“Hendaklah Anda memiliki wirid harian membaca al-Qur’an
minimal satu juz setiap hari, dan berusahalah sungguh-sungguh
agar
jangan sampai mengkhatamkan al-Qur’an melewati satu bulan.”
(Hasan
al-Banna dalam Majmu’atur Rasail)
Anjuran
Imam As-Syahid Hasan Al-Banna rahimahullah di atas nampaknya merujuk kepada
hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari ‘Abdullah bin ‘Amr, yang pernah
berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« اقْرَإِ
الْقُرْآنَ فِى شَهْرٍ » . قُلْتُ إِنِّى أَجِدُ قُوَّةً حَتَّى قَالَ « فَاقْرَأْهُ
فِى سَبْعٍ وَلاَ تَزِدْ عَلَى ذَلِكَ »
“Bacalah
(khatamkanlah) Al Quran dalam sebulan.” ‘Abdullah bin ‘Amr lalu berkata, “Aku
mampu menambah lebih dari itu.” Beliau pun bersabda, “Bacalah (khatamkanlah) Al
Qur’an dalam tujuh hari, jangan lebih daripada itu.” (HR. Bukhari No. 5054).
Para
ulama sebelumnya pun memang selalu menganjurkan kepada orang muslim untuk
memperbanyak khatam Al-Qur’an, begitu juga memperbanyak membaca dan
mentadaburinya. Karena ia adalah Kalamullah, termasuk beribadah dalam
membacanya. Dan Allah Ta’ala senang jika hamba-Nya beribadah kepada-Nya dengan
cara tersebut.
Dahulu
para ulama salaf rahimahumullah mempunyai semangat tinggi yang berbeda-beda, di
antara mereka ada yang mengkhatamkan setiap hari sekali. Ada yang tiga hari,
ada yang sepekan dan ada yang mengkhatamkan setiap bulan sekali. Bisa jadi
mengkhatamkan sebulan sekali termasuk semangat yang paling rendah. Seyogyanya
seorang muslim jangan berkurang darinya.
Ibnu
Hazm rahimahullah mengatakan, “Seorang muslim yang ingin selamat, hendaknya
melakukan sesuatu yang diharapkan dapat mengalahkan dosa dan kesalahannya. Hendaknya dia membiasakan
membaca Al-Qur’an dan dapat mengkhatamkan setiap bulan sekali. Kalau dapat
menghatamkan kurang dari itu, maka hal itu lebih bagus.” (Rasail Ibnu Hazm,
3/150)
Bahkan
para ahli fiqih Hanbali menegaskan: “Makruh mengakhirkan khatam Al-Qur’an lebih
dari empat puluh hari tanpa uzur.” Ahmad berkata, “Yang paling sering saya
dengar, hendaknya seseorang mengkhatamkan Al-Qur’an dalam empat puluh hari.
Karena hal itu (tidak khatam lebih dari empat puluh hari) dapat melupakannya
dan meremehkannya.” (Kasysyaful Qana, 1/430)
Saudaraku,
sadarkah kita bahwa al-Qur’an diturunkan oleh Allah Ta’ala kepada manusia agar
menjadi sumber tazwid (pembekalan) bagi peningkatan ruhiy (spiritualitas),
fikri (pemikiran) serta minhaji (metode/pedoman)? Sehingga jika sehari saja
kita jauh dari al-Qur’an, berarti terputuslah dalam diri kita proses tazwid
tersebut? Dalam kondisi seperti itu yang akan terjadi adalah adanya proses
tazwid dari selain wahyu Allah Ta’ala; baik itu dari televisi koran, majalah,
maupun yang lainnya yang sesungguhnya akan menyebabkan ruh yang ringkih dan
keyakinan yang melemah terhadap fikrah dan minhaj? Padahal tiga unsur ini
sesungguhnya menjadi sumber energi untuk berdakwah dan ber-harakah. Sehingga
melemahlah semangat beramal saleh dan hadir dalam halaqah, padahal halaqah
merupakan pertemuan untuk komitmen beramal saleh.
Dapat
dibayangkan bagaimana jadinya kalau proses tazwid itu telah terputus sepekan,
dua pekan, bahkan berbulan-bulan? Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dari sikap
menjadikan al-Qur’an sebagai sesuatu yang mahjuran (ditinggalkan).
