Nasab (Garis Keturunan) dan Kedudukannya:
Beliau
adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim. Garis
keturunannya bertemu dengan Rasulullah —shallallahu 'alaihi wa sallam— pada
kakek keenam, yaitu Murrah. Beliau dijuluki Abu Utsman bin Abi Quhafah,
sedangkan ibunya adalah Ummul Khair Salma binti Sakhr, yang berasal dari
bani Taim dan merupakan putri paman ayahnya (sepupu ayahnya).
Beliau
termasuk di antara kaum bangsawan Quraisy, pemimpin mereka, tokoh terpandang,
serta ahli syura (penasihat) mereka. Beliau lahir pada tahun ke-51 sebelum
Hijrah, yang berarti beliau lebih muda dari Rasulullah —shallallahu 'alaihi wa
sallam— sekitar dua tahun beberapa bulan. Kelahiran beliau terjadi pada tahun
ketiga dari Tahun Gajah.
Ibnu
Hisyam menyebutkan dalam As-Sirah an-Nabawiyyah bahwa Abu Bakar adalah
orang Quraisy yang paling paham tentang silsilah nasab Quraisy dan yang paling
berilmu tentang sejarah mereka. Beliau memiliki akhlak yang luhur; orang-orang
Quraisy biasa mendatangi dan menyukai beliau karena beberapa hal, di antaranya
karena ilmunya, perdagangannya, dan kepribadiannya yang menyenangkan dalam
majelis. Beliau dijuluki "Atiq". Al-Mas'udi menyebutkan dalam Muruj
adz-Dzahab bahwa penamaan ini adalah kabar gembira dari Rasulullah
—shallallahu 'alaihi wa sallam— baginya bahwa beliau adalah orang yang
dibebaskan Allah dari api neraka (Atiqun minan-nar). Al-Mas'udi
menguatkan alasan ini, meski ia juga menukil alasan lain bahwa beliau dinamakan
demikian karena kemuliaan (kebebasan) leluhur dari pihak ibunya, namun pendapat
tersebut dinilai lemah.
Akan
tetapi, Ibnu Hajar dalam Al-Ishabah mengatakan: "Abu Bakar di masa
Jahiliyah dipanggil Abdul Ka'bah, ada pula yang mengatakan Abdul Lat atau Abdul
Uzza. Lalu Rasulullah —shallallahu 'alaihi wa sallam— menamainya Abdullah
karena beliau adalah sahabatnya. Beliau dijuluki Al-Atiq karena ibunya
setiap kali melahirkan anak, anak tersebut tidak bertahan hidup lama. Maka
ibunya menghadapkannya ke Ka'bah dan berdoa: 'Ya Allah, sesungguhnya ini adalah
anak yang Engkau bebaskan (Atiq-mu) dari kematian'."
Hal
yang masyhur tentang beliau adalah bahwa beliau tidak pernah minum khamar di
masa Jahiliyah. Pernah ditanyakan kepadanya: "Apakah engkau pernah minum
khamar di masa Jahiliyah?" Beliau menjawab: "Aku berlindung kepada
Allah." Ditanyakan lagi: "Mengapa?" Beliau menjawab: "Aku
menjaga kehormatan diriku (muru’ah) dan menjaga harga diriku, karena
meminum khamar itu melenyapkan harga diri dan kehormatan."
Abu
Nu’aim meriwayatkan dari Aisyah —radhiyallahu 'anha— yang berkata tentang
ayahnya: "Sungguh Abu Bakar telah mengharamkan khamar bagi dirinya sendiri
di masa Jahiliyah."
Keislamannya:
Abu
Bakar sedang dalam perjalanan dagang ke Syam dan kembali bersama rombongan
kafilah menuju Mekkah. Saat itu Allah telah memilih Muhammad —shallallahu
'alaihi wa sallam— untuk mengemban risalah, sementara Abu Bakar sedang menahan
air matanya (karena rindu atau firasat). Di pintu masuk Mekkah, mereka ditemui
oleh sekelompok kecil orang yang dipimpin oleh Abu Jahal (Amru bin Hisyam) dan
mereka saling berangkulan.
