Tanya: Mengapa Allah swt mengutus para rasul alaihimus salam?
Jawab:
- Allah
swt mengutus para rasul as untuk mengenalkan manusia tentang Rabb dan
Pencipta mereka serta mendakwahkan mereka untuk beribadah hanya
kepada-Nya.
وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ
اِلَّا نُوْحِيْٓ اِلَيْهِ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدُوْنِ ٢٥
Dan Kami tidak mengutus seorang
rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahhyukan kepadanya: "Bahwasanya
tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan
Aku". (Al-anbiya (21): 25).
- Kita
mengetahui bahwa semua bagian tubuh kita telah diciptakan untuk tujuan dan
manfaat tertentu (memiliki hikmah). Mata kita diciptakan dengan tujuan dan
tidak diciptakan sia-sia, demikian pula hidung kita, telinga kita, bahkan
bagian tubuh paling kecil pun diciptakan dengan manfaat tertentu dan tidak
ada yang sia-sia. Maka tidak dapat diragukan lagi bahwa Kita secara
keseluruhan pasti telah diciptakan untuk sebuah hikmah (tujuan) yang jelas
dan tidak mungkin diciptakan sia-sia.
اَفَحَسِبْتُمْ اَنَّمَا خَلَقْنٰكُمْ عَبَثًا
وَّاَنَّكُمْ اِلَيْنَا لَا تُرْجَعُوْنَ ١١٥ فَتَعٰلَى اللّٰهُ الْمَلِكُ الْحَقُّۚ
لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيْمِ ١١٦
Maka apakah kamu mengira, bahwa
sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu
tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja yang
sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (yang mempunyai) 'arsy yang mulia.
(Al-Mu’minun [23]: 115-116).
Namun Kita tidak mungkin
mengetahui hikmah tersebut kecuali dengan pengajaran Allah swt melalui para
rasul alaihimussalam.
Penduduk
bumi hari ini, 100 tahun yang lalu berada di alam ghaib kemudian lahir ke
dunia, dan setelah maksimal 100 tahun lagi pasti mereka meninggalkan dunia ini.
Manusia tidak akan pernah tahu mengapa ia datang ke dunia atau mengapa ia
keluar setelah datang kecuali dengan informasi dari Allah yang telah
menciptakannya setelah sebelumnya ia tidak ada sama sekali. Kemudian ia datang
ke dunia dalam keadaan hidup kemudian dimatikan untuk keluar dari dunia. Allah
swt mengutus para rasul as untuk mengajarkan kepada kita permasalahan ini dan
ia adalah perkara yang paling krusial dan terpenting yang tidak dapat kita
ketahui tanpa mereka.
Allah swt Rabb yang telah
menciptakan kita, Dia lebih mengetahui tentang apa saja yang dapat memperbaiki
diri dan keadaan kita, apa saja yang menyucikan jiwa kita, membersihkan akhlaq
kita dan Dia telah memberi petunjuk kepada kita melalui para rasul as tentang semua
hal yang mengandung hakikat kebahagiaan dunia dan akhirat. Allah swt berfirman:
كَمَآ اَرْسَلْنَا فِيْكُمْ
رَسُوْلًا مِّنْكُمْ يَتْلُوْا عَلَيْكُمْ اٰيٰتِنَا وَيُزَكِّيْكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ
الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَّا لَمْ تَكُوْنُوْا تَعْلَمُوْنَۗ ١٥١
Sebagaimana (Kami Telah menyempurnakan
nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang
membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan
kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum
kamu ketahui. (Al-Baqarah [2]: 151).
- Allah
swt mengutus para rasul untuk menyelamatkan manusia dari perselisihan
tentang prinsip-prinsip hidup mereka dan menunjuki mereka kepada kebenaran
yang diinginkan Sang Pencipta. Dia berfirman:
وَمَآ اَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتٰبَ اِلَّا
لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِى اخْتَلَفُوْا فِيْهِۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ
٦٤
Dan Kami tidak menurunkan kepadamu
Al-Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka
apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum
yang beriman. (An-Nahl [16]: 64).
