Wednesday, April 22, 2026

Risalah Mu'tamar Ru'asail-Manathiq wasy-Syu'ab wa Marakizil Ikhwanil Muslimin 'ala Mustawal Qathr Mishr

Risalah Muktamar Para Pimpinan Wilayah, Cabang, dan Pusat Ikhwanul Muslimin di Tingkat Nasional Mesir

Pertemuan berlangsung di Kairo pada tanggal 3 Syawal tahun 1364 H bertepatan dengan 8 September 1945 M.

Bismillaahir-rahmaanir-rahiim

Segala puji bagi Allah, selawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad, keluarga, para sahabat, dan siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat.

Wahai Saudara-saudara yang Mulia..

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Selanjutnya, sempat terlintas dalam benak saya untuk berterima kasih kepada kalian atas kepayahan yang kalian jalani, beban yang kalian tanggung, dan biaya yang kalian keluarkan demi menghadiri pertemuan ini. Namun, saya bertanya kepada diri sendiri: Bukankah itu adalah kewajiban paling ringan yang dituntut oleh sebuah dakwah?

Jika demikian, untuk apa ucapan terima kasih? Sejak dahulu telah dikatakan: "Tidak ada ucapan terima kasih untuk sebuah kewajiban." Oleh karena itu, saya mengurungkan niat untuk maju kepada kalian sebagai pemberi terima kasih, namun hal itu tidak menghalangi saya untuk maju kepada kalian sebagai pembawa kabar gembira; tentang apa yang telah Allah siapkan bagi hamba-hamba-Nya yang beramal lagi ikhlas berupa pahala yang agung dan balasan yang melimpah, manakala mereka beramal, ikhlas, dan memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya ketika menyeru mereka kepada sesuatu yang memberi mereka kehidupan.

Maka kabar gembira bagi kalian wahai saudara-saudara (Ikhwan).. Sesungguhnya tidaklah kalian melangkah satu langkah atau mengeluarkan satu nafkah yang dengannya kalian mengharap kemuliaan kalimat Allah, menolong dakwah, dan berkumpul di atas cinta karena Allah serta persaudaraan karena Allah, melainkan Allah telah menetapkannya bagi kalian, dan mengangkat sebutan nama kalian di kalangan penduduk langit yang mulia. Mahabenar Allah yang Agung:

"...dan tidaklah mereka memberikan nafkah, baik yang kecil maupun yang besar, dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan ditetapkan bagi mereka (sebagai amal saleh) agar Allah memberi balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS. At-Taubah: 121).

Sebagaimana saya juga memberikan ucapan selamat atas musim ini, musim Idulfitri, seraya memohon kepada Allah Tabaraka wa Ta'ala agar mengembalikannya kepada kemanusiaan yang sedang tersesat dengan petunjuk dan taufik. Walaupun hari raya kita yang sesungguhnya adalah hari di saat dakwah kita menang, negara kita bangkit, dan kalimat Allah tegak melalui kita di muka bumi-Nya; dan pada hari itulah orang-orang mukmin bergembira karena pertolongan Allah.

Wahai Saudara-saudara Tercinta yang Mulia...

Betapa agung maknanya, dan betapa mulia perasaan yang dibangkitkan oleh pertemuan kalian ini di dalam jiwa orang yang melihat kalian, jika perasaannya terhubung dengan perasaan kalian, dan mata batinnya menembus ke kedalaman jiwa kalian. Maka ia akan melihat motivasi mulia apa yang menguasai kalian sehingga mendorong kalian ke tempat ini, dan ia akan melihat pemikiran luhur, murni, tulus, dan suci apa yang memenuhi benak kalian di jam-jam ini. Serta keagungan, kewibawaan, rahmat, ketenangan, dan keridaan apa yang kini meliputi majelis kalian ini dan menaungi kalian di tempat duduk kalian.

Umat yang Baru

Baru dalam hatinya yang bersih dan putih, yang diliputi oleh iman dan keyakinan. Baru dalam akal pikirannya yang cemerlang dan tercerahkan oleh ajaran Al-Qur'anul Karim dan petunjuk Tuhan semesta alam.

Baru dalam harapan dan cita-citanya yang sama sekali tidak tersentuh oleh egoisme, melainkan mengharapkan kebaikan dan kebahagiaan bagi seluruh manusia.

Baru dalam sarana-sarana yang jelas, terang, adil, lagi penyayang, yang dimulai dengan hikmah dan nasihat yang baik, dan diakhiri dengan objektivitas, keadilan, serta rahmat. Ia menanti balasan hal tersebut dalam firman Allah Ta'ala:

"Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Qashash: 83).

Wahai Saudara-saudara yang Mulia..

Ingatlah nikmat-Nya atas kalian, hargailah diri kalian, dan hargailah dakwah kalian. Berbahagialah, karena masa depan adalah milik kalian, Allah bersama kalian, dan Dia tidak akan menyia-nyiakan amal perbuatan kalian. Percayalah bahwa kalian merepresentasikan representasi yang nyata dari umat di Lembah Nil yang jumlahnya melampaui tiga puluh juta jiwa, dan bersamanya sisa umat Arab yang mendekati tujuh puluh juta jiwa, dan di belakangnya dunia Islam yang mencapai tiga ratus juta Muslim.

Kalian mewakili kelompok manusia ini dengan representasi yang benar dan nyata, yang mungkin diingkari oleh pihak-pihak resmi atau formalitas praktis. Namun, adakah orang yang objektif dan adil meragukan bahwa kalian di sini, dalam pertemuan kalian ini, jiwa kalian bergetar dengan perasaan yang sama dengan yang dirasakan oleh semua jiwa tersebut? Dan kepala kalian dipenuhi oleh gagasan yang sama dengan yang memenuhi semua kepala tersebut? Dan lisan kalian mengucapkan kata-kata yang sama dengan yang diulang-ulang oleh lisan-lisan tersebut?

Andai saja mereka dibiarkan merdeka, niscaya tangan mereka akan menjabat tangan kalian dengan hangat dan rindu, dan dada mereka akan mendekap dada kalian dengan cinta dan damba, serta pekikan mereka akan membahana dengan kuat dan tinggi bersama pekikan kalian: Allahu Akbar walillahil hamd. Itulah persaudaraan yang tak akan terputus, yang di atasnya Al-Qur'an menyatukan hati orang-orang beriman di setiap tempat, dan Allah mengabadikannya untuk mereka saat berfirman:

"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara" (QS. Al-Hujurat: 10).

Maka wahai para wakil sejati dari sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia, dengarkanlah..


Pertama: Apakah Dakwah Kalian?

Kalian telah mengumumkan sejak hari pertama bahwa dakwah kalian adalah "Islam murni", kepada Islam ia bersandar dan darinya ia bersumber. Kalian memekikkannya dengan segenap hati kalian: (Allah tujuan kami, Rasul teladan kami, Al-Qur'an konstitusi kami, Jihad jalan kami, Mati di jalan Allah adalah cita-cita kami yang tertinggi..). Namun, di samping itu, kalian memahami Islam dengan pemahaman yang komprehensif:

  1. Kalian meyakininya sebagai sistem sosial yang sempurna yang memperbaiki tatanan masyarakat dalam segala hal. Ia tidak membiarkan urusan kehidupan yang kecil maupun besar kecuali menyentuhnya, menjelaskan kebaikan di dalamnya agar manusia mendatanginya, dan keburukan di dalamnya agar manusia menjauhinya.
  2. Kalian juga meyakini bahwa di antara kewajiban Muslim sejati adalah berjihad di jalan Islam ini hingga ia mendominasi seluruh masyarakat, dan menempati kedudukannya yang telah Allah siapkan baginya di dunia manusia.
  3. Kalian juga meyakini bahwa hal itu adalah perkara yang mungkin dan mudah jika kaum Muslimin menghendakinya dan bersatu di atasnya.

Ketiga perkara ini mungkin menjadi poin perselisihan antara kalian dengan sekelompok kaum Muslimin sendiri. Masih banyak yang tidak memandang Islam kecuali dalam bentuk akidah yang benar atau yang rusak saja, dan ibadah yang sempurna atau yang kurang saja. Masih banyak pula yang memandang bahwa jihad di jalan Islam ini adalah perkara yang telah habis masanya dan berlalu zamannya. Serta masih banyak pula yang memandang bahwa rintangan di hadapan para pejuang di jalan tujuan ini terlalu besar untuk bisa disingkirkan oleh apa pun.

Karena keterbatasan pemahaman, kecilnya tekad, dan keputusasaan dalam jiwa inilah, banyak orang yang menyerah pada kenyataan. Mereka menyangka hal itu dapat menghapuskan celaan atas mereka di dunia dan azab di akhirat. Mereka melupakan firman Allah Tabaraka wa Ta'ala:

"Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: 'Dalam keadaan bagaimana kamu ini?'. Mereka menjawab: 'Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)'. Para malaikat berkata: 'Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?'. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali." (QS. An-Nisa: 97).

Maka bangkitlah kalian, wahai Ikhwanul Muslimin, menepis dari diri kalian dan dari orang-orang segala kotoran keterbatasan, kelemahan, dan keputusasaan, seraya menanti janji Allah Tabaraka wa Ta'ala:

"...Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan." (QS. Al-Hajj: 40-41).

Di Antara Dua Era

Sesungguhnya Islam yang hanif telah datang untuk menetapkan bagi dunia prinsip-prinsip yang paling adil dan syariat-syariat ketuhanan yang paling lurus. Ia meninggikan jiwa manusia dan mensucikan persaudaraan universal, serta meletakkan akidah tentang kekekalan dan balasan sebagai pendorong untuk amal saleh dan penghalang dari kerusakan di muka bumi. Islam melukiskan jalan praktis bagi semua itu dalam kehidupan sehari-hari manusia, kemudian dalam tatanan sipil mereka. Atas dasar itulah, Islam menghidupkan hati, menyatukan umat, mendirikan negara, dan mewajibkan dakwah kepadanya bagi seluruh manusia agar tidak ada fitnah dan agar agama itu seluruhnya milik Allah.

