Monday, May 11, 2026

Ujub

Pertama: Makna Al-I’jab bin Nafs

Penyakit kelima yang menjangkiti sebagian aktivis (pekerja dakwah), yang mana mereka harus bersungguh-sungguh mengobati, membebaskan diri, bahkan waspada dan membentengi diri darinya, adalah: Kekaguman pada diri sendiri (Ujub).

Agar pembahasan kita mengenai penyakit ini memiliki dimensi yang jelas dan batasan yang terukur, kita akan membaginya sebagai berikut:

Makna Al-I’jab bin Nafs secara Bahasa:

Secara etimologi (bahasa), istilah Al-I’jab bin Nafs merujuk pada:

  • (a) Kegembiraan dan Anggapan Baik: Anda berkata: "Amruhu a'jabahu" (perkara itu membuatnya takjub), artinya membuatnya senang. "A'jaba bihi" artinya merasa senang dengannya. Di antaranya adalah firman Allah Ta'ala:

"Sesungguhnya budak perempuan yang beriman lebih baik dari perempuan musyrik, meskipun dia menarik hatimu (a’jabatkum)." (QS. Al-Baqarah: 221).

"Katakanlah: Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu (a’jabaka)." (QS. Al-Ma'idah: 100).

"...seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan (a’jaba) para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning." (QS. Al-Hadid: 20).

  • (b) Keangkuhan atau Menganggap Besar: Anda berkata: "A'jabahu al-amru", artinya dia merasa bangga dengannya, menganggapnya agung dan besar. Seorang laki-laki yang "Mu’jab" adalah orang yang sombong atau mengagung-agungkan apa yang ada pada dirinya, baik itu hal baik maupun buruk. Di antaranya firman Allah Ta'ala:

"...dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu (a’jabatkum katsratukum), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun." (QS. At-Tawbah: 25).

Makna secara Istilah:

Adapun dalam istilah para dai atau aktivis, I'jab bin Nafs adalah: Perasaan senang atau gembira terhadap diri sendiri serta apa yang keluar darinya, baik berupa perkataan maupun perbuatan, tanpa adanya sikap melampaui batas terhadap orang lain. Hal ini berlaku baik perkataan dan perbuatan tersebut berupa kebaikan atau keburukan, terpuji maupun tercela.

  • Jika perasaan tersebut disertai dengan sikap melampaui batas terhadap orang lain dengan cara menghina dan meremehkan apa yang mereka lakukan, maka itu disebut Ghurur (terpedaya) atau kekaguman diri yang sangat.
  • Jika disertai dengan sikap meremehkan orang lain secara personal (fisik/zatnya) dan merasa lebih tinggi di atas mereka, maka itu disebut Takabbur (sombong) atau kekaguman diri yang akut.

Kedua: Sebab-Sebab Kekaguman pada Diri Sendiri

Terdapat sebab-sebab yang mengarah pada penyakit ujub ini, di antaranya:

1. Pola Asuh Awal (Lingkungan Pertumbuhan):

Terkadang sebabnya adalah lingkungan masa kecil. Seseorang mungkin tumbuh di antara orang tua (atau salah satunya) yang memiliki sifat suka dipuji, terus-menerus menyucikan diri sendiri (baik dengan kebenaran maupun kebatilan), serta sulit menerima nasihat dan arahan. Anak tersebut kemudian meniru mereka, dan seiring berjalannya waktu, ia terpengaruh hingga sifat ujub menjadi bagian dari kepribadiannya, kecuali bagi mereka yang dirahmati Allah.

Inilah rahasia mengapa Islam menekankan agar orang tua berkomitmen pada manhaj Allah, sebagaimana yang telah kami jelaskan pada penyakit kedua (Penyakit Israf/Berlebihan). Hanya manhaj Allah-lah yang mampu melindungi orang tua dari penyimpangan, sehingga mereka layak menjadi teladan bagi anak-anaknya.

2. Sanjungan dan Pujian di Hadapan Muka tanpa Mengindahkan Adab Syar'i:

Sebagian orang, ketika dipuji langsung di hadapannya tanpa ikatan adab syar'i, akan dihinggapi bisikan setan karena ketidaktahuannya akan tipu daya iblis. Ia mulai berpikir bahwa ia dipuji karena memang memiliki bakat yang tidak dimiliki orang lain. Bisikan ini terus mengejarnya hingga ia terjangkit penyakit ujub. Inilah rahasia mengapa Rasulullah mencela pujian di hadapan muka dan menekankan pentingnya adab jika memang harus memuji.

Diriwayatkan dari Mujahid, dari Abu Ma’mar, ia berkata: "Seorang laki-laki berdiri memuji salah seorang gubernur, maka Miqdad bin Al-Aswad menaburkan debu ke wajah orang itu dan berkata: 'Rasulullah memerintahkan kami untuk menaburkan debu ke wajah orang-orang yang suka memuji.'"

Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Abi Bakrah, dari ayahnya: "Seorang laki-laki memuji orang lain di dekat Nabi , maka beliau bersabda: 'Celaka kamu! Kamu telah memenggal leher kawanmu!' (beliau mengucapkannya berkali-kali). 'Jika salah seorang di antara kalian harus memuji, maka katakanlah: Aku mengira fulan begini, dan Allah-lah yang menghisabnya, dan aku tidak menyucikan seorang pun di hadapan Allah. Aku mengiranya begini dan begitu (jika ia memang mengetahuinya).'

3. Berteman dengan Orang-Orang yang Ujub:

Seseorang sangat mudah meniru dan terpengaruh oleh temannya, apalagi jika temannya memiliki kepribadian yang kuat dan pengalaman luas, sementara ia sendiri adalah orang yang lalai dan polos. Jika temannya terjangkit penyakit ujub, maka "infeksinya" akan menular kepadanya. Inilah rahasia mengapa Islam menekankan pentingnya memilih teman agar membuahkan hasil yang baik.

4. Terpaku pada Nikmat dan Melupakan Pemberi Nikmat:

Ada tipe aktivis yang ketika Allah beri nikmat berupa harta, ilmu, kekuatan, atau kedudukan, ia hanya melihat pada nikmat tersebut dan lupa pada Sang Pemberi Nikmat. Di bawah kilauan bakatnya, jiwanya membisikkan bahwa ia mendapatkan semua itu karena kelebihan yang ia miliki. Ini persis seperti perkataan Karun: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku." (QS. Al-Qashash: 78). Perasaan ini terus mendesaknya hingga ia merasa telah mencapai puncak, lalu ia merasa bangga pada dirinya sendiri meskipun ia berada dalam kebatilan.

Inilah rahasia mengapa Islam menegaskan bahwa sumber segala nikmat adalah Allah:

"Dan segala nikmat yang ada padamu, maka dari Allah-lah datangnya..." (QS. An-Nahl: 53).

"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur." (QS. An-Nahl: 78).

Bahkan seorang Muslim diajarkan bermunajat setiap pagi dan sore sebanyak tiga kali: "Ya Allah, nikmat apa pun yang ada padaku di pagi ini atau pada salah satu makhluk-Mu, maka itu hanya dari-Mu semata, tidak ada sekutu bagi-Mu. Bagi-Mu segala puji dan syukur."

5. Tampil ke Depan (Menjadi Pemimpin) Sebelum Matang dan Sempurnanya Tarbiyah:

Kondisi amal Islami terkadang menuntut seseorang untuk tampil memimpin sebelum pribadinya matang. Saat itulah setan masuk dan membisikkan bahwa mereka terpilih karena kualifikasi dan bakat luar biasa yang mereka miliki. Karena kebodohan akan tipu daya setan, mereka mempercayainya dan mengangkat derajat diri melebihi porsinya.

Inilah rahasia mengapa Islam sangat mendorong tafaqquh (pendalaman ilmu) sebelum seseorang memegang kepemimpinan. Sebagaimana firman Allah:

"Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama..." (QS. At-Tawbah: 122).

Nabi bersabda: "Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan, maka Dia akan memahamkannya dalam urusan agama."

Umar bin Khattab ra. berkata: "Tafaqquh-lah (belajarlah) sebelum kalian menjadi pemimpin." Artinya, pelajarilah ilmu sebelum kalian menjadi tokoh atau pemegang tanggung jawab, agar kalian menyadari penyakit-penyakit dalam kepemimpinan dan dapat menghindarinya.

6. Kelalaian atau Kebodohan terhadap Hakikat Diri:

Seseorang yang lupa bahwa ia diciptakan dari air yang hina (mani) yang keluar dari tempat keluarnya air seni, bahwa kekurangan adalah sifat dasarnya, dan bahwa akhirnya ia akan dilemparkan ke tanah menjadi bangkai busuk yang baunya dijauhi makhluk lain, maka ia akan merasa dirinya "sesuatu". Setan memperkuat pikiran ini hingga ia menjadi ujub.

Inilah rahasia mengapa Al-Qur'an dan Sunnah berulang kali berbicara tentang hakikat manusia dari awal hingga akhirnya:

"Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina." (QS. As-Sajdah: 7-8).

"Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur." (QS. Abasa: 21).

Berikut adalah terjemahan lengkap dan tidak diringkas dari teks Arab yang Anda berikan:

7. Silsilah Keturunan yang Mulia atau Kehormatan Asal-Usul:

Terkadang sebab dari kekaguman pada diri sendiri (ujub) adalah silsilah keturunan yang mulia atau kehormatan asal-usul. Hal ini dikarenakan sebagian aktivis (pekerja dakwah) mungkin merupakan keturunan dari keluarga yang memiliki nasab mulia atau asal-usul yang terhormat. Hal tersebut terkadang mendorongnya untuk merasa hebat terhadap dirinya sendiri dan apa yang lahir darinya, seraya lupa atau pura-pura lupa bahwa nasab atau asal-usul tidaklah dapat memajukan atau memundurkan seseorang. Justru yang menjadi sandaran utama adalah amal yang dibarengi dengan usaha dan kerja keras. Demikianlah, kemuliaan nasab atau kehormatan asal-usulnya berakhir pada kekaguman pada diri sendiri.

Mungkin itulah rahasia penekanan Islam pada aspek amal, dan hanya amal semata:

Sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta’ala:

"Apabila sangkakala ditiup maka tidak ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak pula mereka saling bertanya." (QS. Al-Mu'minun: 101).

"(Pahala Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah. Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu akan masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun." (QS. An-Nisa: 123-124).

Dan sebagaimana sabda Nabi ketika diturunkan kepada beliau ayat: "Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat." Beliau bersabda:

"Wahai kaum Quraisy, belilah diri kalian dari Allah (tebuslah diri kalian dengan amal saleh), aku tidak dapat menolong kalian sedikit pun dari (adzab) Allah. Wahai Bani Abdul Muthalib, aku tidak dapat menolong kalian sedikit pun dari Allah. Wahai Abbas bin Abdul Muthalib, aku tidak dapat menolongmu sedikit pun dari Allah. Wahai Fatimah binti Rasulullah, mintalah kepadaku apa saja yang engkau mau, namun aku tidak dapat menolongmu sedikit pun dari Allah."

8. Berlebihan dalam Memberikan Penghormatan dan Takzim:

Penyebab ujub lainnya adalah sikap berlebihan dalam memberikan penghormatan dan takzim. Hal ini terjadi karena sebagian aktivis mendapatkan penghormatan dan takzim dari orang lain secara berlebih-lebihan yang bertentangan dengan petunjuk Islam dan ditolak oleh syariat Allah yang lurus, seperti terus-menerus berdiri selama ia berdiri atau duduk, mencium tangannya, membungkuk kepadanya, berjalan di belakangnya, dan lain sebagainya.

Terhadap perilaku ini, jiwanya mungkin membisikkan bahwa ia tidak mendapatkan penghormatan ini kecuali karena ia memiliki bakat dan karakteristik yang tidak dimiliki orang lain. Bisikan ini terus menguat dan menghebat hingga menjadi kekaguman pada diri sendiri —kita berlindung kepada Allah darinya. Mungkin inilah rahasia larangan Nabi kepada para sahabatnya untuk berdiri menyambutnya dan mengagungkannya sebagaimana bangsa ajam (non-Arab) mengagungkan raja-raja mereka. Beliau bersabda:

"Barangsiapa yang suka orang-orang berdiri untuknya, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka."

Suatu hari Nabi keluar menemui para sahabatnya dengan bersandar pada tongkat, lalu mereka berdiri untuknya, maka beliau bersabda:

"Janganlah kalian berdiri sebagaimana bangsa ajam berdiri, di mana sebagian mereka mengagungkan sebagian yang lain."

9. Berlebihan dalam Ketundukan dan Ketaatan:

Penyebab ujub lainnya adalah berlebihan dalam ketundukan dan ketaatan. Sebagian aktivis mungkin mendapatkan ketundukan dan ketaatan dari orang lain secara berlebihan yang tidak sesuai dengan manhaj Allah, seperti ketundukan dan ketaatan dalam segala hal, baik itu perkara makruf maupun mungkar, baik maupun buruk.

Sebagai konsekuensinya, jiwanya mungkin membujuknya bahwa ketundukan dan ketaatan itu tidak akan ada kecuali karena ia memiliki karakteristik dan keistimewaan yang tidak dimiliki orang lain. Ia mungkin mempercayai hal itu sehingga terjadilah kekaguman pada diri sendiri. Mungkin itulah sebagian rahasia penekanan Islam bahwa ketundukan dan ketaatan itu hanya dalam perkara makruf, bukan dalam kemaksiatan.

Nabi bersabda:

"Wajib bagi setiap Muslim untuk mendengar dan taat dalam hal yang ia sukai maupun yang ia benci, kecuali jika ia diperintahkan untuk berbuat maksiat. Jika ia diperintahkan berbuat maksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar maupun taat."

10. Lalai terhadap Dampak yang Ditimbulkan oleh Ujub:

Terakhir, penyebab ujub adalah lalai terhadap dampak dan konsekuensinya. Hal ini dikarenakan perilaku manusia dalam hidup seringkali bersumber dari kesadaran atau ketidaksadarannya terhadap konsekuensi dari perilaku tersebut. Oleh karena itu, jika seorang aktivis atau dai tidak menyadari konsekuensi yang timbul dari sifat ujub, ia mungkin akan terjangkit penyakit tersebut dan menganggapnya sebagai perkara yang sepele dan ringan, yang tidak perlu ia perhatikan atau tidak perlu membuang waktu untuk memikirkannya. Mungkin itulah rahasia mengapa agama ini sangat antusias menyajikan prinsip-prinsip dan tujuannya dibarengi dengan dampak serta konsekuensinya.

