Dengan
mengucapkan dua kalimat syahadat seseorang berarti telah mempersaksikan diri
sebagai hamba Allah semata. Kalaimat lailaaha illallahu dan Muhammadur rasulullah selalu membekas dalam jiwanya dan menggerakkan
anggota tubuhnya agar tidak menyembah selainNya. Baginya hanya Allah sebagai
Tuhan yang harus ditaati, diikuti ajaranNya, dipatuhi perintahNya dan dijauhi
laranganNya. Caranya bagaimana, lihatlah pribadi Rasulullah saw. sebab dialah
contoh hamba Allah sejati. Dalam pembukaan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ
اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ
الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ
السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ١
Maha
Suci Allah, yang Telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al
Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang Telah kami berkahi sekelilingnya[847]
agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami.
Sesungguhnya dia adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.
Begitu
juga dalam pembukaan surat Al Kahfi, Allah berfirman: Segala puji bagi Allah
yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al Qur'an) dan Dia tidak
mengadakan kebengkokan di dalamnya (QS. Al Kahfi 18/1).
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ
الَّذِيْٓ اَنْزَلَ عَلٰى عَبْدِهِ الْكِتٰبَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَّهٗ عِوَجًا ۜ ١
Segala puji bagi Allah yang Telah
menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Quran) dan dia tidak mengadakan
kebengkokan[871] di dalamnya;
Ini menunjukkan bahwa
agar makna dua kalimat syahadat - yang intinya adalah tauhid - benar-benar
tercermin dalam jiwa dan perbuatan, tidak ada pilihan bagi seorang hamba
kecuali mencontoh pribadi Rasulullah saw. dalam segala sisi kehidupannya, baik
dari sisi akidah dan ibadah, maupun sisi-sisi lainnya seperti sikapnya terhadap
istri dan pelayannya di rumah, pergaulannya bersama-sahabatnya, akhlaknya dalam
melakukan tansaksi bisnis dan kepemimpinannya sebagai kepala Negara. Maka untuk
menjaga kemurnian tauhid, seperti yang dicontohkan Rasulullah saw. seorang
hamba hendaknya menghindar jauh-jauh dari hal-hal yang merusak kemurnian tauhid
sebagai cerminan dua kalimat syahadat tersebut, yang setidaknya ada tiga: (a)
Syirik ( menyekutukan Allah (b) Ilhad (menyimpang dari kebenaran) (c) Nifak
(berwajah dua, menampakkan diri sebagai muslim, sementara hatinya kafir).
1. Syirik (meyekutukan Allah)
a). Definisi: Syirik adalah lawan kata dari tauhid. Yaitu sikap
menyekutukan Allah secara dzat, sifat, perbuatan dan ibadah. Adapun syirik
secara dzat adalah dengan meyakini bahwa dzat Allah seperti dzat mahlukNya.
Akidah ini dianut oleh kelompok mujassimah.
Syirik secara sifat artinya: seseorang meyakini bahwa sifat-sifat mahluk sama
dengan sifat-sifat Allah. Dengan kata lain bahwa mahluk mempunyai sifat-sifat
seperti sifat-sifat Allah, tidak ada bedanya sama sekali. Syirik secara
perbuatan artinya: seseorang meyakini bahwa mahluk mengatur alam semesta dan
rizki manusia seperti yang telah diperbuat Allah selama ini. Sedangkan syirik
secara ibadah artinya: seseorang menyembah selain Allah dan mengagungkannya
seperti mengagungkan Allah serta mencintainya seperti mencintai Allah.
Syrik-syirik dalam pengertian tersebut secara eksplisit maupun implisit telah
ditolak oleh Islam. karenanya seorang muslim harus benar-benar hat-hati dan
menghindar jauh-jauh dari syirik-syirik seperti yang telah diterangkan di atas.
b) Bentuk-bentuk Syirik:
Pertama,
menyembah patung atau berhala (al ashnaam).
