Saturday, April 11, 2026

Wanita-Wanita Pengukir Sejarah

 Dengan menyebut Nama Allah. Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, segenap keluarga, para sahabat dan generasi penerusnya.

Sejarah Islam dipenuhi dengan peristiwa besar dan berpengaruh terhadap peradaban

Kita berada di sini saat ini dan dalam kondisi seperti ini adalah buah dari karya besar para pendahulu kita. Karena jasa merekalah saat ini kita menikmati kehidupan seperti sekarang. Oleh karena itu, sudah sepantasnyalah kita mengenang, mengingat, mempelajari, dan meneladani kehidupan dan perjuangan mereka.

“Barang siapa yang tidak berterimakasih kepada manusia, berarti tidak bersyukur kepada Allah.” (HR Ahmad dan Tirmidzi).

Tak terkecuali orang-orang besar yang telah mengukirkan karyanya dalam sejarah adalah wanita-wanita Islam. Para muslimah tersebut bahu membahu, berkontribusi  dan turut berjuang bersama kaum lelaki dalam membela yang hak.

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. QS Yusuf: 111

Musuh-musuh Islam tahu bahwa wanita merupakan salah satu unsure kekuatan masyarakat Islam.  Musuh-musuh Islam telah menempuh berbagai cara untuk merusak wanita muslimah. Oleh karena itulah, kita harus kembali mengungkap kembali profil dan meneladani perjuangan wanita-wanita muslimah sebagai bekal untuk mengangkat harkat dan derajat wanita muslimah. Setiap pejuang muslimah memiliki keistimewaan dan sarat dengan nilai-nilai positif yang telah mengukirkan sejarahnya dalam sejarah Islam.

Berikut kita bisa menyimak beberapa profil dan meneladani  para pejuang wanita Islam sepanjang sejarah.

A.    Ummahat Al Mukminin

1.      Khadijah

Nama lengkapnya Khadijah binti Khuwailid bin As’ad bin Abd Al Uzza’. Ia dilahirkan di Makkah tahun 68 sebelum hijrah. Ia adalah wanita yang sukses dalam perniagaan, seorang saudagar wanita terhormat dan kaya raya. Pada masa jahiliyah ia dipanggil Ath Thaharoh (wanita suci) karena ia senantiasa menjaga kehormatan dan kesucian dirinya.  Orang-orang Quraisy menyebutnya sebagai pemimpin wanita Quraisy.

Rsulullah bersabdatantang Khadijah, "Allah tidak menggantikan untukku wanita yang lebih baik darinya. la beriman kepadaku di saat orang lain ingkar kepadaku, ia mempercayaiku di saat orang lain mendustakanku, ia menolongku dengan hartanya di saat orang lain tidak ada yang menolongku, dan Allah telah mengaruniakan kepadaku putra (dari hasil perkawinan dengan) nya sedang wanita-wanita lain tidak."

              Keistimewaan Khadijah:

a.      Ia adalah wanita yang pertama kali memeluk Islam. Ia beriman kepada Nabi disaat semua orang kafir padanya.

b.      Ia adalah wanita pertama yang dijamin masuk surga bahkan ia mendapat khabar gembira dari Allah, nahwa Allah telah membangunkan bagi rumah di surga.

Abu Hurairah ra menyatakan bahwa Jibril datang kepada nabi saw seraya berkata, “Wahai Rasulullah, Khadijah sedang berjalan kemari. Ia membawa wadah yang berisis kuah, makanan atau minuman. Jika ia sampai kepadamu, maka katakanlah bahwa Tuhannya dan aku menyampaikan salam kepadanya. Dan sampaikanlah khabar gembira kepadanya bahwa ia mendapat sebuah rumah di dalam surga”. (Mutafaq ‘alaih)

c.      Manusia pertama yang mendapat salam dari Allah yang disampaikan dari langit ke tujuh. Ia pastas menerimanya karena selalu setia mendampingi Nabi dalam kondisi seperti apapun.

Anas ra meriwayatkan bahwa ketika Jibril datang kepada Rasulullah saw yang sedang berduaan dengan Khadijah ra, Jibril berkata, “Sesungguhnya Allah menyampaikan salam kepada Khadijah”. Khadijah membalas, “Sesungguhnya Allahlah As Salaam (Maha Pemberi Kesejahteraan). Sebaliknya kuucapkan salam kepada Kibril dan kepamu. Semoga Allah melimpahkan kesejahteraan, rahmat dan berkahNya kepadamu.” (HR An Nasa’i)

d.      Wanita pertama yang layak dikatagorikan shiddiq diantara wanita mukmin lainnya.

e.      Mengorbankan seluruh hartanya untuk kepentingan Nabi

f.       Wanita yang memberikan keturunan bagi Nabi

g.      Wanita yang matang dan cerdas, pandai menjaga kesucian, dan terpandang bahkan sejak masa jahiliyah dan diberi gelar Ath Thahiroh (wanita yang suci). Ia adalah orang yang terhormat, taat beragama dan sangat dermawan.

h.      Seluruh hidupnya di berikan untuk mendukung dan membela dakwah Nabi.

i.       Orang yang pertama shalat bersama Nabi saw

2.      Saudah binti Zam’ah

Nama lengkapnya Saudah binti Zam'ah bin Qais. Ia masuk Islam bersama suaminya, Sakran bin Amr, di masa awal dakwah Islam. la ikut berhijrah ke Habasyah (Ethiopia). Suaminya meninggal di Mekkah setelah ia pulang dari Habasyah bersama kaum muslimin.Ia berpostur tubuh tinggi dan kurus. la terkenal suka berkelakar, bercanda, dan humor. la adalah wanita yang suka berderma.

la merawikan 5 hadits dari Nabi. Di antaranya, ia berkata, "Ada seorang laki-laki yang datang menemui Nabi sembari berkata,"Ayahku telah lanjut usia dan ia sudah tidak mampu menunaikan haji." Nabi bersabda, "Bukankah seandainya ayahmu punya utang, lalu kamu melunasinya, dan itu akan diterima? " "Ya", jawab laki-laki itu. "Allah Maha Pengasih, maka tunaikanlah haji atas nama ayahmu!" kata Nabi.

Saudah ra adalah wanita pertama yang dinikahi Rasulullah setelah Khadijah ra meninggal. Ia menjadi satu-satunya istrim Nabi saw selama tiga tahun sebelum nabi menikah dengan Aisyah ra.

Keistimewaan Saudah binti Zam’ah:

a.      Termasuk wanita pertama yang memeluk Islam, ikut hijrah duam kali yakni ke Habasyah dan madinah Munawwarah.

b.      Ia termasuk golongan pertama yang masuk Islam

c.      Selalu berusaha sekuat tenaga menyanangkan hati Nabi dengan memberikan jatah hari gilirannya kepada Aisyah ra karena Saudah ra tahu bahwa wanita yang paling dicintai oleh Nabi saw diantara istri-istrinya adalah Aisyah ra.

d.      Aisya berkata tentang Saudah, ”Aku tidak pernah menemukan seorang wanita yang lebih kusukai jika aku menjadi dirinya, selain Saudah binti Zam’ah. Seorang wanita yang kekuatan jiwanya luar biasa”.

e.      Selalu mengejar kebaikan dan ketaan bahkan Aisyah cemburu dengan kesegeraan Saudah dalam kebaikan dan ketaatan.

f.       Saudah ra. adalah seorang wanita yang dermawan dan murah hati. Ibnu Sirin menceritakan bahwa Umar bin Khaththab (setelah menjadi Khalifah, penj.) pernah memberi satu karung berisi uang dirham kepada Saudah ra. Ketika melihatnya, Saudah ra. bertanya, "Apa yang ada dalam karung ini?" Petugas Umar menjawab, "Uang dirham (perak)." Saudah ra. terkejut, "Karung ini berisi uang dirham, seperti kurma? Hai pelayan, ambilkan nampan!" Saat itu juga, Saudah ra. membagi-bagikan uang dirham tersebut kepada orang-orang yang memerlukannya.

g.      Mendapat izin dari tujuh lapis langit

Suatu ketika, Saudah ra. pernah mengalami masalah yang cukup memberatkan hatinya. Oleh sebab itu, ia segera menemui Nabi saw. untuk mengadukan permasalahannya. Ternyata, Allah berkenan menurunkan wahyu dari tujuh lapis langit untuk menyelesaikan masalah yang dialaminya, dan berlaku untuk siapa pun yang mengalami masalah yang sama hingga hari kiamat.

Aisyah ra. menuturkan, "Saudah binti Zam'ah ra. pernah keluar rumah malam hari. Umar melihatnya dan segera mengenalnya, maka ia berkata, 'Demi Allah, engkau pasti Saudah. Kami mudah mengenalmu.' Saudah merasa tidak enak hati, sehingga ia segera menjumpai Rasulullah saw. yang saat itu sedang makan malam di rumahku dan tangannya sedang memegang tulang yang nyaris habis dagingnya. Tidak lama kemudian, Allah menurunkan wahyu yang membenarkan tindakan Saudah. Rasulullah saw. berkata, Allah telah mengizinkan kalian keluar rumah selama ada keperluan.'" (Muttafaq 'alaih)

3.      Aisyah binti Abu Bakar

Nama lengkapnya Aisyah binti Abi Bakar bin Utsman, biasa dipanggil Ummu Abdillah, dan digelari Ash-Shiddiqah (wanita yang membenarkan). la juga masyhur dengan panggilan ummul mukminin, danAl-Humaira', karena warna kulitnya sangatputih.

la dilahirkan tahun ke-4 atau ke-5 setelah kenabian. la menceritakan, bahwa Nabi pernah mengatakan kepadanya, "Aku bermimpi melihat kamu sebanyakdua kali. Malaikat datang kepadaku dengan membawa selembar kain sutra (fhoto) sambil berkata, "Inilah isterimu, maka bukalah penutup wajahnya!" Setelah kubuka, ternyata itu adalah kamu. Maka aku berkata, "Sekiranya perkara ini datangnya dari Allah, pasti ia terlaksana." (HR. Al-Bukhari)

Rasulullah menikahi Aisyah tahun 2 H, dan saat itu, ia masih berusia 9 tahun. Pada dasarnya, Rasulullah telah melangsungkan prosesi akad nikah dengannya tahun 3 sebelum hijrah, saat Aisyah masih berusia 6 tahun. Beliau memberinya mahar sebesar 400 dirham.

Keistimewaan Aisyah ra:

a.      Aisyah adalah isteri yang paling dicintai oleh Rasulullah, dan yang paling banyak merawikan hadits dari Beliau. Ia merawikan 2210 hadits, 279 diantaranya terdapat di dalam Shahih Bukhori.

b.      Ia adalah wanita yang laing luas ilmu dan pemahamannya diantara seluruh wanita umat ini. Ia termasuk wanita muslimah yang paling faqih dan paling mengerti tentang sastra dan agama. Banyak pembesar sahabat yang bertanya kepadanya tentang masalah-masalah fiqih, dan ia pun menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.

c.      Wanita yang dinyatakan kesuciaannya dalam Al Qur’an. Kecintaan Rasulullah kepada Aisyah pernah menimbulkan kecemburuan di hati sebagian orang. Mereka menuduh Aisyah berbuat zina, padahal ia adalah wanita yang senantiasa menjaga kesudian dan kehormatan dirinya. Allah telah membebaskannya dari tuduhan tersebut di dalam Kitab-Nya.

d.      Tentang Aisyah, Rasulullah pernah mengatakan, "Keutamaan Aisyah atas wanita-ivanita yang lainnya adalah seperti keutamaan tsarid (makanan yang terdiri dari roti dan daging) atas makanan lainnya." (HR. Al-Bukhari)

e.      Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sakit, Beliau meminta izin kepada isteri-isterinya agar Beliau dirawat di rumah Aisyah.

f.       Amr bin Ash pernah bertanya kepada Rasul, "Siapakah orang yang paling Anda cintai?" Beliau menjawab, "Aisyah". "Dari kalangan laki-laki?" tanya Amr. "Ayahnya, Abu Bakar", jawab Beliau. "Kemudian siapa?" tanya Amr. "Umar bin Khaththab", jawab Beliau." (HR. Al-Bukhari)

g.      Satu-satunya wanita yang dinikahi Rasulullah yang masih gadis

h.      Aisyah adalah wanita terkemuka dengan segudang keistimewaan, terkemuka dalam kedermawanan, kezuhudan dan sifat-sifat yang mulia.

i.       Amr bin Ash pernah bertanya kepada Rasul, "Siapakah orang yang paling Anda cintai?" Beliau menjawab, "Aisyah". "Dari kalangan laki-laki?" tanya Amr. "Ayahnya, Abu Bakar", jawab Beliau. "Kemudian siapa?" tanya Amr. "Umar bin Khaththab", jawab Beliau." (HR. Al-Bukhari).

j.       Jibril as. memberi salam kepadanya

Ibnu Syihab menyatakan bahwa Abu Usamah berkata, "Sesung-guhnya "Aisyah ra. pernah mengungkapkan bahwa pada suatu hari Rasulullah saw. berkata kepadanya, 'Hai " Aisyah, ini Jibril. la mengucapkan salam kepadamu.' v Aisyah membalas, 'Wa " alaihis Salaam wa Rahmatullah  wa Barakaatuh (semoga Jibril juga mendapat kesejahteraan, limpahan kasih sayang dan berkah dari Allah), Engkau (Rasulullah saw.) melihat sesuatu yang tidak dapat kulihat." (Muttafaq " alaih)

k.      Wahyu turun saat Nabi berselimut bersama Aisyah

”....Demi Allah sesungguhnya Alalh tidak pernah menurunkan wahyu ketika aku sedang dalam satu selimut dengan siapapun diantara kalian (istri-istri Nabi), selain Aisyah”. (HR Bukhori)

l.       Kelebihan Khusus yang dimiliki oleh Aisyah

'Aisyah ra. berkata, "Ada tujuh kelebihan dalam diriku yang tidak dimiliki wanita mana pun kecuali kelebihan-kelebihan yang diberikan oleh Allah kepada Maryam binti 'Imran. Demi Allah, dengan mengatakan hal ini aku tidak bermaksud membanggakan diriku atas teman-temanku (istri-istri Rasulullah saw. yang lain)."

