Pendahuluan
Surah
yang kecil (pendek) ini menghimpun ke dalam hati manusia beberapa hakikat,
kesan, pandangan, pemandangan, getaran-getaran, dan sentuhan-sentuhan, yang
pasti dihadapi manusia dan tidak dapat berpaling darinya.... Semuanya
dihimpunnya dengan kokoh, dengan metode yang khusus, dengan karakter Qur'aninya
yang istimewa, baik metode penyampaian pengungkapannya maupun kemasan bahasanya
yang ritmik, yang keduanya menimbulkan kesan yang dalam dan kuat, yang sulit
ditandingi dan sukar untuk ditinggalkan.
Surah ini
dimulai dengan dua ayat yang menampilkan nuansa kiamat dan nuansa kejiwaan
manusia, “Aku bersumpah dengan hari kiamat, dan Aku bersumpah dengan jiwa yang
amat menyesali (dirinya sendiri).” Kemudian dilanjutkan dengan membicarakan
hubungan segala sesuatu dengan jiwa dan dengan hari kiamat, sejak permulaan
hingga bagian penutup, dengan menggabungkan pembahasan antara jiwa dan hari kiamat
itu hingga terakhir. Seolah-olah bagian permulaan ini mengisyaratkan kepada
tema surah, atau seakan-akan ia menjadi kelaziman kesan-kesan yang menjadi titik
tolak semua kesan yang ada dalam surah dengan cara yang halus dan indah.
Di antara
hakikat besar yang diungkapkan surah ini kepada hati manusia dan menjadi
bingkai yang mereka tidak dapat berlari darinya, adalah hakikat kematian yang
pasti dan menakutkan, yang akan dihadapi oleh setiap makhluk hidup, yang tak
dapat ditolak, dan tidak seorang pun yang mampu menghindarinya. Kematian ini
selalu terjadi berulang-ulang setiap waktu, dialami oleh para pembesar maupun
orang-orangkecil, orang dewasa dan anak-anak, orang kaya dan orang miskin,
orang kuat dan orang lemah, dan posisi mereka semua terhadap kematian adalah
sama.. tidak dapat melakukan rekayasa untuk melepaskan diri dari kematian,
tidak ada sarana untuk menghindari, tidak ada kekuatan untuk menjauhi, tidak
ada pembelaan yang dapat membelanya dari kematian, tidak dapat menolak, dan
tidak dapat menundanya, karena ia datang dari arah paling tinggi yang tidak ada
campur tangan manusia sedikit pun, dan tidak ada tempat lari dari menyerah
kepada kematian ini, dan menyerah kepada iradah arah tertinggi itu.... Inilah
kesan yang diberikan surah ini ke dalam hati, ketika ia berkata, "SekaIi-kali
jangan. Apabila napas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan, dan
dikatakan (kepadanya), “Siapakah yang dapat menyembuhkan dan dia yakin bahwa sesunghuhnya
itulah waktu perpisahan (dengan dunia). Dan bertaut betis (kiri) dengan betis
(kanan). Kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau." (al-Qiyaamah:
26-30)
Dari
hakikat-hakikat besar yang dipaparkan surah ini, hakikat penciptaan yang
pertama dan petunjuknya atas kebenaran informasi akan adanya penciptaan yang
Iain (dibangkitkan dari kubur), dan menunjukkan bahwa di sana terdapat program
dan ukuran di dalam menciptakan manusia.... Hakikat yang disingkapkan Allah
kepada manusia tentang peranan-peranannya yang rumit dan konsekuensikonsekuensi
yang mengikutinya, dalarn suatu ciptaan yang mengagumkan, tidak ada yang
berkuasa melakukannya kecuali Allah, dan tidak ada seorang pun yang mengaku
dapat berbuat begitu dari orangorang yang mendustakan akhirat dan membantahnya.
Maka hakikat ini memastikan bahwa terdapat Tuhan Yang Maha Esa yang mengatur
dan menentukan segala urusan, dan memastikan adanya bukti yang tak.dapat
dibantah tentang adanya hari akhirat. Juga terdapat isyarat yang kuat tentang
kepastian adanya peristiwa akhirat ini, sejalan dengan ketentuan dan peraturan
yang tidak membiarkan manusia lepas dari tanggung jawab, dan tidak membiarkm
kehidupan dan tanpa timbangan dan tanpa perhitungan.... Inilah kesan yang
diberikan oleh surah ini ke dalam hati manusia ketika pada bagian awalnya
mengatakan, "apakah manusia mengira bahwasanya Kami tidak akan
mengumpulkan (kembali) tulang-belulangnya?" (al-Qiyaamah: 3), dan
mengatakan pada akhir surah, "Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan
begitu saja (tanpa pertanggungjawaban) ? Bukankah ia dahulu setetes mani yang
ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, Ialu
Allah menciptakannya dan menyempurnakannya? Lalu Allah menjadikan darinya sepasang
laki-Iaki dan perempuan? Bukanknh (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula)
menghidupkan orang mati?" (al-Qiyaamah: 36-40)
Di antara
pemandangan-pemandangan yang mengesankan yang ditampilkan surah ini dan
dihadapkan kepada hati manusia dengan sungguh-sungguh ialah pemandangan hari
kiamat dengan segala rangkaian peristiwanya seperti keamburadulan tata alam
semesta, goncangan-goncangan jiwa, dan kebingungan di dalam menghadapi peristiwa-peristiwa
besar yang saat itu tampaklah hal-hal yang mengerikan dan menakutkan di alam
ini dan di dalam jiwa manusia yang berlarian ke sana ke mari seperti tikus di
dalam perangkap. Ini sebagai jawaban terhadap kebimbangan dan keraguan manusia
terhadap hari kiamat dan anggapan tentang ketidakmungkinan terjadinya hari yang
penuh misteri itu, meremehkannya, dan terus-menerus di dalam kedurhakaan.
Datanglah jawaban dengan mengemukakan kesan-kesan sepintas, pemandangan
selintas, dan cahaya sekilas,
"Bahkan
manusia itu hendak membuat maksiat terus-menerus. Ia bertanya, 'Bilakah hari
kiamat itu ?' Maka apabila mata terbelalak (ketakutan), dan apabila bulan telah
hilang cahayanya, dan matahari dan bulan dikumpulkan. Pada hari itu manusia
berkata, 'Kemana tempat lari, sekali-kali tidak. Tidak ada tempat berlindung.
Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali. Pada hari itu
diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang
dilalaikannya, bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun
dia mengemukakan alasan-alasannya. (al-Qiyaamah: 5-15)
Di antara
pemandangan-pemandangan itu adalah pemandangan orang-orang mukmin yang merasa
tenteram terhadap Tuhannya, yang memandang wajah Tuhannya yang mulia pada saat
yang genting dan menakutkan itu, dan pemandangan Iain yang berupa orangorang
yang sudah putus hubungannya dengan Allah, putus harapan, yang sedang
menantikan akibat dari kekafiran, kemaksiatan, dan pendustaan terhadap
ayat-ayat Allah dan RasuI-Nya pada masa di dunia dulu. Pemandangan ini
ditampilkan dengan sangat jelas dan hidup, seakan-akan sedang dihadapi
seseorang pada saat membaca Al-Qur'an ini. Pemandangan ini ditampilkan untuk
menolak kerakusan manusia terhadap kesenangan kini (dunia) dan pengabaian
mereka terhadap akhirat, padahal di akhirat inilah pemandangan seperti ini
benar-benar menjadi kenyataan,
"Sekali-kali
janganlah demikian! Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia,
dan meningalkan (kehidupan) akhirat. Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari
itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat. Dan wajah-wajah (orang
kafir) pada hari itu muram, mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepada mereka
malapetaka yang amat dahsyat. " (al-Qiyaamah: 20-25)
Di
tengah-tengah surah dan hakikat-hakikatnya beserta pemandangan-pemandangannya
ditampilkanlah empat ayat yang memuat pengarahan khusus kepada Rasulullah saw.
