TUJUAN MATERI
Melalui materi
ini, peserta dapat:
1. Mengokohkan pemahaman tentang kalimat Ilah pada
kalimat لاإله إلا الله.
2. Meyakini dan menreima kalimat tauhid لاإله إلا
الله dengan segala tuntutannya.
3. Meyakini bahwa menerima kalimat tauhid لاإله إلا
الله adalah kunci kesuksesan di dunia dan di
akhirat.
INTISARI MATERI
Pada pembahasan
materi ini, kita akan mempelajari dan membahas tentang sebab generasi awal Islam memimpin
dunia dan sebab generasi Islam saat ini menjadi
santapan bangsa lain, keharusan
berilmu untuk memahami kalimat tauhid لاإله إلا
الله, serta makna Ilah
secara bahasa dan penjelasan makna Ilah menurut para ulama.
MODUL
Jika bukan karena
permintaan adik perempuannya, Adi bin Hatim tidak akan
menemui Rasulullah saw. Belum ada alasan yang cukup kuat bagi Adi bin Hatim untuk
menerima Islam. Sebagai salah seorang pembesar suku yang berpengaruh jazirah
Arab, rasanya secara logika, dia sulit menerima Islam. Dia melihat kaum Muslimin dalam kondisi
miskin dan jumlah mereka juga tidak banyak. Sementara itu, para
raja saat itu bukanlah dari kalangan orang-orang Islam.
Lalu Rasulullah saw
memberikan pesan nubuwwah kepada Adi bin Hatim. Rasulullah saw
berupaya meyakinkan tentang masa depan Islam. “Hai Adi! Agaknya Anda enggan
masuk Islam karena kenyataan yang Anda lihat tentang kaum Muslim, mereka
miskin. Demi Allah! Tidak lama lagi harta akan berlimpah-ruah di kalangan
mereka sehingga susah didapat orang yang mau menerima sedekah. Atau barangkali
Anda enggan masuk agama ini karena kaum Muslim sedikit jumlahnya sedangkan
musuh-musuh mereka banyak. Demi Allah! Tidak lama lagi Anda akan mendengar
berita seorang perempuan datang dari Qadisiyah mengendarai unta ke
Baitullah tanpa takut kepada siapa pun selain kepada Allah.”
“Atau
mungkin juga Anda enggan masuk Islam karena ternyata raja-raja dan para sultan
terdiri dari orang yang bukan Islam. Demi Allah! Tidak lama lagi Anda akan
mendengar Istana Putih di negeri Babil (Iraq) direbut kaum Muslim dan kekayaan
Kisra bin Hurmuz pindah menjadi milik mereka.” Aku bertanya kagum,
“Kekayaan Kisra bin Hurmuz?” Jawab Rasulullah saw, “Ya kekayaan Kisra bin Hurmuz.”
Maka seketika itu juga aku mengucapkan dua kalimah syahadat di hadapan Rasulullah saw dan
aku menjadi Muslim.
Kalimat tauhid لا اله الا الله sumber kekuatan yang menyebabkan kaum Muslimin
mampu memimpin dunia. Rasulullah saw menjanjikan kepada bangsa Quraisy memimpin
dunia asalkan mereka mau menerima kalimat tersebut dan komitmen dengannya. Inilah seruan Rasulullah saw kepada mereka,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قُوْلْوْا لَا
إِلَهَ إِلَّا الله تُفْلِحُوْا، وَتَمْلِكُوْا بِهَا الْعَرَبَ، وَتَدِيْنُ
لَكُمْ بِهَا الْعَجَمَ، فَإِذَا مُتُّمْ كُنْتُمْ مُلُوْكًا فِي الْجَنَّةِ
“Wahai sekalian
manusia katakanlah لَا إِلَهَ إِلَّا الله
maka kalian akan sukses, kalian akan mengusai bangsa Arab dan non-Arab dan jika
kalian mati kalian akan menjadi raja di surga.”
Adi bin Hatim
telah membuktikan nubuwwah Rasulullah saw dan menjadi saksi atas semua itu.
