Wednesday, March 25, 2026

Al-Qur'anul Karim

Definisi Ilmu

Ilmu-ilmu Al-Qur’an: istilah gabungan ini terdiri dari dua kata: “ilmu-ilmu” dan “Al-Qur’an”.

Ilmu-ilmu:
Merupakan bentuk jamak dari kata “ilmu”. Secara bahasa, ilmu adalah masdar (kata dasar) yang bermakna pemahaman dan pengetahuan. Sedangkan dalam istilah, ilmu memiliki beberapa pengertian, dan yang dimaksud di sini adalah pengertian menurut para ulama pembukuan ilmu, karena kita sedang membahas ilmu sebagai suatu disiplin yang dibukukan.

Ilmu digunakan untuk makna: sekumpulan permasalahan yang terikat dalam satu bidang tertentu. Juga digunakan untuk makna mengetahui berbagai pengetahuan.

Dan juga digunakan untuk kemampuan (malakah) yang dengannya seseorang dapat menghadirkan kembali pengetahuan setelah ia memilikinya.

Pengertian pertama lebih utama untuk diterima, karena itulah yang langsung terlintas ketika dikatakan: “Aku telah mempelajari suatu ilmu dari berbagai ilmu,” dan “objek ilmu ini adalah...”

Para ulama berbeda pendapat tentang ilmu yang wajib bagi setiap Muslim, hingga mereka terbagi menjadi lebih dari dua puluh kelompok, sebagaimana dikatakan Imam Al-Ghazali dalam Ihya’. Namun kesimpulannya adalah bahwa setiap kelompok menganggap wajib ilmu yang mereka tekuni.

Ahli kalam mengatakan: itu adalah ilmu kalam, karena dengannya tauhid dipahami. Ahli fikih mengatakan: itu adalah ilmu fikih, karena dengannya diketahui ibadah, halal dan haram, serta hukum-hukum muamalah. Para ahli tafsir dan ahli hadis mengatakan: itu adalah ilmu Al-Kitab dan As-Sunnah, karena dengan keduanya semua ilmu dapat dicapai.

Kemudian ia berkata: yang seharusnya dipastikan adalah bahwa ilmu terbagi menjadi ilmu mu‘amalah dan ilmu mukasyafah. Dan yang dimaksud di sini adalah ilmu mu‘amalah, yang mencakup perbaikan lahir berupa ibadah dan muamalah Islam, serta perbaikan batin berupa akidah dan akhlak Islam.

Dan yang lebih utama didahulukan adalah ilmu Al-Kitab dan As-Sunnah, karena keduanya merupakan dasar dan dengan keduanya semua ilmu dapat dicapai, sebagaimana pendapat para ahli tafsir dan hadis. Ini penjelasan tentang kata “ilmu” yang merupakan salah satu bagian dari istilah “ilmu-ilmu Al-Qur’an”.


Adapun Al-Qur’an:

Secara asal, ia adalah masdar dengan wazan (pola) fu‘lan (dengan dhammah), seperti kata ghufran dan syukran.

Kamu mengatakan: “Aku membacanya” dengan bentuk qur’an, qira’ah, dan qur’anan, dengan makna yang sama, yaitu aku membacanya (tilawah).

Penggunaan kata “Qur’an” dengan makna masdar ini terdapat dalam firman Allah:
“Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya dan membacakannya. Maka apabila Kami telah membacakannya, ikutilah bacaannya.”

Kemudian kata itu menjadi nama khusus bagi kitab yang mulia tersebut.

Kata “Qur’an” digunakan secara umum untuk keseluruhan maupun sebagian: dikatakan bagi orang yang membaca seluruh lafaz yang diturunkan bahwa ia membaca Al-Qur’an, dan juga dikatakan bagi orang yang membaca walaupun satu ayat darinya bahwa ia membaca Al-Qur’an.

Penggunaan ini dipahami dari perkataan para ahli fikih, ketika mereka mengatakan: “Haram membaca Al-Qur’an bagi orang junub,” maksudnya haram membaca seluruhnya atau sebagian darinya.

Al-Qur’an dalam istilah didefinisikan sebagai: “Firman Allah yang bersifat mukjizat, diturunkan kepada Muhammad , tertulis dalam mushaf, diriwayatkan secara mutawatir, dan merupakan ibadah dengan membacanya.”

Kata “firman” mencakup semua jenis ucapan, dan penyandarannya kepada “Allah” membedakannya dari ucapan makhluk lain, baik manusia, jin, maupun malaikat.

Kata “yang diturunkan” mengecualikan firman Allah yang hanya ada dalam ilmu-Nya atau yang disampaikan kepada malaikat untuk diamalkan.

Kata “yang diturunkan kepada Muhammad ” mengecualikan kitab-kitab yang diturunkan kepada nabi sebelumnya, seperti Taurat kepada Musa, Injil kepada Isa, Zabur kepada Dawud, dan suhuf kepada Ibrahim عليهم السلام.

Kata “diriwayatkan secara mutawatir” mengecualikan selain Al-Qur’an seperti bacaan yang telah dihapus (mansukh tilawah) dan qira’at yang tidak mutawatir, baik yang masyhur maupun ahad, karena semua itu tidak disebut Al-Qur’an dan tidak memiliki hukum Al-Qur’an.

Kata “yang menjadi ibadah dengan membacanya” berarti diperintahkan untuk dibaca dalam shalat dan lainnya sebagai bentuk ibadah, dan ini mengecualikan hal-hal yang tidak diperintahkan untuk dibaca seperti itu, seperti qira’at ahad dan hadis qudsi meskipun mutawatir.


Adapun ilmu-ilmu Al-Qur’an (sebagai disiplin yang dibukukan):

Ia adalah: “Pembahasan-pembahasan yang berkaitan dengan Al-Qur’an Al-Karim dari segi turunnya, pembacaannya, pengumpulannya, penyusunannya, penulisannya, penafsirannya, pengetahuan tentang kemukjizatannya, ayat muhkam dan mutasyabih, nasikh dan mansukh, serta hal-hal lain seperti sebab-sebab turunnya ayat dan selainnya.”

Adapun objeknya adalah Al-Qur’an Al-Karim dari berbagai sisi tersebut.

Kemuliaan suatu ilmu diambil dari kemuliaan objeknya, maka ilmu ini termasuk ilmu yang paling mulia.

Ilmu-ilmu ini dihimpun dan tidak dipisahkan karena tidak dimaksudkan satu ilmu tertentu saja yang berkaitan dengan Al-Qur’an, tetapi mencakup seluruh ilmu yang melayani Al-Qur’an atau bersandar kepadanya.


Perbedaan antara Al-Qur’an, hadis qudsi, dan hadis nabawi:

Telah pasti secara yakin tanpa keraguan bahwa Al-Qur’an Al-Karim diturunkan dari sisi Allah dengan lafaz dan maknanya sekaligus. Jibril menerimanya dari Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui, kemudian menurunkannya ke dalam hati Muhammad dengan bahasa Arab yang jelas.

Maka tidak ada peran Jibril dalam Al-Qur’an kecuali menyampaikannya kepada Rasul dan mewahyukannya kepadanya. Dan tidak ada peran Rasul dalam Al-Qur’an kecuali menerima, menghafal, menyampaikan, menjelaskan, dan menafsirkannya, serta mengamalkan dan menerapkannya.

Adapun menciptakan makna dan merangkai lafaznya, maka beliau tidak memiliki bagian dalam hal itu sama sekali:

اِنْ هُوَ اِلَّا وَحْيٌ يُّوْحٰىۙ ٤

“Tidaklah itu kecuali wahyu yang diwahyukan.” (QS. An-Najm: 4)

Di dalam Al-Qur’an sendiri ditegaskan bahwa ia bukan ciptaan Jibril dan bukan pula perkataan Muhammad . Allah berfirman:

وَاِنَّكَ لَتُلَقَّى الْقُرْاٰنَ مِنْ لَّدُنْ حَكِيْمٍ عَلِيْمٍ ٦

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar menerima Al-Qur’an dari sisi Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Naml: 6)

Dan firman-Nya:

وَاِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِمْ اٰيَاتُنَا بَيِّنٰتٍۙ قَالَ الَّذِيْنَ لَا يَرْجُوْنَ لِقَاۤءَنَا ائْتِ بِقُرْاٰنٍ غَيْرِ هٰذَآ اَوْ بَدِّلْهُ ۗ قُلْ مَا يَكُوْنُ لِيْٓ اَنْ اُبَدِّلَهٗ مِنْ تِلْقَاۤئِ نَفْسِيْ ۚاِنْ اَتَّبِعُ اِلَّا مَا يُوْحٰٓى اِلَيَّ ۚ اِنِّيْٓ اَخَافُ اِنْ عَصَيْتُ رَبِّيْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيْمٍ ١٥

“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata: Datangkanlah Al-Qur’an yang lain selain ini atau ubahlah ia. Katakanlah: Tidaklah pantas bagiku mengubahnya dari diriku sendiri. Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku...” (QS. Yunus: 15)

Dan firman-Nya tentang penurunan lafaz:

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ قُرْاٰنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ ٢

“Sesungguhnya Kami menurunkannya sebagai Al-Qur’an berbahasa Arab agar kalian memahaminya.” (QS. Yusuf: 2)

Dan firman-Nya:

لَا تُحَرِّكْ بِهٖ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهٖۗ ١٦

“Janganlah engkau gerakkan lidahmu untuk mempercepatnya...” (QS. Al-Qiyamah: 16)

Dan ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa Al-Qur’an diturunkan dengan lafaznya sangat banyak.

Maka Al-Qur’an menegaskan bahwa tidak ada campur tangan manusia dalam penyusunannya, dan ia diturunkan dari Allah dengan lafaz dan maknanya.

Karena itu, Al-Qur’an berbeda dari hadis qudsi dan hadis nabawi.


Adapun hadis qudsi:

Ia diturunkan dari Allah dalam maknanya saja—ini adalah pendapat yang lebih kuat. Karena jika ia diturunkan dengan lafaznya, maka ia akan memiliki kedudukan yang sama dengan Al-Qur’an, seperti kewajiban menjaga lafaznya, tidak boleh meriwayatkannya dengan makna, dan haram bagi orang berhadas menyentuhnya—padahal tidak ada yang berpendapat demikian.

Selain itu, Al-Qur’an memiliki tujuan tambahan selain diamalkan, yaitu sebagai mukjizat dalam gaya bahasanya dan sebagai ibadah dengan membacanya, sehingga harus diturunkan dengan lafaznya. Sedangkan hadis qudsi tidak diturunkan untuk itu, melainkan hanya untuk diamalkan maknanya, dan itu cukup dengan penyampaian maknanya saja.

Dengan demikian, hadis qudsi adalah sesuatu yang maknanya dari Allah dan lafaznya dari Rasul , seperti ketika Rasul berkata: “Allah Ta‘ala berfirman demikian...” atau perawi berkata: “Rasulullah bersabda dalam apa yang beliau riwayatkan dari Tuhannya...”

Penisbatan kepada Allah di sini dari sisi makna, bukan lafaz. Hal ini biasa dalam bahasa Arab, karena ucapan dinisbatkan berdasarkan maknanya, bukan lafaznya.

Al-Qur’an sendiri mengisahkan perkataan Musa, Fir‘aun, dan lainnya dengan lafaz yang berbeda dari ucapan asli mereka, namun tetap dinisbatkan kepada mereka.


Hadis Nabawi:

Hadis Nabawi adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, atau sifat, baik sifat fisik maupun akhlak.

Adapun perkataan (qaul): seperti yang diriwayatkan dari ‘Aisyah رضي الله عنها, ia berkata: “Wahai Rasulullah, apakah engkau melihat bahwa jihad adalah amal yang paling utama, maka apakah kami tidak berjihad?” Beliau bersabda: “Akan tetapi jihad yang paling utama adalah haji yang mabrur.”

Dan seperti sabda beliau : “Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niat, dan setiap orang hanya mendapatkan apa yang ia niatkan.”

Adapun perbuatan (fi‘l): yaitu apa yang tetap dari beliau berupa pengajaran kepada para sahabat tentang tata cara salat dan tata cara haji, kemudian beliau bersabda: “Salatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku salat.” Dan sabda beliau: “Ambillah dariku manasik (tata cara) haji kalian.”

Adapun persetujuan (taqrir): yaitu persetujuan beliau terhadap perbuatan atau perkataan yang dilakukan oleh sebagian sahabat, tanpa mengingkarinya, atau dengan menunjukkan sikap suka dan mendukungnya, sehingga hal itu dianggap seakan-akan berasal darinya.

Contohnya adalah: dimakannya daging biawak (dhab) di atas meja beliau tanpa beliau mengingkarinya, meskipun beliau sendiri tidak memakannya.

Contoh lainnya adalah apa yang diriwayatkan bahwa dua orang sahabat keluar dalam perjalanan, lalu waktu salat tiba, dan mereka tidak menemukan air, maka mereka bertayamum dan salat. Kemudian mereka menemukan air masih dalam waktu salat. Salah satu dari mereka mengulang salat, sedangkan yang lain tidak mengulanginya. Lalu mereka menceritakan hal itu kepada Rasulullah , maka beliau membenarkan keduanya. Beliau bersabda kepada yang tidak mengulang: “Engkau telah sesuai dengan sunnah dan salatmu telah mencukupimu.” Dan beliau bersabda kepada yang mengulang: “Bagimu dua pahala.”

Dan sabda beliau kepada para sahabatnya: “Janganlah salah seorang di antara kalian salat Ashar kecuali di Bani Quraizhah.” Maka sebagian mereka salat untuk menjaga waktu, dan sebagian yang lain memahami sesuai makna literal (teks).

Adapun sifat (sifat): yaitu apa yang tetap dari beliau , seperti bahwa beliau selalu ceria, lembut, tidak kasar dan tidak keras, tidak suka berteriak, tidak berkata kotor, dan tidak suka mencela. Bahkan beliau berada pada puncak akhlak yang mulia, sebagaimana firman Allah tentang beliau:

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas akhlak yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)

Adapun sifat fisik (khalqiyyah): seperti bahwa wajah beliau putih bercampur kemerahan, dan tubuh beliau sedang, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek.

Jika engkau ingin mengetahui lebih banyak tentang hal ini, maka rujuklah kitab-kitab hadis sahih karena di dalamnya terdapat banyak keterangan, atau kitab Ihya’ ‘Ulum Ad-Din karya Imam Al-Ghazali.


Hadis Nabawi terbagi menjadi dua bagian:

Bagian pertama: yang dihasilkan oleh Nabi melalui pemahamannya terhadap firman Allah عز وجل, atau melalui perenungannya terhadap hakikat alam. Ini adalah sisi ijtihad, dan bagian ini bukanlah firman Allah secara langsung.

Bagian kedua: yang bersifat tauqifi, yaitu Rasul menerima maknanya dari wahyu, lalu beliau mengungkapkannya dengan kata-katanya sendiri. Ia dinisbatkan kepada Allah dari segi maknanya, dan kepada Rasul dari segi lafaznya.

Bagaimanapun, hadis nabawi dalam kedua bagiannya kembali kepada wahyu, karena Nabi adalah orang yang jujur dan terpercaya dalam menyampaikan. Dalam ijtihadnya pun beliau mendapat bimbingan, karena wahyu mendukungnya, sehingga jika beliau keliru dalam suatu perkara syariat, beliau tidak dibiarkan dalam kesalahan tersebut. Maka pada hakikatnya, semuanya kembali kepada wahyu dalam kedua keadaan itu.

Karena itu, wajib bagi kita menerima semua yang datang dari beliau. Allah Ta‘ala berfirman: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka ambillah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7)

Dan firman-Nya: “Tidaklah pantas bagi seorang mukmin laki-laki dan perempuan, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, masih ada pilihan bagi mereka dalam urusan mereka.” (QS. Al-Ahzab: 36)

Berdasarkan hal ini, tidak ada perbedaan antara hadis qudsi dan hadis nabawi menurut pendapat yang rajih, yaitu bahwa hadis qudsi lafaznya dari Rasul dan maknanya dari Allah Ta‘ala.


Kesimpulan:

Al-Qur’an, baik lafaz maupun maknanya, berasal dari Allah Ta‘ala. Tidak ada campur tangan Jibril maupun Rasul dalam hal itu kecuali dalam penyampaian, kemudian penjelasan dan penerapan.

Hadis qudsi: maknanya dari Allah dan lafaznya dari Rasul—ini adalah pendapat yang lebih kuat.

Hadis nabawi dengan kedua bagiannya kembali kepada wahyu.


Dan Al-Qur’an memiliki keistimewaan-keistimewaan sebagai berikut::

  1. Mengandung tantangan dan kemukjizatan.
  2. Diriwayatkan secara mutawatir; seluruh Al-Qur’an diriwayatkan secara mutawatir sehingga pasti kebenarannya.
  3. Lafaz dan maknanya berasal dari Allah Ta‘ala; ia adalah wahyu dalam lafaz dan makna.
  4. Membacanya merupakan ibadah.
  5. Salat tidak sah kecuali dengan membacanya.
  6. Pahala bacaan telah ditentukan: setiap huruf mendapat satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali.

Nama-nama Al-Qur’an:

Al-Qur’an Al-Karim memiliki lebih dari satu nama:

  1. Al-Kitab: “Kitab itu tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 2)
  2. Al-Furqan: “Mahasuci Allah yang menurunkan Al-Furqan kepada hamba-Nya agar menjadi pemberi peringatan bagi seluruh alam.” (QS. Al-Furqan: 1)
  3. Adz-Dzikr: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)
  4. At-Tanzil: “Dan sesungguhnya ia benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dibawa turun oleh Ruhul Amin.” (QS. Asy-Syu’ara: 192-193)

Di antara nama-nama tersebut, yang paling sering digunakan adalah: Al-Qur’an dan Al-Kitab.

Az-Zarkasyi dalam kitab Al-Burhan menyebutkan bahwa ada ulama yang menulis khusus tentang nama-nama Al-Qur’an, dan ia mengatakan bahwa Al-Harali menyusunnya dalam satu bagian dan jumlahnya mencapai lebih dari sembilan puluh nama.

Qadhi Abu Al-Ma‘ali ‘Aziz bin ‘Abdul Malik berkata: “Ketahuilah bahwa Allah Ta‘ala menamai Al-Qur’an dengan lima puluh lima nama.”

Namun kenyataannya, mereka mencampur antara nama dan sifat.

Di antaranya mereka menyebut: “Cahaya” (Nur): “Dan Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang.” (QS. An-Nisa: 174), “Petunjuk” (Huda): “Petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Luqman: 3), “Rahmat”: “Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya hendaklah mereka bergembira...” (QS. Yunus: 58), “Berkah” (Mubarak): “Dan ini adalah kitab yang Kami turunkan penuh berkah...” (QS. Al-An’am: 92) dan firman-Nya: “Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya.” (QS. Shaad: 29)

Demikianlah, engkau melihat bahwa ini semua adalah sifat-sifat Al-Qur’an, namun mereka memasukkannya sebagai bagian dari nama-namanya. Adapun sifat-sifatnya memang sangat banyak.”

Terjemahan lengkap (tidak diringkas):


Penerapan praktis dari materi melalui aktivitas pendamping:

  • Membaca beberapa ayat dari Al-Qur’an Al-Karim.
  • Membaca satu hadis dari hadis-hadis qudsi dan satu hadis dari hadis-hadis nabawi yang mulia.
  • Meminta bantuan kepada seseorang yang memiliki keahlian dalam gaya bahasa Arab untuk menjelaskan kepada para jamaah masjid perbedaan antara hadis qudsi dan hadis nabawi di satu sisi, dan Al-Qur’an Al-Karim di sisi yang lain.
  • Mendesain sebuah tabel yang menjelaskan perbedaan antara Al-Qur’an Al-Karim dan kedua jenis hadis, yaitu hadis qudsi dan hadis nabawi.

