Tuesday, April 28, 2026

Tafsir Surah Al-Qiyaamah

Pendahuluan

Surah yang kecil (pendek) ini menghimpun ke dalam hati manusia beberapa hakikat, kesan, pandangan, pemandangan, getaran-getaran, dan sentuhan-sentuhan, yang pasti dihadapi manusia dan tidak dapat berpaling darinya.... Semuanya dihimpunnya dengan kokoh, dengan metode yang khusus, dengan karakter Qur'aninya yang istimewa, baik metode penyampaian pengungkapannya maupun kemasan bahasanya yang ritmik, yang keduanya menimbulkan kesan yang dalam dan kuat, yang sulit ditandingi dan sukar untuk ditinggalkan.

Surah ini dimulai dengan dua ayat yang menampilkan nuansa kiamat dan nuansa kejiwaan manusia, “Aku bersumpah dengan hari kiamat, dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).” Kemudian dilanjutkan dengan membicarakan hubungan segala sesuatu dengan jiwa dan dengan hari kiamat, sejak permulaan hingga bagian penutup, dengan menggabungkan pembahasan antara jiwa dan hari kiamat itu hingga terakhir. Seolah-olah bagian permulaan ini mengisyaratkan kepada tema surah, atau seakan-akan ia menjadi kelaziman kesan-kesan yang menjadi titik tolak semua kesan yang ada dalam surah dengan cara yang halus dan indah.

Di antara hakikat besar yang diungkapkan surah ini kepada hati manusia dan menjadi bingkai yang mereka tidak dapat berlari darinya, adalah hakikat kematian yang pasti dan menakutkan, yang akan dihadapi oleh setiap makhluk hidup, yang tak dapat ditolak, dan tidak seorang pun yang mampu menghindarinya. Kematian ini selalu terjadi berulang-ulang setiap waktu, dialami oleh para pembesar maupun orang-orangkecil, orang dewasa dan anak-anak, orang kaya dan orang miskin, orang kuat dan orang lemah, dan posisi mereka semua terhadap kematian adalah sama.. tidak dapat melakukan rekayasa untuk melepaskan diri dari kematian, tidak ada sarana untuk menghindari, tidak ada kekuatan untuk menjauhi, tidak ada pembelaan yang dapat membelanya dari kematian, tidak dapat menolak, dan tidak dapat menundanya, karena ia datang dari arah paling tinggi yang tidak ada campur tangan manusia sedikit pun, dan tidak ada tempat lari dari menyerah kepada kematian ini, dan menyerah kepada iradah arah tertinggi itu.... Inilah kesan yang diberikan surah ini ke dalam hati, ketika ia berkata, "SekaIi-kali jangan. Apabila napas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya), “Siapakah yang dapat menyembuhkan dan dia yakin bahwa sesunghuhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia). Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan). Kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau." (al-Qiyaamah: 26-30)

Dari hakikat-hakikat besar yang dipaparkan surah ini, hakikat penciptaan yang pertama dan petunjuknya atas kebenaran informasi akan adanya penciptaan yang Iain (dibangkitkan dari kubur), dan menunjukkan bahwa di sana terdapat program dan ukuran di dalam menciptakan manusia.... Hakikat yang disingkapkan Allah kepada manusia tentang peranan-peranannya yang rumit dan konsekuensikonsekuensi yang mengikutinya, dalarn suatu ciptaan yang mengagumkan, tidak ada yang berkuasa melakukannya kecuali Allah, dan tidak ada seorang pun yang mengaku dapat berbuat begitu dari orangorang yang mendustakan akhirat dan membantahnya. Maka hakikat ini memastikan bahwa terdapat Tuhan Yang Maha Esa yang mengatur dan menentukan segala urusan, dan memastikan adanya bukti yang tak.dapat dibantah tentang adanya hari akhirat. Juga terdapat isyarat yang kuat tentang kepastian adanya peristiwa akhirat ini, sejalan dengan ketentuan dan peraturan yang tidak membiarkan manusia lepas dari tanggung jawab, dan tidak membiarkm kehidupan dan tanpa timbangan dan tanpa perhitungan.... Inilah kesan yang diberikan oleh surah ini ke dalam hati manusia ketika pada bagian awalnya mengatakan, "apakah manusia mengira bahwasanya Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang-belulangnya?" (al-Qiyaamah: 3), dan mengatakan pada akhir surah, "Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban) ? Bukankah ia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, Ialu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya? Lalu Allah menjadikan darinya sepasang laki-Iaki dan perempuan? Bukanknh (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?" (al-Qiyaamah: 36-40)

Di antara pemandangan-pemandangan yang mengesankan yang ditampilkan surah ini dan dihadapkan kepada hati manusia dengan sungguh-sungguh ialah pemandangan hari kiamat dengan segala rangkaian peristiwanya seperti keamburadulan tata alam semesta, goncangan-goncangan jiwa, dan kebingungan di dalam menghadapi peristiwa-peristiwa besar yang saat itu tampaklah hal-hal yang mengerikan dan menakutkan di alam ini dan di dalam jiwa manusia yang berlarian ke sana ke mari seperti tikus di dalam perangkap. Ini sebagai jawaban terhadap kebimbangan dan keraguan manusia terhadap hari kiamat dan anggapan tentang ketidakmungkinan terjadinya hari yang penuh misteri itu, meremehkannya, dan terus-menerus di dalam kedurhakaan. Datanglah jawaban dengan mengemukakan kesan-kesan sepintas, pemandangan selintas, dan cahaya sekilas,

"Bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus-menerus. Ia bertanya, 'Bilakah hari kiamat itu ?' Maka apabila mata terbelalak (ketakutan), dan apabila bulan telah hilang cahayanya, dan matahari dan bulan dikumpulkan. Pada hari itu manusia berkata, 'Kemana tempat lari, sekali-kali tidak. Tidak ada tempat berlindung. Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali. Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya, bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya. (al-Qiyaamah: 5-15)

Di antara pemandangan-pemandangan itu adalah pemandangan orang-orang mukmin yang merasa tenteram terhadap Tuhannya, yang memandang wajah Tuhannya yang mulia pada saat yang genting dan menakutkan itu, dan pemandangan Iain yang berupa orangorang yang sudah putus hubungannya dengan Allah, putus harapan, yang sedang menantikan akibat dari kekafiran, kemaksiatan, dan pendustaan terhadap ayat-ayat Allah dan RasuI-Nya pada masa di dunia dulu. Pemandangan ini ditampilkan dengan sangat jelas dan hidup, seakan-akan sedang dihadapi seseorang pada saat membaca Al-Qur'an ini. Pemandangan ini ditampilkan untuk menolak kerakusan manusia terhadap kesenangan kini (dunia) dan pengabaian mereka terhadap akhirat, padahal di akhirat inilah pemandangan seperti ini benar-benar menjadi kenyataan,

"Sekali-kali janganlah demikian! Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia, dan meningalkan (kehidupan) akhirat. Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat. Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram, mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepada mereka malapetaka yang amat dahsyat. " (al-Qiyaamah: 20-25)