Ketiga: Dampak Kekaguman pada Diri Sendiri (Al-I’jab bin Nafs)

Kekaguman pada diri sendiri memiliki dampak yang buruk dan konsekuensi yang fatal, baik bagi para pelakunya maupun bagi amal Islami. Berikut adalah sebagian dari dampak dan konsekuensi tersebut:

Terhadap Para Pelaku (Aktivis):

Dampaknya terhadap individu adalah:

  1. Terjatuh ke dalam Jeratan Ghurur (Terpedaya) bahkan Takabur (Sombong): Dampak pertama adalah terjatuh ke dalam jeratan ghurur bahkan takabur. Orang yang kagum pada dirinya sendiri seringkali mengabaikan dirinya, serta menghapus dirinya dari proses pemeriksaan dan introspeksi (muhasabah). Seiring berjalannya waktu, penyakit ini membengkak dan berubah menjadi sikap merendahkan serta meremehkan apa yang lahir dari orang lain (itulah ghurur), atau berubah menjadi perasaan lebih tinggi dari orang lain dan menghina zat serta personalitas mereka (itulah takabur). Kedua sifat ini memiliki dampak berbahaya dan konsekuensi membinasakan yang akan kita bahas detail pada bagiannya masing-masing, insya Allah.
  2. Terhalang dari Taufik Ilahi: Dampak kedua adalah terhalang dari pertolongan Allah. Orang yang ujub seringkali berakhir dengan terpaku pada zatnya sendiri dan bergantung padanya dalam segala hal, seraya lupa pada Penciptanya, Pengaturnya, dan Pemberi segala nikmat lahir maupun batin. Akhir dari orang semacam ini adalah kegagalan dan ketidaksuksesan dalam apa yang ia lakukan maupun yang ia tinggalkan. Karena sunnatullah pada makhluk-Nya adalah tidak memberikan taufik kecuali kepada mereka yang melepaskan diri dari kepentingan pribadinya, mengeluarkan bagian setan dari dirinya, dan bersandar sepenuhnya kepada Allah. Sebagaimana firman-Nya: "Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami." (QS. Al-Ankabut: 69). Serta dalam Hadis Qudsi: "...dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar..."
  3. Runtuh di Saat Ujian dan Kesulitan: Dampak ketiga adalah keruntuhan di saat menghadapi cobaan. Orang yang ujub sering mengabaikan penyucian jiwa (tazkiyah) dan perbekalan di jalan dakwah. Maka ia akan runtuh dan melemah pada kesulitan pertama yang ia hadapi, karena ia tidak mengenal Allah di waktu lapang sehingga Allah "tidak mengenalnya" (memberi pertolongan khusus) di waktu sempit. Sebagaimana firman Allah: "Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. An-Nahl: 128). Nabi juga menasihati Ibnu Abbas: "Jagalah Allah, niscaya engkau mendapati-Nya di hadapanmu. Kenalilah Allah di waktu lapang, niscaya Dia akan mengenalmu di waktu sempit."
  4. Dijauhi dan Dibenci oleh Orang Lain: Orang yang ujub telah memaparkan dirinya pada kebencian Allah. Barangsiapa yang dibenci Allah, maka penduduk langit akan membencinya, dan diletakkanlah kebencian untuknya di bumi. Orang-orang akan menjauh darinya, membencinya, dan tidak tahan melihatnya apalagi mendengar suaranya. Sebagaimana dalam hadis: "Sesungguhnya Allah jika mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril... dan jika Allah membenci seorang hamba, Dia memanggil Jibril dan berfirman: 'Sesungguhnya Aku membenci si fulan, maka bencilah dia'..." hingga akhirnya diletakkanlah kebencian baginya di bumi.
  5. Siksa atau Balasan Ilahi di Dunia atau Akhirat: Orang yang ujub memaparkan dirinya pada hukuman Allah di dunia, misalnya ditenggelamkan ke dalam bumi sebagaimana umat terdahulu, atau setidaknya tertimpa kegelisahan dan gangguan psikologis, atau di akhirat dengan diazab di neraka. Nabi bersabda: "Ketika seorang laki-laki berjalan dengan mengenakan pakaian yang membanggakan dirinya, rambutnya tersisir rapi, tiba-tiba Allah menenggelamkannya ke dalam bumi, maka ia terus terperosok ke dalamnya hingga hari kiamat."

Terhadap Amal Islami:

Adapun dampaknya terhadap kerja-kerja dakwah (amal Islami) berkisar pada:

  1. Mudah Disusupi dan Dihancurkan: Atau setidaknya digagalkan sehingga tidak membuahkan hasil kecuali setelah biaya yang besar dan waktu yang lama. Hal ini karena runtuhnya para aktivis yang ujub di saat ujian, serta terhalangnya mereka dari ketajaman mata hati (bashirah) yang semestinya membantu mengenali orang-orang yang berpura-pura dan membedakan penyusup dari yang lainnya.
  2. Berhenti atau Lambatnya Perekrutan Pendukung: Mengingat orang-orang menjauh dan benci kepada aktivis yang ujub. Hal ini mengakibatkan panjangnya perjalanan dan besarnya biaya yang harus dikeluarkan.

Itulah dampak-dampak kekaguman pada diri sendiri terhadap para pelaku dakwah dan terhadap amal Islami itu sendiri.

Keempat: Manifestasi (Gejala) Kekaguman pada Diri Sendiri

Penyakit ini dapat dideteksi melalui gejala-gejala berikut:

1. Menyucikan Diri Sendiri (Tazkiyatun Nafs):

Gejala pertama dari ujub adalah terus-menerus menyucikan diri dan memuji diri sendiri, serta membanggakan nilai (prestasi) dirinya, seraya melupakan atau pura-pura lupa akan firman Allah Azza wa Jalla:

"Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa." (QS. An-Najm: 32).

2. Sulit Menerima Nasihat:

Gejala kedua adalah membangkang terhadap nasihat, bahkan merasa benci terhadapnya. Padahal, tidak ada kebaikan bagi suatu kaum yang tidak saling menasihati dan tidak mau menerima nasihat.

3. Merasa Senang Mendengar Aib Orang Lain, Terutama Rekan Sejawat:

Gejala ketiga adalah perasaan gembira saat mendengar aib atau kekurangan orang lain, khususnya mereka yang setara/rekan sejawatnya. Hingga Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata: "Sesungguhnya di antara tanda orang munafik adalah ia merasa senang jika mendengar aib salah seorang rekannya."

Kelima: Jalan Pengobatan terhadap Kekaguman pada Diri Sendiri

Selama kita telah mengetahui sebab dan pemicu ujub, maka mudah bagi kita untuk mengetahui jalan pengobatan dan mencabut akar penyakit ini, bahkan mencegahnya. Hal ini terangkum dalam poin-poin berikut:

1. Selalu Mengingat Hakikat Diri Manusia:

Hendaknya orang yang ujub memahami bahwa jiwanya yang ada di dalam raganya, jika bukan karena tiupan ruh dari Allah, maka tidak akan bernilai apa-apa. Manusia diciptakan dari tanah yang diinjak kaki, kemudian dari air yang hina (mani) yang dipandang jijik oleh orang yang melihatnya, dan akan dikembalikan lagi ke tanah ini hingga menjadi bangkai yang busuk, di mana semua makhluk lari dari baunya. Di antara masa awal (penciptaan) dan masa kembali (kebangkitan), ia membawa kotoran di dalam perutnya, yaitu sisa pencernaan yang berbau busuk, dan ia tidak akan merasa nyaman sebelum membuang kotoran tersebut.

Pengingat seperti ini sangat membantu dalam menundukkan jiwa, mengembalikannya dari kesesatan, mencabut penyakit ujub, dan melindunginya agar tidak terjerumus lagi.

Salah seorang ulama salaf pernah mengingatkan hal ini ketika mendengar orang yang sombong berkata: "Tahukah kamu siapa aku?" Beliau menjawab: "Ya, aku tahu siapa kamu. Kamu dulunya adalah setetes sperma yang kotor, nantinya akan menjadi bangkai yang kotor, dan di antara kedua masa itu kamu membawa kotoran (feses)."

2. Selalu Mengingat Hakikat Dunia dan Akhirat:

Menyadari bahwa dunia adalah ladang untuk akhirat. Sepanjang apa pun umurnya, dunia pasti akan musnah, sedangkan akhirat adalah yang kekal dan merupakan negeri ketetapan (darul qarar). Pengingat ini mendorong seseorang memperbaiki perilakunya atau meluruskan jiwanya yang bengkok sebelum hidup berakhir dan kesempatan hilang.

3. Mengingat Nikmat-Nikmat Allah yang Meliputi Manusia:

Nikmat Allah mengelilingi manusia dari atas hingga bawah, sebagaimana firman-Nya:

"Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya." (QS. Ibrahim: 34).

"Dan Dia menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin." (QS. Luqman: 20).

Kesadaran ini akan membuat manusia merasa lemah, fakir, dan selalu butuh kepada Allah, sehingga membersihkan jiwanya dari penyakit ujub.

4. Merenungkan Kematian:

Merenungkan kematian dan fase-fase setelahnya berupa kesulitan dan kengerian (alam kubur/mahsyar). Hal ini cukup untuk mencabut rasa bangga diri bagi mereka yang memiliki hati atau mau menggunakan pendengarannya dengan saksama.

5. Senantiasa Mendengar atau Mentadabburi Kitabullah dan Sunnah Nabi :

Sebab di dalam keduanya terdapat penjelasan yang menyembuhkan dan analisis akurat terhadap empat sarana yang disebutkan sebelumnya. Dengan keduanya, manusia—jika ia objektif dan jujur pada dirinya—dapat terbebas dari segala penyakit.

6. Senantiasa Menghadiri Majelis Ilmu:

Khususnya majelis yang membahas tentang penyakit-penyakit jiwa dan cara melepaskan diri darinya. Majelis semacam ini sangat membantu membersihkan jiwa dari penyakit ujub.

7. Melihat Kondisi Orang Sakit, Orang yang Cacat, Bahkan Jenazah:

Terutama saat mereka dimandikan, dikafani, dan dikuburkan. Kemudian berziarah kubur dari waktu ke waktu serta merenungkan nasib para penghuninya. Hal ini menggerakkan batin manusia untuk mencabut ujub dan penyakit hati lainnya.

8. Wasiat kepada Orang Tua agar Membebaskan Diri dari Penyakit Ujub:

Agar mereka menjadi teladan yang baik bagi anak. Jika mereka pernah berbuat salah (menunjukkan sifat ujub), hendaknya mereka menjelaskan bahwa itu adalah kesalahan, mereka telah berhenti darinya, dan mendorong anak untuk bertaubat kepada Allah pula.

9. Memutus Hubungan dengan Teman yang Memiliki Sifat Ujub:

Serta mendekatkan diri kepada orang-orang yang rendah hati (tawadhu) yang mengetahui kadar dan kedudukan dirinya. Ini membantu proses penyembuhan dan pencegahan.

10. Menekankan Pentingnya Mengikuti Adab-Adab Syar'i:

Terutama dalam hal memuji, memberikan penghormatan, ketundukan, dan ketaatan. Serta berpaling dan memberikan teguran keras kepada mereka yang keluar dari adab-adab ini guna membebaskan jiwa dari ujub.

11. Menunda Tampil di Posisi Depan untuk Sementara Waktu:

Sampai jiwanya tegak (stabil), kepribadiannya kuat, dan sulit ditembus setan. Hal ini mempermudah jalan pengobatan.

12. Senantiasa Melihat Sirah (Sejarah) Ulama Salaf:

Bagaimana mereka berinteraksi dengan diri mereka sendiri saat melihat bibit-bibit sifat ini. Hal ini mendorong untuk meneladani atau setidaknya meniru cara mereka dalam mencabut akar penyakit tersebut.

13. Menempatkan Diri pada Situasi yang Menghancurkan Keangkuhan:

Secara berkala menempatkan diri pada posisi yang benar, seperti melayani saudara-saudaranya yang secara kedudukan lebih rendah, membeli makanan sendiri di pasar, atau membawa barang bawaannya sendiri, sebagaimana riwayat dari para salaf.

Diriwayatkan dari Umar ra. bahwa ketika sampai di Syam, ia menjumpai kubangan air. Beliau turun dari untanya, melepas alas kakinya, lalu menyeberangi air sambil menuntun untanya. Abu Ubaidah bin Al-Jarrah berkata: "Engkau telah melakukan hal besar hari ini di mata penduduk bumi (dianggap rendah oleh orang lokal)." Umar memukul dada Abu Ubaidah dan berkata: "Aduh, andai orang lain yang mengucapkannya, wahai Abu Ubaidah! Sesungguhnya kalian dulu adalah orang yang paling hina, lalu Allah memuliakan kalian dengan Rasul-Nya. Maka kapan pun kalian mencari kemuliaan dengan selain-Nya, Allah akan menghinakan kalian."

Dalam riwayat lain: Saat akan masuk Syam, orang-orang menyarankan agar beliau naik kendaraan yang lebih mewah agar terlihat wibawa di depan pembesar Romawi, namun Umar menolak sambil menunjuk ke langit: "Urusan kemuliaan itu datangnya dari sini (Allah), biarkan jalan untaku ini."

14. Pemantauan dari Orang Lain:

Adanya orang lain yang mendampingi dan memantau hingga ia benar-benar mampu terbebas dari penyakit ini.

15. Introspeksi Diri (Muhasabah) Secara Rutin:

Agar aib/cacat diri dapat diketahui sejak masih dini, sehingga mudah diobati dan dicegah.

16. Menyadari Dampak dan Konsekuensi dari Ujub:

Memahami dampak buruknya memiliki pengaruh yang kuat dalam mengobati dan membentengi diri dari penyakit ini.

17. Memohon Pertolongan kepada Allah Azza wa Jalla:

Melalui doa, istighatsah (mohon bantuan mendesak), dan bersandar kepada-Nya agar Allah membimbing tangannya, membersihkannya dari penyakit ini, dan melindunginya dari jatuh kembali. Barangsiapa memohon pertolongan kepada Allah, niscaya Allah akan menolong dan memberi hidayah ke jalan yang lurus.

18. Menekankan pada Tanggung Jawab Individu:

Tanpa memandang status sosial atau nasab. Hal ini berperan besar dalam mendidik jiwa dan menjaganya agar tidak terjerumus lagi ke dalam jurang kekaguman pada diri sendiri.

 

Uzlah

Pertama: Makna Uzlah (Keterasingan/Menyendiri) atau At-Tafarrud (Menyendiri)

Penyakit keempat yang diderita oleh sebagian aktivis (pejuang dakwah), dan mereka harus bekerja keras untuk membersihkan diri darinya, adalah Uzlah atau Tafarrud (menyendiri/terisolasi). Agar kita memiliki pemahaman yang akurat mengenai dimensi dan ciri-ciri penyakit ini, kita akan membahasnya sebagai berikut:

Secara Bahasa:

Uzlah atau Tafarrud secara bahasa berarti menjauh atau menyingkir ke samping. Pemilik kitab Lisan al-Arab berkata: "Seseorang mengisolasi sesuatu artinya menjauhkannya, dan ia pun mengisolasi diri atau terpisah; bermakna menyingkirkannya ke samping sehingga ia menyingkir."

Firman Allah SWT: “Sesungguhnya mereka benar-benar dijauhkan dari mendengar (Al-Qur'an)” (QS. Asy-Syu'ara: 212), maknanya adalah ketika mereka dilempari dengan bintang-bintang (meteor)—sebagaimana firman-Nya: “dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya)”—maka mereka terhalang dari mendengar.

Secara Istilah:

Adapun dalam istilah para pendakwah, yang dimaksud adalah lebih mengutamakan kehidupan sendiri (individualis) daripada kehidupan berjamaah. Hal ini terjadi ketika seorang aktivis merasa cukup dengan menegakkan Islam pada dirinya sendiri saja, tanpa peduli kepada orang lain dan kondisi mereka yang berada dalam kesesatan dan kehancuran. Atau, ia menegakkan Islam pada dirinya dan berusaha keras menegakkannya pada orang lain, namun melalui upaya individu yang jauh dari kerja sama dan saling tolong-menolong dengan para pejuang lainnya di lapangan.

Kedua: Sebab-sebab Uzlah atau Tafarrud

Terdapat beberapa sebab yang mengarah pada keterasingan atau sikap menyendiri ini, di antaranya:

1. Terpaku pada sebagian teks syariat yang menganjurkan Uzlah, namun lalai terhadap posisinya dibandingkan teks lain yang menyerukan kehidupan berjamaah.

Terdapat beberapa teks syariat yang memuji uzlah dan menganjurkannya, seperti sabda Nabi SAW:

“Hampir tiba masanya harta milik Muslim yang paling baik adalah kambing yang digiring ke puncak gunung dan tempat-tempat jatuhnya hujan, ia lari membawa agamanya dari berbagai fitnah.”

Begitu juga jawaban beliau kepada orang yang bertanya: "Siapakah manusia yang paling utama?" Beliau bersabda:

“Seseorang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya.” Orang itu bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Seorang mukmin yang berada di syi’b (lembah di antara dua gunung) yang menyembah Tuhannya dan menjauhkan manusia dari keburukannya.”

Serta sabda beliau dalam hadis Hudzaifah bin Al-Yaman:

“...Maka jauhilah semua golongan itu, meskipun kamu harus menggigit akar pohon hingga maut menjemputmu dalam keadaan demikian.”