dan pengajaran kepada beliau mengenai cara menerima Al-Qur’an ini. Tampaklah
bahwapengajaran ini datang tepat dan sesuai dengan apa yang terdapat dalam
surah ini sendiri. Karena Rasulullah saw. khawatir lupa terhadap apa yang
diwahyukan kepada beliau, maka beliau berkeinginan keras untuk menjaga diri
dari kelupaan yang keinginan itu mendorongnya untuk menyebutkan kembali bunyi
wahyu sepatah demi sepatah kata pada saat sedang disampaikan kepada beliau, dan
menggerakkan lidahnya supaya dapat memperkuat hafalannya. Maka datanglah
pengajaran ini kepada beliau,
“Janganlah
kamu mengerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur’an ini karena hendak
cepat-cepat (menguasai)nya. Sesunguhnya atas tangungan Kamilah mengumpulkannya
(di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai
membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas
tangungan Kamilah penjeIasannya. " (al-Qiyaamah: 16-19)
Pengajaran
ini datang untuk menenangkan hati beliau bahwa urusan wahyu, menjadikan hafal
Al-Qur'an, mengumpulkannya di dalam dada, dan menjelaskan maksud-maksudnya,
semuanya diserahkan kepada pemiliknya, dan tugas beliau hanya menerima dan
menyampaikannya kepada masyarakat. Karena itu, hendaklah beliau menenangkan
hati dan menerima wahyu itu dengan perhatian yang sempurna, karena beliau akan
mendapati Al-Qur’an itu terukir dengan mantap di dalam hati beliau. Demikianlah
yang terjadi....
Pengajaran
dan pemberitahuan ini sebetulnya sudah ditetapkan pada posisinya sewaktu
diturunkan.... Bukankah ia dari firman Allah? Sedang firman Allah itu terdapat
di tempat mana pun yang dituju? Dan untuk urusan apa pun yang dikehendaki? Ini
adalah salah satu dari kalimat-kalimatnya yang telah mantap di dalam lembaran
Al-Kitab yang keadaannya seperti keadaan bagian-bagian lain kitab ini....
Petunjukyang menetapkan penempatan ayat-ayat ini di tempatnya di dalam sunahnya
adalah petunjuk yang dalam dan mengesankan yang menunjukkan kepada sebuah
hakikat yang halus di dalam keadaan setiap kalimat Allah ke arah mana pun..„
Mengenai keadaan Al-Qur'an ini dan pemuatannya terhadap setiap kalimat Allah
yang diwahyukan kepada Rasulullah saw., tidak terdapat satu hurufpun yang
diabaikan, dan tidak ada satu kalimatpun yang dihilangkan. Al-Qur'an itu adalah
benar, jujur, penuh perhatian, dan penuh ketenangan!
Demikianlah
yang dirasakan oleh hati - ketika ia menghadapi surah ini - bahwa ia terkepung
dan tidak dapat lari. Ia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai amalnya dan tidak
dapat lepas. Tidak ada tempat berlindung baginya dari Allah dan tidak ada yang
dapat melindunginya. Penciptaannya dan langkah-langkahnya ditentukan dengan ilmu
Allah dan pengatuhuan-Nya, dalam penciptaan pertarna maupun penciptaan kedua,
sementara ia lengah, bermain-main, terpedaya, dan menyombongkan diri,
“Dan, ia
tidak mau membenarkan (Rasul dan Al-Qur’an) dan tidak mau mengerjakan shalat.
Tetapi ia mendustakan (Rasul) dan berpaling (dari kebenaran). Kemudian ia pergi
kepada ahlinya dengan berlagak (sombong). " (al-Qyaamah: 31-33)
Di dalam
menghadapi sejumlah hakikat, kesan-kesan, sentuhan-sentuhan, dan
pengarahan-pengarahan itu, terdengarlah ancaman yang menakutkan,
“Kecelakaanlah
bagimu (hai orang kafir) dan keceIakaanlnh bagimu. Kemudian, kecelakaanlah
bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu!” (al-Qyaamah: 34-35)
Realitas
yang demikian ini dengan segala maknanya benar-benar akan ia dapati.
Demikianlah
surah ini mengobati kekerasan hati, keberpalingannya, kebandelannya, dan
kelengahannya Dikesankannya keseriusan dan kesungguhan dalam urusan ini, urusan
kiamat, urusan jiwa, dan urusan kehidupan yang sudah ditentukan ukurannya
dengan perhitungan yang cermat dan teliti. Kemudian urusan Al-Qur'an ini yang
tidak berkurang satu huruf pun, karena ia adalah firman Allah Yang Mahaagung
lagi Mahaluhur, yang responsif terhadap sisi-sisi alam semesta dengan
kalimat-kalimatnya, ditetapkan di dalam rekaman alam yang pasti dan di dalam
lembaran kitab yang mulia ini.
Telah
kami kemukakan beberapa hakikat surah ini dan pemandangan-pemandangannya secara
tersendiri semata-mata untuk memberikan penjelasan, sedang susunan surah
memiliki nuansa tersendiri. Karena urutannya di dalam susunan, percampuran persoalannya
di sana-sini, sentuhannya terhadap hati pada segi hakikat suatu kali, dan
kembalinya kepadanya pada segi lain sesudah selang beberapa waktu..semua itu
merupakan kekhasan uslub qur'ani di dalam berbicara kepada hati manusia, yang tidak
dapat dicapai oleh uslub lain dan metode lain.
Marilah
kita ikuti surah ini sebagaimana yang dipaparkan secara khusus oleh Al-Qur'an.
Hari
Kiamat dan Jiwa Yang Menyesali Dirinya Sendiri
لَآ
اُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيٰمَةِۙ ١ وَلَآ اُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ ٢
اَيَحْسَبُ الْاِنْسَانُ اَلَّنْ نَّجْمَعَ عِظَامَهٗ ۗ ٣ بَلٰى قٰدِرِيْنَ عَلٰٓى
اَنْ نُّسَوِّيَ بَنَانَهٗ ٤ بَلْ يُرِيْدُ الْاِنْسَانُ لِيَفْجُرَ اَمَامَهٗۚ ٥
يَسْـَٔلُ اَيَّانَ يَوْمُ الْقِيٰمَةِۗ ٦ فَاِذَا بَرِقَ الْبَصَرُۙ ٧ وَخَسَفَ
الْقَمَرُۙ ٨ وَجُمِعَ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُۙ ٩ يَقُوْلُ الْاِنْسَانُ
يَوْمَىِٕذٍ اَيْنَ الْمَفَرُّۚ ١٠ كَلَّا لَا وَزَرَۗ ١١ اِلٰى رَبِّكَ
يَوْمَىِٕذِ ِۨالْمُسْتَقَرُّۗ ١٢ يُنَبَّؤُا الْاِنْسَانُ يَوْمَىِٕذٍۢ بِمَا
قَدَّمَ وَاَخَّرَۗ ١٣ بَلِ الْاِنْسَانُ عَلٰى نَفْسِهٖ بَصِيْرَةٌۙ ١٤ وَّلَوْ
اَلْقٰى مَعَاذِيْرَهٗۗ ١٥
“Aku
bersumpah dengan hari kiamat, dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali
(dirinya sendiri). Apaknh manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan
(kembali) tulang-belulangnya? Bukan demikian, sebenarnya kami berkuasa menyusun
(kembali) jari-jemarinya dengan sempurna. Bahkan manusia itu hendak membuat
maksiat terus-menerus. la bertanya, 'Bilakah hari kiamat itu ?' Maka apabila
mata terbelalak (ketakutan), dan apabila bulan telah hilang cahayanya, dan
matahari dan bulan dikumpulkan, pada hari itu manusia berkata, 'Ke mana tempat lari?
Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung. Hanya kepada Tuhanmu sajalah
pada hari itu tempat kembali. Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang
telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya Bahkan manusia itu menjadi saki
atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.
"(al-Qyaamah: 1-15)
Penyampaian
sumpah disertai dengan sikap berpalingnya manusia darinya ini lebih menyentuh
perasaan daripada sumpah langsung begitu saja Sentuhan demikian inilah yang
dimaksudkan dalam pengungkapan dengan metode seperti ini, yang begitu sempurna
dengan metode khususnya, yang sering disebutkan secara berulang-ulang dalam
beberapa tempat yang berbeda-beda di dalam Al-Qur'an.... Kemudian di
belakangnya muncullah hakikat hari kiamat dan hakikat jiwa yang amat menyesali
dirinya sendiri.
Hakikat
kiamat akan dibicarakan dalam beberapa ayat di dalam surah ini. Sedangkan jiwa
yang amat menyesali dirinya sendiri ini terdapat beberapa macam penafsiran
ma'tsurat.... Al-Hasan al-Bashri berkata, “Orang mukmin itu, demi Allah,
tidaklah Anda lihat melainkan menyesali dirinya (dengan mengatakan), 'Apa yang
saya kehendaki dengan ucapan saya? Apa tujuan saya makan? Apa tujuan saya
merenung... Sedangkan orangyang durhaka cuek saja, tidak menyesali dan tidak
mencela dirinya sedikitpun.. .." AI-Hasan berkata lagi, “Tidak seorang pun
dari penduduk langit dan bumi melainkan akan mencela dirinya sendiri pada hari
kiamat.." Ikrimah berkata, “Dia mencela dilinya sendiri mengenai kebaikan
dan keburukan (dengan mengatakan) , 'Seandainya aku dulu begini dan
begini...."' Demikian pula diriwayatkan dari Sa'id bin Jubair.... Dan dari
Ibnu Abbas, katanya, “Yaitu nafsu yang amat tercela...” Dan darinya lagi, “Al-Iawwaamah
(yang amat menyesali dirinya sendiri) itu ialah yang tercela.” Dari Mujahid, “Menyesali
apa yang luput dari dirinya sendiri dan mencelanya.. ..” Qatadah berkata ”Yaitu
jiwa yang durhaka.” Jarir berkata “Semua pendapat ini berdekatan maknanya dan
yang paling cocok dengan zahir ayat adalah jiwa yang mencela dirinya sendiri
atas kebaikan dan keburukannya, serta menyesali kebaikan-kebaikan yang luput.
Makna yang
kami pilih mengenai maksud “nafsu yang amat menyesali dirinya sendiri” adalah
pendapat yang dikemukakan al-Hasan al-Bashri, “Sesungguhnya orang mukmin itu,
demi Allah, tidaklah Anda lihat melainkan mencela dirinya sendiri: Apa yang
kukehendaki dengan kata-kata yang kucapkan? Apa yang kukehendaki dengan makan
ini? Apa yang kuinginkan dengan merenung begini? Sedang orang durhaka tidak
ambil peduli dan tidak mencela dirinya sama sekali.”
Inilah nafsu
lawwamah (nafsu yang amat menyesali dirinya sendiri), yang sadar, yang menjaga
diri, selalu takut, yang berhati-hati dan selalu memperhitungkan dirinya
sendiri, selalu memperhatikan sekelilingnya, dan menjadi jelas baginya hakikat
hawa nafsunya serta waspada terhadap tidu dayanya. Maka inilah jiwa yang mulia
menurut pandangan Allah, sehingga disebut-Nya bersama dengan menyebut hari
kiamat, kemudian disebutkanlah kebalikannya, yaitu jiwa yang durhaka, jiwa
manusia yang hendak terus berbuat durhaka dan maksiat dengan tidak menghiraukan
kedurhakaannya, yang mendustakan Rasul Allah, berpaling dari kebenaran, dan
pergi kepada keluarganya atau kelompoknya dengan berlagak sombong, tanpa
menghisab dan memperhitungkan dirinya, tanpa mencelanya, tanpa
memprihatinkannya, dan tanpa ambil peduli.
"Aku
bersumpah dengan hari kiamat, dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali
(dirinya sendiri). " (al-Qiyaamah: 1-2)
Allah
bersumpah terhadap terjadinya hari kiamat ini. Akan tetapi ketika Ia berpaling
dari sumpah, Ia berpaling dari menyebut apa yang dijadikan sumpah, dan
disebutkannya dalam bentuk lain, seakan-akan sebagai pendahuluan untuk membicarakan
sesuatu yang disebutkan sesudah peringatan ini, dengan paparan yang
membangkitkan kesadaran,
“Apakah
manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya
? Bukan demikian, sebenarnya Kami berkuasa menyusun (kembali) jari-jemarinya
dengan sempurna.“ (al-Qiyaamah: 3-4)
Problematika
perasaan pada kaum musyrikin ialah sulitnya membayangkan dikumpulkannya kembali
tulang-belulang yang telah remuk redam, yang telah hilang di dalam tanah dan
berserakan bersama debu, untuk dikembalikan dan dibangkitkan sebagai manusia
yang hidup. Barangkali begitulah pikiran sebagian orang hingga saat ini.
Al-Qur'an menyanggah anggapan ketidakmungkinan dikumpulkannya kembali
tulang-belulang itu dengan mempertegas terjadinya peristiwa itu,
“Bukan
demikian, sebenamya Kami berkuasa menyusun (kembali) jari-jemarinya dengan
sempurna. "
Kata
"al-banaan" artinya adalah ujung-ujung jari (sidik jari), dan nash
ini menegaskan adanya aktivitas pengumpulan sidik-sidik jari itu dengan segala
sesuatu yang lebih tinggi daripada sekadar mengumpulkan, yaitu
menyempurnakannya dan menyusunnya pada tempat-tempatnya sebagaimana sedia kala.
Ini sebagai kiasan tentang pengulangan pembentukan manusia dengan
secermat-cermatnya dan dengan sesempurna mungkin hingga tidak ada satu pun
ujung jari (sidikjari) yang hilang, tidak ada yang rusak. Bahkan, ia dalam keadaan
utuh dan sempurna, tidak ada anggota yang hilang, dan tidak ada bentuk dan ciri
anggota ini yang hilang, meski bagaimana pun kecil dan halusnya!
Di sini
dicukupkan dengan menyebutkan penegasan ini dan akan disebutkan pada akhir
surah dalil lain tentang realitas penciptaan pertama. Sesungguhnya pembicaraan
di sini hanyalah untuk mengungkapkan alasan psikologis mengenai hisab ini dan
menyangkal anggapan ketidakrnungkinan mengumpulkan kembali tulang-belulang...