Di tengah-tengah surah dan hakikat-hakikatnya beserta pemandangan-pemandangannya ditampilkanlah empat ayat yang memuat pengarahan khusus kepada Rasulullah saw. dan pengajaran kepada beliau mengenai cara menerima Al-Qur’an ini. Tampaklah bahwapengajaran ini datang tepat dan sesuai dengan apa yang terdapat dalam surah ini sendiri. Karena Rasulullah saw. khawatir lupa terhadap apa yang diwahyukan kepada beliau, maka beliau berkeinginan keras untuk menjaga diri dari kelupaan yang keinginan itu mendorongnya untuk menyebutkan kembali bunyi wahyu sepatah demi sepatah kata pada saat sedang disampaikan kepada beliau, dan menggerakkan lidahnya supaya dapat memperkuat hafalannya. Maka datanglah pengajaran ini kepada beliau,

“Janganlah kamu mengerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur’an ini karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesunguhnya atas tangungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tangungan Kamilah penjeIasannya. " (al-Qiyaamah: 16-19)

Pengajaran ini datang untuk menenangkan hati beliau bahwa urusan wahyu, menjadikan hafal Al-Qur'an, mengumpulkannya di dalam dada, dan menjelaskan maksud-maksudnya, semuanya diserahkan kepada pemiliknya, dan tugas beliau hanya menerima dan menyampaikannya kepada masyarakat. Karena itu, hendaklah beliau menenangkan hati dan menerima wahyu itu dengan perhatian yang sempurna, karena beliau akan mendapati Al-Qur’an itu terukir dengan mantap di dalam hati beliau. Demikianlah yang terjadi....

Pengajaran dan pemberitahuan ini sebetulnya sudah ditetapkan pada posisinya sewaktu diturunkan.... Bukankah ia dari firman Allah? Sedang firman Allah itu terdapat di tempat mana pun yang dituju? Dan untuk urusan apa pun yang dikehendaki? Ini adalah salah satu dari kalimat-kalimatnya yang telah mantap di dalam lembaran Al-Kitab yang keadaannya seperti keadaan bagian-bagian lain kitab ini.... Petunjukyang menetapkan penempatan ayat-ayat ini di tempatnya di dalam sunahnya adalah petunjuk yang dalam dan mengesankan yang menunjukkan kepada sebuah hakikat yang halus di dalam keadaan setiap kalimat Allah ke arah mana pun..„ Mengenai keadaan Al-Qur'an ini dan pemuatannya terhadap setiap kalimat Allah yang diwahyukan kepada Rasulullah saw., tidak terdapat satu hurufpun yang diabaikan, dan tidak ada satu kalimatpun yang dihilangkan. Al-Qur'an itu adalah benar, jujur, penuh perhatian, dan penuh ketenangan!

Demikianlah yang dirasakan oleh hati - ketika ia menghadapi surah ini - bahwa ia terkepung dan tidak dapat lari. Ia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai amalnya dan tidak dapat lepas. Tidak ada tempat berlindung baginya dari Allah dan tidak ada yang dapat melindunginya. Penciptaannya dan langkah-langkahnya ditentukan dengan ilmu Allah dan pengatuhuan-Nya, dalam penciptaan pertarna maupun penciptaan kedua, sementara ia lengah, bermain-main, terpedaya, dan menyombongkan diri,

“Dan, ia tidak mau membenarkan (Rasul dan Al-Qur’an) dan tidak mau mengerjakan shalat. Tetapi ia mendustakan (Rasul) dan berpaling (dari kebenaran). Kemudian ia pergi kepada ahlinya dengan berlagak (sombong). " (al-Qyaamah: 31-33) 

Di dalam menghadapi sejumlah hakikat, kesan-kesan, sentuhan-sentuhan, dan pengarahan-pengarahan itu, terdengarlah ancaman yang menakutkan,

“Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan keceIakaanlnh bagimu. Kemudian, kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu!” (al-Qyaamah: 34-35)

Realitas yang demikian ini dengan segala maknanya benar-benar akan ia dapati.

Demikianlah surah ini mengobati kekerasan hati, keberpalingannya, kebandelannya, dan kelengahannya Dikesankannya keseriusan dan kesungguhan dalam urusan ini, urusan kiamat, urusan jiwa, dan urusan kehidupan yang sudah ditentukan ukurannya dengan perhitungan yang cermat dan teliti. Kemudian urusan Al-Qur'an ini yang tidak berkurang satu huruf pun, karena ia adalah firman Allah Yang Mahaagung lagi Mahaluhur, yang responsif terhadap sisi-sisi alam semesta dengan kalimat-kalimatnya, ditetapkan di dalam rekaman alam yang pasti dan di dalam lembaran kitab yang mulia ini.

Telah kami kemukakan beberapa hakikat surah ini dan pemandangan-pemandangannya secara tersendiri semata-mata untuk memberikan penjelasan, sedang susunan surah memiliki nuansa tersendiri. Karena urutannya di dalam susunan, percampuran persoalannya di sana-sini, sentuhannya terhadap hati pada segi hakikat suatu kali, dan kembalinya kepadanya pada segi lain sesudah selang beberapa waktu..semua itu merupakan kekhasan uslub qur'ani di dalam berbicara kepada hati manusia, yang tidak dapat dicapai oleh uslub lain dan metode lain.

Marilah kita ikuti surah ini sebagaimana yang dipaparkan secara khusus oleh Al-Qur'an.

Hari Kiamat dan Jiwa Yang Menyesali Dirinya Sendiri

لَآ اُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيٰمَةِۙ ١ وَلَآ اُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ ٢ اَيَحْسَبُ الْاِنْسَانُ اَلَّنْ نَّجْمَعَ عِظَامَهٗ ۗ ٣ بَلٰى قٰدِرِيْنَ عَلٰٓى اَنْ نُّسَوِّيَ بَنَانَهٗ ٤ بَلْ يُرِيْدُ الْاِنْسَانُ لِيَفْجُرَ اَمَامَهٗۚ ٥ يَسْـَٔلُ اَيَّانَ يَوْمُ الْقِيٰمَةِۗ ٦ فَاِذَا بَرِقَ الْبَصَرُۙ ٧ وَخَسَفَ الْقَمَرُۙ ٨ وَجُمِعَ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُۙ ٩ يَقُوْلُ الْاِنْسَانُ يَوْمَىِٕذٍ اَيْنَ الْمَفَرُّۚ ١٠ كَلَّا لَا وَزَرَۗ ١١ اِلٰى رَبِّكَ يَوْمَىِٕذِ ِۨالْمُسْتَقَرُّۗ ١٢ يُنَبَّؤُا الْاِنْسَانُ يَوْمَىِٕذٍۢ بِمَا قَدَّمَ وَاَخَّرَۗ ١٣ بَلِ الْاِنْسَانُ عَلٰى نَفْسِهٖ بَصِيْرَةٌۙ ١٤ وَّلَوْ اَلْقٰى مَعَاذِيْرَهٗۗ ١٥

“Aku bersumpah dengan hari kiamat, dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). Apaknh manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang-belulangnya? Bukan demikian, sebenarnya kami berkuasa menyusun (kembali) jari-jemarinya dengan sempurna. Bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus-menerus. la bertanya, 'Bilakah hari kiamat itu ?' Maka apabila mata terbelalak (ketakutan), dan apabila bulan telah hilang cahayanya, dan matahari dan bulan dikumpulkan, pada hari itu manusia berkata, 'Ke mana tempat lari? Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung. Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali. Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya Bahkan manusia itu menjadi saki atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya. "(al-Qyaamah: 1-15)

Penyampaian sumpah disertai dengan sikap berpalingnya manusia darinya ini lebih menyentuh perasaan daripada sumpah langsung begitu saja Sentuhan demikian inilah yang dimaksudkan dalam pengungkapan dengan metode seperti ini, yang begitu sempurna dengan metode khususnya, yang sering disebutkan secara berulang-ulang dalam beberapa tempat yang berbeda-beda di dalam Al-Qur'an.... Kemudian di belakangnya muncullah hakikat hari kiamat dan hakikat jiwa yang amat menyesali dirinya sendiri.