Allah swt. dalam
ذٰلِكَ وَمَنْ
يُّعَظِّمْ حُرُمٰتِ اللّٰهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ عِنْدَ رَبِّهٖۗ وَاُحِلَّتْ
لَكُمُ الْاَنْعَامُ اِلَّا مَا يُتْلٰى عَلَيْكُمْ فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ
الْاَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوْا قَوْلَ الزُّوْرِ ۙ ٣٠
30. Demikianlah (perintah Allah). dan barangsiapa
mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah[989] Maka itu adalah lebih
baik baginya di sisi Tuhannya. dan Telah dihalalkan bagi kamu semua binatang
ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, Maka jauhilah olehmu
berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.
"maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu
dan jauhilah perkataan-perkataan dusta".
Dalam
surat Maryam 19/42
اِذْ قَالَ
لِاَبِيْهِ يٰٓاَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا
يُغْنِيْ عَنْكَ شَيْـًٔا ٤٢
42. Ingatlah ketika ia
Berkata kepada bapaknya; "Wahai bapakku, Mengapa kamu menyembah sesuatu
yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?
diceritakan bahwa Nabi Ibrahim menegur ayahnya karena
menyembah patung: Ingatlah ketika ia
berkata kepada bapaknya: "Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu
yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?".
Kedua,
menyembah matahari, dalam
اِنَّ رَبَّكُمُ
اللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ
اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِۗ يُغْشِى الَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهٗ حَثِيْثًاۙ
وَّالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُوْمَ مُسَخَّرٰتٍۢ بِاَمْرِهٖٓ ۙاَلَا لَهُ
الْخَلْقُ وَالْاَمْرُۗ تَبٰرَكَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ ٥٤
54. Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang
Telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu dia bersemayam di atas
'Arsy[548]. dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat,
dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing)
tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak
Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.
Allah
menolak orang-orang yang menyebah matahari, bulan dan bintang: "Sesungguhnya
Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa,
lalu Dia bersemayam di atas `Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang
mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan
bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah,
menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta
alam". Lalu dalam
وَمِنْ اٰيٰتِهِ
الَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُۗ لَا تَسْجُدُوْا لِلشَّمْسِ وَلَا
لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوْا لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَهُنَّ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ
تَعْبُدُوْنَ ٣٧
"Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam,
siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah
(pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika
kamu hanya kepada-Nya saja menyembah".
Ketiga,
menyembah malaikat dan jin, dalam
وَجَعَلُوْا لِلّٰهِ
شُرَكَاۤءَ الْجِنَّ وَخَلَقَهُمْ وَخَرَقُوْا لَهٗ بَنِيْنَ وَبَنٰتٍۢ بِغَيْرِ
عِلْمٍۗ سُبْحٰنَهٗ وَتَعٰلٰى عَمَّا يَصِفُوْنَ ࣖ ١٠٠
Dan
mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal
Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan
mengatakan): "Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan
perempuan", tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan[495]. Maha Suci Allah dan
Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan.
Dan mereka
(orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah
yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan):
"Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan", tanpa
(berdasar) ilmu pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat
yang mereka berikan". Dalam
وَيَوْمَ
يَحْشُرُهُمْ جَمِيْعًا ثُمَّ يَقُوْلُ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اَهٰٓؤُلَاۤءِ اِيَّاكُمْ
كَانُوْا يَعْبُدُوْنَ ٤٠ قَالُوْا سُبْحٰنَكَ اَنْتَ وَلِيُّنَا مِنْ دُوْنِهِمْ
ۚبَلْ كَانُوْا يَعْبُدُوْنَ الْجِنَّ اَكْثَرُهُمْ بِهِمْ مُّؤْمِنُوْنَ ٤١
"Dan (ingatlah)
hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah
berfirman kepada malaikat: "Apakah mereka ini dahulu menyembah
kamu?".Malaikat-malaikat itu menjawab: "Maha Suci Engkau. Engkaulah
pelindung kami, bukan mereka: bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan
mereka beriman kepada jin itu".
