Risalah Muktamar Sya'bi (Pesan Konferensi Rakyat)
Oleh:
Imam Syahid Hasan al-Banna
Pendahuluan
Imam
al-Banna menyampaikan pidato yang komprehensif dalam Muktamar Sya'bi
(Konferensi Rakyat) Ikhwanul Muslimin yang diselenggarakan pada 28 Syawal 1364
H atau 4 Oktober 1945 M. Konferensi ini diadakan setelah muktamar daerah dan
cabang yang memutuskan untuk mengadakan serangkaian konferensi guna
mensosialisasikan persoalan nasional, konspirasi yang mengancamnya, serta
seruan untuk melawan penjajah. Konferensi ini bertempat di Kantor Pusat Ikhwan
di Hilmiyah Al-Jadidah, yang dihadiri oleh massa Ikhwan yang sangat besar
beserta tokoh-tokoh masyarakat.
Teks
Pidato:
Segala
puji bagi Allah, semoga selawat dan salam tercurah kepada junjungan kita Nabi
Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.
Tuan-tuan
yang mulia, Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Malam
ini Anda sekalian berkumpul dalam konferensi rakyat pertama di Kairo untuk
meninjau hak-hak nasional kita, di tengah berbagai kondisi baru yang
mengelilingi kita, guna membahas segala urusan vital kita. Tidaklah
mengherankan jika Anda sekalian menjadi orang yang paling depan dalam pertemuan
semacam ini. Mungkin Anda adalah orang-orang yang paling merasakan beban
tanggung jawab di hari-hari ini.
Saudara-saudara
yang mulia:
Malam
ini, aku mendapati diriku sangat tersentuh oleh perasaan yang menggetarkan
jiwaku setiap kali aku berdiri dalam posisi seperti ini di tengah-tengah
saudara sekalian.
Perasaan
akan besarnya beban tanggung jawab yang diletakkan di atas pundak kita: ribuan
orang ini—dua puluh, tiga puluh, atau empat puluh ribu hati terbaik di lembah
yang diberkati ini (Mesir), terdiri dari orang-orang pilihan dengan berbagai
lapisan, profesi, dan latar belakang budaya mereka: insinyur, guru, dokter,
pengacara, buruh, petani, pedagang, penulis, pemuda, orang dewasa, remaja,
hingga orang tua.
Semua
hati ini telah bersatu demi satu kalimat dan karena satu kalimat. Mereka telah
menyerahkan kepemimpinan mereka secara sukarela dan penuh pilihan, serta
memusatkan harapan mereka dengan penuh kegembiraan dan optimisme pada dakwah
ini beserta kepemimpinannya.
Bersama
ribuan yang berkumpul di sini, terdapat ribuan kali lipat lainnya di kota-kota
Mesir, desa-desanya, gurun-gurun Lembah Nil yang diberkati, dan
dataran-datarannya yang sedang memasang telinga untuk mendengar sebagaimana
Anda mendengar, menatap dengan mata mereka untuk melihat sebagaimana Anda
melihat, dan jantung mereka berdegup kencang karena apa yang Anda katakan dan
putuskan. Mereka menunggu kalimat yang Anda ucapkan agar mereka bisa menjadi
pelaksana dan pekerja bersama Anda.
Di
balik kelompok-kelompok mulia ini, ada jutaan orang Arab dan Muslim yang
berbagi perasaan dengan Anda, berharap sebagaimana Anda berharap, dan bekerja
untuk apa yang Anda kerjakan.
Semua
ini—wahai saudara-saudara yang mulia—aku rasakan dengan sangat kuat, aku hayati
dengan sangat mendalam, dan aku bayangkan sebagai tanggung jawab terberat serta
tugas yang paling besar.
Namun,
aku berharap dengan dukungan Allah, taufik-Nya, pertolongan-Nya yang indah,
serta dukungan Anda sekalian, semoga kepemimpinan dakwah ini dapat memenuhi
prasangka baik dan harapan indah Anda—insya Allah. (“Dan Allah tidak akan
menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada
manusia”) [Al-Baqarah: 143]. Adapun dakwah ini, ia adalah milik Allah,
Dialah penjaganya, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan
cahaya-Nya.
Agama
dan Politik
Saudara-saudara
yang mulia, Anda telah mendengarkan para orator konferensi Anda yang terhormat.
