AFATUL LISAN
(BAHAYA LIDAH)
1. MAKNA
AFATUL LISAN
Afatul lisan
adalah dua ungkapan kata yang memiliki arti bahaya lidah, hal ini bukan berarti
lidah selalu membawa mudhorat bagi manusia, karena lidah juga bermanfaat bagi
manusia. Dengan lidah seseorang dapat berbicara dan menyampaikan maksud yang
diinginkan. Namun harus disadari pula bahwa betapa banyak orang yang
tergelincir karena lidahnya, akibat ketidak mampuan pemilik lidah menjaga dari
ucapan dan kata-kata yang keluar dari lidah tersebut. Karena itu sangatlah
urgen dalam kehidupan seorang muslim memahami bahaya dari lisan sebagaimana
juga memahami akan manfaat lisan tersebut.
Dua hal
penting yang sering diingatkan Islam kepada kita-manusia- adalah menjaga dan
memelihara dengan baik lidah dan tingkah laku. Rasulullah saw. berpesan kepada
kita semua yaitu :
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ
فَالْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
"Barangsiapa
beriman kepada Allah dan hari Qiyamat hendaklah berkata yang baik atau
diam."
Pesan ini
menekankan tentang pentingnya menjaga tutur kata, tidak mengucapkan hal yang
buruk dan menyakiti hati, karena bertutur sembarang tanpa pikir akan membawa
kepada krisis lain yaitu permusuhan, kekacauan bahkan pertumpahan darah.
Maka dengan
menjaga lidah dan tutur kata, dapat dipastikan akan terjalinnya kehidupan yang
tenteram, damai dan sejahtera di tengah masyarakat sepanjang masa. Dalam
konteks inilah Rasulullah saw berpesan supaya menjaga lidah dan tingkah laku
agar tidak mengganggu dan melampaui batas atau menyentuh hak dan muruah
(wibawa) orang lain.
Lidah memang tak bertulang, pepatah itu
menggambarkan betapa sulit mengatur lidah ini. Terkadang dalam tempat-tempat
perkumpulan, keadaan menjadi semakin seru bahkan akan menjadi segar, bila
seseorang menyodorkan gosip 'baru'. Terlebih bila sang pencetus ‘gosip' pernah
merasa dirugikan oleh 'sang calon' pesakitan. Yang ini bisa jadi akan tambah
seru. Dia pernah disakiti, disinggung, dipermalukan, dijahili, ataupun yang
serupa dengan itu. Maka rem lidah benar-benar sering blong.
2.
HAKIKAT LIDAH
Lidah adalah
salah satu dari nikmat Allah. Manusia wajib memeliharanya dari dosa dan
kemaksiatan, menjaganya dari ucapan-ucapan yang bisa menimbulkan penyesalan dan
kerugian. Lidah akan menjadi saksi pada hari kiamat.
Allah SWT
berfirman :
يَّوْمَ تَشْهَدُ
عَلَيْهِمْ اَلْسِنَتُهُمْ وَاَيْدِيْهِمْ وَاَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا
يَعْمَلُوْنَ
"Pada
hari ketika lidah, tangan dan kaki menjadi saksi atas mereka terhadap apa-apa
yang dahulu mereka kerjakan." (QS. 24:24)
Lidah juga termasuk
nikmat Allah SWT yang sangat besar bagi manusia. Kebaikan yang diucapkannya akan
melahirkan manfaat yang luas dan kejelekan yang dikatakannya membuahkan ekor
keburukan yang panjang. Karena dia tidak bertulang, dia tidak sulit untuk
digerakkan dan dipergunakan. Dia adalah alat paling penting yang bisa
dimanfaatkan oleh syaithan dalam menjerumuskan manusia.
Dalam hadits
disebutkan :
"Sesungguhnya
seorang hamba benar-benar mengucapkan kata-kata tanpa dipikirkan yang
menyebabkan dia tergelincir ke dalam neraka yang jaraknya lebih jauh antara
timur dan barat". (Muttafaq ‘alaih, dari Abu Hurairah)
Dan lidah
juga merupakan sarana mempermudah manusia menyampaikan maksud yang diinginkan
kepada orang yang diajak bicara sehingga dengan itu orang yang diajak bicara
akan memahami maksud dari orang tersebut. Jika lisan tidak ada maka seseorang
akan sulit berbicara dan menyampaikan sesuatu yang diinginkan kecuali dengan
bahasa isyarat.
3.
FENOMENA BAHAYA LISAN
1. Alkalaamu
fimaa laa ya'nihi (Ungkapan yang tidak berguna)
Nabi Saw.
telah bersabda: "Barang siapa mampu menjaga apa yang terdapat antara dua
janggut dan apa yang ada di antara dua kaki, maka aku jamin dia masuk surga. (
Muttafaq ‘alaih, dari Sahl bin Sa'ad)
Kita
hendaknya hanya mengucapkan sesuatu yang bermanfaat, karena ucapan yang mubah
dapat mengarah kapada hal yang makruh atau haram. Rasulullah saw bersabda :
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ
فَالْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
"Barangsiapa
beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia berbicara yang baik atau
diam". (Muttafaq ‘alaih, dari Abu Hurairah)
Bila
seseorang telah mengerti bahwa ia akan dihisab dan dibalas atas segala ucapan
lidahnya, maka dia akan tahu bahaya kata-kata yang diucapkan lidah, dan dia pun
akan mempertimbangkan dengan matang sebelum lidahnya dipergunakan. Allah
berfirman :
"Tidak
ada satu ucapan pun yang diucapkan,
kecuali di dekatnya ada malaikat Raqib dan ‘Atid." (QS.Qoof: 18)
2. Fudhulul
Kalaam (Berbicara yang berlebihan)
Lidah
memiliki kesempatan yang sangat luas untuk taat kepada Allah dan berdzikir
kepadanya, tetapi juga memungkinkan untuk digunakan dalam kemaksiatan dan
berbicara berlebihan. Semestinya kita mampu mengendalikan lidah untuk berdzikir
dan taat kepada Allah, sehingga bisa meninggikan derajat kita. Sedangkan banyak
berbicara tanpa dzikir kepada Allah akan mengeraskan hati, dan menjauhkan diri
dari Allah ‘Azza wa Jalla.
Menuju surga
cepat dengan lisan, menuju nerakapun cepat dengan lisan. Lisan bagai ‘jaring'
kalau menjaringnya baik akan mendapatkan hasil yang baik, sebaliknya jika tidak
hasilnya akan sedikit dan melelahkan. Kata orang lidah tidak bertulang, maka lebih senang mengatakan apa-apa
tanpa berfikir. Bahaya lidah ini sebenarnya besar sekali. Nabi Muhammad SAW
juga pernah bersabda, "Tiada akan lurus keimanan seorang hamba,
sehingga lurus pula hatinya, dan tiada akan lurus hatinya, sehingga lurus pula
lidahnya. dan seorang hamba tidak akan memasuki syurga, selagi tetangganya
belum aman dari kejahatannya."
