Pendahuluan
Mungkin ada di kalangan kita yang
bertanya, kenapa pada saat ini kita masih perlu berbicara tentang Allah padahal
kita sudah sering mendengar dan menyebut nama-Nya dan kita tahu bahwa Allah itu
Tuhan kita. Tidakkah itu sudah cukup untuk kita ?
Saudaraku, jangan sekali kita
merasa sudah cukup dengan pemahaman dan pengenalan kita terhadap Allah, karena
semakin kita memahami dan mengenali-Nya kita merasa semakin dekat dengan-Nya. Kita
juga mau agar terhindar dari pemahaman-pemahaman yang keliru terhadap Allah dan
terhindar juga dari sikap-sikap yang salah terhadap Allah.
Ketika kita membicarakan tentang ma’rifatullah,
berarti kita berbicara tentang Rabb, Malik dan Ilah kita. Rabb yang kita pahami
dari istilah Al Qur’an adalah sebagai Pencipta, Pemilik, Pemelihara dan Penguasa.
Manakala Ilah pula mengandung arti yang dicintai, yang ditakuti dan juga
sebagai sumber pengharapan. Kita bisa lihat hal ini di dalam surat An Naas :
1-3.
قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ ١
مَلِكِ النَّاسِۙ ٢ اِلٰهِ النَّاسِۙ ٣
Katakanlah: "Aku berlidung kepada Tuhan (yang
memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia.
Dengan demikian jelaslah bahwa
usaha kita untuk lebih jauh memahami dan mengenal Allah adalah bagian
terpenting di dalam hidup ini. Bagaimanakah jalan atau metode yang harus kita
lalui untuk mengenal Allah swt? Apakah halangan-halangan yang senantiasa
menghantui manusia untuk mengenal dan berdampingan dengan-Nya ? Mungkin kita bisa
merujuk kepada satu riwayat yang bermaksud : “Kenalilah dirimu niscaya
engkau akan mengenali Tuhanmu”. Dari pengenalan diri sendiri, maka ia akan
membawa kepada pengenalan (ma’rifah) yang menciptakan diri yaitu Allah. Ini
adalah karena pada hakikatnya ma’rifah kepada Allah adalah sebenar-benar ma’rifah
dan merupakan asas segala kehidupan rohani.
Ma’rifah kepada Allah, akan
membawa kita kepada ma’rifah kepada Nabi dan Rasul, ma’rifah kepada alam nyata
dan alam ghaib serta ma’rifah kepada alam akhirat.
Keyakinan terhadap Allah swt menjadi
mantap apabila kita mempunyai dalil-dalil dan bukti yang jelas tentang eksistensi
Allah, lantas melahirkan pengesaan dalam mentauhidkan Allah secara mutlak. Pengabdian
diri kita hanya semata-mata kepada Allah saja. Ini memberi arti kita menolak
dan berusaha menghindarkan diri dari bahaya-bahaya disebabkan oleh syirik
kepadaNya.
Kita harus berusaha menempatkan
kehidupan kita di bawah naungan tauhid dengan cara kita memahami ruang pembahasan
dalam tauhid dengan benar tanpa penyelewengan sesuai dengan manhaj salafussaleh.
Kita juga harus memahami empat bentuk tauhidullah yang menjadi misi ajaran
Islam di dalam Al Qur’an maupun sunnah yaitu tauhid asma wa sifat, tauhid
rububiah, tauhid mulkiyah dan tauhid uluhiyah. Dengan pemahaman ini kita
akan termotivasi untuk melaksanakan sikap-sikap yang menjadi tuntutan utama
dari setiap empat tauhid tersebut.
Kehidupan paling tenang adalah
kehidupan yang bersandar terus kecintaannya kepada Yang Maha Pengasih. Oleh
karena itu kita harus mampu membedakan antara cinta kepada Allah dengan cinta
kepada selain-Nya serta menjadikan cinta kepada Allah di atas segalanya. Apa
yang menjadi tuntutan kepada kita ialah agar kita menyadari pentingnya
melandasi seluruh aktivitas hidup dengan kecintaan kepada Allah, Rasul dan
perjuangan secara manhaji.
Dalam memahami dan mengenal Allah
ini, kita seharusnya memahami bahwasanya Allah merupakan sebagai sumber ilmu
dan pengetahuan. Ilmu-ilmu yang Allah berikan itu adalah melalui dua jalan yang
membentuk dua fungsi yaitu sebagai pedoman hidup dan juga sebagai sarana hidup.
Kita juga sepatutnya menyadari kepentingan kedua bentuk ilmu Allah dalam
pengabdian kepada Allah untuk mencapai derajat taqwa yang lebih cemerlang.
Walaupun ayat-ayat Allah,
ayat-ayat qauliyah maupun kauniyah terbuka kepada siapa saja yang ingin membaca
dan menelitinya, namun terdapat berbagai halangan yang akan berhenti di hadapan
kita yang didukung oleh iblis dan hawa nafsu untuk memastikan anak cucu Adam
terus berada di dalam kesesatan dan jauh dari petunjuk Allah swt. Halangan-halangan
ini muncul dalam bentuk sifat-sifat pribadi yang kontras berpuncak dari syahwat
seperti nifaq, takabbur, zhalim, dusta dan sifat-sifat yang berpuncak dari
salah faham atau syubhat seperti jahil, ragu-ragu, menyimpang. Kesemua ini menghasilkan
kekufuran terhadap Allah swt.
B-1. AHAMMIYATU MA’RIFATULLAH
PENJELASAN RASMUL BAYAN
1.
Urgensi mempelajari Ma’rifatullah.