وَقَالَ الرَّسُولُ يَا
رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورً
Berkatalah
Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an ini suatu yang
ditinggalkan “. (Q.S. Al-Furqan ayat 30)
Sesungguhnya
ibadah tilawah Al-Qur’an telah menjadi tuntutan kepada manusia sejak dia
menjadi seorang muslim. Oleh karena itu, cukup banyak orang-orang yang tanpa
tarbiyah atau halaqah, namun memiliki komitmen tilawah satu juz setiap hari,
sehingga setahun khatam 12 kali–bahkan lebih, karena saat bulan Ramadhan dapat
khatam lebih dari sekali.
Lalu,
bagaimana dengan kita, ashhabul harakah
wad da’wah? Sudahkah keislaman kita membentuk sikap iltizam (komitmen) dengan
ibadah ini ? Ketika kita melalaikannya, dapat diyakini bahwa kendalanya adalah
dha’ful himmah (lemah dan kurangnya kemauan), bukan karena tidak mampu
melafalkan ayat-ayat al-Qur’an seperti anggapan kita selama ini. Yang harus
dibentuk dalam hal ini bukanlah hanya sebatas mampu membaca, namun lebih dari
itu, bagaimana membentuk kemampuan ini menjadi sebuah moralitas ta’abbud
(penghambaan) kepada Allah, sehingga hal ini menjadi sebuah proses tazwid yang
berkesinambungan sesuai dengan jauhnya perjalanan da’wah ini!
Dari
sini kita menjadi faham, ternyata tarbiyah adalah sebuah proses perjalanan yang
beribu-ribu mil jauhnya. Entah berapa langkah yang sudah kita lakukan. Semoga
belum mampunya kita dalam beriltizam dengan ibadah ini adalah karena masih
sedikitnya jarak yang kita tempuh. Jadi yakinlah, selama kita komitmen dengan
proses tarbiyah, dengan seizin Allah kita akan sampai kepada kemampuan ibadah
ini. Dan sekali-kali janganlah kita menutupi ketidak mampuan kita terhadap
ibadah ini dengan berlindung di bawah waswas syaithan dengan bahasa sibuk,
tidak sempat, acara terlalu padat dan lain sebagainya.
Sadarilah
bahwa kesibukan kita pasti akan berlangsung sepanjang hidup kita. Apakah
berarti sepanjang hidup kita, kita tidak melakukan ibadah ini hanya karena
kesibukan yang tak pernah berakhir?
Kita
harus berfikir serius terhadap tilawah satu juz ini, karena ia merupakan
mentalitas ‘ubudiyah (penghambaan), disiplin dan menambah tsaqofah. Apalagi
ketika kita sudah memiliki kesadaran untuk membangun Islam di muka bumi ini,
maka kita harus menjadi batu bata yang kuat dalam bangunan ini. Al Ustadz Imam
Asy Syahid Hasan Al-Banna rahimahullah begitu yakinnya dengan sisi ini,
sehingga beliau menjadikan kemampuan membaca al-Qur’an satu juz ini sebagai
syarat pertama bagi seseorang yang berkeinginan membangun masyarakat Islam.
Dalam
nasihatnya beliau mengatakan, “Wahai saudaraku yang jujur dengan janjinya,
sesungguhnya imanmu dengan bai’at (perjanjian) ini mengharuskanmu melaksanakan
kewajiban-kewajiban ini agar kamu menjadi batu bata yang kuat, (untuk itu) :
“Hendaklah Anda memiliki wirid harian membaca al-Qur’an minimal satu juz setiap
hari, dan berusahalah sungguh-sungguh agar jangan sampai mengkhatamkan
al-Qur’an melewati satu bulan.”
Sebagaimana
kita saat melakukan hijrah dari kehidupan Jahiliyyah kepada kehidupan Islamiyah
harus banyak menelan pil pahit selama proses tarbiyah, maka jika kita sudah
ber-‘azam (bertekad) untuk meningkat kepada kehidupan yang ta’abbudi (penuh
nilai ibadah), maka kita harus kembali siap menelan banyak pil pahit tersebut.
Kita harus sadar bahwa usia dakwah yang semakin dewasa, penyebarannya yang
semakin meluas dan tantangannya yang semakin variatif sangat membutuhkan
manusia-manusia yang Labinatan Qowiyyatan (laksana batu bata yang kuat). Dan
hal tersebut kuncinya terdapat di dalam interaksi dengan al-Qur’an!