Dan sabdanya:

“Di antara kehidupan manusia yang terbaik bagi mereka adalah: seorang laki-laki yang memegang kendali kudanya di jalan Allah, ia terbang di atas punggungnya, setiap kali mendengar suara teriakan perang atau ketakutan ia segera terbang ke sana untuk mencari kematian di tempat-tempat yang diduga terdapat kematian. Atau seorang laki-laki yang memiliki sekumpulan kambing di puncak gunung atau di dasar lembah, ia mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyembah Tuhannya hingga datang keyakinan (ajal) kepadanya. Tidak ada hubungan dengan manusia kecuali dalam kebaikan.”

Di sisi lain, terdapat pula teks syariat yang menyerukan untuk berjalan di bawah panji jamaah dan hidup dalam naungannya, seperti firman Allah SWT:

  • “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”
  • “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai...”
  • “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”

Dan sabda Nabi SAW:

  • “...Hati-hatilah kalian dari perpecahan, dan hendaknya kalian berjamaah, karena setan itu bersama satu orang, dan ia dari dua orang akan lebih jauh. Barangsiapa yang menginginkan bagian tengah surga (yang paling luas/nikmat), maka hendaklah ia menetapi jamaah.”
  • “...Dan aku memerintahkan kalian dengan lima perkara yang Allah perintahkan aku dengannya: Berjamaah, mendengar, taat, hijrah, dan jihad di jalan Allah. Karena sesungguhnya barangsiapa yang keluar dari jamaah sejauh satu jengkal, maka ia telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya hingga ia kembali.” Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, meskipun ia shalat dan puasa?” Beliau menjawab: “Meskipun ia puasa dan shalat serta mengaku bahwa dirinya Muslim.”
  • “Tangan Allah bersama jamaah.”

Seorang aktivis yang hanya terpaku pada teks-teks pertama yang menganjurkan uzlah dengan melupakan atau pura-pura lupa akan keterkaitannya dengan teks-teks lain yang menyerukan interaksi dengan jamaah dan hidup di dalamnya, niscaya akan tertimpa penyakit uzlah atau tafarrud.

2. Terpaku pada fenomena Uzlah yang diriwayatkan dari sebagian ulama Salaf, namun lalai terhadap kondisi yang melatarbelakanginya.

Terkadang faktor pendorong uzlah adalah apa yang diriwayatkan dari sebagian Salaf bahwa mereka lebih memilih menyendiri daripada berinteraksi dengan masyarakat. Lihatlah Nabi Allah Ibrahim AS, ia berkata kepada kaumnya sebagaimana yang diceritakan Al-Qur'an:

“Dan aku akan menjauhkan diri (اعتزلكم) darimu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah...”

Faktor pendorong beliau melakukan itu adalah karena cara-cara perubahan dan perbaikan telah habis dilakukan, kemudian kaumnya tetap bersikeras dalam kekafiran, sehingga beliau khawatir akan fitnah dalam agamanya, lalu beliau lari dari mereka dan menjauh.

Begitu pula Abu Dzarr dan Ibnu Umar, serta sekelompok sahabat bersama mereka, yang menjauh dari jamaah kaum Muslimin dan hidup menyendiri ketika terjadi fitnah (perang saudara). Motivasi mereka adalah untuk menjaga tangan mereka agar tidak terlumur darah suci yang telah disucikan oleh Allah SWT, sementara tidak diketahui siapa yang benar dan siapa yang salah.

Demikian juga Imam Malik bin Anas, Imam Darul Hijrah, yang menghabiskan hari-hari terakhir hidupnya dalam uzlah jauh dari orang-orang. Alasannya adalah untuk menghindari benturan dengan penguasa demi menjaga tumpahnya darah kaum Muslimin.

Aktivis yang membaca tentang uzlah para tokoh ini namun melupakan kondisi dan latar belakangnya, akan timbul dalam dirinya keinginan untuk meneladani atau setidaknya meniru, sehingga ia memilih hidup menyendiri jauh dari suasana jamaah, padahal tidak ada alasan yang membenarkan uzlah tersebut.

3. Anggapan bahwa kehidupan berjamaah selalu menghapus jati diri anggotanya dan memengaruhi kepribadiannya, disertai kelalaian terhadap manhaj Islam dalam menyelaraskan antara individu dan jamaah.

Penyebab lainnya adalah anggapan sebagian aktivis bahwa hidup dan bergabung dengan jamaah akan menghapus jati dirinya, sehingga kepribadiannya melebur dan ia menjadi seorang Imma'ah (pengekor); jika orang baik ia ikut baik, jika orang buruk ia ikut buruk. Ia lalai bahwa manhaj Islam menyelaraskan antara sisi individual dan kolektif. Manhaj ini menyerukan individu untuk hidup dalam naungan jamaah, namun di saat yang sama menekankan bahwa ia bertanggung jawab penuh atas setiap tindakannya. Allah berfirman:

  • “Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.”
  • “Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.”
  • “...Suatu jiwa tidak dapat membela jiwa yang lain sedikit pun.”
  • “Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.”
  • “Dan jika seseorang yang berat bebannya memanggil (orang lain) untuk memikul bebannya itu, tiadalah akan dipikul sedikit pun, meskipun (yang dipanggil itu) kaum kerabatnya.”

Ia juga wajib memberikan nasihat—dengan syarat dan adabnya—kepada setiap anggota jamaah tanpa memandang seberapa tinggi kedudukan atau statusnya:

“Agama itu adalah nasihat.” Kami bertanya: “Untuk siapa?” Beliau bersabda: “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslimin, dan masyarakat umum mereka.”

“Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya. Seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin lainnya, ia menjaga hartanya dan melindunginya dari belakang.” Dalam riwayat lain: “Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya, jika ia melihat aib padanya, maka ia meluruskannya.”

Para sahabat telah hidup bersama Nabi SAW, dan kaum Muslimin hidup satu sama lain, namun kita tidak melihat ada individu yang kepribadiannya melebur atau jati dirinya hilang dalam jamaah. Sebaliknya, yang kita lihat adalah saling menasihati, musyawarah, serta amar ma'ruf nahi munkar. Ucapan sebagian sahabat kepada Umar bin Khattab: “Jika kami melihat penyimpangan padamu, niscaya akan kami luruskan dengan pedang-pedang kami,” bukanlah hal yang asing bagi kita.

Dengan seruan ini, dalam diri seorang Muslim terbangun entitas internal yang istimewa dengan batasan yang jelas, sehingga nuraninya tetap terjaga dan peka terhadap segala sesuatu yang menyentuhnya, meskipun dari kejauhan.

Anggapan keliru dan kelalaian ini niscaya akan membawa seorang aktivis untuk memilih jalan uzlah, sehingga ia terjangkit salah satu penyakit yang paling berbahaya.

4. Lalai Terhadap Karakteristik Beban Berinteraksi dengan Jamaah dan Hidup di Tengah Manusia

Terkadang, pendorong utama munculnya sikap memisahkan diri (uzlah) adalah kelalaian terhadap karakteristik beban (takalif) dalam berinteraksi dengan jamaah dan hidup bermasyarakat. Karakteristik beban ini adalah: jumlahnya banyak dan besar, menyita kehidupan manusia dari hari pertama hingga hari terakhir, bahkan mungkin tidak pernah berakhir. Sering kali, beban ini bertentangan dengan apa yang diinginkan oleh hawa nafsu. Jika seorang aktivis ('amil) tidak menyadari hal ini, ia akan mengabaikan proses penyucian diri (tazkiyah), pembinaan (tarbiyah), serta perjuangan diri (mujahadah). Akibatnya, hawa nafsu dan syahwat akan menguasainya. Seiring berjalannya waktu, ia menjadi lemah dan tidak mampu memikul beban-beban tersebut. Pada saat itulah, ia mencari jalan keluar atau tempat berlindung, dan ia tidak menemukan apa pun selain mengasingkan diri atau menyendiri.

5. Berdalih Bahwa Berinteraksi dengan Manusia Menghambat Ibadah, Disertai Kelalaian Terhadap Konsep Ibadah yang Benar

Pendorong uzlah lainnya adalah alasan bahwa berinteraksi dengan orang lain menyita waktu untuk fokus beribadah, mulai dari shalat, puasa, membaca Al-Qur'an, zikir, doa, istigfar, hingga tafakur, dan sebagainya. Hal ini terjadi karena kelalaian terhadap konsep ibadah yang benar. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah —semoga Allah merahmatinya— bahwa ibadah adalah:

"Sebuah nama yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang tampak (lahir) maupun yang tersembunyi (batin). Maka shalat, zakat, puasa, dan haji adalah ibadah; doa, istigfar, zikir, dan membaca Al-Qur'an adalah ibadah; kejujuran dalam berbicara, menunaikan amanah, berbakti kepada orang tua, menyambung tali silaturahmi adalah ibadah; menepati janji, berdakwah kepada kebaikan, memerintah pada yang makruf, mencegah dari yang munkar, serta berjihad melawan orang-orang kafir dan munafik adalah ibadah; berbuat baik kepada tetangga, anak yatim, orang miskin, musafir, pelayan, serta menyayangi yang lemah dan berlemah lembut kepada hewan adalah ibadah. Begitu pula cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, rasa takut kepada Allah, bertaubat kepada-Nya, memurnikan ketaatan bagi-Nya, bersabar atas ketetapan-Nya, ridha pada takdir-Nya, bertawakal kepada-Nya, berharap pada rahmat-Nya, dan takut akan azab-Nya; semua itu dan yang serupa dengannya adalah ibadah."

Al-Qur'an dan Sunnah membenarkan konsep yang disampaikan Syaikhul Islam ini. Meskipun demikian, berinteraksi dengan manusia tidak menghalangi seorang muslim untuk memiliki waktu-waktu khusus bagi dirinya sendiri guna menunaikan kewajiban, mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah sunnah, menghafal ilmu, mengkaji suatu masalah, membaca Al-Qur'an, berzikir, bertafakur, atau bermuhasabah (introspeksi diri). Itulah makna perkataan Umar bin Khattab ra.: "Ambillah bagianmu dari uzlah (kesendirian)." Hilangnya konsep ibadah yang benar dari benak seorang aktivis muslim, dan pembatasan ibadah hanya pada lingkaran ritual formal saja—sambil beranggapan bahwa kehidupan berjamaah menghalanginya untuk fokus sepenuhnya pada ritual tersebut—semua ini pasti akan menjerumuskannya ke dalam penyakit pengasingan diri atau penyendirian.

6. Beralasan dengan Tersebarnya Kejahatan dan Kerusakan, Serta Lalai Terhadap Peran Muslim Saat Hal Itu Terjadi

Pendorong uzlah bisa juga berupa alasan tersebarnya kejahatan dan kerusakan, disertai kelalaian terhadap peran seorang muslim saat kondisi tersebut terjadi. Peran muslim dalam kondisi ini seharusnya adalah aktif melakukan perlawanan dengan segala metode yang tersedia dan sarana yang memungkinkan. Ia tidak boleh memilih uzlah kecuali saat penyakit sudah sangat akut, sarana sudah tidak berdaya, dan muncul kekhawatiran akan fitnah (gangguan terhadap iman).

Jika seorang aktivis muslim lalai akan hakikat peran ini, ia akan segera lari menuju pengasingan diri, sehingga bumi pun berubah menjadi pusat kejahatan dan kerusakan. Benarlah firman Allah Yang Maha Agung:

  • "Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah rusak binasa bumi ini." (QS. Al-Baqarah: 251).
  • "Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah." (QS. Al-Hajj: 40).

Dan benarlah sabda Rasulullah SAW yang memberi nasihat:

"Perumpamaan orang yang tegak di atas batasan-batasan Allah dan orang yang melanggarnya, adalah seperti sekelompok orang yang mengundi tempat di sebuah kapal. Sebagian mendapatkan bagian atas dan sebagian lagi di bagian bawah. Jika orang-orang di bagian bawah membutuhkan air, mereka harus melewati orang-orang di atasnya. Mereka pun berkata: 'Seandainya kita lubangi saja bagian kita sendiri, agar kita tidak mengganggu orang-orang di atas kita.' Jika orang-orang di atas membiarkan mereka melakukan keinginan itu, niscaya mereka semua akan binasa. Namun jika mereka mencegahnya, niscaya mereka akan selamat dan menyelamatkan semuanya."

7. Melihat Gambaran Ujian dan Cobaan yang Dialami Para Pejuang Agama Sepanjang Sejarah, Namun Lalai Terhadap Sikap Mereka Menghadapi Ujian Tersebut

Melihat gambaran penderitaan dan cobaan yang menimpa para pejuang agama sepanjang sejarah dapat mendorong seseorang untuk memilih uzlah, terutama jika ia lalai terhadap sikap para pejuang tersebut. Sikap mereka sebenarnya adalah keyakinan penuh bahwa ujian merupakan sunnatullah dalam dakwah, kemudian mereka mengakui kekurangan diri dan memohon kepada Allah agar meneguhkan langkah mereka serta memberi kemenangan. Allah menerima permohonan mereka, meneguhkan, dan menolong mereka:

"Dan berapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar. Dan tidak lain ucapan mereka hanyalah doa, 'Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami dan teguhkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.' Maka Allah memberi mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. Ali Imran: 146-148).

Benar, jika seorang aktivis melihat gambaran ujian ini tanpa memahami sikap para pejuang tersebut, ia akan dikuasai oleh rasa takut dan cemas. Ia akan mencoba mencari jalan keluar, lalu nafsunya membisikkan dan setan menghiasi pikirannya bahwa jalan keluar itu hanya ada dalam pengasingan diri, sehingga ia cenderung memilih jalan tersebut.

8. Berteman dengan Sekelompok Muslim yang Manhajnya Adalah Pengasingan Diri

Seseorang bisa terdorong untuk uzlah karena bergaul dengan sekelompok muslim yang memiliki manhaj uzlah dan kebiasaan menyendiri. Hal ini karena seseorang sangat mudah terpengaruh oleh temannya, terutama jika teman tersebut memiliki kepribadian yang kuat atau termasuk orang yang dijadikan teladan. Rasulullah SAW bersabda: "Seseorang itu berada di atas agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapa yang ia jadikan teman dekat."

9. Banyaknya Organisasi dan Jamaah yang Bergerak untuk Agama Allah

Banyaknya lembaga dan kelompok dakwah dapat membuat seorang aktivis bingung: dengan lembaga mana ia harus bekerja dan dari mana ia harus menjauh? Kebingungan ini berakhir pada sikap menyendiri, terutama jika ia tidak memahami hakikat kelompok-kelompok tersebut. Hakikatnya, semua kelompok itu berada di atas kebaikan, namun tingkat kebaikannya berbeda-beda; ada yang memiliki sedikit kebaikan, banyak kebaikan, atau kebaikan yang menyeluruh. Sikap yang harus diambil adalah mengenal semuanya (tujuan dan sarananya), lalu berjalan bersama kelompok yang memiliki kebaikan yang menyeluruh, dengan ciri-ciri:

  • Tujuannya adalah menerapkan syariat Allah dan manhaj-Nya di bumi.
  • Meniatkan segala perkataan dan perbuatan hanya karena Allah semata.
  • Menanggalkan semua loyalitas kecuali loyalitas kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman.
  • Memahami Islam secara moderat (wasathiyah), tanpa sikap ekstrem (ghuluw) maupun meremehkan (tafrith), lalu mengamalkan Islam secara menyeluruh, mulai dari perkara siwak hingga jihad.
  • Memulai dengan membentuk kepribadian muslim yang mengumpulkan segala sifat baik dan menjauhi sifat buruk agar layak mendapatkan pertolongan Allah.
  • Berusaha memperluas pembentukan kepribadian muslim ini agar tersebar ke seluruh masyarakat bahkan dunia.
  • Berusaha mengikat kepribadian-kepribadian muslim ini sehingga memiliki satu pandangan, satu pemikiran, satu hati, satu ruh, dan satu perasaan meskipun raga mereka banyak.
  • Bergerak berdasarkan pengaturan yang matang, teliti, dan berdasar pada studi serta pemahaman terhadap realitas secara terus-menerus.
  • Memperhatikan prioritas dalam bekerja; jika fasilitas terbatas, maka mendahulukan yang pokok (ushul) atas cabang (furu'), yang wajib atas yang sunnah, dan yang disepakati atas yang diperselisihkan. Sebagaimana Rasulullah SAW menghancurkan berhala di dalam jiwa manusia sebelum menghancurkan berhala fisik di Ka'bah.
  • Tidak bermudah-mudah dalam perkara pokok yang disepakati, namun memberi uzur (toleransi) dalam perkara cabang yang diperselisihkan, sehingga membuka pintu kerja sama dengan semua pejuang dakwah.
  • Memiliki manhaj yang jelas rukun dan fiturnya, yang membimbing individu dari satu tahap ke tahap berikutnya, menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, dan meningkatkan level mereka.
  • Terbukti keteguhan dan kesabarannya menghadapi kesulitan jalan dakwah, tetap kokoh di hadapan teror, dan unggul di atas cobaan.
  • Telah menempuh perjalanan panjang dalam beramal sehingga memiliki pengalaman luas yang dapat menghemat waktu dan tenaga bagi pengikutnya.
  • Selalu bersikap tenang, penuh pertimbangan, dan tidak tergesa-gesa.
  • Memiliki pimpinan yang mengarahkan dan membimbing agar urusan diletakkan pada porsinya.
  • Seluruh anggotanya mengikuti pendapat pimpinan selama dalam perkara yang makruf.
  • Adanya tradisi saling menasihati dengan syarat dan adabnya, serta penerimaan yang baik terhadap nasihat tersebut.
  • Ketelitian dan amanah dalam memilih anggota untuk menutup celah bagi orang-orang yang berniat buruk.
  • Berpegang pada prinsip mengikuti tuntunan (ittiba') dan bukan mengada-ada (ibtida').

