Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ أَمِيْنًا،
وَأَمِيْنُ هَذِهِ الأُمَّةِ أَبُو عُبَيْدَةَ بنُ الجَرَّاحِ
“Sesungguhnya
setiap umat itu ada orang yang kepercayaan. Orang yang paling terpercaya di
tengah umatku adalah Abu Ubaidah bin al-Jarrah.” [HR. al-Bukhari 4382 dan
Muslim 2419]
Ini
adalah persaksian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang mulianya
akhlak Abu Ubaidah bin al-Jarrah. Tentu ini adalah sebaik-baik rekomendasi.
Lalu, seperti apa profil lengkap Abu Ubaidah bin al-Jarrah?
Nama
dan Nasabnya
Nama
Abu Ubaidah adalah Amir bin Abdullah bin al-Jarrah al-Fihri al-Qurasyi
radhiallahu ‘anhu. Ia lebih dikenal dengan kun-yahnya, Abu Ubaidah dan langsung
dinisbatkan (di-bin-kan) ke kakeknya. Sementara ibunya adalah Umaimah binti
Ghanam.
Abu
Ubaidah lahir 40 tahun sebelum hijrah. Tepatnya tahun 584 M. Ia adalah
laki-laki yang berperawakan kurus berwajah cekung. Janggutnya tipis. Posturnya
tinggi bungkuk. Dan patah gigi serinya. (Thabaqat Ibnu Saad).
Meskipun
berasal dari Quraisy, suku terhormat di Mekah, namun sedikit sekali riwayat
yang mengisahkan tentang kehidupan Abu Ubaidah sebelum memeluk Islam. Sehingga
kehidupannya kita kenal adalah kehidupan tatkala ia mulai memeluk Islam.
Memeluk
Islam
Abu
Ubaidah bin al-Jarrah radhiallahu ‘anhu adalah salah seorang sahabat yang
pertama memeluk Islam. Keislamannya hanya beda satu hari setelah islamnya Abu
Bakar ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu. Dan dari dakwah Abu Bakar-lah ia memeluk
Islam. Kemudian, bersama Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Mazh’un, dan al-Arqam
bin Abil Arqam, ia menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka
menyampaikan pada Nabi telah menerima kebenaran Islam. Dan mereka inilah
pondasi kokoh dan pertama dakwah Islam tersebar di Kota Mekah. (al-Mustadrak,
3/266).
Kedudukan
Yang Mulia
Abu
Ubaidah adalah salah seorang dari sepuluh orang sahabat yang dijamin masuk
surga. Ia dua kali berhijrah, turut serta dalam Perang Badar dan perang-perang
setelahnya. Saat helm perang Rasulullah bengkok, menghujam hingga mematahkan
gigi beliau, Abu Ubaidah-lah yang melepaskan helm yang sempit itu dari kepala
Rasulullah. Dan saat barisan kaum muslimin porak-poranda di Perang Uhud, ia
tetap teguh bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kepungan
musuh (al-Mustadrak 3/266 dan al-Ishabah 2/243).
Keutamaannya
yang lain adalah ia dipuji oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam
sabda beliau,
نِعمَ الرَّجلُ أبو بَكْرٍ، نِعمَ
الرَّجلُ عمرُ، نِعمَ الرَّجلُ أبو عُبَيْدةَ بنُ الجرَّاحِ، نِعمَ الرَّجلُ
أُسَيْدُ بنُ حُضَيْرٍ، نِعمَ الرَّجلُ ثابتُ بنُ قَيسِ بنِ شمَّاسٍ، نِعمَ
الرَّجلُ معاذُ بنُ جبلٍ، نِعمَ الرَّجلُ معاذُ بنُ عمرِو بنِ الجموحِ
“Laki-laki
yang terbaik adalh Abu Bakar. Laki-laki yang terbaik adalah Umar. Laki-laki
terbaik adalah Abu Ubaidah bin al-Jarrah. Laki-laki terbaik adalah Usaid bin
Hudhair. Laki-laki terbaik adalah Tsabit bin Qais bin Syammas. Laki-laki
terbaik adalah Muadz bin Jabal. Laki-laki terbaik adalah Muadz bin Amr bin
al-Jamuh.” [HR. at-Tirmidzi 3795].
Abdullah
bin Syaqiq berkata, “Aku bertanya pada Aisyah, ‘Siapakah di antara sahabat Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling beliau cintai’? Aisyah menjawab, ‘Abu
Bakar’. ‘Lalu siapa’? tanyaku. Ia menjawab, ‘Umar’. ‘Setelah itu’? tanyaku
lagi. ‘Abu Ubaidah bin al-Jarrah’, jawabnya. Aku bertanya lagi, ‘Siapa lagi’?
