1.
Sejarah Jamaah
IM dan Sejarah Kehidupan Imam Hasan Al Banna
SEJARAH IKHWANUL
MUSLIMIN
Berbicara
mengenai tarikh jamaah tidak dapat dilakukan hanya dalam waktu sejam dua
jam. Karenanya, apa yang dapat
disampaikan hanyalah kilasan tarikh jamaah.
Satu hal yang perlu dipahami, terbentuknya jamaah bukan merupakan suatu
reaksi spontanitas, akan tetapi merupakan suatu sunnatullah, sunnatuddakwah,
sebagaimana diungkapkan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits, “Akan senantiasa
ada thoifah (golongan) yang dzohirina ‘ala al-haq (menegakkan
kebenaran) hingga akhir kiamat (apapun tantangan yang mereka hadapi)”.
Kita,
disamping perlu mempelajari sejarah jamaah, juga perlu mempelajari sejarah
secara umum (sejarah dunia, sejarah manusia dan penyebaran Islam, atau yang
semisalnya). Ini perlu kita lakukan agar
kita dapat mengetahui sejauh mana perkembangan Islam dan bagaimana asholah
dakwah yang kita sampaikan ini, sebagaimana dikatakan oleh Imam Malik
mengatakan, “Akhir ummat ini tidak akan baik kondisinya, kecuali dengan melihat
kembali syarat-syarat yang pernah ditegakkan pada generasi awal”. Yang dimaksud dengan generasi awal secara
umum adalah generasi para shohabat.
Namun, untuk melihat asholah dakwah dalam skup kejamaahan, kita juga
perlu mengetahui kondisi dakwah pada generasi ta’sis, yaitu saat awalnya jamaah
ini didirikan oleh Imam Syahid.
1. Marhalah Qoblal Nasy’atiddakwah (sebelum 1928).
Asyahid
dilahirkan di desa Al-Mahmudiyah kecamatan
Kedua fenomena ini
menyebabkan Asyahid sering merenung memikirkannya dan bahkan dibuat tidak bisa
tidur karenanya. Asyahid kemudian
melakukan usaha dengan membuka dialog atau kontak dengan para ulama yang ada di
Mesir ketika itu, guna membicarakan permasalahan ummat Islam yang dicermatinya
tersebut. Diantara ulama yang
dijumpainya adalah Syekh Rasyid Ridho, seorang ulama besar di Mesir. Asyahid juga melakukan dialog dengan para
ketua partai, diantaranya adalah Timur Basya.
Hasil pertemuan dengan
tokoh tersebut, terbentuklah suatu front yang terdiri dari beberapa ulama, yang
kemudian menerbitkan sebuah majalah yang diberi nama Al-Fath. Majalah ini dipimpin oleh Muhibbuddin
Al-Khotib. Selama beberapa lama majalah
ini memuat pemikiran-pemikiran Islam serta menangkis serangan-serangan
pemikiran sesat. Terbitnya majalah
tersebut, belum memuaskan Asyahid.
Sebab, tulisan hanya dibaca oleh segelintir orang terpelajar.
Beliau kemudian mencoba
mengadakan kontak dengan mahasiswa Al-Azhar sehingga beliau berhasil
mengumpulkan beberapa mahasiswa Al-Azhar untuk mengerjakan beberapa kerja-kerja
dakwah seperti mengadakan tabligh di masjid-masjid.
Terhadap apa yang telah
dilakukannya ini, Asyahid kembali tidak merasa puas. Beliau kemudian terjun ke masyarakat untuk
melihat kondisi umat Islam yang sesungguhnya di Mesir, dengan melakukan
kunjungan ke daerah-daerah ketika beliau libur, guna mencari tahu kondisi yang
sesungguhnya di lapangan. Setiap pelosok
Mesir beliau kunjungi, dan ini terus beliau lakukan selama kurang lebih empat
tahun.
2. Marhalah Nasyatul Jamaah (1928-1936).
Setelah beliau
menyelesaikan sekolahnya di Darul Ulum, beliau kemudian menjadi guru di sebuah
Sekolah Dasar di Ismailiyah. Di
Ismailiyah, beliau kembali mencari orang yang dapat diajak berdialog mengenai
kondisi ummat Islam. Dengan orang-orang
tersebut akhirnya Asyahid berhasil membentuk suatu jamaah yang kemudian dikenal
dengan IM. Ini terjadi pada tahun 1928. Awalnya, mereka kerap berkumpul di rumah
Asyahid pada malam hari guna memperbincangkan berbagai masalah-masalah
dakwah. Setelah diusulkan beberapa nama
bagi jamaah yang hendak mereka bentuk tersebut, akhirnya disepakati nama
IM. Beberapa orang diantara anggota IM
tersebut ada 7 orang. Adapun anggota IM
pada masa awal berdirinya yaitu: Hafidz Abdul Hamid, Ahmad Al-Hushori, Fuad
Ibrohim, Ismail Izz, Abdurrohman Hizbulloh, Zakky Al-Magribi, serta Hasan Al-Banna sebagai
ketua.
Marhalah ini disebut
marhalah nasy’a karena Asyahid berhasil mendirikan organisasi yang manhajnya
berbeda dengan berbagai organisasi yang ada saat itu, termasuk syu’banun
muslimin (yang Asyahid menjadi anggota di dalamnya ketika masih kuliah di
Kairo).
Dakwah di Ismailiyah
dimulai oleh Asyahid dengan berdakwah di warung-warung kopi, karena disana
belum ada masjid, kepada buruh-buruh (Ismailiyah merupakan daerah industri yang
terdapat banyak pekerja dan perusahaan asing, diantaranya qonaf
Hari demi hari ajakan
Asyahid kepada buruh-buruh tersebut mendapat sambutan yang menggembirakan
dengan semakin banyaknya pengikut beliau.
Beliau melakukan ceramah di warung-warung kopi ini dalam waktu 15-20
menit dan memilih tema-tema yang tidak menyinggung perasaan mereka dan
memperhatikan waktu mereka yang padat karena bekerja seharian.
Berkat ajakan ini
akhirnya mereka sepakat untuk mendirikan masjid dengan menggunakan dana
sumbangan masing-masing pribadi dan dengan meminta sumbangan kepada orang-orang
Inggris yang ada disana yang menjadi direktur pada perusahaan-perusahaan
tersebut. Oleh wakil pemerintah Inggris
dibantu, dan dibangunlah masjid disana.
Asyahid juga berhasil
menyadarkan para pelacur bahkan mereka ini setelah sadar berhasil membangun
sebuah ma’had yang disebut ma’had lil banat yang diberi nama “Al Hiro”.
Dalam beberapa waktu
Asyahid di Ismailiyah, terjadi perubahan yang sangat drastis terhadap diri para
buruh di Qonaf Suez tersebut. Kalau
sebelumnya mereka tidak disiplin, mereka kini menjadi sangat disiplin.
Melihat
gelagat ini, pemerintah Inggris memanggil Asyahid dan menanyakan masalah ini,
karena Asyahid yang memilih imam masjid di perusahaan tersebut (seorang
mahasiswa Al-Azhar). Orang Inggris
tersebut berkata, “Kamu bukan menunjuk orang ini sebagai imam masjid, tapi pada
hakekatnya kamu telah menunjuk orang ini sebagai jenderal. Semua yang keluar dari masjid itu memiliki
disiplin tinggi dan mereka tidak takut terhadap orang-orang Inggris yang ada di
perusahaan”.
Kedutaan Inggris yang
berada disana meminta kepada Raja Farouk yang saat itu menjadi pemimpin untuk
memindahkan Asyahid dari Ismailiyah ke Kairo, dengan harapan agar dakwahnya
mati dan tidak berkembang kembali. Raja
Farouk segera memenuhi permintaan Inggris dan dipindahkanlah Asyahid dari
Ismailiyah ke Kairo. Ternyata dengan
pindahnya Asyahid ke Kairo, dakwah justru semakin berkembang dan menyebar.
3. Marhalah Ta’sis (1936-1941).
Dalam marhalah ta’sis, yang
diawali dengan pindahnya Asyahid ke Kairo, Asyahid mendirikan Ha’iah Ta’sisiyah
lil jamaah dan mendirikan maktab Al-Irsyad.
Pada marhalah ini IM resmi menjadi sebuah lembaga yang memiliki struktur
yang rapi.
Dalam marhalah ini, IM
berhasil mendirikan berbagai proyek seperti ekonomi, pendidikan dan
sosial. Salah
satu proyek yang dimiliki IM adalah pabrik baja, pabrik tembaga, dan
lain-lain. Saat itu seluruh Mesir hampir
dikuasai IM melalui berbagai syu’bah yang ada.
Marhalah ini disebut marhalah ta’sisiyah karena dibentuknya ha’iah
ta’sisiyah dan adanya struktur IM yang rapi.
|
|
|
HAI’AH |
|
|
|||
|
|
|
TA’SISIYAH |
|
|
|||
|
|
|
|
|
|
|||
|
MAKTAB IRSYAD AAM |
|
|
|
MURSYID AAM |
|||
|
|
|
|
|
|
|||
|
|
|
|
|
WAKIL AAM |
|||
|
|
|
|
|
|
|||
|
|
|
|
|
NAIB MURSYID AAM |
|||
|
|
|
|
|
|
|||
|
|
|
|
|
SEKRETARIS AAM |
|||
4. Marhalah Tagyir (1941-1948).
Dalam marhalah tagyir,
jamaah tidak lagi menggunakan uslub terbuka yang pada waktu awal-awal
berdirinya sering digunakan (Pendaftaran keanggotaan baru diumumkan secara
terbuka dan siapa saja dapat mendaftar masuk menjadi anggotanya).
Pada marhalah tagyir ini,
mulai ada perubahan-perubahan bentuk rekruitmen, yaitu model yang kita kenal di
Risalatut Ta’lim yang kemudian dibukukan dalam majmuaturrosail.
IM kemudian membentuk
Janah Asykari (sayap militer) yang disebut dengan tandzim khos. Pimpinan Janah Asykari yang pertama bernama
Abdurrohman Assindi. Adapun Jamal Abdul
Naser, ia termasuk anggota tandzim khos yang berbai’at langsung kepada Hasan
Al-Banna. Kedudukannya di Janah Asykari
adalah sebagai pelatih. Namun belakangan
Allah membongkar niatnya yang buruk.
Adapun tujuan pembentukan
tandzim khos ini adalah untuk :
a. Mengadakan serangan atau melakukan operasi militer
terhadap Inggris. Tandzim khos berhasil
merusak berbagai instalasi milik Inggris.
b. Membebaskan
Palestina dari
5. Marhalah Mihnah (1948-1967).
Pada tahun 1948 terjadi
perang di Palestina, dimana Israil hampir mengalami kekalahan. Namun pasukan IM kemudian ditarik oleh
pemerintah Raja Farouq dan setelah itu mereka dijebloskan ke dalam penjara.
Pada waktu itu jumlah
anggota ikhwan mencapai hampir setengah juta orang dengan jumlah syu’bah
sebanyak 2000 buah. Akan tetapi Allah
SWT ingin menguji anggota IM dengan memenjarakan mereka, terutama para
qiyadahnya. Seluruh asset IM kemudian
disita, termasuk gedung maktab Irsyad yang kemudian dilelang oleh pemerintah.
Yang tidak dipenjarakan
hanya beberapa orang saja. Termasuk
diantaranya adalah Hasan Al-Banna, yang sengaja tidak dipenjarakan untuk
mengelabui negara-negara di dunia bahwa pemerintahan Raja Farouq memberikan
kebebasan kepada rakyatnya, khususnya IM dengan bukti pemimpinnya dibiarkan
bebas merdeka.
Marhalah mihnah itu
dimulai dari pembubaran IM pada tahun 1948.
Setahun setelah itu Imam Syahid dibunuh, yaitu pada 12 Pebruari
1949. Pembunuhan tersebut merupakan
makar dari Raja Farouq dan Perdana Menteri Mahmud Fahmi An Nakhrosyi, mereka
itulah yang membunuh Imam Syahid dengan menggunakan mukhobarot
(intelegent). Hari pembunuhan tersebut
bertepatan dengan hari ulang tahun Raja Farouq.
An-Nakhrosyi ingin memberikan hadiah kepada Raja Farouq dengan kepala
Imam Syahid Hasan Al-Banna.
Penembakannya sebenarnya terjadi malam pada hari tanggal 11 Pebruari
1949. Sebenarnya lukanya pada waktu itu
tidak begitu parah, namun ketika dibawa ke rumah sakit tidak boleh diobati dan
dirawat, sehingga terjadi pendarahan dan akhirnya menemui kesyahidannya. Ketika itu terjadi kegoncangan pada tubuh
IM. Karena pada umumnya IM berada di
penjara, maka tidak ada yang mengantarkan jenazah Hasan Al-Banna kecuali
Karena para Qiyadah
berada di penjara dan kondisi sangat rawan, kurang lebih dua tahun IM kosong
dari kepemimpinan, tidak memiliki mursyid aam.
Terjadilah ketidak-sepakatan dalam hal siapa yang akan menjadi pengganti
Mursyid Amm. Akhirnya, disepakati, kalau
kita tidak sepakat dalam memilih tiga orang ini, hendaknya kita memilih ornag
yang berada diluar mereka. Akhirnya
disepakatilah untuk memilih Hasan Al-Hudaibi sebagai Mursyid Amm pada bulan
Oktober 1951.
