Pengantar
Surah
ini adalah salah satu putaran dari putaran pengobatan secara gradual,
perlahan-lahan, lama, mendalam, dan halus terhadap penyakit-penyakit jahiliah
di dalam jiwa manusia sebagaimana yang dihadapi oleh Al-Qur'an di Mekah. Juga
sebagaimana yang mungkin dihadapinya di kalangan jahiliah manapun sesuai dengan
perbedaan dan aneka Iahiriahnya - bukan bagian dalamnya - serta simbolnya,
bukan hakikatnya.
Atau,
ia adalah satu babak dari peperangan panjang dan berat yang terjadi di dalam
jiwa manusia, yakni di sela-sela perjalanannya, belokan-belokannya, endapan-endapannya,
dan tumpukan-tumpukannya. Peperangan ini lebih besar dan lebih panjang masanya
daripada peperangan-peperangan fisik yang dihadapi kaum muslimin sesudah itu.
Hal ini sebagaimana endapan-endapan dan penyakit-penyakit itu lebih besar dan
lebih sukar daripada kekuatan-kekuatan yang disiapkan untuk melawan dakwah
Islam yang senantiasa disiapsiagakan baik pada
zaman jahiliah kuno maupun jahiliah modern.
Hakikat
pokok yang hendak dipecahkan dan ditetapkan oleh surah ini adalah hakikat
akhirat dengan segala pembalasan yang ada di sana, dan secara khusus adalah
tentang azab terhadap orang-orang kafir di sana sebagaimana yang diancamkan
oleh Al-Qur'anuI Karim. Juga dibarengi dengan pengungkapan tentang hakikat jiwa
manusia pada waktu menghadapi kesusahan dan kesenangan. Dalam hal ini, sudah
tentu berbeda antara jiwa yang beriman dan yang kosong dari iman. Selain itu,
juga dikemukakan ciri-ciri jiwa yang beriman beserta manhajnya di dalam merasa
dan berperilaku, serta keberhakannya untuk dimuliakan. Dipaparkan pula kehinaan
orang-orang kafir dalam pandangan Allah dan kehinaan yang diancamkan Allah
untuk mereka yang sangat cocok bagi orang-orang yang sombong. Surah ini juga
menetapkan perbedaan nilai, ukuran, dan timbangan yang ditetapkan Allah dengan
yang dibuat oleh manusia.
Dengan
hakikat-hakikat ini, terciptalah putaran dari putaran-putaran pengobatan yang
panjang terhadap penyakit-penyakit dan pola pandang jahiliah, atau satu babak
dari peperangan yang berat di dalam perjalanan jiwa manusia dan
belokan-belokannya. Itulah peperangan yang dilakukan oleh Al-Qur'an yang pada
akhirnya ia mendapat kemenangan dengan kekuatannya sendiri, terlepas dari
kekuatan Iain manapun. Maka, kemenangan AI-Qur'an yang sebenarnya di dalam jiwa
manusia sudah dimulai sebelum dia menggunakan pedang (senjata) untuk menolak
fitnah dari yang beriman kepadanya, apalagi senjata untuk memaksa musuhnya
untuk tunduk kepadanya!
Orang
yang membaca AI-Qur’an dengan penuh konsentrasi dan merenungkan
peristiwa-peristiwa perjalanan hidupnya, tentu akan merasakan adanya kekuatan
dan kekuasaan hebat yang dengannya AI-Qur'an menghadapi jiwa-jiwa manusia di
Mekah dan menjinakkannya sehingga mereka mau menerima bimbingannya dengan
senang dan rela Tentu si pembaca tadi akan melihat bahwa Al-Qur'an menghadapi
jiwa manusia dengan bermacam-macam metode yang mengagumkan.
Kadang-kadang
Al-Qur'an menghadapi jiwa manusia dengan membawakan bukti-bukti dan
petunjuk-petunjuk yang sangat mengesankan secara bertubi-tubi bagaikan banjir
yang deras; dengan gaya yang halus dan lemah lembut seolah-olah tidak mempunyai
kekuatan yang kokoh mengakar dalam pandangan-pandangannya; dengan gaya seperti
cemeti yang sangat menyengat yang melecut perasaan, sehingga yang kena lecutan
dan sengatannya merasa tak mampu bertahan; dan dengan bisikan yang penuh
kecintaan dan kasih sayang, yang menenteramkan perasaan dan menenangkan hati.
Namun, terkadang AI-Qur’an menghadapi jiwa manusia dengan sesuatu yang
menakutkan dan mengejutkan, yang membukakan mata terhadap bahaya besar yang
sudah dekat; dengan membeberkan hakikat persoalan secara luas dan jitu tanpa
memberikan kesempatan dan peluang untuk berpaling dan membantah; dan
dengan memberikan harapan yang cerah dan
keinginan yang teduh, yang dibisikkan
kepadanya.
Atau,
dikoreknya relung-relung, jalan, dan tikungan-tikungannya, Iantas disorotnya
dengan cahaya yang terang sehingga semuanya terungkap dan ia dapat melihat apa
saja yang ada di dalamnya seperti melihat dengan mata kepala. Kemudian ia
merasa malu terhadap sebagiannya, benci terhadap sebagian yang Iain, dan
menjadi sadar terhadap semua gerakan dan perasaannya yang selama ini dilakukan
tanpa menghiraukannya.
Pembaca
AI-Qur’an akan menjumpai beratus-ratus sentuhan, sindiran, bisikan, dan kesan,
kalau ia mengikuti peperangan yang panjang dan pengobatan yang telaten itu. la
juga akan melihat bagaimana Al-Qur'an dapat mengalahkan kejahiliahan yang
terdapat di dalam jiwa yang pembangkang dan keras itu.
Dari
satu sisi, surah ini juga menyingkap usaha penetapan hakikat akhirat dan
hakikat-hakikat Iain yang dirangkumnya pula bersamaan dengan itu.
Hakikat
akhirat juga menjadi sasaran pembahasan surah al-Haaqqah, tetapi surah
al-Ma'aarij ini membahasnya dengan jalan Iain, dan memaparkannya dari sudut,
lukisan, dan bayang-bayang yang Iain pula.
Arah
surah al-Haaqqah adalah melukiskan hal-hal yang menakutkan dan mengerikan pada
hari kiamat itu, yang tercermin dalam gerakan-gerakan yang keras dalam
pemandangan peristiwa-peristiwa alam yang besar. Juga tercermin dalam keagungan
yang hebat pada pemandangan yang menakutkan itu. Dan, tercermin dalam
pengungkapan secara transparan yang menakutkan dan menggetarkan perasaan.
Hal
yang menakutkan dan menggetarkan itu juga terlihat dalam
pemandangan-pemandangan tentang azab, hingga terucapkan dalam keputusan tentang
siksaan ini sebagaimana tercantum dalam surah al-Haaqqah ayat 30-32.
Tampak
pula ketakutan dan kengerian tersebut dalam teriakan, keluh kesah, dan
penyesalan orang-orang yang terkena siksa itu seperti tercantm dalam surah
al-Haaqqah ayat 25-27.
Namun,
di dalam surah al-Ma'aarij, hal yang menakutkan itu tampak pada sifat-sifat,
ciri-ciri, gejolak, dan langkah-langkah jiwa, yang melebihi apa yang tampak
pada pemandangan-pemandangan alam dan gerakan-gerakannya. Sehingga,
pemandangan-pemandangan kealaman yang menakutkan itu sendiri hampir-hampir
bersifat kejiwaan pula. Bagaimanapun keadaannya, ia bukanlah sesuatu yang
paling menakutkan, tetapi yang paling menakutkan itu bertempat di dalam jiwa,
yang tampak sejauh kegoncangan, kebingungan, dan kegemetaran yang terjadi. Hal
ini dapat dilihat dalam surah al-Ma'aarij ayat 8-14. Neraka itu di sini adalah
"jiwa" yang mempunyai perasaan dan pengertian seperti makhluk hidup
di dałam sifatnya yang menakutkan dan hidup. Sedangkan, azab iłu sendiri lebih banyak
mengesankan karakter jiwa yang melebihi apa yang dirasakan indra.
Maka,
pemandangan-pemandangan, lukisan-lukisan, dan bayang-bayang hari iłu berbeda
dengan yang dibeberkan dałam surah al-Haaqqah, sesuai dengan perbedaan karakter
kedua surah iłu secara umum, meskipun hakikat pokoknya sama.
Karena
iłu, surah al-Ma'aarij ini melukiskan keadaan jiwa manusia ketika susah dan
senang, serta ketika ada imannya dan kosong dari iman. Hal ini sangat serasi
dengan karakter kejiwaan surah yang khas. Maka, di dałam menyifati manusia,
surah ini mengatakan,
“Sesunguhnya
manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ditimpa kesusahan,
ia berkeluh kesah. Dan, apabila mendapat kebaikan, ia kikir. Kecuali
orang-orang yang mengerjakan shalat yang mereka tetap mengerjakan shalatnya." (al-Ma'aarij:
19-23)
Selanjutnya,
di sini digambarkan sifat-sifat jiwa yang beriman beserta ciri-ciri Iahiriah
dan batiniahnya sejalan dengan karakter dan usłub surah ini, sebagaimana
tercantum dalam surah al-Ma'aarij ayat 22-34.
Arah
pokok surah al-Haaqqah adalah menetapkan hakikat kesungguhan dan keseriusan
mengenai bidang akidah. Karena iłu, hakikat akhirat adalah salah satu dari
hakikat-hakikat yang ada dalam surah ini, seperti hakikat dihukumnya
orang-orang yang mendustakan agama-Nya dengan hukuman yang berat di dunia ini,
dan dihukumnya setiap orang yang mengganti akidahnya, tanpa toleransi.
