PENDAHULUAN
Umat
Islam secara umum tidak menyadari akan bahaya
perang
pemikiran. Fenomena ini dibuktikan dengan banyaknya
muslim yang secara sadar ataupun tidak
mengikuti pemikiran, tingkah laku, dan
Bahan
ini disampaikan agar kita memahami bahaya perang pemikiran
yang dilakukan dengan berbagai cara dan
sarana yang ada di sekitar kita. Dengan
memaparkan contoh, bukti, dan realitas tentang ghazwul fikri, diharapkan muncul kesadaran
pada umat Islam sehingga umat mempunyai benteng
dan kesadaran untuk memperbaiki dirinya.
Pihak kafir yang mengalami kekalahan yang beruntun
dari pihak Islam selama
perang Salib mencari alternatif untuk menghancurkan umat Islam. Mereka tidak pernah rela dan tidak
pernah berhenti menyerang hingga umat Islam mengikuti
millah mereka.
Strategi yang dipilih untuk menghancurkan Islam adalah
ghazwul fikri. Ghazwul fikri adalah
serangan pemikiran, budaya, mental, dan konsep yang dilakukan
secara terus menerus dengan sistematik, teratur, serta terancang
dengan baik. Hal itu dilakukan sehingga muncul perubahan
kepribadian,
Tujuan ghazwul fikri adalah merusak akhlak,
menghancurkan pemikiran, melarutkan
kepribadian, dan menjadikan muslim keluar dari agamanya. Usaha ini mulai
dilaksanakan sebelum jatuhnya
khilafah Islamiyah, dimulai dengan memutuskan
hubungan di antara negeri Islam di
bawah khilafah
Islamiyah sehingga memunculkan paham nasionalisme,
kekauman, dan kebangsaan. Pemisahan agama dari negara,
orientalisme, kristenisasi, dan gerakan pembebasan perempuan
juga merupakan aktivitas ghazwul
fikri yang sudah menunjukkan hasilnya
pada umat Islam yang sekarang telah berubah
menjadi jahiliyah.
Pelaku ghazwul fikri secara
umum terdiri dari orang Yahudi, Nasrani, Majusi, Musyrikin, Munafikin, Atheis,
dan orang
kafir. Mereka biasa disebut dengan mustakbirin (orang yang sombong dan melampaui
batas). Cara yang digunakan mereka untuk
menyerang umat Islam sehingga
membuat umat Islam lupa
kepada identitas aslinya adalah melalui propaganda, pendidikan, pengajaran,
buku, media cetak, klub-klub,
olahraga, yayasan, lembaga-lembaga, hiburan, film, dan
musik.
Bahaya ghazwul fikri dapat
membuat umat Islam tertipu, cenderung menjadi kafir,
mencintainya, mentaatinya, mengikuti cara hidupnya, menyerupai
perilakunya, sampai memberikan loyalitas kepada orang kafir tersebut. Apabila
bahaya ini sudah datang pada umat Islam, maka
ia menjadi hina
dan cenderung menjadi pengikut orang kafir, bahkan dapat menjadi murtad. Ia akan mendapat laknat dan azab dari Allah sehingga
Allah berlepas diri darinya. Kehidupan orang muslim
yang masuk perangkap ghazwul
fikri berubah menjadi kehidupan jahiliyah.
Kehidupan
jahiliyah merupakan kehidupan yang jauh dari berkah
Allah, serta gelap tanpa panduan dan petunjuk dariNya.
Kehidupan ini akan merugikan kita di dunia dan di akhirat.
Kejahiliyahan disebabkan karena prasangka buruk pada Allah, merasa
diri cukup dan tidak butuh hidayah dan pertolongan Allah, serta
sombong. Hasil kejahiliyahan di antaranya adalah persangkaan
jahiliyah, hukum jahiliyah, pengabdian jahiliyah, kebanggaan
jahiliyah, tradisi jahiliyah, tingkah laku jahiliyah, perhiasan
jahiliyah, dan kehidupan jahiliyah. Secara umum, jahiliyah merupakan sistem,
konsep, dan amal kehidupan individu yang berada
dalam kegelapan cahaya
Islam.
Mengembalikan kepercayaan umat Islam kepada agamanya sulit dilakukan kecuali dengan dakwah dan jihad yang dipelopori oleh harakah dan
jama'ah Islamiyah. Kesulitan
ini disebabkan karena tingkah laku dan
Takriful Ghazwul Fikri
(Pengertian Perang Pemikiran)
Sinopsis
Kekalahan pihak kafir,
khususnya nasrani, dari umat Islam melalui
perang fisik dan senjata (pada perang salib dan perang lainnya), menjadikan
mereka berfikir mencari jalan lain yang dapat menghancurkan umat Islam. Jalan yang ditempuh itu adalah ghazwul fikri (perang
pemikiran). Ghazwul
fikri adalah serangan pemikiran secara bertubi-tubi yang tersusun secara sistematik, teratur, dan terancang dengan
baik yang dilakukan oleh umat yang kuat terhadap umat yang lemah untuk merubah kepribadiannya sehingga menjadi pengikut umat yang kuat
tersebut. Umat jahiliyah khususnya Yahudi
dan Nasrani senantiasa memerangi umat Islam.
Perang tersebut dilaksanakan dalam tiga bentuk, yaitu: politik, militer, dan
ekonomi. Ghazwul fikri akan menghasilkan berbagai kerusakan di kalangan umat Islam dengan cara merusak akhlak, menghancurkan
fikrah, melarutkan pribadi, dan menumbangkan akidah (mengeluarkan muslim dari
akidah Islamiyah). Dengan cara tersebut, akan dihasilkan umat
yang rusak akhlak dan kepribadiannya, kotor pemikirannya,
keluar dari Islam, serta memberikan loyalitasnya kepada
orang kafir.
Umatul Jahiliyah
(Umat Yang Menentang Allah)
Jahiliyah merupakan konsep
kehidupan suatu umat yang menentang kekuasaan Allah SWT.
Konsep kehidupan jahiliyah ini berbentuk hukum, peraturan, dan pengabdian.
Kehidupan jahiliyah pada zaman Nabi Muhammad SAW telah hancur digantikan dengan datangnya cahaya Islam. Namun demikian, kejahiliyah yang sudah
dikubur oleh nabi kita saat ini bangkit lagi dan bennunculan di berbagai
tempat untuk menghancurkan dan mengajak manusia mengikuti
Umat jahiliyah bisa ditemui
pada sebagian umat Islam apabila mereka menentang
kekuasaan dan aturan-aturan dari Allah SWT.
Dalil
Q.5:50. Apakah hukum jahiliyah yang mereka
kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih
baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?
Q.39:64. Katakanlah (Hai Muhammad, kepada orangorang
musyrik itu: Sesudah jelas dalil-dalil keesaan Allah
yang demikian), patutkah kamu menyuruhku menyembah
selain Allah, hai
orang-orang yang tidak berpengetahuan? "
Al Gozwah
(Perang)
Umat jahiliyah melakukan peperangan kepada umat Islam melalui
berbagai cara di antaranya melalui politik, militer dan
ekonomi. Mereka yang melakukan
peperangan secara opini dan pemikiran tidak
saja kelompok non Islam tetapi bisa juga dari kalangan Islam sendiri. Biasanya ciri
mereka adalah yang tidak menginginkan Islam tegak
secara substansial. Walaupun secara status kelslaman,
mereka tidak begitu mempedulikan.
