Mukadimah
Pembahasan ini merupakan
pembahasan yang wajib diketahui oleh setiap muslim, sebagaimana wajibnya
seorang muslim untuk mengenal Tuhannya, Allah swt. Pembahasan ini merupakan
pengantar dari kajian Ilmu Tauhid (Keesaan Allah swt. ) dan berdampingan dengan
pembahasan mengenai Ma’rifatul Insan (mengenal manusia). Diharapkan dengan
menguasai kajian-kajian tersebut seorang hamba dapat lebih mengenal dirinya
sebagai hamba dan bagaimana seharusnya bersikap sebagai hamba, dan juga lebih
mengenal Tuhannya, Allah swt sehingga mengetahui bagaimana ia bersikap di
hadapan Tuhannya serta beribadah sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya menurut
apa yang disukai-Nya.
Sebagai contoh dari harapan pembahasan ini adalah
mengenal (salah satu) Sifat Allah swt bahwa Dia swt adalah Maha Besar dan
sebaliknya bahwa manusia penuh dengan kelemahan. Setelah mengetahuinya
diharapkan seorang hamba akan dapat merasakan kebesaran Allah swt dan merasakan
kelemahan dirinya sehingga tidak ada lagi padanya sifat sombong, merasa hebat, merasa
besar, merasa paling benar dan sebagainya.
A. Mengetahui Wujud Allah (مَعْرِفَةُ وُجُوْدِ اللهِ)
Tanya: Bagaimana kita dapat mengetahui
wujud Allah swt?
Jawab: Bila Anda melihat mobil bergerak
di depan Anda dari jauh, atau menyaksikan pesawat terbang melintas di udara,
maka dengan yakin Anda mengatakan bahwa pasti ada sopir yang menyetir mobil dan
ada pilot yang mengendalikan pesawat meskipun Anda tidak melihat mereka berdua.
Karena jika yang mengendalikan mobil atau pesawat itu tidak ada, mustahil mobil
atau pesawat itu dapat melalui rutenya dengan selamat.
Tanya: Bagaimana kaitannya dengan wujud
Allah?
Jawab: Kita melihat matahari, bulan,
bintang dan planet bergerak teratur, malam dan siang berganti dengan
keteraturan yang amat detil. Mungkinkah mereka ada dan bergerak sendiri? Tidak
diragukan lagi bahwa semuanya telah diciptakan dan diatur oleh Allah swt. Jika
Allah tidak ada – kita memohon ampun kepada-Nya – mustahil matahari, bulan,
bintang-bintang, planet, siang, dan malam menjadi ada dan bertahan dengan
pergerakannya yang amat teratur. Dengan demikian pula tidak akan ada makhluk
yang sangat tergantung dengan mereka semua.
اَمْ خُلِقُوْا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ اَمْ هُمُ
الْخٰلِقُوْنَۗ ٣٥ اَمْ خَلَقُوا السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ بَلْ لَّا
يُوْقِنُوْنَۗ ٣٦
Apakah mereka diciptakan tanpa
sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah
mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; Sebenarnya mereka tidak meyakini
(apa yang mereka katakan). (52:35-36).
Berikut adalah dalil
tentung Wujudullah:
Pembahasan
Wujud Allah telah
dibuktikan oleh fitrah, akal, syara’ dan indera.
1. Dalil Fitrah.
Bukti fitrah tentang wujud Allah adalah bahwa iman kepada sang Pencipta
merupakan fitrah setiap makhluk, tanpa terlebih dahulu berpikir atau belajar. Tidak
akan berpaling dari tuntutan fitrah ini, kecuali orang yang di dalam hatinya
terdapat sesuatu yang dapat memalingkannya. Rasulullah bersabda:
مَا
مِنْ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ
يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ.
“Semua bayi yang dilahirkan dalam
keadaan fitrah. Ibu bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Kristen, atau Majusi.
” (HR. Al Bukhari)
Ketika seseorang melihat
makhluk ciptaan Allah yang berbeda-beda bentuk, warna, jenis dan sebagainya, akal
akan menyimpulkan adanya semuanya itu tentu ada yang mengadakannya dan tidak
mungkin ada dengan sendirinya. Dan panca indera kita mengakui adanya Allah di
mana kita melihat ada orang yang berdoa, menyeru Allah dan meminta sesuatu, lalu
Allah mengabulkannya. Adapun tentang pengakuan fitrah telah disebutkan oleh
Allah di dalam Al Qur’an:
“Dan ingatlah ketika Tuhanmu menurunkan
keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian
terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu’ Mereka
menjawab: ‘ (Betul Engkau Tuhan kami) kami mempersaksikannya (Kami lakukan yang
demikian itu) agar kalian pada hari kiamat tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami
bani Adam adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan-Mu) atau agar
kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan
Tuhan sejak dahulu sedangkan kami ini adalah anak-anak keturunan yang datang
setelah mereka. ’. ” (QS. Al A’raf: 172-173).
