Saturday, April 18, 2026

Ghazwul Fikri

 PENDAHULUAN

 

Umat Islam secara umum tidak menyadari akan bahaya perang pemikiran. Fenomena ini dibuktikan dengan ba­nyaknya muslim yang secara sadar ataupun tidak mengikuti pemikiran, tingkah laku, dan gaya hidup orang kafir (Barat). Ketidaksadaran muslim terhadap bahaya ini menjadikannya kehilangan identitas dan kepercayaan diri sebagai muslim. Bahkan kebanggaan dengan tingkah laku jahiliyah ini telah dijadikan sebagai budaya.

 

Bahan ini disampaikan agar kita memahami bahaya perang pemikiran yang dilakukan dengan berbagai cara dan sarana yang ada di sekitar kita. Dengan memaparkan contoh, bukti, dan realitas tentang ghazwul fikri, diharapkan muncul kesadaran pada umat Islam sehingga umat mempunyai benteng dan kesadaran untuk memperbaiki dirinya.

Pihak kafir yang mengalami kekalahan yang beruntun dari pihak Islam selama perang Salib mencari alternatif untuk menghancurkan umat Islam. Mereka tidak pernah rela dan tidak pernah berhenti menyerang hingga umat Islam mengikuti millah mereka. Strategi yang dipilih untuk menghancurkan Islam adalah ghazwul fikri. Ghazwul fikri adalah serangan pemikiran, budaya, mental, dan konsep yang dilakukan secara terus menerus dengan sistematik, teratur, serta terancang dengan baik. Hal itu dilakukan sehingga muncul perubahan kepribadian, gaya hidup, dan tingkah laku pada umat Islam.

 

Tujuan ghazwul fikri adalah merusak akhlak, menghan­curkan pemikiran, melarutkan kepribadian, dan menjadikan muslim keluar dari agamanya. Usaha ini mulai dilaksanakan sebelum jatuhnya khilafah Islamiyah, dimulai dengan memutuskan hubungan di antara negeri Islam di bawah khilafah Islamiyah sehingga memunculkan paham nasio­nalisme, kekauman, dan kebangsaan. Pemisahan agama dari negara, orientalisme, kristenisasi, dan gerakan pembebasan perempuan juga merupakan aktivitas ghazwul fikri yang sudah menunjukkan hasilnya pada umat Islam yang sekarang telah berubah menjadi jahiliyah.

 

Pelaku ghazwul fikri secara umum terdiri dari orang Yahudi, Nasrani, Majusi, Musyrikin, Munafikin, Atheis, dan orang kafir. Mereka biasa disebut dengan mustakbirin (or­ang yang sombong dan melampaui batas). Cara yang digunakan mereka untuk menyerang umat Islam sehingga membuat umat Islam lupa kepada identitas aslinya adalah melalui propaganda, pendidikan, pengajaran, buku, media cetak, klub-klub, olahraga, yayasan, lembaga-lembaga, hiburan, film, dan musik.

 

Bahaya ghazwul fikri dapat membuat umat Islam tertipu, cenderung menjadi kafir, mencintainya, mentaatinya, mengikuti cara hidupnya, menyerupai perilakunya, sampai memberikan loyalitas kepada orang kafir tersebut. Apabila bahaya ini sudah datang pada umat Islam, maka ia menjadi hina dan cenderung menjadi pengikut orang kafir, bahkan dapat menjadi murtad. Ia akan mendapat laknat dan azab dari Allah sehingga Allah berlepas diri darinya. Kehidupan orang muslim yang masuk perangkap ghazwul fikri berubah menjadi kehidupan jahiliyah.

 

Kehidupan jahiliyah merupakan kehidupan yang jauh dari berkah Allah, serta gelap tanpa panduan dan petunjuk dariNya. Kehidupan ini akan merugikan kita di dunia dan di akhirat. Kejahiliyahan disebabkan karena prasangka buruk pada Allah, merasa diri cukup dan tidak butuh hidayah dan pertolongan Allah, serta sombong. Hasil kejahiliyahan di antaranya adalah persangkaan jahiliyah, hukum jahiliyah, pengabdian jahiliyah, kebanggaan jahiliyah, tradisi jahiliyah, tingkah laku jahiliyah, perhiasan jahiliyah, dan kehidupan jahiliyah. Secara umum, jahiliyah merupakan sistem, konsep, dan amal kehidupan individu yang berada dalam kegelapan cahaya Islam.

 

Mengembalikan kepercayaan umat Islam kepada agamanya sulit dilakukan kecuali dengan dakwah dan jihad yang dipelopori oleh harakah dan jama'ah Islamiyah. Kesulitan ini disebabkan karena tingkah laku dan gaya hidup jahiliyah sudah menyatu dengan diri muslim, misalnya perempuan yang berhias dengan make-up, pakaian yang mengikuti trend mode, juga kebiasaan tertentu seperti musik serta hiburan yang berlebihan. Padahal aktivitas ini seharusnya dihindari dan dijauhkan dari kehidupan muslim. Kesulitan lainnya adalah karena umat Islam telah mengidap penyakit cinta dunia dan takut mati.

 

Takriful Ghazwul Fikri

(Pengertian Perang Pemikiran)

 

Sinopsis

 

Kekalahan pihak kafir, khususnya nasrani, dari umat Is­lam melalui perang fisik dan senjata (pada perang salib dan perang lainnya), menjadikan mereka berfikir mencari jalan lain yang dapat menghancurkan umat Islam. Jalan yang ditempuh itu adalah ghazwul fikri (perang pemikiran). Ghazwul fikri adalah serangan pemikiran secara bertubi-tubi yang tersusun secara sistematik, teratur, dan terancang dengan baik yang dilakukan oleh umat yang kuat terhadap umat yang lemah untuk merubah kepribadiannya sehingga menjadi pengikut umat yang kuat tersebut. Umat jahiliyah khususnya Yahudi dan Nasrani senantiasa memerangi umat Islam. Perang tersebut dilaksanakan dalam tiga bentuk, yaitu: politik, militer, dan ekonomi. Ghazwul fikri akan meng­hasilkan berbagai kerusakan di kalangan umat Islam dengan cara merusak akhlak, menghancurkan fikrah, melarutkan pribadi, dan menumbangkan akidah (mengeluarkan muslim dari akidah Islamiyah). Dengan cara tersebut, akan dihasilkan umat yang rusak akhlak dan kepribadiannya, kotor pemi­kirannya, keluar dari Islam, serta memberikan loyalitasnya kepada orang kafir.

 

Umatul Jahiliyah (Umat Yang Menentang Allah)

 

Jahiliyah merupakan konsep kehidupan suatu umat yang menentang kekuasaan Allah SWT. Konsep kehidupan jahiliyah ini berbentuk hukum, peraturan, dan pengabdian. Kehidupan jahiliyah pada zaman Nabi Muhammad SAW telah hancur digantikan dengan datangnya cahaya Islam. Namun demikian, kejahiliyah yang sudah dikubur oleh nabi kita saat ini bangkit lagi dan bennunculan di berbagai tempat untuk menghancurkan dan mengajak manusia mengikuti gaya hidup dan amalannya.

 

Umat jahiliyah bisa ditemui pada sebagian umat Islam apabila mereka menentang kekuasaan dan aturan-aturan dari Allah SWT.

