Muhtawa: buku Manusia dan Kebenaran, DR. Yusuf Qardhawi
Bismillahirrahmanirrahim
بسم الله الرحمن الرحيم
Segala
puji bagi Allah Yang telah menunjukkan kita kepada (kebenaran) ini dan tidaklah
kitamendapatkan petunjuk kalau Allah tidak menunjukkan kita. Rasul-rasul Rabb
kita telah datang membawa kebenaran. Shalawat dan salam untuk Rasul-Nya yang
diutus untuk menyampaikan hidayah dan agama yang benar agar dimenangkannya
mengungguli seluruh agama. Shalawat dan salam juga untuk keluarganya,
sahabatnya yang mendukung kebenaran serta golongannya. Juga untuk semua yang
mengikuti kebenaran dan mengajak orang kepada kebenaran hingga hari Kiamat.
Amma
ba’du…
Tulisan
ini bertema ‘Kebenaran’, referensi utamnya Al-Qur’an Al-Karim sedangkan
metodenya adalah dialog. Adalah kajian Al-Qur’an tenang pengertian kebenaran
berikut maknanya di dalam kitab suci. Bagaimana Allah mengkondisikan fitrah
manusia untuk mencintai dan mencari kebenaran serta menghadap kepadanya. Menjelaskan sarana ideal untuk mengenal dan menuju
kebenaran; yaitu wahyu Allah. Menjelaskan hubungan natara wahyu Allah dengan
akal manusia dan apa yang dikehendaki wahyu terhadap akal manusia serta lahan amal
akal yang disediakan oleh wahyu. Menjelaskan satu-satunya referensi langit yang
masih tersisa bagi manusia agar mereka mengenal kebenaran dan membelanya, yakni
Al-Qur’an yang Allah istemewakan dengan kejelasannya, pengaruhnya,
keuniversalitasnya, kekekalannya, dan dijadikannya sebagai penjelasan bagai
segala sesuatu. Juga bagaimana kaum Muslimin akan tersesat dan berpaling dari
kebenaran jika lalai terhadap Al-Qur’an.
Risalah ini juga menjelaskan sikap
manusia terhadap kebenaran, sebab-sebab mereka berpaling darinya, kebencian
mereka terhadapnya, dan permusuhan mereka terhadap para pendukung kebenaran
karena kebodohan mereka atau karena kebandelan dan hawa nafsu mereka. Mengapa
sebagian orang ada yang mencari kebenaran namun tersesat.
Setelah itu apa yang menjadi beban
dan kewajiban manusia terhadap kebenaran kalau sudah mengenal dan mengikutinya?
Juga ganjaran dunia dan akhirat macam apa yang ditunggunya jika konflik antara
kebenaran dan kebatilan terjadi?
Terakhir, nilai budaya dewasa ini.
Sejauh mana kandungan kebenaran dan kebatilannya.
Ini adalah beberapa persoalan
penting yang dibahas dalam risalah kecil ini dengan metode yang sangat dekat,
sangat sederhana, jauh dari mengada-ada, filsafat, dan memberatkan. Yakni
metode dialog antara seorang syaikh murabbi dengan dengan murid dan
mutarabbinya. Sebuah metode yang digunakan ulama kita sejak dahulu sebagaimana
yang dlakukan Syaikh Ibnul Qayyim rahimahullah dengan sebuah dialog antara Ahlu
Sunnah dengan Qadariyah, juga antara pengikut Qadariyah dan Jabariyah.
Di zaman kita ini kita juga
menyaksikan ‘Dialog antara seorang Reformis dan Tukang Taqlid’ oleh Sayyid
Rasyid Ridha. Juga dialog antara Syaikh Marzuq dan Heeran bin Al-Adh’af di
‘Al-Jawab Al-Ilahi tetang Ilmu dan Filsafat’ karya Husein Al-Jisr. Sebagaimana
juga yang diterapkan anaknya, Syaikh Nadeem Al-Jisr melalui kitabnya yang
sangat berbobot ‘Qisshatul Iman baina Ad-Din wa Al-Ilm wa Al-Falsafah’
Bahkan Al-Qur’an sendiri
menggunakan metode dialog untuk membeberkan persoalan-persoalan wujud yang
sangat besar; persoalan-persoalan uluhiyyah, risalah, kebangkitan, dan balasan.
Seperti yang kita saksikan secara jelas melalui paparan kisah para rasul
beserta kaum mereka.
Melalui studi tentang Al-Qur’an
saya juga ingin memperkanalkan kepada pemuda yang berwawasan tentang kebenaran,
sebagimana kita suci mereka juga menujukkan kepada kebenaran. Saya juga
tanamkan kecintaan kepada kebenaran dalam diri mereka agar mereka beriman
kepadanya, membelanya, dan menjadi tentara dan golongannya. Saya memuji Allah
sekiranya risalah ini diterima di hati kaum Muslimin. Hingga banyak di antara
mereka yang berada di Afrika mencari risalah ini. Bahkan saudara-sadara kita di
Turki menterjemahkannya ke dalam bahasa Turki.
Saya memohon kepada Allah agar
menjadikan kerja ini ikhlas karena-Nya semata dan menjadikannya bermanfaat bagi
penulisnya, pembacanya, dan distributornya. Ya Allah, tunjukkan kepada kami
bahwa yang benar itu benar dan karuniakan kemampuan untuk mengikutinya, dan
bahwa yang batil itu batil serta karuniakan kemampuan untuk menjauhinya. Amin.
Yusuf Al-Qardhawi
---oo0oo---
MANUSIA DAN KEBENARAN
Seorang pelajar yang masih sangat
muda berkata kepada gurunya,
“Selama anda berbicara kepada kami
tentang kebenaran dan menanamkan kepada kami kecintaan untuk hidup demi
kebenaran serta memotivasi untuk mati di jalan kebenaran. Selain itu anda juga
mengajarkan kepada kami tentang batasan ‘pengertian’ kata-kata berikut
konsekuensinya agar hal itu mendahului setiap gerakan dan amal. Agar tujuan
menjadi jelas dan tidak salah jalan. Lalu apa defnisi Al-Haq?
Dengan sangat kagum terhadap
pertanyaan muridnya, Sang Guru pun
menjawab,
Bagus sekali pertanyaanmu, anakku.
Kata ‘Al-Haq’ (kebenaran) terdiri hanya dengan beberapa huruf saja, namun
cakupan maknanya sangat luas. Para pakar spesialis dalam berbagai disiplin ilmu
menggunakannya dalam berbagai pengertian:
Para ahli filsafat
menggolongkannya temasuk tiga nilai tertinggi: Al-Haq (kebenaran), Al-Khair
(kebaikan), dan Al-Jamal (keindahan).
Para ahli perilaku (akhlak) menggunakannya
untuk hal-hal yang berkaitan dengan manusia. Ia adalah kata yang berlawanan
dengan kewajiban. Oleh karena itu mereka berkata, “Setiap Al-Haq berlawanan
dengan kewajiban.”
Pakar hukum menggunakannya untuk
pengertian lain, yang mancakup Al-Haq Al-Aini (hak zatnya) dan Al-Haq
As-Syakhsi (hak personal). Sampai-sampai pendidikan kajian tentang
undang-undang dengan semua cabang-cabangnya dinamakan kajian atau kuliah
‘Al-Huquq’ (hukum)
Al-Qur’an Al-Karim menggunakan
kata Al-Haq sebagai lawan kata Al-Bathil dan Ad-Dhalal (kesesatan).
فَذٰلِكُمُ اللّٰهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّۚ فَمَاذَا
بَعْدَ الْحَقِّ اِلَّا الضَّلٰلُ ۖفَاَنّٰى تُصْرَفُوْنَ ٣٢
“Maka (Zat yang demikian)
itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya; Maka tidak ada sesudah kebenaran itu,
melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?”
(Yunus: 32).
Si Pelajar berkata, “Dugaan saya
definisi terakhir inilah yang perlu kita ketahui. Inilah yang diupayakan setiap
muslim agar loyal kepadanya. Kendatipun tidak termasuk pendukungnya dan tidak
terbebas dari lawannya –yakni kebatilan- padahal realitanya ia termasuk
pendukung dan golongannya.”
Sang Guru menjawab, “Ini semakin
manambat rumit. Sebab banyak pendukung kebatilan mengira bahwa mereka termasuk
pendukung kebenaran. Sebagian mereka karena kebodohan dan kelalaian, sebagian
karena penentangan dan tabiat buruk.
وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِۙ
قَالُوْٓا اِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُوْنَ ١١
“Dan bila dikatakan kepada
mereka: "Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.” Mereka menjawab:
"Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan."
(Al-Baqarah: 11).
Namun aku ingin memberikan lampu
kepadamu untuk menerangi pengertian Al-Haq.
Al-Haq, anakku, sebagaimana yang
ditunjukkan oleh fitrah yang sehat, adalah hal yang tetap dan bertahan.
Sedangkan kebatilan adalah sesuatu yang hilang dan berubah. Apapun yang
sifatnya tetap dan abadi maka itu adalah kebenaran. Dan yang sifatnya hilang
dan fana adalah kebatilan.
Jika kita lihat kenyataan, kita
tidak melihat sesuatu realitas apapun yang bersifat tetap dan abadi secara
berdiri sendiri selain Sang Pencipta SWT. Siapapun dan apa pun selain-Nya maka
eksistensinya tidak berdiri sendiri, dan kekekalannyapun tidak berdiri sendiri.
Akan tetapi dia ada karena faktor lain, ada dari ketiadaan, ada sampai batas
waktu tertentu, kemudian ditutuplah lembarannya.
Maka hakekat terang yang diakui oleh
fitrah dan akal sehat, disaksikan oleh setiap baris bahkan setiap huruf dari
kitab wujud bahwa: Sesungguhnya Allah adalah Sang Kebenaran, dan selain-Nya
adalah bathil. Dan inilah yang dideklarasikan oleh Kitab Allah pada lebih dari
satu surat, Allah berfirman:
فَذٰلِكُمُ اللّٰهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّۚ فَمَاذَا
بَعْدَ الْحَقِّ اِلَّا الضَّلٰلُ ۖفَاَنّٰى تُصْرَفُوْنَ ٣٢
“Maka (Zat yang demikian) itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya;
Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah
kamu dipalingkan (dari kebenaran)?” (Yunus:32)
ذٰلِكَ بِاَنَّ اللّٰهَ هُوَ الْحَقُّ وَاَنَّهٗ
يُحْيِ الْمَوْتٰى وَاَنَّهٗ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ۙ ٦
“Yang demikian itu, karena sesungguhnya
Allah, dialah yang haq dan sesungguhnya dialah yang menghidupkan segala yang
mati dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Hajj:6)
ذٰلِكَ بِاَنَّ اللّٰهَ هُوَ الْحَقُّ وَاَنَّ
مَا يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهٖ هُوَ الْبَاطِلُ وَاَنَّ اللّٰهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُ
٦٢
“(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya
Allah, dialah (Tuhan) yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru
selain dari Allah, Itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, dialah yang Maha
Tinggi lagi Maha besar.” (Al-Hajj:62)
Dari sinilah
Rasulullah saw. bersabda: Perkataan yang paling benar yang diucapkan penyair
adalah kata-kata Labid:
أَلاَ
كُلُّ شَيْءٍ مَا خَلاَ الله بَاطِلُ
“Sesungguhnya segala sesuatu selain Allah
adalah bathil. “[1]
Barangsiapa
yang hari ini tidak mengerti hakikat ini, esok hari akan mengerti juga. Di
suatu hari dimana tabir tersingkap, dan hakikat ini terlihat secara telanjang
tanpa topeng kepalsuan dan baju kebohongan.
“Di
hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yag setimpal menurut semestinya,
dan tahulah mereka bahwa Allah-lah yang benar, lagi yang menjelaskan (segala
sesutatu menurut hakikat yang sebenarnya).” (An-Nur: 25)
“Dan
kami datangkan dari tiap-tiap umat seorang saksi, lalu kami berkata "Tunjukkanlah
bukti kebenaranmu", maka tahulah mereka bahwasanya yang hak itu kepunyaan
Allah dan lenyaplah dari mereka apa yang dahulunya mereka ada-adakan.”
(Al-Qashash: 75).
Hakikat
ini terangkum dalam satu ayat,
“Tiap-tiap
sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. bagi-Nyalah segala penentuan, dan Hanya
kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (Al-Qashash: 88).
Si Pelajar berkata, “Engkau telah terangi jalanku
dengan lampu ini. Suara fitrah dalam diriku memanggilku, bahwa Allah-lah yang
Al-Haq yang Nyata. Namun aku ingin menanyakan satu hal…”
Sang Guru berkata, “Tanyakan apa yang ingin kamu
tanyakan. Karena ilmu itu gudang, kuncinya adalah bertanya.”
Pemuda itu bertanya, “Bukankan kita biasa mengatakan
bahwa perkataan, perbuatan, pemikiran, madzhab, dan lain-lain itu haq sedangkan
yang lain bathil? Dari manakah datangnya kebatilan untuk yang ini dan darimana
datangnya kebenaran untuk yang itu.”
Sang Guru berkata, “Anakku, sesuatu itu dikatakan
seabgai kebenaran sejauh mana ia berhubungan dengan Al-Haq yang Mutlak, Allah,
dan loyal kepada-Nya, dan ridha-Nya untuknya. Sedangkan hal lain juga disifati
sebagai batil sejauh mana ia jauh dari Allah dan ketiadaan akan ridha-Nya.”
Yang berasal dari Allah adalah benar dan berasal dari
selain Allah adalah bathil.
Jika kamu juga tahu bahwa Allah-lah yang Al-Haq, maka
ketahuilah bahwa ucapan-Nya juga haq dan perbuatan-Nya haq. Allah tidak
mengatakan kebatilan dan tidak melakukan kebatilan.
Maka dari itu, di antara doa yang sering dipanjatkan
oleh orang-orang berilmu adalah,
“(Yaitu) orang-orang yang mengingat
Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka
memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan
kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka
peliharalah kami dari siksa neraka.” (Ali Imran: 191).
Oleh karena itu pula Al-Qur’an
membantah dengan penuh heran terhadap mereka yang mengira bahwa makhluk itu
tidak ada hikmah di baliknya dan kehidupan ini tidak ada tujuan di baliknya.
Juga bahwa sesuatu itu sia-sia, perbuatan Allah Yang Maha Bijak jauh dari hal
itu, bahwa ini batil, Allah Maha Tinggi darinya.
“Maka apakah kamu mengira, bahwa
sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu
tidak akan dikembalikan kepada Kami. Maka Maha Tinggi Allah, raja yang sebenarnya;
tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (yang mempunyai) 'Arsy yang mulia.” (Al-Mukminun: 115).
“Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa
yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak
menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi kebanyakan mereka tidak
Mengetahui.” (Ad-Dukhan: 38-39).
“Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa
yang ada antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan
orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan
masuk neraka.” (Shad: 27).
Apa yang diberitakan Allah di kitab-kitab-Nya melalui
lisan para rasul-Nya. Juga apa yang disyariatkan-Nya melalui lisan para
rasul-Nya adalah haq.
“Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai
kalimat yang benar dan adil. tidak ada yang dapat merobah robah
kalimat-kalimat-Nya dan dia lah yang Maha Mendenyar lagi Maha Mengetahui.”
(Al-An’am: 115).
Semua yang diberitakan Allah tentang alam gaib,
berakhirnya kehidupan, dan hakikat akhirat adalah haq yang wajib dibenarkan dan
wajib diterima kebenarannya dan kepastian kejadiannya.
Dengan demikian, janji Allah adalah haq, kematian
adalah haq, terjadinya kiamat adalah haq, hari kebangkitan adalah haq, hisab
adalah haq, surga adalah haq, dan neraka adalah haq.
“Dzulkarnain berkata: "Ini (dinding) adalah
rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, dia akan
menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar.” (Al-Kahfi:
98).
“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah
suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan
seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya
janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia
memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syetan) memperdayakan kamu dalam
(mentaati) Allah.” (Luqman: 33)
19. Dan datanglah sakaratul maut dengan
sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya. (Qaf: 19)
53.
Dan mereka menanyakan kepadamu: "Benarkah (azab yang dijanjikan)
itu? Katakanlah: "Ya, demi Tuhanku, sesungguhnya azab itu adalah benar dan
kamu sekali-kali tidak bisa luput (daripadanya)". (Yunus: 53)
“Orang-orang yang tidak beriman
kepada hari kiamat meminta supaya hari itu segera didatangkan dan orang-orang
yang beriman merasa takut kepadanya dan mereka yakin bahwa kiamat itu adalah
benar (akan terjadi). Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang-orang yang membantah
tentang terjadinya kiamat itu benar-benar dalam kesesatan yang jauh.” (Asy-Syura:
18)
“Dan (Ingatlah) hari (ketika)
orang-orang kafir dihadapkan kepada neraka, (Dikatakan kepada mereka):
"Bukankah (azab) Ini benar?" mereka menjawab: "Ya benar, demi
Tuhan kami". Allah berfirman "Maka rasakanlah azab Ini disebabkan kamu
selalu ingkar". (Al-Ahqaf: 34)
28.
Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. tiap-tiap umat
dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. pada hari itu kamu diberi
balasan terhadap apa yang Telah kamu kerjakan. (Al-Jatsiyah: 28)
Semua hukum yang disyariatkan Allah
bagi hamba-Nya mengatur hubungan antara mereka dengan Allah, alam semesta dan
kehidupan, antara hubungan antar sesama mereka secara personal, antar keluarga,
dan organisasi. Dialah yang Haq, wajib tunduk kepada hukum-Nya, patuh
kepada-Nya, dan menyerah kepada keadilan-Nya. Seperti firman Allah,
“Sesungguhnya kami telah menurunkan
Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia
dengan apa yang Telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi
penantang (orang yang tidak bersalah), Karena (membela) orang-orang yang
khianat.”[2]
(An-Nisa: 105)
“Dan hendaklah kamu memutuskan
perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu
mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya
mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah
kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka
ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada
mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan
manusia adalah orang-orang yang fasik.” (Al-Maidah: 49).
Si Murid bertanya, “Jika memang
Al-Haq itu sedemikian jelas dan sederhana sebagaimana yang engkau jelaskan,
mengapa manusia mesti berbeda pendapat sedemikian hebatnya dalam menentukan
jalan menuju Al-Haq? Juga untuk menetapkan neraca untuk menimbang apakah
perkara-perakra itu haq atau bathil?”
Sang Guru berkata, “Anakku, Allah telah
menitipkan kepada fitrah manusia kecintaan kepada Al-Haq, menghadap kepada-Nya,
dan mencari-Nya. Sebagaimana menitipkan benih-benih pengetahuan kepada akal.
Semua itu dikuatkan dengan kitab dan risalah samawiyah. Agar diterimanya dengan
akal dan tidak tertipu maupun tersesat. Kita jauhkan bahaya dari fitrah agar ia
tidak terjerumus dan menyimpang. Dengan demikian maka manusia berada di kalimat
yang sama dan berada dalam sinar yang jelas.
Marilah kit baca Al-Qur’an bersama,
“Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah
timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi
peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi
keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah
berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada
mereka kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang
nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk
orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann
itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang
dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (Al-Baqarah: 213)
Saya pikir kamu ini, anakku, sejalan
denganku, bahwa siapa yang ingin mengenal pemikiran seorang penulis,
dasar-dasar seorang pemikir, dan ajaran seorang reformis maka ia akan mencari
karya tulisnya, buku-bukunya, dan berita tentang dirinya. Di sini kita
mengatakan hal yang sama,
“Orang-orang yang tidak beriman
kepada kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang buruk; dan Allah mempunyai sifat
yang Maha Tinggi; dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (An-Nahl:
60).