Allah telah memberikan batasan tentang
pembicaraan agar arahan pembicaran kita bermanfaat dan berdampak terhadap
sesama, sebagaimana firman-Nya:
۞ لَا خَيْرَ
فِيْ كَثِيْرٍ مِّنْ نَّجْوٰىهُمْ اِلَّا مَنْ اَمَرَ بِصَدَقَةٍ اَوْ مَعْرُوْفٍ
اَوْ اِصْلَاحٍۢ بَيْنَ النَّاسِۗ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ
اللّٰهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا
"Tidak ada kebaikan pada
kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang
menyuruh (manusia) memberi shodaqoh atau berbuat ma'ruf atau mengadakan
perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari
keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar." (Annisa :114)
3. Al-khoudh fil baathil (Ungkapan yang mendekati kebatilan dan
maksiat)
Orang-orang sufi lebih tekun menggunakan
mulutnya untuk berdzikir dari pada berbincang-bincang, memperingatkan dengan
prihatin; Manusia paling sering tertimpa bahaya dan paling banyak mendapatkan
kesusahan adalah lidahnya terlepas dan hatinya tertutup. Ia tidak dapat berdiam
diri, dan kalau berkata tidak bisa mengungkapkan yang baik-baik.
Hasan Al Bashri semasa mudanya pernah
merayu seorang wanita cantik di tempat sepi, perempuan itu menegur,
"Apakah engkau tidak malu? "Hasan Al Bashri menoleh ke kanan dan ke
kiri, lalu mengawasi pula sekelilingnya, setelah ia yakin di tempat itu hanya
ada mereka berdua, dan tidak terlihat siapapun, Hasan Al Bashri bertanya,
"Malu kepada siapa? Di
sini tidak ada orang lain yang menyaksikan perbuatan kita. "Wanita itu
menjawab, "Malu kepada Dzat yang mengetahui khianatnya mata dan apa yang
disembunyikan di dalam hati "
Lemas sekujur tubuh Hasan Al Bashri. Ia
menggigil ketakutan hanya karena jawaban sederhana itu, sehingga ia bertobat
tidak ingin mengulangi perbuatan jeleknya lagi. Karena itulah Rasulullah saw.
mengingatkan, "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat,
ucapkanlah yang bermanfaat, atau lebih baik diam saja".
4. Al-Miraa' wal-jidaal (Berbantahan, bertengkar dan debat
kusir).
Jidaal adalah menentang ucapan orang lain
guna menyalahkan secara lafadz dan makna. Perdebatan dalam isu-isu agama dan
ibadah tidak banyak faedah yang didapat kecuali jika dilangsungkan dengan etika
debat yang benar, saling menghormati antar peserta dan dengan kekuatan ilmiah
yang meyakinkan. Biasanya debat yang tidak dikawal oleh akhlak lebih banyak
mengundang kepada pertengkaran dan permusuhan yang merugikan.
Tidak dinafikan debat merupakan salah satu
uslub (cara) yang sangat efektif dan berkesan dalam menyebarkan Islam,
dakwah dan kebenaran, tetapi ia adalah langkah ketiga dan terakhir, yaitu
setelah terjadi kebuntuan dimana pendekatan dengan hikmah dan
nasihat/pengajaran yang baik tidak berhasil. Itupun dilangsungkan dengan akhlak
dan adab yang tinggi.
Allah berfirman :
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ
ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
"Serulah ke jalan Tuhanmu
wahai Muhammad dengan hikmat kebijaksanaan dan nasihat pengajaran yang baik dan
berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik" (Al-Nahl: 125).
Ayat diatas meletakkan debat pada tempat
terakhir, yaitu selepas pendekatan hikmah dan nasihat yang baik. Debat menjadi
langkah terakhir, bukan karena kurang berkesan atau tidak ada faedahnya, tetapi
karena kesukaran mematuhi aturan, akhlak, adab-adabnya.
Debat selalu dirusak oleh tidak adanya
ikhlas antara dua kubu yang terkait. Pendebat selalu menginginkan kemenangan
sekalipun ia tidak mempunyai hujjah. Pendebat tidak bersedia mengalah,
sekalipun ternyata ia berada pada pihak yang salah. Pendebat akan memilih untuk
berkata ‘ya' apabila lawan berkata ‘tidak' dan berkata ‘tidak' apabila lawan
berkata ‘ya'.
Debat selalu dikuasai oleh pihak yang
handal bercakap, sekalipun tidak berisi. Keadaannya bagaikan dua pasukan pemain
sepak bola yang masing-masing mempunyai ‘suporter' yang tidak pernah mengaku
kalah sekalipun tidak pernah bermain. Kalaupun ada yang mengaku, tetapi hanya
dalam gelanggang, di luar belum tentu. Begitulah debat yang tidak berakhlak dan
biasa kita saksikan.
Etika debat yang perlu dipatuhi untuk
menghasilkan natijah yang baik bahkan sekaligus debat disifatkan sebagai
terbaik ialah:
1.
Hindari penggunaan bahasa yang rendah, tindakan
yang kasar dan tidak menghormati pemikiran lawan. Jika perlu, adakan penengah
untuk menengahi perjalanan debat. Penengah perlu diberi hak memberi kartu
kuning atau merah, bahkan ‘menskor' pendebat yang melanggar disiplin debat dan
aturan.
2.
Hendaklah lebih banyak mencari titik persamaan
antara kedua belah pihak. Kurangi usaha mencari titik perbedaan. Lebih banyak
persamaan yang ditemui, lebih banyak hasil yang diperoleh. Arahkan sepenuhnya
kepada titik-titik persamaan.
Debat al-Quran yang berlangsung antara
Nabi s.a.w. dengan Yahudi dan Nashara bahkan dengan kaum musyrikin menjadi
contoh untuk dipelajari, disiplin, akhlak dan etikanya. Dikemukakan di sini
debat antara Nabi dengan musyrikin dalam ayat 24-26 surah Saba' yang bermaksud;
Allah berfirman :
"Bertanyalah wahai Muhammad, siapa
yang memberi rezeki kepada kamu dari langit dan bumi ? Terangkanlah jawabnya
ialah Allah. Sesungguhnya tiap-tiap satu golongan, sama ada kami atau kamu
tetap di atas hidayat atau tenggelam dalam kesesatan. Katakanlah : Tuhan akan
menghimpunkan kita semua pada hari kiamat, kemudian akan menyelesaikan krisis
di antara kita dengan penyelesaian yang benar."