Abdullah bin Shafwan bertanya, "Apa tujuh kelebihan itu, wahai Ummul Mukminin?" " Aisyah menjawab, "Malaikat membawa gambarku (dalam mimpi) kepada Rasulullah saw.; Rasulullah saw. menikahiku saat aku berumur 7 tahun, lalu aku diserahkan (serumah) dengan beliau saat berumur 9 tahun, beliau menikah denganku saat aku perawan, dan itu hanya beliau lakukan denganku; wahyu turun kepada beliau saat beliau berada dalam satu selimut denganku; aku adalah orang yang paling beliau cintai dan aku juga adalah putri dari orang yang paling beliau cintai; Allah menurunkan ayat-ayat Al-Qur'an karena aku, di saat semua umat nyaris celaka karena kasusku; aku melihat Jibril dan tidak ada satu pun dari istri beliau yang pernah melihatnya; Rasulullah saw. meninggal di rumahku dan saat itu tidak ada orang yang mengurusnya kecuali aku dan malaikat.

m. Wanita yang sangat zuhud dan dermawan luar biasa, ahli ibadah dan puasa.

4.      Hafshah binti Umar bin Khatthab

Nama lengkapnya Hafshah binti Umar bin Khaththab. Lahir di Mekkah tahun 18 sebelum hijrah. Rasulullah melamar Hafshah kepada ayahnya Umar bin Khaththab, lalu Beliau menikahinya tahun 3 H. Rasulullah pernah bermaksud menceraikan Hafshah, tapi Jibril mengatakan kepada Beliau, "Jangan kamu ceraikan dia, sesungguhnya dia adalah wanita yang gemar berpuasa dan menunaikan shalat (malam), dan sesungguhnya dia adalah isterimu di sorga."

la merawikan 60 hadits dari Nabi, 10 di antaranya terdapat dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim.

Keistimewaan Hafshah:

a.      Wanita yang dibela Jibril

Rasulullah pernah bermaksud menceraikan Hafshah, tapi Jibril mengatakan kepada Beliau, "Jangan kamu ceraikan dia, sesungguhnya dia adalah wanita yang gemar berpuasa dan menunaikan shalat malam), dan sesungguhnya dia adalah isterimu di sorga."

b.      Ia adalah salah satu wanita yang paling fasihdiantara wanita-wanita Quraisy.

c.      Hafshah ra. memiliki kedudukan yang sangat tinggi di hati Nabi saw., bahkan termasuk salah seorang istri beliau yang istimewa di antara istri-| istri beliau lainnya. 'Aisyah ra. pernah mengakui hal ini. la berkata, "Hafshah adalah termasuk salah seorang istri Nabi saw. yang nyaris setara denganku

d.      Hafshah ra., dikenal memiliki kapasitas keilmuan, pemahaman dan ketakwaan yang sangat luas. Ketika ayahnya diangkat nenjadi Khalifah, tidak jarang Umar bertanya kepadanya tentang bagai hukum agama.

e.      Hafshah ra., telah mengemban amanah penjagaan Al-Qur'an, karena Abu Bakar ra. menunjuknya untuk menjaga lembaran-lembaran tulisan Al-Qur'an setelah berhasil dihimpun oleh Zaid bin Tsabit ra. Lembaran-lembaran Al-Qur'an itu tetap berada di tangannya hingga masa pemerintahan Utsman bin 'Affan ketika ia memutuskan menghimpun Al-Qur'an dalam satu mushaf.

5.      Zainab binti Khuzaimah

Nama lengkapnya Zainab binti Khuzaimah bin Harits. la digelari dengan Ummul Masakin (ibu orang-orang miskin). la termasuk orang yang mula-mula masuk Islam.

Sebelum menikah dengan Rasulullah, ia menikah dengan Ubaidah bin Harits bin Abdul Muthalib. Suaminya, Ubaidah bin Harits, gugur sebagai syahid dalam perang Badar tahun 2 H. Setelah suaminya gugur dalam perang Badar, Rasulullah menikahinya tahun 3 H.

Keistimewaan:

a.      Rumahnya adalah tempat berkumpulnya para fakir miskin, sehingga ia digelari dengan Ummul Masakin (ibu orang-orang miskin). la meninggal tahun 4 H dalam usia 30 tahun. Rasulullah menyembahyangi jenazahnya dan menguburkannya di Baqi'.

b.      Zainab menghabiskan seluruh waktunya untuk beribadah dan menyantuni orang miskin

6.      Ummu Salamah

Nama lengkapnya Hindun binti Hudzaifah bin Mughirah Al-Qursyiyah Al-Makhzumiyah, biasa dipanggil Ummu Salamah. la dilahirkan tahun 28 sebelum hijrah. la termasuk orang yang mula-mula masuk Islam. Ia bersama suaminya, Abu Salamah, ikut berhijrah ke Habasyah. Di Habasyah, ia dikaruniai seorang anak, Salamah. Sepulang dari Habasyah, ia hijrah ke Madinah. Di madinah, ia dikarunia 3 orang anak, yaitu Umar, Ruqayyah, dan Zainab. la adalah wanita pertama yang berhijrah ke Madinah. la merawikan 378 hadits dari Nabi.

Keistimewaan:

a.      Wanita yang ikut hijrah ke Habasyah dan pertama hijrah ke Madinah.

b.      Wanita yang sabar dan tabah

Ketika Ummu Salamah, Abu Salamah dan putra mereka Salamah hendak berhijrah, mereka dihalang-halangi oleh Bani Mughiroh. Hingga akhirnya Ummu salamah terpisah dari suami dan anaknya. Tetapi Ummu Salamah tetap tabah mendapatkan cobaan ini.

c.      Wanita yang cerdas dan bijaksana

Setelah selesai menandatangani perjanjian damai dengan kaum musyrik, Rasulullah saw. berkata kepada para sahabatnya, 'Bersiap-siaplah, sembelihlah hewan-hewan kurban kalian dan cukurlah rambut kalian.' Demi Allah, saat itu tidak ada satu pun dari para sahabat yang berdiri dan melaksanakan perintah beliau, padahal beliau mengulangi perintahnya sebanyak tiga kali. Ketika melihat gejala seperti itu, Rasulullah saw. masuk kemah dan menemui Ummu Salamah, lalu menceritakan kejadian tersebut kepadanya.

Ummu Salamah berkata, 'Wahai Nabi Allah, apakah engkau ingin sahabat-sahabatmu mengerjakan perintahmu? Keluarlah, dan jangan berbicara dengan siapa pun sebelum engkau menyembelih hewan kurbanmu dan memanggil pencukur untuk mencukur rambutmu.'

d.      Wanita yang sangat penyayang

Ia lah yang menyampaikan berita kepada Abu Lubabah bahwa Allah menerima taubatnya. Ummu salamah juga pernah menjadi penyebab kesediaan Nabi untuk memaafkan anak pamannya.

e.      Ummu Salamah dianggap sebagai ulama pada generasi sahabat. Ulama besar sekaliber Ibnu Abbas tidak jarag mengutus orang untuk menanyakan beberapa masalah hukum kepadanya.

7.      Zainab binti Jahsyin

Nama lengkapnya Zainab binti Jahsyin bin Ri'ab Al-Asadiyah. la adalah putri bibi Nabi, Umaimah binti Abdul Muthalib. la berparas cantik. Zainab termasuk orang yang mula-mula masuk Islam. Rasulullah menikahkannya dengan Zaid bin Haritsah. Tetapi kemudian bercerai dengan Zaid.

Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperlnan terhadap isterinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidakada kebemtan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isteri-isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi." (Al-Ahzab: 37).

la merawikan 11 hadits dari Nabi. Ketika Zainab ra meninggal dunia, Aisyah menangisi kepergian Zainab dan berkata, "la menandingiku dari isteri-isteri Nabi dalam meraih kedudukan di sisi Rasulullah, dan aku belum pernah melihat wanita yang lebih baik dari dia dalam menjalankan ajaran agama. Aku juga belum pernah melihat wanita yang paling mensucikan diri dari dia, paling bertakwa kepada Allah, paling benar tutur katanya, paling senang menyambung tali silaturrahmi, dan paling banyak sedekahnya."

Keistimewaan:

a.      Rasulullah mensifatinya dengan Al-Aivwahah (wanita yang khusyu' dalam beribadah).

b.      Zainab ra adalah pekerja keras, ia bekerja dengan tangannya sendiri menyamak dan menjahit kulit lalu menjualnya di pasar. Dari hasil kerja ini ini ia rajin bershadaqoh. Sehingga Rasulullah menjulukinya sebagai orang yang paling panjang tangannya.

Rasulullah pernah berkata, "Yang paling cepat menyusulku diantara kalian ialah yang paling panjang tangannya." Dan ternyata yang dimaksud oleh Beliau di dalam hadits di atas adalah Zainab, karena ia bekerja dengan tangannya sendiri, membuat manik-manik, menyamak, dan berdagang kemudian disedekahkan.

c.      Istri nabi saw yang paling pertama kali meninggal setelah beliau wafat.

d.      Taat beragama dan paling bertaqwa (ia adalah wanita yang sangat rajin puasa, shalat malam dan selau berinteraksi dengan Allah)

e.      Wanita yang paling mensucikan diri

f.       Tutur katanya benar

g.      Paling senang menyambung silaturahim

h.      Paling banyak sedekahnya

i.       Zainab dinikahkan oleh Allah dengan Nabi saw

”Zainab selalu berbangga atas istri-istri Nabi saw lainnya. Ia berkata,’Kalian dinikahkan oleh wali-wali kalian, sedangkan aku dinikahkan oleh Allah dari tujuh lapis langit.’” (HR Bukhori dan Tirmidzi).

j.       Ia adalah wanita yang sangat zuhud bahkan ketika Umar bin Khattab memberikan tunjangan kepadanya, maka uang itu disedekahkan seluruhnya hingga tak bersisa.

8.      Juwairiyah binti Harits

Nama lengkapnya Juwairiyah binti Harits bin Abi Dhirar Al-Khaza'iyah. Ia adalah putri dari kepala suku bani Mushthaliq. Ketika Rasulullah saw hijrah ke madinah, salah satu prilar yang dibangun oleh Rasulullah saw adalah membangun hubungan termasuk dengan umat non muslim. Rasulullah menetapkan prinsip toleransi dan amnesti. Cahaya Islam ketika itu telah menerangi seluruh pelosok, akan tetapi bani Mushthaliq tetap jahiliyah.

Bani Mushthaliq bersama suku-suku Arab bersekongkon untuk menyerang kaum muslimin. Kedua pasukan akhirnya berperang. Rasulullah memerintahkan untuk terus menyerbu hingga pasukan musuh kocar-kacir. Juwairiyah termasuk salah satu tawanan perang. Kemudian Juwairiyah mengajukan mukaatabah (pengajuan pembebasan diri agar menjadi merdeka). Rasulullah menawarkan untuk menikahi Juwairiyah dan  akhirnya Juwairiyah menikah dengan Rasulullah saw. Dengar pernikahan tersebut Juwairiyah berhasil memerdekakan 100 keluarga dari suku bani Mushthaliq. Dengan demikian ia adalah wanita yang banyak memberikan keberkahan kepada kaumnya.

Ia pernah menunaikan umrah dan haji bersama Rasulullah. la juga menghafal, memahami, dan merawikan hadits dari Rasulullah. la merawikan 7 hadits dari Nabi yang terdapat di dalam Kiitub As-Sittah (enam buku hadits).

Di antara hadits yang dirawikannya dari Nabi, bahwa Nabi pernah keluar dari rumahnya pada waktu dini hari ketika Beliau hendak menunaikan shalat subuh, dan dia juga saat itu sudah berada di tempat sujudnya (tempat shalat). Kemudian Beliau pulang pada waktu dhuha dan Juwairiyah masih tetap berada di tempat sujudnya. Lalu Beliau mengatakan, "Kamu masih seperti keadaanpada saat aku (tadi) meninggalkanmu?" " Ya", jawabnya. Nabi bersabda, "Sungguh aku telah mengucapkan empat kalimat sebanyak tiga kali yang jika ditimbang, niscaya akan lebih berat timbangannya dari apa yang telah kamu ucapkan. Empat kalimat itu adalah, Maha suci Allah dan segala puji miliknya, sebanyak makhluk-Nya, sebanyak yang diridhai-Nya, seberat timbangan 'Arsy-Nya, dan sebanyak bilangan kalimat-kalimat-Nya." (HR. Muslim)

9.      Shafiyah binti Huyay

Nama lengkapnya Shafiyah binti Huyai bin Akhthab. la adalah putri pemimpin Yahudi Bani Quraizhah, Huyai bin Akhthab. Ayah Shafiyah adalah pemimpin terbesar kaum Yahudi.

la termasuk salah satu di antara tawanan perang Khaibar dan menjadi bagian Dihyah Al-Kalbi. Rasulullah memberikan kepada Dihyah tawanan lain sebagai gantinya. Kemudian Beliau memberikan tawaran kepada Shofiyah antara memilih masuk Islam dan dinikahi oleh Beliau atau tetap beragama Yahudi dan dibebaskan. Shafiyah memilih masuk Islam dan dinikahi oleh Rasulullah. Rasulullah menikahi Shafiyah ketika pulang dari Khaibar menuju Madinah.

