Friday, April 24, 2026

An-Nazharu Wa Tafakkur

Makna Etimologis (Bahasa) dari An-Nazhar, At-Tabashshur, dan At-Tafakkur

1. Makna An-Nazhar (النظر) secara Bahasa:

An-Nazhar secara bahasa adalah:

Nama bagi indra mata, dan bentuk masdar (kata benda abstrak) dari ucapan mereka: Nazharahu (ia melihatnya) atau Nazhara ilaihi (ia memandangnya) dengan makna: memperhatikannya dengan matanya.

Dikatakan pula: Nazhara lahum (نَظَرَ لَهُمْ) yang bermakna ia merasa iba kepada mereka dan menolong mereka. Sedangkan Nazhara bainahum (نَظَرَ بينهم) bermakna ia menghakimi/memutuskan perkara di antara mereka. ([1])

Adapun firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

"Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannya mereka melihat." (QS. Al-Qiyamah: 22-23).

Maksudnya adalah wajah-wajah tersebut menjadi indah/berseri karena kenikmatan surga dan (karena) melihat kepada Tuhannya. ([2])

An-Nazhar bisa ditujukan pada objek fisik (ajsam) maupun makna-makna abstrak (ma’ani). Apa yang dilakukan dengan penglihatan mata (al-ibshar) maka itu untuk objek fisik, dan apa yang dilakukan dengan mata batin (al-bashair) maka itu untuk makna-makna abstrak. ([3])

Adapun firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

"Dan kamu melihat mereka memandang kepadamu, padahal mereka tidak melihat." (QS. Al-A'raf: 198).

Makna An-Nazhar di sini—sebagaimana dikatakan oleh Al-Qurtubi—adalah membuka kedua mata ke arah objek yang dipandang. Yakni, engkau melihat mereka (berhala-berhala itu) seolah-olah memandang kepadamu. Ada pula yang berpendapat bahwa yang dimaksud adalah kaum musyrik; Allah mengabarkan bahwa mereka tidak melihat karena mereka tidak mengambil manfaat dari penglihatan mereka. ([4])

Pemilik kitab Al-Bashair berkata: Penggunaan kata An-Nazhar untuk penglihatan mata lebih banyak digunakan di kalangan orang awam (al-'ammah), sedangkan untuk mata batin digunakan di kalangan orang-orang khusus (al-khassah).

Dikatakan: Nazhartu ila kadza (aku melihat kepada anu) jika engkau mengarahkan pandangan mata ke arahnya, baik engkau melihatnya (secara jelas) atau tidak. Dan Nazhartu ilaihi (aku memandangnya): jika engkau melihatnya dan merenungkannya. Di antaranya adalah firman Allah Ta'ala:

"Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan?" (QS. Al-Ghashiyah: 17).

Adapun ucapan mereka: Nazhartu fi kadza (aku meneliti dalam hal anu), maka maknanya adalah aku merenungkannya (ta’ammultuhu), sebagaimana dalam firman Allah Ta'ala:

"Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi..." (QS. Al-A'raf: 185).

Karena yang dimaksud di sini adalah dorongan untuk merenungi hikmah Allah dalam penciptaannya. An-Nazhar juga bermakna: Menunggu (al-intizhar), di antaranya firman Allah Ta'ala:

"Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu." (QS. Al-Hadid: 13).

An-Nazhar juga digunakan untuk kondisi kebingungan dalam suatu urusan, seperti firman Allah Ta'ala:

"...lalu kamu disambar petir, sedang kamu melihatnya (dalam keadaan bingung/terpaku)." (QS. Al-Baqarah: 55).

An-Nazhar juga bermakna: Penelitian/Pembahasan (al-bahts), dan ini lebih umum daripada Qiyas (analogi), karena setiap qiyas adalah nazhar, namun tidak setiap nazhar adalah qiyas.


2. Makna At-Tabashshur (التَّبَصُّرُ) secara Bahasa:

At-Tabashshur secara bahasa adalah masdar dari ucapan mereka: Tabashshara asy-syai’a jika seseorang melihat sesuatu untuk mengetahui apakah ia mengenalinya? Kata ini diambil dari materi (ب ص ر / b-sh-r) yang menunjukkan pengetahuan tentang sesuatu. Maknanya adalah: perenungan dan pengenalan.

Adapun At-Tabshir (التَّبْصير) adalah pemberitahuan dan penjelasan. Dikatakan: Bashsharahu bil amri (ia memberitahunya tentang urusan itu) secara tabshiran dan tabshiratan yang artinya ia membuatnya paham.

Al-Bashirah (البصيرة): Keyakinan hati. Ada yang berpendapat itu adalah sebutan bagi apa yang diyakini di dalam hati berupa agama dan pembuktian perkara. Ada yang berpendapat: kecerdasan (fathanah). Ada pula yang berpendapat: keteguhan dalam agama.

Ucapan mereka: "Melakukan hal itu atas dasar bashirah" artinya dengan sengaja. "Tanpa bashirah" artinya tanpa keyakinan. Dikatakan pula: Tabashshara fi ra’yihi dan Istabshara: ia menjadi jelas baginya apa yang akan mendatanginya berupa kebaikan dan keburukan.

Adapun ucapan: Istabshara fi amrihi wa dinihi artinya: ia memiliki mata batin (bashirah). Mengenai firman Allah (tentang kaum 'Ad dan Tsamud):

"Padahal mereka adalah orang-orang yang berpandangan tajam (mustabshirin)." (QS. Al-Ankabut: 38).

Maknanya adalah: mereka melakukan apa yang mereka lakukan padahal telah jelas bagi mereka bahwa kesudahannya adalah azab bagi mereka. ([5])

Al-Fairuzabadi berkata: Al-Bashirah adalah kekuatan hati yang menangkap/mempersepsi sesuatu, dan disebut juga sebagai Bashar (penglihatan). Firman Allah 'Azza wa Jalla:

"Katakanlah: 'Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan bashirah'." (QS. Yusuf: 108).

Maknanya adalah: atas dasar pengetahuan dan pembuktian yang nyata. Adapun firman-Nya:

"Bahkan manusia itu menjadi saksi (bashirah) atas dirinya sendiri." (QS. Al-Qiyamah: 14).

Maknanya adalah: atas dirinya ada saksi dari anggota tubuhnya yang melihatnya dan bersaksi atasnya pada hari kiamat. Ada yang berpendapat huruf ha' (yakni ta' marbuthah) pada kata bashirah adalah untuk mubalaghah (hiperbola/penekanan), maknanya adalah bahwa manusia itu sangat melihat atas dirinya sendiri hingga mencapai puncaknya. ([6])

Al-Qurtubi berkata: Bentuk feminin (ta’nits) pada kata bashirah muncul karena yang dimaksud dengan "manusia" di sini adalah anggota-anggota tubuhnya, karena merekalah yang bersaksi atas diri manusia itu sendiri. Seolah-olah dikatakan: "Bahkan anggota-anggota tubuh adalah saksi (bashirah) atas diri manusia." ([7])


Materi Kata Al-Bashar (Penglihatan) dalam Al-Qur'anul Karim:

Ibnu al-Jauzi menyebutkan bahwa sebagian ahli tafsir menyatakan bahwa kata Al-Bashar ([8]) dalam Al-Qur'an memiliki empat aspek (makna):

  1. Penglihatan dengan Hati (Al-Bashar bil Qalbi): Di antaranya firman Allah Ta'ala: "Dan kamu melihat mereka memandang kepadamu, padahal mereka tidak melihat." (QS. Al-A'raf: 198). ([9])
  2. Penglihatan dengan Mata (Al-Bashar bil 'Aini): Di antaranya firman Allah Ta'ala: "Maka penglihatanmu pada hari ini sangat tajam." (QS. Qaf: 22).
  3. Penglihatan dengan Hujjah (Argumentasi): Di antaranya firman Allah Ta'ala: "Mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?" (QS. Thaha: 125).
  4. Penglihatan sebagai I'tibar (Mengambil Pelajaran): Di antaranya firman Allah Ta'ala: "Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?" (QS. Adh-Dzariyat: 21). Yakni: mengambil pelajaran (ta'tabirun). Sebagian ulama memasukkan aspek ini ke dalam jenis pertama, yaitu penglihatan dengan hati.

Catatan Kaki (Referensi):

  • ([1]) Al-Qamus Al-Muhith hal. 663 (Cetakan Beirut).
  • ([2]) Ibnu Manzhur menukil di bagian ini dari Al-Azhari yang berkata: "Tidak ada dasar bagi orang yang mengatakan bahwa makna 'nazhar' di sini adalah menunggu (intizhar), karena fi'il 'nazhara' jika bertemu dengan huruf jar 'ila' maka maknanya tidak lain adalah melihat dengan mata." Lihat Lisanul Arab 5/216, 217.
  • ([3]) Lisanul Arab 5/218 dengan modifikasi.
  • ([4]) Tafsir Al-Qurtubi 7/344. Abu Ubaid memilih makna pertama namun menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah berhadapan (muqabalah). Lihat Lisanul Arab 5/218.
  • ([5]) Al-Qurtubi menukil pendapat ini dari Mujahid, Tafsir Al-Qurtubi 13/344.
  • ([6]) Tafsir Al-Qurtubi 19/100, ia juga menyebutkan pendapat lain dari para Tabi'in.
  • ([7]) Tafsir Al-Qurtubi 19/100.
  • ([8]) Di naskah asli tertulis "Al-Bashir", namun apa yang kami sebutkan (Al-Bashar) lebih utama karena aspek keempat berkaitan dengan penglihatan secara mutlak.
  • ([9]) Tafsir ini didasarkan pada anggapan bahwa yang dimaksud di sini adalah kaum musyrik, bukan berhala.

An-Nazhar dan At-Tabashshur secara Istilah:

An-Nazhar secara Istilah:

Al-Fairuzabadi berkata: An-Nazhar adalah membolak-balikkan mata batin (bashirah) untuk menangkap dan melihat sesuatu. Terkadang yang dimaksud dengannya adalah perenungan (at-ta'ammul) dan pemeriksaan (al-fahsh), dan terkadang yang dimaksud adalah pengetahuan yang didapat setelah proses pemeriksaan tersebut. ([1])

Adapun At-Tabashshur:

Istilah ini tidak ditemukan dalam buku-buku terminologi yang kami kaji, oleh karena itu ia tetap pada asal penggunaannya secara bahasa. Jika kita merenungkan apa yang disebutkan oleh penulis Al-Lisan bahwa at-tabashshur adalah melihat sesuatu dengan tujuan untuk mengetahuinya ([2]), serta bahwa tabashshara dan istabshara memiliki makna yang sama—dikatakan seseorang itu tabashshara atau istabshara dalam pendapatnya: yakni telah jelas baginya apa yang akan mendatanginya berupa kebaikan dan keburukan—dan jika kita merenungkan juga apa yang disebutkan oleh Al-Qurthubi bahwa al-istibshar adalah mengetahui sesuatu sesuai hakikatnya (melalui bukti-bukti) ([3]), serta bahwa tambahan huruf Alif, Sin, dan Ta' menunjukkan makna permintaan/pencarian (at-thalab) (dan ini adalah makna morfologis dari wazan tersebut); jika keadaannya demikian, maka at-tabashshur dapat didefinisikan melalui apa yang disebutkan oleh para ahli bahasa dan ahli tafsir dengan ungkapan:

At-Tabashshur:

Mencari pengetahuan tentang segala perkara sesuai hakikatnya melalui bukti-bukti indrawi yang dapat dilihat oleh mata dan dapat direnungkan serta diyakini kebenarannya oleh mata batin (yaitu kekuatan hati yang menangkap persepsi). Ini merupakan langkah menuju pencapaian an-nazhar dengan makna terakhir yang disebutkan oleh Al-Fairuzabadi. Adapun dua makna pertama dari an-nazhar yaitu: membolak-balikkan mata batin, serta perenungan dan pemeriksaan, keduanya merupakan kerja akal murni.

Oleh karena itu, kami menghubungkan antara dua perkara ini (an-nazhar dan at-tabashshur) karena di satu sisi masing-masing tidak bisa mengabaikan yang lain, dan di sisi lain karena manusia berbeda-beda dalam kemampuannya. Ada orang yang mata batinnya kuat sehingga melalui itu mereka mampu mencapai pengetahuan dan keyakinan yang dibutuhkan, namun ada pula orang yang tidak dibekali kekuatan serupa, maka mereka wajib melihat pada bukti-bukti indrawi yang dapat mengantarkan mereka kepada tujuan yang diinginkan.

Kesimpulannya, di antara kedua perkara tersebut (an-nazhar dan at-tabashshur) terdapat integrasi/saling melengkapi, dan keduanya secara bersamaan memenuhi kebutuhan semua orang dengan tingkat akal yang berbeda-beda. An-Nazhar (secara akal) mungkin sudah cukup bagi sebagian orang, namun bagi sebagian lainnya, ia harus mencari pengetahuan (terutama yang berkaitan dengan makrifatullah/mengenal Allah 'Azza wa Jalla) melalui pengamatannya terhadap keajaiban ciptaan-Nya dan keagungan ketelitian di dalamnya. Berdasarkan hal tersebut, kita dapat merumuskan satu definisi untuk kedua perkara tersebut secara bersamaan sebagai berikut:

An-Nazhar dan At-Tabashshur: Membolak-balikkan mata batin untuk menangkap hakikat segala sesuatu dan mengetahuinya setelah merenungkan dan memeriksanya, serta mencari hal tersebut melalui bukti-bukti indrawi yang disaksikan. ([4])


At-Tafakkur secara Bahasa:

At-Tafakkur diambil dari materi kata (ف ك ر / f-k-r) yang menunjukkan—sebagaimana dikatakan Ibnu Faris—pada bolak-baliknya hati dalam sesuatu. Dikatakan tafakkara jika ia membolak-balikkan hatinya sembari mengambil pelajaran (mu'tabiran). ([5])

Lafal at-tafakkur adalah bentuk masdar dari tafakkara, atau ia merupakan ism masdar dari fakkara yang masdarnya adalah at-tafkir. Dari materi kata ini juga bermakna perenungan (at-ta'ammul). Penulis Al-Lisan berkata: Al-Fikr adalah perenungan dan memfungsikan lintasan pikiran dalam sesuatu. Sibawayh berkata: Kata al-fikr tidak dijamakkan, namun Ibnu Duraid menghikayatkan bentuk jamaknya sebagai afkar. ([6])

Secara Istilah:

Aktivitas hati dalam mengelola makna-makna dari segala sesuatu untuk mencapai apa yang dicari/tujuan.


Hakikat At-Tafakkur:

Ibnu al-Qayyim —rahimahullah— berkata: Asal dari kebaikan dan keburukan bermula dari at-tafakkur (berpikir); karena pikiran adalah permulaan dari keinginan, pencarian, kezuhudan, meninggalkan sesuatu, cinta, dan benci.

Pikiran yang paling bermanfaat adalah berpikir tentang kemaslahatan akhirat, cara-cara untuk mendapatkannya, serta berpikir tentang kerusakan akhirat dan cara-cara menghindarinya. Ini adalah empat macam pikiran yang paling agung. Kemudian diikuti oleh empat lainnya: pikiran tentang kemaslahatan dunia dan cara meraihnya, serta pikiran tentang kerusakan dunia dan cara mewaspadainya. Maka di atas delapan pembagian inilah pikiran orang-orang berakal berputar.

Puncak dari bagian pertama adalah berpikir tentang nikmat-nikmat Allah, karunia-Nya, perintah-Nya, larangan-Nya, serta cara mengenal-Nya, nama-nama-Nya, dan sifat-sifat-Nya melalui Kitab-Nya, Sunnah Nabi-Nya, dan apa yang berkaitan dengan keduanya. Pikiran ini akan membuahkan cinta dan makrifat bagi pelakunya. Jika ia berpikir tentang akhirat, kemuliaannya, dan kekekalannya, serta tentang dunia, kerendahannya, dan kefanaannya, maka hal itu akan membuahkan keinginan terhadap akhirat dan kezuhudan terhadap dunia.

Semakin ia berpikir tentang pendeknya angan-angan dan sempitnya waktu, maka hal itu akan mewariskan kesungguhan, ijtihad, dan pengerahan segenap kemampuan dalam memanfaatkan waktu. Pikiran-pikiran ini akan mengangkat cita-citanya dan menghidupkannya setelah sebelumnya mati atau rendah, serta menjadikannya berada di suatu lembah (jalur) sementara manusia lainnya di lembah yang lain.

Sebaliknya, terdapat pikiran-pikiran buruk yang berputar di hati kebanyakan makhluk, seperti berpikir tentang hal-hal yang ia tidak dibebani untuk memikirkannya, dan tidak diberikan kemampuan untuk meliputinya (mengetahuinya secara menyeluruh) yang termasuk kelebihan ilmu yang tidak bermanfaat, seperti berpikir tentang bagaimana hakikat (kaifiyah) Zat Tuhan, yang mana akal tidak memiliki jalan untuk menangkapnya. ([7])


Catatan Kaki (Referensi):

  • ([1]) Bashair Dzawi at-Tamyiz 5/82.
  • ([2]) Redaksi Ibnu Manzhur dalam Al-Lisan: Tabashshara asy-syai': melihat kepadanya, apakah ia mengenalinya? (Al-Lisan 4/65).
  • ([3]) Lihat Tafsir Al-Qurthubi 13/343.
  • ([4]) Kami menyimpulkan paragraf ini dari perkataan para ulama mengenai materi kata ini.
  • ([5]) Maqayis al-Lughah (4/446).
  • ([6]) Lisan al-Arab dengan modifikasi hal. (5/65).
  • ([7]) Al-Fawaid (255).

 

Di Antara Ayat-Ayat yang Terkandung Mengenai An-Nazhar dan At-Tabashshur

Pertama: Ayat-Ayat Mengenai An-Nazhar (Melihat/Memperhatikan):

A. Perintah untuk memperhatikan makhluk-makhluk Allah —Azza wa Jalla—:

"Atau seperti orang yang melewati suatu negeri yang (bangunannya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: 'Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancurnya?' Maka Allah mematikan orang itu selama seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: 'Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?' Ia menjawab: 'Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.' Allah berfirman: 'Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum berubah; dan lihatlah kepada keledaimu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami hendak menjadikanmu sebagai tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membungkusnya dengan daging.' Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang mati) d iapun berkata: 'Saya mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu'." ([1]) — (QS. Al-Baqarah: 259)

"Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang hijau. Kami keluarkan dari tanaman yang hijau itu butir yang banyak; dan dari pohon kurma dari mayangnya menjuntai tandan-tandan yang menguntai rendah, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." ([2]) — (QS. Al-An'am: 99)

"Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi sesudah Al-Qur'an ini mereka akan beriman?" ([3]) — (QS. Al-A'raf: 185)

"Katakanlah: 'Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda-tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman'." ([4]) — (QS. Yunus: 101)

"Katakanlah: 'Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu'." ([5]) — (QS. Al-Ankabut: 20)

"Maka apakah mereka tidak melihat ke langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami membangunnya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikit pun?" ([6]) — (QS. Qaf: 6)

"Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?" ([7]) — (QS. Al-Ghashiyah: 17-20)


B. Perintah untuk memperhatikan keadaan umat-umat terdahulu:

"Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)." ([8]) — (QS. Ali 'Imran: 137)

"Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah bagaimana pelenyapan (akibat) orang-orang yang berbuat kerusakan." ([9]) — (QS. An-Naml: 14)

"Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi lalu memperhatikan bagaimana akibat orang-orang sebelum mereka? Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri mereka sendiri." ([10]) — (QS. Ar-Rum: 9)

"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah: 'Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)'." ([11]) — (QS. Ar-Rum: 41-42)

"Dan apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka, sedangkan orang-orang itu lebih kuat dari mereka? Dan tiada sesuatu pun di langit dan di bumi yang dapat melemahkan Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa." ([12]) — (QS. Fatir: 44)

"Dan sesungguhnya telah Kami utus pemberi-pemberi peringatan di kalangan mereka. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu." ([13]) — (QS. As-Saffat: 72-73)


D. Perintah untuk memperhatikan urusan dunia dan penciptaan manusia:

"Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu." ([14]) — (QS. 'Abasa: 24-32)

"Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada. Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (hidup sesudah mati)." ([15]) — (QS. At-Tariq: 5-8)


Referensi (Catatan Kaki):

([1]) Al-Baqarah: 259 (Madaniyyah). ([2]) Al-An'am: 99 (Makkiyyah). ([3]) Al-A'raf: 185 (Makkiyyah). ([4]) Yunus: 101 (Makkiyyah). ([5]) Al-Ankabut: 20 (Makkiyyah). ([6]) Qaf: 6. ([7]) Al-Ghashiyah: 17-20 (Makkiyyah). ([8]) Ali 'Imran: 137 (Madaniyyah). ([9]) An-Naml: 14 (Makkiyyah). ([10]) Ar-Rum: 9 (Makkiyyah). ([11]) Ar-Rum: 41-42 (Makkiyyah). ([12]) Fatir: 44 (Makkiyyah). ([13]) As-Saffat: 72-73 (Makkiyyah). ([14]) 'Abasa: 24-32 (Makkiyyah). ([15]) At-Tariq: 5-8 (Makkiyyah).


