Allah Ta’ala adalah Pencipta (al-khaliq) alam semesta raya.
الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَخَلَقَ
كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا
“Yang
kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan
tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala
sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (QS.
Al-Furqan, 25: 2)
At-taqdirul
kauni dan at-taqdirusy syar’i
Dia
telah menetapkan at-taqdirul kauni (ketentuan [hukum] di alam semesta),
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ
بِقَدَرٍ
“Sesungguhnya
Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (QS. Al-Qamar, 54: 49)
Ayat
ini menerangkan bahwa seluruh makhluk yang ada ini adalah ciptaan Allah Ta’ala,
diciptakan-Nya menurut kehendak dan ketentuan-Nya disesuaikan dengan
hukum-hukum yang ditetapkan-Nya untuk alam semesta ini.
Dia
pun telah menetapkan at-taqdirusy syar’i (ketentuan [hukum] syariat) bagi
manusia,
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي
مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ
ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Dan bahwa
(yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan
janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu
mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah
agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am, 6: 153)
Dia
menetapkan pedoman dan petunjuk bagi manusia agar mereka memperoleh kebahagiaan
di dunia dan akhirat. Jalan yang Allah tetapkan ini adalah jalan yang lurus,
yang harus diikuti. Jika manusia mengikuti jalan-jalan yang lain, maka mereka akan tercerai-berai dari jalan
Allah dan memperoleh kecelakaan.
Berkenaan
dengan ayat di atas terdapat sebuah hadits dari Abdullah bin Mas’ud
radhiyallahu ‘anhu, ia berkata.
خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ثُمَّ
خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هَذِهِ سُبُلٌ قَالَ يَزِيدُ
مُتَفَرِّقَةٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ
إِنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ
بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ
“Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wa sallam membuat sebuah garis lurus bagi kami, lalu
bersabda, ‘Ini adalah jalan Allah,’ kemudian beliau membuat garis lain pada
sisi kiri dan kanan garis tersebut, lalu bersabda, ’Ini adalah jalan-jalan
(yang banyak). Pada setiap jalan ada syetan yang mengajak kepada jalan
itu,’ kemudian beliau membaca,
إِنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا
فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ
“Dan bahwa
(yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan
janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu
mencerai-beraikan kamu dari jalanNya.” (QS. Al An’am, 6:153).
At-taqdirul
kauni –hukum-hukum yang Allah tetapkan kepada alam (al-kauni)- bersifat mutlak.
Seluruh alam semesta tidak diberi pilihan kecuali al-khudhu’ (tunduk) kepada
hukum-hukum yang telah ditetapkan-Nya tersebut. Semuanya selalu berada dalam
kondisi sujudun (tunduk), tasbihun (bertasbih), dan tahmidun (memuji) kepada
Allah Ta’ala.
Dia
berfirman,
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ
يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ
وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ وَكَثِيرٌ
حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ إِنَّ اللَّهَ
يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ
“Apakah
kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di
bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang
melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang
telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak
seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia
kehendaki.” (QS. Al-Hajj, 22: 18)
تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ
السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ
وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا
“Langit
yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak
ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak
mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha
Pengampun.” (QS. Al-Isra, 17: 44)
*****
Adapun
at-taqdirus syar’i (hukum-hukum syariat) yang Allah Ta’ala turunkan berupa
ajaran al-Islam yang dibawa ar-rasul memberi peluang kepada manusia untuk
memilih: menjadi al-muslimu (orang yang tunduk) atau menjadi al-kafiru (orang
yang ingkar).
Allah
Ta’ala menegaskan bahwa agama yang diridhai-Nya hanyalah Islam; dan mereka yang
mencari agama selain Islam tidak akan diterima oleh Allah Ta’ala serta akan
merugi di akhirat kelak,
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ
الْإِسْلَامُ
“Sesungguhnya
agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam…” (QS. Ali Imran, 3: 19)
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ
الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa
mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidak-lah akan diterima
(agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”
(QS. Ali Imran, 3: 85)
Meskipun
begitu Allah Ta’ala memberikan keleluasaan kepada manusia untuk memilih. Allah
Ta’ala berfirman,
وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ
فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ
نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ
يَشْوِي الْوُجُوهَ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا
“Dan
katakanlah: ‘Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin
(beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia
kafir’. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka,
yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka
akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan
muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.”
(QS. Al-Kahfi, 18: 29)
Kemudian
firman-Nya,
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ
قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ
بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ
سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Tidak ada
paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang
benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada
thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada
buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi
Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah, 2: 256).
*****
Berkaitan
dengan at-taqdirul kauni dan at-taqdirusy syar’i ini, bagi orang yang berakal
tentu akan memilih istislam (pasrah, menyerah, dantunduk) kepada sunnatullah
(ketetapan Allah Ta’ala).
Di
hadapan sunnatullah fil kauni (ketetapan Allah di alam) yang muthlaqun (berlaku
umum), tsabitun (tetap/tidak berubah kecuali karena kehendaknya), dan
mustamirun (terus menerus berlaku selama ada sebab dan akibatnya) -karena
merupakan taqdirul kauni (hukum alam)-manusia telah istislam (menerima, tunduk,
pasrah, dan menyerah). Maka begitupula seharusnya sikap mereka di hadapan
sunnatullah fil Insan (ketetapan Allah bagi manusia). Manakala mereka diberi
hidayah (petunjuk), iradah (kehendak), dan ikhtiyariyah (pilihan) di hadapan
taqdirus syar’i (hukum syariat), hendaknya mereka memilih istislam (menerima,
tunduk, pasrah, dan menyerah) pula. Yakni memilih menjadi al-muslimu bukannya
menjadi al-kafiru. Naudzubillahi min dzalik…
Wallahu
a’lam.
Sumber:
https://risalah.id/al-islamu-wa-sunnatullah-islam-dan-sunnatullah/
No comments:
Post a Comment