TAWADHU KEPADA SESAMA MUSLIM
وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ
مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ ۚ
“...dan rendahkanlah dirimu terhadap
orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (Asy-Syu’ara:
215)
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا
مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهٖ فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ
وَيُحِبُّوْنَهٗٓ ۙاَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اَعِزَّةٍ عَلَى الْكٰفِرِيْنَۖ
يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا يَخَافُوْنَ لَوْمَةَ لَاۤىِٕمٍ ۗذٰلِكَ
فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa
di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan
suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang
bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap
orang-orang kafir...” (Al-Maidah: 54)
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا
خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا
ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan
kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.
Sesungguhnya, orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang
yang paling bertakwa di antara kamu.” (Al-Hujurat: 13)
فَلَا تُزَكُّوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ
هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰى
“...maka janganlah kamu mengatakan dirimu
suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (An-Najm:
32)
وَنَادٰٓى اَصْحٰبُ الْاَعْرَافِ
رِجَالًا يَّعْرِفُوْنَهُمْ بِسِيْمٰىهُمْ قَالُوْا مَآ اَغْنٰى عَنْكُمْ جَمْعُكُمْ
وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُوْنَ ٤٨ اَهٰٓؤُلَاۤءِ الَّذِيْنَ اَقْسَمْتُمْ لَا يَنَالُهُمُ
اللّٰهُ بِرَحْمَةٍۗ اُدْخُلُوا الْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَآ اَنْتُمْ
تَحْزَنُوْنَ ٤٩
“Dan orang-orang yang di atas A'raaf
memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya
dengan tanda-tandanya dengan mengatakan, ‘Harta yang kamu kumpulkan dan apa
yang kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu.’ (Orang-orang di
atas A'raaf bertanya kepada penghuni neraka), ‘Itukah orang-orang yang kamu
telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah.’ (Kepada orang
mukmin itu dikatakan), ‘Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran
terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati.’” (Al-A’raf: 48-49)
وَعَنْ عِيَاضِ بْنِ حِمَارٍ
الْمُجَاشِعِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
َإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ
عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ رواه مسلم
Iyadh bin Himar ra. berkata bahwa
Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya, Allah menurunkan wahyu kepadaku, yaitu
hendaklah kalian bersikap tawadhu (merendahkan diri), sehingga tidak ada
seorang pun bersikap sombong kepada yang lain dan tidak seorang pun menganiaya
yang lain.” (Muslim)
Pelajaran dari Hadits
- Keharusan bersikap
rendah hati kepada Allah, Rasul-Nya, para ulama, dan sesama muslim.
- Rendah hati kepada orang-orang yang berbuat zalim adalah suatu
kehinaan.
وَعَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا
نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا
وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ رواه مسلم
Abu
hurairah ra. berkata bahwa rasulullah saw. bersabda, “tiada berkurang harta
karena shadaqah. allah pasti akan menambah kemuliaan kepada seseorang yang suka
memaafkan. dan seseorang yang selalu merendahkan diri karena allah, pasti allah
akan mengangkat derajatnya.” (Muslim)
Pelajaran dari Hadits
1.
Islam menyuruh kita bershadaqah, memberi maaf, dan rendah hati kepada
sesama muslim.
- Sedekah tidak mengurangi harta, tetapi membuatnya
bertambah. Allah swt. berfirman, “Perumpamaan orang-orang yang
menginfakkan hartanya di jalan Allah, seperti satu biji yang menumbuhkan
tujuh helai. Pada setiap helai terdapat seratus biji...”
- Sikap rendah hati menjadikan seseorang semakin terhormat di sisi Allah
dan di mata orang lain.
Hadits
وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ مَرَّ عَلَى صِبْيَانٍ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ وَقَالَ كَانَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُهُ متفق عليه
Anas ra. berkata, bahwa ia sering
melewati anak-anak dan mengucapkan salam buat mereka. Ia berkata, “Nabi saw.
juga melakukannya.”(Muttafaq ‘alaih)
Pelajaran dari Hadits
- Kita dianjurkan
mengucapkan salam kepada anak kecil; mengajarkan kepada mereka tata cara
yang islami, menjauhi sifat sombong, dan bersikap tawadhu.
- Hadits ini merupakan bukti kegigihan para sahabat dalam mencontoh
perilaku Rasulullah saw.