Manusia
berkeinginan untuk berbuat durhaka secara terus-menerus dengan tidak ada
sesuatu pun yang menghalanginya dari tindakan durhakanya, dan dia juga
menginginkan tidak adanya hisab (perhitungan dan pertanggungjawaban) di sana
dan tidak ada hukuman. Oleh karena itu, dia menganggap jauh kemungkinan
terjadinya hari kebangkitan dan kubur, dan menganggap jauhnya kemungkinan
datangnya hari kiamat,
“Bahkan
manusia itu hendak membuat maksiat terus menerus. 1a bertanya, Bilakah hari
kiamat itu ?" (alQiyaamah: 5-6)
Pertanyaan
dengan kata tanya "ayyaana" (bilakah)-dengan bunyi yang panjang-ini
memberi kesan jauhnya kemungkinan terjadinya hari kiamat ini, dan hal ini
sejalan dengan keinginan mereka untuk terus-menerus berbuat dosa dengan tiada
merasa terhalang oleh kepercayaan adanya kebangkitan dari kubur dan adanya hari
akhiraL. „ Karena kepercayaan kepada akhirat itu akan mengendalikan jiwa yang
gemar melakukan kejelekan, dan mengekang hati yang kepada kedurhakaan. Oleh
karena itu, dia atau mereka berusaha menghilangkan kekang dan kendali ini, agar
dia bebas melakukan kejahatan dan kedurhakaan dengan tanpa ada perasaan akan
dihisab pada hari kiamat
Karena
itu, jawaban terhadap pelecehan terhadap hari kiamat dan anggapan tentang
jauhnya kemungkinan terjadinya, diberikan dengan begitu cepat, amat cepat, dan
pasti, tidak ditunda-tunda dan dilambat-lambatkan lagi, hingga dalam irarna
baitnya dan bunyi lafalnya. Dan di dalam pemandangan hari kiamat itu juga
diikutsertakan perasaan indrawi dan hati manusia, bersama
pemandangan-pemandangan alam,
“Maka
apabila mata terbelalak (ketakutan), dan apabila bulan telah hilang cahayanya,
dan matahari dan bulan dikumpulkan. Pada hari itu manusia berkata, 'Ke mana
tempat lari?"' (al-Qiyaamah: 7-10)
Mata
terbelalak dan berbolak-balik dengan amat cepat seperti berbolak-baliknya kilat
dan sambarannya Bulan redup dan hilang cahayanya. Matahari dan bulan
dikumpulkan menjadi satu setelah berpisah, dan rusak dan amburadul sistem tata
suryanya padahal selama ini berjalan dengan baik aturannya yang demikian cermat
dan rumit sudah rusak berantakan. Di tengah-tengah kondisi alam yang menakutkan
dan morat-marit seperti ini manusia bertanya-tanya dengan penuh ketakutan,
"Ke mana tempat lari?”. Di dalam pertanyaannya itu tampaklah kebingungan
dan ketakutannya, seakan-akan ia sedang melihat ke semua penjuru, tiba-tiba ia
sudah terikat, tertangkap.
Tidak ada
tempat berlindung, tidak ada perlindungan, tidak ada tempat dari kekuasaan dan
hukuman Allah. Manusia kembali kepada-Nya, hanya ada tempat di sisi-Nya, ådak
ada tempat lain lagi selain itu,
"Sekali-kali
tidak! Tidak ada tempat berlindung! Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu
tempat kembali. " (al-Qiyaamah: 11-12)
Keinginan
manusia untuk terus-menerus berbuat dosa tanpa hisab dan tanpa pembalasan,
tidak akan terjadi pada hari itu. Bahkan, segala sesuatu yang pernah
dilakukannya dihisab diingatkan kepadanya kalau ia lupa dan diberi balasan
setelah dia mengingatnya melihatnya di hadapannya,
"Pada
hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang
dilalaikannya. "(al-Qiyaamah: 13)
Ya, akan
diberitakan dan diberitahukan kepadanya apa saja yang pernah dilakukannya
sebelum meninggal dunia, serta apa saja yang dilalaikannya dan segala dampak
perbuatannya, yang baik ataupun yang buruk. Karena, di antara amalan-amalan
manusia itü ada yang meninggalkan bekas-bekas yang akan disandarkan kepada
pelakunya pada perhitungan terakhir.
Bagaimanapun
beraneka ragamnya alasan yang diajukan seseorang, tidak akan diterima alasan-alasan
itu, sudah diserahkan kepadanya dan dia diserahkan kepada jiwanya, dan dia
ditugasi untuk menunjukkan dan membimbing jiwanya kepada kebaikan. Kalau dia
sampai kepada kejelekan, dia akan dimintai pertanggungjawaban dan dipatahkan
argumentasi-argumentasinya,
"Bahkan
manusia itü menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.
" (alQiyaamah: 14-15)
Satu hal
yang perlu diperhatikan bahwa segah sesuatunya berjalan dengan cepat dan
singkat. Alinea-alinea, diksi-diksi (pemisahan kata-kata), irama musikalnya,
pemandangan-pemandangan pintas, demikian pula dengan aktivitas perhitungan,
"Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan
apa yang dilalaikannya. " Semuanya terjadi demikian cepat dan global. ...
Hal itu dikarenakan ayat ini untuk menyanggah anggapan bahwa masa hidup di
dunia ini amat panjang dan sikap meremehkan terhadap hari perhitungan.
Pengarahan
kepada Rasulullah saw. di dalam menerima wahyu
Kemudian
datanglah empat ayat khusus yang memberikan pengarahan kepada Rasulullah saw.
mengenai urusan wahyu dan dalam menerima AIQur'an ini,
لَا
تُحَرِّكْ بِهٖ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهٖۗ ١٦ اِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهٗ
وَقُرْاٰنَهٗ ۚ ١٧ فَاِذَا قَرَأْنٰهُ فَاتَّبِعْ قُرْاٰنَهٗ ۚ ١٨ ثُمَّ اِنَّ
عَلَيْنَا بَيَانَهٗ ۗ ١٩
“Janganlah
kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) AI-Qur’an kamu hendak cepat-cepat (menguasai)nya.
Sesunguhnya atas tangungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu
pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya
itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya. ”
(al-Qjyaamah: 16-19)
Sebagai
tambahan terhadap apa yang sudah kami kemukakan dalam pendahuluan surah ini
mengenai ayat-ayat ini, maka kesan yang ditinggalkannya di dalam jiwa adalah
adanya jaminan mutlak dari Allah mengenai urusanan ini dalam hal mewahyukan,
memelihara, mengumpulkan, dan menjelaskannya, dan menyandarkan semuanya secara
total kepada Allah SWT. Tidak ada urusan bagi Rasulullah saw. melainkan mengemban
dan menyampaikan kepada manusia. Kemudian, perhatian dan keinginan yang kuat
dari Rasulullah saw. untuk meliputi semua yang diwahyukan kepadanya, dan
mengambilnya dengan serius dan sungguh-sungguh, serta kekhawatirannya
jangan-jangan ada kalimat atau kata-kata yang terlupakan, maka beliau terdorong
untuk mengikuti bacaan malaikat Jibril ayat per ayat dan kata per kata sehingga
dapat dipercaya bahwa tidak ada satu pun kata yang terluput, dan mantaplah
hafalan beliau terhadapnya sesudah itu.
Dicatatnya
peristiwa ini di dalam Al-Qur'an yang terbaca ini memiliki nilai tersendiri
tentang mendalamnya kesan-kesan yang kami sebutkan di sini dan di dalam
pendahuluan surah ini secara khusus.
Menyingkap
Sikap Jiwa yang Menyesali Dirinya Sendiri
Ayat-ayat
berikutnya memaparkan pemandangan hari kiamat dengan segala sesuatu yang ada
padanya termasuk keadaan jiwa yang sangat menyesali dirinya sendiri.