Debat nabi-nabi jelas beretika dan halus
budi bahasanya. Setiap patah kata dalam ungkapannya dapat menjadi contoh
bagi para da'i yang mencintai kebenaran. Tetapi sayang, sebagian pendebat
sekarang banyak menyimpang jauh dari panduan nabi-nabi, mereka berdebat
seolah-olah berperang. Segala isu yang muncul dalam dakwah, besar kemungkinan
ada persamaannya dalam politik.
5. Al-Khushumah istifa-ulhaq
(Banyak omong yang berlebih-lebihan ingin mendapatkan haknya).
Mulutmu
harimaumu. Pepatah ini mengingatkan kita agar lebih hati-hati
dalam berucap dan mengeluarkan pernyataan. Bahwa sumber dari segala bencana di
dunia ini bukan pada bencana alam, letusan gunung berapi, banjir, ataupun gempa
bumi, melainkan bersumber pada mulut kita sendiri.
Rasulullah saw bersabda : "Orang yang amat dibenci di sisi
Allah adalah orang yang banyak omong." (al hadits)
Menurut ilmu kedokteran, dalam tubuh
manusia terdapat banyak lubang, tetapi di antara lubang-lubang itu, hanya
lubang mulut yang paling banyak mengandung virus. Ada lubang telinga, lubang
hidung, bahkan lubang saluran pembuangan kotoran, tetapi semua itu tidak ada
artinya jika dibandingkan dengan lubang mulut. Mulut manusia memang berbisa.
Secara lahiriyah mulut manusia itu
mengandung banyak virus, terlebih secara batiniah. Itulah sebabnya, ketika
Rasulullah didatangi seseorang yang hendak menanyakan tentang Islam dengan satu
pertanyaan yang tidak perlu dan disusul dengan pertanyaan lainnya, maka
Rasulullah memberi jawaban singkat :
قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ
اسْتَقِمْ
Katakanlah aku beriman kepada Allah,
kemudian beristiqamalah. Sahabat tersebut bertanya, dengan cara apa kami
memeliharanya? Rasulullah memberi isyarat kepada lisannya.
6. Al Mizaah (Bercanda dan
senda gurau)
Rasullullah acapkali bercanda. Rasullullah saw. Bersabda :
إِنِّي أُحِبُّ الْمِزَاحَ وَلاَ أَقُوْلُ إِلاَّ حَقًّا
"Sesungguhnya saya (Nabi
Muhammad saw) suka bersendagurau dan saya tidak akan mengatakan kecuali yang
benar-benar."
Seperti kisah Rasullullah bersama seorang
nenek yang menanyakan apakah si dia (nenek) akan masuk surga. Dan dijawab Rasul
saw, bahwa hanya orang muda saja penghuni syurga. Si nenek pun terkejut, dan
akhirnya Rasullullah menerangkan bahwa biarpun orang tua akan menjadi muda
kembali bila masuk surga.
Rasullullah saw. Bersabda : "Sesungguhnya
engkau (hai ibu tua) tidak lagi berupa seorang tua-bangka pada waktu itu (yakni
setelah masuk syurga). Karena Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya Kami
menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung ". Maksudnya :
tanpa melalui kelahiran dan langsung menjadi gadis. "Dan Kami jadikan
mereka gadis-gadis perawan"
Pada hadits tersebut dan hadits-hadits
yang lain, banyak menceritakan bagaimana Rasullullah saw. bercanda, dan
sesungguhnya bercanda yang benar saja yang diperbolehkan. Beberapa dai banyak
yang menggunakan banyolan-banyolan dalam penyampaian dakwahnya, terkadang sudah
keterlaluan. Padahal Islam adalah agama yang serius, bukan dijadikan bahan
tertawaan. Masyarakat yang mendengar dai-dai ini berbanyol, hanya mendapatkan
ketawanya saja, sedangkan ilmunya hilang terbawa gelak tawanya. Dan sesungguhnya
Allah sangat murka pada sesuatu yang berlebihan, termasuk tertawa. Padahal
dalam suatu hadits yang menyebutkan bahwa sesungguhnya bercanda itu
menyempitkan hati. Di hadist tsb, menerangkan bahwa Rasullulllah tak pernah
terlihat palate (langit-langit tenggorokan)-nya bila beliau sedang ketawa,
hanya senyuman-lah yang selalu menghiasi pribadi beliau saw.
7. Bidza'atul lisan wal qoulul faahisy
was-sab (Ungkapan
yang menyakitkan /nyelekit)
Secara sadar atau tidak banyak kita jumpai
perkataan yang menjurus kepada mencaci, menghina, merendahkan, mengejek dan
mempermainkan nama Allah, sifat-sifat-Nya, rasul-rasul-Nya, kitab-kitab-Nya,
ayat-ayat-Nya dan hukum-hukum-Nya serta hukum-hukum yang diterangkan oleh
rasul-Nya. Dan juga perkataan yang menolak, menafikan dan mengingkari segala
perkara dari ‘alim ulama' dimana semua orang tahu bahwa perkara itu dari agama.
Mislanya seperti katanya mengenai mana-mana hukum Islam:
- "Hukum
apa ini?"
- "Hukum
ini sudah usang."
- "Zaman
sekarang tidak pantas diharamkan riba karena menghalangi kemajuan."
- "Dalam
zaman yang serba maju ini kaum wanita tak perlu dibungkus-bungkus."
- "Berzina
jikalau suka sama suka apalah haramnya?"
- "Minum
arak kalau dengan tujuan hendak menyehatkan badan untuk beribadat apalah
salahnya?"
- "Berjudi
kalau masing-masing sudah rela menerima untung ruginya apa salahnya?"
- "Kalau
diberlakukan hukum-hukum Islam sampai kiamat kita tak maju-maju."
- "Ini perbuatan tidak beradab' - diceritakan bahwa Nabi
Muhammad saw. setelah makan: menjilat sisa makanan di jarinya.
Untuk itu Imam Al Bashri mengemukakan
bahwa lidah orang berakal itu terletak dibelakang akalnya. Jika ia hendak
berkata, dipikirkannya lebih dahulu. Kalau perkataan itu kira-kira bakal
bermanfaat baginya, ia akan mengucapkannya,. Kalau dirasakannya akan membahayakan
dirinya, ia memilih diam. Sedangkan hati orang dungu terletak dibelakang
lidahnya. Jika ia mau berkata, langsung saja diucapkannya. "Apalagi
mengatakan yang tidak pernah dikerjakan, dan membungkus keburukan hati dan
keculasan perangai dengan ucapan indah yang berbunga-bunga. Barangkali manusia
dapat dikelabui, tetapi apakah Allah swt. dapat ditipu?
