Pengantar
Surah ini merupakan surah yang
paling mirip dengan surah-surah Makkiyyah dalam temanya, arahannya, naungannya,
nuansanya, dan isyarat-isyaratnya, khususnya bagian pertama darinya. Nuansa
surah-surah Madaniyyah hampir tidak terlihat di dalamnya kecuali pada
paragraf-paragraf akhir.
Bagian pertama dan
paragraf-paragraf awal hingga awal seruan,
“Hai orang-orang yang beriman,
sesungguhnya di antara istri-istrimu.. '' (at-Taghaabun: 13)
Sasarannya adalah pembinaan dan
pembangunan asas-asas akidah dan pembentukan persepsi Islami dalam hati dengan
gaya bahasa surah-surah Makkiyyah yang ditujukan kepada orang-orang musyrik dan
kafir pertama kali. Mereka diserukan dengan persepsi ini dalam bentuk seruan
yang pertama kali didengar dan dihadapi. la menggunakan pengaruh-pengaruh alam
semesta dan jiwa, sebagaimana ia juga memaparkan tentang nasib dan hukuman atas
orang-orang yang terdahulu dari para pendusta sebelumnya. Di samping itu,
iajuga memaparkan tentang kejadian-kejadian dan fenomena-fenomena hari Kiamat
guna menetapkan hari kebangkitan dan penekanannya dengan tekanan yang keras.
Tekanan yang menunjukkan bahwa orang-orang yang diseru itu termasuk yang ingkar
dan kafir.
Sedangkan, bagian dan paragraf
akhir menyerukan orang-orang yang beriman dengan seruan yang mirip dengan
seruan-seruan yang ada dalam surah Madaniyyah untuk menganjurkan mereka agar
berinfak dan memperingatkan mereka dari fitnah harta benda dan anak. Seruan
yang semisal dengan ini muncul berulang-ulang dalam periode Madinah disebabkan
oleh problematika yang muncul pada masyarakat Islam yang baru dibentuk. Sebagaimana
di sana sesungguhnya terdapat pula bentuk-bentuk hiburan atas musibah dan
kejadian yang menimpa atau beban-beban yang ada di pundak orang-orang yang
beriman. Kemudian penyerahan kembali segala urusan kepada takdir Allah dan
penetapan persepsi Islami di dalam urusan itu.
Itulah tema yang sering
berulang-ulang dibahas dalarn surah-surah Madaniyyah, khususnya setelah
perintah jihad dan pengorbanan-pengorbanan yang timbul karenanya.
Di sana ada beberapa riwayat bahwa
surah ini termasuk di antara surah Makkiyyah dan ada pula beberapa tiwayat
bahwa surah ini adalah surah Madaniyyah dengan beberapa alasan penguat. Kami
hampir-hampir saja condong memasukkan surah ini ke dalam surah Makkiyyah karena
terpengaruh dengan gaya bahasanya yang terdapat dalam paragraf-paragraf pertama
dan nuansanya.
Namun, kami tetap memasukkan ke
dalam surah Madaniyyah bersama dengan pendapat yang paling kuat dalam masalah
ini. Karena, sesungguhnya di sana tidak ada satu pun faktor yang menghalangi
bahwa paragraf-paragraf pertama sebagai seruan kepada orang-orang kafir setelah
hijrah, baik mereka adalah orang-orang kafir Mekah maupun orang orang kafir
yang dekat dari Madinah. Sebagaimana sesungguhnya tidak ada pula rintangan dan
larangan bahwa surah-surah Madaniyyah dalam beberapa kesempatan dan keadaan
tertentu, menjadikan sasarannya adalah pembinaan dan pembangunan asas-asas
akidah dan pencerahan tentang persepsi Islami dengan gaya bahasa yang sering
digunakan untuk surah-surah Makkiyyah. Wallahu a’lam.
Persepsi Islam tentang Alam Semesta
Bagian pertama dan
paragraf-paragraf awal, sasarannya adalah pembinaan dan pembangunan persepsi
iman berkenaan dengan alam semesta, serta pemaparan tentang hakikat hubungan
antara Penciptanya Allah dengan alam semesta yang diciptakan-Nya. la juga
menetapkan tentang hakikat beberapa sifat AIlah dan asmaul husna serta
pengaruhnya dan jejaknya dalam alam semesta dan dalam kehidupan manusia.
يُسَبِّحُ
لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ
الْحَمْدُۖ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ١ هُوَ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ
فَمِنْكُمْ كَافِرٌ وَّمِنْكُمْ مُّؤْمِنٌۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ
٢ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ بِالْحَقِّ وَصَوَّرَكُمْ فَاَحْسَنَ
صُوَرَكُمْۚ وَاِلَيْهِ الْمَصِيْرُ ٣ يَعْلَمُ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ
وَيَعْلَمُ مَا تُسِرُّوْنَ وَمَا تُعْلِنُوْنَۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ ۢبِذَاتِ
الصُّدُوْرِ ٤
"Senantiasa bertasbih kepada Allah apa
yang di langit dan apa di bumi. Hanya Allah-lah yang mempunyai semua kerajaan
dan semua pujian-pujian; dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Dialah yang
menciptakan kamu, maka di antara kamu ada yang kafir dan di antara kamu ada
yang beriman. A llah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Dia menciptakan
langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar. Dia membentuk rupamu dan
dibaguskan-Nya rupamu itu, dan hanya kepada-Nyalah kembali(mu). Dia mengetahui
apa yang ada di langit dan di bumi serta mengetahui apa yang kamu rahasiakan
dan apa yang kamu nyatakan. Allah Maha Mengetahui segala isi hati. "
(at-Taghaabun:1-4)
Persepsi dan pandangan imani yang
ada dalam alam semesta ini adalah persepsi yang paling detail dan luas yang
dikenal oleh orang-orang yang beriman sepanjang sejarah. Risalah-risalah ilahiah
telah datang. Semuanya membawa keyakinan tentang keesaan AIIah dan
penciptaan-Nya atas seluruh alam semesta dan seluruh makhluk. Juga penjagaan
dan perhatian-Nya atas segala yang ada di alam semesta.
Kita tidak boleh meragukan
sedikitpun tentang perkara ini karena Al-Qur'an menceritakan tentang
rasul-rasul dan risalah-risalah seluruhnya. Sedangkan, temuan-temuan yang
diperoleh dari kajian dalam kitab-kitab yang dipalsukan dan menyimpang, tidak
boleh dijadikan sandaran. Demikian pula kitab kitab yang ditulis oleh orang-orang
yang tidak beriman kepada Al-Qur'an atau hanya beriman kepada sebagiannya saja.
Sesungguhnya penyimpangan dari
akidah iman terjadi pada pengikut-pengikut rasul yang membawa risalah tersebut.
Sehingga, tampak bahwa seolah-olah rasul itu tidak membawa risalah tauhid yang
murni. Atau, ia seakan tidak datang membawa akidah tentang kekuasaan Allah yang
mutlak atas alam semesta dan Dia selalu berhubungan dengan alam semesta itu.
Ini timbul dari penyimpangan yang baru terjadi, bukan dari asas akidah yang
murni.
Pasalnya, agama Allah itu adalah
satu sejak dari awal risalah hingga akhir risalah. Dan, sangat mustahil Allah
menurunkan suatu agama yang menyimpang dan bertentangan dengan kaidah-kaidah
tauhid ini, sebagaimana yang diasumsikan oleh orang-orang yang menemukan
penyimpangan-penyimpangan itu dalam kitab-kitab yang dipalsukan dan menyimpang
atas nama agama.