Hakikat kiamat akan dibicarakan dalam beberapa ayat di dalam surah ini. Sedangkan jiwa yang amat menyesali dirinya sendiri ini terdapat beberapa macam penafsiran ma'tsurat.... Al-Hasan al-Bashri berkata, “Orang mukmin itu, demi Allah, tidaklah Anda lihat melainkan menyesali dirinya (dengan mengatakan), 'Apa yang saya kehendaki dengan ucapan saya? Apa tujuan saya makan? Apa tujuan saya merenung... Sedangkan orangyang durhaka cuek saja, tidak menyesali dan tidak mencela dirinya sedikitpun.. .." AI-Hasan berkata lagi, “Tidak seorang pun dari penduduk langit dan bumi melainkan akan mencela dirinya sendiri pada hari kiamat.." Ikrimah berkata, “Dia mencela dilinya sendiri mengenai kebaikan dan keburukan (dengan mengatakan) , 'Seandainya aku dulu begini dan begini...."' Demikian pula diriwayatkan dari Sa'id bin Jubair.... Dan dari Ibnu Abbas, katanya, “Yaitu nafsu yang amat tercela...” Dan darinya lagi, “Al-Iawwaamah (yang amat menyesali dirinya sendiri) itu ialah yang tercela.” Dari Mujahid, “Menyesali apa yang luput dari dirinya sendiri dan mencelanya.. ..” Qatadah berkata ”Yaitu jiwa yang durhaka.” Jarir berkata “Semua pendapat ini berdekatan maknanya dan yang paling cocok dengan zahir ayat adalah jiwa yang mencela dirinya sendiri atas kebaikan dan keburukannya, serta menyesali kebaikan-kebaikan yang luput.

Makna yang kami pilih mengenai maksud “nafsu yang amat menyesali dirinya sendiri” adalah pendapat yang dikemukakan al-Hasan al-Bashri, “Sesungguhnya orang mukmin itu, demi Allah, tidaklah Anda lihat melainkan mencela dirinya sendiri: Apa yang kukehendaki dengan kata-kata yang kucapkan? Apa yang kukehendaki dengan makan ini? Apa yang kuinginkan dengan merenung begini? Sedang orang durhaka tidak ambil peduli dan tidak mencela dirinya sama sekali.”

Inilah nafsu lawwamah (nafsu yang amat menyesali dirinya sendiri), yang sadar, yang menjaga diri, selalu takut, yang berhati-hati dan selalu memperhitungkan dirinya sendiri, selalu memperhatikan sekelilingnya, dan menjadi jelas baginya hakikat hawa nafsunya serta waspada terhadap tidu dayanya. Maka inilah jiwa yang mulia menurut pandangan Allah, sehingga disebut-Nya bersama dengan menyebut hari kiamat, kemudian disebutkanlah kebalikannya, yaitu jiwa yang durhaka, jiwa manusia yang hendak terus berbuat durhaka dan maksiat dengan tidak menghiraukan kedurhakaannya, yang mendustakan Rasul Allah, berpaling dari kebenaran, dan pergi kepada keluarganya atau kelompoknya dengan berlagak sombong, tanpa menghisab dan memperhitungkan dirinya, tanpa mencelanya, tanpa memprihatinkannya, dan tanpa ambil peduli.

"Aku bersumpah dengan hari kiamat, dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). " (al-Qiyaamah: 1-2)

Allah bersumpah terhadap terjadinya hari kiamat ini. Akan tetapi ketika Ia berpaling dari sumpah, Ia berpaling dari menyebut apa yang dijadikan sumpah, dan disebutkannya dalam bentuk lain, seakan-akan sebagai pendahuluan untuk membicarakan sesuatu yang disebutkan sesudah peringatan ini, dengan paparan yang membangkitkan kesadaran,

“Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya ? Bukan demikian, sebenarnya Kami berkuasa menyusun (kembali) jari-jemarinya dengan sempurna.“ (al-Qiyaamah: 3-4)

Problematika perasaan pada kaum musyrikin ialah sulitnya membayangkan dikumpulkannya kembali tulang-belulang yang telah remuk redam, yang telah hilang di dalam tanah dan berserakan bersama debu, untuk dikembalikan dan dibangkitkan sebagai manusia yang hidup. Barangkali begitulah pikiran sebagian orang hingga saat ini. Al-Qur'an menyanggah anggapan ketidakmungkinan dikumpulkannya kembali tulang-belulang itu dengan mempertegas terjadinya peristiwa itu,

“Bukan demikian, sebenamya Kami berkuasa menyusun (kembali) jari-jemarinya dengan sempurna. "

Kata "al-banaan" artinya adalah ujung-ujung jari (sidik jari), dan nash ini menegaskan adanya aktivitas pengumpulan sidik-sidik jari itu dengan segala sesuatu yang lebih tinggi daripada sekadar mengumpulkan, yaitu menyempurnakannya dan menyusunnya pada tempat-tempatnya sebagaimana sedia kala. Ini sebagai kiasan tentang pengulangan pembentukan manusia dengan secermat-cermatnya dan dengan sesempurna mungkin hingga tidak ada satu pun ujung jari (sidikjari) yang hilang, tidak ada yang rusak. Bahkan, ia dalam keadaan utuh dan sempurna, tidak ada anggota yang hilang, dan tidak ada bentuk dan ciri anggota ini yang hilang, meski bagaimana pun kecil dan halusnya!

Di sini dicukupkan dengan menyebutkan penegasan ini dan akan disebutkan pada akhir surah dalil lain tentang realitas penciptaan pertama. Sesungguhnya pembicaraan di sini hanyalah untuk mengungkapkan alasan psikologis mengenai hisab ini dan menyangkal anggapan ketidakrnungkinan mengumpulkan kembali tulang-belulang...

