Pengantar
Surah ini didominasi oleh perasaan,
sebelum seseorang melihat makna-makna dan hakikat-hakikat yang dikandungnya,
tentang sesuatu yang lain dengan begitu jelas di dalamnya. Sesungguhnya surah
ini adalah sepotong musik yang ritmis dan puitis. Tampak jelas kesamaan bunyi
yang penuh irama, disertai dengan warna nada yang haru penuh kesan,
irama-iramanya menyentuh perasaan, dan aneka keindahan nada-nadanya, yang
serasi sekali dengan lukisan-lukisan, bayang-bayang, dan pemandangan-pemandangan,
dan semangat pengarahan yang ada di dalam surah ini. Khususnya pada bagian
terakhir setelah selesai menceritakan kisah perkataan bangsa jin, dan
pengarahan firman Allah kepada Rasulullah saw dengan firman yang menggugah
kesadaran terhadap kepribadian Rasul di dalam jiwa orang yang mendengarkan
surah ini, suatu perasaan yang diiringi dengan kecintaan. Yakni, saat beliau
diperintahkan untuk menyatakan terlepasnya dari segala sesuatu dalam urusan
dakwah selain hanya menyampaikan dan mengingat pengawasan-llahi di sekitarnya
ketika beliau menunaikan tugas ini,
"Katakanlah, 'Sesungguhnya aku
hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya.'
Katakanlah, 'Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatan pun
kepadamu dan tidak (pula) sesuatu kemanfaatan.' Katakanlah, ‘Sesunguhnya aku
sekali-kali tiada seorangpun yang (dapat melindungku dari (azab) Allah dan
sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain dari-Nya. Akan
tetapi, (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalah-Nya.’
Barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sesunguhnya baginyalah
neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sehingga, apabila mereka
melihat azab yang diancamkan kepada mereka, maka mereka akan mengetahui siapakah yang lebih
lemah penolongnya dan lebih sedikit bilangannya. Katakanlah, 'Aku tidak
mengetahui, apakah azab yang diancamkan kepadamu itu dekat ataukah Tuhanku
menjadikan bagi (kedatangan) azab itu, masa yang panjang?' (Dia adalah Tuhan)
Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun
tentangyang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesunguhnya
Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. Supaya
Dia mengetahui bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan
risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada
mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu. " (al-Jin: 20-28)
Hal itu di samping kesan-kesan
kejiwaan terhadap hakikat-hakikat yang terdapat di dalam kisah perkataan bangsa
jin dan penjelasan mereka yang panjang lebar. Ini adalah hakikat-hakikat yang
memiliki bobot dan timbangan yang berat di dalam perasaan dan pandangan.
Sambutan positif terhadapnya melebihi apa yang dirasakan ketika yang
bersangkutan merenungkan dan memikirkannya. Sehingga, sesuai dengan sentuhan
kesedihan dan nyanyian sendu yang sejalan dengan irama musikal surah ini.
Membaca surah ini dengan
perlahan-lahan dan tenang, akan menimbulkan sentuhan dalam perasaan sebagaimana
kami jelaskan di atas.
Apabila kita lewati
fenomena-fenomena yang mendominasi perasaan ini dan beralih kepada tema surah
dan makna-maknanya serta arahannya, maka akan kita dapati surah ini penuh
dengan bermacam-macam petunjuk dan pengarahan.
Surah ini dimulai dengan kesaksian
dari alam lain tentang banyaknya persoalan akidah yang diingkari dan ditentang
kaum musyrikin dengan sekeras-kerasnya. Mereka lemparkan urusannya tanpa
sandaran argumentasi yang akurat. Kadang-kadang mereka melontarkan tuduhan
bahwa Nabi Muham mad saw. menerima dari bangsa jin apa yang beliau katakan
kepada mereka. Maka, datanglah kesaksian dari bangsa jin sendiri tentang
persoalan-persoalan yang mereka ingkari dan tentang itu, serta sanggahan
terhadap tuduhan mereka bahwa Nabi Muhammad menerima wahyu dari jin. Pasalnya,
bangsa jin sendiri tidak mengetahui Al-Qur'an ini kecuali setelah mereka
mendengarnya dari Nabi Muhammad saw.
Al-Qur'an memberikan sentuhan yang
sangat besar dan menakutkan sehingga mereka merasa terkejut dan kebingungan.
Sentuhan itu memenuhi jiwa mereka dan bahkan meluap-luap sehingga mereka tidak
dapat berdiam diri terhadap apa yang mereka dengar itu, serta mereka tidak
dapat meringkas apa yang mereka ketahui dan rasakan. Kemudian mereka pergi
kepada kaumnya untuk menceritakan peristiwa besar ini dengan penuh rasa takut
dan kebingungan. Peristiwa besar yang menyibukkan langit, bumi, manusia, jin,
malaikat, dan bintang-gemintang, itu meninggalkan bekas-bekas dan kesan-kesan
pada seluruh alam semesta. Yaitu, kesaksian dengan nilainya tersendiri di dalam
jiwa manusia.
Selanjutnya diluruskanlah
kesalahpahaman yang banyak jumlahnya terhadap dunia jin di dalam jiwa orang-orang
yang dibicarakan oleh firman ini sejak permulaan surah, dan di dalam jiwa semua
manusia sebelum dan sesudahnya. Juga diletakkannya hakikat makhluk gaib ini
pada proporsi yang sebenarnya tanpa melebihkan dan mengurangi.
Pasalnya, bangsa Arab yang
dibicarakan oleh firman ini pertama kali, memiliki kepercayaan bahwa bangsa jin
itu memiliki kekuasaan terhadap bumi. Karena itu, apabila salah seorang dari
mereka melewati suatu lembah atau padang, maka dia merninta perlindungan kepada
pembesar jin yang dianggapnya berkuasa terhadap wilayah yang ia lewati itu.
Lalu, ia berkata, "Aku berlindung kepada pemuka lembah ini dari kaumnya
yang bodoh-bodoh." Kemudian ia bermalam dengan aman.
Mereka juga memiliki kepercayaan
bahwa jin itu mengetahui perkara gaib, dan memberitahukannya kepada
tukang-tukang tenung. Maka, mereka meminta informasi tentang perkara gaib ini
kepada para tukang tenung sebagaimana kepada jin-jin itu. Karena itu, di antara
mereka (bangsa Arab) ada yang menyembah jin, dan menetapkan bahwa antara Allah
dan jin terdapat hubungan nasab. Mereka beranggapan bahwa AIIah SWT mempunyai
istri dari bangsa jin dan melahirkan anak yang berupa malaikat.
Kepercayaan kepada jin seperti ini
atau yang mirip dengan ini sudah merata di semua kalangan jahiliah. Kepercayaan
dan mitos-mitos seperti ini masih terus berkembang dan mendominasi banyak
lingkungan hingga sekarang.
Ketika kepercayaan-kepercayaan yang
keliru dan mitos-mitos ini semarak di dalam hati, perasaan, dan pandangan
manusia terhadap jin pada zaman dahulu, dan akan terus berlangsung, maka di
kalangan barisan orang zaman mutakhir ini ada yang mengingkari keberadaan jin
sama sekali. Mereka menganggap cerita tentang makhluk gaib ini sebagai cerita
khurafat (bohong).
Nah, antara terperosok dalam
kekeliruan (kepercayaan yang berlebihan) dan dalam mengingkari (keberadaan jin),
maka Islam menetapkan hakikat jin yang sebenarnya, dan meluruskan pandangan
masyarakat umum terhadapnya, serta membebaskan hati dari perasaan takut
terhadapnya dan tunduk kepada kekuasaannya yang tidak tepat.
Karena itu, jin pada hakikat ada
eksistensinya. Mereka adalah sebagaimana yang mereka identifikasi sendiri di
sini,
"Sesunguhnya di antara kami
ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian
halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. '' (al-Jin: 11)
Di antara mereka ada yang sesat dan
menyesatkan, dan di antaranya ada yang masih bersahaja dan lugu,
“Orangyang kurang akal daripada
kami dahulu selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah.
Sesungguhnya kami mengira bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan
mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah " (al-Jin: 4-5)
Mereka mau menerima petunjuk dari
kesesatan dan siap untuk memahami Al-Qur'an dengan mendengarkan, memikirkan,
dan menghayatinya,
"Katakanlah (hai Muhammad), ‘Telah
diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (Al- Qur’an)’, lalu
mereka berkata, 'Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur’an yang
menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman
kepadanya. Kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Tuhan
kami. (al-Jin: 1-2)
Bangsa jin juga menerima bahwa
diciptakannya mereka untuk menerima balasan sebagai akibat dari keimanan dan
kekafiran mereka,
"Sesungguhnya, kami tatkala
mendengar petunjuk (Al-Qur’an), kami beriman kepadanya. Barangsiapa beriman
kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut
pula) akan penambahan dosa dan kesalahan. Sesunguhnya di antara kami ada
orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari
kebenaran. Barangsiapa yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih
jalan yang lurus. Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka
menjadi kayu api neraka Jahannam. " (al-Jin: 13-15)
Mereka tidak dapat memberi manfaat
kepada manusia ketika manusia meminta perlindungan kepada mereka. Bahkan
sebaliknya, mereka malah menambah dosa dan kesalahan bagi manusia itu,
"Ada bebaapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada
beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa
dan kesalahan. " (al-Jin: 6)
Mereka tidak mengetahui perkara
gaib dan tidak termasuk makhluk yang mempunyai hubungan dengan langit,
“Sesungguhnya, kami telah mencoba
mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang
kuat dan panah-panah api. Sesungguhnya, kami dahulu dapat menduduki beberapa
tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi,
sekarang barang siapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu), tentu
akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya). Sesungguhnya, kami
tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukanyang dikehendaki
bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.
"(al-Jin: 8-10)
Mereka juga tidak mempunyai
hubungan persemendaan (perbesanan) dan keturunan dengan Allah Yang
Mahasuci,
"Mahatinggi kebesaran Tuhan
kami, Dia tidak beristri dan tidak (pula) beranak. " (al-Jin: 3)
Jin itu tidak mempunyai kekuatan
dan daya upaya terhadap kekuatan Allah,
'Sesunguhnya kami mengetahui bahwa
kami sekali-kali tidak akan dapat melepaskan diri (dari kakuasaan) Allah di
muka bumi dan sekali-kali tidak (pula) dapat melepaskan diri (dari)-Nya dengan
lari. " (al-Jin: 12)
Apa yang disebutkan di dalam surah
ini tentang jin ditambah dengan apa yang disebutkan sifat-sifatnya yang lain di
dalam Al-Qur'an seperti ditundukkannya segolongan setan, dari golongan jin,
bagi Nabi Sulaiman dan bahwa mereka tidak mengetahui kematian Sulaiman kecuali
setelah beberapa lama kemudian, maka hal itu menunjukkan bahwa mereka tidak mengetahui
perkara gaib,
"Maka, tatkala Kami telah
menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka
kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Tatkala ia telah
tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang gaib
tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan. " (Saba': 14)
Juga seperti firman Allah tentang
salah satu kekhususan dari kekhususan-kekhususan iblis dan kelompoknya yang
notabene dari golongan jin, selain kekhususannya terhadap kejelekan, kerusakan,
dan penipudayaan,
"Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya
melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. "
(al-A'raaf: 27)
Ayat ini menunjukkan bahwa
keberadaan jin itu tidak dapat dilihat oleh manusia, sedang keberadaan manusia
dapat dillhat oleh jin.
Apa yang disebutkan ini dan apa
yang ditetapkan di dalam surah ar-Rahman tentang materi yang menjadi alat
diciptakannya jin dan materi yang dijadikan alat diciptakannya manusia di dalam
firman Allah dalam surah ar-Rahman ayat 14-15, "Dia menciptakan manusia
dari tanah kering seperti tembikar, dan Dia menciptakan jin dari nyala api",
memberikan gambaran tentang makhluk gaib (jin) itu, yang menetapkan keberadaan
dan membatasi keistimewaan-keistimewaannya. Pada waktu yang sama, ia menyingkap
kesalahan-kesalahan dan mitos-mitos yang terdapat dalam benak manusia mengenai
makhluk yang bernama jin itu, dan memberikan gambaran bagi kaum muslimin
tentang jin ini dengan gambaran yang jelas, cermat, serta bebas dari
khayalan-khayalan bohong, khurafat, dan sikap keras kepala mengingkari
keberadaannya.
Surah ini berusaha keras meluruskan
pandangan kaum musyrikin Arab dan lain-lainnya yang menganggap adanya kekuasaan
dan peranan jin terhadap alam semesta.
Mengenai orang-orang yang menolak
dengan keras keberadaan jin secara mudah, maka saya tidak mengetahui atas dasar
argumentasi yang pasti dan qath'i apa mereka mengingkari keberadaan jin,
menertawakan orang yang mempercayainya, dan menganggap mempercayai keberadaan
jin itu se bagai khurafat.
Apakah karena mereka melihat
makhluk-makhluk yang ada di alam semesta ini lantas mereka tidak menjumpai jin
di antara mereka? Tidak ada seorang pun ulama yang beranggapan demikian hingga
hari ini. Di bumi ini saja banyak makhluk hidup yang baru terungkap
keberadaannya hari demi hari. Tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa
seluruh makhluk hidup di bumi ini sudah terungkap mata rantainya atau akan
terungkap dalam satu hari saja!
Apakah karena mereka mengetahui
bahwa semua kekuatan yang tersembunyi di alam ini lantas mereka tidak menjumpai
jin di antara mereka? Sesungguhnya, tidak ada seorangpun yang mengklaim seperti
itu. Karena di sana terdapat kekuatan-kekuatan tersembunyi yang terungkap
setiap hari, sedangkan sebelumnya tidak diketahui. Karena itu. para ilmuwan
yang mengenal dengan baik tentang kekuatan-kekuatan alam, mengumumkan hasil
penemuan ilmiah mereka dengan sikap merendahkan diri bahwa mereka menemukan
sesuatu yang misterius di alam ini. Mereka hampir-hampir tidak dapat memulainya
lagi sesudah itu.
Atau, apakah karena mereka melihat
bahwa mereka telah mempergunakan semua kekuatan, lantas mereka tidak melihat
jin di antara kekuatan-kekuatan itu? Sesungguhnya mereka baru saja membicarakan
tentang Iistrik dengan menerangkan hakikat ilmiahnya sejak mereka berhubungan
dengan pemecahan atom.