Lalu
Abu Jahal berbicara kepada Abu Bakar: "Apakah mereka sudah menceritakan
kepadamu tentang sahabatmu itu, wahai Atiq?" (Abu Bakar memang dipanggil
Atiq). Abu Bakar menjawab: "Maksudmu Muhammad Al-Amin?" Abu Jahal
menjawab: "Ya, maksudku yatim dari Bani Hashim." Terjadilah dialog
singkat di antara keduanya. Abu Bakar bertanya: "Apakah engkau mendengar
sendiri apa yang ia katakan?" Abu Jahal menjawab: "Ya, aku
mendengarnya, dan seluruh orang juga mendengar—apa yang ia katakan...? Ia
berkata bahwa di langit ada Tuhan yang mengutusnya kepada kita agar kita
menyembah Allah dan meninggalkan apa yang disembah nenek moyang kita...!"
Abu Bakar bertanya: "Apakah ia berkata bahwa Allah memberikan wahyu
kepadanya?"
Abu
Jahal menjawab: "Ia berkata bahwa Jibril mendatanginya di Gua Hira."
Maka wajah Abu Bakar bersinar terang laksana matahari dan berkata dengan
tenang: "Jika benar ia mengatakannya, maka sungguh ia telah berkata
benar..." Bumi terasa berputar bagi Abu Jahal, langkah kakinya goyah,
dan tubuhnya hampir tersungkur di atas kedua kakinya yang gemetar. Orang-orang
menyampaikan perkataan Abu Bakar dari satu orang ke orang lainnya hingga suara
mereka berdengung laksana dengungan lebah. Demikianlah Abu Bakar membenarkan
Nabi —shallallahu 'alaihi wa sallam— sebelum beliau bertemu dan mendengar
langsung darinya, di mana beliau berkata kepada orang-orang yang bertanya dan
ragu: "Jika ia berkata demikian, maka ia benar."
Tak
lama kemudian, Abu Bakar pergi ke rumah Rasulullah —shallallahu 'alaihi wa
sallam— di mana beliau sedang bersama istrinya, Khadijah, yang merupakan orang
pertama di semesta ini yang masuk Islam bersamanya dan beriman kepadanya. Abu
Bakar mengetuk pintu.
Rasulullah
berdiri dan memanggil Khadijah: "Itu Atiq, wahai Khadijah."
Rasulullah bergegas menemui sahabatnya dan terjadilah pembicaraan di antara
mereka secepat dan sejernih cahaya.
Abu
Bakar bertanya: "Apakah benar apa yang engkau beritakan kepada
orang-orang, wahai saudaraku bangsa Arab?"
Rasulullah
balik bertanya: "Apa yang mereka beritakan kepadamu?"
Abu
Bakar berkata: "Mereka bilang bahwa Allah mengutusmu kepada kami agar kami
menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun."
Nabi
bertanya: "Dan apa jawabanmu kepada mereka, wahai Atiq...?"
Abu
Bakar berkata: "Aku katakan kepada mereka: Jika ia berkata demikian, maka
ia benar."
Mata
Rasulullah berlinang air mata karena rasa syukur dan bahagia. Beliau merangkul
sahabatnya dan mencium keningnya. Beliau pun mulai menceritakan bagaimana wahyu
datang di Gua Hira dengan firman-Nya: "Bacalah dengan (menyebut) nama
Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Mulia, yang mengajar (manusia) dengan
perantaraan kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya."
(Al-Alaq: 1-5).
Abu
Bakar menundukkan kepalanya dengan khusyuk dan takwa, sebagai penghormatan
terhadap panji Allah yang ia lihat berkibar tinggi di hadapannya melalui
ayat-ayat yang diturunkan ini. Kemudian beliau mengangkat kepalanya, memegang
erat tangan kanan Rasulullah —shallallahu 'alaihi wa sallam— dengan kedua
tangannya dan berkata: "Aku bersaksi bahwa engkau jujur lagi
terpercaya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah... dan aku bersaksi
bahwa engkau adalah utusan Allah."
