Risalah
Muktamar Para Pimpinan Wilayah, Cabang, dan Pusat Ikhwanul Muslimin di Tingkat
Nasional Mesir
Pertemuan berlangsung di Kairo pada tanggal 3 Syawal tahun 1364 H bertepatan dengan 8 September 1945 M.
Bismillaahir-rahmaanir-rahiim
Segala
puji bagi Allah, selawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi
Muhammad, keluarga, para sahabat, dan siapa saja yang menyerukan dakwahnya
hingga hari kiamat.
Wahai
Saudara-saudara yang Mulia..
Assalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh. Selanjutnya, sempat terlintas dalam benak saya
untuk berterima kasih kepada kalian atas kepayahan yang kalian jalani, beban
yang kalian tanggung, dan biaya yang kalian keluarkan demi menghadiri pertemuan
ini. Namun, saya bertanya kepada diri sendiri: Bukankah itu adalah kewajiban
paling ringan yang dituntut oleh sebuah dakwah?
Jika
demikian, untuk apa ucapan terima kasih? Sejak dahulu telah dikatakan:
"Tidak ada ucapan terima kasih untuk sebuah kewajiban." Oleh karena
itu, saya mengurungkan niat untuk maju kepada kalian sebagai pemberi terima
kasih, namun hal itu tidak menghalangi saya untuk maju kepada kalian sebagai
pembawa kabar gembira; tentang apa yang telah Allah siapkan bagi
hamba-hamba-Nya yang beramal lagi ikhlas berupa pahala yang agung dan balasan
yang melimpah, manakala mereka beramal, ikhlas, dan memenuhi seruan Allah dan
Rasul-Nya ketika menyeru mereka kepada sesuatu yang memberi mereka kehidupan.
Maka
kabar gembira bagi kalian wahai saudara-saudara (Ikhwan).. Sesungguhnya
tidaklah kalian melangkah satu langkah atau mengeluarkan satu nafkah yang
dengannya kalian mengharap kemuliaan kalimat Allah, menolong dakwah, dan
berkumpul di atas cinta karena Allah serta persaudaraan karena Allah, melainkan
Allah telah menetapkannya bagi kalian, dan mengangkat sebutan nama kalian di
kalangan penduduk langit yang mulia. Mahabenar Allah yang Agung:
"...dan
tidaklah mereka memberikan nafkah, baik yang kecil maupun yang besar, dan tidak
melintasi suatu lembah, melainkan ditetapkan bagi mereka (sebagai amal saleh)
agar Allah memberi balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah
mereka kerjakan." (QS. At-Taubah: 121).
Sebagaimana
saya juga memberikan ucapan selamat atas musim ini, musim Idulfitri, seraya
memohon kepada Allah Tabaraka wa Ta'ala agar mengembalikannya kepada
kemanusiaan yang sedang tersesat dengan petunjuk dan taufik. Walaupun hari raya
kita yang sesungguhnya adalah hari di saat dakwah kita menang, negara kita
bangkit, dan kalimat Allah tegak melalui kita di muka bumi-Nya; dan pada hari
itulah orang-orang mukmin bergembira karena pertolongan Allah.
Wahai
Saudara-saudara Tercinta yang Mulia...
Betapa
agung maknanya, dan betapa mulia perasaan yang dibangkitkan oleh pertemuan
kalian ini di dalam jiwa orang yang melihat kalian, jika perasaannya terhubung
dengan perasaan kalian, dan mata batinnya menembus ke kedalaman jiwa kalian.
Maka ia akan melihat motivasi mulia apa yang menguasai kalian sehingga
mendorong kalian ke tempat ini, dan ia akan melihat pemikiran luhur, murni,
tulus, dan suci apa yang memenuhi benak kalian di jam-jam ini. Serta keagungan,
kewibawaan, rahmat, ketenangan, dan keridaan apa yang kini meliputi majelis
kalian ini dan menaungi kalian di tempat duduk kalian.
Umat
yang Baru
Baru
dalam hatinya yang bersih dan putih, yang diliputi oleh iman dan keyakinan.
Baru dalam akal pikirannya yang cemerlang dan tercerahkan oleh ajaran
Al-Qur'anul Karim dan petunjuk Tuhan semesta alam.
Baru
dalam harapan dan cita-citanya yang sama sekali tidak tersentuh oleh egoisme,
melainkan mengharapkan kebaikan dan kebahagiaan bagi seluruh manusia.
Baru
dalam sarana-sarana yang jelas, terang, adil, lagi penyayang, yang dimulai
dengan hikmah dan nasihat yang baik, dan diakhiri dengan objektivitas,
keadilan, serta rahmat. Ia menanti balasan hal tersebut dalam firman Allah
Ta'ala:
"Negeri
akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri
dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi
orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Qashash: 83).
Wahai
Saudara-saudara yang Mulia..
Ingatlah
nikmat-Nya atas kalian, hargailah diri kalian, dan hargailah dakwah kalian.
Berbahagialah, karena masa depan adalah milik kalian, Allah bersama kalian, dan
Dia tidak akan menyia-nyiakan amal perbuatan kalian. Percayalah bahwa kalian
merepresentasikan representasi yang nyata dari umat di Lembah Nil yang
jumlahnya melampaui tiga puluh juta jiwa, dan bersamanya sisa umat Arab yang
mendekati tujuh puluh juta jiwa, dan di belakangnya dunia Islam yang mencapai
tiga ratus juta Muslim.
Kalian
mewakili kelompok manusia ini dengan representasi yang benar dan nyata, yang
mungkin diingkari oleh pihak-pihak resmi atau formalitas praktis. Namun, adakah
orang yang objektif dan adil meragukan bahwa kalian di sini, dalam pertemuan
kalian ini, jiwa kalian bergetar dengan perasaan yang sama dengan yang
dirasakan oleh semua jiwa tersebut? Dan kepala kalian dipenuhi oleh gagasan
yang sama dengan yang memenuhi semua kepala tersebut? Dan lisan kalian
mengucapkan kata-kata yang sama dengan yang diulang-ulang oleh lisan-lisan
tersebut?
Andai
saja mereka dibiarkan merdeka, niscaya tangan mereka akan menjabat tangan
kalian dengan hangat dan rindu, dan dada mereka akan mendekap dada kalian
dengan cinta dan damba, serta pekikan mereka akan membahana dengan kuat dan
tinggi bersama pekikan kalian: Allahu Akbar walillahil hamd. Itulah
persaudaraan yang tak akan terputus, yang di atasnya Al-Qur'an menyatukan hati
orang-orang beriman di setiap tempat, dan Allah mengabadikannya untuk mereka
saat berfirman:
"Sesungguhnya
orang-orang mukmin itu bersaudara" (QS. Al-Hujurat: 10).
Maka
wahai para wakil sejati dari sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia,
dengarkanlah..
Pertama:
Apakah Dakwah Kalian?
Kalian
telah mengumumkan sejak hari pertama bahwa dakwah kalian adalah "Islam
murni", kepada Islam ia bersandar dan darinya ia bersumber. Kalian
memekikkannya dengan segenap hati kalian: (Allah tujuan kami, Rasul teladan
kami, Al-Qur'an konstitusi kami, Jihad jalan kami, Mati di jalan Allah adalah
cita-cita kami yang tertinggi..). Namun, di samping itu, kalian memahami
Islam dengan pemahaman yang komprehensif:
- Kalian meyakininya sebagai
sistem sosial yang sempurna yang memperbaiki tatanan masyarakat dalam
segala hal. Ia tidak membiarkan urusan kehidupan yang kecil maupun besar
kecuali menyentuhnya, menjelaskan kebaikan di dalamnya agar manusia
mendatanginya, dan keburukan di dalamnya agar manusia menjauhinya.
- Kalian juga meyakini bahwa
di antara kewajiban Muslim sejati adalah berjihad di jalan Islam ini
hingga ia mendominasi seluruh masyarakat, dan menempati kedudukannya yang
telah Allah siapkan baginya di dunia manusia.
- Kalian juga meyakini bahwa
hal itu adalah perkara yang mungkin dan mudah jika kaum Muslimin
menghendakinya dan bersatu di atasnya.
Ketiga
perkara ini mungkin menjadi poin perselisihan antara kalian dengan sekelompok
kaum Muslimin sendiri. Masih banyak yang tidak memandang Islam kecuali dalam
bentuk akidah yang benar atau yang rusak saja, dan ibadah yang sempurna atau
yang kurang saja. Masih banyak pula yang memandang bahwa jihad di jalan Islam
ini adalah perkara yang telah habis masanya dan berlalu zamannya. Serta masih
banyak pula yang memandang bahwa rintangan di hadapan para pejuang di jalan
tujuan ini terlalu besar untuk bisa disingkirkan oleh apa pun.
Karena
keterbatasan pemahaman, kecilnya tekad, dan keputusasaan dalam jiwa inilah,
banyak orang yang menyerah pada kenyataan. Mereka menyangka hal itu dapat
menghapuskan celaan atas mereka di dunia dan azab di akhirat. Mereka melupakan
firman Allah Tabaraka wa Ta'ala:
"Sesungguhnya
orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri,
(kepada mereka) malaikat bertanya: 'Dalam keadaan bagaimana kamu ini?'. Mereka
menjawab: 'Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)'. Para
malaikat berkata: 'Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah
di bumi itu?'. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahanam, dan Jahanam itu
seburuk-buruk tempat kembali." (QS. An-Nisa: 97).
Maka
bangkitlah kalian, wahai Ikhwanul Muslimin, menepis dari diri kalian dan dari
orang-orang segala kotoran keterbatasan, kelemahan, dan keputusasaan, seraya
menanti janji Allah Tabaraka wa Ta'ala:
"...Sesungguhnya
Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah
benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami
teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang,
menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang
mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan." (QS. Al-Hajj:
40-41).
Di
Antara Dua Era
Sesungguhnya
Islam yang hanif telah datang untuk menetapkan bagi dunia prinsip-prinsip yang
paling adil dan syariat-syariat ketuhanan yang paling lurus. Ia meninggikan
jiwa manusia dan mensucikan persaudaraan universal, serta meletakkan akidah
tentang kekekalan dan balasan sebagai pendorong untuk amal saleh dan penghalang
dari kerusakan di muka bumi. Islam melukiskan jalan praktis bagi semua itu
dalam kehidupan sehari-hari manusia, kemudian dalam tatanan sipil mereka. Atas
dasar itulah, Islam menghidupkan hati, menyatukan umat, mendirikan negara, dan
mewajibkan dakwah kepadanya bagi seluruh manusia agar tidak ada fitnah dan agar
agama itu seluruhnya milik Allah.
