Wednesday, April 15, 2026

Nafsul Insan

 Sinopsis

Nafsu manusia senantiasa berubah-rubah. Perubahan ini dipengaruhi oleh scjauh mana kekuatan ruh dapat berhadapan dengan hawa nafsunya. Pertentangan dan peperangan selalu terjadi di antara keduanya. Ruh manusia dapat menguasai hawa nafsunya bila nilai Islam dapat menekan dan menahan gejolaknya hawa nafsu tersebut. Dengan demikian, nafsunya akan menjadi nafsu yang tenang (mutlunainnah). Keadaan ini akan didapat bila manusia selalu bcrdzikir kepada Allah SWT Keadaan ideal demikian yang dikehendaki Allah sehingga Allah meridhainya karena ridhanya manusia beramal saleh.

Sedangkan manusia yang dikuasai oleh hawa nafsunya serta cenderung padanya (hawa nafsu) maka akan dikendalikan oleh kesesatan yang menyebabkan is menjadi tidak bahagia. Hal ini karena jiwa manusia cenderung dibawa kepada kejahatan dan kerusakan. Nafsu amarah, merupakan ciri nafsu yang ada pada manusia yang tidak beriman dan tidak beramal saleh. Hawa nafsu mereka mengendalikan ruhnya.

Di antara nafsu yang tenang dengan nafsu yang amarah, terdapat nafsu lawamah yang menggambarkan adanya tarik menarik antara ruh dan hawa nafsu. Ruh dan hawa nafsu yang sama-sama berpengaruh akan menjadikan suasana tarik menarik sehingga nu ncul akal dan jiwa yang selalu menyesali dirinya. Terkadang ruhnya mempengaruhi hawa nafsunya sehingga muncul sedikit ketenangan namun kadang kala muncul nafsunya mempengaruhi ruh yang dapat menghancurkan jiwanya.

Ruh akan membawa kepastian dan ketenangan jiwa karena ruh mengikuti perintah Allah yang fitrah dan sesuai dengan nilai kemanusiaan. Manakala hawa nafsu selalu membawa kepada kepastian dan ketidaktenangan. Tidak ada kepuasaan kekal dengan memperturutkan hawa nafsu. Dan tidak ada kebahagiaan dengan mengikuti hawa nafsu, karena hawa nafsu tidak pernah puas dan tidak akan pernah berhenti. Apabila tercapai sate kepuasaan maka hawa nafsu menuntut yang berikutnya dan begitu seterusnya tidak ada batas. Yang membatasi geraknya hawa nafsu adalah ruh.

1. Nafsul Insan (Nafsu Manusia)

·    Allah pun bersumpah dengan manusia setelah bersumpah dengan matahari, bulan, siang, dan malam. Kemudian Al­lah menjadikan bagi manusia pilihan untuk nafsunya kepada hal yang baik dan yang buruk. Allah mengabarkan bahwa beruntunglah mereka yang membersihkan jiwanya dan merugilah bagi orang yang mengotorinya.

·   Nafsu manusia bisa mengarah kepada ketakwaan atau kefasikan. Pilihan yang Allah berikan diserahkan kepada manusia. Biasanya faktor lingkungan akan besar pengaruhnya kepada penentuan pilihan manusia tersebut. Hadits nabi SAW banyak menyebutkan pentingnya lingkungan untuk menjadikan manusia bertakwa atau fasik. Setelah Allah berikan jalan maka manusia memilihnya kemudian Allah memberikan balasan kepada masing­masing jalan yang dipilihnya.

Dalil

Q. 91:7-10. Dan jiwa serta penyempurnaan ciptaanNya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

2. Ar Ruh/Al Hawa (Ruh Di Atas Hawa Nafsu)

·   Adz Dzikru (Berorientasi Zikir)

·    An Nafsul Muthmainnah (]iwa Yang Tenang)

·   Ciri dari pribadi yang ruhnya menguasai jiwanya adalah senantiasa berdzikir pada Allah SWT Merekapun juga melaksanakan ibadah. Dengan dzikir dan shalat maka terhindarlah manusia dari perbuatan keji dan jahat. Allah SWT akan menjaga mereka yang melakukan shalat dan senantiasa berdzikir di pagi dan sore hari. Pribadi yang mengamalkan Islam dan dapat mengalahkan dorongan hawa nafsu seperti dorongan mencari harta, mengejar tahta, dan memburu wanita, akan memperoleh jiwa yang tenang yaitu jiwa yang bersandar hanya pada Allah saja.

·    Shalat adalah juga kegiatan zikir kepada Allah. Dengan shalat maka kekejian dan kemungkaran akan terhindar. Dengan shalat maka kita akan mendapatkan keutamaan dari Allah SWT

·    Ruh menguasai hawa nafsu akan membentuk jiwa yang senantiasa ingat Allah dalam segala situasi misalnya dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring. Berorientasi dzikir adalah kewajiban manusia untuk mendapatkan ketentraman jiwa. Bahkan Allah menyebutkan bahwa hanya dengan ingat kepada Allah hati menjadi tenang, dengan cara selain itu tidak akan dapat membuat hati tenang. Melalui hiburan, musik, berlibur, menonton, berwisata dan berbagai cara lainnya yang selain ingat kepada Allah, tidak akin dapat ketenangan. Kecuali mereka tetap dalam mengingat Allah, maka diberiNya ketentraman jiwa.

·    Allah memanggil orang yang beriman dan beramal saleh dengan jiwa yang tenang dengan hati yang puns dan diridhaiNya.

