Thursday, April 23, 2026

Mengenal Abu Bakar Shidiq

Nasab (Garis Keturunan) dan Kedudukannya:

Beliau adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim. Garis keturunannya bertemu dengan Rasulullah —shallallahu 'alaihi wa sallam— pada kakek keenam, yaitu Murrah. Beliau dijuluki Abu Utsman bin Abi Quhafah, sedangkan ibunya adalah Ummul Khair Salma binti Sakhr, yang berasal dari bani Taim dan merupakan putri paman ayahnya (sepupu ayahnya).

Beliau termasuk di antara kaum bangsawan Quraisy, pemimpin mereka, tokoh terpandang, serta ahli syura (penasihat) mereka. Beliau lahir pada tahun ke-51 sebelum Hijrah, yang berarti beliau lebih muda dari Rasulullah —shallallahu 'alaihi wa sallam— sekitar dua tahun beberapa bulan. Kelahiran beliau terjadi pada tahun ketiga dari Tahun Gajah.

Ibnu Hisyam menyebutkan dalam As-Sirah an-Nabawiyyah bahwa Abu Bakar adalah orang Quraisy yang paling paham tentang silsilah nasab Quraisy dan yang paling berilmu tentang sejarah mereka. Beliau memiliki akhlak yang luhur; orang-orang Quraisy biasa mendatangi dan menyukai beliau karena beberapa hal, di antaranya karena ilmunya, perdagangannya, dan kepribadiannya yang menyenangkan dalam majelis. Beliau dijuluki "Atiq". Al-Mas'udi menyebutkan dalam Muruj adz-Dzahab bahwa penamaan ini adalah kabar gembira dari Rasulullah —shallallahu 'alaihi wa sallam— baginya bahwa beliau adalah orang yang dibebaskan Allah dari api neraka (Atiqun minan-nar). Al-Mas'udi menguatkan alasan ini, meski ia juga menukil alasan lain bahwa beliau dinamakan demikian karena kemuliaan (kebebasan) leluhur dari pihak ibunya, namun pendapat tersebut dinilai lemah.

Akan tetapi, Ibnu Hajar dalam Al-Ishabah mengatakan: "Abu Bakar di masa Jahiliyah dipanggil Abdul Ka'bah, ada pula yang mengatakan Abdul Lat atau Abdul Uzza. Lalu Rasulullah —shallallahu 'alaihi wa sallam— menamainya Abdullah karena beliau adalah sahabatnya. Beliau dijuluki Al-Atiq karena ibunya setiap kali melahirkan anak, anak tersebut tidak bertahan hidup lama. Maka ibunya menghadapkannya ke Ka'bah dan berdoa: 'Ya Allah, sesungguhnya ini adalah anak yang Engkau bebaskan (Atiq-mu) dari kematian'."

Hal yang masyhur tentang beliau adalah bahwa beliau tidak pernah minum khamar di masa Jahiliyah. Pernah ditanyakan kepadanya: "Apakah engkau pernah minum khamar di masa Jahiliyah?" Beliau menjawab: "Aku berlindung kepada Allah." Ditanyakan lagi: "Mengapa?" Beliau menjawab: "Aku menjaga kehormatan diriku (muru’ah) dan menjaga harga diriku, karena meminum khamar itu melenyapkan harga diri dan kehormatan."

Abu Nu’aim meriwayatkan dari Aisyah —radhiyallahu 'anha— yang berkata tentang ayahnya: "Sungguh Abu Bakar telah mengharamkan khamar bagi dirinya sendiri di masa Jahiliyah."

Keislamannya:

Abu Bakar sedang dalam perjalanan dagang ke Syam dan kembali bersama rombongan kafilah menuju Mekkah. Saat itu Allah telah memilih Muhammad —shallallahu 'alaihi wa sallam— untuk mengemban risalah, sementara Abu Bakar sedang menahan air matanya (karena rindu atau firasat). Di pintu masuk Mekkah, mereka ditemui oleh sekelompok kecil orang yang dipimpin oleh Abu Jahal (Amru bin Hisyam) dan mereka saling berangkulan.

Lalu Abu Jahal berbicara kepada Abu Bakar: "Apakah mereka sudah menceritakan kepadamu tentang sahabatmu itu, wahai Atiq?" (Abu Bakar memang dipanggil Atiq). Abu Bakar menjawab: "Maksudmu Muhammad Al-Amin?" Abu Jahal menjawab: "Ya, maksudku yatim dari Bani Hashim." Terjadilah dialog singkat di antara keduanya. Abu Bakar bertanya: "Apakah engkau mendengar sendiri apa yang ia katakan?" Abu Jahal menjawab: "Ya, aku mendengarnya, dan seluruh orang juga mendengar—apa yang ia katakan...? Ia berkata bahwa di langit ada Tuhan yang mengutusnya kepada kita agar kita menyembah Allah dan meninggalkan apa yang disembah nenek moyang kita...!" Abu Bakar bertanya: "Apakah ia berkata bahwa Allah memberikan wahyu kepadanya?"