8. Al La'nu (Melaknat, walaupun
binatang atau benda, apatah lagi manusia)
Akhir-akhir ini kebiasaan melaknat
(mengutuk) banyak merebak di tengah-tengah masyarakat, baik yang tua maupun
yang muda, laki-laki maupun wanita, dewasa maupun anak-anak, sehingga didapati
seseorang melaknat anaknya, saudaranya, tetangganya, bahkan melaknat kedua
orang tuanya dengan mengatakan, "Terlaknatlah kedua orang tuaku atau
terlaknatlah ibuku, aku akan melakukan ini dan ini (seperti terkutuk bapakku
jika aku tidak melakukan ini dan ini)." Biasanya dipakai untuk mengancam
atau menantang.
Tidak diragukan lagi ucapan seperti itu
adalah ucapan keji dan mungkar yang tidak mendatangkan ridha Allah , seperti
dalam firman-Nya :
اِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِۗ
"Sesungguhnya Tuhanmu
benar-benar mengawasi." (al-Fajr : 14)
Dan firman Allah :
وَقُلْ لِّعِبَادِيْ يَقُوْلُوا الَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ
يَنْزَغُ بَيْنَهُمْۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ كَانَ لِلْاِنْسَانِ عَدُوًّا مُّبِيْنًا
"Dan katakanlah kepada
hamba-hamba-Ku: Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik,
sesungguhnya syaithan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka." (Al-Isra : 53)
Dan beberapa hadits Nabi yang melarang hal
tersebut di antaranya: Hadits Abu Dawud Tsabit bin ad-Dhahak berbunyi : ”Melaknat
seorang mukmin adalah seperti membunuhnya." (Mutafaqun ‘alaihi).
Hadits dari Abu Hurairah berbunyi : "Tidak
pantas bagi seorang shiddiq (orang yang mengikuti kebenaran) menjadi tukang
laknat." (HR Muslim)
Dan Hadits dari Abu Darda' berbunyi : "Tukang-tukang
laknat tidak akan menjadi pemberi syafaat dan pemberi kesaksian pada hari
kiamat." (HR Muslim)
Hadits Abdullah bin Mas'ud berbunyi :
"Seorang mukmin bukanlah tukang cela dan tukang laknat dan bukanlah
orang yang suka berkata keji lagi kotor." (HR Tirmidzi) ; Hadits ini
dicantumkan oleh Syaikh al-Albani di dalam kitab beliau Shahih Jami' Tirmidzi
no 610 dan Silsilah Hadits Shahih no 320.
Di dalam Silsilah Hadits
Shahih tercantum sebuah hadits yang berbunyi : "Apabila
sebuah laknat terucap dari mulut seseorang, maka ia (laknat itu) akan mencari
sasarannya. Jika ia tidak menemukan jalan menuju sasarannya, maka ia akan
kembali kepada orang yang mengucapkannya."
Hakekat laknat adalah menjauhkan sesuatu
dari rahmat Allah. Seseorang yang melaknat berarti telah menyatakan bahwa
sesuatu telah dijauhkan dari rahmat Allah, padahal itu termasuk perkara gaib,
tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah Maka perbuatan seperti ini termasuk
berdusta dan mengada-ada atas nama Allah Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah
ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah bersabda, "Dahulu kala ada dua
orang Bani Israil yang bersaudara. Salah seorang di antara keduanya sering
berbuat dosa, sedangkan yang lain tekun beribadah. Yang tekun beribadah selalu
mendapati saudaranya berbuat dosa, ia berkata, ‘Tahanlah dirimu dari perbuatan
dosa!' Pada suatu hari, ia melihat hal serupa, ia berkata, ‘Tahanlah dirimu.'
Saudaranya berkata, ‘Biarkan aku bersama Rabbku! Apakah engkau diutus sebagai
pengawasku?' Maka ia pun berkata kepada saudaranya tersebut, ‘Demi Allah, Allah
tidak akan mengampunimu atau demi Allah, Allah tidak akan memasukkanmu ke dalam
surga.' Kemudian ruh keduanya dicabut, lalu bertemu kembali di hadapan Allah
Rabbul ‘Alamin. Allah berkata kepada yang tekun beribadah, ‘Apakah engkau
mengetahui tentang Aku? Atau apakah engkau berkuasa atas apa yang ada
ditangan-Ku?' Kemudian Allah berkata kepada saudaranya, ‘Masuklah ke dalam
surga dengan rahmat-Ku.' Dan Allah berkata kepadanya, ‘Seret ia ke
neraka!'"
Abu Hurairah berkata, "Demi Dzat yang
jiwaku ada di tangan-Nya, orang tersebut telah mengatakan sebuah kalimat yang
menghancurkan dunia dan akhiratnya." (HR Abu Dawud dengan sanad hasan)
Cobalah perhatikan kalimat yang diucapkan oleh seorang ahli ibadah tadi
ternyata lebih besar daripada dosa yang dilakukan saudaranya, karena ia berani
bersumpah atas nama Allah. Hanya Allah sajalah yang dimintai pertolongan-Nya.
Merupakan musibah besar jika seseorang berani melaknat ibunya. Para sahabat
sempat menganggap mustahil perbuatan seperti itu, lalu Rasulullah menjelaskan
maksudnya kepada mereka, yaitu dengan mencela ayah ibu orang lain hingga orang
tersebut mencaci ayah ibunya.(Muttafaqun ‘alaihi)
9. Al Ghina' wasy-syi'r (Bernyanyi
dan bersyair)
Allah berfirman :
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّشْتَرِيْ لَهْوَ الْحَدِيْثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيْلِ
اللّٰهِ بِغَيْرِ عِلْمٍۖ وَّيَتَّخِذَهَا هُزُوًاۗ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عَذَابٌ
مُّهِيْنٌ
"Dan di antara manusia (ada)
yang mempergunakan lahwul hadits untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah
tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu bahan olok-olokan."
(Luqman: 6)
Mengenai ayat ini Ibnu Abbas ra berkata
bahwa Lahwal hadist dalam ayat ini berarti "Nyanyian". Ibnu Mas'ud
r.a menerangkan bahwa Lahwal hadist itu adalah al-Ghina (nyanyian).
Allah berfirman :
اَفَمِنْ هٰذَا الْحَدِيْثِ تَعْجَبُوْنَۙ ٥٩ وَتَضْحَكُوْنَ وَلَا
تَبْكُوْنَۙ ٦٠
"Maka apakah kamu merasa
heran dengan pemberitaan ini dan kamu mentertawakan dan tidak menangis sedang
kamu bernyanyi-nyanyi." (An-Najm : 59-60)
Kata Ikrimah r.a dari Ibnu Abbas r.a bahwa
kata "As-Sumud" dalam akhir ayat ini berarti Al-Ghina menurut dialek
Himyar. Dia menambahkan bahwa jika mendengar Al-Qur'an dibacakan, mereka
bernyanyi-nyanyi, maka turunlah ayat ini.
Dalam hadits sahih yang diriwayatkan oleh
Al-Bukhari dari sahabat Abi Amir dan Abi Malik Al Asy'ari Rasulullah saw
bersabda : "Akan muncul dari kalangan ummatku sekelompok orang yang
menghalalkan farj (perzinahan), sutera, khamar dan alat-alat musik."