Anda telah mendengar mereka yang berbicara kepada Anda tentang Perjanjian
Mesir-Inggris, tentang Sudan sebagai tanah air selatan Anda, tentang Konferensi
San Francisco dan Piagam PBB, tentang saldo Sterling, tuntutan ekonomi,
kesatuan Arab, Liga Islam, dan kemanusiaan universal, serta tentang kesadaran
agama dan nasional selama seperempat abad terakhir. Anda telah mendengar semua
ini dan Anda adalah orang-orang yang mulia dan sadar; karena Anda telah
bertahan selama berjam-jam mengikuti kajian-kajian teknis yang murni ini dengan
telinga dan pikiran Anda, layaknya pengikut yang paham dan antusias. Semoga
Allah membalas Anda dengan kebaikan.
Tiba-tiba
terlintas di benakku, saat aku berada di antara Anda mendengarkan apa yang Anda
dengar, bahwa pasti ada seseorang yang akan berkata, atau ada yang berbisik: "Apakah
ini markas Ikhwanul Muslimin? Apa urusannya markas Ikhwanul Muslimin dengan
menangani urusan-urusan (politik) ini? Bukankah cukup bagi mereka untuk
berbicara kepada orang-orang tentang keutamaan Al-Qur'an, hukum-hukum Islam
yang hanif mulai dari fardu wudu, rukun salat, keluhuran akhlak, dan indahnya
adab? Adapun ini (politik) adalah pembicaraan para politisi, dan orang-orang
biasanya mendengarkannya di markas partai dan forum-forum organisasi politik.
Alangkah jauh perbedaan antara agama dan politik! Para pemuka agama seharusnya
menjauhi medan ini dan membatasi upaya mereka pada apa yang telah mereka
tekuni."
Terlintas
di benakku bahwa pikiran semacam ini pasti pernah atau sedang berputar di
kepala sebagian orang yang melihat perkumpulan kita ini, atau yang akan
membacanya nanti. Aku segera katakan kepada mereka semua: Janganlah
terperangkap oleh pemikiran yang dangkal dan ucapan yang ambigu. Jangan
mengikuti tradisi yang keliru dan istilah yang tidak adil. Berpikirlah dan
buatlah batasan yang jelas, karena pemikiran yang sehat dan definisi yang
akurat akan menghilangkan perselisihan di antara manusia, atau setidaknya
mendekatkan sudut pandang.
Jika
yang Anda maksud adalah bahwa Islam adalah agama yang hukum-hukumnya tidak
menyentuh urusan politik dalam dan luar negeri—dalam hal pengorganisasian
pemerintahan, hubungan antara penguasa dan rakyat, serta hak dan kewajiban yang
menyertainya, serta kewajiban atas kebebasan, kedaulatan, dan kemuliaan umat
Islam, dsb—maka itu adalah ketidaktahuan terhadap Islam dan kezaliman
terhadap hukum-hukum serta syariatnya yang komprehensif, yang datang untuk
mengatur urusan dunia dan akhirat, serta menetapkan hubungan dalam masyarakat
manusia dengan batasan yang terbaik.
Dan
jika yang Anda maksud adalah bahwa lebih baik jika suatu kelompok mengkhususkan
diri pada urusan spiritual, moral, ibadah, dan pelayanan kemanusiaan umum,
sementara kelompok lain berkonsentrasi pada kemahiran politik dan menangani
urusan-urusannya; dan agar kelompok pertama menjauhi badai serta kemelut
politik sebisa mungkin agar mereka memiliki ketenangan dan stabilitas yang
diperlukan untuk membuahkan hasil yang baik di bidangnya;
Dan
agar kelompok kedua membantu mereka dalam hal ini dengan menyediakan ketenangan
bagi mereka, menjauhkan mereka dari prasangka buruk dan kebencian yang merusak,
serta membantu mereka sebisa mungkin melalui legislasi dan otoritas eksekutif
yang ada di tangan mereka—karena Allah mencegah dengan kekuasaan apa yang tidak
bisa dicegah oleh Al-Qur'an saja—dengan catatan bahwa hal itu tidak merampas
hak alami mereka untuk berpartisipasi dalam urusan nasional dan menunaikan
kewajiban kebangsaan, maka itu adalah pendapat yang baik, serta metode
ucapan dan tindakan yang indah bagi suatu bangsa yang kondisinya telah lurus,
sistemnya telah stabil, dan tugas-tugasnya telah didistribusikan kepada
putra-putranya yang kompeten dan amanah.
