Saturday, April 18, 2026

Shifatur Rasul

Mukadimah

Setelah kita memahami makna syahadat لَا إِلَهَ إِلَّا الله yang mengandung konsekuensi keikhlasan dalam beribadah hanya kepada Allah maka kita bahas pada edisi kali ini tentang syahadat yang kedua yaitu  مُحَمَّدًاً رَسُوْلُ ا لله. Di dalam riwayat lain disebutkan dengan kalimat yang lebih lengkap :

وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

“Bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ubadah bin As-Shamit)

Yakni persaksian yang diberikan kepada Nabi Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib yang berasal dari Bani Hasyim dari Quraisy dari kalangan Arab dengan dua sifat besar dan mulia yaitu Al-Ubudiyah (kehambaan khusus) dan Ar-Risalah (kerasulan).

Sifat kehambaan ialah meyakini bahwa beliau adalah seorang hamba Allah yang diciptakan–Nya, milik Allah; yang berarti tidak memiliki sifat ketuhanan, rububiyah atau uluhiyah. Tidak pula memiliki sifat yang menyerupai sifat-sifat Allah. Di mana beliau tidak bisa menolak takdir, mengabulkan doa, atau menentukan siapa yang mendapatkan hidayah dan siapa yang tidak, demikian seterusnya.

Mengenal Rasul perlu mengenal sifat-sifatnya. Bagian tingkah laku, kepribadian, dan penampilan diwarnai oleh sifat seseorang.  Begitupun Nabi Muhammad saw dapat digambarkan melalui sifat-sifatnya. Mengetahui sifat-sifat ini diharapkan kita menyadari siapa sebenarnya Rasul dan kemudian kita dapat mengikutinya.  Sifat Nabi seperti manusia biasa yang sempurna dapat diikuti oleh kita, karena tingkah laku atau perbuatannya seperti  yang dilaksanakan manusia maka kitapun pasti dapat mengikutinya.

Kemudian kita semakin percaya kepada apa-apa yang dibicarakan atau disampaikan Rasul adalah yang benar karena sifat beliau yang ‘ismah (terpelihara dari kesalahan), selain itu beliau adalah orang yang cerdas, berarti apa yang dibawanya adalah hasil dari pemikiran dan analisa yang mendalam, tepat dan baik.

Sifat amanah adalah juga sifat asas yang setiap manusia pasti menyenangi berkawan dengan mereka yang amanah, kita sebagai muslim perlu mengikuti sifat ini dengan sempurna begitupun dengan sifat lainnya seperti tabligh dan iltizam. Sifat-sifat ini menggambarkan akhlaq mulia yang diwarnai oleh akhlaq Al-Qur’an dan sangatlah sesuai dijadikan sebagai contoh yang baik bagi kita.

Kesempurnaan Jiwa dan Kemuliaan Akhlaq Rasulullah saw.

Nabi saw lain daripada yang lain karena kefasihan bicaranya, kejelasan ucapannya, yang selalu disampaikan pada kesempatan yang paling tepat dan di tempat yang tidak sulit diketahui, lancar, jernih kata-katanya, jelas pengucapan dan maknanya, sedikit ditahan, disisipi kata-kata yang luas maknanya, mengkhususkan pada penekanan-penekanan hukum, mengetahui logat-logat bangsa Arab, berbicara dengan setiap kabilah Arab menurut logat masing-masing, berdialog dengan mereka menurut bahasa masing-masing, ada kekuatan pola bahasa Badui yang cadas berhimpun pada dirinya, begitu pula kejernihan dan kejelasan cara bicara orang yang sudah beradab, berkat kekuatan yang datang dari Ilahi dan dilantarkan lewat wahyu.

Beliau adalah orang yang lembut, murah hati, mampu menguasai diri, suka memaafkan saat memegang kekuasaan dan sabar saat ditekan. Ini semua merupakan sifat-sifat yang diajarkan Allah.

Orang yang murah hati bisa saja tergelincir dan terperosok. Tapi sekian banyak gangguan yang tertuju kepada beliau justru menambahkan kesabaran beliau. Tingkah polah orang-orang bodoh yang berlebih-lebihan justru menambah kemurahan hati beliau. Aisyah berkata, “Jika Rasulullah saw harus memilih di antara dua perkara, tentu beliau memilih yang paling mudah di antara keduanya, selagi itu bukan suatu dosa. Jika suatu dosa, maka beliau adalah orang yang paling menjauh darinya. Beliau tidak membalas untuk dirinya sendiri kecuali jika ada pelanggaran terhadap kehormatan Allah, lalu dia membalas karena Allah. Beliau adalah orang yang paling tidak mudah marah dan paling cepat ridha.”