Namun, penetapan hakikat ini tidak
menafikan bahwa persepsi Islam tentang Zat Allah, sifat-sifatNya dan
jejak-jejak, bekas-bekas dan pengaruh-pengaruh sifat-sifat itu dalam alam
semesta dan dalam kehidupan manusia,... adalah lebih luas, lebih detail, dan
lebih lengkap dari segala persepsi tauhid sebelumnya yang terdapat dalam
agama-agama samawi yang terdahulu. Hal ini sesuai dengan tabiat risalah yang
terakhir dan misinya yang terakhir serta sesuai hajat tuntunan manusia di mana
risalah ini datang untuk menyerukannya dan mengarahkannya. Ia juga datang untuk
membentuk persepsi yang total dan sempurna beserta segala
permasalahan-permasalahan, cabang-cabang, jejak-jejak, bekas-bekas, dan
pengaruh-pengaruhnya.
Dari persepsi ini diharapkan hati
manusia (dengan kadar kemampuannya) mampu mengetahui hakikat ketuhanan dan
keagungannya, serta merasakan kekuasaan Ilahi dan menyaksikannya dalam
jejak-jejak yang dapat disaksikan di alam semesta. Dia juga bisa merasakannya
dalam setiap makhluk yang hidup beserta jejak-jejak dan bekas-bekas yang dapat
disaksikan dan diketahui. Dia hidup dalam ruang kekuasaan Ilahi beserta jejak-jejaknya
yang tidak akan hilang dan tertutup dari indra, hati, dan ilham nurani. Dia
bisa menyaksikannya bahwa hal itu meliputi segala sesuatu, menguasai segala
sesuatu, mengatur segala sesuatu, menjaga dan memelihara segala sesuatu.
Sehingga, tidak ada satu pun yang terlepas darinya baik yang besar, kecil,
agung, mau pun remeh.
Di antara misi akidah dan persepsi
itu adalah agar hati manusia memiliki daya sensitivitas sehingga selalu takut,
menanti, tamak, berharap, dan bercita-cita. Manusia diharapkan menjalani
kehidupan ini dengan selalu bergantung dalam setiap gerakan fisik dan getaran
hatinya kepada Allah. Juga merasakan kekuasaan dan keperkasaan-Nya, merasakan ilmu-Nya
dan pengawasan-Nya, merasakan rahmat dan karunia-Nya, dan merasakan
kedekatan-Nya dalam setiap keadaan.
Akhirnya, tujuan sesungguhnya di
antara misi akidah dan persepsi itu adalah agar manusia merasakan bahwa segala
sesuatu yang ada mengarahkan dirinya kepada Allah. Sehingga, seharusnya dia pun
mengarahkan dirinya kepada-Nya. Sesungguhnya segala yang ada bertasbih
memuji-Nya. Maka, seharusnya dia pun bertasbih kepada-Nya. Allah mengatur
segala urusannya dan menentukan hikmah segala sesuatu. Maka, seharusnya dia
tunduk kepada syariat-Nya dan aturan-Nya.
Dengan demikian, ia merupakan
persepsi iman dalam alam semesta dengan makna ini dan dengan segala makna lain
yang tampak dalam tempat-tempat lain di Al-Qur'an yang telah memaparkan
beberapa bagian dan sisi dari persepsi iman yang total, sempurna, meliputi, dan
detail. Dan, contoh paling dekat adalah yang terdapat di dalam bagian dari
surah al-Hasyr dalam juz 28 ini.
“Senantiasa bertasbih kepada Allah
apa yang di langit dan apa yang di bumi. Hanya Allah-lah yang mempunyai semua
kerajaan dan semua pujian-pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (at-Taghaabun:
1)
Jadi, semua yang ada di
langit-langit dan di bumi mengarahkan diri menuju Tuhannya dan bertasbih
memuji-Nya. Hati seluruh alam semesta ini adalah beriman. Ruh segala yang ada
di dunia ini adalah beriman, dan Allah Maha Memiliki atas segala sesuatu. Segala
sesuatu menyadari tentang hakikat ini.
Allah terpuji dalam diri-Nya
sendiri dan diagungkan oleh makhluk-makhIuk-Nya. Bila manusia sendiri bersikap
berseberangan dengan alam semesta yang besar ini, maka hatinya telah kafir dan
ruhnya jumud, melanggar dan bermaksiat, tidak bertasbih kepada Tuhannya, dan
tidak menghadapkan dirinya kepada Tuhannya. Dengan demikian, dia berperilaku
aneh dan menyimpang seterang-terangnya seperti orang yang terbuang dan terusir
dari segala yang ada dalam alam semesta.
Ia merupakan kekuasaan yang mutlak
dan tidak terikat dengan apa pun. Ia merupakan hakikat yang terpatri dalam hati
setiap mukmin sehingga mengetahuinya dan terpengaruh dengan bukti-bukti dan
tanda-tandanya. Dan, dia mengetahui bahwa ketika dia bersandar kepada Tuhannya,
maka dia telah bersandar kepada kekuatan yang dapat meIakukan segala sesuatu,
dan merealisasikan wujud segala sesuatu tanpa batas dan ikatan apa pun.
Itulah gambaran tentang kekuasaan
Allah dan tasbih segala sesuatu dalam memuji-Nya. Seluruh alam semesta
mengarahkan pujian kepada-Nya Itu merupakan salah satu bagian dari pandangan
iman yang besar.
Sentuhan kedua sasarannya ke dalam
hati manusia yang bertentangan dan berseberangan dengan alam semesta yang
beriman dan bertasbih memuji Allah dengan pujian. Sentuhan kedua ini adalah
kenyataan bahwa di antara manusia ada orangyang beriman dan ada orang yang
kafir. Hanya manusia saja yang bersikap yang aneh seperti ini, sedangkan alam
semesta tidak demikian adanya,
"Dialah yang menciptakan kamu,
maka di antara kamu ada yang kafir dan di antara kamu ada yang beriman. Allah
Maha Melihat apa Yang kamu kerjakan. " (at-Taghaabun: 2)
Karena kehendak Allah dan
kekuasaan-Nya, manusia itu terwujud. Allah memberikan manusia dua potensi,
yaitu mengarah kepada kekafiran dan mengarah kepada keimanan. Dengan potensi
dan kesiapan inilah, manusia menjadi istimewa di antara makhluk-makhluk ciptaan
Allah. Dengan karakter kesiapan inilah, manusia dibebani amanat iman. la
merupakan amanat yang besar dan beban yang sangat berat.
Namun, Allah memuliakan manusia
dengan kemampuan untuk membedakan dan memilah serta kekuatan untuk memilih.
Kemudian ada bekal Iain yaitu bekal pertimbangan yang dengannya dia dapat
mengukur dan menimbang segala amal dan tujuannya. Itulah bekal agama yang
diturunkan oleh Allah melalui rasul-rasuI-Nya. Allah membantu manusia untuk
menunaikan amanat tersebut dengan bekal itu semua dan Dia tidak menzalimi
mereka sedikit pun.
“Allah Maha Melihat apa yang kamu
kerjakan. "
Jadi, Allah Maha Mengawasi terhadap
apa yang dilakukan oleh manusia dan Maha Mengetahui atas niat dan tujuan setiap
manusia. Maka, hendaklah setiap manusia bekerja dan beramal. Namun, dia harus
berhati-hati terhadap pengawasan Allah Yang Maha Mengawasi dan Maha Melihat.