Evaluasi dan pengukuran diri:

S1: Apa definisi Al-Qur’an menurut para ulama?
S2: Bagaimana para ulama mendefinisikan masing-masing hadis qudsi dan hadis nabawi yang mulia?
S3: Bandingkan antara hadis qudsi dan hadis nabawi.
S4: Bandingkan antara Al-Qur’an Al-Karim dan hadis qudsi.
S5: Apa saja yang boleh diriwayatkan dengan lafaz dan makna, dan apa yang boleh diriwayatkan dengan makna saja tanpa lafaz, dari wahyu dalam tiga bentuknya (Al-Qur’an dan hadis)?
S6: Apa saja syarat-syarat periwayatan dengan makna tanpa lafaz?
S7: Apa hikmah bahwa Al-Qur’an diriwayatkan dengan lafaz dan makna sekaligus?
S8: Apakah Al-Qur’an menyampaikan perkataan orang-orang kafir dengan makna atau dengan lafaz? Dan mengapa demikian?
S9: Apa pelajaran yang dapat diambil dari hal tersebut?
S10: Jika seorang aktor memerankan suatu peran dalam film yang mengandung pesan Islami, lalu ia menyampaikan ucapan salah satu tokoh dengan maknanya saja tanpa lafaz aslinya, apakah hal itu dianggap sebagai kebohongan?
S11: Dalam bidang dakwah, kapan Anda menyampaikan suatu ucapan dengan lafaz dan maknanya, dan kapan Anda menyampaikannya dengan maknanya saja tanpa lafaz?
S12: Al-Qur’an Al-Karim memiliki beberapa nama yang disebutkan di dalam Al-Qur’an seperti An-Nur, Al-Furqan, dan Al-Kitab; apa makna penamaan Al-Qur’an dengan nama-nama tersebut?
S13: Apa yang membedakan Al-Qur’an Al-Karim dari kitab-kitab samawi sebelumnya?
S14: Al-Qur’an berbicara tentang ilmu Allah yang azali terhadap apa yang akan terjadi hingga hari kiamat; bandingkan apa yang disebutkan dalam Al-Qur’an tentang hal ini dengan apa yang disebutkan tentang topik yang sama dalam Kitab Kejadian (Perjanjian Lama).
S15: Apakah Anda membaca wirid harian (Al-Qur’an) setiap hari? Jika tidak, mengapa? Jika ya, apa pengaruh Al-Qur’an terhadap diri dan hati Anda?
S16: Apakah pernah terlintas dalam benak Anda saat membaca Al-Qur’an sebagian makna yang dibicarakannya?
S17: Seberapa besar perhatian Anda ketika membaca Kitab Allah Ta‘ala?
S18: Apakah Anda memanfaatkan waktu saat mengemudi untuk mendengarkan Al-Qur’an Al-Karim?
S19: Apakah Anda berbicara dengan teman, tertawa, dan bercanda sementara Anda sedang mendengarkan firman Allah dari rekaman atau radio Al-Qur’an?
S20: Ketika Anda mendengarkan Al-Qur’an dan mendengar suatu lafaz yang tidak Anda pahami maknanya atau ayat yang mengandung makna yang tidak Anda mengerti, apakah Anda berusaha merujuk kepada ahli atau kepada kitab-kitab tafsir untuk memahaminya?”

Perkembangan Ilmu Qur'an

Lahirnya Ilmu dan Sejarah Pembukuannya serta Keutamaannya atas Ilmu-ilmu Lain

Pendahuluan

Lahirnya Ilmu Ini dan Sejarah Pembukuannya

Hampir tidak kita temukan satu pun ilmu yang digeluti kaum Muslimin sepanjang sejarah panjang mereka, kecuali bahwa dorongan utamanya adalah untuk melayani Al-Qur’an dari sudut pandang ilmu tersebut.

Ilmu nahwu (tata bahasa) yang memperbaiki lisan dan menjaga dari kesalahan, bertujuan untuk menjaga pelafalan Al-Qur’an yang benar. Ilmu balaghah (retorika) yang menjelaskan keindahan dan karakteristik bahasa Arab bertujuan untuk menyingkap aspek kemukjizatan Al-Qur’an dan rahasia sastranya.

Pengumpulan kosakata bahasa, pencarian kata-kata langka, contoh-contohnya, pengaturan lafaz dan penentuan maknanya, semua itu bertujuan menjaga lafaz dan makna Al-Qur’an dari perubahan atau kesamaran.

Ilmu tajwid dan qira’at bertujuan menjaga cara pembacaannya dan mempertahankan ragam dialeknya. Ilmu tafsir untuk menjelaskan maknanya dan mengungkap maksud serta rahasianya. Ilmu fikih untuk menggali hukum-hukumnya. Ilmu ushul fikih untuk menjelaskan kaidah umum syariat dan metode pengambilan hukum darinya.

Ilmu kalam bertujuan menjelaskan akidah yang dibawa Al-Qur’an serta metode argumentasinya. Demikian pula ilmu sejarah dan ilmu-ilmu lainnya, tidak ada satu pun yang dipelajari oleh kaum Muslimin kecuali dengan tujuan melayani Al-Qur’an atau merealisasikan petunjuk yang dianjurkannya.

Muhammad bin Ahmad Al-Kalbi dalam kitabnya “At-Tashil li ‘Ulum At-Tanzil” pada bagian keempat dari pendahuluan pertama berkata:

“Ketahuilah bahwa pembahasan tentang Al-Qur’an membutuhkan pembahasan dalam dua belas cabang ilmu: tafsir, qira’at, hukum-hukum, nasikh-mansukh, hadis, kisah, tasawuf, ushuluddin, ushul fikih, bahasa, nahwu, dan balaghah (bayan).”

Adapun tafsir adalah tujuan utama, sedangkan cabang ilmu lainnya merupakan alat bantu, berkaitan dengannya, atau turunan darinya.

Dan karena tafsir itu merupakan tujuan utama pada dirinya sendiri, sedangkan cabang-cabang ilmu ini hanyalah alat bantu baginya, atau berkaitan dengannya, atau merupakan turunan darinya, maka orang yang hendak menafsirkan Al-Qur’an wajib membekali dirinya dengan perangkat-perangkat ilmu tersebut agar tidak terjatuh ke dalam kesalahan yang dilarang.

Ilmu-ilmu yang disebutkan Al-Kalbi ini merupakan bagian besar dari “Ulum Al-Qur’an”. Maka dapat dikatakan bahwa ilmu ini telah ada sejak turunnya wahyu kepada Rasulullah , sebelum ilmu-ilmu itu dibukukan atau dikenal sebagai disiplin tersendiri.

Maka wahyu itu dahulu turun kepada Rasulullah , kemudian setelah menetap di dalam hatinya, beliau mengajarkannya kepada para sahabatnya. Mereka pun mengambil bacaan darinya, dan mereka selalu menyertainya selama masa turunnya wahyu, sehingga mereka mengetahui sebab-sebab turunnya ayat. Mereka juga mengetahui ayat yang nasikh dan mansukh, serta ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah dari Al-Qur’an yang mulia. Selain itu, mereka juga bertanya kepadanya tentang sebagian makna yang belum jelas bagi mereka. Hal ini ditunjukkan oleh beberapa riwayat yang diriwayatkan dari sebagian mereka.

Ibnu Mas‘ud رضي الله عنه berkata: “Demi (Allah) yang tidak ada tuhan selain Dia, tidaklah turun satu ayat pun dari Kitab Allah melainkan aku mengetahui tentang siapa ayat itu diturunkan dan di mana ia diturunkan. Dan seandainya aku mengetahui ada seseorang yang lebih mengetahui tentang Kitab Allah daripadaku, yang dapat dijangkau oleh kendaraan (unta), niscaya aku akan mendatanginya

Abu Abdurrahman As-Sulami berkata: “Orang-orang yang dahulu mengajarkan kami (Al-Qur’an) telah menceritakan kepada kami bahwa mereka belajar membaca (Al-Qur’an) dari Nabi . Dan mereka apabila telah mempelajari sepuluh ayat, mereka tidak melampauinya sampai mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya. Maka mereka mempelajari Al-Qur’an sekaligus mengamalkannya.”

Mujahid bin Jubair berkata:
“Aku benar-benar telah memperdengarkan mushaf kepada Ibnu Abbas sebanyak tiga kali pembacaan, dari awal hingga akhirnya; aku berhenti pada setiap ayat darinya dan menanyakannya kepadanya.”

Maka pada masa Rasulullah , pengetahuan belum disusun sebagai disiplin-disiplin ilmu yang dibukukan dan belum dihimpun dalam kitab-kitab yang ditulis, karena mereka belum membutuhkan pembukuan dan penulisan. Adapun Rasulullah , karena beliau menerima wahyu dari Tuhannya, dan Allah telah menjamin untuk mengumpulkannya dalam dadanya.

Allah Ta‘ala berfirman:
“Janganlah engkau gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya dan (membuatmu) membacanya. Maka apabila Kami telah membacakannya, ikutilah bacaannya itu. Kemudian sesungguhnya Kami pula yang akan menjelaskannya.”

Kemudian Rasul menyampaikannya dan membacakannya kepada manusia secara bertahap agar mereka dapat mengambilnya dengan baik, menghafal lafaznya, dan memahami rahasianya. Lalu Rasul menjelaskan kepada mereka apa yang belum jelas bagi mereka, sebagai pelaksanaan perintah Allah Ta‘ala ketika berfirman:
“(Kami utus para rasul itu) dengan membawa keterangan-keterangan dan kitab-kitab, dan Kami turunkan kepadamu Adz-Dzikr (Al-Qur’an) agar engkau menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka, dan agar mereka berpikir.”

Para sahabat, di samping itu, adalah orang-orang Arab murni yang memiliki seluruh karakteristik bahasa Arab dan kelebihannya secara sempurna, berupa kekuatan hafalan, kecerdasan naluri, dan kemampuan merasakan keindahan bahasa. Maka mereka memahami dari ilmu-ilmu Al-Qur’an dan dari kemukjizatannya dengan naluri mereka dan kejernihan fitrah mereka sesuatu yang tidak dapat kita capai di tengah padatnya ilmu dan banyaknya cabang pengetahuan. Namun, dengan semua kelebihan itu, mereka adalah orang-orang yang ummi, yaitu keadaan tidak bisa membaca dan menulis adalah sifat yang dominan pada mereka.

Alat-alat tulis pun tidak mudah tersedia bagi mereka, ditambah lagi dengan larangan Rasulullah agar mereka tidak menulis sesuatu darinya selain Al-Qur’an.

Beliau bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Sa‘id Al-Khudri:
“Janganlah kalian menulis dariku; barang siapa menulis dariku selain Al-Qur’an maka hendaklah ia menghapusnya. Dan sampaikanlah dariku, tidak mengapa. Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.”
Hal itu karena dikhawatirkan Al-Qur’an akan bercampur dengan selainnya, atau bercampur dengannya sesuatu yang bukan bagian darinya.

Karena alasan-alasan ini, ilmu-ilmu Al-Qur’an tidak ditulis, sebagaimana ilmu-ilmu lainnya juga tidak ditulis. Pengajaran pada masa itu bergantung pada hafalan (talqin), bukan pembukuan; pada penyampaian lisan, bukan tulisan. Keadaan ini terus berlangsung selama masa kekhalifahan dua khalifah, Abu Bakar dan Umar.

Kemudian datang masa kekhalifahan Utsman رضي الله عنه, dan orang Arab bercampur dengan selain mereka. Dikhawatirkan karakteristik ke-Arab-an akan memudar akibat penaklukan yang terjadi pada masanya. Bahkan dikhawatirkan Al-Qur’an sendiri akan diperselisihkan oleh kaum Muslimin jika mereka tidak bersatu pada satu mushaf standar.

Karena itu, Utsman memerintahkan setelah bermusyawarah dengan para sahabat agar Al-Qur’an dikumpulkan dalam satu mushaf induk, kemudian disalin menjadi beberapa mushaf yang dikirim ke berbagai wilayah, dan agar semua selainnya dibakar. Dengan tindakan ini, Utsman bin ‘Affan meletakkan dasar bagi apa yang disebut sebagai ilmu رسم القرآن (penulisan Al-Qur’an) atau rasm Utsmani.

Kemudian datang Ali رضي الله عنه, dan ia melihat bahwa kesalahan berbahasa mulai mempengaruhi bahasa Arab. Maka ia memerintahkan Abu Al-Aswad Ad-Du’ali untuk meletakkan beberapa kaidah guna melindungi bahasa Al-Qur’an dari kerusakan dan penyimpangan. Dengan demikian, kita dapat mengatakan bahwa Ali رضي الله عنه telah meletakkan dasar bagi apa yang kita kenal sebagai ilmu nahwu, yang diikuti oleh ilmu i‘rab Al-Qur’an.

Banyak sumber menyebutkan bahwa Ziyad bin Abihi (wafat tahun 53 H) meminta Abu Al-Aswad Ad-Du’ali (wafat tahun 69 H) untuk membuat tanda-tanda yang menunjukkan harakat dan tanwin. Ada riwayat lain yang menyatakan bahwa yang melakukannya adalah muridnya, Nashr bin ‘Ashim (wafat tahun 89 H atau 90 H).

Sebagian sahabat dan tabi‘in seperti Abdullah bin Umar, Qatadah, An-Nakha‘i, dan Muhammad bin Sirin menentang pembaruan ini. Tampaknya pemberian titik dan tanda baca pada mushaf juga berasal dari masa ini. Ibnu Abi Dawud As-Sijistani menyebutkan bahwa Abdullah bin Ziyad (wafat tahun 69 H), gubernur Basrah, menugaskan penulisnya, Yazid Al-Farisi, untuk melakukan pekerjaan ini.

Adapun pembagian Al-Qur’an menjadi bagian-bagian yang berbeda dilakukan oleh Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi, penguasa Kufah.

Sedangkan tanda-tanda seperti seperlima dan sepersepuluh dalam Al-Qur’an ditambahkan oleh ahli nahwu Nashr bin ‘Ashim. Kitab tertua yang sampai kepada kita yang menyebut pembagian ini adalah kitab A‘syar Al-Qur’an karya Qatadah (wafat tahun 118 H).

Sepanjang abad pertama dan setengah pertama abad kedua, proses periwayatan dan penerimaan ilmu berlangsung tanpa pembukuan dan tanpa penyusunan.

Ahmad Amin menggambarkan masa ini dalam bukunya Dhuha Al-Islam dengan mengatakan:
“Ilmu-ilmu belum terpisah; tidak ada ilmu yang berdiri sendiri bernama tafsir, dan tidak ada ilmu yang berdiri sendiri bernama fikih. Demikian pula para ulama; Ibnu Abbas berbicara dalam satu majelis tentang berbagai masalah dari berbagai cabang ilmu, demikian pula yang lain. Kebudayaan merupakan satu kesatuan yang bercampur dari tafsir, hadis, fikih, serta bahasa dan syair, semuanya disampaikan dalam satu pelajaran. Hadis pun belum dibagi-bagi. Hingga ketika memasuki pertengahan abad kedua, kita melihat arah mulai menuju pemisahan ilmu dan pemilahan antar cabang, dan hal itu terjadi pada awal masa Abbasiyah. Setelah tahap ini, dimulailah masa baru, yaitu masa pembukuan dan pengelompokan, dan tafsir, ilmu Al-Qur’an, serta hadis mendapatkan bagian terbesar.”

Adz-Dzahabi berkata:
“Para ulama Muslim mulai menuliskan hadis, fikih, dan tafsir. Maka para ulama menulis dalam setiap cabang, dan penulisan serta pengelompokan ilmu menjadi banyak. Ditulis pula kitab-kitab bahasa Arab, bahasa, sejarah, dan kisah-kisah manusia. Sebelum itu, para imam berbicara dari hafalan mereka atau meriwayatkan ilmu dari lembaran-lembaran yang tidak tersusun.”

Kajian tentang Al-Qur’an dan Sunnah terus berkembang, bercabang, dan meluas hingga menjadi kebutuhan bagi para ulama di setiap wilayah untuk menyusun kitab-kitab agar mereka dapat menjaga untuk generasi mendatang apa yang mereka terima dan pelajari.

Dr. Muhammad Husain Adz-Dzahabi dalam kitabnya At-Tafsir wal-Mufassirun berkata:
“Setelah masa sahabat dan tabi‘in, tafsir melangkah ke tahap kedua, yaitu ketika dimulai pembukuan hadis Rasulullah . Bab-babnya beragam, dan tafsir merupakan salah satu bagian dari bab-bab hadis tersebut. Tafsir belum ditulis secara khusus yang menafsirkan Al-Qur’an surat demi surat dan ayat demi ayat, tetapi ada para ulama yang berkeliling ke berbagai negeri untuk mengumpulkan hadis, dan mereka juga mengumpulkan riwayat tafsir yang dinisbatkan kepada Nabi, sahabat, atau tabi‘in, di antaranya:

  1. Syu‘bah bin Al-Hajjaj (wafat 160 H)
  2. Waki‘ bin Al-Jarrah (wafat 197 H)
  3. Sufyan bin ‘Uyainah (wafat 198 H)
  4. Abdur Razzaq bin Hammam (wafat 211 H)

Dan banyak lainnya. Pengumpulan tafsir oleh mereka merupakan bagian dari pengumpulan hadis, bukan sebagai karya tafsir yang berdiri sendiri. Semua yang mereka riwayatkan bersanad kepada para pendahulu mereka, namun tidak sampai kepada kita.”

Kemudian setelah tahap ini, tafsir melangkah ke tahap ketiga, yaitu terpisah dari hadis dan menjadi ilmu yang berdiri sendiri, disusun ayat demi ayat sesuai urutan mushaf. Hal ini dilakukan oleh sejumlah ulama, di antaranya:

  1. Ibnu Majah (wafat 273 H)
  2. Ibnu Jarir At-Tabari (wafat 310 H)
  3. Abu Bakar Al-Mundzir An-Naisaburi (wafat 318 H)
  4. Ibnu Abi Hatim (wafat 327 H)
  5. Ibnu Hibban (wafat 366 H)
  6. Al-Hakim (wafat 405 H)

Dan ulama lainnya. Semua tafsir ini diriwayatkan dengan sanad kepada Rasulullah , sahabat, tabi‘in, dan tabi‘ tabi‘in. Isinya tidak melebihi tafsir riwayat, kecuali pada karya Ibnu Jarir At-Tabari yang menyebutkan berbagai pendapat, kemudian mengarahkannya dan memilih yang lebih kuat.

  1. Dan jika kita ingin menghitung karya-karya yang telah ditulis dalam ilmu-ilmu Al-Qur’an dan dalam tafsir, maka sesungguhnya kita tidak akan mampu, karena jumlahnya sangat banyak, sehingga tidak mungkin dibatasi. Akan tetapi, kita dapat menyebutkan sebagian darinya sebagai contoh, bukan untuk membatasi, dari kalangan para ulama berikut:
  2. Abu Mu‘awiyah Husyaim bin Basyir bin Qasim As-Sulami, ia hidup di Baghdad dan merupakan seorang ahli tafsir, ahli hadis, dan ahli fikih. Di antara murid-muridnya adalah Imam Ahmad bin Hanbal. Ia wafat pada tahun (183 H). Ia memiliki sebuah kitab tafsir yang digunakan oleh Ath-Thabari dalam kitab tafsir dan sejarahnya, dan juga digunakan oleh Ats-Tsa‘labi melalui riwayat Ziyad bin Ayyub.
  3. Abu Abdullah bin Ayyub bin Yahya Ar-Razi, wafat pada tahun (194 H) di Rayy. Ia memiliki karya berjudul ‘Fadha’il Al-Qur’an’, juga tentang ayat-ayat yang diturunkan di Makkah, dan ayat-ayat yang diturunkan di Madinah.
  4. Abu Bakar Muhammad bin ‘Aziz As-Sijistani, wafat pada tahun (330 H). Ia memiliki kitab Gharib Al-Qur’an, atau Nuzhat Al-Qulub, atau At-Tibyan fi Tafsir Al-Qur’an.
  5. Ja‘far bin Basyir bin Ahmad Ats-Tsaqafi, seorang ahli ilmu kalam, menulis tentang nasikh dan mansukh. Hal itu disebutkan oleh Ibnu An-Nadim dalam kitab Al-Fihrist halaman (62).
  6. Imam Ahmad bin Hanbal, yang wafat pada tahun (241 H), telah menulis beberapa kitab, di antaranya sebuah tafsir besar tentang Al-Qur’an Al-Karim, serta kitab tentang nasikh dan mansukh Al-Qur’an. Meskipun kitab ini tidak sampai kepada kita, namun orang yang berminat untuk mengumpulkannya masih dapat menelusuri riwayat-riwayat yang sahih dinisbatkan kepadanya dalam pembahasan tentang nasikh Al-Qur’an pada kitab karya Ibnul Jauzi.

Demikian pula, Ali bin Al-Madini, guru Al-Bukhari, telah menulis tentang sebab-sebab turunnya ayat pada tahun (234 H). Dan termasuk di barisan terdepan dari para ulama yang mulia ini adalah imam agung Muhammad bin Idris Asy-Syafi‘i, yang wafat pada tahun (204 H). Ia telah menjelaskan tentang nasikh dan mansukh dari Kitab Allah Yang Maha Mulia dalam kitabnya Ahkam Al-Qur’an yang dihimpun oleh Al-Hafizh Al-Baihaqi, penulis As-Sunan Al-Kubra.

Demikian pula Imam Asy-Syafi‘i mendiktekan kepada Ar-Rabi‘ Al-Muradi risalahnya yang dengannya ia meletakkan dasar-dasar pertama ilmu ushul fikih, yang merupakan bagian dari ilmu-ilmu Al-Qur’an. Ibnu Khaldun berkata:
“Orang pertama yang menulis dalam ilmu ushul fikih adalah Asy-Syafi‘i.”

Az-Zarkasyi berkata dalam kitabnya Al-Bahr Al-Muhith fi Ushul Al-Fiqh:
“Asy-Syafi‘i adalah orang pertama yang menyusun ilmu ushul fikih; ia menyusun kitab Ar-Risalah, kitab Ahkam Al-Qur’an, dan Ikhtilaf Al-Hadits.”