Hadits
وَعَنْهُ قَالَ إِنْ كَانَتْ الْأَمَةُ
مِنْ إِمَاءِ أَهْلِ الْمَدِينَةِ لَتَأْخُذُ بِيَدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَنْطَلِقُ بِهِ حَيْثُ شَاءَتْ رواه البخاري
Anas ra. berkata, “Adakalanya
budak perempuan di Madinah memegang tangan Nabi saw., maka beliau mengikuti ke
mana budak itu menghendaki.” (h.r. Bukhari)
Pelajaran dari Hadits
- Hadits ini merupakan
bukti bahwa Rasulullah saw. adalah orang yang rendah hati. Dan sebagai
umat Muhammad, sepatutnyalah kita mencontoh beliau.
- Semua manusia adalah
hamba Allah swt.
- Hadits ini merupakan bukti keseriusan Rasulullah saw. untuk memenuhi
kebutuhan umatnya.
Hadits
وَعَنْ الْأَسْوَدِ قَالَ سَأَلْتُ
عَائِشَةَ مَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ فِي
بَيْتِهِ قَالَتْ كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ
فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ رواه البخاري
Al-Aswad bin Yazid berkata, “Aku
bertanya kepada Aisyah ra. tentang kebiasaan Nabi saw. di rumahnya.” Aisyah
menjawab, ‘Beliau senantiasa memperhatikan keluarganya. Apabila tiba waktu
shalat, maka beliau keluar mengerjakan shalat berjamaah.’” (h.r. Bukhari)
Pelajaran Hadits
Hadits ini merupakan bukti kesempurnaan sifat
rendah hati Rasulullah, kebaikan beliau kepada keluarganya, dan ketepatan
beliau dalam melakukan shalat di awal waktu dengan khusyuk.
Hadits
وَعَنْ أَبِي رِفَاعَةَ تَمِيْمِ بْنِ أُسَيْدٍ
t
قَالَ انْتَهَيْتُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ
يَخْطُبُ قَالَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ رَجُلٌ غَرِيبٌ جَاءَ يَسْأَلُ عَنْ
دِينِهِ لَا يَدْرِي مَا دِينُهُ قَالَ فَأَقْبَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَرَكَ خُطْبَتَهُ حَتَّى انْتَهَى إِلَيَّ فَأُتِيَ
بِكُرْسِيٍّ حَسِبْتُ قَوَائِمَهُ حَدِيدًا قَالَ فَقَعَدَ عَلَيْهِ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَعَلَ يُعَلِّمُنِي مِمَّا
عَلَّمَهُ اللَّهُ ثُمَّ أَتَى خُطْبَتَهُ فَأَتَمَّ آخِرَهَا رواه مسلم
Abu Rifa’ah Tamin bin Usaid ra.
berkata, “Aku mendatangi Nabi saw., sedangkan beliau masih berpidato, kemudian
aku menyelanya, ‘Wahai Rasulullah, ada orang asing datang hendak menanyakan
tentang agama, karena dia belum mengerti tentang seluk-beluk agamanya.’ Maka
beliau menyambutku dan menghentikan pidatonya, serta mengambil kursi dan duduk
di kursi itu. Kemudian beliau mengajariku sebagaimana Allah mengajarkannya,
kemudian kembali berpidato dan menyelesaikan pidatonya.” (h.r. Muslim)
Pelajaran dari Hadits
- Hadits ini merupakan
bukti bahwa Rasulullah adalah orang yang sangat rendah hati dan penuh
kasih sayang kepada umatnya.
- Jika ada orang yang
meminta pendapat, sebaiknya segera kita jawab dengan mendahulukan perkara
yang lebih penting.
- Para ulama
menyebutkan, bahwa orang yang bertanya tentang iman dan bagaimana cara
masuk Islam, harus dijawab dan diajari sesegera mungkin.
- Perkataan Rasulullah
saw. kepada orang tersebut termasuk bagian dari khotbah. Beliau tidak
memutus khotbahnya.
- Nabi saw. sangat
serius mengajarkan urusan agama kepada umatnya.
