Mukadimah
Setelah kita memahami makna syahadat لَا إِلَهَ إِلَّا الله yang mengandung
konsekuensi keikhlasan dalam beribadah hanya kepada Allah maka kita bahas pada
edisi kali ini tentang syahadat yang kedua yaitu مُحَمَّدًاً رَسُوْلُ ا
لله. Di dalam riwayat lain disebutkan dengan kalimat yang lebih
lengkap :
وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
“Bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya” (HR. Bukhari
dan Muslim dari Ubadah bin As-Shamit)
Yakni persaksian yang diberikan kepada Nabi Muhammad
bin Abdullah bin Abdul Muthalib yang berasal dari Bani Hasyim dari Quraisy dari
kalangan Arab dengan dua sifat besar dan mulia yaitu Al-Ubudiyah (kehambaan
khusus) dan Ar-Risalah (kerasulan).
Sifat kehambaan ialah meyakini bahwa beliau adalah
seorang hamba Allah yang diciptakan–Nya, milik Allah; yang berarti tidak
memiliki sifat ketuhanan, rububiyah atau uluhiyah. Tidak pula memiliki sifat
yang menyerupai sifat-sifat Allah. Di mana beliau tidak bisa menolak takdir, mengabulkan
doa, atau menentukan siapa yang mendapatkan hidayah dan siapa yang tidak, demikian
seterusnya.
Mengenal Rasul perlu mengenal sifat-sifatnya. Bagian
tingkah laku, kepribadian, dan penampilan diwarnai oleh sifat seseorang. Begitupun Nabi Muhammad saw dapat digambarkan melalui
sifat-sifatnya. Mengetahui sifat-sifat ini diharapkan kita menyadari siapa
sebenarnya Rasul dan kemudian kita dapat mengikutinya. Sifat Nabi seperti manusia biasa yang sempurna
dapat diikuti oleh kita, karena tingkah laku atau perbuatannya seperti yang dilaksanakan manusia maka kitapun pasti
dapat mengikutinya.
Kemudian kita semakin percaya
kepada apa-apa yang dibicarakan atau disampaikan Rasul adalah yang benar karena
sifat beliau yang ‘ismah (terpelihara dari kesalahan), selain itu beliau adalah
orang yang cerdas, berarti apa yang dibawanya adalah hasil dari pemikiran dan
analisa yang mendalam, tepat dan baik.
Sifat amanah adalah juga sifat
asas yang setiap manusia pasti menyenangi berkawan dengan mereka yang amanah, kita
sebagai muslim perlu mengikuti sifat ini dengan sempurna begitupun dengan sifat
lainnya seperti tabligh dan iltizam. Sifat-sifat ini menggambarkan akhlaq mulia
yang diwarnai oleh akhlaq Al-Qur’an dan sangatlah sesuai dijadikan sebagai
contoh yang baik bagi kita.
Kesempurnaan Jiwa dan
Kemuliaan Akhlaq Rasulullah saw.
Nabi
saw lain daripada yang lain karena kefasihan bicaranya, kejelasan ucapannya, yang
selalu disampaikan pada kesempatan yang paling tepat dan di tempat yang tidak
sulit diketahui, lancar, jernih kata-katanya, jelas pengucapan dan maknanya, sedikit
ditahan, disisipi kata-kata yang luas maknanya, mengkhususkan pada
penekanan-penekanan hukum, mengetahui logat-logat bangsa Arab, berbicara dengan
setiap kabilah Arab menurut logat masing-masing, berdialog dengan mereka
menurut bahasa masing-masing, ada kekuatan pola bahasa Badui yang cadas
berhimpun pada dirinya, begitu pula kejernihan dan kejelasan cara bicara orang
yang sudah beradab, berkat kekuatan yang datang dari Ilahi dan dilantarkan
lewat wahyu.
Beliau
adalah orang yang lembut, murah hati, mampu menguasai diri, suka memaafkan saat
memegang kekuasaan dan sabar saat ditekan. Ini semua merupakan sifat-sifat yang
diajarkan Allah.
Orang
yang murah hati bisa saja tergelincir dan terperosok. Tapi sekian banyak
gangguan yang tertuju kepada beliau justru menambahkan kesabaran beliau. Tingkah
polah orang-orang bodoh yang berlebih-lebihan justru menambah kemurahan hati
beliau. Aisyah berkata, “Jika Rasulullah saw harus memilih di antara dua
perkara, tentu beliau memilih yang paling mudah di antara keduanya, selagi itu
bukan suatu dosa. Jika suatu dosa, maka beliau adalah orang yang paling menjauh
darinya. Beliau tidak membalas untuk dirinya sendiri kecuali jika ada
pelanggaran terhadap kehormatan Allah, lalu dia membalas karena Allah. Beliau
adalah orang yang paling tidak mudah marah dan paling cepat ridha.”