Keempat,
menyembah para nabi, seperti Nabi Isa as. yang disembah kaum Nasrani dan Uzair
yang disembah kaum Yahudi. Keduanya sama-sama dianggap anak Allah. Allah berfirman: "Orang-orang Yahudi
berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang Nasrani berkata: "Al
Masih itu putera Allah". Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut
mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dila`nati
Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?" (QS. At Taubah
9/30).
وَقَالَتِ
الْيَهُوْدُ عُزَيْرُ ِۨابْنُ اللّٰهِ وَقَالَتِ النَّصٰرَى الْمَسِيْحُ ابْنُ
اللّٰهِ ۗذٰلِكَ قَوْلُهُمْ بِاَفْوَاهِهِمْۚ يُضَاهِـُٔوْنَ قَوْلَ الَّذِيْنَ
كَفَرُوْا مِنْ قَبْلُ ۗقَاتَلَهُمُ اللّٰهُ ۚ اَنّٰى يُؤْفَكُوْنَ ٣٠
30. Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu
putera Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al masih itu putera
Allah". Demikianlah itu Ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru
perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana
mereka sampai berpaling?
Dalam surat Al Maidah 5/72 :
لَقَدْ
كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَ
ۗوَقَالَ الْمَسِيْحُ يٰبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اعْبُدُوا اللّٰهَ رَبِّيْ
وَرَبَّكُمْ ۗاِنَّهٗ مَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّٰهُ عَلَيْهِ
الْجَنَّةَ وَمَأْوٰىهُ النَّارُ ۗوَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ اَنْصَارٍ ٧٢
72. Sesungguhnya Telah kafirlah orang-orang yang
berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam", padahal
Al masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan
Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah,
Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka,
tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.
Kelima, Menyembah Rahib atau Pendeta, Allah berfirman:
"Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai
tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam;
padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan
(yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka
persekutukan". Adi bin Hatim ra. pernah bertanya kepada Rasulullah
mengenai hal tersebut, seraya berkata: "Sebenarnya mereka tidak menyembah
Pendeta atau Rahib mereka?" Rasululah saw. menjawab: Benar, tetapi para
rahib atau pendeta itu telah mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang
haram, sementara mereka mengikutinya. Bukankah itu tindak penyembahan terhadap
mereka?
Keenam, menyembah Thaghuut. Istilah thaghuut diambil dari kata thughyaan
artinya melampaui batas. Maksudnya: segala sesuatu yang disembah selain Allah.
Setiap seruan para rasul intinya adalah mengajak kepada tauhid dan menjauhi
thaghuut. Allah berfirman: "Dan
sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):
"Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara
umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di
antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu
di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan
(rasul-rasul)" (QS. An Nahl 16/36). Dan tauhid yang murni tidak akan bisa
dicapai tanpa menghindar dari menyembah thaghuut, Allah berifrman: Tidak ada
paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang
benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada
Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada
buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi
Maha Mengetahui (QS. Al Baqaqarah 2/256). Allah bangga dengan orang-orang
beriman yang menjauhi thaghuut: "Dan orang-orang yang menjauhi thaghut
(yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita
gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku: (QS. Az Zumar
39/17).
Ketujuh, menyembah hawa nafsu. Hawa nafsu adalah kecendrungan
untuk melakukan keburukan. Seseorang yang menuhankan hawa nafsu ia mengutamakan
keinginan nafsunya di atas cintanya kepada Allah. Dengan demikian ia telah
mentaati hawa nafsunya dan menyembahnya. Allah berfirman: Terangkanlah kepadaku tentang orang yang
menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi
pemelihara atasnya? (QS. Al Furqaan 25/43). Dalam surat Al Jatsiyah 45/23: "Maka pernahkah kamu melihat orang yang
menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat
berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan
meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya
petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil
pelajaran?"
c) Macam-macam Syirik: Ada dua macam syirik: (a)
Syirik besar (b) syirik kecil. Masing-masing dari kedua macam ini mempunyai dua
dimesi: hzahir (nampak) dan khafiy (tersembunyi). Marilah kita bahas satu-satu
persatu dari kedua macam syrik tersebut.
