Saturday, April 18, 2026

Makna Laa ilaaha illallah

  

TUJUAN MATERI

Melalui materi ini, peserta dapat:

1.     Mengokohkan pemahaman tentang kalimat Ilah pada kalimat لاإله إلا الله.

2.     Meyakini dan menreima kalimat tauhid لاإله إلا الله dengan segala tuntutannya.

3.     Meyakini bahwa menerima kalimat tauhid لاإله إلا الله adalah kunci kesuksesan di dunia dan di akhirat.

 

INTISARI MATERI

Pada pembahasan materi ini, kita akan mempelajari dan membahas tentang sebab generasi awal Islam memimpin dunia dan sebab generasi Islam saat ini menjadi santapan bangsa lain, keharusan berilmu untuk memahami kalimat tauhid لاإله إلا الله, serta makna Ilah secara bahasa dan penjelasan makna Ilah menurut para ulama.

 

MODUL

Jika bukan karena permintaan adik perempuannya, Adi bin Hatim tidak akan menemui Rasulullah saw. Belum ada alasan yang cukup kuat bagi Adi bin Hatim untuk menerima Islam. Sebagai salah seorang pembesar suku yang berpengaruh jazirah Arab, rasanya secara logika, dia sulit menerima Islam. Dia melihat kaum Muslimin dalam kondisi miskin dan jumlah mereka juga tidak banyak. Sementara itu, para raja saat itu bukanlah dari kalangan orang-orang Islam.

Lalu Rasulullah saw memberikan pesan nubuwwah kepada Adi bin Hatim. Rasulullah saw berupaya meyakinkan tentang masa depan Islam. “Hai Adi! Agaknya Anda enggan masuk Islam karena kenyataan yang Anda lihat tentang kaum Muslim, mereka miskin. Demi Allah! Tidak lama lagi harta akan berlimpah-ruah di kalangan mereka sehingga susah didapat orang yang mau menerima sedekah. Atau barangkali Anda enggan masuk agama ini karena kaum Muslim sedikit jumlahnya sedangkan musuh-musuh mereka banyak. Demi Allah! Tidak lama lagi Anda akan mendengar berita seorang  perempuan  datang dari Qadisiyah mengendarai unta ke Baitullah tanpa takut kepada siapa pun selain kepada Allah.

Atau mungkin juga Anda enggan masuk Islam karena ternyata raja-raja dan para sultan terdiri dari orang yang bukan Islam. Demi Allah! Tidak lama lagi Anda akan mendengar Istana Putih di negeri Babil (Iraq) direbut kaum Muslim dan kekayaan Kisra bin Hurmuz pindah menjadi milik mereka.” Aku bertanya kagum, “Kekayaan Kisra bin Hurmuz?” Jawab Rasulullah saw, “Ya kekayaan Kisra bin Hurmuz.” Maka seketika itu juga aku mengucapkan dua kalimah syahadat di hadapan Rasulullah saw dan aku menjadi Muslim.

Kalimat tauhid لا اله الا الله  sumber kekuatan yang menyebabkan kaum Muslimin mampu memimpin dunia. Rasulullah saw menjanjikan kepada bangsa Quraisy memimpin dunia asalkan mereka mau menerima kalimat tersebut dan komitmen dengannya. Inilah seruan Rasulullah saw kepada mereka,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قُوْلْوْا لَا إِلَهَ إِلَّا الله تُفْلِحُوْا، وَتَمْلِكُوْا بِهَا الْعَرَبَ، وَتَدِيْنُ لَكُمْ بِهَا الْعَجَمَ، فَإِذَا مُتُّمْ كُنْتُمْ مُلُوْكًا فِي الْجَنَّةِ

Wahai sekalian manusia katakanlah لَا إِلَهَ إِلَّا الله maka kalian akan sukses, kalian akan mengusai bangsa Arab dan non-Arab dan jika kalian mati kalian akan menjadi raja di surga.

Adi bin Hatim telah membuktikan nubuwwah Rasulullah saw dan menjadi saksi atas semua itu.