Kedua: Ayat-Ayat yang Terkandung Mengenai At-Tabashshur

1. Al-Bashir (Maha Melihat) sebagai Nama dan Sifat Allah —Azza wa Jalla—:

"Dan sungguh, engkau (Muhammad) akan mendapati mereka (orang-orang Yahudi) setamak-tamak manusia kepada kehidupan (dunia), bahkan (lebih tamak) daripada orang-orang musyrik. Masing-masing dari mereka ingin diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu tidak akan menjauhkannya dari azab. Dan Allah Maha Melihat (Bashiir) apa yang mereka kerjakan." ([1]) — (QS. Al-Baqarah: 96)

"Dan dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya di sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat (Bashiir) apa yang kamu kerjakan." ([2]) — (QS. Al-Baqarah: 110)

"Dan perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya karena mencari rida Allah dan untuk memperteguh jiwa mereka, seperti sebuah kebun di bukit yang tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiramnya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat (Bashiir) apa yang kamu kerjakan." ([3]) — (QS. Al-Baqarah: 265)

2. Penglihatan (Al-Bashar) sebagai Sarana Mengetahui Nikmat dan Mengenal Allah —Azza wa Jalla—:

"Katakanlah (Muhammad), 'Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus-menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu sebagai waktu istirahat bagimu? Maka apakah kamu tidak melihat (tubshiruun)?'" ([4]) — (QS. Al-Qashash: 72)

"Dan tidakkah mereka memperhatikan, bahwa Kami mencurahkan air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu tanaman yang menjadi makanan bagi hewan-hewan ternak mereka dan diri mereka sendiri. Maka apakah mereka tidak melihat (tubshiruun)?" ([5]) — (QS. As-Sajdah: 27)

"Dan di bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri; maka apakah kamu tidak melihat (tubshiruun)?" ([6]) — (QS. Adh-Dzariyat: 20-21)

"Inilah neraka yang dahulu kamu dustakan. Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat (tubshiruun)?" ([7]) — (QS. Ath-Thur: 14-15)

"Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu tidak akan melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu melihat sesuatu yang cacat? Kemudian ulangi pandanganmu sekali lagi dan sekali lagi, niscaya pandanganmu (al-bashar) akan kembali kepadamu tanpa menemukan cacat dan ia dalam keadaan letih." ([8]) — (QS. Al-Mulk: 3-4)

3. Bidang-Bidang dan Sarana At-Tabashshur:

"Dan apabila engkau (Muhammad) tidak membawakan suatu ayat kepada mereka, mereka berkata, 'Mengapa tidak engkau buat sendiri ayat itu?' Katakanlah (Muhammad), 'Sesungguhnya aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. (Al-Qur'an) ini adalah bukti-bukti nyata (bashaa'iru) dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman'." ([9]) — (QS. Al-A'raf: 203)

"Dialah yang menjadikan malam bagimu agar kamu beristirahat padanya dan menjadikan siang terang benderang (mubshiran). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mendengar." ([10]) — (QS. Yunus: 67)

"Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran Kami), kemudian Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang benderang (mubshirah) agar kamu (dapat) mencari karunia dari Tuhanmu, dan agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas." ([11]) — (QS. Al-Isra: 12)

"Dan sungguh, telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat) setelah Kami binasakan umat-umat yang terdahulu, untuk menjadi pelajaran (bashaa'iru) bagi manusia, petunjuk dan rahmat, agar mereka selalu ingat." ([12]) — (QS. Al-Qashash: 43)

"Allah-lah yang menjadikan malam untukmu agar kamu beristirahat padanya dan menjadikan siang terang benderang (mubshiran). Sesungguhnya Allah benar-benar memiliki karunia yang besar atas manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur." ([13]) — (QS. Ghafir: 61)

"Dan bumi yang Kami hamparkan dan Kami pancangkan di atasnya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan di atasnya berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah, untuk menjadi pelajaran (tabshirah) dan peringatan bagi setiap hamba yang kembali (tunduk kepada Allah)." ([14]) — (QS. Qaf: 7-8)

4. At-Tabashshur sebagai Sifat para Nabi dan Orang Beriman:

"Sungguh, telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang berhadap-hadapan. Satu golongan berperang di jalan Allah dan yang lain golongan kafir yang melihat dengan mata kepala (ra'yal 'ain) bahwa mereka (golongan mukmin) dua kali lipat jumlah mereka. Allah menguatkan dengan pertolongan-Nya siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan (aulil abshaar)." ([15]) — (QS. Ali 'Imran: 13)

"Katakanlah (Muhammad), 'Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan aku tidak mengetahui yang gaib dan aku tidak (pula) mengatakan kepadamu bahwa aku malaikat. Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku.' Katakanlah, 'Apakah sama antara orang yang buta dengan orang yang melihat (al-bashiir)? Apakah kamu tidak berpikir?'" ([16]) — (QS. Al-An'am: 50)

"Sungguh, telah datang kepadamu bukti-bukti yang nyata (bashaa'iru) dari Tuhanmu; barangsiapa melihat (abshara) (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihatnya), maka (kerugiannya) akan kembali kepada dirinya sendiri. Dan aku bukanlah penjaga bagimu." ([17]) — (QS. Al-An'am: 104)

"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi waswas dari setan, mereka segera ingat kepada Allah, maka seketika itu juga mereka melihat (mubshiruun) (kesalahan-kesalahannya)." ([18]) — (QS. Al-A'raf: 201)

"Katakanlah (Muhammad), 'Inilah jalanku, aku menyeru kepada Allah dengan bukti yang nyata (bashirah), aku dan orang-orang yang mengikutiku. Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik'." ([19]) — (QS. Yusuf: 108)

"Tidakkah engkau melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)-nya, kemudian menjadikannya bertumpuk-tumpuk, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran es) itu kepada siapa yang Dia kehendaki dan dipalingkan-Nya dari siapa yang Dia kehendaki. Kilauan kilatnya hampir-hampir menyilaukan penglihatan (al-abshaar). Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan (aulil abshaar)." ([20]) — (QS. An-Nur: 43-44)

"Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub yang mempunyai kekuatan-kekuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi (al-abshaar). Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan) akhlak yang tinggi, yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka di sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik." ([21]) — (QS. Sad: 45-47)

"Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat (al-bashiir), dan tidaklah (sama) orang-orang yang beriman serta mengerjakan kebajikan dengan orang yang berbuat jahat. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran." ([22]) — (QS. Ghafir: 58)

"Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya. Bahkan manusia itu menjadi saksi (bashirah) atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya." ([23]) — (QS. Al-Qiyamah: 13-15)

5. Orang Kafir dan Munafik Tidak Mendapat Manfaat Tabashshur dari Allah:

"Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, dan pada penglihatan (abshaarihim) mereka ada penutup. Dan bagi mereka azab yang berat." ([24]) — (QS. Al-Baqarah: 7)

"Dan sungguh, Kami jadikan untuk (isi) neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka mempunyai hati (tetapi) tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (yubshiruun) (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah." ([25]) — (QS. Al-A'raf: 179)

"Orang-orang yang menghalang-halangi (orang lain) dari jalan Allah dan menghendaki (jalan) itu menjadi bengkok, dan mereka itulah orang-orang yang tidak percaya adanya hari akhirat. Mereka itu tidak mampu melepaskan diri (dari azab Allah) di bumi, dan tidak ada bagi mereka pelindung selain Allah. Azab itu akan dilipatgandakan kepada mereka. Mereka tidak mampu mendengar (kebenaran) dan tidak dapat melihat (yubshiruun)." ([26]) — (QS. Hud: 19-20)

"Dan kalaupun Kami bukakan kepada mereka salah satu pintu langit, lalu mereka terus-menerus naik ke atasnya, tentulah mereka berkata, 'Sesungguhnya penglihatan (abshaarunaa) kami dikaburkan, bahkan kami adalah kaum yang terkena sihir'." ([27]) — (QS. Al-Hijr: 14-15)

"Maka apakah mereka tidak pernah berjalan di bumi, sehingga hati mereka dapat memahami, atau telinga mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata (al-abshaar) itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada." ([28]) — (QS. Al-Hajj: 46)

6. At-Tabashshur yang Terlambat (Tidak pada Waktunya) Tidak Ada Gunanya:

"Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya engkau melihat orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata), 'Ya Tuhan kami, kami telah melihat (absharnaa) dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin'." ([29]) — (QS. As-Sajdah: 12)

"Dan mereka berkata, 'Mengapa kami tidak melihat orang-orang yang dahulu kami anggap sebagai orang-orang yang jahat? Apakah dahulu kami (salah) menjadikan mereka sebagai ejekan, ataukah karena penglihatan (al-abshaar) kami yang tidak menemukan mereka?' Sesungguhnya yang demikian itu pasti terjadi, (yaitu) pertengkaran penghuni neraka." ([30]) — (QS. Sad: 62-64)

"Sesungguhnya engkau dahulu lalai tentang (peristiwa) ini, maka Kami singkapkan tutup (yang menutupi) matamu, sehingga penglihatanmu (basharuka) pada hari ini sangat tajam." ([31]) — (QS. Qaf: 22)

"Sedang mereka saling melihat (yubshsharuunahum). Orang yang berdosa ingin sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya." ([32]) — (QS. Al-Ma'arij: 10-11)


Referensi (Catatan Kaki):

Sama seperti daftar referensi pada teks asli, merujuk pada nama surah dan nomor ayat (Makkiyyah/Madaniyyah).

 

8. At-Tabashshur Mencegah dari Perbuatan yang Membinasakan:

"Tidak datang kepada mereka suatu peringatan pun yang baru dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya sambil bermain-main, (dalam keadaan) hati mereka lalai. Dan orang-orang yang zalim itu merahasiakan pembicaraan mereka: 'Orang ini (Muhammad) hanyalah seorang manusia (biasa) seperti kamu, maka apakah kamu menerima sihir itu padahal kamu melihatnya (tubshiruun)?'" ([1]) — (QS. Al-Anbiya: 2-3)

"Dan (ingatlah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: 'Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji (homoseksual) itu, padahal kamu melihatnya (tubshiruun)? Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk memuaskan syahwat(mu) bukan mendatangi perempuan? Sungguh, kamu adalah kaum yang jahil (tidak mengetahui akibat perbuatanmu)'." ([2]) — (QS. An-Naml: 54-55)


Ketiga: Di Antara Ayat-Ayat yang Mengandung Makna At-Tabashshur:

"Lalu Kami berfirman: 'Pukullah (mayat) itu dengan bagian dari (sapi betina) itu!' Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan Dia memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan-Nya) agar kamu mengerti'." ([3]) — (QS. Al-Baqarah: 73)

"Tidakkah mereka memperhatikan (yaro) berapa banyak umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, padahal (umat itu) telah Kami teguhkan kedudukannya di bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat untuk mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa-dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan setelah mereka umat yang lain'." ([4]) — (QS. Al-An'am: 6)

"Maka apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar, sama dengan orang yang buta? Hanya orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran'." ([5]) — (QS. Ar-Ra'd: 19)

"Dan tidakkah mereka melihat (yaro) bahwa Kami mendatangi daerah-daerah (orang kafir), lalu Kami kurangi (daerah-daerah itu) sedikit demi sedikit dari tepi-tepinya? Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya; dan Dialah yang Maha Cepat perhitungan-Nya'." ([6]) — (QS. Ar-Ra'd: 41)

"Tidakkah mereka memperhatikan (yaro) burung-burung yang dimudahkan terbang di angkasa bebas. Tidak ada yang menahannya selain Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang beriman'." ([7]) — (QS. An-Nahl: 79)

"Dan tidakkah mereka memperhatikan (yaro) bahwa Allah yang telah menciptakan langit dan bumi adalah berkuasa (pula) menciptakan yang serupa dengan mereka, dan Dia telah menetapkan waktu yang tertentu bagi mereka yang tidak ada keraguan padanya? Maka orang-orang zalim itu tidak menyukai melainkan kekafiran'." ([8]) — (QS. Al-Isra: 99)

"Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui (yaro) bahwa langit dan bumi keduanya dahulu menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya; dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; maka mengapa mereka tidak beriman?'" ([9]) — (QS. Al-Anbiya: 30)

"Sebenarnya Kami telah memberi kesenangan kepada mereka dan nenek moyang mereka sehingga panjang usia mereka. Maka apakah mereka tidak melihat (yaro) bahwa Kami mendatangi negeri (yang berada di bawah kekuasaan orang kafir), lalu Kami kurangi luasnya dari ujung-ujung wilayahnya? Maka apakah mereka yang menang?'" ([10]) — (QS. Al-Anbiya: 44)

"Tidakkah kamu memperhatikan (tarou) bahwa Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untuk (kepentingan)mu dan menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir dan batin? Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu, tanpa petunjuk, dan tanpa Kitab yang memberi penerangan'." ([11]) — (QS. Luqman: 20)

"Tidakkah engkau memperhatikan (tara) bahwa kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, agar diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi setiap orang yang sangat sabar dan banyak bersyukur'." ([12]) — (QS. Luqman: 31)

"Maka apakah mereka tidak melihat (yarou) langit dan bumi yang ada di hadapan dan di belakang mereka? Jika Kami menghendaki, niscaya Kami benamkan mereka di bumi atau Kami jatuhkan kepada mereka kepingan-kepingan dari langit. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap hamba yang kembali (kepada-Nya)'." ([13]) — (QS. Saba: 9)

"Dan tidakkah mereka melihat (yarou) bahwa Kami telah menciptakan hewan ternak untuk mereka, yaitu sebagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami, lalu mereka menguasainya?'" ([14]) — (QS. Yasin: 71)

"Dan tidakkah manusia memperhatikan (yaro) bahwa Kami menciptakannya dari setetes mani, ternyata dia menjadi musuh yang nyata!'" ([15]) — (QS. Yasin: 77)

"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dunia dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?'" ([16]) — (QS. Fussilat: 53)

"Dan tidakkah mereka memperhatikan (yarou) bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa lelah karena menciptakannya, kuasa (pula) menghidupkan orang-orang mati? Ya, (bahkan) sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu'." ([17]) — (QS. Al-Ahqaf: 33)

"Saat (hari kiamat) sudah dekat, dan bulan telah terbelah. Dan jika mereka melihat (yarou) suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: '(Ini adalah) sihir yang terus-menerus'. Dan mereka mendustakan (Muhammad) dan mengikuti keinginan mereka, padahal setiap urusan telah ada ketetapannya'." ([18]) — (QS. Al-Qamar: 1-3)

"Tidakkah kamu memperhatikan (tarou) bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis? Dan di sana Dia menciptakan bulan yang bercahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita (yang terang-benderang)?'" ([19]) — (QS. Nuh: 15-16)


Hadis-Hadis Tentang An-Nazhar (Melihat) dan At-Tabashshur (Kesadaran):

Dari Abu Sa’id al-Khudri —radhiyallahu 'anhu— berkata: Rasulullah suatu hari menceritakan kepada kami hadis yang panjang tentang Dajjal. Di antara yang beliau sampaikan adalah: "Dajjal akan datang ([20]), dan ia diharamkan memasuki jalan-jalan (niqab) Madinah ([21]). Ia akan berhenti di sebuah tanah lapang yang bergaram di dekat Madinah. Maka pada hari itu keluarlah seorang laki-laki yang merupakan manusia terbaik —atau di antara manusia terbaik ([22])— lalu berkata kepada Dajjal: 'Aku bersaksi bahwa engkau adalah Dajjal yang telah diceritakan oleh Rasulullah kepada kami.' Dajjal berkata: 'Bagaimana pendapat kalian jika aku membunuh orang ini kemudian aku menghidupkannya kembali, apakah kalian masih ragu dalam urusan ini?' Mereka menjawab: 'Tidak.' Maka Dajjal membunuhnya lalu menghidupkannya kembali. Ketika ia telah dihidupkan ([23]), lelaki itu berkata: 'Demi Allah! Tidak pernah aku memiliki kesadaran (bashirah) yang lebih kuat tentang dirimu daripada saat ini!' Maka Dajjal ingin membunuhnya lagi, namun ia tidak diberi kemampuan untuk menguasai lelaki itu." ([24])

Dari Abu Hurairah —radhiyallahu 'anhu— bahwa Rasulullah bersabda: "Jika salah seorang dari kalian melihat (nazhara) kepada orang yang dilebihkan atasnya dalam hal harta dan fisik, maka hendaklah ia melihat (falyanzhur) kepada orang yang lebih rendah darinya dari kalangan orang yang dilebihkan atasnya." ([25])

Dari Abu Hurairah —radhiyallahu 'anhu— berkata: Rasulullah bersabda: "Lihatlah (unzhuruu) kepada orang yang berada di bawahmu, dan janganlah kalian melihat (tanzhuruu) kepada orang yang berada di atasmu, karena hal itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah ([26])." Abu Muawiyah berkata: "atas kalian." ([27]) ([28]).

