Sunday, April 12, 2026

Sejarah Jamaah

 

1.    Sejarah Jamaah IM dan Sejarah Kehidupan Imam Hasan Al Banna

SEJARAH IKHWANUL MUSLIMIN

 

Berbicara mengenai tarikh jamaah tidak dapat dilakukan hanya dalam waktu sejam dua jam.  Karenanya, apa yang dapat disampaikan hanyalah kilasan tarikh jamaah.  Satu hal yang perlu dipahami, terbentuknya jamaah bukan merupakan suatu reaksi spontanitas, akan tetapi merupakan suatu sunnatullah, sunnatuddakwah, sebagaimana diungkapkan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits, “Akan senantiasa ada thoifah (golongan) yang dzohirina ‘ala al-haq (menegakkan kebenaran) hingga akhir kiamat (apapun tantangan yang mereka hadapi)”.

Kita, disamping perlu mempelajari sejarah jamaah, juga perlu mempelajari sejarah secara umum (sejarah dunia, sejarah manusia dan penyebaran Islam, atau yang semisalnya).  Ini perlu kita lakukan agar kita dapat mengetahui sejauh mana perkembangan Islam dan bagaimana asholah dakwah yang kita sampaikan ini, sebagaimana dikatakan oleh Imam Malik mengatakan, “Akhir ummat ini tidak akan baik kondisinya, kecuali dengan melihat kembali syarat-syarat yang pernah ditegakkan pada generasi awal”.  Yang dimaksud dengan generasi awal secara umum adalah generasi para shohabat.  Namun, untuk melihat asholah dakwah dalam skup kejamaahan, kita juga perlu mengetahui kondisi dakwah pada generasi ta’sis, yaitu saat awalnya jamaah ini didirikan oleh Imam Syahid.

Para ulama mengatakan, suatu bangsa yang tidak mengetahui sejarah masa lalunya, maka masa depannya akan suram. Dengan melihat perkataan ini, maka perlunya seorang pakar yang memahami sejarah kejamaahan adalah suatu kebutuhan.  Membicarakan sejarah jamaah, kita dapat membaginya ke dalam tujuh marhalah (ini sifatnya ijtihadi bukan nash yang baku, jadi mungkin saja dilain kesempatan disebutkan hanya empat marhalah), yaitu:

1.   Marhalah Qoblal Nasy’atiddakwah  (sebelum 1928).

Asyahid dilahirkan di desa Al-Mahmudiyah kecamatan Damanhur.  Sejak kecil beliau sudah mengenal dan aktif berorganisasi (sejak SD).  Setelah beliau tamat dari sekolah Al-Muallimin, beliau melanjutkan sekolahnya ke Universitas di Kairo.  Pada waktu di Kairo Imam Syahid melihat kondisi Kairo sangat berbeda dengan kondisi di kampungnya.  Fenomena kemungkaran dan kerusakan terlihat dimana-mana.  Asyahid berkeinginan merubah kondisi di Kairo ini khususnya, dan kondisi Mesir umumnya.  Bahkan bukan hanya itu, Asyahid juga melihat kondisi negeri-negeri muslim di luar Mesir pun kondisinya kurang lebih sama.  Fenomena yang sangat mencolok, negeri-negeri muslim umumnya dikuasai oleh penjajah dan diantara mereka tidak ada ras persatuan.

Kedua fenomena ini menyebabkan Asyahid sering merenung memikirkannya dan bahkan dibuat tidak bisa tidur karenanya.  Asyahid kemudian melakukan usaha dengan membuka dialog atau kontak dengan para ulama yang ada di Mesir ketika itu, guna membicarakan permasalahan ummat Islam yang dicermatinya tersebut.  Diantara ulama yang dijumpainya adalah Syekh Rasyid Ridho, seorang ulama besar di Mesir.  Asyahid juga melakukan dialog dengan para ketua partai, diantaranya adalah Timur Basya.

Hasil pertemuan dengan tokoh tersebut, terbentuklah suatu front yang terdiri dari beberapa ulama, yang kemudian menerbitkan sebuah majalah yang diberi nama Al-Fath.  Majalah ini dipimpin oleh Muhibbuddin Al-Khotib.  Selama beberapa lama majalah ini memuat pemikiran-pemikiran Islam serta menangkis serangan-serangan pemikiran sesat.  Terbitnya majalah tersebut, belum memuaskan Asyahid.  Sebab, tulisan hanya dibaca oleh segelintir orang terpelajar.

Beliau kemudian mencoba mengadakan kontak dengan mahasiswa Al-Azhar sehingga beliau berhasil mengumpulkan beberapa mahasiswa Al-Azhar untuk mengerjakan beberapa kerja-kerja dakwah seperti mengadakan tabligh di masjid-masjid.

Terhadap apa yang telah dilakukannya ini, Asyahid kembali tidak merasa puas.  Beliau kemudian terjun ke masyarakat untuk melihat kondisi umat Islam yang sesungguhnya di Mesir, dengan melakukan kunjungan ke daerah-daerah ketika beliau libur, guna mencari tahu kondisi yang sesungguhnya di lapangan.  Setiap pelosok Mesir beliau kunjungi, dan ini terus beliau lakukan selama kurang lebih empat tahun.

2.   Marhalah Nasyatul Jamaah  (1928-1936).

Setelah beliau menyelesaikan sekolahnya di Darul Ulum, beliau kemudian menjadi guru di sebuah Sekolah Dasar di Ismailiyah.  Di Ismailiyah, beliau kembali mencari orang yang dapat diajak berdialog mengenai kondisi ummat Islam.  Dengan orang-orang tersebut akhirnya Asyahid berhasil membentuk suatu jamaah yang kemudian dikenal dengan IM.  Ini terjadi pada tahun 1928.  Awalnya, mereka kerap berkumpul di rumah Asyahid pada malam hari guna memperbincangkan berbagai masalah-masalah dakwah.  Setelah diusulkan beberapa nama bagi jamaah yang hendak mereka bentuk tersebut, akhirnya disepakati nama IM.  Beberapa orang diantara anggota IM tersebut ada 7 orang.  Adapun anggota IM pada masa awal berdirinya yaitu: Hafidz Abdul Hamid, Ahmad Al-Hushori, Fuad Ibrohim, Ismail Izz, Abdurrohman Hizbulloh, Zakky  Al-Magribi, serta Hasan Al-Banna sebagai ketua.

Marhalah ini disebut marhalah nasy’a karena Asyahid berhasil mendirikan organisasi yang manhajnya berbeda dengan berbagai organisasi yang ada saat itu, termasuk syu’banun muslimin (yang Asyahid menjadi anggota di dalamnya ketika masih kuliah di Kairo).

Dakwah di Ismailiyah dimulai oleh Asyahid dengan berdakwah di warung-warung kopi, karena disana belum ada masjid, kepada buruh-buruh (Ismailiyah merupakan daerah industri yang terdapat banyak pekerja dan perusahaan asing, diantaranya qonaf Suez).

Hari demi hari ajakan Asyahid kepada buruh-buruh tersebut mendapat sambutan yang menggembirakan dengan semakin banyaknya pengikut beliau.  Beliau melakukan ceramah di warung-warung kopi ini dalam waktu 15-20 menit dan memilih tema-tema yang tidak menyinggung perasaan mereka dan memperhatikan waktu mereka yang padat karena bekerja seharian.

Berkat ajakan ini akhirnya mereka sepakat untuk mendirikan masjid dengan menggunakan dana sumbangan masing-masing pribadi dan dengan meminta sumbangan kepada orang-orang Inggris yang ada disana yang menjadi direktur pada perusahaan-perusahaan tersebut.  Oleh wakil pemerintah Inggris dibantu, dan dibangunlah masjid disana.

Asyahid juga berhasil menyadarkan para pelacur bahkan mereka ini setelah sadar berhasil membangun sebuah ma’had yang disebut ma’had lil banat yang diberi nama “Al Hiro”.

Dalam beberapa waktu Asyahid di Ismailiyah, terjadi perubahan yang sangat drastis terhadap diri para buruh di Qonaf Suez tersebut.  Kalau sebelumnya mereka tidak disiplin, mereka kini menjadi sangat disiplin.  Para buruh ini juga terlihat tidak mau tunduk kepada perintah atasannya yang nota bene adalah orang-orang Inggris.

Melihat gelagat ini, pemerintah Inggris memanggil Asyahid dan menanyakan masalah ini, karena Asyahid yang memilih imam masjid di perusahaan tersebut (seorang mahasiswa Al-Azhar).  Orang Inggris tersebut berkata, “Kamu bukan menunjuk orang ini sebagai imam masjid, tapi pada hakekatnya kamu telah menunjuk orang ini sebagai jenderal.  Semua yang keluar dari masjid itu memiliki disiplin tinggi dan mereka tidak takut terhadap orang-orang Inggris yang ada di perusahaan”.

Kedutaan Inggris yang berada disana meminta kepada Raja Farouk yang saat itu menjadi pemimpin untuk memindahkan Asyahid dari Ismailiyah ke Kairo, dengan harapan agar dakwahnya mati dan tidak berkembang kembali.  Raja Farouk segera memenuhi permintaan Inggris dan dipindahkanlah Asyahid dari Ismailiyah ke Kairo.  Ternyata dengan pindahnya Asyahid ke Kairo, dakwah justru semakin berkembang dan menyebar.

3.   Marhalah Ta’sis  (1936-1941).

Dalam marhalah ta’sis, yang diawali dengan pindahnya Asyahid ke Kairo, Asyahid mendirikan Ha’iah Ta’sisiyah lil jamaah dan mendirikan maktab Al-Irsyad.  Pada marhalah ini IM resmi menjadi sebuah lembaga yang memiliki struktur yang rapi.

Dalam marhalah ini, IM berhasil mendirikan berbagai proyek seperti ekonomi, pendidikan dan sosial.  Salah satu proyek yang dimiliki IM adalah pabrik baja, pabrik tembaga, dan lain-lain.  Saat itu seluruh Mesir hampir dikuasai IM melalui berbagai syu’bah yang ada.

Marhalah ini disebut marhalah ta’sisiyah karena dibentuknya ha’iah ta’sisiyah dan adanya struktur IM yang rapi.

 

 

 

HAI’AH

 

 

 

 

TA’SISIYAH

 

 

 

 

 

 

 

MAKTAB

IRSYAD AAM

 

 

 

MURSYID

AAM

 

 

 

 

 

 

 

 

 

WAKIL AAM

 

 

 

 

 

 

 

 

 

NAIB

MURSYID AAM

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SEKRETARIS

AAM

 

4.   Marhalah Tagyir  (1941-1948).

Dalam marhalah tagyir, jamaah tidak lagi menggunakan uslub terbuka yang pada waktu awal-awal berdirinya sering digunakan (Pendaftaran keanggotaan baru diumumkan secara terbuka dan siapa saja dapat mendaftar masuk menjadi anggotanya).

Pada marhalah tagyir ini, mulai ada perubahan-perubahan bentuk rekruitmen, yaitu model yang kita kenal di Risalatut Ta’lim yang kemudian dibukukan dalam majmuaturrosail.

IM kemudian membentuk Janah Asykari (sayap militer) yang disebut dengan tandzim khos.  Pimpinan Janah Asykari yang pertama bernama Abdurrohman Assindi.  Adapun Jamal Abdul Naser, ia termasuk anggota tandzim khos yang berbai’at langsung kepada Hasan Al-Banna.  Kedudukannya di Janah Asykari adalah sebagai pelatih.  Namun belakangan Allah membongkar niatnya yang buruk.

Adapun tujuan pembentukan tandzim khos ini adalah untuk :

a.      Mengadakan serangan atau melakukan operasi militer terhadap Inggris.  Tandzim khos berhasil merusak berbagai instalasi milik Inggris.

b.     Membebaskan Palestina dari Israel.

5.   Marhalah Mihnah  (1948-1967).

Pada tahun 1948 terjadi perang di Palestina, dimana Israil hampir mengalami kekalahan.  Namun pasukan IM kemudian ditarik oleh pemerintah Raja Farouq dan setelah itu mereka dijebloskan ke dalam penjara.

Pada waktu itu jumlah anggota ikhwan mencapai hampir setengah juta orang dengan jumlah syu’bah sebanyak 2000 buah.  Akan tetapi Allah SWT ingin menguji anggota IM dengan memenjarakan mereka, terutama para qiyadahnya.  Seluruh asset IM kemudian disita, termasuk gedung maktab Irsyad yang kemudian dilelang oleh pemerintah.

Yang tidak dipenjarakan hanya beberapa orang saja.  Termasuk diantaranya adalah Hasan Al-Banna, yang sengaja tidak dipenjarakan untuk mengelabui negara-negara di dunia bahwa pemerintahan Raja Farouq memberikan kebebasan kepada rakyatnya, khususnya IM dengan bukti pemimpinnya dibiarkan bebas merdeka.

Marhalah mihnah itu dimulai dari pembubaran IM pada tahun 1948.  Setahun setelah itu Imam Syahid dibunuh, yaitu pada 12 Pebruari 1949.  Pembunuhan tersebut merupakan makar dari Raja Farouq dan Perdana Menteri Mahmud Fahmi An Nakhrosyi, mereka itulah yang membunuh Imam Syahid dengan menggunakan mukhobarot (intelegent).  Hari pembunuhan tersebut bertepatan dengan hari ulang tahun Raja Farouq.  An-Nakhrosyi ingin memberikan hadiah kepada Raja Farouq dengan kepala Imam Syahid Hasan Al-Banna.  Penembakannya sebenarnya terjadi malam pada hari tanggal 11 Pebruari 1949.  Sebenarnya lukanya pada waktu itu tidak begitu parah, namun ketika dibawa ke rumah sakit tidak boleh diobati dan dirawat, sehingga terjadi pendarahan dan akhirnya menemui kesyahidannya.  Ketika itu terjadi kegoncangan pada tubuh IM.  Karena pada umumnya IM berada di penjara, maka tidak ada yang mengantarkan jenazah Hasan Al-Banna kecuali lima orang wanita yang diiringi dengan panser.