10 - Lalai Terhadap Dampak-Dampak yang Ditimbulkan oleh Uzlah, Baik yang Berkaitan dengan Para Aktivis Maupun dengan Amal Islami:

Terakhir, pendorong sikap menyendiri (uzlah) bisa jadi adalah kelalaian terhadap dampak-dampak yang ditimbulkan oleh sikap tersebut, baik dampak yang mengenai para aktivis secara personal maupun yang berkaitan dengan gerakan dakwah Islam (al-amal al-islami), sebagaimana yang akan kita paparkan sesaat lagi. Sebab, barangsiapa yang lalai terhadap dampak buruk dari suatu perkara, niscaya ia akan terjerumus ke dalam perkara tersebut.

Ketiga: Dampak-Dampak Uzlah atau At-Tafarrud (Sikap Menyendiri)

Sikap menyendiri atau terisolasi memiliki dampak-dampak yang merugikan dan konsekuensi yang buruk, baik bagi para aktivis secara individu maupun bagi kerja dakwah Islam secara kolektif. Berikut adalah rincian dampak-dampak tersebut:

A. Dampak Bagi Para Aktivis (Individu):

1. Ketidaktahuan Mereka Terhadap Dimensi dan Ciri Kepribadian Sendiri:

Hal ini dikarenakan manusia—seberapa pun tingkat kecerdasan dan ketajamannya—tidak mungkin mampu mengetahui dimensi dan ciri kepribadiannya secara akurat hanya melalui dirinya sendiri. Ia pasti membutuhkan orang lain untuk membantunya mengenali hal tersebut. Sebagai contoh, manusia tidak dapat mendeteksi apakah dalam kepribadiannya terdapat sifat egois dan mementingkan diri sendiri, ataukah sifat mendahulukan orang lain (itsar) dan gemar bekerja sama, kecuali jika ia hidup di tengah manusia dan berinteraksi dengan mereka. Saat melihat orang-orang yang membutuhkan bantuan, ia dapat merenungi dirinya sendiri: Apakah hatinya mengeras dan membatu sehingga ia menjadi kikir dan pelit? Di situlah letak keegoisan. Ataukah hatinya melunak sehingga ia menjadi dermawan dan suka memberi? Di situlah letak sifat itsar dan kerja sama.

Demikian pula, ia tidak dapat mengetahui apakah kepribadiannya memiliki sifat santun (hilm) dan ketenangan, ataukah kebodohan dan ketergesa-gesaan, kecuali jika ia bergaul dengan masyarakat dan bertemu dengan berbagai macam orang, termasuk mereka yang kurang sopan. Ia dapat melihat: Apakah ia membalas ucapan kasar mereka dengan kelembutan, dan kekerasan hati mereka dengan keramahan? Di situlah letak kesantunan dan ketenangan. Ataukah ia membalasnya dengan hal serupa atau bahkan lebih keras? Di situlah letak kebodohan dan ketergesa-gesaan.

Seseorang juga tidak akan mengetahui keberanian mental yang ia miliki atau justru kepengecutan dan kelemahan hati, kecuali jika ia menetapi jamaah dan melihat ada orang yang berbuat salah, lalu ia merenungi dirinya sendiri: Apakah ia merasa mudah untuk berkata kepada orang yang salah itu, "Kebenaran bukan pada apa yang kau ucapkan, kebenaran bukan pada apa yang kau lihat, dan kebaikan bukan pada apa yang kau lakukan"? Di situlah letak keberanian mental. Ataukah ia merasa berat untuk mengucapkannya sehingga ia diam dan membisu? Di situlah letak kepengecutan dan kelemahan hati.

Begitu juga dalam hal kejujuran atau kedustaan, amanah atau khianat, keteraturan atau kekacauan; seseorang tidak akan menyadarinya kecuali jika ia hidup di tengah jamaah, berbicara dengan anggotanya, atau saat mereka mempercayakan darah, harta, dan kehormatan mereka kepadanya, atau saat ia membuat janji dengan mereka. Lalu ia melihat: Apakah ia berbicara sesuai dengan fakta dan realitas? Jika ya, maka ia jujur. Jika tidak, maka ia pendusta. Apakah ia menjaga darah, harta, dan kehormatan mereka? Jika ya, maka ia amanah. Jika ia melanggarnya, maka ia pengkhianat. Apakah ia menepati janji? Jika ya, maka ia disiplin dan teratur. Jika ia lalai dan ingkar, maka ia kacau (fawdhawiy) dan tidak disiplin.

Maka, jika seorang muslim hidup dalam keterasingan atau menyendiri, kepribadiannya akan tetap menjadi misteri bagi dirinya sendiri, dan itulah kerugian yang nyata. Sebab, boleh jadi ia melakukan keburukan karena menyangkanya sebagai kebaikan, atau meninggalkan kebaikan karena meyakininya sebagai keburukan.

"Katakanlah (Muhammad), 'Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya? (Yaitu) orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya.'" (QS. Al-Kahfi: 103-104).

Dampak inilah yang mungkin dimaksudkan dalam sabda Nabi SAW: "Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya..." dan perkataan Umar ra.: "Telah dihadiahkan kepada kami aib-aib kami." Artinya, jalan bagi seorang muslim untuk mengetahui dimensi kepribadiannya, baik berupa kesempurnaan maupun kekurangan, kekuatan maupun kelemahan—agar ia dapat mengembangkan aspek kekuatan dan memperbaiki aspek kelemahan—hanyalah melalui jamaah. Tanpa jamaah, seorang muslim akan hidup dalam kebutaan dan tanpa petunjuk yang jelas.

2. Terhalang Dari Penolong yang Dapat Membimbing dan Membantu Memperbaiki Aib Mereka:

Manusia mungkin saja menyadari aib-aibnya, namun terkadang ia memiliki kemauan yang lemah sehingga tidak mampu memperbaiki aib tersebut sendirian. Ia membutuhkan penolong yang membantunya menundukkan nafsunya. Ketika ia memilih uzlah, ia kehilangan penolong tersebut dan tetap terjerumus dalam kemaksiatan sepanjang hidupnya. Hal ini sesuai dengan makna hadis: "Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya; jika ia melihat aib padanya, ia memperbaikinya," dan "Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah memberinya teman yang saleh; jika ia lupa, temannya mengingatkan, dan jika ia ingat, temannya membantu."

3. Terhentinya Sebagian Potensi dan Kemampuan Mereka:

Hal ini menjadikan mereka sasaran empuk bagi godaan, penyesatan, dan bisikan setan, selain juga menyebabkan terjadinya perpecahan atau ketimpangan dalam kepribadian. Manusia terdiri dari jasad, akal, dan ruh (materi dan spiritual). Ruh dibekali dengan potensi insting (gharizah) yang saling berpasangan dan sejajar dalam jiwa, namun berbeda arah: takut dan harap, cinta dan benci, realitas dan imajinasi, energi fisik dan energi maknawi, keyakinan pada yang terindera dan yang gaib, keinginan terikat dan keinginan sukarela, sifat individual dan sosial, pasif dan aktif. Semuanya berfungsi untuk mengikat manusia dengan kehidupan.

Keseimbangan dalam hidup manusia bergantung pada pemberian hak kepada setiap insting ini secara proporsional. Jamaah adalah satu-satunya medan yang mampu mengfungsikan seluruh potensi muslim dan menjalankan semua insting secara seimbang, sehingga terbentuklah kepribadian yang lurus, utuh, tanpa penyimpangan, dan terbentengi dari tipu daya setan. Sebaliknya, jika muslim menjauh dari jamaah, sebagian potensinya pasti akan terhenti, menyebabkan ketimpangan kepribadian dan menciptakan kekosongan yang dimanfaatkan setan untuk menyesatkannya. Inilah yang diperingatkan Nabi SAW: "Barangsiapa di antara kalian yang menginginkan bagian tengah surga, maka hendaklah ia menetapi jamaah, karena setan bersama satu orang, dan ia dari dua orang akan lebih jauh."

4. Sedikitnya Cadangan Pengalaman yang Membantu Menghadapi Kesulitan:

Jalan dakwah penuh dengan duri dan risiko. Muslim yang cerdas adalah yang memiliki pengalaman untuk mengatasi risiko tersebut. Tidak ada tempat yang lebih luas untuk menimba pengalaman selain hidup dan berinteraksi dengan manusia. Saat seorang aktivis menjauh dari jamaah, ia kehilangan pengalaman berharga tersebut, sehingga ia tetap berwawasan sempit dan tidak tahu cara menghadapi masalah yang paling sederhana sekalipun.

5. Dikuasai Oleh Rasa Putus Asa yang Berujung Pada Kemalasan (Futur):

Setan sering mendatangi aktivis muslim zaman sekarang dengan pertanyaan: "Apa jalan keluarnya sementara musuh Allah di dalam dan luar umat sangat banyak? Mereka menguasai dunia Islam dengan rencana yang licik." Muslim yang berinteraksi dengan jamaah dapat menepis keraguan ini karena ia sadar ia tidak sendirian; ada orang lain yang memiliki sarana dan kemampuan untuk menghadapi musuh. Namun, bagi mereka yang menyendiri, pertanyaan ini akan terus menghantui tanpa ada jawaban nyata, hingga putus asa merayap ke hatinya dan ia meninggalkan amal dakwah.

6. Sedikitnya Cadangan Pahala dan Ganjaran:

Orang yang hidup bermasyarakat memiliki ladang pahala yang sangat luas: majelis ilmu, menjenguk orang sakit, mengunjungi saudara untuk mempererat kasih sayang, memberikan ucapan selamat, bertakziah, membimbing orang ke jalan kebaikan, serta memberikan bantuan materi maupun moril. Orang yang terisolasi kehilangan semua peluang emas ini sehingga pahalanya menjadi sedikit.

7. Ketidakmampuan Menegakkan Agama Allah Pada Diri Sendiri, Baik Kini Maupun Esok:

Kebatilan tidak pernah berhenti bekerja agar bumi penuh dengan kejahatan. Peran muslim untuk menjalankan kewajiban tidak akan tercapai jika ahli kebenaran lari dari medan perjuangan atau bekerja secara tercerai-berai. Seorang yang memilih uzlah pada hakikatnya adalah orang yang lari dari medan atau memilih bekerja sendiri, dan orang seperti ini pasti akan terdesak ruang geraknya oleh dominasi kebatilan, baik sekarang maupun di masa depan.

Dampak inilah yang diisyaratkan oleh teks-teks Al-Qur'an dan hadis yang menyebutkan bahwa jika Allah tidak menolak sebagian manusia dengan sebagian yang lain, maka bumi akan rusak dan tempat-tempat ibadah akan hancur, serta perumpamaan penumpang kapal yang jika membiarkan satu orang melubangi kapal atas nama "kebebasan individu", maka seluruh penumpang akan tenggelam.

8. Membiarkan Diri Mereka Terjerumus dalam Dosa dan Kemurkaan Ilahi

Ini disebabkan oleh sikap mereka yang memisahkan diri dari orang lain dan memisahkan diri dari jamaah. Bagaimana mungkin seorang muslim sanggup atau mampu menanggung kemurkaan tersebut? Dampak ini dapat dipahami dari sabda Rasulullah SAW:

"Barangsiapa yang keluar dari ketaatan dan memisahkan diri dari jamaah lalu ia mati, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyah…"

Itulah dampak-dampak terpenting dari uzlah (pengasingan diri) atau tafarrud (menyendiri) bagi para aktivis dakwah, yang secara keseluruhan disarikan dari sabda Nabi SAW:

"Barangsiapa yang memisahkan diri dari jamaah sejauh satu jengkal, maka sungguh ia telah menanggalkan ikatan Islam dari lehernya."

Maksud dari hadis tersebut adalah bahwa siapa pun yang keluar dan memisahkan diri dari jamaah dalam perkara yang telah disepakati (al-amr al-mujma' 'alaih), maka ia telah membiarkan dirinya binasa dan tersesat. Sebab, tidak ada jaminan baginya untuk tidak terperosok ke dalam semua dampak yang telah disebutkan di atas, atau setidaknya sebagian darinya. Hal ini persis seperti yang terjadi pada hewan ternak jika ikatan atau kalung yang ada di lehernya (agar tidak tersesat) dilepaskan; maka tidak ada jaminan hewan tersebut akan selamat dari kebinasaan atau hilang tersesat.

Dampak Terhadap Kerja Islam (Amal Islami):

Adapun dampak-dampaknya terhadap kerja Islam berkisar pada hal-hal berikut:

(1) Kemudahan bagi musuh untuk memukul, menghancurkan, atau setidaknya menggagalkan kerja Islam tersebut.

Akibatnya, kerja Islam tidak akan membuahkan hasil kecuali setelah pengorbanan yang banyak dan waktu yang lama, mengingat kondisinya yang lemah karena perpecahan para aktivisnya dan ketiadaan solidaritas di antara mereka. Barangkali inilah rahasia di balik semangat musuh-musuh Allah untuk membiarkan umat Islam tetap terpecah belah dengan slogan: "Divide et Impera" (Pecah belah dan kuasai). Inilah pula rahasia di balik perintah untuk bersatu dan larangan terhadap perpecahan serta perselisihan:

  • “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS. Ali Imran: 103).
  • “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang.” (QS. Al-Anfal: 46).
  • “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma'idah: 2).

(2) Terhalang dari pertolongan atau bantuan Ilahi:

Hal ini karena kerja Islam, seberapa pun besar energi dan potensinya, tetap membutuhkan pertolongan dan penguatan dari Allah Azza wa Jalla. Allah telah menjanjikan bahwa Dia tidak akan memberikan pertolongan dan penguatan tersebut kecuali jika para pelaksana kerja Islam saling bersolidaritas dan bahu-membahu. Nabi SAW bersabda:

"Tangan Allah bersama jamaah."

Jika karena penghalangan pertolongan ini kemudian timbul ujian atau cobaan, maka ujian tersebut akan menjadi rahmat dan berkah bagi para aktivis yang bersatu, namun menjadi bencana dan azab bagi mereka yang duduk berpangku tangan (tidak ikut berjuang) serta bagi para aktivis yang tercerai-berai:

  • “Dan orang-orang yang gugur di jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Allah akan memberi pimpinan kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka, dan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenalkan-Nya kepada mereka.” (QS. Muhammad: 4-6).
  • "Jika Allah menurunkan azab kepada suatu kaum, maka azab tersebut akan menimpa siapa saja yang ada di tengah mereka, kemudian mereka akan dibangkitkan berdasarkan amal perbuatan mereka." (HR. Bukhari).