Dari Abdullah bin 'Amru bin al-'Ash —radhiyallahu 'anhuma— berkata: Rasulullah bersabda: "Ada dua perkara yang jika terdapat pada diri seseorang, maka Allah akan mencatatnya sebagai orang yang bersyukur lagi bersabar. Dan barangsiapa yang tidak terdapat dua hal itu padanya, maka Allah tidak mencatatnya sebagai orang yang bersyukur maupun bersabar. Yaitu: Barangsiapa yang dalam urusan agamanya melihat (nazhara) kepada orang yang berada di atasnya lalu ia meneladaninya, dan dalam urusan dunianya ia melihat (nazhara) kepada orang yang berada di bawahnya lalu ia memuji Allah atas kelebihan yang diberikan-Nya kepadanya, maka Allah mencatatnya sebagai orang yang bersyukur lagi bersabar. Namun, barangsiapa yang dalam urusan agamanya melihat kepada orang yang berada di bawahnya, dan dalam urusan dunianya ia melihat kepada orang yang berada di atasnya lalu ia bersedih atas apa yang luput darinya, maka Allah tidak mencatatnya sebagai orang yang bersyukur maupun bersabar." ([29])


Catatan Kaki (Referensi):

  • ([20]) Yakni Dajjal.
  • ([21]) Niqab al-Madinah artinya jalan-jalan dan lorong-lorongnya. Niqab adalah bentuk jamak dari naqb, yaitu jalan di antara dua gunung.
  • ([22]) Keraguan dari perawi.
  • ([23]) Yang berkata adalah lelaki yang disifatkan Rasulullah sebagai orang terbaik atau di antara manusia terbaik.
  • ([24]) Al-Bukhari - Al-Fath 13 (7132), dan Muslim 4 (2938), teks milik Muslim.
  • ([25]) Al-Bukhari, Al-Fath (6490), dan Muslim (2963).
  • ([26]) Muslim (2963).
  • ([27]) Abu Muawiyah adalah perawi yang meriwayatkan hadis dari Al-A’masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah.
  • ([28]) Perbedaan antara hadis ini dengan sebelumnya adalah di sini terdapat dorongan untuk melihat sejak awal kepada yang lebih rendah, serta penyebutan sebabnya. Sedangkan hadis sebelumnya, manusia mungkin mulai melihat kepada yang di atasnya dan merasa sedih, lalu Rasulullah memberi bimbingan untuk mengobati kondisi tersebut; maka kami mencantumkan keduanya.
  • ([29]) At-Tirmidzi (2512), teks miliknya, ia berkata: Hasan Gharib. Sebagiannya ada dalam Muslim dari hadis Abu Hurairah (2963). Ibnu Majah (4142). Hadis ini juga terdapat dalam Al-Misykah (3/1446) no. 5256.

Di Antara Ayat-Ayat yang Terkandug Mengenai At-Tafakkur (Berpikir/Merenung):

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan (yatafakkuruun) tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): 'Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun'." ([1]) — (QS. Ali 'Imran: 190-192)

"Katakanlah (Muhammad): 'Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku malaikat. Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku'. Katakanlah: 'Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat?' Maka apakah kamu tidak memikirkan (tatafakkuruun)?" ([2]) — (QS. Al-An'am: 50)

"Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir (yatafakkuruun)." ([3]) — (QS. Al-A'raf: 175-176)

"Apakah mereka tidak memikirkan (yatafakkuruu) bahwa teman mereka (Muhammad) tidaklah gila. Dia tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan lagi pemberi penjelasan. Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi sesudah Al-Qur'an ini mereka akan beriman?" ([4]) — (QS. Al-A'raf: 184-185)

"Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) lunas terbabat, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir (yatafakkuruun)." ([5]) — (QS. Yunus: 24)

"Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu. Dan Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan segala macam buah-buahan menjadikan padanya pasangan dua-dua, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir (yatafakkuruun)." ([6]) — (QS. Ar-Ra'd: 2-3)

"Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui, keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur'an, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka berpikir (yatafakkuruun)." ([7]) — (QS. An-Nahl: 43-44)

"Dan apakah mereka tidak memikirkan (yatafakkuruu) dalam (diri) mereka? Allah tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya." ([8]) — (QS. Ar-Rum: 8)

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir (yatafakkuruun)." ([9]) — (QS. Ar-Rum: 20-21)

"Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir (yatafakkuruun)." ([10]) — (QS. Az-Zumar: 42)

"Allah-lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya, dan supaya kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur. Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir (yatafakkuruun)." ([11]) — (QS. Al-Jathiyah: 12-13)

"Tidak sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung. Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir (yatafakkuruun)." ([12]) — (QS. Al-Hasyr: 20-21)


Hadis-Hadis Tentang At-Tafakkur:

Dari 'Atha' berkata: Aku dan Ubaid bin 'Umair masuk menemui 'Aisyah, lalu ia berkata kepada Ubaid bin 'Umair: "Sudah saatnya bagimu untuk mengunjungi kami." Ubaid menjawab: "Wahai Ibu, aku berkata sebagaimana orang terdahulu berkata: 'Zhur ghibban, tazdad hubban' (Berkunjunglah jarang-jarang, niscaya rasa cinta akan bertambah)." 'Aisyah berkata: "Tinggalkanlah perkataan kalian yang aneh ini." Ibnu 'Umair bertanya: "Beritahukanlah kepada kami hal paling menakjubkan yang pernah engkau lihat dari Rasulullah ." 'Aisyah terdiam sejenak lalu berkata: "Pada suatu malam, beliau bersabda: 'Wahai 'Aisyah, biarkanlah aku beribadah malam ini kepada Tuhanku.' Aku menjawab: 'Demi Allah, sesungguhnya aku mencintai kedekatanmu dan aku mencintai apa yang membuatmu bahagia.' Lalu beliau bangun, bersuci, dan berdiri menunaikan salat. Beliau terus-menerus menangis hingga air matanya membasahi pangkuannya. Beliau terus menangis hingga membasahi janggutnya. Beliau terus menangis hingga membasahi tanah. Lalu Bilal datang memberitahu beliau untuk salat (Subuh). Ketika Bilal melihat beliau menangis, ia bertanya: 'Wahai Rasulullah, mengapa engkau menangis padahal Allah telah mengampuni dosamu yang terdahulu dan yang akan datang?' Beliau bersabda: 'Tidakkah aku (ingin) menjadi hamba yang banyak bersyukur? Sungguh telah turun kepadaku malam ini sebuah ayat, celakalah bagi orang yang membacanya namun tidak memikirkan (bertafakkur) di dalamnya: (Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi...)'." ([13])


Hadis Tentang At-Tafakkur Secara Makna:

Dari 'Amru bin 'Abasah as-Sulami berkata: "Dahulu pada masa Jahiliyah, aku mengira bahwa manusia berada dalam kesesatan dan mereka tidak berada di atas kebenaran sedikit pun, karena mereka menyembah berhala. Lalu aku mendengar ada seorang lelaki di Mekkah yang membawa berita-berita penting. Aku pun duduk di atas kendaraanku dan menemuinya. Ternyata ia adalah Rasulullah yang sedang menyembunyikan diri karena kaumnya bersikap keras ([14]) terhadapnya. Aku bersikap lembut hingga bisa menemuinya di Mekkah. Aku bertanya: 'Siapakah engkau?' ([15]) Beliau menjawab: 'Aku adalah seorang Nabi.' Aku bertanya: 'Apa itu Nabi?' Beliau menjawab: 'Allah telah mengutusku.' Aku bertanya: 'Dengan urusan apa Dia mengutusmu?' Beliau menjawab: 'Dia mengutusku untuk menyambung tali silaturahmi, menghancurkan berhala, dan agar Allah ditauhidkan (diesakan) tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.' Aku bertanya: 'Siapa yang bersamamu dalam hal ini?' Beliau menjawab: 'Orang merdeka dan budak.' (Perawi berkata: Saat itu yang bersama beliau dari kalangan orang beriman adalah Abu Bakar dan Bilal). Maka aku berkata: 'Sesungguhnya aku adalah pengikutmu'." ([16])


Atsar (Perkataan Sahabat) dan Pendapat Ulama/Mufasir Tentang An-Nazhar dan At-Tabashshur:

  • Dari 'Aisyah —radhiyallahu 'anha— berkata ([17]): "Sungguh Abu Bakar telah memberikan kesadaran (bashshara) dan petunjuk kepada manusia, serta mengenalkan mereka pada kebenaran yang wajib atas mereka. Mereka keluar darinya sembari membaca ayat: (Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul yang telah didahului oleh para rasul sebelumnya...) sampai (dan orang-orang yang bersyukur) (QS. Ali 'Imran: 144)." ([18])
  • Ibnu Abbas —radhiyallahu 'anhuma— berkata tentang firman Allah: "Bahkan manusia itu menjadi saksi (bashirah) atas dirinya sendiri" (QS. Al-Qiyamah: 14): "Bashirah di sini berarti saksi, yaitu persaksian anggota tubuh atas dirinya; kedua tangannya atas apa yang ia perbuat dengan kasar, kedua kakinya atas apa yang ia tuju untuk berjalan, dan kedua matanya atas apa yang ia lihat dengan keduanya." ([19])
  • Al-Hasan —radhiyallahu 'anhu— berkata mengenai ayat di atas: "Artinya, manusia itu jeli (bashir) terhadap aib orang lain namun bodoh terhadap aib dirinya sendiri." ([20])
  • Ibnu al-Jauzi —rahimahullah— berkata: "Barangsiapa yang menyaksikan dengan mata batinnya (bashirah) kesudahan segala perkara sejak dari permulaannya, niscaya ia akan meraih kebaikannya dan selamat dari keburukannya. Barangsiapa yang tidak melihat dampak/akibat, maka perasaan indrawinya akan mengalahkannya, sehingga ia akan tertimpa rasa sakit dari apa yang ia cari keselamatannya, dan tertimpa kelelahan dari apa yang ia harapkan ketenangannya." ([21])
  • Ibnu al-Jauzi juga berkata: "Aku membaca ayat ini: (Katakanlah: 'Terangkanlah kepadaku jika Allah mengambil pendengaran dan penglihatanmu serta mengunci hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang akan mengembalikannya kepadamu?') (QS. Al-An'am: 46). Maka nampaklah bagiku sebuah isyarat yang hampir membuatku goyah, yaitu: jika yang dimaksud oleh ayat tersebut adalah indra pendengaran dan penglihatan itu sendiri, maka pendengaran adalah alat untuk menangkap suara dan penglihatan adalah alat untuk menangkap objek pandang. Keduanya menyodorkan hasil tangkapan itu kepada hati, lalu hati merenung dan mengambil pelajaran. Jika makhluk-makhluk diperlihatkan pada pendengaran dan penglihatan, keduanya akan menyampaikan kabar-kabarnya ke hati, bahwa semua itu menunjukkan adanya Sang Pencipta, mendorong ketaatan kepada-Nya, dan memperingatkan dari siksa-Nya jika melanggar. Namun, jika yang dimaksud adalah hakikat (makna) dari pendengaran dan penglihatan, maka hal itu terjadi dengan kelalaian keduanya dari hakikat apa yang ditangkap (karena) keduanya sibuk dengan hawa nafsu. Maka manusia dihukum dengan dicabutnya makna/fungsi dari alat-alat tersebut; ia melihat namun seolah tidak melihat, dan ia mendengar namun seolah tidak mendengar." ([22])
  • Ibnu al-Jauzi juga berkata: "Aku melihat setiap orang yang tersandung sesuatu atau tergelincir saat hujan, ia akan menoleh kepada apa yang membuatnya tersandung lalu melihatnya. Hal ini merupakan watak yang diletakkan pada makhluk; baik untuk waspada darinya jika ia melewatinya lagi, atau untuk melihat—beserta kewaspadaan dan pemahamannya—bagaimana ia bisa luput dari penjagaan terhadap hal semacam itu? Maka aku mengambil isyarat dari hal itu dan berkata: 'Wahai orang yang telah tersandung berkali-kali, mengapa engkau tidak melihat (absharta) apa yang membuatmu tersandung?' atau 'Mengapa engkau tidak menganggap buruk kejadian itu meski engkau telah berusaha waspada?'." ([23])
  • Ibnu al-Jauzi —rahimahullah— berkata: "Memperhatikan kesudahan (al- 'awaqib) dan apa yang mungkin terjadi adalah urusan orang-orang berakal. Adapun memperhatikan keadaan saat ini saja adalah keadaan orang-orang bodoh lagi dungu; seperti orang yang melihat dirinya sehat lalu lupa akan sakit, atau kaya lalu lupa akan miskin, atau melihat kelezatan sesaat lalu lupa akan apa yang diakibatkan oleh kesudahannya. Tidaklah akal memiliki tugas kecuali memperhatikan kesudahan, dan ia akan memberi petunjuk pada kebenaran: dari arah mana ia harus menyambutnya?" ([24])
  • Ibnu Muflih (dari Abi al-Faraj) berkata: "Hanyalah akal itu dilebihkan atas perasaan indrawi dengan cara memperhatikan kesudahan. Sebab, indra tidak melihat kecuali apa yang hadir (saat ini), sedangkan akal memperhatikan akhir dari segala perkara ([25]) dan bekerja berdasarkan apa yang digambarkan akan terjadi. Maka tidak seyogianya bagi orang berakal untuk lalai dalam mengamati kesudahan. Di antaranya adalah rasa malas dalam menuntut ilmu dan lebih memilih istirahat sesaat, hal itu (ketika diperhatikan dengan nazhar dan tabashshur) akan mengakibatkan penyesalan abadi yang mana kelezatan pengangguran tidak akan sebanding dengan sepersepuluh dari penyesalan tersebut." ([26])
  • Ibnu al-Qayyim —rahimahullah— berkata: "(Setan berkata kepada para pembantunya): 'Cegahlah celah mata agar penglihatannya tidak menjadi sebuah pelajaran (i'tibar), melainkan jadikanlah ia sekadar tontonan, kekaguman, dan hiburan belaka. Jika mata itu mencuri pandangan untuk mengambil pelajaran, maka rusaklah ia dengan pandangan kelalaian, kekaguman (duniawi), dan syahwat, karena hal itu lebih dekat dan lebih melekat pada jiwanya serta lebih ringan baginya. Kuasailah celah mata karena kalian akan mencapai keinginan kalian darinya. Sungguh, aku tidak merusak anak cucu Adam dengan sesuatu yang melebihi pandangan (an-nazhar), karena dengannya aku menanam benih syahwat di dalam hati, kemudian aku menyiramnya dengan air angan-angan, lalu aku senantiasa menjanjikan dan memberi harapan palsu padanya, dan aku menuntunnya dengan kendali syahwat menuju pelepasan diri dari penjagaan (kesucian); maka janganlah kalian abaikan urusan celah (mata) ini'." ([27])
  • Ibnu al-Qayyim —rahimahullah— berkata: "Tuhan Ta'ala menyeru hamba-hamba-Nya di dalam Al-Qur'an untuk mengenal-Nya melalui dua jalan:
    1. Memperhatikan (an-nazhar) pada ciptaan-ciptaan-Nya.
    2. Memikirkan (at-tafakkur) pada ayat-ayat-Nya dan merenungkannya.

Maka yang pertama adalah ayat-ayat-Nya yang disaksikan (al-masyhudah), dan yang kedua adalah ayat-ayat-Nya yang didengar serta dipahami (al-masmu'ah al-ma'qulah)."


Referensi (Catatan Kaki):

Sama seperti daftar referensi pada teks asli, merujuk pada nomor catatan kaki yang tercantum di akhir teks (Ali 'Imran, An-An'am, Al-A'raf, dll).

  • ([25]) Al-Akhirah di sini bermakna akhir dari sebuah perkara/kejadian di dunia.

Maka jenis yang pertama adalah sebagaimana firman Allah Ta'ala: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (Ali 'Imran: 190). Dan yang semisal ini dalam Al-Qur'an sangat banyak ([1]). Adapun yang kedua adalah seperti firman-Nya: “Maka apakah mereka tidak merenungkan Al-Qur'an?” (An-Nisa: 82) ([2]), ([3]).

Seorang penyair berkata:

Manusia berada dalam kelalaian sedangkan kematian membangunkan mereka

Namun mereka tidak kunjung sadar hingga usia habis binasa

Mereka mengiringi jenazah keluarga mereka dengan perkumpulan mereka

Dan mereka melihat ke tempat di mana keluarga itu dikuburkan

Lalu mereka kembali kepada lamunan kelalaian mereka

Seolah-olah mereka tidak melihat sesuatu pun dan tidak pernah memandang ([4])

Abu Ja’far al-Qurasyi berkata:

Jika engkau memandang dengan maksud mengambil pelajaran

Maka pandanglah dirimu sendiri, sebab pada dirimu terdapat pelajaran ([5])


Di Antara Atsar (Riwayat) dan Perkataan Ulama Mengenai At-Tafakkur (Berpikir/Merenung)

Luqman (Al-Hakim) sering duduk sendirian dalam waktu yang lama. Tuannya pernah lewat di depannya dan berkata: “Wahai Luqman, engkau terus-menerus duduk sendirian, sekiranya engkau duduk bersama orang-orang tentu itu akan lebih menyenangkan bagimu.” Maka Luqman menjawab: “Sesungguhnya kesendirian yang lama itu lebih memahamkan pikiran, dan pikiran yang lama adalah penunjuk menuju jalan surga.” ([6])

Dari Ibnu Abbas —radhiyallahu 'anhuma—: “Dua rakaat yang sederhana namun disertai dengan berpikir (tafakkur) itu lebih baik daripada salat malam semalam suntuk namun dengan hati yang kosong.” ([7])

Dari Ibnu Abbas —radhiyallahu 'anhuma— ia berkata: “Kaum Quraisy mendatangi orang-orang Yahudi dan bertanya: ‘Mukjizat apa yang dibawa Musa kepada kalian?’ Mereka menjawab: ‘Tongkatnya dan tangannya yang putih bersinar bagi orang-orang yang melihat.’ Kemudian mereka mendatangi kaum Nasrani dan bertanya: ‘Bagaimana keadaan Isa di tengah kalian?’ Mereka menjawab: ‘Dia dapat menyembuhkan orang buta sejak lahir, penyakit kusta, dan menghidupkan orang mati.’ Maka mereka mendatangi Nabi dan berkata: ‘Berdoalah kepada Tuhanmu agar menjadikan bukit Shafa menjadi emas bagi kami.’ Beliau pun berdoa kepada Tuhannya, lalu turunlah ayat: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (Ali 'Imran: 190). Maka hendaknya mereka memikirkan (bertafakkur) di dalamnya.” ([8])

Dari Ibnu Abbas —radhiyallahu 'anhuma— ia berkata: “Berpikirlah tentang segala sesuatu (ciptaan-Nya), namun janganlah kalian berpikir tentang Zat Allah.” ([9])

Umar bin Abdul Aziz berkata: “Berpikir (al-fikrah) tentang nikmat-nikmat Allah termasuk ibadah yang paling utama.” ([10])

Dari Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz, bahwasanya suatu hari ia menangis di tengah para sahabatnya, lalu ia ditanya tentang sebab tangisannya, ia menjawab: “Aku memikirkan tentang dunia, kelezatan, dan syahwatnya. Aku pun mengambil pelajaran darinya bahwa syahwatnya hampir-hampir tidak pernah habis melainkan akan dikeruhkan oleh kepahitannya. Jika tidak ada pelajaran di dalamnya bagi orang yang mengambil pelajaran, sesungguhnya di dalamnya terdapat nasihat bagi orang yang mau ingat.” ([11])

Dari Abdullah bin Utbah ia berkata: Aku bertanya kepada Ummu ad-Darda: “Apakah ibadah Abu ad-Darda yang paling utama?” Ia menjawab: “Berpikir (at-tafakkur) dan mengambil pelajaran (al-i'tibar).” ([12])

Dari Amir bin Abdi Qais ia berkata: Aku mendengar tidak hanya satu, dua, atau tiga orang dari sahabat Muhammad berkata: “Sesungguhnya cahaya iman atau sinar iman adalah berpikir (at-tafakkur).” ([13])