Akhlak
dan Sifat-sifatnya:
Beliau
adalah manusia yang paling tawadhu (rendah hati) dan paling zuhud dalam hal
pakaian, makanan, dan minuman. Di masa kekhalifahannya, beliau hanya mengenakan
kain kasar (shamlah) dan jubah (aba'ah). Beliau tidak peduli
dengan kemewahan para pemimpin Arab, bangsawan, maupun raja-raja Yaman yang
mengenakan pakaian sutra dan kain berhias emas serta mahkota. Jabatan yang
beliau emban tidak sedikit pun mengubah ketawadhuannya dan akhlaknya. Hal ini
memberikan pengaruh besar bagi para bangsawan tersebut saat mereka melihat
kezuhudan, kesederhanaan pakaian, kewibawaan, dan kharisma beliau, sehingga
mereka pun menanggalkan kemewahan lahiriah yang mereka kenakan.
Suatu
hari beliau terlihat di salah satu pasar Madinah dengan kulit domba tersampir
di pundaknya. Keluarganya marah melihat hal itu dan berkata: "Sesungguhnya
ini mengurangi kewibawaan kita di antara kaum Muhajirin dan Ansar." Beliau
menjawab kepada mereka: "Apakah kalian ingin aku menjadi penguasa yang
sombong di masa Jahiliyah dan sombong pula dalam Islam? Demi Allah, ketaatan
kepada Allah tidak akan terwujud kecuali dengan ketawadhuan kepada Allah Ta'ala
dan kezuhudan terhadap dunia."
Sebelum
masuk Islam, beliau memiliki harta dan kekayaan yang sangat luas, namun beliau
enggan tetap dalam kondisi demikian sementara di antara kaum Muslimin ada budak
atau orang merdeka yang hidup dalam kekurangan. Maka beliau membagikan hartanya
di jalan Allah, dan harta terakhir yang beliau sumbangkan seluruhnya adalah
pada saat Perang Tabuk.
Setelah
menjabat sebagai khalifah, Umar bin Khattab dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah
melihat beliau sedang berjalan-jalan di pasar. Mereka bertanya apa yang beliau
lakukan di sana padahal beliau telah memegang urusan kaum Muslimin. Beliau
menjawab: "Dari mana aku harus memberi makan keluargaku?" Keduanya
berkata: "Berangkatlah bersama kami." Mereka kemudian bermusyawarah
dengan para sahabat senior, lalu ditetapkanlah baginya sejumlah tunjangan dari
Baitul Mal agar beliau bisa fokus mengurus urusan kaum Muslimin.
Di
awal kepemimpinannya, beliau ingin mengingatkan para sahabat tentang perbedaan
mendasar antara kepemimpinan Nabi —shallallahu 'alaihi wa sallam— yang menerima
wahyu dari Allah, terpelihara dari dosa (ma'shum), dan turun kepadanya
hukum Allah jika beliau berijtihad sebelum wahyu turun, dengan kepemimpinan
manusia biasa sepeninggal Nabi. Beliau berkata kepada mereka:
"Sesungguhnya Rasulullah —shallallahu 'alaihi wa sallam— dijaga dengan
wahyu dan bersamanya ada malaikat, sedangkan aku memiliki setan yang terkadang
mendatangiku (menggoda). Jika aku lurus, maka bantulah aku; dan jika aku
menyimpang, maka luruskanlah aku." Nabi memang telah mengabarkan bahwa
setiap manusia memiliki setan (qarin), "kecuali Allah membantuku
menghadapinya sehingga ia masuk Islam (atau aku selamat darinya)."
Namun,
musuh-musuh Abu Bakar membelokkan ketawadhuan dan kejujuran ini menjadi sesuatu
yang buruk karena beliau berkata "aku memiliki setan yang
mendatangiku," padahal mereka tahu bahwa setiap manusia memiliki setan
yang mendatangi dan membisikinya, sebagaimana yang diisyaratkan dalam Al-Qur'an
dan Sunnah Nabawiyyah.
