Monday, April 27, 2026

Tafsir Surah Al-Ma'arij

Pengantar

Surah ini adalah salah satu putaran dari putaran pengobatan secara gradual, perlahan-lahan, lama, mendalam, dan halus terhadap penyakit-penyakit jahiliah di dalam jiwa manusia sebagaimana yang dihadapi oleh Al-Qur'an di Mekah. Juga sebagaimana yang mungkin dihadapinya di kalangan jahiliah manapun sesuai dengan perbedaan dan aneka Iahiriahnya - bukan bagian dalamnya - serta simbolnya, bukan hakikatnya.

Atau, ia adalah satu babak dari peperangan panjang dan berat yang terjadi di dalam jiwa manusia, yakni di sela-sela perjalanannya, belokan-belokannya, endapan-endapannya, dan tumpukan-tumpukannya. Peperangan ini lebih besar dan lebih panjang masanya daripada peperangan-peperangan fisik yang dihadapi kaum muslimin sesudah itu. Hal ini sebagaimana endapan-endapan dan penyakit-penyakit itu lebih besar dan lebih sukar daripada kekuatan-kekuatan yang disiapkan untuk melawan dakwah Islam yang senantiasa disiapsiagakan baik pada  zaman jahiliah kuno maupun jahiliah modern.

Hakikat pokok yang hendak dipecahkan dan ditetapkan oleh surah ini adalah hakikat akhirat dengan segala pembalasan yang ada di sana, dan secara khusus adalah tentang azab terhadap orang-orang kafir di sana sebagaimana yang diancamkan oleh Al-Qur'anuI Karim. Juga dibarengi dengan pengungkapan tentang hakikat jiwa manusia pada waktu menghadapi kesusahan dan kesenangan. Dalam hal ini, sudah tentu berbeda antara jiwa yang beriman dan yang kosong dari iman. Selain itu, juga dikemukakan ciri-ciri jiwa yang beriman beserta manhajnya di dalam merasa dan berperilaku, serta keberhakannya untuk dimuliakan. Dipaparkan pula kehinaan orang-orang kafir dalam pandangan Allah dan kehinaan yang diancamkan Allah untuk mereka yang sangat cocok bagi orang-orang yang sombong. Surah ini juga menetapkan perbedaan nilai, ukuran, dan timbangan yang ditetapkan Allah dengan yang dibuat oleh manusia.

Dengan hakikat-hakikat ini, terciptalah putaran dari putaran-putaran pengobatan yang panjang terhadap penyakit-penyakit dan pola pandang jahiliah, atau satu babak dari peperangan yang berat di dalam perjalanan jiwa manusia dan belokan-belokannya. Itulah peperangan yang dilakukan oleh Al-Qur'an yang pada akhirnya ia mendapat kemenangan dengan kekuatannya sendiri, terlepas dari kekuatan Iain manapun. Maka, kemenangan AI-Qur'an yang sebenarnya di dalam jiwa manusia sudah dimulai sebelum dia menggunakan pedang (senjata) untuk menolak fitnah dari yang beriman kepadanya, apalagi senjata untuk memaksa musuhnya untuk tunduk kepadanya!

Orang yang membaca AI-Qur’an dengan penuh konsentrasi dan merenungkan peristiwa-peristiwa perjalanan hidupnya, tentu akan merasakan adanya kekuatan dan kekuasaan hebat yang dengannya AI-Qur'an menghadapi jiwa-jiwa manusia di Mekah dan menjinakkannya sehingga mereka mau menerima bimbingannya dengan senang dan rela Tentu si pembaca tadi akan melihat bahwa Al-Qur'an menghadapi jiwa manusia dengan bermacam-macam metode yang mengagumkan.

Kadang-kadang Al-Qur'an menghadapi jiwa manusia dengan membawakan bukti-bukti dan petunjuk-petunjuk yang sangat mengesankan secara bertubi-tubi bagaikan banjir yang deras; dengan gaya yang halus dan lemah lembut seolah-olah tidak mempunyai kekuatan yang kokoh mengakar dalam pandangan-pandangannya; dengan gaya seperti cemeti yang sangat menyengat yang melecut perasaan, sehingga yang kena lecutan dan sengatannya merasa tak mampu bertahan; dan dengan bisikan yang penuh kecintaan dan kasih sayang, yang menenteramkan perasaan dan menenangkan hati. Namun, terkadang AI-Qur’an menghadapi jiwa manusia dengan sesuatu yang menakutkan dan mengejutkan, yang membukakan mata terhadap bahaya besar yang sudah dekat; dengan membeberkan hakikat persoalan secara luas dan jitu tanpa memberikan kesempatan dan peluang untuk berpaling dan membantah; dan dengan  memberikan harapan yang cerah dan keinginan  yang teduh, yang dibisikkan kepadanya.

Atau, dikoreknya relung-relung, jalan, dan tikungan-tikungannya, Iantas disorotnya dengan cahaya yang terang sehingga semuanya terungkap dan ia dapat melihat apa saja yang ada di dalamnya seperti melihat dengan mata kepala. Kemudian ia merasa malu terhadap sebagiannya, benci terhadap sebagian yang Iain, dan menjadi sadar terhadap semua gerakan dan perasaannya yang selama ini dilakukan tanpa menghiraukannya.

Pembaca AI-Qur’an akan menjumpai beratus-ratus sentuhan, sindiran, bisikan, dan kesan, kalau ia mengikuti peperangan yang panjang dan pengobatan yang telaten itu. la juga akan melihat bagaimana Al-Qur'an dapat mengalahkan kejahiliahan yang terdapat di dalam jiwa yang pembangkang dan keras itu.

Dari satu sisi, surah ini juga menyingkap usaha penetapan hakikat akhirat dan hakikat-hakikat Iain yang dirangkumnya pula bersamaan dengan itu.

Hakikat akhirat juga menjadi sasaran pembahasan surah al-Haaqqah, tetapi surah al-Ma'aarij ini membahasnya dengan jalan Iain, dan memaparkannya dari sudut, lukisan, dan bayang-bayang yang Iain pula.

Arah surah al-Haaqqah adalah melukiskan hal-hal yang menakutkan dan mengerikan pada hari kiamat itu, yang tercermin dalam gerakan-gerakan yang keras dalam pemandangan peristiwa-peristiwa alam yang besar. Juga tercermin dalam keagungan yang hebat pada pemandangan yang menakutkan itu. Dan, tercermin dalam pengungkapan secara transparan yang menakutkan dan menggetarkan perasaan.

Hal yang menakutkan dan menggetarkan itu juga terlihat dalam pemandangan-pemandangan tentang azab, hingga terucapkan dalam keputusan tentang siksaan ini sebagaimana tercantum dalam surah al-Haaqqah ayat 30-32.

Tampak pula ketakutan dan kengerian tersebut dalam teriakan, keluh kesah, dan penyesalan orang-orang yang terkena siksa itu seperti tercantm dalam surah al-Haaqqah ayat 25-27.

Namun, di dalam surah al-Ma'aarij, hal yang menakutkan itu tampak pada sifat-sifat, ciri-ciri, gejolak, dan langkah-langkah jiwa, yang melebihi apa yang tampak pada pemandangan-pemandangan alam dan gerakan-gerakannya. Sehingga, pemandangan-pemandangan kealaman yang menakutkan itu sendiri hampir-hampir bersifat kejiwaan pula. Bagaimanapun keadaannya, ia bukanlah sesuatu yang paling menakutkan, tetapi yang paling menakutkan itu bertempat di dalam jiwa, yang tampak sejauh kegoncangan, kebingungan, dan kegemetaran yang terjadi. Hal ini dapat dilihat dalam surah al-Ma'aarij ayat 8-14. Neraka itu di sini adalah "jiwa" yang mempunyai perasaan dan pengertian seperti makhluk hidup di dałam sifatnya yang menakutkan dan hidup. Sedangkan, azab iłu sendiri lebih banyak mengesankan karakter jiwa yang melebihi apa yang dirasakan indra.

Maka, pemandangan-pemandangan, lukisan-lukisan, dan bayang-bayang hari iłu berbeda dengan yang dibeberkan dałam surah al-Haaqqah, sesuai dengan perbedaan karakter kedua surah iłu secara umum, meskipun hakikat pokoknya sama.

Karena iłu, surah al-Ma'aarij ini melukiskan keadaan jiwa manusia ketika susah dan senang, serta ketika ada imannya dan kosong dari iman. Hal ini sangat serasi dengan karakter kejiwaan surah yang khas. Maka, di dałam menyifati manusia, surah ini mengatakan,

“Sesunguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Dan, apabila mendapat kebaikan, ia kikir. Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat yang mereka tetap  mengerjakan shalatnya." (al-Ma'aarij: 19-23)

Selanjutnya, di sini digambarkan sifat-sifat jiwa yang beriman beserta ciri-ciri Iahiriah dan batiniahnya sejalan dengan karakter dan usłub surah ini, sebagaimana tercantum dalam surah al-Ma'aarij ayat 22-34.