Tetapi, tidak ada seorang pun dari
mereka yang dapat melihat wujud listrik itu. Di tempat-tempat kerja mereka pun
tidak terdapat alat yang dapat mereka pergunakan untuk memisahkan
listrik-listrik yang mereka bicarakan itu.
Nah, kalau demikian, mengapa mereka
berani memastikan tidak adanya jin? Pengetahuan manusia mengenai alam semesta
beserta kekuatan dan penghuninya sangatlah sedikit. Sehingga, tidak
memungkinkan bagi orang yang masih menghormati akalnya untuk menetapkan sesuatu
yang di Iuar pengetahuannya). Atau, apakah mereka mengingkari keberadaan jin
karena makhluk yang bernama jin itu selalu berkaitan dengan bermacam-macam
khurafat dan mitos? Sesungguhnya metode yang kami tempuh dalam hal ini justru
menolak khurafat-khurafat dan mitos-mitos sebagaimana yang dilakukan oleh
Al-Qur'anul-Karim, bukannya dengan serampangan mengingkari keberadaan makhluk (jin)
ini secara mendasar tanpa argumentasi dan dalil yang akurat.
Makhluk gaib seperti ini memang
hanya boleh diterima informasinya dari sumber satu-satunya yang dapat dipercaya
kebenarannya, dan tidak boleh menentang sumber ini dengan pandangan-pandangan
di muka yang tak berdasar. Karena apa yang dikatakan oleh sumber itu (Allah SWT)
adalah kata yang pasti, dalam topik seperti ini.
Surah yang ada di hadapan kita ini,
ditambah dengan apa yang telah disebutkan di muka, memiliki andil yang besar di
dalam membentuk tashawwur islami tentang hakikat uluhiyah dan hakikat ubudiah.
kemudian tentang alam dan makhluk, serta hubungan antar makhluk yang beraneka
macam ini.
Apa yang dikatakan oleh jin itu
memberikan kesaksian tentang keesaan Allah, meniadakan istri dan anak bagi-Nya,
menetapkan adanya pembalasan di akhirat, dan tidak ada seorang pun dari makhluk
Allah di bumi ini yang dapat lepas dari kekuasaan-Nya, dapat menghindar dari
hadapan-Nya, dan dapat lari dari-Nya agar ia tidak terkena pembalasan yang
adil. Sebagian dari hakikat-hakikat ini diulang-ulang di dalam pengarahan yang
diberikan Allah kepada Rasulullah saw. dalam surah al-Jin ayat 20 dan 22, yang
menyatakan bahwa "sesungguhnya beliau hanya menyembah Allah dan tidak
mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya. Tiada seorang pun yang dapat melindungi
beliau dari (azab) Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat
berlindung selain dari-Nya".
Hal itu disebutkan setelah adanya
kesaksian yang lengkap dan jelas dari bangsa jin tentang hakikat ini.
Kesaksian itu juga menetapkan bahwa
uluhiyyah hanya kepunyaan Allah saja, dan ubudiah merupakan aktivitas yang
dengannya manusia dapat mencapai derajat paling tinggi, sebagaimana tercantum
dalam surah ini ayat 19.
Hakikat ini diperkuat lagi dengan
firman Allah dalam surah al-Jin ayat 21 yang ditujukan kepada Rasulullah saw.
bahwa "beliau tidak kuasa mendatangkan suatu kemudharatan pun kepada
mereka dan tidak (pula) sesuatu kemanfaatan".
Segala urusan gaib diserahkan
kepada Allah saja, dan jin sama sekali tidakmengetahuinya. Para rasul pun tidak
mengetahuinya kecuali apa yang diberitahukan Allah kepada mereka karena suatu
hikmah tertentu.
Surah ini telah memberitahukan
kepada kita bahwa di antara hamba-hamba yang lain di alam ini terdapat
hubungan-hubungan timbal balik dan lubang-lubang, meskipun berbeda kejadiannya.
Misalnya, hubungan timbal balik antara jin dan manusia, sebagaimana diceritakan
dalam surah ini dan surah-surah lain dalam Al-Qur'an. Maka, manusia itu tidak
terlepas, hingga di bumi ini, dari makhluk lain. Selain itu, antara manusia dan
makhluk-makhluk lain juga terdapat hubungan timbal balik dalam bentuk-bentuk
lain.
Keterpisahan yang dirasakan oleh
manusia dengan jenisnya ini - baik keterpisahan individual, kesukuan, maupun
kebangsaan - tidak ada wujudnya dalam tabiat alam dan dalam realita. Pandangan
seperti ini lebih tepat untuk melapangkan perasaan manusia terhadap alam
semesta dengan segala semangat, kekuatan, dan hal-hal tersembunyi yang
meramaikannya. Kadang-kadang manusia tidak mengetahuinya, tetapi secara praktis
ia berada di sekitarnya. Maka, manusia bukanlah satu-satunya penghuni bumi
sebagaimana yang kadang-kadang dirasakannya.
Selanjutnya, di sana terdapat
kaitan antara konsistensi makhluk di atas jalan yang lurus dengan gerakan alam
beserta segala akibatnya, dan ketentuan Allah terhadap hamba-hamba-Nya,
"Jika mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam),
benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang
banyak) untuk Kami beri cobaan kepada mereka padanya. Barangsiapa yang
berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam azab yang
amat berat. " (al-Jin: 16-17)
Hakikat ini membentuk satu sisi
tashawwur islami mengenai hubungan antara manusia, alam semesta, dan takdir
Allah.
Demikianlah surah ini memberikan
isyarat kepada lapangan-lapangan yang luas dan jauh. la adalah surah dengan
ayat tidak lebih dari dua puluh delapan ayat, yang diturunkan pada suatu
peristiwa dan nuansa tertentu.
Adapun peristiwa yang diisyaratkan
oleh surah ini adalah peristiwa mendengarkan Al-Qur'an yang dilakukan
segolongan jin. Mengenai hal ini terdapat beberapa macam riwayat yang
berbeda-beda.
Imam al-Hafizh Abu Bakar al-Baihaqi
meriwayatkan di dalam kitabnya Dalaailun-Nubuwwah bahwa telah diberitahukan
kepadanya oleh Abul Hasan Ali bin Ahmad bin Abdan, dari Ahmad bin Ubaid
ash-Shaffar, dari Ismail al-Qadhi, dari Musaddad, dariAbu Awanah, dari Abu
Basyar, dari Sa'id bin Jubair, dan Ibnu Abbas r.a., ia berkata,
"Rasulullah saw. tidak pernah membacakan Al-Qur'an-kepada bangsa jin, dan
beliau tidak melihat mereka Rasulullah saw. pergi kepada sekelompok sahabat
yang hendak pergi ke Pasar Ukazh.
Sementara itu, telah dihalangi
antara setan-setan dan berita langit. Dikirimkan kepada mereka panah-panah api.
Lalu setan-setan itu kembali kepada kaumnya. Maka, kaumnya bertanya, 'Mengapa
kamu?' Mereka menjawab, ‘Telah dihalangi antara kami dan berita langit, dan
dikirimkan panah-panah api kepada kami.' Mereka berkata, ‘Tidaklah dihalangi
antara kamu dan berita langit melainkan karena ada sesuatu yang terjadi. Karena
itu, pergilah ke bumi bagian timur dan bagian barat, dan lihatlah apa yang
menghalangi antara kamu dan berita langit itu.' Lalu mereka pergi ke bumi
bagian timur dan bagian barat untuk mencari sesuatu yang menghalangi antara
mereka dan berita langit.
Pergilah rombongan yang ke Tihamah
itu menuju Rasulullah saw. ketika beliau di bawah pohon kurma hendak ke Pasar
Ukazh. Ketika itu beliau melakukan shalat subuh bersama sahabat-sahabat beliau.
Saat rombongan jin itu mendengarAl-Qur' an, maka mereka dengarkan dengan
sungguh-sungguh, lalu mereka berkata, 'Inilah, demi Allah, yang menghalangi
antara kamu dan berita langit' Maka, ketika mereka kembali kepada kaumnya,
mereka berkata, 'Sesunguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur’an yang menakjubkan,
(yang) memberi petunjuk kepada jalanyang benar, lalu kami beriman kepadanya dan
kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorangpun dengan Tühan kami. 'Allah menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya
saw, 'Katakanlah (hai Muhammad), Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin
telah mendengarkan (Al-Qur’an). ' Sesungguhnya, yang diwahyukan kepada beliau
itu adalah apa yang diucapkan oleh bangsa jin itu." (Imam Bukhari
meriwayatkan dari Musaddad hadits yang mirip dengan ini, dan Imam Muslim
meriwayatkan dari Syaiban Ibnu Farukh dari Abu Awanah dengan teks ini).
Di samping itu juga terdapat riwayat
lain. Imam Muslim meriwayatkan di dalam Shahihnya bahwa telah diceritakan
kepadanya oleh Muhammad ibnul Mutsanna dari Abdul A’la dari Daud Ibnu Abi
Hindin, dari Amir, dia berkata, "Aku bertanya kepada Alqamah, apakah Ibnu
Mas'ud hadir bersama Rasulullah saw. pada malarn peristiwa jin itu?' Alqamah
menjawab, 'Saya pernah bertanya kepada Ibnu Mas'ud r.a, 'Apakah ada seseorang
di antara Anda yang hadir bersama Rasulullah saw. pada malam peristiwa jin
itu?" Dia menjawab, Tidak, tetapi kami pernah bersama Rasulullah saw. pada
suatu malam, Ialu kami kehilangan beliau. Kemudian kami cari beliau di lembah-lembah
dan bukit-bukit. Lalu ada yang bertanya, 'Apakah beliau dibawa pergi? Apakah
beliau dibunuh dengan sembunyi-sembunyi?'
Anas berkata, 'Maka kami bermalam
dengan penuh kesedihan. Ketika pagi hari, tiba-tiba beliau muncul, datang dari
arah Hira Lalu kami bertanya, 'Wahai Rasulullah, kami telah kehilangan engkau,
lantas kami mencari-cari engkau tetapi tidak kami jumpai, kemudian kami
bermalam dengan penuh kesedihan." Kemudian beliau berkata, 'Aku diundang
oleh utusan jin, maka aku pergi bersama mereka,
kubacakan Al-Qur' an kepada mereka' Anas berkata, 'Kemudian Rasulullah
membawa kami pergi, lantas beliau tunjukkan kepada kami bekas-bekas mereka dan
bekas-bekas api mereka' Kemudian para sahabat bertanya kepada beliau tentang
makanan bangsa jin, lalu beliau bersabda, 'Semua tulang yang disebut nama Allah
atasnya yang ada di tangan kamu, lebih banyak dagingnya, dan semua kotoran
hewan kamu.' Rasulullah saw. bersabda, 'Maka, janganlah kamu beristinjak
(bersuci) dengan keduanya (tulang dan kotoran hewan), karena keduanya itu
adalah makanan kawan-kawan kamu itu. "'
Juga terdapat riwayat lain dari
Ibnu Mas'ud bahwa pada malam itu dia bersama Rasulullah saw., tetapi isnad
riwayat pertama lebih dapat dipercaya Karena itu, kami buang riwayat ini dan
yang serupa dengannya. Dari kedua riwayat yang terdapat di dalam Shahihain
tampaklah bahwa Ibnu Abbas berkata, "Sesungguhnya, Rasulullah saw. tidak
mengetahui kedatangan sekelompok jin itu." Sedangkan, Ibnu Mas'ud
mengatakan bahwa mereka mengundang beliau. Maka, al-Baihaqi mengkompromikan
kedua riwayat itu bahwa peristiwa itu terjadi duakali, bukan cuma sekali.
Ada riwayat ketiga yang diriwayatkan
oleh Ibnu Ishaq, katanya, "Setelah Abu Thalib meninggal dunia, orang-orang
Quraisy menyakiti Rasulullah saw. yang belum pernah mereka lakukan semasa hidup
Abu Thalib. Maka, pergilah Rasulullah saw. ke Thaif untuk meminta bantuan
kepada suku Tsaqif dan meminta perlindungan dari gangguan kaumnya. Beliau
berharap mereka akan menerima ajaran (agama) yang beliau terima dari Allah,
lalu beliau pergi ke sana seorang diri."
Ibnu Ishaq mengatakan bahwa telah
diceritakan kepadanya oleh Yazid bin Ziyad, dari Muhammad bin Ka'ab al-Qurazhi,
dia berkata, 'Ketika Rasulullah saw. telah sampai ke Thaif, beliau mendatangi
sekelompok orang Tsaqif ketika menjadi pemuka-pemuka dan tokoh-tokoh penduduk
'Ihaif. Mereka itu adalah tiga bersaudara, yaitu Balil bin Amr bin Umair,
Mas'ud bin Amr bin Umair, dan Habib bin Amr bin Umair. Salah seorang dari
mereka beristrikan seorang wanita Quraisy dari Bani Jamh.
Maka, Rasulullah saw. duduk di
dekat mereka dan mengajak mereka untuk memeluk agama Allah. Disampaikan pula
kepada mereka maksud kedatangan beliau kepada mereka untuk meminta mereka
menjadi pembela Islam dan bersama-sama beliau menghadapi orang-orang yang
menentangnya. Lalu salah seorang dari mereka berkata kepada beliau, 'Aku akan
merobek-robek kain Ka'bah jika Allah mengutusmu!' Yang lain berkata, 'Apakah
Allah tidak mendapatkan seseorang selain engkau untuk diutusnya sebagai rasul?'
Dan yang ketiga berkata, 'Demi Allah, aku tidak akan berbicara kepadamu
selama-lamanya. Sesungguhnya jika engkau itu seorang rasul dari Allah
sebagaimana yang engkau katakan, maka sesungguhnya engkau lebih berbahaya
daripada kalau aku menimpali perkataanmu. Dan, kalau engkau berdusta atas nama
Allah, maka tidak layak aku berbicara kepadamu.' Kemudian Rasulullah saw.
berdiri dari sisi mereka, dan beliau merasa putus asa terhadap kebaikan suku
Tsaqif. Maka, beliau berkata kepada mereka, menurut yang saya ingat, 'Kalau
kamu melakukan sesuatu yang hendak kamu lakukan, maka sembunyikanlah dariku.'
Rasulullah saw. tidak ingin informasi ini sampai kepada kaum beliau, karena
dapat memicu permusuhan di antara mereka.
