Dengan menyebut Nama Allah. Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, segenap keluarga, para sahabat dan generasi penerusnya.
Sejarah Islam dipenuhi dengan peristiwa besar dan berpengaruh terhadap peradaban
Kita berada di sini saat ini dan dalam kondisi seperti ini adalah buah dari karya besar para pendahulu kita. Karena jasa merekalah saat ini kita menikmati kehidupan seperti sekarang. Oleh karena itu, sudah sepantasnyalah kita mengenang, mengingat, mempelajari, dan meneladani kehidupan dan perjuangan mereka.
“Barang siapa yang tidak berterimakasih kepada manusia, berarti tidak bersyukur kepada Allah.” (HR Ahmad dan Tirmidzi).
Tak terkecuali orang-orang besar yang telah mengukirkan karyanya dalam sejarah adalah wanita-wanita Islam. Para muslimah tersebut bahu membahu, berkontribusi dan turut berjuang bersama kaum lelaki dalam membela yang hak.
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. QS Yusuf: 111
Musuh-musuh Islam tahu bahwa wanita merupakan salah satu unsure kekuatan masyarakat Islam. Musuh-musuh Islam telah menempuh berbagai cara untuk merusak wanita muslimah. Oleh karena itulah, kita harus kembali mengungkap kembali profil dan meneladani perjuangan wanita-wanita muslimah sebagai bekal untuk mengangkat harkat dan derajat wanita muslimah. Setiap pejuang muslimah memiliki keistimewaan dan sarat dengan nilai-nilai positif yang telah mengukirkan sejarahnya dalam sejarah Islam.
Berikut kita bisa menyimak beberapa profil dan meneladani para pejuang wanita Islam sepanjang sejarah.
A. Ummahat Al Mukminin
1. Khadijah
Nama lengkapnya Khadijah binti
Khuwailid bin As’ad bin Abd Al Uzza’. Ia dilahirkan di Makkah tahun 68 sebelum
hijrah. Ia adalah wanita yang sukses dalam perniagaan, seorang saudagar wanita
terhormat dan kaya raya. Pada masa jahiliyah ia dipanggil Ath Thaharoh (wanita
suci) karena ia senantiasa menjaga kehormatan dan kesucian dirinya. Orang-orang Quraisy menyebutnya sebagai
pemimpin wanita Quraisy.
Rsulullah bersabdatantang Khadijah, "Allah tidak menggantikan
untukku wanita yang lebih baik darinya. la beriman kepadaku di saat orang lain
ingkar kepadaku, ia mempercayaiku di saat orang lain mendustakanku, ia
menolongku dengan hartanya di saat orang lain tidak ada yang menolongku, dan
Allah telah mengaruniakan kepadaku putra (dari hasil perkawinan dengan) nya
sedang wanita-wanita lain tidak."
Keistimewaan
Khadijah:
a. Ia adalah
wanita yang pertama kali memeluk Islam. Ia beriman
kepada Nabi disaat semua orang kafir padanya.
b. Ia adalah wanita pertama yang dijamin masuk surga
bahkan ia mendapat khabar gembira dari Allah, nahwa Allah telah membangunkan
bagi rumah di surga.
Abu
Hurairah ra menyatakan bahwa Jibril datang kepada nabi saw seraya berkata,
“Wahai Rasulullah, Khadijah sedang berjalan kemari. Ia membawa wadah yang
berisis kuah, makanan atau minuman. Jika ia sampai kepadamu, maka katakanlah
bahwa Tuhannya dan aku menyampaikan salam kepadanya. Dan sampaikanlah khabar
gembira kepadanya bahwa ia mendapat sebuah rumah di dalam surga”. (Mutafaq
‘alaih)
c. Manusia pertama yang mendapat salam dari Allah yang
disampaikan dari langit ke tujuh. Ia pastas menerimanya karena selalu setia
mendampingi Nabi dalam kondisi seperti apapun.
Anas ra
meriwayatkan bahwa ketika Jibril datang kepada Rasulullah saw yang sedang
berduaan dengan Khadijah ra, Jibril berkata, “Sesungguhnya Allah menyampaikan
salam kepada Khadijah”. Khadijah membalas, “Sesungguhnya Allahlah As Salaam
(Maha Pemberi Kesejahteraan). Sebaliknya kuucapkan salam kepada Kibril dan
kepamu. Semoga Allah melimpahkan kesejahteraan, rahmat dan berkahNya kepadamu.”
(HR An Nasa’i)
d. Wanita pertama yang layak dikatagorikan shiddiq
diantara wanita mukmin lainnya.
e. Mengorbankan seluruh hartanya untuk kepentingan Nabi
f. Wanita yang memberikan keturunan bagi Nabi
g.
Wanita yang
matang dan cerdas, pandai menjaga kesucian, dan terpandang bahkan sejak masa
jahiliyah dan diberi gelar Ath Thahiroh (wanita yang suci). Ia adalah orang yang terhormat,
taat beragama dan sangat dermawan.
h.
Seluruh hidupnya di berikan untuk mendukung dan
membela dakwah Nabi.
i.
Orang yang pertama shalat bersama Nabi saw
2. Saudah binti Zam’ah
Nama lengkapnya Saudah binti Zam'ah bin Qais. Ia masuk Islam
bersama suaminya, Sakran bin Amr, di masa awal dakwah Islam. la ikut berhijrah
ke Habasyah (
la merawikan 5 hadits dari
Nabi. Di antaranya, ia berkata, "Ada seorang laki-laki yang datang menemui
Nabi sembari berkata,"Ayahku telah lanjut usia dan ia sudah tidak mampu
menunaikan haji." Nabi bersabda, "Bukankah seandainya ayahmu punya
utang, lalu kamu melunasinya, dan itu akan diterima? " "Ya",
jawab laki-laki itu. "Allah
Maha Pengasih, maka tunaikanlah haji atas nama ayahmu!" kata Nabi.
Saudah ra adalah wanita
pertama yang dinikahi Rasulullah setelah Khadijah ra meninggal. Ia menjadi
satu-satunya istrim Nabi saw selama tiga tahun sebelum nabi menikah dengan
Aisyah ra.
Keistimewaan Saudah binti
Zam’ah:
a. Termasuk
wanita pertama yang memeluk Islam, ikut hijrah duam kali yakni ke Habasyah dan
madinah Munawwarah.
b. Ia termasuk golongan pertama yang masuk Islam
c. Selalu berusaha sekuat tenaga menyanangkan hati Nabi
dengan memberikan jatah hari gilirannya kepada Aisyah ra karena Saudah ra tahu
bahwa wanita yang paling dicintai oleh Nabi saw diantara istri-istrinya adalah
Aisyah ra.
d. Aisya berkata tentang Saudah, ”Aku tidak pernah menemukan
seorang wanita yang lebih kusukai jika aku menjadi dirinya, selain Saudah binti
Zam’ah. Seorang wanita yang kekuatan jiwanya luar biasa”.
e. Selalu mengejar kebaikan dan ketaan bahkan Aisyah cemburu
dengan kesegeraan Saudah dalam kebaikan dan ketaatan.
f. Saudah ra. adalah seorang wanita yang
dermawan dan murah hati. Ibnu Sirin menceritakan bahwa Umar bin Khaththab
(setelah menjadi Khalifah, penj.) pernah memberi satu karung berisi uang
dirham kepada Saudah ra. Ketika melihatnya, Saudah ra. bertanya, "Apa yang
ada dalam karung ini?" Petugas Umar menjawab, "Uang dirham
(perak)." Saudah ra. terkejut, "Karung ini berisi uang dirham,
seperti kurma? Hai pelayan, ambilkan nampan!" Saat itu juga, Saudah ra.
membagi-bagikan uang dirham tersebut kepada orang-orang yang memerlukannya.
g. Mendapat izin dari tujuh lapis langit
Suatu ketika, Saudah
ra. pernah mengalami masalah yang cukup memberatkan hatinya. Oleh sebab itu, ia
segera menemui Nabi saw. untuk mengadukan permasalahannya. Ternyata, Allah
berkenan menurunkan wahyu dari tujuh lapis langit untuk menyelesaikan masalah
yang dialaminya, dan berlaku untuk siapa pun yang mengalami masalah yang sama
hingga hari kiamat.
Aisyah
ra. menuturkan, "Saudah binti Zam'ah ra. pernah keluar rumah malam hari.
Umar melihatnya dan segera mengenalnya, maka ia berkata, 'Demi Allah, engkau
pasti Saudah. Kami mudah mengenalmu.' Saudah merasa tidak enak hati, sehingga
ia segera menjumpai Rasulullah saw. yang saat itu sedang makan malam di rumahku
dan tangannya sedang memegang tulang yang nyaris habis dagingnya. Tidak lama
kemudian, Allah menurunkan wahyu yang membenarkan tindakan Saudah. Rasulullah
saw. berkata, Allah telah mengizinkan kalian keluar rumah selama ada
keperluan.'" (Muttafaq 'alaih)
3.
Aisyah binti Abu Bakar
Nama lengkapnya Aisyah binti Abi Bakar bin
Utsman, biasa dipanggil Ummu Abdillah, dan digelari Ash-Shiddiqah (wanita
yang membenarkan). la juga masyhur dengan panggilan ummul mukminin,
danAl-Humaira', karena warna kulitnya sangatputih.
la dilahirkan tahun ke-4 atau ke-5 setelah
kenabian. la menceritakan, bahwa Nabi pernah mengatakan kepadanya, "Aku
bermimpi melihat kamu sebanyakdua kali. Malaikat datang kepadaku dengan membawa
selembar kain sutra (fhoto) sambil berkata, "Inilah isterimu, maka bukalah
penutup wajahnya!" Setelah kubuka, ternyata itu adalah kamu. Maka aku
berkata, "Sekiranya perkara ini datangnya dari Allah, pasti ia
terlaksana." (HR. Al-Bukhari)
Rasulullah menikahi Aisyah tahun 2 H, dan
saat itu, ia masih berusia 9 tahun. Pada dasarnya, Rasulullah telah
melangsungkan prosesi akad nikah dengannya tahun 3 sebelum hijrah, saat Aisyah
masih berusia 6 tahun. Beliau memberinya mahar sebesar 400 dirham.
Keistimewaan Aisyah ra:
a. Aisyah adalah isteri yang paling dicintai
oleh Rasulullah, dan yang paling banyak merawikan hadits dari Beliau. Ia
merawikan 2210 hadits, 279 diantaranya terdapat di dalam Shahih Bukhori.
b. Ia adalah wanita yang laing luas ilmu dan
pemahamannya diantara seluruh wanita umat ini. Ia termasuk wanita muslimah yang
paling faqih dan paling mengerti tentang sastra dan agama. Banyak pembesar
sahabat yang bertanya kepadanya tentang masalah-masalah fiqih, dan ia pun
menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.
c. Wanita yang
dinyatakan kesuciaannya dalam Al Qur’an. Kecintaan Rasulullah kepada Aisyah
pernah menimbulkan kecemburuan di hati sebagian orang. Mereka menuduh Aisyah
berbuat zina, padahal ia adalah wanita yang senantiasa menjaga kesudian dan
kehormatan dirinya. Allah telah membebaskannya dari tuduhan tersebut di dalam
Kitab-Nya.
d. Tentang Aisyah, Rasulullah pernah mengatakan,
"Keutamaan Aisyah atas wanita-ivanita yang lainnya adalah seperti
keutamaan tsarid (makanan yang terdiri dari roti dan daging) atas makanan
lainnya." (HR. Al-Bukhari)
e. Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa
Sallam sakit, Beliau meminta izin kepada isteri-isterinya agar Beliau
dirawat di rumah Aisyah.
f.
Amr
bin Ash pernah bertanya kepada Rasul, "Siapakah orang yang paling Anda
cintai?" Beliau menjawab, "Aisyah". "Dari kalangan
laki-laki?" tanya Amr. "Ayahnya, Abu Bakar", jawab Beliau.
"Kemudian siapa?" tanya Amr. "Umar bin Khaththab", jawab Beliau." (HR.
Al-Bukhari)
g.
Satu-satunya
wanita yang dinikahi Rasulullah yang masih gadis
h.
Aisyah adalah
wanita terkemuka dengan segudang keistimewaan, terkemuka dalam kedermawanan,
kezuhudan dan sifat-sifat yang mulia.
i.
Amr bin Ash pernah bertanya kepada Rasul,
"Siapakah orang yang paling Anda cintai?" Beliau menjawab,
"Aisyah". "Dari kalangan laki-laki?" tanya Amr.
"Ayahnya, Abu Bakar", jawab Beliau. "Kemudian siapa?" tanya
Amr. "Umar bin Khaththab", jawab Beliau." (HR. Al-Bukhari).
j. Jibril as. memberi salam kepadanya
Ibnu
Syihab menyatakan bahwa Abu Usamah berkata, "Sesung-guhnya "Aisyah
ra. pernah mengungkapkan bahwa pada suatu hari Rasulullah saw. berkata
kepadanya, 'Hai " Aisyah, ini Jibril. la mengucapkan salam kepadamu.' v
Aisyah membalas, 'Wa " alaihis Salaam wa Rahmatullah wa Barakaatuh (semoga Jibril juga
mendapat kesejahteraan, limpahan kasih sayang dan berkah dari Allah), Engkau
(Rasulullah saw.) melihat sesuatu yang tidak dapat kulihat." (Muttafaq
" alaih)
k. Wahyu turun saat
Nabi berselimut bersama Aisyah
”....Demi Allah sesungguhnya Alalh tidak pernah menurunkan wahyu ketika aku
sedang dalam satu selimut dengan siapapun diantara kalian (istri-istri Nabi),
selain Aisyah”. (HR Bukhori)
l. Kelebihan Khusus
yang dimiliki oleh Aisyah
'Aisyah ra. berkata,
"Ada tujuh kelebihan dalam diriku yang tidak dimiliki wanita mana pun
kecuali kelebihan-kelebihan yang diberikan oleh Allah kepada Maryam binti
'Imran. Demi Allah, dengan mengatakan hal ini aku tidak bermaksud membanggakan
diriku atas teman-temanku (istri-istri Rasulullah saw. yang lain)."