 

1.     Sebab Kelemahan Umat

Tidakkah kita bertanya kenapa Islam mampu memimpin peradaban pada saat itu dan pada saat ini kaum Muslimin menjadi santapan bangsa lain? Kondisi kaum Muslimin menjadi santapan bangsa lain menggambarkan betapa lemahnya kaum Muslimin dari berbagai macam sisi. Memperhatikan seruan Rasulullah saw kepada kaum Quraisy, kita mengerti bahwa sebab umat Islam saat ini lemah adalah lemahnya komitmen mereka terhadap kalimat tauhid.

Kalimat tauhid memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan sangat penting bagi kaum Muslimin, sebagaimana dikatakan Ibnul Qayyim. “Di atas kalimat tauhid ditegakkan agama dan kiblat. Dihunus pedang jihad, dia adalah hak Allah SWT atas hamba. Dia adalah kalimat yang melindungi darah, harta, dan keturunan. Pembebas dari adzab kubur dan neraka. Dia adalah permakluman bahwa tidak akan bisa seseorang masuk surga tanpanya.” Keagungan dan ketinggian ini hanya dipahami oleh mereka yang berilmu. Dengan demikian, dengan ilmu tersebut penerimaan dan komitmen terhadap kalimat tauhid bisa diwujudkan.

 

 

2.     Keharusan Ilmu

Makna sesuatu akan kita mengerti jika kita paham dan pemahaman akan kita dapatkan jika kita berilmu. Ada sebuah anekdot, beberapa orang makan di restoran. Menu yang tersedia dalam bahasa Inggris. Disebabkan ketidakpahaman mereka, dipilihlah menu secara asal-asalan. Ternyata menu yang datang adalah menu sejenis acar. Mereka semua bengong saat melihat menu yang datang. Mereka melihat makanan orang-orang di sebelah mereka enak dan sangat menarik. Kemudian orang sebelahnya mau menambah menu, mereka mengatakan more – yang berarti lagi – maka datanglah menu yang enak-enak. Mengikuti orang di sebelahnya, mereka pun mengatakan more. Mereka mengira menu tersebut bernama more dan yang datang ternyata acar lagi. Betapa untuk urusan nama menu pun dibutuhkan ilmu. Ilmu menjadi kunci awal kesuksesan semua urusan.

Wajar jika Islam mendorong umatnya untuk berilmu karena dengan ilmu akan menjadikan seseorang bertanggung jawab dan konsisten dengan apa yang dipahaminya. Apalagi pemahaman atas kalimat tauhid yang sangat fundamental. Allah SWT meminta kepada hamba-Nya berilmu dalam memahami kalimat tersebut agar kalimat yang agung tersebut kokoh di dalam jiwa.

Allah SWT berfirman,

Maka berilmulah bahwa sesungguhnya tidak ada اله selain Allah SWT.” (Muhammad: 19)

وَقِيْلَ : مَعّنَاهُ فَاثْبِتْ عَلَيْهِ. وَقَالَ اَلْحُسَيْنُ بْنُ الْفَضْل : فَازْدُدْ عِلْماً عَلَى عِلْمِكَ  - تفسير البغوي

Dalam tafsir al-Baghawi dijelaskan bahwa pengertian ayat tersebut adalah berteguhpendirianlah kamu di atas kalimat tersebut. Husain bin Fadhl menjelaskan bahwa maksudnya adalah maka tambahlah ilmumu di atas ilmu yang kamu miliki.

Jangan seperti burung beo yang pandai mengucap, tetapi tidak paham dengan apa yang diucapkan. Jangan pula seperti anak kecil yang pintarnya membeo tanpa paham apa yang dikatakan. Kita juga tidak ingin menjadi orang mabuk atau mengigau karena berucap, tetapi tidak mengerti apa yang diucapkan.