Adapun
pada rakyat yang sedang berjuang (mujahid), yang bertarung demi kebebasannya,
yang berjuang untuk mendapatkan kembali hak-haknya yang dirampas dan
kekayaannya yang dijarah, sementara kesempatan yang tepat ada di depannya—waktu
yang jika hilang tidak akan kembali lagi—maka kewajiban yang mutlak memanggil
setiap organisasi, dan menyeru setiap pekerja apa pun bidangnya, agar tujuan
semua orang menjadi satu, yaitu mengembalikan hak-hak dan perjuangan
kolektif yang sempurna demi tujuan tersebut. Setiap kelalaian dalam hal itu
dianggap sebagai kejahatan yang tidak terampuni.
Oleh
karena itu, Ikhwan memandang tugas pertama mereka dalam situasi ini adalah
mengerahkan seluruh kekuatan mereka ke medan nasional ini. Namun, mereka tidak
akan pernah mengabaikan medan sosial; bahkan mereka telah menetapkan sistemnya,
menyiapkan perlengkapannya, dan menjamin stabilitasnya agar masyarakat tidak
kehilangan buahnya yang baik dan pengaruhnya yang bermanfaat.
Tetapi,
jika Anda tetap berpegang pada tradisi yang lazim dilakukan orang, yang
ditanamkan dalam pikiran dan kondisi mereka oleh orang-orang yang memiliki
kepentingan tertentu; bahwa dianggap tercela bagi tokoh agama dan organisasi
yang bekerja atas nama agama untuk ikut campur dalam kewajiban nasional dan
berjuang demi hal itu; dan bahwa dianggap kurang matang secara politik bagi
seorang politisi jika ia religius atau berkontribusi dalam organisasi
keagamaan; maka itu adalah tradisi yang keliru dan arahan yang zalim
yang tidak kami, Ikhwanul Muslimin, akui. Islam yang hanif berlepas diri dari
stigma ini. Islamlah yang mewajibkan setiap Muslim untuk menjadi orang yang
hidupnya penuh perjuangan dan aktif di mana pun dan di medan apa pun.
Antara
Urusan Dalam Negeri dan Urusan Luar Negeri
Saudara-saudara
yang mulia...
Sesaat
sebelum pertemuan ini, beberapa orang yang memiliki kepedulian (ghirah)
mengajukan nota-nota mengenai perbaikan internal kepada saya. Di akhir nota
tersebut, mereka meminta kepada Kantor Pusat agar pembahasan mengenai perbaikan
(reformasi) yang sangat kita butuhkan menjadi salah satu tema utama konferensi
ini. Kita memang sangat perlu mengobati masalah pendidikan, ekonomi, keluarga,
dan standar hidup para petani, buruh, serta lapisan umat lainnya. Kita perlu
meninjau urusan pertanian, industri, perdagangan, transportasi, dan berbagai
kekayaan alam, serta memberikan perhatian besar pada masalah akhlak yang telah
sangat terpengaruh oleh kemungkaran yang merajalela, kondisi yang rusak, serta
berbagai faktor di lingkungan sekitar kita, dan aspek perbaikan internal
lainnya.
Kami
sama sekali tidak pernah mengabaikan nilai dari perbaikan ini, tidak pula
mengabaikan betapa mendesaknya kebutuhan terhadap hal tersebut, maupun
pentingnya menyusun kurikulum atau rancangan yang detail dan akurat dalam
segala aspeknya.
Kami
tidak akan pernah mengabaikan makna-makna ini dan tidak akan melalaikannya.
Anggaran Dasar Ikhwan telah mencakup hal tersebut, mengisyaratkan pentingnya,
dan menjadikannya sebagai tujuan asasi yang independen dari tujuan-tujuan
mereka. Begitu pula "Risalah Manhaj" yang telah disusun sejak tujuh
tahun lalu atau lebih dalam aspek ini. Dan Ikhwan akan melipatgandakan
perhatian mereka terhadap makna-makna ini dalam waktu dekat, insya Allah.
Namun
bangsa ini—sebagaimana telah saya katakan sebelumnya—sedang berada di depan
kesempatan emas dan waktu yang terbatas, yang jika terlepas dan berlalu, ia
tidak akan kembali lagi. Inilah waktu untuk berpikir dan bekerja guna
menentukan nasib bangsa-bangsa dan posisi negara-negara, mengakui hak-hak yang
mereka miliki, serta menetapkan kewajiban-kewajiban yang harus mereka tanggung.