Manusia berkeinginan untuk berbuat durhaka secara terus-menerus dengan tidak ada sesuatu pun yang menghalanginya dari tindakan durhakanya, dan dia juga menginginkan tidak adanya hisab (perhitungan dan pertanggungjawaban) di sana dan tidak ada hukuman. Oleh karena itu, dia menganggap jauh kemungkinan terjadinya hari kebangkitan dan kubur, dan menganggap jauhnya kemungkinan datangnya hari kiamat,

“Bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus menerus. 1a bertanya, Bilakah hari kiamat itu ?" (alQiyaamah: 5-6)

Pertanyaan dengan kata tanya "ayyaana" (bilakah)-dengan bunyi yang panjang-ini memberi kesan jauhnya kemungkinan terjadinya hari kiamat ini, dan hal ini sejalan dengan keinginan mereka untuk terus-menerus berbuat dosa dengan tiada merasa terhalang oleh kepercayaan adanya kebangkitan dari kubur dan adanya hari akhiraL. „ Karena kepercayaan kepada akhirat itu akan mengendalikan jiwa yang gemar melakukan kejelekan, dan mengekang hati yang kepada kedurhakaan. Oleh karena itu, dia atau mereka berusaha menghilangkan kekang dan kendali ini, agar dia bebas melakukan kejahatan dan kedurhakaan dengan tanpa ada perasaan akan dihisab pada hari kiamat

Karena itu, jawaban terhadap pelecehan terhadap hari kiamat dan anggapan tentang jauhnya kemungkinan terjadinya, diberikan dengan begitu cepat, amat cepat, dan pasti, tidak ditunda-tunda dan dilambat-lambatkan lagi, hingga dalam irarna baitnya dan bunyi lafalnya. Dan di dalam pemandangan hari kiamat itu juga diikutsertakan perasaan indrawi dan hati manusia, bersama pemandangan-pemandangan alam,

“Maka apabila mata terbelalak (ketakutan), dan apabila bulan telah hilang cahayanya, dan matahari dan bulan dikumpulkan. Pada hari itu manusia berkata, 'Ke mana tempat lari?"' (al-Qiyaamah: 7-10)

Mata terbelalak dan berbolak-balik dengan amat cepat seperti berbolak-baliknya kilat dan sambarannya Bulan redup dan hilang cahayanya. Matahari dan bulan dikumpulkan menjadi satu setelah berpisah, dan rusak dan amburadul sistem tata suryanya padahal selama ini berjalan dengan baik aturannya yang demikian cermat dan rumit sudah rusak berantakan. Di tengah-tengah kondisi alam yang menakutkan dan morat-marit seperti ini manusia bertanya-tanya dengan penuh ketakutan, "Ke mana tempat lari?”. Di dalam pertanyaannya itu tampaklah kebingungan dan ketakutannya, seakan-akan ia sedang melihat ke semua penjuru, tiba-tiba ia sudah terikat, tertangkap.

Tidak ada tempat berlindung, tidak ada perlindungan, tidak ada tempat dari kekuasaan dan hukuman Allah. Manusia kembali kepada-Nya, hanya ada tempat di sisi-Nya, ådak ada tempat lain lagi selain itu,

"Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung! Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali. " (al-Qiyaamah: 11-12)

Keinginan manusia untuk terus-menerus berbuat dosa tanpa hisab dan tanpa pembalasan, tidak akan terjadi pada hari itu. Bahkan, segala sesuatu yang pernah dilakukannya dihisab diingatkan kepadanya kalau ia lupa dan diberi balasan setelah dia mengingatnya melihatnya di hadapannya,

"Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya. "(al-Qiyaamah: 13)

Ya, akan diberitakan dan diberitahukan kepadanya apa saja yang pernah dilakukannya sebelum meninggal dunia, serta apa saja yang dilalaikannya dan segala dampak perbuatannya, yang baik ataupun yang buruk. Karena, di antara amalan-amalan manusia itü ada yang meninggalkan bekas-bekas yang akan disandarkan kepada pelakunya pada perhitungan terakhir.

Bagaimanapun beraneka ragamnya alasan yang diajukan seseorang, tidak akan diterima alasan-alasan itu, sudah diserahkan kepadanya dan dia diserahkan kepada jiwanya, dan dia ditugasi untuk menunjukkan dan membimbing jiwanya kepada kebaikan. Kalau dia sampai kepada kejelekan, dia akan dimintai pertanggungjawaban dan dipatahkan argumentasi-argumentasinya,

"Bahkan manusia itü menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya. " (alQiyaamah: 14-15)

Satu hal yang perlu diperhatikan bahwa segah sesuatunya berjalan dengan cepat dan singkat. Alinea-alinea, diksi-diksi (pemisahan kata-kata), irama musikalnya, pemandangan-pemandangan pintas, demikian pula dengan aktivitas perhitungan, "Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya. " Semuanya terjadi demikian cepat dan global. ... Hal itu dikarenakan ayat ini untuk menyanggah anggapan bahwa masa hidup di dunia ini amat panjang dan sikap meremehkan terhadap hari perhitungan.

Pengarahan kepada Rasulullah saw. di dalam menerima wahyu

Kemudian datanglah empat ayat khusus yang memberikan pengarahan kepada Rasulullah saw. mengenai urusan wahyu dan dalam menerima AIQur'an ini,

لَا تُحَرِّكْ بِهٖ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهٖۗ ١٦ اِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهٗ وَقُرْاٰنَهٗ ۚ ١٧ فَاِذَا قَرَأْنٰهُ فَاتَّبِعْ قُرْاٰنَهٗ ۚ ١٨ ثُمَّ اِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهٗ ۗ ١٩

“Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) AI-Qur’an kamu hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesunguhnya atas tangungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya. ” (al-Qjyaamah: 16-19)

Sebagai tambahan terhadap apa yang sudah kami kemukakan dalam pendahuluan surah ini mengenai ayat-ayat ini, maka kesan yang ditinggalkannya di dalam jiwa adalah adanya jaminan mutlak dari Allah mengenai urusanan ini dalam hal mewahyukan, memelihara, mengumpulkan, dan menjelaskannya, dan menyandarkan semuanya secara total kepada Allah SWT. Tidak ada urusan bagi Rasulullah saw. melainkan mengemban dan menyampaikan kepada manusia. Kemudian, perhatian dan keinginan yang kuat dari Rasulullah saw. untuk meliputi semua yang diwahyukan kepadanya, dan mengambilnya dengan serius dan sungguh-sungguh, serta kekhawatirannya jangan-jangan ada kalimat atau kata-kata yang terlupakan, maka beliau terdorong untuk mengikuti bacaan malaikat Jibril ayat per ayat dan kata per kata sehingga dapat dipercaya bahwa tidak ada satu pun kata yang terluput, dan mantaplah hafalan beliau terhadapnya sesudah itu.

Dicatatnya peristiwa ini di dalam Al-Qur'an yang terbaca ini memiliki nilai tersendiri tentang mendalamnya kesan-kesan yang kami sebutkan di sini dan di dalam pendahuluan surah ini secara khusus.