Abdullah bin Shafwan bertanya, "Apa tujuh kelebihan itu,
wahai Ummul Mukminin?" " Aisyah menjawab, "Malaikat membawa
gambarku (dalam mimpi) kepada Rasulullah saw.; Rasulullah saw. menikahiku saat
aku berumur 7 tahun, lalu aku diserahkan (serumah) dengan beliau saat berumur 9
tahun, beliau menikah denganku saat aku perawan, dan itu hanya beliau lakukan
denganku; wahyu turun kepada beliau saat beliau berada dalam satu selimut
denganku; aku adalah orang yang paling beliau cintai dan aku juga adalah putri
dari orang yang paling beliau cintai; Allah menurunkan ayat-ayat Al-Qur'an
karena aku, di saat semua umat nyaris celaka karena kasusku; aku melihat Jibril
dan tidak ada satu pun dari istri beliau yang pernah melihatnya; Rasulullah
saw. meninggal di rumahku dan saat itu tidak ada orang yang mengurusnya kecuali
aku dan malaikat.
m. Wanita yang sangat zuhud dan dermawan luar biasa, ahli ibadah
dan puasa.
4.
Hafshah binti Umar bin Khatthab
Nama lengkapnya
Hafshah binti Umar bin Khaththab. Lahir di Mekkah tahun 18 sebelum hijrah.
Rasulullah melamar Hafshah kepada ayahnya Umar bin Khaththab, lalu Beliau
menikahinya tahun 3 H. Rasulullah pernah bermaksud menceraikan Hafshah, tapi
Jibril mengatakan kepada Beliau, "Jangan kamu ceraikan dia, sesungguhnya
dia adalah wanita yang gemar berpuasa dan menunaikan shalat (malam), dan
sesungguhnya dia adalah isterimu di sorga."
la merawikan 60
hadits dari Nabi, 10 di antaranya terdapat dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan
Shahih Muslim.
Keistimewaan
Hafshah:
a. Wanita yang dibela Jibril
Rasulullah pernah
bermaksud menceraikan Hafshah, tapi Jibril mengatakan kepada Beliau,
"Jangan kamu ceraikan dia, sesungguhnya dia adalah wanita yang gemar berpuasa
dan menunaikan shalat malam), dan sesungguhnya dia adalah isterimu di
sorga."
b.
Ia
adalah salah satu wanita yang paling fasihdiantara wanita-wanita Quraisy.
c.
Hafshah
ra. memiliki kedudukan yang sangat tinggi di hati Nabi saw., bahkan termasuk
salah seorang istri beliau yang istimewa di antara istri-| istri beliau
lainnya. 'Aisyah ra. pernah mengakui hal ini. la berkata, "Hafshah adalah
termasuk salah seorang istri Nabi saw. yang nyaris setara denganku
d.
Hafshah
ra., dikenal memiliki kapasitas keilmuan, pemahaman dan ketakwaan yang sangat
luas. Ketika ayahnya diangkat nenjadi Khalifah, tidak jarang Umar bertanya
kepadanya tentang bagai hukum agama.
e.
Hafshah
ra., telah mengemban amanah penjagaan Al-Qur'an, karena Abu Bakar ra.
menunjuknya untuk menjaga lembaran-lembaran tulisan Al-Qur'an setelah berhasil
dihimpun oleh Zaid bin Tsabit ra. Lembaran-lembaran Al-Qur'an itu tetap berada
di tangannya hingga masa pemerintahan Utsman bin 'Affan ketika ia memutuskan
menghimpun Al-Qur'an dalam satu mushaf.
5.
Zainab binti Khuzaimah
Nama
lengkapnya Zainab binti Khuzaimah bin Harits. la digelari dengan Ummul
Masakin (ibu orang-orang miskin). la termasuk orang yang mula-mula masuk
Islam.
Sebelum menikah dengan Rasulullah, ia menikah
dengan Ubaidah bin Harits bin Abdul Muthalib. Suaminya, Ubaidah bin Harits,
gugur sebagai syahid dalam perang Badar tahun 2 H. Setelah suaminya gugur dalam
perang Badar, Rasulullah menikahinya tahun 3 H.
Keistimewaan:
a. Rumahnya adalah tempat berkumpulnya para
fakir miskin, sehingga ia digelari dengan Ummul Masakin (ibu orang-orang
miskin). la meninggal tahun 4 H dalam usia 30 tahun. Rasulullah menyembahyangi
jenazahnya dan menguburkannya di Baqi'.
b. Zainab menghabiskan
seluruh waktunya untuk beribadah dan menyantuni orang miskin
6.
Ummu Salamah
Nama lengkapnya
Hindun binti Hudzaifah bin Mughirah Al-Qursyiyah Al-Makhzumiyah, biasa
dipanggil Ummu Salamah. la dilahirkan tahun 28 sebelum hijrah. la termasuk
orang yang mula-mula masuk Islam. Ia bersama suaminya, Abu Salamah, ikut
berhijrah ke Habasyah. Di Habasyah, ia dikaruniai seorang anak, Salamah.
Sepulang dari Habasyah, ia hijrah ke Madinah. Di madinah, ia dikarunia 3 orang
anak, yaitu Umar, Ruqayyah, dan Zainab. la adalah wanita pertama yang berhijrah
ke Madinah. la merawikan 378 hadits dari Nabi.
Keistimewaan:
a. Wanita yang ikut hijrah ke Habasyah dan
pertama hijrah ke Madinah.
b. Wanita yang sabar
dan tabah
Ketika Ummu Salamah, Abu Salamah dan putra mereka Salamah hendak berhijrah,
mereka dihalang-halangi oleh Bani Mughiroh. Hingga akhirnya Ummu salamah
terpisah dari suami dan anaknya. Tetapi Ummu Salamah tetap tabah mendapatkan
cobaan ini.
c. Wanita yang cerdas
dan bijaksana
Setelah selesai
menandatangani perjanjian damai dengan kaum musyrik, Rasulullah saw. berkata
kepada para sahabatnya, 'Bersiap-siaplah, sembelihlah hewan-hewan kurban kalian
dan cukurlah rambut kalian.' Demi Allah, saat itu tidak ada satu pun dari para
sahabat yang berdiri dan melaksanakan perintah beliau, padahal beliau
mengulangi perintahnya sebanyak tiga kali. Ketika melihat gejala seperti itu,
Rasulullah saw. masuk kemah dan menemui Ummu Salamah, lalu menceritakan
kejadian tersebut kepadanya.
Ummu Salamah berkata,
'Wahai Nabi Allah, apakah engkau ingin sahabat-sahabatmu mengerjakan
perintahmu? Keluarlah, dan jangan berbicara dengan siapa pun sebelum engkau
menyembelih hewan kurbanmu dan memanggil pencukur untuk mencukur rambutmu.'
d. Wanita yang sangat
penyayang
Ia lah yang menyampaikan berita kepada Abu Lubabah bahwa Allah menerima
taubatnya. Ummu salamah juga pernah menjadi penyebab kesediaan Nabi untuk
memaafkan anak pamannya.
e. Ummu Salamah
dianggap sebagai ulama pada generasi sahabat. Ulama besar sekaliber Ibnu Abbas
tidak jarag mengutus orang untuk menanyakan beberapa masalah hukum kepadanya.
7.
Zainab binti Jahsyin
Nama lengkapnya
Zainab binti Jahsyin bin Ri'ab Al-Asadiyah. la adalah putri bibi Nabi, Umaimah
binti Abdul Muthalib. la berparas cantik. Zainab termasuk orang yang
mula-mula masuk Islam. Rasulullah menikahkannya dengan Zaid bin Haritsah.
Tetapi kemudian bercerai dengan Zaid.
Maka
tatkala Zaid telah mengakhiri keperlnan terhadap isterinya (menceraikannya),
Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidakada kebemtan bagi orang mukmin untuk
(mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu
telah menyelesaikan keperluannya daripada isteri-isterinya. Dan adalah
ketetapan Allah itu pasti terjadi." (Al-Ahzab:
37).
la merawikan 11
hadits dari Nabi. Ketika Zainab ra meninggal dunia, Aisyah menangisi kepergian
Zainab dan berkata, "la menandingiku dari isteri-isteri Nabi dalam meraih
kedudukan di sisi Rasulullah, dan aku belum pernah melihat wanita yang lebih
baik dari dia dalam menjalankan ajaran agama. Aku juga belum pernah melihat
wanita yang paling mensucikan diri dari dia, paling bertakwa kepada Allah,
paling benar tutur katanya, paling senang menyambung tali silaturrahmi, dan
paling banyak sedekahnya."
Keistimewaan:
a. Rasulullah mensifatinya dengan Al-Aivwahah
(wanita yang khusyu' dalam beribadah).
b. Zainab ra adalah pekerja keras, ia bekerja
dengan tangannya sendiri menyamak dan menjahit kulit lalu menjualnya di pasar.
Dari hasil kerja ini ini ia rajin bershadaqoh. Sehingga Rasulullah menjulukinya
sebagai orang yang paling panjang tangannya.
Rasulullah pernah
berkata, "Yang paling cepat menyusulku diantara kalian ialah yang
paling panjang tangannya." Dan ternyata yang dimaksud oleh Beliau di
dalam hadits di atas adalah Zainab, karena ia bekerja dengan tangannya sendiri,
membuat manik-manik, menyamak, dan berdagang kemudian disedekahkan.
c. Istri nabi saw yang
paling pertama kali meninggal setelah beliau wafat.
d. Taat beragama dan
paling bertaqwa (ia adalah wanita yang sangat rajin puasa, shalat malam dan selau
berinteraksi dengan Allah)
e. Wanita yang paling
mensucikan diri
f. Tutur katanya benar
g. Paling senang
menyambung silaturahim
h. Paling banyak
sedekahnya
i. Zainab dinikahkan
oleh Allah dengan Nabi saw
”Zainab selalu berbangga atas istri-istri Nabi saw lainnya. Ia
berkata,’Kalian dinikahkan oleh wali-wali kalian, sedangkan aku dinikahkan oleh
Allah dari tujuh lapis langit.’” (HR Bukhori dan Tirmidzi).
j. Ia adalah wanita yang sangat zuhud bahkan ketika Umar bin
Khattab memberikan tunjangan kepadanya, maka uang itu disedekahkan seluruhnya
hingga tak bersisa.
8.
Juwairiyah binti Harits
Nama
lengkapnya Juwairiyah binti Harits bin Abi Dhirar Al-Khaza'iyah. Ia adalah
putri dari kepala suku bani Mushthaliq. Ketika Rasulullah saw hijrah ke
madinah, salah satu prilar yang dibangun oleh Rasulullah saw adalah membangun
hubungan termasuk dengan umat non muslim. Rasulullah menetapkan prinsip
toleransi dan amnesti. Cahaya Islam ketika itu telah menerangi seluruh pelosok,
akan tetapi bani Mushthaliq tetap jahiliyah.
Bani
Mushthaliq bersama suku-suku Arab bersekongkon untuk menyerang kaum muslimin.
Kedua pasukan akhirnya berperang. Rasulullah memerintahkan untuk terus menyerbu
hingga pasukan musuh kocar-kacir. Juwairiyah termasuk salah satu tawanan
perang. Kemudian Juwairiyah mengajukan mukaatabah (pengajuan pembebasan diri
agar menjadi merdeka). Rasulullah menawarkan untuk menikahi Juwairiyah dan akhirnya Juwairiyah menikah dengan Rasulullah
saw. Dengar pernikahan tersebut Juwairiyah berhasil memerdekakan 100 keluarga
dari suku bani Mushthaliq. Dengan demikian ia adalah wanita yang banyak
memberikan keberkahan kepada kaumnya.
Ia
pernah menunaikan umrah dan haji bersama Rasulullah. la juga menghafal,
memahami, dan merawikan hadits dari Rasulullah. la merawikan 7 hadits dari Nabi
yang terdapat di dalam Kiitub As-Sittah (enam buku hadits).
Di antara hadits yang dirawikannya dari Nabi,
bahwa Nabi pernah keluar dari rumahnya pada waktu dini hari ketika Beliau
hendak menunaikan shalat subuh, dan dia juga saat itu sudah berada di tempat
sujudnya (tempat shalat). Kemudian Beliau pulang pada waktu dhuha dan
Juwairiyah masih tetap berada di tempat sujudnya. Lalu Beliau mengatakan,
"Kamu masih seperti keadaanpada saat aku (tadi) meninggalkanmu?"
" Ya", jawabnya. Nabi bersabda, "Sungguh aku telah
mengucapkan empat kalimat sebanyak tiga kali yang jika ditimbang, niscaya akan
lebih berat timbangannya dari apa yang telah kamu ucapkan. Empat kalimat itu
adalah, Maha suci Allah dan segala puji miliknya, sebanyak makhluk-Nya,
sebanyak yang diridhai-Nya, seberat timbangan 'Arsy-Nya, dan sebanyak bilangan
kalimat-kalimat-Nya." (HR. Muslim)
9.
Shafiyah binti Huyay
Nama lengkapnya Shafiyah binti Huyai bin
Akhthab. la adalah putri pemimpin Yahudi Bani Quraizhah, Huyai bin Akhthab. Ayah
Shafiyah adalah pemimpin terbesar kaum Yahudi.
la termasuk salah satu di antara tawanan
perang Khaibar dan menjadi bagian Dihyah Al-Kalbi. Rasulullah memberikan kepada
Dihyah tawanan lain sebagai gantinya. Kemudian Beliau memberikan tawaran kepada
Shofiyah antara memilih masuk Islam dan dinikahi oleh Beliau atau tetap
beragama Yahudi dan dibebaskan. Shafiyah memilih masuk Islam dan dinikahi oleh
Rasulullah. Rasulullah menikahi Shafiyah ketika pulang dari Khaibar menuju
Madinah.
Shafiyah berusaha untuk mengejar
ketertinggalannya dalam berislam selama ini. Sehingga setiap waktu ia selalu
gunakan untuk beribadah kepada Allah. Ia adalah orang yang sangat jujur,
berkata apa adanya dan bukan basa basi, hatinya bersih dan keterbukaannya
tulus.
la merawikan 10 hadits dari Nabi. Di
antaranya, ia berkata, "Suatu malam, Nabi beri'tikaf di masjid, lalu aku
datang mengunjungi Beliau. Setelah selesai mengobrol, aku berdiri dan hendak
pulang. Beliau pun berdiri untuk mengantarku. Tiba-tiba dua laki-laki anshar
lewat. Tatkala mereka melihat Nabi, mereka mempercepat langkah mereka.