Pertama, Syirik besar (Asy Syirkul Akbar), yaitu tindakan menyekutukan Allah dengan mahlukNya.
Dikatakan syirik besar karena dengannya seseorang tidak akan diampuni dosanya
dan tidak akan masuk surga. Allah berfirman: "Sesungguhnya Allah tidak
mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa
yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang
mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat
sejauh-jauhnya" (QS. An Nisaa' 4/116). Ilustarsi syirik besar ini dibagi
dua dimensi: dzahir dan kafiy. Yang dzahir bisa dicontohkan seperti menyembah
bintang, matahari, bulan, patung-patung, batu-batu, pohon-pohon besar, manusia
(seperti menyembah Fir'un, raja-raja, Budha, Isa ibn Maryam, malaikat, Jin dan
Sytena. Sementara yang khafiy bisa dicontohkan seperti meminta kepada
orang-orang yang sudah mati dengan keyakinan bahwa mereka bisa memenuhi apa
yang mereka yakini, atau menjadikan seseorang sebagai pembuat hukum,
menghalalkan dan mengharamkan seperti Allah swt.
Kedua, syirik kecil (Asyirkul Ashghar), yaitu suatu tindakan yang mengarah kepada syirik, tetapi
belum sampai ketingkat keluar dari tauhid, hanya saja mengurangi kemurniannya.
Syirik Ashghar ini juga dua dimensi: dzahir dan khafiy. Yang zhahir bisa berupa
lafal (pernyataan) dan perbuatan. (a) Yang berupa lafal contohnya: bersumpah
dengan nama selain Allah dan mengarah ke syrik, seperti pernyataan: demi Nabi,
demi Ka'bah, demi Kekek dan Nenek dan lain sebagainya. Dalam sebuah hadits
Rasulullah saw. bersabda: man
halafa bighairillahi faqad kafara wa asyraka (siapa yang bersumpah dengan
selain maka ia kafir dan musyrik) (HR. Turmidzi no 1535). Termasuk lafal yang
mengarah ke syirik pernyataan: kalau tidak karena Allah dan si fulan niscaya
ini tidak akan terjadi, atau memberikan nama seperti abdul ka'bah dan lain
sebagainya. (b) Adapun yang berupa perbuatan contohnya: mengalungkan jimat
dengan kaykinan bahwa itu bisa menyelamatkan dari mara bahaya dan sebagainya.
Adapun syirik Ashghar yang
khafiy, biasanya berupa niat atau keinginan, seperti riya' dan sum'ah. Yaitu
melakukan tindak ketaatan kepada Allah dengan niat ingin dipuji orang dan lain
sebagainya. Seperti menegakkan shalat dengan nampak khusyu' karena sedang
disamping calon mertuanya, supaya dipuji sebagai orang saleh, padahal di saat
shalat sendirian tidak demikian. Riya' adalah termasuk dosa hati yang sangat
berbahaya. Sebab Islam sangat memperhatikan perbuatan hati sebagai factor yang
menentukan bagi baik tidaknya perbuatan dzahir. Allah befirman: "Hai
orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan
menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan sipenerima), seperti orang yang
menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada
Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di
atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia
bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka
usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir"
(QS. Al Baqarah 2/264). Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda: man samma'a sammallahu bihii, waman
yraa'ii yraaillahu bihii (Siapa yang menampakkan amalnya dengan maksud riya' Allah
akan menyingkapnya di hari Kiamat, dan siapa yang menunjukkan amal shalehnya
dengan maksud ingin dipuji orang, Allah mengeluarkan rahasia tersebut di hari
Kiamat (HR. Bukhari 11/288 dan Muslim no. 2987).
d) Bahaya-bahaya Syirik:
Pertama, Syirik adalah kedzaliman yang nyata. Allah berfirman: innasy syirka ladzlumun adziim (sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah
benar-benar kezaliman yang besar) (QS. Luqman 31/13). Mengapa sebab dengan
berbuat syirik seseorang telah menjadikan dirinya sebagai hamba makhluk yang
sama dengan dirinya, tidak berdaya apa-apa.