Ayat ini merupakan dalil
yang sangat jelas bahwa fitrah seseorang mengakui adanya Allah dan juga
menunjukkan, bahwa manusia dengan fitrahnya mengenal Rabbnya. Adapun bukti
syari’at, kita menyakini bahwa syari’at Allah yang dibawa para Rasul yang
mengandung maslahat bagi seluruh makhluk, menunjukkan bahwa syari’at itu datang
dari sisi Dzat yang Maha Bijaksana. (Lihat Syarah Aqidah Al Wasithiyyah
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin hal 41-45)
2. Dalil Al Hissyi (Dalil
Indrawi)
Bukti indera tentang wujud
Allah dapat dibagi menjadi dua:
a. Kita dapat mendengar dan menyaksikan
terkabulnya doa orang-orang yang berdoa serta pertolongan-Nya yang diberikan
kepada orang-orang yang mendapatkan musibah. Hal ini menunjukkan secara pasti
tentang wujud Allah. Allah berfirman:
“Dan (ingatlah kisah) Nuh,
sebelum itu ketika dia berdoa dan Kami memperkenankan doanya, lalu Kami
selamatkan dia beserta keluarganya dari bencana yang besar. ” (Al Anbiyaa 76)
“ (Ingatlah), ketika kamu memohon
pertolongan kepada Rabbmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu…” (Al Anfaal
9)
Anas bin Malik berkata, “Pernah ada
seorang Badui datang pada hari Jum’at. Pada waktu itu Nabi tengah berkhutbah. Lelaki
itu berkata, “Hai Rasul Allah, harta benda kami telah habis, seluruh warga
sudah kelaparan. Oleh karena
itu mohonkanlah kepada Allah untuk mengatasi kesulitan kami. ” Rasulullah lalu
mengangkat kedua tangannya dan berdoa. Tiba-tiba awan mendung bertebaran
bagaikan gunung-gunung. Rasulullah belum turun dari mimbar, hujan turun
membasahi jenggotnya. Pada hari Jum’at yang kedua, orang Badui atau orang lain
berdiri dan berkata, “Hai Rasul Allah, bangunan kami hancur dan harta benda pun
tenggelam, doakanlah akan kami ini (agar selamat) kepada Allah. ” Rasulullah
lalu mengangkat kedua tangannya, seraya berdoa: “Ya Rabbku, turunkanlah hujan
di sekeliling kami dan janganlah Engkau turunkan sebagai bencana bagi kami. ”
Akhirnya beliau tidak mengisyaratkan pada suatu tempat, kecuali menjadi terang
(tanpa hujan). ” (HR. Al Bukhari)
b. Tanda-tanda para Nabi yang disebut mu’jizat, yang dapat disaksikan atau
didengar banyak orang merupakan bukti yang jelas tentang keberadaan Yang
Mengutus para Nabi tersebut, yaitu Allah, karena hal-hal itu berada di luar
kemampuan manusia. Allah melakukannya sebagai pemerkuat dan penolong bagi para Rasul.
Ketika Allah memerintahkan Nabi Musa untuk memukul laut dengan tongkatnya, Musa
memukulkannya, lalu terbelahlah laut itu menjadi dua belas jalur yang kering, sementara
air di antara jalur-jalur itu menjadi seperti gunung-gunung yang bergulung. Allah
berfirman, yang artinya:
“Lalu Kami wahyukan kepada Musa:
“Pukullah lautan itu dengan tongkatmu. ” Maka terbelahlah lautan itu dan
tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. ” (Asy Syu’ara 63)
Contoh kedua adalah mu’jizat Nabi Isa
ketika menghidupkan orang-orang yang sudah mati; lalu mengeluarkannya dari
kubur dengan ijin Allah.
“…dan aku menghidupkan orang mati dengan seijin Allah…” (Al Imran 49)
“…dan (ingatlah) ketika kamu mengeluarkan orang mati dari kuburnya (menjadi
hidup) dengan ijin-Ku…” (Al Maidah 110)
Contoh ketiga adalah mu’jizat Nabi Muhammad ketika kaum Quraisy meminta
tanda atau mu’jizat. Beliau mengisyaratkan pada bulan, lalu terbelahlah bulan
itu menjadi dua, dan orang-orang dapat menyaksikannya. Allah berfirman tentang
hal ini, yang artinya:
“Telah dekat (datangnya) saat (Kiamat) dan telah terbelah pula bulan. Dan
jika mereka (orang-orang musyrik) melihat suatu tanda (mu’jizat), mereka
berpaling dan berkata: “ (Ini adalah) sihir yang terus-menerus. ” (Al Qomar
1-2)
Tanda-tanda yang diberikan Allah, yang dapat dirasakan oleh indera kita itu
adalah bukti pasti wujud-Nya.
3. Dalil 'Aqli (dalil akal pikiran)
Bukti akal tentang adanya Allah adalah proses terjadinya semua makhluk, bahwa
semua makhluk, yang terdahulu maupun yang akan datang, pasti ada yang
menciptakan. Tidak mungkin makhluk menciptakan dirinya sendiri, dan
tidak mungkin pula tercipta secara kebetulan. Tidak mungkin wujud itu ada
dengan sendirinya, karena segala sesuatu tidak akan dapat menciptakan dirinya
sendiri. Sebelum wujudnya tampak, berarti tidak ada.
Lihatlah sekeliling anda dari tempat duduk anda. Akan
anda dapati bahwa segala sesuatu di ruang ini adalah "buatan":
dindingnya sendiri, pelapisnya, atapnya, kursi tempat duduk anda, gelas di atas
meja dan pernak-pernik tak terhitung lainnya. Tidak ada satu pun yang berada di
ruang anda dengan kehendak mereka . Gulungan tikar sederhana pun dibuat oleh
seseorang: mereka tidak muncul dengan spontan atau secara kebetulan.