Shafiyah berusaha untuk mengejar ketertinggalannya dalam berislam selama ini. Sehingga setiap waktu ia selalu gunakan untuk beribadah kepada Allah. Ia adalah orang yang sangat jujur, berkata apa adanya dan bukan basa basi, hatinya bersih dan keterbukaannya tulus.

la merawikan 10 hadits dari Nabi. Di antaranya, ia berkata, "Suatu malam, Nabi beri'tikaf di masjid, lalu aku datang mengunjungi Beliau. Setelah selesai mengobrol, aku berdiri dan hendak pulang. Beliau pun berdiri untuk mengantarku. Tiba-tiba dua laki-laki anshar lewat. Tatkala mereka melihat Nabi, mereka mempercepat langkah mereka. "Perlahankanlah langkah kalian! Sesungguhnya ini adalah Shafiyah binti Huyai!" kata Nabi. "Maha suci Allah, wahai Rasulullah", kata mereka. Beliau mengatakan, "Sesungguhnya setan itu berjalan pada aliran darah manusia. Sebenarnya aku khawatir, kalau-kalau setan membisikkan tuduhan dusta atau halyang tidakbaik dalani hati kalian." (HR. Al-Bukhari).

Di hari-hari terakhir kehidupan Utsman bin Affan ra., Shafiyyah ra. menorehkan sikap mulia yang menunjukkan keutamaan dan pengakuannya terhadap kedudukan Utsman bin 'Affan ra. Kinanah berkata, "Aku menuntun kendaraan Shafiyyah ketika hendak membela Utsman. Kami dihadang oleh Al-Asytar, lalu ia memukul wajah keledainya hingga miring. Melihat hal itu, Shafiyyah berkata, 'Biarkan aku kembali, jangan sampai orang ini mempermalukanku.' Kemudian, Shafiyyah membentangkan kayu antara rumahnya dengan rumah Utsman guna menyalurkan makanan dan air minum."

Sikap mulia ini menunjukkan ketidaksukaan Ummul Mukminin Shafiyyah ra. terhadap orang-orang yang menzalimi dan menekan Utsman, bahkan membiarkannya kelaparan dan kehausan.

Ibnu Al-Atsir dan An-Nawawi rakimahumallah, memujinya seperti berikut, "Shafiyyah adalah seorang wanita yang sangat cerdas." Sedangkan Ibnu Katsir rahimahullah, berkata, "Shafiyyah adalah seorang wanita yang sangat menonjol dalam ibadah, kewara' an, kezuhudan, kebaikan, dan shadaqah.

10.   Ummu Habibah

Nama lengkapnya Ramlah binti Shakhar bin Harb bin Umayyah. la adalah putri Abu Sufyan bin Harb, dan saudara perempuan Mu'awiyah bin Abi Sufyan. la adalah ummul mukminin, isteri Nabi. la dilahirkan tahun 25 sebelum hijrah. la bersama suaminya, Ubaidillah bin Jahsyin, ikut berhijrah ke Habasyah, hijrah gelombang kedua. Di sana, suaminya masuk agama Nasrani dan rneninggal dalam keadaan beragama Nasrani, sementara ia tetap memeluk agama Islam.

la termasuk wanita Quraisy yang tutur katanya terkenal fasih dan memiliki ide-ide yang cemerlang. Rasulullah mengutus seorang utusan untuk menemuinya dalam rangka untuk menikahinya. Beliau meminta agar An-Najasyi menyelenggarakan akad nikah untuk Beliau. Khalid bin Sa'id bin Ash bertindak sebagai walinya. An-Najasyi menyerahkan mas kawin sebesar 400 dirham. Pernikahan ini berlangsung pada tahun 7 H. Saat itu, Ummu Habibah berusia 37 tahun.

Abu Sufyan datang ke Madinah untuk membicarakan kembali perjanjian damai. Tetapi di tolak oleh Rasulullah saw. Merasa gagal, Abu Sufyan pergi dan masuk ke rumah putrinya, Ummu Habibah ra. Ketika Abu Sufyan hendak duduk di atas alas yang biasa digunakan oleh Rasulullah saw., Ummu Habibah ra. segera mengambil dan melipatnya.

Melihat hal itu, Abu Sufyan berkata, "Putriku, apakah engkau tidak suka kepadaku karena ingin duduk di atas alas ini, atau engkau tidak suka alas ini diduduki olehku?" Ummu Habibah ra. menjawab, "Aku tidak suka alas ini diduduki olehmu, karena ia milik Nabi saw., sedangkan engkau adalah seorang yang najis dan musyrik."

la merawikan 65 hadits dari Nabi.

11.   Maimunah

Nama lengkapnya Maimunah binti Harits bin Hazn Al-Hilaliyah. Dulu ia bernama Barrah, lalu Nabi menamainya Maimunah. la lahir di Mekkah tahun 6 sebelum kenabian.

la adalah bibi Khalid bin Walid dan Abdullah bin Abbas. Saudara perempuannya adalah Ummu Fadhl, isteri Abbas bin Abdul Muthalib, paman Nabi. la adalah wanita pertama yang masuk Islam setelah Khadijah.

Nabi menikahinya tahun 7 H. Beliau menyerahkan mas kawin sebesar 400 dirham kepada Maimunah.

Maimunah dikenal sangat bersemangat dalam menjalankan hukum Allah.

la merawikan 46 hadits dari Nabi.

B.     Anak-anak Rasulullah saw

1.      Fathimah Az Zahra’

Nama lengkapnya adalah Fatimah binti Muhammad bin Abdullah bin abu Muthalib. la lahir lima tahun sebelum masa diutusnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. la merupakan putri termuda di antara putri-putri Nabi lainnya. la menikah dengan Ali Ra pada usianya yang ke 18 tahun. la merupakan ibu dari Hasan, Husain, Ummul Kultsum, dan Zaenab.

Ketika turun kepada Nabi sebuah ayat (dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya) di rumah Ummu Kultsum, maka Nabi memanggil Fatimah, Hasan dan Husain, dan menjadikan mereka sebagai pengikut, begitu pula Ali yang berada di belakang Nabi juga dijadikan sebagai pengikutnya pula. Maka berkatalah Nabi "Ya Allah! Mereka semua ini adalah keluargaku. Hilangkanlah dari mereka segala kotoran, dan bersihkanlah (sucikanlah) sebersih-bersihnya". (Diriwayatkan oleh Turmudzi)

Miswar bin Makhramah berkata: aku mendengar Rasululloh Saw berkata di atas mimbar "bahwasanya Hisyam bin al Mughoyyaroh meminta izin kepadaku untuk menikahkan anak perempuan mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Namun aku tidak menyetujuinya, dan selanjutya pun juga tetap tidak menyetujuinya. Kecuali jika Ali bin Abi Thalib bersedia menceraikan anak perempuanku dan menikah dengan anak-anak mereka. Sesungguhnya anak perempuanku itu (Fatimah Az-Zahra') adalah bagian dariku.. ...."(HR Bukhari)

Berkatalah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa wanita paling mulia di surga nanti adalah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, istri Firaun yang bernama Asyiah binti Muzakhim, dan Maryam binti Imran.  (HR Ahmad)

Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata "Akubertemu dengan Fatimah. la berjalan sebagaimana layaknya Nabi berjalan. Dan di saat ia bertemu dengan Nabi Sliallallahu Alaihi wa Sallam, berkatalah Nabi "selamat datang wahai putriku", lalu nabi memintanya duduk disebelah kanan atau kirinya. Kemudian di saat nabi mengatakan sesuatu kepadanya, menangislah ia. Maka aku langsung berkata kepadanya "kenapa kamu menagis?" Namun, di saat nabi mengatakan sesuatu lagi kepada Fatimah, maka ia pun tertawa riang. Sekali lagi, aku pun berkata kepadan Fatimah "aku tidak pernah menjumpai kebahagiaan yang berdekatan dengan kesedihan sebagai mana hari ini" Maka aku bertanya kepadanya tentang apa yang telah dikatakan Nabi kepadanya. Berkatalah Fatimah "kamu jangan menyebarluaskan rahasia ini hingga Nabi wafat nanti." Lalu aku menanyakan rahasia itu, maka berkatalah Fatimah" Nabi telah memberi isyarat kepadaku, dan berkata bahwa Jibril biasanya meminta kepadaku (Nabi) untuk membaca al-Qur'an secara langsung dihadapannya sekali dalam setahun. Namun pada tahun ini, Jibril memintaku (Nabi) sebanyak dua kali", maka menangislah aku mendengar perkataan itu. Sebab, itu tandanya Nabi akan meninggalkan kita semua. Namun aku merasa sangat bahagia di saat Nabi berkata kepadaku "relakanlah dirimu menjadi ratu wanita-wanita penghuni surga, atau menjadi ratu wanita-wanita muslim." Diriwayatkan oleh Al-Bukhari

Anas Ra berkata "di saat sakit Nabi mulai parah dan berselimut, berkatalah Fatimah "sakitkah wahai ayah?" Maka berkatalah Nabi kepadanya" ayahmu tidak akan mengalami kesusahan setelah hari ini." Dan ketika Nabi wafat, berkatalah Fatimah "wahai ayah, Tuhan telah mengabulkan permohonanmu. Wahai ayah, surga firdaus adalah tempat kembalimu. Wahai ayah, Jibrillah yang akan memperhatikanmu.

Dari Aisyah Radhiyallahu Anha Ummul Mu'minin (ibunya kaum beriman), berkata "aku tidak pernah melihat seorang pun yang mampu menyamai Fatimah dalam hal keserupaannya dengan Nabi. Ketenangan dan keistiqomahannya dalam duduk maupun berdiri sebagaimana ketenangan dan keistiqomahan Nabi. la di saat masuk kerumah Nabi, Nabi langsung berdiri manyambut kedatangannya. Begitu pula di saat Nabi mengunjungi rumah Fatimah, ia pun beranjak dari tempat duduknya untuk menyambut Nabi, dan memberikan tempat duduknya kepada Nabi." (Diriwayatkan oleh Turmudzi).

Ibnul Jauzi berkata "bahwa Rasulullah mempunyai anak perempuan yang dimulyakan oleh Fatimah, dan mempunyai istri-istri yang lebih dahulu dari Aisyah."

Fatimah meninggal dunia 6 bulan setelah kematian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. la meninggal dunia dalam usianya yang ke 29 tahun.

2.      Zainab

la adalah Zaenab binti Muhammad bin Abdul Muthalib. la adalah anak perempuan tertua Rasulullah saw. Lahir sepuluh tahun sebelum masa kenabian Muhammad. la menikah dengan anak bibinya sendiri yang bernama Abu As bin Rabi', yang pada waktu itu masih berstatuskan kafir. Pada perang Badar, suaminya tertangkap oleh kaum muslimin, sehingga terjadilah perpisahan antara Zaenab dengan suaminya. Namun atas perintah ibunya (Khadijah), Zaenab berusaha memberi tebusan kepada tentara Islam untuk membebaskan suaminya. Namun, akhirnya Nabi memisahkan ke duapasangan itu. Nabi meminta kepada suami Zaenab agar rela melepaskan Zaenab. Suami Zaenab pun akhirnya memenuhi permintaan Nabi itu. Ini terjadi setelah ia bebergian dengan segerombolan orang-orang Qurays ke Mekkah.

Suami Zaenab pernah melarikan diri dari tahanan kaum muslimin pada saat masa penaklukan Mekkah. Dan di saat ia pergi ke Madinah, Zaenab berusaha menjadikannya sebagai orang bayaran. Maka bersabdalah Rasulullah menyikapi tindakan Zaenab itu "setiapa anak pasti menghormati orang tuanya, suamimu tak berhak atas dirimu selama ia masih dalam keadaan Syirik."

Zaenab dikarunia dua orang anak, yaitu Ali dan Amman. Ali meninggal pada usia yang masih sangat belia, sedang Amamah lah yang bisa tumbuh menjadi dewasa hingga akhirnya menikah dengan Khalifah Islam Ali bin abi Thalib setalah ditinggal mati oleh Fatimah Az-Zahra'. Zaenab meninggal dunia pada tahun 8 H.

3.      Ruqayyah

la adalah Ruqayyah binti Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Lahir tiga tahun setelah kelahiran Zaenab, tepatnya 20 tahun sebelum Hijriah. Ibunya adalah Khadijah yang dijuluki sebagai ibunya orang-orang beriman (Ummul Mu'minin). la menikah dengan Attabah bin Abu Lahab. Namun pada saat turun ayat yang berbunyi "Tabbat Yada Abi Lahabiu wa Tabb", maka marahlah abu Lahab dan meminta kepada putranya untuk menceraikan Ruqayyah, yang pada waktu itu masih dalam keadaan perawan.