Kehidupan
kaum Muslimin berjalan demikian selama beberapa waktu; dakwah mereka meninggi,
negara mereka meluas, kekuasaan mereka kokoh, mereka memimpin bangsa-bangsa di
dunia dan menjadi guru bagi manusia. Allah menjanjikan bagi mereka balasan yang
terbaik atas hal itu, dan Dia mewujudkan janji tersebut:
"Maka
Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat.
Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. Ali
Imran: 148).
Namun
setelah itu, keadaan menjadi rancu bagi mereka. Mereka menjadikan agama sebatas
ritual dan bentuk formalitas belaka, menjadikan ilmu dan pengetahuan sebagai
bahan perdebatan dan perselisihan, serta membagi tugas perbaikan (islah) hanya
untuk menjadi alat mengejar dunia serta sarana meraih kedudukan dan harta.
Maka, rusakkah jiwa-jiwa mereka terlebih dahulu, lalu tercerai-berailah
persatuan setelahnya, dan jatuhlah negara mengikuti kerusakan tersebut.
Orang-orang yang sebelumnya tidak mampu membela diri pun mulai rakus terhadap
kaum Muslimin, sehingga kaum Muslimin jatuh di bawah kekuasaan dan otoritas
pihak lain. Mengikuti hal itu, berubahlah seluruh tatanan kehidupan moral dan
keilmuan mereka.
Para
pembaharu (mushlihun) yang gigih berusaha untuk memperbaiki keadaan ini. Maka
berdirilah sekelompok orang yang mencoba memperbaiki jiwa, kelompok lain
mencoba melayani masyarakat, dan kelompok ketiga mengkhususkan diri pada
perbaikan alat pemerintahan. Masing-masing menamakan dirinya dengan nama yang
ia sukai dan deskripsi yang ia kagumi, membela tugasnya sendiri dan meremehkan
tugas yang lain. Padahal, syarat spesialisasi ini—agar menjadi
bermanfaat—adalah setiap sisi harus memperkuat sisi yang lain dan menjadi
penyangga baginya; sehingga mereka yang menguasai pendidikan jiwa mendorong
pengikutnya untuk melayani masyarakat, dan mereka yang melayani masyarakat
menyadarkan orang-orang di sekitar mereka bahwa benarnya masyarakat bergantung
pada benarnya pemerintahan, hingga semua saling bahu-membahu demi perbaikan
umum.
Syarat
dari spesialisasi ini juga adalah adanya lembaga pemersatu yang memegang semua
ujungnya dan menghimpun bagian-bagiannya. Syarat terakhir adalah adanya
orang-orang yang kompeten dan ikhlas. Namun, semua ini jarang tersedia, dan
sesuatu yang langka tidak dapat dijadikan sebagai hukum umum.
Tujuan-Tujuan
Dakwah dan Sarana Umumnya
Lalu
munculah dakwah kalian, wahai Ikhwan, di tengah-tengah kumpulan awan
yang bertumpuk-tumpuk ini. Ia berkilat bagaikan petir yang memancar, kemudian
menerangi bagaikan matahari yang terbit, membangkitkan cahaya, kehidupan, dan
kesadaran pada kaum ini setelah tidur dan mati suri yang panjang. Maka, maksud
dan tujuan kalian adalah maksud dan tujuan Islam yang hanif:
- Memperbaiki pemahaman kaum
Muslimin terhadap agama mereka dan menjelaskan seruan Al-Qur'anul
Karim dengan penjelasan yang gamblang, serta menyajikannya secara mulia
yang sesuai dengan semangat zaman, mengungkap keagungan dan keindahan di
dalamnya, serta menangkis kebatilan dan syubhat darinya.
- Menyatukan kaum Muslimin
secara praktis di atas prinsip-prinsip Kitab Suci mereka dengan
memperbarui pengaruhnya yang sangat kuat di dalam jiwa.
- Melayani masyarakat dan
membersihkannya dengan memerangi kebodohan, penyakit, kemiskinan, dan
maksiat, serta mendorong kebajikan dan kemanfaatan umum dalam bentuk apa
pun.
- Seseorang tidak akan
merasakan kemuliaan dan harga diri, serta tidak akan mengecap manisnya
kehidupan yang layak, kecuali jika perutnya kenyang, tidak bergantung pada
orang lain, dan kebutuhan pokok hidupnya terpenuhi. Terhadap hal inilah
Islam memandang; Islam tidak mengabaikan makna ekonomi dan tidak lalai
terhadap perbaikan finansial. Bahkan, Islam meletakkan kaidah-kaidah
terbaik untuk menumbuhkan persatuan umat baik secara individu maupun
kelompok, meningkatkan standar hidup, mendekatkan jarak antar strata
sosial, serta menjamin keamanan bagi semua orang atas diri dan keturunan
mereka. Islam menjamin keadilan sosial yang benar dan menyediakan
kesempatan yang setara bagi semua orang tanpa terkecuali.
Islam
tidak menghina harta, tidak membenci kekayaan, dan tidak mengharamkan hal-hal
yang baik (thayyibat). Sebaliknya, Islam menganggap harta sebagai salah satu
nikmat Allah yang wajib disyukuri. Nabi SAW bersabda: "Sebaik-baik
harta yang saleh adalah bagi laki-laki yang saleh." Beliau juga
berlindung dari kekurangan dan kemiskinan serta menyandingkannya dengan
kekufuran, beliau berdoa: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
kekufuran dan kemiskinan." Beliau mendorong untuk bekerja dan mencari
nafkah, serta menganggapnya sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah yang
mengantarkan pada cinta-Nya, pahala-Nya, dan ampunan-Nya. Rasulullah SAW
bersabda: "Sesungguhnya Allah mencintai orang mukmin yang memiliki
profesi (pekerja)." Beliau juga bersabda: "Barangsiapa yang di
sore hari merasa lelah karena hasil kerja tangannya, maka ia di sore itu
diampuni dosanya." Beliau mengharamkan meminta-minta karena di
dalamnya terdapat kehinaan dan kerendahan.
Kemudian
Islam berwasiat untuk menjaga harta ini, bersikap moderat dalam
membelanjakannya, dan mencari jalan terbaik dengannya. Al-Qur'an menyatakan:
"Dan
janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta
(mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok
kehidupan." (QS. An-Nisa: 5).
Dan
berfirman:
"Dan
orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan
tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang
demikian." (QS. Al-Furqan: 67).
Islam
juga mengalihkan perhatian pada sumber-sumber kekayaan dan metode mencari
nafkah melalui perdagangan, pertanian, industri, kekayaan hewani, mineral, air,
udara, serta kekuatan alam semesta. Semua itu jelas dalam Kitab Allah, yang
mendorong kaum Muslimin untuk mengeksploitasi, mengembangkan, dan
memanfaatkannya tanpa lalai. Allah merangkum hal itu dalam isyarat yang jelas:
"Tidakkah
kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa
yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir
dan batin." (QS. Luqman: 20).
Kemudian
Islam mengharamkan segala bentuk penghasilan yang haram yang membawa pada
kebencian, permusuhan, dan kerusakan masyarakat. Karena ketika Islam ingin
menyediakan sarana hidup dan kesejahteraan bagi individu, ia juga ingin
menyediakan kehidupan solidaritas (takaful) dan ketenangan bagi masyarakat,
serta menghapuskan egoisme yang keji. Maka Islam mengharamkan riba, penipuan,
dan manipulasi. Islam meletakkan kaidah yang dikenal yaitu mendahulukan
kemaslahatan umum di atas kemaslahatan pribadi. Jika hak individu bertabrakan
dengan hak jamaah, maka hak individu dikalahkan dan pemiliknya diberi
kompensasi, sementara hak jamaah ditegakkan demi tercapainya kebaikan umum.
Sistem
ekonomi Islam tidak berhenti sampai di sini, namun ia melukiskan rencana dasar
untuk mendekatkan jarak antar strata sosial. Islam mengambil sebagian harta
orang kaya sebagai zakat yang menyucikannya, membersihkannya, dan menarik
simpati hati serta pujian baginya. Islam menjauhkannya dari kemewahan yang
berlebihan dan kesombongan, serta mendorongnya untuk bersedekah dan berbuat
baik, serta menjanjikan pahala dan pemberian yang besar. Islam menetapkan hak
tertentu bagi orang miskin dan menjadikannya sebagai tanggung jawab negara
terlebih dahulu, kemudian tanggung jawab kerabat, lalu tanggung jawab
masyarakat.
Setelah
itu, Islam menetapkan bentuk-bentuk interaksi (muamalah) yang bermanfaat bagi
individu namun tetap menjaga jamaah dengan ketetapan yang menakjubkan dalam
ketelitian, cakupan, pengaruh, dan hasilnya, serta menjadikan hati nurani
manusia sebagai pengawas di balik bentuk-bentuk lahiriah ini.
Semua
ini adalah sebagian dari kaidah yang diletakkan Islam untuk mengatur urusan
kehidupan ekonomi bagi orang-orang beriman. Namun, kehidupan ekonomi yang
menyimpang di zaman ini telah memisahkan antara ekonomi dan Islam. Maka kalian
bangkit, dan di antara tujuan kalian adalah perbaikan ekonomi dengan
mengembangkan kekayaan nasional dan melindunginya, bekerja untuk
meningkatkan standar hidup, mendekatkan jarak antar strata sosial, mewujudkan
keadilan sosial, memberikan jaminan penuh bagi seluruh warga negara, serta
menetapkan tatanan yang dibawa oleh Islam dalam semua hal tersebut.
- Karena semua tujuan ini tidak
akan tercapai kecuali di bawah naungan negara yang saleh, dan waktu
telah menunjukkan kepada kita berbagai bentuk pemerintahan yang berdiri
bukan di atas sistem Islam, ternyata semuanya hanya menambah kesulitan.
Padahal konstitusi negara yang disepakati sebagai sistem bagi dirinya
sendiri menyatakan dalam Pasal (149): "Bahwa agama negara adalah
Islam dan bahasa resminya adalah bahasa Arab." Maka merupakan
keharusan bagi kalian untuk menuntut hak Islam dalam mendirikan
pemerintahan yang berpijak pada prinsip, hukum, dan ajaran-ajarannya.
Syarat dari hal itu adalah kebebasan dan kemerdekaan penuh. Maka adalah
hal alami jika salah satu tujuan kalian—sebagai dakwah Islam yang benar
dan sempurna—adalah membebaskan Lembah Nil, negeri-negeri Arab, dan
tanah air Islam secara keseluruhan dari setiap kekuasaan asing.