Mereka tidak melakukan tindakan itu
sendiri. Mereka menghasut orang-orang jahil dan budak-budak mereka untuk
mencaci maki dan meneriaki Rasulullah. Sehingga, orang-orang berkerumun padanya
dan melindungi beliau dengan membawanya ke kebun milik Utbah bin Rabi'ah dan
Syaibah bin Rabi'ah, dan kedua orang ini sedang berada di dalam kebun itu. Kedua
anak Rabi'ah itu melihat beliau dan melihat apa yang dilakukan oleh orang-orang
bodoh dari penduduk Thaif itu. Maka, kembalilah orang-orangTsaqif yang tadi
mengikuti beliau. Lalu beliau berteduh di bawah pohon anggur dan duduk di bawahnya.
Maka, setelah hati Rasulullah saw. tenang, beliau mengucapkan, seingat saya,
« اللَّهُمَّ
إِلَيْكَ أَشْكُو ضَعْفَ قُوَّتِي ، وَقِلَّةَ حِيْلَتِي ، وَهَوَانِي عَلَى
النَّاسِ ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ ، أَنْتَ رَبُّ الْمُسْتَضْعَفِينَ
وَأَنْتَ رَبِّي ، إِلَى مَنْ تَكِلُنِي ؟ إِلَى بَعِيدٍ يَتَجَهَّمُنِي ؟ أَمْ
إِلَى عَدُوٍّ مَلَّكْتَهُ أَمْرِي ؟ إِنْ لَمْ يَكُنْ بِكَ عَلَيَّ غَضَبٌ فَلَا
أُبَالِي ، وَلَكِنَّ عَافِيَتَكَ هِيَ أَوْسَعُ لِي . أَعُوذُ بِنُورِ وَجْهِكَ
الَّذِي أَشْرَقَتْ لَهُ الظُّلُمَاتُ ، وَصَلُحَ عَلَيْهِ أَمْرُ الدُّنْيَا
وَالْآخِرَةِ مِنْ أَنْ تَنْزِلَ بِي غَضَبَكَ ، أَوْ يَحِلَّ عَلَيَّ سَخَطُكَ ،
لَكَ الْعُتْبَى حَتَّى تَرْضَى ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِكَ »
“Ya Allah, kuadukan kepada-Mu
lemahnya kekuatanku, kecilnya upayaku, dan penghinaan manusia terhadap diriku.
Wahai Yang Paling Pemurah dari orang-orang
yangpemurah, Engkaulah Tuhan orang-orang yang tertindas, dan Engkaulah Tuhanku.
Kepada siapakah gerangan Engkau akan menyerahkan aku? Apakah kepada orang jauh yang
akan menganiayaku ? Ataukah, kepada musuh yang Engkau beri dia kekuasaan atas
urusanku? Asalkan Engkau tidak marah kepadaku, maka aku tidak peduli. Akan tetapi,
pengampunan-Mu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan wajah-Mu yang menerangi
segala kegelapan dan menjadikan baiknya urusan dunia dan akhirat. Janganlah
Engkau turunkan kemarahan-Mu kepadaku atau Engkau timpakan kemurkaan-Mu
kepadaku. Karena Engkaulah aku mencari keridhaan hingga Engkau ridha, dan tiada
daya dan upaya kecuali dengan PertoIongan-Mu.”
Ketika kedua anak Rabi'ah itu
melihat beliau dan apa yang beliau alami, maka tergeraklah rasa kasih sayang
mereka. Lalu, dipanggil budaknya yang beragama Nasrani dan bernama Addas, dan
dikatakan kepadanya, 'Ambillah sepotong anggur, lalu letakkan ke dalam baki,
kemudian bawalah kepada orang itu dan persilakan dia memakannya' Addas melaksanakan
perintah itu. Kemudian ia taruh anggur itu di hadapan Rasulullah saw. dan ia
berkata kepada beliau, 'Makanlah!' Maka, ketika Rasulullah meletakkan tangan
beliau pada buah itu, beliau mengucap basmalah lalu memakannya.
Addas memperhatikan wajah beliau,
lalu 'Demi Allah, perkataan itu tidak
pernah diucapkan oleh penduduk negeri ini.' Kemudian Rasulullah saw. bertanya
kepadanya, 'Dari penduduk manakah engkau wahai Addas, dan apa agamamu?' Addas
menjawab, 'Nasrani, dan saya berasal dari Ninawa' Rasulullah bertanya, 'Dari
negeri orang saleh Yunus bin Mata?' Addas balik bertanya, 'Dari mana engkau
mengenal Yunus bin Mata?' Rasulullah menjawab, 'Dia itu saudaraku, seorang nabi, sedang aku juga
seorang nabi.' Lalu Addas memeluk Rasulullah saw. seraya mencium kepala,
tangan, dan kaki beliau.
Muhammad bin Ka'ab al-Qurazhi
(perawi hadits) berkata, 'Kedua anak Rabi'ah itu berkata satu sama lain,
'Budakmu telah merusak nama baikmu." Ketika Addas datang ke hadapan
mereka, maka mereka berkata kepadanya, 'Celakalah engkau wahai Addas, mengapa
engkau mencium kepala, kedua tangan, dan kedua kaki orang itu?' Addas menjawab,
'Wahai tuanku, di muka bumi ini tidak ada sesuatu yang lebih baik dari dia. Ia
telah memberitahukan kepadaku sesuatu yang tidak diketahui kecuali oleh seorang
nabi.' Lalu mereka berkata kepada Addas, 'Celakalah engkau wahai Addas! Jangan
sekali-kali engkau dipalingkannya dari agamanu, karena sesungguhnya agamamu itu
lebih baik daripada agamanya.'
Kemudian Rasulullah saw. kembali
dari Thaif ke Mekah, ketika beliau sudah merasa putus asa terhadap kebaikan
suku Tsaqif. Maka, saat beliau sedang menunaikan shalat di tengah malam di
bawah pohon anggur, ada serombongan jin sebagaimana disebutkan Allah melewati
beliau, dan mereka (bangsa jin) itu - seingat saya - berjumlah tujuh jin dari
jin penduduk Nashibin, lalu mereka mendengarkan Nabi. Kemudian setelah Nabi
saw. selesai shalat, mereka pergi kepada kaumnya dan memberi peringatan kepada
mereka. Mereka beriman dan menyambut apa yang mereka dengar itu. Kemudian Allah
menceritakan perihal mereka ini kepada Rasulullah saw. dengan firman-Nya,
“Dan, (ingatlah) ketika Kami hadapkan
serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur’an, maka tatkala mereka
menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata, 'Diamlah kamu (untuk
mendengarkannya).' Ketika pembacaan telah selesai, mereka kembali kepada
kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata, 'Hai kaum kami,
sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan
sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada
kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang
yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan
mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan
kamu dari azab yang pedih. “ (al-Ahqaaf: 29-31)
Juga firman-Nya dalam surah al-Jin
hingga akhir kisah jin dalam surah ini.
Imam Ibnu Katsir mengomentari
riwayat Ibnu Ishaq ini di dalam tafsirnya. Ia berkata, "Riwayat ini sahih,
tetapi mengenai perkataannya bahwa bangsa jin mendengarkan pada malam itu,
perlu dipikirkan. Karena, bangsa jin sudah mendengar Al-Qur'an sejak permulaan
wahyu diturunkan sebagaimana ditunjuki oleh hadits Ibnu Abbas tersebut.
Sedangkan, kepergian Nabi saw. ke Thaif itu adalah setelah meninggalnya paman
beliau. Peristiwa itu terjadi setahun atau dua tahun sebelum hijrah,
sebagaimana ditetapkan oleh Ibnu Ishaq dan lain-lainnya. Wallahu a 'lam.”
Kalau riwayat Ibnu Ishaq itu sahih,
bahwa peristiwa itu terjadi setelah Rasulullah saw. kembali dari Thaif dengan
perasaan sedih karena sambutan yang jelek dan keras kepala dari
pembesar-pembesar Tsaqif, dan setelah beliau memanjatkan doa yang penuh
keprihatinan kepada Allah, maka dari sisi ini peristiwa itu betul-betul
mengagumkan. Pasalnya, Allah mendatangkan sekelompok jin kepada beliau, dan
memberitahukan kepada beliau apa yang dilakukan oleh bangsa jin itu beserta apa
yang mereka katakan kepada kaumnya. Dalam peristiwa ini, terdapat beberapa
petunjuk yang halus dan mengesankan.
Kapan pun terjadinya peristiwa itu
dan dalam kondisi bagaimanapun, maka tidak diragukan lagi bahwa itu adalah
urusan besar. Besar dalam petunjuk-petunjuk dan kandungannya, dan besar pula
nilai perkataan bangsa jin tentang Al-Qur'an dan agama Islam ini.
Maka, marilah kita telusuri semua
ini sesuai dengan apa yang dipaparkan oleh Al-Qur’anuI-Karim.
Kekaguman Bangsa Jin terhadap
Al-Qur-an
قُلْ
اُوْحِيَ اِلَيَّ اَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوْٓا اِنَّا
سَمِعْنَا قُرْاٰنًا عَجَبًاۙ ١ يَّهْدِيْٓ اِلَى الرُّشْدِ فَاٰمَنَّا بِهٖۗ
وَلَنْ نُّشْرِكَ بِرَبِّنَآ اَحَدًاۖ ٢ وَّاَنَّهٗ تَعٰلٰى جَدُّ رَبِّنَا مَا
اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَّلَا وَلَدًاۖ ٣ وَّاَنَّهٗ كَانَ يَقُوْلُ سَفِيْهُنَا
عَلَى اللّٰهِ شَطَطًاۖ ٤ وَّاَنَّا ظَنَنَّآ اَنْ لَّنْ تَقُوْلَ الْاِنْسُ
وَالْجِنُّ عَلَى اللّٰهِ كَذِبًاۙ ٥ وَّاَنَّهٗ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْاِنْسِ
يَعُوْذُوْنَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوْهُمْ رَهَقًاۖ ٦ وَّاَنَّهُمْ
ظَنُّوْا كَمَا ظَنَنْتُمْ اَنْ لَّنْ يَّبْعَثَ اللّٰهُ اَحَدًاۖ ٧
"Katakanlah (hai Muhammad), 'Telah
diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur’an), lalu
mereka berkata, 'Sesungguhnya, kami telah mendengarkan Al-Qur’an yang
menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman
kepadanya. Kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Tuhan
kami. Mahatinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristri dan tidak (pula)
beranak. Orang yang kurang akal daripada kami dahulu selalu mengatakan
(perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah. Sesungguhnya, kami mengira
bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta
terhadap Allah. Ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan
kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka
dosa dan kesalahan. Sesungguhnya mereka (jin) menyangka sebagaimanapersangkaan
kamu (orang-orang kafir Mekah), bahwa Allah sekali-kali tidak akan
membangkitkan seorang (rasul) pun. "' (al-Jin: 1-7)
"Nafar" adalah kelompok
yang terdiri antara tiga sampai sembilan, sebagaimana "rahth". Ada
yang mengatakan jumlahnya tujuh.
Pembukaan surah ini menunjukkan
bahwa pengetahuan Nabi saw. tentang mendengarnya bangsa jin kepada beliau dan
apa yang terjadi pada mereka setelah mendengarkan Al-Qur'an dari beliau itu
adalah karena adanya wahyu dari Allah SAW kepada beliau. Yakni, pemberitahuan
tentang sesuatu yang terjadi yang tidak diketahui Rasulullah saw., tetapi Allah
memberitahukannya kepada beliau. Mungkin peristiwa ini baru pertama kali terjadi.
Kemudian terjadi sekali lagi atau beberapa kali lagi Nabi membacakan kepada jin
dengan sepengetahuan dan sengaja.
Hal itu juga dibuktikan dengan
riwayat yang menceritakan bahwa Nabi saw. membacakan surah ar-Rahmaan kepada
bangsa jin. Imam Tirmidzi meriwayatkan dengan isnadnya dari Jabir r.a., ia
berkata, “Rasulullah keluar menemui sahabat-sahabat beliau, lalu beliau
membacakan kepada mereka surah ar-Rahmaan hingga akhir surah, dan mereka diam.
Kemudian beliau bersabda, 'Sesunguhnya, aku telah membacakannya kepada bangsa jin,
maka mereka lebih baik responsnya daripada kalian. Setiap kali aku sampai pada
firman Allah, Fabi ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadzdzibaan ' Maka, nikmat Tuhan
kamu yang manakah yang kamu dustakan?, mereka berkata, 'Tidak ada sesuatu pun
dari nikmat-Mu, ya Tuhan kmni, yang kami dustakan. Maka, kepunyaan-Mulah segala
puji.”
Riwayat ini mendukung riwayat Ibnu
Mas'ud r.a. yang mengisyaratkan hal ini di muka. Dan, sudah tentu apa yang
diceritakan surah ini adalah yang diceritakan oleh surah al-Ahqaaf,
"Dan, (ingatlah) ketika Kami
hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur’an, maka tatkala
mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata, 'Diamlah kamu (untuk
mendengarkannya). ' Ketika pembacnan telah selesai, mereka kembali kepada
kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata, 'Hai kaum kami,
sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan
sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada
kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang
yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan
mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. Orang yang
tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah, maka dia tidak akan
melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung
selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. "' (al-Ahqaaf: 29-32)
Ayat-ayat itu, sebagaimana surah
al-Jin, memberitahukan reaksi spontan bangsa jin terhadap Al-Qur'an. Yakni,
spontanitas yang menerbangkan pegangan mereka, menggoncangkan hati mereka,
menggugah perasaan mereka, dan menimbulkan dorongan dan semangat yang
meluap-luap. Maka, pergilah mereka kepada kaumnya dengan semangat menggebu-gebu
yang tidak dapat mereka tahan, karena ingin segera menyampaikannya kepada yang
Iain, dengan uslub yang memancar-mancar, penuh kehangatan dan semangat, serta
penuh kesungguhan dan keseriusan. Inilah keadaan orang yang pertama kali
dikejutkan oleh dorongan kuat yang menggoncang eksistensinya dan menggoyang
pegangannya. Kemudian ia terdorong untuk menyampaikan apa yang dirasakannya itu
ke dalam jiwa orang lain dengan penuh semangat, antusias, kesungguhan, dan keseriusan!
"Sesungguhnya, kami telah
mendengarkan Al-Qur’an yang menakjubkan. " (al-Jin: 1)
Kesan pertama yang mereka peroleh
adalah bahwa Al-Qur'an itu "menakjubkan", Iuar biasa, dan
menggetarkan hati. Inilah sifat Al-Qur'an pada orang yang menerimanya dengan
hati yang terbuka serta perasaan yang tanggap, lembut, dan sensitif.