Di antara sifat kemurahan hati dan kedermawanan beliau yang sulit digambarkan, bahwa beliau memberikan apapun dan tidak takut menjadi miskin. Ibnu Abbas berkata, “Nabi saw adalah orang yang paling murah hati. Kemurahan hati beliau yang paling menonjol adalah pada bulan Ramadhan saat dihampiri Jibril. Jibril menghampiri beliau setiap malam pada bulan Ramadhan, untuk mengajarkan Al Qur’an pada beliau. Beliau benar-benar orang yang lebih murah hati untuk hal-hal yang baik daripada angin yang berhembus.”

Jabir berkata, “Tidak pernah beliau dimintai sesuatu, lalu menjawab, ‘Tidak’.”

Keterangan-keterangan ini disebutkan di dalam Shahih Al-Bukhary, 1/502-503

Rasulullah saw memiliki keberanian, patriotisme, dan kekuatan yang sulit diukur. Beliau adalah orang yang paling pemberani, mendatangi tempat-tempat yang sulit. Berapa banyak para pemberani dan patriot yang justru lari dari hadapan beliau. Beliau adalah orang yang tegar dan tidak bisa diusik, terus maju dan tidak mundur serta tidak gentar. Siapa pun orang pemberani tentu akan lari menghindar dari hadapan beliau. Ali berkata, “Jika kami sedang dikepung kekuatan dan bahaya, maka kami berlindung kepada Rasulullah saw. Tak seorang pun yang lebih dekat jaraknya dengan musuh selain beliau.” Asy-Syifa’, Al-Qadhy Iyadh, 1/89

Anas berkata, “Suatu malam penduduk Madinah dikejutkan oleh sebuah suara. Lalu orang-orang semburat menuju ke sumber suara tersebut. Mereka bertemu Rasulullah saw yang sudah kembali dari sumber suara itu. Beliau lebih dahulu datng ke sana daripada mereka. Saat itu beliau menunggang kuda milik Abu Thalhah dan di leher beliau ada pedang. Belia bersabda, Kalian tidak usah gentar. Kalian tidak usah gentar!'’

Nabi saw adalah orang yang paling malu dan suka menundukkan mata. Abu Sa’id Al-Khudry berkata, “Beliau adalah orang yang lebih pemalu daripada gadis di tempat pingitannya. Jika tidak menyukai sesuatu, maka bisa diketahui dari raut mukanya.” Shahih Al-Bukhary, 1/504

Beliau tidak pernah lama memandang ke wajah seseorang, menundukkan pandangan, lebih banyak memandang ke arah tanah daripada memandang ke langit, pandangannya jeli, tidak berbicara langsung di hadapan seseorang yang membuatnya malu, tidak menyebut nama seseorang secara jelas jika beliau mendengar sesuatu yang kurang disenanginya, tetapi beliau bertanya “Mengapa orang-orang itu berbuat begitu?”

Nabi saw adalah orang yang paling adil, paling mampu menahan diri, paling jujur perkataannya dan paling besar amanatnya. Orang yang mendebat dan bahkan musuh beliau pun mengakui hal ini. Sebelum nubuwah beliau sudah dijukuki Al-Amin (orang yang terpercaya). Sebelum Islam dan pada masa Jahiliyah beliau juga ditunjuk sebagai hakim. At-Tirmidzy meriwayatkan dari Ali, bahwa Abu Jahal pernah berkata kepada beliau, “Kami tidak mendustakan dirimu, tetapi kami mendustakan apa yang engkau bawa.” Karena itu kemudian Allah menurunkan ayat tentang orang-orang yang mendustakan itu,

“Mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, tetapi orang-orang zhalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.” (Al-An’am: 33).

Heraklius (kaisar Romawi) mengajukan pertanyaan kepada Abu Sufyan yang ketika itu masih dalam kekafiran, “Apakah kalian menuduhnya dusta sebelum dia mengatakan apa yang dia katakan?” Abu Sufyan menjawab, “Tidak.”

