Wednesday, April 29, 2026

Tafsir Surah Al-Jinn

Pengantar

Surah ini didominasi oleh perasaan, sebelum seseorang melihat makna-makna dan hakikat-hakikat yang dikandungnya, tentang sesuatu yang lain dengan begitu jelas di dalamnya. Sesungguhnya surah ini adalah sepotong musik yang ritmis dan puitis. Tampak jelas kesamaan bunyi yang penuh irama, disertai dengan warna nada yang haru penuh kesan, irama-iramanya menyentuh perasaan, dan aneka keindahan nada-nadanya, yang serasi sekali dengan lukisan-lukisan, bayang-bayang, dan pemandangan-pemandangan, dan semangat pengarahan yang ada di dalam surah ini. Khususnya pada bagian terakhir setelah selesai menceritakan kisah perkataan bangsa jin, dan pengarahan firman Allah kepada Rasulullah saw dengan firman yang menggugah kesadaran terhadap kepribadian Rasul di dalam jiwa orang yang mendengarkan surah ini, suatu perasaan yang diiringi dengan kecintaan. Yakni, saat beliau diperintahkan untuk menyatakan terlepasnya dari segala sesuatu dalam urusan dakwah selain hanya menyampaikan dan mengingat pengawasan-llahi di sekitarnya ketika beliau menunaikan tugas ini,

"Katakanlah, 'Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya.' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatan pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu kemanfaatan.' Katakanlah, ‘Sesunguhnya aku sekali-kali tiada seorangpun yang (dapat melindungku dari (azab) Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain dari-Nya. Akan tetapi, (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalah-Nya.’ Barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sesunguhnya baginyalah neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sehingga, apabila mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka, maka  mereka akan mengetahui siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit bilangannya. Katakanlah, 'Aku tidak mengetahui, apakah azab yang diancamkan kepadamu itu dekat ataukah Tuhanku menjadikan bagi (kedatangan) azab itu, masa yang panjang?' (Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentangyang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesunguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. Supaya Dia mengetahui bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu. " (al-Jin: 20-28)

Hal itu di samping kesan-kesan kejiwaan terhadap hakikat-hakikat yang terdapat di dalam kisah perkataan bangsa jin dan penjelasan mereka yang panjang lebar. Ini adalah hakikat-hakikat yang memiliki bobot dan timbangan yang berat di dalam perasaan dan pandangan. Sambutan positif terhadapnya melebihi apa yang dirasakan ketika yang bersangkutan merenungkan dan memikirkannya. Sehingga, sesuai dengan sentuhan kesedihan dan nyanyian sendu yang sejalan dengan irama musikal surah ini.

Membaca surah ini dengan perlahan-lahan dan tenang, akan menimbulkan sentuhan dalam perasaan sebagaimana kami jelaskan di atas.

Apabila kita lewati fenomena-fenomena yang mendominasi perasaan ini dan beralih kepada tema surah dan makna-maknanya serta arahannya, maka akan kita dapati surah ini penuh dengan bermacam-macam petunjuk dan pengarahan.

Surah ini dimulai dengan kesaksian dari alam lain tentang banyaknya persoalan akidah yang diingkari dan ditentang kaum musyrikin dengan sekeras-kerasnya. Mereka lemparkan urusannya tanpa sandaran argumentasi yang akurat. Kadang-kadang mereka melontarkan tuduhan bahwa Nabi Muham mad saw. menerima dari bangsa jin apa yang beliau katakan kepada mereka. Maka, datanglah kesaksian dari bangsa jin sendiri tentang persoalan-persoalan yang mereka ingkari dan tentang itu, serta sanggahan terhadap tuduhan mereka bahwa Nabi Muhammad menerima wahyu dari jin. Pasalnya, bangsa jin sendiri tidak mengetahui Al-Qur'an ini kecuali setelah mereka mendengarnya dari Nabi Muhammad saw.

Al-Qur'an memberikan sentuhan yang sangat besar dan menakutkan sehingga mereka merasa terkejut dan kebingungan. Sentuhan itu memenuhi jiwa mereka dan bahkan meluap-luap sehingga mereka tidak dapat berdiam diri terhadap apa yang mereka dengar itu, serta mereka tidak dapat meringkas apa yang mereka ketahui dan rasakan. Kemudian mereka pergi kepada kaumnya untuk menceritakan peristiwa besar ini dengan penuh rasa takut dan kebingungan. Peristiwa besar yang menyibukkan langit, bumi, manusia, jin, malaikat, dan bintang-gemintang, itu meninggalkan bekas-bekas dan kesan-kesan pada seluruh alam semesta. Yaitu, kesaksian dengan nilainya tersendiri di dalam jiwa manusia.

Selanjutnya diluruskanlah kesalahpahaman yang banyak jumlahnya terhadap dunia jin di dalam jiwa orang-orang yang dibicarakan oleh firman ini sejak permulaan surah, dan di dalam jiwa semua manusia sebelum dan sesudahnya. Juga diletakkannya hakikat makhluk gaib ini pada proporsi yang sebenarnya tanpa melebihkan dan mengurangi.

Pasalnya, bangsa Arab yang dibicarakan oleh firman ini pertama kali, memiliki kepercayaan bahwa bangsa jin itu memiliki kekuasaan terhadap bumi. Karena itu, apabila salah seorang dari mereka melewati suatu lembah atau padang, maka dia merninta perlindungan kepada pembesar jin yang dianggapnya berkuasa terhadap wilayah yang ia lewati itu. Lalu, ia berkata, "Aku berlindung kepada pemuka lembah ini dari kaumnya yang bodoh-bodoh." Kemudian ia bermalam dengan aman.

Mereka juga memiliki kepercayaan bahwa jin itu mengetahui perkara gaib, dan memberitahukannya kepada tukang-tukang tenung. Maka, mereka meminta informasi tentang perkara gaib ini kepada para tukang tenung sebagaimana kepada jin-jin itu. Karena itu, di antara mereka (bangsa Arab) ada yang menyembah jin, dan menetapkan bahwa antara Allah dan jin terdapat hubungan nasab. Mereka beranggapan bahwa AIIah SWT mempunyai istri dari bangsa jin dan melahirkan anak yang berupa malaikat.

Kepercayaan kepada jin seperti ini atau yang mirip dengan ini sudah merata di semua kalangan jahiliah. Kepercayaan dan mitos-mitos seperti ini masih terus berkembang dan mendominasi banyak lingkungan hingga sekarang.

Ketika kepercayaan-kepercayaan yang keliru dan mitos-mitos ini semarak di dalam hati, perasaan, dan pandangan manusia terhadap jin pada zaman dahulu, dan akan terus berlangsung, maka di kalangan barisan orang zaman mutakhir ini ada yang mengingkari keberadaan jin sama sekali. Mereka menganggap cerita tentang makhluk gaib ini sebagai cerita khurafat (bohong).

Nah, antara terperosok dalam kekeliruan (kepercayaan yang berlebihan) dan dalam mengingkari (keberadaan jin), maka Islam menetapkan hakikat jin yang sebenarnya, dan meluruskan pandangan masyarakat umum terhadapnya, serta membebaskan hati dari perasaan takut terhadapnya dan tunduk kepada kekuasaannya yang tidak tepat.

Karena itu, jin pada hakikat ada eksistensinya. Mereka adalah sebagaimana yang mereka identifikasi sendiri di sini,

"Sesunguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. '' (al-Jin: 11)

Di antara mereka ada yang sesat dan menyesatkan, dan di antaranya ada yang masih bersahaja dan lugu,

“Orangyang kurang akal daripada kami dahulu selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah. Sesungguhnya kami mengira bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah " (al-Jin: 4-5)

Mereka mau menerima petunjuk dari kesesatan dan siap untuk memahami Al-Qur'an dengan mendengarkan, memikirkan, dan menghayatinya,

"Katakanlah (hai Muhammad), ‘Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (Al- Qur’an)’, lalu mereka berkata, 'Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur’an yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Tuhan kami.  (al-Jin: 1-2)

Bangsa jin juga menerima bahwa diciptakannya mereka untuk menerima balasan sebagai akibat dari keimanan dan kekafiran mereka,

"Sesungguhnya, kami tatkala mendengar petunjuk (Al-Qur’an), kami beriman kepadanya. Barangsiapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan. Sesunguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api neraka Jahannam. " (al-Jin: 13-15)

Mereka tidak dapat memberi manfaat kepada manusia ketika manusia meminta perlindungan kepada mereka. Bahkan sebaliknya, mereka malah menambah dosa dan kesalahan bagi manusia itu, "Ada bebaapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. " (al-Jin: 6)

Mereka tidak mengetahui perkara gaib dan tidak termasuk makhluk yang mempunyai hubungan dengan langit,

“Sesungguhnya, kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api. Sesungguhnya, kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi, sekarang barang siapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu), tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya). Sesungguhnya, kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukanyang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka. "(al-Jin: 8-10)

Mereka juga tidak mempunyai hubungan persemendaan (perbesanan) dan keturunan dengan Allah Yang Mahasuci, 

"Mahatinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristri dan tidak (pula) beranak. " (al-Jin: 3)

Jin itu tidak mempunyai kekuatan dan daya upaya terhadap kekuatan Allah,

'Sesunguhnya kami mengetahui bahwa kami sekali-kali tidak akan dapat melepaskan diri (dari kakuasaan) Allah di muka bumi dan sekali-kali tidak (pula) dapat melepaskan diri (dari)-Nya dengan lari. " (al-Jin: 12)

Apa yang disebutkan di dalam surah ini tentang jin ditambah dengan apa yang disebutkan sifat-sifatnya yang lain di dalam Al-Qur'an seperti ditundukkannya segolongan setan, dari golongan jin, bagi Nabi Sulaiman dan bahwa mereka tidak mengetahui kematian Sulaiman kecuali setelah beberapa lama kemudian, maka hal itu menunjukkan bahwa mereka tidak mengetahui perkara gaib,

"Maka, tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang gaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan. " (Saba': 14)

Juga seperti firman Allah tentang salah satu kekhususan dari kekhususan-kekhususan iblis dan kelompoknya yang notabene dari golongan jin, selain kekhususannya terhadap kejelekan, kerusakan, dan penipudayaan,

"Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. " (al-A'raaf: 27)

Ayat ini menunjukkan bahwa keberadaan jin itu tidak dapat dilihat oleh manusia, sedang keberadaan manusia dapat dillhat oleh jin.

Apa yang disebutkan ini dan apa yang ditetapkan di dalam surah ar-Rahman tentang materi yang menjadi alat diciptakannya jin dan materi yang dijadikan alat diciptakannya manusia di dalam firman Allah dalam surah ar-Rahman ayat 14-15, "Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar, dan Dia menciptakan jin dari nyala api", memberikan gambaran tentang makhluk gaib (jin) itu, yang menetapkan keberadaan dan membatasi keistimewaan-keistimewaannya. Pada waktu yang sama, ia menyingkap kesalahan-kesalahan dan mitos-mitos yang terdapat dalam benak manusia mengenai makhluk yang bernama jin itu, dan memberikan gambaran bagi kaum muslimin tentang jin ini dengan gambaran yang jelas, cermat, serta bebas dari khayalan-khayalan bohong, khurafat, dan sikap keras kepala mengingkari keberadaannya.

Surah ini berusaha keras meluruskan pandangan kaum musyrikin Arab dan lain-lainnya yang menganggap adanya kekuasaan dan peranan jin terhadap alam semesta.

Mengenai orang-orang yang menolak dengan keras keberadaan jin secara mudah, maka saya tidak mengetahui atas dasar argumentasi yang pasti dan qath'i apa mereka mengingkari keberadaan jin, menertawakan orang yang mempercayainya, dan menganggap mempercayai keberadaan jin itu se bagai khurafat.

Apakah karena mereka melihat makhluk-makhluk yang ada di alam semesta ini lantas mereka tidak menjumpai jin di antara mereka? Tidak ada seorang pun ulama yang beranggapan demikian hingga hari ini. Di bumi ini saja banyak makhluk hidup yang baru terungkap keberadaannya hari demi hari. Tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa seluruh makhluk hidup di bumi ini sudah terungkap mata rantainya atau akan terungkap dalam satu hari saja!

Apakah karena mereka mengetahui bahwa semua kekuatan yang tersembunyi di alam ini lantas mereka tidak menjumpai jin di antara mereka? Sesungguhnya, tidak ada seorangpun yang mengklaim seperti itu. Karena di sana terdapat kekuatan-kekuatan tersembunyi yang terungkap setiap hari, sedangkan sebelumnya tidak diketahui. Karena itu. para ilmuwan yang mengenal dengan baik tentang kekuatan-kekuatan alam, mengumumkan hasil penemuan ilmiah mereka dengan sikap merendahkan diri bahwa mereka menemukan sesuatu yang misterius di alam ini. Mereka hampir-hampir tidak dapat memulainya lagi sesudah itu.

Atau, apakah karena mereka melihat bahwa mereka telah mempergunakan semua kekuatan, lantas mereka tidak melihat jin di antara kekuatan-kekuatan itu? Sesungguhnya mereka baru saja membicarakan tentang Iistrik dengan menerangkan hakikat ilmiahnya sejak mereka berhubungan dengan pemecahan atom.

Tetapi, tidak ada seorang pun dari mereka yang dapat melihat wujud listrik itu. Di tempat-tempat kerja mereka pun tidak terdapat alat yang dapat mereka pergunakan untuk memisahkan listrik-listrik yang mereka bicarakan itu.

