Friday, April 17, 2026

Shifatul Insan

Sinopsis

Jiwa manusia diberi dua jalan yaitu takwa dan fujur (kesesatan). Jalan yang benar adalah jalan takwa sedangkan jalan yang salah adalah jalan fujur. Manusia yang bertakwa adalah manusia yang senantiasa membersihkan dirinya (tazkiatun nafs). Jiwa yang bersih akan memunculkan sifat seperti syukur, sabar, penyantun, penyayang, bijaksana, suka bertaubat, lemah lembut, jujur, dan dapat dipercaya, hingga akhirnya akan memperoleh keberhasilan. Allah memberikan dua pilihan kepada manusia. Manusia dengan potensi yang dimilikinya sangat mampu untuk menentukan mana yang benar dan many yang salah. Oleh karena itu, balasan yang diberikan Allah sangat tergantung kepada pilihan apa yang diambil manusia. Apabila fujur yang diambil maka nerakalah balasannya, sedangkan pilihan ketakwaan maka surga tempatnya. Balasan ini merupakan keadilan Allah kepada manusia. Mereka yang mengambil jalan ketakwaan akan mendapatkan sifat-sifat terpuji. Sifat terpuji yang diamalkan oleh orang yang bertakwa akan membawa kehidupannya baik dan diterima oleh masyarakatnya.

Sedangkan manusia yang menjalani hidupnya dengan jalan yang salah akan mengotori jiwanya. Mereka yang memperturutkan syahwatnya cenderung bersifat tergesa-gesa, berkeluh kesah, gelisah, enggan berbuat, bakhil, kufur, susah payah, senang berdebat, membantah, zalim, jahil, merugi dan akhirnya mereka akan merasakan kegagalan. Sifat tidak terpuji merupakan hasil dari pilihan fujur yang diambil manusia, sehingga mereka tidak disenangi oleh masyarakatnya dan tidak memperoleh kehidupan yang berbahagia.

1. Nafsul Insan (Jiwa Manusia)

·    Jiwa manusia diberikan kebebasan untuk memilih yang baik atau yang buruk. Sebelumnya, manusia sudah mengenal Islam melalui nabi dan rasul-Nya. Manusia dengan akal dan potensinya dapat memilih untuk mengikuti Islam atau tidak mengikutinya, serta memilih untuk menempuh jalan takwa atau jalan fujur. Dari pilihan ini manusia akan mendapatkan keberhasilan atau kegagalannya.

·    Jiwa manusia diberi dua jalan, walaupun demikian Allah telah menunjukkan jalan yang benar dari pada jalan yang salah. Tetapi sebagi an manusia tidak menggunakan akalnya mencerna kebenaran yang akhirnya menjadikan mereka sesat. Allah membiarkan mereka kafir dan mengajak mereka beriman. Begitu banyak petunjuk di alarn dan pada diri manusia untuk beriman kepada Allah, tetapi manusia tidak mengambil tanda keimanan tersebut.

Dalil

·    Q. 90:10. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.

·    Q. 91:8. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaannya.

·    Q. 76:3. Sesungguhnya Kami telahmenunjukinya jalanyang lurus ada yang bcrsyukur dan ada pula yang kafir.

·    Q. 64:2. Dialah yang menciptakan kamu maka di antara karnu ada yang kafir dan di antaramu ada yang beriman. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

·    Q.18:29. Dan katakanlah kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu maka barangsiapa yang ingin beriman hendaklah is beriman dan barang siapa yang ingin kafir biarlah is kafir. Sesungguhnya telah Kami sediakan bagi orang zalim itu neraka, yang gejolaknya rnengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang men ghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.

2. At Takwa (Takwa)

·   Takwa adalah jalan kebenaran. Barang siapa yang mengikutinya, is akan memiliki beberapa sifat seperti syukur, sabar, penyantun, penyayang, bijaksana, suka bertaubat, lemah lembut, jujur, serta dapat dipercaya. Al­lah menyebutkan bahwa beruntunglah mereka yang membersihkan jiwanya. Merekalah yang akan memperoleh kesuksesan serta kemenangan. Begitupun orang yang sering menyebut nama Allah serta melakukan ibadah.

·    Tazkiyatun nafs (membersihkan diri) sebagai upaya untuk mencapai ketakwaan. Allah memuliakan orang yang bertakwa (Q. 49: 13) dan meninggikan derajatnya.

·    Orang yang bertakwa akan memperoleh keberuntungan dan kedamaian serta karunia dari Allah SWT

Dalil

·    Q. 91:9. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu

·    Q. 87:14-15. Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri dengan beriman. Dan dia ingat nama Tuhannya lalu dia sembahyang.

·     Q. 62:4. Demikianlah karunia Allah diberikanNya kepada siapa yang dikehendakinya dan Allah mempunyai karunia yang besar.