Sikap-Sikap
Abu Bakar:
Selain
sikap pertama yang ditunjukkan Abu Bakar terhadap kaum Quraisy ketika mereka
mendustakan turunnya wahyu kepada Muhammad —shallallahu 'alaihi wa sallam— di
mana beliau berkata kepada mereka: "Jika benar ia mengatakannya, maka
sungguh ia telah berkata benar," terdapat sikap-sikap abadi lainnya dari
Abu Bakar setelah keislamannya, di antaranya:
1.
Kehati-hatian terhadap Harta Syubhat
Imam
Bukhari menyebutkan dalam Shahih-nya bahwa Abu Bakar memiliki seorang
budak laki-laki yang suatu hari membawakannya sesuatu, lalu beliau memakannya.
Setelah selesai makan, budak itu bertanya: "Tahukah engkau apa ini?"
Abu Bakar bertanya balik: "Apa itu?" Budak itu menjawab: "Dahulu
aku pernah menjadi dukun (meramal) untuk seseorang di masa Jahiliyah, lalu hari
ini ia menemuiku dan memberiku ini (upah ramalan) yang baru saja engkau
makan." Maka Abu Bakar memasukkan tangannya ke dalam mulutnya hingga
memuntahkan semua makanan itu dan berkata: "Aku mendengar Rasulullah
—shallallahu 'alaihi wa sallam— bersuara: 'Setiap tubuh yang tumbuh dari harta
haram (suht), maka neraka lebih utama baginya.' Maka aku takut jika
makanan ini akan tumbuh di tubuhku."
2.
Sikap pada Peristiwa Isra dan Mi'raj
Ketika
Nabi —shallallahu 'alaihi wa sallam— datang dan mengabarkan kepada penduduk
Mekkah tentang perjalanan Isra dan Mi'raj sebelum beliau memberitahu seorang
pun dari sahabatnya yang beriman, orang-orang musyrik berkumpul di Ka'bah yang
dipimpin oleh Abu Jahal.
Abu
Jahal berkata kepada Abu Bakar: "Wahai Atiq... segala urusan sahabatmu
sebelum hari ini masih ringan dan bisa diterima, adapun sekarang, keluarlah dan
dengarkan sendiri..." Abu Bakar pun muncul di hadapan mereka dengan penuh
ketenangan dan kewibawaan, lalu bertanya: "Ada apa dengan kalian?"
Mereka menjawab: "Sahabatmu itu!" Abu Bakar tersentak dan berkata:
"Celaka kalian! Apakah ia tertimpa musibah?"
Orang-orang
itu mundur sedikit dan menelan ludah, lalu salah seorang berkata: "Dia di
sana, dekat Ka'bah, sedang bercerita kepada orang-orang bahwa Tuhannya telah
memperjalankannya semalam ke Baitul Maqdis." Yang lain menimpali dengan
nada mengejek: "Dia pergi malam hari, kembali malam hari, dan pagi ini
sudah berada di antara kita."
Maka
Abu Bakar menjawab dengan wajah yang berseri-seri: "Sungguh aku
membenarkannya dalam hal yang lebih jauh dari itu; aku membenarkannya tentang
berita langit yang datang kepadanya baik di waktu pagi maupun petang."
Kemudian beliau melontarkan kalimatnya yang abadi: "Jika benar ia
mengatakannya, maka sungguh ia telah berkata benar."
3.
Sikap Saat Hijrah
Kitab-kitab
Sunnah meriwayatkan bahwa ketika Abu Bakar —radhiyallahu 'anhu— melihat para
sahabat telah berturut-turut hijrah ke Madinah melaksanakan perintah Nabi
—shallallahu 'alaihi wa sallam—, beliau datang meminta izin kepada Nabi untuk
ikut hijrah. Rasulullah —shallallahu 'alaihi wa sallam— bersabda kepadanya:
"Jangan terburu-buru, sesungguhnya aku berharap agar aku juga diberi izin
(untuk hijrah)." Abu Bakar bertanya: "Apakah engkau mengharapkan itu,
demi ayah dan ibuku sebagai tebusannya?" Nabi menjawab: "Ya."