Begitu pula, orang yang memandang suatu pahatan
tidak sangsi sama sekali bahwa pahatan ini dibuat oleh seorang pemahat. Hal ini
bukan mengenai karya seni saja: batu bata yang bertumpukan pun pasti dikira
oleh siapa saja bahwa tumpukan batu bata sedemikian itu disusun oleh seseorang
dengan rencana tertentu. Karena itu, di mana saja yang terdapat suatu
keteraturan, entah besar entah kecil, pasti ada penyusun dan pelindung
keteraturan ini. Jika pada suatu hari seseorang berkata dan menyatakan bahwa
besi mentah dan batu bara bersama-sama membentuk baja secara kebetulan, yang
kemudian membentuk Menara Eiffel secara lagi-lagi kebetulan, tidakkah ia dan
orang yang mempercayainya akan dianggap gila?
Pernyataan teori evolusi, suatu metode unik
penyangkal keberadaan Allah, tidak berbeda daripada ini. Menurut teori ini, molekul-molekul
anorganik membentuk asam-asam amino secara kebetulan, asam-asam amino membentuk
protein-protein secara kebetulan, dan akhirnya protein-protein membentuk
makhluk hidup secara lagi-lagi kebetulan. Akan tetapi, kemungkinan pembentukan
makhluk hidup secara kebetulan ini lebih kecil daripada kemungkinan pembentukan
Menara Eiffel dengan cara yang serupa, karena sel manusia bahkan lebih rumit
daripada segala struktur buatan manusia di dunia ini.
Bagaimana mungkin mengira bahwa keseimbangan di
dunia ini timbul secara kebetulan bila keserasian alam yang luar biasa ini pun
bisa teramati dengan mata telanjang? Pernyataan bahwa alam semesta, yang semua
unsurnya menyiratkan keberadaan Penciptanya, muncul dengan kehendaknya sendiri
itu tidak masuk akal.
Karena itu, pada keseimbangan yang bisa dilihat di
mana-mana dari tubuh kita sampai ujung-ujung terjauh alam semesta yang luasnya
tak terbayangkan ini pasti ada pemiliknya. Jadi, siapakah Pencipta ini yang
mentakdirkan segala sesuatu secara cermat dan menciptakan semuanya?
Ia tidak mungkin Dzat material yang hadir di alam
semesta ini, karena Ia pasti sudah ada sebelum adanya alam semesta dan
menciptakan alam semesta dari sana. Pencipta Yang Maha Kuasa, Dialah yang
mengadakan segala sesuatu, sekalipun keberadaan-Nya tanpa awal atau pun akhir.
Agama mengajari kita identitas Pencipta kita yang
keberadaannya kita temukan melalui akal kita. Melalui agama yang diungkapkan
kepada kita, kita tahu bahwa Dia itu Allah, Maha Pengasih dan Maha Pemurah, Yang
menciptakan langit dan bumi dari kehampaan.
Meskipun kebanyakan orang mempunyai kemampuan untuk
memahami kenyataan ini, mereka menjalani kehidupan tanpa menyadari hal itu. Bila
mereka memandang lukisan pajangan, mereka takjub siapa pelukisnya. Lalu, mereka
memuji-muji senimannya panjang-lebar perihal keindahan karya seninya. Walau ada
kenyataan bahwa mereka menghadapi begitu banyak keaslian yang menggambarkan hal
itu di sekeliling mereka, mereka masih tidak mengakui keberadaan Allah, satu-satunya
pemilik keindahan-keindahan ini. Sesungguhnya, penelitian yang mendalam pun
tidak dibutuhkan untuk memahami keberadaan Allah. Bahkan seandainya seseorang
harus tinggal di suatu ruang sejak kelahirannya, pernak-pernik bukti di ruang
itu saja sudah cukup bagi dia untuk menyadari keberadaan Allah.
Tubuh manusia menyediakan begitu banyak bukti yang
mungkin tidak terdapat di berjilid-jilid ensiklopedi. Bahkan dengan berpikir
beberapa menit saja mengenai itu semua sudah memadai untuk memahami keberadaan
Allah. Tatanan yang ada ini dilindungi dan dipelihara oleh Dia.
Tubuh manusia bukan satu-satunya bahan pemikiran. Kehidupan
itu ada di setiap milimeter bidang di bumi ini, entah bisa diamati oleh manusia
entah tidak. Dunia ini mengandung begitu banyak makhluk hidup, dari organisme
uniseluler hingga tanaman, dari serangga hingga binatang laut, dan dari burung
hingga manusia. Jika anda menjumput segenggam tanah dan memandangnya, di sini
pun anda bisa menemukan banyak makhluk hidup dengan karakteristik yang
berlainan. Di kulit anda pun, terdapat banyak makhluk hidup yang namanya tidak
anda kenal. Di isi perut semua makhluk hidup terdapat jutaan bakteri atau
organisme uniseluler yang membantu pencernaan. Populasi hewan di
dunia ini jauh lebih banyak daripada populasi manusia. Jika kita juga
mempertimbangkan dunia flora, kita lihat bahwa tidak ada noktah tunggal di bumi
ini yang tidak mengandung kehidupan. Semua makhluk ini yang tertebar di suatu
bidang seluas lebih daripada jutaan kilometer persegi itu mempunyai sistem
tubuh yang berlainan, kehidupan yang berbeda, dan pengaruh yang berbeda
terhadap keseimbangan lingkungan. Pernyataan bahwa semua ini muncul secara
kebetulan tanpa maksud atau pun tujuan itu gila-gilaan. Tidak ada makhluk hidup
yang muncul melalui kehendak atau upaya mereka sendiri. Tidak ada peristiwa
kebetulan yang bisa menghasilkan sistem-sistem yang serumit itu.