Dari Al-Hasan (Al-Bashri) —rahimahullah— ia berkata: “Sesungguhnya di antara amal yang paling utama adalah sifat wara’ dan berpikir.” ([14])

Dari Al-Hasan —rahimahullah— ia berkata: “Berpikir sesaat itu lebih baik daripada salat malam semalam suntuk.” ([15])

Al-Hasan berkata: “Orang-orang yang berakal senantiasa kembali dari dzikir kepada pikir, dan dari pikir kepada dzikir, hingga mereka membuat hati mereka berbicara, maka hati itu pun berbicara dengan hikmah.” ([16])

Dari Muhammad bin Ka'ab al-Qurazhi ia berkata: “Sungguh aku membaca (surah) Idza Zulzilat dan Al-Qari'ah di malam hariku hingga waktu subuh tanpa menambah selain keduanya, sembari mengulang-ulang keduanya dan memikirkannya, itu lebih aku cintai daripada aku membaca Al-Qur'an dengan tergesa-gesa semalam suntuk.” ([17])

Dari Thawus ia berkata: “Al-Hawariyyun (sahabat Nabi Isa) berkata kepada Isa bin Maryam: ‘Wahai Ruhullah, apakah di bumi hari ini ada orang yang sepertimu?’ Beliau menjawab: ‘Ya, barangsiapa yang bicaranya adalah dzikir, diamnya adalah pikir, dan pandangannya adalah pelajaran (ibrah), maka dialah sepertiku’.” ([18])

Wahab bin Munabbih berkata: “Tidaklah lama pikiran seseorang melainkan ia akan mengetahui (mendapat ilmu), dan tidaklah seseorang mengetahui melainkan ia akan beramal.” ([19])

Abdullah bin al-Mubarak berkata: “Seorang laki-laki melewati seorang rahib di dekat pemakaman dan tempat sampah, lalu ia memanggilnya dan berkata: ‘Wahai rahib, sesungguhnya di sisimu ada dua perbendaharaan dari perbendaharaan dunia yang padanya terdapat pelajaran bagimu; perbendaharaan manusia (kuburan) dan perbendaharaan harta (sampah)’.” ([20])

Syeikh Abu Sulaiman ad-Darani berkata: “Sesungguhnya aku keluar dari rumahku, dan tidaklah pandanganku jatuh pada sesuatu melainkan aku melihat adanya nikmat Allah di sana dan aku mendapatkan pelajaran di dalamnya.” ([21])

Bisyr bin al-Harits al-Hafi berkata: “Sekiranya manusia berpikir tentang keagungan Allah, niscaya mereka tidak akan bermaksiat kepada Allah —Azza wa Jalla.” ([22])

Mughits al-Aswad berkata: “Ziarahilah kuburan setiap hari untuk membuat kalian berpikir, dan saksikanlah tempat perhimpunan (hari kiamat) dengan hati kalian. Lihatlah kepada kembalinya dua golongan (manusia) ke surga atau ke neraka. Rasakanlah oleh hati dan fisik kalian tentang penyebutan neraka, cambuk-cambuknya, dan tingkatan-tingkatannya.” Ia biasanya menangis setelah itu hingga tersungkur pingsan di antara para sahabatnya karena hilang kesadarannya (sangat takut).

Dikatakan kepada Ibrahim bin Adham: “Sesungguhnya engkau memanjangkan pikiran.” Ia menjawab: “Berpikir adalah inti dari akal.” ([23])

Imam Syafi’i —rahimahullah— berkata: “Mintalah bantuan atas pembicaraan dengan diam, dan atas penggalian hukum (istinbath) dengan berpikir.” Beliau juga berkata: “Benarnya pandangan dalam segala urusan adalah penyelamat dari tipu daya, keteguhan dalam pendapat adalah keselamatan dari kelalaian dan penyesalan, pengamatan dan pikiran akan menyingkap ketegasan dan kecerdasan, bermusyawarah dengan orang bijak adalah kemantapan bagi jiwa dan kekuatan bagi mata batin (bashirah). Maka berpikirlah sebelum engkau bertekad, renungkanlah sebelum engkau menyerang, dan bermusyawarahlah sebelum engkau maju melangkah.” ([24])

Dari Fudhail bin 'Iyadh ia berkata: “Pikiran adalah cermin yang memperlihatkan kebaikan-kebaikanmu dan keburukan-keburukanmu.” ([25])

Abu Sulaiman berkata: “Biasakanlah mata kalian untuk menangis dan hati kalian untuk berpikir.” ([26])

Ia juga berkata: “Memikirkan dunia adalah tirai/penghalang dari akhirat, sedangkan memikirkan akhirat akan membuahkan hikmah dan menghidupkan hati.” ([27])

Dari seorang wanita yang tinggal di pedalaman dekat Mekkah bahwasanya ia berkata: “Sekiranya hati orang-orang bertakwa menengok dengan pikirannya kepada apa yang telah disimpan untuk mereka di balik tirai ghaib berupa kebaikan akhirat, niscaya tidak akan jernih kehidupan dunia bagi mereka dan tidak akan tenang mata mereka di dunia.” ([28])

Al-Allamah Ibnu al-Qayyim —rahimahullah— berkata: “Obat yang paling bermanfaat adalah engkau menyibukkan dirimu dengan berpikir pada apa yang penting bagimu, bukan pada apa yang tidak penting bagimu. Sebab, memikirkan hal yang tidak penting adalah pintu segala keburukan. Barangsiapa berpikir pada hal yang tidak penting baginya, maka akan luput darinya apa yang penting baginya, dan ia akan tersibukkan dari hal yang paling bermanfaat baginya dengan sesuatu yang tidak ada manfaat padanya. Maka pikiran, lintasan hati, keinginan, dan tekad adalah hal yang paling berhak untuk engkau perbaiki dari dirimu sendiri; karena inilah privasimu dan hakikat dirimu yang dengannya engkau menjauh atau mendekat kepada Tuhanmu dan Sembahanmu—yang tidak ada kebahagiaan bagimu kecuali dengan dekat kepada-Nya dan ridha-Nya bagimu. Segala kesengsaraan adalah dalam kejauhanmu dari-Nya dan kemurkaan-Nya atasmu. Barangsiapa yang dalam lintasan hati dan ranah pikirannya bersifat rendah dan hina, maka tidaklah sisa urusannya melainkan akan menjadi seperti itu pula.” ([29])


Referensi (Catatan Kaki):

Sama seperti daftar referensi pada teks asli (merujuk pada buku Al-Ihya, Tafsir Ibnu Katsir, Al-Fawaid, Said al-Khatir, dll).


Di Antara Perkataan Para Penyair:

Sufyan bin 'Uyainah —rahimahullah— berkata:

"Apabila seseorang memiliki pikiran (yang merenung),

Maka dalam segala sesuatu terdapat pelajaran baginya." ([1])

Beberapa ahli sastra melantunkan syair:

"Sungguh aku telah melihat kesudahan urusan dunia,

Maka aku tinggalkan apa yang aku sukai demi apa yang aku takuti.

Aku merenungkan tentang dunia dan isinya,

Ternyata seluruh urusannya akan sirna.

Aku telah menguji kebanyakan penghuninya, ternyata,

Setiap orang sibuk berjuang demi urusannya sendiri.

Kedudukan yang paling indah dan paling tinggi,

Dalam kemuliaannya justru paling dekat dengan jurang kejatuhan.

Keburukannya menghapus kebaikannya,

Tak ada beda antara berita duka dan berita gembira.

Sungguh aku telah melewati pemakaman, namun aku,

Tidak bisa membedakan antara hamba sahaya dan tuannya.

Tahukah engkau betapa banyak yang telah kau lihat,

Mereka yang tadinya hidup lalu kemudian kau lihat telah mati." ([2])

Seorang penyair berkata:

"Jika engkau sedang dalam kenikmatan, maka jagalah ia,

Karena sesungguhnya kemaksiatan itu melenyapkan kenikmatan.

Lindungilah ia dengan ketaatan kepada Tuhan semesta alam,

Karena Tuhan semesta alam sangat cepat siksaan-Nya.

Dan jauhilah kezaliman semampu yang kau bisa,

Karena menzalimi sesama hamba dampaknya sangat mematikan.

Mengembaralah dengan hatimu di antara manusia,

Agar engkau dapat melihat jejak-jejak orang yang telah berbuat zalim." ([3])


Pentingnya Memperhatikan Kesudahan Urusan (Al-Awaqib)

Ibnu al-Jauzi berkata dalam kitab Said al-Khatir:

Seyogianya kesibukan orang yang berakal adalah melihat kepada kesudahan urusan dan waspada terhadap apa yang mungkin terjadi.

Termasuk kesalahan adalah hanya melihat pada keadaan saat ini yang selaras dengan mata pencahariannya dan kesehatan fisiknya, padahal boleh jadi apa yang menyertainya saat ini tidak akan berlangsung selamanya. Maka ia harus bertindak atas dasar rasa takut akan terputusnya hal tersebut, sehingga ia selalu siap terhadap perubahan keadaan.

Demikian pula, hendaknya ia melihat kepada kelezatan yang akan sirna namun meninggalkan beban dosa dan aibnya, serta (waspada terhadap) mendahulukan rasa malas dan santai karena hal itu akan mengakibatkan kebodohan yang menetap. Begitu pula dalam pencapaian keinginan-keinginan yang tidak dapat diraih kecuali dengan kelembutan dalam tipu daya, terutama jika keinginan itu hendak diraih dari orang yang cerdik, karena orang cerdik akan paham hanya dengan sedikit isyarat (talwih) ([4]).

Maka barangsiapa ingin mengalahkan orang yang cerdik, ia harus memperdalam pengamatan dan bersikap lembut dalam siasat. Dalam kitab-kitab tentang siasat (al-hiyal) telah disebutkan hal-hal yang dapat menajamkan (yasyhadzu) ([5]) pikiran, dan kami telah menyebutkan sebagian besarnya dalam kitab Al-Adzkiya' (Orang-orang Cerdas).

Seperti riwayat bahwa ada seorang lelaki dari kalangan bangsawan yang tidak pernah berdiri menghormati siapa pun dan tidak takut kepada siapa pun. Suatu ketika, salah seorang menteri lewat di depannya dan memberi salam, namun ia tidak menjawab dan tidak pula berdiri. Menteri itu kemudian berkata kepada seseorang: "Kabarkanlah kepada si fulan itu bahwa aku telah berbicara kepada Amirul Mukminin tentang urusannya, dan beliau telah memerintahkan pemberian seratus ribu (dirham) untuknya, maka hendaknya ia hadir untuk mengambilnya." Orang itu pun mengabarkannya kepada si bangsawan. Sang bangsawan berkata: "Jika beliau memang memerintahkan sesuatu untukku, maka laksanakanlah kiriman itu padaku, sesungguhnya maksud menteri itu hanyalah ingin merendahkan martabatku dengan membuatku bolak-balik mendatanginya."

Maka kapan pun manusia berhadapan dengan orang yang cerdik, ia harus waspada darinya, mencuri tujuannya dengan berbagai macam siasat, dan melihat apa yang mungkin terjadi lalu mewaspadainya, sebagaimana pemain catur melihat langkah-langkah perpindahan bidak (al-naqalat) ([6]).

Banyak orang cerdik yang tidak mampu mencapai tujuan mereka terhadap orang cerdik lainnya, lalu mereka memberinya sesuatu dan berlebihan dalam memuliakannya untuk menjebaknya; jika orang itu kurang cerdas, ia akan jatuh ke dalam perangkap, namun jika ia lebih cerdas dari mereka, ia akan tahu bahwa di balik niat ini ada sesuatu yang tersembunyi, sehingga hal itu justru menambah kewaspadaannya.

Dan hal yang paling kuat yang harus diwaspadai adalah dari orang yang menaruh dendam (mautur). Karena jika engkau menyakiti seseorang, sungguh engkau telah menanam permusuhan di hatinya, maka janganlah merasa aman dari tumbuhnya cabang-cabang pohon tersebut. Janganlah tertipu oleh sikap ramah yang ia tampakkan meski ia bersumpah, jika engkau mendekatinya maka tetaplah waspada.

Termasuk kelalaian adalah ketika engkau menghukum seseorang atau berbuat buruk yang sangat besar kepadanya, dan engkau tahu hal semacam itu akan memperbarui rasa benci, lalu engkau melihatnya tunduk, taat, bertaubat, dan berhenti dari perbuatannya, kemudian engkau kembali merasa nyaman dengannya dan melupakan apa yang telah kau perbuat, serta menyangka bahwa apa yang telah kau lakukan telah terhapus dari hatinya. Boleh jadi ia sedang menyiapkan ujian bagimu dan memasang perangkap untukmu, sebagaimana yang dilakukan Qushair terhadap Az-Zabba' yang kisahnya sudah masyhur.

Maka janganlah engkau tinggal tenang bersama orang yang telah engkau sakiti, bahkan jika harus berhubungan pun, lakukanlah dari jarak jauh, karena engkau tidak akan pernah aman dari rasa dendam.

Apabila engkau melihat musuhmu dalam keadaan lalai yang tidak menghalanginya dari berbuat baik, maka berbuat baiklah kepadanya, karena itu akan membuatnya lupa akan permusuhanmu, dan ia tidak akan menyangka bahwa engkau menyimpan balasan atas keburukan perbuatannya, barulah saat itu engkau mampu mencapai setiap tujuan darinya.

Termasuk kelemahan (al-khawar) ([7]) adalah menampakkan permusuhan kepada musuh. Di antara sebaik-baik pengaturan (tadbir) adalah bersikap lembut kepada musuh-musuh sampai memungkinkan untuk mematahkan kekuatan mereka. Kalaupun hal itu tidak memungkinkan, maka kelembutan menjadi sebab tertahannya mereka dari menyakiti, dan di antara mereka ada yang merasa malu karena kebaikan perbuatanmu, sehingga hatinya berubah (menjadi baik) terhadapmu.

Dahulu ada sekelompok ulama Salaf, jika sampai kabar kepada mereka bahwa ada seseorang yang mencaci maki mereka, mereka justru memberi hadiah dan pemberian kepadanya. Dengan begitu, secara cepat mereka menahan keburukannya, bersiasat dalam membalikkan hatinya, dan dengan hal itu mereka mendapatkan waktu luang untuk mengatur siasat terhadapnya jika mereka mau.

Cukuplah bagi pikiran yang melihat kepada kesudahan urusan dan merenungkan setiap kemungkinan sebagai pendidik (mu'addiban).


Catatan Kaki:

  • ([1]) Tafsir Ibnu Katsir (1/438).
  • ([2]) Al-Fawaid karya Ibnu al-Qayyim (227).
  • ([3]) Adab ad-Dunya wa ad-Din karya Al-Mawardi (285).
  • ([4]) Talwih: Isyarat dan sindiran halus.
  • ([5]) Yasyhadzu: Menajamkan; Yasyhadzul khowathir artinya menjadikannya kuat dan peka terhadap segala sesuatu.
  • ([6]) Al-Ruq'ah: Papan catur. Al-Naqalat: Langkah-langkah permainan.
  • ([7]) Al-Khawar: Kelemahan.

Contoh-contoh Mengenai Mata Batin (Bashirah) dan Melihat Kesudahan Urusan

Di antaranya adalah bahwa rasa malas dalam menuntut ilmu dan lebih mendahulukan istirahat sesaat akan mengakibatkan penyesalan abadi yang mana kelezatan pengangguran tidak akan sebanding dengan sepersepuluh dari penyesalan tersebut. Pernah saudaraku duduk di sampingku—sedangkan ia adalah orang awam yang fakir—maka aku berkata dalam hatiku: "Saat ini kita sama-sama sedang duduk, lalu di manakah rasa lelahku dalam menuntut ilmu? Dan di manakah kelezatan penganggurannya?" (Artinya: rasa lelah menuntut ilmu telah hilang berganti ilmu, dan lezatnya santai telah hilang berganti kebodohan).

Di antaranya pula adalah bahwa seseorang terkadang tidak mengetahui suatu ilmu, namun ia merasa malu untuk bertanya dan belajar karena usianya yang sudah tua, dan karena ia tidak ingin dipandang sebagai orang bodoh. Maka ia akan tertimpa rasa malu (aib) jika ditanya tentang hal itu (di masa depan) berlipat-lipat ganda dari rasa malu yang ia pertahankan saat ini (saat enggan bertanya).

Di antaranya, tabiat manusia menuntut untuk bertindak sesuai dengan keadaan saat ini, seperti membalas ucapan orang bodoh di saat marah, kemudian muncul penyesalan di saat kedua (setelahnya); padahal kelezatan sifat santun (hilm) lebih sempurna daripada balas dendam. Boleh jadi tindakan (balasan) itu justru menyulut kebencian dari orang bodoh tersebut, lalu ia mendapatkan kesempatan dan berlebihan dalam menyakitinya.

Di antaranya, seseorang memusuhi orang lain padahal ia tidak merasa aman jika suatu saat orang yang dimusuhi itu kedudukannya naik lalu menyakitinya. Seharusnya ia memendam saja permusuhan terhadap musuh (tanpa menampakkannya).

Di antaranya, seseorang mencintai seseorang, lalu ia membocorkan rahasia-rahasianya kepadanya, kemudian terjadi permusuhan di antara keduanya, maka orang tersebut membongkar rahasianya.

Di antaranya, seseorang melihat harta yang banyak, lalu ia menafkahkannya secara berlebihan sembari lupa bahwa harta itu akan habis. Maka pada keadaan berikutnya ia tertimpa berbagai kebutuhan, sehingga ia merasakan penyesalan berlipat ganda dari kelezatan yang ia rasakan saat berfoya-foya. Maka seyogianya bagi orang yang dikaruniai harta untuk membayangkan masa tua dan ketidakmampuan untuk mencari nafkah, serta membayangkan hilangnya harga diri saat harus meminta-minta kepada orang lain, agar ia menjaga harta yang ada padanya.

Di antaranya, seorang pemegang kekuasaan bersikap terlalu santai dalam kekuasaannya (sewenang-wenang), maka ketika ia dicopot, ia menyesali apa yang telah ia perbuat. Seharusnya ia membayangkan saat pencopotan itu dan bekerja sesuai dengan konsekuensi tersebut.

Di antaranya, seseorang mendahulukan kelezatan makanan hingga kekenyangan, lalu ia kehilangan kesempatan salat malam (qiyamul lail), atau mendahulukan kelezatan tidur sehingga ia kehilangan waktu tahajud. Atau ia makan atau berhubungan intim dengan rakus lalu ia sakit. Atau ia bersyahwat untuk menyetubuhi (budak) hitam dan lupa bahwa boleh jadi ia akan hamil dan melahirkan anak perempuan yang hitam; betapa banyak penyesalan yang akan menimpanya sepanjang zaman setiap kali ia melihat anak perempuan itu. Di zaman kami, ada orang yang menyetubuhi wanita hitam lalu lahir baginya seorang anak sehingga ia merasa malu (aib) karenanya, di antaranya adalah pemilik gudang (shahibul makhzan) dan Hakim Agung (Qadhi al-Qudhat) ad-Damaghani; beliau adalah seorang pedagang yang lahir baginya putra berkulit hitam, maka ketika ia melihatnya ia berkata: "Semoga Allah melaknat syahwatku."

Di antaranya, kesibukan seorang alim dengan simbol-simbol ilmu (formalitas), padahal yang diinginkan adalah mengamalkannya dan ikhlas dalam mencarinya. Maka waktu pun habis demi mencintai popularitas dan mencari pujian manusia, sehingga kerugian terjadi ketika apa yang ada di dalam dada (niat) diperiksa (di akhirat).

