Thursday, March 19, 2026

Wahyu

Tidak diragukan lagi bahwa Alloh Swt telah memilih para rasul dari manusia untuk menyampaikan wahyu dan diturunkan kepada mereka kitab-kitab untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya dengan izin Alloh Swt.

Alloh berfirman:

۞ وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّكَلِّمَهُ اللّٰهُ اِلَّا وَحْيًا اَوْ مِنْ وَّرَاۤئِ حِجَابٍ اَوْ يُرْسِلَ رَسُوْلًا فَيُوْحِيَ بِاِذْنِهٖ مَا يَشَاۤءُ ۗاِنَّهٗ عَلِيٌّ حَكِيْمٌ ٥١

“Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang dia kehendaki. Sesungguhnya dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana”. (Qs.42:51)

Bahwa Muhammad Saw adalah penutup para rasul, Kitabnya Al-Qur’an adalah kitab terakhir, Kitab ini dengan tabiatnya menolak dari buatan manusia dan memanggil dengan lisan keadaannya adalah misi qadha dan qadr.  Sehingga jika ditemukan terlempar di padang pasir niscaya yang melihat itu yakin bahwa tidak ada di bumi ini sumbernya dan tempat tumbuhnya. Tetapi hanyalah dari langit yang tinggi tempat naik dan turunnya.[1]

وَاِنَّهٗ لَتَنْزِيْلُ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۗ ١٩٢ نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الْاَمِيْنُ ۙ ١٩٣ عَلٰى قَلْبِكَ لِتَكُوْنَ مِنَ الْمُنْذِرِيْنَ ۙ ١٩٤ بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِيْنٍ ۗ ١٩٥ وَاِنَّهٗ لَفِيْ زُبُرِ الْاَوَّلِيْنَ ١٩٦

“Dan Sesungguhnya Al Quran Ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta Alam, Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, Dengan bahasa Arab yang jelas. Dan Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar (tersebut) dalam kitab-kitab orang yang dahulu”.(Qs.26:192-196)

Bukanlah kitab ini suatu yang bid’ah (baru) dari kitab-kitab sebelumnya dan juga bukan rasul-rasul yang diturunkan kepadanya adalah bid’ah tetapi ia merupakan sunnatulloh dengan para rasul sebelumnya.

Firman Alloh :

۞ اِنَّآ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ كَمَآ اَوْحَيْنَآ اِلٰى نُوْحٍ وَّالنَّبِيّٖنَ مِنْۢ بَعْدِهٖۚ وَاَوْحَيْنَآ اِلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَالْاَسْبَاطِ وَعِيْسٰى وَاَيُّوْبَ وَيُوْنُسَ وَهٰرُوْنَ وَسُلَيْمٰنَ ۚوَاٰتَيْنَا دَاوٗدَ زَبُوْرًاۚ ١٦٣ وَرُسُلًا قَدْ قَصَصْنٰهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلًا لَّمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ ۗوَكَلَّمَ اللّٰهُ مُوْسٰى تَكْلِيْمًاۚ ١٦٤

“Sesungguhnya kami Telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana kami Telah memberikan wahyu kepada Nuh dan Nabi-Nabi yang kemudiannya, dan kami Telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. dan kami berikan Zabur kepada Daud. Dan (Kami Telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh Telah kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak kami kisahkan tentang mereka kepadamu. dan Allah Telah berbicara kepada Musa dengan langsung”. Qs. 4:163-164.

Bukanlah dalam turunnya wahyu kepada rasul Saw sesuatu yang mengajak kepada ketakjuban dan keingkaran terlebih dalam zaman ini yang dikenal dengan zaman ilmu dan inovasi baru yang terbilang luar biasa dalam era modern. Di atas itu sungguh telah dikabarkan terjadinya wahyu yang benar Nabi Muhammad Saw dan apa yang dikabarkan itu merupakan kebenaran mutlak dan inilah dituntut.  Dalil yang menunjukan kebenaran dan terjaganya mukjizat ini perkataan Alloh kepada hamba-Nya: “Benar hamba-Ku dari apa-apa disampaikan dari-Ku”.

Oleh karenanya Alloh memberi wahyu kepada Nabi-Nya dengan firman-Nya:

اَكَانَ لِلنَّاسِ عَجَبًا اَنْ اَوْحَيْنَآ اِلٰى رَجُلٍ مِّنْهُمْ اَنْ اَنْذِرِ النَّاسَ وَبَشِّرِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنَّ لَهُمْ قَدَمَ صِدْقٍ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۗ قَالَ الْكٰفِرُوْنَ اِنَّ هٰذَا لَسٰحِرٌ مُّبِيْنٌ ٢

“Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka: "Berilah peringatan kepada manusia". (Qs.10:2)

Karenanya apa yang dimaksud dengan wahyu:

Wahyu adalah kata masdar dikatakan saya memberi wahyu: kata disini dengan apa yang disembunyikan dari yang lain. Kata disini memiliki dua pengertian: yakni sembunyi dan cepat. Jika disebutkan dalam maknanya adalah informasi yang tersembunyi yang cepat lagi khusus kepada siapa yang ditujukan kepadanya dengan merahasiakannya dari orang lain. Ini pengertian dari masdar (wahyu, terj). Sebagaimana berlaku kepada orang yang menerima wahyu. Dengan makna isim maf’ul.[2]

Menurut istilah : “Informasi dari Alloh Swt kepada siapa yang terpilih dari hamba-Nya dengan apa yang dinginkan kepadanya dengan hidayah dan ilmu dengan cara rahasia, sembunyi di luar kebiasaan manusia”.[3]

Sebagaimana juga didefinisikan oleh Muhammad Abduh dalam risalah tauhidnya dengan “pengetahuan dengan kesungguhan personil dalam dirinya dengan keyakinan bahwa pengetahuan itu berasal dari Alloh baik dengan perantara maupun tidak”.

Pengertian diatas ini dengan masdar (al-wahyu, terj) dan dengan makna isim maf’uil yakni pemberi wahyu adalah perkataan Alloh Swt yang diturunkan kepada Nabi dari Nabi-Nabi-Nya.

Wahyu menurut bahasa memiliki macam-macam pengertian:

1.     Ilham fitrah atau ghariz manusia atau hewan. Firman Alloh:

وَاَوْحٰى رَبُّكَ اِلَى النَّحْلِ اَنِ اتَّخِذِيْ مِنَ الْجِبَالِ بُيُوْتًا وَّمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُوْنَۙ ٦٨

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia". Qs.16:68

2.     Isyarat dengan simbol atau isyarat.

فَخَرَجَ عَلٰى قَوْمِهٖ مِنَ الْمِحْرَابِ فَاَوْحٰٓى اِلَيْهِمْ اَنْ سَبِّحُوْا بُكْرَةً وَّعَشِيًّا ١١

“Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka..”. Qs.19:11.

3.     Bisikan syetan dan meliputinya dengan kejahatan dalam diri manusia.

وَلَا تَأْكُلُوْا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللّٰهِ عَلَيْهِ وَاِنَّهٗ لَفِسْقٌۗ وَاِنَّ الشَّيٰطِيْنَ لَيُوْحُوْنَ اِلٰٓى اَوْلِيَاۤىِٕهِمْ لِيُجَادِلُوْكُمْ ۚوَاِنْ اَطَعْتُمُوْهُمْ اِنَّكُمْ لَمُشْرِكُوْنَ ࣖ ١٢١

 

“Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, Sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik”. Qs.6:121.