- Dakwah Islam yang hanif tidak
terbatas pada satu bangsa atau satu wilayah saja. Allah berfirman kepada
Nabi-Nya SAW: "Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat
manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi
peringatan." (QS. Saba: 28). Dan berfirman: "Mahasuci
Allah yang telah menurunkan Al-Furqan kepada hamba-Nya, agar dia menjadi
pemberi peringatan kepada seluruh alam." (QS. Al-Furqan: 1). Dan
berfirman: "Agar kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada
cahaya." (QS. Ibrahim: 1). Itulah fondasi spiritual dan praktis
pertama yang diletakkan di bumi ini untuk kesatuan dunia yang diteriakkan
oleh para pemimpin, dipersiapkan oleh penemuan-penemuan, dan menjadi
tempat berkumpulnya pemikiran dunia saat ini. Maka di antara dakwah
kalian, wahai saudara-saudara tercinta, adalah berkontribusi dalam
perdamaian dunia dan dalam membangun kehidupan baru bagi manusia
dengan memperlihatkan kepada mereka kebaikan-kebaikan agama kalian,
menjelaskan prinsip serta ajarannya kepada mereka setelah rasa haus yang
luar biasa yang membakar hati mereka dalam kehidupan
materialistik-mekanistik yang kejam ini.
Itulah
maksud-maksud dakwah kalian dan tujuan-tujuan lembaga kalian. Semuanya
bersumber dari Islam yang hanif, tidak melenceng darinya seujung rambut pun. "Segala
puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami tidak
akan mendapat petunjuk kalau sekiranya Allah tidak menunjukkan kami."
(QS. Al-A'raf: 43).
Adapun
sarana-sarana kalian untuk mencapai tujuan ini adalah sarana dakwah yang
pertama:
- Menyebarkan dakwah untuk
penyampaian (tabligh) dan mendidik jiwa di atas ajaran-ajaran ini secara
praktis untuk pembentukan (takwin).
- Menyusun kurikulum yang layak
dalam urusan kehidupan untuk pengarahan (taujih), serta mengajukannya
kepada para pemimpin, lembaga legislatif, eksekutif, dan internasional.
- Di sela-sela itu, tugas
kalian adalah memberikan kebaikan dan kemaslahatan kepada manusia.
Demikianlah
keadaan kalian sejak peletakan batu pertama dakwah kalian pada bulan Dzulqa'dah
1347 H / 1928 M. Di atas jalan inilah kalian tetap teguh dan akan terus teguh
sampai Allah mewujudkan janji-Nya, insya Allah.
Sifat
Kami (Identitas Kami)
Orang-orang
akan bertanya: "Apa maknanya ini? Dan siapakah kalian wahai Ikhwan?
Kami belum memahami kalian, maka buatlah kami paham tentang diri kalian dan
buatlah satu sebutan (label) untuk diri kalian agar kami dapat mengenal kalian
sebagaimana organisasi-organisasi lain dikenal melalui label-labelnya."
"Apakah
kalian sebuah tarekat sufi? Ataukah lembaga sosial? Ataukah partai politik?
Jadilah salah satu dari nama-nama dan sebutan-sebutan ini agar kami mengenal
kalian dengan nama dan sifat kalian."
Maka
katakanlah kepada orang-orang yang bertanya itu: "Kami adalah dakwah
Al-Qur'an yang benar, yang mencakup segala hal dan menghimpun semuanya":
- Tarekat sufi yang murni:
Untuk memperbaiki jiwa, menyucikan ruh, dan menyatukan hati kepada Allah
Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.
- Organisasi amal yang
bermanfaat: Yang memerintahkan kepada kebajikan (makruf), mencegah
kemungkaran, menghibur mereka yang menderita, berbuat baik kepada
peminta-minta dan mereka yang kekurangan, serta mendamaikan pihak-pihak
yang berselisih.
- Lembaga sosial yang kokoh:
Yang memerangi kebodohan, kemiskinan, penyakit, dan kemerosotan moral
dalam bentuk apa pun.
- Partai politik yang
bersih: Yang menyatukan suara (kalimat), berlepas diri dari
kepentingan pribadi, menetapkan tujuan dengan jelas, serta mengedepankan
kepemimpinan dan arahan yang baik.
Mungkin
setelah semua ini mereka akan berkata: "Kalian masih tetap samar
(ambigu)." Maka jawablah mereka: "Itu karena di tangan kalian tidak
ada kunci cahaya yang dengannya kalian bisa melihat kami di bawah sinarnya...
Kami adalah Islam, wahai manusia! Maka barangsiapa yang memahaminya
dengan pemahaman yang benar, ia akan mengenal kami sebagaimana ia mengenal
dirinya sendiri. Maka pahamilah Islam, atau setelah itu katakanlah tentang kami
apa pun yang kalian inginkan!"
Kami
dan Kementerian Urusan Sosial
Wahai
saudara-saudara tercinta..
Di
atas landasan yang jelas dan mulia inilah dakwah kalian tumbuh dan berkembang.
Kemudian, di tengah masa itu, dibentuklah Kementerian Urusan Sosial, yang di
antara tugasnya adalah menggerakkan kegiatan amal, mendorong lembaga-lembaga
rakyat dan organisasi sosial, serta membantu mereka secara materi maupun moral
dalam menjalankan kebajikan. Kami berpendapat tidak ada halangan bagi kami
untuk bekerja sama dengan kementerian tersebut dalam aspek yang menjadi
spesialisasinya dari aktivitas kami, dan hubungan kami dengannya didasarkan
pada asas ini. Kami pun mengizinkan cabang-cabang Ikhwan untuk berhubungan
dengan mereka. Hubungan kami dengan Kementerian Urusan Sosial terus berlangsung
dalam bentuk kesepahaman dan kerja sama ini hingga sekarang, sampai dikeluarkannya
Undang-Undang No. 49 Tahun 1945 M yang khusus mengatur tentang organisasi amal,
lembaga sosial, dan sumbangan untuk kebajikan, yang di dalamnya terdapat
batasan (definisi) mengenai makna organisasi dan lembaga.
Namun,
jika batasan ini diterapkan pada organisasi Ikhwanul Muslimin, kita akan
melihat bahwa definisi tersebut sama sekali tidak cocok untuknya. Ikhwan
bukanlah sekadar organisasi amal dan bukan sekadar lembaga sosial, meskipun
Ikhwan melakukan kebajikan dan melayani masyarakat, karena Ikhwan dalam hal itu
bersandar pertama-tama pada harta para anggotanya dan apa yang dihimpun dari
masyarakat umum.
Hal
ini dari satu sisi. Di sisi lain, hal-hal tersebut bukanlah seluruh tujuan
Ikhwan, dan Ikhwan tidak didirikan khusus untuk itu saja. Kami tidak menolak
untuk bekerja sama dengan Kementerian Urusan Sosial dalam kebajikan dan
pelayanan manusia; bahkan kami menyambut baik dan menginginkannya. Akan tetapi,
kami ingin menempatkan segala sesuatu pada posisi yang benar. Kami tidak ingin
menempatkan diri kami dan dakwah kami—yang telah kami wakafkan darah, harta,
nyawa, dan anak-anak kami untuknya, dan merupakan harapan dari segala harapan
bagi kami—pada posisi yang membelenggu tangannya dan menghalanginya untuk
beramal demi mewujudkan maksud-maksudnya serta mencapai tujuan-tujuannya.
Apakah
ada orang yang berhalusinasi (berasumsi keliru) bahwa dakwah Ikhwan dan
jamaahnya—dalam pengertian hukum dan logika tatanan yang sehat dan benar—adalah
sebuah organisasi yang bekerja untuk menyebarkan dakwah Al-Qur'an ke seluruh
dunia, membangkitkan umatnya, mendirikan negaranya, dan menghadapi dunia dengan
ajaran-ajarannya agar manusia dapat menikmati kebahagiaan dan perdamaian di
bawah naungannya yang mereka impikan;
"Sesungguhnya
telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan. Dengan
Kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredaan-Nya ke jalan
keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu
dari gelap gulita kepada cahaya dengan izin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan
yang lurus." (QS. Al-Maidah: 15-16).
Lembaga
ini wahai saudara-saudara, dan tujuan inilah yang diemban—apakah ada orang yang
beranggapan bahwa dalam pengertian hukum dan logika tatanan, ia setara dengan
perkumpulan pengurus jenazah orang miskin? Atau organisasi setetes susu? Atau
organisasi pendukung sedekah? Allah Maha Mengetahui bahwa kami tidak meremehkan
aspek apa pun dari kebajikan, dan tidak mengurangi nilai satu amal pun dari
amal saleh bagaimanapun bentuknya. Akan tetapi, setiap maqam (kedudukan) ada
perkataannya sendiri.
Oleh
karena itu, Maktab Irsyad berpendapat untuk mengubah Anggaran Dasar dengan
perubahan yang menjelaskan tujuan-tujuan dakwah dan sarana-sarananya secara
gamblang. Perubahan ini menyatakan pemisahan aspek amal dan olahraga dalam
administrasi dan pembukuan mereka dari organisasi pusatnya, guna mempermudah
misi kerja sama dengan Kementerian Urusan Sosial—insya Allah—di satu sisi, dan
dengan semua lembaga yang bergerak di dua aspek tersebut di sisi lain.
Rancangan perubahan dan keputusan Maktab mengenai hal ini akan diajukan kepada
kalian di akhir pertemuan ini.
"Dan
Allah mengatakan yang benar dan Dia menunjukkan jalan (yang lurus)."
(QS. Al-Ahzab: 4).
Kedua:
Hak-Hak Nasional Kita
Adapun
mengenai perkara kedua yang menjadi alasan kalian berkumpul di sini, yaitu
mengingatkan tentang hak-hak nasional bagi Lembah Nil (Mesir-Sudan) dan bagi
Dunia Islam, serta menjelaskan cara-cara bekerja untuk mewujudkannya, maka
dengarkanlah wahai saudara-saudara (Ikhwan):
Yakinlah
bahwa kewajiban kalian dalam hal itu, baik sebagai individu maupun organisasi,
adalah kewajiban yang paling berat, dan tanggung jawab kalian adalah tanggung
jawab yang paling besar. Dalam hal ini, kalian dituntut lebih banyak daripada
orang lain, dan kalian memikul beban lebih besar daripada yang mereka pikul.
Karena Allah telah menghendaki...
- Agar kalian terjaga (bangun)
saat orang lain terlelap dalam tidurnya...
- Agar kalian beriman saat
orang lain terombang-ambing dalam keraguannya...
- Agar kalian berharap saat
awan keputusasaan menyelimuti manusia...
- Agar kalian bersatu saat
persatuan telah pecah dan urusan organisasi serta partai-partai saling
berselisih...