"Perlahankanlah langkah kalian! Sesungguhnya ini adalah Shafiyah binti
Huyai!" kata Nabi. "Maha suci Allah, wahai Rasulullah", kata
mereka. Beliau mengatakan, "Sesungguhnya setan itu berjalan pada aliran
darah manusia. Sebenarnya aku khawatir, kalau-kalau setan membisikkan tuduhan
dusta atau halyang tidakbaik dalani hati kalian." (HR. Al-Bukhari).
Di hari-hari terakhir kehidupan Utsman bin
Affan ra., Shafiyyah ra. menorehkan sikap mulia yang menunjukkan keutamaan dan
pengakuannya terhadap kedudukan Utsman bin 'Affan ra. Kinanah berkata,
"Aku menuntun kendaraan Shafiyyah ketika hendak membela Utsman. Kami
dihadang oleh Al-Asytar, lalu ia memukul wajah keledainya hingga miring.
Melihat hal itu, Shafiyyah berkata, 'Biarkan aku kembali, jangan sampai orang
ini mempermalukanku.' Kemudian, Shafiyyah membentangkan kayu antara rumahnya
dengan rumah Utsman guna menyalurkan makanan dan air minum."
Sikap mulia ini menunjukkan ketidaksukaan
Ummul Mukminin Shafiyyah ra. terhadap orang-orang yang menzalimi dan menekan
Utsman, bahkan membiarkannya kelaparan dan kehausan.
Ibnu Al-Atsir dan An-Nawawi rakimahumallah,
memujinya seperti berikut, "Shafiyyah adalah seorang wanita yang sangat
cerdas." Sedangkan Ibnu Katsir rahimahullah, berkata, "Shafiyyah
adalah seorang wanita yang sangat menonjol dalam ibadah, kewara' an, kezuhudan,
kebaikan, dan shadaqah.
10.
Ummu Habibah
Nama lengkapnya Ramlah binti Shakhar bin Harb
bin Umayyah. la adalah putri Abu Sufyan bin Harb, dan saudara perempuan
Mu'awiyah bin Abi Sufyan. la adalah ummul mukminin, isteri Nabi. la dilahirkan
tahun 25 sebelum hijrah. la bersama suaminya, Ubaidillah bin Jahsyin, ikut
berhijrah ke Habasyah, hijrah gelombang kedua. Di sana, suaminya masuk agama
Nasrani dan rneninggal dalam keadaan beragama Nasrani, sementara ia tetap
memeluk agama Islam.
la termasuk wanita Quraisy yang tutur katanya
terkenal fasih dan memiliki ide-ide yang cemerlang. Rasulullah mengutus seorang
utusan untuk menemuinya dalam rangka untuk menikahinya. Beliau meminta agar
An-Najasyi menyelenggarakan akad nikah untuk Beliau. Khalid bin Sa'id bin Ash
bertindak sebagai walinya. An-Najasyi menyerahkan mas kawin sebesar 400 dirham.
Pernikahan ini berlangsung pada tahun 7 H. Saat itu, Ummu Habibah berusia 37
tahun.
Abu Sufyan datang ke Madinah untuk
membicarakan kembali perjanjian damai. Tetapi di tolak oleh Rasulullah saw. Merasa
gagal, Abu Sufyan pergi dan masuk ke rumah putrinya, Ummu Habibah ra. Ketika
Abu Sufyan hendak duduk di atas alas yang biasa digunakan oleh Rasulullah saw.,
Ummu Habibah ra. segera mengambil dan melipatnya.
Melihat hal itu, Abu Sufyan berkata,
"Putriku, apakah engkau tidak suka kepadaku karena ingin duduk di atas
alas ini, atau engkau tidak suka alas ini diduduki olehku?" Ummu Habibah
ra. menjawab, "Aku tidak suka alas ini diduduki olehmu, karena ia milik
Nabi saw., sedangkan engkau adalah seorang yang najis dan musyrik."
la merawikan 65 hadits dari Nabi.
11.
Maimunah
Nama lengkapnya Maimunah binti Harits bin
Hazn Al-Hilaliyah. Dulu ia bernama Barrah, lalu Nabi menamainya Maimunah. la
lahir di Mekkah tahun 6 sebelum kenabian.
la adalah bibi Khalid bin Walid dan Abdullah
bin Abbas. Saudara perempuannya adalah Ummu Fadhl, isteri Abbas bin Abdul
Muthalib, paman Nabi. la adalah wanita pertama yang masuk Islam setelah
Khadijah.
Nabi menikahinya tahun 7 H. Beliau
menyerahkan mas kawin sebesar 400 dirham kepada Maimunah.
Maimunah dikenal sangat bersemangat dalam
menjalankan hukum Allah.
la merawikan 46
hadits dari Nabi.
B.
Anak-anak Rasulullah saw
1.
Fathimah Az Zahra’
Nama lengkapnya adalah Fatimah binti Muhammad
bin Abdullah bin abu Muthalib. la lahir lima tahun sebelum masa diutusnya
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. la merupakan putri termuda di
antara putri-putri Nabi lainnya. la menikah dengan Ali Ra pada usianya yang ke
18 tahun. la merupakan ibu dari Hasan, Husain, Ummul Kultsum, dan Zaenab.
Ketika turun kepada Nabi sebuah ayat (dan
hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku
seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah
zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak
menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu
sebersih-bersihnya) di rumah Ummu Kultsum, maka Nabi memanggil Fatimah, Hasan
dan Husain, dan menjadikan mereka sebagai pengikut, begitu pula Ali yang berada
di belakang Nabi juga dijadikan sebagai pengikutnya pula. Maka berkatalah Nabi "Ya
Allah! Mereka semua ini adalah keluargaku. Hilangkanlah dari mereka segala
kotoran, dan bersihkanlah (sucikanlah) sebersih-bersihnya". (Diriwayatkan
oleh Turmudzi)
Miswar bin Makhramah berkata: aku mendengar
Rasululloh Saw berkata di atas mimbar "bahwasanya Hisyam bin al
Mughoyyaroh meminta izin kepadaku untuk menikahkan anak perempuan mereka dengan
Ali bin Abi Thalib. Namun aku tidak menyetujuinya, dan selanjutya pun juga
tetap tidak menyetujuinya. Kecuali jika Ali bin Abi Thalib bersedia menceraikan
anak perempuanku dan menikah dengan anak-anak mereka. Sesungguhnya anak
perempuanku itu (Fatimah Az-Zahra') adalah bagian dariku.. ...."(HR
Bukhari)
Berkatalah Nabi Shallallahu Alaihi wa
Sallam bahwa wanita paling mulia di surga nanti adalah Khadijah binti
Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, istri Firaun yang bernama Asyiah binti
Muzakhim, dan Maryam binti Imran. (HR Ahmad)
Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu
Anha, ia berkata "Akubertemu dengan Fatimah. la berjalan sebagaimana
layaknya Nabi berjalan. Dan di saat ia bertemu dengan Nabi Sliallallahu
Alaihi wa Sallam, berkatalah Nabi "selamat datang wahai
putriku", lalu nabi memintanya duduk disebelah kanan atau kirinya. Kemudian di saat nabi
mengatakan sesuatu kepadanya, menangislah ia. Maka aku langsung berkata
kepadanya "kenapa kamu menagis?" Namun, di saat nabi mengatakan
sesuatu lagi kepada Fatimah, maka ia pun tertawa riang. Sekali lagi, aku pun
berkata kepadan Fatimah "aku tidak pernah menjumpai kebahagiaan yang
berdekatan dengan kesedihan sebagai mana hari ini" Maka aku bertanya
kepadanya tentang apa yang telah dikatakan Nabi kepadanya. Berkatalah Fatimah "kamu
jangan menyebarluaskan rahasia ini hingga Nabi wafat nanti." Lalu aku
menanyakan rahasia itu, maka berkatalah Fatimah" Nabi telah memberi
isyarat kepadaku, dan berkata bahwa Jibril biasanya meminta kepadaku (Nabi)
untuk membaca al-Qur'an secara langsung dihadapannya sekali dalam setahun.
Namun pada tahun ini, Jibril memintaku (Nabi) sebanyak dua kali", maka
menangislah aku mendengar perkataan itu. Sebab, itu tandanya Nabi akan
meninggalkan kita semua. Namun aku merasa sangat bahagia di saat Nabi berkata
kepadaku "relakanlah dirimu menjadi ratu wanita-wanita penghuni surga,
atau menjadi ratu wanita-wanita muslim." Diriwayatkan oleh
Al-Bukhari
Anas Ra berkata "di saat sakit Nabi mulai parah dan
berselimut, berkatalah Fatimah "sakitkah wahai ayah?" Maka berkatalah
Nabi kepadanya" ayahmu tidak akan mengalami kesusahan setelah hari
ini." Dan ketika Nabi wafat, berkatalah Fatimah "wahai ayah, Tuhan
telah mengabulkan permohonanmu. Wahai ayah, surga firdaus adalah tempat
kembalimu. Wahai ayah, Jibrillah yang akan memperhatikanmu.
Dari Aisyah Radhiyallahu Anha Ummul
Mu'minin (ibunya kaum beriman), berkata "aku tidak pernah melihat seorang
pun yang mampu menyamai Fatimah dalam hal keserupaannya dengan Nabi. Ketenangan
dan keistiqomahannya dalam duduk maupun berdiri sebagaimana ketenangan dan
keistiqomahan Nabi. la di saat masuk kerumah Nabi, Nabi langsung berdiri
manyambut kedatangannya. Begitu pula di saat Nabi mengunjungi rumah Fatimah, ia
pun beranjak dari tempat duduknya untuk menyambut Nabi, dan memberikan tempat
duduknya kepada Nabi." (Diriwayatkan oleh Turmudzi).
Ibnul Jauzi berkata "bahwa Rasulullah
mempunyai anak perempuan yang dimulyakan oleh Fatimah, dan mempunyai
istri-istri yang lebih dahulu dari Aisyah."
Fatimah meninggal dunia 6 bulan setelah
kematian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. la meninggal dunia
dalam usianya yang ke 29 tahun.
2.
Zainab
la adalah Zaenab binti Muhammad bin Abdul
Muthalib. la adalah anak perempuan tertua Rasulullah saw. Lahir sepuluh tahun
sebelum masa kenabian Muhammad. la menikah dengan anak bibinya sendiri yang
bernama Abu As bin Rabi', yang pada waktu itu masih berstatuskan kafir. Pada
perang Badar, suaminya tertangkap oleh kaum muslimin, sehingga terjadilah
perpisahan antara Zaenab dengan suaminya. Namun atas perintah ibunya
(Khadijah), Zaenab berusaha memberi tebusan kepada tentara Islam untuk
membebaskan suaminya. Namun, akhirnya Nabi memisahkan ke duapasangan itu. Nabi
meminta kepada suami Zaenab agar rela melepaskan Zaenab. Suami Zaenab pun
akhirnya memenuhi permintaan Nabi itu. Ini terjadi setelah ia bebergian dengan
segerombolan orang-orang Qurays ke Mekkah.
Suami Zaenab pernah melarikan diri dari
tahanan kaum muslimin pada saat masa penaklukan Mekkah. Dan di saat ia pergi ke
Madinah, Zaenab berusaha menjadikannya sebagai orang bayaran. Maka bersabdalah
Rasulullah menyikapi tindakan Zaenab itu "setiapa anak pasti menghormati
orang tuanya, suamimu tak berhak atas dirimu selama ia masih dalam keadaan
Syirik."
Zaenab dikarunia dua orang anak, yaitu Ali
dan Amman. Ali meninggal pada usia yang masih sangat belia, sedang Amamah lah
yang bisa tumbuh menjadi dewasa hingga akhirnya menikah dengan Khalifah Islam
Ali bin abi Thalib setalah ditinggal mati oleh Fatimah Az-Zahra'. Zaenab meninggal dunia
pada tahun 8 H.
3. Ruqayyah
la adalah Ruqayyah binti Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib.
Lahir tiga tahun setelah kelahiran Zaenab, tepatnya 20 tahun sebelum Hijriah.
Ibunya adalah Khadijah yang dijuluki sebagai ibunya orang-orang beriman (Ummul
Mu'minin). la menikah dengan Attabah bin Abu Lahab. Namun pada saat turun ayat
yang berbunyi "Tabbat Yada Abi Lahabiu wa Tabb", maka marahlah
abu Lahab dan meminta kepada putranya untuk menceraikan Ruqayyah, yang pada
waktu itu masih dalam keadaan perawan.
Ruqayyah masuk Islam di saat ibunya (Khadijah) masuk Islam. la
menikah lagi dengan Utsman bin Affan. la termasuk orang-orang yang ikut
melakukan perpindahan (Hijrah) ke Habsy selama dua kali; yaitu hijrah ke Habsy
yang pertama dan sekaligus hijrah ke Habsy yang ke dua. Dari pernikahannya
dengan Usman bin Affan, ia dikaruniai seorang anak yang diberi nama dengan
Abdullah, namun anaknya itu meninggal dunia pada usia 6 tahun. la di saat
hendak dipersiapkan oleh Rasulullah dalam perang Badar, sedang menderita penyakit
campak. Oleh kerana itu, Usman bin Affan senantiasa menyertainya karena
penyakitnya itu. la meninggal dunia pada tahun 2 Hijriah, di saat Rasulallah
masih berada di perang Badar.