Kehidupan kaum Muslimin berjalan demikian selama beberapa waktu; dakwah mereka meninggi, negara mereka meluas, kekuasaan mereka kokoh, mereka memimpin bangsa-bangsa di dunia dan menjadi guru bagi manusia. Allah menjanjikan bagi mereka balasan yang terbaik atas hal itu, dan Dia mewujudkan janji tersebut:

"Maka Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. Ali Imran: 148).

Namun setelah itu, keadaan menjadi rancu bagi mereka. Mereka menjadikan agama sebatas ritual dan bentuk formalitas belaka, menjadikan ilmu dan pengetahuan sebagai bahan perdebatan dan perselisihan, serta membagi tugas perbaikan (islah) hanya untuk menjadi alat mengejar dunia serta sarana meraih kedudukan dan harta. Maka, rusakkah jiwa-jiwa mereka terlebih dahulu, lalu tercerai-berailah persatuan setelahnya, dan jatuhlah negara mengikuti kerusakan tersebut. Orang-orang yang sebelumnya tidak mampu membela diri pun mulai rakus terhadap kaum Muslimin, sehingga kaum Muslimin jatuh di bawah kekuasaan dan otoritas pihak lain. Mengikuti hal itu, berubahlah seluruh tatanan kehidupan moral dan keilmuan mereka.

Para pembaharu (mushlihun) yang gigih berusaha untuk memperbaiki keadaan ini. Maka berdirilah sekelompok orang yang mencoba memperbaiki jiwa, kelompok lain mencoba melayani masyarakat, dan kelompok ketiga mengkhususkan diri pada perbaikan alat pemerintahan. Masing-masing menamakan dirinya dengan nama yang ia sukai dan deskripsi yang ia kagumi, membela tugasnya sendiri dan meremehkan tugas yang lain. Padahal, syarat spesialisasi ini—agar menjadi bermanfaat—adalah setiap sisi harus memperkuat sisi yang lain dan menjadi penyangga baginya; sehingga mereka yang menguasai pendidikan jiwa mendorong pengikutnya untuk melayani masyarakat, dan mereka yang melayani masyarakat menyadarkan orang-orang di sekitar mereka bahwa benarnya masyarakat bergantung pada benarnya pemerintahan, hingga semua saling bahu-membahu demi perbaikan umum.

Syarat dari spesialisasi ini juga adalah adanya lembaga pemersatu yang memegang semua ujungnya dan menghimpun bagian-bagiannya. Syarat terakhir adalah adanya orang-orang yang kompeten dan ikhlas. Namun, semua ini jarang tersedia, dan sesuatu yang langka tidak dapat dijadikan sebagai hukum umum.

Tujuan-Tujuan Dakwah dan Sarana Umumnya

Lalu munculah dakwah kalian, wahai Ikhwan, di tengah-tengah kumpulan awan yang bertumpuk-tumpuk ini. Ia berkilat bagaikan petir yang memancar, kemudian menerangi bagaikan matahari yang terbit, membangkitkan cahaya, kehidupan, dan kesadaran pada kaum ini setelah tidur dan mati suri yang panjang. Maka, maksud dan tujuan kalian adalah maksud dan tujuan Islam yang hanif:

  1. Memperbaiki pemahaman kaum Muslimin terhadap agama mereka dan menjelaskan seruan Al-Qur'anul Karim dengan penjelasan yang gamblang, serta menyajikannya secara mulia yang sesuai dengan semangat zaman, mengungkap keagungan dan keindahan di dalamnya, serta menangkis kebatilan dan syubhat darinya.
  2. Menyatukan kaum Muslimin secara praktis di atas prinsip-prinsip Kitab Suci mereka dengan memperbarui pengaruhnya yang sangat kuat di dalam jiwa.
  3. Melayani masyarakat dan membersihkannya dengan memerangi kebodohan, penyakit, kemiskinan, dan maksiat, serta mendorong kebajikan dan kemanfaatan umum dalam bentuk apa pun.
  4. Seseorang tidak akan merasakan kemuliaan dan harga diri, serta tidak akan mengecap manisnya kehidupan yang layak, kecuali jika perutnya kenyang, tidak bergantung pada orang lain, dan kebutuhan pokok hidupnya terpenuhi. Terhadap hal inilah Islam memandang; Islam tidak mengabaikan makna ekonomi dan tidak lalai terhadap perbaikan finansial. Bahkan, Islam meletakkan kaidah-kaidah terbaik untuk menumbuhkan persatuan umat baik secara individu maupun kelompok, meningkatkan standar hidup, mendekatkan jarak antar strata sosial, serta menjamin keamanan bagi semua orang atas diri dan keturunan mereka. Islam menjamin keadilan sosial yang benar dan menyediakan kesempatan yang setara bagi semua orang tanpa terkecuali.

Islam tidak menghina harta, tidak membenci kekayaan, dan tidak mengharamkan hal-hal yang baik (thayyibat). Sebaliknya, Islam menganggap harta sebagai salah satu nikmat Allah yang wajib disyukuri. Nabi SAW bersabda: "Sebaik-baik harta yang saleh adalah bagi laki-laki yang saleh." Beliau juga berlindung dari kekurangan dan kemiskinan serta menyandingkannya dengan kekufuran, beliau berdoa: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kemiskinan." Beliau mendorong untuk bekerja dan mencari nafkah, serta menganggapnya sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah yang mengantarkan pada cinta-Nya, pahala-Nya, dan ampunan-Nya. Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah mencintai orang mukmin yang memiliki profesi (pekerja)." Beliau juga bersabda: "Barangsiapa yang di sore hari merasa lelah karena hasil kerja tangannya, maka ia di sore itu diampuni dosanya." Beliau mengharamkan meminta-minta karena di dalamnya terdapat kehinaan dan kerendahan.

Kemudian Islam berwasiat untuk menjaga harta ini, bersikap moderat dalam membelanjakannya, dan mencari jalan terbaik dengannya. Al-Qur'an menyatakan:

"Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan." (QS. An-Nisa: 5).

Dan berfirman:

"Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian." (QS. Al-Furqan: 67).

Islam juga mengalihkan perhatian pada sumber-sumber kekayaan dan metode mencari nafkah melalui perdagangan, pertanian, industri, kekayaan hewani, mineral, air, udara, serta kekuatan alam semesta. Semua itu jelas dalam Kitab Allah, yang mendorong kaum Muslimin untuk mengeksploitasi, mengembangkan, dan memanfaatkannya tanpa lalai. Allah merangkum hal itu dalam isyarat yang jelas:

"Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin." (QS. Luqman: 20).

Kemudian Islam mengharamkan segala bentuk penghasilan yang haram yang membawa pada kebencian, permusuhan, dan kerusakan masyarakat. Karena ketika Islam ingin menyediakan sarana hidup dan kesejahteraan bagi individu, ia juga ingin menyediakan kehidupan solidaritas (takaful) dan ketenangan bagi masyarakat, serta menghapuskan egoisme yang keji. Maka Islam mengharamkan riba, penipuan, dan manipulasi. Islam meletakkan kaidah yang dikenal yaitu mendahulukan kemaslahatan umum di atas kemaslahatan pribadi. Jika hak individu bertabrakan dengan hak jamaah, maka hak individu dikalahkan dan pemiliknya diberi kompensasi, sementara hak jamaah ditegakkan demi tercapainya kebaikan umum.

Sistem ekonomi Islam tidak berhenti sampai di sini, namun ia melukiskan rencana dasar untuk mendekatkan jarak antar strata sosial. Islam mengambil sebagian harta orang kaya sebagai zakat yang menyucikannya, membersihkannya, dan menarik simpati hati serta pujian baginya. Islam menjauhkannya dari kemewahan yang berlebihan dan kesombongan, serta mendorongnya untuk bersedekah dan berbuat baik, serta menjanjikan pahala dan pemberian yang besar. Islam menetapkan hak tertentu bagi orang miskin dan menjadikannya sebagai tanggung jawab negara terlebih dahulu, kemudian tanggung jawab kerabat, lalu tanggung jawab masyarakat.

Setelah itu, Islam menetapkan bentuk-bentuk interaksi (muamalah) yang bermanfaat bagi individu namun tetap menjaga jamaah dengan ketetapan yang menakjubkan dalam ketelitian, cakupan, pengaruh, dan hasilnya, serta menjadikan hati nurani manusia sebagai pengawas di balik bentuk-bentuk lahiriah ini.

Semua ini adalah sebagian dari kaidah yang diletakkan Islam untuk mengatur urusan kehidupan ekonomi bagi orang-orang beriman. Namun, kehidupan ekonomi yang menyimpang di zaman ini telah memisahkan antara ekonomi dan Islam. Maka kalian bangkit, dan di antara tujuan kalian adalah perbaikan ekonomi dengan mengembangkan kekayaan nasional dan melindunginya, bekerja untuk meningkatkan standar hidup, mendekatkan jarak antar strata sosial, mewujudkan keadilan sosial, memberikan jaminan penuh bagi seluruh warga negara, serta menetapkan tatanan yang dibawa oleh Islam dalam semua hal tersebut.

  1. Karena semua tujuan ini tidak akan tercapai kecuali di bawah naungan negara yang saleh, dan waktu telah menunjukkan kepada kita berbagai bentuk pemerintahan yang berdiri bukan di atas sistem Islam, ternyata semuanya hanya menambah kesulitan. Padahal konstitusi negara yang disepakati sebagai sistem bagi dirinya sendiri menyatakan dalam Pasal (149): "Bahwa agama negara adalah Islam dan bahasa resminya adalah bahasa Arab." Maka merupakan keharusan bagi kalian untuk menuntut hak Islam dalam mendirikan pemerintahan yang berpijak pada prinsip, hukum, dan ajaran-ajarannya. Syarat dari hal itu adalah kebebasan dan kemerdekaan penuh. Maka adalah hal alami jika salah satu tujuan kalian—sebagai dakwah Islam yang benar dan sempurna—adalah membebaskan Lembah Nil, negeri-negeri Arab, dan tanah air Islam secara keseluruhan dari setiap kekuasaan asing.
  2. Dakwah Islam yang hanif tidak terbatas pada satu bangsa atau satu wilayah saja. Allah berfirman kepada Nabi-Nya SAW: "Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan." (QS. Saba: 28). Dan berfirman: "Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam." (QS. Al-Furqan: 1). Dan berfirman: "Agar kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya." (QS. Ibrahim: 1). Itulah fondasi spiritual dan praktis pertama yang diletakkan di bumi ini untuk kesatuan dunia yang diteriakkan oleh para pemimpin, dipersiapkan oleh penemuan-penemuan, dan menjadi tempat berkumpulnya pemikiran dunia saat ini. Maka di antara dakwah kalian, wahai saudara-saudara tercinta, adalah berkontribusi dalam perdamaian dunia dan dalam membangun kehidupan baru bagi manusia dengan memperlihatkan kepada mereka kebaikan-kebaikan agama kalian, menjelaskan prinsip serta ajarannya kepada mereka setelah rasa haus yang luar biasa yang membakar hati mereka dalam kehidupan materialistik-mekanistik yang kejam ini.