Wahyu disampaikan melalui perantara jibril as karena dia sebagai pembawa wahyu dan wahyu juga disampaikan tidak melalui perantara.

Model pertama ini adalah model yang masyhur dan paling banyak dan wahyu Al-Qur’an semuanya dengan model seperti ini dan ini dikenal dengan wahyu jalli (wahyu yang jelas). Firman Alloh :

نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الْاَمِيْنُ ۙ ١٩٣ عَلٰى قَلْبِكَ لِتَكُوْنَ مِنَ الْمُنْذِرِيْنَ ۙ ١٩٤ بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِيْنٍ ۗ ١٩٥

“Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, Dengan bahasa Arab yang jelas”. Qs.26:193-195

Adapun model kedua yang tidak melalui perantara adalah :

a.      Diantaranya perkataan manusia antara Alloh dan hamba-nya tanpa perantara langsung sebagaimana yang terjadi dengan nabi Musa as. Firman Alloh :

وَلَمَّا جَاۤءَ مُوْسٰى لِمِيْقَاتِنَا وَكَلَّمَهٗ رَبُّهٗۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِيْٓ اَنْظُرْ اِلَيْكَۗ قَالَ لَنْ تَرٰىنِيْ وَلٰكِنِ انْظُرْ اِلَى الْجَبَلِ فَاِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهٗ فَسَوْفَ تَرٰىنِيْۚ فَلَمَّا تَجَلّٰى رَبُّهٗ لِلْجَبَلِ جَعَلَهٗ دَكًّا وَّخَرَّ مُوْسٰى صَعِقًاۚ فَلَمَّآ اَفَاقَ قَالَ سُبْحٰنَكَ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاَنَا۠ اَوَّلُ الْمُؤْمِنِيْنَ ١٤٣

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan kami) pada waktu yang Telah kami tentukan dan Tuhan Telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar Aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku,..(Qs.7:143)

وَكَلَّمَ اللّٰهُ مُوْسٰى تَكْلِيْمًاۚ ١٦٤

“Dan Allah Telah berbicara kepada Musa dengan langsung”. (Qs.4:164)

Sebagaimana ditetapkan bahwa Rasul Saw menerima kewajiban sholat lima waktu dari Alloh secara langsung malam lailatul isra dan mi’raj.

b.     Model seperti ini pula (yang tidak melalui perantara) adalah mimpi yang benar dalam tidurnya para Nabi .

Dari Aisyah r.a berkata: Permualaan yang dimulai Rasul Saw adalah mimpi yang benar dalam tidurnya. Bahwasanya Ia tidak melihat kecuali seperti falaq shubuh.[4] Dan tidak ada sesuatu apapun dalam Al-Qur’an dalam model ini tapi turun semuanya secara hidup dengan perantara Jibril as.

Hal ini menunujukan bahwa mimpi benar para Nabi dalam tidurnya merupakan wahyu dan wajib diikuti apa yang disampaikan olah Al-Qur’an. Seperti kisah Ibrahim ketika melihat dalam mimpinya bahwa ia menyembelih anaknya Ismail as.

Firman Alloh:

قَالُوا ابْنُوْا لَهٗ بُنْيَانًا فَاَلْقُوْهُ فِى الْجَحِيْمِ ٩٧ فَاَرَادُوْا بِهٖ كَيْدًا فَجَعَلْنٰهُمُ الْاَسْفَلِيْنَ ٩٨ وَقَالَ اِنِّيْ ذَاهِبٌ اِلٰى رَبِّيْ سَيَهْدِيْنِ ٩٩ رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ ١٠٠ فَبَشَّرْنٰهُ بِغُلٰمٍ حَلِيْمٍ ١٠١ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ ١٠٢ فَلَمَّآ اَسْلَمَا وَتَلَّهٗ لِلْجَبِيْنِۚ ١٠٣ وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُ ۙ ١٠٤ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّءْيَا ۚاِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ ١٠٥ اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰۤؤُا الْمُبِيْنُ ١٠٦ وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ ١٠٧

“Dan Ibrahim berkata:"Sesungguhnya Aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". Tatkala keduanya Telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, Sesungguhnya kamu Telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya Ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (Qs.37:99-107).

Maka lihatlah bagaimana Bapak para Nabi Ibrahim as mendahulukan untuk menyembelih anaknya yang tunggal saat itu, jika sendainya mimpi ini bukan wahyu dari Alloh kenapa harus diikuti? Kemudian lihatlah bagaimana pertolongan Alloh ia dapatkan keteika ia melaksanakan perintah Alloh maka Alloh turunkan penggantinya dari langit.

وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُ ۙ ١٠٤ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّءْيَا ۚاِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ ١٠٥ اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰۤؤُا الْمُبِيْنُ ١٠٦ وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ ١٠٧

104.  Kami memanggil dia, “Wahai Ibrahim,

105.  sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.” Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.

106.  Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.

107.  Kami menebusnya dengan seekor (hewan) sembelihan yang besar.650)

650) Peristiwa itu menjadi dasar disyariatkannya penyembelihan hewan kurban pada hari raya Iduladha. QS. Ash-Shafat

Mimpi yang benar masih ada bagi orang-orang yang beriman walaupun bukan wahyu sebagaimana Rasul Saw telah menyampaikannya: “Wahyu sudah berhenti dan tersisa kabar gembira, yakni mimpi orang beriman”.[5]

Apa yang diturunkan Jibril as dari Al-Qur’an dan bagaimana mengambilnya ?

Yang disepakati oleh ulama bahwa Jibril mengambil Al-Qur’an dari Alloh mendengar secara lafal dan makna dari awal Al-Fatihah sampai akhir surat An-Nas. Jibril dan Muhammad Saw tidak berperan dalam pembuatan Al-Qur’an dan penyusunannya tetapi  yang membuat dan menyusunnya pertama adalah Alloh Swt. Karenanya, Al-Qur’an ini hanya dinisbahkan kepada Alloh saja bukan selain-Nya  dan akan berpegang dengannya Jibril, Muhammad dan Jutaan manusia setelah keduanya dari zaman diturunkannya Al-Qur’an sampai hari Qiyamat.

Baihaqi mengatakan dalam makna firman Alloh:

قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِّجِبْرِيْلَ فَاِنَّهٗ نَزَّلَهٗ عَلٰى قَلْبِكَ بِاِذْنِ اللّٰهِ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَّبُشْرٰى لِلْمُؤْمِنِيْنَ ٩٧

97.  Katakanlah (Nabi Muhammad), “Siapa yang menjadi musuh Jibril?” Padahal, dialah yang telah menurunkan (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan izin Allah sebagai pembenaran terhadap apa (kitab-kitab) yang terdahulu, dan petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 97)

Yang beliau inginkan wallohu a’lam: “Sesungguhnya Kami membacakan Al-Qur’an kepada malaikat dan Kami memberi pemahaman kepadanya dan Kami menurunkannya dengan apa yang dia dengar”. Maksudnya bahwa Jibril mengambil Al-Qur’an dari Alloh hanya mendengar, hal ini didukung dengan apa yang diriwayatkan oleh At-Tabrani dari hadits Nawas bin Sam’an  sampai kepada Nabi Saw (marfu’): “Apabila Alloh berfirman dengan wahyu, langit mulai keras bergemuruh takut kepada Alloh dan apabila penduduk langit mendengar, seraya menunduk dan sujud. Yang pertama dari mereka yang mengangkat kepalanya adalah jibril, kemudian Allah mengatakan wahyu kepadanya dengan apa yang Alloh inginkan hingga selesai, kemudian jibril melewati langit dan penduduk langit pun bertanya jepadanya, apa Rabb Kami katakan ? Ia menjawab: bahwa ia katakan itu kebenaran sampai selesai sebagaimana diperintahkan.