Maka Abu Bakar menahan dirinya demi mendampingi Rasulullah dalam risiko besar
ini. Beliau menyiapkan dua ekor unta yang dimilikinya dan merawatnya selama
empat bulan.
Sementara
itu, kaum kafir berkumpul di Darun Nadwah (rumah Qushay bin Kilab). Quraisy
tidak pernah memutuskan suatu perkara kecuali di rumah itu. Mereka
bermusyawarah tentang apa yang harus dilakukan terhadap Nabi. Kesepakatan
mereka adalah mengambil seorang pemuda dari setiap kabilah, masing-masing
dibekali pedang tajam, lalu mereka secara serentak menebas Nabi sehingga
darahnya tersebar di antara seluruh kabilah. Mereka menetapkan waktu tertentu
untuk itu. Namun, Jibril —'alaihis salam— mendatangi Nabi dan memerintahkannya
untuk hijrah serta melarangnya tidur di tempat tidurnya malam itu.
Aisyah
meriwayatkan dalam Shahih Bukhari: "Suatu hari saat kami duduk di
rumah Abu Bakar di waktu panas terik siang hari, seseorang berkata kepada Abu
Bakar: 'Ini Rasulullah datang.' Abu Bakar berkata: 'Apa yang membuatmu datang
di saat seperti ini?' Nabi bersabda: 'Sesungguhnya aku telah diizinkan untuk
keluar (hijrah).'"
Maka
berangkatlah Nabi dan Abu Bakar hingga sampai di Gua Tsur. Kaum kafir mengejar
jejak mereka hingga sampai ke mulut gua. Abu Bakar mendengar langkah kaki
mereka dan merasa khawatir akan keselamatan Nabi. Nabi bersabda kepadanya:
"Apa pendapatmu tentang dua orang di mana Allah adalah yang
ketiganya?" Di tengah jalan, Abu Bakar berjalan kadang di depan Nabi,
kadang di belakang, kadang di kanan, dan kadang di kirinya. Saat ditanya
alasannya, beliau menjawab: "Jika aku teringat adanya pengintai, aku
berjalan di depanmu. Jika aku teringat kejaran mereka, aku berjalan di
belakangmu. Jika aku teringat adanya kepungan, aku berjalan di kanan atau
kirimu."
Beliau
juga memasuki gua lebih dulu sebelum Nabi untuk memastikan tidak ada sesuatu
yang menyakiti Nabi. Karena saking khawatirnya beliau terhadap Rasulullah, Nabi
pun bersabda: "Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama
kita." Mengenai hal ini turunlah firman Allah: "Jikalau kamu tidak
menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika
orang-orang kafir mengeluarkannya (dari Mekkah) sedang dia salah seorang dari
dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada
temannya: 'Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta
kita'..." (At-Taubah: 40). Perlu dicatat bahwa Nabi menolak menerima
unta dari Abu Bakar kecuali dengan membayar harganya.
4.
Sikap Saat Wafatnya Rasulullah
Inilah
sikap kepahlawanan sejati yang menunjukkan kepribadian istimewa dengan
karakteristik yang tidak dimiliki pria lain selain Abu Bakar, yaitu sikapnya
pada hari wafatnya Rasulullah. Ketika berita wafatnya Nabi sampai kepadanya,
beliau segera datang dari as-Sunh, masuk ke rumah Rasulullah dan mendapati
beliau telah ditutupi kain. Beliau membuka penutup wajah mulia Nabi,
menciumnya, dan berkata: "Betapa harum engkau saat hidup dan betapa harum
engkau saat wafat." Beliau lalu menyelimutkan kembali kain tersebut,
keluar menemui orang-orang dan berpidato saat Umar masih mengingkari kewafatan
Nabi. Abu Bakar berkata: "Wahai manusia, barangsiapa yang menyembah
Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah wafat. Dan barangsiapa yang
menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah itu Hidup dan tidak akan pernah mati."