- Allah
swt mengutus para rasul as untuk iqamatuddin (menegakkan agama-Nya),
menjaganya (dari pemalsuan dan upaya penyimpangan), untuk melarang manusia
berpecah belah (berbeda) tentangnya, dan agar manusia berhukum dengan
hukum yang diturunkan-Nya. Allah swt berfirman:
۞ شَرَعَ لَكُمْ مِّنَ الدِّيْنِ مَا وَصّٰى بِهٖ
نُوْحًا وَّالَّذِيْٓ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهٖٓ اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى
وَعِيْسٰٓى اَنْ اَقِيْمُوا الدِّيْنَ وَلَا تَتَفَرَّقُوْا فِيْهِۗ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ
مَا تَدْعُوْهُمْ اِلَيْهِۗ اَللّٰهُ يَجْتَبِيْٓ اِلَيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَهْدِيْٓ
اِلَيْهِ مَنْ يُّنِيْبُۗ ١٣
Dia
telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya
kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami
wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah
kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang
kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang
dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali
(kepada-Nya). (Asy-Syura [43]: 13)
اِنَّآ اَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ
الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَآ اَرٰىكَ اللّٰهُ ۗوَلَا تَكُنْ
لِّلْخَاۤىِٕنِيْنَ خَصِيْمًا ۙ
Sesungguhnya Kami telah menurunkan
Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia
dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi
penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang
khianat. (An-Nisa [4]: 105).
- Allah
swt mengutus para rasul as untuk memberi kabar gembira kepada orang-orang
yang beriman tentang janji-janji kebaikan berupa nikmat abadi sebagai
balasan ketaatan mereka; memperingatkan orang-orang kafir dengan akibat
buruk kekafiran mereka, juga untuk membatalkan alasan kekafiran mereka di
akhirat karena rasul telah menyampaikan kebenaran kepada mereka (sehingga
tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak tahu kebenaran). Dia berfirman:
رُسُلًا مُّبَشِّرِيْنَ
وَمُنْذِرِيْنَ لِئَلَّا يَكُوْنَ لِلنَّاسِ عَلَى اللّٰهِ حُجَّةٌ ۢ بَعْدَ الرُّسُلِ
ۗوَكَانَ اللّٰهُ عَزِيْزًا حَكِيْمًا ١٦٥
(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul
pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi
manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. dan adalah Allah
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (An-Nisa [4]: 165).
- Para
rasul as diutus untuk memberikan uswah hasanah (keteladanan
yang baik) bagi manusia dalam perilaku yang lurus, akhlaq yang utama,
ibadah yang shahih dan istiqamah di atas petunjuk Allah swt. Firman Allah
swt:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ
اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ
اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ ٢١
Sesungguhnya telah ada pada (diri)
Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap
(rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
(Al-Ahzab [33]: 21).
Semua
arahan dan petunjuk Ilahiah yang mulia ini sekali lagi tidak mungkin dipahami
dan dijangkau oleh manusia dengan semata menggunakan akal mereka yang sangaat
terbatas dan lemah. Mereka hanya dapat mempelajarinya melalui wahyu Allah swt
kepada para rasul-Nya.
Fakta dan bukti-bukti kebenaran risalah
para Rasul
Tanya: Apa saja adillah
(bukti-bukti) yang dibekali Allah untuk para rasul-Nya agar mereka tidak
didustakan oleh manusia?
Jawab: Bukti-bukti ini oleh Al-Quran
dinamakan ayat artinya fakta, indikator dan bukti-bukti yang membenarkan
ucapan dan pengakuan para rasul as, adalah mu’jizat.
Tanya:
Apakah mu’jizat itu sebenarnya?