Keempat: Jalan Keluar dan Pencegahan dari Uzlah

Selama kita telah memahami sebab-sebab uzlah dan dampak-dampaknya, maka mudah bagi kita untuk menyadari jalan keselamatan dan cara mencegahnya, yang terangkum dalam:

(1) Pemahaman yang utuh tentang hubungan antara teks-teks syariat yang menganjurkan uzlah dengan teks-teks lain yang menyerukan interaksi dengan manusia serta menetapi jamaah.

Pemahaman ini menjamin seorang muslim (jika ia jujur pada dirinya sendiri) akan tercabut dari kehidupan menyendiri dan melemparkan dirinya ke dalam pelukan jamaah. Hal ini karena berinteraksi dengan jamaah adalah hukum asal, sedangkan uzlah adalah perkara darurat yang tidak dilakukan kecuali dalam kondisi mendesak di mana agama dan kehidupan tidak lagi bisa dipertahankan.

(2) Pemahaman yang utuh tentang kondisi atau sebab yang mendorong sebagian ulama salaf untuk melakukan uzlah atau tafarrud.

Pemahaman ini sering kali menghalangi kita untuk sekadar ikut-ikutan meneladani mereka dalam hal ini. Terutama jika kita mengetahui bahwa uzlah mereka dahulu tidak membawa dampak buruk (bagi umat) karena negara Islam masih tegak, panji Islam masih berkibar, dan agama seluruhnya milik Allah. Adapun uzlah kita saat ini justru membawa banyak kemudaratan mengingat hilangnya negara Islam, cengkeraman musuh Allah di leher kita, serta banyaknya penghalangan dari jalan Allah. Kita saat ini sangat membutuhkan massa yang banyak serta upaya kolektif yang besar dan saling mendukung untuk mengembalikan otoritas bagi Allah.

(3) Pemahaman yang akurat tentang manhaj Islam dalam menyelaraskan antara sisi individualitas dan kolektivitas.

Hal ini menjamin seorang muslim terdorong untuk hidup dalam dekapan jamaah sambil tetap menjaga jati diri atau kepribadian individunya.

(4) Memahami konsep ibadah yang benar.

Hal ini cukup untuk mengakhiri sikap uzlah dan mendorong seseorang untuk menetapi jamaah serta berinteraksi dengan manusia tanpa merasa terbebani bahwa waktunya habis untuk hal selain ketaatan dan ibadah.

(5) Mujahadah (perjuangan) melawan nafsu dan memperlakukannya dengan ketegasan serta kedisiplinan.

Agar hawa nafsu tidak menguasainya dan syahwat tidak membelenggunya, sehingga tidak mendorongnya untuk lari dari beban berinteraksi dengan jamaah dan hidup di tengah masyarakat.

(6) Memahami peran yang wajib dilakukan oleh seorang muslim ketika kejahatan tersebar dan kerusakan merajalela.

Ini cukup untuk mengeluarkan aktivis mana pun dari pengasingannya dan mendorongnya berinteraksi dengan manusia serta menghadapi berbagai kesulitan demi membasmi kejahatan dan melawan kerusakan, atau setidaknya meminimalisir keduanya.

(7) Berserah diri sepenuhnya kepada Allah Azza wa Jalla dan memohon pertolongan dengan jujur kepada-Nya. Sesungguhnya siapa yang memohon pertolongan kepada Allah, maka Allah akan menolongnya:

  • “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku…” (QS. Al-Baqarah: 186).

(8) Melepaskan diri dari pertemanan dengan orang-orang yang manhajnya adalah uzlah dan kebiasaannya adalah menyendiri, disertai dengan menetapi barisan para aktivis dakwah. Hal ini memiliki peran besar dalam membasmi keinginan untuk uzlah.

(9) Memahami sepenuhnya hakikat lembaga-lembaga dan jamaah-jamaah yang bekerja untuk agama Allah. Hal ini pasti akan mengakhirinya pada sikap meninggalkan kehidupan menyendiri dan berjalan bersama pihak yang berada di atas kebaikan yang menyeluruh dan menegakkan kebenaran secara utuh.

(10) Memahami hakikat manhaj yang ditempuh oleh Rasulullah SAW dalam membangun monumen dan negara Islam pertama. Hal ini membantu melepaskan diri dari uzlah dan mendorong untuk bergabung dengan jamaah sebagai bentuk keteladanan kepada beliau SAW:

  • “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).

(11) Menyadari bahwa musuh-musuh Allah dari kalangan kafir dan munafik saling bekerja sama di antara mereka. Mereka bekerja untuk memukul Islam secara bersatu, bukan terpisah-pisah, baik dalam bentuk aliansi militer (Pakta Warsawa, NATO), pasar perdagangan (Pasar Tunggal Eropa), parlemen dan badan politik (Parlemen Eropa), maupun dalam bentuk persatuan republik dan negara bagian (Uni Soviet, Amerika Serikat). Jika demikian keadaan musuh Allah padahal mereka berada di atas kebatilan dan memiliki perbedaan fundamental di antara mereka, maka lebih utama bagi kita umat Islam—terutama karena kita berada di atas kebenaran dan tidak memiliki perbedaan fundamental—untuk menghadapi mereka dengan cara yang sama, yakni secara bersatu dan tidak bercerai-berai:

  • “Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (wahai umat Islam) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu (yaitu bersatu padu), niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. Al-Anfal: 73).

(12) Merenungkan kehidupan makhluk-makhluk di sekitar kita. Perenungan ini pasti akan membawa kita pada kesimpulan bahwa makhluk-makhluk tersebut tidak hidup dalam keterasingan, melainkan hidup berkelompok dan bekerja sama untuk menjalankan perannya. Lihatlah tata surya yang bekerja sama menyediakan cahaya dan kehangatan bagi seluruh makhluk hidup. Lihatlah komunitas lebah yang bekerja sama membangun sarangnya, membersihkannya, dan melindunginya, kemudian terbang mengisap nektar bunga untuk akhirnya dikeluarkan sebagai madu murni yang menjadi obat bagi manusia. Hal serupa terjadi pada komunitas semut dan makhluk lainnya, sehingga penyair berkata:

"Semut membangun negerinya dengan kekompakan mereka, dan lebah memanen sari madu dengan saling menolong."

Jika demikian keadaan makhluk yang tidak memiliki akal, maka bagaimana dengan kita anak cucu Adam yang telah Allah muliakan dengan akal, kebebasan, dan kehendak, serta dijadikan pemimpin di alam semesta ini? Renungan seperti ini dapat memicu sikap meninggalkan uzlah dan memilih hidup bersama jamaah di tengah manusia.

(13) Memahami hakikat dampak-dampak yang ditimbulkan oleh uzlah atau menyendiri. Dampak-dampak ini telah kita sebutkan sebelumnya. Hal ini akan menuntun siapa pun yang memiliki hati atau menggunakan pendengarannya dengan saksama untuk memilih hidup di tengah manusia dan berinteraksi dengan mereka karena takut terperosok ke dalam dampak atau konsekuensi buruk tersebut.

 

Qu'ud

Termasuk penyakit dakwah yang sering menimpa orang yang ada di barisan dakwah adalah al qu'ud.

1. PENGERTIAN AL QU'UD

Pengertian al qu'uud secara bahasa adalah sebagai berikut:

·         Duduk setelah berdiri.

·         Terputus dan meninggalkan suatu urusan. Seperti wanita yang berhenti dari haid disebut Qo 'adat.

·         Tertahan dari sesuatu.

·         Tidak memperhatikan sesuatu.

·         Penyakit yang menimpa fisik.

Sedangkan menurut istilah :

Penyakit yang menimpa para aktifis dakwah dari dalam dirinya yang menghalanginya dari meneruskan perjalanan dakwah sampai akhirnya, karena tiba-tiba ia terhenti dari jalan dakwah ataupun minimal berlambat-lambat tanpa peduli.

وَقِيْلَ اقْعُدُوْا مَعَ الْقٰعِدِيْنَ ٤٦

“Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.” (QS. At-Taubah: 46)

Ibnu Atiyyah dalam penjelasannya terhadap ayat ini mengatakan: " Kata Qu'uud pada ayat ini yakni ketinggalan dan berlambat-lambat.”

2. FENOMENA AL QUUD DAN NILAI DALAM TIMBANGAN ISLAM

  • Meninggalkan manhaj Allah dan bertahkim kepada manhaj manusia walaupun sedikit.
  • Meninggalkan dakwah, namun tetap istiqomah dalam diri, keluarga dan anak.
  • Hanya berkonsentrasi untuk menyakiti para aktifis dakwah.
  • Berusaha memecah belah shof para aktifis dakwah.
  • Cenderung kepada orang-orang dzalim.
  • Senang mempelajari kesalahan para aktifis dakwah.
  • Memelintir nash-nash, dan menggunakannya bukan pada tempatnya.

 

  الَّذِينَ قَالُوا لِإِخْوَانِهِمْ وَقَعَدُوا لَوْ أَطَاعُونَا مَا قُتِلُوا قُلْ فَادْرَءُوا عَنْ أَنْفُسِكُمْ الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Orang-orang yang berkata terhadap saudara-saudaranya, kalau saja mereka taat kepada kita, tentu mereka tidak terbunuh, katakana tolaklah dari diri kalian kematian, jika kalian orang-orang yang benar. (Al Imron: 168)

Maka semua fenomena qu'uud di atas sangat tercela dalam pandangan  Islam, dan cukuplah ayat di atas menunjukkan tercelanya sifat di atas, ketika Allah menjadikannya sebagai sifat orang-orang munafik.

قَالُوْا يٰمُوْسٰٓى اِنَّا لَنْ نَّدْخُلَهَآ اَبَدًا مَّا دَامُوْا فِيْهَا ۖفَاذْهَبْ اَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَآ اِنَّا هٰهُنَا قٰعِدُوْنَ

24.  Mereka berkata, “Wahai Musa, sesungguhnya kami sampai kapan pun tidak akan memasukinya selama mereka masih ada di dalamnya. Oleh karena itu, pergilah engkau bersama Tuhanmu, lalu berperanglah kamu berdua. Sesungguhnya kami tetap berada di sini saja.” (QS. Al-Maidah: 24)

Dalam ayat ini kata Qoo'iduun menjelaskan sikap orang-orang yahudi yang menolak berjihad bersama nabi Musa.

فَاِنْ رَّجَعَكَ اللّٰهُ اِلٰى طَاۤىِٕفَةٍ مِّنْهُمْ فَاسْتَأْذَنُوْكَ لِلْخُرُوْجِ فَقُلْ لَّنْ تَخْرُجُوْا مَعِيَ اَبَدًا وَّلَنْ تُقَاتِلُوْا مَعِيَ عَدُوًّاۗ اِنَّكُمْ رَضِيْتُمْ بِالْقُعُوْدِ اَوَّلَ مَرَّةٍۗ فَاقْعُدُوْا مَعَ الْخٰلِفِيْنَ ٨٣

83.  Maka, jika Allah memulangkanmu (Nabi Muhammad) ke satu golongan dari mereka (orang-orang munafik), kemudian mereka meminta izin kepadamu untuk keluar (pergi berperang), katakanlah, “Kamu tidak boleh keluar bersamaku selama-lamanya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya sejak semula kamu telah rida duduk (tidak berperang). Oleh karena itu, duduklah (tinggallah) bersama orang-orang yang tidak ikut (berperang).” (QS. At-Taubah: 83)

Orang-orang yang meminta izin tidak ikut perang diperitahkan untuk keluar sekalian dan tidak boleh berperang, sebab mereka memang cenderung Qu'ud sejak pertama kali.

Ibnu Jarir At-Thabari berkata, "Ini peringatan dari Allah kepada Muhammad, jika Allah mempertemukanmu kembali dengan orang-orang munafik lalu mereka meminta izin, katakan, 'Kalian memang tidak akan keluar bersamaku dan tidak akan memerangi musuh. Sebab kalian memang cinta 'qu'ud." Kalian memang bagain dari musuh dan kalian sama-sama bermaksiat kepada Allah. Maka Allah murka kepada kalian."

Ini dikuatkan oleh riwayat Ibnu Abbas, "Seseorang berkata, 'Ya Rasulullah, udara sangat panas, kami tidak bias keluar berperang, maka engkau jangan keluar pada cuaca panas.' Itu terjadi pada perang Tabuk. Allah langsung berfirman,

قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ اَشَدُّ حَرًّاۗ لَوْ كَانُوْا يَفْقَهُوْنَ ٨١

"Katakan, 'neraka Jahannam lebih panas jika mereka mengerti." (QS. At-Taubah: 81)

Lalu Allah memerintahkan beliau untuk keluar berjihad dan beberapa orang tidak ikut. Mereka berpikir, 'Demi Allah, kita tidak berbuat apa-apa.' Tiga orang di antara menyusul Rasulullah, mereka bertaubat lalu kembali Madinah. Allah menurunkan ayat,

فَاِنْ رَّجَعَكَ اللّٰهُ اِلٰى طَاۤىِٕفَةٍ مِّنْهُمْ فَاسْتَأْذَنُوْكَ لِلْخُرُوْجِ فَقُلْ لَّنْ تَخْرُجُوْا مَعِيَ اَبَدًا وَّلَنْ تُقَاتِلُوْا مَعِيَ عَدُوًّاۗ اِنَّكُمْ رَضِيْتُمْ بِالْقُعُوْدِ اَوَّلَ مَرَّةٍۗ فَاقْعُدُوْا مَعَ الْخٰلِفِيْنَ ٨٣ وَلَا تُصَلِّ عَلٰٓى اَحَدٍ مِّنْهُمْ مَّاتَ اَبَدًا وَّلَا تَقُمْ عَلٰى قَبْرِهٖۗ اِنَّهُمْ كَفَرُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَمَاتُوْا وَهُمْ فٰسِقُوْنَ ٨٤

83.  Maka, jika Allah memulangkanmu (Nabi Muhammad) ke satu golongan dari mereka (orang-orang munafik), kemudian mereka meminta izin kepadamu untuk keluar (pergi berperang), katakanlah, “Kamu tidak boleh keluar bersamaku selama-lamanya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya sejak semula kamu telah rida duduk (tidak berperang). Oleh karena itu, duduklah (tinggallah) bersama orang-orang yang tidak ikut (berperang).” 84.  Janganlah engkau (Nabi Muhammad) melaksanakan salat untuk seseorang yang mati di antara mereka (orang-orang munafik) selama-lamanya dan janganlah engkau berdiri (berdoa) di atas kuburnya. Sesungguhnya mereka ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik. (QS. At-Taubah: 83-84)

Rasulullah bersabda, "Celakalah orang-orang yang mutakhallifun…" Akhirnya Allah menerima alasan mereka saat bertaubat,

لَقَدْ تَّابَ اللّٰهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهٰجِرِيْنَ وَالْاَنْصَارِ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُ فِيْ سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْۢ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيْغُ قُلُوْبُ فَرِيْقٍ مِّنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْۗ اِنَّهٗ بِهِمْ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ ۙ ١١٧

Sungguh, Allah benar-benar telah menerima tobat Nabi serta orang-orang Muhajirin dan orang-orang Ansar yang mengikutinya pada masa-masa sulit setelah hati sekelompok dari mereka hampir berpaling (namun) kemudian Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka. (QS. At-Taubah: 117)

Allah berfirman

وَاِذَآ اُنْزِلَتْ سُوْرَةٌ اَنْ اٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَجَاهِدُوْا مَعَ رَسُوْلِهِ اسْتَأْذَنَكَ اُولُوا الطَّوْلِ مِنْهُمْ وَقَالُوْا ذَرْنَا نَكُنْ مَّعَ الْقٰعِدِيْنَ ٨٦ رَضُوْا بِاَنْ يَّكُوْنُوْا مَعَ الْخَوَالِفِ وَطُبِعَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُوْنَ ٨٧

86.  Apabila diturunkan suatu surah (yang memerintahkan orang-orang munafik), “Berimanlah kepada Allah dan berjihadlah bersama Rasul-Nya,” niscaya orang-orang yang berkemampuan di antara mereka meminta izin kepadamu (untuk tidak berjihad) dan mereka berkata, “Biarkanlah kami berada bersama orang-orang yang duduk (tinggal di rumah). 87.  Mereka rida berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang.330) Hati mereka telah dikunci sehingga tidak memahami. (QS. At-Taubah: 86-87)

330) Orang yang tidak pergi berperang dalam ayat ini adalah perempuan, anak-anak, orang yang lemah, sakit, dan berusia lanjut.