Ia hanya diam [Shahih at-Tirmidzi, 3657].
Mendapatkan
Pendidikan Dari Sang Penerima Wahyu
Pada
tahun 8 H, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Amr bin al-Ash
menuju Dzatus Salasil. Dzatus Salasil adalah perang menghadapi Romawi di Syam
di perkampungan Bani Bali. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga
menyertakan Abdullah dan orang-orang Qudha’ah lainnya untuk menemani Amr.
Urwah
bin Az-Zubair mengatakan, “Bani Bali masih paman dari al-Ash bin Wail. Saat
tiba di sana, ia merasa takut karena jumlah musuh begitu banyak. Amr pun
mengirim utusan kepada Rasulullah untuk meminta bala bantuan. Rasulullah
mengerahkan generasi awal Muhajirin. Berangkatlah Abu Bakar, Umar, dan sejumlah
pasukan lainnya dari kalangan Muhajirin. Pasukan bantuan ini dipimpin oleh Abu
Ubaidah bin al-Jarrah.”
Musa
bin Uqbah mengatakan, “Saat mereka tiba, Amr, ‘Aku adalah pimpinan kalian.
Karena aku meminta kepada Rasulullah pasukan bantuan’. Orang-orang Muhajirin
berkata, ‘Engkau adalah pimpinan untuk pasukanmu. Sementara Abu Ubaidah adalah
pimpinan pasukan Muhajirin’. Amr kembali berkata, ‘Kalian ini adalah bala
bantuan yang aku pinta kepada Rasulullah’.
Melihat
kondisi seperti ini, Abu Ubaidah menunjukkan akhlak yang mulia dan kelembutan
karakternya. Ia berkata, ‘Ketauhilah hai Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam janjikan kepadaku dengan ucapan beliau, ‘Kalau kau temui Amr, kalian
berdua ditaati. Dan jika engkau tidak taat padaku, sungguh aku benar-benar akan
menaatimu’. Lalu Abu Ubaidah menyerahkan kepemimpinan kepada Amr bin al-Ash.”
(al-Baihaqi menyebutkan kisah ini sebelum penaklukkan Mekah).
Di
antara pengaruh besar didikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Abu
Ubaidah dalah dalam permasalahan al-wala’ (loyal) dan al-bara’ (tidak loyal).
Terdapat kisah dalam masalah ini. Mungkin kisah ini akan sulit diterima dan
dibayangkan. Di Perang Badar, Abu Ubaidah bertemu dengan ayahnya di pihak
musuh. Abdullah bin Syaudzb menceritakan, “Ayah Abu Ubaidah menantang sang anak
di Perang Badar. Saat duel itu Abu Ubaidah berhasil membuat ayahnya terpojok.
Saat sang ayah sudah banyak terluka, Abu Ubaidah pun menghabisinya. Turunlah
firman Allah berkaitan dengan kejadian ini,
لاَ تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ
بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآَخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
وَلَوْ كَانُوا آَبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ
عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ
مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ
فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلاَ
إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Kamu
tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling
berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya,
sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara
ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan
keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang
daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan
merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan
Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang
beruntung.” [Quran Al-Mujadilah: 22] (Diriwayatkan oleh ath-Thabrani, al-Hakim,
dan al-Baihaqi).
Tentu
sulit dibayangkan bagaimana bisa anak membunuh ayahnya. Apalagi dengan kaca
mata orang-orang toleran yang tak pernah menyentuh akidah al-wala’ dan
al-bara’. Mereka akan bingung. Akan berprasangka. Mungkin mereka kecewa dengan
agama ini dan orang-orang yang dijadikan teladan dalam agama. Tapi kita yang
kenal al-wala’ dan al-bara’ tidak seperti itu cara pandangnya. Abu Ubaidah pun
adalah seorang yang berakhlak mulia. Rasa tega dan kuat yang ia dapat saat
berhadapan dengan sang ayah adalah spirit dari Allah. Ia tidak menimbang dengan
pandangan dunia yang fana. Sehingga ia berhasil keluar dari sekat dan ikatan
duniawi. Lalu menguatkan diri dengan ikatan akidah.
Peranan
Penting
Abu
Ubaidah radhiallahu ‘anhu adalah seorang pemimpin yang amanah. Diriwayatkan
oleh al-Bukhari dari Hudzaifah radhiallahu ‘anhu.