Saat dipilihnya mursyid amm itu, Raja Farouq sudah meninggal dunia. Di kerajaan, sebelumnya ada perubahan
struktur dan ada peluang untuk mengadakan revolusi atau pemberontakan. Yang banyak berperan dalam revolusi tersebut
adalah tandzim khos, termasuk di dalamnya adalah Jamal Abdul Nasser. Ia menarik orang-orang yang berada di dalam
tandzim khos agar berwala’ kepada Jamal Abdul Nasser dan bukan kepada Jamaah
IM. Maka terjadilah revolusi pada
tanggal 23 Juli 1952, tidak lama setelah terbunuhnya Imam Syahid.
Sebelumnya, Raja Farouq melihat adanya tanda-tanda akan digulingkan,
melarikan diri ke luar Mesir dan akhirnya meninggal. Kekosongan ini diisi oleh Jamal Abdul Nasser
dan Muhammad Najib menjadi perdana menterinya.
Dengan adanya perubahan ini, jamaah IM diberi kebebasan kembali untuk
melakukan aktifitas dan seluruh barang-barang miliknya dikembalikan. Ketika Jamal Abdul Nasser berhasil memimpin
revolusi, ia meminta kepada Husain Hudaibi, agar mengirimkan tiga orang ikhwan
untuk menjadi menteri yang salah satu syaratnya adalah diantara tiga orang
tersebut satu diantaranya Hasan Badhowi.
Hasan Hudaibi kemudian memilih Sholeh Asmawi dan Abdul Hakim Abidin,
tapi kemudian tidak disetujui oleh Jamal Abdul Naser. Tanpa disepakati oleh Hasan Al-Hudaibi, Jamal
menunjuk Hasan Al-Burquri sebagai menteri wakaf yang kemudian dalam waktu yang
tidak terlalu lama kemudian diumumkan pemecatan Hasan Al-Burquri dari
jabatannya sebagai menteri.
Jamal
Abdul Nasser kemudian meminta IM untuk tidak berpolitik dan hanya melakukan
aktifitas keagamaan (berdakwah) saja.
Oleh Hasan Al-Hudaibi menolak dan kemudian terjadilah perbedaan arah
antara IM dan Jamal sejak saat itu. Pada
Januari 1954 akhirnya Jamal mengumumkan pembubaran IM dan seluruh kekayaan
serta anggotanya dipenjarakan oleh Jamal Abdul Nasser, termasuk Hasan
Al-Hudaibi.
Tak lama berselang, terjadi peperangan antara Mesir dengan Israil yang
berakhir dengan kekalahan Mesir. Akibat
kekalahan Mesir, gurun Sinai diserahkan ke Israel. Tak lama setelah itu Jamal Abdul Nasser wafat
dan digantikan oleh Anwar Saddat (melalui revolusi tidak berdarah). Pada saat itu, terjadi pula perdamaian antara
pemerintah Mesir dengan Inggris dengan syarat Inggris meninggalkan Mesir.
6. Marhalah
Shohwah (1967-1981).
Setelah adanya hukuman gantung terhadap tokoh-tokoh IM, aktifitas IM boleh
dikatakan vakum. Pada masa pemerintahan
Saddat, seluruh tokoh-tokoh organisasi politik yang ditahan dibebaskan kembali,
termasuk diantaranya tokoh-tokoh IM seperti Hasan Al-Hudaibi, meskipun
aktifitas IM sendiri tetap masih dilarang.
Fase ini disebut marhalah Shohwah, terjadi tahun 1967-1981. Kepemimpinan Hasan Hudaibi sampai dengan
1973. Hasan Al-Hudaibi berhasil menjaga
asholah dakwah dan jamaah dengan menulis sebuah buku berjudul Nahnu Du’at laisa
Qudhot. Nopember 1973 Hudaibi wafat dan
digantikan oleh Umar Tilmitsani, saat itu Mesir masih dipimpin oleh Anwar
Saddat.
Umar
Tilmitsani, dengan kemampuannya berdialog dengan pemerintah, IM akhirnya
diperbolehkan kembali melakukan aktifitas-aktifitas dakwah, bahkan diberi
kesempatan untuk mengikuti Pemilu di Mesir.
Dengan aktifnya IM kembali, banyak orang yang berhasil direkrut,
diantaranya adalah para mahasiswa di berbagai universitas. Ketika IM mulai bangkit, terjadilah
pembunuhan atas Anwar Saddat dan kedudukan Presiden kemudian digantikan oleh
Husni Mubarok. Saat itu terjadilah
penangkapan besar-besaran terhadap anggota IM, yang berakibat banyaknya anggota
IM melarikan diri ke berbagai negeri. Husni
Mubarok memandang bahwa dengan perginya tokoh-tokoh IM ke luar Mesir, berarti
IM sudah mati dan tidak membahayakan lagi.
Namun, dengan izin Allah, deportasi besar-besaran ini justru berakibat
tersebarnya dakwah IM keberbagai belahan bumi, termasuk Indonesia.
Pada masa Mubarok, terdapat suasana keterbukaan. Meskipun IM bukan merupakan partai resmi,
namun anggota-anggotanya diperkenankan menjadi anggota DPR. Semua ini berkat kemampuan Umar Tilmitsani
mengadakan lobbying dan dialog. Tahun
1985, di bulan Ramadhan, Umar Tilmitsani wafat.
Beliau kemudian digantikan oleh Abdul Hamid.
7. Marhalah
Amal Alami (1981-1990).
Tahun 1981 hingga tahun 1990 an disebut dengan masa al ‘amal alam
islami. Pada tahun 1990 an itu dikenal
adanya tansiq alami, misalnya di Malaysia kita kenal PAS, di Pakistan Jamiat
Islami, di Turki dengan Hizbu Rofah, dan lain-lain, kemudian kita kenal adanya
Maktab Eropa, Maktab Asia, dan lain-lain.
Hingga saat ini meskipun dakwah ini mengalami
berbagai tribulasi dalam setiap pergantian pemimpin (mulai dari Raja Farouq,
Jamal Abdul Nasser, Anwar Saddat hingga Husni Mubarok), namun dakwah ini akan
kekal. Kalau kita lihat dari perjalanan
sejarah dakwah ini kita bisa mengambil beberapa pelajaran, antara lain : Dakwah
pasti mengalami mihnah dan fitnah.
Artinya pada suatu saat dakwah akan mengalami muwajahah dengan sistem
bathil. Dan ketika itulah akan teruji
siapa yang sidiq dalam dakwahnya dan siapa yang tidak sidiq, seperti Jamal
Abdul Nasser. Naudzu billah, atau
seperti Hasan Al-Bakuri, seorang penyair yang cukup disegani, namun karena
cinta jabatan akhirnya insilah. Yang jelas,
dakwah ini akan terus berjalan hingga hari kiamat. Yang penting bagi kita saat ini adalah, apa
yang sudah kita persiapkan untuk menghadapi hal-hal yang telah dialami oleh
para syuyukh kita tersebut ???
Wallahu a’lam bishowab.....
Sejarah Ikhwanul Muslimin
1950-1973 M
(Periode Mursyid ‘Am Ke-2, Hasan Hudhaibi
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka peserta mampu:
1. Mengetahui sejarah dakwah dan harakah jamaah ikhwanul
muslimin di masa periode mursyid ‘Aam yang kedua Hasan Hudaibi th 1950-1973,
dan bisa mengambil hikmah dan pelajaran darinya, terutama tentang tsabat dan
istiqamah di jalan dakwah.
2. Memahami dan menyadari bahwa tabiat dakwah/sunnatullah
dalam dakwah, para da’i dalam melaksanakan tugas dakwah akan berhadapan dengan
berbagai cobaan dan ancaman.
3. Meyakini bahwa dakwah lebih kuat dan lebih kekal dari
segala kekuatan batil
TITIK TEKAN MATERI
Pokok-pokok pikiran dan titik tekan materi
yang harus disampaikan adalah: Dakwah dan gerakan ikhwanul muslimin di masa
mursyid ‘aam kedua (Hasan Al Hudaibi). Konspirasi kekuatan batil (musuh Islam)
di dalam maupun di luar negeri untuk menghancurkan dakwah. Dakwah al haq lebih
kuat, lebih tangguh dan lebih kekal di banding dengan kekuatan-kekuatan batil.
Menanamkan semangat optimisme pada setiap aktivis dakwah, bahwa dakwahlah yang
jaya.
POKOK-POKOK MATERI
1. Dakwah pasca
wafatnya Imam Syahid Hasan Al Banna
2. Riwayat hidup
mursyid ke-2 Hasan Hudaibi
3. Dakwah di era
baru
4. Revolusi 23
juli 1952 di Mesir
5. Jamal Abdun
Nasir dan Ikhwanul Muslimin
6. Ketegangan
antara para pemimpin revolusi dengan Ikhwan
7. Sikap Ikhwan
tentang perjanjian ditarik mundurnya tentara Inggris dari Mesir.
8. Abdun Nasir
mengangkat kembali masalah penembakan Hasan Al Banna
9. Skenario drama
penembakan Jamal Abdun Nasr di lapangan Al Mansyiah, Iskandariyah
10. Pembubaran
Jamaah Ikhwanul Muslimin
11. Ujian berat
dihadapi Ikhwan tahun 1965
12. Wafatnya mursyid
‘Aam kedua.
MARAJI'
Kubral harakatul Islamiyah-Dr. Muhammad Said Wakil; Ahdats
Shanaat Tarikh-Mahmud Abdul Halim; Kafilah Al Ikhwan Al Muslimin-Abbas
As Sisi
Al-Ikhwanul Muslimun" merupakan salah satu gerakan Islam yang
terpenting di dunia saat ini. Para pengikutnya tersebar di
lebih dari 70 negara, termasuk di Indonesia. Ikhwan terkenal mempunyai
organisasi yang rapih dan teratur. Kiprahnya dalam kebangkitan kembali Islam di
abad XX dan XXI ini tak bisa dipungkiri siapa pun. Gerakan Al-Ikhwanul Muslimun
(selanjutnya disebut IM) telah mengisi sejarah dunia dengan tinta emas melalui
aktifitas dakwah dan jihad lebih dari 70 tahun. Siapa pun yang mengamati
perkembangan sejarah Umat Islam mustahil melewatkan peranan serta kontribusi
gerakan IM bagi kebangkitan umat Islam dewasa ini. IM dengan berbagai gerakan
dakwah yang bervariasi telah membuka mata dunia tentang keindahan Islam dan
membangunkan umat Islam dari tidurnya yang panjang.
Hasan Al-Banna dan Kelahiran Al-Ikhwanul
Muslimun
Setelah runtuhnya kekhalifahan Turki Utsmani pada tahun 1924, pasca perang
dunia pertama, hampir semua negara Arab jatuh ke tangan penjajah Barat. Umat Islam pun mulai tercabik-cabik oleh kekuatan imperialisme Barat. Dalam
kondisi dunia Islam seperti itulah, seorang pemuda bernama Hasan bersama
beberapa orang sahabatnya mendirikan cikal bakal gerakan "Ikhwanul
Muslimun"
Hasan Al-Banna lahir di Al-Mahmudiyah, sebuah kota kecil di Mesir, pada 14
Oktober 1906. Ayah beliau, Ahmad Abdurahman As-Sa’ati, bekerja sebagai tukang
arloji tetapi juga merupakan ulama terkenal karena karya besarnya Fathur
Rabbani dan Bulughul Amani. Ini kitab besar yang memberi penjelasan
tentang musnad Imam Ahmad yang mencakup ribuan hadits.
Hasan kecil mendapat pendidikan awal melalui kedua orangtuanya. Ruh Alquran
telah tertanam dalam jiwanya sejak kecil. Sehingga keberanian untuk
menyampaikan sesuatu yang hak dan mencegah hal yang munkar telah tumbuh
semenjak remajanya. Di usianya yang masih remaja, Hasan telah menunjukkan
kepiawaiannya dalam memimpin dan berorganisasi. Bersama beberapa kawan
sekolahnya, ia mendirikan perkumpulan "Akhlaq Adabiyyah" yang
tujuannya bagaimana menjaga akhlak dan adab yang baik. Aktivitas mereka, yaitu
saling menasihati di antara sesama anggota untuk berakhlak mulia, di samping
menghimpun dana bagi kaum fakir miskin.
Setelah menyelesaikan pendidikan menengahnya, Pemuda Hasan melanjutkan
sekolahnya di Perguruan Darul Ulum Kairo selama empat tahun. Sesudah lulus, ia
ditugaskan mengajar sekolah dasar di Ismailiyyah. Di kota kecil inilah Hasan
membangun gerakan dakwah IM. Gerakan Ikhwan memulai kiprahnya, semenjak Maret
1928. Tujuan gerakan IM, sebagaimana dikemukakan Hasan Al-Banna adalah
menyampaikan risalah Islam secara benar dan jelas kepada seluruh manusia pada
umumnya dan kaum muslim khususnya. Al-Ikhwan berupaya menyatukan hati umat
muslim dengan landasan yang satu, yaitu Islam. Selain itu, mereka ingin
membebaskan negeri-negeri muslimin dari kungkungan kaum penjajah. Mereka juga
berupaya sekuat tenaga menegakkan negara yang merealisasikan hukum-hukum Islam
di tengah rakyatnya, serta mampu menyampaikan misi dan risalah Islam ke luar
negeri.