Ruqayyah masuk Islam di saat ibunya (Khadijah) masuk Islam. la menikah lagi dengan Utsman bin Affan. la termasuk orang-orang yang ikut melakukan perpindahan (Hijrah) ke Habsy selama dua kali; yaitu hijrah ke Habsy yang pertama dan sekaligus hijrah ke Habsy yang ke dua. Dari pernikahannya dengan Usman bin Affan, ia dikaruniai seorang anak yang diberi nama dengan Abdullah, namun anaknya itu meninggal dunia pada usia 6 tahun. la di saat hendak dipersiapkan oleh Rasulullah dalam perang Badar, sedang menderita penyakit campak. Oleh kerana itu, Usman bin Affan senantiasa menyertainya karena penyakitnya itu. la meninggal dunia pada tahun 2 Hijriah, di saat Rasulallah masih berada di perang Badar.

C.    Para shahabat dari kalangan wanita

1.      Asma’ binti Abu Bakar

Nama lengkapnya adalah Asma' binti Abdullah bin Utsman Abi Bakar ks-Sidik. Lahir pada tahun 27 sebelum Hijriah, dan termasuk orang-orang pertama yang masuk Islam (Assabiqun Awwalum. Menikah dengan Zubair bin Awwab yang dikenal sebagai salah satu dari orang-orang yang telah dijanjikan masuk surga. Bahkan ia merupakan ibu dari Abdullah bin Zubair yang dikenal sebagai salah satu dari ke empat orang-orang terkemuka dalam bidang Hadits (al Ibadalah al Arbaah). Maka tidaklah mengherankan sekali, jika kelahirannya pula merupakan kelahiran pertama yang dirayakan di Madinah. Dan tak hanya itu saja, ayah, ibu, suami, anak, dan saudara perempuan Asma' bin abu Bakar, merupakan sahabat-sahabat Nabi yang setia.

la mempunyai pengalaman yang sangat penting dalam hidupnya. Yaitu di saat ia beranjak meninggalkan rumah Abu Bakar As-Sidik menuju Madinah bersama Rasulullah. Pada saat itu, ia tak menemukan sebuah solusi yang dapat menyelesaikan rasa hausnya di saat melakukan perjalanan jauh bersama para sahabat dan Rasululluh Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ia berkata kepada Abu Bakar bahwa ia tidak menemukan sebuah solusi yang dapat membantu permasalahan itu kecuali hanya sebuah tekad saja. Maka, menjawablah Abu Bakar "selesaikanlah permasalahan itu malalui dua hal. Pertama selesaikan rasa hausmu itu, sedang yang kedua adalah bahwa Hijrah Rasulullah itu harus sampai pada tujuan." Dua permasalahan itulah, pada akhirnya dijuluki sebagai prasasti dua kemampuan.

Abu Jahal pernah berkata kepadanya tentang keberadaan ayah Asma' bin Abu Bakar. la mengatakan kepada Abu Jahal Bahwa ia tidak mengetahui keberadaan Ayahnya. Abu Lahab spontan langsung mengusap muka Asma' dan merampas serta membuang perhiasan yang senantiasa menghiasi hidungnya.

Kakeknya yang bernama abu Khahah juga pernah meminta kepada Asma' harta peninggalan ayahnya setelah melakukan Hijrah bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. la ingin meminta keseluruhan harta itu. Melihat fenomena itu, Asma' bergegas menuju sebuah kotak yang penuh dengan batu dan meletakkan tangan kakeknya itu di atas kotak tersebut. Sehingga sang kakek menyangka bahwa ayah Asma' telah mewariskan harta benda yang sangat banyak kepada Asma'.

la merupakan salah satu Sahabat Nabi yang ikut menyaksikan dan mengalami secara langsung perang Yarmuk. la melakukan perang itu bersama dengan suaminya (Zubair). la meminta kepada anaknya untuk senantiasa menjadi seorang pemberani dan berkemauan keras. Ini terbukti di saat Bani Umayyah hendak membunuh anaknya itu. Pada saat itu sang anak berkata kepada Asma': bahwa ia takut bernasib sama dengan ahli Syam. Asma' spontan menjawab perkataan anaknya itu bahwa "apa yang ditakutkan oleh seekor domba di saat telah di sembelih?" Artinya tidak ada yang perlu ditakutkan di saat nasi telah menjadi bubur, yaitu sebuah keharusan untuk melawan Dani Umayyah.

Dan ketika Al Hijaj bin Yusuf Al Thaqfi yang telah membunuh anaknya mengunjunginya seraya berkata kepadanya "bagaimana mungkin engkau menganggapku sebagai musuh Allah? Maka menjawablah Asma' "di saat engkau telah membunuh anak kandungku itu, maka akhiratmu pasti akan merugi!. Spontan al Hijaj bin Yusuf membela dirinya, dengan berkata "anakmu telah melakukan kekafiran di muka bumi ini." Namun Asma' membantah perkataan tersebut. la berkata dengan sangat lantang "engkau benar-benar seorang pendus ta!."

Ia meriwayatkan 56 Hadits Nabi, dan 26 diantaranya terdapat dalam Shahih Bukhari dan Muslim. Asma' bin Abu Bakar meninggal dunia di Mekkah pada usia seratus tahun. Anehnya pada usia yang begitu lanjut itu, tak ada satu pun giginya yang patah, dan otaknya masih sangat sehat dan berjalan sebagaimana mestinya, tidak sebagaimana orang-orang tua lainnya. Ia merupakan orang Muhajirin yang terakhir meninggal dunia.

2.      Asma’ binti Umais

Nama lengkapnya adalah Asma' binti Umais bin Maad bin Haris bin Tayim bin Haris al Khats'ami. la juga termasuk salah satu orang-orang yang awal masuk Islam. la ikut serta melakukan Hijrah menuju Habsy. Hijrah itu ia lakukan bersama suaminya yang bernama Ja'far bin abi Thalib, dan kemudian kembali dari hijrah bersamanya pula pada tahun 7 Hijriah.

la pernah bersitegang dengan Umar Ra. Yaitu di saat Umar Ra mendatangi Khafshah anaknya yang pada waktu bersama dengan Asma'. la langsung bertanya "siapakah dia?". Menjawablah Khafshah, "ia adalah Asma' binti Umais." Lalu Umar bertanya lagi "apakah dia seorang yang berkebangsaan Habsy?". Asma' langsung menjawab "iya". Berkatalah Umar untuk kesekian kalinya "Hijrah kita lebih dahulu daripada hijrahnya bangsa kalian, dan kita mempunyai kedekatan dengan Rasulullah daripada kalian." Mendengar perkataan itu, ia langsung berujar, "demi Allah, perkataanmu itu tidak benar." Kalian lebih diuntungkan di saat bersama dengan Rasulullah. Rasulullahlah yang telah memberi makanan kepada kalian dan juga telah mengeluarkan kalian dari kebodohan. Ini berbeda sekali dengan kita yang berada di tempat yang sangat jauh, sehingga tak memungkinkan Rasulullah memberi kita makan maupun minum. Kita selalu dihinggapi rasa ketakutan dan kesedihan lantaran keimanan kita kepada Rasulullah. Ini semua murni karena keimanan kita kepadanya. Dan perkataanmu (Umar) tadi akan aku laporkan kepada Rasulullah apa adanya, tanpa mereduksi atau menambahi sedikitpun dari perkataanmu tadi.

Kemudian, di saat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam datang menghampiri mereka, berkatalah Asma' "ya Rasulullah Umar telah berkata semacam itu." Berkatalah Rasulullah, "apa yang kamu katakan kepada Umar?". Menjawablah Asma' dan mengatakan kepada Rasulullah sebagaimana yang telah ia katakan kepada Umar. Menjawablah Rasulullah "tidak ada orang yang lebih berhak atas diriku dari pada kalian. Umar dan Sahabatnya hanya melakukan Hijrah sekali saja, berbeda dengan kalian yang telah melakukan Hijrah bersamaku sebanyak dua kali." Mendengar perkataan itu, Asma' dan orang-orang yang telah melakukan Hijrah ke tanah Habsy merasa bergembira sekali.

Di saat Ja'f ar bin Mu'nah meninggal dunia, Asma' kemudian menikah dengan Abu Bakar. Namun di saat abu Bakar meninggal dunia juga, Ali bin Abi Thaliblah yang menjadi suaminya yang terakhir. la merupakan seorang sahabat yang pernah melakukan Hijrah selama dua kali, menjadi istri dua Khalifah Islam yang kedua-duanya mati dalam keadaan syahid, dan juga merupakan salah seorang pengikut rasul yang menjalani sholat menghadap dua Kiblat; yaitu Baitul Maqdis dan Mekkah.

Anak-anaknya yang bernama Abdullah bin Ja'f ar dan Muhammad bin abi Bakar adalah dari suami Abu Bakar As-siddik, sedang Muhammad dan Yahya adalah dari suami Ali bin abi Thalib. Anaknya yang paling sombong adalah Muhammad bin Ja'f ar dan Muhammad bin abi Ja'f ar Ini terlihat di saat keduanya saling mengatakan satu sama lain "aku lebih mulia daripada kamu. Ayahku lebih baik daripada ayahmu." Perkataan itu dilontarkan dihadapan ibu dan All bin abi thalib. Di saat mendengar ungkapan itu, Ali meminta kepada Asma' untuk meluruskan kedua anaknya itu. Asma' langsung berkata "aku tak pernah melihat pemuda Arab yang lebih baik dari Ali, dan juga tak pernah melihat orang tua yang lebih arif daripada Abu Bakar." Mendengar perkataan itu, ali langsung langsung mengatakan "kamu tak pernah mewariskan sesuatu kepadaku, apabila kamu mengatakan sesuatu yang tak seperti yang kamu katakan tadi, maka aku pasti akan membencimu."

Kemuliaan derajat Asma' terlihat pula dari perkataan Nabi bahwa Maimunah istri Nabi, Ummu Fadil istri Abas, Asma' binti Umais istri Ja'far dan Istri Hamzah adalah sekelompok wanita yang dijuluki sebagai persaudaraan wanita-wanita beriman." Maka tidak mengherankan sekali jika Umar bin Khaththab juga pernah meminta kepadanya untuk menafsirkan mimpinya. Asma' juga merupakan seorang perawi Hadits. la meriwayatkan Hadits Nabi sebanyak 60 Hadits.

3.      Asma’ binti Yazid

Nama lengkapnya adalah Asma' binti Yazid bin Sukun bin Rafi'. la termasuk dari golongan kaum Ansar. la juga dijuluki sebagai juru bicara kaum wanita, sebab tak ada satupun wanita Arab yang mampu menandingi kepiawaiannya dalam berkhutbah. la termasuk wanita yang sangat pemberani dan tangguh. la terjun langsung dalam perang Yarmuk dan berhasil membunuh 9 tentara Romawi yang sedang berada dalam persembunyiannya.

la pernah mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang sedang bersama para Sahabatnya. Asma' binti Yazid berkata kepada Rasulullah "engkau bagaikan ibu dan sekaligus ayahku wahai Rasul." Keberadaanku disini adalah untuk mewakili para wanita. Bahwasanya Allah telah mengutusmu untuk segenap laki-laki dan perempuan. Kami mengimanimu dan juga Tuhanmu. Aku akan memberitahukan kepadamu, bahwa kita kaum wanita tak mempunyai gerak yang leluasa tak sebagaimana laki-laki. Amal perbuatan kami hanya sebatas amal perbuatan yang bersifat rumah tangga saja, tempat pelampiasan nafsu kalian dan sekaligus untuk mengandung dan melahirkan anak-anak kalian pula. Ini berbeda dengan kalian semua wahai kaum laki-laki! Kalian melebihi kami dalam hal berjamaah, menjenguk orang sakit, mengantarkan mayat ke kuburan, Haji, dan yang lebih utama lagi adalah kemampuan kalian untuk melakukan Jihad di jalan Allah. Amal perbuatan kami di saat kalian pergi Haji atau melakukan Jihad hanya sebatas menjaga harta, mencuci pakaian, dan mendidik anak-anak kalian pula. Oleh kerana itu, kami ingin bertanya kepada kalian, apakah amal perbuatan kami itu pahalanya bisa disetarakan dengan amal perbuatan kalian?. Mendengar perkataan tersebut, Rasulullah sempat tersentak dan seketika itu langsung menoleh kepada para sahabatnya, seraya berkata "apakah kalian pernah mendengar sebuah perkataan yang lebih baik daripada perkataan seorang wanita yang sedang membahas permasalahan-permasalahan agamanya?.

Menjawablah para sahabat Rasul: 'wahai Rasul kami sama sekali tidak menyangka kalau para wanita mempunyai keinginan yang mulia semacam itu.' Kemudian Rasulullah menoleh kepada Asma' bin Yazid, seraya berkata: "engkau fahamilah dan sampaikanlah apa yang akan aku katakan nanti kepada wanita-wanita selainmu. Bahwa suami dengan baik, merawatnya di saat ia sakit, mematuhi perintahnya, pahalanya setara dengan amal perbuatan yang hanya bisa dikerjakan oleh para laki-laki tersebut." Mendengar jawaban Nabi itu, Asma' langsung beranjak pergi meninggalkan tempat itu seraya mengucapakan kalimat "Uia Ila Ha Ilia Allah"

la juga termasuk periwayat Hadits Nabi. Banyak sekali para perawi Hadits yang meriwayatkan Hadits darinya. la telah meriwayatkan sekitar 80 Hadits Nabi.

