1.
HIDAYAH MELALUI ANAKKU
Sahibul
hikayat dalam kisah ini adalah warga Madinah Nabawiyah, ia menuturkan sebagai
berikut, “Aku adalah seorang pemuda umur 37 tahun, telah berkeluarga dengan
beberapa anak. Aku telah banyak melakukan yang diharamkan Allah. Jarang sekali
shalat berjamaah, kecuali pada momen-momen tertentu saja, sekedar formalitas di
mata orang lain. Hal itu disebabkan karena aku merasa sebagai orang jahat.
Syetan selalu mengikatku setiap saat. Anakku berumur 7 tahun, namanya Marwan,
ia tuli dan bisu, tetapi ia telah banyak mereguk nilai-nilai keimanannya dari
isteriku.
Pada suatu
malam aku dan Marwan sedang berada di rumah, aku mulai merencanakan apa yang
akan aku lakukan malam ini bersama teman-teman, dan di mana lokasinya.
Saat itu
selepas sholat Maghrib, dengan bahasa isyarat anakku mengatakan sesuatu, aku sangat
faham kalau dia mengingatkan diriku untuk shalat, “Mengapa Bapak tidak shalat?”
begitu kira-kira yang ingin dikatakannya. Kemudian ia mengangkat kedua
tangannya ke langit, lagi-lagi dengan isyarat ia mengultimatum bahwa Allah akan
melihatku.
Terkadang
aku kepergok anakku sedang berbuat kemunkaran, aku takjub dengan bahasa isyaratnya,
ia menangis di depanku, lalu aku segera merangkulnya, tapi ia lari dariku, ia segera
lari ke tempat wudhu, lalu datang kembali menghampiriku seraya memberi isyarat
agar jangan pergi dahulu, tiba-tiba ia shalat di depanku kemudian ia bangun dan
bergegas mengambil mushaf dan meletakkannya di hadapanku, lalu ia membukanya
dengan hanya sekali buka, kemudian jari telunjuknya menunjuk kepada salah satu
ayat dalam surat maryam :
يٰٓاَبَتِ اِنِّيْٓ
اَخَافُ اَنْ يَّمَسَّكَ عَذَابٌ مِّنَ الرَّحْمٰنِ فَتَكُوْنَ لِلشَّيْطٰنِ
وَلِيًّا
“Wahai
bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan yang
Maha pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syetan.” (QS. Maryam: 45)
Setelah itu anakku langsung menangis,
dan akupun spontan ikut menangis, lalu ia bangun dan mengusap air mataku,
kemudian ia mencium kepala dan tanganku, dan lagi-lagi dengan bahasa isyarat ia
berkata kepadaku, “Wahai ayahku shalatlah sebelum engkau dimasukkan ke dalam
liang lahat, dan engkau akan menuai adzab.” Demi Allah aku sangat takut dan
gemetar, tak ada yang mengetahui keadaanku saat itu kecuali Allah, aku segera
bangun, aku seperti orang bingung keluar masuk kamar, sementara Marwan, anakku,
terus menguntit sambil terus menatapku dengan tatapan yang aneh, lalu ia berkata,
“Ayo, ayah ke masjid besar!” maksudnya masjid Nabawy. “Tidak ah, ke masjid
dekat rumah saja” bujukku kepadanya. Anakku tetap bersikeras mengajak ke Masjid
Nabawy, akupun segera manggandeng tangannya menuju masjid Nabawy, aku masih
takut dan gemetar, sementara anakku seperti tidak berhenti sekejap pun
menatapku.
Sesampainya di masjid Nabawy, aku
segera menuju Raudah yang saat itu telah penuh sesak dengan manusia menjelang
shalat Isya. Pada saat shalat Isya aku mendengar sang Imam membaca salah satu
ayat berikut:
“Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syetan.
barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syetan, maka sesungguhnya syetan itu
menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena
kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun
dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu)
selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah
Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Aku tak mampu menguasai gelora
jiwaku, aku tak kuasa menahan tangisku, aku menangis dan Marwan pun ikut
menangis karena mendengar tangisku, di tengah shalat. Marwan mengeluarkan sapu
tangan dari saku bajuku lalu mengusap air mataku. Selepas shalat aku masih
tetap menangis, sementara Marwan terus mengusap air mataku, tidak terasa aku
telah bersimpuh di masjid Nabawy selama satu jam penuh, sehingga anakku
berkata, “Sudahlah Ayah…, jangan takut!” Kami pun bergegas pulang ke rumah,
malam itu terasa malam yang paling indah dalam hidupku, aku sperti dilahirkan
kembali ke dunia, isteriku pun kemudian hadir di dekatku, juga anak-anakku. Kami
semua menumpahkan tangis, meski anak-anakku yang lain tidak mengerti apa yang
terjadi. Lalu Marwan berkata, “Ayah tadi shalat di Masjid Nabawy.” Kulihat
isteriku gembira karena buah tarbiyahnya terbukti.
Aku ceritakan kepada isteriku apa
yang telah dilakukan Marwan terhadapku, aku katakan kepadanya, “Demi Allah aku
ingin tanya kepadamu, apakah engkau telah mendikte Marwan membuka Mushaf dan
menunjuk salah satu ayat dalam surat Maryam yang ditunjukan kepadaku?” Tetapi
isteriku bersumpah “demi Allah” sampai tiga kali. Kemudian isteriku berucap, “Alhamdulillah
atas segala hidayah ini.” Malam itu adalah malam yang paling berkesan. Sejak
saat itu aku pun tidak pernah tinggal shalat berjamaah di masjid. Dan aku mulai
memisahkan diri dari teman-teman burukku dan telah merasakan kelezatan iman.
Seandainya anda melihatku saat itu anda akan dapat melihat hal itu dari
wajahku.
Sejak peristiwa itu hidupku terasa
bahagia, penuh cinta dan harmonis antara aku, isteri, dan anak-anakku,
khususnya anakku Marwan yang tuli dan bisu. Cintaku sangat besar kepadanya. Bagaimana
tidak!, dari kedua tangannyalah tersuguhkan kepadaku hidayah Allah swt.
Akhukum
Abu Marwan
Madinah
Al-Munawwarah
Disadur dari kitab Al-‘Aiduna
ilallah
---oo0oo---
- TAUBAT
AHLI MAKSIAT
Kisah ini diambil dari majalah “Al-Ummah
Al-Qatriyyah” No. 70, dari kolom bertajuk “TAUBAT”, ditulis oleh Husein Uwais
Mathar.
Sunguh sahabatku telah berubah,
tertawanya renyah lembut menyapa setiap telinga, laksana fajar menyingsing
menyambut pagi. Padahal sebelumnya tertawanya seringkali memekakkan telinga dan
menyakiti perasaan. Kini pandangannya sejuk penuh tawadhu. Sedangkan sebelumnya
penuh dengan pandangan yang destruktif. Ucapan yang keluar dari mulutnya kini
penuh dengan perhitungan, padahal sebelumnya sesumbar kesana kemari melukai dan
menyakiti hati orang, tidak peduli dan tidak ada beban dosa. Wajahnya tenang
diliputi cahaya hidayah setelah sebelumnya terkesan garang dan tidak ada belas kasihan.
Aku tatap wajahnya, dia paham apa
yang aku inginkan, lalu ia berkata, “Sepertinya engkau ingin bertanya kepadaku.
Apa yang membuatmu berubah?” “Ya, itu
yang aku ingin Tanya kepadamu”, tandasku, wajahmu yang kulihat beberapa tahun
yang lalu berbeda 180 derajat dengan wajah yang kulihat sekarang.
سُبْحَانَ مُغَيِّرِ الأَحْوَالِ
“Maha
suci Allah yang Maha merubah keadaan,” katanya penuh rasa syukur. “Hmm… pasti
di balik semua itu ada kisah menariknya,” komentarku. “Ya, kisahnya bila kukenang, selalu menambah
keimananku kepada Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, kisahnya melebihi
khayalan, namun tetap sebuah kenyataan yang telah merubah arah hidupku,
sekarang aku akan ceritakan semua kisah ini.”
Ketika aku sedang mengendarai mobil
menuju Kairo, di salah satu jembatan yang menghubungkan kota tersebut,
tiba-tiba seekor sapi dan seorang anak kecil melintas di depanku, aku kaget dan
tidak dapat mengendalikan kendaraan. Tanpa sadar mobilku terjun ke sungai, dan
aku sudah ada di dalam air. Aku angkat kepalaku ke atas agar bisa bernafas,
tetapi mobilku terus tenggelam dan air nyaris memenuhi dalam mobilku, tanganku
segera menjamah gagang pintu, tapi pintunya terkunci. Saat itu aku merasa akan
segera mati, yang terbayang adalah perjalanan hidupku yang penuh dengan dosa
dan noda. Segalanya seperti gelap, seperti berada di terowongan yang dalam dan
gelap, panik mencekam dan batinku berteriak, “Yaa Rabb… Selamatkanlah aku,
bukan dari kematian yang sebentar lagi akan kualami, tapi selamatkanlah aku
dari segala dosa yang telah melingkupi diriku, aku merasa jiwaku seperti
melayang dan mohon ampun kepada Allah sebelum menemui-Nya, lalu aku mengucap
dua kalimat syahadat, aku mulai merasa akan mati.
Aku berusaha menggerakkan tanganku
untuk menggapai sesuatu, tiba-tiba tanganku menyentuh sesuatu yang bolong, aku
ingat!, bolongan tersebut berasal dari kaca bagian depan, yang pecah sejak tiga
hari yang lalu, tanpa pikir panjang lagi, aku dorong sekuat tenaga badanku
keluar dari kaca bolong tersebut, aku kembali melihat cahaya terang, aku lihat
masyarakat menyaksikan dari tepi sungai seraya saling berteriak keras agar ada
salah seorang yang menolongku, lalu terjun dua orang dari mereka ke sungai dan
membawaku ke tepinya, dengan fisik yang lemah lunglai aku masih merasa tidak
yakin bisa selamat dan kembali hidup, dari kejauhan kulihat mobilku
perlahan-lahan terbenam ke dalam air. Sejak detik itu aku merasa sangat ingin
meninggalkan masa laluku yang penuh dengan dosa, hal itu langsung kubuktikan
sesampainya di rumah, langsung kurobek-robek gambar dan poster para selebritis
pujaan dan gambar wanita setengah telanjang yang sengaja kupajang di dinding
rumahku, lalu aku masuk ke kamar dan menghempaskan badanku di atas kasur sambil
menangis, baru pertama kali ini aku merasa menyesal terhadap dosa-dosa yang
telah kuperbuat, semakin keras tangisku dan semakin deras air mataku
bercucuran, sementara badanku gemetar. Saat itulah aku mendengar azan,
seakan-akan aku baru mendengarnya pertama kali. Aku langsung bangkit berdiri
dan segera bergegas mengambil air wudhu. Di masjid, setelah aku menunaikan
shalat, aku menyatakan taubat dan mohon kepada Allah agar mengampuniku; Sejak
itulah sebagimana yang engkau lihat sekarang wajahku berubah karena taubat.”
Aku tertegun mendengar ceritanya lalu
aku katakan kepadanya :
هَنِيْئًا لَكَ يَا أخِيْ وَحَمْدًا للهِ
عَلَى سَلاَمَتِكَ لَقَدْ أَرَادَ اللهُ بِكَ خَيْرًا وَاللهُ يَتَوَلاَّكَ وَيَرْعَاكَ
وَيُثَبِّتُ عَلَى الْحَقِّ خُطَاكَ
“Berbahagialah engkau hai saudaraku,
segala puji bagi Allah atas keselamatanmu, sungguh Allah telah menghendaki
kebaikan terhadapmu, Allah akan selalu melindungimu dan menjagamu, serta
mengokohkan langkahmu di atas kebanaran”.