Nah, kalau demikian, mengapa mereka berani memastikan tidak adanya jin? Pengetahuan manusia mengenai alam semesta beserta kekuatan dan penghuninya sangatlah sedikit. Sehingga, tidak memungkinkan bagi orang yang masih menghormati akalnya untuk menetapkan sesuatu yang di Iuar pengetahuannya). Atau, apakah mereka mengingkari keberadaan jin karena makhluk yang bernama jin itu selalu berkaitan dengan bermacam-macam khurafat dan mitos? Sesungguhnya metode yang kami tempuh dalam hal ini justru menolak khurafat-khurafat dan mitos-mitos sebagaimana yang dilakukan oleh Al-Qur'anul-Karim, bukannya dengan serampangan mengingkari keberadaan makhluk (jin) ini secara mendasar tanpa argumentasi dan dalil yang akurat.

Makhluk gaib seperti ini memang hanya boleh diterima informasinya dari sumber satu-satunya yang dapat dipercaya kebenarannya, dan tidak boleh menentang sumber ini dengan pandangan-pandangan di muka yang tak berdasar. Karena apa yang dikatakan oleh sumber itu (Allah SWT) adalah kata yang pasti, dalam topik seperti ini.

Surah yang ada di hadapan kita ini, ditambah dengan apa yang telah disebutkan di muka, memiliki andil yang besar di dalam membentuk tashawwur islami tentang hakikat uluhiyah dan hakikat ubudiah. kemudian tentang alam dan makhluk, serta hubungan antar makhluk yang beraneka macam ini.

Apa yang dikatakan oleh jin itu memberikan kesaksian tentang keesaan Allah, meniadakan istri dan anak bagi-Nya, menetapkan adanya pembalasan di akhirat, dan tidak ada seorang pun dari makhluk Allah di bumi ini yang dapat lepas dari kekuasaan-Nya, dapat menghindar dari hadapan-Nya, dan dapat lari dari-Nya agar ia tidak terkena pembalasan yang adil. Sebagian dari hakikat-hakikat ini diulang-ulang di dalam pengarahan yang diberikan Allah kepada Rasulullah saw. dalam surah al-Jin ayat 20 dan 22, yang menyatakan bahwa "sesungguhnya beliau hanya menyembah Allah dan tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya. Tiada seorang pun yang dapat melindungi beliau dari (azab) Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain dari-Nya".

Hal itu disebutkan setelah adanya kesaksian yang lengkap dan jelas dari bangsa jin tentang hakikat ini.

Kesaksian itu juga menetapkan bahwa uluhiyyah hanya kepunyaan Allah saja, dan ubudiah merupakan aktivitas yang dengannya manusia dapat mencapai derajat paling tinggi, sebagaimana tercantum dalam surah ini ayat 19.

Hakikat ini diperkuat lagi dengan firman Allah dalam surah al-Jin ayat 21 yang ditujukan kepada Rasulullah saw. bahwa "beliau tidak kuasa mendatangkan suatu kemudharatan pun kepada mereka dan tidak (pula) sesuatu kemanfaatan".

Segala urusan gaib diserahkan kepada Allah saja, dan jin sama sekali tidakmengetahuinya. Para rasul pun tidak mengetahuinya kecuali apa yang diberitahukan Allah kepada mereka karena suatu hikmah tertentu.

Surah ini telah memberitahukan kepada kita bahwa di antara hamba-hamba yang lain di alam ini terdapat hubungan-hubungan timbal balik dan lubang-lubang, meskipun berbeda kejadiannya. Misalnya, hubungan timbal balik antara jin dan manusia, sebagaimana diceritakan dalam surah ini dan surah-surah lain dalam Al-Qur'an. Maka, manusia itu tidak terlepas, hingga di bumi ini, dari makhluk lain. Selain itu, antara manusia dan makhluk-makhluk lain juga terdapat hubungan timbal balik dalam bentuk-bentuk lain.

Keterpisahan yang dirasakan oleh manusia dengan jenisnya ini - baik keterpisahan individual, kesukuan, maupun kebangsaan - tidak ada wujudnya dalam tabiat alam dan dalam realita. Pandangan seperti ini lebih tepat untuk melapangkan perasaan manusia terhadap alam semesta dengan segala semangat, kekuatan, dan hal-hal tersembunyi yang meramaikannya. Kadang-kadang manusia tidak mengetahuinya, tetapi secara praktis ia berada di sekitarnya. Maka, manusia bukanlah satu-satunya penghuni bumi sebagaimana yang kadang-kadang dirasakannya.

Selanjutnya, di sana terdapat kaitan antara konsistensi makhluk di atas jalan yang lurus dengan gerakan alam beserta segala akibatnya, dan ketentuan Allah terhadap hamba-hamba-Nya, "Jika mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak) untuk Kami beri cobaan kepada mereka padanya. Barangsiapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam azab yang amat berat. " (al-Jin: 16-17)

Hakikat ini membentuk satu sisi tashawwur islami mengenai hubungan antara manusia, alam semesta, dan takdir Allah.

Demikianlah surah ini memberikan isyarat kepada lapangan-lapangan yang luas dan jauh. la adalah surah dengan ayat tidak lebih dari dua puluh delapan ayat, yang diturunkan pada suatu peristiwa dan nuansa tertentu.

Adapun peristiwa yang diisyaratkan oleh surah ini adalah peristiwa mendengarkan Al-Qur'an yang dilakukan segolongan jin. Mengenai hal ini terdapat beberapa macam riwayat yang berbeda-beda.

Imam al-Hafizh Abu Bakar al-Baihaqi meriwayatkan di dalam kitabnya Dalaailun-Nubuwwah bahwa telah diberitahukan kepadanya oleh Abul Hasan Ali bin Ahmad bin Abdan, dari Ahmad bin Ubaid ash-Shaffar, dari Ismail al-Qadhi, dari Musaddad, dariAbu Awanah, dari Abu Basyar, dari Sa'id bin Jubair, dan Ibnu Abbas r.a., ia berkata, "Rasulullah saw. tidak pernah membacakan Al-Qur'an-kepada bangsa jin, dan beliau tidak melihat mereka Rasulullah saw. pergi kepada sekelompok sahabat yang hendak pergi ke Pasar Ukazh.

Sementara itu, telah dihalangi antara setan-setan dan berita langit. Dikirimkan kepada mereka panah-panah api. Lalu setan-setan itu kembali kepada kaumnya. Maka, kaumnya bertanya, 'Mengapa kamu?' Mereka menjawab, ‘Telah dihalangi antara kami dan berita langit, dan dikirimkan panah-panah api kepada kami.' Mereka berkata, ‘Tidaklah dihalangi antara kamu dan berita langit melainkan karena ada sesuatu yang terjadi. Karena itu, pergilah ke bumi bagian timur dan bagian barat, dan lihatlah apa yang menghalangi antara kamu dan berita langit itu.' Lalu mereka pergi ke bumi bagian timur dan bagian barat untuk mencari sesuatu yang menghalangi antara mereka dan berita langit.

Pergilah rombongan yang ke Tihamah itu menuju Rasulullah saw. ketika beliau di bawah pohon kurma hendak ke Pasar Ukazh. Ketika itu beliau melakukan shalat subuh bersama sahabat-sahabat beliau. Saat rombongan jin itu mendengarAl-Qur' an, maka mereka dengarkan dengan sungguh-sungguh, lalu mereka berkata, 'Inilah, demi Allah, yang menghalangi antara kamu dan berita langit' Maka, ketika mereka kembali kepada kaumnya, mereka berkata, 'Sesunguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur’an yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalanyang benar, lalu kami beriman kepadanya dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorangpun dengan Tühan  kami. 'Allah menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya saw, 'Katakanlah (hai Muhammad), Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur’an). ' Sesungguhnya, yang diwahyukan kepada beliau itu adalah apa yang diucapkan oleh bangsa jin itu." (Imam Bukhari meriwayatkan dari Musaddad hadits yang mirip dengan ini, dan Imam Muslim meriwayatkan dari Syaiban Ibnu Farukh dari Abu Awanah dengan teks ini).

Di samping itu juga terdapat riwayat lain. Imam Muslim meriwayatkan di dalam Shahihnya bahwa telah diceritakan kepadanya oleh Muhammad ibnul Mutsanna dari Abdul A’la dari Daud Ibnu Abi Hindin, dari Amir, dia berkata, "Aku bertanya kepada Alqamah, apakah Ibnu Mas'ud hadir bersama Rasulullah saw. pada malarn peristiwa jin itu?' Alqamah menjawab, 'Saya pernah bertanya kepada Ibnu Mas'ud r.a, 'Apakah ada seseorang di antara Anda yang hadir bersama Rasulullah saw. pada malam peristiwa jin itu?" Dia menjawab, Tidak, tetapi kami pernah bersama Rasulullah saw. pada suatu malam, Ialu kami kehilangan beliau. Kemudian kami cari beliau di lembah-lembah dan bukit-bukit. Lalu ada yang bertanya, 'Apakah beliau dibawa pergi? Apakah beliau dibunuh dengan sembunyi-sembunyi?'

Anas berkata, 'Maka kami bermalam dengan penuh kesedihan. Ketika pagi hari, tiba-tiba beliau muncul, datang dari arah Hira Lalu kami bertanya, 'Wahai Rasulullah, kami telah kehilangan engkau, lantas kami mencari-cari engkau tetapi tidak kami jumpai, kemudian kami bermalam dengan penuh kesedihan." Kemudian beliau berkata, 'Aku diundang oleh utusan jin, maka aku pergi bersama mereka,  kubacakan Al-Qur' an kepada mereka' Anas berkata, 'Kemudian Rasulullah membawa kami pergi, lantas beliau tunjukkan kepada kami bekas-bekas mereka dan bekas-bekas api mereka' Kemudian para sahabat bertanya kepada beliau tentang makanan bangsa jin, lalu beliau bersabda, 'Semua tulang yang disebut nama Allah atasnya yang ada di tangan kamu, lebih banyak dagingnya, dan semua kotoran hewan kamu.' Rasulullah saw. bersabda, 'Maka, janganlah kamu beristinjak (bersuci) dengan keduanya (tulang dan kotoran hewan), karena keduanya itu adalah makanan kawan-kawan kamu itu. "'

Juga terdapat riwayat lain dari Ibnu Mas'ud bahwa pada malam itu dia bersama Rasulullah saw., tetapi isnad riwayat pertama lebih dapat dipercaya Karena itu, kami buang riwayat ini dan yang serupa dengannya. Dari kedua riwayat yang terdapat di dalam Shahihain tampaklah bahwa Ibnu Abbas berkata, "Sesungguhnya, Rasulullah saw. tidak mengetahui kedatangan sekelompok jin itu." Sedangkan, Ibnu Mas'ud mengatakan bahwa mereka mengundang beliau. Maka, al-Baihaqi mengkompromikan kedua riwayat itu bahwa peristiwa itu terjadi duakali, bukan cuma sekali.

Ada riwayat ketiga yang diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq, katanya, "Setelah Abu Thalib meninggal dunia, orang-orang Quraisy menyakiti Rasulullah saw. yang belum pernah mereka lakukan semasa hidup Abu Thalib. Maka, pergilah Rasulullah saw. ke Thaif untuk meminta bantuan kepada suku Tsaqif dan meminta perlindungan dari gangguan kaumnya. Beliau berharap mereka akan menerima ajaran (agama) yang beliau terima dari Allah, lalu beliau pergi ke sana seorang diri."

Ibnu Ishaq mengatakan bahwa telah diceritakan kepadanya oleh Yazid bin Ziyad, dari Muhammad bin Ka'ab al-Qurazhi, dia berkata, 'Ketika Rasulullah saw. telah sampai ke Thaif, beliau mendatangi sekelompok orang Tsaqif ketika menjadi pemuka-pemuka dan tokoh-tokoh penduduk 'Ihaif. Mereka itu adalah tiga bersaudara, yaitu Balil bin Amr bin Umair, Mas'ud bin Amr bin Umair, dan Habib bin Amr bin Umair. Salah seorang dari mereka beristrikan seorang wanita Quraisy dari Bani Jamh.

Maka, Rasulullah saw. duduk di dekat mereka dan mengajak mereka untuk memeluk agama Allah. Disampaikan pula kepada mereka maksud kedatangan beliau kepada mereka untuk meminta mereka menjadi pembela Islam dan bersama-sama beliau menghadapi orang-orang yang menentangnya. Lalu salah seorang dari mereka berkata kepada beliau, 'Aku akan merobek-robek kain Ka'bah jika Allah mengutusmu!' Yang lain berkata, 'Apakah Allah tidak mendapatkan seseorang selain engkau untuk diutusnya sebagai rasul?' Dan yang ketiga berkata, 'Demi Allah, aku tidak akan berbicara kepadamu selama-lamanya. Sesungguhnya jika engkau itu seorang rasul dari Allah sebagaimana yang engkau katakan, maka sesungguhnya engkau lebih berbahaya daripada kalau aku menimpali perkataanmu. Dan, kalau engkau berdusta atas nama Allah, maka tidak layak aku berbicara kepadamu.' Kemudian Rasulullah saw. berdiri dari sisi mereka, dan beliau merasa putus asa terhadap kebaikan suku Tsaqif. Maka, beliau berkata kepada mereka, menurut yang saya ingat, 'Kalau kamu melakukan sesuatu yang hendak kamu lakukan, maka sembunyikanlah dariku.' Rasulullah saw. tidak ingin informasi ini sampai kepada kaum beliau, karena dapat memicu permusuhan di antara mereka.