Arah pokok surah al-Haaqqah adalah menetapkan hakikat kesungguhan dan keseriusan mengenai bidang akidah. Karena iłu, hakikat akhirat adalah salah satu dari hakikat-hakikat yang ada dalam surah ini, seperti hakikat dihukumnya orang-orang yang mendustakan agama-Nya dengan hukuman yang berat di dunia ini, dan dihukumnya setiap orang yang mengganti akidahnya, tanpa toleransi. Sedangkan, arah pokok dałam surah al-Ma'aarij adalah menetapkan hakikat akhirat beserta pembalasan di sana dan timbangan pembalasan. Maka, hakikat akhirat menjadi hakikat pokok dałam surah ini.

Karena iłu, hakikat-hakikat lain dałam surah ini berhubungan secara langsung dengan hakikat akhirat. Misalnya, pembahasan surah ini tentang perbedaan perhitungan Allah pada hari-hari-Nya dengan perhitungan manusia, dan ukuran Allah terhadap hari akhir dengan ukuran manusia, sebagaimana tercantum dalarn surah al-Ma'aarij ayat 4-7; perbedaan jiwa manusia ketika menghadapi kesusahan dan kesenangan, ketika beriman dan ketika kosong dari iman. Kedua hal ini Iayak mendapatkan pembalasan pada hari pembalasan; dan keinginan orang-orang kafir untuk masuk surga na'im, padahal dałam pandangan Allah mereka iłu sangat hina, dan tidak  mampu untuk berlari dan melepaskan diri dari azab-Nya. Masalah ini berkaitan erat dengan as (poros) pokok surah ini.

Demikianlah, hampir seluruh isi surah ini terbatas membahas masalah hakikat akhirat yang merupakan hakikat besar yang sangat urgen untuk dimantapkan ke dałam jiwa, di samping adanya bermacam-macam sentuhan dan hakikat lain yang menyertai tema pokoknya.

Fenomena adalah adanya irama musikal dałam surah ini, yang timbul dari bangunan dan bentuk pengungkapannya. Nuansa ritmis dałam surah al-Haaqqah timbul dari perubahan rima (sajak, kata terakhir) pada setiap baris atau ayatnya, sesuai dengan makna dan nuansanya. Sedangkan dałam surah al-Ma'aarij, keanekaragaman iłu lebih jauh jangkauannya. Karena ia meliputi macam-macam kalimat yang bernuansa musikal secara keseluruhan, bukan hanya rima pada akhir kalimat saja. Kalimat yang bernuansa musikal di sini lebih dałam, lebih luas, dan lebih kokoh susunannya. Jenis ini banyak ditemui dałam separo pertama surah ini dałam bentuk komentar.

Pada permulaan surah ini terdapat tiga kalimat musikal yang beraneka macam, meskipun sama irama akhirnya, dilihat dari segi panjang dan irama-irama parsialnya sebagaimana contoh berikut ini,

سَاَلَ سَاۤىِٕلٌۢ بِعَذَابٍ وَّاقِعٍۙ ١ لِّلْكٰفِرِيْنَ لَيْسَ لَهٗ دَافِعٌۙ ٢ مِّنَ اللّٰهِ ذِى الْمَعَارِجِۗ ٣ تَعْرُجُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ اِلَيْهِ فِيْ يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهٗ خَمْسِيْنَ اَلْفَ سَنَةٍۚ ٤ فَاصْبِرْ صَبْرًا جَمِيْلًا ٥ اِنَّهُمْ يَرَوْنَهٗ بَعِيْدًاۙ ٦ وَّنَرٰىهُ قَرِيْبًاۗ ٧ يَوْمَ تَكُوْنُ السَّمَاۤءُ كَالْمُهْلِۙ ٨ وَتَكُوْنُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِۙ ٩ وَلَا يَسْـَٔلُ حَمِيْمٌ حَمِيْمًاۚ ١٠

Rangkaian ini berakhir dengan memanjangkan bunyi alif pada baris (ayat) kelima.

اِنَّهُمْ يَرَوْنَهٗ بَعِيْدًاۙ ٦ وَّنَرٰىهُ قَرِيْبًاۗ ٧

Di sini terjadi perulangan rima (bunyi yang sama) dengan memanjangkan alif dua kali.

يَوْمَ تَكُوْنُ السَّمَاۤءُ كَالْمُهْلِۙ ٨ وَتَكُوْنُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِۙ ٩ وَلَا يَسْـَٔلُ حَمِيْمٌ حَمِيْمًاۚ ١٠

Rangkaian ini berakihir dengan memanjangkan bunyi alif pada ayat ketiga, dengan bermacam-macam rima di dalamnya.

يُبَصَّرُوْنَهُمْۗ يَوَدُّ الْمُجْرِمُ لَوْ يَفْتَدِيْ مِنْ عَذَابِ يَوْمِىِٕذٍۢ بِبَنِيْهِۙ ١١ وَصَاحِبَتِهٖ وَاَخِيْهِۙ ١٢ وَفَصِيْلَتِهِ الَّتِيْ تُـْٔوِيْهِۙ ١٣ وَمَنْ فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًاۙ ثُمَّ يُنْجِيْهِۙ ١٤ كَلَّاۗ اِنَّهَا لَظٰىۙ ١٥

Rangkaian ini berakhir dengan memanjangkan alif pada baris kelima sebagaimana pada bagian yang pertama di atas.

نَزَّاعَةً لِّلشَّوٰىۚ ١٦ تَدْعُوْا مَنْ اَدْبَرَ وَتَوَلّٰىۙ ١٧ وَجَمَعَ فَاَوْعٰى ١٨ ۞ اِنَّ الْاِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًاۙ ١٩ اِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعًاۙ ٢٠ وَّاِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوْعًاۙ ٢١

Di sini, perulangan bunyi yang sama pada alif panjang tejadi lima kali, dan dua di antaranya yang terletak pada kedua ayat terakhir berbeda dengan tiga ayat yang pertama.

Kemudian terjadi perulangan bunyi yang sama pada mim dan nun, yang sebelumnya didahului dengan wau atau ya’.

Penampilan aneka macam rima pada permulaan surah sangat mendalam dan mengikat dałam nuansa iramanya yang dirasakan oleh telinga begitu indah. Nuansa musikalnya tinggi, indah, dan terasa asing di lingkungan bangsa Arab, juga asing di kalangan sastrawan Arab. Akan tetapi, usłub Al-Qurțan ini memberikan kemudahan untuk masuk ke dałam telinga bangsa Arab sehingga dapat diterima, meskipun nilai sastranya sangat indah, mendalam, dan baru bagi irama-irama tradisional mereka.

Sekanng marilah kita paparkan surah ini secara terperinci.

Kondisi Alam dan Manusia ketika Terjadi Kiamat dan Kepedihan Derita Orang yang Banyak Dosa

سَاَلَ سَاۤىِٕلٌۢ بِعَذَابٍ وَّاقِعٍۙ ١ لِّلْكٰفِرِيْنَ لَيْسَ لَهٗ دَافِعٌۙ ٢ مِّنَ اللّٰهِ ذِى الْمَعَارِجِۗ ٣ تَعْرُجُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ اِلَيْهِ فِيْ يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهٗ خَمْسِيْنَ اَلْفَ سَنَةٍۚ ٤ فَاصْبِرْ صَبْرًا جَمِيْلًا ٥ اِنَّهُمْ يَرَوْنَهٗ بَعِيْدًاۙ ٦ وَّنَرٰىهُ قَرِيْبًاۗ ٧ يَوْمَ تَكُوْنُ السَّمَاۤءُ كَالْمُهْلِۙ ٨ وَتَكُوْنُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِۙ ٩ وَلَا يَسْـَٔلُ حَمِيْمٌ حَمِيْمًاۚ ١٠ يُبَصَّرُوْنَهُمْۗ يَوَدُّ الْمُجْرِمُ لَوْ يَفْتَدِيْ مِنْ عَذَابِ يَوْمِىِٕذٍۢ بِبَنِيْهِۙ ١١ وَصَاحِبَتِهٖ وَاَخِيْهِۙ ١٢ وَفَصِيْلَتِهِ الَّتِيْ تُـْٔوِيْهِۙ ١٣ وَمَنْ فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًاۙ ثُمَّ يُنْجِيْهِۙ ١٤ كَلَّاۗ اِنَّهَا لَظٰىۙ ١٥ نَزَّاعَةً لِّلشَّوٰىۚ ١٦ تَدْعُوْا مَنْ اَدْبَرَ وَتَوَلّٰىۙ ١٧ وَجَمَعَ فَاَوْعٰى ١٨

"Seseorang peminta telah meminta kedatangan azab yang bakal terjadi, untuk orang-orang kafir, yang tidak seorang pun dapat menolaknya, (yang datang) dari Allah Yang Mempunyai tempat-tempat naik. Malaikat-malaikat danJibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun. Maka, bersabarlah kamu dengan sabar yang baik. Sesunguhnya mereka memandang siksaan iłu jauh (mustahil). Sedangkan, Kami memandangnya dekat (pasti terjadi). Pada hari ketika langit menjadi seperti luluhan perak dan gunung-gunung menjadi seperti bulu (yang beterbangan), tidak  ada seorang teman akrab pun menanyakan temannya, sedang mereka saling melihat. Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari iłu dengan anak-anaknya, istrinya, saudaranya, dan kaum familinya yang melindunginya (di dunia) serta orang-orang di atas bumi seluruhnya. Kemudian (mengharapkan) tebusan iłu dapat menyelamatkannya. Sekali-kali tidak dapat. Sesungguhnya neraka iłu adalah api yang bergejolak, yang mengelupaskan kulił kepala, dan memanggil orang yang membelakang dan berpaling (dari agama), serta (memanggil orang yang) mengumpulkan (harta benda) lalu menyimpannya.” (al-Ma'aarij: 1-18)

Hakikat akhirat adalah salah satu dari hakikat-hakikat yang sulit dimengerti oleh orang-orang musyrik Arab. Hakikat ini mendapat penentangan yang mendalam di dalam jiwa mereka. Sehingga, mereka menghadapinya dengan penuh keheranan, keterkejutan, dan merasa aneh. Mereka menolak sekeras-kerasnya dan mereka menentang Rasulullah saw. dengan berbagai macam tantangan supaya beliau mendatangkan kepada mereka hari yang dijanjikan itu, atau agar beliau dapatmenyampaikan kepada mereka kapan terjadinya hari itu.