---oo0oo---
3. TAUBATNYA
ARTIS SYAMS AL-BARUDY
Kisah ini diambil dari buku yang ditulisnya
sendiri, dengan judul
رِحْلَتِي مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ
“Petualanganku
dari kegelapan menuju cahaya.” Pada satu kesempatan wawancara dengan wartawan,
ia menjelaskan panjang lebar sebab-sebab mendapatkan hidayah.
“Petualanganku berawal dari masa
remajaku, ayahku –dengan karunia Allah- adalah seoarang yang religius, walaupun
menjalankannya biasa-biasa saja, begitu pula ibuku, semoga Allah merahmatinya.
Aku masih menunaikan shalat meskipun tidak disiplin. Terkadang beberapa
waktunya aku tinggalkan begitu saja, tanpa merasa berdosa karena meninggalkan
kewajiban shalat. Sayangnya aku tidak mendapatkan pelajaran agama yang cukup di
sekolah, karena pelajaran agama bukan pelajaran pokok dan pengetahuan mendasar dibanding
dengan ilmu-ilmu duniawi lainnya.
Ketika aku menamatkan Sekolah
Lanjutan (SMA/Aliyah) aku bimbang antara meneruskan
ke Fakultas Hukum atau studi senirupa, namun akhirnya aku memutuskan masuk ke akademi
seni rupa jurusan acting dan peran. Tetapi aku tidak sampai menamatkan studi,
karena aku sudah cukup menguasai ilmu acting dan peran, hanya beberapa saat
saja hidupku seperti mimpi, karirku di dunia film dan teater terus meroket,
ketenaran namaku dengan usia 16-17 tahun membuat cemburu banyak insan telivisi,
perfilman, dan jajaran artis lainnya. Di tengah-tengah puncak karirku aku mulai
merasakan adanya penolakan dari dalam diriku sendiri, hampir 2-3 tahun aku
tidak terjun lagi ke dunia film, sebagian menyangkaku telah mengasingkan diri,
aku mulai menolak beberapa skenario yang ditawarkan kepadaku, yang hanya memanfaatkan
kecantikan yang Allah berikan kepadaku, sejak saat itu kegiatan aktingku mulai
berkurang, bahkan hilang dari peredaran. Aku merasa ada pertentangan yang hebat
antara kepribadianku dan kenyataan yang aku hadapi. Aku merasakan bahwa
aktingku tidak memberikan ibroh (hikmah) yang berarti, semuanya hanya penuh
dengan kepura-puraan dan terlalu dibuat-buat.
Aku baru mulai terjun lagi ke dunia
film setelah aku menikah. Aku bermain bersama suamiku Ustadz Hasan Yusuf dalam
satu skenario yang pas untuk diriku. Di saat shooting aku selalu menyempatkan
diri untuk shalat, kalau terpaksa sampai meningalkannya aku selalu mengqodonya
seraya banyak beristighfar kepada Allah, hal itu senantiasa membuatku sedih
sekali. Di samping itu aku belum kemitmen dengan identitas dan tampilan yang
islami.
Sebelum menikah aku telah membeli
perlengkapan busana muslim di salah satu butik modern, namun setelah aku
menikah aku diajak suamiku shooping ke luar negeri untuk membeli pakaian musim
panas dan musim dingin. Aku tambah sedih karena hal itu akan memasygulkan
hatiku. Kemudian aku mulai memilih-milih baju yang cukup mewah, jika aku
tertarik dengan busana yang pendek, aku selalu membeli jaket untuk menutupi
bagian tubuhku yang mungkin masih kelihatan. Keinginan ini datang dari dalam
jiwaku sendiri. Akupun mulai senang dan gandrung dengan hijab. Bersamaan dengan
itu aku mulai gemar membaca Al-Qur’an, meskipun aku belum pernah menamatkannya.
Aku pernah menamatkannya dahulu bersama teman-teman di sekolah, tapi sayang
teman-temanku juga tidak komitmen dengan penampilan islami.
Sementara aku tetap menekuni dunia
film bersama suamiku, terkadang aku bermain bersamanya. Atau ia yang membuat
skenarionya dan aku yang memerankannya.
Kalau aku bercerita sekarang ini
bukan berarti yang kuceritakan adalah sesuatu yang indah dalam hidupku, tapi
justru aku ingin berbicara tentang satu fase dalam hidupku, yang apabila
kuingat-ingat, ingin rasanya hal itu terhapus dari lembaran hidupku. Seandainya
jam kehidupanku dapat dimundurkan kembali, aku tak ingin menjadi insan film
terkenal, aku hanya ingin menjadi muslimah yang komitmen dengan ibadah kepada
Allah swt., sebagaimana firman Allah,
وَمَا خَلَقْتُ
الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Komitmen beribadah kepada Allah dalam
pengertian yang kaffah tidaklah mudah dan terasa berat menjalankannya, tetapi
dengan karunia Allah jualah segalanya menjadi mudah dan ringan, sebagaimana
yang disabdakan Rasulullah saw. dalam hadits Qudsi,
وَمَنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ
ذِرَاعًا وَمَنْ تَقَرَّبَ إِلَى ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ باَعًا، وَمَنْ أتَانْيَ
يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً
“Barang siapa yang mendekat kepada-Ku
sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta, dan barangsiapa yang mendekat
kepada-Ku sehasta, Aku akan dekat kepadanya sedepa. Siapa yang mendatangiku
dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.”
Bacaan favoritku saat itu adalah tulisan Jean Paul Sarter dan Sigmund Freud
dan berbagai karya filsafat lainnya, aku masuk dalam kelompok diskusi filsafat,
aku juga memiliki perpustakaan. Aku gandrung dengan bacaan-bacaan tersebut
tanpa sebab yang jelas.
Saat itu aku juga berkeinginan untuk
menunaikan umrah, tetapi aku berkata pada diriku sendiri, bahwa aku belum
sanggup menjalankannya kecuali bila nanti aku telah berhijab dengan baik.
karena dalam benakku tidak logis bila aku mengunjungi rumah Allah (Ka’bah)
sementara aku belum komitmen dengan identitas dan penampilan yang islami. Namun
demikian seorang temanku mengatakan bahwa hijab bukanlah sarat untuk menunaikan
umrah. Tidak berhijabnya mereka hanya karena ketidaktahuan mereka terhadap
tuntunan Islam, bahkan mereka tetap saja tidak berubah meski telah menunaikan
umrah.
Akhirnya suamiku saja yang berangkat umrah,
aku tidak turut serta karena khawatir sepeninggalku anakku terbengkalai
pelajarannya. Tetapi selama suamiku umrah, anak perempuanku sakit, lalu
menyusul anak laki-lakiku dan akhirnya akupun juga terkena sakit, sehingga aku
bertiga dan kedua anakku seluruhnya sakit. Mungkin ini teguran dari Allah,
karena aku urung berangkat umrah. Tahun berikutnya (1982) aku pun berangkat umrah,
tepatnya bulan Pebruari. Bulan Desembernya aku baru saja kembali dari Paris dengan oleh-oleh
gaun dengan model terbaru dari salah satu butik terkenal. Tetapi ketika aku
membeli gaun perlengkapan umrah, pertama kali aku membeli gaun putih polos
tanpa asesori apapun. Tetapi ketika aku kenakan gaun itu bahkan tanpa make-up
di wajahku, aku melihat diriku justru lebih cantik.
Baru kali ini aku bepergian tidak
dibarengi dengn rasa was-was dan khawatir dengan anak-anak yang kutinggalkan,
padahal kepergianku sebelumnya selalu dihantui rasa cemas terhadap anak-anakku,
bahkan aku seringkali mengajak mereka turut serta.
Ketika aku menginjakkan kakiku di masjid
Nabawy, entah mengapa tiba-tiba aku ingin membuka mushaf meskipun aku tidak
banyak memahami maknanya. Tiba-tiba teman serombonganku menegurku, “Apakah kamu
mau berhijab (berbusana muslimah)?” “Entahlah, aku serahkan semua ini kepada
suamiku, apakah dia akan menyetujuinya atau tidak,” jawabku. Sementara aku
tidak tahu kalau tidak boleh taat dan tergantung kepada siapapun dalam hal
maksiat kepada Allah swt.
Di Masjidil Haram aku dapati beberapa
akhawat muslimah mengenakan hijab, sementara aku lebih mengutamakan i’tikaf
sambil tilawah Al-Qur’an. Suatu ketika saat keberadaanku di Masjidil Haram antar
Ashar dan Maghrib, aku bertemu dengan seorang akhawat dari Mesir yang menjadi
warga negara Kuwait, namanya Arwa, dia membacakan untukku satu puisi yang
ditulisnya sendiri, tiba-tiba aku menangis. Aku merasa puisinya sangat
menyentuh perasaanku saat itu yang selalu ingin segera berhijab, tetapi banyak
orang berkata kepadaku, “Tunggu!.... tanyakan dulu ke suamimu, jangan terlalu
terburu-buru, engkau kan
masih muda, dst….dst….” Tapi keinginanku semakin menggebu setelah mendengar
bait demi bait puisinya Arwa. Adapun puisinya sebagai berikut :
|
لاَ وَربِّي لَنْ أبَالِي
وَحَبَّانِي بِالْجَلاَلِ
وَاحْتِشَامِي هُوَ مَالِي
عَنْ مَتَاعٍ لِزَوَالِ
أَطْلُبُ السُّوْءَ لِحاَلِي
فِي حَدِيْثٍ أَوْ سُؤَالِ
|
فَلْيَقُوْلُوْا عَنْ حِجَابِي
قَدْ حَمَانِي فِي دِيْنِي
زِيْنَتِي دَوْمًا حَيَائِي
أَ لأَنِّي أَتَوَلَّى
لاَمَنِي النَّاسُ كَأَنِّي
كَمْ لَمَحْتُ اللَّوْمَ مِنْهُمْ
|
|
Mereka berkomentar tentang hijabku
|
Tidak! demi Allah aku tak peduli
|
|
Allah telah melindungi agamaku
|
Dan menjadikan aku cinta keagungan
|
|
Rasa malu perhiasan hidupku selalu
|
Kemuliaan adalah harta kekayaanku
|
|
Apakah karena aku berpaling
|
Dari kesenangan dunia yang sirna
|
|
Banyak orang mencemoohku
|
Seolah penampilanku hanya mencari
sial
|
|
Berapa banyak celaan kudapti dari
mereka
|
Baik lewat pembicaraan maupun
pertanyaan
|
Aku selalu menangis manakala
mengingat puisi ini, sangat menyentuh kenyataan hidupku. Setelah itu aku
menjalankan manasik umrah dengan melakukan thawaf dan sa’i, setelah selesai
malam itu aku tidak bisa tidur. Aku merasakan sesak dan gelisah di dadaku.
Seakan aku ditimpa gunung yang menghambat nafasku. Seakan dosa-dosaku selama
menjadi insan film dengan segala aktingnya telah mencekik leherku. Kemegahan
dunia hasil profesiku yang selama ini kunikmati seolah seperti kain melilitku.
Tiba-tiba ayahku yang ikut umrah bersamaku menanyakan kepadaku tentang
kegelisahanku. Lalu aku katakan kepadanya, “Aku ingin pergi ke Masjidil Haram
sekarang!” Padahal saat itu telah larut malam, tidak biasa bagi wanita ke
masjid, akupun minta ditemani ayahku. Sesampainya di Haram aku shalat Tahiyyat
masjid, setelah itu aku melakukan thawaf, di putaran pertama Allah memberikan
kemudahan kepadaku mencium hajar aswad, ketika itu doaku hanya satu, untukku,
suami, anak-anaku, dan seluruh keluargaku agar diberikan kekuatan iman. Tak
terasa air mataku bergulir terus mengalir tiada putusnya, sepanjang putaran
thawaf aku tak henti-hentinya memanjatkan do’a tadi. Setelah selesai putaran
yang ketujuh aku shalat di dekat Hajar Aswad dan menciumnya. Aku juga shalat di
dekat maqom Ibrahim as. Selesai shalat aku membaca surat Al-Fatihah. Anehnya Al-Fatihah yang
kubaca begitu terasa lain dalam hatiku seakan-akan aku belum pernah membacanya
selama hidupku. Aku merasakan keagungan-Nya. Tangisku semakin bertambah dan perasaanku
bergoncang. Di sela-sela thawaf tadi seakan para malaikat berada di sekeliling
Ka’bah menungguku. Aku belum pernah merasakan keagungan seperti ini dalam
hidupku.