4.      Nasibah binti Ka’ab

Nama lengkapnya adalah Nasibah binti Ka'ab bin Umar bin Auf Al-Khazrajiah. la merupakan wanita pertama kaum Anshar yang bersedia berikrar kepada Nabi.

la pernah mendatangi Nabi dan berkata "aku tidak pernah melihat segala sesuatu kecuali hanya diperuntukkan kepada laki-laki. Keberadaan wanita sama sekali tak pernah dianggap." Menanggapi perkataan Nasibah itu, turunlah ayat yang mengatakan:" Sesungguhnya laki-laki dan perempuan-perempuan muslim, laki-laki dan perempuan-perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan-perempuan yang taat, laki-laki dan perempuan-perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan-perempuan yang penyabar, laki-laki dan perempuan-perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan-perempuan yang rajin bersedekah, laki-laki dan perempuan-perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan-perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan-perempuan yang senantiasa menyebut (nama) Allah, telah disiapkan oleh Allah sebuah ampunan dan pahala besar" (al Ahzab: 35).

la ikut serta dalam beberapa perang besar bersama Nabi. la berperan melayani dan membantu para mujahidin, memberi dorongan kepada orang-orang yang sedang berperang, menghilangkan keraguan pada diri mereka, dan bahkan di saat waktu memungkinkan ia juga tak ragu lagi untuk menghunus senjata dan berperang sebagaimana layaknya seorang perwira.

Ia bersama dengan suami dan anaknya terjun pula dalam perang Uhud. la sempat terluka parah di saat kemenangan mulai berada di pihak orang-orang kafir. Pakaiannya tercabik-cabik kerena sayapan senjata. la berada dalam naungan Rasulullah dalam keadaan tubuh penuh luka, akibat pukulan dan lemparan anak panah. Luka dalam tubuhnya sekitar 12 luka. Pada waktu itu, ibunya senantiasa mendampingi dan berusaha membalut luka-luka Nasibah itu.

Dan di saat Nabi hendak dibunuh oleh Ibnul Qum'ah, Nasibah merupakan orang yang melindungi Nabi. la melawan Ibn Qum'ah yang hendak membunuh Nabi dengan melontarkan beberapa pukulan kepadanya. Ibnul Qum'ah pun membalas pukulan-pukulan itu. la memukul pundak Nasiah hingga mengakibatkan goresan pada punggungnya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah membicarakannya: "bahwa derajat Nasibah pada hari ini lebih tinggi daripada derajat siapa pun, aku (Nabi) selalu melihatnya ditempat manapun, aku senatiasa melihat Nasibah sedang berperang dibelakangku." Nabi juga pernah berkata kepada anak Nasibah yang bernama Abdullah: "semoga Allah senantiasa memberkati kalian semua yang tergolong Ahli Bait. Derajat ibu mu lebih tinggi daripada derajat siapa pun. Derajat suami ibumu juga lebih tinggi daripada derajat siapa pun. Dan derajatmu pula lebih tinggi daripada derajatnya siapa pun. Allah benar-benar telah memberkati kalian semua yang termasuk Ahli Bait." Kemudian Nasibah berkata kepada Rasulullah: "wahai Rasul, berdo'alah kepada Allah agar kami bisa menyertaimu di surga nanti." Berdo'alah Rasulullah, "Ya Allah jadikanlah mereka teman-tetnanku di surga nanti." Mendengar do'a Rasulullah itu, Nasibah berkata: "aku tidak akan merasa resah setelah ini, dan aku tak akan merasa menderita kerena permasalahan-permasalahan duniawiku. "

Pada hari Hudaibiyyah, di saat kaum muslimin mendengar sebuah isu bahwa Utsman telah dibunuh oleh kaum Quraisy ditengah-tengah Nabi sedang menyurnpah orang-orang yang akan masuk Islam, Nasibah serentak berdiri dengan mengambil sebuah tongkat dan menjadikannya sebagai senjata. la memperuncing tongkat tersebut dengan pisau agar bisa dijadikan sebagai senjata yang mematikan.

Dan pada hari Khunain, ia pun ikut terjun dalam peperangan untuk semakin mengukuhkan kemenangan umat Islam. la membunuh seorang pemuda dari kabilah Hawazin yang sedang dalam keadaan terjepit, merebut senjatanya dan kemudian berperang lagi dengan menggunakan senjata itu.

la ikut pula memerangi orang-orang yang keluar dari agama Islam pada masa pemerintahan Abu Bakar. la juga ikut serta dalam perang Yamamah bersama Khalid bin Walid untuk menghadapi Musailamah 'sangpendusta'.

Namun, Musailamah malah memotong tangan Nasibah, dan melukainya sebanyak 10 luka, yang akhirnya menjadikan Abu Bakar menganjurkan agar Nasibah dibawa pulang. Dan tak hanya itu saja, Musailamah juga mampu membunuh anak Nasibah yang bernama Habib bin Zaed setelah terlebih dahulu ia potong tangan dan kakinya.

Salah satu Hadits yang diriwayatkan oleh Nasibah adalah: bahwasanya Rasulullah pernah mendatangi Nasibah seraya menawarkan makanan kepadanya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata kepadanya "makanlah", menjawablah Nasiah "aku sedang dalam keadaanberpuasa." Mendengar perkataan itu Rasulullah langsung bersabda "para Malaikat akan selalu melakukan shalat bagi orang-orang yang berpuasa sehingga mereka senantiasa merasa kenyang akibat shalat yang dilakukan oleh para Malaikat tersebut.

5.      Al Khansa’

la adalah binti Umar bin Kharis bin Syarit. la masuk Islam di saat mendatangi Nabi bersama dengan bani Syulaim. Semua pakar keilmuan telah sepakat bahwa tak ada seorang wanita pun, baik sebelum Khonsa' maupun sesudahnya, yang dapat menandingi kepiawaiannya dan bersya'ir. Ia dinobatkan sebagai penyair paling mahir di Arab secara mutlak.

Dan setelah ia masuk Islam, ia pun berujar "dulu aku menangisi kehidupanku, namun sekarang, aku menangis karena takut akan siksa neraka." Keempat anaknya pernah diberi hadiah oleh Umar bin Khattab, masing-masing dari mereka sebanyak 400 dirham.

Al Khansa’ terlibat pula dalam sebuah perang suci bersama ke empat anak laki-lakinya. la berkata kepada meraka "wahai anak-anakku! Kalian semua masuk Islam secara taat, tanpa ada tekanan dari siapapun. Kalian sendiri yang telah memilih hijrah. Demi Allah yang tak ada lagi Tuhan selain-Nya, kalian semua adalah laki-laki yang berasal dari satu wanita. Jangan kamu permalukan ayah, bibi, saudara, dan garis keturunanmu. Kalian semua telah mengetahui betapa besar pahala yang akan diberikan Allah kepada orang-orang yang memerangi orang-orang kafir. Ketahuilah kalian semua! Bahwa kehidupan akhirat lebih utama daripada kehidupan dunia.

Allah Subhanahn wa Ta'ala Berfirman "Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung." (AH Imran: 200), dan insya Allah kalian semua akan menyambut pagi dengan , selamat. Dan pada saat menjelang siang, berangkatlah kalian memerangi orang-orang kafir dengan penuh kecermatan. Allah akan selalu menjadikan musuh-musuhnya itu sebagai kaum yang kalah. Dan apabila kalian semua melihat peperangan telah berkecamuk, hadapilah dengan penuh semangat dan kelapangan hati."

Berangkatlah anak-anak Al Khansa' menuju medan perang dengan memegang teguh nasihat-nasihat dari ibunya. Mereka semua akhirnya mati terbunuh dalam peperangan itu. Namun, itu tak menjadikan Al Khansa' merasa sedih. Mendengar kabar ten tang kematian anak-anaknya di medan perang, ia malah besyukur kepada Allah. la berkata "segala puji bagi Allah yang telah memuliakanku dengan cara mematikan anak-anakku dalam keadaan syahid. Aku memohon kepada Allah agar bersedia menyatukanku kembali dengan anak-anakku di surga nanti.

Al Khansa' meninggal dunia pada tahun 24 Hijriah.

6. Ummu Sulaim

Nama aslinya adalah Syahlah binti Mulhan bin Khalid bin Zaid bin haram. la berasal dari kaum Ansar yang berkebangsaan al Khuzrajiah. la merupakan salah satu dari orang-orang yang awal masuk Islam.

Saudara laki-lakinya adalah Abdullah bin haram yang dianggap sebagai salah satu Qura' (orang-orang yang menghafal al Qur'an) yang meninggal dunia secara syahid di Bi'ri Maunah.

la disaat dipinang oleh abu Thalhah, ia berkata kepadanya "demi Allah tak ada satupun alasan yang bisa membuatku menolak lamaranmu itu. Namun, sangat disayangkan sekali, engkau adalah seorang kafir, sedang aku adalah seorang muslim. Oleh kerana itu, aku tak mungkin menikah denganmu. Seandainya engkau bersedia masuk Islam, itu akan aku anggap sebagai mas kawinku, dan aku tak akan meminta selain dari itu". Mendengar perkataan itu, abu Talhah bersedia masuk Islam, dan kelslamannya itu dianggap sebagai mas kawin bagi Ummu Sulaim.

la pernah datang bersama dengan anaknya kepada Rasulullah agar anaknya yang bernama Malik bin Anas bisa menjadi pembantu Rasul. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menerima tawaran itu. Akhirnya, Malik bin Anas mengabdikan dirinya kepada Rasulullah selama sepuluh tahun.

Di saat anak bin Thalhah dari istri Ummu Sulaim meninggal dunia, Ummu Sulaim berkata kepada keluarganya "janganlah kalian semua membicarakan anak abi Thalhah, sebelum aku sendiri mulai membicarakannya." Pada saat menjelang Isya', akhirnya abu Thalhah pun tiba. la lekas makan dan minum, dan Ummu Sulaim pun melayaninya sebaik mungkin. Setelah Abu Thalhah merasa kenyang dan merasa puas atas pelayanan istrinya itu, Ummu Sulaim pun mulai berkata kepadanya "ya abi Thalhah! Apabila ada sebuah kaum memamerkan kepada ahli bait tentang aib mereka, dan menuntut ahli bait juga harus memamerkan aib mereka, maka apakah ahli bait berkewajiban mencegah rencana mereka itu? Menjawablah abu Thalhah pertanyaan tersebut "tidak!." lalu berkatalah Ummu Sulaim, itulah yang menimpa anakmu sekarang ini." Marahlah abu Thalhah mendengar perkataan Ummu Sulaim itu. la langsung berkata kepada Ummu Sulaim: "tinggalkan aku dan jangan engkau datang lagi kesini tanpa membawa berita tentang keadaan anakku itu." Kemudian datanglah Rasulullah menghampiri percekcokkan tersebut. Rasulullah bertanya tentang permasalahan apa yang sebenarnya terjadi diantara kedua suami istri tersebut. Setelah megetahui apa yang sebenarnya, Rasul pun berkata "semoga Allah senantiasa memberikan kalianberdua berkah atas aib seseorang yang berusaha kalian tutup-tutupi."

Ummu Sulaim mempunyai peran yang sangat nyata pada saat terjadi perang Uhud. la selalu membawa sebuah pisau besar dan sekaligus berperan sebagai juru medis. la selalu menyediakan minuman bagi orang-orang yang sedang melakukan perang. la bahkan turut serta dalam perang Hanin, walaupun saat itu ia masih dalam keadaan hamil. Di tangannya selalu terhunus sebuah pisau besar. Ini terlihat dalam salah satu Hadits yang diriwayatkan oleh Anas Radhiyallahu Anhu, la berkata: "bahwa Ummu Sulaim selalu menghunus sebuah pisau besar dalam keadaan mengandung. Abu Thalhah melihat fenomena tersebut, dan ia pun berkata kepada Rasulullah " wahai Rasul! Ummu Sulaim senantiasa menghunus sebuah pisau besar." Kemudian Nabi bertanya kepada Ummu Sulaim tentang tujuannya membawa sebuah pisau besar pada saat mengandung. Ia pun menjawab pertanyaan Rasulullah itu: "pisau besar ini aku tujukan untuk merobek perut orang-orang musyrik di saat berdekatan denganku nanti. Sebab, mereka pasti mendekatiku pada saat aku melahirkan di medan perang nanti." Mendengar perkatan itu, Rasul pun tertawa riang.

D.    Para wanita sholihah dan mujahidah

1. Rabi’ah Adawiyah

Nama lengkapnya adalah Rabi'ah binti Ismail bin Hasan bin Zaid bin Ali bin Abi Thalib. la senantiasa dimintai sebuah fatwa dari beberapa pembesar-pembesar sufi masanya. Rasa ketakutannya kepada Allah telah menjadikannya sebagai seorang wanita yang senantiasa menangis. Ini tampak sekali di saat ia mendengar seorang laki-laki membaca ayat-ayat Al-Qur'an yang berhubungan dengan Neraka dihadapannya, ia langsung berteriak dan tersungkur kerana rasa ketakutannya terhadap api neraka. la senantiasa melakukan shalat malam secara penuh. Ketika fajar mulai menjelang, ia tidur sebentar ditempat shalatnya hingga pagi tiba.

Pada suatu waktu, datang seorang laki-laki memberikan uang sebanyak 40 dinar kepadanya. Ia berkata kepada Rabiah "gunakanlah uang ini untuk membantu keperluan-keperluanmu." Mendengar perkataan itu, Rabiah Adawiyah menangis. Ia menengadahkan mukanya ke langit, seraya berkata "Tuhan telah mengetahui, bahwa aku malu meminta barang-barang duniawi kepada-Nya, padahal la lah yang memiliki dunia ini. Oleh kerena itu, bagaimana mungkin aku akan meminta duniawi kepada orang yang sebenarnya tak memiliki duniawi itu?.