Sedangkan, arah pokok dałam surah al-Ma'aarij adalah menetapkan hakikat akhirat
beserta pembalasan di sana dan timbangan pembalasan. Maka, hakikat akhirat
menjadi hakikat pokok dałam surah ini.
Karena
iłu, hakikat-hakikat lain dałam surah ini berhubungan secara langsung dengan
hakikat akhirat. Misalnya, pembahasan surah ini tentang perbedaan perhitungan
Allah pada hari-hari-Nya dengan perhitungan manusia, dan ukuran Allah terhadap
hari akhir dengan ukuran manusia, sebagaimana tercantum dalarn surah
al-Ma'aarij ayat 4-7; perbedaan jiwa manusia ketika menghadapi kesusahan dan
kesenangan, ketika beriman dan ketika kosong dari iman. Kedua hal ini Iayak
mendapatkan pembalasan pada hari pembalasan; dan keinginan orang-orang kafir
untuk masuk surga na'im, padahal dałam pandangan Allah mereka iłu sangat hina,
dan tidak mampu untuk berlari dan
melepaskan diri dari azab-Nya. Masalah ini berkaitan erat dengan as (poros)
pokok surah ini.
Demikianlah,
hampir seluruh isi surah ini terbatas membahas masalah hakikat akhirat yang
merupakan hakikat besar yang sangat urgen untuk dimantapkan ke dałam jiwa, di
samping adanya bermacam-macam sentuhan dan hakikat lain yang menyertai tema
pokoknya.
Fenomena
adalah adanya irama musikal dałam surah ini, yang timbul dari bangunan dan
bentuk pengungkapannya. Nuansa ritmis dałam surah al-Haaqqah timbul dari
perubahan rima (sajak, kata terakhir) pada setiap baris atau ayatnya, sesuai
dengan makna dan nuansanya. Sedangkan dałam surah al-Ma'aarij, keanekaragaman
iłu lebih jauh jangkauannya. Karena ia meliputi macam-macam kalimat yang
bernuansa musikal secara keseluruhan, bukan hanya rima pada akhir kalimat saja.
Kalimat yang bernuansa musikal di sini lebih dałam, lebih luas, dan lebih kokoh
susunannya. Jenis ini banyak ditemui dałam separo pertama surah ini dałam
bentuk komentar.
Pada
permulaan surah ini terdapat tiga kalimat musikal yang beraneka macam, meskipun
sama irama akhirnya, dilihat dari segi panjang dan irama-irama parsialnya
sebagaimana contoh berikut ini,
سَاَلَ سَاۤىِٕلٌۢ بِعَذَابٍ وَّاقِعٍۙ ١
لِّلْكٰفِرِيْنَ لَيْسَ لَهٗ دَافِعٌۙ ٢ مِّنَ اللّٰهِ ذِى الْمَعَارِجِۗ ٣ تَعْرُجُ
الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ اِلَيْهِ فِيْ يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهٗ خَمْسِيْنَ اَلْفَ
سَنَةٍۚ ٤ فَاصْبِرْ صَبْرًا جَمِيْلًا ٥ اِنَّهُمْ يَرَوْنَهٗ بَعِيْدًاۙ ٦ وَّنَرٰىهُ
قَرِيْبًاۗ ٧ يَوْمَ تَكُوْنُ السَّمَاۤءُ كَالْمُهْلِۙ ٨ وَتَكُوْنُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِۙ
٩ وَلَا يَسْـَٔلُ حَمِيْمٌ حَمِيْمًاۚ ١٠
Rangkaian
ini berakhir dengan memanjangkan bunyi alif pada baris (ayat) kelima.
اِنَّهُمْ يَرَوْنَهٗ بَعِيْدًاۙ ٦ وَّنَرٰىهُ
قَرِيْبًاۗ ٧
Di sini
terjadi perulangan rima (bunyi yang sama) dengan memanjangkan alif dua kali.
يَوْمَ تَكُوْنُ السَّمَاۤءُ كَالْمُهْلِۙ
٨ وَتَكُوْنُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِۙ ٩ وَلَا يَسْـَٔلُ حَمِيْمٌ حَمِيْمًاۚ ١٠
Rangkaian
ini berakihir dengan memanjangkan bunyi alif pada ayat ketiga, dengan bermacam-macam
rima di dalamnya.
يُبَصَّرُوْنَهُمْۗ يَوَدُّ الْمُجْرِمُ لَوْ
يَفْتَدِيْ مِنْ عَذَابِ يَوْمِىِٕذٍۢ بِبَنِيْهِۙ ١١ وَصَاحِبَتِهٖ وَاَخِيْهِۙ
١٢ وَفَصِيْلَتِهِ الَّتِيْ تُـْٔوِيْهِۙ ١٣ وَمَنْ فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًاۙ ثُمَّ
يُنْجِيْهِۙ ١٤ كَلَّاۗ اِنَّهَا لَظٰىۙ ١٥
Rangkaian
ini berakhir dengan memanjangkan alif pada baris kelima sebagaimana pada bagian
yang pertama di atas.
نَزَّاعَةً لِّلشَّوٰىۚ ١٦ تَدْعُوْا مَنْ
اَدْبَرَ وَتَوَلّٰىۙ ١٧ وَجَمَعَ فَاَوْعٰى ١٨ ۞ اِنَّ الْاِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًاۙ
١٩ اِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعًاۙ ٢٠ وَّاِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوْعًاۙ
٢١
Di
sini, perulangan bunyi yang sama pada alif panjang tejadi lima kali, dan dua di
antaranya yang terletak pada kedua ayat terakhir berbeda dengan tiga ayat yang
pertama.
Kemudian
terjadi perulangan bunyi yang sama pada mim dan nun, yang sebelumnya didahului
dengan wau atau ya’.
Penampilan
aneka macam rima pada permulaan surah sangat mendalam dan mengikat dałam nuansa
iramanya yang dirasakan oleh telinga begitu indah. Nuansa musikalnya tinggi,
indah, dan terasa asing di lingkungan bangsa Arab, juga asing di kalangan
sastrawan Arab. Akan tetapi, usłub Al-Qurțan ini memberikan kemudahan untuk
masuk ke dałam telinga bangsa Arab sehingga dapat diterima, meskipun nilai
sastranya sangat indah, mendalam, dan baru bagi irama-irama tradisional mereka.
Sekanng
marilah kita paparkan surah ini secara terperinci.
Kondisi
Alam dan Manusia ketika Terjadi Kiamat dan Kepedihan Derita Orang yang Banyak
Dosa
سَاَلَ سَاۤىِٕلٌۢ بِعَذَابٍ وَّاقِعٍۙ ١
لِّلْكٰفِرِيْنَ لَيْسَ لَهٗ دَافِعٌۙ ٢ مِّنَ اللّٰهِ ذِى الْمَعَارِجِۗ ٣ تَعْرُجُ
الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ اِلَيْهِ فِيْ يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهٗ خَمْسِيْنَ اَلْفَ
سَنَةٍۚ ٤ فَاصْبِرْ صَبْرًا جَمِيْلًا ٥ اِنَّهُمْ يَرَوْنَهٗ بَعِيْدًاۙ ٦ وَّنَرٰىهُ
قَرِيْبًاۗ ٧ يَوْمَ تَكُوْنُ السَّمَاۤءُ كَالْمُهْلِۙ ٨ وَتَكُوْنُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِۙ
٩ وَلَا يَسْـَٔلُ حَمِيْمٌ حَمِيْمًاۚ ١٠ يُبَصَّرُوْنَهُمْۗ يَوَدُّ الْمُجْرِمُ
لَوْ يَفْتَدِيْ مِنْ عَذَابِ يَوْمِىِٕذٍۢ بِبَنِيْهِۙ ١١ وَصَاحِبَتِهٖ وَاَخِيْهِۙ
١٢ وَفَصِيْلَتِهِ الَّتِيْ تُـْٔوِيْهِۙ ١٣ وَمَنْ فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًاۙ ثُمَّ
يُنْجِيْهِۙ ١٤ كَلَّاۗ اِنَّهَا لَظٰىۙ ١٥ نَزَّاعَةً لِّلشَّوٰىۚ ١٦ تَدْعُوْا مَنْ
اَدْبَرَ وَتَوَلّٰىۙ ١٧ وَجَمَعَ فَاَوْعٰى ١٨
"Seseorang
peminta telah meminta kedatangan azab yang bakal terjadi, untuk orang-orang kafir,
yang tidak seorang pun dapat menolaknya, (yang datang) dari Allah Yang
Mempunyai tempat-tempat naik. Malaikat-malaikat danJibril naik (menghadap)
kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun. Maka, bersabarlah
kamu dengan sabar yang baik. Sesunguhnya mereka memandang siksaan iłu jauh
(mustahil). Sedangkan, Kami memandangnya dekat (pasti terjadi). Pada hari ketika
langit menjadi seperti luluhan perak dan gunung-gunung menjadi seperti bulu
(yang beterbangan), tidak ada seorang
teman akrab pun menanyakan temannya, sedang mereka saling melihat. Orang kafir
ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari iłu dengan
anak-anaknya, istrinya, saudaranya, dan kaum familinya yang melindunginya (di
dunia) serta orang-orang di atas bumi seluruhnya. Kemudian (mengharapkan)
tebusan iłu dapat menyelamatkannya. Sekali-kali tidak dapat. Sesungguhnya
neraka iłu adalah api yang bergejolak, yang mengelupaskan kulił kepala, dan
memanggil orang yang membelakang dan berpaling (dari agama), serta (memanggil
orang yang) mengumpulkan (harta benda) lalu menyimpannya.” (al-Ma'aarij: 1-18)
Hakikat
akhirat adalah salah satu dari hakikat-hakikat yang sulit dimengerti oleh
orang-orang musyrik Arab. Hakikat ini mendapat penentangan yang mendalam di
dalam jiwa mereka. Sehingga, mereka menghadapinya dengan penuh keheranan,
keterkejutan, dan merasa aneh. Mereka menolak sekeras-kerasnya dan mereka
menentang Rasulullah saw. dengan berbagai macam tantangan supaya beliau
mendatangkan kepada mereka hari yang dijanjikan itu, atau agar beliau
dapatmenyampaikan kepada mereka kapan terjadinya hari itu.