Kesimpulan:

Bahwa Jibril mengambil Al-Qur’an dari Alloh Swt dengan lafal dan maknanya dengan mendengar dan ini pendapat dari ahlus sunnah waljama’ah.

Firman Alloh:

وَاِنَّكَ لَتُلَقَّى الْقُرْاٰنَ مِنْ لَّدُنْ حَكِيْمٍ عَلِيْمٍ ٦

“Dan Sesungguhnya kamu benar-benar diberi Al qur'an dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui”. (Qs.27:6)

وَاِنْ اَحَدٌ مِّنَ الْمُشْرِكِيْنَ اسْتَجَارَكَ فَاَجِرْهُ حَتّٰى يَسْمَعَ كَلٰمَ اللّٰهِ ثُمَّ اَبْلِغْهُ مَأْمَنَهٗ ۗذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَعْلَمُوْنَ ࣖ ٦

“Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, Maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah,”. (Qs.9:6)

Kemudian jibril menurunkan Al-Qur’an kepada hati Muhammad Saw sebagaimana yang ia terima dari Alloh. Firman Alloh:

نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الْاَمِيْنُ ۙ ١٩٣ عَلٰى قَلْبِكَ لِتَكُوْنَ مِنَ الْمُنْذِرِيْنَ ۙ ١٩٤ بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِيْنٍ ۗ ١٩٥

“Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, Dengan bahasa Arab yang jelas”. (Qs.26:193-195)

Al-Qur’an perkataan Alloh dengan lafalnya yang mukjizat tidak berperan Jibril dan Muhammad dalam pembuatan dan penyusunannya.

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْاَقَاوِيْلِۙ ٤٤ لَاَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِيْنِۙ ٤٥ ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِيْنَۖ ٤٦ فَمَا مِنْكُمْ مِّنْ اَحَدٍ عَنْهُ حٰجِزِيْنَۙ ٤٧

“Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) kami, Niscaya benar-benar kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu”. (Qs.69:44-47).

Cara Rasul mengambil Al-Qur’an dari Jibril atau cara malaikat mewahyukan kepada Rasul Saw:

Sesungguhnya tabiat malaikat berbeda dengan tabiat manusia, Rasul Saw adalah manusia dan jibril adalah pembawa wahyu yang menurunkan Al-Qur’an kepada hati Rasul Saw :

وَاِنَّهٗ لَتَنْزِيْلُ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۗ ١٩٢ نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الْاَمِيْنُ ۙ ١٩٣ عَلٰى قَلْبِكَ لِتَكُوْنَ مِنَ الْمُنْذِرِيْنَ ۙ ١٩٤ بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِيْنٍ ۗ ١٩٥

“Dan Sesungguhnya Al Quran Ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta Alam, Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, Dengan bahasa Arab yang jelas. (Qs.26:192-195).

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰى ٣ اِنْ هُوَ اِلَّا وَحْيٌ يُّوْحٰىۙ ٤ عَلَّمَهٗ شَدِيْدُ الْقُوٰىۙ ٥

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat”. (Qs.53:3-5)

اِنَّهٗ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍۙ ١٩ ذِيْ قُوَّةٍ عِنْدَ ذِى الْعَرْشِ مَكِيْنٍۙ ٢٠ مُّطَاعٍ ثَمَّ اَمِيْنٍۗ ٢١ وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُوْنٍۚ ٢٢

“Sesungguhnya Al Qur'aan itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), Yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan Tinggi di sisi Allah yang mempunyai 'Arsy, Yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila”. (Qs.81:19-22).

Dan rasulululloh Saw mentalaqi Al-Qur’an darinya (jibril), dan bagaimana ia menerimanya ?

Kita semua mengetahui suatu hal yang mengejutkan yang terjadi pada Rasululloh Saw suatu kali ketika diturunkan Al-Qur’an kepadanya, karena masalah ini tidak ada satu orang pun yang tidak tahu bagi yang melihat nabi, mereka melihatnya telah memerah wajab Nabi secara spontan sehingga berkeringat pelipis dahinya. Hal ini digambarkan oleh Aisyah ra, ia berkata : Sungguh saya telah melihat nabi ketika diturunkan wahyu kepadanya di hari yang terasa keras barom ???? dan dahinya penuh dengan keringat. HR.Bukhori. Lalu fisik Nabi menjadi berat sehingga paha beliau seakan tertekan ke samping. Sekiranya ia berkendaraan pastilah unta itu beristirahat. Bersama itu mereka mendengar dalam wajah nabi suara yang berbeda-beda seperti suara pelepah korma. Tanda-tanda seperti ini semuanya terdapat dalam hadits-hadits shohih dalam Bukhori, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi dan lainnya.

Situasi awal seperti ini adalah situasi menerima wahyu yang merupakan situasi terberat Rasul Saw. Hal ini membutuhkan kepada ruh yang tinggi dari Rasul yang sesuai dengan ruh malaikat karena situasi ini merupakan situasi yang berat. Karenanya Ibnu Khaldun mengatakan: “Penyimpangan dari fisik manusia dan komunikasi dengan ruh malaikat untuk menjadi pandangan dan pandangan kepada malaikat secara nyata dan bagi Nabi menyaksikan pemuka yang mulia dan mendengar perkataan yang agung dan titah ilahi dalam pandangan itu. Dan mereka itu adalah para Nabi as yang Alloh jadikan mereka berbeda dengan manusia dalam pandangan tersebut. Dan situasi mererima wahyu merupakan fitrah yang Alloh memberikan fitrah itu kepada mereka. (Al-Muqoddimah, hal 90).

Keadaan yang kedua lebih ringan dari keadaan yang pertama :

Yaitu malaikat menyerupai seorang laki-laki dan datang dalam wujud manusia, Jibril as turun dalam bentuk ini dan para shahabat ra melihatnya dengan menyampaikan kepada Rasul dalam hadits Jibril yang populer.

Dalam keadaan ini Rasululloh Saw ditemani saat ia mendengar oleh Jibril sehingga ada kesesuaian antara pembicara dan pendengar maka menjadi tentram karenanya sebagaimana manusia merasa tentram dengan saudaranya yang lain.

Keadaan seperti ini tidak mesti dilakukan oleh Jibril as sendiri dengan ruhnya, karena tidak difahami bahwa ia berubah bentuk menjadi laki-laki. Tetapi Jibril tampak dengan wujud manusia sebagai teman Rasul yang juga manusia.