Kemudian aku shalat lagi dua rakaat menjelang
fajar di Hijir Ismail. Setelah itu ayahku memberi isyarat kepadaku agar segera
pindah ke tempat shalat khusus wanita. Saat shalat Fajar aku merasakan diriku
telah berubah dan telah menjadi manusia baru yang sempurna. Beberapa jamaah
wanita bertanya kepadaku,
“Apakah sekarang engkau berhijab
wahai ukhti Syams?” “Dengan idzin Allah,” jawabku singkat. Sejak saat itu aku benar-banar merasa telah
berubah bukan hanya penampilanku tapi juga suaraku ketika berbicara terasa
berubah total. Itulah yang terjadi pada diriku.
Sepulangnya dari umrah aku kembalui
ke Mesir. Setelah itu aku tidak pernah melepas jilbabku. Setelah enam tahun aku
dilanda keraguan untuk merubah gaya
hidupku. Aku hanya berdo’a kepada Allah agar aku, suamiku, keluargaku, dan umat
Islam seluruhnya mendapatkan husnul khatimah di akhir hidupnya.
---ooo0oo---
- SUZY
MADZHHAR BERTAUBAT DI TANGAN WANITA EROPA
Suzy Madzhar adalah salah seorang
dari sekian banyak artis dan selebritis yang bertaubat, ia mengisahkan perjalanan
taubatnya sebagai berikut:
“Aku adalah alumni fakultas adab
jurusan jurnalistik dari sebuah Univrsitas di Mesir, aku hidup bersama nenekku,
ibu dari pamanku aktor Ahmad Madzhar. Aku habiskan banyak waktuku di keramaian
jalan, aku terbiasa mendatangi pub dan club malam, seakan-akan aku ingin selalu
menunjukan dan memamerkan kecantikanku di depan mata laki-laki yang jalang
tanpa belas kasihan, semua itu kulakukan atas nama kebebasan dan peradaban.
Nenekku sudah tua, tidak mampu
berbuat apa-apa terhadapku, termasuk bapak dan ibuku. Aku buta dengan ajaran
Islam kecuali hanya kalimatnya saja. Akan tetapi meskipun aku bergelimang harta
dan popularitas aku takut terhadap sesuatu yang bersumber dari api dan listrik.
Aku membayangkan Allah akan membakarku atas segala kemaksiatanku kepada-Nya. Aku
berkata kepada diriku sendiri, jika nenekku yang sakit-sakitan saja masih
shalat, bagaimana aku bisa selamat dari adzab Allah. Kalau ingat itu aku justru
buru-buru memalingkan perasaanku dengan tidur atau pergi ke pub dan diskotik.
Selepas pernikahanku, aku pergi ke
Italia berbulan madu bersama suamiku, di sana aku mengunjungi Vatikan Roma. Ketika
aku hendak memasukinya, aku melihat banyak para pegawai dan penjaganya memakai
pakaian kebesaran agamanya. Bila mereka begitu menghargai identitas dan syiar
agama mereka yang menyimpang, maka aku bertanya-tanya dalam hatiku, mengapa
kita sebagai muslim tidak menghargai agama kita sendiri?
Dalam gemerlap duniawiku yang semu,
aku berkata kepada suamiku bahwa aku ingin shalat sebaga rasa syukur kepada
Allah atas nikmat-Nya, “Bagiku apapun yang kau inginkan adalah kebebasan
individu,” jawab suamiku. Aku segera menuju salah satu Masjid Raya di Paris
dengan mengenakan baju panjang dan tutup kepala. Setelah menunaikan shalat aku
bergegas keluar, sesampainya di pintu masjid aku melepas baju panjang dan tutup
kepalaku seraya memasukkannya ke dalam tas, tetapi tiba-tiba seoarang wanita Prancis
bermata biru – aku tidak pernah bisa melupakan hal ini sepanjang hidupku –
dengan hijabnya yang kaffah mendekatiku, lalu ia memegang tanganku dengan
lembut dan tangannya yang satu lagi menepuk bahuku seraya menyapaku dengan
lembut,
“Allah… Kenapa anda melepas hijab
anda? Bukankah anda tahu itu perintah Allah?”
Aku tertegun mendengarkan sapaannya. Ia
terus menggandeng tanganku seraya mengajakku kembali masuk ke masjid,
sebenarnya aku berusaha ingin menolaknya, tetapi kesantunan dan kelembutan
tutur katanya membuatku tak berdaya menolak. Di dalam masjid ia kembali
bertanya kepadaku,
“Bukankah anda telah menyatakan
bahwa aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, apakah anda mengerti maksudnya? Sesungguhnya
pernyataan itu tidak cukup diucapkan dengan lisan saja, tetapi harus dibuktikan
dengan amal.”
Sungguh aku telah mendapatkan
pelajaran yang paling berharga dalam hidupku dari wanita bule tersebut, hatiku
bergetar, perasaanku luluh karena ucapan-ucapannya tadi. Kemudian ia menjabat
erat tanganku seraya berkata,
“Hai ukhti, bantulah agama ini.”
Sekeluarnya dari masjid aku tak
habis-habisnya merenung, sampai aku tidak menyadari banyak orang di sekitarku.
Sampai di suatu ketika aku menemani suamiku ke suatu tempat di mana laki-laki
dan wanita berpakaian setengah telanjang. Kelakuan mereka seperti hewan, bahkan
hewanpun tidak sampai melakukan hal itu. Mereka melepas baju mereka satu
persatu sambil mendengarkan musik. Aku benci mereka, aku juga benci diriku yang
telah tenggelam dalam kesesatan.
Aku tidak ingin melihat mereka,
aku tidak perduli orang-orang di sekelilingku, aku minta suamiku untuk keluar
agar bisa menghela nafas, kemudian setelah itu aku kemabali lagi ke Mesir.
Sesampainya di Mesir aku memulai langkahku untuk mengenal Islam, meskipun aku
memiliki gemerlap kehidupan dunia, tetapi aku belum merasakan ketenangan dan
ketentraman, tetapi aku merasakannya justru ketika shalat dan membaca Qur’an.
Aku mulai meninggalkan kehidupan jahiliyah di sekitarku, aku banyak bersimpuh
membaca Al-Qur’an siang dan malam, aku pelajari kitab Ibnu Katsir dan Sayyid
Qutub, serta kitab dan buku-buku lainnya. Aku selalu luangkan banyak waktuku
untuk membaca dengan penuh semangat dan antusias. Aku telah membaca banyak buku
dan mulai meninggalkan kehidupan dunia gemerlap yang menyesatkan. Aku mulai
berinteraksi dengan para akhawat muslimah.
Semula suamiku menentang aku
mengenakan hijab dan isolasiku dari kehidupan jahiliyah. Aku mulai meninggalkan
ikhtilath dan bersalaman dengan lawan jenis baik teman dekat maupun yang
lainnya. Ini semua adalah ujian dari Allah, tetapi ujian keimanan yang pertama
adalah berserah diri kepada Allah dan menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih aku
cintai dari selainnya. Kesulitan yang aku hadapi setelah itu adalah hubunganku
dengan suamiku. Akan tetapi alhamdulillah Allah menetapkan Islam berada di
rumah mungilku. Allah memberi hidayah kepada suamiku masuk Islam, bahkan
sekarang ia lebih baik dariku. Ia menjadi da’i yang ikhlas terhadap agamanya. Aku
kira demikian adanya. Tanpa bermaksud melampaui Allah dalam menilai seseorang. Meskipun
penyakit dan berbagai musibah duniawi menimpa kami setelah itu, kami tetap
merasakan kebahagiaan, sepanjang musibah itu menimpa dunia kami bukan agama
kami.
Disadur dari kitab Al-A’idaat
ilallah (Mereka yang kembali ke jalan Allah). Karya
Muhammad bin Abdil Aziz al-Musnid.
---oo0oo---
5.
PUTRI PENDETA
MENJADI DA’IYAH
Aku
tidak mengenal sedikitpun tentang Islam, bahkan selama hampir duapuluh tahun,
sampai aku kuliah di jurusan informatika Universitas Timbell Philadhelphia.
Pertama kali aku melirik Islam berawal ketika beberapa dosenku menyampaikan
informasi tentang Islam. Mereka menggambarkan bahwa Islam adalah agama yang
merusak (destruktif). Hal ini menggugahku untuk lebih banyak membaca literatur
tentang Islam. Setelah aku mengkajinya ternyata aku dapati semua itu hanyalah
tuduhan palsu, zalim dan penuh kebencian. Akupun segera –tanpa ragu– menyatakan
diri masuk Islam. Sejak itu aku ganti namaku menjadi Laila Ramzy.
Aku
dilahirkan di New England pada bulan Januari tahun 1959, Ayahku seorang pendeta
yang mengabdi di sebuah gereja. Sudah lama aku banyak meragukan gereja,
terlebih setelah Ayahku ingin agar aku menjadi misionaris. Akan tetapi Allah swt.
menghendakiku sesuatu yang lebih baik dan kekal. Sementara sejak kecil aku sama
sekali tidak mengenal tentang Islam. Hal ini terus berlangsung hingga usiaku 20
tahun dan mulai melanjutkan kuliah di Universitas. Di samping itu aku juga
mendapat kuliah tambahan tentang strategi politik wilayah Timur Tengah,
ternyata kuliah ini menjadi pintu kebaikan dan kebahagiaan untukku.
Dari
mata kuliah itu aku banyak mengetahui tentang negara-negara Arab-Islam. Ternyata
apa yang aku dapatkan sebelumnya informasi tentang Islam sangat jauh dari
kenyataan. Karena sejak 1400 tahun yang lalu Islam telah mewarnai kehidupan sosial
politiknya dan telah mengukir sejarahnya dengan gilang genilang. Aku bertanya
kepada diriku, “Anda lihat mengapa mereka sengaja mendelet Islam dan menjauhkan
para mahasiswa dari pemahaman yang benar terhadap Islam?” Dampaknya para
mahasiswa menganggap Islam sebagai agama yang berbahaya bagi struktur pemahaman
dunia Barat umumnya dan bagi pemikran kaum muda Nasrani khususnya.
Meskipun
ditentang oleh Ayahku, aku mulai terus membaca literatur tentang Islam. Sehingga
aku dapatkan prinsip-prinsip agama yang agung ini menghunjam dalam hatiku dan
mendomonasi pikiranku. Aku mulai memahami akidah Tauhid dan meyakini bahwa Isa
adalah manusia biasa seperti Musa, Ibrahim, dan Muhammad. Aku juga mulai
mengerti bahwa khamr, zina, dan, judi adalah sesuatu yang diharamkan. Hal ini
amat kontras dengan kehidupan yang berlangsung di Eropa dan Amerika. Akupun
mulai semakin banyak mempelajari ibadah dalam Islam; seperti shalat, puasa,
zakat, dan haji bagi yang mampu.
Aku
mulai mengumumkan keislamanku. Meskipun ayahku marah dan sedih aku memutuskan
untuk pergi ke Mesir agar bisa hidup di sana
bersama umat Islam. Di sanalah aku mempelajari Al-Qur’an lebih dalam. Di Kairo
aku juga bertemu dengan pemuda muslim yang memiliki komitmen kuat dengan
agamanya, ia menawarkan dirinya untuk menikahiku, akupun menerima dan
menyetujuinya, dan perkawinanku dengannya telah berlangsung dua tahun. Allah
telah menganugrahkan kepadaku seorang anak yang kuberikan nama islami, Toha.