(lihat Fatul Bari, 10/51).
Nyanyian dan musik merupakan dua pintu
yang dilalui setan untuk merusak hati dan jiwa. Kaitannya dengan hal itu, Imam
Al-Hafiz Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata: "Diantara tipu daya setan -
musuh Allah - dan diantara jerat yang dipasangnya untuk orang yang sedikit
ilmu, akal dan agamanya, sehingga orang yang bersangkutan tersebut terjebak
kedalamnya untuk mendengarkan kidung dan nyanyian yang diiringi musik yang
diharamkan. Satu hal yang mengherankan adalah sebagian manusia yang mengaku
memiliki konsentrasi untuk ibadah justru telah menjadikan nyanyian, tarian dan
lagu-lagu lain sebagai wahana untuk beribadah sehingga mereka meninggalkan
Al-Qur'an.
Ibnu Qayyim dalam kitabnya
"Ighatsatul-Lahfan min Mashayidisy-Syaithan" menamai nyanyian seperti
itu dengan sepuluh nama, yaitu: lahwun (main-main), laghwun (pekerjaan
sia-sia), zuur (kebathilan), muka (siulan), tasydiah (tepuk tangan), ruqyatuz-zina
(jimat dalam perzinahan), pedomannya setan, penumbuh nifak didalam hati, suara
kedunguan, suara yang penuh dosa, suara setan atau seruling setan.
Ada beberapa nyanyian yang diperbolehkan
yaitu : Menyanyi pada hari raya. Hal itu berdasarkan hadits A'isyah:
"Suatu ketika Rasul Shallallahu 'Alaihi Wasallam masuk ke bilik 'Aisyah,
sedang di sisinya ada dua orang hamba sahaya wanita yang masing-masing memukul
rebana (dalam riwayat lain ia berkata: "... dan di sisi saya terdapat dua
orang hamba sahaya yang sedang menyanyi."), lalu Abu Bakar mencegah
keduanya. Tetapi Rasulullah malah bersabda: "Biarkanlah mereka karena
sesungguhnya masing-masing kaum memiliki hari raya, sedangkan hari raya kita
adalah pada hari ini." (HR. Bukhari)
Menyanyi dengan rebana ketika berlangsung
pesta pernikahan, untuk menyemarakkan suasana sekaligus memperluas kabar
pernikahannya. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda : "Pembeda
antara yang halal dengan yang haram adalah memukul rebana dan suara (lagu) pada
saat pernikahan." (Hadits shahih riwayat Ahmad). Yang dimaksud di sini
adalah khusu
s untuk kaum wanita. Nasyid Islami
(nyanyian Islami tanpa diiringi dengan musik) yang disenandungkan saat bekerja
sehingga bisa lebih membangkitkan semangat, terutama jika di dalamnya terdapat
do'a.Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menyenandungkan sya'ir Ibnu
Rawahah dan menyemangati para sahabat saat menggali parit. Beliau bersenandung:
"Ya Allah tiada kehidupan kecuali kehidupan akherat maka ampunilah kaum
Anshar dan Muhajirin." Seketika kaum Muhajirin dan Anshar menyambutnya
dengan senandung lain: "Kita telah membai'at Muhammad, kita
selamanya selalu dalam jihad." Ketika menggali tanah bersama para
sahabatnya, Rasul Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga bersenandung dengan sya'ir
Ibnu Rawahah yang lain: "Demi Allah, jika bukan karena Allah, tentu kita
tidak mendapat petunjuk, tidak pula kita bersedekah, tidak pula mengerjakan
shalat. Maka turunkanlah ketenangan kepada kami, mantapkan langkah dan
pendirian kami jika bertemu (musuh) Orang-orang musyrik telah mendurhakai kami,
jika mereka mengingin-kan fitnah maka kami menolaknya." Dengan suara koor
dan tinggi mereka balas bersenandung "Kami menolaknya, ... kami
menolaknya." (Muttafaq 'Alaih)
10. Attaqo'ur fil kalaam
(Berfasih-fasih dalam berbicara untuk menarik perhatian)
Salah satu modal untuk dapat diterima
dalam menjalin hubungan dengan orang lain adalah menarik perhatian. Untuk itu
kerap kali orang berakting untuk mendapatkan perhatian orang lain. Namun kadang
orang sering kebablasan dalam akting yang dimainkan, sehingga sering dijuluki
over acting, sok gagah, sok fasih. Misalnya saja ada orang yang sering
menggunakan action Inggris untuk menunjukkan bahwa dia dapat berbahasa Inggris.
Atau dengan action Arab untuk menunjukkan dia dapat berbahasa Arab, walaupun
pada kenyataannya tidak. Pernah dalam kampanye Pemilu seorang jurkam sebuah
parpol besar (dengan penuh semangat berpidato di hadapan massanya)
berkata," Saudara-saudara parpol kami sangat berempati dan antonius dengan
nasib rakyat jelata..." (Maksudnya mungkin antusias).
11. Ifsyaa'ussirri (Membocorkan rahasia)
Mudrik bin 'Aun Al-Ahmas berkata :
"Ketika aku berada di sisi Umar radhiyallahu 'anhu, datanglah utusan
An-Nu'man. Umar radhiyallahu 'anhu pun menanyakannya tentang keadaan pasukan.
Utusan itu menyebutkan orang-orang yang terluka dan terbunuh di Nahawand, ia
berkata: "Si Fulan bin Fulan, Fulan bin Fulan dan lain-lain yang tidak
engkau kenal. Umar radhiyallahu 'anhu berkata : "Akan tetapi Allah
Subhanahu wa Ta'ala mengetahui mereka." Dalam riwayat lain disebutkan:
"Akan tetapi Dzat Yang telah mengkaruniakan mereka syahadah (mati syahid)
mengetahui wajah dan nasab mereka."
Hubungan istri adalah hubungan yang khas,
dimana keduanya bisa saling meleburkan diri menjadi satu kesatuan. Di sana ada
cinta, juga kasih dan sayang. Karenanya, dalam kehidupan suami istri pasti
terjadi hubungan intim yang tidak ada orang lain yang mengetahuinya, kecuali
mereka berdua. Saat-saat itu suami mencurahkan segala kasih sayangnya kepada
istri, demikian juga sebaliknya.
Hubungan yang demikian, sekalipun berbaur
antara cinta dan nafsu tapi Allah telah mensakralkannya. Hubungan itu suci dan
berpahala. Hunbungan itu baru ternoda jika ada salah seorang di antaranya, baik
suami atau istri yang membuka rahasia mereka berdua kepada orang lain. Baik
karena ingin mengungkapkan rasa bahagianya maupun karena rasa kecewa.