Itulah maksud-maksud dakwah kalian dan tujuan-tujuan lembaga kalian. Semuanya bersumber dari Islam yang hanif, tidak melenceng darinya seujung rambut pun. "Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami tidak akan mendapat petunjuk kalau sekiranya Allah tidak menunjukkan kami." (QS. Al-A'raf: 43).

Adapun sarana-sarana kalian untuk mencapai tujuan ini adalah sarana dakwah yang pertama:

  1. Menyebarkan dakwah untuk penyampaian (tabligh) dan mendidik jiwa di atas ajaran-ajaran ini secara praktis untuk pembentukan (takwin).
  2. Menyusun kurikulum yang layak dalam urusan kehidupan untuk pengarahan (taujih), serta mengajukannya kepada para pemimpin, lembaga legislatif, eksekutif, dan internasional.
  3. Di sela-sela itu, tugas kalian adalah memberikan kebaikan dan kemaslahatan kepada manusia.

Demikianlah keadaan kalian sejak peletakan batu pertama dakwah kalian pada bulan Dzulqa'dah 1347 H / 1928 M. Di atas jalan inilah kalian tetap teguh dan akan terus teguh sampai Allah mewujudkan janji-Nya, insya Allah.

Sifat Kami (Identitas Kami)

Orang-orang akan bertanya: "Apa maknanya ini? Dan siapakah kalian wahai Ikhwan? Kami belum memahami kalian, maka buatlah kami paham tentang diri kalian dan buatlah satu sebutan (label) untuk diri kalian agar kami dapat mengenal kalian sebagaimana organisasi-organisasi lain dikenal melalui label-labelnya."

"Apakah kalian sebuah tarekat sufi? Ataukah lembaga sosial? Ataukah partai politik? Jadilah salah satu dari nama-nama dan sebutan-sebutan ini agar kami mengenal kalian dengan nama dan sifat kalian."

Maka katakanlah kepada orang-orang yang bertanya itu: "Kami adalah dakwah Al-Qur'an yang benar, yang mencakup segala hal dan menghimpun semuanya":

  • Tarekat sufi yang murni: Untuk memperbaiki jiwa, menyucikan ruh, dan menyatukan hati kepada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.
  • Organisasi amal yang bermanfaat: Yang memerintahkan kepada kebajikan (makruf), mencegah kemungkaran, menghibur mereka yang menderita, berbuat baik kepada peminta-minta dan mereka yang kekurangan, serta mendamaikan pihak-pihak yang berselisih.
  • Lembaga sosial yang kokoh: Yang memerangi kebodohan, kemiskinan, penyakit, dan kemerosotan moral dalam bentuk apa pun.
  • Partai politik yang bersih: Yang menyatukan suara (kalimat), berlepas diri dari kepentingan pribadi, menetapkan tujuan dengan jelas, serta mengedepankan kepemimpinan dan arahan yang baik.

Mungkin setelah semua ini mereka akan berkata: "Kalian masih tetap samar (ambigu)." Maka jawablah mereka: "Itu karena di tangan kalian tidak ada kunci cahaya yang dengannya kalian bisa melihat kami di bawah sinarnya... Kami adalah Islam, wahai manusia! Maka barangsiapa yang memahaminya dengan pemahaman yang benar, ia akan mengenal kami sebagaimana ia mengenal dirinya sendiri. Maka pahamilah Islam, atau setelah itu katakanlah tentang kami apa pun yang kalian inginkan!"


Kami dan Kementerian Urusan Sosial

Wahai saudara-saudara tercinta..

Di atas landasan yang jelas dan mulia inilah dakwah kalian tumbuh dan berkembang. Kemudian, di tengah masa itu, dibentuklah Kementerian Urusan Sosial, yang di antara tugasnya adalah menggerakkan kegiatan amal, mendorong lembaga-lembaga rakyat dan organisasi sosial, serta membantu mereka secara materi maupun moral dalam menjalankan kebajikan. Kami berpendapat tidak ada halangan bagi kami untuk bekerja sama dengan kementerian tersebut dalam aspek yang menjadi spesialisasinya dari aktivitas kami, dan hubungan kami dengannya didasarkan pada asas ini. Kami pun mengizinkan cabang-cabang Ikhwan untuk berhubungan dengan mereka. Hubungan kami dengan Kementerian Urusan Sosial terus berlangsung dalam bentuk kesepahaman dan kerja sama ini hingga sekarang, sampai dikeluarkannya Undang-Undang No. 49 Tahun 1945 M yang khusus mengatur tentang organisasi amal, lembaga sosial, dan sumbangan untuk kebajikan, yang di dalamnya terdapat batasan (definisi) mengenai makna organisasi dan lembaga.

Namun, jika batasan ini diterapkan pada organisasi Ikhwanul Muslimin, kita akan melihat bahwa definisi tersebut sama sekali tidak cocok untuknya. Ikhwan bukanlah sekadar organisasi amal dan bukan sekadar lembaga sosial, meskipun Ikhwan melakukan kebajikan dan melayani masyarakat, karena Ikhwan dalam hal itu bersandar pertama-tama pada harta para anggotanya dan apa yang dihimpun dari masyarakat umum.

Hal ini dari satu sisi. Di sisi lain, hal-hal tersebut bukanlah seluruh tujuan Ikhwan, dan Ikhwan tidak didirikan khusus untuk itu saja. Kami tidak menolak untuk bekerja sama dengan Kementerian Urusan Sosial dalam kebajikan dan pelayanan manusia; bahkan kami menyambut baik dan menginginkannya. Akan tetapi, kami ingin menempatkan segala sesuatu pada posisi yang benar. Kami tidak ingin menempatkan diri kami dan dakwah kami—yang telah kami wakafkan darah, harta, nyawa, dan anak-anak kami untuknya, dan merupakan harapan dari segala harapan bagi kami—pada posisi yang membelenggu tangannya dan menghalanginya untuk beramal demi mewujudkan maksud-maksudnya serta mencapai tujuan-tujuannya.

Apakah ada orang yang berhalusinasi (berasumsi keliru) bahwa dakwah Ikhwan dan jamaahnya—dalam pengertian hukum dan logika tatanan yang sehat dan benar—adalah sebuah organisasi yang bekerja untuk menyebarkan dakwah Al-Qur'an ke seluruh dunia, membangkitkan umatnya, mendirikan negaranya, dan menghadapi dunia dengan ajaran-ajarannya agar manusia dapat menikmati kebahagiaan dan perdamaian di bawah naungannya yang mereka impikan;

"Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan. Dengan Kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya dengan izin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus." (QS. Al-Maidah: 15-16).

Lembaga ini wahai saudara-saudara, dan tujuan inilah yang diemban—apakah ada orang yang beranggapan bahwa dalam pengertian hukum dan logika tatanan, ia setara dengan perkumpulan pengurus jenazah orang miskin? Atau organisasi setetes susu? Atau organisasi pendukung sedekah? Allah Maha Mengetahui bahwa kami tidak meremehkan aspek apa pun dari kebajikan, dan tidak mengurangi nilai satu amal pun dari amal saleh bagaimanapun bentuknya. Akan tetapi, setiap maqam (kedudukan) ada perkataannya sendiri.

Oleh karena itu, Maktab Irsyad berpendapat untuk mengubah Anggaran Dasar dengan perubahan yang menjelaskan tujuan-tujuan dakwah dan sarana-sarananya secara gamblang. Perubahan ini menyatakan pemisahan aspek amal dan olahraga dalam administrasi dan pembukuan mereka dari organisasi pusatnya, guna mempermudah misi kerja sama dengan Kementerian Urusan Sosial—insya Allah—di satu sisi, dan dengan semua lembaga yang bergerak di dua aspek tersebut di sisi lain. Rancangan perubahan dan keputusan Maktab mengenai hal ini akan diajukan kepada kalian di akhir pertemuan ini.

"Dan Allah mengatakan yang benar dan Dia menunjukkan jalan (yang lurus)." (QS. Al-Ahzab: 4).


Kedua: Hak-Hak Nasional Kita

Adapun mengenai perkara kedua yang menjadi alasan kalian berkumpul di sini, yaitu mengingatkan tentang hak-hak nasional bagi Lembah Nil (Mesir-Sudan) dan bagi Dunia Islam, serta menjelaskan cara-cara bekerja untuk mewujudkannya, maka dengarkanlah wahai saudara-saudara (Ikhwan):

Yakinlah bahwa kewajiban kalian dalam hal itu, baik sebagai individu maupun organisasi, adalah kewajiban yang paling berat, dan tanggung jawab kalian adalah tanggung jawab yang paling besar. Dalam hal ini, kalian dituntut lebih banyak daripada orang lain, dan kalian memikul beban lebih besar daripada yang mereka pikul. Karena Allah telah menghendaki...

  • Agar kalian terjaga (bangun) saat orang lain terlelap dalam tidurnya...
  • Agar kalian beriman saat orang lain terombang-ambing dalam keraguannya...
  • Agar kalian berharap saat awan keputusasaan menyelimuti manusia...
  • Agar kalian bersatu saat persatuan telah pecah dan urusan organisasi serta partai-partai saling berselisih...

Allah menghendaki agar manusia berkumpul di sekeliling kalian, kepercayaan berujung pada kalian, dan harapan menyelimuti kalian saat manusia telah kehilangan harapan dan kepercayaan mereka, bahkan hampir setiap orang meragukan dirinya sendiri.

