Friday, April 24, 2026

Risalah Mu'tamar Asy-Sya'bil Awwal lil Ikhwanil Muslimin

Risalah Muktamar Sya'bi (Pesan Konferensi Rakyat)

Oleh: Imam Syahid Hasan al-Banna

Pendahuluan

Imam al-Banna menyampaikan pidato yang komprehensif dalam Muktamar Sya'bi (Konferensi Rakyat) Ikhwanul Muslimin yang diselenggarakan pada 28 Syawal 1364 H atau 4 Oktober 1945 M. Konferensi ini diadakan setelah muktamar daerah dan cabang yang memutuskan untuk mengadakan serangkaian konferensi guna mensosialisasikan persoalan nasional, konspirasi yang mengancamnya, serta seruan untuk melawan penjajah. Konferensi ini bertempat di Kantor Pusat Ikhwan di Hilmiyah Al-Jadidah, yang dihadiri oleh massa Ikhwan yang sangat besar beserta tokoh-tokoh masyarakat.

Teks Pidato:

Segala puji bagi Allah, semoga selawat dan salam tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.

Tuan-tuan yang mulia, Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Malam ini Anda sekalian berkumpul dalam konferensi rakyat pertama di Kairo untuk meninjau hak-hak nasional kita, di tengah berbagai kondisi baru yang mengelilingi kita, guna membahas segala urusan vital kita. Tidaklah mengherankan jika Anda sekalian menjadi orang yang paling depan dalam pertemuan semacam ini. Mungkin Anda adalah orang-orang yang paling merasakan beban tanggung jawab di hari-hari ini.

Saudara-saudara yang mulia:

Malam ini, aku mendapati diriku sangat tersentuh oleh perasaan yang menggetarkan jiwaku setiap kali aku berdiri dalam posisi seperti ini di tengah-tengah saudara sekalian.

Perasaan akan besarnya beban tanggung jawab yang diletakkan di atas pundak kita: ribuan orang ini—dua puluh, tiga puluh, atau empat puluh ribu hati terbaik di lembah yang diberkati ini (Mesir), terdiri dari orang-orang pilihan dengan berbagai lapisan, profesi, dan latar belakang budaya mereka: insinyur, guru, dokter, pengacara, buruh, petani, pedagang, penulis, pemuda, orang dewasa, remaja, hingga orang tua.

Semua hati ini telah bersatu demi satu kalimat dan karena satu kalimat. Mereka telah menyerahkan kepemimpinan mereka secara sukarela dan penuh pilihan, serta memusatkan harapan mereka dengan penuh kegembiraan dan optimisme pada dakwah ini beserta kepemimpinannya.

Bersama ribuan yang berkumpul di sini, terdapat ribuan kali lipat lainnya di kota-kota Mesir, desa-desanya, gurun-gurun Lembah Nil yang diberkati, dan dataran-datarannya yang sedang memasang telinga untuk mendengar sebagaimana Anda mendengar, menatap dengan mata mereka untuk melihat sebagaimana Anda melihat, dan jantung mereka berdegup kencang karena apa yang Anda katakan dan putuskan. Mereka menunggu kalimat yang Anda ucapkan agar mereka bisa menjadi pelaksana dan pekerja bersama Anda.

Di balik kelompok-kelompok mulia ini, ada jutaan orang Arab dan Muslim yang berbagi perasaan dengan Anda, berharap sebagaimana Anda berharap, dan bekerja untuk apa yang Anda kerjakan.

Semua ini—wahai saudara-saudara yang mulia—aku rasakan dengan sangat kuat, aku hayati dengan sangat mendalam, dan aku bayangkan sebagai tanggung jawab terberat serta tugas yang paling besar.

Namun, aku berharap dengan dukungan Allah, taufik-Nya, pertolongan-Nya yang indah, serta dukungan Anda sekalian, semoga kepemimpinan dakwah ini dapat memenuhi prasangka baik dan harapan indah Anda—insya Allah. (“Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia”) [Al-Baqarah: 143]. Adapun dakwah ini, ia adalah milik Allah, Dialah penjaganya, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya.