A. Siyasi (Politik)
Politik jahiliyah
disampaikan melalui media dan
media tersebut sekaligus sebagai cara musuh Islam menjatuhkan
dan mengalahkan Islam bahkan
di negeri Islam sendiri. Bukti ini dapat dilihat
dimana hampir semua negara Islam politiknya
dikuasai oleh politik jahiliyah yaitu demokrasi ala Barat atau
demokrasi yang diciptakan untuk mempertahankan kepentingan
para penjajah. Hal ini membuat hampir setiap muslim dengan politik demokrasinya
dijajah dan dikuasai oleh musuh Islam, khususnya
musuh dari luar negara yang dijalankan oleh pengekor lokal. Mereka
senantiasa membuat makar untuk menghancurkan Islam. Namun, bagaimanapun makar
Allah yang balk dan Islam pasti menang.
Dalil
Q.6:123. Dan
demikianlah Kami adakan dalam tiap-tiap negeri
penjahat-penjahat terbesar agar mereka melakukan tipu
daya di negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan selain dirinya sendiri
(karena merekalah yang akan menerima akibatnya yang buruk), sedang mereka
tidak menyadarinya.
Q.6:137.
Dan demikianlah pemimpin-pemimpin mereka telah
menjadikan kebanyakan dari orang-orang yang musyrik
itu memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan
mereka dan untuk mengaburkan bagi mereka agamanya. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka
tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.
B. Askari (Militer)
Militer yang dibentuk untuk mendukung kejahiliyahan merupakan
kekuatan utama di setiap negara di dunia ini. Tetapi yang disayangkan, hampir setiap militer negara Islam berada di bawah
"bimbingan" musuh Islam. Bahkan
segala fasilitas, senjata, training, dan
keperluan militer lainnya disediakan oleh mereka. Negara Islam tidak menyadari bahwa mereka adalah musuh Islam. Militer jahiliyah tidak mengikuti aturan Islam baik dari segi peraturan perang, tujuan, serta
cara berperang. Mereka membunuh perempuan, anak-anak, orang
tua, dan siapa saja secara kejam, melarang bantuan obat-obatan, dan
sebagainya. Sifat tentara-tentaranya juga menunjukkan keganasan akhlak serta
kerusakan mental dan jiwa mereka.
Dalil
Q.2:217. Mereka bertanya kepadamu (Hai
Muhammad), mengenai (hukum) berperang dalam bulan yang dihormati. Katakanlah: "Berperang
dalam bulan itu adalah dosa besar, tetapi
menghalangi (orang-orang Islam) dari jalan
Allah, dan perbuatan kufur kepada-Nya, dan juga
perbuatan
menyekat (orang-orang Islam) ke Masjid AlHaram (di Makkah), serta mengusir
penduduknya dari situ, (semuanya itu) adalah lebih
besar lagi dosanya di sisi Allah. Dan berbuat
fitnah lebih besar (dosanya) daripada pembunuhan (saat perang dalam bulan yang dihormati).
Dan mereka (orang-orang kafir itu) senantiasa
memerangi kamu hingga mereka dapat memalingkan kamu dari
agamamu kalau mereka sanggup (melakukan yang demikian); dan siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya (agama Islam),
lalu ia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan
mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Q.9:36. Sesungguhnya bilangan bulan-bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, (yang telah
ditetapkan) dalam Kitab Allah saat la menciptakan langit dan bumi, di antaranya
empat bulan yang dihormati. Ketetapan yang demikian itu ialah agama yang lurus,
maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan-bulan yang dihormati itu (dengan melanggar laranganNya); dan perangilah
kaum kafir musyrik seluruhnya sebagaimana mereka memerangi kamu
semuanya; dan ketahuilah sesungguhnya Allah beserta
orang-orang yang bertakwa. Q.4:102. Dan apabila engkau (Hai Muhammad) berada dalam
tengah-tengah mereka (saat perang), lalu engkau hendak mendirikan
shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari
mereka berdiri (shalat) bersama-samamu dan hendaklah mereka menyandang senjata;
kemudian apabila mereka telah sujud, maka hendaklah mereka pindah ke
belakang (untuk menjaga serbuan musuh); dan hendaklah datang golongan yang lain (yang kedua) yang belum shalat (karena menjaga serbuan
musuh), maka hendaklah mereka shalat (berjamaah) bersama-samamu,
dan hendakah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah
terhadap senjata dan harta bendamu, supaya
dengan jalan itu mereka dapat menyerbu
kamu sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan
senjata-senjatamu, jika kamu dihalangi sesuatu yang menyusahkan karena hujan atau kamu sakit;
dan bersiap siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah
menyediakan bagi orang-orang kafir itu azab siksa yang amat menghinakan.
C. Iqtisodi (Ekonomi)
Islam mempunyai
banyak peraturan berkaitan dengan ekonomi, namun demikian
pihak kafir selalu memaksakan sistem ekonomi mereka kepada
negara-negara Islam. Hampir di seluruh negara Islam terdapat ekonomi jahiliyah, seperti
perbankan dengan sistem riba dan sistem perdagangan bebas yang dirancang pihak barat untuk mengiring dan
mengendalikan ekonomi negara Islam. Apapun
keinginan mereka akan dapat dicapai dengan tekanan ekonomi melalui pertukaran uang,
pembayaran hutang, serta penguasaan aset-aset ekonomi dalam negeri oleh pihak luar dan mengikatnya dengan
perjanjian-perjanjian seperti
bantuan. Sangat disayangkan kita tidak menyadari bahwa sistem jahiliyah yang diciptakannya
adalah untuk kepentingan mereka saja. Kemerosotan ekonomi sekarang ini
adalah salah satu dari kondisi yang dibuat
oleh mereka, kemudian mereka sendiri yang akan
menyelesaikan dengan berdalih sebagai penyelamat.
Dalil
Q.9:34. Hai
orang-orang yang beriman, sesungguhnya banyak di antara
pendeta-pendeta dan ahli-ahli agama (Yahudi
dan Nasrani) memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah (agama Islam). Dan (ingatlah)
orang-orang yang menyimpan emas dan perak
serta tidak membelanjakannya pada jalan Allah, maka kabarkanlah kepada mereka dengan
(balasan) azab siksa yang pedih.
Ghazwul Fikri (Perang Pemikiran)
Musuh Islam selalu bergerak untuk menghancurkan Islam dan memadamkan cahayanya dengan berbagai cara. Ghazwul fikri sebagai
satu upaya untuk memadamkan cahaya Islam nampaknya
mulai menunjukkan hasilnya pada diri umat Islam yang semakin hari semakin mengamalkan
Dalil
Q.61:8. Mereka
hendak memadamkan cahaya Allah (agama Islam) dengan
mulut mereka, sedang Allah tetap menyempurnakan
cahayaNya, sekalipun orang-orang kafir tidak suka (akan yang demikian). Q.9:32. Mereka
hendak memadamkan cahaya Allah (agama Islam) dengan mulut mereka, sedang Allah tidak
menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, sekalipun
orang-orang kafir tidak suka (akan yang demikian).