Pada awalnya, gerakan dakwah Al-Banna dan Ikhwannya sama seperti gerakan
lainnya, yakni lebih terfokus pada pembinaan masyarakat untuk kembali kepada
Islam melalui mimbar mesjid dan sarana dakwah lainnya. Tapi gerakan Ikhwan
mempunyai keunikan tersendiri. Dakwah yang mereka lakukan tidak hanya kokoh di
mesjid-mesjid, tetapi melebar ke tempat-tempat umum, seperti sekolah-sekolah,
pasar-pasar, pabrik-pabrik, kantor-kantor bahkan di warung kopi (maqha) tempat
berkumpulnya orang-orang untuk melepas kepenatan.
Nama Al-Banna yang melekat pada Hasan adalah pemberian sahabat-sahabatnya
disebabkan keutamaan pribadi beliau sebagai muassis dan pembangun jamaah
dakwah. Nama gerakan Al-Ikhwanul Muslimun lahir begitu saja. Ketika Imam Hasan
Al-Banna ditanya oleh para sahabatnya tentang nama gerakannya, beliau menjawab
“Kita semua adalah Umat Islam dan Umat Islam itu pada hakikatnya bersaudara,
jadi kita adalah “Al-Ikhwanul Muslimun (Persaudaraan Islam)”.
Sejak saat itu, pengikut Hasan Al-Banna menamakan Al-Ikhwanul Muslimun bagi
organisasi mereka. Mereka tidak membangga-banggakan nama kelompoknya ini karena
tujuan mereka adalah mengajak kepada Islam. Imam Hasan Al-Banna sendiri pernah
berkata, “Kam minna wa laisa fiina wa kam fiina wa laisa minna” (Berapa
banyak orang dari kita tetapi tidak bersama kita dan berapa banyak orang yang
bersama kita, tetapi belum termasuk golongan kita). Hasan Al-Banna sendiri
sangat mengutamakan kesatuan Umat. Beliau selalu berpesan pada pengikutnya agar
berpegang pada prinsip, “Nata’awan fimaa ittaqnaa, wanataa’dzar fimaa
ikhtalafnaa” (Kita bekerja sama pada hal yang kita sepakati dan
bertoleransi terhadap hal-hal yang kita berbeda).
Hasan Al-Banna dan Kharismanya
Bagi para ikhwah, Hasan Al-Banna menjadi inspirator utama jamaah. Semua
anggota IM memperhatikan dan menaati wejangan dan pengarahan beliau. Pengajian
Hari Selasa yang secara rutin beliau berikan diikuti puluhan ribu orang.
Demikian juga khutbah-khutbah yang beliau sampaikan di berbagai kesempatan
selalu dikenang oleh segenap pengikutnya. Sebagai contoh, DR. Abbas As-Sisi
yang semasa remajanya berkali-kali mengikuti khutbah Imam Hasan Al-Banna sampai
masa tuanya (usia 90 tahun) selalu membayangkan saat-saat indah tatkala ruh
ukhuwwah yang mengalir dari jiwa Hasan Al-Banna mengalir ke hati para hadirin
bagaikan arus listrik yang menerangi hati mereka. Seorang muridnya yang lain
mengatakan, “Aku datang ke pengajian Imam Hasan Al-Banna dengan membawa
masalah-masalah keluarga. Aku tidak menyampaikan masalah itu kepada syekh
tetapi isi pengajian itu langsung memberikan jawaban terhadap
persoalan-persoalan hidupku”. Perasaan seperti ini dirasakan banyak orang.
Demikian hebat kharisma yang dimiliki Imam Hasan Al-Banna. Sistem dan cara
beliau membina generasi penerusnya amat menakjubkan. Pernah ada dua orang
anggota Ikhwan saling ngotot masalah harga, yang satu adalah pembeli dan yang
lain penjual, keduanya anggota Ikhwan. Si pembeli ngotot ingin membayar di atas
harga bandrol, karena ia berpikir bahwa si penjual adalah saudara seperjuangan.
Sementara si penjual ngotot ingin menjual di bawah harga bandrol. Keduanya
tetap bertahan pada pendirian masing-masing, dan tidak ada yang mau mengalah.
Syukurlah, secara kebetulan Imam Al-Banna lewat di tempat mereka. Beliau lalu
mendamaikan. Sikap solidaritas anggotanya yang begitu menakjubkan itu rasanya
sulit ditemukan di abad yang serba materialistis seperti sekarang ini.
Ketika Imam Al-Banna memutuskan untuk mendirikan "Darul Ikhwan",
banyak kisah yang unik. Sepasang suami istri berselisih hanya karena si suami
ingin menyumbang satu Jeneh (Pound Mesir), sementara si istri memaksa untuk
menyumbang tiga Jeneh. Akhirnya, Imam Al-Banna memutuskan agar mereka
menyumbang dua Jeneh. Bahkan seorang anggotanya rela menjual satu-satunya harta
yang dimilikinya hanya demi terwujudnya "Darul Ikhwan".
Adalagi seorang istri rela melepas gelangnya demi perjuangan.
Figur Hasan Al-Banna sangat fenomenal. Bayangkan, beliau hafal satu persatu
nama anggota Al-Ikhwan yang jumlahnya puluhan ribu orang. Bila ada rapat besar,
beliau biasa memanggil nama sahabatnya satu persatu tanpa keliru sedikit pun.
Kemampuan ini ada pada Hasan Al-Banna karena kecintaannya kepada sesama muslim
khususnya para pengikut beliau, rasa ukhuwwah (persaudaraan), dan tanggung
jawabnya sebagai mursyid (pemimpin). Karena itu pula tidak seorang pun dari
pengikutnya yang ragu memanggil beliau dengan sebutan “Imam” (Pemimpin). Mereka
teramat mencintai pemimpin yang selalu menjadi teladan dan melayani ini. Hasan
Al-Banna adalah pemimpin abad 20 yang mencerminkan kebenaran firman Allah,
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ
بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ
“Dan Kami jadikan
mereka pemimpin-pemimpin yang menunjuki manusia dengan perintah Kami ketika
mereka bersabar dan mereka merupakan orang-orang yang yakin terhadap ayat-ayat
Kami.” (As-Sajdah: 24)
Dalam kehidupannya, Hasan Al-Banna bukan hanya mengandalkan kekuatan
kata-kata tetapi menjalin erat setiap hati dengan kekuatan iman dan
persaudaraan. Lebih dari itu, jiwa kepemimpinan beliau bagaikan energi yang
tidak ada habisnya mendorong para ikhwah menyebarluaskan dakwah ke seluruh
penjuru Mesir dan negara lainnya. Bahkan meskipun beliau sudah tiada,
tulisan-tulisan Imam Hasan Al-Banna yang dibundel dalam kitab Majmu’atur Rasail
serta ceramah-ceramah beliau yang dirangkum dalam kitab Haditsuts Tsulasa sampai
sekarang masih dibaca para Ikhwah di seluruh Dunia dan dijadikan rujukan
gerakan Dakwah mereka. Setiap ceramah beliau ditulis ulang dan diterbitkan
untuk menjadi bekal dakwah mereka.
Kegiatan gerakan IM ini mencakup semua sisi: akidah, syariah, dan gaya
hidup islami, setelah sebelumnya hal-hal itu dianggap hilang. Gerakan ini pun
mencoba untuk ambil bagian dalam kegiatan sosial, pendidikan, dan perekonomian,
sehingga membuat para pengikutnya memiliki pengaruh kuat di masyarakat. Pada
Tahun 1933, Ikhwan mendirikan pabrik tenun dan pabrik permadani, di samping
mendirikan sebuah lembaga keuangan yang berlandaskan Islam. Sementara dalam
dunia pendidikan, Ikhwan mendirikan beberapa lembaga pendidikan.
Usaha yang dikelola Ikhwan saat itu merupakan perusahaan-perusahaan besar
berskala nasional. Bahkan dalam dunia pers, Ikhwan mulai menerbitkan surat
kabar hariannya semenjak 5 Maret 1946. Saat itu harian ini tersebar di seluruh
Mesir dan negara-negara Arab lainnya. Sayangnya, pada 4 Desember 1948 harian
tersebut dibredel oleh pemerintah Mesir. Beberapa majalah resmi yang dikelola
Ikhwan pun mengalami nasib yang sama. Satu-satunya majalah Ikhwan yang terbit
sampai saat ini adalah majalah bulanan Ad-Dakwah yang diterbitkan dari London.
Politik belum mewarnai gerakan Ikhwan di awal 1930-an. Semboyan yang
dikumandangkan oleh Imam Hasan Al-Banna adalah "kami menginginkan individu
muslim, keluarga muslim dan masyarakat muslim". Tapi
kemudian Al-Banna mengembangkan arti dan pemahaman masyarakat muslim, yaitu
mencakup berdirinya negara Islam dan penerapan hukum Islam. Maka, di
pertengahan 1930-an, Hasan Al-Banna dan gerakan Ikhwan mulai memasuki dunia
politik. Dimulai dengan surat-surat politik Al-Banna kepada Raja Farouk, lalu
Perdana Menteri Mesir Musthafa Nuhhas, juga para pemimpin dunia Arab, untuk
menjadikan Islam sebagai pedoman hidup muslim dalam segala bidang. Pembebasan
negara Islam dari kungkungan kekuasaan imperialis Barat juga merupakan
terminologi yang dikumandangkan gerakan Ikhwan saat itu.
Pada awal Tahun 1940-an, Imam Al-Banna mencalonkan diri sebagai anggota
parlemen untuk daerahnya. Tapi ketakutan pemerintah memaksa Al-Banna untuk
mengundurkan diri dengan ancaman IM akan dibubarkan jika ia tidak mengundurkan
diri dari pemilu. Tahun 1948 Imam Syahid mengirim pasukan Ikhwan berjumlah 12
ribu orang ke Palestina untuk berperang melawan Yahudi. Pasukan Yahudi yang
dibantu Inggris kalang kabut menghadapi kekuatan pemuda Ikhwan yang memiliki
ruhul jihad tinggi dan mencintai syahid di jalan Allah,.
Maka, tak mengherankan jika pihak Zionis senantiasa merasa terancam oleh
gerakan yang diilhami oleh pemikiran Hasan Al-Banna. Pada perang Arab-Israel,
IM mampu mengerahkan pasukannya dari segala penjuru negeri-negeri Arab untuk
berperang melawan Yahudi. Tercatat, pasukan sukarelawan Ikhwan dari Mesir
dipimpin Abdurrahman, saudara lelaki Al-Banna. Dari Suriah dipimpin oleh Dr.
Musthafa As-Siba’i, dari Yordania dipimpin Abdurrahman Khalifah dan dari Irak
dipimpin Muhammad Mahmud Shawwaf.
Moshe Dayyan, dalam memoarnya, mengakui keuletan dan kegigihan para pejuang
Ikhwan, sehingga daerah-daerah yang diduduki sukarelawan Ikhwan tak dapat
direbut oleh Yahudi. Sayang, ketika mereka pulang, para pejuang itu tak
disambut dengan kegembiraan. Sebaliknya, pintu penjaralah yang menanti
kepulangan mereka.
Hasan Al-Banna telah menjadikan Islam bukan semata teori dan pemikiran
tetapi sebuah realitas organisasi yang tangguh dan kuat. Kalau disimpulkan,
gerakan IM mencakup,
1.
Menghidupkan kembali konsep
"keuniversalan dan keintegralan Islam yang tercermin dalam semua aspek
aktivitas kehidupan".
2.
Menciptakan
generasi muslim yang memiliki keseimbangan antara akidah, pemikiran, spiritual,
ritual, dan kiprah.
3.
Meyakinkan
akan pentingnya makna ukhuwah Islamiyyah, yang bukan sekadar teori -melainkan
harus diamalkan. Juga harus menghindari masalah yang akan mengarah pada
perpecahan, dengan senantiasa konsisten pada etika perbedaan pendapat.
4.
Seruan
dakwah harus menyentuh semua lapisan masyarakat, dari mulai tingkat yang
terpelajar sampai lapisan terbawah.
5.
Mencoba
mengingatkan akan bahaya gerakan Zionisme Yahudi yang didukung oleh Barat serta
mengingatkan bahwa masalah Palestina merupakan agenda umat Islam yang harus
diselesaikan.
Syahidnya Hasan Al-Banna dan
Pemberangusan Jamaah
Karena kesal dengan kemajuan dakwah Islam dan langkah politis IM, Raja
Farouk (Penguasa Mesir) berkonspirasi dengan Yahudi dan militer berusaha
melenyapkan Imam Hasan Al-Banna. Tanggal 12 Februari 1949, para agen Raja
Farouk berhasil menyelesaikan tugas mereka: menghabisi pendiri gerakan Ikhwanul
Muslimun, Hasan Al-Banna.
Sabtu petang itu, sekitar pukul delapan lebih dua puluh menit, Hasan
Al-Banna baru saja keluar dari markas "Syubbanul Muslimin"
yang terletak di Jalan Malikah Nazili (sekarang Jalan Ramses), jantung Kairo.
Beliau didampingi sahabat sekaligus menantunya, Ustad Abdul Karim Mansur, yang
juga seorang pengacara. Abdul Karim Manshur mengungkap kembali detik-detik
terakhir kehidupan Imam Hasan Al-Banna. "Kami berdua keluar menuju
Jalan Ramses. Di sana taksi sudah menunggu. Kemudian Imam Hasan Al-Banna masuk
ke dalam taksi dan duduk di kursi belakang. Setelah itu saya menyusul masuk. Di
dalam taksi kami saling tukar tempat duduk, sehingga beliau duduk di sebelah
kanan saya," ujarnya.