Agama dan Politik

Saudara-saudara yang mulia, Anda telah mendengarkan para orator konferensi Anda yang terhormat. Anda telah mendengar mereka yang berbicara kepada Anda tentang Perjanjian Mesir-Inggris, tentang Sudan sebagai tanah air selatan Anda, tentang Konferensi San Francisco dan Piagam PBB, tentang saldo Sterling, tuntutan ekonomi, kesatuan Arab, Liga Islam, dan kemanusiaan universal, serta tentang kesadaran agama dan nasional selama seperempat abad terakhir. Anda telah mendengar semua ini dan Anda adalah orang-orang yang mulia dan sadar; karena Anda telah bertahan selama berjam-jam mengikuti kajian-kajian teknis yang murni ini dengan telinga dan pikiran Anda, layaknya pengikut yang paham dan antusias. Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

Tiba-tiba terlintas di benakku, saat aku berada di antara Anda mendengarkan apa yang Anda dengar, bahwa pasti ada seseorang yang akan berkata, atau ada yang berbisik: "Apakah ini markas Ikhwanul Muslimin? Apa urusannya markas Ikhwanul Muslimin dengan menangani urusan-urusan (politik) ini? Bukankah cukup bagi mereka untuk berbicara kepada orang-orang tentang keutamaan Al-Qur'an, hukum-hukum Islam yang hanif mulai dari fardu wudu, rukun salat, keluhuran akhlak, dan indahnya adab? Adapun ini (politik) adalah pembicaraan para politisi, dan orang-orang biasanya mendengarkannya di markas partai dan forum-forum organisasi politik. Alangkah jauh perbedaan antara agama dan politik! Para pemuka agama seharusnya menjauhi medan ini dan membatasi upaya mereka pada apa yang telah mereka tekuni."

Terlintas di benakku bahwa pikiran semacam ini pasti pernah atau sedang berputar di kepala sebagian orang yang melihat perkumpulan kita ini, atau yang akan membacanya nanti. Aku segera katakan kepada mereka semua: Janganlah terperangkap oleh pemikiran yang dangkal dan ucapan yang ambigu. Jangan mengikuti tradisi yang keliru dan istilah yang tidak adil. Berpikirlah dan buatlah batasan yang jelas, karena pemikiran yang sehat dan definisi yang akurat akan menghilangkan perselisihan di antara manusia, atau setidaknya mendekatkan sudut pandang.

Jika yang Anda maksud adalah bahwa Islam adalah agama yang hukum-hukumnya tidak menyentuh urusan politik dalam dan luar negeri—dalam hal pengorganisasian pemerintahan, hubungan antara penguasa dan rakyat, serta hak dan kewajiban yang menyertainya, serta kewajiban atas kebebasan, kedaulatan, dan kemuliaan umat Islam, dsb—maka itu adalah ketidaktahuan terhadap Islam dan kezaliman terhadap hukum-hukum serta syariatnya yang komprehensif, yang datang untuk mengatur urusan dunia dan akhirat, serta menetapkan hubungan dalam masyarakat manusia dengan batasan yang terbaik.

Dan jika yang Anda maksud adalah bahwa lebih baik jika suatu kelompok mengkhususkan diri pada urusan spiritual, moral, ibadah, dan pelayanan kemanusiaan umum, sementara kelompok lain berkonsentrasi pada kemahiran politik dan menangani urusan-urusannya; dan agar kelompok pertama menjauhi badai serta kemelut politik sebisa mungkin agar mereka memiliki ketenangan dan stabilitas yang diperlukan untuk membuahkan hasil yang baik di bidangnya;

Dan agar kelompok kedua membantu mereka dalam hal ini dengan menyediakan ketenangan bagi mereka, menjauhkan mereka dari prasangka buruk dan kebencian yang merusak, serta membantu mereka sebisa mungkin melalui legislasi dan otoritas eksekutif yang ada di tangan mereka—karena Allah mencegah dengan kekuasaan apa yang tidak bisa dicegah oleh Al-Qur'an saja—dengan catatan bahwa hal itu tidak merampas hak alami mereka untuk berpartisipasi dalam urusan nasional dan menunaikan kewajiban kebangsaan, maka itu adalah pendapat yang baik, serta metode ucapan dan tindakan yang indah bagi suatu bangsa yang kondisinya telah lurus, sistemnya telah stabil, dan tugas-tugasnya telah didistribusikan kepada putra-putranya yang kompeten dan amanah.