Diriwayatkan
dari İbnu Abbas bahwa yang meminta azab ini adalah an-Nadhr ibnuI-Harits. Dalam
riwayat lain dari İbnu Abbas juga, ia mengatakan bahwa itu adalah pertanyaan
orang kafir mengenai azab Allah padahal azab itu bakal menimpa mereka.
Bagaimanapun
halnya, maka surah ini menceritakan bahwa di sana ada orang yang meminta
didatangkannya azab, bahkan meminta disegerakan datangnya. Surah ini juga
menetapkan bahwa azab itu bakal terjadi, karena ia pasti akan terjadi sesuai
dengan ke tentuan Allah dilihat dari satu segi, dan sudah dekat terjadinya
dilihat dari segi lain. Tidak seorang pun yang akan dapatmenolak atau
mencegahnya Maka, menanyakannya atau meminta disegerakan kedatangannya, padahal
ia pasti terjadi dan tidak dapat ditolak oleh seorang pan, menunjukkan kesialan
orang yang meminta disegerakan kedatangannya itu, baik personal maupun komunal.
Azab
ini akan ditimpakan kepada orang-orang kafir secara mutlak, termasuk di
dalamnya orang-orang yang meminta disegerakan kedatangannya dan setiap orang
yang kafir. Azab ini pasti dari dari Allah "Yang Mempunyai tempat-tempat
naik, suatu ungkapan tentang ketinggian dan keluhuran, sebagaimana disebutkan
dalam surah lain, "Dialah Yang Mahatinggi derajat-Nya, Yang Mempunyai
'Arasy. "(al-Mu’min: 15)
Setelah
pembukaan yang menetapkan kata pasti tentang masalah azab, bakal terjadinya,
mengenai orang-orang yang layak mendapatkannya, sumbernya, dan ketinggian dan
keluhuran sumber ini - yang menjadikan keputusan-Nya bersifat luhur, pasti
terlaksana, dan tidak ada yang dapat menolaknya -, maka diterangkanlah kondisi
hari yang bakal terjadi dengan segala azabnya itu, dan yang mereka minta
disegerakan kedatangannya padahal kedatangannya itu sudah dekat. Hanya saja
ukuran Allah tidak sama dengan ukuran manusia,
“Malaikat-malaikat
dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh
ribu tahun. Maka, bersabarlah kamu dengan sabaryang baİk. Sesunguhnya mereka
memandang siksaan itu jauh (mustahil). Sedangkan, Kami memandangnya dekat
(pasti terjadi)." (al-Ma'aarij: 4-7)
Menurut
pendapat yang lebih kuat, hari yang diisyaratkan di sini adalah hari kiamat,
karena konteksnya hampir pasti menunjukkan makna ini. Pada hari ini para
malaikat dan Jibril naik menghadap Allah. Dan, yang dimaksud dengan ar-ruh di
sini adalah malaikat Jibril a.s. sebagaimana disebutkan dalam surah-surah lain.
Disebutkannya malaikat Jibril sesudah disebutkannya para malaikat karena ia
memiliki urusan khusus. Disebutkannya naiknya para malaikat dan malaikat Jibril
pada hari ini menunjukkan penting dan khususnya mereka pada hari ini, yaitu
mereka naik berkenaan dengan urusan dan kepentingan hari ini.
Kita
tidak mengetahui dan tidak ditugasi untuk mengetahui bagaimana sifat kepentingan
ini, bagaimana cara para malaikat itu naik, dan kemana mereka naik. Semua ini
adalah urusan gaib yang tidak menambah hikmah nash kalau disebutkan
perinciannya. Kıta tidak mempunyai jalan untuk mencapainya, dan tidak mempunyai
pemandu yang menunjukkan ke sana. Maka, cukuplah bagi kita untuk merasakan
betapa pentingnya hari itu dari celah-ceIah pemandangan ini. Yakni, pemandangan
yang menunjukkan bagaimana para malaikat dan Jibril sibuk melakukan
gerakan-gerakan yang berhubungan dengan kepentingan hari yang besar itu.
Adapun
kalimat "kadarnya limapuluh ribu tahun" mungkin sebagai landasan
terhadap lamanya hari itu, sebagaimana yang biasa terjadi dalam ungkapan bahasa
Arab. Mungkin juga menunjukkan hakikat tertentu dan kadar hari itu adalah lima
puluh ribu tahun hitungan tahun-tahun penduduk bumi, padahal waktu sepanjang
ini hanya satu hari saja pada hari kiamat. Hakikat ini sekarang memang
sangatdekat, karena hari kita dalam kehidupan dunia diukur dari perputaran bumi
pada porosnya dalam masa dua puluh empat jam. Di sana terdapat bintang-bintang
yang perputaran pada porosnya beribu-ribu kali lipat dari hari-hari kita İni
bukan berarti bahwa yang dimaksud di sini adalah lima puluh ribu tahun itu.
Akan tetapi, kami sebutkan hakikat ini untuk mendekatkan kepada pikiran
mengenai gambaran tentang perbedaan ukuran hari ini dengan hari itu.
Apabila
sehari dari hari-hari Allah itu sama dengan lima puluh ribu tahun, maka azab
hari itu oleh mereka dianggap sesuatu yang sangat jauh, padahal menurut
pandangan Allah adalah dekat. Karena ituIah, Alah menyeru Nabi-Nya saw. supaya
bersabar dengan kesabaran yang baik di dalam menghadapi permintaan mereka agar
disegerakannya azab dan di dalam menghadapi pendustaan mereka terhadap azab
yang dekat itu.
“Maka,
bersabarlah kamu dengan sabar yang baik. Sesunguhnya mereka memandang siksaan
itu jauh. Sedangkan, Kami memandangnya dekat." (al-Ma'aarij: 5-7)
Seruan
untuk bersabar dan mengarahkan diri kepada Allah itu senantiasa menyertai
setiap dakwah, dan dilakukan secara berulang-ulang kepada setiap rasul dan para
pengikutnya yang beriman. Seruan ini sangat vital, mengingat beratnya beban dan
sulitnya jalan yang ditempuh untuk memelihara jiwa ini supaya teguh dan ridha,
selalu berhubungan dengan tujuan jangka panjang, yang juga kelihatan di ufuk
yang jauh.
Kesabaran
yang baik adalah kesabaran yang menenangkan, yang tidak disertai oleh
kemarahan, kegoncangan, dan keraguan terhadap kebenaran janji Allah. Kesabaran
orang yang percaya kepada akibat yang bakal terjadi, yang ridha kepada kadar
Allah, yang merasakan hikmah di balik ujian-Nya, selalu berhubungan dengan-Nya,
dan mengharapkan pahala dari sisi-Nya pada setiap apa yang menimpa dirinya.
Kesabaran
macam ini layak mengiringi pelaku dakwah karena dakwahnya adalah dakwah Allah
dan dakwah kepada Alah. Tidak ada sedikitpun sahamnya terhadap dakwah itu, dan
tanpa tujuan apa pun untuk dirinya di baliknya. Namun, segala sesuatu yang
dijumpainya dalam dakwah adalah dalam rangka fi sabilillah, dan segala yang
terjadi berkenaan dengan urusan dakwah ini adalah dari Allah. Maka, kesabaran
yang baik tersebut serasi benar dengan hal dekat ini, dan serasi dengan
perasaannya terhadap hakikat itu di dalam hati nuraninya yang dalam.
Allah
adalah pemilik dakwah yang dihadapi oleh para pendustanya. Dia adalah pemilik
janji yang mereka dustakan dan mereka minta segera direalisasikan. Dia
menentukan segala peristiwa dan menentukan waktu-waktunya menurut kehendak-Nya
sesuai dengan kebijaksanaan dan rencana-Nya terhadap alam semesta. Akan tetapi,
manusia tidak mengetahui rencana dan ketentuan itu, lalu mereka meminta
disegerakan kedatangan janji-Nya. Apabila waktunya lama, maka mereka menjadi
ragu-ragu. Kadang-kadang kegoncangan ini merambat ke dalam diri para pelaku
dakwah, dan umbul berbagai pikiran dan angan-angan mengenai penyegeraan
realisasi janji dan datangnya apa yang dijanjikan itu. Pada saat seperti ini
datanglah pemantapan dan pengarahan dari Allah Yang Maha Mengetahui,
"Maka, bersabarlah kamu dengan sabar yang baik. "(al-Ma'aarij: 5)
Khithab
(firman) ini ditujukan kepada Rasulullah saw. untuk memantapkan hati beliau di
dalam menghadapi tantangan dan pendustaan orang kafir. Juga untuk menetapkan
hakikat lain, yakni bahwa ketentuan Alah terhadap sesuatu urusan berbeda dengan
ketentuan manusia, dan ukurannya yang mutlak tidak sama dengan ukuran manusia
yang kecil dan kerdil,
"Sesunguhnya
mereka memandang azab itu jauh. Sedangkan, kami memandangnya dekat (pasti
terjadi). " (al-Ma'aarij: 6-7)
Kemudian,
dilukiskanlah pemandangan-pemandangan hari itu dengan azabnya yang terjadi,
yang selama ini mereka pandang jauh kemungkinan terjadinya sedang Allah
memandangnya dekat Dilukiskan pemandangan-pemandangan ini di hamparan alam dan
di dalam lubuk hati. Pemandangan yang sarat dengan hal-hal yang menakutkan,
mengejutkan, membingungkan, dan menggoncangkan, baik di alam semesta maupun di
dalam jiwa,
“Pada
hari ketika langit menjadi seperti luluhan perak dan gunung-gunung menjadi
seperti bulu (yang beterbangan). " (al-Ma'aarij: 8-9)
Al-MuhI
adalah luluhan tambang yang kotor seperti kotoran minyak, dan al- 'Ihn adalah
bulu-bulu yang beterbangan. Al-Qur'an menetapkan di surah atau ayat lain bahwa
peristiwa-peristiwa alam yang sangat besar akan terjadi pada hari itu, yang
akan mengubah aturan-aturan benda-benda alarn beserta sifat, hubungan-hubungan,
dan ketentuan-ketentuannya Di antara peristiwa ini adalah langit menjadi
seperti luluhan tambang.