Abu Jahal menjawab: "Ia berkata bahwa Jibril mendatanginya di Gua Hira." Maka wajah Abu Bakar bersinar terang laksana matahari dan berkata dengan tenang: "Jika benar ia mengatakannya, maka sungguh ia telah berkata benar..." Bumi terasa berputar bagi Abu Jahal, langkah kakinya goyah, dan tubuhnya hampir tersungkur di atas kedua kakinya yang gemetar. Orang-orang menyampaikan perkataan Abu Bakar dari satu orang ke orang lainnya hingga suara mereka berdengung laksana dengungan lebah. Demikianlah Abu Bakar membenarkan Nabi —shallallahu 'alaihi wa sallam— sebelum beliau bertemu dan mendengar langsung darinya, di mana beliau berkata kepada orang-orang yang bertanya dan ragu: "Jika ia berkata demikian, maka ia benar."

Tak lama kemudian, Abu Bakar pergi ke rumah Rasulullah —shallallahu 'alaihi wa sallam— di mana beliau sedang bersama istrinya, Khadijah, yang merupakan orang pertama di semesta ini yang masuk Islam bersamanya dan beriman kepadanya. Abu Bakar mengetuk pintu.

Rasulullah berdiri dan memanggil Khadijah: "Itu Atiq, wahai Khadijah." Rasulullah bergegas menemui sahabatnya dan terjadilah pembicaraan di antara mereka secepat dan sejernih cahaya.

Abu Bakar bertanya: "Apakah benar apa yang engkau beritakan kepada orang-orang, wahai saudaraku bangsa Arab?"

Rasulullah balik bertanya: "Apa yang mereka beritakan kepadamu?"

Abu Bakar berkata: "Mereka bilang bahwa Allah mengutusmu kepada kami agar kami menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun."

Nabi bertanya: "Dan apa jawabanmu kepada mereka, wahai Atiq...?"

Abu Bakar berkata: "Aku katakan kepada mereka: Jika ia berkata demikian, maka ia benar."

Mata Rasulullah berlinang air mata karena rasa syukur dan bahagia. Beliau merangkul sahabatnya dan mencium keningnya. Beliau pun mulai menceritakan bagaimana wahyu datang di Gua Hira dengan firman-Nya: "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Mulia, yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." (Al-Alaq: 1-5).

Abu Bakar menundukkan kepalanya dengan khusyuk dan takwa, sebagai penghormatan terhadap panji Allah yang ia lihat berkibar tinggi di hadapannya melalui ayat-ayat yang diturunkan ini. Kemudian beliau mengangkat kepalanya, memegang erat tangan kanan Rasulullah —shallallahu 'alaihi wa sallam— dengan kedua tangannya dan berkata: "Aku bersaksi bahwa engkau jujur lagi terpercaya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah... dan aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah."

Akhlak dan Sifat-sifatnya:

Beliau adalah manusia yang paling tawadhu (rendah hati) dan paling zuhud dalam hal pakaian, makanan, dan minuman. Di masa kekhalifahannya, beliau hanya mengenakan kain kasar (shamlah) dan jubah (aba'ah). Beliau tidak peduli dengan kemewahan para pemimpin Arab, bangsawan, maupun raja-raja Yaman yang mengenakan pakaian sutra dan kain berhias emas serta mahkota. Jabatan yang beliau emban tidak sedikit pun mengubah ketawadhuannya dan akhlaknya. Hal ini memberikan pengaruh besar bagi para bangsawan tersebut saat mereka melihat kezuhudan, kesederhanaan pakaian, kewibawaan, dan kharisma beliau, sehingga mereka pun menanggalkan kemewahan lahiriah yang mereka kenakan.

Suatu hari beliau terlihat di salah satu pasar Madinah dengan kulit domba tersampir di pundaknya. Keluarganya marah melihat hal itu dan berkata: "Sesungguhnya ini mengurangi kewibawaan kita di antara kaum Muhajirin dan Ansar." Beliau menjawab kepada mereka: "Apakah kalian ingin aku menjadi penguasa yang sombong di masa Jahiliyah dan sombong pula dalam Islam? Demi Allah, ketaatan kepada Allah tidak akan terwujud kecuali dengan ketawadhuan kepada Allah Ta'ala dan kezuhudan terhadap dunia."