Dan barangsiapa ingin mengenal
Al-Haq dengan benar, jauh dari campur tangan manusia, hendaknya ia mengenal-Nya
melalui kitab-kitab-Nya dan rasul-Nya.
Aku tidak mengingkari peran fitrah
yang lurus dan tidak pula akal manusia yang cerdas dalam mengenal Al-Haq dan
mencari jalan menuju-Nya. Tidak, karena keduanya adalah nikmat yang Allah
berikan kepada manusia untuk dimanfaatkan dan tidak diabaikan. Bukankah fitrah
yang lurus dan akal yang cerdas merupakan parameter untuk menilai pemikiran dan
spiritual sebagaimana ia menilai materi dan fisik? Mizan itu adalah apa yang diberikan
Allah kepada manusia sebagaimana Dia memberikan hadiah kitab suci kepada
komunitas manusia.
“Allah-lah yang menurunkan Kitab
dengan (membawa) kebenaran dan (menurunkan) neraca (keadilan). Dan tahukah
kamu, boleh jadi hari kiamat itu (sudah) dekat?” (Syura: 17).
“Sesungguhnya kami telah mengutus
rasul-rasul kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah kami turunkan
bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan
keadilan. dan kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan
berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya
Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal
Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.”
(Al-Hadid: 25).
Parameter ini harus berada disamping
kitab suci. Karena dengan kitab itu seseorang akan mengenal sisi kebenaran
kitab dan kenabian serta kejujuran rasul-Nya. Bahkan dengan parameter fitrah
dan akal seseorang akan mengenal Tuhannya yang mencukupi kebutuhan makhluknya
dan menunjukkannya.
Memang sseorang tidak boleh
mengabaikan parameter ini, tapi ia sama sekali tidak ada nilainya jika tanpa
mencari petunjuk dari kitab suci. Seseorang juga tidak perlu terhadap kita
tersebut jika memang ia tidak butuh kepada Sang Pencipta. Satau hal yang tidak
mungkin terjadi.”
Si pelajar berkata, “Aku percaya
terhadap apa anda katakan, guru, agar hatiku bertambah tenang, aku ingin
mengajukan satu pertanyaan lagi untuk lebih memperjelas. Selama kita menjadi
mahluk yang berjalan di atas bumi, mengapa kita mencari kebenaran dari langit?
Bukankah hal itu akan mempersulit kita sendiri? Mengapa bukan kita yang
meletakkan parameter kebenaran untuk kita sendiri?
Sang Guru berkata, “Tidaklah aneh maupun
asing, ananda yang cerdas, jika mengetahui kebenaran itu dari Allah. Ini sangat
rasional dan wajar.
Jika yang dimaksud al-haq adalah
mengenal hakikat segala sesuatu rahasia wujud, dan tujuan hidup. Logikanya kita
harus mencarinya dari Pencipta segala sesuatu itu dan Pengendali alam semesta
serta Pemberi kehidupan ini.
Jika yang dimaksud dengan al-haq
adalah undang-undang keadilan yang diberlakukan bagi manusia serta mamberikan
hak dan kewajiban secara adil; masing-masing orang mendapatkan hak dan
kewajibannya, keluarga, dan masyarakat, maka tidak ada yang menjadi sumber
al-haq ini selain Tuhannya manusia. Yang menciptakan manusia serta
menyempurnakannya. Yang menentukan kadarnya lalu memberi petunjuk. Yang
mengetahui apa yang dibutuhkan segenap hamba-Nya, apa yang berguna bagi mereka
dan apa yang merusak. Di sisi-Nya mereka semua sama. Dialah Tuhan mereka dan
mereka hamba-Nya. Tidak hanya Tuhan seseorang saja, keluarga, strata masyarakat
tertentu, bangsa, jenis kelamin tertentu, penduduk tertentu, atau generasi pada
zaman tertentu.
Jika al-haq adalah undang-undang
kemuliaan yang mengatur naluri, mengarahkan perilaku, meninggikan jiwa,
mendidik fitrah, meninggikan moral pribadi dan masyarakat. Maka al-haq dalam
hal ini harus dicari dari Pencipta jiwa dan fitrah. Yang Maha tahu terhadap apa
yang membuatnya suci maupun kotor.
“Allah Maha mengetahui siapa yang
berbuat kerusakan dan siapa yang berbuat kebaikan.” (Al-Baqarah: 220)
“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui
(yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan dia Maha halus lagi Maha Mengetahui? (Al-Mulk: 14).
Orang yang paling bisa memperbaiki
suatu alat tentu saja adalah pembuatnya sendiri. Sedangkan Allah adalah pembuat
manusia. Mengapa mencari perbaikan untuk manusia dari selain Allah, Tuhannya
manusia?
“Maka segala puji bagi Allah, Tuhan
langi dan bumi dan Tuhan bumi, Tuhan alam semesta.” (Al-Jatsiyah: 36).
Selain Allah mengetahui tentng apa
yang diciptakan-Nya, Dia juga Penyayang terhadap mereka. Bahkan lebih sayang
ketimbang mereka sendiri.
“Sesungguhnya Dialah Yang Maha baik
lagi Maha penyayang.” (At-Thur: 28).
“Sesungguhnya Allah Maha Pengasih
dan Penyayang terhadap hamba-Nya.” (Al-Baqarah: 143).
Pemuda itu bertanya lagi, “Namun apa
yang diperbuat kita terhadap mizan? Atau dengan kata lain, apa yang
ditinggalkan wahyu terhadap akal?”
Sang Guru berkata, Wahyu menyisakan
banyak hal untuk akal dan di berbagai bidang:
- Di bidang
akidah, wahyu memberi kesempatan kepada akal agar agar menuju dua hakikat
paling agung di alam ini:
- Hakikat
pertama, adanya Allah dan keesaan Allah. Wajudullah, sebagaimana bimbingan
fitrah, pandangan yang benar dan akal yang bersih juga terbimbing ke
arahya. Maka tidaklah mengherankan jika Al-Qu’an memaparan hujah yang ada
di alam semesta dan dalam diri manusia tentang wujudullah Subhanahu wa
Ta’ala,
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan
silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang
berakal.” (Ali Imran:
190).
“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah
mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan
langit dan bumi itu?; Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka
katakan).” (At-Thur: 35-36).
Setelah
itu Al-Qur’an memaparkan dalil akal tentang keesaan Allah dengan firman Allah,
“Sekiranya ada di langit dan di bumi
tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha
Suci Allah yang mempunyai 'Arsy daripada apa yang mereka sifatkan. Dia tidak
ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai. Apakah
mereka mengambil tuhan-tuhan selain-Nya? Katakanlah: "Unjukkanlah
hujjahmu! (Al-Qur’an) ini adalah peringatan bagi orang-orang yang bersamaku,
dan peringatan bagi orang-orang yang sebelumku." Sebenarnya kebanyakan mereka
tiada mengetahui yang hak, karena itu mereka berpaling.” (Al-Anbiya’: 22-24).
Di ayat lain Allah berfirman,
“Allah sekali-kali tidak mempunyai
anak, dan sekali-kali tidak ada Tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada Tuhan
beserta-Nya, masing-masing Tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya,
dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka
sifatkan itu.” (Al-Mukminun: 91).
- Hakikat
kedua: adanya wahyu, kenabian, dan kerasulan, akal-lah yang dapat menerima
kenyataan ini. Bahwa seseorang tertentu ditunjuk sebagai utusan dari
Allah. Akal adalah pemberi keputusan yang pertama dan terakhir dalam
masalah ini. Dan di sini tidak perlu lagi mencari dalil dari wahyu, sebab
bagaimana mungkin menjadikannya sesuatu yang belum ada sebagai dalil? Oleh
karena itu para ulama Islam berkata, “Akal adalah asasnya wahyu. Sebab
akal, setelah ia merasa yakin terhadap wujud Allah, ia tahu akan hikmah
Yang Mahabijak dan rahmat Yang Maha Penyayang yang tidak membiarkan
hamba-hamba-Nya berada dalam kegamangan serta berada di pekatnya laut
jahiliyah, kebutaan, dan ketergelinciran. Allah mampu memberi hidayah
kepada mereka dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya dengan
cara menyampaikan ilmu kepadanya.
Setelah akal mengetaui hal ini, ia
tidak terima jika ada seorang yang mengaku sebagai utusan Allah, kecuali orang
itu dituntut untuk membuktikan kebenaran atas pengakuannya itu. Ia tidak
mewakili keinginan dirinya sendiri, tapi mewakili keinginan Allah yang
mengutusnya dan yang paling mampu mendatangkan tanda-tanda kemukjizatan.
Akal dapat membedakan antara
ayat-ayat mukjizat sejati yang hanya nampak dari tangan-tangan para utusan
Allah dan fenomena klenik yang biasanya berada di tangan-tangan tukang sihir
dan dajal.
Akal juga dapat mengenal antara
kejadian luar biasa yang menunjukkan kebenaran seseorang, bahwa ia adalah bukti
kebenaran dari Allah atas pengakuannya sebagai utusan-Nya. Sama dengan ungkapan,
“Benarlah hamba-Ku atas apa yang disampaikan dari-Ku.” Sedangkan Allah tidak
akan membenarkan tukang bohong, sebab membenarkan tukang bohong sama dengan
kebohongan. Dan kebohongan itu mustahil bagi Allah. Ini semua adalah mukadimah
yang jika tidak ada mukadimah pemahaman seperti ini wahyu tidaklah ada dan
agama tidak tegak.
Akal melihat sejarah masing-masing
orang yang mengaku sebagai utusan dan mengamati sifat-sifat dan akhlak-nya,
ucapan dan perbuatannya, serta cara masuk dan cara keluarnya. Untuk
mengenalnya, apakah ia termasuk orang yang dipilih Allah atau tidak. Dan kalau
tidak, harus ditolak. Oleh karena itu Al-Qur’an
“Katakanlah:
"Sesungguhnya Aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu
supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua- dua atau sendiri-sendiri;
Kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun
pada kawanmu itu. dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum
(menghadapi) azab yang keras.” (As-Saba’: 46).
Al-Qur’an
berbicara kepada Rasululah saw
“Katakanlah: "Jikalau Allah
menghendaki, niscaya Aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak (pula)
memberitahukannya kepadamu." Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu
beberapa lama sebelumnya. Maka apakah kamu tidak memikirkannya?” (Yunus: 16).
- Memberikan
kepada akal kesempatan dalam hal syariah, yakni agar ia begerak dan
berupaya keras dalam memahami nash. Mencari cabang dari yang asas,
meng-qiyaskan yang furu’, menentukan hukum dari nash (istimbathul ahkam),
menilai berbagai kejadian, memperhatikan kaidah dalam rangka mencari
kemaslahatan, menghilangkan yang membahayakan dan kesulitan, memilih yang
mudah dan menentukan darurat sesuai dengan kadarnya, mengindahkan masalah
‘urf, serta memperhatikan kondisi waktu dan tempat.
Tidak heran sekiranya jika dengan
demikian pendapat menjadi berbeda-beda, mazhab bermunculan, dan ucapan
bermacam-macam. Dalam naungan wahyu, akal islami juga meninggalkan warisan
fiqih yang hebat, yang mempunyai kedudukan tinggi dalam warisan fiqih global.
- Memberi
kesempatan kepada akal di nidamh akhlak dengan menentukan hukum dan
fatwanya dalam berbagai amal, yang terkadang banyak tercampur antara
kebaikan dan kejahatan, yang halal dan haram. Dan dalam hal ini perannya
sebagai sumber penerapan tata krama dan sebagai parameter akhlak, tentu
saja di saping wahyu.
Dalam konteks ini saya tidak
menemukan orang yang lebih jelas penjelasannya selain Ustadz kita, Al-Allamah
DR. Muhammad Abdullah Daraz melalui bukunya yang sangat bernas, Kalimat fi
Mabadi’ Ilmi Al-Akhlaq. Beliau berkata,
“Para ilmuwan cukup bangga ketika
mereka menemukan sumber lain bagi penerapan tata krama, selain wahyu langit.
Dia adalah cahaya akal, atau sensitifitas akhlak. Kepadanya hati semua manusia
bertaut. Hendaklah mereka tahu bahwa tidak ada hal baru dan aneh dalam Islam
apa yang mereka bawa itu. Ketika hukum Islam merujuk kepada akal yang sehat dan
ruhani yang sehat, bukan karena keduanya hanya sebagai saksi (atas kebenaran
wahyu) saja, yang menguatkan hukumnya dan yang menjelaskannya kepada manusia.
Akan tetapi ia juga menirunya dalam masalah hukum. Menjaga perintah dan
larangan dalam tiga hal:
- Sebelum
adanya syariah
- Saat
syariah turun.
- Setelah
ia selesai masa turunnya.
Sebelum adanya syariah, Al-Qur’an
menjelaskan secara gamblang bahwa jiwa manuisa dibekali fitrah untuk membedakan
antara yang haq dan yang batil, keadilan dan kezaliman, ketakwaan dan kekejian.
“Dan jiwa serta penyempurnaannya
(ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan
ketakwaannya.” (As-Syams: 7-8)
“Bahkan manusia itu menjadi saksi
atas dirinya sendiri. Meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.” (Al-Qiyamah:
14-15)
Tidak cukup hanya dengan menjadikan
nurani sebagai kekuatan yang membuka rahasia dan menjelaskan, bahan
menjadikannya sebagai yang memerintah dan melarang, dan memfonis orang yang
melanggarnya sebagai orang sesat dan melampaui batas.
“Apakah mereka diperintah oleh
fikiran-fikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan Ini ataukah mereka
kaum yang melampaui batas?” (At-Thur: 32)
Perkara yang sangat rinci ini tidak
menyisakan keraguan sedikitpun untuk menolak ketundukan kepada perintah mimpi
dan akal jika di depan kita telah jelas jalan kebenaran dan kebaikan.
Demikilanlah pembawa risalah yang jelas itu berkata,
إِذَا
أَرَادَ اللهُ بِعَبْدٍ خَيْراً جَعَلَ لَهُ وَاعِظاً مِنْ نَفْسِهِ يَأْمُرُهُ وَيَنْهَاهُ
“Jika Allah menghendai kebaikan bagi
seorang hamba, dijadikannya ia sebegai pensihat bagi dirinya, yang memerintah
dan melarangnya.”
Islam memberikan kekuasaan kepada
akal sesuai dengan pengertian manusiawinya seperti yang tadi kita jelaskan.
Yang menurut pandangan para ilmuwan Eropa, bahwa mereka-lah yang telah
menemukannya pada aliran-aliran filsafat. Kekuasaan yang oleh filsafat
dinamakan sebagai ‘kekuasaan rohani’ di mana Islam mengakui bahwa akal memiliki
independensi dan kesempurnaan ketika syariah sudah sampai kepadanya.
Dan menurut Islam, tinggal mencari
kekuasan rohani ini, ketika syariah langit sedang turun dan setelah selesai
masanya. Apakah ketika syariah turun dan sampai kepada yang dituju, setelah itu
perintah akal terhapus sebagaimana tayammum menjadi batal ketika menemukan air?
Tidak, cahaya tidak menghapuskan
cahaya. Tapi:
Menguatkannya dan mendukungnya.
Mensuportnya dan menyehatkannya.
Menyempurnakannya dan menambahkannya
Rinciannya, akal itu ada tiga macam:
Pertama, akal punya lahan yang jelas
dan hukum yang pasti. Dia adalah yang utama dan tidak ada perbedaan pandangan
dalam hal ini. Sebagaimana kebaikan kejujuran dan kemanfaatannya, keburukan
dusta dan bahayanya, cerdiknya berbuat baik untuk membalas kejahatan, dan
jahatnya membalas kebaikan dengan keburukan. Maka syariah datang menguatkan
hukum fitrah ini.
Kedua, akal mempunyai cahaya yang
sangat lemah yang ditutup oleh kegelapan. Tercampur oleh dugaan dan menjadi
sasaran syubuhat pemikiran seperti khamr dan riba, kejujuran itu berbahaya,
dusta itu bermanfaat, melestarikan kehidupan penh siksa disertai keputus-asaan,
dan berkorban demi melakukan kerwajiban disertai dengan adanya kemampuan untuk
memeliharanya. Maka dengan demikian syariah datang untuk menambah cahaya akal
dengan lebih membenarkan yang ada hikmah dan kedewasaannya dan meluruskan
kesalahan segala praduga yang mengotori bahkan menutupi akal.
Ketiga, di mana akal tidak boleh campur
tangan sama sekali. Seperti rincian berbagai macam ibadah, tata caranya, dan
ukurannya. Maka adanya wahyu menyempurnakan apa yang tidak ada diketahui oleh
akal. Menghapus kegelapan yang ada padanya. Dengan demikian orang-orang yang
memiliki fitrah namun mereka hanya mengikuti syariah akal mempunyai satu
cahaya. Sedangkan para pengikut syariah langit memiliki dua cahaya. Sebagaimana
Allah berfirman,
نُورٌ عَلَىَ نُوْرٍ
“Cahaya di atas cahaya.” (An-Nur:
35).
Jangan mengira bahwa cahaya Allah
yang tidak diraih hanya dengan akal saja lalu tidak tidak butuh kepadanya. Ya,
akal sangat membutuhkan bantuan dan pertolongannya karena tiga hal:
- Syariah,
di mana kaum Mukminin diperintahkan untuk melakukannya sebagai kewajiban
atas mereka, bukan semata-mata karena ia sebagai perintah dari Allah,
akan tetapi ia adalah perintah akhlak setelah mereka terikat janji
dengannya secara global. Sebagai konsekuensi keimanan yang menuntutnya
untuk komitmen terhadap ‘mendengar’ dan ‘taat’. Tidakkah kamu tahu bahwa
Allah berfirman,
“Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan
perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan:
"Kami dengar dan kami taati". dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya
Allah mengetahui isi hati(mu).” (Al-Miadah: 7).
Dan firman-Nya,
“Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah padahal
Rasul menyeru kamu supaya kamu beriman kepada Tuhanmu. Dan sesungguhnya dia telah
mengambil perjanjianmu jika kamu adalah orang-orang yang beriman.” (Al-Hadid:
8).
- Kebanyakan
perintah syariah bersifat umum dan global. Setiap syariah ada rincian dan
detailnya dan batasannya adalah batasan ruhani dan akhlaki yang Allah
titipkan kepada masing-masing jiwa dan masing-masing jamaah manusia.
Sering kali Allah menyerahkan batasan hak dan kewajiban serta metodenya
kepada ruhani pribadi atau jamai.
“Dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu
ridhai.” (Al-Baqarah: 282).
“Kewajiban ayah memberi makan dan pakaian
kepada para ibu dengan cara ma'ruf.” (Al-Baqarah: 233).
“Yaitu pemberian menurut yang patut.” (Al-Baqarah : 236).
- Sisi
ketiga ini lebih umum dan lebih rinci. Bahwa Islam tidak rela dan tidak
suka jika perintah-perintahnya dilaksanakan sebagaimana alat elektrik.