 

Dalil

Q.5:50. Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? Q.39:64. Katakanlah (Hai Muhammad, kepada orang­orang musyrik itu: Sesudah jelas dalil-dalil keesaan Allah yang demikian), patutkah kamu menyuruhku me­nyembah selain Allah, hai orang-orang yang tidak berpengetahuan? "

 

Al Gozwah (Perang)

 

Umat jahiliyah melakukan peperangan kepada umat Islam melalui berbagai cara di antaranya melalui politik, militer dan ekonomi. Mereka yang melakukan peperangan secara opini dan pemikiran tidak saja kelompok non Islam tetapi bisa juga dari kalangan Islam sendiri. Biasanya ciri mereka adalah yang tidak menginginkan Islam tegak secara substansial. Walaupun secara status kelslaman, mereka tidak begitu mempedulikan.

 

A.  Siyasi (Politik)

 

Politik jahiliyah disampaikan melalui media dan media tersebut sekaligus sebagai cara musuh Islam menjatuhkan dan mengalahkan Islam bahkan di negeri Islam sendiri. Bukti ini dapat dilihat dimana hampir semua negara Islam politiknya dikuasai oleh politik jahiliyah yaitu demokrasi ala Barat atau demokrasi yang diciptakan untuk mempertahankan kepentingan para penjajah. Hal ini membuat hampir setiap muslim dengan politik demokrasinya dijajah dan dikuasai oleh musuh Islam, khususnya musuh dari luar negara yang dijalankan oleh pengekor lokal. Mereka senantiasa membuat makar untuk menghancurkan Islam. Namun, bagaimanapun makar Al­lah yang balk dan Islam pasti menang.

 

Dalil

Q.6:123. Dan demikianlah Kami adakan dalam tiap-tiap negeri penjahat-penjahat terbesar agar mereka melakukan tipu daya di negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan selain dirinya sendiri (karena merekalah yang akan menerima akibatnya yang buruk), sedang mereka tidak menyadarinya.

Q.6:137. Dan demikianlah pemimpin-pemimpin mereka telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang yang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan bagi mereka agamanya. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada­-adakan.

 

B. Askari (Militer)

 

Militer yang dibentuk untuk mendukung kejahiliyahan merupakan kekuatan utama di setiap negara di dunia ini. Tetapi yang disayangkan, hampir setiap militer negara Is­lam berada di bawah "bimbingan" musuh Islam. Bahkan segala fasilitas, senjata, training, dan keperluan militer lainnya disediakan oleh mereka. Negara Islam tidak menyadari bahwa mereka adalah musuh Islam. Militer jahiliyah tidak mengikuti aturan Islam baik dari segi peraturan perang, tujuan, serta cara berperang. Mereka membunuh perempuan, anak-anak, orang tua, dan siapa saja secara kejam, melarang bantuan obat-obatan, dan sebagainya. Sifat tentara-tentaranya juga menunjukkan keganasan akhlak serta kerusakan mental dan jiwa mereka.

 

Dalil

Q.2:217. Mereka bertanya kepadamu (Hai Muhammad), mengenai (hukum) berperang dalam bulan yang dihormati. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar, tetapi menghalangi (orang-orang Islam) dari jalan Allah, dan perbuatan kufur kepada-Nya, dan juga perbuatan menyekat (orang-orang Islam) ke Masjid Al­Haram (di Makkah), serta mengusir penduduknya dari situ, (semuanya itu) adalah lebih besar lagi dosanya di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada pembunuhan (saat perang dalam bulan yang dihormati). Dan mereka (orang-orang kafir itu) senantiasa memerangi kamu hingga mereka dapat memalingkan kamu dari agamamu kalau mereka sanggup (melakukan yang demikian); dan siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya (agama Islam), lalu ia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Q.9:36. Sesungguhnya bilangan bulan-bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, (yang telah ditetapkan) dalam Kitab Allah saat la menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan yang dihormati. Ketetapan yang demikian itu ialah agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan-bulan yang dihormati itu (dengan melanggar laranganNya); dan perangilah kaum kafir musyrik seluruhnya sebagaimana mereka memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. Q.4:102. Dan apabila engkau (Hai Muhammad) berada dalam tengah-tengah mereka (saat perang), lalu engkau hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) bersama-samamu dan hendaklah mereka menyandang senjata; kemudian apabila mereka telah sujud, maka hendaklah mereka pindah ke belakang (untuk menjaga serbuan musuh); dan hendaklah datang golongan yang lain (yang kedua) yang belum shalat (karena menjaga serbuan musuh), maka hendaklah mereka shalat (berjamaah) bersama-samamu, dan hendakah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjata dan harta bendamu, supaya dengan jalan itu mereka dapat menyerbu kamu sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu dihalangi sesuatu yang menyusahkan karena hujan atau kamu sakit; dan bersiap siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan bagi orang-orang kafir itu azab siksa yang amat menghinakan.

 

C. Iqtisodi (Ekonomi)

 

Islam mempunyai banyak peraturan berkaitan dengan ekonomi, namun demikian pihak kafir selalu memaksakan sistem ekonomi mereka kepada negara-negara Islam. Hampir di seluruh negara Islam terdapat ekonomi jahiliyah, seperti perbankan dengan sistem riba dan sistem perdagangan bebas yang dirancang pihak barat untuk mengiring dan mengendalikan ekonomi negara Islam. Apapun keinginan mereka akan dapat dicapai dengan tekanan ekonomi melalui pertukaran uang, pembayaran hutang, serta penguasaan aset-aset ekonomi dalam negeri oleh pihak luar dan mengikatnya dengan perjanjian-perjanjian seperti bantuan. Sangat disayangkan kita tidak menyadari bahwa sistem jahiliyah yang diciptakannya adalah untuk kepentingan mereka saja. Kemerosotan ekonomi sekarang ini adalah salah satu dari kondisi yang dibuat oleh mereka, kemudian mereka sendiri yang akan menyelesaikan dengan berdalih sebagai penyelamat.

 

Dalil

Q.9:34. Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya banyak di antara pendeta-pendeta dan ahli-ahli agama (Yahudi dan Nasrani) memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah (agama Islam). Dan (ingatlah) orang-orang yang menyimpan emas dan perak serta tidak membelanjakannya pada jalan Allah, maka kabarkanlah kepada mereka dengan (balasan) azab siksa yang pedih.

 

Ghazwul Fikri (Perang Pemikiran)

 

Musuh Islam selalu bergerak untuk menghancurkan Islam dan memadamkan cahayanya dengan berbagai cara. Ghazwul fikri sebagai satu upaya untuk memadamkan cahaya Islam nampaknya mulai menunjukkan hasilnya pada diri umat Islam yang semakin hari semakin mengamalkan gaya hidup orang kafir. Di antara upaya musuh Islam untuk memadamkan cahaya Islam adalah merusak akhlak, menghancurkan fikrah, melarutkan kepribadian dan menumbangkan aqidah.