عَنْ حُذَيْفَةَ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ قَالَ جَاءَ أَهْلُ نَجْرَانَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فَقَالُوا ابْعَثْ لَنَا رَجُلًا أَمِينًا فَقَالَ لَأَبْعَثَنَّ
إِلَيْكُمْ رَجُلًا أَمِينًا حَقَّ أَمِينٍ فَاسْتَشْرَفَ لَهُ النَّاسُ فَبَعَثَ
أَبَا عُبَيْدَةَ بْنَ الْجَرَّاحِ
“Orang-orang
Najran pernah datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya
berkata, ‘Ya Rasulullah, utuslah kepada kami seseorang yang jujur dan
dipercaya’. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh aku
akan mengutus kepada kalian seseorang yang sangat jujur dan dapat dipercaya.
Para sahabat merasa penasaran dan akhirnya menunggu-nunggu orang yang dimaksud
oleh Rasulullah itu. Ternyata Rasulullah mengutus Abu Ubaidah bin Jarrah.”
Abu
Ubaidah bin al-Jarrah adalah seorang yang sangat mencintai Nabi dan senantiasa
membela beliau. Dalam Thabaqat Ibnu Saad, Aisyah radhiallahu ‘anha mengisahkan,
“Aku mendengar Abu Bakar berkata, ‘Saat Perang Uhud, wajah Rasulullah terluka.
Helm perang beliau bengkok menghimpit pipi beliau. Aku bersegera menuju beliau.
Lalu ada seseorang dari arah timur bergerak cepat
Pada
saat Perang Uhud, sebuah batu dilemparkan ke wajah Nabi, aku merasa lemparan
itu begitu keras sehingga dua rantai helm beliau sendiri terputus. Aku
bersegera berlari menuju Rasulullah dan kulihat seorang pria bergegas lari ke
arahnya. Orang itu bergerak ke arah Rasulullah seolah-olah sedang terbang.
Karena itu, aku berdoa untuknya, ‘Ya Allah, jadikan orang ini sebagai sarana
penyebab kebahagiaan’ (Artinya, apa yang dia lakukan harus menjadi penyebab
kebahagiaan bagi Nabi dan juga bagi kita).
Ketika
kami mencapai Rasulullah, ternyata kulihat Abu Ubaidah bin al-Jarrah itulah
yang mendahuluiku. Dia berkata padaku,
أَسْأَلُكَ بِاللَّهِ يَا أَبَا
بَكْرٍ إِلاَّ تَرَكْتَنِي فَأَنْزِعَهُ مِنْ وَجْنَةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى الله
عَلَيه وسَلَّم
‘Wahai
Abu Bakar, kumohon padamu, demi Allah, biarlah aku yang mengeluarkan rantai ini
dari wajah Rasulullah.’
Hadhrat
Abu Bakar mengatakan, “Kuizinkan dia untuk melakukannya.”
Kemudian
Abu Ubaidah meraih salah satu dari dua rantai tersebut dengan giginya dan
mencabutnya begitu keras sehingga beliau terjatuh di tanah dengan punggungnya.
Beliau melakukannya sangat kuat sehingga salah satu gigi depannya patah.
Kemudian ia gigit rantai satu lagi dengan giginya dan mencabutnya dengan sangat
keras, gigi depannya yang lain juga patah.”
Abu
Ubaidah adalah seorang yang berakhlak mulia. Ia seorang yang sangat tenang,
zuhud, dan rendah hati. Umar pernah berkata dengan orang-orang yang duduk
bersamanya, “Buatlah harapan”! Orang-orang pun menyampaikan harapan-harapan
mereka. Lalu Umar berkata, “Adapun aku, aku berharap sebuah rumah yang dipenuhi
orang-orang semisal Abu Ubaidah bin al-Jarrah.”
Bersama
Abu Bakar
Abu
Bakar pernah berkata kepada Abu Ubaidah bin al-Jarrah, “Kemarilah, biar aku
membaiatmu sebagai khalifah. Sungguh aku mendengar Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
إن لكل أمة أمينًا، وأنت أمين هذه
الأمة
Setiap
umat itu memiliki orang yang terpercaya (amanah). Dan engkau adalah orang
terpercayanya umat ini.”
Lalu
Abu Ubaidah menanggapi, “Aku tidak akan mengunggulkan diriku dengan orang yang
ditunjuk oleh Rasulullah sebagai imam kami.”