Sebelum masuk Islam, beliau memiliki harta dan kekayaan yang sangat luas, namun beliau enggan tetap dalam kondisi demikian sementara di antara kaum Muslimin ada budak atau orang merdeka yang hidup dalam kekurangan. Maka beliau membagikan hartanya di jalan Allah, dan harta terakhir yang beliau sumbangkan seluruhnya adalah pada saat Perang Tabuk.

Setelah menjabat sebagai khalifah, Umar bin Khattab dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah melihat beliau sedang berjalan-jalan di pasar. Mereka bertanya apa yang beliau lakukan di sana padahal beliau telah memegang urusan kaum Muslimin. Beliau menjawab: "Dari mana aku harus memberi makan keluargaku?" Keduanya berkata: "Berangkatlah bersama kami." Mereka kemudian bermusyawarah dengan para sahabat senior, lalu ditetapkanlah baginya sejumlah tunjangan dari Baitul Mal agar beliau bisa fokus mengurus urusan kaum Muslimin.

Di awal kepemimpinannya, beliau ingin mengingatkan para sahabat tentang perbedaan mendasar antara kepemimpinan Nabi —shallallahu 'alaihi wa sallam— yang menerima wahyu dari Allah, terpelihara dari dosa (ma'shum), dan turun kepadanya hukum Allah jika beliau berijtihad sebelum wahyu turun, dengan kepemimpinan manusia biasa sepeninggal Nabi. Beliau berkata kepada mereka: "Sesungguhnya Rasulullah —shallallahu 'alaihi wa sallam— dijaga dengan wahyu dan bersamanya ada malaikat, sedangkan aku memiliki setan yang terkadang mendatangiku (menggoda). Jika aku lurus, maka bantulah aku; dan jika aku menyimpang, maka luruskanlah aku." Nabi memang telah mengabarkan bahwa setiap manusia memiliki setan (qarin), "kecuali Allah membantuku menghadapinya sehingga ia masuk Islam (atau aku selamat darinya)."

Namun, musuh-musuh Abu Bakar membelokkan ketawadhuan dan kejujuran ini menjadi sesuatu yang buruk karena beliau berkata "aku memiliki setan yang mendatangiku," padahal mereka tahu bahwa setiap manusia memiliki setan yang mendatangi dan membisikinya, sebagaimana yang diisyaratkan dalam Al-Qur'an dan Sunnah Nabawiyyah.

Sikap-Sikap Abu Bakar:

Selain sikap pertama yang ditunjukkan Abu Bakar terhadap kaum Quraisy ketika mereka mendustakan turunnya wahyu kepada Muhammad —shallallahu 'alaihi wa sallam— di mana beliau berkata kepada mereka: "Jika benar ia mengatakannya, maka sungguh ia telah berkata benar," terdapat sikap-sikap abadi lainnya dari Abu Bakar setelah keislamannya, di antaranya:

1. Kehati-hatian terhadap Harta Syubhat

Imam Bukhari menyebutkan dalam Shahih-nya bahwa Abu Bakar memiliki seorang budak laki-laki yang suatu hari membawakannya sesuatu, lalu beliau memakannya. Setelah selesai makan, budak itu bertanya: "Tahukah engkau apa ini?" Abu Bakar bertanya balik: "Apa itu?" Budak itu menjawab: "Dahulu aku pernah menjadi dukun (meramal) untuk seseorang di masa Jahiliyah, lalu hari ini ia menemuiku dan memberiku ini (upah ramalan) yang baru saja engkau makan." Maka Abu Bakar memasukkan tangannya ke dalam mulutnya hingga memuntahkan semua makanan itu dan berkata: "Aku mendengar Rasulullah —shallallahu 'alaihi wa sallam— bersuara: 'Setiap tubuh yang tumbuh dari harta haram (suht), maka neraka lebih utama baginya.' Maka aku takut jika makanan ini akan tumbuh di tubuhku."

2. Sikap pada Peristiwa Isra dan Mi'raj

Ketika Nabi —shallallahu 'alaihi wa sallam— datang dan mengabarkan kepada penduduk Mekkah tentang perjalanan Isra dan Mi'raj sebelum beliau memberitahu seorang pun dari sahabatnya yang beriman, orang-orang musyrik berkumpul di Ka'bah yang dipimpin oleh Abu Jahal.