Diriwayatkan dari İbnu Abbas bahwa yang meminta azab ini adalah an-Nadhr ibnuI-Harits. Dalam riwayat lain dari İbnu Abbas juga, ia mengatakan bahwa itu adalah pertanyaan orang kafir mengenai azab Allah padahal azab itu bakal menimpa mereka.

Bagaimanapun halnya, maka surah ini menceritakan bahwa di sana ada orang yang meminta didatangkannya azab, bahkan meminta disegerakan datangnya. Surah ini juga menetapkan bahwa azab itu bakal terjadi, karena ia pasti akan terjadi sesuai dengan ke tentuan Allah dilihat dari satu segi, dan sudah dekat terjadinya dilihat dari segi lain. Tidak seorang pun yang akan dapatmenolak atau mencegahnya Maka, menanyakannya atau meminta disegerakan kedatangannya, padahal ia pasti terjadi dan tidak dapat ditolak oleh seorang pan, menunjukkan kesialan orang yang meminta disegerakan kedatangannya itu, baik personal maupun komunal.

Azab ini akan ditimpakan kepada orang-orang kafir secara mutlak, termasuk di dalamnya orang-orang yang meminta disegerakan kedatangannya dan setiap orang yang kafir. Azab ini pasti dari dari Allah "Yang Mempunyai tempat-tempat naik, suatu ungkapan tentang ketinggian dan keluhuran, sebagaimana disebutkan dalam surah lain, "Dialah Yang Mahatinggi derajat-Nya, Yang Mempunyai 'Arasy. "(al-Mu’min: 15)

Setelah pembukaan yang menetapkan kata pasti tentang masalah azab, bakal terjadinya, mengenai orang-orang yang layak mendapatkannya, sumbernya, dan ketinggian dan keluhuran sumber ini - yang menjadikan keputusan-Nya bersifat luhur, pasti terlaksana, dan tidak ada yang dapat menolaknya -, maka diterangkanlah kondisi hari yang bakal terjadi dengan segala azabnya itu, dan yang mereka minta disegerakan kedatangannya padahal kedatangannya itu sudah dekat. Hanya saja ukuran Allah tidak sama dengan ukuran manusia,

“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun. Maka, bersabarlah kamu dengan sabaryang baİk. Sesunguhnya mereka memandang siksaan itu jauh (mustahil). Sedangkan, Kami memandangnya dekat (pasti terjadi)." (al-Ma'aarij: 4-7)

Menurut pendapat yang lebih kuat, hari yang diisyaratkan di sini adalah hari kiamat, karena konteksnya hampir pasti menunjukkan makna ini. Pada hari ini para malaikat dan Jibril naik menghadap Allah. Dan, yang dimaksud dengan ar-ruh di sini adalah malaikat Jibril a.s. sebagaimana disebutkan dalam surah-surah lain. Disebutkannya malaikat Jibril sesudah disebutkannya para malaikat karena ia memiliki urusan khusus. Disebutkannya naiknya para malaikat dan malaikat Jibril pada hari ini menunjukkan penting dan khususnya mereka pada hari ini, yaitu mereka naik berkenaan dengan urusan dan kepentingan hari ini.

Kita tidak mengetahui dan tidak ditugasi untuk mengetahui bagaimana sifat kepentingan ini, bagaimana cara para malaikat itu naik, dan kemana mereka naik. Semua ini adalah urusan gaib yang tidak menambah hikmah nash kalau disebutkan perinciannya. Kıta tidak mempunyai jalan untuk mencapainya, dan tidak mempunyai pemandu yang menunjukkan ke sana. Maka, cukuplah bagi kita untuk merasakan betapa pentingnya hari itu dari celah-ceIah pemandangan ini. Yakni, pemandangan yang menunjukkan bagaimana para malaikat dan Jibril sibuk melakukan gerakan-gerakan yang berhubungan dengan kepentingan hari yang besar itu.

Adapun kalimat "kadarnya limapuluh ribu tahun" mungkin sebagai landasan terhadap lamanya hari itu, sebagaimana yang biasa terjadi dalam ungkapan bahasa Arab. Mungkin juga menunjukkan hakikat tertentu dan kadar hari itu adalah lima puluh ribu tahun hitungan tahun-tahun penduduk bumi, padahal waktu sepanjang ini hanya satu hari saja pada hari kiamat. Hakikat ini sekarang memang sangatdekat, karena hari kita dalam kehidupan dunia diukur dari perputaran bumi pada porosnya dalam masa dua puluh empat jam. Di sana terdapat bintang-bintang yang perputaran pada porosnya beribu-ribu kali lipat dari hari-hari kita İni bukan berarti bahwa yang dimaksud di sini adalah lima puluh ribu tahun itu. Akan tetapi, kami sebutkan hakikat ini untuk mendekatkan kepada pikiran mengenai gambaran tentang perbedaan ukuran hari ini dengan hari itu.

Apabila sehari dari hari-hari Allah itu sama dengan lima puluh ribu tahun, maka azab hari itu oleh mereka dianggap sesuatu yang sangat jauh, padahal menurut pandangan Allah adalah dekat. Karena ituIah, Alah menyeru Nabi-Nya saw. supaya bersabar dengan kesabaran yang baik di dalam menghadapi permintaan mereka agar disegerakannya azab dan di dalam menghadapi pendustaan mereka terhadap azab yang dekat itu.

“Maka, bersabarlah kamu dengan sabar yang baik. Sesunguhnya mereka memandang siksaan itu jauh. Sedangkan, Kami memandangnya dekat." (al-Ma'aarij: 5-7)

Seruan untuk bersabar dan mengarahkan diri kepada Allah itu senantiasa menyertai setiap dakwah, dan dilakukan secara berulang-ulang kepada setiap rasul dan para pengikutnya yang beriman. Seruan ini sangat vital, mengingat beratnya beban dan sulitnya jalan yang ditempuh untuk memelihara jiwa ini supaya teguh dan ridha, selalu berhubungan dengan tujuan jangka panjang, yang juga kelihatan di ufuk yang jauh.

Kesabaran yang baik adalah kesabaran yang menenangkan, yang tidak disertai oleh kemarahan, kegoncangan, dan keraguan terhadap kebenaran janji Allah. Kesabaran orang yang percaya kepada akibat yang bakal terjadi, yang ridha kepada kadar Allah, yang merasakan hikmah di balik ujian-Nya, selalu berhubungan dengan-Nya, dan mengharapkan pahala dari sisi-Nya pada setiap apa yang menimpa dirinya.

Kesabaran macam ini layak mengiringi pelaku dakwah karena dakwahnya adalah dakwah Allah dan dakwah kepada Alah. Tidak ada sedikitpun sahamnya terhadap dakwah itu, dan tanpa tujuan apa pun untuk dirinya di baliknya. Namun, segala sesuatu yang dijumpainya dalam dakwah adalah dalam rangka fi sabilillah, dan segala yang terjadi berkenaan dengan urusan dakwah ini adalah dari Allah. Maka, kesabaran yang baik tersebut serasi benar dengan hal dekat ini, dan serasi dengan perasaannya terhadap hakikat itu di dalam hati nuraninya yang dalam.