Dalam sebuah riwayat dinyatakan bahwa
perkara pertama yang harus dilaksanakan dalam agama adalah mengenal Allah
(awwaluddin ma’rifatullah). Bermula dengan mengenal Allah, maka kita akan
mengenali diri kita sendiri. Siapakah kita, di manakah kedudukan kita di antara
mahluk-mahluk yang lain, apakah sama misi hidup kita dengan binatang-binatang
yang ada di bumi ini, apakah tanggung jawab kita dan ke manakah kesudahan hidup
kita. Semua persoalan itu akan terjawab secara tepat setelah kita mengenali
betul-betul Allah sebagai Rabb dan Ilah. Yang Mencipta, Yang Menghidupkan, Yang
Mematikan dan seterusnya.
Dalil :
·
Q.S. Muhammad (47) ayat19:
فَاعْلَمْ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَاسْتَغْفِرْ
لِذَنْۢبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِۚ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ
مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوٰىكُمْ ࣖ ١٩
Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah
(sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi
(dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat
kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.
Ayat ini mengarahkan kepada kita dengan bahasa (ketahuilah
olehmu) bahwasanya tidak ada Ilah selain Allah dan minta ampunlah untuk dosamu
dan untuk mukminin dan mukminat. Apabila Al Qur’an menggunakan sighah amar
(perintah), maka ia menjadi wajib menyambut perintah tersebut. Dalam konteks
ini mengetahui atau mengenali Allah (ma’rifatullah) adalah wajib.
·
Q.S. Ali Imran (3) ayat 18:
شَهِدَ اللّٰهُ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ
اِلَّا هُوَۙ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ وَاُولُوا الْعِلْمِ قَاۤىِٕمًاۢ بِالْقِسْطِۗ
لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Allah menyatakan
bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang
menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu[188] (juga
menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak
disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
[188] Ayat ini untuk menjelaskan
martabat orang-orang berilmu.
·
Q.S. Al Hajj (22) ayat 72-73,
وَاِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِمْ اٰيٰتُنَا بَيِّنٰتٍ تَعْرِفُ فِيْ
وُجُوْهِ الَّذِيْنَ كَفَرُوا الْمُنْكَرَۗ يَكَادُوْنَ يَسْطُوْنَ بِالَّذِيْنَ يَتْلُوْنَ
عَلَيْهِمْ اٰيٰتِنَاۗ قُلْ اَفَاُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِّنْ ذٰلِكُمْۗ اَلنَّارُۗ
وَعَدَهَا اللّٰهُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْاۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ ࣖ ٧٢ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ
ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوْا لَهٗ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ
لَنْ يَّخْلُقُوْا ذُبَابًا وَّلَوِ اجْتَمَعُوْا لَهٗ ۗوَاِنْ يَّسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ
شَيْـًٔا لَّا يَسْتَنْقِذُوْهُ مِنْهُۗ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوْبُ ٧٣
Dan apabila dibacakan di hadapan
mereka ayat-ayat Kami yang terang, niscaya kamu melihat tanda-tanda keingkaran
pada muka orang-orang yang kafir itu. Hampir-hampir mereka menyerang
orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami di hadapan mereka. Katakanlah:
"Apakah akan aku kabarkan kepadamu yang lebih buruk daripada itu, yaitu
neraka?" Allah telah mengancamkannya kepada orang-orang yang kafir. dan
neraka itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.
Hai manusia, telah dibuat
perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang
kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun,
walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu
dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat
lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.
Allah telah
menjanjikan kepada mereka yang mengingkari ayat-ayat Allah, baik ayat qauliyah
atau kauniyah dengan api neraka. Janji ini Allah turunkan di dalam surat
Al-Hajj ayat 72-73 di atas. Oleh karena itu ma’rifatullah melalui ayat-ayat-Nya
sangat perlu dilaksanakan agar terselamat dari api neraka.
·
Q.S. Az Zumar (39) ayat 67:
وَمَا قَدَرُوا اللّٰهَ حَقَّ قَدْرِهٖۖ وَالْاَرْضُ جَمِيْعًا
قَبْضَتُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَالسَّمٰوٰتُ مَطْوِيّٰتٌۢ بِيَمِيْنِهٖ ۗسُبْحٰنَهٗ
وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ ٦٧
Dan mereka tidak mengagungkan Allah
dengan pengagungan yang semestinya. Padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya
pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya[1316]. Maha Suci
Allah dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.
[1316] Ayat ini menggambarkan kebesaran dan kekuasaan
Allah dan hanya Dialah yang berkuasa pada hari kiamat.
Orang-orang kafir tidak mengagungkan
Allah dengan keagungan yang sebenarnya karena mereka tidak betul-betul mengenal
Allah. Ayat ini menarik kita agar tidak salah taqdir terhadap hakikat ketuhanan
Allah yang sebenarnya. Oleh itu memerlukan ma’rifatullah yang sahih dan tepat.
2. Tema
Pembicaraan Ma’rifatullah – Allah Rabbul Alamin.
Ketika kita
membicarakan ma’rifatullah, berarti kita berbicara tentang Rabb, Malik dan Ilah
kita. Rabb yang kita pahami dari istilah Al Qur’an adalah sebagai Pencipta,
Pemilik, Pemelihara dan Penguasa. Manakala Ilah juga mengandung arti yang
dicintai, yang ditakuti dan juga sebagai sumber pengharapan. Kita bisa lihat
hal ini di dalam surat An-Naas (114) ayat 1-3:
قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ ١ مَلِكِ النَّاسِۙ ٢ اِلٰهِ
النَّاسِۙ ٣
Katakanlah: "Aku berlindung
kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan
manusia.