Sebuah
proses tarbiyah yang semakin matang, dengan indikasi hati dan jiwa yang semakin
bersih, secara otomatis akan menjadikan kebutuhan terhadap al-Qur’an mengalami
peningkatan. Sejarah mencatat bahwa para sahabat dan salafusshalih ketika
mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bacalah al-Qur’an
dalam satu bulan”, maka begitu banyak yang menyikapinya sebagai sesuatu yang
minimal.
Bayangkan
dengan diri kita yang sering menganggap tilawah satu juz itu sebagai sesuatu
yang maksimal! Maka tugas yang sangat minimal ini pun sangat sering terkurangi,
bahkan tidak teramalkan dengan baik. Bagaimana mungkin kita dapat mengulang
kesuksesan para sahabat dalam membangun Islam ini, jika kita tidak melakukan
apa yang telah mereka lakukan (walaupun kita sadar bahwa ibadah membaca
Al-Qur’an satu juz ini bukan satu-satunya usaha di dalam berdakwah)?
Sebutlah
Utsman Ibn Affan, Abdullah Ibn Amr Ibn Ash, Abu Hanifah dan Imam Asy-Syafi’i
Radiyallahu Anhum. Mereka adalah contoh orang-orang yang terbiasa menyelesaikan
bacaan al-Qur’annya dalam waktu tiga hari sampai satu pekan. Karena bagi mereka
khatam sebulan terlalu lama untuk bertemu dengan ayat-ayat Allah. Jadi, jika
seseorang rutin setiap bulan khatam, berarti hanya sekali dalam sebulan ia
bertemu dengan surat Maryam, misalnya.
Dapat
kita bayangkan seandainya kita berlama-lama dalam mengkhatamkan al-Qur’an.
Berarti kita akan sangat jarang bertemu dengan setiap surat dari al-Qur’an!
Kalau
saja tarbiyyah qur’aniyyah kita telah matang, kita akan dapat merasakan bahwa
sentuhan tarbawi (pendidikan) surat al-Baqarah berbeda dengan surat Ali Imran.
Begitu juga beda antara an-Nisaa, al-Maidah dengan surat yang lainnya. Sehingga
ketika seseorang sedang membaca an-Nisaa, pasti dia akan merindukan al-Maidah.
Inilah suasana tarbiyyah yang belum kita miliki yang harus dengan serius kita
bangun dalam diri kita. Kita harus waspada, jangan sampai hidup ini berakhir
dengan kondisi kita melalaikan ibadah tilawah satu juz. Sehingga hidup berakhir
dengan kenangan penyesalan. Padahal sesungguhnya kita mampu kalau saja kita mau
menambah sedikit saja mujahadah (kesungguhan) dalam tarbiyyah ini.
Kiat
Mujahadah dalam Bertilawah Satu Juz
Berusahalah
melancarkan tilawah jika Anda termasuk orang yang belum lancar bertilawah,
karena ukuran normal tilawah satu juz adalah 30 – 40 menit. Jika lebih dari
itu, Anda harus lebih giat berusaha melancarkan bacaan. Jika melihat durasi
waktu di atas, sangat logis untuk melakukan tilawah satu juz setiap hari dari
waktu dua puluh empat jam yang kita miliki. Masalahnya, bagaima kita dapat
membangun kemauan untuk 40 menit bersama Allah, sementara kita sudah terbiasa
40 menit atau lebih bersama televisi, ngobrol dengan teman dan lain sebagainya.
Aturlah
dalam satu halaqah kesepakatan bersama menciptakan komitmen ibadah membaca
Al-Qur’an satu juz ini. Misalnya, bagi anggota halaqah yang selama sepekan
kurang dari tujuh juz, maka saat bubar halaqah ia tidak boleh pulang kecuali
telah menyelesaikan sisa juz yang belum terbaca. Kiat ini terbukti lebih baik
daripada ‘iqob (hukuman) yang terkadang hilang ruh tarbawi-nya dan tidak
menghasilkan mujahadah yang berarti.