Adapun pada rakyat yang sedang berjuang (mujahid), yang bertarung demi kebebasannya, yang berjuang untuk mendapatkan kembali hak-haknya yang dirampas dan kekayaannya yang dijarah, sementara kesempatan yang tepat ada di depannya—waktu yang jika hilang tidak akan kembali lagi—maka kewajiban yang mutlak memanggil setiap organisasi, dan menyeru setiap pekerja apa pun bidangnya, agar tujuan semua orang menjadi satu, yaitu mengembalikan hak-hak dan perjuangan kolektif yang sempurna demi tujuan tersebut. Setiap kelalaian dalam hal itu dianggap sebagai kejahatan yang tidak terampuni.

Oleh karena itu, Ikhwan memandang tugas pertama mereka dalam situasi ini adalah mengerahkan seluruh kekuatan mereka ke medan nasional ini. Namun, mereka tidak akan pernah mengabaikan medan sosial; bahkan mereka telah menetapkan sistemnya, menyiapkan perlengkapannya, dan menjamin stabilitasnya agar masyarakat tidak kehilangan buahnya yang baik dan pengaruhnya yang bermanfaat.

Tetapi, jika Anda tetap berpegang pada tradisi yang lazim dilakukan orang, yang ditanamkan dalam pikiran dan kondisi mereka oleh orang-orang yang memiliki kepentingan tertentu; bahwa dianggap tercela bagi tokoh agama dan organisasi yang bekerja atas nama agama untuk ikut campur dalam kewajiban nasional dan berjuang demi hal itu; dan bahwa dianggap kurang matang secara politik bagi seorang politisi jika ia religius atau berkontribusi dalam organisasi keagamaan; maka itu adalah tradisi yang keliru dan arahan yang zalim yang tidak kami, Ikhwanul Muslimin, akui. Islam yang hanif berlepas diri dari stigma ini. Islamlah yang mewajibkan setiap Muslim untuk menjadi orang yang hidupnya penuh perjuangan dan aktif di mana pun dan di medan apa pun.


Antara Urusan Dalam Negeri dan Urusan Luar Negeri

Saudara-saudara yang mulia...

Sesaat sebelum pertemuan ini, beberapa orang yang memiliki kepedulian (ghirah) mengajukan nota-nota mengenai perbaikan internal kepada saya. Di akhir nota tersebut, mereka meminta kepada Kantor Pusat agar pembahasan mengenai perbaikan (reformasi) yang sangat kita butuhkan menjadi salah satu tema utama konferensi ini. Kita memang sangat perlu mengobati masalah pendidikan, ekonomi, keluarga, dan standar hidup para petani, buruh, serta lapisan umat lainnya. Kita perlu meninjau urusan pertanian, industri, perdagangan, transportasi, dan berbagai kekayaan alam, serta memberikan perhatian besar pada masalah akhlak yang telah sangat terpengaruh oleh kemungkaran yang merajalela, kondisi yang rusak, serta berbagai faktor di lingkungan sekitar kita, dan aspek perbaikan internal lainnya.

Kami sama sekali tidak pernah mengabaikan nilai dari perbaikan ini, tidak pula mengabaikan betapa mendesaknya kebutuhan terhadap hal tersebut, maupun pentingnya menyusun kurikulum atau rancangan yang detail dan akurat dalam segala aspeknya.

Kami tidak akan pernah mengabaikan makna-makna ini dan tidak akan melalaikannya. Anggaran Dasar Ikhwan telah mencakup hal tersebut, mengisyaratkan pentingnya, dan menjadikannya sebagai tujuan asasi yang independen dari tujuan-tujuan mereka. Begitu pula "Risalah Manhaj" yang telah disusun sejak tujuh tahun lalu atau lebih dalam aspek ini. Dan Ikhwan akan melipatgandakan perhatian mereka terhadap makna-makna ini dalam waktu dekat, insya Allah.

Namun bangsa ini—sebagaimana telah saya katakan sebelumnya—sedang berada di depan kesempatan emas dan waktu yang terbatas, yang jika terlepas dan berlalu, ia tidak akan kembali lagi. Inilah waktu untuk berpikir dan bekerja guna menentukan nasib bangsa-bangsa dan posisi negara-negara, mengakui hak-hak yang mereka miliki, serta menetapkan kewajiban-kewajiban yang harus mereka tanggung.