Tunduk kepada arahan hukumnya. Akan tetapi, jauh sebelum itu perintah itu
harus mengalir di dalam relung batinnya hingga merasuk ke dalam kalbu. Setelah
itu mengalir merambahi seluruh tubuhnya hingga perintah-perintah itu
menjadi motivasi dirinya. Sebab, langkah pertama dalam melaksanakan
perintah adalah keimanan terhadap kewajibannya dan adil menyikapinya. Langkah
kedua komitmen itu diharapkan masuk memenuhi segenap relung jiwanya.
Menggemakan suara yang keluar dari relung kalbu itu. “Wahai jiwa,
sesungguhnya Allah memerintahkanmu agar mengerjakan perintah-Nya.
Sedangkan aku memerintahkanmu agar kamu taat kepada perintah-Nya. Karena
perintah-Nya itu benar adanya dan adil. Dan tidak ada kebaikannya bagimu
jika menolak perintah-Nya.” Jika tidak muncul dari relung kalbu yang
paling dalam, maka suara langit itupun tidak bisa nyairng bergema dan
amal perbuatannya jadi sia-sia di sisi Allah dan dalam pandangan hukum
akhlak.
Jika begitu, hati atau nurani adalah pos perantaranya
syariah, di mana tidak ada cara untuk melaksanakan syariah kecuali melalui
jalur hati. Ini menunjukkan betapa tinggi kedudukan hati dalam hukum syariah.
Syariah itu sendiri, setelah menjelaskan yang halal
secara gamblang dan haram secara nyata, meninggalkan sebuah ruang yang memuat
berbagai sifat. Maka hukum menjadi buram dan setiap orang disarankan untuk
bertanya kepada hatinya da mencari hukum yang menentramkan jiwanya. Tentunya
dengan mencari hukum yang lebih benar dan lebih selamat. Inilah yang dilakukan
Rasulullah saat beliau bersabda,
الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ
بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشَبَّهَاتٌ لَا يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ فَمَنْ
اتَّقَى الْمُشَبَّهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ
“Yang halal itu jelas dan yang haram juga jelas, di
antaranya terdapat perkara-perkara yang meragukan. Tidak banyak orang yang
mengetahuinya. Barangsiapa menjaga dirinya dari hal-hal yang meragukan itu,
terjagalah agama dan kehormatannya.”
Beliau juga bersabda,
اسْتَفْتِ قَلْبَكَ وَاسْتَفْتِ نَفْسَكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ
الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي
النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْكَ
“Mintalah
fatwa kepada hatimu dan mintalah fatwa kepada jiwamu. Kebajikan adalah apa yang
membuat jiwa menjadi tenang dan dosa adalah apa yang membekas di dalam jiwa dan
terus-menerus terulang di dada, walaupun orang-orang memberi fatwa kepadamu.”
Akhirnya,
peran ruhani dalam jiwa Islam tida terbatas pada sisi ini dna tida selesai
dengan selesainya kehidupan. Bahkan ia memiliki peran penting pada saat hisab
di negeri balasan kelak. Di mana ia akan hadir pada peristiwa pemutusan
perkara. Setelah itu hukum diputuskan atas pemilik jiwa itu sebelum diputuskan
oleh pengadilan tertinggi.
Baca
saja firman Allah,
“Dan
tiap-tiap manusia itu telah kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana
tetapnya kalung) pada lehernya. dan kami keluarkan baginya pada hari kiamat
sebuah Kitab yang dijumpainya terbuka. Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri
pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu." (Al-Isra’: 13-14).
Setelah
itu wahyu memberikan kesempatan kepada akal untuk berpetualang di keluasan
semesta semaunya. Naik ke angkasa dan turun ke bumi. Merenungi apa yang ada di
dalam jiwanya.
“Katakanlah: "Perhatikanlah apa
yaag ada di langit dan di bumi. tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan
rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman.”
(Yunus: 101).
“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda
(kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka
apakah kamu tidak memperhatikan?” (Adz-Dzariyat: 20-21).
Wahyu memberi
kesempatan kepada akal untuk menyingkap fenomena alam semampunya.
Menundukkannya semampunya. Semua yang ada ditundukkan Allah untuk
kepentingannya.
“Dan dia telah menundukkan untukmu
apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat)
daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.” (Al-Jatsiyah: 13).
“Allah-lah yang telah menciptakan
langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian dia mengeluarkan
dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan dia telah
menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan
kehendak-Nya, dan dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan dia
telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar
(dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan dia telah
memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya.
dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya.
Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”
(Ibrahim: 32-34).
Memberi kesempatan kepadanya untuk
berinovasi dalam sarana kehidupan dan urusan-urusan dunia semaunya selama
komitmen terhadap batasan-batasan kebenaran dan keadilan.
أَنْتُمْ
أَعْلَمُ بِشُؤُوْنِ دُنْيَاكُمْ
“Kalian lebih tahu dalam urusan
dunia kalian.”
“Dan
carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri
akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan
berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik,
kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qashash: 77).
Memberi
kesempatakan kepada akal agar mengambil pelajaran dari pengalaman orang lain
dan mendapatkan keuntungan dari warisan para pendahulu dan ilmu pengetahuan
orang-orang setelah mereka.
“Dia-lah
yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung
mereka pada saat pengusiran yang pertama. Kamu tidak menyangka, bahwa mereka
akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan
mereka dari (siksa) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari
arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah melemparkan ketakutan dalam
hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri
dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi
pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai wawasan.” (Al-Hasyr: 2).
“Maka
apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang
dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka
dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang
buta, ialah hati yang di dalam dada.” (Al-Hajj: 46).
“Katakanlah:
"Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah;
perlihatkan kepada-Ku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah
mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit? bawalah kepada-Ku Kitab
yang sebelum (Al-Qur’an) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang
dahulu), jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (Al-Ahqaf: 4).
“Dan kami tidak mengutus sebelum kamu,
kecuali orang-orang lelaki yang kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah
kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (An-Nahl:
43-43).
اَلْحِكْمَةُ
ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ أَنَّى وَجَدَهَا فَهُوَ أَحَقُّ بِهَا
“Hikmah
adalah barang orang mukmin yang hilang, di manapun ia menemukannya ia berhak
terhadapnya.”
Si Pelajar berkata, “Betapa indah
dan menarik apa yang anda katakan ustadz. Akan tetapi dalam diriku ada sesuatu
yang masih mengganjal. Bukankah Allah memuliakan manusia dengan akalnya?
Mengapa tidak memberi kesempatan untuk mencari kebenaran dan mengarahkan
jiwanya kepadanya?”
Sang Guru, sepertinya sambil marah,
menjawab, “Kamu mengulangi leagi pertanyaan yang terdahulu dengan redaksi lain.
Benar, bahwa Allah memuliakan
menusia dengan akal dan mewajibkan kepadanya untuk melihat dan berpikir tentang
dirinya, langit, bumi dan sekitarnya. Bagaimana tidak. Sedangkan kitab sucinya
berkata,
وَفِي
أَنْفُسِكُمْ أَفَلاَ تُبْصِرُوْنَ
“Dan terhadap diri kalian, mengapa
kalian tidak melihat?”
“Dan apakah mereka tidak
memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan
Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita
manakah lagi mereka akan beriman sesudah Al-Qur’an itu?” (Al-A’raf: 185).
“Dan Mengapa mereka tidak memikirkan
tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa
yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang
ditentukan. dan Sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar
akan pertemuan dengan Tuhannya.” (Ar-Rum: 8).
Allah mengakhiri ayat-ayat-Nya
dengan potongan-potongan ayat berikut. “Tidakkah kalian berpikir?” “Mengapa
kalian tidak memikirkan?” “Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat
tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berpikir.” “Sesungguhnya pada
yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang
berakal.” “Adalah tanda-tanda kekuasaan Allah bagi para pemilik akal.” “Adalah
pelajaran bagi para pemilik pandangan (hati).” “Adalah tanda-tanda kekuasaan
Allah bagi pemilik hati.”
Akan tetapi Al-Haq, Allah, dengan
hikmah dan rahmat-Nya, tidak membiarkan akal sendirian untuk dengan
mengenal-Nya melalui suatu pendapat yang pasti.
Kebenaran mutlak, ananda, tidak
mungkin diketahui dengan akal semata tanpa hidayah dari Allah. Karena akal itu
terbatas dengan batasan zamannya, lingkungannya, kecerdasannya, dan wawasannya.
Seperti halnya akal manusia yang
berbeda satu sama lain karena peredaan masa dan tempat. Betapa banyak suatu
masalah dianggap mulian oleh suatu bangsa namun ia sangat hina oleh bangsa
lain. Juga betapa sering suatu perkara dianggap benar oleh suatu masa namun
masa berikutnya menganggapnya sebagai kebatilan.
Bahkan, akal seseorang itu bisa
berbeda padangan sesuatu dengan tahapan usia dan pergantian pengalamannya, juga
sesuai dengan perubahan kondisi yang dialaminya.
Setelah itu semua ada hawa nafsu,
kecenderungan, dorongan dalam diri manusia, keluarga, daerah, dan kebangsaan.
Yang semua itu dapat mengalahkan akal manusia. Disadari atau tidak. Dan itu
berpengaruh dalam memberikan keputusan tentang orang, kerja, dan nilai. Sesuai
dengan keinginannnya atau tidak.
Di manakah akal manusia yang dapat
mengenali kebenaran itu? Akal siapa orangnya atau kelompok apa? Di negeri mana
dan di zaman apa?
“Andaikata kebenaran itu menuruti
hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di
dalamnya. Sebenarnya kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al-Qur’an)
mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.” (Al-Mukminun: 71)
Kita ambil contoh saja tentang
falsafah moral berikut parameter yang mereka gunakan untuk mengukur moralitas.
Bagaimana mereka berselisih pendapat dan berseberangan?
Di antara mereka ada yang menjadikan
kenikmatan sebagai parameter.
Di antara mereka ada yang melihat
sisi manfaat.
Ada lagi yang percaya kepada
kewajiban.
Ada lagi yang cenderung kepada
kekuatan.
Ada pula yang berlebih-lebihan dalam
memandang akal.
Ada pula yang berlebih-lebihan dalam
melihat emosi.
Ada juga yang percaya kepada materi
saja.
Ada juga yang tidak menerima apapun
selain ruh.
Ada yang mensakralkan kebebasan
individu.
Ada yang mensakralkan kepentingan
sosial.
Ada yang lebih mementingkan
realitas.
Ada yang cenderung kepada
keteladanan.
Bisakah seseorang keluar dari
gelombang falsafah yang berselisihan ini dan gonjang-ganjiang aliran yang
berseberangan ini kecuali dengan keraguan dan kegoncangan seperti yang
digambarkan oleh salah seorang filosof,
“Aku telah arungi semua lembaga
Dan aku bentangkan tangan kepada
ajaran-ajaran itu
Tidaklah aku melihat kecuali orang
yang bertopang dagu, bingung
Atau menggemerutukkan gigi, menyesal.”
Jadi, akal saja tidak dapat
membimbing manusia kepada kebenaran. Harus ada penolong yang membimbing
tangannya dan mengeluarkannya dari kebimbangan. Inilah tugas kenabian. Untuk
alasan inilah risalah dan kitab-kitab Allah turun secara beruntun untuk memberi
hidayah kepada manusia.
“Orang-orang yang kafir berkata:
"Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu tanda (kebesaran)
dari Tuhannya?" Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan; dan
bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.” (Ar-Ra’du: 7).
“Sesungguhnya kami mengutus kamu
dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi
peringatan. dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang
pemberi peringatan.” (Fathir: 24).
Terkadang untuk mengetahui hal-hal
cabang cukup hanya dengan akal, akan tetapi untuk hal-hal prinsip harus dengan
melalui firman langit yang diambil dari kitab langit.
Jangan lupa bahwa akal inilah yang
dapat memahami wahyu Allah dan kitab-kitab-Nya. Akal juga bisa memantau tingkat
implementasinya, komitmen atau menyimpang darinya. Ini peran akal yang tidak
bisa dinafikan.
Akan tetapi sumber kebenaran yang
mendatangkan ketentraman dan kedamaian adalah dari langit dan dari Allah.
Si Pelajar itu bertanya, Apa yang
engkau katakan tentang teori dan teologi itu bisa diterima. Namun ada
perkara-perkara teknis yang terkait dengan kehidupan manusia dan hubungan antar
sesama mereka. Maka ada kemungkinan mereka bisa mengenal kebenaran melalui
ujicoba dan pengalaman mereka. Mengapa musti ada wahyu yang mengikat mereka dan
itu datang dari atas mereka, bukan datang dari dalam diri mereka?
Sang Guru berkata, Benar, memang ada
perkara-perkara teknis yang bisa jadi manusia bisa mengenal kebenaran melalui
pengalaman yang telah diketahui kesalahan-kesalahannya dan dibongkar sisi-sisi
kekurangannya yang dulu tida diketahui. Yang ditutupi oleh kebodohan atau hawa nafsu.
Akan tetapi manusia, agar sampai kepada tingkatan seperti ini, telah
mengorbankan banyak generasi yang tidak terhitung. Satu generasi pergi sebagai
korban bagi generasi sesudahnya, tidak mendapatkan apa-apa. Tidakkah lebih
layak hikmah dari yang Maha Mengetahui dan maha Bijaksana, rahmat yang Maha
Pengasih lagi Penyayang, yang Mengetahui segala-galanya. Juga mengetahui yang
baik dan yang buruk. Tidakkah Allah lebih layak untuk meringankan beban manusia
dari sengsaranya pengalaman dalam urusan paling penting dalam hidup mereka?
Yang mengatur pola hubungan di antara mereka? Yang menjaga agama dan dunia
mereka? Yang memelihara darah, kehormatan, harta, dan akhlak mereka? Bukankah kita melihat bahwa di antara
kewajiban seorang ayah kepada anak-anaknya, setelah ia ditempa pengalaman
hidup, siang dan malam, agar ia memberikan intisari pengalamannya dan buah
pengalaman hidupanya itu kepada mereka. Bukankah Allah itu lebih baik kepada
manusia daripada ayah mereka? Bahkan daripada diri mereka sendiri? Kenapa kita
tidak terima sekiranya Allah memberi ilmu kepada mereka tentang hal-hal yang
belum mereka ketahui ketimbang melalui pengalaman panjang yang mereka bayar
dengan harga yang mahal dan banyak melalui sekian kurun, hanya Allah yang tahu
sudah berapa generasi dan apa yang dihasilkan?
Bahwa manusia bisa saja mendapatkan
petunjuk kepada suatu kebenaran, misalnya mengetahui bahaya berinteraksi dengan
riba, minum khamar, bermain judi, kebebasan seks, mengharamkan hak waris bagi
wanita, menjadikan anak adopsi sebagai anak (layaknya anak kandung), memuliakan
kulit putih ketimbang kulit hitam atau merah (rasisme). Akan tetapi pada
manusia tidak ditemukan keberanian yang cukup untuk komitmen terhadap kebenaran
dalam masalah tersebut dengan menjadikannya sebagai undang-undang yang mengikat
masyarakat dan tidak boleh dilanggar. Dan untuk itu banyak kendala yang
menghadang. Misalnya karena kekuasaan legislatif berada di tangan kelompok
tertentu yang punya kepentingan untuk melestarikan riba, khamar, atau judi.
Sebab di balik itu ada keuntungan yang didapat, atau ada negosiasi dengan
orang-orang yang mempunyai kepentingan terhadap hal itu, atau untuk memenuhi
keinginan mayoritas masyarakat yang lalai walaupun hal itu dapat membahayakan
bahkan membinasakan mereka. Dalam konteks ini, hubungan pemegang kekuasaan
legislatif dengan mayarakat bagai seorang pedagang dengan mitranya.
Kepentingannya hanyalah mendapatkan keuntungan tanpa melihat bahaya yang
menimpa mereka. Bukan seperti dokter yang yang menasihati pasiennya untuk tidak
mengkonsumsi makanan yang disukainya jika hal itu akan membahayakannya atau
menghambat proses penyembuhannya. Ada dua contoh yang menguatkan apa yang kita
katakan:
Pertama, pada salah satu penggalan
sejarah modernnya, USA pernah meyakinkan kepada anggota konggres tentang bahaya
khamar berikut bencana dan kerugian yang ditimbulkannya bagi rakyatnya, baik
secara materi maupun moral. Akhirnya mereka sepakat melaranganya secara udang-undang.
Dan undang-undang pun dibuat. Puluhan juta dolar dianggarkan untuk sosialisasi
pelarangan tersebut. Akan tetapi keinginan orang-orang yang kecanduan terhadap
khamar dan kepentingan orang-orang yang mendapatkan keuntungan dari khamar itu,
baik para petaninya, pabrik, dan pedagangnya mengalahkan kebijakan para anggota
yang terhormat itu dan yang mempropagandakan pelarangan khamar itu. Program itupun gagal total. Dan pelarangan khamar itu
pun dibatalkan. Bukan karena merasa yakin adanya manfaat dari khamar, biang
kejahatan itu, tapi karena kelemahan mereka di hadapan keinginan yang melenceng
dari jalan yang lurus itu.
Kedua, terjadi di Rusia. Teori komunisme
memang melarang riba dan berinteraksi dengan riba. Meski demikian Rusia yang
komunis itu gagal dalam menghormati dan untuk komitmen terhadap prinsip mereka
itu. Akhirnya untuk kalangan internal diperbolehkan menerapkan praktek riba dan
untuk hubungan dengan dunia luar boleh meminjam secara riba.
Kelemahan manusia seringkali menjadi
penghambat untuk menerapkan keyakinan yang yang dihasilkan oleh pengalamannya.
Olah sebab itu dibutuhkan kekuasaan yang lebih tinggi yang mewajibkannya
terhadap sesuatu yang dirinya lemah untuk mewajibkan dirinya sendiri. Kekuasaan
itu tidak lain adalah kekuasaan Tuhan manusia, Raja manusia, dan sesembahan manusia.
Oleh karena itu harus kembali kepada
firman langit dan risalah langit serta tidak boleh membiarkan akal sendirian di
medan tersebut.
Si Pelajar itu berkata, “Jazakallah
khairan... sekarang hatiku tentram dan keimamanku kian bertambah... Namun aku
dengar engkau berbicara banyak tentang kitab Allah dan risalah langit. Apakah
dapat dipahami bahwa semua risalah langit itu sama? Lalu kita bisa mengambil
kebenaran dari kitab Perjanjian Lama (Taurat) dan Perjanjian Baru (Injil)
sebagaimana kita mengambilnya dari Al-Qur’an?
Sang Guru menjawab, “Risalah Allah
itu hanya satu dasarnya. Semuanya menyeru kepada tauhid Allah, tazkiyatun-nafs,
dan menegakkan keadilan. Sebagaimana firman Allah,
"Dan sungguhnya kami telah
mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja),
dan jauhilah thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang
diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah
pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah
bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)." (An-Nahl : 36)
Karena itu Allah berfirman lagi,
“Dan kami tidak mengutus seorang
rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak
ada tuhan (yang hak) melainkan aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan aku.”
(Al-Anbiya’: 25).
“Sesungguhnya kami telah mengutus
rasul-rasul kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah kami turunkan
bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan
keadilan. dan kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan
berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan
supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya
padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.”
(Al-Hadid: 25).
Oleh karena itu Allah berfirman,
“Dia telah mensyari'atkan bagi kamu
tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah kami
wahyukan kepadamu dan apa yang Telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa
yaitu: tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. amat
berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah
menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada
(agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).” (As-Syura: 13).
