Thursday, April 23, 2026

Mengenal Ali Bin Abi Thalib

Nasab dan Keislamannya:

Beliau adalah sepupu Nabi dan suami dari putrinya, Fatimah. Ayahnya adalah Abdu Manaf yang memiliki julukan (kunyah) Abu Thalib. Nama lengkapnya adalah Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib bin Hashim bin Abdu Manaf. Beliau dijuluki Abu al-Hasan dan merupakan sepupu Rasulullah .

Ibunya bernama Fatimah binti Asad bin Hashim bin Abdu Manaf. Beliau lahir 23 tahun sebelum Hijrah Nabi, yang berarti beliau lebih muda tiga puluh tahun daripada Nabi [1].

Ayahnya, Abu Thalib, adalah salah satu pemuka kaum Quraisy yang telah membela Nabi serta melindunginya dari gangguan dan permusuhan Quraisy. Ia juga membela kaum Muslimin karena rasa cintanya kepada Nabi . Ibunda Ali telah memeluk Islam dan ikut berhijrah ke Madinah bersama para Sahabat Rasulullah .

Ayah Ali (Abu Thalib) adalah seorang yang fakir dan memiliki banyak anak, yaitu: Thalib, Aqil, Ja'far, Ali, Fakhitah, dan Jumanah; semuanya lahir dari ibu yang sama, Fatimah binti Asad. Maka Rasulullah meminta paman-pamannya untuk membantu saudara mereka, Abu Thalib. Mereka pun bermusyawarah untuk mengasuh sebagian anak Abu Thalib. Abu Thalib setuju mereka mengambil siapa saja yang mereka kehendaki untuk diasuh dan ditanggung nafkahnya, asalkan Aqil tetap bersamanya. Maka Rasulullah mengambil Ali, sedangkan Al-Abbas mengambil Ja'far.

Alasan dibalik hal ini adalah karena Makkah sedang dilanda kekeringan yang sangat hebat pada masa itu, sehingga Nabi ingin meringankan beban Abu Thalib sampai penderitaan dan kekeringan ini berakhir. Ali tetap tinggal bersama Rasulullah hingga wahyu turun dan Allah mengutus beliau sebagai Rasul dan Nabi. Ali pun beriman kepada beliau saat berusia sepuluh tahun, sehingga ia menjadi anak-anak pertama yang beriman [2]. Oleh karena itu, Allah memuliakan wajahnya (karramallahu wajhahu) karena beliau tidak pernah sekalipun bersujud kepada berhala [3].


Sebagian Sifat dan Amal Perbuatannya:

Beliau memiliki banyak amal perbuatan dan sifat-sifat yang nyata sebelum menjabat sebagai Khalifah. Kami sebutkan di antaranya sebagai contoh, namun tidak terbatas pada:

  1. Nabi memilihnya untuk tidur di tempat tidur beliau dan menyelimuti diri dengan burdah (kain) hijau milik beliau pada malam hijrah dari Makkah ke Madinah. Tujuannya agar kaum Quraisy menyangka Nabi masih berada di rumahnya dan belum keluar dari Makkah. Dengan ini, Ali mendapatkan kemuliaan karena telah bersedia menjadi tebusan bagi Nabi pada malam tersebut. Beliau menghadapi orang-orang yang mengintai Nabi dengan penuh keberanian saat mereka menerobos masuk ke rumah; beliau tidak menunjukkan arah perjalanan Nabi kepada mereka. Beliau menjalankan wasiat Nabi untuk mengembalikan barang-barang titipan kepada pemiliknya, kemudian barulah ia berhijrah ke Madinah [4].
  2. Beliau mendapatkan kemuliaan menjadi menantu Nabi dengan menikahi putri beliau, Fatimah az-Zahra. Mahar/peralatan rumah tangganya hanyalah selembar kain beludru, sebuah kirbah (wadah air dari kulit), dan sebuah bantal yang isinya serat kurma. Nabi mendoakan: "Semoga Allah menghimpun urusan kalian berdua, memuliakan kedudukan kalian, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan (keturunan yang baik) dari kalian berdua" [5]. Suatu ketika keduanya mengadu kepada Nabi tentang beratnya pekerjaan rumah tangga dan meminta seorang pembantu. Rasulullah bersabda: "Maukah kalian aku beri tahu sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kalian minta?" Keduanya menjawab: "Ya." Beliau bersabda tentang kalimat yang diajarkan Jibril as: "Bertasbihlah (Subhanallah) sepuluh kali di setiap akhir shalat, bertahmidlah (Alhamdulillah) sepuluh kali, dan bertakbirlah (Allahu Akbar) sepuluh kali. Dan jika kalian hendak beranjak ke tempat tidur, bertasbihlah tiga puluh tiga kali, bertahmidlah tiga puluh tiga kali, dan bertakbirlah tiga puluh empat kali." Ali berkata: "Demi Allah, aku tidak pernah meninggalkannya sejak Rasulullah mengajarkannya kepadaku." (Diriwayatkan Ahmad dalam Al-Manaqib). Dari Fatimah, beliau dikaruniai anak: Al-Hasan, Al-Husain, Zainab al-Kubra, dan Ummu Kultsum al-Kubra.
  3. Beliau mengikuti seluruh peperangan bersama Rasulullah kecuali Perang Tabuk, karena beliau ditugaskan menjaga keluarga Nabi di Madinah. Kaum munafik menyebarkan desas-desus bahwa Nabi meninggalkannya karena tidak membutuhkannya lagi. Ali pun mendatangi Rasulullah sambil menangis dan berkata: "Wahai Rasulullah, apakah engkau meninggalkanku bersama para wanita dan anak-anak?" Rasulullah bersabda: "Tidakkah engkau ridha kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada Nabi setelahku?" (HR. Muslim).
  4. Beliau bersegera membaiat Abu Bakar as-Siddiq ketika kaum Muhajirin dan Ansar memilihnya sebagai Khalifah kaum Muslimin setelah wafatnya Nabi . Beliau juga tidak ambisius terhadap jabatan khilafah; beliau termasuk yang memberi saran kepada Abu Bakar untuk menunjuk Umar bin al-Khaththab sebagai pengganti. Begitu pula setelah terbunuhnya Umar, ketika Abdurrahman bin Auf (selaku pemegang mandat dari ahli syura) bertanya apakah ia bersedia menjalankan Kitabullah, Sunnah Nabi, serta mengikuti jejak kedua Khalifah sebelumnya (Abu Bakar dan Umar). Ali menjawab bahwa ia akan menjalankan Al-Qur'an dan Sunnah, namun ia akan berijtihad untuk hal di luar itu. Beliau tahu jawaban ini berarti penolakan halus atas syarat mengikuti jejak dua khalifah sebelumnya, dan Abdurrahman bin Auf memahami itu lalu menyerahkan amanah tersebut kepada Utsman bin Affan.
  5. Beliau berdiri di samping ketiga Khalifah dalam semua kesulitan dan tugas penting, serta menjadi penasihat yang jujur bagi mereka semua [6]. Beliau juga menjabat sebagai hakim pada masa kekhalifahan Umar. Beliau memiliki sikap yang nyata dalam menghadapi para pemberontak, di mana beliau berdiri membela Khalifah Utsman dan bersiap memerangi mereka untuk melindunginya, namun Khalifah (Utsman) menolak hal tersebut sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Ali sering berkata: "Aku menjadi menteri (penasihat) bagi kalian jauh lebih baik daripada aku menjadi amir (pemimpin) bagi kalian" [7].
  6. Beliau pemegang panji Nabi dalam peperangan. Jihad dan kepahlawanannya sangat masyhur dalam buku-buku sejarah dan sirah. Pada Perang Khaibar, Nabi bersabda: "Besok aku benar-benar akan memberikan panji ini kepada seorang pria yang Allah akan memberikan kemenangan melalui tangannya." Orang-orang pun bermalam dengan penuh harap siapa di antara mereka yang akan diberikan panji itu. Di pagi hari, mereka mendatangi Rasulullah . Beliau bertanya: "Di mana Ali bin Abi Thalib?" Mereka menjawab: "Matanya sedang sakit, wahai Rasulullah." Nabi memerintahkan untuk memanggilnya. Ketika Ali datang, Nabi meludahi matanya dan mendoakannya sehingga sembuh seketika seolah tidak pernah ada rasa sakit. Beliau memberikan panji itu kepadanya. Ali bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah aku harus memerangi mereka sampai mereka menjadi seperti kita?" Nabi bersabda: "Majulah dengan tenang sampai engkau tiba di tempat mereka, kemudian ajaklah mereka kepada Islam dan beri tahu mereka hak-hak Allah yang wajib mereka tunaikan. Demi Allah, jika Allah memberi hidayah kepada satu orang saja melalui perantaramu, itu jauh lebih baik bagimu daripada unta-unta merah (harta paling berharga)" (HR. Bukhari dan Muslim).
  7. Hadis Ghadir Khum: Saat Nabi kembali dari Haji Wada' dalam perjalanan menuju Madinah, beliau sampai di daerah bernama Ghadir (kolam), tempat bertemunya jalan-jalan menuju Madinah, Irak, Mesir, dan Yaman. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 18 Dzulhijjah. Beliau berkhutbah dan berwasiat tentang keluarganya (ahlul bait) dan tentang Ali ra, seraya bersabda: "Siapa yang menjadikanku sebagai maula-nya, maka Ali adalah maula-nya. Ya Allah, cintailah orang yang mencintainya dan musuhilah orang yang memusuhinya." (Musnad Ahmad, Al-Hakim). Dalam kitab-kitab Sunnah, ini dikenal sebagai Hadis Ghadir. Ali dan para Sahabat memahami bahwa wilayah (kepemimpinan/maula) di sini bukanlah kekuasaan politik atau kekhalifahan, melainkan wilayah dalam arti dukungan (nusrah) dan kasih sayang (mawaddah), karena Al-Qur'an menggunakan kata wali/awliya dengan makna tersebut (seperti dalam surat At-Taubah: 71). Konteks dan situasi saat itu menunjukkan bahwa maknanya adalah dukungan dan persaudaraan, karena tidak mungkin Ali menjadi pemimpin/khalifah saat Nabi masih hidup.