C. Para shahabat dari kalangan wanita
1. Asma’ binti Abu Bakar
Nama lengkapnya adalah Asma' binti Abdullah bin Utsman Abi Bakar
ks-Sidik. Lahir pada tahun 27 sebelum Hijriah, dan termasuk orang-orang pertama
yang masuk Islam (Assabiqun Awwalum. Menikah dengan Zubair bin Awwab
yang dikenal sebagai salah satu dari orang-orang yang telah dijanjikan masuk
surga. Bahkan ia merupakan ibu dari Abdullah bin Zubair yang dikenal sebagai
salah satu dari ke empat orang-orang terkemuka dalam bidang Hadits (al
Ibadalah al Arbaah). Maka tidaklah mengherankan sekali, jika kelahirannya
pula merupakan kelahiran pertama yang dirayakan di Madinah. Dan tak hanya itu
saja, ayah, ibu, suami, anak, dan saudara perempuan Asma' bin abu Bakar,
merupakan sahabat-sahabat Nabi yang setia.
la mempunyai pengalaman yang sangat penting dalam hidupnya. Yaitu
di saat ia beranjak meninggalkan rumah Abu Bakar As-Sidik menuju Madinah
bersama Rasulullah. Pada saat itu, ia tak menemukan sebuah solusi yang dapat
menyelesaikan rasa hausnya di saat melakukan perjalanan jauh bersama para
sahabat dan Rasululluh Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ia berkata kepada
Abu Bakar bahwa ia tidak menemukan sebuah solusi yang dapat membantu
permasalahan itu kecuali hanya sebuah tekad saja. Maka, menjawablah Abu Bakar
"selesaikanlah permasalahan itu malalui dua hal. Pertama selesaikan
rasa hausmu itu, sedang yang kedua adalah bahwa Hijrah Rasulullah itu harus
sampai pada tujuan." Dua permasalahan itulah, pada akhirnya dijuluki
sebagai prasasti dua kemampuan.
Abu Jahal pernah berkata kepadanya tentang keberadaan ayah Asma'
bin Abu Bakar. la mengatakan kepada Abu Jahal Bahwa ia tidak mengetahui
keberadaan Ayahnya. Abu Lahab spontan langsung mengusap muka Asma' dan merampas
serta membuang perhiasan yang senantiasa menghiasi hidungnya.
Kakeknya yang bernama abu Khahah juga pernah meminta kepada Asma'
harta peninggalan ayahnya setelah melakukan Hijrah bersama Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam. la ingin meminta keseluruhan harta itu. Melihat fenomena
itu, Asma' bergegas menuju sebuah kotak yang penuh dengan batu dan meletakkan
tangan kakeknya itu di atas kotak tersebut. Sehingga sang kakek menyangka bahwa
ayah Asma' telah mewariskan harta benda yang sangat banyak kepada Asma'.
la merupakan salah satu Sahabat Nabi yang ikut menyaksikan dan
mengalami secara langsung perang Yarmuk. la melakukan perang itu bersama dengan
suaminya (Zubair). la meminta kepada anaknya untuk senantiasa menjadi seorang
pemberani dan berkemauan keras. Ini terbukti di saat Bani Umayyah hendak
membunuh anaknya itu. Pada saat itu sang anak berkata kepada Asma': bahwa ia
takut bernasib sama dengan ahli Syam. Asma' spontan menjawab perkataan anaknya
itu bahwa "apa yang ditakutkan oleh seekor domba di saat telah di
sembelih?" Artinya tidak ada yang perlu ditakutkan di saat nasi telah
menjadi bubur, yaitu sebuah keharusan untuk melawan Dani Umayyah.
Dan ketika Al Hijaj bin Yusuf Al Thaqfi yang telah membunuh
anaknya mengunjunginya seraya berkata kepadanya "bagaimana mungkin engkau
menganggapku sebagai musuh Allah? Maka menjawablah Asma' "di saat engkau
telah membunuh anak kandungku itu, maka akhiratmu pasti akan merugi!. Spontan
al Hijaj bin Yusuf membela dirinya, dengan berkata "anakmu telah melakukan
kekafiran di muka bumi ini." Namun Asma' membantah perkataan tersebut. la
berkata dengan sangat lantang "engkau benar-benar seorang pendus
ta!."
Ia meriwayatkan 56 Hadits Nabi, dan 26 diantaranya terdapat dalam
Shahih Bukhari dan Muslim. Asma' bin Abu Bakar meninggal dunia di Mekkah pada
usia seratus tahun. Anehnya pada usia yang begitu lanjut itu, tak ada satu pun
giginya yang patah, dan otaknya masih sangat sehat dan berjalan sebagaimana
mestinya, tidak sebagaimana orang-orang tua lainnya. Ia merupakan orang
Muhajirin yang terakhir meninggal dunia.
2. Asma’ binti Umais
Nama lengkapnya adalah Asma' binti Umais bin Maad bin Haris bin
Tayim bin Haris al Khats'ami. la juga termasuk salah satu orang-orang yang awal
masuk Islam. la ikut serta melakukan Hijrah menuju Habsy. Hijrah itu ia lakukan
bersama suaminya yang bernama Ja'far bin abi Thalib, dan kemudian kembali dari
hijrah bersamanya pula pada tahun 7 Hijriah.
la pernah bersitegang dengan Umar Ra. Yaitu di saat Umar Ra
mendatangi Khafshah anaknya yang pada waktu bersama dengan Asma'. la langsung
bertanya "siapakah dia?". Menjawablah Khafshah, "ia adalah Asma'
binti Umais." Lalu Umar bertanya lagi "apakah dia seorang yang
berkebangsaan Habsy?". Asma' langsung menjawab "iya". Berkatalah
Umar untuk kesekian kalinya "Hijrah kita lebih dahulu daripada hijrahnya
bangsa kalian, dan kita mempunyai kedekatan dengan Rasulullah daripada
kalian." Mendengar perkataan itu, ia langsung berujar, "demi Allah,
perkataanmu itu tidak benar." Kalian lebih diuntungkan
di saat bersama dengan Rasulullah. Rasulullahlah yang telah memberi makanan
kepada kalian dan juga telah mengeluarkan kalian dari kebodohan. Ini berbeda
sekali dengan kita yang berada di tempat yang sangat jauh, sehingga tak
memungkinkan Rasulullah memberi kita makan maupun minum. Kita selalu dihinggapi
rasa ketakutan dan kesedihan lantaran keimanan kita kepada Rasulullah. Ini
semua murni karena keimanan kita kepadanya. Dan perkataanmu (Umar) tadi akan
aku laporkan kepada Rasulullah apa adanya, tanpa mereduksi atau menambahi
sedikitpun dari perkataanmu tadi.
Kemudian, di saat Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam datang menghampiri mereka, berkatalah Asma' "ya
Rasulullah Umar telah berkata semacam itu." Berkatalah Rasulullah,
"apa yang kamu katakan kepada Umar?". Menjawablah Asma' dan
mengatakan kepada Rasulullah sebagaimana yang telah ia katakan kepada Umar.
Menjawablah Rasulullah "tidak ada orang yang lebih berhak atas diriku dari
pada kalian. Umar dan Sahabatnya hanya melakukan Hijrah sekali saja, berbeda
dengan kalian yang telah melakukan Hijrah bersamaku sebanyak dua kali."
Mendengar perkataan itu, Asma' dan orang-orang yang telah melakukan Hijrah ke
tanah Habsy merasa bergembira sekali.
Di saat Ja'f ar bin Mu'nah meninggal dunia,
Asma' kemudian menikah dengan Abu Bakar. Namun di saat abu Bakar meninggal
dunia juga, Ali bin Abi Thaliblah yang menjadi suaminya yang terakhir. la
merupakan seorang sahabat yang pernah melakukan Hijrah selama dua kali, menjadi
istri dua Khalifah Islam yang kedua-duanya mati dalam keadaan syahid, dan juga
merupakan salah seorang pengikut rasul yang menjalani sholat menghadap dua
Kiblat; yaitu Baitul Maqdis dan Mekkah.
Anak-anaknya yang bernama Abdullah bin Ja'f
ar dan Muhammad bin abi Bakar adalah dari suami Abu Bakar As-siddik, sedang
Muhammad dan Yahya adalah dari suami Ali bin abi Thalib. Anaknya yang paling
sombong adalah Muhammad bin Ja'f ar dan Muhammad bin abi Ja'f ar Ini terlihat
di saat keduanya saling mengatakan satu sama lain "aku lebih mulia
daripada kamu. Ayahku lebih baik daripada ayahmu." Perkataan itu
dilontarkan dihadapan ibu dan All bin abi thalib. Di saat mendengar ungkapan
itu, Ali meminta kepada Asma' untuk meluruskan kedua anaknya itu. Asma' langsung berkata "aku tak pernah melihat pemuda Arab yang lebih
baik dari Ali, dan juga tak pernah melihat orang tua yang lebih arif daripada
Abu Bakar." Mendengar perkataan itu, ali langsung langsung mengatakan
"kamu tak pernah mewariskan sesuatu kepadaku, apabila kamu mengatakan
sesuatu yang tak seperti yang kamu katakan tadi, maka aku pasti akan
membencimu."
Kemuliaan derajat Asma' terlihat pula dari
perkataan Nabi bahwa Maimunah istri Nabi, Ummu Fadil istri Abas, Asma' binti
Umais istri Ja'far dan Istri Hamzah adalah sekelompok wanita yang dijuluki
sebagai persaudaraan wanita-wanita beriman." Maka tidak mengherankan
sekali jika Umar bin Khaththab juga pernah meminta kepadanya untuk menafsirkan
mimpinya. Asma' juga merupakan seorang perawi Hadits. la meriwayatkan Hadits
Nabi sebanyak 60 Hadits.
3. Asma’ binti Yazid
Nama lengkapnya adalah Asma' binti Yazid bin Sukun bin Rafi'. la
termasuk dari golongan kaum Ansar. la juga dijuluki sebagai juru bicara kaum
wanita, sebab tak ada satupun wanita Arab yang mampu menandingi kepiawaiannya
dalam berkhutbah. la termasuk wanita yang sangat pemberani dan tangguh. la
terjun langsung dalam perang Yarmuk dan berhasil membunuh 9 tentara Romawi yang
sedang berada dalam persembunyiannya.
la pernah mendatangi Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam yang sedang bersama para Sahabatnya. Asma' binti Yazid
berkata kepada Rasulullah "engkau bagaikan ibu dan sekaligus ayahku wahai
Rasul." Keberadaanku disini adalah untuk mewakili para wanita. Bahwasanya
Allah telah mengutusmu untuk segenap laki-laki dan perempuan. Kami mengimanimu dan juga Tuhanmu. Aku akan memberitahukan kepadamu, bahwa
kita kaum wanita tak mempunyai gerak yang leluasa tak sebagaimana laki-laki.
Amal perbuatan kami hanya sebatas amal perbuatan yang bersifat rumah tangga
saja, tempat pelampiasan nafsu kalian dan sekaligus untuk mengandung dan
melahirkan anak-anak kalian pula. Ini berbeda dengan kalian semua wahai kaum
laki-laki! Kalian melebihi kami dalam hal berjamaah, menjenguk orang sakit,
mengantarkan mayat ke kuburan, Haji, dan yang lebih utama lagi adalah kemampuan
kalian untuk melakukan Jihad di jalan Allah. Amal
perbuatan kami di saat kalian pergi Haji atau melakukan Jihad hanya sebatas
menjaga harta, mencuci pakaian, dan mendidik anak-anak kalian pula. Oleh kerana
itu, kami ingin bertanya kepada kalian, apakah amal perbuatan kami itu
pahalanya bisa disetarakan dengan amal perbuatan kalian?. Mendengar perkataan
tersebut, Rasulullah sempat tersentak dan seketika itu langsung menoleh kepada
para sahabatnya, seraya berkata "apakah kalian pernah mendengar sebuah
perkataan yang lebih baik daripada perkataan seorang wanita yang sedang
membahas permasalahan-permasalahan agamanya?.
Menjawablah para sahabat Rasul: 'wahai Rasul
kami sama sekali tidak menyangka kalau para wanita mempunyai keinginan yang
mulia semacam itu.' Kemudian Rasulullah menoleh kepada Asma' bin Yazid, seraya
berkata: "engkau fahamilah dan sampaikanlah apa yang akan aku katakan
nanti kepada wanita-wanita selainmu. Bahwa suami dengan baik, merawatnya di
saat ia sakit, mematuhi perintahnya, pahalanya setara dengan amal perbuatan
yang hanya bisa dikerjakan oleh para laki-laki tersebut." Mendengar
jawaban Nabi itu, Asma' langsung beranjak pergi meninggalkan tempat itu seraya
mengucapakan kalimat "Uia Ila Ha Ilia Allah"
la juga termasuk periwayat Hadits Nabi.
Banyak sekali para perawi Hadits yang meriwayatkan Hadits darinya. la telah
meriwayatkan sekitar 80 Hadits Nabi.
4. Nasibah binti Ka’ab
Nama lengkapnya adalah Nasibah binti Ka'ab bin Umar bin Auf
Al-Khazrajiah. la merupakan wanita pertama kaum Anshar yang bersedia berikrar
kepada Nabi.
la pernah mendatangi Nabi dan berkata "aku tidak pernah
melihat segala sesuatu kecuali hanya diperuntukkan kepada laki-laki. Keberadaan
wanita sama sekali tak pernah dianggap." Menanggapi perkataan Nasibah itu,
turunlah ayat yang mengatakan:" Sesungguhnya laki-laki dan
perempuan-perempuan muslim, laki-laki dan perempuan-perempuan mukmin, laki-laki
dan perempuan-perempuan yang taat, laki-laki dan perempuan-perempuan yang
benar, laki-laki dan perempuan-perempuan yang penyabar, laki-laki dan
perempuan-perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan-perempuan yang rajin
bersedekah, laki-laki dan perempuan-perempuan yang berpuasa, laki-laki dan
perempuan-perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan
perempuan-perempuan yang senantiasa menyebut (nama) Allah, telah disiapkan oleh
Allah sebuah ampunan dan pahala besar" (al Ahzab: 35).
la ikut serta dalam beberapa perang besar bersama Nabi. la
berperan melayani dan membantu para mujahidin, memberi dorongan kepada
orang-orang yang sedang berperang, menghilangkan keraguan pada diri mereka, dan
bahkan di saat waktu memungkinkan ia juga tak ragu lagi untuk menghunus senjata
dan berperang sebagaimana layaknya seorang perwira.
Ia bersama dengan suami dan anaknya terjun pula dalam perang Uhud.
la sempat terluka parah di saat kemenangan mulai berada di pihak orang-orang
kafir. Pakaiannya tercabik-cabik kerena sayapan senjata. la berada dalam
naungan Rasulullah dalam keadaan tubuh penuh luka, akibat pukulan dan lemparan
anak panah. Luka dalam tubuhnya sekitar 12 luka. Pada waktu itu, ibunya
senantiasa mendampingi dan berusaha membalut luka-luka Nasibah itu.