Allah adalah pemilik dakwah yang dihadapi oleh para pendustanya. Dia adalah pemilik janji yang mereka dustakan dan mereka minta segera direalisasikan. Dia menentukan segala peristiwa dan menentukan waktu-waktunya menurut kehendak-Nya sesuai dengan kebijaksanaan dan rencana-Nya terhadap alam semesta. Akan tetapi, manusia tidak mengetahui rencana dan ketentuan itu, lalu mereka meminta disegerakan kedatangan janji-Nya. Apabila waktunya lama, maka mereka menjadi ragu-ragu. Kadang-kadang kegoncangan ini merambat ke dalam diri para pelaku dakwah, dan umbul berbagai pikiran dan angan-angan mengenai penyegeraan realisasi janji dan datangnya apa yang dijanjikan itu. Pada saat seperti ini datanglah pemantapan dan pengarahan dari Allah Yang Maha Mengetahui, "Maka, bersabarlah kamu dengan sabar yang baik. "(al-Ma'aarij: 5)

Khithab (firman) ini ditujukan kepada Rasulullah saw. untuk memantapkan hati beliau di dalam menghadapi tantangan dan pendustaan orang kafir. Juga untuk menetapkan hakikat lain, yakni bahwa ketentuan Alah terhadap sesuatu urusan berbeda dengan ketentuan manusia, dan ukurannya yang mutlak tidak sama dengan ukuran manusia yang kecil dan kerdil,

"Sesunguhnya mereka memandang azab itu jauh. Sedangkan, kami memandangnya dekat (pasti terjadi). " (al-Ma'aarij: 6-7)

Kemudian, dilukiskanlah pemandangan-pemandangan hari itu dengan azabnya yang terjadi, yang selama ini mereka pandang jauh kemungkinan terjadinya sedang Allah memandangnya dekat Dilukiskan pemandangan-pemandangan ini di hamparan alam dan di dalam lubuk hati. Pemandangan yang sarat dengan hal-hal yang menakutkan, mengejutkan, membingungkan, dan menggoncangkan, baik di alam semesta maupun di dalam jiwa,

“Pada hari ketika langit menjadi seperti luluhan perak dan gunung-gunung menjadi seperti bulu (yang beterbangan). " (al-Ma'aarij: 8-9)

Al-MuhI adalah luluhan tambang yang kotor seperti kotoran minyak, dan al- 'Ihn adalah bulu-bulu yang beterbangan. Al-Qur'an menetapkan di surah atau ayat lain bahwa peristiwa-peristiwa alam yang sangat besar akan terjadi pada hari itu, yang akan mengubah aturan-aturan benda-benda alarn beserta sifat, hubungan-hubungan, dan ketentuan-ketentuannya Di antara peristiwa ini adalah langit menjadi seperti luluhan tambang.

Nash ini layak dipikirkan oleh para ahli fisika dan tata surya. Menurut pendapat yang kuat di sisi mereka, benda-benda langit tersusun dari tambang tambang yang meleleh hingga mencapai derajat gas, yaitu beberapa fase setelah meleleh dan mencair, yang boleh jadi pada hari kiamat akan padam (sebagaimana firman Allah 'Apabila bintang-bintang berjatuhan’ ) akan dingin sehingga menjadi tambang-tambang yang cair. Dengan demikian, berubahlah sifatnya sekarang, yaitu gas atau  uap.

Bagaimanapun, itu adalah semata-mata kemungkinanyang sangat bermanfaat bagi para peneliti ilmu-ilmu ini untuk memikirkan dan merenungkannya. Adapun kami hanya berhenti pada nash ini saja di dalam mengikuti pemandangan yang menakutkan itu di mana langit menjadi seperti luluhan tambang yang kotor, dan gunung-gunung menjadi seperti bulu-bulu yang beterbangan. Di balik ini kitamerasakan hal yang menakutkan dan membingungkan di dalam hati, sehingga diungkapkan oleh Al-Qur'an dengan ungkapan yang mendalam,

“Tidak ada seorang teman akrab pun menanyakan temannya, sedang mereka saling melihat. Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anak, istri, saudaranya, dan kaum familinya yang melindunginya (di dunia), serta orang-orang di atas bumi seluruhnya. Kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya. " (al-Ma'aarij: 10-14)

Manusia pada hari itu dalam kesedihan yang luar biasa, hingga tidak ada seorang pun yang memperhatikan orang lain, dan sudah tidak ada perasaan yang tertuju kepada orang lain,

“Tidak ada seorang teman akrab pun menanyakan temannya. " (al-Ma'aarij: 10)

Suasana yang menakutkan itu telah memutuskan semua hubungan, dan menahan sefiap orang untuk memperhatikan dirinya sendiri saja, tanpa merambah orang lain. Padahal, mereka saling melihat, seakan-akan mereka sengaja bersikap begitu. Akan tetapi, masing-masing mereka merasa sedih dan setiap hati sibuk sendiri-sendiri. Sehingga, tidak ada seorang teman pun yang tergerak hatinya untuk menanyakan keadaan temannya dan tidak ada seorang pun yang meminta tolong kepada yang lain. Kesusahan menimpa semuanya dan ketakutan menggelayuti semuanya.

Maka, bagaimana Iagi keadaan "orang yang berdosa"? Ketakutan menerpa perasaannya dan melanda jiwanya. Sehingga, seandainya dapat menebus dirinya dari azab hari itu dengan orang-orang yang paling dihormati dan disayangi sekalipun, ia akan melakukannya. Padahal, dalam kehidupan dunia sebelumnya, ia rela mengorbankan diri untuk membela dan melindungi mereka secara timbal balik dan hidup untuk mereka. Bahkan, karena keinginannya yang sangat besar untuk selamat, maka ia kehilangan perasaannya terhadap orang lain secara mutlak. Sehingga, ia ingin menjadikan seluruh manusia sebagai penebus dirinya, asalkan dapat menyelamatkannya.

Inilah gambaran kesedihan yang luar biasa, ketakutan yang membingungkan, dan keinginan yang menggebu-gebu untuk melepaskan diri ! Gambaran yang penuh dengan ketakutan, kesedihan, dan kesusahan, yang terbayang dari celah-celah pengungkapan Al-Qur'an yang mengesankan.

Ketika si pendosa dalam keadaan yang demikian, menghadapi siksaan yang akan ditimpakan, ia mendengarkan kalimat yang memutuskan segala harapan, atau mendengar semua perkataan yang menipu dari dalam jiwa, sebagaimana semua orang mendengar hakikat keadaan hari itu dengan segala sesuatu yang terjadi padanya,

"Sekali-kali tidak dapat. Sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergejolak, yang mengelupaskan kulit kepala, dan yang memangil orang yang membelakang dan berpaling (dari agama), serta (yang memanggil orang) yang mengumpulkan (harta benda) lalu menyimpannya. "(al-Ma'aarij: 15-18)

Sungguh ini merupakan pemandangan yang menjadikan jiwa terbang berserakan, setelah dibingungkan oleh kesedihan dan ketakutan saat itu. "Sekali-kali tidak dapat.” Ini sebuah kalimat untuk menyanggah angan-angan dan keinginan yang mustahil terwujud, untuk menebus diri dengan anak-anak, istri/suami, saudara, keluarga, dan semua orang di muka bumi. "Sesunguhnya neraka itu adalah api yang bergejolak " Api yang bergejolak dan membakar. "Yang mengelupaskan kulit kepala", mengelupaskan kulit dari wajah dan kepala, suatu kerusakan yang menakutkan.

Seakan neraka itu punya jiwa yang hidup, yang turut serta menakut-nakuti dan menyiksa, dengan kehendaknya, "Dan yang memangil orang yang membelakang dan berpaling (dari agama), serta (yang memangil orang yang) mengumpulkan (harta benda) lalu menyimpannya " Neraka memanggilnya, sebagaimana ia dulu dipanggil untuk menerima petunjuk, tetapi ia membelakang dan berpaling. Akan tetapi, pada hari kiamat ini yang memanggilnya adalah neraka Jahannam, dan ia tidak mampu Iagi untuk membelakang dan berpaling. Dahulu ia sibuk dengan mengumpulkan harta dan menyimpannya di dalam bejana (brankas dan sebagainya) sehingga tidak menghiraukan seruan-seruan dakwah. Namun, sekarang seruan ini datangnya dari neraka dan ia tidak dapat Iagi mengabaikannya. la tidak dapat menebus dirinya dengan segala sesuatu yang ada di bumi ini.

Taukid 'penegasan' di dalam surah ini dan surah sebelumnya, demikian juga dalam surah al-Qalam mengenai keengganannya berbuat baik dan tidak maunya menganjurkan manusia untuk memberi makan kepada orang-orang miskin, serta sibuk mengumpulkan harta dan kekayaan di dalam bejana-bejana di samping kekafiran, pendustaan, dan kemaksiatannya, menunjukkan bahwa dakwah di Mekah itu menghadapi suasana khusus. Di sana berkumpul menjadi satu sifat-sifat bakhil, rakus, keinginan kepada kekafiran, kebohongan, dan kesesatan. Sehingga, hal ini memerlukan pengulangan isyarat terhadap kondisi tersebut, dan perlu menakut-nakuti akibatnya. Karena, ia pasti mengundang datangnya azab setelah mereka kafir dan mempersekutukan Alah.

Di dalam surah ini terdapat beberapa isyarat Iain yang menunjukkan makna tersebut, dan menegaskan karakteristik lingkungan Mekah yang dihadapi dakwah Islam saat itu. Mekah saat itu disibukkan dengan aktivitas mengumpulkan harta dan menumpuk kekayaan melalui perdagangan dan praktik riba. Pembesar-pembesar Quraisy adalah para pemilik perdagangan-perdagangan ini dan pemilik kafilah-kafilah yang selalu membawa barang dagangannya pada waktu musim dingin dan musim panas. Mereka melakukan persaingan ketat untuk mendapatkan kekayaan. Jiwa-jiwa mereka sangat kikir hingga menjadikan orang-orang miskin terhalang; dan anak-anak yatim terabaikan.