Ini dari satu sisi. Di sisi lain, tidak akan ada keadaan yang stabil bagi kita, tidak akan ada urusan yang menjadi baik, dan tidak ada rencana perbaikan dalam negeri yang akan terlaksana selama kita belum membebaskan diri dari belenggu yang berat dan kasar ini; yaitu belenggu campur tangan asing.

Selama kita belum mendapatkan kemerdekaan yang hakiki—karena kemerdekaan yang cacat ini justru membuka pintu-pintu intervensi asing selebar-lebarnya bagi siapa pun yang ingin menghancurkan setiap proyek yang bermanfaat, menghalangi pelaksanaan setiap ide yang baik, dan menutup segala pintu kebaikan—jika kita menginginkan perbaikan, maka upaya-upaya harus disatukan untuk menghancurkan belenggu ini agar kita dapat bekerja memperbaiki urusan dalam negeri kita dalam kebebasan yang penuh. Siapa pun yang membaca laporan Kamar Dagang Inggris akan mengetahui apa yang mereka inginkan terhadap kita dalam aspek ekonomi, dan sampai sejauh mana campur tangan ini menghalangi setiap perbaikan yang dicita-citakan serta mematikan setiap amal bermanfaat sejak dalam buaiannya. Maka berjuanglah demi kebebasan—wahai saudara-saudara—karena ia semata adalah landasan dari segala perbaikan.


Hak-Hak Nasional Kita

Saudara-saudara yang mulia:

Saya tidak akan berbicara panjang lebar kepada Anda mengenai hak-hak ini setelah saya menyampaikannya dengan cukup jelas pada pertemuan Sidang Umum kita di bulan Syawal yang lalu, dan setelah saudara-saudara orator kita menyampaikannya dengan penjelasan serta rincian dari sisi teknis sehingga fakta-fakta ini menjadi jelas bagi Anda.

Bahwasanya Sudan adalah tanah air selatan Anda berdasarkan fakta sejarah dan geografi, berdasarkan ikatan yang tidak dimiliki oleh banyak bangsa yang bersatu baik di masa lalu maupun sekarang, serta berdasarkan kepentingan bersama dan perasaan yang saling bertautan. Bahwasanya perjanjian (dengan Inggris) tidak lagi menjadi dasar yang layak bagi hubungan antara Mesir dan Inggris setelah kondisi dan situasi berubah secara total, di mana berbagai lembaga dan negara telah lenyap dari eksistensi dan digantikan oleh lembaga serta negara lainnya, dan perkembangan baru telah menyentuh seluruh aspek kehidupan intelektual, ekonomi, serta militer.

Bahwasanya Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dihasilkan dari pertemuan San Francisco adalah piagam yang cacat pada dirinya sendiri, tidak mewujudkan tujuan yang dimaksudkan secara sempurna. Persetujuan kita terhadapnya—sementara perjanjian lama masih tetap ada dan Liga Arab telah berdiri dengan segala konsekuensi dan komitmennya—menempatkan kita pada posisi yang ambigu di mana komitmen-komitmen saling bertolak belakang dan kewajiban-kewajiban saling berbenturan. Maka, kondisi ini harus dipikirkan, dan kita harus mengambil langkah antisipasi sebelum kita mencatatkan keterikatan baru ini atas diri kita sendiri.

Bahwasanya pembatasan-pembatasan ekonomi yang kita terima selama perang sebagai bentuk kontribusi kita dalam upaya peperangan—di samping sikap mempermudah yang aneh dari pemerintah-pemerintah yang silih berganti yang mencapai tingkat kelalaian dan pengabaian—telah sangat merugikan kita. Akibat dari membiarkan Bank Nasional menerbitkan uang kertas yang tidak memiliki cadangan emas adalah pound Mesir kini nilainya tidak lebih dari satu riyal. Buruh Mesir yang menghabiskan harinya bekerja keras dan membanting tulang demi mendapatkan dua puluh piaster, misalnya, pada kenyataannya tidak mendapatkan kecuali tiga atau empat piaster saja, yaitu nilai riil dari dua puluh piaster tersebut. Petani yang berjuang sepanjang tahun lalu menjual hasilnya, pada hakikatnya hanya mendapatkan seperlima atau seperenam dari nilainya.

