Sinopsis
Nafsu manusia senantiasa berubah-rubah. Perubahan ini dipengaruhi oleh
scjauh mana kekuatan ruh dapat berhadapan dengan hawa nafsunya. Pertentangan dan peperangan selalu
terjadi di antara keduanya. Ruh manusia dapat menguasai hawa nafsunya bila nilai
Islam dapat menekan dan menahan gejolaknya hawa nafsu tersebut. Dengan demikian,
nafsunya akan menjadi nafsu yang tenang (mutlunainnah). Keadaan ini akan didapat
bila manusia selalu bcrdzikir kepada Allah SWT Keadaan ideal demikian yang dikehendaki Allah
sehingga Allah meridhainya karena ridhanya manusia beramal saleh.
Sedangkan manusia yang dikuasai oleh hawa nafsunya serta
cenderung padanya (hawa
nafsu) maka akan dikendalikan oleh kesesatan yang menyebabkan is menjadi tidak
bahagia. Hal ini karena jiwa manusia
cenderung dibawa kepada kejahatan
dan kerusakan. Nafsu amarah, merupakan ciri nafsu yang ada pada manusia yang
tidak beriman dan tidak beramal saleh.
Hawa nafsu mereka mengendalikan ruhnya.
Di antara nafsu yang tenang dengan nafsu yang amarah, terdapat nafsu lawamah yang menggambarkan adanya tarik menarik antara
ruh dan hawa nafsu. Ruh dan hawa nafsu yang sama-sama berpengaruh akan menjadikan
suasana tarik menarik sehingga nu ncul akal dan jiwa yang selalu menyesali dirinya. Terkadang
ruhnya mempengaruhi hawa nafsunya sehingga muncul sedikit ketenangan namun
kadang kala muncul nafsunya mempengaruhi ruh yang dapat menghancurkan
jiwanya.
Ruh akan membawa kepastian dan ketenangan jiwa karena ruh mengikuti
perintah Allah yang fitrah dan sesuai dengan nilai kemanusiaan. Manakala hawa
nafsu selalu membawa kepada kepastian dan ketidaktenangan. Tidak ada kepuasaan kekal dengan
memperturutkan hawa nafsu. Dan tidak ada kebahagiaan dengan mengikuti hawa nafsu,
karena hawa nafsu tidak pernah puas dan tidak akan pernah berhenti. Apabila tercapai
sate kepuasaan maka hawa nafsu menuntut yang berikutnya dan begitu seterusnya tidak ada batas. Yang membatasi geraknya hawa nafsu adalah ruh.
1. Nafsul Insan (Nafsu Manusia)
·
Allah pun bersumpah dengan manusia setelah bersumpah dengan matahari, bulan, siang, dan malam.
Kemudian Allah menjadikan bagi
manusia pilihan untuk nafsunya kepada
hal yang baik dan yang buruk. Allah mengabarkan bahwa beruntunglah mereka yang membersihkan jiwanya dan merugilah
bagi orang yang mengotorinya.
·
Nafsu manusia bisa mengarah kepada
ketakwaan atau kefasikan. Pilihan yang Allah berikan diserahkan kepada manusia. Biasanya
faktor lingkungan akan besar pengaruhnya kepada penentuan pilihan manusia tersebut. Hadits nabi SAW banyak menyebutkan pentingnya lingkungan untuk menjadikan manusia bertakwa atau
fasik. Setelah Allah berikan jalan
maka manusia memilihnya kemudian Allah
memberikan balasan kepada masingmasing
jalan yang dipilihnya.
Dalil
Q. 91:7-10. Dan jiwa serta penyempurnaan ciptaanNya, maka Allah
mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya
beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
2. Ar Ruh/Al Hawa (Ruh Di Atas Hawa Nafsu)
·
Adz Dzikru
(Berorientasi
Zikir)
·
An Nafsul Muthmainnah (]iwa Yang
Tenang)
·
Ciri dari pribadi yang ruhnya
menguasai jiwanya adalah senantiasa berdzikir pada Allah SWT Merekapun juga melaksanakan ibadah. Dengan dzikir dan shalat maka terhindarlah
manusia dari perbuatan keji dan jahat. Allah SWT
akan menjaga mereka yang melakukan shalat dan senantiasa berdzikir di pagi
dan sore hari. Pribadi yang mengamalkan
Islam dan dapat mengalahkan dorongan hawa
nafsu seperti dorongan mencari harta, mengejar tahta, dan memburu wanita, akan memperoleh jiwa yang
tenang yaitu jiwa yang bersandar
hanya pada Allah saja.