Ini
dari satu sisi. Di sisi lain, tidak akan ada keadaan yang stabil bagi kita,
tidak akan ada urusan yang menjadi baik, dan tidak ada rencana perbaikan dalam
negeri yang akan terlaksana selama kita belum membebaskan diri dari belenggu
yang berat dan kasar ini; yaitu belenggu campur tangan asing.
Selama
kita belum mendapatkan kemerdekaan yang hakiki—karena kemerdekaan yang cacat
ini justru membuka pintu-pintu intervensi asing selebar-lebarnya bagi siapa pun
yang ingin menghancurkan setiap proyek yang bermanfaat, menghalangi pelaksanaan
setiap ide yang baik, dan menutup segala pintu kebaikan—jika kita menginginkan
perbaikan, maka upaya-upaya harus disatukan untuk menghancurkan belenggu ini
agar kita dapat bekerja memperbaiki urusan dalam negeri kita dalam kebebasan
yang penuh. Siapa pun yang membaca laporan Kamar Dagang Inggris akan mengetahui
apa yang mereka inginkan terhadap kita dalam aspek ekonomi, dan sampai sejauh
mana campur tangan ini menghalangi setiap perbaikan yang dicita-citakan serta
mematikan setiap amal bermanfaat sejak dalam buaiannya. Maka berjuanglah demi
kebebasan—wahai saudara-saudara—karena ia semata adalah landasan dari segala
perbaikan.
Hak-Hak
Nasional Kita
Saudara-saudara
yang mulia:
Saya
tidak akan berbicara panjang lebar kepada Anda mengenai hak-hak ini setelah
saya menyampaikannya dengan cukup jelas pada pertemuan Sidang Umum kita di
bulan Syawal yang lalu, dan setelah saudara-saudara orator kita menyampaikannya
dengan penjelasan serta rincian dari sisi teknis sehingga fakta-fakta ini
menjadi jelas bagi Anda.
Bahwasanya
Sudan adalah tanah air selatan Anda berdasarkan fakta sejarah dan geografi,
berdasarkan ikatan yang tidak dimiliki oleh banyak bangsa yang bersatu baik di
masa lalu maupun sekarang, serta berdasarkan kepentingan bersama dan perasaan
yang saling bertautan. Bahwasanya perjanjian (dengan Inggris) tidak lagi
menjadi dasar yang layak bagi hubungan antara Mesir dan Inggris setelah kondisi
dan situasi berubah secara total, di mana berbagai lembaga dan negara telah
lenyap dari eksistensi dan digantikan oleh lembaga serta negara lainnya, dan
perkembangan baru telah menyentuh seluruh aspek kehidupan intelektual, ekonomi,
serta militer.
Bahwasanya
Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dihasilkan dari pertemuan San
Francisco adalah piagam yang cacat pada dirinya sendiri, tidak mewujudkan
tujuan yang dimaksudkan secara sempurna. Persetujuan kita terhadapnya—sementara
perjanjian lama masih tetap ada dan Liga Arab telah berdiri dengan segala
konsekuensi dan komitmennya—menempatkan kita pada posisi yang ambigu di mana
komitmen-komitmen saling bertolak belakang dan kewajiban-kewajiban saling
berbenturan. Maka, kondisi ini harus dipikirkan, dan kita harus mengambil
langkah antisipasi sebelum kita mencatatkan keterikatan baru ini atas diri kita
sendiri.
Bahwasanya
pembatasan-pembatasan ekonomi yang kita terima selama perang sebagai bentuk
kontribusi kita dalam upaya peperangan—di samping sikap mempermudah yang aneh
dari pemerintah-pemerintah yang silih berganti yang mencapai tingkat kelalaian
dan pengabaian—telah sangat merugikan kita. Akibat dari membiarkan Bank
Nasional menerbitkan uang kertas yang tidak memiliki cadangan emas adalah pound
Mesir kini nilainya tidak lebih dari satu riyal. Buruh Mesir yang menghabiskan
harinya bekerja keras dan membanting tulang demi mendapatkan dua puluh piaster,
misalnya, pada kenyataannya tidak mendapatkan kecuali tiga atau empat piaster
saja, yaitu nilai riil dari dua puluh piaster tersebut. Petani yang berjuang
sepanjang tahun lalu menjual hasilnya, pada hakikatnya hanya mendapatkan
seperlima atau seperenam dari nilainya.