Maka kita berada dalam kesulitan ekonomi yang tidak terbatas. Jika ditambahkan lagi dengan apa yang mereka inginkan terhadap kita berupa pembatasan impor dan ekspor, pengekangan kebebasan perdagangan dan industri, serta membanjiri negeri dengan imigran dari segala jenis, maka kita melihat diri kita sedang menghadapi bencana nyata yang mengancam entitas ekonomi kita, maksud saya: mengancam jantung kehidupan kita. Adalah wajib bagi kita untuk memikirkan solusi tegas bagi masalah ini, dan Inggris harus membantu kita dalam solusi ini; karena dialah penyebab langsung dari situasi ini.

Bahwasanya seruan kita untuk memperkuat persatuan Arab dan memerdekakan bangsa-bangsa Islam adalah perkara yang diwajibkan kepada kita oleh kepentingan nasional dan ikatan kebangsaan kita, sebagaimana ia juga diwajibkan oleh perasaan kemanusiaan yang harus diyakini oleh setiap manusia di alam semesta ini, serta diwajibkan, diharuskan, dan diserukan oleh Islam.

Para orator telah menjelaskan semua ini kepada Anda dan menenangkan Anda setelah itu bahwa kesadaran spiritual dan nasional ini—yang telah tumbuh dan berkembang, serta tampak kuat dan memukau dalam pertumbuhan dan perkembangan pemikiran Ikhwanul Muslimin—tidak perlu lagi dikhawatirkan, dengan izin Allah, dan Allah Mahakuasa atas urusan-Nya.

Saya tidak ingin menambah penjelasan di atas penjelasan saudara-saudara sekalian, namun saya tegaskan dalam kesempatan pertemuan ini bahwa hak-hak kita ini tidaklah berlebihan dan tidak pula sewenang-wenang; itu adalah hak-hak alami. Kita tidak meminta hak orang lain, dan kita tidak ingin menganiaya siapa pun. Prinsip-prinsip kemanusiaan yang diumumkan oleh negara-negara besar selama perang ini, dan yang telah ditetapkan oleh prinsip-prinsip keadilan yang paling sederhana sejak manusia mengenal kebenaran dan keadilan, mengharuskan setiap orang yang objektif untuk mengakui hak-hak ini bagi kita. Oleh karena itu, kami tidak menerima tawar-menawar di dalamnya, kami tidak akan tertipu oleh ucapan manis dan istilah-istilah baru, dan kami tidak akan rida dengan janji-janji yang memikat. Kami akan terus berjuang sampai kami sampai pada tujuan, dan kami akan sampai, insya Allah.

Seluruh bangsa telah mengarah ke arah ini, dan telah menyatakan pendapatnya dalam hal itu dengan jelas dan terang, mencakup berbagai lapisan dan organisasinya. Bahkan bangsa-bangsa Arab dan Islam seluruhnya telah berserikat dalam makna ini. Di antara mereka ada yang telah menghunus pedang secara nyata demi kebebasannya sebagaimana yang dilakukan Indonesia, di antara mereka ada yang sedang menunggu sebagaimana ditunjukkan oleh tanda-tanda di Palestina dan Turki.

Di antara mereka ada yang lebih memilih ketenangan dan kedamaian di atas gejolak jiwa dan mendidihnya hati, namun itu adalah kebijaksanaan yang mengekang dorongan emosi dengan pertimbangan akal sampai Allah menetapkan suatu urusan yang harus terjadi, sebagaimana yang ada di Mesir. Dan di antara mereka ada yang sedang merasakan panasnya api agresi yang zalim dan mempersembahkan di atas mezbahnya banyak kurban berupa jiwa, rumah, dan harta, sebagaimana yang terjadi di Aljazair dan Maroko. Kebangkitan ini tidak akan pernah padam sampai mencapai puncaknya dengan izin Allah, dan bangsa yang ingin hidup tidak mungkin bisa mati.