Di antaranya pula, seorang alim merasa cukup dengan sebagian kecil ilmu; maka di manakah persaingan dengan orang-orang sempurna dan pengamatan terhadap kesudahan keadaan mereka? Terkadang ia memilih yang lebih mudah seperti mendahulukan ilmu hadis di atas ilmu fikih, padahal penderitaan menaiki anak tangga akan terasa mudah demi mencapai ketinggian.

Di antaranya, memperbanyak hubungan intim dengan melupakan akibatnya, bahwa hal itu melemahkan badan dan menyakitinya. Tabiat manusia hanya melihat kelezatan saat ini, namun akal merenungkannya. Penjelasan tentang hal ini sangat panjang, namun aku telah mengingatkan pokok-pokoknya.

Sungguh aku pernah datang (ke rumah) dari panas yang sangat terik, lalu aku terburu-buru ingin merasakan dingin, maka aku melepas bajuku (di depan kipas/angin dingin), sehingga aku terserang flu yang hampir membuatku mati. Seandainya aku bersabar sejenak, niscaya aku beruntung terhindar dari apa yang aku alami. Maka kiaslah (bandingkanlah) setiap kelezatan sesaat dan biarkan akal mengamati kesudahannya, wallahu a'lam.

Beliau (Ibnu al-Jauzi) juga berkata: Aku merenungkan tentang berbagai kelezatan, dan aku melihatnya terbagi antara kelezatan indrawi (hissi) dan kelezatan maknawi. Adapun kelezatan indrawi, ia tidaklah berarti apa-apa bagi jiwa-jiwa yang mulia; ia diinginkan hanya sebagai sarana bagi yang lain, seperti nikah untuk mendapatkan anak dan untuk menghilangkan sisa metabolisme yang menyakitkan, makan untuk mendapatkan nutrisi dan pengobatan, serta harta untuk persiapan kebutuhan dan agar tidak bergantung pada makhluk. Kelezatan hanya dijadikan sarana untuk mendapatkan hal-hal tersebut. Jika sesuatu dari hal itu dicari hanya demi kelezatan itu sendiri, maka tabiat memang memiliki bagian di sana, namun setiap kelezatan indrawi selalu disertai dengan dampak buruk (afat) yang hampir-hampir tidak sebanding dengan kelezatannya. Nikah adalah kelezatan sesaat, namun setelahnya ia diikuti oleh hilangnya kekuatan, beban untuk mandi janabah, melayani istri, serta memberi nafkah kepadanya dan kepada anak-anak. Maka kelezatan itu menyambar seperti sambaran kilat, namun yang menyertainya adalah petir yang menggelegar. Begitu pula apa yang menyertai makanan sudah dimaklumi berupa (urusan) bersuci dan selainnya. Dan sudah dimaklumi pula apa yang menyertai cinta harta berupa penderitaan dalam mencari nafkah, terjun ke dalam hal-hal syubhat, dan memalingkan hati dari memikirkan akhirat karena sibuk dengan mencari harta. Berdasarkan hal ini, pada seluruh kelezatan indrawi seyogianya seseorang mengambil yang bersifat darurat saja, maka penderitaan yang terjadi pun adalah penderitaan yang darurat, sehingga terwujudlah sifat qanaah seukuran kecukupan dan sifat menjaga diri (iffah) dari kelebihan syahwat.

Hanyalah kelezatan yang sempurna itu ada pada urusan maknawi, yaitu: ilmu, pemahaman terhadap hakikat segala perkara, derajat yang lebih tinggi dengan kesempurnaan di atas orang-orang yang kurang, dan membalas musuh—namun terkadang kelezatan memaafkan itu lebih nikmat, karena ia tidak terjadi kecuali terhadap orang yang sudah hina dan dikalahkan. Juga sabar dalam meraih setiap keutamaan dan menjauhi setiap kehinaan, memperhatikan kesudahan segala urusan, dan cita-cita yang tinggi (uluwwul himmah) sehingga tidak merasa puas sebelum mencapai puncak tujuan yang diinginkan berupa keutamaan.

Barangsiapa mengetahui bahwa dunia ini akan sirna, dan bahwa tingkatan manusia di surga sesuai dengan kadar amal mereka di dunia, niscaya ia akan menyaingi mereka sebelum sampai di sana agar ia tidak datang dengan derajat yang lebih rendah dari mereka. Barangsiapa berpikir, ia akan tahu bahwa banyak penghuni surga yang berada dalam kekurangan (derajat) dibandingkan dengan orang yang lebih tinggi dari mereka, hanya saja mereka tidak menyadari kekurangan mereka karena sudah ridha dengan keadaan mereka; namun hari inilah kita mengetahuinya. Maka bersegeralah, bersegeralah dalam meraih keutamaan-keutamaan yang paling utama, dan gunakanlah waktu yang berlalu cepat ini satu kali sebelum engkau menelan minuman penyesalan yang sangat mengerikan kepahitannya. Katakanlah pada dirimu sendiri: "Ada apa dengan si fulan dan si fulan dari orang-orang yang telah mati (yang beramal shalih), maka bersainglah dengan mereka!"

Jika engkau mengagumi pekerti seseorang

Maka jadilah sepertinya, niscaya engkau menjadi seperti apa yang kau kagumi

Sebab tidak ada pada kedermawanan dan kemuliaan

Ketika engkau mendatanginya, penjaga pintu yang menghalangimu

Beliau juga berkata: Kelezatan indrawi itu bersifat syahwat, dan semuanya bercampur dengan kekeruhan. Adapun kelezatan jiwa tidak ada kekeruhan di dalamnya, seperti aroma yang wangi, suara yang merdu, dan ilmu. Yang paling tinggi adalah mengenal Sang Pencipta Subhanahu wa Ta'ala. Maka barangsiapa yang didominasi oleh syahwat indrawi, ia serupa dengan binatang, dan barangsiapa yang didominasi oleh keinginan jiwa (maknawi), ia bersaing dengan para malaikat.

Beliau juga berkata: Aku berpikir pada suatu hari dan aku melihat bahwa kita berada di negeri perdagangan, keuntungan, dan keutamaan. Perumpamaannya seperti ladang; barangsiapa yang membaguskan benihnya dan penjagaannya, serta tanahnya subur dan pengairannya tercukupi, maka hasilnya akan banyak. Dan kapan saja terjadi kekurangan pada salah satu hal tersebut, maka ia akan berpengaruh pada hari panen. Amal di dunia ada yang bersifat wajib—dan banyak manusia yang lalai di dalamnya—dan ada yang bersifat keutamaan (fadhilah)—dan kebanyakan manusia malas dalam mencari keutamaan.

Manusia terbagi dua: Orang alim yang dikalahkan oleh hawa nafsunya sehingga ia lamban dalam beramal, dan orang bodoh yang menyangka dirinya berada di atas kebenaran, dan inilah yang mendominasi makhluk. Penguasa hanya menjaga kekuasaannya dan tidak peduli dengan pelanggaran syariat, atau ia melihat karena kebodohannya bahwa apa yang ia lakukan itu boleh. Ahli fikih fokusnya adalah menyusun pertanyaan demi menjatuhkan lawan. Pengkhotbah fokusnya adalah menghias kata-kata agar pendengar kagum. Orang zuhud maksudnya adalah menghias lahiriahnya dengan kekhusyukan agar tangannya dicium dan ia dijadikan sumber berkah. Pedagang menghabiskan umurnya dalam mengumpulkan harta dengan cara apa pun, pikirannya tercurahkan untuk hal itu sehingga lalai dari melihat keabsahan akad. Orang yang terbuai syahwat tenggelam dalam memenuhi tujuannya, terkadang dengan makanan, terkadang dengan persetubuhan, dan selainnya.

Jika umur telah habis dalam hal-hal ini, dan hati sibuk memikirkan cara meraihnya, maka kapankah engkau sempat untuk mengeluarkan maksud yang palsu dari maksud yang murni (ikhlas), mengoreksi diri dalam perbuatan-perbuatannya, mengusir kekeruhan dari batin yang terdalam, mengumpulkan bekal untuk perjalanan jauh, serta bersegera meraih keutamaan dan kemuliaan?

Maka yang tampak adalah kebanyakan orang akan datang (menghadap Allah) dengan penyesalan; baik karena melalaikan kewajiban atau menyesali luputnya keutamaan-keutamaan. Maka bertaqwalah kepada Allah, wahai orang-orang yang memiliki pemahaman! Putuskanlah segala penghalang dari urusan yang penting (akhirat) sebelum nyawa dicabut secara tiba-tiba di saat hati sedang tercerai-berai dan urusan sedang terabaikan.


Contoh Terapan dari Kehidupan Nabi dalam Hal (Tafakkur/Berpikir)

Dari 'Aisyah Ummul Mukminin —radhiyallahu 'anha— bahwasanya ia berkata: "Permulaan wahyu yang datang kepada Rasulullah adalah mimpi yang saleh (benar) dalam tidur. Tidaklah beliau melihat mimpi kecuali mimpi itu datang seperti cahaya subuh yang terang. Kemudian beliau dijadikan suka menyendiri (khala'), maka beliau sering menyendiri di Gua Hira untuk melakukan tahannuts (yaitu beribadah) ([1]) selama beberapa malam yang berbilang jumlahnya sebelum beliau kembali kepada keluarganya. Beliau membawa bekal untuk itu. Kemudian beliau kembali kepada Khadijah dan mengambil bekal kembali untuk waktu yang serupa, hingga datanglah kebenaran (Al-Haqq) kepada beliau saat beliau berada di Gua Hira. Malaikat datang kepadanya dan berkata: 'Bacalah!' Beliau menjawab: 'Aku tidak bisa membaca.' Nabi bersabda: 'Lalu malaikat itu memegangku dan mendekapku dengan kuat hingga aku merasa kepayahan (al-jahdu) ([2]), kemudian dia melepaskanku dan berkata lagi: 'Bacalah!' Beliau menjawab: 'Aku tidak bisa membaca.' Maka dia memegangku dan mendekapku untuk kedua kalinya hingga aku merasa kepayahan. Kemudian dia melepaskanku dan berkata lagi: 'Bacalah!' Aku menjawab: 'Aku tidak bisa membaca.' Maka dia memegangku dan mendekapku untuk ketiga kalinya hingga aku merasa kepayahan. Kemudian dia melepaskanku dan berkata: 'Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah' (QS. Al-'Alaq: 1-3). Maka Rasulullah pulang dengan membawa ayat tersebut dalam keadaan hatinya ([4]) bergetar/gemetar ([3]) (karena takut)."

Dari Ibnu Abbas —radhiyallahu 'anhuma— ia berkata: "Aku menginap di rumah bibiku, Maimunah. Rasulullah berbincang-bincang dengan istrinya sesaat kemudian beliau tidur. Ketika tiba sepertiga malam yang terakhir, beliau duduk lalu melihat ke arah langit dan membaca: 'Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal' (QS. Ali 'Imran: 190). Kemudian beliau bangun, berwudu, dan bersiwak ([5]), lalu beliau salat sebelas rakaat. Kemudian Bilal mengumandangkan azan, lalu beliau salat dua rakaat (qabliyah), kemudian beliau keluar dan mengimami salat Subuh."

Dari Hudzaifah —radhiyallahu 'anhu— ia berkata: "Aku salat bersama Nabi pada suatu malam. Beliau membuka salat dengan membaca surah Al-Baqarah. Aku bergumam dalam hati ([6]) bahwa beliau akan rukuk pada ayat keseratus. Namun beliau terus membaca. Aku bergumam: 'Beliau akan menyelesaikannya dalam satu rakaat', namun beliau terus membaca. Aku bergumam ([7]): 'Beliau akan rukuk setelah menyelesaikannya'. Namun beliau kemudian mulai membaca surah An-Nisa sampai selesai. Kemudian beliau mulai membaca surah Ali 'Imran sampai selesai. Beliau membaca dengan perlahan (mutarassilan). Jika beliau melewati ayat yang di dalamnya terdapat tasbih, beliau bertasbih. Jika melewati ayat yang berisi permohonan, beliau memohon. Jika melewati ayat yang berisi permohonan perlindungan, beliau memohon perlindungan. Kemudian beliau rukuk dan mengucapkan: 'Subhana Rabbiyal 'Adzim' (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung). Rukuk beliau lamanya hampir sama dengan berdirinya. Kemudian beliau berucap: 'Sami'allahu liman hamidah'. Lalu beliau berdiri lama, hampir sama dengan lamanya rukuk. Kemudian beliau sujud dan mengucapkan: 'Subhana Rabbiyal A'la' (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi). Sujud beliau lamanya hampir sama dengan berdirinya."

(Perawi berkata) Dan dalam hadis Jarir terdapat tambahan: Beliau berucap: "Sami'allahu liman hamidah. Rabbana lakal hamd" ([8]).

Dari Abdullah bin Mas'ud —radhiyallahu 'anhu— ia berkata: Rasulullah bersabda kepadaku: "Bacakanlah Al-Qur'an untukku." Aku menjawab: "Wahai Rasulullah, apakah aku membacakannya untukmu padahal Al-Qur'an diturunkan kepadamu?" Beliau bersabda: "Sesungguhnya aku ingin mendengarnya dari orang lain." Maka aku membacakan surah An-Nisa, hingga ketika sampai pada ayat: 'Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)' (QS. An-Nisa: 41). Aku mengangkat kepalaku—atau seorang laki-laki di sampingku menyenggolku sehingga aku mengangkat kepalaku—dan aku melihat air mata beliau mengalir ([9]).


Dorongan untuk Berpikir (Tafakkur) dan Merenung (Tadabbur)

Al-Ghazali —rahimahullah— berkata: "Banyak sekali dorongan dalam Kitab Allah Ta'ala untuk merenung (tadabbur), mengambil pelajaran (i'tibar), memperhatikan (nazhar), dan memikirkan (iftikar). Tidaklah samar bahwa pikiran (al-fikr) adalah kunci dari segala cahaya dan awal dari tumbuhnya mata batin (istibshar). Ia adalah jaring ilmu pengetahuan dan perangkap bagi berbagai makrifat serta pemahaman. Kebanyakan manusia telah mengetahui keutamaan dan kedudukannya, namun mereka bodoh (tidak tahu) tentang hakikatnya, buahnya, dan sumbernya." ([10])


Penjelasan tentang Hakikat Pikiran (Fikr) dan Buahnya

Ketahuilah bahwa makna dari berpikir (al-fikr) adalah menghadirkan dua pengetahuan di dalam hati untuk menghasilkan buah berupa pengetahuan ketiga. Contohnya adalah seseorang yang cenderung pada kesenangan sesaat dan lebih mendahulukan kehidupan dunia, namun ia ingin mengetahui bahwa akhirat lebih utama untuk didahulukan daripada dunia yang sesaat ini. Ia memiliki dua jalan:

  1. Mendengar dari orang lain bahwa akhirat lebih utama daripada dunia, lalu ia mengekor (taqlid) dan membenarkannya tanpa adanya mata batin (bashirah) terhadap hakikat perkara tersebut. Ia pun mengarahkan amalnya untuk akhirat hanya bersandar pada ucapan orang tersebut. Ini disebut taqlid dan tidak disebut makrifat (pengetahuan mendalam).
  2. Jalan kedua adalah ia mengetahui (pengetahuan pertama) bahwa 'sesuatu yang kekal itu lebih utama untuk didahulukan'. Kemudian ia mengetahui (pengetahuan kedua) bahwa 'akhirat itu kekal'. Maka dari dua pengetahuan ini, ia menghasilkan pengetahuan ketiga, yaitu 'akhirat lebih utama untuk didahulukan'. Pengetahuan ketiga ini tidak mungkin terwujud kecuali dengan dua pengetahuan sebelumnya.

Maka, menghadirkan dua pengetahuan sebelumnya di dalam hati untuk sampai pada pengetahuan ketiga disebut sebagai tafakkur (berpikir), i'tibar (mengambil pelajaran), tadzakkur (mengingat), nazhar (memperhatikan), ta'ammul (merenungkan), dan tadabbur (mendalami).

Adapun istilah tadabbur, ta'ammul, dan tafakkur adalah ungkapan-ungkapan yang sinonim (memiliki makna yang sama) dan tidak memiliki perbedaan makna yang mendasar di bawahnya. Sedangkan istilah tadzakkur, i'tibar, dan nazhar memiliki makna yang berbeda-beda meskipun objek yang dinamai adalah satu. Hal ini seperti istilah: ash-sharim, al-muhannad, dan as-saif (pedang); semuanya merujuk pada benda yang sama tetapi dengan sudut pandang berbeda. Ash-sharim merujuk pada pedang dari sisi ketajamannya yang memotong, al-muhannad merujuk pada penisbatannya ke tempat asalnya (India), sedangkan as-saif adalah nama mutlak tanpa memandang tambahan-tambahan sifat tersebut.

Demikian pula i'tibar: digunakan untuk proses menghadirkan dua pengetahuan dari sisi adanya "penyeberangan" darinya menuju pengetahuan ketiga. Jika penyeberangan itu belum terjadi dan hanya sebatas berhenti pada dua pengetahuan awal, maka ia dinamakan tadzakkur (mengingat), bukan i'tibar.

Adapun nazhar (melihat/memperhatikan) dan tafakkur (berpikir): digunakan dari sisi adanya upaya mencari pengetahuan ketiga. Maka, barangsiapa yang tidak sedang mencari pengetahuan ketiga, ia tidak disebut nazhir (orang yang memperhatikan).

Jadi, setiap orang yang berpikir (mutafakkir) pastilah dia mengingat (mutadzakkir), namun tidak setiap orang yang mengingat (mutadzakkir) itu sedang berpikir (mutafakkir). Manfaat dari tadzakkur (mengingat) adalah mengulang-ulang pengetahuan di dalam hati agar kokoh dan tidak terhapus dari hati. Sedangkan manfaat tafakkur (berpikir) adalah menambah ilmu dan mendatangkan pengetahuan baru yang sebelumnya tidak dimiliki. Inilah perbedaan antara mengingat dan berpikir.

Pengetahuan-pengetahuan itu jika berkumpul dan berpasangan di dalam hati dengan urutan yang khusus, akan membuahkan pengetahuan lain. Pengetahuan adalah hasil dari pengetahuan. Jika pengetahuan lain didapatkan, lalu dipasangkan lagi dengan pengetahuan lainnya, maka akan menghasilkan hasil yang lain lagi. Demikianlah hasil demi hasil terus berlanjut, ilmu terus bertambah, dan pikiran terus meluas tanpa batas. Jalan bertambahnya makrifat hanyalah tertutup oleh kematian atau hambatan-hambatan lainnya. Hal ini berlaku bagi mereka yang mampu mengolah ilmu dan mendapat petunjuk menuju jalan berpikir.

Mengenal jalan penggunaan dan pengolahan (ilmu) ini terkadang berasal dari cahaya Ilahi di dalam hati yang didapat secara fitrah sebagaimana yang dimiliki para nabi —semoga selawat Allah tercurah atas mereka semua— dan hal ini sangatlah langka. Namun, terkadang ia didapat melalui belajar dan latihan, dan inilah yang paling banyak terjadi.