1.
Sebab Kelemahan Umat
Tidakkah kita bertanya kenapa Islam
mampu memimpin peradaban pada saat itu dan pada saat ini kaum Muslimin menjadi santapan bangsa lain? Kondisi kaum Muslimin
menjadi santapan bangsa lain menggambarkan betapa lemahnya kaum Muslimin dari
berbagai macam sisi. Memperhatikan seruan Rasulullah saw
kepada kaum Quraisy, kita mengerti bahwa sebab umat Islam saat ini lemah
adalah lemahnya komitmen mereka terhadap kalimat tauhid.
Kalimat tauhid memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan
sangat penting bagi kaum Muslimin, sebagaimana dikatakan Ibnul Qayyim. “Di atas
kalimat tauhid ditegakkan agama dan kiblat. Dihunus pedang jihad, dia adalah hak Allah SWT atas hamba. Dia adalah kalimat
yang melindungi darah, harta, dan keturunan. Pembebas dari adzab kubur dan neraka. Dia
adalah permakluman bahwa tidak akan bisa seseorang masuk surga tanpanya.” Keagungan dan ketinggian ini
hanya dipahami
oleh mereka yang berilmu. Dengan demikian, dengan ilmu tersebut penerimaan
dan komitmen terhadap kalimat tauhid bisa diwujudkan.
2.
Keharusan Ilmu
Makna sesuatu
akan kita mengerti jika kita paham dan pemahaman akan kita
dapatkan jika kita berilmu. Ada sebuah anekdot, beberapa orang makan di restoran. Menu
yang tersedia dalam bahasa Inggris. Disebabkan ketidakpahaman mereka,
dipilihlah menu secara asal-asalan. Ternyata menu yang datang adalah menu
sejenis acar. Mereka semua bengong saat melihat menu yang datang. Mereka
melihat makanan orang-orang
di sebelah mereka enak dan sangat
menarik. Kemudian orang sebelahnya mau menambah menu, mereka mengatakan more
– yang berarti lagi – maka datanglah menu yang enak-enak. Mengikuti
orang di sebelahnya, mereka pun
mengatakan more. Mereka mengira
menu tersebut bernama more dan yang datang
ternyata acar lagi. Betapa untuk urusan nama menu pun
dibutuhkan ilmu. Ilmu menjadi kunci awal kesuksesan semua urusan.
Wajar jika
Islam mendorong umatnya untuk berilmu karena dengan ilmu akan menjadikan
seseorang bertanggung jawab dan konsisten dengan apa yang dipahaminya. Apalagi
pemahaman atas kalimat tauhid yang sangat fundamental. Allah SWT meminta kepada
hamba-Nya berilmu dalam memahami kalimat tersebut agar kalimat
yang agung tersebut kokoh di dalam jiwa.
Allah SWT
berfirman,
“Maka berilmulah
bahwa sesungguhnya tidak ada اله selain Allah
SWT.” (Muhammad: 19)
وَقِيْلَ : مَعّنَاهُ فَاثْبِتْ
عَلَيْهِ. وَقَالَ اَلْحُسَيْنُ بْنُ الْفَضْل : فَازْدُدْ عِلْماً عَلَى عِلْمِكَ -
تفسير البغوي
Dalam tafsir al-Baghawi dijelaskan
bahwa pengertian ayat tersebut adalah berteguhpendirianlah kamu
di atas kalimat tersebut. Husain bin Fadhl menjelaskan bahwa
maksudnya adalah maka tambahlah ilmumu di atas ilmu
yang kamu miliki.
Jangan seperti burung beo yang pandai mengucap, tetapi tidak paham
dengan apa yang diucapkan. Jangan pula
seperti anak kecil yang pintarnya membeo
tanpa paham apa yang dikatakan. Kita juga
tidak ingin menjadi orang mabuk atau mengigau karena berucap, tetapi tidak
mengerti apa yang diucapkan.