 

Dalil

Q.61:8. Mereka hendak memadamkan cahaya Allah  (agama Islam) dengan mulut mereka, sedang Allah tetap menyempurnakan cahayaNya, sekalipun orang-orang kafir tidak suka (akan yang demikian). Q.9:32. Mereka hendak memadamkan cahaya Allah (agama Islam) dengan mulut mereka, sedang Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, sekalipun orang-orang kafir tidak suka (akan yang demikian).

 

Adapun yang diinginkan oleh musuh Islam dengan Ghazwul fikri adalah:

 

A. Ifsadul Akhlaq (Merusak Akhlak)

Sujud kepada pencipta dengan taat, mencintai, dan mengikuti perintah Allah merupakan kewajiban setiap muslim. Akhlak sujud adalah akhlak muslim yang senantiasa diamalkan di dalam kehidupan kita selama 24 jam dengan simbol shalat. Namun demikian, ghazwul fikr•i senantiasa mendorong kita untuk tidak sujud dan melawan perintah Allah dengan mengerjakan yang haram dan meninggalkan yang halal. Kerusakan akhlak merupakan usaha yang dilakukan mereka, diantaranya melalui musik dan film. Tanpa disadari kita menerima dan mengikuti mereka setelah terbiasa mendengarkan musik dan menonton film mereka. Merusak akhlak merupakan strategi efektif yang mereka lakukan kepada remaja dengan menampilkan berbagai hiburan dan kehingar-bingaran atau kebebasan yang cenderung diminati oleh sebagian remaja.

 

Dalil

Q.15:29. "Kemudian apabila Aku sempurnakan kejadiannya, serta Aku tiupkan padanya roh (ciptaan)­Ku, maka hendaklah kamu sujud kepadanya.

 

B. Tahtimul Fikrah (Menghancurkan Fikrah)

Seorang muslim hendaknya mempunyai fikrah Islami dan menjadikan Islam sebagai diennya serta beriman kepada Allah dan kitab-Nya. Tetapi musuh Islam menghendaki agar muslim memberikan loyalitasnya kepada thaghut dan menjauh dari Islam dengan cara menghancurkan fikrah dengan mengajak muslim berhukum kepada thaghut dan menjadikan syaitan sebagai pemimpin. Sehingga mereka menjadi orang-orang munafik yang secara status adalah muslim namun pemikiran dan akhlaknya tidak mencerminkan kelslaman, bahkan hati mereka mengingkari Allah. Penghancuran pemikiran sebagai bagian ghazwul fikri juga diarahkan pada ilmu, teori, konsep, wawasan, pandangan, dan sebagainya.

 

Dalil

4:60. Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan mengingkari thaghut itu. Dan syaitan hendak menyesatkan mereka dengan kesesatan yang amat jauh.

 

C. Izabat As Syakhsiyah (Melarutkan Kepribadian)

 

Larutnya kepribadian seorang muslim sehingga menjadi kafir bukanlah sesuatu yang mustahil. Hal ini telah dibuktikan dengan adanya orang-orang Islam yang murtad menjadi kafir, walaupun jumlahnya tidak banyak. Yang terjadi sekarang adalah mayoritas umat Islam kufur dari Islam dengan tidak mengerjakan perintah Allah. Hal ini dapat membawa seorang muslim menjadi kafir yang sesungguhnya baik secara penampilan maupun status.

 

Dalil

Q.68:6. Siapa di antara kamu yang gila.

Q.4:89. Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu mengambil (seorangpun) di antara mereka menjadi penolong-penolongmu, hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Jika mereka berpaling ingkar, tawanlah dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil (seorangpun) di antara mereka menjadi pelindung atau penolong

 

D. Riddah (Menumbangkan Akidah)

 

Menjadikan muslim kehilangan akidah hingga keluar dari Islam telah dilakukan oleh ahli kitab pada zaman dulu, yang kemudian diwarisi dan diteruskan oleh pengikutnya di zaman sekarang melalui ghazwul fikri. Tujuan ini dicapai dengan berbagai cara yang menipu dan menyesatkan kita. Kadang kita tidak menyadari bahwa mereka membawa kita ke jalan yang sesat. Dengan cara yang halus dan menipu, sesuatu yang haram menjadi halal, sesuatu yang buruk menjadi baik atau sebaliknya. Hal ini membuat kita dikuasai oleh syaitan dan secara otomatis akidah menghilang secara bertahap dan pasti.

 

Dalil

 

Q.2:109. Sebagian besar Ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang timbul dari diri mereka sendiri, setelah nyata kepada mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintahNya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu. Q.3:149. Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang kafir niscaya mereka akan mengembalikan kamu pada kekufuran, lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi.

 

Al Wala Lil Kafirin (Memberikan Loyalitas Kepada Orang Kafir)

 

Metode ghazwul fikri dengan merusak akhlak, menghancurkan fikrah, melarutkan kepribadian, dan mengeluarkan muslim dari agamanya, akan menyebabkan seorang muslim memberikan loyalitasnya kepada orang kafir dengan segala bentuk, baik yang nampak maupun yang tidak. Loyalitas kepada kafir dapat berupa kepatuhan mengikuti perintah dan nasehat mereka, menjadikan mereka sebagai rujukan dan panduan, ketergantungan kepada pihak kafir, dan segala praktek lainnya. Padahal Islam melarang kita berhubungan erat dengan pihak kafir, apalagi dalam hubungan tolong menolong yang dapat merugikan kita. Sebagai contoh, Indonesia menghendaki bantuan dari luar (IMF) untuk memperbaiki ekonomi negaranya yang kemudian akibatnya sampai hari ini krisis ekonomi tetap belum terselesaikan. Dalam Al Quran disebutkan agar kita tidak dapat begitu saja menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai penolong dan teman dekat kita.

 

Dalil

Q.5:51. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpi-pemirnpin(mu), karena sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya ia termasuk golongan mereka itu. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada or­ang-orang yang zalim.

 

 

Adrar Ghazwul Fikri

(Bahaya Perang Pemikiran)

 

Sinopsis

 

Beberapa bahaya ghazwul fikri adalah menjadikan umat Islam tertipu, berpihak, cinta, taat, dan mengikuti tata cara hidup orang kafir, mengikuti perilaku dan penampilan mereka, serta memberikan loyalitas kepada mereka. Suatu hat yang sangat membahayakan adalah tidak sadarnya umat Islam terhadap bahaya ghazwul fikri. Mereka merasa bangga apabila mengikuti tingkah laku orang kafir tersebut. Bahkan mereka tidak malu untuk mencintainya dan menjadikan fanatik terhadap budaya-budaya Barat. Sebagian lagi yang lain mentaati segala aturan yang mereka tetapkan walaupun bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Dengan bahaya perang pemikiran ini umat Islam jauh dari berkat Allah dan tidak mendapatkan pertolongan dari Allah SWT.

Ghazwul fikri membuat umat Islam mengalami kehinaan, mudah dikendalikan, mendapatkan laknat dan cobaan Allah, jatuh dalam syirik, Allah melepaskan diri dari mereka, murtad dan mendapat azab dari Allah. Dengan menjauhkan diri dari nilai Islam maka mereka akan mendapatkan kehinaan dari Allah, laknat dan Allah melepaskan diri dari mereka. Pada mulanya mereka hanya mengikuti tingkah laku namun tidak mustahil mereka akan keluar dari Islam (riddah). Mereka yang mengekor dan mengikuti segala tingkah lakunya akan mendapatkan azab dari Allah SWT.