Adapun yang diinginkan oleh
musuh Islam dengan Ghazwul fikri adalah:
A. Ifsadul
Akhlaq (Merusak Akhlak)
Sujud kepada pencipta dengan
taat, mencintai, dan mengikuti perintah Allah merupakan
kewajiban setiap muslim. Akhlak sujud adalah akhlak muslim yang senantiasa diamalkan di dalam kehidupan kita selama 24 jam dengan simbol shalat. Namun
demikian, ghazwul fikr•i senantiasa mendorong kita
untuk tidak sujud dan melawan perintah Allah dengan mengerjakan yang haram
dan meninggalkan
yang halal. Kerusakan
akhlak merupakan usaha yang dilakukan mereka,
diantaranya melalui musik dan film. Tanpa
disadari kita menerima dan mengikuti mereka setelah terbiasa
mendengarkan musik dan menonton film mereka.
Merusak akhlak merupakan strategi efektif yang mereka
lakukan kepada remaja dengan menampilkan berbagai hiburan dan
kehingar-bingaran atau kebebasan yang cenderung diminati oleh
sebagian remaja.
Dalil
Q.15:29. "Kemudian
apabila Aku sempurnakan kejadiannya, serta Aku tiupkan padanya roh (ciptaan)Ku,
maka hendaklah kamu sujud kepadanya.
B. Tahtimul
Fikrah (Menghancurkan Fikrah)
Seorang muslim hendaknya
mempunyai fikrah Islami dan menjadikan Islam sebagai
diennya serta beriman kepada Allah dan kitab-Nya. Tetapi
musuh Islam menghendaki
agar muslim memberikan loyalitasnya kepada
thaghut dan menjauh
dari Islam dengan
cara menghancurkan fikrah dengan mengajak muslim berhukum kepada thaghut dan
menjadikan syaitan sebagai pemimpin. Sehingga mereka menjadi orang-orang
munafik yang secara
status adalah
muslim namun pemikiran dan akhlaknya tidak mencerminkan kelslaman, bahkan hati
mereka mengingkari Allah. Penghancuran
pemikiran sebagai bagian ghazwul fikri juga diarahkan
pada ilmu, teori, konsep, wawasan, pandangan, dan sebagainya.
Dalil
4:60. Apakah kamu tidak
memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan
kepada apa yang diturunkan
sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah
diperintahkan mengingkari thaghut itu. Dan syaitan hendak
menyesatkan mereka dengan kesesatan yang amat jauh.
C. Izabat As Syakhsiyah (Melarutkan
Kepribadian)
Larutnya kepribadian seorang muslim sehingga
menjadi kafir bukanlah sesuatu yang mustahil. Hal ini telah dibuktikan dengan adanya
orang-orang Islam yang murtad menjadi kafir, walaupun jumlahnya tidak banyak. Yang terjadi sekarang adalah
mayoritas umat Islam kufur
dari Islam dengan
tidak mengerjakan perintah Allah. Hal ini dapat membawa seorang muslim menjadi
kafir yang sesungguhnya
baik secara penampilan maupun status.
Dalil
Q.68:6. Siapa di antara kamu yang gila.
Q.4:89. Mereka ingin supaya kamu
menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama
(dengan mereka). Maka janganlah kamu mengambil (seorangpun) di antara mereka
menjadi penolong-penolongmu, hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Jika mereka berpaling
ingkar, tawanlah dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan
janganlah kamu ambil (seorangpun) di antara mereka menjadi pelindung atau
penolong
D. Riddah
(Menumbangkan Akidah)
Menjadikan muslim kehilangan akidah hingga keluar
dari Islam telah
dilakukan oleh ahli kitab pada zaman dulu, yang kemudian diwarisi dan diteruskan
oleh
pengikutnya di zaman sekarang melalui ghazwul fikri. Tujuan ini dicapai dengan berbagai cara yang menipu dan menyesatkan
kita. Kadang kita tidak menyadari bahwa mereka membawa kita ke jalan yang sesat. Dengan cara yang halus dan menipu, sesuatu
yang haram
menjadi halal, sesuatu
yang buruk
menjadi baik atau sebaliknya. Hal ini membuat kita dikuasai oleh syaitan dan
secara otomatis akidah menghilang secara bertahap dan pasti.
Dalil
Q.2:109. Sebagian besar Ahli kitab
(Yahudi dan Nasrani) menginginkan agar mereka dapat
mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang timbul dari diri mereka
sendiri, setelah nyata kepada mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah
mereka, sampai Allah mendatangkan
perintahNya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu. Q.3:149. Hai orang-orang yang beriman, jika kamu
mentaati orang-orang kafir niscaya mereka akan mengembalikan kamu pada
kekufuran, lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi.
Al Wala Lil Kafirin (Memberikan Loyalitas
Kepada
Orang Kafir)
Metode ghazwul fikri dengan merusak
akhlak, menghancurkan fikrah, melarutkan kepribadian, dan mengeluarkan muslim
dari agamanya, akan menyebabkan seorang
muslim memberikan loyalitasnya kepada orang kafir dengan segala bentuk, baik yang nampak
maupun yang tidak. Loyalitas kepada
kafir dapat berupa kepatuhan mengikuti perintah dan nasehat mereka,
menjadikan mereka sebagai rujukan dan panduan, ketergantungan kepada pihak kafir,
dan segala praktek lainnya. Padahal Islam melarang
kita berhubungan erat dengan pihak kafir, apalagi dalam hubungan tolong menolong yang dapat merugikan kita. Sebagai contoh,
Dalil
Q.5:51. Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpi-pemirnpin(mu),
karena sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang
lain. Barangsiapa
di antara kamu yang menjadikan
mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya ia termasuk golongan mereka
itu. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk
kepada orang-orang yang zalim.
Adrar Ghazwul
Fikri
(Bahaya Perang Pemikiran)
Sinopsis
Beberapa bahaya ghazwul fikri adalah menjadikan umat
Islam tertipu, berpihak, cinta, taat, dan mengikuti tata cara hidup orang
kafir, mengikuti perilaku dan penampilan mereka, serta memberikan loyalitas
kepada mereka. Suatu hat yang sangat membahayakan adalah tidak sadarnya umat
Islam terhadap bahaya ghazwul fikri. Mereka merasa bangga apabila mengikuti
tingkah laku orang kafir tersebut. Bahkan mereka tidak malu untuk mencintainya
dan menjadikan fanatik terhadap budaya-budaya Barat. Sebagian lagi yang lain mentaati
segala aturan yang mereka tetapkan walaupun bertentangan dengan nilai-nilai
Islam. Dengan bahaya perang pemikiran ini umat Islam jauh dari berkat Allah dan
tidak mendapatkan pertolongan dari Allah SWT.
Ghazwul fikri membuat umat Islam mengalami kehinaan,
mudah dikendalikan, mendapatkan laknat dan cobaan Allah, jatuh dalam syirik,
Allah melepaskan diri dari mereka, murtad dan mendapat azab dari Allah. Dengan
menjauhkan diri dari nilai Islam maka mereka akan mendapatkan kehinaan dari
Allah, laknat dan Allah melepaskan diri dari mereka. Pada mulanya mereka hanya
mengikuti tingkah laku namun tidak mustahil mereka akan keluar dari Islam
(riddah). Mereka yang mengekor dan mengikuti segala tingkah lakunya akan mendapatkan
azab dari Allah SWT.
Umat Islam yang telah terkena ghazwul fikri dengan berbagai macam cara yang dilakukannya seperti kecenderungan terhadap orang
kafir, mencintai orang kafir, mentaati
dan mengikuti tata cara mereka bahkan menyerupai penampilannya akan merugikan mereka sendiri. Terlebih apabila mereka memberikan loyalitas kepada
orang-orang kafir. Mereka hanyalah mendapatkan kehinaan, azab dan laknat dari Allah SWT. Keadaan yang sedemikian ini akan menimbulkan kehidupan jahiliyah
di kalangan umat Islam.