Kedua, Syirik merupakan sumber khurafat, sebab orang-orang
yang mayakini bahwa selain Allah seperti bintang, matahari, kayu besar dan lain
sebagainya bisa memberikan manfaat atau bahayam berarti ia telah siap melakukan
segala khurafaat dengan mendatangi para dukun, kuburan-kubutan angker dan
mengalungkan jimat di lehernya.
Ketiga, Syrik sumber ketakutan dan kesengsaraan, Allah
berfirman: "Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut,
disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak
menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan
itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim" (QS. Ali Imran
3/151)
Keempat, Syirik merendahkan derajat kemanusiaan, Allah
berfirman: "Barangsiapa
mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari
langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang
jauh" (QS. Al Hajj 22/31).
Kelima, syirik menghancurkan kecerdasan manusia, Allah
berfirman: "Dan mereka menyembah
selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada
mereka dan tidak (pula) kemanfa`atan, dan mereka berkata: "Mereka itu
adalah pemberi syafa`at kepada kami di sisi Allah". Katakanlah:
"Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di
langit dan tidak (pula) di bumi?" Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa
yang mereka mempersekutukan (itu)" (QS. Yunus 10/18).
Keenam, di akhirat nanti orang-orang musrik tidak akan
mendapatkan mapunan Allah, dan akan masuk neraka selama-lamanya. Allah
berfirman: "Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan
(sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi
siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan
Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya" (QS. An Nisaa'
4/116) Dalam surat Al Maidah 5/72: "Sesungguhnya orang yang mempersekutukan
(sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan
tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang
penolongpun".
e) Sebab-sebab Syirik: Ada beberapa sebab fundamental
munculnya syirik:
(a) Al Jahlu (kebodohan). Karenanya masyarakat sebelum datangnya
Islam disebut dengan msyarakat jahiliyah. Sebab mereka tidak tahu mana yang
benar dan mana yang salah. Dalam kondisi yang penuh dengan kebodohan itu,
orang-orang cendrung berbuat syirik. Karenanya semakin jahiliyah suatu kaum, bisa dipastikan kecendrungan berbuat syirik
semakin kuat. Dan biasanya di tengah masyarakat jahiliyah para dukun selalu
menjadi rujukan utama. Mengapa, sebab mereka bodoh, dan dengan kobodohannya
mereka tidak tahu bagaimana seharusnya mengatasi berbagai peroslan yang mereka
hadapi. Ujung-ujungnya para dukun sebagai nara sumber yang sangat mereka
agungkan.
(b) dhu'ful iimaan (lemahnya iman). Seorang yang
lemah imannya cendrung berbuat maksiat. Sebab rasa takut kepada Allah tidak
kuat. Lemahnya rasa takut akan dimanfaatkan oleh hawa nafsu untuk menguasai
dirinya. Ketika seseorang dibimbing oleh hawa nafsunya maka tidak mustahil ia
akan jatuh ke dalam perbuatan-perbuatan syririk, seperti memohon kepada pohonan
besar karena ingin segera kaya, datang ke kuburan para wali untuk minta
pertolongan agar ia dilih jadi presiden atau selalu merujuk kepada para dukun
untuk suapaya penampilannya tetap memikat hati banyak orang dan lain
sebagainya.