Allah
menghendaki agar manusia berkumpul di sekeliling kalian, kepercayaan berujung
pada kalian, dan harapan menyelimuti kalian saat manusia telah kehilangan
harapan dan kepercayaan mereka, bahkan hampir setiap orang meragukan dirinya
sendiri.
Dan
Allah memenangkan urusan kalian, sehingga ia tidak berhenti di perbatasan Mesir
dan Sudan saja, melainkan melampauinya ke berbagai penjuru dan negara
lainnya.
Dan
Allah menghendaki bagi kalian setelah semua ini untuk melewati badai perang
yang sengit ini selama enam tahun penuh. Perang tersebut telah menghancurkan
apa yang Allah kehendaki untuk dihancurkan dari pihak lain, baik di dalam
maupun di luar. Akan tetapi, perang itu melewati kalian dengan lembut; ia
menguatkan dan tidak melemahkan, ia mengokohkan dan tidak menggoyahkan, ia
menyadarkan dan tidak melemaskan. Perang itu menambah keimanan kalian dengan
pertolongan Allah dan menambah kepercayaan kalian dengan perlindungan-Nya,
karena kalian berucap dengan kalimat-Nya dan bekerja untuk dakwah-Nya, maka
kalian berada di bawah pengawasan-Nya.
"Dan
bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada
dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu
bangun berdiri." (QS. At-Thur: 48).
Dari
sinilah kewajiban kalian menjadi yang paling besar, dan tanggung jawab kalian
menjadi yang paling berat.
Mengambil
Kesempatan
Kemudian
yakinlah setelah itu, bahwa ini adalah kesempatan emas yang tidak akan
terulang. Apa lagi yang kalian tunggu? Perang yang sengit ini telah usai, dan
pihak Sekutu keluar dengan kemenangan yang tidak mereka duga sebelumnya.
Musuh-musuh mereka menyerah tanpa syarat. Pemerintah, lembaga, dan bangsa
mereka telah menyadari nilai waktu. Mereka tidak menyia-nyiakannya dengan
percuma dan tidak menghabiskannya dalam perdebatan kosong, permusuhan yang
mematikan, atau tidur yang nyenyak. Sebaliknya, mereka berperang sekaligus
mengatur strategi.
Hingga
saat perang usai, muncullah Konferensi San Francisco, Konferensi Potsdam, dan
Konferensi Para Menteri Luar Negeri di London yang hanya tinggal menghitung
hari. Di tengah-tengah itu semua terjadi pertemuan-pertemuan, rapat-rapat,
pernyataan-pernyataan, keputusan-keputusan, pidato-pidato, dan artikel-artikel.
Pemerintahan silih berganti. Demikianlah negara-negara besar bergerak dan
negara-negara lain bersiap, dengan kecepatan, kewaspadaan, dan keseriusan.
Nasib dunia diputuskan dan masa depan bangsa-bangsa serta rakyat ditetapkan di
saat-saat yang menentukan dalam sejarah manusia ini. Jika keputusan telah
jatuh, maka jarang sekali ia berubah kecuali dengan upaya yang sangat keras dan
ketekunan yang menakutkan.
Maka,
apa yang kalian tunggu? Urusan ini adalah urusan kalian, dan kalianlah yang
menjadi objek pembahasan dan keputusan. Di atas kepentingan kalianlah
perdebatan dan perselisihan meruncing, dan ke sanalah ambisi serta harapan
tertuju. Tidakkah kalian melihat setelah semua ini, bahwa saat-saat ini
memiliki dampak yang panjang? Bahkan, inilah saat-saat yang paling kritis dalam
sejarah modern kita?
Antara
Nasionalisme dan Kehidupan Sosial
Beberapa
hari yang lalu, salah seorang sahabat Ikhwan yang tidak diragukan pendapat
maupun nasihatnya, berkata kepada saya: "Bukankah lebih menenangkan bagi
Ikhwan dan lebih bermanfaat bagi tanah air jika organisasi Ikhwan menggarap
aspek-aspek moral, sosial, dan ekonomi dari programnya—yang mana itu juga
bagian dari Islam—dan membiarkan aspek kebangsaan, nasionalisme, atau
politik—dengan kata lain—kepada organisasi lain? Dengan begitu, bangunan tinggi
yang telah menjadi harapan bagi orang-orang yang gigih dan menjadi karya nyata
dalam sejarah kebangkitan ini, tidak akan terancam oleh badai yang kejam."
Maka
saya menjawabnya dengan terus terang, ikhlas, dan penuh keterharuan: "Demi
Allah wahai saudaraku, saya benar-benar berbagi pendapat ini denganmu. Saya
merasakan di kedalaman jiwa saya perasaan ini begitu kuat dan mendalam. Saya
sangat membenci apa yang menyertai perjuangan ini berupa tampilan-tampilan dan
dampak-dampak pada jiwa dan hubungan, serta apa yang ditariknya berupa aspek
ketenaran dan kedudukan palsu yang melalaikan orang dari kebenaran dan
kewajiban. Betapa saya berharap keadaan berpihak pada saya dan kamu, dan
peristiwa-peristiwa memberi kita waktu yang cukup untuk hal yang kamu sukai dan
saya sukai. Namun, keadaannya seperti yang kamu lihat sekarang:
Negara-negara
besar—meskipun mereka keluar sebagai pemenang—bekerja keras siang dan malam,
mencoba, bahkan sengaja untuk melalaikan hak-hak kita dan melupakan janji serta
piagam yang mereka berikan kepada kita, sementara waktu berlalu secepat awan.
Organisasi-organisasi
politik di tempat kita telah lalai dari kewajiban ini dan tersibukkan darinya
dengan apa yang dibaca di koran-koran dan surat kabar mereka berupa saling ejek
dengan gelar dan saling berebut sisa-sisa harta. Ditambah lagi, peristiwa-peristiwa
telah membantu pihak-pihak yang memiliki agenda terselubung untuk memecah
persatuan mereka, menjauhkan orang-orang dari mereka, dan menampilkan
tokoh-tokoh mereka di hadapan opini publik sebagai sosok yang kotor dan tidak
serius. Akibatnya, rakyat kehilangan kepercayaan kepada para pemimpinnya, para
pemimpin kehilangan tentaranya, dan para pendukung pun kehilangan kepercayaan
pada diri mereka sendiri dan kepercayaan pada hak mereka.
Sementara
itu, kesadaran nasional—seperti yang kamu lihat—sedang dalam keadaan
bergejolak, kuat, dan antusias, khususnya pada kalangan pemuda terpelajar,
meskipun tidak pada seluruh rakyat ini yang telah ditekan oleh kemiskinan,
disiksa oleh kelaparan dan ketelanjangan, serta digerogoti oleh inflasi dan
kelelahan. Jika tidak dipimpin oleh tangan-tangan yang bijak dan diarahkan oleh
akal pikiran yang berpengalaman, maka mereka mungkin berjalan di jalan yang
tidak membawa pada keberhasilan dan tidak sampai pada tujuan.
Di
samping kesadaran nasional ini, terdapat pula kesiapan dari pihak dunia Arab
dan sekitarnya dari dunia Islam untuk bersatu dan berkumpul, serta keinginan
untuk mengoordinasikan usaha dan kerja. Dan tidak ada satu pun organisasi yang
lebih dekat ke hati bangsa-bangsa ini dan lebih mampu muncul di medan ini
daripada Ikhwan.
Semua
itu wahai saudaraku, membuat kami—setelah menghabiskan tujuh belas tahun dalam
persiapan dan kesiapsiagaan, dan setelah kami membuat orang-orang memahami
perkara ini pada hakikatnya, bahwa politik, kebebasan, dan kemuliaan adalah
perintah Al-Qur'an, dan cinta tanah air adalah bagian dari iman, dan tidak
tersisa lagi setelah itu satu pun organisasi yang tetap pada persatuannya,
kepercayaan orang-orang padanya, dan harapan mereka kepadanya selain
Ikhwan—semua itu membuat saya merasa dengan perasaan yang telah naik ke tingkat
keyakinan, bahwa kami tidak lagi memiliki pilihan, dan bahwa kewajiban kami
sekarang adalah memimpin jiwa-jiwa yang bingung ini, membimbing
perasaan-perasaan yang bergejolak ini, dan melangkahkan langkah ini. Dan Allah
lah tempat memohon pertolongan."
Ada
pula pandangan lain yang tidak kalah penting dari yang di atas. Tidakkah kamu
melihat wahai saudaraku, bahwa faktor terpenting dari kerusakan dan perusakan
kehidupan rakyat Mesir ini dan bangsa-bangsa Arab serta Islam lainnya adalah
campur tangan dan kendali asing ini? Yang telah menghilangkan kemuliaan kita,
mengarahkan kita bukan pada tujuan kita, mengubah tatanan kehidupan kita,
menertawakan kita dengan kulit luarnya saja, dan memalingkan kita dari
intisarinya. Kemudian ditambah lagi kelemahan yang sangat dari
pemerintah-pemerintah ini yang telah menjadikan dirinya alat yang patuh—jika
tidak ingin dikatakan bersegera—di tangan pihak asing, yang dengannya mereka
mengendalikan leher manusia sesuka hati, dan melaksanakan tuntutan serta
rencana mereka sebagaimana yang mereka inginkan, baik secara terang-terangan
maupun sembunyi-sembunyi.
Tidakkah
kamu melihat bahwa pintu pertama untuk perbaikan adalah berjihad melawan dua
fenomena ini, dan agar manusia terbebas dari dua belenggu ini? Jika tidak, maka
setiap usaha akan sia-sia. Kami telah mencoba itu pada diri kami sendiri dan
pada pihak lain, kami telah menyentuh dan mengetahuinya. Jika kita tidak
memasuki pintu ini pada periode waktu sekarang ini, lalu kapan lagi?
Demi
Allah wahai saudaraku, seandainya kita adalah bangsa yang merdeka yang
urusannya dijalankan oleh pemerintahan yang waspada, maka dalam setiap tujuan
dari tujuan dakwah kita secara terpisah akan ada waktu yang cukup untuk semua
waktu dan usaha kita. Tujuan ilmiah dari menjelaskan dakwah Islam dan
mengungkap keagungan dan keindahannya, tujuan sosial dari menyantuni mereka
yang tertimpa musibah dan menolong orang-orang yang sengsara, tujuan ekonomi
dari mengeksploitasi kekayaan nasional, mengembangkannya, dan melindunginya;
setiap tujuan dari tujuan-tujuan ini menyita waktu berlipat-lipat dari waktu
kita dan menghabiskan usaha kita berkali-kali lipat. Namun, tidak semua yang
diinginkan seseorang bisa ia raih, dan Allah lebih mengetahui di mana Ia
meletakkan risalah-Nya.