Nabi saw adalah orang yang paling tawadhu’ dan paling jauh dari sifat sombong. Beliau tidak menginginkan orang-orang berdiri saat menyambut kedatangannya seperti yang dilakukan terhadap para raja. Beliau biasa menjenguk orang sakit, duduk-duduk bersama orang miskin, memenuhi undangan hamba sahaya, duduk di tengah para sahabat, sama seperti keadaan mereka. Aisyah berkata, “Beliau biasa menambal terompahnya, menjahit bajunya, melaksanakan pekerjaan dengan tangannya sendiri, seperti yang dilakukan salah seorang di antara kalian di rumahnya. Beliau sama dengan orang lain, mencuci pakaiannya, memerah air susu dombanya dan membereskan urusannya sendiri.” Misykatul-Mashabih, 2/520

Dalam sebuah perjalanan beliau memerintahkan untuk menyembelih seekor domba. Seseorang berkata, “Akulah yang akan menyembelihnya.”

Yang lain berkata, “Akulah yang akan mengulitinya.”Yang lain lagi berkata, “Akulah yang akan memasaknya.”Lalu beliau bersabda, “Akulah yang akan mengumpulkan kayu bakarnya.”Mereka berkata, “Kami akan mencukupkan bagi engkau.”Beliau bersabda, “Aku sudah tahu kalian akan mencukupkan bagiku. Tapi aku tidak suka berbeda dari kalian. Sesungguhnya Allah tidak menyukai hamba-Nya yang berbeda di tengah rekan-rekannya.” Setelah itu beliau bangkit lalu mengumpulkan kayu bakar. Khulashatus-Sair, 22

Kita berikan kesempatan kepada Hindun bin Abu Halah untuk menggambarkan sifat-sifat Rasulullah saw. Dia berkata, “Rasulullah saw seperti tampak berduka, terus-menerus berpikir, tidak punya waktu untuk istirahat, tidak bicara jika tidak perlu, lebih banyak diam, memulai dan mengakhiri perkataan dengan seluruh bagian mulutnya dan tidak dengan ujung-ujungnya saja, berbicara dengan menggunakan kata-kata yang luas maknanya, terinci tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit, dengan nada yang sedang-sedang, mengagungkan nikmat sekalipun kecil, tidak mencela sesuatu, tidak pernah mencela rasa makanan dan tidak terlalu memujinya, tidak terpancing untuk cepat-cepat marah jika ada sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran, tidak marah untuk kepentingan dirinya, lapang dada, jika memberi isyarat beliau memberi isyarat dengan seluruh telapak tangannya, jika sedang marah beliau berpaling dan tampak semakin tua, jika sedang gembira beliau menundukkan padangan matanya. Tawanya cukup dengan senyuman, yang senyumannya mirip dengan butir-butir salju. Beliau senantiasa gembira, murah hati, lemah lembut, tidak kaku dan keras, tidak suka mengutuk, tidak berkata keji, tidak suka mencela, tidak obral memuji, pura-pura lalai terhadap sesuatu yang tidak menarik dan tidak tunduk kepadanya, meninggalkan tiga perkara dari dirinya: Riya’, banyak bicara dan membicarakan sesuatu yang tidak perlu. Beliau meninggalkan manusia dari tiga perkara: Tidak mencela seseorang, tidak menghinanya, dan tidak mencari-cari kesalahannya.” Asy-Syifa’, Al-Qadhy Iyadh, 1/121-126

Kharijah bin Zaid berkata, “Nabi saw adalah orang yang paling mulia di dalam majelisnya, hampir tak ada yang keluar dari pinggir bibirnya. Beliau lebih banyak diam, tidak berbicara yang tidak diperlukan, berpaling dari orang yang berbicara dengan cara yang tidak baik. Tawanya berupa senyuman, perkataannya rinci, tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit. Para sahabat tertawa jika beliau tersenyum, karena mereka hormat dan mengikuti beliau.”

Rasulullah saw adalah gudangnya sifat-sifat kesempurnaan yang sulit dicari bandingannya. Allah membimbing dan membaguskan bimbingan-Nya, sampai-sampai Allah berfirman terhadap beliau seraya memuji beliau,

“Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Al-Qalam: 4)

Sifat-sifat yang sudah disebutkan di sini hanya sebagian kecil dari gambaran kesempurnaan dan keagungan sifat-sifat beliau. Hakikat sebenarnya yang menggambarkan sifat dan ciri-ciri beliau adalah sesuatu yang tidak bisa diketahui secara persis hingga sedetail-detailnya. Adakah orang yang mengaku bisa mengetahui hakikat diri manusia yang paling sempurna dan mendapat cahaya Rabb-nya, hingga akhlaqnya pun adalah Al-Qur’an?