(c) taqliid (taklid buta). Di dalam Al Qur'an selalu digambarkan
orang-orang yang menyekutukan Allah dengan alasan karena mengukiti jejak
nenekmoyang mereka. Allah berfirman:
"Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata:
"Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah
menyuruh kami mengerjakannya. Katakanlah: "Sesungguhnya Allah tidak
menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji." Mengapa kamu mengada-adakan
terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?" (QS. Al A;raf 7/28). Dalam
surat Al Baqarah 2/170: "Dan apabila dikatakan kepada mereka:
"Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab:
"(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari
(perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga),
walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak
mendapat petunjuk?" Dalam surat Al maidah 5/104: "Apabila dikatakan
kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti
Rasul". Mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati
bapak-bapak kami mengerjakannya". Dan apakah mereka akan mengikuti juga
nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa
dan tidak (pula) mendapat petunjuk?.
2. Al Ilhaad (Menyimpang Dari Kebenaran)
Penggunaan istilah al ilhaad dalam Al Qur'an: Al Qur'an menggunakan
istilah ilhaad di banyak tempat,
kadang berbentuk kosa kata yulhiduun sebagaimana berikut:
Dalam surat Al A'raf :
وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَاۖ
وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِيْٓ اَسْمَاۤىِٕهٖۗ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوْا
يَعْمَلُوْنَ ۖ ١٨٠
Hanya milik Allah asma-ul
husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan
tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut)
nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah
mereka kerjakan. (Al-A’raf: 180)
Dalam
وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ
بَشَرٌ لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَذَا لِسَانٌ
عَرَبِيٌّ مُبِينٌ
Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka
berkata: "Sesungguhnya Al Qur'an itu diajarkan oleh seorang manusia
kepadanya (Muhammad)". Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa)
Muhammad belajar kepadanya bahasa `Ajam, sedang Al Qur'an adalah dalam bahasa
Arab yang terang.
Dalam
إِنَّ الَّذِينَ
يُلْحِدُونَ فِي ءَايَاتِنَا لَا يَخْفَوْنَ عَلَيْنَا أَفَمَنْ يُلْقَى فِي
النَّارِ خَيْرٌ أَمْ مَنْ يَأْتِي ءَامِنًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ اعْمَلُوا مَا
شِئْتُمْ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat
Kami, mereka tidak tersembunyi dari Kami. Maka apakah orang-orang yang
dilemparkan ke dalam neraka lebih baik ataukah orang-orang yang datang dengan
aman sentosa pada hari kiamat? Perbuatlah apa yang kamu kehendaki; sesungguhnya
Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
Kadang berbentuk kosa kata ilhaad, Allah berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ
كَفَرُوا وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ الَّذِي
جَعَلْنَاهُ لِلنَّاسِ سَوَاءً الْعَاكِفُ فِيهِ وَالْبَادِ وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ
بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi
manusia dari jalan Allah dan Masjidilharam yang telah Kami jadikan untuk semua
manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir dan siapa yang
bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami
rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih (QS. Al Hajj 22/25)
Dan kadang
berbentuk kosa kata multahadaa Allah berfirman:
وَاتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ لَا
مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَلَنْ تَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا
Dan
bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhan-mu (Al Qur'an).
Tidak ada (seorangpun) yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya. Dan kamu tidak
akan dapat menemukan tempat berlindung selain daripada-Nya (QS. Al Kahfi 18/27)
قُلْ
إِنِّي لَنْ يُجِيرَنِي مِنَ اللَّهِ أَحَدٌ وَلَنْ أَجِدَ مِنْ دُونِهِ
مُلْتَحَدًا
Katakanlah: "Sesungguhnya aku sekali-kali tiada
seorangpun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali tiada akan
memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya" QS. Al Jin 72/22).
Arti al ilhaad menurut para ulama: Al farra' mengatakan
bahwa kata yulhiduun atau yalhaduun artinya condong kepadanya. Imam Al Harrani dari Ibn
Sikkit mengatakan: al mulhid artinya orang yang
menyimpang dari kebenaran, dan memasukkan sesuatu yang lain kepadanya. Dalam
Lisanul Arab dikatakan: al
ilhaad artinya
menyimpang dari maksud yang sebenarnya. Meragukan Allah juga termasuk ilhaad.