Dan Allah memenangkan urusan kalian, sehingga ia tidak berhenti di perbatasan Mesir dan Sudan saja, melainkan melampauinya ke berbagai penjuru dan negara lainnya.

Dan Allah menghendaki bagi kalian setelah semua ini untuk melewati badai perang yang sengit ini selama enam tahun penuh. Perang tersebut telah menghancurkan apa yang Allah kehendaki untuk dihancurkan dari pihak lain, baik di dalam maupun di luar. Akan tetapi, perang itu melewati kalian dengan lembut; ia menguatkan dan tidak melemahkan, ia mengokohkan dan tidak menggoyahkan, ia menyadarkan dan tidak melemaskan. Perang itu menambah keimanan kalian dengan pertolongan Allah dan menambah kepercayaan kalian dengan perlindungan-Nya, karena kalian berucap dengan kalimat-Nya dan bekerja untuk dakwah-Nya, maka kalian berada di bawah pengawasan-Nya.

"Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri." (QS. At-Thur: 48).

Dari sinilah kewajiban kalian menjadi yang paling besar, dan tanggung jawab kalian menjadi yang paling berat.


Mengambil Kesempatan

Kemudian yakinlah setelah itu, bahwa ini adalah kesempatan emas yang tidak akan terulang. Apa lagi yang kalian tunggu? Perang yang sengit ini telah usai, dan pihak Sekutu keluar dengan kemenangan yang tidak mereka duga sebelumnya. Musuh-musuh mereka menyerah tanpa syarat. Pemerintah, lembaga, dan bangsa mereka telah menyadari nilai waktu. Mereka tidak menyia-nyiakannya dengan percuma dan tidak menghabiskannya dalam perdebatan kosong, permusuhan yang mematikan, atau tidur yang nyenyak. Sebaliknya, mereka berperang sekaligus mengatur strategi.

Hingga saat perang usai, muncullah Konferensi San Francisco, Konferensi Potsdam, dan Konferensi Para Menteri Luar Negeri di London yang hanya tinggal menghitung hari. Di tengah-tengah itu semua terjadi pertemuan-pertemuan, rapat-rapat, pernyataan-pernyataan, keputusan-keputusan, pidato-pidato, dan artikel-artikel. Pemerintahan silih berganti. Demikianlah negara-negara besar bergerak dan negara-negara lain bersiap, dengan kecepatan, kewaspadaan, dan keseriusan. Nasib dunia diputuskan dan masa depan bangsa-bangsa serta rakyat ditetapkan di saat-saat yang menentukan dalam sejarah manusia ini. Jika keputusan telah jatuh, maka jarang sekali ia berubah kecuali dengan upaya yang sangat keras dan ketekunan yang menakutkan.

Maka, apa yang kalian tunggu? Urusan ini adalah urusan kalian, dan kalianlah yang menjadi objek pembahasan dan keputusan. Di atas kepentingan kalianlah perdebatan dan perselisihan meruncing, dan ke sanalah ambisi serta harapan tertuju. Tidakkah kalian melihat setelah semua ini, bahwa saat-saat ini memiliki dampak yang panjang? Bahkan, inilah saat-saat yang paling kritis dalam sejarah modern kita?

Antara Nasionalisme dan Kehidupan Sosial

Beberapa hari yang lalu, salah seorang sahabat Ikhwan yang tidak diragukan pendapat maupun nasihatnya, berkata kepada saya: "Bukankah lebih menenangkan bagi Ikhwan dan lebih bermanfaat bagi tanah air jika organisasi Ikhwan menggarap aspek-aspek moral, sosial, dan ekonomi dari programnya—yang mana itu juga bagian dari Islam—dan membiarkan aspek kebangsaan, nasionalisme, atau politik—dengan kata lain—kepada organisasi lain? Dengan begitu, bangunan tinggi yang telah menjadi harapan bagi orang-orang yang gigih dan menjadi karya nyata dalam sejarah kebangkitan ini, tidak akan terancam oleh badai yang kejam."

Maka saya menjawabnya dengan terus terang, ikhlas, dan penuh keterharuan: "Demi Allah wahai saudaraku, saya benar-benar berbagi pendapat ini denganmu. Saya merasakan di kedalaman jiwa saya perasaan ini begitu kuat dan mendalam. Saya sangat membenci apa yang menyertai perjuangan ini berupa tampilan-tampilan dan dampak-dampak pada jiwa dan hubungan, serta apa yang ditariknya berupa aspek ketenaran dan kedudukan palsu yang melalaikan orang dari kebenaran dan kewajiban. Betapa saya berharap keadaan berpihak pada saya dan kamu, dan peristiwa-peristiwa memberi kita waktu yang cukup untuk hal yang kamu sukai dan saya sukai. Namun, keadaannya seperti yang kamu lihat sekarang:

Negara-negara besar—meskipun mereka keluar sebagai pemenang—bekerja keras siang dan malam, mencoba, bahkan sengaja untuk melalaikan hak-hak kita dan melupakan janji serta piagam yang mereka berikan kepada kita, sementara waktu berlalu secepat awan.

Organisasi-organisasi politik di tempat kita telah lalai dari kewajiban ini dan tersibukkan darinya dengan apa yang dibaca di koran-koran dan surat kabar mereka berupa saling ejek dengan gelar dan saling berebut sisa-sisa harta. Ditambah lagi, peristiwa-peristiwa telah membantu pihak-pihak yang memiliki agenda terselubung untuk memecah persatuan mereka, menjauhkan orang-orang dari mereka, dan menampilkan tokoh-tokoh mereka di hadapan opini publik sebagai sosok yang kotor dan tidak serius. Akibatnya, rakyat kehilangan kepercayaan kepada para pemimpinnya, para pemimpin kehilangan tentaranya, dan para pendukung pun kehilangan kepercayaan pada diri mereka sendiri dan kepercayaan pada hak mereka.

Sementara itu, kesadaran nasional—seperti yang kamu lihat—sedang dalam keadaan bergejolak, kuat, dan antusias, khususnya pada kalangan pemuda terpelajar, meskipun tidak pada seluruh rakyat ini yang telah ditekan oleh kemiskinan, disiksa oleh kelaparan dan ketelanjangan, serta digerogoti oleh inflasi dan kelelahan. Jika tidak dipimpin oleh tangan-tangan yang bijak dan diarahkan oleh akal pikiran yang berpengalaman, maka mereka mungkin berjalan di jalan yang tidak membawa pada keberhasilan dan tidak sampai pada tujuan.

Di samping kesadaran nasional ini, terdapat pula kesiapan dari pihak dunia Arab dan sekitarnya dari dunia Islam untuk bersatu dan berkumpul, serta keinginan untuk mengoordinasikan usaha dan kerja. Dan tidak ada satu pun organisasi yang lebih dekat ke hati bangsa-bangsa ini dan lebih mampu muncul di medan ini daripada Ikhwan.

Semua itu wahai saudaraku, membuat kami—setelah menghabiskan tujuh belas tahun dalam persiapan dan kesiapsiagaan, dan setelah kami membuat orang-orang memahami perkara ini pada hakikatnya, bahwa politik, kebebasan, dan kemuliaan adalah perintah Al-Qur'an, dan cinta tanah air adalah bagian dari iman, dan tidak tersisa lagi setelah itu satu pun organisasi yang tetap pada persatuannya, kepercayaan orang-orang padanya, dan harapan mereka kepadanya selain Ikhwan—semua itu membuat saya merasa dengan perasaan yang telah naik ke tingkat keyakinan, bahwa kami tidak lagi memiliki pilihan, dan bahwa kewajiban kami sekarang adalah memimpin jiwa-jiwa yang bingung ini, membimbing perasaan-perasaan yang bergejolak ini, dan melangkahkan langkah ini. Dan Allah lah tempat memohon pertolongan."

Ada pula pandangan lain yang tidak kalah penting dari yang di atas. Tidakkah kamu melihat wahai saudaraku, bahwa faktor terpenting dari kerusakan dan perusakan kehidupan rakyat Mesir ini dan bangsa-bangsa Arab serta Islam lainnya adalah campur tangan dan kendali asing ini? Yang telah menghilangkan kemuliaan kita, mengarahkan kita bukan pada tujuan kita, mengubah tatanan kehidupan kita, menertawakan kita dengan kulit luarnya saja, dan memalingkan kita dari intisarinya. Kemudian ditambah lagi kelemahan yang sangat dari pemerintah-pemerintah ini yang telah menjadikan dirinya alat yang patuh—jika tidak ingin dikatakan bersegera—di tangan pihak asing, yang dengannya mereka mengendalikan leher manusia sesuka hati, dan melaksanakan tuntutan serta rencana mereka sebagaimana yang mereka inginkan, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi.

Tidakkah kamu melihat bahwa pintu pertama untuk perbaikan adalah berjihad melawan dua fenomena ini, dan agar manusia terbebas dari dua belenggu ini? Jika tidak, maka setiap usaha akan sia-sia. Kami telah mencoba itu pada diri kami sendiri dan pada pihak lain, kami telah menyentuh dan mengetahuinya. Jika kita tidak memasuki pintu ini pada periode waktu sekarang ini, lalu kapan lagi?

Demi Allah wahai saudaraku, seandainya kita adalah bangsa yang merdeka yang urusannya dijalankan oleh pemerintahan yang waspada, maka dalam setiap tujuan dari tujuan dakwah kita secara terpisah akan ada waktu yang cukup untuk semua waktu dan usaha kita. Tujuan ilmiah dari menjelaskan dakwah Islam dan mengungkap keagungan dan keindahannya, tujuan sosial dari menyantuni mereka yang tertimpa musibah dan menolong orang-orang yang sengsara, tujuan ekonomi dari mengeksploitasi kekayaan nasional, mengembangkannya, dan melindunginya; setiap tujuan dari tujuan-tujuan ini menyita waktu berlipat-lipat dari waktu kita dan menghabiskan usaha kita berkali-kali lipat. Namun, tidak semua yang diinginkan seseorang bisa ia raih, dan Allah lebih mengetahui di mana Ia meletakkan risalah-Nya.