Sifat kerasulan menunjukan bahwa beliau benar-benar seorang rasul; utusan Allah yang dipilih dari hamba-hamba-Nya. Beliau adalah manusia terbaik, manusia pilihan, seseorang yang tepercaya dan menjadi kepercayaan Allah. Dengan penetapan sifat kerasulan bagi beliau ini, mengandung konsekuensi-konsekuensi sebagai berikut:

1.     Kita harus memuliakan dan mengutamakan beliau di atas seluruh manusia.

Menghormati beliau beserta segenap syariat yang dibawanya di atas seluruh syariat lainnya. Hal itu semua tidak akan terwujud kecuali dengan mengamalkan syariatnya dan mencintainya di atas kecintaan terhadap diri sendiri. Allah berfirman:

إِنَّآ أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيْرًا  لِتُؤْمِنُوا بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ وَتُعَزِّرُوْهُ وَتُوَقِّرُوْهُ]…الفتح: 8-9[

Sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mengagungkan dan memuliakannya serta menghormatinya… (al-Fath: 8-9)

2.     Mendahulukan ucapannya di atas seluruh ucapan manusia tanpa terkecuali dan beramal dengan sunnah-sunnahnya.

Allah ta’ala berfirman:


يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ تُقَدِّمُوْا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ]. الحجرات: 1

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (al-Hujurat: 1)

3.     Mentaati perintahnya dan menjauhi larangannya.

Allah ta’ala berfirman:

يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا أَطِيْعُوا اللهَ وَأَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ] …ا لنساء: 59[

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya. (an-Nisa’: 59)

Dan dalam ayat lain Allah berfirman:

وَمَآ ءَاتَاَكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْا]… الحشر: 7[

Apa yang ditetapkan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarang bagimu, maka tinggalkanlah. (al-Hasyr: 7)

4. Menjadikannya sebagai suri tauladan dalam semua sisi kehidupan kita.

Yaitu dengan menjadikan sunnahnya sebagai sumber hukum yang tidak dapat dipisahkan dengan Al Qur’an. Allah ta’ala berfirman:

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu; bagi orang yang mengharap (rahmat) dan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (al-Ahzab: 21)

Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikanmu sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (an-Nisa’: 65)

Dengan dua sifat Rasulullah yakni sebagai Rasul dan hamba Allah swt  ini tertutuplah dua pintu kesesatan dan penyimpangan dari golongan yang berlebih-lebihan (al ifrath) dan golongan yang bermudah-mudahan (at-tafrith).

Golongan al ifrath adalah mereka yang melampaui batas dalam memuji dan mengangkat Rasulullah sehingga menyamakan derajatnya dengan Allah atau memberikan sifat-sifat yang sesungguhnya hanya layak bagi Allah semata atau mendudukkannya seperti kedudukan Allah.

Mereka yang berlebih-lebihan dalam memuji Rasulullah telah menyerupai Nasrani ketika menuhankan nabi Isa ‘alaihis salam, Rasulullah pun memperingatkan umatnya agar jangan seperti mereka. Rasulullah bersabda:

لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ. (متفق عليه(

Janganlah kalian memuji aku secara berlebihan sebagaimana Nasrani memuji Isa bin Maryam, aku hanyalah seorang hamba maka katakanlah: “Hamba Allah dan Rasul-Nya”. (HR. Bukhari Muslim)

Rasulullah tidak berkenan dipuji secara berlebihan dan melampaui batas sebagaimana umat Nasrani melakukannya kepada Isa bin Maryam. Sedemikian berlebihannya mereka dalam memuji Nabi Isa hingga mereka memberikan derajat ketuhanan kepadanya. Rasulullah tidak menghendaki hal itu terjadi pada dirinya dan dilakukan oleh umatnya.

 

Dalam suatu riwayat disebutkan: “Ketika sekelompok orang datang kepada Rasulullah sambil mengatakan: “Engkau adalah Yang paling Agung dan Mulia yang tiada tandingannya”. Maka beliau berkata: “Berkatalah kalian tapi jangan dirasuki setan”. (HR Abu Daud)


Sebagian lagi ada yang berkata: “Ya Rasulullah engkau yang paling baik, anak orang yang paling baik dan Sayyid kami, anak dari Sayyid kami”. Beliau menjawab: “As-Sayyid adalah Allah”, dan bersabda:

 
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قُوْلُوْا بِقَوْلِكَمْ وَلاَ يَسْتَهْوِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ، أَنَا مُحَمَّدٌ عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، مَا أَحَبُّ أَنْ تَرْفَعُوْنِي فَوْقَ مَنْزِلَتِيْ الَّتِيْ أَنْزَلَنِيَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ. (رواه أحمد والنسائي(