Mereka tidak melakukan tindakan itu sendiri. Mereka menghasut orang-orang jahil dan budak-budak mereka untuk mencaci maki dan meneriaki Rasulullah. Sehingga, orang-orang berkerumun padanya dan melindungi beliau dengan membawanya ke kebun milik Utbah bin Rabi'ah dan Syaibah bin Rabi'ah, dan kedua orang ini sedang berada di dalam kebun itu. Kedua anak Rabi'ah itu melihat beliau dan melihat apa yang dilakukan oleh orang-orang bodoh dari penduduk Thaif itu. Maka, kembalilah orang-orangTsaqif yang tadi mengikuti beliau. Lalu beliau berteduh di bawah pohon anggur dan duduk di bawahnya. Maka, setelah hati Rasulullah saw. tenang, beliau mengucapkan, seingat saya,

« اللَّهُمَّ إِلَيْكَ أَشْكُو ضَعْفَ قُوَّتِي ، وَقِلَّةَ حِيْلَتِي ، وَهَوَانِي عَلَى النَّاسِ ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ ، أَنْتَ رَبُّ الْمُسْتَضْعَفِينَ وَأَنْتَ رَبِّي ، إِلَى مَنْ تَكِلُنِي ؟ إِلَى بَعِيدٍ يَتَجَهَّمُنِي ؟ أَمْ إِلَى عَدُوٍّ مَلَّكْتَهُ أَمْرِي ؟ إِنْ لَمْ يَكُنْ بِكَ عَلَيَّ غَضَبٌ فَلَا أُبَالِي ، وَلَكِنَّ عَافِيَتَكَ هِيَ أَوْسَعُ لِي . أَعُوذُ بِنُورِ وَجْهِكَ الَّذِي أَشْرَقَتْ لَهُ الظُّلُمَاتُ ، وَصَلُحَ عَلَيْهِ أَمْرُ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ مِنْ أَنْ تَنْزِلَ بِي غَضَبَكَ ، أَوْ يَحِلَّ عَلَيَّ سَخَطُكَ ، لَكَ الْعُتْبَى حَتَّى تَرْضَى ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِكَ »

“Ya Allah, kuadukan kepada-Mu lemahnya kekuatanku, kecilnya upayaku, dan penghinaan manusia terhadap diriku. Wahai Yang Paling Pemurah dari orang-orang  yangpemurah, Engkaulah Tuhan orang-orang yang tertindas, dan Engkaulah Tuhanku. Kepada siapakah gerangan Engkau akan menyerahkan aku? Apakah kepada orang jauh yang akan menganiayaku ? Ataukah, kepada musuh yang Engkau beri dia kekuasaan atas urusanku? Asalkan Engkau tidak marah kepadaku, maka aku tidak peduli. Akan tetapi, pengampunan-Mu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan wajah-Mu yang menerangi segala kegelapan dan menjadikan baiknya urusan dunia dan akhirat. Janganlah Engkau turunkan kemarahan-Mu kepadaku atau Engkau timpakan kemurkaan-Mu kepadaku. Karena Engkaulah aku mencari keridhaan hingga Engkau ridha, dan tiada daya dan upaya kecuali dengan PertoIongan-Mu.”

Ketika kedua anak Rabi'ah itu melihat beliau dan apa yang beliau alami, maka tergeraklah rasa kasih sayang mereka. Lalu, dipanggil budaknya yang beragama Nasrani dan bernama Addas, dan dikatakan kepadanya, 'Ambillah sepotong anggur, lalu letakkan ke dalam baki, kemudian bawalah kepada orang itu dan persilakan dia memakannya' Addas melaksanakan perintah itu. Kemudian ia taruh anggur itu di hadapan Rasulullah saw. dan ia berkata kepada beliau, 'Makanlah!' Maka, ketika Rasulullah meletakkan tangan beliau pada buah itu, beliau mengucap basmalah lalu memakannya.

Addas memperhatikan wajah beliau, lalu   'Demi Allah, perkataan itu tidak pernah diucapkan oleh penduduk negeri ini.' Kemudian Rasulullah saw. bertanya kepadanya, 'Dari penduduk manakah engkau wahai Addas, dan apa agamamu?' Addas menjawab, 'Nasrani, dan saya berasal dari Ninawa' Rasulullah bertanya, 'Dari negeri orang saleh Yunus bin Mata?' Addas balik bertanya, 'Dari mana engkau mengenal Yunus bin Mata?' Rasulullah menjawab, 'Dia itu  saudaraku, seorang nabi, sedang aku juga seorang nabi.' Lalu Addas memeluk Rasulullah saw. seraya mencium kepala, tangan, dan kaki beliau.

Muhammad bin Ka'ab al-Qurazhi (perawi hadits) berkata, 'Kedua anak Rabi'ah itu berkata satu sama lain, 'Budakmu telah merusak nama baikmu." Ketika Addas datang ke hadapan mereka, maka mereka berkata kepadanya, 'Celakalah engkau wahai Addas, mengapa engkau mencium kepala, kedua tangan, dan kedua kaki orang itu?' Addas menjawab, 'Wahai tuanku, di muka bumi ini tidak ada sesuatu yang lebih baik dari dia. Ia telah memberitahukan kepadaku sesuatu yang tidak diketahui kecuali oleh seorang nabi.' Lalu mereka berkata kepada Addas, 'Celakalah engkau wahai Addas! Jangan sekali-kali engkau dipalingkannya dari agamanu, karena sesungguhnya agamamu itu lebih baik daripada agamanya.'

Kemudian Rasulullah saw. kembali dari Thaif ke Mekah, ketika beliau sudah merasa putus asa terhadap kebaikan suku Tsaqif. Maka, saat beliau sedang menunaikan shalat di tengah malam di bawah pohon anggur, ada serombongan jin sebagaimana disebutkan Allah melewati beliau, dan mereka (bangsa jin) itu - seingat saya - berjumlah tujuh jin dari jin penduduk Nashibin, lalu mereka mendengarkan Nabi. Kemudian setelah Nabi saw. selesai shalat, mereka pergi kepada kaumnya dan memberi peringatan kepada mereka. Mereka beriman dan menyambut apa yang mereka dengar itu. Kemudian Allah menceritakan perihal mereka ini kepada Rasulullah saw. dengan firman-Nya,

“Dan, (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata, 'Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).' Ketika pembacaan telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata, 'Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan  melepaskan kamu dari azab yang pedih. “ (al-Ahqaaf: 29-31)

Juga firman-Nya dalam surah al-Jin hingga akhir kisah jin dalam surah ini.

Imam Ibnu Katsir mengomentari riwayat Ibnu Ishaq ini di dalam tafsirnya. Ia berkata, "Riwayat ini sahih, tetapi mengenai perkataannya bahwa bangsa jin mendengarkan pada malam itu, perlu dipikirkan. Karena, bangsa jin sudah mendengar Al-Qur'an sejak permulaan wahyu diturunkan sebagaimana ditunjuki oleh hadits Ibnu Abbas tersebut. Sedangkan, kepergian Nabi saw. ke Thaif itu adalah setelah meninggalnya paman beliau. Peristiwa itu terjadi setahun atau dua tahun sebelum hijrah, sebagaimana ditetapkan oleh Ibnu Ishaq dan lain-lainnya. Wallahu a 'lam.”

Kalau riwayat Ibnu Ishaq itu sahih, bahwa peristiwa itu terjadi setelah Rasulullah saw. kembali dari Thaif dengan perasaan sedih karena sambutan yang jelek dan keras kepala dari pembesar-pembesar Tsaqif, dan setelah beliau memanjatkan doa yang penuh keprihatinan kepada Allah, maka dari sisi ini peristiwa itu betul-betul mengagumkan. Pasalnya, Allah mendatangkan sekelompok jin kepada beliau, dan memberitahukan kepada beliau apa yang dilakukan oleh bangsa jin itu beserta apa yang mereka katakan kepada kaumnya. Dalam peristiwa ini, terdapat beberapa petunjuk yang halus dan mengesankan.

Kapan pun terjadinya peristiwa itu dan dalam kondisi bagaimanapun, maka tidak diragukan lagi bahwa itu adalah urusan besar. Besar dalam petunjuk-petunjuk dan kandungannya, dan besar pula nilai perkataan bangsa jin tentang Al-Qur'an dan agama Islam ini.

Maka, marilah kita telusuri semua ini sesuai dengan apa yang dipaparkan oleh Al-Qur’anuI-Karim.

Kekaguman Bangsa Jin terhadap Al-Qur-an

قُلْ اُوْحِيَ اِلَيَّ اَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوْٓا اِنَّا سَمِعْنَا قُرْاٰنًا عَجَبًاۙ ١ يَّهْدِيْٓ اِلَى الرُّشْدِ فَاٰمَنَّا بِهٖۗ وَلَنْ نُّشْرِكَ بِرَبِّنَآ اَحَدًاۖ ٢ وَّاَنَّهٗ تَعٰلٰى جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَّلَا وَلَدًاۖ ٣ وَّاَنَّهٗ كَانَ يَقُوْلُ سَفِيْهُنَا عَلَى اللّٰهِ شَطَطًاۖ ٤ وَّاَنَّا ظَنَنَّآ اَنْ لَّنْ تَقُوْلَ الْاِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى اللّٰهِ كَذِبًاۙ ٥ وَّاَنَّهٗ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْاِنْسِ يَعُوْذُوْنَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوْهُمْ رَهَقًاۖ ٦ وَّاَنَّهُمْ ظَنُّوْا كَمَا ظَنَنْتُمْ اَنْ لَّنْ يَّبْعَثَ اللّٰهُ اَحَدًاۖ ٧

"Katakanlah (hai Muhammad), 'Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur’an), lalu mereka berkata, 'Sesungguhnya, kami telah mendengarkan Al-Qur’an yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Tuhan kami. Mahatinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristri dan tidak (pula) beranak. Orang yang kurang akal daripada kami dahulu selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah. Sesungguhnya, kami mengira bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah. Ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. Sesungguhnya mereka (jin) menyangka sebagaimanapersangkaan kamu (orang-orang kafir Mekah), bahwa Allah sekali-kali tidak akan membangkitkan seorang (rasul) pun. "' (al-Jin: 1-7)

"Nafar" adalah kelompok yang terdiri antara tiga sampai sembilan, sebagaimana "rahth". Ada yang mengatakan jumlahnya tujuh.

Pembukaan surah ini menunjukkan bahwa pengetahuan Nabi saw. tentang mendengarnya bangsa jin kepada beliau dan apa yang terjadi pada mereka setelah mendengarkan Al-Qur'an dari beliau itu adalah karena adanya wahyu dari Allah SAW kepada beliau. Yakni, pemberitahuan tentang sesuatu yang terjadi yang tidak diketahui Rasulullah saw., tetapi Allah memberitahukannya kepada beliau. Mungkin peristiwa ini baru pertama kali terjadi. Kemudian terjadi sekali lagi atau beberapa kali lagi Nabi membacakan kepada jin dengan sepengetahuan dan sengaja.

Hal itu juga dibuktikan dengan riwayat yang menceritakan bahwa Nabi saw. membacakan surah ar-Rahmaan kepada bangsa jin. Imam Tirmidzi meriwayatkan dengan isnadnya dari Jabir r.a., ia berkata, “Rasulullah keluar menemui sahabat-sahabat beliau, lalu beliau membacakan kepada mereka surah ar-Rahmaan hingga akhir surah, dan mereka diam. Kemudian beliau bersabda, 'Sesunguhnya, aku telah membacakannya kepada bangsa jin, maka mereka lebih baik responsnya daripada kalian. Setiap kali aku sampai pada firman Allah, Fabi ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadzdzibaan ' Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?, mereka berkata, 'Tidak ada sesuatu pun dari nikmat-Mu, ya Tuhan kmni, yang kami dustakan. Maka, kepunyaan-Mulah segala puji.”

Riwayat ini mendukung riwayat Ibnu Mas'ud r.a. yang mengisyaratkan hal ini di muka. Dan, sudah tentu apa yang diceritakan surah ini adalah yang diceritakan oleh surah al-Ahqaaf,

"Dan, (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata, 'Diamlah kamu (untuk mendengarkannya). ' Ketika pembacnan telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata, 'Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. Orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah, maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. "' (al-Ahqaaf: 29-32)

Ayat-ayat itu, sebagaimana surah al-Jin, memberitahukan reaksi spontan bangsa jin terhadap Al-Qur'an. Yakni, spontanitas yang menerbangkan pegangan mereka, menggoncangkan hati mereka, menggugah perasaan mereka, dan menimbulkan dorongan dan semangat yang meluap-luap. Maka, pergilah mereka kepada kaumnya dengan semangat menggebu-gebu yang tidak dapat mereka tahan, karena ingin segera menyampaikannya kepada yang Iain, dengan uslub yang memancar-mancar, penuh kehangatan dan semangat, serta penuh kesungguhan dan keseriusan. Inilah keadaan orang yang pertama kali dikejutkan oleh dorongan kuat yang menggoncang eksistensinya dan menggoyang pegangannya. Kemudian ia terdorong untuk menyampaikan apa yang dirasakannya itu ke dalam jiwa orang lain dengan penuh semangat, antusias, kesungguhan, dan keseriusan!

"Sesungguhnya, kami telah mendengarkan Al-Qur’an yang menakjubkan. " (al-Jin: 1)

Kesan pertama yang mereka peroleh adalah bahwa Al-Qur'an itu "menakjubkan", Iuar biasa, dan menggetarkan hati. Inilah sifat Al-Qur'an pada orang yang menerimanya dengan hati yang terbuka serta perasaan yang tanggap, lembut, dan sensitif.