Al-Qur’an memuji semua kitab Allah
dan menjadikan keimanan kepada semua kitab itu termasuk bagian dari keimanan
seorang muslim,
“Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an
yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang
beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya
dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan
antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka
mengatakan: "Kami dengar dan kami taat." (mereka berdoa):
"Ampunilah kami Ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali."
(Al-Baqarah: 285).
Allah berfirman tentang Taurat,
“Sesungguhnya
kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang
menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh
nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan
pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab
Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut
kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar
ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. barangsiapa yang tidak memutuskan menurut
apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.”
(Al-Maidah: 44).
Allah juga
berfirman tentang Injil
“Dan kami iringkan jejak mereka
(nabi nabi Bani Israel) dengan Isa putera Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya,
yaitu: Taurat. dan kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang
didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan
Kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. dan menjadi petunjuk serta
pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.” (Al-Maidah: 46).
Hanya saja kitab-kitab tersebut
berlaku untuk suatu masa tertentu dan sekelompok manusia tertentu serta untuk
tempat tertentu di muka bumi ini. Allah tida menjamin kitab-kitab itu untuk
tetap ada dan terjaga sebagaimana menjamin Al-Qur’an,
“Sesungguhnya Kami-lah yang
menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya.” (Al-Hijr:
9)
Maka tidak heran kalau di sana
banyak badai penyimpangan, kelalaian, dan dilupakan. Sampai-sampai ketika kita
membaca sejarah nabi dan rasul Allah melalui kitab-kitab itu, terkesan mereka
melakukan dosa, berzina, dan minum khamar. Bahkan ketika kita membaca tentang
Tuhan, kita akan menemukan ia sedang bertarung melawan manusia dan dikalahkan.
Tuhan yang anaknya disalib sementara Dia menyaksikan, namun tidak dapat berbuat
apa-apa. Atau, sebagaimana yang dikatakan orang Barat, “Tuhan yang kalah oleh
kejahatan manusia.”
Bahkan, ketika kita mencari Injil
yang pernah diturunkan Allah kepada Isa, kita tidak mendapatkannya. Kita hanya
mendapatkan buku catatan yang ditulis murid-murid setelahnya atau murid dari
muridnya, yang memuat sebagian ucapan Isa. Ditambah lagi, ada bagian-bagian
yang hilang dan tidak sampai mata rantai berkutnya setelah kitab itu ditulis.
Tidak diketahui kitab asal yang berbahasa Arab seperti apa, siapa yang
menerjemahkannya dan bagaimana penerjemahannya. Bahkan, empat kitab Injil yang
ada sekarang ini merpakan saringan dari puluhan Injil lain yang ditolak gereja.
Di mana, sebagian Injil itu masih ada berita gembira tentang kedatangan
Muhammad sebagaimana yang ada di Injil Barnabas. Saya katakan, meski demikian,
pada kitab Injil yang resmi itu terdapat berbagai kontradiksi dan
kesimpang-siuran.
Saya tidak pungkiri bahwa pada
kitab-kitab terdapat sisa-sisa kebenaran. Hanya saja semua itu dicampuri dengan
kebatilan hingga menghilangkan manfaatnya dan tidak memebimbing kepada hidayah.
Dengan nada heran, pelajar itu
bertanya,
“Jadi, apakah referensi yang valid
untuk mengenal haq dan membimbing kearahnya?”
Sang Guru menjawab,
“Di dunia ini tidak ada referensi,
ananda, selain satu-satunya referensi langit yang valid seratus persen. Ia
adalah Al-Qur’an Al-Karim.
Dia adalah,
“Suatu Kitab
yang ayat-ayat-Nya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang
diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha tahu.” (Hud: 1)
Dia adalah
kitab yang menantang manusia untuk membuat kitab sepertinya, atau sepuluh surat
saja. Mereka kalah dan menyerah. Yang menang adalah kalam Allah Ta’ala,
“Katakanlah: "Sesungguhnya jika
manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur’an ini, niscaya
mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan Dia, sekalipun sebagian
mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain".
Dia adalah kitab yang selamat dari
penyimpangan, penggantian, dan dilupakan. Kitab yang senantiasa terjaga di
dalam dada, terbaca oleh lisan sejak pertama kali diturunkan, tertulis dai
mushaf, dihapal oleh ribuan bakan jutaan kaum Muslimin, laki-laki dan
perempuan, bahkan oleh anak-anak dan pemuda.
Tidak seorang pun yang dapat merubah
Al-Qur’an walau hanya satu kata atau satu huruf.
“Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an)
kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb
yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (Fusshilat: 42).
Kitab ini adalah referensi utama
untuk mengenal kebenaran sebagaimana yang dikehendaki Allah. Wajib bagi manusia
untuk mengenal dan mengikutinya.
“Dan kami turunkan (Al-Qur’an) itu
dengan sebenar-benarnya dan Al-Qur’an itu telah turun dengan (membawa)
kebenaran. Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan sebagai pembawa berita
gembira dan pemberi peringatan.” (Al-Isra’: 105)
“Sesungguhnya
kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu
mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan
janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), Karena (membela)
orang-orang yang khianat.” (An-Nisa’: 105)
“Ini adalah ayat-ayat Al Kitab (Al-Qur’an).
dan Kitab yang diturunkan kepadamu daripada Tuhanmu itu adalah benar: akan
tetapi kebanyakan manusia tidak beriman (kepadanya).” (Ar-Ra’du: 1).
Kebenaran, dengan performa yang
paling bagus dan pengertiannya yang dalam, nampak jelas di kitab Allah. Yang di
sana Allah menyampaikan berita tentang orang-orang sebelum kita dan berita
tentang orang sesudah kita, hukum di antara kita yang dirangkum dari inti
hikmah dan jawami’ul kalim (kata-kata singkat penuh hikmah), ungkapan nan indah
mempesona, makna yang rinci, rahasia pensyariatan, hakikat wujud, ayat-ayat
penjelas, penjelas petunjuk dan pembeda (dari yang batil), yang menerangi akal,
menyembuhkan hati, membersihkan jiwa dan mempebaiki hidup, yang menunjukkan
pribadi dan kelompok kepada jalan yang lurus.
Kebenaran yang nyata bisa dilihat di
kitab ini, ia bisa diksasikan oleh setiap orang yang fitrahnya masih bersih
dari kotoran, setiap orang yang memiliki mata hati yang tidak dilanda kebutaan.
“Maka apakah mereka tidak berjalan
di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami
atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya
bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.”
(Al-Hajj: 46).
Kebenaran kitab ini disaksikan oleh
orang-orang yang punya ilmu dan orang-orang jujur dari kalangan ahli kitab,
“Maka patutkah Aku mencari hakim
selain daripada Allah, padahal dialah yang telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an)
kepadamu dengan terperinci? orang-orang yang telah kami datangkan Kitab kepada
mereka, mereka mengetahui bahwa Al-Qur’an itu diturunkan dari Tuhanmu dengan
sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu.”
(Al-An’am: 114).
“Dan orang-orang yang diberi ilmu
(ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itulah
yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi
Maha Terpuji.” (Saba’: 6)
Orang-orang Nashrani juga
menyaksikan kebenaran kitab ini. Allah berfirman tentang mereka,
“Dan apabila mereka mendengarkan apa
yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air
mata disebabkan kebenaran (Al-Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari
kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami Telah
beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas
kebenaran Al-Qur’an dan kenabian Muhammad saw.). Mengapa kami tidak akan
beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami
sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang
saleh ?” (Al-Maidah: 83-84).
Bahkan jin yang mendengarnya pun
menyaksikan kebenarannya,
“Dan (ingatlah) ketika kami hadapkan
serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur’an, maka tatkala mereka
menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: "Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)".
ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi
peringatan. Mereka berkata: "Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan
Kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan
kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan
yang lurus.” (Al-Ahqaf: 29-30).
Bahkan orang-orang musyrik pun
menyaksikan kebenarannya, kendatipun mereka membangkan dan ingkar terjadap apa
yang diturunkan Allah. Mereka mengatakan,
إِنَّ
لَهُ لَحَلاَوَةٌ، وَإِنَّ عَلَيْهِ لَطَلاَوَةٌ، وَإِنَّهُ لَيْسَ مِنْ كَلاَمِ
الإِنْسِ وَلاَ مِنْ كَلاَمِ الْجِنِّ، وَإِنَّهُ يَعْلُوْ وَلاَ يُعْلَى عَلَيْهِ
“Ada kelezatan padanya, ada
keindahan, ia bukan ucapan manusia dan bukan ucapan jin, ia tinggi dan tidak
ada yang mengunggulinya.”
Al-Qur’an adalah kebenaran. Sebab
dia merupakan firman Allah. Dia adalah al-haq, karena kekal dan tetap, tidak
hilang dan tergantikan.
Dia adalah al-haq, karena
menunjukkan orang kepada Al-Haq yang mutlak. Yang terbebas dari keterbatasan
akal manusia dan penyimpangan hawa nafsunya.
Dia menunjukkan orang kepada al-haq,
karena dia menunjukkan orang kepada Allah dan kepada jalan yang lurus.
Dia menunjukkan kepada al-haq, sebab
dia menunjukkan kepada hakikat yang baku yang menjawab teka-teki kehidupan,
menjelaskan kepada mansia dasar dan akhir perjalanannya.
Dia menunjukkan kepada al-haq,
karena ia menunjukkan orang kepada tujuan paling mula dan jalan paling lurus.
Dia menunjukkan kepada al-haq, kaena
ia menunjukkan orang kepada nilai-nialai kekal dan kemuliaan yang autentik.
Dengannya kehidupan menjadi stabil, hubungan menjadi teratur, dan parameter
akhlak serta perilaku menjadi tegak.
Dia menunjukkan kepada al-haq,
karena dia membimbing menuju keadilan di antara manusia terhadap lainnya,
kewajiban dan hak antar sesama mereka. Tanpa berlebih-lebihan dan tanpa
mengurangi. Jangan sampai seseorang menekan orang lain demi masyarakat da
menekan masyarakat demi kepentingan seseorang. Jangan sampai nurani dizalimi
karena syahwat fisik. Jangan pula menyiksa badan karena memenuhi kebutuhan ruh.
Badan punya hak, otak, ruh, laki-laki, wanita, masyarakat, Allah juga punya
hak. Mahabenar Allah saat berfirman,
“Sesungguhnya Al-Qur’an Ini
memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira
kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada
pahala yang besar.” (Al-Isra’: 9).
Kitab Al-Qur’an ini merupakan firman
Allah terakhir kepada manusia, setelah itu tidak ada lagi kitab. Sebagaimana
tidak ada lagi rasul setelah Rasul yang kepadanya diturunkan kitab ini. Oleh
sebab itu Allah memberikan berbagai rahasia dan kelebihan yang menjaminnya
untuk bisa kekal abadi.
1. Kejelasan dan kemudahan Al-Qur’an merupakan kitab
penjelas. Oleh karena itu Allah menamakannya kitab cahaya dan petunjuk. Mudah
untuk diingat. Mudah bagi orang yang membacanya, memahaminya, menghapalnya, dan
mendengarnya. Semuanya sesuai dengan kadar pemahaman yang dianugerahkan Allah
kepada masing-masing orang.
“Dan sesungguhnya telah kami mudahkan
Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”
(Al-Qamar: 17).
2. Kesan yang kuat terhadapnya karena kemukjizatan kalam
ilahi. Ia mempunyai kekuasaan terhadap akal dan hati melalui hukumnya yang
adil, beritanya yang benar, ajaran dan irama katanya yang sungguh luar biasa,
dan ayat-ayat janji baik dan buruk serta berita gembira dan ancaman.
“Kalau sekiranya kami turunkan
Al-Qur’an Ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah
belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. dan perumpamaan-perumpamaan itu
kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (Al-Hasyr: 21).
“Allah telah menurunkan perkataan
yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi
berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya,
kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah
petunjuk Allah, dengan Kitab itu dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. dan
barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.”
(Az-Zumar: 23).
3. Allah melebihkannya dengan keuniversalannya. Di sana
Allah menjelaskan kaidah-kaidah keadilan bagi pribadi, keluarga, dan masyarakat
manusia. Juga tentang petunjuk dasar tentang kebahagiaan di dunia dan akhirat.
“Dan kami
turunkan kepadamu Al Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan
petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.”
(An-Nahl: 89).
4. Di atas semua itu Allah menjamin penjagaanya agar
tidak hilang, disimpangkan, dan dilupakan. Allah juga siapkan sebab-sebab
kekelannya. Sesuatu yang tidak terjadi pada kitab-kitab sebelumnya. Agar ia
menjadi hujjah Allah atas hamba-Nya tentang apa yang ada pada siang dan malam.
“(dan ingatlah)
akan hari (ketika) kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas
mereka dari mereka sendiri dan kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi
atas seluruh umat manusia. dan kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al-Qur’an)
untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira
bagi orang-orang yang berserah diri.” (An-Nahl: 89).
Pelajar itu bertanya, “Akan tetapi
bagaimana satu kitab menjelaskan segala hal, padahal ia hanya terdiri dari
ratusan lembar saja?”
Sang Guru menjawab, “Inilah rahasia
Allah, ananda. Namun demikian saya tidak mengatakan bahwa Al-Qur’an menjelaskan
hal-hal furu’ dan semua rincian. Sebagian masalah itu disisakan untuk
Rasulullah agar beliau menjelaskannya dengan ucapan, amalan, dan petunjuknya.
Sebagian yang lain disisakan agar mara mujtahid berijtihad melalui arahan
nash-nash, kaidah umum, dan kemaslahatan yang berubah-ubah sebagaimana
perubahan tempat, waktu, dan keadaan.
Saya katakan bahwa Al-Qur’an memuat
landasan hidayah yang menjelaskan tujuan dan menerangi jalan. Tentang hubungan
manusia dengan penciptanya, dengan hidupnya, dengan orang lain. Hubungan
seseorang dengan orang lain, keluarga, masyarakat, dan, pemerintah, dan
hubungan antar masyarakat satu sama lain.
Cukuplah kamu membaca ayat-ayat
berikut ini. Kamu akan mendapatinya sebagai lentera hidayah yang menerangi
kegelapan, juga yang menjawab berbagai hambatan dalam hubungan dengan Allah.
“Katakanlah: "Hai ahli kitab,
marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada
perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan
tidak kita persekutukan dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita
menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah." Jika mereka
berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah
orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (Ali Imran: 64).
“Dan apabila
hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku
adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon
kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan
hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”
(Al-Baqarah: 186).
Tentang
hubungan dengan alam semesta Allah berfirman,
“Dan apakah mereka tidak
memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan
Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? maka kepada berita
manakah lagi mereka akan beriman sesudah Al-Qur’an itu?” (Al-A’raf: 185).
“Katakanlah:
"Berjalanlah di (muka) bumi, Maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan
(manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi.
Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Ankabut: 20)
“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu
mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai
telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah
mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (Al-Hajj:
46)
“Dan dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit
dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada
yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum
yang berfikir.” (Al-Jatsiyah: 13)
“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka
berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya
kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (Al-Mulk: 15)
Tentang hubungan dengan hidup berikut semua
kelezatannya,
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di
setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.
Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah
dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan)
rezki yang baik?" Katakanlah: "Semuanya itu (disediakan) bagi
orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di
hari kiamat." Demikianlah kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang
yang mengetahui.” (Al-Isra: 31-32)
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara
rezki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah,
jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (Al-Baqarah: 172)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan
apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu
melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui
batas.” (Al-Maidah: 87)
hubungan antara laki-laki dan perempuan.
“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa
bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun
adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat
menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu.
Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah
untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang
hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam,
(tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid.
Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah
menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.” (Al-Baqarah:
187).
“Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri
(menunggu) tiga kali quru'. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang
diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari
akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika
mereka (para suami) menghendaki ishlah. dan para wanita mempunyai hak yang
seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. Akan tetapi para suami,
mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa
lagi Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah: 228).
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia
menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung
dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan
sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
bagi kaum yang berfikir.” (Ar-Rum: 21)
Hubungan antara orang kaya dan orang miskin.
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat
itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka.
Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah
Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.”
“Yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya. Dan orang-orang yang dalam hartanya
tersedia bagian tertentu.” (Al-Ma’arij: 23-24)
“Jika
mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah
saudara-saudaramu seagama. Dan kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.”
(At-Taubah: 11).
Hubungan
antara pemimpin dan yang dipimpin.
“Sesungguhnya
Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan
(menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu
menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang
sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha
Melihat. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya),
dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang
sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya),
jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu
lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisa’: 58-59).
Hubungan
antara ummat dengan lainnya.
“Dan
siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan
dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu
menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu
tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan
pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak
akan dianiaya (dirugikan). Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka
condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya
dialah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Anfal: 60-61).
Pelajar itu bertanya lagi kepada gurunya, “Betapa
tepat dan indahnya ayat-ayat tadi. Betapa indahnya prinsip-prinsip keadilan dan
kemuliaan. Namun aku ingin bertanya lagi, jika memang Al-Qur’an itu
satu-satunya sumber kebenaran, mengapa para pemeluknya, orang-orang Islam itu,
tersesat, berpecah-belah, dan menjadi ummat yang paling terbelakang baik dari
sisi budaya maupun yang lain. Apakah artinya mengikuti kebenaran itu agar
seseorang terbelakang lalu mereka dibalut jubah hitam untuk menutupi kelemahan
dan kekumalan mereka?”
Sang Guru menjawab, “Tenang, ananda. Karena kondisi
yang sekarang dialami kaum Muslimin disebabkan penyimpangan mereka dari
kebenaran yang dibawa kitab ini. Indikasi penyimpangan tersebut bisa dilihat
dari beberapa hal:
- Mereka mengambil sebagian dari
kitab ini dan meninggalkan yang lain. Itulah kejahatan Bani Israel yang
ditolak Al-Qur’an. Allah berfirman,
“Apakah kamu beriman kepada
sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? tiadalah
balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam
kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang
sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.”[3]
(Al-Baqarah: 85)
Oleh
karena itu pesan Allah kepada Rasul-Nya adalah,
“Dan hendaklah kamu memutuskan
perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu
mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya
mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah
kepadamu. jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka
ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada
mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan
manusia adalah orang-orang yang fasik.” (Al-Maidah: 49).
- Di dalam agama mereka ikuti
orang-orang yang tidak ma’shum, dengan segala kesalahan mereka.
Membelokkan ayat-ayat Al-Qur’an agar sesuai dengan pikiran mereka. Mereka
lupa bahwa Al-Qur’an adalah asas dan semua perkara dikembalikan kepadanya.
Seperti firman Allah,
“Hai orang-orang yang beriman,
taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian
jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada
Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada
Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik
akibatnya.” (An-Nisa’: 59).
- Mereka mengira bahwa keberkahan kitab ini dengan
cara menghiasi dinding dengan ayat-ayatnya atau dengan membacanya untuk
orang-orang yang meninggal atau semacam itu. Mereka tidak tahu atau lupa
bahwa keberkahan itu dengan mengikutinya dan mengamalkan ajarannya
sebagaimana firman Allah,
“Dan Al-Qur’an itu adalah Kitab yang
kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu
diberi rahmat.” (Al-An’am: 155).