Adrarul
Ghazwul Fikri (Bahaya Ghazwul Fikri)
Allah dan Rasul-Nya telah banyak
menyebutkan bahwa musuh
Islam sangat banyak dan mereka
senantiasa mengganggu
kita sampai kita keluar dari Islam. Berbagai cara
dan usaha dilaksanakan oleh musuh Islam dengan cara menipu dan memperdaya muslim dari agama dan
akhlaknya. Kehidupan
jahiliyah sebagai model dan trend kehidupan modem dijadikan sebagai suatu
kebanggaan tersendiri dan dulaksanakan dalam kehidupannya. Beberapa bahaya ghazwul fikri adalah menjadikan umat Islam tertipu, berpihak,
cinta, taat, dan mengikuti tata cara hidup orang kafir, mengikuti perilaku dan penampilan
mereka, serta memberikan
loyalitas kepada mereka.
A. Al Ightiror (Tertipu)
Allah SWT menyebutkan bahwa syaitan itu berasal dari jin dan manusia. Syaitan menipu umat Islam dengan mengajak merekamenjauhi Islam. Syaitan jenis manusia ataupun jin adalah musuh yang nyata bagi kita. Dengan tipu
dayanya yang dasyhat,
syaitan mengajak manusia ke jalan yang sesat yang membuat mereka lupa pada Allah SWT.
Dalil
Q.35:6. Sesungguhnya syaitan itu
adalah musuh bagimu, maka
jadikanlah dia musuh
(yang mesti dijauhi tipu dayanya); karena sesungguhnya ia
hanya mengajak golongannya
supaya mereka menjadi penduduk neraka.
B. Ar Rukun
(Cenderung)
Berbagai sifat dan kebiasaan
manusia muslim di dunia ini ternyata terdiri dari berbagai pengikut setia syaitan hingga kepada undullah yang senantiasa melawan hizbusyaithan. Di antara sifat yang muncul saat ini adalah adanya kecenderungan kepada orang kafir, kekufuran dan perbuatan zalim yang dimurkai Allah SWT. Mereka pada hakekatnya adalah muslim namun
tidak mau menerima Islam dalam
hidupnya dan cenderung pada kekafiran. Mereka tidak akan mendapat pertolongan Allah SWT dan api neraka yang membakar telah menunggunya.
Dalil
Q.11:113. Dan janganlah kamu cenderung kepada
orang-orang
yang zalim, maka (kalau kamu berlaku demikian) api neraka akan
membakar kamu, sedang kamu
tidak mempunyai seorang penolongpun selain Allah. Kemudian (karena
kecenderunganmu itu) kamu tidak akan mendapat pertolongan.
C. AI Mawaddah (Mencintai)
Kita tidak boleh mencintai
orang kafir dalam mentaati tingkah lakunya. Orang-orang kafir tidak dibenarkan untuk dijadikan sebagai teman dekat,
penolong, bahkan orang yang dicintai.
Karena orang-orang kafir ini akan terus berusaha agar kita
mengikuti kebiasaan mereka dan mengamalkan perbuatan yang tidak Islami. Mereka tidak akan pemah berhenti mendatangkan bencana bagi umat Islam. Dihadapan kita mungkin mereka
baik, namun dalam hatinya mereka menyembunyikan kejahatan dan tekad untuk menghancurkan Islam. Walaupun
tidak semua orang kafir bersifat demikian,
namun kita perlu waspada pada mereka yang seakidah dengan kita. Allah memberikan
peringatan itu
kepada kita sebagaimana yang telah berlaku terhadap orang-orang sebelum kita.
Dalil
Q.3:118. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang yang bukan
dari kalangan kamu menjadi
orang kepercayaanmu. Mereka tidak hentihentinya berusaha mendatangkan bencana kepadamu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka
lebih besar lagi. Sesungguhnya
telah kami jelaskan kepadamu keteranganketerangan itu jika kamu (mau) memahaminya.
D. At Thoah (Mentaatl)
Berteman, cinta, dan kemudian
mengikuti serta mentaati orang kafir adalah
sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT. Walaupun hanya sebagian perkara dari pihak kafir yang kita ikuti, ia akan
menghasilkan suatu kerugian dan bahaya yang besar di masa yang akan datang. Karena pada hakekatnya hal ini akan
menjauhkan kita dari Islam sehingga kita menjadi sesat. Kesesatan
ini telah banyak terjadi di berbagai segi kehidupan. Mentaati orang kafir adalah bahaya ghazwul fikri, dimana pihak musuh membawa racun
dengan memunculkan ketergantungan pihak muslim
yang akan menjadikan kita taat kepada perintah dan
petunjuk mereka.
Dalil
Q.47:26. Yang demikian itu karena mereka
berkata kepada orang-orang
yang benci kepada apa yang diturunkan Allah: "Kami
akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan (yang berhubungan dengan menentang Muhammad dan pengikutnya)", sedang Allah mengetahui rahasia mereka.
E. Al Ittiba' (Mengikuti)
Yahudi dan Nasrani dengan cara yang menakjubkan telah membuat umat Islam mengikuti tata cara hidup mereka (millah). Mereka
tidak pernah rela sehingga orang muslim mengikuti Yahudi dan Nasrani. Usaha terus-menerus yang selalu dilakukan oleh pihak
Yahudi dan Nasrani telah membuahkan
hasil seperti banyaknya remaja yang mengikuti
Dalil
Q.2:120. Orang-orang Yahudi dan Nasrani
tidak akan senang
kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah (kepada mereka):
"Sesungguhnya petunjuk
Allah (agama Islam) itulah
petunjuk yang benar". Dan sesungguhnya j ika
kamu mengikuti keinginan mereka sesudah datangnya pengetahuan kepadamu (tentang kebenaran), maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.
F At Tasyabuh (Menyerupai)
Barangsiapa yang mengambil teman dari pihak musuh maka iapun termasuk ke dalam
golongan musuh itu. Begitulah Allah memberikan peringatan kepada kita. Berteman dekat atau menjadikan musuh Islam sebagai kawan dapat membuat kita menyerupai
perilaku dan tingkah laku mereka yang bertentangan dengan nilai Islam. Adalah
hal yang wajar apabila seseorang berteman akan
muncul perpindahan perilaku secara perlahan
di antara mereka. Hal ini dapat dibuktikan
pada remaja sekarang yang cenderung
mengikuti teman-teman
kelompoknya baik dari segi pakaian maupun
Dalil
Q.5:51. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu), karena
sebagian mereka adalah
pemimpin bagi sebagian yang
lain. Barangsiapa
di antara kamu yang menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya ia
termasuk golongan mereka
itu. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.
G. AI Wala (Loyalitas)
Loyalitas yang diberikan pada orang Yahudi dan Nasrani akan menghancurkan Islam. Bagaimanapun mereka berbeda akidah dengan kita sehingga
perilaku dan fikiran mereka tidak akan berdasarkan Islam. Karenanya, mereka akan menampilkan sesuatu yang tidak sesuai dengan Islam. Usaha agresifmenyerang Islam akan
dijalankan orang kafir bila
Islam dirasakan menjadi musuh yang akan mengancam kedudukan mereka atau bila umatnya mempunyai
faham keagamaan
dan kepercayaan yang sangat kuat. Memberikan loyalitas pada mereka adalah
tindakan yang bodoh dan tidak dibenarkan, kecuali dalam
hubungan sosial dan saling membantu pada tahap kemanusiaan dan urusan dunia. Karena dengan memberikan
loyalitas pada mereka maka kita menyerahkan segala ketaatan kita berikut segala potensi, kemampuan, waktu,
tenaga, dan sebagainya. Sedangkan Islam itu tinggi dan mempunyai izzah.