Maka
kita berada dalam kesulitan ekonomi yang tidak terbatas. Jika ditambahkan lagi
dengan apa yang mereka inginkan terhadap kita berupa pembatasan impor dan
ekspor, pengekangan kebebasan perdagangan dan industri, serta membanjiri negeri
dengan imigran dari segala jenis, maka kita melihat diri kita sedang menghadapi
bencana nyata yang mengancam entitas ekonomi kita, maksud saya: mengancam
jantung kehidupan kita. Adalah wajib bagi kita untuk memikirkan solusi tegas
bagi masalah ini, dan Inggris harus membantu kita dalam solusi ini; karena
dialah penyebab langsung dari situasi ini.
Bahwasanya
seruan kita untuk memperkuat persatuan Arab dan memerdekakan bangsa-bangsa
Islam adalah perkara yang diwajibkan kepada kita oleh kepentingan nasional dan
ikatan kebangsaan kita, sebagaimana ia juga diwajibkan oleh perasaan
kemanusiaan yang harus diyakini oleh setiap manusia di alam semesta ini, serta
diwajibkan, diharuskan, dan diserukan oleh Islam.
Para
orator telah menjelaskan semua ini kepada Anda dan menenangkan Anda setelah itu
bahwa kesadaran spiritual dan nasional ini—yang telah tumbuh dan berkembang,
serta tampak kuat dan memukau dalam pertumbuhan dan perkembangan pemikiran
Ikhwanul Muslimin—tidak perlu lagi dikhawatirkan, dengan izin Allah, dan Allah
Mahakuasa atas urusan-Nya.
Saya
tidak ingin menambah penjelasan di atas penjelasan saudara-saudara sekalian,
namun saya tegaskan dalam kesempatan pertemuan ini bahwa hak-hak kita ini
tidaklah berlebihan dan tidak pula sewenang-wenang; itu adalah hak-hak alami.
Kita tidak meminta hak orang lain, dan kita tidak ingin menganiaya siapa pun.
Prinsip-prinsip kemanusiaan yang diumumkan oleh negara-negara besar selama
perang ini, dan yang telah ditetapkan oleh prinsip-prinsip keadilan yang paling
sederhana sejak manusia mengenal kebenaran dan keadilan, mengharuskan setiap
orang yang objektif untuk mengakui hak-hak ini bagi kita. Oleh karena itu, kami
tidak menerima tawar-menawar di dalamnya, kami tidak akan tertipu oleh ucapan
manis dan istilah-istilah baru, dan kami tidak akan rida dengan janji-janji
yang memikat. Kami akan terus berjuang sampai kami sampai pada tujuan, dan kami
akan sampai, insya Allah.
Seluruh
bangsa telah mengarah ke arah ini, dan telah menyatakan pendapatnya dalam hal
itu dengan jelas dan terang, mencakup berbagai lapisan dan organisasinya.
Bahkan bangsa-bangsa Arab dan Islam seluruhnya telah berserikat dalam makna
ini. Di antara mereka ada yang telah menghunus pedang secara nyata demi
kebebasannya sebagaimana yang dilakukan Indonesia, di antara mereka ada
yang sedang menunggu sebagaimana ditunjukkan oleh tanda-tanda di Palestina dan
Turki.
Di
antara mereka ada yang lebih memilih ketenangan dan kedamaian di atas gejolak
jiwa dan mendidihnya hati, namun itu adalah kebijaksanaan yang mengekang
dorongan emosi dengan pertimbangan akal sampai Allah menetapkan suatu urusan
yang harus terjadi, sebagaimana yang ada di Mesir. Dan di antara mereka ada
yang sedang merasakan panasnya api agresi yang zalim dan mempersembahkan di
atas mezbahnya banyak kurban berupa jiwa, rumah, dan harta, sebagaimana yang
terjadi di Aljazair dan Maroko. Kebangkitan ini tidak akan pernah padam sampai
mencapai puncaknya dengan izin Allah, dan bangsa yang ingin hidup tidak mungkin
bisa mati.
Bagian:
Di Antara Sarana-Sarana Kita
Mereka
(para pengkritik dan penyebar isu) berkata: "Ikhwanul Muslimin akan memicu
revolusi, dan bahan bakar revolusi ini adalah orang-orang asing di Mesir,
orang-orang Yahudi, dan kelompok minoritas non-Muslim." Mereka juga
berkata: "Hari ini, tanggal 4 Oktober, dan tanggal 6 Oktober setelahnya,
akan menjadi hari yang dahsyat dan mengerikan dalam sejarah Mesir; karena para
siswa dan murid sekolah akan melakukan penghancuran serta perusakan, lalu
mereka akan turun ke jalan-jalan untuk menebar kerusakan."