Ajaran Al-Qur’an harus diambil
semuanya, baik yang berkaitan dengan pribadi, masyarakat, atau negara. Para
mufassir meriwayatkan bahwasanya ada seorang Yahudi masuk Islam namun ia ingin
memelihara sebagian ajaran Yahudi. Lalu turun firman Allah,
“Hai orang-orang yang beriman,
masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut
langkah-langkah syetan. Sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagimu.”
(Al-Baqarah: 208).
Maksud masuk ke dalam Islam secara
keseluruhan adalah dalam keseluruhan agama Islam. Dalam menafsirkan ayat ini
Ibnu Katsir mengatakan, “Allah memerintahkan hambanya yang beriman, yang
membenarkan Rasul-Nya agar mereka menerima semua ajaran dan syariah Islam,
mengamalkan semua perintahnya, dan meninggalkan semua larangannya semampu
mereka.
Al-Qur’an dengan keseluruhan
ajarannya atau agama dengan semua syiar dan syariahnya merupakan sifat
universal yang tidak boleh diambil sebagian dan diabaikan yang lain. Karena ia
universal dan tidak terpisah-pisah.
Kitab Al-Qur’an memberikan aturan
hidup kepada kita. Yang memiliki karakter khusus dan arahan khusus.
“Shibghah
Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? dan hanya
kepada-Nya-lah kami menyembah.” (Al-Baqarah: 138).
“Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan
saleh, kelak akan kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di
dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu
janji yang benar. dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah?”
(An-Nisa’: 122).
“Apakah hukum
Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada
(hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Maidah:
53).
Maka tidak potongan asing tida boleh masuk ke dalam
alat ini, yang tidak singkron dengan susunannya dan tidak cocok dengan
bagian-bagiannya. Bahayanya bisa jadi tidak nampak untuk pertama kalinya, akan
tetapi cepat atau lambat, kerusakan akan menimpa perangkat tersebut.
Pelajar itu bertanya, “Setelah mendapat penjelasan
sedemikian jelas dan luas, izinkan aku untuk menanyakan satu hal yang menjadi
perhatianku dan perhatian banyak orang.”
Sang Guru berkata, “Tanyakan saja.”
Pelajar itu melanjutkan, “Engkau telah jelaskan bahwa
Allah telah menyediakan untuk kita sarana menuju hidayah kebenaran. Namun
mengapa banyak orang berpaling dari kebenaran dan tersesat jauh dari jalan yang
benar. Bahkan mereka memusuhi dan memerangi pendukung kebenaran? Adakah sebab-sebab
hal itu yang bisa kita ketahui?”
Guru itu berkata, “Berpaling dan mengumumkan perang
terhadap kebenaran memang fakta. Bahkan fakta yang dialami banyak manusia. Ini
sangat disayangkan.
Al-Qur’an sendiri pernah menyinggung fakta yang
menyakitkan ini. Yang tidak ada untungnya bagi anak-anak manusia. Bahwa
sebagian besar manusia membenci kebenaran. Hal ini tentu mengakibatkan murka
Allah dan azab Jahannam.
Allah berfirman
“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa kekal di dalam
azab neraka jahannam. Tidak diringankan azab itu dari mereka dan mereka di
dalamnya berputus asa. Dan tidaklah kami menganiaya mereka tetapi merekalah
yang menganiaya diri mereka sendiri. Mereka berseru: "Hai Malik biarlah
Tuhanmu membunuh kami saja". dia menjawab: "Kamu akan tetap tinggal
(di neraka ini). Sesungguhnya kami benar-benar telah memhawa kebenaran kepada
kamu tetapi kebanyakan di antara kamu benci pada kebenaran itu.” (Az-Zukhruf:
74-78).
Adapun mengapa manusia membenci kebenaran. Menurutku,
hal itu dikarenakan oleh dua hal:
Pertama, kebodohan manusia terhadap kebenaran. Dahulu
ada orang berkata, “Manusia adalah musuh kebodohannya.”
“Barangsiapa bodoh terhadap sesuatu ia memusuhinya.”
Al-Qur’an berkata,
“Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selain-Nya?
Katakanlah: "Unjukkanlah hujjahmu! (Al-Qur’an) ini adalah peringatan bagi
orang-orang yang bersamaku, dan peringatan bagi orang-orang yang sebelumku.”
Sebenarnya kebanyakan mereka tiada mengetahui yang hak, karena itu mereka
berpaling.” (Al-Anbiya’: 24)
“Bahkan yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang
mereka belum mengetahuinya dengan sempurna padahal belum datang kepada mereka
penjelasannya. Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan
(rasul). Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim itu.” (Yunus: 39).
Kedua, mengikuti hawa nafsu. Karena hawa nafsu juga
sebagai tuhan yang disembah. Siapa menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya
tidak mungki ia tunduk kepada kebenaran. Oleh karena itu Allah berfirman,
“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah
(penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia
dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan
kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah
akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (Shad: 26)
“Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu)
ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka
(belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa
nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya
Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Qashash: 50).
Pelajar itu bertanya, “Akan tetapi tanda-tanda
kebenaran itu beitu jelas dan gamblang. Lalu apa yang membuat mereka tidak
tahu?”
Sang Guru menjawab, Kebodohan terhadap kebenaran itu
datang melalui beberapa hal:
- Kelalaian yang membuat
sebagaian orang hidup di dunia ini bagai mayit. Ada tapi tidak ada.
Pendengaran, penglihatan, dan hati tidak berfungsi. Rangkaian perangkat
yang dianugerahkan Allah kepadanya agar digunakan untuk mengenal
kebenaran. Dengan penedengar seseorang dapat meriwayatkan ilmu yang
didengar dari orang lain. Dengan penglihatan dapat membaca, memperhatikan,
dan mencoba. Dan dengan hati ia dapat menyusun hal-hal penting, meringkas
hasil (analisa), dan dengan pendengaran dan penglihatan ia dapat
meluruskan berbagai kesalahan.
Allah memberi tiga komponen tersebut kepada manusia.
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam
keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran,
penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (An-Nahl: 78)
Al-Qur’an mewanti-wanti agar manusia tidak mengabaikan
komponen itu dan agar tidak mengikuti sesuatu yang tidak diketahuinya,
melakukan taqlid dan prasangka.
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak
mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan
hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Al-Isra’: 36)
Dengan tenggelamnya mereka dalam kelalaian ini mereka
merusak perangkat berfungsi sebagai kunci pengetahuan oleh orang-orang dahulu
dan sekarang. Maka tidak heran kalau akhir perjalanan mereka adalah seperti
yang digambarkan Allah,
“Dan
sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan
manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami
(ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya
untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga
(tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu
sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah
orang-orang yang lalai.” (Al-A’raf: 179)
Allah menceritakan para penghuni neraka di akhirat,
“Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan
atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk
penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala". Mereka mengakui dosa mereka.
Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Al-Mulk:
10-11)
Mereka punya pendengaran, penglihatan, dan akal, akan
tetapi sikap berlebihan menyebabkan mereka terjerumus ke dalam kekafiran nan
gelap. Yang menjadikan mereka seperti,
“Mereka tuli,
bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.” (Al-Baqarah: 171)
“Dan sesungguhnya kami telah meneguhkan kedudukan
mereka dalam hal-hal yang kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal
itu dan kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati;
tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit
juapun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka
telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya.” (Al-Ahqaf:
26)
- Bodoh terhadap kebenaran, taqlid buta, terkadang
mengikuti bapak dan nenerak moyang, terkadang pula para pimpinan dan
pembesar. Kedua jenis talid ini negatif. Melalui kitab-Nya Allah sangat
menolaknya dan menegur ornag yang menjadikan ayah serta nenek moyangnya
sebagai alasan dalam mengikuti kebodohan.
“Dan
apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan
Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa
yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami." "(Apakah
mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui
suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (Al-Baqarah: 170).
Sebenarnya
ini penyakit lama. Nabiyullah Dawud as. berdebat dengan kaumnya untuk memberi
pengertian kepada mereka. Namun apa yang mereka katakan,
“Mereka
berkata: "Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah
saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami? maka
datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang
yang benar." (Al-A’raf: 70).
Ketika
Ibrahim berkata kepada kaumnya,
“(Ingatlah),
ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Patung-patung apakah
ini yang kamu tekun beribadat kepadanya? Mereka menjawab: "Kami mendapati
bapak-bapak kami menyembahnya.” (Al-Anbiya’: 52-53).
Fir’aun dan bala tentaranya berkata
kepada Musa,
“Mereka berkata: "Apakah kamu
datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek
moyang kami mengerjakannya, dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka
bumi? kami tidak akan mempercayai kamu berdua.” (Yunus: 78).
“Dan demikianlah, kami tidak mengutus sebelum kamu
seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang
hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya kami mendapati
bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut
jejak-jejak mereka. (Rasul itu) berkata: "Apakah (kamu akan mengikutinya
juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk
daripada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya?" mereka menjawab:
"Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk
menyampaikannya." (Az-Zukhruf: 23-24)
Dalam melarang taqlid kepada para
pimpinan dan mentaati pembesar, Al-Qur’an menampilkan fragmen yang sangat
menyentuh hati para pembesar berikut anak buah mereka di hari Kiamat. Bagaimana
masing-masing dari dua kelompok tersebut saling melepas diri dari yang lain. Pemandangan seperti seringkali diulang-ulang di surat Ali
Imran.
Dan di surat Al-Baqarah,
"(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu
berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan
(ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali." (Al-Baqarah : 166)
Di surat Al-A’raf,
"Allah berfirman: "Masuklah kamu sekalian ke
dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum
kamu. setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), dia mengutuk kawannya
(menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk semuanya berkatalah orang-orang
yang masuk kemudian di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu:
"Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah
kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka". Allah berfirman:
"Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kamu
tidak mengetahui." (Al-A’raf :
38).
Di surat Al-Ahzab,
"Pada hari ketika muka mereka
dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: "Alangkah baiknya, andaikata
kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul." Dan mereka
berkata;:"Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati
pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari
jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali
lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar." (Al-Ahzab :66)
Di surat Saba’,
"Dan orang-orang kafir berkata: "Kami
sekali-kali tidak akan beriman kepada Al-Qur’an ini dan tidak (pula) kepada
kitab yang sebelumnya". Dan (alangkah hebatnya) kalau kamu lihat ketika
orang-orang yang zalim itu dihadapkan kepada Tuhannya, sebahagian dari mereka
menghadap kan perkataan kepada sebagian yang lain; orang-orang yang dianggap
lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: "Kalau tidaklah
karena kamu tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman." (Saba’ : 31)
Dialog seperti ini juga disebutkan di
surat As-Shaffat dan surat Shad.
Yang paling mencoreng akal sehat adalah
fanatisme kaku dan gelap, yang memasung pemiliknya dalam tempurung lama seperti
nenek moyang mereka. Atau apa yang dialami oleh fihak
mayoritas atau para pembesar.
Fanatisme semacam ini membuat tuli
dan bisu pemiliknya, serta membuat akalnya seolah-olah batu pahatan yang bisu.
Tidakkah kamu lihat ulah fanatisme
orang-orang kafir Mekah yang menyampaikan pembangkangan mereka,
“Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik)
berkata: "Ya Allah, jika betul (Al-Qur’an) ini, dialah yang benar dari
sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah
kepada kami azab yang pedih.” (Al-Anfal: 32)
Kalau saja akal itu cerdas dan
jujur, tentu mereka akan berkata, “Ya Allah, kalau saja ini benar dari sisi-Mu,
tunjukkan kami kepadanya dan jadikan kami sebagai tentara-tentara dan
pembelanya. Akan tetapi fanatisme mereka yang batil membutakan mereka.
“Mereka tuli,
bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.” (Al-Baqarah: 171)
Lihatlah bagaimana Al-Qur’an
bercerita tentang mereka,
“Mereka berkata: "Hati kami
berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan
telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah
kamu; sesungguhnya kami bekerja (pula).” (Fusshilat: 5)
Pelajar itu berkata, “Sekarang
menjadi jelas, mengapa manusia tidak tahu kebenaran. Sedangkan Allah telah
memberikan perangkat untuk mengenalnya dan jalan untuk sampai kepadanya.
Sekarang jadi ingin tahu rahasia pada penyabab lainnya. Yang membuat manusia
berpaling dari kebenaran dan membensinya. Padahal mereka tahu bahwa ia adalah
kebanaran. Dan padahal mengikuti kebenaran berdampak kepada kebaikan di dunia
dan akhirat.
Aku harap engkau jangan
menghalangiku untuk banyak bertanya, guru. Engkaulah yang menanamkan kecintaan
kepada ilmu dan data. Tema ini sangat penting.”
Sang Guru berkata, “Tidak, aku
sangat berlapang dada dengan segala pertanyaan yang kamu lontarkan, yang
membuka cakrawala wawasan dalam tema ini dan membuatku perlu memberikan jawaban
untuk berbagai syubuhat yang terkadang mengusik di dalam dada. Dahulu ada
seorang ulama ditanya, “Kelezatanmu ada pada apa?” Ia menjawab, “Ada pada
hujjah yang kian jelas dan syubuhat yang kian kerdil mengecil.” Adapaun misteri
mengapa manusia membenci kebenaran. Menurutku, masalah ini tidaklah samar bagi
orang sepertimu.
Ananda, kebenaran itu pahit rasanya,
banyak bebannya, karena biasanya konsekuensinya adalah harus bersebarangan
dengan hawa nafsu dan adat kebiasaan masyarakat serta tuntutan-tuntutan pribadi
dan keinginan orang kebanyakan.
Oleh karena itu kita menemukan
sebagian besar orang membenci kebenaran. Kendatipun sebagian besar mereka
bukannya tidak mengenalnya.
Dalam hal ini, dengan nada heran, Al-Qur’an menyitir
sikap orang-orang musyrik Mekah terdapat dakwah Rasulullah saw.,
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan perkataan
(Kami), atau apakah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang
kepada nenek moyang mereka dahulu? Ataukah mereka tidak mengenal Rasul mereka,
karena itu mereka memungkirinya? Atau (apakah patut) mereka berkata:
"Padanya (Muhammad) ada penyakit gila." Sebenarnya dia telah membawa
kebenaran kepada mereka, dan kebanyakan mereka benci kepada kebenaran itu.
Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan
bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya kami telah mendatangkan
kepada mereka kebanggaan (Al-Qur’an) mereka tetapi mereka berpaling dari
kebanggaan itu.” (Al-Mukminun: 68-71)
Al-Qur’an menyebutkan penyebab pertama mereka
berpaling dari dakwah. Yaitu kerena kebenaran yang tidak disukai oleh mayoritas
mereka itu telah datang. Kebenaran yang menilai bodoh orang-orang cerdas
mereka, padahal mereka adalah orang paling ‘cerdas’, serta ‘menghina’
tuhan-tuhan mereka.
Setelah itu, kebenaran tersebut mewajibkan adanya
persamaan dan keadilan di antara mereka. Sementara mereka sudah terbiasa
terpecah-belah dan melampaui batas. Kebenaran yang melarang melampiaskan
syahwat sementara mereka tenggelam di dalamnya. Maka tidak heran jika mereka
menolak kebenaran tersebut sejak pertama kali dikenalkan kepada mereka, sebelum
mereka bersentuhan dengannya dan memikirkannya. Seperti halnya firman Allah,
“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat kami
yang menjelaskan, berkatalah orang-orang yang mengingkari kebenaran ketika
kebenaran itu datang kepada mereka: "Ini adalah sihir yang nyata.” (Al-Ahqaf: 7)
Ada pula unsur kejiwaan yang mendorong orang untuk
menolak kebenaran kendatipun ia mengenalnya. Di antara mereka ada yang
menolaknya karena kekerasan pribadinya dan kesombongannya jika harus tunduk
kepada orang yang menurutnya lebih hina kedudukannya daripada dirinya, atau
lebih sedikit harta benda dan pengikutnya. Seperti yang dilakukan orang-orang
musyrik Mekah. Al-Qur’an menceritakan sikap mereka terhadap Rasulullah saw.,
“Tetapi Aku telah memberikan kenikmatan hidup kepada
mereka dan bapak-bapak mereka sehingga datanglah kepada mereka kebenaran (Al-Qur’an)
dan seorang Rasul yang memberi penjelasan. Dan tatkala kebenaran (Al-Qur’an)
itu datang kepada mereka, mereka berkata: "Ini adalah sihir dan
sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingkarinya. Dan mereka berkata:
"Mengapa Al-Qur’an Ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah
satu dua negeri (Mekah dan Thaif) ini?" (Az-Zukhruf:
29-31)
Yang mereka maksud dengan orang besar adalah yang
mempunyai banyak harta dan kedudukan seperti Al-Walid bin Al-Mughirah di Mekah
dan ‘Urwah bin Mas’ud As-Tsaqafi di Thaif.
Sama seperti mereka, Fir’aun dan para pembesarnya
bersikap sombong untuk beriman kepada Musa karena ia berasal dari Bani Israel
yang menjadi pelayan mereka.
“Dan mereka berkata: "Apakah (patut) kita percaya
kepada dua orang manusia seperti kita (juga), padahal kaum mereka (Bani Israil)
adalah orang-orang yang menghambakan diri kepada kita?" (Al-Mukminun:
47)
Di antara mereka ada yang memusuhi secara karena
dengki dan secara sewenang-wenang terhadap orang yang padanya ada kebenaran.
Seperti sikap Yahudi terhadap kenabian Muhammad saw. Padahal mereka telah
mengenalnya dan ciri-cirinya di mitab mereka seperti mereka mengenal anak-anak
mereka. Akan tetapi mereka enggan untuk membenarkannya.
“Sebahagian besar ahli kitab
menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu
beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata
bagi mereka kebenaran. Maka ma'afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah
mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(Al-Baqarah: 109).
Ada pula yang berpaling darinya
karena sibuk dengan urusan sendiri, syahwat pribadinya, dan kemewahan hidupnya.
Maka tidak ada ruang dalam dirinya untuk mengikuti kebenaran.
“Dan kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang
pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu
berkata: "Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk
menyampaikannya." (Saba’: 34).
Semua yang saya jelaskan tadi, motivasi dan penghalang
yang mengahalang-halangi manusia untuk mengikuti kebenaran padahal tanda-tanda
dan bukti-buktinya sudah jelas, berada dalam tema ‘mengikuti hawa’, baik hawa
nafsunya sendiri atau hawa nafsu orang lain. Bahkan kita bisa menggolongkan
penyebab pertama ke dalam penyebab ini. Sebab tidak mengenal kebenaran biasanya
ditimbulkan oleh hawa nafsu yang mangajak orang untuk bermalas-malasan dalam
mencari kebenaran. Atau mengikuti hawa nafsu nenek moyang dan para pimpinan
serta mengikuti apa yang dikehendaki orang kebanyakan. Tanpa ada upaya serius
untuk mencari kebenaran atau tanpa menggunakan akal yang dianugerahkan Allah
kepadanya. Allah berfirman,
“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan
hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara
atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau
memahami. mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan
mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (Al-Furqan:
43-44)
Karena itu Al-Qur’an mewanti-wanti kita agar tidak
mengikuti hawa nafsu dan mencela orang-orang yang mengikuti hawa nafsu.
“Dan di antara
mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu sehingga apabila mereka keluar
dari sisimu orang-orang berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan
(sahabat-sahabat Nabi): "Apakah yang dikatakannya tadi?" mereka itulah
orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu
mereka. (Muhammad; 16)
“Dan kalau kami menghendaki, sesungguhnya kami
tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia
dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing
jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia
mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan
ayat-ayat kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka
berfikir.” (Al-A’raf: 176)
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan
hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan
Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas
penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah
(membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (Al-Jatsiyah:
23).