Di
antara sifat kemurahan hati dan kedermawanan beliau yang sulit digambarkan, bahwa
beliau memberikan apapun dan tidak takut menjadi miskin. Ibnu Abbas berkata, “Nabi
saw adalah orang yang paling murah hati. Kemurahan hati beliau yang paling menonjol
adalah pada bulan Ramadhan saat dihampiri Jibril. Jibril menghampiri beliau
setiap malam pada bulan Ramadhan, untuk mengajarkan Al Qur’an pada beliau. Beliau
benar-benar orang yang lebih murah hati untuk hal-hal yang baik daripada angin
yang berhembus.”
Jabir
berkata, “Tidak pernah beliau dimintai sesuatu, lalu menjawab, ‘Tidak’.”
Keterangan-keterangan ini disebutkan di
dalam Shahih Al-Bukhary, 1/502-503
Rasulullah
saw memiliki keberanian, patriotisme, dan kekuatan yang sulit diukur. Beliau
adalah orang yang paling pemberani, mendatangi tempat-tempat yang sulit. Berapa
banyak para pemberani dan patriot yang justru lari dari hadapan beliau. Beliau
adalah orang yang tegar dan tidak bisa diusik, terus maju dan tidak mundur
serta tidak gentar. Siapa pun
orang pemberani tentu akan lari menghindar dari hadapan beliau. Ali berkata, “Jika
kami sedang dikepung kekuatan dan bahaya, maka kami berlindung kepada Rasulullah
saw. Tak seorang pun yang lebih dekat jaraknya dengan musuh selain beliau.”
Asy-Syifa’,
Al-Qadhy Iyadh, 1/89
Anas
berkata, “Suatu malam penduduk Madinah dikejutkan oleh sebuah suara. Lalu
orang-orang semburat menuju ke sumber suara tersebut. Mereka bertemu Rasulullah
saw yang sudah kembali dari sumber suara itu. Beliau lebih dahulu datng ke sana
daripada mereka. Saat itu beliau menunggang kuda milik Abu Thalhah dan di leher
beliau ada pedang. Belia bersabda, Kalian tidak usah gentar. Kalian tidak usah
gentar!'’
Nabi
saw adalah orang yang paling malu dan suka menundukkan mata. Abu Sa’id
Al-Khudry berkata, “Beliau adalah orang yang lebih pemalu daripada gadis di
tempat pingitannya. Jika
tidak menyukai sesuatu, maka bisa diketahui dari raut mukanya.” Shahih Al-Bukhary, 1/504
Beliau
tidak pernah lama memandang ke wajah seseorang, menundukkan pandangan, lebih
banyak memandang ke arah tanah daripada memandang ke langit, pandangannya jeli,
tidak berbicara langsung di hadapan seseorang yang membuatnya malu, tidak
menyebut nama seseorang secara jelas jika beliau mendengar sesuatu yang kurang
disenanginya, tetapi beliau bertanya “Mengapa orang-orang itu berbuat
begitu?”
Nabi
saw adalah orang yang paling adil, paling mampu menahan diri, paling jujur
perkataannya dan paling besar amanatnya. Orang yang mendebat dan bahkan musuh
beliau pun mengakui hal ini. Sebelum nubuwah beliau sudah dijukuki Al-Amin
(orang yang terpercaya). Sebelum Islam dan pada masa Jahiliyah beliau juga
ditunjuk sebagai hakim. At-Tirmidzy meriwayatkan dari Ali, bahwa Abu Jahal
pernah berkata kepada beliau, “Kami tidak mendustakan dirimu, tetapi kami
mendustakan apa yang engkau bawa.” Karena itu kemudian Allah menurunkan ayat tentang orang-orang yang
mendustakan itu,
“Mereka
sebenarnya bukan mendustakan kamu, tetapi orang-orang zhalim itu mengingkari
ayat-ayat Allah.” (Al-An’am:
33).
Heraklius
(kaisar Romawi) mengajukan pertanyaan kepada Abu Sufyan yang ketika itu masih
dalam kekafiran, “Apakah kalian menuduhnya dusta sebelum dia mengatakan apa
yang dia katakan?” Abu Sufyan menjawab, “Tidak.”
Nabi
saw adalah orang yang paling tawadhu’ dan paling jauh dari sifat
sombong. Beliau tidak menginginkan orang-orang berdiri saat menyambut
kedatangannya seperti yang dilakukan terhadap para raja. Beliau biasa menjenguk
orang sakit, duduk-duduk bersama orang miskin, memenuhi undangan hamba sahaya, duduk
di tengah para sahabat, sama seperti keadaan mereka. Aisyah berkata, “Beliau
biasa menambal terompahnya, menjahit bajunya, melaksanakan pekerjaan dengan
tangannya sendiri, seperti yang dilakukan salah seorang di antara kalian di
rumahnya. Beliau sama dengan orang lain, mencuci pakaiannya, memerah air susu
dombanya dan membereskan urusannya sendiri.” Misykatul-Mashabih, 2/520
Dalam
sebuah perjalanan beliau memerintahkan untuk menyembelih seekor domba. Seseorang
berkata, “Akulah yang akan menyembelihnya.”
