Sunday, April 12, 2026

Manusia dan Kebenaran

Muhtawa: buku Manusia dan Kebenaran, DR. Yusuf Qardhawi

Bismillahirrahmanirrahim

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Allah Yang telah menunjukkan kita kepada (kebenaran) ini dan tidaklah kitamendapatkan petunjuk kalau Allah tidak menunjukkan kita. Rasul-rasul Rabb kita telah datang membawa kebenaran. Shalawat dan salam untuk Rasul-Nya yang diutus untuk menyampaikan hidayah dan agama yang benar agar dimenangkannya mengungguli seluruh agama. Shalawat dan salam juga untuk keluarganya, sahabatnya yang mendukung kebenaran serta golongannya. Juga untuk semua yang mengikuti kebenaran dan mengajak orang kepada kebenaran hingga hari Kiamat.

Amma ba’du…

Tulisan ini bertema ‘Kebenaran’, referensi utamnya Al-Qur’an Al-Karim sedangkan metodenya adalah dialog. Adalah kajian Al-Qur’an tenang pengertian kebenaran berikut maknanya di dalam kitab suci. Bagaimana Allah mengkondisikan fitrah manusia untuk mencintai dan mencari kebenaran serta menghadap kepadanya. Menjelaskan sarana ideal untuk mengenal dan menuju kebenaran; yaitu wahyu Allah. Menjelaskan hubungan natara wahyu Allah dengan akal manusia dan apa yang dikehendaki wahyu terhadap akal manusia serta lahan amal akal yang disediakan oleh wahyu. Menjelaskan satu-satunya referensi langit yang masih tersisa bagi manusia agar mereka mengenal kebenaran dan membelanya, yakni Al-Qur’an yang Allah istemewakan dengan kejelasannya, pengaruhnya, keuniversalitasnya, kekekalannya, dan dijadikannya sebagai penjelasan bagai segala sesuatu. Juga bagaimana kaum Muslimin akan tersesat dan berpaling dari kebenaran jika lalai terhadap Al-Qur’an.

Risalah ini juga menjelaskan sikap manusia terhadap kebenaran, sebab-sebab mereka berpaling darinya, kebencian mereka terhadapnya, dan permusuhan mereka terhadap para pendukung kebenaran karena kebodohan mereka atau karena kebandelan dan hawa nafsu mereka. Mengapa sebagian orang ada yang mencari kebenaran namun tersesat.

Setelah itu apa yang menjadi beban dan kewajiban manusia terhadap kebenaran kalau sudah mengenal dan mengikutinya? Juga ganjaran dunia dan akhirat macam apa yang ditunggunya jika konflik antara kebenaran dan kebatilan terjadi?

Terakhir, nilai budaya dewasa ini. Sejauh mana kandungan kebenaran dan kebatilannya.

Ini adalah beberapa persoalan penting yang dibahas dalam risalah kecil ini dengan metode yang sangat dekat, sangat sederhana, jauh dari mengada-ada, filsafat, dan memberatkan. Yakni metode dialog antara seorang syaikh murabbi dengan dengan murid dan mutarabbinya. Sebuah metode yang digunakan ulama kita sejak dahulu sebagaimana yang dlakukan Syaikh Ibnul Qayyim rahimahullah dengan sebuah dialog antara Ahlu Sunnah dengan Qadariyah, juga antara pengikut Qadariyah dan Jabariyah.

Di zaman kita ini kita juga menyaksikan ‘Dialog antara seorang Reformis dan Tukang Taqlid’ oleh Sayyid Rasyid Ridha. Juga dialog antara Syaikh Marzuq dan Heeran bin Al-Adh’af di ‘Al-Jawab Al-Ilahi tetang Ilmu dan Filsafat’ karya Husein Al-Jisr. Sebagaimana juga yang diterapkan anaknya, Syaikh Nadeem Al-Jisr melalui kitabnya yang sangat berbobot ‘Qisshatul Iman baina Ad-Din wa Al-Ilm wa Al-Falsafah’

Bahkan Al-Qur’an sendiri menggunakan metode dialog untuk membeberkan persoalan-persoalan wujud yang sangat besar; persoalan-persoalan uluhiyyah, risalah, kebangkitan, dan balasan. Seperti yang kita saksikan secara jelas melalui paparan kisah para rasul beserta kaum mereka.

Melalui studi tentang Al-Qur’an saya juga ingin memperkanalkan kepada pemuda yang berwawasan tentang kebenaran, sebagimana kita suci mereka juga menujukkan kepada kebenaran. Saya juga tanamkan kecintaan kepada kebenaran dalam diri mereka agar mereka beriman kepadanya, membelanya, dan menjadi tentara dan golongannya. Saya memuji Allah sekiranya risalah ini diterima di hati kaum Muslimin. Hingga banyak di antara mereka yang berada di Afrika mencari risalah ini. Bahkan saudara-sadara kita di Turki menterjemahkannya ke dalam bahasa Turki.

Saya memohon kepada Allah agar menjadikan kerja ini ikhlas karena-Nya semata dan menjadikannya bermanfaat bagi penulisnya, pembacanya, dan distributornya. Ya Allah, tunjukkan kepada kami bahwa yang benar itu benar dan karuniakan kemampuan untuk mengikutinya, dan bahwa yang batil itu batil serta karuniakan kemampuan untuk menjauhinya. Amin.

Yusuf Al-Qardhawi

---oo0oo---

MANUSIA DAN KEBENARAN

Seorang pelajar yang masih sangat muda berkata kepada gurunya,

“Selama anda berbicara kepada kami tentang kebenaran dan menanamkan kepada kami kecintaan untuk hidup demi kebenaran serta memotivasi untuk mati di jalan kebenaran. Selain itu anda juga mengajarkan kepada kami tentang batasan ‘pengertian’ kata-kata berikut konsekuensinya agar hal itu mendahului setiap gerakan dan amal. Agar tujuan menjadi jelas dan tidak salah jalan. Lalu apa defnisi Al-Haq?

Dengan sangat kagum terhadap pertanyaan  muridnya, Sang Guru pun menjawab,

Bagus sekali pertanyaanmu, anakku. Kata ‘Al-Haq’ (kebenaran) terdiri hanya dengan beberapa huruf saja, namun cakupan maknanya sangat luas. Para pakar spesialis dalam berbagai disiplin ilmu menggunakannya dalam berbagai pengertian:

Para ahli filsafat menggolongkannya temasuk tiga nilai tertinggi: Al-Haq (kebenaran), Al-Khair (kebaikan), dan Al-Jamal (keindahan).

Para ahli perilaku (akhlak) menggunakannya untuk hal-hal yang berkaitan dengan manusia. Ia adalah kata yang berlawanan dengan kewajiban. Oleh karena itu mereka berkata, “Setiap Al-Haq berlawanan dengan kewajiban.”

Pakar hukum menggunakannya untuk pengertian lain, yang mancakup Al-Haq Al-Aini (hak zatnya) dan Al-Haq As-Syakhsi (hak personal). Sampai-sampai pendidikan kajian tentang undang-undang dengan semua cabang-cabangnya dinamakan kajian atau kuliah ‘Al-Huquq’ (hukum)

Al-Qur’an Al-Karim menggunakan kata Al-Haq sebagai lawan kata Al-Bathil dan Ad-Dhalal (kesesatan).

فَذٰلِكُمُ اللّٰهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّۚ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ اِلَّا الضَّلٰلُ ۖفَاَنّٰى تُصْرَفُوْنَ ٣٢

“Maka (Zat yang demikian) itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya; Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?” (Yunus: 32).

Si Pelajar berkata, “Dugaan saya definisi terakhir inilah yang perlu kita ketahui. Inilah yang diupayakan setiap muslim agar loyal kepadanya. Kendatipun tidak termasuk pendukungnya dan tidak terbebas dari lawannya –yakni kebatilan- padahal realitanya ia termasuk pendukung dan golongannya.”

Sang Guru menjawab, “Ini semakin manambat rumit. Sebab banyak pendukung kebatilan mengira bahwa mereka termasuk pendukung kebenaran. Sebagian mereka karena kebodohan dan kelalaian, sebagian karena penentangan dan tabiat buruk.

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِۙ قَالُوْٓا اِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُوْنَ ١١

“Dan bila dikatakan kepada mereka: "Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.” Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan." (Al-Baqarah: 11).

Namun aku ingin memberikan lampu kepadamu untuk menerangi pengertian Al-Haq.

Al-Haq, anakku, sebagaimana yang ditunjukkan oleh fitrah yang sehat, adalah hal yang tetap dan bertahan. Sedangkan kebatilan adalah sesuatu yang hilang dan berubah. Apapun yang sifatnya tetap dan abadi maka itu adalah kebenaran. Dan yang sifatnya hilang dan fana adalah kebatilan.

Jika kita lihat kenyataan, kita tidak melihat sesuatu realitas apapun yang bersifat tetap dan abadi secara berdiri sendiri selain Sang Pencipta SWT. Siapapun dan apa pun selain-Nya maka eksistensinya tidak berdiri sendiri, dan kekekalannyapun tidak berdiri sendiri. Akan tetapi dia ada karena faktor lain, ada dari ketiadaan, ada sampai batas waktu tertentu, kemudian ditutuplah lembarannya.

Maka hakekat terang yang diakui oleh fitrah dan akal sehat, disaksikan oleh setiap baris bahkan setiap huruf dari kitab wujud bahwa: Sesungguhnya Allah adalah Sang Kebenaran, dan selain-Nya adalah bathil. Dan inilah yang dideklarasikan oleh Kitab Allah pada lebih dari satu surat, Allah berfirman:

فَذٰلِكُمُ اللّٰهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّۚ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ اِلَّا الضَّلٰلُ ۖفَاَنّٰى تُصْرَفُوْنَ ٣٢

“Maka (Zat yang demikian) itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya; Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?” (Yunus:32)

ذٰلِكَ بِاَنَّ اللّٰهَ هُوَ الْحَقُّ وَاَنَّهٗ يُحْيِ الْمَوْتٰى وَاَنَّهٗ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ۙ ٦

“Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, dialah yang haq dan sesungguhnya dialah yang menghidupkan segala yang mati dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Hajj:6)

ذٰلِكَ بِاَنَّ اللّٰهَ هُوَ الْحَقُّ وَاَنَّ مَا يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهٖ هُوَ الْبَاطِلُ وَاَنَّ اللّٰهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُ ٦٢

“(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, dialah (Tuhan) yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, Itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, dialah yang Maha Tinggi lagi Maha besar.” (Al-Hajj:62)

Dari sinilah Rasulullah saw. bersabda: Perkataan yang paling benar yang diucapkan penyair adalah kata-kata Labid:

أَلاَ كُلُّ شَيْءٍ مَا خَلاَ الله بَاطِلُ

“Sesungguhnya segala sesuatu selain Allah adalah bathil. [1]

Barangsiapa yang hari ini tidak mengerti hakikat ini, esok hari akan mengerti juga. Di suatu hari dimana tabir tersingkap, dan hakikat ini terlihat secara telanjang tanpa topeng kepalsuan dan baju kebohongan.

“Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yag setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah yang benar, lagi yang menjelaskan (segala sesutatu menurut hakikat yang sebenarnya).” (An-Nur: 25)

“Dan kami datangkan dari tiap-tiap umat seorang saksi, lalu kami berkata "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu", maka tahulah mereka bahwasanya yang hak itu kepunyaan Allah dan lenyaplah dari mereka apa yang dahulunya mereka ada-adakan.” (Al-Qashash: 75).

Hakikat ini terangkum dalam satu ayat,

“Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. bagi-Nyalah segala penentuan, dan Hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (Al-Qashash: 88).

Si Pelajar berkata, “Engkau telah terangi jalanku dengan lampu ini. Suara fitrah dalam diriku memanggilku, bahwa Allah-lah yang Al-Haq yang Nyata. Namun aku ingin menanyakan satu hal…”

Sang Guru berkata, “Tanyakan apa yang ingin kamu tanyakan. Karena ilmu itu gudang, kuncinya adalah bertanya.”

Pemuda itu bertanya, “Bukankan kita biasa mengatakan bahwa perkataan, perbuatan, pemikiran, madzhab, dan lain-lain itu haq sedangkan yang lain bathil? Dari manakah datangnya kebatilan untuk yang ini dan darimana datangnya kebenaran untuk yang itu.”

Sang Guru berkata, “Anakku, sesuatu itu dikatakan seabgai kebenaran sejauh mana ia berhubungan dengan Al-Haq yang Mutlak, Allah, dan loyal kepada-Nya, dan ridha-Nya untuknya. Sedangkan hal lain juga disifati sebagai batil sejauh mana ia jauh dari Allah dan ketiadaan akan ridha-Nya.”

Yang berasal dari Allah adalah benar dan berasal dari selain Allah adalah bathil.

Jika kamu juga tahu bahwa Allah-lah yang Al-Haq, maka ketahuilah bahwa ucapan-Nya juga haq dan perbuatan-Nya haq. Allah tidak mengatakan kebatilan dan tidak melakukan kebatilan.

Maka dari itu, di antara doa yang sering dipanjatkan oleh orang-orang berilmu adalah,

“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Ali Imran: 191).

Oleh karena itu pula Al-Qur’an membantah dengan penuh heran terhadap mereka yang mengira bahwa makhluk itu tidak ada hikmah di baliknya dan kehidupan ini tidak ada tujuan di baliknya. Juga bahwa sesuatu itu sia-sia, perbuatan Allah Yang Maha Bijak jauh dari hal itu, bahwa ini batil, Allah Maha Tinggi darinya.

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami. Maka Maha Tinggi Allah, raja yang sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (yang mempunyai) 'Arsy yang mulia.” (Al-Mukminun: 115).

“Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi kebanyakan mereka tidak Mengetahui.” (Ad-Dukhan: 38-39).

“Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.” (Shad: 27).

Apa yang diberitakan Allah di kitab-kitab-Nya melalui lisan para rasul-Nya. Juga apa yang disyariatkan-Nya melalui lisan para rasul-Nya adalah haq.

“Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. tidak ada yang dapat merobah robah kalimat-kalimat-Nya dan dia lah yang Maha Mendenyar lagi Maha Mengetahui.” (Al-An’am: 115).

Semua yang diberitakan Allah tentang alam gaib, berakhirnya kehidupan, dan hakikat akhirat adalah haq yang wajib dibenarkan dan wajib diterima kebenarannya dan kepastian kejadiannya.

Dengan demikian, janji Allah adalah haq, kematian adalah haq, terjadinya kiamat adalah haq, hari kebangkitan adalah haq, hisab adalah haq, surga adalah haq, dan neraka adalah haq.

“Dzulkarnain berkata: "Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar.” (Al-Kahfi: 98).

“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syetan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.” (Luqman: 33)

19.  Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya. (Qaf: 19)

53.  Dan mereka menanyakan kepadamu: "Benarkah (azab yang dijanjikan) itu? Katakanlah: "Ya, demi Tuhanku, sesungguhnya azab itu adalah benar dan kamu sekali-kali tidak bisa luput (daripadanya)". (Yunus: 53)

“Orang-orang yang tidak beriman kepada hari kiamat meminta supaya hari itu segera didatangkan dan orang-orang yang beriman merasa takut kepadanya dan mereka yakin bahwa kiamat itu adalah benar (akan terjadi). Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang-orang yang membantah tentang terjadinya kiamat itu benar-benar dalam kesesatan yang jauh.” (Asy-Syura: 18)

“Dan (Ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan kepada neraka, (Dikatakan kepada mereka): "Bukankah (azab) Ini benar?" mereka menjawab: "Ya benar, demi Tuhan kami". Allah berfirman "Maka rasakanlah azab Ini disebabkan kamu selalu ingkar". (Al-Ahqaf: 34)

28.  Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang Telah kamu kerjakan. (Al-Jatsiyah: 28)

Semua hukum yang disyariatkan Allah bagi hamba-Nya mengatur hubungan antara mereka dengan Allah, alam semesta dan kehidupan, antara hubungan antar sesama mereka secara personal, antar keluarga, dan organisasi. Dialah yang Haq, wajib tunduk kepada hukum-Nya, patuh kepada-Nya, dan menyerah kepada keadilan-Nya. Seperti firman Allah,

“Sesungguhnya kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang Telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), Karena (membela) orang-orang yang khianat.”[2] (An-Nisa: 105)

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.” (Al-Maidah: 49).

Si Murid bertanya, “Jika memang Al-Haq itu sedemikian jelas dan sederhana sebagaimana yang engkau jelaskan, mengapa manusia mesti berbeda pendapat sedemikian hebatnya dalam menentukan jalan menuju Al-Haq? Juga untuk menetapkan neraca untuk menimbang apakah perkara-perakra itu haq atau bathil?”

Sang Guru berkata, “Anakku, Allah telah menitipkan kepada fitrah manusia kecintaan kepada Al-Haq, menghadap kepada-Nya, dan mencari-Nya. Sebagaimana menitipkan benih-benih pengetahuan kepada akal. Semua itu dikuatkan dengan kitab dan risalah samawiyah. Agar diterimanya dengan akal dan tidak tertipu maupun tersesat. Kita jauhkan bahaya dari fitrah agar ia tidak terjerumus dan menyimpang. Dengan demikian maka manusia berada di kalimat yang sama dan berada dalam sinar yang jelas.