Nash
ini layak dipikirkan oleh para ahli fisika dan tata surya. Menurut pendapat
yang kuat di sisi mereka, benda-benda langit tersusun dari tambang tambang yang
meleleh hingga mencapai derajat gas, yaitu beberapa fase setelah meleleh dan
mencair, yang boleh jadi pada hari kiamat akan padam (sebagaimana firman Allah
'Apabila bintang-bintang berjatuhan’ ) akan dingin sehingga menjadi
tambang-tambang yang cair. Dengan demikian, berubahlah sifatnya sekarang, yaitu
gas atau uap.
Bagaimanapun,
itu adalah semata-mata kemungkinanyang sangat bermanfaat bagi para peneliti ilmu-ilmu
ini untuk memikirkan dan merenungkannya. Adapun kami hanya berhenti pada nash
ini saja di dalam mengikuti pemandangan yang menakutkan itu di mana langit
menjadi seperti luluhan tambang yang kotor, dan gunung-gunung menjadi seperti
bulu-bulu yang beterbangan. Di balik ini kitamerasakan hal yang menakutkan dan
membingungkan di dalam hati, sehingga diungkapkan oleh Al-Qur'an dengan
ungkapan yang mendalam,
“Tidak
ada seorang teman akrab pun menanyakan temannya, sedang mereka saling melihat.
Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari
itu dengan anak-anak, istri, saudaranya, dan kaum familinya yang melindunginya
(di dunia), serta orang-orang di atas bumi seluruhnya. Kemudian (mengharapkan)
tebusan itu dapat menyelamatkannya. " (al-Ma'aarij: 10-14)
Manusia
pada hari itu dalam kesedihan yang luar biasa, hingga tidak ada seorang pun
yang memperhatikan orang lain, dan sudah tidak ada perasaan yang tertuju kepada
orang lain,
“Tidak
ada seorang teman akrab pun menanyakan temannya. " (al-Ma'aarij: 10)
Suasana
yang menakutkan itu telah memutuskan semua hubungan, dan menahan sefiap orang
untuk memperhatikan dirinya sendiri saja, tanpa merambah orang lain. Padahal,
mereka saling melihat, seakan-akan mereka sengaja bersikap begitu. Akan tetapi,
masing-masing mereka merasa sedih dan setiap hati sibuk sendiri-sendiri.
Sehingga, tidak ada seorang teman pun yang tergerak hatinya untuk menanyakan
keadaan temannya dan tidak ada seorang pun yang meminta tolong kepada yang
lain. Kesusahan menimpa semuanya dan ketakutan menggelayuti semuanya.
Maka,
bagaimana Iagi keadaan "orang yang berdosa"? Ketakutan menerpa
perasaannya dan melanda jiwanya. Sehingga, seandainya dapat menebus dirinya dari
azab hari itu dengan orang-orang yang paling dihormati dan disayangi sekalipun,
ia akan melakukannya. Padahal, dalam kehidupan dunia sebelumnya, ia rela
mengorbankan diri untuk membela dan melindungi mereka secara timbal balik dan
hidup untuk mereka. Bahkan, karena keinginannya yang sangat besar untuk
selamat, maka ia kehilangan perasaannya terhadap orang lain secara mutlak. Sehingga,
ia ingin menjadikan seluruh manusia sebagai penebus dirinya, asalkan dapat
menyelamatkannya.
Inilah
gambaran kesedihan yang luar biasa, ketakutan yang membingungkan, dan keinginan
yang menggebu-gebu untuk melepaskan diri ! Gambaran yang penuh dengan
ketakutan, kesedihan, dan kesusahan, yang terbayang dari celah-celah
pengungkapan Al-Qur'an yang mengesankan.
Ketika
si pendosa dalam keadaan yang demikian, menghadapi siksaan yang akan
ditimpakan, ia mendengarkan kalimat yang memutuskan segala harapan, atau
mendengar semua perkataan yang menipu dari dalam jiwa, sebagaimana semua orang
mendengar hakikat keadaan hari itu dengan segala sesuatu yang terjadi padanya,
"Sekali-kali
tidak dapat. Sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergejolak, yang
mengelupaskan kulit kepala, dan yang memangil orang yang membelakang dan
berpaling (dari agama), serta (yang memanggil orang) yang mengumpulkan (harta
benda) lalu menyimpannya. "(al-Ma'aarij: 15-18)
Sungguh
ini merupakan pemandangan yang menjadikan jiwa terbang berserakan, setelah
dibingungkan oleh kesedihan dan ketakutan saat itu. "Sekali-kali tidak
dapat.” Ini sebuah kalimat untuk menyanggah angan-angan dan keinginan yang mustahil
terwujud, untuk menebus diri dengan anak-anak, istri/suami, saudara, keluarga,
dan semua orang di muka bumi. "Sesunguhnya neraka itu adalah api yang
bergejolak " Api yang bergejolak dan membakar. "Yang mengelupaskan kulit
kepala", mengelupaskan kulit dari wajah dan kepala, suatu kerusakan yang
menakutkan.
Seakan
neraka itu punya jiwa yang hidup, yang turut serta menakut-nakuti dan menyiksa,
dengan kehendaknya, "Dan yang memangil orang yang membelakang dan berpaling
(dari agama), serta (yang memangil orang yang) mengumpulkan (harta benda) lalu
menyimpannya " Neraka memanggilnya, sebagaimana ia dulu dipanggil untuk
menerima petunjuk, tetapi ia membelakang dan berpaling. Akan tetapi, pada hari
kiamat ini yang memanggilnya adalah neraka Jahannam, dan ia tidak mampu Iagi
untuk membelakang dan berpaling. Dahulu ia sibuk dengan mengumpulkan harta dan
menyimpannya di dalam bejana (brankas dan sebagainya) sehingga tidak
menghiraukan seruan-seruan dakwah. Namun, sekarang seruan ini datangnya dari
neraka dan ia tidak dapat Iagi mengabaikannya. la tidak dapat menebus dirinya
dengan segala sesuatu yang ada di bumi ini.
Taukid
'penegasan' di dalam surah ini dan surah sebelumnya, demikian juga dalam surah
al-Qalam mengenai keengganannya berbuat baik dan tidak maunya menganjurkan
manusia untuk memberi makan kepada orang-orang miskin, serta sibuk mengumpulkan
harta dan kekayaan di dalam bejana-bejana di samping kekafiran, pendustaan, dan
kemaksiatannya, menunjukkan bahwa dakwah di Mekah itu menghadapi suasana khusus.
Di sana berkumpul menjadi satu sifat-sifat bakhil, rakus, keinginan kepada
kekafiran, kebohongan, dan kesesatan. Sehingga, hal ini memerlukan pengulangan
isyarat terhadap kondisi tersebut, dan perlu menakut-nakuti akibatnya. Karena,
ia pasti mengundang datangnya azab setelah mereka kafir dan mempersekutukan
Alah.
Di
dalam surah ini terdapat beberapa isyarat Iain yang menunjukkan makna tersebut,
dan menegaskan karakteristik lingkungan Mekah yang dihadapi dakwah Islam saat
itu. Mekah saat itu disibukkan dengan aktivitas mengumpulkan harta dan menumpuk
kekayaan melalui perdagangan dan praktik riba. Pembesar-pembesar Quraisy adalah
para pemilik perdagangan-perdagangan ini dan pemilik kafilah-kafilah yang
selalu membawa barang dagangannya pada waktu musim dingin dan musim panas.
Mereka melakukan persaingan ketat untuk mendapatkan kekayaan. Jiwa-jiwa mereka
sangat kikir hingga menjadikan orang-orang miskin terhalang; dan anak-anak
yatim terabaikan.
Karena
itu, diulang-ulanglah penyebutan urusan dan berulang-ulang pula peringatan dan
kecaman yang diberikan. Naungan dan bayang-bayang AI-Qur’an mengobati kerakusan
dan ketamakan ini, dan melancarkan serangan terhadap kedua itu di dalam Iubuk jiwa
manusia baik sebelum Fathu Makkah maupun sesudahnya.