Dan telah sampai kepada kita sejumlah besar kitab yang ditulis dalam ilmu-ilmu Al-Qur’an, di antaranya:

  1. Gharib Al-Qur’an karya Qutrub Muhammad bin Al-Mustanir, wafat tahun (206 H).
  2. Ma‘ani Al-Qur’an karya Al-Farra’ Yahya bin Ziyad, wafat tahun (207 H).
  3. Majaz Al-Qur’an karya Abu ‘Ubaidah Ma‘mar bin Al-Mutsanna, wafat tahun (201 H).
  4. Fadha’il Al-Qur’an dan Gharib Al-Qur’an karya Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Salam, wafat tahun (223 H), dan ia juga memiliki karya tentang nasikh dan mansukh.
  5. Gharib Al-Qur’an karya Imam Abdullah bin Muslim bin Qutaibah, wafat tahun (276 H), serta Musykil Al-Qur’an.
  6. Mutasyabih Al-Qur’an karya Abu Hamzah Al-Kisa’i (Ali bin Hamzah Al-Kisa’i), wafat tahun (282 H).
  7. Ma‘ani Al-Qur’an dan I‘rab Al-Qur’an karya Az-Zajjaj, wafat tahun (311 H).
  8. Ma‘ani Al-Qur’an karya Abu Ja‘far An-Nahhas, dan ia juga memiliki karya tentang nasikh dan mansukh, wafat tahun (338 H).
  9. I‘jaz Al-Qur’an karya Al-Baqillani, serta kitab Al-Intishar li Shihhat Naql Al-Qur’an dan Hidayat Al-Mursyidin, wafat tahun (403 H).
  10. An-Nukat fi I‘jaz Al-Qur’an karya Ali bin ‘Isa Ar-Rummani, wafat tahun (386 H).

Dan kitab ini merupakan sebuah risalah yang termasuk dalam tiga risalah tentang kemukjizatan Al-Qur’an: yang pertama karya Al-Khattabi, yang kedua karya Ar-Rummani, dan yang ketiga karya Abdul Qahir Al-Jurjani, yang wafat tahun (471 H).

Kitab-kitab ini bukanlah seluruh yang sampai kepada kita atau yang telah ditulis dalam bidang ini, melainkan hanyalah seperti setetes air di lautan. Namun demikian, ini adalah gambaran singkat yang melaluinya kita dapat memahami usaha-usaha besar yang telah dilakukan oleh para imam dan ulama kita yang mulia pada setiap masa dalam sejarah panjang kita, bahkan pada masa-masa yang paling gelap dan krisis yang paling berat yang pernah dialami oleh dunia Islam akibat peperangan dan penyerangan, serta penindasan dari sebagian penguasa pada waktu-waktu tertentu.

Meskipun demikian, perjalanan ini tidak pernah terhenti dan tidak pernah terputus, karena bekerja dalam bidang ini mengandung kemuliaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat.

Dan ketika penulisan tentang Al-Qur’an Al-Karim semakin banyak, para ulama berusaha untuk memeras (mengambil inti) dari karya-karya besar dan banyak tersebut satu ilmu baru yang menjadi seperti penunjuk dan penjelas tentangnya. Maka ilmu ini adalah apa yang sekarang disebut dengan “Ulum Al-Qur’an”, dalam arti sebagai suatu disiplin ilmu yang dibukukan.

Kemudian tersisa pertanyaan: kapan bayi baru ini muncul dan berdiri sendiri dengan nama ini? Untuk menjawab pertanyaan ini, kami katakan: kami tidak mengetahui bahwa ada seseorang sebelum abad keempat Hijriah yang menulis atau mencoba menulis tentang Ulum Al-Qur’an dalam arti sebagai disiplin ilmu yang dibukukan, karena dorongan untuk jenis penulisan seperti ini belum tersedia pada mereka.

Yang ada hanyalah bahwa ilmu-ilmu ini disebutkan dalam pendahuluan kitab-kitab tafsir atau tersebar di dalam isi kitab-kitab, dan sebagian pembahasan yang membahas setiap jenis dari jenis-jenis Ulum Al-Qur’an secara terpisah ditulis secara panjang lebar sehingga tidak mungkin untuk mencakupnya dalam keadaan seperti itu. Hal ini tidak berarti bahwa ilmu-ilmu tersebut tidak dikenal oleh mereka, bahkan ilmu-ilmu itu telah tersimpan dalam dada mereka sebelum dibukukan dan setelahnya, meskipun mereka tidak menuliskannya dalam satu kitab dan tidak memberinya nama khusus. Hal ini ditunjukkan oleh apa yang dikatakan oleh Imam Asy-Syafi‘i kepada Khalifah Harun Ar-Rasyid ketika ia bertanya kepadanya: “Bagaimana pengetahuanmu, wahai Syafi‘i, tentang Kitab Allah عز وجل?”

Maka Asy-Syafi‘i رضي الله عنه berkata:
“Sesungguhnya ilmu-ilmu Al-Qur’an itu banyak. Apakah engkau bertanya kepadaku tentang yang muhkam dan mutasyabihnya, atau tentang yang didahulukan dan diakhirkan, atau tentang yang nasikh dan mansukh?”
Lalu ia terus menyebutkan berbagai cabang ilmu Al-Qur’an dan menjawab setiap pertanyaan dengan jawaban yang membuat Ar-Rasyid dan para hadirin merasa takjub.

Dari pernyataan ini kita memahami bahwa ilmu-ilmu Al-Qur’an telah ada di dalam hati para ulama sebelum dihimpun dalam kitab atau dibukukan sebagai suatu ilmu.

Dan dengan permulaan abad keempat Hijriah, muncul kitab-kitab yang membahas studi Al-Qur’an dengan nama yang jelas “Ulum Al-Qur’an”. Yang paling awal di antaranya adalah kitab Al-Hawi fi Ulum Al-Qur’an karya Muhammad bin Khalaf Al-Marzubani, yang wafat pada tahun (309 H).

Pada abad keempat juga, Abu Bakar Muhammad bin Al-Qasim Al-Anbari menulis kitab ‘Aja’ib Ulum Al-Qur’an, di dalamnya ia membahas keutamaan Al-Qur’an, turunnya dengan tujuh huruf, penulisan mushaf, jumlah surah, ayat, dan kata-kata. Terdapat satu naskah manuskripnya di Perpustakaan Kota Alexandria di Mesir.

Pada abad kelima, Ali bin Ibrahim bin Sa‘id Al-Hufi, seorang ahli nahwu dari Mesir, menulis kitab Al-Burhan fi Ulum Al-Qur’an. Kitab ini terdiri dari tiga puluh jilid, dan yang tersisa darinya lima belas jilid yang tidak tersusun dan tidak berurutan dalam satu naskah manuskrip di Dar Al-Kutub Mesir (nomor 59 tafsir). Terdapat pula salinan lain dari kitab tersebut dalam tujuh jilid manuskrip, yaitu dari jilid pertama hingga kelima dan jilid kesebelas, serta satu bagian lain yang kurang pada bagian awalnya dengan nomor (517) tafsir.

Setelah menelaah kitab ini, aku memperhatikan bahwa penulisnya memaparkan beberapa jenis Ulum Al-Qur’an melalui tafsir, seperti i‘rab, waqaf dan ibtida’, qira’at, hukum-hukum, dan lainnya, meskipun ia menggunakan judul Al-Burhan fi Ulum Al-Qur’an atau Al-Burhan fi Tafsir Al-Qur’an.

Pada abad keenam Hijriah, Abu Al-Faraj Ibnu Al-Jauzi (wafat tahun 597 H) menulis kitabnya Funun Al-Afnan fi Ulum Al-Qur’an dan kitab lainnya Al-Mujtaba fi Ulum Tata‘allaq bil-Qur’an.

Pada abad ketujuh, ‘Alamuddin As-Sakhawi (wafat tahun 461 H) menulis sebuah kitab yang ia beri nama Jamal Al-Qurra’.

Demikian pula Abu Syamah (wafat tahun 665 H) menulis kitab Al-Murshid Al-Wajiz fi ‘Ulum Tata‘allaq bil-Qur’an Al-‘Aziz, dan ia membaginya menjadi enam bab:

Bab pertama: tentang penjelasan bagaimana turunnya Al-Qur’an, cara membacanya, dan penyebutan para penghafalnya.
Bab kedua: tentang pengumpulan Al-Qur’an oleh para sahabat serta penjelasan apa yang dilakukan oleh Abu Bakar, Umar, dan Utsman.
Bab ketiga: tentang makna sabda Nabi : “Al-Qur’an diturunkan atas tujuh huruf.” Abu Syamah membahas hadis ini secara panjang lebar, menyebutkan pendapat para ulama serta hadis-hadis yang datang dalam bab ini.
Bab keempat: tentang makna qira’at tujuh yang terkenal.
Bab kelima: tentang pembedaan antara bacaan yang sahih dan kuat dengan bacaan yang syadz (lemah).
Bab keenam: tentang perhatian terhadap ilmu-ilmu Al-Qur’an yang bermanfaat dan mengamalkannya.

Kemudian datang abad kedelapan.

Maka Imam Badruddin Az-Zarkasyi menulis kitabnya Al-Burhan fi ‘Ulum Al-Qur’an, dan kitab ini adalah yang paling agung dan paling menyeluruh dalam bidang ini. Penulisnya telah mengumpulkan di dalamnya inti pendapat para ulama terdahulu dan pilihan terbaik dari pandangan para ulama yang teliti. Kitab ini bersama Al-Itqan termasuk rujukan paling utama dalam bidang ini menurut kesepakatan semua pihak.

Pada abad kesembilan Hijriah, Imam Jalaluddin Al-Balqini, salah satu ulama hadis di Mesir (wafat di sana tahun 824 H), menulis sebuah kitab yang diberinya nama Mawaqi‘ Al-‘Ulum min Mawaqi‘ An-Nujum, yang disusunnya menjadi lima puluh jenis. Kemudian As-Suyuthi menulis kitab yang ia beri nama At-Tahbir fi ‘Ulum At-Tafsir, di mana ia memasukkan jenis-jenis yang disebutkan oleh Al-Balqini dan menambahkan yang lainnya, dan ia menyelesaikannya pada tahun (872 H).

Kemudian Muhyiddin At-Tafiji (wafat tahun 879 H) menulis sebuah kitab dalam ilmu tafsir yang belum pernah didahului sebelumnya menurut pengakuannya. As-Suyuthi berkata tentangnya: “Aku menyalinnya darinya, ternyata ukurannya sangat kecil.”

Kemudian As-Suyuthi menulis kitabnya yang komprehensif Al-Itqan fi ‘Ulum Al-Qur’an, yang ia susun menjadi delapan puluh jenis dengan cara penggabungan, sebagaimana ia katakan, dan ia menjadikannya sebagai pendahuluan bagi tafsir besarnya yang diberi nama Majma‘ Al-Bahrain wa Mathla‘ Al-Badrain.

Setelah penelusuran dalam berbagai kitab untuk mengetahui asal-usul ilmu ini, kita dapat merangkumnya dalam beberapa poin sebagai berikut:

  1. Dari segi kemunculannya, penelitian-penelitian yang kemudian dikenal dengan istilah “Ulum Al-Qur’an” telah ada sejak masa Nabi , sehingga tidak ada sesuatu pun darinya yang tersembunyi bagi beliau maupun para sahabatnya.
  2. Setelah masa pembukuan, ilmu ini mendapatkan perhatian yang besar, tetapi tidak dihimpun dalam satu kitab, melainkan disebutkan secara terpisah, dan sebagian di antaranya disebutkan dalam pendahuluan kitab-kitab tafsir.
  3. Pada abad keempat Hijriah, muncul beberapa kitab yang menggunakan nama “Ulum Al-Qur’an”, seperti kitab Al-Hawi fi ‘Ulum Al-Qur’an karya Ibnu Al-Marzuban, dan kitab ‘Aja’ib Al-Qur’an karya Ibnu Al-Anbari. Kemudian penulisan terus berlanjut hingga mencapai puncaknya pada masa Az-Zarkasyi dan As-Suyuthi.
  4. Sesungguhnya kitab yang paling agung yang ditulis dalam bidang ini adalah Al-Burhan karya Az-Zarkasyi dan Al-Itqan karya As-Suyuthi, dan keduanya termasuk rujukan terpenting yang menjadi tempat kembali para peneliti dan pelajar hingga masa sekarang.

Ilmu-ilmu Al-Qur’an setelah As-Suyuthi:

 

Gerakan penulisan dalam bidang ini mengalami kelesuan setelah wafatnya As-Suyuthi (911 H), sehingga tidak dikenal adanya kitab-kitab yang ditulis setelahnya hingga abad ke-12 Hijriah, di mana mulai tampak tanda-tanda kebangkitan kembali aktivitas dan penulisan dalam ilmu ini. Maka Waliullah Ad-Dahlawi (wafat tahun 1176 H) menulis sebuah risalah kecil tentang dasar-dasar tafsir.

Pada abad ke-14 Hijriah, Syaikh Thahir Al-Jazairi menulis kitabnya At-Tibyan li Ba‘dh Al-Mabahits Al-Muta‘alliqah bil-Qur’an dengan mengikuti metode Al-Itqan, dan ia menyelesaikan penulisannya pada tahun (1335 H), dengan jumlah sekitar tiga ratus halaman.

Juga telah ditulis risalah-risalah dalam berbagai tema ilmu Al-Qur’an oleh sebagian ulama terkemuka, di antaranya Syaikh Muhammad Bakhit Al-Muthi‘i, mantan Mufti Mesir, yang menulis sebuah risalah berjudul Al-Kalimat Al-Hisan, yang di dalamnya ia membahas tentang tujuh huruf yang dengannya Al-Qur’an diturunkan, serta pembahasan lain tentang pengumpulan Al-Qur’an.

Demikian pula Syaikh Muhammad Hasanin Makhluf Al-‘Adawi, mantan wakil Al-Azhar, menulis kitab berjudul ‘Unwan Al-Bayan fi ‘Ulum Al-Qur’an.

Almarhum Mustafa Shadiq Ar-Rafi‘i juga menulis kitab I‘jaz Al-Qur’an wal-Balaghah An-Nabawiyyah.

Syaikh Muhammad ‘Ali Salamah juga menulis kitab berjudul Manhaj Al-Furqan fi ‘Ulum Al-Qur’an, yang mencakup sebagian besar jenis ilmu ini dan ia menempuh jalan yang moderat dalam penyusunannya.

Syaikh Muhammad ‘Abdul ‘Azhim Az-Zarqani juga menulis kitab Manahil Al-‘Irfan fi ‘Ulum Al-Qur’an, yang merupakan kitab yang kaya dengan segala yang dibutuhkan manusia pada masa ini. Di dalamnya ia membahas banyak syubhat (keraguan) yang dilontarkan terhadap Al-Qur’an dan membantahnya dengan metode yang memuaskan peneliti serta menjawab berbagai pertanyaan.

Demikian pula Dr. Muhammad ‘Abdullah Draz menulis kitab An-Naba’ Al-‘Azhim, yang baru dalam tema dan mendalam dalam pemikirannya. Ia membahas tentang “penentuan makna Al-Qur’an” dan pada pembahasan kedua tentang “penjelasan sumber Al-Qur’an”, dan ia menyajikannya dengan cara yang sangat baik sesuai dengan tuntutan zaman ini.

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Jawish juga menulis ceramah-ceramah dengan tema Pengaruh Al-Qur’an dalam Membebaskan Akal Manusia.

Almarhum Prof. Muhammad ‘Abdul ‘Aziz Al-Khuli juga menulis kitab Al-Qur’an Al-Karim: Sifatnya, Pengaruhnya, Petunjuknya, dan Kemukjizatannya.

Almarhum Syaikh Tantawi Jauhari juga menulis risalah berjudul Al-Qur’an dan Ilmu-ilmu Modern.

Imam besar Syaikh Muhammad Mustafa Al-Maraghi, mantan Syaikh Al-Azhar, juga membahas tentang bolehnya menerjemahkan Al-Qur’an dan menulis risalah berjudul Terjemahan Al-Qur’an dan Hukumnya. Ia didukung oleh yang lain, di antaranya Muhammad Farid Wajdi dalam kitabnya Dalil-dalil Ilmiah tentang Kebolehan Menerjemahkan Makna Al-Qur’an ke dalam Bahasa-bahasa Asing, sementara sebagian yang lain menentangnya.

Terdapat pula karya-karya lain dalam bidang ini, di antaranya: Al-Bayan fi Mabahits min ‘Ulum Al-Qur’an karya Syaikh ‘Abdul Wahhab ‘Azlan; ‘Ulum Al-Qur’an karya Dr. Al-Kumi dan Dr. Muhammad Ahmad Al-Qasim; Mabahits fi ‘Ulum Al-Qur’an karya Syaikh Manna‘ Al-Qattan; ‘Ulum Al-Qur’an karya Dr. ‘Adnan Muhammad Zarzur; An-Naskh fi Al-Qur’an karya Dr. Mustafa Zaid; dan Mabahits fi ‘Ulum Al-Qur’an karya Dr. Subhi Ash-Shalih.

Juga terdapat sejumlah penelitian dalam topik-topik khusus dari ilmu Al-Qur’an, serta tesis-tesis ilmiah dalam berbagai bidang ilmu ini. Perhatian kaum Muslimin terhadap Al-Qur’an akan tetap ada di setiap zaman dan akan terus berlanjut seiring keberlangsungan Al-Qur’an itu sendiri, sebagai realisasi janji Allah yang benar:

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur’an), dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.”

Dan apabila objek ilmu ini, yaitu “Ilmu-ilmu Al-Qur’an”, adalah firman Allah Ta‘ala yang merupakan sumber setiap hikmah dan tambang setiap keutamaan, maka ia adalah ilmu yang paling mulia dan paling agung, karena kemuliaan dan keagungan suatu ilmu bergantung pada kemuliaan objeknya.

Ibnu Katsir berkata dalam muqaddimah tafsirnya:

“Wajib bagi para ulama untuk menyingkap makna firman Allah, menafsirkannya, mencarinya dari sumber-sumbernya, serta mempelajari dan mengajarkannya.”

Dan hal itu tidak akan dapat mereka capai kecuali jika mereka menguasai pembahasan-pembahasan ini, karena semua itu merupakan sarana dan alat, yang tujuan akhirnya adalah mencapai pengetahuan yang dapat menafsirkan Kitab Allah عز وجل, menjelaskan maknanya, serta memahami hikmah dan hukum-hukumnya, agar manusia meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

Kita memohon kepada Allah Ta‘ala agar menganugerahkan kepada kita pemahaman terhadap Kitab-Nya dan menjadikannya sebagai hujah bagi kita, bukan hujah atas kita.

 

Penerapan praktis dari materi melalui aktivitas pendamping:

  1. Menyampaikan pembahasan tentang perhatian para ulama Islam, baik dahulu maupun sekarang, terhadap ilmu-ilmu Al-Qur’an di hadapan para jamaah masjid.
  2. Merangkum pembahasannya dalam tulisan yang tidak lebih dari satu halaman, lalu membagikannya kepada para jamaah masjid.
  3. Mendesain sebuah tabel sederhana yang memperkenalkan ilmu tersebut dan tahap-tahap perkembangannya, lalu menempelkannya pada majalah dinding masjid.
  4. Berbicara di hadapan sekelompok orang tentang perhatian kaum Muslimin terhadap ilmu-ilmu Al-Qur’an.
  5. Mendesain sebuah situs di internet yang memperkenalkan ilmu-ilmu Al-Qur’an (awal kemunculannya, perkembangannya, dan bentuk akhirnya yang telah mapan).

Evaluasi dan pengukuran diri:

S1: Jelaskan yang dimaksud dengan ilmu-ilmu Al-Qur’an.
S2: Kapan ilmu-ilmu Al-Qur’an muncul?
S3: Apa saja tahap-tahap perkembangan ilmu-ilmu Al-Qur’an?
S4: Sebutkan sebagian kitab yang ditulis dalam beberapa cabang ilmu Al-Qur’an.
S5: Sebutkan penulis pertama yang menyusun secara komprehensif pembahasan ilmu-ilmu Al-Qur’an.
S6: Sebutkan kitab-kitab klasik dan modern yang paling terkenal dalam bidang ilmu-ilmu Al-Qur’an.
S7: Mengapa para ulama tidak menulis ilmu-ilmu Al-Qur’an dalam bentuk yang terdokumentasi seperti sekarang sebelum abad keempat Hijriah?
S8: Apa hubungan antara pembukuan ilmu-ilmu Al-Qur’an dengan firman Allah Ta‘ala: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur’an) dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya”?
S9: Bagaimana Anda dapat mengambil manfaat dari tahap-tahap perkembangan ilmu ini dalam aspek pendidikan dan dakwah? Jelaskan hal itu dalam kerangka dakwah pribadi Anda kepada seseorang.
S10: Para ulama Muslim, baik dahulu maupun sekarang, telah mengerahkan usaha besar dalam memperhatikan ilmu-ilmu Al-Qur’an; maka apa peran Anda dalam batas kemampuan pribadi Anda?