Aku berdoa kepada Allah Azza wa jalla agar ia tumbuh menjadi anak yang
baik, dan menjadi penyedap pandanganku dan suamiku.
Laila
berkeinginan untuk meneruskan studi Islamnya, menghapal Al-Qur’an dan hadits
nabi agar memperoleh maslahat dari pengetahuan dan wawasannya yang sahih.
Disadur
dari kitab At-Taa’ibuuna ilallah, Syaikh Ibrahim bin Abdillah Al-Hazimy.
---oo0oo---
6.
TAUBATNYA SEORANG
LAKI-LAKI DI BANGKOK
Bangkok,
negeri yang bobrok dan rusak, negeri yang penuh dengan dosa dan nista, negeri
yang kotor dan amburadul. Ratusan pemuda bahkan orang tua pergi ke Bangkok memburu
kesenangan yang diharamkan. Lalu mereka kembali dengan keadaan merugi. Rugi
agama dan dunia, rugi tidak merasakan kebahagiaan hidup yang sesungguhnya,
bahkan sebagian mereka kembali dengan kerugian dunia akhirat. Kembali terbujur
kaku menjadi mayat, meninggalkan dunia ini dengan akhir yang jelek (suu’ul
khatimah).
Berikut
ini kisah seorang laki-laki yang mulai senja usia dengan uban di rambutnya. Pergi
ke sana (Bangkok)
meninggalkan isteri dan anak-anaknya. Akan tetapi di penghujung usianya ia mulai
sadar. Mari, kita simak kisahnya:
“Aku
tidak malu dengan uban yang memenuhi kepalaku. Aku tidak sayang kepada masa
depan anakku yang tengah menunggu pemuda yang datang mengetuk pintu untuk
melamarnya. Aku tidak perduli dengan senyum-tawa anak perempuankau yang kecil,
yang selalu memenuhi isi rumah dengan keceriaan dan kebahagiaan. Akupun tak
perduli dengan anakku yang telah menginjak usia 15 tahun. Ia adalah cermin masa
kecilku, obsesi masa mudaku, dan mimpi masa depanku. Lebih dari itu semua aku
tak menghiraukan tatapan mata isteriku yang bercampur antara sedih dan senang
ia selalu bertanya kepadaku tentang kepergianku. Pada saat itu hanya satu yang
terlintas dalam pikiranku. Aku harus segera menyiapkan tasku, memenuhi mimpi
dan anganku. Alangkah keringnya jiwaku yang hanya dipengaruhi oleh kesenangan
semata. Alangkah nistanya menelususri perjalanan yang tak jelas tujuannya, yang
hanya memenuhi panggilan syetan, itulah aku.
Aku
masih saja belum cukup dengan perlakuan isteriku. Ia wanita yang baik yang
telah menjual kehidupannya untuk membeli kefakiranku. Ia telah kenyang menelan
segala tipudayaku. Ia lewati hari-harinya dengan berusaha menutupi kebutuhan
hidup keluarga, karena pendapatanku tidak bisa diandalkan. Ia bersabar dalam
kemiskinan. Banyak mengeleuhkanku sampai bersimpuh di atas kakiku. Tetapi aku
terus mendaki duniaku di atas titian pengorbanannya. Aku lupa ia adalah seorang
wanita yang cantik dan mungil. Banyak pria kaya raya yang menginginkannya,
tetapi ia justru memilihku. Pada saat aku mesti istirahat di rumah bersama
isteriku justru aku meninggalkannya demi memenuhi ambisiku.
Aku
mulai hari pertamaku di Bangkok. Wajah isteriku selalu terlintas dalam anganku.
Setiapkali aku akan “jatuh”, tapi hal itu tidak cukup kuat utnuk menanahn
diriku. Syetan telah membutakan pandanganku. Aku terus menerus “jatuh” dan
tenggelam dalm kesia-siaan. Setiap hari aku keluar untuk membeli “kehancuran”. Aku
jual agama, kesehatan, masa depan anak-anak dan kesejahteraan keluarga. Aku
mengira bahwasanya aku beruntung, padahal aku merugi dan sia-sia, baik umur
maupun jiwa, aku hidup dengan perilaku hewani, aku memasuki saat-saat
kehancuran di Bangkok
seakan-akan aku tengah menenggak racun dari gelas kematian. Setiap kali kakiku
tergelincir dalam kubangan kerusakan. Aku tidak menghiraukan nasihat dan akalku
jauh dari hikmah. Tidak terasa seminggu telah kulewati hari-hariku di Bangkok. Aku tenggelam
dalam dunia gemerlap penuh dosa, aku telah hilang nilai kemanusiaanku dan tidak
lagi memiliki naluri kebapakan.
Terbayang
wajah anakku yang telah memasuki usia pernikahan. Seolah-olah ia mengumpatku
seraya berkata, “Apa yang membuatmu melakuakan semua ini terhadap diri kami dan
dirimu sendiri?”
Bayangan
inilah yang membuatku segara mengemas pakaianku dan kembali ke negeriku dengan
perasaan hati yang teriris-iris. Aku mulai menengadahkan kepala untuk dapat
melihat wajah isteriku. Aku mohon kepada Allah agar mau menerimaku dan
melupakan apa yang telah aku perbuat terhadap hak-haknya dan hak anak-anaknya.
---oo0oo---
7.
TAUBATNYA SYAIKH
SAID BIN MUSPIR
Dalam
kesempatan dialog terbuka dengan Syaikh Said hafidzahullah, sebagian
audien memintanya untuk bercerita perihal asal mulanya mendapat hidayah. Iapun
mulai menuturkan kisahnya seraya berkata,
لِكُلِّ
هِدَايَةٍ بِدَايَةٌ
"Setiap hidayah
pasti ada asal mulanya.”
Secara
fitrah aku beriman kepada Allah. Ketika masih kecil, aku selalu menekuni
ibadah. Tetapi setelah aku dewasa aku mulai kendur dan menyepelekannya,
khususnya shalat. Aku hanya ingat shalat ketika ta’ziyah atau setelah
mengantarkan jenazah ke kuburnya, atau setelah mendengarkan ceramah dan ta’lim
di masjid. Setelah itu imanku bertambah, sehingga aku mulai shalat dibarengi
dengan amalan-amalan sunnahnya, tetapi setelah sepekan dua pekan aku mulai
tinggalkan yang sunnahnya. Lalu sepekan dua pekan berikutnya meninggalkan yang
wajibnya, sampai menunggu lagi momen berikutnya. Setelah aku sampai usia dewasa
dan akil baligh akau semakin jauh dari shalat. Tetapi setelah aku menikah aku
terkadang shalat, terkadang meninggalkannya. Meskipun demikian aku tetap
beriman kepada Allah.
Pada
satu kesempatan ketika aku bersama Al-Akh fillah Syaikh Sulaiman bin Muhammad
bin Fayi’ –semoga Allah memberkahinya-, ketika aku mamakai pakaian olahraga,
aku bertemu dengannya di depan pintu maktab ta’lim, setelah aku mengucapkan
salam kepadanya akupun segera pamit dengannya, “Mau ke mana?” tanyanya kepadaku.
Waktu itu bulan Ramadhan. Aku katakan kepadnya bahwa aku hendak pulang, seperti
biasanya aku pulang untuk tidur hingga Magrib. Aku sering bolong shalat Ashar,
kecuali jika aku terbangun sebelum magrib, padahal saat itu aku sedang puasa.
“Sebentar lagi datang waktu Asar, bagaimana kalu kita jalan-jalan sejenak?” Aku
menyetujuinya dan kamipun berjalan ke arah bendungan danau Abha. Di sana tempatnya sejuk
penuh dengan rindang pepohonan dan semilir angin. Kami duduk-duduk di sana
hingga tiba waktu Asar, lalu kami berwudhu dan shalat Asar.
Dalam
perjalanan pulang tanganku digandenganya. Lalu ia menyampaikan kepadaku sebuah
hadits yang cukup masyhur dan aku pernah mendengarnya. Tetapi ketika itu aku
seperti belum mendengarnya. Ketika aku mendengar hadits tersebut
hatiku mulai terbuka seakan-akan aku baru mendengarnya pertama kali. Hadits
tersebut dibawakan oleh Al-Barra bin Azib ra. diriwayatkan oleh Imam Ahmad di
dalam Musnad-nya dan Abu Daud dalam Sunan-nya, Al-Barra’ berkata,
خَرَجْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَنَازَةِ رَجُلٍ مِنَ الأنْصَارِ فَانْتَهَيْنَا إِلَى الْقَبْرِ
وَلَمَّا يُلْحَدُ فَجَلَسَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَلَسْنَا
حَوْلَهُ وَكَأَنَّ عَلَى رُؤُوْسِنَا الطّّيْرُ وَفِي يَدِهِ عُوْدٌ يَنْكَتُ فِي
الأَرْضِ فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ: اسْتعِيْذُوْا بِاللهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ
- قَالَهَا مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا - ثُمَّ قَالَ: " عَنِ الْعَبْدِ الْمُؤْمِنِ
إِذَا كَانَ فِي انْقِطَاعِ مِنَ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنَ الآخِرَةِ نَزَلَ إِلَيْهِ
مَلاَئِكَةٌ مِنَ السَّمَاءِ بِيْضُ الْوُجُوْهِ…" الْحَدِيْثُ
Kami keluar bersama Nabi saw. mengantarkan jenazah
seorang laki-laki Anshar hingga kami tiba di komplek pemakaman. Tatkala jenazah
dimasukkan ke liang lahat, Rasulullah duduk dan kami pun duduk disekitarnya,
seakan di atas kepala hinggap seekor burung. Sambil menancapkan ranting kayu ke
dalam tanah, beliau mengangkat kepalanya seraya bersabda, “Berlindunglah kalian
kepada Allah dari siksa kubur.” – beliau mengulanginya dua sampai tiga kali.
Kemudian beliau bersabda, “Seorang hamba mukmin apabila akan meninggal dunia
menuju alam akhirat, seorang malaikat berwajah putih bersih dari atas langit menemuinya.”
(HR. Imam Ahmad).
Aku berkata kepadanya, “Ya Akhi, dari mana kau dapatkan hadits ini?” “Hadits
ini terdapat dalam kitab Riyadussalihin”, jawabnya singkat. “Lalu kitab apa
lagi yang anda baca?” tanyaku lagi. “Aku sedang membaca kitan Al-Kabair,
Imam Adzdzahaby,” jawabnya. Setelah berpisah dengannya aku segera bergegas ke
toko buku terdekat untuk membeli kedua kitab tersebut. Itulah kitab yang
pertama kali aku miliki. Di tengah perjalanan menuju rumah batinku berkata,
“Kini aku berada di simpang jalan, di depanku terbentang dua jalan; jalan
pertama jalan iman yang menagarah ke surga, jalan yang kedua jalan kufur,
nifaq dan maksiat yang mengantarkan ke neraka. Kini aku berada di
persimpangannya, jalan manakah yang hendak kupilih?”
Akalku menyuruhku untuk mengikuti jalan yang pertama,
sedangkan nafsu jahatku,
اَلنَّفْسُ
الأمَّارَةُ بِالسُّوْءِ
“Nafsu yang memerintahkan kepada
kejahatan.”
Menyuruhku
untuk mengikuti jalan yang kedua sambil berbisik kepadaku, “Engkau masih muda,
pintu taubat masih terbuka lebar sampai hari Kiamat. Masih banyak waktu untuk
bertaubat di kemudian hari.” Pikiran dan was-was seperti ini selalu terngiang dalam
benakku, sementara aku terus melangkah menuju rumah.