Karena para Qiyadah berada di penjara dan kondisi sangat rawan, kurang lebih dua tahun IM kosong dari kepemimpinan, tidak memiliki mursyid aam.  Ada beberapa usaha yang dilakukan oleh orang-orang terdekat dengan Imam Syahid, diantaranya adalah Syaik Munir Fallah untuk mengembalikan kondisi IM.  Di dalam penjara, ada beberapa orang yang terlihat pantas menggantikan Imam Syahid, misalnya Sholeh Asymawi yang menjabat wakil jamaah pada masa Imam Syahid, Abdul Hakim Abidin yang menjabat sebagai Sekretaris Jamaah, dan yang ketiga adalah Abdurrohman Al-Banna, seorang kakak dari Imam Syahid.  Inilah orang-orang yang berada dalam penjara dan pantas menggantikan Imam Syahid untuk menjadi Mursyid Amm.  Sementara yang diluar penjara dan terlihat mampu menggantikan Imam Syahid adalah Syaikh Munir Falah dan Syaikh Hasan Bakuri, Syaikh Al-Azhar.  Ketika orang-orang IM dipenjarakan Syaikh Hasan Bakuri ini ditugaskan keluarga-keluarga yang ada diluar penjara.  Munir telah berusaha untuk mencari siapa yang tepat untuk menjadi pemimpin.  Sebab mereka sangat memerlukan seorang pemimpin, sehingga ia mengadakan kontak dengan mereka yang ada didalam penjara.  Setelah mereka dihubungi Munir Falah, Sholeh Asymawi mengatakan, “saya akan mencalonkan diri saya tapi itu semua terserah Jamaah, saya tidak akan bersikeras.  Abdul Hakim Abidin yang merupakan menantu Imam Syahid, “Saya tidak akan mencalonkan diri saya, saya serahkan kepada Jamaah”, sementara Abdurrohman Al-Banna mengatakan, “Saya akan mencalonkan diri saya” karena ia merasa berhak untuk itu.  Sementara Hasan Al-Bakuri tidak mau mencalonkan dan kalaupun ditunjuk ia tidak mau.

Terjadilah ketidak-sepakatan dalam hal siapa yang akan menjadi pengganti Mursyid Amm.  Akhirnya, disepakati, kalau kita tidak sepakat dalam memilih tiga orang ini, hendaknya kita memilih ornag yang berada diluar mereka.  Akhirnya disepakatilah untuk memilih Hasan Al-Hudaibi sebagai Mursyid Amm pada bulan Oktober 1951.

Saat dipilihnya mursyid amm itu, Raja Farouq sudah meninggal dunia.  Di kerajaan, sebelumnya ada perubahan struktur dan ada peluang untuk mengadakan revolusi atau pemberontakan.  Yang banyak berperan dalam revolusi tersebut adalah tandzim khos, termasuk di dalamnya adalah Jamal Abdul Nasser.  Ia menarik orang-orang yang berada di dalam tandzim khos agar berwala’ kepada Jamal Abdul Nasser dan bukan kepada Jamaah IM.  Maka terjadilah revolusi pada tanggal 23 Juli 1952, tidak lama setelah terbunuhnya Imam Syahid.

Sebelumnya, Raja Farouq melihat adanya tanda-tanda akan digulingkan, melarikan diri ke luar Mesir dan akhirnya meninggal.  Kekosongan ini diisi oleh Jamal Abdul Nasser dan Muhammad Najib menjadi perdana menterinya.

Dengan adanya perubahan ini, jamaah IM diberi kebebasan kembali untuk melakukan aktifitas dan seluruh barang-barang miliknya dikembalikan.  Ketika Jamal Abdul Nasser berhasil memimpin revolusi, ia meminta kepada Husain Hudaibi, agar mengirimkan tiga orang ikhwan untuk menjadi menteri yang salah satu syaratnya adalah diantara tiga orang tersebut satu diantaranya Hasan Badhowi.  Hasan Hudaibi kemudian memilih Sholeh Asmawi dan Abdul Hakim Abidin, tapi kemudian tidak disetujui oleh Jamal Abdul Naser.  Tanpa disepakati oleh Hasan Al-Hudaibi, Jamal menunjuk Hasan Al-Burquri sebagai menteri wakaf yang kemudian dalam waktu yang tidak terlalu lama kemudian diumumkan pemecatan Hasan Al-Burquri dari jabatannya sebagai menteri.

Jamal Abdul Nasser kemudian meminta IM untuk tidak berpolitik dan hanya melakukan aktifitas keagamaan (berdakwah) saja.  Oleh Hasan Al-Hudaibi menolak dan kemudian terjadilah perbedaan arah antara IM dan Jamal sejak saat itu.  Pada Januari 1954 akhirnya Jamal mengumumkan pembubaran IM dan seluruh kekayaan serta anggotanya dipenjarakan oleh Jamal Abdul Nasser, termasuk Hasan Al-Hudaibi.

Tak lama berselang, terjadi peperangan antara Mesir dengan Israil yang berakhir dengan kekalahan Mesir.  Akibat kekalahan Mesir, gurun Sinai diserahkan ke Israel.  Tak lama setelah itu Jamal Abdul Nasser wafat dan digantikan oleh Anwar Saddat (melalui revolusi tidak berdarah).  Pada saat itu, terjadi pula perdamaian antara pemerintah Mesir dengan Inggris dengan syarat Inggris meninggalkan Mesir.

6.   Marhalah Shohwah  (1967-1981).

Setelah adanya hukuman gantung terhadap tokoh-tokoh IM, aktifitas IM boleh dikatakan vakum.  Pada masa pemerintahan Saddat, seluruh tokoh-tokoh organisasi politik yang ditahan dibebaskan kembali, termasuk diantaranya tokoh-tokoh IM seperti Hasan Al-Hudaibi, meskipun aktifitas IM sendiri tetap masih dilarang.

Fase ini disebut marhalah Shohwah, terjadi tahun 1967-1981.  Kepemimpinan Hasan Hudaibi sampai dengan 1973.  Hasan Al-Hudaibi berhasil menjaga asholah dakwah dan jamaah dengan menulis sebuah buku berjudul Nahnu Du’at laisa Qudhot.  Nopember 1973 Hudaibi wafat dan digantikan oleh Umar Tilmitsani, saat itu Mesir masih dipimpin oleh Anwar Saddat.

Umar Tilmitsani, dengan kemampuannya berdialog dengan pemerintah, IM akhirnya diperbolehkan kembali melakukan aktifitas-aktifitas dakwah, bahkan diberi kesempatan untuk mengikuti Pemilu di Mesir.

Dengan aktifnya IM kembali, banyak orang yang berhasil direkrut, diantaranya adalah para mahasiswa di berbagai universitas.  Ketika IM mulai bangkit, terjadilah pembunuhan atas Anwar Saddat dan kedudukan Presiden kemudian digantikan oleh Husni Mubarok.  Saat itu terjadilah penangkapan besar-besaran terhadap anggota IM, yang berakibat banyaknya anggota IM melarikan diri ke berbagai negeri.  Husni Mubarok memandang bahwa dengan perginya tokoh-tokoh IM ke luar Mesir, berarti IM sudah mati dan tidak membahayakan lagi.  Namun, dengan izin Allah, deportasi besar-besaran ini justru berakibat tersebarnya dakwah IM keberbagai belahan bumi, termasuk Indonesia.

Pada masa Mubarok, terdapat suasana keterbukaan.  Meskipun IM bukan merupakan partai resmi, namun anggota-anggotanya diperkenankan menjadi anggota DPR.  Semua ini berkat kemampuan Umar Tilmitsani mengadakan lobbying dan dialog.  Tahun 1985, di bulan Ramadhan, Umar Tilmitsani wafat.  Beliau kemudian digantikan oleh Abdul Hamid.

7.   Marhalah Amal Alami  (1981-1990).

Tahun 1981 hingga tahun 1990 an disebut dengan masa al ‘amal alam islami.  Pada tahun 1990 an itu dikenal adanya tansiq alami, misalnya di Malaysia kita kenal PAS, di Pakistan Jamiat Islami, di Turki dengan Hizbu Rofah, dan lain-lain, kemudian kita kenal adanya Maktab Eropa, Maktab Asia, dan lain-lain.

Hingga saat ini meskipun dakwah ini mengalami berbagai tribulasi dalam setiap pergantian pemimpin (mulai dari Raja Farouq, Jamal Abdul Nasser, Anwar Saddat hingga Husni Mubarok), namun dakwah ini akan kekal.  Kalau kita lihat dari perjalanan sejarah dakwah ini kita bisa mengambil beberapa pelajaran, antara lain : Dakwah pasti mengalami mihnah dan fitnah.  Artinya pada suatu saat dakwah akan mengalami muwajahah dengan sistem bathil.  Dan ketika itulah akan teruji siapa yang sidiq dalam dakwahnya dan siapa yang tidak sidiq, seperti Jamal Abdul Nasser.  Naudzu billah, atau seperti Hasan Al-Bakuri, seorang penyair yang cukup disegani, namun karena cinta jabatan akhirnya insilah.  Yang jelas, dakwah ini akan terus berjalan hingga hari kiamat.  Yang penting bagi kita saat ini adalah, apa yang sudah kita persiapkan untuk menghadapi hal-hal yang telah dialami oleh para syuyukh kita tersebut ???

 

Wallahu a’lam bishowab.....

 


Sejarah Ikhwanul Muslimin 1950-1973 M

(Periode Mursyid ‘Am Ke-2, Hasan Hudhaibi

 

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini, maka peserta mampu:

1.    Mengetahui sejarah dakwah dan harakah jamaah ikhwanul muslimin di masa periode mursyid ‘Aam yang kedua Hasan Hudaibi th 1950-1973, dan bisa mengambil hikmah dan pelajaran darinya, terutama tentang tsabat dan istiqamah di jalan dakwah.

2.    Memahami dan menyadari bahwa tabiat dakwah/sunnatullah dalam dakwah, para da’i dalam melaksanakan tugas dakwah akan berhadapan dengan berbagai cobaan dan ancaman.

3.    Meyakini bahwa dakwah lebih kuat dan lebih kekal dari segala kekuatan batil

TITIK TEKAN MATERI

Pokok-pokok pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah: Dakwah dan gerakan ikhwanul muslimin di masa mursyid ‘aam kedua (Hasan Al Hudaibi). Konspirasi kekuatan batil (musuh Islam) di dalam maupun di luar negeri untuk menghancurkan dakwah. Dakwah al haq lebih kuat, lebih tangguh dan lebih kekal di banding dengan kekuatan-kekuatan batil. Menanamkan semangat optimisme pada setiap aktivis dakwah, bahwa dakwahlah yang jaya.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Dakwah pasca wafatnya Imam Syahid Hasan Al Banna

2.   Riwayat hidup mursyid ke-2 Hasan Hudaibi

3.   Dakwah di era baru

4.   Revolusi 23 juli 1952 di Mesir

5.   Jamal Abdun Nasir dan Ikhwanul Muslimin

6.   Ketegangan antara para pemimpin revolusi dengan Ikhwan

7.   Sikap Ikhwan tentang perjanjian ditarik mundurnya tentara Inggris dari Mesir.

8.   Abdun Nasir mengangkat kembali masalah penembakan Hasan Al Banna

9.   Skenario drama penembakan Jamal Abdun Nasr di lapangan Al Mansyiah, Iskandariyah

10. Pembubaran Jamaah Ikhwanul Muslimin

11. Ujian berat dihadapi Ikhwan tahun 1965

12. Wafatnya mursyid ‘Aam kedua.

MARAJI'

Kubral harakatul Islamiyah-Dr. Muhammad Said Wakil; Ahdats Shanaat Tarikh-Mahmud Abdul Halim; Kafilah Al Ikhwan Al Muslimin-Abbas As Sisi

 

 

Al-Ikhwanul Muslimun" merupakan salah satu gerakan Islam yang terpenting di dunia saat ini. Para pengikutnya tersebar di lebih dari 70 negara, termasuk di Indonesia. Ikhwan terkenal mempunyai organisasi yang rapih dan teratur. Kiprahnya dalam kebangkitan kembali Islam di abad XX dan XXI ini tak bisa dipungkiri siapa pun. Gerakan Al-Ikhwanul Muslimun (selanjutnya disebut IM) telah mengisi sejarah dunia dengan tinta emas melalui aktifitas dakwah dan jihad lebih dari 70 tahun. Siapa pun yang mengamati perkembangan sejarah Umat Islam mustahil melewatkan peranan serta kontribusi gerakan IM bagi kebangkitan umat Islam dewasa ini. IM dengan berbagai gerakan dakwah yang bervariasi telah membuka mata dunia tentang keindahan Islam dan membangunkan umat Islam dari tidurnya yang panjang.