Persepsi tentang hakikat manusia
dan sikapnya itu merupakan bagian dari persepsi Islam yang jelas dan Iurus
berkenaan dengan sikap manusia dalam alam semesta ini, dengan
kesiapan-kesiapannya dan potensi-potensinya di hadapan Pencipta alam semesta.
Sentuhan ketiga mengisyaratkan
tentang kebenaran yang murni dan tersimpan dalam tabiat alam semesta. Dengan
tabiat itulah, langit-langit dan bumi berdiri. Hal ini sebagaimana ia juga
mengisyaratkan tentang penciptaan Allah yang indah dan mempesona dalam wujud
manusia. Kemudian pada akhir ayat, terdapat ketetapan tentang kembalinya segala
sesuatu kepada Allah,
"Dia menciptakan langit dan
bumi dengan (tujuan) yang benar, Dia membentuk rupamu dan dibaguskan-Nya rupamu
itu, dan hanya kepada-Nyalah kembali(mu). " (at-Taghaabun: 3)
Bagian awal dari teks ayat ini
adalah,
“Dia menciptakan langit dan bumi
dengan (tujuan) yang benar.. .. " la menekankan dalam perasaan setiap
mukmin bahwa kebenaran adalah murni dalam alam semesta, bukanlah sesuatu yang
baru ada atau hanya sekadar tambahan yang sekunder sifatnya. Jadi, bangunan alam
semesta ini terbangun atas kebenaran yang murni itu. Yang menetapkan hakikat
ini adalah Allah yang telah menciptakan alam semesta ini dan yang mengetahui
atas apa saja kedua benda itu berdiri.
Kekokohan hakikat ini dalam
perasaan orang memberikan kondisi ketenangan dan keyakinan tentang kebenaran
yang di atasnya agama Islam berdiri dan di atasnya pula seluruh alam semesta
berdiri. Oleh karena itu, Islam pasti menang, pasti kekal, dan pasti kokoh
setelah hilangnya buih-buih kebatilan.
Hakikat yang kedua adalah,
“Dia membentuk rupamu dan
dibaguskan-Nya rupamu itu, dan hanya kepada-Nyalah kembali(mu)" (atTaghaabun:
3)
la menyadarkan manusia tentang
kemuliaannya di hadapan Allah dan tentang karunia Allah dalam memperbagus dan
memperindah bentuknya, yaitu bentuk penciptaannya dan bentuk perasaannya. Jadi,
manusia merupakan makhluk hidup yang paling sempurna yang ada di muka bumi dari
sisi pernbentukan tubuhnya, sebagaimana Allah pun meninggikan manusia dari sisi
penciptaan perasaannya dan kesiapan ruhnya yang memiliki rahasia-rahasia yang
menakjubkan. Oleh karena itu, pantaslah manusia diwakilkan bertugas sebagai
khalifah di muka bumi ini dan dia ditetapkan sebagai penghuni dalam kerajaan
yang terhampar sangat luas ini.
Penelitian dan penelusuran yang
teliti terhadap susunan tubuh manusia dan kepada salah satu anggota di antara
anggota-anggota badannya, pasti menetapkan hakikat itu dan menggambarkannya, “ Dia membentuk rupamu dan dibaguskan-Nya
rupamu itu,.... ”
Suatu susunan yang menghimpun
antara keindahan dan kesempurnaan. Keindahan dan kecantikan tubuh manusia pun
bertingkat-tingkat antara bentuk yang satu dengan bentuk yang lain. Namun,
dapat dipastikan bahwa setiap diri manusia memiliki keindahan tersendiri,
penciptaannya sangat sempurna, dan memenuhi segala tugas-tugas dan
karakter-karakter yang membuat manusia selalu lebih di atas bumi ini atas
seluruh makhluk hidup.
“Dan hanya kepada-Nyalah
kembali(mu). ” Yaitu, Dialah tempat kembalinya setiap sesuatu, setiap urusan,
dan setiap makhluk. Dia juga tempat kembalinya alam semesta dan manusia. Dengan
kehendak Allah, semua manusia ada dan kepada-Nya juga mereka kembali. Dari-Nya
segala permulaan dan kepada-Nya segala sesuatu berakhir. Dia Yang Awal dan Dia
Yang Akhir. Dia meliputi segala sesuatu dari dua sisinya; permulaannya dan
akhirnya. Allah yang tidak terbatas dengan apa pun.
Sentuhan keempat dalam paragraf dan
bagian ini adalah tentang gambaran ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu,
yang bisa mendeteksi segala manusia maupun yang tampak darinya. Bahkan, atas
apa yang lebih tersembunyi daripada rahasia itu sendiri, yaitu segala yang
terdetik dan terbersit dalam hati,
”Dia mengetahui apa yang ada di
langit dan di bumi serta mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu
nyatakan. Allah Maha Mengetahui segala isi hati. ” (at-Taghaabun: 4)
Kestabilan hakikat ini dalam hati
orang yang beriman, menganugerahkan kepadanya makrifah tentang Tuhannya
sehingga dia mengetahui-Nya dengan hakiki. Dengan demikian, dia akan dianugerahi
sisi bagian dari persepsi iman tentang alam semesta. Sehingga, ia akan
mempengaruhi perasaan dan arah tujuannya. orang demikian pun akan hidup dengan
selalu menyadari bahwa dia selalu terdeteksi oleh radar Allah. Sehingga, tidak
ada satu rahasia pun yang dapat dia sembunyikan dari-Nya dan tidak ada satu pun
niat dalam hatinya yang dapat disembunyikan dari Allah. Karena, Allah Yang
Mahatahu mampu mendeteksi segala yang ada dalam hati.
Tiga ayat seperti ini saja sudah
cukup sebagai bekal bagi manusia untuk hidup dengan mengetahui hakikat
keberadaannya, keberadaan seluruh alam semesta, hubungannya dengan Penciptanya,
adabnya dengan Tuhannya, ketakutan dan ketakwaannya kepada-Nya dalam setiap
gerakan, maksud, dan tujuan.
Kisah Terdahulu sebagai Pelajaran
Bagian kedua dari surah ini
menyebutkan tentang nasib orang-orang terdahulu yang telah mendustakan para
rasul dan keterangan-keterangan yang jelas dari Allah. Mereka menolak dan
mengkritik status kemanusiaan dari para rasul. Hal ini sebagaimana orang-orang
musyrik dan orang-orang kafr juga mendustakan dan menolak status kemanusiaan
dari Rasulullah. Dan, mereka kufur kepada keterangan-keterangan yang jelas yang
dibawa oleh beliau,
اَلَمْ
يَأْتِكُمْ نَبَؤُا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ قَبْلُ ۖفَذَاقُوْا وَبَالَ
اَمْرِهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ٥ ذٰلِكَ بِاَنَّهٗ كَانَتْ تَّأْتِيْهِمْ
رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنٰتِ فَقَالُوْٓا اَبَشَرٌ يَّهْدُوْنَنَاۖ فَكَفَرُوْا
وَتَوَلَّوْا وَّاسْتَغْنَى اللّٰهُ ۗوَاللّٰهُ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ ٦
”Apakah belum datang kepadamu (hai
orang-orang kafir) berita orang-orang kafir dahulu ? Maka, mereka telah
merasakan akibat yang buruk dari perbuatan mereka dan mereka memperoleh azab
yang pedih. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya telah datang kepada
mereka rasul-rasul mereka (membawa) keterangan-keterangan, lalu mereka berkata,
'Apakah manusia yang akan memberi petunjuk kepada kami?' Lalu mereka ingkar dan
berpaling; dan Allah tidak memerlukan (mereka). Allah Mahakaya lagi Maha
Terpuji. ” (at-Taghaabun: 5-6)
Seruan ini ditujukan umumnya
terhadap orangorang musyrik. la merupakan peringatan bagi mereka tentang berita
dan akibat yang menimpa orang-orang yang mendustakan. Juga merupakan ancaman
terhadap mereka bahwa mereka pun bisa dihukum dengan hukuman serupa dengan
orang-orang itu.