Hal
itu tampak jelas bagi orang yang memperhatikan pelarangan riba, larangan
memakan harta orang Iain dengan cara yang batil, larangan memakan
(mempergunakan) harta anak-anak yatim dengan boros dan foya-foya agar segera
habis sebelum anak yatim itu menginjak dewasa, dan larangan berlaku aniaya
terhadap anak-anak wanita yatim dan memaksanya kawin secara sewenang-wenang
karena hendak mendapatkan hartanya. Juga larangan dari membentak si miskin
peminta-minta, menekan anak yatim, dan menghalangi orang-orang miskin dari
mendapatkan sedekah dan infak, serta sikap yang keras dan kasar Iain yang
menunjukkan karakteristik lingkungan itu.
Nah,
Al-Qur'an memang merupakan pengarahan abadi untuk mengobati jiwa manusia dalam
semua lingkungannya, untuk mengobati penyakit cinta harta, penyakit rakus,
penyakit kikir, penyakit ingin memonopolinya sendiri, dan penyakit-penyakit
Iain yang senantiasa menggelayuti jiwa manusia dan menawannya dengan ketat
AI-Qur'an hendak membebaskannya dari tawanan-tawanan ini, dari
ikatan-ikatannya, dan dari belenggu di lehernya, dengan memerangi penyakit-penyakit
itu secara berkesinambungan dan mengobatinya dalam masa yang panjang.
Kondisi
Jiwa Manusia dalam Menghadapi Kesusahan dan Kesenangan
Selesailah
sudah menggambarkan kengerian yang dipampangkan dalam pemandangan hari kiamat
dengan segala azabnya itu. Selanjutnya dilukiskanlah hakikat jiwa manusia di
dalarn menyikapi kesusahan dan kebaikan atau kesenangan yang dihadapinya, dalam
kondisi ketika ada iman dalam jiwa itu dan ketika kosong dari iman. Kemudian
diterangkan dan ditetapkan bagaimana jadinya kelak dan di mana tempat
kembalinya orang-orang mukmin dan orang-orang yang penuh dosa,
۞ اِنَّ الْاِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًاۙ ١٩ اِذَا
مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعًاۙ ٢٠ وَّاِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوْعًاۙ ٢١ اِلَّا الْمُصَلِّيْنَۙ
٢٢ الَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَاتِهِمْ دَاۤىِٕمُوْنَۖ ٢٣ وَالَّذِيْنَ فِيْٓ اَمْوَالِهِمْ
حَقٌّ مَّعْلُوْمٌۖ ٢٤ لِّلسَّاۤىِٕلِ وَالْمَحْرُوْمِۖ ٢٥ وَالَّذِيْنَ يُصَدِّقُوْنَ
بِيَوْمِ الدِّيْنِۖ ٢٦ وَالَّذِيْنَ هُمْ مِّنْ عَذَابِ رَبِّهِمْ مُّشْفِقُوْنَۚ
٢٧ اِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُوْنٍۖ ٢٨ وَّالَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ
حٰفِظُوْنَۙ ٢٩ اِلَّا عَلٰٓى اَزْوَاجِهِمْ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُمْ فَاِنَّهُمْ
غَيْرُ مَلُوْمِيْنَۚ ٣٠ فَمَنِ ابْتَغٰى وَرَاۤءَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْعَادُوْنَۚ
٣١ وَالَّذِيْنَ هُمْ لِاَمٰنٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رٰعُوْنَۖ ٣٢ وَالَّذِيْنَ هُمْ
بِشَهٰدٰتِهِمْ قَاۤىِٕمُوْنَۖ ٣٣ وَالَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُوْنَۖ
٣٤ اُولٰۤىِٕكَ فِيْ جَنّٰتٍ مُّكْرَمُوْنَ ۗ ࣖ ٣٥
"Sesunguhnya
manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ditimpa kesusahan,
ia berkeluh kesah. Dan, apabila mendapat kebaikan, ia amat kikir. Kecuali
orang-orang yang mengerjakan shalat dan mereka tetap mengerjakan shalatnya;
orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang
meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta);
orang-orang yang mempercayai hari pembalasan; orang-orang yang takut terhadap
azab Tuhannya. Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa
aman (dari kedatangannya); dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali
terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki. Maka, sesungguhnya
mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa yang mencari di balik itu, maka
mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Juga orang-orang yang
memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya; orang-orang yang memberikan
kesaksiannya, dan orang-orang yang memelihara
shalatnya. Mereka itu (kekal) di surga Iagi dimuliakan. ” (al-Ma'aarij:
19-35)
Gambaran
manusia ketika hatinya kosong dari iman, sebagaimana digambarkan oleh Al-Qur'an,
adalah gambaran yang mengagumkan. Karena, Al-Qur'an menggambarkannya dengan
sangat tepat dan lembut. Juga diungkapkannya dengan ungkapan yang sempurna
tentang watak asli makhluk ini, yang tidak ada yang melindunginya dari sifat
yang buruk dan menghilangkan sifat tersebut kecuali unsur iman, yang menghubungkannya
dengan Sumber yang di sisi-NyaIah ia dapat memperoleh ketenangan. Sumber yang
menjadi pegangannya dari kesedihan ketika ia menghadapi keburukan, dan
melindunginya dari sifat kikir ketika dia memperoleh kebaikan.
”Sesungguhnya
manusia diciptakan bersifat keluh kesah Iagi kikir. Apabila ia ditimpa
kesusahan, ia berkeluh kesah; dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir.
” (al-Ma'aarij : 19-21)
Sungguh
seakan-seakan setiap perkataannya merupakan sebuah sentuhan dari goresan indah
yang dibuat untuk melukiskan sifat-sifat manusia, dalam tiga ayat pendek dengan
kalimat-kalimat singkat, yang membicarakan gambaran itu dan membicarakan
kehidupan. Dari celah-celahnya digambarkanlah manusia dengan sifat-sifat dan ciri-ciri
tetapnya. Yaitu, ”keluh kesah” ketika ditimpa kesusahan dan kesedihan. Ia
mengira bahwa kesedihannya itu bersifat abadi, kekal, dan tiada yang dapat
menghilangkannya. Ia juga mengira bahwa masa-masa yang akan datang itu akan
terus menjadi petaka baginya. Maka, dipenuhinya hatinya dengan bermacam macam
kesedihan, keburukan, dan duka nestapa. Sehingga, ia tidak pernah membayangkan
bahwa di sana tidak akan ada keterlepasan dari kesedihan ini. dan ia tidak
mengharapkan perubahan dari Allah. Karena itu, ia dimakan oleh kesedihan dan
dirobek-robek oleh keluh kesah. Hal itu disebabkan ia tidak berlindung kepada
pilar penyangga yang amat kuat bagi azamnya, dan menggantungkan segala
cita-cita dan harapan kepada-Nya.
Selain
itu, sifat-sifat dan ciri-ciri tetapnya yang lain adalah "sangat kikir” terhadap
kebaikan jika ia mendapatkannya. Ia mengira bahwa kebaikan dan keberhasilannya
itu adalah karena usaha dan jerih payahnya sendiri. Karena itu, ia lantas
bersikap kikir kepada orang lain, dan memonopoli kekayaan itu untuk pribadinya
sendiri. Sehingga, jadilah ia sebagai tawanan bagi kekayaannya, dan menjadi
budak dari kerakusannya. Hal ini disebabkan ia tidak mengerti hakikat rezeki
dan peranannya. Ia tidak melihat kebaikan Tuhan padanya karena sudah terputus
hubungannya, dan hatinya sudah kosong dari merasakan keberadaan dan campur
tangan-Nya.
Karena
itu, ia selalu berkeluh kesah dalam kedua kondisinya. Yaitu, berkeluh kesah di
saat susah, dan berkeluh kesah ketika mendapat kebaikan atau kesenangan. Inilah
gambaran buruk manusia ketika hatinya kosong dari iman.
Dengan
demikian, tampaklah bahwa iman kepada Allah merupakan masalah yang besar bagi
kehidupan manusia. Iman bukan sekadar kata yang diucapkan dengan lisan, dan
bukan pula sekadar simbol ubudiah yang diperagakan. Tetapi, iman adaIah kondisi
jiwa dan manhaj kehidupan, serta pandangan hidup yang sempurna terhadap norma
dan nilai, peristiwa-peristiwa, dan semua keadaan.
Ketika
hati kosong dari iman yang menegakkan dan meluruskannya ini, maka ia akan
senantiasa terombang-ambing, goyah, dan goyang, bagaikan bulu yang diembus
angin. Ia akan senantiasa goncang dan takut. Ketika ditimpa kesusahan, ia
mengeluh; dan ketika memperoleh kesenangan, ia amat kikir. Adapun jika hati ini
disemarakkan dengan iman, maka ia akan senantiasa tenang dan sehat, karena
selalu berhubungan dengan sumber segala peristiwa dan pengatur segala keadaan.
Ia akan senantiasa tenteram terhadap kekuasaan-Nya, merasakan rahmat-Nya, mampu
menerima ujian-Nya, selalu melihat pembebasan-Nya dari kesempitan, dan
pemudahan-Nya dari kesulitan. Ia akan selalu menghadap kepada-Nya dengan
kebaikan, karena ia tahu bahwa apa yang ia infakkan itu adalah rezeki dari-Nya,
dan kelak ia akan mendapatkan balasan dari apa yang diinfakkannya di jalan-Nya,
di dunia dan di akhirat.
Maka,
iman adalah suatu usaha di dunia yang terwujud hasilnya sebelum mendapatkan
balasan di akhirat, yang menimbulkan kegembiraan, ketenangan, kemantapan, dan
kestabilan selama perjalanan hidupnya di dunia.