Bagian: Di Antara Sarana-Sarana Kita

Mereka (para pengkritik dan penyebar isu) berkata: "Ikhwanul Muslimin akan memicu revolusi, dan bahan bakar revolusi ini adalah orang-orang asing di Mesir, orang-orang Yahudi, dan kelompok minoritas non-Muslim." Mereka juga berkata: "Hari ini, tanggal 4 Oktober, dan tanggal 6 Oktober setelahnya, akan menjadi hari yang dahsyat dan mengerikan dalam sejarah Mesir; karena para siswa dan murid sekolah akan melakukan penghancuran serta perusakan, lalu mereka akan turun ke jalan-jalan untuk menebar kerusakan."

Bahkan, beberapa orang yang memiliki hubungan dengan para direktur perusahaan dan pabrik menghubungi saya dan mengatakan: "Banyak dari pimpinan perusahaan ini sangat mengkhawatirkan hari ini. Mereka ingin memberi pengertian kepada Ikhwanul Muslimin bahwa di perusahaan dan pabrik ini terdapat buruh-buruh Mesir, dan bahwa mereka (pimpinan) tidak mengambil keuntungan sebesar keuntungan yang didapat pihak lain. Mereka mencintai rakyat Mesir dan bekerja sama dengan mereka. Oleh karena itu, mereka berharap agar Ikhwan tidak mengganggu keselamatan nyawa mereka, tidak pula merusak pabrik dan kantor mereka pada hari yang sulit ini..." Sampai sejauh itulah orang-orang berhalusinasi bahwa Mesir berada di ambang revolusi (yang merusak).

Mungkin mereka bisa dimaklumi dalam halusinasi ini; sebab pengabaian terhadap hak-hak bangsa, ketidakpedulian terhadap tuntutannya, dan melupakan perasaan rakyat sampai pada tahap ini, pasti akan menyebabkan kekacauan pikiran dan luka di dalam dada. Itulah bahan bakar revolusi, selama orang-orang yang memiliki kepedulian tidak segera turun tangan untuk mengobatinya sebelum terlambat.

Namun Mesir adalah negeri yang sabar dan bermartabat, dan Ikhwanul Muslimin adalah organisasi yang bijaksana, beriman, dan terorganisir. Mereka tidak melakukan revolusi (yang merusak) pada 4 Oktober. Dan inilah muktamar umum Anda sekalian, yang hampir berakhir dengan tertib dan teratur seolah-olah kita sedang berada dalam barisan salat.

Dan tidaklah mengherankan, karena kita berada dalam barisan perjuangan (jihad). Pondasi masyarakat Islam selamanya adalah keteraturan dan ketaatan: (“Maka lebih baik bagi mereka; ketaatan dan perkataan yang baik”) [Muhammad: 20-21]. Ketenangan dan stabilitas juga akan terjadi pada tanggal 6 Oktober nanti, dengan izin Allah; karena Mesir merasa tenang dengan keadilan perkaranya dan kebenaran tuntutannya. Mesir belum berputus asa terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain, sehingga keputusasaan itu tidak akan mendorongnya pada revolusi (yang membabi buta).

Mesir akan tenang untuk sementara waktu, di mana kita memberikan kesempatan kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab di dalam maupun luar negeri untuk berpikir dan bekerja dalam ketenangan serta stabilitas. Namun, ketenangan Mesir dalam hal ini bukanlah ketenangan karena lemah, pasrah, lalai, atau tertidur. Melainkan ketenangan seorang mukmin yang merasa tenteram dengan haknya dan percaya pada dirinya sendiri. Perkara antara kita dengan mereka yang mengingkari hak kita adalah perkara tindakan dan prosedur, bukan perkara tipu daya dan pengelabuan. Sesungguhnya kita berada di atas kebenaran, kita telah mengenalinya, berpegang teguh padanya, dan menuju ke arahnya. Kebatilan tidak mungkin bisa tegak kecuali di saat kebenaran sedang lalai. Kini kebenaran telah terjaga, maka tidak ada lagi kelalaian. Kebenaran pasti akan menang dan tampak, sementara kebatilan pasti akan sirna dan kalah: (“Sebenarnya Kami melontarkan yang hak (kebenaran) kepada yang batil (kebohongan) lalu yang hak itu menghancurkannya, maka seketika itu (yang batil) lenyap.”) [Al-Anbiya: 18]. Kebangkitan kita saat ini bukanlah kebangkitan emosional sesaat yang memanfaatkan kesempatan untuk memberontak dan menghancurkan, tetapi ia adalah kebangkitan kesadaran dan iman sejati yang selalu menyeru kita untuk bekerja dan bersiap setelah kita berpikir dan merencana. Oleh karena itu, kami tenang dengan hasilnya dan yakin akan kemenangan: (“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.”) [Al-Hajj: 40].