Adapun buah dari pikiran (fikr) adalah ilmu, keadaan (ahwal), dan amal perbuatan. Namun buah khususnya adalah ilmu, tidak yang lain. Benar bahwa jika ilmu telah didapat di dalam hati, maka keadaan hati akan berubah. Jika keadaan hati berubah, maka amal perbuatan anggota badan akan ikut berubah. Maka amal mengikuti keadaan hati, keadaan hati mengikuti ilmu, dan ilmu mengikuti pikiran.

Oleh karena itu, berpikir adalah permulaan dan kunci bagi segala kebaikan. Inilah yang menyingkap bagimu keutamaan tafakkur, dan bahwa ia lebih baik daripada dzikir dan tadzakkur (sekadar mengingat), karena tafakkur adalah dzikir ditambah dengan nilai lebih. Dzikir hati lebih baik daripada amal anggota badan, bahkan kemuliaan amal itu sendiri terletak pada dzikir yang ada di dalamnya. Maka dari itu, tafakkur (berpikir/merenung) lebih utama daripada keseluruhan amal perbuatan."


Catatan Kaki:

  • ([1]) Ucapan "yaitu beribadah" adalah penafsiran dari perawi; karena maknanya adalah meninggalkan dosa (al-hinst), dan barangsiapa meninggalkan dosa maka ia masuk ke dalam ketaatan.
  • ([2]) Al-Jahdu: dengan fathah berarti kesukaran/kepayahan, dan dengan dhommah (al-juhdu) berarti kemampuan/tenaga.
  • ([3]) Yarjufu: yaitu bergetar/guncang karena sangat takut.
  • ([4]) Hadis lengkapnya ada di Sahih Bukhari bab Bad'ul Wahyi.
  • ([5]) Bukhari (Fathul Bari 1/3), dan Muslim (160), lafaz milik Muslim.
  • ([6]) Bukhari (Fathul Bari 8/4569), dan Muslim (763).
  • ([7]) Fa qultu: yakni di dalam hatiku, maksudnya aku menyangka beliau akan rukuk pada ayat keseratus.
  • ([8]) Muslim (772).
  • ([9]) Bukhari (Fathul Bari 8/4582), Muslim (800), lafaz milik Muslim.
  • ([10]) Al-Ihya (4/423).

 


Penjelasan Mengenai Ranah/Bidang Objek Pikiran

Ketahuilah bahwa pikiran (al-fikr) terkadang berjalan pada perkara yang berkaitan dengan agama, dan terkadang berjalan pada hal-hal yang berkaitan dengan selain agama. Namun tujuan kita hanyalah apa yang berkaitan dengan agama, maka biarkanlah bagian yang lain. Yang kami maksud dengan agama adalah muamalah (hubungan) antara hamba dengan Rabb Ta’ala. Semua pikiran hamba itu adakalanya berkaitan dengan hamba itu sendiri (sifat-sifat dan keadaannya), atau berkaitan dengan Sang Ma’bud (Sembahan) serta sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya; tidaklah mungkin pikiran keluar dari dua bagian ini.

Adapun apa yang berkaitan dengan hamba, adakalanya berupa pengamatan terhadap apa yang dicintai di sisi Rabb Ta’ala, atau pada apa yang dibenci di sisi-Nya. Tidak ada kebutuhan untuk memikirkan selain dua bagian ini. Sedangkan apa yang berkaitan dengan Rabb Ta’ala, adakalanya berupa pengamatan pada Zat-Nya, sifat-sifat-Nya, dan nama-nama-Nya yang indah (al-Asma' al-Husna), atau pada perbuatan-perbuatan-Nya, kekuasaan-Nya, kerajaan langit dan bumi-Nya, serta segala apa yang ada di antara keduanya.

Mari kita mulai dengan bagian pertama, yaitu memikirkan tentang sifat-sifat diri dan perbuatan-perbuatan diri sendiri untuk membedakan mana yang dicintai (oleh Allah) dari yang dibenci. Sesungguhnya pikiran inilah yang berkaitan dengan ilmu muamalah yang merupakan maksud dari kitab ini. Adapun bagian yang lain berkaitan dengan ilmu mukasyafah.

Kemudian, setiap hal yang dibenci di sisi Allah atau yang dicintai-Nya terbagi menjadi yang zahir (tampak), seperti ketaatan dan kemaksiatan; dan yang batin, seperti sifat-sifat penyelamat (al-munjiyat) dan sifat-sifat penghancur (al-muhlikat) yang tempatnya berada di dalam hati.

Kemaksiatan terbagi menjadi apa yang berkaitan dengan tujuh anggota badan, dan apa yang dinisbatkan kepada seluruh tubuh, seperti lari dari medan perang, durhaka kepada kedua orang tua, dan menetap di tempat tinggal yang haram. Wajib pada setiap perkara yang dibenci tersebut untuk memikirkan tiga hal:

  1. Memikirkan apakah hal tersebut dibenci di sisi Allah atau tidak? Karena sering kali sesuatu tidak tampak dibenci padahal ia dapat diketahui melalui ketajaman pengamatan.
  2. Memikirkan jika hal itu memang dibenci, maka apa jalan untuk menghindarinya?
  3. Memikirkan apakah perkara yang dibenci ini sedang ia sandang saat ini sehingga ia harus meninggalkannya, ataukah ia akan menghadapinya di masa depan sehingga ia harus waspada darinya? Ataukah ia telah melakukannya di masa lalu sehingga ia butuh untuk memperbaikinya (bertaubat)?

Demikian pula setiap hal yang dicintai (Allah) terbagi ke dalam pembagian-pembagian ini. Jika bagian-bagian ini dikumpulkan, maka ranah pikiran dalam pembagian tersebut akan melebihi seratus bagian, dan seorang hamba terdorong untuk memikirkan semuanya atau sebagian besarnya. Penjelasan rinci tentang satu per satu pembagian ini akan sangat panjang, namun bagian ini terangkum dalam empat jenis: ketaatan, kemaksiatan, sifat-sifat penghancur, dan sifat-sifat penyelamat. Mari kita sebutkan satu contoh pada setiap jenis agar seorang murid (pencari kebenaran) dapat mengiaskan sisanya, sehingga pintu pikiran terbuka baginya dan jalannya menjadi luas.

Jenis Pertama: Kemaksiatan

Seyogianya seseorang setiap pagi memeriksa ketujuh anggota badannya secara mendalam, kemudian tubuhnya secara umum: Apakah saat ini ia sedang terlibat dalam kemaksiatan dengannya sehingga ia harus meninggalkannya? Ataukah ia telah melakukannya kemarin sehingga ia harus memperbaikinya dengan meninggalkannya dan menyesal? Ataukah ia akan menghadapinya di siang hari nanti sehingga ia bersiap untuk waspada dan menjauh darinya?

Maka ia memperhatikan lidahnya dan berkata bahwa lidah rentan terhadap ghibah, dusta, memuji diri sendiri, mengejek orang lain, berbantah-bantahan, bercanda berlebihan, dan membicarakan hal yang tidak berguna, serta hal-hal dibenci lainnya. Maka pertama-tama ia menetapkan dalam dirinya bahwa hal-hal itu dibenci di sisi Allah Ta’ala, dan ia memikirkan bukti-bukti dari Al-Qur'an dan Sunnah tentang kerasnya siksaan di dalamnya. Kemudian ia memikirkan keadaan dirinya bagaimana ia bisa terjatuh ke sana tanpa disadari, lalu ia memikirkan bagaimana cara menghindarinya, dan ia menyadari bahwa hal itu tidak akan sempurna baginya kecuali dengan menyepi ('uzlah) dan menyendiri, atau dengan tidak duduk kecuali bersama orang saleh yang bertakwa yang akan menegurnya jika ia berbicara apa yang dibenci Allah. Jika tidak (bisa menghindar), maka ia meletakkan batu di mulutnya ketika duduk bersama orang lain agar hal itu menjadi pengingat baginya. Demikianlah hendaknya pikiran bekerja dalam menyusun siasat untuk menghindar.

Ia juga memikirkan pendengarannya yang ia gunakan untuk menyimak ghibah, dusta, ucapan sia-sia, senda gurau, dan bid'ah; dan bahwa ia hanya mendengar hal itu dari si Zaid atau si 'Amru, maka seyogianya ia menghindar darinya dengan menjauh atau dengan mencegah kemungkaran (nahi munkar).

Kapan pun hal itu terjadi, ia memikirkan perutnya; bahwa ia hanya bermaksiat kepada Allah di dalamnya melalui makanan dan minuman. Adakalanya dengan banyak makan dari yang halal, karena hal itu dibenci Allah dan menguatkan syahwat yang merupakan senjata setan musuh Allah. Atau dengan memakan yang haram atau syubhat. Maka ia melihat dari mana makanannya, pakaiannya, tempat tinggalnya, dan penghasilannya, serta apa jenis usahanya? Ia memikirkan jalan yang halal dan pintu-pintu masuknya. Kemudian ia memikirkan jalan siasat dalam mencari penghasilan dari yang halal dan menghindari yang haram. Ia menetapkan pada dirinya bahwa seluruh ibadah akan sia-sia jika dibarengi dengan memakan yang haram, dan bahwa memakan yang halal adalah fondasi seluruh ibadah, serta bahwa Allah Ta'ala tidak menerima salat seorang hamba yang di dalam harga pakaiannya terdapat satu dirham harta haram ([1]), sebagaimana hadis yang telah diriwayatkan.

Begitulah hendaknya ia memikirkan anggota badannya, dan kadar ini sudah cukup tanpa perlu pembahasan yang terlalu panjang lebar. Maka kapan pun kebenaran makrifat tentang keadaan-keadaan ini tercapai melalui pikiran, ia menyibukkan diri dengan muraqabah (merasa diawasi) sepanjang hari hingga ia menjaga anggota badannya dari kemaksiatan tersebut.

Jenis Kedua: Ketaatan

Ia melihat pertama-tama pada kewajiban-kewajiban yang tertulis atasnya: bagaimana ia menunaikannya, bagaimana ia menjaganya dari kekurangan dan kelalaian, atau bagaimana ia menambal kekurangannya dengan memperbanyak ibadah sunnah? Kemudian ia kembali pada satu per satu anggota badan, memikirkan perbuatan-perbuatan yang berkaitan dengannya dari apa yang dicintai Allah Ta’ala. Ia berkata misalnya:

"Sesungguhnya mata diciptakan untuk melihat kerajaan langit dan bumi sebagai pelajaran ('ibrah), dan untuk digunakan dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala dengan membaca Al-Qur'an dan Sunnah, maka mengapa aku tidak melakukannya? Aku mampu melihat si fulan yang taat dengan pandangan memuliakan sehingga aku memasukkan kegembiraan ke dalam hatinya, dan aku mampu melihat si fulan yang fasik dengan pandangan merendahkan agar aku mencegahnya dengan hal itu dari maksiatnya, maka mengapa aku tidak melakukannya?"

Demikian pula ia berkata pada pendengarannya: "Aku mampu mendengarkan ucapan orang yang menderita (untuk menolong), atau mendengarkan hikmah dan ilmu, atau mendengarkan bacaan dzikir, maka mengapa aku menyia-nyiakannya padahal Allah telah memberikan nikmat ini kepadaku dan menitipkannya padaku agar aku bersyukur? Mengapa aku mengkufuri nikmat Allah padanya dengan menyia-nyiakan atau menganggurkannya?"

Demikian pula ia memikirkan lidahnya dan berkata: "Aku mampu mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan mengajar dan memberi nasihat, berkasih sayang kepada hati orang-orang saleh, bertanya tentang keadaan orang-orang fakir, dan memasukkan kegembiraan ke dalam hati si Zaid yang saleh serta si 'Amru yang alim dengan kata-kata yang baik; dan setiap kata yang baik adalah sedekah."

Demikian pula ia memikirkan hartanya dan berkata: "Aku mampu menyedekahkan harta fulan itu karena aku tidak membutuhkannya, dan kapan pun aku membutuhkannya maka Allah Ta'ala akan memberiku rezeki yang semisalnya. Jika aku memang butuh sekarang, maka aku terhadap pahala mendahulukan orang lain (itsar) jauh lebih butuh daripada aku terhadap harta tersebut."

Demikianlah ia memeriksa seluruh anggota badannya, seluruh tubuhnya, harta-hartanya, bahkan hewan ternaknya, pelayannya, dan anak-anaknya. Karena itu semua adalah alat-alat dan sarana-sarananya, dan ia mampu menaati Allah Ta’ala melaluinya. Maka ia menggali dengan ketajaman pikiran berbagai macam bentuk ketaatan yang memungkinkan melaluinya, dan memikirkan apa yang membuatnya gemar untuk bersegera pada ketaatan tersebut, memikirkan tentang keikhlasan niat di dalamnya, serta mencari tempat-tempat yang layak untuk menerimanya hingga amalnya menjadi suci karenanya. Kiaslah (bandingkanlah) ketaatan-ketaatan lainnya atas hal ini.

Jenis Ketiga: Sifat-sifat Penghancur (al-Muhlikat)

Yaitu sifat-sifat yang tempatnya di hati, yang ia ketahui dari apa yang telah kami sebutkan dalam bagian al-Muhlikat: yaitu penguasaan syahwat dan amarah, kebakhilan, kesombongan, rasa ujub (kagum pada diri sendiri), riya, dengki, buruk sangka, kelalaian, tertipu (ghurur), dan selainnya. Ia memeriksa sifat-sifat ini dalam hatinya. Jika ia menyangka bahwa hatinya bersih darinya, maka ia memikirkan cara menguji hatinya dan membuktikannya dengan tanda-tandanya. Karena nafsu itu selamanya selalu menjanjikan kebaikan dari dirinya sendiri namun kemudian mengingkari.

Jika nafsu mengaku telah tawadhu dan berlepas diri dari kesombongan, maka seyogianya ia diuji dengan memikul seikat kayu bakar di pasar, sebagaimana orang-orang terdahulu menguji diri mereka sendiri. Jika ia mengaku memiliki sifat santun (hilm), maka hadapkanlah ia pada kemarahan yang datang dari orang lain, lalu ujilah ia dalam menahan amarah. Demikian pula pada sifat-sifat lainnya. Ini adalah proses berpikir apakah ia memiliki sifat yang dibenci atau tidak.

Untuk hal itu ada tanda-tanda yang telah kami sebutkan dalam bagian al-Muhlikat. Jika tanda tersebut menunjukkan keberadaan sifat buruk itu, maka ia memikirkan sebab-sebab yang membuat sifat-sifat tersebut tampak buruk baginya, dan menjelaskan bahwa sumbernya berasal dari kebodohan, kelalaian, dan rusaknya hati.

Sebagaimana jika ia melihat dalam dirinya ada rasa ujub terhadap amal, maka ia memikirkan dan berkata: "Sesungguhnya amal ini dilakukan dengan tubuhku dan anggota badanku, dengan kekuatanku dan kehendakku. Namun itu semua bukan dariku dan bukan milikku, melainkan ciptaan Allah dan karunia-Nya atasku. Dialah yang menciptakanku dan menciptakan anggota badanku, menciptakan kekuatanku dan kehendakku. Dialah yang menggerakkan anggota badanku dengan kekuatan-Nya, demikian pula kekuatan dan kehendakku. Maka bagaimana mungkin aku merasa ujub dengan amalku atau diriku, sedangkan aku tidak mampu mengurus diriku sendiri dengan kekuatanku sendiri?"

Jika ia merasakan kesombongan dalam dirinya, ia menetapkan pada dirinya bahwa di sana terdapat kebodohan. Ia berkata kepada nafsunya: "Mengapa engkau merasa dirimu lebih besar? Orang yang besar adalah orang yang besar di sisi Allah, dan hal itu baru akan tersingkap setelah mati. Betapa banyak orang kafir saat ini yang mati dalam keadaan dekat kepada Allah karena ia meninggalkan kekafirannya (masuk Islam), dan betapa banyak orang muslim yang mati celaka karena berubah keadaannya saat mati dengan suul khatimah?"


Catatan Kaki:

  • ([1]) Dikeluarkan oleh Ahmad dari Ibnu Umar dengan sanad yang di dalamnya terdapat orang yang tidak dikenal (majhul), al-Kamil fi al-Dhu'afa oleh Ibnu 'Adi (Juz 1, hal. 283).

 


Maka apabila ia telah mengetahui bahwa kesombongan itu membinasakan dan bahwa asalnya adalah kebodohan, hendaklah ia memikirkan pengobatan untuk menghilangkannya dengan cara mempraktikkan perbuatan orang-orang yang rendah hati (tawadhu).

Dan apabila ia mendapati dalam dirinya ada syahwat makanan dan kerakusan, hendaklah ia memikirkan bahwa ini adalah sifat binatang. Seandainya di dalam syahwat makanan dan persetubuhan terdapat kesempurnaan, niscaya hal itu akan menjadi sifat-sifat Allah dan sifat-sifat malaikat seperti ilmu dan kekuasaan, dan tidak akan menjadi sifat bagi binatang. Maka setiap kali kerakusan itu lebih mendominasi dirinya, ia menjadi lebih mirip dengan binatang dan semakin jauh dari malaikat yang didekatkan kepada Allah (muqarrabin). Demikian pula hendaknya ia menetapkan pada dirinya dalam hal amarah, kemudian memikirkan jalan pengobatannya.

Adapun jenis keempat, yaitu hal-hal yang menyelamatkan (al-munjiyat), maka itu adalah: taubat, menyesali dosa, sabar atas bala (ujian), bersyukur atas nikmat, rasa takut (khauf), harap (raja'), zuhud terhadap dunia, ikhlas dan jujur dalam ketaatan, mencintai Allah dan mengagungkan-Nya, ridha terhadap perbuatan-perbuatan-Nya, rindu kepada-Nya, serta khusyuk dan rendah hati kepada-Nya. Semua itu telah kami sebutkan dalam bagian ini, dan telah kami sebutkan sebab-sebab serta tanda-tandanya.

Hendaklah seorang hamba setiap hari memikirkan di dalam hatinya, sifat manakah yang kurang padanya dari sifat-sifat yang mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala ini. Jika ia merasa butuh pada sesuatu darinya, hendaklah ia mengetahui bahwa itu semua adalah "keadaan" (ahwal) yang tidak akan membuahkan hasil kecuali melalui "ilmu", dan bahwa "ilmu" tidak akan membuahkan hasil kecuali melalui "pikiran".

Jika ia ingin mendapatkan bagi dirinya keadaan taubat dan penyesalan, maka hendaklah ia memeriksa dosa-dosanya terlebih dahulu, memikirkannya, mengumpulkannya di dalam dirinya, dan membesarkannya di dalam hatinya. Kemudian hendaklah ia melihat kepada ancaman dan peringatan keras yang datang dalam syariat mengenai dosa tersebut, dan menetapkan dalam dirinya bahwa ia sedang berhadapan dengan kemurkaan Allah Ta'ala, hingga bangkitlah dalam dirinya keadaan menyesal.

Jika ia ingin membangkitkan dari hatinya keadaan syukur, maka hendaklah ia melihat kepada kebaikan Allah kepadanya, curahan anugerah-Nya atasnya, dan kiriman penutupan-Nya yang indah atas aib-aibnya—sebagaimana telah kami jelaskan sebagiannya dalam Kitab Syukur, maka hendaklah ia mempelajarinya.

Jika ia menginginkan keadaan cinta dan rindu, hendaklah ia memikirkan keagungan dan keindahan Allah, serta kebesaran dan keagungan-Nya. Hal itu dilakukan dengan melihat keajaiban hikmah-Nya dan keindahan ciptaan-Nya—sebagaimana akan kami isyaratkan sebagiannya pada bagian kedua tentang pikiran.