Allah berfirman,

وَجَاۤءَ الْمُعَذِّرُوْنَ مِنَ الْاَعْرَابِ لِيُؤْذَنَ لَهُمْ وَقَعَدَ الَّذِيْنَ كَذَبُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗسَيُصِيْبُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ٩٠

Orang-orang Arab Badui yang membuat-buat alasan datang (kepada Nabi) agar diberi izin (untuk tidak berperang). Adapun orang-orang yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya duduk berdiam (tidak mengemukakan alasan). Kelak orang-orang yang kufur di antara mereka akan ditimpa azab yang sangat pedih. (QS. At-Taubah: 90)

لَا يَسْتَوِى الْقٰعِدُوْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ غَيْرُ اُولِى الضَّرَرِ وَالْمُجٰهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْۗ فَضَّلَ اللّٰهُ الْمُجٰهِدِيْنَ بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقٰعِدِيْنَ دَرَجَةً ۗ وَكُلًّا وَّعَدَ اللّٰهُ الْحُسْنٰىۗ وَفَضَّلَ اللّٰهُ الْمُجٰهِدِيْنَ عَلَى الْقٰعِدِيْنَ اَجْرًا عَظِيْمًاۙ ٩٥

Tidak sama orang-orang mukmin yang duduk (tidak turut berperang) tanpa mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk (tidak ikut berperang tanpa uzur). Kepada masing-masing, Allah menjanjikan (pahala) yang terbaik (surga), (tetapi) Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang-orang yang duduk dengan pahala yang besar. (QS. An-Nisa: 95)

Tentu tidak sama antara orang-orang beriman yang tidak ikut berjihad, lebih suka malas-malas dan duduk-duduk di rumah mereka. Yang menghindar dari berpanas-panas, berjalan di medan tempur melawan musuh karena Allah. Padahal mereka tidak punya uzur seperti buta atau penyakit lain yang tidak memungkinkan mereka berjihad di jalan Allah. Dengan para mujahid yang berada dalam manhaj agama Allah agar kalimat Allah selalu tinggi, taat kepada Allah dalam memerangi musuh-Nya dan musuh keimanan. Mereka yang menginfakkan harta dan jiwa mereka.

Rasulullah bersabda,

مَنْ رَابَطَ يَوْمًا أَوْ لَيْلَةً كَانَ لَهُ كَصِيَامِ شَهْرٍ لِلْقَاعِدِ

“Murabith satu hari atau satu malam sama dengan puasa sebulan.”

وَمَنْ مَاتَ مُرَابِطًا فِي سَبِيلِ اللهِ ، أَجْرَى اللهُ لَهُ أَجْرَهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُ : أَجْرَ صَلَاتِهِ وَصِيَامِهِ ، وَنَفَقَتِهِ ، وَوُقِيَ مِنْ فَتَّانِ الْقَبْرِ ، وَأَمِنَ مِنَ الْفَزَعِ الْأَكْبَرِ

“Murabith yang meninggal mendapat pahala dari Allah dan akan dijaga dari fitnah kubur serta aman dari kengeriannya.”

Walaupun secara lahir ayat-ayat di atas ditujukan kepada orang-orang munafik. Namun ia juga mengisyarakatkan ancaman bagi orang-orang yang tidak berperang tanpa ada uzur.

 

3. SEBAB-SEBAB QU'UD

1. Maksiat

Sebab orang-orang yang belepotan maksiat, lahir maupun batin, besar maupun kecil dan tidak segera bertaubat, akan menjadi penyakit hati, bahkan kematian hati. Ketika itu hati tidak bisa mengendalikan organ tubuh. Pada gilirannya setan jin dan manusia, dunia dengan kemewahannya menemukan jalan yang terbuka untuk menggodanya melakukan apa yang dimurkai Allah. Di antara kemaksiatan tersebut adalah qu'ud dari amal di jalan Allah.

Allah memperingatkan bahwa maksiat mengakibatkan banyak kejahatan. Sebagaimana yang terjadi pada orang-orang Bani Israil.

وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَاۤءُوْ بِغَضَبٍ مِّنَ اللّٰهِ ۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ كَانُوْا يَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَيَقْتُلُوْنَ النَّبِيّٖنَ بِغَيْرِ الْحَقِّ ۗ ذٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَانُوْا يَعْتَدُوْنَ ࣖ ٦١

Kemudian, mereka ditimpa kenistaan dan kemiskinan, dan mereka (kembali) mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena sesungguhnya mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar). Yang demikian itu ditimpakan karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas. (QS. Al-Baqarah: 61)

Apa yang Aku lakukan kepada mereka disebabkan oleh kemaksiatan mereka dan sikap melampaui batas mereka.

Rasulullah juga mengingatkan,

تُعْرَضُ الْفِتَنُ كَالْحَصِيرِ عَوْدًا عَوْدًا ، فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ ، وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ ، حَتَّى تَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ ، عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا ، لَا تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ ، وَالْآخَرُ أَسْوَدُ مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ مُجَخِّيًا لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا وَلَا يُنْكِرُ مُنْكَرًا ، إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ

Fitnah-fitnah akan dipaparkan ke dalam hati (manusia) laksana anyaman tikar yang disusun sebatang demi sebatang. Hati mana pun yang menyerapnya (menerimanya), niscaya akan dititikkan padanya sebutir noda hitam. Dan hati mana pun yang mengingkarinya (menolaknya), niscaya akan dititikkan padanya sebutir noda putih. Hingga akhirnya hati manusia terbagi menjadi dua jenis: Hati yang putih seperti batu marmer yang halus, ia tidak akan pernah tertimpa bahaya oleh fitnah apa pun selama langit dan bumi masih ada. Hati yang hitam legam lagi keruh (seperti abu-abu), laksana gelas yang tertelungkup (terbalik); ia tidak lagi mengenal kebaikan dan tidak lagi mengingkari kemungkaran, kecuali apa yang diserap oleh hawa nafsunya semata."

Fitnah akan datang sehelai demi sehelai. Hati yang termakan olehnya menjadi noktah hitam. Hati yang menolaknya akan menjadi noktoh putih. Jadinya ada dua hati; hati putih yang tidak terpengaruh oleh fitnah dan hati hitam yang tidak mampu menolak kemungkaran dan tidak mengenali yang ma'ruf.

2. Berlebihan dalam hal-hal mubah

Hal mubah Allah berikan kepada hamba-Nya sebagai bentuk penjagaan dan rahmat untuk mereka. Agar seorang hamba mengambilnya sekedarnya.

Allah berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحَرِّمُوْا طَيِّبٰتِ مَآ اَحَلَّ اللّٰهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوْا ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengharamkan sesuatu yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-Maidah: 87)

Ayat ini menjelaskan ketidak sukaan Allah terhadap orang-orang yang berlebihan dalam mubahat, maka ketika ayat ini dilupakan, terjatuhlah manusia dalam mubahat. Aisyah ra mengatakan:

أَوَّلُ بَلَاءٍ حَدَثَ فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا الشِّبَعُ ، فَإِنَّ الْقَوْمَ لَمَّا شَبِعَتْ بُطُونُهُمْ سَمِنَتْ أَبْدَانُهُمْ فَضَعُفَتْ قُلُوبُهُمْ ، وَجَمَحَتْ شَهَوَاتُهُمْ

“Bencana yang pertama menimpa umat ini sepeninggal nabi adalah kenyang, karena sesungguhnya kaum yang perutnya kenyang, lemah hatinya, dan tidak terkendali syahwatnya. “

Begitu juga Umar:

إِيَّاكُمْ وَالْبِطْنَةَ فِي الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ ، فَإِنَّهَا مَفْسَدَةٌ لِلْجَسَدِ ، مُورِثَةٌ لِلسَّقَمِ ، مُكَسِّلَةٌ عَنِ الصَّلَاةِ ، وَعَلَيْكُمْ بِالْقَصْدِ فِيهِمَا ، فَإِنَّهُ أَصْلَحُ لِلْجَسَدِ وَأَبْعَدُ مِنَ السَّرَفِ ، وَإِنَّ اللهَ تَعَالَى يُبْغِضُ الْحَبْرَ الثَّمِينَ ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَنْ يَهْلِكَ حَتَّى تُؤْثِرَ شَهْوَتُهُ عَلَى دِينِهِ

“Jauhilah kekenyangan makan dan minum, karena hal itu merusak badan, menimbulkan penyakit, menyebabkan malas sholat. Janganlah berlebih-lebihan, karena hal itu bermanfaat bagi badan dan jauh dari tabdzir. Dan sungguh Allah swt membenci alim yang gemuk, dan sungguh seseorang tidak akan binasa sehingga ia lebih mengutamakan syahwat dari pada agamanya.”

3. Kehidupan dunia yang sudah menguasai hati.

Karena ketika dunia sudah menguasai hati manusia, akan menjadikan pelakunya lebih senang-senang dengan dunia, dan meninggalkan akhirat. Kondisi inilah yang disebut Qu'uud.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَا لَكُمْ اِذَا قِيْلَ لَكُمُ انْفِرُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اثَّاقَلْتُمْ اِلَى الْاَرْضِۗ اَرَضِيْتُمْ بِالْحَيٰوةِ الدُّنْيَا مِنَ الْاٰخِرَةِۚ فَمَا مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا فِى الْاٰخِرَةِ اِلَّا قَلِيْلٌ ٣٨

Wahai orang-orang yang beriman, mengapa ketika dikatakan kepada kamu, “Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah,” kamu merasa berat dan cenderung pada (kehidupan) dunia? Apakah kamu lebih menyenangi kehidupan dunia daripada akhirat? Padahal, kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. (QS. At-Taubah: 38)

Menurut Ibnu Atiyyah: Ayat ini kecaman terhadap para sahabat yang ketinggalan perang tabuk 9 H setelah fathu Makkah, bersama 20 ribu pasukan, namun banyak kabilah-kabilah yang tidak ikut serta, khususnya tiga sahabat: Ka'ab bin Malik, Muroroh bin Robi' dan Hilal bin Umayyah. Mengingat mereka adalah sahabat yang memiliki kedudukan tinggi, karena termasuk ahlu badr, dan termasuk sahabat yang dijadikan qudwah.

4. Tidak berniat terus berdakwah sampai titikdarah penghabisan, dan tidak berbuat, walaupun sebatas niat.

وَالَّذِيْنَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَّاٰتٰىهُمْ تَقْوٰىهُمْ ١٧

Orang-orang yang mendapat petunjuk akan ditambahi petunjuk(-nya) dan dianugerahi ketakwaan (oleh Allah). (QS. Muhammad: 17)

Dalam ayat ini Allah akan menambah hidayah dan ketaqwaan bagi orang yang berniat terus untuk tetap dalam hidayah. Dan menjadi sunnatullah terhadap manusia, barang siapa yang sekedar niat untuk komitmen di jalan dakwah saja, tidak mau meniatkannya, maka Allah akan menjauhkannya dari hidayah dan taufiknya, sehingga terjadilah Qu'ud. Allah swt telah mengingatkan kita orang-orang beriman, tentang penyebab Qu'ud ini, ketika menjelaskan tentang orang-orang munafiq yang enggan ikut serta dalam perang Tabuk bersama Rosul, karena alasan-alasan yang lemah. Inti kondisi mereka adalah tidak ada niyat untuk berjihad bersama Rosulullah. Allah berfirman:

۞ وَلَوْ اَرَادُوا الْخُرُوْجَ لَاَعَدُّوْا لَهٗ عُدَّةً وَّلٰكِنْ كَرِهَ اللّٰهُ انْۢبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيْلَ اقْعُدُوْا مَعَ الْقٰعِدِيْنَ ٤٦

Seandainya mereka mau berangkat (sejak semula), niscaya mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu. Akan tetapi, (mereka memang enggan dan oleh sebab itu) Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Dia melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan (kepada mereka), “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.” (QS. At-Taubah: 46)

Kalau saja mereka berniyat untuk keluar berjihad, tentu mereka menyiapkan persiapannya, namun Allah enggan terhadap keterlibatan mereka , maka Allah jadikan mereka tidak mampu bangkit, dan dikatakan mereka duduklah bersama orang-orang yang duduk.

5. Hidup di tengah-tengah orang-orang yang qoidin.

Pada umumnya manusia mudah terpengaruh oleh lingkungan tempat tinggalnya, baik lingkungan terdekatnya seperti rumah atau lingkungan luasnya seperti masyarakat, terutama jika ia tidak memiliki daya imun yang tinggi untuk melawan lingkungannya yang cenderung mendorongnya untuk qu'uud dengan celaan dan penghinaan bahkan penyesatan dan ancaman. Sabda Rosul.

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Manusia yang dipengaruhi agama teman akrabnya, maka hendaklah salah seorang memperhatikan dengan siapa bergaul.”

لَا تُصَاحِبْ إِلَّا مُؤْمِنًا ، وَلَا يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلَّا تَقِيٌّ

“Janganlah bergaul kecuali dengan orang beriman, dan tidak makan makananmu kecuali orang yang bertaqwa.”

6. Tidak yakin dengan janji Allah dan RosulNya.

Begitu banyaknya ayat-ayat yang menjanjikan kemenangan bagi orang-orang yang terus berjuang di jalan dakwah.

وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۖ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًاۗ يَعْبُدُوْنَنِيْ لَا يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْـًٔاۗ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ ٥٥

Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan kebajikan bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; Dia sungguh akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridai; dan Dia sungguh akan mengubah (keadaan) mereka setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Siapa yang kufur setelah (janji) tersebut, mereka itulah orang-orang fasik. (QS. An-Nur: 55)

وَلَقَدْ سَبَقَتْ كَلِمَتُنَا لِعِبَادِنَا الْمُرْسَلِيْنَ ۖ ١٧١ اِنَّهُمْ لَهُمُ الْمَنْصُوْرُوْنَۖ ١٧٢ وَاِنَّ جُنْدَنَا لَهُمُ الْغٰلِبُوْنَ ١٧٣

Sungguh, janji Kami benar-benar telah tetap bagi hamba-hamba Kami yang menjadi rasul. Sesungguhnya merekalah yang pasti akan mendapat pertolongan, dan sesungguhnya bala tentara Kami itulah yang pasti menang. (Ash-Shafat: 171-173)

هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖ ۗوَكَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا ٢٨

Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia mengunggulkan (agama tersebut) atas semua agama. Cukuplah Allah sebagai saksi. (QS. Al-Fath: 28)

يُرِيْدُوْنَ لِيُطْفِـُٔوْا نُوْرَ اللّٰهِ بِاَفْوَاهِهِمْۗ وَاللّٰهُ مُتِمُّ نُوْرِهٖ وَلَوْ كَرِهَ الْكٰفِرُوْنَ ٨ هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖۙ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ ࣖ ٩

Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut mereka, sedangkan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir tidak menyukai. Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan (membawa) petunjuk dan agama yang benar agar Dia mengunggulkannya atas semua agama walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (QS. Ash-Shaf: 8-9)

Dan Rosulullah saw pun menjanjikan kemenangan

لَيَبْلُغَنَّ هَذَا الْأَمْرُ مَا بَلَغَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ ، وَلَا يَتْرُكُ اللهُ بَيْتَ مَدَرٍ وَلَا وَبَرٍ إِلَّا أَدْخَلَهُ اللهُ هَذَا الدِّينَ

“Perjuangan ini pasti akan sampai pada kemenangan, sebagaimana sampainya malam dan siang, dan tidaklah ada rumah yang terbuat dari bulu atau lainnya kecuali tidak akan ditinggalkan oleh Allah untuk dimasuki agama ini.”