Hasan Al-Banna dan Kelahiran Al-Ikhwanul Muslimun

Setelah runtuhnya kekhalifahan Turki Utsmani pada tahun 1924, pasca perang dunia pertama, hampir semua negara Arab jatuh ke tangan penjajah Barat. Umat Islam pun mulai tercabik-cabik oleh kekuatan imperialisme Barat. Dalam kondisi dunia Islam seperti itulah, seorang pemuda bernama Hasan bersama beberapa orang sahabatnya mendirikan cikal bakal gerakan "Ikhwanul Muslimun"

Hasan Al-Banna lahir di Al-Mahmudiyah, sebuah kota kecil di Mesir, pada 14 Oktober 1906. Ayah beliau, Ahmad Abdurahman As-Sa’ati, bekerja sebagai tukang arloji tetapi juga merupakan ulama terkenal karena karya besarnya Fathur Rabbani dan Bulughul Amani. Ini kitab besar yang memberi penjelasan tentang musnad Imam Ahmad yang mencakup ribuan hadits.

Hasan kecil mendapat pendidikan awal melalui kedua orangtuanya. Ruh Alquran telah tertanam dalam jiwanya sejak kecil. Sehingga keberanian untuk menyampaikan sesuatu yang hak dan mencegah hal yang munkar telah tumbuh semenjak remajanya. Di usianya yang masih remaja, Hasan telah menunjukkan kepiawaiannya dalam memimpin dan berorganisasi. Bersama beberapa kawan sekolahnya, ia mendirikan perkumpulan "Akhlaq Adabiyyah" yang tujuannya bagaimana menjaga akhlak dan adab yang baik. Aktivitas mereka, yaitu saling menasihati di antara sesama anggota untuk berakhlak mulia, di samping menghimpun dana bagi kaum fakir miskin.

Setelah menyelesaikan pendidikan menengahnya, Pemuda Hasan melanjutkan sekolahnya di Perguruan Darul Ulum Kairo selama empat tahun. Sesudah lulus, ia ditugaskan mengajar sekolah dasar di Ismailiyyah. Di kota kecil inilah Hasan membangun gerakan dakwah IM. Gerakan Ikhwan memulai kiprahnya, semenjak Maret 1928. Tujuan gerakan IM, sebagaimana dikemukakan Hasan Al-Banna adalah menyampaikan risalah Islam secara benar dan jelas kepada seluruh manusia pada umumnya dan kaum muslim khususnya. Al-Ikhwan berupaya menyatukan hati umat muslim dengan landasan yang satu, yaitu Islam. Selain itu, mereka ingin membebaskan negeri-negeri muslimin dari kungkungan kaum penjajah. Mereka juga berupaya sekuat tenaga menegakkan negara yang merealisasikan hukum-hukum Islam di tengah rakyatnya, serta mampu menyampaikan misi dan risalah Islam ke luar negeri.

Pada awalnya, gerakan dakwah Al-Banna dan Ikhwannya sama seperti gerakan lainnya, yakni lebih terfokus pada pembinaan masyarakat untuk kembali kepada Islam melalui mimbar mesjid dan sarana dakwah lainnya. Tapi gerakan Ikhwan mempunyai keunikan tersendiri. Dakwah yang mereka lakukan tidak hanya kokoh di mesjid-mesjid, tetapi melebar ke tempat-tempat umum, seperti sekolah-sekolah, pasar-pasar, pabrik-pabrik, kantor-kantor bahkan di warung kopi (maqha) tempat berkumpulnya orang-orang untuk melepas kepenatan.

Nama Al-Banna yang melekat pada Hasan adalah pemberian sahabat-sahabatnya disebabkan keutamaan pribadi beliau sebagai muassis dan pembangun jamaah dakwah. Nama gerakan Al-Ikhwanul Muslimun lahir begitu saja. Ketika Imam Hasan Al-Banna ditanya oleh para sahabatnya tentang nama gerakannya, beliau menjawab “Kita semua adalah Umat Islam dan Umat Islam itu pada hakikatnya bersaudara, jadi kita adalah “Al-Ikhwanul Muslimun (Persaudaraan Islam)”.

Sejak saat itu, pengikut Hasan Al-Banna menamakan Al-Ikhwanul Muslimun bagi organisasi mereka. Mereka tidak membangga-banggakan nama kelompoknya ini karena tujuan mereka adalah mengajak kepada Islam. Imam Hasan Al-Banna sendiri pernah berkata, “Kam minna wa laisa fiina wa kam fiina wa laisa minna” (Berapa banyak orang dari kita tetapi tidak bersama kita dan berapa banyak orang yang bersama kita, tetapi belum termasuk golongan kita). Hasan Al-Banna sendiri sangat mengutamakan kesatuan Umat. Beliau selalu berpesan pada pengikutnya agar berpegang pada prinsip, “Nata’awan fimaa ittaqnaa, wanataa’dzar fimaa ikhtalafnaa” (Kita bekerja sama pada hal yang kita sepakati dan bertoleransi terhadap hal-hal yang kita berbeda).

Hasan Al-Banna dan Kharismanya

Bagi para ikhwah, Hasan Al-Banna menjadi inspirator utama jamaah. Semua anggota IM memperhatikan dan menaati wejangan dan pengarahan beliau. Pengajian Hari Selasa yang secara rutin beliau berikan diikuti puluhan ribu orang. Demikian juga khutbah-khutbah yang beliau sampaikan di berbagai kesempatan selalu dikenang oleh segenap pengikutnya. Sebagai contoh, DR. Abbas As-Sisi yang semasa remajanya berkali-kali mengikuti khutbah Imam Hasan Al-Banna sampai masa tuanya (usia 90 tahun) selalu membayangkan saat-saat indah tatkala ruh ukhuwwah yang mengalir dari jiwa Hasan Al-Banna mengalir ke hati para hadirin bagaikan arus listrik yang menerangi hati mereka. Seorang muridnya yang lain mengatakan, “Aku datang ke pengajian Imam Hasan Al-Banna dengan membawa masalah-masalah keluarga. Aku tidak menyampaikan masalah itu kepada syekh tetapi isi pengajian itu langsung memberikan jawaban terhadap persoalan-persoalan hidupku”. Perasaan seperti ini dirasakan banyak orang.

Demikian hebat kharisma yang dimiliki Imam Hasan Al-Banna. Sistem dan cara beliau membina generasi penerusnya amat menakjubkan. Pernah ada dua orang anggota Ikhwan saling ngotot masalah harga, yang satu adalah pembeli dan yang lain penjual, keduanya anggota Ikhwan. Si pembeli ngotot ingin membayar di atas harga bandrol, karena ia berpikir bahwa si penjual adalah saudara seperjuangan. Sementara si penjual ngotot ingin menjual di bawah harga bandrol. Keduanya tetap bertahan pada pendirian masing-masing, dan tidak ada yang mau mengalah. Syukurlah, secara kebetulan Imam Al-Banna lewat di tempat mereka. Beliau lalu mendamaikan. Sikap solidaritas anggotanya yang begitu menakjubkan itu rasanya sulit ditemukan di abad yang serba materialistis seperti sekarang ini.

Ketika Imam Al-Banna memutuskan untuk mendirikan "Darul Ikhwan", banyak kisah yang unik. Sepasang suami istri berselisih hanya karena si suami ingin menyumbang satu Jeneh (Pound Mesir), sementara si istri memaksa untuk menyumbang tiga Jeneh. Akhirnya, Imam Al-Banna memutuskan agar mereka menyumbang dua Jeneh. Bahkan seorang anggotanya rela menjual satu-satunya harta yang dimilikinya hanya demi terwujudnya "Darul Ikhwan". Adalagi seorang istri rela melepas gelangnya demi perjuangan.

Figur Hasan Al-Banna sangat fenomenal. Bayangkan, beliau hafal satu persatu nama anggota Al-Ikhwan yang jumlahnya puluhan ribu orang. Bila ada rapat besar, beliau biasa memanggil nama sahabatnya satu persatu tanpa keliru sedikit pun. Kemampuan ini ada pada Hasan Al-Banna karena kecintaannya kepada sesama muslim khususnya para pengikut beliau, rasa ukhuwwah (persaudaraan), dan tanggung jawabnya sebagai mursyid (pemimpin). Karena itu pula tidak seorang pun dari pengikutnya yang ragu memanggil beliau dengan sebutan “Imam” (Pemimpin). Mereka teramat mencintai pemimpin yang selalu menjadi teladan dan melayani ini. Hasan Al-Banna adalah pemimpin abad 20 yang mencerminkan kebenaran firman Allah,

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

“Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menunjuki manusia dengan perintah Kami ketika mereka bersabar dan mereka merupakan orang-orang yang yakin terhadap ayat-ayat Kami.” (As-Sajdah: 24)

Dalam kehidupannya, Hasan Al-Banna bukan hanya mengandalkan kekuatan kata-kata tetapi menjalin erat setiap hati dengan kekuatan iman dan persaudaraan. Lebih dari itu, jiwa kepemimpinan beliau bagaikan energi yang tidak ada habisnya mendorong para ikhwah menyebarluaskan dakwah ke seluruh penjuru Mesir dan negara lainnya. Bahkan meskipun beliau sudah tiada, tulisan-tulisan Imam Hasan Al-Banna yang dibundel dalam kitab Majmu’atur Rasail serta ceramah-ceramah beliau yang dirangkum dalam kitab Haditsuts Tsulasa sampai sekarang masih dibaca para Ikhwah di seluruh Dunia dan dijadikan rujukan gerakan Dakwah mereka. Setiap ceramah beliau ditulis ulang dan diterbitkan untuk menjadi bekal dakwah mereka.

Kegiatan gerakan IM ini mencakup semua sisi: akidah, syariah, dan gaya hidup islami, setelah sebelumnya hal-hal itu dianggap hilang. Gerakan ini pun mencoba untuk ambil bagian dalam kegiatan sosial, pendidikan, dan perekonomian, sehingga membuat para pengikutnya memiliki pengaruh kuat di masyarakat. Pada Tahun 1933, Ikhwan mendirikan pabrik tenun dan pabrik permadani, di samping mendirikan sebuah lembaga keuangan yang berlandaskan Islam. Sementara dalam dunia pendidikan, Ikhwan mendirikan beberapa lembaga pendidikan.

Usaha yang dikelola Ikhwan saat itu merupakan perusahaan-perusahaan besar berskala nasional. Bahkan dalam dunia pers, Ikhwan mulai menerbitkan surat kabar hariannya semenjak 5 Maret 1946. Saat itu harian ini tersebar di seluruh Mesir dan negara-negara Arab lainnya. Sayangnya, pada 4 Desember 1948 harian tersebut dibredel oleh pemerintah Mesir. Beberapa majalah resmi yang dikelola Ikhwan pun mengalami nasib yang sama. Satu-satunya majalah Ikhwan yang terbit sampai saat ini adalah majalah bulanan Ad-Dakwah yang diterbitkan dari London.

Politik belum mewarnai gerakan Ikhwan di awal 1930-an. Semboyan yang dikumandangkan oleh Imam Hasan Al-Banna adalah "kami menginginkan individu muslim, keluarga muslim dan masyarakat muslim". Tapi kemudian Al-Banna mengembangkan arti dan pemahaman masyarakat muslim, yaitu mencakup berdirinya negara Islam dan penerapan hukum Islam. Maka, di pertengahan 1930-an, Hasan Al-Banna dan gerakan Ikhwan mulai memasuki dunia politik. Dimulai dengan surat-surat politik Al-Banna kepada Raja Farouk, lalu Perdana Menteri Mesir Musthafa Nuhhas, juga para pemimpin dunia Arab, untuk menjadikan Islam sebagai pedoman hidup muslim dalam segala bidang. Pembebasan negara Islam dari kungkungan kekuasaan imperialis Barat juga merupakan terminologi yang dikumandangkan gerakan Ikhwan saat itu.

Pada awal Tahun 1940-an, Imam Al-Banna mencalonkan diri sebagai anggota parlemen untuk daerahnya. Tapi ketakutan pemerintah memaksa Al-Banna untuk mengundurkan diri dengan ancaman IM akan dibubarkan jika ia tidak mengundurkan diri dari pemilu. Tahun 1948 Imam Syahid mengirim pasukan Ikhwan berjumlah 12 ribu orang ke Palestina untuk berperang melawan Yahudi. Pasukan Yahudi yang dibantu Inggris kalang kabut menghadapi kekuatan pemuda Ikhwan yang memiliki ruhul jihad tinggi dan mencintai syahid di jalan Allah,.

Maka, tak mengherankan jika pihak Zionis senantiasa merasa terancam oleh gerakan yang diilhami oleh pemikiran Hasan Al-Banna. Pada perang Arab-Israel, IM mampu mengerahkan pasukannya dari segala penjuru negeri-negeri Arab untuk berperang melawan Yahudi. Tercatat, pasukan sukarelawan Ikhwan dari Mesir dipimpin Abdurrahman, saudara lelaki Al-Banna. Dari Suriah dipimpin oleh Dr. Musthafa As-Siba’i, dari Yordania dipimpin Abdurrahman Khalifah dan dari Irak dipimpin Muhammad Mahmud Shawwaf.

Moshe Dayyan, dalam memoarnya, mengakui keuletan dan kegigihan para pejuang Ikhwan, sehingga daerah-daerah yang diduduki sukarelawan Ikhwan tak dapat direbut oleh Yahudi. Sayang, ketika mereka pulang, para pejuang itu tak disambut dengan kegembiraan. Sebaliknya, pintu penjaralah yang menanti kepulangan mereka.

Hasan Al-Banna telah menjadikan Islam bukan semata teori dan pemikiran tetapi sebuah realitas organisasi yang tangguh dan kuat. Kalau disimpulkan, gerakan IM mencakup,

1.          Menghidupkan kembali konsep "keuniversalan dan keintegralan Islam yang tercermin dalam semua aspek aktivitas kehidupan".

2.          Menciptakan generasi muslim yang memiliki keseimbangan antara akidah, pemikiran, spiritual, ritual, dan kiprah.