Tuesday, March 24, 2026

Uluwwul Himmah

Pendahuluan

Allah سبحانه وتعالى telah menciptakan makhluk, menetapkan kadar bagi mereka lalu memberi petunjuk. Termasuk dalam ketetapan-Nya ialah bahwa Dia membagikan kepada mereka bagian-bagian masing-masing dalam hal agama, akal, kekayaan, dan keindahan. Termasuk pula yang Allah سبحانه bagi dan tetapkan bagi setiap manusia adalah bagiannya dari semangat tinggi (himmah) dan kehendak.

Manusia sangat berbeda-beda dalam hal ini. Ada yang semangatnya begitu tinggi hingga hampir mencapai batas kesempurnaan. Ada pula yang semangatnya begitu rendah hingga keadaannya menjadi lebih buruk daripada binatang ternak.

Jika hal itu telah dipahami, maka ketahuilah, wahai saudaraku yang tulus, bahwa perkara himmah adalah perkara besar dan kedudukannya sangat penting. Seorang muslim patut memahaminya, memberinya perhatian, dan selalu membicarakannya kepada dirinya sendiri, mudah-mudahan ia termasuk orang yang memiliki himmah yang tinggi sehingga memperoleh kemenangan yang besar.

Dalam lembaran-lembaran ini terdapat pembahasan-pembahasan yang menjelaskan makna himmah, tanda-tandanya, bagaimana cara meraihnya, dan makna-makna lain yang dibutuhkan para da‘i.


Yang dimaksud dengan tingginya himmah

Al-hamm adalah sesuatu yang menjadi perhatian seseorang berupa suatu urusan yang hendak dilakukan.

Adapun al-himmah adalah dorongan yang melahirkan perbuatan, dan ia bisa disifati dengan tinggi atau rendah.

Dalam al-Mishbah disebutkan: al-himmah dengan kasrah pada huruf ha’ adalah awal dari tekad. Kadang juga digunakan untuk makna tekad yang kuat. Karena itu dikatakan: “Ia memiliki himmah yang tinggi.”

Ada yang mengatakan: Tingginya himmah adalah
“memandang kecil segala sesuatu yang berada di bawah puncak perkara-perkara yang mulia.”

Dan ada yang mengatakan: “keluarnya jiwa menuju puncak kesempurnaan yang mungkin dicapainya dalam ilmu dan amal.”

Penulis al-Manazil berkata:

Al-himmah adalah sesuatu yang sepenuhnya menguasai dorongan menuju tujuan, sehingga pemiliknya tidak dapat menahannya dan tidak berpaling darinya.

Ucapannya: “menguasai dorongan menuju tujuan” maksudnya adalah ia menguasainya sebagaimana seorang pemilik menguasai miliknya. Dan kata “ṣarfan” berarti murni sepenuhnya.

Maksudnya: apabila himmah seorang hamba telah terkait dengan Al-Haqq سبحانه وتعالى dengan tuntutan yang jujur, murni, dan sepenuhnya bersih, maka itulah himmah yang tinggi, yang “pemiliknya tidak dapat menahannya”, yakni ia tidak mampu menunda dan tidak mampu menahan kesabarannya, karena kuatnya kekuasaan himmah itu atas dirinya, dan kuatnya dorongan yang mewajibkannya untuk mengejar tujuan. Ia “tidak berpaling darinya” kepada sesuatu selain ketentuan-ketentuannya. Pemilik himmah seperti ini cepat sampai dan cepat memperoleh apa yang ditujunya, selama tidak ada penghalang yang menghambatnya dan ikatan-ikatan yang memutuskannya. Wallahu a‘lam.

Himmah adalah kehendak, tujuan, dan tekad untuk beramal.

Jika himmah telah menguasai pemiliknya, ia akan mendorongnya dengan kehendak yang kuat menuju tujuannya, sehingga ia tidak berpaling kepada selainnya.

Himmah yang paling tinggi adalah himmah yang terkait dengan Allah سبحانه وتعالى dalam tuntutan dan tujuan, serta menyampaikan makhluk kepada petunjuk Ilahi melalui dakwah dan nasihat. Inilah himmah para nabi dan rasul عليهم الصلاة والسلام.


Tingkatan himmah

Himmah itu ada tiga tingkatan:

Pertama

Himmah yang menjaga hati dari keterasingan karena kecenderungan kepada dunia dan ketergantungan padanya. Sebab himmah ini membawa pemiliknya untuk mencintai apa yang tetap kekal, yaitu Al-Haqq سبحانه وتعالى, dan membebaskannya dari penyakit lesu, malas, dan menyia-nyiakan kewajiban.

Kedua

Himmah yang melahirkan rasa enggan untuk peduli terhadap alasan-alasan yang melemahkan, enggan turun dari amal, dan enggan tertipu oleh angan-angan. Hal itu karena pemiliknya telah menggantungkan tekadnya pada sesuatu yang lebih tinggi daripada beratnya unsur tanah dan daya tarik materi. Maka ia merasa hina jika harus turun dari puncak yang tinggi ke jurang yang rendah.

Ketiga

Himmah yang berinteraksi dengan kehidupan sebagai bentuk taqarrub kepada Allah تعالى. Sebab pemiliknya tahu bahwa ia diangkat sebagai khalifah, dan ia tidak akan puas sebelum tujuannya tercapai. Sebagaimana burung terbang tinggi dengan kedua sayapnya, demikian pula manusia akan terangkat tinggi dengan himmahnya.


Gambaran himmah seorang mukmin

Ibnu al-Jauzi menggambarkan himmah seorang mukmin, ia berkata:

“Himmah seorang mukmin terkait dengan akhirat. Segala sesuatu di dunia menggerakkannya untuk mengingat akhirat. Jika ia mendengar suara yang menakutkan, ia teringat tiupan sangkakala. Jika ia melihat kenikmatan, ia teringat surga.

Maka himmahnya terkait dengan keduanya. Lalu ia membayangkan dirinya bergelimang dalam kenikmatan surga yang kekal, sehingga ia terbang karena gembira. Maka menjadi ringanlah baginya segala kesulitan dan ujian yang ada di jalan menuju surga itu. Karena orang yang rindu ke Ka‘bah akan merasa ringan jauhnya perjalanan, dan orang yang mendambakan kesembuhan tidak peduli dengan pahitnya obat.

Kemudian ia membayangkan dirinya berada di dalam neraka, maka hidupnya terasa pahit dan kegelisahannya semakin kuat. Dalam dua keadaan ini, ia tersibukkan dari dunia dan segala isinya. Hatinya mengembara di padang kerinduan pada satu waktu, dan di padang ketakutan pada waktu yang lain. Maka jika suara memanggilnya dan datang orang yang bertanya kepadanya, sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain: ‘Biarkan dia, baru saja sesaat ia beristirahat...’”

Imam al-Banna menggambarkan orang yang memiliki himmah tinggi dengan berkata:

“Orang yang berakidah melihat jalan itu panjang, tujuan itu jauh, dan hambatan itu laksana gunung besar. Karena itu ia menyiapkan untuknya kesabaran yang lebih panjang, himmah yang lebih jauh, dan bekal kekuatan yang lebih kokoh, agar ia dapat melewati semua hambatan itu dengan ridha dan senyuman...”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga melewati berbagai kesulitan dakwah dengan himmah yang tinggi, seraya berkata:

“Apa yang bisa dilakukan musuh-musuhku terhadapku? Surgaku dan kebunku ada di dalam dadaku. Ke mana pun aku pergi, surgaku bersamaku. Penjaraku adalah khalwat, pembunuhanku adalah syahadah, dan pengasinganku adalah perjalanan.”


Dari mana muncul besarnya himmah?

Besarnya himmah tumbuh melalui jalan keteladanan, atau melalui jalan penanaman hikmah dan penjelasan tentang keutamaan besarnya himmah serta kemuliaan dan kesempurnaan yang diperoleh pemiliknya, atau melalui kajian sejarah dan melihat perjalanan hidup orang-orang besar.

Kalau kita meneliti kebesaran tokoh-tokoh yang namanya selalu disebut-sebut sejarah, niscaya kita akan mendapati bahwa kebanyakan kemuliaan mereka dibangun di atas akhlak yang kita sebut besarnya himmah ini.

Al-Qur’an memenuhi jiwa-jiwa dengan kebesaran himmah. Kebesaran inilah yang mendorong para wali Allah bergerak ke kanan dan ke kiri, lalu mereka meruntuhkan singgasana-singgasana yang zalim hingga lenyap dari muka bumi, kemudian mereka mengangkat panji keadilan dan kebebasan, serta memancarkan sungai-sungai ilmu pengetahuan dengan deras.

Jika kita melihat pada sebagian pembacanya himmah yang kecil dan jiwa yang lesu, itu karena mereka tidak mentadabburi ayat-ayatnya dan tidak memahami hukum-hukumnya.


Keutamaan besarnya himmah

Al-Mawardi رحمه الله berkata:

“Ketahuilah bahwa termasuk tanda-tanda keutamaan dan bukti-bukti kemuliaan adalah muru’ah, yaitu perhiasan jiwa dan keindahan himmah.

Di antara hak-hak muru’ah dan syarat-syaratnya ada hal-hal yang tidak dapat dicapai kecuali dengan usaha yang berat, dan tidak bisa diketahui kecuali dengan perhatian dan pengawasan. Maka jelaslah bahwa menjaga jiwa agar berada pada keadaan terbaiknya itulah muru’ah. Jika demikian, maka tidak akan tunduk pada muru’ah itu — dengan beratnya beban-bebannya — kecuali orang yang merasa ringan menghadapi kesukaran demi meraih pujian, dan yang memandang kecil kenikmatan demi takut terhadap celaan. Karena itu dikatakan: pemimpin suatu kaum adalah orang yang paling berat bebannya.”

Penyair berkata:

Apabila jiwa-jiwa itu besar,
maka badan-badan akan letih dalam mengejar keinginannya.

Yang mendorong seseorang menganggap ringan semua itu ada dua perkara:
pertama, tingginya himmah,
kedua, mulianya jiwa.

Adapun tingginya himmah, maka karena ia menjadi pendorong untuk maju, dan pengajak untuk tampil unggul, karena enggan terhadap kehinaan dan ketersembunyian, serta merasa jijik terhadap rendahnya kekurangan.

Akhlak ini mengangkat pemiliknya sehingga mengarahkannya kepada puncak-puncak perkara mulia. Akhlak inilah yang membangkitkan orang lemah yang ditindas atau diremehkan, lalu ia menjadi mulia dan terhormat. Akhlak inilah pula yang mengangkat suatu kaum dari keterpurukan, mengganti kehinaan mereka menjadi kemasyhuran, penindasan menjadi kebebasan, dan ketaatan buta menjadi keberanian moral.

Benar, akhlak ini membuat pemiliknya menempuh jalan kelelahan dan kesusahan. Namun kelelahan dalam rangka mencapai puncak kemuliaan itu laksana obat pahit yang diminum pasien sebagaimana ia meminum minuman yang manis dan dingin. Orang yang besar himmahnya terkadang sangat tamak terhadap kemuliaan sampai-sampai hampir tidak merasakan kesulitan dan gangguan yang ia hadapi di jalannya.

Syaikh al-Khadr Husain رحمه الله berkata:

“Di antara tabiat orang merdeka dan mulia adalah bahwa ia tidak puas dari kemuliaan dunia dan akhirat dengan apa pun yang telah terbentang baginya, selama ia masih berharap sesuatu yang lebih tinggi derajatnya dan lebih luhur kedudukannya.

Karena itu Umar bin Abdul Aziz berkata kepada Dukain ar-Rajiz: ‘Sesungguhnya aku memiliki jiwa yang selalu rindu. Setiap kali aku mencapai suatu kedudukan, aku menginginkan kedudukan yang lebih mulia daripada yang aku tempati ini.’ Ia mengucapkan itu ketika menjadi gubernur Madinah bagi Sulaiman bin Abdul Malik. Ketika khilafah kemudian sampai kepadanya, Dukain datang menemuinya. Maka ia berkata kepadanya: ‘Sebagaimana telah kuberitahukan kepadamu, aku memiliki jiwa yang selalu rindu. Jiwaku telah merindukan kedudukan-kedudukan dunia yang paling mulia. Ketika aku telah mencapainya, ternyata jiwaku merindukan kedudukan-kedudukan akhirat yang paling mulia.’”

Dalam makna ini, ada syair:

Orang merdeka tidak akan puas meraih kemuliaan
hingga ia mengejar sesuatu yang di bawahnya ada kebinasaan.

Ia digerakkan oleh harapan yang di bawahnya ajal pun terasa ringan,
dan bila rasa takut menahannya, maka hasratlah yang memanggilnya.

Karena itulah Musa berkata kepada Tuhannya: “Perlihatkanlah diri-Mu kepadaku,”
padahal ia memandang kepada-Mu dengan penuh keheranan dalam pertanyaannya.

Ia adalah orang yang diajak bicara langsung, menerima wahyu dan kitab-kitab,
namun tetap ingin bertambah dalam kemuliaan yang telah diraihnya.


Hadits-hadits tentang tingginya himmah

1

Dari al-Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya Allah Ta‘ala mencintai perkara-perkara yang tinggi dan mulia, serta membenci perkara-perkara yang rendah dan hina.”

2

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Nabi mengirim pasukan berkuda ke arah Najd. Mereka datang membawa seorang lelaki dari Bani Hanifah bernama Tsumamah bin Utsal. Mereka mengikatnya pada salah satu tiang masjid. Maka Nabi keluar menemuinya dan bersabda:

“Apa yang engkau miliki, wahai Tsumamah?”

Ia menjawab: “Aku punya kebaikan, wahai Muhammad. Jika engkau membunuh, engkau membunuh orang yang punya darah (kedudukan dan pembela). Jika engkau memberi nikmat, engkau memberi nikmat kepada orang yang tahu berterima kasih. Dan jika engkau menginginkan harta, mintalah sesukamu.”

Ia dibiarkan sampai keesokan harinya. Lalu Nabi bertanya lagi:

“Apa yang engkau miliki, wahai Tsumamah?”

Ia menjawab: “Aku memiliki apa yang telah kukatakan kepadamu.”

Maka Rasulullah bersabda:

“Lepaskanlah Tsumamah.”

Lalu ia pergi ke kebun kurma dekat masjid, mandi, kemudian masuk ke masjid seraya berkata:

“Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah. Wahai Muhammad, demi Allah, dahulu tidak ada wajah di muka bumi yang lebih kubenci daripada wajahmu, sekarang wajahmu menjadi wajah yang paling kucintai. Demi Allah, dahulu tidak ada agama yang lebih kubenci daripada agamamu, sekarang agamamu menjadi agama yang paling kucintai. Demi Allah, dahulu tidak ada negeri yang lebih kubenci daripada negerimu, sekarang negerimu menjadi negeri yang paling kucintai. Pasukanmu menangkapku ketika aku hendak melaksanakan umrah. Maka apa pendapatmu?”

Rasulullah pun memberi kabar gembira kepadanya dan memerintahkannya untuk berumrah. Ketika ia datang ke Makkah, seseorang berkata kepadanya: “Apakah engkau telah berpindah agama?” Ia menjawab: “Tidak, demi Allah. Akan tetapi aku telah masuk Islam bersama Muhammad Rasulullah. Dan demi Allah, tidak akan datang kepada kalian sebutir gandum pun dari Yamamah sampai Nabi mengizinkannya.”

3

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:
Sejumlah kaum muslimin berhijrah ke Habasyah, dan Abu Bakar pun bersiap hendak berhijrah. Maka Nabi bersabda kepadanya:

“Tenanglah, sesungguhnya aku berharap akan diberi izin juga.”

Dalam hadits itu disebutkan:
Aisyah berkata: “Suatu hari kami sedang duduk di rumah kami pada siang yang sangat panas, lalu seseorang berkata kepada Abu Bakar: ‘Ini Rasulullah datang dengan menutupi kepalanya, pada waktu yang tidak biasa beliau datang kepada kami.’ Abu Bakar berkata: ‘Demi ayah dan ibuku sebagai tebusan bagimu, demi Allah beliau tidak datang pada waktu ini kecuali karena suatu urusan.’”

Nabi datang lalu meminta izin, maka beliau diizinkan masuk. Ketika masuk, beliau berkata kepada Abu Bakar:

“Keluarkan orang-orang yang ada di sisimu.”

Abu Bakar menjawab: “Mereka hanyalah keluargamu, demi ayahku sebagai tebusan bagimu, wahai Rasulullah.”

Beliau bersabda:

“Sesungguhnya aku telah diizinkan untuk keluar (hijrah).”

Abu Bakar berkata: “Apakah aku akan menjadi teman perjalananmu, demi ayahku sebagai tebusan bagimu, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab:

“Ya.”

4

Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata:
Kami keluar dari kaum kami, yaitu Ghifar. Mereka biasa menghalalkan bulan haram. Aku keluar bersama saudaraku Unais dan ibu kami, lalu kami singgah kepada paman kami. Paman kami memuliakan dan berbuat baik kepada kami, lalu kaumnya hasad kepada kami. Mereka berkata: “Jika engkau keluar meninggalkan keluargamu, Unais akan mendatangi mereka.” Maka paman kami datang menyampaikan kepada kami apa yang dikatakan orang-orang itu kepadanya. Aku berkata: “Adapun kebaikanmu yang lalu, engkau telah mengeruhkannya. Tidak ada lagi hubungan antara kami setelah ini.”

Maka kami mendekatkan hewan tunggangan kami, lalu memuat barang di atasnya. Paman kami menutupi dirinya dengan pakaiannya sambil menangis. Kami pun pergi hingga singgah di dekat Makkah. Lalu Unais bertaruh dengan seseorang tentang hewan tunggangan kami dan semisalnya. Kami mendatangi seorang kahin, dan kahin itu memenangkan Unais. Maka Unais datang membawa tunggangan kami dan tambahan yang semisal dengannya.

Abu Dzar berkata:
“Aku telah salat, wahai anak saudaraku, tiga tahun sebelum bertemu Rasulullah .”

Aku bertanya: “Untuk siapa?”

Ia menjawab: “Untuk Allah.”

Aku berkata: “Menghadap ke mana?”

Ia menjawab: “Aku menghadap ke arah mana Rabbku mengarahkanku. Aku salat Isya, lalu ketika akhir malam aku rebah seperti kain hingga matahari menyinari tubuhku.”

Lalu Unais berkata: “Aku punya keperluan di Makkah, gantikanlah aku.” Maka Unais pergi ke Makkah dan terlambat datang kembali. Ketika ia datang, aku bertanya: “Apa yang engkau lakukan?” Ia menjawab: “Aku bertemu seorang lelaki di Makkah yang berada di atas agamamu. Ia mengaku bahwa Allah mengutusnya.” Aku bertanya: “Apa kata orang-orang tentang dia?” Ia menjawab: “Mereka mengatakan: penyair, dukun, tukang sihir.” Padahal Unais sendiri termasuk salah seorang penyair.

Unais berkata:
“Aku telah mendengar ucapan para dukun, dan ini bukan perkataan mereka. Aku telah mengukur ucapannya dengan berbagai pola syair, maka tidak mungkin menurut lidah siapa pun setelahku bahwa ini adalah syair. Demi Allah, sungguh ia benar, dan mereka benar-benar pendusta.”

Aku berkata: “Tolong gantikan aku sampai aku pergi melihatnya sendiri.”

Maka aku datang ke Makkah. Aku mencari-cari seorang lelaki lemah di antara mereka, lalu aku bertanya: “Di mana orang yang kalian sebut orang yang keluar dari agama itu?” Ia memberi isyarat kepadaku dan berkata: “Itu orang murtad!” Maka penduduk lembah menyerangku dengan batu tanah dan tulang hingga aku jatuh pingsan. Ketika aku bangun, tubuhku seperti patung merah karena darah. Aku mendatangi Zamzam, lalu mencuci darah dari diriku dan meminum airnya.

Demi Allah, wahai anak saudaraku, aku tinggal selama tiga puluh hari tiga puluh malam tanpa makanan selain air Zamzam. Aku menjadi gemuk hingga lipatan-lipatan perutku terbelah, dan aku tidak merasakan lapar sama sekali.

Abu Dzar berkata:
Suatu malam ketika penduduk Makkah berada di bawah cahaya bulan yang terang, dan seakan-akan mereka tertidur nyenyak, tidak ada seorang pun yang thawaf di Baitullah, kecuali dua orang wanita yang sedang menyeru Isaf dan Na’ilah. Keduanya datang melewatiku dalam thawaf mereka. Aku berkata: “Nikahkanlah salah satunya dengan yang lain!” Tetapi keduanya tidak menghentikan seruan itu. Ketika keduanya datang lagi, aku berkata tentang keduanya suatu ucapan yang kasar tanpa kinayah. Maka keduanya pergi sambil menjerit dan berkata: “Seandainya ada seseorang dari kaum kami di sini!”