Jika ia menginginkan keadaan takut (khauf), maka hendaklah ia melihat terlebih dahulu pada dosa-dosa lahir dan batinnya. Kemudian melihat kepada kematian dan sakaratul maut, lalu apa yang ada setelahnya berupa pertanyaan Munkar dan Nakir, siksa kubur, ular-ularnya, kalajengkingnya, dan cacing-cacingnya. Kemudian pada kengerian panggilan saat sangkakala ditiup, kengerian padang Mahsyar saat seluruh makhluk dikumpulkan di satu tanah luas, kemudian pemeriksaan dalam hisab pada hal yang sekecil lubang biji kurma (naqir) maupun kulit ari biji kurma (qithmir). Kemudian pada jembatan (shirath), kelembutan, dan ketajamannya. Kemudian pada bahayanya urusan di sisinya; apakah ia akan dipalingkan ke arah kiri sehingga menjadi penghuni neraka, atau dipalingkan ke arah kanan sehingga menempati negeri yang kekal (surga).

Kemudian, setelah kengerian kiamat, hendaklah ia menghadirkan dalam hatinya gambaran neraka Jahanam dengan tingkatan-tingkatannya, cambuk-cambuknya, kengeriannya, rantai-rantainya, belenggu-belenggunya, pohon zaqqumnya, dan nanahnya. Juga berbagai jenis azab di dalamnya serta buruknya rupa malaikat Zabaniyah yang ditugaskan menjaganya, bahwa setiap kali kulit mereka matang (hangus), maka diganti dengan kulit yang lain. Bahwa setiap kali mereka ingin keluar darinya, mereka dikembalikan ke dalamnya. Dan bahwa jika mereka melihat neraka dari tempat yang jauh, mereka mendengar suaranya yang sedang bergolak dan suara nafasnya yang mengerikan, dan seterusnya dari semua penjelasan neraka yang ada dalam Al-Qur'an.

Dan jika ia ingin mendatangkan keadaan harap (raja'), maka hendaklah ia melihat kepada surga dan kenikmatannya, pohon-pohonnya, sungai-sungainya, bidadari-bidadarinya, pelayan-pelayannya, serta kenikmatannya yang abadi dan kerajaannya yang kekal.

Demikianlah jalan pikiran yang dengannya dicari ilmu yang membuahkan keadaan-keadaan yang dicintai, atau membersihkan diri dari sifat-sifat yang tercela. Kami telah menyebutkan pada setiap keadaan ini satu kitab tersendiri yang dapat membantu merinci pikiran tersebut. Adapun penyebutan secara umum, maka tidak ditemukan yang lebih bermanfaat daripada membaca Al-Qur'an dengan berpikir (tadabbur). Sesungguhnya Al-Qur'an mengumpulkan seluruh maqam (kedudukan) dan keadaan, di dalamnya terdapat penawar bagi seluruh alam, di dalamnya terdapat hal yang mewariskan rasa takut, harap, sabar, syukur, cinta, rindu, dan keadaan lainnya. Di dalamnya juga terdapat hal yang mencegah dari seluruh sifat tercela.

Maka seyogianya seorang hamba membacanya dan mengulang-ulang ayat yang ia butuhkan untuk dipikirkan berkali-kali, walau seratus kali. Sebab, membaca satu ayat dengan berpikir dan paham adalah lebih baik daripada khatam Al-Qur'an tanpa tadabbur dan paham. Hendaklah ia berhenti untuk merenungkannya walau satu malam saja, karena di bawah setiap katanya terdapat rahasia yang tidak terbatas, dan tidak akan diketahui kecuali dengan ketajaman pikiran dari hati yang jernih setelah kejujuran dalam bermuamalah.

Demikian pula dengan mempelajari kabar-kabar (hadis) dari Rasulullah , karena beliau telah dianugerahi jawami' al-kalim (kata-kata singkat namun padat makna). Setiap kata dari kata-kata beliau adalah samudra dari samudra hikmah. Seandainya seorang alim merenungkannya dengan perenungan yang sebenar-benarnya, niscaya pengamatannya tidak akan terputus sepanjang umurnya. Penjelasan satu per satu ayat dan hadis akan sangat panjang, namun lihatlah sabda beliau :

"Sesungguhnya Ruhul Qudus (Malaikat Jibril) meniupkan ke dalam hatiku: Cintailah siapa yang engkau cintai, karena sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya; hiduplah sesukamu, karena sesungguhnya engkau akan mati; dan beramallah sesukamu, karena sesungguhnya engkau akan diberi balasan atasnya."

Sesungguhnya kata-kata ini mengumpulkan hikmah orang-orang terdahulu dan yang kemudian, dan sudah cukup bagi orang-orang yang merenungkannya sepanjang umur. Sebab, seandainya mereka memahami maknanya dan keyakinan tersebut menguasai hati mereka, niscaya hal itu akan menenggelamkan mereka (dalam ibadah) dan akan menghalangi mereka dari menoleh kepada dunia secara keseluruhan.

Inilah jalan pikiran dalam ilmu muamalah dan sifat-sifat hamba dari sisi ia dicintai di sisi Allah Ta'ala atau dibenci. Seorang pemula seyogianya menghabiskan seluruh waktunya dalam pikiran-pikiran ini hingga ia memakmurkan hatinya dengan akhlak yang terpuji dan kedudukan yang mulia, serta membersihkan batin dan lahirnya dari hal-hal yang dibenci.

Hendaklah ia mengetahui bahwa meskipun ini lebih utama dari seluruh ibadah lainnya, ini bukanlah puncak pencarian. Bahkan, orang yang hanya sibuk dengan ini saja masih terhijab (terhalang) dari pencarian para Shiddiqin, yaitu merasakan nikmat dengan berpikir pada keagungan dan keindahan Allah Ta'ala, serta tenggelamnya hati hingga ia fana (sirna) dari dirinya sendiri—artinya, ia melupakan dirinya, keadaannya, kedudukannya, dan sifat-sifatnya, sehingga seluruh perhatiannya tenggelam kepada Sang Kekasih. Ia tidak sempat lagi melihat pada keadaan dirinya dan sifat-sifatnya, melainkan tetap dalam keadaan terpesona dan lalai dari dirinya sendiri, dan inilah puncak kelezatan para perindu.

Adapun apa yang telah kami sebutkan (sebelumnya) adalah berpikir dalam membangun batin agar layak untuk kedekatan dan pertemuan (wushul). Jika ia menyia-nyiakan seluruh umurnya hanya untuk memperbaiki dirinya, maka kapankah ia akan menikmati kedekatan itu? Oleh karena itu, Al-Khawwash dahulu berkeliling di padang pasir, lalu ia bertemu dengan Al-Husain bin Manshur yang bertanya: "Sedang apa engkau?" Ia menjawab: "Aku berkeliling di padang pasir untuk memperbaiki keadaanku dalam hal tawakal." Al-Husain berkata: "Engkau telah menghabiskan umurmu dalam membangun batinmu, lalu di manakah kefanaan dalam tauhid?" Maka fana (larut) dalam Dzat Yang Maha Esa dan Maha Benar adalah puncak tujuan para pencari dan puncak kenikmatan para Shiddiqin.

Membersihkan diri dari sifat-sifat yang membinasakan itu ibarat menjalani masa 'iddah dalam pernikahan. Sedangkan berhias dengan sifat-sifat penyelamat dan seluruh ketaatan itu ibarat mempersiapkan perlengkapan pengantin wanita, membersihkan wajahnya, dan menyisir rambutnya, agar ia layak menemui suaminya. Jika ia menghabiskan seluruh umurnya hanya untuk membersihkan rahim dan menghias wajah, hal itu justru akan menjadi penghalang baginya untuk menemui kekasihnya.

Demikianlah seharusnya engkau memahami jalan agama jika engkau termasuk ahli mujalasah (orang yang dekat dengan Allah). Namun jika engkau seperti hamba yang buruk, yang tidak bergerak kecuali karena takut dipukul atau karena tamak akan upah, maka silakanlah engkau memayahkan badanmu dengan amal-amal zahir, karena antara engkau dan hati terdapat hijab yang tebal. Jika engkau telah menunaikan hak-hak amal tersebut, engkau akan menjadi penghuni surga, tetapi untuk kedudukan "dekat" (mujalasah) ada kaum yang lain lagi.

Jika engkau telah mengetahui ranah pikiran dalam ilmu muamalah antara hamba dan Tuhannya, maka seyogianya engkau menjadikannya sebagai kebiasaan dan rutinitasmu di pagi dan petang hari. Janganlah engkau lalai dari dirimu dan dari sifat-sifatmu yang menjauhkanmu dari Allah Ta'ala, serta keadaanmu yang mendekatkanmu kepada-Nya Subhanahu wa Ta'ala.

Bahkan, setiap murid (pencari kebenaran) seyogianya memiliki lembaran catatan (jaridah) yang di dalamnya ia menetapkan kumpulan sifat-sifat yang membinasakan, kumpulan sifat-sifat penyelamat, serta kumpulan maksiat dan ketaatan, lalu ia mengevaluasi dirinya pada catatan itu setiap hari.

Cukuplah baginya dari sifat-sifat pembinasa untuk memperhatikan sepuluh hal—sebab jika ia selamat darinya, ia akan selamat dari yang lain—yaitu: bakhil (pelit), sombong, ujub, riya, dengki, sangat pemarah, rakus makanan, rakus persetubuhan, cinta harta, dan cinta kedudukan.

Dan dari sifat penyelamat ada sepuluh: menyesali dosa, sabar atas ujian, ridha atas takdir, syukur atas nikmat, keseimbangan antara takut dan harap, zuhud terhadap dunia, ikhlas dalam amal, berakhlak baik kepada makhluk, cinta kepada Allah Ta'ala, dan khusyuk kepada-Nya.

Inilah dua puluh perkara; sepuluh tercela dan sepuluh terpuji. Jika salah satu dari yang tercela sudah hilang, ia mencoretnya dari catatannya, membiarkan pikiran darinya, dan bersyukur kepada Allah atas kecukupan-Nya bagi hal itu serta pembersihan hatinya dari sifat tersebut. Ia menyadari bahwa hal itu tidak terjadi kecuali dengan taufik dan pertolongan Allah Ta'ala; jika Allah menyerahkannya pada dirinya sendiri, niscaya ia tidak akan mampu menghapus kehinaan yang terkecil sekalipun dari dirinya. Kemudian ia beralih pada sembilan yang tersisa. Begitulah ia lakukan hingga ia mencoret semuanya. Demikian pula ia menuntut dirinya untuk memiliki sifat penyelamat; jika ia telah memiliki satu darinya seperti taubat dan penyesalan misalnya, ia mencoretnya dan sibuk dengan yang tersisa. Hal ini sangat dibutuhkan oleh seorang murid yang bersungguh-sungguh.

Adapun kebanyakan manusia dari golongan yang dianggap sebagai orang-orang saleh, maka seyogianya mereka menetapkan di dalam lembaran catatan mereka kemaksiatan-kemaksiatan lahiriah; seperti memakan harta syubhat, melepaskan lisan dalam ghibah (menggunjing), namimah (adu domba), mira’ (berdebat kusir), memuji diri sendiri, berlebihan dalam memusuhi musuh dan (berlebihan) dalam mencintai kawan, serta sikap menjilat (mudahanah) terhadap sesama makhluk dalam hal meninggalkan amar makruf nahi mungkar. Sesungguhnya kebanyakan orang yang menganggap dirinya sebagai tokoh orang saleh tidak terlepas dari kumpulan maksiat pada anggota badan ini. Selama anggota badan belum dibersihkan dari dosa-dosa, maka tidak mungkin seseorang menyibukkan diri dengan membangun dan menyucikan hati.

Bahkan, setiap kelompok manusia biasanya didominasi oleh jenis kemaksiatan tertentu, maka seyogianya pemeriksaan dan pemikiran mereka difokuskan pada maksiat tersebut, bukan pada maksiat yang jauh dari jangkauan mereka. Contohnya adalah seorang alim (ulama) yang warak; ia biasanya tidak terlepas dari upaya menonjolkan dirinya dengan ilmu, mencari popularitas, dan menyebarkan nama baik, baik melalui aktivitas mengajar atau memberi nasihat. Barangsiapa melakukan hal itu, berarti ia telah menghadapkan dirinya pada fitnah (ujian) besar yang tidak akan selamat darinya kecuali para Shiddiqin. Sebab, jika ucapannya diterima dan memberikan kesan baik di dalam hati manusia, ia tidak akan terlepas dari rasa ujub (kagum pada diri sendiri), kesombongan, berhias diri (pencitraan), dan kepura-puraan (tashannu’), yang mana semua itu termasuk hal yang membinasakan (al-muhlikat).

Sebaliknya, jika ucapannya ditolak, ia tidak akan terlepas dari rasa marah, harga diri yang terusik, dan dendam kepada orang yang menolaknya, yang mana kemarahannya itu lebih besar daripada kemarahannya saat ucapan orang lain yang ditolak. Terkadang setan menipu dirinya dengan berkata: "Kemarahanmu ini hanyalah karena kebenaran ditolak dan diingkari." Namun, jika ia mendapati adanya perbedaan rasa antara saat ucapannya sendiri yang ditolak dengan saat ucapan ulama lain yang ditolak, maka ia adalah orang yang tertipu dan menjadi bahan tertawaan setan.

Kemudian, selama ia masih merasa nyaman dengan penerimaan manusia, gembira dengan pujian, dan merasa enggan/terhina jika ditolak atau dipalingkan, maka ia tidak akan terlepas dari sikap membebani diri (takalluf) dan kepura-puraan dalam memperindah lafaz dan penyampaian karena ambisi untuk menarik pujian. Padahal Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan (al-mutakallifin). Setan terkadang menipu dirinya dengan berkata: "Ambisimu untuk memperindah lafaz dan membebani diri itu hanyalah agar kebenaran tersebar luas dan memberikan kesan yang baik di dalam hati demi meninggikan agama Allah." Namun, jika kegembiraannya terhadap indahnya lafaznya dan pujian manusia atasnya lebih besar daripada kegembiraannya saat manusia memuji salah seorang rekannya, maka ia telah terpedaya. Sesungguhnya ia hanya berputar-putar dalam mencari kedudukan (jah), padahal ia menyangka bahwa tujuannya adalah agama!

Kapan pun bisikan ini bergejolak dalam batinnya, hal itu akan tampak pada lahiriahnya; sehingga ia akan lebih menghargai orang yang menghormatinya dan meyakini keutamaannya, serta merasa lebih gembira dan berseri-seri saat bertemu orang tersebut dibandingkan saat bertemu orang yang sangat loyal kepada orang lain, meskipun orang lain tersebut memang berhak mendapatkan loyalitas. Bahkan terkadang perkara ini sampai membuat para ahli ilmu saling cemburu sebagaimana kecemburuan para wanita; sehingga terasa berat bagi salah seorang dari mereka jika sebagian muridnya belajar kepada orang lain, padahal ia tahu bahwa muridnya itu mendapatkan manfaat dan faidah bagi agamanya dari orang lain tersebut. Semua itu adalah rembesan dari sifat-sifat membinasakan yang tersembunyi di dalam rahasia hati, yang mana sang alim menyangka telah selamat darinya padahal ia tertipu. Hal ini hanya akan tersingkap dengan tanda-tanda tersebut. Maka fitnah (ujian) bagi seorang alim itu besar; ia adakalanya menjadi raja (beruntung) atau binasa, dan ia tidak memiliki harapan untuk keselamatan orang awam (jika dirinya sendiri saja terancam).

Maka barangsiapa merasakan sifat-sifat ini dalam dirinya, kewajibannya adalah menarik diri ('uzlah), menyendiri, mencari ketidakterkenalan (khumul), dan menolak untuk memberikan fatwa selama masih ditanya. Dahulu masjid di zaman Sahabat menampung sekumpulan sahabat Rasulullah yang semuanya adalah para ahli fatwa (muftun) ([1]), namun mereka saling dorong-mendorong (saling melempar) tugas fatwa tersebut. Setiap orang yang berfatwa sangat berharap agar tugasnya dicukupkan (diambil alih) oleh orang lain.

Pada saat inilah ia harus mewaspadai setan-setan dari kalangan manusia ketika mereka berkata: "Jangan lakukan ini (menarik diri), karena jika pintu ini dibuka, maka ilmu akan lenyap dari tengah makhluk." Hendaklah ia berkata kepada mereka: "Sesungguhnya agama Islam tidak butuh kepadaku. Islam tetap makmur sebelum aku ada, dan akan tetap demikian setelah aku tiada. Jika aku mati pun, pilar-pilar Islam tidak akan roboh. Agama ini tidak butuh kepadaku, namun akulah yang butuh untuk memperbaiki hatiku."

Adapun anggapan bahwa hal itu akan menyebabkan lenyapnya ilmu, maka itu adalah khayalan yang menunjukkan puncak kebodohan. Sesungguhnya manusia itu, seandainya mereka dipenjara, dibelenggu dengan rantai, dan tembok bentengnya dihancurkan pun, mereka akan tetap berusaha keluar darinya dan sibuk mencari ilmu. Ilmu tidak akan lenyap selama setan masih membuat makhluk mencintai kepemimpinan (riyasah), dan setan tidak akan berhenti dari pekerjaannya hingga hari kiamat. Bahkan, akan bangkit untuk menyebarkan ilmu kaum-kaum yang tidak memiliki bagian di akhirat, sebagaimana sabda Rasulullah : "Sesungguhnya Allah menguatkan agama ini dengan kaum-kaum yang tidak memiliki bagian (pahala) di akhirat" dan "Sesungguhnya Allah benar-benar menguatkan agama ini dengan laki-laki yang fajir (pendosa)."

Maka tidak seyogianya seorang alim terpedaya oleh tipu daya ini sehingga ia sibuk berinteraksi dengan makhluk hingga tumbuh di hatinya kecintaan pada kedudukan, pujian, dan pengagungan; karena hal itu adalah benih kemunafikan. Rasulullah bersabda: "Cinta kedudukan dan harta itu menumbuhkan kemunafikan di dalam hati sebagaimana air menumbuhkan sayur-mayur." Rasulullah juga bersabda: "Tidaklah dua ekor serigala lapar yang dilepaskan di kandang kambing lebih merusak daripada kerakusan seseorang terhadap kedudukan dan harta bagi agamanya." Dan cinta kedudukan tidak akan tercabut dari hati kecuali dengan menjauhi manusia, lari dari pergaulan dengan mereka, dan meninggalkan segala hal yang dapat menambah kedudukannya di hati mereka.

