Sunday, April 26, 2026

Al-Qalam

Pengantar

Rasanya tidak mungkin menentukan tanggal turunnya surah ini, balk bagian permulaannya saja maupun keseluruhannya. Sebagaimana tidak mungkin dipastikan bahwa bagian permulaan lebih dahulu diturunkan, kemudian disusul bagian-bagian berikutnya. Juga tidak mungkin dapat ditarjihkan kemungkinan-kemungkinan ini. Karena bagian permulaan dan bagian akhir surah membicarakan hal yang sama, yaitu terus-menerusnya orang-orang kafir mengata-ngatai Nabi Muhammad saw. dan mengatakannya gila.

Riwayat riwayat yang mengatakan bahwa surah ini merupakan surah yang turunnya menempati urutan kedua sesudah surah al-Alaq memang banyak jumlahnya, dan di antara yang disepakati di dalam urutan mushhaf yang berbeda-beda bahwa is adalah surah kedua. Akan tetapi, konteks surah, temanya, dan metode penyampaiannya menjadikan i:ami menguatkan pendapat lain. Sehingga, hampir jelas bahwa is turun setelah masa senggangnya dakwah umum, yang datang setelah sekitar tiga belas tahun dakwah fardiyah 'secara individual', yang pada waktu itu kaum Quraisy menolak dan memerangi dakwah ini. Sehingga, mereka mengata-ngatai Rasulullah dengan perkataan yang buruk itu. Lalu, AI-Qur’an menolak dan menyanggahnya, dan mengancam orang-orang yang memusuhi dakwah dengan ancaman yang disebutkan dalam surah ini.

Kemungkinan, permulaan surah ini turun lebih awal secara tersendiri sesudah turunnya surah al-_Alaq. Adapun kegilaan yang ditiadakan di dalamnya avat 2), 'Berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila, " itu datang sesuai dengan apa yanag dikhawatirkan Nabi saw atas dirinya pada awal turunnya wahyu semoga yang demikian itu bukan kegilaan yang menimpanya... maka kemungkinan ini sangat lemah.

Pasalnya, mengenai kekhawatiran seperti ini sendiri tidak terdapat riwayatnya yang jelas. Karena konteks surah menunjukkan bahwa penyanggahan ini adalah terhadap apa yang disebutkan dalam firman Allah pada bagian akhir surah ini.

"Sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar Al-Qur’an dan mereka berkata, 'Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila (al_Qalam: 51)

Maka, hal inilah yang dinafikan (ditiadakan) di dalam pembukaan surah ini, sebagaimana yang akan segera ditangkap oleh orang yang membaca seluruh rangkaian surah ini.

Demikian pula dengan riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa di dalam surah ini terdapat beberapa ayat Madaniyyah dari ayat 17 hingga ayat 33. Yaitu, ayat-ayat yang membicarakan kisah para pemilik kebun beserta cobaan yang menimpa mereka. Juga ayat 42 hingga ayat 50 yang membicarakan kisah Nabi Yunus yang berada di dalam perut ikan.... Kami menganggap kemungkinan ini sebagai kemungkinan yang jauh, dan kami berkeyakinan bahwa surah ini secara keseluruhan adalah Makkiyyah, karena ciri kemakkiyyahan ayat-ayatnya sangat mendalam. Hal ini sangat relevan karena kesesuaian tema-temanya dengan kondisi yang dihadapinya saat surah ini turun.

Menurut hemat kami, surah ini bukanlah surah kedua dalam urutan turunnya. la turun sesudah masa diutusnya Nabi saw. dan diperintahkannya beliau melakukan dakwah secara umum, dan sesudah turunnya firman Allah.

"Dan, berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. " (asy-Syuu'ara': 214)

Juga setelah turunnya sebagian Al-Qur'an yang memuat kisah-kisah dan informasi-informasi orang¬orang dahulu yang mereka komentari dengan mengatakan,

"... (Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala. " (al-Qalam: 15)

Dan, juga setelah kaum Quraisy secara keseluruhan diseru kepada Islam, lantas mereka menolak seruan ini dengan melontarkan tuduhan-tuduhan batil dan peperangan yang sengit. Sehingga, di-perlukan sikap yang tegas terhadap orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah sebagaimana disebutkan dalam surah ini, juga ancaman yang berat pada bagian permulaan dan bagian akhir surah ini pula. Pemandangan di bagian akhir surah ini juga mengesankan hal itu.

"Sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar Al-Qur’an dan mereka berkata, 'Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila. "'(al-Qalam: 51)

Nah, ini adalah pemandangan tentang dakwah umum terhadap kelompok-kelompok besar, sedang pada permulaan dakwah keadaan tidak demikian. Karena, dakwah pada permulaan itu hanya ditujukan kepada individu dengan metode yang sesuai dengan masing-masing individu pula, dan tidak disampaikan kepada orang-orang kafir secara keseluruhan. Hal ini tidak pernah terjadi, sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat yang kuat, melainkan sesudah tiga tahun sejak dimulainya dakwah.

Surah ini juga mengisyaratkan bagaimana kaum musyrikin berusaha menemui Nabi saw. di tengah jalan dan berlunak-lunak untuk saling merelakan dalam persoalan yang mereka bertentangan dengan beliau dalam hal ini, yaitu persoalan akidah.

'Mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu)." (al-Qa1am: 9)

Jelaslah bahwa usaha semacam ini tidak mungkin terjadi kalau dakwah itu dilakukan secara individual (orang perorang), dan tidak ada urgensinya. Maka, usaha semacam ini dilakukan setelah dakwah di-lakukan secara terang-terangan dan kaum musyrikin merasa terancam olehnya.

Demikianlah banyaknya saksi atau bukti yang menunjukkan bahwa surah ini turun pada masa belakangan sesudah masa-masa permulaan dakwah, yaitu terdapat tenggang waktu sekitar tiga tahun atau lebih antara permulaan dakwah dengan turunnya surah ini. Tidak masuk akal selama tiga tahun tidak ada ayat Al-Qur'an yang turun. Sudah tentu pada masa-masa itu terdapat banyak surah Al-Qur' an yang turun, dan ada beberapa bagian dari surah¬surah itu yang turun pada masa tersebut, yang membicarakan masalah akidah dengan tanpa ada serangan yang sengit dari orang-orang yang men¬dustakannya seperti yang disebutkan dalam surah ini sejak bagian permulaan.

Akan tetapi, hal ini tidak menutup kemungkinan surah ini dan surah al-Muddatstsir serta al-Muz¬zammil turun pada masa-masa permulaan dakwah, meskipun bukan yang pertama kali turun sebagai mana disebutkan dalam mushhaf-mushhaf, dengan alasan-alasan yang sudah kami sebutkan di sini. Hal ini juga hampir berlaku bagi surah al-Muzzammil dan al-Muddatstsir.

Tanaman ini (tanaman akidah islamiah) ditaburkan di muka bumi untuk pertama kalinya dalam bentuknya yang tinggi, murni, dan indah. la terasa asing di dalam perasaan jahiliah yang sedang dominan bukan cuma di jazirah Arab saja, tetapi di seluruh penjuru bumi.

Terdapat peralihan besar antara bentuk yang palsu, menyimpang, dan buruk dari agama Nabi Ibrahim yang disimpangkan oleh orang-orang musyrik Quraisy, dibandingkan dengan bentuknya yang cemerlang, mulia, lurus, jelas, lapang, lengkap, dan meliputi yang dibawa kepada mereka oleh Nabi Muhammad saw.. Padahal, prinsip-prinsip agama yang dibawa Nabi Muhammad itu sesuai dengan agama hanif yang pertama (agama Nabi Ibrahim a.s.) dan telah mencapai puncak kesempurnaan yang sesuai dengan keberadaannya sebagai risalah terakhir di muka bumi untuk berbicara kepada akal manusia yang sehat hingga akhir zaman.

Terdapat peralihan yang besar antara memper-sekutukan Allah dan bertuhan banyak, serta semua pandangan dan kepercayaan yang carut marut yang menjadi unsur-unsur akidah jahiliah... dengan ben-tuknya yang cemerlang yang dilukiskan Al-Qur'an mengenai Zat Ilahi Yang Maha Esa dengan ke-agungan dan keluhurannya, dan hubungan kehendak-Nya dengan semua makhluk.

Juga terdapat peralihan besar antara kelas yang berkuasa di jazirah Arabia, para dukun yang berkuasa dalam bidang keagamaan, kelas-kelas tertentu yang dipandang terhormat, perawat Ka'bah, pelayan mereka dan bangsa Arab lainnya... dengan kesetaraan dan kesamaan di hadapan Allah serta hubungan langsung antara Dia dan hamba-hamba-Nya dengan tanpa perantaraan siapa pun sebagai mana diajarkan oleh Al-Qur'an.

Demikian juga peralihan dari akhlak yang berlaku di kalangan jahiliah dengan akhlak yang diajarkan Al-Qur'an dan dibawa serta diserukan oleh Nabi Muhammad saw..

Peralihan ini saja sudah cukup untuk menunjukkan perbenturan antara akidah yang baru (Islam) dengan kaum Quraisy dengan segenap kepercayaan dan moralitasnya. Akan tetapi, ini bukan satu-satunya, karena di samping itu terdapat ungkapan-ungkapan yang boleh jadi lebih besar menurut ukuran orang Quraisy daripada persoalan akidah sendiri, karena besarnya.

Di sana terdapat ungkapan-ungkapan di kalangan masyarakat yang biasa diucapkan oleh sebagian mereka sebagaimana direkam oleh Al-Qur'anul Karim,

"...Mengapa Al- Qur an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri ini?" (az-Zukhruf: 31)

Kedua negeri itu adalah Mekah dan Thaif. Karena Rasulullah di samping kemuliaan nasabnya dan termasuk dari golongan elit Quraisy, namun beliau tidak mempunyai kedudukan dan kekuasaan terhadap mereka sebelum diangkat menjadi nabi. Sedangkan, di sana sudah ada pemuka-pemuka Quraisy dan Tsaqif serta lain-lainnya dalam suatu lingkungan yang menjadikan kedudukan dan kekuasaan suku benar-benar diperhitungkan. Karena itu, tidak mudah bagi pemuka-pemuka itu untuk mengikuti Nabi Muhammad saw..

Di sana juga terdapat semboyan-semboyan kekeluargaan yang menjadikan seseorang seperti Abu Jahal (Amr bin Hisyam) enggan menerima kebenaran yang sedang menghadapinya dengan kekuatan risalah Islamiah, karena nabinya dari bani Abdi Manaf.... Begitulah, sebagaimana disebutkan kisah bahwa Abu Jahal bersama al-Akhnas bin Syuraiq dan Abu Sufyan bin Harb keluar selama tiga malam berturut-turut untuk mendengarkan Al-Qur'an dengan sembunyi-sembunyi. Pada setiap malam mereka saling berjanji tidak akan kembali ke sana lagi karena khawatir diketahui orang lain, sehingga terjadilah sesuatu di dalam jiwa mereka.

Ketika al-Akhnas bin Syuraiq bertanya kepada Abu Jahal mengenai pendapatnya tentang apa yang didengarnya dari Muhammad, maka jawabnya, "Apa yang saya dengar? Kita telah berseteru dengan bani Abdi Manaf tentang kemuliaan. Mereka memberi makan kepada orang miskin, maka kita juga memberi makan kepada orang miskin. Mereka mau menanggung beban, maka kita juga menanggung beban. Mereka memberi, maka kita juga memberi, hingga ketika kita sama-sama duduk berlutut di atas kendaraan dan kita dengan mereka seperti dua kuda pacuan (sama tingkat kedudukannya). Akan tetapi, mereka (banu Abdi Manaf) mengatakan, 'Di antara kami ada yang menjadi nabi yang mendapat wahyu dari langit.' Maka, kapankah kita mencapai tingkatan seperti ini? Demi Allah, kita tidak akan mempercayainya selama-lamanya dan tidak akan membenarkannya!"

Masih ada ungkapan-ungkapan lain yang berkenaan dengan jasa, kelas, dan kejiwaan yang merupakan tumpukan kejahiliahan yang terdapat dalam syair-syair, ilustrasi-ilustrasi, dan peraturan-peraturan yang semuanya sebagai upaya untuk membunuh tanaman baru itu dengan segala cara sebelum akarnya mantap dan menghunjam, sebelum berkembang ranting-rantingnya dan rimbun daunnya. Khususnya setelah berlalu fase dakwah individual dan Allah memerintahkan Nabi saw. supaya menyampaikan dakwah secara terang-terangan. Juga setelah rambu-rambu dakwah menjadi jelas, sebagaimana Al-Qur'an telah turun dengan menganggap bodoh terhadap akidah syirik beserta segala segala sesuatu yang ada di belakangnya yang berupa berhala-berhala sembahan mereka, pandangan¬pandangan yang menyimpang, dan tradisi-tradisi yang batil.

Meskipun Muhammad saw. seorang nabi, menerima wahyu dari Tuhannya, dan dapat berhubungan dengan makhluk kelas atas (malaikat), namun beliau tetaplah seorang manusia dengan segenap perasaannya sebagai manusia biasa. Beliau menghadapi perseteruan yang keras dan peperangan yang disulut oleh orang-orang musyrik, dan dengan susah payah beliau bersama pengikutnya yang beriman yang sedikit jumlahnya terpaksa menghadapi kaum musyrikin itu.

Rasulullah dan orang-orang yang beriman kepada beliau sering mendengar apa yang diucapkan kaum musyrikin ketika mengata-ngatai dan mencela kepribadian beliau yang mulia.

"...Dan mereka berkata, 'Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila. "' (al-Qalam: 51)

Perkataan seperti ini hanya salah satu saja dari sekian banyak omelan dan cacian mereka sebagai mana yang diceritakan Al-Qur' an dalam surah-surah lain. Ini salah satu cacian yang ditujukan kepada pribadi beliau saw. dan orang-orang yang beriman kepada beliau. Juga gangguan-gangguan lain yang ditimpakan kepada kebanyakan mereka oleh keluarga-keluarga dekat mereka sendiri.

Caci maki (apalagi yang dicaci maki itu keadaannya lemah dan jumlahnya sedikit) sangat menyakitkan jiwa manusia, meski jiwa Rasul sekalipun.

Karena itu, kita lihat dalam surah-surah Makkiyyah bahwa Allah seakan-akan mengasuh Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman bersama beliau, mengasihi dan menghiburnya, serta menyanjungnya dan menyanjung kaum mukminin. Ditonjolkan-Nya unsur akhlak yang tercermin dalam dakwah ini dan nabinyayang mulia. Disanggah-Nya apa yang diucapkan oleh orang-orang yang mengata-ngatai beliau. Ditenangkan-Nya hati orang-orang yang lemah ini bahwa Dia akan selalu melindungi mereka dari serangan musuh-musuh mereka. Dibebaskan-Nya mereka dari memikirkan urusan musuh yang kuat dan kaya itu!

Hal ini dapat kita jumpai dalam surah al-Qalam ini seperti firman Allah tentang Nabi saw.,

"Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis. Berkat nikmat Tuhanmu, kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Sesungguhnya bagi kamu pahala yang besar yang tidak putus putusnya. Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. "(al-Qalam: 1-4)

Dan, firman-Nya mengenai orang-orang yang beriman,

"Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (di-sediakan) surga-surga yang penuh kenikmatan di sisi Tuhannya. Maka, apakah patut Kami menjadikan orang-orang lslam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Mengapa kamu (berbuat demikian), bagaimanakah kamu mengambil keputusan?" (al-Qalam: 34-36)

Firman-Nya mengenai salah seorang musuh Nabi yang menonjol.

'Janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina. Yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah. Yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa. Yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya, karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, '(Ini adalah) dongeng-dongengan orang¬orang dahulu kala.' Kelak akan Kami beri tanda dia di belalai(nya)." (al-Qalam: 10-16)

Kemudian firman-Nya mengenai serangan orang-orang yang mendustakan secara umum.

'Maka, serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al-Qur an). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui, dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh. " (al¬Qalam: 44-45)

Ini, belum lagi azab akhirat yang menghinakan orang-orang yang sombong,

"Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud, maka mereka tidak kuasa, (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera."(al-Qalam: 42-43)

Dijadikan bagi mereka para pemilik kebun (kebun dunia) sebagai contoh bagaimana akibat kesombongan mereka, yang hal ini sebagai ancaman bagi pembesar-pembesar Quraisy yang terpedaya oleh harta dan anak-anak mereka, bagi mereka yang kaya dan banyak anak, yang suka melakukan makar terhadap dakwah islamiah, bagi mereka yang tidak mempunyai harta dan anak-anak.

Pada bagian akhir surah Allah berpesan kepada Nabi saw. supaya bersabar dengan kesabaran yang bagus,

'Maka, bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang (Yunus) yang bernda dalam (perut) ikan.... "(al-Qalam: 48)

Dari celah-celah pencurahan kasih sayang, sanjungan, dan pemantapan ini, juga di samping ancaman keras kepada orang-orang yang mendustakan, Allah sendiri melindungi beliau dari serangan mereka yang keras.... Dari celah-celah semua ini, tampaklah ciri-ciri periode itu. Periode kelemahan dan minoritas, masa-masa yang penuh kepayahan dan kemelaratan, masa-masa usaha yang keras untuk menanamkan tanaman yang mulia di tanah yang keras.

Dari celah-celah uslub, pengungkapan, dan tema-tema surah ini kita juga melihat ciri-ciri lingkungan yang dihadapi dakwah Islam waktu itu. Yaitu, lingkungan masyarakat yang masih bersahaja dan terbelakang dalam pola pikir, perasaan, kepentingan-kepentingan, dan persoalan-persoalan yang di¬hadapinya.

Kita lihat kebershajaan ini pada cara mereka memerangi dakwah dengan mengatakan tentang Nabi saw., "...Sesungguhnya dia benar-benar orang yang gila. "

Ini adalah tuduhan yang sama sekali tidak berdasar dan dengan caci maki yang kasar yang diucapkan tanpa pendahuluan dan tanpa bukti-bukti yang jelas, sebagaimana yang biasa dikatakan oleh orang-orang kampungan yang masih bersahaja.

Kita lihat bagaimana cara Allah menyanggah kebohongan mereka dengan jawaban yang sesuai dengan keadaan mereka,

"Berkat nikmat Tuhanmu, kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus putusnya. Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. Maka, kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat, siapa di antara kamu yang gila. "(al-Qalam: 2-6)

Demikian juga dalam ancaman terbuka yang keras, firman-Nya,

'Maka, serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al¬Qur an). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui, dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh. " (al¬Qalam: 44-45)

Kita lihat juga di dalam menjawab caci maki ini kepada salah seorang dari mereka, firman-Nya,

'Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina. Yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah. Yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa. Yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal ke-jahatannya. " (al-Qalam: 10-13)

Kita lihat kebersahajaan itu pada kisah-kisah para pemilik kebun yang dijadikan Allah percontohan bagi mereka. Yaitu, kisah kaum yang masih bersahaja pemikirannya dan pandangannya, kesombongannya, perbuatannya, dan perkataannya.

'Maka, pergilah mereka saling berbisik-bisikan, 'Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun masuk ke dalam kebunmu. "' (al-Qalam: 23-24)

Akhirnya, kita lihat kebersahajaan mereka dari celah-celah bantahan yang ditujukan kepada mereka,

'Atau, adakah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu membacanya bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu? Atau, apakah kamu memperoleh janji janji yang diperkuat dengan sumpah dari Kami) yang tetap berlaku sampai hari Kiamat; sesungguhnya kamu benar-benar dapat mengambil keputusan (sekehendakmu)? Tanyakanlah kepada mereka, 'Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu?"' (al-Qalam: 37-40)

Inilah beberapa ciri yang tampak dengan jelas dari celah-celah pengungkapan (redaksi) Al-Qur'an, dan sangat berguna di dalam mempelajari sejarah, kejadian-kejadiannya, dan langkah-langkah dakwah padanya. Juga sejauh mana sesudah itu Al-Qur'an mengangkat lingkungan ini dan jamaah itu pada masa-masa terakhir Rasulullah. Dan, sejauh mana pula Al-Qur'an telah memindahkan mereka dari kesederhanaan dan kebersahajaan mereka dalam berpikir, berpandangan, perasaan, dan kepentingannya, sebagaimana tampak jelas di dalam metode penyampaian ayat-ayatnya sesudah itu mengenai hakikat-hakikat, perasaan, pandangan, dan kepentingan-kepentingan mereka sesudah dua puluh tahun, tidak lebih.

Peralihan yang besar dan menyeluruh ini tidak ditemukan serta tidak ada bandingannya di dalam kehidupan bangsa-bangsa... yang dialami oleh jama’ah ini dalam waktu yang singkat ini. Dengan ini pula, mereka diserahi memimpin manusia hingga berhasil meningkatkan pola pikir dan pola pandang mereka beserta moralitasnya ke tingkatan yang sangat tinggi yang tidak pernah dicapai oleh kepemimpinan mana pun dalam sejarah manusia, dari segi karakter akidahnya dan pengaruh-pengaruh riilnya dalam kehidupan manusia di muka bumi. Juga dari segi keluasan dan kekomplitannya yang menyatukan seluruh kemanusiaan dalam ketoleranan dan kelemahlembutan di bawah kepakan sayap-sayapnya. Serta, di dalam memenuhi setup kebutuh an spiritualnya, kebutuhan pikirannya, kebutuhan sosialnya, dan kebutuhan-kebutuhan peraturannya dalam semua lapangan.

Sungguh ini merupakan mukjizat (keluarbiasaan) yang tampak jelas dalam peralihan dari kebersahajaan yang tampak ciri-cirinya dari celah-celah surah seperti ini hingga ke kedalaman dan kekomplitannya. Ini adalah peralihan yang lebih luas dan lebih benar daripada peralihan dari minoritas menjadi mayoritas, dan dari lemah menjadi kuat, karena membangun jiwa dan pikiran itu lebih sulit daripada menambah jumlah dan barisan.

Jawaban dan Pengarahan

"Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis. Berkat nikmat Tuhanmu, kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus putusnya. Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. Maka, kelak kamu akan melihat dan mereka (orang¬orang kafir) pun akan melihat, siapa di antara kamu yang gila. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya, dan Dialah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. Maka, janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah). Maka, mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu). Janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina. Yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah. Yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa. Yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya, karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat kami, ia berkata, '(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala. 'Kelak akan Kami beri tanda dia di belalai(nya). " (al-Qalam: 1-16)

نۤ ۚوَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُوْنَۙ ١

Allah bersumpah dengan huruf Nun, kalam (pena, alat tulis), dan tulisan. Sangat jelas hubungan antara huruf (Nun) sebagai salah satu huruf abjad dengan pena (alat tulis), dan tulisan.... Bersumpah dengannya berarti mengagungkan nilainya, dan memberikan arahan kepadanya, di tengah-tengah umat yang belum terarah untuk belajar melalui jalan ini. Dan, tulis baca di kalangan umat ini masih terbelakang dan jarang yang mengetahui, padahal karena peranannya yang penting, maka diperlukan pengembangannya sedemikian rupa di antara mereka, supaya akidah dan manhaj-manhaj kehidupan yang bertumpu atasnya dapat disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia. Selanjutnya, mereka akan ditugasi memimpin dunia dengan kepemimpinan yang lurus. Oleh karena itu, tidak diragukan lagi bahwa tulis baca merupakan unsur asasi di dalam pengembanan tugas yang sangat besar ini.

Di antara yang menguatkan asumsi ini adalah dimulainya wahyu dengan firman Allah,

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. " (al-Alaq: 1-5)

Firman ini ditujukan kepada Nabi yang buta huruf, yang ditakdirkan Allah buta huruf karena suatu hikmah tertentu. Akan tetapi, permulaan wahyu yang diturunkan kepada beliau ini menyerukan membaca dan belajar dengan pena. Kemudian hal ini di sini diperkuat lagi dengan sumpah dengan huruf Nun, pena, dan apa yang mereka tulis. Ini merupakan lingkaran dari manhaj Ilahi untuk mendidik umat ini dan mempersiapkannya untuk menunaikan peranan yang besar yang telah ditakdirkan buat mereka di dalam ilmu-Nya yang tersembunyi.

Allah bersumpah dengan huruf Nun, pena, dan apa yang mereka tulis, untuk menunjukkan nilai tulis baca ini dan untuk mengagungkannya sebagai-mana sudah kami kemukakan. Juga untuk meniadakan dari Rasul-Nya saw. kebohongan yang dituduhkan kaum musyrikin, dan untuk menjauhkan beliau dari yang demikian itu, sedang nikmat-nikmat-Nya selalu dicurahkan kepada Rasul-Nya.

مَآ اَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُوْنٍ ٢

"Berkat nikmat Tuhanmu, kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. "(al-Qalam: 2)

Dalam ayat yang pendek ini, Allah menetapkan dan meniadakan sesuatu. Menetapkan nikmat-Nya atas Nabi-Nya, yang diungkapkan dengan kalimat yang mengesaankan adanya kedekatan dan kecintaan, ketika Dia menisbatkan beliau kepada diri-Nya dengan kata-kata Rabbika Tuhanmu. Dan, ditiadakan-Nya sifat yang diada-adakan oleh orang¬orang musyrik, yang tidak sinkron dengan nikmat¬Nya kepada hamba-Nya yang dinisbatkan-Nya kepada-Nya, didekatkan kepada-Nya, dan dipilih-Nya.

Yang mengherankan, tiap-tiap orang yang mempelajari riwayat hidup Rasulullah di kalangan kaumnya, menerima saja apa yang mereka katakan tentang beliau itu. Padahal, mereka sudah mengetahui keunggulan pikiran beliau sehingga mereka menjadikan beliau sebagai hakim di antara mereka dalam masalah peletakan Hajar Aswad beberapa tahun sebelum beliau menjadi nabi. Dan, mereka pulalah yang memberi gelar kepada beliau dengan Al-Amin yang terpercaya', dan mereka biasa menitipkan amanat-amanat mereka kepada beliau hingga saat beliau hijrah, sesudah mereka memusuhi beliau dengan sengit.

Diriwayatkan bahwa Ali menggantikan Rasulullah selama beberapa hari di Mekah, untuk mengembalikan kepada mereka titipan-titipan mereka yang ada pada beliau, hingga mereka menentang dan memusuhi beliau sedemikian keras. Mereka tidak pernah melihat beliau berbohong walau hanya sekali sebelum diutus menjadi rasul. Maka, ketika Heraklius bertanya kepada Abu Sufyan tentang beliau, "Apakah Anda menuduhnya pernah berdusta ketika belum diutus sebagai nabi?" Abu Sufyan menjawab, “Tidak." padahal dia adalah musuh beliau sebelum dia masuk Islam. Heraklius berkata, "Orang yang tidak pernah berdusta terhadap manusia tidak mungkin dia berdusta atas nama Allah."

Manusia merasa heran mengapa kemarahan kaum musyrikin Quraisy sampai mendorong mereka untuk mengucapkan perkataan ini (gila) dan lain-lainnya terhadap manusia yang tinggi dan mulia ini, yang sudah populer di kalangan mereka dengan keunggulan pikirannya dan akhlaknya yang lurus. Akan tetapi, rasa dendam telah menjadikan mereka buta dan tuli. Demi mencapai tujuan, maka mereka tidak merasa keberatan melontarkan tuduhan-tuduhan palsu, padahal orang yang menuduh itu sendiri mengetahui sebelum seorang pun mengetahui bahwa dirinya adalah pembohong yang berlumuran dosa.

"Berkat nikmat Tuhanmu, kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila."(al-Qalam: 2)

Demikianlah Allah berfirman dengan lemah lembut, menggembirakan, dan memuliakan beliau, dalam menjawab kedengkian orang kafir itu dan kebohongannya yang tercela.

وَاِنَّ لَكَ لَاَجْرًا غَيْرَ مَمْنُوْنٍۚ ٣

"Sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus -putusnya."(al-Qalam: 3)

Sungguh engkau (Muhammad) benar-benar mendapatkan pahala yang kekal dan terus-menerus, yang tidak akan terputus dan takkan berkesudahan. Pahala di sisi Tuhanmu yang telah memberi nikmat kepadamu yang berupa kenabian dan kedudukan yang terhormat....

Ini adalah sesuatu yang menenangkan dan menggembirakan, dan sebagai ganti kerugian yang melimpah ruah dari semua keterhalangan, semua kekerasan, dan semua tuduhan bohong yang dilontarkan orang-orang musyrik. Nah, kalau begitu, apakah yang hilang dari orang yang dikenai firman Tuhannya dengan penuh kelembutan, kasih sayang, dan penghormatan, "Sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus -putusnya?"

Setelah itu datanglah kesaksian terbesar dan penghormatan yang agung.

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ ٤

"Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. " (al-Qalam: 4)

Semua penjuru mendapatkan jawaban dengan sanjungan yang unik terhadap nabi yang mulia ini, dan mantaplah sanjungan yang tinggi ini di dasar alam wujud ini.

Semua pena dan semua gambaran tidak mampu melukiskan nilai kalimat agung dari Tuhan semesta alam ini. Dan, ini adalah kesaksian dari Allah, dalam timbangan Allah, buat hamba Allah, yang Dia ber-firman kepadanya dalam hal ini, "Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. " Jangkauan budi pekerti yang agung yang ada di sisi Allah ini tidak dapat dijangkau oleh pengetahuan seorang pun di alam semesta ini.

Petunjuk kalimat yang agung atas keagungan Nabi Muhammad saw. ini tampak dari berbagai sudut, antara lain sebagai berikut.

Tampak dari keberadaan kalimat itu sendiri yang datang dari Allah Yang Maha Agung lagi Maha-tinggi, yang dicatat oleh nurani alam semesta, mantap dalam eksistensinya, dan berulang-ulang di kalangan golongan makhluk tertinggi hingga apa yang dikehendaki Allah.

Dari sisi lain, tampak dari sisi kemampuan Nabi Muhammad saw. menerimanya, sedang beliau mengetahui ini dari Tuhannya, yang mengucapkan kalimat ini. Apakah dia? Apa keagungannya? Apa petunjuk kalimat-kalimatnya? Sampai di mana jang-kauannya? Bagaimana ukurannya? Dan, dia mengetahui siapakah dia di samping keagungan yang mutlak ini, yang dia mengerti darinya apa yang tidak dimengerti oleh seorang pun manusia di alam ini.

Sesungguhnya kemampuan Nabi Muhammad saw. untuk menerima kalimat ini, dari sumber ini, dengan demikian mantap, tidak lumat di bawah tekanannya yang besar, dan tidak goncang kepribadiannya di bawah jatuhnya kalimat ini.... sebagai bukti yang menunjukkan keagungan pribadinya, melebihi bukti apa pun.