Sesampainya di rumah aku berbuka puasa, shalat Magrib,
shalat Isya dan shalat Tarawih. Seingatku, itulah shalat Tarwaih terlengkap
rakaatnya yang pernah aku lakukan. Sebelumnya aku tarawih hanya dua rakaat
saja, atau bila aku melihat ayahku shalat Tarawih juga hanya empat rakaat,
setelah itu aku pergi. Selesai tarawih aku pergi ke rumah Syaikh Sulaiman, aku
jumpai beliau baru keluar dari masjid. Sesampainya di rumahnya ia membacakan
untukku kitab Al-Kabair, awal pembahsan kitab tersebut menjelaskan tentang empat
dosa besar; pertama syirik kepada Allah, kedua sihir, ketiga meninggalkan
shalat. Dan tidak terasa kajianku bersama Syaikh Sulaiman sampai menjelang
sahur.
“Bagaimana sikap kita terhadap materi ini?” tanyaku.
“Semua ini telah termaktub dalam kitab para ulama, kita saja yang lalai,”
jawabnya.
“Tetapi orang-orang juga banyak yang lalai dari padanya, karena itu kita
harus sampaikan kepada mereka materi ini,” komentarku.
“Kalau begitu siapa yang menyampaikan materi ini?” tanyanya padaku.
“Ya antum dong!” sergahku.
“Tidak, antum saja!” desaknya padaku.
Akhirnya akupun menyanggupinya.
Pada hari Jum’at pekan itu juga, selesai shalat jum’at
aku sampaikan materi dosa besar meninggalkan shalat di sebuah masjid jami’.
Al-hamdu lillah, itulah awal istiqomahku, aku mohon kepada Allah agar aku dan
antum sekalian diberikan tsabat dalam agama-Nya. Sesungguhnya Allah maha
Mendengar lagi maha Mengabulkan do’a.
---oo0oo---
8.
AWAL CAHAYA MENYINARI KEHIDUPANKU
Assalaamu‘alaikum wahai umat terbaik, aku seorang
mahasiswa pada fakultas hukum semester III. Tinggal di wilayah perkampungan, hobiku
olahraga, postur tubuhku cukup tingi, karena itu aku bercita-cita ingin menjadi
pemain basket. Aku berobsesi ingin menjadi bintang lapangan, akan tetapi
kenyataannya ketika aku pergi ke sebuah hall yang besar aku menjadi minder
karena aku berasal dari perkampungan, mereka bukan levelku. Sejak itu aku
selalu berkeinginan ingin menaikkan levelku agar sama dengan mereka. Aku mulai
mencoba memasuki dunia gemerlap (dugem), berkenalan dengan pemuda sebaya dan
para gadisnya, kami saling berlomba dalam hal otomotif, dan merokok.
Aku tertegun sejenak ketika salah seorang temanku
menwarkan rokok yang bukan rokok biasa (ganja), aku mulai memasuki kehidupan lain,
studi bukanlah hal penting. Tetapi yang penting adalah penampilan dan
menghabiskan waktu di jalan-jalan hingga larut malam, aku sedih tidak memiliki
cukup uang agar bisa seperti yang lain. Aku terus tenggelam dalam pesta minuman
keras, tubuhku yang dulu kekar berisi, kini ringkih dan sakit-sakitan. Dalam
hatiku jauh sudah harapan bisa menjadi orang yang baik-baik.
Tetapi pada suatu hari ketika aku berada di rumah sekitar
jam tiga pagi. Aku termenung menatap dinding rumahku, lalu hatiku berkata
mengapa aku menjadi sombong. Aku abaikan keluargaku yang bersahaja yang telah
mendidik dan merawatku, “Ya Tuhan kenapa Engkau ciptakan aku?” Tiba-tiba
terdengar suara radio sayup-sayup aku dengar dari kejauhan sepenggal ayat
al-Qur’an yang menggoncangkan batinku,
وَمَا
خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia
kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”
Setelah itu
spontan aku sujud dan menangis sampai tidak terasa hingga lewat fajar, lalu aku
bangun mandi dan berwudhu. Sejak saat itu aku merasakan keajaiban, merasakan
begitu dahaga kepada Allah swt. yang telah kutinggalkan sejak lama dan merasa ada secercah cahaya yang menyinari
Kehidupanku.
Aku mulai
ber-mu’ahadah (berjanji) kepada
diriku, bahwasanya bila aku berbuat dosa, maka aku akan menggantikannya segera
dengan ketaatan kepada Allah, seperti bila aku merokok lagi, aku akan mengiqob
diriku dengan puasa sehari. Aku merasa seperti sedang membangun kembali kepribadianku,
menguatkan azamku. Sekitar dua tahun sudah berlalu aku berusaha memperbaiki
diriku. Tidak ingin lagi jauh dari masjid dan aku memohon kepada Allah semoga
diberikan tsabat di atas jalan yang lurus ini.
Saudaraku
tercinta di jalan Allah, inilah kisah seorang pemuda Mesir. Hadaanallahu wa
iyyaakum. Wassalaamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakaatuh.
---oo0oo---
9. TERBEBAS
DARI ONAK DAN DURI
بسم
الله الرحمن الرحيم
Untuk Allah segala puji yang banyak,
baik, suci, dan berkah. Sebagaimana yang layaknya bagi Kemuliaan Wajah-Nya dan
keagungan Kuasa-Nya. Shalawat dan salam untuk Nabi Al-Musthafa yang dipilih
Tuhannya untuk menyampaikan risalah yang dengan itu beliau menjadi tinggi
martabatnya.
Ikhwani fillah, sebelum aku mulai
menuturkan kisah ini, penghormatan dari hati yang tulus dengan seluruh perasaan
yang penuh dengan cinta yang suci-murni kepada setiap muslim yang telah
mengenali jalan Tuhannya, dan yang berjuang demi mencapai ridhan-Nya,
bergembiralah sebagaiamana Allah telah menyampaikan berita gembira :
وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ
سُبُلَنَا
“Dan orang-orang yang berjihad di jalan
kami, kami tunjukan jalan-jalan kami”
Ikhwani fillah, di dunia ini terdapat
surga, barang siapa yang tidak memasukinya, maka ia tidak akan masuk ke dalam surga
di akhirat nanti, ketahuilah! Surga yang dimaksud adalah surga ketaatan.
Kumulai jalan hidupku sebagai seorang pemuda yang enerjik penuh dengan
dinamika, bagaikan penguasa dunia yang bisa mendapatkan apa yang diinginkannya
dengan mudah. Hal itu karena aku berasal dari keluarga yang cukup mapan. Pada
awal studiku di perguruan tinggi jiwa mudaku mendorongku untuk berkenalan
dengan salah seorang teman mahasisiwi, sungguh ia adalah yang tercantik di
antara yang lainnya, waktu itu aku belum tahu antara kecantikan fisik dan agama
pada seorang wanita.
Hubungan di antara kami terjalin begitu
cepat, kami kerap bertemu di sekitar kampus, kaset-kaset lagu-lagu melankolis
membuat jiwa kami semakin bergelora. Kami mulai saling meminjamkan kaset. Kami
merasa memiliki hobi yang sama, bersamaan dengan waktu berlalu hubungan kami
semakin erat.
Di akhir tahun perkuliahan, saat liburan
tiba. Aku merasakan hari-hari libur menjemukan. Karena ia pergi berlibur
bersama keluarganya. Aku ingin liburan segera selesai, sehingga bisa kambali ke
kampus dan berjumpa lagi dengannya. Ayahku telah membaca gelagatku yang telah
menjalin hubungan dengannya. Ayahku sangat merestui hubunganku dengannya. Dan
dalam waktu dekat keluargu sepakat untuk segera melamarnya. Setelah proses
lamaran selesai aku merasakan kebahagian yang luar biasa dalam hatiku,
seakan-akan aku telah menggenggam dunia dengan tangan kananku. Jiwaku mulai
tenang karena telah mendapatkan wanita pujaanku.
Setelah kepuasan jiwaku terpenuhi aku
mulai menyempurnakan kebahagiaanku dengan memperdalam ilmu agama, aku mulai
rutin shalat jamaah di Masjid dan aku mulai berinteraksi dengan teman-teman
yang baru. Bersamaan dengan kebiasaanku yang sering ke masjid aku semakin
mencintai teman-teman baruku dibanding dengan teman-teman lamaku sebelumnya. Aku
mulai memahami sesuatu yang dahulu belum pernah kupahami, tetapi aku lupa
sesuatu yang tak kalah pentingnya, bagaimana aku dapat mengajak wanita
pinanganku agar dapat seiring sejalan dengan kecenderungan baruku. Aku mulai menerjuni
pergulatan dakwah, aku mulai menempuh awal perjalanan bagaiamana di satu sisi
aku tidak ingin merugikan agamaku dan di sisi lain aku tidak mau kehilangan
gadis pinanganku. Aku ingin keluar dari pergulatan ini dengan dua kemenangan
sebagaimana tertuang dalam kisah-kisah romantis.
Sebenarnya aku telah berupaya maksimal,
aku mencoba memberikannya kaset rekaman dan aku mendengarkannya terlebih dahulu
sebelum aku berikan kepadanya. Aku juga memberikan buku-buku dan membacanya
terlebih dahulu sebelum aku berikan kepadanya, hikmahnya aku menjadi bertambah
bacaanku dan pengetahuanku. Tetapi sayang ia tak bergeming dengan ajakanku dan
menolak segala upayaku, padahal aku telah melakukan yang paling utama. Setiap
upaya yang aku lakukan aku merasa bahwasanya aku semakin dekat kepada Allah,
sementara pinanganku semakin jauh dariku. Subhaanallah, ternyata hal itu
menjadi penyebab semakin mantapnya aku melangkah di jalan Allah dan aku merasa
telah mendapatkan keberuntungan akhirat. Setelah sebelumnya aku merasa telah
memperoleh keberuntungan dunia.
Subhanallah, hatiku semakin penuh dengan cinta-Nya.
Suatu ketika pinanganku terus terang
berkata kepadaku, “Terus terang aku tidak bisa hidup dengan agama terus
menerus.” Aku kaget ia berkata seperti itu, dan aku jadi bertanya-tanya, apakah
yang ada dalam benaknya hanyalah kesenanagn sahwat semata. Akhirnya aku harus
menentukan pilihan untuk “putus” dengannya. Tetapi sungguh, ini perpisahan yang
tidak menyedihkan, justru perpisahan yang dibarengi dengan kebahagiaan dengan
lembaran kehidupan yang baru, kebahagiaan bersama Allah (Ma’iyyatullah).
Setelah aku menyelesaikan studi di perguruan tinggi, aku melanjutkan kembali
studi ke Ma’had I’daaduddu’aat, dan Alhamdulillah aku dapat
menyelesaikannya dengan baik. Sejak saat itu Alhamdulillah aku mulai
aktif menulis, ceramah dan mengikuti
kajian ilmiah. Kini aku telah menjadi bagian dari kafilah para da’i, semoga
Allah senantiasa menyertaiku dan saudara-saudaraku para da’i semuanya. Wassalaamu
‘alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.
---oo0oo---
10. DI RUMAH KAMI ADA PUTRI DARI SURGA
Bismillaahirrahmaanirrahim, di rumah kami ada seorang anak penghuni
surga, demikian sahabatku menuturkan kisahnya, air mata kesedihan bergulir dari
kedua belah matanya, sungguh hal itu membuat hatiku terenyuh. Sahabatku berkata,
“Aku tidak menerima apa yang dikatakan oleh dokter anak.” Sungguh aku menjadi
lemas ketika anakku yang cantik divonis menderita kelainan fisik dan
keterbelakangan mental. Aku menolak vonis dokter tersebut dan tidak dapat
membenarkannya. Bahkan kuat dugaanku bahwa vonis itu salah. Aku berazam untuk
membawa anakku ke klinik pengobatan alternatif (Natural Medicine). Namun di
sana pun aku mendapatkan informasi bahwa anakku memang benar-benar mengidap
kelainan fisik dan mental. Mendengar hal itu, hatiku bak disambar petir dan aku
mengalami stres berat dan kegelisahan yang serius. Sepanjang malam aku terus
memikirkan anakku, dunia ini terasa bukan dunia yang kuketahui, hidupku terasa
hambar.