Karena itu, diulang-ulanglah penyebutan urusan dan berulang-ulang pula peringatan dan kecaman yang diberikan. Naungan dan bayang-bayang AI-Qur’an mengobati kerakusan dan ketamakan ini, dan melancarkan serangan terhadap kedua itu di dalam Iubuk jiwa manusia baik sebelum Fathu Makkah maupun sesudahnya.

Hal itu tampak jelas bagi orang yang memperhatikan pelarangan riba, larangan memakan harta orang Iain dengan cara yang batil, larangan memakan (mempergunakan) harta anak-anak yatim dengan boros dan foya-foya agar segera habis sebelum anak yatim itu menginjak dewasa, dan larangan berlaku aniaya terhadap anak-anak wanita yatim dan memaksanya kawin secara sewenang-wenang karena hendak mendapatkan hartanya. Juga larangan dari membentak si miskin peminta-minta, menekan anak yatim, dan menghalangi orang-orang miskin dari mendapatkan sedekah dan infak, serta sikap yang keras dan kasar Iain yang menunjukkan karakteristik lingkungan itu.

Nah, Al-Qur'an memang merupakan pengarahan abadi untuk mengobati jiwa manusia dalam semua lingkungannya, untuk mengobati penyakit cinta harta, penyakit rakus, penyakit kikir, penyakit ingin memonopolinya sendiri, dan penyakit-penyakit Iain yang senantiasa menggelayuti jiwa manusia dan menawannya dengan ketat AI-Qur'an hendak membebaskannya dari tawanan-tawanan ini, dari ikatan-ikatannya, dan dari belenggu di lehernya, dengan memerangi penyakit-penyakit itu secara berkesinambungan dan mengobatinya dalam masa yang panjang.

Kondisi Jiwa Manusia dalam Menghadapi Kesusahan dan Kesenangan

Selesailah sudah menggambarkan kengerian yang dipampangkan dalam pemandangan hari kiamat dengan segala azabnya itu. Selanjutnya dilukiskanlah hakikat jiwa manusia di dalarn menyikapi kesusahan dan kebaikan atau kesenangan yang dihadapinya, dalam kondisi ketika ada iman dalam jiwa itu dan ketika kosong dari iman. Kemudian diterangkan dan ditetapkan bagaimana jadinya kelak dan di mana tempat kembalinya orang-orang mukmin dan orang-orang yang penuh dosa,

۞ اِنَّ الْاِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًاۙ ١٩ اِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعًاۙ ٢٠ وَّاِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوْعًاۙ ٢١ اِلَّا الْمُصَلِّيْنَۙ ٢٢ الَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَاتِهِمْ دَاۤىِٕمُوْنَۖ ٢٣ وَالَّذِيْنَ فِيْٓ اَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَّعْلُوْمٌۖ ٢٤ لِّلسَّاۤىِٕلِ وَالْمَحْرُوْمِۖ ٢٥ وَالَّذِيْنَ يُصَدِّقُوْنَ بِيَوْمِ الدِّيْنِۖ ٢٦ وَالَّذِيْنَ هُمْ مِّنْ عَذَابِ رَبِّهِمْ مُّشْفِقُوْنَۚ ٢٧ اِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُوْنٍۖ ٢٨ وَّالَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حٰفِظُوْنَۙ ٢٩ اِلَّا عَلٰٓى اَزْوَاجِهِمْ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُمْ فَاِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُوْمِيْنَۚ ٣٠ فَمَنِ ابْتَغٰى وَرَاۤءَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْعَادُوْنَۚ ٣١ وَالَّذِيْنَ هُمْ لِاَمٰنٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رٰعُوْنَۖ ٣٢ وَالَّذِيْنَ هُمْ بِشَهٰدٰتِهِمْ قَاۤىِٕمُوْنَۖ ٣٣ وَالَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُوْنَۖ ٣٤ اُولٰۤىِٕكَ فِيْ جَنّٰتٍ مُّكْرَمُوْنَ ۗ ࣖ ٣٥

"Sesunguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Dan, apabila mendapat kebaikan, ia amat kikir. Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat dan mereka tetap mengerjakan shalatnya; orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta); orang-orang yang mempercayai hari pembalasan; orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya); dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki. Maka, sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa yang mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Juga orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya; orang-orang yang memberikan kesaksiannya, dan orang-orang yang memelihara  shalatnya. Mereka itu (kekal) di surga Iagi dimuliakan. ” (al-Ma'aarij: 19-35)

Gambaran manusia ketika hatinya kosong dari iman, sebagaimana digambarkan oleh Al-Qur'an, adalah gambaran yang mengagumkan. Karena, Al-Qur'an menggambarkannya dengan sangat tepat dan lembut. Juga diungkapkannya dengan ungkapan yang sempurna tentang watak asli makhluk ini, yang tidak ada yang melindunginya dari sifat yang buruk dan menghilangkan sifat tersebut kecuali unsur iman, yang menghubungkannya dengan Sumber yang di sisi-NyaIah ia dapat memperoleh ketenangan. Sumber yang menjadi pegangannya dari kesedihan ketika ia menghadapi keburukan, dan melindunginya dari sifat kikir ketika dia memperoleh kebaikan.

”Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah Iagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah; dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir. ” (al-Ma'aarij : 19-21)

Sungguh seakan-seakan setiap perkataannya merupakan sebuah sentuhan dari goresan indah yang dibuat untuk melukiskan sifat-sifat manusia, dalam tiga ayat pendek dengan kalimat-kalimat singkat, yang membicarakan gambaran itu dan membicarakan kehidupan. Dari celah-celahnya digambarkanlah manusia dengan sifat-sifat dan ciri-ciri tetapnya. Yaitu, ”keluh kesah” ketika ditimpa kesusahan dan kesedihan. Ia mengira bahwa kesedihannya itu bersifat abadi, kekal, dan tiada yang dapat menghilangkannya. Ia juga mengira bahwa masa-masa yang akan datang itu akan terus menjadi petaka baginya. Maka, dipenuhinya hatinya dengan bermacam macam kesedihan, keburukan, dan duka nestapa. Sehingga, ia tidak pernah membayangkan bahwa di sana tidak akan ada keterlepasan dari kesedihan ini. dan ia tidak mengharapkan perubahan dari Allah. Karena itu, ia dimakan oleh kesedihan dan dirobek-robek oleh keluh kesah. Hal itu disebabkan ia tidak berlindung kepada pilar penyangga yang amat kuat bagi azamnya, dan menggantungkan segala cita-cita dan harapan kepada-Nya.

Selain itu, sifat-sifat dan ciri-ciri tetapnya yang lain adalah "sangat kikir” terhadap kebaikan jika ia mendapatkannya. Ia mengira bahwa kebaikan dan keberhasilannya itu adalah karena usaha dan jerih payahnya sendiri. Karena itu, ia lantas bersikap kikir kepada orang lain, dan memonopoli kekayaan itu untuk pribadinya sendiri. Sehingga, jadilah ia sebagai tawanan bagi kekayaannya, dan menjadi budak dari kerakusannya. Hal ini disebabkan ia tidak mengerti hakikat rezeki dan peranannya. Ia tidak melihat kebaikan Tuhan padanya karena sudah terputus hubungannya, dan hatinya sudah kosong dari merasakan keberadaan dan campur tangan-Nya.

Karena itu, ia selalu berkeluh kesah dalam kedua kondisinya. Yaitu, berkeluh kesah di saat susah, dan berkeluh kesah ketika mendapat kebaikan atau kesenangan. Inilah gambaran buruk manusia ketika hatinya kosong dari iman.

Dengan demikian, tampaklah bahwa iman kepada Allah merupakan masalah yang besar bagi kehidupan manusia. Iman bukan sekadar kata yang diucapkan dengan lisan, dan bukan pula sekadar simbol ubudiah yang diperagakan. Tetapi, iman adaIah kondisi jiwa dan manhaj kehidupan, serta pandangan hidup yang sempurna terhadap norma dan nilai, peristiwa-peristiwa, dan semua keadaan.

Ketika hati kosong dari iman yang menegakkan dan meluruskannya ini, maka ia akan senantiasa terombang-ambing, goyah, dan goyang, bagaikan bulu yang diembus angin. Ia akan senantiasa goncang dan takut. Ketika ditimpa kesusahan, ia mengeluh; dan ketika memperoleh kesenangan, ia amat kikir. Adapun jika hati ini disemarakkan dengan iman, maka ia akan senantiasa tenang dan sehat, karena selalu berhubungan dengan sumber segala peristiwa dan pengatur segala keadaan. Ia akan senantiasa tenteram terhadap kekuasaan-Nya, merasakan rahmat-Nya, mampu menerima ujian-Nya, selalu melihat pembebasan-Nya dari kesempitan, dan pemudahan-Nya dari kesulitan. Ia akan selalu menghadap kepada-Nya dengan kebaikan, karena ia tahu bahwa apa yang ia infakkan itu adalah rezeki dari-Nya, dan kelak ia akan mendapatkan balasan dari apa yang diinfakkannya di jalan-Nya, di dunia dan di akhirat.

Maka, iman adalah suatu usaha di dunia yang terwujud hasilnya sebelum mendapatkan balasan di akhirat, yang menimbulkan kegembiraan, ketenangan, kemantapan, dan kestabilan selama perjalanan hidupnya di dunia.

