Wednesday, April 15, 2026

Said bin 'Amir Ra

Gubernur yang sangat sederhana

Sebelum memeluk Islam, Sa'id bin Amir mempunyai pengalaman yang amat mengesankan. Begitu mengesannya, sampai dibawa pengalamannya itu  saat  ia diangkat menjadi gubernur di Himsh oleh Umar bin Khathab. Pengalamannya itu sangat memberikan nuansa tersendiri terhadap pola hidupnya selanjutnya.

Ketika itu suasana sehabis Perang  Badar. Umumnya  masyarakat Makkah masih diliputi rasa kecewa, mendongkol, dan balas dendam yang menggigit terhadap orang-orang Islam yang dari segi kuantitas, hanya  berjumlah tiga ratus prajurit lebih  sedikit. 

Namun dalam kenyataannya dapat berhasil mengalahkan pasukan Quraisy yang jumlahnya lebih tiga kali lipat dengan didukung oleh persenjataan dan logistik yang lebih canggih. Bagaimana mungkin?! Namun kenyataannya telah  berbicara bahwa pasukan  Islam yang berjumlah  sepertiga kaum Quraisy itu telah memenangkan perang dengan gilang-gemilang. Publik opini masyarakat Quraisy saat itu (paska Badar) diliputi oleh kekecewaan mendalam dan rasa  ingin balas dendam. Itulah sebabnya ketika seorang Muslim tertangkap oleh kaum Quraisy padahal ia itu termasuk salah seorang anggota pejuang perang Badar, mereka sedikit dapat merasakan  kepuasan. Dengan sewenang-wenang mereka memperlakukan prajurit tertawan, Khubaib bin Adi, dengan segala yang dimauinya. Disiksa, dipermalukan dan pada akhirnya dibunuh sadis.

Saat pelaksanaan eksekusi, kota Makkah amat ramai dipenuhi oleh orang-orang yang ingin menyaksikannya dari dekat. Salah seorang yang ikut  menyaksikan kejadian itu adalah Sa'id bin  Amir yang waktu itu masih kafir. Ia dengan kekuatannya yang lebih (ekstra), dapat berhasil maju di depan panggung, setelah dengan susah payah berdesak-desakan dengan para penonton.

Adegan yang paling menarik bagi Sa'id adalah ketika Khubaib sudah akan dieksekusi, dia tampak tenang. Bahkan ia masih sempat meminta waktu dan kesempatan untuk melakukan shalat dua rakaat. Setelah permintaan ini dipenuhi, ia ditanya oleh tokoh-tokoh Quraisy, katanya,  "Wahai Sa'id, bagaimanakah pendapatmu jika  kedudukanmu ini digantikan oleh pemimpinmu Muhammad? Sedangkan engkau dapat bergerak bebas melakukan apa yang engkau sukai?"

Dengan tenang Sa'id menjawab, "Saya tidak rela apabila saya sekeluarga bebas dari penderitaan ini sementara Nabi Muhammad saw terkena penderitaan. Tak peduli sekecil apa pun penderitaan itu, misalnya beliau terkena duri sekalipun! Apalagi menempati posisi saya untuk dibunuh. Saya tidak akan rela buat selama-lamanya."

Jawaban yang tenang lagi mantap itu bukan saja mengagetkan tokoh- tokoh Quraisy, tetapi lebih-lebih lagi mengejutkan Sa'id bin Amir.  Ia amat hormat terhadap pernyataan Khubaib,  di mana ia telah  memperlakukan  pemimpinnya secara hormat penuh takdzim. Dalam lubuk hatinya, ia berkata,  "Bagaimana seorang pemimpin dicintai oleh pengikutnya sedemikian rupa, sehingga melebihi cintanya terhadap dirinya sendiri?"

Setelah itu, Khubaib dieksekusi secara beramai-ramai. Ada tombak, panah, klewang, dan senjata-senjata lain ditikamkan dalam tubuhnya. Sa'id sangat terkesan dengan ketenangan Khubaib yang luar biasa rela menghadapi musibah besar dengan lapang dada. Jauh di lubuk hatinya tersimpan pertanyaan yang menggoda, "Jenis ajaran apakah yang diberikan oleh sang pemimpin kaum Muslimin itu kepada umatnya, sehingga umat betul-betul menjadi orang pilihan, berani menghadapi segala risiko berat dengan tenang?"