Marilah kit baca Al-Qur’an bersama,

“Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (Al-Baqarah: 213)

Saya pikir kamu ini, anakku, sejalan denganku, bahwa siapa yang ingin mengenal pemikiran seorang penulis, dasar-dasar seorang pemikir, dan ajaran seorang reformis maka ia akan mencari karya tulisnya, buku-bukunya, dan berita tentang dirinya. Di sini kita mengatakan hal yang sama,

“Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang buruk; dan Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi; dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (An-Nahl: 60).

Dan barangsiapa ingin mengenal Al-Haq dengan benar, jauh dari campur tangan manusia, hendaknya ia mengenal-Nya melalui kitab-kitab-Nya dan rasul-Nya.

Aku tidak mengingkari peran fitrah yang lurus dan tidak pula akal manusia yang cerdas dalam mengenal Al-Haq dan mencari jalan menuju-Nya. Tidak, karena keduanya adalah nikmat yang Allah berikan kepada manusia untuk dimanfaatkan dan tidak diabaikan. Bukankah fitrah yang lurus dan akal yang cerdas merupakan parameter untuk menilai pemikiran dan spiritual sebagaimana ia menilai materi dan fisik? Mizan itu adalah apa yang diberikan Allah kepada manusia sebagaimana Dia memberikan hadiah kitab suci kepada komunitas manusia.

“Allah-lah yang menurunkan Kitab dengan (membawa) kebenaran dan (menurunkan) neraca (keadilan). Dan tahukah kamu, boleh jadi hari kiamat itu (sudah) dekat?” (Syura: 17).

“Sesungguhnya kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. dan kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Al-Hadid: 25).

Parameter ini harus berada disamping kitab suci. Karena dengan kitab itu seseorang akan mengenal sisi kebenaran kitab dan kenabian serta kejujuran rasul-Nya. Bahkan dengan parameter fitrah dan akal seseorang akan mengenal Tuhannya yang mencukupi kebutuhan makhluknya dan menunjukkannya.

Memang sseorang tidak boleh mengabaikan parameter ini, tapi ia sama sekali tidak ada nilainya jika tanpa mencari petunjuk dari kitab suci. Seseorang juga tidak perlu terhadap kita tersebut jika memang ia tidak butuh kepada Sang Pencipta. Satau hal yang tidak mungkin terjadi.”

Si pelajar berkata, “Aku percaya terhadap apa anda katakan, guru, agar hatiku bertambah tenang, aku ingin mengajukan satu pertanyaan lagi untuk lebih memperjelas. Selama kita menjadi mahluk yang berjalan di atas bumi, mengapa kita mencari kebenaran dari langit? Bukankah hal itu akan mempersulit kita sendiri? Mengapa bukan kita yang meletakkan parameter kebenaran untuk kita sendiri?

Sang Guru berkata, “Tidaklah aneh maupun asing, ananda yang cerdas, jika mengetahui kebenaran itu dari Allah. Ini sangat rasional dan wajar.

Jika yang dimaksud al-haq adalah mengenal hakikat segala sesuatu rahasia wujud, dan tujuan hidup. Logikanya kita harus mencarinya dari Pencipta segala sesuatu itu dan Pengendali alam semesta serta Pemberi kehidupan ini.

Jika yang dimaksud dengan al-haq adalah undang-undang keadilan yang diberlakukan bagi manusia serta mamberikan hak dan kewajiban secara adil; masing-masing orang mendapatkan hak dan kewajibannya, keluarga, dan masyarakat, maka tidak ada yang menjadi sumber al-haq ini selain Tuhannya manusia. Yang menciptakan manusia serta menyempurnakannya. Yang menentukan kadarnya lalu memberi petunjuk. Yang mengetahui apa yang dibutuhkan segenap hamba-Nya, apa yang berguna bagi mereka dan apa yang merusak. Di sisi-Nya mereka semua sama. Dialah Tuhan mereka dan mereka hamba-Nya. Tidak hanya Tuhan seseorang saja, keluarga, strata masyarakat tertentu, bangsa, jenis kelamin tertentu, penduduk tertentu, atau generasi pada zaman tertentu.

Jika al-haq adalah undang-undang kemuliaan yang mengatur naluri, mengarahkan perilaku, meninggikan jiwa, mendidik fitrah, meninggikan moral pribadi dan masyarakat. Maka al-haq dalam hal ini harus dicari dari Pencipta jiwa dan fitrah. Yang Maha tahu terhadap apa yang membuatnya suci maupun kotor.

“Allah Maha mengetahui siapa yang berbuat kerusakan dan siapa yang berbuat kebaikan.” (Al-Baqarah: 220)

“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan dia Maha halus lagi Maha Mengetahui? (Al-Mulk: 14).

Orang yang paling bisa memperbaiki suatu alat tentu saja adalah pembuatnya sendiri. Sedangkan Allah adalah pembuat manusia. Mengapa mencari perbaikan untuk manusia dari selain Allah, Tuhannya manusia?

“Maka segala puji bagi Allah, Tuhan langi dan bumi dan Tuhan bumi, Tuhan alam semesta.” (Al-Jatsiyah: 36).

Selain Allah mengetahui tentng apa yang diciptakan-Nya, Dia juga Penyayang terhadap mereka. Bahkan lebih sayang ketimbang mereka sendiri.

“Sesungguhnya Dialah Yang Maha baik lagi Maha penyayang.” (At-Thur: 28).

“Sesungguhnya Allah Maha Pengasih dan Penyayang terhadap hamba-Nya.” (Al-Baqarah: 143).

Pemuda itu bertanya lagi, “Namun apa yang diperbuat kita terhadap mizan? Atau dengan kata lain, apa yang ditinggalkan wahyu terhadap akal?”

Sang Guru berkata, Wahyu menyisakan banyak hal untuk akal dan di berbagai bidang:

  1. Di bidang akidah, wahyu memberi kesempatan kepada akal agar agar menuju dua hakikat paling agung di alam ini:
  1. Hakikat pertama, adanya Allah dan keesaan Allah. Wajudullah, sebagaimana bimbingan fitrah, pandangan yang benar dan akal yang bersih juga terbimbing ke arahya. Maka tidaklah mengherankan jika Al-Qu’an memaparan hujah yang ada di alam semesta dan dalam diri manusia tentang wujudullah Subhanahu wa Ta’ala,

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (Ali Imran: 190).

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).” (At-Thur: 35-36).

Setelah itu Al-Qur’an memaparkan dalil akal tentang keesaan Allah dengan firman Allah,

“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai 'Arsy daripada apa yang mereka sifatkan. Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai. Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selain-Nya? Katakanlah: "Unjukkanlah hujjahmu! (Al-Qur’an) ini adalah peringatan bagi orang-orang yang bersamaku, dan peringatan bagi orang-orang yang sebelumku." Sebenarnya kebanyakan mereka tiada mengetahui yang hak, karena itu mereka berpaling.” (Al-Anbiya’: 22-24).

Di ayat lain Allah berfirman,

“Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada Tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada Tuhan beserta-Nya, masing-masing Tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu.” (Al-Mukminun: 91).

  1. Hakikat kedua: adanya wahyu, kenabian, dan kerasulan, akal-lah yang dapat menerima kenyataan ini. Bahwa seseorang tertentu ditunjuk sebagai utusan dari Allah. Akal adalah pemberi keputusan yang pertama dan terakhir dalam masalah ini. Dan di sini tidak perlu lagi mencari dalil dari wahyu, sebab bagaimana mungkin menjadikannya sesuatu yang belum ada sebagai dalil? Oleh karena itu para ulama Islam berkata, “Akal adalah asasnya wahyu. Sebab akal, setelah ia merasa yakin terhadap wujud Allah, ia tahu akan hikmah Yang Mahabijak dan rahmat Yang Maha Penyayang yang tidak membiarkan hamba-hamba-Nya berada dalam kegamangan serta berada di pekatnya laut jahiliyah, kebutaan, dan ketergelinciran. Allah mampu memberi hidayah kepada mereka dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya dengan cara menyampaikan ilmu kepadanya.

Setelah akal mengetaui hal ini, ia tidak terima jika ada seorang yang mengaku sebagai utusan Allah, kecuali orang itu dituntut untuk membuktikan kebenaran atas pengakuannya itu. Ia tidak mewakili keinginan dirinya sendiri, tapi mewakili keinginan Allah yang mengutusnya dan yang paling mampu mendatangkan tanda-tanda kemukjizatan.

Akal dapat membedakan antara ayat-ayat mukjizat sejati yang hanya nampak dari tangan-tangan para utusan Allah dan fenomena klenik yang biasanya berada di tangan-tangan tukang sihir dan dajal.

Akal juga dapat mengenal antara kejadian luar biasa yang menunjukkan kebenaran seseorang, bahwa ia adalah bukti kebenaran dari Allah atas pengakuannya sebagai utusan-Nya. Sama dengan ungkapan, “Benarlah hamba-Ku atas apa yang disampaikan dari-Ku.” Sedangkan Allah tidak akan membenarkan tukang bohong, sebab membenarkan tukang bohong sama dengan kebohongan. Dan kebohongan itu mustahil bagi Allah. Ini semua adalah mukadimah yang jika tidak ada mukadimah pemahaman seperti ini wahyu tidaklah ada dan agama tidak tegak.

Akal melihat sejarah masing-masing orang yang mengaku sebagai utusan dan mengamati sifat-sifat dan akhlak-nya, ucapan dan perbuatannya, serta cara masuk dan cara keluarnya. Untuk mengenalnya, apakah ia termasuk orang yang dipilih Allah atau tidak. Dan kalau tidak, harus ditolak. Oleh karena itu Al-Qur’an

“Katakanlah: "Sesungguhnya Aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua- dua atau sendiri-sendiri; Kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras.” (As-Saba’: 46).

Al-Qur’an berbicara kepada Rasululah saw

“Katakanlah: "Jikalau Allah menghendaki, niscaya Aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak (pula) memberitahukannya kepadamu." Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya. Maka apakah kamu tidak memikirkannya?” (Yunus: 16).

  1. Memberikan kepada akal kesempatan dalam hal syariah, yakni agar ia begerak dan berupaya keras dalam memahami nash. Mencari cabang dari yang asas, meng-qiyaskan yang furu’, menentukan hukum dari nash (istimbathul ahkam), menilai berbagai kejadian, memperhatikan kaidah dalam rangka mencari kemaslahatan, menghilangkan yang membahayakan dan kesulitan, memilih yang mudah dan menentukan darurat sesuai dengan kadarnya, mengindahkan masalah ‘urf, serta memperhatikan kondisi waktu dan tempat.

Tidak heran sekiranya jika dengan demikian pendapat menjadi berbeda-beda, mazhab bermunculan, dan ucapan bermacam-macam. Dalam naungan wahyu, akal islami juga meninggalkan warisan fiqih yang hebat, yang mempunyai kedudukan tinggi dalam warisan fiqih global.

  1. Memberi kesempatan kepada akal di nidamh akhlak dengan menentukan hukum dan fatwanya dalam berbagai amal, yang terkadang banyak tercampur antara kebaikan dan kejahatan, yang halal dan haram. Dan dalam hal ini perannya sebagai sumber penerapan tata krama dan sebagai parameter akhlak, tentu saja di saping wahyu.

Dalam konteks ini saya tidak menemukan orang yang lebih jelas penjelasannya selain Ustadz kita, Al-Allamah DR. Muhammad Abdullah Daraz melalui bukunya yang sangat bernas, Kalimat fi Mabadi’ Ilmi Al-Akhlaq. Beliau berkata,

“Para ilmuwan cukup bangga ketika mereka menemukan sumber lain bagi penerapan tata krama, selain wahyu langit. Dia adalah cahaya akal, atau sensitifitas akhlak. Kepadanya hati semua manusia bertaut. Hendaklah mereka tahu bahwa tidak ada hal baru dan aneh dalam Islam apa yang mereka bawa itu. Ketika hukum Islam merujuk kepada akal yang sehat dan ruhani yang sehat, bukan karena keduanya hanya sebagai saksi (atas kebenaran wahyu) saja, yang menguatkan hukumnya dan yang menjelaskannya kepada manusia. Akan tetapi ia juga menirunya dalam masalah hukum. Menjaga perintah dan larangan dalam tiga hal:

    1. Sebelum adanya syariah
    2. Saat syariah turun.
    3. Setelah ia selesai masa turunnya.

Sebelum adanya syariah, Al-Qur’an menjelaskan secara gamblang bahwa jiwa manuisa dibekali fitrah untuk membedakan antara yang haq dan yang batil, keadilan dan kezaliman, ketakwaan dan kekejian.

“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (As-Syams: 7-8)

“Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri. Meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.” (Al-Qiyamah: 14-15)

Tidak cukup hanya dengan menjadikan nurani sebagai kekuatan yang membuka rahasia dan menjelaskan, bahan menjadikannya sebagai yang memerintah dan melarang, dan memfonis orang yang melanggarnya sebagai orang sesat dan melampaui batas.

“Apakah mereka diperintah oleh fikiran-fikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan Ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas?” (At-Thur: 32)

Perkara yang sangat rinci ini tidak menyisakan keraguan sedikitpun untuk menolak ketundukan kepada perintah mimpi dan akal jika di depan kita telah jelas jalan kebenaran dan kebaikan. Demikilanlah pembawa risalah yang jelas itu berkata,

إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدٍ خَيْراً جَعَلَ لَهُ وَاعِظاً مِنْ نَفْسِهِ يَأْمُرُهُ وَيَنْهَاهُ

“Jika Allah menghendai kebaikan bagi seorang hamba, dijadikannya ia sebegai pensihat bagi dirinya, yang memerintah dan melarangnya.”

Islam memberikan kekuasaan kepada akal sesuai dengan pengertian manusiawinya seperti yang tadi kita jelaskan. Yang menurut pandangan para ilmuwan Eropa, bahwa mereka-lah yang telah menemukannya pada aliran-aliran filsafat. Kekuasaan yang oleh filsafat dinamakan sebagai ‘kekuasaan rohani’ di mana Islam mengakui bahwa akal memiliki independensi dan kesempurnaan ketika syariah sudah sampai kepadanya.

Dan menurut Islam, tinggal mencari kekuasan rohani ini, ketika syariah langit sedang turun dan setelah selesai masanya. Apakah ketika syariah turun dan sampai kepada yang dituju, setelah itu perintah akal terhapus sebagaimana tayammum menjadi batal ketika menemukan air?

Tidak, cahaya tidak menghapuskan cahaya. Tapi:

Menguatkannya dan mendukungnya.

Mensuportnya dan menyehatkannya.

Menyempurnakannya dan menambahkannya

Rinciannya, akal itu ada tiga macam:

Pertama, akal punya lahan yang jelas dan hukum yang pasti. Dia adalah yang utama dan tidak ada perbedaan pandangan dalam hal ini. Sebagaimana kebaikan kejujuran dan kemanfaatannya, keburukan dusta dan bahayanya, cerdiknya berbuat baik untuk membalas kejahatan, dan jahatnya membalas kebaikan dengan keburukan. Maka syariah datang menguatkan hukum fitrah ini.

Kedua, akal mempunyai cahaya yang sangat lemah yang ditutup oleh kegelapan. Tercampur oleh dugaan dan menjadi sasaran syubuhat pemikiran seperti khamr dan riba, kejujuran itu berbahaya, dusta itu bermanfaat, melestarikan kehidupan penh siksa disertai keputus-asaan, dan berkorban demi melakukan kerwajiban disertai dengan adanya kemampuan untuk memeliharanya. Maka dengan demikian syariah datang untuk menambah cahaya akal dengan lebih membenarkan yang ada hikmah dan kedewasaannya dan meluruskan kesalahan segala praduga yang mengotori bahkan menutupi akal.

Ketiga, di mana akal  tidak boleh campur tangan sama sekali. Seperti rincian berbagai macam ibadah, tata caranya, dan ukurannya. Maka adanya wahyu menyempurnakan apa yang tidak ada diketahui oleh akal. Menghapus kegelapan yang ada padanya. Dengan demikian orang-orang yang memiliki fitrah namun mereka hanya mengikuti syariah akal mempunyai satu cahaya. Sedangkan para pengikut syariah langit memiliki dua cahaya. Sebagaimana Allah berfirman,

نُورٌ عَلَىَ نُوْرٍ

“Cahaya di atas cahaya.” (An-Nur: 35).

Jangan mengira bahwa cahaya Allah yang tidak diraih hanya dengan akal saja lalu tidak tidak butuh kepadanya. Ya, akal sangat membutuhkan bantuan dan pertolongannya karena tiga hal:

    1. Syariah, di mana kaum Mukminin diperintahkan untuk melakukannya sebagai kewajiban atas mereka, bukan semata-mata karena ia sebagai perintah dari Allah, akan tetapi ia adalah perintah akhlak setelah mereka terikat janji dengannya secara global. Sebagai konsekuensi keimanan yang menuntutnya untuk komitmen terhadap ‘mendengar’ dan ‘taat’. Tidakkah kamu tahu bahwa Allah berfirman,

“Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan: "Kami dengar dan kami taati". dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah mengetahui isi hati(mu).” (Al-Miadah: 7).

Dan firman-Nya,

“Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah padahal Rasul menyeru kamu supaya kamu beriman kepada Tuhanmu. Dan sesungguhnya dia telah mengambil perjanjianmu jika kamu adalah orang-orang yang beriman.” (Al-Hadid: 8).