Air matanya selalu bercucuran di saat mengingat hari kematian. la laksana disambar petir di saat teringat hari kematian itu. Bahkan ia selalu merasa kaget dan merasa ketakutan sekali di saat terjaga dari tidurnya. la seraya berkata "wahai jiwaku!, berapa lama engkau tertidur dan berapa lama pula engkau dalam keadaan terjaga?. Aku benar-benar merasa ketakutan di saat engkau (jiwa) tertidur dan tak bangun lagi, sehingga yang ada dihadapanmu hanyalah hari kebangkitan."

Salah satu dari kata-kata bijaknya adalah: "sembunyikanlah kebaikanmu sebagaimana engkau selalu menyembunyikan kejelekanmu." la berkata: "wahai Tuhanku, ampunilah penyelewenganku selama ini, ampunilah aku!. la meninggal dunia di Baitul Muqdis pada tahun 135 Hijriah dengan Umur lebih dari 80 tahun. la dikafankan di dalam jubahnya sendiri yang berasal dari ayaman rambut, dan tutup dari kain bulu yang senantiasa ia gunakan pada saat shalat malam. Ini semua adalah karena wasiat yang ia berikan kepada pembantunya agar ia dikafankan semacam itu. Ia juga berwasiat agar ia dimakamkan di Baitul Muqdis.

Tidaklah benar sekali jika perkataan "aku tidak menyembahmu lantaran mengharap surga-Mu dan takut atas neraka-Mu, melainkan hanya karena kecintaanku kepada-Mu", berasal dari perkataan Rabi'ah Adawiyah. Dan sangat tidak benar sekali pula, jika tasawuf Rabi'ah Adawiyah identik dengan nilai-nilai yang dianggap sesat dalam dunia sufi. Semisal, kerinduan terhadap Tuhan, Fana' (peleburan diri seorang hamba dengan Tuhannya), persaksian langsung terhadap Tuhan, dan lain sebagainya.

2. Nafisah binti Hasan

Nama lengkapanya adalah Naf isah binti Hasan bin Zaid bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib. la lahir di Mekkah pada tahun 145 Hijriah dan merupakan anak dari seorang wali kota di Madinah. Namun pada masa pemerintahan Ja'far Al-Mansur, ayahnya harus digeser dari kedudukannya sebagai wali kota. Hartanya dirampas dan ia pun harus meringkuk di penjara. Namun, pada masa pemerintahan Al-Mahdi, jabatan dan seluruh harta bendanya yang pernah dirampas oleh Ja'far Al-Mansur, dikembalikan kembali.

la pernah pergi ke Baghdad untuk menjenguk ayahnya di saat masih dalam penjara. la telah menghafal Al-Qur'an semenjak kecil, dan sekaligus juga ikut mempelajari ilmu taf sir. la juga merupakan salah satu dari perawi Hadits. Maka tidaklah mengherankan lagi jika imam Syafi'i sendiri juga pernah meriwayatkan Hadits dari Nafisah. Dan tak hanya itu saja, imam Ahmad bin Hambal pun pernah pula meminta do'a kepada Nafisah. la menikah dengan anak pamannya yang bernama Al-Mu'tamin Ishaq bin Ja'far, dan dikaruniai dua orang anak yang diberi nama dengan Qasim dan Ummu Kultsum. la di saat melakukan ibadah haji, pernah memegang kain penutup Ka'bah seraya berkata "ya Tuhanku, ya Tuanku, ya Majikanku, senangkanlah aku dengan keridhoan-Mu kepadaku." la pada masanya, dikenal sebagai wanita yang mempunyai do'a sangat mujarab.

Bibinya pernah memintanya untuk mau memperhatikan dan menyanyangi dirinya sendiri. Namun, Rabi'ah malah menjawab, "ya bibiku, barang siapa yang senantiasa berada dijalan Tuhan secara terus menerus, maka alam semesta ini akan berada ditangan dan kehendaknya pula."

la tak pernah memakan makanan selain dari harta suaminya sendiri, lantaran rasa malu dan kehatian-hatiannya memakan makanan yang tak jelas halal dan haramnya. la pernah berkunjung ke Mesir dan disambut dengan riang gembira oleh masyarakat setempat. Sehingga di saat Imam Syafi'i meninggal dunia, ia sangat berduka sekali, dan meminta agar jenazah imam Syafi'i disinggahkan di dalam rumahnya agar ia bisa menshalati Imam Syafi'i dan sekaligus mendo'akannya.

Penduduk Mesir pernah mengadukan kedzaliman bani Thalun kepada Nafisah. la lantas menyikapi pengaduan itu dengan cara menempelkan sepucuk surat di seberang jalan. la mengatakan dalam suratnya itu "Engkau semua yang telah menjadikannya raja, namun engkau semua pula telah diperbudaknya. Engkau semua yang telah memberikannya kekuatan, namun engkau semua pula yang malah ditindasnya. Engkau semua yang telah memberikannya sebuah pemerintahan, namun engkau semua yang akhirnya menyesal atas pemberian itu. Dulunya kalian semua dalam keadaan makmur, namun karenanya lah kamakmuran itu pergi. Maka ketahuilah kalian semua, berdo'a di malam hari demi sebuah kemaslahatan pasti terkabulkan. Apalagi do'a ituberasal dari hati-hati yang merasa kecewa, orang-orang yang sedang dilanda kelaparan, dan orang-orang yang sudah sangat susah sekali mendapatkan pakaian yang layak. Dan ketahuilah kalian semua, sangat mustahil sekali jika seorang dzalim masih bisa hidup di saat orang yang di dzalimi telah meninggal dunia. Dan ketahuilah (wahai pemerintah) bahwa kejahatan-kejahatan kalian selama ini, kami sikapi dengan penuh kesabaran. Berlakulah jahat terus, sehingga kita akan terus menjadi orang-orang yang teraniaya. Danbertindaklah dzalim terus, dan kita disini akan menjadi orang-orang yang terdzalimi. Dan ketahuilah,

bahwasanya orang-orang yang senatiasa berlaku dzalim suatu saat pasti akan jatuh." Membaca tulisan nafisah itu, bani Thalun merasa gemetaran dan takut, sehingga ia bersedia menjalankan sebuah pemerintahan yang adil dan bijaksana.

Pada akhirnya, ia merasa bahwa berada ditengah-tengah masyarakat akan mengganggu konsentrasinya dalam melakukan ibadah. la mulai memantapkan hati untuk meninggalkan Mesir dan kembali menuju Madinah. Namun, masyarakat setempat tidak ingin berpisah dengannya. Maka wali kota berusaha mencarikan jalan tengah antara keinginan masyarakat setempat dengan keinginan suci Nafisah. Oleh karena itu, wali kota mendirikan sebuah rumah untuk Nafisah yang berada jauh dari keramaian manusia, dan menjadwal hari berkunjung masyarakat kepada Nafisah, yaitu pada tiap hari sabtu dan rabu saja.

Ia menggali kuburan di dalam rumahnya sendiri di saat ia mulai merasa sakit. la senantiasa melakukan shalat dan mampu mengkhatamkan al-Qur'an sebanyak 190 kali di dalam kuburannya itu. la pernah diundang dalam sebuah jamuan, dan ditawari sebuah makanan kepadanya. Namun ia dalam keadaan puasa. la berkata kapada orang-orang tersebut, "sangat mengherankan sekali, selama 30 tahun lamanya aku meminta kepada Allah agar bisa menemui-Nya sedang aku dalam keadaan berpuasa. Apakah aku harus berbuka sekarang? Ini semua tidak akan pernah ada selamanya."

la meninggal dunia di saat membaca surat al An'am. Tepatnya pada ayat: "Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Tuhannya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal shaleh yang selalu mereka kerjakan", (al An'am: 127). Setelah membaca ayat itu, ia lantas tertidur dan kemudian meninggal dunia. Ini terjadi pada tahun 207 Hijriah. la dimakamkan di Mesir, tepatnya di kota Kairo.

3. Hafsah binti Sirin

Ia adalah saudara perempuan Muhammad bin Sirin: seorang Tabi'in yang senantiasa beribadah dan sekaligus ahli dalam bidang fikih.

Khafasah hafal Al-Qur'an dengan sangat baik semenjak berusia 12 tahun. Bahkan Muhammad bin Sirin sendiri di saat merasa kesukaran dalam memahami sesuatu yang berhubungan dengan al Qur'an, memerintahkan kepada muridnya untuk pergi menghadap Haf sah. la berkata "menghadaplahkalian semua kepada Hafsah, dan bertanyalah kepadanya tentang bagaimana cara ia memahami permasalahannya ini (pemasalahan yang bersangkutan dengan Al-Qur'an). Sebab, ia bagaikan orang yang telah meminum bahtera keilmuan yang ada dalam Al-Qur'an."

Kemuliaannya sangat dikenal oleh ulama-ulama semasanya. Terbukti dari perkataan lyyas bin Muawwiyah: "aku tak pernah melihat satu pun orang yang lebih mulia dari Hafsah binti Sirin." Khasan Basri dan bin Sirin sendiri juga mengakui, tak ada seorang pun yang bisa menandingi keutamaan Hafsah. Sehingga tidaklah mengherankan lagi, jika bin Dawud menggolongkannya sebagai wanita-wanita mulai dari kalangan para Tabi'in.

la selalu berpuasa selama setahun penuh, kecuali pada hari-hari yang tak diperbolehkan melakukan puasa.

Setiap malam ia selalu membaca separuh dari ayat-ayat al Qur'an. Ia mempunyai sebuah kain kaf an yang senantiasa ia pakai di saat menunaikan ibadah Haji maupun di saat sedang melakukan ibadah di malam kesepuluh hari terakhir pada bulan suci Ramadhan.

Salah satu dari kata-kata bijaknya adalah "wahai para pemuda, pergunakan waktumu sebaik-baiknya di saat kalian dalam keadaan muda. Sesungguhnya, aku melihat banyak sekali amal perbuatan yang bisa dilakukan oleh para pemuda."

la mengambil riwayat Hadits dari saudara laki-lakinya sendiri yang bernama Yahya, begitu pula dari Anas bin Malik, Ummu Athiah al Anshariah, dan selain dari mereka.

Sedang orang-orang yang mengambil periwayatan Hadits darinya adalah Muhammad bin Sirin, Qatadah, Asyim al Ahwal dan selainnya.

Ibni Hibban, Yahya bin Muayyan dan Ahmad bin Abdullah, menganggap Hafsah termasuk para perawi Hadits yang dapat dipercaya.

Ia meninggal dunia di Madinah pada tahun 101 Hijriah dengan usia mendekati 70 tahun.

4. Muadzah Al Adawiyyah

Gelarnya adalah Ummu Sahba'. la merupakan salah satu dari para Tabi'in yang ikut meriwayatakan Hadits Nabi. la adalah istri dari Shilah bin Asyim, seorang Tabi'in yang konon juga merupakan seorang sahabat Nabi. Abu Nairn setelah memuji Shilah bin Asyim dalam kitabnya yang berjudul Huliyah Auliaya' mengatakan "bahwa Shilah bin Asyim mempunyai seorang istri yang bernama Muadzah al Adawiyyah. la seorang wanita yang terpercaya, argumentatif, pandai dan sekaligus senantiasa melakukan ibadah."

la pernah berkata: "aku telah menjalani kehidupan di dunia ini selama 70 tahun. Selama itu pula aku tak pernah melihat sesuatu yang bisa menggembirakanhati dan mataku."

Di saat Syilah sedang terjun dalam sebuah peperangan bersama anak laki-lakinya, ia berkata "dimana anakku?" Setelah mendapatkan anaknya, ia langsung merangsak maju berperang dengan membawa anaknya, sehingga ia pun harus gugur di medan laga. Melihat musibah yang sedang dialami oleh Muadzah lantaran kematian suaminya, para wanita-wanita berkumpul pada sebuah tempat dan kemudian beranjak untuk mengunjungi Muadzah. Muadzah berkata kepada mereka " selamat datang, apabila kalian semua datang untuk menenangkanku, maka aku menerima kehadiran kalian. Dan apabila bukan karena itu, maka kembalilah."

la sangat tekun melakukan shalat malam. Dan ini sangat terkenal sekali dikalangan umat Islam waktu itu. Ia senantiasa melakukan sholat malam sampai menjelang masa sahur. Berkatalah Az-Zhahabi kepada Muadzah: "aku telah mendengar kabar bahwa engkau senantiasa melakukan ibadah malam", maka menjawablah Muadzah "aku sungguh merasa heran dengan mata yang senantiasa tertidur. Bagaimana tidak, dikuburan nanti mata kita akan senatiasa tertidur dan tak akan pernah bisa melakukan ibadah lagi."

la pernah berkata: "demi Allah, aku tak mencintai kehidupan ini kecuali karena ingin berdekatan dengan-Mu. Semoga dengan kedekatanku kepada-Mu ini, Engkau mau mengumpulkan aku kembali dengan suami dan anakku dalam surga." la sangat mencintai suaminya. la setelah ditingal mati oleh suaminya tak pernah lagi tidur diatas ranjang. la senantiasa tidur diatas lantai, dengan harapan bisa bertemu kembali dengan suaminya dalam mimpi. la meninggal dunia pada tahun 83 Hijriah.