Aku jadi merasa berdosa kepada anakku,
ketika aku mengandungnya aku sering marah dan menangis, mungkin musibah ini
balasan atas dosaku. Namun aku berusaha memupus rasa sedihku. Aku terus
berusaha melatih putriku dengan sebagian keterampilan yang bermanfaat bagi
hidupnya. Tetapi sayangnya keterbelakangan fisik dan mental anakku tergolong
yang paling parah, sehingga sulit untuk dilatih dan diajarkan, aku mulai putus
asa dan hanya bisa pasrah, bahkan aku cenderung menerlantarkan diri sendiri,
rumahku dan anak-anakku. Aku meninggalkan perasaan yang negatif pada diriku,
sehingga aku seperti mengidap sikap yang aneh, malas, jenuh, putus asa,
depresi, suka menyendiri, dan dihantui was-was dan perasaaan yang aneh dan
tertekan, apa yang membuatku seperti ini?
Kemudian perasaanku juga mengatakan bahwa
ada yang hasad (berbuat teluh) kepadaku atas segala nikmat yang telah Allah
anugerahkan kepadaku. Karena itu aku harus mencari “orang pintar” yang dapat
mendeteksi musibah yang menimpaku, bagaimana caranya agar aku bisa selamat dari
musibah ini. Tetapi aku berpikir mengapa aku tidak pergi menemui seorang
da’iyah Fulanah sepanjang ingatanku ia orang yang sangat baik. Aku pergi
menjumpainya dan menceritakan kepadanya musibah yang kualami karena ada orang
yang hasad kepadaku, lalu ia berkata kepadaku.
“Anti yaa...Ukhti!, tidak ada yang hasad
kepada anda sebagaimana yang anda kira. Sesungguhnya yang menimpa anda
disebabkan oleh lemah iman.”
“Tidak, aku tidak lemah iman. Aku muslimah
dan masih menunaikan shalat,“ sanggahku. “Tapi apa yang anda keluhkan itu
menunjukkan jauhnya diri dari Allah dan lemahnya keimanan. Jika anda ingin
keluar dari problem ini anda sebaiknya kembali kepada Allah dan taubat yang
sungguh-sungguh kepada-Nya. Lalu penuhilah hati anda dengan cinta kepada Allah
dan menyerah secara totalitas kepada-Nya. Apakah anda tahu bahwasanya menyerah
secara total itu adalah sikap konsisten kepada Allah dan ibadah kepada-Nya
sebaik mungkin. Shalatlah dengan khusyu’ dan qiamullail, berpuasalah karena Allah,
carilah ilmu yang bermanfaat, ridhailah terhadap apa yang telah ditakdirkan
terhadap anda dan bersabarlah,” demikian ia menasihatiku.
Anda benar wahai da’iyah yang tulus ikhlas,
aku memang harus bersabar dan ridha terhadap qada dan qadar, sejak saat itu aku
mulai melangkah menuju Allah, bertaubat dan beribadah kepada-Nya. Mushaf Al-Qur’an
menjadi penghibur musibahku, zikir menjadi temanku di kala aku menyendiri,
mengadu kepada Allah menjadi kebanggan dan kelezatanku. Dan hari-hariku yang
sebelumnya gelap gulita, kini terang benderang dengan cahaya iman dalam jiwa. Alangkah
lezatnya aku merasakan semua ini, sungguh sebelumnya aku tidak pernah
mengetahui cita rasa kehidupan yang bahagia seperti yang aku rasakan sekarang
ini. Ya, aku telah melihat kehidupan ini dengan pandangan iman, aku alihkan
perasaan marah dan kesal dengan ridha kepada qada dan qadar-Nya, aku yakin
bahwa musibah ini bukan untuk menyalahkan diriku, aku percaya dengan sabda
Rasulullah saw.,
حُلْوَةُ الدُّنْيَا مُرَّةُ الآخِرَةِ
, وَمُرَّةُ الدُّنْيَا حُلْوَةُ الآخِرَةِ
“Manisnya dunia pahitnya akhirat, dan pahitnya dunia manisnya akhirat”
Jiwaku mulai tentram, hatiku mulai tenang,
aku berenang dalam lautan iman dan ilmu syar’i. Aku yakin sepenuhnya dengan
rahmat Allah swt., bahwasanya musibah tidak selalu berarti balasan terhadap
dosa saja, tapi terkadang untuk meninggikan derajat. Bahwasanya semua itu
adalah nikmat dari Allah untukku. Musibah ini memberikan inspirasi kepadaku
untuk membuka lembaga pendidikan khusus bagi anak-anak pengidap keterbelakangan
fisik dan mental, alhamdulillah sekolah yang kudirikan banyak memberikan
manfaat bagi umat Islam. Semoga Allah menerima amal kebaikanku, semua ini telah
membuatku bahagia meskipun anakku belum dapat mengambil manfaat dari sekolah
yang kudirikan, karena keterbelakangan termasuk kategori yang sangat parah,
tetapi setiap kali aku melihat putriku aku selalu berucap,
اَلْحَمْدُ للهِ فِي بَيْتِنَا طِفْلَةٌ
مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ
“Alhamdulillah di rumah kami
ada putri dari surga”
---oo0oo---
11.
WANITA PHILIPINA MASUK ISLAM KARENA SUJUD
Ikhwan dan akhawat
fillah, ini bukan kisah pribadiku, tetapi kisah yang dituturkan oleh salah
seorang akhawat Philipina, yang mendorongku untuk menyadurnya. Semoga kita
dapat mengambil ibroh dan manfaat darinya. Wanita tersebut adalah salah seorang
mahasiswi theologi, berasal dari keluarga yang teguh agamanya, yang sangat berkeinginan
menanamkan ajaran Masehi kepada anak satu-satunya. Karena itu ia dipaksa masuk
ke fakultas theologi. Dengan harapan kelak ia akan menjadi misionaris dan
penginjil. Setelah lulus ia melanjutkan studinya ke sekolah perawat. Setelah itu
ia mengajukan lamaran ke kantor penyalur tenang kerja. Akhirnya ia diterima
bekerja di Australia, hal ini sangat menyenangkan kedua orang tuanya, karena
gaji perawat cukup besar di sana.
Sehari
sebelum keberangkatannya ke Australia, ia meraskan berat hati karena ia harus
berpisah dengan orang tuanya, sedangkan ia anak satu-satunya. Tetapi tiba-tiba salah
seorang temannya memberitahu bahwa ia juga diterima di Saudi Arabia. Entah
mengapa, tanpa pikir panjang lagi ia memberitahu temannya bahwa ia memilih
bekerja di Saudi Arabia.
Orang tuanya marah besar kepadanya seraya berkata,
“Kamu
tinggalkan Australia yang terbuka, tapi kamu lebih memilih Saudi arabia yang
tertutup?” Ia tetap tidak memperdulikan orang tuanya. Ia sendiri tidak tahu
kekuatan apa yang ia rasakan saat itu, sehingga ia berani mengutarakan kepada
orangtuanya perihal kekukuhannya untuk bekerja di Saudi Arabia.
Dengan hanya
berbekal satu kopor ia akhirnya terbang ke Saudi untuk bekerja di Rumah Sakit
Raja Fahd. Pada hari-hari kerja pertamanya, ia melihat dari celah jendela kamar
perawat, para pegawai muslimnya sedang menunaikan shalat Dzuhur. Ia kaget
melihat umat Islam bersujud, untuk siapa mereka bersujud? Dan siapa yang berhak
disujudkan? Ternyata hal itulah yang mendorongnya ingin tahu banyak tentang
Islam. Dan sekarang ia telah memeluk Islam dan menjadi salah seorang juru
dakwahnya bersama suaminya. Ia berhasil mengislamkan beberapa wanita Philipina lainnya.
Inilah kisah seorang akhawat kita dari Philipina, semoga kita dapat mengambil
pelajaran darinya.
---oo0oo---
12. AKU BUKANLAH AKU
Bismillaahirrahmaanirrahim
Aku memulai
ucapanku dengan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad saw. Adapun kisahku
secara pribadi mungkin tidak terlalu menarik untuk dilirik, karena aku hanya
seorang muslimah yang biasa-biasa saja, mengerjakan ibadah yang wajib dan
sedikit yang sunnah. Adapun kisah yang ingin aku sampaikan di sini adalah kisah
ibuku yang menolak keras bila kisah ini dipublikasikan, karena ia tidak ingin
membanggakan dirinya dengan sesuatu yang dianugrahkan Allah kepadanya.
Kisah ini
bermula dari wafatnya nenekku, ibu dari ayahku. Ia sesungguhnya wanita yang
baik kepada keluarga, banyak yang menyaksikan hal ini, dan Allah menjadi saksi
atas apa yang aku ucapkan. Ketika nenekku berbaring sakit pada detik-detik
terakhir kehidupannya, ia menolak siapapun yang duduk di sampingnya -termasuk
anak-anaknya-, kecuali ibuku. Padahal ibuku penganut Nasrani. Dia duduk di
dekat nenekku seraya memegang tangannya, ibuku tidak diterima oleh keluarga
bapakku karena ia non muslim.
Yang
mengherankan, ayahku tergolong orang yang sangat kuat komitmennya dengan Islam.
Akan tetapi ia tidak memaksakan kepada isterinya untuk meninggalkan agamanya
dan agama kedua orang tuanya. Sebelum ia berusaha meyakinkannya dengan dinul
Islam. Tentu saja ayahku sangat kaget dengan sikap nenekku terhadap ibuku, lalu
ayah berusaha untuk bertanya kepada seorang tokoh agama tentang sikap ibunya
tersebut. Setelah diceritakan segalanya, tokoh agama tersebut menjelaskan bahwa
sikap tersebut menunjukan kebiasaan orang-orang saleh sebelum wafatnya, yang
ingin menyerahkan wasiat kebajikan kepada seseorang yang pantas menerimanya
dengan memegang tangannya dan menjabatnya dengan erat, namun bagaimana jika
wewenang tersebut diberikan kepada wanita non muslim seperti ibuku.
Ternyata
wasiat kebaikan itu perlahan-lahan tampak dari raut wajah ibuku dan
perilakunya. Pada hari ketiga kematian nenekku, ibu berbicara kepada ayah
seraya meminta kepadanya untuk pergi ke pengadilan agar status agamanya dirubah
secara resmi dan memiliki legalitas hukum. Ya, ibuku telah menyatakan
keislamannya. Terus terang semula ayahku tidak mempercayainya, lalu aku
berbicara empat mata dengan ibuku dan menanyakan kepadanya mungkin ada yang
memaksanya, karena aku tidak ingin ibuku menjadi lemah keislamannya karena
dipaksa. Aku ingin keislaman yang kuat dan sempurna, tetapi ternyata aku dapati
ibuku memiliki potensi keimanan yang cukup besar, karena ketika kecil ibuku
selalu melatihku hapalan Al-Qur’an juz 30. Ibuku ingin sekali dapat membacanya kembali
menikmatinya dan menghapalnya, ia mulai merasakan manisnya Al-Qur’an. Hatinya
telah dilembutkan oleh Al-Qur’an, ia telah berhsil menghapal surat Al-Baqarah,
bahkan sampai ke surat Yusuf, dan hapalannya terus bertambah, semakin tambah hapalannya,
semakin bertambah keimanannya.
Akan tetapi
di suatu pagi, setelah bangun dari tidurnya, ibuku mencari-cari ayahku ingin
membicarakan sesuatu kepadanya, sepertinya ada sesuatu yang sangat penting. Seusai
ibuku berbicara kepada ayahku dan setelah kulihat keadaan ibuku mulai tenang.