Nabi Saw telah menjelaskan dua keadaan ini dalam hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah ra bahwa Harits bin Hisyam bertanya kepada Rasululloh Saw, ia berkata: ya rasululloh, bagaimana wahyu datang kepada anda ? Rasululloh bersabda: ‘Kadang datang kepada saya seperti suara lonceng dan itu merupakan terberat bagi saya, ??? , kadang datang malaikat yang menyerupai seorang laki-laki dan ia berbicara dengan saya dan saya sadar dengan apa yang ia katakan”.  HR. Bukhori.

Adapun keadaan tiupan dalam ketakutan, yakni hati yang disebutkan dalam hadits: “Sesungguhnya ruh qudus (jibril, terj) meniup dalam ketakutanku bahwasanya tidak akan jiwa itu mati sehingga sempurna rezki dan ajalnya, maka bertaqwalah kalian kepada Alloh dan baguskanlah dalam tuntutan”.[6]  Ini juga bagian dari sunnah dan hadits ini tidak menunjukkan bahwa meniup dalam ketakutan Nabi Saw merupakan keadaan terpisah, tapi hal ini masuk dalam dua keadaan tadi yang telah disebutkan dalam hadits Aisyah ra. Kemungkinan masuk keadaa yang lain tapi masuk keadaan yang pertama lebih mungkin. Hal itu khusus dalam sunnah karena sesungguhnya Al-Qur’an diterima Rasul Saw melalui jibril secara mendangar sebagaimana ditunjukan dalam firman Alloh :

لَا تُحَرِّكْ بِهٖ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهٖۗ ١٦ اِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهٗ وَقُرْاٰنَهٗ ۚ ١٧ فَاِذَا قَرَأْنٰهُ فَاتَّبِعْ قُرْاٰنَهٗ ۚ ١٨

“Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran Karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila kami Telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu”. (Qs.75:16-18). Yakni Jiberil membacakan kepada Nabi maka ikutilah bacaannya.

Firman Alloh :

سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنْسٰىٓ ۖ ٦

“Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) Maka kamu tidak akan lupa. (Qs.87:6). Yakni Kami akan membacakan Al-Qur’an kepadamu dengan lisan Jibril maka anda hafalkan dan jangan sampai lupa.

Diketahui bahwa sunnah adalah wahyu secara makna, Jibril menyampaikan secara makna kepada hati Rasul Saw kemudian Rasul menyampaikan dengan lafal dari dirinya.

Kejanggalan yang terdapat dalam wahyu :

Dapat diterima secara khusus dan umum bahwa Al-Qur’an adalah perkataan Alloh Swt secara lafal dan makna, bukan buatan Muhammad atau seorang pun dari makhluq-Nya tapi Al-Qur’an turun dari Alloh semesta alam yang diturunkan melalui ruhul amin (jibril). Tetapi orang yang melampaui batas dan orang-orang yang hatinya rusak memasukan kejanggalan seputar Al-Qur’an baik dahulu maupun baru.

Mereka katakan: Sesungguhnya kemukjizatan Al-Qur’an bagi orang arab tidak menunjukan bahwa Al-Qur’an perkataan Alloh. Tetapi perkataan Muhammad, ia rubah dengan semua maknanya dan uslubnya, bukan wahyu yang mewahyukan kemudian ia nisbatkan kepada Alloh untuk mendapat legitimasi kesuciannya.

Dalam kebenarannya[7], bahwa masalah ini jika anda temui seorang hakim yang berlaku adil maka cukuplah dengan mendengar kesaksian ini yang datang dari lisannya langsung, tidak perlu dituntut di belakangnya kesaksian yang lain secara akal dan naqli. Karena hal itu bukanlah masuk dalam jenis “dakwaan”  maka diperlukan suatu bukti, tapi ini bagian dari “penetapan” yang diambil dari penyampainya, dan tidak terhenti baik teman atau lawan dari penerimaan darinya. Karena kemaslahatan bahgi yang berakal yang menganggap dirinya memiliki hak tuduhan dan menantang manusia dengan bermacam keajaiban dan mukjizat untuk mendukung tuduhan itu – kita katakan yakni  kemaslahatan baginya untuk ?????.

Yang kita ketahui bahwa banyak sastrawan menyerang atas pengaruh selain mereka kemudian mereka mencurinya atau mencuri darinya walau bebannya ringan, nilainya mahal dan aman tuduhannnya. Sehingga sebagian dari mereka yanbusyu kubur orang yang sudah meninggal dan memakai kafan-kafan serta keluar dari kaumnya dalam hiasan dengan pakaian-pakaian yang dipinjam. Adapun seseorang menisbahkan dengan selainnya lebih berharga pengaruh akalnya dan lebih mahal apa qarihah ????.

Perkataan mereka dengan menisbahkan kepada Alloh untuk mengambil legitimasi kesuciannya. Menjadikan perkataannya mulia meninggikan perkataannya sehingga membantu penerimaan manusia dalam ketaatan dan melaksanakan segala perintahnya.

Kita katakan kepada mereka bahwa setiap orang yang didatangkan kesalahan dari rasa balaghah dan bagusnya bayan akan bisa membedakan antara metode Al-Qur’an dan hadits nabawi secara nyata dan dapat membedakan dengan baik antara yang ditentukan Khaliq dan makhluq. Seandainya masalah ini sebagaimana mereka tuduh bahwa menjadi sangat mudah bagi orang arab dan mereka adalah pemuka-pemuka bayan (sastra). Dan Al-Qur’an menantang mereka terhadap sisi yang mereka dapatkan merupakan perkataan yang dibuat, mereka protes karena mereka semangat atas kelemahan Muhammad dan diamnya.

Adalah menjadi mudah pula bahwa mereka mengetahui bahwa itu perkataannya dari apa-apa yang mereka datangkan dari malaaikat naqg, dan mereka tidak menerima dari perhatian perasaan, yang tentunya Al-Qur’an sudah cukup bagi mereka dalam kerangka tantangan untuk membuat satu surat semisal Al-Qur’an sekiranya Al-Qur’an buatan Muhammad Saw sebagaimana yang mereka orang-orang berdusta tuduhkan.

Tetapi hakikatnya mereka lemah dan Al-Qur’an telah mencatat  kelemahan abadi mereka sampai hari qiamat :

فَاِنْ لَّمْ تَفْعَلُوْا وَلَنْ تَفْعَلُوْا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِيْ وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ۖ اُعِدَّتْ لِلْكٰفِرِيْنَ ٢٤

“Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya)”. (Qs.2:24)

Kemudian kemestiaan taat menurut hadits nabawi adalah suatu yang wajib dan tidak dikatakan dalam setiap situasi dalam Al-Qur’an. Jika masalah ini sebagaimana yang mereka tuduhkan akan dijadikan setiap perkataan Nabi adalah perkataan Alloh Swt.