Dalil
Q.5:51. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu), karena
sebagian mereka adalah
pemimpin bagi sebagian yang
lain. Barangsiapa
di antara kamu yang menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya ia termasuk golongan mereka itu. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.
2. An Nataij (Hasil)
Al Dzil (Rendah Diri/Hina) At Taba'iah
(Mengekor) Al La'nat (Laknat) Az
Zuban (Mengikuti) As Syirk (Syirik)
Baroah Minallah (Allah Melepaskan Dia) Ar Riddah (Keluar Dari Islam) Al Azab (Azab)
Dari bahaya-bahaya ghazwul fikri
yang dilakukan oleh pihak non Islam dan sebagian muslim (munafik
dan fasiq) mengakibatkan
banyak kerugian pada umat Islam. Tidak
ada suatu kebanggaan
hidup di dunia apabila kita mendapatkan kehinaan di dunia dan juga di akhirat. Apalah artinya harta, tahta dan status apabila tidak mendapatkan kehormatan.
Dengan perang pemikiran yang begitu dahsyat kepada umat Islam melalui media elektronik,
media cetak dan media lainnya dapat menjadikan umat Islam mengekor tingkah laku mereka. Umat Islam dikonsumsi dengan segala bentuk budaya, opini, tingkah laku
dan kebiasan-kebiasaan Barat melalui penyiaran media tersebut. Sehingga tidak ada alternatif bagi umat Islam untuk memilih yang lainnya. Manakala nilai-nilai Islam tidaklah dipropagandakan secara intensif kepada umat Islam.
Allahpun akan melaknati mereka yang tidak menjalankan agama Allah bahkan Allah akan memberikan azab serta berlepas
diri darinya. Allah tidak akan memberikan bantuan dan pertolongan apalagi berkah
dari rezki yang diperolehnya.
3. Al Hayatu Jahiliyah (Kehidupan lahiliyah)
Hasil dari ghazwul fikri adalah kehidupan jahiliyah. Suatu kehidupan yang sangat merugikan adalah
kehidupan tanpa petunjuk
dan pedoman, ibarat masyarakat jahiliyah ketika di zaman Nabi SAW. Di masa itu, masyarakat
menyembah berhala
selain Allah yang pada saat ini padanannya adalah manusia menyembah ilah-ilah seperti pemikiran, kepentingan dan syahwat.
Tingkah laku ibadah di
sekeliling kabah dengan menarinari dan bertelanjang yang pada saat inipun muncul kejadian yang serupa. Begitu juga dengan kehidupan
bermasyarakat secara
jahili tidak mencerminkan masyarakat yang berperadaban. Islam datang membawa cahaya yang mengeluarkan mereka dari
kegelapan kejahiliyahan. Kehidupan
jahiliyah sebagai hash dari
perang pemikiran ini menggambarkan
kemunduran, khususnya bagi umat Islam.
Ringkasan Dalii
Bahaya ghazwul fikri: tertipu (Q.35:6), cenderung pada orang kafir (Q.11:113), mencintai orang kafir (Q.3:118), mentaati orang kafir (Q.47:26), mengikuti tata cara hidup mereka (Q.2:120), menyerupai perilaku dan
penampilan mereka (Q.5:51), memberikan loyalitas pada mereka (Q.5:51)
Akibatnya: kehinaan, gampang dikendalikan, mendapat laknat dan cobaan Allah, terjatuh dalam syirik, Allah berlepas diri darinya, murtad dan azab Timbullah kehidupan jahiliyah
Asbabul Jahiliyah
(Sebab-sebab
Jahiliyah)
Sinopsis
Bila manusia tidak memegang kebenaran (A1-haq), maka ia pasti berada
dalam kejahiliyahan. Kedua suasana ini selalu bertabrakan yang menjadikan individu berada di dalam Islam atau
kejahiliyahan. Sebab-sebab seseorang menjadi jahiliyah adalah prasangka buruk pada Allah, merasa cukup, tak perlu hidayah, sombong,
hawa nafsu, dan tradisi.
Mereka yang sombong, tak
perlu hidayah, berprasangka buruk pada Allah, dan merasa
dirinya cukup akan jauh dari kebenaran. Keadaan jahiliyah ini akan memunculkan prasangka jahiliyah, hukum jahiliyah,
ibadah/pengabdian jahiliyah, kebanggaan
jahiliyah, tradisi jahiliyah, dan tngkah laku jahiliyah. Kejahiliyahan akan membawa manusia ke dalam kegelapan, kerusakan, kehancuran, kehinaan,
dan kerugian yang besar.
1. Asbabul Jahiliyah (Sebab-Sebab Kejahiliyahan)
Kejahiliyahan berarti kebodohan
terhadap hidayah. Mereka yang jahil berarti
tidak mau menerima hidayah atau melaksanakan sesuatu yang
tidak mengikuti petunjuk hidayah Allah SWT. Selain disebabkan individu, kejahiliyahan sendiri itulah yang menutupi hidayah dengan tingkah laku dan kebiasaan yang menjauhkan dirinya dari ibadah Islam. Beberapa sebab individu menjadi
jahiliyah adalah
prasangka buruk pada Allah, merasa cukup, tak perlu hidayah, sombong, hawa nafsu,
dan tradisi.
A. Dzonnu Suuk B i I I a h (Berprasangka Buruk Kepada Allah)
Memberikan pandangan yang keliru pada segala keputusan Allah dan
terhadap apa-apa yang difirmankan-Nya adalah sikap yang tidak mengimani Allah SWT.
Kecenderungan untuk
berprasangka buruk ini diawali dengan hati yang kotor dan dipenuhi oleh maksiat,
sehingga ia tidak menerima takdir Allah. Sesuatu yang Allah turunkan dianggap negatif dan kurang baik. Misalnya ketika
diberi huj an ia mengeluh dan marah kenapa hujan turun
terus-menerus, namun ketika diberi panas ia juga mengeluh karena kepanasan. Begitupun dalam hal rezeki, kesehatan,
jodoh, dan sebagainya. Menyangka bahwa
hukum Allah tidak sesuai lagi dengan zaman dan tidak
berperikemanusiaan juga termasuk persangkaan yang j ahil. Keadaan demikian akan
menjauhkan kita dari Allah SWT.
Dalil
Q.48:6. Dan supaya Dia mengazab
orang-orang munafik lelaki dan perempuan dan
orang-orang musyrik lelaki dan perempuan yang berprasangka
buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran
(kebinasaan) yang amat buruk
dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka
neraka jahannam; sedang neraka
jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.
Q.24:50. Apakah (ketidakdatangan mereka
itu karena)
dalam hati mereka ada penyakit,
atau (karena) mereka ragu-ragu
ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku zalim kepada
mereka? Sebenarnya, mereka itulah
orang-orang yang zalim (disebabkan keraguan dan kekufuran mereka).
B. Al Istighna (Merasa Tak Perlu Hidayah)
Mereka yang sudah mapan kehidupannya dan terpenuhi segala keperluannya akan merasa
cukup dengan kondisi tersebut dan enggan menerima sesuatu yang baru dari
pihak luar. Apabila
datang sesuatu yang baru untuk memperbaiki kehidupannya mereka akan
menjawab "Cukuplah bagi kami apa yang kami
dapati dari nenek moyang kami yang
telah mengerjakannya".