3.          Meyakinkan akan pentingnya makna ukhuwah Islamiyyah, yang bukan sekadar teori -melainkan harus diamalkan. Juga harus menghindari masalah yang akan mengarah pada perpecahan, dengan senantiasa konsisten pada etika perbedaan pendapat.

4.          Seruan dakwah harus menyentuh semua lapisan masyarakat, dari mulai tingkat yang terpelajar sampai lapisan terbawah.

5.          Mencoba mengingatkan akan bahaya gerakan Zionisme Yahudi yang didukung oleh Barat serta mengingatkan bahwa masalah Palestina merupakan agenda umat Islam yang harus diselesaikan.

Syahidnya Hasan Al-Banna dan Pemberangusan Jamaah

Karena kesal dengan kemajuan dakwah Islam dan langkah politis IM, Raja Farouk (Penguasa Mesir) berkonspirasi dengan Yahudi dan militer berusaha melenyapkan Imam Hasan Al-Banna. Tanggal 12 Februari 1949, para agen Raja Farouk berhasil menyelesaikan tugas mereka: menghabisi pendiri gerakan Ikhwanul Muslimun, Hasan Al-Banna.

Sabtu petang itu, sekitar pukul delapan lebih dua puluh menit, Hasan Al-Banna baru saja keluar dari markas "Syubbanul Muslimin" yang terletak di Jalan Malikah Nazili (sekarang Jalan Ramses), jantung Kairo. Beliau didampingi sahabat sekaligus menantunya, Ustad Abdul Karim Mansur, yang juga seorang pengacara. Abdul Karim Manshur mengungkap kembali detik-detik terakhir kehidupan Imam Hasan Al-Banna. "Kami berdua keluar menuju Jalan Ramses. Di sana taksi sudah menunggu. Kemudian Imam Hasan Al-Banna masuk ke dalam taksi dan duduk di kursi belakang. Setelah itu saya menyusul masuk. Di dalam taksi kami saling tukar tempat duduk, sehingga beliau duduk di sebelah kanan saya," ujarnya.

Belum lagi taksi tersebut berjalan, tiba-tiba dua orang tak dikenal menghadang taksi yang mereka tumpangi. "Salah seorang dari keduanya berusaha membuka pintu yang ada di sebelah saya. Tapi saya berusaha untuk menahannya. Tiba-tiba orang itu mengarahkan pistol ke arahku dan memuntahkan pelurunya. Satu peluru mengenai dadaku, peluru selanjutnya mengenai tangan kananku yang berusaha untuk meraih pistolnya. Sedangkan peluru ketiga mengenai kakiku, sehingga aku tak mampu bergerak. Hal tersebut berlangsung dengan cepat," katanya.

"Setelah melihat aku tak berdaya, ia menuju ke arah Imam Hasan Al-Banna, dan berusaha membuka pintu taksi. Tapi tidak berhasil. Kemudian ia memuntahkan peluru pistolnya ke arah Hasan Al-Banna. Pintu pun akhirnya terbuka. Sambil mundur, ia menembaki Hasan Al-Banna. Tujuh peluru bersarang di tubuh Al-Banna, tapi beliau masih mampu berdiri dan lari mengejar para penembak tersebut sekitar seratus meter. Rupanya sebuah mobil telah menunggu mereka, dan akhirnya mereka kabur menggunakan mobil tersebut," tutur Abdul Karim Manshur.

Tak lama berselang, Hasan Al-Banna pun menemui panggilan Ilahi di rumah sakit karena kehabisan darah. Dokter jaga pada malam itu dilarang merawat Al-Banna oleh utusan khusus Raja Farouk demi meyakinkan bahwa Al-Banna memang telah benar-benar tak bernyawa lagi.

Sejak peristiwa keji itu seluruh dunia Islam berduka. Para ulama Mujahid sepakat memberi tambahan gelar baru bagi Hasan Al-Banna dengan sebutan “Al-Imam As-Syahid”. Semoga arwah beliau senantiasa dirahmati Allah Taala dan cita-cita perjuangan beliau akan menjadi kenyataan. Sementara itu, semua kekayaan Ikhwan disita oleh pemerintah Mesir. Para pimpinan Ikhwan ditangkapi dan dijebloskan ke dalam penjara oleh PM Jamal Abdun Naser dan sejak itu IM dinyatakan sebagai organisasi terlarang.

Pada tahun 1951, pemerintah Mesir kembali memberi kesempatan kepada Ikhwan untuk berdiri kembali serta mengembalikan kekayaan Ikhwan yang disita. Mulai tahun itulah, Ikhwan kembali merekonstruksi organisasinya di bawah pimpinan Hasan Hudhaibi, seorang pengacara terkenal Mesir saat itu. Ketika terjadi Revolusi Mesir, 23 Juli 1953, dalam upaya meruntuhkan rezim Farouk, Ikhwan turut ambil bagian. Bahkan pemimpin revolusi Mesir, Jenderal Muhammad Najib, sempat menyampaikan sambutannya berkenaan dengan peringatan kematian Al-Banna dan disiarkan langsung melalui radio. Pemerintahan pasca revolusi pun sempat menawarkan kepada Ikhwan untuk bekerja sama dalam membentuk pemerintahan. Tapi Ikhwan menolak selama Islam tidak dijadikan sebagai landasan hukum. Penolakan tersebut merupakan awal retaknya hubungan Ikhwan dengan rezim baru.

Kesepakatan Suez yang ditandatangani pemerintah Mesir dan Inggris semakin mendorong Ikhwan menjadi oposisi pemerintah. Pada 1954, Ikhwan kembali diberangus. Bahkan beberapa pemimpin Ikhwan dijatuhi hukuman mati di tiang gantungan. Salah seorang di antaranya adalah Dr. Abdul Qadir Audah, seorang pakar hukum Mesir. Sementara Hasan Hudhaibi, Mursyid Ikhwan dijatuhi hukuman seumur hidup. Penjara sipil dan militer Mesir kembali dipenuhi para pejuang Ikhwan untuk kedua kalinya, setelah peristiwa pemberangusan pertama pada 1948 di zaman rezim Farouk.

Kalau peristiwa pemberangusan sebelumnya diprakarsai oleh Barat, maka pemberangusan anggota Ikhwan 1965-1966 boleh dikatakan atas prakarsa Rusia. Sebab rezim yang dipimpin Naser saat itu mendapat dukungan penuh Soviet. Korban pemberangusan gerakan Ikhwan kali ini adalah Sayyid Qutb, penulis karya monumental Tafsir Fi Zhilalil Quran, yang sampai sekarang sudah dicetak ulang sampai edisi ketiga puluh.

Pada masa Anwar Sadat, tahanan Ikhwan mulai dibebaskan dan mereka diperkenankan untuk bergerak atas nama pribadi. Bukan atas nama gerakan. Tapi gerakan Ikhwan menolak hal tersebut dan ingin tetap berdiri di bawah pimpinan Hasan Hudhaibi. Mereka juga terus mengajukan agar keputusan MPR tahun 1954 mengenai pelarangan gerakan Ikhwan dicabut, sampai wafatnya Hudhaibi.

Barulah pada 21 Januari 1983 permohonan Ikhwan terkabul. Saat itu pemimpin Ikhwan dijabat oleh Umar Tilmitsani sampai beliau wafat pada 1986. Tampuk pimpinan Ikhwan beralih kepada Muhammad Hamid Abu Nashir, sampai beliau wafat pada 1997. Dan sekarang kepemimpinan Ikhwan dipegang oleh Ustadz Musthafa Masyhur, salah seorang murid Hasan Al-Banna generasi pertama.

Walau usia Al-Banna sangat pendek (43 tahun), keberadaannya telah membawa berkah bagi umat. Beliau telah menanamkan bibit kebangkitan umat di abad XX ini. pemikirannya bukan semakin pudar dengan terbunuhnya beliau, melainkan justru tumbuh subur. Dengan syahidnya Imam Hasan Al-Banna Kaderisasi Dakwah tidak lantas mati malah membuat anggota Ikhwan semakin kuat dan menyebar di seluruh dunia.

Sistem pembinaan Al-Banna telah diwariskan kepada para pengikutnya. Keluarga Qutb adalah contoh keluarga yang dibina Ikhwan setelah syahidnya Hasan Al-Banna. Sayyid Qutb masuk ke dalam jamaah ini justru setelah Hasan Al-Banna menemui syahidnya. Ketika peristiwa pembunuhan keji itu terjadi Sayyid sedang sakit dan dirawat di sebuah rumah sakit di AS. Sayyid tertarik dengan pribadi Hasan Al-Banna karena melihat orang-orang Amerika, para dokter dan perawat begitu senangnya mendengar wafatnya Hasan Al-Banna. Bagi Sayyid Qutb, pribadi yang kewafatannya (kesyahidannya) membuat orang-orang kafir menjadi senang tentulah pribadi mukmin sejati yang layak untuk diikuti.

Sepulangnya dari Amerika Sayyid segera bergabung dengan IM. Beliau dan keluarganya terus ditarbiyah oleh para sahabat Imam Syahid. Sayyid Qutb berdakwah melalui lisan dan tulisan.. Selanjutnya, dalam kiprah dakwah, semua anggota keluarga Sayyid Qutb pernah ditangkap tetapi mereka tetap istiqamah. Sayyid Qutub bahkan sampai dihukum mati, sementara dua saudara perempuannya, Aminah dan Hamidah Qutub, harus mendekam di dalam penjara. Hamidah Qutub ditangkap pada saat pesta pernikahannya. Bukan karena tindak kriminal yang dilakukannya, melainkankan karena membela satu prinsip yang memang tak bisa ditawar-tawar: prinsip akidah. Hamidah baru dapat bertemu kembali dengan suaminya, Kamal As-Sananiry, setelah 20 tahun berlalu dari hari pernikahannya. Sebab si suami ini pun dijebloskan ke dalam penjara.

Kisah-kisah demikian bukan membuat orang semakin jauh dari IM. Melainkan justru semakin mendekat dan tertarik untuk lebih tahu apa rahasia serta konsep pembinaan Ikhwan, sehingga dapat menghasilkan generasi semacam itu. Generasi yang saling mencintai, saling mementingkan kepentingan saudaranya. Generasi yang memiliki pendirian yang tidak bisa dibeli dengan apa pun. Generasi yang lebih mementingkan umat ketimbang kemaslahatan dirinya sendiri.

Pengaruh Jamaah IM pada Pergerakan Islam lainnya

Gerakan IM mampu menyedot banyak pengikut karena prinsip universal yang dianutnya. Mereka juga mampu memenuhi keinginan para pengikutnya akan peningkatan keimanan, keluasan wawasan, kenikmatan berukhuwah, berjamaah dan berdakwah di jalan Allah. Maka, tidaklah mengherankan jika pengikut gerakan Ikhwan terdiri atas kaum terpelajar sampai masyarakat berpendidikan rendah yang kesemuanya bersatu padu dalam ikatan jihad fi sabilillah.

Perlu diingat bahwa gerakan ini bukan sekadar gerakan sosial kemasyarakatan belaka. Jamaah Ikhwan berkembang menjadi gerakan politik. Bahkan mereka mampu memberi inspirasi bagi gerakan-gerakan Islam lain yang tumbuh di luar Mesir. Di luar Mesir, IM diperkirakan tersebar sekitar 2.000 cabang lebih di 70 negara Islam. Jumlah itu sebanding dengan jumlah yayasan-yayasan kebaikan yang mereka miliki. Bahkan kelompok pejuang yang paling ditakuti oleh Yahudi saat perang Palestina-Yahudi adalah milisi bersenjata yang dibina oleh Ikhwan. Hammas merupakan sayap dari gerakan Ikwanul Muslimun Palestina.

Konspirasi Yahudi, Barat, dan pemerintah Mesir kecele besar. Mereka menyangka dengan dihabisinya Hasan Al-Banna dan diberangusnya gerakan tersebut di Mesir, akan punahlah pengaruhnya. Nyatanya, setelah kematian Al-Banna, gerakan Ikhwan bukannya kendur, malah semakin pesat perkembangannya di luar Mesir. Gerakan tersebut tumbuh subur di Suriah, Palestina, Yordania, dan Sudan. Bahkan gerakan mereka turut memberi andil besar bagi tumbangnya kekuasaan Yahya Hamiduddin di Yaman pada 1948. Mereka juga mengilhami gerakan "An-Nahdhah" di Tunis yang dipimpin Rasyid Ghannusi. Juga gerakan Islam yang ada di Aljazair. Pada 1982, Ikhwan Mesir menyempurnakan sistem keorganisasiannya dalam skala internasional, dengan menjalin kerja sama dengan semua gerakan Ikhwan yang ada di luar Mesir

Jihad Afghanistan melawan Soviet, sampai jatuhnya Kabul, tak lepas dari andil gerakan Ikhwan. IM mengirim perwakilan resminya, Ustad Kamal As-Sananiry untuk mengikuti perjuangan jihad itu dari dekat. Cikal bakal gerakan Jihad Afghanistan diprakarsai oleh para dosen Universitas Kabul yang sempat menuntut ilmu di Mesir seperti Abdur Rabbi Rasul Sayyaf. Mereka berkenalan dengan para murabbi Ikhwan dan mendapatkan tarbiyah yang membentuk mereka menjadi mujahid dakwah.

Kabarnya, Partai Masyumi merupakan gerakan Islam Indonesia yang punya hubungan baik dengan IM. Beberapa tokoh Islam Indonesia sempat berjumpa dan berbincang dengan Al-Banna. Bahkan gerakan IM mendorong pemerintahan Mesir untuk mengakui kemerdekaan Indonesia. Jadilah Mesir sebagai negara asing pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Dr. Said Ramadhan, salah seorang menantu Al-Banna, dalam salah satu wawancaranya dengan majalah Ad-Dakwah, menjelaskan hubungan beliau dengan tokoh Islam Indonesia, M. Natsir. Mereka sempat berjumpa dalam muktamar pertama tentang Mesjidil Aqsa pada 1950.