Kemudian beliau membaca ayat: "Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang
rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia
wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?..." (Ali Imran:
144).
5.
Sikap dalam Perang Badar
Saad
bin Mu'adz mengusulkan untuk membangun sebuah tenda (arisy) bagi Nabi
sebagai tempat memimpin pertempuran agar aman dari pengkhianatan musyrik. Nabi
menyetujuinya dan Abu Bakar berdiri di samping beliau untuk membela dan
menjaganya. Nabi mengambil segenggam kerikil dan melemparkannya ke arah wajah
kaum musyrik seraya bersabda: "Hancurlah wajah-wajah itu!" Tidak ada
seorang pun dari mereka kecuali matanya kemasukan kerikil tersebut. Beliau
mulai menenangkan para sahabat dengan janji pertolongan Allah dan menentukan
tempat jatuhnya para pemimpin musyrik dengan meletakkan tangan beliau di atas
tanah; dan tidak ada satu pun dari mereka yang mati bergeser dari tempat yang
telah ditentukan Nabi dengan tangan beliau. Nabi terus berdoa dan memohon
pertolongan Tuhan-Nya dengan sangat khusyuk hingga Abu Bakar merasa iba dan
berdiri di belakang beliau seraya berkata: "Wahai Rasulullah,
bergembiralah! Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, Allah pasti akan
menunaikan apa yang Dia janjikan kepadamu."
6.
Sikap dalam Perang Uhud
Ketika
para pemanah menyalahi perintah Nabi dan sibuk dengan harta rampasan karena
mengira perang telah usai, kaum musyrik menyerang balik. Medan perang menjadi
kosong dari mujahidin kecuali jasad para syuhada. Abu Bakar berdiri bersama
segelintir orang untuk melawan musyrik dan mengejar mereka dengan menghunus
pedang hingga Nabi memanggilnya dan bersabda: "Sarungkan pedangmu wahai
Abu Bakar, karena pertempuran telah berakhir dengan mundurnya Quraisy."
7.
Sikap dalam Perjanjian Hudaibiyah
Pada
awalnya, para sahabat tidak merespons perintah Nabi karena mereka menolak
perjanjian damai tersebut (karena merasa dirugikan), dan mereka dipimpin oleh
Umar. Abu Bakar memegang tangan Umar dan berkata: "Wahai pria,
sesungguhnya dia adalah Rasulullah, dia tidak akan mendurhakai-Nya dan Allah
adalah penolongnya, maka berpegang teguhlah pada perintahnya."
8.
Sikap Saat Menjadi Khalifah
Di
awal masa kekhalifahannya, beliau menunjukkan sikap abadi terhadap orang-orang
yang menolak membayar zakat, sikap abadi terhadap kaum murtad, serta sikap iman
yang luar biasa dalam melaksanakan rencana Nabi untuk mengirim pasukan ke
Romawi di bawah pimpinan pemuda bernama Usamah bin Zaid.
Catatan
Kaki:
- Referansi sebelumnya hal.
69.
- Diriwayatkan oleh Bukhari
jilid 3 hal. 225 dan Sirah Ibnu Hisyam jilid 1 hal. 155.
- Sirah Ibnu Hisyam jilid 1
hal. 155, Thabaqat Ibnu Sa'ad 213, dan Fiqh Sirah oleh Al-Buthi hal. 178.
- Sirah Ibnu Hisyam,
Thabaqat Ibnu Sa'ad, dan Fiqh Sirah Al-Buthi.
- Sirah Ibnu Hisyam jilid 4
hal. 224.
- Referensi sebelumnya.
- Diriwayatkan oleh Muslim
jilid 6 hal. 170.
- Sirah Ibnu Hisyam jilid 1
hal. 205 dan Zadul Ma'ad oleh Ibnul Qayyim jilid 2 hal. 87.
No comments:
Post a Comment