Dan barang siapa yang tidak yakin dengan janji ini, bisa dipastikan akan terjebak pada Qu'uud dan akan meninggalkan dakwah dan jihad

7. Terjadinya halangan-halangan dakwah yang secara tiba-tiba, tanpa disikapi dengan kesiapan dan kecerdasan dalam menghadapinya.

Dalam perjalanan dakwah, seoorang da'i kadang dikejutkan oleh tantangan-tantangan yang datang tiba-tiba seperti jiwa yang ammaroh bis suu', syetan-syetan jin dan manusia, dunia dengan keindahannya yang terlihat dalam pernikahan, anak-anak, jabatan-jabatan, popularitas, kekuasaan dan lain-lainnya seperti lamanya perjalanan dakwah. Maka siapa saja yang tidak siap menghadapi tantangan-tantangan di atas, tidak ayal lagi akan jatuh dalam Qu'uud.

Dalam siroh kasus ini dikenal dengan kasus seorang sahabat yang miskin, kemudian ia minta kepada Rosulullah agar didoakan menjadi kaya, Rsulullah menasehatinya : Sedikit yang di sikapi dengan syukur, dari pada banyak yang membuatmu tidak bersyukur. Namun dia masih bersikeras untuk didoakan menjadi kaya. Setelah menjadi kaya ternyata menjauh dari dakwah bwersama Rosulullah disibukkan oleh harta yang semakin hari semakin melimpah, sampai akhirnya meninggal dalam keadaan su-ul khotimah. Al Qur'an mengabadikan peristiwa ini dalam surat At-Taubah: 75-78.

۞ وَمِنْهُمْ مَّنْ عٰهَدَ اللّٰهَ لَىِٕنْ اٰتٰىنَا مِنْ فَضْلِهٖ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُوْنَنَّ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ ٧٥ فَلَمَّآ اٰتٰىهُمْ مِّنْ فَضْلِهٖ بَخِلُوْا بِهٖ وَتَوَلَّوْا وَّهُمْ مُّعْرِضُوْنَ ٧٦ فَاَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِيْ قُلُوْبِهِمْ اِلٰى يَوْمِ يَلْقَوْنَهٗ بِمَآ اَخْلَفُوا اللّٰهَ مَا وَعَدُوْهُ وَبِمَا كَانُوْا يَكْذِبُوْنَ ٧٧ اَلَمْ يَعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ سِرَّهُمْ وَنَجْوٰىهُمْ وَاَنَّ اللّٰهَ عَلَّامُ الْغُيُوْبِ ٧٨

Di antara mereka ada orang yang telah berjanji kepada Allah, “Sesungguhnya jika Dia memberikan sebagian dari karunia-Nya kepada kami, niscaya kami akan benar-benar bersedekah dan niscaya kami benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.” Akan tetapi, ketika Allah menganugerahkan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka menjadi kikir dan berpaling seraya menjadi penentang (kebenaran). Maka, (akibat kekikiran itu) Dia menanamkan kemunafikan dalam hati mereka sampai pada hari mereka menemui-Nya karena mereka telah mengingkari janji yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta. Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala yang gaib?

8. Terlambat menempati posisi jundiyah setelah menempati posisi qiyadah.

Realitanya dalam lapangan, bagi sebagian kader ketika berada dalam posisi qiyadah, kemudian karena suatu hal ia dipindahkan ke posisi jundiyah, ia merasa sombong, terutama jika dia merasa bahwa posisi qiyadah adalah suatu kehormatan bukan suatu beban atau dirasasakan sebagai ghonimah bukan suatu tanggung jawab, maka yang terjadi tidak ada lain kecuali yang terjadi adalah al qu'uud dan berlepas diri dari menunaikan kewajiban. Namun coba bandingkan apa yang pernah terjadi kepada Kholid bin Walid ketika menerima surat pemberhentian dari Umar karena suatu maslahat, maka sebagai komandan yang terkenal selalu sukses, dengan penuh gembira melaksanakan instruksi Umar, dan mengatakan perkataannya yang sangat popular: Demi Allah kalau saja Umar mengangkat pimpinan seorang budak yang hitam kulitnya, tentu aku akan taat dan mendengar, selama ia menuntunku kepada Al Qur'an.

9. Tertipu dengan janji-janji kebatilan.

Kebatilan biasanya berusaha dengan segala cara memperdaya orang yang qo-idin setelah lama berkecimpung dalam aktifitas dakwah. Di antaranya dengan janji-janji yang menyilaukan, seperti harta, jabatan atau popularitas, seperti yang pernah dilakukan oleh Utbah bin Robi'ah kepada Rosulullah. Mereka yang tidak kuat pasti akan tunduk dengan semua rayuan di atas dan meninggalkan komitmennya dengan manhaj Alllah.Sebagaimana yang banyak terjadi di kalangan para aktifis dakwah.

Sebagaimana yang terjadi dalam kisah rakyat: Seorang abid yang begitu semangat akan menebang pohon yang di sembah oleh masyarakat, maka syetan merayu sang abid, agar menghentikan upayanya untuk menebang pohon tersebut, dengan imbalan uang yang diberikan setiap hari. Namun tatkala pemeberian uang terhenti. Sang abid marah hendak menebang kembali pohon, namun mudah syetan mengalahkannya, karena tidak lagi dijiwai oleh keikhlasan.

10. Ketiadaan Manhaj yang dapat memenuhi kehidupan dan mengisi kekosongan.

Seorang muslim apabila tidak menyibukkan dirinya dengan manhaj yang memenuhi hidupnya dan mengisi kekosongannya dengan tadabbur dan tafakkur dalam melaksanakan berbagai macam ibadah dan amal salih, berdakwa, melawan gerakan orang-orang kafir, maka jiwanya yang ammaroh bis suu' dibantu oleh syetan-syetan jin dan manusia, maka dia akan memilih manhaj batil selain yang ditetapkan oleh Allah dan RosulNya dan kemudian memperaktekannya. Inilah hakikat Al Qu'uud.

11. Tidak ada kesesuaian Manhaj dengan potensi dan daya dukung.

Seorang muslim tidak akan dalam kondisi selalu bersemangat, jika tidak didukung oleh manhaj yang sesuai dengan potensi dan daya dukungnya, maka jika suatu manhaj tidak memiliki kesesuaian, melebihi kapasitas atau lebih rendah, maka akan berdampak Qu'uud dan meninggalkan dakwah, kecuali yang masih dirahmati oleh Allah. Inilah rahasia mengapa rosulullah tidaklah berdialog dengan siapapun kecuali disesuaikan dengan kapasitasnya. Contoh dialog Rosul dengan Muadz.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ  رَضِيَ اللهُ عَنْهُ  أَنَّ النَّبِيَّ    وَمُعَاذٌ رَدِيفُهُ عَلَى الرَّحْلِ ، قَالَ : يَا مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ  ، قَالَ : لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللهِ وَسَعْدَيْكَ ، قَالَ : يَا مُعَاذُ  ، قَالَ : لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللهِ وَسَعْدَيْكَ ( ثَلَاثًا ) .قَالَ : مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلَّا حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ

Dari Anas bin Malik ra: Bahwasanya Nabi dan Muadz berada di satu kendaraan. Nabi bersabda: Ya Muadz Bin Jabal. Lababik wa sa'daik, Jawab Muadz. Tiga kali Rosulullah memanggil-manggilnya. Maka rosul bersabda: Tidak satupun seseorang yang bersyahadat tidak ada tuhan selain Allah, dan Muhammad utusan Allah atas dasar keyakinan dari hatinya kecuali Allah akan cegah dirinya dari Neraka. Muadzpun bertanya kepada Rosul "Bolehkah aku sampaikan informasikan kepada masyarakat agar mereka dapat bergembira? Rosul jawab: Nanti mereka mengandalkan itu. Dan Akhirnya diinformasikan oleh Muadz menjelang kematiannya dengan merasa bersalah.

12. Tidak memberi penghargaan kepada aktifis dakwah sesuai dengan haknya.

Manusia pada umumnya akan senantiasa melaksanakan tugas-tugas yang diwajibkan kepadanya, selama dia tidak dihinakan atau direndahkan. Jika yang terjadi sebaliknya pada umumnya akan menyebabkan terjadinya Qu'uud. Inilah rahasianya banyaknya hadits-hadits Rosul yang memperhatikan adab-adab bersosialisasi yang baik. Contoh-contoh hadits-hadits tersebut:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا ، وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا ، وَيَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ ، وَيَنْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ

“Bukanlah golongan kami orang yang tidak menyayangi yang kecil, dan tidak menghormati yang lebih tua, memerintahkan yang makruf dan melarang yang munkar.” ( HR Atturmudzi )

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا ، وَيَعْرِفْ شَرَفَ كَبِيرِنَا ، أَوْ حَقَّ كَبِيرِنَا

“Bukanlah golongan kami yang tidak menyayangi yang kecil, dan memperhatikan kemulyaan atau hak yang lebih tua.”

13. Membebani jiwa dengan berbagai macam kewajiban di luar batas kemampuan.

Pada umumnya semua tugas dakwah di awalnya manis, dilaksanakan dengan penuh semangat dan meluangkan semua waktunya. Namun ketika dia melihat orang lain mulai kurang semangat dalam menjalankan tugas-tugas dakwahnya, mulailah dirinya terpengaruh oleh kondisi tersebut, setelah sekian lama, mulailah dia merasakan beratnya tugas-tugas yang diembannya dan menjadi sangat melelahkan. Kondisi ini jika tidak segera ditangani dapat terjadi Al Qu'uud dan berhenti dari tugas dakwah.

14. Tidak dapat mememaafkan kesalahan orang lain.

Karakter manusia tidak akan lepas dari kesalahan, kecuali para anbiyah. Dan sering-sering muhasabah akan dapat mengurangi terjadinya kesalahan-kesalahan.

Namun jarang disadari bahwa muhasabah dan mudah memaafkan merupakan salah satu cara untuk dapat bertahan dalam melaksanakan tugas-tugas dakwah. Sebaliknya sikap ketat dan banyak menuntut kesempurnaan dalam pelaksanaan tugas akan menyebabkan terjadinya Al Qu'uud. Inilah rahasia banyaknya ayat-ayat Allah yang memperhatikan sisi kehidupan ini.

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ ١٣٤

(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. Ali Imran: 134)

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ ١٩٩

Jadilah pemaaf, perintahlah (orang-orang) pada yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang bodoh. (QS. Al-A’raf: 199)

وَلَا يَأْتَلِ اُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ اَنْ يُّؤْتُوْٓا اُولِى الْقُرْبٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَالْمُهٰجِرِيْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۖوَلْيَعْفُوْا وَلْيَصْفَحُوْاۗ اَلَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَكُمْ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ٢٢

Janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan (rezeki) di antara kamu bersumpah (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kerabat(-nya), orang-orang miskin, dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nur: 22)

15. Mengira bahwa Qu'uud bahwa jalan selamat dan aman.

Syetan biasanya menggoda seorang aktifis dakwah agar berhenti dari tugas dakwah, terutama pada zaman seperti ini di mana kebatilan masih dominan dan menghususkan diri untuk menggoda orang-orang yang bekerja di jalan dakwah. Digoda agar lupa atau pura-pura lupa bahwa selamat dan aman hanyalah Allah yang dapat memberi dan membuang janji karunia dari Allah swt. Sementara sunnatullah sudah ditetapkan, bahwa hanya memberikan kepada orang-orang yang bertaqwa dan beramal sholih;

وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۖ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًاۗ يَعْبُدُوْنَنِيْ لَا يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْـًٔاۗ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ ٥٥

Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan kebajikan bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; Dia sungguh akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridai; dan Dia sungguh akan mengubah (keadaan) mereka setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Siapa yang kufur setelah (janji) tersebut, mereka itulah orang-orang fasik. (QS. An-Nur: 55)

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَلَمْ يَلْبِسُوْٓا اِيْمَانَهُمْ بِظُلْمٍ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمُ الْاَمْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُوْنَ ࣖ ٨٢

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), merekalah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mendapat petunjuk. (QS. Al-An’am: 82)

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ  ٢٨

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram. (QS. Ar-Ra’d: 28)

Syetan juga bisa masuk dari suatu was-was dengan mengatakan kepada seorang yang aktifis dakwah: Kamu adalah orang yang banyak berdosa. Akibat perbuatanmu ini telah mengakhirkan pertolongannya dan dukungannya terhadap aktifis dakwah yang lain, bahakan mungkin juga menyebabkan datangnya bencana bagi semuanya. Untuk itu sebaiknya kamu menjauhi orang-orang yang sholih dan bertqwa itu. Agar mereka tetap selamat dan aman. Mereka lupa atau pura-pura lupa bahwa merekapun sesungguhnya juga bias salah dan melakukan dosa, hanya saja mereka segera bertaubat dan tidak terus menerus.

16. Tidak adanya sambutan dakwah dari masyarakat.

Hal ini terjadi di sekelompok para duat yang mengira bahwa dirinya tidak disebut sukses dalam tugas kecuali jika orang lain meyambut dakwahnya dan menerima apa yang disampaikan. Kondisi ini juga dapat menyebabkan terjadinya Qu'uud dan berhenti dari kerja dakwah. Lupa atau pura-pura lupa bahwa hati manusia semuanya di antara dua jari dari jari-jari Allah, bagaikan satu hati yang dirubah-rubah sekehendakNya. Sebagaimana firmanNya.

اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚوَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ ٥٦

Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) tidak (akan dapat) memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki (berdasarkan kesiapannya untuk menerima petunjuk). Dia paling tahu tentang orang-orang yang (mau) menerima petunjuk. (QS. Al-Qashash: 56)

فَاِنْ اَعْرَضُوْا فَمَآ اَرْسَلْنٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا ۗاِنْ عَلَيْكَ اِلَّا الْبَلٰغُ ۗوَاِنَّآ اِذَآ اَذَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنَّا رَحْمَةً فَرِحَ بِهَا ۚوَاِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ ۢبِمَا قَدَّمَتْ اَيْدِيْهِمْ فَاِنَّ الْاِنْسَانَ كَفُوْرٌ ٤٨

Jika mereka berpaling, (ingatlah) Kami tidak mengutus engkau sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu hanyalah menyampaikan (risalah). Sesungguhnya apabila Kami merasakan kepada manusia sedikit dari rahmat Kami, dia gembira karenanya. Akan tetapi, jika mereka ditimpa kesusahan disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, (niscaya mereka ingkar). Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar (pada nikmat). (Asy-Syura: 48)

17. Melupakan akibat Al Qu'uud.

Terakhir bisa jadi lupa akan dampak yang disebabkan oleh Al Qu'uud, baik secara pribadi atau jamaah, dunia atau akhirat dapat menjadikan Al Qu;uud. Kami lihat di lapangan pada zaman sekarang ini beberapa orang yang sudah berhenti dari kerja dakwah dalam kondisi yang sangat tidak diinginkan. Mereka mengatakan; kalau saja berhenti di jalan dakwah menyebabkan kita mengalami kondisi sejelek ini, tentulah kita tidak akan berhenti dari jalan dakwah ini.