Membuka rahasia rumah tangga kepada pihak
lain sama sekali tidak mendatangkan keuntungan, justru bencana dan malapetaka.
Rumah tangga bisa berantakan karena salah satu pihak merasa tersinggung dan
terhina karenanya. Kehidupan rumah tangga terganggu, bahkan tidak tertutup
kemungkinan jika kemudian masalahnya berkembang sampai akhirnya terjadi
perceraian.
Jika anggota badan yang terluka bisa
dijahit dan diperban. Akan tetapi jika hati yang terluka bisa dibawa sampai
mati. Hari ini bisa ditekan, tapi besok bisa muncul kembali. Itulah sebabnya
kenapa kita harus menjaga rahasia istri atau suami.
Dari Abu Said Al-Khudri ra beliau berkata:
Rasulullah saw bersabda : "Sesungguhnya sejelek-jelek orang di sisi
Allah pada hari qiamat kelak adalah suami yang sudah mencurahkan segala kasih
sayangnya kepada istrinya dan istrinya pun sudah menyerahkan segala kasih
sayangnya kepadanya, kemudian dia (suami) menyebarkan rahasia istrinya (dan
istrinya membuka rahasia suaminya).” (HR. Muslim)
12. Alkadzibu (Dusta atau
berbohong dalam perkataan, janji dan sumpah)
Allah SWT berfirman
ذٰلِكَ وَمَنْ يُّعَظِّمْ حُرُمٰتِ اللّٰهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ عِنْدَ
رَبِّهٖۗ وَاُحِلَّتْ لَكُمُ الْاَنْعَامُ اِلَّا مَا يُتْلٰى عَلَيْكُمْ
فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْاَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوْا قَوْلَ الزُّوْرِ ۙ ٣٠
"Hendaklah kita menjauhi
perkataan-perkataan dusta." (Al-Hajj : 30)
Dalam peribahasa mengatakan, "kerana
lidah (mulut) badan binasa" ini mengingatkan kita untuk hidup dalam
suasana yang tenteram, aman dan damai, hendaklah diawasi lidah kerana melalui
tutur kata akan menjadi lebih benar, beradab dan bahasanya lebih santun.
Suka berbohong bukan saja menimbulkan
kemarahan orang yang mendengarnya, malah menimbulkan implikasi buruk kepada si
pembohong itu sendiri. Dari Abu Hurairah r.a. katanya Rasulullah s.a.w.
bersabda : "Tidak beriman seseorang dengan sempurna sehingga
ditinggalkan pembohongan walaupun senda gurau, bersengketa atau perbalahan."
Tabiat suka berbohong termasuk dalam
kategori dosa besar setelah syirik (menyekutukan Allah) dan durhaka terhadap
kedua orang tua. Ini ditegaskan dalam sabda Rasulullah saw : "Maukah
aku tunjukkan perihal dosa-dosa besar? Kami menjawab: Ya, tentu mau wahai
Rasulullah. Rasulullah menjelaskan: Menyektukan Allah, durhaka kepada kedua
orang tua. Oh ya, (ada lagi) yaitu perkataan dusta." (Riwayat Muttafaq
Alaih)
Berkata Imam Nawawi di kitabnya Al-Adzkar
(halaman 326): "Ketahuilah! Sesungguhnya menurut madzhab Ahlus Sunnah
bahwa dusta itu ialah : Mengkabarkan tentang sesuatu yang berlainan
(berbeda/menyalahi) keadaannya. Baik dilakukan dengan sengaja atau karena
kebodohan (tidak sengaja), akan tetapi tidak berdosa kalau karena kebodohan
(tidak sengaja) dan berdosa kalau dilakukan dengan sengaja".
13. Al Ghiibah (Menceritakan
keburukan orang lain)
Dalam sebuah perjalanan ke suatu daerah,
para sahabat diatur agar setiap dua orang yang mampu, membantu seorang yang tak
mampu (tentang makan-minum). Kebetulan Salman Al Farisi diikutkan pada dua
orang, tetapi ketika itu ia lupa tidak melayani keperluan keduanya. Ia disuruh
minta lauk pauk kepada Rasulullah saw. Dan setelah ia berangkat, keduanya
berkata, "Seandainya ia pergi ke sumur, pasti surutlah sumurnya."
Sewaktu Salman menghadap, beliau bersabda,
"Sampaikan kepada kedua temanmu bahwa kalian sudah makan lauk
pauknya." Setelah ia menyampaikan kepada mereka berdua, lalu keduanya
menghadap kepada Nabi saw dan katanya, "Kami tidak makan lauk pauk dan
seharian kami tidak makan daging." Kemudian Rasulullah bersabda,
"Kalian telah mengatakan saudaramu (Salman) begini-begitu. Maukah kalian
memakan daging orang mati?" Mereka menjawab, "Tidak!" "Jika
kalian tidak mau makan daging orang mati, maka janganlah kalian ghibah
mengatakan kejelekan orang lain, sebab yang demikian itu berarti memakan daging
saudaranya sendiri."
Menurut Ibnu Abbas, kisah tersebut yang
melatarbelakangi diturunkannya surat Al-Hujurat : 12
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ
اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ
بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا
فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ ١٢
"Hai orang-orang yang
beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (buruk), karena setengahnya itu dosa,
dan janganlah menyelidiki kesalahan orang lain, dan jangan pula setengah kamu
menggunjing (ghibah) atas sebagian yang lainnya. Maukah seseorang di antara
kamu makan daging saudaranya yang mati? Pasti kamu jijik (tidak mau).
Bertaqwalah kepada Allah, bahwasannya Allah menerima taubat lagi
Penyayang."
Dari Ali bin Ibrahim, dari ayahnya, dari
An-Naufal, dari Al-Sakkuni, dari Abu Abdillah ra berkata: Rasulullah SAW
bersabda : ”Kerusakan yang dilakukan oleh ghibah (mengumpat/memfitnah) pada
iman seorang mukmin lebih cepat daripada kerusakan yang disebabkan oleh
penyakit aklah (penyakit yang memakan daging di tubuh manusia) pada tubuhnya.”
Diriwayatkan dari Abu Dzar berkata: Ya
Rasulullah, apakah ghibah itu? Rasul menjawab : ”Menyebutkan tentang
saudaramu akan sesuatu yang membuat dia merasa jijik.” Aku berkata: Ya
Rasulullah, bagaimana jika hal tersebut memang ada pada dirinya? Rasul
menjawab: Ketahuilah, bahwa menyebut tentang sesuatu yang memang ada pada
dirinya, berarti kamu telah mengumpatnya. Abu Dzar berkata : Nabi SAW bersabda :
Ghibah merupakan suatu dosa yang lebih besar daripada berzina. Kataku :
Bagaimana itu, ya Rasulullah? Rasul menjawab : ”Itu karena orang yang
berzina, jika dia bertobat kepada Allah, Allah menerima tobatnya. Namun ghibah
tidak diampuni oleh Allah, hingga korban daripada ghibah mengampuninya.”