Lalu Rasulullah dan Abu Bakar bertemu keduanya ketika sedang turun. Beliau bertanya:

“Ada apa dengan kalian berdua?”

Keduanya menjawab: “Orang yang keluar dari agama itu ada di antara Ka‘bah dan kain-kain penutupnya.”

Beliau bertanya:

“Apa yang ia katakan kepada kalian berdua?”

Keduanya menjawab: “Ia mengatakan kepada kami satu kata yang memenuhi mulut.”

Lalu Rasulullah datang, mengusap Hajar Aswad, thawaf bersama sahabatnya, lalu salat. Setelah beliau menyelesaikan salatnya, Abu Dzar berkata: “Akulah orang pertama yang memberi salam Islam kepada beliau.” Aku berkata:

السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ

“Semoga keselamatan tercurah kepadamu, wahai Rasulullah.”

Beliau menjawab:

وعليك السلام ورحمة الله
“Dan kepadamu keselamatan dan rahmat Allah.”

Kemudian beliau bertanya:

“Siapa engkau?”

Aku menjawab: “Dari Ghifar.”

Beliau menundukkan tangannya dan meletakkan jari-jarinya di dahinya. Dalam hatiku aku berkata: “Beliau tampaknya tidak suka aku menisbatkan diri kepada Ghifar.” Maka aku hendak memegang tangan beliau, tetapi sahabat beliau mencegahku — dan ia lebih mengetahui keadaan beliau daripadaku. Lalu beliau mengangkat kepalanya dan bertanya:

“Sejak kapan engkau berada di sini?”

Aku menjawab: “Aku telah berada di sini selama tiga puluh hari tiga puluh malam.”

Beliau bertanya:

“Siapa yang memberi makan kepadamu?”

Aku menjawab: “Aku tidak punya makanan selain air Zamzam. Aku menjadi gemuk sampai lipatan-lipatan perutku pecah, dan aku tidak merasakan panas lapar.”

Beliau bersabda:

“Sesungguhnya air itu diberkahi, ia adalah makanan yang mengenyangkan.”

Abu Bakar berkata: “Wahai Rasulullah, izinkan aku menjamunya malam ini.” Maka Rasulullah , Abu Bakar, dan aku pergi. Abu Bakar membuka sebuah pintu lalu mengambilkan untuk kami kismis Thaif. Itulah makanan pertama yang kumakan di Makkah. Kemudian aku tinggal beberapa waktu.

Lalu aku datang lagi kepada Rasulullah . Beliau bersabda:

“Sesungguhnya telah diperlihatkan kepadaku suatu negeri yang memiliki pohon kurma; aku tidak melihatnya kecuali Yatsrib. Maka maukah engkau menyampaikan dariku kepada kaummu? Mudah-mudahan Allah memberi manfaat kepada mereka melalui dirimu dan memberimu pahala pada mereka.”

Aku mendatangi Unais. Ia berkata: “Apa yang telah engkau lakukan?” Aku berkata: “Aku telah masuk Islam dan membenarkannya.” Ia menjawab: “Aku pun tidak membenci agamamu; sesungguhnya aku juga telah masuk Islam dan membenarkannya.” Lalu kami mendatangi ibu kami. Ia berkata: “Aku pun tidak membenci agama kalian berdua; aku juga telah masuk Islam dan membenarkannya.”

Maka kami membawa barang-barang kami hingga datang kepada kaum kami Ghifar. Setengah dari mereka masuk Islam, dan yang mengimami mereka adalah Ima’ bin Rahdhah al-Ghifari, pemimpin mereka. Setengah yang lain berkata: “Jika Rasulullah telah datang ke Madinah, kami akan masuk Islam.” Setelah Rasulullah tiba di Madinah, setengah yang tersisa itu pun masuk Islam. Kemudian datanglah kabilah Aslam. Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, saudara-saudara kami, kami masuk Islam di atas apa yang mereka masuk Islam di atasnya.” Maka mereka pun masuk Islam. Lalu Rasulullah bersabda:

“Ghifar, semoga Allah mengampuninya; dan Aslam, semoga Allah menyelamatkannya.”

5

Dari Sulaiman bin Bilal radhiyallahu ‘anhu, bahwa ketika Rasulullah keluar menuju Badar, Sa‘d bin Khaitsamah dan ayahnya sama-sama ingin ikut keluar bersama beliau. Hal itu disebutkan kepada Nabi , maka beliau memerintahkan agar salah seorang dari keduanya yang berangkat. Keduanya melakukan undian. Khaitsamah bin al-Harits berkata kepada putranya Sa‘d radhiyallahu ‘anhuma:

“Sesungguhnya salah seorang dari kita harus tinggal. Maka tinggallah engkau bersama para wanitamu.”

Sa‘d menjawab:
“Kalau bukan karena surga, aku pasti akan mendahulukanmu. Sesungguhnya aku sangat berharap syahid dalam perjalanan ini.”

Maka keduanya melakukan undian, dan undian jatuh kepada Sa‘d. Lalu ia keluar bersama Rasulullah menuju Badar, dan ia dibunuh oleh ‘Amr bin ‘Abd Wudd.

6

Dari Sa‘d radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
Aku melihat saudaraku, ‘Umair bin Abi Waqqash, sebelum Rasulullah memeriksa kami pada hari Badar, ia bersembunyi. Maka aku berkata: “Ada apa denganmu, wahai saudaraku?” Ia menjawab: “Aku khawatir Rasulullah melihatku lalu menganggapku terlalu kecil dan menolakku, padahal aku sangat ingin keluar, mudah-mudahan Allah menganugerahkan syahadah kepadaku.”

Sa‘d berkata: Maka ia diperiksa oleh Rasulullah , lalu beliau menolaknya. Ia pun menangis, sehingga akhirnya beliau mengizinkannya. Sa‘d radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku dulu mengikatkan tali pedangnya karena tubuhnya yang kecil.” Lalu ia gugur, sedangkan umurnya baru enam belas tahun.

7

Keberanian Abu Mihjan ats-Tsaqafi radhiyallahu ‘anhu
(Pertempurannya pada hari Qadisiyah hingga mereka mengira ia malaikat)

Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ibnu Sirin, ia berkata:
Abu Mihjan ats-Tsaqafi radhiyallahu ‘anhu terus-menerus dicambuk karena minum khamr. Ketika hal itu berulang, mereka pun memenjarakannya dan membelenggunya. Ketika terjadi perang Qadisiyah, ia melihat orang-orang sedang berperang. Seakan-akan ia melihat kaum musyrikin sedang menimpakan kerusakan besar kepada kaum muslimin. Maka ia mengirim pesan kepada Ummu Walad Sa‘d — atau kepada istri Sa‘d — katanya:

“Sesungguhnya Abu Mihjan berkata kepadamu: jika engkau melepaskannya dan memberinya kuda ini serta menyerahkan senjata kepadanya, niscaya ia akan menjadi orang pertama yang kembali kepadamu, kecuali jika ia terbunuh.”

Lalu ia melantunkan syair:

Cukuplah kesedihanku ketika kuda-kuda bertemu tombak,
sedangkan aku dibiarkan terikat dengan belenggu.

Bila aku berdiri, besi menghalangiku,
dan pintu-pintu tertutup di hadapanku, seolah memekakkan seruan.

Maka wanita itu pergi dan menyampaikan hal itu kepada istri Sa‘d. Lalu ia melepaskan belenggunya, membawanya ke seekor kuda belang yang ada di rumah, memberinya senjata, lalu ia keluar berlari hingga menyusul pasukan. Ia terus menyerang setiap orang hingga membunuhnya dan mematahkan punggungnya. Sa‘d memandangnya dengan takjub dan berkata: “Siapakah penunggang kuda itu?” Tidak lama kemudian Allah mengalahkan musuh. Abu Mihjan pun kembali, mengembalikan senjata, dan memasukkan kembali kedua kakinya ke dalam belenggu sebagaimana semula.

Ketika Sa‘d datang, istrinya atau Ummu Walad-nya berkata kepadanya: “Bagaimana peperangan kalian?” Maka Sa‘d mulai menceritakan dan berkata: “Kami bertemu dan bertemu... sampai Allah mengirim seorang lelaki di atas kuda belang. Kalau bukan karena aku meninggalkan Abu Mihjan dalam keadaan terbelenggu, pasti aku mengira itu adalah salah satu penampilan Abu Mihjan.”

Maka wanita itu berkata: “Demi Allah, itulah Abu Mihjan. Kisahnya begini dan begitu.” Ia menceritakan kisahnya kepada Sa‘d. Maka Sa‘d memanggilnya dan melepaskan belenggunya. Abu Mihjan radhiyallahu ‘anhu berkata: “Demi Allah, aku tidak akan meminumnya lagi selamanya. Sebelumnya aku merasa enggan meninggalkannya karena cambukan kalian.” Maka setelah itu ia tidak meminumnya lagi.

8

Dari Ma‘qil bin Yasar, bahwa Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu bermusyawarah dengan al-Hurmuzan. Umar bertanya: “Menurutmu, mana yang harus dimulai: Persia, Azerbaijan, atau Isfahan?”

Al-Hurmuzan menjawab: “Persia dan Azerbaijan itu dua sayap, sedangkan Isfahan adalah kepala. Jika engkau memotong salah satu sayap, sayap yang lain masih berdiri. Tetapi jika engkau memotong kepala, maka kedua sayap itu akan jatuh. Maka mulailah dari kepala.”

Umar pun masuk masjid, sedangkan an-Nu‘man bin Muqarrin radhiyallahu ‘anhu sedang salat. Umar duduk di sampingnya. Setelah ia selesai salat, Umar berkata: “Aku ingin mengangkatmu.” An-Nu‘man bertanya: “Sebagai pemungut pajak?” Umar menjawab: “Tidak, tetapi sebagai pejuang.” Ia menjawab: “Kalau begitu aku siap sebagai pejuang.”

Maka Umar mengirimnya ke Isfahan. Dalam hadits itu disebutkan, al-Mughirah berkata kepada an-Nu‘man: “Semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya ia telah terlalu cepat mendorong orang-orang. Maka serbulah!”

An-Nu‘man berkata: “Demi Allah, engkau memang orang yang mulia. Aku pernah menyaksikan bersama Rasulullah pertempuran. Jika beliau tidak berperang di awal siang, beliau menunda peperangan sampai matahari tergelincir, angin bertiup, dan pertolongan turun.”

Kemudian an-Nu‘man berkata:
“Aku akan mengguncangkan panjiku tiga kali. Guncangan pertama agar orang menunaikan hajatnya dan berwudhu. Guncangan kedua agar seseorang melihat persenjataannya dan tali sandalnya lalu memperbaikinya. Guncangan ketiga, serbulah dan jangan seorang pun menoleh kepada yang lain. Jika an-Nu‘man terbunuh maka jangan seorang pun menoleh kepadanya. Sesungguhnya aku akan berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan suatu doa, maka aku tekankan kepada setiap orang di antara kalian agar benar-benar mengaminkannya:

Ya Allah, berikanlah kepada an-Nu‘man pada hari ini syahadah dalam kemenangan kaum muslimin, dan bukakanlah kemenangan untuk mereka.

Lalu ia mengguncangkan panjinya pertama kali, kemudian kedua kali, lalu ia merapikan bajunya, kemudian maju menyerang. Maka ia menjadi orang pertama yang gugur.

Ma‘qil berkata: “Aku datang kepadanya, teringat pesannya, maka aku menaruh tanda di atasnya, lalu aku pergi. Kami kalau membunuh seorang musuh, kawan-kawannya akan sibuk olehnya. Lalu pemilik alis tebal jatuh dari bagalnya dan perutnya terbelah, maka Allah mengalahkan mereka. Kemudian aku datang kembali kepada an-Nu‘man sambil membawa tempat air. Aku membersihkan debu dari wajahnya. Ia bertanya: ‘Siapa engkau?’ Aku menjawab: ‘Ma‘qil bin Yasar.’ Ia bertanya: ‘Bagaimana keadaan orang-orang?’ Aku menjawab: ‘Allah telah memberikan kemenangan kepada mereka.’ Ia berkata: ‘Alhamdulillah. Tuliskan berita itu kepada Umar.’ Lalu ruhnya keluar.”

Ath-Thabari juga meriwayatkan dari Ziyad bin Jubair dari ayahnya radhiyallahu ‘anhuma hadits panjang tentang perang Nahawand. Di dalamnya disebutkan bahwa Rasulullah apabila berperang, jika tidak memerangi musuh pada awal siang, maka beliau tidak tergesa-gesa hingga datang waktu salat, angin bertiup, dan peperangan menjadi baik. “Tidak ada yang menghalangiku selain itu. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu agar Engkau menyejukkan mataku pada hari ini dengan kemenangan yang memuliakan Islam dan menghinakan orang-orang kafir, lalu cabutlah aku kepada-Mu setelah itu dalam keadaan syahid.”
“Maka aminkanlah, semoga Allah merahmati kalian.”
Lalu kami mengaminkan sambil menangis.

9

Dari Ja‘far bin Abdullah bin Aslam al-Hamdani radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
Ketika terjadi Perang Yamamah, orang pertama yang terluka adalah Abu ‘Aqil al-Anshari radhiyallahu ‘anhu. Ia dipanah, lalu panah itu menancap di antara kedua bahunya dan jantungnya, namun bukan pada bagian yang mematikan. Panah itu pun dicabut, dan sisi kirinya menjadi lemah akibat luka itu. Hal itu terjadi pada awal siang, lalu ia ditarik ke tenda.

Ketika peperangan memanas dan kaum muslimin mundur melewati tenda-tenda mereka — sementara Abu ‘Aqil lemah karena lukanya — ia mendengar Ma‘n bin ‘Adi radhiyallahu ‘anhu berseru kepada kaum Anshar:

“Demi Allah! Demi Allah! Seranglah lagi musuh kalian!”

Ma‘n pun maju memimpin pasukan. Pada saat itulah kaum Anshar berteriak: “Pisahkanlah kami! Pisahkanlah kami!” Lalu mereka maju satu per satu agar bisa dibedakan.

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata:
Abu ‘Aqil berdiri hendak mendatangi kaumnya. Aku berkata: “Mau ke mana engkau, wahai Abu ‘Aqil? Engkau sudah tidak mampu berperang. Sesungguhnya seruan itu ditujukan kepada kaum Anshar, bukan kepada orang-orang yang terluka!”

Ibnu Umar berkata:
Maka Abu ‘Aqil mengikat pinggangnya erat-erat, mengambil pedang dengan tangan kanannya dalam keadaan terhunus, lalu berseru:

“Wahai kaum Anshar! Serangan kembali seperti pada hari Hunain!”

Maka mereka semua berkumpul — semoga Allah merahmati mereka — mendahului kaum muslimin lainnya menuju musuh sampai mereka masuk ke dalam kebun. Lalu terjadi percampuran pasukan dan benturan pedang antara kami dan mereka.

Ibnu Umar berkata:
Aku melihat Abu ‘Aqil, sementara tangannya yang terluka telah terputus dari bahu dan jatuh ke tanah. Ia memiliki empat belas luka, semuanya mencapai bagian yang mematikan. Dan musuh Allah, Musailamah, terbunuh.

Ibnu Umar berkata:
Aku mendatangi Abu ‘Aqil ketika ia sedang terbaring pada napas terakhir. Ia berkata dengan lidah yang berat:

“Bagaimana keadaan pasukan? Siapa yang menang?”

Aku berkata: “Bergembiralah. Musuh Allah telah terbunuh.” Aku pun meninggikan suaraku. Maka ia mengangkat jarinya ke langit memuji Allah, lalu wafat رحمه الله.

Ibnu Umar berkata:
Setelah aku datang, aku menceritakan seluruh kabarnya kepada Umar. Maka Umar berkata: “Semoga Allah merahmatinya. Ia terus meminta syahadah dan mencarinya. Dan sejauh yang aku tahu, ia termasuk sahabat Nabi kami yang terbaik dan termasuk orang yang telah lama masuk Islam.”

10

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Umar radhiyallahu ‘anhu berkata pada hari Uhud kepada saudaranya:
“Ambillah baju besi ini, wahai saudaraku.”
Ia menjawab: “Aku menginginkan syahadah seperti yang engkau inginkan.”
Maka keduanya meninggalkannya.

11

Diriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata:

“Janganlah kalian meremehkan himmah kalian, karena aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih menghalangi dari kemuliaan selain kecilnya himmah.”

12

Dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya, ia berkata:
Aku keluar bersama Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu ke pasar. Lalu seorang wanita muda menyusul Umar dan berkata: “Wahai Amirul Mukminin, suamiku telah meninggal dan meninggalkan anak-anak kecil. Demi Allah, mereka bahkan tidak mampu memasak kaki kambing. Mereka tidak memiliki tanaman dan tidak memiliki ternak. Aku khawatir mereka akan dimakan serigala. Aku adalah putri Khuffaf bin Ima’ al-Ghifari, dan ayahku pernah menghadiri Hudaibiyah bersama Nabi .”

Maka Umar berhenti bersamanya dan tidak melanjutkan langkahnya. Kemudian ia berkata: “Selamat datang, wahai nasab yang dekat.” Lalu ia berbalik menuju seekor unta pengangkut yang terikat di rumah. Ia memuat di atasnya dua karung yang dipenuhi makanan, dan di antara keduanya diletakkan nafkah serta pakaian. Kemudian ia menyerahkan tali kekangnya kepada wanita itu dan berkata: “Tuntunlah dia, karena ia tidak akan habis sebelum Allah mendatangkan kebaikan kepada kalian.”

Lalu seorang lelaki berkata: “Wahai Amirul Mukminin, engkau memberi terlalu banyak kepadanya.” Umar menjawab: “Semoga ibumu kehilanganmu! Demi Allah, seakan-akan aku melihat ayah wanita ini dan saudaranya sedang mengepung sebuah benteng pada suatu masa, lalu mereka menaklukkannya, dan kemudian kami pun pulang membawa bagian-bagian rampasan kami darinya.”

13

Sa‘id bin ‘Amr bin al-‘Ash adalah orang yang memiliki harga diri dan himmah. Ketika ia sakit, ada yang berkata kepadanya: “Sesungguhnya orang sakit biasanya merasa lega dengan mengaduh dan menjelaskan penyakitnya kepada tabib.” Ia menjawab:

“Adapun mengaduh, itu adalah keluh kesah dan aib. Demi Allah, Allah tidak akan mendengar satu keluhan pun dariku sehingga aku menjadi orang yang gelisah di sisi-Nya. Adapun menjelaskan keadaanku kepada tabib, maka demi Allah, tidak ada yang memutuskan atas jiwaku selain Allah. Jika Dia berkehendak, Dia menahannya; dan jika Dia berkehendak, Dia mencabutnya.”

14

Dari ‘Abbad bin Abdullah bin az-Zubair radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:
Ayah yang menyusuiku menceritakan kepadaku — ia termasuk Bani Murrah bin ‘Auf dan ikut dalam Perang Mu’tah — ia berkata: “Demi Allah, seakan-akan aku melihat Ja‘far radhiyallahu ‘anhu ketika ia turun dari kuda pirangnya, lalu menyembelih kuda itu, kemudian memerangi musuh hingga terbunuh, sambil mengatakan:

Betapa indah surga dan dekatnya,
baik dan dingin minumannya.

Bangsa Romawi itu Romawi, telah dekat azabnya,
kafir dan jauh nasabnya.

Atasku, ketika aku berjumpa dengan mereka, adalah menghantam mereka.

15

Sa‘id bin al-‘Ash berkata:

“Aku tidak pernah saling mencaci dengan seorang pun padahal aku adalah seorang lelaki. Sebab aku tidak akan mencaci kecuali salah satu dari dua jenis manusia:
jika ia orang mulia, maka aku lebih berhak memuliakannya;
dan jika ia orang hina, maka aku lebih layak meninggikan diriku darinya.”

16

Al-Hafizh adz-Dzahabi dalam Tadzkirat al-Huffazh pada biografi Imam Muhammad bin Jarir ath-Thabari berkata:
Abu Muhammad al-Qurghani, murid Ibnu Jarir, berkata:

“Muhammad bin Jarir adalah orang yang tidak takut celaan siapa pun di jalan Allah, meskipun gangguan yang dialaminya sangat besar. Adapun para ahli agama dan ilmu, mereka tidak mengingkari ilmunya, kezuhudannya, penolakannya terhadap dunia, dan sifat qana‘ahnya terhadap bagian warisan yang ditinggalkan ayahnya di Tabaristan. Ia berkata: Muhammad bin Jarir melakukan perjalanan mencari ilmu ketika mulai tumbuh dewasa, dan ayahnya membolehkannya bepergian. Sepanjang hidupnya ayahnya terus mengirimkan kepadanya sedikit demi sedikit nafkah ke berbagai negeri.”

Ia berkata:
“Aku pernah mendengarnya berkata: kiriman nafkah ayahku terlambat datang kepadaku, sehingga aku terpaksa menjual pakaianku.”