 

  1. Konsekuensi Tauhid

Rasulullah saw membawa kalimat لاإله إلا الله ke tengah umat pemilik bahasa yang tahu betul apa konsekuensi dari kalimat tersebut. Dengan demikian, kita bisa melihat sebagian mereka menolak dengan lantang karena terlampau besar akibat yang harus mereka hadapi. Sebagian kecil menerima dan konsisten dengan penerimaannya. Sebagian dari mereka ragu-ragu. Sebagian dari mereka menolak karena mereka paham konsekuensi besar dengan mengatakan

هَذَا أَمْرٌ تَكْرَهُهُ الْمُلُوْكُ

“Ini adalah urusan yang dibenci oleh para penguasa.

Ada juga yang mengatakan bahwa kalimat ini menjadi sebab diperangi.

إِذَنْ تُحَارِبُكَ الْعَرَبُ وَالْعَجَمُ

“Jika demikian engkau akan diperangi oleh bangsa Arab dan non-Arab.”

Sebagian mereka menerima dengan segala risiko dan konsekuensi yang harus dihadapi. Sebagian ragu-ragu seperti Abu Thalib atau Hamzah di awal syahadatnya.

 

  1. Konsisten kepada Kekufuran

Abu Jahal konsisten dengan kekufurannya meskipun dijanjikan dunia oleh Rasulullah saw. Rasulullah saw meminta Abu Jahal mengucapkan kalimat tauhid satu kalimat saja.

Saya ingin dari Anda satu kata yang dengan satu kata tersebut orang-orang Arab takluk kepada Anda dan Anda mampu menguasai orang-orang non-Arab dengan itu. Abu Jahal mengatakan satu kata, Muhammad dan demi ayahmu, bahkan sepuluh kalimat aku akan ucapkan. Katakanlah, tidak ada Tuhan selain Allah, dan kamu menanggalkan apa yang kamu sembah selain Allah. Mereka berkata, Wahai Muhammad, apakah kamu ingin menjadikan ilah-ilah itu satu saja? Sungguh ini adalah hal yang aneh.

Kenapa mereka enggan menerima meskipun ada janji kebesaran di dalamnya? Itu karena di balik konsekuensi kalimat tauhid tersebut mereka harus meninggalkan tradisi, prestasi, harga diri, dan upeti yang selama ini mereka banggakan.

 

  1. Syahadat Warisan

Sebagian besar umat hari ini bersyahadat buah dari warisan bukan didasarkan atas pemahaman. Syahadat menjadi barang murah yang tidak dihargai. Sebagaian orang menjadikannya modal untuk menikah. Sebagian lagi untuk meminta-minta. Sebagian orang terlanjur karena orang tua mereka telah mewarisinya. Wajar jika bukan prestasi yang mereka peroleh dari syahadatnya justru masalah dan petaka.

Persoalan besar umat Islam saat ini adalah mengislamkan kembali umat Islam atau meluruskan kembali pemahaman mereka tentang tauhid. Kaum Muslimin yang bersyahadat karena tradisi akan menghambat Islam dan umat Islam yang memiliki komitmen dengan syahadatnya. Muhammad Abduh mengatakan,

ذَهَبْتُ اِلَى الْغَرْبِ فَوَجَدْتُ إِسْلَاماً وَلَمْ أَجِدْ مُسْلِمِيْنَ وَعَدْتُ اِلَى الشَّرْقِ فَوَجَدْتُ مُسْلِمِيْنَ وَلَمْ أَجِدْ إِسلَاماً، ذَلِكَ اَنَّ الْاِسْلَامَ مَحْجُوْبُ بِالْمُسْلِمِيْنَ. – محمد عبده

Aku pergi ke Barat aku temui Islam, tetapi aku tidak jumpai kaum Muslimin. Aku pergi ke Timur, aku temui kaum Muslimin, tetapi aku tidak temui Islam.

Begitulah Islam terhijab (tertutupi) keagungannya oleh kaum Muslimin.