Keagungan akhlak beliau ini banyak diriwayatkan dalarn perjalanan hidup beliau dan melalui lisan sahabat-sahabat beliau. Realitas kehidupan beliau merupakan kesaksian yang Iebih besar daripada semua riwayat tentang beliau. Akan tetapi, kalimat (firman Allah) ini lebih agung petunjuknya dari segala sesuatu yang lain, lebih agung karena bersumber dari Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. Lebih agung karena diterima oleh Nabi Muhammad saw. dari Zat yang beliau mengetahui bahwa Dia adalah Mahatinggi lagi Mahabesar. Keberadaan beliau sesudah itu adalah mantap, teguh, dan tenang, tidak sombong terhadap hamba-hamba Allah, tidak angkuh, tidak tinggi hati, padahal beliau mendengar apa yang beliau dengar dari Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

Allah lebih mengetahui di mana Dia menciptakan risalah-Nya. Tidak ada lain kecuali Muhammad saw. yang diberi tugas untuk mengemban risalah terakhir ini dengan segala keagungan alaminya yang terbesar ini. Maka, beliau sangat memadai menyandang tugas ini, sebagaimana beliau juga sebagai gambar hidup risalah ini.

Sesungguhnya risalah yang sempurna dan indah ini, agung dan lengkap, benar dan haq, tidak ada yang layak mengembannya kecuali orang yang dipuji oleh Allah dengan sanjungan ini, yang jiwanya mampu menerima sanjungan ini dengan mantap, seimbang, dan tenang. Ketenangan hati yang besar hingga mampu memuat hakikat risalah itu dan hakikat sanjungan yang agung ini. Kemudian beliau menerima celaan dan teguran Tuhannya atas beberapa tindakan beliau, dengan penuh kemantapan, keseimbangan, dan ketenangan. Semua ini beliau sampaikan, sebagaimana beliau menyampaikan yang itu, dengan tidak ada sedikit pun yang disembunyikan dan dirahasiakan.... Dan beliau, dalam kedua hal ini tetaplah seorang nabi yang mulia, hamba yang patuh, dan mubaligh yang terpercaya.

Sesungguhnya hakikat jiwa Nabi saw. ini termasuk hakikat jiwa risalah, dan keagungan jiwa beliau ini termasuk keagungan jiwa risalah. Sesung-guhnya hakikat Muhammadiyah (segala sesuatu yang berkenaan dengan Nabi Muhammad) adalah seperti hakikat Islam, yang Iebih jauh jangkauannya dari pengeras suara manapun yang dimiliki manusia. Pendek kata, tidak ada teropong yang mampu melihatnya dan membatasi jangkauannya, karena agungnya hakikat ini, dan tidak ada yang dapat membatas jalannya.

Pada kali lain saya dapati diri saya terikat untuk berhenti di sisi petunjuk besar mengenai penerimaan Rasulullah terhadap kalimat ini dari Tuhannya, sedangkan beliau tetap mantap, seimbang, dan tenang.... Beliau pernah memuji salah seorang sahabatnya, maka gemetarlah sahabat ini dan sahabat-sahabat yang lain karena terjadinya pujian yang agung ini. Beliau adalah seorang manusia, dan sahabat itu pun mengetahui bahwa beliau seorang manusia biasa. Sahabat-sahabat yang lain pun tahu bahwa beliau adalah manusia biasa.

Memang benar beliau seorang nabi, tetapi daerahnya sudah dimaklumi dan terbatas, dan daerah manusia itu juga terbatas.... Adapun beliau menerima kalimat ini dari Allah, dan beliau mengerti siapa Allah itu, bahkan orang khusus yang mengetahui siapa dia Allah itu. Beliau mengetahui dari Allah apa yang tidak diketahui orang lain, kemudian beliau sabar, teguh, menerimanya, dan melaksanakannya. Maka, sesungguhnya itu adalah urusan di atas semua bayangan dan semua perkiraan!!!

Sesungguhnya hanya Nabi Muhammad sajalah yang dapat mencapai ufuk keagungan ini... Sesungguhnya hanya Nabi Muhammad sajalah yang dapat mencapai puncak kesempurnaan manusiawi yang sama-sama mendapat tiupan tiupan ruh dari Allah untuk eksistensi manusia ini. Sesungguhnya hanya Nabi Muhammad sajalah yang mumpuni mengemban risalah insaniah yang universal ini, hingga tercermin sebagai makhluk hidup pada diri beliau, berjalan di muka bumi dengan berkulitkan manusia. Sesungguhnya hanya Nabi Muhammad sajalah yang menurut pengetahuan Allah layak menyandang kedudukan ini.

Allah Maha Mengetahui di mana Dia mencipta¬kan risalah-Nya, dan dalam hal ini Dia mengumumkan bahwa Rasulullah saw. berbudi pekerti yang agung. Pada tempat lain Allah memberitahukan bahwa Dia Yang Mahaluhur dan Mahasuci zat-Nya dan sifat Nya bershalawat atas Nabi, demikian pula para malaikat-Nya.

"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya ber-shalawat untuk Nabi... " (al-Ahzab: 56)

Hanya Allah sendiri yang mampu memberikan karunia yang agung itu kepada salah seorang dari hamba-hamba-Nya...

Selanjutnya, hak ini menunjukkan betapa mulia nya unsur akhlak dalam timbangan Allah. Mendasarnya unsur akhlak ini di dalam hakikat Islam adalah seperti mendasarnya hakikat ajaran Nabi Muhammad saw..

Orang yang memperhatikan akidah islamiah ini seperti orang yang memperhatikan riwayat hidup Rasul-Nya, dia akan menjumpai unsur akhlak demikian menonjol dan mendasar di dalamnya, yang di atasnya berdiri tegak prinsip-prinsip syariatnya dan prinsip-prinsip pendidikannya.... Seruan terbesar dalam akidah ini adalah kepada kesucian, kebersihan, amanah, kejujuran, keadilan, kasih sayang, kebajikan, memelihara perjanjian, keserasian kata dengan perbuatan, serta kesesuaian keduanva dengan niat dan hati nurani. Juga mencegah tindakan aniaya, zalim, menipu, curang, memakan harta orang lain secara batil, melanggar kehormatan dan harga diri, dan melarang penyebaran kemungkaran dalam bentuk apa pun. Dan, tasyri'at 'pensyariatan' di dalam akidah ini adalah untuk memelihara asas-asas ini dan untuk melindungi unsur akhlak ini di dalam perasaan dan perilaku, di dalam lubuk hati dan dalam realitas sosial, dan dalam hubungan-hubungan pribadi, masyarakat, dan negara.

Rasul yang mulia bersabda,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

"Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang muka. " Maka, difokuskanlah risalahnya untuk tujuan yang bagus ini, dan berdatanganlah hadits-hadits beliau untuk menganjurkan dan memacu manusia kepada akhlak yang mulia ini. Perjalanan hidup pribadi beliau sendiri menjadi teladan yang hidup, lembaran yang bersih, lukisan yang tinggi, yang layak mendapatkan sanjungan dari Allah di dalam kitab-Nya yang abadi, Sesungguhnya engkau berbudi pekerti yang agung. "

Dengan sanjungan ini, Dia memuji Nabi-Nya Saw, sebagaimana dengan sanjungan ini pula Dia memuji unsur akhlak di dalam manhaj-Nya yang dibawa oleh nabi-Nya yang mulia itu. Dengannya Dia mengikatkan bumi ke langit, dan dengannya Dia menggantungkan hati orang-orang yang meng-harapkan keridhaan-Nya. Dia menunjukkan mereka kepada akhlak lurus yang dicintai dan diridhai-Nya.

Pernyataan ini adalah pernyataan tunggal tentang akhlak islam. Ia adalah akhlak yang tidak bersumber pada lingkungan; ia tidak bersumber dari jargon-jargon dunia secara mutlak; serta ia tidak berpijak dan tidak bersandar pada ungkapan-ungkapan adat, kepentingan, atau pertalian-pertalian generasi. Tetapi, is berpijak dan bersumber dari langit, bersumber dari suara langit ke bumi untuk melihat ke ufuk. la bersumber dari sifat-sifat Allah yang mutlak supaya diaplikasikan manusia sebatas kemampuannya, supaya mereka dapat merealisasikan kemanusiaannya yang tertinggi, supaya mereka layak mendapatkan penghormatan dari Allah dan menjadi khalifah di muka bumi, dan supaya mereka layak memperoleh kehidupan yang tinggi di alam akhirat nanti.

"Di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa. " (al-Qamar: 55)

Oleh karena itu, akhlak islam ini tidak terikat dan tidak dibatasi dengan batas-batas jargon atau pepatah petitih apa pun di bumi ini. Ia lepas bebas naik ke tempat yang tinggi yang tidak dapat dijangkau oleh manusia, karena ia merefleksikan sifat-sifat Allah yang bebas dari semua batas dan ikatan.

Selanjutnya, akhlak Islam bukanlah keutamaan-keutamaan yang bersifat tunggal, sendiri-sendiri. jujur, amanah, adil, kasih sayang, bagus... Tetapi, ia merupakan sebuah sistem yang integral, saling melengkapi, dan berinteraksi dengan pendidikan dan pensyariatan hukum-hukumnya. la menjadi landasan pikiran tentang kehidupan serta semua arah dan seginya, yang pada akhir perjalanannya berujung pada Allah, bukan kepada semboyan kehidupan mana pun.

Akhlak Islam dengan kesempurnaannya, keindahannya, keseimbangannya, kelurusannya, keaktualannya, dan kemantapannya ini semua tercermin pada diri Nabi Muhammad saw. dan tercermin dalam sanjungan Allah Yang Mahaagung dan firman-Nya,

"Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung." (al-Qalam: 4)

Setelah memberikan pujian yang mulia kepada hamba-Nya ini, Allah menenangkan hati beliau mengenai hari-hari esoknya dalam menghadapi kaum musyrikin yang menuduhnya dengan tuduhan yang hina. Allah mengancam mereka dengan akan mempermalukan mereka dan menyingkap kebatilan dan kesesatan mereka yang sangat jelas itu.

فَسَتُبْصِرُ وَيُبْصِرُوْنَۙ ٥ بِاَيِّىكُمُ الْمَفْتُوْنُ ٦ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖۖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ ٧

'Maka, kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat, siapa di antara kamu yang gila. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya, dan Dia-lah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk."(al-Qalam: 5-7)

Orang gila, yang Allah menenangkan hati nabi-Nya dengan akan menyingkap dan menerangkannya itu adalah orang yang sesat. Atau, dialah orang yang akan diuji, yang dengan ujian ini akan terkuak hakikatnya. Kedua hal ini saling berdekatan.... Dan, janji Allah ini untuk menenangkan hati Rasulullah dan orang-orang mukmin, di samping terdapat ancaman bagi orang-orang yang menentang beliau dan melontarkan tuduhan yang bukan-bukan kepada beliau...

Apa pun materi kegilaan yang mereka tuduhkan kepada beliau, maka dugaan yang paling dekat bahwa mereka tidak bermaksud menuduh beliau hilang akalnya, karena tuduhan semacam ini akan ditolak oleh kenyataan. Tetapi, yang mereka maksudkan adalah kesurupan jin yang jin itu lantas membisikkan perkataan yang aneh tetapi indah itu (Al-Qur'an-penj.), sebagaimana mereka menganggap setiap penyair mempunyai setan yang membantunya menciptakan perkataan yang indah-indah. Materi tuduhan semacam ini jauh dari realitas Nabi Muhammad saw. dan jauh dari karakter perkataan yang mantap, benar, dan lurus yang diwahyukan kepada beliau.

Janji Allah ini mengisyaratkan bahwa besok Dia akan akan menyingkap hakikat Nabi-Nya dan hakikat orang-orang yang mendustakannya. Dia akan menetapkan siapa yang gila atau sesat dalam hat ini. Dia menenangkan hati beliau dengan menyatakan bahwa Tuhannya itulah "Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya, dan Dialah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. " Tuhannyalah yang memberikan wahyu kepadanya. Karena itu, Dialah yang mengetahui bahwa ia dan pengikut-pengikutnya adalah orang yang mendapat petunjuk.

Ayat ini untuk menenangkan hati Nabi saw. dan menggoncangkan hati musuh-musuhnya. Juga menimbulkan rasa takut dan ketidaktenangan di dalam hati mereka sebagaimana akan dijelaskan nanti.

Selanjutnya Allah menyingkap hakikat keadaan mereka dan hakikat perasaan mereka yang selalu memusuhi dan menentang kebenaran yang ada pada beliau dan menuduh beliau dengan tuduhan

yang bukan-bukan itu. Padahal, akidah mereka rapuh dan labil karena berisi pandangan-pandangan jahiliah yang mereka tampak-tampakkan sebagai pegangan yang kokoh. Mereka bersedia meninggalkan kebanyakan ajaran agama jahiliah itu dengan catatan Rasulullah mau meninggalkan sebagian dari apa yang beliau serukan kepada mereka. Mereka bersedia berlunak-lunak dan berlemah lembut serta bertoleransi secara lahiriah saja, agar Rasulullah mau berlunak-lunak dan berlemah lembut dengan mereka....

Maka, mereka bukanlah orang yang memiliki akidah yang mereka percayai sebagai kebenaran. Mereka hanyalah memiliki sikap-sikap lahiriah yang mereka pergunakan untuk menutupi akidahnya yang amburadul itu.

فَلَا تُطِعِ الْمُكَذِّبِيْنَ ٨ وَدُّوْا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُوْنَۚ ٩

'Maka, janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah). Maka, mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu)."(al-Qalam: 8-9)

Nah, kalau begitu, ini adalah tawar-menawar, dan mereka bertemu di tengah jalan, sebagaimana yang mereka perbuat di dalam jual beli. Akan tetapi, perbedaan antara akidah dengan perniagaan sangat besar. Pemilik akidah tidak akan beranjak dari akidahnya sedikit pun, karena persoalan yang kecil dan besar dalam akidah itu sama saja. Bahkan, di dalam akidah tidak ada urusan kecil dan besar. Akidah adalah sebuah hakikat yang bagian-bagiannya saling melengkapi, yang dalam hal ini pemilik atau pemeluknya tidak boleh mematuhi seorang pun dengan meninggalkan bagian-bagian tertentu dari akidahnya.

Dalam hal ini Islam tidak mungkin bertemu dengan jahiliah di tengah jalan, dan tidak mungkin dapat bertemu di jalan mana pun.

Begitulah sikap Islam terhadap jahiliah di semua waktu dan semua lokasi, baik jahiliah tempo dulu, jahiliah masa kini, maupun jahiliah esok hari. Jurang pemisah antara jahiliah dengan Islam tak terkatakan, tak dapat dipasang jembatan di atasnya, tak dapat berbagi, dan tak dapat bersambung. Ini adalah permusuhan total yang mustahil dapat dikompromikan.

Banyak sekali riwayat yang menceritakan bagaimana kaum musyrikin berlunak-lunak kepada Nabi saw. supaya beliau mau berlunak-lunak dan berlemah lembut dengan mereka, serta tidak lagi mencela berhala-berhala sembahan mereka dan membodoh-bodohkan tindak peribadatan terhadap berhala-berhala itu. Atau, agar beliau mau mengikuti sedikit ajaran agama mereka dan mereka mau mengikuti agama beliau, dengan menjaga air muka mereka di hadapan mayoritas bangsa Arab, sebagai mana layaknya orang-orang yang tawar-menawar yang mencari pemecahan masalah.

Akan tetapi, Rasulullah tetap bersikap teguh di dalam masalah agamanya, tidak mau berlunak-lunak dan berlemah-lemah. Padahal, dalam persoalan non-agamis beliau adalah manusia yang paling lemah lembut, paling bagus pergaulannya, paling memperhatikan keluarga, dan paling antusias terhadap kemudahan dan memberikan kemudahan. Adapun urusan agama, maka ia adalah agama! Dalam hal ini beliau sangat berpegang teguh pada pengarahan Tuhannya,

'Maka, janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah)!" (al-Qalam: 8)

Rasulullah tidak mau melakukan tawar-menawar dalam urusan agamanya, padahal beliau berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan di Mekah. Beliau dibatasi dakwahnya, dan sahabat-sahabatnya yang sedikit jumlahnya itu selalu diteror, disiksa, dan disakiti dalam menjalankan agama Allah dengan gangguan yang sangat berat, namun mereka bersabar. Akan tetapi, beliau tidak pernah diam dari menyampaikan sepatah kata yang harus disampaikan ke hadapan orang-orang yang kuat dan diktator, untuk melunakkan hati mereka atau untuk menolak gangguan mereka. Beliau juga tidak pernah diam dari menjelaskan hakikat sesuatu yang bersentuhan dengan akidah, baik kepada orang dekat maupun orang yang jauh.