Pada
saat-saat penting yang menentukan seperti ini, jihad nasional ini menjadi fardu
'ain (wajib personal) bagi setiap individu dan organisasi." Maka sahabat
itu, sang saudara tadi, berkata dengan terharu dan antusias: "Engkau
benar. Berjalanlah dengan keberkahan Allah dan Allah bersamamu."
Wahai
Saudara-saudara yang Mulia..
Yakinlah
pula bahwa negeri kita memiliki hak-hak dan tuntutan nasional yang belum
dicapai. Tidak ada gunanya menyebutkan faktor-faktor sejarah dan
peristiwa-peristiwa yang mengarah pada pengurangan hak-hak ini dan
perampasannya. Namun, yang bermanfaat dan berguna adalah kita beriman dengan
iman yang kuat dan menghanyutkan terhadap hak-hak ini, dan kita berjihad dengan
jihad yang gigih dan keras demi membebaskannya dan mencapainya. Dengan iman,
jihad, harapan, dan kerja, kita akan menang dan sampai, insya Allah. Tidak akan
sia-sia hak yang diperjuangkan oleh orang yang menuntutnya.
Saat
kita beriman dan berjihad, kita tidak mengandalkan dalam jihad kita pada
kekuatan senjata, banyaknya pasukan, dan kapal perang. Kita tahu bahwa kita
telanjang dari semua itu, dan kita merasakan sedalam-dalamnya beban rantai dan
belenggu berat yang mengikat tangan dan kaki kita. Cukuplah dunia merasakan
penderitaan akibat mengandalkan kekuatan, membuang hukum, dan mengabaikan
aturan keadilan dan persamaan. Namun kita bersandar pada keyakinan bahwa ini
adalah hak alami kita yang tidak akan diingkari kecuali oleh orang yang ingkar
dan sombong. Kita bukanlah bangsa primitif yang membutuhkan pengawasan,
perwalian, dan arahan, melainkan bangsa yang mewarisi peradaban paling mulia
dan kebudayaan paling kuno, yang telah menerangi dunia dengan ilmu dan pengetahuan
di saat bangsa-bangsa modern ini belum mengetahui apa pun tentang hakikat
keberadaan.
Kita
bersandar pada kenyataan bahwa kita telah berkontribusi dalam usaha Arab dengan
harta, darah, anak-anak, tanah, transportasi, bahan pangan, dan semua fasilitas
hidup kita. Kita telah mempertaruhkan segalanya demi bahaya yang mengancam, dan
kita berdiri di samping Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam posisi-posisi yang
tidak diragukan lagi memiliki dampak dalam kemenangan ini. Kita tidak ingin
menawar di saat-saat sulit demi satu pun hak kita atau memicu satu pun tuntutan
kita. Namun kita meninggalkan semua itu sebagai titipan di tangan nurani
kemanusiaan dunia, bersandar pada kemuliaan sekutu kita dan kejujuran janji
mereka.
Kita
bersandar pada janji-janji dan piagam yang telah ditetapkan oleh sekutu bagi
diri mereka sendiri, di antaranya Piagam Atlantik, serta pernyataan-pernyataan,
pidato-pidato, kata-kata, dan selebaran-selebaran di mana mereka mengumumkan
kepada bangsa-bangsa dan pemerintah bahwa mereka berperang demi keadilan dan
pembebasan, dan mereka ingin menolong orang-orang yang tertindas, menyelamatkan
umat manusia dari perbudakan dan tirani, serta mendirikan dunia baru yang tegak
di atas kerja sama, jaminan kebebasan, hukum, dan persamaan.
Kita
bersandar pula pada perkembangan pemikiran dunia dan kebangkitan dalam nurani
kemanusiaan. Celakalah dunia jika ia kembali dikuasai dan dikendalikan oleh
pemikiran-pemikiran reaksioner, dan didominasi oleh ambisi-ambisi kolonial.
Jika negara-negara pemenang mengira bahwa mereka mampu memimpin dunia sekali
lagi dengan besi dan api, betapa jauhnya dugaan ini dan betapa besarnya
khayalan serta imajinasi itu. Gelombang kebangkitan yang ditimbulkan oleh
guncangan dahsyat ini tidak mungkin dihentikan arusnya sampai ia mencapai
tujuannya dan sampai pada batasnya. Dan tidak akan tegak kedamaian di bumi
setelah hari ini kecuali jika negara-negara besar menyadari kebenaran ini dan
mengakui hak bangsa-bangsa dan rakyat lain untuk hidup, bebas, dan merdeka.
Kita
tidaklah begitu lalai dan lemah dalam memahami sehingga percaya bahwa kita
mampu hidup terisolasi dari orang lain dan menjauh dari kesatuan dunia yang
sedang dipersiapkan oleh seluruh bumi, yang suara pertamanya diteriakkan dari
tenggorokan kita—kita kaum Muslimin—yang berseru kepadanya, mengajaknya, dan
membacakan ayat-ayat rahmat serta perdamaian: "Dan tiadalah Kami
mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam."
(QS. Al-Anbiya: 107). Namun kita menyadari bahwa dunia tidak pernah lebih
membutuhkan kerja sama dan pertukaran kepentingan serta manfaat di suatu hari
daripada kebutuhannya terhadap hal itu saat ini. Kami siap mendukung kerja sama
ini dan mewujudkannya, di bawah naungan nilai-nilai luhur yang utama, yang
menjamin hak-hak, menjaga kebebasan, dan di mana pihak yang kuat menggandeng
tangan pihak yang lemah hingga ia bangkit.
Tuntutan-Tuntutan
Kami
Saat
kami menuntut hak kami, kami tidaklah berlebih-lebihan dan tidak pula bertindak
sewenang-wenang. Kami tidak menginginkan kesombongan di muka bumi dan tidak
pula kerusakan, akan tetapi kami berpijak pada hak alami yang tidak mungkin
seorang individu atau suatu bangsa dapat hidup tanpanya dalam kehidupan yang
mulia dan terhormat.
Lembah
Nil
Maka
kami menuntut untuk Lembah Nil:
- Agar tentara asing segera
angkat kaki darinya: Sehingga tidak ada lagi pasukan pendudukan di
bagian mana pun dari wilayahnya. Apa gunanya segelintir pasukan ini jika
kepercayaan telah hilang dan hubungan telah rusak? Sesungguhnya memuaskan
jiwa dan mengakui hak-hak adalah cara paling terjamin untuk saling
bertukar manfaat dan menjaga kepentingan.
- Agar dicabutnya belenggu
dan rantai yang dipaksakan terhadap perdagangan, pertanian, dan industri
kita selama masa perang dan sebelum perang, yang telah kita terima
sebagai bentuk kontribusi kita dalam upaya perang. Negara-negara asing
harus menyadari bahwa kita adalah bangsa yang jumlah penduduknya terus
bertambah secara konsisten, sementara lahan dan sumber kekayaannya semakin
sempit. Tidaklah adil jika pihak asing mengambil segalanya juga. Kami
tidak membenci orang asing dan tidak ingin memutus hubungan kerja sama
antara kami dan mereka; kami tahu persis bahwa kami tidak bisa lepas dari
modal dan pengalaman teknis mereka. Namun, kami juga tidak ingin kerja
sama ini didasarkan pada prinsip bahwa keuntungan untuk mereka sedangkan
kerugian untuk kami. Adalah wajib untuk menghargai semua faktor sosial dan
ekonomi ini.
Jumlah
kita bertambah sedangkan standar hidup kita lebih rendah daripada bangsa mana
pun di antara bangsa-bangsa maju. Lebih dari separuh penduduk Mesir hidup lebih
rendah daripada kehidupan hewan, namun meskipun demikian, orang asing masih
berpikir untuk berimigrasi ke tanah kita dan membatasi kebebasan kita dalam
ekspor, impor, perdagangan, pertanian, dan mata uang. Semua ini tidak
menghasilkan apa pun kecuali kesesakan dada dan bangkitnya perasaan (amarah),
dan tekanan yang kuat hanya akan melahirkan ledakan.
- Terusan Suez adalah tanah
Mesir yang digali dengan darah Mesir dan upaya anak-anaknya. Maka
Mesir harus memiliki hak pengawasan atasnya, melindunginya, dan mengatur
urusannya. Masa konsesinya sudah hampir berakhir, namun beberapa negara
berpikir untuk ikut campur dalam urusannya dengan dalih bahwa mereka telah
membeli sejumlah besar sahamnya.
Nasib
terusan ini akan kembali kepada kita setelah beberapa tahun lagi. Adalah
kewajiban kita untuk menyadari hal itu sejak sekarang dan menuntut peningkatan
jumlah pegawai dari kalangan orang Mesir di berbagai bagian, terutama bagian
teknis yang membutuhkan keahlian dan pelatihan. Kita harus bersiap untuk masa
depan dan tidak menunggu peristiwa terjadi sampai mengejutkan kita dalam
keadaan tidak siap. Negara-negara harus mengakui hak tetap ini bagi kita dan
menetapkannya kepada kita.
- Sudan: Kami tidak
mengatakan bahwa kami menuntut hak Mesir di dalamnya, karena Mesir tidak
memiliki "hak" (sebagai penjajah) di Sudan, melainkan Sudan
adalah bagian dari tanah air. Sudan adalah Mesir bagian Selatan, dan
Mesir adalah Sudan bagian Utara, dan keduanya adalah Lembah Nil. Ini
adalah perkataan yang kami inginkan agar dipahami dengan baik oleh seluruh
negara asing secara umum, dan oleh saudara-saudara serta sesama warga
negara kami, putra-putra Sudan, secara khusus.
Sungguh
Nil yang menjadi tumpuan hidup Mesir—baik tanahnya, tumbuh-tumbuhannya,
hewannya, maupun manusianya—hanyalah mengalir kepadanya dari Sudan. Dari air
dan lumpurnya jugalah terbentuk tanah Selatan sebagaimana terbentuknya tanah
Utara, dan darinya pula tumbuh raga-raga ini dan mengalir darah-darah ini. Maka
kita, wahai saudara-saudara Sudan, berasal dari air yang satu dan tanah yang
satu. Jika ada seseorang yang berkata kepada kalian bahwa Mesir ingin menjajah
kalian untuk mengeksploitasi tanah kalian, menyombongkan diri atas kalian, dan
memperpanjang kekuasaan di tanah kalian, maka katakanlah bahwa itu adalah
kedustaan yang bohong. Kami ingin Sudan menjadi bagian dari Mesir sebagaimana
Mesir menjadi bagian darinya; bagi orang Sudan apa yang menjadi hak orang
Mesir, dan atasnya apa yang menjadi kewajiban orang Mesir.