Bacalah firman Alloh :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا ࣖ ٥٩

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (Qs.4:59)

وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا لِيُطَاعَ بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗوَلَوْ اَنَّهُمْ اِذْ ظَّلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ جَاۤءُوْكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللّٰهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُوْلُ لَوَجَدُوا اللّٰهَ تَوَّابًا رَّحِيْمًا ٦٤

“Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah.”. (Qs.4:64)

مَنْ يُّطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ اَطَاعَ اللّٰهَ ۚ وَمَنْ تَوَلّٰى فَمَآ اَرْسَلْنٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا ۗ ٨٠

“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia Telah mentaati Allah.”. (Qs.4:80)

وَمَآ اٰتٰىكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْاۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِۘ ٧

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya”. (Qs. Al-Hasyr : 7)

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَّلَا مُؤْمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗٓ اَمْرًا اَنْ يَّكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ اَمْرِهِمْ ۗوَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا مُّبِيْنًاۗ ٣٦

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya Telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.”. (Qs.33:36)



[1] Nadzorot Jadidah fil Qur’an, DR. Daraz, h 69.

[2] Mabahits Fi ulumil Qur’an : Manna’ Al-Qattan – dengan perubahan.

[3] Manahil Alfan Li Zarqoni : Jilid I, h 56.

[4] Mutaffaq alaihi.

[5] Muttafaq Alaihi.

[6] Diriwayatkan Abu Nua’im dalam Al-Hilyah.

[7] Lihat An-Nabul Adzim, karya DR. Abdulloh Daraz, h 14.

Wednesday, March 18, 2026

Ayyub As

Dialah Nabi Ayyub as bin Maush bin Razih keturunan Al ’Ais bin Ishaq, anak cucu Nabi Ibrahim as. Hal ini seperti yang disebutkan dalam firman Allah tentang Nabi Ibrahim:

وَوَهَبْنَا لَهٗٓ اِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَۗ كُلًّا هَدَيْنَا وَنُوْحًا هَدَيْنَا مِنْ قَبْلُ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهٖ دَاوٗدَ وَسُلَيْمٰنَ وَاَيُّوْبَ وَيُوْسُفَ وَمُوْسٰى وَهٰرُوْنَ ۗوَكَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَۙ ٨٤

84.  Dan kami Telah menganugerahkan Ishak dan Yaqub kepadanya. kepada keduanya masing-masing Telah kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) Telah kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, ... QS. Al An’am

Dengan mengembalikan dhamir (kata ganti) yang ada pada kata ”dzurriyyah” kepada Nabi Ibrahim bukan Nabi Nuh. Seperti yang ada dalam konteks ayat itu

Ibnu Ishaq berkata: yang benar bahwa Nabi Ayyub berasal dari Bani Israil, tidak ada sumber yang valid tentang nasabnya kecuali nama ayahnya adalah Amaush dan ibunya –seperti yang ditulis At Thabariy dan Ibnu Asakir- adalah puteri Nabi Luth bin Haran as. Dan isteri yang dipukul, seperti yang disebutkan dalam firman Allah:

وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا فَاضْرِبْ بِّهٖ وَلَا تَحْنَثْ ۗاِنَّا وَجَدْنٰهُ صَابِرًا ۗنِعْمَ الْعَبْدُ ۗاِنَّهٗٓ اَوَّابٌ ٤٤

44.  Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), Maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. QS. Shaad

bernama  LIYA, puteri Nabi Ya’qub bin Ishaq as. Ada yang menyebut: Rahmah bin Afratsim bin Yusuf bin Ya’qub as –seperti yang disebutkan dalam At Thabariy.

Ada perbedaan pendapat tentang masa keberadaannya.

Ada yang menyebutkan bahwa ia sezaman dengan Nabi Musa as. Dalam Tarikh At Thabariy disebutkan bahwa ia adalah seorang Nabi pada masa Nabi Ya’qub –ayah Nabi Yusuf-. Ada pula yang mengatakan bahwa ia pada masa Nabi Sulaiman as. [1] Dalam Da’iratul Ma’arif Al Bistaniy: Ada yang menyebutkan lebih dari seratus tahun sebelum Nabi Ibrahim as. Dan pendapat ini tidak valid, karena yang jelas ia dari keturunan Ibrahim as seperti yang ada dalam surah Al An’am.

Sedangkan tempatnya ada yang menyebutkan: negeri Arab dan dia berkebangsaan Arab, atau Hauran di Syam dan mengatakannya berkebangsaan Romawi, seperti yang diriwayatkan dari Wahb bin Munabbih.[2] Dalam salah satu kitab perjanjian lama, terdapat kisahnya dengan rinci. Dan pada bagian kelima dan terakhir berisi ketundukannya kepada Allah, dan kesembuhannya dari ujian, dan digantikannya harta dan keluarganya yang hilang. (Da’iratul Ma’arif, Al Bustaniy)

Al Fakh Ar Raziy dalam tafsirnya –At Tafsir Al Kabir dan Mafatihul Ghaib- mengatakan: Aku mendengar sebagian Yahudi yang mengatakan: Sesungguhnya Musa bin Imran as memiliki kitab tersendiri tentang peristiwa Ayyub. Dan kesimpulannya adalah bahwa Nabi Ayyub adalah orang yang sangat taat kepada Allah, disiplin beribadah, sangat mengagungkan perintah perintah Allah, dan sayang kepada sesama makhluk Allah, kemudian ia mengalami ujian berat[3].

Para ulama tafsir dan sejarah meriwayatkan bahwa Nabi Ayyub memiliki banyak macam harta kekayaan, hewan ternak dan hamba sahaya, tanah yang luas di Hauran (Syam), miliki keluarga dan keturunan yang banyak. Lalu semua itu hilang dan diuji fisiknya dengan berbagai macam ujian, tidak ada oragn tubuh yang selamat dari ujian itu kecuali hati dan lidahnya yang selalu berdzikir kepada Allah dengan keduanya. Dalam keadaan demikian ia tetap bersabar dan berserah diri, berdzikir kepada Allah malam dan siang, pagi dan petang. Sakitnya berkepanjangan sehingga ia orang-orang menghindarinya, diusir dari kampung halamannya, dicampakkan di tempat sampah di luar kampungnya, terkucil dari umat manusia, tidak ada seorangpun yang mendekatinya kecuali isterinya yang masih menjaga hak-haknya dan menghargai kebaikan yang pernah diberikan kepadanya, kasih sayangnya kepada dirinya. Istirinya bolak-balik menghampirinya, merawatnya dan membantu memenuhi kebutuhannya. Ketika istrinya semakin lemah, hartanya semakin habis ia bekerja membantu orang lain untuk memberi makan Nabi Ayyub, wanita itu bersabar bersamanya atas apa yang menimpanya, kehilangan harta kekayaan dan anak keturunan, musibah yang menimpa suaminya, membantu orang untuk mendapatkan upah padahal sebelumnya orag yang kaya dan penuh nikmat. Semua ini tidak menambah Nabi Ayyub kecuali semakin sabar dan berserah diri kepada Allah, bertahmid dan bersyukur sehingga ia menjadi simbol kesabaran. [4]

Para ahli sejarah meriwayatkan tentang Nabi Ayyub dengan banyak sekali riwayat. Mayoritas mereka mengambil dari Perjanjian Lama, Tafsir Taurat Yahudi, yang disebut ”Hajadah” seperti yang dikatakan Thabbarah dalam bukunya: Bersama dengan Para Nabi, inilah yang tidak diambil oleh para ulama Islam yang tsiqah, karena terlalu banyak intervensi dan perubahan.