·
Shalat adalah juga kegiatan zikir
kepada Allah. Dengan shalat maka kekejian dan kemungkaran akan terhindar. Dengan shalat maka kita akan
mendapatkan keutamaan dari Allah SWT
·
Ruh menguasai hawa nafsu akan
membentuk jiwa yang senantiasa ingat Allah dalam segala situasi misalnya dalam keadaan berdiri,
duduk, dan berbaring. Berorientasi dzikir adalah kewajiban manusia untuk mendapatkan
ketentraman jiwa. Bahkan Allah menyebutkan bahwa hanya dengan ingat kepada Allah hati menjadi tenang, dengan cara
selain itu tidak akan dapat membuat hati tenang. Melalui hiburan, musik,
berlibur, menonton, berwisata dan berbagai cara lainnya yang selain ingat kepada
Allah, tidak akin dapat ketenangan. Kecuali mereka tetap dalam mengingat Allah,
maka diberiNya ketentraman
jiwa.
·
Allah memanggil orang yang beriman
dan beramal saleh dengan jiwa yang tenang dengan hati yang puns dan diridhaiNya.
Dalil
·
Q. 29:45. Bacalah apa yang telah
diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab Al Quran dan dirikanlah shalat. Sungguhnya shalat itu
mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah
(shalat) adalah lebih besar keutamaannya dari ibadah yang lain. Dan Allah mengetahui apa
yang kamu kerjakan.
·
Q. 3:19 1. Yaitu orang-orang yang
mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan
langit dan bumi seraya berkata ya Tuhan kami
tiadalah Engkau menciptakan ini
dengan sia-sia Maha Suci Engkau maka peliharalah kami dari sisa neraka.
·
Q. 13:28. Yaitu orang-orang yang
beriman dan hati mereka menjadi tentrarn dengan mengingat Allah. Ingatlah,
hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.
·
Q. 89:27-30. Hai jiwa yang
tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridaiNya. Maka masuklah ke dalam
jamaah hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaKu.
3. Ar Ruh/Al Hawa
(Ruh Tarik Menarik Dengan Hawa Na f su)
·
Ar Ra'yu (Berorientasi Akal)
·
An Nafsu Al Lawwamah (Jiwa Yang Selalu
Menyesali Diri)
·
Tarik menarik antara ruh dan hawa
nafsu adalah realitas yang terjadi pada manusia. Menang dan kalah sangat tergantung
kepada kesadaran, ihnu, kekuatan kehendak, serta hidayah yang Allah berikan pada
seseorang. Dorongan hawa nafsu dengan bisikan syaitan selalu menggoda ketika kita menjalankan
ibadah. Kekalahan diperoleh bagi mereka yang hawa nafsunya menguasai dirinya,
misalnya mereka yang memakan uang haram, melanggar syariat untuk mencapai ambisi, dan rnenjadikan hawa
nafsu sebagai pemirnpinnya. Tank menarik
antara hawa nafsu dan ruh mewujudkan fenomena pribadi yang tidak
komitmen dan tidak stabil, bahkan kadang
futur, dan sebagainya.
·
Ruh selalu tarik menarik dengan
hawa nafsu, sehingga menjadikan manusia terkadang kafir, kadangkala mukmin dan begitu seterusnya. Mereka seperti
mempermainkan Allah dengan iman dan kafir
sehingga Allah tidak memberikan ampunan kepada mereka.
·
Menipu Allah dengan berorientasi
akal-akalan dimana kadang-kadang percaya tetapi kadangkala tidak percaya.Mereka
senantiasa ragu dengan apa yang dikerjakannya dan selalu bimbang dalam
beramal. Allah tidak memberi petunjuk kepada mereka yang ragu kepada Allah.