Pada saat-saat penting yang menentukan seperti ini, jihad nasional ini menjadi fardu 'ain (wajib personal) bagi setiap individu dan organisasi." Maka sahabat itu, sang saudara tadi, berkata dengan terharu dan antusias: "Engkau benar. Berjalanlah dengan keberkahan Allah dan Allah bersamamu."


Wahai Saudara-saudara yang Mulia..

Yakinlah pula bahwa negeri kita memiliki hak-hak dan tuntutan nasional yang belum dicapai. Tidak ada gunanya menyebutkan faktor-faktor sejarah dan peristiwa-peristiwa yang mengarah pada pengurangan hak-hak ini dan perampasannya. Namun, yang bermanfaat dan berguna adalah kita beriman dengan iman yang kuat dan menghanyutkan terhadap hak-hak ini, dan kita berjihad dengan jihad yang gigih dan keras demi membebaskannya dan mencapainya. Dengan iman, jihad, harapan, dan kerja, kita akan menang dan sampai, insya Allah. Tidak akan sia-sia hak yang diperjuangkan oleh orang yang menuntutnya.

Saat kita beriman dan berjihad, kita tidak mengandalkan dalam jihad kita pada kekuatan senjata, banyaknya pasukan, dan kapal perang. Kita tahu bahwa kita telanjang dari semua itu, dan kita merasakan sedalam-dalamnya beban rantai dan belenggu berat yang mengikat tangan dan kaki kita. Cukuplah dunia merasakan penderitaan akibat mengandalkan kekuatan, membuang hukum, dan mengabaikan aturan keadilan dan persamaan. Namun kita bersandar pada keyakinan bahwa ini adalah hak alami kita yang tidak akan diingkari kecuali oleh orang yang ingkar dan sombong. Kita bukanlah bangsa primitif yang membutuhkan pengawasan, perwalian, dan arahan, melainkan bangsa yang mewarisi peradaban paling mulia dan kebudayaan paling kuno, yang telah menerangi dunia dengan ilmu dan pengetahuan di saat bangsa-bangsa modern ini belum mengetahui apa pun tentang hakikat keberadaan.

Kita bersandar pada kenyataan bahwa kita telah berkontribusi dalam usaha Arab dengan harta, darah, anak-anak, tanah, transportasi, bahan pangan, dan semua fasilitas hidup kita. Kita telah mempertaruhkan segalanya demi bahaya yang mengancam, dan kita berdiri di samping Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam posisi-posisi yang tidak diragukan lagi memiliki dampak dalam kemenangan ini. Kita tidak ingin menawar di saat-saat sulit demi satu pun hak kita atau memicu satu pun tuntutan kita. Namun kita meninggalkan semua itu sebagai titipan di tangan nurani kemanusiaan dunia, bersandar pada kemuliaan sekutu kita dan kejujuran janji mereka.

Kita bersandar pada janji-janji dan piagam yang telah ditetapkan oleh sekutu bagi diri mereka sendiri, di antaranya Piagam Atlantik, serta pernyataan-pernyataan, pidato-pidato, kata-kata, dan selebaran-selebaran di mana mereka mengumumkan kepada bangsa-bangsa dan pemerintah bahwa mereka berperang demi keadilan dan pembebasan, dan mereka ingin menolong orang-orang yang tertindas, menyelamatkan umat manusia dari perbudakan dan tirani, serta mendirikan dunia baru yang tegak di atas kerja sama, jaminan kebebasan, hukum, dan persamaan.

Kita bersandar pula pada perkembangan pemikiran dunia dan kebangkitan dalam nurani kemanusiaan. Celakalah dunia jika ia kembali dikuasai dan dikendalikan oleh pemikiran-pemikiran reaksioner, dan didominasi oleh ambisi-ambisi kolonial. Jika negara-negara pemenang mengira bahwa mereka mampu memimpin dunia sekali lagi dengan besi dan api, betapa jauhnya dugaan ini dan betapa besarnya khayalan serta imajinasi itu. Gelombang kebangkitan yang ditimbulkan oleh guncangan dahsyat ini tidak mungkin dihentikan arusnya sampai ia mencapai tujuannya dan sampai pada batasnya. Dan tidak akan tegak kedamaian di bumi setelah hari ini kecuali jika negara-negara besar menyadari kebenaran ini dan mengakui hak bangsa-bangsa dan rakyat lain untuk hidup, bebas, dan merdeka.

Kita tidaklah begitu lalai dan lemah dalam memahami sehingga percaya bahwa kita mampu hidup terisolasi dari orang lain dan menjauh dari kesatuan dunia yang sedang dipersiapkan oleh seluruh bumi, yang suara pertamanya diteriakkan dari tenggorokan kita—kita kaum Muslimin—yang berseru kepadanya, mengajaknya, dan membacakan ayat-ayat rahmat serta perdamaian: "Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." (QS. Al-Anbiya: 107). Namun kita menyadari bahwa dunia tidak pernah lebih membutuhkan kerja sama dan pertukaran kepentingan serta manfaat di suatu hari daripada kebutuhannya terhadap hal itu saat ini. Kami siap mendukung kerja sama ini dan mewujudkannya, di bawah naungan nilai-nilai luhur yang utama, yang menjamin hak-hak, menjaga kebebasan, dan di mana pihak yang kuat menggandeng tangan pihak yang lemah hingga ia bangkit.

Tuntutan-Tuntutan Kami

Saat kami menuntut hak kami, kami tidaklah berlebih-lebihan dan tidak pula bertindak sewenang-wenang. Kami tidak menginginkan kesombongan di muka bumi dan tidak pula kerusakan, akan tetapi kami berpijak pada hak alami yang tidak mungkin seorang individu atau suatu bangsa dapat hidup tanpanya dalam kehidupan yang mulia dan terhormat.

Lembah Nil

Maka kami menuntut untuk Lembah Nil:

  1. Agar tentara asing segera angkat kaki darinya: Sehingga tidak ada lagi pasukan pendudukan di bagian mana pun dari wilayahnya. Apa gunanya segelintir pasukan ini jika kepercayaan telah hilang dan hubungan telah rusak? Sesungguhnya memuaskan jiwa dan mengakui hak-hak adalah cara paling terjamin untuk saling bertukar manfaat dan menjaga kepentingan.
  2. Agar dicabutnya belenggu dan rantai yang dipaksakan terhadap perdagangan, pertanian, dan industri kita selama masa perang dan sebelum perang, yang telah kita terima sebagai bentuk kontribusi kita dalam upaya perang. Negara-negara asing harus menyadari bahwa kita adalah bangsa yang jumlah penduduknya terus bertambah secara konsisten, sementara lahan dan sumber kekayaannya semakin sempit. Tidaklah adil jika pihak asing mengambil segalanya juga. Kami tidak membenci orang asing dan tidak ingin memutus hubungan kerja sama antara kami dan mereka; kami tahu persis bahwa kami tidak bisa lepas dari modal dan pengalaman teknis mereka. Namun, kami juga tidak ingin kerja sama ini didasarkan pada prinsip bahwa keuntungan untuk mereka sedangkan kerugian untuk kami. Adalah wajib untuk menghargai semua faktor sosial dan ekonomi ini.

Jumlah kita bertambah sedangkan standar hidup kita lebih rendah daripada bangsa mana pun di antara bangsa-bangsa maju. Lebih dari separuh penduduk Mesir hidup lebih rendah daripada kehidupan hewan, namun meskipun demikian, orang asing masih berpikir untuk berimigrasi ke tanah kita dan membatasi kebebasan kita dalam ekspor, impor, perdagangan, pertanian, dan mata uang. Semua ini tidak menghasilkan apa pun kecuali kesesakan dada dan bangkitnya perasaan (amarah), dan tekanan yang kuat hanya akan melahirkan ledakan.

  1. Terusan Suez adalah tanah Mesir yang digali dengan darah Mesir dan upaya anak-anaknya. Maka Mesir harus memiliki hak pengawasan atasnya, melindunginya, dan mengatur urusannya. Masa konsesinya sudah hampir berakhir, namun beberapa negara berpikir untuk ikut campur dalam urusannya dengan dalih bahwa mereka telah membeli sejumlah besar sahamnya.

Nasib terusan ini akan kembali kepada kita setelah beberapa tahun lagi. Adalah kewajiban kita untuk menyadari hal itu sejak sekarang dan menuntut peningkatan jumlah pegawai dari kalangan orang Mesir di berbagai bagian, terutama bagian teknis yang membutuhkan keahlian dan pelatihan. Kita harus bersiap untuk masa depan dan tidak menunggu peristiwa terjadi sampai mengejutkan kita dalam keadaan tidak siap. Negara-negara harus mengakui hak tetap ini bagi kita dan menetapkannya kepada kita.

  1. Sudan: Kami tidak mengatakan bahwa kami menuntut hak Mesir di dalamnya, karena Mesir tidak memiliki "hak" (sebagai penjajah) di Sudan, melainkan Sudan adalah bagian dari tanah air. Sudan adalah Mesir bagian Selatan, dan Mesir adalah Sudan bagian Utara, dan keduanya adalah Lembah Nil. Ini adalah perkataan yang kami inginkan agar dipahami dengan baik oleh seluruh negara asing secara umum, dan oleh saudara-saudara serta sesama warga negara kami, putra-putra Sudan, secara khusus.

Sungguh Nil yang menjadi tumpuan hidup Mesir—baik tanahnya, tumbuh-tumbuhannya, hewannya, maupun manusianya—hanyalah mengalir kepadanya dari Sudan. Dari air dan lumpurnya jugalah terbentuk tanah Selatan sebagaimana terbentuknya tanah Utara, dan darinya pula tumbuh raga-raga ini dan mengalir darah-darah ini. Maka kita, wahai saudara-saudara Sudan, berasal dari air yang satu dan tanah yang satu. Jika ada seseorang yang berkata kepada kalian bahwa Mesir ingin menjajah kalian untuk mengeksploitasi tanah kalian, menyombongkan diri atas kalian, dan memperpanjang kekuasaan di tanah kalian, maka katakanlah bahwa itu adalah kedustaan yang bohong. Kami ingin Sudan menjadi bagian dari Mesir sebagaimana Mesir menjadi bagian darinya; bagi orang Sudan apa yang menjadi hak orang Mesir, dan atasnya apa yang menjadi kewajiban orang Mesir.