Ibnu Hisyam meriwayatkan dalam as-Sirah dari Ibnu Ishaq bahwa ketika Rasulullah memperlihatkan dan menyampaikan Islam secara terang-terangan kepada kaumnya sebagaimana diperintahkan oleh Allah, maka kaumnya tidak menjauhi beliau dan tidak pula menyanggah beliau sehingga beliau menyebut-nyebut berhala-berhala mereka dan mencelanya. Ketika beliau melakukan hal itu, maka mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang besar dan mereka mengingkarinya. Mereka bersepakat menentang dan memusuhi beliau, kecuali orang yang dipelihara Allah dengan Islam di antara mereka yang jumlahnya hanya sedikit dan bersembunyi-sembunyi. Akan tetapi, paman beliau (Abu Thalib) menaruh simpati dan kasih sayang kepada beliau dan berusaha melindungi beliau. Rasulullah terus melaksanakan perintah Allah dengan terang-terangan, tanpa ada sesuatu pun yang dapat mencegahnya.

Ketika orang-orang Quraisy melihat Rasulullah tidak mencela mereka mengenai sesuatu yang mereka ingkari dengan meninggalkan mereka dan mencela berhala-berhala sembahan mereka, dan mereka melihat bahwa paman beliau Abu Thalib menaruh simpati kepada beliau dan melindungi beliau sehingga tidak mau menyerahkan beliau kepada mereka,... maka beberapa pemuka Quraisy antara lain Utbah dan Syaibah dua orang anak Rabi'ah, Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah, Abul Bakhtari yang nama aslinya al-'Ash bin Hisyam, al-Aswad ibnul-Muthalib bin Asad, Abu Jahal (nama aslinya Amr bin Hisyam dan dijuluki pula dengan Abul Hakam), al Walid ibnul-Mughirah, Nabih dan Munabbih dua orang anak al-Hajjaj bin Amir, dan beberapa orang lagi, datang kepada Abu Thalib seraya berkata, Wahai Abu Thalib, anak saudaramu itu telah mencela sembahan-sembahan kami, mencela agama kami, menganggap bodoh pikiran kami, dan menganggap sesat nenek moyang kami. Oleh karena itu, kami berharap engkau cegah dia dari mencela kami atau biarkanlah kami bertindak terhadapnya. Akan tetapi, karena engkau adalah seperti kami, berbeda agama dengannya, maka kami kira cukup mendelegasikan engkau untuk meng¬hadapinya." Kemudian Abu Thalib berkata kepada mereka dengan lemah lembut dan menjawabnya dengan jawaban yang baik, lalu mereka kembali.

Rasulullah terus menjalankan tugasnya, menyampaikan dan mendakwahkan agama Allah dengan terang-terangan. Tetapi, kemudian persoalan antara beliau dengan mereka semakin bertambah genting sehingga mereka semakin menjauh dan semakin benci. Kaum Quraisy semakin sering menyebut-nyebut Rasulullah, murka, dan antara sebagian dengan sebagian yang lain saling menambah kebencian kepada beliau. Kemudian mereka datang lagi kepada Abu Thalib seraya berkata, "Wahai Abu Thalib, sesungguhnya engkau adalah orang yang terpandang dan terhormat di kalangan kami, dan kami telah memintamu agar mencegah anak saudaramu itu. Tetapi, engkau tidak juga mencegahnya dari mencela sembahan dan agama kami. Karena itu, demi Allah, kami sudah tidak sabar lagi terhadap hat ini, sehingga engkau melindunginya dari kami, atau kami yang akan turun menghadapinya dan menghadapimu. Sehingga, binasalah salah satu dari kedua golongan ini." Kemudian mereka meninggalkan Abu Thalib. Maka, keberpisahan kaumnya dan permusuhan mereka terhadap Nabi ini terasa berat oleh Abu Thalib. Dia tidak rela menyerahkan Rasulullah ke-pada mereka dan tidak rela pula merendahkan beliau.

Ibnu Ishaq mengatakan bahwa diceritakan oleh Ya'qub bin Uqbah ibnul-Mughirah ibnul-Akhnas bahwa setelah kaum Quraisy berkata demikian kepada Abu Thalib, maka pergilah Abu Thalib kepada Rasulullah seraya berkata kepada beliau, "Wahai anak saudaraku, sesungguhnya kaummu telah datang kepadaku dan berkata begini dan begini (sebagai mana yang mereka katakan itu). Maka, bebaskanlah aku dan dirimu, dan janganlah engkau bebani aku dengan sesuatu yang aku tidak sanggup memikulnya."

Rasulullah mengira bahwa telah terjadi perubahan pada pamannya. Beliau mengira Abu Thalib telah meremehkannya dan menyerahkannya kepada musuh, dan dia tidak mampu lagi menolong dan melindungi beliau. Ialu Rasulullah berkata, " Wahai paman, demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku dengan catatan aku harus meninggalkan perintah Allah ini, maka aku tidak akan meninggal-kannya, sehingga Allah memenangkan agama-Nya atau aku binasa karenanya."

Maka, Rasulullah menangis bercucuran air mata, kemudian berdiri. Maka, ketika beliau hendak pergi, Abu Thalib memanggilnya seraya berkata, "Kemarilah wahai anak saudaraku!" Kemudian Rasulullah menghadap kepadanya, lalu Abu Thalib berkata, "Laksanakanlah wahai anak saudaraku, katakanlah apa yang ingin engkau katakan. Maka demi Allah, aku tidak akan menyerahkanmu kepada sesuatu pun selama-lamanya."

Begitulah gambaran bagaimana Rasulullah terus saja menjalankan dakwahnya pada saat pamannya sendiri berlepas tangan dari beliau. Padahal, paman inilah pelindung dan pembela beliau, dan benteng terakhir beliau di muka bumi yang melindungi beliau dari orang-orang yang menantikan kehancuran beliau dan membenci beliau.

Demikianlah sebuah lukisan yang kuat, indah, dan baru jenisnya, dilihat dari segi hakikatnya, bentuknya, bayangannya, ungkapannya, dan kata-katanya.... Baru dengan keseriusan akidahnya, indah dengan keindahan akidahnya, dan kuat dengan kekuatan akidahnya. Yah, lukisan yang mencerminkan firman Allah Yang Mahaagung, "Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung. "

Gambaran lain yang juga diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq, yang menggambarkan penawaran langsung dari kaum musyrikin kepada Rasulullah setelah mereka merasa payah memikirkan urusan beliau, dan masing-masing kabilah melompat hendak menerkam setiap orang yang masuk Islam.

Ibnu Ishaq mengatakan bahwa telah diceritakan oleh Yazid bin Ziyad, dari Muhammad bin Ka'ab al-Qurazhi bahwa Utbah bin Rabi'ah yang menjadi pemuka kaumnya, pada suatu hari duduk di balai pertemuan kaum Quraisy, lalu dia berkata, "Wahai segenap kaum Quraisy! Bagaimana kalau aku datangi Muhammad lalu aku bicarakan kepadanya dan aku suguhkan kepadanya beberapa hal yang boleh jadi dia akan menerima sebagiannya, lantas kita berikan kepadanya apa yang dikehendakinya, asalkan dia berhenti dari menyebarkan agamanya kepada kita?" Hal ini terjadi setelah Hamzah masuk Islam, dan mereka melihat sahabat-sahabat Rasulullah semakin bertambah banyak. Lalu mereka berkata, "Wahai Abul Walid, pergilah dan berbicaralah kepadanya."

Kemudian Utbah pergi menemui Rasulullah yang sendirian di masjid. Utbah duduk di sebelah beliau, lalu dia berkata, "Wahai anak saudaraku, sesungguhnya engkau termasuk golongan kami. Engkau tahu bahwa kita termasuk golongan yang terpandang dalam keluarga dan punya kedudukan yang tinggi dalam nasab. Engkau telah datang kepada kaummu dengan membawa persoalan yang besar. Engkau pecah-belah persatuan mereka, engkau anggap bodoh akal mereka, engkau cela tuhan-tuhan dan agama mereka, dan karenanya engkau kafirkan nenek moyang mereka. Karena itu, dengarkanlah aku, aku hendak menawarkan beberapa hal kepadamu untuk engkau pertimbangkan, barangkali engkau dapat menerima sebagiannya." Lalu Rasulullah berkata kepada Utbah, "Silakan bicara wahai Abul Walid, akan saya dengarkan. "

Utbah berkata, "Wahai anak saudaraku, jika kedatanganmu dengan ajaranmu itu dengan maksud hendak mencari harta kekayaan, maka kami akan mengumpulkan kekayaan kami untukmu, sehingga engkau menjadi orang yang paling kaya di antara kami. Jika engkau bermaksud untuk mendapatkan kehormatan, maka kami akan menjadikanmu sebagai pemimpin kami, dan kami tidak perlu memutuskan hubungan denganmu. Jika engkau menginginkan kekuasaan, maka kami akan men-jadikanmu raja atas kami. Dan, jika yang datang kepadamu ini khadam jin yang tidak dapat engkau tolak, maka kami akan mencarikan obat untukmu dan akan kami gunakan seluruh harta kekayaan kami untuk itu sehingga engkau sembuh, karena mungkin saja nanti akan ada orang yang dapat mengobatinya."

Setelah Utbah selesai berkata, beliau bertanya kepadanya, "Wahai Abul Walid, apakah Anda sudah selesai ?" Utbah menjawab, "Sudah." Rasulullah berkata, "Maka, sekarang dengarkanlah saya. " Utbah menjawab, "Silakan." Kemudian Rasulullah berkata (membaca firman Allah),

'Haa Miim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (daripadanya); maka mereka tidak (mau) mendengarkan. Mereka berkata, 'Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan serta antara kami dan kamu ada dinding. Maka, bekerjalah kamu, sesungguhnya kami bekerja (pula).' Katakanlah, Aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan, kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan (Nya). " (Fushshilat: 1-6)

Kemudian Rasulullah melanjutkan bacaannya. Utbah diam dan mendengarkannya dengan penuh perhatian. Ia meletakkan kedua tangannya di belakang punggungnya sambil bersandar mendengarkannya. Kemudian sampailah Rasulullah pada ayat sajdah, lalu beliau bersujud, kemudian beliau berkata kepada Utbah, 'Engkau telah mendengarkannya wahai Abul Walid, maka sekarang terserah Anda. "

Kemudian Utbah pergi menemui teman-teman-nya, lalu sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain, "Kami bersumpah demi Allah, sesungguhnya Abul Walid datang kepada kalian dengan wajah yang tidak sama dengan kepergiannya tadi."

Setelah Abu Walid duduk di sisi mereka, mereka bertanya, "Apa yang terjadi di belakangmu, wahai Abul Walid?" Utbah menjawab, "Sesungguhnya aku telah mendengar, demi Allah, perkataan yang belum pernah kudengar sama sekali. Demi Allah, ia bukan syair, bukan sihir, dan bukan pedukunan. Wahai segenap bangsa Quraisy, patuhilah aku, dan biarkanlah orang ini (Nabi Muhammad-penj.) dengan urusannya, dan tinggalkanlah dia. Demi Allah, se-sungguhnya perkataannya yang telah kudengar itu akan menjadi berita besar. Jika bangsa Arab menyukainya, maka sesungguhnya kalian telah mencukupkan dia untuk selain kalian. Jika dia mengungguli bangsa Arab, maka kekuasaannya adalah kekuasaan kalian juga, dan kemuliaannya adalah kemuliaan kalian pula. Dan, kalian adalah orang yang paling berbahagia dengan adanya dia."

Mereka menjawab, "Demi Allah, dia telah menyihirmu dengan mulutnya, wahai Abul Walid." Abul Walid menimpali, "Inilah pendapatku tentang dia, maka terserahlah Anda mau berbuat apa....!"'

Di dalam-riwayat lain diceritakan bahwa Utbah mendengarkan hingga Rasulullah sampai pada ayat,

'Jika mereka berpaling, maka katakanlah, “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum'Aad dan kaum Tsamud. "' (Fushshilat: 13)...

Lalu dia berdiri dengan ketakutan, lantas meletakkan tangannya di mulut Rasulullah seraya berkata, "Aku memohon kepadamu karena Allah dan jalinan kasih sayang di antara kita, wahai Muhammad!" Ia berbuat demikian karena takut akan yang diancamkan itu segera terjadi, lalu dia menghadap kepada kaumnya dan berkata sebagaimana disebutkan di muka.

Bagaimanapun, ini adalah bentuk lain dari bentuk-bentuk penawaran itu. Ini juga menunjukkan salah satu gambaran akhlak Rasulullah yang agung, yang tampak di dalam sikap beliau mendengarkan Utbah hingga selesai berkata, yang semestinya tidak perlu dihiraukan oleh orang seperti Nabi Muhammad saw. yang demikian lurus pandangannya terhadap alam semesta, dalam timbangan kebenarannya, dan luasnya bumi ini. Akan tetapi, akhlaknya yang luhur menahan beliau agar tidak memutuskan hubungan, agar tidak tergesa-gesa, tidak marah, dan tidak menghardik, hingga orang itu selesai bicara, sedang beliau tekun memperhatikannya. Kemudian beliau bertanya dengan tenang, 'Apakah sudah selesai, wahai Abul Walid?" untuk menambah perhatian dan ketegasan.

Sesungguhnya ini adalah ketenangan yang jujur terhadap kebenaran, yang disertai dengan kesopanan yang tinggi di kala mendengar dan berbicara. Sikap ini juga menunjukkan sebagian akhlak beliau yang mulia.

Dan, bentuk ketiga tawar-menawar ini dilukiskan dalam riwayat Ibnu Ishaq bahwa Rasulullah tawar-menawar dengan al-Aswad ibnul-Mthallib bin Asad bin Abdul Uzza, al-Walid ibnul-Mughirah, Umayyah bin Khalaf, dan al-'Ash bin Wa-il as-Sahmi, dan mereka ini dituakan (terpandang) di kalangan kaumnya. Mereka berkata, "Wahai Muhammad, marilah kami menyembah apa yang engkau sembah, dan engkau menyembah apa yang kami sembah. Kita, yakni kami dan engkau bersekutu dalam urusan ini. Jika apa yang engkau sembah itu lebih baik daripada apa yang kami sembah, maka kami akan mengambil bagian kami darinya. Dan, jika apa yang kami sembah lebih baik daripada apa yang engkau sembah, maka engkau harus mengambil bagianmu darinya." Lalu Allah menurunkan firman-Nya, "Q,ul yaa ayyuhal kaafiruun. Laa a'budu maa ta'buduun... "Hingga akhir surah.

Allah memutuskan tawar-menawar yang menggelikan itu dengan keputusan yang pasti, dan Rasulullah mengatakan kepada mereka dengan apa yang diperintahkan Allah itu....

Kemudian tampak pulalah nilai unsur akhlak pada kali lain dalam pelarangan terhadap Rasulullah dari mengikuti seorang yang suka mendustakan dengan sifat-sifatnya yang tercela dan menjijikkan, yang kmudian diancamnya mereka dengan kerendahan dan kehinaan.

وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِيْنٍۙ ١٠ هَمَّازٍ مَّشَّاۤءٍۢ بِنَمِيْمٍۙ ١١ مَّنَّاعٍ لِّلْخَيْرِ مُعْتَدٍ اَثِيْمٍۙ ١٢ عُتُلٍّۢ بَعْدَ ذٰلِكَ زَنِيْمٍۙ ١٣ اَنْ كَانَ ذَا مَالٍ وَّبَنِيْنَۗ ١٤ اِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِ اٰيٰتُنَا قَالَ اَسَاطِيْرُ الْاَوَّلِيْنَۗ ١٥ سَنَسِمُهٗ عَلَى الْخُرْطُوْمِ ١٦

Janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya, karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, '(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala.' Kelak akan Kami beri tanda dia di belalainya. " (al-Qalam: 10-16)

Ada yang mengatakan bahwa orang ini adalah al-Walid ibnul-Mughirah, dan dia pulalah yang menjadi sasaran turunnya beberapa ayat dalam surah al-Muddatstsir.

'Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Aku jadikan baginya harta benda yang banyak, dan anak-anak yang selalu bersama dia, dan Kulapangkan baginya (rezeki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya, kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Kutambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (Al-Qur’an). Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang di-tetapkannya). Maka, celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan? Kemudian celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan ? Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri. Kemudian dia memikirkan. Sesudah itu dia bermasam muka dan merengut. Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombong-kan diri. Lalu dia berkata, '(Al-Qur’an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu). Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.' Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar. " (al-Muddatstsir: 11-26)

Diriwayatkan bahwa al-Walid ibnul-Mughirah ini melakukan bermacam-macam usaha di dalam menipu Rasulullah dan menakut-nakuti para sahabat beliau, juga di dalam menghalang-halangi dakwah dan menghalang-halangi manusia dari jalan Allah.... Sebagaimana dikatakan bahwa beberapa ayat surah al-Qalam turun berkenaan dengan al-Akhanas bin Syuraiq. Keduanya (al-Walid dan al-Akhnas) adalah termasuk orang yang memusuhi Rasulullah dan terus-menerus memerangi beliau serta membangkitkan permusuhan terhadap beliau dalam masa yang panjang.

Serangan Al-Qur'an yang keras di dalam surah ini, dan ancaman-ancaman yang sengit di dalam surah lain, menjadi saksi betapa pentingnya peranan al-Walid atau al-Akhnas ini, di dalam memerangi Rasulullah dan dakwah, sebagaimana hal ini juga menjadi saksi atas kejelekan hatinya, kebusukan jiwanya, dan kosongnya hati dan jiwa itu dari ke-baikan.

Di sini Al-Qur'an menyifatinya dengan sembilan sifat yang semuanya tercela.

Pertama, hallaaf.... banyak bersumpah. Tidak ada yang banyak bersumpah kecuali orang yang tidak jujur, karena dia tahu bahwa masyarakat akan mendustakannya dan tidak mempercayainya. Karena itu, dia bersumpah dan banyak bersumpah untuk menutupi kebohongannya dan menarik kepercayaan orang lain kepadanya.

Kedua, mahiin ..., hina. Tidak menghormati dirinya dan masyarakat pun tidak menghormati perkataannya. Sebagai tanda kehinaannya ialah dia merasa perlu bersumpah, dan dia tidak percaya kepada dirinya sendiri dan orang lain juga tidak percaya kepadanya, meskipun dia orang kaya dan banyak anak, serta berkedudukan. Karena, kehinaan itu merupakan sifat jiwa yang melekat pada seseorang sekalipun dia itu penguasa tiran dan diktator. Kemuliaan itu juga merupakan sifat kejiwaan yang tidak berpisah dari jiwa yang mulia, meskipun dia tidak memiliki segala kekayaan duniawi.

Ketiga, hammaaz .., banyak mencela. Yang suka mencela dan mencaci manusia dengan perkataan dan isyarat, baik di hadapan yang bersangkutan maupun ketika yang bersangkutan tidak ada di hadapannya. Akhlak mencela ini sangat dibenci oieh Islam, karena moralitas seperti ini bertentangan dengan muru'ah 'keperwiraan', bertentangan dengan kesopanan dalam bergaul dengan orang lain. Juga bertentangan dengan keharusan memelihara kemuliaan mereka, kecil ataupun besar, muda ataupun tua.

Celaan terhadap moralitas ini disebutkan secara berulang-ulang di dalam Al-Qur'an pada tempat lain. Firman-Nya,

“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela.... " (al-Humaza.h: 1)

“Hai orang-orang yangberiman, janganlahsuatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan, jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok). Janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.... " (al-Hujuraat: 11)

Semua ini termasuk jenis mencela dalam salah satu bentuknya.

Keempat, masysyaa-in bi namiim..., ke sana ke mari menghambur fitnah. Berjalan ke sana ke mari di antara manusia dengan menyampaikan hal-hal yang merusak hati mereka, memutuskan hubungan di antara mereka, dan menghilangkan kasih sayang sesama mereka. Ini adalah akhlak yang tercela dan hina, yang tidak akan bersifat dengannya dan menyandangnya orang yang masih menghormati dirinya sendiri atau masih berharap dihormati orang lain. Bahkan, orang-orang yang mau membuka telinganya untuk mendengarkan perkataannya pun tidak menghormatinya di dalam lubuk hatinya dan tidak mencintainya.

Sesungguhnya Rasulullah melarang seseorang menyampaikan kepada beliau tentang sesuatu yang dapat mengubah perasaan hati beliau terhadap salah seorang sahabat beliau. Beliau bersabda,

لا يُبْلِغْنِي أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِي عَنْ أَحَدٍ شَيْئًا فَإِنِّي أَحِبُّ أَنْ أَخْرُجَ إِلَيْكُمْ وَأَنَا سَلِيمُ الصَّدْر

“Janganlah seseorang dari sahabatku menyampaikan kepadaku tentang sesuatu mengenai seseorang, karena aku suka keluar kepadamu dalam keadaan hatiku sejahtera. " (HR Abu Daud dan Tirmidzi)

Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari hadits Mujahid, dari Thawus, dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah melewati dua buah kubur, lalu beliau bersabda,

إِنَّهُمَا لَيُعَذِّبَانِ ، وَمَا يُعَذِّبَانِ فِي كَبِيْرِ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بالتميمة

"Sesungguhnya keduanya sedang disiksa, dan mereka tidak disiksa karena masalah besar. Yang satu karena tidak bersuci dari kencing, dan yang satu karena suka ke sana ke mari menghambur fitnah (mengadu domba). "

Imam Ahmad meriwayatkan dengan isnadnya dari Hudzaifah bahwa ia mendengar Rasulullah bersabda,

"Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba."(HR al-Jama'ah kecuali Ibnu Majah)

Imam Ahmad juga meriwayatkan dengan isnad¬nya dari Yazid bin as-Sakan bahwa Nabi saw. bersabda,

أَلا أُخْبِرُكُمْ بِخِيَارِكُمْ ؟ قَالُوا : بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : الَّذِينَ إِذَا رُءُوا ذُكِرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلٌ ، ثُمَّ قَالَ : أنا أُخْبِرُكُمْ بِشِرَارِكُمْ ؟ الْمَشَاءُونَ بِالنَّمِيمَةِ الْمُفْسِدُونَ بَيْنَ الْأَحِيَّةِ الْبَاعُونَ لِلْبُرَاءِ الْعَيْبَ

"Maukah aku tunjukkan kepadamu orang yang paling baik di antara kamu?"Mereka menjawab, "Mau, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Yaitu orang-orang yang apabila dilihat, maka disebutlah nama Allah Azza wajalla. "Kemudian beliau bersabda, 'Maukah aku tunjukkan kepadamu orang yang paling buruk di antara kamu? Yaitu orang-orang yang kian kemari menghambur fitnah (mengadu domba), merusak hubungan antar orang yang saling mencintai, dan mencari-cari aib orang-orang yang tidak bersalah. "

Oleh karena itu, sudah tentu Islam melarang keras moral yang tercela dan rendah ini, yang dapat merusak hati sebagaimana merusak persahabatan. Perbuatan yang merendahkan derajat pelakunya sendiri sebelum merusak masyarakat, memakan hatinya dan moralnya sendiri sebelum memakan keselamatan masyarakat, menghilangkan kepercayaan masyarakat, dan kadang kala menjadikan orang yang baik-baik sebagai tertuduh (kambing hitam).

Kelima, mannaa'in lil-khairi..., sangat enggan berbuat baik.... Enggan berbuat baik terhadap dirinya sendiri dan orang lain. Bahkan, dia enggan beriman, padahal iman ini merupakan sentral segala kebaikan. Sudah populer bahwa al-Walid ibnul-Mughirah pernah berkata kepada anak-anaknya dan keluarganya, ketika dia melihat ada kecenderungan pada mereka kepada Nabi saw., "Jika ada seseorang dari kamu mengikuti agama Muhammad, maka aku tidak akan memberinya sesuatu selama-lamanya." Maka, dengan ancaman ini, dia melarang mereka memeluk Islam. Oleh karena itu, Al-Qur'an menetapkan sifat "sangat enggan berbuat baik" ini kepadanya, karena tindakan dan perkataannya itu.

Keenam, mu'tadin..., melampaui batas... melampaui batas kebenaran dan keadilan secara mutlak. Kemudian dia juga melampaui batas terhadap Nabi saw. dan terhadap kaum muslimin. Juga terhadap keluarga dan familinya sendiri dengan menghalang-halangi mereka dari petunjuk dan mencegah mereka memeluk agama Islam....

Melampaui batas adalah sifat yang tercela, yang mendapat perhatian yang serius dari Al-Qur'an dan al-Hadits. Islam melarangnya dalam segala bentuknya, hingga melampaui batas dalam makan dan minum sekalipun.

“Makanlah di antara rezeki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas padanya. " (Thaahaa: 81)

Karena keadilan dan keseimbangan adalah cetakan Islam yang asli.

Ketujuh, atsiim..., banyak dosa... suka melakukan kemaksiatan-kemaksiatan sehingga dia pantas mendapatkan predikat tersebut. 'Atsiim "... banyak berbuat dosa, tanpa batas jenis dosa yang dilakukannya. Maka, penggunaan bentuk kata ini sudah mengarah kepada penetapan sifat tersebut dan melekatkannya pada jiwa yang bersangkutan, seperti cetakan yang tetap.

Kedelapan, 'utull.., kaku kasar... Selain itu semua, dia juga kaku kasar. Ini adalah lafal yang mengungkapkan gaungnya dan bayang-bayangnya tentang segenap sifat dan ciri-ciri, yang tidak dapat dirangkum oleh berbagai macam kata dan identitas. Karena itu, ada yang mengatakan bahwa arti kata 'utull’ adalah orang yang keras lagi kasar. Dia adalah pemakan dan peminum, pelahap, sangat jahat dan suka menghalang-halangi orang lain berbuat kebaikan, kasar tabiatnya, tercela jiwanya, jelek pergaulannya. Diriwayatkan dari Abud Darda' r.a. bahwa 'utull ialah seorang orang yang suka menusuk sampai ke bagian dalam, keras wataknya, suka makan dan suka minum, rakus terhadap harta, sangat bakhil."

Akan tetapi, keberadaan kata 'utull itu sendiri lebih banyak cakupannya daripada semua ini, dan lebih mengena pelukisannya terhadap kepribadian yang yang dibenci ini dari semua seginya.

Kesembilan, zaniim ..., terkenal kejahatannya. Ini sebagai penutup sifat-sifat tercela dan dibenci yang terhimpun pada setiap musuh islam, dan tidak ada yang memusuhi Islam dan terus memusuhinya kecuali manusia-manusia yang bersifat tercela seperti ini. Di antara makna kata zaniim yang melekat pada suatu kaum adalah tidak mempunyai nasab pada mereka, atau nasab (hubungannya) hanya bersifat dugaan. Dan, di antara makna kata zaniim ialah orang yang populer dan terkenal dengan ketercelaannya, keburukannya, dan banyak kejahatannya. Makna yang kedua inilah yang lebih dekat kepada al-Walid ibnul-Mughirah, meskipun lafalnya yang mutlak membubuhinya dengan sifat yang mudah dimengerti masyarakat, yaitu sombong dan congkak.

Kemudian penyebutan sifat-sifat pribadi dan sikapnya terhadap ayat-ayat Allah ini diakhiri dengan menunjukkan kejelekan sikap ini yang digunakan membalas nikmat Allah yang telah memberinya harta dan anak-anak.

'Karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berkata, '(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala. (al-Qalam: 14-15)

Nah, betapa buruknya manusia yang membalas nikmat Allah kepadanya yang berupa harta dan anak-anak itu dengan balasan yang berupa penghinaan terhadap ayat-ayat-Nya, penghinaan terhadap Rasul-Nya, dan penentangan terhadap agama-Nya. Ini saja sudah cukup mewakili semua sifat tercela yang disebutkan di muka.

Oleh karena itu, datanglah ancaman dari Tuhan Yang Mahaperkasa dan Mahakuasa Memaksa, kepada jiwa yang menjadi tempat kesombongan dan membangga-banggakan harta dan anak itu, sebagai mana sebelumnya telah disebutkan sifat-Nya ketika menyebutkan kesombongan dan kecongkakan mereka. Dan, diperdengarkanlah ancaman Allah yang pasti.

"Kelak akan Kami beri tanda dia di belalainya. " (al-Qalam: 16)

Di antara makna "khurthum" adalah ujung hidung (belalai) gajah. Kemungkinan yang dimaksud di sini adalah kiasan dari hidungnya. Dan, hidung di dalam pemakaian bahasa Arab sering digunakan untuk kiasan terhadap suatu kedudukan. Maka, dikatakan hidungnya semerbak sebagai kiasan bagi orang yang terhormat, hidungnya di tanah sebagai kiasan bagi orang yang hina. Dan, dikatakan bengkak hidungnya dan panas hidungnya apabila seseorang itu marah. Dan, di antaranya lagi adalah anfah yang berarti harga diri atau sombong. Dan, ancaman dengan memberi tanda pada belalai mengandung dua macam penghinaan dan perendahan. Pertama, diberi tanda seperti budak. Dan kedua, disamakan hidungnya dengan belalai seperti babi (atau gajah).

Tidak diragukan lagi bahwa jatuhnya ayat-ayat ini pada jiwa al-Walid itu merupakan bencana yang membinasakan baginya, karena dia termasuk kalangan penyair terkemuka yang penuh dengan celaan dan caci maki, yang semestinya orang yang terhormat menjauhkan diri dari yang demikian itu. Maka, bagaimana dengan kenyataan bahwa dia dikalahkan oleh kebenaran yang datangnya dari Pencipta langit dan bumi, dengan metode yang tak tertandingi ini, di dalam dokumen yang setiap lafalnya bertanya jawab dengan segala sisi alam wujud ini, yang kemudian menetap di dalam eksistensi semesta ini:.. di dalam keabadian...?

Itulah kebinasaan yang layak bagi musuh Islam, musuh Rasul yang mulia, dan musuh orang yang berakhlak luhur...

Belajar dari Sejarah

Sesuai dengan isyarat terhadap harta dan anak, dan kesombongan yang dilakukan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah, maka Allah menampilkan untuk mereka sebuah kisah yang tampaknya sudah populer di kalangan mereka. Diingatkan-Nya mereka dengan akibat yang ditimbulkan oleh sikap sombong terhadap nikmat, enggan berbuat kebaikan, dan melanggar hak-hak orang lain. Juga diberikan kesan kepada mereka bahwa harta dan anak-anak yang ada di depan mereka itu hanya ujian, sebagaimana ujian bagi pelaku kisah ini, sedang harta itu sendiri akan ditinggalkan untuk orang sesudahnya, bukan untuk mereka sendiri.