    1. Kebanyakan perintah syariah bersifat umum dan global. Setiap syariah ada rincian dan detailnya dan batasannya adalah batasan ruhani dan akhlaki yang Allah titipkan kepada masing-masing jiwa dan masing-masing jamaah manusia. Sering kali Allah menyerahkan batasan hak dan kewajiban serta metodenya kepada ruhani pribadi atau jamai.

“Dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai.” (Al-Baqarah: 282).

“Kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf.” (Al-Baqarah: 233).

“Yaitu pemberian menurut yang patut.  (Al-Baqarah : 236).

    1. Sisi ketiga ini lebih umum dan lebih rinci. Bahwa Islam tidak rela dan tidak suka jika perintah-perintahnya dilaksanakan sebagaimana alat elektrik. Tunduk kepada arahan hukumnya. Akan tetapi, jauh sebelum itu perintah itu harus mengalir di dalam relung batinnya hingga merasuk ke dalam kalbu. Setelah itu mengalir merambahi seluruh tubuhnya hingga perintah-perintah itu menjadi motivasi dirinya. Sebab, langkah pertama dalam melaksanakan perintah adalah keimanan terhadap kewajibannya dan adil menyikapinya. Langkah kedua komitmen itu diharapkan masuk memenuhi segenap relung jiwanya. Menggemakan suara yang keluar dari relung kalbu itu. “Wahai jiwa, sesungguhnya Allah memerintahkanmu agar mengerjakan perintah-Nya. Sedangkan aku memerintahkanmu agar kamu taat kepada perintah-Nya. Karena perintah-Nya itu benar adanya dan adil. Dan tidak ada kebaikannya bagimu jika menolak perintah-Nya.” Jika tidak muncul dari relung kalbu yang paling dalam, maka suara langit itupun tidak bisa nyairng bergema dan amal perbuatannya jadi sia-sia di sisi Allah dan dalam pandangan hukum akhlak.

Jika begitu, hati atau nurani adalah pos perantaranya syariah, di mana tidak ada cara untuk melaksanakan syariah kecuali melalui jalur hati. Ini menunjukkan betapa tinggi kedudukan hati dalam hukum syariah.

Syariah itu sendiri, setelah menjelaskan yang halal secara gamblang dan haram secara nyata, meninggalkan sebuah ruang yang memuat berbagai sifat. Maka hukum menjadi buram dan setiap orang disarankan untuk bertanya kepada hatinya da mencari hukum yang menentramkan jiwanya. Tentunya dengan mencari hukum yang lebih benar dan lebih selamat. Inilah yang dilakukan Rasulullah saat beliau bersabda,

الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشَبَّهَاتٌ لَا يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ فَمَنْ اتَّقَى الْمُشَبَّهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ

“Yang halal itu jelas dan yang haram juga jelas, di antaranya terdapat perkara-perkara yang meragukan. Tidak banyak orang yang mengetahuinya. Barangsiapa menjaga dirinya dari hal-hal yang meragukan itu, terjagalah agama dan kehormatannya.”

Beliau juga bersabda,

اسْتَفْتِ قَلْبَكَ وَاسْتَفْتِ نَفْسَكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْكَ

“Mintalah fatwa kepada hatimu dan mintalah fatwa kepada jiwamu. Kebajikan adalah apa yang membuat jiwa menjadi tenang dan dosa adalah apa yang membekas di dalam jiwa dan terus-menerus terulang di dada, walaupun orang-orang memberi fatwa kepadamu.”

Akhirnya, peran ruhani dalam jiwa Islam tida terbatas pada sisi ini dna tida selesai dengan selesainya kehidupan. Bahkan ia memiliki peran penting pada saat hisab di negeri balasan kelak. Di mana ia akan hadir pada peristiwa pemutusan perkara. Setelah itu hukum diputuskan atas pemilik jiwa itu sebelum diputuskan oleh pengadilan tertinggi.

Baca saja firman Allah,

“Dan tiap-tiap manusia itu telah kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. dan kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah Kitab yang dijumpainya terbuka. Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu." (Al-Isra’: 13-14).

Setelah itu wahyu memberikan kesempatan kepada akal untuk berpetualang di keluasan semesta semaunya. Naik ke angkasa dan turun ke bumi. Merenungi apa yang ada di dalam jiwanya.

“Katakanlah: "Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman.” (Yunus: 101).

“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (Adz-Dzariyat: 20-21).

Wahyu memberi kesempatan kepada akal untuk menyingkap fenomena alam semampunya. Menundukkannya semampunya. Semua yang ada ditundukkan Allah untuk kepentingannya.

“Dan dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.” (Al-Jatsiyah: 13).

“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (Ibrahim: 32-34).

Memberi kesempatan kepadanya untuk berinovasi dalam sarana kehidupan dan urusan-urusan dunia semaunya selama komitmen terhadap batasan-batasan kebenaran dan keadilan.

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِشُؤُوْنِ دُنْيَاكُمْ

“Kalian lebih tahu dalam urusan dunia kalian.”

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qashash: 77).

Memberi kesempatakan kepada akal agar mengambil pelajaran dari pengalaman orang lain dan mendapatkan keuntungan dari warisan para pendahulu dan ilmu pengetahuan orang-orang setelah mereka.

“Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama. Kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari (siksa) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai wawasan.” (Al-Hasyr: 2).

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (Al-Hajj: 46).

“Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah; perlihatkan kepada-Ku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit? bawalah kepada-Ku Kitab yang sebelum (Al-Qur’an) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (Al-Ahqaf: 4).

“Dan kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (An-Nahl: 43-43).

اَلْحِكْمَةُ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ أَنَّى وَجَدَهَا فَهُوَ أَحَقُّ بِهَا

“Hikmah adalah barang orang mukmin yang hilang, di manapun ia menemukannya ia berhak terhadapnya.”

Si Pelajar berkata, “Betapa indah dan menarik apa yang anda katakan ustadz. Akan tetapi dalam diriku ada sesuatu yang masih mengganjal. Bukankah Allah memuliakan manusia dengan akalnya? Mengapa tidak memberi kesempatan untuk mencari kebenaran dan mengarahkan jiwanya kepadanya?”

Sang Guru, sepertinya sambil marah, menjawab, “Kamu mengulangi leagi pertanyaan yang terdahulu dengan redaksi lain.

Benar, bahwa Allah memuliakan menusia dengan akal dan mewajibkan kepadanya untuk melihat dan berpikir tentang dirinya, langit, bumi dan sekitarnya. Bagaimana tidak. Sedangkan kitab sucinya berkata,

وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلاَ تُبْصِرُوْنَ

“Dan terhadap diri kalian, mengapa kalian tidak melihat?”

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman sesudah Al-Qur’an itu?” (Al-A’raf: 185).

“Dan Mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. dan Sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya.” (Ar-Rum: 8).

Allah mengakhiri ayat-ayat-Nya dengan potongan-potongan ayat berikut. “Tidakkah kalian berpikir?” “Mengapa kalian tidak memikirkan?” “Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berpikir.” “Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal.” “Adalah tanda-tanda kekuasaan Allah bagi para pemilik akal.” “Adalah pelajaran bagi para pemilik pandangan (hati).” “Adalah tanda-tanda kekuasaan Allah bagi pemilik hati.”

Akan tetapi Al-Haq, Allah, dengan hikmah dan rahmat-Nya, tidak membiarkan akal sendirian untuk dengan mengenal-Nya melalui suatu pendapat yang pasti.

Kebenaran mutlak, ananda, tidak mungkin diketahui dengan akal semata tanpa hidayah dari Allah. Karena akal itu terbatas dengan batasan zamannya, lingkungannya, kecerdasannya, dan wawasannya.

Seperti halnya akal manusia yang berbeda satu sama lain karena peredaan masa dan tempat. Betapa banyak suatu masalah dianggap mulian oleh suatu bangsa namun ia sangat hina oleh bangsa lain. Juga betapa sering suatu perkara dianggap benar oleh suatu masa namun masa berikutnya menganggapnya sebagai kebatilan.

Bahkan, akal seseorang itu bisa berbeda padangan sesuatu dengan tahapan usia dan pergantian pengalamannya, juga sesuai dengan perubahan kondisi yang dialaminya.

Setelah itu semua ada hawa nafsu, kecenderungan, dorongan dalam diri manusia, keluarga, daerah, dan kebangsaan. Yang semua itu dapat mengalahkan akal manusia. Disadari atau tidak. Dan itu berpengaruh dalam memberikan keputusan tentang orang, kerja, dan nilai. Sesuai dengan keinginannnya atau tidak.

Di manakah akal manusia yang dapat mengenali kebenaran itu? Akal siapa orangnya atau kelompok apa? Di negeri mana dan di zaman apa?

“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al-Qur’an) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.” (Al-Mukminun: 71)

Kita ambil contoh saja tentang falsafah moral berikut parameter yang mereka gunakan untuk mengukur moralitas. Bagaimana mereka berselisih pendapat dan berseberangan?

Di antara mereka ada yang menjadikan kenikmatan sebagai parameter.

Di antara mereka ada yang melihat sisi manfaat.

Ada lagi yang percaya kepada kewajiban.

Ada lagi yang cenderung kepada kekuatan.

Ada pula yang berlebih-lebihan dalam memandang akal.

Ada pula yang berlebih-lebihan dalam melihat emosi.

Ada juga yang percaya kepada materi saja.

Ada juga yang tidak menerima apapun selain ruh.

Ada yang mensakralkan kebebasan individu.

Ada yang mensakralkan kepentingan sosial.

Ada yang lebih mementingkan realitas.

Ada yang cenderung kepada keteladanan.

Bisakah seseorang keluar dari gelombang falsafah yang berselisihan ini dan gonjang-ganjiang aliran yang berseberangan ini kecuali dengan keraguan dan kegoncangan seperti yang digambarkan oleh salah seorang filosof,

“Aku telah arungi semua lembaga

Dan aku bentangkan tangan kepada ajaran-ajaran itu

Tidaklah aku melihat kecuali orang yang bertopang dagu, bingung

Atau menggemerutukkan gigi, menyesal.”

Jadi, akal saja tidak dapat membimbing manusia kepada kebenaran. Harus ada penolong yang membimbing tangannya dan mengeluarkannya dari kebimbangan. Inilah tugas kenabian. Untuk alasan inilah risalah dan kitab-kitab Allah turun secara beruntun untuk memberi hidayah kepada manusia.

“Orang-orang yang kafir berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu tanda (kebesaran) dari Tuhannya?" Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan; dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.” (Ar-Ra’du: 7).

“Sesungguhnya kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.” (Fathir: 24).

Terkadang untuk mengetahui hal-hal cabang cukup hanya dengan akal, akan tetapi untuk hal-hal prinsip harus dengan melalui firman langit yang diambil dari kitab langit.

Jangan lupa bahwa akal inilah yang dapat memahami wahyu Allah dan kitab-kitab-Nya. Akal juga bisa memantau tingkat implementasinya, komitmen atau menyimpang darinya. Ini peran akal yang tidak bisa dinafikan.

Akan tetapi sumber kebenaran yang mendatangkan ketentraman dan kedamaian adalah dari langit dan dari Allah.

Si Pelajar itu bertanya, Apa yang engkau katakan tentang teori dan teologi itu bisa diterima. Namun ada perkara-perkara teknis yang terkait dengan kehidupan manusia dan hubungan antar sesama mereka. Maka ada kemungkinan mereka bisa mengenal kebenaran melalui ujicoba dan pengalaman mereka. Mengapa musti ada wahyu yang mengikat mereka dan itu datang dari atas mereka, bukan datang dari dalam diri mereka?

Sang Guru berkata, Benar, memang ada perkara-perkara teknis yang bisa jadi manusia bisa mengenal kebenaran melalui pengalaman yang telah diketahui kesalahan-kesalahannya dan dibongkar sisi-sisi kekurangannya yang dulu tida diketahui. Yang ditutupi oleh kebodohan atau hawa nafsu. Akan tetapi manusia, agar sampai kepada tingkatan seperti ini, telah mengorbankan banyak generasi yang tidak terhitung. Satu generasi pergi sebagai korban bagi generasi sesudahnya, tidak mendapatkan apa-apa. Tidakkah lebih layak hikmah dari yang Maha Mengetahui dan maha Bijaksana, rahmat yang Maha Pengasih lagi Penyayang, yang Mengetahui segala-galanya. Juga mengetahui yang baik dan yang buruk. Tidakkah Allah lebih layak untuk meringankan beban manusia dari sengsaranya pengalaman dalam urusan paling penting dalam hidup mereka? Yang mengatur pola hubungan di antara mereka? Yang menjaga agama dan dunia mereka? Yang memelihara darah, kehormatan, harta, dan akhlak mereka?  Bukankah kita melihat bahwa di antara kewajiban seorang ayah kepada anak-anaknya, setelah ia ditempa pengalaman hidup, siang dan malam, agar ia memberikan intisari pengalamannya dan buah pengalaman hidupanya itu kepada mereka. Bukankah Allah itu lebih baik kepada manusia daripada ayah mereka? Bahkan daripada diri mereka sendiri? Kenapa kita tidak terima sekiranya Allah memberi ilmu kepada mereka tentang hal-hal yang belum mereka ketahui ketimbang melalui pengalaman panjang yang mereka bayar dengan harga yang mahal dan banyak melalui sekian kurun, hanya Allah yang tahu sudah berapa generasi dan apa yang dihasilkan?

Bahwa manusia bisa saja mendapatkan petunjuk kepada suatu kebenaran, misalnya mengetahui bahaya berinteraksi dengan riba, minum khamar, bermain judi, kebebasan seks, mengharamkan hak waris bagi wanita, menjadikan anak adopsi sebagai anak (layaknya anak kandung), memuliakan kulit putih ketimbang kulit hitam atau merah (rasisme). Akan tetapi pada manusia tidak ditemukan keberanian yang cukup untuk komitmen terhadap kebenaran dalam masalah tersebut dengan menjadikannya sebagai undang-undang yang mengikat masyarakat dan tidak boleh dilanggar. Dan untuk itu banyak kendala yang menghadang. Misalnya karena kekuasaan legislatif berada di tangan kelompok tertentu yang punya kepentingan untuk melestarikan riba, khamar, atau judi. Sebab di balik itu ada keuntungan yang didapat, atau ada negosiasi dengan orang-orang yang mempunyai kepentingan terhadap hal itu, atau untuk memenuhi keinginan mayoritas masyarakat yang lalai walaupun hal itu dapat membahayakan bahkan membinasakan mereka. Dalam konteks ini, hubungan pemegang kekuasaan legislatif dengan mayarakat bagai seorang pedagang dengan mitranya. Kepentingannya hanyalah mendapatkan keuntungan tanpa melihat bahaya yang menimpa mereka. Bukan seperti dokter yang yang menasihati pasiennya untuk tidak mengkonsumsi makanan yang disukainya jika hal itu akan membahayakannya atau menghambat proses penyembuhannya. Ada dua contoh yang menguatkan apa yang kita katakan:

Pertama, pada salah satu penggalan sejarah modernnya, USA pernah meyakinkan kepada anggota konggres tentang bahaya khamar berikut bencana dan kerugian yang ditimbulkannya bagi rakyatnya, baik secara materi maupun moral. Akhirnya mereka sepakat melaranganya secara udang-undang. Dan undang-undang pun dibuat. Puluhan juta dolar dianggarkan untuk sosialisasi pelarangan tersebut. Akan tetapi keinginan orang-orang yang kecanduan terhadap khamar dan kepentingan orang-orang yang mendapatkan keuntungan dari khamar itu, baik para petaninya, pabrik, dan pedagangnya mengalahkan kebijakan para anggota yang terhormat itu dan yang mempropagandakan pelarangan khamar itu. Program itupun gagal total. Dan pelarangan khamar itu pun dibatalkan. Bukan karena merasa yakin adanya manfaat dari khamar, biang kejahatan itu, tapi karena kelemahan mereka di hadapan keinginan yang melenceng dari jalan yang lurus itu.

Kedua, terjadi di Rusia. Teori komunisme memang melarang riba dan berinteraksi dengan riba. Meski demikian Rusia yang komunis itu gagal dalam menghormati dan untuk komitmen terhadap prinsip mereka itu. Akhirnya untuk kalangan internal diperbolehkan menerapkan praktek riba dan untuk hubungan dengan dunia luar boleh meminjam secara riba.

Kelemahan manusia seringkali menjadi penghambat untuk menerapkan keyakinan yang yang dihasilkan oleh pengalamannya. Olah sebab itu dibutuhkan kekuasaan yang lebih tinggi yang mewajibkannya terhadap sesuatu yang dirinya lemah untuk mewajibkan dirinya sendiri. Kekuasaan itu tidak lain adalah kekuasaan Tuhan manusia, Raja manusia,  dan sesembahan manusia.

Oleh karena itu harus kembali kepada firman langit dan risalah langit serta tidak boleh membiarkan akal sendirian di medan tersebut.

Si Pelajar itu berkata, “Jazakallah khairan... sekarang hatiku tentram dan keimamanku kian bertambah... Namun aku dengar engkau berbicara banyak tentang kitab Allah dan risalah langit. Apakah dapat dipahami bahwa semua risalah langit itu sama? Lalu kita bisa mengambil kebenaran dari kitab Perjanjian Lama (Taurat) dan Perjanjian Baru (Injil) sebagaimana kita mengambilnya dari Al-Qur’an?