Gerakan IM dalam bentuk struktural baru menjejakkan kakinya di Indonesia pada 1983 setelah beberapa pelajar Islam dari Arab Saudi kembali ke Indonesia. Para pendiri gerakan ini belajar kepada Syekh Ali Al-Juraisyah salah seorang tokoh penting IM dan salah satu murid Imam Syahid Hasan Al-Banna. Gerakan IM di Indonesia telah menyebar ke seluruh propinsi dan memberikan gairah baru dalam dakwah di Nusantara. Peranannya dalam Reformasi di Indonesia sangat besar melalui aktifitas dakwah kampus yang menjadi pelopor perubahan di negeri ini. Pada tahun 1998 gerakan IM di Indonesia resmi memunculkan diri dalam bentuk sebuah Partai terbuka yang menyebut diri mereka sebagai “Partai Dakwah”.

Dalam perjalanannya yang sudah melampaui 70 tahun itu, gerakan Ikhwanul Muslimun tampaknya masih belum berhasil merealisasikan apa yang mereka cita-citakan, yaitu berdirinya kembali khilafah Islamiyyah. Apakah Ikhwan telah gagal? Ustadz Said Hawwa, salah seorang tokoh Ikhwan Suriah generasi kedua menjawab, "Keberhasilan Ikhwan sampai saat ini baru sampai taraf penyebaran fikrah (pemikiran) dan membangkitkan kesadaran umat. Hal itu dapat terlihat dari tersebarnya karya tokoh-tokoh Ikhwan ke seluruh penjuru dunia."

Walahu a’lam


SEJARAH KEHIDUPAN

IMAM SYAHID HASAN AL-BANNA

 

A.   Biografi Imam Syahid.

Imam Syahid Hasan Al-Banna dilahirkan di kota Mahmudiyah, Distrik Bahirah Mesir pada bulan Oktober 1906 M.  Orangtua beliau seorang ulama besar pada masanya, yaitu Ahmad Abdur Rahman Al-Banna, ulama yang banyak karyanya di bidang ulumul hadits.  Diantaranya yang terkenal “Al Fath Ar Rabbany li Tartib Musnad Al-Imam Ahmad”.  Disamping menulis kitab-kitab hadits, orang tua Hasan Al-Banna bekerja memperbaiki jam.

Sejak dini Al Imam sudah ditempa oleh keluarganya yang taat beragama untuk meraih dan memperdalam ilmu di berbagai tempat dan majelis ilmu.  Pertama kali beliau menggali ilmu di Madrasah Ar Rasyad, kemudian melanjutkan di Madrasah ‘Idadiyah di kota Mahmudiyah tempat beliau dilahirkan.

Pada usia beliau yang masih muda sudah memiliki perhatian yang besar terhadap persoalan dakwah.  Beliaupun mampu berbuat lebih banyak untuk menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar.  Bersama teman-temannya di sekolah beliaupun membentuk perkumpulan “Akhlaq Adabiyah” dan perkumpulan menentang hal-hal yang diharamkan Imam Syahid sejak muda menginginkan dakwah Islamiyah tegak dan kokoh.

Pada tahun 1920 Imam Syahid melanjutkan pendidikannya di Darul Mu’allimin Damanhur, hingga menyelesaikan hafalan Qur’an diusianya yang belum genap 14 tahun.  Beliaupun aktif dalam pergerakan melawan penjajah.  Pada tahun 1923 Imam Syahid melanjutkan pendidikannya di Darul Ulum Kairo.  Disini Imam Syahid banyak mendapatkan wawasan yang luas dan mendalam.  Beliau menyelesaikan pendidikan di Darul Ulum pada tahun 1927 M, dengan hasil yang memuaskan, menduduki rangking pertama di Darul Ulum dan rangking kelima di seluruh Mesir dalam usianya yang baru menginjak 21 tahun.

Semenjak di Darul Ulum Kairo, beliau mendapatkan cakrawala berfikir lebih luas dan wawasan yang mendalam.  Beliau semakin giat dalam amal islami.  Bersama kawan-kawannya Imam Syahid giat melaksanakan dakwah di berbagai tempat, baik di perkumpulan-perkumpulan, kedai kopi ataupun di klab-klab.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Darul Ulum Kairo, beliau bekerja sebagai guru Ibtidaiyah (setingkat SD) di Ismailiyah meskipun mendapatkan penawaran untuk melanjutkan pendidikan, namun beliau lebih menyenangi menjadi guru di Ismailiyah hingga 19 tahun beliau berkhidmat mengajar disana.

Di tempat yang sama, yaitu kota Ismailiyah beliau menikah dengan putri salah seorang tokoh Ismailiyah Al Haj Husain As Shuly pada malam 27 Ramadhan 1351 H.  Dengan dikaruniai 5 ornag anak, 4 orang anak perempuan yaitu Wala’, Sinai, Raja dan Hajar.  Adapun anak lelaki beliau adalah Ahmad Syaiful Islam.  Imam Syahid sangat memberikan perhatian yang besar pada pendidikan keluarganya dengan adab dan akhlaq Islam.  Hasil perhatiannya terhadap keluarga dapat kita lihat pada anak beliau yang sangat dihormati Ahmad Syaiful Islam.

B.   Permulaan Dakwah

1.  Hal-hal yang mendasari berdirinya dakwah.

Perpindahan Al Banna dari tempat kelahirannya Mahmudiyah ke Damanhur kemudian ke Kairo membuatnya banyak mengetahui permasalahan situasi dan kondisi umat Islam.

Dimasa beliau tinggal di Mahmudiyah, daerah yang tenang dan menjaga tradisi Islam dan ajarannya, belum terlintas di benaknya bahwa di ibukota Kairo, banyak penyimpangan dan kerusakan yang sudah sangat parah.  Belum pernah tergambarkan olehnya bahwa para penulis terkemuka, ulama dan para pakar bekerja demi kepentingan musuh Islam.

Tetapi ketika beliau berada di Kairo semua itu dilihatnya, kemudian beliau banyak berfikir untuk menghadapinya segala sesuatu sudah berubah seakan-akan manusia sudah jalan dengan kepala dan berfikir dengan dengkul.  Ulama sibuk dengan urusan pribadi, masyarakat umum dalam keadaan bodoh, peristiwa demi peristiwa datang bertubi-tubi seakan-akan hujan yang deras, atau badai yang kencang, segala sesuatunya sudah berubah.

Surat kabar, majalah dan sarana informasi lainnya memuat dan menyebarkan pemikiran sesat, pornografi dan macam-macam kemungkaran di mimbar politik, masing-masing partai hanya mementingkan golongannya dan cenderung menjadi ajang permusuhan, perpecahan ummat.

Masyarakat sudah meninggalkan dan menjauhi nilai-nilai luhur, sudah asing dengan nilai-nilai Islam.  Begitupun di Perguruan Tinggi sudah banyak berubah, yang tadinya disiapkan untuk menjadi lampu penerang, pusat kebangkitan dan mimbar peradaban dan kebudayaan menjadi sumber malapetaka, pusat kerusakan dan alat penghancur sehingga banyak orang memahami bahwa Perguruan Tinggi dan Universitas adalah tempat revolusi terhadap akhlaq, menentang agama dan memusuhi tradisi yang baik.

Turki yang tadinya menjadi pusat Khilafah Islamiyah pada tahun 1924 M sudah berubah menjadi negara sekuler, negeri Mesir dan negeri-negeri Islam lain dalam keadaan terjajah dan perekonomian ummat Islam dikuasai oleh orang-orang asing kaum penjajah.

Semua itu disaksikan oleh Al-Banna, bahwa kondisi dan situasi semakin memburuk sehingga menyusahkannya dan ia menjadi gelisah.  Sampai beliau tidak dapat tidur selama 15 hari di bulan Ramadhan, akan tetapi ia tidak putus asa, tidak menyerah bahkan menambahnya semangat dan bertekad untuk berbuat sesuatu yang positip bahwa yang bisa mengembalikan Khilafah Islamiyah, mengusir penjajah dan mengangkat martabat hanyalah kesungguhan, cita-cita yang tinggi, kerja yang tak mengenal lelah dan harokah yang berkesinambungan.

Banna mulai melakukan aktifitasnya dengan menghubungi para pemimpin, tokoh masyarakat dan para ulama mengajak mereka untuk membendung arus kerusakan itu.  Beliau menghubungi Syeik Ad Dajawi salah seorang ulama Mesir terkemuka dan beliau menjelaskan permasalahan kepada Syeikh tersebut, tapi Syeikh hanya memperlihatkan keprihatinannya saja, tidak ada sesuatu yang diharapkan oleh Al Banna darinya, dengan alasan bahwa Mesir sedang dijajah Inggris yang memiliki kekuatan dan persenjataan yang dapat menghadapi gerakan apapun yang menentang dan merugikannya.  Al Banna tidak ridho dan tidak puas dengan jawaban Ad Dajawi itu dan membuatnya lemah semangat.  Kemudian Syeikh Ad Dajawi mengajaknya berziarah ke rumah Syeikh Muhammad Saad yang merupakan juga salah satu ulama terkemuka, disana banyak yang hadir selain Syeikh Ad Dajawi, Syeikh Muhammad Saad dan Al Banna.  Al Banna menjelaskan lagi permasalahan ummat namun Syeikh Ad Dajawi memintanya untuk berfikir, tapi Al Banna seorang pemuda yang memiliki semangat yang tinggi berpendapat waktu itu bukan saatnya untuk berfikir tapi untuk berbuat.

Syeikh Muhammad Saad pada waktu itu menjamu para tamunya kue-kue khas dibuat untuk bulan Ramadhan (halawiyat).  Para tamu asyik menikmati makan dan minuman yang disuguhkan, pemandangan ini membuat Al Banna semakin bersedih dan prihatin.  Beliau memahami bahwa mereka dalam keadaan lalai dari kondisi Islam, maka ia berusaha menyadarkan mereka seraya berkata : “Wahai tuan Syeikh !  Islam sedang diperangi dengan dahsyat, sementara para tokoh, pelindung dan para pemimpin ummat sedang menghabiskan waktunya dengan keni’matan seperti ini, apakah kalian mengira bahwa Allah tidak akan menghisab apa yang kalian sedang lakukan ?  Jika kalian tahu disana ada pemimpin Islam dan pelindungnya selain kalian, tunjukilah saya kepada mereka agar saya mendatangi mereka, mudah-mudahan saya dapati apa yang tidak ada pada kalian”.

Perkataan Al Banna menyentuh hati Syeikh Muhammad Saad, sehingga ia menangis membuat yang lainpun menangis.  Lalu Syeikh bertanya : “Apa yang mesti saya lakukan wahai Hasan ...?  Al Banna mengusulkan agar Syeikh mengumpulkan nama-nama para ulama dan zuama serta para pemuka, lalu mereka diundang untuk suatu pertemuan dalam rangka memikirkan dan memusyawarahkan apa-apa saja yang harus mereka lakukan.  Sekalipun hanya menerbitkan majalah mingguan untuk mengimbangi majalah-majalah yang ada atau membentuk perkumpulan yang dapat menampung para pemuda.  Syeikh setuju atas pemikiran Al Banna itu dan ia mencatat sebagian nama ulama terkemuka seperti :

1.      Syeikh Yusuf Ad Dajawi

2.      Syeikh Muhammad Khudlori Husain

3.      Syeikh Abdul Aziz Jawis

4.      Syeikh Abdul Wahab Najjar

5.      Syeikh Muhammad Khudlori

6.      Syeikh Muhammad Ahmad Ibrahim

7.      Syeikh Abdul Aziz Khuli

8.      Syeikh Muhammad Rasyid Ridho

Dan mencatat sebagian nama-nama tokoh terkemuka, seperti :

1.      Ahmad Taimur Pasya

2.      Nasim Pasya

3.      Abu Bakar Yahya Pasya

4.      Abdul Aziz Muhammad Pasya

5.      Mutawalli Ghonim Bik

6.      Abdul Hamid Said Bik

Mereka semua diundang untuk suatu pertemuan dan terlaksanalah pertemuan demi pertemuan, sehingga dapat menerbitkan majalah “AL FATH”.  Dipimpin oleh As Sayid Muhibuddin Khattib dengan pimpinan redaksinya Syeikh Abdul Baki Surur, perkumpulan dan kegiatan ini terus berlangsung sampai Hasan Al Banna lulus kuliah dari Darul Ulum dan terus menggerakkan beberapa orang pemuda sehingga terbentuklah Jam’iyyah Syubanul Muslimin.

Hasan Al Banna berhasil mengumpulkan beberapa ulama dan tokoh masyarakat terkemuka, dan terbentuklah Jamaah Islamiyah yang menyeru untuk menghadapi arus gelombang kehidupan materialis, membatasi kegiatan maksiat dan kekufuran.  Akan tetapi Hasan Al Banna melihat aktifitas jamaah itu tidak cukup, dimana kegiatannya terbatas pada menyampaikan ceramah atau nasehat di masjid-masjid dan menulis artikel di majalah-majalah, akan tetapi siapa yang menyampaikan dakwah kepada orang-orang yang tidak ke masjid yang sebenarnya mereka lebih berhak dari pada orang-orang yang aktif ke masjid.  Siapa yang menyampaikan dakwah kepada orang-orang yang tidak membaca koran dan majalah.  Dengan demikian harus adanya kader yang siap berdakwah ke berbagai lapisan masyarakat.