Menakjubkan! Memiliki kekuasaan
yang hebat, memiliki daya tarik yang kuat, dan memiliki kesan-kesan yang
menyentuh perasaan dan menggoyang senar-senar kalbu.
Menakjubkan! ltulah kesan yang
mereka peroleh.
Semua itu menunjukkan bahwa
kelompokjin ada hakikatnya, dan bisa merasakan.
“(Yang) memberi petunjuk kepada
jalan yang benar..” (al-Jin: 2)
Inilah sifat kedua yang tampak
dalam Al-Qur'an dan dirasakan oleh segolongan jin itu, ketika mereka menjumpai
hakikatnya di dalam hati mereka. Kata "rusyd" sendiri memiliki
petunjuk yang Iuas jangkauannya. la menunjukkan kepada petunjuk, kebenaran,
ketepatan, dan kelayakan. Akan tetapi, kata “rusyd”juga memberikan
bayang-bayang lain di belakang semua. Yaitu, bayang-bayang kematang an,
keseimbangan, dan pengetahuan yang lurus kepada petunjuk, kebenaran, dan
ketepatan. Bayang-bayang pengertian pribadi yang tajam terhadap hakikat-hakikat
dan faktor-faktor ini. Maka, “rusyd” menciptakan keadaan di dalam jiwa dan
menjadikannya terbimbing kepada kebaikan dan kebenaran.
Al-Qur' an menunjukkan kepada jalan
yang benar ia menimbulkan keterbukaan
dan sensitivitas di dalam hati, pengetahuan dan pengertian, kebersambungan
dengan sumber cahaya dan petunjuk, dan kesesuaian dengan undang-undang Ilahi
yang teragung, sebagaimana ia menunjukkan kepada jalan yang benar dengan
manhaj-nya yang sistematis kepada kehidupan dan penerapannya manhaj yang tidak
pernah dicapai manusia sepanjang sejarahnya di bawah naungan peradaban manapun
atau sistem apa pun, baik secara individu maupun kolektif, dalam urusan hati
maupun sosial, akhlak pribadi maupun pergaulan masyarakat. "Lalu kami
beriman kepadanya...
Inilah respon otomatis dan lurus
karena mendengarkan, memahami karakter, dan terkesan oleh hakikat Al-Qur'an,
yang ditunjukkan oleh wahyu kepada kaum musyrikin yang mendengar Al-Qur'an
tetapi tidak mengimaninya. Namun, pada waktu yang sama mereka menisbatkannya
kepada jin, lalu mereka mengatakan (bahwa Nabi Muhammad itu) tukang tenung, penyair,
atau gila hingga jin dapat memberikan pengaruh kepadanya. Padahal jin-jin itu
tercerahkan, tersihir, sangat terkesan, dan terpengaruh oleh Al-Qur'an,
sehingga mereka tidak berkutik. Kemudian mereka mengakui kebenaran serta
menyambutnya dengan penuh ketundukan dan rendah hati, seraya menyatakan
ketundukannya dengan mengatakan, "Kami beriman kepadanya", tanpa
mengingkari dan menentangnya ketika Al-Qur' an menyentuh jiwa mereka,
sebagaimana yang dilakukan orang-orang musyrik.
"Kami sekali-kali tidak akan
mempersekutukan seorang pun dengan Tuhan kami. " (al-Jin: 2)
Inilah iman yang tulus, jelas, dan
benar, tidak dinodai dengan kemusyrikan, tidak dikotori dengan kepalsuan, dan
tidak dicampur dengan khurafat. Iman yang bersumber dari pengertian terhadap
hakikat Al-Qur'an, hakikat yang diserukan oleh Al-Qur'an, hakikat tauhid kepada
Allah tanpa ada sekutu bagi-Nya.
"Mahatinggi kebesaran Tuhan
kami, Dia tidak beristri dan tidak (pula) beranak. "(al-Jin: 3)
"Al-jadd” berarti bagian,
nasib, kehormatan, kedudukan, keagungan, dan kekuasaan. Semuanya merupakan
pancaran makna dari lafal ini yang sesuai dengan kedudukannya. Makna global
lafal ini dalam ayat tersebut adalah untuk mengungkapkan perasaan tentang
keluhuran, keagungan, dan kebesaran Allah SWT, sehingga tidak mungkin Dia
beristri dan beranak, Iaki-laki atau wanita.
Bangsa Arab dahulu beranggapan
bahwa malaikat itu adalah anak-anak wanita Allah yang diperoleh dari
perkawinan-Nya dengan jin. Kemudian datangIah jin yang mendustakan dongeng
khurafat demi mensucikan Allah dan menolak pandangan semacam ini. Bangsa jin bebas
berbangga dengan perbesanan dalam dongeng yang penuh khurafat itu kalau wajar.
Maka, ini adalah sanggahan yang besar terhadap anggapan yang lemah dalam
pandangan kaum musyrikin itu. Juga terhadap semua pandangan serupa itu, yang
dilakukan oleh orang-orang yang menganggap Allah punya anak. Mahasuci Allah
dari pandangan dan anggapan seperti itu, apapun bentuknya!
"Orang yang kurang akal daripada
kami dahulu selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah.
Sesungguhnya kami mengira bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan
mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah." (al-Jin: 4-5)
Itu adalah koreksi dari golongan
jin itu terhadap apa yang mereka dengar dari jin-jin yang kurang akal, yang
mempersekutukan Allah, dan menganggap-Nya punya istri dan anak. Koreksian itu
lahir setelah mereka mendapat kejelasan dari Al-Qur'an, bahwa anggapan itu sama
sekali tidak benar, dan beranggapan seperti itu adalah jin-jin yang kurang akal
dan bodoh.
Adapun alasan mereka mempercayai
jin-jin yang kurang akal sebelumnya itu adalah karena mereka tidak membayangkan
bahwa ada manusia atau jin yang mengatakan perkataan dusta terhadap Allah.
Karena itu, mereka menganggap luar biasa ada seseorang yang berani berbuat
dusta terhadap Allah. Maka ketika jin-jin yang kurang akal itu mengatakan
kepada mereka bahwa Allah beristri dan beranak serta mempunyai sekutu, mereka
membenarkannya saja, mereka tidak membayangkan ada orang yang berani berkata
dusta terhadap Allah.
Perasaan segolongan jin tentang
mungkarnya perkataan dusta terhadap Allah inilah yang menjadikan mereka layak
terhadap keimanan. Hal ini menunjukkan bahwa hati mereka bersih dan Iurus serta
polos, hanya saja ia didatangi kesesatan karena keterpedayaan dan kebebasan.
Maka, ketika hati mereka disentuh oleh kebenaran, ia pun bergoncang, sadar,
merasakan, dan mengerti.
Goncangan karena sentuhan kebenaran
ini pantas menyadarkan hati kebanyakan pembesar Quraisy yang tertipu, dan
menyadarkan mereka terhadap kesalahan anggapan mereka bahwa Allah beristri dan
beranak. Juga dapat menimbulkan rasa takut dan sadar dalam hati tersebut,
mendorongnya untuk memahami hakikat sesuatu yang dikatakan oleh Nabi Muhammad
saw. dan membandingkannya dengan apa yang dikatakan pemuka-pemuka Quraisy itu,
dan menggoyang kepercayaan (fanatisme) buta terhadap apa saja yang dikatakan oleh
pembesar-pembesar yang kurang akal!
Semua itu adalah tujuan
disebutkannya hakikat ini, dan perjalanan peperangan yang panjang antara
Al-Qur'an dan kaum Quraisy yang durhaka dan keras kepala. Ini satu mata rantai
pengobatan secara perlahan-lahan terhadap penyakit-penyakit dan pola pikir
jahiliah yang ada dalam hati mereka. Padahal kebanyakan pikirannya itu
cemerlang dan bebas, tetapi disesatkan dan dituntun dengan mitos-mitos dan
khurafat-khurafat serta disesatkan oleh pemimpin-pemimpin yang jahil dan
menyesatkan! "Ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan
kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka
dosa dan kesalahan. " (al-Jin: 6)
Ini adalah isyarat dari bangsa jin
mengenai kebiasaan jahiliah, dan masih dibiasakan sampai sekarang di berbagai
kalangan, bahwa jin itu mempunyai kekuasaan terhadap bumi dan terhadap manusia,
mempunyai kekuasaan untuk memberikan manfaat dan mudharat, dan mereka berkuasa
di berbagai wilayah di bumi (darat), laut, atau udara, serta
kepercayaan-kepercayaan dari pandangan ini. Sehingga, apabila mereka bermalam
di padang atau di tempat yang menakutkan, mereka memohon perlindungan kepada
penghulu lembah itu, kemudian mereka bermalam dengan aman.
Memang setan itu dapat menguasai
hati manusia, kecuali mereka yang berpegang teguh pada Allah. Adapun orang yang
berlindung kepada setan, maka setan itu tidak akan memberi manfaat kepadanya
Karena, setan itu adalah musuh baginya, yang hanya akan menambah dosa dan
kesalahan serta akan mengganggunya. Kelompok jin (yang beriman) itu
menceritakan hal itu, "Ada beberapa orang laki-laki di antara manusia
meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu
menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. "
Mungkin yang dimaksud dengan dosa
dan kesalahan itu adalah kesesatan, kegoncangan, dan kebingungan yang menimpa
hati orang-orang yangbersandar kepada musuh mereka itu, serta tidak berpegang
dan berlindung kepada Allah dari setan, sebagaimana yang diperintahkan kepada
Adam yang bermusuhan dengan iblis sejak dahulu kala
Hati manusia ketika berlindung
kepada selain Allah karena ingin mendapatkan manfaat atau menolak mudharat,
maka yang diperolehnya tidak Iain kecuali kegoncangan, kebingungan,
ketidaktenangan, dan ketidaktenteraman. Ini adalah dosa dan kesalahan yang seburuk-buruknya
hingga menjadikan hati tidak merasa aman dan tenang.
Sesungguhnya semua makhluk ciptaan
Allah adaIah labil, Gdak tetap, akan lenyap, dan tidak kekal. Maka, apabila
hati seseorang bergantung padanya, niscaya ia akan selalu bergoncang,
berbolak-balik, gelisah, takut, dan selalu berubah-ubah arahnya se tiap kali
lenyap apa yang menjadi tempat bergantung harapannya. Hanya Allah sendiri yang
kekal dan tidak akan pernah lenyap, yang hidup dan tidak akan pernah mati, yang
abadi dan tidak akan pernah berubah. Karena itu, barangsiapa yang menghadapkan
diri kepada-Nya, berarti dia menghadapkan diri kepada sandaran kokoh yang tidak
akan pernah lenyap dan tidak akan pernah berubah,
"Sesungguhnya, mereka (jin)
menyangka sebagaimana persangkaan kamu (orang-orang kafir Mekah), bahwa Allah
sekali-kali tidak akan membangkitkan seorang (rasul) pun. " (al-Jin: 7)
Mereka berbicara kepada kaumnya
tentang beberapa orang manusia yang meminta perlindungan kepada jin. Mereka
berkata, "Sesungguhnya mereka mengira, sebagaimanayang kamu kira, bahwa
Allah tidak akan mengutus seorang rasul pun. Akan tetapi, Dia telah mengutus
seorang rasul dengan membawa Al-Qur'an yang menunjukkan kepada jalan yang
benar. Atau, mereka mengira bahwa besok tidak akan ada kebangkitan (setelah
mati) dan tidak ada hisab sebagaimana anggapanmu sehingga mereka tidak beramal
sedikit pun untuk akhirat, dan mendustakan apa yang dijanjikan Rasulullah saw.
kepada mereka, karena mereka tidak mempercayainya."
Kedua anggapan itu tidak sesuai
dengan hakikatnya, dan anggapan semacam itu menunjukkan kejahilan dan
ketidakpahaman terhadap hikmah Allah di dalam menciptakan manusia. Allah
menciptakan mereka dengan dibekali potensi-potensi terhadap kebaikan dan keburukan,
petunjuk dan kesesatan (sebagairnana yang kita ketahui dari surah ini bahwa jin
memiliki potensi yang bercarnpuraduk seperti ini, kecuali yang khusus
berpotensi terhadap kejelekan seperti iblis, dan dijauhkan dari rahmat Allah
karena kedurhakaannya, dan berujung pada kejelekan tulen tanpa campuran
kebaikan). Karena itu, rahmat Allah hendak membantu manusia dengan mengutus
rasul, untuk menghimpun ke dalam jiwa mereka unsur kebaikan dan memberdayakan
fitrah mereka terhadap petunjuk. Maka, tidak ada jalan untuk beranggapan bahwa
Allah tidak akan mengutus seorang rasul kepada mereka.
Demikianlah jika makna lafal (ayat)
itu mengutus para rasul. Sedangkan, jika makna ayat itu adalah membangkitkan
manusia dan jin di akhirat, maka hal itu adalah sesuatu yang sangat vital juga
bagi makhluk yang tidak cukup sempurna hisabnya dalam kehidupan dunia ini.
Karena, suatu hikmah yang dikehendaki oleh Allah, dan berhubungan dengan
pengaturan alam wujud yang diketahui Allah dan tidak kita ketahui. Karena
itulah, Allah menjadikan kebangkitan di akhirat untuk menyempurnakan hisab
makhluk, dan akhirnya mereka layak mendapat pernbalasan yang sesuai dengan
perjalanan hidupnya yang pertama sewaktu di dunia. Maka, tidak ada jalan bagi
seorang pun untuk beranggapan bahwa Allah tidak akan membangkitkan mereka dari
kematian. Anggapan seperti itu bertentangan dengan itikad tentang hikmah dan
kemahasempurnaan Allah SWT.
Kelompok jin yang beriman itu
meluruskan persangkaan kaumnya. Al-Qur'an di dalam menampilkan cerita mereka
itu meluruskan kesalahan pandangan kaum musyrikin.
Jin Tidak Mengetahui Perkara Gaib
Kelompok jin itu masih melanjutkan
ceritanya tentang apa yang mereka temui dan ketahui tentang urusan risalah ini
di seluruh penjuru alam, serta mengenai keadaan-keadaan langit dan bumi.