Aku bertanya kepada ibuku ada masalah apa sebenarnya? Akhirnya ibuku bercerita
bahwa ia mimpi dirinya meninggal dunia, lalu ia berwasiat kepada ayahku bila
kelak ia meninggal dunia, ia minta dimakamkan di tempat ibu mertuanya (nenekku).
Dan ayahku menyetujuinya. Di kemudian hari –ia melanjutkan ceritanya- pada saat
ia meninggal dunia, orang-orang mulai menggali makam nenekku untuk menempatkan
jenazahnya di atasnya. Ketika makam nenenku mulai digali dan jasad neneku mulai
ditemukan tiba-tiba ada secercah cahaya besar terpantul nyaris membutakan mata,
semua yang hadir saat itu berucap “Maa syaa Allah, maa syaa Allah,” ia (nenekku)
benar-benar wanita shalihah.
Kemudian
setelah itu jasadnya (Ibuku) diletakkan di atas jasad nenekku, tiba-tiba muncul
kembali kilatan cahaya yang besar yang tidak didapati oleh manusia biasa,
orang-orang yang hadirpun berucap lagi dengan nada yang tinggi, “Ma syaa
Allah, ma syaa Allah”, wanita salihah di atas wanita salihah, ketika ibuku
selesai menceritakan semua mimpinya. Tiba-tiba kami sama-sama menangis. Aku
berkata dalam hatiku bahwasanya jika Allah ingin memberikan kepada seseorang
derajat tertentu, maka Allah akan memberikan isyaratnya ketika masih hidup di
dunia. Dan tanda-tanda yang berbeda dengan yang lainnya, tetapi kisah ini belum
berakhir, sebab perlu diketahui keislaman ibuku belum sempurna, meskipun telah hapal
Al-Qur’an dan berpuasa.
Pada bulan
Ramadhan aku shalat Subuh sendirian, ayahku shalat di masjid sedangkan ibuku
tengah kuhsyu menghapal Al-Qur’an. Sebelum shalat Subuh aku shalat sunnah
terlebih dahulu, selesai shalat tiba-tiba ibuku memintaku mengajarkannya
shalat. Betapa senangnya aku, tapi aku tak ingin menunjukan kegembiraanku
karena hal itu memang sudah kewajiban. Tetapi yang aneh di hari berikutnya
ketika aku mengajaknya shalat Subuh ibuku sepertinya enggan, mungkin karena belum
merasakan nikmatnya shalat. Secara logika tidak mungkin Allah menghalanginya
dari kenikmatan shalat bila ia menyenanginya. Ibuku tidak pernah membaca Al-Qur’an
di siang hari, sejak masuk Islam ia lebih memilih membaca Al-Qur’an di malam
hari karena lebih khusyu’ dan tenang. Pada suatu malam ia membaca Al-Qur’an
sampai pada salah satu ayat dalam surat yunus yang berbunyi,
وَمَا تَكُوْنُ فِيْ
شَأْنٍ وَّمَا تَتْلُوْا مِنْهُ مِنْ قُرْاٰنٍ وَّلَا تَعْمَلُوْنَ مِنْ عَمَلٍ
اِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُوْدًا اِذْ تُفِيْضُوْنَ فِيْهِۗ وَمَا يَعْزُبُ
عَنْ رَّبِّكَ مِنْ مِّثْقَالِ ذَرَّةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِى السَّمَاۤءِ
وَلَآ اَصْغَرَ مِنْ ذٰلِكَ وَلَآ اَكْبَرَ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ
“Kamu
tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Qur’an
dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan kami menjadi saksi atasmu
di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun
sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan
tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam Kitab
yang nyata (Lauh mahfuzh).” (Yunus: 61).
Setelah
membaca ayat tersebut ia keluar dari kamarnya sambil menangis, tidak ada
seorangpun di dekatnya waktu itu, kecuali penjagaan (ri’ayah) dari Allah swt. Kemudian
ia teringat bahwa beberapa malam lalu ia bermimpi berada di satu tempat yang
tidak diketahui apakah di bumi atau di langit, tempatnya terasa hampa dan
sunyi. Lalu ia mendengar suara yang indah dan lirih berkata kepadanya, “Hai,
Fulanah engkau menghapal Al-Qur’an tapi engkau hanya mendapatkan lelahnya saja,
engkau butuh sesuatu yang dapat membuat hapalanmu membuahkan pahala, bila tidak
maka apa yang engkau lakukan hanya banyak melelahkan diri saja.” Mimpinya pun
berhenti sampai di situ. Ibuku terus menangis, ia tidak tahu apa yang harus
diperbuat, ia mencoba bangun untuk shalat, tetapi kedua belah bibirnya terasa
berat ketika membaca Al-Fatihah. Selesai shalat ia tetap terus menangis. Ia terus
beristighfar dan bersumpah di hadapan Allah swt. dan berjanji tidak akan
meninggalkan shalat lima waktu.
Setelah itu,
alhamdulillah ibuku mulai tekun menunaikan shalat. Tidak hanya yang
fardu tetapi juga shalat sunnah lainnya. Tetapi kisah ibuku belum selesai,
sebab ibuku belum mengenakan hijab (jilbab) dengan baik dan belum menunaikan
ibadah haji ke Baitullah. Aku menyadari ibuku yang baru dua tahun memeluk Islam
tentu belum bisa menunjukan keislamannya secara kaffah, dibandingkan aku yang
telah memeluk Islam sejak lahir. Aku berharap di masa mendatang akan bertambah
kisah tentang kebaikan-kebaikan ibuku dalam menjalankan Islam secara
sungguh-sungguh dan kaffah. Aku
yakin Allah Mendengar dan Maha mengabulkan harapan dan keinginan hamba-Nya. Amin
yaa Mujiibasssaailiin.
---oo0oo---
13. APAKAH AKU BOLEH TAMAK TERHADAP
RAHMAT ALLAH
Assalaamu ‘Alaikum, terus terang, aku ragu-ragu untuk
menyampaikan semua ini, ini pertama kali aku merasa kuat untuk menceritakan
perihal diriku. Mengenang saat-saat yang mengenaskan yang membuat diriku
berubah menjadi “manusia” yang lain. Aku seorang pemuda yang diuji oleh Allah swt.
hidup di tengah suasana yang jauh dari agama di salah satu negeri di kawasan Teluk.
Di depan mataku teman-teman di sekelililingku selalu menganggap indah
kemaksiatan, demikian pula halnya pada keluargaku dan teman-teman kuliahku. Aku
banyak menghabiskan waktu di depan internet. Melalui internet aku banyak
memiliki kenalan baik pria maupun wanita. Di antara mereka yang kukenal ada
seorang gadis yang kebetulan tinggal sekota denganku, hubunganku cukup dekat
dengannnya, bahkan aku merasa kehidupanku hampa bila tidak berkomunikasi
dengannya baik melalui internet atau telepon.
Suatu hari aku bersepakat dengannya untuk
bertemu di pusat perbelanjaan, aku ingin menunjukinya tempat membeli CD
komputer. Begitulah aku pergi bersamanya dengan mudah tanpa halangan yang
berarti. Di hari lain aku pergi bersamanya ke suatu tempat, –meskipun aku
merasa salah dengan kepergianku bersamanya, tapi aku hanya menganggap
hubunganklu dengannya hanyalah teman biasa-, Dalam perjalanan pulang aku tidak
sadar tiba-tiba di hadapanku melaju kendaraan besar dengan kecepatan tinggi
hampir menabrak mobilku, tapi aku segera berusaha menghindar, namun aku lepas
kendali karena remnya tidak berfungsi, mobilku menghantam trotoar dan terus
melaju di atasnya sepanjang kurang lebih 50 meter. Saat itu aku merasa hidupku
tidak lama lagi, dan waktu itu aku terbayang bagaiman aku harus bertemu kepada
Allah (meninggal) dalam keadaan seperti ini? (berduaan dengan wanita yang bukan
mahram).
Aku berusaha sekuat tenaga keluar dari
mobilku, ketika aku hendak mengeluarkan kepalaku, api setinggi satu meter mulai
menyala di bagian depan mobil. Menakutkan sekali, aku terbayang dengan api
neraka yang siap menyergapku. Saat itu aku tidak ingat lagi apakah aku
menangis, berteriak, aku tidak tahu. Yang penting aku tidak mau mati saat itu. Atau
paling tidak aku tidak mau mati dalam keadaan dilumat api. Baik api dunia mupun
api akhirat. Akupun sadar bahwa aku tidak sendirian di dalam mobil, teman
wanitaku tidak sadarkan diri, namun berkat kasih sayang Allah jualah aku
berhasil membawa temanku keluar dari bagian belakang mobil tersebut. Aku tidak
tahu mengapa aku memiliki kekuatan yang besar saat itu.
Antara sadar dan tidak aku lihat banyak
orang berkerumun di sekelilingku. Setelah itu aku benar-benar tidak ingat
apa-apa lagi. Aku baru tersadar kembali ketika sudah berada di tempat tidur
sebuah rumah sakit. Dari sinilah aku mulai penderitaanku. Aku tidak masuk
kuliah beberapa pekan, 50% luka-lukaku mulai sembuh. Pada saat itulah aku
dijenguk oleh teman sekuliahku, ia memberiku hadiah sebuah kaset. Aku heran
ingin terus mendengakannya, kaset tersebut adalah kaset Al-Qur’an. Setiap kali
aku hidupkan kaset itu, aku merasakan ayat-ayat Al-Qur’an tertuju kepadaku. Aku
mulai membenci diriku sendiri, aku telah banyak menghabiskan umurku dengan
mengabaikan Al-Qur’an.
Setelah pulih aku kembali ke kampus dan
bertemu kepada teman yang telah memberiku kaset. Tiba-tiba dia memberitahukan
kepadaku sebuah berita yang menakjubkan, katanya ia pernah bermimpi bahwa aku
butuh pertolongannya. Maka dari itu ia memberikan kepadaku hadiah kaset
Al-Qur’an. Aku bersyukur kepada Allah Yang telah menolongku dan memantapkan
(tsabat) diriku kepada kebenaran. Sesungguhnya sejak saat itu aku berjanji akan
meninggalkan teman-teman jahatku, memperhatikan aturan-aturan Allah, dan
menjauhkan hal-hal yang diharamkan. Semoga kisahku ini menjadi hikmah bagi
siapa saja yang membacanya agar lebih mengedepankan rasa takut kepada Allah
sebelum bertindak dan berbuat. Semoga Allah memberikab tsabat dan rahmat-Nya
kepada kita semua. Amin.
---oo0oo---
14. TIDAK
MENGURANGI HAK ALLAH DEMI MENYENANGKAN ORANG LAIN
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Pertama kali aku ingin menekankan bahwa
peristiwa yang indah ini menggambarkan kepada kita semua, bahwa betapa hidayah
bukanlah sesuatu yang jauh, tapi dekat dengan kejadian kita sehari-hari. Aku
ingin memulia kisah yang sederhana ini, kisah yang mungkin telah banyak
terjadi. Ini bukan kisah hidayah bila dilihat dari muatan nasihat dan pelajaran
yang harus diambil oleh seorang pemudi kaitannya dengan sosok suaminya
mendatang.
Pada awalnya aku adalah seorang pemudi
yang tertarbiyah dengan akhlak yang terpuji. Aku selalu menjaga diriku. Tidak
mau berhubungan dan terikat (menjalin cinta) dengan siapapun, kecuali dalam
kontek khitbah (dilamar). Meskipun telah banyak orang yang menginginkanku,
karena dalam pandangan mereka parasku cukup menarik. Tapi aku menolak siapapun
yang “mendekat” (pedekate) kepadaku bila hanya untuk mengikat (pacaran) bukan
untuk menikah.
Setelah selesai kuliah, orang yang pernah
kutolak sebelumnya datang untuk menghitbahku. Pada awalnya, ia menunjukan sikap
yang simpatik, menyenangkan dan penuh kelambutan. Ia terus “pedekate” kapadaku.