Jika sekolah dibuka di Mesir, maka begitu pula di Sudan; jika pengadilan didirikan di Utara, maka didirikan pula di Selatan. Kewarganegaraan dipersatukan, hukum dipersatukan, dan segalanya dipersatukan dalam manifestasi kehidupan sosial di dua bagian dari satu tanah air: Lembah Nil. Jika orang-orang yang memiliki kepentingan terselubung telah mampu menggambarkan perkara ini secara tidak benar, maka kebatilan itu sedikit pun tidak akan mengalahkan kebenaran.

Propaganda asing telah melakukan perannya di Sudan, namun saudara-saudara kita di Sudan adalah orang-orang yang beriman dan cerdas. Mereka merasakan sepenuhnya bahwa keramahan dan kelembutan yang mereka temukan sekarang hanyalah sementara sampai waktu tertentu, kemudian setelah itu kolonialisme akan menampakkan wajah aslinya. Dan akan terbukti bagi mereka firman Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar: "Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat." (QS. An-Naml: 34).

Pemerintahan Sudan telah mencoba memisahkan Sudan Selatan dari Sudan Utara secara total. Padahal Sudan Selatan adalah sumber kekayaan dan tempat bersemayamnya di seluruh Sudan; ia adalah tempat hutan-hutan, padang rumput hewan, dan tempat mineral. Pemerintah telah menutupnya dari penduduk Sudan Utara dan memasang pengawasan yang ketat di sekelilingnya, bahkan melarang para pedagang dari kalangan orang Sudan sendiri untuk pergi ke sana. Mereka membiarkan propaganda misionaris dari berbagai misi di sana dan menjadikannya jarahan yang dibagi-bagi di antara mereka. Meski demikian, Islam tetap merintis jalannya ke sana, dan Allah berkuasa atas urusan-Nya. Sungguh aneh bahwa pemerintah Mesir tidak mempedulikan banyak hal yang terjadi di Sudan dan tidak mengambil langkah positif demi hal itu, namun kami tidak akan tinggal diam atas keadaan ini.

Kami meyakini bahwa lembaga-lembaga Sudan yang menuntut persatuan penuh dengan Mesir—jika lembaga-lembaga ini ada—seandainya mereka mengetahui posisi yang benar yang kami umumkan, kami yakini, dan kami kerjakan dasarnya ini, niscaya mereka akan bersegera secepat mungkin untuk mengumumkan pendapat ini dan menetapkannya. Karena jika Mesir membutuhkan Sudan untuk merasa tenang atas air Nil yang merupakan kehidupannya, maka Sudan lebih membutuhkan Mesir dalam seluruh sendi kehidupannya pula. Keduanya tidak diragukan lagi adalah bagian yang saling melengkapi, terlebih lagi karena kesamaan bahasa, agama, perasaan, tradisi, nasab, dan darah. Kami akan terus menuntut hak ini dan berpegang teguh padanya sampai kami mencapainya, insya Allah, karena itu adalah kebenaran, dan kebenaran pasti akan meninggi dan nampak: "Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu mensifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya)." (QS. Al-Anbiya: 18).

Barqah (Cyrenaica) dan Tripoli

  1. Kami menginginkan setelah itu jaminan bagi perbatasan kita, perbatasan barat kita. Bukan dengan cara menjajah Barqah atau mengolonisasi Tripoli, karena kami lebih menghargai diri kami dan kebenaran lebih mulia bagi kami daripada menempuh jalan yang zalim ini. Akan tetapi, kita akan merasa aman atas perbatasan barat kita pada hari ketika Libya diserahkan kepada penduduknya yang berbangsa Arab, yang telah berjihad demi Libya selama puluhan tahun dengan jihad para pahlawan. Penutup dari hal itu adalah keikutsertaan tentara modern mereka dalam perang bahu-membahu bersama tentara Sekutu. Di sana harus berdiri pemerintahan Arab yang independen dan ia tetap menjadi tanah air yang bersatu, merdeka, dan berdaulat. Jika Inggris telah membebaskan Etiopia dari belenggu kolonialisme Italia kemudian menyerahkannya kepada Kaisarnya sebagai kerajaan yang merdeka dan bersatu, maka adalah kewajibannya untuk melakukan hal yang sama di Libya; dan jihad Libya demi kemerdekaannya tidaklah lebih rendah daripada jihad Etiopia.

Tidak ada penafsiran atas pembedaan perlakuan di antara keduanya kecuali satu: bahwa ruh fanatisme Kristen terhadap Islam masih mengendalikan jiwa sebagian negara Barat yang maju bahkan di abad ke-20 ini. Namun meski demikian, dikatakan bahwa kamilah yang fanatik, dan hanya kepada Allah tempat mengadu. Tidak ada di dunia ini yang lebih meremehkan kehormatan Arab dan Muslim daripada dikatakan bahwa ada pemikiran dari sebagian negara untuk mengembalikan koloni-koloni Italia kepada Italia!! Ini sungguh aneh dan mencengangkan. Italia sang musuh yang memerangi dikembalikan kemerdekaan dan koloninya, sementara bangsa Arab Sekutu yang berjuang justru tanah air mereka diperbudak dan diserahkan oleh sekutu mereka meskipun ada piagam dan janji. Dan setelah itu orang-orang menginginkan keamanan dan perdamaian tegak di bumi!!

Hampir serupa dengan ini adalah desas-desus bahwa Tripoli akan menjadi milik Italia di bawah pengawasan badan internasional, pantai Barqah akan diberikan kepada Yunani, dan gurun Libya akan menjadi milik Arab di bawah mandat ganda Mesir-Inggris bersama-sama! Ada apa ini wahai para pemenang? Apa urusan Yunani dengan pantai Barqah? Dan kelalaian apa ini yang menutupi akal pikiran orang Mesir sehingga mereka maju menuju gurun yang menghisap darah, tenaga, dan harta untuk mereka bangun kemudian mereka tinggalkan?

Dan orang hina mana yang rida untuk memerintah gundukan pasir di bawah otoritas mandat dan pendudukan? Apakah Yunani rida dengan agresi ini? Apakah ia lupa pelajaran dari pendudukan Anatolia sebelumnya?

Malam-malam dalam perjalanan zaman sedang mengandung, Teramat berat, dan akan melahirkan segala yang mencengangkan.

Kami menginginkan agar perbatasan barat kita terjamin dengan kemerdekaan Libya, persatuannya, dan berdirinya pemerintahan Arab yang bersahabat di sana, serta dikembalikannya apa yang diambil dari kami secara zalim dan agresif, sehingga Jaghbub kembali menjadi milik Mesir sebagaimana sediakala.

Dan Palestina Juga

Kami juga ingin agar perbatasan timur kami terjamin dengan penyelesaian masalah Palestina; sebuah penyelesaian yang juga mewujudkan pandangan Arab, serta mencegah dominasi Yahudi atas fasilitas-fasilitas di negeri ini.

Sesungguhnya Mesir, dunia Arab, dan seluruh dunia Islam siap berkorban demi Palestina. Bagi Mesir, karena Palestina adalah perbatasan timurnya yang berdampingan. Bagi negeri-negeri Arab, karena Palestina adalah jantungnya yang berdenyut, permata di tengah kalungnya, serta pusat persatuannya; dan bangsa Arab sangat menjaga persatuan ini agar tidak tercabik-cabik bagaimanapun keadaannya dan berapa pun pengorbanan yang harus diberikan. Adapun bagi dunia Islam, karena Palestina adalah kiblat pertama, tanah haram kedua (setelah Makkah), dan tempat isra' Rasulullah SAW.

Hakikat ini harus diletakkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa di depan mata mereka: persahabatan umat Islam dan Arab berada di satu sisi timbangan, sedangkan ambisi Yahudi di Palestina berada di sisi lainnya. Dan barangkali, demi kebaikan orang-orang Yahudi itu sendiri, sebaiknya mereka memalingkan wajah mereka dari aspek ini.

Tidak diragukan lagi bahwa kami sangat peduli dan merasa peduli terhadap penderitaan orang-orang Yahudi, namun ini bukan berarti mereka harus dibela dengan menzalimi bangsa Arab, atau beban mereka diangkat dengan membinasakan dan menyerang pihak lain. Di bumi ini masih banyak tempat luas dan tanah air masih lapang. Setiap pemikiran, pernyataan, atau tindakan yang bertentangan dengan keadilan bagi bangsa Arab dan tidak mewujudkan harapan mereka di Palestina, tidak akan menghasilkan apa pun kecuali provokasi dan kesulitan.

Kami menuntut hal ini karena merupakan jaminan bagi perbatasan kami dan kepentingan langsung bagi kami. Kami menuntutnya juga karena itu adalah hak dua umat Arab di Timur dan Barat; mereka adalah bagian dari kami dan kami bagian dari mereka, tidak ada satu pun yang akan memisahkan kami. Apa yang telah dipersatukan oleh Allah, manusia tidak akan mampu memisahkannya.


Eritrea, Zeila, Harar, dan Massawa

Setelah itu, kami ingin agar perbatasan selatan kami terjamin dengan menjaga hak-hak kami di Eritrea, kemudian Zeila, Harar, dan hulu sungai Nil... Wilayah-wilayah yang tanahnya telah bercampur dengan darah penakluk dari Mesir, dibangun oleh tangan Mesir, dan di langitnya pernah berkibar bendera Mesir yang gagah.

Wilayah itu kemudian dirampas dari tubuh tanah air secara zalim dan agresif. Tidak ada kesepakatan internasional atau status hukum yang memberikan hak atas wilayah tersebut kepada pihak selain Mesir, meskipun orang-orang menolak kami dalam hal ini. Kewajiban kami adalah untuk tidak menerima penentuan batas negara kami dari orang lain, melainkan merujuk pada sejarah kami. Mari kita lihat betapa mahalnya harga yang telah kita bayar berupa darah dan nyawa demi mengamankan perbatasan kita; bukan karena ambisi kolonial atau keuntungan geografis, melainkan karena kebutuhan vital yang tidak ada jalan keluar darinya. Kesempatan sekarang terbuka lebar bagi Mesir untuk menuntut pengembalian apa yang telah diambil darinya di saat waktu lalai dan pemerintah abai. Itulah yang kami tuntut untuk Lembah Nil.