Yang
lain berkata, “Akulah yang akan mengulitinya.”Yang lain lagi berkata, “Akulah
yang akan memasaknya.”Lalu beliau bersabda, “Akulah yang akan
mengumpulkan kayu bakarnya.”Mereka berkata, “Kami akan mencukupkan bagi
engkau.”Beliau bersabda, “Aku sudah tahu kalian akan mencukupkan bagiku.
Tapi aku tidak suka berbeda dari kalian. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
hamba-Nya yang berbeda di tengah rekan-rekannya.” Setelah itu beliau
bangkit lalu mengumpulkan kayu bakar. Khulashatus-Sair, 22
Kita
berikan kesempatan kepada Hindun bin Abu Halah untuk menggambarkan sifat-sifat
Rasulullah saw. Dia berkata, “Rasulullah saw seperti tampak berduka, terus-menerus
berpikir, tidak punya waktu untuk istirahat, tidak bicara jika tidak perlu, lebih
banyak diam, memulai dan mengakhiri perkataan dengan seluruh bagian mulutnya
dan tidak dengan ujung-ujungnya saja, berbicara dengan menggunakan kata-kata
yang luas maknanya, terinci tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit, dengan
nada yang sedang-sedang, mengagungkan nikmat sekalipun kecil, tidak mencela
sesuatu, tidak pernah mencela rasa makanan dan tidak terlalu memujinya, tidak
terpancing untuk cepat-cepat marah jika ada sesuatu yang bertentangan dengan
kebenaran, tidak marah untuk kepentingan dirinya, lapang dada, jika memberi
isyarat beliau memberi isyarat dengan seluruh telapak tangannya, jika sedang
marah beliau berpaling dan tampak semakin tua, jika sedang gembira beliau
menundukkan padangan matanya. Tawanya cukup dengan senyuman, yang senyumannya
mirip dengan butir-butir salju. Beliau senantiasa gembira, murah hati, lemah
lembut, tidak kaku dan keras, tidak suka mengutuk, tidak berkata keji, tidak
suka mencela, tidak obral memuji, pura-pura lalai terhadap sesuatu yang tidak
menarik dan tidak tunduk kepadanya, meninggalkan tiga perkara dari dirinya:
Riya’, banyak bicara dan membicarakan sesuatu yang tidak perlu. Beliau
meninggalkan manusia dari tiga perkara: Tidak mencela seseorang, tidak
menghinanya, dan tidak mencari-cari kesalahannya.” Asy-Syifa’, Al-Qadhy
Iyadh, 1/121-126
Kharijah
bin Zaid berkata, “Nabi saw adalah orang yang paling mulia di dalam majelisnya,
hampir tak ada yang keluar dari pinggir bibirnya. Beliau lebih
banyak diam, tidak berbicara yang tidak diperlukan, berpaling dari orang yang
berbicara dengan cara yang tidak baik. Tawanya berupa senyuman, perkataannya
rinci, tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit. Para sahabat tertawa jika beliau tersenyum, karena
mereka hormat dan mengikuti beliau.”
Rasulullah
saw adalah gudangnya sifat-sifat kesempurnaan yang sulit dicari bandingannya. Allah
membimbing dan membaguskan bimbingan-Nya, sampai-sampai Allah berfirman
terhadap beliau seraya memuji beliau,
“Dan
sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Al-Qalam: 4)
Sifat-sifat
yang sudah disebutkan di sini hanya sebagian kecil dari gambaran kesempurnaan
dan keagungan sifat-sifat beliau. Hakikat sebenarnya yang menggambarkan sifat
dan ciri-ciri beliau adalah sesuatu yang tidak bisa diketahui secara persis
hingga sedetail-detailnya. Adakah orang yang mengaku bisa mengetahui hakikat
diri manusia yang paling sempurna dan mendapat cahaya Rabb-nya, hingga akhlaqnya
pun adalah Al-Qur’an?
Sifat kerasulan menunjukan bahwa
beliau benar-benar seorang rasul; utusan Allah yang dipilih dari
hamba-hamba-Nya. Beliau adalah manusia terbaik, manusia
pilihan, seseorang yang tepercaya dan menjadi kepercayaan Allah. Dengan
penetapan sifat kerasulan bagi beliau ini, mengandung konsekuensi-konsekuensi
sebagai berikut:
1. Kita harus memuliakan dan
mengutamakan beliau di atas seluruh manusia.