Sang Guru menjawab, “Risalah Allah itu hanya satu dasarnya. Semuanya menyeru kepada tauhid Allah, tazkiyatun-nafs, dan menegakkan keadilan. Sebagaimana firman Allah,

"Dan sungguhnya kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)." (An-Nahl : 36)

Karena itu Allah berfirman lagi,

“Dan kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada tuhan (yang hak) melainkan aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan aku.” (Al-Anbiya’: 25).

“Sesungguhnya kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. dan kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Al-Hadid: 25).

Oleh karena itu Allah berfirman,

“Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang Telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).” (As-Syura: 13).

Al-Qur’an memuji semua kitab Allah dan menjadikan keimanan kepada semua kitab itu termasuk bagian dari keimanan seorang muslim,

“Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat." (mereka berdoa): "Ampunilah kami Ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali." (Al-Baqarah: 285).

Allah berfirman tentang Taurat,

“Sesungguhnya kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (Al-Maidah: 44).

Allah juga berfirman tentang Injil

“Dan kami iringkan jejak mereka (nabi nabi Bani Israel) dengan Isa putera Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. dan kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.” (Al-Maidah: 46).

Hanya saja kitab-kitab tersebut berlaku untuk suatu masa tertentu dan sekelompok manusia tertentu serta untuk tempat tertentu di muka bumi ini. Allah tida menjamin kitab-kitab itu untuk tetap ada dan terjaga sebagaimana menjamin Al-Qur’an,

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya.” (Al-Hijr: 9)

Maka tidak heran kalau di sana banyak badai penyimpangan, kelalaian, dan dilupakan. Sampai-sampai ketika kita membaca sejarah nabi dan rasul Allah melalui kitab-kitab itu, terkesan mereka melakukan dosa, berzina, dan minum khamar. Bahkan ketika kita membaca tentang Tuhan, kita akan menemukan ia sedang bertarung melawan manusia dan dikalahkan. Tuhan yang anaknya disalib sementara Dia menyaksikan, namun tidak dapat berbuat apa-apa. Atau, sebagaimana yang dikatakan orang Barat, “Tuhan yang kalah oleh kejahatan manusia.”

Bahkan, ketika kita mencari Injil yang pernah diturunkan Allah kepada Isa, kita tidak mendapatkannya. Kita hanya mendapatkan buku catatan yang ditulis murid-murid setelahnya atau murid dari muridnya, yang memuat sebagian ucapan Isa. Ditambah lagi, ada bagian-bagian yang hilang dan tidak sampai mata rantai berkutnya setelah kitab itu ditulis. Tidak diketahui kitab asal yang berbahasa Arab seperti apa, siapa yang menerjemahkannya dan bagaimana penerjemahannya. Bahkan, empat kitab Injil yang ada sekarang ini merpakan saringan dari puluhan Injil lain yang ditolak gereja. Di mana, sebagian Injil itu masih ada berita gembira tentang kedatangan Muhammad sebagaimana yang ada di Injil Barnabas. Saya katakan, meski demikian, pada kitab Injil yang resmi itu terdapat berbagai kontradiksi dan kesimpang-siuran.

Saya tidak pungkiri bahwa pada kitab-kitab terdapat sisa-sisa kebenaran. Hanya saja semua itu dicampuri dengan kebatilan hingga menghilangkan manfaatnya dan tidak memebimbing kepada hidayah.

Dengan nada heran, pelajar itu bertanya,

“Jadi, apakah referensi yang valid untuk mengenal haq dan membimbing kearahnya?”

Sang Guru menjawab,

“Di dunia ini tidak ada referensi, ananda, selain satu-satunya referensi langit yang valid seratus persen. Ia adalah Al-Qur’an Al-Karim.

Dia adalah,

“Suatu Kitab yang ayat-ayat-Nya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha tahu.” (Hud: 1)

Dia adalah kitab yang menantang manusia untuk membuat kitab sepertinya, atau sepuluh surat saja. Mereka kalah dan menyerah. Yang menang adalah kalam Allah Ta’ala,

“Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan Dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain".

Dia adalah kitab yang selamat dari penyimpangan, penggantian, dan dilupakan. Kitab yang senantiasa terjaga di dalam dada, terbaca oleh lisan sejak pertama kali diturunkan, tertulis dai mushaf, dihapal oleh ribuan bakan jutaan kaum Muslimin, laki-laki dan perempuan, bahkan oleh anak-anak dan pemuda.

Tidak seorang pun yang dapat merubah Al-Qur’an walau hanya satu kata atau satu huruf.

“Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (Fusshilat: 42).

Kitab ini adalah referensi utama untuk mengenal kebenaran sebagaimana yang dikehendaki Allah. Wajib bagi manusia untuk mengenal dan mengikutinya.

“Dan kami turunkan (Al-Qur’an) itu dengan sebenar-benarnya dan Al-Qur’an itu telah turun dengan (membawa) kebenaran. Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.” (Al-Isra’: 105)

“Sesungguhnya kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), Karena (membela) orang-orang yang khianat.” (An-Nisa’: 105)

“Ini adalah ayat-ayat Al Kitab (Al-Qur’an). dan Kitab yang diturunkan kepadamu daripada Tuhanmu itu adalah benar: akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman (kepadanya).” (Ar-Ra’du: 1).

Kebenaran, dengan performa yang paling bagus dan pengertiannya yang dalam, nampak jelas di kitab Allah. Yang di sana Allah menyampaikan berita tentang orang-orang sebelum kita dan berita tentang orang sesudah kita, hukum di antara kita yang dirangkum dari inti hikmah dan jawami’ul kalim (kata-kata singkat penuh hikmah), ungkapan nan indah mempesona, makna yang rinci, rahasia pensyariatan, hakikat wujud, ayat-ayat penjelas, penjelas petunjuk dan pembeda (dari yang batil), yang menerangi akal, menyembuhkan hati, membersihkan jiwa dan mempebaiki hidup, yang menunjukkan pribadi dan kelompok kepada jalan yang lurus.

Kebenaran yang nyata bisa dilihat di kitab ini, ia bisa diksasikan oleh setiap orang yang fitrahnya masih bersih dari kotoran, setiap orang yang memiliki mata hati yang tidak dilanda kebutaan.

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (Al-Hajj: 46).

Kebenaran kitab ini disaksikan oleh orang-orang yang punya ilmu dan orang-orang jujur dari kalangan ahli kitab,

“Maka patutkah Aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal dialah yang telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu dengan terperinci? orang-orang yang telah kami datangkan Kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al-Qur’an itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu.” (Al-An’am: 114).

“Dan orang-orang yang diberi ilmu (ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itulah yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (Saba’: 6)

Orang-orang Nashrani juga menyaksikan kebenaran kitab ini. Allah berfirman tentang mereka,

“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami Telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Qur’an dan kenabian Muhammad saw.). Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh ?” (Al-Maidah: 83-84).

Bahkan jin yang mendengarnya pun menyaksikan kebenarannya,

“Dan (ingatlah) ketika kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: "Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)". ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: "Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan Kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.” (Al-Ahqaf: 29-30).

Bahkan orang-orang musyrik pun menyaksikan kebenarannya, kendatipun mereka membangkan dan ingkar terjadap apa yang diturunkan Allah. Mereka mengatakan,

إِنَّ لَهُ لَحَلاَوَةٌ، وَإِنَّ عَلَيْهِ لَطَلاَوَةٌ، وَإِنَّهُ لَيْسَ مِنْ كَلاَمِ الإِنْسِ وَلاَ مِنْ كَلاَمِ الْجِنِّ، وَإِنَّهُ يَعْلُوْ وَلاَ يُعْلَى عَلَيْهِ

“Ada kelezatan padanya, ada keindahan, ia bukan ucapan manusia dan bukan ucapan jin, ia tinggi dan tidak ada yang mengunggulinya.”

Al-Qur’an adalah kebenaran. Sebab dia merupakan firman Allah. Dia adalah al-haq, karena kekal dan tetap, tidak hilang dan tergantikan.

Dia adalah al-haq, karena menunjukkan orang kepada Al-Haq yang mutlak. Yang terbebas dari keterbatasan akal manusia dan penyimpangan hawa nafsunya.

Dia menunjukkan orang kepada al-haq, karena dia menunjukkan orang kepada Allah dan kepada jalan yang lurus.

Dia menunjukkan kepada al-haq, sebab dia menunjukkan kepada hakikat yang baku yang menjawab teka-teki kehidupan, menjelaskan kepada mansia dasar dan akhir perjalanannya.

Dia menunjukkan kepada al-haq, karena ia menunjukkan orang kepada tujuan paling mula dan jalan paling lurus.

Dia menunjukkan kepada al-haq, kaena ia menunjukkan orang kepada nilai-nialai kekal dan kemuliaan yang autentik. Dengannya kehidupan menjadi stabil, hubungan menjadi teratur, dan parameter akhlak serta perilaku menjadi tegak.

Dia menunjukkan kepada al-haq, karena dia membimbing menuju keadilan di antara manusia terhadap lainnya, kewajiban dan hak antar sesama mereka. Tanpa berlebih-lebihan dan tanpa mengurangi. Jangan sampai seseorang menekan orang lain demi masyarakat da menekan masyarakat demi kepentingan seseorang. Jangan sampai nurani dizalimi karena syahwat fisik. Jangan pula menyiksa badan karena memenuhi kebutuhan ruh. Badan punya hak, otak, ruh, laki-laki, wanita, masyarakat, Allah juga punya hak. Mahabenar Allah saat berfirman,

“Sesungguhnya Al-Qur’an Ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (Al-Isra’: 9).

Kitab Al-Qur’an ini merupakan firman Allah terakhir kepada manusia, setelah itu tidak ada lagi kitab. Sebagaimana tidak ada lagi rasul setelah Rasul yang kepadanya diturunkan kitab ini. Oleh sebab itu Allah memberikan berbagai rahasia dan kelebihan yang menjaminnya untuk bisa kekal abadi.

1.     Kejelasan dan kemudahan Al-Qur’an merupakan kitab penjelas. Oleh karena itu Allah menamakannya kitab cahaya dan petunjuk. Mudah untuk diingat. Mudah bagi orang yang membacanya, memahaminya, menghapalnya, dan mendengarnya. Semuanya sesuai dengan kadar pemahaman yang dianugerahkan Allah kepada masing-masing orang.

“Dan sesungguhnya telah kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (Al-Qamar: 17).

2.     Kesan yang kuat terhadapnya karena kemukjizatan kalam ilahi. Ia mempunyai kekuasaan terhadap akal dan hati melalui hukumnya yang adil, beritanya yang benar, ajaran dan irama katanya yang sungguh luar biasa, dan ayat-ayat janji baik dan buruk serta berita gembira dan ancaman.

“Kalau sekiranya kami turunkan Al-Qur’an Ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (Al-Hasyr: 21).

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.” (Az-Zumar: 23).

3.     Allah melebihkannya dengan keuniversalannya. Di sana Allah menjelaskan kaidah-kaidah keadilan bagi pribadi, keluarga, dan masyarakat manusia. Juga tentang petunjuk dasar tentang kebahagiaan di dunia dan akhirat.

“Dan kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (An-Nahl: 89).

4.     Di atas semua itu Allah menjamin penjagaanya agar tidak hilang, disimpangkan, dan dilupakan. Allah juga siapkan sebab-sebab kekelannya. Sesuatu yang tidak terjadi pada kitab-kitab sebelumnya. Agar ia menjadi hujjah Allah atas hamba-Nya tentang apa yang ada pada siang dan malam.

“(dan ingatlah) akan hari (ketika) kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. dan kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (An-Nahl: 89).

Pelajar itu bertanya, “Akan tetapi bagaimana satu kitab menjelaskan segala hal, padahal ia hanya terdiri dari ratusan lembar saja?”

Sang Guru menjawab, “Inilah rahasia Allah, ananda. Namun demikian saya tidak mengatakan bahwa Al-Qur’an menjelaskan hal-hal furu’ dan semua rincian. Sebagian masalah itu disisakan untuk Rasulullah agar beliau menjelaskannya dengan ucapan, amalan, dan petunjuknya. Sebagian yang lain disisakan agar mara mujtahid berijtihad melalui arahan nash-nash, kaidah umum, dan kemaslahatan yang berubah-ubah sebagaimana perubahan tempat, waktu, dan keadaan.

Saya katakan bahwa Al-Qur’an memuat landasan hidayah yang menjelaskan tujuan dan menerangi jalan. Tentang hubungan manusia dengan penciptanya, dengan hidupnya, dengan orang lain. Hubungan seseorang dengan orang lain, keluarga, masyarakat, dan, pemerintah, dan hubungan antar masyarakat satu sama lain.

Cukuplah kamu membaca ayat-ayat berikut ini. Kamu akan mendapatinya sebagai lentera hidayah yang menerangi kegelapan, juga yang menjawab berbagai hambatan dalam hubungan dengan Allah.

“Katakanlah: "Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah." Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (Ali Imran: 64).

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al-Baqarah: 186).

Tentang hubungan dengan alam semesta Allah berfirman,

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman sesudah Al-Qur’an itu?” (Al-A’raf: 185).

“Katakanlah: "Berjalanlah di (muka) bumi, Maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Ankabut: 20)

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (Al-Hajj: 46)

“Dan dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.” (Al-Jatsiyah: 13)

“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (Al-Mulk: 15)

Tentang hubungan dengan hidup berikut semua kelezatannya,

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?" Katakanlah: "Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat." Demikianlah kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.” (Al-Isra: 31-32)

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (Al-Baqarah: 172)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-Maidah: 87)

hubungan antara laki-laki dan perempuan.

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.” (Al-Baqarah: 187).

“Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah. dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah: 228).

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Ar-Rum: 21)

Hubungan antara orang kaya dan orang miskin.

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.”

“Yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya. Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu.” (Al-Ma’arij: 23-24)

“Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” (At-Taubah: 11).

Hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin.

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisa’: 58-59).

Hubungan antara ummat dengan lainnya.

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya dialah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Anfal: 60-61).

Pelajar itu bertanya lagi kepada gurunya, “Betapa tepat dan indahnya ayat-ayat tadi. Betapa indahnya prinsip-prinsip keadilan dan kemuliaan. Namun aku ingin bertanya lagi, jika memang Al-Qur’an itu satu-satunya sumber kebenaran, mengapa para pemeluknya, orang-orang Islam itu, tersesat, berpecah-belah, dan menjadi ummat yang paling terbelakang baik dari sisi budaya maupun yang lain. Apakah artinya mengikuti kebenaran itu agar seseorang terbelakang lalu mereka dibalut jubah hitam untuk menutupi kelemahan dan kekumalan mereka?”

Sang Guru menjawab, “Tenang, ananda. Karena kondisi yang sekarang dialami kaum Muslimin disebabkan penyimpangan mereka dari kebenaran yang dibawa kitab ini. Indikasi penyimpangan tersebut bisa dilihat dari beberapa hal:

  1. Mereka mengambil sebagian dari kitab ini dan meninggalkan yang lain. Itulah kejahatan Bani Israel yang ditolak Al-Qur’an. Allah berfirman,

“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.”[3] (Al-Baqarah: 85)

            Oleh karena itu pesan Allah kepada Rasul-Nya adalah,

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.” (Al-Maidah: 49).

  1. Di dalam agama mereka ikuti orang-orang yang tidak ma’shum, dengan segala kesalahan mereka. Membelokkan ayat-ayat Al-Qur’an agar sesuai dengan pikiran mereka. Mereka lupa bahwa Al-Qur’an adalah asas dan semua perkara dikembalikan kepadanya. Seperti firman Allah,

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisa’: 59).

  1. Mereka mengira bahwa keberkahan kitab ini dengan cara menghiasi dinding dengan ayat-ayatnya atau dengan membacanya untuk orang-orang yang meninggal atau semacam itu. Mereka tidak tahu atau lupa bahwa keberkahan itu dengan mengikutinya dan mengamalkan ajarannya sebagaimana firman Allah,

“Dan Al-Qur’an itu adalah Kitab yang kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.” (Al-An’am: 155).

Ajaran Al-Qur’an harus diambil semuanya, baik yang berkaitan dengan pribadi, masyarakat, atau negara. Para mufassir meriwayatkan bahwasanya ada seorang Yahudi masuk Islam namun ia ingin memelihara sebagian ajaran Yahudi. Lalu turun firman Allah,

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syetan. Sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagimu.” (Al-Baqarah: 208).

Maksud masuk ke dalam Islam secara keseluruhan adalah dalam keseluruhan agama Islam. Dalam menafsirkan ayat ini Ibnu Katsir mengatakan, “Allah memerintahkan hambanya yang beriman, yang membenarkan Rasul-Nya agar mereka menerima semua ajaran dan syariah Islam, mengamalkan semua perintahnya, dan meninggalkan semua larangannya semampu mereka.

Al-Qur’an dengan keseluruhan ajarannya atau agama dengan semua syiar dan syariahnya merupakan sifat universal yang tidak boleh diambil sebagian dan diabaikan yang lain. Karena ia universal dan tidak terpisah-pisah.

Kitab Al-Qur’an memberikan aturan hidup kepada kita. Yang memiliki karakter khusus dan arahan khusus.

“Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah.” (Al-Baqarah: 138).

“Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan saleh, kelak akan kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah?” (An-Nisa’: 122).

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Maidah: 53).

Maka tidak potongan asing tida boleh masuk ke dalam alat ini, yang tidak singkron dengan susunannya dan tidak cocok dengan bagian-bagiannya. Bahayanya bisa jadi tidak nampak untuk pertama kalinya, akan tetapi cepat atau lambat, kerusakan akan menimpa perangkat tersebut.

Pelajar itu bertanya, “Setelah mendapat penjelasan sedemikian jelas dan luas, izinkan aku untuk menanyakan satu hal yang menjadi perhatianku dan perhatian banyak orang.”

Sang Guru berkata, “Tanyakan saja.”

Pelajar itu melanjutkan, “Engkau telah jelaskan bahwa Allah telah menyediakan untuk kita sarana menuju hidayah kebenaran. Namun mengapa banyak orang berpaling dari kebenaran dan tersesat jauh dari jalan yang benar. Bahkan mereka memusuhi dan memerangi pendukung kebenaran? Adakah sebab-sebab hal itu yang bisa kita ketahui?”

Guru itu berkata, “Berpaling dan mengumumkan perang terhadap kebenaran memang fakta. Bahkan fakta yang dialami banyak manusia. Ini sangat disayangkan.

Al-Qur’an sendiri pernah menyinggung fakta yang menyakitkan ini. Yang tidak ada untungnya bagi anak-anak manusia. Bahwa sebagian besar manusia membenci kebenaran. Hal ini tentu mengakibatkan murka Allah dan azab Jahannam.

Allah berfirman

“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa kekal di dalam azab neraka jahannam. Tidak diringankan azab itu dari mereka dan mereka di dalamnya berputus asa. Dan tidaklah kami menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. Mereka berseru: "Hai Malik biarlah Tuhanmu membunuh kami saja". dia menjawab: "Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini). Sesungguhnya kami benar-benar telah memhawa kebenaran kepada kamu tetapi kebanyakan di antara kamu benci pada kebenaran itu.” (Az-Zukhruf: 74-78).

Adapun mengapa manusia membenci kebenaran. Menurutku, hal itu dikarenakan oleh dua hal:

Pertama, kebodohan manusia terhadap kebenaran. Dahulu ada orang berkata, “Manusia adalah musuh kebodohannya.”

“Barangsiapa bodoh terhadap sesuatu ia memusuhinya.”

Al-Qur’an berkata,

“Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selain-Nya? Katakanlah: "Unjukkanlah hujjahmu! (Al-Qur’an) ini adalah peringatan bagi orang-orang yang bersamaku, dan peringatan bagi orang-orang yang sebelumku.” Sebenarnya kebanyakan mereka tiada mengetahui yang hak, karena itu mereka berpaling.” (Al-Anbiya’: 24)

“Bahkan yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna padahal belum datang kepada mereka penjelasannya. Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul). Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim itu.” (Yunus: 39).

Kedua, mengikuti hawa nafsu. Karena hawa nafsu juga sebagai tuhan yang disembah. Siapa menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya tidak mungki ia tunduk kepada kebenaran. Oleh karena itu Allah berfirman,

“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (Shad: 26)

“Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Qashash: 50).

Pelajar itu bertanya, “Akan tetapi tanda-tanda kebenaran itu beitu jelas dan gamblang. Lalu apa yang membuat mereka tidak tahu?”

Sang Guru menjawab, Kebodohan terhadap kebenaran itu datang melalui beberapa hal:

  1. Kelalaian yang membuat sebagaian orang hidup di dunia ini bagai mayit. Ada tapi tidak ada. Pendengaran, penglihatan, dan hati tidak berfungsi. Rangkaian perangkat yang dianugerahkan Allah kepadanya agar digunakan untuk mengenal kebenaran. Dengan penedengar seseorang dapat meriwayatkan ilmu yang didengar dari orang lain. Dengan penglihatan dapat membaca, memperhatikan, dan mencoba. Dan dengan hati ia dapat menyusun hal-hal penting, meringkas hasil (analisa), dan dengan pendengaran dan penglihatan ia dapat meluruskan berbagai kesalahan.

Allah memberi tiga komponen tersebut kepada manusia.

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (An-Nahl: 78)

Al-Qur’an mewanti-wanti agar manusia tidak mengabaikan komponen itu dan agar tidak mengikuti sesuatu yang tidak diketahuinya, melakukan taqlid dan prasangka.

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Al-Isra’: 36)

Dengan tenggelamnya mereka dalam kelalaian ini mereka merusak perangkat berfungsi sebagai kunci pengetahuan oleh orang-orang dahulu dan sekarang. Maka tidak heran kalau akhir perjalanan mereka adalah seperti yang digambarkan Allah,

“Dan sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Al-A’raf: 179)

Allah menceritakan para penghuni neraka di akhirat,

“Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala". Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Al-Mulk: 10-11)

Mereka punya pendengaran, penglihatan, dan akal, akan tetapi sikap berlebihan menyebabkan mereka terjerumus ke dalam kekafiran nan gelap. Yang menjadikan mereka seperti,

“Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.” (Al-Baqarah: 171)

“Dan sesungguhnya kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu dan kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit juapun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya.” (Al-Ahqaf: 26)

  1. Bodoh terhadap kebenaran, taqlid buta, terkadang mengikuti bapak dan nenerak moyang, terkadang pula para pimpinan dan pembesar. Kedua jenis talid ini negatif. Melalui kitab-Nya Allah sangat menolaknya dan menegur ornag yang menjadikan ayah serta nenek moyangnya sebagai alasan dalam mengikuti kebodohan.

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami." "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (Al-Baqarah: 170).

Sebenarnya ini penyakit lama. Nabiyullah Dawud as. berdebat dengan kaumnya untuk memberi pengertian kepada mereka. Namun apa yang mereka katakan,

“Mereka berkata: "Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami? maka datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar." (Al-A’raf: 70).

Ketika Ibrahim berkata kepada kaumnya,

“(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya? Mereka menjawab: "Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.” (Al-Anbiya’: 52-53).

Fir’aun dan bala tentaranya berkata kepada Musa,

“Mereka berkata: "Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya, dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi? kami tidak akan mempercayai kamu berdua.” (Yunus: 78).

“Dan demikianlah, kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka. (Rasul itu) berkata: "Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya?" mereka menjawab: "Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya." (Az-Zukhruf: 23-24)

Dalam melarang taqlid kepada para pimpinan dan mentaati pembesar, Al-Qur’an menampilkan fragmen yang sangat menyentuh hati para pembesar berikut anak buah mereka di hari Kiamat. Bagaimana masing-masing dari dua kelompok tersebut saling melepas diri dari yang lain. Pemandangan seperti seringkali diulang-ulang di surat Ali Imran.

Dan di surat Al-Baqarah,

"(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali." (Al-Baqarah : 166)

Di surat Al-A’raf,

"Allah berfirman: "Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu. setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), dia mengutuk kawannya (menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk semuanya berkatalah orang-orang yang masuk kemudian di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu: "Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka". Allah berfirman: "Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahui." (Al-A’raf : 38).

Di surat Al-Ahzab,

"Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: "Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul." Dan mereka berkata;:"Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar." (Al-Ahzab :66)

Di surat Saba’,

"Dan orang-orang kafir berkata: "Kami sekali-kali tidak akan beriman kepada Al-Qur’an ini dan tidak (pula) kepada kitab yang sebelumnya". Dan (alangkah hebatnya) kalau kamu lihat ketika orang-orang yang zalim itu dihadapkan kepada Tuhannya, sebahagian dari mereka menghadap kan perkataan kepada sebagian yang lain; orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: "Kalau tidaklah karena kamu tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman." (Saba’ : 31)

Dialog seperti ini juga disebutkan di surat As-Shaffat dan surat Shad.

Yang paling mencoreng akal sehat adalah fanatisme kaku dan gelap, yang memasung pemiliknya dalam tempurung lama seperti nenek moyang mereka. Atau apa yang dialami oleh fihak mayoritas atau para pembesar.

Fanatisme semacam ini membuat tuli dan bisu pemiliknya, serta membuat akalnya seolah-olah batu pahatan yang bisu.

Tidakkah kamu lihat ulah fanatisme orang-orang kafir Mekah yang menyampaikan pembangkangan mereka,

“Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: "Ya Allah, jika betul (Al-Qur’an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.” (Al-Anfal: 32)

Kalau saja akal itu cerdas dan jujur, tentu mereka akan berkata, “Ya Allah, kalau saja ini benar dari sisi-Mu, tunjukkan kami kepadanya dan jadikan kami sebagai tentara-tentara dan pembelanya. Akan tetapi fanatisme mereka yang batil membutakan mereka.

“Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.” (Al-Baqarah: 171)

Lihatlah bagaimana Al-Qur’an bercerita tentang mereka,

“Mereka berkata: "Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja (pula).” (Fusshilat: 5)

Pelajar itu berkata, “Sekarang menjadi jelas, mengapa manusia tidak tahu kebenaran. Sedangkan Allah telah memberikan perangkat untuk mengenalnya dan jalan untuk sampai kepadanya. Sekarang jadi ingin tahu rahasia pada penyabab lainnya. Yang membuat manusia berpaling dari kebenaran dan membensinya. Padahal mereka tahu bahwa ia adalah kebanaran. Dan padahal mengikuti kebenaran berdampak kepada kebaikan di dunia dan akhirat.

Aku harap engkau jangan menghalangiku untuk banyak bertanya, guru. Engkaulah yang menanamkan kecintaan kepada ilmu dan data. Tema ini sangat penting.”

Sang Guru berkata, “Tidak, aku sangat berlapang dada dengan segala pertanyaan yang kamu lontarkan, yang membuka cakrawala wawasan dalam tema ini dan membuatku perlu memberikan jawaban untuk berbagai syubuhat yang terkadang mengusik di dalam dada. Dahulu ada seorang ulama ditanya, “Kelezatanmu ada pada apa?” Ia menjawab, “Ada pada hujjah yang kian jelas dan syubuhat yang kian kerdil mengecil.” Adapaun misteri mengapa manusia membenci kebenaran. Menurutku, masalah ini tidaklah samar bagi orang sepertimu.

Ananda, kebenaran itu pahit rasanya, banyak bebannya, karena biasanya konsekuensinya adalah harus bersebarangan dengan hawa nafsu dan adat kebiasaan masyarakat serta tuntutan-tuntutan pribadi dan keinginan orang kebanyakan.

Oleh karena itu kita menemukan sebagian besar orang membenci kebenaran. Kendatipun sebagian besar mereka bukannya tidak mengenalnya.

Dalam hal ini, dengan nada heran, Al-Qur’an menyitir sikap orang-orang musyrik Mekah terdapat dakwah Rasulullah saw.,

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan perkataan (Kami), atau apakah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang mereka dahulu? Ataukah mereka tidak mengenal Rasul mereka, karena itu mereka memungkirinya? Atau (apakah patut) mereka berkata: "Padanya (Muhammad) ada penyakit gila." Sebenarnya dia telah membawa kebenaran kepada mereka, dan kebanyakan mereka benci kepada kebenaran itu. Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al-Qur’an) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.” (Al-Mukminun: 68-71)

Al-Qur’an menyebutkan penyebab pertama mereka berpaling dari dakwah. Yaitu kerena kebenaran yang tidak disukai oleh mayoritas mereka itu telah datang. Kebenaran yang menilai bodoh orang-orang cerdas mereka, padahal mereka adalah orang paling ‘cerdas’, serta ‘menghina’ tuhan-tuhan mereka.

Setelah itu, kebenaran tersebut mewajibkan adanya persamaan dan keadilan di antara mereka. Sementara mereka sudah terbiasa terpecah-belah dan melampaui batas. Kebenaran yang melarang melampiaskan syahwat sementara mereka tenggelam di dalamnya. Maka tidak heran jika mereka menolak kebenaran tersebut sejak pertama kali dikenalkan kepada mereka, sebelum mereka bersentuhan dengannya dan memikirkannya. Seperti halnya firman Allah,

“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat kami yang menjelaskan, berkatalah orang-orang yang mengingkari kebenaran ketika kebenaran itu datang kepada mereka: "Ini adalah sihir yang nyata.” (Al-Ahqaf: 7)

Ada pula unsur kejiwaan yang mendorong orang untuk menolak kebenaran kendatipun ia mengenalnya. Di antara mereka ada yang menolaknya karena kekerasan pribadinya dan kesombongannya jika harus tunduk kepada orang yang menurutnya lebih hina kedudukannya daripada dirinya, atau lebih sedikit harta benda dan pengikutnya. Seperti yang dilakukan orang-orang musyrik Mekah. Al-Qur’an menceritakan sikap mereka terhadap Rasulullah saw.,

“Tetapi Aku telah memberikan kenikmatan hidup kepada mereka dan bapak-bapak mereka sehingga datanglah kepada mereka kebenaran (Al-Qur’an) dan seorang Rasul yang memberi penjelasan. Dan tatkala kebenaran (Al-Qur’an) itu datang kepada mereka, mereka berkata: "Ini adalah sihir dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingkarinya. Dan mereka berkata: "Mengapa Al-Qur’an Ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Thaif) ini?" (Az-Zukhruf: 29-31)

Yang mereka maksud dengan orang besar adalah yang mempunyai banyak harta dan kedudukan seperti Al-Walid bin Al-Mughirah di Mekah dan ‘Urwah bin Mas’ud As-Tsaqafi di Thaif.

Sama seperti mereka, Fir’aun dan para pembesarnya bersikap sombong untuk beriman kepada Musa karena ia berasal dari Bani Israel yang menjadi pelayan mereka.

“Dan mereka berkata: "Apakah (patut) kita percaya kepada dua orang manusia seperti kita (juga), padahal kaum mereka (Bani Israil) adalah orang-orang yang menghambakan diri kepada kita?" (Al-Mukminun: 47)

Di antara mereka ada yang memusuhi secara karena dengki dan secara sewenang-wenang terhadap orang yang padanya ada kebenaran. Seperti sikap Yahudi terhadap kenabian Muhammad saw. Padahal mereka telah mengenalnya dan ciri-cirinya di mitab mereka seperti mereka mengenal anak-anak mereka. Akan tetapi mereka enggan untuk membenarkannya.

“Sebahagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma'afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Baqarah: 109).

Ada pula yang berpaling darinya karena sibuk dengan urusan sendiri, syahwat pribadinya, dan kemewahan hidupnya. Maka tidak ada ruang dalam dirinya untuk mengikuti kebenaran.

“Dan kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya." (Saba’: 34).

Semua yang saya jelaskan tadi, motivasi dan penghalang yang mengahalang-halangi manusia untuk mengikuti kebenaran padahal tanda-tanda dan bukti-buktinya sudah jelas, berada dalam tema ‘mengikuti hawa’, baik hawa nafsunya sendiri atau hawa nafsu orang lain. Bahkan kita bisa menggolongkan penyebab pertama ke dalam penyebab ini. Sebab tidak mengenal kebenaran biasanya ditimbulkan oleh hawa nafsu yang mangajak orang untuk bermalas-malasan dalam mencari kebenaran. Atau mengikuti hawa nafsu nenek moyang dan para pimpinan serta mengikuti apa yang dikehendaki orang kebanyakan. Tanpa ada upaya serius untuk mencari kebenaran atau tanpa menggunakan akal yang dianugerahkan Allah kepadanya. Allah berfirman,

“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (Al-Furqan: 43-44)

Karena itu Al-Qur’an mewanti-wanti kita agar tidak mengikuti hawa nafsu dan mencela orang-orang yang mengikuti hawa nafsu.

“Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu sehingga apabila mereka keluar dari sisimu orang-orang berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan (sahabat-sahabat Nabi): "Apakah yang dikatakannya tadi?" mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka. (Muhammad; 16)

“Dan kalau kami menghendaki, sesungguhnya kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (Al-A’raf: 176)

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (Al-Jatsiyah: 23).

Pelajar berkata, “Banyak hal yang aku pahami dari jawabanmu. Tadinya aku mengira bahwa petunjuk manusia menuju kebenaran adalah perkara mudah dan dekat. Namun sekarang aku baru tahu bahwa hal itu adalah perkara sulit dan tidak mudah. Penghalang menuju kebenaran ternyata banyak. Di antaranya muncul dari kebodohan. Ada yang bersumber dari hawa nafsu. Barangkali bagi para dai, yang paling mudah adalah memulai menyampaikan kebenaran kepada orang-orang yang tidak tahu, menjelaskannya dan membuat mereka cinta kepadanya.”

Sang Guru berkata, “Bagus, ananda. Namun harus kamu ketahui bahwa kebodohan itu ada dua macam:

Kelompok pertama, ia tahu dan menyadari bahwa pengetahuannya tentang kebenaran begitu lemah. Ia merasa membutuhkan bimbingan orang yang membimbingnya menuju kebenaran. Kebodohan semacam ini disebut ‘kebodohan sederhana’ (al-jahlu al-basith).