Semua bukti ini mengarahkan kita ke suatu kesimpulan bahwa
alam semesta berjalan dengan "kesadaran" (consciousness) tertentu. Lantas,
apa sumber kesadaran ini? Tentu saja bukan makhluk-makhluk yang terdapat di
dalamnya. Tidak ada satu pun yang menjaga keserasian tatanan ini. Keberadaan
dan keagungan Allah mengungkap sendiri melalui bukti-bukti yang tak terhitung
di alam semesta. Sebenarnya, tidak ada satu orang pun di bumi ini yang tidak
akan menerima kenyataan bukti ini dalam hati sanubarinya. Sekalipun demikian, mereka
masih mengingkarinya "secara lalim dan angkuh, kendati hati sanubari
mereka meyakininya" sebagaimana yang dinyatakan dalam Al Qur’an. (Surat An-Naml:
14)
Semua makhluk tidak mungkin tercipta secara kebetulan, karena setiap yang
diciptakan pasti membutuhkan pencipta. Adanya makhluk-makhluk itu di
atas undang-undang yang indah, tersusun rapi, dan saling terkait dengan erat
antara sebab-musababnya dan antara alam semesta satu sama lainnya. Semua itu
sama sekali menolak keberadaan seluruh makhluk secara kebetulan, karena sesuatu
yang ada secara kebetulan, pada awalnya pasti tidak teratur.
Kalau makhluk tidak dapat menciptakan
diri sendiri, dan tidak tercipta secara kebetulan, maka jelaslah, makhluk-makhluk
itu ada yang menciptakan, yaitu Allah Rabb semesta alam.
Allah menyebutkan dalil aqli (akal) dan
dalil qath’i dalam surat Ath Thuur:
“Apakah mereka diciptakan tanpa
sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?” (Ath
Thuur 35)
Dari ayat di atas tampak bahwa makhluk
tidak diciptakan tanpa pencipta, dan makhluk tidak menciptakan dirinya sendiri.
Jadi jelaslah, yang menciptakan makhluk adalah Allah.
Ketika Jubair bin Muth’im mendengar dari Rasulullah
yang tengah membaca surat Ath Thuur dan sampai kepada ayat-ayat ini:
“Apakah mereka diciptakan tanpa
sesuatu pun, ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah
mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini
(apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu
atau merekakah yang berkuasa?” (Ath Thuur 35-37)
“Ia, yang tatkala itu masih musyrik
berkata, “Hatiku hampir saja terbang. Itulah permulaan menetapnya keimanan
dalam hatiku. ” (HR. Al Bukhari)
Dalam hal ini kami ingin memberikan satu
contoh. Kalau ada seseorang berkata kepada Anda tentang istana yang dibangun, yang
dikelilingi kebun-kebun, dialiri sungai-sungai, dialasi oleh hamparan karpet, dan
dihiasi dengan berbagai perhiasan pokok dan penyempurna, lalu orang itu
mengatakan kepada Anda bahwa istana dengan segala kesempurnaannya ini tercipta
dengan sendirinya, atau tercipta secara kebetulan tanpa pencipta, pasti Anda
tidak akan mempercayainya, dan menganggap perkataan itu adalah perkataan dusta
dan dungu. Kini kami bertanya pada Anda, masih mungkinkah alam semesta yang
luas ini beserta apa-apa yang berada di dalamnya tercipta dengan sendirinya
atau tercipta secara kebetulan?!
4. Dalil Naqli (Dalil Syara')
Bukti syara’ tentang wujud Allah bahwa
seluruh kitab langit berbicara tentang itu. Seluruh hukum yang mengandung
kemaslahatan manusia yang dibawa kitab-kitab tersebut merupakan dalil bahwa
kitab-kitab itu datang dari Rabb yang Maha Bijaksana dan Mengetahui segala
kemaslahatan makhluknya. Berita-berita alam semesta yang dapat disaksikan oleh
realitas akan kebenarannya yang didatangkan kitab-kitab itu juga merupakan
dalil atau bukti bahwa kitab-kitab itu datang dari Rabb yang Maha Kuasa untuk
mewujudkan apa yang diberitakan itu.
Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an? Kalau kiranya Al
Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang
banyak di dalamnya. (QS. 4:82)
Demikian juga adanya para Rasul dan agama
yang bersesuaian dengan kemaslahatan umat manusia menunjukkan adanya Allah, karena
tidak mungkin ada agama dan Rasul kecuali ada yang mengutusnya. Akan tetapi
agama-agama yang ada selain Islam telah mengalami penyimpangan dan perubahan
sehingga mereka menyimpang dari jalan yang lurus.
Setelah kita mengenal dan mengimani
keberadaan Allah sebagaimana telah dijelaskan diatas, maka perlu kita kenali
Allah sebagai Rabb yang telah menciptakan, memiliki dan mengatur semua
makhluknya, Dialah satu-satunya pencipta yang mengadakan sesuatu dari ketiadaan,
Allah berfirman:
Allah pencipta langit dan bumi, dan
bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya
mengatakan kepadanya:"Jadilah". Lalu jadilah ia. (QS. 2:117)
Dialah satu-satunya pemilik sebagaimana
Dia adalah satu-satunya pencipta, demikian juga Dia pengatur satu-satunya yang
mengatur segala sesuatu. Semua ini diakui oleh kaum musyrikin Makkah, sebagaimana
diberitakan dalam Al Qur’an:
Katakanlah:"Siapakah yang memberi
rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan)
pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari
yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang
mengatur segala urusan" Maka mereka menjawab:"Allah". Maka
katakanlah:"Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?" (QS. 10:31)
Katakanlah:"Kepunyaan siapakah
bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui" Mereka akan
menjawab:"Kepunyaan Allah". Katakanlah:"Maka apakah kamu tidak
ingat?" Katakanlah:"Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang
Empunya 'Arsy yang besar?" Mereka akan menjawab:"kepunyaan
Allah". Katakanlah:"Maka apakah kamu tidak bertaqwa?"