Menghormati
beliau beserta segenap syariat yang dibawanya di atas seluruh syariat lainnya. Hal
itu semua tidak akan terwujud kecuali dengan mengamalkan syariatnya dan
mencintainya di atas kecintaan terhadap diri sendiri. Allah berfirman:
إِنَّآ أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا
وَمُبَشِّرًا وَنَذِيْرًا لِتُؤْمِنُوا بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ وَتُعَزِّرُوْهُ
وَتُوَقِّرُوْهُ]…الفتح: 8-9[
Sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pembawa
berita gembira dan pemberi peringatan, supaya kamu sekalian beriman kepada
Allah dan Rasul-Nya, mengagungkan dan memuliakannya serta menghormatinya… (al-Fath:
8-9)
2.
Mendahulukan ucapannya di atas seluruh ucapan manusia
tanpa terkecuali dan beramal dengan sunnah-sunnahnya.
Allah ta’ala berfirman:
يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ
تُقَدِّمُوْا بَيْنَ يَدَيِ
اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاتَّقُوا اللهَ
إِنَّ اللهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ].
الحجرات: 1
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (al-Hujurat: 1)
3. Mentaati
perintahnya dan menjauhi larangannya.
Allah ta’ala berfirman:
يَآ
أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا أَطِيْعُوا اللهَ وَأَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ] …ا لنساء: 59[
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan
taatilah Rasul-Nya. (an-Nisa’: 59)
Dan dalam ayat lain Allah berfirman:
وَمَآ
ءَاتَاَكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْا]… الحشر: 7[
Apa yang ditetapkan Rasul kepadamu, maka terimalah
dia. Dan apa yang dilarang bagimu, maka tinggalkanlah. (al-Hasyr: 7)
4. Menjadikannya
sebagai suri tauladan dalam semua sisi kehidupan kita.
Yaitu dengan menjadikan sunnahnya sebagai sumber hukum
yang tidak dapat dipisahkan dengan Al Qur’an. Allah ta’ala berfirman:
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah
itu suri tauladan yang baik bagimu; bagi orang yang mengharap (rahmat) dan hari
kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
(al-Ahzab: 21)
Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak
beriman hingga mereka menjadikanmu sebagai hakim dalam perkara yang mereka
perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka
terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (an-Nisa’:
65)
Dengan dua sifat Rasulullah yakni sebagai Rasul dan
hamba Allah swt ini tertutuplah dua
pintu kesesatan dan penyimpangan dari golongan yang berlebih-lebihan (al ifrath)
dan golongan yang bermudah-mudahan (at-tafrith).
Golongan al ifrath adalah mereka yang melampaui batas
dalam memuji dan mengangkat Rasulullah sehingga menyamakan derajatnya dengan
Allah atau memberikan sifat-sifat yang sesungguhnya hanya layak bagi Allah
semata atau mendudukkannya seperti kedudukan Allah.
Mereka yang berlebih-lebihan dalam memuji Rasulullah
telah menyerupai Nasrani ketika menuhankan nabi Isa ‘alaihis salam, Rasulullah
pun memperingatkan umatnya agar jangan seperti mereka. Rasulullah bersabda:
لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ
وَرَسُوْلُهُ. (متفق عليه(
Janganlah kalian memuji aku secara berlebihan
sebagaimana Nasrani memuji Isa bin Maryam, aku hanyalah seorang hamba maka katakanlah:
“Hamba Allah dan Rasul-Nya”. (HR. Bukhari Muslim)
Rasulullah
tidak berkenan dipuji secara berlebihan dan melampaui batas sebagaimana umat Nasrani
melakukannya kepada Isa bin Maryam. Sedemikian berlebihannya mereka dalam
memuji Nabi Isa hingga mereka memberikan derajat ketuhanan kepadanya. Rasulullah
tidak menghendaki hal itu terjadi pada dirinya dan dilakukan oleh umatnya.
Dalam
suatu riwayat disebutkan: “Ketika sekelompok orang datang kepada Rasulullah
sambil mengatakan: “Engkau adalah Yang paling Agung dan Mulia yang tiada
tandingannya”. Maka beliau berkata: “Berkatalah kalian tapi jangan dirasuki
setan”. (HR Abu Daud)
Sebagian lagi ada yang berkata: “Ya Rasulullah engkau yang paling baik, anak
orang yang paling baik dan Sayyid kami, anak dari Sayyid kami”. Beliau
menjawab: “As-Sayyid adalah Allah”, dan bersabda:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قُوْلُوْا
بِقَوْلِكَمْ وَلاَ
يَسْتَهْوِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ،
أَنَا مُحَمَّدٌ عَبْدُ اللهِ
وَرَسُوْلُهُ، مَا أَحَبُّ أَنْ
تَرْفَعُوْنِي فَوْقَ مَنْزِلَتِيْ
الَّتِيْ أَنْزَلَنِيَ اللهُ عَزَّ
وَجَلَّ. (رواه أحمد والنسائي(
Wahai segenap manusia berkatalah kalian dengan perkataanmu dan janganlah
kalian dikuasai hawa nafsu setan, aku adalah Muhammad hamba Allah dan Rasul-Nya.