Menyingkap Sikap Jiwa yang Menyesali Dirinya Sendiri

Ayat-ayat berikutnya memaparkan pemandangan hari kiamat dengan segala sesuatu yang ada padanya termasuk keadaan jiwa yang sangat menyesali dirinya sendiri. Diingatkanlah mereka terhadap jiwa mereka dengan segala sikapnya yang cinta dan sibuk kepada kehidupan dunia dan mengabaikan kehidupan akhirat serta tidak memperhatikannya, dan dihadapkanlah kepada mereka keadaan mereka di akhirat nanti sesudah ini, dan bagaimana jadinya mereka nanti. Kondisi ini ditunjukkan kepada mereka dalam lukisan pemandangan yang hidup, dengan kesan yang kuat dan mendalam,

كَلَّا بَلْ تُحِبُّوْنَ الْعَاجِلَةَۙ ٢٠ وَتَذَرُوْنَ الْاٰخِرَةَۗ ٢١ وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ نَّاضِرَةٌۙ ٢٢ اِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ۚ ٢٣ وَوُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍۢ بَاسِرَةٌۙ ٢٤ تَظُنُّ اَنْ يُّفْعَلَ بِهَا فَاقِرَةٌ ۗ ٢٥

“Sekali-kali janganlah demikian. Sebenamya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia, dan meninggalkan (kehidupan) akhirat. Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat. Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram, mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat. "(al-Qiyaamah: 20-25)

Pertama kali yang perlu diperhatikan dari sudut penggunaan kata dalam alinea ini adalah disebutnya kehidupan dunia dengan "al-'aajilah" (sesuatu yang cepat, hanya sepintas). Lebih dari itu, isyarat lafal tentang singkatnya kehidupan dunia dan cepatnya selesai, merupakan isyarat yang dimaksudkan, karena di sana ada kesesuaian antara bayang-bayang lafal dengan bayang-bayang keadaan yang ditunjukkan dalam rentetan ayat, dan firman Allah kepada Rasul-Nya saw.,

"Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. " (al-Qiyaamah: 16)

Maka menggerakkan dan cepat-cepat terhadap sesuatu ini adalah salah satu dari bayang-bayang sifat manusia di dalam kehidupan dunia ini.... Ini adalah keserasian yang halus dan lembut di dalam perasaan, yang diperhatikan oleh Al-Qur'an di dalam metode penyampaiannya. Kemudian sampailah kepada kondisi yang digarnbarkan oleh nash Al-Qur'an dengan pengungkapan yang unik ini,

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat. "(al-Qiyaamah: 22-23)

Kepada Tuhannya....? Ah, manakah ada posisi yang lebih tinggi daripada ini? Manakah kebahagiaan yang melebihi ini ?

Jiwa orang mukmin kadang-kadang benar-benar merasa senang dan bahagia dengan adanya secercah keindahan ciptaan Ilahi di dalam semesta atau pada dirinya, yang dilihatnya pada malam purnama atau pada waktu gelap gulita, atau ketika fajar merekah, atau bayang-bayang yang terus memanjang, atau laut yang bergelombang, atau padang yang luas membentang, atau taman-taman yang indah berseri, atau mayang-mayang yang tampak asri, atau kalbu yang cerdas dan pandai, atau keimanan yang penuh kepercayaan, atau kesabaran yang penuh keindahan... dan lain-lain wujud keindahan di semesta raya ini.... Maka penuhlah jiwanya dengan kesenangan, melimpahlah rasa bahagia, dikepakkannya sayap sayap cahaya untuk terbang bebas di penjuru alam. Lenyaplah darinya duri-duri kehidupan, penderitaan dan keburukan, beban tanah dan timbunan dagingndan darah, gejolak syahwat dan hawa nafsu....

Nah, bagaimanakah? Bagaimanakah ia ketika memandang-bukan kepada keindahan ciptaan Allah - melainkan kepada keindahan zat Alah sendiri?

Ingatlah, sesungguhnya ini adalah posisi yang pertama-tama memerlukan pertolongan dari Allah, dan kedua memerlukan pemantapan dari Allah, agar manusia itu dapat menguasai dirinya sehingga stabil dan menikmati kebahagiaan, yang tidak dapat diterangkan Iagi sifat-sifatnya, dan tidak dapat digambarkan ha.kikatnya!

"Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada TuhannyaIah mereka melihat. "

Nah, bagaimana mungkin ia tidak berseri-seri, ketika ia melihat keindahan Tuhannya?

Sungguh manusia dapat melihat sesuatu dari ciptaan Alah di dunia, seperti mayang elok, bunga yang segar, sayap yang mengepak, pikiran yang cerdas, atau perbuatan yang bagus. Dengan memperhatikan dan merenungkan semua ini, maka akan melimpahlah rasa bahagia dari dalam hati ke raut wajah, hingga tampak cerah dan ceria. Maka bagaimana Iagi kalau ia memandang keindahan Yang Maha Sempurna, yang tidak terikat dengan segala keindahan di alam wujud ini? Manusia tidak akan dapat mencapai tingkatan yang demikian itu kecuali setelah ia lepas dari semua kendala yang menghalanginya untuk mencapai tingkatan yang demikian tinggi Iagi sangat agung dalam angan-angan. Semua kendala yang bukan hanya ada di sekitarnya, melainkan ada di dalam dirinya sendiri yang berupa dorongan-dorongan kepada kekurangan dan kejelekan, dan mendorongnya kepada sesuatu yang tidak dapat mengantarkannya untuk memandang Allah di akhirat nanti....

Adapun masalah bagaimana cara melihat? Dengan anggota tubuh yang mana ia melihat? Dan, dengan sarana apa ia melihat wajah Allah„..? Semua itu adalah pembicaraan yang tidak terlintas di dalarn hati yang sedang disentuh kebahagiaan yang diinformasikan oleh Al-Qur'an, kepada hati yang beriman, dan kebahagiaan yang meluap kepada ruh, yang indah, nyata, dan merdeka.

Bagaimana keadaan orang-orang yang menghalangi dirinya sendiri untuk mendapatkan cahaya yang melimpahkan kegembiraan dan kebahagiaan ini? Mengapa mereka sibuk memperdebatkan seputar masalah yang mutlak, yang tidak dapat dicapai oleh akal biasa?

Naiknya derajat manusia dan terlepasnya mereka dari keterikatan terhadap alam dunia yang terbatas ini, yang demikian ini saja sudah menjadi terminal harapan untuk dapat memperoleh hakikat yang mutlak pada hari itu. Sebelum mendapatkan kebebasan dan kemerdekaan seperti ini, sudah terasa sebagai sesuatu yang besar bagaimana dia membayangkannya - semata-mata membayangkan-bagaimana terjadinya pertemuan itu.

Dengan demikian, merupakan perdebatan yang sia-sia perdebatan panjang dan bertele-tele yang sibuk dilakukan oleh golongan Mu'tazilah dan para penentangnya dari golongan Ahlus Sunnah dan para mutakallimin (ahli ilmu kalam) seputar hakikat masalah memandang dan melihat Allah di tempat seperti itu (surga).

Mereka mengukurnya dengan ukuran dunia; mereka bicarakan manusia menurut ketetapan akal di dunia; dan mereka bayangkan urusan itu dengan menggunakan sarana-sarana pengetahuan yang terbatas lapangannya.

Materi petunjuk kalimat ini sendiri terbatas pada apa yang dapat dipahami dan dibayangkan oleh akal kita yang terbatas Apabila sudah lepas dan bebas dari bayangan-bayangan ini maka berubahlah tabiat kalimat tersebut. Kalimat ini tidak lain hanyalah sekadar rumusan-rumusan yang berbeda-beda bunyinya sesuai dengan pikiran-pikiran dan bayangan-bayangan yang terkandung di dalam pikiran manusia Apabila kemampuannya berubah (berbeda) maka berbeda pulalah hasil bayangannya, dan berbeda pula materi yang ditunjuki kalimat itu. Kita memberlakukannya di bumi ini sesuai dengan rumusan-rumusan (bunyi) kalimat itu menurut ukuran kondisi kita. Maka, mengapa kita mau memasuki sesuatu yang kita tidak mengetahuinya secara pas hingga terhadap materi-materi yang ditunjuki kalimat-kalimat tersebut?