"Sesungguhnya Kami telah menguji mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil) nya di pagi hari, dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin). Lalu, kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari tuhanmu ketika mereka sedang tidur. Maka, jadilah kebun itu hitam seperti malam yanggelap gulita. Lalu mereka panggil-memanggil di pagi hari, 'Pergilah di pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya.' Maka, pergilah mereka saling berbisik-bisikan. 'Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun masuk ke dalam kebunmu.' Dan, berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya). Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata, 'Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan), bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya).' Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka, 'Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Tuhanmu)?' Mereka mengucapkan, Mahasuci Tuhan kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yangzalim.' Lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela. Mereka berkata, Aduhai celakalah kita. Sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas. Mudah-mudahan Tuhan kita memberikan ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Tuhan kita.' Seperti itulah azab (dunia). Dan, sesungguhnya azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui. "(al-Qalam:17-33)

Kisah ini demikian populer di kalangan masyarakat. Tetapi, Al-Qur' an menyingkap tindakan dan kekuasaan Allah yang ada di batik peristiwa-perisfiwanya, sebagai ujian dan balasan terhadap sebagian hamba-hamba-Nya. Dan yang demikian ini menimbulkan nuansa baru dalam penuturan Al-Qur'an.

Dari celah-celah nash dan geraknya, kita melihat sekelompok manusia yang masih sederhana dan bersahaja cara berpikir, pola pandang dan aktivitasnya, yang lebih mirip dengan orang-orang desa yang masih bersahaja. Barangkali contoh manusia tingkat ini lebih dekat dengan orang-orang yang diajak bicara dengan kisah ini, yang keras kepala dan suka menentang, tetapi jiwanya tidak sangat ruwet, melainkan lebih dekat kepada kesederhanaan dan kepolosan.

Kisah ini dilihat dari sudut penyampaiannya mencerminkan salah satu metode penyampaian kisah dalam Al-Qur' an yang indah. Di dalamnya terdapat hal-hal yang mengejutkan dan menimbulkan kerinduan (keingintahuan), sebagaimana ia juga mengandung tertawaan terhadap tipu daya manusia menghadapi program dan rencana Allah. Kisah ini ditampilkan dengan suasana yang hidup, sehingga seolah-olah pendengar atau pembaca menyaksikan cerita ini detil dan hidup dan peristiwa-peristiwanya sedang terjadi dengan alurnya di hadapannya.

Marilah kita mencoba melihatnya sebagaimana alur Al-Qur'an.

Nah, kita sedang berada di depan para pemilik kebun (kebun dunia, bukan kebun akhirat) dan itulah mereka sedang menyembunyikan sesuatu berkenaan dengan kebunnya ini. Orang-orang miskin mempunyai bagian terhadap hasil kebun ini pada masa masih dikuasai oleh pemiliknya yang baik dan saleh. Akan tetapi, para ahli warisnya ingin memonopoli hasilnya sekarang, dan menghalang-halangi orang-orang miskin dari mendapatkan bagiannya.... Nah, kalau begitu, marilah kita perhatikan bagaimana jalannya peristiwa itu!

اِنَّا بَلَوْنٰهُمْ كَمَا بَلَوْنَآ اَصْحٰبَ الْجَنَّةِۚ اِذْ اَقْسَمُوْا لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِيْنَۙ ١٧ وَلَا يَسْتَثْنُوْنَ ١٨

"Sesungguhnya Kami telah menguji mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari, dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin). "(al-Qalam: 17-18)

Pikiran mereka telah menetapkan untuk memetik buahnya pada pagi-pagi benar, dengan tidak menyisihkan sedikit pun untuk orang miskin. Mereka bersumpah, berniat bulat, dan melaksanakan perbuatan jahat yang telah ditetapkannya itu.... Yah, kita biarkanlah mereka di dalam kelalaiannya itu, atau di dalam tipu dayanya yang mereka sembunyikan semalam. Kita lihat apa yang terjadi di belakang mereka di tengah malam dengan tanpa mereka sadari. Karena Allah selalu berjaga dan tidak pernah tidur sebagaimana mereka tidur, dan Dia merencanakan sesuatu yang berbeda dengan apa yang mereka rencanakan, sebagai balasan kesombongannya terhadap nikmat dan keengganannya terhadap kebaikan, yang telah mereka rencanakan semalam, dan bakhil terhadap hak fakir miskin yang sudah diketahui....

Di sana terdapat peristiwa yang mengejutkan, yang terjadi secara rahasia. Juga terdapat gerakan halus seperti gerakan bayang-bayang di malam kelam ketika manusia sedang terlelap tidur.

فَطَافَ عَلَيْهَا طَاۤىِٕفٌ مِّنْ رَّبِّكَ وَهُمْ نَاۤىِٕمُوْنَ ١٩ فَاَصْبَحَتْ كَالصَّرِيْمِۙ ٢٠

"Lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yanggelap gulita. "(al-Qalam: 19-20)

Marilah kita tinggalkan kebun itu dengan malapetaka yang menimpanya untuk sementara waktu. Kita lihat apa yang dilakukan oleh para pemiliknya yang sedang mengatur rencananya dengan sembunyi-sembunyi di malam hari.

Nah, inilah mereka berangkat pagi-pagi sebagai mana yang mereka rencanakan, dan mereka panggil-memanggil untuk melaksanakan apa yang telah mereka rencanakan itu.

فَتَنَادَوْا مُصْبِحِيْنَۙ ٢١ اَنِ اغْدُوْا عَلٰى حَرْثِكُمْ اِنْ كُنْتُمْ صٰرِمِيْنَ ٢٢

'Lalu mereka panggil-memanggil di pagi hari, Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya. "' (al-Qalam: 21-22)

Sebagian mereka mengingatkan sebagian yang lain, saling berpesan, dan saling membangkitkan semangatnya.

KemudianAl-Qur'an menertawakan mereka, dilukiskannya mereka sedang berangkat sambil berbisik-bisik, untuk menambah kesan betapa mantapnya rencana mereka, untuk memetik seluruh buahnya, dan menghalangi orang-orang miskin dari mendapatkannya.

فَانْطَلَقُوْا وَهُمْ يَتَخَافَتُوْنَۙ ٢٣ اَنْ لَّا يَدْخُلَنَّهَا الْيَوْمَ عَلَيْكُمْ مِّسْكِيْنٌۙ ٢٤

'Maka, pergilah mereka saling berbisik-bisikan, 'Pada pagi hari ini janganlah ada seorang miskin pun masuk ke dalam kebunmu. "' (al-Qalam: 23-24)

Seakan-akan kita yang mendengar Al-Qur'an atau membacanya mengetahui apa yang tidak diketahui oleh para pemilik kebun itu tentang urusan kebun mereka.... Ya, kita menyaksikan tangan halus yang tersembunyi, yang menjulur ke kebun itu dan mengambil seluruh buahnya, dan kita lihat seakan-akan buah-buah kebun itu sudah terpotong setelah didatangi oleh sesuatu yang tersembunyi dan menakutkan. Karena itu, marilah kita tahan napas kita untuk melihat apa yang diperbuat oleh para pemakar yang menyembunyikan rencananya itu.

Al-Qur'an terus menertawakan mereka.

وَّغَدَوْا عَلٰى حَرْدٍ قٰدِرِيْنَ ٢٥

"Dan berangkatlah mereka pada pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya). " (al-Qalam: 25)

Ya, mereka mampu mencegah dan menghalanginya... menghalangi diri mereka sendiri terhadap kekuasaan minimal sekalipun.

Inilah mereka yang terkejut, terperanjat. Marilah kita ikuti penuturan Al-Qur'an sambil menertawakan mereka, dan kita saksikan mereka terperanjat.

فَلَمَّا رَاَوْهَا قَالُوْٓا اِنَّا لَضَاۤلُّوْنَۙ ٢٦

"Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata, 'Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang tersesat (jalan). "' (al-Qalam: 26)

Bukan ini kebun kita yang lebat buahnya. Kita telah tersesat jalan.... Akan tetapi, mereka kembali lagi, lalu menegaskan,

بَلْ نَحْنُ مَحْرُوْمُوْنَ ٢٧

'Bahkan kita dihalangi (dari memperoleh buahnya)." (al-Qalam: 27)

Nah, inilah berita yang meyakinkan!

Sekarang mereka diliputi siksaan akibat tipu daya dan rencana jahat mereka, akibat kesombongan dan keengganan berbuat baik. Seorang yang paling baik pikirannya maju ke depan, dan tampaknya dia mempunyai pemikiran yang berbeda dengan pemikiran mereka. Akan tetapi, dia mengikuti mereka ketika mereka berbeda pendapat dengannya, sedang dia hanya sendirian saja dengan idenya itu, dan tidak berani mengusulkan gagasannya yang benar itu karena takut akan dihalangi sebagaimana yang dialami oleh mereka. Akan tetapi, pada akhirnya dia mengingatkan mereka juga serta memberinya nasihat dan pengarahan.

قَالَ اَوْسَطُهُمْ اَلَمْ اَقُلْ لَّكُمْ لَوْلَا تُسَبِّحُوْنَ ٢٨

"Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka, 'Bukankah aku telah mengatakan ke-padamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Tuhan-mu)?"' (al-Qalam: 28)

Hanya sekarang saja mereka mau mendengar nasihat, setelah habis waktunya.

قَالُوْا سُبْحٰنَ رَبِّنَآ اِنَّا كُنَّا ظٰلِمِيْنَ ٢٩

'Mereka mengucapkan, Mahasuci Tuhan kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim."' (al-Qalam: 29)

Sebagaimana yang biasa terjadi bahwa setiap anggota persekutuan melepaskan tanggung jawab setiap kali ditimpa akibat yang buruk, dan saling mencela, maka demikian pulalah yang mereka perbuat.

فَاَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍ يَّتَلَاوَمُوْنَ ٣٠

“Lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela. " (al-Qalam: 30)

Kemudian mereka tinggalkan tindakan saling mencela itu untuk mengakui kesalahannya di dalam menghadapi akibat yang buruk ini, dengan harapan mudah-mudahan Allah mengampuni dosa mereka dan mengganti kebun mereka yang musnah sebagai akibat kesombongan, keengganan berbuat baik, menipu, dan rencana jahat.

قَالُوْا يٰوَيْلَنَآ اِنَّا كُنَّا طٰغِيْنَ ٣١ عَسٰى رَبُّنَآ اَنْ يُّبْدِلَنَا خَيْرًا مِّنْهَآ اِنَّآ اِلٰى رَبِّنَا رٰغِبُوْنَ ٣٢

'Mereka berkata, Aduhai celakalah kita, sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas. Mudah-mudahan Tuhan kita memberikan ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Tuhan kita. "' (al-Qalam: 31-32)

Sebelum diturunkannya tirai untuk menutup pemandangan terakhir, kita dengarkan komentar.

كَذٰلِكَ الْعَذَابُۗ وَلَعَذَابُ الْاٰخِرَةِ اَكْبَرُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ ࣖ ٣٣

"Seperti itulah azab (dunia). Sesungguhnya azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui." (al-Qalam: 33)

Itulah ujian dengan nikmat. Oleh karena itu, hendaklah kaum musyrikin Mekah mengetahui bahwa "sesungguhnya Kami telah menguji mereka sebagaimana Kami telah menguji pemilik -pemilik kebun ". Dan, hendaklah mereka perhatikan apa yang terjadi di balik ujian itu... Kemudian hendaklah mereka berhati-hati terhadap sesuatu yang lebih besar dari pada ujian dunia dan azab dunia. "Sesungguhnya azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui. "

Balasan bagi Orang yang Takwa

Demikianlah pengalaman dari realitas lingkung¬an ini dipaparkan kepada kaum Quraisy, dan kisah-kisah yang beredar di antara mereka. Maka, Allah menghubungkan sunnah-Nya terhadap orang-orang dahulu dengan sunnah-Nya terhadap orang-orang sekarang. Disentuh-Nya hati mereka dengan uslub yang paling dekat dengan realitas kehidupan mereka. Pada waktu yang lama Dia memberikan kesan kepada orang-orang mukmin bahwa apa yang mereka lihat pada kaum musyrikin (pembesar-pembesar Quraisy) yang berupa kenikmatan dan kekayaan itu hanyalah ujian dari Allah, yang akan memiliki akibat-akibat dan hasil-hasilnya. Dan, sudah menjadi sunnah-Nya menguji dengan kenikmatan sebagaimana Dia menguji dengan penderitaan.

Adapun orang-orang yang sombong, enggan berbuat kebaikan, dan tertipu dengan kenikmatan yang ada pada mereka, maka seperti itulah contoh akibat yang akan diterimanya, "Sesungguhnya azab akhirat lebih benar jika mereka mengetahui."

Sedangkan, orang-orang yang bertakwa dan berhati-hati, maka mereka akan mendapatkan surga yang penuh kenikmatan di sisi Tuhan mereka.

اِنَّ لِلْمُتَّقِيْنَ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنّٰتِ النَّعِيْمِ ٣٤

"Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (di-sediakan) surga-surga yang penuh kenikmatan di sisi Tuhannya. " (al-Qalam: 34)

Ini adalah akibat yang berlawanan, sebagaimana jalan dan hakikat mereka memang berlawanan.... Yah, dua golongan yang berbeda jalannya, maka berbeda pulalah kesudahannya!

Orang Islam Versus Orang Kafir

Ketika menyudahi paparan tentang kedua golongan ini, Allah masuk bersama mereka dalam perdebatan yang tidak ditentukan dan disusun lebih dahulu. Ditantang-Nya mereka dan dicecar-Nya mereka dengan pertanyaan-pertanyaan yang bertubi-tubi mengenai berbagai persoalan yang tidak ada jawabannya kecuali sebuah jawaban saja yang tidak mungkin salah. Diancam-Nya mereka di akhirat nanti dengan pemandangan yang menakutkan, dan di dunia dengan diperangi oleh Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Mahakuat lagi Mahakeras.

'Maka, apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Mengapa kamu (berbuat demikian), bagai-manakah kamu mengambil keputusan? Atau, adakah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu membacanya bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu? Atau, apakah kamu memperoleh janji janji yang diperkuat dengan sumpah dari Kami, yang tetap berlaku sampai hari kiamat; sesungguhnya kamu benar-benar dapat mengambil keputusan (sekehendakmu) ? Tanyakanlah kepada mereka, 'Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu?' Atau, apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu? Maka, hendaklah mereka mendatangkan sekutu-sekutunya jika mereka adalah orang-orang yang benar. Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud, maka mereka tidak kuasa, (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera. Maka, serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al-Qur an). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui, dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh. Ataukah, kamu meminta upah kepada mereka, lalu mereka diberati dengan utang? Ataukah, ada pada mereka ilmu tentang yang gaib lalu mereka menulis (padanya apa yang mereka tetapkan) ?" (al-Qalam: 35-47)

Ancaman dengan azab akhirat dan peperangan di dunia pasti datang sebagaimana akan kita lihat, di celah-celah perdebatan dan tantangan ini. Maka, meningkatlah suhu perdebatan dan semakin bertambahlah tekanan tantangan itu.

Pertanyaan pertama yang berisi pengingkaran yang berbunyi,

اَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِيْنَ كَالْمُجْرِمِيْنَۗ ٣٥

'Apakah patut Kami menjadikan orang-orang lslam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir) ?" (al-Qalam: 35)

Pertanyaan itu kembali kepada akibat yang di-alami oleh masing-masing mereka sebagaimana dipaparkan dalam ayat ayat sebelumnya. Pertanyaan ini hanya memiliki satu jawaban saja, yaitu "Tidak", tidak mungkin. Maka, orang-orang Islam yang tunduk dan pasrah kepada Tuhannya selamanya tidak akan pernah sama dengan orang-orang berdosa (kafir) yang suka melakukan kejahatan-kejahatan dan dosa-dosa sehingga mereka layak disifati dengan sifat yang tercela ini. Dan, sudah tentu tidak boleh menurut akal dan keadilan bahwa balasan dan tempat kembali orang-orang Islam dan orang¬orang yang berdosa (kafir) itu sama saja.

