MURAQABAH
(MERASA SELALU DIAWASI ALLAH)
Allah berfirman,
الَّذِيْ يَرٰىكَ حِيْنَ تَقُوْمُ ٢١٨ وَتَقَلُّبَكَ فِى السّٰجِدِيْنَ ٢١٩
“Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk shalat), dan (melihat pula)
perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.” (Asy-Syu’araa`:
218-219)
وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْنَ مَا كُنْتُمْۗ
“...Dia bersama kamu di mana saja kamu
berada...” (Al-Hadiid: 4)
اِنَّ اللّٰهَ لَا يَخْفٰى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِى
السَّمَاۤءِ ٥
“Sesungguhnya, bagi Allah, tidak ada satu
pun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit.” (Ali Imran: 5)
اِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِۗ ١٤
“Sesungguhnya, Tuhanmu benar-benar mengawasi.” (Al-Fajr: 14)
يَعْلَمُ خَاۤىِٕنَةَ الْاَعْيُنِ وَمَا تُخْفِى الصُّدُوْرُ ١٩
“Dia mengetahui (pandangan) mata yang
khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (Ghaafir: 19)
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ
رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ
عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعَرِ لَا يُرَى
عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلَا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى
رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ يَا مُحَمَّدُ
أَخْبِرْنِي عَنْ الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ الْإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ
مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتُقِيمَ
الصَّلَاةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنْ
اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلًا قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ
وَيُصَدِّقُهُ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِيمَانِ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ
بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ
بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ
الْإِحْسَانِ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ
تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ السَّاعَةِ قَالَ مَا
الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنْ السَّائِلِ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ
أَمَارَتِهَا قَالَ أَنْ تَلِدَ الْأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ
الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِي الْبُنْيَانِ قَالَ
ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا ثُمَّ قَالَ لِي يَا عُمَرُ أَتَدْرِي مَنْ
السَّائِلُ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ
أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ
Umar bin Khahthab r.a. berkata,
“Ketika kami duduk bersama Rasulullah SAW., tiba-tiba seseorang muncul. Dia mengenakan pakaian
yang amat putih, rambutnya sangat hitam, dan tidak tampak pada dirinya bekas
bepergian. Lalu, dia duduk di hadapan Nabi saw. Dia menyentuhkan dua lututnya
dengan dua lutut Nabi, dan meletakkan dua tangannya di atas dua pahanya. Dia
berkata, ‘Ya Muhammad, beri tahu aku tentang Islam?’
Rasulullah menjawab, ‘Islam
adalah hendaknya engkau bersaksi tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah
utusan Allah. Kamu melaksanakan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa di bulan
Ramadhan, dan melaksanakan haji ke Baitullah jika mampu.’
Dia berkata, ‘Engkau benar.’
Kami heran, karena dia yang
bertanya kepada Rasulullah, lalu dia yang membenarkannya.
Dia berkata, ‘Beri tahu aku
tentang iman.’
Rasulullah menjawab, ‘Hendaknya
engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat, kitab-kitab suci, para Rasul,
hari akhir, dan takdir yang baik dan buruk.’
Dia berkata, ‘Engkau benar.’
Dia berkata, ‘Beri tahu aku
tentang ihsan.’
Rasulullah menjawab, ‘Hendaknya
kamu beribadah kepada Allah, seolah-olah kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak
melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.’
Dia berkata, ‘Beri tahu aku
tentang hari Kiamat.’
Rasulullah menjawab, ‘Orang yang
ditanya tidak lebih mengerti daripada orang yang bertanya.’
Dia berkata, ‘Beri tahu aku
tentang tanda-tandanya.’
Rasulullah menjawab, ‘Seorang
budak wanita melahirkan tuannya,[1] kamu lihat orang-orang
yang tidak beralas kaki[2] yang menggembala kambing
berlomba-lomba dalam membangun.’
Kemudian laki-laki itu pergi. Aku
terdiam beberapa saat. Setelah itu, Rasulullah bertanya, ‘Hai Umar, tahukah
kamu, siapakah orang yang bertanya tadi?’
Aku menjawab, ‘Allah dan
Rasul-Nya lebih mengetahui.’
Rasulullah bersabda, ‘Dia adalah
Malaikat Jibril. Dia datang untuk mengajarkan urusan agamamu.’” (h.r.
Muslim).