Menakjubkan! Memiliki kekuasaan yang hebat, memiliki daya tarik yang kuat, dan memiliki kesan-kesan yang menyentuh perasaan dan menggoyang senar-senar kalbu.

Menakjubkan! ltulah kesan yang mereka peroleh.

Semua itu menunjukkan bahwa kelompokjin ada hakikatnya, dan bisa merasakan.

“(Yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar..”  (al-Jin: 2)

Inilah sifat kedua yang tampak dalam Al-Qur'an dan dirasakan oleh segolongan jin itu, ketika mereka menjumpai hakikatnya di dalam hati mereka. Kata "rusyd" sendiri memiliki petunjuk yang Iuas jangkauannya. la menunjukkan kepada petunjuk, kebenaran, ketepatan, dan kelayakan. Akan tetapi, kata “rusyd”juga memberikan bayang-bayang lain di belakang semua. Yaitu, bayang-bayang kematang an, keseimbangan, dan pengetahuan yang lurus kepada petunjuk, kebenaran, dan ketepatan. Bayang-bayang pengertian pribadi yang tajam terhadap hakikat-hakikat dan faktor-faktor ini. Maka, “rusyd” menciptakan keadaan di dalam jiwa dan menjadikannya terbimbing kepada kebaikan dan kebenaran.

Al-Qur' an menunjukkan kepada jalan yang benar  ia menimbulkan keterbukaan dan sensitivitas di dalam hati, pengetahuan dan pengertian, kebersambungan dengan sumber cahaya dan petunjuk, dan kesesuaian dengan undang-undang Ilahi yang teragung, sebagaimana ia menunjukkan kepada jalan yang benar dengan manhaj-nya yang sistematis kepada kehidupan dan penerapannya manhaj yang tidak pernah dicapai manusia sepanjang sejarahnya di bawah naungan peradaban manapun atau sistem apa pun, baik secara individu maupun kolektif, dalam urusan hati maupun sosial, akhlak pribadi maupun pergaulan masyarakat. "Lalu kami beriman kepadanya...

Inilah respon otomatis dan lurus karena mendengarkan, memahami karakter, dan terkesan oleh hakikat Al-Qur'an, yang ditunjukkan oleh wahyu kepada kaum musyrikin yang mendengar Al-Qur'an tetapi tidak mengimaninya. Namun, pada waktu yang sama mereka menisbatkannya kepada jin, lalu mereka mengatakan (bahwa Nabi Muhammad itu) tukang tenung, penyair, atau gila hingga jin dapat memberikan pengaruh kepadanya. Padahal jin-jin itu tercerahkan, tersihir, sangat terkesan, dan terpengaruh oleh Al-Qur'an, sehingga mereka tidak berkutik. Kemudian mereka mengakui kebenaran serta menyambutnya dengan penuh ketundukan dan rendah hati, seraya menyatakan ketundukannya dengan mengatakan, "Kami beriman kepadanya", tanpa mengingkari dan menentangnya ketika Al-Qur' an menyentuh jiwa mereka, sebagaimana yang dilakukan orang-orang musyrik.

"Kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Tuhan kami. " (al-Jin: 2)

Inilah iman yang tulus, jelas, dan benar, tidak dinodai dengan kemusyrikan, tidak dikotori dengan kepalsuan, dan tidak dicampur dengan khurafat. Iman yang bersumber dari pengertian terhadap hakikat Al-Qur'an, hakikat yang diserukan oleh Al-Qur'an, hakikat tauhid kepada Allah tanpa ada sekutu bagi-Nya.

"Mahatinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristri dan tidak (pula) beranak. "(al-Jin: 3)

"Al-jadd” berarti bagian, nasib, kehormatan, kedudukan, keagungan, dan kekuasaan. Semuanya merupakan pancaran makna dari lafal ini yang sesuai dengan kedudukannya. Makna global lafal ini dalam ayat tersebut adalah untuk mengungkapkan perasaan tentang keluhuran, keagungan, dan kebesaran Allah SWT, sehingga tidak mungkin Dia beristri dan beranak, Iaki-laki atau wanita.

Bangsa Arab dahulu beranggapan bahwa malaikat itu adalah anak-anak wanita Allah yang diperoleh dari perkawinan-Nya dengan jin. Kemudian datangIah jin yang mendustakan dongeng khurafat demi mensucikan Allah dan menolak pandangan semacam ini. Bangsa jin bebas berbangga dengan perbesanan dalam dongeng yang penuh khurafat itu kalau wajar. Maka, ini adalah sanggahan yang besar terhadap anggapan yang lemah dalam pandangan kaum musyrikin itu. Juga terhadap semua pandangan serupa itu, yang dilakukan oleh orang-orang yang menganggap Allah punya anak. Mahasuci Allah dari pandangan dan anggapan seperti itu, apapun bentuknya!

"Orang yang kurang akal daripada kami dahulu selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah. Sesungguhnya kami mengira bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah." (al-Jin: 4-5)

Itu adalah koreksi dari golongan jin itu terhadap apa yang mereka dengar dari jin-jin yang kurang akal, yang mempersekutukan Allah, dan menganggap-Nya punya istri dan anak. Koreksian itu lahir setelah mereka mendapat kejelasan dari Al-Qur'an, bahwa anggapan itu sama sekali tidak benar, dan beranggapan seperti itu adalah jin-jin yang kurang akal dan bodoh.

Adapun alasan mereka mempercayai jin-jin yang kurang akal sebelumnya itu adalah karena mereka tidak membayangkan bahwa ada manusia atau jin yang mengatakan perkataan dusta terhadap Allah. Karena itu, mereka menganggap luar biasa ada seseorang yang berani berbuat dusta terhadap Allah. Maka ketika jin-jin yang kurang akal itu mengatakan kepada mereka bahwa Allah beristri dan beranak serta mempunyai sekutu, mereka membenarkannya saja, mereka tidak membayangkan ada orang yang berani berkata dusta terhadap Allah.

Perasaan segolongan jin tentang mungkarnya perkataan dusta terhadap Allah inilah yang menjadikan mereka layak terhadap keimanan. Hal ini menunjukkan bahwa hati mereka bersih dan Iurus serta polos, hanya saja ia didatangi kesesatan karena keterpedayaan dan kebebasan. Maka, ketika hati mereka disentuh oleh kebenaran, ia pun bergoncang, sadar, merasakan, dan mengerti.

Goncangan karena sentuhan kebenaran ini pantas menyadarkan hati kebanyakan pembesar Quraisy yang tertipu, dan menyadarkan mereka terhadap kesalahan anggapan mereka bahwa Allah beristri dan beranak. Juga dapat menimbulkan rasa takut dan sadar dalam hati tersebut, mendorongnya untuk memahami hakikat sesuatu yang dikatakan oleh Nabi Muhammad saw. dan membandingkannya dengan apa yang dikatakan pemuka-pemuka Quraisy itu, dan menggoyang kepercayaan (fanatisme) buta terhadap apa saja yang dikatakan oleh pembesar-pembesar yang kurang akal!

Semua itu adalah tujuan disebutkannya hakikat ini, dan perjalanan peperangan yang panjang antara Al-Qur'an dan kaum Quraisy yang durhaka dan keras kepala. Ini satu mata rantai pengobatan secara perlahan-lahan terhadap penyakit-penyakit dan pola pikir jahiliah yang ada dalam hati mereka. Padahal kebanyakan pikirannya itu cemerlang dan bebas, tetapi disesatkan dan dituntun dengan mitos-mitos dan khurafat-khurafat serta disesatkan oleh pemimpin-pemimpin yang jahil dan menyesatkan! "Ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. " (al-Jin: 6)

Ini adalah isyarat dari bangsa jin mengenai kebiasaan jahiliah, dan masih dibiasakan sampai sekarang di berbagai kalangan, bahwa jin itu mempunyai kekuasaan terhadap bumi dan terhadap manusia, mempunyai kekuasaan untuk memberikan manfaat dan mudharat, dan mereka berkuasa di berbagai wilayah di bumi (darat), laut, atau udara, serta kepercayaan-kepercayaan dari pandangan ini. Sehingga, apabila mereka bermalam di padang atau di tempat yang menakutkan, mereka memohon perlindungan kepada penghulu lembah itu, kemudian mereka bermalam dengan aman.

Memang setan itu dapat menguasai hati manusia, kecuali mereka yang berpegang teguh pada Allah. Adapun orang yang berlindung kepada setan, maka setan itu tidak akan memberi manfaat kepadanya Karena, setan itu adalah musuh baginya, yang hanya akan menambah dosa dan kesalahan serta akan mengganggunya. Kelompok jin (yang beriman) itu menceritakan hal itu, "Ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. "

Mungkin yang dimaksud dengan dosa dan kesalahan itu adalah kesesatan, kegoncangan, dan kebingungan yang menimpa hati orang-orang yangbersandar kepada musuh mereka itu, serta tidak berpegang dan berlindung kepada Allah dari setan, sebagaimana yang diperintahkan kepada Adam yang bermusuhan dengan iblis sejak dahulu kala

Hati manusia ketika berlindung kepada selain Allah karena ingin mendapatkan manfaat atau menolak mudharat, maka yang diperolehnya tidak Iain kecuali kegoncangan, kebingungan, ketidaktenangan, dan ketidaktenteraman. Ini adalah dosa dan kesalahan yang seburuk-buruknya hingga menjadikan hati tidak merasa aman dan tenang.

Sesungguhnya semua makhluk ciptaan Allah adaIah labil, Gdak tetap, akan lenyap, dan tidak kekal. Maka, apabila hati seseorang bergantung padanya, niscaya ia akan selalu bergoncang, berbolak-balik, gelisah, takut, dan selalu berubah-ubah arahnya se tiap kali lenyap apa yang menjadi tempat bergantung harapannya. Hanya Allah sendiri yang kekal dan tidak akan pernah lenyap, yang hidup dan tidak akan pernah mati, yang abadi dan tidak akan pernah berubah. Karena itu, barangsiapa yang menghadapkan diri kepada-Nya, berarti dia menghadapkan diri kepada sandaran kokoh yang tidak akan pernah lenyap dan tidak akan pernah berubah,

"Sesungguhnya, mereka (jin) menyangka sebagaimana persangkaan kamu (orang-orang kafir Mekah), bahwa Allah sekali-kali tidak akan membangkitkan seorang (rasul) pun. " (al-Jin: 7)

Mereka berbicara kepada kaumnya tentang beberapa orang manusia yang meminta perlindungan kepada jin. Mereka berkata, "Sesungguhnya mereka mengira, sebagaimanayang kamu kira, bahwa Allah tidak akan mengutus seorang rasul pun. Akan tetapi, Dia telah mengutus seorang rasul dengan membawa Al-Qur'an yang menunjukkan kepada jalan yang benar. Atau, mereka mengira bahwa besok tidak akan ada kebangkitan (setelah mati) dan tidak ada hisab sebagaimana anggapanmu sehingga mereka tidak beramal sedikit pun untuk akhirat, dan mendustakan apa yang dijanjikan Rasulullah saw. kepada mereka, karena mereka tidak mempercayainya."

Kedua anggapan itu tidak sesuai dengan hakikatnya, dan anggapan semacam itu menunjukkan kejahilan dan ketidakpahaman terhadap hikmah Allah di dalam menciptakan manusia. Allah menciptakan mereka dengan dibekali potensi-potensi terhadap kebaikan dan keburukan, petunjuk dan kesesatan (sebagairnana yang kita ketahui dari surah ini bahwa jin memiliki potensi yang bercarnpuraduk seperti ini, kecuali yang khusus berpotensi terhadap kejelekan seperti iblis, dan dijauhkan dari rahmat Allah karena kedurhakaannya, dan berujung pada kejelekan tulen tanpa campuran kebaikan). Karena itu, rahmat Allah hendak membantu manusia dengan mengutus rasul, untuk menghimpun ke dalam jiwa mereka unsur kebaikan dan memberdayakan fitrah mereka terhadap petunjuk. Maka, tidak ada jalan untuk beranggapan bahwa Allah tidak akan mengutus seorang rasul kepada mereka.

Demikianlah jika makna lafal (ayat) itu mengutus para rasul. Sedangkan, jika makna ayat itu adalah membangkitkan manusia dan jin di akhirat, maka hal itu adalah sesuatu yang sangat vital juga bagi makhluk yang tidak cukup sempurna hisabnya dalam kehidupan dunia ini. Karena, suatu hikmah yang dikehendaki oleh Allah, dan berhubungan dengan pengaturan alam wujud yang diketahui Allah dan tidak kita ketahui. Karena itulah, Allah menjadikan kebangkitan di akhirat untuk menyempurnakan hisab makhluk, dan akhirnya mereka layak mendapat pernbalasan yang sesuai dengan perjalanan hidupnya yang pertama sewaktu di dunia. Maka, tidak ada jalan bagi seorang pun untuk beranggapan bahwa Allah tidak akan membangkitkan mereka dari kematian. Anggapan seperti itu bertentangan dengan itikad tentang hikmah dan kemahasempurnaan Allah SWT.

Kelompok jin yang beriman itu meluruskan persangkaan kaumnya. Al-Qur'an di dalam menampilkan cerita mereka itu meluruskan kesalahan pandangan kaum musyrikin.