Pelajar berkata, “Banyak hal yang aku pahami dari
jawabanmu. Tadinya aku mengira bahwa petunjuk manusia menuju kebenaran adalah
perkara mudah dan dekat. Namun sekarang aku baru tahu bahwa hal itu adalah
perkara sulit dan tidak mudah. Penghalang menuju kebenaran ternyata banyak. Di
antaranya muncul dari kebodohan. Ada yang bersumber dari hawa nafsu. Barangkali
bagi para dai, yang paling mudah adalah memulai menyampaikan kebenaran kepada
orang-orang yang tidak tahu, menjelaskannya dan membuat mereka cinta kepadanya.”
Sang Guru berkata, “Bagus, ananda. Namun harus kamu
ketahui bahwa kebodohan itu ada dua macam:
Kelompok pertama, ia tahu dan menyadari bahwa
pengetahuannya tentang kebenaran begitu lemah. Ia merasa membutuhkan bimbingan
orang yang membimbingnya menuju kebenaran. Kebodohan semacam ini disebut ‘kebodohan
sederhana’ (al-jahlu al-basith).
Kelompok kedua menganggap bahwa dirinya termasuk
orang-orang berilmu. Di mana mereka mengenal kebenaran itu secara nyata, akan
tetapi mereka tetap berpegang teguh terhadap kebatilan. Mereka menganggap bahwa
hal itulah yang benar. Kebodohan semacam ini disebut ‘kebodohan bertingkat’
(al-jahlu al-murakkab). Kelompok kedua ini sangat susah untuk dikenalkan kepada
kebenaran atau dijauhkan dari kebatilan. Orang Arab bijak berkata,
اَلنَّاسُ
أَرْبَعَةٌ :
رَجُلٌ
يَدْرِي وَيَدْرِي أَنَّهُ يَدْرِي فَهَذَا عَالِمٌ فَاتَّبِعُوْهُ .
وَرَجُلٌ
يَدْرِي وَلاَ يَدْرِي أَنَّهُ يَدْرِي فَهَذَا نَائِمٌ فَأَيْقَظُوْهُ .
وَرَجُلٌ
لاَ يَدْرِي وَيَدْرِي أَنَّهُ لاَ يَدْرِي فَهَذَا مُسْتَرْشِدٌ فَارْشِدُوْهُ .
وَرَجُلٌ
لاَ يَدْرِي وَلاَ يَدْرِي أَنَّهُ لاَ يَدْرِي فَهَذَا ضَالٍ فَارْفَضُوْهُ .
“Manusia itu ada empat:
Orang yang mengerti dan dia menngerti
bahwa dirinya mengerti, dialah olah berilmu, ikutilah.
Orang yang mengerti namun dia tidak
mengerti bahwa dirinya mengerti, dia orang tidur, bangunkan.
Orang yang tidak mengerti dan dia
mengerti bahwa dirinya tidak mengerti, dia orang yang mencari bimbinngan,
bimbinglah.
Dan orang yang tidak mengerti namun dia
tidak mengerti bahwa dirinya tidak mengerti, dia orang sesat, tolaklah.
Yang
sungguh aneh, sebagian orang-orang yang tidak mengenal kebenaran dari kelompok
ini. Di mana Allah berfirman tentang mereka,
“Dan
bila dikatakan kepada mereka:"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka
bumi.” Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan
perbaikan. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat
kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. Apabila dikatakan kepada mereka:
"Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman." mereka
menjawab: "Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah
beriman?" Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi
mereka tidak tahu.” (Al-Baqarah: 11-13).
“Sebahagian
diberi-Nya petunjuk dan sebahagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya
mereka menjadikan syetan-syetan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka
mengira bahwa mereka mendapat petunjuk.” (Al-A’raf: 30).
“Katakanlah:
"Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling
merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam
kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat
sebaik-baiknya.” (Al-Kahfi:
103-104)
Ya,
sayangnya, sebagian besar kelompok ini terdiri adari para pemikir, peneliti,
ulama, penulis, dam pemikir.
Pelajar
berkata, “Jika orang-orang semacam mereka itu jauh dari kebenaran, bagaimana
dengan orang lain? Kalau begitu, apa jalan menuju kebenaran itu?
Sang
Guru menjawab,
“Langkah
pertama adalah agar seseorang mengenali kapasitas dirinya dan kedudukannya
dalam hidup ini. Jangan biarkan dirinya menjadi mangsa kelalaian dan syahwat
layaknya binatang ternak yang diburu dan dikendalikan, yang tidak tahu tujuan
hidupnya dan tida mengenal jalannya.
Juga
agar jangan sampai berlebih-lebihan melihat dirinya dan mengangkatnya secara
tidak proporsional. Ia mengira bahwa dirinya tidak lagi membutuhkan Allah yang
menciptakannya, menyempurnakannya, dan menegakkannya. Yang memberikan nikmatt
kepadanya, baik lahir maupun batin. Dan menundukkan apa yang ada di langit dan
di bumi, semuanya berasal dari-Nya.
Manusia
harus meninggalkan kelalaian, syahwat, serta tidak tunduk kepadanya. Sebab
dirinya tidaklah sama dengan binatang ternak. Manusia juga agar meninggalkan
sikap sombong bangga diri karena ilmu yang dimilikinya atau pendapat yang
dilontarkannya. Sebab ia tidaklah tuhan.
Hendaknya
ia menyadari bahwa, apapun kedudukannya, ia adalah makhuk. Namun makhluk
seperti dia adalah makhluk yang dimuliakan Allah. Diciptakan dengan tangan-Nya,
ditiupkan ruh-Nya, alam ditundukkan untuknya, dan dijadikannya ia seebagai
khalifah di muka bumi.
Jika
seseorang mengenali jatidirinya akan terdorong untuk mencari kebenaran dan
berusaha mendapatkannya. Ini langkah pertama, bahkan jalan menuju hidayah.
Pelajar
berkata, “Kita sering saksikan sebagian orang mencari kebenaran dan berusaha
sampai kepadanya. Namun kenyataannya
banyak juga yang tidak sampai kepadanya. Apa rahasianya?”
Sang Guru menjawab, “Rahasianya ada beberapa hal:
Pertama, bisa jadi karena mereka
mengandalkan praduga pada suatu masalah yang hanya membutuhkan keyakinan yanga
kuat. Seperti pada masalah akidah dan prinsip-ptinsip global. Kita tidak boleh
mengandalkan praduga dalam hal ini, yang tidak ada dalil yang menguatkannya.
Kondisi mereka sebagaimana yang difirmankan,
“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali
persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk
mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka
kerjakan. Sesuatu yang diperoleh dengan prasangkaan sama sekali tidak bisa
mengantikan sesuatu yang diperoleh dengan.” (Yunus: 36).
“Dan Karena Ucapan mereka: "Sesungguhnya kami telah
membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah,” padahal mereka tidak
membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah)
orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang
berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan
tentang yang dibunuh itu. mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang
dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin
bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Mereka menyebut Isa putera Maryam itu
Rasul Allah ialah sebagai ejekan, karena mereka sendiri tidak mempercayai
kerasulan Isa itu.” (An-Nisa’: 157).
Kedua, bisa jadi karena mereka terpengaruh
oleh hawa nafsu dan emosi mereka pada masalah di mana mereka tidak boleh
menentukan hukum dalam hal itu selain dengan menggunakan akal, petunjuk, dan
bukti-bukti empiris. Sebagian besar pandangan para sastrawan, penulis, dan
pemikir tentang hidup da kehidupan ini merupakan terjemahan dari keyakinan dan
keinginan dalam diri mereka. Bahkan, bisa jadi pandangan merek itu adalah
potret yang jelas atau buram dari kehidupan keluarga dan masyarakat mereka,
baik dari sisi positif maupun negatif. Sejatinya mereka itu orang-orang yang
terpengaruhi namun mereka mengira merekalah yang mempengaruhi. Oleh karena itu
Allah berfirman,
“Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang
yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya
Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa
yang terpaksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar
benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa
pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang
yang melampaui batas.” (Al-An;am: 119).
“Tetapi orang-orang yang zalim, mengikuti hawa nafsunya
tanpa ilmu pengetahuan; maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah
disesatkan Allah? dan tiadalah bagi mereka seorang penolongpun.” (Ar-Rum: 29).
“Hai Daud, sesungguhnya kami menjadikan kamu khalifah
(penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia
dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan
kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan
mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (Shad: 26).
Para pengikut prasangka merasa berada dalam posisi
yakin, sedangkan para pengikut hawa nafsu merasa memilki hujjah dan penjelasan.
Sedangkan banyak sekali korban manusia yang mereka sesatkan. Sementara mereka
mengira bahwa mereka berada dalam petunjuk. Terutama jika praduga dan hawa
nafsu bersatu.
Allah berfirman tentang para penyembah Lata, Uzza, dan
Manat.
“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan
bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun
untuk (menyembah) nya. mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan,
dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang
petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.” (An-Najm: 23)
Yang sangat disayangkan, banyak orang menjadi mangsa
kesesatan yang nyata ini.
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di
muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak
lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah
berdusta (terhadap Allah).” (Al-An’am: 116)
Ketiga, bisa jadi mereka bersandar kepada
akal manusia pada suatu masalah yang tidak bisa diselesaikan selain dengan
wahyu. Seperti mengenal asal muasal alam dan mulai dan berakhirnya manusia,
missi manusia dalam hidup, berakhirnya alam semesta dan rahasianya, serta
rahasia keadilan dan kemuliaan. Masalah-masalah seperti ini tidak mampu ditembus
akal manusia. Karena ia lebih tinggi dari daya nalar akal, lebih luas dari daya
tampungnya, dan lebih jauh dari spesifikasi dan sarana yang bisa dicapai akal. Setiap
berita yang dihasilkan akal mengandung unsur kebenaran dan kebohongan, adalah
klaim yang bisa diterima dan ditolak, pikiran dan pendapat yang bisa salah dan
benar, pendapat yang bisa berseberangan dengan pendapat lain, yang bisa jadi
sama atau lebih kuat darinya. Yang jelas, semua pendapat itu tidak terjaga dari
kesalahan.
Inilah kondisi mereka yang mencoba untuk menafsirkan
alam semesta. Atau mencoba membuat filsafat yang universal tentang hidup dan
sejarah. Atau menentukan sejarah perjalan manusia, seolah-olah manusia adalah
makhluk sedang mereka itu penciptanya. Mereka lebih tahu dalam hal ini dan
lebih mampu. Sungguh, jauh apa yang mereka duga itu!
Di antara mereka ada yang menafikan wujud Allah dan
menobatkan diri mereka sebagai tuhan manusia yang berhak menentukan sejarah
hidupa dan akhir perjalanan manusia. Secara teori mengatur mansuia semau mereka
dengan interpretasi yang mereka buat. Secara teknis mengatur mereka dalam
menciptakan perubahan.
Keempat, bisa jadi mereka sama sekali belum
merdeka dari model penyembahan kafir dan penghambaan kepada akal pikiran orang
lain. Hingga mereka senantiasa menyakralkan pendapat seorang filosof poluler,
atau sastrawan hebat, dan seorang reformis vokal. Sejatinya mereka itu
bersandar kepada akal mereka sendiri yang tidak ada kebenarannya. Dan
hakikatnya mereka itu budak-budak yang tidak merdeka, bukannya para peneliti
yang merdeka.
Di negeri kita orang-orang yang tergolong dalam
kelompok ini kebanyakan berasal dari kalangan intelektual yang terkesima oleh
kebesaran berhala besar ciptaan Eropa, maksud saya budaya materialistik. Mereka
pun tersungkur sujud kepada patung itu dan membelanya sebagai orang-orang hina.
Mereka membaca budaya dan filsafat Barat dengan nada kagum dan terkesima.
Ketika pergi ke negeri Barat, mereka melihatnya bagai seorang perindu.
Mereka telah menampatkan diri mereka pada sisi tidak
bisa memisahkan kebenaran dari kebatilan dan tidak bisa menengarai kebatilan
yang berbalut baju kebenaran.
Sesungguhnya ulah orang-orang seperti tidak kalah jauh
dibandingkan dengan ulah anak-anak sekolah. Seringkali kita menyaksikan
anak-anak sekolah yang mendebat guru mereka dengan bebas dan berani. Yang
menerima dan menolak apa yang datang dari guru mereka. Salahkah jika kita
menggambarkan sikap mereka dengan sikap budak belian? Budak yang tidak lagi
mempunyai jati diri yang berada dalam kehendak tuannya. Karena tuannya mereka
mendengar, melihat, dan berpikir. Jika memang mereka bisa berpikir!
Sinar kebudayaan pemenang begitu menyilaukan pandangan
mereka. Gema nama-nama mereka (Barat) terdengar nyaring oleh telinga mereka.
Dan setelah itu mereka tidak memiliki sikap lain selain mengangguk-anggukkan
kepala untuk mereka dan berjalan dalam rombongan mereka dengan penuh khidmat.
Banyak pemikir besar yang terjerumus dalam kekeliruan
ini. Mereka yang dalam sejarah Islam dikenal sebagai para filosof. Ketika
mereka menerjemahkan kehidupan para filusuf Yunani, mereka terkesima oleh karya
pemikiran mereka yang luar biasa. Nama-nama filosof yang menghasilkan
karya-karya itu begitu membuat mereka terkesima. Bahkan di antara mereka ada
yang mengkultuskan pemikiran mereka. Pada pemikiran itu ada kebenaran yang
dibalut dengan sekian banyak kebatilan. Yang membuat mereka tidak memiliki
indepedensi dalam berpikir, yang bertumpu kepada hasil pikirannya sendiri, yang
memilah dan memilih, menimbang dan menentukan kebenaran, mengoreksi dan
menyalahkan, serta mengambil dan membuang. Namun mereka mencampur aduk
permasalahan yang bersumber dari praduga dengan sesuatu yang mestinya tidak
bisa selain keyakinan (wahyu). Mereka menimbang sesuatu urusan akal dengan yang
bukan dari akal. Mereka mengira bahwa keyakinan yang dihasilkan oleh ilmu
matematika dan biologi menjadi kepastian yang dogmatis dalam tataran ketuhanan
di balik alam ini.
Hasilnya, mereka banyak mentakwilkan ayat-ayat Al-Qur’an
agar sesuai dengan filsafat Aristoteles bahwa tuhan, Kausa Prima (Al-‘Illah
Al-Ula), atau Penggerak Pertama (Al-Muharrik Al-Awwal) seperti yang mereka
katakan. Atau agar sesuai dengan para astronom Yunani yang berpraduga bahwa
petala langit itu berbentuk benda padat yang tidak bisa terbakar dan tidak bisa
bersenyawa.
Andai saja para filosof itu mengerti
bahwa pemikiran yang mereka kultuskan yang untuk itu mereka mentakwil
Al-Qur’an, termasuk khurafat dan mitos. Bentuk bumi dan alam ini tidak seperti
apa yang mereka bayangkan. Petala langit juga tidak seperti yang mereka pahami.
Alam semesta ini juga tidak terdiri dari empat unsur: air, tanah, udara, dan
api, seperti yang mereka duga, bahkan yang mereka yakini.
Anak-anak sekolah dasar sekarang ini
mengenal alam dan kehidupan dengan pemahaman yang benar. Lebih dari apa yang
dipahami Plato dan Aristoteles.
Pelajar itu berkata, “Apa yang harus
dilakukan sesorang jika ingin menuju kebenaran?”
Sang Guru menjawab, “Dari kendala
dan penghalang yag saya paparkan tadi nampaknya jelas. Bahwa, ia harus waspada
terhadap hal-hal yang menyesatkan dan menjerumuskannya dari jalan yang lurus.
Hendaknya ia membuang jauh prasangka
dan dugaan dari pikirannya. Menghalau segala godaan dan hawa nafsu dari
jiwanya. Membebaskan dirinya dari fanatisme terhadap pemikiran yang
kebenarannya tidak terbukti secara dogmatis. Agar memiliki sifat rendah hati serta
menjauhkan dirinya dari ketertipuan dan bangga diri. Dengan demikian ia akan
mengerti batasan kemampuan daya pikirnya dan apa yang tidak mampu dijangkau
oleh nalarnya.
Sebelum itu semua hendaknya ia
meyakinkan dirinya tentang kejujuran niatnya dan keikhlasannya dalam mencari
kebenaran. Hendaknya pula ia mengalahkan hawa nafsunya dan fanatisme terhadap
kaumnya serta manjauhkan diri dari pengaruh pikiran dan arahan-arahannya.
“Katakanlah: "Sesungguhnya Aku hendak
memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah
(dengan ikhlas) berdua- dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu pikirkan
(tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. dia
tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang
keras.” (Saba’: 46).
Di antara indikasi keikhlasan dalam
mencari kebenaran adalah agar tidak si pencarinya itu tidak memihak (kepada
seseorang saja). Sebab orang ikhlas itu slalu menerima kebenaran dari manapun
datangnya dan di tangan siapa ia nampak. Sedangkan orang yang memiliki
keterikatan dan keberpihakan, ia tidak menerima kebenaran kecuali jika datang
sesuai dengan seleranya. Karena hal inilah Allah mencela orang-orang Yahudi
yang kafir terhadap Muhammad. Karena ia bukan dari bani Israel. Padahal dulu
mereka menunggu kedatangannya dan mencari-carinya di antara kam paganis di masa
jahiliyah.
Allah berfirman,
“Dan setelah datang kepada mereka Al-Qur’an dari Allah
yang membenarkan apa yang ada pada mereka[4],
padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat
kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang
Telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la'nat Allah-lah atas
orang-orang yang ingkar itu. Alangkah buruknya (hasil perbuatan) mereka yang
menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang Telah diturunkan
Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang
dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka
sesudah (mendapat) kemurkaan. dan untuk orang-orang kafir siksaan yang
menghinakan. Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kepada Al-Qur’an
yang diturunkan Allah," mereka berkata: "Kami Hanya beriman kepada
apa yang diturunkan kepada kami". dan mereka kafir kepada Al-Qur’an yang
diturunkan sesudahnya, sedang Al-Qur’an itu adalah (Kitab) yang hak; yang
membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: "Mengapa kamu dahulu
membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?" (Al-Baqarah: 89-91).
Di antara indikasi keikhlasan adalah
seseorang akan menerima kebenaran walaupun ia tidak berpihak kepadanya. Bahkan,
walaupun karena itu ia mendapatkan ujian kelaparan, rasa takut, kekurangan
harta, jiwa, dan buah-buahan.
Ada orang yang mencari kebenaran,
namun ketika mengetahui bahwa kebenaran itu akan mengganggu dunianya, hartanya,
dan jabatannya, ia berpaling darinya. Contoh paling populer adalah kisah
Heraclius, imperium Romawi. Ketika Rasulullah saw. mengutus utusan yang membawa
surat untuknya agar masuk Islam maka akan selamat, maka ia mendapatkan kebaikan
dan petunjuk bagi dirinya dan kaumnya. Kala itu ia mengundang Abu Sufyan dan
beberapa orang kawannya dari kalangan para tokoh orang-orang musyrik Quraisy.
Ia bertanya kepada mereka dengan pertanyaan yang detail tetang Muhammad,
pertumbuhannya, kepribadiannya, dakwahnya, dan siapa yang mendukung dan memusuhinya.
Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan itu untuk menegaskan bahwa dia adalah
rasul yang ditunggu untuk menyampaikan hidayah kepada manusia. Akan tetapi
ketika diprotes oleh para pemuka gereja, kecintaan kepada kekuasaan mengalahkan
kecenderungannya kepada kebenaran yang sudah dikenalnya itu. Al-Qur’an berkata
kepada kita tentang orang-orang bani Israel yang menolak kenabian setiap nabi
selain apa yang sesuai dengan hawa nafsu mereka. Allah berfirman,
“Dan sesungguhnya kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat)
kepada Musa, dan kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan
rasul-rasul, dan telah kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Isa
putera Maryam dan kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. apakah setiap datang
kepadamu seorang Rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu
lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan
beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?” (Al-Baqarah:
87).
Allah berfirman tentang kelompok
orang-orang munafik,
“Dan mereka berkata: "Kami telah beriman kepada
Allah dan rasul, dan kami mentaati (keduanya)." Kemudian sebagian dari
mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang
beriman. Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya, agar Rasul menghukum
(mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk
datang. Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang
kepada Rasul dengan patuh. Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam
hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut
kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka
Itulah orang-orang yang zalim." (An-Nur:
47-50)
pelajar itu berkata kepada gurunya, “Jika
kita mengenal kebenaran dan hal yang lurus itu dapat dibedakan dari
ketersesatan, cukupkah setelah itu kita dianggap sebagai pendukung setia
kebenaran. Seperti yang pernah dikatakan oleh Socrates dahulu, ‘Kemuliaan
adalah pengetahuan.”
Sang Guru berkata, “Tidak, ananda.
Pengetahuan yang teoritis saja terhadap kebenaran harus berada dalam kejelasan.
Ia tidak ada gunanya bagimu kecuali jika akar-akar pondasinya kuat tertanam
dalam dirimu yang buahnya kira-kira demikian:
- Agar kamu
tunduk kepada kebenaran dan mengikutinya. Sebab banyak orang mengenal
kebenaran namun tidak mengikutinya karena mengikuti hawa nafsu, atau
karena sombong, dengki, dan fanatisme buta. Sebagaimana firman Allah
tentang kisah orang-orang Yahudi.
“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani)
yang telah kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti
mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara
mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka Mengetahui.” (Al-Baqarah: 146)
Banyak sekali mereka itu,
sampai-sampai Rasulullah selalu berdoa,
اَللَّهُمَّ
أَرِنِي الْحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنِي اتِّبَاعَهُ
“Ya Allah, tunjukkan kepadaku
kebenaran itu sebagai kebenaran dan karuniakan kepadaku untuk mengikutinya.”
- Agar kamu
merasa bangga dengan kebenaran dan membelanya.
“Sebab itu bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya kamu
berada di atas kebenaran yang nyata.” (An-Naml: 79)
- Agar kamu
mendakwahkannya, bekerja memperbanyak penolongnya, dan meneguhkan mereka.
Oleh karena itu Allah menceritakan orang-orang beriman yang selamat dari
kerugian dengan firman-Nya,
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam
kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan
nasehat menasehati dalam kebenaran dan nasehat menasehati dalam kesabaran.”
(Al-‘Ashar: 1-3).
- Agar teguh
dalam kebenaran, tabah menghadapi risikonya, sabar dalam menhadapi
kesulitan dan dan kesusahan karenanya. Sebab di jalan kebenaran terbentang
onak dan duri. Diliputi oleh berbagai kesulitan. Penuh dengan rintangan
dan tukang begal. Inilah sunnah Allah yang berlaku bagi makhluk-Nya. Dan
anda tidak pernah menemukan sunnah Allah itu berubah. Oleh sebab itu Allah
menasihati Rasul-Nya agar berpegang teguh dalam kesabaran melalui banyak
ayat.
“Dan bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah
benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran
ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.” (Ar-Rum: 60)
“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang
mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu
meminta disegerakan (azab) bagi mereka. pada hari mereka melihat azab yang
diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia)
melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka
tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.” (Al-Ahqaf: 35)
“Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah
hingga Allah memberi keputusan dan dia adalah hakim yang sebaik-baiknya.” (Yunus: 109)
“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan
dirimu. dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang
diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah,
gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. jika kamu bersabar dan bertakwa,
maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” (Ali Imram: 186)
Pelajar itu berkata, “Demi Allah,
ini adalah beban yang berat.”
Sang Guru berkata, “Akan tetapi
ganjaran di sisi Allah sangat agung, di dunia dan akhirat.”
Pelajar bertanya, “Balasan apakah
yang akan didapatkan di dunia selama pertempuran melawan kebatilan masih
berlangsung. Selama kebatilan masing menghunus pedang, dengan jumlah pasukan
dan bekal yang banyak, harta dan SDM?”
Guru menjawab, “Allah mempergilirkan
hari-hari (kekalahan dan kemenangan) di antara manusia seagai pembelajaran bagi
pendukung kebenaran dan untuk memisahkan mereka dari yang lain. Allah ingin
menguji apa yang ada di dalam mereka dan ingin memeriksa apa yang ada di hati
mereka. Sebagaimana Allah berfirman kepada kaum Muslimin pasca perang Uhud, di
mana tujuh puluh dari mereka telah mati syahid.
“Zakariya berkata: "Ya Tuhanku, bagaimana Aku
bisa mendapat anak sedang Aku telah sangat tua dan isteriku pun seorang yang
mandul?" Berfirman Allah: "Demikianlah, Allah berbuat apa yang
dikehendaki-Nya.” Berkata Zakariya: "Berilah Aku suatu tanda (bahwa
isteriku telah mengandung)." Allah berfirman: "Tandanya bagimu, kamu
tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan
isyarat. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di
waktu petang dan pagi hari.” (Ali Imran:
40-41).
Allah berfirman,
“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang
yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga dia menyisihkan yang
buruk (munafik) dari yang baik (mukmin). Dan Allah sekali-kali tidak akan
memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa
yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada
Allah dan rasul-rasul-Nya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu
pahala yang besar.” (Ali Imran: 179)
Namun akhir yang baik selalu menjadi
milik para pendukung kebenaran. Selama mereka mengikuti sunnah Allah dalam
sebab dan akibat. Allah menegakkan dua kehidupan; pertama dan kedua dalam
kebenaran.
Di dalam kehidupan sekarang ini
Allah mewajibkan diri-Nya untuk memenangkan kebenaran dan menumbangkan
kebatilan.
Siapa yang merenungakan sejarah akan
menemukan kisah pertempuran, yang akhirnya dimenangkan kebenaran, walaupun
memakan waktu yang sangat panjang.
Pada kisah Musa as. dan Fir’aun
terdapat bukti yang sangat jelas.
“Kemudian sesudah rasul-rasul itu, kami utus Musa dan
Harun kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya, dengan (membawa) tanda-tanda
(mukjizat-mukjizat) kami, maka mereka menyombongkan diri dan mereka adalah
orang-orang yang berdosa. Dan tatkala telah datang kepada mereka kebenaran dari
sisi kami, mereka berkata: "Sesungguhnya Ini adalah sihir yang nyata.”
Musa berkata: "Apakah kamu mengatakan terhadap kebenaran waktu ia datang
kepadamu, sihirkah ini?" padahal ahli-ahli sihir itu tidaklah mendapat
kemenangan.” Mereka berkata: "Apakah kamu datang kepada kami untuk
memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya,
dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi? kami tidak akan
mempercayai kamu berdua." Fir'aun berkata (kepada pemuka kaumnya):
"Datangkanlah kepadaku semua ahli-ahli sihir yang pandai!" Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang, Musa
berkata kepada mereka: "Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan."
Maka setelah mereka lemparkan, Musa berkata: "Apa yang kamu lakukan itu, itulah
yang sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan ketidak benarannya"
Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan
orang-yang membuat kerusakan. Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan
ketetapan-Nya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai(nya).” (Yunus: 75-82).
Para tukang sihir itu telah
melemparkan tali-tali dan tongkat mereka serta menyatukan makar mereka.
Menghiasi kebatilan mereka dengan cara menipu mata orang-orang dan membuat
mereka ketakutan. Mereka benar-benar datang membawa sihi yang besar. Namun apa hasilnya?
Hasilnya adalah apa yang dikisahkan Al-Qur’an kepada kita,
Dan kami wahyukan kepada Musa:
"Lemparkanlah tongkatmu!" Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan
apa yang mereka sulapkan.” Karena itu nyatalah yang benar dan batallah yang
selalu mereka kerjakan. Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka
orang-orang yang hina. Dan ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri
dengan bersujud. Mereka berkata: "Kami beriman kepada Tuhan semesta Alam,
"(yaitu) Tuhan Musa dan Harun.” (Al-A’raf: 117-122)
Bukankah Allah menurunkan para
malaikat pada perang Badar untuk memenangkan kebenaran dan mengalahkan
kebatilan. Dengarkan ayat-ayat berikut ini,
“Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu
pergi dan rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari
orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya. Mereka membantahmu tentang
kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang), seolah-olah mereka dihalau
kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu). Dan
(ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua
golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang
tidak mempunyai kekekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk
membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir.
Agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik)
walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya.” (Al-Anfal:
5-8).
Hanya saja para pendukung kebenaran
merasa cukup memiliki izzah di dunia dan ketentraman dengan mengikuti kebenaran
itu. Abdullah bin Zubair berkata, “Demi Allah, tidaklah mulai pendukung
kebatilan itu, kendatipun dari keningnya muncul rembulan. Dan tidaklah hina
pendukung kebenaran kendatipun seluruh penduduk bumi memusihinya.”
Inilah kondisi mereka di dunia.
Sedangkan di akhirat, Allah akan
menuntaskan perkara antar sesama hamba-Nya dengan kebenaran. Dia balas setiap
jiwa sesuai dengan apa yang dikerajakan.
“Dan terang benderanglah bumi (padang Mahsyar) dengan
cahaya (keadilan) Tuhannya; dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan
masing-masing) dan didatangkanlah para nabi dan saksi-saksi dan diberi keputusan
di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dirugikan. Dan disempurnakan
bagi tiap-tiap jiwa (balasan) apa yang telah dikerjakannya dan dia lebih
mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (Az-Zumar:
69-70)
Di sana, orang-orang beriman dan
pendukung kebatilan menyadari, bahwa mereka dibalas dengan dasar kebenaran.
Orang-orang beriman, pendukung kebenaran saat masuk surga dan menempati
tempat-tempat di surga mereka berkata,
“Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami
kepada (surga) ini. dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau
Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan
kami, membawa kebenaran." dan diserukan kepada mereka: "ltulah surga
yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan." (Al-A’raf: 43).
Sedangkan orang-orang musyrik yang
mempunyai banyak tuhan itu mengira bahwa tuhan-tuhan tersebut akan menolong
mereka di hari Kiamat. Di sini kesesatan mereka nampak jelas. Tiada lagi teman
setia bagi mereka dan tidak ada lagi yang dapat menolong yang bisa mereka
taati. Di sinilah Allah memutuskan perkara dengan kebenaran. Al-Qur’an berkata dalam hal ini,
74. Dan (Ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru
mereka, seraya berkata: "Di manakah sekutu-sekutu-Ku yang dahulu kamu
katakan?"
“Dan kami datangkan dari tiap-tiap umat seorang saksi,
lalu kami berkata "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu", maka tahulah mereka
bahwasanya yang hak itu kepunyaan Allah dan lenyaplah dari mereka apa yang
dahulunya mereka ada-adakan.” (Al-Qashash:
74-75)
Di sana, semua orang akan memetik
buah atas apa yang mereka kerjakan. Buah manis bagi pendukung kebenaran dan
buah pahit bagi pendukung kebatilan.
Di sana pula semuanya menyadari
bahwa kebenaran itu berguna bagi pengikutnya, di dunia dan akhirat. Baik bagi
pribadi maupun kelompok. Sedangkan kebatilan itu berbahaya bagi pengikutnya, di
dunia maupun akhirat.
“Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari
jalan Allah, Allah menyesatkan perbuatan-perbuatan mereka. Dan orang-orang
mukmin dan beramal soleh serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada
Muhammad dan itulah yang haq dari Tuhan mereka, Allah menghapuskan
kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka. Yang demikian adalah
karena sesungguhnya orang-orang kafir mengikuti yang bathil dan sesungguhnya
orang-orang mukmin mengikuti yang haq dari Tuhan mereka. Demikianlah Allah
membuat untuk manusia perbandingan-perbandingan bagi mereka.” (Muhammad: 1-3)
Pelajar itu bertanya lagi kepada
gurunya,
“Engkau telah sebutka untukku bahwa
di antara pilar kebenaran adalah keteguhan dan kekekalan, sedangkan kebatilan
akan sirna dan fana. Akan tetapi bukankan dalam realita hidup ini kita melihat
kebatilan ada bahkan mendominasi suatu masa. Sementara kita melihat kebenaran
melemah, dikalahkan, mengecil, dan sembunyi?”
Sang Guru berkata, “Kadang-kadang
kebatilan mendominasi ketika kebenaran dilalaikan. Akan tetapi ia tida kekal
dan tida lama. Kemunculannya tidak terus menerus. Kepalsuan yang ada padanya
suatu saat harus terungkap. Islam harus menyerangnya, lalu mengalahkan dan
menghapusnya sebagaimana subuh menghapus kegelapan malam. Dalam hal ini
Al-Qur’an berkata,
“Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku mewahyukan
kebenaran. dia Maha mengetahui segala yang ghaib.” (Saba’: 48)
Kebatilan bagaikan busa yang
menggelembung dan buah yang mengapung di permukaan air, terapung sebentar lalu
sirna. Lalu tidak ada yang tersisa darinya selain air murni dan sumber yang
bening. Inilah perumpamaan yang ada di dalam Al-Qur’an.
“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka
mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih
yang mengambang. dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat
perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah
Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu,
akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat
kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat
perumpamaan-perumpamaan.” (Ar-Ra’du: 17)
Sunnah Allah ini berada dalam
ketinggian mengalahkan kebatilan. Al-Qur’an menegaskan hal ini pada banyak
ayat. Renungkan ayat-ayat ini,
“Bahkan mereka mengatakan: "Dia (Muhammad) telah
mengada-adakan dusta terhadap Allah." Maka jika Allah menghendaki niscaya
dia mengunci mati hatimu; dan Allah menghapuskan yang batil dan membenarkan
yang hak dengan kalimat-kalimat-Nya (Al-Qur’an). Sesungguhnya dia Maha
mengetahui segala isi hati.” (As-Syura: 24)
Bayangkan perang antara kebenaran
dan kebatilan, rasakan bahwa kebenaran karunia Allah yang akan menghabisi dan
meluluh-lantakkan kebatilan.
“Sebenarya kami melontarkan yang hak kepada yang batil
lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu
lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu mensifati (Allah dengan
sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya).” (Al-Anbiya’:
18)
Pada Fathu Makkah, Rasulullah saw. memegang
tombaknya lalu memukul patung-patung yang sekian lama menjadi sesembahan selain
Allah. Beliau membaca firman Allah,
“Dan katakanlah: "Yang benar telah datang dan
yang batil telah lenyap". Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang
pasti lenyap.” (Al-Isra’: 81)
Pelajar itu bertanya, “Lalu apa
pendapatmu tentang kebudayaan Barat yang memimpin dunia dewasa ini: Kebenaran
atau kebatilan?”
Sang Guru menjawab,
“Kebatilan yang ada padanya jauh
lebih banyak ketimbang kebenarannya. Dan kebatilannya adalah berlebih-lebihan
hingga melewati batas moderat dalam segala hal:
Berlebih-lebihan dalam memberi
kenikmatan kepada jasad dengan mengorbankan ruh. Mengkultuskan akal ketimbang
wahyu. Berambisi terhadap kesenangan dunia dengan mengorbankan akhirat.
Memanjakan wanita dengan mengenyampingkan laki-laki. Memberikan kebebasan
pribadi dengan merongrong kebebasan kelompok. Mengutamakan kepentingan daripada
akhlak. Dan lebih merespon fanatisme kebangsaan daripada nilai-nilai
kemanusiaan.
Sebelum itu semua, mereka
berlebih-lebihan dalam melupakan Allah yang membuat mereka lupa terhadap diri
sendiri. Mahabenar Allah yang berfirman,
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa
kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka
Itulah orang-orang yang fasik.” (Al-Hasyr:19)
Pelajar berkata,
“Akan tetapi manusia di Barat dapat
memecahkan atom dan menakhlukkan angkasa, menundukkan alam, dan membongkar
berbagai misteri. Tidakkah kedekatan dengan kebenaran ini sebagai dekat kepada
kebenaran?”
Sang Guru menjawab,
“Orang
Barat, ananda, memang telah menyingkap banyak hal. Akan tetapi ia tidak mampu
menyingkap rahasia kehidupannya. Ia menundukkan alam namun tidak mampu
menundukkan hawa nafsunya. Ia memecahkan atom namun tidak memecahkan
berhala-berhala pemikiran dan spiritualnya. Alangkah hebatnya perkataan seorang
filosof
“Bagus
sekali kalian bisa terbang di udara bagai burung. Kalian menyelam di lautan
bagai ikan. Akan tetapi kalian tidak bisa berjalan di atas bumi layaknya manusia.”
Dengan nada heran pemuda itu
bertanya, “Jika sedemikian tenggelamnya orang Barat dalam kebatilan. Bagaimana
mungkin ia bisa memegang kendali kepemimpinan dan memimpin manusia. Mengarahkan
arah kebudayaan kemana ia mau. Mengobarkan peperangan dan memadamkannya. Dunia
ini berada dalam isyaratnya dan hawa nafsunya. Bukankah kebatilan seharusnya
sirna dan mundur? Bukankah ia dinamakan batil karena ketiadaan dan terhapusnya?
Kenapa pada abad-abad ini Barat tetap mengendalikan dan memimpin?”
Sang Guru menjawab, “Aku telah
katakan kepadamu, ananda. Kebatilan itu bisa tegak ketika kebenaran terlupakan.
Ketika kebatilan nampak sesaat, hal itu karena kebenaran tersembunyi di
sela-selanya.
Bukankah kamu melihat maling yang
masih bersatu selama pada mereka ada secercah kebenaran di mana mereka
berinteraksi dengannya di antara mereka. Misalnya menghormati sumpah di antara
mereka, merahasiakan apa yang mereka sepakat untuk dirahasiakan, dan membagi
hasil curian mereka secara adil serta membantu mereka yang jatuh.
Demikianlah... hingga ketika cahaya kebenaran meresap di antara mereka, maka
pekara mereka akan terbingkar dan kesatuan mereka terurai. Tangan-tangan
keadilan akan menangkap dan menyeret mereka melalui ubun-ubun. Lalu digiring
menuju siksaan yang hina karena apa yang mereka perbuat.
Pada orang-orang Barat itu ada
sedikit kebenaran di samping kebatilan yang besar. Pada akhirnya budaya mereka
mesti dihancurkan dan kendali kepemimpinan berpindah kepada selain mereka. Ada
pepatah lama, “Negeri kebatilan hanya sesaat dan negeri kebenaran sampai hari
Kiamat.”