3. Al Fujur (Kejahatan)

·    Mereka yang memilih jalan fujur akan mengotori dirinya sendiri dengan kesesatan dan kemaksiatan. Mereka yang berada di jalan ini akan mengalami kegoncangan jiwa dan tekanan. Mereka tidak akan merasakan kedamaian dan ketenangan, justru mereka merasakan kesusahan dan kegelisahan yang berakibat pada kegagalan. Mereka yang mengikuti sifat fujur ini sering berkeluh kesah, gelisah, merasa sulit, zalim, jahil, dan bakhil. Sifat-sifat ini dialarni oleh mereka sehingga potensi diri dan jiwa yang bersih akan hilang, bahkan menghujam ke dasar tanah yang hina dan kotor.

·    Orang yang memilih kejahatan akan merugi dan akan memperoleh kegagalan kehidupan di dunia dan di akhirat.

Dalil

·    Q. 103:1-3. Demi masa sesungguhnya manusia itu benar­benar berada dalam kerugian, kecuali orang yang beriman dan mengerjakan aural saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

4. At Tazkiyah (Membersihkan Diri

  • Syukur (Bersyukur)
  • Sobur (Bersabar)
  • Roufun (Penyantun)
  • Rahim (Penyayang)
  • Halim (Bijaksana)
  • Awab (Suka Bertaubat)
  • Awah (Lemah Lembut)
  • Sodiqun (Sidiq)
  • Aminun (Dapat Dipercaya)

·    Tazkiyatun nafs (membersihkan diri) adalah aktivitas or­ang yang memilih jalan ketakwaan. Takwa juga merupakan hasi dari ibadah dan akan memunculkan sifat-sifat yang baik. Di antara sifat yang baik tersebut adalah hubungannya kepada manusia dan juga kepada Allah. Dengan sifat baik ini, manusia akan mendapatkan keridhaan dari Allah dan juga disenangi oleh manusia yang lainnya. Dengan sifat baik ini, kita tidak merusak alam dan bahkan membangun alam ini dengan kebaikannya.

·    Akan memperoleh keberuntungan bagi mereka yang bersifat baik. Syukur dan sabar adalah sikap utama dalarn menghadapi berbagai gejolak kehidupan dunia. Orang bertakwa tidak akan sombong apabila mendapatkan rezki karena bersyukur, dan tidak akan frustasi apabila mendapatkan musibah karena bersabar. Berbahagialah mereka yang bertakwa, segala macam keadaan dapat dilaluinya dengan ketenangan.

Hubungannya dengan manusia seperti penyantun, penyayang, bijaksana, lemah lembut, sidiq dan dapat dipercaya merupakan sifat yang disenangi oleh siapapun. Kepada Allah, orang yang bertakwa suka bertaubat. Manusia cendrung berbuat salah oleh karena itu perlu bertaubat setiap saat.

Dalil

·       Q. 91:9. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu

·       Q. 87:14-15. Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri dengan beriman. Dan dia ingat nama Tuhannya lalu dia sembahyang.

·       Q. 62:4. Demikianlah karunia Allah diberikanNya kepada siapa yang dikehendakinya dan Allah mempunyai karunia yang besar.

7. Muflihun (Kesuksesan)

·    Seperti yang digambarkan tadi, bahwa sifat mulia tersebut akan mendapatkan balasan kebaikan dari Allah, dari manusia dan dari dirinya sendiri. Orang yang bertaubat disayangi oleh Allah, sehingga diberinya banyak kesuksesan dalarn hidupnya. Terhadap dirinya manusia memperoleh kemenangan karena sifat syukur dan sabar, manakala terhadap orang lain mendapatkan kasih saying dan penghargaan karena sifat penyantun, penyayang, lemah lei-abut dan bijaksana.

·    Dalam Al Quran, Allah berfirman bahwa dengan ketakwaan akan diberinya kesuksesan, selain itu mereka yang beriman, beramal saleh, persaudaraan muslim dan melakukan kegiatan amar makruf wa nahiy anil mungkar (menyuruh kebaikan dan melarang kemungkaran).

Dalil

·     Q. 3: 102-104.Orang yang mendapatkan kesuksesan adalah orang yang bertakwa, berukhuwah islamiyah dan berdakwah.

6. At Tadsiyah (Mengotori Jiwa)

·     Ajula (Tergesa-Gesa)

·     Halu'a (Keluh Kesah Lagi Kikir)

·    Jazu'a (Gelisah)

·     Thogia (Ogah Berbuat Baik)

·    Futuro (Pelit)

·     Kafuro (Ku fur)

·      Jadala (Susah Payah)

·    Kanuda (Pembantah)

·   Zuluma (Zalim)

·   Jahula (Bodoh)

·    Mengotori jiwa merupakan kegiatan yang dilakukan oleh manusia yang mengambil pililian fujur (kejahatan). Am t rugi bagi manusia yang mengotori jiwanya yang telah A. lah berikan kebersihan (fitrah) dengan kekotoran syahwa-. Mereka yang memperturutkan syahwat akan mempengaruhi sifatnya menjadi tergesa-gesa dan bahkan memperturutkan sifat tergesa-Q,esa. Ini adalah pengaruh da-i syahwat.