Inilah tema di
dalam ma’rifatullah. Jika kita menguasai dan menghayati keseluruhan tema ini,
berarti kita telah mampu menghayati arti ketuhanan yang sebenarnya.
Dalil
:
·
Q.S. Ar Ra’du (13) ayat 16:
قُلْ
مَنْ رَّبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ قُلِ اللّٰهُ ۗقُلْ اَفَاتَّخَذْتُمْ مِّنْ دُوْنِهٖٓ
اَوْلِيَاۤءَ لَا يَمْلِكُوْنَ لِاَنْفُسِهِمْ نَفْعًا وَّلَا ضَرًّاۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى
الْاَعْمٰى وَالْبَصِيْرُ ەۙ اَمْ هَلْ تَسْتَوِى الظُّلُمٰتُ وَالنُّوْرُ ەۚ اَمْ
جَعَلُوْا لِلّٰهِ شُرَكَاۤءَ خَلَقُوْا كَخَلْقِهٖ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْۗ
قُلِ اللّٰهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ ١٦
Katakanlah: "Siapakah Tuhan
langit dan bumi?" Jawabnya: "Allah". Katakanlah: "Maka
Patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka
tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka
sendiri?". Katakanlah: "Adakah sama orang buta dan yang dapat
melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka
menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti
ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?"
Katakanlah: "Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan yang
Maha Esa lagi Maha Perkasa".
·
Q.S. Al An’am (6) ayat 12:
قُلْ لِّمَنْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ
وَالْاَرْضِۗ قُلْ لِّلّٰهِ ۗ كَتَبَ عَلٰى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ ۗ
لَيَجْمَعَنَّكُمْ اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِ لَا رَيْبَ فِيْهِۗ اَلَّذِيْنَ
خَسِرُوْٓا اَنْفُسَهُمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ ١٢
Katakanlah:
"Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi?" Katakanlah:
"Kepunyaan Allah." Dia
telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang[462]. Dia sungguh akan menghimpun
kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. Orang-orang yang
meragukan dirinya mereka itu tidak beriman[463].
[462] Maksudnya: Allah telah berjanji
sebagai kemurahan-Nya akan melimpahkan rahmat kepada makhluk-Nya.
[463] Maksudnya: orang-orang yang tidak menggunakan
akal-pikirannya, tidak mau beriman.
·
Q.S. Al An’am (6) ayat 19:
قُلْ اَيُّ شَيْءٍ اَكْبَرُ شَهَادَةً ۗ قُلِ اللّٰهُ ۗشَهِيْدٌۢ
بَيْنِيْ وَبَيْنَكُمْ ۗوَاُوْحِيَ اِلَيَّ هٰذَا الْقُرْاٰنُ لِاُنْذِرَكُمْ بِهٖ
وَمَنْۢ بَلَغَ ۗ اَىِٕنَّكُمْ لَتَشْهَدُوْنَ اَنَّ مَعَ اللّٰهِ اٰلِهَةً اُخْرٰىۗ
قُلْ لَّآ اَشْهَدُ ۚ قُلْ اِنَّمَا هُوَ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ وَّاِنَّنِيْ بَرِيْۤءٌ
مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ ١٩
Katakanlah: "Siapakah yang lebih
kuat persaksiannya?" Katakanlah: "Allah". Dia menjadi saksi
antara aku dan kamu. Dan Al Qur’an ini diwahyukan kepadaku supaya dengan Dia
aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al Qur’an
(kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada Tuhan-Tuhan lain di
samping Allah?" Katakanlah: "Aku tidak mengakui." Katakanlah:
"Sesungguhnya Dia adalah Tuhan yang Maha Esa dan Sesungguhnya aku berlepas
diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)".
·
Q.S. An Naml (27) ayat 59:
قُلِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَسَلٰمٌ عَلٰى عِبَادِهِ الَّذِيْنَ
اصْطَفٰىۗ ءٰۤاللّٰهُ خَيْرٌ اَمَّا يُشْرِكُوْنَ ۔ ٥٩
Katakanlah: "Segala puji bagi Allah dan
kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya. Apakah Allah yang lebih
baik, ataukah apa yang mereka persekutukan dengan Dia?"
·
Q.S. An Nur (24) ayat 35:
۞
اَللّٰهُ نُوْرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ مَثَلُ نُوْرِهٖ كَمِشْكٰوةٍ فِيْهَا مِصْبَاحٌۗ
اَلْمِصْبَاحُ فِيْ زُجَاجَةٍۗ اَلزُّجَاجَةُ كَاَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُّوْقَدُ
مِنْ شَجَرَةٍ مُّبٰرَكَةٍ زَيْتُوْنَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَّلَا غَرْبِيَّةٍۙ يَّكَادُ
زَيْتُهَا يُضِيْۤءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌۗ نُوْرٌ عَلٰى نُوْرٍۗ يَهْدِى اللّٰهُ
لِنُوْرِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِۗ وَاللّٰهُ
بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ۙ ٣٥
Allah (Pemberi)
cahaya (kepada) langit dan bumi. perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti
sebuah lubang yang tak tembus[1039], yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita
itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti
mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang ada berkahnya, (yaitu)
pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di
sebelah barat(nya)[1040], yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi,
walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah
membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat
perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
[1039] Yang dimaksud lubang yang
tidak tembus (misykat) ialah suatu lubang di dinding rumah yang tidak tembus
sampai ke sebelahnya, biasanya digunakan untuk tempat lampu, atau barang-barang
lain.
[1040] Maksudnya: pohon zaitun itu tumbuh di puncak bukit.