Abu
Bakar berkata pada orang-orang yang hadir di Tsaqifah Bani Sa’idah, “Aku ridha
untuk mengurusi urusan kalian salah satu dari dua orang ini.” Maksudnya Umar
bin al-Khattab dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah.
Bersama
Umar bin al-Khattab
Umar
bin al-Khattab berkata, “Aku tidak akan mengubah suatu perkara yang telah
diputuskan oleh Abu Ubaidah.” (Tarikh ath-Thabari, 3/434).
Keputusan
pertama yang dibuat oleh Umar bin al-Khattab tatkala menjabat khalifah adalah
menunjuk Abu Ubaidah sebagai panglima perang menggantikan Khalid bin al-Walid.
Umar berkata,
“Kuwasiatkan
padamu untuk bertakwa kepada Allah Yang Maha Abadi sementara selain-Nya fana.
Dialah yang memberi petunjuk kepada kita. Mengeluarkan kita dari kegelapan
menuju cahaya. Aku telah menunjukmu menjadi panglima perang menggantikan Khalid
bin al-Walid. Atur mereka sesuai dengan wewenangmu. Jangan kau biarkan kaum
muslimin terjerumus dalam kebinasaan dengan semata-mata hanya berharap rampasan
perang. Jangan kau posisikan mereka di satu posisi sebelum kau periksa kondisi
mereka. Dan mengetahui tempat yang akan mereka datangi. Jangan kau kirim
pasukan kecuali dengan jumlah yang besar. Jangan sampai kau hadapkan kaum
muslimin pada kebinasaan. Kalau kau lakukan itu, kau telah menimpakan musibah
untukmu demikian juga untukku. Tundukkan pandangamu dari dunia. Dan palingkan
hatimu darinya. Waspadalah! Jangan sampai engkau binasa seperti binasanya
umat-umat sebelummu. Padahal engkau telah tahu kekalahan mereka.” (Tarikh
ath-Thabari, 3/434).
Bersama
Khalid bin al-Walid
Saat
Umar mencopot Khalid radhiallahu ‘anhu dari jabatan panglima pasukan, ia
menunjuk Abu Ubaidah sebagai suksesornya. Lalu Khalid berkata kepada pasukan,
“Kalian dikirimi seseorang yang terpercayanya umat ini.” Abu Ubaidah
radhiallahu ‘anhu menanggapi, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
خَالِدٌ سَيْفٌ مِنْ سُيُوفِ اللهِ
عَزَّ وَجَلَّ، وَنِعْمَ فَتَى الْعَشِيرَةِ
“Khalid
adalah pedang di antara pedang-pedang Allah Azza wa Jalla dan sebaik-baik
pemuda di suatu kaum.” [HR. Ahmad 16220].
Nasehat
Saat
terjadi perpedaan pendapat antara Muhajirin dan Anshar tentang siapa yang
memimpin setelah Rasulullah, Abu Ubaidah mengucapkan satu kalimat yang
menyatukan. Ia berkata, “Wahai orang-orang Anshar, kalian adalah yang pertama
menolong dan membantu. Karena itu, jangan sampai kalian menjadi yang pertama
berubah.”
Dalam
satu peperangan, ia berpidato membakar semangat pasukannya dengan mengatakan,
“Ibadallah, tolonglah agama Allah, pasti Allah akan tolong kalian. Allah akan
meneguhkan kaki kalian. Ibadallah, bersabarlah. Karena kesabaran adalah jalan
selamat dari kekufuran. Ridha dari Allah. Keselamatan dari ketergelinciran.
Jangan tinggalkan barisan. Jangan berikan musuh peluang. Jangan mulai duluan
berperang. Siapkan dulu pasukan pemanah. Kita berlindung dulu di balik tameng.
Jangan banyak bicara kecuali dzikir kepada Allah Azza wa Jalla. Hingga Allah
sempurnakan urusan kita ini insyaallah..”
Wafat
Penyebab
wafatnya Abu Ubaidah bin al-Jarrah adalah wabah thaun yang melanda negeri Syam.
Tepatnya di masa pemerintahan Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu. Dan Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan, siapa yang wafat karena penyakit
ini, ia seorang syahid. Kemudian ia juga wafat fi sabilillah. Ia menggabungkan
dua keutamaan. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
«مَا تَعُدُّونَ الشُّهَدَاءَ فِيكُمْ؟» قالوا:
يَا رَسولَ اللهِ، مَنْ قُتِلَ في سَبيلِ اللهِ فَهُوَ شَهِيدٌ. قَالَ: «إنَّ
شُهَدَاءَ أُمَّتِي إِذًا لَقَليلٌ»! قالوا: فَمَنْ هُمْ يَا رسول الله؟ قَالَ:
«مَنْ قُتِلَ في سَبيلِ الله فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ مَاتَ في سَبيلِ الله فَهُوَ
شَهِيدٌ، وَمَنْ مَاتَ في الطَّاعُونِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ مَاتَ في البَطْنِ
فَهُوَ شَهِيدٌ، وَالغَرِيقُ شَهِيدٌ». رواه مسلم.