Ada sebagian ahli tafsir yang mengkritik jenis ujian yang menimpa Nabi Ayyub. Uatad Ahmad Al Maraghi dalam tafsirnya mengatakan:

” riwayat yang menjelaskan tentang ukuran penderitaan yang menimpanya sampai pada batas yang dijauhi orang. Dan umat manusia secara umum menghindarinya dan mengusirnya dari tempatnya ke pinggir kota, tidak ada yang menemuinya kecuali isterinya yang membawakan bekal untuknya. Semua ini adalah israiliyyah yang wajib ditolak secara i’tiqadiy, karena tidak bersandar pada sumber yang valid, dan karena syarat kenabian adalah tidak memiliki cacat penyakit yang dijauhi orang. Dan jika ada penyakit itu maka tidak memungkinkannya berkomunikasi dengan ummatnya, menyampaikan syariat dan hukum agama kepada mereka”.

Diriwayatkan dari Wahb bin Munabbih, dan lainnya dari kalangan ulama Bani Israil dalam kisah Nabi Ayyub, cerita panjang tentang proses hilangnya harta dan anak-anaknya, serta ujian yang menimpa fisiknya. Dan Allah Yang Maha Tahu keabsahannya.[5]

Nama Nabi Ayyub as tercantum empat kali dalam Al Qur’an di tiga tempat, yaitu:

Pertama: Teks tentang pemilihan Nabi Ayyub as menerima wahyu, hal ini dalam kontek pemberitahuan bahwa wahyu Allah yang diberikan kepada Nabi Muhammad saw bukanlah bid’ah, akan tetapi serupa dengan wahyu Allah yang pernah diberikan kepada orang-orang pilihan sebelumnya, termasuk di dalamnya adalah Nabi Ayyub as.

۞ اِنَّآ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ كَمَآ اَوْحَيْنَآ اِلٰى نُوْحٍ وَّالنَّبِيّٖنَ مِنْۢ بَعْدِهٖۚ وَاَوْحَيْنَآ اِلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَالْاَسْبَاطِ وَعِيْسٰى وَاَيُّوْبَ وَيُوْنُسَ وَهٰرُوْنَ وَسُلَيْمٰنَ ۚوَاٰتَيْنَا دَاوٗدَ زَبُوْرًاۚ ١٦٣

163.  Sesungguhnya kami Telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana kami Telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan kami Telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. dan kami berikan Zabur kepada Daud. QS. An Nisa

Kedua: Informasi bahwa Nabi Ayyub adalah keturunan Nabi Ibrahim as. Hal ini dalam pemberitahuan tentang Nabi Ibrahim, dan Hujjah (argumentasi) yang kuat dan kedudukan yang tinggi, keturuan yang shalih, seperti dalam firman Allah:

وَتِلْكَ حُجَّتُنَآ اٰتَيْنٰهَآ اِبْرٰهِيْمَ عَلٰى قَوْمِهٖۗ نَرْفَعُ دَرَجٰتٍ مَّنْ نَّشَاۤءُۗ اِنَّ رَبَّكَ حَكِيْمٌ عَلِيْمٌ ٨٣ وَوَهَبْنَا لَهٗٓ اِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَۗ كُلًّا هَدَيْنَا وَنُوْحًا هَدَيْنَا مِنْ قَبْلُ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهٖ دَاوٗدَ وَسُلَيْمٰنَ وَاَيُّوْبَ وَيُوْسُفَ وَمُوْسٰى وَهٰرُوْنَ ۗوَكَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَۙ ٨٤

83.  Dan Itulah hujjah kami yang kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. kami tinggikan siapa yang kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

84.  Dan kami Telah menganugerahkan Ishak dan Yaqub kepadanya. kepada keduanya masing-masing Telah kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) Telah kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. QS. Al An’am

Ketiga: Informasi tentang doa Nabi Ayyub kepada Rabbnya ketika mengalami penderitaan fisik, serta ujian harta dan keluarganya. Kemudian Allah kabulkan doanya, dan dibersihkan sakitnya, dikembalikan harta dan anaknya, sebagai bentuk kasih sayang. Hal ini terdapat dalam dua tempat:

۞ وَاَيُّوْبَ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗٓ اَنِّيْ مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ ۚ ٨٣ فَاسْتَجَبْنَا لَهٗ فَكَشَفْنَا مَا بِهٖ مِنْ ضُرٍّ وَّاٰتَيْنٰهُ اَهْلَهٗ وَمِثْلَهُمْ مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا وَذِكْرٰى لِلْعٰبِدِيْنَ ۚ ٨٤

83.  Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku), Sesungguhnya Aku Telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang".

84.  Maka kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah. QS. Al Anbiya

وَاذْكُرْ عَبْدَنَآ اَيُّوْبَۘ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗٓ اَنِّيْ مَسَّنِيَ الشَّيْطٰنُ بِنُصْبٍ وَّعَذَابٍۗ ٤١ اُرْكُضْ بِرِجْلِكَۚ هٰذَا مُغْتَسَلٌۢ بَارِدٌ وَّشَرَابٌ ٤٢ وَوَهَبْنَا لَهٗٓ اَهْلَهٗ وَمِثْلَهُمْ مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنَّا وَذِكْرٰى لِاُولِى الْاَلْبَابِ ٤٣ وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا فَاضْرِبْ بِّهٖ وَلَا تَحْنَثْ ۗاِنَّا وَجَدْنٰهُ صَابِرًا ۗنِعْمَ الْعَبْدُ ۗاِنَّهٗٓ اَوَّابٌ ٤٤

41.  Dan ingatlah akan hamba kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhan-nya: "Sesungguhnya Aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan".

42.  (Allah berfirman): "Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum".

43.  Dan kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran.

44.  Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), Maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya). QS. Shaad

Ayat-ayat ini dan ayat-ayat sebelumnya memberikan pesan:

Bahwa penyakit yang menimpa Nabi Ayyub terjadi karena ulah syetan.

Jenis penyakit yang menimpa Nabi Ayyub dan cara penyembuhannya. Dalam hal ini AL Maraghi mengatakan dalam tafsirnya: jenis penyakit yang menimpanya adalah jenis penyakit kulit luar biasa seperti eksim dan sejenisnya yang melemahkan fisik dan sangat menyakitkan, akan tetapi tidak mematikan. ....

Sumpah Nabi Ayyub as yang hendak memukul isterinya dengan cambuk ketika sembuh, dan arahan Allah agar mengambil seikat rumput ketika mencambuk isterinya, agar tidak melanggar sumpahnya. Para ulama berbeda pendapat tentang sebab sumpah ini. Dan yang paling mendekati adalah bahwa ketika ia sakit, isterinya telat membantu keperluannya, lalu ia bersumpah akan mencambuk isterinya jika ia sembuh nanti dengan seratus cambukan. Dan ketika isterinya itu melayaninya dengan sangat baik maka Allah mengganti sumpahnya itu dengan sesuatu yang paling ringan. Al Maraghi mengatakan dalam tafsirnya:

”Nabi Ayyub bersumpah ketika sedang sakit akan mencambuk isterinya dengan seratus cambukan kalau ia sembuh, karena isterinya telat memenuhi sebagian kebutuhannya. Dan ketika isterinya telah berubah menjadi sangat baik pelayanannya maka Allah ganti sumpahnya itu dengan sesuatu yang paling ringan bagi Nabi Ayyub dan isterinya. Yaitu dengan menyuruhnya mengambil seikat rumput dan memukulnya sekali, menggantikan seratus kali cambukan. Hal ini menjadi salah satu jalan keluar bagi orang yang bertaqwa dan taat kepada Allah, terutama dalam hak wanita yang sabar dan baik. Inilah yang ditunjukkan Allah dalam firmannya.   

وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا فَاضْرِبْ بِّهٖ وَلَا تَحْنَثْ ۗاِنَّا وَجَدْنٰهُ صَابِرًا ۗنِعْمَ الْعَبْدُ ۗاِنَّهٗٓ اَوَّابٌ ٤٤

44.  Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), Maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah... QS. Shaad

Wallahu a’lam.  

أيوب - u -  عند أهل الكتاب

AYYUB AS MENURUT AHLI KITAB

An Najjar mengatakan dalam kisah-kisah para nabi: Mereka yang mengatakan tentang keberadaan Nabi Ayyub berbeda pendapat tentang zamannya, dalam tujuh pendapat:

  1. Sezaman dengan Nabi Musa as
  2. Sezaman dengan para qadhi
  3. Sezaman dengan Hasey roos, atau Azdasyir penguasa Iran
  4. Sezaman dengan Nabi Ya’qub as
  5. Sezaman dengan Nabi Sulaiman as
  6. Sezaman dengan Bukhtunashshar
  7. Sebelum masa kedatangan Nabi Ibrahim as ke Kan’an

Horn salah seorang peneliti sekte protestan berkata: sesungguhnya adanya berbagai macam anggapan ini sudah cukup menunjukkan lemahnya pendapat ini. Demikian juga mereka berbeda pendapat tentang “Ghath” negeri yang disebutkan dalam ayat pertama bab pertama buku mereka. Di wilayah mana nama negeri itu, ada tiga pendapat:

  1. Bogart, Asbahm, Kamt dll, mengatakan bahwa itu adalah wilayah Arab
  2. Mikayls dan Aljin mengatakan bahwa itu adalah lembah Damaskus
  3. Lood, Maji, Heylz, dan Kud dan generrasi berikutnya mengatakan bahwa Ghath adalah nama Adumiyah

Demikian juga mereka berbeda pendapat tentang penulis kitab ini ada yang mengatakan: orang Yahudi, atau Nabi Ayyub, atau Nabi Sulaiman, atau orang yang tidak dikenal namanya sezaman dengan Sultan Mansa, atau Hezqiyal, atau Azran, atau seorang dari keluarga Yahudi, atau Nabi Musa, dst.

Kami katakan bahwa ia adalah seorang hamba Allah yang shalih. Allah menguji harta, keluarga dan fisiknya, lalu ia bersabar dengan sabar yang indah, lalu Allah berikan kesembuhan dan memberikan lebih banyak lagi dari yang pernah hilang baik keluarga maupun harta benda. Allah memujinya dengan pujian indah dalam Al Qur’an dan mengangkatnya menjadi Nabi.

CATATAN PENTING

Pertama: Banyak orang mengatakan tentang ujian Nabi Ayyub as bahwasannya jenis penyakitnya adalah penyakit yang menjijikkan dan menakutkan orang untuk mendekatinya.

Hal ini bertentangan dengan status kenabian. Para ulama ilmu tauhid menetapkan bahwa para Nabi itu bersih dari berbagai penyakit yang menyebabkannya jauh dari umat manusia. Maka bagaimana mungkin penyakit itu ada dalam statusnya sebagai Nabi?

Jawaban hal ini dari dua sisi:

  1. Bahwa ujian sesuai dengan apa yang mereka katakan terjadi sebelum masa kenabian, dan karunia kenabian itu diberikan ketika sudah terbukti sabar dan ridha atas apa yang menimpanya.
  2. Orang- orang yang mengatakan dengan berlebihan tentang penderitaan Nabi Ayyub hanya berpegang pada ungkapan Ahlulkitab.

Kedua: Bahwa Al Qur’an menyebutkan bahwa Allah swt memerintahkan kepada Nabi Ayyub agar mengambil seikat rumput untuk memukul, sehingga tidak melanggar sumpahnya. Peristiwa apakah ini?

Al Baidhawi meriwayatkan bahwa isterinya terlambat memenuhi kebutuhannya lalu ia bersumpah kalau ia sembuh akan memukulnya seratus kali, lalu Allah meluluskannya dari sumpahnya itu.

Al Alusi meriwayatkan bahwa isterinya –Rahmah binti Afriym atau Mansa binti Yusuf, atau Liya bint Ya’qub- sebagaimana perbedaan riwayat, terlambat memenuhi kebutuhannya, atau syetan sempat menggoda Nabi Ayyub sehingga ia mengucapkan kalimat kurang baik. Isterinya mengatakan : Sampai kapan bencana ini? Kalimat ini saja. Kemudian ia beristighfar kepada Rabbnya. Atau isterinya membawakan tambahan roti melebih kebiasaannya, lalu ia merasa telah berbuat dosa, lalu ia bersumpah jika sakit akan memukulnya seratus kali. Kemudian Allah menyuruhnya untuk mengambil seikat rumput. Allah swt menetapkan hal ini sebagai rahmat atas isteri Nabi Ayyub karena pelayanannya yang sangat baik.

Kami katakan: Sesungguhnya Nabi Ya’kub as tidak memiliki anak yang bernama Liya tetapi anaknya berama Dina.

Sedangkan kisah Nabi Ayyub yang ada dalam Al Qur’an, dapat kami bacakan dalam ayat-ayat berikut ini:

۞ وَاَيُّوْبَ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗٓ اَنِّيْ مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ ۚ ٨٣ فَاسْتَجَبْنَا لَهٗ فَكَشَفْنَا مَا بِهٖ مِنْ ضُرٍّ وَّاٰتَيْنٰهُ اَهْلَهٗ وَمِثْلَهُمْ مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا وَذِكْرٰى لِلْعٰبِدِيْنَ ۚ ٨٤

83.  Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku), Sesungguhnya Aku Telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang".

84.  Maka kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah. QS. AL Anbiya

وَاذْكُرْ عَبْدَنَآ اَيُّوْبَۘ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗٓ اَنِّيْ مَسَّنِيَ الشَّيْطٰنُ بِنُصْبٍ وَّعَذَابٍۗ ٤١ اُرْكُضْ بِرِجْلِكَۚ هٰذَا مُغْتَسَلٌۢ بَارِدٌ وَّشَرَابٌ ٤٢ وَوَهَبْنَا لَهٗٓ اَهْلَهٗ وَمِثْلَهُمْ مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنَّا وَذِكْرٰى لِاُولِى الْاَلْبَابِ ٤٣ وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا فَاضْرِبْ بِّهٖ وَلَا تَحْنَثْ ۗاِنَّا وَجَدْنٰهُ صَابِرًا ۗنِعْمَ الْعَبْدُ ۗاِنَّهٗٓ اَوَّابٌ ٤٤

41.  Dan ingatlah akan hamba kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhan-nya: "Sesungguhnya Aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan".