Pelajaran dari Hadits
1. Malaikat Jibril memanggil Rasulullah saw. dengan namanya langsung,
padahal Allah swt. telah berfirman, “Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di
antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain)...” (An-Nuur:
63) Hal itu dimaksudkan agar penyamarannya tidak tersingkap. Atau, karena
malaikat tidak termasuk yang diperintahkan dalam ayat tersebut.
2. Iman adalah percaya kepada dasar-dasar Agama. Islam adalah
ketaatan yang terealisasikan dalam kehidupan nyata. Secara definisi, keduanya
berbeda, namun saling berkaitan. Tanpa Islam, iman tidak diterima. Begitu juga
sebaliknya. Syariat juga sering menggunakan kata Islam yang pengertiannya
mencakup iman. Begitu juga sebaliknya.
3. Bagi yang mampu berbicara, mengucapkan dua kalimat syahadat adalah
syarat seseorang masuk Islam.
4. Dialog antara Malaikat Jibril dengan Rasulullah saw. adalah
pelajaran penting tentang metode dialog dalam pendidikan.
5. Malaikat Jibril mengajarkan kepada kita bagaimana bersikap di
sebuah majelis ta’lim.
6. Allah swt. tidak memberitahukan kepada satu makhluk pun kapan
terjadinya hari Kiamat, namun Dia hanya memberitahukan tanda-tanda
kedatangannya. Di antara tanda-tanda itu telah disebutkan dalam hadits ini. Juga
disebutkan oleh nash-nash yang lain, seperti turunnya Isa, munculnya Dajjal,
dan terbitnya matahari dari arah barat.
7. Seorang muslim harus senantiasa merasakan bahwa Allah selalu
mengawasinya.
8. Hadits ini menjelaskan bahwa pada suatu saat, satu perkara akan
dipegang oleh orang yang tidak mampu melaksanakannya, dan banyak anak yang
durhaka kepada orang tuanya. Dua hal ini termasuk tanda-tanda datangnya hari
Kiamat.
9. Seorang muslim harus memelihara dasar dan rukun Islam, serta merasa
memiliki tanggung jawab di hadapan Allah agar selalu bersemangat untuk
memperbaiki amalnya.
عَنْ أَبِي ذَرٍّ
قَالَ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّقِ
اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا
وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ رواه الترمذي وقال حديث حسن
Abu Dzar, Jundub bin Junadah
r.a., dan Abu Abdurrahman, Mu’adz bin jabal r.a., berkata bahwa Rasulullah saw.
bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Iringilah
keburukan dengan kebaikan[3] karena kebaikan dapat
menghapus keburukan, dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (Tirmidzi.
Ia berkata, “Hadits ini hasan.”)
Pelajaran dari Hadits
1. Kebaikan dapat menghapus keburukan. Ada yang menyebutkan bahwa
hadits ini terbatas pada dosa-dosa kecil, sedangkan dosa besar hanya dapat
dihapus dengan tobat.
2. Murah senyum, menghindarkan
keburukan dari orang lain, memberikan kebaikan, dan memperlakukan orang lain
dengan baik adalah bagian dari akhlaqul-karimah.
عَنْ ابْنِ
عَبَّاسٍ قَالَ كُنْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَوْمًا فَقَالَ يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظْ اللَّهَ
يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ
وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوْ
اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ
قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ
لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتْ
الْأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
Ibnu Abbas r.a. berkata, “Pada suatu hari, aku di
belakang (diboncengi) Nabi saw. Beliau bersabda, ‘Hai anak muda, aku ajarkan
kepadamu beberapa kalimat: Jagalah (agama) Allah, niscaya Allah akan menjagamu,
jagalah (agama) Allah, niscaya Allah selalu bersamamu. Jika kamu meminta,
mintalah kepada Allah. Jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan
kepada Allah. Ketahuilah, jika seluruh manusia berkumpul untuk memberikan
manfaat kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak akan dapat memberikan
manfaat kepadamu, kecuali sesuatu yang telah ditulis Allah untukmu. Jika mereka
berkumpul untuk memberikan mudharat kepadamu, maka mereka tidak akan bisa
memberikan mudharat, kecuali yang telah ditulis Allah untukmu. Pena telah
diangkat dan lembarannya telah kering.[4]” (Tirmidzi. Ia
berkata, “Hadits ini hasan shahih.”)