Sifat-sifat orang-orang mukmin yang dikecualikan dari sifat-sifat umum manusia itu dijelaskan batasan-batasannya dalam rangkaian ayat berikutnya, "Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat dan mereka tetap mengerjakan shalatnya. "(al-Ma'aarij: 22-23)

Shalat itu lebih sekadar rukun Islam dan simbol iman. la adalah sarana berhubungan dengan Allah dan tindak lanjut dari pengintaian (kesadaran batinnya) itu. Shalat adalah lambang ubudiah yang tulus, sebagai implementasi maqam rububiyyah dan maqam ubudiah dalam bentuk tertentu. Adapun sifat kekekalan yang dikhususkan untuk shalat di sini, "mereka tetap mengerjakan shalatnya", memberikan gambaran tentang keajegan dan keberlangsungannya. Maka, shalatnya ini adalah shalat yang tidak pernah terputus dengan ditinggalkannya karena sembrono atau malas. Dengan keajegannya menunaikan shalat ini, berarti dia terus-menerus berhubungan kepada AIIah tanpa pernah terputus. Rasulullah saw. selalu melakukan suatu ibadah dengan mantap, yakni konstan (ajeg). Beliau bersabda,

« وَإِنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ تَعَالَى مَا دَامَ وَإِنْ قَلَّ »

"Amalan yang paling disenangi Allah ialah apa yang dilakukan secara ajeg (rutin) meskipun hanya sedikit. " (HR enam ahli hadits dari Aisyah ra.)

Hal ini untuk menunjukkan perhatian terhadap sifat kemantapan, keseriusan, dan kesungguhan dalam berhubungan dengan Allah, sebagaimana hubungan ini pun harus dihormati. Hubungan ini bukanlah permainan yang dengan begitu saja boleh disambung dan diputuskan sesuai selera!

"Orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta). " (al-Ma'aarij: 24-25)

Yaitu, zakat secara khusus, dan sedekah-sedekah yang dimaklumi ukurannya, yang merupakan hak pada harta orang-orang mukmin. Atau, mungkin maknanya lebih lengkap dan lebih besar daripada ini. Yakni, mereka menjadikan bagian tertentu pada hartanya, karena mereka merasa bahwa itu adalah hak orang miskin baik yang meminta-meminta maupun tidak. Tindakannya ini membuktikan terlepasnya dari sifat kikir dan kebebasannya dari sifat rakus. Hal ini juga menunjukkan adanya kewajiban orang yang mampu terhadap yang tidak mampu, di kalangan umat yang saling menjamin dan saling menanggung.

Si miskin yang meminta-minta dan si papa yang tidak meminta-minta, tanpa menyatakan apa kebutuhannya, melainkan ia tetap tidak mau meminta-minta. Atau, barangkali ia adalah orang yang tertimpa bencana, lantas menjadi miskin papa, namun ia tetap tidak mau meminta-minta.

Perasaan dan kesadaran tentang adanya hak di dalam hartanya bagi orang miskin yang meminta-minta dan yang tidak meminta-minta, adalah kesadaran tentang adanya karunia Allah pada satu sisi, dan adanya unsur peri kemanusiaan pada sisi lain, yang melebihi keterbebasan perasaannya dan belenggu kekikiran dan kerakusan. Pada waktu yang sama, hal itu menunjukkan adanya rasa kesetiakawanan sosial dan rasa senasib sepenanggungan dengan umatnya. Maka, ini adalah kefardhuan yang memiliki implikasi yang Iuas dan beraneka macam, baik dalam hati sanubari maupun dalam dunia realita.

Al-Qur'an menyebutnya di sini, Iebih dari sekadar melukiskan sifat dan ciri-ciri jiwa yang beriman. Akan tetapi, ia adalah salah satu mata rantai pengobatan penyakit kikir dan tamak dalam surah ini.

“Orang-orang yang mempercayai hari pembalasan. " (al-Ma'aarij: 26)

Sifat ini. berhubungan langsung dengan tema sentral surah, dan pada waktu yang sama ia melukiskan garis pokok ciri-ciri jiwa yang beriman. Maka, mempercayai hari pembalasan adalah separuh dari iman, dan ia memiliki pengaruh yang pasti terhadap manhaj kehidupan, baik dalam perasaan maupun dalam perilaku. Timbangan di tangan orang yang mempercayai hari pembalasan itu berbeda dengan timbangan yang ada di tangan orang yang mendustakan atau meragukannya. Yaitu, timbangan kehidupan, timbangan nilai, timbangan amal, dan timbangan peristiwa-peristiwa.

Orang yang percaya kepada hari pembalasan beramal dengan memperhatikan timbangan langit, bukan timbangan bumi; dan hisab (perhitungan) akhirat, bukan hisab dunia. Ia terima semua peristiwa yang baik dan yang buruk dengan memperhitungkannya sebagai pendahuluan yang kelak akan diperoleh balasannya di sana nanti. Maka, ia akan menyandarkan kepadanya semua hasil yang dinantikan ketika ia menimbang dan menakarnya.

Sedangkan, orang yang mendustakan hari pembalasan, menghitung segala sesuatu dengan perhitungan sesuatu yang terjadi dalam kehidupan dunia yang singkat dan terbatas. Ia bergerak dan beraktivitas untuk sesuatu yang terbatas di bumi yang terbatas dan dalam masa yang terbatas oleh usia ini pula. Karena itu, hisabnya sering berubah-ubah, berbeda antara akibat dan pertimbangannya, dan berakhir pada akibat fatal yang melebihi keterbatasan ruang dan waktu yang memang terbatas ini. Akibatnya, ia sengsara, miskin, tersiksa, dan goncang hatinya. Karena, apa yang terjadi pada bagian kehidupan yang dipenuhi dengan angan-angan, perhitungan-perhitungan, dan perkiraan-perkiraannya ini sering tidak menenangkan hati, tidak menyenangkan, tidak adil, dan tidak rasional, selama tidak disadarkan pada bagian Iain yang Iebih besar dan Iebih panjang yakni iman kepada hari pembalasan.

Maka, celakalah orang yang tidak menghitung dengan perhitungan akhirat, atau mungkin juga akan menyengsarakan orang di sekitarnya. Tidak akan dapat tegak lurus kehidupannya yang tinggi dan tidak dijumpai balasannya di dunia ini. Karena itu, percaya kepada hari pembalasan merupakan bagian iman yang dapat menegakkan manhaj kehidupan dalam Islam.

"Orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya). " (al-Ma'aarij: 27-28)

Ini adalah tingkatan yang Iain di balik kepercayaan terhadap hari pembalasan. Yaitu, tingkat sensitivitas yang menggetarkan, kewaspadaan yang penuh kesadaran, dan perasaan mengenai kekurangan dirinya di sisi Allah padahal dia banyak dan rajin beribadah. Ia takut sewaktu-waktu hatinya berpaling dan ia layak mendapatkan azab. Karena takut, ia lantas menghadapkan diri kepada Allah untuk mendapatkan perlindungan dan pemeliharaan.

Rasulullah saw., orang yang tiada bandingnya tentang kedekatannya kepada Allah dan mengetahui bahwa Allah telah memilih dan memeliharanya, selalu merasa takut terhadap azab Allah. Beliau yakin bahwa amalan beliau saja tidak dapat melindunginya dan memasukkannya ke surga kecuali dengan kuunia dan rahat Allah. Beliau bersabda kepada sahabat-sahabatnya,

« لَنْ يُدْخِلَ الْجَنَّةَ أَحَدًا عَمَلُهُ »قَالُوا : وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ ؟قَالَ : وَلَا أَنَا، إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللهُ بِرَحْمَتِهِ

"Amal seseorang tidak akan dapat memasukkannya ke surga. " Para sahabat bertanya, 'Tidak juga engkau wahai Rasulullah. Beliau menjawab, 'Tidak juga aku, kecuali karena Allah meliputiku dengan rahmat-Nya. " (HR Bukhari, Muslim, dan an-Nasa'i)

Di dalam firman Allah, "Sesunguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya)", terdapat isyarat yang menunjukkan sensitivitas terus-menerus yang tidak pernah teralpakan sedetik pun. Karena, hal-hal yang mewajibkan azab dapat saja datang sewaktu-waktu sehingga yang bersangkutan lantas layak mendapatkan azab. Allah tidak menuntut kepada manusia melainkan sensitivitas dan kesadaran ini. Apabila mereka dikalahkan oleh kelemahannya, maka rahmat Allah itu luas dan ampunan-Nya senantiasa siap, sedang pintu tobat-Nya tidak pernah tertutup.