Belum lagi taksi tersebut berjalan,
tiba-tiba dua orang tak dikenal menghadang taksi yang mereka tumpangi. "Salah
seorang dari keduanya berusaha membuka pintu yang ada di sebelah saya. Tapi
saya berusaha untuk menahannya. Tiba-tiba orang itu mengarahkan pistol ke
arahku dan memuntahkan pelurunya. Satu peluru mengenai dadaku, peluru
selanjutnya mengenai tangan kananku yang berusaha untuk meraih pistolnya.
Sedangkan peluru ketiga mengenai kakiku, sehingga aku tak mampu bergerak. Hal
tersebut berlangsung dengan cepat," katanya.
"Setelah melihat aku tak berdaya, ia
menuju ke arah Imam Hasan Al-Banna, dan berusaha membuka pintu taksi. Tapi
tidak berhasil. Kemudian ia memuntahkan peluru pistolnya ke arah Hasan
Al-Banna. Pintu pun akhirnya terbuka. Sambil mundur, ia menembaki Hasan
Al-Banna. Tujuh peluru bersarang di tubuh Al-Banna, tapi beliau masih mampu
berdiri dan lari mengejar para penembak tersebut sekitar seratus meter. Rupanya
sebuah mobil telah menunggu mereka, dan akhirnya mereka kabur menggunakan mobil
tersebut," tutur Abdul Karim Manshur.
Tak lama berselang, Hasan Al-Banna pun menemui panggilan Ilahi di rumah
sakit karena kehabisan darah. Dokter jaga pada malam itu dilarang merawat
Al-Banna oleh utusan khusus Raja Farouk demi meyakinkan bahwa Al-Banna memang
telah benar-benar tak bernyawa lagi.
Sejak peristiwa keji itu seluruh dunia Islam berduka. Para ulama Mujahid
sepakat memberi tambahan gelar baru bagi Hasan Al-Banna dengan sebutan “Al-Imam
As-Syahid”. Semoga arwah beliau senantiasa dirahmati Allah Taala dan cita-cita
perjuangan beliau akan menjadi kenyataan. Sementara itu, semua kekayaan Ikhwan
disita oleh pemerintah Mesir. Para pimpinan Ikhwan ditangkapi dan dijebloskan
ke dalam penjara oleh PM Jamal Abdun Naser dan sejak itu IM dinyatakan sebagai
organisasi terlarang.
Pada tahun 1951, pemerintah Mesir kembali memberi kesempatan kepada Ikhwan
untuk berdiri kembali serta mengembalikan kekayaan Ikhwan yang disita. Mulai
tahun itulah, Ikhwan kembali merekonstruksi organisasinya di bawah pimpinan
Hasan Hudhaibi, seorang pengacara terkenal Mesir saat itu. Ketika terjadi
Revolusi Mesir, 23 Juli 1953, dalam upaya meruntuhkan rezim Farouk, Ikhwan
turut ambil bagian. Bahkan pemimpin revolusi Mesir, Jenderal Muhammad Najib,
sempat menyampaikan sambutannya berkenaan dengan peringatan kematian Al-Banna
dan disiarkan langsung melalui radio. Pemerintahan pasca revolusi pun sempat
menawarkan kepada Ikhwan untuk bekerja sama dalam membentuk pemerintahan. Tapi
Ikhwan menolak selama Islam tidak dijadikan sebagai landasan hukum. Penolakan tersebut
merupakan awal retaknya hubungan Ikhwan dengan rezim baru.
Kesepakatan Suez yang ditandatangani pemerintah Mesir dan Inggris semakin
mendorong Ikhwan menjadi oposisi pemerintah. Pada 1954, Ikhwan kembali
diberangus. Bahkan beberapa pemimpin Ikhwan dijatuhi hukuman mati di tiang
gantungan. Salah seorang di antaranya adalah Dr. Abdul Qadir Audah, seorang
pakar hukum Mesir. Sementara Hasan Hudhaibi, Mursyid Ikhwan dijatuhi hukuman
seumur hidup. Penjara sipil dan militer Mesir kembali dipenuhi para pejuang
Ikhwan untuk kedua kalinya, setelah peristiwa pemberangusan pertama pada 1948
di zaman rezim Farouk.
Kalau peristiwa pemberangusan sebelumnya diprakarsai oleh Barat, maka
pemberangusan anggota Ikhwan 1965-1966 boleh dikatakan atas prakarsa Rusia.
Sebab rezim yang dipimpin Naser saat itu mendapat dukungan penuh Soviet. Korban
pemberangusan gerakan Ikhwan kali ini adalah Sayyid Qutb, penulis karya
monumental Tafsir Fi Zhilalil Quran, yang sampai sekarang sudah dicetak ulang
sampai edisi ketiga puluh.
Pada masa Anwar Sadat, tahanan Ikhwan mulai dibebaskan dan mereka
diperkenankan untuk bergerak atas nama pribadi. Bukan atas nama gerakan. Tapi
gerakan Ikhwan menolak hal tersebut dan ingin tetap berdiri di bawah pimpinan
Hasan Hudhaibi. Mereka juga terus mengajukan agar keputusan MPR tahun 1954
mengenai pelarangan gerakan Ikhwan dicabut, sampai wafatnya Hudhaibi.
Barulah pada 21 Januari 1983 permohonan Ikhwan terkabul. Saat itu pemimpin
Ikhwan dijabat oleh Umar Tilmitsani sampai beliau wafat pada 1986. Tampuk
pimpinan Ikhwan beralih kepada Muhammad Hamid Abu Nashir, sampai beliau wafat
pada 1997. Dan sekarang kepemimpinan Ikhwan dipegang oleh Ustadz Musthafa
Masyhur, salah seorang murid Hasan Al-Banna generasi pertama.
Walau usia Al-Banna sangat pendek (43 tahun), keberadaannya telah membawa
berkah bagi umat. Beliau telah menanamkan bibit kebangkitan umat di abad XX
ini. pemikirannya bukan semakin pudar dengan terbunuhnya beliau, melainkan
justru tumbuh subur. Dengan syahidnya Imam Hasan Al-Banna Kaderisasi Dakwah
tidak lantas mati malah membuat anggota Ikhwan semakin kuat dan menyebar di
seluruh dunia.
Sistem pembinaan Al-Banna telah diwariskan kepada para pengikutnya.
Keluarga Qutb adalah contoh keluarga yang dibina Ikhwan setelah syahidnya Hasan
Al-Banna. Sayyid Qutb masuk ke dalam jamaah ini justru setelah Hasan Al-Banna
menemui syahidnya. Ketika peristiwa pembunuhan keji itu terjadi Sayyid sedang
sakit dan dirawat di sebuah rumah sakit di AS. Sayyid tertarik dengan pribadi
Hasan Al-Banna karena melihat orang-orang Amerika, para dokter dan perawat
begitu senangnya mendengar wafatnya Hasan Al-Banna. Bagi Sayyid Qutb, pribadi
yang kewafatannya (kesyahidannya) membuat orang-orang kafir menjadi senang
tentulah pribadi mukmin sejati yang layak untuk diikuti.
Sepulangnya dari Amerika Sayyid segera bergabung dengan IM. Beliau dan
keluarganya terus ditarbiyah oleh para sahabat Imam Syahid. Sayyid Qutb
berdakwah melalui lisan dan tulisan.. Selanjutnya, dalam kiprah dakwah, semua
anggota keluarga Sayyid Qutb pernah ditangkap tetapi mereka tetap istiqamah.
Sayyid Qutub bahkan sampai dihukum mati, sementara dua saudara perempuannya,
Aminah dan Hamidah Qutub, harus mendekam di dalam penjara. Hamidah Qutub
ditangkap pada saat pesta pernikahannya. Bukan karena tindak kriminal yang
dilakukannya, melainkankan karena membela satu prinsip yang memang tak bisa
ditawar-tawar: prinsip akidah. Hamidah baru dapat bertemu kembali dengan
suaminya, Kamal As-Sananiry, setelah 20 tahun berlalu dari hari pernikahannya.
Sebab si suami ini pun dijebloskan ke dalam penjara.
Kisah-kisah demikian bukan membuat orang semakin jauh dari IM. Melainkan
justru semakin mendekat dan tertarik untuk lebih tahu apa rahasia serta konsep
pembinaan Ikhwan, sehingga dapat menghasilkan generasi semacam itu. Generasi
yang saling mencintai, saling mementingkan kepentingan saudaranya. Generasi
yang memiliki pendirian yang tidak bisa dibeli dengan apa pun. Generasi yang
lebih mementingkan umat ketimbang kemaslahatan dirinya sendiri.
Pengaruh Jamaah IM pada Pergerakan Islam
lainnya
Gerakan IM mampu menyedot banyak pengikut karena prinsip universal yang
dianutnya. Mereka juga mampu memenuhi keinginan para pengikutnya akan
peningkatan keimanan, keluasan wawasan, kenikmatan berukhuwah, berjamaah dan
berdakwah di jalan Allah. Maka, tidaklah mengherankan jika pengikut gerakan
Ikhwan terdiri atas kaum terpelajar sampai masyarakat berpendidikan rendah yang
kesemuanya bersatu padu dalam ikatan jihad fi sabilillah.
Perlu diingat bahwa gerakan ini bukan sekadar gerakan sosial kemasyarakatan
belaka. Jamaah Ikhwan berkembang menjadi gerakan politik. Bahkan mereka mampu
memberi inspirasi bagi gerakan-gerakan Islam lain yang tumbuh di luar Mesir. Di
luar Mesir, IM diperkirakan tersebar sekitar 2.000 cabang lebih di 70 negara
Islam. Jumlah itu sebanding dengan jumlah yayasan-yayasan kebaikan yang mereka
miliki. Bahkan kelompok pejuang yang paling ditakuti oleh Yahudi saat perang
Palestina-Yahudi adalah milisi bersenjata yang dibina oleh Ikhwan. Hammas
merupakan sayap dari gerakan Ikwanul Muslimun Palestina.
Konspirasi Yahudi, Barat, dan pemerintah Mesir kecele besar. Mereka
menyangka dengan dihabisinya Hasan Al-Banna dan diberangusnya gerakan tersebut
di Mesir, akan punahlah pengaruhnya. Nyatanya, setelah kematian Al-Banna,
gerakan Ikhwan bukannya kendur, malah semakin pesat perkembangannya di luar
Mesir. Gerakan tersebut tumbuh subur di Suriah, Palestina, Yordania, dan Sudan.
Bahkan gerakan mereka turut memberi andil besar bagi tumbangnya kekuasaan Yahya
Hamiduddin di Yaman pada 1948. Mereka juga mengilhami gerakan
"An-Nahdhah" di Tunis yang dipimpin Rasyid Ghannusi. Juga gerakan
Islam yang ada di Aljazair. Pada 1982, Ikhwan Mesir menyempurnakan sistem
keorganisasiannya dalam skala internasional, dengan menjalin kerja sama dengan
semua gerakan Ikhwan yang ada di luar Mesir
Jihad Afghanistan melawan Soviet, sampai jatuhnya Kabul, tak lepas dari
andil gerakan Ikhwan. IM mengirim perwakilan resminya, Ustad Kamal As-Sananiry
untuk mengikuti perjuangan jihad itu dari dekat. Cikal bakal gerakan Jihad
Afghanistan diprakarsai oleh para dosen Universitas Kabul yang sempat menuntut
ilmu di Mesir seperti Abdur Rabbi Rasul Sayyaf. Mereka berkenalan dengan para
murabbi Ikhwan dan mendapatkan tarbiyah yang membentuk mereka menjadi mujahid
dakwah.
Kabarnya, Partai Masyumi merupakan gerakan Islam Indonesia yang punya
hubungan baik dengan IM. Beberapa tokoh Islam Indonesia sempat berjumpa dan
berbincang dengan Al-Banna. Bahkan gerakan IM mendorong pemerintahan Mesir
untuk mengakui kemerdekaan Indonesia. Jadilah Mesir sebagai negara asing
pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Dr. Said Ramadhan, salah seorang
menantu Al-Banna, dalam salah satu wawancaranya dengan majalah Ad-Dakwah,
menjelaskan hubungan beliau dengan tokoh Islam Indonesia, M. Natsir. Mereka
sempat berjumpa dalam muktamar pertama tentang Mesjidil Aqsa pada 1950.
Gerakan IM dalam bentuk struktural baru menjejakkan kakinya di Indonesia
pada 1983 setelah beberapa pelajar Islam dari Arab Saudi kembali ke Indonesia.
Para pendiri gerakan ini belajar kepada Syekh Ali Al-Juraisyah salah seorang
tokoh penting IM dan salah satu murid Imam Syahid Hasan Al-Banna. Gerakan IM di
Indonesia telah menyebar ke seluruh propinsi dan memberikan gairah baru dalam
dakwah di Nusantara. Peranannya dalam Reformasi di Indonesia sangat besar
melalui aktifitas dakwah kampus yang menjadi pelopor perubahan di negeri ini.
Pada tahun 1998 gerakan IM di Indonesia resmi memunculkan diri dalam bentuk
sebuah Partai terbuka yang menyebut diri mereka sebagai “Partai Dakwah”.