Diingatkanlah mereka terhadap jiwa mereka dengan segala sikapnya yang cinta dan
sibuk kepada kehidupan dunia dan mengabaikan kehidupan akhirat serta tidak
memperhatikannya, dan dihadapkanlah kepada mereka keadaan mereka di akhirat
nanti sesudah ini, dan bagaimana jadinya mereka nanti. Kondisi ini ditunjukkan
kepada mereka dalam lukisan pemandangan yang hidup, dengan kesan yang kuat dan
mendalam,
كَلَّا
بَلْ تُحِبُّوْنَ الْعَاجِلَةَۙ ٢٠ وَتَذَرُوْنَ الْاٰخِرَةَۗ ٢١ وُجُوْهٌ
يَّوْمَىِٕذٍ نَّاضِرَةٌۙ ٢٢ اِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ۚ ٢٣ وَوُجُوْهٌ
يَّوْمَىِٕذٍۢ بَاسِرَةٌۙ ٢٤ تَظُنُّ اَنْ يُّفْعَلَ بِهَا فَاقِرَةٌ ۗ ٢٥
“Sekali-kali
janganlah demikian. Sebenamya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia, dan
meninggalkan (kehidupan) akhirat. Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari
itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat. Dan wajah-wajah (orang
kafir) pada hari itu muram, mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya
malapetaka yang amat dahsyat. "(al-Qiyaamah: 20-25)
Pertama
kali yang perlu diperhatikan dari sudut penggunaan kata dalam alinea ini adalah
disebutnya kehidupan dunia dengan "al-'aajilah" (sesuatu yang cepat,
hanya sepintas). Lebih dari itu, isyarat lafal tentang singkatnya kehidupan
dunia dan cepatnya selesai, merupakan isyarat yang dimaksudkan, karena di sana
ada kesesuaian antara bayang-bayang lafal dengan bayang-bayang keadaan yang
ditunjukkan dalam rentetan ayat, dan firman Allah kepada Rasul-Nya saw.,
"Janganlah
kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur’an karena hendak cepat-cepat
(menguasai)nya. " (al-Qiyaamah: 16)
Maka
menggerakkan dan cepat-cepat terhadap sesuatu ini adalah salah satu dari
bayang-bayang sifat manusia di dalam kehidupan dunia ini.... Ini adalah
keserasian yang halus dan lembut di dalam perasaan, yang diperhatikan oleh
Al-Qur'an di dalam metode penyampaiannya. Kemudian sampailah kepada kondisi
yang digarnbarkan oleh nash Al-Qur'an dengan pengungkapan yang unik ini,
“Wajah-wajah
(orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka
melihat. "(al-Qiyaamah: 22-23)
Kepada
Tuhannya....? Ah, manakah ada posisi yang lebih tinggi daripada ini? Manakah
kebahagiaan yang melebihi ini ?
Jiwa
orang mukmin kadang-kadang benar-benar merasa senang dan bahagia dengan adanya
secercah keindahan ciptaan Ilahi di dalam semesta atau pada dirinya, yang
dilihatnya pada malam purnama atau pada waktu gelap gulita, atau ketika fajar
merekah, atau bayang-bayang yang terus memanjang, atau laut yang bergelombang,
atau padang yang luas membentang, atau taman-taman yang indah berseri, atau
mayang-mayang yang tampak asri, atau kalbu yang cerdas dan pandai, atau
keimanan yang penuh kepercayaan, atau kesabaran yang penuh keindahan... dan
lain-lain wujud keindahan di semesta raya ini.... Maka penuhlah jiwanya dengan
kesenangan, melimpahlah rasa bahagia, dikepakkannya sayap sayap cahaya untuk
terbang bebas di penjuru alam. Lenyaplah darinya duri-duri kehidupan,
penderitaan dan keburukan, beban tanah dan timbunan dagingndan darah, gejolak
syahwat dan hawa nafsu....
Nah,
bagaimanakah? Bagaimanakah ia ketika memandang-bukan kepada keindahan ciptaan
Allah - melainkan kepada keindahan zat Alah sendiri?
Ingatlah,
sesungguhnya ini adalah posisi yang pertama-tama memerlukan pertolongan dari
Allah, dan kedua memerlukan pemantapan dari Allah, agar manusia itu dapat
menguasai dirinya sehingga stabil dan menikmati kebahagiaan, yang tidak dapat
diterangkan Iagi sifat-sifatnya, dan tidak dapat digambarkan ha.kikatnya!
"Wajah-wajah
(orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada TuhannyaIah mereka
melihat. "
Nah,
bagaimana mungkin ia tidak berseri-seri, ketika ia melihat keindahan Tuhannya?
Sungguh
manusia dapat melihat sesuatu dari ciptaan Alah di dunia, seperti mayang elok,
bunga yang segar, sayap yang mengepak, pikiran yang cerdas, atau perbuatan yang
bagus. Dengan memperhatikan dan merenungkan semua ini, maka akan melimpahlah
rasa bahagia dari dalam hati ke raut wajah, hingga tampak cerah dan ceria. Maka
bagaimana Iagi kalau ia memandang keindahan Yang Maha Sempurna, yang tidak
terikat dengan segala keindahan di alam wujud ini? Manusia tidak akan dapat
mencapai tingkatan yang demikian itu kecuali setelah ia lepas dari semua
kendala yang menghalanginya untuk mencapai tingkatan yang demikian tinggi Iagi
sangat agung dalam angan-angan. Semua kendala yang bukan hanya ada di
sekitarnya, melainkan ada di dalam dirinya sendiri yang berupa
dorongan-dorongan kepada kekurangan dan kejelekan, dan mendorongnya kepada
sesuatu yang tidak dapat mengantarkannya untuk memandang Allah di akhirat
nanti....
Adapun
masalah bagaimana cara melihat? Dengan anggota tubuh yang mana ia melihat? Dan,
dengan sarana apa ia melihat wajah Allah„..? Semua itu adalah pembicaraan yang tidak
terlintas di dalarn hati yang sedang disentuh kebahagiaan yang diinformasikan
oleh Al-Qur'an, kepada hati yang beriman, dan kebahagiaan yang meluap kepada
ruh, yang indah, nyata, dan merdeka.
Bagaimana
keadaan orang-orang yang menghalangi dirinya sendiri untuk mendapatkan cahaya
yang melimpahkan kegembiraan dan kebahagiaan ini? Mengapa mereka sibuk
memperdebatkan seputar masalah yang mutlak, yang tidak dapat dicapai oleh akal
biasa?
Naiknya
derajat manusia dan terlepasnya mereka dari keterikatan terhadap alam dunia
yang terbatas ini, yang demikian ini saja sudah menjadi terminal harapan untuk
dapat memperoleh hakikat yang mutlak pada hari itu. Sebelum mendapatkan
kebebasan dan kemerdekaan seperti ini, sudah terasa sebagai sesuatu yang besar
bagaimana dia membayangkannya - semata-mata membayangkan-bagaimana terjadinya
pertemuan itu.
Dengan
demikian, merupakan perdebatan yang sia-sia perdebatan panjang dan bertele-tele
yang sibuk dilakukan oleh golongan Mu'tazilah dan para penentangnya dari
golongan Ahlus Sunnah dan para mutakallimin (ahli ilmu kalam) seputar hakikat
masalah memandang dan melihat Allah di tempat seperti itu (surga).
Mereka
mengukurnya dengan ukuran dunia; mereka bicarakan manusia menurut ketetapan
akal di dunia; dan mereka bayangkan urusan itu dengan menggunakan sarana-sarana
pengetahuan yang terbatas lapangannya.