Kelompok kedua menganggap bahwa dirinya termasuk orang-orang berilmu. Di mana mereka mengenal kebenaran itu secara nyata, akan tetapi mereka tetap berpegang teguh terhadap kebatilan. Mereka menganggap bahwa hal itulah yang benar. Kebodohan semacam ini disebut ‘kebodohan bertingkat’ (al-jahlu al-murakkab). Kelompok kedua ini sangat susah untuk dikenalkan kepada kebenaran atau dijauhkan dari kebatilan. Orang Arab bijak  berkata,

اَلنَّاسُ أَرْبَعَةٌ :

رَجُلٌ يَدْرِي وَيَدْرِي أَنَّهُ يَدْرِي فَهَذَا عَالِمٌ فَاتَّبِعُوْهُ .

وَرَجُلٌ يَدْرِي وَلاَ يَدْرِي أَنَّهُ يَدْرِي فَهَذَا نَائِمٌ فَأَيْقَظُوْهُ .

وَرَجُلٌ لاَ يَدْرِي وَيَدْرِي أَنَّهُ لاَ يَدْرِي فَهَذَا مُسْتَرْشِدٌ فَارْشِدُوْهُ .

وَرَجُلٌ لاَ يَدْرِي وَلاَ يَدْرِي أَنَّهُ لاَ يَدْرِي فَهَذَا ضَالٍ فَارْفَضُوْهُ .

“Manusia itu ada empat:

Orang yang mengerti dan dia menngerti bahwa dirinya mengerti, dialah olah berilmu, ikutilah.

Orang yang mengerti namun dia tidak mengerti bahwa dirinya mengerti, dia orang tidur, bangunkan.

Orang yang tidak mengerti dan dia mengerti bahwa dirinya tidak mengerti, dia orang yang mencari bimbinngan, bimbinglah.

Dan orang yang tidak mengerti namun dia tidak mengerti bahwa dirinya tidak mengerti, dia orang sesat, tolaklah.

Yang sungguh aneh, sebagian orang-orang yang tidak mengenal kebenaran dari kelompok ini. Di mana Allah berfirman tentang mereka,

“Dan bila dikatakan kepada mereka:"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.” Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. Apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman." mereka menjawab: "Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?" Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu.” (Al-Baqarah: 11-13).

“Sebahagian diberi-Nya petunjuk dan sebahagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan syetan-syetan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk.” (Al-A’raf: 30).

“Katakanlah: "Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (Al-Kahfi: 103-104)

Ya, sayangnya, sebagian besar kelompok ini terdiri adari para pemikir, peneliti, ulama, penulis, dam pemikir.

Pelajar berkata, “Jika orang-orang semacam mereka itu jauh dari kebenaran, bagaimana dengan orang lain? Kalau begitu, apa jalan menuju kebenaran itu?

Sang Guru menjawab,

“Langkah pertama adalah agar seseorang mengenali kapasitas dirinya dan kedudukannya dalam hidup ini. Jangan biarkan dirinya menjadi mangsa kelalaian dan syahwat layaknya binatang ternak yang diburu dan dikendalikan, yang tidak tahu tujuan hidupnya dan tida mengenal jalannya.

Juga agar jangan sampai berlebih-lebihan melihat dirinya dan mengangkatnya secara tidak proporsional. Ia mengira bahwa dirinya tidak lagi membutuhkan Allah yang menciptakannya, menyempurnakannya, dan menegakkannya. Yang memberikan nikmatt kepadanya, baik lahir maupun batin. Dan menundukkan apa yang ada di langit dan di bumi, semuanya berasal dari-Nya.

Manusia harus meninggalkan kelalaian, syahwat, serta tidak tunduk kepadanya. Sebab dirinya tidaklah sama dengan binatang ternak. Manusia juga agar meninggalkan sikap sombong bangga diri karena ilmu yang dimilikinya atau pendapat yang dilontarkannya. Sebab ia tidaklah tuhan.

Hendaknya ia menyadari bahwa, apapun kedudukannya, ia adalah makhuk. Namun makhluk seperti dia adalah makhluk yang dimuliakan Allah. Diciptakan dengan tangan-Nya, ditiupkan ruh-Nya, alam ditundukkan untuknya, dan dijadikannya ia seebagai khalifah di muka bumi.

Jika seseorang mengenali jatidirinya akan terdorong untuk mencari kebenaran dan berusaha mendapatkannya. Ini langkah pertama, bahkan jalan menuju hidayah.

Pelajar berkata, “Kita sering saksikan sebagian orang mencari kebenaran dan berusaha sampai kepadanya. Namun  kenyataannya banyak juga yang tidak sampai kepadanya. Apa rahasianya?”

Sang Guru menjawab, “Rahasianya ada beberapa hal:

Pertama, bisa jadi karena mereka mengandalkan praduga pada suatu masalah yang hanya membutuhkan keyakinan yanga kuat. Seperti pada masalah akidah dan prinsip-ptinsip global. Kita tidak boleh mengandalkan praduga dalam hal ini, yang tidak ada dalil yang menguatkannya. Kondisi mereka sebagaimana yang difirmankan,

“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan. Sesuatu yang diperoleh dengan prasangkaan sama sekali tidak bisa mengantikan sesuatu yang diperoleh dengan.” (Yunus: 36).

“Dan Karena Ucapan mereka: "Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah,” padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Mereka menyebut Isa putera Maryam itu Rasul Allah ialah sebagai ejekan, karena mereka sendiri tidak mempercayai kerasulan Isa itu.” (An-Nisa’: 157).

Kedua, bisa jadi karena mereka terpengaruh oleh hawa nafsu dan emosi mereka pada masalah di mana mereka tidak boleh menentukan hukum dalam hal itu selain dengan menggunakan akal, petunjuk, dan bukti-bukti empiris. Sebagian besar pandangan para sastrawan, penulis, dan pemikir tentang hidup da kehidupan ini merupakan terjemahan dari keyakinan dan keinginan dalam diri mereka. Bahkan, bisa jadi pandangan merek itu adalah potret yang jelas atau buram dari kehidupan keluarga dan masyarakat mereka, baik dari sisi positif maupun negatif. Sejatinya mereka itu orang-orang yang terpengaruhi namun mereka mengira merekalah yang mempengaruhi. Oleh karena itu Allah berfirman,

“Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.” (Al-An;am: 119).

“Tetapi orang-orang yang zalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan; maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan Allah? dan tiadalah bagi mereka seorang penolongpun.” (Ar-Rum: 29).

“Hai Daud, sesungguhnya kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (Shad: 26).

Para pengikut prasangka merasa berada dalam posisi yakin, sedangkan para pengikut hawa nafsu merasa memilki hujjah dan penjelasan. Sedangkan banyak sekali korban manusia yang mereka sesatkan. Sementara mereka mengira bahwa mereka berada dalam petunjuk. Terutama jika praduga dan hawa nafsu bersatu.

Allah berfirman tentang para penyembah Lata, Uzza, dan Manat.

“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya. mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.” (An-Najm: 23)

Yang sangat disayangkan, banyak orang menjadi mangsa kesesatan yang nyata ini.

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (Al-An’am: 116)

Ketiga, bisa jadi mereka bersandar kepada akal manusia pada suatu masalah yang tidak bisa diselesaikan selain dengan wahyu. Seperti mengenal asal muasal alam dan mulai dan berakhirnya manusia, missi manusia dalam hidup, berakhirnya alam semesta dan rahasianya, serta rahasia keadilan dan kemuliaan. Masalah-masalah seperti ini tidak mampu ditembus akal manusia. Karena ia lebih tinggi dari daya nalar akal, lebih luas dari daya tampungnya, dan lebih jauh dari spesifikasi dan sarana yang bisa dicapai akal. Setiap berita yang dihasilkan akal mengandung unsur kebenaran dan kebohongan, adalah klaim yang bisa diterima dan ditolak, pikiran dan pendapat yang bisa salah dan benar, pendapat yang bisa berseberangan dengan pendapat lain, yang bisa jadi sama atau lebih kuat darinya. Yang jelas, semua pendapat itu tidak terjaga dari kesalahan.

Inilah kondisi mereka yang mencoba untuk menafsirkan alam semesta. Atau mencoba membuat filsafat yang universal tentang hidup dan sejarah. Atau menentukan sejarah perjalan manusia, seolah-olah manusia adalah makhluk sedang mereka itu penciptanya. Mereka lebih tahu dalam hal ini dan lebih mampu. Sungguh, jauh apa yang mereka duga itu!

Di antara mereka ada yang menafikan wujud Allah dan menobatkan diri mereka sebagai tuhan manusia yang berhak menentukan sejarah hidupa dan akhir perjalanan manusia. Secara teori mengatur mansuia semau mereka dengan interpretasi yang mereka buat. Secara teknis mengatur mereka dalam menciptakan perubahan.

Keempat, bisa jadi mereka sama sekali belum merdeka dari model penyembahan kafir dan penghambaan kepada akal pikiran orang lain. Hingga mereka senantiasa menyakralkan pendapat seorang filosof poluler, atau sastrawan hebat, dan seorang reformis vokal. Sejatinya mereka itu bersandar kepada akal mereka sendiri yang tidak ada kebenarannya. Dan hakikatnya mereka itu budak-budak yang tidak merdeka, bukannya para peneliti yang merdeka.

Di negeri kita orang-orang yang tergolong dalam kelompok ini kebanyakan berasal dari kalangan intelektual yang terkesima oleh kebesaran berhala besar ciptaan Eropa, maksud saya budaya materialistik. Mereka pun tersungkur sujud kepada patung itu dan membelanya sebagai orang-orang hina. Mereka membaca budaya dan filsafat Barat dengan nada kagum dan terkesima. Ketika pergi ke negeri Barat, mereka melihatnya bagai seorang perindu.

Mereka telah menampatkan diri mereka pada sisi tidak bisa memisahkan kebenaran dari kebatilan dan tidak bisa menengarai kebatilan yang berbalut baju kebenaran.

Sesungguhnya ulah orang-orang seperti tidak kalah jauh dibandingkan dengan ulah anak-anak sekolah. Seringkali kita menyaksikan anak-anak sekolah yang mendebat guru mereka dengan bebas dan berani. Yang menerima dan menolak apa yang datang dari guru mereka. Salahkah jika kita menggambarkan sikap mereka dengan sikap budak belian? Budak yang tidak lagi mempunyai jati diri yang berada dalam kehendak tuannya. Karena tuannya mereka mendengar, melihat, dan berpikir. Jika memang mereka bisa berpikir!

Sinar kebudayaan pemenang begitu menyilaukan pandangan mereka. Gema nama-nama mereka (Barat) terdengar nyaring oleh telinga mereka. Dan setelah itu mereka tidak memiliki sikap lain selain mengangguk-anggukkan kepala untuk mereka dan berjalan dalam rombongan mereka dengan penuh khidmat.

Banyak pemikir besar yang terjerumus dalam kekeliruan ini. Mereka yang dalam sejarah Islam dikenal sebagai para filosof. Ketika mereka menerjemahkan kehidupan para filusuf Yunani, mereka terkesima oleh karya pemikiran mereka yang luar biasa. Nama-nama filosof yang menghasilkan karya-karya itu begitu membuat mereka terkesima. Bahkan di antara mereka ada yang mengkultuskan pemikiran mereka. Pada pemikiran itu ada kebenaran yang dibalut dengan sekian banyak kebatilan. Yang membuat mereka tidak memiliki indepedensi dalam berpikir, yang bertumpu kepada hasil pikirannya sendiri, yang memilah dan memilih, menimbang dan menentukan kebenaran, mengoreksi dan menyalahkan, serta mengambil dan membuang. Namun mereka mencampur aduk permasalahan yang bersumber dari praduga dengan sesuatu yang mestinya tidak bisa selain keyakinan (wahyu). Mereka menimbang sesuatu urusan akal dengan yang bukan dari akal. Mereka mengira bahwa keyakinan yang dihasilkan oleh ilmu matematika dan biologi menjadi kepastian yang dogmatis dalam tataran ketuhanan di balik alam ini.

Hasilnya, mereka banyak mentakwilkan ayat-ayat Al-Qur’an agar sesuai dengan filsafat Aristoteles bahwa tuhan, Kausa Prima (Al-‘Illah Al-Ula), atau Penggerak Pertama (Al-Muharrik Al-Awwal) seperti yang mereka katakan. Atau agar sesuai dengan para astronom Yunani yang berpraduga bahwa petala langit itu berbentuk benda padat yang tidak bisa terbakar dan tidak bisa bersenyawa.

Andai saja para filosof itu mengerti bahwa pemikiran yang mereka kultuskan yang untuk itu mereka mentakwil Al-Qur’an, termasuk khurafat dan mitos. Bentuk bumi dan alam ini tidak seperti apa yang mereka bayangkan. Petala langit juga tidak seperti yang mereka pahami. Alam semesta ini juga tidak terdiri dari empat unsur: air, tanah, udara, dan api, seperti yang mereka duga, bahkan yang mereka yakini.

Anak-anak sekolah dasar sekarang ini mengenal alam dan kehidupan dengan pemahaman yang benar. Lebih dari apa yang dipahami Plato dan Aristoteles.

Pelajar itu berkata, “Apa yang harus dilakukan sesorang jika ingin menuju kebenaran?”

Sang Guru menjawab, “Dari kendala dan penghalang yag saya paparkan tadi nampaknya jelas. Bahwa, ia harus waspada terhadap hal-hal yang menyesatkan dan menjerumuskannya dari jalan yang lurus.

Hendaknya ia membuang jauh prasangka dan dugaan dari pikirannya. Menghalau segala godaan dan hawa nafsu dari jiwanya. Membebaskan dirinya dari fanatisme terhadap pemikiran yang kebenarannya tidak terbukti secara dogmatis. Agar memiliki sifat rendah hati serta menjauhkan dirinya dari ketertipuan dan bangga diri. Dengan demikian ia akan mengerti batasan kemampuan daya pikirnya dan apa yang tidak mampu dijangkau oleh nalarnya.

Sebelum itu semua hendaknya ia meyakinkan dirinya tentang kejujuran niatnya dan keikhlasannya dalam mencari kebenaran. Hendaknya pula ia mengalahkan hawa nafsunya dan fanatisme terhadap kaumnya serta manjauhkan diri dari pengaruh pikiran dan arahan-arahannya.

“Katakanlah: "Sesungguhnya Aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua- dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu pikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras.” (Saba’: 46).

Di antara indikasi keikhlasan dalam mencari kebenaran adalah agar tidak si pencarinya itu tidak memihak (kepada seseorang saja). Sebab orang ikhlas itu slalu menerima kebenaran dari manapun datangnya dan di tangan siapa ia nampak. Sedangkan orang yang memiliki keterikatan dan keberpihakan, ia tidak menerima kebenaran kecuali jika datang sesuai dengan seleranya. Karena hal inilah Allah mencela orang-orang Yahudi yang kafir terhadap Muhammad. Karena ia bukan dari bani Israel. Padahal dulu mereka menunggu kedatangannya dan mencari-carinya di antara kam paganis di masa jahiliyah.

Allah berfirman,

“Dan setelah datang kepada mereka Al-Qur’an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka[4], padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang Telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la'nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. Alangkah buruknya (hasil perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang Telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan. Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kepada Al-Qur’an yang diturunkan Allah," mereka berkata: "Kami Hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami". dan mereka kafir kepada Al-Qur’an yang diturunkan sesudahnya, sedang Al-Qur’an itu adalah (Kitab) yang hak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: "Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?" (Al-Baqarah: 89-91).

Di antara indikasi keikhlasan adalah seseorang akan menerima kebenaran walaupun ia tidak berpihak kepadanya. Bahkan, walaupun karena itu ia mendapatkan ujian kelaparan, rasa takut, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.

Ada orang yang mencari kebenaran, namun ketika mengetahui bahwa kebenaran itu akan mengganggu dunianya, hartanya, dan jabatannya, ia berpaling darinya. Contoh paling populer adalah kisah Heraclius, imperium Romawi. Ketika Rasulullah saw. mengutus utusan yang membawa surat untuknya agar masuk Islam maka akan selamat, maka ia mendapatkan kebaikan dan petunjuk bagi dirinya dan kaumnya. Kala itu ia mengundang Abu Sufyan dan beberapa orang kawannya dari kalangan para tokoh orang-orang musyrik Quraisy. Ia bertanya kepada mereka dengan pertanyaan yang detail tetang Muhammad, pertumbuhannya, kepribadiannya, dakwahnya, dan siapa  yang mendukung dan memusuhinya. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan itu untuk menegaskan bahwa dia adalah rasul yang ditunggu untuk menyampaikan hidayah kepada manusia. Akan tetapi ketika diprotes oleh para pemuka gereja, kecintaan kepada kekuasaan mengalahkan kecenderungannya kepada kebenaran yang sudah dikenalnya itu. Al-Qur’an berkata kepada kita tentang orang-orang bani Israel yang menolak kenabian setiap nabi selain apa yang sesuai dengan hawa nafsu mereka. Allah berfirman,

“Dan sesungguhnya kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Isa putera Maryam dan kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. apakah setiap datang kepadamu seorang Rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?” (Al-Baqarah: 87).

Allah berfirman tentang kelompok orang-orang munafik,

“Dan mereka berkata: "Kami telah beriman kepada Allah dan rasul, dan kami mentaati (keduanya)." Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya, agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang. Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada Rasul dengan patuh. Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka Itulah orang-orang yang zalim." (An-Nur: 47-50)

pelajar itu berkata kepada gurunya, “Jika kita mengenal kebenaran dan hal yang lurus itu dapat dibedakan dari ketersesatan, cukupkah setelah itu kita dianggap sebagai pendukung setia kebenaran. Seperti yang pernah dikatakan oleh Socrates dahulu, ‘Kemuliaan adalah pengetahuan.”

