud as.

9.     Menyelenggarakan seminar pekanan bersama anak-anak di rumah, mengenai sejarah hidup Nabi Huud as.

10.  Menyiapkan ceramah mengenai manhaj para nabi dalam berdakwah di jalan Allah swt.

 

Evaluasi

1.     Apakah manusia dapat mengambil manfaat dari ajaran Islam, sepeninggal Nabi Nuuh as.?

2.     Jelaskan janji Allah swt. untuk Nabi Nuuh as. dan anakcucunya yang muslim?

3.     Bagaimana posisi kaum ‘Aad dari umat-umat jahiliyah?

4.     Di manakah domisili kaum ‘Aad?

5.     Mengapa Nabi Huud as. mengawali dakwah dengan melakukan pendekatan kepada kaumnya?

6.     Pelajaran dakwah apa yang anda ambil dari pendekatan yang dilakukan Nabi Huud as.?

7.     Apakah anda mengharapkan imbalan pangkat, harta, dan prestise dari dakwahmu?

8.     Sebutkan macam-macam siksa yang ditimpakan oleh Allah swt. untuk kaum ‘Aad?

9.     Apakah anda komitmen melakukan istighfar, ketaatan dan syukur atas berbagai nikmat?

10.  Apakah sikap anda terhadap syetan manusia dan jin?

11.  Apakah anda menegaskan ketauhidan dan membuang jauh kemusyrikan dalam dakwah?

12.  Apakah anda menghiasi diri dengan keberanian, ketenangan, dan keyakinan penuh pada janji Allah swt.?

13.  Apakah anda melakukan dakwah dengan cara yang baik?

14.  Apakah anda bersabar menghadapi obyek dakwah?

 

Ilmu Tauhid