Rasulullah saw membawa
kalimat لاإله إلا الله ke tengah umat
pemilik bahasa yang tahu betul apa konsekuensi dari
kalimat tersebut. Dengan demikian, kita bisa
melihat sebagian mereka menolak dengan lantang karena terlampau besar akibat
yang harus mereka hadapi. Sebagian kecil menerima dan konsisten dengan
penerimaannya. Sebagian dari mereka ragu-ragu.
Sebagian dari mereka menolak karena mereka paham
konsekuensi besar dengan mengatakan
هَذَا أَمْرٌ تَكْرَهُهُ الْمُلُوْكُ
“Ini adalah urusan yang dibenci oleh para penguasa.”
Ada
juga yang mengatakan bahwa kalimat ini menjadi sebab diperangi.
إِذَنْ تُحَارِبُكَ الْعَرَبُ وَالْعَجَمُ
“Jika demikian engkau akan diperangi oleh bangsa Arab dan
non-Arab.”
Sebagian mereka menerima dengan segala risiko dan konsekuensi
yang harus dihadapi. Sebagian
ragu-ragu seperti Abu Thalib atau
Hamzah di awal syahadatnya.
- Konsisten kepada Kekufuran
Abu Jahal konsisten dengan
kekufurannya meskipun dijanjikan dunia oleh Rasulullah saw. Rasulullah
saw meminta Abu Jahal mengucapkan kalimat tauhid satu
kalimat saja.
“Saya ingin
dari Anda satu kata yang dengan satu kata tersebut orang-orang Arab takluk
kepada Anda dan Anda mampu menguasai orang-orang non-Arab dengan itu. Abu Jahal
mengatakan satu kata, Muhammad dan demi ayahmu, bahkan sepuluh kalimat aku akan
ucapkan. Katakanlah, tidak ada Tuhan selain Allah, dan kamu menanggalkan apa
yang kamu sembah selain Allah. Mereka berkata, ‘Wahai
Muhammad, apakah kamu ingin menjadikan ilah-ilah itu satu saja? Sungguh ini adalah hal
yang aneh.’”
Kenapa mereka enggan menerima meskipun ada janji
kebesaran di dalamnya? Itu karena di balik konsekuensi
kalimat tauhid tersebut mereka harus meninggalkan tradisi, prestasi, harga diri, dan upeti
yang selama ini mereka banggakan.
- Syahadat Warisan
Sebagian besar umat hari
ini bersyahadat buah dari warisan bukan didasarkan atas pemahaman. Syahadat
menjadi barang murah yang tidak dihargai. Sebagaian
orang menjadikannya modal untuk menikah. Sebagian lagi untuk meminta-minta.
Sebagian orang terlanjur karena orang tua mereka telah mewarisinya. Wajar jika
bukan prestasi yang mereka peroleh dari syahadatnya justru masalah dan petaka.
Persoalan besar umat
Islam saat ini adalah mengislamkan kembali
umat Islam atau meluruskan kembali pemahaman mereka tentang tauhid. Kaum Muslimin
yang bersyahadat karena tradisi akan menghambat Islam dan umat Islam yang
memiliki komitmen dengan syahadatnya. Muhammad Abduh mengatakan,
ذَهَبْتُ اِلَى الْغَرْبِ فَوَجَدْتُ
إِسْلَاماً وَلَمْ أَجِدْ مُسْلِمِيْنَ وَعَدْتُ اِلَى الشَّرْقِ فَوَجَدْتُ مُسْلِمِيْنَ
وَلَمْ أَجِدْ إِسلَاماً، ذَلِكَ اَنَّ الْاِسْلَامَ مَحْجُوْبُ بِالْمُسْلِمِيْنَ.
– محمد عبده –
“Aku pergi ke Barat aku temui Islam, tetapi aku tidak
jumpai kaum Muslimin. Aku pergi ke Timur, aku temui kaum Muslimin, tetapi aku
tidak temui Islam.”
Begitulah Islam terhijab (tertutupi) keagungannya oleh
kaum Muslimin.