Ia dapat sinar matahari baik di waktu matahari terbit maupun di waktu matahari
akan terbenam, sehingga pohonnya subur dan buahnya menghasilkan minyak yang
baik.
·
Q.S. Al Baqarah (2) ayat 255:
اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ەۚ
لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ
مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ
وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ
وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ
الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ ٢٥٥
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak
disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus
(makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di
langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa
izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang
mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang
dikehendaki-Nya. Kursi[161] Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak
merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.
[161] Kursi dalam ayat ini oleh sebagian mufassirin
diartikan dengan ilmu Allah dan ada pula yang mengartikan dengan kekuasaan-Nya.
3. Didukung
Dengan Dalil Yang Kuat (Q.75:14-15).
بَلِ الْاِنْسَانُ
عَلٰى نَفْسِهٖ بَصِيْرَةٌۙ ١٤ وَّلَوْ اَلْقٰى مَعَاذِيْرَهٗۗ ١٥
Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri. Meskipun
dia mengemukakan alasan-alasannya.
Ma’rifatullah yang sahih dan tepat itu haruslah
bersandarkan dalil-dalil dan bukti-bukti kuat yang telah siap disediakan oleh
Allah untuk manusia dalam berbagai bentuk agar manusia berpikir dan membuat
penilaian. Oleh karena itu banyak fenomena alam yang disentuh oleh Al Qur’an
diakhirkan dengan persoalan tidakkah kamu berpikir, tidakkah kamu mendengar dan
sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan itu bisa mendudukkan kita pada satu pandangan
yang konkrit, betapa semua alam cakrawala ini adalah di bawah milik dan
pentadbiran Allah swt.
Dalil
:
·
Naqli, Q.S. Al An’am (6) ayat 19:
قُلْ
اَيُّ شَيْءٍ اَكْبَرُ شَهَادَةً ۗ قُلِ اللّٰهُ ۗشَهِيْدٌۢ بَيْنِيْ وَبَيْنَكُمْ
ۗوَاُوْحِيَ اِلَيَّ هٰذَا الْقُرْاٰنُ لِاُنْذِرَكُمْ بِهٖ وَمَنْۢ بَلَغَ ۗ اَىِٕنَّكُمْ
لَتَشْهَدُوْنَ اَنَّ مَعَ اللّٰهِ اٰلِهَةً اُخْرٰىۗ قُلْ لَّآ اَشْهَدُ ۚ قُلْ اِنَّمَا
هُوَ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ وَّاِنَّنِيْ بَرِيْۤءٌ مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ ١٩
Katakanlah: "Siapakah yang lebih kuat
persaksiannya?" Katakanlah: "Allah". Dia menjadi saksi antara aku
dan kamu. Dan Al Qur’an ini diwahyukan kepadaku supaya dengan Dia Aku memberi peringatan
kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al Qur’an (kepadanya). Apakah sesungguhnya
kamu mengakui bahwa ada Tuhan-Tuhan lain di samping Allah?" Katakanlah:
"Aku tidak mengakui." Katakanlah: "Sesungguhnya Dia adalah Tuhan
Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu
persekutukan (dengan Allah)".
·
Aqli, Q.S. Ali Imran (3) ayat 190:
اِنَّ
فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ
لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ ١٩٠
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan
silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang
berakal
·
Fitri, Q.S. Al A’raf (7) ayat 172:
وَاِذْ
اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ
عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَا ۛاَنْ تَقُوْلُوْا
يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ ١٧٢
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan
anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa
mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" mereka
menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami
lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:
"Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini
(keesaan Tuhan)",
4.
Dapat Menghasilkan : peningkatan iman dan taqwa.
Apabila kita betul-betul mengenal Allah, mentadaburi
dalil-dalil yang dalam, hubungan kita dengan Allah menjadi lebih akrab. Apabila
kita dekat dengan Allah, Allah lebih lagi dekat kepada kita. Setiap ayat Allah baik
ayat qauliyah maupun kauniyah tetap akan menjadi bahan berpikir bagi kita dan
penambah keimanan serta ketaqwaan. Dari sini akan menghasilkan pribadi muslim yang
merdeka, tenang, penuh keberkahan dan kehidupan yang baik. Tentunya tempat
abadi baginya adalah surga yang telah dijanjikan oleh Allah kepada hamba-hamba
yang telah diridhai-Nya.
5.
Kemerdekaan
Dalil
:
·
Q.S. Al An’am (6) ayat 82:
اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَلَمْ يَلْبِسُوْٓا اِيْمَانَهُمْ
بِظُلْمٍ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمُ الْاَمْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُوْنَ ࣖ ٨٢
Orang-orang yang beriman dan tidak
mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah yang
mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
6.
Ketenangan.
Dalil
:
·
Q.S. Ar Ra’du (13) ayat 28:
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ
بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ ٢٨
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi
tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah
hati menjadi tenteram.
7.
Berkah.
Dalil
:
·
Q.7:96,
وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا
لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا
فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ ٩٦
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa,
pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi,
tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka
disebabkan perbuatannya.
8.
Kehidupan Yang Baik.
Dalil
:
·
Q.S. An Nahl (16) ayat 97:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى
وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ
بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ٩٧
Barang siapa yang mengerjakan amal saleh,
baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami
berikan kepadanya kehidupan yang baik[839] dan sesungguhnya akan Kami beri
balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka
kerjakan.
9.
Surga.