Jin Tidak Mengetahui Perkara Gaib

Kelompok jin itu masih melanjutkan ceritanya tentang apa yang mereka temui dan ketahui tentang urusan risalah ini di seluruh penjuru alam, serta mengenai keadaan-keadaan langit dan bumi. Tujuannya supaya mereka dapat berlepas tangan dari segala usaha yang tidak sesuai dengan iradah Allah mengenai risalah-Nya, semua anggapan tentang pengetahuan perkara gaib, dan semua kekuasaan terhadap urusan ini,

وَّاَنَّا لَمَسْنَا السَّمَاۤءَ فَوَجَدْنٰهَا مُلِئَتْ حَرَسًا شَدِيْدًا وَّشُهُبًاۖ ٨ وَّاَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِۗ فَمَنْ يَّسْتَمِعِ الْاٰنَ يَجِدْ لَهٗ شِهَابًا رَّصَدًاۖ ٩ وَّاَنَّا لَا نَدْرِيْٓ اَشَرٌّ اُرِيْدَ بِمَنْ فِى الْاَرْضِ اَمْ اَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًاۙ ١٠

"Sesungguhnya, kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api. Sesungghnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi, sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu), tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya). Sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka. " (al-Jin: 8-10)

Peristiwa-peristiwa yang diceritakan oleh Al-Qur’an dari penuturan jin ini menunjukkan bahwa sebelum risalah terakhir ini dan mungkin pada masa tenggang antara risalah terakhir dan risalah sebelumnya, yakni risalah Isa a.s., mereka berusaha mengadakan hubungan dengan makhluk tertinggi. Mereka mencuri pembicaraan di sana di antara para malaikat tentang urusan-urusan makhluk di bumi, yang berisi keputusan tentang ditugaskannya mereka melaksanakan kehendak dan takdir Allah.

Kemudian informasi langit yang mereka curi itu mereka bisikkan kepada wali-wali mereka yaitu tukang tenung dan paranormal. Tujuannya agar mereka membuat fitnah terhadap manusia sesuai dengan program iblis, melalui tangan-tangan para dukun dan paranormal yang menggunakan sedikit kebenaran lalu mereka campur dengan kebatilan yang banyak sekali. Mereka populerkan di kalangan masyarakat pada tenggang waktu di antara kedua risalah itu dan pada saat dunia kosong rasul. Adapun bagaimana cara dan bentuknya, maka Al-Qur'an tidak menceritakan sedikit pun kepada kita, dan tidak ada urgensinya untuk diceritakan karena yang penting adalah hakikat dan kandungannya.

Kelompok jin ini mengatakan bahwa mencuri pendengaran tidak mungkin dapat dilakukan lagi. Ketika mereka berusaha melakukannya sekarang, yaitu apa yang sekarang mereka istilahkan dengan menyentuh langit, mereka dapati jalan ke sana dijaga dengan penjagaan kuat, yang siap melempari mereka dengan panah-panah api hingga akan membinasakan mereka yang menuju ke sana. Mereka menyatakan bahwa mereka sama sekali tidak mengetahui perkara gaib yang ditakdirkan untuk manusia,

"Sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan  yang dikehendaki bagiorang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka." (al-Jin: 10)

Urusan gaib ini diserahkan kepada ilmu Allah, karena tidak ada yang mengetahuinya selain Dia. Adapun kita tidak mengetahui apa yang ditakdirkan Allah untuk hamba-hamba-Nya di bumi ini. Apakah Dia menakdirkan kejelekan bagi mereka, lalu dibiarkannya mereka bergelimang dalarn kesesatan; ataukah Dia menakdirkan jalan kebenaran-yakni petunjuk, untuk mereka sebagai kebalikan dari keburukan, yakni kebaikan, dan berakibat kebaikan pula.

Apabila acuan (yakni bangsa jin yang menjadi sumber acuan) para dukun yang mengaku mendapat pengetahuan perkara gaib itu sendiri menetapkan bahwa mereka tidak mengetahui sama sekali perkara gaib itu, maka patahlah semua perkataan, batallah segala anggapan, selesailah urusan perdukunan dan ramalan gaib, dan murnilah urusan gaib itu hanya urusan AIIah. Tidak seorang pun berani mengklaim bahwa dia mengetahui dan dapat menginformasikannya. Al-Qur'an menyatakan bebasnya pikiran manusia dari semua kesalahan dan semua anggapan dalam persoalan ini. Juga menyatakan lurus dan bebasnya manusia sejak saat itu dari khurafat-khurafat dan mitos-mitos.

Adapun di mana adanya penjagaan itu, siapakah dia, dan bagaimana dia melempari setan-setan dengan panah-panah api, tidak dibicarakan sedikit pun oleh Al-Qur'an atau atsar kepada kita. Kita tidak memiliki sumber selain keduanya itu yang dapat kita timba darinya sedikit informasi tentang perkara gaib ini. Seandainya Allah melihat bahwa dalam penjelasan secara rinci tentang masalah yang ada kebaikannya bagi kita, niscaya sudah Dia jelaskan. Apabila Allah tidak menjelaskannya kepada kita, maka upaya kita dalam masalah ini tentu akan sia-sia, dan tidak akan membuahkan apa pun bagi kehidupan dan pengetahuan kita.

Tidak ada jalan bagi kita untuk berpaling atau berdebat seputar masalah panah-panah api itu. Ia berjalan sesuai dengan undang-undang alam, baik sebelum diutusnya rasul maupun sesudahnya. Juga sesuai dengan undang-undang yang para pakar astronomi berusaha menafsirkannya dengan teori-teori yang mungkin salah dan mungkin benar, hingga terhadap benar tidaknya teori ini, karena masalah ini tidak termasuk dalam tema pembahasan kita. Tidak tertutup kemungkinan juga bahwa setan-setan itu dilempari dengan panah-panah api secara mutlak. Panah-panah api boleh saja melesat sebagai pelempar setan atau bukan pelempar setan, sesuai dengan kehendak Allah yang berlaku pada sunnah-sunnah-Nya.

Pandangan orang-orang yang memandang semua ini hanya semata-mata lukisan dan gambaran tentang pemeliharaan Allah terhadap Al-Qur’an dari segala macam kebatilan dan tidak boleh ditafsirkan menurut Iahirnya, disebabkan mereka datang kepada Al-Qur’an sedang di benaknya terdapat gambaran-gambaranyang sudah mereka tetapkan lebih dahulu, yang mereka ambil dari sumber-sumber selain Al-Qur' an. Kemudian mereka berusaha menafsirkan Al-Qur'an sesuai dengan gambaran-gambaran yang sudah ada di dalam benak mereka Karena itu, mereka berpendapat bahwa malaikat itu sebagai simbol kekuatan kebaikan dan ketaatan, dan setan sebagai simbol kekuatan kejahatan dan kemaksiatan, serta bintang-bintang sebagai simbol pemeliharaan dan penjagaan. Karena di dalam ketetapan-ketetapan mereka yang sudah ada - sebelum mereka berhadapan dengan Al-Qur'an - menyatakan bahwa apa yang disebut  malaikat, setan, ataujin itu tidak mungkin ada wujud fisiknya seperti yang digambarkan. Ia juga tidak mungkin memiliki gerakan-gerakan yang terasakan dan pengaruh-pengaruh yang nyata.

Dari manakah mereka mendapatkan semua ini? Dari manakah mereka mendapatkan ketetapan-ketetapan yang mereka pergunakan untuk menghukumi nash-nash Al-Qur’an dan al-Hadits seperü itu?

Cara yang paling ideal dalam memahami Al-Qur'an dan menafsirkannya, serta dalam menggambarkan Islam dan membangunnya, ialah hendaknya seseorang melepaskan dari benaknya semua pandangannya yang terdahulu. Hendaklah ia menghadapi Al-Qur'an tanpa menggunakan ketetapan-ketetapan pemikiran, pandangan, atau perasaan yang mendahuluinya. Ia hendaknya juga membangun seluruh ketetapannya itu sebagaimana Al-Qur'an dan al-hadits menggambarkan hakikat alarn wujud ini. Dengan demikian, Al-Qur'an dan al-hadits tidak dihukumi menurut selain Al-Qur’an, tidak usah meniadakan sesuatu yang ditetapkan Al-Qur'an, dan üdak usah menakwil-nakwilkannya. Juga tidak menetapkan sesuatu yang ditiadakan atau ditolak oleh Al-Qur'an. Sedangkan, apa yang tidak ditetapkan atau ditiadakan oleh Al-Qur'an, maka bolehlah ia melontarkan pendapatnya sesuai dengan pendapat akal dan pengalamannya

Sudah tentu kami katakan hal ini kepada orang-orang yang beriman kepada Al-Qu’an. Sedangkan, di samping itu mereka menakwilkan nash-nashnya untuk disesuaikan dengan ketetapan-ketetapan dan gambaran-gambaran yang telah ada dalam benak dan pikiran mereka, mengenai sesuatu tentang hakikat-hakikat alam wujud. 

Adapun orang-orang yang tidak beriman kepada Al-Qu’an, dan dengan serampangan menolak gambaran-gambaran ini hanya karena ilmu pengetahuan  belum mencapainya, maka mereka itu benar-benar menggelikan. Karena ilmu pengetahuan itu sendiri tidak mengetahui rahasia-rahasia alam wujud yang tampak jelas di hadapan mereka, dan yang mereka pergunakan dalam percobaannya. Sedangkan, yang demikian ini tidak meniadakan apa yang tidak mereka ketahui rahasianya itu.

Apalagi banyak dari kalangan yang percaya kepada sesuatu yang misterius melalui jalan atau keterangan agama, atau minimal tidak mengingkari apa yang tidak mereka ketahui. Karena dengan pengalamannya, mereka mendapati diri mereka - melalui ilmu pengetahuannya - berada di hadapan hal-hal misterius. Mereka mengira bahwa mereka tidak dapat mengetahuinya, lalu mereka merendahkan diri dengan sikap ilmiah dan cerdas tanpa mengaku yang bukan-bukan. Juga tidak mengaku telah melampaui segala misteri, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang yang mengaku berilmu pengetahuan dan berpikir ilmiah, tetapi mereka mengingkari hakikat agama dan hakikat hal-hal yang gaib.

Alam di sekitar kita ini penuh dengan rahasia, roh-roh, dan kekuatan-kekuatan. Surah ini, sebagaimana surah-surah Iainnya dari Al-Qur'an, memberikan kepada kita beberapa sisi dari hakikat yang ada dalam alam wujud ini. Juga yang dapat membantu untuk membangun pandangan yang benar tentang alam wujud dan segala sesuatu yang ada padanya yang berupa kekuatan-kekuatan, roh-roh, dan makhluk-makhluk hidup yang ada di sekitar kita dan berinteraksi dengan kehidupan kita dan diri kita Pandangan inilah yang membedakan seorang muslim dan menjadikannya berdiri di tengah-tengah di antara takhayul dan khurafat dengan pengakuan-pengakuan dan anggapan-anggapan yang berlebihan. Sebagai sumber pandangannya adalah Al-Qur'an dan As-Sunnah.

 Kepada keduanyalah seorang muslim mengkonfirmasikan semua pandangan, pendapat, dan penafsiran

Di sana terdapat lapangan yang dapat membantu akal manusia untuk mencari cakrawala kemisteriusan. İslam sendiri mendorongnya untuk melakukan pelacakan seperti ini. Akan tetapi, di belakang lapangan yang dapat membantunya terdapat sesuatu yang akal manusia tidak mampu mencarinya, karena memang tidak diperlukan untuk mencarinya. Apa yang tidak diperlukan bagi pengurusan bumi ini, maka tidak ada keperluan terhadapnya dan tidak ada hikmah membantu mengungkapkannya. Karena, itu bukan urusannya dan tidak termasuk di dalam batas-batas kekhususannya.

Kadar yang diperlukan baginya terhadap hal itu ialah sekadar untuk mengetahui posisi sentralnya di alam ini dibandingkan dengan apa dan siapa yang ada di sekitarnya, yang telah dijelaskan oleh Allah, karena posisinya lebih beşar daripada kekuatan dan kemampuannya sendiri. Tentunya dengan kadar yang termasuk di dalam kemampuannya untuk memahaminya secara garis besar, yang di antaranya adalah makhluk gaib yang berupa malaikat, setan, roh, asal kejadian, dan tempat kembalinya nanti.

Adapun orang-orang yang mendapat petunjuk dari Allah, berhenti pada urusan-urusan ini sesuai kadar yang disingkapkan Allah kepada mereka di dalam kitab-kitab-Nya dan melalui lisan rasul-rasul-Nya. Dengan demikian, mereka memperoleh maanfaat dengan merasakan keagungan Yang Maha Pencipta dan kebijaksanaan-Nya di dalam menciptakan semua ini. Juga merasakan bagaimana posisi manusia di muka bumi terhadap alam lain dan makhluk-makhluk ruhani,

Kemudian mereka pergunakan kemampuan pikiran mereka untuk mengungkap dan mengetahui sesuatu yang dişediakan bagi akal di bumi dan sekitarnya dalam kadar yang memungkinkan bagi mereka. Selain itu, mereka juga menguras pengetahuan mereka untuk memakmurkan bumi dan melaksanakan kekhalifahannya di sini, menurut petunjuk Allah, dengan menghadapkan diri kepadaNya, dan dalam rangka meningkatkan harkat mereka sesuai dengan yang diserukan Allah.

Sedangkan, orang-orang yang tidak mendapat petunjuk dari Allah, terbagi menjadi dua kelompok besar.

Pertama, kelompok yang menggunakan akalnya yang terbatas untuk memahami sesuatu yang tidak terbatas, seperti zat Allah SWT, dan untuk mengetahui hakikat perkara gaib tanpa melalui kitab suci yang diturunkan Allah. Di antaranya adalah para filsufyang berusaha menafsirkan alam Maujud ini dan hubungan-hubungannya. Akibatnya, mereka tergelincir seperti anak-anak kecil yang mendaki gunung tinggi yang tak terhingga puncaknya, atau berusaha menebak teka-teki alam sedang mereka sendiri tidak mengetahui huruf-huruf abjad!