Kebiasaan yang sudah tumbuh mengakar di masyarakat ini menjadikan
seseorang sulit untuk merubah dan menerima kritik atau komentar dari luar. Merasa cukup dan tidak memerlukan hidayah adalah sikap yang muncul
dari keadaan ini. Seperti pada orang tua yang biasanya lebih sulit menerima sesuatu karena merasa mempunyai lebih banyak pengalaman
dibandingkan dengan mereka yang masih muda. Sedangkan mereka yang muda lebih
mudah menerima
sesuatu yang baru walau cenderung lebih mengikuti sesuatu yang menyenangkan.
Dalil
Q.96:6-7. Ketahuilah! Sesungguhnya manusia
benarbenar
melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.
Q.5:104. Dan apabila dikatakan kepada
mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan
oleh Allah (Al Quran), dan kepada Rasul-Nya", mereka
menjawab: "Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati
nenek moyang kami mengerjakannya".
Apakah (mereka akan mengikuti juga) sekalipun nenek moyang mereka tidak mengetahui
apaapa dan tidak pula mendapat hidayah?
Q.31:21. Dan apabila dikatakan kepada mereka (yang ingkar): "Ikutilah apa yang telah
diturunkan Allah" mereka menjawab:" (Tidak),
bahkan Kami hanya mengikuti apa yang Kami dapati nenek moyang kami
melakukannya". Patutkah mereka
(mengikuti nenek moyangnya) sekalipun syaitan
mengajak mereka ke dalam siksa api neraka yang menyala-nyala?
C. Al Istikbar (Sombong)
Merasa lebih hebat termasuk perasaan iblis dan orang
kafir. Perasaan ini akan menjauhkan seseorang dari hidayah Al¬lah SWT. Pada
saat seseorang merasa dirinya lebih baik dibandingkan dengan orang lain, maka
sesungguhnya pada saat itu juga ia merendahkan dan menghinakan orang lain.
Perbuatan ini dilarang oleh Islam, namun demikian sifat demikian masih banyak
ditemui di kalangan umat Islam. Sombong akan menutupi hati kita untuk menerima
perbaikan dan merubah diri ke arah yang lebih baik. Kesombongan jahiliyah
biasanya dengan membanggakan diri melalui potensi dan rupanya saja. Namun Islam
melihat kebaikan dan kehebatan berdasarkan ketakwaan, bukan zahirnya semata.
Iblis misalnya pernah menyebutkan ia yang diciptakan dari api lebih hebat
dibandingkan manusia yang diciptakan oleh tanah. Begitupun pemuka-pemuka kafir
Quraiys yang tidak menerima Islam karena kesombongan mereka. Bahkan mereka
selalu menyatakan bahwa pengikut Muhammad SAW adalah dari mereka yang miskin,
hina, dari golongan budak, dan tidak terhormat. Dengan kesombongan ini mereka
memandang bahwa manusia mengikuti kriteria yang nampak dan berorientasi kepada
materi.
Dalil
Q.7:12. Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam)
di waktu Aku menyuruhmu?" Iblis
menjawab: "Aku lebih baik daripada Adam, Engkau ciptakan aku dari api sedang
dia Engkau
ciptakan dari tanah."
Q.38: 75-76. Allah berfirman: "Hai lblis, apakah yang menghalangimu sujud kepada (Adam) yang telah Kuciptakan dengan kekuasaan-Ku?
Apakah kamu menyombongkan
diri ataukah kamu dari golongan yang tertinggi?" Iblis menjawab: "Aku lebih baik daripadanya; Engkau ciptakan aku dari api, sedang dia Engkau
ciptakan dari tanah ".
Q. 11:27. Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: "Kami tidak melihatmu (Hai Nuh) melainkan sebagai seorang manusia seperti kami; dan kami tidak melihat golongan yang mengikutimu melainkan orang-orang kami yang miskin dan
berfikiran pendek; dan
kami juga tidak melihatmu memiliki kelebihan
apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta".
D. Ar Ruhbaniyah Al Mubtadiah (Pendeta Yang Membuat Bidah)
Pendeta Nasrani membawa
pengikutnya kepada bidah aqidah yaitu
menjadikan mereka juga sebagai tuhan-tuhan mereka. Hal ini juga terjadi pada Ulama Suuk yang membawa pengikutnya kepada
perkara-perkara bidah. Dalam
prakteknya muncul kejahiliyahan dari segi kepercayaan yang dibawa oleh para guru, ustaz atau
pendeta sesat sehingga
para pengikutnya mengikuti tanpa disadarinya. Biasanya hal ini terjadi apabila kita mengikuti secara taqlid dan tanpa
mempertimbangkannya dengan ilmu.
Dalil
Q.3:64. Katakanlah hai ahli kitab,
marilah kepada suatu kalimat
(ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bawa tidak kita
sembah kecuali Allah dan tidak
kita persekutukan dia dengan sesuatupun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain daripada Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka:
"Saksikanlah, bahwa kami adalah
orang-orang yang menyerahkan diri kepada Allah".
Q.9:3 1. Mereka menjadikan orang-orang
alimnya, dan rahib-rahib
mereka sebaagai tuhan selain Allah
dan juga mereka mempertuhankan Al Masih putra Maryam padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka
persekutukan.
E. Al Ahwa (Hawa Nafsu)
Jahiliyah dapat disebabkan oleh
hawa nafsu yang diperturutkan.
Walaupun hawa nafsu merupakan bagian dari kehidupan manusia tetapi dalam Islam hawa nafsu harus dikendalikan oleh taqwa.
Dengan pengendalian oleh taqwa, hawa
nafsu tidak akan dijadikan sebagai tuhan-tuhan tandingan Allah SWT. Begitu
banyak masyarakat saat ini memperturutkan hawa nafsunya sehingga menjadikan dirinya jahiliyah kembali.
Mempertuhankan hawa nafsu seperti materi merupakan ciri dari
masyarakat modem saat ini.
Dalil
Q.45:23. Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmuNya dan Allah telah mengunci mati pendengaran
dan hatinya dan meletakkan
tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya
petunjuk sesudah Allah membiarkannya
sesat. Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran.
F At Taqolid (Taklid)
Kejahiliyahan artinya kebodohan berarti pula tidak mempunyai ilmu. Individu yang tidak berilmu adalah individu yang cendrung
mengikuti sesuatu secara taqlid, sehingga
kemungkinan yang diikutinya salah akan terjadi. Allah SWT melarang kita melakukan
sesuatu tanpa ilmu karena pendengaran, penglihatan dan
hati akan diminta pertanggungan jawabnya.
Dalam memahami La Ilaha Illallah perlu didasari oleh ilmu
sehingga kita dapat memahaminya secara benar dan tidak sesat. Akibat dari taqlid adalah ibadah dan tingkah laku kita menjadi
jahiliyah.
Dalil
Q. 17:36. Dan janganlah kamu mengkiuti apa yang kamu tidak mempunyai
pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran,
penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta
pertanggungan jawabnya.