Al Banna melihat bahwa yang dapat melaksanakan tugas berat itu adalah para mahasiswa Al Azhar dan Darul Ulum.  Al Banna berhasil mengumpulkan beberapa orang rekannya untuk berlatih berpidato, khotbah di masjid, berdakwah di warung-warung kopi dan tempat-tempat umum, kemudian pergi ke kampung-kampung.  Diantara mereka yg terlibat dalam aktivitas ini :

1.      Syeikh Muhammad Madkur

2.      Syeikh Hamid Askari

3.      Syeikh Ahmad Abdul Hamid

Setelah mereka berlatih dan siap terjun ke lapangan, Al Banna mengajak rekan-rekannya untuk berdakwah ke warung-warung kopi dengan memperhatikan  3 hal :

1.      Memilih tema yang sesuai

2.      Sistem penyajian yang menarik

3.      Memperhatikan waktu, jangan sampai membosankan

Pergilah mereka ke warung-warung kopi dan cukup berhasil.

2.  Peristiwa berdirinya Jamaah Ikhwanul Muslimin.

Pada bulan September tahun 1927 M, Hasan Al Banna diangkat menjadi guru SD di Kota Isma’iliyah, disanalah beliau memulai dakwahnya, di warung-warung kopi kemudian pindah ke masjid.  Dakwah yang dilakukannya di warung-warung kopi ini bukan pengalaman yang pertama baginya, tapi beliau sudah terbiasa dakwah di tempat-tempat seperti ini, ketika beliau masih mahasiswa di Darul Ulum, Kairo.

Dakwah Hasan Al Banna mendapat sambutan dari para pengunjung warung-warung kopi, sehingga sebagian diantara mereka bertanya kepadanya tentang apa yang harus dilakukan demi agama dan tanah air.

Setelah beberapa lama berdakwah di warung-warung kopi kemudian Hasan Al Banna pindah dari warung kopi ke mushalla (Zawiyah).  Di Zawiyah inilah beliau berbicara dan mengajarkan praktek ibadah, dan meminta kepada mereka agar meninggalkan kebiasaan hidup mewah.  Para pendengarnya menyambutnya dengan baik.

Dengan kecerdasannya, Hasan Al Banna menetapkan unsur-unsur yang mempunyai pengaruh terhadap masyarakat, yaitu pada 4 unsur :

1.      Ulama

2.      Masyaikh furuq sufiah

3.      Para tokoh masyarakat (wujaha)

4.      Klub-klub (nadi-nadi)

Maka Imam Syahid Hasan Al Banna membuat perencanaan dan berinteraksi dengan 4 unsur diatas :

Kepada Ulama

Hasan Al Banna mampu mengambil simpati ulama dengan menjalin hubungan persahabatan, menghormati dan menghargai mereka dan kadang-kadang memberikan hadiah kepada mereka, maka dengan cara ini mereka (pada ulama) menghormatinya tidak menghalanginya berdakwah di Isma’iliyah, inilah sebenarnya tujuan beliau untuk para ulama, agar mereka membiarkannya berdakwah Illallah dan tidak menyerangnya, karena Hasan Al Banna bukan ulama Al Azhar.

Masyaikh Turuq Sufiah

Al Banna berbicara kepada mereka dengan bahasa mereka, berinteraksi dengan mereka dengan etika yang berlaku di kalangan mereka, dengan demikian mereka tidak menghalanginya berdakwah dan tidak menyerangnya.  Bahkan mereka membiarkan Al Banna berdakwah, kendatipun mereka tidak bergabung dengannya atau tidak mendukungnya.

Para Tokoh Masyarakat

Al Banna menghormati mereka sesuai dengan posisi mereka di masyarakat dan mengadakan pendekatan dengan mereka dengan bahasa yang baik dan amal-amal kebaikan, dengan cara ini mereka mencintai dan menghargainya, diantara yang dilakukan oleh Al Banna menghilangkan sebab-sebab perselisihan dan permusuhan diantara mereka, dalam hal ini Al Banna berhasil dan mendapat penghargaan dari mereka.

Klub-Klub Pertemuan

Al Banna sering mendatangi klub-klub (tempat-tempat pertemuan) dan disana beliau menyampaikan pengajian, muhadhoroh nadwah (menjalin hubungan persaudaraan dengan orang banyak) dan berhasil merekrut jumlah yang tidak sedikit untuk mengikuti pengajian beliau di Zawiyah.

Demikian Al Banna pada permulaan dakwahnya di Isma’iliyah berhasil menarik simpati dan mengambil hati masyarakat.  Kemudian dikumpulkan lalu diarahkan sehingga mereka memiliki ghiroh terhadap agama mereka dan cinta akan amal islami.  Cara-cara diatas dilakukan oleh Al Banna kurang lebih selama 1 tahun.

Pada bulan Dzul Qo’dah tahun 1347 H atau bulan Maret 1928 M, datang 6 orang diantara yang tertarik dengan dakwah Al Banna mereka adalah :

1.      Hafiz Abdul Hamid, bekerja sebagai tukang bangunan

2.      Ahmad Al Hushor, bekerja sebagai tukang cukur

3.      Fuad Ibrahim, bekerja sebagai tukang gosok pakaian

4.      Ismail Izz, bekerja sebagai penjaga kebun

5.      Zaki Al Maghribi, bekerja sebagai tukang menyewakan sepeda dan bengkel sepeda

6.      Abdurrahman Hasbullah, bekerja sebagai supir

Mereka berbicara kepada Imam Syahid tentang apa yang harus mereka lakukan demi agama dan mereka menawarkan sebagian harta milik mereka yang sedikit.  Lalu mereka meminta kepada Al Banna untuk menjadi pimpinan mereka, kemudian permintaan ini diterimanya.

Lalu mereka berbaiat kepadanya untuk bekerja demi Islam dan mereka bermusyawarah tentang nama perkumpulan mereka.  Imam Al Banna berkata : “Kita ikhwah dalam berkhidmat untuk Islam, dengan demikian kita Al Ikhwanul Muslimin”.

emudian mereka menjadikan kamar di suatu rumah sewaan yang sangat sederhana sebagai “Kantor Jamaah” dengan mengambil nama Madrosah At Tahzab.  Disanalah Imam Syahid mulai meletakkan/ mengambil manhaj tarbawi bersama pengikut-pengikutnya, manhaj tarbawi pada waktu itu adalah :

1.      Al-Qur’anul Karim  (tilawah dan hafalan).

2.      As Sunnah An Nabawiyah  (menghafal sejumlah hadits).

3.      Pelatihan khutbah.

4.      Pelatihan mengajar untuk umum.

Setelah beberapa bulan jumlah pengikut jamaah menjadi 76 orang, kemudian terus bertambah.  Dan mereka mendermakan harta mereka untuk dakwah sampai dapat membeli sebidang tanah untuk dibangun diatasnya markas jamaah (Darul Ikhwanul Muslimin) terdiri dari masjid, 1 sekolah untuk putra, 1 sekolah untuk putri, nadi (tempat pertemuan) ikhwan.

3.  Pertumbuhan pesat dakwah ikhwan sejak awal.

Pada bulan Oktober tahun 1932 M, Imam Hasan Al-Banna dimutasi kerjanya ke Kairo sebagai guru di Madrasah Abbas I, Distrik Sabtiah, perpindahan kerja ini menjadi peluang bagi Imam Syahid untuk membawa dakwah ke Kairo ibukota Mesir, mengingat Kairo pusat kebijakan politik, dan mendapatkan kesempatan berdakwah di depan jutaan penduduk Kairo.

Di Kairo Imam Al Banna dan ikhwan memilih rumah di jalan Nafi No.24 sebagai Markaz Amm, dan Imam Syahid bertempat di lantai atas selama 7 tahun dakwah di Kairo dari tahun 1932 sampai 1939 M.  Markaz Amm mengalami beberapa kali pindah :

1.      Di jalan Nafi No.24

2.      Di rumah di Suqus Silah

3.      Di jalan Syamasyiji No.5

4.      Di jalan Nashiriyah No.13

5.      Di jalan Medan Atobah No.5 di perumahan wakaf

6.      Di jalan Ahmad Bik Umar di Hilmiyah

Di Kairo disamping banyaknya partai politik yang bersaing untuk menjadi partai yang berkuasa, didapati pula banyak organisasi Islam dan non Islam.

Di tengah-tengah kehidupan Kairo, dakwah ikhwan terus meluncur membuktikan keberadaannya, efektifitasnya dan menarik banyak pengikut dan pendukungnya serta membuka syu’bah-syu’bah baru.

Dakwah di Kairo belum sampai satu tahun Imam Syahid telah mampu menyebarkan dakwah di seluruh kota Kairo dan telah membuka syu’bah-syu’bah baru lebih dari 50 kabupaten, dimana Imam Syahid mendatangi perkampungan negeri Mesir untuk berdakwah tidak mengenal letih, apalagi malas, hal itu dilakukannya disaat-saat musim liburan sekolah.

Sekilas pintas pribadi Mursyid

1.      Profesi dan pekerjaannya.

Beliau sebagai guru SD (Ibtidaiyah), beliau seorang guru yang disiplin melaksanakan tugasnya dengan optimal dan maksimal, beliau belum pernah terlambat datang ke sekolah (tempat kerja), beliau merasakan ni’mat dan kebahagiaan dalam bekerja karena beliau meyakini bahwa Allah telah menciptakannya menjadi pendidik.

Beliau disenangi dan dihormati oleh murid-murid, para guru, kepala sekolah dan karyawan.  Dan mereka mencintai dakwah Al Banna, karena mereka mencintai pribadinya.  Mereka berkeinginan membantunya, agar mempunyai banyak waktu untuk mengemban tugas dakwah, akan tetapi beliau bersikeras melaksanakan tugasnya dengan sempurna tanpa membebani orang lain.

Bila ada ikhwan yang menelponnya ketika dia sedang mengajar di kelas, kemudian petugas memberitahukannya ada orang yang menelponnya, lalu ia berpesan kepada petugas tersebut : “Katakan kepadanya/mereka, dia sedang mengajar tidak dapat meninggalkan kelas sebelum selesai jam pelajarannya”.

2.      Tugas Rumah.

Hasan Al Banna melaksanakan tugasnya di rumah sebagai kepala keluarga, suami, ayah dengan sempurna, tidak pernah terjadi kles dalam rumahnya, memberikan perhatian yang penuh kepada anak-anaknya.  Beliau membantu pekerjaan istrinya di rumah sekalipun dengan kesibukan dakwahnya.  Beliau mengetahui kebutuhan rumah, beliau tiap hari mencatat kebutuhan rumah tangga, sehingga beliau mengetahui kapan disimpan barang seperti bawang, minyak dan lain-lain.

3.      Aktifitas Dakwah.

Dakwah bagi Hasan Al Banna menjadi alasan hidupnya, dan semua kehidupannya dakwah, siang dan malam kesibukannya adalah dakwah, dakwah memenuhi hati pikirannya, sehingga dakwah terlihat jelas pada pribadinya, bila berbicara, berbicara dengan dakwah dan untuk dakwah.  Dan bila diam, diamnya dakwah, bila bergerak demi dakwah, cinta dan bencinya karena dakwah dan bila tertawa atau menangis karena dakwah.

Hasan Al Banna tidak hidup untuk dirinya sendiri, tidak menyimpan uang, tenaga waktu dan kesehatannya kecuali untuk dakwah, semua gajinya dijadikan untuk dakwah, tidak dikurangi kecuali untuk kepentingan keluarga yang pokok, beliau mengambil standar minimal/terendah untuk hidupnya.  Hasan Al Banna menjadikan hidupnya untuk dakwah, ucapan, diam, gerak, bangun, tidur, suka, benci, tulisan, bacaan, pikirannya semua untuk Islam.

C.  Ranjau-Ranjau Sepanjang Perjalanan Dakwah Imam Hasan Al-Banna.

Ketika kedua aktifis thontho Muhammad Abdussalam dan Jamaluddin Fakih dituduh oleh rezim sebagai pelopor gerakan subversib dan ini adalah awal mihnah yang menimpa jamaah maka Imam Asyahid segera mengadakan lobi dengan lembaga bantuan hukum untuk mengadakan pembelaan secara maksimal dan mengerahkan seluruh ikhwan agar memiliki perhatian serta mengikuti persidangan-persidangan yang berlangsung bahkan beliau sendiripun selalu mengikuti persidangan-persidangan yang berlangsung dan sekaligus membantah tuduhan yang ditujukan kepada dua aktifis maupun kepada jamaah dengan lewat mass media internal maupun external.

Dengan upaya yang maksimal dan dukungan seluruh fihak akhirnya kedua aktifis dinyatakan bersih dari tuduhan.  Keprihatinan Hasan Al Banna terhadap peristiwa itu terungkap “Sesungguhnya masalah ini membikin aku gelisah untuk tidur, karena aku tahu bahwa hal ini benar-benar telah dipersiapkan secara matang, mereka memiliki dan menguasai seluruh perangkatnya, mulai dari birokrasi, hakim, hingga saksi-saksi palsu dan apabila mereka berhasil meringkus kedua aktifis kita kedalam penjara dengan tuduhan subversif, maka dakwah al ikhwan akan punah dimata masyarakat”.