Dalam perjalanannya yang sudah melampaui 70 tahun itu, gerakan Ikhwanul
Muslimun tampaknya masih belum berhasil merealisasikan apa yang mereka
cita-citakan, yaitu berdirinya kembali khilafah Islamiyyah. Apakah Ikhwan telah
gagal? Ustadz Said Hawwa, salah seorang tokoh Ikhwan Suriah generasi kedua
menjawab, "Keberhasilan Ikhwan sampai saat ini baru sampai taraf
penyebaran fikrah (pemikiran) dan membangkitkan kesadaran umat. Hal itu dapat
terlihat dari tersebarnya karya tokoh-tokoh Ikhwan ke seluruh penjuru dunia."
Walahu a’lam
SEJARAH KEHIDUPAN
IMAM SYAHID HASAN AL-BANNA
A. Biografi
Imam Syahid.
Imam Syahid Hasan Al-Banna dilahirkan di kota Mahmudiyah, Distrik Bahirah
Mesir pada bulan Oktober 1906 M.
Orangtua beliau seorang ulama besar pada masanya, yaitu Ahmad Abdur
Rahman Al-Banna, ulama yang banyak karyanya di bidang ulumul hadits. Diantaranya yang terkenal “Al Fath Ar Rabbany
li Tartib Musnad Al-Imam Ahmad”.
Disamping menulis kitab-kitab hadits, orang tua Hasan Al-Banna bekerja
memperbaiki jam.
Sejak dini Al Imam sudah ditempa oleh keluarganya yang taat beragama untuk
meraih dan memperdalam ilmu di berbagai tempat dan majelis ilmu. Pertama kali beliau menggali ilmu di Madrasah
Ar Rasyad, kemudian melanjutkan di Madrasah ‘Idadiyah di kota Mahmudiyah tempat
beliau dilahirkan.
Pada usia beliau yang masih muda sudah memiliki perhatian yang besar
terhadap persoalan dakwah. Beliaupun
mampu berbuat lebih banyak untuk menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Bersama teman-temannya di sekolah beliaupun
membentuk perkumpulan “Akhlaq Adabiyah” dan perkumpulan menentang hal-hal yang
diharamkan Imam Syahid sejak muda menginginkan dakwah Islamiyah tegak dan
kokoh.
Pada tahun 1920 Imam Syahid melanjutkan pendidikannya di Darul Mu’allimin
Damanhur, hingga menyelesaikan hafalan Qur’an diusianya yang belum genap 14
tahun. Beliaupun aktif dalam pergerakan
melawan penjajah. Pada tahun 1923 Imam
Syahid melanjutkan pendidikannya di Darul Ulum Kairo. Disini Imam Syahid banyak mendapatkan wawasan
yang luas dan mendalam. Beliau
menyelesaikan pendidikan di Darul Ulum pada tahun 1927 M, dengan hasil yang
memuaskan, menduduki rangking pertama di Darul Ulum dan rangking kelima di
seluruh Mesir dalam usianya yang baru menginjak 21 tahun.
Semenjak di Darul Ulum Kairo, beliau mendapatkan cakrawala berfikir lebih
luas dan wawasan yang mendalam. Beliau
semakin giat dalam amal islami. Bersama
kawan-kawannya Imam Syahid giat melaksanakan dakwah di berbagai tempat, baik di
perkumpulan-perkumpulan, kedai kopi ataupun di klab-klab.
Setelah menyelesaikan pendidikannya di Darul Ulum Kairo, beliau bekerja
sebagai guru Ibtidaiyah (setingkat SD) di Ismailiyah meskipun mendapatkan
penawaran untuk melanjutkan pendidikan, namun beliau lebih menyenangi menjadi
guru di Ismailiyah hingga 19 tahun beliau berkhidmat mengajar disana.
Di tempat yang sama, yaitu kota Ismailiyah beliau menikah dengan putri
salah seorang tokoh Ismailiyah Al Haj Husain As Shuly pada malam 27 Ramadhan
1351 H. Dengan dikaruniai 5 ornag anak,
4 orang anak perempuan yaitu Wala’, Sinai, Raja dan Hajar. Adapun anak lelaki beliau adalah Ahmad
Syaiful Islam. Imam Syahid sangat
memberikan perhatian yang besar pada pendidikan keluarganya dengan adab dan
akhlaq Islam. Hasil perhatiannya
terhadap keluarga dapat kita lihat pada anak beliau yang sangat dihormati Ahmad
Syaiful Islam.
B. Permulaan
Dakwah
1. Hal-hal yang mendasari berdirinya dakwah.
Perpindahan Al Banna dari tempat kelahirannya
Mahmudiyah ke Damanhur kemudian ke Kairo membuatnya banyak mengetahui
permasalahan situasi dan kondisi umat Islam.
Dimasa beliau tinggal di Mahmudiyah, daerah yang tenang dan menjaga tradisi
Islam dan ajarannya, belum terlintas di benaknya bahwa di ibukota Kairo, banyak
penyimpangan dan kerusakan yang sudah sangat parah. Belum pernah tergambarkan
olehnya bahwa para penulis terkemuka, ulama dan para pakar bekerja demi
kepentingan musuh Islam.
Tetapi ketika beliau berada di Kairo semua itu dilihatnya, kemudian beliau
banyak berfikir untuk menghadapinya segala sesuatu sudah berubah seakan-akan
manusia sudah jalan dengan kepala dan berfikir dengan dengkul. Ulama sibuk dengan urusan pribadi, masyarakat
umum dalam keadaan bodoh, peristiwa demi peristiwa datang bertubi-tubi
seakan-akan hujan yang deras, atau badai yang kencang, segala sesuatunya sudah
berubah.
Surat kabar, majalah dan sarana informasi lainnya memuat dan menyebarkan
pemikiran sesat, pornografi dan macam-macam kemungkaran di mimbar politik,
masing-masing partai hanya mementingkan golongannya dan cenderung menjadi ajang
permusuhan, perpecahan ummat.
Masyarakat sudah meninggalkan dan menjauhi nilai-nilai luhur, sudah asing
dengan nilai-nilai Islam. Begitupun di
Perguruan Tinggi sudah banyak berubah, yang tadinya disiapkan untuk menjadi
lampu penerang, pusat kebangkitan dan mimbar peradaban dan kebudayaan menjadi
sumber malapetaka, pusat kerusakan dan alat penghancur sehingga banyak orang
memahami bahwa Perguruan Tinggi dan Universitas adalah tempat revolusi terhadap
akhlaq, menentang agama dan memusuhi tradisi yang baik.
Turki yang tadinya menjadi pusat Khilafah Islamiyah pada tahun 1924 M sudah
berubah menjadi negara sekuler, negeri Mesir dan negeri-negeri Islam lain dalam
keadaan terjajah dan perekonomian ummat Islam dikuasai oleh orang-orang asing
kaum penjajah.
Semua itu disaksikan oleh Al-Banna, bahwa kondisi dan situasi semakin
memburuk sehingga menyusahkannya dan ia menjadi gelisah. Sampai beliau tidak dapat tidur selama 15
hari di bulan Ramadhan, akan tetapi ia tidak putus asa, tidak menyerah bahkan
menambahnya semangat dan bertekad untuk berbuat sesuatu yang positip bahwa yang
bisa mengembalikan Khilafah Islamiyah, mengusir penjajah dan mengangkat
martabat hanyalah kesungguhan, cita-cita yang tinggi, kerja yang tak mengenal
lelah dan harokah yang berkesinambungan.
Banna mulai melakukan aktifitasnya dengan menghubungi para pemimpin, tokoh
masyarakat dan para ulama mengajak mereka untuk membendung arus kerusakan
itu. Beliau menghubungi Syeik Ad Dajawi
salah seorang ulama Mesir terkemuka dan beliau menjelaskan permasalahan kepada
Syeikh tersebut, tapi Syeikh hanya memperlihatkan keprihatinannya saja, tidak
ada sesuatu yang diharapkan oleh Al Banna darinya, dengan alasan bahwa Mesir
sedang dijajah Inggris yang memiliki kekuatan dan persenjataan yang dapat
menghadapi gerakan apapun yang menentang dan merugikannya. Al Banna tidak ridho dan tidak puas dengan
jawaban Ad Dajawi itu dan membuatnya lemah semangat. Kemudian Syeikh Ad Dajawi mengajaknya
berziarah ke rumah Syeikh Muhammad Saad yang merupakan juga salah satu ulama
terkemuka, disana banyak yang hadir selain Syeikh Ad Dajawi, Syeikh Muhammad
Saad dan Al Banna. Al Banna menjelaskan
lagi permasalahan ummat namun Syeikh Ad Dajawi memintanya untuk berfikir, tapi
Al Banna seorang pemuda yang memiliki semangat yang tinggi berpendapat waktu
itu bukan saatnya untuk berfikir tapi untuk berbuat.
Syeikh Muhammad Saad pada waktu itu menjamu para tamunya kue-kue khas
dibuat untuk bulan Ramadhan (halawiyat).
Para tamu asyik menikmati makan dan minuman yang disuguhkan, pemandangan
ini membuat Al Banna semakin bersedih dan prihatin. Beliau memahami bahwa mereka dalam keadaan
lalai dari kondisi Islam, maka ia berusaha menyadarkan mereka seraya berkata :
“Wahai tuan Syeikh ! Islam sedang
diperangi dengan dahsyat, sementara para tokoh, pelindung dan para pemimpin
ummat sedang menghabiskan waktunya dengan keni’matan seperti ini, apakah kalian
mengira bahwa Allah tidak akan menghisab apa yang kalian sedang lakukan ? Jika kalian tahu disana ada pemimpin Islam
dan pelindungnya selain kalian, tunjukilah saya kepada mereka agar saya
mendatangi mereka, mudah-mudahan saya dapati apa yang tidak ada pada kalian”.
Perkataan Al Banna menyentuh hati Syeikh Muhammad Saad, sehingga ia
menangis membuat yang lainpun menangis.
Lalu Syeikh bertanya : “Apa yang mesti saya lakukan wahai Hasan
...? Al Banna mengusulkan agar Syeikh
mengumpulkan nama-nama para ulama dan zuama serta para pemuka, lalu mereka
diundang untuk suatu pertemuan dalam rangka memikirkan dan memusyawarahkan
apa-apa saja yang harus mereka lakukan.
Sekalipun hanya menerbitkan majalah mingguan untuk mengimbangi
majalah-majalah yang ada atau membentuk perkumpulan yang dapat menampung para
pemuda. Syeikh setuju atas pemikiran Al
Banna itu dan ia mencatat sebagian nama ulama terkemuka seperti :
1. Syeikh
Yusuf Ad Dajawi
2. Syeikh
Muhammad Khudlori Husain
3. Syeikh
Abdul Aziz Jawis
4. Syeikh
Abdul Wahab Najjar
5. Syeikh
Muhammad Khudlori
6. Syeikh
Muhammad Ahmad Ibrahim
7. Syeikh
Abdul Aziz Khuli
8. Syeikh
Muhammad Rasyid Ridho
Dan mencatat sebagian nama-nama tokoh terkemuka, seperti :
1. Ahmad
Taimur Pasya
2. Nasim
Pasya
3. Abu
Bakar Yahya Pasya
4. Abdul
Aziz Muhammad Pasya
5. Mutawalli
Ghonim Bik
6. Abdul
Hamid Said Bik
Mereka semua diundang
untuk suatu pertemuan dan terlaksanalah pertemuan demi pertemuan, sehingga
dapat menerbitkan majalah “AL FATH”.
Dipimpin oleh As Sayid Muhibuddin Khattib dengan pimpinan redaksinya
Syeikh Abdul Baki Surur, perkumpulan dan kegiatan ini terus berlangsung sampai
Hasan Al Banna lulus kuliah dari Darul Ulum dan terus menggerakkan beberapa
orang pemuda sehingga terbentuklah Jam’iyyah Syubanul Muslimin.
Hasan Al Banna berhasil
mengumpulkan beberapa ulama dan tokoh masyarakat terkemuka, dan terbentuklah
Jamaah Islamiyah yang menyeru untuk menghadapi arus gelombang kehidupan
materialis, membatasi kegiatan maksiat dan kekufuran. Akan tetapi Hasan Al Banna melihat aktifitas
jamaah itu tidak cukup, dimana kegiatannya terbatas pada menyampaikan ceramah
atau nasehat di masjid-masjid dan menulis artikel di majalah-majalah, akan
tetapi siapa yang menyampaikan dakwah kepada orang-orang yang tidak ke masjid
yang sebenarnya mereka lebih berhak dari pada orang-orang yang aktif ke
masjid. Siapa yang menyampaikan dakwah
kepada orang-orang yang tidak membaca koran dan majalah. Dengan demikian harus adanya kader yang siap
berdakwah ke berbagai lapisan masyarakat.
Al Banna melihat bahwa yang dapat melaksanakan
tugas berat itu adalah para mahasiswa Al Azhar dan Darul Ulum. Al Banna berhasil mengumpulkan beberapa orang
rekannya untuk berlatih berpidato, khotbah di masjid, berdakwah di
warung-warung kopi dan tempat-tempat umum, kemudian pergi ke
kampung-kampung. Diantara mereka yg
terlibat dalam aktivitas ini :
1. Syeikh
Muhammad Madkur
2. Syeikh
Hamid Askari
3. Syeikh
Ahmad Abdul Hamid
Setelah mereka berlatih dan siap terjun ke
lapangan, Al Banna mengajak rekan-rekannya untuk berdakwah ke warung-warung
kopi dengan memperhatikan 3 hal :
1. Memilih
tema yang sesuai
2. Sistem
penyajian yang menarik
3. Memperhatikan
waktu, jangan sampai membosankan
Pergilah mereka ke warung-warung kopi dan cukup
berhasil.