Aku tidak suka jika kalian meninggikan kedudukanku di atas kedudukan yang telah
Allah tempatkan bagiku. (HR. Ahmad dan Nasa’i)
Perbedaan
mereka dengan kaum Nasrani adalah bahwa jika kaum Nasrani menyatakan dengan
tegas Isa adalah Tuhan-Nya, titisan Tuhan, atau anak Tuhan sesuai dengan
perselisihan yang ada pada mereka. Adapun mereka yang ghuluw (berlebih-lebihan)
terhadap Rasulullah tidak mengucapkan lafadz-lafadz seperti Nasrani, tetapi
mereka mengungkapkannya dalam bentuk perbuatan yaitu: berdoa kepadanya, menganggapnya
ikut menakdirkan sesuatu bersama Allah, dapat menentukan manfaat dan madharat, menentukan
kebahagiaan dan kesengsaraan dan lain-lain.
Bahkan
mereka memberikan sifat-sifat yang sesungguhnya hanya layak bagi Allah seperti:
عَالِمُ الغَيْبِ (mengetahui yang
ghaib), pemberi jalan keluar dari kesulitan-kesulitan, penolong hamba yang
berada dalam kesusahan di manapun ia berada, ruhnya diyakini hadir di
tengah-tengah mereka ketika membaca syi’ir pujian kepadanya, padahal beliau
telah wafat.
Lebih dari itu julukan-julukan yang berlebihan acap
disandarkan kepada beliau seperti:أَنْتَ نُوْرٌ فَوْقَ نُوْرٍ
Engkau
(Muhammad) adalah cahaya di atas cahaya,
وَمِنْ جُوْدِكَ الدُّنْيَا وَضَرَّتُهَا
Dan
dari kedermawananmu (adanya) dunia dan pasangannya,
وَمِنْ عِلْمِكَ عِلْمُ اللَّوْحِ
وَالْقَلَمِ
Dan termasuk dari ilmumu adalah ilmu Lauhul mahfudz
dan pena.
Dan
ucapan-ucapan ghuluw lainnya. Beliau tidak ridha dengan semua yang mereka ucapkan dan
sangkakan kepadanya. Karena Allah ta’ala telah
memerintahkan beliau untuk menyatakan:
قُلْ لاَ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا
وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَا شَاءَ
اللهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ
الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوْءُ إَنَّ أَنَا إِلاَّ نَذِيْرٌ
وَبَشِيْرٌ
لِقَوْمٍ يُؤْمِنُوْنَ. الأعراف: 188
Katakanlah: “Aku tidak berkuasa memberikan
kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula mampu menolak kemudharatan kecuali yang
dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku akan
berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku
tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi
orang-orang yang beriman”. (al-A’raaf: 188)
Keyakinan
dan prinsip batil itu masih hidup di tengah-tengah umat. Inilah yang kita
katakan dengan golongan ahlul ifrath atau ahlul ghuluw (golongan yang melampaui
batas). Sebaliknya bagi golongan ahlut tafrith, mereka menjatuhkan martabat
beliau dan merendahkannya dengan menolak sunnah-sunnahnya secara total seperti
yang terjadi pada para pengingkar sunnah yang dikenal dengan istilah aliran
ingkarus sunnah atau qur’aniyun. Mereka ini dikafirkan oleh para ulama dan
dihukumi sebagai murtad (keluar dari agama Islam) dikarenakan kalimat syahadat
yang diyakininya hanya sebatas لاَ إِلَهَ إِلَّا الله
sehingga membatalkan persaksiannya terhadap kalimat مُحَمَّدًا
رَسُوْلُ الله dengan pengingkarannya terhadap sunnah-sunnah Nabinya.
Mereka para pengingkar sunnah itu diancam oleh Allah dengan ancaman yang berat.
Allah ancam mereka dengan Jahannam dan kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah
ta’ala berfirman:
وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ
فَإِنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِيْنَ فِيْهَا آبَدًا ...... الجن: 23
…Dan barang siapa yang bermaksiat kepada Allah dan
Rasul-Nya, maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal di
dalamnya selama-lamanya. (al-Jin: 23)
Allah
ancam mereka dengan kesesatan di dunia dan azab neraka di akhirat, Allah ta’ala
berfirman:
…وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَسُوْلَ مِنْ
بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ
الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ
الْمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهِ مَا
تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ
وَسَآئَتْ مَصِيْرًا.