Karena itulah, datang pertanyaan-pertanyaan pengingkaran lainnya.

مَا لَكُمْۗ كَيْفَ تَحْكُمُوْنَۚ ٣٦

'Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan?" (al-Qalam: 36)

Mengapa kamu berbuat demikian, dan bagaimana kamu membangun hukum-hukummu? Bagaimana kamu menimbang dan mengukur nilai-nilai dan norma-norma hingga kamu samakan dalam timbanganmu dan keputusanmu orang-orang Islam yang menyerah patuh kepada Allah dengan orang¬orang yang suka berbuat dosa?

Dari pertanyaan-pertanyaan yang bernada pengingkaran dan menjelekkan ini, beralihlah pertanyaannya kepada pengejekan dan penghinaan terhadap mereka.

اَمْ لَكُمْ كِتٰبٌ فِيْهِ تَدْرُسُوْنَۙ ٣٧ اِنَّ لَكُمْ فِيْهِ لَمَا تَخَيَّرُوْنَۚ ٣٨

'Atau adakah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu membacanya bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu?"(al-Qalam: 37-38)

Ini adalah ejekan dan penghinaan yang berupa pertanyaan kepada mereka jika mereka mempunyai kitab suci yang mereka baca dan mereka jadikan rujukan untuk memutuskan ketetapan yang tidak dapat diterima oleh akal sehat dan oleh keadilan ini, yaitu keputusan mereka bahwa "orang-orang Islam sama dengan orang-orang yang berbuat dosa (kafir) ". Nah, kalau ada kitab seperti itu, tentu menggelikan, yang hanya cocok dengan hawa nafsu mereka dan kemauan mereka. Sehingga, mereka dapat saja memilih sesuka hati hukum dan apa saja yang mereka sukai. Kitab yang demikian itu tentu tidak berpijak pada kebenaran, keadilan, rasionalitas, atau sesuatu yang makruf !

اَمْ لَكُمْ اَيْمَانٌ عَلَيْنَا بَالِغَةٌ اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِۙ اِنَّ لَكُمْ لَمَا تَحْكُمُوْنَۚ ٣٩

'Atau apakah kamu memperoleh janji janji yang diperkuat dengan sumpah dari Kami, yang tetap berlaku sampai hari kiamat; sesungguhnya kamu benar-benar dapat mengambil keputusan (sekehendakmu)?" (al-Qalam: 39)

Kalau tidak begitu (tidak punya kitab suci yang demikian itu), maka inilah dia. Yaitu, mereka memperoleh janji yang diperkuat dengan sumpah dari Allah, yang berlaku hingga hari kiamat, yang isinya bahwa mereka boleh memutuskan dan memilih apa saja yang sesuai dengan keinginan dan kesukaan mereka! Akan tetapi, hal ini sama sekali tidak ada dan tidak terjadi. Mereka tidak memiliki janji terhadap Allah dan tidak ada pula sumpah dari-Nya yang isinya seperti itu. Kalau begitu, dengan dasar apa mereka berkata begitu? Dan kalau begitu, apakah yang mereka jadikan sandaran dan pijakan?

سَلْهُمْ اَيُّهُمْ بِذٰلِكَ زَعِيْمٌۚ ٤٠

"Tanyakanlah kepada mereka, 'Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu?"'(al-Qalam: 40)

Tanyakanlah kepada mereka, siapakah di antara mereka yang telah mendapatkan janji seperti ini? Siapakah di antara mereka yang telah mendapat jaminan dari Allah untuk berbuat sekehendak hatinya dan mendapat jaminan yang berlaku hingga hari kiamat bahwa mereka boleh membuat keputusan mereka yang mereka inginkan?

Ini adalah ejekan yang menggelikan, yang mendalam dan mengena, yang dapat meluluhkan wajah karena celaan dan tantangannya yang transparan dan terus terang!

اَمْ لَهُمْ شُرَكَاۤءُۚ فَلْيَأْتُوْا بِشُرَكَاۤىِٕهِمْ اِنْ كَانُوْا صٰدِقِيْنَ ٤١

'Atau apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu? Maka, hendaklah mereka mendatangkan sekutu-sekutunya jika mereka adalah orang-orang yang benar. "(al-Qalam: 41)

Mereka sendiri mempersekutukan sesuatu dengan Allah, namun kalimat ini menyandarkan persekutuan itu kepada mereka, bukan bagi Allah. Pertanyaan ini bernada pura-pura tidak tahu bahwa di sana ada sekutu-sekutu. Dan, ditantangnya mereka agar memanggil sekutu-sekutu mereka itu, jika memang mereka adalah orang-orang yang benar.... Akan tetapi, bilakah mereka akan memanggil sekutu-sekutu mereka itu?

يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَّيُدْعَوْنَ اِلَى السُّجُوْدِ فَلَا يَسْتَطِيْعُوْنَۙ ٤٢ خَاشِعَةً اَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ۗوَقَدْ كَانُوْا يُدْعَوْنَ اِلَى السُّجُوْدِ وَهُمْ سٰلِمُوْنَ ٤٣

"Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa, (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera."(al-Qalam: 42-43)

Mereka dihentikan berhadap-hadapan di hamparan pemandangan ini, seakan-akan Allah hadir saat itu, dan seakan-akan mereka sedang ditantang-Nya untuk mendatangkan sekutu-sekutu yang mereka dakwakan itu. Hari ini merupakan suatu hakikat yang hadir di dalam ilmu Allah yang tidak terikat pengetahuan-Nya itu dengan masa. Tuntutan-Nya kepada lawan bicara seperti ini menjadikan kejadiannya begitu mendalam dan hidup serta hadir di dalam jiwa, sebagaimana yang biasa ditempuh oleh metode Al-Qur'anul-Karim.

Dan “penyingkapan terhadap betis" merupakan ungkapan yang sudah biasa dipakai dalam bahasa Arab tentang penderitaan dan kesusahan. Maka, ini adalah hari Kiamat yang disingsingkan lengan baju dan disingkap betis, dan penderitaan dan kesempitan amat sangat.... Dan, orang-orang yang sombong itu dipanggil untuk bersujud, tetapi mereka tidak dapat bersujud, mungkin karena waktunya sudah habis (kedaluwarsa, bukan waktunya lagi) dan mungkin karena keadaan mereka seperti diterangkan di tempat lain.

“Mereka datang bergegas-gegas memenuhi panggilan dengan mengangkat kepalanya. " (Ibrahim: 43)

Sedangkan, tubuh dan saraf mereka diikat karena sangat takut dan susahnya, sehingga sudah tidak punya kemauan apa-apa lagi. Bagaimanapun juga, ini adalah ungkapan yang menunjukkan kesusahan, ketidakberdayaan, dan adanya tantangan yang menakutkan.

Kemudian dilengkapilah pelukisan tentang kondisi mereka itu.

"(Dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan... " (al-Qalam: 43)

Itulah mereka yang sombong dan congkak, dan itulah mata yang tunduk dengan penuh kehinaan. Itulah dua kondisi yang bertolak belakang, yaitu kesedihan yang memilukan dan kesombongan yang angkuh. Dan, ini mengingatkan kita kepada ancaman yang sudah disebutkan pada bagian awal surah.

"Kelak Kami akan beri tanda dia di belalainya. "(al-Qalam: 16)

Maka, penunjukan terhadap kehinaan dan kesedihan itu begitu jelas, mendalam, dan mengena.

Ketika mereka dalam kondisi yang menyedihkan dan penuh kehinaan ini, diingatkanlah mereka terhadap penentangan dan kesombongan yang mereka lakukan.

"...Sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera." (al-Qalam: 43)

Yakni mampu untuk melakukan sujud, namun mereka enggan dan menyombongkan diri. Maka sekarang, dalam pemandangan yang menyedihkan dan penuh kehinaan ini, sedang dunia sudah berada di belakang mereka, sekarang mereka diseru untuk bersujud, namun mereka sudah tidak mampu lagi.

Ketika mereka sedang dalam kesedihan yang seperti ini, tiba-tiba datang kepada mereka ancaman yang menakutkan dan menggetarkan hati.

فَذَرْنِيْ وَمَنْ يُّكَذِّبُ بِهٰذَا الْحَدِيْثِۗ

"Maka, serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al-Qur an)... " (al-Qalam: 44)

Ini adalah ancaman yang menggocangkan hati.... Tuhan Yang Mahaperkasa dan Mahakuat serta Mahakokoh berfirman kepada Rasul-Nya saw., "Biarkanlah Aku dan orang yang mendustakan Al-Qur'an ini, biarkanlah Aku yang akan memeranginya, karena Aku sudah cukup untuk meladeninya!"

Nah, siapakah gerangan yang mendustakan Al-Qur'an ini?

Ternyata dia hanyalah makhluk yang kecil, sepele, miskin, dan lemah! Ah, dia cuma sebesar semut kecil, bahkan seperti sebutir debu saja... bahkan tidak berarti apa-apa di hadapan Sang Mahaperkasa, Mahakuasa, lagi Mahaagung!

Oleh karena itu, wahai Muhammad! Biarkanlah Aku yang akan menangani makhluk semacam ini! Dan, istirahatkan engkau dan para pengikutmu, karena peperangan ini dengan Aku bukan dengan kamu dan orang-orang mukmin. Peperangan ini dengan Aku, dan makhluk seperti ini adalah musuh-Ku, dan Aku akan menyelesaikan urusannya. Karena itu, tinggalkanlah dan biarkanlah Aku berhadapan dengannya, dan pergilah engkau dan para pengikutmu beristirahat!

Nah, mana lagi kesedihan yang menakutkan dan menggoncangkan bagi orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Nya? Ketenangan macam apa pula bagi Nabi dan orang-orang mukmin yang tertindas

Kemudian, Tuhan Yang Mahaperkasa dan Mahakuasa menyingkapkan kepada mereka jalannya peperangan terhadap makhluk yang kecil, kerdil, dan lemah itu.

 سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُوْنَۙ ٤٤ وَاُمْلِيْ لَهُمْۗ اِنَّ كَيْدِيْ مَتِيْنٌ ٤٥

“Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui. Dan, Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh. " (al-Qalam: 44-45)

Urusan orang-orang yang mendustakan dan urusan seluruh penduduk bumi ini sungguh lebih enteng dan lebih kecil bagi Allah daripada mengatur rencana-rencana ini buat mereka. Namun, Dia Yang Mahasuci menakut-nakuti mereka dengan diri-Nya supaya mereka memahami diri mereka sebelum habis waktunya, dan supaya mereka mengerti bahwa keamanan lahiriah yang diberikan Allah kepada mereka itu adalah perangkap yang mereka dapat jatuh ke dalamnya dengan keteperdayaannya. Juga supaya mengerti bahwa pemberian kesempatan kepada mereka untuk berbuat zalim, melanggar batas, berpaling, dan berbuat sesat itu hanyalah istidraj (penarikan secara berangsur-angsur) kepada tempat kembali (akibat) yang sejelek jeleknya. Semua itu adalah rencana dari Allah supaya mereka menanggung dosa-dosa mereka secara total dan datang di padang mahsyar dengan berlumuran dosa dan layak mendapatkan kehinaan, kesedihan, dan siksaan.

Tidak ada yang lebih besar daripada memberikan ancaman, menyingkap istidraj, dan mengatur rencana, sebagai keadilan dan wujud kasih sayang. Allah telah menghadapkan kepada musuh-musuh-Nya, musuh-musuh agama-Nya, dan musuh-musuh Rasul-Nya, akan keadilan-Nya dan rahmat-Nya di dalam ancaman dan peringatan-Nya itu. Sesudah itu terserahlah apa yang mereka pilih untuk diri mereka sendiri. Dengan demikian, sudah terang dan jelaslah persoalannya!

Allah memberi tangguh (kesempatan), namun Dia tidak mengabaikan. Dia memberi tangguh kepada orang yang zalim. Sehingga, apabila Dia telah mengambil tindakan, maka yang bersangkutan tidak akan dapat lepas. Di sini, Dia menyingkap apa yang telah ditentukan-Nya dengan kehendak-Nya melalui cara-Nya dan sunnah-Nya. Dia berfirman kepada Rasul-Nya saw., “Biarkan Aku bersama orang yang mendustakan Al- Qur an ini... Biarkanlah Aku bersama orang-orang yang tertipu oleh harta, anak-anak, kedudukan, dan kekuasaan ini!Aku akan memberi kesempatan kepada mereka, dan akan Kujadikan nikmat ini sebagai perangkap bagi mereka. "

Maka, ditenangkanlah Rasul-Nya dan diancam-Nya musuh-musuhnya...Kemudian dibiarkannya mereka menghadap ancaman yang menakutkan itu.

Di bawah bayang-bayang pemandangan hari Kiamat yang menyedihkan dan ancaman yang menakutkan, selesailah perdebatan dan tantangan serta keanehan sikap mereka yang ganjil itu.

اَمْ تَسْـَٔلُهُمْ اَجْرًا فَهُمْ مِّنْ مَّغْرَمٍ مُّثْقَلُوْنَۚ ٤٦

“Ataukah kamu meminta upah kepada mereka, lalu mereka diberati dengan utang?" (al-Qalam: 46)

Apakah kamu minta upah hingga beban utang yang kamu minta kepada mereka sebagai upah tugasmu memberi petunjuk kepada mereka itu mendorong mereka untuk berpaling dan men-dustakan? Juga menjadikan mereka lebih mementingkan tempat kembali yang buruk itu daripada menanggung beratnya menunaikan tugas?

اَمْ عِنْدَهُمُ الْغَيْبُ فَهُمْ يَكْتُبُوْنَ ٤٧

“Ataukah ada pada mereka ilmu tentang yang gaib lalu mereka menulis (padanya apa yang mereka tetapkan) ?" (al-Qalam: 47)

Yang dengan begitu mereka percaya pada apa yang terdapat di dalam ilmu gaibnya itu. Sehingga, mereka tidak perlu takut kepada apa yang bakal menimpa mereka, karena mereka telah melihatnya, menulisnya, dan mengetahuinya. Atau, mereka dapat menulis apa saja yang hendak mereka tetapkan, lalu mereka tulis jaminan terhadap apa saja yang mereka inginkan?

Tidak! Sama sekali tidak! Baik ilmu gaib mau pun kekuasaan untuk menulis ketetapan itu sama sekali tidak mereka miliki. Maka, mengapakah mereka bersikap dengan sikap yang demikian ganjil dan aneh ini?

Dengan pengungkapan yang mengagumkan, mengesankan, dan menakutkan yang berbunyi,

“Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan (Al¬Q,ur an) ini"... dan dengan pemberitahuan tentang jalannya peperangan dan penyingkapan sunnah peperangan antara Allah dengan musuh-musuh-Nya yang tertipu itu..., maka dengan pengungkapan ini dan pemberitahuan itu Allah melepaskan Nabi saw. dan kaum mukminin dari peperangan antara iman dan kafir, dan antara kebenaran dan kebatilan, karena peperangan ini dilakukan sendiri oleh Allah.

Begitulah hakikatnya, meskipun tampaknya Nabi saw. dan kaum mukminin memiliki peranan dalam peperangan ini. Sesungguhnya peranan mereka ketika mereka dimudahkan oleh Allah untuk hal ini, maka yang demikian itu adalah bagian dari takdir Allah di dalam peperangan-Nya terhadap musuh-musuh-Nya. Maka, mereka hanya sebagai alat yang bisa saja dipergunakan oleh Allah atau tidak dipergunakan. Dalam kedua hal ini, Allah selalu melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Dan, dalam kedua kondisi ini, Allah melakukan peperangan sendiri sesuai dengan sunnah yang dikehendaki-Nya.