Marilah kita perhatikan luapan kebahagiaan yang menyenangkan, dan luapan kegembiraan yang penuh kesucian, yang lepas dari pandangan dan bayangan kita terhadap hakikat keadaan menurut ukuran kemampuan yang kita miliki. Marilah kita sibukkan ruh kita untuk melihat luapan kebahagiaan ini, karena melihat ini sendiri sudah merupakan nikmat, yang tidak dapat diungguli kecuali oleh kenikmatan memandang kepada wajah Yang Mahamulia.... ”Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram. Mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat. ” (al-Qyaamah: 24-25)

Itulah wajah-wajah yang Iayu, sayu, cemberut, muram, dan terhalang dari melihat wajah Allah, karena langkah-langkah dan tindakan-tindakan serta sikap hidupnya sewaktu di dunia dulu yang sibuk dengan hal-hal yang menjadikannya bermuram durja karena takut akan ditimpa bencana dan malapetaka yang amat dahsyat, yang meremukkan dan mematahkan tulang punggungnya.... Bencana yang amat dahsyat, yang akan menimpanya ketika mereka sedang bersedih hati dan bermuram durja ketika berduka dan bersusah hati.

Inilah akhirat yang mereka abaikan dan tidak mereka hiraukan, dan mereka konsentrasikan pikirannya kepada kehidupan dunia yang mereka cintai dan mereka perebutkan. Di belakang mereka adalah hari kiamat ini, hari yang ketika itu berbeda-beda tempat kembali dan raut wajah manusia,  dengan perbedaan yang amat jauh!! Di antaranya ada wajah-wajah yang berseri-seri memandang kepada wajah Tuhannya. Ada pula wajah-wajah yang muram, yang merasa yakin akan ditimpa malapetaka yang amat dahsyat !!

Pemandangan Saat Menghadapi Sakaratul Maut

Bila pemandangan-pemandangan hari kiamat dibentangkan.... Bila mata terbelalak ketakutan, bulan hilang cahayanya, matahari dan bulan dikumpulkan, manusia pada hari itu berkata, ”Kemana tempat lari?", sedang tempat lari tiada lagi. Apabila terdapat perbedaan tempat-tempat kembali dan wajah-wajah manusia dengan perbedaan yang amat jauh, ada wajah-wajah yang berseri-seri dengan memandang kepada Tuhannya, dan ada pula wajah-wajah yang muram yang yakin akan ditimpa malapetaka yang amat dahsyat...

Apabila pemandangan-pemandangan ini meninggalkan kesan yang kuat di dalam jiwa, karena kuatnya hakikat yang terkandung di dalamnya, dan kuatnya penyampaianAI-Qur'an yang mempersonifikasikannya dan menghidupkan nuansanya, maka sesudah membentangkan pemandangan-pemandangan itu surah ini mendekatkan berbagai sisinya sehingga menyentuh perasaan orang-orang yang menjadi sasaran pembicaraan dengan pemandangan lain yang sering terjadi berulang-ulang, yang tidak dibiarkannya berlalu begitu saja sehingga dihadapkannya kepada mereka di bumi ini dengan kekuatannya, kejelasannya, dan timbangannya yang berat!

Pemandangan itu adalah pemandangan kematian.... Kematian yang merupakan ujung perjalanan semua makhluk hidup, yang tidak dapat ditolak oleh makhluk hidup mana pun baik dari dirinya sendiri maupun dari orang Iain. Kematian yang memisahkan antar kekasih, yang terus berjalan di jalannya tak mau berhenti, tak mau berpaling, tak menghiraukan jerit tangis orang yang sangat sedih (yang akan mati itu sendiri ataupun yang ditinggalkannya - penj.) , tak menghiraukan penyesalan orang yang akan berpisah, tak menghiraukan keinginan orang yang berkeinginan, dan tak menghiraukan ketakutan orang yang takut ! Kematian yang akan menyerang orang-orang yang diktator dengan cara yang mudah sebagaimana menimpa orang-orang kecil dan hina dina, yang memaksa orang-orang yang berkuasa sebagaimana memaksa orang-orang yang lemah. Kematian yang tidak ada daya dan upaya bagi manusia untuk menghindarinya sedang dalarn hal ini mereka tak pernah mengatur kekuatan pemaksa yang dapat melepaskannya dari kematian itu,

كَلَّآ اِذَا بَلَغَتِ التَّرَاقِيَۙ ٢٦ وَقِيْلَ مَنْ ۜرَاقٍۙ ٢٧ وَّظَنَّ اَنَّهُ الْفِرَاقُۙ ٢٨ وَالْتَفَّتِ السَّاقُ بِالسَّاقِۙ ٢٩ اِلٰى رَبِّكَ يَوْمَىِٕذِ ِۨالْمَسَاقُ ۗ ࣖ ٣٠

"Sekali-kali jangan. Apabila napas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya), 'Siapakah yang dapat menyembuhkan?' dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau. "(al-Qiyaamah: 26-30)

Ini adalah pemandangan saat menjelang ke matian, saat sakaratul-maut (yang dihadapkan oleh Al-Qur'an kepada mereka, seakan-akan kematian itu sedang terjadi, dan seakan-akan ia sedang keluar dari celah-celah lafal dan sedang bergerak sebagaimana keluarnya sifat-sifat lukisan itu dari celah-celah sentuhan kuas.

"Sekali-kali jangan! Apabila napas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan.... "

Ketika ruh sampai ke kerongkongan pada waktu naza' terakhir, ketika sedang terjadi sakaratul-maut yang menakutkan dan membingungkan, ketika sedang terjadi kesedihan Iuar biasa yang menjadikan pandangan tidak normal lagi.., dan orang-orang yang hadir memandang ke kanan dan kiri mencari jalan untuk menyelamatkan ruh yang sedang sedih itu, "Dan dikatakan (kepadanya), Siapakah yang dapat menyembuhkannya ?” Barang-kali ada jampi-jampi yang berguna.. ! Melingkar-lingkarlah orang yang sedang susah itu karena sekarat dan naza'..., "Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan). "... Batallah segala upaya, tak berguna segala sarana, dan menjadi jelaslah jalan satu-satunya yang setiap makhluk hidup dihalau ke sana pada akhir perjalanan hidupnya, "Kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau. "

Pemandangan ini hampir-hampir bergerak dan berkata-kata, setiap ayat melukiskan gerakan, setiap alinea mengeluarkan kilatan cahaya, dan kondisi saat sakaratul-maut terlukis dan melukiskan ketakutan, kebingungan, dan kesedihan menghadapi kenyataan yang keras (tidak dapat ditawar-tawar) dan pahit, yang tidak dapat ditolak dan tidak dapat dihindari..„ Kemudian tampaklah kesudahan urusan dengan sangat jelasyang tak dapat dihindari, "Kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau.. .. " (al-Qiyamah: 30)

Layar diturunkan atas pemandangan yang menakutkan itu, dengan masih menampakkan bayang-bayang di mata, meninggalkan bekas dalam perasaan, dan meninggalkan kesedihan yang membisu dan menakutkan di seluruh angkasa.