Saudara-saudara yang mulia...

Sarana pertama kalian adalah: Iman yang kuat terhadap hak-hak ini, mengenalinya secara garis besar maupun mendetail, menjaganya, serta memeliharanya. Kenalilah dengan baik hak-hak dan tujuan kalian, imani hal itu dari lubuk hati yang terdalam, jangan terima tawar-menawar maupun perdebatan di dalamnya. Kemudian sebarkan iman ini ke dalam setiap jiwa, sampaikan ia ke setiap hati. Kepemimpinan Ikhwan akan bekerja untuk itu, dan akan memberantas "buta huruf nasional" ini dengan perjuangan yang tidak menyisakan eksistensinya sedikit pun. Kami akan mengerahkan para dai Ikhwan dan pemuda Ikhwan ke desa-desa, dusun-dusun, perkebunan, pinggiran, serta kota-kota besar untuk menyiarkan hak rakyat di tengah rakyat itu sendiri dan mengumpulkan mereka di atasnya. Hak-hak nasional akan menjadi pagar yang menjaga, nasyid yang dilantunkan, dan wirid yang diulang-ulang. Kami akan menjaga hak-hak tersebut bagi rakyat sebagaimana kami menjaga mereka untuk menghafal Fatihatul Kitab (Surah Al-Fatihah), mereka membaca:

(“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Pemilik hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukkanlah kami jalan yang lurus. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”) Amin. [Al-Fatihah].

Lalu setelah itu mereka membaca: Penarikan pasukan (penjajah), Sudan, Agama, Terusan (Suez), Kebebasan, Kemerdekaan, Persatuan Arab, Liga Islam, Palestina yang syahid, Indonesia yang berjuang, Maroko yang mulia, dan saudara-saudara kami sesama Muslim di mana pun berada.

Itu akan menjadi "wirid nasional" yang dibaca pagi dan petang, dan akan menjadi "doa qunut syar’i" yang diulang di setiap salat sampai Allah mengangkat musibah yang mematikan ini dari kita; yaitu musibah intervensi, kolonialisme, dan perbudakan.

Kemudian cobalah untuk menyatukan kalimat rakyat di atas tuntutan dan hak-hak ini, serta palingkan mereka dari segala tujuan selain itu.

Saat ini di tengah masyarakat sedang bergema nada tentang persatuan para pemimpin dan penyatuan kata para pemimpin. Jika kata para pemimpin tidak juga bersatu, apa yang harus kita lakukan? Apakah kita akan berdiri berpangku tangan sampai sarana pertemuan bagi mereka tersedia?!

Jangan sibukkan diri kalian dengan hal ini—wahai saudara-saudara—karena waktu jauh lebih berharga dan kerja jauh lebih bermanfaat. Satukan rakyat di atas tujuan dan hak-hak, palingkan mereka dari segala makna pertikaian dan perpecahan. Berikan pemahaman kepada orang-orang tentang bahayanya menceburkan diri dalam omong kosong yang tidak berguna. Kalian akan mendapati rakyat memiliki kesiapan untuk itu jika kalian menyibukkan mereka dengannya. Sebab, tangan yang menganggur akan bersegera menuju keburukan, dan kepala yang kosong adalah bengkel setan! Maka isilah kekosongan dalam jiwa manusia dengan perkara-perkara yang serius dan dengan mempelajari hak-hak ini. Alirkan kepada mereka makna-makna dari kajian yang matang ini. Jika rakyat telah bersatu di atas hal tersebut, maka selesailah urusan. Kami akan menyerahkan barisan depan kepada para pemimpin, kami akan memanggil mereka untuk memimpin, dan kami akan berkata kepada mereka: "Inilah rakyat dan inilah jalannya, maka berjalanlah dengan keberkahan Allah." Kami adalah kaum yang dididik dengan adab Islam, dan kami mengetahui sabda Rasul yang mulia: "Umatku akan senantiasa dalam kebaikan selama yang muda menghormati yang tua, dan yang tua menyayangi yang muda." Kami tidak akan mendahului kalian selama kalian maju ke depan, dan kami tidak akan menyelisihi kalian selama kalian istikamah. Tugas kalian adalah bersungguh-sungguh semampu kalian. Jika mereka melakukannya, maka itulah yang diharapkan, namun jika tidak, berarti mereka telah mengkhianati amanah dan menanggalkan makna kepemimpinan dari diri mereka sendiri. Panji ini pasti akan menemukan pembawanya, dan mereka itu ada: (“Dan jika kamu berpaling, niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu.”) [Muhammad: 38].