2. Al Jahlu Anil Haq (Bodoh Terhadap Kebenaran)
Sebab-sebab kejahiliyahan ini
akan menjadikan kebenaran sebagai sesuatu yang salah
dan tidak benar. Pandangan terhadap Islam menjadi menyimpang dan kurang tepat. Dengan kejahiliyahan ini
menjadikan individu muslim bersikap jahil seperti bertingkah laku yang tidak normal dan tidak mengikuti fitrah
manusia. Kejahiliyahan ini biasanya memandang yang haq menjadi bathil, haram menjadi halal, salah menjadi benar, buruk
menjadi indah, maksiat menjadi indah, dosa menjadi
biasa. Sebaliknya, mereka melihat bathil menjadi
benar, halal menjadi haram dan seterusnya. Beberapa produk
jahiliyah adalah persangkaan
jahiliyah, hukum jahiliyah, ibadah/pengabdian jahiliyah, kebanggaan jahiliyah,
tradisi jahiliyah, clan tingkah laku/perhiasan
jahiliyah
A. Dzonu Al Jahilyah (Persangkaan
Jahiliyah)
Muslim
saja terkadang memiliki persangkaan jahiliyah kepada Allah SWT, apalagi mereka
yang kafir atau munafik. Persangkaan jahiliyah adalah persangkaan yang
berdasarkan hawa nafsu dan sifat andai-andai. Di zaman nabi terdapat beberapa
peristiwa yang memperlihatkan bagaimana para sahabat nabi mempunyai persangkaan
jahiliyah atas ketentuan yang berlaku pada saat perang Uhud. Umat Is¬lam waktu
itu mengalami kekalahan dan banyak dari mereka yang gugur. Mereka putus asa dan
menyangka Allah dengan sangkaan yang tidak benar, seperti layaknya sangkaan
or¬ang-orang jahiliyah. Mereka berkata: "Adakah bagi kita sesuatu bagian
dari pertolongan kemenangan yang dijanjikan itu?" Katakanlah (Hai
Muhammad): "Sesungguhnya perkara (yang telah dijanjikan) itu semuanya
tertentu bagi Allah, (Dia lah yang berkuasa melakukannya maka ikuti peraturan
yang ditetapkanNya)". Semua ketentuan yang terjadi telah Allah SWT
tentukan dan kita harus menerimanya dengan keimanan yang benar kepada Sang
Penentu dan Sang Pembuat Keputusan yaitu Allah SWT.
Dalil
Q.48:6. Dan supaya Dia mengazab orang-orang
orangorang munafik lelaki dan perempuan, dan orang-orang musyrik lelaki dan perempuan, yang berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan
mendapat giliran (kebinasaan) yang amat
buruk dan Allah memurkai dan mengutuk
mereka seta menyediakan bagi mereka neraka jahannam, dan neraka jahannam
itu adalah seburuk-buruk tempat
kembali.
Q.3:154. Kemudian setelah (kamu mengalami kejadian) yang mendukacitakan itu, Allah menurunkan
kepada kamu perasaan
aman, yaitu rasa kantuk yang meliputi segolongan dari kamu (yang ikhlas dan teguh imannya), sedang
segolongan lain yang hanya mementingkan diri sendiri, menyangka terhadap Allah dengan sangkaan yang tidak benar, seperti sangkaan jahiliyah. Mereka
berkata: "Adakah bagi kita sesuatu
bagian dari pertolongan kemenangan yang dijanjikan itu?"
Katakanlah (Hai Muhammad): "Sesungguhnya perkara (yang telah dijanjikan) itu semuanya di tangan Allah, (Dia lah saja yang berkuasa melakukan maka ikuti peraturan yang ditetapkan-Nya)". Mereka
sembunyikan dalam hati mereka apa yang mereka tidak nyatakan kepadamu. Mereka berkata:
"Kalaulah ada sedikit bagian bagi kita dari pertolongan yang dijanjikan itu, tentulah kita tidak akan dibunuh di tempat ini?" katakanlah
(Hai Muhammad): "Kalau kamu berada di rumah kamu sekalipun niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan (oleh Allah) akan terbunuh itu keluar juga ke tempat mereka terbunuh". Dan (apa yang berlaku di
dada.
B. Hukmul Jahiliyah (Hukum Jahiliyah)
Mengikuti orang kafir dan menjadikannya sebagai pemimpin atau teman serta menyerahkan urusan kepadanya, akan memungkinkan
kita mengikuti hukum atau ketentuan mereka
yang jahiliyah. Hukum jahiliyah ini berlaku di banyak tempat dengan berbagai produk, misalnya dalam
bidang ekonomi kita melihat praktek
riba, dalam politik melalui
demokrasi liberal, dalam kehidupan bermasyarakat
seperti dalam
penetapan hukum waris,
perceraian, dan perkawinan. Hukum jahiliyah juga termasuk yang diamalkan oleh thaghut dalam menjalankan
negara seperti
perundang-undangan yang tidak merujuk kepada Islam. Hukum jahiliyah juga terdapat di dalam rumah dari
segi penerimaan hukum tersebut dalam
mengharungi kehidupan keluarganya. Orang kafir dan munafik senantiasa mengajak kita untuk jauh dari Islam melalui
pelaksanaan hukum jahiliyah (bukan Islam). Manusia pada
dasarnya telah diperintahkan supaya kufur dan ingkar kepada thaghut dan beriman
kepada A lah tetapi kenyataannya mereka senang berhakim kepada thaghut. Dan syaitan pula senantiasa hendak menyesatkan mereka dengan kesesatan yang amat jauh.
Dalil
Q.5:51. Hai orang-orang yang beriman, j anganlah kamu
mengambil orang-orang Yahudi
dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu),
karena sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi
pemimpin, maka
sesungguhnya ia termasuk
golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunj
4:60. Apakah kamu tidak memperhatikan
orang-orang yang mengaku telah
beriman kepada Al Quran
yang telah diturunkan kepadamu dan kepada (Kitab-kitab) yang diturunkan sebelum
kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari
thaghut.
Dan syaitan
bermaksud menyesalkan mereka dengan kesesatan yang amat jauh.
C. Ibadatul Jahiliyah (Pengabdian Jahiliyah)
Pengabdian jahiliyah adalah pengabdian pada selain Allah, seperti mengabdi kepada berhala-berhala, termasuk
pada materi, hawa nafsu, pekerjaan,
perempuan, harta, tahta, dan
kecendenmgan kecenderungan manusia. Pengabdian berarti menyerahkan diri dan
menjalankan tingkah laku yang menghambakan diri kepada sesuatu. Di dalam Al Quran Allah SWTtelah banyak memberikan
contoh mereka yang mengabdi pada
berhala dan hawa
nafsu. Inilah ilah (tuhan) bagi orang-orang jahil.
Penghambaan jahiliyah akan membuat hati tidak tenang karena apa yang dihambakannya bukanlah sesuatu yang tetap dan
dapat menenukan. Selain itu, ilah yang disembah selain Allah tidak akan membuat pengikutnya puas. Penghambaan dan pengabdian jahiliyah dapat dilihat pada buku Makna Syahadatain dan Makrifatullah.
Dalil
Q.39:64. Katakanlah (hai Muhammad,
kepada orangorang musyrik itu: "Sesudah
jelas dalil-dalil keesaan Allah yang demikian), patutkah kamu menyuruhku menyembah selain Allah, hai orang-orang yang jahil?"
D. Hamiyatul Jahiliyah (Kebanggaan Jahiliyah)
Orang kafir dikenal sangat
angkuh dan sombong. Mereka tidak menerima dan mengakui bahwa segala kekuatan
fisik, kepandaian,
kekayaan, dan kehebatan mereka berasal dari Allah. Kesombongan ini semakin dirasakan
bila mereka menyebutkan bahwa semua itu
adalah hasil usaha dan jerih payah
mereka sendiri. Itulah contoh betapa jahilnya manusia dalam melihat kehidupannya. Apakah mereka yakin
bahwa semua itu adalah hasil usahanya
sendiri, sedangkan beberapa kali ia
tidak mendapatkan hasil yang
sama dengan usaha yang sama?