Mereka memiliki pandangan-pandangan yang lucu, padahal mereka adalah filsuf-filsuf besar, yang benar-benar menggelikan ketika pandangan mereka dibandingkan dengan pandangan yang jelas, lurus, dan indah yang ditetapkan oleh Al-Qur'an. Mereka menggelikan karena menggelincirkan, kesembronoannya, dan kekerdilannya dibandingkan dengan keagungan alam wujud yang mereka tafsirkan. Tidak terkecuali filsuf-filsuf Yunani yang besar, filsuf-filsuf muslim yang bertaklid kepada mereka, dan filsuf-filsuf abad modern. Ya, tampak menggelikan apabila pandangan mereka dibandingkan dengan pandangan İslam terhadap alam wujud ini. 

Kedua, golongan yang merasa putus asa atau tidak dapat memperoleh manfaat dalam mengkaji masalah ini, lalu mereka beralih dengan memfokuskan diri dan usahanya dalam ilmu-ilmu eksperimental dan ilmu-ilmu terapan, dengan mengesampingkan lapangan persoalan misterius, yang tidak ada jalan untuk dicapai dan tjdak ada petunjuk Allah ke arah sana, karena ia tidak mampu untuk memahami Allah. Golongan itü mencapai puncak keberlebihannya pada abad kedelapan belas dan kesembilan belas. Akan tetapi, golongan tersebut pada permulaan abad ini mulai menyadari ketertipuannya yang berkedok ilmu pengetahuan. Pasalnya, banyak hal yang lepas dari jangkauan tangan mereka, dan mereka mulai menyadari bahwa memang ada hal-hal gaib yang tersembunyi, yang hampir tidak diketahui aturannya.

Islam tetap teguh di atas batu fondasi keyakinannya, yang memberikan kebaikan kepada manusia pada hal-hal gaib dalam kadar tertentu, dan memberikan potensi akalnya untuk bekerja dalam melaksanakan kekhalifahannya di muka bumi. Juga menyediakan bagi akal mereka lapangan yang mereka dapat beraktivitas padanya secara aman, dan memberikan petunjuk bagi mereka ke jalan yang paling lurus mengenai sesuatu yang misterius dan nyata.

Aneka Sikap terhadap Petunjuk yang Diberikan Allah

Setelah itu, kelompok jin tersebut memberikan penjelasan tentang keadaan dan sikap mereka terhadap petunjuk yang diberikan Allah. Kita memahami dari perkataan jin tersebut bahwa mereka memiliki tabiat yang bercampur aduk sebagaimana tabiat manusia di dalam kesiapannya merespons petunjuk dan kesesatan. Kelompok jin ini menceritakan kepada kita tentang akidah mereka terhadap Tuhan yang mereka imani, dan tentang keyakinan mereka mengenai akibat yang akan diterima oleh orang yang mengikuti petunjuk dari orang yang tersesat,

وَّاَنَّا مِنَّا الصّٰلِحُوْنَ وَمِنَّا دُوْنَ ذٰلِكَۗ كُنَّا طَرَاۤىِٕقَ قِدَدًاۙ ١١ وَّاَنَّا ظَنَنَّآ اَنْ لَّنْ نُّعْجِزَ اللّٰهَ فِى الْاَرْضِ وَلَنْ نُّعْجِزَهٗ هَرَبًاۖ ١٢ وَّاَنَّا لَمَّا سَمِعْنَا الْهُدٰىٓ اٰمَنَّا بِهٖۗ فَمَنْ يُّؤْمِنْۢ بِرَبِّهٖ فَلَا يَخَافُ بَخْسًا وَّلَا رَهَقًاۖ ١٣ وَّاَنَّا مِنَّا الْمُسْلِمُوْنَ وَمِنَّا الْقٰسِطُوْنَۗ فَمَنْ اَسْلَمَ فَاُولٰۤىِٕكَ تَحَرَّوْا رَشَدًا ١٤ وَاَمَّا الْقٰسِطُوْنَ فَكَانُوْا لِجَهَنَّمَ حَطَبًاۙ ١٥

"Sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. Sesunguhnya kami mengetahui bahwa kami sekali-kali tidak akan dapat melepasknn diri (dari kekuasaan) Allah di muka bumi dan sekali-kali tidak (pula) dapat melepaskan diri (daripada)-Nya dengan lari. Sesungguhnya kami tatkala mendengar Petunjuk (Al-Qur’an), kami beriman kepadanya. Barangsiapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan. Sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api neraka Jahannam. "(al-Jin: 11-15)

Pengakuan dari golongan jin bahwa di antara mereka adayang saleh dan adayang tidak saleh, ada yang muslim dan ada yang menyimpang dari kebenaran, menunjukkan kompleksnya tabiat jin dan berpotensinya mereka terhadap kebaikan dan keburukan seperti manusia - kecuali yang semata-mata berpotensi terhadap keburukan seperti iblis dan kelompoknya. Pengakuan jin di atas merupakan pengakuan yang sangat penting untuk meluruskan pandangan umum kita terhadap makhluk ini. Karena kebanyakan kita - hingga kalangan ilmuwan dan kaum terpelajarnya-beranggapan bahwa bangsa jin itu hanya mencerminkan keburukan, tabiat mereka hanya untuk itu, dan hanya manusia saja di antara makhluk-makhluk Allah yang memiliki tabiat yang kompleks.

Pandangan ini timbul dari ketetapan terdahulu di dalam pandangan kita mengenai hakikat-hakikat alam wujud sebagaimana sudah kami kemukakan. Sekarang sudah tiba waktunya bagi kita untuk merevisinya dengan menyesuaikannya menurut ketetapan Al-Qur'an yang benar.

Kelompok jin ini berkata, "Sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang salch dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. "Mereka menyifati keadaan mereka secara umum, "Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. " Maksudnya, setiap orang dari kami (bangsa jin) memiliki jalan sendiri yang terlepas dan terpisah dari jalan kelompok lain. Kemudian kelompok tersebut menjelaskan akidah mereka secara khusus sesudah mereka beriman,

"Sesunguhnya, kami mengetahui bahwa kami sekali-kali tidak akan (dapat melepaskan diri (dari kekuasaan)  Allah di muka bumi dan sekali-kali tidak (pula) dapat melepaskan diri (dari)-Nya dengan lari. " (al-Jin: 12)

Maka, mereka mengakui kekuasaan Allah atas mereka di bumi, dan mengakui ketidakmampuan mereka untuk berlari dan melepaskan diri dari kekuasaan dan genggaman-Nya. Jadi, mereka tidak dapat melepaskan diri dari kekuasaan Allah di bumi ini, dan tidak dapat melepaskan diri dari-Nya dengan berlari dari kekuasaan-Nya itu. Mereka adalah hamba yang lemah di hadapan Tuhan, dan makhluk yang lemah di hadapan Al-KhaIiq. Mereka merasakan kekuasaan Allah Yang Mahakuasa lagi Mahaperkasa. Nah, bangsa jin yang demikian keadaannya itulah yang dimintai perlindungan oleh beberapa orang dari manusia. Merekalah yang dimintai pertolongan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Mereka itulah yang oleh orang-orang musyrik dianggap memiliki hubungan nasab dengan Allah SWT. Padahal, mereka mengakui kelemahan dirinya dan mengakui kemahakuasaan, kekuatan, dan keperkasaan Allah. Karena itu, mereka meluruskan, bukan hanya untuk kaumnya saja melainkan untuk orang-orang musyrik juga. Yakni, hakikat kekuatan yang satu dan berkuasa atas alam ini dengan apa saja yang ada di dalamnya.

Kemudian mereka menerangkan keadaan mereka ketika mereka mendengarkan petunjuk. Hal ini sudah mereka jelaskan sebelumnya, tetapi di sini mereka ulangi lagi sesuai dengan pembicaraan tentang bermacam-macam sikap golongan jin terhadap keimanan,

"Sesungguhnya, kami tatkala mendengar petunjuk (Al-Qur’an), kami beriman kepadanya. " (al-Jin: 13)

Hal ini sebagaimana seharusnya bagi setiap orang yang mendengar petunjuk, sewaktu mereka mendengar Al-Qur'an. Akan tetapi, mereka menyebutnya petunjuk sebagaimana hakikat dan konklusinya.

Kemudian mereka menetapkan kepercayaan mereka terhadap Tuhan, yaitu kepercayaan orang yang beriman kepada Tuhan Yang Melindunginya, "Barangsiapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan." (al-Jin: 13)

Inilah kepercayaan orang yang mantap hatinya terhadap keadilan dan kekuasaan Allah, kemudian kepada tabiat iman dan hakikatnya. Karena Allah itu Mahaadil dan tidak akan mengurangi hak orang atas kemampuan yang bersangkutan. Apalagi Dia Mahakuasa, maka Dia akan melindungi hamba-Nya dari pengurangan terhadap haknya secara mutlak dan akan melindunginya dari tugas-tugas dan beban yang melampaui kemampuannya. Nah, siapakah gerangan yang dapat mengurangi hak-hak orang yang beriman atau menambah beban di atas kemampuannya, sedangkan ia berada di dalam perlindungan dan pemeliharaan Allah?

Memang, kadang-kadang terdapat kendala terhadap orang mukmin untuk mendapatkan kekayaan dunia ini, tetapi itu bukanlah pengurangan hak. Dan, kadang-kadang dia mendapat gangguan dari pihak yang kuat di bumi, tetapi ini bukanlah penambahan beban yang melampaui kemampuannya. Karena, "Tuhan memberinya kekuatan sehingga ia mampu menanggungnya. Dengan demikian, ia malah mendapat manfaat dan menjadi besar. itu, hubungannya dengan Tuhannya menjadikan ia menganggap ringan semua kesulitan itu sehingga perhatiannya terfokus untuk mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat.

Kalau begitu, orangyang beriman jiwanya merasa aman dari pengurangan pahalanya dan dari beban tugas di luar kemampuannya, "Maka, ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan. "Rasa aman ini akan melahirkan ketenteraman dan kegembiraan selama hidupnya. Akibatnya, ia tidak hidup dalam goncangan dan ketakutan (stres). Sehingga, apabila ditimpa kesulitan, ia tidak berkeluh kesah dan bersedih hati, serta tidak akan menutup jendela-jendela jiwanya. Karena, ia akan menganggap kesulitan itu hanya sebagai ujian yang perlu ia sikapi dengan sabar. Dengan demikian, ia akan mendapat pahala, dan ia mengharapkan Allah akan menghilangkan penderitaannya, yang dengan pengharapannya ini ia akan mendapat pahala pula. Maka, dalam kedua keadaan ini, ia tidak takut dikurangi pahalanya dan tidak takut ditambah bebannya. la juga tidak menderita kerugian dan tidak mendapatkan dosa.

Benarlah apa yang digambarkan oleh golongan jin yang beriman itu tentang hakikat yang terang benderang ini.

Kemudian mereka menetapkan pandangan mereka terhadap hakikat petunjuk dan kesesatan beserta pembalasan terhadap petunjuk dan kesesatan itu,

“Sesungguhnya, di antara kami ada orang-orangyang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api neraka Jahannam. " (al-Jin: 14-15)

AI-qaasithuun adalah orang-orang yang durhaka dan menjauhi keadilan dan kebaikan. Oleh golongan jin yang beriman, mereka dimasukkan sebagai kelompok yang berlawanan dengan golongan muslim. Dalam pernyataan ini, terdapat isyarat yang halus dan mendalam petunjuknya, yang berarti bahwa orang muslim itu adil dan suka melakukan perbaikan. Kebalikannya adalah al-qaasithun yakni orang yang durhaka dan suka berbuat kerusakan. "Barangsiapa yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus.”

Penggunaan Iafal 'memilih' ini memberi petunjuk bahwa mencari petunjuk kepada Islam itu maknanya yang halus adalah mencari jalan yang benar, dan mencari petunjuk - sebagai kebalikan dari penyimpangan dan kesesatan - berarti mencari kebenaran. Juga berarti memilihnya berdasarkan pengetahuan dan dengan kesengajaan hati setelah tampak jelas dan terang, bukan ngawur, sembrono, dan ikut-ikutan tanpa pengertian. Kalimat ini berarti bahwa mereka secara praktis sampai kepada kebenaran pada waktu mereka memilih Islam. Ini adalah makna yang halus dan indah.

"Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api neraka Jahannam.  (al-Jin: 15)

Ayat ini menetapkan urusan mereka, dan pada akhirnya mereka menjadi kayu bakar neraka Jahannam, yang bergejolak karenanya dan bertambah nyalanya, sebagaimana api bergejolak dengan kayu bakar.

Hal ini menunjukkan bahwa bangsa jin (yang masuk neraka) juga disiksa dengan api (neraka), dan mafhumnya bahwa mereka (yang beriman dan beramal saleh) juga merasakan kenikmatan yang berupa surga.

Demikianlah petunjuk nash AI-Qur' an, dan inilah yang menjadi sandaran pandangan kita. Setelah ini, tidak boleh seseorang berkata tentang tabiat bangsa jin, sifat neraka, dan sifat surga berdasarkan alasan selain AI-Qur'an. Karena apa yang difirmankan Allah benar, tanpa diperdebatkan lagi.

Apa yang berlaku bagi bangsa jin seperti mereka jelaskan itu, berlaku pula bagi manusia. Hal itu sudah disampaikan kepada mereka oleh wahyu melalui lisan Nabi mereka.