Dalam riwayat lain disebutkan,
”Jagalah Allah, niscaya kamu mendapati-Nya di hadapanmu. Kenalilah Allah di
waktu lapang, niscaya Dia mengenalimu di saat sulit. Ketahuilah bahwa apa yang
luput darimu tidak akan mengenaimu, dan apa yang mengenaimu tidak akan luput
darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan ada bersama kesabaran, setiap kesulitan
pasti ada jalan keluarnya, dan bersama kesulitan pasti ada kemudahan.”
Pelajaran dari Hadits
1. Larangan memohon kepada selain Allah untuk mengatasi sebuah
perkara yang tidak satu pun dapat mengatasinya kecuali Allah.
2. Segala sesuatu yang telah ditulis Allah di Lauhul Mahfud
tidak akan berubah. Semua yang telah atau akan terjadi, diketahui Allah.
3. Maksud dari “Kelapangan ada bersama kesempitan dan kesulitan ada
bersama kemudahan” adalah ketika kesempitan dan kesulitan sudah sangat parah,
maka hamba pasti putus asa dengan semua makhluk, dan hatinya hanya terpaut
kepada Allah semata. Inilah tawakal yang sebenarnya.
4. Hadits ini merupakan landasan penting muraqabatullah,
menjaga hak-hak Allah, berserah diri kepada-Nya, tawakal kepada-Nya, mengakui
keesaan-Nya, ketidakmampuan makhluk-Nya, dan setiap makhluk sangat
memerlukan-Nya.
عَنْ أَنَسٍ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالًا هِيَ أَدَقُّ فِي
أَعْيُنِكُمْ مِنْ الشَّعَرِ إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْمُوبِقَاتِ رواه البخاري
Anas r.a. berkata, ”Sesungguhnya,
kalian melakukan perbuatan-perbuatan yang menurut kalian lebih kecil dari
rambut, padahal pada masa Rasulullah SAW., kami menganggapnya termasuk perkara
yang membinasakan (dosa besar).”
Pelajaran dari Hadits
1. Menganggap sepele dosa bukti kecilnya rasa takut kepada Allah.
2. Setelah para nabi, generasi yang paling mengenal Allah, dan paling
takwa kepada-Nya adalah para sahabat. Perkara-perkara yang dianggap sepele oleh
orang lain, mereka anggap sebagai perkara yang menghancurkan dan membinasakan.
Itu semua lahir berdasarkan pengetahuan mereka yang sempurna tentang Allah.
عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ
اللَّهَ يَغَارُ وَإِنَّ الْمُؤْمِنَ يَغَارُ وَغَيْرَةُ اللَّهِ أَنْ يَأْتِيَ
الْمُؤْمِنُ مَا حَرَّمَ عَلَيْهِ متفق عليه
Abu
Hurairah r.a. berkata bahwa Nabi saw. bersabda, ”Sesungguhnya, Allah swt.
marah. Allah marah ketika seseorang mengerjakan apa yang di haramkan-Nya.” (Muttafaq
‘alaih)
Pelajaran
Hadits
Segala hal yang diharamkan harus dijauhi karena mengundang kemarahan
Allah.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَقُولُ إِنَّ ثَلَاثَةً فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ أَبْرَصَ وَأَقْرَعَ وَأَعْمَى
فَأَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَبْتَلِيَهُمْ فَبَعَثَ إِلَيْهِمْ مَلَكًا فَأَتَى
الْأَبْرَصَ فَقَالَ أَيُّ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ قَالَ لَوْنٌ حَسَنٌ وَجِلْدٌ