***

KURANG lebih 13 tahun sesudah kejadian itu berlalu, pemerintahan beralih kepada Khalifah Umar bin Khathab. Ia terkenal selektif dalam memilih amir-amir (gubernur-gubernur) yang diangkat.  Dipilihnya orang-orang yang kurang ambisi terhadap jabatan,  bersifat lurus, amanah, dan dekat dengan rakyat. Syarat-syarat itu rupanya sesuai dengan pribadi Sa'id bin Amir. Untuk itu khalifah  ingin mengangkatnya  menjadi pembantunya sebagai amir di Himsh, daerah Syam.

Ditemuinya Sa'id, kepadanya dikatakan, "Wahai Sa'id, saya ingin mengangkat engkau sebagai penguasa di daerah Himsh, bagaimana pendapatmu?"

Sa'id yang tidak pernah membayangkan jabatan itu, berusaha menolak.  Katanya, "Wahai Amirul Mukminin, perkenankanlah saya tetap menjadi orang biasa, agar tetap dapat berkonsentrasi ke  akhirat. Saya khawatir dengan jabatan baru ini, saya akan mudah berpaling dari akhirat menuju dunia."

Mendengar jawaban itu Umar marah. "Celakalah engkau wahai Sa'id! Engkau telah berlaku tidak adil. Bagaimana tidak? Engkau memberikan jabatan berat di atas pundakku sementara engkau berlepas diri darinya. Dukungan jenis/model apakah ini?"

Akhirnya Sa'id tidak dapat menolak lagi, jawabnya, "Wahai Amirul Mukminin! Demi Allah, saya tidak akan membiarkan Anda sendirian dalam memikul beban berat itu. Saya dengan kemampuan yang ada akan berusaha membantu Anda."

Dari kejadian itu, Sa'id kemudian diangkat Umar menjadi Gubernur di Himsh. Namun ia termasuk gubernur yang unik.  Gubernur yang amat sederhana. Hal ini terungkap ketika terjadi pertemuan segi tiga antara Khalifah Umar yang sedang melakukan inspeksi, rakyat di wilayah Himsh, dan Sa'id sebagi gubernurnya.

Khalifah bertanya kepada khalayak, "Coba sebutkan terus-terang apa yang menjadi keberatanmu terhadap gubernurmu?"

Jawab mereka, "Ada beberapa hal yang kami merasa keberatan terhadap kinerja gubernur. Pertama, ia baru mau keluar setelah matahari telah tinggi. Kedua, ia tidak bersedia menerima  kami pada malam hari.  Ketiga,  ia seringkali tanpa  kami ketahui sebab-musababnya mendadak jatuh pingsan."

Khalifah Umar berpaling kepada Gubernur Sa'id bin Amir, "Jawablah keberatan-keberatan mereka itu dengan benar."

Sa'id kemudian bangkit memberikan jawaban. "Terhadap keberatan pertama, saya katakan bahwa saya tidak mempunyai pembantu sama sekali.  Apa pun pekerjaan rumah yang ada kami kerjakan sendiri bersama isteri. Saya lebih dulu harus menanak bubur, menjerang air, dan melakukan persiapan-persiapan yang lain sebelum keluar menemui mereka.

Adapun terhadap keberatan kedua, saya memang sejak awal berprinsip, apa  pun yang terjadi kami ingin mencapai kebahagiaan di akhirat lebih daripada di dunia. Sebab itulah kebahagiaan  yang sesungguhnya dan abadi.  Untuk itu, masalah dinas telah  kami sediakan waktu untuk siang hari. Sedangkan untuk malam harinya, kami menyediakan diri untuk beribadah kepada Allah semata.

Mengenai keberatan ketiga, bahwa saya sering pingsan, saya akui. Sebetulnya  ini  berhubungan  dengan  pengalaman traumatik saya sebelum  Islam di Makkah. Yakni ketika menyaksikan  penderitaan Khubaib disiksa oleh orang-orang Quraisy. Setelah melecut sadis dan menyayat-nyayat tubuhnya, mereka akhirnya membunuhnya tanpa rasa dosa. Sementara saya ada di depannya, tidak dapat berbuat apa-apa; hanya termangu-mangu dan terpaku di tempat.

Setiap kali saya mengenang dan mengingat peristiwa Khubaib yang disiksa sadis, sementara saya tidak berbuat apa pun, saya merasa berdosa  besar dan sulit diampuni. Itulah sebabnya saya  pingsan setiap kali teringat peristiwa traumatik itu."

Mendengar jawaban lugas Sa'id itu, Khalifah Umar merasa terharu. Jawaban  polos  apa adanya itu dapat diterima. Khalifah merasa bahwa Sa'id  bin Amir, gubernurnya di Himsh, telah  melakukan pekerjaannya  dengan baik. Dia tetap lurus, amanah, dekat dengan rakyat,  dan  dekat dengan Allah. Tidak tenggelam dalam  godaan-godaan duniawi.