Dalil
:
·
Q.S. Yunus (10) ayat 25-26:
وَاللّٰهُ يَدْعُوْآ اِلٰى دَارِ السَّلٰمِ ۚوَيَهْدِيْ
مَنْ يَّشَاۤءُ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ ٢٥ ۞ لِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوا الْحُسْنٰى
وَزِيَادَةٌ ۗوَلَا يَرْهَقُ وُجُوْهَهُمْ قَتَرٌ وَّلَا ذِلَّةٌ ۗاُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ
الْجَنَّةِ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ ٢٦
Allah menyeru
(manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya
kepada jalan yang lurus (Islam)[685]. Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada
pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya[686]. Dan muka mereka tidak
ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan[687]. Mereka itulah penghuni
surga, mereka kekal di dalamnya.
[685] Arti kalimat
Darussalam ialah: tempat yang penuh kedamaian dan keselamatan. Pimpinan
(hidayah) Allah berupa akal dan wahyu untuk mencapai kebahagiaan dunia dan
akhirat.
[686] Yang
dimaksud dengan tambahannya ialah kenikmatan melihat Allah.
[687] Maksudnya: muka mereka berseri-seri dan tidak
ada sedikitpun tanda kesusahan.
10. Mardhatillah.
Dalil
:
·
Q.S. Al Bayyinah (98) ayat 8:
جَزَاۤؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنّٰتُ عَدْنٍ
تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًا ۗرَضِيَ اللّٰهُ
عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ ۗ ذٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهٗ ࣖ ٨
Balasan mereka di
sisi Tuhan mereka ialah surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai;
mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan
merekapun ridha kepadanya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang
takut kepada Tuhannya.
B-2. AT-THORIQ ILA MAKRIFATILLAH
PENJELASAN RASMUL BAYAN
1.
Jalan Menuju Pengenalan Terhadap Allah swt.
Allah swt tidak menampilkan eksistensi
Dzatnya Yang Maha Hebat di hadapan mahluk-mahluknya secara langsung dan dapat
dilihat seperti kita melihat sesama mahluk, bahkan selagi kita bisa melihat
dengan mata kepala kita, maka itu bukanlah Tuhan. Allah juga menganjurkan
kepada manusia melalui Nabi saw supaya berpikirlah pada mahluk-mahluk Allah
tetapi jangan sekali-kali berpikir tentang Dzat Allah. Mahluk-mahluk yang
menjadi tanda kebesaran dan keagungan Allah inilah yang disarankan di dalam
banyak ayat Al Qur’an agar menjadi bahan berpikir tentang kebesaran Allah.
2. Ayat
Qauliyah.
Ayat-ayat
qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt dalam Al Qur’an. Ayat-ayat
ini bisa menyentuh pelbagai aspek, termasuk jalan-jalan kepada ma’rifatullah.
Dalil
:
·
Q.95:1-5,
وَالتِّيْنِ وَالزَّيْتُوْنِۙ ١ وَطُوْرِ سِيْنِيْنَۙ
٢ وَهٰذَا الْبَلَدِ الْاَمِيْنِۙ ٣ لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ
تَقْوِيْمٍۖ ٤ ثُمَّ رَدَدْنٰهُ اَسْفَلَ سٰفِلِيْنَۙ ٥
Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun[1587], Dan
demi bukit Sinai[1588], Dan demi kota (Makkah) ini yang aman, Sesungguhnya kami
telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),
3. Ayat
Kauniyah.
Ayat
Kauniyah adalah ayat atau tanda yang ada di sekeliling kita yang diciptakan
oleh Allah. Ayat-ayat ini adalah dalam bentuk benda, kejadian,
peristiwa dan sebagainya yang ada di dalam alam ini. Oleh karena alam ini hanya
mampu dilaksanakan oleh Allah dengan segala sistem dan peraturan-Nya yang unik,
maka ia menjadi tanda kehebatan dan keagungan Penciptanya.
Dalil
:
·
Q.S. 41:53,
سَنُرِيْهِمْ اٰيٰتِنَا فِى الْاٰفَاقِ وَفِيْٓ
اَنْفُسِهِمْ حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ اَنَّهُ الْحَقُّۗ اَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ
اَنَّهٗ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ ٥٣
Kami akan memperlihatkan kepada mereka
tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka
sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Tiadakah
cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?
4.
Metode Islam Dengan Naqli dan Aqli.
Islam
menghargai nilai akal yang dimiliki manusia karena dengan sarana akal ini
manusia mampu berpikir dan memilih antara yang benar atau salah. Walau
bagaimanapun, dengan akal semata-mata tanpa panduan dari Pencipta akal,
pencapaian pemikiran cukup terbatas. Apa lagi jika dicampurkan dengan anasir
hawa nafsu dan zhan. Gabungan antara kemampuan akan dan panduan dari penciptanya
akan menghasilkan pengenalan yang tepat dan mantap terhadap Allah swt menjadi
satu kesalahan apabila manusia tidak menggunakan akalnya untuk berpikir.
Dalil
:
·
Q.S. Yunus (10) ayat 100-101:
وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ اَنْ تُؤْمِنَ اِلَّا بِاِذْنِ
اللّٰهِ ۗوَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِيْنَ لَا يَعْقِلُوْنَ ١٠٠ قُلِ انْظُرُوْا
مَاذَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ۗوَمَا تُغْنِى الْاٰيٰتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ
لَّا يُؤْمِنُوْنَ ١٠١
Dan tidak ada seorangpun akan beriman
kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang
yang tidak mempergunakan akalnya. Katakanlah: "Perhatikanlah apa yang ada
di langit dan di bumi. tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-Rasul
yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman".