Dalil

·    Q. 29:45. Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab Al Quran dan dirikanlah shalat. Sungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar keutamaannya dari ibadah yang lain. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

·    Q. 3:19 1. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata ya Tuhan kami tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau maka peliharalah kami dari sisa neraka.

·    Q. 13:28. Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentrarn dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.

·     Q. 89:27-30. Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridaiNya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaKu.

3. Ar Ruh/Al Hawa (Ruh Tarik Menarik Dengan Hawa Na f su)

·   Ar Ra'yu (Berorientasi Akal)

·    An Nafsu Al Lawwamah (Jiwa Yang Selalu Menyesali Diri)

·    Tarik menarik antara ruh dan hawa nafsu adalah realitas yang terjadi pada manusia. Menang dan kalah sangat tergantung kepada kesadaran, ihnu, kekuatan kehendak, serta hidayah yang Allah berikan pada seseorang. Dorongan hawa nafsu dengan bisikan syaitan selalu menggoda ketika kita menjalankan ibadah. Kekalahan diperoleh bagi mereka yang hawa nafsunya menguasai dirinya, misalnya mereka yang memakan uang haram, melanggar syariat untuk mencapai ambisi, dan rnenjadikan hawa nafsu sebagai pemirnpinnya. Tank menarik antara hawa nafsu dan ruh mewujudkan fenomena pribadi yang tidak komitmen dan tidak stabil, bahkan kadang futur, dan sebagainya.

·    Ruh selalu tarik menarik dengan hawa nafsu, sehingga menjadikan manusia terkadang kafir, kadangkala mukmin dan begitu seterusnya. Mereka seperti mempermainkan Allah dengan iman dan kafir sehingga Allah tidak memberikan ampunan kepada mereka.

·    Menipu Allah dengan berorientasi akal-akalan dimana kadang-kadang percaya tetapi kadangkala tidak percaya.Mereka senantiasa ragu dengan apa yang dikerjakannya dan selalu bimbang dalam beramal. Allah tidak memberi petunjuk kepada mereka yang ragu kepada Allah.

·    Jiwa yang selalu menyesali dirinya selalu menipu Allah dengan berpura-pura dan tidak mengamalkan Islam, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri.

Dalil

Q. 4:137. Sesungguhnya orang-orang yang beriman kernudian kafir kemudian beriman kemudian kafir lagi kemudian bertambah kekafirannya, maka sekali-kali Al­lah tidak akan memberi ampunan kepada mereka dan tidak pula menunjuki mereka kepada jalan yang lurus.

·     Q. 4:143. Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir). Tidak masuk kepada golongan ini orang-orang beriman dan tidak pula kepada golongan orang kafir. Barang siapa yang disesatkan Allah maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan untuk memberi petunjuk baginya.

·     Q. 2:9. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang, mereka tidak sadar.

·     Q. 75:2. Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali dirinya sendiri.

4. Al Hawa/Ar Ruh (Ruh Dibawah Pengaruh Hawa Nafsu)

·   As Syahwat (Berorientasi Syahwat)

·     An Nafsul Amarati Bi Suk (Jiwa Yang Selalu Menyuruh Pada

Kejahatan)

  • Ruh yang berada di bawah pengaruh hawa nafsu menunjukkan pribadi yang mempunyai nafsu amarah. Hawa nafsunya selalu dipenuhi dengan keinginan untuk mengalahkan ketaatan dan kepentingan ibadah. Tingkah laku yang berorientasi pada syahwat itu akan menghasilkan pribadi yang cenderung pada kejahatan.

·       Ruh dibawah pengaruh atau dikuasai oleh hawa nafsu sebagai tanda hawa nafsu dijadikan tuhannya. Dengan demikian kesesatanlah yang akan mereka terima dimana akan dikunci hati, pendengaran dan penglihatannya. Bahkan mereka dibiarkan sesat dengan ilmunya tersebut. Oleh karena itu, Allah menyuruh kita untuk menggunakan patensi akal untuk memikirkannya.

·       Manusia pada dasarnya berorientasi kepada syahwat, namun demikian diperlukan pengendalian terhadap syahwat melalui zikirullah. Syahwat menjadikan manusia hidup

·       bergairah dan mempunyai harapan serta cita-cita. Oleh karena itu, kecendrungan syahwat ini perlu sekali dikendalikan.

·       Jiwa selalu menyuruh pada kejahatan kecuali nafsu yang dirahmati Allah.

Dali1

·    Q. 25:43. Terangkanlah kepadaKu tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?

·    Q. 45:23. Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmunya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan mernberinya petunjuk sesudah Allah membiarkannya sesat. Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

·     Q. 3:14. Dij adikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini yaitu wanita­wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga).

·     Q. 12:53. Dan aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan, karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ringkasan Dalil

·     Nafsu manusia (Q. 91:1-8)

·     Ruh dibawah pengaruh/didominasi hawa nafsu (Q. 25:43,

45:23)

·     Berorientasi syahwat (Q. 3:14)

Jiwa yang selalu menyuruh pada kejahatan (Q. 12:53)

·       Ruh selalu tarik menarik dengan hawa nafsu (Q. 4:137­143)

·    Berorientasi akal-akalan (Q. 2:9)

·     Jiwa yang selalu menyesali dirinya (Q. 75:2)

·   Ruh mendominasi hawa nafsu (Q. 29:45)

·    Berorientasi dzikir (Q. 3:191, 13:28)

Jiwa yang tenang (Q. 89:27-30




 

No comments:

Post a Comment

Said bin 'Amir Ra