Tujuannya supaya mereka dapat berlepas tangan dari segala usaha yang tidak
sesuai dengan iradah Allah mengenai risalah-Nya, semua anggapan tentang
pengetahuan perkara gaib, dan semua kekuasaan terhadap urusan ini,
وَّاَنَّا
لَمَسْنَا السَّمَاۤءَ فَوَجَدْنٰهَا مُلِئَتْ حَرَسًا شَدِيْدًا وَّشُهُبًاۖ ٨
وَّاَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِۗ فَمَنْ يَّسْتَمِعِ
الْاٰنَ يَجِدْ لَهٗ شِهَابًا رَّصَدًاۖ ٩ وَّاَنَّا لَا نَدْرِيْٓ اَشَرٌّ
اُرِيْدَ بِمَنْ فِى الْاَرْضِ اَمْ اَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًاۙ ١٠
"Sesungguhnya, kami telah mencoba
mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang
kuat dan panah-panah api. Sesungghnya kami dahulu dapat menduduki beberapa
tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi, sekarang
barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu), tentu akan
menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya). Sesungguhnya kami tidak
mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi
orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.
" (al-Jin: 8-10)
Peristiwa-peristiwa yang
diceritakan oleh Al-Qur’an dari penuturan jin ini menunjukkan bahwa sebelum risalah
terakhir ini dan mungkin pada masa tenggang antara risalah terakhir dan risalah
sebelumnya, yakni risalah Isa a.s., mereka berusaha mengadakan hubungan dengan
makhluk tertinggi. Mereka mencuri pembicaraan di sana di antara para malaikat
tentang urusan-urusan makhluk di bumi, yang berisi keputusan tentang
ditugaskannya mereka melaksanakan kehendak dan takdir Allah.
Kemudian informasi langit yang
mereka curi itu mereka bisikkan kepada wali-wali mereka yaitu tukang tenung dan
paranormal. Tujuannya agar mereka membuat fitnah terhadap manusia sesuai dengan
program iblis, melalui tangan-tangan para dukun dan paranormal yang menggunakan
sedikit kebenaran lalu mereka campur dengan kebatilan yang banyak sekali.
Mereka populerkan di kalangan masyarakat pada tenggang waktu di antara kedua
risalah itu dan pada saat dunia kosong rasul. Adapun bagaimana cara dan
bentuknya, maka Al-Qur'an tidak menceritakan sedikit pun kepada kita, dan tidak
ada urgensinya untuk diceritakan karena yang penting adalah hakikat dan
kandungannya.
Kelompok jin ini mengatakan bahwa
mencuri pendengaran tidak mungkin dapat dilakukan lagi. Ketika mereka berusaha
melakukannya sekarang, yaitu apa yang sekarang mereka istilahkan dengan
menyentuh langit, mereka dapati jalan ke sana dijaga dengan penjagaan kuat,
yang siap melempari mereka dengan panah-panah api hingga akan membinasakan
mereka yang menuju ke sana. Mereka menyatakan bahwa mereka sama sekali tidak
mengetahui perkara gaib yang ditakdirkan untuk manusia,
"Sesungguhnya kami tidak
mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagiorang yang di bumi
ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka." (al-Jin: 10)
Urusan gaib ini diserahkan kepada
ilmu Allah, karena tidak ada yang mengetahuinya selain Dia. Adapun kita tidak mengetahui
apa yang ditakdirkan Allah untuk hamba-hamba-Nya di bumi ini. Apakah Dia
menakdirkan kejelekan bagi mereka, lalu dibiarkannya mereka bergelimang dalarn
kesesatan; ataukah Dia menakdirkan jalan kebenaran-yakni petunjuk, untuk mereka
sebagai kebalikan dari keburukan, yakni kebaikan, dan berakibat kebaikan pula.
Apabila acuan (yakni bangsa jin
yang menjadi sumber acuan) para dukun yang mengaku mendapat pengetahuan perkara
gaib itu sendiri menetapkan bahwa mereka tidak mengetahui sama sekali perkara
gaib itu, maka patahlah semua perkataan, batallah segala anggapan, selesailah
urusan perdukunan dan ramalan gaib, dan murnilah urusan gaib itu hanya urusan AIIah.
Tidak seorang pun berani mengklaim bahwa dia mengetahui dan dapat
menginformasikannya. Al-Qur'an menyatakan bebasnya pikiran manusia dari semua
kesalahan dan semua anggapan dalam persoalan ini. Juga menyatakan lurus dan
bebasnya manusia sejak saat itu dari khurafat-khurafat dan mitos-mitos.
Adapun di mana adanya penjagaan
itu, siapakah dia, dan bagaimana dia melempari setan-setan dengan panah-panah
api, tidak dibicarakan sedikit pun oleh Al-Qur'an atau atsar kepada kita. Kita
tidak memiliki sumber selain keduanya itu yang dapat kita timba darinya sedikit
informasi tentang perkara gaib ini. Seandainya Allah melihat bahwa dalam
penjelasan secara rinci tentang masalah yang ada kebaikannya bagi kita, niscaya
sudah Dia jelaskan. Apabila Allah tidak menjelaskannya kepada kita, maka upaya
kita dalam masalah ini tentu akan sia-sia, dan tidak akan membuahkan apa pun
bagi kehidupan dan pengetahuan kita.
Tidak ada jalan bagi kita untuk
berpaling atau berdebat seputar masalah panah-panah api itu. Ia berjalan sesuai
dengan undang-undang alam, baik sebelum diutusnya rasul maupun sesudahnya. Juga
sesuai dengan undang-undang yang para pakar astronomi berusaha menafsirkannya
dengan teori-teori yang mungkin salah dan mungkin benar, hingga terhadap benar
tidaknya teori ini, karena masalah ini tidak termasuk dalam tema pembahasan
kita. Tidak tertutup kemungkinan juga bahwa setan-setan itu dilempari dengan
panah-panah api secara mutlak. Panah-panah api boleh saja melesat sebagai
pelempar setan atau bukan pelempar setan, sesuai dengan kehendak Allah yang
berlaku pada sunnah-sunnah-Nya.
Pandangan orang-orang yang
memandang semua ini hanya semata-mata lukisan dan gambaran tentang pemeliharaan
Allah terhadap Al-Qur’an dari segala macam kebatilan dan tidak boleh
ditafsirkan menurut Iahirnya, disebabkan mereka datang kepada Al-Qur’an sedang
di benaknya terdapat gambaran-gambaranyang sudah mereka tetapkan lebih dahulu,
yang mereka ambil dari sumber-sumber selain Al-Qur' an. Kemudian mereka
berusaha menafsirkan Al-Qur'an sesuai dengan gambaran-gambaran yang sudah ada
di dalam benak mereka Karena itu, mereka berpendapat bahwa malaikat itu sebagai
simbol kekuatan kebaikan dan ketaatan, dan setan sebagai simbol kekuatan
kejahatan dan kemaksiatan, serta bintang-bintang sebagai simbol pemeliharaan
dan penjagaan. Karena di dalam ketetapan-ketetapan mereka yang sudah ada - sebelum
mereka berhadapan dengan Al-Qur'an - menyatakan bahwa apa yang disebut malaikat, setan, ataujin itu tidak mungkin
ada wujud fisiknya seperti yang digambarkan. Ia juga tidak mungkin memiliki
gerakan-gerakan yang terasakan dan pengaruh-pengaruh yang nyata.
Dari manakah mereka mendapatkan
semua ini? Dari manakah mereka mendapatkan ketetapan-ketetapan yang mereka
pergunakan untuk menghukumi nash-nash Al-Qur’an dan al-Hadits seperü itu?
Cara yang paling ideal dalam
memahami Al-Qur'an dan menafsirkannya, serta dalam menggambarkan Islam dan
membangunnya, ialah hendaknya seseorang melepaskan dari benaknya semua
pandangannya yang terdahulu. Hendaklah ia menghadapi Al-Qur'an tanpa
menggunakan ketetapan-ketetapan pemikiran, pandangan, atau perasaan yang
mendahuluinya. Ia hendaknya juga membangun seluruh ketetapannya itu sebagaimana
Al-Qur'an dan al-hadits menggambarkan hakikat alarn wujud ini. Dengan demikian,
Al-Qur'an dan al-hadits tidak dihukumi menurut selain Al-Qur’an, tidak usah
meniadakan sesuatu yang ditetapkan Al-Qur'an, dan üdak usah
menakwil-nakwilkannya. Juga tidak menetapkan sesuatu yang ditiadakan atau
ditolak oleh Al-Qur'an. Sedangkan, apa yang tidak ditetapkan atau ditiadakan
oleh Al-Qur'an, maka bolehlah ia melontarkan pendapatnya sesuai dengan pendapat
akal dan pengalamannya
Sudah tentu kami katakan hal ini
kepada orang-orang yang beriman kepada Al-Qu’an. Sedangkan, di samping itu
mereka menakwilkan nash-nashnya untuk disesuaikan dengan ketetapan-ketetapan
dan gambaran-gambaran yang telah ada dalam benak dan pikiran mereka, mengenai
sesuatu tentang hakikat-hakikat alam wujud.
Adapun orang-orang yang tidak
beriman kepada Al-Qu’an, dan dengan serampangan menolak gambaran-gambaran ini
hanya karena ilmu pengetahuan belum
mencapainya, maka mereka itu benar-benar menggelikan. Karena ilmu pengetahuan
itu sendiri tidak mengetahui rahasia-rahasia alam wujud yang tampak jelas di
hadapan mereka, dan yang mereka pergunakan dalam percobaannya. Sedangkan, yang
demikian ini tidak meniadakan apa yang tidak mereka ketahui rahasianya itu.
Apalagi banyak dari kalangan yang
percaya kepada sesuatu yang misterius melalui jalan atau keterangan agama, atau
minimal tidak mengingkari apa yang tidak mereka ketahui. Karena dengan
pengalamannya, mereka mendapati diri mereka - melalui ilmu pengetahuannya - berada
di hadapan hal-hal misterius. Mereka mengira bahwa mereka tidak dapat
mengetahuinya, lalu mereka merendahkan diri dengan sikap ilmiah dan cerdas
tanpa mengaku yang bukan-bukan. Juga tidak mengaku telah melampaui segala
misteri, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang yang mengaku berilmu
pengetahuan dan berpikir ilmiah, tetapi mereka mengingkari hakikat agama dan
hakikat hal-hal yang gaib.
Alam di sekitar kita ini penuh
dengan rahasia, roh-roh, dan kekuatan-kekuatan. Surah ini, sebagaimana
surah-surah Iainnya dari Al-Qur'an, memberikan kepada kita beberapa sisi dari
hakikat yang ada dalam alam wujud ini. Juga yang dapat membantu untuk membangun
pandangan yang benar tentang alam wujud dan segala sesuatu yang ada padanya
yang berupa kekuatan-kekuatan, roh-roh, dan makhluk-makhluk hidup yang ada di
sekitar kita dan berinteraksi dengan kehidupan kita dan diri kita Pandangan
inilah yang membedakan seorang muslim dan menjadikannya berdiri di
tengah-tengah di antara takhayul dan khurafat dengan pengakuan-pengakuan dan
anggapan-anggapan yang berlebihan. Sebagai sumber pandangannya adalah Al-Qur'an
dan As-Sunnah.
Kepada keduanyalah seorang muslim
mengkonfirmasikan semua pandangan, pendapat, dan penafsiran
Di sana terdapat lapangan yang
dapat membantu akal manusia untuk mencari cakrawala kemisteriusan. İslam
sendiri mendorongnya untuk melakukan pelacakan seperti ini. Akan tetapi, di
belakang lapangan yang dapat membantunya terdapat sesuatu yang akal manusia
tidak mampu mencarinya, karena memang tidak diperlukan untuk mencarinya. Apa
yang tidak diperlukan bagi pengurusan bumi ini, maka tidak ada keperluan
terhadapnya dan tidak ada hikmah membantu mengungkapkannya. Karena, itu bukan
urusannya dan tidak termasuk di dalam batas-batas kekhususannya.
Kadar yang diperlukan baginya
terhadap hal itu ialah sekadar untuk mengetahui posisi sentralnya di alam ini
dibandingkan dengan apa dan siapa yang ada di sekitarnya, yang telah dijelaskan
oleh Allah, karena posisinya lebih beşar daripada kekuatan dan kemampuannya
sendiri. Tentunya dengan kadar yang termasuk di dalam kemampuannya untuk
memahaminya secara garis besar, yang di antaranya adalah makhluk gaib yang
berupa malaikat, setan, roh, asal kejadian, dan tempat kembalinya nanti.
Adapun orang-orang yang mendapat
petunjuk dari Allah, berhenti pada urusan-urusan ini sesuai kadar yang
disingkapkan Allah kepada mereka di dalam kitab-kitab-Nya dan melalui lisan
rasul-rasul-Nya. Dengan demikian, mereka memperoleh maanfaat dengan merasakan
keagungan Yang Maha Pencipta dan kebijaksanaan-Nya di dalam menciptakan semua
ini. Juga merasakan bagaimana posisi manusia di muka bumi terhadap alam lain
dan makhluk-makhluk ruhani,
Kemudian mereka pergunakan
kemampuan pikiran mereka untuk mengungkap dan mengetahui sesuatu yang
dişediakan bagi akal di bumi dan sekitarnya dalam kadar yang memungkinkan bagi
mereka. Selain itu, mereka juga menguras pengetahuan mereka untuk memakmurkan
bumi dan melaksanakan kekhalifahannya di sini, menurut petunjuk Allah, dengan
menghadapkan diri kepadaNya, dan dalam rangka meningkatkan harkat mereka sesuai
dengan yang diserukan Allah.
Sedangkan, orang-orang yang tidak
mendapat petunjuk dari Allah, terbagi menjadi dua kelompok besar.
Pertama, kelompok yang menggunakan
akalnya yang terbatas untuk memahami sesuatu yang tidak terbatas, seperti zat
Allah SWT, dan untuk mengetahui hakikat perkara gaib tanpa melalui kitab suci
yang diturunkan Allah. Di antaranya adalah para filsufyang berusaha menafsirkan
alam Maujud ini dan hubungan-hubungannya. Akibatnya, mereka tergelincir seperti
anak-anak kecil yang mendaki gunung tinggi yang tak terhingga puncaknya, atau
berusaha menebak teka-teki alam sedang mereka sendiri tidak mengetahui
huruf-huruf abjad!