Said bin Amir: Mujahid yang Tak Mengejar Ketenaran

Siapa yang kenal nama ini? Dan siapa pula di antara kita yang pernah mendengarnya sebelum ini? Berat dugaan bahwa beberapa di antara kita belum pernah mendengar namanya atau bahkan tidak mengenal sosok sahabat nabi yang satu ini.. berikut ini kisahnya..

Ia adalah salah seorang sahabat Rasulullah SAW. Walaupun namanya tidak semasyhur nama-nama sahabat nabi yang terkenal. Ia adalah seorang yang takwa dan tak hendak menonjolkan diri. Ia tak pernah absen dalam setiap perjuangan dan jihad yang dihadiri Rasulullah SAW.

Said masuk Islam sesaat sebelum pembebasan Khaibar, setelah memeluk Islam, ia terkenal dengan ketaatan dan kepatuhan, zuhud dan keshalehan serta keluhuran budi pekertinya. Ketika pandangan kita tertuju kepada Said dalam sekumpulan orang banyak, maka tidak satupun keistimewaan yang akan memikat dan mengundang perhatian kita. Yang Nampak darinya hanyalah tubuh berdebu dan berambut kusut masai. Maka kita tidak akan mengetahui siapa ia sebenarnya, karena kebesaran tokoh ini jauh tersembunyi dibalik kesederhanaannya dan kebersahajaannya.

...kebesaran tokoh ini jauh tersembunyi dibalik kesederhanaannya dan kebersahajaannya...

Suatu ketika ketika Amirul Mu’minin Umar bin Khatthab memberhentikan Muawiyah dari jabatannya sebagai kepala daerah di Syria, ia menoleh ke kanan dan kekiri mencari seseorang yang akan menjadi penggantinya. Dan sistem yang digunakan Umar untuk memilih pegawai dan pembantunya merupakan sistem yang mengandung segala kewaspadaan, ketelitian dan pemikiran yang matang. Karena ia berkeyakinan bahwa setiap kesalahan yang dilakukan oleh setiap penguasa ditempat yang jauh sekalipun, maka yang akan ditanya oleh Allah SWT ialah dua orang : pertama, Umar, dan kedua baru penguasa yang melakukan kesalahan itu.

Oleh sebab itu, syarat-syarat yang dipergunakannya untuk menilai orang dan memilih para pejabat pemerintahan amatlah berat dan ketat serta berdasarkan pertimbangan yang matang dan sempurna. Dan Syria ketika itu merupakan wilayah yang besar dan modern. Sementara kehidupan di sana (sebelum datangnya Islam) selalu mengikuti peradaban yang silih berganti. Di samping itu Syria juga merupakan pusat perdagangan yang penting dan juga tempat yang cocok untuk bersenang-senang, karena ia merupakan suatu negeri yang penuh godaan. Maka menurut pendapat Umar, tidak ada yang cocok untuk negeri itu kecuali seorang suci yang tidak dapat diperdayakan setan manapun, seorang zahid yang gemar beribadah, serta tunduk dan patuh serta berlindung diri kepada Allah.

Tiba-tiba Umar berseru,” saya telah menemukannya! Bawa ke sini Said bin “amir” tak lama kemudian, datanglah Said menemui Amirul Mu’minin yang menawarkan jabatan sebagai walikota Hamsh. Tetapi Said menyatakan keberatannya, ia berkata: “janganlah saya dihdapkan kepada fitnah, wahai Amirul Mu’minin”. Dengan nada keras Umar menjawab: “Tidak, demi Allah saya tidak akan melepaskan Anda! Apakah kalian hendak membebankan amanah dan khilafah di atas pundakku, lalu kalian meninggalkan aku?”

... Seandainya seorang seperti Said bin Amir menolak untuk memikul tanggung jawab hukum, maka siapa lagi yang akan membantu Umar...

Dalam sekejap saja, Said dapat diyakinkan. Dan kata-kata Umar memang layak untuk mendapatkan hasil yang diharapkan. Sungguh suatu hal yang tidak adil namanya bila mereka mengalungkan amanah dan jabatan sebagai khalifah ke lehernya, lalu mereka meninggalkannya sebatang kara. Seandainya seorang seperti Said bin Amir menolak untuk memikul tanggung jawab hukum, maka siapa lagi yang akan membantu Umar dalam memikul tanggung jawab yang amat berat  itu?

Demikianlah, Said akhirnya berangkat ke Hamsh, dan ikut pula istrinya bersamanya. Sebetulnya mereka berdua adalah pengantin baru. Semenjak kecil, istrinya adalah seorang wanita yang sangat cantik lagi berseri-seri. Umar pun membekali mereka secukupnya.