·
Q.S. Ath Thalaq (65) ayat 10
اَعَدَّ اللّٰهُ لَهُمْ عَذَابًا
شَدِيْدًا فَاتَّقُوا اللّٰهَ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِۛ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا ۛ قَدْ
اَنْزَلَ اللّٰهُ اِلَيْكُمْ ذِكْرًاۙ
Allah menyediakan
bagi mereka azab yang keras, maka bertaqwalah kepada Allah hai orang-orang yang
mempunyai akal; (yaitu) orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah telah
menurunkan peringatan kepadamu,
·
Q.S. Al Mulk (67) ayat 10:
وَقَالُوْا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ
اَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِيْٓ اَصْحٰبِ السَّعِيْرِ ١٠
Dan mereka berkata:
"Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya
tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala".
5. Tasdiq
(membenarkan).
Hasil dari berpikir dan meneliti secara
terus-menerus menurut pedoman-pedoman yang sewajarnya, akan mencetuskan rasa
kebenaran, kehebatan dan keagungan Allah. Bisa jadi ia sesuai dengan firman
Allah surat An Najm (53) ayat 11:
مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا
رَاٰى ١١
Hatinya tidak mendustakan apa yang telah
dilihatnya[1429].
[1429]
Ayat 4-11 menggambarkan Peristiwa turunnya wahyu yang pertama di gua Hira.
Dalil
:
·
Q.S. Ali Imran (3) ayat 191:
الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ
قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ
وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
١٩١
(yaitu)
orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan
berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya
berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia,
Maha Suci Engkau, maka peliharalah Kami dari siksa neraka.
·
Q.S. Qaf (50) ayat 37:
اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ
لَذِكْرٰى لِمَنْ كَانَ لَهٗ قَلْبٌ اَوْ اَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيْدٌ ٣٧
Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang
menggunakan pendengarannya, sedang Dia menyaksikannya.
6. Menghasilkan
Iman.
Metode
pengenalan kepada Allah yang dibawa oleh Islam ini sangat efektif secara
berurutan sehingga akhirnya menghasilkan keimanan sejati kepada Allah ‘azzawajalla.
7. Metode
Selain Islam.
Pemikiran
berkenaan theologi dan ketuhanan banyak juga dibawa oleh pemikir-pemikir dari seluruh
dunia tetapi tidak berlandaskan kepada metode yang sebenarnya. Kebanyakannya
berlandaskan duga-dugaan, sangka-sangkaan dan hawa nafsu. Pastinya metode ini
tidak akan sampai kepada hasil yang sebenarnya karena bayang-bayang khayalan
tetap menghantui pemikiran mereka. Ada Tuhan angin, Tuhan api, Tuhan air yang
berasingan dengan rupa-rupa yang berbeda seperti yang digambarkan oleh Hindu,
Budha dan seumpamanya.
8. Dugaan
dan Hawa Nafsu.
Dua
unsur utama dalam metode mengenal Tuhan yang tidak berlandaskan disiplin yang
sebenar adalah sangka-sangkaan dan juga hawa nafsu. Campur tangan dua unsur ini
sangat tidak mungkin untuk mencapai hasil yang tepat dan sahih.
Dalil
:
·
Q.S. Al Baqarah (2) ayat 55:
وَاِذْ قُلْتُمْ
يٰمُوْسٰى لَنْ نُّؤْمِنَ لَكَ حَتّٰى نَرَى اللّٰهَ جَهْرَةً فَاَخَذَتْكُمُ
الصّٰعِقَةُ وَاَنْتُمْ تَنْظُرُوْنَ ٥٥
Dan (ingatlah),
ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum
kami melihat Allah dengan terang[50], karena itu kamu disambar halilintar,
sedang kamu menyaksikannya[51]".
[50] Maksudnya:
melihat Allah dengan mata kepala.
[51] Karena permintaan yang semacam ini menunjukkan
keingkaran dan ketakaburan mereka, sebab itu mereka disambar halilintar sebagai
azab dari Tuhan.
·
Q.S. Yunus (10) ayat 36:
وَمَا يَتَّبِعُ اَكْثَرُهُمْ
اِلَّا ظَنًّاۗ اِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِيْ مِنَ الْحَقِّ شَيْـًٔاۗ اِنَّ اللّٰهَ
عَلِيْمٌ ۢبِمَا يَفْعَلُوْنَ ٣٦
Dan kebanyakan
mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu
tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran[690]. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui apa yang mereka kerjakan.
[690] Sesuatu yang diperoleh dengan prasangka sama
sekali tidak bisa menggantikan sesuatu
yang diperoleh dengan keyakinan.
·
Q.S. Al An’am (6) ayat 115:
وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ
صِدْقًا وَّعَدْلًاۗ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمٰتِهٖ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
١١٥
Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al
Qur’an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah
kalimat-kalimat-Nya dan Dia lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
9. Ragu-Ragu.
Apabila
jalan yang dilalui tidak jelas dan tidak tepat, maka hasil yang didapat juga
sangat tidak meyakinkan. Mungkin ada hasil yang didapat, tetapi bukan hasil
yang sebenarnya. Bagaimanakah kita ingin mengenal Allah tetapi kaidah
pengenalan yang kita gunakan tidak menurut neraca dan panduan yang telah
ditetapkan oleh Allah? Kadangkala Sayyidina Umar tersenyum sendirian mengenang
kebodohannya menyembah patung yang dibuatnya sendiri dari gandum sewaktu
jahiliyah, apabila terasa lapar dimakannya pujaan itu.
Dalil
:
·
Q.S. Al Hajj (22) ayat 55:
وَلَا يَزَالُ الَّذِيْنَ
كَفَرُوْا فِيْ مِرْيَةٍ مِّنْهُ حَتّٰى تَأْتِيَهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً اَوْ يَأْتِيَهُمْ
عَذَابُ يَوْمٍ عَقِيْمٍ
Dan senantiasalah orang-orang kafir itu
berada dalam keragu-raguan terhadap Al Qur’an, hingga datang kepada mereka saat
(kematiannya) dengan tiba-tiba atau datang kepada mereka azab hari kiamat.