Jika
sekolah dibuka di Mesir, maka begitu pula di Sudan; jika pengadilan didirikan
di Utara, maka didirikan pula di Selatan. Kewarganegaraan dipersatukan, hukum
dipersatukan, dan segalanya dipersatukan dalam manifestasi kehidupan sosial di
dua bagian dari satu tanah air: Lembah Nil. Jika orang-orang yang memiliki
kepentingan terselubung telah mampu menggambarkan perkara ini secara tidak
benar, maka kebatilan itu sedikit pun tidak akan mengalahkan kebenaran.
Propaganda
asing telah melakukan perannya di Sudan, namun saudara-saudara kita di Sudan
adalah orang-orang yang beriman dan cerdas. Mereka merasakan sepenuhnya bahwa
keramahan dan kelembutan yang mereka temukan sekarang hanyalah sementara sampai
waktu tertentu, kemudian setelah itu kolonialisme akan menampakkan wajah
aslinya. Dan akan terbukti bagi mereka firman Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha
Besar: "Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya
mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan
demikian pulalah yang akan mereka perbuat." (QS. An-Naml: 34).
Pemerintahan
Sudan telah mencoba memisahkan Sudan Selatan dari Sudan Utara secara total.
Padahal Sudan Selatan adalah sumber kekayaan dan tempat bersemayamnya di
seluruh Sudan; ia adalah tempat hutan-hutan, padang rumput hewan, dan tempat
mineral. Pemerintah telah menutupnya dari penduduk Sudan Utara dan memasang
pengawasan yang ketat di sekelilingnya, bahkan melarang para pedagang dari
kalangan orang Sudan sendiri untuk pergi ke sana. Mereka membiarkan propaganda
misionaris dari berbagai misi di sana dan menjadikannya jarahan yang
dibagi-bagi di antara mereka. Meski demikian, Islam tetap merintis jalannya ke
sana, dan Allah berkuasa atas urusan-Nya. Sungguh aneh bahwa pemerintah Mesir
tidak mempedulikan banyak hal yang terjadi di Sudan dan tidak mengambil langkah
positif demi hal itu, namun kami tidak akan tinggal diam atas keadaan ini.
Kami
meyakini bahwa lembaga-lembaga Sudan yang menuntut persatuan penuh dengan
Mesir—jika lembaga-lembaga ini ada—seandainya mereka mengetahui posisi yang
benar yang kami umumkan, kami yakini, dan kami kerjakan dasarnya ini, niscaya
mereka akan bersegera secepat mungkin untuk mengumumkan pendapat ini dan
menetapkannya. Karena jika Mesir membutuhkan Sudan untuk merasa tenang atas air
Nil yang merupakan kehidupannya, maka Sudan lebih membutuhkan Mesir dalam
seluruh sendi kehidupannya pula. Keduanya tidak diragukan lagi adalah bagian
yang saling melengkapi, terlebih lagi karena kesamaan bahasa, agama, perasaan,
tradisi, nasab, dan darah. Kami akan terus menuntut hak ini dan berpegang teguh
padanya sampai kami mencapainya, insya Allah, karena itu adalah kebenaran, dan
kebenaran pasti akan meninggi dan nampak: "Sebenarnya Kami melontarkan
yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan
serta merta yang batil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu
mensifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya)." (QS.
Al-Anbiya: 18).
Barqah
(Cyrenaica) dan Tripoli
- Kami menginginkan setelah itu
jaminan bagi perbatasan kita, perbatasan barat kita. Bukan dengan cara
menjajah Barqah atau mengolonisasi Tripoli, karena kami lebih menghargai
diri kami dan kebenaran lebih mulia bagi kami daripada menempuh jalan yang
zalim ini. Akan tetapi, kita akan merasa aman atas perbatasan barat kita
pada hari ketika Libya diserahkan kepada penduduknya yang berbangsa Arab,
yang telah berjihad demi Libya selama puluhan tahun dengan jihad para
pahlawan. Penutup dari hal itu adalah keikutsertaan tentara modern mereka
dalam perang bahu-membahu bersama tentara Sekutu. Di sana harus berdiri
pemerintahan Arab yang independen dan ia tetap menjadi tanah air yang
bersatu, merdeka, dan berdaulat. Jika Inggris telah membebaskan Etiopia
dari belenggu kolonialisme Italia kemudian menyerahkannya kepada Kaisarnya
sebagai kerajaan yang merdeka dan bersatu, maka adalah kewajibannya untuk
melakukan hal yang sama di Libya; dan jihad Libya demi kemerdekaannya
tidaklah lebih rendah daripada jihad Etiopia.
Tidak
ada penafsiran atas pembedaan perlakuan di antara keduanya kecuali satu: bahwa
ruh fanatisme Kristen terhadap Islam masih mengendalikan jiwa sebagian negara
Barat yang maju bahkan di abad ke-20 ini. Namun meski demikian, dikatakan bahwa
kamilah yang fanatik, dan hanya kepada Allah tempat mengadu. Tidak ada di dunia
ini yang lebih meremehkan kehormatan Arab dan Muslim daripada dikatakan bahwa
ada pemikiran dari sebagian negara untuk mengembalikan koloni-koloni Italia
kepada Italia!! Ini sungguh aneh dan mencengangkan. Italia sang musuh yang
memerangi dikembalikan kemerdekaan dan koloninya, sementara bangsa Arab Sekutu
yang berjuang justru tanah air mereka diperbudak dan diserahkan oleh sekutu
mereka meskipun ada piagam dan janji. Dan setelah itu orang-orang menginginkan
keamanan dan perdamaian tegak di bumi!!
Hampir
serupa dengan ini adalah desas-desus bahwa Tripoli akan menjadi milik Italia di
bawah pengawasan badan internasional, pantai Barqah akan diberikan kepada
Yunani, dan gurun Libya akan menjadi milik Arab di bawah mandat ganda
Mesir-Inggris bersama-sama! Ada apa ini wahai para pemenang? Apa urusan Yunani
dengan pantai Barqah? Dan kelalaian apa ini yang menutupi akal pikiran orang
Mesir sehingga mereka maju menuju gurun yang menghisap darah, tenaga, dan harta
untuk mereka bangun kemudian mereka tinggalkan?
Dan
orang hina mana yang rida untuk memerintah gundukan pasir di bawah otoritas
mandat dan pendudukan? Apakah Yunani rida dengan agresi ini? Apakah ia lupa
pelajaran dari pendudukan Anatolia sebelumnya?
Malam-malam
dalam perjalanan zaman sedang mengandung, Teramat berat, dan akan
melahirkan segala yang mencengangkan.
Kami
menginginkan agar perbatasan barat kita terjamin dengan kemerdekaan Libya,
persatuannya, dan berdirinya pemerintahan Arab yang bersahabat di sana, serta
dikembalikannya apa yang diambil dari kami secara zalim dan agresif, sehingga Jaghbub
kembali menjadi milik Mesir sebagaimana sediakala.
Dan
Palestina Juga
Kami
juga ingin agar perbatasan timur kami terjamin dengan penyelesaian masalah Palestina;
sebuah penyelesaian yang juga mewujudkan pandangan Arab, serta mencegah
dominasi Yahudi atas fasilitas-fasilitas di negeri ini.
Sesungguhnya
Mesir, dunia Arab, dan seluruh dunia Islam siap berkorban demi Palestina. Bagi
Mesir, karena Palestina adalah perbatasan timurnya yang berdampingan. Bagi
negeri-negeri Arab, karena Palestina adalah jantungnya yang berdenyut, permata
di tengah kalungnya, serta pusat persatuannya; dan bangsa Arab sangat menjaga
persatuan ini agar tidak tercabik-cabik bagaimanapun keadaannya dan berapa pun
pengorbanan yang harus diberikan. Adapun bagi dunia Islam, karena Palestina
adalah kiblat pertama, tanah haram kedua (setelah Makkah), dan tempat isra'
Rasulullah SAW.
Hakikat
ini harus diletakkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa di depan mata mereka:
persahabatan umat Islam dan Arab berada di satu sisi timbangan, sedangkan
ambisi Yahudi di Palestina berada di sisi lainnya. Dan barangkali, demi
kebaikan orang-orang Yahudi itu sendiri, sebaiknya mereka memalingkan wajah
mereka dari aspek ini.
Tidak
diragukan lagi bahwa kami sangat peduli dan merasa peduli terhadap penderitaan
orang-orang Yahudi, namun ini bukan berarti mereka harus dibela dengan
menzalimi bangsa Arab, atau beban mereka diangkat dengan membinasakan dan
menyerang pihak lain. Di bumi ini masih banyak tempat luas dan tanah air masih
lapang. Setiap pemikiran, pernyataan, atau tindakan yang bertentangan dengan
keadilan bagi bangsa Arab dan tidak mewujudkan harapan mereka di Palestina,
tidak akan menghasilkan apa pun kecuali provokasi dan kesulitan.
Kami
menuntut hal ini karena merupakan jaminan bagi perbatasan kami dan kepentingan
langsung bagi kami. Kami menuntutnya juga karena itu adalah hak dua umat Arab
di Timur dan Barat; mereka adalah bagian dari kami dan kami bagian dari mereka,
tidak ada satu pun yang akan memisahkan kami. Apa yang telah dipersatukan oleh
Allah, manusia tidak akan mampu memisahkannya.
Eritrea,
Zeila, Harar, dan Massawa
Setelah
itu, kami ingin agar perbatasan selatan kami terjamin dengan menjaga hak-hak
kami di Eritrea, kemudian Zeila, Harar, dan hulu sungai
Nil... Wilayah-wilayah yang tanahnya telah bercampur dengan darah penakluk dari
Mesir, dibangun oleh tangan Mesir, dan di langitnya pernah berkibar bendera
Mesir yang gagah.
Wilayah
itu kemudian dirampas dari tubuh tanah air secara zalim dan agresif. Tidak ada
kesepakatan internasional atau status hukum yang memberikan hak atas wilayah
tersebut kepada pihak selain Mesir, meskipun orang-orang menolak kami dalam hal
ini. Kewajiban kami adalah untuk tidak menerima penentuan batas negara kami
dari orang lain, melainkan merujuk pada sejarah kami. Mari kita lihat betapa
mahalnya harga yang telah kita bayar berupa darah dan nyawa demi mengamankan
perbatasan kita; bukan karena ambisi kolonial atau keuntungan geografis,
melainkan karena kebutuhan vital yang tidak ada jalan keluar darinya.
Kesempatan sekarang terbuka lebar bagi Mesir untuk menuntut pengembalian apa
yang telah diambil darinya di saat waktu lalai dan pemerintah abai. Itulah yang
kami tuntut untuk Lembah Nil.