Katakanlah:"Sipakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala
sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya,
jika kamu mengetahui?" Mereka
akan menjawab:"Kepunyaan Allah". Katakanlah:" (Kalau demikian), maka
dari jalan manakah kamu ditipu?" (QS. 23:84-89)
Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka:"Siapakah yang
menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab:"Allah", maka
bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah), (QS. 43:87)
Ini semua menunjukkan imannya kaum musyrikin terhadap Rububiyah Allah, akan
tetapi hal ini tidak cukup untuk menyelamatkan mereka. Memang demikianlah, sebab
mereka belum merealisasikan iman mereka terhadap Allah sebagai satu-satunya
sesembahan.
5. Dalil Sejarah
Adalah
dalil-dalil kekuasaan dan keagungan Allah yang diambil dari peristiwa-peristiwa
yang telah berlaku di atas muka bumi.
Dalil
· Q.
3:137, Sesungguhnya telah lalu beberapa peraturan (Allah) sebelum kamu, maka
berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibatnya orang-orang
yang mendustakan agama.
·
Q. 7:176, Demikianlah umpamanya
kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sebab itu kisahkanlah kisah itu, mudah-mudahan
mereka berpikir.
· Q.
12:111, Sesungguhnya dalam kisah-kisah mereka itu ada ibrah (pengajaran)
bagi orang-orang yang berakal.
·
Q. 11:120, Setiap riwayat kami
kisahkan kepadamu di antara perkhabaran para Rasul supaya Kami tenteramkan
hatimu dengannya.
6. Mengagungkan
Allah dan Men Tauhidkan Allah
Dari semua dalil-dalil yang dapat
dilihat di atas itu adalah berfungsi menguatkan pandangan kita betapa keagungan
Allah swt begitu luar biasa dan menundukkan kita sendiri di hadapan keagungan
ini. Langsung mencetuskan Tauhidullah yang luar biasa.
Dalil:
·
Q. 21:92, Sesungguhnya ini, ummat kamu (hai mukminin) ummat yang satu
dan Aku Tuhanmu, sebab itu sembahlah Aku.
B. Mengenal
sifat-sifat Allah swt (مَعْرِفَةُ صِفَاتِ اللهِ)
Tanya: Bagaimana kita mengenal sifat
Allah?
Jawab: Kita dapat mengenal sifat Allah
swt melalui:
· التَّفْكِيْرُ فِي مَخْلُوقَاتِ اللهِ
·
التَّعَلُّمُ مِنْ رُسُلِهِ
- Tafakkur (memikirkan) ciptaan Allah.
- Belajar dari ajaran yang dibawa para rasul as.
اِنَّ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ لَاٰيٰتٍ
لِّلْمُؤْمِنِيْنَۗ ٣ وَفِيْ خَلْقِكُمْ وَمَا يَبُثُّ مِنْ دَاۤبَّةٍ اٰيٰتٌ
لِّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَۙ ٤
Sesungguhnya pada langit dan bumi
benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk orang-orang yang
beriman. Dan pada penciptakan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang
bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum
yang meyakini. (45:3-4).
Tanya: Apa maksudnya kita dapat
mengenal sifat Allah melalui tafakkur terhadap ciptaan-Nya?
Jawab: Bila Anda memperhatikan sebuah
mobil, Anda dapat memastikan bahwa:
- Logam yang ada pada mobil itu menunjukkan kepada Anda
bahwa pembuat mobil tersebut memiliki logam dan kemampuan membentuk logam
menjadi bentuk yang sesuai untuk mobil.
- Kaca yang Anda lihat menunjukkan bahwa pembuat mobil
itu memiliki kaca serta kemampuan untuk membentuk kaca sesuai kebutuhan
mobil (jendela, kaca depan, dll..).
- Begitu pula dengan kabel tembaga ...
- Yang tidak kalah penting
bahwa mobil tersebut menunjukkan bahwa pembuatnya mempunyai kehendak, dan
ilmu untuk membuat mobil.
Tanya: Apa hubungan antara contoh tadi
dengan mengenal sifat Allah swt?
Jawab: Beberapa sifat pembuat mobil
dapat kita ketahui melalui produk mobilnya, begitu pula dengan Allah swt
(bagi-Nya permisalan yang maha agung, Dia tidak seperti makhluk-Nya) kita dapat
mengetahui sebagian sifat-sifat Allah swt melalui tafakkur terhadap ciptaan-Nya.
- Bahwa hikmah (maksud & manfaat) dari setiap
makhluk yang diciptakan menunjukkan bahwa Penciptanya memilki sifat
Al-Hakim (Maha Bijaksana).
- Bahwa khibrah (ketelitian dan
kedalaman) dari penciptaan semua makhluk menunjukkan bahwa Penciptanya
memiliki sifat Al-Khabir (Maha dalam dan detil pengetahuan-Nya)...