Nash ini turun ketika Nabi saw. berada di Mekah, dan kaum mukminin pengikut beliau jumlahnya masih sedikit yang tidak mampu berbuat sesuatu. Maka, ayat-ayat ini adalah untuk menenangkan kaum mukminin yang tertindas ini, dan untuk menakut-nakuti orang-orang yang tertipu oleh kekuatan, kedudukan, harta, dan anak-anak. Tetapi, kemudian situasi dan kondisi di Madinah berubah dan Allah menghendaki Rasulullah dan kaum mukminin memegang peranan yang jelas dalam peperangan. Tetapi, di sana ditegaskan lagi perkataan yang pernah difirmankan-Nya kepada mereka pada waktu mereka di Mekah ketika jumlah mereka sedikit dan dalam kondisi tertindas. Dia berfirman kepada mereka ketika mereka mendapat kemenangan dalam Perang Badar,

“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, tetapi Allahlah yang membunuh mereka. Bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. "(al-Anfaal: 17)

Hal itu untuk memantapkan hakikat ini di dalam hati mereka. Hakikat bahwa peperangan itu adalah peperangan Allah, dan urusan itu adalah urusan Allah juga. Ketika Dia menjadikan bagi mereka peranan dalam hal ini, maka yang demikian itu hanyalah karena Dia hendak menguji mereka dengan ujian yang baik yang dengan ujian ini mereka lamas diberi-Nya pahala. Adapun hakikat peperangan, maka Dialah yang mengaturnya; dan hakikat kemenangan, maka Dia juga yang menetapkannya. Allah memberlakukannya dengan mereka ataupun tanpa mereka. Ketika mereka terjun di dalam kancah peperangan, maka sebenarnya mereka hanya alat saja bagi kekuasaan-Nya, dan bukan cuma mereka satu-satunya alat yang ada di tangan-Nya.

Hakikat ini tampak sangat jelas dari celah-celah nash-nash Al-Qur'an pada semua tempat, semua keadaan, dan semua temanya, sebagaimana hal ini juga merupakan hakikat yang sesuai dengan tashawwur (pandangan) imam terhadap kekuasaan Allah dan qadar-Nya, sunnah-Nya dan kehendak-Nya. Juga hakikat kemampuan manusia untuk mengimplementasikan qadar Allah... yang mereka hanyalah alat... tidak lebih dari sekadar alat.

Inilah hakikat yang mengucurkan ketenangan di dalam hati orang yang beriman dalam kedua ke-adaannya, ketika kuat dan ketika lemah, selama hatinya tulus kepada Allah dan bertawakal kepada-Nya di dalam jihadnya. Maka, bukanlah kekuatannya yang menolongnya di dalam peperangan antara kebenaran dengan kebatilan, dan iman dengan ke-kafiran, tetapi hanya Allahlah yang memberinya jaminan kemenangan. Dan, bukan kelemahannya pula yang menjadikannya kalah, karena kekuatan Allah berada di belakangnya, dan kekuatan Allah inilah yang mengendalikan peperangan dan mem-berinya kemenangan. Akan tetapi, Allah memberi tangguh dan melakukan istidraj serta menentukan segala urusan pada waktunya sesuai dengan kehendak dan kebijaksanaan-Nya, juga sesuai dengan keadilan dan rahmat-Nya.

Dan, ini juga merupakan hakikat yang menakut kan hati pihak musuh, baik orang mukmin yang dihadapinya itu dalam kondisi lemah maupun kuat. Karena, bukan orang mukmin itu yang menjatuhkan mereka, tetapi Allahlah yang menguasai peperangan itu dengan kekuatan-Nya dan keperkasaan-Nya. Allah yang berfirman kepada Nabi-Nya, "Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang yang mendustakan perkataan (Al-Qur an) ini...!" Serahkanlah kepada-Ku orang yang celaka dan keparat ini!

Allah memberi tangguh dan menariknya kepada kebinasaan secara berangsur-angsur, sedang dia (mereka) dalam serba ketakutan, meskipun secara lahiriah tampaknya mereka kuat dan penuh persiapan. Karena, kekuatan ini adalah jerat, dan per-siapannya itu sendiri adalah perangkap...

'Dan Aku memberi tangguh kepada mereka, sesungguhnya rencana-Ku amat teguh. " (al-Mulk: 45)

Adapun mengenai masalah kapan terjadinya, maka hal itu berada di dalam ilmu Allah yang tersembunyi. Maka, siapakah gerangan yang merasa aman terhadap ilmu gaib Allah dan rencana-Nya? Dan bukankah tidak ada yang merasa aman terhadap rencana Allah selain orang-orang yang fasik?

Urgensi Kesabaran dalam Tugas dan Perjuangan

Setelah memaparkan hakikat ini, Allah mengarahkan Nabi-Nya saw. untuk bersabar, sabar mengemban tugas-tugas risalah, sabar menghadapi kekacauan jiwa, sabar menghadapi gangguan, dan sabar menghadapi pendustaan orang kafir.... Ya, bersabar hingga Allah memberi keputusan pada waktu yang telah ditentukan sebagaimana yang dkehendaki-Nya. Diingatkan nabi-Nya dengan pengalaman yang dialami saudaranya (sesama nabi) sebelumnya yang merasa sesak dada karena tugas-tugas ini, yang seandainya tidak segera disusuli nikmat Allah, niscaya dia akan terlempar dalam keadaan terhina.

فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُنْ كَصَاحِبِ الْحُوْتِۘ اِذْ نَادٰى وَهُوَ مَكْظُوْمٌۗ ٤٨ لَوْلَآ اَنْ تَدٰرَكَهٗ نِعْمَةٌ مِّنْ رَّبِّهٖ لَنُبِذَ بِالْعَرَاۤءِ وَهُوَ مَذْمُوْمٌ ٤٩ فَاجْتَبٰىهُ رَبُّهٗ فَجَعَلَهٗ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ ٥٠

“Maka, bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang (Yunus) yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya). Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela. Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh. " (al-Qalam: 48-50)

Orang yang berada dalam perut ikan itu adalah Nabi Yunus a.s. sebagaimana disebutkan dalam surah ash-Shaaffaat. Dan, inti pengalaman Yunus yang diceritakan Allah kepada Nabi Muhammad saw. adalah untuk menjadi bekal dan persiapan bagi beliau sebagai penutup para nabi, yang pada masa-masa sebelumnya telah banyak pengalaman yang dihadapi semua nabi dalam kebun risalah, karena beliau akan menjadi pemetik basil akhir, peneropong terakhir, dan pengguna bekal terakhir.

Maka, diharapkan pengalaman ini akan dapat membantunya dalam mengemban tugas yang berat dan besar. Tugas membimbing seluruh manusia, bukan cuma satu kabilah, satu kampung, atau satu umat saja. Tugas memberi bimbingan kepada seluruh generasi, bukan cuma satu generasi dan bukan cuma satu kurun waktu saja sebagaimana tugas rasul-rasul sebelumnya. Juga tugas mengembangkan potensi kemanusiaan sesudah itu dengan seluruh generasinya dan semua kaumnya dengan manhaj yang kekal, mantap, dan layak untuk menyambut segala sesuatu yang dijumpainya di dalam kehidupan yang berupa aneka ragam kondisi, peraturan, dan pengalaman-pengalaman, yang setiap hari datang dengan suasana yang baru....

Inti pengalaman itu adalah bahwa Yunus bin Mata a.s. diutus oleh Allah kepada penduduk sebuah desa yang menurut suatu riwayat bernama Ninawa, di negeri Maushil, tetapi mereka enggan beriman. Keengganan mereka ini dirasa berat oleh Yunus, lalu dia tinggalkan mereka dengan rasa jengkel sambil berkata di dalam hati, "Allah tidak akan mempersempit aku untuk tinggal di antara kaum yang keras kepala ini, toh Dia Mahakuasa untuk mengutus aku kepada kaum yang lain."

Kejengkelan dan kemarahannya ini telah mem-bawanya ke tepi laut yang dari situ kemudian dia naik perahu. Ketika mereka berada di tengah laut, perahunya menjadi keberatan dan hampir tenggelam. Karena itu, mereka mengadakan undian di antara para penumpang untuk meringankan beban dengan menurunkan salah seorang dari mereka yang mendapat undian, kemudian undian itu terkena pada Yunus. Maka, mereka lantas melemparkannya ke laut, kemudian ditelan ikan.

Pada waktu itu Yunus berseru (dalam keadaan marah kepada kaumnya) dalam kesedihan yang amat sangat, di dalam kegelapan di dalam perut ikan, di tengah lautan. Dia berseru kepada Tuhannya,

"...Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim. " (al-Anbiyaa': 87)

Maka, is segera disusuli nikmat dari Tuhannya. Kemudian ikan itu memuntahkannya ke pantai dengan berupa daging tanpa kulit, karena kulitnya sudah luruh di dalam perut ikan, dan Allah memelihara kehidupannya dengan kekuasaan-Nya yang tidak terikat oleh kebiasaan manusia yang terbatas.

Di sini kita katakan bahwa seandainya tidak karena nikmat Allah ini, niscaya dia dimuntahkan oleh ikan dalam keadaan tercela. Yakni, dicela oleh Tuhannya karena perbuatannya dan ketidaksabarannya itu, dan tindakannya memperturutkan nafsu-nya sebelum mendapat izin dari Allah. Akan tetapi, nikmat Allah datang tepat pada waktunya. Allah menerima tasbihnya, pengakuan kesalahannya, dan penyesalannya. Dia mengetahui adanya sesuatu pada dirinya yang dengannya dia layak mendapatkan nikmat dan dipilih oleh Allah.

فَاجْتَبٰىهُ رَبُّهٗ فَجَعَلَهٗ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ ٥٠

“Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh. " (al- Qalam: 50)

Inilah pengalaman yang dialami orang yang berada di dalam perut ikan (Nabi Yunus a.s.), yang diceritakan Allah kepada Rasul-Nya Muhammad saw. ketika sedang menghadapi kesulitan dan pendustaan dari kaum kafir, setelah dilepaskannya beliau dari peperangan sebagaimana hakikat yang sebenarnya. Dan, diperintahkannya beliau supaya menyerahkan urusan perang itu kepada-Nya sebagaimana yang Dia kehendaki, dan kapan Dia menghendaki. Juga ditugasinya beliau untuk bersabar terhadap keputusan Allah dan qadha-Nya dalam waktu yang telah ditentukan dan di dalam menempuh jalan yang sulit hingga datang saat yang telah ditentukan itu.

Sesungguhnya masyaqat 'kesulitan, kesukaran, kemelaratan' dakwah yang sebenarnya adalah kesukaran bersabar terhadap keputusan Allah sehingga datang janji-Nya pada waktu yang dikehendaki-Nya sesuai dengan kebijaksanaan-Nya. Di dalam perjalanannya banyak sekali masyaqat, kesukaran yang berupa pendustaan orang lain dan penyiksaan, kesukaran yang berupa tantangan dan kekerasan, kesukaran yang berupa berkembangnya dan menggelembungnya kebatilan, kesukaran yang berupa terpedayanya manusia oleh kebatilan yang cemerlang dan unggul dalam pandangan mata, dan kesulitan yang berupa tertahannya jiwa di dalam menghadapi semua ini dengan rela, mantap, dap tenang terhadap janji Allah yang benar ....

Ini adalah kerja dan perjuangan besar yang membutuhkan keteguhan hati, kesabaran, pertolongan, dan bimbingan dari Allah... Adapun mengenai peperangan itu sendiri, maka Allah telah menetapkan dan menentukan bahwa Dialah yang mengaturnya, sebagaimana Dia telah menentukan bahwa Dia yang memberi tangguh dan melakukan istidraj untuk suatu hikmah yang hanya Dia yang mengetahuinya. Demikian pula janji-Nya kepada Nabi-Nya yang mulia, yang kemudian dibuktikan sesudah beberapa waktu.

Sikap Orang Kafir terhadap Al-Qur an dan Rasulullah

Pada penutup surah digambarkan pemandangan orang-orang kafir yang menghadapi dakwah Rasul yang mulia ini dengan penuh kebencian dan kekerasan serta dendam yang mendalam yang tertuangkan dalam pandangan yang beracun dan mematikan yang ditujukan kepada Rasulullah, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Qur'an dengan tidak ditambah-tambahi.

وَاِنْ يَّكَادُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَيُزْلِقُوْنَكَ بِاَبْصَارِهِمْ لَمَّا سَمِعُوا الذِّكْرَ وَيَقُوْلُوْنَ اِنَّهٗ لَمَجْنُوْنٌ ۘ ٥١

"Sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandartgan mereka, tatkala mereka mendengarAl-Qur’an dan mereka berkata, 'Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila. "' (al-Qalam: 51)

Pandangan ini hampir mempengaruhi langkah Rasulullah hingga hampir terpeleset dan kehilangan keseimbangan dan kemantapannya di muka bumi. Ini merupakan ungkapan yang tinggi tentang apa yang dikandung oleh pandangan ini yang bermuatan kebencian, dendam, kejahatan, kedengkian, keinginan untuk menyakiti, hati yang panas dan beracun. Pandangan beracun ini dibarengi dengan caci-maki yang amat buruk dan kebohongan yang tercela. "Dan mereka berkata, 'Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila.’

Inilah pemandangan yang dilukis oleh kuas yang indah dan direkamnya dari pemandangan-pemandangan dakwah secara umum di Mekah, yang berada di dalam bingkai umum di antara para pembesar yang keras kepala dan penuh dosa. Dari hati dan pandangan merekalah muncul semua dendam yang hina dan membara ini.

Semua ini diakhiri dengan kata pasti yang menyudahi segala perkataan,

وَمَا هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعٰلَمِيْنَ ࣖ ٥٢

“Al- Qur’an ini tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat." (al-Qalam: 52)

Sedangkan, peringatan itu tidak akan disampaikan oleh orang yang gila, dan tidak akan dibawa oleh orang yang gila....

Mahabenar Allah dan berdustalah para pendusta....

Sebelum mengakhiri pembahasan perlu kiranya kita perhatikan kata lit-'aalamiin 'bagi seluruh alam/umat'

Di sini, di Mekah, dakwah sudah menghadapi tantangan, dan Rasulnya menghadapi pandangan-pandangan beracun yang membara, sedang kaum musyrikin terus mengintai hendak menyerangnya sernampu mungkin. Pada waktu sepagi ini, dalam kesempitan yang mencekik ini, ia (dakwah) telah mengumumkan "kealamiahannya" (internasionalisasinya), sesuai dengan tabiat dan hakikatnya. Karena itu, sifatnya ini bukanlah hal baru sewaktu ia mendapat kemenangan di Madinah sebagaimana anggapan para pembohong hari ini. Tetapi, 'alamiyah 'globalisasi' dakwah Islam sudah menjadi sifatnya sejak awal pada masa periode Mekah, karena ini merupakan hakikat yang mantap di ladang dakwah sejak kelahirannya.

Begitulah yang dikehendaki Allah, begitulah ia menujukkan arahnya sejak hari-hari pertamanya, dan begitulah ia akan selalu mengarah hingga akhir zaman.

Allahlah yang menghendakinya sebagaimana yang dikehendaki-Nya. Dialah pemiliknya dan pemeliharanya. Dialah pembelanya dan pelindungnya. Dan, Dialah yang melakukan peperangan terhadap orang-orang yang mendustakannya, sedang para pengembannya tidak punya kewajiban lain selain bersabar sehingga datang keputusan Allah. Dia adalah sebaik-baik pemberi keputusan.

Al-Qalam