Sang Guru berkata, “Tidak, ananda. Pengetahuan yang teoritis saja terhadap kebenaran harus berada dalam kejelasan. Ia tidak ada gunanya bagimu kecuali jika akar-akar pondasinya kuat tertanam dalam dirimu yang buahnya kira-kira demikian:

  1. Agar kamu tunduk kepada kebenaran dan mengikutinya. Sebab banyak orang mengenal kebenaran namun tidak mengikutinya karena mengikuti hawa nafsu, atau karena sombong, dengki, dan fanatisme buta. Sebagaimana firman Allah tentang kisah orang-orang Yahudi.

“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka Mengetahui.” (Al-Baqarah: 146)

Banyak sekali mereka itu, sampai-sampai Rasulullah selalu berdoa,

اَللَّهُمَّ أَرِنِي الْحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنِي اتِّبَاعَهُ

“Ya Allah, tunjukkan kepadaku kebenaran itu sebagai kebenaran dan karuniakan kepadaku untuk mengikutinya.”

  1. Agar kamu merasa bangga dengan kebenaran dan membelanya.

“Sebab itu bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya kamu berada di atas kebenaran yang nyata.” (An-Naml: 79)

  1. Agar kamu mendakwahkannya, bekerja memperbanyak penolongnya, dan meneguhkan mereka. Oleh karena itu Allah menceritakan orang-orang beriman yang selamat dari kerugian dengan firman-Nya,

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati dalam kebenaran dan nasehat menasehati dalam kesabaran.” (Al-‘Ashar: 1-3).

  1. Agar teguh dalam kebenaran, tabah menghadapi risikonya, sabar dalam menhadapi kesulitan dan dan kesusahan karenanya. Sebab di jalan kebenaran terbentang onak dan duri. Diliputi oleh berbagai kesulitan. Penuh dengan rintangan dan tukang begal. Inilah sunnah Allah yang berlaku bagi makhluk-Nya. Dan anda tidak pernah menemukan sunnah Allah itu berubah. Oleh sebab itu Allah menasihati Rasul-Nya agar berpegang teguh dalam kesabaran melalui banyak ayat.

“Dan bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.” (Ar-Rum: 60)

“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.” (Al-Ahqaf: 35)

“Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan dan dia adalah hakim yang sebaik-baiknya.” (Yunus: 109)

“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” (Ali Imram: 186)

 

Pelajar itu berkata, “Demi Allah, ini adalah beban yang berat.”

Sang Guru berkata, “Akan tetapi ganjaran di sisi Allah sangat agung, di dunia dan akhirat.”

Pelajar bertanya, “Balasan apakah yang akan didapatkan di dunia selama pertempuran melawan kebatilan masih berlangsung. Selama kebatilan masing menghunus pedang, dengan jumlah pasukan dan bekal yang banyak, harta dan SDM?”

Guru menjawab, “Allah mempergilirkan hari-hari (kekalahan dan kemenangan) di antara manusia seagai pembelajaran bagi pendukung kebenaran dan untuk memisahkan mereka dari yang lain. Allah ingin menguji apa yang ada di dalam mereka dan ingin memeriksa apa yang ada di hati mereka. Sebagaimana Allah berfirman kepada kaum Muslimin pasca perang Uhud, di mana tujuh puluh dari mereka telah mati syahid.

“Zakariya berkata: "Ya Tuhanku, bagaimana Aku bisa mendapat anak sedang Aku telah sangat tua dan isteriku pun seorang yang mandul?" Berfirman Allah: "Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” Berkata Zakariya: "Berilah Aku suatu tanda (bahwa isteriku telah mengandung)." Allah berfirman: "Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari.” (Ali Imran: 40-41).

Allah berfirman,

“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar.” (Ali Imran: 179)

Namun akhir yang baik selalu menjadi milik para pendukung kebenaran. Selama mereka mengikuti sunnah Allah dalam sebab dan akibat. Allah menegakkan dua kehidupan; pertama dan kedua dalam kebenaran.

Di dalam kehidupan sekarang ini Allah mewajibkan diri-Nya untuk memenangkan kebenaran dan menumbangkan kebatilan.

Siapa yang merenungakan sejarah akan menemukan kisah pertempuran, yang akhirnya dimenangkan kebenaran, walaupun memakan waktu yang sangat panjang.

Pada kisah Musa as. dan Fir’aun terdapat bukti yang sangat jelas.

“Kemudian sesudah rasul-rasul itu, kami utus Musa dan Harun kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya, dengan (membawa) tanda-tanda (mukjizat-mukjizat) kami, maka mereka menyombongkan diri dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. Dan tatkala telah datang kepada mereka kebenaran dari sisi kami, mereka berkata: "Sesungguhnya Ini adalah sihir yang nyata.” Musa berkata: "Apakah kamu mengatakan terhadap kebenaran waktu ia datang kepadamu, sihirkah ini?" padahal ahli-ahli sihir itu tidaklah mendapat kemenangan.” Mereka berkata: "Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya, dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi? kami tidak akan mempercayai kamu berdua." Fir'aun berkata (kepada pemuka kaumnya): "Datangkanlah kepadaku semua ahli-ahli sihir yang pandai!"  Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang, Musa berkata kepada mereka: "Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan." Maka setelah mereka lemparkan, Musa berkata: "Apa yang kamu lakukan itu, itulah yang sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan ketidak benarannya" Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-yang membuat kerusakan. Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapan-Nya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai(nya).” (Yunus: 75-82).

Para tukang sihir itu telah melemparkan tali-tali dan tongkat mereka serta menyatukan makar mereka. Menghiasi kebatilan mereka dengan cara menipu mata orang-orang dan membuat mereka ketakutan. Mereka benar-benar datang membawa sihi yang besar. Namun apa hasilnya? Hasilnya adalah apa yang dikisahkan Al-Qur’an kepada kita,

Dan kami wahyukan kepada Musa: "Lemparkanlah tongkatmu!" Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan.” Karena itu nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan. Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina. Dan ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud. Mereka berkata: "Kami beriman kepada Tuhan semesta Alam, "(yaitu) Tuhan Musa dan Harun.” (Al-A’raf: 117-122)

Bukankah Allah menurunkan para malaikat pada perang Badar untuk memenangkan kebenaran dan mengalahkan kebatilan. Dengarkan ayat-ayat berikut ini,

“Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dan rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya. Mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang), seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu). Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir. Agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya.” (Al-Anfal: 5-8).

Hanya saja para pendukung kebenaran merasa cukup memiliki izzah di dunia dan ketentraman dengan mengikuti kebenaran itu. Abdullah bin Zubair berkata, “Demi Allah, tidaklah mulai pendukung kebatilan itu, kendatipun dari keningnya muncul rembulan. Dan tidaklah hina pendukung kebenaran kendatipun seluruh penduduk bumi memusihinya.”

Inilah kondisi mereka di dunia.

Sedangkan di akhirat, Allah akan menuntaskan perkara antar sesama hamba-Nya dengan kebenaran. Dia balas setiap jiwa sesuai dengan apa yang dikerajakan.

“Dan terang benderanglah bumi (padang Mahsyar) dengan cahaya (keadilan) Tuhannya; dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan masing-masing) dan didatangkanlah para nabi dan saksi-saksi dan diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dirugikan. Dan disempurnakan bagi tiap-tiap jiwa (balasan) apa yang telah dikerjakannya dan dia lebih mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (Az-Zumar: 69-70)

Di sana, orang-orang beriman dan pendukung kebatilan menyadari, bahwa mereka dibalas dengan dasar kebenaran. Orang-orang beriman, pendukung kebenaran saat masuk surga dan menempati tempat-tempat di surga mereka berkata,

“Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran." dan diserukan kepada mereka: "ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan." (Al-A’raf: 43).

Sedangkan orang-orang musyrik yang mempunyai banyak tuhan itu mengira bahwa tuhan-tuhan tersebut akan menolong mereka di hari Kiamat. Di sini kesesatan mereka nampak jelas. Tiada lagi teman setia bagi mereka dan tidak ada lagi yang dapat menolong yang bisa mereka taati. Di sinilah Allah memutuskan perkara dengan kebenaran. Al-Qur’an  berkata dalam hal ini,

74.  Dan (Ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka, seraya berkata: "Di manakah sekutu-sekutu-Ku yang dahulu kamu katakan?"

“Dan kami datangkan dari tiap-tiap umat seorang saksi, lalu kami berkata "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu", maka tahulah mereka bahwasanya yang hak itu kepunyaan Allah dan lenyaplah dari mereka apa yang dahulunya mereka ada-adakan.” (Al-Qashash: 74-75)

Di sana, semua orang akan memetik buah atas apa yang mereka kerjakan. Buah manis bagi pendukung kebenaran dan buah pahit bagi pendukung kebatilan.

Di sana pula semuanya menyadari bahwa kebenaran itu berguna bagi pengikutnya, di dunia dan akhirat. Baik bagi pribadi maupun kelompok. Sedangkan kebatilan itu berbahaya bagi pengikutnya, di dunia maupun akhirat.

“Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Allah menyesatkan perbuatan-perbuatan mereka. Dan orang-orang mukmin dan beramal soleh serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah yang haq dari Tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka. Yang demikian adalah karena sesungguhnya orang-orang kafir mengikuti yang bathil dan sesungguhnya orang-orang mukmin mengikuti yang haq dari Tuhan mereka. Demikianlah Allah membuat untuk manusia perbandingan-perbandingan bagi mereka.” (Muhammad: 1-3)

Pelajar itu bertanya lagi kepada gurunya,

“Engkau telah sebutka untukku bahwa di antara pilar kebenaran adalah keteguhan dan kekekalan, sedangkan kebatilan akan sirna dan fana. Akan tetapi bukankan dalam realita hidup ini kita melihat kebatilan ada bahkan mendominasi suatu masa. Sementara kita melihat kebenaran melemah, dikalahkan, mengecil, dan sembunyi?”

Sang Guru berkata, “Kadang-kadang kebatilan mendominasi ketika kebenaran dilalaikan. Akan tetapi ia tida kekal dan tida lama. Kemunculannya tidak terus menerus. Kepalsuan yang ada padanya suatu saat harus terungkap. Islam harus menyerangnya, lalu mengalahkan dan menghapusnya sebagaimana subuh menghapus kegelapan malam. Dalam hal ini Al-Qur’an berkata,

“Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku mewahyukan kebenaran. dia Maha mengetahui segala yang ghaib.” (Saba’: 48)

Kebatilan bagaikan busa yang menggelembung dan buah yang mengapung di permukaan air, terapung sebentar lalu sirna. Lalu tidak ada yang tersisa darinya selain air murni dan sumber yang bening. Inilah perumpamaan yang ada di dalam Al-Qur’an.

“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” (Ar-Ra’du: 17)

Sunnah Allah ini berada dalam ketinggian mengalahkan kebatilan. Al-Qur’an menegaskan hal ini pada banyak ayat. Renungkan ayat-ayat ini,

“Bahkan mereka mengatakan: "Dia (Muhammad) telah mengada-adakan dusta terhadap Allah." Maka jika Allah menghendaki niscaya dia mengunci mati hatimu; dan Allah menghapuskan yang batil dan membenarkan yang hak dengan kalimat-kalimat-Nya (Al-Qur’an). Sesungguhnya dia Maha mengetahui segala isi hati.” (As-Syura: 24)

Bayangkan perang antara kebenaran dan kebatilan, rasakan bahwa kebenaran karunia Allah yang akan menghabisi dan meluluh-lantakkan kebatilan.

“Sebenarya kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu mensifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya).” (Al-Anbiya’: 18)

Pada Fathu Makkah, Rasulullah saw. memegang tombaknya lalu memukul patung-patung yang sekian lama menjadi sesembahan selain Allah. Beliau membaca firman Allah,

“Dan katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap". Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (Al-Isra’: 81)

Pelajar itu bertanya, “Lalu apa pendapatmu tentang kebudayaan Barat yang memimpin dunia dewasa ini: Kebenaran atau kebatilan?”

Sang Guru menjawab,

“Kebatilan yang ada padanya jauh lebih banyak ketimbang kebenarannya. Dan kebatilannya adalah berlebih-lebihan hingga melewati batas moderat dalam segala hal:

Berlebih-lebihan dalam memberi kenikmatan kepada jasad dengan mengorbankan ruh. Mengkultuskan akal ketimbang wahyu. Berambisi terhadap kesenangan dunia dengan mengorbankan akhirat. Memanjakan wanita dengan mengenyampingkan laki-laki. Memberikan kebebasan pribadi dengan merongrong kebebasan kelompok. Mengutamakan kepentingan daripada akhlak. Dan lebih merespon fanatisme kebangsaan daripada nilai-nilai kemanusiaan.

Sebelum itu semua, mereka berlebih-lebihan dalam melupakan Allah yang membuat mereka lupa terhadap diri sendiri. Mahabenar Allah yang berfirman,

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (Al-Hasyr:19)

Pelajar berkata,

“Akan tetapi manusia di Barat dapat memecahkan atom dan menakhlukkan angkasa, menundukkan alam, dan membongkar berbagai misteri. Tidakkah kedekatan dengan kebenaran ini sebagai dekat kepada kebenaran?”

Sang Guru menjawab,

“Orang Barat, ananda, memang telah menyingkap banyak hal. Akan tetapi ia tidak mampu menyingkap rahasia kehidupannya. Ia menundukkan alam namun tidak mampu menundukkan hawa nafsunya. Ia memecahkan atom namun tidak memecahkan berhala-berhala pemikiran dan spiritualnya. Alangkah hebatnya perkataan seorang filosof India terhadap pemikir Barat,

“Bagus sekali kalian bisa terbang di udara bagai burung. Kalian menyelam di lautan bagai ikan. Akan tetapi kalian tidak bisa berjalan di atas  bumi layaknya manusia.”

Dengan nada heran pemuda itu bertanya, “Jika sedemikian tenggelamnya orang Barat dalam kebatilan. Bagaimana mungkin ia bisa memegang kendali kepemimpinan dan memimpin manusia. Mengarahkan arah kebudayaan kemana ia mau. Mengobarkan peperangan dan memadamkannya. Dunia ini berada dalam isyaratnya dan hawa nafsunya. Bukankah kebatilan seharusnya sirna dan mundur? Bukankah ia dinamakan batil karena ketiadaan dan terhapusnya? Kenapa pada abad-abad ini Barat tetap mengendalikan dan memimpin?”

Sang Guru menjawab, “Aku telah katakan kepadamu, ananda. Kebatilan itu bisa tegak ketika kebenaran terlupakan. Ketika kebatilan nampak sesaat, hal itu karena kebenaran tersembunyi di sela-selanya.

Bukankah kamu melihat maling yang masih bersatu selama pada mereka ada secercah kebenaran di mana mereka berinteraksi dengannya di antara mereka. Misalnya menghormati sumpah di antara mereka, merahasiakan apa yang mereka sepakat untuk dirahasiakan, dan membagi hasil curian mereka secara adil serta membantu mereka yang jatuh. Demikianlah... hingga ketika cahaya kebenaran meresap di antara mereka, maka pekara mereka akan terbingkar dan kesatuan mereka terurai. Tangan-tangan keadilan akan menangkap dan menyeret mereka melalui ubun-ubun. Lalu digiring menuju siksaan yang hina karena apa yang mereka perbuat.

Pada orang-orang Barat itu ada sedikit kebenaran di samping kebatilan yang besar. Pada akhirnya budaya mereka mesti dihancurkan dan kendali kepemimpinan berpindah kepada selain mereka. Ada pepatah lama, “Negeri kebatilan hanya sesaat dan negeri kebenaran sampai hari Kiamat.”

Pemuda itu bertanya, “Kadangkala kita membaca perkataan para pemikir Barat di mana mereka merasa prihatin terhadap budaya materi mereka yang melampaui batas dan kehewanan mereka yang rusak. Mungkinkah orang-orang seperti itu nanti menjadi utusan yang membawa hidayah bagi kaum mereka? Lalu bisakah kita membayangkan bahwa suatu ketika orang-orang lalai itu kembali ke fitrah mereka? Jika tidak, apakah ada jalan menyampaikan hidayah kemanusiaan kepada mereka dan menyelamatkan mereka dari kebatilan dan kesesatan?”

Sang Guru berkata, “Memang benar, ananda. Sebagian orang Barat memang ada yang sadar dari kealpaan mereka. Mereka melihat bahwa budaya mereka telah menghapus fitrah manusia. Yang menghalangi ketentraman jiwa. Dan menghancurkan ciri-ciri manusia. Di antara mereka Spiencer dalam bukunya, Tadahwuru al-Gharb (Keruntuhan Barat), Bernadus dalam opera-operanya, Tonibay di buku-buku sejarahnya, Brogson, Kol. Wilson di buku Suquthu al-Hadharah (Jatuhnya Peradaban), Wilingstone dalam At-Tarbiyah li ‘Alamin Ha’ir (Pendidikan untuk dunia yang bingung), Alexis Karel di Al-Insan Dzalika Al-Majhul (Manusia, Misteri itu). Dan pemikir lainnya. Nampaknya mereka itu itu dapat mengendus berbagai penyakit, namun tidak mendapat petunjuk kepada kebenaran.