Tanya: Mungkinkah kita mengetahui
seluruh sifat-sifat Allah swt melalui tafakkur terhadap ciptaan-Nya?
Jawab: Tidak mungkin.
Tanya: Mengapa?
Jawab: Bila kita berpikir tentang
sebuah mobil, kita mengetahui bahwa pembuatnya memiliki kemampuan, ilmu,
ketelitian dan kehendak, dan bahwa ia memiliki materi untuk membuat mobil
berupa logam, kaca, dll.. Tapi kita tahu apakah ia dermawan atau bakhil? Tinggi
atau pendek? Menyukai kita atau membenci kita, adil atau zhalim?
Demikian juga kita tidak mungkin
mengenal semua sifat Allah swt hanya dengan tafakkur, misalnya mengapa Allah
menciptakan kita? Dan Mengapa Dia mematikan kita? Kita juga tidak mungkin tahu
bahwa Allah adalah
المَعْبُودُ Al-ma’bud (yang
wajib diibadahi),
القُدُّوسُ Al-quddus (Maha
Suci),
الأَعْلَى (Maha Tinggi),
الحَسِيْبُ (Maha
Menghitung),
الغَفُورُ (Maha Pengampun).
Tanya: Lalu bagaimana
kita mengenal sifat Allah swt yang belum kita ketahui?
Jawab: Melalui para
rasul ‘alaihimus salam yang telah mengajarkan kepada kita apa yang dikehendaki
Allah untuk kita ketahui.
وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ
عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ
dan mereka tidak mengetahui
apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. (2:255).
C. Kesimpulan (الخُلاَصَةُ)
- Mobil dan pesawat terbang yang bergerak terarah
sesuai rutenya menunjukkan adanya supir atau pilot
- Matahari, bulan, bintang, planet, malam dan siang
yang bergerak teratur pasti menunjukkan adanya Zat yang Maha Mengatur,
Allah swt.
- Seandainya Allah swt tidak ada, maka alam semesta ini
pasti tidak ada.
- Bahwa mobil yang terdiri dari bahan pembentuknya
menunjukkan bahwa pembuatnya memiliki semua bahan-bahan itu, bahwa ia
memilki kehendak, ilmu dan kemampuan untuk membuat mobil dengan baik.
- Alam semesta yang sempurna menunjukkan bahwa Allah
memiliki semua sifat-sifat kesempurnaan, manfaat dan hikmah yang dimiliki
setiap makhluk menunjukkan bahwa Dia adalah AL-Hakim (Maha Bijaksana),
kekuatan yang dimiliki oleh makhluk sebagai bukti bahwa Dia Maha Kuat,
....
- Allah swt mengutus kepada
kita rasul-Nya untuk mengajarkan hal-hal yang tidak dapat kita ketahui
hanya melalui tafakkur, seperti perintah & larangan-Nya, apa saja yang
Dia ridhai atau murkai, ....
Tauhid Asma Wa Shifat
Makna Tauhidul Asma Wa-Shifat (mengesakan Allah dalam hal nama-nama dan
sifat-sifat-Nya) adalah meyakini secara mantap bahwa Allah swt menyandang
seluruh sifat kesempurnaan dan suci dari segala sifat kekurangan dan bahwa Dia
berbeda dengan seluruh makhluk-Nya.
Caranya adalah menetapkan (mengakui) nama-nama dan sifat-sifat Allah yang
Dia sandangkan untuk Dirinya atau disandangkan oleh Rasulullah saw dengan tidak
melakukan tahrif (pengubahan) lafadz atau maknanya, tidak ta’thil (pengabaian)
yakni menyangkal seluruh atau sebagian nama dari sifat itu, tidak takyif (pengadaptasian)
dengan menentukan esensi dan kondisinya dan tidak tasybih (penyerupaan) dengan
sifat-sifat makhluk.
Dari definisi di atas, jelaslah bahwa Tauhidul Asma Was Shifat berdiri di
atas tiga asas. Barang siapa menyimpang darinya, maka ia tidak termasuk orang
yang mengesakan Allah dalam hal nama dan sifat-Nya. Ketiga asas itu adalah:
1.
menyakini bahwa Allah Maha Suci
dari kemiripan dengan makhluk dan dari segala kekurangan.
2.
mengimani seluruh nama dan
sifat Allah yang disebutkan dalam Al Qur’an dan As Sunnah tanpa mengurangi atau
menambah-nambahi dan tanpa mengubah atau mengabaikannya.
3.
menutup keinginan untuk
mengetahui kaifiyyah (kondisi) sifat-sifat itu.
Adapun asas
yang pertama, yakni meyakini bahwa Allah Maha Suci dari kemiripan dengan
makhluk dalam segala sifat-sifat-Nya, ini didasarkan pada firman Allah swt:
“Dan tidak ada seorangpun yang
setara dengan-Nya. ” (QS, 112:4)
“Maka janganlah kalian membuat
perumpamaan-perumpamaan bagi Allah. ” (QS, 16:74)
Al-Qurtubi, saat menafsirkan
firman Allah ”Tidak ada yang sama dengan-Nya sesuatu apapun, ” mengatakan, ”Yang
harus diyakini dalam bab ini adalah bahwa Allah swt, dalam hal keagungan, kebesaran,
kekuasaan, dan keindahan nama serta ketinggian sifat-Nya, tidak satupun dari
makhluk-Nya yang menyerupai-Nya dan tidak pula dapat diserupakan dengan
makhluk-Nya. Dan sifat yang oleh syariat disandangkan kepada Pencipta dan
kepada makhluk, pada hakikatnya esensinya berbeda meskipun lafaznya sama. Sebab,
sifat Allah Yang tidak berpemulaan (qadim) pasti berbeda dengan sifat
makhluk-Nya.