5. Zaenab Al Ghazali

Nama lengkapnya adalah Zaenab Muhammad al Ghazali al Jibili. la lahir pada tahun 1917 Masehi di desa Mayyet Ghamar di sebuah propinsi yang bernama Daqhiliyyah di Mesir. Ayahnya merupakan salah satu ulama Al Azhar. la belajar di sebuah madrasah di kampung halamannya sendiri. la belajar ilmu-ilmu agama di bawah asuhan para ulama-ulama besar al Azhar. Diantara ilmu-ilmu yang ia pelajari adalah Ilmu Hadits, Tafsir, dan Fikih.

la merupakan anggota termuda dari perkumpulan wanita-wanita mesir dibawah pimpinan Hadi Sya'rawi. Namun, akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari perkumpulan tersebut di saat mengetahui adanya prilaku-prilaku yang tak selaras dengan ajaran Islam. Ia kemudian mendirikan komunitas wanita-wanita muslim pada tahun 1937 di Kairo. Umurnya pada saat itu masih sekitar 19 tahun.

Adapun tujuan mendirikan komunitas itu agar diterapkannya syari'at Islam dan didirikannya kekhalif ahan Islam. Pada tiap-tiap tahunnya ia selalu mengirim 340-400 delegasi untuk melakukan ibadah Haji. la sendiri yang memimpin delegasi-delegasi itu.

Tujuan pengiriman delegasi-delegasi itu adalah untuk menemui sejumlah jamaah haji yang berasal dari penjuru dunia. Delegasi-delegsi itu selalu membahas masalah-masalah pokok dalam Islam dengan para jamaah haji tersebut. Isu-isu yang selalu mereka kembangkan adalah seputar perbaikan umat Islam, mengembalikan kembali kekhalifahan Islam, dan sekaligus bagaimana membangkitkan kembali masa ke emasan Islam.

la bertemu dengan imam Syahid Hasan al Bana pada tahun 1941 Masehi. Hasan al Bana membai'at Zaenab untuk turut serta melakukan perjuangan bersama Ihwan Muslimin. Sebab, tujuan dan landasan perjuangan mereka adalah sama. Dan pada tahun 1980, ia mendirikan majalah perkumpulan wanita-wanita muslim (Sayyidah Muslimah), dan dibubarkan pada tahun 1985. la juga memimpin salah satu devisi yang ada dalam organisasi Ikhwan Muslimin. la serta merta membantu keluargaIkhwan Muslimin di saat kelompok ini di intimidasi oleh pemerintah pada tahun 1954. Dan pada tahun 1964, perkumpulannya tersebut dibubarkan oleh tentara dengan menyita harta dan kepemilikan mereka.

Pada tahun 1965, ia ditangkap oleh pemerintah dengan tuduhan terlibat dalam sebuah kasus yang ada pada diri Ikhwan di saat bersitegag dengan pemerintah. Pemerintah menutut kepada parlemen menjatuhi hukumi mati kepada Zaenab. la sebelum dipastikan sebagai tawanan perang, telah menerima berbagai macam siksaan dipenjara.

la akhirnya dijatuhi hukuman penjara selama 25 tahun, dan diharuskan melakukan kerja berat selama menjalani masa hukuman. la menulis kesengsaraannya itu dalam sebuah buku yang berjudul "Ayyam min Hayyati" (hari-hari dalam kehidupanku).

Melalui bantuan raja Faisal dari Arab Saudi, sekitar pada tahun tujuh puluhan, keluarlah ketetapan dari pemerintahan Anwar Sadat untuk membebaskan Zaenab dari penjara. la telah diampuni oleh pemerintah atas segala perbuatannya yang dianggap merugikan negara. Ini terjadi pada bulan Agustus tahun 1971, yaitu setelah menjalani masa-masa dipenjara selama 6 tahun.

Setelah keluar dari penjara, ia dianjurkan untuk menghidupkan kembali majalah Sayyidat Muslimah dengan menjadikan dirinya sebagai direkturnya. la akan menerima kucuran dana sebanyak 300 Pouns perbulan, dengan catatan harus bersedia mengusung kepentingan-kepentingan pihak donatur. la serentak menolak, dan mengatakan bahwa mustahil baginya mendirikan sebuah penerbitan untuk mengusung pemikiran-pemikiran sekuler. la mengatakan pula bahwa penerbitan ini didirikan untuk kepentingan Islam danbukan untuk kesesatan.

Setelah keluar dari penjara ia ingin meneruskan perannya dalam bidang da'wah. la melalui melakukan pengajian-pengajian dan seminar-seminar di Mesir sediri maupun diluarnya.

Adapun negara-negara yang pernah ia kunjungi adalah Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, Yordania, al Jazair, Turki, Sudan, India, Francis, Amerika, Kanada, Spanyol, dan lain sebagainya.

Suaminya yang berperan sebagai seorang ekonom yang bernama Haji Muhammad Salim meninggal dunia pada tahun 1966 Masehi. Yaitu di saat Zaenab masih berada di dalam penjara. la tak dikarunia seorang anak pun. Namun, ia menganggap bahwa semua anak-anak Islam merupakan anak-anaknya juga.

la sangat memfigurkan seorang Hasan al Bana. la menganggap bahwa di antara orang-orang yang telah mempengaruhi kehidupannya, semisal Hasan al Hudhaibi, Umar al Tilmisani, Hamid abu Nasir, dan Hasan al Bana lah yang paling banyak berpengaruh pada pembentukan jiwa dan sikap hidupnya. Diantara karya-karya tulisnya yang terkenal adalah "Ayyam min Khayati", Nahwa Ba 'su Jadid, Maa Kitabullah, Muskilatu Sabab wa Fatayat."

 

Referensi:

Muhammad Saa’id Muri, 2003, Tokoh-tokoh besar Islam sepenjang sejarah, Jakarta: Pustaka Al Kaustar.

Mahmud Al Mishri, 2006, 35 Sirah Shahabiyah, Jakarta: Al I’tishom.

 

Berikut ini akan dikisahkan para wanita yang telah mengukir sejarah. Kisahnya diambil dari buku Kisah Para Nabi  karya Ibnu Katsir.

 

SITI HAWA

Siti Hawa adalah istri Nabi Adam AS. Kalau Nabi Adam AS adalah bapak manusia, maka Siti Hawa adalah ibu manusia. Allah SWT menciptakan Siti Hawa dari tulang rusuk Nabi Adam AS, saat beliau dalam keadaan tidur di sorga.

Abu Shalih dan Abu Malik, Ibnu Abbas, Murrah, Ibnu Mas’ud, dan beberapa sahabat mengatakan, “Allah Ta’ala mengeluarkan Iblis dari surge dan menempatkan Adam ke dalamnya. Di dalamnya Adam berjalan sendirian tanpa istri yang menemaninya. Lalu ia tertidur sejenak hingga akhirnya terbangun, tiba-tiba di samping kepalanya sudah ada seorang wanita yang duduk yang telah diciptakan Allah Azza wa Jalla dari tulang rusuknya. Kemudian Adam bertanya, ‘Apa jenis kelaminmu?’ ‘Aku ini seorang wanita,’ jawabnya. Lebih lanjut ia bertanya, ‘Dan untuk apa engkau diciptakan?’ Ia menjawab, ‘Supaya engkau merasa tenang denganku.’ Para malaikat pun bertanya kepadanya, ‘Siapa nama wanita itu, hai Adam?’ ‘Hawa,’ sahutnya. ‘Mengapa bernama Hawa?’ tanya para malaikat. Adam menjawab, ‘Karena ia diciptakan dari sesuatu yang hidup.’”

Yang demikian itu sejalan dengan firman Allah,

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (An-Nisa’:1)

Dan firman Allah,

Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, istrinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami istri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: "Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur". (Al-A’raf:189)

Tentang penciptaan Siti Hawa dari tulang rusuk ditegaskan dalam hadits,

“Berikanlah wasiat yang baik kepada wanita, karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk. Sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah tulang rusuk yang paling atas. Jika engkau berusaha meluruskannya (dengan keras), maka ia akan mematahkannya. Dan jika engkau membiarkannya, maka ia akan senantiasa bengkok. Maka berwasiatlah dengan kebaikan kepada kaum wanita.” (HR. Bukhari)

Siti Hawa adalah wanita yang paling cantik dan tidak ada wanita yang menyerupai Siti Hawa kecuali Sarah, istri Nabi Ibrahim AS. Demikian yang dikemukakan oleh As-Suhaili (Kisah Para Nabi, hlm. 281).

Siti Hawa melahirkan seratus dua puluh kali, yang setiap kalinya melahirkan dua orang anak; laki-laki dan perempuan. Yang tertua adalah Qabil dengan kembarannya, Iqlima. Dan dua anak kembar yang paling bungsu adalah Abdul Mughits dan Ummul Mughits.

Sebagaimana Nabi Adam AS, maka Siti Hawa adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah SWT, karena keduanya diciptakan langsung dengan TanganNya.

SITI SARAH

Siti Sarah adalah istri pertama Nabi Ibrahim AS. Nabi Ibrahim AS menikahi Siti Sarah ketika masih di Babilonia, tanah kelahirannya. Siti Sarah adalah seorang wanita yang mandul, tidak dapat melahirkan keturunan.

Siti Sarah menemani Nabi Ibrahim AS ketika hijrah ke tanah orang-orang Kan’an (Baitul Maqdis), bersama ayahnya Nabi Ibrahim AS dan keponakannya, Nabi Luth AS. Mereka singgah di Huran, dan di sanalah ayah Nabi Ibrahim AS meninggal dalam usia 250 tahun.

Saat itu, tidak ada yang beriman kepada Allah SWT di dunia ini kecuali tiga orang: Nabi Ibrahim AS, SIti Sarah, dan Nabi Luth AS.

Siti Sarah juga pernah menemani Nabi Ibrahim AS ke Mesir. Di sanalah terjadi peristiwa sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah,

“Ibrahim tidak pernah berbohong kecuali tiga kali: Dua kali di antaranya berkenaan dengan Dzat Allah, yaitu firmanNya, ‘Sesungguhnya aku sakit.’[1]  Dan firmanNya, ‘Sebenarnya patung besar itulah yang melakukannya.’[2] Kemudian Abu Hurairah melanjutkan, Dan pada suatu hari, ketika ia sedang bersama Sarah, tiba-tiba datang seorang penguasa zhalim. Dikatakan kepadanya, ‘Di sini ada seorang yang bersamanya, seorang wanita yang sangat cantik. Kirimkan orang kepadanya untuk menanyakan siapakah wanita itu sebenarnya. Ia bertanya, ‘Siapakah wanita ini?’ Ibrahim menjawab, ‘Ia adalah saudara perempuanku.’ Lalu Ibrahim mendatangi Sarah seraya berkata, ‘Hai Sarah, di muka bumi ini tidak ada orang yang beriman selain diriku dan dirimu, dan orang ini menanyakan kepadaku tentang dirimu, maka kuberitahukan bahwa engkau adalah saudara perempuanku. Maka janganlah engkau berbohong kepadaku.’

Kemudian dikirim utusan kepada Sarah. Ketika Sarah menemui Ibrahim, Ibrahim langsung menariknya dengan kuat, lalu Ibrahim berkata, ‘Berdoalah kepada Allah untukku, aku tidak akan mencelakaimu.’ Maka Sarah pun berdoa kepada Allah, lalu Ibrahim melepaskannya. Setelah itu ia menariknya lagi, dengan genggaman yang lebih kuat seraya berkata, ‘Berdoalah kepada Allah untukku, dan aku tidak akan mencelakaimu.’ Sarah pun berdoa, lalu Ibrahim melepaskannya.

Kemudian penguasa itu memanggil sebagian pengawalnya dan mengatakan, ‘Kalian tidak membawa manusia kepadaku, tetapi membawa setan. Jadikanlah ia (Sarah) itu sebagai budak Hajar.’

Selanjutnya Sarah mendatangi Ibrahim ketika sedang shalat. Lalu Ibrahim memberikan isyarat dengan tangannya, ‘bagaimana kabarnya?’ Sarah menjawab, ‘Allah telah menolak tipu daya orang-orang kafir, dan aku bertugas mengabdi kepada Hajar.’

Siti Sarah adalah wanita yang sangat dicintai oleh Nabi Ibrahim AS karena ketaatan Siti Sarah pada agama, kedekatannya, serta kecantikannya.

Dari Mesir Siti Sarah menemani suaminya ke negeri Tayamun, tempat yang pernah ditinggali oleh Nabi Ibrahim AS sebelumnya. Bersamanya berbagai macam binatang ternak, budak, dan harta benda yang melimpah dengan ditemani oleh Siti Hajar.

Setelah lahirnya Ismail dari Siti Hajar, Siti Sarah belum juga dikaruniai anak. Akan tetapi, akhirnya Allah memberinya anak (Ishaq) yang beritanya langsung disampaikan oleh para malaikat sebagaimana disebutkan dalam Surat Hud ayat 69-74 dan Adz-Dzariyat ayat 24-30. Ishaq lahir setelah tiga tahun lahirnya Ismail.

Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: "Salaman" (Selamat). Ibrahim menjawab: "Salamun" (Selamatlah), maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata: "Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Lut." Dan istrinya berdiri (di balik tirai) lalu dia tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir putranya) Yakub. Istrinya berkata: "Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula? Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh. Para malaikat itu berkata: "Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah." Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya, dia pun bersoal jawab dengan (malaikat-malaikat) Kami tentang kaum Lut. (QS. 11:69-74)

Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim (malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: "Salaaman", Ibrahim menjawab: "Salaamun" (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal. Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar), lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim berkata: "Silakan kamu makan". (Tetapi mereka tidak mau makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata: "Janganlah kamu takut," dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak). Kemudian istrinya datang memekik (tercengang) lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata: "(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul". Mereka berkata: "Demikianlah Tuhanmu memfirmankan". Sesungguhnya Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. 51:24-30)

Siti Sarah meninggal dunia lebih awal dari Nabi Ibrahim AS di Habrawan yang terletak di negeri Kan’an dalam usia 127 tahun. Nabi Ibrahim AS merasa bersedih atas meninggalnya Siti Sarah, dan bahkan sempat menangis karenanya. Kemudian ia membeli sebidang tanah kepada Afrun bin Shakhr dan dikebumikan di tanah tersebut.

SITI HAJAR

Sebagaimana telah disebutkan di kisah Siti Sarah, Siti Hajar berasal Qibhti (Mesir). Ia adalah istri kedua Nabi Ibrahim AS. Istri Nabi Ibrahim AS sendiri ada empat orang; yang ketiga adalah Qanthura binti Yaqthan dan Hajun binti Amin.

Pernikahannya dengan Nabi Ibrahim AS setelah Siti Sarah mengijinkannya. Ijin itu dikemukakan setelah mereka menetap di Baitul Maqdis selama 20 tahun. Siti Sarah berkata, “Sesungguhnya Tuhan telah mengharamkan bagiku anak, maka menikahlah dengan ibuku ini, mudah-mudahan darinya Allah mengaruniakan anak untukku.”

Ketika hamil, Siti Hajar merasa lebih dari Siti Sarah sehingga Sarah cemburu dan melaporkan hal itu kepada Nabi Ibrahim. Maka beliau berkata, “Lakukan apa saja yang engkau kehendaki kepadanya.”

Maka Hajar pun takut dan melarikan diri hingga akhirnya singgah di sebuah sumber air. Salah satu malaikat berkata kepadanya, “Janganlah engkau takut, sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah menjadikan anak yang engkau kandung ini seorang yang baik.” Setelah itu malaikat itu menyuruhnya kembali sembari memberitahukan bahwa anak yang akan dilahirkannya itu berjenis kelamin laki-laki dan diberi nama Ismail. Maka Hajar pun bersyukur kapada Allah SWT atas karunia yang telah Dia berikan kepadanya.

Kehamilan Siti Hajar membuat Siti Sarah tergoncang. Itulah kenapa Siti Hajar kemudian mengenakan stagen untuk menutupi kehamilannya demi menjaga perasaan Siti Sarah. Rasulullah SAW bersabda,

 

أَوَّلَ مَا اتَّخَذَ النِّسَاءُ الْمِنْطَقَ مِنْ قِبَلِ أُمِّ إِسْمَاعِيلَ اتَّخَذَتْ مِنْطَقًا لَتُعَفِّيَ أَثَرَهَا عَلَى سَارَةَ

“Wanita pertama yang mengenakan stagen adalah Ummu Ismail (Siti Hajar). Dia mengenakan stagen untuk menutupi kehamilannya di hadapan Siti Sarah” (HR Bukhari)

Setelah melahirkan Ismail maka kecemburuan Sarah semakin besar. Kemudian Sarah meminta agar Ibrahim menyuruh Hajar pergi sehingga wajahnya tidak terlihat olehnya. Maka Ibrahim membawanya pergi bersama anaknya, Ismail. Dengan keduanya itu Ibrahim melintasi berbagai tempat sehingga akhirnya meletakkan keduanya di tempat yang sekarang di sebut kota Mekkah.

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (Ibrahim: 37)

 

Ditinggal di tempat gersang dan sepi seperti itu tentu hal yang aneh. Semula Siti Hajar terus mendesak Nabi Ibrahim dengan pertanyaan yang bernada gugatan:

يَا إِبْرَاهِيمُ أَيْنَ تَذْهَبُ وَتَتْرُكُنَا بِهَذَا الْوَادِي الَّذِي لَيْسَ فِيهِ إِنْسٌ وَلَا شَيْءٌ

“Wahai Ibrahim, kemana engkau akan pergi, sedangkan kami engkau tinggalkan di lembah ini, yang tiada manusia dan apapun jua?” (HR Bukhari)

 

Siti Hajar mengulangi pertanyaan itu berkali-kali, tapi tidak ada jawaban dari Nabi Ibrahim as. Tapi ma’rifahnya kepada Allah membuatnya menanyakan hal lain:

أَاللَّهُ الَّذِي أَمَرَكَ بِهَذَا قَالَ نَعَمْ قَالَتْ إِذَنْ لَا يُضَيِّعُنَا

“Apakah Allah yang memerintahkan hal ini kepadamu?” Ibrahim menjawab, “Ya.” Siti Hajar berkata, “Kalau begitu Allah tidak akan menyia-nyiakan kami” (HR Bukhari)

Lihatlah apa yang Siti Hajar katakan saat mengetahui bahwa perlakuan suaminya adalah perintah Allah: إِذَنْ لَا يُضَيِّعُنَا “Kalau begitu Allah tidak akan menyia-nyiakan kami”

Dalam hadits lain yang juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari Siti Hajar berkata:

يَا إِبْرَاهِيمُ إِلَى مَنْ تَتْرُكُنَا قَالَ إِلَى اللَّهِ قَالَتْ رَضِيتُ بِاللَّهِ

“Wahai Ibrahim, kepada siapa engkau tinggalkan kami?” Nabi Ibrahim menjawab, “Kepada Allah.” Siti Hajar berkata, “Aku ridha kepada Allah”. (HR Bukhari)

 

Sebuah sikap ridha yang luar biasa terhadap ketentuan Allah. Sikap ridha Siti Hajar juga terlihat ketika putranya semata wayang, Ismail, harus disembelih karena itu merupakan perintah Allah. Padahal kita tahu bagaimana perjuangan beliau menyelamatkan Ismail dari kelaparan kemudian membesarkannya sendirian, tanpa bantuan dari sang suami, Nabi Ibrahim as.

Jika kita memiliki sikap ini, maka Allah pun akan ridha kepada kita. Rasulullah SAW bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ أَوْ إِنْسَانٍ أَوْ عَبْدٍ يَقُولُ حِينَ يُمْسِي وَحِينَ يُصْبِحُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُرْضِيَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Tidak ada seorang Muslim atau manusia atau hamba yang berkata ketika petang dan pagi, ‘Aku ridha Allah robbku, Islam agamaku, dan Muhammad nabiku’, kecuali Allah pasti ridha kepadanya pada hari kiamat” (HR Ibnu Majah)

IBUNDA NABI MUSA AS

Bani Israil hidup dalam penindasan Fir’aun. Dalam kondisi demikian, mereka meyakini bahwa akan lahir seorang pemuda yang akan menghancurkan Mesir dengan tangannya.

Abu Shalih dan Abu Malik, Ibnu Abbas, Murrah, Ibnu Mas’ud, dan beberapa sahabat mengatakan bahwa Fir’aun pernah bermimpi seolah-olah ia menyaksikan api berkobar dari arah Baitul Maqdis sehingga membakar rumah-rumah bangsa Mesir dan seluruh masyarakat Qibthi, tetapi api tersebut tidak mencelakai Bani Israil. Setelah bangun tidur, hal itu membuatnya sangat takut. Kemudian ia mengumpulkan dukun, para normal, dan tukang sihir, untuk menanyakan ta’bir mimpi tersebut. Maka mereka menjawab, “Anak laki-laki itu akan dilahirkan dari mereka, dan sebab kehancuran bangsa Mesir berada di tangan anak laki-laki tersebut.” Karena itu, ia menyuruh membunuh semua anak laki-laki dan membiarkan hidup semua anak perempuan.

Masyarakat QIbthi pernah mengadu kepada Fir’aun mengenai minimnya jumlah orang-orang Bani Israil akibat pembantaian dan pembinasaan anak laki-laki mereka. Akhirnya kebijakan Fir’aun berubah: Setahun membunuh dan setahun membiarkannya. Musa lahir pada tahun pembunuhan, sedangkan Harun lahir pada tahun dibiarkannya lahir anak laki-laki.

Hal itulah yang membuat takut Ibunda Musa saat Musa lahir. Tapi Allah SWT memberinya ilham,

Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; "Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul. Maka dipungutlah ia oleh keluarga Firaun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Firaun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah. Dan berkatalah istri Firaun: "(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak", sedang mereka tiada menyadari. Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah). Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan: "Ikutilah dia" Maka kelihatanlah olehnya Musa dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya, dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui (nya) sebelum itu; maka berkatalah saudara Musa: "Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlulbait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?" Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. (QS. 28:7-13)

SITI ASIYAH

Ketika Musa yang masih bayi dihanyutkan ke sungai, maka akhirnya melewati tempat tinggal Fir’aun. Maka dipungutlah ia oleh keluarga Firaun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka (QS. 28:8). Para budak perempuan telah memungut Musa AS dari sungai yang dihanyutkan dalam peti tertutup. Namun mereka tidak berani membukanya sehingga mereka meletakkannya di hadapan isteri Fir’aun yang bernama Asiyah binti Muzahim bin Ubaid bin Rayyan bin Al-Walid. Ia berasal dari Bani Israil.

Setelah Asiyah membuka penutup peti tersebut dan menyingkap tabirnya, maka ia melihat wajahnya cerah bersinar dengan cahaya kenabian dan keagungan. Pada saat melihatnya itu, ia sangat menyukai dan mencintainya sehingga pada saat datang Fir’aun bertanya, “Siapa anak ini?” Dan Fir’aun sempat menyuruh untuk menyembelih anak tersebut. Maka Asiyah memintanya agar tidak membunuhnya seraya berkata, "(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak” (QS. 28:9). Maka Fir’aun berkata kepadanya, “Menurutmu itu memang benar, tetapi bagiku itu sama sekali tidak benar.”

Karena keimanan Siti Asiyah yang kuat, maka ia memiliki kedudukan yang istimewa di sisi Allah. Rasulullah SAW bersabda, “Pemuka kaum wanita penghuni surge adalah Maryam binti Imran, lalu Fatimah binti Muhammad, lalu Khadijah binti Khuwailid, dan kemudian Asiyah istri Fir’aun.” (HR. Al-Hafizh Abu Qasim dan Abu Hatim Ar-Razi)

“Banyak dari kaum laki-laki yang sempurna, dan tidak yang sempurna dari kaum wanita kecuali Asiyah istri Fir’aun, Maryam binti Imran, dan keutamaan Asiyah atas wanita-wanita lainnya adalah seperti keutamaan bubur atas suluruh makanan lainnya.” (HR. Bukhari-Muslim)

Keduanya adalah orang yang diserahi untuk memelihara dan membesarkan Nabi ketika masih kecil. Asiyah memelihara Musa AS, sedangkan Maryam memelihara Isa AS.

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ آمَنُوا امْرَأَتَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Dan Allah membuat istri Firaun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: "Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang lalim" (QS. 66:11)

Kelak di surga, Asiyah akan menjadi istri Rasulullah SAW sebagaimana disebutkan dalam hadits,

“Sesungguhnya Allah akan menikahkan diriku di surga kelak dengan Maryam binti Imran, istri Fir’aun, Asiyah, dan saudara perempuan Musa.” (HR. Thabrani). Diriwayat lain disebutkan bahwa nama saudara perempuan Musa AS adalah Kultsum.

Rasulullah SAW pernah masuk menemui Khadijah ketika sedang sakit yang menyebabkan kematiannya. Beliau bersabda, “Wahai Khadijah, jika kamu bertemu dengan wanita-wanita yang menjadi madumu kelak, sampaikan kepada mereka salam dariku.” Khadijah bertanya, “Ya Rasulullah, apakah engkau pernah menikah sebelumku?” Beliau menjawab, “Tidak, tetapi Allah telah menikahkan aku dengan Maryam binti Imran, Asiyah binti Muzahim, dan Kultsum saudara perempuan Musa.” (HR. Ibnu Asakir)

SITI MARYAM

Kisah Siti Maryam adalah kisah seorang wanita mulia yang menjaga kehormatannya. Allah SWT berfirman,

وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِنْ رُوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِينَ

dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan Kitab-kitab-Nya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat. (QS. 66:12)

Al-Qur’an cukup banyak menceritakan kisahnya karena berkaitan dengan putranya, Isa bin Maryam AS, nabi yang termasuk ulul azmi. Ceritanya juga runut sehingga kita mencukupkan seperti yang ada di dalam Al-Qur’an.

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (keturunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Ingatlah), ketika istri Imran berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitulmakdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". Maka tatkala istri Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada setan yang terkutuk." Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakaria pemeliharanya. Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata: "Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah". Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. (QS. 3:33-37). Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk. Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa. (Ingatlah), ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia termasuk di antara orang-orang yang saleh."  Maryam berkata: "Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun." Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): "Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: "Jadilah", lalu jadilah dia. (QS. 3:42-47)

Dalam surat Maryam diceritakan,

Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Qur'an, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata: "Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa". Ia (Jibril) berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci". Maryam berkata: "Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!" Jibril berkata: "Demikianlah. Tuhanmu berfirman: "Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan." Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan". Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang Manusia pun pada hari ini". Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina", maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: "Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?" Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali". (QS. 19:16-33)

Sebagaimana disebutkan dalam kisah Asiyah, maka Maryam binti Imran kelak akan menjadi istri Rasulullah SAW di surga.

 



[1] QS. 37:89

[2] QS. 21:63

No comments:

Post a Comment

Urgensi Tarbiyah Wanita Musliman