 

Umat Islam yang telah terkena ghazwul fikri dengan berbagai macam cara yang dilakukannya seperti kecenderungan terhadap orang kafir, mencintai orang kafir, mentaati dan mengikuti tata cara mereka bahkan menyerupai penampilannya akan merugikan mereka sendiri. Terlebih apabila mereka memberikan loyalitas kepada orang-orang kafir. Mereka hanyalah mendapatkan kehinaan, azab dan laknat dari Allah SWT. Keadaan yang sedemikian ini akan menimbulkan kehidupan jahiliyah di kalangan umat Islam.

 

Adrarul Ghazwul Fikri (Bahaya Ghazwul Fikri)

 

Allah dan Rasul-Nya telah banyak menyebutkan bahwa musuh Islam sangat banyak dan mereka senantiasa mengganggu kita sampai kita keluar dari Islam. Berbagai cara dan usaha dilaksanakan oleh musuh Islam dengan cara menipu dan memperdaya muslim dari agama dan akhlaknya. Kehidupan jahiliyah sebagai model dan trend kehidupan modem dijadikan sebagai suatu kebanggaan tersendiri dan dulaksanakan dalam kehidupannya. Beberapa bahaya ghazwul fikri adalah menjadikan umat Islam tertipu, berpihak, cinta, taat, dan mengikuti tata cara hidup orang kafir, mengikuti perilaku dan penampilan mereka, serta memberikan loyalitas kepada mereka.

 

A. Al Ightiror (Tertipu)

 

Allah SWT menyebutkan bahwa syaitan itu berasal dari jin dan manusia. Syaitan menipu umat Islam dengan mengajak merekamenjauhi Islam. Syaitan jenis manusia ataupun jin adalah musuh yang nyata bagi kita. Dengan tipu dayanya yang dasyhat, syaitan mengajak manusia ke jalan yang sesat yang membuat mereka lupa pada Allah SWT.

 

Dalil

Q.35:6. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah dia musuh (yang mesti dijauhi tipu dayanya); karena sesungguhnya ia hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penduduk neraka.

 

B. Ar Rukun (Cenderung)

 

Berbagai sifat dan kebiasaan manusia muslim di dunia ini ternyata terdiri dari berbagai pengikut setia syaitan hingga kepada undullah yang senantiasa melawan hizbusyaithan. Di antara sifat yang muncul saat ini adalah adanya kecenderungan kepada orang kafir, kekufuran dan perbuatan zalim yang dimurkai Allah SWT. Mereka pada hakekatnya adalah muslim namun tidak mau menerima Islam dalam hidupnya dan cenderung pada kekafiran. Mereka tidak akan mendapat pertolongan Allah SWT dan api neraka yang membakar telah menunggunya.

 

Dalil

Q.11:113. Dan janganlah kamu cenderung kepada or­ang-orang yang zalim, maka (kalau kamu berlaku demikian) api neraka akan membakar kamu, sedang kamu tidak mempunyai seorang penolongpun selain Al­lah. Kemudian (karena kecenderunganmu itu) kamu tidak akan mendapat pertolongan.

 

C. AI Mawaddah (Mencintai)

 

Kita tidak boleh mencintai orang kafir dalam mentaati tingkah lakunya. Orang-orang kafir tidak dibenarkan untuk dijadikan sebagai teman dekat, penolong, bahkan orang yang dicintai. Karena orang-orang kafir ini akan terus berusaha agar kita mengikuti kebiasaan mereka dan mengamalkan perbuatan yang tidak Islami. Mereka tidak akan pemah berhenti mendatangkan bencana bagi umat Islam. Dihadapan kita mungkin mereka baik, namun dalam hatinya mereka menyembunyikan kejahatan dan tekad untuk menghancurkan Islam. Walaupun tidak semua orang kafir bersifat demikian, namun kita perlu waspada pada mereka yang seakidah dengan kita. Allah memberikan peringatan itu kepada kita sebagaimana yang telah berlaku terhadap orang-orang sebelum kita.

Dalil

Q.3:118. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang yang bukan dari kalangan kamu menjadi orang kepercayaanmu. Mereka tidak henti­hentinya berusaha mendatangkan bencana kepadamu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sesungguhnya telah kami jelaskan kepadamu keterangan­keterangan itu jika kamu (mau) memahaminya.

 

D. At Thoah (Mentaatl)

 

Berteman, cinta, dan kemudian mengikuti serta mentaati orang kafir adalah sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT. Walaupun hanya sebagian perkara dari pihak kafir yang kita ikuti, ia akan menghasilkan suatu kerugian dan bahaya yang besar di masa yang akan datang. Karena pada hakekatnya hal ini akan menjauhkan kita dari Islam sehingga kita menjadi sesat. Kesesatan ini telah banyak terjadi di berbagai segi kehidupan. Mentaati orang kafir adalah bahaya ghazwul fikri, dimana pihak musuh membawa racun dengan memunculkan ketergantungan pihak muslim yang akan menjadikan kita taat kepada perintah dan petunjuk mereka.

Dalil

Q.47:26. Yang demikian itu karena mereka berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah: "Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan (yang berhubungan dengan menentang Muhammad dan pengikutnya)", sedang Allah mengetahui rahasia mereka.

 

E. Al Ittiba' (Mengikuti)

 

Yahudi dan Nasrani dengan cara yang menakjubkan telah membuat umat Islam mengikuti tata cara hidup mereka (millah). Mereka tidak pernah rela sehingga orang muslim mengikuti Yahudi dan Nasrani. Usaha terus-menerus yang selalu dilakukan oleh pihak Yahudi dan Nasrani telah membuahkan hasil seperti banyaknya remaja yang mengikuti gaya hidup bebas dan hidup dalam kejahiliyahan.

 

Dalil

Q.2:120. Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah (kepada mereka): "Sesungguhnya petunjuk Allah (agama Islam) itulah petunjuk yang benar". Dan sesungguhnya j ika kamu mengikuti keinginan mereka sesudah datangnya pengetahuan kepadamu (tentang kebenaran), maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.

 

F At Tasyabuh (Menyerupai)

 

Barangsiapa yang mengambil teman dari pihak musuh maka iapun termasuk ke dalam golongan musuh itu. Begitulah Allah memberikan peringatan kepada kita. Berteman dekat atau menjadikan musuh Islam sebagai kawan dapat membuat kita menyerupai perilaku dan tingkah laku mereka yang bertentangan dengan nilai Islam. Adalah hal yang wajar apabila seseorang berteman akan muncul perpindahan perilaku secara perlahan di antara mereka. Hal ini dapat dibuktikan pada remaja sekarang yang cenderung mengikuti teman-teman kelompoknya baik dari segi pakaian maupun gaya hidupnya.