2. Peristiwa berdirinya Jamaah Ikhwanul
Muslimin.
Pada bulan September tahun 1927 M, Hasan Al Banna
diangkat menjadi guru SD di Kota Isma’iliyah, disanalah beliau memulai
dakwahnya, di warung-warung kopi kemudian pindah ke masjid. Dakwah yang dilakukannya di warung-warung
kopi ini bukan pengalaman yang pertama baginya, tapi beliau sudah terbiasa
dakwah di tempat-tempat seperti ini, ketika beliau masih mahasiswa di Darul
Ulum, Kairo.
Dakwah Hasan Al Banna mendapat sambutan dari para pengunjung warung-warung
kopi, sehingga sebagian diantara mereka bertanya kepadanya tentang apa yang
harus dilakukan demi agama dan tanah air.
Setelah beberapa lama berdakwah di warung-warung kopi kemudian Hasan Al
Banna pindah dari warung kopi ke mushalla (Zawiyah). Di Zawiyah inilah beliau berbicara dan
mengajarkan praktek ibadah, dan meminta kepada mereka agar meninggalkan
kebiasaan hidup mewah. Para pendengarnya
menyambutnya dengan baik.
Dengan kecerdasannya, Hasan Al Banna menetapkan unsur-unsur yang mempunyai
pengaruh terhadap masyarakat, yaitu pada 4 unsur :
1. Ulama
2. Masyaikh
furuq sufiah
3.
4. Klub-klub
(nadi-nadi)
Maka Imam Syahid Hasan Al
Banna membuat perencanaan dan berinteraksi dengan 4 unsur diatas :
Kepada Ulama
Hasan Al Banna mampu mengambil simpati
ulama dengan menjalin hubungan persahabatan, menghormati dan menghargai mereka
dan kadang-kadang memberikan hadiah kepada mereka, maka dengan cara ini mereka
(pada ulama) menghormatinya tidak menghalanginya berdakwah di Isma’iliyah,
inilah sebenarnya tujuan beliau untuk para ulama, agar mereka membiarkannya
berdakwah Illallah dan tidak menyerangnya, karena Hasan Al Banna bukan ulama Al
Azhar.
Masyaikh Turuq Sufiah
Al Banna berbicara kepada
mereka dengan bahasa mereka, berinteraksi dengan mereka dengan etika yang
berlaku di kalangan mereka, dengan demikian mereka tidak menghalanginya
berdakwah dan tidak menyerangnya. Bahkan
mereka membiarkan Al Banna berdakwah, kendatipun mereka tidak bergabung
dengannya atau tidak mendukungnya.
Para Tokoh Masyarakat
Al Banna menghormati
mereka sesuai dengan posisi mereka di masyarakat dan mengadakan pendekatan
dengan mereka dengan bahasa yang baik dan amal-amal kebaikan, dengan cara ini
mereka mencintai dan menghargainya, diantara yang dilakukan oleh Al Banna
menghilangkan sebab-sebab perselisihan dan permusuhan diantara mereka, dalam
hal ini Al Banna berhasil dan mendapat penghargaan dari mereka.
Klub-Klub Pertemuan
Al Banna sering
mendatangi klub-klub (tempat-tempat pertemuan) dan disana beliau menyampaikan
pengajian, muhadhoroh nadwah (menjalin hubungan persaudaraan dengan orang
banyak) dan berhasil merekrut jumlah yang tidak sedikit untuk mengikuti
pengajian beliau di Zawiyah.
Demikian Al Banna pada
permulaan dakwahnya di Isma’iliyah berhasil menarik simpati dan mengambil hati
masyarakat. Kemudian dikumpulkan lalu
diarahkan sehingga mereka memiliki ghiroh terhadap agama mereka dan cinta akan
amal islami. Cara-cara diatas dilakukan
oleh Al Banna kurang lebih selama 1 tahun.
Pada bulan Dzul Qo’dah
tahun 1347 H atau bulan Maret 1928 M, datang 6 orang diantara yang tertarik
dengan dakwah Al Banna mereka adalah :
1. Hafiz
Abdul Hamid, bekerja sebagai tukang bangunan
2. Ahmad
Al Hushor, bekerja sebagai tukang cukur
3. Fuad
Ibrahim, bekerja sebagai tukang gosok pakaian
4. Ismail
Izz, bekerja sebagai penjaga kebun
5. Zaki
Al Maghribi, bekerja sebagai tukang menyewakan sepeda dan bengkel sepeda
6. Abdurrahman
Hasbullah, bekerja sebagai supir
Mereka berbicara kepada
Imam Syahid tentang apa yang harus mereka lakukan demi agama dan mereka
menawarkan sebagian harta milik mereka yang sedikit. Lalu mereka meminta kepada Al Banna untuk
menjadi pimpinan mereka, kemudian permintaan ini diterimanya.
Lalu mereka berbaiat
kepadanya untuk bekerja demi Islam dan mereka bermusyawarah tentang nama
perkumpulan mereka. Imam Al Banna
berkata : “Kita ikhwah dalam berkhidmat untuk Islam, dengan demikian kita Al Ikhwanul Muslimin”.
emudian mereka menjadikan
kamar di suatu rumah sewaan yang sangat sederhana sebagai “Kantor Jamaah” dengan mengambil nama Madrosah At Tahzab.
Disanalah Imam Syahid mulai meletakkan/ mengambil manhaj tarbawi bersama
pengikut-pengikutnya, manhaj tarbawi pada waktu itu adalah :
1. Al-Qur’anul
Karim (tilawah dan hafalan).
2. As
Sunnah An Nabawiyah (menghafal sejumlah
hadits).
3. Pelatihan
khutbah.
4. Pelatihan
mengajar untuk umum.
Setelah beberapa bulan
jumlah pengikut jamaah menjadi 76 orang, kemudian terus bertambah. Dan mereka mendermakan harta mereka untuk
dakwah sampai dapat membeli sebidang tanah untuk dibangun diatasnya markas
jamaah (Darul Ikhwanul Muslimin) terdiri dari masjid, 1 sekolah untuk putra, 1
sekolah untuk putri, nadi (tempat pertemuan) ikhwan.
3. Pertumbuhan pesat dakwah ikhwan sejak awal.
Pada bulan Oktober tahun
1932 M, Imam Hasan Al-Banna dimutasi kerjanya ke Kairo sebagai guru di Madrasah
Abbas I, Distrik Sabtiah, perpindahan kerja ini menjadi peluang bagi Imam
Syahid untuk membawa dakwah ke Kairo ibukota Mesir, mengingat Kairo pusat kebijakan
politik, dan mendapatkan kesempatan berdakwah di depan jutaan penduduk Kairo.
Di Kairo Imam Al Banna
dan ikhwan memilih rumah di jalan Nafi No.24 sebagai Markaz Amm, dan Imam
Syahid bertempat di lantai atas selama 7 tahun dakwah di Kairo dari tahun 1932
sampai 1939 M. Markaz Amm mengalami beberapa
kali pindah :
1.
Di jalan Nafi No.24
2.
Di rumah di Suqus Silah
3.
Di jalan Syamasyiji No.5
4.
Di jalan Nashiriyah No.13
5.
Di jalan Medan Atobah
No.5 di perumahan wakaf
6.
Di jalan Ahmad Bik Umar
di Hilmiyah
Di Kairo disamping
banyaknya partai politik yang bersaing untuk menjadi partai yang berkuasa,
didapati pula banyak organisasi Islam dan non Islam.
Di tengah-tengah
kehidupan Kairo, dakwah ikhwan terus meluncur membuktikan keberadaannya,
efektifitasnya dan menarik banyak pengikut dan pendukungnya serta membuka
syu’bah-syu’bah baru.
Dakwah di Kairo belum
sampai satu tahun Imam Syahid telah mampu menyebarkan dakwah di seluruh kota
Kairo dan telah membuka syu’bah-syu’bah baru lebih dari 50 kabupaten, dimana
Imam Syahid mendatangi perkampungan negeri Mesir untuk berdakwah tidak mengenal
letih, apalagi malas, hal itu dilakukannya disaat-saat musim liburan sekolah.
Sekilas
pintas pribadi Mursyid
1.
Profesi dan
pekerjaannya.
Beliau sebagai guru SD
(Ibtidaiyah), beliau seorang guru yang disiplin melaksanakan tugasnya dengan
optimal dan maksimal, beliau belum pernah terlambat datang ke sekolah (tempat
kerja), beliau merasakan ni’mat dan kebahagiaan dalam bekerja karena beliau meyakini
bahwa Allah telah menciptakannya menjadi pendidik.
Beliau disenangi dan
dihormati oleh murid-murid, para guru, kepala sekolah dan karyawan. Dan mereka mencintai dakwah Al Banna, karena
mereka mencintai pribadinya. Mereka
berkeinginan membantunya, agar mempunyai banyak waktu untuk mengemban tugas
dakwah, akan tetapi beliau bersikeras melaksanakan tugasnya dengan sempurna
tanpa membebani orang lain.
Bila ada ikhwan yang
menelponnya ketika dia sedang mengajar di kelas, kemudian petugas
memberitahukannya ada orang yang menelponnya, lalu ia berpesan kepada petugas
tersebut : “Katakan kepadanya/mereka, dia sedang mengajar tidak dapat
meninggalkan kelas sebelum selesai jam pelajarannya”.
2. Tugas
Rumah.
Hasan Al Banna
melaksanakan tugasnya di rumah sebagai kepala keluarga, suami, ayah dengan
sempurna, tidak pernah terjadi kles dalam rumahnya, memberikan perhatian yang
penuh kepada anak-anaknya. Beliau
membantu pekerjaan istrinya di rumah sekalipun dengan kesibukan dakwahnya. Beliau mengetahui kebutuhan rumah, beliau
tiap hari mencatat kebutuhan rumah tangga, sehingga beliau mengetahui kapan
disimpan barang seperti bawang, minyak dan lain-lain.
3. Aktifitas
Dakwah.
Dakwah bagi Hasan Al
Banna menjadi alasan hidupnya, dan semua kehidupannya dakwah, siang dan malam
kesibukannya adalah dakwah, dakwah memenuhi hati pikirannya, sehingga dakwah
terlihat jelas pada pribadinya, bila berbicara, berbicara dengan dakwah dan untuk
dakwah. Dan bila diam, diamnya dakwah,
bila bergerak demi dakwah, cinta dan bencinya karena dakwah dan bila tertawa
atau menangis karena dakwah.
Hasan Al Banna tidak
hidup untuk dirinya sendiri, tidak menyimpan uang, tenaga waktu dan
kesehatannya kecuali untuk dakwah, semua gajinya dijadikan untuk dakwah, tidak
dikurangi kecuali untuk kepentingan keluarga yang pokok, beliau mengambil
standar minimal/terendah untuk hidupnya.
Hasan Al Banna menjadikan hidupnya untuk dakwah, ucapan, diam, gerak,
bangun, tidur, suka, benci, tulisan, bacaan, pikirannya semua untuk Islam.
C.
Ranjau-Ranjau Sepanjang Perjalanan Dakwah Imam Hasan Al-Banna.
Ketika kedua aktifis
thontho Muhammad Abdussalam dan Jamaluddin Fakih dituduh oleh rezim sebagai
pelopor gerakan subversib dan ini adalah awal mihnah yang menimpa jamaah maka
Imam Asyahid segera mengadakan lobi dengan lembaga bantuan hukum untuk mengadakan
pembelaan secara maksimal dan mengerahkan seluruh ikhwan agar memiliki
perhatian serta mengikuti persidangan-persidangan yang berlangsung bahkan
beliau sendiripun selalu mengikuti persidangan-persidangan yang berlangsung dan
sekaligus membantah tuduhan yang ditujukan kepada dua aktifis maupun kepada
jamaah dengan lewat mass media internal maupun external.
Dengan upaya yang
maksimal dan dukungan seluruh fihak akhirnya kedua aktifis dinyatakan bersih
dari tuduhan. Keprihatinan Hasan Al
Banna terhadap peristiwa itu terungkap “Sesungguhnya masalah ini membikin aku
gelisah untuk tidur, karena aku tahu bahwa hal ini benar-benar telah
dipersiapkan secara matang, mereka memiliki dan menguasai seluruh perangkatnya,
mulai dari birokrasi, hakim, hingga saksi-saksi palsu dan apabila mereka
berhasil meringkus kedua aktifis kita kedalam penjara dengan tuduhan subversif,
maka dakwah al ikhwan akan punah dimata masyarakat”.