Sebagai seorang wanita aku pun mulai cenderung kepadanya, karena ia adalah
laki-laki pertama yang mendekatiku. Akan tetapi lama kelamaan sifat aslinya
mulai kelihatan. Meskipun ini adalah isyarat dari Allah untuk tentang keburukan
orang tersebut. Sebagaimana saat aku sering berdiskusi dengannya, dengan nada ingkar
ia berkata kepadaku,
“Sudahlah, jangan berpikir lagi tentang
hijab.” Aku mulai curiga dengannya,
tetapi aku tetap menjalin hubungan dengannya. Hubungan yang diinginkannya
cenderung kepada hal-hal yang melampaui batas, walaupun tidak sampai kepada
dosa besar. Aku selalu berusaha menolaknya. Lama kelamaan ia mulai menjauhiku
dan aku dapati dia telah menjalin hubungan dengan wanita lain. Tanpa menunda-nunda
waktu lagi aku batalkan khitbahnya terhadap diriku..
Aku bersyukur kepada Allah yang telah
menyelamatkan diriku dan hijabku. Benar ia telah menjauhiku tapi hal itu justru
kenikmatan dari Allah untukku. Aku hanya mengambil hikmahnya, mungkin bila
kuteruskan hubunganku kepadanya akan terjadi hal-hal yang tidak terpuji di
kemudian hari. Kerena itu aku menghimbau kepada teman-temanku sesama wanita,
agar benar-benar selektif dalam memilih pasangan hidup. Jangan sampai menjalin
hubungan yang mendatangakan murka Allah. Sebab hubungan seperti itu akan
manjauhkan keduanya dari keberkahan Allah, dan tidak akan mendapatkan
kebahagiaan dunia dan akhirat.
Ya Allah berikanlah hidayah kepada siapa
saja yang melakukan maksiat kepada-Mu, ya Rabb!
---oo0oo---
15. DAN
JIKA HAMBAKU MEMINTA KEPADAKU........
Ini kisah nyata!, bukan fiksi. Jam
menunjukan angka 4 pagi. Suasana hening. Tak ada yang bergerak kecuali dedaunan
pohon yang ditiup oleh angin malam hari. Ujung-ujuang dahan merangkul jendela
rumahku. Tiba-tiba alarm berbunyi. Khadijah langsung mematikan alarm. Bangun
dan bergegas ke kamar mandi. Langkahnya begitu berat karena ia tengah
mengandung 8 bulan. Perutnya semakin membesar dan kakinya membengkak. Mudah
lelah, nafasnya berat dan wajahnya pucat, matanya membengkak karena banyak
menangis.
Ia tetap bangun malam itu, padahal adzan
subuh masih satu jam lagi. Khadijah adalah teman dekatku, usia perkawinannya
sekitar tiga tahun. Pada saat diberitakan positif hamil, ia dan suaminya
sangat girang membayangkan segera dapat menggendong anak pertamanya. Namun pada
beberapa bulan usia kehamilannya di saat visit ke dokter spesialis kandungan,
setelah mendapatkan pemeriksaan sebagaimana biasa, lalu dokter tersebut
mengatakan bahwa bayi yang dikandungnya mengalami kelainan organik, hanya
memiliki satu ginjal! Subhaanallah, ini terjadi di negeri Barat, yang
ilmu kedokterannya sangat maju. Tetapi para dokternya tidak memiliki perasaan
manusiawi sedikitpun, salah satu korbannya adalah temanku Khadijah yang secara
psikologis menjadi takut dan mencekam setelah mendengar vonis dokter perihal
bayinya.
Khadijah
keluar dari pemerikasaan dengan wajah yang layu. Seperti orang yang linglung
tidak tahu bagaimana bisa sampai ke rumah, kelahiran pertama dengan bayi yang
hanya memiliki satu ginjal? Apa yang harus dilakukan? Ataukah dokternya yang
salah mendiagnosa? Khadijah dan suaminya tetap berikhtiar ke dokter lain,
tetapi tetap saja mereka menjelaskan diagnosa yang sama, satu ginjal!!! Setiap
kali visit ke dokter harapannya semakin tipis, hingga akhirnya ia pasrah menerima
kenyataan. Dokter terakhir yang menjadi langganannya mengatakan bahwa hendaknya
ia jangan membuat dirinya menjadi lelah dan stres, karena hal itu tidak akan
merubah keadaan anaknya. Setelah itu ia sadar bahwa tidak ada yang dapat
diperbuat olehnya melainkan menghadap Allah dengan do’a. Sejak saat itu ia selalu
bangun di sepertiga malam untuk tahajud dan mendoakan anak yang kelak akan
dilahirkannya, ia yakin dengan firman Allah,
وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ
الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ
لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ
“Dan
apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, maka (jawablah),
bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa
apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala
perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada
dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)
وَاِنْ يَّمْسَسْكَ
اللّٰهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهٗٓ اِلَّا هُوَ ۗوَاِنْ يَّمْسَسْكَ بِخَيْرٍ
فَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
“Dan
jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang
menghilangkannya melainkan dia sendiri. Dan jika dia mendatangkan kebaikan
kepadamu, maka dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.” (QS. An-An’am: 17)
وَاِنْ يَّمْسَسْكَ
اللّٰهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهٗ ٓاِلَّا هُوَ ۚوَاِنْ يُّرِدْكَ بِخَيْرٍ
فَلَا رَاۤدَّ لِفَضْلِهٖۗ يُصِيْبُ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ ۗوَهُوَ
الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
“Jika
Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat
menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka
tak ada yang dapat menolak kurniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa
yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah yang Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus: 107)
وَقَالَ رَبُّكُمُ
ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ
عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ ࣖ
“Dan Tuhanmu
berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.
Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk
neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". (QS. Ghafir: 60)
Juga Rasulullah saw. bersabda,
يَنْزِلُ
رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ
الدُّنْيَا, حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرِ فَيَقُوْلُ: مَنْ يَدْعُوْنِي
فَأَسْتَجِيْبُ لَهُ, مَنْ يَسْأَلُنْي فَأُعْطِيهِ, مَنْ يَسْتَغْفِرُنْي فَأَغْفِرُ
لَهُ" (رواه البخاري ومسلم)
“Setiap malam Allah Ta’ala turun ke langit
dunia, ketika datang sepertiga malam terakhir, lalu Allah berfirman, “Barang
siapa yang berdoa kepada-Ku akan Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku, Aku
berikan, siapa yang memohon ampun kepada-Ku Aku ampuni”. (HR Bukhari Muslim).
Khadijah yakin tidak ada tempat untuk
mengadu kcuali kepada-Nya, karena itu ia tidak ragu-ragu untuk selalu bangun
satu jam sebelum fajar atau lebih. Meskipun kehamilannya menyebabkan lelah dan
kurang tidur. Setiap malam selalu bangun di sepertiga akhirnya, sujud di tempat
shalat dengan penuh khusyu, seraya memohon kepada Allah agar dikaruniai
seoarang putri yang sehat dengan ginjal normal (dua ginjal). Ia terus berdo’a
dengan suara yang lirih. Tangisnya membasahi alas sujudnya. Tidak luput
semalampun dan tidak bosan sedikitpun dari sujud dan ruku’. Meskipun
melakukannya dengan susah payah, ia tidak surut dari usahanya dan tidak
mengeluh sedikitpun. Setiap kali dokter kandungan memberitahukan hasil
pemeriksaan, semakin bertambah semangatnya untuk qiyamullail di sepertiga malam
terakhir.
Suaminya sangat iba kepadanya setiap malam
bangun untuk bermunajat, sang suami khawatir isterinya depresi ketika putrinya
lahir dengan satu ginjal. Namun ia sadar bahwasanya Allah swt. terkadang
mengabulkan do’a di akhir (last minutes), sebagaimana Rasulullah saw. bersabda
dari Abu Said Al-Khudry,
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ
فِيْهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيْعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ الله بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ:
إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يُدَخَّرَهَا لَهُ فِي الآخِرَةِ
وَإِمَّا أَنْ يُصْرَفَ عَنْهُ مِنَ السُّوْءِ مِثْلِهَا قَالُوْا إِذًا نُكْثِرَ
قَالَ اللهُ أَكْثَرُ" رواه أحمد
“Tiada seorang muslim berdo’a dengan do’a
yang tidak mengandung unsur dosa dan memutus silaturrahmi, melainkan Allah berikan
kepadanya tiga kemungkinan: dipercepat pengkabulan do’anya, ditangguhkan
pengkabulan do’anya sampai di akhirat nanti, atau dihindarkan dari keburukan
sebanding dengan kebaikan yang diminta. Para sahabat berkata, “Kalau begitu
kita minta sebanyak-banyaknya.” Nabi bresabda, ”Allah lebih banyak lagi
(karunia-Nya).” (HR. Ahmad).
Ia selalu mengingatkan suaminya bahwa
tidak ada jalan baginya kecuali meminta kepada Allah. Jika tidak meminta kepada
Allah, kepada siapa lagi kita meminta? Sebagaimana syair mengatakan :
لاَ تَسْأَلَنَّ بَنِي آدَمَ حَاجَـــةً
# وَسَلِ
الَّذِيأَبْوَابُهُ لاَ تُحْـــجَبُ
اللهُ يَغْضَبُ إِنْ تَرَكْتَ سُؤَالَهُ # وَبَنِي آدَمَ حِيْنَ يُسْأَلُ يَغْضَبُ
|
Jangan meminta sesuatu
kepada anak Adam
|
Mintalah kepada Yang
pintu-Nya tak tertutup
|
|
Allah
marah jika anda tidak meminta-Nya
|
Sedang anak Adam marah jika
diminta
|
Bagaimana
anda tidak meminta kepada Allah swt., sementara Rasulullah telah meriwayatkan
dari Tuhan melalui hadits qudsi,
يَا
عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي
صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ
ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلَّا كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْر
“Hai
hambaku, seandainya yang pertama dari kalian dan yang terakhir dari kalian,
seluruh manusia dan jin berdiri di satu tempat, lalu mereka meminta kepadaku,
maka akan aku kabulkan permintaannya masing-masing, tidak ada yang berkurang
sedikitpun dari-Ku, kecuali seperti berkurangnya air laut ketika jarum
dimasukkan ke dalamnya lalu diangkatnya” (HR. Muslim)
Dua pekan
sebelum kelahirannya, Khadijah datang ke rumahku. Ketika masuk waktu Zuhur kami
shalat berjamaah. Ketika aku bangun dari shalat, tangannya merengkuh tanganku
seraya berkata bahwasanya ia merasakan sesuatu yang aneh. Lalu kami segera
pergi ke rumah sakit, ternyata hal itu adalah tanda-tanda akan melahirkan. Aku
berdiri di sampingnya. Ia terus banyak berdoa dan memohon semoga anaknya yang
lahir selamat dan normal dengan dua ginjal. Setelah berjuang antara hidup dan
mati, putrinya pun lahir, ia memberinya nama “Fatimah”. Fatimah lahir dengan
berat badan yang kurang, posturnya kecil, akibat dari hanya satu ginjal yang
dimilikinya. Khadijah menangis dan akupun tak kuasa menahan tangis, karena
membayangkan bagaimana Fatimah dapat hidup dengan hanya satu ginjal?
Tiba-tiba
dokter datang dan yang mengejutkan dokter tersebut berkata bahwa ternyata
Fatimah kondisinya sehat dan yang lebih mengagetkan lagi dokter menyatakan
bahwa ternyata ginjalnya dua (normal). Kami terhenyak sejenak seperti tak
percaya dengan semua ini. Subhaanallah! Alangkah Penyayangnya Allah kepada
makhluk-Nya. Kini Fatimah berumur 5 tahun, semoga Allah melindunginya dan
menjadikannya sebagai penyedap mata bagi yang memandangnya.
---oo0oo---