Gaya bahasa yang muncul dalam
bentuk pertanyaan dalam ayat ini, bisa jadi timbul untuk mengingkari kondisi
mereka setelah datang kepada mereka berita orang-orang kafir yang terdahulu
hingga mereka mendapatkan hukuman atasnya. Dan, bisa jadi juga timbul untuk
memalingkan dan mengarahkan perhatian mereka kepada berita yang diceritakan
kepada mereka.
Orang-orang musyrik itu mengetahui,
saling menukil, dan saling menceritakan secara turun temurun tentang
kisah-kisah orang-orang yang telah binasa dari orang-orang yang terdahulu,
seperti kaum 'Aad, Tsamud, dan negeri Luth. Orang-orang musyrik melihat
langsung bekas-bekas dan sering melewatinya di semenanjung Jazirah Arab dalam
perjalanan mereka dari utara ke selatan atau sebaliknya.
Al-Qur'an menambah informasi atas
berita yang telah diketahui dan dikenal secara luas di dunia ini dengan
informasi tentang hukuman dan azab yang menimpa mereka di akhirat.
"... dan mereka memperoleh
azab yang pedih. " (at-Taghaabun: 5)
Kemudian Al-Qur’an menyingkap
tentang sebab yang membuat mereka harus menerima hukuman itu dan harus
menghadapi hukuman yang menanti mereka di akhirat,
“Yang demikian itu adalah karena
sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka (membawa)
keterangan-keterangan, lalu mereka berkata, 'Apakah manusia yang akan memberi petunjuk
kepada kami ?’”
Penolakan ini persis seperti
penolakan orang-orang musyrik terhadap Rasulullah. Penolakan ini adalah
penolakan yang sembrono dan serampangan yang timbul dari kebodohan terhadap
hakikat tabiat risalah dan hakikatnya sebagai manhaj Ilahi yang diperuntukkan
kepada manusia. Oleh karena itu, manhaj itu harus dicontohkan secara nyata oleh
manusia, dia hidup dengannya, dan pribadinya merupakan terjemahan darinya.
Sehingga, orang-orang yang Iain pun akan mencelupkan dirinya dengan contoh itu
semampu mereka. Dan, contoh itu seharusnya tidak asing dari jenis manusia.
Kalau contoh itu asing, maka manusia tidak menemukan contoh yang dapat ditiru
dan diteladani dalam kehidupan nyata.
Penolakan itu juga timbul dari
kebodohan terhadap tabiat manusia yang hakikatnya mulia. Padahal, dengan
kemuliaan itu dia pantas menerima risalah langit dan menyampaikannya kepada
seIuruh alam, tanpa dibutuhkan bantuan malaikat sebagaimana orang-orang musyrik
menyarankan dan mengusulkan. Dalam diri manusia terdapat ruh dari Allah dan ruh
itu mempersiapkan manusia untuk menyambut risalah dari Allah dan menunaikannya
secara sempurna sebagaimana diterimanya dari utusan malaikat.
Hal itu merupakan kehormatan bagi
seluruh manusia. Tidak akan ditolak melainkan hanya orang-orang yang bodoh dan
tidak tahu tentang kadar kesempurnaan manusia di sisi Allah, ketika dia
mewujudkan dalam dirinya hakikat ruh dari Allah yang ditiupkan ke dalam
dirinya.
Penolakan itu juga timbul dari
sikap keras kepala dan kesombongan yang dusta terhadap keengganan mengikuti
utusan Allah yang berasal dari manusia. Dalam pandangan orang-orang itu,
mengikuti manusia yang sama dengan mereka seolah-olah merupakan kekurangan dan
penghinaan terhadap nilai dan kehormatan orang-orang yang sombong dan bodoh
itu. Maka, dalam pandangan mereka, boleh saja mengikuti seorang rasul Allah
bila ia berasal dari jenis makhluk Iain selain dari jenis mereka sendiri.
Sedangkan, bila mereka dituntut
untuk mengikuti salah satu dari orang yang sejenis dengan mereka, maka dalam
pandangan mereka itu merupakan kehinaan dan kekurangan nilai dan kehormatan.
Oleh karena itu, mereka kafir dan berpaling dari para rasul dan penjelasan-penjelasan
mereka. Kesombongan dan kebodohan itu telah mengunci hati mereka sehingga
memilih untuk bersikap syirik dan kafir.
"...Lalu mereka ingkar dan
berpaling; dan Allah tidak memerlukan (mereka). Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.
" (at-Taghaabun: 6)
Allah sama sekali tidak membutuhkan
iman dan ketaatan mereka. Allah sama sekali tidak membutuhkan apa-apa dari
mereka dan tidak pula dari orang-orang yang selain mereka. Dan, Allah sekali-kali
tidak membutuhkan apa-apa.
Itulah berita orang-orang yang
terdahulu dari orang-orang kafir yang telah mendapatkan hukuman atas kekufuran
mereka. Inilah yang menyebabkan mereka harus menerima hukuman dan menghadapi
azab Iain di akhirat. Oleh itu, bagaimana mungkin ada lagi orang-orang yang
datang kemudian dan baru, lalu berani mendustakan rasul dan penjelasan dari
Allah? Apakah mereka menerima hukuman yang serupa dengan hukuman mereka?
Kepastian Hari Kebangkitan
Bagian yang ketiga merupakan sisa
dari bahasan yang terdapat dalam bagian kedua. la menceritakan tentang
pendustaan orang-orang kafir kepada hari kebangkitan. Jelas sekali bahwa
orang-orang kafir itu adalah orang-orang musyrik yang diarahkan dakwah kepada
mereka oleh Rasulullah pada saat itu.