· Jiwa yang selalu menyesali dirinya selalu menipu Allah dengan
berpura-pura dan tidak mengamalkan Islam, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri.
Dalil
Q. 4:137.
Sesungguhnya orang-orang yang beriman kernudian kafir kemudian beriman
kemudian kafir lagi kemudian bertambah kekafirannya, maka sekali-kali Allah tidak
akan memberi ampunan kepada mereka dan tidak
pula menunjuki mereka kepada jalan yang lurus.
·
Q. 4:143. Mereka dalam keadaan
ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir). Tidak masuk kepada golongan ini
orang-orang beriman dan tidak pula kepada golongan orang kafir.
Barang siapa yang disesatkan Allah maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat
jalan untuk memberi petunjuk
baginya.
·
Q. 2:9. Mereka hendak menipu Allah
dan orang-orang yang beriman padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang, mereka tidak sadar.
·
Q. 75:2. Dan Aku bersumpah dengan
jiwa yang amat menyesali dirinya sendiri.
4. Al Hawa/Ar Ruh (Ruh Dibawah Pengaruh Hawa Nafsu)
·
As Syahwat (Berorientasi Syahwat)
·
An Nafsul Amarati Bi Suk (Jiwa Yang Selalu
Menyuruh Pada
Kejahatan)
- Ruh yang
berada di bawah pengaruh hawa nafsu menunjukkan pribadi yang mempunyai
nafsu amarah. Hawa nafsunya
selalu dipenuhi dengan keinginan untuk mengalahkan ketaatan dan kepentingan
ibadah. Tingkah laku yang berorientasi pada syahwat itu akan menghasilkan
pribadi yang
cenderung pada kejahatan.
· Ruh dibawah pengaruh atau dikuasai oleh hawa nafsu sebagai tanda hawa nafsu
dijadikan tuhannya. Dengan demikian kesesatanlah yang akan mereka terima dimana akan dikunci hati, pendengaran dan penglihatannya. Bahkan mereka dibiarkan sesat dengan ilmunya
tersebut. Oleh karena itu, Allah
menyuruh kita untuk menggunakan patensi akal untuk memikirkannya.
· Manusia pada dasarnya berorientasi kepada syahwat, namun demikian
diperlukan pengendalian terhadap syahwat melalui zikirullah. Syahwat menjadikan manusia hidup
· bergairah dan
mempunyai harapan serta cita-cita. Oleh karena
itu, kecendrungan syahwat ini perlu sekali dikendalikan.
·
Jiwa selalu menyuruh pada
kejahatan kecuali nafsu yang dirahmati Allah.
Dali1
·
Q. 25:43. Terangkanlah kepadaKu
tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat
menjadi pemelihara atasnya?
·
Q. 45:23. Maka pernahkah
kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya
sesat berdasarkan ilmunya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang
akan mernberinya petunjuk sesudah
Allah membiarkannya sesat. Maka
mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?
·
Q. 3:14. Dij adikan indah pada
pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini yaitu wanitawanita,
anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan
sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga).
·
Q. 12:53. Dan aku tidak
membebaskan diriku dari kesalahan, karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh
kepada
kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Ringkasan Dalil
·
Nafsu manusia (Q. 91:1-8)
·
Ruh dibawah pengaruh/didominasi
hawa nafsu (Q. 25:43,
45:23)
·
Berorientasi syahwat (Q. 3:14)
Jiwa yang selalu menyuruh pada kejahatan
(Q. 12:53)
·
Ruh selalu tarik menarik dengan
hawa nafsu (Q. 4:137143)
·
Berorientasi akal-akalan (Q. 2:9)
·
Jiwa yang selalu menyesali dirinya
(Q. 75:2)
·
Ruh mendominasi hawa nafsu (Q.
29:45)
· Berorientasi
dzikir (Q. 3:191, 13:28)
Jiwa yang tenang
(Q. 89:27-30

No comments:
Post a Comment