·
Q.S. An Nur (24) ayat 50:
اَفِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ
اَمِ ارْتَابُوْٓا اَمْ يَخَافُوْنَ اَنْ يَّحِيْفَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ وَرَسُوْلُهٗ
ۗبَلْ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ ࣖ ٥٠
Apakah (ketidakdatangan mereka itu karena)
dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena)
takut kalau-kalau Allah dan Rasul-Nya berlaku zhalim kepada mereka? Sebenarnya,
mereka itulah orang-orang yang zhalim.
10. Berakibat
Kufur.
Semua
metode pengenalan yang tidak berasaskan cara yang dianjurkan oleh Islam yaitu melalui
aqli dan naqli akan menemui jalan tersebut yaitu kekufuran terhadap Allah swt.
B-3. MAWANI’
MA’RIFATULLAH
PENJELASAN RASMUL BAYAN
A. Sifat yang
berasal dari penyakit syahwat.
1.
Fasiq.
Yaitu
orang-orang yang melanggar janji Allah, memutuskan apa yang diperintahkan oleh
Allah menghubungkannya dan mereka melakukan bencana di atas muka bumi.
Dalil :
· Q.S.
Al Baqarah (2) ayat 26-27:
۞ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَسْتَحْيٖٓ اَنْ يَّضْرِبَ
مَثَلًا مَّا بَعُوْضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۗ فَاَمَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فَيَعْلَمُوْنَ
اَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۚ وَاَمَّا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَيَقُوْلُوْنَ
مَاذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِهٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهٖ كَثِيْرًا وَّيَهْدِيْ بِهٖ
كَثِيْرًا ۗ وَمَا يُضِلُّ بِهٖٓ اِلَّا الْفٰسِقِيْنَۙ ٢٦ الَّذِيْنَ يَنْقُضُوْنَ
عَهْدَ اللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ مِيْثَاقِهٖۖ وَيَقْطَعُوْنَ مَآ اَمَرَ اللّٰهُ بِهٖٓ
اَنْ يُّوْصَلَ وَيُفْسِدُوْنَ فِى الْاَرْضِۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ ٢٧
Sesungguhnya Allah
tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari
itu[33]. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan
itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah
maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?." Dengan perumpamaan itu
banyak orang yang disesatkan Allah[34], dan dengan perumpamaan itu (pula)
banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah
kecuali orang-orang yang fasiq, (yaitu)
Orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan
memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya
dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.
[33] Di waktu
turunnya surat Al Hajj ayat 73 yang di dalamnya Tuhan menerangkan bahwa
berhala-berhala yang mereka sembah itu tidak dapat membuat lalat, sekalipun
mereka kerjakan bersama-sama, dan turunnya surat Al Ankabut ayat 41 yang di
dalamnya Tuhan menggambarkan kelemahan berhala-berhala yang dijadikan oleh
orang-orang musyrik itu sebagai pelindung sama dengan lemahnya sarang
laba-laba.
[34] Disesatkan Allah berarti: bahwa orang
itu sesat berhubung keingkarannya dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk
Allah dalam ayat ini, karena mereka itu ingkar dan tidak mau memahami apa
sebabnya Allah menjadikan nyamuk sebagai perumpamaan. Maka mereka itu menjadi
sesat.
· Q.S.
Al Hasyr (59) ayat 19
وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ نَسُوا اللّٰهَ
فَاَنْسٰىهُمْ اَنْفُسَهُمْۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ ١٩
Dan janganlah kamu seperti orang-orang
yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka
sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasiq.
2.
Sombong.
Adalah
orang yang hatinya ingkar dan membantah terhadap ayat-ayat Allah dan mereka
tidak beriman dengan Allah.
Dalil :
· Q.S.
An Nahl (16) ayat 22:
اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ ۚفَالَّذِيْنَ لَا
يُؤْمِنُوْنَ بِالْاٰخِرَةِ قُلُوْبُهُمْ مُّنْكِرَةٌ وَّهُمْ مُّسْتَكْبِرُوْنَ
٢٢
Tuhan kamu
adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat,
hati mereka mengingkari (keesaaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah
orang-orang yang sombong.
·
Q.S. Al Mu’min (40) ayat 35:
الَّذِيْنَ يُجَادِلُوْنَ
فِيْٓ اٰيٰتِ اللّٰهِ بِغَيْرِ سُلْطٰنٍ اَتٰىهُمْۗ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ
وَعِنْدَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا ۗ كَذٰلِكَ يَطْبَعُ اللّٰهُ عَلٰى كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ
جَبَّارٍ ٣٥
(yaitu)
Orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada
mereka[1322]. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi
orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang
sombong dan sewenang-wenang.
[1322] Maksudnya mereka menolak ayat-ayat
Allah tanpa alasan yang datang kepada mereka.
·
Q.S. Al Mu’min (40) ayat 56
اِنَّ الَّذِيْنَ يُجَادِلُوْنَ فِيْٓ اٰيٰتِ اللّٰهِ بِغَيْرِ سُلْطٰنٍ
اَتٰىهُمْ ۙاِنْ فِيْ صُدُوْرِهِمْ اِلَّا كِبْرٌ مَّا هُمْ بِبَالِغِيْهِۚ
فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ٥٦
Sesungguhhnya
orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang
sampai kepada mereka[1325] tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah
(keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka
mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha mendengar lagi Maha
Melihat.