Memang Hasan Al Banna
mengajarkan kepada al ikhwan untuk menjadi generasi yang pemberani dalam
kebenaran, menganggap para penjajah adalah musuh dan bentuk perbudakan yang
paling buruk sepanjang sejarah manusia, mereka begitu semangat dan berebut
untuk mendapatkan izin menuju Palestina untuk meraih syahadah ketika DK PBB
pada tahun 1948 secara resmi memutuskan tanah Palestina menjadi dua, Imam
sendiri dalam pidatonya dimuka khalayak ramai di hotel intercontinental
mengatakan : “Pembagian Palestina menjadi dua adalah tanda bahwa dunia telah
tidak waras”. Hal serupa juga pernah
disampaikan kepada pemerintah Inggris lewat perwakilannya di Kairo tahun 1939
M, bahwa ummat Islam akan mempertahankan Palestina hingga titik darah
terakhir. Beliau juga seorang yang
lembut hati, hidupnya hanya untuk perhatian dakwah dan para ikhwannya, ketika
seorang akhwat menderita sakit ..., beliau sendiri menghubungi dokter dan
ketika sang dokter sedang menulis resep obat lalu beliau mencolek kepada Mahmud
Abdul Halim untuk meminjam uang untuk menebus obat karena tak sepeser junaihpun
ada ditangannya.
Perlawanan para ikhwan
menghadapi penjajah Inggris atas intervensinya terhadap kota Isma’iliyah awal
perang dunia kedua 1939 M merupakan sampel keberanian mereka. Melihat keberhasilan Hasan Al Banna dengan
jamaahnya yang cukup gemilang, dimana pada waktu yang relatif singkat fikroh
ikhwan telah mampu mempengaruhi dan mewarnai di berbagai bidang ekonomi, sosial
politik dan keagamaan, khususnya sikap masyarakat luas terhadap Palestina dan
penjajah, maka Inggrispun sangat gerah terhadap Hasan Al Banna dan sangat
berkepentingan untuk membunuhnya dan membubarkan jamaahnya.
Untuk merealisasikan
mimpin Inggris itu pada tanggal 10 Nopember 1948 M tiga segitiga setan
mengadakan pertemuan secara rahasia, mereka adalah Inggris, Amerika dan
Perancis di Paid, memutuskan agar ikhwanul muslimin segera dibubarkan. Sebulan kemudian tepat pada tanggal 8
Desember 1948 datang SK militer yang berisikan pembubaran terhadap jamaah.
Rupanya pembubaran jamaah
tidak berdampak terhadap aktifitas dan keberadaannya di tengah-tengah
masyarakat, justru pembelaan dari masyarakat luas semakin kentara dari hari ke
hari, kewibawaan dan kemampuan Hasan Al Banna merekrut masyarakat luas sangat diakui
lawannya, kemampuan membangkitkan semangat ummat, membuka hati yang tertutup,
menghimpun kekuatan arus bawah sangat ditakuti lawan. Maka tidak ada lagi pilihan lain, kecuali
harus merencanakan sebuah makar yang lebih besar yang belum pernah terpikir di
benak mereka yaitu dengan membunuh pendirinya.
Sejak itu rezim Faruq
benar-benar memperhitungkan langkah untuk menguasai Hasan Al Banna :
1. Dengan
memenjarakan seluruh anggota al ikhwan dan membiarkan Hasan Al Banna seorang
diri agar masyarakat luas menganggap bahwa rezim masih memiliki rasa tolerir
terhadap beliau, padahal itu sebuah siksaan batin, setiap harinya hanya
tangisan ribuan anak kecil dan rintihan ibu-ibu fororo’ yang didengarnya,
menengok kanan dan kiri tidak ada yang peduli seakan-akan seluruh rakyat telah
diintimidasi oleh rezim, takut untuk melakukan sebuah kebaikan, siapa sedekah
mati, siapa menolong orang yang kelaparan dia anggap pemberontak, beliau hanya
mampu mengumpulkan sebesar 150 junaih Mesir (+ $.140) setelah upaya sana
sini dan itupun hasil hutang dari salah seorang teman. Sungguhpun perasaan-perasaan buruk dan
mencekam yang melanda masyarakat lebih dari yang terungkapkan.
2. Setelah
perasaan yang mencekam benar-benar menyelimuti seluruh rakyat Mesir, polisi
intel segera memenjarakan adik kandung Hasan Al Banna, Abdul Basith yang dia
adalah seorang polisi padahal yang satu ini bukan seorang al ikhwan, hal itu untuk mempermudah penangkapan
terhadap beliau kapan mereka menginginkannya, sebenarnya perasaan ini juga ada
dalam sanubari kecil beliau, namun justru keberanian dan perasaan tidak takut
mati semakin lebih nampak apalagi setelah di suatu malam beliau bertemu dengan
Sayyidina Umar di dalam sebuah mimpinya mengatakan wahai Hasan, kau akan
dibunuh kemudian terbangun lalu tidur kembali sehingga terulang mimpi itu lalu
bangun sholat hingga subuh, sungguhpun mati adalah batas uang tidak dapat
ditawar. Dan ketika Imam Asyahid
mengajukan untuk tinggal di luar kota Kairo bersama saudaranyapun tidak
diizinkan, hal itu semakin memperjelas makar yang dirancang oleh rezim untuk
meringkusnya secara perlahan.
3. Setelah
seluruh persenjataan ikhwan, dan kekayaannya termasuk pistol dan mobil pribadi
beliau yang statusnya pinjaman itu disita oleh penguasa yang serakah, maka
tinggal episode yang terakhir. Maka
berhasillah mereka merekayasa sebuah pertemuan antara Asyahid dengan Mohammad
An Naqhi (salah satu pengurus Dar Asy-Syubban) pada hari Jum’at tanggal 11
Desember 1949 M pukul 17.00. Namun
hingga pukul 20.00 masalah yang diagendakan belum ada kejelasan yaitu salah
seorang menteri yang diharapkan dapat membantu menyelesaikan masalah ikhwan,
lalu pulanglah beliau dengan mertuanya ustadz Mansur SH dengan komitmen akan
datang kembali esok harinya, namun tiba-tiba beliau dapati suasana yang sungguh
lain, di jalan protokol “Quin Ramses” yang biasanya ramai dengan hiruk pikuk
lalu lintas lalu lalang manusia saat itu tak sebuah mobil dan seorangpun yang
lewat kecuali sebuah taxi yang menongkrong di depan gerbang pintu Dar Asy
Syubban, toko-toko dan rumah-rumah makan yang berdekatan juga sudah tutup,
kecurigaan semakin tinggi ketika baru akan melangkahkan kaki menuju jalan raya
tiba-tiba seluruh lampu penerang jalan mati, saat itulah peluru api meluncur
sebagian mengenai Asy Syahid dan peluru yang lain mengenai ustadz Mansur, namun
beliau masih kuat untuk naik sendiri menuju gedung Dar Asy Syubban memutar
telepon untuk meminta pertolongan kepada ambulance, sungguhpun demikian Asy
Syahid terdampar dalam rumah sakit “Qosr Aini” tak seorangpun dari perawat atau
dokter yang berani menolongnya sekalipun banyak dokter muslim yang ingin
merawatnya, namun kepala RS tidak mengizinkan atas perintah kerajaan. Dering telepon tak henti-hentinya untuk
meyakinkan kematian Asy Syahid hingga Asy Syahid menemui robbul izzah dengan
kepahlawanannya.
Tepat hari Sabtu malam
Minggu tanggal 12 Desember 1949 beliau pulang ke Rahmatullah. Terselimutilah di hari itu langit dunia
dengan kesedihan yang mendalam karena kematiannya berarti hilangnya seorang
pembela kebenaran penegak keadilan di tengah-tengah kelaliman dan ummat Islam
tertidur nyenyak. Ditengah-tengah puncak
kebahagiaan Raja Faruq dalam merayakan hari ulang tahunnya kepala polisi intel
memberikan hadiah berupa kepala Imam Asy Syahid untuk menambahkan
kecongkakannya diatas muka bumi dan kemurkaan Allah terhadapnya. Pagi harinya hari Minggu tanggal 12 Desember
1949 sampailah berita kematian kepada orang tuanya Ahmad Al Banna. Kehidupan beliau tergambar dalam syairnya :
Yang lebih menyedihkan
rezimpun tidak mengizinkan ummat Islam untuk merawat jenazahnya dan berta’ziyah
ke rumah shohibul musibah. Untuk
menunjukkan keangkuhan serta kedengkiannya terhadap Asy Syahid dan dakwah mereka
susun penjagaan militer secara ketat yang siap untuk bertempur dan tank-tank
yang seakan-akan menghadapi sebuah pertempuran yang dahsyat, padahal sebuah
upacara kematian yang terdiri dari beberapa gelintir insan yang tak berdaya. Tidak seorangpun diizinkan membawa jenazahnya
menuju makam Imam Syahid kecuali orang tua Imam Asy Syahid beserta seorang dan
kedua saudari perempuannya.
2.
Dakwah
IM dan karakteristiknya
DAKWAH IM DAN KARAKTERISTIKNYA
Dakwah
Ikhwan memiliki berbagai karakteristik yang berbeda dengan gerakan-gerakan
dakwah lain pada zamannya. Diantara karakteristik dakwahnya itu adalah:
- Menjauhi
titik-titik khilafiyah
- Menjauhi
dominasi tokoh dan pembesar
- Menjauhi
fanatisme partai-partai dan golongan-golongan
- Memperhatikan
masalah takwin (pembentukan kepribadian) dan tadarruj (bertahap) dalam
langkahnya.
- Mengutamakan
amaliyah yang produktif di atas seruan-seruan dan propaganda kosong
- Sangat
menaruh perhatian pada pemuda
- Cepat berkembang di pedesaan dan perkotaan.[1]
Berikut ini uraiannya satu persatu.
- Menjauhi titik-titik khilafiyah البعـد عن مواطـن
الخلا ف
Ikhwan berkeyakinan bahwa khilafiyah dalam hal-hal
yang furu’ adalah sesuatu yang pasti terjadi, karena asas-asas Islam
yang terdiri dari ayat-ayat , hadits-hadits, dan amal-amal aplikatif mungkin
saja difahami dan ditafsirkan secara berbeda-beda oleh akal pikiran manusia.
Bukanlah termasuk aib dan cela jika kita berbeda
pendapat. Namun aib dan cela adalah ta’ashshub (fanatik) dengan suatu
pendapat dan membatasi ruang lingkup berpikir manusia. Memahami khilafiyah
dengan cara seperti inilah yang akan bisa menghimpun hati yang bercerai berai
kepada satu fikrah. Cukuplah manusia itu berhimpun atas sesuatu yang menjadikan
seorang muslim itu muslim.
- Menjauhi dominasi tokoh dan pembesarالبـعـد عـن
هيمـنـة الكبـراء و الأعـيـا ن
Ikhwan senantiasa menjauhi dominasi tokoh dan pembesar,
karena ikhwan senantiasa berpaling dari
dakwah yang berorientasi pada pencapaian
tujuan dan ambisi pribadi, untuk menuju kepada bentuk dakwah yang lurus,
yang mengabaikan pamrih harta dan pamrih kepentingan pribadi maupun
golongan. Hal ini agar warna dakwah yang
putih bersih ini tidak tercampur oleh warna lain yang berasal dari
warna-warna yang digembar-gemborkan oleh para pembesar, dan agar jangan
sampai ada satu-pun diantara para tokoh maupun pembesar yang dapat memanfaatkan
maupun mengarahkan ikhwan kepada tujuan selain yang dikehendakinya serta
memalingkan dari tujuan Ikhwan yang lurus dan suci.
- Menjauhi fanatisme partai-partai dan
golongan-golongan البـعـد عـن
ا لهـيـئـات و الأحزاب
Dakwah Islam bersifat umum dan untuk semua manusia.
Dakwah bertujuan untuk menyatukan, bukan memecah-belah. Tidak mungkin dakwah
ini akan mencapai tujuannya yang suci kecuali oleh orang yang bersih dari
segala warna yang melingkupinya, sehingga jadilah ia ikhlas karena Allah
semata.
Pada awalnya ini tentu sulit diterima oleh jiwa-jiwa yang
ambisius, yang ingin meraih kedudukan dan harta melalui golongan dan jamaahnya.
Oleh karena itu Ikhwan lebih mengutamakan untuk menjauhi semuanya dan lebih
dahulu bersabar atas segala kekurangan demi mempertahankan unsur-unsur yang
shalih, sampai saatnya manusia akan tersadar dan memahami sebagian hakekat yang
tersembunyi. Sehingga pada akhirnya manusia akan kembali kepada khittah utama
hati mereka dengan keyakinan yang penuh.
Pada saat yang sama, jika perangkat dakwah sudah semakin
kuat, tiang penyangganya semakin kokoh sehingga mampu mengarahkan dan bukan
diarahkan; mampu mempengaruhi bukan dipengaruhi, maka kita persilahkan para
tokoh, pembesar, golongan, dan organisasi untuk bergabung bersama kami dalam
meniti jalan dan beraktivitas. Tetapi mereka harus mau meninggalkan
kebanggaan-kebanggaan kosong yang tidak bermakna, bersatu di bawah panji Al
Qur’an yang agung, bernaung di bawah naungan Rasul saw yang teduh, dan berjalan
di atas jalan manhaj Islam yang lurus.
4.
Memperhatikan
masalah takwin (pembentukan kepribadian) dan tadarruj (bertahap) dalam
langkahnya. الـتـد رج في
الخـطـوات
Yang
dimaksud dengan tadaruj (bertahap) dalam tarbiyah takwiniyah (pembentukan
kepribadian) dan kejelasan langkah Ikhwanul Muslimin adalah karena Ikhwan
meyakini bahwa setiap dakwah harus melalui 3 fase:
Pertama: Fase Ta’rif (pengenalan),
Yaitu
fase penyampaian, pengenalan dan penyebaran fikroh, sehingga dakwah bisa sampai
kepada khalayak dari segala tingkatan dan segmen sosial.