Sampai di sini wahyu menceritakan perkataan bangsa jin dengan lafal-lafal mereka secara langsung mengenai diri mereka. Kemudian beralih dari susunan ini dengan meringkas perkataan mereka yang dilakukan oleh Allah terhadap orang-orang yang istiqamah di atas jalan menuju kepada-Nya. Perkataan itu hanya disebutkan kandungannya saja, bukan dengan lafalnya,

وَّاَنْ لَّوِ اسْتَقَامُوْا عَلَى الطَّرِيْقَةِ لَاَسْقَيْنٰهُمْ مَّاۤءً غَدَقًاۙ ١٦ لِّنَفْتِنَهُمْ فِيْهِۗ وَمَنْ يُّعْرِضْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهٖ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًاۙ ١٧

“]ika mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak) untuk Kami beri cobaan kepada mereka padanya. Barangsiapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam azab yang amat berat. " (al-Jin: 16-17)

Allah mengatakan bahwa ini adalah perkataan bangsa jin tentang kita, yang isinya bahwa manusia itu apabila tetap berjalan lurus (istiqamah) di jalan Allah, atau kalau orang-orang yang menyimpang dari kebenaran itu mau berjalan Iurus di atas jalan Allah, maka Kami beri minum mereka dengan air yang banyak, yang menyegarkan mereka, sehingga menumpahlah rezeki dan kemakmuran atas mereka, "Untuk Kami beri cobaan kepada mereka. " Kami uji mereka, apakah mau bersyukur ataukah kufur.

 Peralihan dari menceritakan perkataan bangsa jin kepada penyebutan kandungan perkataan mereka dalam hal ini, menambah ketegasan petunjuknya untuk menisbatkan informasi tentang hal ini beserta janji itu kepada Allah SWT. Peralihan semacam ini banyak terdapat di dalam uslub Al-Qur'an, untuk menghidupkan makna, menguatkannya, dan menambah kesadaran terhadapnya.

Peralihan ini mengandung sejumlah hakikat yang masuk di dalam pembentukan akidah mukmin, dan menggambarkan kepadanya tentang jalannya berbagai urusan dan hubungannya.

Hakikat pertama, hubungan antara istiqamahnya bangsa-bangsa atau masyarakat di atas satu jalan hidup yang menyampaikannya kepada Allah, dengan diberikannya kemakmuran dan sebab-sebab nya. Sebab yang pertama adalah diberikannya air yang segar secara cukup dan memadai. Karena kehidupan itu selalu berjalan dengan adanya air di semua lapangan. Kemakmuran senantiasa mengikuti keberadaan air yang penuh berkah ini hingga pada zaman sudah bertebarannya perindustrian sekarang. Memang pertanian bukan satu-satunya sumber rezeki dan kemakmuran, tetapi air merupakan unsur kemakmuran yang paling penting.

Hubungan sikap istiqamah di jalan Islam dengan kemakmuran dan kemantapan di muka bumi ini merupakan realitas yang nyata. Dahulu bangsa Arab yang berada di tengah-tengah padang pasir itu hidup dalam kekeringan dan kesempitan. Sehingga, setelah mereka bersikap istiqamah di atas jalan Allah, maka dibukakanlah bagi mereka tanah yang penuh air, dan memancarlah di sana rezeki yang banyak. Kemudian mereka menyimpang dari jalan itu, lalu kebaikan-kebaikan mereka ditarik kembali. Mereka senantiasa berada dalam kesulitan dan kesempitan sehingga mereka kembali ke jalan İslam, kemudian Allah merealisasikan janji-Nya kepada mereka.

Apabila di sana terdapat bangsa-bangsa yang tidak istiqamah di jalan Allah, kemudian mereka mendapatkan rezeki dan kekayaan, maka mereka diazab dengan berbagai bencana lain pada manusianya, keamanannya, atau pada nilai dan harkat manusianya, yang melucuti makna kemakmuran dari kekayaan dan harta benda yang melimpah itu. Sehingga, berubahlah kehidupan di kalangan mereka menjadi kutukan yang sial atas kemanusiaan, kemuliaan, keamanan, dan ketenangan manusia (sebagaimana sudah dijelaskan dalam menafsirkan surah Nuh).

Hakikat kedua yang bersumber dari nash ayat ini adalah bahwa kemakmuran dan kesenangan itu adalah ujian dan cobaan dari Allah kepada hamba-hambaNya, “Kami uji kamu dengan keburukan (kesusahan) dan kebaikan (kesenangan) sebagai cobaan." Bersabar atas kelapangan (kesenangan) dan melaksanakan kewajiban bersyukur atasnya serta berbuat kebajikan pada saat itu lebih berat dan lebih jarang teıjadi daripada bersabar terhadap kesulitan. Berbeda dengan apa yang tampak pada pandangan yang tergesa-gesa. Maka, banyaklah orang yang sabar dan tabah terhadap kemelaratan, karena hatinya terkonsentrasi, sadar, dan teguh, selalu ingat kepada Allah, berlindung kepada Allah, dan memohon pertolongan kepada-Nya. Ketika sandaran-sandaran dalam kesulitan itu gugur, maka yang tersisa hanya tirainya. Sedangkan, kemakmuran dapat menjadikan orang lupa dan lalai, mengendorkan anggota badan, membius unsur-unsur perlawanan dalam jiwa, dan membeıikan kesempatan untuk terpedaya oleh kesenangan dan terninabobokan oleh setan.

Ujian dengan kenikmatan itu senantiasa membutuhkan kesadaran yang terus-menerus untuk menjaganya dari fitnah. Nikmat harta dan rezeki sering menimbulkan fitnah yang berupa kesombongan dan tidak mau bersyukur, yang diiringi dengan israf “berlebih-lebihan” atau bakhil, yang keduanya merupakan bencana bagi jiwa dan kehidupan. Nikmat kekuatan sering menimbulkan fitnah yang berupa kesombongan dan keengganan bersyukur yang disertai dengan kezaliman dan melampaui batas, dan menggunakan kekuatan untuk menindas kebenaran dan menindas orang lain, serta merusak sesuatu yang diperintahkan Allah untuk dihormati. Nikmat ketampanan dan kecantikan sering menimbulkan fitnah yang berupa kesombongan dan keangkuhan, dan menjerumuskan yang bersangkutan kelembah dosa dan penyelewengan. Adapun nikmat kecerdasan sering menimbulkan fitnah yang berupa keterpedayaan dan menganggap remeh terhadap oıang lain, nilai-nilai, dan norma-norma. Hampir tidak ada nikmat yang sunyi dari fitnah, kecuali orangyang selalu ingat kepada Allah, lalu Allah melindunginya.

Hakikat ketiga, bahwa berpaling dari mengingat Allah, yang kadang-kadang terjadi karena terfitnah oleh kelapangan hidup, dapat menyebabkan yang bersangkutan terkena azab Allah. Nash ini menyebutkan sifat azab tersebut, “Niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam azab yang amat berat. “ Ayat ini mengisyaratkan adanya masyaqat “kemelaratan” sejakyang bersangkutan naik ke tempat tinggi, maka ia menemui penderitaan setiap kali naik. Al-Qur'an secara bertahap melambangkan kesulitan atau penderitaan itu dengan tindakan mendaki. Maka, pada satu tempat disebutkan,

"Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) İslam. Dan, barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscayaAllah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. " (al-An’am: 125)

Pada tempat lain disebutkan,

"Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. ” (al-Muddatstsir: 17)

İni adalah hakikat bersifat jasmani yang sudah dikenal. Adanya perlawanan kata di sini begitu jelas, antara fitnah karena kesenangan dan azab yang berat ketika pembalasan!

Ayat ketiga dalam konteks ini mungkin menceritakan perkataan bangsa jin, dan mungkin frman Allah secara orisinil,

وَّاَنَّ الْمَسٰجِدَ لِلّٰهِ فَلَا تَدْعُوْا مَعَ اللّٰهِ اَحَدًاۖ ١٨

"Sesunguhnya masjid-massjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka, janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (mcnyembah) Allah. " (al-Jin: 18)

Ayat ini dalam kedua halnya (baik menceritakan perkataan jin maupun firman Allah secara orisinil) menunjukkan bahwa sujud atau tempat-tempat sujud yakni masjid-masjid adalah hanya kepada atau kepunyaan Allah. Maka, di sana haruslah ditegakkan tauhid yang murni, hilanglah semua bayang-bayang bagi seseorang, semua nilai, dan semua anggapan. Udaranya harus bersih dan ubudiah haruslah dilakukan dengan ikhlas semata-mata karenaAllah. Sedangkan, menyeru kepada selain Allah itu mungkin dengan melakukan ibadah kepada selain-Nya. Kadangkadang dengan berlindung kepada selain Allah, dan kadang-kadang dengan menggantungkan hati ke pada selain-Nya.

Apabila ayat ini dari perkataan jin, maka ia merupakan penegasan terhadap perkataan mereka pada surah al-Jin ayat 2, "Kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorangpun dengan Tuhan kami" di tempat khusus, yaitu tempat ibadah dan sujud. Jika ayat ini dari firman Allah sendiri, maka ia merupakan pengarahan yang sesuai dengan perkataan golongan jin dan pentauhidan mereka terhadap Allah, yang disebutkan pada tempatnya menurut uslub Al-Qur'an.

Demikian pula dengan ayat berikut,

وَّاَنَّهٗ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللّٰهِ يَدْعُوْهُ كَادُوْا يَكُوْنُوْنَ عَلَيْهِ لِبَدًاۗ ࣖ ١٩

“Tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadah), hampir saja mereka  desak-mendesak mengerumuninya. " (al-Jin: 19)

Yakni, mereka berdesak-desakan mengerumuni Rasulullah saw. ketika beliau melakukan shalat dan berdoa kepada Tuhannya. Shalat itu pada asalnya berarti doa.

Apabila kalimat di atas dari perkataan jin, maka ia menceritakan penuturan jin tentang kaum musyrikin Arab yang berkumpul secara berkelompok-kelompok di sekitar Rasulullah saw. ketika sedang mengerjakan shalat atau membaca Al-Qur’an sebagaimana disebutkan dalam surah al-Ma’aarij ayat 36 dan 37, “Mengapakah orang-orang kafir itu bersegera datang ke arahmu, dari kanan dan dari kiri dengan berkelompok-kelompok.?” Mereka mendengarkan dengan merasa tercengang, tetapi tidak mau menerimanya. Atau, mereka berkumpul untuk mengganggu beliau, kemudian Allah melindungi beliau dari gangguan sebagaimana yang terjadi berulang kali. Perkataan jin kepada kaummnya ini menunjukkan keheranan mereka terhadap kelakuan kaum musyrikin itu!

Namun, apabila perkataan perkataan ini firman Allah sendiri, maka ia menceritakan keadaan sekelompok jin tersebut ketika mereka mendengarkan Al-Qur’an yang mengagumkan lalu mereka tertarik dan tercengang, dan berdesak-desakan mengerumuni Rasulullah saw. Sebagian mereka menempel pada sebagian yang lain, sebagaimana bulu yang kempal dan tersusun rapi.

Barangkali kemungkinan yang kedua inilah yang lebih dekat kepada kebenaran, berdasarkan petunjuk ayat, karena relevan dengan ketakjuban, ketercengangan, kegoncangan perasaan, dan ketakutan yang tampak pada semua perkataan kelompok jin itu. Wallahu a 'lam.

Tugas Rasul Hanya Menyampaikan, Beliau Tidak Berkuasa Mendatangkan Manfaat dan Mudharat, dan Tidak Mengetahui Perkara Gaib

Sebelumnya Allah melalui firman-Nya telah menceritakan perkataan bangsa jin tentang Al-Qur’an dan tentang urusan ini, yang mengagetkan jiwa mereka, menggoncang perasaan mereka, dan menunjukkan kepada mereka betapa sibuknya langit, bumi, malaikat, dan bintang-bintang terhadap urusan ini. Juga terhadap bekas-bekas yang ditimbulkannya pada keteraturan seluruh alam, keseriusan yang dikandungnya, dan undang-undang alam yang menyertainya.