Dan di saat Nabi hendak dibunuh oleh Ibnul Qum'ah, Nasibah
merupakan orang yang melindungi Nabi. la melawan Ibn Qum'ah yang hendak
membunuh Nabi dengan melontarkan beberapa pukulan kepadanya. Ibnul Qum'ah pun
membalas pukulan-pukulan itu. la memukul pundak Nasiah hingga mengakibatkan
goresan pada punggungnya.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah
membicarakannya: "bahwa derajat Nasibah pada hari ini lebih tinggi
daripada derajat siapa pun, aku (Nabi) selalu melihatnya ditempat manapun, aku
senatiasa melihat Nasibah sedang berperang dibelakangku." Nabi juga pernah
berkata kepada anak Nasibah yang bernama Abdullah: "semoga Allah
senantiasa memberkati kalian semua yang tergolong Ahli Bait. Derajat ibu mu
lebih tinggi daripada derajat siapa pun. Derajat suami ibumu juga lebih tinggi
daripada derajat siapa pun. Dan derajatmu pula lebih tinggi daripada derajatnya
siapa pun. Allah benar-benar telah memberkati kalian semua yang termasuk Ahli
Bait." Kemudian Nasibah berkata kepada Rasulullah: "wahai Rasul,
berdo'alah kepada Allah agar kami bisa menyertaimu di surga nanti."
Berdo'alah Rasulullah, "Ya Allah jadikanlah mereka teman-tetnanku di
surga nanti." Mendengar do'a Rasulullah itu, Nasibah berkata:
"aku tidak akan merasa resah setelah ini, dan aku tak akan merasa
menderita kerena permasalahan-permasalahan duniawiku. "
Pada hari Hudaibiyyah, di saat kaum muslimin
mendengar sebuah isu bahwa Utsman telah dibunuh oleh kaum Quraisy
ditengah-tengah Nabi sedang menyurnpah orang-orang yang akan masuk Islam, Nasibah
serentak berdiri dengan mengambil sebuah tongkat dan menjadikannya sebagai
senjata. la memperuncing tongkat tersebut dengan pisau agar bisa dijadikan
sebagai senjata yang mematikan.
Dan pada hari Khunain, ia pun ikut terjun
dalam peperangan untuk semakin mengukuhkan kemenangan umat Islam. la membunuh
seorang pemuda dari kabilah Hawazin yang sedang dalam keadaan terjepit, merebut
senjatanya dan kemudian berperang lagi dengan menggunakan senjata itu.
la ikut pula memerangi orang-orang yang
keluar dari agama Islam pada masa pemerintahan Abu Bakar. la juga ikut serta
dalam perang Yamamah bersama Khalid bin Walid untuk menghadapi Musailamah
'sangpendusta'.
Namun, Musailamah malah memotong tangan
Nasibah, dan melukainya sebanyak 10 luka, yang akhirnya menjadikan Abu Bakar
menganjurkan agar Nasibah dibawa pulang. Dan tak hanya itu saja, Musailamah
juga mampu membunuh anak Nasibah yang bernama Habib bin Zaed setelah terlebih
dahulu ia potong tangan dan kakinya.
Salah satu Hadits yang diriwayatkan oleh
Nasibah adalah: bahwasanya Rasulullah pernah mendatangi Nasibah seraya
menawarkan makanan kepadanya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata
kepadanya "makanlah", menjawablah Nasiah "aku sedang dalam
keadaanberpuasa." Mendengar perkataan itu Rasulullah langsung bersabda
"para Malaikat akan selalu melakukan shalat bagi orang-orang yang berpuasa
sehingga mereka senantiasa merasa kenyang akibat shalat yang dilakukan oleh
para Malaikat tersebut.
5. Al Khansa’
la adalah binti Umar bin Kharis bin Syarit. la masuk Islam di saat
mendatangi Nabi bersama dengan bani Syulaim. Semua pakar keilmuan telah sepakat
bahwa tak ada seorang wanita pun, baik sebelum Khonsa' maupun sesudahnya, yang
dapat menandingi kepiawaiannya dan bersya'ir. Ia dinobatkan sebagai penyair
paling mahir di Arab secara mutlak.
Dan setelah ia masuk Islam, ia pun berujar "dulu aku
menangisi kehidupanku, namun sekarang, aku menangis karena takut akan siksa neraka."
Keempat anaknya pernah diberi hadiah oleh Umar bin Khattab, masing-masing dari
mereka sebanyak 400 dirham.
Al Khansa’ terlibat pula dalam sebuah perang suci bersama ke empat
anak laki-lakinya. la berkata kepada meraka "wahai anak-anakku! Kalian semua masuk Islam secara taat, tanpa ada tekanan dari siapapun.
Kalian sendiri yang telah memilih hijrah. Demi Allah yang tak ada lagi Tuhan
selain-Nya, kalian semua adalah laki-laki yang berasal dari satu wanita. Jangan
kamu permalukan ayah, bibi, saudara, dan garis keturunanmu. Kalian semua telah
mengetahui betapa besar pahala yang akan diberikan Allah kepada orang-orang
yang memerangi orang-orang kafir. Ketahuilah kalian semua! Bahwa kehidupan
akhirat lebih utama daripada kehidupan dunia.
Allah Subhanahn wa Ta'ala Berfirman "Hai
orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan
tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah
supaya kamu beruntung." (AH Imran: 200), dan insya Allah kalian semua
akan menyambut pagi dengan , selamat. Dan pada saat menjelang siang,
berangkatlah kalian memerangi orang-orang kafir dengan penuh kecermatan. Allah
akan selalu menjadikan musuh-musuhnya itu sebagai kaum yang kalah. Dan apabila
kalian semua melihat peperangan telah berkecamuk, hadapilah dengan penuh
semangat dan kelapangan hati."
Berangkatlah anak-anak Al Khansa' menuju
medan perang dengan memegang teguh nasihat-nasihat dari ibunya. Mereka semua
akhirnya mati terbunuh dalam peperangan itu. Namun, itu tak menjadikan Al
Khansa' merasa sedih. Mendengar kabar ten tang kematian anak-anaknya di medan
perang, ia malah besyukur kepada Allah. la berkata "segala puji bagi Allah
yang telah memuliakanku dengan cara mematikan anak-anakku dalam keadaan syahid.
Aku memohon kepada Allah agar bersedia menyatukanku kembali dengan anak-anakku
di surga nanti.
Al Khansa' meninggal dunia pada tahun 24
Hijriah.
6. Ummu Sulaim
Nama aslinya adalah Syahlah binti Mulhan bin
Khalid bin Zaid bin haram. la berasal dari kaum Ansar yang berkebangsaan al
Khuzrajiah. la merupakan salah satu dari orang-orang yang awal masuk Islam.
Saudara laki-lakinya adalah Abdullah bin
haram yang dianggap sebagai salah satu Qura' (orang-orang yang menghafal al
Qur'an) yang meninggal dunia secara syahid di Bi'ri Maunah.
la disaat dipinang oleh abu Thalhah, ia
berkata kepadanya "demi Allah tak ada satupun alasan yang bisa membuatku
menolak lamaranmu itu. Namun, sangat disayangkan sekali, engkau adalah seorang
kafir, sedang aku adalah seorang muslim. Oleh kerana itu, aku tak mungkin
menikah denganmu. Seandainya engkau bersedia masuk Islam, itu akan aku anggap
sebagai mas kawinku, dan aku tak akan meminta selain dari itu". Mendengar
perkataan itu, abu Talhah bersedia masuk Islam, dan kelslamannya itu dianggap
sebagai mas kawin bagi Ummu Sulaim.
la pernah datang bersama dengan anaknya
kepada Rasulullah agar anaknya yang bernama Malik bin Anas bisa menjadi
pembantu Rasul. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menerima tawaran
itu. Akhirnya, Malik bin Anas mengabdikan dirinya kepada Rasulullah selama
sepuluh tahun.
Di saat anak bin Thalhah dari istri Ummu
Sulaim meninggal dunia, Ummu Sulaim berkata kepada keluarganya "janganlah
kalian semua membicarakan anak abi Thalhah, sebelum aku sendiri mulai membicarakannya."
Pada saat menjelang Isya', akhirnya abu Thalhah pun tiba. la lekas makan dan
minum, dan Ummu Sulaim pun melayaninya sebaik mungkin. Setelah Abu Thalhah
merasa kenyang dan merasa puas atas pelayanan istrinya itu, Ummu Sulaim pun
mulai berkata kepadanya "ya abi Thalhah! Apabila ada sebuah kaum
memamerkan kepada ahli bait tentang aib mereka, dan menuntut ahli bait juga
harus memamerkan aib mereka, maka apakah ahli bait berkewajiban mencegah
rencana mereka itu? Menjawablah abu Thalhah pertanyaan tersebut
"tidak!." lalu berkatalah Ummu Sulaim, itulah yang menimpa anakmu
sekarang ini." Marahlah abu Thalhah mendengar perkataan Ummu Sulaim itu.
la langsung berkata kepada Ummu Sulaim: "tinggalkan aku dan jangan engkau
datang lagi kesini tanpa membawa berita tentang keadaan anakku itu." Kemudian
datanglah Rasulullah menghampiri percekcokkan tersebut. Rasulullah bertanya
tentang permasalahan apa yang sebenarnya terjadi diantara kedua suami istri
tersebut. Setelah megetahui apa yang sebenarnya, Rasul pun berkata "semoga
Allah senantiasa memberikan kalianberdua berkah atas aib seseorang yang
berusaha kalian tutup-tutupi."
Ummu Sulaim mempunyai peran yang sangat nyata pada saat terjadi
perang Uhud. la selalu membawa sebuah pisau besar dan sekaligus berperan
sebagai juru medis. la selalu menyediakan minuman bagi orang-orang yang sedang
melakukan perang. la bahkan turut serta dalam perang Hanin, walaupun saat itu
ia masih dalam keadaan hamil. Di tangannya selalu terhunus sebuah pisau besar.
Ini terlihat dalam salah satu Hadits yang diriwayatkan oleh Anas Radhiyallahu
Anhu, la berkata: "bahwa Ummu Sulaim selalu menghunus sebuah pisau
besar dalam keadaan mengandung. Abu Thalhah melihat fenomena tersebut, dan ia
pun berkata kepada Rasulullah " wahai Rasul! Ummu Sulaim senantiasa
menghunus sebuah pisau besar." Kemudian Nabi bertanya kepada Ummu Sulaim
tentang tujuannya membawa sebuah pisau besar pada saat mengandung. Ia pun
menjawab pertanyaan Rasulullah itu: "pisau besar ini aku tujukan untuk
merobek perut orang-orang musyrik di saat berdekatan denganku nanti. Sebab,
mereka pasti mendekatiku pada saat aku melahirkan di medan perang nanti."
Mendengar perkatan itu, Rasul pun tertawa riang.
D. Para wanita sholihah dan mujahidah
1. Rabi’ah Adawiyah
Nama lengkapnya adalah Rabi'ah binti
Ismail bin Hasan bin Zaid bin Ali bin Abi Thalib. la senantiasa dimintai sebuah
fatwa dari beberapa pembesar-pembesar sufi masanya. Rasa
ketakutannya kepada Allah telah menjadikannya sebagai seorang wanita yang
senantiasa menangis. Ini tampak sekali di saat ia mendengar seorang laki-laki
membaca ayat-ayat Al-Qur'an yang berhubungan dengan Neraka dihadapannya, ia
langsung berteriak dan tersungkur kerana rasa ketakutannya terhadap api neraka.
la senantiasa melakukan shalat malam secara penuh. Ketika fajar mulai
menjelang, ia tidur sebentar ditempat shalatnya hingga pagi tiba.
Pada suatu waktu, datang seorang laki-laki
memberikan uang sebanyak 40 dinar kepadanya. Ia berkata kepada Rabiah
"gunakanlah uang ini untuk membantu keperluan-keperluanmu." Mendengar
perkataan itu, Rabiah Adawiyah menangis. Ia menengadahkan mukanya ke langit,
seraya berkata "Tuhan telah mengetahui, bahwa aku malu meminta
barang-barang duniawi kepada-Nya, padahal la lah yang memiliki dunia ini. Oleh
kerena itu, bagaimana mungkin aku akan meminta duniawi kepada orang yang
sebenarnya tak memiliki duniawi itu?.
Air matanya selalu bercucuran di saat
mengingat hari kematian. la laksana disambar petir di saat teringat hari
kematian itu. Bahkan ia selalu merasa kaget dan merasa ketakutan sekali di saat
terjaga dari tidurnya. la seraya berkata "wahai jiwaku!, berapa lama
engkau tertidur dan berapa lama pula engkau dalam keadaan terjaga?. Aku
benar-benar merasa ketakutan di saat engkau (jiwa) tertidur dan tak bangun
lagi, sehingga yang ada dihadapanmu hanyalah hari kebangkitan."
Salah satu dari kata-kata bijaknya adalah:
"sembunyikanlah kebaikanmu sebagaimana engkau selalu menyembunyikan
kejelekanmu." la berkata: "wahai Tuhanku, ampunilah penyelewenganku
selama ini, ampunilah aku!. la meninggal dunia di Baitul Muqdis pada tahun 135
Hijriah dengan Umur lebih dari 80 tahun. la dikafankan di dalam jubahnya
sendiri yang berasal dari ayaman rambut, dan tutup dari kain bulu yang
senantiasa ia gunakan pada saat shalat malam. Ini semua adalah karena wasiat
yang ia berikan kepada pembantunya agar ia dikafankan semacam itu. Ia juga
berwasiat agar ia dimakamkan di Baitul Muqdis.
Tidaklah benar sekali jika perkataan
"aku tidak menyembahmu lantaran mengharap surga-Mu dan takut atas
neraka-Mu, melainkan hanya karena kecintaanku kepada-Mu", berasal dari
perkataan Rabi'ah Adawiyah. Dan sangat tidak benar sekali pula, jika tasawuf
Rabi'ah Adawiyah identik dengan nilai-nilai yang dianggap sesat dalam dunia
sufi. Semisal, kerinduan terhadap Tuhan, Fana' (peleburan diri seorang
hamba dengan Tuhannya), persaksian langsung terhadap Tuhan, dan lain
sebagainya.