Sifat-sifat
orang-orang mukmin yang dikecualikan dari sifat-sifat umum manusia itu
dijelaskan batasan-batasannya dalam rangkaian ayat berikutnya, "Kecuali
orang-orang yang mengerjakan shalat dan mereka tetap mengerjakan shalatnya.
"(al-Ma'aarij: 22-23)
Shalat
itu lebih sekadar rukun Islam dan simbol iman. la adalah sarana berhubungan
dengan Allah dan tindak lanjut dari pengintaian (kesadaran batinnya) itu.
Shalat adalah lambang ubudiah yang tulus, sebagai implementasi maqam rububiyyah
dan maqam ubudiah dalam bentuk tertentu. Adapun sifat kekekalan yang
dikhususkan untuk shalat di sini, "mereka tetap mengerjakan
shalatnya", memberikan gambaran tentang keajegan dan keberlangsungannya.
Maka, shalatnya ini adalah shalat yang tidak pernah terputus dengan ditinggalkannya
karena sembrono atau malas. Dengan keajegannya menunaikan shalat ini, berarti
dia terus-menerus berhubungan kepada AIIah tanpa pernah terputus. Rasulullah
saw. selalu melakukan suatu ibadah dengan mantap, yakni konstan (ajeg). Beliau
bersabda,
« وَإِنَّ
أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ تَعَالَى مَا دَامَ وَإِنْ قَلَّ »
"Amalan
yang paling disenangi Allah ialah apa yang dilakukan secara ajeg (rutin) meskipun
hanya sedikit. " (HR enam ahli hadits dari Aisyah ra.)
Hal
ini untuk menunjukkan perhatian terhadap sifat kemantapan, keseriusan, dan
kesungguhan dalam berhubungan dengan Allah, sebagaimana hubungan ini pun harus
dihormati. Hubungan ini bukanlah permainan yang dengan begitu saja boleh disambung
dan diputuskan sesuai selera!
"Orang-orang
yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta
dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta). "
(al-Ma'aarij: 24-25)
Yaitu,
zakat secara khusus, dan sedekah-sedekah yang dimaklumi ukurannya, yang
merupakan hak pada harta orang-orang mukmin. Atau, mungkin maknanya lebih
lengkap dan lebih besar daripada ini. Yakni, mereka menjadikan bagian tertentu
pada hartanya, karena mereka merasa bahwa itu adalah hak orang miskin baik yang
meminta-meminta maupun tidak. Tindakannya ini membuktikan terlepasnya dari
sifat kikir dan kebebasannya dari sifat rakus. Hal ini juga menunjukkan adanya
kewajiban orang yang mampu terhadap yang tidak mampu, di kalangan umat yang
saling menjamin dan saling menanggung.
Si
miskin yang meminta-minta dan si papa yang tidak meminta-minta, tanpa menyatakan
apa kebutuhannya, melainkan ia tetap tidak mau meminta-minta. Atau, barangkali
ia adalah orang yang tertimpa bencana, lantas menjadi miskin papa, namun ia
tetap tidak mau meminta-minta.
Perasaan
dan kesadaran tentang adanya hak di dalam hartanya bagi orang miskin yang
meminta-minta dan yang tidak meminta-minta, adalah kesadaran tentang adanya
karunia Allah pada satu sisi, dan adanya unsur peri kemanusiaan pada sisi lain,
yang melebihi keterbebasan perasaannya dan belenggu kekikiran dan kerakusan.
Pada waktu yang sama, hal itu menunjukkan adanya rasa kesetiakawanan sosial dan
rasa senasib sepenanggungan dengan umatnya. Maka, ini adalah kefardhuan yang
memiliki implikasi yang Iuas dan beraneka macam, baik dalam hati sanubari
maupun dalam dunia realita.
Al-Qur'an
menyebutnya di sini, Iebih dari sekadar melukiskan sifat dan ciri-ciri jiwa
yang beriman. Akan tetapi, ia adalah salah satu mata rantai pengobatan penyakit
kikir dan tamak dalam surah ini.
“Orang-orang
yang mempercayai hari pembalasan. " (al-Ma'aarij: 26)
Sifat
ini. berhubungan langsung dengan tema sentral surah, dan pada waktu yang sama
ia melukiskan garis pokok ciri-ciri jiwa yang beriman. Maka, mempercayai hari
pembalasan adalah separuh dari iman, dan ia memiliki pengaruh yang pasti
terhadap manhaj kehidupan, baik dalam perasaan maupun dalam perilaku. Timbangan
di tangan orang yang mempercayai hari pembalasan itu berbeda dengan timbangan
yang ada di tangan orang yang mendustakan atau meragukannya. Yaitu, timbangan
kehidupan, timbangan nilai, timbangan amal, dan timbangan peristiwa-peristiwa.
Orang
yang percaya kepada hari pembalasan beramal dengan memperhatikan timbangan
langit, bukan timbangan bumi; dan hisab (perhitungan) akhirat, bukan hisab
dunia. Ia terima semua peristiwa yang baik dan yang buruk dengan
memperhitungkannya sebagai pendahuluan yang kelak akan diperoleh balasannya di
sana nanti. Maka, ia akan menyandarkan kepadanya semua hasil yang dinantikan
ketika ia menimbang dan menakarnya.
Sedangkan,
orang yang mendustakan hari pembalasan, menghitung segala sesuatu dengan
perhitungan sesuatu yang terjadi dalam kehidupan dunia yang singkat dan
terbatas. Ia bergerak dan beraktivitas untuk sesuatu yang terbatas di bumi yang
terbatas dan dalam masa yang terbatas oleh usia ini pula. Karena itu, hisabnya
sering berubah-ubah, berbeda antara akibat dan pertimbangannya, dan berakhir
pada akibat fatal yang melebihi keterbatasan ruang dan waktu yang memang
terbatas ini. Akibatnya, ia sengsara, miskin, tersiksa, dan goncang hatinya.
Karena, apa yang terjadi pada bagian kehidupan yang dipenuhi dengan
angan-angan, perhitungan-perhitungan, dan perkiraan-perkiraannya ini sering
tidak menenangkan hati, tidak menyenangkan, tidak adil, dan tidak rasional,
selama tidak disadarkan pada bagian Iain yang Iebih besar dan Iebih panjang
yakni iman kepada hari pembalasan.
Maka,
celakalah orang yang tidak menghitung dengan perhitungan akhirat, atau mungkin
juga akan menyengsarakan orang di sekitarnya. Tidak akan dapat tegak lurus
kehidupannya yang tinggi dan tidak dijumpai balasannya di dunia ini. Karena
itu, percaya kepada hari pembalasan merupakan bagian iman yang dapat menegakkan
manhaj kehidupan dalam Islam.
"Orang-orang
yang takut terhadap azab Tuhannya. Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak
dapat orang merasa aman (dari kedatangannya). " (al-Ma'aarij: 27-28)
Ini
adalah tingkatan yang Iain di balik kepercayaan terhadap hari pembalasan.
Yaitu, tingkat sensitivitas yang menggetarkan, kewaspadaan yang penuh
kesadaran, dan perasaan mengenai kekurangan dirinya di sisi Allah padahal dia
banyak dan rajin beribadah. Ia takut sewaktu-waktu hatinya berpaling dan ia
layak mendapatkan azab. Karena takut, ia lantas menghadapkan diri kepada Allah
untuk mendapatkan perlindungan dan pemeliharaan.
Rasulullah
saw., orang yang tiada bandingnya tentang kedekatannya kepada Allah dan
mengetahui bahwa Allah telah memilih dan memeliharanya, selalu merasa takut
terhadap azab Allah. Beliau yakin bahwa amalan beliau saja tidak dapat
melindunginya dan memasukkannya ke surga kecuali dengan kuunia dan rahat Allah.
Beliau bersabda kepada sahabat-sahabatnya,
« لَنْ
يُدْخِلَ الْجَنَّةَ أَحَدًا عَمَلُهُ »قَالُوا : وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ ؟قَالَ : وَلَا أَنَا، إِلَّا أَنْ
يَتَغَمَّدَنِيَ اللهُ بِرَحْمَتِهِ
"Amal
seseorang tidak akan dapat memasukkannya ke surga. " Para sahabat
bertanya, 'Tidak juga engkau wahai Rasulullah. Beliau menjawab, 'Tidak juga aku,
kecuali karena Allah meliputiku dengan rahmat-Nya. " (HR Bukhari, Muslim,
dan an-Nasa'i)
Di
dalam firman Allah, "Sesunguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang
merasa aman (dari kedatangannya)", terdapat isyarat yang menunjukkan
sensitivitas terus-menerus yang tidak pernah teralpakan sedetik pun. Karena,
hal-hal yang mewajibkan azab dapat saja datang sewaktu-waktu sehingga yang
bersangkutan lantas layak mendapatkan azab. Allah tidak menuntut kepada manusia
melainkan sensitivitas dan kesadaran ini. Apabila mereka dikalahkan oleh
kelemahannya, maka rahmat Allah itu luas dan ampunan-Nya senantiasa siap,
sedang pintu tobat-Nya tidak pernah tertutup.
Demikianlah
penegakan perkara dalam Islam, antara kelalaian dan kegoncangan, dan Islam
bukanIah kelalaian dan kegoncangan ini. Sedangkan, hati yang selalu berhubungan
dengan Allah akan senantiasa merasa takut dan berharap serta merasa tenang
bersama rahmat Allah dalam kondisi apa pun,
"Dan,
orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka
atau budak-budak yang mereka miliki. Maka, sesungguhnya mereka dalam hal ini
tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah
orang-orang yang melampaui batas. "(al-Ma'aarij : 29-31)
Yang
dimaksudkan oleh ayat-ayat ini adalah kesucian ptibadi dan masyarakat. Karena,
Islam menghendaki masyarakat yang suci bersih, indah, dan transparan.