Setelah semua itu selesai, rnaka firman berikutnya ditujukan kepada Rasulullah saw. yang disampaikan dengan irama yang indah, serius, dan penuh kepastian. Tujuan firman-Nya itu adalah agar beliau bertablig (menyampaikan kepada manusia), dan membersihkan diri dari semua urusan ini sesudah bertablig. Juga membersihkan diri dari semua anggapan mengetahui perkara gaib, atau mengetahui nasib manusia dan takdir mereka. Semua itu dikemas dengan disertai sentuhan kesedihan dan kegundahan, seiring dengan kesungguhan dan keseriusannya,

قُلْ اِنَّمَآ اَدْعُوْا رَبِّيْ وَلَآ اُشْرِكُ بِهٖٓ اَحَدًا ٢٠ قُلْ اِنِّيْ لَآ اَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَّلَا رَشَدًا ٢١ قُلْ اِنِّيْ لَنْ يُّجِيْرَنِيْ مِنَ اللّٰهِ اَحَدٌ ەۙ وَّلَنْ اَجِدَ مِنْ دُوْنِهٖ مُلْتَحَدًا ۙ ٢٢ اِلَّا بَلٰغًا مِّنَ اللّٰهِ وَرِسٰلٰتِهٖۗ وَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَاِنَّ لَهٗ نَارَ جَهَنَّمَ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًاۗ ٢٣ حَتّٰىٓ اِذَا رَاَوْا مَا يُوْعَدُوْنَ فَسَيَعْلَمُوْنَ مَنْ اَضْعَفُ نَاصِرًا وَّاَقَلُّ عَدَدًاۗ ٢٤ قُلْ اِنْ اَدْرِيْٓ اَقَرِيْبٌ مَّا تُوْعَدُوْنَ اَمْ يَجْعَلُ لَهٗ رَبِّيْٓ اَمَدًا ٢٥ عٰلِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلٰى غَيْبِهٖٓ اَحَدًاۙ ٢٦ اِلَّا مَنِ ارْتَضٰى مِنْ رَّسُوْلٍ فَاِنَّهٗ يَسْلُكُ مِنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ رَصَدًاۙ ٢٧ لِّيَعْلَمَ اَنْ قَدْ اَبْلَغُوْا رِسٰلٰتِ رَبِّهِمْ وَاَحَاطَ بِمَا لَدَيْهِمْ وَاَحْصٰى كُلَّ شَيْءٍ عَدَدًا ࣖ ٢٨

"Katakanlah, 'Sesungguhnya, aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya.' Katakanlah, 'Sesungguhnya, aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatan pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu kemanfaatan. ' Katakanlah, 'Sesunguhnya, aku sekali-kali tiada seorangpun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain dari-Nya. Akan tetapi, (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalah-Nya. Barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sehingga, apabila mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka, maka mereka akan mengetahui siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit bilangannya. 'Katakanlah, 'Aku tidak mengetahui, apakah azab yang diancamkan kepadamu itu dekat ataukah Tuhanku menjadikan bagi (kedatangan) azab itu, masa yang panjang?' (Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesunguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat)  di muka dan di belakangnya. Supaya Dia mengetahui bahwa sesunguhnya rasul- rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenamya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu per satu. " (al-Jin: 20-28)

Katakan wahai Muhammad, "Sesungguhnya, aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya. "

Pernyataan ini datang setelah pernyataan keIompok jin itu kepada kaumnya, "Kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorangpun dengan lidan kami. " Maka, ia merasakan dan meresapinya.

Ini adalah perkataan manusia dan jin, yang sama-sama mengakui kalimat tersebut Karena itu, barangsiapa yang menyimpang dari kalimat ini seperti kaum musyrikin, maka ia terkucil dari alam semesta.

"Katakanlah, 'Sesungguhnya, aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatan pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu kemanfaatan. "' (al-Jin: 21)

Rasulullah saw. diperintahkan untuk membersihkan diri dan berlepas tangan dari mengklaim sesuatu yang merupakan hak khusus Allah Yang Maha Esa yang disembahnya dan tidak dipersekutukannya dengan seorang pun. Karena Dia sajalah yang berkuasa memberi mudharat dan manfaat. Sebagai kebalikan dari mudharat adalah rasyad ‘kemanfaatan, kebaikan' yakni hidayah (petunjuk) sebagaimana disebutkan dalam perkataan bangsa jin ini sebelumnya pada surah al-Jin ayat 10, "Sesungguhnya, kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki rasyad 'kebaikan' bagi mereka. "

Maka, bersesuaianlah kedua perkataan ini dalam arahnya, dan lafalnya pun hampir sama Bersesuaian maksud kisah dan komentarnya, sebagaimana banyak terdapat di dalam uslub Al-Qur'an.

Dengan pernyataan ini dan itu, maka berlepas tanganlah bangsa jin -yang merupakan tempat syubhat dalam masalah kekuasaan memberi manfaat dan mudharat- dan Nabi saw. Hanya zat Ilahi saja yang berkuasa mutlak terhadap urusan itu. Maka, lurusIah tashawwur imani dengan pembersihan diri yang total, jelas, dan terang ini.

"Katakanlah, 'Sesungguhnya, aku sekali-kali tiada seorangpun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain dari-Nya. Akan tetapi, (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risaIah-Nya. "' (al-Jin: 22-23)

Ini adalah perkataan yang penuh rasa takut, yang memenuhi hati dengan keseriusan urusan itu, urusan risalah dan dakwah. Rasulullah saw. diperintahkan untuk menyatakan dan mengumumkan hakikat yang besar ini, "Sesungguhnya, tidak ada seorang pun yang dapat melindungiku dari azab Allah dan aku  tidak akan memperoleh tempat berlindung. Tugasku hanya menyampaikan urusan dan menunaikan amanat ini. Maka, hanya inilah satu-satunya tempat berlindung yang aman. Urusan ini bukan urusanku. Aku tidak mempunyai wewenang sedikit pun kecuali hanya menyampaikan, dan aku tidak dapat menghindar dari tugas menyampaikan ini. Aku dituntut oleh AIIah untuk melakukan tugas ini, dan tidak ada seorang pun yang dapat melindungiku dari azab-Nya. Aku tidak akan memperoleh tempat berlindung selain-Nya yang dapat melindungiku, kecuali kalau aku mau menyampaikan dan menunaikan tugas ini."

Wahai, betapa takutnya. Betapa takutnya. Betapa seriusnya!

Ini bukan pekerjaan sukarela yang dilakukan oleh pelaku dakwah. Tetapi, ini adalah tugas yang pasti dan mengikat, yang tidak dapat lari dari menunaikannya. Sedangkan, Allah berada di belakangnya.

Ini bukanlah kesenangan pribadi untuk menyampaikan petunjuk dan kebaikan kepada manusia. Tetapi, ini adalah persoalan sangat luhur yang tidak mungkin dia berpaling darinya dan meragukannya.

Demikianlah tampak jelas urusan dakwah dan batasannya. Ini tugas dan kewajiban, yang di belakangnya ada rasa takut, keseriusan, dan Yang Mahabesar lagi Mahatinggi!

"Barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sesunguhnya baginya neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sehingga, apabila mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka, maka mereka akan mengetahui siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit bilangannya. " (al-Jin: 23-24)

Ini adalah ancaman yang nyata dan berlipat bagi orang yang sampai kepadanya perintah ini, tetapi kemudian dia durhaka, setelah ditunjuk dengan sungguh-sungguh dan serius untuk bertugas menyampaikan risalah itu.

Apabila kaum musyikin mengandalkan kekuatan dan jumlahnya, dan membandingkan kekuatan mereka dengan kekuatan Nabi Muhammad saw. dan kaum mukminin yang sedikit jumlahnya, maka mereka akan mengetahui ketika mereka melihat apa yang diancamkan kepada mereka, mungkin di dunia dan mungkin di akhirat nanti, "Siapa yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit bilangannya. "Manakah dari kedua golongan ini yang lemah dan hina, kecil dan kerdil?

Kita kembali kepada perkataan jin. Maka, kita dapati mereka mengatakan,

“Sesungguhnya kami mengetahui bahwa kami sekali-kali tidak akan dapat melepaskan diri (dari kekuasaan) Allah di muka bumi dan sekali-kali tidak (pula) dapat melepaskan diri (dari)-Nya dengan lari. " (al-Jin: 12)

Kita dapati komentar terhadap kisah ini dengan begitu serasi, dan kita dapati pula kisah ini sebagai pendahuluan bagi komentar tersebut yang disebutkan tepat pada saat yang diminta.

Kemudian Rasulullah saw. diperintahkan untuk membersihkan diri dan berlepas tangan dari urusan gaib,

"Katakanlah, 'Aku tidak mengetahui, apakah azab yang diancamkan kepadamu itu dekat ataukah Tuhanku menjadikan bagi (kcdatangan) azab itu, masa yang panjang?"' (al-Jin: 25)

Dakwah itu bukan urusan Rasulullah. Beliau tidak memiliki wewenang sedikit pun selain hanya menyampaikan saja sebagai pelaksanaan tugas, dan melindungkan dirinya ke daerah aman yang tidak dapat dicapai kecuali dengan menyampaikan risalah dan menunaikan tugas. Adapun apa yang diancamkannya kepada orang-orang yang melanggar dan mendustakannya, maka itu adalah urusan Allah. Beliau tidak bisa campur tangan sama sekali, dan tidak mengetahui kapan waktu terjadinya. Beliau tidak mengetahui apakah masanya sudah dekat ataukah Allah menjadikan masa yang panjang untuk kedatangan azab itu, baik azab dunia maupun azab akhirat. Semuanya merupakan urusan gaib yang ada dalam pengetahuan Allah. Nabi tidak mengetahui sedikit pun mengenai kapan waktunya.

Allah sendirilah yang mengetahui perkara gaib, tidak ada pihak Iain yang mengetahuinya,

"(Dia adalah Tühan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang gaib itu. "(al-Jin: 26)

Nabi saw. berhenti dengan membersihkan diri dari semua sifat kecuali sifat ubudiah. Maka, beliau adalah 'abdullah ‘hamba Allah', dan ini merupakan identitas beliau dalam derajat dan kedudukan yang paling tinggi. Bersih pulalah tashawwur islami dari semua syubhat dan kesamaran. Sedangkan, Nabi hanya diperintahkan untuk bertablig (menyampaikan risalah), lalu beliau pun menyampaikannya.

Di sana hanya ada satu pengecualian untuk mengetahui perkara gaib, yaitu rasul-rasul yang diizinkan Allah untuk mengetahuinya Itu pun dalam batas-batas yang sekiranya dapat membantunya di dalam menyampaikan dakwah kepada manusia. Maka, tidak ada yang diwahyukan kepada mereka kecuali sebagian dari urusan gaib-Nya, yang disingkapkan kepada mereka pada waktu dan dalam kadar tertentu. Dipelihara-NyaIah mereka di dalam bertablig dan diawasi-Nya pula. Rasulullah saw. diperintahkan menyatakan hal itu dalam bentuk kalimat yang indah, serius, dan menakutkan,

"Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sasungguhnyaDia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. Supaya Dia mengetahui bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan  risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu per satu. " (al-Jin: 27-28)

Para rasul yang diridhai (diizinkan) oleh Allah untuk menyampaikan dakwahnya itu sajalah yang diberitahukan sebagian perkara gaib oleh-Nya, yaitu wahyu ini. Pengetahuan mengenai wahyu itu melipuü tentang isinya, caranya, malaikat yang membawanya, sumbernya, terpeliharanya di Lauh Mahfuzh, dan persoalan lain yang berhubungan dengan tema risalahnya, yang ada di dalam simpanan kegaiban yang tidak ada seorang pun dari mereka yang mengetahuinya.

Pada waktu yang sama, para rasul itu diliputi dengan penjagaan dan perlindungan dari para malaikat penjaga. Para malaikat itu menjaga dan melindungi mereka dari bisikan-bisikan dan godaan setan, dan bisikan nafsu dan khayalannya sendiri, dari kelemahannya sebagai manusia dalam urusan risalah, dari kelalaian dan keberpalingan, dan dari semua bentuk kekurangan dan kelemahan yang biasa terjadi pada diri manusia.

Ungkapan yang menakutkan, "Maka, sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakanuya", ini menggambarkan pengawasan yang terus-menerus dan sempurna terhadap Rasulullah ketika beliau menunaikan tugas yang besar ini.

“.. Supaya Dia mengetahui bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya.. “

Sudah tentu Allah mengetahui. Akan tetapi, maksudnya adalah bahwa mereka telah menyampaikan risalah, dan ilmu Allah ini juga berhubungan dengan dunia realitas.

".. .Sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka.. “

Maka tidak ada sesuatu pun di dalam jiwa mereka, dalam kehidupan mereka, dan di sekitar mereka, melainkan semuanya berada di dalam genggaman pengetahuan Allah.

“… Dan, Dia menghitung segala sesuatu satu persatu. "

Tidak hanya terbatas pada apa yang ada di sisi para rasul saja, melainkan meliputi segala sesuatu, dengan perhitungan yang sangat cermat, menyeIuruh, dan dengan pengetahuan.

Bayangkanlah keadaan ini! Rasulullah diliputi dengan penjagaan dan pengawasan, dan pengetahuan Allah meliputi segala sesuatu yang ada di sisi dan di sekelilingnya. Beliau menerima tugas seperti militer, tak dapat ditolak Pelaksanaannya tidak diserahkan kepada dirinya, kelemahannya, hawa nafsunya, atau menurut apa yang disukai dan disenanginya. Tetapi, pelaksanaannya harus serius, bersungguh-sungguh, dan diawasi dengan cermat.

Beliau mengetahui hal ini dan menjalankan tugas dengan istiqamah, tidak menoleh ke sini atau ke sana. Karena, beliau mengetahui adanya penjagaan dan pengawasan di sekelilingnya, dan beliau juga mengetahui apa yang ditugaskan kepadanya dengan sejelas-jelasnya.

Ini adalah sikap yang menebarkan kelembutan terhadap sikap Rasulullah, sebagaimana ia juga menebarkan rasa takut sekitar urusan yang sangat penting ini.

Dengan kesan yang menakutkan itu, ditutuplah surah ini, yang dimulai dengan kesan menakutkan yang juga tampak dari perkataan bangsa jin yang panjang dan terperinci.

Surah yang berisi dua puluh delapan ayat ini menetapkan sejumlah hakikat pokok di dalam membangun akidah seorang muslim dan dalam menciptakan pandangannya yang jelas, seimbang, Iurus, tidak berlebih-lebihan, tidak mengurang-ngurangi, tidak menutup jendela-jendela pengetahuan pada jiwanya, dan tidak berjalan mengikuti mitos-mitos dan khurafat-khurafat.

Benarlah apa yang dikatakan oleh golongan jin itu ketika mereka mendengarkan Al-Qur' an,

"Sesungguhnya, kami telah mendengarkan Al-Qur’an yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. " (al-Jin: 1-2) 

No comments:

Post a Comment

Perang Hunain