Mereka memiliki pandangan-pandangan
yang lucu, padahal mereka adalah filsuf-filsuf besar, yang benar-benar
menggelikan ketika pandangan mereka dibandingkan dengan pandangan yang jelas,
lurus, dan indah yang ditetapkan oleh Al-Qur'an. Mereka menggelikan karena
menggelincirkan, kesembronoannya, dan kekerdilannya dibandingkan dengan
keagungan alam wujud yang mereka tafsirkan. Tidak terkecuali filsuf-filsuf
Yunani yang besar, filsuf-filsuf muslim yang bertaklid kepada mereka, dan
filsuf-filsuf abad modern. Ya, tampak menggelikan apabila pandangan mereka
dibandingkan dengan pandangan İslam terhadap alam wujud ini.
Kedua, golongan yang merasa putus
asa atau tidak dapat memperoleh manfaat dalam mengkaji masalah ini, lalu mereka
beralih dengan memfokuskan diri dan usahanya dalam ilmu-ilmu eksperimental dan
ilmu-ilmu terapan, dengan mengesampingkan lapangan persoalan misterius, yang
tidak ada jalan untuk dicapai dan tjdak ada petunjuk Allah ke arah sana, karena
ia tidak mampu untuk memahami Allah. Golongan itü mencapai puncak
keberlebihannya pada abad kedelapan belas dan kesembilan belas. Akan tetapi,
golongan tersebut pada permulaan abad ini mulai menyadari ketertipuannya yang
berkedok ilmu pengetahuan. Pasalnya, banyak hal yang lepas dari jangkauan
tangan mereka, dan mereka mulai menyadari bahwa memang ada hal-hal gaib yang
tersembunyi, yang hampir tidak diketahui aturannya.
Islam tetap teguh di atas batu
fondasi keyakinannya, yang memberikan kebaikan kepada manusia pada hal-hal gaib
dalam kadar tertentu, dan memberikan potensi akalnya untuk bekerja dalam
melaksanakan kekhalifahannya di muka bumi. Juga menyediakan bagi akal mereka
lapangan yang mereka dapat beraktivitas padanya secara aman, dan memberikan
petunjuk bagi mereka ke jalan yang paling lurus mengenai sesuatu yang misterius
dan nyata.
Aneka Sikap terhadap Petunjuk yang
Diberikan Allah
Setelah itu, kelompok jin tersebut
memberikan penjelasan tentang keadaan dan sikap mereka terhadap petunjuk yang
diberikan Allah. Kita memahami dari perkataan jin tersebut bahwa mereka
memiliki tabiat yang bercampur aduk sebagaimana tabiat manusia di dalam
kesiapannya merespons petunjuk dan kesesatan. Kelompok jin ini menceritakan
kepada kita tentang akidah mereka terhadap Tuhan yang mereka imani, dan tentang
keyakinan mereka mengenai akibat yang akan diterima oleh orang yang mengikuti
petunjuk dari orang yang tersesat,
وَّاَنَّا
مِنَّا الصّٰلِحُوْنَ وَمِنَّا دُوْنَ ذٰلِكَۗ كُنَّا طَرَاۤىِٕقَ قِدَدًاۙ ١١
وَّاَنَّا ظَنَنَّآ اَنْ لَّنْ نُّعْجِزَ اللّٰهَ فِى الْاَرْضِ وَلَنْ
نُّعْجِزَهٗ هَرَبًاۖ ١٢ وَّاَنَّا لَمَّا سَمِعْنَا الْهُدٰىٓ اٰمَنَّا بِهٖۗ
فَمَنْ يُّؤْمِنْۢ بِرَبِّهٖ فَلَا يَخَافُ بَخْسًا وَّلَا رَهَقًاۖ ١٣ وَّاَنَّا
مِنَّا الْمُسْلِمُوْنَ وَمِنَّا الْقٰسِطُوْنَۗ فَمَنْ اَسْلَمَ فَاُولٰۤىِٕكَ
تَحَرَّوْا رَشَدًا ١٤ وَاَمَّا الْقٰسِطُوْنَ فَكَانُوْا لِجَهَنَّمَ حَطَبًاۙ ١٥
"Sesungguhnya di antara kami ada
orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian
halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. Sesunguhnya kami
mengetahui bahwa kami sekali-kali tidak akan dapat melepasknn diri (dari
kekuasaan) Allah di muka bumi dan sekali-kali tidak (pula) dapat melepaskan
diri (daripada)-Nya dengan lari. Sesungguhnya kami tatkala mendengar Petunjuk
(Al-Qur’an), kami beriman kepadanya. Barangsiapa beriman kepada Tuhannya, maka
ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan
dosa dan kesalahan. Sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan
ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang taat,
maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. Adapun orang-orang
yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api neraka Jahannam.
"(al-Jin: 11-15)
Pengakuan dari golongan jin bahwa
di antara mereka adayang saleh dan adayang tidak saleh, ada yang muslim dan ada
yang menyimpang dari kebenaran, menunjukkan kompleksnya tabiat jin dan
berpotensinya mereka terhadap kebaikan dan keburukan seperti manusia - kecuali
yang semata-mata berpotensi terhadap keburukan seperti iblis dan kelompoknya.
Pengakuan jin di atas merupakan pengakuan yang sangat penting untuk meluruskan
pandangan umum kita terhadap makhluk ini. Karena kebanyakan kita - hingga
kalangan ilmuwan dan kaum terpelajarnya-beranggapan bahwa bangsa jin itu hanya
mencerminkan keburukan, tabiat mereka hanya untuk itu, dan hanya manusia saja
di antara makhluk-makhluk Allah yang memiliki tabiat yang kompleks.
Pandangan ini timbul dari ketetapan
terdahulu di dalam pandangan kita mengenai hakikat-hakikat alam wujud
sebagaimana sudah kami kemukakan. Sekarang sudah tiba waktunya bagi kita untuk
merevisinya dengan menyesuaikannya menurut ketetapan Al-Qur'an yang benar.
Kelompok jin ini berkata,
"Sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang salch dan di antara kami
ada (pula) yang tidak demikian halnya. "Mereka menyifati keadaan mereka
secara umum, "Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. "
Maksudnya, setiap orang dari kami (bangsa jin) memiliki jalan sendiri yang
terlepas dan terpisah dari jalan kelompok lain. Kemudian kelompok tersebut
menjelaskan akidah mereka secara khusus sesudah mereka beriman,
"Sesunguhnya, kami mengetahui
bahwa kami sekali-kali tidak akan (dapat melepaskan diri (dari kekuasaan) Allah di muka bumi dan sekali-kali tidak
(pula) dapat melepaskan diri (dari)-Nya dengan lari. " (al-Jin: 12)
Maka, mereka mengakui kekuasaan
Allah atas mereka di bumi, dan mengakui ketidakmampuan mereka untuk berlari dan
melepaskan diri dari kekuasaan dan genggaman-Nya. Jadi, mereka tidak dapat
melepaskan diri dari kekuasaan Allah di bumi ini, dan tidak dapat melepaskan
diri dari-Nya dengan berlari dari kekuasaan-Nya itu. Mereka adalah hamba yang
lemah di hadapan Tuhan, dan makhluk yang lemah di hadapan Al-KhaIiq. Mereka
merasakan kekuasaan Allah Yang Mahakuasa lagi Mahaperkasa. Nah, bangsa jin yang
demikian keadaannya itulah yang dimintai perlindungan oleh beberapa orang dari
manusia. Merekalah yang dimintai pertolongan oleh manusia untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan mereka. Mereka itulah yang oleh orang-orang musyrik
dianggap memiliki hubungan nasab dengan Allah SWT. Padahal, mereka mengakui
kelemahan dirinya dan mengakui kemahakuasaan, kekuatan, dan keperkasaan Allah.
Karena itu, mereka meluruskan, bukan hanya untuk kaumnya saja melainkan untuk
orang-orang musyrik juga. Yakni, hakikat kekuatan yang satu dan berkuasa atas alam
ini dengan apa saja yang ada di dalamnya.
Kemudian mereka menerangkan keadaan
mereka ketika mereka mendengarkan petunjuk. Hal ini sudah mereka jelaskan
sebelumnya, tetapi di sini mereka ulangi lagi sesuai dengan pembicaraan tentang
bermacam-macam sikap golongan jin terhadap keimanan,
"Sesungguhnya, kami tatkala
mendengar petunjuk (Al-Qur’an), kami beriman kepadanya. " (al-Jin: 13)
Hal ini sebagaimana seharusnya bagi
setiap orang yang mendengar petunjuk, sewaktu mereka mendengar Al-Qur'an. Akan
tetapi, mereka menyebutnya petunjuk sebagaimana hakikat dan konklusinya.
Kemudian mereka menetapkan
kepercayaan mereka terhadap Tuhan, yaitu kepercayaan orang yang beriman kepada
Tuhan Yang Melindunginya, "Barangsiapa beriman kepada Tuhannya, maka ia
tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa
dan kesalahan." (al-Jin: 13)
Inilah kepercayaan orang yang
mantap hatinya terhadap keadilan dan kekuasaan Allah, kemudian kepada tabiat
iman dan hakikatnya. Karena Allah itu Mahaadil dan tidak akan mengurangi hak
orang atas kemampuan yang bersangkutan. Apalagi Dia Mahakuasa, maka Dia akan
melindungi hamba-Nya dari pengurangan terhadap haknya secara mutlak dan akan
melindunginya dari tugas-tugas dan beban yang melampaui kemampuannya. Nah,
siapakah gerangan yang dapat mengurangi hak-hak orang yang beriman atau
menambah beban di atas kemampuannya, sedangkan ia berada di dalam perlindungan
dan pemeliharaan Allah?
Memang, kadang-kadang terdapat
kendala terhadap orang mukmin untuk mendapatkan kekayaan dunia ini, tetapi itu
bukanlah pengurangan hak. Dan, kadang-kadang dia mendapat gangguan dari pihak
yang kuat di bumi, tetapi ini bukanlah penambahan beban yang melampaui
kemampuannya. Karena, "Tuhan memberinya kekuatan sehingga ia mampu menanggungnya.
Dengan demikian, ia malah mendapat manfaat dan menjadi besar. itu, hubungannya
dengan Tuhannya menjadikan ia menganggap ringan semua kesulitan itu sehingga
perhatiannya terfokus untuk mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat.
Kalau begitu, orangyang beriman
jiwanya merasa aman dari pengurangan pahalanya dan dari beban tugas di luar
kemampuannya, "Maka, ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak
(takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan. "Rasa aman ini akan
melahirkan ketenteraman dan kegembiraan selama hidupnya. Akibatnya, ia tidak
hidup dalam goncangan dan ketakutan (stres). Sehingga, apabila ditimpa
kesulitan, ia tidak berkeluh kesah dan bersedih hati, serta tidak akan menutup
jendela-jendela jiwanya. Karena, ia akan menganggap kesulitan itu hanya sebagai
ujian yang perlu ia sikapi dengan sabar. Dengan demikian, ia akan mendapat
pahala, dan ia mengharapkan Allah akan menghilangkan penderitaannya, yang
dengan pengharapannya ini ia akan mendapat pahala pula. Maka, dalam kedua
keadaan ini, ia tidak takut dikurangi pahalanya dan tidak takut ditambah
bebannya. la juga tidak menderita kerugian dan tidak mendapatkan dosa.
Benarlah apa yang digambarkan oleh
golongan jin yang beriman itu tentang hakikat yang terang benderang ini.
Kemudian mereka menetapkan
pandangan mereka terhadap hakikat petunjuk dan kesesatan beserta pembalasan
terhadap petunjuk dan kesesatan itu,
“Sesungguhnya, di antara kami ada
orang-orangyang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran.
Barangsiapa yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang
lurus. Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi
kayu api neraka Jahannam. " (al-Jin: 14-15)
AI-qaasithuun adalah orang-orang
yang durhaka dan menjauhi keadilan dan kebaikan. Oleh golongan jin yang
beriman, mereka dimasukkan sebagai kelompok yang berlawanan dengan golongan
muslim. Dalam pernyataan ini, terdapat isyarat yang halus dan mendalam petunjuknya,
yang berarti bahwa orang muslim itu adil dan suka melakukan perbaikan.
Kebalikannya adalah al-qaasithun yakni orang yang durhaka dan suka berbuat
kerusakan. "Barangsiapa yang taat, maka mereka itu benar-benar telah
memilih jalan yang lurus.”
Penggunaan Iafal 'memilih' ini
memberi petunjuk bahwa mencari petunjuk kepada Islam itu maknanya yang halus
adalah mencari jalan yang benar, dan mencari petunjuk - sebagai kebalikan dari
penyimpangan dan kesesatan - berarti mencari kebenaran. Juga berarti memilihnya
berdasarkan pengetahuan dan dengan kesengajaan hati setelah tampak jelas dan
terang, bukan ngawur, sembrono, dan ikut-ikutan tanpa pengertian. Kalimat ini
berarti bahwa mereka secara praktis sampai kepada kebenaran pada waktu mereka
memilih Islam. Ini adalah makna yang halus dan indah.
"Adapun orang-orang yang
menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api neraka Jahannam. (al-Jin: 15)
Ayat ini menetapkan urusan mereka,
dan pada akhirnya mereka menjadi kayu bakar neraka Jahannam, yang bergejolak karenanya
dan bertambah nyalanya, sebagaimana api bergejolak dengan kayu bakar.
Hal ini menunjukkan bahwa bangsa
jin (yang masuk neraka) juga disiksa dengan api (neraka), dan mafhumnya bahwa
mereka (yang beriman dan beramal saleh) juga merasakan kenikmatan yang berupa
surga.
Demikianlah petunjuk nash AI-Qur'
an, dan inilah yang menjadi sandaran pandangan kita. Setelah ini, tidak boleh
seseorang berkata tentang tabiat bangsa jin, sifat neraka, dan sifat surga
berdasarkan alasan selain AI-Qur'an. Karena apa yang difirmankan Allah benar,
tanpa diperdebatkan lagi.
Apa yang berlaku bagi bangsa jin
seperti mereka jelaskan itu, berlaku pula bagi manusia. Hal itu sudah
disampaikan kepada mereka oleh wahyu melalui lisan Nabi mereka.