Wahai segenap manusia berkatalah kalian dengan perkataanmu dan janganlah kalian dikuasai hawa nafsu setan, aku adalah Muhammad hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak suka jika kalian meninggikan kedudukanku di atas kedudukan yang telah Allah tempatkan bagiku. (HR. Ahmad dan Nasa’i)

 

Perbedaan mereka dengan kaum Nasrani adalah bahwa jika kaum Nasrani menyatakan dengan tegas Isa adalah Tuhan-Nya, titisan Tuhan, atau anak Tuhan sesuai dengan perselisihan yang ada pada mereka. Adapun mereka yang ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap Rasulullah tidak mengucapkan lafadz-lafadz seperti Nasrani, tetapi mereka mengungkapkannya dalam bentuk perbuatan yaitu: berdoa kepadanya, menganggapnya ikut menakdirkan sesuatu bersama Allah, dapat menentukan manfaat dan madharat, menentukan kebahagiaan dan kesengsaraan dan lain-lain.

 

Bahkan mereka memberikan sifat-sifat yang sesungguhnya hanya layak bagi Allah seperti: عَالِمُ الغَيْبِ (mengetahui yang ghaib), pemberi jalan keluar dari kesulitan-kesulitan, penolong hamba yang berada dalam kesusahan di manapun ia berada, ruhnya diyakini hadir di tengah-tengah mereka ketika membaca syi’ir pujian kepadanya, padahal beliau telah wafat.

 

Lebih dari itu julukan-julukan yang berlebihan acap disandarkan kepada beliau seperti:أَنْتَ نُوْرٌ فَوْقَ نُوْرٍ

Engkau (Muhammad) adalah cahaya di atas cahaya,

 وَمِنْ جُوْدِكَ الدُّنْيَا وَضَرَّتُهَا      

 Dan dari kedermawananmu (adanya) dunia dan pasangannya,

وَمِنْ عِلْمِكَ عِلْمُ اللَّوْحِ وَالْقَلَمِ

 Dan termasuk dari ilmumu adalah ilmu Lauhul mahfudz dan pena.

 

Dan ucapan-ucapan ghuluw lainnya. Beliau tidak ridha dengan semua yang mereka ucapkan dan sangkakan kepadanya. Karena Allah ta’ala telah memerintahkan beliau untuk menyatakan:

 
قُلْ لاَ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَا شَاءَ اللهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوْءُ إَنَّ أَنَا إِلاَّ نَذِيْرٌ وَبَشِيْرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُوْنَ.  الأعراف: 188

Katakanlah: “Aku tidak berkuasa memberikan kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula mampu menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku akan berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. (al-A’raaf: 188)

Keyakinan dan prinsip batil itu masih hidup di tengah-tengah umat. Inilah yang kita katakan dengan golongan ahlul ifrath atau ahlul ghuluw (golongan yang melampaui batas). Sebaliknya bagi golongan ahlut tafrith, mereka menjatuhkan martabat beliau dan merendahkannya dengan menolak sunnah-sunnahnya secara total seperti yang terjadi pada para pengingkar sunnah yang dikenal dengan istilah aliran ingkarus sunnah atau qur’aniyun. Mereka ini dikafirkan oleh para ulama dan dihukumi sebagai murtad (keluar dari agama Islam) dikarenakan kalimat syahadat yang diyakininya hanya sebatas لاَ إِلَهَ إِلَّا الله sehingga membatalkan persaksiannya terhadap kalimat مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله dengan pengingkarannya terhadap sunnah-sunnah Nabinya.


Mereka para pengingkar sunnah itu diancam oleh Allah dengan ancaman yang berat. Allah ancam mereka dengan Jahannam dan kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَإِنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِيْنَ فِيْهَا آبَدًا ...... الجن: 23

…Dan barang siapa yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. (al-Jin: 23)

Allah ancam mereka dengan kesesatan di dunia dan azab neraka di akhirat, Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَسُوْلَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَآئَتْ مَصِيْرًا.  الجن: 23
… Dan barang siapa yang menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (an-Nisa’: 115)

Serta diancam dengan fitnah kesesatan dan kekufuran. Sebagaimana firman Allah:

لَا تَجْعَلُوْا دُعَاۤءَ الرَّسُوْلِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاۤءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًاۗ قَدْ يَعْلَمُ اللّٰهُ الَّذِيْنَ يَتَسَلَّلُوْنَ مِنْكُمْ لِوَاذًاۚ فَلْيَحْذَرِ الَّذِيْنَ يُخَالِفُوْنَ عَنْ اَمْرِهٖٓ اَنْ تُصِيْبَهُمْ فِتْنَةٌ اَوْ يُصِيْبَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

Maka hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (An Nuur: 63)

Demikian pula bagi mereka yang menolak sebagiannya seperti yang terjadi pada ahlul bid’ah dari kalangan Mu’tazilah, kaum rasionalis, Islam liberal dan sejenisnya. Mereka adalah golongan sesat yang diancam oleh Rasulullah dengan neraka. Inilah yang dikatakan dengan ahlut tafrith wal jafa’. Mereka merendahkan Rasulullah dan menganggapnya hanya sebagai seorang pengantar surat yang mana mereka menerima suratnya yaitu Al Qur’an, menurut mereka dan tidak ada kaitannya dengan pengantarnya.

Dua golongan tersebut di atas terbantah dengan makna yang terkandung dalam kalimat syahadat مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه. Dan golongan tersebut bertentangan dengan syahadat مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه. Ahlul ifrath menentang kehambaan beliau yang terkandung dalam مُحَمَّدًا عَبْدُه dan ahlut tafrith menentang kerasulan beliau yang terkandung dalam kalimat مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله.

Kesimpulan dari pembahasan kali ini adalah bahwa syahadat مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ memberikan konsekuensi kepada kita yaitu keharusan bagi kita untuk mentaati segala apa yang diperintahkan-Nya, membenarkan segenap apa yang dikabarkannya, meninggalkan segala yang dilarang dan dicelanya dan kita tidaklah beribadah kepada Allah kecuali dengan syariat yang telah disampaikan oleh Rasulullah kepada kita serta mendahulukan sunnah beliau di atas segenap ucapan manusia tanpa terkecuali siapapun ia orangnya.

Ya Allah, rahmatilah Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau merahmati Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berkahilah Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau memberkahi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.



Penjelasan Rasmul Bayan:

 

1.     Basyariyah  (manusia).

Penjelasan:

Rasul sebagai manusia biasa seperti kita semua.  Perbedaannya adalah Allah memberikan wahyu untuk disampaikan kepada orang lain.  Kenapa Allah swt perlu menegaskan bahwa Rasul itu manusia biasa.  Dengan penegasan ini maka dapat disimpulkan bahwa Rasul dari golongan kita juga, dari manusia yang seperti kita juga misalnya makan, minum, tidur, beristeri, bekerja, belajar, penat, dan sifat-sifat kemanusiaan lainnya.  Perbedaannya hanyalah terletak kepada amanah yang Allah berikan kepada Rasul yaitu wahyu.  Meyakini betul bahwa Rasul seperti kita maka tidak ada alasan bagi kita untuk menolak perintah Rasul, tidak ada alasan tidak mampu, tidak boleh dan sebagainya.  Juga tidak boleh beri alasan anak, isteri, sibuk bekerja dan sebagainya karena Rasul juga mempunyai tanggung jawab demikian juga terhadap anak, isteri dan sebagainya.

Dalil:

·       Q. 14:11, Rasul sebagai manusia biasa.

قَالَتْ لَهُمْ رُسُلُهُمْ اِنْ نَّحْنُ اِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَمُنُّ عَلٰى مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖۗ وَمَا كَانَ لَنَآ اَنْ نَّأْتِيَكُمْ بِسُلْطٰنٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗوَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ ١١

11.  Rasul-Rasul mereka berkata kepada mereka: "Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. Dan Hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakkal.

2.     ‘Ismah  (terpelihara dari kesalahan).

Penjelasan:

Manusia biasa yang tidak mendapatkan wahyu mungkin melakukan kekhilafan dan kesalahan.  Tetapi bagi para Rasul yang diberi amanah untuk menyampaikan dakwah harus terpelihara dari kesalahan karena yang disampaikan adalah sesuatu yang berasal dari Allah swt.  Allah swt perlu memelihara aturan dan firman-Nya dari kesalahan.  Dengan sifat Rasul demikian yaitu dijaga oleh Allah swt maka apa yang dikeluarkan Nabi adalah benar dan kita perlu meyakininya.

Dalil:

·       Q. 5:67, Allah memelihara Rasul dari kejahatan manusia.

۞ يٰٓاَيُّهَا الرَّسُوْلُ بَلِّغْ مَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ ۗوَاِنْ لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسٰلَتَهٗ ۗوَاللّٰهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِيْنَ ٦٧

67.  Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia[430]. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.  