Di dalam bagian ketiga ini terdapat
pengarahan kepada Rasulullah agar menekankan tentang perkara kebangkitan dengan
penekanan yang tegas dan kuat. Di sana juga terdapat gambaran tentang fenomena
kejadian dan peristiwa di hari Kiamat, tentang akibat yang menimpa orang-orang
yang mendustakannya dan orang-orang yang membenarkannya. Juga ada seruan kepada
mereka agar beriman dan taat serta mengembalikan segala sesuatu yang terjadi
dalam kehidupan mereka kepada Alah semata-mata,
زَعَمَ
الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَنْ لَّنْ يُّبْعَثُوْاۗ قُلْ بَلٰى وَرَبِّيْ
لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْۗ وَذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ
يَسِيْرٌ ٧ فَاٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَالنُّوْرِ الَّذِيْٓ
اَنْزَلْنَاۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ ٨ يَوْمَ يَجْمَعُكُمْ
لِيَوْمِ الْجَمْعِ ذٰلِكَ يَوْمُ التَّغَابُنِۗ وَمَنْ يُّؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ
وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُّكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّاٰتِهٖ وَيُدْخِلْهُ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ
مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًاۗ ذٰلِكَ الْفَوْزُ
الْعَظِيْمُ ٩ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَكَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَآ اُولٰۤىِٕكَ
اَصْحٰبُ النَّارِ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ ࣖ ١٠ مَآ اَصَابَ
مِنْ مُّصِيْبَةٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗوَمَنْ يُّؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ يَهْدِ
قَلْبَهٗ ۗوَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ١١ وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ
وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَۚ فَاِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَاِنَّمَا عَلٰى رَسُوْلِنَا
الْبَلٰغُ الْمُبِيْنُ ١٢ اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ وَعَلَى اللّٰهِ
فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ ١٣
"Orang-orangyang kafir mengatakan
bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, Tidak demikian,
demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu
apa yang telah kamu kerjakan. ' Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
Maka, berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya serta kepada cahaya (Al-Qur’an)
yang telah Kami turunkan. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(Ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan kamu pada hari
pengumpulan (untuk dihisab), itulah hari (waktu itu) ditampakkan
kesalahan-kesalahan. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan mengerjakan amal
saleh, niscayaAllah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke
dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya
selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar. Dan, orang-orang yang kafir
dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni-penghuni neraka, mereka
kekal di dalamnya. Dan, itulah seburuk-buruk tempat kembali. Tidak ada suatu
musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Barangsiapa yang
beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Allah
Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada
Rasul. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah
menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (Dialah) Allah, tidak ada Tuhan
(yang berhak disembah) selain Dia. Dan, hendaklah orang-orang mukmin bertawakal
kepada Allah saja. "(at-Taghaabun: 7-13)
Sejak awal Al-Qur'an menyebutkan
bahwa pernyataan orang-orang kafir tentang kemustahilan adanya peristiwa
kebangkitan merupakan khayalan dan praduga yang dibuat-buat. Sehingga, Al-Qur'an
memutuskan bahwa hal itu merupakan dusta dan kebohongan sejak awal ketika
menceritakan tentang itu.
Kemudian Al-Qur'an mengarahkan
Rasulullah untuk menekankan tentang perkara kebangkitan dengan
setegas-tegasnya, yaitu dengan bersumpah atas nama Tuhannya. Tidak ada
penegasan apa-apa setelah sumpah Rasulullah dengan nama Tuhannya itu;
" ..Katakanlnh, tidak demikian,
demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan. Kemudian akan diberitakan
kepadamu apa yang telah kamu kerjakan....
Jadi, tidak ada satu pun yang
tertinggal dan diremehkan begitu saja dari segala perbuatan. Allah lebih tahu
daripada manusia tentang amal mereka, hingga Dia memberitakannya kepada mereka
nanti di hari Kiamat.
“Yang demikian itu adalah mudah
bagiAllah. " (at-Taghaabun: 7)
Allah Maha Mengetahui atas apa-apa
yang ada di langit dan di bumi. Dia Maha Mengetahui tentang segala yang
tersembunyi dan yang terang. Dia Maha Mengetahui atas apa yang ada di dalam
hati. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, sebagaimana yang telah disebutkan di
awal surah sebagai pengantar dari penetapan ini.
Dalam nuansa penekanan yang tegas
ini, Al-Qur'an mengajak manusia untuk beriman kepada Allah, rasuI-Nya, dan
cahaya yang turun bersama rasul-Nya, yaitu Al-Qur'an. Cahaya itu juga adalah
agama yang diberitakan dalam Al-Qur'an dan ia pada hakikatnya adalah cahaya
karena datang dari sisi Allah Dan, Allah adalah cahaya langit dan bumi. la
adalah cahaya dalam jejak-jejaknya di mana ia menyinari hati sehingga dengan
sendirinya menjadi tercerahkan dan ia pun dapat melihat hakikat yang
tersembunyi dalam dirinya sendiri.
Setelah seruan untuk beriman
ditujukan kepada mereka, ada komentar tambahan yang menyadarkan mereka bahwa
sesungguhnya mereka selalu tembus pandang di mata AIIah dan tidak ada perkara
yang tersembunyi sedikitpun dari Allah tentang mereka.
"Maka, berimanlah kamu kepada
Allah dan Rasul-Nya sata kepada cahaya (Al- Qur’an) yang telah Kami turunkan.
Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. " (at-Taghaabun: 8)
Setelah seruan ini, redaksi Al-Qur’an
kembali kepada penyempurnaan gambaran peristiwa hari kebangkitan, yang telah
ditegaskan dengan penegasan yang kuat,
"(lngatlah) hari (yang di
waktu itu) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan (untuk dihisab),
itulah hari (waktu itu) ditampakkan kesalahan-kesalahan.”
Hari itu disebut hari pengumpulan
karena semua makhluk dari segala generasi dibangkitkan pada saat itu,
sebagaimana ia juga dihadiri oleh seluruh malaikat yang tidak diketahui
jumlahnya secara pasti melainkan hanya oleh Allah. Namun, untuk mendekatkan ke
dalam gambaran kita, sebaiknya kita simak hadits yang diriwayatkan dari Abu
Dzar r.a. bahwa Rasulullah bersabda,
"Sesunguhnya aku melihat apa
yang tidak kalian lihat, dan aku mendengar apayang tidak dapat kalian dengar.
Langit bergetar, dan ia berhak untuk bergetar. Tidak ada satupun tempai seluas
empat jari melainkan di sana pasti ada seorang malaikat yang meletakkan
keningnya bersujud kepada Allah. Demi Allah, seandainya kalian mengetahui apa
yang aku ketahui, pastilah kalian sedikit tertawa dan banyak menangis, dan pasti
kalian tidak akan bersenang-senang dengan istri-istri kalian di atas kasur, dan
pastilah kalian keluar menuju dataran-dataran yang tinggi, untuk memohon perlindungan
kepada Allah. Dan, sesungguhnya aku Iebih senang menjadi batang pohon yang
ditebang. " (HR Tirmidzi)
Tidak ada satu pun tempat di langit
seluas empat jari melainkan di sana pasti ada seorang malaikat, padahal langit
itu Iuar biasa Iuasnya. Tidak ada seorang manusia pun yang mengetahui tentang
batas-batasnya. Bayangkan matahari yang demikian besarnya saja di langit tampak
seperti debu yang beterbangan di udara. Apakah hal ini dapat mendekatkan ke
dalam pandangan manusia tentang jumlah malaikat? Sesungguhnya malaikat itu
hanyalah sebagian dari makhluk yang dikumpulkan di padang mahsyar di hari perhimpunan
itu.
Dalam gambaran kejadian di hari perhimpunan,
terdapat peristiwa penampakan kesalahan-kesalahan dan kerugian. Yaitu, gambaran
tentang kejadian yang terjadi di mana orang-orang yang beriman mendapatkan
kenikmatan dan keberuntungan meraih surga jannatun naim. Juga gambaran mengenai
halangan terhadap orangorang kafir dari kenikmatan apa pun, kemudian tempat
akhir mereka adalah neraka jahannam. Gambaran itu merupakan gambaran tentang
dua nasib yang sangat berbeda. Seolah-olah di sana ada perlombaan meraih
keberuntungan dan kemenangan dalam segala sesuatu; dan setiap orang harus
mengalahkan saingannya dalam meraihnya.