Bahkan,
beberapa orang yang memiliki hubungan dengan para direktur perusahaan dan
pabrik menghubungi saya dan mengatakan: "Banyak dari pimpinan perusahaan
ini sangat mengkhawatirkan hari ini. Mereka ingin memberi pengertian kepada
Ikhwanul Muslimin bahwa di perusahaan dan pabrik ini terdapat buruh-buruh
Mesir, dan bahwa mereka (pimpinan) tidak mengambil keuntungan sebesar
keuntungan yang didapat pihak lain. Mereka mencintai rakyat Mesir dan bekerja
sama dengan mereka. Oleh karena itu, mereka berharap agar Ikhwan tidak
mengganggu keselamatan nyawa mereka, tidak pula merusak pabrik dan kantor
mereka pada hari yang sulit ini..." Sampai sejauh itulah orang-orang
berhalusinasi bahwa Mesir berada di ambang revolusi (yang merusak).
Mungkin
mereka bisa dimaklumi dalam halusinasi ini; sebab pengabaian terhadap hak-hak
bangsa, ketidakpedulian terhadap tuntutannya, dan melupakan perasaan rakyat
sampai pada tahap ini, pasti akan menyebabkan kekacauan pikiran dan luka di
dalam dada. Itulah bahan bakar revolusi, selama orang-orang yang memiliki
kepedulian tidak segera turun tangan untuk mengobatinya sebelum terlambat.
Namun
Mesir adalah negeri yang sabar dan bermartabat, dan Ikhwanul Muslimin adalah
organisasi yang bijaksana, beriman, dan terorganisir. Mereka tidak melakukan
revolusi (yang merusak) pada 4 Oktober. Dan inilah muktamar umum Anda sekalian,
yang hampir berakhir dengan tertib dan teratur seolah-olah kita sedang berada
dalam barisan salat.
Dan
tidaklah mengherankan, karena kita berada dalam barisan perjuangan (jihad).
Pondasi masyarakat Islam selamanya adalah keteraturan dan ketaatan: (“Maka
lebih baik bagi mereka; ketaatan dan perkataan yang baik”) [Muhammad: 20-21].
Ketenangan dan stabilitas juga akan terjadi pada tanggal 6 Oktober nanti,
dengan izin Allah; karena Mesir merasa tenang dengan keadilan perkaranya dan
kebenaran tuntutannya. Mesir belum berputus asa terhadap dirinya sendiri maupun
terhadap orang lain, sehingga keputusasaan itu tidak akan mendorongnya pada
revolusi (yang membabi buta).
Mesir
akan tenang untuk sementara waktu, di mana kita memberikan kesempatan kepada
pihak-pihak yang bertanggung jawab di dalam maupun luar negeri untuk berpikir
dan bekerja dalam ketenangan serta stabilitas. Namun, ketenangan Mesir dalam
hal ini bukanlah ketenangan karena lemah, pasrah, lalai, atau tertidur.
Melainkan ketenangan seorang mukmin yang merasa tenteram dengan haknya dan
percaya pada dirinya sendiri. Perkara antara kita dengan mereka yang
mengingkari hak kita adalah perkara tindakan dan prosedur, bukan perkara tipu
daya dan pengelabuan. Sesungguhnya kita berada di atas kebenaran, kita telah
mengenalinya, berpegang teguh padanya, dan menuju ke arahnya. Kebatilan tidak
mungkin bisa tegak kecuali di saat kebenaran sedang lalai. Kini kebenaran telah
terjaga, maka tidak ada lagi kelalaian. Kebenaran pasti akan menang dan tampak,
sementara kebatilan pasti akan sirna dan kalah: (“Sebenarnya Kami
melontarkan yang hak (kebenaran) kepada yang batil (kebohongan) lalu yang hak
itu menghancurkannya, maka seketika itu (yang batil) lenyap.”) [Al-Anbiya: 18].
Kebangkitan kita saat ini bukanlah kebangkitan emosional sesaat yang
memanfaatkan kesempatan untuk memberontak dan menghancurkan, tetapi ia adalah
kebangkitan kesadaran dan iman sejati yang selalu menyeru kita untuk bekerja
dan bersiap setelah kita berpikir dan merencana. Oleh karena itu, kami tenang
dengan hasilnya dan yakin akan kemenangan: (“Sesungguhnya Allah pasti
menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha
Kuat lagi Maha Perkasa.”) [Al-Hajj: 40].