Kedua: Fase Takwin (pembentukan)
Yaitu fase seleksi terhadap para aktivis
yang sudah terekrut, untuk kemudian dilakukan koordinasi dan mobilisasi tahap
awal untuk berinteraksi dengan obyek dakwah
Ketiga: Fase Tanfidz (mobilisasi)
Merupakan
fase mobilisasi yang sebenarnya menuju produktivitas kerja dakwah yang optimal.
Kadang-kadang
ketiga fase ini berjalan secara bersamaan, melihat kepada pentingnya kesatuan
dakwah dan saling keterkaitan antara ketiga fase tersebut. Sering kita jumpai
seorang da’i berdakwah (fase ta’rif), pada saat yang sama ia juga seorang
murabbi yang menseleksi binaannya (fase takwin), dan juga melakukan amal (fase tanfidz) sekaligus.
Namun tak bisa dipungkiri bahwa hasil akhir yang sempurna tidak mungkin
dirasakan kecuali setelah tersebarnya fikrah, banyaknya aktivis, dan
terbentuknya soliditas takwiniyah.
Guna
melaksanakan ketiga fase tersebut perlulah dibuat berbagai program penyebaran
fikrah (untuk ta’rif), program-program pembinaan yang komprehensif (untuk fase
takwin) dan latihan-latihan amal yang syamil (untuk fase tanfidz), sesuai
dengan ketersediaan aktivis yang sanggup menjalaninya dan kesempatan yang
terbuka bagi masing-masing aktivis.
Khusus
untuk meniti fase kedua (fase takwin), ada 3 bentuk
kegiatan:
(1)
Al
Kataib (pembentukan kelompok-kelompok)
Yakni memperkuat shaf (barisan) dengan cara ta’aruf,
mempertautkan jiwa dan ruh sesama anggota, mengantisipasi perbedaan adat dan
tradisi, serta terus menerus menjaga hubungan baik para anggota dengan Allah
serta senantiasa memohon pertolongan dariNya.
Inilah “Ma’had Tarbiyah Ruhiyah” bagi Ikhwan.
(2)
Membentuk
regu kepanduan dan klub-klub olah-raga.
Hal ini dimaksudkan untuk memperkuat shaf dengan
peningkatan taraf kesehatan anggota Ikhwan, melatih ketaatan mereka, menjaga
moralitas dan sportifitas mereka baik dalam olah-raga maupun di luar itu, serta
menyiapkan mereka menjadi jundi yang shalih serta kuat sebagaimana yang
diwajibkan Islam atas setiap muslim.
Ini adalah “Ma’had Tarbiyah Jismiyah” bagi Ikhwan.
(3) Pemberian
materi ta’lim di Katibah
Hal
ini dimaksudkan untuk memperkuat shaf dengan meningkatkan intelektualitas
Ikhwan melalui studi yang komprehensif terhadap segala sesuatu yang semestinya
diketahui oleh seorang muslim, baik urusan agamanya maupun dunianya.
Ini
merupakan “Ma’had Tarbiyah ‘Ilmiyah” bagi Ikhwan.
Ini
semua (dan ditambah dengan aktivitas-aktivitas lain yang melatih Ikhwan untuk
melaksanakan segala kewajiban yang menanti mereka sebagai sebuah jamaah),
adalah untuk mempersiapkan dirinya menjadi qiyadah (pemimpin) bagi ummat
atau bahkan menjadi “guru” bagi seluruh alam (ustadziyatul ‘alam).
Asy
Syahid memperingatkan pentingnya menjaga diri dari isti’jal, agar tak
terjatuh pada kegagalan dan kerusakan bangunan dakwah.
Dalam
arahannya kepada para Ikhwan dalam Mu’tamar kelima ini, Asy Syahid memberikan
sebuah pernyataan yang layak untuk dibaca dan diresapi oleh para Ikhwan bahkan
sampai masa kini. Imam Syahid Hasan Al-Banna berkata:
“Dengarkanlah
sambutanku dari atas mimbar mu’tamar kalian yang besar ini. Sesungguhnya, khittah
perjalanan kalian telah tergambar langkah-langkahnya dan telah jelas
batas-batasnya. Saya tidak ingin melanggar batas-batas yang telah saya yakini
ini, karena ia merupakan jalan yang paling tepat untuk sampai pada tujuan.
Memang, mungkin jalan itu terlalu panjang, namun ketahuilah bahwa tidak ada
alternatif yang lain (untuk sampai tujuan) kecuali dengannya. Sesungguhnya,
kejantanan itu akan teruji dengan kesabaran, ketabahan, kesungguhan dan
kontinuitas amal. Barangsiapa menginginkan memetik buah sebelum matangnya,
atau memetik bunga sebelum merekahnya, maka saya tidak mendukungnya sedikitpun.
Lebih baik dia hengkang dari jaringan dakwah ini dan bergabung dengan yang
lainnya. Namun, bagi mereka yang bersabar bersama kami sampai benih itu
tumbuh, sampai pohon itu berbuah dan sampai tiba waktunya buah itu untuk dipetik,
sungguh pahalanya hanya ada di sisi Allah. Allah tidak akan sekali-kali
melenyapkan pahala orang-orang yang berbuat ihsan, bisa jadi berwujud sebuah
kemenangan dan kemuliaan atau anugrah mati syahid dan kebahagiaan abadi di
akhirat.”
Selanjutnya
di akhir bagian ini Imam Syahid tatkala menjawab pertanyaan “Kapan saatnya fase
tanfidz?” beliau berkata:
“Sesungguhnya, medan perkataan berbeda dengan medan
khayalan. Medan amal juga berbeda dengan medan perkataan. Medan jihad berbeda
dengan medan amal. Medan jihad yang haq berbeda secara kontradiktif
dengan medan jihad yang bathil.
Sangatlah mudah bagi sebagian besar manusia untuk
berkhayal. Namun, tidak semua khayalan yang terbersit dalam benak bisa
terungkapkan oleh kata-kata yang keluar dari lisan. Banyak orang yang bisa
berkata, tetapi sedikit di antara ucapan-ucapan mereka itu yang tercermin dalam
perbuatan. Banyak juga di antara yang sedikit ini bisa beramal, namun sedikit
sekali yang mampu mengemban amanah jihad yang begitu berat dan amal yang
berkesinambungan.”
- Mengutamakan amaliyah yang produktif إيـثار النـاحـيـة العـمـيـة
Hal ini tertanam dalam jiwa Ikhwan karena
alasan-alasan berikut :
(1)
Ajaran
Islam sendiri secara jelas adalah sebuah ajaran yang mementingkan amal daripada
sekedar ucapan . Sekaligus Islam mengkhawatirkan kotoran riya’ yang
dapat menodai, merusak kemudian membinasakan amal seseorang. Akan halnya
mengenai keseimbangan antara kekhawatiran ttg riya’ di satu sisi dengan
perlunya mendakwahkan dan memerintahkan amal shaleh di sisi yang lain, adalah
perkara yang amat pelik, sedikit saja dari manusia yang dapat melakukannya.
(2)
Ikhwan
senantiasa berusaha untuk secara wajar menjauh dari propaganda-propaganda
kosong dan para propagandisnya yang mengoceh tanpa kerja nyata. Dampak negatif
dari ulah para propagandis ini adalah berupa kesesatan dan kerusakan yang telah
terjadi di tubuh ummat Islam saat ini.
(3)
Ikhwan
khawatir jika propaganda dan seruan kosong
melahirkan permusuhan yang mendalam atau persahabatan yang terlalu
kental dengan satu dan lain pihak, justru hanya akan menghambat dan
membahayakan jalan dakwah untuk sampai kepada semua orang sebagaimana yang
dicita-citakan oleh Ikhwan.
Ikhwan hendaknya sanggup melakukan kerja-kerja besar
tanpa gembar-gembor dan membanggakan diri. Hendaknya para aktivis Ikhwan
membuktikan komitmen mereka terlebih dahulu dengan kerja nyata yang dapat
dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, tanpa terlebih dahulu mengharapkan pujian
dan pengakuan dari mereka.
Ini semua hendaknya terus dijalankan, sampai kepada suatu
saat di mana masyarakat mulai benar-benar
merasakan manfaat hasil kerja
Ikhwan dan mulai bertanya-tanya siapa yang telah melakukannya. Pada saat inilah
Ikhwan baru tampil untuk menjelaskan jati dirinya yang sebenarnya, dengan
tujuan menyebarkan fikrah dan manhajnya yang utuh, yang bersumber dari
sumber-sumber rujukan Islam yang shahih, seraya mengajak masyarakat
bergabung dengannya dalam menegakkan cita-cita Islam yang mulia. Pada saat
inilah Ikhwan perlu tampil untuk menjelaskan tentang karya besarnya, bukan
untuk membangga-banggakan diri, tetapi untuk menjelaskan kepada manusia tentang
tujuan, perangkat, pola pikir, dan manhaj amal
Ikhwan dan cita-citanya yang mulia.
Seraya itu, penting diwaspadai oleh setiap kader Ikhwan
bahwa tatkala dakwah Ikhwan telah bergema di permukaan dan masyarakat sudah
menyambut serta mengharapkannya, maka pada saat itulah Ikhwan harus tetap
menyadari bahwa sesungguhnya keutamaan dan kemenangan hanyalah milik Allah,
dan Allah-lah yang Maha Terpuji.
يمنون عليك أن
أسلموا قل لا تمنوا علي إسلامكم بل الله يمن عليكم أن هداكم للإيمان إن كنتم
صادقين
“Mereka merasa telah memberi ni`mat kepadamu
dengan keislaman mereka. Katakanlah: "Janganlah kamu merasa telah memberi
ni`mat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah Dialah yang melimpahkan
ni`mat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah
orang-orang yang benar.”
(QS Al-Hujuraat 17)
- Sangat
menaruh perhatian pada pemuda إ قبـال الشـبـاب عـلى الدعـوة
Di
samping sangat menaruh perhatian kepada para pemuda, dakwah Ikhwan juga
terbukti paling berhasil di kalangan mereka. Ini disebabkan oleh karena bagi
setiap manusia fase kehidupan sebagai pemuda merupakan fase yang paling
kondusif dan subur bagi persemaian dakwah dari segala tingkatan dan segmen sosial, baik pekerja, maupun kalangan
menengah, baik berpendidikan tinggi maupun berpendidikan sederhana. Ini
merupakan karunia dari Allah yang patut disyukuri seraya ini menunjukkan
sunnatullah kauniyah, sebagaimana dalam sejarah kita menemukan kisah enam orang
pemuda Kahfi, kisah pemuda Musa (as), kisah pemuda Ghulam dan sejumlah kisah
para sahabat Nabi saw yang mulia yang terdiri
dari kaum muda.
Dengan
daya geraknya yang penuh semangat, para pemuda Ikhwan hendaknya meluaskan
dakwah sambil meningkatkan taqwa, menajamkan fikrah dan menghaluskan
hati dan jiwanya dalam tempaan pembinaan yang syamil, hingga menjadi
jundi yang kuat, tangguh, sabar dan istiqomah.
- Cepat
berkembang di pedesaan dan perkotaan سرعـة الانـتـشـار في القـرى و المـد
ن
Asy
Syahid menampilkan pada poin ini, keberhasilan pembinaan hubungan yang unik
antara elemen pusat (maktab ‘am) dan syu’bah-syu’bah di daerah,
juga antara organisasi inti dan wajihah-wajihah yang didirikan kemudian
oleh para anggota Ikhwan di seluruh pelosok negeri Mesir saat itu; dan
keberhasilan yang luar biasa yang dirasakan dalam bentuk pengakuan masyarakat
akan manfaat lembaga-lembaga dan kader-kader Ikhwan di seluruh negeri.
Menurut
beliau, keberhasilan ini merupakan buah dari hubungan ukhowiy antara
sesama Ikhwan, baik yang menjadi anggota maktab ‘am, maupun yang berada
pada ujung tombak dakwah Ikhwan di setiap pelosok negeri. Dalam hal ini Asy
Syahid berkata:
“Selain itu hubungan antara kantor pusat
dengan cabang-cabang dan organisasi-organisasi di bawahnya bukanlah hubungan
atasan-bawahan, bukan pula hubungan administratif antara pekerja dan pengawas
semata, tetapi ia adalah ikatan yang lebih dari itu. Di sini berlaku ikatan
ruhani sebagai pondasinya lalu ikatan kekeluargaan, di mana terjadi saling
kunjung di antara mereka.
Hubungan kekeluargaan seperti ini tidak pernah dialami
oleh organisasi manapun pada masa kapanpun selain oleh organisasi maupun
kumpulan yang mengacu kepada keteladanan masyarakat para sahabat di zaman
Muhajirin dan Anshor di Madinah.
Hal lain yang
disoroti Asy Syahid dalam poin ini adalah tumbuhnya semangat inisiatif dan
kreatifitas yang sehat yang sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat karena
segala amal sosial yang dilakukan Ikhwan.
Juga pada masalah
kemandirian ekonomi, telah menyebabkan Ikhwan tidak pernah tergantung pada
siapapun dan organisasi manapun, karena para Ikhwan dididik untuk mampu
menanggung sendiri biaya kebutuhan dakwah, dengan dilandasi semangat berjihad
dengan harta dan jiwa. (At
Taubah 111).
No comments:
Post a Comment