Kemudian yang menang adalah
orang-orang yang beriman dan yang kalah adalah orang-orang kafir. Jadi,
kerugian itu adalah sesuai dengan gambaran yang bergerak dan tergambar dalam
penjelasan yang ditafsirkan oleh ayat sesudahnya, "Barangsiapa yang
beriman kepada Allah dan mengerjakan amal saleh, niscaya Allah akan menghapus
kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan
yang besar. Dan, orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka
itulah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Dan, itulah
seburuk-buruk tempat kembali. " (at-Taghaabun: 9-10)
Sebelum Allah menyempurnakan
seruan-Nya kepada manusia untuk beriman, Dia menetapkan salah satu kaidah dari
kaidah-kaidah tentang pandangan iman dalam masalah takdir. Juga dalam jejak dan
pengaruh iman kepada Allah dalam memberikan hidayah kepada hati,
“Tidak ada suatu musibahpun yang
menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Barangsiapa yang beriman kepada
Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Allah Maha Mengetahui
segala sesuatu. (at-Taghaabun: 11)
Penyebutan tentang hakikat ini di
sini, pertalian dan kaitannya hanyalah sekadar penjelasan tentang pemaparan
hakikat iman yang diimbau dan diserukan dalam bagian paragraf surah ini. la
merupakan hakikat iman yang mengembalikan segala sesuatunya kepada Allah dan
berkeyakinan bahwa segala yang menimpa seseorang yang berupa kebaikan ataupun
keburukan adalah terjadi dengan izin Allah la merupakan hakikat; di mana iman
tidak akan ada dan sempurna bila tidak bersamanya.
Hakikat ini merupakan asas dari
segala perasaan keimanan ketika menghadapi kehidupan dengan segala
kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwanya, baik dan buruknya. Sebagaimana
bisa jadi pula di sana terdapat kaitan dan hubungan yang erat dengan kejadian yang
sedang terjadi pada saat surah ini turun, atau ayat-ayat dari surah ini turun,
di antara kejadian-kejadian yang terjadi antara orang-orang yang beriman dan
orang-orang musyrik.
Dalam hadits yang disepakati
kesahihannya oleh Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Rasulullah bersabda,
"Sungguh menakjubkan bagi seorang mukmin! Tidak ada satu pun takdir Allah
tentang sesuatu melainkan selalu baik baginya. Bila dia ditimpa oleh suatu
kemudharatan, diapun bersabar danperkara tersebut baik baginya. Dan, bila dia
dianugerahkan suatu kesenangan, diapun bersyukur dan perkara tersebut baik pula
baginya. Dan, perkara itu tidak diperuntukkan kepada seseorang pun melainkan
hanya bagi seorang mukmin. "
"...Barangsiapa yang beriman
kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Allah Maha
Mengetahui segala sesuatu. " (at-Taghaabun: 11)
Sebagian ulama salaf terdahulu
menafsirkan bahwa iman di ayat ini adalah iman kepada takdir Allah dan
penyerahan diri secara total kepada-Nya ketika musibah menimpa. Pendapat Ibnu
Abbas menyatakan bahwa maksudnya adalah Allah memberikan hidayah yang mutlak
kepada hatinya, membukanya untuk menyingkap hakikat 'laduni' yang tersembunyi,
serta menghubungkannya dengan segala sumber dari segala sesuatu dan segala
kejadian. Sehingga, dia dapat melihatnya bahwa di sana penciptaannya dan
puncaknya. Oleh karena itu, dia pun menjadi tenang, stabil, dan damai.
Kemudian dia mengetahuinya dengan
suatu pengetahuan yang menghubungkannya kepada kaidah umum dan universal.
Sehingga, dia tidak membutuhkan lagi penglihatan dan pandangan yang bersifat parsial
yang biasanya sering salah dan terbatas.
Oleh itu, komentar yang datang
setelahnya adalah, "..Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. " Jadi,
petunjuk itu merupakan hidayah kepada sedikit dari ilmu Allah yang
dianugerahkan kepada orang yang diberikan petunjuk oleh diri-Nya, ketika
imannya benar-benar jujur dan sah. Sehingga, dia pun berhak mendapatkan
anugerah Allah berupa lenyapnya tirai dan tersingkapnya rahasia-rahasia ..dengan batasan tertentu....
Seruan terhadap mereka untuk
beriman diikuti dengan seruan kepada mereka agar taat kepada Allah dan taat
kepada rasul-Nya.
“Dan, taatlah kepada Allah dan
taatlah kepada Rasul. Jika kamu berpaIing, maka sesunguhnya kewajiban Rasul
Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. " (at-Taghaabun:
12)
Sebelumnya telah dipaparkan kepada
mereka tentang hukuman atas orang-orang yang berpaling sebelum mereka. Dan, di
sini Allah menetapkan bahwa rasul hanyalah sekadar penyampai. Apabila
Rasulullah telah menyampaikan, maka beliau pun telah menunaikan amanat,
menyelesaikan kewajib an, serta membangun hujah dan alasan. Yang tersisa
hanyalah penantian terhadap hukuman yang menimpa mereka karena kemaksiatan dan
keberpalingan mereka, di mana mereka telah diperingatkan sebelumnya.
Kemudian bagian ini ditutup dengan
penetapan tentang hakikat keesaan Allah yang telah mereka ingkari dan dustakan.
Dia pun menetapkan tentang urusan orang-orang yang beriman kepada Allah dalam
bermuamalah dengan-Nya,
"(Dialah) Allah, tidak ada Tuhan
(yang bahak disem bah) selain Dia. Dan, hendaklah orang-orang mukmin bertawakal
kepada Allah saja. " (at-Taghaabun: 13)
Hakikat tauhid merupakan asas dan
dasar dari segala pandangan iman. Dan, hal itu menentukan bahwa segala bentuk
tawakal harus ditujukan hanya kepada diri-Nya semata-mata. Inilah salah satu
pengaruh dari pandangan iman yang ada di dalam hati.
Dengan ayat tiga belas ini, redaksi
surah ini menyeru ke dalam komunitas orang-orang yang beriman. la merupakan
penghubung antara ayat-ayat sebelumnya dan ayat-ayat sesudahnya dalam surah.
Fitnah Keluarga dan Harta Benda
Pada bagian akhir, redaksi surah
mengarahkan seruannya kepada orang-orang yang beriman untuk mengingatkan mereka
tentang fitnah istri-istri, anak-anak, dan harta benda. la mengajak mereka
untuk bertakwa kepada Allah, mendengarkan, menaati, dan berinfak. Sebagaimana
ia pun memperingatkan mereka dari sikap bakhil dalam jiwa-jiwa mereka. Allah
menjanjikan kepada mereka bila mampu mengatasinya bahwa bagi mereka adalah
rezeki yang berlipat ganda, ampunan, dan kemenangan. Akhirnya, mereka
diingatkan tentang ilmu Allah bagi sesuatu yang nyata dan yang gaib,
kekuasaan-Nya dan kebesaran-Nya bersama dengan hikmah-Nya dan kemuIiaan-Nya,
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّ مِنْ اَزْوَاجِكُمْ وَاَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ
فَاحْذَرُوْهُمْۚ وَاِنْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ
غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ١٤ اِنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ
ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗٓ اَجْرٌ عَظِيْمٌ ١٥ فَاتَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
وَاسْمَعُوْا وَاَطِيْعُوْا وَاَنْفِقُوْا خَيْرًا لِّاَنْفُسِكُمْۗ وَمَنْ
يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ١٦ اِنْ تُقْرِضُوا
اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا يُّضٰعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ
شَكُوْرٌ حَلِيْمٌۙ ١٧ عٰلِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ࣖ
١٨
"Hai orang-orangyang beriman,
sesunguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh
bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Jika kamu memaafkan dan
tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sesunguhnya Allah Maha Pengampun
Iagi Maha Penyayang. Sesunguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan
(bagimu); di sisi Allah-lah pahala yang besar. Maka, bertakwalah knmu kepada
Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan nafkahkanlah
nafkah yang baik untuk dirimu. Barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran
dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Jika kamu meminjamkan
kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipatgandakan (Pembalasannya)
kepadamu dan mengampuni kamu. Allah Maha Pembalas jasa Iagi Maha Penyantun.
Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata. YangMahaperkasa Iagi Mahabijaksana.
" (at-Taghaabun: 14-18)
Telah disebutkan dari Ibnu Abbas
r.a. tentang ayat pertama dari himpunan ayat-ayat ini, bahwa ia ditanya oleh
seseorang, dan ia menjawab, "Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang
berislam di Mekah. Kemudian mereka hendak menghadap kepada Rasulullah dan
mendatanginya, namun istri-istri dan anak-anak mereka menghalangi dan tidak
membiarkan mereka pergi. Setelah mereka mendatangi Rasulullah dan melihat
orang-orang telah diberikan pemahaman dalam agama, maka orang-orang itu pun
hendak memberikan hukuman kepada mereka. Lalu Allah menurunkan ayat 14 surah
ath-Taghaabun, “Hai orang-orang yang beriman, sesunguhnya di antara
istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka
berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Jika kamu memaafkan dan tidak memarahi
serta mengampuni (mereka), maka sesunguhnya Allah Maha Pengampun Iagi Maha
Penyayang.”
Demikianlah yang diriwayatkan oleh
Tirmidzi dengan sanadnya yang lain, dan dia berkata, "Hadits ini hasan dan
sahih." Demikian pula yang dikatakan oleh Ikrimah pembantu dan maula Ibnu
Abbas.
Tetapi, nash Al-Qur'an ini lebih
umum dan lebih meliputi daripada kasus yang parsial itu, dan ia lebih jauh
jangkauannya dan lebih panjang lingkupnya. Peringatan tentang fitnah
istri-istri dan anak-anak ini seperti peringatan yang terdapat dalam ayat
setelahnya yang diperingatkan tentang fitnah harta benda dan anak-anak
sekaligus,
"Sesunguhnya hartamu dan
anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); di sisi Allah-lah pahala yang besar.
" (at-Taghaabun: 15)
Di sana juga terdapat peringatan
bahwa di antara istri-istri dan anak-anak ada yang menjadi musuh. Sesungguhnya
hal ini mengisyaratkan tentang hakikat yang mendalam tentang kehidupan manusia,
dan menyentuh hubungan-hubungan yang saling terkait secara terperinci dalam
susunan struktur nurani dan sekaligus dalam kerumitan-kerumitan permasalahan
hidup. Maka, bisa jadi istri-istri dan anak-anak menjadi faktor-faktor yang
menyibukkan dan melalaikan seseorang dari berzikir kepada Allah. Hal ini
sebagaimana merekajuga dapat menjadi faktor-faktor yang mendorong seseorang
untuk bertindak curang dan tidak memenuhi beban-beban iman, karena
menghindarkan diri dari kesibukan-kesibukan yang melelahkan dan meliputi
mereka.
Seandainya seorang mukrnin
benar-benar mengemban kewajibannya, maka dia pasti menemukan segala sesuatu
yang diraih oleh seorang mujahid di jalan Allah! Seorang mujahid di jalan Allah
pasti harus menghadapi segala kemungkinan kerugian duniawi dalam banyak hal dan
dia harus mengorbankan banyak hal. Dia dan keluarganya juga akan menghadapi
ujian dan ancaman. Kadangkala dia bisa bertahan terhadap siksaan dan ujian atas
dirinya sendiri. Namun, dia tidak kuat bertahan bila siksaan dan ujian itu
tertimpa kepada istri dan anakanaknya. Sehingga, dia pun menjadi bakhil dan penakut
ingin memenuhi segala kebutuhan mereka; baik yang berupa keamanan, kestabilan,
kenikmatan, maupun harta benda.
Dengan demikian, mereka pun menjadi
musuh baginya, karena mereka telah menghalanginya dari berbuat kebajikan dan
merintanginya dari meraih dan merealisasikan tujuan keberadaan hidupnya yang
paling tinggi. Sebagaimana istri-istri dan anak-anak sering menghalangi
jalannya dan melarangnya dari menunaikan kewajibannya karena ingin
menghindarkan diri dari segala konsekuensinya dan atau karena mereka tidak
mengikuti jalan yang ditempuhnya. Lalu, dia tidak bisa membebaskan dirinya dari
mereka dan memurnikan dirinya hanya untuk Allah.
Semua itu merupakan bentuk-bentuk
dari permusuhan dengan berbagai tingkatannya. Semua itu biasa terjadi dalam
kehidupan seorang mukmin dari waktu ke waktu.
Oleh karena itu, kondisi yang
runyam dan berbenturan ini, membutuhkan peringatan dari Allah untuk
membangkitkan kesadaran dalam hati orangorang yang beriman. Juga peringatan
agar berhati-hati dari pengaruh buruk perasaan-perasaan demikian dan tekanan
dari pengaruh-pengaruh itu.
Kemudian Allah mengulang kembali
peringatan tentang fitnah harta benda dan anak-anak ini dalam berbagai bentuk.
Dan, kata 'fitnah' itu sendiri mengandung dua makna.
Pertama sesungguhnya Allah menguji
kalian dengan fitnah harta benda dan anak-anak untuk menempa kalian, maka
hendaklah kalian berhati-hati dengan harta benda dan anak-anak itu. Dan, ingat
dan sadarlah selalu sehingga kalian lulus dalam ujian ini. Kemudian murnikan,
ikhlaskan, dan bersihkanlah diri kalian hanya untuk Allah semata-mata. Hal ini
hampir mirip dengan seorang pandai emas yang menempa emasnya sehingga menjadi
murni dan bersih dari segala kotoran dan campuran lain.
Kedua, sesungguhnya harta benda dan
anak-anak ini merupakan fitnah godaan bagi kalian yang dapat menjerumuskan
kalian kepada penyimpangan dan maksiat. Maka, berhati-hatilah terhadap fitnah
godaan ini, jangan sampai menjerumuskan kalian dan menjauhkan diri kalian dari
Allah
Kedua makna itu adalah saling
berdekatan.
Diriwayatkan dari Imam Ahmad sebuah
hadits dengan sanadnya dari AbduIIah bin Buraidah bahwa ia mendengar ayahnya
(Buraidah) berkata, "Rasulullah sedang berkhotbah, kemudian datanglah
Hasan dan Husein r.a. yang keduanya memakai pakaian berwarna merah. Mereka
berdua berjalan dan sering tergelincir jatuh. Maka, Rasulullah pun turun dari
mimbar kemudian membopong keduanya dan meletakkan keduanya di hadapannya. Lalu
Rasulullah bersabda, 'Mahabenar Allah dan rasul-Nya, sesungguhnya harta benda
dan anak-anak kalian adalah fitnah. Aku melihat kepada dua balita ini, mereka
berdua berjalan dan sering tergelincir jatuh, maka akupun tidak sabar untuk
memutuskan khutbahku dan mengangkat keduanya. "'
Hadits ini diriwayatkan oleh
Ashabus Sunan dari hadits Ibnu Waqid. Itulah Rasulullah dan itulah dua putra
dari puteri beliau, Fathimah. Jadi, sesungguhnya perkara ini sangat berbahaya.