Demikianlah penegakan perkara dalam Islam, antara kelalaian dan kegoncangan, dan Islam bukanIah kelalaian dan kegoncangan ini. Sedangkan, hati yang selalu berhubungan dengan Allah akan senantiasa merasa takut dan berharap serta merasa tenang bersama rahmat Allah dalam kondisi apa pun,

"Dan, orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki. Maka, sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. "(al-Ma'aarij : 29-31)

Yang dimaksudkan oleh ayat-ayat ini adalah kesucian ptibadi dan masyarakat. Karena, Islam menghendaki masyarakat yang suci bersih, indah, dan transparan. Masyarakat yang siap menunaikan tugas tugas hidupnya, dan memenuhi panggilan fitrahnya. Akan tetapi, tanpa melakukan demoralisasi yang menghilangkan rasa malu yang indah, dan tanpa kebandelan yang mematikan transparansi yang berslh. Masyarakat yang ditegakkan di atas sendi kekeIuargaan syar'iyyah yang kuat dan tegak, dan rumah tangga yang transparan dan jelas tanda-tandanya. Masyarakat yang setiap anak mengetahui siapa bapaknya, dan kelahirannya tidak memalukan, bukan masyarakat yang perasaan malunya telah sirna dari wajah dan jiwanya. Namun, hubungan biologis itu harus dilakukan berdasarkan prinsip yang suci dan transparan untuk jangka panjang dengan sasaran jelas, yang membangkitkan semangat untuk menunaikan tugas kemanusiaan dan sosial, bukan semata-mata memenuhi naluri kehidupan dan hasrat biologis.

Karena itulah, di Al-Qur'an menyebutkan sifat-sifat orang-orang yang beriman, "Dan, orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki. Maka, sesunguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa yang mencari di balik itu, maka mereka itulah orangorangyang melampaui batas. "

Al-Qur' an menetapkan kesucian hubungan biologis dengan istri dan budak, yang diperoleh dengan jalan yang dibenarkan syara' dan diakui Islam. Yaitu, budak yang diperoleh sebagai tawanan di dalam perang fi sabilillah. Hanya jalan peperangan inilah satu-satunya yang diakui oleh Islam, dan sebagai dasar hukum tawanan ini ialah ayat Al-Qur'an yang tersebut dalam surah Muhammad,

"Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang), maka pancunglah batang leher mereka. Sehinga, apabila kamu telah mengalahkan mereka, maka tawanlah mereka. Sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti. " (Muhammad: 4)

Tetapi, adakalanya terdapat tawanan yang tidak dibebaskan dan tidak ditebus karena kondisi tertentu. Dengan demikian, ia menjadi budak apabila si tentara memperbudak tawanan kaum muslimin dalam bentuk perbudakan apa pun, walaupun disebut dengan istilah Iain. Nah, ketika itulah Islam memperbolehkan bagi pemiliknya saja untuk menggauli budak tersebut. Sedangkan, masalah pembebasannya diserahkan kepada yang bersangkutan dengan berbagai cara yang disyariatkan oleh Islam untuk mengalirkan sumber ini.

Islam menegakkan prinsip-prinsipnya dengan jelas dan bersih. Ia tidak memberi peluang kepada tawanan-tawanan wanita itu untuk melakukan hubungan seks yang kotor sebagaimana yang biasa terjadi dalam peperangan-peperangan zaman dahulu maupun sekarang. Ia tidak pula memanipulasi dengan menyebut mereka sebagai orang merdeka padahal hakikatnya adalah budak.

“Barangsiapa yang mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. "

Dengan demikian, tertutuplah semua pintu hubungan seks yang kotor. Yaitu, hubungan seks yang tidak melalui dua pintu yang jelas dan terang ini (yaitu perkawinan dan perbudakan yang diperoleh dari peperangan). Islam tidak memperbolehkan manusia memenuhi fungsi naluriahnya dengan cara yang kotor, melalui penyimpangan-penyimpangan. Islam itu bersih, jelas, dan lurus.

“Juga orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janji-janjinya. " (al-Ma'aarij : 32)

Ini termasuk standar akhlak yang di atasnya Islan menegakkan tatanan kemasyarakatannya.

Memelihara amanat dan janji di dalam Islam dimulai dengan memelihara amanat terbesar yang telah ditawarkan Allah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Tetapi, karena mereka menolak untuk memikulnya dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, maka dipikullah arnanat itu oleh manusia Hal ini sebagaimana tersebut dalam surah al-Ahzab ayat 72.

Amanat tersebut adalah amanat akidah dan komitmen padanya secara sukarela tanpa ada paksaan.  pun perjanjian pertama yang ditetapkan atas fitrah manusia ketika mereka di dalam sulbi adalah bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan mereka, dan mereka naik saksi atas penciptaan mereka pada perjanjian ini.

Dari amanat dan perjanjian ini timbullah semua amanat dan perjanjian di dalam pergaulan dunia. Islam sangat ketat terhadap masalah amanat dan janji ini. Ia menyebutkannya secara berulang-ulang dan  ipertegasnya, supaya masyarakat ditegakkan di atas landasan yang kokoh dari akhlak, kepercayaan, dan kemantapan. Juga menjadikan penunaian amanat dan perjanjian ini sebagai ciri jiwa yang beriman, sebagaimana ia menjadikan pengkhianatan terhadap amanat dan perjanjian ini sebagai ciri jiwa yang munafik dan kafir. Masalah ini disebutkan dalam banyak tempat di dalam Al-Qur' an dan As-Sunnah sehingga tidak dapat disangsikan lagi betapa pentingnya masalah ini dalam tradisi Islam.

"Orang-orang yang memberikan kesaksiannya. " (al-Ma'aarij: 33)

Allah menggantungkan banyak hak kepada penunaian kesaksian ini. Bahkan, pelaksanaan hudud (hukum had) pun digantungkan pada adanya kesaksian ini. Karena itulah, Allah mempertegas penunaian kesaksian ini dan tidak dibolehkan mengabaikan kesaksian sama sekali, serta tidak dibolehkan menyembunyikan kesaksian di dalam sidang peradilan. Di antara bentuk pemberian kesaksian itu adalah menyampaikannya secara benar tanpa ada kecenderungan kepada salah satu pihak. Bahkan, Allah menghubungkan penunaian kesaksian ini dengan ketaatan kepada-Nya sebagaimana firman-Nya,

“Tegakkanlah kesaksian karena Allah. "(ath-lhalaq: 2)

Di sini Allah menjadikan penunaian kesaksian  sebagai sifat orang-orang beriman yang merupakan salah satu dari sekian bentuk amanat, yang disebutkan sendiri di sini untuk menunjukkan betapa pentingnya hal ini.

Sebagaimana dimulainya penyebutan ciri-ciri jiwa yang beriman dengan shalat, maka penyebutan ini juga diakhiri dengån shalat,

"Dan, orang-orang yang memelihara shalatnya. " (al-Ma'aarij: 34)

Ini adalah sifat yang berbeda dengan sifat kekekalan yang disebutkan pada permulaan tadi. Sifat ini terwujud dengan memelihara shalat pada waktunya, sesuai dengan kefardhuan-kefardhuannya, memenuhi sunnah-sunnahnya, sesuai dengan aturannya, dan ditunaikan dengan ruhnya. Maka, mereka tidak meninggalkannya karena mengabaikannya atau malas, dan tidak menyia-nyiakannya tanpa menyesuaikannya dengan aturan-aturannya. Disebutnya shalat pada permulaan dan penutupan tema ini menunjukkan betapa pentingnya shalat itu, 'dan dengan penyebutan shalat tersebut diakhirilah semua sifat dan ciri-ciri orang-orang yang beriman.

Setelah itu ditetapkanlah tempat kembali golongan manusia beriman setelah sebelumnya ditetapkan tempat kembalinya golongan lain (yang tidak beriman) ,

"Mereka itu (kekal) di surga lagi dimuliakan. " (al-Ma'aarij: 35)

Kalimat singkat dalam nash ini menghimpun antara jenis kenikmatan indrawi dengan jenis kenikmatan spiritual. Mereka berada di dalam surga, dan mereka mendapatkan kemuliaan di sana. Maka, terkumpullah bagi mereka kelezatan dengan kenikmatan disertai dengan kemuliaan, sebagai balasan atas akhlaknya yang mulia, yang menjadi ciri khas orang-orang yang beriman.

Gangguan Kafir Mekah kepada Rasulullah saw.

Paragraf berikutnya menampilkan sebuah pemandangan tentang dakwah di Mekah. Di sana, kaum musyrikin mempercepat langkahnya menuju tempat Rasulullah saw. sedang membaca Al-Qur' an. Kemudian mereka berpencar di sekitar beliau dengan berkelompok-kelompok. Maka Allah menganggap buruk kebergegasan dan berkumpulnya mereka tanpa ada keinginan untuk mendapatkan petunjuk pada apa yang mereka dengarkan itu,

فَمَالِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا قِبَلَكَ مُهْطِعِيْنَۙ ٣٦ عَنِ الْيَمِيْنِ وَعَنِ الشِّمَالِ عِزِيْنَ ٣٧

"Mengapakah orang-orang kafir itu bersegera datang ke arahmu, dari kanan dan dari kiri dengan berkelompok-kelompok ?" (al-Ma'aarij.: 36-37)

"Al-muhthi  " ialah orang yang melangkah dengan cepat sambil mengulurkan lehernya seperti ditarik kendalinya. Sedangkan, "'izin" adalah bentuk jamak dari “izali” seperti kata "fi'ah' baik dalam wazan (timbangan kata) maupun maknanya. Pengungkapan dengan kata ini adalah celaan yang samar mengenai gerakan mereka yang meragukan. Juga untuk menggambarkan gerakan dan keadaan yang menjadi lengkap, dan menunjukkan keheranan terhadap sikap mereka, sekaligus mempertanyakan keadaan mereka. Mereka berbegas-gegas menuju Rasulullah saw. itu bukannya untuk mendengarkan (bacaan AI-Qur'an) dan mencari petunjuk. Akan tetapi, mereka hanya hendak muncul secara mengejutkan untuk mengacaukan. Kemudian mereka kembali berkumpul dengan sesama kelompok mereka untuk membicarakan tipu daya selanjutnya dan menangkal apa yang mereka dengar itu. Mengapa mereka itu?