Orang Yang Tidak Memiliki Persiapan Menghadapi Kematian

Setelah dibentangkannya pemandangan yang menyedihkan dan memilukan, serius dan realistis itu, dibentangkan pula pemandangan orang-orang yang hina dan mendustakan serta ayat-ayat Allah, dan tidak melakukan persiapan dengan amal saleh dan ketaatan, bahkan mereka suka melakukan kemaksiatan dan pelanggaran, berpaling dari peringatan-peringatan Allah, suka melakukan tindakan-tindakan yang sia-sia dan tiada berguna, bahkan congkak dan sombong di dalam melakukan kemaksiatan-kemaksiatan dan berpaling dari kebenaran,

فَلَا صَدَّقَ وَلَا صَلّٰىۙ ٣١ وَلٰكِنْ كَذَّبَ وَتَوَلّٰىۙ ٣٢ ثُمَّ ذَهَبَ اِلٰٓى اَهْلِهٖ يَتَمَطّٰىۗ ٣٣

“Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan Al-Qur’an) dan tidak mau mengerjakan shalat. Tetapi ia mendustakan (Rasul) dan berpaling (dari kebenaran). Kemudian ia pergi kepada ahlinya dengan berlagak (sombong). " (al-Qiyaamah: 31-33)

Disebutkan dalam suatu riwayat bahwa yang dimaksud oleh ayat-ayat ini adalah orang tertentu. Ada yang mengatakan bahwa orang tersebut adalah Abu Jahal "Amr bin Hisyam".... Dia sering datang kepada Rasulullah saw. untuk mendengarkan Al-Qur’an, tetapi kemudian pergi. Dia tidak mau beriman dan tidak mau mematuhi, tidak mau bersikap sopan dan tidak merasa takut kepada Allah, bahkan dia malah menyakiti Rasulullah saw. dengan perkataannya, dan menghalangi orang Iain dari mengikuti jalan (agama) Allah.... Kemudian dia menyombongkan diri dengan apa yang diperbuatnya, membanggakan kejahatan yang dilakukannya itu, seakan-akan dia telah melakukan sesuatu yang hebat dan perlu disebut-sebut...

Kalimat yang digunakan oleh Al-Qur'an ini adalah untuk merendahkan dan menghinakannya, juga untuk menyebarkan kesan kehinaannya itu, dengan digambarkan sikap sombongnya, bahwa dia "Yatamaththaa" (berlagak), berlagak dalam penampilan Iahirnya dan bersikap ujub dengan ujub yang berat dan memuakkan!

Nah, berapa kali orang yang bernamaAbu Jahal itu, sebagaimana diceritakan dalam sejarah dakwah, mendengar dan berpaling, melakukan berbagai cara dan tindakan untuk menghalangi manusia dari agarna Allah, menyakiti para juru dakwah, melakukan tipu daya yang buruk, dan berpaling dari kebenaran dengan lagak yang sombong dan membanggakan kejahatan dan keburukan yang dilakukannya, membanggakan kerusakan yang dilakukannya di muka bumi, membanggakan tindakannya menghalang-halangi manusia dari agama Allah, dan membanggakan tipu daya yang dilakukannya terhadap agama AlIah dan akidahnya..„ Hampir-hampir begitulah kebiasaannya setiap Al-Qur'an menghadapi kesombongan yang amat buruk ini dengan ancaman yang pedih,

اَوْلٰى لَكَ فَاَوْلٰىۙ ٣٤ ثُمَّ اَوْلٰى لَكَ فَاَوْلٰىۗ ٣٥

"Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu. Kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu. " (al-Qiyaamah: 34-35)

Ini adalah ungkapan istilahi yang mengandung makna yang berat. Dan, Rasulullah shallalahu alaihi wasallam sendiri sudah berusaha menghentikan kedengkian Abu Jahal ini suatu kali dan menggoyangnya seraya berkata kepadanya (menyampaikan ayat tersebut), "Kecelakaanlah bagimu, dan kecelakaanlah bagimu! Kemudian kecelakaanlah bagimu, dan kecelakaanlah bagimu”. Akan tetapi musuh Allah itu malah menjawab, "Apakah engkau hendak mengancamku, wahai Muhammad? Demi Allah, engkau dan Tuhanmu tidak akan mampu melakukannya sedikit pun. Sesungguhnya aku lebih mampu daripada sekadar berjalan di antara kedua gunungnya!" Lalu Allah menghukumnya pada waktu Perang Badar melalui tangan orang-orang mukmin, melalui Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasalam di bawah kekuasaan Tuhan Yang Mahakuat, Mahaperkasa, dan Mahaagung. Sebelum Abu Jahal, Fir’aun pernah berkata kepada kaumnya, "Aku tidak mengetahui adanya Tuhan bagimu selain aku.. .. " (al-Qashash: 38). Dan katanya Iagi, "Bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku (az-Zukhruf: 51). Kemudian Allah menghukumnya juga.

Berapa kali Abu Jahal di dalam sejarah dakwah menyombongkan keluarganya, kekuatannya, dan kekuasaannya, dan dianggapnya sebagai sesuatu yang patut dibangga-banggakan, lantas dia melupakan Allah, lalu Allah menghukumnya. Allah menilainya lebih hina daripada seekor nyamuk dan lebih rendah daripada seekor lalat... Sungguh ajal yang telah ditetapkan untuknya tidak dapat dimajukan dan dimundurkan sedeük pun.

Manusia Tidak Diciptakan dengan Sia-Sia

Pada bagian akhir surah ini, Al-Qur'an menyentuh hati manusia dengan mengemukakan hakikat Iain dalam realitas kehidupan mereka, hakikat yang menunjukkan adanya rencana dan pengaturan Allah terhadap kehidupan manusia ini. Juga menunjukkan adanya kehidupan lain yang sangat mereka ingkari kemungkinan terjadinya, padahal mereka tidak dapat lari darinya, dan tidak ada daya upaya dan kemampuan untuk menolaknya,

اَيَحْسَبُ الْاِنْسَانُ اَنْ يُّتْرَكَ سُدًىۗ ٣٦ اَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِّنْ مَّنِيٍّ يُّمْنٰى ٣٧ ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوّٰىۙ ٣٨ فَجَعَلَ مِنْهُ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْاُنْثٰىۗ ٣٩ اَلَيْسَ ذٰلِكَ بِقٰدِرٍ عَلٰٓى اَنْ يُّحْيِ َۧ الْمَوْتٰى ࣖ ٤٠

"Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban) ? Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan darinya sepasang: laki laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?" (al-Qiyaamah: 36-40)

Menurut pandangan suatu kaum, kehidupan ini hanyalah gerakan-gerakan yang tidak memiliki motivasi, tidak memiliki tujuan dan sasaran.... Kehidupan hanyalah rahim-rahim yang melahirkan dan kubur-kubur yang menelannya kembali, sedang masa-masa antara keluar dari rahim dan masuk kubur itu hanyalah untuk bersenang-senang, bermain-main, berhias dan bersolek, berbangga-banggaan, dan semua kesenangannya hanyalah sebentar dan sementara saja.... Di sana ada undang-undang dan peraturan, di belakangnya ada tujuan, dan di balik tujuan itu ada hikmah. Kedatangan manusia ke dalam arena kehidupan ini sesuai dengan takdir yang berlaku hingga kadar tertentu, dan akan berkesudahan dengan perhitungan dan pembalasan. Perjalanannya di atas bumi ini juga sebagai ujian yang kelak akan diperhitungkan dan diberi balasan.