Memang Hasan Al Banna mengajarkan kepada al ikhwan untuk menjadi generasi yang pemberani dalam kebenaran, menganggap para penjajah adalah musuh dan bentuk perbudakan yang paling buruk sepanjang sejarah manusia, mereka begitu semangat dan berebut untuk mendapatkan izin menuju Palestina untuk meraih syahadah ketika DK PBB pada tahun 1948 secara resmi memutuskan tanah Palestina menjadi dua, Imam sendiri dalam pidatonya dimuka khalayak ramai di hotel intercontinental mengatakan : “Pembagian Palestina menjadi dua adalah tanda bahwa dunia telah tidak waras”.  Hal serupa juga pernah disampaikan kepada pemerintah Inggris lewat perwakilannya di Kairo tahun 1939 M, bahwa ummat Islam akan mempertahankan Palestina hingga titik darah terakhir.  Beliau juga seorang yang lembut hati, hidupnya hanya untuk perhatian dakwah dan para ikhwannya, ketika seorang akhwat menderita sakit ..., beliau sendiri menghubungi dokter dan ketika sang dokter sedang menulis resep obat lalu beliau mencolek kepada Mahmud Abdul Halim untuk meminjam uang untuk menebus obat karena tak sepeser junaihpun ada ditangannya.

Perlawanan para ikhwan menghadapi penjajah Inggris atas intervensinya terhadap kota Isma’iliyah awal perang dunia kedua 1939 M merupakan sampel keberanian mereka.  Melihat keberhasilan Hasan Al Banna dengan jamaahnya yang cukup gemilang, dimana pada waktu yang relatif singkat fikroh ikhwan telah mampu mempengaruhi dan mewarnai di berbagai bidang ekonomi, sosial politik dan keagamaan, khususnya sikap masyarakat luas terhadap Palestina dan penjajah, maka Inggrispun sangat gerah terhadap Hasan Al Banna dan sangat berkepentingan untuk membunuhnya dan membubarkan jamaahnya.

 

Untuk merealisasikan mimpin Inggris itu pada tanggal 10 Nopember 1948 M tiga segitiga setan mengadakan pertemuan secara rahasia, mereka adalah Inggris, Amerika dan Perancis di Paid, memutuskan agar ikhwanul muslimin segera dibubarkan.  Sebulan kemudian tepat pada tanggal 8 Desember 1948 datang SK militer yang berisikan pembubaran terhadap jamaah.

Rupanya pembubaran jamaah tidak berdampak terhadap aktifitas dan keberadaannya di tengah-tengah masyarakat, justru pembelaan dari masyarakat luas semakin kentara dari hari ke hari, kewibawaan dan kemampuan Hasan Al Banna merekrut masyarakat luas sangat diakui lawannya, kemampuan membangkitkan semangat ummat, membuka hati yang tertutup, menghimpun kekuatan arus bawah sangat ditakuti lawan.  Maka tidak ada lagi pilihan lain, kecuali harus merencanakan sebuah makar yang lebih besar yang belum pernah terpikir di benak mereka yaitu dengan membunuh pendirinya.

Sejak itu rezim Faruq benar-benar memperhitungkan langkah untuk menguasai Hasan Al Banna :

1.      Dengan memenjarakan seluruh anggota al ikhwan dan membiarkan Hasan Al Banna seorang diri agar masyarakat luas menganggap bahwa rezim masih memiliki rasa tolerir terhadap beliau, padahal itu sebuah siksaan batin, setiap harinya hanya tangisan ribuan anak kecil dan rintihan ibu-ibu fororo’ yang didengarnya, menengok kanan dan kiri tidak ada yang peduli seakan-akan seluruh rakyat telah diintimidasi oleh rezim, takut untuk melakukan sebuah kebaikan, siapa sedekah mati, siapa menolong orang yang kelaparan dia anggap pemberontak, beliau hanya mampu mengumpulkan sebesar 150 junaih Mesir (+ $.140) setelah upaya sana sini dan itupun hasil hutang dari salah seorang teman.  Sungguhpun perasaan-perasaan buruk dan mencekam yang melanda masyarakat lebih dari yang terungkapkan.

2.      Setelah perasaan yang mencekam benar-benar menyelimuti seluruh rakyat Mesir, polisi intel segera memenjarakan adik kandung Hasan Al Banna, Abdul Basith yang dia adalah seorang polisi padahal yang satu ini bukan seorang al ikhwan,  hal itu untuk mempermudah penangkapan terhadap beliau kapan mereka menginginkannya, sebenarnya perasaan ini juga ada dalam sanubari kecil beliau, namun justru keberanian dan perasaan tidak takut mati semakin lebih nampak apalagi setelah di suatu malam beliau bertemu dengan Sayyidina Umar di dalam sebuah mimpinya mengatakan wahai Hasan, kau akan dibunuh kemudian terbangun lalu tidur kembali sehingga terulang mimpi itu lalu bangun sholat hingga subuh, sungguhpun mati adalah batas uang tidak dapat ditawar.  Dan ketika Imam Asyahid mengajukan untuk tinggal di luar kota Kairo bersama saudaranyapun tidak diizinkan, hal itu semakin memperjelas makar yang dirancang oleh rezim untuk meringkusnya secara perlahan.

3.      Setelah seluruh persenjataan ikhwan, dan kekayaannya termasuk pistol dan mobil pribadi beliau yang statusnya pinjaman itu disita oleh penguasa yang serakah, maka tinggal episode yang terakhir.  Maka berhasillah mereka merekayasa sebuah pertemuan antara Asyahid dengan Mohammad An Naqhi (salah satu pengurus Dar Asy-Syubban) pada hari Jum’at tanggal 11 Desember 1949 M pukul 17.00.  Namun hingga pukul 20.00 masalah yang diagendakan belum ada kejelasan yaitu salah seorang menteri yang diharapkan dapat membantu menyelesaikan masalah ikhwan, lalu pulanglah beliau dengan mertuanya ustadz Mansur SH dengan komitmen akan datang kembali esok harinya, namun tiba-tiba beliau dapati suasana yang sungguh lain, di jalan protokol “Quin Ramses” yang biasanya ramai dengan hiruk pikuk lalu lintas lalu lalang manusia saat itu tak sebuah mobil dan seorangpun yang lewat kecuali sebuah taxi yang menongkrong di depan gerbang pintu Dar Asy Syubban, toko-toko dan rumah-rumah makan yang berdekatan juga sudah tutup, kecurigaan semakin tinggi ketika baru akan melangkahkan kaki menuju jalan raya tiba-tiba seluruh lampu penerang jalan mati, saat itulah peluru api meluncur sebagian mengenai Asy Syahid dan peluru yang lain mengenai ustadz Mansur, namun beliau masih kuat untuk naik sendiri menuju gedung Dar Asy Syubban memutar telepon untuk meminta pertolongan kepada ambulance, sungguhpun demikian Asy Syahid terdampar dalam rumah sakit “Qosr Aini” tak seorangpun dari perawat atau dokter yang berani menolongnya sekalipun banyak dokter muslim yang ingin merawatnya, namun kepala RS tidak mengizinkan atas perintah kerajaan.  Dering telepon tak henti-hentinya untuk meyakinkan kematian Asy Syahid hingga Asy Syahid menemui robbul izzah dengan kepahlawanannya.

Tepat hari Sabtu malam Minggu tanggal 12 Desember 1949 beliau pulang ke Rahmatullah.  Terselimutilah di hari itu langit dunia dengan kesedihan yang mendalam karena kematiannya berarti hilangnya seorang pembela kebenaran penegak keadilan di tengah-tengah kelaliman dan ummat Islam tertidur nyenyak.  Ditengah-tengah puncak kebahagiaan Raja Faruq dalam merayakan hari ulang tahunnya kepala polisi intel memberikan hadiah berupa kepala Imam Asy Syahid untuk menambahkan kecongkakannya diatas muka bumi dan kemurkaan Allah terhadapnya.  Pagi harinya hari Minggu tanggal 12 Desember 1949 sampailah berita kematian kepada orang tuanya Ahmad Al Banna.  Kehidupan beliau tergambar dalam syairnya :

Yang lebih menyedihkan rezimpun tidak mengizinkan ummat Islam untuk merawat jenazahnya dan berta’ziyah ke rumah shohibul musibah.  Untuk menunjukkan keangkuhan serta kedengkiannya terhadap Asy Syahid dan dakwah mereka susun penjagaan militer secara ketat yang siap untuk bertempur dan tank-tank yang seakan-akan menghadapi sebuah pertempuran yang dahsyat, padahal sebuah upacara kematian yang terdiri dari beberapa gelintir insan yang tak berdaya.  Tidak seorangpun diizinkan membawa jenazahnya menuju makam Imam Syahid kecuali orang tua Imam Asy Syahid beserta seorang dan kedua saudari perempuannya.

Jamaah yang telah didirikan diatas darah Asy Syahid dan di ukir dengan darah para syuhada akankah menjadi sesuatu yang sangat ditunggu oleh ummat seluruh dunia sebagai pahlawan penegak kebenaran pendobrak kebatilan dan pembawa bendera khilafah ?  Jawabannya tentu tergantung kepada kualitas nilai dan pengorbanan para penerusnya.

 


2.    Dakwah IM dan karakteristiknya

DAKWAH IM DAN KARAKTERISTIKNYA

           

Dakwah Ikhwan memiliki berbagai karakteristik yang berbeda dengan gerakan-gerakan dakwah lain pada zamannya. Diantara karakteristik dakwahnya itu adalah:

  1. Menjauhi titik-titik khilafiyah
  2. Menjauhi dominasi tokoh dan pembesar
  3. Menjauhi fanatisme partai-partai dan golongan-golongan
  4. Memperhatikan masalah takwin (pembentukan kepribadian) dan tadarruj (bertahap) dalam langkahnya.
  5. Mengutamakan amaliyah yang produktif di atas seruan-seruan dan propaganda kosong
  6. Sangat menaruh perhatian pada pemuda
  7. Cepat berkembang di pedesaan dan perkotaan.[1]

Berikut ini uraiannya satu persatu.

 

  1. Menjauhi titik-titik khilafiyah  البعـد عن مواطـن الخلا ف   

Ikhwan berkeyakinan bahwa khilafiyah dalam hal-hal yang furu’ adalah sesuatu yang pasti terjadi, karena asas-asas Islam yang terdiri dari ayat-ayat , hadits-hadits, dan amal-amal aplikatif mungkin saja difahami dan ditafsirkan secara berbeda-beda oleh akal pikiran manusia.

Bukanlah termasuk aib dan cela jika kita berbeda pendapat. Namun aib dan cela adalah ta’ashshub (fanatik) dengan suatu pendapat dan membatasi ruang lingkup berpikir manusia. Memahami khilafiyah dengan cara seperti inilah yang akan bisa menghimpun hati yang bercerai berai kepada satu fikrah. Cukuplah manusia itu berhimpun atas sesuatu yang menjadikan seorang muslim itu muslim.

 

  1. Menjauhi dominasi tokoh dan pembesarالبـعـد عـن هيمـنـة الكبـراء  و  الأعـيـا ن 

Ikhwan senantiasa menjauhi dominasi tokoh dan pembesar, karena ikhwan  senantiasa berpaling dari dakwah yang berorientasi pada pencapaian  tujuan dan ambisi pribadi, untuk menuju kepada bentuk dakwah yang lurus, yang mengabaikan pamrih harta dan pamrih kepentingan pribadi maupun golongan.  Hal ini agar warna dakwah yang putih bersih ini tidak tercampur oleh warna lain yang berasal dari warna-warna yang digembar-gemborkan oleh para pembesar, dan agar jangan sampai ada satu-pun diantara para tokoh maupun pembesar yang dapat memanfaatkan maupun mengarahkan ikhwan kepada tujuan selain yang dikehendakinya serta memalingkan dari tujuan Ikhwan yang lurus dan suci.

 

  1. Menjauhi fanatisme partai-partai dan golongan-golongan  البـعـد عـن ا لهـيـئـات و الأحزاب

Dakwah Islam bersifat umum dan untuk semua manusia. Dakwah bertujuan untuk menyatukan, bukan memecah-belah. Tidak mungkin dakwah ini akan mencapai tujuannya yang suci kecuali oleh orang yang bersih dari segala warna yang melingkupinya, sehingga jadilah ia ikhlas karena Allah semata.

Pada awalnya ini tentu sulit diterima oleh jiwa-jiwa yang ambisius, yang ingin meraih kedudukan dan harta melalui golongan dan jamaahnya. Oleh karena itu Ikhwan lebih mengutamakan untuk menjauhi semuanya dan lebih dahulu bersabar atas segala kekurangan demi mempertahankan unsur-unsur yang shalih, sampai saatnya manusia akan tersadar dan memahami sebagian hakekat yang tersembunyi. Sehingga pada akhirnya manusia akan kembali kepada khittah utama hati mereka dengan keyakinan yang penuh.

Pada saat yang sama, jika perangkat dakwah sudah semakin kuat, tiang penyangganya semakin kokoh sehingga mampu mengarahkan dan bukan diarahkan; mampu mempengaruhi bukan dipengaruhi, maka kita persilahkan para tokoh, pembesar, golongan, dan organisasi untuk bergabung bersama kami dalam meniti jalan dan beraktivitas. Tetapi mereka harus mau meninggalkan kebanggaan-kebanggaan kosong yang tidak bermakna, bersatu di bawah panji Al Qur’an yang agung, bernaung di bawah naungan Rasul saw yang teduh, dan berjalan di atas jalan manhaj Islam yang lurus.

 

4.               Memperhatikan masalah takwin (pembentukan kepribadian) dan tadarruj (bertahap) dalam langkahnya.   الـتـد رج في الخـطـوات

Yang dimaksud dengan tadaruj (bertahap) dalam tarbiyah takwiniyah (pembentukan kepribadian) dan kejelasan langkah Ikhwanul Muslimin adalah karena Ikhwan meyakini bahwa setiap dakwah harus melalui 3 fase:

Pertama: Fase Ta’rif (pengenalan),

Yaitu fase penyampaian, pengenalan dan penyebaran fikroh, sehingga dakwah bisa sampai kepada khalayak dari segala tingkatan dan segmen sosial.