Abu Jahal berkata kepada Abu Bakar: "Wahai Atiq... segala urusan sahabatmu sebelum hari ini masih ringan dan bisa diterima, adapun sekarang, keluarlah dan dengarkan sendiri..." Abu Bakar pun muncul di hadapan mereka dengan penuh ketenangan dan kewibawaan, lalu bertanya: "Ada apa dengan kalian?" Mereka menjawab: "Sahabatmu itu!" Abu Bakar tersentak dan berkata: "Celaka kalian! Apakah ia tertimpa musibah?"

Orang-orang itu mundur sedikit dan menelan ludah, lalu salah seorang berkata: "Dia di sana, dekat Ka'bah, sedang bercerita kepada orang-orang bahwa Tuhannya telah memperjalankannya semalam ke Baitul Maqdis." Yang lain menimpali dengan nada mengejek: "Dia pergi malam hari, kembali malam hari, dan pagi ini sudah berada di antara kita."

Maka Abu Bakar menjawab dengan wajah yang berseri-seri: "Sungguh aku membenarkannya dalam hal yang lebih jauh dari itu; aku membenarkannya tentang berita langit yang datang kepadanya baik di waktu pagi maupun petang." Kemudian beliau melontarkan kalimatnya yang abadi: "Jika benar ia mengatakannya, maka sungguh ia telah berkata benar."

3. Sikap Saat Hijrah

Kitab-kitab Sunnah meriwayatkan bahwa ketika Abu Bakar —radhiyallahu 'anhu— melihat para sahabat telah berturut-turut hijrah ke Madinah melaksanakan perintah Nabi —shallallahu 'alaihi wa sallam—, beliau datang meminta izin kepada Nabi untuk ikut hijrah. Rasulullah —shallallahu 'alaihi wa sallam— bersabda kepadanya: "Jangan terburu-buru, sesungguhnya aku berharap agar aku juga diberi izin (untuk hijrah)." Abu Bakar bertanya: "Apakah engkau mengharapkan itu, demi ayah dan ibuku sebagai tebusannya?" Nabi menjawab: "Ya." Maka Abu Bakar menahan dirinya demi mendampingi Rasulullah dalam risiko besar ini. Beliau menyiapkan dua ekor unta yang dimilikinya dan merawatnya selama empat bulan.

Sementara itu, kaum kafir berkumpul di Darun Nadwah (rumah Qushay bin Kilab). Quraisy tidak pernah memutuskan suatu perkara kecuali di rumah itu. Mereka bermusyawarah tentang apa yang harus dilakukan terhadap Nabi. Kesepakatan mereka adalah mengambil seorang pemuda dari setiap kabilah, masing-masing dibekali pedang tajam, lalu mereka secara serentak menebas Nabi sehingga darahnya tersebar di antara seluruh kabilah. Mereka menetapkan waktu tertentu untuk itu. Namun, Jibril —'alaihis salam— mendatangi Nabi dan memerintahkannya untuk hijrah serta melarangnya tidur di tempat tidurnya malam itu.

Aisyah meriwayatkan dalam Shahih Bukhari: "Suatu hari saat kami duduk di rumah Abu Bakar di waktu panas terik siang hari, seseorang berkata kepada Abu Bakar: 'Ini Rasulullah datang.' Abu Bakar berkata: 'Apa yang membuatmu datang di saat seperti ini?' Nabi bersabda: 'Sesungguhnya aku telah diizinkan untuk keluar (hijrah).'"

Maka berangkatlah Nabi dan Abu Bakar hingga sampai di Gua Tsur. Kaum kafir mengejar jejak mereka hingga sampai ke mulut gua. Abu Bakar mendengar langkah kaki mereka dan merasa khawatir akan keselamatan Nabi. Nabi bersabda kepadanya: "Apa pendapatmu tentang dua orang di mana Allah adalah yang ketiganya?" Di tengah jalan, Abu Bakar berjalan kadang di depan Nabi, kadang di belakang, kadang di kanan, dan kadang di kirinya. Saat ditanya alasannya, beliau menjawab: "Jika aku teringat adanya pengintai, aku berjalan di depanmu. Jika aku teringat kejaran mereka, aku berjalan di belakangmu. Jika aku teringat adanya kepungan, aku berjalan di kanan atau kirimu."

Beliau juga memasuki gua lebih dulu sebelum Nabi untuk memastikan tidak ada sesuatu yang menyakiti Nabi. Karena saking khawatirnya beliau terhadap Rasulullah, Nabi pun bersabda: "Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita." Mengenai hal ini turunlah firman Allah: "Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengeluarkannya (dari Mekkah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: 'Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita'..." (At-Taubah: 40). Perlu dicatat bahwa Nabi menolak menerima unta dari Abu Bakar kecuali dengan membayar harganya.