Ibnu Jarir pernah berkata:

Jika aku dalam kesulitan, kawanku tidak mengetahuinya,
dan jika aku lapang, sahabatku ikut lapang.

Rasa maluku menjaga air mukaku,
dan kelembutanku dalam berbicara adalah temanku.

Seandainya aku rela menghinakan wajahku,
niscaya jalan menuju kekayaan menjadi mudah bagiku.

Dan ia juga berkata:

Dua akhlak yang tidak aku ridai jalannya:
kesombongan saat kaya dan kehinaan saat miskin.

Jika engkau kaya, janganlah sombong;
jika engkau miskin, janganlah mengeluh kepada zaman.

17

Qadhi Yahya bin Aktsam رحمه الله menceritakan, ia berkata:
Suatu hari aku masuk menemui Khalifah Harun ar-Rasyid bin al-Mahdi, sedangkan ia sedang tertunduk berpikir. Ia berkata kepadaku: “Apakah engkau mengetahui siapa yang mengucapkan bait ini:

Kebaikan tetap tinggal walaupun waktu telah panjang berlalu,
dan keburukan adalah seburuk-buruk bekal yang engkau simpan.

Aku menjawab: “Wahai Amirul Mukminin, bait ini punya kisah dengan pengucapnya.”
Ar-Rasyid berkata: “Bawalah dia kepadaku.”

Ketika orang itu dihadirkan, khalifah berkata kepadanya: “Beritahukan kepadaku kisah bait ini.”

Ia menjawab: “Wahai Amirul Mukminin, pada salah satu tahun aku sedang berhaji. Ketika kami sampai di tengah padang pasir pada hari yang sangat panas, aku mendengar keributan besar di kafilah yang menghubungkan bagian depan dengan bagian belakang. Aku bertanya tentang apa yang terjadi. Seseorang berkata kepadaku: ‘Maju dan lihatlah sendiri.’

Aku pun maju ke kafilah dan ternyata ada seekor ular hitam besar yang membuka mulutnya seperti batang pohon, mengerang seperti suara sapi dan menderu seperti suara unta. Aku sangat ketakutan oleh urusannya dan tidak tahu apa yang harus kuperbuat. Maka kami menghindar dari jalannya ke arah lain, tetapi ia menghadang kami lagi untuk kedua kalinya. Maka aku tahu bahwa itu karena suatu sebab. Tidak seorang pun dari rombongan berani mendekatinya.

Lalu aku berkata: ‘Biarlah aku menebus alam ini dengan diriku, dan aku mendekatkan diri kepada Allah dengan menyelamatkan kafilah ini darinya.’

Aku mengambil satu qirbah air, mengalungkannya, menghunus pedangku, lalu maju mendekatinya. Ketika ia melihatku mendekat, ia pun tenang. Aku tetap menunggu-nunggu seandainya ia menerkamku dan menelanku. Namun ketika ia melihat qirbah, ia membuka mulutnya, lalu aku masukkan mulut qirbah ke dalam mulutnya dan menuangkan air seperti menuangkan air ke dalam bejana. Setelah qirbah itu kosong, ular itu menggelosor di pasir lalu pergi.

Aku pun heran atas caranya menghadang kami lalu berpaling dari kami tanpa menimpakan bahaya apa pun. Maka kami meneruskan perjalanan haji kami. Kemudian kami kembali melalui jalan itu, dan kami singgah di tempat itu pada malam yang sangat gelap gulita. Aku mengambil sedikit air dan menepi dari jalan, menunaikan hajatku, lalu berwudhu, salat, dan duduk berzikir kepada Allah تعالى...”

18

Al-Fadhl — yaitu Ibn Ziyad — berkata:
“Aku mendengar Abu Abdullah berkata: ‘Engkau tidak menggabungkan seseorang dengan Ma‘mar kecuali engkau akan mendapati Ma‘mar lebih unggul darinya. Ia melakukan perjalanan mencari hadits ke Yaman, dan ia adalah orang pertama yang melakukan perjalanan ke sana.’ Abu Ja‘far berkata kepadanya: ‘Dan Syam?’ Ia menjawab: ‘Tidak, tetapi الجزيرة.’”

19

Imam Mak-hul ad-Dimasyqi berkata:

“Aku dahulu seorang budak milik seorang wanita di Mesir dari kalangan Hudzail. Lalu ia memerdekakanku. Aku tidak keluar dari Mesir sementara di sana masih ada ilmu kecuali aku telah menguasainya menurut dugaanku. Kemudian aku datang ke Hijaz; aku tidak keluar darinya sementara di sana masih ada ilmu kecuali aku telah menguasainya menurut dugaanku. Kemudian aku datang ke Irak; aku tidak keluar darinya sementara di sana masih ada ilmu kecuali aku telah menguasainya menurut dugaanku. Kemudian aku datang ke Syam dan menelitinya dengan saksama. Semua itu kulakukan demi mencari hadits tentang nafl (tambahan rampasan perang). Aku tidak menemukan seorang pun yang dapat memberitahuku tentang hal itu sampai aku datang kepada seorang syaikh bernama Ziyad bin Jariyah at-Tamimi. Aku berkata kepadanya: ‘Apakah engkau mendengar sesuatu tentang nafl?’ Ia menjawab: ‘Ya, aku mendengar Habib bin Maslamah al-Fihri berkata: Aku menyaksikan Nabi memberikan seperempat pada serangan pertama dan sepertiga pada kepulangan.’”

20

Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Demi Zat yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain-Nya, sungguh aku telah membaca dari lisan Rasulullah lebih dari tujuh puluh surah. Seandainya aku mengetahui ada seseorang yang lebih mengetahui Kitabullah daripadaku dan unta-unta dapat membawaku kepadanya, niscaya aku akan mendatanginya.”

21

Abu Mas‘ud ‘Abdurrahim al-Hajji berkata:
Aku mendengar Ibnu Thahir berkata:

“Aku pernah kencing darah dua kali dalam menuntut hadits: sekali di Baghdad dan sekali di Makkah. Aku berjalan tanpa alas kaki di tengah panas hingga aku mengalami hal itu. Aku tidak pernah menaiki kendaraan sama sekali dalam menuntut hadits, dan aku membawa kitab-kitabku di atas punggungku.”

22

Dalam Kitab al-Hind disebutkan:

“Barang siapa tidak menunggangi bahaya, ia tidak akan memperoleh cita-cita. Dan barang siapa meninggalkan suatu perkara yang mungkin dengannya ia mencapai kebutuhannya karena takut terhadap sesuatu yang mungkin akan menimpanya, maka ia tidak akan mencapai sesuatu yang besar. Sungguh seorang lelaki yang memiliki muru’ah bisa saja tersembunyi namanya dan rendah kedudukannya, tetapi muru’ahnya menolak kecuali agar ia meninggi dan terangkat, seperti nyala api yang dijaga pemiliknya namun tetap menolak kecuali untuk naik ke atas.”

23

Di antara sebab فتح عمورية (penaklukan ‘Amuriyyah) oleh al-Mu‘tasim ialah bahwa seorang wanita dari wilayah perbatasan ditawan, lalu ia berseru: “Wahai Muhammad! Wahai Mu‘tasim!” Kabar itu sampai kepadanya, maka ia segera menaiki tunggangannya saat itu juga dan pasukan pun mengikutinya. Ketika ia berhasil menaklukkannya, ia berkata:

“Aku penuhi panggilanmu, wahai orang yang memanggil.”

24

Dikatakan kepada sebagian ahli hikmah: “Apa hal yang paling sulit bagi manusia?” Ia menjawab:

“Bahwa ia mengenal dirinya sendiri dan menyimpan rahasia. Jika dua perkara ini berkumpul dan disertai oleh kemuliaan jiwa serta tingginya himmah, maka keutamaan menjadi tampak dengannya, adab menjadi melimpah dengannya, kesulitan meraih pujian menjadi ringan di antara keduanya, dan syarat-syarat muru’ah menjadi kokoh di antara keduanya.”

25

Penyair berkata:

Demi umurmu, aku tidak pernah mengulurkan tanganku kepada sesuatu yang mencurigakan,
dan kakiku tidak pernah membawaku menuju perbuatan keji.

Pendengaranku dan penglihatanku tidak pernah menuntunku ke sana,
dan akal serta pertimbanganku pun tidak pernah menuntunku ke sana.

Aku tidak akan berjalan selama aku hidup menuju kemungkaran,
dan pendapatku serta akalku tidak pernah menunjukkanku kepadanya.

Aku tidak akan mengutamakan diriku atas seorang kerabat,
dan aku lebih mengutamakan tamuku selama ia tinggal bersama keluargaku.

Aku tahu bahwa tidak ada musibah yang menimpaku dari masa,
kecuali musibah itu juga pernah menimpa pemuda sepertiku.

26

Abu Shalih Ayyub bin Sulaiman tekun mempelajari kitab al-‘Arudh sampai ia hafal. Sebagian orang bertanya kepadanya tentang kesungguhannya mempelajari ilmu ini setelah usia tua. Ia menjawab:

“Aku hadir pada suatu kaum yang sedang membicarakannya. Maka aku merasa hina dalam diriku bahwa ada satu cabang ilmu yang aku tidak bisa berbicara tentangnya.”

27

Penyair berkata:

Mereka berkata kepadaku: pada dirimu ada sikap tertutup,
padahal mereka hanya melihat seorang lelaki yang enggan berdiri di posisi hina.

Aku melihat manusia: siapa yang terlalu dekat dengan mereka akan hina di mata mereka,
dan siapa yang dimuliakan oleh
عزّة النفس, akan mereka muliakan.

Aku belum menunaikan hak ilmu, jika setiap kali
muncul satu keinginan, aku jadikan ia tangga bagiku.

Tidak setiap kilat yang tampak membuatku tergesa-gesa,
dan tidak setiap orang yang kutemui aku rela kepadanya sebagai pemberi nikmat.

Jika dikatakan: ini sumber air, aku berkata: aku melihatnya,
tetapi jiwa orang merdeka sanggup menanggung dahaga.

Aku menahannya dari sebagian hal yang tidak merusaknya,
karena takut ucapan musuh: kenapa begini atau begitu?

Aku tidak mengorbankan jiwaku dalam melayani ilmu
agar aku melayani setiap orang yang kutemui, tetapi agar aku dilayani.

Apakah aku bersusah payah menanamnya lalu memetik kehinaan?
Kalau begitu, mengikuti kebodohan justru lebih bijaksana.

Seandainya para ahli ilmu menjaganya, niscaya ilmu akan menjaga mereka;
dan seandainya mereka memuliakannya dalam jiwa-jiwa, niscaya ia akan dimuliakan.

Tetapi mereka menghinakannya, maka mereka pun hina,
dan mereka mengotori wajahnya dengan ketamakan hingga ia muram.

28

Habib ath-Tha’i berkata:

Wahai orang yang mencelaku, betapa kerasnya malam sebagai tunggangan,
dan yang lebih keras darinya adalah penunggangnya di tengah kegelapan.

Biarkan aku menghadapi kengerian zaman,
karena sesudah kengerian-kengerian besar itu datanglah berbagai harapan.

29

Ka‘b bin Zuhair berkata:

Tidak ada keinginan bagi orang yang tidak mau menunggangi bahaya,
dan tidak ada yang dapat mengangkat beban yang Allah telah letakkan.

Jika engkau tidak berpaling dari kebodohan dan kekejian,
engkau akan bertemu orang sabar, atau orang bodoh akan menimpamu.

30

Imru’ul Qais berkata:

Seandainya apa yang aku usahakan hanyalah untuk kehidupan yang rendah,
niscaya sedikit harta sudah mencukupiku — dan aku tidak perlu mencari lebih.

Akan tetapi aku berusaha untuk kemuliaan yang kokoh berakar,
dan kemuliaan yang kokoh itu dapat diraih oleh orang-orang sepertiku.


Pendidikan Islam dalam menanamkan himmah tinggi

Kehidupan Rasulullah penuh dengan berbagai bentuk pendidikan kaum muslimin untuk membentuk akhlak tingginya himmah, yang menuntut kesungguhan, kemuliaan diri, menjauhkan diri dari perkara remeh dan hina, serta bercita-cita menuju kemuliaan.

Di antara bentuk pendidikan Islam terhadap kaum muslimin dalam akhlak himmah tinggi adalah mengarahkan mereka untuk mencari rezeki melalui kerja keras, usaha, dan berjalan di berbagai penjuru bumi, serta mengarahkan mereka agar menjaga kehormatan diri dari meminta-minta kepada manusia kecuali ketika darurat, dan memberitahu mereka bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.

Sebaliknya, Islam mencela sikap malas dan lemah, memerintahkan untuk menjauhi senda gurau, hiburan, permainan, dan segala sesuatu yang tidak diharapkan manfaatnya. Islam juga memerintahkan menjauhi perkara-perkara rendah, hina, dan sepele, serta bersikap zuhud terhadap dunia demi mencari sesuatu yang lebih agung dan lebih mulia.

Rasulullah dan seluruh rasul Allah memiliki akhlak himmah yang tinggi. Bahkan sebagian mereka mencapai derajat Ulul ‘Azmi, karena itu Allah memerintahkan Rasul-Nya Muhammad agar bersabar sebagaimana para rasul Ulul ‘Azmi bersabar, agar beliau termasuk golongan Ulul ‘Azmi. Allah عز وجل berfirman:

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُوا الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ

“Maka bersabarlah sebagaimana para rasul yang memiliki keteguhan hati telah bersabar.”

Semakin tinggi himmah seseorang, semakin tinggi pula tuntutannya, dan semakin kecil tuntutan-tuntutan dunia di matanya. Ia tidak terlalu memedulikannya, dan tidak mengejarnya kecuali sekadar untuk memenuhi kebutuhan.


Manifestasi (Tanda-Tanda) Himmah yang Tinggi

Pertama: Kesungguhan dalam beramal dan tidak malas

Di antara tanda akhlak himmah yang tinggi dalam perilaku adalah kesungguhan dan semangat dalam bekerja, tidak bermalas-malasan, tidak lambat, dan tidak meremehkan.

Kesungguhan dan semangat dalam amal kebaikan yang diridhai Allah تعالى merupakan ciri orang-orang beriman yang jujur, yang senantiasa merasa diawasi oleh Allah dan mengharapkan hari akhir.

Setiap kali mereka dipanggil untuk beramal, berdakwah, atau berbuat kebaikan, mereka segera menyambutnya dengan penuh semangat dan kesungguhan. Ketika diseru untuk berjihad di jalan Allah, mereka melesat seperti burung elang, baik berjalan kaki maupun berkendara.

Ketika dipanggil untuk salat di tengah malam, mereka bangkit dari tempat tidur. Ketika dipanggil untuk menuntut ilmu, mereka bergegas mencarinya meskipun harus sampai ke tempat yang sangat jauh. Ketika dorongan untuk mencari rezeki muncul, mereka berangkat pagi hari untuk meraih keberkahan doa Nabi :

“Diberkahi umatku pada waktu pagi mereka.”

Orang-orang beriman yang jujur membenci kemalasan, merendahkannya, dan berlindung kepada Allah darinya. Mereka berdoa dengan doa Nabi :

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan kikir, serta dari lilitan utang dan tekanan manusia.”

Orang yang memiliki himmah tinggi tidak akan menerima satu pun dari sifat-sifat ini, karena semuanya bertentangan dengan himmah yang tinggi.


Kedua: Semangat berjihad di jalan Allah

Di antara tanda himmah yang tinggi adalah semangat untuk berjihad di jalan Allah dengan keberanian, aktivitas, dan kesiapan, seakan-akan medan perang adalah ladang keuntungan.

Demikianlah keadaan orang-orang beriman yang jujur, yang belajar langsung dari Rasulullah dan para sahabat pilihan.

Rasulullah adalah teladan terbaik dalam himmah yang tinggi, keberanian, dan keberanian menghadapi bahaya. Ketika peperangan memuncak, beliau adalah orang yang paling berani, paling maju, dan paling tinggi himmahnya. Dalam sepuluh tahun, beliau memimpin 27 peperangan.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:

“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya tidak ada sebagian kaum muslimin yang merasa berat untuk tidak ikut bersamaku, dan aku tidak mendapatkan tunggangan untuk mereka, niscaya aku tidak akan tertinggal dari satu pun pasukan yang berjihad di jalan Allah. Demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, aku ingin terbunuh di jalan Allah, lalu hidup kembali, lalu terbunuh lagi, lalu hidup lagi, lalu terbunuh lagi.”

Inilah puncak himmah tertinggi.


Ketiga: Berusaha mencapai kesempurnaan dan menjauhi kekurangan

Di antara tanda himmah tinggi adalah selalu berusaha mencapai kesempurnaan, membenci kekurangan, menjauhinya, dan takut terlihat memiliki sifat-sifat tersebut.

Dalam hadits:

“Sesungguhnya Allah mencintai perkara-perkara yang tinggi dan membenci perkara yang rendah.”

Mencapai kesempurnaan tidak cukup dengan angan-angan, tetapi harus dengan usaha, kerja keras, kesungguhan, dan kesabaran.

Allah تعالى berfirman:

“Bukanlah (surga itu) dengan angan-angan kalian dan bukan pula angan-angan Ahli Kitab. Barang siapa berbuat buruk, ia akan dibalas...”

Artinya: masuk surga dan meraih derajat tinggi tidak bisa dengan angan-angan, tetapi dengan amal: melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan.

Rasulullah bersabda:

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah… Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, minta tolonglah kepada Allah dan jangan lemah…”


Keempat: Berusaha mencari rezeki

Di antara tanda himmah tinggi adalah berusaha mencari rezeki sendiri, tidak bergantung pada orang lain, dan tidak meminta-minta kecuali dalam keadaan darurat.

Allah تعالى berfirman:

“Dialah yang menjadikan bumi mudah bagi kalian, maka berjalanlah di penjuru-penjurunya dan makanlah dari rezeki-Nya.”

Nabi bersabda:

“Seseorang mengambil tali, lalu pergi ke gunung membawa kayu bakar di punggungnya dan menjualnya, itu lebih baik daripada meminta kepada manusia.”

Dan beliau juga bersabda:

“Tidak ada makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangan sendiri.”

Para nabi pun bekerja:

  • Nabi Daud bekerja dengan tangannya
  • Nabi Zakaria adalah tukang kayu
  • Nabi Muhammad menggembala kambing

Kelima: Menjauhi perkara remeh dan mencintai perkara mulia

Orang yang memiliki himmah tinggi menjauhi hal-hal kecil dan rendah, serta mengejar perkara-perkara mulia.

Ia memandang dunia sebagai sesuatu yang kecil dan tidak pantas menjadi tujuan utama dibandingkan pahala akhirat.

Namun zuhud bukan berarti meninggalkan dunia, melainkan:

  • Tidak menjadikan dunia sebagai tujuan hati
  • Tetap memanfaatkan dunia secara halal dan seimbang

Allah berfirman:

“Katakanlah: siapa yang mengharamkan perhiasan Allah dan rezeki yang baik…”


Keenam: Bersikap tegas dan tidak menunda

Di antara tanda himmah tinggi adalah ketegasan dalam bertindak dan tidak menunda pekerjaan.

Nabi bersabda:

“Orang cerdas adalah yang mengendalikan dirinya dan beramal untuk setelah mati, dan orang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya.”

Dan sabda beliau:

“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara…”


Ketujuh: Fokus pada hal yang bermanfaat

Orang yang memiliki himmah tinggi akan sibuk dengan hal yang bermanfaat dan meninggalkan yang tidak penting.

Nabi bersabda:

“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.”

Termasuk hal yang tidak bermanfaat:

  • Ghibah (menggunjing)
  • Namimah (adu domba)

Orang beriman menjauhi semua itu dan menjaga waktunya.

Allah berfirman:

“Dan hamba-hamba الرحمن berjalan di bumi dengan rendah hati…”


Sebab-sebab memperoleh himmah tinggi

Di antaranya:

1. Fitrah manusia

Sebagian orang memang diciptakan dengan himmah tinggi.

2. Peran orang tua

Orang tua sangat berpengaruh dalam membentuk himmah anak.

3. Lingkungan

Lingkungan yang baik melahirkan himmah tinggi, sedangkan lingkungan buruk melemahkannya.

4. Aqidah yang lurus

Aqidah yang benar:

  • Memberi ketenangan
  • Mendorong kesungguhan
  • Membentuk akhlak

5. Menjauhi kemewahan

Kemewahan berlebihan melemahkan himmah.

6. Harga diri

Orang yang menjaga kehormatan diri memiliki himmah tinggi.

7. Memaafkan

Memaafkan menunjukkan kemuliaan jiwa.

8. Bersikap adil (insaf)

Allah berfirman:

“Janganlah kebencian membuat kalian tidak adil.”

9. Mempelajari sirah Nabi

Sirah Nabi penuh dengan teladan himmah tinggi.

10. Merasa bertanggung jawab

Nabi bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban.”