Kedua: Fase Takwin (pembentukan)

Yaitu fase seleksi terhadap para aktivis yang sudah terekrut, untuk kemudian dilakukan koordinasi dan mobilisasi tahap awal untuk berinteraksi dengan obyek dakwah

Ketiga: Fase Tanfidz (mobilisasi)

Merupakan fase mobilisasi yang sebenarnya menuju produktivitas kerja dakwah yang optimal.

Kadang-kadang ketiga fase ini berjalan secara bersamaan, melihat kepada pentingnya kesatuan dakwah dan saling keterkaitan antara ketiga fase tersebut. Sering kita jumpai seorang da’i berdakwah (fase ta’rif), pada saat yang sama ia juga seorang murabbi yang menseleksi binaannya (fase takwin), dan  juga melakukan amal (fase tanfidz) sekaligus. Namun tak bisa dipungkiri bahwa hasil akhir yang sempurna tidak mungkin dirasakan kecuali setelah tersebarnya fikrah, banyaknya aktivis, dan terbentuknya soliditas takwiniyah.

Guna melaksanakan ketiga fase tersebut perlulah dibuat berbagai program penyebaran fikrah (untuk ta’rif), program-program pembinaan yang komprehensif (untuk fase takwin) dan latihan-latihan amal yang syamil (untuk fase tanfidz), sesuai dengan ketersediaan aktivis yang sanggup menjalaninya dan kesempatan yang terbuka bagi masing-masing aktivis.

Khusus untuk  meniti  fase kedua (fase takwin), ada 3 bentuk kegiatan:

(1)   Al Kataib (pembentukan kelompok-kelompok)

Yakni memperkuat shaf (barisan) dengan cara ta’aruf, mempertautkan jiwa dan ruh sesama anggota, mengantisipasi perbedaan adat dan tradisi, serta terus menerus menjaga hubungan baik para anggota dengan Allah serta senantiasa memohon pertolongan dariNya.

Inilah “Ma’had Tarbiyah Ruhiyah” bagi Ikhwan.

(2)   Membentuk regu kepanduan dan klub-klub olah-raga.

Hal ini dimaksudkan untuk memperkuat shaf dengan peningkatan taraf kesehatan anggota Ikhwan, melatih ketaatan mereka, menjaga moralitas dan sportifitas mereka baik dalam olah-raga maupun di luar itu, serta menyiapkan mereka menjadi jundi yang shalih serta kuat sebagaimana yang diwajibkan Islam atas setiap muslim.

Ini adalah “Ma’had Tarbiyah Jismiyah” bagi Ikhwan.

(3)  Pemberian materi ta’lim di Katibah

Hal ini dimaksudkan untuk memperkuat shaf dengan meningkatkan intelektualitas Ikhwan melalui studi yang komprehensif terhadap segala sesuatu yang semestinya diketahui oleh seorang muslim, baik urusan agamanya maupun dunianya.

Ini merupakan “Ma’had Tarbiyah ‘Ilmiyah” bagi Ikhwan.

Ini semua (dan ditambah dengan aktivitas-aktivitas lain yang melatih Ikhwan untuk melaksanakan segala kewajiban yang menanti mereka sebagai sebuah jamaah), adalah untuk mempersiapkan dirinya menjadi qiyadah (pemimpin) bagi ummat atau bahkan menjadi “guru” bagi seluruh alam (ustadziyatul ‘alam).

Asy Syahid memperingatkan pentingnya menjaga diri dari isti’jal, agar tak terjatuh pada kegagalan dan kerusakan bangunan dakwah.

Dalam arahannya kepada para Ikhwan dalam Mu’tamar kelima ini, Asy Syahid memberikan sebuah pernyataan yang layak untuk dibaca dan diresapi oleh para Ikhwan bahkan sampai masa kini. Imam Syahid Hasan Al-Banna berkata:

“Dengarkanlah sambutanku dari atas mimbar mu’tamar kalian yang besar ini. Sesungguhnya, khittah perjalanan kalian telah tergambar langkah-langkahnya dan telah jelas batas-batasnya. Saya tidak ingin melanggar batas-batas yang telah saya yakini ini, karena ia merupakan jalan yang paling tepat untuk sampai pada tujuan. Memang, mungkin jalan itu terlalu panjang, namun ketahuilah bahwa tidak ada alternatif yang lain (untuk sampai tujuan) kecuali dengannya. Sesungguhnya, kejantanan itu akan teruji dengan kesabaran, ketabahan, kesungguhan dan kontinuitas amal. Barangsiapa menginginkan memetik buah sebelum matangnya, atau memetik bunga sebelum merekahnya, maka saya tidak mendukungnya sedikitpun. Lebih baik dia hengkang dari jaringan dakwah ini dan bergabung dengan yang lainnya. Namun, bagi mereka yang bersabar bersama kami sampai benih itu tumbuh, sampai pohon itu berbuah dan sampai  tiba waktunya buah itu untuk dipetik, sungguh pahalanya hanya ada di sisi Allah. Allah tidak akan sekali-kali melenyapkan pahala orang-orang yang berbuat ihsan, bisa jadi berwujud sebuah kemenangan dan kemuliaan atau anugrah mati syahid dan kebahagiaan abadi di akhirat.”

Selanjutnya di akhir bagian ini Imam Syahid tatkala menjawab pertanyaan “Kapan saatnya fase tanfidz?” beliau berkata:

“Sesungguhnya, medan perkataan berbeda dengan medan khayalan. Medan amal juga berbeda dengan medan perkataan. Medan jihad berbeda dengan medan amal. Medan jihad yang haq berbeda secara kontradiktif dengan medan jihad yang bathil.

Sangatlah mudah bagi sebagian besar manusia untuk berkhayal. Namun, tidak semua khayalan yang terbersit dalam benak bisa terungkapkan oleh kata-kata yang keluar dari lisan. Banyak orang yang bisa berkata, tetapi sedikit di antara ucapan-ucapan mereka itu yang tercermin dalam perbuatan. Banyak juga di antara yang sedikit ini bisa beramal, namun sedikit sekali yang mampu mengemban amanah jihad yang begitu berat dan amal yang berkesinambungan.”

 

  1. Mengutamakan amaliyah yang produktif   إيـثار النـاحـيـة العـمـيـة

Hal ini tertanam dalam jiwa Ikhwan karena alasan-alasan berikut :

(1)   Ajaran Islam sendiri secara jelas adalah sebuah ajaran yang mementingkan amal daripada sekedar ucapan . Sekaligus Islam mengkhawatirkan kotoran riya’ yang dapat menodai, merusak kemudian membinasakan amal seseorang. Akan halnya mengenai keseimbangan antara kekhawatiran ttg riya’ di satu sisi dengan perlunya mendakwahkan dan memerintahkan amal shaleh di sisi yang lain, adalah perkara yang amat pelik, sedikit saja dari manusia yang dapat melakukannya.

(2)   Ikhwan senantiasa berusaha untuk secara wajar menjauh dari propaganda-propaganda kosong dan para propagandisnya yang mengoceh tanpa kerja nyata. Dampak negatif dari ulah para propagandis ini adalah berupa kesesatan dan kerusakan yang telah terjadi di tubuh ummat Islam saat ini.

(3)   Ikhwan khawatir jika propaganda dan seruan kosong  melahirkan permusuhan yang mendalam atau persahabatan yang terlalu kental dengan satu dan lain pihak, justru hanya akan menghambat dan membahayakan jalan dakwah untuk sampai kepada semua orang sebagaimana yang dicita-citakan oleh Ikhwan.

Ikhwan hendaknya sanggup melakukan kerja-kerja besar tanpa gembar-gembor dan membanggakan diri. Hendaknya para aktivis Ikhwan membuktikan komitmen mereka terlebih dahulu dengan kerja nyata yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, tanpa terlebih dahulu mengharapkan pujian dan pengakuan dari mereka.

Ini semua hendaknya terus dijalankan, sampai kepada suatu saat di mana masyarakat mulai benar-benar  merasakan  manfaat hasil kerja Ikhwan dan mulai bertanya-tanya siapa yang telah melakukannya. Pada saat inilah Ikhwan baru tampil untuk menjelaskan jati dirinya yang sebenarnya, dengan tujuan menyebarkan fikrah dan manhajnya yang utuh, yang bersumber dari sumber-sumber rujukan Islam yang shahih, seraya mengajak masyarakat bergabung dengannya dalam menegakkan cita-cita Islam yang mulia. Pada saat inilah Ikhwan perlu tampil untuk menjelaskan tentang karya besarnya, bukan untuk membangga-banggakan diri, tetapi untuk menjelaskan kepada manusia tentang tujuan, perangkat, pola pikir, dan manhaj amal Ikhwan dan cita-citanya yang mulia.

Seraya itu, penting diwaspadai oleh setiap kader Ikhwan bahwa tatkala dakwah Ikhwan telah bergema di permukaan dan masyarakat sudah menyambut serta mengharapkannya, maka pada saat itulah Ikhwan harus tetap menyadari bahwa sesungguhnya keutamaan dan kemenangan hanyalah milik Allah, dan Allah-lah yang Maha Terpuji.

يمنون عليك أن أسلموا قل لا تمنوا علي إسلامكم بل الله يمن عليكم أن هداكم للإيمان إن كنتم صادقين

 “Mereka merasa telah memberi ni`mat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: "Janganlah kamu merasa telah memberi ni`mat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah Dialah yang melimpahkan ni`mat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar.”

(QS Al-Hujuraat 17)

 

  1. Sangat menaruh perhatian pada pemuda        إ قبـال الشـبـاب عـلى الدعـوة   

Di samping sangat menaruh perhatian kepada para pemuda, dakwah Ikhwan juga terbukti paling berhasil di kalangan mereka. Ini disebabkan oleh karena bagi setiap manusia fase kehidupan sebagai pemuda merupakan fase yang paling kondusif dan subur bagi persemaian dakwah dari segala tingkatan dan  segmen sosial, baik pekerja, maupun kalangan menengah, baik berpendidikan tinggi maupun berpendidikan sederhana. Ini merupakan karunia dari Allah yang patut disyukuri seraya ini menunjukkan sunnatullah kauniyah, sebagaimana dalam sejarah kita menemukan kisah enam orang pemuda Kahfi, kisah pemuda Musa (as), kisah pemuda Ghulam dan sejumlah kisah para sahabat Nabi saw yang mulia yang terdiri  dari kaum muda.

Dengan daya geraknya yang penuh semangat, para pemuda Ikhwan hendaknya meluaskan dakwah sambil meningkatkan taqwa, menajamkan fikrah dan menghaluskan hati dan jiwanya dalam tempaan pembinaan yang syamil, hingga menjadi jundi yang kuat, tangguh, sabar dan istiqomah.

 

  1. Cepat berkembang di pedesaan dan perkotaan       سرعـة الانـتـشـار في القـرى و المـد ن   

Asy Syahid menampilkan pada poin ini, keberhasilan pembinaan hubungan yang unik antara elemen pusat (maktab ‘am) dan syu’bah-syu’bah di daerah, juga antara organisasi inti dan wajihah-wajihah yang didirikan kemudian oleh para anggota Ikhwan di seluruh pelosok negeri Mesir saat itu; dan keberhasilan yang luar biasa yang dirasakan dalam bentuk pengakuan masyarakat akan manfaat lembaga-lembaga dan kader-kader Ikhwan di seluruh negeri.

Menurut beliau, keberhasilan ini merupakan buah dari hubungan ukhowiy antara sesama Ikhwan, baik yang menjadi anggota maktab ‘am, maupun yang berada pada ujung tombak dakwah Ikhwan di setiap pelosok negeri. Dalam hal ini Asy Syahid berkata:

   “Selain itu hubungan antara kantor pusat dengan cabang-cabang dan organisasi-organisasi di bawahnya bukanlah hubungan atasan-bawahan, bukan pula hubungan administratif antara pekerja dan pengawas semata, tetapi ia adalah ikatan yang lebih dari itu. Di sini berlaku ikatan ruhani sebagai pondasinya lalu ikatan kekeluargaan, di mana terjadi saling kunjung di antara mereka. Para da’i ikhwan saling mengunjungi antar sesamanya dan berinteraksi secara kental sehingga saling mengetahui apa-apa yang mendesak mereka butuhkan, baik urusan pribadi, keluarga maupun urusan selain itu. Fenomena seperti ini, setahu saya belum pernah ada di dalam organisasi manapun. Hal demikian itu merupakan anugrah Allah, diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.”

Hubungan kekeluargaan seperti ini tidak pernah dialami oleh organisasi manapun pada masa kapanpun selain oleh organisasi maupun kumpulan yang mengacu kepada keteladanan masyarakat para sahabat di zaman Muhajirin dan Anshor di Madinah.

   Hal lain yang disoroti Asy Syahid dalam poin ini adalah tumbuhnya semangat inisiatif dan kreatifitas yang sehat yang sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat karena segala amal sosial yang dilakukan Ikhwan.

   Juga pada masalah kemandirian ekonomi, telah menyebabkan Ikhwan tidak pernah tergantung pada siapapun dan organisasi manapun, karena para Ikhwan dididik untuk mampu menanggung sendiri biaya kebutuhan dakwah, dengan dilandasi semangat berjihad dengan harta dan jiwa. (At Taubah 111).

 



[1] Risalah Pergerakan jilid I hal 276-277

No comments:

Post a Comment

Tabarruj dan Ikhtthilath