Lakukanlah
qadha tilawah setiap kali program ini tidak berjalan! Misalnya, carilah
tempat-tempat yang kondusif untuk konsentrasi bertilawah. Misalnya di masjid
atau tempat yang bagi diri kita asing. Kondisi ini akan menjadikan kita lebih
sejenak untuk hidup dengan diri sendiri membangun tarbiyyah qur’aniyyah di
dalam diri kita.
Sering-seringlah
mengadukan keinginan untuk dapat bertilawah satu juz sehari ini kepada Allah
Ta’ala yang memiliki al-Qur’an ini. Pengaduan kita kepada Allah Ta’ala yang
sering, insya Allah menunjukkan kesungguhan kita dalam melaksanakan ibadah ini.
Disinilah akan datang pertolongan Allah yang akan memudahkan pelaksanaan ibadah
ini.
Perbanyaklah
amal saleh, karena setiap amal saleh akan melahirkan energi baru untuk amal
saleh berikutnya. Sebagaimana satu maksiat akan menghasilkan maksiat yang lain
jika kita tidak segera bertaubat kepada Allah Ta’ala. Jika kita saat ini sering
berbicara tentang ri’ayah maknawiyyah (memperkaya jiwa), maka sesungguhnya
pesan Imam Syahid ini adalah cara me- ri’ayah maknawiyyah yang paling efektif
dan dapat kita lakukan kapan saja dan dimana saja. Ditinjau dari segi apapun,
ibadah ini harus dilakukan. Bagi yang yakin akan pahala Allah Ta’ala, maka
tilawah al-Qur’an merupakan sumber pahala yang sangat besar. Bagi yang sedang
berjihad, dimana dia membutuhkan tsabat (keteguhan hati), nashrullah
(pertolongan Allah), istiqomah, sabar dan lain sebagainya, al-Qur’an tempat
meraih semua ini. Kita harus serius melihat kemampuan tarbawi dan ta’abbudi
ini, agar kita tergugah untuk bangkit dari kelemahan ini,
Kendala
yang Harus Diwaspadai
Perasaan
menganggap sepele apabila sehari tidak membaca al-Qur’an, sehingga berdampak
tidak ada keinginan untuk segera kembali kepada al-Qur’an.
Lemahnya
pemahaman mengenai keutamaan membaca al-Qur’an. Sehingga tidak termotivasi
untuk mujahadah dalam istiqomah membaca al-Qur’an.
Tidak
memiliki waktu wajib bersama al-Qur’an dan terbiasa membaca al-Qur’an
sesempatnya, sehingga ketika merasa tidak sempat ditinggalkannyalah al-Qur’an.
Lemahnya
keinginan untuk memiliki kemampuan ibadah ini, sehingga tidak pernah memohon
kepada Allah Ta’ala agar dimudahkan tilawah al-Qur’an setiap hari. Materi do’a
hanya berputar-putar pada kebutuhan keduniaan saja.
Terbawa
oleh lingkungan di sekelilingnya yang tidak memiliki perhatian terhadap ibadah
al-Qur’an ini. Rasulullah bersabda, “Kualitas dien seseorang sangat tergantung
pada teman akrabnya.”
Tidak
tertarik dengan majlis-majlis yang menghidupkan al-Qur’an. Padahal menghidupkan
majlis-majlis al-Qur’an adalah cara yang direkomendasikan Rasulullah agar orang
beriman memiliki gairah berinteraksi dengan al-Qur’an.
Akibat
dari Tidak Serius Menjalankannya
Sedikitnya
barokah dakwah atau amal jihadi kita, karena hal ini menjadi indikasi lemahnya
hubungan seorang jundi pada Allah Ta’ala. Sehingga boleh jadi nampak berbagai
macam produktivitas dakwah dan amal jihadi kita, namun dikhawatirkan
keberhasilan itu justru berdampak menjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Kemungkinan
yang lain, bahkan lebih besar, adalah tertundanya pertolongan Allah Ta’ala
dalam amal jihadi ini. Kalau jihad salafusshalih saja tertunda kemenangannya
hanya karena meninggalkan sunnah bersiwak (menggosok gigi), apalagi karena
meninggalkan suatu amal yang bobotnya jauh lebih besar dari itu? Oleh karena
itu, masalah berinteraksi dengan al-Quran selalu disinggung dengan ayat-ayat
jihad, seperti surat al-Anfaal dan al-Qitaal.