Negeri-Negeri
Arab
Kami
menuntut untuk negeri-negeri Arab agar negara-negara besar menaruh kepercayaan
pada Liga Arab dan memberikan kesempatan baginya untuk menjadi kuat dan
bangkit. Dalam kebangkitan dan kekuatannya terdapat faktor terbesar yang
membantu kestabilan perdamaian dan ketenangan di Timur Arab. Selain itu, setiap
bangsa Arab harus diakui haknya atas kebebasan dan kemerdekaan penuh.
Maka,
pasukan asing harus segera keluar dari Suriah dan Lebanon...
Perjanjian
Irak harus diubah sedemikian rupa sehingga mewujudkan pandangan rakyat
Irak dan membenarkan harapan mereka terhadap pihak Sekutu...
Hak Yordania
harus diakui sehingga bangsa-bangsa kecil yakin akan perlunya bersatu di zaman
di mana isolasi dan kesendirian tidak lagi berguna. Negara-negara besar juga
harus menghentikan ambisi tidak sah mereka di Yaman dan Hijaz...
Ini di wilayah Timur.
Di
sebelah barat Mesir dan Libya, terdapat dua puluh lima juta Muslim di Tunisia,
Aljazair, dan Maroko... Mereka ditimpa musibah kolonialisme
Prancis dengan nama "protektorat", penaklukan yang zalim, atau
pendudukan yang dibenci. Mereka telah berjihad selama puluhan tahun dan
memberikan pengorbanan yang mahal berupa kebebasan dan darah. Penjara dan kamp
konsentrasi penuh oleh mereka, lembah-lembah dialiri darah mereka, serta para
pemimpin dan pemuda pejuang mereka diusir ke mana-mana. Kolonialisme yang kejam
mencoba merusak agama mereka melalui misionaris, merusak kearaban mereka
melalui asimilasi bahasa dan pengkristenan, serta merusak kebebasan mereka
melalui tekanan, penindasan, dan kesewenang-wenangan. Namun, semua itu tidak
membuahkan hasil, dan para pejuang tetap teguh pada jihad mereka laksana
gunung-gunung yang menjulang tinggi.
Datanglah
perang terakhir ini, Prancis kalah dan bergabung dengan Jerman serta
mengkhianati sekutu lamanya. Kemudian Sekutu menduduki Afrika Utara dan
menemukan bantuan besar dari putra-putra tanah air ini. Mereka ikut serta
secara efektif dalam pertempuran di Afrika, Italia, dan kampanye militer di
Prancis. Mereka teguh bersama Sekutu di lokasi-lokasi paling sengit dan
saat-saat paling kritis. Bukankah tentara "Prancis Merdeka" itu tidak
lain adalah para pahlawan pemberani dari putra-putra Magrib (Maroko, Aljazair,
Tunisia) yang syahid ini? Hal ini telah diakui oleh Mr. Churchill, yang
memberikan pujian terbaik atas keberanian para pejuang tersebut.
Perang
berakhir, namun Prancis—yang belum lupa rasanya injakan kaki para penjajah di
tanahnya sendiri—tidak segan-segan menghancurkan kota-kota dan desa-desa dengan
bom pesawat. Di Aljazair, dalam satu revolusi saja, mereka membunuh empat puluh
ribu warga sipil dan memusnahkan empat puluh lima desa yang makmur. Tidak ada
dosa bagi mereka kecuali karena mereka ingin pihak Sekutu memenuhi janji
mereka, sehingga mereka bangkit menuntut kebebasan dan kemerdekaan yang
merupakan hak alami mereka.
Prancis
yang sedang runtuh ingin menaburkan abu ke mata orang-orang dengan mengklaim
bahwa itu hanyalah pemberontakan demi roti dan makanan. Ia mengklaim hak-hak
semu bagi dirinya sendiri; jika dulu kelalaian bangsa Arab dan Muslim di masa
lalu membenarkannya, maka waktu itu telah berlalu. Revolusi-revolusi akan terus
berlanjut dan gunung berapi akan memuntahkan lahar. Lihatlah Maroko sedang
menyalakan api dan neraka, tidak kalah pula dada Aljazair dan Tunisia yang
membara dengan api dan panas. Di atas perasaan-perasaan seperti inilah
perdamaian tidak dapat dibangun atau keamanan dan ketenangan tidak dapat tegak.
Maka kami menuntut bagi semua tanah air ini—yang merupakan kepingan dari
jantung tanah air Arab besar kami—agar mendapatkan haknya dan bergabung secara
efektif ke dalam Liga Arab. Jika ada referendum untuk bentuk pemerintahan di
negeri-negeri tersebut, maka referendum ini harus berada di bawah pengawasan
Dewan Liga Arab dan setidaknya diwakili oleh negara-negara Arab yang sudah
merdeka.
Negeri-Negeri
Islam dan Minoritas Muslim
Kami
menuntut: Bagi negeri-negeri Islam dan minoritas Muslim agar
mereka merdeka, bebas, mendapatkan hak-haknya, dihilangkan kezaliman dan
ketidakadilan dari mereka, serta berada dalam keamanan dari penindasan dan
agresi.
Maka
terhadap Iran, tentara Inggris dan Rusia harus segera keluar darinya
sesuai dengan pernyataan negara-negara yang terlibat dalam jangka waktu enam
bulan setelah berakhirnya perang dengan Jepang. Terhadap Indonesia
dengan seluruh wilayahnya, tidak ada alasan untuk mengembalikannya sekali lagi
ke tangan Belanda. Cukuplah bagi Belanda yang telah merasakan pahitnya
kezaliman dan kesewenang-wenangan untuk merasa puas dengan tanahnya sendiri,
dan bekerja demi kepentingannya di bawah naungan keadilan, persamaan, serta
pertukaran manfaat; itu jauh lebih baik dan kekal daripada merampas hak dan
mencuri kebebasan. Masalah India juga harus diselesaikan dengan solusi
yang menjaga hak-hak umat Islam di seluruh negara bagian, membantu kemajuan
mereka, serta menjaga hak mereka di mana pun.
Albania
dulunya adalah pemerintahan Islam sebelum perang ini karena mayoritas
penduduknya adalah Muslim dari sisa-sisa migran Balkan dan Turki. Maka
merupakan kewajiban bagi pemerintahan ini untuk kembali. Adalah bentuk keadilan
jika mereka dibantu secara nyata untuk menjadi pelindung bagi hak-hak minoritas
Muslim di negeri-negeri Balkan. Sebab di Yugoslavia, Yunani, Bulgaria, dan
lainnya terdapat minoritas Muslim yang terzalimi, diserang, dan dirampas haknya
tanpa ada yang tahu. Umat Islam di mana pun adalah umat yang satu; yang paling
rendah di antara mereka dapat memberikan jaminan keamanan atas nama seluruhnya,
dan jika satu anggota tubuh mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan ikut
merasakannya dengan tidak bisa tidur dan demam. Maka wajib menyerahkan tugas pengawasan
atas keadilan bagi mereka kepada pemerintah Islam yang paling dekat dengan
mereka.
Turki
setelah perang masa lalu berpikir untuk memisahkan diri dari Timur dan
bangsa-bangsa Islam, lalu melemparkan diri ke pelukan Barat dan mendekati
negara-negara Eropa dengan anggapan bahwa hal itu akan membantunya merasa
tenang di rumahnya dan aman di tanahnya sendiri. Besar dugaan kami bahwa
setelah perang ini, Turki telah menyadari betapa banyak keuntungan yang hilang
akibat isolasi dari bangsa Arab dan umat Islam. Kami tidak ingin menghisabnya
sekarang atas apa yang telah berlalu; kami dan mereka sangat membutuhkan kerja
sama dan saling dukung di medan tempur yang penuh dengan keinginan dan ambisi
ini. Kami tidak akan membiarkannya sendirian dalam penderitaannya. Semoga ia
menyadari hal itu, lalu kembali kepada Islam yang sempat dilupakannya dan
berpegang teguh kembali pada persaudaraan abadi ini—yang meskipun dunia lenyap,
ia tidak akan lenyap; meskipun hari-hari musnah, ia tetap lebih kekal daripada
sisa waktu itu sendiri.
Setelah
semua ini, kami menginginkan dan berharap bagi seluruh dunia keamanan,
ketenangan, perdamaian yang panjang, serta ketentraman hati. Kami tidak mengira
hal itu akan terwujud kecuali dengan keadilan dan persamaan. Di atas fitrah
inilah kami diciptakan: "Maka maafkanlah mereka dan katakanlah:
'Selamat tinggal'. Kelak mereka akan mengetahui (kebenaran)." (QS.
Az-Zukhruf: 89).
Ketiga:
Hak Islam
Wahai
Saudara-saudara yang Tercinta dan Mulia...
Setelah
itu, saya ingin mengatakan kepada kalian bahwa negara-negara besar telah
menyatakan lebih dari satu kali bahwa mereka tidak akan mencampuri urusan dalam
negeri bangsa-bangsa yang murni bersifat internal, termasuk di antaranya bentuk
pemerintahan, terutama jika hal itu sejalan dengan kaidah-kaidah demokrasi
umum.
Ideologi
Islam telah mendapatkan apresiasi penuh dalam Konferensi Den Haag tahun 1938,
ketika konferensi tersebut menetapkan bahwa Islam adalah syariat independen
yang mampu berkembang dan tumbuh, serta sejalan dengan kaidah-kaidah
perundang-undangan modern.
Islam
juga mendapatkan pengakuan ini untuk kedua kalinya dalam Konferensi Washington
pada Mei 1945, di mana Mesir diwakili oleh Menteri Kehakiman, Hafiz Pasha
Ramadhan. Beliau berhasil mendapatkan keputusan dari para peserta konferensi
yang mengukuhkan keputusan sebelumnya, dan berdasarkan hal itu, memberikan hak
kepada Mesir untuk memiliki wakil di Mahkamah Internasional atas nama Syariat
Islam.
Hal
itu dikarenakan Islam pada hakikatnya adalah sebuah sistem sosial universal
yang menjamin kebaikan dan kebahagiaan bagi umat manusia, serta mampu
menyelesaikan masalah-masalah dalam masyarakat mereka jika mereka meresapi
ruhnya dan melaksanakannya dengan benar.