Masyarakat yang siap menunaikan tugas tugas hidupnya, dan memenuhi panggilan
fitrahnya. Akan tetapi, tanpa melakukan demoralisasi yang menghilangkan rasa
malu yang indah, dan tanpa kebandelan yang mematikan transparansi yang berslh.
Masyarakat yang ditegakkan di atas sendi kekeIuargaan syar'iyyah yang kuat dan
tegak, dan rumah tangga yang transparan dan jelas tanda-tandanya. Masyarakat
yang setiap anak mengetahui siapa bapaknya, dan kelahirannya tidak memalukan,
bukan masyarakat yang perasaan malunya telah sirna dari wajah dan jiwanya.
Namun, hubungan biologis itu harus dilakukan berdasarkan prinsip yang suci dan
transparan untuk jangka panjang dengan sasaran jelas, yang membangkitkan
semangat untuk menunaikan tugas kemanusiaan dan sosial, bukan semata-mata
memenuhi naluri kehidupan dan hasrat biologis.
Karena
itulah, di Al-Qur'an menyebutkan sifat-sifat orang-orang yang beriman,
"Dan, orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap
istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki. Maka, sesunguhnya
mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa yang mencari di balik itu, maka
mereka itulah orangorangyang melampaui batas. "
Al-Qur'
an menetapkan kesucian hubungan biologis dengan istri dan budak, yang diperoleh
dengan jalan yang dibenarkan syara' dan diakui Islam. Yaitu, budak yang
diperoleh sebagai tawanan di dalam perang fi sabilillah. Hanya jalan peperangan
inilah satu-satunya yang diakui oleh Islam, dan sebagai dasar hukum tawanan ini
ialah ayat Al-Qur'an yang tersebut dalam surah Muhammad,
"Apabila
kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang), maka pancunglah batang
leher mereka. Sehinga, apabila kamu telah mengalahkan mereka, maka tawanlah
mereka. Sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai
perang berhenti. " (Muhammad: 4)
Tetapi,
adakalanya terdapat tawanan yang tidak dibebaskan dan tidak ditebus karena
kondisi tertentu. Dengan demikian, ia menjadi budak apabila si tentara
memperbudak tawanan kaum muslimin dalam bentuk perbudakan apa pun, walaupun
disebut dengan istilah Iain. Nah, ketika itulah Islam memperbolehkan bagi
pemiliknya saja untuk menggauli budak tersebut. Sedangkan, masalah pembebasannya
diserahkan kepada yang bersangkutan dengan berbagai cara yang disyariatkan oleh
Islam untuk mengalirkan sumber ini.
Islam
menegakkan prinsip-prinsipnya dengan jelas dan bersih. Ia tidak memberi peluang
kepada tawanan-tawanan wanita itu untuk melakukan hubungan seks yang kotor
sebagaimana yang biasa terjadi dalam peperangan-peperangan zaman dahulu maupun
sekarang. Ia tidak pula memanipulasi dengan menyebut mereka sebagai orang
merdeka padahal hakikatnya adalah budak.
“Barangsiapa
yang mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.
"
Dengan
demikian, tertutuplah semua pintu hubungan seks yang kotor. Yaitu, hubungan
seks yang tidak melalui dua pintu yang jelas dan terang ini (yaitu perkawinan
dan perbudakan yang diperoleh dari peperangan). Islam tidak memperbolehkan
manusia memenuhi fungsi naluriahnya dengan cara yang kotor, melalui
penyimpangan-penyimpangan. Islam itu bersih, jelas, dan lurus.
“Juga
orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janji-janjinya.
" (al-Ma'aarij : 32)
Ini
termasuk standar akhlak yang di atasnya Islan menegakkan tatanan
kemasyarakatannya.
Memelihara
amanat dan janji di dalam Islam dimulai dengan memelihara amanat terbesar yang
telah ditawarkan Allah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Tetapi, karena
mereka menolak untuk memikulnya dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, maka
dipikullah arnanat itu oleh manusia Hal ini sebagaimana tersebut dalam surah
al-Ahzab ayat 72.
Amanat
tersebut adalah amanat akidah dan komitmen padanya secara sukarela tanpa ada paksaan. pun perjanjian pertama yang ditetapkan atas
fitrah manusia ketika mereka di dalam sulbi adalah bahwa Allah adalah
satu-satunya Tuhan mereka, dan mereka naik saksi atas penciptaan mereka pada
perjanjian ini.
Dari
amanat dan perjanjian ini timbullah semua amanat dan perjanjian di dalam
pergaulan dunia. Islam sangat ketat terhadap masalah amanat dan janji ini. Ia
menyebutkannya secara berulang-ulang dan
ipertegasnya, supaya masyarakat ditegakkan di atas landasan yang kokoh
dari akhlak, kepercayaan, dan kemantapan. Juga menjadikan penunaian amanat dan
perjanjian ini sebagai ciri jiwa yang beriman, sebagaimana ia menjadikan
pengkhianatan terhadap amanat dan perjanjian ini sebagai ciri jiwa yang munafik
dan kafir. Masalah ini disebutkan dalam banyak tempat di dalam Al-Qur' an dan
As-Sunnah sehingga tidak dapat disangsikan lagi betapa pentingnya masalah ini
dalam tradisi Islam.
"Orang-orang
yang memberikan kesaksiannya. " (al-Ma'aarij: 33)
Allah
menggantungkan banyak hak kepada penunaian kesaksian ini. Bahkan, pelaksanaan
hudud (hukum had) pun digantungkan pada adanya kesaksian ini. Karena itulah,
Allah mempertegas penunaian kesaksian ini dan tidak dibolehkan mengabaikan
kesaksian sama sekali, serta tidak dibolehkan menyembunyikan kesaksian di dalam
sidang peradilan. Di antara bentuk pemberian kesaksian itu adalah
menyampaikannya secara benar tanpa ada kecenderungan kepada salah satu pihak.
Bahkan, Allah menghubungkan penunaian kesaksian ini dengan ketaatan kepada-Nya
sebagaimana firman-Nya,
“Tegakkanlah
kesaksian karena Allah. "(ath-lhalaq: 2)
Di
sini Allah menjadikan penunaian kesaksian sebagai sifat orang-orang beriman yang
merupakan salah satu dari sekian bentuk amanat, yang disebutkan sendiri di sini
untuk menunjukkan betapa pentingnya hal ini.
Sebagaimana
dimulainya penyebutan ciri-ciri jiwa yang beriman dengan shalat, maka
penyebutan ini juga diakhiri dengån shalat,
"Dan,
orang-orang yang memelihara shalatnya. " (al-Ma'aarij: 34)
Ini
adalah sifat yang berbeda dengan sifat kekekalan yang disebutkan pada permulaan
tadi. Sifat ini terwujud dengan memelihara shalat pada waktunya, sesuai dengan
kefardhuan-kefardhuannya, memenuhi sunnah-sunnahnya, sesuai dengan aturannya,
dan ditunaikan dengan ruhnya. Maka, mereka tidak meninggalkannya karena
mengabaikannya atau malas, dan tidak menyia-nyiakannya tanpa menyesuaikannya
dengan aturan-aturannya. Disebutnya shalat pada permulaan dan penutupan tema
ini menunjukkan betapa pentingnya shalat itu, 'dan dengan penyebutan shalat
tersebut diakhirilah semua sifat dan ciri-ciri orang-orang yang beriman.
Setelah
itu ditetapkanlah tempat kembali golongan manusia beriman setelah sebelumnya
ditetapkan tempat kembalinya golongan lain (yang tidak beriman) ,
"Mereka
itu (kekal) di surga lagi dimuliakan. " (al-Ma'aarij: 35)
Kalimat
singkat dalam nash ini menghimpun antara jenis kenikmatan indrawi dengan jenis
kenikmatan spiritual. Mereka berada di dalam surga, dan mereka mendapatkan
kemuliaan di sana. Maka, terkumpullah bagi mereka kelezatan dengan kenikmatan
disertai dengan kemuliaan, sebagai balasan atas akhlaknya yang mulia, yang
menjadi ciri khas orang-orang yang beriman.
Gangguan
Kafir Mekah kepada Rasulullah saw.
Paragraf
berikutnya menampilkan sebuah pemandangan tentang dakwah di Mekah. Di sana, kaum
musyrikin mempercepat langkahnya menuju tempat Rasulullah saw. sedang membaca
Al-Qur' an. Kemudian mereka berpencar di sekitar beliau dengan
berkelompok-kelompok. Maka Allah menganggap buruk kebergegasan dan berkumpulnya
mereka tanpa ada keinginan untuk mendapatkan petunjuk pada apa yang mereka
dengarkan itu,
فَمَالِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا قِبَلَكَ مُهْطِعِيْنَۙ
٣٦ عَنِ الْيَمِيْنِ وَعَنِ الشِّمَالِ عِزِيْنَ ٣٧
"Mengapakah
orang-orang kafir itu bersegera datang ke arahmu, dari kanan dan dari kiri
dengan berkelompok-kelompok ?" (al-Ma'aarij.: 36-37)
"Al-muhthi
" ialah orang yang melangkah dengan
cepat sambil mengulurkan lehernya seperti ditarik kendalinya. Sedangkan,
"'izin" adalah bentuk jamak dari “izali” seperti kata "fi'ah'
baik dalam wazan (timbangan kata) maupun maknanya. Pengungkapan dengan kata ini
adalah celaan yang samar mengenai gerakan mereka yang meragukan. Juga untuk
menggambarkan gerakan dan keadaan yang menjadi lengkap, dan menunjukkan
keheranan terhadap sikap mereka, sekaligus mempertanyakan keadaan mereka.