6. Makna إِلَهٌ
Memperhatikan
uraian yang telah dijelaskan menjadi
sangat penting bagi setiap Muslim untuk memahami kalimat tauhid. Kalimat لا اله الا الله tidak mungkin dipahami kecuali dengan memahami
terlebih dahulu makna ilah
yang berasal dari aliha yang memiliki berbagai macam pengertian. Dengan
memahaminya, kita akan mengetahui motif-motif
manusia mengilahkan sesuatu. Kata aliha memiliki beberapa arti yang
saling berkaitan satu sama lain, di antaranya,
1.
سَكَنَ اِلَيْهِ
merasa
tenang kepadanya
2.
اِسْتَجَارَ بِهِ
meminta
perlindungan dengannya
3.
إِشْتَاقَ إِلَيْهِ
rindu
kepadanya
4.
وُلِعَ بِهِ
mencintainya
5.
عَبَدَ
beribadah
7.
Makna yang Merangkumi
Kata عَبَدَ
adalah makna yang paling merangkumi makna
اَلِهَ tersebut. Dari kata عَبَدَ kita mengenal turunan kata-kata berikut.
1.
اَلْعَبْدُ
اَلْعَبْدُ berarti اَلْمَمْلُوْكُ – budak.
2.
اَلْعِبَادَةٌ
اَلْعِبَادَةُ berarti اَلطَّاعَةُ وَ الْخُضٌوْعُ
– taat
dan tunduk.
3.
المُعَبَّدُ
المُعَبَّدُ berarti المُكرَّمُ و المُعَظَّمُ
– yang dimuliakan dan yang diagungkan.
4.
عَبَدَ بِهِ
عَبَدَ بهberarti لَزِمَهُ
وَلَمْ يُفَارِقْهُ – sangat membutuhkannya dan tidak bisa
berpisah darinya.
5.
ما عَبْدُكَ عَنِّي
ما عَبْدُكَ عَنِّي berarti مَا حَبسَكَ عَنِّي – aku tidak bisa lepas diri dari
engkau.
Kaidah
bahasa Arab menetapkan bahwa setiap
kalimat yang mempunyai pertalian atau merupakan satu rangkaian maka satu sama
lain saling berkaitan. Dengan demikian, makna إِلَهٌ
berarti sesuatu yang dapat memberi ketenangan, perlindungan, kerinduan,
kecintaan.
8.
Makna إِلَهٌ
menurut Ulama
Para
ulama mendefinisikan إِلَهٌ sebagai berikut ini.
a. Makna إِلَهٌ
menurut Ibnu Taimiyah
هُوَ
الَّذِي يَأْلَهُهُ الْقَلْبُ بِكُلِّ الْحُبِّ وَالتَّعْظِيْمِ وَالتَّجْلِيْلِ
وَالتَّكْرِيْمِ وَالرَّجَاءِ وَالخَوْفِ وَنَحْوَ ذَلِكَ
“Segala yang digandrungi hati
dengan segenap kecintaan, pengagungan,
penghormatan, pemuliaan, harapan, ketakutan, dan sederajat dengan itu.”
b. Makna إِلَهٌ
menurut Ibnu Qayyim
وَقَالَ اِبْنُ الْقَيِّم : (اَلْإِلَهُ) هُوَ الَذِيْ تَألَهُه
الْقُلُوْبُ مَحَبَّةً وَإِجْلاَلاً وَإِنَاَبةً وَإِكْرَاماً وَتَعْظِيْماً وَذُلاً
وَخُضُوْعاً وَخَوْفاً وَرَجَاءً وَتَوَكَّلاً.
“Segala yang digandrungi hati
dengan penuh kecintaan, pertaubatan, kebesaran, kemuliaan, keagungan,
kehinaan, ketundukan, ketakutan, harapan, dan kepasrahan.”
c. Makna إِلَهٌ
menurut Ibnu Rajab
وقال ابن رجب : (الإله) هُوَ الَّذِي يُطَاعُ فَلَا يُعْصَى
هَيْبَةً لَهُ وَإِجْلَالاً وَمَحَبَّةً وَخَوْفاً وَرَجَاءً وَتَوَكَّلاً عَلَيْهِ
وَسُؤَالاً مِنْهُ وَدُعَاءً لَهُ
“Ibnu Rajab mengatakan
bahwa الإله adalah yang ditaati dan tidak dilanggar, dalam kemuliaan,
hormat, cinta, takut, harapan, pasrah kepada-Nya, meminta-Nya dan memohon
kepada-Nya.”