Jawab:
الْمُعْجِزَةُ
(البَيِّنَةُ، البُرْهَانُ، الآيَةُ) هِيَ: الأَمْرُ الَّذِي يَعْجَزُ الْبَشَرُ عَنِ
الإِتْيَانِ بِمِثْلِهِ، يُجْرِيْهِ اللهُ عَلَى يَدِ نَبِيٍّ مُرْسَلٍ لِيُقِيْمَ
بِهِ الدَّلِيْلَ عَلَى صِدْقِ نُبُوَّتِهِ وَثَبَاتِ رِسَالَتِهِ.
Mu’jizat
(bayyinah, burhan, atau ayat) adalah sesuatu yang manusia tidak mampu
mendatangkannya yang diberikan Allah swt kepada nabi yang diutus untuk
membuktikan kebenaran kenabiannya dan ketetapan risalahnya.
Seolah-seolah
seorang rasul berkata: “Wahai manusia, Allah telah mengutusku kepada kalian dan
telah memberikan untukku tkita-tkita kekuasaan-Nya sebagai bukti pembenar
ucapanku. Tkita-tkita atau bukti-bukti ini tidak akan mampu didatangkan kecuali
oleh Allah swt, tak ada seorang pun manusia yang mampu menandinginya sehingga
kalian tidak dapat menyangka bahwa aku berdusta atas nama Allah.”
Allah
swt berfirman:
لَقَدْ اَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنٰتِ وَاَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتٰبَ
وَالْمِيْزَانَ لِيَقُوْمَ النَّاسُ بِالْقِسْطِۚ وَاَنْزَلْنَا الْحَدِيْدَ فِيْهِ
بَأْسٌ شَدِيْدٌ وَّمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللّٰهُ مَنْ يَّنْصُرُهٗ وَرُسُلَهٗ
بِالْغَيْبِۗ اِنَّ اللّٰهَ قَوِيٌّ عَزِيْزٌ ࣖ ٢٥
Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan
membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab
dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami
ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat
bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah
mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah
tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Al-hadid (57):25).
Tanya:
Apa saja contoh-contoh mu’jizat yang menjadi pendukung para rasul as?
Jawab:
Diantara yang disebutkan Allah swt dalam Al-Quran adalah apa yang terjadi pada
Nabi Ibrahim as bersama kaumnya. Allah swt berfirman:
قَالُوْا حَرِّقُوْهُ
وَانْصُرُوْٓا اٰلِهَتَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ فٰعِلِيْنَ ٦٨ قُلْنَا يٰنَارُ كُوْنِيْ
بَرْدًا وَّسَلٰمًا عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ ۙ ٦٩
Mereka berkata: "Bakarlah dia dan bantulah
tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak". Kami berfirman:
"Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim."
(Al-Anbiya (21): 68-69).
Juga apa yang dikisahkan Allah kepada
kita tentang kisah Nabi Musa as:
وَاَدْخِلْ يَدَكَ
فِيْ جَيْبِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاۤءَ مِنْ غَيْرِ سُوْۤءٍۙ فِيْ تِسْعِ اٰيٰتٍ اِلٰى
فِرْعَوْنَ وَقَوْمِهٖۗ اِنَّهُمْ كَانُوْا قَوْمًا فٰسِقِيْنَ ١٢
Dan masukkanlah tanganmu ke leher bajumu,[1] niscaya ia akan ke luar
putih (bersinar) bukan karena penyakit. (Kedua mukjizat ini) termasuk sembilan
buah mukjizat (yang akan dikemukakan) kepada Fir'aun dan kaumnya. Sesungguhnya
mereka adalah kaum yang fasik". (An-Naml (27): 12).
Yang termasuk sembilan mu’jizat
tersebut diantaranya adalah bentuk-bentuk azab yang terjadi atas Fir’aun dan
kaumnya sebagai balasan kesombongan dan kekafiran mereka. Allah swt berfirman:
فَاَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ
الطُّوْفَانَ وَالْجَرَادَ وَالْقُمَّلَ وَالضَّفَادِعَ وَالدَّمَ اٰيٰتٍ مُّفَصَّلٰتٍۗ
فَاسْتَكْبَرُوْا وَكَانُوْا قَوْمًا مُّجْرِمِيْنَ ١٣٣
Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu,
katak dan darah[2]
sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka
adalah kaum yang berdosa. (Al-A’raf (7): 133).