Dalil

Q.5:51. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu), karena sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya ia termasuk golongan mereka itu. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

 

G. AI Wala (Loyalitas)

 

Loyalitas yang diberikan pada orang Yahudi dan Nasrani akan menghancurkan Islam. Bagaimanapun mereka berbeda akidah dengan kita sehingga perilaku dan fikiran mereka tidak akan berdasarkan Islam. Karenanya, mereka akan menampilkan sesuatu yang tidak sesuai dengan Islam. Usaha agresifmenyerang Islam akan dijalankan orang kafir bila Islam dirasakan menjadi musuh yang akan mengancam kedudukan mereka atau bila umatnya mempunyai faham keagamaan dan kepercayaan yang sangat kuat. Memberikan loyalitas pada mereka adalah tindakan yang bodoh dan tidak dibenarkan, kecuali dalam hubungan sosial dan saling membantu pada tahap kemanusiaan dan urusan dunia. Karena dengan memberikan loyalitas pada mereka maka kita menyerahkan segala ketaatan kita berikut segala potensi, kemampuan, waktu, tenaga, dan sebagainya. Sedangkan Islam itu tinggi dan mempunyai izzah.

Dalil

Q.5:51. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu), karena sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya ia termasuk golongan mereka itu. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

 

2. An Nataij (Hasil)

Al Dzil (Rendah Diri/Hina) At Taba'iah (Mengekor) Al  La'nat  (Laknat) Az Zuban (Mengikuti) As Syirk (Syirik)

Baroah Minallah (Allah Melepaskan Dia) Ar Riddah (Keluar Dari Islam) Al Azab (Azab)

 

Dari bahaya-bahaya ghazwul fikri yang dilakukan oleh pihak non Islam dan sebagian muslim (munafik dan fasiq) mengakibatkan banyak kerugian pada umat Islam. Tidak ada suatu kebanggaan hidup di dunia apabila kita mendapatkan kehinaan di dunia dan juga di akhirat. Apalah artinya harta, tahta dan status apabila tidak mendapatkan kehormatan.

Dengan perang pemikiran yang begitu dahsyat kepada umat Islam melalui media elektronik, media cetak dan media lainnya dapat menjadikan umat Islam mengekor tingkah laku mereka. Umat Islam dikonsumsi dengan segala bentuk budaya, opini, tingkah laku dan kebiasan-kebiasaan Barat melalui penyiaran media tersebut. Sehingga tidak ada alternatif bagi umat Islam untuk memilih yang lainnya. Manakala nilai-nilai Islam tidaklah dipropagandakan secara intensif kepada umat Islam.

Allahpun akan melaknati mereka yang tidak menjalankan agama Allah bahkan Allah akan memberikan azab serta berlepas diri darinya. Allah tidak akan memberikan bantuan dan pertolongan apalagi berkah dari rezki yang diperolehnya.

 

3. Al Hayatu Jahiliyah (Kehidupan lahiliyah)

 

Hasil dari ghazwul fikri adalah kehidupan jahiliyah. Suatu kehidupan yang sangat merugikan adalah kehidupan tanpa petunjuk dan pedoman, ibarat masyarakat jahiliyah ketika di zaman Nabi SAW. Di masa itu, masyarakat menyembah berhala selain Allah yang pada saat ini padanannya adalah manusia menyembah ilah-ilah seperti pemikiran, kepentingan dan syahwat.

Tingkah laku ibadah di sekeliling kabah dengan menari­nari dan bertelanjang yang pada saat inipun muncul kejadian yang serupa. Begitu juga dengan kehidupan bermasyarakat secara jahili tidak mencerminkan masyarakat yang berperadaban. Islam datang membawa cahaya yang mengeluarkan mereka dari kegelapan kejahiliyahan. Kehidupan jahiliyah sebagai hash dari perang pemikiran ini menggambarkan kemunduran, khususnya bagi umat Is­lam.

 

 

Ringkasan Dalii

Bahaya ghazwul fikri: tertipu (Q.35:6), cenderung pada orang kafir (Q.11:113), mencintai orang kafir (Q.3:118), mentaati orang kafir (Q.47:26), mengikuti tata cara hidup mereka (Q.2:120), menyerupai perilaku dan penampilan mereka (Q.5:51), memberikan loyalitas pada mereka (Q.5:51)

Akibatnya: kehinaan, gampang dikendalikan, mendapat laknat dan cobaan Allah, terjatuh dalam syirik, Allah berlepas diri darinya, murtad dan azab Timbullah kehidupan jahiliyah

 

Asbabul Jahiliyah

(Sebab-sebab Jahiliyah)

 

 

Sinopsis

 

Bila manusia tidak memegang kebenaran (A1-haq), maka ia pasti berada dalam kejahiliyahan. Kedua suasana ini selalu bertabrakan yang menjadikan individu berada di dalam Is­lam atau kejahiliyahan. Sebab-sebab seseorang menjadi jahiliyah adalah prasangka buruk pada Allah, merasa cukup, tak perlu hidayah, sombong, hawa nafsu, dan tradisi.

 

Mereka yang sombong, tak perlu hidayah, berprasangka buruk pada Allah, dan merasa dirinya cukup akan jauh dari kebenaran. Keadaan jahiliyah ini akan memunculkan prasangka jahiliyah, hukum jahiliyah, ibadah/pengabdian jahiliyah, kebanggaan jahiliyah, tradisi jahiliyah, dan tngkah laku jahiliyah. Kejahiliyahan akan membawa manusia ke dalam kegelapan, kerusakan, kehancuran, kehinaan, dan kerugian yang besar.

 

1. Asbabul Jahiliyah (Sebab-Sebab Kejahiliyahan)

 

Kejahiliyahan berarti kebodohan terhadap hidayah. Mereka yang jahil berarti tidak mau menerima hidayah atau melaksanakan sesuatu yang tidak mengikuti petunjuk hidayah Allah SWT. Selain disebabkan individu, kejahiliyahan sendiri itulah yang menutupi hidayah dengan tingkah laku dan kebiasaan yang menjauhkan dirinya dari ibadah Islam. Beberapa sebab individu menjadi jahiliyah adalah prasangka buruk pada Allah, merasa cukup, tak perlu hidayah, sombong, hawa nafsu, dan tradisi.

 

A. Dzonnu Suuk B i I I a h (Berprasangka Buruk Kepada Allah)

 

Memberikan pandangan yang keliru pada segala keputusan Allah dan terhadap apa-apa yang difirmankan-Nya adalah sikap yang tidak mengimani Allah SWT. Kecenderungan untuk berprasangka buruk ini diawali dengan hati yang kotor dan dipenuhi oleh maksiat, sehingga ia tidak menerima takdir Allah. Sesuatu yang Allah turunkan dianggap negatif dan kurang baik. Misalnya ketika diberi huj an ia mengeluh dan marah kenapa hujan turun terus-menerus, namun ketika diberi panas ia juga mengeluh karena kepanasan. Begitupun dalam hal rezeki, kesehatan, jodoh, dan sebagainya. Menyangka bahwa hukum Allah tidak sesuai lagi dengan zaman dan tidak berperikemanusiaan juga termasuk persangkaan yang j ahil. Keadaan demikian akan menjauhkan kita dari Allah SWT.

Dalil

Q.48:6. Dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik lelaki dan perempuan dan orang-orang musyrik lelaki dan perempuan yang berprasangka buruk terhadap Al­lah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka jahannam; sedang neraka jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.

Q.24:50. Apakah (ketidakdatangan mereka itu karena)

dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zalim (disebabkan keraguan dan kekufuran mereka).