Terjauhkannya
sebuah asholah (keaslian/orisinalitas) dakwah. Sejak awal dakwah ini
dikumandangkan, semangatnya adalah dakwah bil qur’an. Bagaimana mungkin kita
mengumandangkan dakwah bil qur’an kalau interaksi kita dengan al-Qur’an sangat
lemah ? Bahkan sampai tak mencapai tingkat interaksi yang paling minim, sekedar
bertilawah satu juz saja?
Terjauhkannya
sebuah dakwah yang memiliki jawwul ‘ilmi (nuansa keilmuan). Hakikat dakwah
adalah meningkatkan kualitas keilmuan umat yang sumber utamanya dari al-Qur’an.
Maka minimnya kita dengan pengetahuan ke –al-Qur’an- an akan sangat berdampak
pada lemahnya bobot ilmiyyah diniyyah (keilmuan agama) kita. Dapat dibayangkan
kalau saja setiap kader beriltizam dengan manhaj tarbiyyah yang sudah ada.
Lebih khusus pada kader senior. Pasti kita akan melihat potret harokah dakwah
ini jauh lebih cantik dan lebih ilmiyyah.
Terjauhkannya
sebuah dakwah yang jauh dari asholatul manhaj. Bacalah semua kitab yang
menjelaskan manhaj dakwah ini. Khususnya kitab Majmu’atur Rasail! Anda akan
dapatkan begitu kental dakwah ini memberi perhatian terhadap interaksi dengan
al-Qur’an. Tidakkah kita malu ber-intima’ (menyandarkan diri) pada dakwatul
ikhwah, namun kondisi kita jauh dari manhaj-nya ?
Jangan
Lupakan Tadabbur!
Mujahadah
membaca Al-Qur’an satu juz satu hari, tidak sepatutnya menjadi penyebab
terabaikannya Tadabbur Al-Qur’an!
Renungkanlah
apa yang dikemukakan oleh Imam Nawawi rahimahullah berikut ini,
وَالِاخْتِيَار أَنَّ ذَلِكَ
يَخْتَلِف بِالْأَشْخَاصِ ، فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْل الْفَهْم وَتَدْقِيق الْفِكْر
اُسْتُحِبَّ لَهُ أَنْ يَقْتَصِر عَلَى الْقَدْر الَّذِي لَا يَخْتَلّ بِهِ الْمَقْصُود
مِنْ التَّدَبُّر وَاسْتِخْرَاج الْمَعَانِي ، وَكَذَا مَنْ كَانَ لَهُ شُغْل بِالْعِلْمِ
أَوْ غَيْره مِنْ مُهِمَّات الدِّين وَمَصَالِح الْمُسْلِمِينَ الْعَامَّة يُسْتَحَبّ
لَهُ أَنْ يَقْتَصِر مِنْهُ عَلَى الْقَدْر الَّذِي لَا يُخِلّ بِمَا هُوَ فِيهِ ،
وَمَنْ لَمْ يَكُنْ كَذَلِكَ فَالْأَوْلَى لَهُ الِاسْتِكْثَار مَا أَمْكَنَهُ مِنْ
غَيْر خُرُوج إِلَى الْمَلَل وَلَا يَقْرَؤُهُ هَذْرَمَة . وَاللَّهُ أَعْلَم
“Waktu
mengkhatamkan tergantung pada kondisi tiap person. Jika seseorang adalah yang
paham dan punya pemikiran mendalam, maka dianjurkan padanya untuk membatasi
pada kadar yang tidak membuat ia luput dari tadabbur dan menyimpulkan
makna-makna dari Al Qur’an. Adapun seseorang yang punya kesibukan dengan ilmu
atau urusan agama lainnya dan mengurus maslahat kaum muslimin, dianjurkan
baginya untuk membaca sesuai kemampuannya dengan tetap melakukan tadabbur
(perenungan). Jika tidak bisa melakukan perenungan seperti itu, maka
perbanyaklah membaca sesuai kemampuan tanpa keluar dari aturan dan tanpa
tergesa-gesa. Wallahu a’lam. ” (Dinukil dari Fathul Bari, 9: 97).
Semoga
kita tergugah dengan tulisan ini, agar kita lebih serius lagi melaksanakan poin
pertama daripada wajibatul akh (kewajiban aktifis muslim) ini.
Sumber:
https://risalah.id/tilawah-yaumiyah-1-juz-sehari/
No comments:
Post a Comment