Dengan strategi dan cara yang terbaikpun temyata hasilnya masih tidak
memuaskan. Apakah manusia dapat mengendalikan dan memutuskan sesuatu secara tepat dan pasti? Perasaaan sombong
inilah yang kemudian memunculkan kebanggaan
jahiliyah. Mereka bangga dengan apa yang telah dibuatnya dan apa yang telah diperolehnya. Padahal dengan kebanggaan yang berasal dari kebodohannya
itu, manusia sebenarnya menghancurkan dirinya
sendiri. Beberapa contoh kebanggaan j ahiliyah
adalah pakaian yang membuka
aurat dan mengikuti mode terbaru dengan harga yang mahal. Sesungguhnya mereka menjerumuskan diri sendiri pada
sesuatu yang menghampakan
jiwa. Ketika orang-orang yang kafir itu sombong terhadap kebenaran Islam, maka itulah kesombongan jahiliyah.
Dalil
Q.48:26. (Ingatlah) ketika orang-orang
kafir itu menaaamkan
perasaan sombong dalam hati mereka (terhadap kebenaran Islam)
yaitu kesombongan jahiliyah, lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin,
serta meminta mereka tetap
berpegang kepada kalimat takwa, dan mereka (di sisi Allah) berhak dengan kalimat takwa dan patut memilikinya. Dan adalah
Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
E. Taqolidu Jahiliyah (Tradisi Jahiliyah)
Tradisi jahiliyah banyak ditemukan dalam keseharian
kita, seperti mencela, mengumpat, pakaian yang membuka aurat, perhiasan perempuan, dan musik.
Termasuk juga perkataan sia-sia di
berbagai tempat untuk mengisi waktu dan dalam berbagai aktivitas adalah merupakan tradisi yang perlu dihindari
karena akan menjauhkan kita dari keberkahan. Muslim diberikan panduan oleh Allah SWT dalam menghadapi orang jahil agar
tidak mengamalkan amal mereka, karena bagi kami amal
kami dan bagimu amal kamu.
Selanjutnya kita harus meninggalkan perbuatan jahil tersebut.
Dalil
. Q.28:55. Dan apabila
mereka mendengar perkataan yang sia-sia, mereka berpaling daripadanya sambil berkata: "Bagi kami amal kami dan bagimu
amal-amal kamu, kesejahteraan
atas dirimu, kami tidak ingin berdampingan dengan
orang-orang yang jahil".
Q.25:63. Dan hamba-hamba (Allah) Ar-Rahman (yang diridhoi-Nya), ialah mereka yang berjalan di bumi dengan rendah hati (tidak sombong), dan
apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.
F Tabaruj Jahiliyah (Tingkah
Laku/Perhiaan Jahiliyah)
Budaya sekarang ini mendorong
perempuan untuk keluar rumah dengan
berbagai alasan, termasuk bekerja. Ketika menjalankan pekerjaan atau aktivitas lainnya, tidak jarang muncul pergaulan jahiliyah dalam interaksi mereka.
Sebagian dari tingkah laku jahiliyah adalah ingin menarik perhatian dengan pakaian,
Dalil
Q.33:33. Dan hendaklah kamu tetap di rumah
kamu dan janganlah kamu
berhias dan bertingkah laku seperti orangorang jahiliyah zaman dahulu; dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat; dan taatilah
Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah (perintahkan kamu dengan
semuanya itu) bermaksud
menghapuskan perkara-perkara yang mencemarkan diri kamu - Hai AhlulBait
dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya (dari segala perkara yang keji).
3. Dhulumatul Jahiliyah (Dalam
Kegelapan Jahiliyah)
Orang kafir akan masuk neraka
bersama dengan sekutusekutunya. Muslim yang mengikuti perbuatan orang
kafir akan mendapat balasan yang sama
di akhirat seperti yang dirasakan oleh orang kafir. Allah menyebutkan bahwa orang-orang kafir dan penolong-penolong mereka
(termasuk muslim atau yang lainnya) ialah thaghut yang mengeluarkan mereka dari cahaya
iman kepada kegelapan (kufur). Mereka adalah ahli neraka dan kekal di dalamnya. Hal ini disebabkan karena
amal-amal mereka seperti fatamorgana di tanah datar
yang disangka air oleh orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak
akan mendapatkannya. Demikianlah
keadaan orang kafir yang tidak mendapat faedah dari amalnya.
Dalil
Q.2:257. Allah
Pelindung (Yang mengawal dan
menolong) orang-orang yang beriman. la mengeluarkan mereka dari kegelapan (kufur) kepada cahaya (iman). Dan orangorang yang kafir, penolong-penolong mereka ialah thaghut yang mengeluarkan
mereka dari cahaya (iman) kepada kegelapan (kufur). Mereka itulah ahli neraka dan mereka kekal di dalamnya.
Q.24:39-40. Dan orang-orang yang kafir,
amal-amal mereka laksana
fatamorgana di tanah datar yang
disangka air oleh
orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapati sesuatu apapun (demikianlah keadaan orang kafir, tidak
mendapat faedah dari amalnya sebagaimana yang disangkanya)
dan Allah memberikan kepadanya
perhitungan amal-amal dengan cukup (serta membalasnya) dan Allah amat
cepat perhitunganNya. Atau (orang-orang
kafir itu keadaannya) adalah seperti keadaan
(orang yang di dalam) gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi
oleh ombak yang di atasnya awan tebal (demikianlah keadaannya)
gelap gelita yang berlapislapis. Apabila orang
itu mengeluarkan tangannya, ia tidak dapat melihatnya sama sekali. Dan (ingatlah) siapa yang tidak diberi cahaya (petunjuk)
oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun (yang akan memandunya ke jalan yang benar).
4. Waqi Al Jahiliyah (Realitas Jahiliyah)
Jahiliyah yang sebenarnya
adalah mereka yang mengalami kegelapan jahiliyah dengan
mengamalkan nilai dan kegiatan yang tidak berdasarkan
kepada Al Haq. Individu yang kehidupannya berdasarkan kepada sangkaan jahiliyah, berhukum dengan hukum
jahiliyah, ibadahnyapun dengan cara bukan Islam atau diada-adakan, keluar
rumah dengan perhiasan
jahiliyah dan kebudayaan yang diamalkannya adalah budaya Barat yang jahiliyah. Maka nilai dan kegiatan tersebut menggambarkan realitas jahiliyah.
Ringkasan Dalil
Sebab-sebab kejahiliyahan:
persangkaan buruk kepadaAllah (Q.48:6; 24:50), merasa cukup, tak perlu hidayah
(Q.96:6-7;
5:104; 31:21), sombong (Q.7:12; 38:
75-76;
Jahil terhadap kebenaran:
persangkaan jahiliyah (Q.48:6; 3:154), hukum jahiliyah (Q.5:5 1; 4:60), ibadah/pengabdian jahiliyah (Q.39:64), kebanggaan jahiliyah (Q.48:26), tradisi jahiliyah (Q.28:55; 25:63), tingkah laku/perhiasan jahiliyah (Q.33:33).
Akibat berada di dalam
kegelapan jahiliyah (Q.2: 257; 24:3940).
No comments:
Post a Comment