 

6.     Makna إِلَهٌ

Memperhatikan uraian yang telah dijelaskan menjadi sangat penting bagi setiap Muslim untuk memahami kalimat tauhid. Kalimat لا اله الا الله   tidak mungkin dipahami kecuali dengan memahami terlebih dahulu makna ilah yang berasal dari aliha yang memiliki berbagai macam pengertian. Dengan memahaminya, kita akan mengetahui motif-motif manusia mengilahkan sesuatu. Kata aliha memiliki beberapa arti yang saling berkaitan satu sama lain, di antaranya,

1.     سَكَنَ اِلَيْهِ

merasa tenang kepadanya

2.     اِسْتَجَارَ بِهِ

meminta perlindungan dengannya

3.     إِشْتَاقَ إِلَيْهِ

rindu kepadanya

4.     وُلِعَ بِهِ

mencintainya

5.     عَبَدَ

beribadah

 

 

7.     Makna yang Merangkumi

Kata عَبَدَ adalah makna yang paling merangkumi makna  اَلِهَ tersebut. Dari kata عَبَدَ kita mengenal turunan kata-kata berikut.

1.     اَلْعَبْدُ

اَلْعَبْدُ   berarti اَلْمَمْلُوْكُ – budak.

2.     اَلْعِبَادَةٌ

اَلْعِبَادَةُ berarti اَلطَّاعَةُ وَ الْخُضٌوْعُtaat dan tunduk.

3.     المُعَبَّدُ

المُعَبَّدُ berarti المُكرَّمُ و المُعَظَّمُ – yang dimuliakan dan yang diagungkan.

4.     عَبَدَ بِهِ

عَبَدَ بهberarti لَزِمَهُ وَلَمْ يُفَارِقْهُ – sangat membutuhkannya dan tidak bisa berpisah darinya.

5.     ما عَبْدُكَ عَنِّي

ما عَبْدُكَ عَنِّي berarti مَا حَبسَكَ عَنِّيaku tidak bisa lepas diri dari engkau.

 

Kaidah bahasa Arab menetapkan bahwa setiap kalimat yang mempunyai pertalian atau merupakan satu rangkaian maka satu sama lain saling berkaitan. Dengan demikian, makna إِلَهٌ berarti sesuatu yang dapat memberi ketenangan, perlindungan, kerinduan, kecintaan.

 

8.     Makna إِلَهٌ  menurut Ulama

Para ulama mendefinisikan إِلَهٌ  sebagai berikut ini.

a.      Makna إِلَهٌ  menurut Ibnu Taimiyah

هُوَ الَّذِي يَأْلَهُهُ الْقَلْبُ بِكُلِّ الْحُبِّ وَالتَّعْظِيْمِ وَالتَّجْلِيْلِ وَالتَّكْرِيْمِ وَالرَّجَاءِ وَالخَوْفِ وَنَحْوَ ذَلِكَ

“Segala yang digandrungi hati dengan segenap kecintaan, pengagungan, penghormatan, pemuliaan, harapan, ketakutan, dan sederajat dengan itu.

b.     Makna إِلَهٌ  menurut Ibnu Qayyim

وَقَالَ اِبْنُ الْقَيِّم : (اَلْإِلَهُ) هُوَ الَذِيْ تَألَهُه الْقُلُوْبُ مَحَبَّةً وَإِجْلاَلاً وَإِنَاَبةً وَإِكْرَاماً وَتَعْظِيْماً وَذُلاً وَخُضُوْعاً وَخَوْفاً وَرَجَاءً وَتَوَكَّلاً.

“Segala yang digandrungi hati dengan penuh kecintaan, pertaubatan, kebesaran, kemuliaan, keagungan, kehinaan, ketundukan, ketakutan, harapan, dan kepasrahan.

c.      Makna إِلَهٌ  menurut Ibnu Rajab

وقال ابن رجب : (الإله) هُوَ الَّذِي يُطَاعُ فَلَا يُعْصَى هَيْبَةً لَهُ وَإِجْلَالاً وَمَحَبَّةً وَخَوْفاً وَرَجَاءً وَتَوَكَّلاً عَلَيْهِ وَسُؤَالاً مِنْهُ وَدُعَاءً لَهُ

“Ibnu Rajab mengatakan bahwa الإله adalah yang ditaati dan tidak dilanggar, dalam kemuliaan, hormat, cinta, takut, harapan, pasrah kepada-Nya, meminta-Nya dan memohon kepada-Nya.