9. Makna
اَلْمَعْبُوْدُ
Makna اَلْمَعْبُوْدُ
merangkumi semua makna إِلَهٌ tersebut. Dengan demikian, makna اَلْمَعْبُوْدُ
adalah
1.
اَلْمَرْغُوْبُ yang diharapkan -
2.
اَلْمَرْهُوْبُyang ditakuti -
3.
اَلْمَتْبُوْعُ - اَلْمُطَاعُ yang ditaati atau diikuti -
4.
اَلْمَحْبُوْبُyang dicintai -
Menurut
Ibnu Rajab semua hal tersebut merupakan hak Allah SWT. Barangsiapa yang menyekutukan makhluk
dengan sifat-sifat tersebut maka telah cacatlah tauhidnya. Hal itu merupakan bentuk penghambaan
kepada makhluk menurut apa yang disifati dengan sifat-sifat tersebut. Makhluk
itu bisa berbentuk manusia, baik orang tua, anak, istri, keluarga, atau manusia yang dianggap
berkuasa. Bisa juga makhluk dalam bentuk harta, perniagaan, pangkat, dan jabatan.
10.
Makna لا
إله إلا الله
Dengan demikian makna لا إله إلا الله berarti لَا
مَعْبُوْدًا بِحَقٍّ إِلَا الله tidak ada sesembahan yang paling berhak untuk disembah kecuali Allah SWT.
Penjabaran makna لا إله إلا الله sebagai berikut.
a.
لَا مَرْغُوْبًآ بِحَقٍّ إِلَا الله
Tidak ada yang diharapkan kecuali
Allah SWT
b.
لَا مَرْهُوْبًا بِحَقٍّ إِلَا الله
Tidak ada yang ditakuti kecuali Allah SWT
c.
لَا مَتْبُوْعًا بِحَقٍّ إِلَا الله
Tidak ada yang diikuti atau
ditaati kecuali Allah SWT
d.
لَا مَحْبُوْبًا بِحَقٍّ إِلَا الله
Tidak ada yang dicintai kecuali
Allah SWT
Kata إِلَهٌ
dalam kalimat لا اله الا الله merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dari kalimat tauhid tersebut.
KESIMPULAN
Dari materi Makna لاإله إلا
الله dapat disimpulkan beberapa
hal berikut ini.
1.
Faktor penyebab kuat atau lemahnya umat Islam
adalah komitmen kaum Muslimin terhadap kalimat tauhid لاإله إلا
الله.
2.
Kalimat
tauhid لاإله إلا الله tidak bisa
tegak tanpa ilmu. Oleh sebab itu, ilmu
memahami kalimat tauhid لاإله إلا الله menjadi sebuah
keharusan.
3.
Mereka yang bertauhid dengan benar maka
ketundukan dan kepatuhannya sepenuhnya kepada Allah SWT.
EVALUASI
1.
Jelaskan apa akibat jika seorang Muslim tidak
memahami dengan benar kalimat tauhid!
2.
Sebutkan dalil Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa
kalimat tauhid لاإله إلا الله harus dipahami dengan ilmu!
3.
Jelaskan makna Ilah menurut para
ulama!
KOMITMEN
1.
Berusaha untuk terus mendalami makna dan konsekuensi
kalimat tauhid لاإله إلا الله.
2.
Berusaha
untuk menerima konsekuensi kalimat tauhid لاإله إلا
الله.
3.
Berusaha
mengajak kaum Muslimin kepada pemahaman yang benar tentang kalimat tauhid لاإله إلا
الله.
REFERENSI
1.
Al-Islam, karya Said Hawwa.
No comments:
Post a Comment