Pelajar itu berkata,

“Lalu, apa obatnya dan bagaimana mereka mendapat petunjuk?”

Sang Guru menjawab,

“Obatnya ada di kita dan tidak ada di selain kita. Obat kita ada di peradaban kita yang rabbani, manusiawi, dan internasional. Peradaban kebenaran, kebaikan, keseimbangan, dan keadilan. Yang menempatkan segala seuatu pada tempatnya dan memberikan kepada masing-masing haknya. Menara masjid membumbung sebagaimana cerobong asap juga membumbung. Satu sisi kehidupan tidak mengalahkan sisi yang lain. Yang menyandingkan masjid dengan pabrik. Menggabungkan antara agama dan ilmu pengetahuan. Mensingkronkan antara akal dan hati. Mengawinkan antara rohani dan materi serta menghubungkan antara kemarin dan hari ini. Mengaitkan antara idealita dan realita. Menyeimbangkan antara hak dan kwajiban. Berlaku adail antara laki-laki dan perempuan. Seimbang antara peribadi dan masyarakat. Memperbaiki hubungan antara si kaya dan si miskin. Menjembatani antara rakyat dan pemimpin. Serta mempersaudarakan antara manusia dengan sesamanya.

Jika manusia mendapat petunjuk kepada peradaban ini, ia telah mendapat petunjuk kepada rahasia dan inti kebahagiaan. Jika tidak, sia-sialah jerih payahnya. Upayanya bagai fatamorgana di sahara, orang dahaga mengiranya air hingga ketika datang kepadanya tidak mendapatkan apa-apa.

Manusia tidak akan menemukan jalan kebenaran jika dia mencarinya dari filsafat ciptaan yang kontradiktif, aliran-aliran bumi yang memberi memberi solusi bagi problematika dengan dengan problematika yang lain, dan mengobati penyakit dengan penyakit baru.

Manusia tidak akan menemukan jalan kebenaran selama ia menyerahkan konflik pemikiran dan spiritual kepada menusia yang tidak mengharapkan Allah dan hari Akhir. Puncak ambisi mereka adalah memenuhi naluri dan membangkitkan syahwat.

Manusia tidak menemukan jalan kebenaran kecuali jika mencarinya dari satu-satu sumbernya. Yakni kitab Allah yang kekal, Al-Qur’an. Juga selain menyerahkan kepemimpinannya kepada orang-orang yang menghormati kebenaran, tidak menghendaki ketinggian dan kerusakan di muka bumi.

Siapakah mereka itu selain orang-orang Islam. Di hari di mana mereka kembali kepada kebenaran.

Muslim-lah yang menghormati kebenaran, hidup untuk kebenaran, dan mati untuk kebenaran.

Al-Haq (kebenaran) adalah salah satu nama Allah, salah atu sifat kitab-Nya, salah satu ciri rasul-Nya, nilai tertinggi di antara nilai agamanya.

Secara pribadi, muslim dituntut untuk mengenal kebenaran, beriman kepadanya, mendakwahkannya, dan bersabar menghadapi masalah karenanya.

Dan sebagai ummat, kaum Muslimin juga dituntut untuk menegakkan kebenaran di muka bumi, saling menasihati dengannya, dan menunjukkan orang kepadanya.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Al-‘Ashr: 1-3).

Hanya saja orang-orang non muslim, sangat disayangkan, mereka lalai terhadap kebenaran yang dengan itu Allah memuliakan mereka dan mengembankan amanah untuk menyampaikan dan menolongnya. Menyebarkan cahayanya ke segenap alam semesta. Bagaimana mungkin orang yang buta terhadap kebenaran akan menunjukkan orang lain kepada kebenaran itu. Atau orang-orang yang membutakan dirinya. Atau orang yang melupakannya atau pura-pura merlupakannya. Karena yang tidak punya sesuatu tidak akan dapat memberikan sesuatu itu.

Pelajar itu berkata, “Bisakah saya memehami ucapanmu, bahwa engkau berputus asa akan terwujudnya kebenaran yang mengalahkan kebatilan.”

Sang Guru menjawab, “Tudak, tidak seyogyanya seorang mukmin dijangkiti rasa putus asa dalam dirinya

“Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (Yusuf: 87)

Menurut keyakinanku kebenaran itu harus mempunyai kekuasaan, panjinya harus berkibar di muka bumi, dan kebatilan harus kalah dan lari terbirit-birit.

Tanda-tanda kekalahan kebatilan itu telah nampak di Barat. Tanda-tanda yang sangat banyak yang menimbulkan optimisme dan menghasung kegelapan pesimisme.

Di antara yang menerbitkan harapan adalah penjajahan yang selama ini menutup pintu-pintu kebebasan berpikir bagi rakyat elah pergi membawa tongkatnya dari banyak negeri jajahannya. Hal ini memberi kesempatan bagi pemikiran untuk merdeka dan bagi akal untuk meneliti.

Yang menambah munculnya harapan adalah karena fenomena atheisme kian surut dan mengecil, suaranya kian samar, dan tidak lagi mempunyai hujjah dan kekuasaan. Setiap kali ilmu pengetahuan maju berkembang, jumlah orang-orang beriman dan makin berkurang jumlah orang-orang yang ingkar kepada kebenaran.

Yang juga menguatkan harapan adalah adanya sejumlah besar pemikir yang moderat itu mulai merasa mencemaskan kejahatan materialisme dalam hidup. Mereka menjelaskan bahaya peradaban materi terhadap kemanusiaan dan nilai-nlai luhur dalam hidup.

Harus ada suatu hari dimana kebatilan tumbang, kekuasaannya sirna di hadapan pasukan kebenaran. Inilah yang diindikasikan oleh realita, yang dirasakan oleh hati yang bersih, yang diwujudkan oleh sunnatullah bagi makhluk, dan disuarakan oleh tanda-tanda kekuasaan-Nya yang benar.

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (Fushilat: 53)

Mahasuci Allah yang Maha Agung.

Ada kenyataan yang mesti kita sebutkan di sini:

Bahwa kebenaran tidak bisa menang sendirian. Namun sunnatullah juga punya peran untuk memenangkan kebenaran, tentu jika orang-orang yang beriman kepadanya dan mendakwahkannya, total dalam kebeneran dan hidup untuk kebenaran bahkan mati untuk kebenaran.

“Dan jika mereka bermaksud menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin.” (Al-Anfal: 62)

Kalau saya boleh menasihatimu, ananda. Jadilah seorang tentara pembela kebenaran. Hidup dan mati demi kebenaran. Cinta dan benci karena kebenaran. Menyambung dan memutuskan karenanya. Berdamai dan berperang untuknya.

Pelajar itu berkata, “Apakah ada orang yang membantuku dalam hal itu?”

Sang Guru menjawab, “Secara sunnatullah, ananda. Orang-orang yang koemitmen dan mengajak orang kepada kebenaran pasti ada. Kendatipun para pendukung kebatilan kian banyak. Agar mereka nanti menjadi hujjah Allah atas makhluk-Nya. Di dalam Al-Qur’an disebutkan,

“Dan di antara orang-orang yang kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan hak, dan dengan yang hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan.” (Al-A’raf: 181).

Di dalam hadits disebutkan

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ ، حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمَ كَذَلِكَ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ " رواه مسلم .

“Akan ada sekelompok ummatku yang senantiasa membela kebenaran. Mereka tidak terancam oleh orang-orang yang menghinakan mereka sapai Allah datang dengan urusannya dan mereka berada dalam hal itu sampai hari Kimat.” (Muslim).

Ali bin Abi Thalib ra. Berkata,

لاَ تَخْلُوا الأَرْضُ مِنْ قَائِمٍ للهِ بِالْحُجَّةِ

“Bumi tidaklah sepi dari orang yang menegakkan hujjah.”

Allah merahmati Syauqi yang berkata,

إن الذي خـلق الحــقيقة علقماً

                                        لم يخل من أهل الحقيقة جيلاً .

“Dzat yang menciptakan kebenaran

Tidak membiarkan kebenaran sepi dari generasi

Hanya saja tentara kebenaran tidak risau jika harus berjuang di medan pertempuran seorang diri. Melawan kebatilan dengan bekal dan kesendiriannya. Menghasung kesesatan dengan kekusaan dan tenaganya. Jika masih hidup, ia hidup bahagia dengan kebenaran itu. Dan jika mati, mati sebagai syahid di jalannya.

Ambillah contoh salah seorang Ulum Azmi dan rasul pertama, Nuh as. Yang berdakwah selama 950 tahun, siang dan malam, secara rahasia dan terang-terangan. Kedantipun buah dakwahnya itu hanyalah mereka lari darinya.

Bapak para nabi, Ibrahim as yang berkata kepada ayahnya,

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah. Tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku; karena sesungguhnya dia akan memberi hidayah kepadaku.” (Azh-Zhukhruf: 26-27)

Pelajar itu berkata, “Lalu apa nilai teriakan kebenaran di sahara yang penuh dengan kebatilan. Tidakkah hal ini seperti apa yang dikatakan orang, “Teriakan di lembah dan tiupan di abu panas.”

Sang Guru menjawab, “Teriakan kebenaran, ananda, tidak akan hilang sia-sia. Ia menyisakan bekas di nurani kehidupan. Walaupun anda tidak mendengar gaungnya. Tidak mengendus bekasnya secara langsung. Jika hari ini kebenaran itu terbang bersama angin. Besuk akan pergi dengan pasak. Jika hari ini hilang dari manusia, esok tidak akan hilang selamanya di sisi Allah.

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.”

Sebagai contoh, misalnya nurani mereka mati, pendengaran dan penglihatan mereka tidak berfungsi. Kebatilan menutupi hati mereka. Lalu mereka tidak mendengar teriakan kebenaran dan ajakan kebaikan. Jangan sampai kamu terrpengaruh olehnya. Jangan sampai kamu meninggalkan kewajibanmu. Kamu hanya bertugas untuk menyampaikan sedangkan hisabnya ada di sisi Allah. Kamu hanya berdakwah dan Allah yang memberi hidayah. Kamu hanya menebar benih dan mengharapkan buahnya dari Allah. Cerita pendek yang dikisahkan Al-Qur’an menjadi pelajaran yang berharga, yakni desa yang berada di tepian laut.

“Dan (Ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: "Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?"

Ini artinya, tidak ada gunanya menasihati mereka. Sedangkan mereka telah berpaling dan melawan kebenaran. Dan Allah akan mengazab mereka. Namun apa jawaban mereka,

“Mereka menjawab: "Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa.” (Al-A’raaf: 164)

Mereka menyabutkan alasan mengapa menasihati orang-orang yang tidak ada kebaikannya itu:

Pertama, sebagai alasan kepada Allah bahwa kewajiban telah ditunaikan.

Kedua, harapan kepada Allah kiranya akan memberi hidayah kebenaran kepada mereka atau sebagian mereka.

Harapan adalah bagian dari agama Islam. Karena ia adalah buah dari prasangka baik kepada Allah, percaya kepada janji-Nya, dan yakin kepada apa yang ada di sisi-Nya.

Inilah kondisi para dai yang menyeru manusia kepada kebenaran. Harapan manis selalu memenuhi mereka dan asa penuh senyum bergemuruh dalam nurani mereka. Kegelapan putus asa tidak menemukan jalan menuju hati mereka.

“Ibrahim berkata: "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat.” (Al-Hijr: 56)

Ketika kebatilan menyergap di sekitar mereka bertambahlah keyakinan mereka tentang kebutuhan manusia kepada cahaya kebenaran. Setiap kali kerusakan meraja-lela dan menyebar, bertambah yakin mereka terhadap kebutuhan akan perbaikan. Dan setiap kali arus kekafiran menyerbu bertambahlah kekuatan mereka untuk bertahan.

Setiap kali ujian menerpa, mereka yakin jalan kemudahan kian dekat.

Jika kegelapan malam telah pekat, itu sebagai pertanda akan datangnya fajar. Jika hari-hari sulit menghadang, ia membawa berita-berita kemenangan. Betapa banyak contoh hal itu! Betapa banyak bukti-buktinya!

Kebenaran dimana Allah memuliakan kita adalah kejayaan dan kemenangan kita dari awal dan akhir. Bahkan kejayaan manusia bersama kita. Manusia ini sangat membutuhkan ummat yang menerjemahkan kebenaran sebagai manusia yang berjalan di muka bumi, kata-kata dan syiar-syiar yang memenuhi kitab-kitab, hingga semua mulut dan pena merasa butuh kepadanya.

Di saat di mana manusia melihat kebenaran berada dalam diri ummat yang dikenal, dicintai, dijaganya, menyebarkannya, mendakwahkannya, dan berkorban untuknya. Di hari itu tampuk kepemimpinan siap diserahkan dan manusia berjalan di belakangnya dengan tunduk dan menyerah. Di hari itu kegelapan terhasung, kebatilan tergusur, dan syetan surut ke belakang.

“Dalam beberapa tahun lagi. bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman. Karena pertolongan Allah. dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. dan dialah Maha Perkasa lagi Penyayang. (Sebagai) janji yang sebenarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janjinya, tetapi kebanyakan manusia tidak Mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (Ar-Rum: 4-7)

Kegiatan Penyerta:

  1. Mengumpulkan ayat dan hadits tentang dasar-dasar kebenaran.
  2. Menyiapkan kajian dan pendataan yang menjelaskan kondisi manusia terhadap kebenaran untuk mengetahui sejauh mana mereka mengenal hakikat wujud dan tujuan mereka.
  3. Menyiapkan kajian tentang faktor-faktor yang membuat orang-orang berpaling dari kebenaran, baik secara pemahaman atau pengamalan.
  4. Menyiapkan kajian tentang hal-hal penting yang membantu memisahkan antara kebenaran dan kebatilan.
  5. Menyiapkan kajian untuk menjelaskan kebatilan-kebatilan yang ada pada agama-agama terdahulu.
  6. Menyiapkan kajian yang menjelaskan hubungan antara kebenaran dan ketepatan dari sisi, antara kebatilan dan kesalahan dari sisi lain. Apakah kebenaran itu hanya mempunyai satu sisi. Atau mempunyai banyak sisi dalam satu perkara.

Sarana Taqwim dan Evaluasi:

  1. Pertanyaan dan dialog untuk meyakinkan pemahaman peserta.
  2. Angket untuk mengukur sejauh mana tujuan tercapai.
  3. Catatan dan evaluasi terhadap kegiatan untuk mengukur perhatian da komitmen peserta terhadap kebenaran.

Tujuan Ta’allum Dzati:

  1. Menimbang dengan timbangan kebenaran: sekulerisme, demokrasi, kebebasan, seni, dll.
  2. Menyebutkan orang-orang yang secara ikhlas mencari kebenaran kemudian mendapat petunjuk kepadanya, semisal Salman Al-Farisi.
  3. Menyebutkan orang-orang yang mencari kebenaran namun tidak berada di jalannya, lalu ia tersesat.
  4. Menjelaskan hubungan antara ‘ilmul yaqin, ‘ainul yaqin, dan haqqul yaqin.
  5. Menyebutkan contoh-contoh dari berbagai agama dan kepercayaan yang orang-orangnya tersesat serta sebab mereka tersesat.

Maraji’ Ta’allum Dzati:

  1. Al-Qur’an Al-Karim.
  2. Sunnah Nabawiyah.
  3. Al-Milal wa An-Nihal, Syahrastani.

 


([1])        Lanjutan bait syair Labid tersbut: Dan setiap kenikmatan pasti akan hilang (" وكل نعيم لا محالة زائل ")

[2]  Ayat Ini dan beberapa ayat berikutnya diturunkan berhubungan dengan pencurian yang dilakukan Thu'mah dan ia menyembunyikan barang curian itu di rumah seorang Yahudi. Thu'mah tidak mengakui perbuatannya itu malah menuduh bahwa yang mencuri barang itu orang Yahudi. hal Ini diajukan oleh kerabat-kerabat Thu'mah kepada nabi s.a.w. dan mereka meminta agar nabi membela Thu'mah dan menghukum orang-orang Yahudi, kendatipun mereka tahu bahwa yang mencuri barang itu ialah Thu'mah, Nabi sendiri hampir-hampir membenarkan tuduhan Thu'mah dan kerabatnya itu terhadap orang Yahudi.

[3]  Ayat Ini berkenaan dengan cerita orang Yahudi di Madinah pada permulaan Hijrah. Yahudi Bani Quraizhah bersekutu dengan suku Aus, dan Yahudi dari Bani Nadhir bersekutu dengan orang-orang Khazraj. antara suku Aus dan suku Khazraj sebelum Islam selalu terjadi persengketaan dan peperangan yang menyebabkan Bani Quraizhah membantu Aus dan Bani Nadhir membantu orang-orang Khazraj. Sampai antara kedua suku Yahudi itupun terjadi peperangan dan tawan menawan, karena membantu sekutunya. Tapi jika kemudian ada orang-orang Yahudi tertawan, maka kedua suku Yahudi itu bersepakat untuk menebusnya kendatipun mereka tadinya berperang-perangan.

[4]  Maksudnya kedatangan nabi Muhammad saw. yang tersebut dalam Taurat dimana diterangkan sifat-sifatnya.

No comments:

Post a Comment

Hukum Air