·   Allah menjadikan beberapa sift dasar manusia di antaranya adalah sifat tergesa-gesa, berkeluh kesah dan kikir. Namun demikian sikap dasar ini bisa di atasi dengan ketakwaaa apabila manusia menginginkannya. Manusia yang tidal mampu mengendalikan dirinya untuk kebaikan maka dia akan tetap bertingkah laku seperti dasarnya yaitu kelu1 kesah kalau ada kesulitan, tergesa-gesa kalau ada keingina-1 dan kikir kalau mempunyai uarsgSifat tergesa-gesa tersebut adalah sifat syaitan.

·    Selain beberapa sifat dasar di atas, enggan berbuat bail, susah payah, pembantah, pndebat, zalim, dan jahil. Allah berfirman bahwa manusia dilam menerima kebenaran seringkali mereka membantah dan mendebat perintah AL lah. Sehingga mereka cendrur g berbuat zalim dan bodoh karena sikap yang cenderung tidak amanat terhadap amanat yang diberikan kepadanya. Mar lusia dengan hawa nafsuny, cenderung enggan berbuat baik, sehingga membawa diriny, kufur.

Dalil

Q. 91:10. Dan sesungguhn,~ra merugilah orang yang mengotorinya

·     Q. 17:11. Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana is mendoa untuk kebaikan dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa

·     Q. 21:37. Manusia telah dijadikan bertabiat tergesa-gesa. Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda azabKu. Maka janganlah kamu minta kepadaku mendatangkannya dengan segera.

·     Q. 70:19. Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.

·     Q. 70:21. Dan apabila is mendapat kebaikan is amat kikir.

·     Q. 17:100. Katakanlah kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan rahmat Tuhanku niscaya perbendaharaan itu kamu tahan karena takut membelenjakannya dan adalah manusia itu sangat kikir.

·    Q. 14:34. Dan Dia telah memberikan kepadamu keperluanmu dari segala apa yang kamu mohonkan kepadaNya dan jika kamu menghitung nikmat Allah tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari nikmat Allah.

·     Q. 90:4. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.

·     Q. 18:54. Dan sesungguhnya Kami telah mengulangi bagi manusia dalam Al Quran itu bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.

·     Q. 100:6. Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar tidak berterinla kasih kepada Tuhannya.

·     Q.33:72. Sesungguhnya Kami telah mengernukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.

Khoibun (Gagal)

Tentunya sesuatu yang tidak sesuai dengan fitrah akan berlawanan dengan diri manusia. Allah telah memberikan nilai dan perintah yang fitrah tetapi manusia mengingkarinya. Nilai dan aturan tersebut akan membawa kemenangan tetapi bagi yang mengingkari akan mendapatkan kegagalan. Kegagalan terjadi karena yang diamalkannya berlawanan dengan fitrah manusia.

·     Perbuatan tidak baik yang digambarkan dalam tingkah laku buruk seperti keluh kesah, enggan beramal dan gelisah selain merugikan diri sendiri juga akan merusak hubungan dengan masyarakatnya seperti keluarga dan teman­ temannya. Hubungan dengan Allah pun menjadi tidak baik akibat dari sifat buruk orang-orang yang fujur tersebut.

 

Ringkasan Dalil

·    Jiwa manusia diberi dua jalan (Q. 90:10, 91:8, 76:3, 64:2,

18:29)

·    Jalan benar:

·    Tazkiyatun nafs (Q. 91:9, 87:14-15, 62:4): dengan

bersyukur, bersabar, penyantun, penyayang, bijaksana, suka

bertaubat, lemah lembut, senantiasa jujur, dapat dipercaya

- akan memperoleh kejayaan (kesuksesan)

·    Jalan salah: -mengotori jiwa (Q. 91:10)

·    Dengan memperturutkan sifat tergesa-gesa (Q. 17:11,

21:37)

·    Berkeluh kesah (Q. 70:19)

·   Gelisah (Q. 70:20)

·    Ogah berbuat baik (70:21)

·    Pelit (17:100)

·     Kufur (Q. 14:34)

·    Susah payah (Q. 90:4)

Pendebat (Q. 18:54)

·     Pembantah (Q. 100:6)

·    Zhalim (Q. 14:34,33:72)

·    Jahil (Q. 33:72)

·    Merugi (Q. 103: 1-3)

·    Akan memperoleh kegagalan

 


No comments:

Post a Comment

Tahqiqu Maknasy Syahadatain