14. Al-madhu (Sanjungan yang
menjerumuskan)
Imam Ats-Tsauri menuturkan: "Apabila
engkau bukan termasuk orang yang takjub terhadap diri sendiri, hal lain yang
perlu diingat ialah; hindarilah sifat senang disanjung orang." Maksudnya
bukan orang lain tidak boleh memuji perbuatanmu itu, tetapi janganlah kamu
meminta pujian dari orang lain. Hendaknya engkau selalu berhubungan dengan
Allah Subhanahu wa Ta'ala (dengan selalu mengingatnya).
Dalam sebuah hadits disebutkan : "Barangsiapa
yang mencari ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala, meskipun menimbulkan kemarahan
manusia, niscaya Allah Subhanahu wa Ta'ala akan meridhainya dan akan membuat
manusia ridha terhadapnya. Dan barangsiapa yang mencari kesenangan manusia,
hingga membuat Allah murka maka Allah murka kepadanya dan membuat manusia murka
terhadapnya." (HR. At-Tirmidzi).
Jenis pujian lain adalah memuji diri
sendiri atas kekurangan yang ada padanya. Ini termasuk rekomendasi terhadap
diri sendiri. Sebagian orang sengaja memuji diri sendiri di hadapan orang
banyak. Padahal Allah SWT telah berfirman :
فَلَا تُزَكُّوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰى ࣖ ٣٢
"Janganlah kamu
menganggap diri kamu suci" (An-Najm: 32).
Dan perbuatan tadi termasuk menganggap
suci diri sendiri. Rabbah Al-Qaisi pernah ditanya: "Apakah yang dapat
merusak amalan seseorang?" Beliau menjawab: "Sanjungan orang dan lupa
terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah memberi nikmat"
Seorang penyair berkata:
Sungguh aneh orang yang memuji dirinya sendiri
Namun tidak menyadari bahwa pujiannya itu sendiri
adalah kekurangan dirinya
Seorang pemuda memuji diri atas kekurangan yang
ada padanya,
Menyebut-nyebut aibnya sendiri hingga diketahui
kejelekannya
Pujian sesekali perlu diberikan. Hal ini membuat orang lain berusaha untuk
bekerja lebih baik lagi. Karena, pada dasarnya semua orang mendambakan
penghargaan walaupun hanya berupa kata-kata pujian.
Rasulullah saw. memberikan reward kepada para sahabatnya selalu disertai
doa. Misalnya Saad Bin Abi Waqash pernah didoakan Rasulullah tentang dua hal
yaitu kalau berdoa pasti dikabulkan Allah dan kalau memanah pasti kena sasaran.
Inilah sanjungan yang dilandasi persahabatan yang dibangun atas dasar cinta
kepada Allah.
Biasanya kita dapati pada masyarakat yang budaya paternalistiknya sangat
kuat; budaya ‘Asal Bapat Senang'; budaya Yes Man dan sebagainya. Berbagai
gelar, acap kali disematkan sebagai tanda loyalnya bawahan terhadap atasan,
misalnya Bapak Revolusi, Wali ul Amri, Bapak Pembangunan dan banyak
bentuk-bentuk sanjungan yang pada akhirnya justru akan menghancurkan orang
tersebut. Seperti Firaun yang selalu disanjung, dipuja oleh rakyatnya dan pada
gilirannya Firaun mendeklarasikan dirinya sebagai tuhan. Dan kita tahu
bagaimana akhir dari kehidupan Firaun itu sangat tragis dan mengenaskan. Dan
hanya Allah yang pantas mendapat segala jenis sanjungan dan pujian.
15. Assukhriyah wal istihza'
(Menyebutkan hal yang bikin malu - kejelekan diceritakan untuk ditertawakan)
Menjelang perpisahannya dengan Nabi Musa as, Nabi Khidir as, memberi
nasihat, "Hai Musa, janganlah terlalu banyak bicara, dan jangan pergi
tanpa perlu, dan jangan banyak tertawa, juga jangan mentertawakan orang yang
berbuat salah, dan tangisilah dosa-dosa yang telah kamu perbuat, hai putra Ali
'Imran." (Tanbighul Ghafilin: 192-193).
Tertawa, tentu saja, bukanlah sesuatu yang dilarang. Siapa saja boleh
tertawa selagi ingin. Dengan tertawa menunjukkan, bahwa seseorang sedang dalam
keadaan senang.
Bahkan tertawa bisa menjadi ilham bagi seorang penulis untuk membuat sebuah
buku. Akan tetapi, tertawa dalam pengertian mengeluarkan suara meledak-ledak
oleh sebab rasa suka, geli apalagi mengandung unsur menghina seseorang, ini
akan lain ceritanya.
Tidak didapati dalam ajaran di luar Islam yang mengatur tata hidup
sedemikian rupa, hingga masalah tertawa.
Allah swt berfirman :
فَلْيَضْحَكُوْا
قَلِيْلًا وَّلْيَبْكُوْا كَثِيْرًاۚ جَزَاۤءًۢ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ ٨٢
"Maka
hendaklah mereka sedikit tertawa dan banyak menangis sebagai pembalasan dari
apa yang selalu mereka kerjakan." (QS. At-Taubah:82).
Dalam salah satu haditsnya Rasulullah saw bersabda : "Seandainya
kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kamu akan sedikit tertawa,
...." (HR.Abu Dzar ra) . Rasulullah saw tidak pernah tertawa, kecuali
hanya tersenyum, tidak menoleh kecuali dengan wajah penuh (maksudnya: tidak
melirik). (Ja'far Auf, Mas'ud dari Auf Abdillah)
Berdasarkan hadits di atas, sebagian ulama berpendapat bahwa tersenyum itu
hukumnya sunah, sedang tertawa terbahak-bahak makruh. Maka bagi mereka yang
tetap ingin sehat akalnya, seyogyanya menjauhi tertawa dengan cara demikian
(terbahak-bahak atau meledak-ledak), kata Al-Faqih Abu Laits Samarqandi. Dengan
kata lain, orang yang tidak bisa mengendalikan diri dan gemar tertawa, akan
membuat fungsi akalnya terganggu, lengah dan lupa diri, yang berarti membuka
pintu bagi syetan untuk masuknya godaan. Dalam surat An-Najm (53): 59-61 Allah
memperingatkan,
اَفَمِنْ هٰذَا
الْحَدِيْثِ تَعْجَبُوْنَۙ ٥٩ وَتَضْحَكُوْنَ وَلَا تَبْكُوْنَۙ ٦٠ وَاَنْتُمْ
سٰمِدُوْنَ ٦١
"Apakah
dengan ajaran ini, kalian ta'ajub (heran)? Kamu tertawa dan tidak menangis.