11. Berteman dengan orang shalih

Lingkungan pertemanan sangat memengaruhi himmah.

12. Optimisme

Optimisme membangkitkan semangat, pesimisme melemahkan.

13. Sabar dan istiqamah

Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang sabar akan diberi pahala tanpa batas.”

14. Kuatnya kemauan

Kemauan kuat adalah kunci kesuksesan.

15. Iman yang mendalam

Iman yang kuat tidak membuat hati tenang sebelum tujuan tercapai.

16. Rindu surga

Mengingat surga memotivasi amal.

17. Memahami kondisi umat

Kesadaran kondisi umat mendorong perbaikan.

18. Zuhud terhadap dunia

Tidak terikat pada dunia.

19. Teladan yang baik

Bergaul dengan orang berhimmah tinggi meningkatkan semangat.


Bidang-bidang himmah tinggi

1. Dalam menuntut ilmu

Ilmu adalah hal paling mulia untuk dicari.

Ali رضي الله عنه berkata:
Manusia ada tiga:

  • Ulama
  • Penuntut ilmu
  • Orang awam yang mengikuti tanpa ilmu

Para salaf sangat semangat menuntut ilmu:

  • Umar bergantian hadir majelis Nabi
  • Ibnu Abbas mencari ilmu dengan sabar
  • Imam Syafi’i hafal Qur’an sejak kecil
  • Bukhari mengembara jauh untuk hadits

2. Dalam dakwah

Semua tokoh besar Islam memiliki himmah tinggi dalam dakwah.

Rasulullah berdakwah:

  • Siang malam
  • Terang-terangan dan sembunyi-sembunyi
  • Kepada semua manusia

Meskipun disakiti, dilempari, dan dihina, beliau tetap berdakwah.


3. Dalam jihad

Para sahabat memahami keutamaan jihad:

  • Mereka menjual dunia untuk akhirat
  • Mengorbankan jiwa dan harta

Rasulullah adalah yang paling berani.

Ali رضي الله عنه berkata:
“Jika perang memuncak, kami berlindung di belakang Rasulullah .”

Khalid bin Walid berkata saat wafat:
“Aku telah menghadiri ratusan pertempuran, tetapi aku mati di atas tempat tidur.”

Shalahuddin al-Ayyubi juga memiliki himmah luar biasa dalam jihad hingga membebaskan Al-Quds.


Penutup

Himmah tinggi adalah karunia besar dari Allah. Ia adalah kunci kemuliaan, kejayaan, dan keberhasilan dunia dan akhirat.

“Itulah karunia Allah, diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki.”


Contoh-Contoh Himmah yang Tinggi

Himmah Rasulullah dan keteguhan beliau menanggung gangguan dalam dakwah

Dari ‘Urwah bin az-Zubair radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

Setelah Abu Thalib meninggal dunia dan gangguan terhadap Rasulullah semakin bertambah, beliau menuju kabilah Tsaqif dengan harapan agar mereka memberi perlindungan atau menolong beliau. Beliau mendapati tiga orang dari mereka, yaitu para pemuka Tsaqif: ‘Abd Yalil bin ‘Amr, Suhaib bin ‘Amr, dan Mas‘ud bin ‘Amr. Beliau menawarkan dirinya kepada mereka dan mengadukan gangguan yang dilakukan kaumnya terhadap beliau.

Salah seorang dari mereka berkata:
“Aku akan merobek kain penutup Ka‘bah jika Allah benar-benar mengutusmu membawa sesuatu.”

Yang lain berkata:
“Demi Allah, aku tidak akan berbicara lagi kepadamu sepatah kata pun setelah pertemuan ini. Jika engkau benar-benar seorang rasul, maka sungguh engkau terlalu mulia untuk aku ajak bicara. Dan jika engkau berdusta, maka engkau terlalu hina untuk aku ajak bicara.”

Yang ketiga berkata:
“Apakah Allah tidak menemukan selain dirimu untuk diutus?”

Lalu mereka menyebarkan kabar itu di kalangan Tsaqif. Mereka berkumpul untuk mengejek Rasulullah . Mereka duduk berbaris di jalan yang akan beliau lewati, sambil memegang batu di tangan mereka. Setiap kali beliau mengangkat kaki dan meletakkannya, mereka melemparinya dengan batu, sambil mengejek dan mencemooh beliau. Beliau tidak berhasil melewati dua barisan mereka itu kecuali kedua telapak kaki beliau telah mengalirkan darah.

Namun semua itu tidak memengaruhi himmah Rasulullah dalam menyampaikan dakwah. Beliau tetap mendatangi kabilah-kabilah Bani ‘Amir, Bani Muharib, Bani ‘Abs, Kindah, Bani Ka‘b, Bani Kalb, Bani Hanifah, Bakr, Bani Syaiban, Aus, dan Khazraj.


Himmah Umar bin al-Khaththab dalam hijrah

Ali bin Abi Thalib berkata:

Aku tidak mengetahui seorang pun dari kaum muhajirin berhijrah kecuali secara sembunyi-sembunyi, selain Umar bin al-Khaththab. Ketika ia bertekad untuk hijrah, ia menyandang pedangnya, memanggul busurnya, menggenggam beberapa anak panah di tangannya, dan membawa tombaknya. Lalu ia pergi menuju Ka‘bah, sementara para pembesar Quraisy berada di pelatarannya. Ia thawaf di Baitullah tujuh kali dengan tenang dan mantap, kemudian mendatangi maqam dan salat. Setelah itu ia berhenti di hadapan halaqah-halaqah mereka satu per satu, lalu berkata kepada mereka:

“Buruklah wajah-wajah itu! Semoga Allah tidak menghinakan selain hidung-hidung ini. Barang siapa ingin ibunya kehilangan anak, anaknya menjadi yatim, atau istrinya menjadi janda, maka hendaklah ia menemuiku di belakang lembah ini.”


Himmah Abu Bakar ash-Shiddiq dalam berinfak

Abu Dawud dan at-Tirmidzi meriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

Pada suatu hari Rasulullah memerintahkan kami untuk bersedekah, dan kebetulan saat itu aku memiliki harta. Aku berkata: “Hari ini aku akan mengungguli Abu Bakar, jika memang aku bisa mengunggulinya suatu hari.”

Lalu aku datang membawa setengah hartaku. Rasulullah bertanya:

“Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?”

Aku menjawab:
“Sebanding dengan ini.”

Kemudian Abu Bakar datang membawa seluruh hartanya. Rasulullah bertanya:

“Wahai Abu Bakar, apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?”

Ia menjawab:
“Aku sisakan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.”

Umar berkata:
“Aku tidak akan pernah bisa mengunggulinya sama sekali.”


Himmah Ibnu Abbas dalam menuntut ilmu

Al-Hakim dalam al-Mustadrak meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

Ketika Rasulullah wafat, aku berkata kepada seorang lelaki dari kalangan Anshar:
“Mari kita bertanya kepada para sahabat Rasulullah , karena hari ini mereka masih banyak.”

Lelaki itu berkata:
“Sungguh mengherankan engkau, wahai Ibnu Abbas! Apakah engkau mengira manusia akan membutuhkanmu, sementara di tengah mereka masih ada para sahabat Rasulullah ?”

Ibnu Abbas berkata:
Maka aku tinggalkan perkataan itu dan aku mulai mendatangi para sahabat Rasulullah . Apabila aku mendengar suatu hadits dari seseorang, aku mendatangi pintu rumahnya saat ia sedang beristirahat siang. Aku pun menjadikan selendangku sebagai bantal di depan pintunya, sementara angin meniupkan debu ke atasku. Lalu orang itu keluar dan melihatku, maka ia berkata:

“Wahai sepupu Rasulullah , apa yang membawamu ke sini? Mengapa engkau tidak mengutus seseorang kepadaku sehingga aku datang menemuimu?”

Aku menjawab:
“Tidak, akulah yang lebih berhak datang kepadamu.”

Lalu aku bertanya kepadanya tentang hadits.


Himmah Abu Bakar ash-Shiddiq dalam berdakwah

Ibnu Ishaq berkata:

Ketika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu masuk Islam dan menampakkan keislamannya, ia mulai berdakwah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Abu Bakar adalah seorang yang dicintai kaumnya, ramah kepada sahabat-sahabatnya, mudah bergaul, dan paling mengetahui nasab Quraisy serta paling mengetahui keadaan mereka, baik yang baik maupun yang buruk.

Maka ia mulai mengajak kepada Islam orang-orang yang ia percayai dari kaumnya, yang biasa mendatanginya dan duduk bersamanya. Melalui tangannya masuk Islam az-Zubair bin al-‘Awwam, Utsman bin ‘Affan, Thalhah bin ‘Ubaidillah, dan Sa‘d bin Abi Waqqash.


Himmah seorang sahabat dari kalangan Arab Badui dan kerinduannya kepada syahadah

Dari Syaddad bin al-Had, bahwa seorang lelaki Arab Badui datang kepada Rasulullah , lalu beriman kepada beliau dan mengikuti beliau. Lelaki itu berkata:
“Aku akan berhijrah bersamamu.”

Maka Nabi menyerahkannya kepada sebagian sahabat beliau untuk diperhatikan. Ketika terjadi perang Khaibar, Rasulullah memperoleh ghanimah, lalu membagikannya, dan beliau membagikan pula bagian untuk lelaki itu. Bagian itu diberikan kepada para sahabat untuk disampaikan kepadanya, sementara ia sedang menggembalakan tunggangan mereka.

Ketika ia datang, mereka menyerahkan bagiannya itu kepadanya. Ia bertanya:
“Apa ini?”

Mereka menjawab:
“Ini bagian yang dibagikan Rasulullah untukmu.”

Lelaki itu berkata:
“Aku tidak mengikutimu demi ini. Aku mengikutimu agar aku dipanah di sini” — sambil menunjuk tenggorokannya — “lalu aku mati dan masuk surga.”

Rasulullah bersabda kepadanya:

“Jika engkau jujur kepada Allah, niscaya Allah akan membenarkanmu.”

Kemudian mereka bangkit memerangi musuh. Setelah itu lelaki itu dibawa kepada Rasulullah dalam keadaan telah terkena panah tepat di tempat yang ia tunjuk. Rasulullah bersabda:

“Apakah dia, orang itu?”

Mereka menjawab:
“Ya.”

Beliau bersabda:

“Ia jujur kepada Allah, maka Allah membenarkannya.”

Lalu Nabi mengkafaninya dengan jubah beliau, kemudian beliau mendahulukannya dan menyalatkannya. Di antara doa yang terdengar dari salat beliau ialah:

“Ya Allah, hamba-Mu ini keluar berhijrah di jalan-Mu, lalu terbunuh sebagai syahid, dan aku menjadi saksi atas hal itu.”


Himmah ‘Uqbah bin Nafi‘ dalam berjihad di jalan Allah

Panglima muslim ‘Uqbah bin Nafi‘ berdiri di tepi Samudra Atlantik bersama sebagian sahabatnya setelah mereka menaklukkan Afrika Utara. Mereka menunggang kuda-kuda mereka sampai memasuki air laut, hingga kaki-kaki kuda itu tenggelam dan air mencapai dada mereka.

Lalu ‘Uqbah berhenti dan bermunajat kepada Tuhannya:

“Ya Tuhanku… Ya Tuhanku… Demi Allah, aku tidak keluar karena kesombongan dan bukan pula karena keangkuhan. Aku tidak keluar kecuali untuk berjihad di jalan-Mu, meninggikan kalimat-Mu, dan mencari keridhaan-Mu. Ya Tuhanku, demi Allah, seandainya aku mengetahui bahwa di balik laut ini ada orang yang kufur kepada-Mu, niscaya aku akan menyeberangi laut ini dan memeranginya sampai ia beriman kepada-Mu semata.”


Himmah Hasan al-Banna dan cita-citanya dalam hidup

Dalam jawaban atas sebuah tema karangan dengan judul:

“Jelaskan cita-citamu yang paling besar setelah menyelesaikan studi, dan sebutkan sarana yang engkau siapkan untuk mewujudkannya.”

Hasan al-Banna menjawab:

“Aku meyakini bahwa pekerjaan yang manfaatnya tidak melampaui pelakunya sendiri dan faedahnya tidak melebihi orang yang mengerjakannya adalah pekerjaan yang sempit dan kecil. Sebaik-baik dan semulia-mulia pekerjaan ialah pekerjaan yang hasilnya dinikmati oleh pelakunya dan juga oleh orang lain, keluarganya, umatnya, dan sesama manusia. Sejauh mana manfaat itu mencakup banyak pihak, sejauh itu pula keluhuran dan nilainya.

Semua itu aku yakini sebagai keyakinan yang telah berakar kuat dalam diriku, menjulang cabang-cabangnya, menghijau daunnya, dan tinggal menunggu berbuah. Maka cita-citaku yang paling besar setelah menyelesaikan masa studiku ada dua:

Cita-cita khusus

Membahagiakan keluargaku dan kerabatku.

Cita-cita umum

Aku ingin menjadi pembimbing dan pengajar. Jika aku menghabiskan siang dan sebagian besar tahun untuk mendidik anak-anak, maka aku akan menghabiskan malamku untuk mendidik para ayah tentang tujuan agama mereka, sumber kebahagiaan mereka, dan kesenangan hidup mereka; kadang dengan ceramah dan dialog, kadang dengan penulisan dan pengarang, dan kadang dengan berkeliling dan bepergian.

Untuk mewujudkan yang pertama, aku telah menyiapkan pengetahuan tentang keindahan dan penghargaan terhadap kebaikan — dan bukankah balasan kebaikan itu adalah kebaikan?

Sedangkan untuk mewujudkan yang kedua, aku menyiapkan sarana-sarana akhlak berupa keteguhan dan pengorbanan. Keduanya bagi seorang pembaharu laksana bayangannya sendiri; keduanya adalah rahasia seluruh keberhasilannya. Tidak ada seorang pembaharu yang berhias dengan keduanya lalu gagal dengan kegagalan yang menghinakan atau mencelakakannya.

Adapun sarana amaliahnya adalah belajar yang panjang, yang aku harap lembar-lembar resmi dapat menjadi saksi atasnya, dan juga mengenal orang-orang yang memeluk prinsip ini dan bersimpati kepada para pendukungnya; tubuh yang meski kecil telah terbiasa dengan kekasaran dan akrab dengan kesusahan; dan jiwa yang telah aku jual kepada Allah dalam transaksi yang menguntungkan, dan perdagangan yang — insya Allah — menyelamatkan. Aku berharap Allah menerimanya dan menyempurnakannya. Untuk kedua cita-cita itu, aku mengandalkan kesadaran terhadap kewajiban dan pertolongan dari Allah سبحانه وتعالى, sebagaimana aku membacanya dalam firman-Nya:

“Jika kalian menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kaki-kaki kalian.”


Perubahan himmah para tukang sihir Fir‘aun dari cinta dunia kepada cinta akhirat

Dorongan awal para tukang sihir Fir‘aun dalam menerima tantangan Nabi Musa ‘alaihis salam adalah keinginan mendapatkan upah dan ganjaran dari Fir‘aun. Mereka berkata kepada Fir‘aun:

“Apakah kami akan mendapat upah jika kami menjadi pemenang?”
Fir‘aun menjawab:
“Ya, dan sungguh kalian akan termasuk orang-orang yang didekatkan.”

Namun ketika kebenaran telah tampak bagi mereka, mereka meyakininya, dan iman menguasai hati-hati mereka, ancaman dan intimidasi Fir‘aun tidak lagi dapat memalingkan mereka.

Fir‘aun berkata:

“Apakah kalian beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepada kalian? Sungguh dia adalah pemimpin kalian yang mengajarkan sihir kepada kalian. Maka sungguh aku akan memotong tangan dan kaki kalian secara bersilang, dan aku akan menyalib kalian pada batang-batang kurma. Dan sungguh kalian akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih keras azabnya dan lebih kekal.”

Mereka menjawab:

“Kami tidak akan mengutamakan engkau dibandingkan bukti-bukti nyata yang telah datang kepada kami dan (dibandingkan) Tuhan yang telah menciptakan kami. Maka putuskanlah apa yang hendak engkau putuskan. Sesungguhnya engkau hanya dapat memutuskan untuk kehidupan dunia ini saja.”

Maka himmah para tukang sihir itu pun berubah: dari himmah mengumpulkan harta, kedudukan, dan kedekatan dengan penguasa, menjadi himmah yang terpaut dengan apa yang ada di sisi Allah سبحانه وتعالى — himmah yang tidak dapat digoyahkan oleh ancaman atau siksaan.


Keteguhan Sayyid Quthb di jalan dakwah

Ketika Sayyid Quthb diminta untuk mengajukan permohonan belas kasihan agar hukumannya diringankan atau agar ia dibebaskan dari penjara, ia menolak. Ia mengucapkan kata-kata yang kemudian diwariskan dari generasi ke generasi:

“Jika engkau telah memutuskan dengan hukum yang benar, maka aku rela kepada kebenaran. Dan jika engkau memutuskan dengan kebatilan, maka aku terlalu besar untuk meminta belas kasihan kepada kebatilan. Jari telunjukku yang bersaksi tentang keesaan Allah berkali-kali setiap hari menolak untuk menulis satu kata pun yang mengakui hukum seorang thaghut.”


Faedah Himmah

Pertama

Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang memiliki himmah tinggi dan berjihad di jalan-Nya. Allah تعالى berfirman:

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”

Maka Allah سبحانه وتعالى menganugerahkan kepada orang yang berjihad di jalan-Nya petunjuk menuju jalan yang lurus, meneguhkannya di atas jalan kebenaran yang nyata, dan menjauhkannya dari tergelincir di lereng-lereng tipu daya setan.

Kedua

Pertolongan Allah di dunia dan akhirat. Allah تعالى berfirman:

“Sesungguhnya Kami pasti menolong para rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya para saksi.”

Allah سبحانه وتعالى telah menjanjikan pertolongan kepada jamaah muslimin, tetapi Dia tidak menghendaki agar para pembawa dakwah dan penjaganya menjadi orang-orang malas yang duduk bersandar, lalu pertolongan-Nya turun kepada mereka dengan mudah tanpa kesukaran, hanya karena mereka mendirikan salat, membaca Al-Qur’an, dan berdoa kepada Allah setiap kali mereka tertimpa gangguan dan penindasan.

Allah menghendaki agar pembelaan-Nya terhadap orang-orang beriman datang setelah mereka memberikan diri mereka untuk dakwah ini, mengumpulkan seluruh kemampuan mereka, dan mengerahkan sekuat tenaga yang mereka miliki. Tujuannya agar kemenangan itu tidak menjadi sesuatu yang murah dan mudah. Karena kemenangan yang cepat dan mudah, yang turun kepada orang-orang yang duduk santai, justru membuat potensi-potensi itu tertidur dan tidak muncul. Selain itu, kemenangan yang murah dan mudah akan mudah hilang dan lenyap, karena harganya murah, tidak dibayar dengan pengorbanan berharga, dan para peraihnya tidak terlatih menjaga kemenangan itu melalui jihad dan kesungguhan perjuangan.

Ketiga

Pemilik himmah yang tinggi mampu memikul beban dan tanggung jawab yang tidak sanggup dipikul oleh orang lain. Seorang penyair berkata:

“Apabila jiwa-jiwa itu besar, maka badan-badan akan letih dalam mengejar keinginannya.”

Keempat

Mengubah realitas yang menyakitkan — sesuatu yang tidak sanggup diubah oleh orang yang lemah himmah, lemah tenaga, malas, bergantung kepada orang lain, atau hanya menikmati keadaan saat lapang dan menghilang dari pandangan saat sulit.

Kelima

Pemilik himmah tinggi yang berjihad akan mendapatkan balasan hakikinya ketika wafat, sesuai dengan apa yang telah ia kerjakan. Allah تعالى berfirman:

“Orang-orang yang paling dahulu lagi yang paling dahulu. Mereka itulah orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), berada dalam surga-surga kenikmatan...”

Dan dari al-Mughirah bin Syu‘bah, bahwa Rasulullah bersabda:
Musa bertanya kepada Rabbnya tentang penghuni surga yang paling tinggi kedudukannya. Allah berfirman:

“Mereka itulah orang-orang yang Aku kehendaki. Kemuliaan mereka Aku tanam dengan tangan-Ku sendiri dan Aku tutup atasnya, maka belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia.”

Keenam

Himmah yang tinggi adalah tanda kesempurnaan kelelakian dan kemuliaan muru’ah.

Ketujuh

Ia membuahkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Kedelapan

Ia adalah akhlak yang mengantarkan kepada kecintaan Allah dan kecintaan manusia.

Kesembilan

Ia mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi individu dan bangsa.


Nilai pendidikan dari himmah yang tinggi

Pendidikan anak-anak kita, agar kelak berbuah menjadi laki-laki yang kuat, generasi yang sehat jasmani dan akalnya, serta penjaga akidah dan tanah air, memerlukan penanaman akhlak mulia ini — yaitu tingginya himmah — sejak mereka masih kecil.