Adapun pandangan yang cermat dan serasi, serta perasaan di baliknya tentang adanya Tuhan yang berkuasa, yang mengatur, dan bijaksana, Dia memberlakukan segala sesuatu dengan kadar tertentu, dan segala sesuatu di dunia ini akan berakhir pada suatu kesudahan yang telah ditentukan. Akan tetapi, pandangan yang demikian ini dirasa jauh menurut ukuran pandangan dan pengetahuan manusia pada saat itu.

Yang membedakan manusia dari binatang adalah perasaannya terhadap hubungan waktu, peristiwa-peristiwa, dan tujuan-tujuan, hubungan dengan keberadaan tujuan dan wujud manusia itu, dan wujud segala sesuatu yang ada -di sekitarnya. Kenaikan tingkat kemanusiaannya mengikuti perkembangan dan muatan perasaannya ini, kejelian pandangannya terhadap keberadaan undang-undang Tuhan, dan hubungan peristiwa-peristiwa serta segala sesuatu dengan undang-undang ini. Maka ia tidak hidup untukmenghabiskan umurnya dari waktu ke waktu, dari satu peristiwa ke satu peristiwa. Di dalam pikirannya ia selalu menghubungkan masa dan tempat, masa lalu, masa sekarang, dan yang akan datang. Kemudian ia hubungkan semua ini dengan keberadaan alam yang besar beserta undang-undangnya; dan setelah itu ia hubungkan semua itu dengan iradah 'ulya ‘kehendak tertinggi' yang menciptakan dan mengatur, yang tidak menciptakan manusia dengan sia-sia dan tidak membiarkannya tanpa pertanggungjawaban.

Inilah pandangan besar yang oleh Al-Qur'an ditransfernya manusia kepadanya sejak masa yang jauh itu, peralihan yang sangat besar bila dibandingkan dengan pandangan-pandangan hidup yang dominan pada waktu itu, dan senantiasa sangat besar dibandingkan dengan seluruh pandangan duniawi yang diperkenalkan oleh filsafat tempo dulu maupun sekarang.

Dan sentuhan, "Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertangungjawaban) ?" ini adalah salah satu sentuhan dan pengarahan Al-Qur'an terhadap hati manusia supaya memikirkan dan memperhatikan kaitan-kaitan dan hubungan-hubungan, sasaran dan tujuan, ilat dan sebab, yang menghubungkan keberadaannya dengan keberadaan seluruh alam semesta, dan dengan iradah yang mengatur wujud segala sesuatu ini.

Dan, dengan tidak menggunakan bahasa yang berbelit-belit dan rumit, datanglah ayat-ayat Al-Qur'an dengan membawakan petunjuk-petunjuk yang realistis dan sederhana yang memberikan kesaksian bahwa manusia tidak dibiarkan begitu saja tanpa pertanggunjawaban  yaitu petunjuk tentang kejadiannya yang pertama,

“Bukankah ia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim) ? Kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya? Lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang Iaki-laki dan perempuan?" (al-Qiyaamah: 37-39)

Apakah gerangan manusia ini? Dari apa ia diciptakan? Bagaimana keberadaannya? Bagaimana jadinya nanti? Dan, bagaimanakah dia menempuh perjalanannya yang panjang hingga datang kepada rombongan ini?

Bukankah ia dahulu setetes sperma yang ditumpahkan ke dalam rahim? Bukankah ia dahulu hanya setetes nuthfah dengan sebuah sel kecil yang kemudian berkembang menjadi ‘alaqah 'segumpal darah' dengan bentuk khusus di dalam rahim, yang menempel di dinding rahim untuk dapat hidup dan menyerap makanan? Maka, siapakah gerangan yang memberikan ilham kepadanya untuk melakukan gerakan seperfi ini? Siapakah gerangan yang memberinya kemampuan seperti ini? Dan, siapakah gerangan yang memberinya arahan seperti ini?

Kemudian, siapakah gerangan sesudah itu yang menjadikannya janin yang sempurna dengan susunan organ-organnya yang begitu rapi? Yang fisiknya tersusun dari bermiliar-miliar sel yang hidup, padahal asalnya hanya sebuah sel bersama ovum? Perjalanan panjang yang ditempuhnya dari sebuah sel hingga menjadi janin yang sempurna - yang lebih panjang tahapan-tahapannya daripada perjalannya dari Iahir hingga kematiannya, dan perubahan-perubahan yang teiadi pada eksistensinya dalam proses perjalanan janinnya lebih banyak dan lebih Iuas jangkauannya daripada semua peristiwa yang dialaminya dalarn perjalanannya mulai dari kelahirannya hingga kematiannya. Maka, siapakah gerangan yang memandu perjalanannya yang panjang ini, padahal dia hanya sejemput makhluk kecil dan lemah, yang belum punya akal, belum punya pengetahuan, dan belum berpengalaman?

Akhirnya, siapakah gerangan yang menjadikan laki-laki dan perempuan dari sebuah sel ini...? Iradah yang manakah yang menghendaki sel ini menjadi laki-laki? Iradah yang manakah yang menghendaki sel itu menjadi perempuan? Siapakah gerangan yang berani mendakwakan dilinya turut campur lalu me mandu langkah-langkahnya dan prosesnya dalam kegelapan rahim hingga terjadinya pemilihan jenis kelamin Iaki-laki dan perempuan ini?

Tidak ada tempat lari dari merasakan adanya tangan halus yang mengatur dan memandu nuthfah yang ditumpahkan ke dalam rahim itu dalam perjalanan (proses)nya yang panjang, hingga sampai kepada kejadian itu ...., "Lalu Allah menjadikan darinya sepasang: laki-laki dan perempuan. " (al- Qiyaamah: 39)

Di depan hakikat yang menetapkan suatu kepastian terhadap perasaan manusia ini, datanglah kesan yang meliputi segenap hakikat yang dibicarakan surah ini,

"Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati ?' (al-Qyaamah: 40)

Ya, Mahasuci Allah! Dia benar-benar berkuasa untuk menghidupkan orang-orang mati!

Ya, Mahasuci Allah! Dia benar-benar berkuasa untuk menciptakan ulang!

Ya, Mahasuci Allah! Manusia tidak dapat lagi melainkan bersikap tunduk di hadapan hakikat yang menetapkan keberadaan dirinya ini.

Demikianlah surah ini ditutup dengan memberikan kesan yang pasti, kuat, dan dalam, yang memenuhi dan meluap di dalam perasaan, terhadap hakikat keberadaan manusia dan adanya pengaturan dan kekuasaan di belakangnya. ...

No comments:

Post a Comment

Tafsir Surah Al-Qiyaamah