Contoh lain adalah yang Allah kisahkan
kepada kita tentang mu’jizat Nabi Isa as:
اِذْ قَالَ اللّٰهُ
يٰعِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ اذْكُرْ نِعْمَتِيْ عَلَيْكَ وَعَلٰى وَالِدَتِكَ ۘاِذْ اَيَّدْتُّكَ
بِرُوْحِ الْقُدُسِۗ تُكَلِّمُ النَّاسَ فِى الْمَهْدِ وَكَهْلًا ۚوَاِذْ عَلَّمْتُكَ
الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرٰىةَ وَالْاِنْجِيْلَ ۚوَاِذْ تَخْلُقُ مِنَ الطِّيْنِ
كَهَيْـَٔةِ الطَّيْرِ بِاِذْنِيْ فَتَنْفُخُ فِيْهَا فَتَكُوْنُ طَيْرًاۢ بِاِذْنِيْ
وَتُبْرِئُ الْاَكْمَهَ وَالْاَبْرَصَ بِاِذْنِيْ ۚوَاِذْ تُخْرِجُ الْمَوْتٰى بِاِذْنِيْ
ۚوَاِذْ كَفَفْتُ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ عَنْكَ اِذْ جِئْتَهُمْ بِالْبَيِّنٰتِ فَقَالَ
الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْهُمْ اِنْ هٰذَآ اِلَّا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ ١١٠
(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: "Hai Isa putra Maryam,
ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu
dengan Ruhul Qudus. kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam
buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis,
hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari
tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijin-Ku, kemudian kamu meniup
kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku.
dan (ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan
ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu
kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan
(ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh
kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata,
lalu orang-orang kafir diantara mereka berkata: "Ini tidak lain melainkan
sihir yang nyata". (Al-Maidah (5): 110).
Karena
terjadi tahrif (penyelewengan sengaja) yang dilakukan terhadap agama
Nabi Isa as, orang-orang awam menganggap mu’jizat Isa as tersebut terjadi
karena Isa adalah tuhan atau dia adalah anak tuhan, Maha Suci Allah dari
persangkaan mereka.
Kesimpulan
- Allah swt mengutus para rasul as untuk mengenalkan
kepada manusia tentang Allah – Rabb mereka – dan agar manusia mengetahui
tujuan penciptaan mereka yakni beribadah kepada Allah, menyelamatkan
mereka dari kecelakaan berupa perbedaan pendapat dalam masalah prinsip
kehidupan (aqidah), agar para rasul dan para penerusnya menegakkan agama
Allah dan berhukum dengan hukum Allah, juga untuk memberi kabar gembira
kepada orang-orang beriman dengan janji kenikmatan surga yang telah
disiapkan untuk mereka dan memperingatkan orang-orang kafir dari hukuman
kekafiran mereka, agar hal tersebut menjadi hujjah atas mereka, dan agar
para rasul as menjadi suri teladan bagi manusia.
- Allah swt menguatkan para rasul-Nya dengan berbagai
bukti yang oleh Al-Quran disebut ayat atau bayyinat sedangkan
manusia menyebutnya mu’jizat, fungsinya sebagai saksi kebenaran
kenabian dan risalah mereka, bahwa mereka benar-benar penyampai dari Tuhan
mereka.
- Kita sebagai mu'min yakin 100prosen bahwa para rasul
adalah manusia pilihan yang selamat dari segala bentuk kesalahan dan
kekeiruan,bahwa mereka diutus untuk diikuti,ditaati dan diteladani
- Tidak ada cara dan metoda yang benar untuk memahami
syariat Allah kecuali melalui Rasul
- Tidak ada sistem,pedoman dan tuntunan hudup yang
dapat menyelamatkan dan membahagiakan manusia di dunia dan di akhirat
kecuali ajaran yang disampaikan oleh para Rasul Allah.
No comments:
Post a Comment