الجن: 23
… Dan barang siapa yang menentang
Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan
orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah
dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu
seburuk-buruk tempat kembali. (an-Nisa’: 115)
Serta
diancam dengan fitnah kesesatan dan kekufuran. Sebagaimana firman Allah:
لَا تَجْعَلُوْا دُعَاۤءَ الرَّسُوْلِ بَيْنَكُمْ
كَدُعَاۤءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًاۗ قَدْ يَعْلَمُ اللّٰهُ الَّذِيْنَ يَتَسَلَّلُوْنَ
مِنْكُمْ لِوَاذًاۚ فَلْيَحْذَرِ الَّذِيْنَ يُخَالِفُوْنَ عَنْ اَمْرِهٖٓ اَنْ تُصِيْبَهُمْ
فِتْنَةٌ اَوْ يُصِيْبَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ
Maka hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintah
Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (An Nuur:
63)
Demikian pula bagi mereka yang menolak sebagiannya
seperti yang terjadi pada ahlul bid’ah dari kalangan Mu’tazilah, kaum
rasionalis, Islam liberal dan sejenisnya. Mereka adalah golongan sesat yang
diancam oleh Rasulullah dengan neraka. Inilah yang dikatakan dengan ahlut
tafrith wal jafa’. Mereka merendahkan Rasulullah dan menganggapnya hanya
sebagai seorang pengantar
Dua golongan tersebut di atas terbantah dengan makna
yang terkandung dalam kalimat syahadat مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه. Dan golongan tersebut bertentangan dengan
syahadat مُحَمَّداً
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه. Ahlul
ifrath menentang kehambaan beliau yang terkandung dalam مُحَمَّدًا عَبْدُه dan ahlut tafrith menentang kerasulan
beliau yang terkandung dalam kalimat مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله.
Kesimpulan
dari pembahasan kali ini adalah bahwa syahadat مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ memberikan konsekuensi kepada kita yaitu keharusan
bagi kita untuk mentaati segala apa yang diperintahkan-Nya, membenarkan segenap
apa yang dikabarkannya, meninggalkan segala yang dilarang dan dicelanya dan
kita tidaklah beribadah kepada Allah kecuali dengan syariat yang telah
disampaikan oleh Rasulullah kepada kita serta mendahulukan sunnah beliau di
atas segenap ucapan manusia tanpa terkecuali siapapun ia orangnya.
Ya Allah, rahmatilah Muhammad dan keluarga
Muhammad, sebagaimana Engkau merahmati Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya
Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berkahilah Muhammad dan
keluarganya, sebagaimana Engkau memberkahi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya
Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.
Penjelasan
Rasmul Bayan:
1. Basyariyah
(manusia).
Penjelasan:
Rasul sebagai manusia biasa seperti kita
semua. Perbedaannya adalah Allah
memberikan wahyu untuk disampaikan kepada orang lain. Kenapa Allah swt perlu menegaskan bahwa Rasul
itu manusia biasa. Dengan penegasan ini
maka dapat disimpulkan bahwa Rasul dari golongan kita juga, dari manusia yang
seperti kita juga misalnya makan, minum, tidur, beristeri, bekerja, belajar, penat,
dan sifat-sifat kemanusiaan lainnya. Perbedaannya hanyalah terletak kepada amanah
yang Allah berikan kepada Rasul yaitu wahyu. Meyakini betul bahwa Rasul seperti kita maka
tidak ada alasan bagi kita untuk menolak perintah Rasul, tidak ada alasan tidak
mampu, tidak boleh dan sebagainya. Juga
tidak boleh beri alasan anak, isteri, sibuk bekerja dan sebagainya karena Rasul
juga mempunyai tanggung jawab demikian juga terhadap anak, isteri dan
sebagainya.
Dalil:
·
Q. 14:11, Rasul sebagai manusia biasa.
قَالَتْ لَهُمْ رُسُلُهُمْ اِنْ نَّحْنُ اِلَّا بَشَرٌ
مِّثْلُكُمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَمُنُّ عَلٰى مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖۗ
وَمَا كَانَ لَنَآ اَنْ نَّأْتِيَكُمْ بِسُلْطٰنٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ
ۗوَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ ١١
11. Rasul-Rasul mereka berkata kepada mereka:
"Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi
karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. dan tidak
patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin
Allah. Dan Hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakkal.
2. ‘Ismah
(terpelihara dari kesalahan).
Penjelasan:
Manusia biasa yang tidak mendapatkan wahyu
mungkin melakukan kekhilafan dan kesalahan. Tetapi bagi para Rasul yang diberi amanah
untuk menyampaikan dakwah harus terpelihara dari kesalahan karena yang
disampaikan adalah sesuatu yang berasal dari Allah swt. Allah swt perlu memelihara aturan dan
firman-Nya dari kesalahan. Dengan sifat
Rasul demikian yaitu dijaga oleh Allah swt maka apa yang dikeluarkan Nabi
adalah benar dan kita perlu meyakininya.
Dalil:
·
Q. 5:67, Allah memelihara Rasul dari kejahatan manusia.
۞ يٰٓاَيُّهَا الرَّسُوْلُ بَلِّغْ
مَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ ۗوَاِنْ لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ
رِسٰلَتَهٗ ۗوَاللّٰهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى
الْقَوْمَ الْكٰفِرِيْنَ ٦٧
67. Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan
kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu,
berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan)
manusia[430]. Sesungguhnya Allah tidak memberi
petunjuk kepada orang-orang yang kafir.