Maka, sesungguhnya peringatan dan ancaman dalam perkara ini menjadi sangat
penting, yang telah ditentukan oleh Pencipta hati manusia, dan meletakkan
perasaan-perasaan di dalamnya, agar dapat merintanginya dari pelanggaran dan
berlebih-lebihan. Beliau sangat menyadari bahwa ikatan-ikatan kasih sayang bisa
menjerumuskannya seperti yang dilakukan oleh musuh-musuhnya, dan bisa
mengelabuinya ke dalam perangkap-perangkap seperti perangkap-perangkap musuh.
Oleh karena itu, hati yang beriman
ditunjukkan kepada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah. Hal ini setelah ada
peringatan terhadap fitnah harta benda dan anak-anak itu. Juga setelah ada
seruan agar berhati-hati terhadap permusuhan yang tersebar dalam pribadi
anak-anak dan istri-istri, karena itu semua adalah fitnah sedangkan di sisi
Allah terdapat pahala yang besar.
Setelah itu Allah membisikkan
kepada orangorang yang beriman agar bertakwa kepada Allah dalam batasan
kemampuan dan kekuatan. Juga agar mendengar dan taat kepada-Nya,
"Maka, bertakwalah kamu kepada
Allah menurut kesangupanmu dan dengarlah serta taatlah,.”
Dalam batasan ini, “.Menurut
kesanggupanmu “ tampak sekali kelembutan
dan kasih sayang Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Juga tampak ilmu-Nya tentang
kadar kemampuan mereka dalanı bertakwa dan menaati-Nya. Dalam hadits Rasulullah
bersabda, "Apabila aku menyuruh kalian melakukan sesuatu, maka kerjakanlah
sesuai dengan kemampuanmu. Dan, apabila aku melarang kalian tcrhadap sesuatu,
maka jauhilah perkara itu. "
Jadi, ketaatan dalam suatu perintah
tidak ada batasannya Karena itu, Allah menerima ketaatan itu sesuai dengan
kemampuan. Sedangkan, dalam perkara larangan, maka di sana tidak dispensasi.
Karena itu, larangan tersebut harus dijauhi dengan sempurna tanpa pengecualian
sedikitpun.
Allah menyerukan mereka agar
berinfak,
"...Dan nafkahkanlah nafkah
yang baik unluk dirimu ...”
Jadi, orang-orang yang beriman itu
berinfak untuk diri mereka sendiri. Allah menyuruh mereka agar berinfak segala
kebaikan untuk diri mereka. Allah menjadikan harta benda yang mereka infakkan
seolah-olah harta benda yang mereka infakkan bagi keluarga mereka sendiri, dan
Dia menjanjikan bagi mereka kebaikan ketika melaksanakannya.
Allah menyadarkan mereka bahwa
sifat bakhil dalam diri sendiri adalah ujian yang selalu menyertainya. Maka,
berbahagialah bagi orang-orang yang mampu melepaskan dirinya darinya. Orang
yang mampu menjaga dirinya dari sifat itu telah mendapatkan keutamaan dan
karunia dari Allah, "Barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya,
maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. " (atTaghaabun: 16)
Allah terus merangsang orang-orang
yang beriman untuk mengeluarkan dan menyenangkan diri mereka agar berinfak,
sehingga sampai menyebutkan bahwa infak mereka merupakan pinjaman bagi Allah.
Dan, siapa yang tidak beruntung bila meminjamkan sesuatu kepada tuannya, yaitu
Allah? Dia (Allah) pasti mengambil pinjaman itu kemudian melipatgandakannya dan
mengampuninya. Allah pasti berterima kasih kepada peminjam dan merahmatinya
dengan kasih sayang dan kelembutan bila dia kurang dan tidak sempurna dalam
bersyukur kepada-Nya.
"Jika kamu meminjamkan kepada
Allah suatu pinjaman yang baik, niscaya Allah melipatgandakan (pembalasannya)
kepadamu dan mengampuni kamu. Allah Maha Pembalas jasa lagi Maha Penyantun. ”
(at-Taghaabun: 17)
Bertambah-tambahlah berkah dari
Allah. Dia adalah Maha Pemurah, alangkah pemurah dan dermawannya Allah; dan
alangkah agung dan mulianya Allah! Dia menciptakan para hamba kemudian
memberikan rezeki kepada mereka. Kemudian Dia memohon kelebihan dari kebutuhan
para hamba-Nya yang telah dianugerahkan-Nya dalam bentuk pinjaman, lalu
pinjaman itu dibalas dengan berlipat ganda. Kemudian Allah pasti berterima
kasih kepada hamba-Nya yang telah Dia ciptakan dan Dia berikan segala anugerah.
Dan, Dia pasti merahmatinya dengan kasih sayang dan kelembutan bila dia kurang
dan tidak sempurna dalam bersyukur kepada-Nya. Alangkah mulianya dan
dermawannya Engkau Ya Allah!
Sesungguhnya Allah mengajarkan
kepada kita dengan sifat-sifat-Nya bagaimana kita merangkak naik. Dia
memuliakan diri kita dengan segala kekurangan dan kelemahan kita. Dia
mengajarkan kita agar kita selalu berusaha meningkatkan diri ke derajat yang
lebih tinggi untuk bercermin kepada-Nya, dan agar kita berusaha untuk
meneladani-Nya dalam batas-batas kemampuan kita dan tabiat kita yang kecil.
Allah telah meniupkan ruh-Nya
kepada manusia. Sehingga, menjadikannya selalu rindu dan tertarik mewujudkan
keteladanan yang sempurna dan tertinggi yang mampu dia usahakan dalam
batas-batas kemampuannya dan tabiatnya. Oleh karena itu, ufuk-ufuk yang tertinggi
selalu terbuka agar manusia mencapai kesempurnaan, dan mengusahakan agar selalu
naik tingkat demi tingkat hingga menjumpai Allah dengan kecintaan-Nya dan
keridhaan-Nya.
Penelusuran ini diakhiri setelah
sentuhan yang menakjubkan itu, dengan sifat Allah yang mengetahui dan mengawasi
segala yang ada dalam hati. "Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata.
Yang Mahaperkasa Iagi Mahabijaksana. "(at-Taghaabun: 18)
Jadi, setiap sesuatu pasti
tersingkap dalam ilmu-Nya, tunduk kepada kekuasaan-Nya, dan terorganisir dengan
hikmah-Nya. Semuanya bertujuan agar manusia hidup sambil merasakan dan
menyadari bahwa mata Allah selalu melihatnya dan mengawasinya. Demikian pula
kekuasaan-Nya menguasai mereka. Kebijakan-Nya mengatur dan mengelola segala
urusan mereka baik yang lahiriah maupun yang batiniah. Dan, pandangan bila
tertanarn kokoh dalam hati, cukuplah sebagai jaminan bagi hati agar bertakwa
kepada Allah, memurnikan dirinya bagiNya, dan menyambut segala seruan-Nya.
No comments:
Post a Comment