Saudara-saudara
yang mulia...
Sarana
pertama kalian adalah: Iman yang kuat terhadap hak-hak ini, mengenalinya
secara garis besar maupun mendetail, menjaganya, serta memeliharanya. Kenalilah
dengan baik hak-hak dan tujuan kalian, imani hal itu dari lubuk hati yang
terdalam, jangan terima tawar-menawar maupun perdebatan di dalamnya. Kemudian
sebarkan iman ini ke dalam setiap jiwa, sampaikan ia ke setiap hati.
Kepemimpinan Ikhwan akan bekerja untuk itu, dan akan memberantas "buta
huruf nasional" ini dengan perjuangan yang tidak menyisakan eksistensinya
sedikit pun. Kami akan mengerahkan para dai Ikhwan dan pemuda Ikhwan ke
desa-desa, dusun-dusun, perkebunan, pinggiran, serta kota-kota besar untuk
menyiarkan hak rakyat di tengah rakyat itu sendiri dan mengumpulkan mereka di
atasnya. Hak-hak nasional akan menjadi pagar yang menjaga, nasyid yang
dilantunkan, dan wirid yang diulang-ulang. Kami akan menjaga hak-hak tersebut
bagi rakyat sebagaimana kami menjaga mereka untuk menghafal Fatihatul Kitab
(Surah Al-Fatihah), mereka membaca:
(“Dengan
menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi
Allah, Tuhan semesta alam. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Pemilik hari
pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah
kami mohon pertolongan. Tunjukkanlah kami jalan yang lurus. (yaitu) jalan
orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang
dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”) Amin. [Al-Fatihah].
Lalu
setelah itu mereka membaca: Penarikan pasukan (penjajah), Sudan, Agama, Terusan
(Suez), Kebebasan, Kemerdekaan, Persatuan Arab, Liga Islam, Palestina yang
syahid, Indonesia yang berjuang, Maroko yang mulia, dan saudara-saudara kami
sesama Muslim di mana pun berada.
Itu
akan menjadi "wirid nasional" yang dibaca pagi dan petang, dan akan
menjadi "doa qunut syar’i" yang diulang di setiap salat sampai Allah
mengangkat musibah yang mematikan ini dari kita; yaitu musibah intervensi,
kolonialisme, dan perbudakan.
Kemudian
cobalah untuk menyatukan kalimat rakyat di atas tuntutan dan hak-hak
ini, serta palingkan mereka dari segala tujuan selain itu.
Saat
ini di tengah masyarakat sedang bergema nada tentang persatuan para pemimpin
dan penyatuan kata para pemimpin. Jika kata para pemimpin tidak juga bersatu,
apa yang harus kita lakukan? Apakah kita akan berdiri berpangku tangan sampai
sarana pertemuan bagi mereka tersedia?!
Jangan
sibukkan diri kalian dengan hal ini—wahai saudara-saudara—karena waktu jauh
lebih berharga dan kerja jauh lebih bermanfaat. Satukan rakyat di atas tujuan
dan hak-hak, palingkan mereka dari segala makna pertikaian dan perpecahan.
Berikan pemahaman kepada orang-orang tentang bahayanya menceburkan diri dalam
omong kosong yang tidak berguna. Kalian akan mendapati rakyat memiliki kesiapan
untuk itu jika kalian menyibukkan mereka dengannya. Sebab, tangan yang
menganggur akan bersegera menuju keburukan, dan kepala yang kosong adalah
bengkel setan! Maka isilah kekosongan dalam jiwa manusia dengan perkara-perkara
yang serius dan dengan mempelajari hak-hak ini. Alirkan kepada mereka
makna-makna dari kajian yang matang ini. Jika rakyat telah bersatu di atas hal
tersebut, maka selesailah urusan. Kami akan menyerahkan barisan depan kepada
para pemimpin, kami akan memanggil mereka untuk memimpin, dan kami akan berkata
kepada mereka: "Inilah rakyat dan inilah jalannya, maka berjalanlah dengan
keberkahan Allah." Kami adalah kaum yang dididik dengan adab Islam, dan
kami mengetahui sabda Rasul yang mulia: "Umatku akan senantiasa dalam
kebaikan selama yang muda menghormati yang tua, dan yang tua menyayangi yang
muda." Kami tidak akan mendahului kalian selama kalian maju ke depan,
dan kami tidak akan menyelisihi kalian selama kalian istikamah. Tugas kalian
adalah bersungguh-sungguh semampu kalian. Jika mereka melakukannya, maka itulah
yang diharapkan, namun jika tidak, berarti mereka telah mengkhianati amanah dan
menanggalkan makna kepemimpinan dari diri mereka sendiri. Panji ini pasti akan
menemukan pembawanya, dan mereka itu ada: (“Dan jika kamu berpaling, niscaya
Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti
kamu.”) [Muhammad: 38].