 

B. Al Istighna (Merasa Tak Perlu Hidayah)

 

Mereka yang sudah mapan kehidupannya dan terpenuhi segala keperluannya akan merasa cukup dengan kondisi tersebut dan enggan menerima sesuatu yang baru dari pihak luar. Apabila datang sesuatu yang baru untuk memperbaiki kehidupannya mereka akan menjawab "Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati dari nenek moyang kami yang telah mengerjakannya". Kebiasaan yang sudah tumbuh mengakar di masyarakat ini menjadikan seseorang sulit untuk merubah dan menerima kritik atau komentar dari luar. Merasa cukup dan tidak memerlukan hidayah adalah sikap yang muncul dari keadaan ini. Seperti pada orang tua yang biasanya lebih sulit menerima sesuatu karena merasa mempunyai lebih banyak pengalaman dibandingkan dengan mereka yang masih muda. Sedangkan mereka yang muda lebih mudah menerima sesuatu yang baru walau cenderung lebih mengikuti sesuatu yang menyenangkan.

 

Dalil

Q.96:6-7. Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar­benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.

Q.5:104. Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan oleh Allah (Al Quran), dan kepada Rasul-Nya", mereka menjawab: "Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya". Apakah (mereka akan mengikuti juga) sekalipun nenek moyang mereka tidak mengetahui apa­apa dan tidak pula mendapat hidayah?

Q.31:21. Dan apabila dikatakan kepada mereka (yang ingkar): "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah" mereka menjawab:" (Tidak), bahkan Kami hanya mengikuti apa yang Kami dapati nenek moyang kami melakukannya". Patutkah mereka (mengikuti nenek moyangnya) sekalipun syaitan mengajak mereka ke dalam siksa api neraka yang menyala-nyala?

 

C. Al Istikbar (Sombong)

 

Merasa lebih hebat termasuk perasaan iblis dan orang kafir. Perasaan ini akan menjauhkan seseorang dari hidayah Al¬lah SWT. Pada saat seseorang merasa dirinya lebih baik dibandingkan dengan orang lain, maka sesungguhnya pada saat itu juga ia merendahkan dan menghinakan orang lain. Perbuatan ini dilarang oleh Islam, namun demikian sifat demikian masih banyak ditemui di kalangan umat Islam. Sombong akan menutupi hati kita untuk menerima perbaikan dan merubah diri ke arah yang lebih baik. Kesombongan jahiliyah biasanya dengan membanggakan diri melalui potensi dan rupanya saja. Namun Islam melihat kebaikan dan kehebatan berdasarkan ketakwaan, bukan zahirnya semata. Iblis misalnya pernah menyebutkan ia yang diciptakan dari api lebih hebat dibandingkan manusia yang diciptakan oleh tanah. Begitupun pemuka-pemuka kafir Quraiys yang tidak menerima Islam karena kesombongan mereka. Bahkan mereka selalu menyatakan bahwa pengikut Muhammad SAW adalah dari mereka yang miskin, hina, dari golongan budak, dan tidak terhormat. Dengan kesombongan ini mereka memandang bahwa manusia mengikuti kriteria yang nampak dan berorientasi kepada materi.

 

Dalil

Q.7:12. Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Iblis menjawab: "Aku lebih baik daripada Adam, Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau

ciptakan dari tanah."

Q.38: 75-76. Allah berfirman: "Hai lblis, apakah yang menghalangimu sujud kepada (Adam) yang telah Ku­ciptakan dengan kekuasaan-Ku? Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu dari golongan yang tertinggi?" Iblis menjawab: "Aku lebih baik daripadanya; Engkau ciptakan aku dari api, sedang dia Engkau ciptakan dari tanah ".

Q. 11:27. Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: "Kami tidak melihatmu (Hai Nuh) melainkan sebagai seorang manusia seperti kami; dan kami tidak melihat golongan yang mengikutimu melainkan orang-orang kami yang miskin dan berfikiran pendek; dan kami juga tidak melihatmu memiliki kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta".

 

D. Ar Ruhbaniyah Al Mubtadiah (Pendeta Yang Membuat Bidah)

 

Pendeta Nasrani membawa pengikutnya kepada bidah aqidah yaitu menjadikan mereka juga sebagai tuhan-tuhan mereka. Hal ini juga terjadi pada Ulama Suuk yang membawa pengikutnya kepada perkara-perkara bidah. Dalam prakteknya muncul kejahiliyahan dari segi kepercayaan yang dibawa oleh para guru, ustaz atau pendeta sesat sehingga para pengikutnya mengikuti tanpa disadarinya. Biasanya hal ini terjadi apabila kita mengikuti secara taqlid dan tanpa mempertimbangkannya dengan ilmu.

Dalil

Q.3:64. Katakanlah hai ahli kitab, marilah kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bawa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan dia dengan sesuatupun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain daripada Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri kepada Allah".

Q.9:3 1. Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebaagai tuhan selain Allah dan juga mereka mempertuhankan Al Masih putra Maryam padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

 

E. Al Ahwa (Hawa Nafsu)

Jahiliyah dapat disebabkan oleh hawa nafsu yang diperturutkan. Walaupun hawa nafsu merupakan bagian dari kehidupan manusia tetapi dalam Islam hawa nafsu harus dikendalikan oleh taqwa. Dengan pengendalian oleh taqwa, hawa nafsu tidak akan dijadikan sebagai tuhan-tuhan tandingan Allah SWT. Begitu banyak masyarakat saat ini memperturutkan hawa nafsunya sehingga menjadikan dirinya jahiliyah kembali. Mempertuhankan hawa nafsu seperti materi merupakan ciri dari masyarakat modem saat ini.

Dalil

Q.45:23. Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmuNya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah membiarkannya sesat. Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran.

 

F At Taqolid (Taklid)

 

Kejahiliyahan artinya kebodohan berarti pula tidak mempunyai ilmu. Individu yang tidak berilmu adalah individu yang cendrung mengikuti sesuatu secara taqlid, sehingga kemungkinan yang diikutinya salah akan terjadi. Allah SWT melarang kita melakukan sesuatu tanpa ilmu karena pendengaran, penglihatan dan hati akan diminta pertanggungan jawabnya. Dalam memahami La Ilaha Illallah perlu didasari oleh ilmu sehingga kita dapat memahaminya secara benar dan tidak sesat. Akibat dari taqlid adalah ibadah dan tingkah laku kita menjadi jahiliyah.