·
Q.S. Al A’raf (7) ayat 12:
قَالَ مَا مَنَعَكَ اَلَّا
تَسْجُدَ اِذْ اَمَرْتُكَ ۗقَالَ اَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُۚ خَلَقْتَنِيْ مِنْ نَّارٍ
وَّخَلَقْتَهٗ مِنْ طِيْنٍ ١٢
Allah berfirman: "Apakah yang
menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu aku menyuruhmu?"
Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api
sedang dia Engkau ciptakan dari tanah".
3.
Zhalim.
Dalil :
· Q.S. As Sajdah (32) ayat 22:
وَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ
بِاٰيٰتِ رَبِّهٖ ثُمَّ اَعْرَضَ عَنْهَا ۗاِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِيْنَ مُنْتَقِمُوْنَ
ࣖ ٢٢
Dan siapakah yang lebih zhalim daripada
orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling
daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang
yang berdosa.
4.
Dusta.
Dalil :
·
Q.S. Al Baqarah (2) ayat 10:
فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌۙ فَزَادَهُمُ اللّٰهُ
مَرَضًاۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ۢ ەۙ بِمَا كَانُوْا يَكْذِبُوْنَ ١٠
Dalam hati mereka ada penyakit[23], lalu
ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka
berdusta.
· Q.S.
Al Mursalat (77) ayat 9-19:
وَاِذَا السَّمَاۤءُ فُرِجَتْۙ
٩ وَاِذَا الْجِبَالُ نُسِفَتْۙ ١٠ وَاِذَا الرُّسُلُ اُقِّتَتْۗ ١١ لِاَيِّ يَوْمٍ
اُجِّلَتْۗ ١٢ لِيَوْمِ الْفَصْلِۚ ١٣ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا يَوْمُ الْفَصْلِۗ ١٤ وَيْلٌ
يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ ١٥ اَلَمْ نُهْلِكِ الْاَوَّلِيْنَۗ ١٦ ثُمَّ نُتْبِعُهُمُ
الْاٰخِرِيْنَ ١٧ كَذٰلِكَ نَفْعَلُ بِالْمُجْرِمِيْنَ ١٨ وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ
١٩
Dan apabila langit
telah dibelah, Dan apabila gunung-gunung telah dihancurkan menjadi debu, Dan
apabila Rasul-rasul telah ditetapkan waktu (mereka)[1539]. (niscaya dikatakan
kepada mereka:) "Sampai hari apakah ditangguhkan (mengazab orang-orang
kafir itu)?" Sampai hari keputusan. Dan tahukah kamu apakah hari keputusan
itu? Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.
Bukankah Kami telah membinasakan orang-orang yang dahulu? Lalu Kami iringkan
(azab Kami terhadap) mereka dengan (mengazab) orang-orang yang datang kemudian.
Demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berdosa. Kecelakaan yang
besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.
[1539] Maksudnya: waktu untuk berkumpul
bersama-sama beserta umat mereka masing-masing.
5.
Banyak Dosa.
Dalil :
·
Q.S. Al Muthaffifin (83) 14:
كَلَّا بَلْ ۜرَانَ عَلٰى
قُلُوْبِهِمْ مَّا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ ١٤
Sekali-kali
tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati
mereka.
Semua sifat-sifat yang disebutkan
di atas tadi akan berakhir dengan kemurkaan dari Allah swt. Walau bagaimanapun
sifat-sifat ini bisa dirawati dan diobati dengan usaha yang penuh mujahadah. Manakala
kelompok kedua adalah sifat-sifat yang berasal dari penyakit syubhat yang ada
pada kepribadian seseorang.
6.
Jahil.
Dalil :
· Q.S.
Az Zumar (39) ayat 65:
وَلَقَدْ اُوْحِيَ اِلَيْكَ وَاِلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكَۚ لَىِٕنْ اَشْرَكْتَ
لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ
Dan
sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (Nabi-Nabi) yang sebelummu.
"Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan
tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.
7.
Ragu-Ragu.
Dalil :
· Q.S.
Al Hajj (22) 55:
وَلَا يَزَالُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِيْ مِرْيَةٍ
مِّنْهُ حَتّٰى تَأْتِيَهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً اَوْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابُ يَوْمٍ
عَقِيْمٍ
Dan senantiasalah orang-orang kafir itu
berada dalam keraguan terhadap Al Qur’an, hingga datang kepada mereka saat
(kematiannya) dengan tiba-tiba atau datang kepada mereka azab hari kiamat.
8.
Menyimpang.
Dalil :
· Q.S.
Al Maidah (5) ayat 13:
فَبِمَا نَقْضِهِمْ
مِّيْثَاقَهُمْ لَعَنّٰهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوْبَهُمْ قٰسِيَةً ۚ يُحَرِّفُوْنَ
الْكَلِمَ عَنْ مَّوَاضِعِهٖۙ وَنَسُوْا حَظًّا مِّمَّا ذُكِّرُوْا بِهٖۚ وَلَا
تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلٰى خَاۤىِٕنَةٍ مِّنْهُمْ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْهُمْ ۖ
فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ ۗاِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ ١٣
tetapi) Karena mereka melanggar janjinya, Kami
kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah
perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya[407], dan mereka (sengaja) melupakan
sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu
(Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di
antara mereka (yang tidak berkhianat). Maka maafkanlah mereka dan biarkan
mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.
9.
Lalai.
Dalil :
· Q.S.
Al A’raf (7) ayat 179:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ
كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ
اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ
كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ ١٧٩
Dan sesungguhnya
Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia,
mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat
Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat
(tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak
dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang
ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.



No comments:
Post a Comment