Hendaklah pikiran seorang alim difokuskan untuk menyadari ketersembunyian sifat-sifat ini di hatinya, serta mencari jalan keluar darinya. Inilah tugas bagi alim yang bertakwa. Adapun orang-orang seperti kita, seyogianya pikiran kita difokuskan pada apa yang dapat memperkuat iman kita terhadap hari pembalasan. Sebab, seandainya para pendahulu yang saleh (Salafush Shalih) melihat kita, mereka pasti akan berkata: "Orang-orang ini tidak beriman pada hari pembalasan," karena perbuatan kita bukanlah perbuatan orang yang percaya adanya surga dan neraka! Sesungguhnya barangsiapa takut pada sesuatu, ia akan lari darinya; dan barangsiapa berharap pada sesuatu, ia akan mencarinya. Kita telah tahu bahwa lari dari neraka adalah dengan meninggalkan syubhat, hal yang haram, dan kemaksiatan, namun kita justru tenggelam di dalamnya. Dan (kita tahu) bahwa mencari surga adalah dengan memperbanyak ibadah sunnah, namun kita justru lalai dalam ibadah wajibnya. Tidak ada buah dari ilmu yang kita dapatkan kecuali bahwa kita dijadikan teladan dalam ambisi terhadap dunia dan kerakusan padanya, sehingga dikatakan: "Seandainya dunia ini tercela, tentu para ulama adalah orang yang paling berhak dan paling utama untuk menjauhinya daripada kita." Alangkah baiknya jika kita seperti orang awam; jika kita mati, mati pulalah dosa-dosa kita bersama kita. Betapa besarnya fitnah yang kita hadapi jika kita mau berpikir. Kami memohon kepada Allah Ta’ala agar memperbaiki kami, memperbaiki (orang lain) melalui kami, dan memberi kami taufik untuk bertaubat sebelum Dia mewafatkan kami. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Lembut kepada kami serta Maha Pemberi Nikmat atas kami.

Inilah ranah pikiran para ulama dan orang-orang saleh dalam ilmu muamalah. Jika mereka telah selesai darinya, perhatian mereka terhadap diri mereka sendiri pun terputus, dan mereka naik darinya menuju pemikiran tentang keagungan dan kebesaran Allah, serta menikmati penyaksian-penyaksian-Nya dengan mata hati. Hal itu tidak akan sempurna kecuali setelah terlepas dari seluruh hal yang membinasakan dan berhias dengan seluruh hal yang menyelamatkan. Jika muncul sesuatu dari penyaksian itu sebelum proses tersebut selesai, maka hal itu adalah sesuatu yang bercacat, berpenyakit, keruh, dan terputus; ia lemah seperti kilat yang menyambar, tidak tetap dan tidak kekal. Ia seperti seorang pecinta yang berdua-duaan dengan kekasihnya, namun di balik pakaiannya terdapat ular dan kalajengking yang menyengatnya berkali-kali sehingga mengeruhkan kelezatan penyaksiannya. Tidak ada jalan baginya untuk kesempurnaan nikmat kecuali dengan mengeluarkan kalajengking dan ular dari pakaiannya. Sifat-sifat tercela ini adalah kalajengking dan ular, mereka adalah penyakiti dan pengganggu; dan di dalam kubur nanti, rasa sakit sengatannya akan melebihi sengatan kalajengking dan ular (dunia). Kadar ini sudah cukup sebagai peringatan atas ranah pikiran hamba mengenai sifat-sifat dirinya yang dicintai dan dibenci di sisi Tuhannya Ta’ala.


Bagian Kedua: Berpikir tentang Keagungan, Kebesaran, dan Kemuliaan Allah

Dalam hal ini terdapat dua tingkatan:

Tingkatan tertinggi adalah memikirkan tentang Zat-Nya, sifat-sifat-Nya, dan makna nama-nama-Nya. Hal ini termasuk yang dilarang, sebagaimana dikatakan: "Berpikirlah kalian tentang makhluk Allah dan janganlah kalian berpikir tentang Zat Allah." Hal itu dikarenakan akal manusia akan kebingungan di dalamnya. Tidak ada yang sanggup mengarahkan pandangan ke sana kecuali para Shiddiqin, dan itu pun mereka tidak sanggup terus-menerus memandangnya. Bahkan, keadaan penglihatan seluruh makhluk dibandingkan dengan keagungan Allah Ta’ala adalah seperti penglihatan kelelawar dibandingkan dengan cahaya matahari; ia tidak sanggup memandangnya sama sekali, bahkan ia bersembunyi di siang hari dan hanya berkelana di malam hari untuk melihat sisa-sisa cahaya matahari yang jatuh ke bumi. Adapun keadaan para Shiddiqin adalah seperti manusia yang melihat ke arah matahari; ia mampu melihatnya namun tidak sanggup terus-menerus, dan ia khawatir akan penglihatannya jika dipaksakan, karena pandangannya yang sekilas ke arah matahari saja sudah menyebabkan kabur dan memecah penglihatan. Demikian pula memikirkan Zat Allah Ta’ala; ia mewariskan kebingungan, ketakjuban yang luar biasa, dan keguncangan akal. Maka yang benar adalah janganlah mencoba masuk ke ranah pikiran tentang Zat Allah Ta’ala dan sifat-sifat-Nya, karena kebanyakan akal tidak akan sanggup memikulnya. Bahkan, kadar sedikit yang dinyatakan oleh sebagian ulama yaitu: bahwa Allah Ta'ala suci dari tempat, bersih dari batasan ruang dan arah, bahwa Dia tidak di dalam alam dan tidak di luar alam, tidak bersambung dengan alam dan tidak terpisah darinya; hal ini saja telah membingungkan akal banyak kaum hingga mereka mengingkarinya karena tidak sanggup mendengar dan mengetahuinya.

Karena melihat pada Zat Allah Ta’ala dan sifat-sifat-Nya mengandung risiko dari sisi ini, maka adab syariat dan kemaslahatan makhluk menuntut agar tidak masuk ke ranah pikiran tersebut. Namun, kita beralih ke tingkatan kedua, yaitu melihat pada perbuatan-perbuatan-Nya, ranah kekuasaan-Nya, keajaiban ciptaan-Nya, dan keindahan urusan-Nya pada makhluk-Nya. Sesungguhnya semua itu menunjukkan keagungan-Nya, kebesaran-Nya, kesucian-Nya, dan ketinggian-Nya. Hal itu menunjukkan kesempurnaan ilmu-Nya, hikmah-Nya, serta berlakunya kehendak dan kekuasaan-Nya. Maka kita melihat sifat-sifat-Nya melalui jejak-jejak (atsar) sifat-sifat-Nya. Sesungguhnya kita tidak sanggup melihat sifat-sifat-Nya secara langsung, sebagaimana kita (hanya) sanggup melihat bumi manakala ia disinari oleh cahaya matahari. Kita berdalil dengan hal itu atas agungnya cahaya matahari dibandingkan dengan cahaya bulan dan seluruh bintang, karena cahaya bumi adalah salah satu jejak cahaya matahari. Melihat pada jejak menunjukkan adanya Sang Pencipta Jejak (Al-Mu'atstsir) dengan suatu penunjukan tertentu, meskipun ia tidak menempati kedudukan melihat langsung pada Diri Sang Pencipta Jejak tersebut.

Seluruh wujud di dunia ini adalah jejak dari kekuasaan Allah Ta’ala dan cahaya dari cahaya Zat-Nya. Bahkan, tidak ada kegelapan yang lebih pekat daripada ketiadaan (al-'adam) dan tidak ada cahaya yang lebih nyata daripada keberadaan (al-wujud). Keberadaan segala sesuatu seluruhnya adalah cahaya dari cahaya Zat-Nya—Maha Tinggi dan Maha Suci Dia—karena tegaknya keberadaan segala sesuatu adalah dengan Zat-Nya yang Maha Berdiri Sendiri (Al-Qayyum), sebagaimana tegaknya cahaya benda-benda adalah dengan cahaya matahari yang menerangi dirinya sendiri.

Manakala sebagian matahari tersingkap, sudah menjadi kebiasaan untuk meletakkan wadah berisi air agar matahari dapat terlihat di dalamnya dan memungkinkan untuk dipandang. Maka air menjadi perantara yang sedikit meredupkan cahaya matahari sehingga pandangan sanggup melihatnya. Demikian pula perbuatan-perbuatan (makhluk) adalah perantara yang di dalamnya kita menyaksikan sifat-sifat Sang Pencipta, tanpa kita dibutakan oleh cahaya Zat setelah kita dijauhkan darinya melalui perantara perbuatan-perbuatan tersebut. Inilah rahasia dari sabda beliau : "Berpikirlah kalian tentang makhluk Allah dan janganlah kalian berpikir tentang Zat Allah Ta’ala."


Catatan Kaki:

  • ([1]) Maksudnya, mereka adalah orang-orang yang layak dan ahli untuk memberikan fatwa kepada manusia dalam urusan agama mereka.

Penjelasan Cara Berpikir (Tafakkur) pada Makhluk Allah Ta'ala

Ketahuilah bahwa segala sesuatu yang ada di alam wujud ini selain Allah Ta'ala adalah perbuatan dan ciptaan Allah. Setiap zarah (atom/partikel terkecil) dari segala zarah, baik berupa substansi (jauhar), aksiden ('aradh), sifat, maupun yang disifati, mengandung keajaiban dan keunikan yang menampakkan hikmah, kekuasaan, keagungan, dan kebesaran Allah. Menghitung hal tersebut secara terperinci adalah mustahil; sebab seandainya lautan dijadikan tinta untuk mencatatnya, niscaya lautan akan habis sebelum habis sepersepuluh dari sepersepuluhnya (seperatusnya). Namun, kami akan mengisyaratkan sebagian besarnya agar dapat menjadi contoh bagi hal-hal lainnya.

Maka kami katakan: Makhluk-makhluk yang ada terbagi menjadi:

  1. Sesuatu yang tidak diketahui asalnya, sehingga kita tidak mungkin memikirkannya. Betapa banyak wujud yang tidak kita ketahui sebagaimana firman Allah Ta'ala: "Dan Dia menciptakan apa yang tidak kamu ketahui" ([1]), "Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui" ([2]), dan Dia berfirman: "Dan menciptakan kamu kelak (di akhirat) dalam keadaan yang tidak kamu ketahui" ([3]).
  2. Sesuatu yang diketahui asal dan garis besarnya, namun tidak diketahui rinciannya; maka kita mungkin untuk memikirkan rinciannya. Hal ini terbagi menjadi:
    • Apa yang kita tangkap dengan indra penglihatan.
    • Apa yang tidak kita tangkap dengan penglihatan, seperti malaikat, jin, setan, Arsy, Kursi, dan selainnya. Ranah pikiran dalam hal-hal ini sempit dan rumit.

Maka mari kita beralih kepada hal yang lebih dekat dengan pemahaman, yaitu hal-hal yang ditangkap oleh indra penglihatan: yaitu tujuh langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya. Langit dapat disaksikan dengan bintang-bintangnya, mataharinya, bulannya, serta pergerakan dan putarannya saat terbit maupun terbenam. Bumi dapat disaksikan dengan apa yang ada di dalamnya berupa gunung-gunung, barang tambang, sungai-sungai, lautan, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Sedangkan apa yang ada di antara langit dan bumi, yaitu cakrawala, dapat ditangkap melalui awan, hujan, salju, petir, kilat, halilintar, meteor, dan hembusan angin.

Inilah jenis-jenis yang disaksikan dari langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya. Setiap jenis darinya terbagi menjadi beberapa tipe, setiap tipe terbagi menjadi beberapa bagian, dan setiap bagian bercabang menjadi berbagai macam kelas.


Di Antara Manfaat Mengamati (Nazhar) dan Memperhatikan (Tabashshur)

  1. Mengamati dan memperhatikan merupakan pelaksanaan perintah Allah Azza wa Jalla, di mana Dia memerintahkan hal tersebut di banyak tempat dalam Al-Qur'anul Karim ([4]).
  2. Mengamati keajaiban makhluk-makhluk Allah Azza wa Jalla dapat mengantarkan seseorang untuk mengenal-Nya Subhanahu wa Ta'ala berdasarkan keyakinan.
  3. Mengamati dan memperhatikan adalah sarana bagi manusia yang berakal menuju keyakinan (yaqin).
  4. Mengamati dan memperhatikan adalah di antara sarana ilmu yang dengannya manusia mendapat petunjuk untuk mengetahui kebenaran para Rasul atas apa yang mereka kabarkan dari Allah Azza wa Jalla.
  5. Melihat pada kesudahan segala urusan menjaga manusia dari bahaya ketergesa-gesaan dan terperosok ke dalam kebinasaan.
  6. Mengamati segala urusan dan memperhatikannya membiasakan manusia untuk bersikap tenang (al-ta'anni), sehingga keputusan-keputusannya menjadi tepat dan perbuatannya menjadi seimbang.
  7. Mengamati keadaan umat-umat terdahulu membuahkan pelajaran (it'idzhaz) dari kondisi mereka dan mendorong untuk taat kepada Allah Azza wa Jalla agar kita tidak ditimpa apa yang menimpa mereka.
  8. Mengamati nikmat-nikmat Allah dan keajaiban kekuasaan-Nya mendorong seseorang untuk membenarkan dan mengimani apa yang telah Dia sediakan bagi orang-orang bertakwa di negeri akhirat.
  9. Mengamati dan memperhatikan mengangkat derajat manusia dari derajat hewaniyah dan menaikkannya ke tingkatan makhluk yang paling tinggi.
  10. Dalam mengamati terdapat unsur mengikuti Sunnah Al-Musthafa , dan barangsiapa menaati Rasul maka ia telah menaati Allah.
  11. Seorang manusia yang melihat kepada orang yang berada di bawahnya dalam urusan dunia akan membawanya pada sifat ridha, qanaah, dan syukur kepada Allah Azza wa Jalla.
  12. Merupakan jalan yang mengantarkan pada keridhaan Allah dan kecintaan-Nya.
  13. Membuat dada menjadi lapang dan hati menjadi tenang.
  14. Berpikir (tafakkur) mewariskan rasa takut dan khasyah kepada Allah Azza wa Jalla.
  15. Berpikir mewariskan hikmah dan menghidupkan hati.
  16. Berpikir merupakan nilai intelektual besar yang membawa pada kesadaran individu dan kebangkitan umat.

Aktivasi Praktis dari Hakikat Tema dan Nilai-nilainya Melalui Kegiatan Berikut:

Pertama — Aktivitas Pendamping:

  1. Memberikan kesempatan bagi setiap pelajar untuk menentukan masalahnya dalam tema pelajaran ini dan menentukan cara pengobatannya.
  2. Menentukan beberapa bidang pengamatan, perhatian, dan pemikiran.
  3. Rekomendasi untuk menentukan waktu setiap hari bagi seseorang untuk menyendiri guna memperhatikan keadaan dirinya.
  4. Setiap pelajar menyebutkan satu contoh nyata di mana pengamatan, perhatian, dan pemikiran memiliki pengaruh dalam mencapai kesuksesan.
  5. Setiap dari mereka menyebutkan contoh nyata di mana kurangnya pengamatan, perhatian, dan pemikiran menjadi sebab terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.
  6. Menentukan beberapa situasi dakwah serta mengamati, memperhatikan, dan memikirkannya, serta menentukan sarana yang sukses untuk mencapai tujuan.

Kedua — Aktivitas Pendukung:

  1. Mengadakan perjalanan ke alam terbuka (rihlah khalawiyah) untuk berpikir, merenung, mengamati, dan memperhatikan.
  2. Menghafal ayat-ayat, hadis-hadis, dan syair-syair yang disebutkan dalam tema ini.
  3. Membuat riset dan artikel mengenai tema ini.
  4. Membuat drama, teater, dan film yang menjelaskan kesudahan umat-umat terdahulu dan nasib para tiran serta orang-orang zalim sebagai nasihat dan pelajaran.
  5. Membuat poster/spanduk yang mengekspresikan pengamatan, perhatian, dan pemikiran.
  6. Menyampaikan kultum (khathirah) tentang mengamati, memperhatikan, dan memikirkan kerajaan langit dan bumi.
  7. Menyampaikan nasihat tentang melihat pada keadaan akhirat.
  8. Menulis riset tentang pengamatan, perhatian, dan pemikiran dalam kehidupan Nabi .
  9. Memberikan ceramah tentang kemajuan kaum muslimin di masa lalu karena mereka memegang prinsip-prinsip ilmu eksperimental.
  10. Mengadakan rihlah ke alam terbuka untuk tafakkur, tadabbur, nazhar, dan tabshir.
  11. Membuat drama, teater, dan film yang menjelaskan kesudahan umat-umat terdahulu dan nasib para tiran serta orang-orang zalim untuk nasihat.
  12. Menyampaikan khutbah di masjid atau ceramah di forum tentang mengamati, memperhatikan, dan memikirkan.

Evaluasi dan Pengukuran Mandiri:

Pertama — Pertanyaan Esai:

  1. Definisikan masing-masing dari Nazhar (Mengamati), Tabashshur (Memperhatikan), dan Tafakkur (Berpikir) secara bahasa dan istilah.
  2. Apa hakikat berpikir? Dan apa pendapat Ibnu Qayyim mengenainya?
  3. Sebutkan beberapa ayat yang menyebutkan tentang Nazhar.
  4. Sebutkan beberapa ayat yang menyebutkan tentang Tabashshur.
  5. Sebutkan beberapa ayat yang menyebutkan tentang Tafakkur.
  6. Sebutkan beberapa hadis yang menyebutkan tentang Nazhar dan Tabashshur.
  7. Sebutkan beberapa hadis yang menyebutkan tentang Tafakkur.
  8. Ringkaslah beberapa perkataan dan atsar yang menyebutkan tentang Nazhar, Tabashshur, dan Tafakkur.
  9. Apa yang engkau ketahui tentang keutamaan berpikir?
  10. Apa buah dari pikiran dan manfaat-manfaatnya?
  11. Apa saja bidang-bidang pikiran?
  12. Sebutkan contoh terapan dari kehidupan Nabi dalam hal berpikir.
  13. Apakah engkau antusias untuk berpikir dan merenung? Mengapa?
  14. Apakah engkau mengajak orang lain untuk berpikir dan merenung? Mengapa?
  15. Jelaskan pentingnya melihat pada kesudahan segala urusan (al-awaqib).
  16. Sebutkan beberapa contoh bagi mata batin (bashirah) dan melihat pada kesudahan urusan.
  17. Jelaskan sebagian manfaat mengamati dan memperhatikan.

Kedua — Pertanyaan Objektif:

Berilah tanda (V) pada pernyataan yang benar dan tanda (X) pada pernyataan yang salah.

  1. Melihat pada kesudahan urusan adalah tipu daya orang yang lemah. ( )
  2. Memperhatikan segala urusan sebelum menceburkan diri di dalamnya akan mengamankan dari bahaya-bahayanya. ( )
  3. Mengamati, memperhatikan, dan memikirkan termasuk konsekuensi dari amal untuk Islam. ( )
  4. Kecerobohan, sikap emosional, dan ketergesa-gesaan tidak bertentangan dengan mengamati dan memperhatikan. ( )

Kelima: Referensi untuk Belajar Mandiri:

  1. Nadhrah al-Na'im. Dr. Shalih bin Humaid, Abdurrahman bin Malluh.
  2. Ihya Ulumuddin. Oleh Abu Hamid al-Ghazali.
  3. Zad al-Akhyar. Komite Ilmiah Yayasan Al-Kalimah untuk Penerbitan dan Distribusi - Kuwait.
  4. Tazkiyah al-Nafs. Dr. Muhammad Abdul Qadir Abu Faris.
  5. Mamarrot al-Haqq. Dr. Ra'id Abdul Hadi.
  6. Rasa'il al-Ishlah. Syekh Muhammad Al-Khidr Husain - Dar al-Ishlah - Arab Saudi.

Catatan Kaki:

  • ([1]) QS. An-Nahl: 8.
  • ([2]) QS. Yasin: 36.
  • ([3]) QS. Al-Waqi'ah: 61.
  • ([4]) Lihat ayat-ayat yang menyebutkan tentang dorongan untuk mengamati (al-Nazhar).

 

No comments:

Post a Comment

An-Nazharu Wa Tafakkur