Sedangkan kalian lengah." (An-Najm : 59-61)
Ibnu Abbas ra berkata, "Barangsiapa tertawa di saat berbuat maksiat,
maka akan bercucuran tangis di neraka." Tertawa yang berlebihan,
termasuk di antara 3 perkara yang menyebabkan hati seorang menjadi bebal dan
membatu. Sedang dua penyebab yang lainnya yaitu : belum lapar sudah makan lagi
dan gemar omong kosong (bicara ke sana kemari yang tak berguna). Terkadang kita
mendapati seseorang yang kesibukannya membuat orang tertawa-tawa, sehingga
bukan semata menjadi hiburan hati, tapi sudah mengarah pada membuat orang
menjadi lengah dan lupa.
Kepada yang berbuat seperti ini Rasulullah saw memberi peringatan : "Celakalah
orang yang berdusta supaya ditertawakan orang lain. Celakalah dia, celakalah
dia!" (HR. Tirmidzi)
16. An-namiimah (Adu domba atau
menghasut)
Adu domba merupakan perangai tercela yang menanamkan dendam diantara
manusia, ini merupakan sifat yang dibenci setiap muslim dan muslimah. Sifat
yang buruk ini tidak boleh diremehkan, karena diantara ciri-ciri adu domba dan
yang telah ditetapkan baginya, bahwa ia bisa memisahkan seseorang dengan
kerabatnya, seseorang dengan teman-temannya, bahkan dirinya dengan anggota
saudaranya sendiri.
Adu domba bisa menimbulkan tindak pembunuhan, bahkan peperangan antara dua
kabilah. Di dalam masyarakat kita banyak terdapat peristiwa yang menunjukkan
betapa besar akibat yang ditimbulkan adu domba. Sedangkan istri yang ideal
mempunyai sikap yang pasti dalam menghadapi adu domba sesuai dengan hukum
syari'at tentang adu domba, bahwa nabi perbah bersabda :
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ
"Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba." (muttafaq
alaihi).
17.
Al khotho' fi daqo-iqul kalaam (Bertanya yang bukan-bukan,
hingga memberatkan orang yang menjawab)
Abu Hurairah
radhiallahu 'anhu, menceritakan bahwasanya di mendengar Rasulullah Shallallahu
'alaihi Wasallam bersabda :
مَا نَهَيْتُكُمْ فَاجْتَنِبُوْهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ
بِهِ فَائْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ إِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ
قَبْلَكُمْ كَثْرَةُ سُؤَالِهِمْ وَاخْتِلاَفُهُمْ عَلىَ أَنْبِيَاءِهِمْ
"Apa
yang aku larang kalian dari (mengerjakan)-nya maka jauhilah ia, dan apa yang
aku perintahkan kalian untuk (melakukan)-nya maka lakukanlah sesuai dengan
kemampuan kalian, karena sesungguhnya yang menghancurkan orang-orang yang
sebelum kalian adalah karena banyaknya pertanyaan-pertanyaan mereka (yang
mereka ajukan) dan perselisihan mereka dengan para Nabi-Nabi (yang diutus
kepada) mereka". (H.R.Bukhari dan Muslim).
Dalam hadits
tersebut kita diperintahkan untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh
Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam dan menjauhi apa saja yang dilarang
oleh beliau. Larangan tersebut dimaksudkan agar kita tidak terjebak dengan apa
yang telah menimpa umat-umat terdahulu yang hancur dan binasa gara-gara terlalu
banyak bertanya kepada Nabi-Nabi mereka tentang sesuatu yang tidak ada
faedahnya begitu juga seringnya mereka berselisih dan membantah Nabi-Nabi
mereka tersebut.
Secara
global, barangsiapa yang melakukan apa yang diperintahkan oleh Nabi saw dan
menjauhi apa yang dilarang oleh beliau dan memfokuskan diri pada apa yang
diperintahkan kepadanya, terlepas dari yang lainnya maka dia akan mendapakan
keselamatan di dunia dan akhirat sedangkan orang yang berbuat sebaliknya dengan
menyibukkan dirinya berdasarkan pertimbangan logika dan perasaan semata, maka
dia telah terjerumus kedalam apa yang dilarang oleh Nabi saw sama seperti
halnya Ahlul Kitab yang binasa lantaran terlalu banyak bertanya dan berselisih
dengan para Nabi mereka dan ketidaktundukan serta ketidakta'atan mereka kepada
para Rasul yang diutus kepada mereka.
4. MENJAUHI BAHAYA LIDAH
- Menjaga
mulutnya agar tidak kemasukan barang haram.
- Menjaga mulutnya agar tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak
seharusnya dikatakan.
Masuk keluarnya sesuatu dari mulut itu harus benar-benar dijaga, sebab
letak keselamatan manusia, dunia dan akhiratnya itu terletak pada kemampuannya
untuk menjaga hal tersebut di atas.
Abu Bakar ash-Shiddiq, khalifah pertama pengganti Rasulullah pernah
meletakkan tongkat di mulutnya untuk menjaga ucapannya. Lalu ia menunjuk
lisannya seraya berkata: "Inilah yang dapat mengeluarkanku dari tempat
tempat keluar (maksudnya: keluar dari batas-batas kebenaran)."
Sebagai khalifah, Abu Bakar dikenal orang yang paling hemat dalam
berbicara. Ketika ditunjuk menjadi khalifah, ia hanya berpidato sebentar.
Meskipun pidatonya sebentar, tapi kata-katanya dihafal oleh para sahabat,
juga kaum muslimin hingga sekarang. Singkat tapi padat. Penuh arti dan
konsisten. Apa yang dikatakan, itulah yang ada di dalam pikiran dan
perasaannya. Antara ucapan dan tindakannya tidak terdapat perbedaan. Antara
ucapannya hari ini dan besok tidak saling bertentangan. Meskipun Abu Bakar
memerintah kaum muslimin dalam tempo yang am
at singkat, tapi banyak hal yang bisa diselesaikan. Ancaman disintegrasi
(pemurtadan), kerusuhan rasial antar suku dan golongan, dan berbagai gejolak
dalam negeri segera dapat diatasi, bukan dengan kata-kata, tapi tindakan. Bukan
dengan lelucon, humor, apalagi gaya ketoprakan.
Pemimpin model Abu Bakar inilah yang kita nantikan saat ini untuk memimpin
bangsa Indonesia menuju gerbang masa depan.
Semua pemimpin seharusnya dapat menahan diri dari perkataan yang tidak
benar, mengandung fitnah, dan adu domba. Mereka harus menahan diri dari ucapan
yang dapat menyakiti atau melukai perasaan orang lain, walaupun mengandung
substansi yang benar. Pemimpin adalah orang yang hemat berbicara, sedikit
berkata-kata, dan berbicara seperlunya saja.
No comments:
Post a Comment