Al Wasithi mengatakan, ”Tidak ada Dzat
yang sama dengan Dzat-Nya; tidak ada nama yang sama dengan nama-Nya; tidak ada
perbuatan yang sama dengan perbuatan-Nya, tidak ada sifat yang sama dengan
sifat-Nya kecuali dari sisi lafaznya saja. Maha Suci Dzat Yang Qadim dari
sifat-sifat makhluk. Sebagaimana adalah mustahil makhluk memiliki sifat-sifat
Pencipta. Dan, inilah mazhab para pemegang kebenaran, yakni Alus Sunah Wal
Jama’ah.
Sayyid Qutb mengatakan, saat
menafsirkan ayat tersebut di atas, ”Fitrah pasti akan mengimani hal ini. Bahwa
Pencipta segala sesuatu tidak akan dapat disamakan dalam hal sekecil apa pun
oleh makhluk-Nya.
Dan masuk dalam asas pertama ini, menyucikan Allah swt dari segala
yang bertentangan dengan sifat yang Dia sandangkan untuk Dirinya atau dengan
sifat yang disandangkan oleh Rasulullah saw. Jadi mengesakan Allah dalam hal
sifat-sifat-Nya menuntut seseorang Muslim untuk meyakini bahwa Allah tidak
mempunyai istri, teman, tandingan, pembantu, dan syafi’ (pemberi syafa’at), kecuali
atas izin-Nya. Dan juga menuntut seorang Muslim untuk menyucikan Allah dari
sifat tidur, lelah, lemah, mati, bodoh, zalim, lalai, lupa, kantuk, dan
sifat-sifat kekurangan lainnya.
Adapun asas kedua, mewajibkan kita untuk membatasi
diri pada nama-nama dan sifat-sifat yang telah ditetapkan dalam Al Qur’an dan
As Sunnah. Nama-nama dan sifat-sifat itu harus ditetapkan berdasarkan wahyu
bukan logika. Jadi, tidak boleh menyandangkan sifat atau nama kepada Allah
kecuali sejauh yang ditetapkan oleh Allah untuk Dirinya atau ditetapkan oleh Rasulullah
saw. Sebab Allah swt Maha Tahu tentang Dirinya, sifat-sifat-Nya dan
nama-nama-Nya. Ia berfirman:
“Katakanlah, kalian yang lebih
tahu atau Allah?” (QS, 2:140)
Nah bila Allah yang lebih mengetahui
tentang Dirinya, dan para Rasul-Nya adalah orang-orang jujur dan selalu
membenarkan segala informasi dari-Nya, pasti mereka tidak akan menyampaikan
selain dari apa yang diwayukan oleh-Nya kepada mereka. Karenanya, dalam urusan
mengukuhkan atau menafikan nama-nama dan sifat-sifat Allah wajib merujuk kepada
informasi dari Allah dan Rasul-Nya. Imam Ahmad bin Hambal mengatakan, ”Tidak
boleh menyandangkan sifat kepada Allah selain dari apa yang disandangkan oleh
Dirinya sendiri atau oleh Rasul-Nya; tidak boleh melangkahi Al Qur’an dan Al Hadist.”
Nu’aim bin Hammad, guru Imam
Al-Bukhari, mengatakan, ”Barang siapa menyamakan Allah dengan makhluk, maka
ia kafir. Barang siapa menolak sifat Allah yang disandangkan-Nya untuk Dirinya
atau disandangkan oleh Rasul-Nya maka ia kafir. Dan dalam sifat-sifat Allah
yang disandangkan oleh-Nya atau oleh Rasul saw tidak ada kesamaan atau
kemiripan dengan sifat-sifat makhluk-Nya.”
Adapun asas yang ketiga menuntut manusia yang mukallaf
untuk mengimani sifat-sifat dan nama-nama yang ditegaskan oleh Al Qur’an dan As
Sunnah tanpa bertanya tentang kaifiyyah (kondisi)-Nya, dan tidak pula tentang
esensinya. Sebab, mengetahui kaifiyyah sifat hanya akan dicapai menakala
mengetahui kaifiyyah Dzat. Karena sifat-sifat itu berbeda-beda, tergantung pada
penyandang sifat-sifat tersebut. Dan Dzat Allah tidak berhak dipertanyakan
esensi dan kaifiyyah-Nya. Maka, demikian pula sifat-sifat-Nya, tidak boleh
dipertanyakan kaifiyyah-Nya.
Karenanya, ketika para ulama salaf
ditanya tentang kaifiyyah istiwa (cara Allah bersemayam) mereka menjawab, ”Istiwa
itu sudah dipahami, sedang cara-caranya tidak diketahui; mengimaninya (istiwa)
adalah wajib dan bertanya tentangnya adalah bid’ah.” Jadi, kaum salaf
sepakat bahwa kaifiyyah istiwa itu tidak diketahui oleh manusia dan bertanya
tentang hal itu adalah bid’ah.
Jika ada seseorang bertanya kepada
kita, ”Bagaimana cara Allah turun ke langit dunia?” Maka kita tanyakan
kepadanya, “Bagaimana Dia?” Jika ia mengatakan, ”Saya tidak tahu kaifiyyah Dia.