Mereka berbegas-gegas menuju Rasulullah saw. itu bukannya untuk mendengarkan
(bacaan AI-Qur'an) dan mencari petunjuk. Akan tetapi, mereka hanya hendak
muncul secara mengejutkan untuk mengacaukan. Kemudian mereka kembali berkumpul
dengan sesama kelompok mereka untuk membicarakan tipu daya selanjutnya dan
menangkal apa yang mereka dengar itu. Mengapa mereka itu?
اَيَطْمَعُ كُلُّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ اَنْ
يُّدْخَلَ جَنَّةَ نَعِيْمٍۙ ٣٨
"Adakah
setiap orang dari orang-orang kafir itu ingin masuk ke dalam surga yang penuh
kenikmatan.” (al-Maa'rij: 38)
Padahal
mereka berada dalam kondisi yang tidak mengantarkannya ke surga yang penuh
kenikmatan, malah mengantarkan mereka ke neraka yang apinya menyala-nyala
tempat kembalinya orang-orang yang berdosa!
Atau,
barangkali mereka mengira bahwa diri mereka adalah agung di sisi Allah, lantas
mereka kafir dan mengganggu Rasul, serta mendengarkan Al-Qur’an dan
berbisik-bisik satu sama lain untuk membuat tipu daya Kemudian mereka masuk
surga, karena di dalam timbangan Allah mereka itu adalah sesuatu yang agung.
"Sekali-kali
tidak. Ini sebuah perkataan untuk menghardik dan merendahkan mereka.
كَلَّاۗ اِنَّا خَلَقْنٰهُمْ مِّمَّا يَعْلَمُوْنَ
٣٩
"Sesungguhnya
Kami ciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui (air mani). "
(al-Ma'aarij: 39)
Mereka
mengetahui dari apa mereka diciptakan. Yaitu, dari air hina yang sudah mereka
kenal. Ungkapan Al-Qur’an yang indah ini memberikan sentuhan kepada mereka
dengan sentuhan yang samar dan dalam. Dengan sentuhan ini dihapusnya
kesombongan dan dijungkirkan kecongkakan mereka, tanpa menggunakan sepatah kata
pun yang tidak mengenai sasaran, dan tidak menggunakan satu ungkapan pun yang
melukai. Akan tetapi, isyarat sepintas ini menggambarkan kerendahan, tidak adanya
perhatian, dan ketidakberhargaan dengan gambaran yang sangat sempurna. Maka,
bagaimana mereka ingin masuk surga yang penuh kenikmatan itu, sedangkan mereka
kafir dan tindakannya amat buruk? Mereka diciptakan dari sesuatu yang mereka
ketahui. Dalam pandangan Allah, mereka itu terlalu hina untuk bertindak lancang
terhadap-Nya dan merobek sunnah-Nya dalam pembalasan yang adil dengan api yang
menyala-nyala lantas diganti dengan surga yang penuh kenikmatan.
Selanjutnya,
di dalam menghinakan urusan mereka mengecilkan keadaan mereka, dan
menjungkirkan kesombongan mereka, AI-Qur'an menetapkan bahwa Allah berkuasa
untuk menciptakan kaum yang lebih baik daripada mereka dan mereka (kaum yang
baru) itu tidak lemah serta dapatpergi tanpa terkena balasan azab yang pedih,
فَلَآ اُقْسِمُ بِرَبِّ الْمَشٰرِقِ وَالْمَغٰرِبِ
اِنَّا لَقٰدِرُوْنَۙ ٤٠ عَلٰٓى اَنْ نُّبَدِّلَ خَيْرًا مِّنْهُمْۙ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوْقِيْنَ
٤١
"Maka,
Aku bersumpah dengan Tuhan Yang Mengatur tempat terbit dan terbenamnya
matahari, bulan dan bintang bahwa sesungguhnya Kami benar-benar Mahakuasa untuk
mengganti (mereka) dengan kaum yang lebih baik dari mereka, dan Kami
sekali-kali tidak dapat dikalahkan.
" (al-Ma'aarij: 40-41)
Masalah
ini sebenarnya tidak memerlukan sumpah. Akan tetapi, penyebutan tempat terbit
dan terbenamnya matahari mengesankan agungnya Sang Maha Pencipta "Masyaariq'
dan "maghaarib" (yang diterjemahkan dengan tempat terbit dan
terbenamnya matahari) di sini boleh jadi yang dimaksudkan adalah tempat-tempat
terbitnya bintang di timur dan di barat yang banyak jumlahnya di alam semesta
yang luas ini, sebagaimana boleh jadi yang dimaksudkan adaIah belahan timur dan
belahan barat yang berkesinambungan di hamparan bumi ini. Karena, timur dan
barat senantiasa berjalan silih berganti setiap waktu di tengah-tengah perputaran
bumi pada porosnya dan dalam mengelilingi matahari yang terbit di sebelah timur
dan tenggelam di sebelah barat. Apa pun yang dimaksud dengan masyaariq dan
maghaarib ini, hal ini mengesankan di dalam hati betapa besarnya alam semesta,
dan menunjukkan betapa agungnya Penciptanya. Nah, kalau begitu, apakah urusan
makhluk yang diciptakan dari sesuatu yang sudah mereka ketahui itu memerlukan
sumpah dengan Tuhan Yang Mengatur tempat terbit dan tenggelamnya matahari,
sedangkan Allah Mahakuasa untuk menciptakan kaum yang lebih baik daripada
mereka, dan mereka sendiri tidak dapat mendahului-Nya, tidak dapat lepas
dari-Nya, dan tidak dapat lari dari tempat kembali yang sudah dipastikan bagi
mereka?!
Biarkan
Mereka Menghadapi Risiko Perbuatannya di Akhirat Nanti
Ketika
pembicaraan sampai pada bagian ini, setelah melukiskan azab yang mengerikan
pada hari yang disaksikan itu, dan setelah melukiskan kemuliaan nikmat bagi
orang-orang mukmin dan kehinaan keadaan orang-orang kafir, maka ayat-ayat
berikutnya ditujukan kepada Rasulullah saw. agar membiarkan mereka menghadapi
hari kiamat dan azab itu. Ialu dilukiskanlah pemandangan mereka di sana dengan
pemandangan yang menyedihkan dan penuh kehinaan.
فَذَرْهُمْ يَخُوْضُوْا وَيَلْعَبُوْا حَتّٰى
يُلٰقُوْا يَوْمَهُمُ الَّذِيْ يُوْعَدُوْنَۙ ٤٢ يَوْمَ يَخْرُجُوْنَ مِنَ الْاَجْدَاثِ
سِرَاعًا كَاَنَّهُمْ اِلٰى نُصُبٍ يُّوْفِضُوْنَۙ ٤٣ خَاشِعَةً اَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ
ذِلَّةٌ ۗذٰلِكَ الْيَوْمُ الَّذِيْ كَانُوْا يُوْعَدُوْنَ ࣖ ٤٤
"Maka,
biarkanlah mereka tengelam (dalam kebatilan) dan bermain-main sampai mereka
menjumpai hari yang diancamkan kepada mereka.
hari mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi
dengan segera kepada berhala-berhala (sewaktu di dunia), dalam keadaan mereka
menekurkan pandangannya (serta) diliputi kehinaan. Itulah hari yang dahulunya
diancamkan kepada maeka. "(al-Ma'aarij: 42-44)
Khithab
ini mengandung penghinaan terhadap keadaan mereka dan ancaman untuk mereka,
yang menimbulkan rasa takut. Pemandangan mereka dengan segala keadaan dan gerak
mereka yang demikian pada hari kiamat itu juga menimbulkan rasa takut, sebagaimana pengungkapan tentang
pelecehan dan penghinaan terhadap mereka itu sangat sesuai dengan kesombongan
diri mereka dengan kedudukan mereka
Mereka
yang keluar dari kubur dengan bergegas-gegas itu seakan-akan sedang pergi
kepada berhala-berhala sembahan mereka. Penghinaan yang demikian ini sesuai
sekali dengan keadaan mereka sewaktu di dunia. Dahulu mereka bergegas-gegas
menuju patung-patung mereka pada hari-hari besar, dan mereka berkumpul di
sekitarnya. Maka, kini mereka sedang bergegas-gegas, tetapi keadaan pada hari
ini jauh berbeda dengan hari itu!
Kemudian,
lengkaplah penyebutan keadaan mereka dengan firman-Nya,
"Dalam
keadaan mereka menekurkan pandangannya (serta) diliputi kehinaan. “
Dari
celah-celah kalimat ini kita melihat keadaan mereka secara lengkap. Dan, dari
roman muka mereka tampaklah bagi kita suatu gambaran yang jelas, gambaran
manusia yang hina dan menderita Karena sewaktu di dunia, mereka suka
mengada-ada dan bermain-main, maka pada hari ini mereka menjadi orang yang hina
dan pesakitan.
"1tulah
hari yang dahulunya diancamkan kepada mereka. "
Yang
selalu mereka sangsikan, mereka dustakan, dan mereka minta segera didatangkan!
Dengan
demikian, serasilah antara permulaan dan penutupan surah. Sempurnalah mata
rantai pengobatan panjang tentang persoalan hari ke bangkitan dan pembalasan.
Maka, selesailah salah satu putaran dari perjalanan peperangan yang panjang
antara pandangan hidup jahiliah dan pandangan hidup islami.
No comments:
Post a Comment