Konstitusi
Mesir telah menetapkan dalam Pasal 149 bahwa: (Agama negara adalah Islam dan
bahasa resminya adalah bahasa Arab). Dunia kini telah bersiap kembali
menuju ruh religiusitas dan telah menyadari kesalahan ide lama—ide pengosongan
diri dari akidah dan agama. Bahkan, komite-komite pendidikan di Inggris dan
Amerika telah menetapkan kewajiban memasukkan agama ke dalam sekolah-sekolah;
sebagian di antaranya bahkan sampai pada tahap menjadikan pelajaran pertama di
seluruh institusi berupa doa ilmiah. Berdasarkan hal ini, kami menuntut kepada
pemerintah Mesir terlebih dahulu, kemudian pemerintah Arab atau Islam
setelahnya, agar mengembalikan sistem kehidupan Islami dan sipil mereka kepada
Islam. Manifestasi praktis dari hal tersebut adalah:
- Menyatakan bahwa pemerintah
tersebut adalah pemerintah Islam yang mewakili ideologi Islam secara resmi
di tingkat internasional.
- Menghormati
kewajiban-kewajiban dan syiar-syiar Islam, serta mewajibkan pelaksanaannya
kepada seluruh pegawai dan pekerjanya, di mana para pembesar (atasan)
menjadi teladan bagi yang lainnya dalam hal ini.
- Mengharamkan segala
kemungkaran yang diharamkan oleh Islam, mulai dari khamar (minuman keras)
dan segala yang berkaitan dengannya, perzinaan dan segala yang menjadi
pengantarnya, riba dan segala yang berhubungan dengannya termasuk jenis
perjudian dan penghasilan haram. Pemerintah harus menjadi teladan dalam
hal ini dengan tidak melegalkan sedikit pun darinya, tidak melindunginya
dengan otoritas hukum, dan tidak berinteraksi dengan rakyatnya atas dasar
tersebut.
- Memperbarui kurikulum
pendidikan sehingga tegak di atas pendidikan Islam dan nasionalisme,
memberikan perhatian yang sangat besar pada bahasa Arab dan sejarah
bangsa, serta membentuk jiwa para pelajar dengan ajaran Islam dan
mencerdaskan akal mereka dengan hukum-hukum serta hikmahnya.
- Menjadikan Syariat Islam
sebagai sumber utama perundang-undangan.
- Pemerintah harus berpijak
pada arahan Islami ini dalam setiap tindakannya.
Itulah
hak Islam atas kita, dan sungguh kami telah menyampaikannya. Ya Allah,
saksikanlah. Dan kami tidak melihat waktu yang lebih tepat untuk hal ini selain
saat sekarang ini.
Orang-orang
bertanya: "Lalu apa yang akan kalian lakukan terhadap orang asing dan
warga negara non-muslim?" Maka kami katakan: Mahasuci Allah! Sungguh Islam
telah menyelesaikan persoalan ini, menjaga persatuan umat dari perpecahan dan
perpisahan, serta menetapkan kebebasan akidah dan ibadah serta hal-hal yang
berkaitan dengannya. Al-Qur'anul Karim berfirman: (Tidak ada paksaan dalam
agama) (QS. Al-Baqarah: 256). Sebagaimana semboyan interaksi antar sesama
warga negara di tanah Islam selalu: (Bagi mereka hak yang sama dengan kita,
dan atas mereka kewajiban yang sama dengan kita). Tidak ada toleransi yang
lebih tinggi daripada itu bagi mereka yang menginginkan lebih.
Namun,
kami kembali mengatakan: Sistem mana pun di dunia ini—baik agama maupun
sipil—yang mampu melapangkan hati para pemeluknya, orang-orang yang fanatik
terhadapnya, dan orang-orang yang lebur di dalamnya bagi orang lain yang
berbeda dengan mereka, melebihi kelapangan yang diberikan oleh Islam yang hanif
ini? Islam mewajibkan seorang Muslim untuk beriman kepada setiap Nabi yang
terdahulu, kepada setiap Kitab yang diturunkan, memuji setiap umat yang telah
lalu, mencintai kebaikan bagi seluruh manusia, dan bersikap kasih sayang kepada
setiap makhluk hidup. Bahkan, surga yang memiliki delapan pintu akan terbuka
bagi seorang pria yang menghilangkan dahaga seekor anjing, dan neraka akan
menyala di kerak paling dalamnya bagi seorang wanita yang mengurung seekor
kucing. Agama yang penuh rahmat ini tidak mungkin kecuali menjadi sumber cinta,
persatuan, kedamaian, dan keharmonisan.
Keempat:
Sarana-Sarana Kami
Wahai
Saudara-saudara yang Mulia..
Orang-orang
juga berkata: "Lalu apa sarana kalian, wahai orang-orang yang tertindas
(terkalahkan), untuk mewujudkan tuntutan kalian dan mencapai hak kalian?"
Kami menjawab dengan mudah dan sederhana: "Apa yang diinginkan orang-orang
dari kami? Sekalipun kami dikalahkan dalam urusan kami dan dijauhkan dari hak
kami? Apakah pantas bagi orang yang mulia untuk menghina diri dan merendah,
sementara Rasulullah SAW bersabda: (Barangsiapa yang memberikan kehinaan
dari dirinya secara sukarela tanpa dipaksa, maka ia bukan bagian dariku)?"
Dan Allah berfirman: (Padahal kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, bagi
Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada
mengetahui) (QS. Al-Munafiqun: 8).
Sesungguhnya
kami memiliki senjata yang tidak akan tumpul dan tidak akan lekang oleh siang
dan malam, yaitu (Kebenaran/Al-Haq). Kebenaran itu kekal abadi, dan
Allah berfirman: (Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil
lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu
lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu mensifati (Allah dengan
sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya)) (QS. Al-Anbiya: 18).
Allah
berfirman: (Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang
batil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya;
adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah
Allah membuat perumpamaan-perumpamaan) (QS. Ar-Ra'd: 17). Allah juga
berfirman: (Dan katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang batil
telah lenyap". Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti
lenyap) (QS. Al-Isra: 81).
Kami
juga memiliki senjata lain setelah itu, yaitu (Iman). Iman juga
merupakan salah satu rahasia kekuatan yang tidak dipahami kecuali oleh
orang-orang mukmin yang jujur. Bukankah orang-orang yang beramal pada masa lalu
berjihad dan orang-orang setelahnya akan berjihad kecuali dengan iman? Jika
iman hilang, apakah seluruh senjata materi akan berguna bagi pemiliknya? Jika
iman ada, maka jalan menuju tujuan telah ditemukan. Jika tekad telah jujur,
maka jalan menjadi terang: (Dan Kami berkewajiban menolong orang-orang yang
beriman) (QS. Ar-Rum: 47). Jika tentara bumi meninggalkan kami,
sesungguhnya bersama kami ada tentara langit: (Ingatlah), ketika Tuhanmu
mewahyukan kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka
teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman") (QS.
Al-Anfal: 12).
Harapan
adalah senjata ketiga. Kami tidak berputus asa, tidak terburu-buru, tidak
mendahului takdir, dan semangat kami tidak melemah karena panjangnya
perjuangan. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Karena kami tahu bahwa
kami akan diberi pahala selama niat itu baik dan nurani itu tulus—dan demi
pujian kepada Allah, ia tulus adanya. Setiap hari yang berlalu, kami membangun
pahala baru, dan kemenangan di balik itu tidak akan meleset: (Allah telah
menetapkan: "Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang". Sesungguhnya Allah
Maha Kuat lagi Maha Perkasa) (QS. Al-Mujadilah: 21). (Sehingga apabila
para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah
meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada mereka pertolongan
Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat
ditolak siksa Kami daripada kaum yang berdosa) (QS. Yusuf: 110). Maka
mengapa harus ada keputusasaan dan mengapa harus ada rasa putus asa?
Keputusasaan tidak akan menemukan jalan ke hati kami dengan izin Allah: (Sesungguhnya
tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir) (QS.
Yusuf: 87).
Kami
akan bekerja di bawah cahaya perasaan-perasaan ini. Kami akan bekerja dengan
kebenaran yang didorong oleh iman dan dibimbing oleh harapan. Kami akan
menyebarkan pamflet dan pernyataan, menjelaskan kepada orang-orang apa yang
tersembunyi dari hak-hak mereka, dan menyingkap bagi mereka tipu muslihat para
penipu baik di dalam maupun di luar negeri. Kami akan menyatukan suara
orang-orang dalam konferensi-konferensi besar di setiap tempat, dan kami akan
menyerukan penyelenggaraan konferensi Arab-Islam yang inklusif untuk menyatukan
upaya dan mengoordinasikan rencana.
Kami
akan mengutus saudara-saudara kami ke setiap tempat di negara-negara asing
untuk membangkitkan rakyat dan pemerintah dalam isu Islam-Nasional. Jika semua
itu tidak membuahkan hasil dan kami tidak mendapatkan keadilan dari "dunia
baru" yang menginginkan kehidupan yang tegak di atas ketenangan dan
perdamaian, maka kami akan tahu bagaimana mengendalikan diri kami dan membangun
penghalang yang kokoh dan kuat antara kami sebagai orang-orang mukmin dengan
para penguasa yang zalim dan pendusta tersebut. Mereka akan melihat bahwa
senjata pasif ini akan menggagalkan tujuan mereka, membalikkan agresi mereka
kepada mereka sendiri, dan mengembalikan tipu daya mereka ke leher mereka
sendiri. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana
mereka akan kembali. Dan kemenangan adalah milik kita pada akhirnya, dan Allah
bersama kita. (Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat
mengalahkan kamu) (QS. Ali Imran: 160).
Wahai
Saudara-saudara yang Mulia..
Ini
adalah jam-jam yang menentukan dalam sejarah kalian. Maka berpikirlah,
putuskanlah, beramallah, teguhlah, bersabarlah, kuatkanlah kesabaranmu,
bersiap-siagalah, dan bertakwalah kepada Allah agar kalian beruntung. Allahu
Akbar, Walillahil Hamd.
Wassalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.
Hassan
al-Banna
Bismillaahir-rahmaanir-rahiim
(Ya
Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi
kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami)
Kairo,
Ibu Kota Mesir, di bulan Rajab 1366 H.
Kepada
yang terhormat...
Assalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.
Selanjutnya,
sesungguhnya hal yang mendorong kami untuk mengajukan risalah ini kepada
kedudukan Anda yang mulia adalah keinginan yang kuat untuk mengarahkan umat
yang telah Allah amanahkan urusannya kepada Anda, dan memercayakan perkaranya
kepada Anda di era barunya ini. Sebuah arahan yang baik yang menegakkannya di
atas jalan terbaik, merancang kurikulum terbaik baginya, melindunginya dari
guncangan dan kegoncangan, serta menjauhkannya dari pengalaman-pengalaman pahit
yang panjang.
Kami
tidak menginginkan apa pun di balik ini kecuali kami telah menunaikan kewajiban
dan memberikan nasihat... dan pahala Allah itu lebih baik dan lebih kekal.
No comments:
Post a Comment