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib sendiri menjelaskan hal ini ketika beliau ditikam oleh pengkhianat Ibnu Muljam. Seorang ulama Syiah, Abu al-Hasan Ali bin al-Husain al-Mas'udi, meriwayatkan bahwa setelah ditikam, orang-orang bertanya apakah mereka boleh membaiat putranya, Al-Hasan, jika beliau wafat. Ali menjawab: "Aku tidak melarang kalian dan tidak memerintahkan kalian." Seseorang bertanya: "Tidakkah engkau memberikan wasiat (penunjukan), wahai Amirul Mukminin?" Ali menjawab: "Tidak, tetapi aku meninggalkan mereka sebagaimana Rasulullah meninggalkan mereka" [8]. Oleh karena itu, tidak ada satu pun Sahabat yang menggunakan hadis ini sebagai argumen politik setelah wafatnya Nabi , padahal hadis ini didengar oleh sedikitnya 120.000 Muslim menurut riwayat Al-Qazwini (ulama Syiah) [9]. (Mereka justru berargumen dengan hadis Nabi : "Para pemimpin adalah dari Quraisy" untuk memperkuat pencalonan Abu Bakar, sebagaimana disebutkan oleh Al-Ya'qubi, yang juga ulama Syiah).


Referensi:

[1] Muruj adz-Dzahab karya al-Mas'udi jilid 2 hal. 359.

[2] As-Sirah an-Nabawiyyah karya Ibnu Hisham jilid 2 hal. 246.

[3] At-Thabaqat al-Kubra karya Ibnu Sa'ad jilid 3 hal. 2–22.

[4] Tarikh ath-Thabari jilid 2 hal. 373–382.

[5] Diriwayatkan Imam Ahmad dalam Al-Manaqib.

[6] Ibnu Atsir dan lainnya meriwayatkan bahwa ketika Abu Bakar hendak keluar dengan pedang terhunus memerangi kaum murtad, Ali bin Abi Thalib menghentikannya, memegang kendali tunggangannya dan berkata: "Aku katakan padamu apa yang dikatakan Rasulullah pada hari Uhud: 'Sarungkan pedangmu, jangan buat kami berduka atas kehilangan dirimu, dan kembalilah ke Madinah. Demi Allah, jika kami tertimpa musibah dengan kehilanganmu, niscaya tidak akan ada lagi keteraturan sistem (Islam) setelahmu selamanya'." (Al-Kamil Ibnu Atsir jilid 2 hal. 130).

[7] Nahjul Balaghah jilid 1 hal. 182 dan jilid 3 hal. 7.

[8] Muruj adz-Dzahab karya al-Mas'udi jilid 2 hal. 425.

[9] Id al-Ghadir karya Syaikh Muhammad al-Qazwini hal. 16. Disebutkan di sana bahwa hadis Ghadir juga mencakup perintah khilafah bagi dua belas imam, namun ini semua adalah tambahan yang tidak ada dalam hadis Nabawi yang asli; tidak ada yang mengatakannya saat Nabi wafat, tidak pula saat wafatnya Abu Bakar, Umar, atau Utsman, bahkan tidak saat perselisihan Ali dan Muawiyah. Penjelasan rinci ada dalam buku Al-Haqa'iq al-Gha'ibah baina as-Syiah wa Ahlis Sunnah oleh penulis.

No comments:

Post a Comment

An-Nazharu Wa Tafakkur