وَ
عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا
أَكَلَ طَعَامًا لَعِقَ أَصَابِعَهُ الثَّلَاثَ قَالَ وَقَالَ إِذَا سَقَطَتْ
لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ فَلْيُمِطْ عَنْهَا الْأَذَى وَلْيَأْكُلْهَا وَلَا يَدَعْهَا
لِلشَّيْطَانِ وَأَمَرَنَا أَنْ نَسْلُتَ الْقَصْعَةَ قَالَ فَإِنَّكُمْ لَا
تَدْرُونَ فِي أَيِّ طَعَامِكُمْ الْبَرَكَةُ رواه مسلم
Anas ra. berkata, “Apabila
Rasulullah saw. makan, beliau menjilati ketiga jari-jarinya.” Anas mengatakan
bahwa Nabi saw. bersabda, “Apabila suapan salah seorang di antara kalian itu
jatuh, maka ambillah dan bersihkan kotorannya, serta makanlah dan jangan
membiarkan makanan itu dimakan setan.” Beliau juga menyuruh agar membersihkan
sisa-sisa makanan yang ada di piring. Beliau bersabda, “Sesungguhnya, kalian
tidak tahu, manakah makanan yang membawa berkah.” (h.r. Muslim)
Pelaja ran
dari Hadits
1. Kita dianjurkan menjilati sisa-sisa makanan
yang menempel di jari sebelum dicuci. Begitu juga dengan makanan yang tersisa
di piring, agar sisa makanan tersebut tidak terbuang sia-sia.
- Kita dianjurkan
mengambil makanan yang terjatuh lalu membersihkan dan memakannya, agar
nikmat yang diberikan Allah tidak terbuang sia-sia.
- Islam sangat serius menjaga harta benda dan tidak membiarkannya
terbuang sia-sia meskipun hanya sedikit.
Hadits
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا بَعَثَ
اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ فَقَالَ أَصْحَابُهُ وَأَنْتَ فَقَالَ
نَعَمْ كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ رواه البخاري
Abu
Hurairah ra. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Apabila Allah mengutus
seorang nabi, pasti dia menggembala kambing.”
Lihat bab “Anjuran Menjauhi
Masyarakat yang Rusak”, pembahasan hadits nomor 4.
Hadits
وَ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ r قَالَ لَوْ دُعِيتُ
إِلَى ذِرَاعٍ أَوْ كُرَاعٍ لَأَجَبْتُ وَلَوْ أُهْدِيَ إِلَيَّ ذِرَاعٌ أَوْ
كُرَاعٌ لَقَبِلْتُ رواه البخاري
Abu Hurairah ra. Berkata bahwa
Rasulullah saw. Bersabda, “Andaikan aku diundang untuk makan betis atau paha,
niscaya aku memenuhinya. Andaikan dihadiahkan kepadaku paha atau binatang
ternak, niscaya aku menerimanya.” (h.r. Bukhari)
Pelajaran dari Hadits
1.
Kita sebaiknya memenuhi undangan,
meskipun makanan yang disajikan sedikit dan sederhana, supaya tidak terkesan
sombong dan sekaligus bisa mempererat tali silaturahmi.
2.
Agar tali persahabatan tetap
kuat, Islam menyuruh kita menerima hadiah meskipun nilainya tidak seberapa.
Hadits
عَنْ أَنَسٍ t قَالَ كَانَ
لِلنَّبِيِّ r
نَاقَةٌ تُسَمَّى الْعَضْبَاءَ لَا تُسْبَقُ قَالَ حُمَيْدٌ أَوْ لَا تَكَادُ
تُسْبَقُ فَجَاءَ أَعْرَابِيٌّ عَلَى قَعُودٍ فَسَبَقَهَا فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَى
الْمُسْلِمِينَ حَتَّى عَرَفَهُ فَقَالَ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ أَنْ لَا يَرْتَفِعَ
شَيْءٌ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا وَضَعَهُ طَوَّلَهُ مُوسَى عَنْ حَمَّادٍ عَنْ
ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ r
رواه البخاري
Anas ra. berkata, “Unta
Rasulullah saw. yang bernama Al-Adhba, tidak pernah dilampaui atau hampir tidak
dapat dikejar. Kemudian, ada seorang Badui yang mengendarai untanya dan dapat
mendahului unta beliau, maka hal itu cukup menggelisahkan kaum muslimin. Hal
itu kemudian diketahui oleh Rasulullah. Beliau bersabda, ‘Kebenaran di tangan
Allah, dan siapa saja di dunia ini yang menyombongkan diri, Allah pasti
merendahkannya.’” (Bukhari)
Pelajaran dari Hadits
1.
Allah ingin menjelaskan bahwa
dunia tidak berharga sama sekali di sisi-Nya. Karena itu, tidak sepatutnya
dibanggakan dan disombongkan.
2.
Islam mengajarkan kepada kita
untuk bersikap tawadhu dan tidak sombong.
3.
Allah ingin menjelaskan kepada
kita bahwa dunia ini tidak sempurna.
4.
Hadits ini merupakan bukti rendah
hatinya Rasulullah dan bagaimana beliau melunakkan hati para sahabatnya.
No comments:
Post a Comment