4. DAMPAK-DAMPAK AL QU'UUD.

A. DAMPAK TERHADAP PARA AKTIFIS DAKWAH.

1. Syetan menguasai mereka kemudian menerkamnya.

Mereka yang berhenti dari hidup dari komitmen dengan Islam, akan menjadi orang yang berwala' kepada syetan baik dari manusia atau jin. Sedangkan mereka yang berhenti dari jalan dakwah dan lebih memilih hidup sendiri dan keluarganya dalam melaksanakan ajaran islam. Mereka berarti telah memberi kesempatan bagi syetan untuk menguasai mereka kemudian menerkamnya. Rosul bersabda :

فَمَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ بُحْبُوحَةَ الْجَنَّةِ ، فَلْيَلْزَمِ الْجَمَاعَةَ ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ ، وَهُوَ مِنَ الِاثْنَيْنِ أَبْعَدُ  (40).

“Barang siapa di antara kalian yang menginginkan kenikmatan surga, maka hendaklah ia komitmen dengan jamaah, karena syetan bersama orang yang sendiri, dan dari dua orang lebih jauh.”

2. Pelipat gandaan dosa yang dapat mengantarkan ke neraka.

Mereka yang berhenti dari jalan dakwah berarti telah membuka pintu yang lebar di depan sekian banyak orang-orang yang lemah dan orang-orang awam yang mudah meniru dan mengikuti mereka. Oleh karena itu mereka menanggung dua dosa; dosa qu'uud mereka dan dosa orang-orang yang berhenti berdakawah karena disebabkan olehnya. Allah berfirman:

وَلَيَحْمِلُنَّ اَثْقَالَهُمْ وَاَثْقَالًا مَّعَ اَثْقَالِهِمْ وَلَيُسْـَٔلُنَّ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ عَمَّا كَانُوْا يَفْتَرُوْنَ ࣖ ١٣

Mereka benar-benar akan memikul dosa-dosa mereka (sendiri) dan dosa-dosa (orang lain yang mereka perdaya) di samping dosa-dosa mereka. Pada hari Kiamat mereka pasti akan ditanya tentang kebohongan yang selalu mereka ada-adakan. (QS. Al-Ankabut: 13)

لِيَحْمِلُوْٓا اَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَّوْمَ الْقِيٰمَةِ ۙوَمِنْ اَوْزَارِ الَّذِيْنَ يُضِلُّوْنَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ اَلَا سَاۤءَ مَا يَزِرُوْنَ ࣖ ٢٥

(Ucapan mereka) menyebabkan mereka pada hari Kiamat memikul dosa-dosanya sendiri secara utuh dan sebagian dosa orang-orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, alangkah buruknya (dosa) yang mereka pikul. (QS. An-Nahl: 25)

3. Hidup hina dan rendah.

Mereka yang berhenti bekerja dari dakwah membela agama Allah, tidak akan terlepas dari takdir Allah, dan Allah telah menakdirkan kehidupan hina dan rendah di dunai dan di akhirat bagi siapa saja yang berpaling dari Allah.

وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى ١٢٤

Siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit. Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 124)

لِّنَفْتِنَهُمْ فِيْهِۗ وَمَنْ يُّعْرِضْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهٖ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًاۙ ١٧

Dengan (cara) itu Kami hendak menguji mereka. Siapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam azab yang sangat berat. (QS. Al-Jin: 17)

Dan pada masa sekarang ini kami menyaksikan orang-orang berhenti membela agama Allah, setelah sebelumnya menjadi obor pergerakan, dan tidak punya alasan kecuali ingin memanjakan diri, istri, anak dan harta. Berlalulah takdir Allah dan dia tidak berhasil mendapatkan apa yang inginkan, dan suatu saat akan menyesali apa yang telah dilakukan:

وَلَىِٕنْ اَصَابَكُمْ فَضْلٌ مِّنَ اللّٰهِ لَيَقُوْلَنَّ كَاَنْ لَّمْ تَكُنْۢ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهٗ مَوَدَّةٌ يّٰلَيْتَنِيْ كُنْتُ مَعَهُمْ فَاَفُوْزَ فَوْزًا عَظِيْمًا ٧٣

Sungguh, jika kamu mendapat karunia (kemenangan) dari Allah, tentulah dia mengatakan seakan-akan belum pernah ada hubungan kasih sayang antara kamu dengan dia, “Aduhai, sekiranya aku dahulu bersama mereka, tentu aku akan memperoleh kemenangan yang agung (pula).” (QS. An-Nisa: 73)

B. DAMPAK AL QU'UUD BAGI GERAKAN ISLAM.

1. Melemahkan gerakan islam, dan memancing terjadinya pembunuhan terhadap para aktifis, atau minimal menjedikan gerakan islam berjalan di tempat tidak berkembang pada hal telah banyak tenaga pikiran dan waktu yang telah dikorbankan.

Mereka yang berhenti di jalan dakwah, biasanya tidak hanya berdampak terhadap dirinya, tetapi akan menular kepada lainnya meniru apa yang dilakukan. Bahkan lebih jauh dari itu dapat menutup pintu bagi orang-orang yang ingin komit dengan Islam dan bekerja untuk Islam untuk pertama kali, karena pertimbangan ingin selamat dan aman menurut mereka. Tentu akan berdampak kepada para aktifis dan gerakan Islam. Semua orang tahu bahwa musuh-musuh Islam biasanya tidak mampu memperdaya para aktifis dan gerakan Islam kecuali dalam suasana seperti ini, suasana lemah dan perpecahan.

2. Mengundang bencana besar terhadap para aktifis dakwah, seperti pelecehan terhadap kehormatan, perampasan harta, pertumpahan darah, penyiksaan dan  pengusiran. Semua ini disebabkan oleh ornag-orang yang berhenti bekerja untuk dakwah Apa yang menimpa para aktifis dakwah di Mesir pada awal lima puluhan adalah disebabkan oleh mundurnya sekelompok ulama dari shof, maka diikuti oleh sejumlah manusia yang terpengaruh oleh sikap mereka. Semua ini bukti kebenaran apa yang saya jelaskan, maka kelompok ini menanggung dosa apa yang menimpa mereka kecuali Allah memaafkan mereka.

Dan apa yang dialami gerakan Islam saat ini dengan banyaknya orang-orang yang mengundurkan diri dari lapangan dakwah, akan dijadikan oleh musuh-musuh dakwah sebagai cambuk yang siap menyalak di punggung para aktifis dakwah yang akan menjadikan masyarakat takut dari dakwah. Ini semua bukti atas kebenaran apa yang saya jelaskan di atas.

5. SOLUSI AL QU'UUD.

1. Menumbuhkan penghargaan terhadap nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita dan alam semesta yang mengelilingi kita yang nampak dan tidak nampak. Allah berfirman:

وَاٰتٰىكُمْ مِّنْ كُلِّ مَا سَاَلْتُمُوْهُۗ وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَاۗ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ ࣖ

Dia telah menganugerahkan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar sangat zalim lagi sangat kufur. (QS. Ibrahim: 34)

اَلَمْ تَرَوْا اَنَّ اللّٰهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ وَاَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهٗ ظَاهِرَةً وَّبَاطِنَةً ۗوَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُّجَادِلُ فِى اللّٰهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَّلَا هُدًى وَّلَا كِتٰبٍ مُّنِيْرٍ ٢٠

Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu. Dia (juga) menyempurnakan nikmat-nikmat-Nya yang lahir dan batin untukmu. Akan tetapi, di antara manusia ada yang membantah (keesaan) Allah tanpa (berdasarkan) ilmu, petunjuk, dan kitab suci yang menerangi. (QS. Luqman: 20)

2. Menumbuhkan rasa tanggung jawab di hati orang-orang yang berhenti di jalan dakwah di hadapan Allah terhadap apa yang menimpa umat Islam, di Bosnia, Kasymir, Burma, Ertiria dan lain sebagainya.

Bayangkan apa jawaban mereka terhadap Allah, pada hari semua manusia menghadap Allah, hari tidak satupun jiwa dapat menolong jiwa yang lain sedikitpun. Sesungguhnya perasaan ini akan menumbuhkan perasaan takut, jika fitrahnya masih bagus dan akal yang masih cerdas. Maka dia akan bersuasaha melepaskan dirinya dari qu'uud dan berusaha bangkit dari awal.

3. Tidak berlebihan dalam menikmati yang mubah. Dan meyakini bahwa hal ini akan membawa kemaslahatan bagi fisik, akal dan ruh kita. Dan apa yang tidak dapat kita nikmati sekarang akan kita nikmati nanti di akhirat dengan lebih sempurna dan lebih indah.

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِيْنَةَ اللّٰهِ الَّتِيْٓ اَخْرَجَ لِعِبَادِهٖ وَالطَّيِّبٰتِ مِنَ الرِّزْقِۗ قُلْ هِيَ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَّوْمَ الْقِيٰمَةِۗ كَذٰلِكَ نُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَ ٣٢

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Siapakah yang mengharamkan perhiasan (dari) Allah yang telah Dia sediakan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik-baik? Katakanlah, ‘Semua itu adalah untuk orang-orang yang beriman (dan juga tidak beriman) dalam kehidupan dunia, (tetapi ia akan menjadi) khusus (untuk mereka yang beriman saja) pada hari Kiamat.’” Demikianlah Kami menjelaskan secara terperinci ayat-ayat itu kepada kaum yang mengetahui. (QS. Al-A’raf: 32)

4. Menghilangkan rasa cinta terhadap dunia dengan segala cara. Cinta dunia adalah sumber dari segala dosa. Ini bukan berarti kita boleh memiliki dunia sesuai dengan keinginan kita dengan syarat sumbernya halal, dan melaksanakan hak Allah di dalamnya, bahkan demi kehalalan kita harus siap mengalah karena Allah.

5. Selalu tadabbur Al-Qur'an dan Sunnah Rosulullah saw. Dari situlah kita akan dapatkan berita orang yang berhenti bekerja untuk dakwah, bagaimana Allah menghinakan mereka di dunai dan di akhirat. Hati yang bersih akan dengan mudah mengambil pelajaran, dan kemudian bangkit dari sikapnya, sebagai rasa takut akan mendapat balasan seperti orang-orang yang telah melakukan qu'uud. Surat An Nisa', Al Ahzab, dan Al Fath adalah surat-surat yang paling banyak menjelaskan jenis manusia ini.

6. Merenungkan kondisi mereka saat ini dan bagaimana mereka akan menjadi andil menguatnya barisan musuh Allah dan RosulNya. Orang-orang seperti ini biasanya sering dimanfaatkan musush, namun setelah mereka berhasil akan dibuang begitu saja dan dibuanglah mereka di sampah sejarah. Mereka akan merugi dalam dua kehidupan yakni dunai dan akhirat. Dan kerugian akhirat lebih dahsyat.

فَاعْبُدُوْا مَا شِئْتُمْ مِّنْ دُوْنِهٖۗ قُلْ اِنَّ الْخٰسِرِيْنَ الَّذِيْنَ خَسِرُوْٓا اَنْفُسَهُمْ وَاَهْلِيْهِمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِۗ اَلَا ذٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِيْنُ ١٥

Maka, sembahlah sesukamu selain Dia (wahai orang-orang musyrik!)660) Katakanlah, “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri sendiri dan keluarganya pada hari Kiamat.” Ingatlah, yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (QS. Az-Zumar: 15)

660) Perintah ini bukanlah dalam arti yang sebenarnya, tetapi pernyataan kemurkaan Allah Swt. terhadap kaum musyrik yang selalu ingkar, meskipun berulang kali diajak bertauhid.

7. Melakukan mujahadah agar selalu memiliki niat jihad dan bekerja untuk agama Allah, kemudian melaksanakan apa yang tuntutan niat ini. Sikap ini akan berjalan dengan baik manaka dibarengi kesungguhan dan niat ikhlas dan mengikuti sunnah Rosulullah. Maka boleh jadi Allah swt dengan niat ini akan memberi karunia kepada kelompok ini dapat bangkit dari sikap Al Qu'uud dan menjadi kerja nyata di lapangan dakwah. Firman Allah.

وَيَزِيْدُ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اهْتَدَوْا هُدًىۗ وَالْبٰقِيٰتُ الصّٰلِحٰتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَّخَيْرٌ مَّرَدًّا ٧٦

Allah akan menambah petunjuk kepada orang-orang yang telah mendapat petunjuk. Amal kebajikan yang kekal itu lebih baik pahala dan kesudahannya di sisi Tuhanmu. (QS. Maryam: 76)

وَالَّذِيْنَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَّاٰتٰىهُمْ تَقْوٰىهُمْ ١٧

Orang-orang yang mendapat petunjuk akan ditambahi petunjuk(-nya) dan dianugerahi ketakwaan (oleh Allah). (QS. Muhammad: 17)

8. Memutus hubungan dari pergaulan dari orang-orang yang Qo'idiin, kecuali sekedar untuk membangkit mereka dari sikap qu'uud mereka. Dan begitu selesai dengan mereka segera bergabung lagi di tengah orang yang aktif bekerja untuk dakwah, agar segera membangkitkan kembali semangat bekerja dan meneguhkan jiwa dan mendorong mereka untuk berqudwah.

9. Selalu merenungi janji Allah dan RosulNya bagi orang-orang yang beriman ketika mereka masih aktif dan k etika mereka menjadi qo'idiin.

10. Waspada terhadap hambatan-hambatan dakwah seperti istri, anak-anak, harta, kekuasaan dan popularitas dan sejenisnya agar kita dapat siap siaga dan menyadari bahwa mereka  sedikitpun tidak bermanfaat bagi kita.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّ مِنْ اَزْوَاجِكُمْ وَاَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْۚ وَاِنْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ١٤ اِنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗٓ اَجْرٌ عَظِيْمٌ ١٥

Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu.719) Maka, berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Jika kamu memaafkan, menyantuni, dan mengampuni (mereka), sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu). Di sisi Allahlah (ada) pahala yang besar.

719) Kadang-kadang istri atau anak dapat menjerumuskan suami atau bapaknya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan oleh agama.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۚوَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ ٩

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta bendamu dan anak-anakmu membuatmu lalai dari mengingat Allah. Siapa yang berbuat demikian, mereka itulah orang-orang yang merugi. (QS. Al-Munafiqun: 9)

11. Bersegera melaksanakan manhaj yang meliputi kehidupan dengan segala macam fariasinya, dan menjadi sesuai dengan potensi dan daya dukung manusia, terutama jenis manusia yang qo'idiin, dengan menjadikan Al Qur'a n dan sunnah merupakan manhaj yang asas dan utama. Manhaj seperti ini biasanya dapat mengobati saat-saat kekosongan yang suka dijadikan oleh syetan jin dan manusia dan membuka pintu kebangkitan bagi orang-orang yang qo'idiin.

12. Mujahadah nafs untuk menghormati orang-orang lain, terutama orang-orang yang memiliki kelbihan ilmu dan agama. Bentuk mujahadahnya adalah dengan tidak membebankan kewajiban-kewajiban yang berlebihan, mengingat perjalanan yang panjang dan sulit. Dengan mujahadah seperti ini insya Allah akan menggerakkan qo'idiin akan bangkit lagi dari awal.

13. Mudah memaafkan beberapa kesalahan dan kekuranagn saat efaluasi, selama tidak berlebihan pelanggaran dalam hak Allah dan hak hambanya Sikap ini insya Allah akan menghilangkan rasa putus asa dan membuka rasa harap dan optimis.

14. Selalu menyambut perubahan posisi, terutama perubahan dari posisi atas menjadi posisi bawah, dari qiyadah menjadi jundiyyah dengan gembira. Karena semakin tinggi kedudukan seseorang semakin berat tanggung jawabnya dan semakin besar hisabnya.

يٰنِسَاۤءَ النَّبِيِّ مَنْ يَّأْتِ مِنْكُنَّ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ يُّضٰعَفْ لَهَا الْعَذَابُ ضِعْفَيْنِۗ وَكَانَ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرًا ۔ ٣٠

Wahai istri-istri Nabi, siapa di antara kamu yang melakukan perbuatan keji yang nyata, pasti azabnya akan dilipatgandakan dua kali lipat kepadanya. Hal yang demikian itu sangat mudah bagi Allah. (QS. Al-Ahzab: 30)

 



(40) انظر : سلسلة الأحاديث الصحيحة للألباني : المجلد الأول ص 431 .

Ujub