Materi
petunjuk kalimat ini sendiri terbatas pada apa yang dapat dipahami dan
dibayangkan oleh akal kita yang terbatas Apabila sudah lepas dan bebas dari
bayangan-bayangan ini maka berubahlah tabiat kalimat tersebut. Kalimat ini
tidak lain hanyalah sekadar rumusan-rumusan yang berbeda-beda bunyinya sesuai
dengan pikiran-pikiran dan bayangan-bayangan yang terkandung di dalam pikiran
manusia Apabila kemampuannya berubah (berbeda) maka berbeda pulalah hasil
bayangannya, dan berbeda pula materi yang ditunjuki kalimat itu. Kita
memberlakukannya di bumi ini sesuai dengan rumusan-rumusan (bunyi) kalimat itu
menurut ukuran kondisi kita. Maka, mengapa kita mau memasuki sesuatu yang kita
tidak mengetahuinya secara pas hingga terhadap materi-materi yang ditunjuki
kalimat-kalimat tersebut?
Marilah
kita perhatikan luapan kebahagiaan yang menyenangkan, dan luapan kegembiraan
yang penuh kesucian, yang lepas dari pandangan dan bayangan kita terhadap
hakikat keadaan menurut ukuran kemampuan yang kita miliki. Marilah kita
sibukkan ruh kita untuk melihat luapan kebahagiaan ini, karena melihat ini
sendiri sudah merupakan nikmat, yang tidak dapat diungguli kecuali oleh
kenikmatan memandang kepada wajah Yang Mahamulia.... ”Dan wajah-wajah (orang
kafir) pada hari itu muram. Mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya
malapetaka yang amat dahsyat. ” (al-Qyaamah: 24-25)
Itulah
wajah-wajah yang Iayu, sayu, cemberut, muram, dan terhalang dari melihat wajah
Allah, karena langkah-langkah dan tindakan-tindakan serta sikap hidupnya
sewaktu di dunia dulu yang sibuk dengan hal-hal yang menjadikannya bermuram durja
karena takut akan ditimpa bencana dan malapetaka yang amat dahsyat, yang
meremukkan dan mematahkan tulang punggungnya.... Bencana yang amat dahsyat,
yang akan menimpanya ketika mereka sedang bersedih hati dan bermuram durja
ketika berduka dan bersusah hati.
Inilah
akhirat yang mereka abaikan dan tidak mereka hiraukan, dan mereka
konsentrasikan pikirannya kepada kehidupan dunia yang mereka cintai dan mereka
perebutkan. Di belakang mereka adalah hari kiamat ini, hari yang ketika itu
berbeda-beda tempat kembali dan raut wajah manusia, dengan perbedaan yang amat jauh!! Di
antaranya ada wajah-wajah yang berseri-seri memandang kepada wajah Tuhannya.
Ada pula wajah-wajah yang muram, yang merasa yakin akan ditimpa malapetaka yang
amat dahsyat !!
Pemandangan
Saat Menghadapi Sakaratul Maut
Bila
pemandangan-pemandangan hari kiamat dibentangkan.... Bila mata terbelalak
ketakutan, bulan hilang cahayanya, matahari dan bulan dikumpulkan, manusia pada
hari itu berkata, ”Kemana tempat lari?", sedang tempat lari tiada lagi.
Apabila terdapat perbedaan tempat-tempat kembali dan wajah-wajah manusia dengan
perbedaan yang amat jauh, ada wajah-wajah yang berseri-seri dengan memandang
kepada Tuhannya, dan ada pula wajah-wajah yang muram yang yakin akan ditimpa
malapetaka yang amat dahsyat...
Apabila
pemandangan-pemandangan ini meninggalkan kesan yang kuat di dalam jiwa, karena
kuatnya hakikat yang terkandung di dalamnya, dan kuatnya penyampaianAI-Qur'an
yang mempersonifikasikannya dan menghidupkan nuansanya, maka sesudah
membentangkan pemandangan-pemandangan itu surah ini mendekatkan berbagai
sisinya sehingga menyentuh perasaan orang-orang yang menjadi sasaran
pembicaraan dengan pemandangan lain yang sering terjadi berulang-ulang, yang
tidak dibiarkannya berlalu begitu saja sehingga dihadapkannya kepada mereka di
bumi ini dengan kekuatannya, kejelasannya, dan timbangannya yang berat!
Pemandangan
itu adalah pemandangan kematian.... Kematian yang merupakan ujung perjalanan
semua makhluk hidup, yang tidak dapat ditolak oleh makhluk hidup mana pun baik
dari dirinya sendiri maupun dari orang Iain. Kematian yang memisahkan antar kekasih,
yang terus berjalan di jalannya tak mau berhenti, tak mau berpaling, tak
menghiraukan jerit tangis orang yang sangat sedih (yang akan mati itu sendiri
ataupun yang ditinggalkannya - penj.) , tak menghiraukan penyesalan orang yang
akan berpisah, tak menghiraukan keinginan orang yang berkeinginan, dan tak
menghiraukan ketakutan orang yang takut ! Kematian yang akan menyerang orang-orang
yang diktator dengan cara yang mudah sebagaimana menimpa orang-orang kecil dan
hina dina, yang memaksa orang-orang yang berkuasa sebagaimana memaksa orang-orang
yang lemah. Kematian yang tidak ada daya dan upaya bagi manusia untuk
menghindarinya sedang dalarn hal ini mereka tak pernah mengatur kekuatan
pemaksa yang dapat melepaskannya dari kematian itu,
كَلَّآ
اِذَا بَلَغَتِ التَّرَاقِيَۙ ٢٦ وَقِيْلَ مَنْ ۜرَاقٍۙ ٢٧ وَّظَنَّ اَنَّهُ
الْفِرَاقُۙ ٢٨ وَالْتَفَّتِ السَّاقُ بِالسَّاقِۙ ٢٩ اِلٰى رَبِّكَ يَوْمَىِٕذِ
ِۨالْمَسَاقُ ۗ ࣖ ٣٠
"Sekali-kali
jangan. Apabila napas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan, dan
dikatakan (kepadanya), 'Siapakah yang dapat menyembuhkan?' dan dia yakin bahwa
sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri)
dengan betis (kanan), kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau.
"(al-Qiyaamah: 26-30)
Ini
adalah pemandangan saat menjelang ke matian, saat sakaratul-maut (yang
dihadapkan oleh Al-Qur'an kepada mereka, seakan-akan kematian itu sedang
terjadi, dan seakan-akan ia sedang keluar dari celah-celah lafal dan sedang
bergerak sebagaimana keluarnya sifat-sifat lukisan itu dari celah-celah
sentuhan kuas.
"Sekali-kali
jangan! Apabila napas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan....
"
Ketika
ruh sampai ke kerongkongan pada waktu naza' terakhir, ketika sedang terjadi
sakaratul-maut yang menakutkan dan membingungkan, ketika sedang terjadi
kesedihan Iuar biasa yang menjadikan pandangan tidak normal lagi.., dan
orang-orang yang hadir memandang ke kanan dan kiri mencari jalan untuk
menyelamatkan ruh yang sedang sedih itu, "Dan dikatakan (kepadanya),
Siapakah yang dapat menyembuhkannya ?” Barang-kali ada jampi-jampi yang berguna..
! Melingkar-lingkarlah orang yang sedang susah itu karena sekarat dan naza'...,
"Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan). "... Batallah segala
upaya, tak berguna segala sarana, dan menjadi jelaslah jalan satu-satunya yang
setiap makhluk hidup dihalau ke sana pada akhir perjalanan hidupnya,
"Kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau. "
Pemandangan
ini hampir-hampir bergerak dan berkata-kata, setiap ayat melukiskan gerakan,
setiap alinea mengeluarkan kilatan cahaya, dan kondisi saat sakaratul-maut
terlukis dan melukiskan ketakutan, kebingungan, dan kesedihan menghadapi kenyataan
yang keras (tidak dapat ditawar-tawar) dan pahit, yang tidak dapat ditolak dan
tidak dapat dihindari..„ Kemudian tampaklah kesudahan urusan dengan sangat jelasyang
tak dapat dihindari, "Kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau.. ..