Dikatakan juga bahwa setiap tindak kedzaliman dalam bahasa Arab disebut ilhaad.
Karenanya dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa monopoli
makanan di tanah haram itu termasul ilhad. Ketika dikatakan laa tulhid fil
hayaati itu artinya jangan kau menyimpang dari kebenaran selama
hidupmu.
Imam
Ashfahani dalam bukunya mufradaat alfadhil Qur'an mengatakan bahwa kata al
ilhaad artinya menyimpang dari kebenaran. Dalam hal ini –kata Al Ashfahani- ada
dua makna: Pertama, ilhad yang identik dengan syirik, bila ini dilakukan maka
otomatis seseorang menjadi kafir. Kedua, ilhad yang mendekati syirik, ini tidak
membuat seseorang menjadi kafir, tetapi setidaknya telah mengurangi kemurnian
tauhidnya. Termasuk
sikap ini apa yang diganbarkan dalam firman Allah:
وَمَنْ يُرِدْ
فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
siapa
yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami
rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih (QS. Al Hajj 22/25).
Dalam menafsirkan ayat وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ (dan
tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut)
nama-nama-Nya), Imam Al Ashfahani menyebutkan bahwa ada dua macam dalam ilhaad
kepada nama-nama Allah: (a) mensifati Allah dengan sifat-sifat yang tidak
pantas disebut sebagai sifat Allah (b) menafisirkan nama-nama Allah dengan
makna yang tidak sesuai dengan keagunganNya (Lihat Mufradat Alfaadzul Qur'an
h.737).
Hakikat Ilhad: berdasarkan keterangan di
atas baik ditinjau dari segi bahasa maupun definisi yang disampaikan para ulama
nampak bahwa istilah ilhad digunakan untuk segala
tindakan yang menyimpang dari kebenaran. Jadi setiap penyimpangan dari
kebenaran disebut ilhad. Tetapi secara definitif ia lebih khusus digunakan
untuk sikap yang menafikan sifat-sifat, nama-nama dan perbuatan Allah. Dengan
kata lain para mulhidun adalah mereka yang tidak
percaya adanya sifat-sifat, nama-nama dan perbuatan Allah. Berbeda dengan kafir
yang di dalamnya bisa berupa pengingkaran kepada Allah, menyekutukanNya dan
pengingkaran terhadap nikmat-nikmatNya. Sementara ilhad lebih kepada
pengingkaran sifat-sifat, nama-nama dan perbuatan Allah saja. Dari sini nampak
bahwa tidak setiap kafir ilhad. Karenanya –seperti dikatakan dalam buku Al Furuuq Al Lughawiyah- orang-orang Yahudi dan
Nasrani sekalipun mereka tergolong kafir, tetapi mereka tidak termasuk mulhiduun. Tetapi setiap tindakan ilhad itu termasuk kafir.
Bahaya-bahaya ilhaad:
Pertama, bahwa para ulama sepakat bahwa tauhid mempunyai
tiga dimensi: (a) tauhid uluhiyah, (b) tauhid rububiyyah (c) tauhid asma' dan
sifat. Karena ilhad adalah tindakan menafikan
sifa-sifat, nama-nama dan perbuatan Allah maka dengan melakukan ilhad seseorang
telah menghapus satu dimensi dari dimensi tauhid yang sudah
Kedua, bahwa dengan menafikan sifat-sfat dan nama-nama
Allah berarti ia telah mengingkari ayat-ayat Al Qur'an yang menegaskan adanya
nama-nama dan sifat-sifat Allah. Para ulama sepakat bahwa mengingkari satu ayat
dari ayat-ayat Al Qur'an adalah kafir.