4. Sikap Saat Wafatnya Rasulullah

Inilah sikap kepahlawanan sejati yang menunjukkan kepribadian istimewa dengan karakteristik yang tidak dimiliki pria lain selain Abu Bakar, yaitu sikapnya pada hari wafatnya Rasulullah. Ketika berita wafatnya Nabi sampai kepadanya, beliau segera datang dari as-Sunh, masuk ke rumah Rasulullah dan mendapati beliau telah ditutupi kain. Beliau membuka penutup wajah mulia Nabi, menciumnya, dan berkata: "Betapa harum engkau saat hidup dan betapa harum engkau saat wafat." Beliau lalu menyelimutkan kembali kain tersebut, keluar menemui orang-orang dan berpidato saat Umar masih mengingkari kewafatan Nabi. Abu Bakar berkata: "Wahai manusia, barangsiapa yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah wafat. Dan barangsiapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah itu Hidup dan tidak akan pernah mati." Kemudian beliau membaca ayat: "Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?..." (Ali Imran: 144).

5. Sikap dalam Perang Badar

Saad bin Mu'adz mengusulkan untuk membangun sebuah tenda (arisy) bagi Nabi sebagai tempat memimpin pertempuran agar aman dari pengkhianatan musyrik. Nabi menyetujuinya dan Abu Bakar berdiri di samping beliau untuk membela dan menjaganya. Nabi mengambil segenggam kerikil dan melemparkannya ke arah wajah kaum musyrik seraya bersabda: "Hancurlah wajah-wajah itu!" Tidak ada seorang pun dari mereka kecuali matanya kemasukan kerikil tersebut. Beliau mulai menenangkan para sahabat dengan janji pertolongan Allah dan menentukan tempat jatuhnya para pemimpin musyrik dengan meletakkan tangan beliau di atas tanah; dan tidak ada satu pun dari mereka yang mati bergeser dari tempat yang telah ditentukan Nabi dengan tangan beliau. Nabi terus berdoa dan memohon pertolongan Tuhan-Nya dengan sangat khusyuk hingga Abu Bakar merasa iba dan berdiri di belakang beliau seraya berkata: "Wahai Rasulullah, bergembiralah! Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, Allah pasti akan menunaikan apa yang Dia janjikan kepadamu."

6. Sikap dalam Perang Uhud

Ketika para pemanah menyalahi perintah Nabi dan sibuk dengan harta rampasan karena mengira perang telah usai, kaum musyrik menyerang balik. Medan perang menjadi kosong dari mujahidin kecuali jasad para syuhada. Abu Bakar berdiri bersama segelintir orang untuk melawan musyrik dan mengejar mereka dengan menghunus pedang hingga Nabi memanggilnya dan bersabda: "Sarungkan pedangmu wahai Abu Bakar, karena pertempuran telah berakhir dengan mundurnya Quraisy."

7. Sikap dalam Perjanjian Hudaibiyah

Pada awalnya, para sahabat tidak merespons perintah Nabi karena mereka menolak perjanjian damai tersebut (karena merasa dirugikan), dan mereka dipimpin oleh Umar. Abu Bakar memegang tangan Umar dan berkata: "Wahai pria, sesungguhnya dia adalah Rasulullah, dia tidak akan mendurhakai-Nya dan Allah adalah penolongnya, maka berpegang teguhlah pada perintahnya."

8. Sikap Saat Menjadi Khalifah

Di awal masa kekhalifahannya, beliau menunjukkan sikap abadi terhadap orang-orang yang menolak membayar zakat, sikap abadi terhadap kaum murtad, serta sikap iman yang luar biasa dalam melaksanakan rencana Nabi untuk mengirim pasukan ke Romawi di bawah pimpinan pemuda bernama Usamah bin Zaid.


Catatan Kaki:

  1. Referansi sebelumnya hal. 69.
  2. Diriwayatkan oleh Bukhari jilid 3 hal. 225 dan Sirah Ibnu Hisyam jilid 1 hal. 155.
  3. Sirah Ibnu Hisyam jilid 1 hal. 155, Thabaqat Ibnu Sa'ad 213, dan Fiqh Sirah oleh Al-Buthi hal. 178.
  4. Sirah Ibnu Hisyam, Thabaqat Ibnu Sa'ad, dan Fiqh Sirah Al-Buthi.
  5. Sirah Ibnu Hisyam jilid 4 hal. 224.
  6. Referensi sebelumnya.
  7. Diriwayatkan oleh Muslim jilid 6 hal. 170.
  8. Sirah Ibnu Hisyam jilid 1 hal. 205 dan Zadul Ma'ad oleh Ibnul Qayyim jilid 2 hal. 87.

 

No comments:

Post a Comment

An-Nazharu Wa Tafakkur