" (al-Qiyamah: 30)
Layar
diturunkan atas pemandangan yang menakutkan itu, dengan masih menampakkan
bayang-bayang di mata, meninggalkan bekas dalam perasaan, dan meninggalkan
kesedihan yang membisu dan menakutkan di seluruh angkasa.
Orang
Yang Tidak Memiliki Persiapan Menghadapi Kematian
Setelah
dibentangkannya pemandangan yang menyedihkan dan memilukan, serius dan
realistis itu, dibentangkan pula pemandangan orang-orang yang hina dan
mendustakan serta ayat-ayat Allah, dan tidak melakukan persiapan dengan amal saleh
dan ketaatan, bahkan mereka suka melakukan kemaksiatan dan pelanggaran,
berpaling dari peringatan-peringatan Allah, suka melakukan tindakan-tindakan
yang sia-sia dan tiada berguna, bahkan congkak dan sombong di dalam melakukan
kemaksiatan-kemaksiatan dan berpaling dari kebenaran,
فَلَا
صَدَّقَ وَلَا صَلّٰىۙ ٣١ وَلٰكِنْ كَذَّبَ وَتَوَلّٰىۙ ٣٢ ثُمَّ ذَهَبَ اِلٰٓى
اَهْلِهٖ يَتَمَطّٰىۗ ٣٣
“Dan
ia tidak mau membenarkan (Rasul dan Al-Qur’an) dan tidak mau mengerjakan shalat.
Tetapi ia mendustakan (Rasul) dan berpaling (dari kebenaran). Kemudian ia pergi
kepada ahlinya dengan berlagak (sombong). " (al-Qiyaamah: 31-33)
Disebutkan
dalam suatu riwayat bahwa yang dimaksud oleh ayat-ayat ini adalah orang
tertentu. Ada yang mengatakan bahwa orang tersebut adalah Abu Jahal "Amr
bin Hisyam".... Dia sering datang kepada Rasulullah saw. untuk
mendengarkan Al-Qur’an, tetapi kemudian pergi. Dia tidak mau beriman dan tidak
mau mematuhi, tidak mau bersikap sopan dan tidak merasa takut kepada Allah,
bahkan dia malah menyakiti Rasulullah saw. dengan perkataannya, dan menghalangi
orang Iain dari mengikuti jalan (agama) Allah.... Kemudian dia menyombongkan diri
dengan apa yang diperbuatnya, membanggakan kejahatan yang dilakukannya itu,
seakan-akan dia telah melakukan sesuatu yang hebat dan perlu disebut-sebut...
Kalimat yang
digunakan oleh Al-Qur'an ini adalah untuk merendahkan dan menghinakannya, juga
untuk menyebarkan kesan kehinaannya itu, dengan digambarkan sikap sombongnya,
bahwa dia "Yatamaththaa" (berlagak), berlagak dalam penampilan
Iahirnya dan bersikap ujub dengan ujub yang berat dan memuakkan!
Nah,
berapa kali orang yang bernamaAbu Jahal itu, sebagaimana diceritakan dalam
sejarah dakwah, mendengar dan berpaling, melakukan berbagai cara dan tindakan
untuk menghalangi manusia dari agarna Allah, menyakiti para juru dakwah,
melakukan tipu daya yang buruk, dan berpaling dari kebenaran dengan lagak yang
sombong dan membanggakan kejahatan dan keburukan yang dilakukannya,
membanggakan kerusakan yang dilakukannya di muka bumi, membanggakan tindakannya
menghalang-halangi manusia dari agama Allah, dan membanggakan tipu daya yang
dilakukannya terhadap agama AlIah dan akidahnya..„ Hampir-hampir begitulah
kebiasaannya setiap Al-Qur'an menghadapi kesombongan yang amat buruk ini dengan
ancaman yang pedih,
اَوْلٰى
لَكَ فَاَوْلٰىۙ ٣٤ ثُمَّ اَوْلٰى لَكَ فَاَوْلٰىۗ ٣٥
"Kecelakaanlah
bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu. Kemudian kecelakaanlah bagimu
(hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu. " (al-Qiyaamah: 34-35)
Ini
adalah ungkapan istilahi yang mengandung makna yang berat. Dan, Rasulullah
shallalahu alaihi wasallam sendiri sudah berusaha menghentikan kedengkian Abu
Jahal ini suatu kali dan menggoyangnya seraya berkata kepadanya (menyampaikan
ayat tersebut), "Kecelakaanlah bagimu, dan kecelakaanlah bagimu! Kemudian
kecelakaanlah bagimu, dan kecelakaanlah bagimu”. Akan tetapi musuh Allah itu
malah menjawab, "Apakah engkau hendak mengancamku, wahai Muhammad? Demi
Allah, engkau dan Tuhanmu tidak akan mampu melakukannya sedikit pun.
Sesungguhnya aku lebih mampu daripada sekadar berjalan di antara kedua
gunungnya!" Lalu Allah menghukumnya pada waktu Perang Badar melalui tangan
orang-orang mukmin, melalui Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasalam di bawah
kekuasaan Tuhan Yang Mahakuat, Mahaperkasa, dan Mahaagung. Sebelum Abu Jahal,
Fir’aun pernah berkata kepada kaumnya, "Aku tidak mengetahui adanya Tuhan
bagimu selain aku.. .. " (al-Qashash: 38). Dan katanya Iagi,
"Bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini
mengalir di bawahku (az-Zukhruf: 51). Kemudian Allah menghukumnya juga.
Berapa
kali Abu Jahal di dalam sejarah dakwah menyombongkan keluarganya, kekuatannya,
dan kekuasaannya, dan dianggapnya sebagai sesuatu yang patut
dibangga-banggakan, lantas dia melupakan Allah, lalu Allah menghukumnya. Allah
menilainya lebih hina daripada seekor nyamuk dan lebih rendah daripada seekor
lalat... Sungguh ajal yang telah ditetapkan untuknya tidak dapat dimajukan dan
dimundurkan sedeük pun.
Manusia
Tidak Diciptakan dengan Sia-Sia
Pada
bagian akhir surah ini, Al-Qur'an menyentuh hati manusia dengan mengemukakan
hakikat Iain dalam realitas kehidupan mereka, hakikat yang menunjukkan adanya
rencana dan pengaturan Allah terhadap kehidupan manusia ini. Juga menunjukkan
adanya kehidupan lain yang sangat mereka ingkari kemungkinan terjadinya,
padahal mereka tidak dapat lari darinya, dan tidak ada daya upaya dan kemampuan
untuk menolaknya,
اَيَحْسَبُ
الْاِنْسَانُ اَنْ يُّتْرَكَ سُدًىۗ ٣٦ اَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِّنْ مَّنِيٍّ
يُّمْنٰى ٣٧ ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوّٰىۙ ٣٨ فَجَعَلَ مِنْهُ
الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْاُنْثٰىۗ ٣٩ اَلَيْسَ ذٰلِكَ بِقٰدِرٍ عَلٰٓى اَنْ
يُّحْيِ َۧ الْمَوْتٰى ࣖ ٤٠
"Apakah
manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)
? Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian
mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan
menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan darinya sepasang: laki laki dan
perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan
orang mati?" (al-Qiyaamah: 36-40)
Menurut
pandangan suatu kaum, kehidupan ini hanyalah gerakan-gerakan yang tidak
memiliki motivasi, tidak memiliki tujuan dan sasaran.... Kehidupan hanyalah
rahim-rahim yang melahirkan dan kubur-kubur yang menelannya kembali, sedang
masa-masa antara keluar dari rahim dan masuk kubur itu hanyalah untuk
bersenang-senang, bermain-main, berhias dan bersolek, berbangga-banggaan, dan
semua kesenangannya hanyalah sebentar dan sementara saja.... Di sana ada
undang-undang dan peraturan, di belakangnya ada tujuan, dan di balik tujuan itu
ada hikmah. Kedatangan manusia ke dalam arena kehidupan ini sesuai dengan
takdir yang berlaku hingga kadar tertentu, dan akan berkesudahan dengan
perhitungan dan pembalasan. Perjalanannya di atas bumi ini juga sebagai ujian
yang kelak akan diperhitungkan dan diberi balasan.