Ketiga, bahwa mengingkari
perbuatan Allah berarti mengingkari segala wujud di alam ini sebagai
ciptaanNya. Bila ini yang diyakini berarti telah mengingkari kekuasaan Allah
sebagai Pencipta. Mengingkari kekuasaan Allah adalah kafir.
3. An Nifaaq (Wajahnya
Islam, Hatinya Kafir)
Imam Al Ashfahani menerangkan bahwa an nifaaq diambil dari kata an nafaq artinya jalan tembus. Dalam
وَإِنْ كَانَ كَبُرَ
عَلَيْكَ إِعْرَاضُهُمْ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَبْتَغِيَ نَفَقًا فِي الْأَرْضِ
أَوْ سُلَّمًا فِي السَّمَاءِ فَتَأْتِيَهُمْ بِآيَةٍ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ
لَجَمَعَهُمْ عَلَى الْهُدَى فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْجَاهِلِينَ
Dan jika perpalingan mereka (darimu) terasa amat
berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lobang di bumi atau tangga ke langit
lalu kamu dapat mendatangkan mu`jizat kepada mereka, (maka buatlah). Kalau
Allah menghendaki tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk,
sebab itu janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang jahil (QS. Al
An'aam 6/35).
Orang Arab berkata: naafaqal yarbu' binatang yarbu' telah melakukan nifak, karena ia
masuk ke satu lubang lalu kelar dari lubang yang lain. Dalam pengertian ini
kata an nifaaq digunakan. Sebab
orang-orang munafik ketika bertemu dengan orang-orang Islam mereka suka
menampakkan dirinya sebagai seorang muslim, sementara ketika bertemu dengan
kawan-kawan mereka sesama kafir, mereka kembali lagi ke wajah mereka yang asli,
sebagai orang-orang kafir. Karenanya Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang munafik itulah
orang-orang yang fasik” (QS. At Taubah 9/67).
Ciri-ciri orang
munafiq: Di pembukaan surat Al Baqarah
setelah menceritakan ciri-ciri orang-orang beriman dan ciri-ciri orang-orang
kafir, Allah lalu menceritakan ciri-ciri orang-orang munafiq secara panjang
lebar. Ringkasnya sebagai berikut: (a) Di mulut mereka mengatakan beriman
kepada Allah dan hari Kiamat, sementara hati mereka kafir (lihat QS. Al Baqarah
2/8-10) (b) Ketika dikatakan kepada mereka agar jangan berbuat kerusakan,
mereka mengaku berbuat baik(lihat QS. Al Baqarah 2/11-12). (c) Ketika bertemu
dengan orang-orang beriman mereka menampakan keimanan, tetapi ketika kembali ke
kawan-kawan mereka sesama syetan mereka kembali kafir. (d) Ibarat orang berbisnis
mereka sedang membeli kekafiran dengan keimanan. Sebab setiap saat wajah mereka
berganti-ganti tergantung dengan siapa mereka pada saat itu sedang bersam-sama.
(e) Ibarat pejalan dalam kegelapan, setiap kali mereka menyalakan obor,
seketika obor itu padam kembali. (d) Ibarat orang-orang yang ketakutan
mendengarkan petir saat hujan turun, mereka selalu menutup telinga karena takut
kebenaran yang disampaikan Rasulullah saw. Masuk ke hati mereka.
Penutup
Demikianlah hal-hal yang merusak kemurnian tauhid (baca:
menghancurkan makna dua kalimat syahadat), yang secara singkat setidaknya ada
tiga: Syirik, ilhaad dan nifaq. Masing-masing dari komponen tersebut mempunyai
tujuan sendiri, hanya saja syirik lebih mengarah kepada sikap menyekutukan
Allah, sementara ilhad lebih mengarah kepada sikap menafikan sifat, asma dan
perbuatan Allah. Adapun nifaq lebih mengarah kepada penampilan dengan wajah
dua. Tetapi ujung-ujungnya adalah kekafiran. Wallahu a’lam bishshawab.
No comments:
Post a Comment