“Menurut
kalian, orang yang kalian anggap mati syahid itu seperti apa”? Para sahabat
menjawab, “Mereka yang terbunuh dalam jihad di jalan Allah. Itulah syahid.”
Nabi menanggapi, “Kalau begitu pasti sedikit yang syahid di tengah umatku.”
Para
sahabat bertanya, “Jadi siapa mereka, wahai Rasulullah”? Rasulullah menjawab,
“Siapa yang terbunuh saat jihad di jalan Allah adalah syahid. Siapa yang wafat
dalam ketaatan kepada Allah, dia syahid. Siapa yang wafat karena thaun, dia
syahid. Siapa yang wafat karena penyakit yang ada di perutnya, dia syahid.”
Ibnu
Miqsam berkata pada anak Abu Ubaidah, “Aku bersaksi bahwa ayahmu termasuk di
dalam hadits ini.” [HR. Muslim 1915].
Sejarawan
sepakat bahwa Abu Ubaidah wafat karena wabah thaun amwas di Syam pada tahun 18
H [Al-Isti’ab ‘ala Hasyiyah al-Ishabah, 3/3].
Saat
Abu Ubaidah dimakamkan, Muadz bin Jabal berkhotbah di tengah masyarakat yang
hadir. Ia menyebutkan banyak keutamaan Abu Ubaidah dalam khotbahnya.
Abu
Said al-Maqbari berkata, “Saat Abu Ubaidah terfinfeksi wabah thaun, ia berkata,
‘Muadz, imamilah orang shalat’. Muadz pun mengimami masyarakat. Lalu Abu
Ubaidah bin al-Jarrah wafat. Muadz berdiri dan menyampaikan khotbah,
‘Masyarakat sekalin bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosa yang kalian
kerjakan. Karena tidaklah seorang hamba Allah menghadap-Nya dalam kondisi ia
sudah bertaubat kecuali Allah mewajibkan diri-Nya sendiri untuk mengampun orang
tersebut.”
Muadz
melanjutkan, “Kalian dikejutkan dengan wafatnya seseorang. Yang aku tak pernah
melihat seorang yang paling sedikit kesalahannya, paling baik hatinya, paling
jauh dari kejahatan, paling cinta dengan akhirat, dan paling menginginkan
kebaikan untuk masyarakat melebihi dirinya. Doakan dia rahmat. Dan mari kita ke
tanah lapang untuk menyalatkannya. Demi Allah, kalian tidak akan mendapatkan
orang semisalnya lagi.”
Orang-orang
pun berkumpul dan jenazah Abu Ubaidah dikeluarkan ke tanah lapang. Muadz maju
ke depan mengimami shalat jenazahnya. Muadz bin Jabal, Amr bin al-Ash,
adh-Dhahak bin Qays adalah orang-orang yang masuk ke liang kuburnya dan
meletakkan jenazah Abu Ubaidah di lahad. Saat tanah sudah menibun jasad Abu
Ubaidah, Muadz berkata, “Abu Ubaidah, sungguh aku akan memujimu dan yang
kukatakan ini bukanlah dusta yang aku khawatir Allah akan menghukumku. Demi
Allah, sungguh engkau adalah orang yang banyak berdzikir mengingat Allah. Orang
yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil
menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.
Orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak
(pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang
demikian. Orang yang tunduk dan patuh kepada Allah. seorang yang rendah hati.
Yang menyayangi anak-anak yatim, orang-orang miskin. Dan tidak suka dengan
orang-orang yang berkhianat dan sombong. (al-Mustadrak, 3/295).
Pujian
Muadz bin Jabal kepada Abu Ubaidah ini menunjukkan keutamaan Abu Ubaidah bin
al-Jarrah. Menunjukkan tingginya kedudukannya. Semoga Allah Ta’ala meridhainya.
Diterjemahkan
dari: https://islamstory.com/ar/artical/33993/أمين_الأمة_أبو_عبيدة_بن_الجراح
Oleh
Nurfitri Hadi (IG: @nurfitri_hadi) Artikel www.KisahMuslim.com
No comments:
Post a Comment