Adapun
pandangan yang cermat dan serasi, serta perasaan di baliknya tentang adanya
Tuhan yang berkuasa, yang mengatur, dan bijaksana, Dia memberlakukan segala
sesuatu dengan kadar tertentu, dan segala sesuatu di dunia ini akan berakhir
pada suatu kesudahan yang telah ditentukan. Akan tetapi, pandangan yang
demikian ini dirasa jauh menurut ukuran pandangan dan pengetahuan manusia pada
saat itu.
Yang
membedakan manusia dari binatang adalah perasaannya terhadap hubungan waktu,
peristiwa-peristiwa, dan tujuan-tujuan, hubungan dengan keberadaan tujuan dan
wujud manusia itu, dan wujud segala sesuatu yang ada -di sekitarnya. Kenaikan
tingkat kemanusiaannya mengikuti perkembangan dan muatan perasaannya ini,
kejelian pandangannya terhadap keberadaan undang-undang Tuhan, dan hubungan
peristiwa-peristiwa serta segala sesuatu dengan undang-undang ini. Maka ia
tidak hidup untukmenghabiskan umurnya dari waktu ke waktu, dari satu peristiwa
ke satu peristiwa. Di dalam pikirannya ia selalu menghubungkan masa dan tempat,
masa lalu, masa sekarang, dan yang akan datang. Kemudian ia hubungkan semua ini
dengan keberadaan alam yang besar beserta undang-undangnya; dan setelah itu ia
hubungkan semua itu dengan iradah 'ulya ‘kehendak tertinggi' yang menciptakan
dan mengatur, yang tidak menciptakan manusia dengan sia-sia dan tidak
membiarkannya tanpa pertanggungjawaban.
Inilah
pandangan besar yang oleh Al-Qur'an ditransfernya manusia kepadanya sejak masa
yang jauh itu, peralihan yang sangat besar bila dibandingkan dengan
pandangan-pandangan hidup yang dominan pada waktu itu, dan senantiasa sangat
besar dibandingkan dengan seluruh pandangan duniawi yang diperkenalkan oleh
filsafat tempo dulu maupun sekarang.
Dan
sentuhan, "Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja
(tanpa pertangungjawaban) ?" ini adalah salah satu sentuhan dan pengarahan
Al-Qur'an terhadap hati manusia supaya memikirkan dan memperhatikan
kaitan-kaitan dan hubungan-hubungan, sasaran dan tujuan, ilat dan sebab, yang
menghubungkan keberadaannya dengan keberadaan seluruh alam semesta, dan dengan
iradah yang mengatur wujud segala sesuatu ini.
Dan,
dengan tidak menggunakan bahasa yang berbelit-belit dan rumit, datanglah
ayat-ayat Al-Qur'an dengan membawakan petunjuk-petunjuk yang realistis dan
sederhana yang memberikan kesaksian bahwa manusia tidak dibiarkan begitu saja
tanpa pertanggunjawaban yaitu petunjuk
tentang kejadiannya yang pertama,
“Bukankah
ia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim) ? Kemudian mani itu
menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya? Lalu Allah
menjadikan daripadanya sepasang Iaki-laki dan perempuan?" (al-Qiyaamah:
37-39)
Apakah
gerangan manusia ini? Dari apa ia diciptakan? Bagaimana keberadaannya?
Bagaimana jadinya nanti? Dan, bagaimanakah dia menempuh perjalanannya yang
panjang hingga datang kepada rombongan ini?
Bukankah
ia dahulu setetes sperma yang ditumpahkan ke dalam rahim? Bukankah ia dahulu
hanya setetes nuthfah dengan sebuah sel kecil yang kemudian berkembang menjadi ‘alaqah
'segumpal darah' dengan bentuk khusus di dalam rahim, yang menempel di dinding
rahim untuk dapat hidup dan menyerap makanan? Maka, siapakah gerangan yang
memberikan ilham kepadanya untuk melakukan gerakan seperfi ini? Siapakah
gerangan yang memberinya kemampuan seperti ini? Dan, siapakah gerangan yang
memberinya arahan seperti ini?
Kemudian,
siapakah gerangan sesudah itu yang menjadikannya janin yang sempurna dengan
susunan organ-organnya yang begitu rapi? Yang fisiknya tersusun dari
bermiliar-miliar sel yang hidup, padahal asalnya hanya sebuah sel bersama ovum?
Perjalanan panjang yang ditempuhnya dari sebuah sel hingga menjadi janin yang
sempurna - yang lebih panjang tahapan-tahapannya daripada perjalannya dari
Iahir hingga kematiannya, dan perubahan-perubahan yang teiadi pada
eksistensinya dalam proses perjalanan janinnya lebih banyak dan lebih Iuas
jangkauannya daripada semua peristiwa yang dialaminya dalarn perjalanannya
mulai dari kelahirannya hingga kematiannya. Maka, siapakah gerangan yang memandu
perjalanannya yang panjang ini, padahal dia hanya sejemput makhluk kecil dan
lemah, yang belum punya akal, belum punya pengetahuan, dan belum berpengalaman?
Akhirnya,
siapakah gerangan yang menjadikan laki-laki dan perempuan dari sebuah sel
ini...? Iradah yang manakah yang menghendaki sel ini menjadi laki-laki? Iradah
yang manakah yang menghendaki sel itu menjadi perempuan? Siapakah gerangan yang
berani mendakwakan dilinya turut campur lalu me mandu langkah-langkahnya dan
prosesnya dalam kegelapan rahim hingga terjadinya pemilihan jenis kelamin
Iaki-laki dan perempuan ini?
Tidak ada
tempat lari dari merasakan adanya tangan halus yang mengatur dan memandu
nuthfah yang ditumpahkan ke dalam rahim itu dalam perjalanan (proses)nya yang
panjang, hingga sampai kepada kejadian itu ...., "Lalu Allah menjadikan
darinya sepasang: laki-laki dan perempuan. " (al- Qiyaamah: 39)
Di depan
hakikat yang menetapkan suatu kepastian terhadap perasaan manusia ini,
datanglah kesan yang meliputi segenap hakikat yang dibicarakan surah ini,
"Bukankah
(Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati ?'
(al-Qyaamah: 40)
Ya,
Mahasuci Allah! Dia benar-benar berkuasa untuk menghidupkan orang-orang mati!
Ya,
Mahasuci Allah! Dia benar-benar berkuasa untuk menciptakan ulang!
Ya,
Mahasuci Allah! Manusia tidak dapat lagi melainkan bersikap tunduk di hadapan
hakikat yang menetapkan keberadaan dirinya ini.
Demikianlah
surah ini ditutup dengan memberikan kesan yang pasti, kuat, dan dalam, yang
memenuhi dan meluap di dalam perasaan, terhadap hakikat keberadaan manusia dan
adanya pengaturan dan kekuasaan di belakangnya. ...
No comments:
Post a Comment