·       Q. 66:1, Allah pengampun lagi penyayang.

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَآ اَحَلَّ اللّٰهُ لَكَۚ تَبْتَغِيْ مَرْضَاتَ اَزْوَاجِكَۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

1.  Hai Nabi, Mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang[1485]

3.     Shidq  (benar).

Penjelasan:

Rasul-Rasul dan Muhammad saw mempunyai sifat shiddiq yang membawa kebenaran.  Orang yang membawa kebenaran tentunya ia sendiri bersifat shiddiq sehingga apa yang disampaikan dapat diterima.  Oleh karena itu, dengan sifat ini banyak masyarakat jahiliyah menerima Islam.  Sifat shidq berarti mengikuti Islam sebagai sumber kebenaran.  Tidak mengikuti Islam berarti mengikuti hawa nafsunya sehingga menjauhkan diri dari kebenaran.

Dalil:

·       Q. 39:33, Muhammad saw membawa kebenaran.

وَالَّذِيْ جَاۤءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهٖٓ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ ٣٣

33.  Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka Itulah orang-orang yang bertaqwa.

·       Q. 53:3-4, Tiadalah ia berbicara menurut hawa nafsunya.

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰى ٣ اِنْ هُوَ اِلَّا وَحْيٌ يُّوْحٰىۙ ٤

3.  Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya.

4.  Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).

4.     Fathanah  (cerdas).

Penjelasan:

Kecerdasan Rasulullah dapat dilihat bagaimana Rasul menyusun dakwah dan strategi-strategi seperti berperang, berdakwah ke tempat lain dan sebagainya.  Di antara kecerdasan Rasul adalah mempunyai pandangan bahwa Islam akan menaklukkan Makkah dan menaklukkan Khaibar.  Rasul menggambarkan pada saat tersebut umat Islam masuk ke Masjidil Haram dengan aman sentosa, serta bercukur dan menggunting rambut kepala tanpa sedikitpun.  Kecerdasan Rasul dalam memperkirakan kekuatan Umat Islam dan kelemahan pihak lawan juga dibuktikan di dalam peperangan lainnya.

Dalil:

·       Hadits.

·       Q. 48:27, pandangan Nabi terhadap kemenangan Islam.

29.  Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud[1406]. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.

5.     Amanah.

Penjelasan:

Sifat lainnya adalah Amanah.  Amanah secara umum berarti bertanggung jawab terhadap apa yang dibawanya, menepati janji, melaksanakan perintah, menunaikan keadilan, memberikan hukum yang sesuai dan dapat menjalankan sesuatu yang disepakatinya.  Sifat demikian dimiliki oleh para Rasul dan kita harus mengikutinya.  Sifat ini sangatlah diperlukan dalam kehidupan kita, tidak hanya dalam segi ibadah khusus tetapi secara umum seperti bekerja, belajar dan berhubungan dengan orang lain.  Bos di tempat kita bekerja akan menyenangi kita yang mempunyai sifat amanah ini bahkan dengan sifat ini kita akan berjaya dan berprestasi.

Dalil:

·       Q. 4:58, Allah menyuruhmu supaya menunaikan amanah.

۞ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًاۢ بَصِيْرًا ٥٨

58.  Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.

6.     Tabligh  (menyampaikan).

Penjelasan:

Sebuah rahasia kenapa Islam tersebar dengan cepat ke seluruh pelosok tempat dan bagaimana pula dengan cepatnya perubahan-perubahan di tengah masyarakat.  Kenapa jumlah bilangan pengikut Islam semakin hari semakin banyak dan semakin banyak yang menyokongnya.  Jawabannya adalah sifat tabligh dimiliki oleh Rasul dan pengikutnya.  Setiap muslim merasakan bahwa dakwah atau menyampaikan Islam sebagai suatu kewajiban yang perlu dilaksanakan dimana saja dan bila masa saja.  Artinya dalam keadaan bagaimanapun, umat Islam senantiasa menyampaikan risalah ini kepada siapa saja yang menerimanya.

Dalil:

·       Q. 5:67, Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadanya.