Ketika kedudukan mereka di Himsh telah mapan, sang istri bermaksud menggunakan haknya sebagai istri untuk memanfaatkan harta yang telah diberikan Umar sebagai bekal mereka. Diusulkannya kepada sang suami untuk membeli pakaian yang layak serta perlengkapan rumah tangga, lalu menyimpan sisanya. Jawab Said kepada istrinya “Maukah kamu Aku tunjukkan yang lebih baik dari rencanamu itu? Kita berada di suatu negeri yang amat pesat perdagangannya serta laris barang jualannya. Maka lebih baik kita serahkan harta ini kepada seseorang yang akan mengambilnya sebagai modal dan akan mengembangkannya.” “Bagaimana jika perdagangannya rugi?” tanya istrinya. “Saya akan mempersiapkan jaminannya” jawab Said. “Baiklah kalau begitu” Kata istrinya.

Kemudian Said pergi keluar, lalu membeli sebagian keperluan hidup dari jenis yang amat bersahaja dan sisanya yang masih banyak itu, ia bagikan kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Hari-hari pun berlalu, dari waktu ke waktu istri Said menanyakan kepadanya tentang perdagangan mereka dan kapan keuntungannya akan dibagikan. Semua itu dijawab oleh Said bahwa perdagangan mereka berjalan dengan lancar, sedangkan keuntungannya bertambah banyak dan kian meningkat.

Pada suatu hari, istrinya mengajukan lagi pertanyaan serupa di hadapan seorang kerabat yang mengetahui duduk perkara yang sesungguhnya. Said pun tersenyum dan tertawa sehingga menimbulkan keraguan dan kecurigaan sang istri. Ia mendesak suaminya agar berterus terang. Lalu Said pun menyampaikan bahwa harta tersebut telah disedekakannya dari semula.

Wanita itu pun menangis dan menyesali karena harta itu tak dapat dimanfaatkan sedikitpun, baik untuk membeli baju juga keperluan hidupnya. Said memandangi istrinya, sementara air mata penyesalan membasahi pipinya. Dan sebelum pandangan yang penuh kesedihan itu mempengaruhi dirinya, Said membayangkan kawan-kawannya yang telah mendahuluinya di surga, lalu ia berkata: saya mempunyai kawan-kawan yang telah lebih dulu menemui Allah.dan saya tidak ingin menyimpang dari jalan mereka walaupun ditebus dengan dunia dan seisinya!”

Dan karena ia takut akan tergoda oleh kecantikan istrinya, ia berkata: “Dan seolah-olah kata-kata itu dihadapkan kepada diri mereka berdua,” bukankah kamu tahu bahwa di dalam surga itu terdapat gadis-gadis yang bermata jeli, hingga andai seorang saja mereka menampakkan wajahnya di muka bumi, maka akan terang benderanglah seluruhnya, dan tentulah cahayanya akan mengalahkan matahari dan bulan.

Maka korbankanlah dirimu untuk mendapatkan mereka, tentu lebih wajar dan lebih utama daripada mengorbankan mereka demi dirimu!” kemudian diakhirinya ucapan itu dengan senyuman, kemudian istrinya terdiam dan ia ingin mencontoh sifat zuhud dan ketakwaan suaminya.

Pada masa itu Hamsh digambarkan sebagai kota Kufah kedua karena dikota Kufah banyak terjadi pembangkangan penduduk terhadap sang penguasa, tetapi terhadap hamba yang shaleh seperti Said, hati mereka dibukakan oleh Allah, hingga mereka cinta dan taat kepadanya.

... dengan hati yang paling suci dan dengan kehidupan yang paling cemerlang, Said bin Amir pun menemui ajalnya...

Pada tahun 20 hijriah, dengan hati yang paling suci dan dengan kehidupan yang paling cemerlang, Said bin Amir pun menemui ajalnya, sungguh telah sangat tak terelakkan rindunya untuk dapat menjumpai Rasulullah SAW, tidak ada beban dunia atau harta benda yang memberati punggungnya, tak ada yang dibawanya kecuali zuhud, keshalehan, ketakwaan dan keluhuran budi pekertinya.

Keistimewaan tersebut dimilikinya untuk mengguncang dunia dan dijadikan pegangan yang kokoh sehingga tak tergoyahkan oleh tipu daya dunia. [waroah/voa-islam.com]

Sumber: Perihidup 60 Shahabat Rasulullah

No comments:

Post a Comment

Said bin 'Amir Ra