Keluarga, khususnya kedua orang tua atau orang yang menggantikan peran mereka, adalah unsur lingkungan yang paling berpengaruh dalam menampakkan bakat dan menanamkan himmah yang tinggi dalam hati anak-anak. Hal inilah yang menjelaskan kepada kita rahasia berkesinambungannya mata rantai orang-orang hebat dari keluarga-keluarga tertentu — seperti keluarga Ibnu Taimiyah misalnya — di mana bakat bawaan, kemampuan kreatif, dan lingkungan yang membantu berkumpul bersama untuk menemukan bakat-bakat itu sejak dini, mengembangkannya, dan mengarahkannya ke jalan yang paling tepat.

Inilah az-Zubair bin al-‘Awwam radhiyallahu ‘anhu, yang Umar menilai sebanding dengan seribu lelaki, tumbuh di bawah asuhan ibunya, Shafiyyah binti ‘Abdul Muththalib, bibi Rasulullah dan saudari Singa Allah, Hamzah. Dan orang-orang besar seperti Abdullah, al-Mundzir, dan ‘Urwah — putra-putra az-Zubair radhiyallahu ‘anhum — semuanya adalah buah pendidikan ibu mereka, Dzat an-Nithaqain, Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuma.

Apa yang ditanamkan oleh dua perempuan ini memiliki pengaruh yang sangat besar dalam meninggikan himmah anak-anak mereka. Sejarah juga menyimpan ucapan Sayyidah Fathimah binti Asad kepada putranya, ‘Aqil bin Abi Thalib:

“Apabila angin utara bertiup di malam hari, engkau akan menjadi orang yang mulia dan bersungguh-sungguh.”

Maka ia tumbuh menjadi orang yang tinggi himmahnya, kuat pendiriannya, dan tidak takut terhadap celaan orang yang mencela dalam membela kebenaran.

Mu‘awiyah radhiyallahu ‘anhu pun bangga dengan pendidikan ibunya. Jika seseorang membangga-banggakan diri kepadanya, ia berkata:

“Aku adalah putra Hind.”

Ia tentu tidak akan berkata seperti itu kecuali jika ibunya dikenal dengan pendidikan yang baik, membesarkan anak-anaknya di atas sifat-sifat yang indah, dan menanamkan dalam diri mereka ruh kepemimpinan dan himmah yang tinggi. Pernah dikatakan kepada ibunya, ketika Mu‘awiyah masih bayi di hadapannya:

“Sesungguhnya aku menduga bahwa anak ini kelak akan memimpin kaumnya.”

Maka ibunya menjawab:

“Semoga aku kehilangan dia kalau ternyata dia tidak memimpin kaumnya!”

Begitu pula ayah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab pada masa yang lebih dekat, mendidik putranya untuk menanggung kesulitan dan melatihnya dalam keberanian. Ia mengabulkan keinginannya untuk menunaikan haji pada usia yang masih dini. Maka ia tumbuh kuat wataknya, tinggi himmahnya, percaya diri, dan siap memikul tanggung jawab besar. Hal itu tampak dari surat yang ditulis ayah sang syaikh kepada seorang temannya:

“Aku memastikan bahwa ia telah baligh sebelum mencapai usia dua belas tahun. Aku melihatnya telah layak untuk salat berjamaah dan menjadi imam. Maka aku mendahulukannya karena pengetahuannya tentang hukum-hukum syariat. Aku pun menikahkannya segera setelah baligh. Kemudian ia meminta kepadaku untuk berhaji ke Baitullah, maka aku pun mengabulkannya untuk mencapai tujuan itu. Lalu ia pun berhaji dan menunaikan rukun Islam.”

Pendidikan anak-anak untuk memiliki himmah tinggi tidak cukup dilakukan oleh keluarga saja. Itu juga merupakan tugas sekolah. Guru harus menanamkan nilai agung ini ke dalam jiwa murid-muridnya. Demikian pula media modern — baik audio, visual, maupun tulisan — memiliki peran besar dalam menanamkan himmah yang tinggi ke dalam jiwa para pendengar, penonton, dan pembacanya, agar lahir dari mereka orang-orang yang akan membangkitkan umat dan menolongnya bangkit dari keterpurukan.

Di antara sarana pendidikan yang membantu menyebarkan ruh ini adalah dorongan dan penghargaan, yang dilakukan oleh orang-orang kaya di tengah umat, dengan mengadakan perlombaan dan memberi hadiah kepada orang-orang yang berprestasi. Dalam hal ini, kita memiliki teladan yang baik pada generasi salafus shalih.

Asy-Syathibi berkata tentang sarana ini — yaitu dorongan dan motivasi — bahwa ia adalah fardhu kifayah. Jika sebagian orang telah melaksanakannya, gugurlah kewajiban dari yang lain. Tetapi jika tidak seorang pun melaksanakannya, maka semuanya berdosa: yang mampu karena lalai, dan yang tidak mampu karena tidak mendorong pelaksanaannya, tidak memotivasi, tidak membantu, bahkan tidak memaksa orang yang mampu untuk melakukannya.

Para khalifah dan para amir dahulu berada di barisan terdepan dalam mendorong para penuntut ilmu dan mendidik mereka di atas himmah yang tinggi. Inilah Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab yang memotivasi Ibnu Abbas dan memasukkannya ke dalam majelisnya bersama para peserta Badar dari kalangan muhajirin dan anshar.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:

Umar biasa memasukkanku bersama tokoh-tokoh tua peserta Badar. Sebagian dari mereka merasa keberatan dan berkata:
“Mengapa engkau memasukkan anak ini bersama kami, padahal kami punya anak-anak yang seumur dengannya?”

Umar berkata:
“Sesungguhnya ia sebagaimana yang kalian ketahui.”

Suatu hari Umar memanggilku dan memasukkanku bersama mereka. Aku merasa bahwa hari itu ia memanggilku hanya untuk memperlihatkan kepada mereka kelebihanku. Umar bertanya:

“Apa pendapat kalian tentang firman Allah:
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ ?”

Sebagian mereka menjawab:
“Kita diperintahkan untuk memuji Allah dan memohon ampun kepada-Nya jika kita ditolong dan diberi kemenangan.”

Sebagian yang lain diam.

Lalu Umar bertanya kepadaku:
“Apakah begitu pendapatmu, wahai Ibnu Abbas?”

Aku menjawab:
“Tidak.”

Umar berkata:
“Lalu apa pendapatmu?”

Aku menjawab:
“Itu adalah pemberitahuan tentang ajal Rasulullah yang Allah kabarkan kepada beliau. Maksudnya: jika telah datang pertolongan Allah dan kemenangan — itulah tanda dekat ajalmu — maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya Dia Maha Penerima tobat.”

Umar berkata:
“Aku tidak mengetahui maknanya kecuali seperti yang engkau katakan.”


Sebab-sebab lemahnya himmah

Pertama: Lemahnya iman

Iman adalah pendorong pertama untuk beramal di jalan Allah. Lemahnya iman bukan hanya menyebabkan seseorang menjauh dari dakwah kepada Allah, tetapi juga menjauh dari komitmen terhadap perintah-perintah Allah dan larangan-larangan-Nya. Maka bagaimana mungkin ia dapat mencapai himmah yang tinggi menjulang?

Himmah melemah seiring dengan melemahnya iman. Orang yang benar-benar yakin terhadap apa yang Allah janjikan bagi hamba-hamba-Nya yang ikhlas, berupa surga yang di dalamnya terdapat kenikmatan yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas di hati manusia, pasti akan menyingsingkan lengan, mempercepat langkah, dan mengerahkan segala yang mahal dan berharga untuk meraih surga itu.

Sebaliknya, jika iman dalam diri seseorang melemah dan keraguan mulai masuk terhadap janji Allah, maka tekadnya pun menjadi lemah, pengorbanannya berkurang, ia tidak sabar menghadapi kesulitan, tidak berusaha mengejar derajat-derajat yang tinggi, lalu mulai menjauh dari beban-beban kewajiban dan menghindar dari tanggung jawab. Sebagaimana Bani Israil berkata kepada Nabi mereka Musa ‘alaihis salam:

“Pergilah engkau bersama Tuhanmu lalu berperanglah, sesungguhnya kami duduk di sini saja.”

Kedua: Terlalu condong kepada dunia

Allah تعالى berfirman:

“Dijadikan indah bagi manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, berupa wanita-wanita, anak-anak, harta benda yang bertumpuk-tumpuk dari emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.”

Sejauh mana cinta dunia masuk ke dalam hati seorang mukmin, sejauh itu pula imannya melemah. Cinta dunia dan perhiasannya seperti rantai dan belenggu yang mengikat pemiliknya, sehingga ia enggan melakukan sesuatu yang mengusik kenyamanan dunia dan mengganggu ketenangannya.

Karena itu seorang mukmin dari keluarga Fir‘aun memperingatkan kaumnya tentang dunia:

“Wahai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan sementara, dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.”

Adapun para pencinta dunia justru mengajak orang beriman untuk memanjakan dirinya dan beristirahat dari beratnya taklif. Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang orang-orang munafik:

“Sungguh Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kalian dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya: ‘Kemarilah bersama kami.’”

Ketiga: Dosa dan maksiat

Dosa kecil, apabila pelakunya tidak peduli, akan membesar sedikit demi sedikit. Dosa-dosa kecil itu berkumpul dan menorehkan titik-titik hitam di hati, memadamkan cahayanya dan melemahkan imannya. Maka hati yang tadinya penuh iman, berkobar di dalamnya semangat beramal dan kecintaan kepada dakwah, berubah menjadi redup dan lesu: tidak lagi mengingkari kemungkaran dan tidak lagi mengenal kebaikan.

Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu memahami bahaya dosa-dosa ini, hingga ia berpesan kepada pasukannya dalam Perang Yarmuk:

“Bersatulah dan jadilah satu pasukan. Temuilah bala tentara kaum musyrikin, karena kalian adalah penolong agama Allah. Allah akan menolong orang yang menolong agama-Nya dan menghinakan orang yang kufur kepada-Nya. Kalian tidak akan dikalahkan karena sedikitnya jumlah, tetapi kalian akan dikalahkan karena dosa-dosa. Maka waspadalah terhadap dosa-dosa itu.”

Keempat: Takut terhadap rezeki dan takut terhadap gangguan

Orang yang menempuh jalan dakwah akan menghadapi kesulitan, kelelahan, penderitaan, gangguan, ujian, peperangan terhadap dirinya, dan juga gangguan terhadap rezekinya. Allah سبحانه وتعالى berfirman:

“Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Ujian seperti ini memengaruhi sebagian orang yang berjalan di jalan dakwah. Akibatnya, pengorbanan mereka berkurang, dan mereka cukup puas berada di barisan belakang karena takut menghadapi beratnya dakwah. Mereka merasa aman dengan mundur dari kezaliman para pelaku aniaya dan merasa telah menjaga harta dan anak-anak mereka.

Mereka berkata seperti yang disebut Allah:

“Kami tidak sanggup pada hari ini menghadapi Jalut dan tentaranya.”

Kelima: Tergesa-gesa ingin menang dan panjangnya masa penantian

Allah تعالى berfirman:

“Kalau yang kamu serukan itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, niscaya mereka mengikutimu. Tetapi tempat yang dituju terasa jauh bagi mereka.”

Hari-hari berlalu, tahun-tahun terus berganti, sementara seorang da‘i terus pergi dan pulang di jalan dakwah. Boleh jadi, setelah sekian lama ia mulai berbicara kepada dirinya tentang lambatnya pertolongan Allah, tentang belum tampaknya hasil dakwahnya pada manusia. Maka ia pun terkena sejenis kelemahan tekad dan lemahnya himmah. Ia mulai condong kepada dunia sedikit demi sedikit.

Padahal ia tidak menyadari bahwa Nabi Nuh ‘alaihis salam telah berdakwah kepada kaumnya selama seribu tahun kurang lima puluh tahun, tetapi yang beriman bersamanya hanya sedikit.

Pengarang Fi Zhilal al-Qur’an menjelaskan keterlambatan pertolongan ini dengan berkata:

“Bisa jadi pertolongan itu terlambat karena bangunan umat beriman belum matang sepenuhnya, belum sempurna pertumbuhannya, dan belum terkumpul semua potensinya. Bisa jadi pertolongan itu terlambat karena umat belum sepenuhnya ikhlas dalam perjuangan, pengorbanan, dan jihadnya untuk Allah dan untuk dakwah-Nya. Mereka masih berjuang demi keuntungan yang ingin diraih, atau demi fanatisme terhadap diri mereka, atau demi keberanian di hadapan musuh-musuh mereka. Padahal Allah menghendaki agar jihad itu hanya untuk-Nya, di jalan-Nya, dan bersih dari semua perasaan lain yang menempel padanya.

Allah سبحانه وتعالى juga menghendaki agar umat itu semakin kuat hubungannya dengan-Nya ketika ia menderita, terluka, dan berkorban, tanpa memiliki sandaran selain Allah dan tanpa menghadap kepada siapa pun selain Dia semata.”

Keenam: Berpalingnya manusia dan sedikitnya pendukung

Berpalingnya manusia dari dakwah ini dapat melemahkan tekad seorang da‘i, sehingga ia tidak memberikan dari dirinya kecuali sebanding dengan respons yang ia terima. Bahkan ia bisa menjadikan banyaknya jumlah pengikut sebagai ukuran keberhasilan dakwah, sehingga sedikitnya orang yang menempuh jalan ini melemahkan semangatnya.

Padahal ia belum mendengar ucapan Dr. Yusuf al-Qaradawi:

Aku heran kepada mereka yang berkata: engkau terlalu jauh dalam angan,
dalam cita-cita tinggi dan jalan mendaki yang sukar.

Maka berhentilah, jangan lelahkan penamu,
engkau hanya menabur benih di tanah yang tak subur.

Aku katakan kepada mereka: pelanlah, putus asa bukan tabiatku,
aku akan menabur benihku, dan buahnya ada di tangan Rabbku.

Bila aku telah menyampaikan risalah dengan sungguh-sungguh,
lalu aku tidak menemukan telinga yang mau menjawab, maka apa dosaku?

Ketujuh: Ejekan dan olok-olok

Senjata ejekan dan olok-olok adalah salah satu senjata paling tajam yang dipakai musuh-musuh dakwah untuk melemahkan tekad para da‘i dan berusaha menghalangi mereka dari jalan dakwah. Hal itu dilakukan dengan menuduh mereka dengan berbagai tuduhan dan fitnah.

Tuduhan-tuduhan seperti ini sering kali terasa lebih menyakitkan bagi para da‘i daripada sakit badan atau siksaan fisik. Jiwa seorang da‘i bisa terpengaruh oleh ejekan seperti ini, sehingga himmahnya melemah dan ia mengasingkan diri dari manusia karena takut terhadap ejekan itu.

Padahal yang seharusnya ia lakukan adalah bersabar atas gangguan itu, sebagaimana Rasulullah sabar. Beliau dituduh sebagai tukang sihir, pendusta, orang gila, dan berbagai tuduhan lainnya, tetapi beliau tetap sabar menghadapi semuanya demi menyampaikan dakwah.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

“Sungguh telah diperolok-olok para rasul sebelum engkau, maka turunlah kepada orang-orang yang mengejek itu azab yang dahulu mereka olok-olok.”

Kedelapan: Suara-suara keraguan dan pelemahan

Bisikan-bisikan pelemahan dan pengenduran sering didengar oleh orang yang menempuh jalan dakwah dari orang-orang di sekitarnya. Bisikan itu kadang datang dalam bentuk nasihat atau peringatan dari orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, atau dari mereka yang himmahnya terlalu pendek untuk terus berjalan dan menanggung kesulitan, sehingga mereka lebih memilih kesejukan keselamatan daripada panasnya jihad.

Allah سبحانه وتعالى menggambarkan mereka dengan firman-Nya:

“Dan mereka berkata: ‘Janganlah berangkat di musim panas.’ Katakanlah: ‘Api neraka Jahannam itu lebih panas.’”

Suara-suara seperti ini memengaruhi sebagian orang beriman, sehingga menghalangi mereka dari banyak kebaikan dan menahan mereka dari pengorbanan dan pemberian. Allah سبحانه وتعالى berfirman:

“Sekiranya mereka berangkat bersama kalian, niscaya mereka tidak menambah bagi kalian selain kerusakan, dan mereka akan bergegas menyebarkan fitnah di tengah-tengah kalian, sementara di antara kalian ada orang-orang yang mau mendengarkan mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang zalim.”

Jika orang-orang beriman mau mendengarkan orang-orang munafik ini, maka keraguan dan kebimbangan akan masuk ke dalam hati mereka tentang keberhasilan dakwah ini dan tentang datangnya pertolongan Allah. Akibatnya mereka tertimpa kebimbangan dan keraguan, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman:

“Mereka itu bimbang di antara yang demikian, tidak termasuk kepada golongan ini dan tidak pula kepada golongan itu.”

Keraguan seperti itu bertentangan dengan tekad yang tinggi. Sebagaimana kata seorang penyair:

Jika engkau memiliki pendapat, maka milikilah pula tekad,
karena rusaknya pendapat adalah bila engkau ragu-ragu.


Ketiga: Rujukan untuk belajar mandiri dan pendalaman

Tidak ada satu rujukan khusus yang secara khusus membahas materi ilmiah ini, tetapi ia dapat disarikan dari:

  • kitab-kitab adab,
  • tafsir Fi Zhilal al-Qur’an,
  • risalah-risalah Ustadz al-Banna,
  • dan kitab-kitab dakwah.

Implementasi praktis nilai-nilai tema ini melalui aktivitas berikut

Pertama: aktivitas pendamping

  1. Setiap peserta menentukan satu tujuan besar yang ingin ia capai.
  2. Setiap peserta menyebutkan satu contoh nyata dari kehidupan yang berhasil karena tingginya himmah.
  3. Menentukan pelajaran-pelajaran yang dapat diambil dari setiap sikap dan bagaimana mengubahnya menjadi penerapan nyata.
  4. Memberikan bantuan antar peserta, dengan menetapkan bidang khusus bagi masing-masing sesuai kecenderungannya, yang di situ ia dapat berkarya dengan baik, lalu memantau perkembangannya.

Kedua: aktivitas penunjang

  1. Menyampaikan ceramah tentang himmah yang tinggi dan dampak tersebarnya sifat ini dalam kebangkitan masyarakat.
  2. Menyampaikan beberapa khutbah yang mendorong para pemuda kepada cita-cita yang tinggi dan himmah yang tinggi, serta menjelaskan cita-cita yang terpuji.
  3. Mengumpulkan bait-bait syair dan kata-kata hikmah yang mengajak kepada himmah yang tinggi.
  4. Menanamkan sifat ini ke dalam jiwa para murid dengan terus-menerus mendorong mereka kepadanya.
  5. Memasang spanduk atau papan pengingat yang mendorong kepada himmah tinggi dan cita-cita yang mulia.
  6. Mengelola sebuah seminar tentang himmah yang tinggi.

Evaluasi dan pengukuran diri

Pertama: pertanyaan esai

  1. Apa yang dimaksud dengan himmah yang tinggi?
  2. Apa tingkatan-tingkatan himmah yang tinggi?
  3. Dari mana lahirnya kebesaran himmah?
  4. Sebutkan beberapa hadits yang mengajak kepada himmah yang tinggi.
  5. Apa saja manifestasi himmah yang tinggi?
  6. Apa saja sarana yang membantu memperoleh himmah yang tinggi?
  7. Dalam bidang apa saja himmah yang tinggi itu tampak?
  8. Sebutkan beberapa teladan yang dapat dicontoh dalam himmah yang tinggi.
  9. Apa nilai pendidikan dari himmah yang tinggi?
  10. Apa sebab-sebab lemahnya himmah?
  11. Mengapa himmah pada zaman kita ini melemah di kalangan pemuda?
  12. Sebutkan satu contoh himmah yang tinggi pada masing-masing bidang berikut:
  • jihad di jalan Allah,
  • menuntut ilmu,
  • ibadah,
  • dakwah kepada Allah سبحانه,
  • kemanfaatan umum.
  1. Bandingkan himmah kita dengan himmah generasi salafus shalih.

Kedua: pertanyaan objektif

  1. Berilah garis bawah pada jawaban yang engkau anggap melengkapi pernyataan berikut:

A. Himmah yang tinggi ...

  • bertentangan dengan ajakan kepada tawadhu,
  • tidak bertentangan dengan ajakan kepada tawadhu,
  • sulit diwujudkan pada zaman kita.

B. Di antara sebab lemahnya himmah ...

  • lemahnya iman dan buruknya tabiat,
  • kezaliman para penguasa dan pemerintah,
  • tidak tersedianya kesempatan untuk memiliki himmah tinggi.
  1. Lengkapilah yang berikut:
  • Himmah yang paling tinggi adalah himmah yang terhubung dengan .......... dalam bentuk tuntutan dan tujuan, dan yang mengantarkan .......... melalui dakwah dan nasihat, dan inilah himmah ............

 

Al-Qur'anul Karim