Sampai di sini wahyu menceritakan
perkataan bangsa jin dengan lafal-lafal mereka secara langsung mengenai diri
mereka. Kemudian beralih dari susunan ini dengan meringkas perkataan mereka
yang dilakukan oleh Allah terhadap orang-orang yang istiqamah di atas jalan
menuju kepada-Nya. Perkataan itu hanya disebutkan kandungannya saja, bukan
dengan lafalnya,
وَّاَنْ
لَّوِ اسْتَقَامُوْا عَلَى الطَّرِيْقَةِ لَاَسْقَيْنٰهُمْ مَّاۤءً غَدَقًاۙ ١٦
لِّنَفْتِنَهُمْ فِيْهِۗ وَمَنْ يُّعْرِضْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهٖ يَسْلُكْهُ
عَذَابًا صَعَدًاۙ ١٧
“]ika mereka tetap berjalan lurus di atas jalan
itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang
segar (rezeki yang banyak) untuk Kami beri cobaan kepada mereka padanya.
Barangsiapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya akan
dimasukkan-Nya ke dalam azab yang amat berat. " (al-Jin: 16-17)
Allah mengatakan bahwa ini adalah
perkataan bangsa jin tentang kita, yang isinya bahwa manusia itu apabila tetap
berjalan lurus (istiqamah) di jalan Allah, atau kalau orang-orang yang
menyimpang dari kebenaran itu mau berjalan Iurus di atas jalan Allah, maka Kami
beri minum mereka dengan air yang banyak, yang menyegarkan mereka, sehingga menumpahlah
rezeki dan kemakmuran atas mereka, "Untuk Kami beri cobaan kepada mereka.
" Kami uji mereka, apakah mau bersyukur ataukah kufur.
Peralihan dari menceritakan perkataan bangsa jin
kepada penyebutan kandungan perkataan mereka dalam hal ini, menambah ketegasan
petunjuknya untuk menisbatkan informasi tentang hal ini beserta janji itu
kepada Allah SWT. Peralihan semacam ini banyak terdapat di dalam uslub Al-Qur'an,
untuk menghidupkan makna, menguatkannya, dan menambah kesadaran terhadapnya.
Peralihan ini mengandung sejumlah
hakikat yang masuk di dalam pembentukan akidah mukmin, dan menggambarkan
kepadanya tentang jalannya berbagai urusan dan hubungannya.
Hakikat pertama, hubungan antara
istiqamahnya bangsa-bangsa atau masyarakat di atas satu jalan hidup yang
menyampaikannya kepada Allah, dengan diberikannya kemakmuran dan sebab-sebab
nya. Sebab yang pertama adalah diberikannya air yang segar secara cukup dan memadai.
Karena kehidupan itu selalu berjalan dengan adanya air di semua lapangan.
Kemakmuran senantiasa mengikuti keberadaan air yang penuh berkah ini hingga
pada zaman sudah bertebarannya perindustrian sekarang. Memang pertanian bukan
satu-satunya sumber rezeki dan kemakmuran, tetapi air merupakan unsur
kemakmuran yang paling penting.
Hubungan sikap istiqamah di jalan
Islam dengan kemakmuran dan kemantapan di muka bumi ini merupakan realitas yang
nyata. Dahulu bangsa Arab yang berada di tengah-tengah padang pasir itu hidup
dalam kekeringan dan kesempitan. Sehingga, setelah mereka bersikap istiqamah di
atas jalan Allah, maka dibukakanlah bagi mereka tanah yang penuh air, dan
memancarlah di sana rezeki yang banyak. Kemudian mereka menyimpang dari jalan
itu, lalu kebaikan-kebaikan mereka ditarik kembali. Mereka senantiasa berada
dalam kesulitan dan kesempitan sehingga mereka kembali ke jalan İslam, kemudian
Allah merealisasikan janji-Nya kepada mereka.
Apabila di sana terdapat
bangsa-bangsa yang tidak istiqamah di jalan Allah, kemudian mereka mendapatkan
rezeki dan kekayaan, maka mereka diazab dengan berbagai bencana lain pada
manusianya, keamanannya, atau pada nilai dan harkat manusianya, yang melucuti
makna kemakmuran dari kekayaan dan harta benda yang melimpah itu. Sehingga,
berubahlah kehidupan di kalangan mereka menjadi kutukan yang sial atas
kemanusiaan, kemuliaan, keamanan, dan ketenangan manusia (sebagaimana sudah
dijelaskan dalam menafsirkan surah Nuh).
Hakikat kedua yang bersumber dari
nash ayat ini adalah bahwa kemakmuran dan kesenangan itu adalah ujian dan
cobaan dari Allah kepada hamba-hambaNya, “Kami uji kamu dengan keburukan
(kesusahan) dan kebaikan (kesenangan) sebagai cobaan." Bersabar atas
kelapangan (kesenangan) dan melaksanakan kewajiban bersyukur atasnya serta
berbuat kebajikan pada saat itu lebih berat dan lebih jarang teıjadi daripada
bersabar terhadap kesulitan. Berbeda dengan apa yang tampak pada pandangan yang
tergesa-gesa. Maka, banyaklah orang yang sabar dan tabah terhadap kemelaratan,
karena hatinya terkonsentrasi, sadar, dan teguh, selalu ingat kepada Allah,
berlindung kepada Allah, dan memohon pertolongan kepada-Nya. Ketika
sandaran-sandaran dalam kesulitan itu gugur, maka yang tersisa hanya tirainya.
Sedangkan, kemakmuran dapat menjadikan orang lupa dan lalai, mengendorkan
anggota badan, membius unsur-unsur perlawanan dalam jiwa, dan membeıikan
kesempatan untuk terpedaya oleh kesenangan dan terninabobokan oleh setan.
Ujian dengan kenikmatan itu
senantiasa membutuhkan kesadaran yang terus-menerus untuk menjaganya dari
fitnah. Nikmat harta dan rezeki sering menimbulkan fitnah yang berupa
kesombongan dan tidak mau bersyukur, yang diiringi dengan israf “berlebih-lebihan”
atau bakhil, yang keduanya merupakan bencana bagi jiwa dan kehidupan. Nikmat kekuatan
sering menimbulkan fitnah yang berupa kesombongan dan keengganan bersyukur yang
disertai dengan kezaliman dan melampaui batas, dan menggunakan kekuatan untuk
menindas kebenaran dan menindas orang lain, serta merusak sesuatu yang diperintahkan
Allah untuk dihormati. Nikmat ketampanan dan kecantikan sering menimbulkan
fitnah yang berupa kesombongan dan keangkuhan, dan menjerumuskan yang
bersangkutan kelembah dosa dan penyelewengan. Adapun nikmat kecerdasan sering
menimbulkan fitnah yang berupa keterpedayaan dan menganggap remeh terhadap
oıang lain, nilai-nilai, dan norma-norma. Hampir tidak ada nikmat yang sunyi
dari fitnah, kecuali orangyang selalu ingat kepada Allah, lalu Allah
melindunginya.
Hakikat ketiga, bahwa berpaling
dari mengingat Allah, yang kadang-kadang terjadi karena terfitnah oleh
kelapangan hidup, dapat menyebabkan yang bersangkutan terkena azab Allah. Nash
ini menyebutkan sifat azab tersebut, “Niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam azab
yang amat berat. “ Ayat ini mengisyaratkan adanya masyaqat “kemelaratan”
sejakyang bersangkutan naik ke tempat tinggi, maka ia menemui penderitaan setiap
kali naik. Al-Qur'an secara bertahap melambangkan kesulitan atau penderitaan itu
dengan tindakan mendaki. Maka, pada satu tempat disebutkan,
"Barangsiapa yang Allah
menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya
untuk (memeluk agama) İslam. Dan, barangsiapa yang dikehendaki Allah
kesesatannya, niscayaAllah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia
sedang mendaki ke langit. " (al-An’am: 125)
Pada tempat lain disebutkan,
"Aku akan membebaninya mendaki
pendakian yang memayahkan. ” (al-Muddatstsir: 17)
İni adalah hakikat bersifat jasmani
yang sudah dikenal. Adanya perlawanan kata di sini begitu jelas, antara fitnah
karena kesenangan dan azab yang berat ketika pembalasan!
Ayat ketiga dalam konteks ini
mungkin menceritakan perkataan bangsa jin, dan mungkin frman Allah secara
orisinil,
وَّاَنَّ
الْمَسٰجِدَ لِلّٰهِ فَلَا تَدْعُوْا مَعَ اللّٰهِ اَحَدًاۖ ١٨
"Sesunguhnya masjid-massjid itu adalah
kepunyaan Allah. Maka, janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di
samping (mcnyembah) Allah. " (al-Jin: 18)
Ayat ini dalam kedua halnya (baik
menceritakan perkataan jin maupun firman Allah secara orisinil) menunjukkan
bahwa sujud atau tempat-tempat sujud yakni masjid-masjid adalah hanya kepada
atau kepunyaan Allah. Maka, di sana haruslah ditegakkan tauhid yang murni,
hilanglah semua bayang-bayang bagi seseorang, semua nilai, dan semua anggapan.
Udaranya harus bersih dan ubudiah haruslah dilakukan dengan ikhlas semata-mata
karenaAllah. Sedangkan, menyeru kepada selain Allah itu mungkin dengan
melakukan ibadah kepada selain-Nya. Kadangkadang dengan berlindung kepada
selain Allah, dan kadang-kadang dengan menggantungkan hati ke pada selain-Nya.
Apabila ayat ini dari perkataan
jin, maka ia merupakan penegasan terhadap perkataan mereka pada surah al-Jin ayat
2, "Kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorangpun dengan Tuhan
kami" di tempat khusus, yaitu tempat ibadah dan sujud. Jika ayat ini dari
firman Allah sendiri, maka ia merupakan pengarahan yang sesuai dengan perkataan
golongan jin dan pentauhidan mereka terhadap Allah, yang disebutkan pada
tempatnya menurut uslub Al-Qur'an.
Demikian pula dengan ayat berikut,
وَّاَنَّهٗ
لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللّٰهِ يَدْعُوْهُ كَادُوْا يَكُوْنُوْنَ عَلَيْهِ لِبَدًاۗ
ࣖ ١٩
“Tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri
menyembah-Nya (mengerjakan ibadah), hampir saja mereka desak-mendesak mengerumuninya. "
(al-Jin: 19)
Yakni, mereka berdesak-desakan
mengerumuni Rasulullah saw. ketika beliau melakukan shalat dan berdoa kepada
Tuhannya. Shalat itu pada asalnya berarti doa.
Apabila kalimat di atas dari
perkataan jin, maka ia menceritakan penuturan jin tentang kaum musyrikin Arab
yang berkumpul secara berkelompok-kelompok di sekitar Rasulullah saw. ketika
sedang mengerjakan shalat atau membaca Al-Qur’an sebagaimana disebutkan dalam
surah al-Ma’aarij ayat 36 dan 37, “Mengapakah orang-orang kafir itu bersegera
datang ke arahmu, dari kanan dan dari kiri dengan berkelompok-kelompok.?”
Mereka mendengarkan dengan merasa tercengang, tetapi tidak mau menerimanya.
Atau, mereka berkumpul untuk mengganggu beliau, kemudian Allah melindungi
beliau dari gangguan sebagaimana yang terjadi berulang kali. Perkataan jin kepada
kaummnya ini menunjukkan keheranan mereka terhadap kelakuan kaum musyrikin itu!
Namun, apabila perkataan perkataan
ini firman Allah sendiri, maka ia menceritakan keadaan sekelompok jin tersebut
ketika mereka mendengarkan Al-Qur’an yang mengagumkan lalu mereka tertarik dan
tercengang, dan berdesak-desakan mengerumuni Rasulullah saw. Sebagian mereka
menempel pada sebagian yang lain, sebagaimana bulu yang kempal dan tersusun
rapi.
Barangkali kemungkinan yang kedua
inilah yang lebih dekat kepada kebenaran, berdasarkan petunjuk ayat, karena
relevan dengan ketakjuban, ketercengangan, kegoncangan perasaan, dan ketakutan
yang tampak pada semua perkataan kelompok jin itu. Wallahu a 'lam.
Tugas Rasul Hanya Menyampaikan,
Beliau Tidak Berkuasa Mendatangkan Manfaat dan Mudharat, dan Tidak Mengetahui
Perkara Gaib
Sebelumnya Allah melalui firman-Nya
telah menceritakan perkataan bangsa jin tentang Al-Qur’an dan tentang urusan
ini, yang mengagetkan jiwa mereka, menggoncang perasaan mereka, dan menunjukkan
kepada mereka betapa sibuknya langit, bumi, malaikat, dan bintang-bintang
terhadap urusan ini. Juga terhadap bekas-bekas yang ditimbulkannya pada
keteraturan seluruh alam, keseriusan yang dikandungnya, dan undang-undang alam
yang menyertainya.
Setelah semua itu selesai, rnaka
firman berikutnya ditujukan kepada Rasulullah saw. yang disampaikan dengan
irama yang indah, serius, dan penuh kepastian. Tujuan firman-Nya itu adalah
agar beliau bertablig (menyampaikan kepada manusia), dan membersihkan diri dari
semua urusan ini sesudah bertablig. Juga membersihkan diri dari semua anggapan
mengetahui perkara gaib, atau mengetahui nasib manusia dan takdir mereka. Semua
itu dikemas dengan disertai sentuhan kesedihan dan kegundahan, seiring dengan
kesungguhan dan keseriusannya,
قُلْ
اِنَّمَآ اَدْعُوْا رَبِّيْ وَلَآ اُشْرِكُ بِهٖٓ اَحَدًا ٢٠ قُلْ اِنِّيْ لَآ
اَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَّلَا رَشَدًا ٢١ قُلْ اِنِّيْ لَنْ يُّجِيْرَنِيْ مِنَ
اللّٰهِ اَحَدٌ ەۙ وَّلَنْ اَجِدَ مِنْ دُوْنِهٖ مُلْتَحَدًا ۙ ٢٢ اِلَّا بَلٰغًا
مِّنَ اللّٰهِ وَرِسٰلٰتِهٖۗ وَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَاِنَّ لَهٗ
نَارَ جَهَنَّمَ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًاۗ ٢٣ حَتّٰىٓ اِذَا رَاَوْا مَا
يُوْعَدُوْنَ فَسَيَعْلَمُوْنَ مَنْ اَضْعَفُ نَاصِرًا وَّاَقَلُّ عَدَدًاۗ ٢٤
قُلْ اِنْ اَدْرِيْٓ اَقَرِيْبٌ مَّا تُوْعَدُوْنَ اَمْ يَجْعَلُ لَهٗ رَبِّيْٓ
اَمَدًا ٢٥ عٰلِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلٰى غَيْبِهٖٓ اَحَدًاۙ ٢٦ اِلَّا
مَنِ ارْتَضٰى مِنْ رَّسُوْلٍ فَاِنَّهٗ يَسْلُكُ مِنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ
خَلْفِهٖ رَصَدًاۙ ٢٧ لِّيَعْلَمَ اَنْ قَدْ اَبْلَغُوْا رِسٰلٰتِ رَبِّهِمْ
وَاَحَاطَ بِمَا لَدَيْهِمْ وَاَحْصٰى كُلَّ شَيْءٍ عَدَدًا ࣖ ٢٨
"Katakanlah, 'Sesungguhnya, aku hanya
menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya.' Katakanlah,
'Sesungguhnya, aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatan pun kepadamu
dan tidak (pula) sesuatu kemanfaatan. ' Katakanlah, 'Sesunguhnya, aku
sekali-kali tiada seorangpun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan
sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain dari-Nya. Akan tetapi,
(aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalah-Nya. Barangsiapa
yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam,
mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sehingga, apabila mereka melihat azab
yang diancamkan kepada mereka, maka mereka akan mengetahui siapakah yang lebih
lemah penolongnya dan lebih sedikit bilangannya. 'Katakanlah, 'Aku tidak
mengetahui, apakah azab yang diancamkan kepadamu itu dekat ataukah Tuhanku
menjadikan bagi (kedatangan) azab itu, masa yang panjang?' (Dia adalah Tuhan)
Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun
tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesunguhnya
Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat)
di muka dan di belakangnya. Supaya Dia mengetahui bahwa sesunguhnya
rasul- rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang
(sebenamya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung
segala sesuatu satu per satu. " (al-Jin: 20-28)
Katakan wahai Muhammad,
"Sesungguhnya, aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan
sesuatu pun dengan-Nya. "
Pernyataan ini datang setelah
pernyataan keIompok jin itu kepada kaumnya, "Kami sekali-kali tidak akan
mempersekutukan seorangpun dengan lidan kami. " Maka, ia merasakan dan
meresapinya.