حَسَنٌ وَيَذْهَبُ عَنِّي الَّذِي قَدْ قَذِرَنِي النَّاسُ قَالَ فَمَسَحَهُ
فَذَهَبَ عَنْهُ قَذَرُهُ وَأُعْطِيَ لَوْنًا حَسَنًا وَجِلْدًا حَسَنًا قَالَ
فَأَيُّ الْمَالِ أَحَبُّ إِلَيْكَ قَالَ الْإِبِلُ أَوْ قَالَ الْبَقَرُ شَكَّ
إِسْحَقُ إِلَّا أَنَّ الْأَبْرَصَ أَوْ الْأَقْرَعَ قَالَ أَحَدُهُمَا الْإِبِلُ
وَقَالَ الْآخَرُ الْبَقَرُ قَالَ فَأُعْطِيَ نَاقَةً عُشَرَاءَ فَقَالَ بَارَكَ
اللَّهُ لَكَ فِيهَا قَالَ فَأَتَى الْأَقْرَعَ فَقَالَ أَيُّ شَيْءٍ أَحَبُّ
إِلَيْكَ قَالَ شَعَرٌ حَسَنٌ وَيَذْهَبُ عَنِّي هَذَا الَّذِي قَدْ قَذِرَنِي
النَّاسُ قَالَ فَمَسَحَهُ فَذَهَبَ عَنْهُ وَأُعْطِيَ شَعَرًا حَسَنًا قَالَ
فَأَيُّ الْمَالِ أَحَبُّ إِلَيْكَ قَالَ الْبَقَرُ فَأُعْطِيَ بَقَرَةً حَامِلًا
فَقَالَ بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِيهَا قَالَ فَأَتَى الْأَعْمَى فَقَالَ أَيُّ
شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ قَالَ أَنْ يَرُدَّ اللَّهُ إِلَيَّ بَصَرِي فَأُبْصِرَ
بِهِ النَّاسَ قَالَ فَمَسَحَهُ فَرَدَّ اللَّهُ إِلَيْهِ بَصَرَهُ قَالَ فَأَيُّ
الْمَالِ أَحَبُّ إِلَيْكَ قَالَ الْغَنَمُ فَأُعْطِيَ شَاةً وَالِدًا فَأُنْتِجَ
هَذَانِ وَوَلَّدَ هَذَا قَالَ فَكَانَ لِهَذَا وَادٍ مِنْ الْإِبِلِ وَلِهَذَا
وَادٍ مِنْ الْبَقَرِ وَلِهَذَا وَادٍ مِنْ الْغَنَمِ قَالَ ثُمَّ إِنَّهُ أَتَى
الْأَبْرَصَ فِي صُورَتِهِ وَهَيْئَتِهِ فَقَالَ رَجُلٌ مِسْكِينٌ قَدْ
انْقَطَعَتْ بِيَ الْحِبَالُ فِي سَفَرِي فَلَا بَلَاغَ لِي الْيَوْمَ إِلَّا
بِاللَّهِ ثُمَّ بِكَ أَسْأَلُكَ بِالَّذِي أَعْطَاكَ اللَّوْنَ الْحَسَنَ
وَالْجِلْدَ الْحَسَنَ وَالْمَالَ بَعِيرًا أَتَبَلَّغُ عَلَيْهِ فِي سَفَرِي
فَقَالَ الْحُقُوقُ كَثِيرَةٌ فَقَالَ لَهُ كَأَنِّي أَعْرِفُكَ أَلَمْ تَكُنْ
أَبْرَصَ يَقْذَرُكَ النَّاسُ فَقِيرًا فَأَعْطَاكَ اللَّهُ فَقَالَ إِنَّمَا
وَرِثْتُ هَذَا الْمَالَ كَابِرًا عَنْ كَابِرٍ فَقَالَ إِنْ كُنْتَ كَاذِبًا
فَصَيَّرَكَ اللَّهُ إِلَى مَا كُنْتَ قَالَ وَأَتَى الْأَقْرَعَ فِي صُورَتِهِ
فَقَالَ لَهُ مِثْلَ مَا قَالَ لِهَذَا وَرَدَّ عَلَيْهِ مِثْلَ مَا رَدَّ عَلَى
هَذَا فَقَالَ إِنْ كُنْتَ كَاذِبًا فَصَيَّرَكَ اللَّهُ إِلَى مَا كُنْتَ قَالَ
وَأَتَى الْأَعْمَى فِي صُورَتِهِ وَهَيْئَتِهِ فَقَالَ رَجُلٌ مِسْكِينٌ وَابْنُ
سَبِيلٍ انْقَطَعَتْ بِيَ الْحِبَالُ فِي سَفَرِي فَلَا بَلَاغَ لِي الْيَوْمَ
إِلَّا بِاللَّهِ ثُمَّ بِكَ أَسْأَلُكَ بِالَّذِي رَدَّ عَلَيْكَ بَصَرَكَ شَاةً
أَتَبَلَّغُ بِهَا فِي سَفَرِي فَقَالَ قَدْ كُنْتُ أَعْمَى فَرَدَّ اللَّهُ
إِلَيَّ بَصَرِي فَخُذْ مَا شِئْتَ وَدَعْ مَا شِئْتَ فَوَاللَّهِ لَا أَجْهَدُكَ
الْيَوْمَ شَيْئًا أَخَذْتَهُ لِلَّهِ فَقَالَ أَمْسِكْ مَالَكَ فَإِنَّمَا
ابْتُلِيتُمْ فَقَدْ رُضِيَ عَنْكَ وَسُخِطَ عَلَى صَاحِبَيْكَ
Abu
Hurairah r.a. berkata, aku mendengar Nabi saw. bersabda, ”Sesungguhnya, ada
tiga orang Bani Israel yang belang kulitnya, botak, dan buta. Allah menguji
mereka dengan mengutus malaikat kepada mereka.[5]
Malaikat
datang kepada orang yang belang kulitnya dan bertanya, ‘Apa yang paling kamu
senangi?’