 

Dalil

Q. 17:36. Dan janganlah kamu mengkiuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

 

2. Al Jahlu Anil Haq (Bodoh Terhadap Kebenaran)

 

Sebab-sebab kejahiliyahan ini akan menjadikan kebenaran sebagai sesuatu yang salah dan tidak benar. Pandangan terhadap Islam menjadi menyimpang dan kurang tepat. Dengan kejahiliyahan ini menjadikan individu muslim bersikap jahil seperti bertingkah laku yang tidak normal dan tidak mengikuti fitrah manusia. Kejahiliyahan ini biasanya memandang yang haq menjadi bathil, haram menjadi halal, salah menjadi benar, buruk menjadi indah, maksiat menjadi indah, dosa menjadi biasa. Sebaliknya, mereka melihat bathil menjadi benar, halal menjadi haram dan seterusnya. Beberapa produk jahiliyah adalah persangkaan jahiliyah, hukum jahiliyah, ibadah/pengabdian jahiliyah, kebanggaan jahiliyah, tradisi jahiliyah, clan tingkah laku/perhiasan jahiliyah

 

A. Dzonu Al Jahilyah (Persangkaan Jahiliyah)

 

Muslim saja terkadang memiliki persangkaan jahiliyah kepada Allah SWT, apalagi mereka yang kafir atau munafik. Persangkaan jahiliyah adalah persangkaan yang berdasarkan hawa nafsu dan sifat andai-andai. Di zaman nabi terdapat beberapa peristiwa yang memperlihatkan bagaimana para sahabat nabi mempunyai persangkaan jahiliyah atas ketentuan yang berlaku pada saat perang Uhud. Umat Is¬lam waktu itu mengalami kekalahan dan banyak dari mereka yang gugur. Mereka putus asa dan menyangka Allah dengan sangkaan yang tidak benar, seperti layaknya sangkaan or¬ang-orang jahiliyah. Mereka berkata: "Adakah bagi kita sesuatu bagian dari pertolongan kemenangan yang dijanjikan itu?" Katakanlah (Hai Muhammad): "Sesungguhnya perkara (yang telah dijanjikan) itu semuanya tertentu bagi Allah, (Dia lah yang berkuasa melakukannya maka ikuti peraturan yang ditetapkanNya)". Semua ketentuan yang terjadi telah Allah SWT tentukan dan kita harus menerimanya dengan keimanan yang benar kepada Sang Penentu dan Sang Pembuat Keputusan yaitu Allah SWT.

 

Dalil

Q.48:6. Dan supaya Dia mengazab orang-orang orang­orang munafik lelaki dan perempuan, dan orang-orang musyrik lelaki dan perempuan, yang berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka seta menyediakan bagi mereka neraka jahannam, dan neraka jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.

Q.3:154. Kemudian setelah (kamu mengalami kejadian) yang mendukacitakan itu, Allah menurunkan kepada kamu perasaan aman, yaitu rasa kantuk yang meliputi segolongan dari kamu (yang ikhlas dan teguh imannya), sedang segolongan lain yang hanya mementingkan diri sendiri, menyangka terhadap Allah dengan sangkaan yang tidak benar, seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: "Adakah bagi kita sesuatu bagian dari pertolongan kemenangan yang dijanjikan itu?" Katakanlah (Hai Muhammad): "Sesungguhnya perkara (yang telah dijanjikan) itu semuanya di tangan Allah, (Dia lah saja yang berkuasa melakukan maka ikuti peraturan yang ditetapkan-Nya)". Mereka sembunyikan dalam hati mereka apa yang mereka tidak nyatakan kepadamu. Mereka berkata: "Kalaulah ada sedikit bagian bagi kita dari pertolongan yang dijanjikan itu, tentulah kita tidak akan dibunuh di tempat ini?" katakanlah (Hai Muhammad): "Kalau kamu berada di rumah kamu sekalipun niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan (oleh Allah) akan terbunuh itu keluar juga ke tempat mereka terbunuh". Dan (apa yang berlaku di medan perang Uhud itu) dijadikan oleh Allah untuk menguj i apa yang ada dalam dada kamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hati kamu. Dan (ingatlah), Allah Maha mengetahui segala (isi hati) yang ada di dalam

dada.

 

B. Hukmul Jahiliyah (Hukum Jahiliyah)

 

Mengikuti orang kafir dan menjadikannya sebagai pemimpin atau teman serta menyerahkan urusan kepadanya, akan memungkinkan kita mengikuti hukum atau ketentuan mereka yang jahiliyah. Hukum jahiliyah ini berlaku di banyak tempat dengan berbagai produk, misalnya dalam bidang ekonomi kita melihat praktek riba, dalam politik melalui demokrasi liberal, dalam kehidupan bermasyarakat seperti dalam penetapan hukum waris, perceraian, dan perkawinan. Hukum jahiliyah juga termasuk yang diamalkan oleh thaghut dalam menjalankan negara seperti perundang-undangan yang tidak merujuk kepada Islam. Hukum jahiliyah juga terdapat di dalam rumah dari segi penerimaan hukum tersebut dalam mengharungi kehidupan keluarganya. Or­ang kafir dan munafik senantiasa mengajak kita untuk jauh dari Islam melalui pelaksanaan hukum jahiliyah (bukan Is­lam). Manusia pada dasarnya telah diperintahkan supaya kufur dan ingkar kepada thaghut dan beriman kepada A lah tetapi kenyataannya mereka senang berhakim kepada thaghut. Dan syaitan pula senantiasa hendak menyesatkan mereka dengan kesesatan yang amat jauh.

Dalil

Q.5:51. Hai orang-orang yang beriman, j anganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu), karena sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya ia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunj uk kepada or­ang-orang yang zalim.

4:60. Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku telah beriman kepada Al Quran yang telah diturunkan kepadamu dan kepada (Kitab-kitab) yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut. Dan syaitan bermaksud menyesalkan mereka dengan kesesatan yang amat jauh.

 

C. Ibadatul Jahiliyah (Pengabdian Jahiliyah)

 

Pengabdian jahiliyah adalah pengabdian pada selain Allah, seperti mengabdi kepada berhala-berhala, termasuk pada materi, hawa nafsu, pekerjaan, perempuan, harta, tahta, dan kecendenmgan kecenderungan manusia. Pengabdian berarti menyerahkan diri dan menjalankan tingkah laku yang menghambakan diri kepada sesuatu. Di dalam Al Quran Allah SWTtelah banyak memberikan contoh mereka yang mengabdi pada berhala dan hawa nafsu. Inilah ilah (tuhan) bagi orang-orang jahil. Penghambaan jahiliyah akan membuat hati tidak tenang karena apa yang dihambakannya bukanlah sesuatu yang tetap dan dapat menenukan. Selain itu, ilah yang disembah selain Allah tidak akan membuat pengikutnya puas. Penghambaan dan pengabdian jahiliyah dapat dilihat pada buku Makna Syahadatain dan Makrifatullah.

 

Dalil

Q.39:64. Katakanlah (hai Muhammad, kepada orang­orang musyrik itu: "Sesudah jelas dalil-dalil keesaan Al­lah yang demikian), patutkah kamu menyuruhku menyembah selain Allah, hai orang-orang yang jahil?"

 

D. Hamiyatul Jahiliyah (Kebanggaan Jahiliyah)

 

Orang kafir dikenal sangat angkuh dan sombong. Mereka tidak menerima dan mengakui bahwa segala kekuatan fisik, kepandaian, kekayaan, dan kehebatan mereka berasal dari Allah. Kesombongan ini semakin dirasakan bila mereka menyebutkan bahwa semua itu adalah hasil usaha dan jerih payah mereka sendiri. Itulah contoh betapa jahilnya manusia dalam melihat kehidupannya. Apakah mereka yakin bahwa semua itu adalah hasil usahanya sendiri, sedangkan beberapa kali ia tidak mendapatkan hasil yang sama dengan usaha yang sama? Dengan strategi dan cara yang terbaikpun temyata hasilnya masih tidak memuaskan. Apakah manusia dapat mengendalikan dan memutuskan sesuatu secara tepat dan pasti? Perasaaan sombong inilah yang kemudian memunculkan kebanggaan jahiliyah. Mereka bangga dengan apa yang telah dibuatnya dan apa yang telah diperolehnya. Padahal dengan kebanggaan yang berasal dari kebodohannya itu, manusia sebenarnya menghancurkan dirinya sendiri. Beberapa contoh kebanggaan j ahiliyah adalah pakaian yang membuka aurat dan mengikuti mode terbaru dengan harga yang mahal. Sesungguhnya mereka menjerumuskan diri sendiri pada sesuatu yang menghampakan jiwa. Ketika orang-orang yang kafir itu sombong terhadap kebenaran Islam, maka itulah kesombongan jahiliyah.