” Maka kita jawab, “Makanya kita tidak tahu kaifiyyah Dia. Sebab untuk
mengetahui kaifiyyah sifat harus mengetahui terlebih dahulu kaifiyyah Dzat yang
disifati itu. Karena, sifat itu adalah cabang dan mengikuti yang disifati. Jadi,
bagaimana Anda menuntut kami untuk menjelaskan cara Allah mendengar, melihat, berbicara,
istiwa, padahal Anda tidak tahu bagaimana kaifiyyah Dzat-Nya. Maka, jika anda
mengakui bahwa Allah adalah wujud yang hakiki yang pasti memiliki segala sifat
kesempurnaan dan tidak ada yang menandinginya, maka mendengar, melihat, berbicara,
dan turunnya Allah tidak dapat digambarkan dan tidak bisa disamakan dengan
makhluk-Nya.
Dari penjelasan di atas, kita
dapat mengetahui bahwa Tauhid Al Asma Wash-Shifat ini dapat rusak dengan
beberapa hal berikut:
1. Tasybih.
Yakni menyerupakan sifat-sifat
Allah dengan sifat-sifat makhluk. Seperti yang dilakukan orang-orang Nasrani
yang menyerupakan Al Masih bin Maryam dengan Allah swt; orang Yahudi
menyerupakan ‘Uzair dengan Allah; orang-orang musyrik menyerupakan
patung-patung mereka dengan Allah; beberapa kelompok yang menyerupakan wajah
Allah dengan wajah makhluk, tangan Allah dengan tangan makhluk, pendengaran
Allah dengan pendengaran makhluk, dan lain sebagainya.
2. Tahrif.
Artinya mengubah atau mengganti. Yakni
mengubah lafadz-lafadz nama Allah dengan menambah atau mengurangi atau mengubah
harakah i’rabiyyah, atau mengubah artinya, yang oleh para ahli bid’ah diklaim
sebagai takwil, yaitu memahami satu lafadz dengan makna yang rusak dan tidak
sejalan dengan makna yang digunakan dalam bahasa Arab. Seperti pengubahan kata dalam
firman Allah wa kallamallahu musa taklima menjadi wa kallamallaha. Dengan demikian, mereka bermaksud
menafikan sifat kalam (berbicara) dari Allah swt.
3. Ta’thil (pengabaian, membuat
tidak berfungsi).
Yakni menampik sifat Allah dan
menyangkal keberadaannya pada Dzat Allah swt, semisal menampik kesempurnaan-Nya
dengan cara membantah nama-nama dan sifat-sifat-Nya; tidak melakukan ibadah
kepada-Nya, atau menampik sesuatu sebagai ciptaan Allah swt, seperti orang yang
mengatakan bahwa makhluk-makhluk ini qadim (tidak berpermulaan dan menyangkal
bahwa Allah telah mencipatkan dan membuatnya).
4. Takyif (mengkondisikan)
menentukan kondisi dan menetapkan esensinya.
Manhaj dalam memahami nama dan
sifat Allah yang disebutkan dalam Al Qur’an dan As Sunnah tanpa melakukan
tasybih, tahrif, ta’thil dan takyif ini merupakan mazhab salaf, yakni kalangan
sahabat, semoga Allah meridhai mereka semua, tabi’in, dan tabi’ut-tabi’in. Asy-Syaikani
mengatakan:
“Sesungguhnya, mazhab salaf, yakni
kelangan sahabat, tabi’in, dan tabi’ut-tabi’in adalah memberlakukan dalil-dalil
tentang sifat-sifat Allah sesuai dengan zahirnya tanpa melakukan tahrif, takwil
yang dipaksakan, dan tidak pula ta’thil yang mengakibatkan terjadinya banyak ta’wil.
Dan jika mereka ditanya tentang sifat-sifat Allah meraka membacakan dalil lalu
menahan diri dari mengatakan pendapat itu dan ini, seraya mengatakan, Allah
mengatakan demikian dan kami tidak mengetahui lebih dari itu.”
Kami tidak akan memaksakan diri
untuk berbicara apa yang tidak kami ketahui dan apa yang tidak Allah izinkan
untuk kami lampaui. Jika si penanya itu menginginkan penjelasan melebihi dari
yang zahir, maka mereka segera melarangnya agar tidak menenggelamkan dalam hal
yang tidak berguna dan mencegah dari mencari apa yang tidak mungkin mereka
capai selain terjerumus dalam bid’ah dan dalam hal yang tidak diajarkan Rasulullah
saw, tidak pula oleh sahabat dan tabi’in. Dan
pada masa itu, pendapat tentang Asma Wa Shifat adalah satu. Dan cara
memahaminya juga sama.
Kesibukan mereka saat itu adalah melaksanakan apa
yang Allah perintahkan dan tugaskan kepada mereka untuk dilaksanakan. Yakni
beriman kepada Allah, mendirikan sholat, mengeluarkan zakat dan pusa, haji, jihad,
infaq, mencari ilmu yang bermanfaat, membimbing manusia kepada kebaikan, memerintah
yang makruf dan mencegah yang munkar, dan sebagainya. Dan, mereka tidak
menyibukkan diri dengan hal-hal yang tidak dibebankan kepada mereka atau dengan
hal-hal yang kalupun dilaksanakan tidaklah merupakan ibadah, seperti mencari
hakikat nama-nama dan sifat-sifat itu. Karenanya, pada masa itu agama Islam
bersih dari debu-debu bid’ah.

No comments:
Post a Comment