اَيَطْمَعُ كُلُّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ اَنْ يُّدْخَلَ جَنَّةَ نَعِيْمٍۙ ٣٨

 "Adakah setiap orang dari orang-orang kafir itu ingin masuk ke dalam surga yang penuh kenikmatan.” (al-Maa'rij: 38)

Padahal mereka berada dalam kondisi yang tidak mengantarkannya ke surga yang penuh kenikmatan, malah mengantarkan mereka ke neraka yang apinya menyala-nyala tempat kembalinya orang-orang yang berdosa!

Atau, barangkali mereka mengira bahwa diri mereka adalah agung di sisi Allah, lantas mereka kafir dan mengganggu Rasul, serta mendengarkan Al-Qur’an dan berbisik-bisik satu sama lain untuk membuat tipu daya Kemudian mereka masuk surga, karena di dalam timbangan Allah mereka itu adalah sesuatu yang agung.

"Sekali-kali tidak. Ini sebuah perkataan untuk menghardik dan merendahkan mereka.

كَلَّاۗ اِنَّا خَلَقْنٰهُمْ مِّمَّا يَعْلَمُوْنَ ٣٩

"Sesungguhnya Kami ciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui (air mani). " (al-Ma'aarij: 39)

Mereka mengetahui dari apa mereka diciptakan. Yaitu, dari air hina yang sudah mereka kenal. Ungkapan Al-Qur’an yang indah ini memberikan sentuhan kepada mereka dengan sentuhan yang samar dan dalam. Dengan sentuhan ini dihapusnya kesombongan dan dijungkirkan kecongkakan mereka, tanpa menggunakan sepatah kata pun yang tidak mengenai sasaran, dan tidak menggunakan satu ungkapan pun yang melukai. Akan tetapi, isyarat sepintas ini menggambarkan kerendahan, tidak adanya perhatian, dan ketidakberhargaan dengan gambaran yang sangat sempurna. Maka, bagaimana mereka ingin masuk surga yang penuh kenikmatan itu, sedangkan mereka kafir dan tindakannya amat buruk? Mereka diciptakan dari sesuatu yang mereka ketahui. Dalam pandangan Allah, mereka itu terlalu hina untuk bertindak lancang terhadap-Nya dan merobek sunnah-Nya dalam pembalasan yang adil dengan api yang menyala-nyala lantas diganti dengan surga yang penuh kenikmatan.

Selanjutnya, di dalam menghinakan urusan mereka mengecilkan keadaan mereka, dan menjungkirkan kesombongan mereka, AI-Qur'an menetapkan bahwa Allah berkuasa untuk menciptakan kaum yang lebih baik daripada mereka dan mereka (kaum yang baru) itu tidak lemah serta dapatpergi tanpa terkena balasan azab yang pedih,

فَلَآ اُقْسِمُ بِرَبِّ الْمَشٰرِقِ وَالْمَغٰرِبِ اِنَّا لَقٰدِرُوْنَۙ ٤٠ عَلٰٓى اَنْ نُّبَدِّلَ خَيْرًا مِّنْهُمْۙ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوْقِيْنَ ٤١

"Maka, Aku bersumpah dengan Tuhan Yang Mengatur tempat terbit dan terbenamnya matahari, bulan dan bintang bahwa sesungguhnya Kami benar-benar Mahakuasa untuk mengganti (mereka) dengan kaum yang lebih baik dari mereka, dan Kami sekali-kali tidak dapat  dikalahkan. " (al-Ma'aarij: 40-41)

Masalah ini sebenarnya tidak memerlukan sumpah. Akan tetapi, penyebutan tempat terbit dan terbenamnya matahari mengesankan agungnya Sang Maha Pencipta "Masyaariq' dan "maghaarib" (yang diterjemahkan dengan tempat terbit dan terbenamnya matahari) di sini boleh jadi yang dimaksudkan adalah tempat-tempat terbitnya bintang di timur dan di barat yang banyak jumlahnya di alam semesta yang luas ini, sebagaimana boleh jadi yang dimaksudkan adaIah belahan timur dan belahan barat yang berkesinambungan di hamparan bumi ini. Karena, timur dan barat senantiasa berjalan silih berganti setiap waktu di tengah-tengah perputaran bumi pada porosnya dan dalam mengelilingi matahari yang terbit di sebelah timur dan tenggelam di sebelah barat. Apa pun yang dimaksud dengan masyaariq dan maghaarib ini, hal ini mengesankan di dalam hati betapa besarnya alam semesta, dan menunjukkan betapa agungnya Penciptanya. Nah, kalau begitu, apakah urusan makhluk yang diciptakan dari sesuatu yang sudah mereka ketahui itu memerlukan sumpah dengan Tuhan Yang Mengatur tempat terbit dan tenggelamnya matahari, sedangkan Allah Mahakuasa untuk menciptakan kaum yang lebih baik daripada mereka, dan mereka sendiri tidak dapat mendahului-Nya, tidak dapat lepas dari-Nya, dan tidak dapat lari dari tempat kembali yang sudah dipastikan bagi mereka?!

Biarkan Mereka Menghadapi Risiko Perbuatannya di Akhirat Nanti

Ketika pembicaraan sampai pada bagian ini, setelah melukiskan azab yang mengerikan pada hari yang disaksikan itu, dan setelah melukiskan kemuliaan nikmat bagi orang-orang mukmin dan kehinaan keadaan orang-orang kafir, maka ayat-ayat berikutnya ditujukan kepada Rasulullah saw. agar membiarkan mereka menghadapi hari kiamat dan azab itu. Ialu dilukiskanlah pemandangan mereka di sana dengan pemandangan yang menyedihkan dan penuh kehinaan.

فَذَرْهُمْ يَخُوْضُوْا وَيَلْعَبُوْا حَتّٰى يُلٰقُوْا يَوْمَهُمُ الَّذِيْ يُوْعَدُوْنَۙ ٤٢ يَوْمَ يَخْرُجُوْنَ مِنَ الْاَجْدَاثِ سِرَاعًا كَاَنَّهُمْ اِلٰى نُصُبٍ يُّوْفِضُوْنَۙ ٤٣ خَاشِعَةً اَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ۗذٰلِكَ الْيَوْمُ الَّذِيْ كَانُوْا يُوْعَدُوْنَ ࣖ ٤٤

"Maka, biarkanlah mereka tengelam (dalam kebatilan) dan bermain-main sampai mereka menjumpai hari yang diancamkan kepada mereka.  hari mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala (sewaktu di dunia), dalam keadaan mereka menekurkan pandangannya (serta) diliputi kehinaan. Itulah hari yang dahulunya diancamkan kepada maeka. "(al-Ma'aarij: 42-44)

Khithab ini mengandung penghinaan terhadap keadaan mereka dan ancaman untuk mereka, yang menimbulkan rasa takut. Pemandangan mereka dengan segala keadaan dan gerak mereka yang demikian pada hari kiamat itu juga menimbulkan rasa  takut, sebagaimana pengungkapan tentang pelecehan dan penghinaan terhadap mereka itu sangat sesuai dengan kesombongan diri mereka dengan kedudukan mereka

Mereka yang keluar dari kubur dengan bergegas-gegas itu seakan-akan sedang pergi kepada berhala-berhala sembahan mereka. Penghinaan yang demikian ini sesuai sekali dengan keadaan mereka sewaktu di dunia. Dahulu mereka bergegas-gegas menuju patung-patung mereka pada hari-hari besar, dan mereka berkumpul di sekitarnya. Maka, kini mereka sedang bergegas-gegas, tetapi keadaan pada hari ini jauh berbeda dengan hari itu!

Kemudian, lengkaplah penyebutan keadaan mereka dengan firman-Nya,

"Dalam keadaan mereka menekurkan pandangannya (serta) diliputi kehinaan. “

Dari celah-celah kalimat ini kita melihat keadaan mereka secara lengkap. Dan, dari roman muka mereka tampaklah bagi kita suatu gambaran yang jelas, gambaran manusia yang hina dan menderita Karena sewaktu di dunia, mereka suka mengada-ada dan bermain-main, maka pada hari ini mereka menjadi orang yang hina dan pesakitan.

"1tulah hari yang dahulunya diancamkan kepada mereka. "

Yang selalu mereka sangsikan, mereka dustakan, dan mereka minta segera didatangkan!

Dengan demikian, serasilah antara permulaan dan penutupan surah. Sempurnalah mata rantai pengobatan panjang tentang persoalan hari ke bangkitan dan pembalasan. Maka, selesailah salah satu putaran dari perjalanan peperangan yang panjang antara pandangan hidup jahiliah dan pandangan hidup islami.

No comments:

Post a Comment

Tafsir Surah Al-Ma'arij