·
Q. 66:1, Allah pengampun lagi penyayang.
يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَآ اَحَلَّ
اللّٰهُ لَكَۚ تَبْتَغِيْ مَرْضَاتَ اَزْوَاجِكَۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
1. Hai Nabi, Mengapa kamu mengharamkan apa yang
Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? dan Allah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang[1485]
3. Shidq
(benar).
Penjelasan:
Rasul-Rasul dan Muhammad saw mempunyai
sifat shiddiq yang membawa kebenaran. Orang yang membawa kebenaran tentunya ia
sendiri bersifat shiddiq sehingga apa yang disampaikan dapat diterima. Oleh karena itu, dengan sifat ini banyak
masyarakat jahiliyah menerima Islam. Sifat shidq berarti mengikuti Islam sebagai
sumber kebenaran. Tidak mengikuti Islam
berarti mengikuti hawa nafsunya sehingga menjauhkan diri dari kebenaran.
Dalil:
· Q.
39:33, Muhammad saw membawa kebenaran.
وَالَّذِيْ
جَاۤءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهٖٓ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ ٣٣
33. Dan orang yang
membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka Itulah orang-orang yang
bertaqwa.
· Q.
53:3-4, Tiadalah ia berbicara menurut hawa nafsunya.
وَمَا
يَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰى ٣ اِنْ هُوَ اِلَّا وَحْيٌ يُّوْحٰىۙ ٤
3. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an)
menurut kemauan hawa nafsunya.
4.
Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu
yang diwahyukan (kepadanya).
4. Fathanah
(cerdas).
Penjelasan:
Kecerdasan Rasulullah dapat dilihat
bagaimana Rasul menyusun dakwah dan strategi-strategi seperti berperang, berdakwah
ke tempat lain dan sebagainya. Di antara
kecerdasan Rasul adalah mempunyai pandangan bahwa Islam akan menaklukkan Makkah
dan menaklukkan Khaibar. Rasul
menggambarkan pada saat tersebut umat Islam masuk ke Masjidil Haram dengan aman
sentosa, serta bercukur dan menggunting rambut kepala tanpa sedikitpun. Kecerdasan Rasul dalam memperkirakan kekuatan
Umat Islam dan kelemahan pihak lawan juga dibuktikan di dalam peperangan
lainnya.
Dalil:
· Hadits.
·
Q. 48:27, pandangan Nabi terhadap kemenangan Islam.
29. Muhammad itu
adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras
terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu lihat
mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda
mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud[1406]. Demikianlah sifat-sifat
mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman
yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu
menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan
hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang
kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka
ampunan dan pahala yang besar.
5. Amanah.
Penjelasan:
Sifat lainnya adalah Amanah. Amanah secara umum berarti bertanggung jawab
terhadap apa yang dibawanya, menepati janji, melaksanakan perintah, menunaikan
keadilan, memberikan hukum yang sesuai dan dapat menjalankan sesuatu yang
disepakatinya. Sifat demikian dimiliki oleh para Rasul dan kita harus mengikutinya. Sifat ini sangatlah diperlukan dalam kehidupan
kita, tidak hanya dalam segi ibadah khusus tetapi secara umum seperti bekerja, belajar
dan berhubungan dengan orang lain. Bos
di tempat kita bekerja akan menyenangi kita yang mempunyai sifat amanah ini
bahkan dengan sifat ini kita akan berjaya dan berprestasi.
Dalil:
·
Q. 4:58, Allah menyuruhmu supaya menunaikan amanah.
۞ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ
تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ
تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖ ۗ اِنَّ
اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًاۢ بَصِيْرًا ٥٨
58. Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan
amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan
hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah
memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha
mendengar lagi Maha Melihat.
6. Tabligh
(menyampaikan).
Penjelasan:
Sebuah rahasia kenapa Islam tersebar
dengan cepat ke seluruh pelosok tempat dan bagaimana pula dengan cepatnya
perubahan-perubahan di tengah masyarakat. Kenapa jumlah bilangan pengikut Islam semakin
hari semakin banyak dan semakin banyak yang menyokongnya. Jawabannya adalah sifat tabligh dimiliki oleh
Rasul dan pengikutnya. Setiap muslim
merasakan bahwa dakwah atau menyampaikan Islam sebagai suatu kewajiban yang
perlu dilaksanakan dimana saja dan bila masa saja. Artinya dalam keadaan bagaimanapun, umat Islam
senantiasa menyampaikan risalah ini kepada siapa saja yang menerimanya.
Dalil:
· Q.
5:67, Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadanya.
7. Iltizam
(komitmen).