Negeri-Negeri Arab

Kami menuntut untuk negeri-negeri Arab agar negara-negara besar menaruh kepercayaan pada Liga Arab dan memberikan kesempatan baginya untuk menjadi kuat dan bangkit. Dalam kebangkitan dan kekuatannya terdapat faktor terbesar yang membantu kestabilan perdamaian dan ketenangan di Timur Arab. Selain itu, setiap bangsa Arab harus diakui haknya atas kebebasan dan kemerdekaan penuh.

Maka, pasukan asing harus segera keluar dari Suriah dan Lebanon...

Perjanjian Irak harus diubah sedemikian rupa sehingga mewujudkan pandangan rakyat Irak dan membenarkan harapan mereka terhadap pihak Sekutu...

Hak Yordania harus diakui sehingga bangsa-bangsa kecil yakin akan perlunya bersatu di zaman di mana isolasi dan kesendirian tidak lagi berguna. Negara-negara besar juga harus menghentikan ambisi tidak sah mereka di Yaman dan Hijaz... Ini di wilayah Timur.

Di sebelah barat Mesir dan Libya, terdapat dua puluh lima juta Muslim di Tunisia, Aljazair, dan Maroko... Mereka ditimpa musibah kolonialisme Prancis dengan nama "protektorat", penaklukan yang zalim, atau pendudukan yang dibenci. Mereka telah berjihad selama puluhan tahun dan memberikan pengorbanan yang mahal berupa kebebasan dan darah. Penjara dan kamp konsentrasi penuh oleh mereka, lembah-lembah dialiri darah mereka, serta para pemimpin dan pemuda pejuang mereka diusir ke mana-mana. Kolonialisme yang kejam mencoba merusak agama mereka melalui misionaris, merusak kearaban mereka melalui asimilasi bahasa dan pengkristenan, serta merusak kebebasan mereka melalui tekanan, penindasan, dan kesewenang-wenangan. Namun, semua itu tidak membuahkan hasil, dan para pejuang tetap teguh pada jihad mereka laksana gunung-gunung yang menjulang tinggi.

Datanglah perang terakhir ini, Prancis kalah dan bergabung dengan Jerman serta mengkhianati sekutu lamanya. Kemudian Sekutu menduduki Afrika Utara dan menemukan bantuan besar dari putra-putra tanah air ini. Mereka ikut serta secara efektif dalam pertempuran di Afrika, Italia, dan kampanye militer di Prancis. Mereka teguh bersama Sekutu di lokasi-lokasi paling sengit dan saat-saat paling kritis. Bukankah tentara "Prancis Merdeka" itu tidak lain adalah para pahlawan pemberani dari putra-putra Magrib (Maroko, Aljazair, Tunisia) yang syahid ini? Hal ini telah diakui oleh Mr. Churchill, yang memberikan pujian terbaik atas keberanian para pejuang tersebut.

Perang berakhir, namun Prancis—yang belum lupa rasanya injakan kaki para penjajah di tanahnya sendiri—tidak segan-segan menghancurkan kota-kota dan desa-desa dengan bom pesawat. Di Aljazair, dalam satu revolusi saja, mereka membunuh empat puluh ribu warga sipil dan memusnahkan empat puluh lima desa yang makmur. Tidak ada dosa bagi mereka kecuali karena mereka ingin pihak Sekutu memenuhi janji mereka, sehingga mereka bangkit menuntut kebebasan dan kemerdekaan yang merupakan hak alami mereka.

Prancis yang sedang runtuh ingin menaburkan abu ke mata orang-orang dengan mengklaim bahwa itu hanyalah pemberontakan demi roti dan makanan. Ia mengklaim hak-hak semu bagi dirinya sendiri; jika dulu kelalaian bangsa Arab dan Muslim di masa lalu membenarkannya, maka waktu itu telah berlalu. Revolusi-revolusi akan terus berlanjut dan gunung berapi akan memuntahkan lahar. Lihatlah Maroko sedang menyalakan api dan neraka, tidak kalah pula dada Aljazair dan Tunisia yang membara dengan api dan panas. Di atas perasaan-perasaan seperti inilah perdamaian tidak dapat dibangun atau keamanan dan ketenangan tidak dapat tegak. Maka kami menuntut bagi semua tanah air ini—yang merupakan kepingan dari jantung tanah air Arab besar kami—agar mendapatkan haknya dan bergabung secara efektif ke dalam Liga Arab. Jika ada referendum untuk bentuk pemerintahan di negeri-negeri tersebut, maka referendum ini harus berada di bawah pengawasan Dewan Liga Arab dan setidaknya diwakili oleh negara-negara Arab yang sudah merdeka.


Negeri-Negeri Islam dan Minoritas Muslim

Kami menuntut: Bagi negeri-negeri Islam dan minoritas Muslim agar mereka merdeka, bebas, mendapatkan hak-haknya, dihilangkan kezaliman dan ketidakadilan dari mereka, serta berada dalam keamanan dari penindasan dan agresi.

Maka terhadap Iran, tentara Inggris dan Rusia harus segera keluar darinya sesuai dengan pernyataan negara-negara yang terlibat dalam jangka waktu enam bulan setelah berakhirnya perang dengan Jepang. Terhadap Indonesia dengan seluruh wilayahnya, tidak ada alasan untuk mengembalikannya sekali lagi ke tangan Belanda. Cukuplah bagi Belanda yang telah merasakan pahitnya kezaliman dan kesewenang-wenangan untuk merasa puas dengan tanahnya sendiri, dan bekerja demi kepentingannya di bawah naungan keadilan, persamaan, serta pertukaran manfaat; itu jauh lebih baik dan kekal daripada merampas hak dan mencuri kebebasan. Masalah India juga harus diselesaikan dengan solusi yang menjaga hak-hak umat Islam di seluruh negara bagian, membantu kemajuan mereka, serta menjaga hak mereka di mana pun.

Albania dulunya adalah pemerintahan Islam sebelum perang ini karena mayoritas penduduknya adalah Muslim dari sisa-sisa migran Balkan dan Turki. Maka merupakan kewajiban bagi pemerintahan ini untuk kembali. Adalah bentuk keadilan jika mereka dibantu secara nyata untuk menjadi pelindung bagi hak-hak minoritas Muslim di negeri-negeri Balkan. Sebab di Yugoslavia, Yunani, Bulgaria, dan lainnya terdapat minoritas Muslim yang terzalimi, diserang, dan dirampas haknya tanpa ada yang tahu. Umat Islam di mana pun adalah umat yang satu; yang paling rendah di antara mereka dapat memberikan jaminan keamanan atas nama seluruhnya, dan jika satu anggota tubuh mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasakannya dengan tidak bisa tidur dan demam. Maka wajib menyerahkan tugas pengawasan atas keadilan bagi mereka kepada pemerintah Islam yang paling dekat dengan mereka.

Turki setelah perang masa lalu berpikir untuk memisahkan diri dari Timur dan bangsa-bangsa Islam, lalu melemparkan diri ke pelukan Barat dan mendekati negara-negara Eropa dengan anggapan bahwa hal itu akan membantunya merasa tenang di rumahnya dan aman di tanahnya sendiri. Besar dugaan kami bahwa setelah perang ini, Turki telah menyadari betapa banyak keuntungan yang hilang akibat isolasi dari bangsa Arab dan umat Islam. Kami tidak ingin menghisabnya sekarang atas apa yang telah berlalu; kami dan mereka sangat membutuhkan kerja sama dan saling dukung di medan tempur yang penuh dengan keinginan dan ambisi ini. Kami tidak akan membiarkannya sendirian dalam penderitaannya. Semoga ia menyadari hal itu, lalu kembali kepada Islam yang sempat dilupakannya dan berpegang teguh kembali pada persaudaraan abadi ini—yang meskipun dunia lenyap, ia tidak akan lenyap; meskipun hari-hari musnah, ia tetap lebih kekal daripada sisa waktu itu sendiri.

Setelah semua ini, kami menginginkan dan berharap bagi seluruh dunia keamanan, ketenangan, perdamaian yang panjang, serta ketentraman hati. Kami tidak mengira hal itu akan terwujud kecuali dengan keadilan dan persamaan. Di atas fitrah inilah kami diciptakan: "Maka maafkanlah mereka dan katakanlah: 'Selamat tinggal'. Kelak mereka akan mengetahui (kebenaran)." (QS. Az-Zukhruf: 89).

Ketiga: Hak Islam

Wahai Saudara-saudara yang Tercinta dan Mulia...

Setelah itu, saya ingin mengatakan kepada kalian bahwa negara-negara besar telah menyatakan lebih dari satu kali bahwa mereka tidak akan mencampuri urusan dalam negeri bangsa-bangsa yang murni bersifat internal, termasuk di antaranya bentuk pemerintahan, terutama jika hal itu sejalan dengan kaidah-kaidah demokrasi umum.

Ideologi Islam telah mendapatkan apresiasi penuh dalam Konferensi Den Haag tahun 1938, ketika konferensi tersebut menetapkan bahwa Islam adalah syariat independen yang mampu berkembang dan tumbuh, serta sejalan dengan kaidah-kaidah perundang-undangan modern.

Islam juga mendapatkan pengakuan ini untuk kedua kalinya dalam Konferensi Washington pada Mei 1945, di mana Mesir diwakili oleh Menteri Kehakiman, Hafiz Pasha Ramadhan. Beliau berhasil mendapatkan keputusan dari para peserta konferensi yang mengukuhkan keputusan sebelumnya, dan berdasarkan hal itu, memberikan hak kepada Mesir untuk memiliki wakil di Mahkamah Internasional atas nama Syariat Islam.

Hal itu dikarenakan Islam pada hakikatnya adalah sebuah sistem sosial universal yang menjamin kebaikan dan kebahagiaan bagi umat manusia, serta mampu menyelesaikan masalah-masalah dalam masyarakat mereka jika mereka meresapi ruhnya dan melaksanakannya dengan benar.