42.  (Allah berfirman): "Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum".

43.  Dan kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran.

44.  Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), Maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya). QS. Shaad

Nabi Ayyub as hidup selama 93 (sembilan puluh tiga tahun). Allah karuniakan harta dan keturunan. Memiliki 26 (duapuluh enam) anak laki-laki, ada salah satunya yang bernama ”Basyar” yang sebagian ahli sejarah menyebutnya ”Dzulkifli” yang Al Qur’an mencantumkannya dalam kelompok para rasul yang mulia. Risalah Nabi Ayyub ditujukan kepada umat Romawi. Ada pula yang mengatakan bahwa ia berada di Damaskus.

Al Laiyts meriwayatkan dari Mujahid yang isinya: Bahwa di hari kiamat nanti Allah swt menjadikan Nabi Sulaiman sebagai hujjah atas para nabi, Nabi Yusuf sebagai hujjah atas para hamba sahaya, dan Nabi Ayyub menjadi hujjah atas para penerima bencana.

PERTANYAAN DAN DISKUSI

Sebutkan nasab Nabi Ayyub as, termasuk Nabi dari Bani Israil, apa dalinya?

Dalam kisah Nabi Ayyub tampak peran isterinya, tahukah antum akan nasabnya? Apakah lebih memprioritaskan kemuliaan nasab?

Ahlul kitab berbeda pendapat hingga tujuh pandangan tentang zaman keberadaan Nabi Ayyub as. Kenapa terjadi demikian? Apakah hal ini menunjukkan perbedaan pendapat mereka tentang kitab sucinya. Mengapa Al Qur’an tidak menyebutkan zaman keberadaan Nabi Ayyub as secara definitif? Dan hanya mengungkapkan tentang kejadian saja?

Terdapat persamaan kisah antara Nabi Ayyub as dan kisah-kisah lain khususnya Nabi Yusuf as dalam Taurat dan Al Qur’an. Hal ini menunjukkan kebenaran Al Qur’an, dan Al Qur’an melakukan koreksi penyimpangan kisah mereka, menfokuskan pada nasehat, pelajaran, dakwah dan contoh hidup yang layak diikuti.

Ujian Nabi Ayyub mencakup berbagai macam ujian yang ada, harta, fisik, dan anak-anaknya, kehilangan orang-orang yang dicintainya, hingga sikap isterinya. Banyak buku menulis tentang kondisinya yang mengenaskan, apa yang anda ingat dari kisahnya? Apakah semua yang dikaitkan dengannya itu benar?

Apakah mungkin kisah Nabi Ayyub ini menjadi pelipur lara bagi para penderita sakit sehingga mereka bisa bersabar dan ridha atas apa yang menimpanya. Memotovasi mereka untuk kembali kepada Allah swt. Bisa saja ini menyemangati para da’i dalam melipur orang yang sakit, mengangkat maknawiyahnya, dengan bercerita kepada mereka. Kemungkinan besar hal ini merupakan cara kaum muslimin di masa lalu sehingga mereka membuat tempat-tempat untuk menyenangkan para penderita sakit

Wajib memperhatikan dengan seksama pada kesabaran Nabi Ayyub as dan rasa malunya kepada Rabbnya, sikapnya kepada nikmat-nikmat Allah swt atas dirinya, agar menjadi pelajaran bagi siapapun yang menerima ujian seperti sakit, tekanan, penangkapan atau penjara.

Memperhatikan dengan serius doa Nabi Ayyub kepada Allah swt, dengan tidak memperpanjang do’a tetapi cukup dengan mengungkapkan dirinya (إني مسني الضر ) dan menyebut Rabbnya dengan sifat (وأنت أرحم الراحمين ) tidak memohon agar dirubah kondisinya, tidak mengusulkan sesuatupun kepada Rabbnya. Kenapa demikian? Kemudian ada pengkabulan.

Pengkabulan doa adalah rahmat Allah. Dan semua nikmat dari Allah adalah rahmat yang harus diingat manusia (رحمة من عندنا وذكرى للعابدين ) firman Allah (وذكرى للعابدين ) apakah hal ini memperingatkan mereka akan Allah, ujian, rahmat Allah dan ujian-Nya, dan bahwasannya Allah tidak akan meninggalkannya?

Dalam ujian Nabi Ayyub  terdapat teladan bagi manusia semua. Dalam kesabaran Nabi Ayyub menjadi peringatan yang harus terus dikenang. Dan para ahli ibadah selalu dihadapkan dengan ujian.beban ibadah, aqidah, iman, dan melintasi kebatilan. Dakwah dan risalah adalah amanah yang tidak akan dibebankan kecuali kepada orang-orang yang amanah, kokoh dan kuat, bukan sesuatu yang bisa sambil main-main, meraih kedudukan dan posisi. Bukan sekedar kata-kata terucap tetapi jihad, kesungguhan, dan amal yang membutuhkan kesabaran.

Dalam seruan doa Nabi Ayyub  dapat dicatat tentang adab mulia, menisbatkan mala petakan kepada syetan (إني مسني الشيطان بنصبٍ وعذاب ) dapat anda terangkan tentang adab kepada Allah dan menjadikannya sebagai pelajaran di masjid atau forum lain.

Para ahli tafsir berusaha mengungkapkan jenis penyakit yang menimpa Nabi Ayyub as. Kenapa demikian dan Al Qur’an tidak menyebutkannya. Apakah hal ini dianggap hanya akan membuang-buang waktu dan mengalihkan perhatian dari hakekat yang sebenarnya?  

Apakah boleh mengaitkan penyakit menjijikkan kepada seorang nabi? Bukanlah hal ini bertentangan dengan status kenabian? Ataukah ujian ini sebelum masa kenabian?

Kenapa Nabi Ayyub marah kepada isterinya? Apa pendapat yang kuat dalam hal ini? Padahal isterinya adalah wanita shalihah dan penyabar. Apakah ini pekerjaan syetan? Ini adalah jenis ujian kecumburuan yang Allah timpakan kepadanya.

Nabi Ayyub bersumpah akan memukul isterinya, bagaimana akhirnya? Apakah Al Qur’an menuturkannya? Apakah Nabi Ayyub benar dalam sikapnya?

Firman Allah (وخذ بيدك ضغثاً فاضرب به ولا تحنث ) ini adalah rukhshah (dispensasi) bagi Nabi Ayyub  sehingga tidak melanggar sumpahnya. Apakah hal ini diperbolehkan dalam syariat kita? Para ahli tafsir mengatakan: Allah memerintahkan Nabi Ayyub agar mengambil seikat rumput untuk dipukulkan ke isterinya karena bersumpah hendak memukul seratus kali, ataukah hal ini bentuk kasih sayang kepada isterinya yang penyabar atas sakitnya. Apakah dalam kesabaran isteri Nabi Ayyub ini bisa menjadi contoh  teladan bagi wanita muslimah yang taat kepada Rabbnya, dan contoh indah bagi seorang suami dalam menyikapi isterinya ketika bersalah?



([1])      قصص الأنبياء للنجار  .

[2] Qishashul Anbiya, Ibnu Katsir

[3] Tafsir Surah Shaad

[4]  Al Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir-J. 1

[5] Qishashul Anbiya, An Najjar 

Wahyu