Dia
menjawab, ‘Aku menyenangi warna dan kulit yang indah, dan penyakit yang
menjijikkan orang ini, hilang dariku.’[6]
Lalu,
malaikat mengusap tubuhnya. Penyakit belangnya sembuh dan kulitnya menjadi
indah dilihat.
Malaikat bertanya, ‘Harta apa
yang paling kamu senangi?’
Dia menjawab, ‘Unta.’
Lalu, laki-laki itu diberi unta
yang sedang hamil. Malaikat berkata, ‘Semoga Allah memberkahi untamu.’
Malaikat datang menemui orang
yang berkepala botak dan bertanya, ‘Apa yang paling kamu senangi?’
Si botak menjawab, ‘Rambut yang
bagus, dan apa yang menjijikkan orang lain ini hilang.’
Lalu, malaikat mengusapnya dan
penyakitnya sembuh. Ia diberi rambut yang indah.
Malaikat bertanya, ‘Harta apa
yang paling kamu senangi?’
Lelaki itu menjawab, ‘Lembu.’
Lalu, malaikat memberinya lembu
yang sedang hamil. Malaikat berkata, ‘Semoga Allah memberkahi lembumu.’
Setelah itu, malaikat menemui
orang yang buta dan bertanya, ‘Apa yang paling kamu senangi?’
Si buta menjawab, ‘Aku senang
jika Allah mengembalikan penglihatanku, sehingga aku bisa melihat orang lain.’
Malaikat mengusap matanya dan
Allah mengembalikan penglihatannya. Malaikat bertanya, ‘Harta apa yang paling
kamu senangi?’
Dia menjawab, ‘Kambing.’ Lalu dia
diberi kambing yang sedang hamil.
Akhirnya, dua hewan (unta dan
lembu) itu pun melahirkan anak yang banyak. Demikian halnya dengan kambing
tersebut. Orang pertama memiliki unta yang banyak hingga memenuhi satu lembah.
Orang kedua memiliki lembu yang banyak hingga memenuhi satu lembah. Dan, orang
ketiga memiliki kambing yang banyak hingga memenuhi satu lembah.
Malaikat menemui laki-laki yang
dulu belang kulitnya dengan rupa yang sama (belang). Malaikat berkata, ‘Saya
ini orang miskin. Saya telah menempuh perjalanan yang sangat jauh. Sekarang,
saya tidak bisa pulang kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian pertolongan
darimu. Demi Zat yang telah memberimu warna yang indah, kulit yang bagus, dan
harta, saya minta satu ekor unta untuk bekal dalam perjalanan.’
Orang itu menjawab, ‘Banyak hal
yang harus kulakukan, aku belum bisa memberimu.’
Malaikat itu berkata,
‘Sepertinya, saya mengenalmu. Bukankah kulitmu dulu belang. Orang-orang
menjauhimu karena itu. Dulu, kamu pun miskin, lalu Allah memberimu kekayaan.’
Lelaki itu menjawab, ‘Aku
mewarisi harta ini dari nenek moyangku.’
Malaikat berkata, ‘Jika kamu
berkata berbohong, mudah-mudahan Allah mengembalikanmu pada keadaan semula.’
Kemudian, malaikat menemui
laki-laki yang dulu botak, dengan rupa yang sama (botak). Lalu, terjadilah
dialog seperti yang terjadi dengan orang yang dulu kulitnya belang.
Setelah itu, malaikat menemui
laki-laki yang dulu buta dengan rupa yang sama (buta). Malaikat berkata, ‘Saya
ini orang miskin. Saya telah menempuh perjalanan yang sangat jauh. Sekarang,
saya tidak bisa pulang kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian pertolongan
darimu. Demi Zat yang telah menyembuhkan kebutaanmu, saya minta satu ekor
kambing untuk bekal dalam perjalanan.’