Konstitusi Mesir telah menetapkan dalam Pasal 149 bahwa: (Agama negara adalah Islam dan bahasa resminya adalah bahasa Arab). Dunia kini telah bersiap kembali menuju ruh religiusitas dan telah menyadari kesalahan ide lama—ide pengosongan diri dari akidah dan agama. Bahkan, komite-komite pendidikan di Inggris dan Amerika telah menetapkan kewajiban memasukkan agama ke dalam sekolah-sekolah; sebagian di antaranya bahkan sampai pada tahap menjadikan pelajaran pertama di seluruh institusi berupa doa ilmiah. Berdasarkan hal ini, kami menuntut kepada pemerintah Mesir terlebih dahulu, kemudian pemerintah Arab atau Islam setelahnya, agar mengembalikan sistem kehidupan Islami dan sipil mereka kepada Islam. Manifestasi praktis dari hal tersebut adalah:

  1. Menyatakan bahwa pemerintah tersebut adalah pemerintah Islam yang mewakili ideologi Islam secara resmi di tingkat internasional.
  2. Menghormati kewajiban-kewajiban dan syiar-syiar Islam, serta mewajibkan pelaksanaannya kepada seluruh pegawai dan pekerjanya, di mana para pembesar (atasan) menjadi teladan bagi yang lainnya dalam hal ini.
  3. Mengharamkan segala kemungkaran yang diharamkan oleh Islam, mulai dari khamar (minuman keras) dan segala yang berkaitan dengannya, perzinaan dan segala yang menjadi pengantarnya, riba dan segala yang berhubungan dengannya termasuk jenis perjudian dan penghasilan haram. Pemerintah harus menjadi teladan dalam hal ini dengan tidak melegalkan sedikit pun darinya, tidak melindunginya dengan otoritas hukum, dan tidak berinteraksi dengan rakyatnya atas dasar tersebut.
  4. Memperbarui kurikulum pendidikan sehingga tegak di atas pendidikan Islam dan nasionalisme, memberikan perhatian yang sangat besar pada bahasa Arab dan sejarah bangsa, serta membentuk jiwa para pelajar dengan ajaran Islam dan mencerdaskan akal mereka dengan hukum-hukum serta hikmahnya.
  5. Menjadikan Syariat Islam sebagai sumber utama perundang-undangan.
  6. Pemerintah harus berpijak pada arahan Islami ini dalam setiap tindakannya.

Itulah hak Islam atas kita, dan sungguh kami telah menyampaikannya. Ya Allah, saksikanlah. Dan kami tidak melihat waktu yang lebih tepat untuk hal ini selain saat sekarang ini.

Orang-orang bertanya: "Lalu apa yang akan kalian lakukan terhadap orang asing dan warga negara non-muslim?" Maka kami katakan: Mahasuci Allah! Sungguh Islam telah menyelesaikan persoalan ini, menjaga persatuan umat dari perpecahan dan perpisahan, serta menetapkan kebebasan akidah dan ibadah serta hal-hal yang berkaitan dengannya. Al-Qur'anul Karim berfirman: (Tidak ada paksaan dalam agama) (QS. Al-Baqarah: 256). Sebagaimana semboyan interaksi antar sesama warga negara di tanah Islam selalu: (Bagi mereka hak yang sama dengan kita, dan atas mereka kewajiban yang sama dengan kita). Tidak ada toleransi yang lebih tinggi daripada itu bagi mereka yang menginginkan lebih.

Namun, kami kembali mengatakan: Sistem mana pun di dunia ini—baik agama maupun sipil—yang mampu melapangkan hati para pemeluknya, orang-orang yang fanatik terhadapnya, dan orang-orang yang lebur di dalamnya bagi orang lain yang berbeda dengan mereka, melebihi kelapangan yang diberikan oleh Islam yang hanif ini? Islam mewajibkan seorang Muslim untuk beriman kepada setiap Nabi yang terdahulu, kepada setiap Kitab yang diturunkan, memuji setiap umat yang telah lalu, mencintai kebaikan bagi seluruh manusia, dan bersikap kasih sayang kepada setiap makhluk hidup. Bahkan, surga yang memiliki delapan pintu akan terbuka bagi seorang pria yang menghilangkan dahaga seekor anjing, dan neraka akan menyala di kerak paling dalamnya bagi seorang wanita yang mengurung seekor kucing. Agama yang penuh rahmat ini tidak mungkin kecuali menjadi sumber cinta, persatuan, kedamaian, dan keharmonisan.


Keempat: Sarana-Sarana Kami

Wahai Saudara-saudara yang Mulia..

Orang-orang juga berkata: "Lalu apa sarana kalian, wahai orang-orang yang tertindas (terkalahkan), untuk mewujudkan tuntutan kalian dan mencapai hak kalian?" Kami menjawab dengan mudah dan sederhana: "Apa yang diinginkan orang-orang dari kami? Sekalipun kami dikalahkan dalam urusan kami dan dijauhkan dari hak kami? Apakah pantas bagi orang yang mulia untuk menghina diri dan merendah, sementara Rasulullah SAW bersabda: (Barangsiapa yang memberikan kehinaan dari dirinya secara sukarela tanpa dipaksa, maka ia bukan bagian dariku)?" Dan Allah berfirman: (Padahal kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui) (QS. Al-Munafiqun: 8).

Sesungguhnya kami memiliki senjata yang tidak akan tumpul dan tidak akan lekang oleh siang dan malam, yaitu (Kebenaran/Al-Haq). Kebenaran itu kekal abadi, dan Allah berfirman: (Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu mensifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya)) (QS. Al-Anbiya: 18).

Allah berfirman: (Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan) (QS. Ar-Ra'd: 17). Allah juga berfirman: (Dan katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap". Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap) (QS. Al-Isra: 81).

Kami juga memiliki senjata lain setelah itu, yaitu (Iman). Iman juga merupakan salah satu rahasia kekuatan yang tidak dipahami kecuali oleh orang-orang mukmin yang jujur. Bukankah orang-orang yang beramal pada masa lalu berjihad dan orang-orang setelahnya akan berjihad kecuali dengan iman? Jika iman hilang, apakah seluruh senjata materi akan berguna bagi pemiliknya? Jika iman ada, maka jalan menuju tujuan telah ditemukan. Jika tekad telah jujur, maka jalan menjadi terang: (Dan Kami berkewajiban menolong orang-orang yang beriman) (QS. Ar-Rum: 47). Jika tentara bumi meninggalkan kami, sesungguhnya bersama kami ada tentara langit: (Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman") (QS. Al-Anfal: 12).

Harapan adalah senjata ketiga. Kami tidak berputus asa, tidak terburu-buru, tidak mendahului takdir, dan semangat kami tidak melemah karena panjangnya perjuangan. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Karena kami tahu bahwa kami akan diberi pahala selama niat itu baik dan nurani itu tulus—dan demi pujian kepada Allah, ia tulus adanya. Setiap hari yang berlalu, kami membangun pahala baru, dan kemenangan di balik itu tidak akan meleset: (Allah telah menetapkan: "Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang". Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa) (QS. Al-Mujadilah: 21). (Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada mereka pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat ditolak siksa Kami daripada kaum yang berdosa) (QS. Yusuf: 110). Maka mengapa harus ada keputusasaan dan mengapa harus ada rasa putus asa? Keputusasaan tidak akan menemukan jalan ke hati kami dengan izin Allah: (Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir) (QS. Yusuf: 87).

Kami akan bekerja di bawah cahaya perasaan-perasaan ini. Kami akan bekerja dengan kebenaran yang didorong oleh iman dan dibimbing oleh harapan. Kami akan menyebarkan pamflet dan pernyataan, menjelaskan kepada orang-orang apa yang tersembunyi dari hak-hak mereka, dan menyingkap bagi mereka tipu muslihat para penipu baik di dalam maupun di luar negeri. Kami akan menyatukan suara orang-orang dalam konferensi-konferensi besar di setiap tempat, dan kami akan menyerukan penyelenggaraan konferensi Arab-Islam yang inklusif untuk menyatukan upaya dan mengoordinasikan rencana.

Kami akan mengutus saudara-saudara kami ke setiap tempat di negara-negara asing untuk membangkitkan rakyat dan pemerintah dalam isu Islam-Nasional. Jika semua itu tidak membuahkan hasil dan kami tidak mendapatkan keadilan dari "dunia baru" yang menginginkan kehidupan yang tegak di atas ketenangan dan perdamaian, maka kami akan tahu bagaimana mengendalikan diri kami dan membangun penghalang yang kokoh dan kuat antara kami sebagai orang-orang mukmin dengan para penguasa yang zalim dan pendusta tersebut. Mereka akan melihat bahwa senjata pasif ini akan menggagalkan tujuan mereka, membalikkan agresi mereka kepada mereka sendiri, dan mengembalikan tipu daya mereka ke leher mereka sendiri. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali. Dan kemenangan adalah milik kita pada akhirnya, dan Allah bersama kita. (Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu) (QS. Ali Imran: 160).

Wahai Saudara-saudara yang Mulia..

Ini adalah jam-jam yang menentukan dalam sejarah kalian. Maka berpikirlah, putuskanlah, beramallah, teguhlah, bersabarlah, kuatkanlah kesabaranmu, bersiap-siagalah, dan bertakwalah kepada Allah agar kalian beruntung. Allahu Akbar, Walillahil Hamd.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Hassan al-Banna


Bismillaahir-rahmaanir-rahiim

(Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami)

Kairo, Ibu Kota Mesir, di bulan Rajab 1366 H.

Kepada yang terhormat...

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Selanjutnya, sesungguhnya hal yang mendorong kami untuk mengajukan risalah ini kepada kedudukan Anda yang mulia adalah keinginan yang kuat untuk mengarahkan umat yang telah Allah amanahkan urusannya kepada Anda, dan memercayakan perkaranya kepada Anda di era barunya ini. Sebuah arahan yang baik yang menegakkannya di atas jalan terbaik, merancang kurikulum terbaik baginya, melindunginya dari guncangan dan kegoncangan, serta menjauhkannya dari pengalaman-pengalaman pahit yang panjang.

Kami tidak menginginkan apa pun di balik ini kecuali kami telah menunaikan kewajiban dan memberikan nasihat... dan pahala Allah itu lebih baik dan lebih kekal.

 

No comments:

Post a Comment

Itsar