2. Nafisah binti Hasan
Nama lengkapanya adalah Naf isah binti Hasan
bin Zaid bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib. la lahir di Mekkah pada tahun 145
Hijriah dan merupakan anak dari seorang wali kota di Madinah. Namun pada masa
pemerintahan Ja'far Al-Mansur, ayahnya harus digeser dari kedudukannya sebagai
wali kota. Hartanya dirampas dan ia pun harus meringkuk di penjara. Namun, pada
masa pemerintahan Al-Mahdi, jabatan dan seluruh harta bendanya yang pernah
dirampas oleh Ja'far Al-Mansur, dikembalikan kembali.
la pernah pergi ke Baghdad untuk menjenguk
ayahnya di saat masih dalam penjara. la telah menghafal Al-Qur'an semenjak
kecil, dan sekaligus juga ikut mempelajari ilmu taf sir. la juga merupakan
salah satu dari perawi Hadits. Maka tidaklah mengherankan lagi jika imam
Syafi'i sendiri juga pernah meriwayatkan Hadits dari Nafisah. Dan tak hanya itu
saja, imam Ahmad bin Hambal pun pernah pula meminta do'a kepada Nafisah. la
menikah dengan anak pamannya yang bernama Al-Mu'tamin Ishaq bin Ja'far, dan
dikaruniai dua orang anak yang diberi nama dengan Qasim dan Ummu Kultsum. la di
saat melakukan ibadah haji, pernah memegang kain penutup Ka'bah seraya berkata
"ya Tuhanku, ya Tuanku, ya Majikanku, senangkanlah aku dengan keridhoan-Mu
kepadaku." la pada masanya, dikenal sebagai wanita yang mempunyai do'a
sangat mujarab.
Bibinya pernah memintanya untuk mau
memperhatikan dan menyanyangi dirinya sendiri. Namun, Rabi'ah malah menjawab,
"ya bibiku, barang siapa yang senantiasa berada dijalan Tuhan secara terus
menerus, maka alam semesta ini akan berada ditangan dan kehendaknya pula."
la tak pernah memakan makanan selain dari
harta suaminya sendiri, lantaran rasa malu dan kehatian-hatiannya memakan
makanan yang tak jelas halal dan haramnya. la pernah berkunjung ke Mesir dan
disambut dengan riang gembira oleh masyarakat setempat. Sehingga di saat Imam
Syafi'i meninggal dunia, ia sangat berduka sekali, dan meminta agar jenazah
imam Syafi'i disinggahkan di dalam rumahnya agar ia bisa menshalati Imam
Syafi'i dan sekaligus mendo'akannya.
Penduduk Mesir pernah mengadukan kedzaliman
bani Thalun kepada Nafisah. la lantas menyikapi pengaduan itu dengan cara
menempelkan sepucuk surat di seberang jalan. la mengatakan dalam suratnya itu
"Engkau semua yang telah menjadikannya raja, namun engkau semua pula telah
diperbudaknya. Engkau semua yang telah memberikannya kekuatan, namun engkau
semua pula yang malah ditindasnya. Engkau semua yang telah memberikannya sebuah
pemerintahan, namun engkau semua yang akhirnya menyesal atas pemberian itu. Dulunya
kalian semua dalam keadaan makmur, namun karenanya lah kamakmuran itu pergi.
Maka ketahuilah kalian semua, berdo'a di malam hari demi sebuah kemaslahatan
pasti terkabulkan. Apalagi do'a ituberasal dari hati-hati yang merasa kecewa,
orang-orang yang sedang dilanda kelaparan, dan orang-orang yang sudah sangat
susah sekali mendapatkan pakaian yang layak. Dan ketahuilah kalian semua,
sangat mustahil sekali jika seorang dzalim masih bisa hidup di saat orang yang
di dzalimi telah meninggal dunia. Dan ketahuilah (wahai pemerintah) bahwa
kejahatan-kejahatan kalian selama ini, kami sikapi dengan penuh kesabaran.
Berlakulah jahat terus, sehingga kita akan terus menjadi orang-orang yang
teraniaya. Danbertindaklah dzalim terus, dan kita disini akan menjadi
orang-orang yang terdzalimi. Dan ketahuilah,
bahwasanya orang-orang yang senatiasa berlaku
dzalim suatu saat pasti akan jatuh." Membaca tulisan nafisah itu, bani
Thalun merasa gemetaran dan takut, sehingga ia bersedia menjalankan sebuah
pemerintahan yang adil dan bijaksana.
Pada akhirnya, ia merasa bahwa berada
ditengah-tengah masyarakat akan mengganggu konsentrasinya dalam melakukan
ibadah. la mulai memantapkan hati untuk meninggalkan Mesir dan kembali menuju
Madinah. Namun, masyarakat setempat tidak ingin berpisah dengannya. Maka wali
kota berusaha mencarikan jalan tengah antara keinginan masyarakat setempat
dengan keinginan suci Nafisah. Oleh karena itu, wali kota mendirikan sebuah
rumah untuk Nafisah yang berada jauh dari keramaian manusia, dan menjadwal hari
berkunjung masyarakat kepada Nafisah, yaitu pada tiap hari sabtu dan rabu saja.
Ia menggali kuburan di dalam rumahnya sendiri
di saat ia mulai merasa sakit. la senantiasa melakukan shalat dan mampu
mengkhatamkan al-Qur'an sebanyak 190 kali di dalam kuburannya itu. la pernah
diundang dalam sebuah jamuan, dan ditawari sebuah makanan kepadanya. Namun ia
dalam keadaan puasa. la berkata kapada orang-orang tersebut, "sangat
mengherankan sekali, selama 30 tahun lamanya aku meminta kepada Allah agar bisa
menemui-Nya sedang aku dalam keadaan berpuasa. Apakah
aku harus berbuka sekarang? Ini semua tidak akan pernah ada selamanya."
la meninggal dunia di saat membaca surat al
An'am. Tepatnya pada ayat: "Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga)
pada sisi Tuhannya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal shaleh yang
selalu mereka kerjakan", (al An'am: 127). Setelah membaca ayat itu, ia
lantas tertidur dan kemudian meninggal dunia. Ini terjadi pada tahun 207
Hijriah. la dimakamkan di Mesir, tepatnya di kota Kairo.
3. Hafsah binti Sirin
Ia adalah saudara perempuan Muhammad bin
Sirin: seorang Tabi'in yang senantiasa beribadah dan sekaligus ahli dalam
bidang fikih.
Khafasah hafal Al-Qur'an dengan sangat baik
semenjak berusia 12 tahun. Bahkan Muhammad bin Sirin sendiri di saat merasa
kesukaran dalam memahami sesuatu yang berhubungan dengan al Qur'an,
memerintahkan kepada muridnya untuk pergi menghadap Haf sah. la berkata
"menghadaplahkalian semua kepada Hafsah, dan bertanyalah kepadanya tentang
bagaimana cara ia memahami permasalahannya ini (pemasalahan yang bersangkutan
dengan Al-Qur'an). Sebab, ia bagaikan orang yang telah meminum bahtera keilmuan
yang ada dalam Al-Qur'an."
Kemuliaannya sangat dikenal oleh ulama-ulama
semasanya. Terbukti dari perkataan lyyas bin Muawwiyah: "aku tak pernah
melihat satu pun orang yang lebih mulia dari Hafsah binti Sirin." Khasan Basri dan bin Sirin sendiri juga mengakui, tak ada seorang pun yang
bisa menandingi keutamaan Hafsah. Sehingga tidaklah mengherankan lagi, jika bin
Dawud menggolongkannya sebagai wanita-wanita mulai dari kalangan para Tabi'in.
la selalu berpuasa selama setahun penuh,
kecuali pada hari-hari yang tak diperbolehkan melakukan puasa.
Setiap malam ia selalu membaca separuh dari
ayat-ayat al Qur'an. Ia mempunyai sebuah kain kaf an yang senantiasa ia pakai
di saat menunaikan ibadah Haji maupun di saat sedang melakukan ibadah di malam
kesepuluh hari terakhir pada bulan suci Ramadhan.
Salah satu dari kata-kata bijaknya adalah
"wahai para pemuda, pergunakan waktumu sebaik-baiknya di saat kalian dalam
keadaan muda. Sesungguhnya, aku melihat banyak sekali amal perbuatan yang bisa
dilakukan oleh para pemuda."
la mengambil riwayat Hadits dari saudara
laki-lakinya sendiri yang bernama Yahya, begitu pula dari Anas bin Malik, Ummu
Athiah al Anshariah, dan selain dari mereka.
Sedang orang-orang yang mengambil periwayatan
Hadits darinya adalah Muhammad bin Sirin, Qatadah, Asyim al Ahwal dan
selainnya.
Ibni Hibban, Yahya bin Muayyan dan Ahmad bin
Abdullah, menganggap Hafsah termasuk para perawi Hadits yang dapat dipercaya.
Ia meninggal dunia di Madinah pada tahun 101
Hijriah dengan usia mendekati 70 tahun.
4. Muadzah Al Adawiyyah
Gelarnya adalah Ummu Sahba'. la merupakan
salah satu dari para Tabi'in yang ikut meriwayatakan Hadits Nabi. la adalah
istri dari Shilah bin Asyim, seorang Tabi'in yang konon juga merupakan seorang
sahabat Nabi. Abu Nairn setelah memuji Shilah bin Asyim dalam kitabnya yang
berjudul Huliyah Auliaya' mengatakan "bahwa Shilah bin Asyim
mempunyai seorang istri yang bernama Muadzah al Adawiyyah. la seorang wanita
yang terpercaya, argumentatif, pandai dan sekaligus senantiasa melakukan
ibadah."
la pernah berkata: "aku telah menjalani
kehidupan di dunia ini selama 70 tahun. Selama itu pula aku tak pernah melihat
sesuatu yang bisa menggembirakanhati dan mataku."
Di saat Syilah sedang terjun dalam sebuah
peperangan bersama anak laki-lakinya, ia berkata "dimana anakku?"
Setelah mendapatkan anaknya, ia langsung merangsak maju berperang dengan
membawa anaknya, sehingga ia pun harus gugur di medan laga. Melihat musibah
yang sedang dialami oleh Muadzah lantaran kematian suaminya, para wanita-wanita
berkumpul pada sebuah tempat dan kemudian beranjak untuk mengunjungi Muadzah.
Muadzah berkata kepada mereka " selamat datang, apabila kalian semua
datang untuk menenangkanku, maka aku menerima kehadiran kalian. Dan apabila bukan karena itu, maka kembalilah."
la sangat tekun melakukan shalat malam. Dan
ini sangat terkenal sekali dikalangan umat Islam waktu itu. Ia senantiasa
melakukan sholat malam sampai menjelang masa sahur. Berkatalah Az-Zhahabi
kepada Muadzah: "aku telah mendengar kabar bahwa engkau senantiasa
melakukan ibadah malam", maka menjawablah Muadzah "aku sungguh merasa
heran dengan mata yang senantiasa tertidur. Bagaimana tidak, dikuburan nanti
mata kita akan senatiasa tertidur dan tak akan pernah bisa melakukan ibadah
lagi."
la pernah berkata: "demi Allah, aku tak
mencintai kehidupan ini kecuali karena ingin berdekatan dengan-Mu. Semoga
dengan kedekatanku kepada-Mu ini, Engkau mau mengumpulkan aku kembali dengan
suami dan anakku dalam surga." la sangat mencintai suaminya. la setelah
ditingal mati oleh suaminya tak pernah lagi tidur diatas ranjang. la senantiasa
tidur diatas lantai, dengan harapan bisa bertemu kembali dengan suaminya dalam
mimpi. la meninggal dunia pada tahun 83 Hijriah.
5. Zaenab Al Ghazali
Nama lengkapnya adalah Zaenab Muhammad al
Ghazali al Jibili. la lahir pada tahun 1917 Masehi di desa Mayyet Ghamar di
sebuah propinsi yang bernama Daqhiliyyah di Mesir. Ayahnya merupakan salah satu
ulama Al Azhar. la belajar di sebuah madrasah di kampung halamannya sendiri. la
belajar ilmu-ilmu agama di bawah asuhan para ulama-ulama besar al Azhar.
Diantara ilmu-ilmu yang ia pelajari adalah Ilmu Hadits, Tafsir, dan Fikih.
la merupakan anggota termuda dari perkumpulan
wanita-wanita mesir dibawah pimpinan Hadi Sya'rawi. Namun, akhirnya ia
memutuskan untuk keluar dari perkumpulan tersebut di saat mengetahui adanya
prilaku-prilaku yang tak selaras dengan ajaran Islam. Ia
kemudian mendirikan komunitas wanita-wanita muslim pada tahun 1937 di Kairo.
Umurnya pada saat itu masih sekitar 19 tahun.
Adapun tujuan mendirikan komunitas itu agar
diterapkannya syari'at Islam dan didirikannya kekhalif ahan Islam. Pada
tiap-tiap tahunnya ia selalu mengirim 340-400 delegasi untuk melakukan ibadah
Haji. la sendiri yang memimpin delegasi-delegasi itu.
Tujuan pengiriman delegasi-delegasi itu
adalah untuk menemui sejumlah jamaah haji yang berasal dari penjuru dunia.
Delegasi-delegsi itu selalu membahas masalah-masalah pokok dalam Islam dengan
para jamaah haji tersebut. Isu-isu yang selalu mereka kembangkan adalah seputar
perbaikan umat Islam, mengembalikan kembali kekhalifahan Islam, dan sekaligus
bagaimana membangkitkan kembali masa ke emasan Islam.
la bertemu dengan imam Syahid Hasan al Bana
pada tahun 1941 Masehi. Hasan al Bana membai'at Zaenab untuk turut serta
melakukan perjuangan bersama Ihwan Muslimin. Sebab, tujuan dan landasan
perjuangan mereka adalah sama. Dan pada tahun 1980, ia mendirikan majalah
perkumpulan wanita-wanita muslim (Sayyidah Muslimah), dan dibubarkan pada tahun
1985. la juga memimpin salah satu devisi yang ada dalam organisasi Ikhwan
Muslimin. la serta merta membantu keluargaIkhwan Muslimin di saat kelompok ini
di intimidasi oleh pemerintah pada tahun 1954. Dan pada tahun 1964,
perkumpulannya tersebut dibubarkan oleh tentara dengan menyita harta dan
kepemilikan mereka.
