Pengantar
Rasanya
tidak mungkin menentukan tanggal turunnya surah ini, balk bagian permulaannya
saja maupun keseluruhannya. Sebagaimana tidak mungkin dipastikan bahwa bagian
permulaan lebih dahulu diturunkan, kemudian disusul bagian-bagian berikutnya.
Juga tidak mungkin dapat ditarjihkan kemungkinan-kemungkinan ini. Karena bagian
permulaan dan bagian akhir surah membicarakan hal yang sama, yaitu
terus-menerusnya orang-orang kafir mengata-ngatai Nabi Muhammad saw. dan
mengatakannya gila.
Riwayat
riwayat yang mengatakan bahwa surah ini merupakan surah yang turunnya menempati
urutan kedua sesudah surah al-Alaq memang banyak jumlahnya, dan di antara yang
disepakati di dalam urutan mushhaf yang berbeda-beda bahwa is adalah surah
kedua. Akan tetapi, konteks surah, temanya, dan metode penyampaiannya
menjadikan i:ami menguatkan pendapat lain. Sehingga, hampir jelas bahwa is
turun setelah masa senggangnya dakwah umum, yang datang setelah sekitar tiga
belas tahun dakwah fardiyah 'secara individual', yang pada waktu itu kaum
Quraisy menolak dan memerangi dakwah ini. Sehingga, mereka mengata-ngatai
Rasulullah dengan perkataan yang buruk itu. Lalu, AI-Qur’an menolak dan
menyanggahnya, dan mengancam orang-orang yang memusuhi dakwah dengan ancaman
yang disebutkan dalam surah ini.
Kemungkinan,
permulaan surah ini turun lebih awal secara tersendiri sesudah turunnya surah
al-_Alaq. Adapun kegilaan yang ditiadakan di dalamnya avat 2), 'Berkat nikmat
Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila, " itu datang sesuai
dengan apa yanag dikhawatirkan Nabi saw atas dirinya pada awal turunnya wahyu
semoga yang demikian itu bukan kegilaan yang menimpanya... maka kemungkinan ini
sangat lemah.
Pasalnya,
mengenai kekhawatiran seperti ini sendiri tidak terdapat riwayatnya yang jelas.
Karena konteks surah menunjukkan bahwa penyanggahan ini adalah terhadap apa
yang disebutkan dalam firman Allah pada bagian akhir surah ini.
"Sesungguhnya
orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan
mereka, tatkala mereka mendengar Al-Qur’an dan mereka berkata, 'Sesungguhnya ia
(Muhammad) benar-benar orang yang gila (al_Qalam: 51)
Maka,
hal inilah yang dinafikan (ditiadakan) di dalam pembukaan surah ini,
sebagaimana yang akan segera ditangkap oleh orang yang membaca seluruh
rangkaian surah ini.
Demikian
pula dengan riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa di dalam surah ini terdapat
beberapa ayat Madaniyyah dari ayat 17 hingga ayat 33. Yaitu, ayat-ayat yang
membicarakan kisah para pemilik kebun beserta cobaan yang menimpa mereka. Juga
ayat 42 hingga ayat 50 yang membicarakan kisah Nabi Yunus yang berada di dalam
perut ikan.... Kami menganggap kemungkinan ini sebagai kemungkinan yang jauh,
dan kami berkeyakinan bahwa surah ini secara keseluruhan adalah Makkiyyah,
karena ciri kemakkiyyahan ayat-ayatnya sangat mendalam. Hal ini sangat relevan
karena kesesuaian tema-temanya dengan kondisi yang dihadapinya saat surah ini
turun.
Menurut
hemat kami, surah ini bukanlah surah kedua dalam urutan turunnya. la turun
sesudah masa diutusnya Nabi saw. dan diperintahkannya beliau melakukan dakwah
secara umum, dan sesudah turunnya firman Allah.
"Dan,
berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. "
(asy-Syuu'ara': 214)
Juga
setelah turunnya sebagian Al-Qur'an yang memuat kisah-kisah dan
informasi-informasi orang¬orang dahulu yang mereka komentari dengan mengatakan,
"...