Penjelasan:
Rasulullah saw beserta Rasul-Nya sangatlah
dikenal dengan komitmennya dengan Islam dan apa yang dibawanya. Beliau tahan dan tidak merasa takut sedikitpun
menghadapi cobaan dan tantangan dari orang-orang jahiliyah. Rasul selalu komitmen dan dapat menghadapi
cobaan dengan baik. Sifat iltizam ini
perlu dipupuk pada diri kita karena dengan sifat inilah, nilai-nilai Islam pada
diri kita menjadi terpelihara dengan baik. Tanpa iltizam maka godaan syaitan dan gangguan
orang kafir menjadi terasa pada kita dan perubahan berlaku bahkan menjadi futur
dan sesat. Naudzubillah. Kemenangan bersama-sama dengan sifat iltizam
ini.
Dalil:
· Q.
17:74, kalau sekiranya tiadalah kami tetapkan komitmen engkau, sesungguhnya
hampir engkau condong sedikit kepada mereka itu.
وَلَوْلَآ اَنْ ثَبَّتْنٰكَ لَقَدْ
كِدْتَّ تَرْكَنُ اِلَيْهِمْ شَيْـًٔا قَلِيْلًا ۙ ٧٤
74. Dan kalau kami tidak
memperkuat (hati) mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka,
· Q.
68:1-8, menggambarkan bagaimana Muhammad saw disebut gila karena ia tetap
komitmen dengan Islam, tahan dari cobaan kesesatan dan tidak mengikuti orang
yang mendustakan agama Allah.
نۤ
ۚوَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُوْنَۙ ١ مَآ اَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُوْنٍ
٢ وَاِنَّ لَكَ لَاَجْرًا غَيْرَ مَمْنُوْنٍۚ ٣ وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
٤ فَسَتُبْصِرُ وَيُبْصِرُوْنَۙ ٥ بِاَيِّىكُمُ الْمَفْتُوْنُ ٦ اِنَّ رَبَّكَ
هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖۖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ ٧
فَلَا تُطِعِ الْمُكَذِّبِيْنَ ٨
1. Nun[1489], demi kalam dan apa yang mereka
tulis,
2. Berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali
bukan orang gila.
3. Dan Sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala
yang besar yang tidak putus-putusnya.
4. Dan Sesungguhnya kamu benar-benar
berbudi pekerti yang agung.
5. Maka kelak kamu akan melihat dan
mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat,
6. Siapa di antara kamu yang gila.
7. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah
yang paling mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah yang paling
mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
8. Maka janganlah
kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah).
8.
Khuluqun Azim (akhlaq yang mulia).
Penjelasan:
Sifat-sifat
yang dimiliki oleh para Rasul menggambarkan akhlaq yang mulia. Akhlaq mulia berarti akhlaq yang tinggi
kemudian untuk mencapainya perlu proses dan latihan. Tidak semua manusia bisa mencapai akhlaq ini
kecuali mereka yang mengikuti tarbiyah Islamiyah. Seseorang yang memiliki akhlaq mulia akan
disenangi oleh masyarakat disekitarnya, mereka menerima dan menyambut individu
yang berakhlaq mulia. Sunnah dakwah
memperlihatkan bahwa kebencian pihak Jahiliyah karena aqidah yang dibawa umat
Islam bukan karena akhlaqnya. Mereka
menerima akhlaq Islam karena tidak merugikannya bahkan menguntungkannya.
Dalil:
·
Q. 68:4, Sesungguhnya engkau (ya Muhammad) mempunyai akhlaq yang mulia.
وَاِنَّكَ لَعَلٰى
خُلُقٍ عَظِيْمٍ ٤
4. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi
pekerti yang agung.
9. Akhlaq
Qur’an.
Penjelasan:
Akhlaq mulia adalah juga akhlaq Al-Qur’an.
Berarti akhlaq Rasul adalah amalan dan
tingkah laku yang sesuai dengan Al-Qur’an atau yang diarahkan oleh Al-Qur’an. Jadi untuk mendapati akhlaq mulia seperti yang
dimiliki Rasul maka harus mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-harinya.
Al-Qur’an berjalan adalah akhlaq Rasul.
Dalil:
· Hadits,
bertanya kepada Aisyah RA, “Bagaimanakah akhlaq Rasulullah ?
· Jawabannya adalah khuluquhu Al-Qur’an”. كان خلقه
القران
10. Uswatun
Hasanah (teladan yang baik).
Penjelasan:
Pada diri Rasul Muhammad saw terdapat
contoh yang baik yaitu akhlaq yang mulia yang digambarkan oleh Allah swt. Sebagai contoh yang nyata bagaimana menjadi
muslim yang berakhlaq mulia dan bagaimana Al-Qur’an tertanam dalam diri kita
maka ikutilah Nabi Muhammad saw. Mereka
yang mengikuti Nabi ini adalah mereka yang mengharapkan rahmat Allah dan hari
kemudian, serta ia banyak mengingat Allah.
Dalil:
· Q.
33:21, Sesungguhnya pada Rasul Allah (Muhammad) ada ikutan yang baik bagimu.
لَقَدْ
كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا
اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ ٢١
21. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah
itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah
dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

No comments:
Post a Comment