Pada tahun 1965, ia ditangkap oleh pemerintah
dengan tuduhan terlibat dalam sebuah kasus yang ada pada diri Ikhwan di saat
bersitegag dengan pemerintah. Pemerintah menutut kepada parlemen menjatuhi
hukumi mati kepada Zaenab. la sebelum dipastikan sebagai tawanan perang, telah
menerima berbagai macam siksaan dipenjara.
la akhirnya dijatuhi hukuman penjara selama
25 tahun, dan diharuskan melakukan kerja berat selama menjalani masa hukuman.
la menulis kesengsaraannya itu dalam sebuah buku yang berjudul "Ayyam
min Hayyati" (hari-hari dalam kehidupanku).
Melalui bantuan raja Faisal dari Arab Saudi,
sekitar pada tahun tujuh puluhan, keluarlah ketetapan dari pemerintahan Anwar
Sadat untuk membebaskan Zaenab dari penjara. la telah diampuni oleh pemerintah
atas segala perbuatannya yang dianggap merugikan negara. Ini terjadi pada bulan
Agustus tahun 1971, yaitu setelah menjalani masa-masa dipenjara selama 6 tahun.
Setelah keluar dari penjara, ia dianjurkan
untuk menghidupkan kembali majalah Sayyidat Muslimah dengan menjadikan dirinya
sebagai direkturnya. la akan menerima kucuran dana sebanyak 300 Pouns perbulan,
dengan catatan harus bersedia mengusung kepentingan-kepentingan pihak donatur.
la serentak menolak, dan mengatakan bahwa mustahil baginya mendirikan sebuah
penerbitan untuk mengusung pemikiran-pemikiran sekuler. la mengatakan pula
bahwa penerbitan ini didirikan untuk kepentingan Islam danbukan untuk kesesatan.
Setelah keluar dari penjara ia ingin
meneruskan perannya dalam bidang da'wah. la melalui melakukan
pengajian-pengajian dan seminar-seminar di Mesir sediri maupun diluarnya.
Adapun negara-negara yang pernah ia kunjungi
adalah Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, Yordania, al Jazair, Turki, Sudan,
India, Francis, Amerika, Kanada, Spanyol, dan lain sebagainya.
Suaminya yang berperan sebagai seorang ekonom
yang bernama Haji Muhammad Salim meninggal dunia pada tahun 1966 Masehi. Yaitu
di saat Zaenab masih berada di dalam penjara. la tak dikarunia seorang anak
pun. Namun, ia menganggap bahwa semua anak-anak Islam merupakan anak-anaknya juga.
la sangat memfigurkan
seorang Hasan al Bana. la menganggap bahwa di antara orang-orang yang telah
mempengaruhi kehidupannya, semisal Hasan al Hudhaibi, Umar al Tilmisani, Hamid
abu Nasir, dan Hasan al Bana lah yang paling banyak berpengaruh pada
pembentukan jiwa dan sikap hidupnya. Diantara karya-karya tulisnya yang
terkenal adalah "Ayyam min Khayati", Nahwa Ba 'su Jadid, Maa
Kitabullah, Muskilatu Sabab wa Fatayat."
Referensi:
Muhammad
Saa’id Muri, 2003, Tokoh-tokoh besar Islam sepenjang sejarah, Jakarta: Pustaka
Al Kaustar.
Mahmud
Al Mishri, 2006, 35 Sirah Shahabiyah, Jakarta: Al I’tishom.
Berikut
ini akan dikisahkan para wanita yang telah mengukir sejarah. Kisahnya diambil
dari buku Kisah Para Nabi karya
Ibnu Katsir.
SITI HAWA
Siti
Hawa adalah istri Nabi Adam AS. Kalau Nabi Adam AS adalah bapak manusia, maka
Siti Hawa adalah ibu manusia. Allah SWT menciptakan Siti Hawa dari tulang rusuk
Nabi Adam AS, saat beliau dalam keadaan tidur di sorga.
Abu
Shalih dan Abu Malik, Ibnu Abbas, Murrah, Ibnu Mas’ud, dan beberapa sahabat
mengatakan, “Allah Ta’ala mengeluarkan Iblis dari surge dan menempatkan Adam ke
dalamnya. Di dalamnya Adam berjalan sendirian tanpa istri yang menemaninya.
Lalu ia tertidur sejenak hingga akhirnya terbangun, tiba-tiba di samping
kepalanya sudah ada seorang wanita yang duduk yang telah diciptakan Allah Azza
wa Jalla dari tulang rusuknya. Kemudian Adam bertanya, ‘Apa jenis kelaminmu?’
‘Aku ini seorang wanita,’ jawabnya. Lebih lanjut ia bertanya, ‘Dan untuk apa
engkau diciptakan?’ Ia menjawab, ‘Supaya engkau merasa tenang denganku.’ Para
malaikat pun bertanya kepadanya, ‘Siapa nama wanita itu, hai Adam?’ ‘Hawa,’
sahutnya. ‘Mengapa bernama Hawa?’ tanya para malaikat. Adam menjawab, ‘Karena
ia diciptakan dari sesuatu yang hidup.’”
Yang
demikian itu sejalan dengan firman Allah,
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah
menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan
istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan
perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan)
nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan
silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (An-Nisa’:1)
Dan firman Allah,
Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya
Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah
dicampurinya, istrinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia
merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya
(suami istri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata:
"Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami
termasuk orang-orang yang bersyukur". (Al-A’raf:189)
Tentang penciptaan Siti Hawa dari
tulang rusuk ditegaskan dalam hadits,
“Berikanlah wasiat yang baik kepada
wanita, karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk.
Sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah tulang rusuk yang paling
atas. Jika engkau berusaha meluruskannya (dengan keras), maka ia akan
mematahkannya. Dan jika engkau membiarkannya, maka ia akan senantiasa bengkok.
Maka berwasiatlah dengan kebaikan kepada kaum wanita.” (HR. Bukhari)
Siti Hawa adalah wanita yang paling
cantik dan tidak ada wanita yang menyerupai Siti Hawa kecuali Sarah, istri Nabi
Ibrahim AS. Demikian yang dikemukakan oleh As-Suhaili (Kisah Para Nabi, hlm.
281).
Siti Hawa melahirkan seratus dua
puluh kali, yang setiap kalinya melahirkan dua orang anak; laki-laki dan
perempuan. Yang tertua adalah Qabil dengan kembarannya, Iqlima. Dan dua anak
kembar yang paling bungsu adalah Abdul Mughits dan Ummul Mughits.
Sebagaimana Nabi Adam AS, maka Siti
Hawa adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah SWT, karena keduanya
diciptakan langsung dengan TanganNya.
SITI
SARAH
Siti Sarah adalah istri pertama
Nabi Ibrahim AS. Nabi Ibrahim AS menikahi Siti Sarah ketika masih di Babilonia,
tanah kelahirannya. Siti Sarah adalah seorang wanita yang mandul, tidak dapat
melahirkan keturunan.
Siti Sarah menemani Nabi Ibrahim AS
ketika hijrah ke tanah orang-orang Kan’an (Baitul Maqdis), bersama ayahnya Nabi
Ibrahim AS dan keponakannya, Nabi Luth AS. Mereka singgah di Huran, dan di
sanalah ayah Nabi Ibrahim AS meninggal dalam usia 250 tahun.
Saat itu, tidak ada yang beriman
kepada Allah SWT di dunia ini kecuali tiga orang: Nabi Ibrahim AS, SIti Sarah,
dan Nabi Luth AS.
Siti Sarah juga pernah menemani
Nabi Ibrahim AS ke Mesir. Di sanalah terjadi peristiwa sebagaimana diriwayatkan
oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah,
“Ibrahim tidak pernah berbohong
kecuali tiga kali: Dua kali di antaranya berkenaan dengan Dzat Allah, yaitu
firmanNya, ‘Sesungguhnya aku sakit.’[1] Dan firmanNya, ‘Sebenarnya patung
besar itulah yang melakukannya.’[2]
Kemudian Abu Hurairah melanjutkan, Dan pada suatu hari, ketika ia sedang
bersama Sarah, tiba-tiba datang seorang penguasa zhalim. Dikatakan kepadanya,
‘Di sini ada seorang yang bersamanya, seorang wanita yang sangat cantik.
Kirimkan orang kepadanya untuk menanyakan siapakah wanita itu sebenarnya. Ia
bertanya, ‘Siapakah wanita ini?’ Ibrahim menjawab, ‘Ia adalah saudara
perempuanku.’ Lalu Ibrahim mendatangi Sarah seraya berkata, ‘Hai Sarah, di muka
bumi ini tidak ada orang yang beriman selain diriku dan dirimu, dan orang ini
menanyakan kepadaku tentang dirimu, maka kuberitahukan bahwa engkau adalah
saudara perempuanku. Maka janganlah engkau berbohong kepadaku.’
Kemudian dikirim utusan kepada
Sarah. Ketika Sarah menemui Ibrahim, Ibrahim langsung menariknya dengan kuat,
lalu Ibrahim berkata, ‘Berdoalah kepada Allah untukku, aku tidak akan
mencelakaimu.’ Maka Sarah pun berdoa kepada Allah, lalu Ibrahim melepaskannya.
Setelah itu ia menariknya lagi, dengan genggaman yang lebih kuat seraya
berkata, ‘Berdoalah kepada Allah untukku, dan aku tidak akan mencelakaimu.’
Sarah pun berdoa, lalu Ibrahim melepaskannya.
Kemudian penguasa itu memanggil
sebagian pengawalnya dan mengatakan, ‘Kalian tidak membawa manusia kepadaku,
tetapi membawa setan. Jadikanlah ia (Sarah) itu sebagai budak Hajar.’
Selanjutnya Sarah mendatangi
Ibrahim ketika sedang shalat. Lalu Ibrahim memberikan isyarat dengan tangannya,
‘bagaimana kabarnya?’ Sarah menjawab, ‘Allah telah menolak tipu daya
orang-orang kafir, dan aku bertugas mengabdi kepada Hajar.’
Siti Sarah adalah wanita yang
sangat dicintai oleh Nabi Ibrahim AS karena ketaatan Siti Sarah pada agama,
kedekatannya, serta kecantikannya.
Dari Mesir Siti Sarah menemani
suaminya ke negeri Tayamun, tempat yang pernah ditinggali oleh Nabi Ibrahim AS
sebelumnya. Bersamanya berbagai macam binatang ternak, budak, dan harta benda
yang melimpah dengan ditemani oleh Siti Hajar.
Setelah lahirnya Ismail dari Siti
Hajar, Siti Sarah belum juga dikaruniai anak. Akan tetapi, akhirnya Allah
memberinya anak (Ishaq) yang beritanya langsung disampaikan oleh para malaikat
sebagaimana disebutkan dalam Surat Hud ayat 69-74 dan Adz-Dzariyat ayat 24-30.
Ishaq lahir setelah tiga tahun lahirnya Ismail.
Dan sesungguhnya
utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan
membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: "Salaman" (Selamat).
Ibrahim menjawab: "Salamun" (Selamatlah), maka tidak lama kemudian
Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. Maka tatkala dilihatnya
tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan
merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata: "Jangan kamu takut,
sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Lut."
Dan istrinya berdiri (di balik tirai) lalu dia tersenyum. Maka Kami sampaikan
kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir
putranya) Yakub. Istrinya berkata: "Sungguh mengherankan, apakah aku akan
melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun
dalam keadaan yang sudah tua pula? Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang
sangat aneh. Para malaikat itu berkata: "Apakah kamu merasa heran tentang
ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas
kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah."
Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang
kepadanya, dia pun bersoal jawab dengan (malaikat-malaikat) Kami tentang kaum
Lut.
(QS. 11:69-74)
Sudahkah sampai
kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim (malaikat-malaikat) yang dimuliakan?
(Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan:
"Salaaman", Ibrahim menjawab: "Salaamun" (kamu) adalah
orang-orang yang tidak dikenal. Maka dia pergi dengan diam-diam menemui
keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar), lalu
dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim berkata: "Silakan kamu makan".
(Tetapi mereka tidak mau makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap
mereka. Mereka berkata: "Janganlah kamu takut," dan mereka memberi
kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak).
Kemudian istrinya datang memekik (tercengang) lalu menepuk mukanya sendiri
seraya berkata: "(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul".
Mereka berkata: "Demikianlah Tuhanmu memfirmankan". Sesungguhnya
Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. 51:24-30)
Siti Sarah meninggal
dunia lebih awal dari Nabi Ibrahim AS di Habrawan yang terletak di negeri
Kan’an dalam usia 127 tahun. Nabi Ibrahim AS merasa bersedih atas meninggalnya
Siti Sarah, dan bahkan sempat menangis karenanya. Kemudian ia membeli sebidang
tanah kepada Afrun bin Shakhr dan dikebumikan di tanah tersebut.
SITI HAJAR
Sebagaimana telah disebutkan di
kisah Siti Sarah, Siti Hajar berasal Qibhti (Mesir). Ia adalah istri kedua Nabi
Ibrahim AS. Istri Nabi Ibrahim AS sendiri ada empat orang; yang ketiga adalah
Qanthura binti Yaqthan dan Hajun binti Amin.
Pernikahannya dengan Nabi Ibrahim
AS setelah Siti Sarah mengijinkannya. Ijin itu dikemukakan setelah mereka
menetap di Baitul Maqdis selama 20 tahun. Siti Sarah berkata, “Sesungguhnya
Tuhan telah mengharamkan bagiku anak, maka menikahlah dengan ibuku ini,
mudah-mudahan darinya Allah mengaruniakan anak untukku.”
Ketika hamil, Siti Hajar merasa
lebih dari Siti Sarah sehingga Sarah cemburu dan melaporkan hal itu kepada Nabi
Ibrahim. Maka beliau berkata, “Lakukan apa saja yang engkau kehendaki
kepadanya.”