Orang itu menjawab, ‘Dulu aku
buta, lalu Allah menyembuhkanku, sehingga aku bisa melihat kembali. Ambillah
sesukamu. Demi Allah, hari ini aku tidak keberatan apa saja yang kamu ambil
dariku untuk Allah Azza wa Jalla.’
Maka, malaikat berkata, ‘Jagalah
hartamu. Sesungguhnya, kalian telah diuji. Sungguh, Allah telah meridhaimu dan
membenci kedua temanmu.’” (Muttafaq ‘alaih)
Pelajaran dari Hadits
1. Pelit adalah sifat yang paling buruk. Dua orang tersebut melupakan
dan mengingkari nikmat yang telah Allah berikan karena penyakit bakhil yang ada
dalam jiwa mereka.
2. Bakhil dan
dusta mendatangkan kemarahan Allah.
3. Jujur dan dermawan termasuk sifat
terpuji yang mengundang keridhaan Allah.
4. Pahala
yang diberikan Allah tergantung niat dan amal yang dilakukan seseorang.
5. Kisah tentang Bani Israel yang terdapat dalam hadits di atas bisa
dijadikan pelajaran.
6. Setiap mukmin harus jujur, dermawan, dan segera mensyukuri nikmat
Allah dengan lisan dan perbuatan.
Hadits 7/66
عَنْ أَبِي يَعْلَى
شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ
مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ الأَمَانِي رواه
الترمذي وقال حديث حسن
Abu
Ya’la, Syaddad bin Aus r.a., berkata bahwa Nabi saw. bersabda, ”Orang yang
bijak adalah orang yang mampu mengoreksi dirinya dan beramal untuk kehidupannya
setelah mati. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa
nafsunya dan berharap kepada Allah dengan harapan-harapan kosong.” (Tirmidzi. Ia berkata,
“Hadits ini hasan.”)
Pelajaran dari Hadits
1.
Setiap muslim harus berusaha agar
tidak terjerembap dalam kubangan nafsu yang buruk dan harus berusaha
mengendalikannya.
2.
Kewajiban harus segera
dilaksanakan, dan angan-angan kosong harus dijauhi. Sebab, Allah memberi pahala
kepada seorang hamba karena perbuatan mereka, bukan karena angan-angan mereka.
عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ
حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ رواه الترمذي وغيره
Abu
Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Di antara tanda-tanda
baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan segala hal yang tidak
bermanfaat.”
Pelajaran
Hadits
Setiap
orang harus mengisi waktunya dengan hal-hal yang bermanfaat untuk urusan dunia
dan akhiratnya, menjauhi hal-hal yang tidak bermanfaat, terlebih yang
mendatangkan mudharat, dan tidak mencampuri urusan orang lain. Semua itu
merupakan salah satu tolok ukur kesempurnaan keislaman seseorang dan
menunjukkan komitmennya pada Islam.
عَنْ عُمَرَ بْنِ
الْخَطَّابِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا
يُسْأَلُ الرَّجُلُ فِيمَا ضَرَبَ امْرَأَتَهُ رواه أبو داود وغيره
Umar r.a. berkata bahwa Nabi saw.
bersabda, ”Seorang suami tidak ditanya, ‘Mengapa ia memukul istrinya?’” (h.r.
Abu Dawud dan lainnya)
Pelajaran dari Hadits
1. Kita harus menyimpan rahasia keluarga.
2. Perlakuan kasar seorang suami terhadap istrinya sebaiknya tetap
dirahasiakan. Ada kemungkinan, hal itu terjadi karena hal-hal yang menjadi
rahasia bagi mereka berdua. Namun, kalau sudah di pengadilan dan jika
dibutuhkan, perlakuan kasar itu boleh diungkapkan.
[1] Budak
wanita itu di setubuhi oleh majikannya, lalu melahirkan anak, maka status anak
tersebut mengikuti status majikannya.
[2]
Orang-orang fakir.
[3] Lakukan
kebaikan setelah melakukan kejelekan.
[4] Penulisan
taqdir dan ketentuan baik dan buruk telah usai, dan tidak akan dihapus.
[5] Dalam bentuk
manusia.
[6] Aku sembuh dari
penyakit ini, sehingga bisa berkumpul dengan masyarakat dan mereka tidak merasa
jijik.
No comments:
Post a Comment