 

9.     Makna اَلْمَعْبُوْدُ

Makna اَلْمَعْبُوْدُ merangkumi semua makna إِلَهٌ tersebut. Dengan demikian, makna اَلْمَعْبُوْدُ adalah

1.     اَلْمَرْغُوْبُ  yang diharapkan -

2.     اَلْمَرْهُوْبُyang ditakuti -

3.     اَلْمَتْبُوْعُ  - اَلْمُطَاعُ yang ditaati atau diikuti -

4.     اَلْمَحْبُوْبُyang dicintai -

 

Menurut Ibnu Rajab semua hal tersebut merupakan hak Allah SWT. Barangsiapa yang menyekutukan makhluk dengan sifat-sifat tersebut maka telah cacatlah tauhidnya. Hal itu merupakan bentuk penghambaan kepada makhluk menurut apa yang disifati dengan sifat-sifat tersebut. Makhluk itu bisa berbentuk manusia, baik orang tua, anak, istri, keluarga, atau manusia yang dianggap berkuasa. Bisa juga makhluk dalam bentuk harta, perniagaan, pangkat, dan jabatan.

 

10.  Makna لا إله إلا الله

Dengan demikian makna لا إله إلا الله berarti لَا مَعْبُوْدًا بِحَقٍّ إِلَا الله  tidak ada sesembahan yang paling berhak untuk disembah kecuali Allah SWT.  Penjabaran makna لا إله إلا الله sebagai berikut.

a.      لَا مَرْغُوْبًآ بِحَقٍّ إِلَا الله  

Tidak ada yang diharapkan kecuali Allah SWT

b.     لَا مَرْهُوْبًا بِحَقٍّ إِلَا الله  

Tidak ada yang ditakuti kecuali Allah SWT

c.      لَا مَتْبُوْعًا بِحَقٍّ إِلَا الله  

Tidak ada yang diikuti atau ditaati kecuali Allah SWT

d.     لَا مَحْبُوْبًا بِحَقٍّ إِلَا الله  

Tidak ada yang dicintai kecuali Allah SWT

Kata إِلَهٌ dalam kalimat لا اله الا الله merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kalimat tauhid tersebut.

 

KESIMPULAN

Dari materi Makna لاإله إلا الله  dapat disimpulkan beberapa hal berikut ini.

1.     Faktor penyebab kuat atau lemahnya umat Islam adalah komitmen kaum Muslimin terhadap kalimat tauhid لاإله إلا الله.

2.     Kalimat tauhid لاإله إلا الله tidak bisa tegak tanpa ilmu. Oleh sebab itu, ilmu memahami kalimat tauhid لاإله إلا الله menjadi sebuah keharusan.

3.     Mereka yang bertauhid dengan benar maka ketundukan dan kepatuhannya sepenuhnya kepada Allah SWT.

 

EVALUASI

1.     Jelaskan apa akibat jika seorang Muslim tidak memahami dengan benar kalimat tauhid!

2.     Sebutkan dalil Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa kalimat tauhid لاإله إلا الله harus dipahami dengan ilmu!

3.     Jelaskan makna Ilah menurut para ulama!

 

KOMITMEN

1.     Berusaha untuk terus mendalami makna dan konsekuensi kalimat tauhid لاإله إلا الله.

2.     Berusaha untuk menerima konsekuensi kalimat tauhid لاإله إلا الله.

3.     Berusaha mengajak kaum Muslimin kepada pemahaman yang benar tentang kalimat tauhid لاإله إلا الله.

 

REFERENSI

1.     Al-Islam, karya Said Hawwa.

No comments:

Post a Comment

Shifatur Rasul