Kemudian
tekunlah dalam menuntut hak-hak kalian dan menyerukannya melalui segala
sarana, mulai dari pertemuan, pamflet, pernyataan, dan delegasi tanpa rasa
lelah atau bosan, hingga dengan itu tercapailah makna pemberian peringatan yang
teguh dan kuat. Sesungguhnya telah sah alasan bagi siapa yang telah memberi
peringatan.
Jika
sarana-sarana ini bermanfaat, lalu hati nurani manusia kembali pada
kesadarannya dan pihak lain memberikan keadilan kepada kalian dari sisi mereka
sendiri, maka tidak ada yang lebih kami sukai daripada hal itu, dan kami adalah
orang-orang yang membaca firman Allah: (“Tetapi jika mereka condong kepada
perdamaian, maka terimalah dan bertawakallah kepada Allah.”) [Al-Anfal: 61].
Namun jika tidak, maka jalan selanjutnya adalah pemboikotan dan perlawanan
pasif. Kita tidak akan gagal kali ini jika kita menghendakinya atau
memutuskannya, karena di sana ada ribuan dan jutaan hati yang beriman serta
lisan yang fasih yang semuanya akan dimobilisasi di medan ini di setiap tempat
sampai ketetapan Allah datang. Dan setelah itu adalah membalas agresi dengan
agresi: (“Oleh sebab itu, barangsiapa menyerang kamu, maka seranglah ia
setimpal dengan serangannya terhadapmu.”) [Al-Baqarah: 194]. Dalam hal itu
kita tidak akan menjadi orang yang zalim, melainkan sebagai pembela diri. Hak
membela diri diakui dan ditetapkan dalam seluruh syariat dan undang-undang.
Tidak ada kebaikan dalam hidup bersama kehinaan, dan tidak akan bersatu antara
iman dan kehinaan di dalam hati seorang mukmin sejati yang telah mengecap
manisnya iman, menyadari pahala syahadah (mati syahid), dan menghargai lezatnya
perjuangan (jihad).
Itulah
sebagian sarana kita—wahai saudara-saudara. Merupakan kewajiban bagi kita dan
kewajiban bagi organisasi-organisasi lain untuk memobilisasi diri guna
mewujudkan dan melaksanakannya. Merupakan kewajiban bagi rakyat untuk
menyiapkan diri guna menerimanya dan berkumpul di sekelilingnya. Dan bagi
pemerintah, hendaknya membuka jalan bagi dakwah agar ia tersebar, dan bagi
organisasi-organisasi agar mereka dapat bekerja jika pemerintah tidak mampu
maju di barisan depan dan memimpin para pekerja lainnya. Hendaknya semua orang
bersikap optimis, jangan merasa lemah dan jangan bersedih hati, karena
kemenangan adalah milik orang-orang yang sabar dan kesudahan yang baik adalah
bagi orang-orang yang bertakwa.
"Sebagai
penutup"—wahai saudara-saudara—sesungguhnya aku memiliki harapan yang kuat
akan kemenangan—insya Allah; karena kita berada di atas kebenaran, dan
kebenaran didukung oleh Allah. Bangsa ini telah bergerak dan terjaga, maka kita
tidak akan tertipu lagi setelah hari ini. Di Mesir terdapat vitalitas yang
meluap-luap yang jika telah membanjir, tidak ada sesuatu pun yang dapat
menghalangi jalannya. Di sana ada Raja muda yang patriotik dan memiliki
kepedulian yang mencintai tanah airnya serta mengharapkan segala kebaikan
untuknya. Dan di Mesir, setelah itu semua, terdapat Ikhwanul Muslimin. Maka
bekerjalah, dan Allah bersama kalian, serta tidak akan mengurangi (pahala)
amal-amal kalian.
Wassalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.
Sumber:
Majalah Ikhwanul Muslimin Dua Mingguan No. (74), Tahun Ketiga, 14 Dzulqa'dah
1364 H - 20 Oktober 1945 M.
No comments:
Post a Comment