Ini adalah perkataan manusia dan
jin, yang sama-sama mengakui kalimat tersebut Karena itu, barangsiapa yang
menyimpang dari kalimat ini seperti kaum musyrikin, maka ia terkucil dari alam
semesta.
"Katakanlah, 'Sesungguhnya,
aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatan pun kepadamu dan tidak (pula)
sesuatu kemanfaatan. "' (al-Jin: 21)
Rasulullah saw. diperintahkan untuk
membersihkan diri dan berlepas tangan dari mengklaim sesuatu yang merupakan hak
khusus Allah Yang Maha Esa yang disembahnya dan tidak dipersekutukannya dengan
seorang pun. Karena Dia sajalah yang berkuasa memberi mudharat dan manfaat.
Sebagai kebalikan dari mudharat adalah rasyad ‘kemanfaatan, kebaikan'
yakni hidayah (petunjuk) sebagaimana disebutkan dalam perkataan bangsa jin ini
sebelumnya pada surah al-Jin ayat 10, "Sesungguhnya, kami tidak mengetahui
(dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang
di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki rasyad 'kebaikan' bagi mereka. "
Maka, bersesuaianlah kedua
perkataan ini dalam arahnya, dan lafalnya pun hampir sama Bersesuaian maksud
kisah dan komentarnya, sebagaimana banyak terdapat di dalam uslub Al-Qur'an.
Dengan pernyataan ini dan itu, maka
berlepas tanganlah bangsa jin -yang merupakan tempat syubhat dalam masalah
kekuasaan memberi manfaat dan mudharat- dan Nabi saw. Hanya zat Ilahi saja yang
berkuasa mutlak terhadap urusan itu. Maka, lurusIah tashawwur imani dengan
pembersihan diri yang total, jelas, dan terang ini.
"Katakanlah, 'Sesungguhnya,
aku sekali-kali tiada seorangpun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan
sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain dari-Nya. Akan tetapi,
(aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risaIah-Nya. "' (al-Jin:
22-23)
Ini adalah perkataan yang penuh
rasa takut, yang memenuhi hati dengan keseriusan urusan itu, urusan risalah dan
dakwah. Rasulullah saw. diperintahkan untuk menyatakan dan mengumumkan hakikat yang
besar ini, "Sesungguhnya, tidak ada seorang pun yang dapat melindungiku
dari azab Allah dan aku tidak akan
memperoleh tempat berlindung. Tugasku hanya menyampaikan urusan dan menunaikan
amanat ini. Maka, hanya inilah satu-satunya tempat berlindung yang aman. Urusan
ini bukan urusanku. Aku tidak mempunyai wewenang sedikit pun kecuali hanya
menyampaikan, dan aku tidak dapat menghindar dari tugas menyampaikan ini. Aku
dituntut oleh AIIah untuk melakukan tugas ini, dan tidak ada seorang pun yang
dapat melindungiku dari azab-Nya. Aku tidak akan memperoleh tempat berlindung
selain-Nya yang dapat melindungiku, kecuali kalau aku mau menyampaikan dan
menunaikan tugas ini."
Wahai, betapa takutnya. Betapa takutnya.
Betapa seriusnya!
Ini bukan pekerjaan sukarela yang
dilakukan oleh pelaku dakwah. Tetapi, ini adalah tugas yang pasti dan mengikat,
yang tidak dapat lari dari menunaikannya. Sedangkan, Allah berada di
belakangnya.
Ini bukanlah kesenangan pribadi
untuk menyampaikan petunjuk dan kebaikan kepada manusia. Tetapi, ini adalah
persoalan sangat luhur yang tidak mungkin dia berpaling darinya dan
meragukannya.
Demikianlah tampak jelas urusan
dakwah dan batasannya. Ini tugas dan kewajiban, yang di belakangnya ada rasa
takut, keseriusan, dan Yang Mahabesar lagi Mahatinggi!
"Barangsiapa yang mendurhakai Allah
dan Rasul-Nya, maka sesunguhnya baginya neraka Jahannam, mereka kekal di
dalamnya selama-lamanya. Sehingga, apabila mereka melihat azab yang diancamkan
kepada mereka, maka mereka akan mengetahui siapakah yang lebih lemah
penolongnya dan lebih sedikit bilangannya. " (al-Jin: 23-24)
Ini adalah ancaman yang nyata dan
berlipat bagi orang yang sampai kepadanya perintah ini, tetapi kemudian dia
durhaka, setelah ditunjuk dengan sungguh-sungguh dan serius untuk bertugas
menyampaikan risalah itu.
Apabila kaum musyikin mengandalkan
kekuatan dan jumlahnya, dan membandingkan kekuatan mereka dengan kekuatan Nabi
Muhammad saw. dan kaum mukminin yang sedikit jumlahnya, maka mereka akan
mengetahui ketika mereka melihat apa yang diancamkan kepada mereka, mungkin di
dunia dan mungkin di akhirat nanti, "Siapa yang lebih lemah penolongnya
dan lebih sedikit bilangannya. "Manakah dari kedua golongan ini yang lemah
dan hina, kecil dan kerdil?
Kita kembali kepada perkataan jin.
Maka, kita dapati mereka mengatakan,
“Sesungguhnya kami mengetahui bahwa
kami sekali-kali tidak akan dapat melepaskan diri (dari kekuasaan) Allah di
muka bumi dan sekali-kali tidak (pula) dapat melepaskan diri (dari)-Nya dengan
lari. " (al-Jin: 12)
Kita dapati komentar terhadap kisah
ini dengan begitu serasi, dan kita dapati pula kisah ini sebagai pendahuluan
bagi komentar tersebut yang disebutkan tepat pada saat yang diminta.
Kemudian Rasulullah saw.
diperintahkan untuk membersihkan diri dan berlepas tangan dari urusan gaib,
"Katakanlah, 'Aku tidak
mengetahui, apakah azab yang diancamkan kepadamu itu dekat ataukah Tuhanku
menjadikan bagi (kcdatangan) azab itu, masa yang panjang?"' (al-Jin: 25)
Dakwah itu bukan urusan Rasulullah.
Beliau tidak memiliki wewenang sedikit pun selain hanya menyampaikan saja
sebagai pelaksanaan tugas, dan melindungkan dirinya ke daerah aman yang tidak
dapat dicapai kecuali dengan menyampaikan risalah dan menunaikan tugas. Adapun
apa yang diancamkannya kepada orang-orang yang melanggar dan mendustakannya,
maka itu adalah urusan Allah. Beliau tidak bisa campur tangan sama sekali, dan
tidak mengetahui kapan waktu terjadinya. Beliau tidak mengetahui apakah masanya
sudah dekat ataukah Allah menjadikan masa yang panjang untuk kedatangan azab
itu, baik azab dunia maupun azab akhirat. Semuanya merupakan urusan gaib yang
ada dalam pengetahuan Allah. Nabi tidak mengetahui sedikit pun mengenai kapan
waktunya.
Allah sendirilah yang mengetahui
perkara gaib, tidak ada pihak Iain yang mengetahuinya,
"(Dia adalah Tühan) Yang Mengetahui
yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang gaib
itu. "(al-Jin: 26)
Nabi saw. berhenti dengan
membersihkan diri dari semua sifat kecuali sifat ubudiah. Maka, beliau adalah
'abdullah ‘hamba Allah', dan ini merupakan identitas beliau dalam derajat dan
kedudukan yang paling tinggi. Bersih pulalah tashawwur islami dari semua
syubhat dan kesamaran. Sedangkan, Nabi hanya diperintahkan untuk bertablig
(menyampaikan risalah), lalu beliau pun menyampaikannya.
Di sana hanya ada satu pengecualian
untuk mengetahui perkara gaib, yaitu rasul-rasul yang diizinkan Allah untuk
mengetahuinya Itu pun dalam batas-batas yang sekiranya dapat membantunya di
dalam menyampaikan dakwah kepada manusia. Maka, tidak ada yang diwahyukan
kepada mereka kecuali sebagian dari urusan gaib-Nya, yang disingkapkan kepada
mereka pada waktu dan dalam kadar tertentu. Dipelihara-NyaIah mereka di dalam
bertablig dan diawasi-Nya pula. Rasulullah saw. diperintahkan menyatakan hal
itu dalam bentuk kalimat yang indah, serius, dan menakutkan,
"Kecuali kepada rasul yang
diridhai-Nya, maka sasungguhnyaDia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di
muka dan di belakangnya. Supaya Dia mengetahui bahwa sesungguhnya rasul-rasul
itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya,
sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia
menghitung segala sesuatu satu per satu. " (al-Jin: 27-28)
Para rasul yang diridhai
(diizinkan) oleh Allah untuk menyampaikan dakwahnya itu sajalah yang
diberitahukan sebagian perkara gaib oleh-Nya, yaitu wahyu ini. Pengetahuan
mengenai wahyu itu melipuü tentang isinya, caranya, malaikat yang membawanya,
sumbernya, terpeliharanya di Lauh Mahfuzh, dan persoalan lain yang berhubungan
dengan tema risalahnya, yang ada di dalam simpanan kegaiban yang tidak ada
seorang pun dari mereka yang mengetahuinya.
Pada waktu yang sama, para rasul
itu diliputi dengan penjagaan dan perlindungan dari para malaikat penjaga. Para
malaikat itu menjaga dan melindungi mereka dari bisikan-bisikan dan godaan
setan, dan bisikan nafsu dan khayalannya sendiri, dari kelemahannya sebagai
manusia dalam urusan risalah, dari kelalaian dan keberpalingan, dan dari semua
bentuk kekurangan dan kelemahan yang biasa terjadi pada diri manusia.
Ungkapan yang menakutkan,
"Maka, sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan
di belakanuya", ini menggambarkan pengawasan yang terus-menerus dan
sempurna terhadap Rasulullah ketika beliau menunaikan tugas yang besar ini.
“.. Supaya Dia mengetahui bahwa sesungguhnya
rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya.. “
Sudah tentu Allah mengetahui. Akan
tetapi, maksudnya adalah bahwa mereka telah menyampaikan risalah, dan ilmu
Allah ini juga berhubungan dengan dunia realitas.
".. .Sedang (sebenarnya)
ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka.. “
Maka tidak ada sesuatu pun di dalam
jiwa mereka, dalam kehidupan mereka, dan di sekitar mereka, melainkan semuanya
berada di dalam genggaman pengetahuan Allah.
“… Dan, Dia menghitung segala
sesuatu satu persatu. "
Tidak hanya terbatas pada apa yang
ada di sisi para rasul saja, melainkan meliputi segala sesuatu, dengan
perhitungan yang sangat cermat, menyeIuruh, dan dengan pengetahuan.
Bayangkanlah keadaan ini!
Rasulullah diliputi dengan penjagaan dan pengawasan, dan pengetahuan Allah
meliputi segala sesuatu yang ada di sisi dan di sekelilingnya. Beliau menerima
tugas seperti militer, tak dapat ditolak Pelaksanaannya tidak diserahkan kepada
dirinya, kelemahannya, hawa nafsunya, atau menurut apa yang disukai dan
disenanginya. Tetapi, pelaksanaannya harus serius, bersungguh-sungguh, dan
diawasi dengan cermat.
Beliau mengetahui hal ini dan
menjalankan tugas dengan istiqamah, tidak menoleh ke sini atau ke sana. Karena,
beliau mengetahui adanya penjagaan dan pengawasan di sekelilingnya, dan beliau
juga mengetahui apa yang ditugaskan kepadanya dengan sejelas-jelasnya.
Ini adalah sikap yang menebarkan
kelembutan terhadap sikap Rasulullah, sebagaimana ia juga menebarkan rasa takut
sekitar urusan yang sangat penting ini.
Dengan kesan yang menakutkan itu,
ditutuplah surah ini, yang dimulai dengan kesan menakutkan yang juga tampak
dari perkataan bangsa jin yang panjang dan terperinci.
Surah yang berisi dua puluh delapan
ayat ini menetapkan sejumlah hakikat pokok di dalam membangun akidah seorang
muslim dan dalam menciptakan pandangannya yang jelas, seimbang, Iurus, tidak
berlebih-lebihan, tidak mengurang-ngurangi, tidak menutup jendela-jendela
pengetahuan pada jiwanya, dan tidak berjalan mengikuti mitos-mitos dan khurafat-khurafat.
Benarlah apa yang dikatakan oleh
golongan jin itu ketika mereka mendengarkan Al-Qur' an,
"Sesungguhnya, kami telah
mendengarkan Al-Qur’an yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan
yang benar, lalu kami beriman kepadanya. " (al-Jin: 1-2)
No comments:
Post a Comment