Dalil

Q.48:26. (Ingatlah) ketika orang-orang kafir itu menaaamkan perasaan sombong dalam hati mereka (terhadap kebenaran Islam) yaitu kesombongan jahiliyah, lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin, serta meminta mereka tetap berpegang kepada kalimat takwa, dan mereka (di sisi Allah) berhak dengan kalimat takwa dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

 

E. Taqolidu Jahiliyah (Tradisi Jahiliyah)

 

Tradisi jahiliyah banyak ditemukan dalam keseharian kita, seperti mencela, mengumpat, pakaian yang membuka aurat, perhiasan perempuan, dan musik. Termasuk juga perkataan sia-sia di berbagai tempat untuk mengisi waktu dan dalam berbagai aktivitas adalah merupakan tradisi yang perlu dihindari karena akan menjauhkan kita dari keberkahan. Muslim diberikan panduan oleh Allah SWT dalam menghadapi orang jahil agar tidak mengamalkan amal mereka, karena bagi kami amal kami dan bagimu amal kamu. Selanjutnya kita harus meninggalkan perbuatan jahil tersebut.

 

Dalil

. Q.28:55. Dan apabila mereka mendengar perkataan yang sia-sia, mereka berpaling daripadanya sambil berkata: "Bagi kami amal kami dan bagimu amal-amal kamu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin berdampingan dengan orang-orang yang jahil".

Q.25:63. Dan hamba-hamba (Allah) Ar-Rahman (yang diridhoi-Nya), ialah mereka yang berjalan di bumi dengan rendah hati (tidak sombong), dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.

 

F Tabaruj Jahiliyah (Tingkah Laku/Perhiaan Jahiliyah)

 

Budaya sekarang ini mendorong perempuan untuk keluar rumah dengan berbagai alasan, termasuk bekerja. Ketika menjalankan pekerjaan atau aktivitas lainnya, tidak jarang muncul pergaulan jahiliyah dalam interaksi mereka. Sebagian dari tingkah laku jahiliyah adalah ingin menarik perhatian dengan pakaian, gaya berjalan, cara berbicara, make up, dan sebagainya. Hal tersebut adalah sesuatu yang dilarang Islam. Alangkah baiknya kita keluar rumah bila benar-benar perlu, dan kalaupun harus keluar rumah hendaknya menjaga adab dengan tidak menampilkan sesuatu yang dapat menarik perhatian atau membangkitkan nafsu orang lain kepadanya. Segala perhiasan yang melekat dalam penampilan seseorang yang dimaksudkan untuk menarik perhatian orang disebut perhiasan jahiliyah (tabaruj jahiliyah).

 

Dalil

Q.33:33. Dan hendaklah kamu tetap di rumah kamu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang­orang jahiliyah zaman dahulu; dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat; dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah (perintahkan kamu dengan semuanya itu) bermaksud menghapuskan perkara-perkara yang mencemarkan diri kamu - Hai AhlulBait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya (dari segala perkara yang keji).

 

3. Dhulumatul Jahiliyah (Dalam Kegelapan Jahiliyah)

 

Orang kafir akan masuk neraka bersama dengan sekutu­sekutunya. Muslim yang mengikuti perbuatan orang kafir akan mendapat balasan yang sama di akhirat seperti yang dirasakan oleh orang kafir. Allah menyebutkan bahwa or­ang-orang kafir dan penolong-penolong mereka (termasuk muslim atau yang lainnya) ialah thaghut yang mengeluarkan mereka dari cahaya iman kepada kegelapan (kufur). Mereka adalah ahli neraka dan kekal di dalamnya. Hal ini disebabkan karena amal-amal mereka seperti fatamorgana di tanah datar

yang disangka air oleh orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak akan mendapatkannya. Demikianlah keadaan orang kafir yang tidak mendapat faedah dari amalnya.

Dalil

Q.2:257. Allah Pelindung (Yang mengawal dan menolong) orang-orang yang beriman. la mengeluarkan mereka dari kegelapan (kufur) kepada cahaya (iman). Dan orang­orang yang kafir, penolong-penolong mereka ialah thaghut yang mengeluarkan mereka dari cahaya (iman) kepada kegelapan (kufur). Mereka itulah ahli neraka dan mereka kekal di dalamnya.

Q.24:39-40. Dan orang-orang yang kafir, amal-amal mereka laksana fatamorgana di tanah datar yang disangka air oleh orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapati sesuatu apapun (demikianlah keadaan orang kafir, tidak mendapat faedah dari amalnya sebagaimana yang disangkanya) dan Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup (serta membalasnya) dan Allah amat cepat perhitunganNya. Atau (orang-orang kafir itu keadaannya) adalah seperti keadaan (orang yang di dalam) gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak yang di atasnya awan tebal (demikianlah keadaannya) gelap gelita yang berlapis­lapis. Apabila orang itu mengeluarkan tangannya, ia tidak dapat melihatnya sama sekali. Dan (ingatlah) siapa yang tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun (yang akan memandunya ke jalan yang benar).

 

4. Waqi Al Jahiliyah (Realitas Jahiliyah)

Jahiliyah yang sebenarnya adalah mereka yang mengalami kegelapan jahiliyah dengan mengamalkan nilai dan kegiatan yang tidak berdasarkan kepada Al Haq. Individu yang kehidupannya berdasarkan kepada sangkaan jahiliyah, berhukum dengan hukum jahiliyah, ibadahnyapun dengan cara bukan Islam atau diada-adakan, keluar rumah dengan perhiasan jahiliyah dan kebudayaan yang diamalkannya adalah budaya Barat yang jahiliyah. Maka nilai dan kegiatan tersebut menggambarkan realitas jahiliyah.

 

Ringkasan Dalil

Sebab-sebab kejahiliyahan: persangkaan buruk kepadaAl­lah (Q.48:6; 24:50), merasa cukup, tak perlu hidayah (Q.96:6-7; 5:104; 31:21), sombong (Q.7:12; 38: 75-76; 11:27).

Jahil terhadap kebenaran: persangkaan jahiliyah (Q.48:6; 3:154), hukum jahiliyah (Q.5:5 1; 4:60), ibadah/pengabdian jahiliyah (Q.39:64), kebanggaan jahiliyah (Q.48:26), tradisi jahiliyah (Q.28:55; 25:63), tingkah laku/perhiasan jahiliyah (Q.33:33).

Akibat berada di dalam kegelapan jahiliyah (Q.2: 257; 24:39­40).

 

 

 

No comments:

Post a Comment

Syumuliyyatul Islam