Pemuda itu bertanya, “Kadangkala
kita membaca perkataan para pemikir Barat di mana mereka merasa prihatin
terhadap budaya materi mereka yang melampaui batas dan kehewanan mereka yang
rusak. Mungkinkah orang-orang seperti itu nanti menjadi utusan yang membawa
hidayah bagi kaum mereka? Lalu bisakah kita membayangkan bahwa suatu ketika
orang-orang lalai itu kembali ke fitrah mereka? Jika tidak, apakah ada jalan
menyampaikan hidayah kemanusiaan kepada mereka dan menyelamatkan mereka dari
kebatilan dan kesesatan?”
Sang Guru berkata, “Memang benar,
ananda. Sebagian orang Barat memang ada yang sadar dari kealpaan mereka. Mereka
melihat bahwa budaya mereka telah menghapus fitrah manusia. Yang menghalangi
ketentraman jiwa. Dan menghancurkan ciri-ciri manusia. Di antara mereka Spiencer
dalam bukunya, Tadahwuru al-Gharb (Keruntuhan Barat), Bernadus dalam
opera-operanya, Tonibay di buku-buku sejarahnya, Brogson, Kol. Wilson di buku Suquthu
al-Hadharah (Jatuhnya Peradaban), Wilingstone dalam At-Tarbiyah li
‘Alamin Ha’ir (Pendidikan untuk dunia yang bingung), Alexis Karel di Al-Insan
Dzalika Al-Majhul (Manusia, Misteri itu). Dan pemikir lainnya. Nampaknya
mereka itu itu dapat mengendus berbagai penyakit, namun tidak mendapat petunjuk
kepada kebenaran.
Pelajar itu berkata,
“Lalu, apa obatnya dan bagaimana
mereka mendapat petunjuk?”
Sang Guru menjawab,
“Obatnya ada di kita dan tidak ada
di selain kita. Obat kita ada di peradaban kita yang rabbani, manusiawi, dan
internasional. Peradaban kebenaran, kebaikan, keseimbangan, dan keadilan. Yang
menempatkan segala seuatu pada tempatnya dan memberikan kepada masing-masing
haknya. Menara masjid membumbung sebagaimana cerobong asap juga membumbung.
Satu sisi kehidupan tidak mengalahkan sisi yang lain. Yang menyandingkan masjid
dengan pabrik. Menggabungkan antara agama dan ilmu pengetahuan. Mensingkronkan
antara akal dan hati. Mengawinkan antara rohani dan materi serta menghubungkan
antara kemarin dan hari ini. Mengaitkan antara idealita dan realita.
Menyeimbangkan antara hak dan kwajiban. Berlaku adail antara laki-laki dan
perempuan. Seimbang antara peribadi dan masyarakat. Memperbaiki hubungan antara
si kaya dan si miskin. Menjembatani antara rakyat dan pemimpin. Serta
mempersaudarakan antara manusia dengan sesamanya.
Jika manusia mendapat petunjuk
kepada peradaban ini, ia telah mendapat petunjuk kepada rahasia dan inti
kebahagiaan. Jika tidak, sia-sialah jerih payahnya. Upayanya bagai fatamorgana
di sahara, orang dahaga mengiranya air hingga ketika datang kepadanya tidak
mendapatkan apa-apa.
Manusia tidak akan menemukan jalan
kebenaran jika dia mencarinya dari filsafat ciptaan yang kontradiktif, aliran-aliran
bumi yang memberi memberi solusi bagi problematika dengan dengan problematika
yang lain, dan mengobati penyakit dengan penyakit baru.
Manusia tidak akan menemukan jalan
kebenaran selama ia menyerahkan konflik pemikiran dan spiritual kepada menusia
yang tidak mengharapkan Allah dan hari Akhir. Puncak ambisi mereka adalah
memenuhi naluri dan membangkitkan syahwat.
Manusia tidak menemukan jalan
kebenaran kecuali jika mencarinya dari satu-satu sumbernya. Yakni kitab Allah
yang kekal, Al-Qur’an. Juga selain menyerahkan kepemimpinannya kepada
orang-orang yang menghormati kebenaran, tidak menghendaki ketinggian dan
kerusakan di muka bumi.
Siapakah mereka itu selain orang-orang
Islam. Di hari di mana mereka kembali kepada kebenaran.
Muslim-lah yang menghormati kebenaran,
hidup untuk kebenaran, dan mati untuk kebenaran.
Al-Haq (kebenaran) adalah salah satu
nama Allah, salah atu sifat kitab-Nya, salah satu ciri rasul-Nya, nilai
tertinggi di antara nilai agamanya.
Secara pribadi, muslim dituntut untuk
mengenal kebenaran, beriman kepadanya, mendakwahkannya, dan bersabar menghadapi
masalah karenanya.
Dan sebagai ummat, kaum Muslimin juga
dituntut untuk menegakkan kebenaran di muka bumi, saling menasihati dengannya,
dan menunjukkan orang kepadanya.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu
benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan
amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat
menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Al-‘Ashr: 1-3).
Hanya saja orang-orang non muslim, sangat disayangkan,
mereka lalai terhadap kebenaran yang dengan itu Allah memuliakan mereka dan
mengembankan amanah untuk menyampaikan dan menolongnya. Menyebarkan cahayanya
ke segenap alam semesta. Bagaimana mungkin orang yang buta terhadap kebenaran
akan menunjukkan orang lain kepada kebenaran itu. Atau orang-orang yang
membutakan dirinya. Atau orang yang melupakannya atau pura-pura merlupakannya.
Karena yang tidak punya sesuatu tidak akan dapat memberikan sesuatu itu.
Pelajar itu berkata, “Bisakah saya memehami ucapanmu,
bahwa engkau berputus asa akan terwujudnya kebenaran yang mengalahkan
kebatilan.”
Sang Guru menjawab, “Tudak, tidak seyogyanya seorang
mukmin dijangkiti rasa putus asa dalam dirinya
“Sesungguhnya tiada berputus asa
dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (Yusuf: 87)
Menurut keyakinanku kebenaran itu
harus mempunyai kekuasaan, panjinya harus berkibar di muka bumi, dan kebatilan
harus kalah dan lari terbirit-birit.
Tanda-tanda kekalahan kebatilan itu
telah nampak di Barat. Tanda-tanda yang sangat banyak yang menimbulkan
optimisme dan menghasung kegelapan pesimisme.
Di antara yang menerbitkan harapan
adalah penjajahan yang selama ini menutup pintu-pintu kebebasan berpikir bagi
rakyat elah pergi membawa tongkatnya dari banyak negeri jajahannya. Hal ini
memberi kesempatan bagi pemikiran untuk merdeka dan bagi akal untuk meneliti.
Yang menambah munculnya harapan
adalah karena fenomena atheisme kian surut dan mengecil, suaranya kian samar,
dan tidak lagi mempunyai hujjah dan kekuasaan. Setiap kali ilmu pengetahuan
maju berkembang, jumlah orang-orang beriman dan makin berkurang jumlah
orang-orang yang ingkar kepada kebenaran.
Yang juga menguatkan harapan adalah
adanya sejumlah besar pemikir yang moderat itu mulai merasa mencemaskan
kejahatan materialisme dalam hidup. Mereka menjelaskan bahaya peradaban materi
terhadap kemanusiaan dan nilai-nlai luhur dalam hidup.
Harus ada suatu hari dimana
kebatilan tumbang, kekuasaannya sirna di hadapan pasukan kebenaran. Inilah yang
diindikasikan oleh realita, yang dirasakan oleh hati yang bersih, yang
diwujudkan oleh sunnatullah bagi makhluk, dan disuarakan oleh tanda-tanda kekuasaan-Nya
yang benar.
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda
(kekuasaan) kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga
jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa
Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (Fushilat: 53)
Mahasuci Allah yang Maha Agung.
Ada kenyataan yang mesti kita sebutkan di sini:
Bahwa kebenaran tidak bisa menang sendirian. Namun
sunnatullah juga punya peran untuk memenangkan kebenaran, tentu jika
orang-orang yang beriman kepadanya dan mendakwahkannya, total dalam kebeneran
dan hidup untuk kebenaran bahkan mati untuk kebenaran.
“Dan jika mereka bermaksud menipumu, maka sesungguhnya
cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya
dan dengan para mukmin.” (Al-Anfal: 62)
Kalau saya boleh menasihatimu, ananda. Jadilah seorang
tentara pembela kebenaran. Hidup dan mati demi kebenaran. Cinta dan benci
karena kebenaran. Menyambung dan memutuskan karenanya. Berdamai dan berperang
untuknya.
Pelajar itu berkata, “Apakah ada orang yang membantuku
dalam hal itu?”
Sang Guru menjawab, “Secara sunnatullah, ananda.
Orang-orang yang koemitmen dan mengajak orang kepada kebenaran pasti ada.
Kendatipun para pendukung kebatilan kian banyak. Agar mereka nanti menjadi
hujjah Allah atas makhluk-Nya. Di dalam Al-Qur’an disebutkan,
“Dan di
antara orang-orang yang kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan
hak, dan dengan yang hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan.” (Al-A’raf:
181).
Di dalam hadits disebutkan
لاَ
تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ
خَذَلَهُمْ ، حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمَ كَذَلِكَ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ
" رواه مسلم .
“Akan
ada sekelompok ummatku yang senantiasa membela kebenaran. Mereka tidak terancam
oleh orang-orang yang menghinakan mereka sapai Allah datang dengan urusannya
dan mereka berada dalam hal itu sampai hari Kimat.” (Muslim).
Ali
bin Abi Thalib ra. Berkata,
لاَ
تَخْلُوا الأَرْضُ مِنْ قَائِمٍ للهِ بِالْحُجَّةِ
“Bumi
tidaklah sepi dari orang yang menegakkan hujjah.”
Allah merahmati Syauqi yang
berkata,
إن
الذي خـلق الحــقيقة علقماً
لم
يخل من أهل الحقيقة جيلاً .
“Dzat yang menciptakan
kebenaran
Tidak membiarkan kebenaran sepi
dari generasi
Hanya saja tentara kebenaran tidak
risau jika harus berjuang di medan pertempuran seorang diri. Melawan kebatilan
dengan bekal dan kesendiriannya. Menghasung kesesatan dengan kekusaan dan
tenaganya. Jika masih hidup, ia hidup bahagia dengan kebenaran itu. Dan jika
mati, mati sebagai syahid di jalannya.
Ambillah contoh salah seorang Ulum
Azmi dan rasul pertama, Nuh as. Yang berdakwah selama 950 tahun, siang dan
malam, secara rahasia dan terang-terangan. Kedantipun buah dakwahnya itu hanyalah
mereka lari darinya.
Bapak para nabi, Ibrahim as yang
berkata kepada ayahnya,
“Dan
ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Sesungguhnya
aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah. Tetapi
(aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku; karena sesungguhnya dia akan memberi
hidayah kepadaku.” (Azh-Zhukhruf: 26-27)
Pelajar itu berkata, “Lalu apa nilai
teriakan kebenaran di sahara yang penuh dengan kebatilan. Tidakkah hal ini
seperti apa yang dikatakan orang, “Teriakan di lembah dan tiupan di abu panas.”
Sang Guru menjawab, “Teriakan
kebenaran, ananda, tidak akan hilang sia-sia. Ia menyisakan bekas di nurani
kehidupan. Walaupun anda tidak mendengar gaungnya. Tidak mengendus bekasnya
secara langsung. Jika hari ini kebenaran itu terbang bersama angin. Besuk akan
pergi dengan pasak. Jika hari ini hilang dari manusia, esok tidak akan hilang
selamanya di sisi Allah.
“Tidakkah
kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik
seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon
itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat
perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.”
Sebagai
contoh, misalnya nurani mereka mati, pendengaran dan penglihatan mereka tidak
berfungsi. Kebatilan menutupi hati mereka. Lalu mereka tidak mendengar teriakan
kebenaran dan ajakan kebaikan. Jangan sampai kamu terrpengaruh olehnya. Jangan
sampai kamu meninggalkan kewajibanmu. Kamu hanya bertugas untuk menyampaikan
sedangkan hisabnya ada di sisi Allah. Kamu hanya berdakwah dan Allah yang
memberi hidayah. Kamu hanya menebar benih dan mengharapkan buahnya dari Allah.
Cerita pendek yang dikisahkan Al-Qur’an menjadi pelajaran yang berharga, yakni
desa yang berada di tepian laut.
“Dan
(Ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: "Mengapa kamu
menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan
azab yang amat keras?"
Ini artinya, tidak ada gunanya
menasihati mereka. Sedangkan mereka telah berpaling dan melawan kebenaran. Dan
Allah akan mengazab mereka. Namun apa jawaban mereka,
“Mereka menjawab: "Agar kami
mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka
bertakwa.” (Al-A’raaf: 164)
Mereka menyabutkan alasan mengapa
menasihati orang-orang yang tidak ada kebaikannya itu:
Pertama, sebagai alasan kepada Allah
bahwa kewajiban telah ditunaikan.
Kedua, harapan kepada Allah kiranya
akan memberi hidayah kebenaran kepada mereka atau sebagian mereka.
Harapan adalah bagian dari agama
Islam. Karena ia adalah buah dari prasangka baik kepada Allah, percaya kepada
janji-Nya, dan yakin kepada apa yang ada di sisi-Nya.
Inilah kondisi para dai yang menyeru
manusia kepada kebenaran. Harapan manis selalu memenuhi mereka dan asa penuh
senyum bergemuruh dalam nurani mereka. Kegelapan putus asa tidak menemukan
jalan menuju hati mereka.
“Ibrahim berkata: "Tidak ada
orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat.”
(Al-Hijr: 56)
Ketika kebatilan menyergap di
sekitar mereka bertambahlah keyakinan mereka tentang kebutuhan manusia kepada
cahaya kebenaran. Setiap kali kerusakan meraja-lela dan menyebar, bertambah
yakin mereka terhadap kebutuhan akan perbaikan. Dan setiap kali arus kekafiran
menyerbu bertambahlah kekuatan mereka untuk bertahan.
Setiap kali ujian menerpa, mereka
yakin jalan kemudahan kian dekat.
Jika kegelapan malam telah pekat,
itu sebagai pertanda akan datangnya fajar. Jika hari-hari sulit menghadang, ia
membawa berita-berita kemenangan. Betapa banyak contoh hal itu! Betapa banyak
bukti-buktinya!
Kebenaran dimana Allah memuliakan
kita adalah kejayaan dan kemenangan kita dari awal dan akhir. Bahkan kejayaan
manusia bersama kita. Manusia ini sangat membutuhkan ummat yang menerjemahkan
kebenaran sebagai manusia yang berjalan di muka bumi, kata-kata dan syiar-syiar
yang memenuhi kitab-kitab, hingga semua mulut dan pena merasa butuh kepadanya.
Di saat di mana manusia melihat
kebenaran berada dalam diri ummat yang dikenal, dicintai, dijaganya,
menyebarkannya, mendakwahkannya, dan berkorban untuknya. Di hari itu tampuk
kepemimpinan siap diserahkan dan manusia berjalan di belakangnya dengan tunduk
dan menyerah. Di hari itu kegelapan terhasung, kebatilan tergusur, dan syetan
surut ke belakang.
“Dalam beberapa tahun lagi. bagi
Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan
bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman. Karena pertolongan
Allah. dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. dan dialah Maha Perkasa lagi
Penyayang. (Sebagai) janji yang sebenarnya dari Allah. Allah tidak akan
menyalahi janjinya, tetapi kebanyakan manusia tidak Mengetahui. Mereka hanya
mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang
(kehidupan) akhirat adalah lalai.” (Ar-Rum: 4-7)
Kegiatan Penyerta:
- Mengumpulkan
ayat dan hadits tentang dasar-dasar kebenaran.
- Menyiapkan
kajian dan pendataan yang menjelaskan kondisi manusia terhadap kebenaran
untuk mengetahui sejauh mana mereka mengenal hakikat wujud dan tujuan
mereka.
- Menyiapkan
kajian tentang faktor-faktor yang membuat orang-orang berpaling dari
kebenaran, baik secara pemahaman atau pengamalan.
- Menyiapkan
kajian tentang hal-hal penting yang membantu memisahkan antara kebenaran
dan kebatilan.
- Menyiapkan
kajian untuk menjelaskan kebatilan-kebatilan yang ada pada agama-agama
terdahulu.
- Menyiapkan
kajian yang menjelaskan hubungan antara kebenaran dan ketepatan dari sisi,
antara kebatilan dan kesalahan dari sisi lain. Apakah kebenaran itu hanya
mempunyai satu sisi. Atau mempunyai banyak sisi dalam satu perkara.
Sarana Taqwim dan Evaluasi:
- Pertanyaan
dan dialog untuk meyakinkan pemahaman peserta.
- Angket
untuk mengukur sejauh mana tujuan tercapai.
- Catatan
dan evaluasi terhadap kegiatan untuk mengukur perhatian da komitmen
peserta terhadap kebenaran.
Tujuan Ta’allum Dzati:
- Menimbang
dengan timbangan kebenaran: sekulerisme, demokrasi, kebebasan, seni, dll.
- Menyebutkan
orang-orang yang secara ikhlas mencari kebenaran kemudian mendapat
petunjuk kepadanya, semisal Salman Al-Farisi.
- Menyebutkan
orang-orang yang mencari kebenaran namun tidak berada di jalannya, lalu ia
tersesat.
- Menjelaskan
hubungan antara ‘ilmul yaqin, ‘ainul yaqin, dan haqqul
yaqin.
- Menyebutkan
contoh-contoh dari berbagai agama dan kepercayaan yang orang-orangnya
tersesat serta sebab mereka tersesat.
Maraji’ Ta’allum Dzati:
- Al-Qur’an
Al-Karim.
- Sunnah
Nabawiyah.
- Al-Milal
wa An-Nihal, Syahrastani.
([1]) Lanjutan
bait syair Labid tersbut: Dan setiap kenikmatan pasti akan hilang (" وكل نعيم
لا محالة زائل ")
[2] Ayat Ini dan
beberapa ayat berikutnya diturunkan berhubungan dengan pencurian yang dilakukan
Thu'mah dan ia menyembunyikan barang curian itu di rumah seorang Yahudi.
Thu'mah tidak mengakui perbuatannya itu malah menuduh bahwa yang mencuri barang
itu orang Yahudi. hal Ini diajukan oleh kerabat-kerabat Thu'mah kepada nabi
s.a.w. dan mereka meminta agar nabi membela Thu'mah dan menghukum orang-orang
Yahudi, kendatipun mereka tahu bahwa yang mencuri barang itu ialah Thu'mah, Nabi
sendiri hampir-hampir membenarkan tuduhan Thu'mah dan kerabatnya itu terhadap
orang Yahudi.
[3] Ayat Ini berkenaan dengan cerita orang Yahudi di Madinah pada permulaan Hijrah. Yahudi Bani Quraizhah bersekutu dengan suku Aus, dan Yahudi dari Bani Nadhir bersekutu dengan orang-orang Khazraj. antara suku Aus dan suku Khazraj sebelum Islam selalu terjadi persengketaan dan peperangan yang menyebabkan Bani Quraizhah membantu Aus dan Bani Nadhir membantu orang-orang Khazraj. Sampai antara kedua suku Yahudi itupun terjadi peperangan dan tawan menawan, karena membantu sekutunya. Tapi jika kemudian ada orang-orang Yahudi tertawan, maka kedua suku Yahudi itu bersepakat untuk menebusnya kendatipun mereka tadinya berperang-perangan.
[4] Maksudnya
kedatangan nabi Muhammad saw. yang tersebut dalam Taurat dimana diterangkan
sifat-sifatnya.
No comments:
Post a Comment