Maka Hajar pun takut dan melarikan
diri hingga akhirnya singgah di sebuah sumber air. Salah satu malaikat berkata
kepadanya, “Janganlah engkau takut, sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah
menjadikan anak yang engkau kandung ini seorang yang baik.” Setelah itu
malaikat itu menyuruhnya kembali sembari memberitahukan bahwa anak yang akan
dilahirkannya itu berjenis kelamin laki-laki dan diberi nama Ismail. Maka Hajar
pun bersyukur kapada Allah SWT atas karunia yang telah Dia berikan kepadanya.
Kehamilan Siti Hajar
membuat Siti Sarah tergoncang. Itulah kenapa Siti Hajar kemudian mengenakan
stagen untuk menutupi kehamilannya demi menjaga perasaan Siti Sarah. Rasulullah
SAW bersabda,
أَوَّلَ مَا اتَّخَذَ النِّسَاءُ الْمِنْطَقَ مِنْ قِبَلِ أُمِّ إِسْمَاعِيلَ اتَّخَذَتْ
مِنْطَقًا لَتُعَفِّيَ أَثَرَهَا عَلَى سَارَةَ
“Wanita
pertama yang mengenakan stagen adalah Ummu Ismail (Siti Hajar). Dia mengenakan
stagen untuk menutupi kehamilannya di hadapan Siti Sarah” (HR Bukhari)
Setelah melahirkan Ismail maka
kecemburuan Sarah semakin besar. Kemudian Sarah meminta agar Ibrahim menyuruh
Hajar pergi sehingga wajahnya tidak terlihat olehnya. Maka Ibrahim membawanya
pergi bersama anaknya, Ismail. Dengan keduanya itu Ibrahim melintasi berbagai
tempat sehingga akhirnya meletakkan keduanya di tempat yang sekarang di sebut
kota Mekkah.
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي
زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلاةَ فَاجْعَلْ
أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ
لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
Ya
Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah
yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang
dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat,
maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah
mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (Ibrahim: 37)
Ditinggal
di tempat gersang dan sepi seperti itu tentu hal yang aneh. Semula Siti Hajar
terus mendesak Nabi Ibrahim dengan pertanyaan yang bernada gugatan:
يَا إِبْرَاهِيمُ أَيْنَ تَذْهَبُ وَتَتْرُكُنَا بِهَذَا الْوَادِي الَّذِي
لَيْسَ فِيهِ إِنْسٌ وَلَا شَيْءٌ
“Wahai
Ibrahim, kemana engkau akan pergi, sedangkan kami engkau tinggalkan di lembah
ini, yang tiada manusia dan apapun jua?” (HR Bukhari)
Siti
Hajar mengulangi pertanyaan itu berkali-kali, tapi tidak ada jawaban dari Nabi
Ibrahim as. Tapi ma’rifahnya kepada Allah membuatnya menanyakan hal lain:
أَاللَّهُ الَّذِي أَمَرَكَ بِهَذَا قَالَ نَعَمْ قَالَتْ إِذَنْ لَا
يُضَيِّعُنَا
“Apakah Allah
yang memerintahkan hal ini kepadamu?” Ibrahim menjawab, “Ya.” Siti Hajar
berkata, “Kalau begitu Allah tidak akan menyia-nyiakan kami” (HR Bukhari)
Lihatlah
apa yang Siti Hajar katakan saat mengetahui bahwa perlakuan suaminya adalah
perintah Allah: إِذَنْ لَا يُضَيِّعُنَا “Kalau begitu Allah tidak
akan menyia-nyiakan kami”
Dalam
hadits lain yang juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari Siti Hajar berkata:
يَا إِبْرَاهِيمُ إِلَى مَنْ تَتْرُكُنَا قَالَ إِلَى اللَّهِ قَالَتْ
رَضِيتُ بِاللَّهِ
“Wahai
Ibrahim, kepada siapa engkau tinggalkan kami?” Nabi Ibrahim menjawab, “Kepada
Allah.” Siti Hajar berkata, “Aku ridha kepada Allah”. (HR Bukhari)
Sebuah
sikap ridha yang luar biasa terhadap ketentuan Allah. Sikap ridha Siti Hajar
juga terlihat ketika putranya semata wayang, Ismail, harus disembelih karena
itu merupakan perintah Allah. Padahal kita tahu bagaimana perjuangan beliau
menyelamatkan Ismail dari kelaparan kemudian membesarkannya sendirian, tanpa
bantuan dari sang suami, Nabi Ibrahim as.
Jika kita memiliki sikap
ini, maka Allah pun akan ridha kepada kita. Rasulullah SAW bersabda,
مَا مِنْ مُسْلِمٍ أَوْ إِنْسَانٍ أَوْ عَبْدٍ يَقُولُ حِينَ يُمْسِي
وَحِينَ يُصْبِحُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا إِلَّا كَانَ حَقًّا
عَلَى اللَّهِ أَنْ يُرْضِيَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Tidak ada seorang Muslim
atau manusia atau hamba yang berkata ketika petang dan pagi, ‘Aku ridha Allah
robbku, Islam agamaku, dan Muhammad nabiku’, kecuali Allah pasti ridha
kepadanya pada hari kiamat” (HR Ibnu Majah)
IBUNDA
NABI MUSA AS
Bani Israil hidup dalam penindasan
Fir’aun. Dalam kondisi demikian, mereka meyakini bahwa akan lahir seorang
pemuda yang akan menghancurkan Mesir dengan tangannya.
Abu Shalih dan Abu Malik, Ibnu
Abbas, Murrah, Ibnu Mas’ud, dan beberapa sahabat mengatakan bahwa Fir’aun
pernah bermimpi seolah-olah ia menyaksikan api berkobar dari arah Baitul Maqdis
sehingga membakar rumah-rumah bangsa Mesir dan seluruh masyarakat Qibthi,
tetapi api tersebut tidak mencelakai Bani Israil. Setelah bangun tidur, hal itu
membuatnya sangat takut. Kemudian ia mengumpulkan dukun, para normal, dan
tukang sihir, untuk menanyakan ta’bir mimpi tersebut. Maka mereka menjawab,
“Anak laki-laki itu akan dilahirkan dari mereka, dan sebab kehancuran bangsa
Mesir berada di tangan anak laki-laki tersebut.” Karena itu, ia menyuruh
membunuh semua anak laki-laki dan membiarkan hidup semua anak perempuan.
Masyarakat QIbthi pernah mengadu
kepada Fir’aun mengenai minimnya jumlah orang-orang Bani Israil akibat
pembantaian dan pembinasaan anak laki-laki mereka. Akhirnya kebijakan Fir’aun
berubah: Setahun membunuh dan setahun membiarkannya. Musa lahir pada tahun
pembunuhan, sedangkan Harun lahir pada tahun dibiarkannya lahir anak laki-laki.
Hal itulah yang membuat takut
Ibunda Musa saat Musa lahir. Tapi Allah SWT memberinya ilham,
Dan Kami ilhamkan
kepada ibu Musa; "Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka
jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah
(pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu,
dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul. Maka dipungutlah ia oleh
keluarga Firaun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka.
Sesungguhnya Firaun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang
bersalah. Dan berkatalah istri Firaun: "(Ia) adalah penyejuk mata hati
bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat
kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak", sedang mereka tiada
menyadari. Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan
rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia
termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah). Dan berkatalah ibu Musa
kepada saudara Musa yang perempuan: "Ikutilah dia" Maka kelihatanlah
olehnya Musa dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya, dan Kami cegah Musa
dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui (nya) sebelum itu;
maka berkatalah saudara Musa: "Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu
ahlulbait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik
kepadanya?" Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya
dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah
benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. (QS. 28:7-13)
SITI
ASIYAH
Ketika Musa yang masih bayi
dihanyutkan ke sungai, maka akhirnya melewati tempat tinggal Fir’aun. Maka dipungutlah ia oleh keluarga Firaun yang akibatnya dia
menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka
(QS. 28:8). Para budak perempuan telah memungut Musa AS dari sungai yang
dihanyutkan dalam peti tertutup. Namun mereka tidak berani membukanya sehingga
mereka meletakkannya di hadapan isteri Fir’aun yang bernama Asiyah binti
Muzahim bin Ubaid bin Rayyan bin Al-Walid. Ia berasal dari Bani Israil.
Setelah Asiyah membuka
penutup peti tersebut dan menyingkap tabirnya, maka ia melihat wajahnya cerah
bersinar dengan cahaya kenabian dan keagungan. Pada saat melihatnya itu, ia
sangat menyukai dan mencintainya sehingga pada saat datang Fir’aun bertanya, “Siapa
anak ini?” Dan Fir’aun sempat menyuruh untuk menyembelih anak tersebut. Maka
Asiyah memintanya agar tidak membunuhnya seraya berkata, "(Ia) adalah
penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan
ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak” (QS. 28:9). Maka
Fir’aun berkata kepadanya, “Menurutmu itu memang benar, tetapi bagiku itu sama
sekali tidak benar.”
Karena keimanan Siti
Asiyah yang kuat, maka ia memiliki kedudukan yang istimewa di sisi Allah.
Rasulullah SAW bersabda, “Pemuka kaum wanita penghuni surge adalah Maryam binti
Imran, lalu Fatimah binti Muhammad, lalu Khadijah binti Khuwailid, dan kemudian
Asiyah istri Fir’aun.” (HR. Al-Hafizh Abu Qasim dan Abu Hatim Ar-Razi)
“Banyak dari kaum
laki-laki yang sempurna, dan tidak yang sempurna dari kaum wanita kecuali
Asiyah istri Fir’aun, Maryam binti Imran, dan keutamaan Asiyah atas
wanita-wanita lainnya adalah seperti keutamaan bubur atas suluruh makanan
lainnya.” (HR. Bukhari-Muslim)
Keduanya adalah orang
yang diserahi untuk memelihara dan membesarkan Nabi ketika masih kecil. Asiyah
memelihara Musa AS, sedangkan Maryam memelihara Isa AS.
وَضَرَبَ
اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ آمَنُوا امْرَأَتَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ
ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ
وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
Dan Allah membuat istri
Firaun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: "Ya
Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan
selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum
yang lalim" (QS. 66:11)
Kelak di surga, Asiyah akan menjadi
istri Rasulullah SAW sebagaimana disebutkan dalam hadits,
“Sesungguhnya Allah akan menikahkan
diriku di surga kelak dengan Maryam binti Imran, istri Fir’aun, Asiyah, dan
saudara perempuan Musa.” (HR. Thabrani). Diriwayat lain disebutkan bahwa nama
saudara perempuan Musa AS adalah Kultsum.
Rasulullah SAW pernah masuk menemui
Khadijah ketika sedang sakit yang menyebabkan kematiannya. Beliau bersabda,
“Wahai Khadijah, jika kamu bertemu dengan wanita-wanita yang menjadi madumu
kelak, sampaikan kepada mereka salam dariku.” Khadijah bertanya, “Ya
Rasulullah, apakah engkau pernah menikah sebelumku?” Beliau menjawab, “Tidak,
tetapi Allah telah menikahkan aku dengan Maryam binti Imran, Asiyah binti
Muzahim, dan Kultsum saudara perempuan Musa.” (HR. Ibnu Asakir)
SITI
MARYAM
Kisah Siti Maryam adalah kisah
seorang wanita mulia yang menjaga kehormatannya. Allah SWT berfirman,
وَمَرْيَمَ
ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِنْ رُوحِنَا
وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِينَ
dan Maryam putri Imran
yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian
dari roh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan
Kitab-kitab-Nya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat. (QS. 66:12)
Al-Qur’an cukup banyak menceritakan
kisahnya karena berkaitan dengan putranya, Isa bin Maryam AS, nabi yang
termasuk ulul azmi. Ceritanya juga runut sehingga kita mencukupkan seperti yang
ada di dalam Al-Qur’an.
Sesungguhnya Allah
telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala
umat (di masa mereka masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya
(keturunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Ingatlah),
ketika istri Imran berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan
kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan
berkhidmat (di Baitulmakdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku.
Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". Maka
tatkala istri Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata: "Ya Tuhanku,
sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih
mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak
perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan
untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada
setan yang terkutuk." Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan
penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah
menjadikan Zakaria pemeliharanya. Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di
mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata: "Hai Maryam dari
mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu
dari sisi Allah". Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang
dikehendaki-Nya tanpa hisab. (QS. 3:33-37). Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril)
berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan
kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).
Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang
rukuk. Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami
wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka,
ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di
antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka
ketika mereka bersengketa. (Ingatlah), ketika Malaikat berkata: "Hai
Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra
yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih
Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk
orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), dan dia berbicara dengan manusia
dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia termasuk di antara orang-orang
yang saleh." Maryam berkata:
"Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah
disentuh oleh seorang laki-laki pun." Allah berfirman (dengan perantaraan
Jibril): "Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila
Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya:
"Jadilah", lalu jadilah dia. (QS. 3:42-47)
Dalam surat Maryam
diceritakan,
Dan ceritakanlah
(kisah) Maryam di dalam Al Qur'an, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari
keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, maka ia mengadakan tabir (yang
melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia
menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata:
"Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah,
jika kamu seorang yang bertakwa". Ia (Jibril) berkata: "Sesungguhnya
aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki
yang suci". Maryam berkata: "Bagaimana akan ada bagiku seorang anak
laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan
(pula) seorang pezina!" Jibril berkata: "Demikianlah. Tuhanmu
berfirman: "Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami
menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal
itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan." Maka Maryam
mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang
jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal
pohon kurma, ia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini,
dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan". Maka Jibril
menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati,
sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah
pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah
kurma yang masak kepadamu. Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika
kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: "Sesungguhnya aku telah
bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara
dengan seorang Manusia pun pada hari ini". Maka Maryam membawa anak itu
kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: "Hai Maryam,
sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara
perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu
sekali-kali bukanlah seorang pezina", maka Maryam menunjuk kepada anaknya.
Mereka berkata: "Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang
masih dalam ayunan?" Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah,
Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. dan Dia
menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia
memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku
hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang
sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari
aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup
kembali". (QS. 19:16-33)
Sebagaimana disebutkan
dalam kisah Asiyah, maka Maryam binti Imran kelak akan menjadi istri Rasulullah
SAW di surga.
No comments:
Post a Comment