7.     Iltizam  (komitmen).

Penjelasan:

Rasulullah saw beserta Rasul-Nya sangatlah dikenal dengan komitmennya dengan Islam dan apa yang dibawanya.  Beliau tahan dan tidak merasa takut sedikitpun menghadapi cobaan dan tantangan dari orang-orang jahiliyah.  Rasul selalu komitmen dan dapat menghadapi cobaan dengan baik.  Sifat iltizam ini perlu dipupuk pada diri kita karena dengan sifat inilah, nilai-nilai Islam pada diri kita menjadi terpelihara dengan baik.  Tanpa iltizam maka godaan syaitan dan gangguan orang kafir menjadi terasa pada kita dan perubahan berlaku bahkan menjadi futur dan sesat.  Naudzubillah.  Kemenangan bersama-sama dengan sifat iltizam ini.

Dalil:

·       Q. 17:74, kalau sekiranya tiadalah kami tetapkan komitmen engkau, sesungguhnya hampir engkau condong sedikit kepada mereka itu.

وَلَوْلَآ اَنْ ثَبَّتْنٰكَ لَقَدْ كِدْتَّ تَرْكَنُ اِلَيْهِمْ شَيْـًٔا قَلِيْلًا ۙ ٧٤

74.  Dan kalau kami tidak memperkuat (hati) mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka,

·       Q. 68:1-8, menggambarkan bagaimana Muhammad saw disebut gila karena ia tetap komitmen dengan Islam, tahan dari cobaan kesesatan dan tidak mengikuti orang yang mendustakan agama Allah.

نۤ ۚوَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُوْنَۙ ١ مَآ اَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُوْنٍ ٢ وَاِنَّ لَكَ لَاَجْرًا غَيْرَ مَمْنُوْنٍۚ ٣ وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ ٤ فَسَتُبْصِرُ وَيُبْصِرُوْنَۙ ٥ بِاَيِّىكُمُ الْمَفْتُوْنُ ٦ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖۖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ ٧ فَلَا تُطِعِ الْمُكَذِّبِيْنَ ٨

1.  Nun[1489], demi kalam dan apa yang mereka tulis,

2.  Berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila.

3.  Dan Sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya.

4.  Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.

5.  Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat,

6.  Siapa di antara kamu yang gila.

7.  Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang paling mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah yang paling mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

8.  Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah).

8.     Khuluqun Azim  (akhlaq yang mulia).

Penjelasan:

Sifat-sifat yang dimiliki oleh para Rasul menggambarkan akhlaq yang mulia.  Akhlaq mulia berarti akhlaq yang tinggi kemudian untuk mencapainya perlu proses dan latihan.  Tidak semua manusia bisa mencapai akhlaq ini kecuali mereka yang mengikuti tarbiyah Islamiyah.  Seseorang yang memiliki akhlaq mulia akan disenangi oleh masyarakat disekitarnya, mereka menerima dan menyambut individu yang berakhlaq mulia.  Sunnah dakwah memperlihatkan bahwa kebencian pihak Jahiliyah karena aqidah yang dibawa umat Islam bukan karena akhlaqnya.  Mereka menerima akhlaq Islam karena tidak merugikannya bahkan menguntungkannya.

Dalil:

·       Q. 68:4, Sesungguhnya engkau (ya Muhammad) mempunyai akhlaq yang mulia.

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ ٤

4.  Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.

9.     Akhlaq Qur’an.

Penjelasan:

Akhlaq mulia adalah juga akhlaq Al-Qur’an.  Berarti akhlaq Rasul adalah amalan dan tingkah laku yang sesuai dengan Al-Qur’an atau yang diarahkan oleh Al-Qur’an.  Jadi untuk mendapati akhlaq mulia seperti yang dimiliki Rasul maka harus mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-harinya.  Al-Qur’an berjalan adalah akhlaq Rasul.

Dalil:

·       Hadits, bertanya kepada Aisyah RA, “Bagaimanakah akhlaq Rasulullah ?

·        Jawabannya adalah khuluquhu Al-Qur’an”.      كان خلقه القران

10.  Uswatun Hasanah  (teladan yang baik).

Penjelasan:

Pada diri Rasul Muhammad saw terdapat contoh yang baik yaitu akhlaq yang mulia yang digambarkan oleh Allah swt.  Sebagai contoh yang nyata bagaimana menjadi muslim yang berakhlaq mulia dan bagaimana Al-Qur’an tertanam dalam diri kita maka ikutilah Nabi Muhammad saw.  Mereka yang mengikuti Nabi ini adalah mereka yang mengharapkan rahmat Allah dan hari kemudian, serta ia banyak mengingat Allah.

Dalil:

·       Q. 33:21, Sesungguhnya pada Rasul Allah (Muhammad) ada ikutan yang baik bagimu.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ ٢١

21.  Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

 

 



 

No comments:

Post a Comment