Kemudian tekunlah dalam menuntut hak-hak kalian dan menyerukannya melalui segala sarana, mulai dari pertemuan, pamflet, pernyataan, dan delegasi tanpa rasa lelah atau bosan, hingga dengan itu tercapailah makna pemberian peringatan yang teguh dan kuat. Sesungguhnya telah sah alasan bagi siapa yang telah memberi peringatan.

Jika sarana-sarana ini bermanfaat, lalu hati nurani manusia kembali pada kesadarannya dan pihak lain memberikan keadilan kepada kalian dari sisi mereka sendiri, maka tidak ada yang lebih kami sukai daripada hal itu, dan kami adalah orang-orang yang membaca firman Allah: (“Tetapi jika mereka condong kepada perdamaian, maka terimalah dan bertawakallah kepada Allah.”) [Al-Anfal: 61]. Namun jika tidak, maka jalan selanjutnya adalah pemboikotan dan perlawanan pasif. Kita tidak akan gagal kali ini jika kita menghendakinya atau memutuskannya, karena di sana ada ribuan dan jutaan hati yang beriman serta lisan yang fasih yang semuanya akan dimobilisasi di medan ini di setiap tempat sampai ketetapan Allah datang. Dan setelah itu adalah membalas agresi dengan agresi: (“Oleh sebab itu, barangsiapa menyerang kamu, maka seranglah ia setimpal dengan serangannya terhadapmu.”) [Al-Baqarah: 194]. Dalam hal itu kita tidak akan menjadi orang yang zalim, melainkan sebagai pembela diri. Hak membela diri diakui dan ditetapkan dalam seluruh syariat dan undang-undang. Tidak ada kebaikan dalam hidup bersama kehinaan, dan tidak akan bersatu antara iman dan kehinaan di dalam hati seorang mukmin sejati yang telah mengecap manisnya iman, menyadari pahala syahadah (mati syahid), dan menghargai lezatnya perjuangan (jihad).

Itulah sebagian sarana kita—wahai saudara-saudara. Merupakan kewajiban bagi kita dan kewajiban bagi organisasi-organisasi lain untuk memobilisasi diri guna mewujudkan dan melaksanakannya. Merupakan kewajiban bagi rakyat untuk menyiapkan diri guna menerimanya dan berkumpul di sekelilingnya. Dan bagi pemerintah, hendaknya membuka jalan bagi dakwah agar ia tersebar, dan bagi organisasi-organisasi agar mereka dapat bekerja jika pemerintah tidak mampu maju di barisan depan dan memimpin para pekerja lainnya. Hendaknya semua orang bersikap optimis, jangan merasa lemah dan jangan bersedih hati, karena kemenangan adalah milik orang-orang yang sabar dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.

"Sebagai penutup"—wahai saudara-saudara—sesungguhnya aku memiliki harapan yang kuat akan kemenangan—insya Allah; karena kita berada di atas kebenaran, dan kebenaran didukung oleh Allah. Bangsa ini telah bergerak dan terjaga, maka kita tidak akan tertipu lagi setelah hari ini. Di Mesir terdapat vitalitas yang meluap-luap yang jika telah membanjir, tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi jalannya. Di sana ada Raja muda yang patriotik dan memiliki kepedulian yang mencintai tanah airnya serta mengharapkan segala kebaikan untuknya. Dan di Mesir, setelah itu semua, terdapat Ikhwanul Muslimin. Maka bekerjalah, dan Allah bersama kalian, serta tidak akan mengurangi (pahala) amal-amal kalian.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Sumber: Majalah Ikhwanul Muslimin Dua Mingguan No. (74), Tahun Ketiga, 14 Dzulqa'dah 1364 H - 20 Oktober 1945 M.

 

No comments:

Post a Comment