(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala. " (al-Qalam: 15)
Dan,
juga setelah kaum Quraisy secara keseluruhan diseru kepada Islam, lantas mereka
menolak seruan ini dengan melontarkan tuduhan-tuduhan batil dan peperangan yang
sengit. Sehingga, di-perlukan sikap yang tegas terhadap orang-orang yang
mendustakan ayat-ayat Allah sebagaimana disebutkan dalam surah ini, juga
ancaman yang berat pada bagian permulaan dan bagian akhir surah ini pula.
Pemandangan di bagian akhir surah ini juga mengesankan hal itu.
"Sesungguhnya
orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan
mereka, tatkala mereka mendengar Al-Qur’an dan mereka berkata, 'Sesungguhnya ia
(Muhammad) benar-benar orang yang gila. "'(al-Qalam: 51)
Nah,
ini adalah pemandangan tentang dakwah umum terhadap kelompok-kelompok besar,
sedang pada permulaan dakwah keadaan tidak demikian. Karena, dakwah pada
permulaan itu hanya ditujukan kepada individu dengan metode yang sesuai dengan
masing-masing individu pula, dan tidak disampaikan kepada orang-orang kafir
secara keseluruhan. Hal ini tidak pernah terjadi, sebagaimana disebutkan dalam
riwayat-riwayat yang kuat, melainkan sesudah tiga tahun sejak dimulainya
dakwah.
Surah
ini juga mengisyaratkan bagaimana kaum musyrikin berusaha menemui Nabi saw. di
tengah jalan dan berlunak-lunak untuk saling merelakan dalam persoalan yang
mereka bertentangan dengan beliau dalam hal ini, yaitu persoalan akidah.
'Mereka
menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula
kepadamu)." (al-Qa1am: 9)
Jelaslah
bahwa usaha semacam ini tidak mungkin terjadi kalau dakwah itu dilakukan secara
individual (orang perorang), dan tidak ada urgensinya. Maka, usaha semacam ini
dilakukan setelah dakwah di-lakukan secara terang-terangan dan kaum musyrikin
merasa terancam olehnya.
Demikianlah
banyaknya saksi atau bukti yang menunjukkan bahwa surah ini turun pada masa
belakangan sesudah masa-masa permulaan dakwah, yaitu terdapat tenggang waktu
sekitar tiga tahun atau lebih antara permulaan dakwah dengan turunnya surah
ini. Tidak masuk akal selama tiga tahun tidak ada ayat Al-Qur'an yang turun.
Sudah tentu pada masa-masa itu terdapat banyak surah Al-Qur' an yang turun, dan
ada beberapa bagian dari surah¬surah itu yang turun pada masa tersebut, yang
membicarakan masalah akidah dengan tanpa ada serangan yang sengit dari
orang-orang yang men¬dustakannya seperti yang disebutkan dalam surah ini sejak
bagian permulaan.
Akan
tetapi, hal ini tidak menutup kemungkinan surah ini dan surah al-Muddatstsir
serta al-Muz¬zammil turun pada masa-masa permulaan dakwah, meskipun bukan yang
pertama kali turun sebagai mana disebutkan dalam mushhaf-mushhaf, dengan alasan-alasan
yang sudah kami sebutkan di sini. Hal ini juga hampir berlaku bagi surah
al-Muzzammil dan al-Muddatstsir.
Tanaman
ini (tanaman akidah islamiah) ditaburkan di muka bumi untuk pertama kalinya
dalam bentuknya yang tinggi, murni, dan indah. la terasa asing di dalam
perasaan jahiliah yang sedang dominan bukan cuma di jazirah Arab saja, tetapi
di seluruh penjuru bumi.
Terdapat
peralihan besar antara bentuk yang palsu, menyimpang, dan buruk dari agama Nabi
Ibrahim yang disimpangkan oleh orang-orang musyrik Quraisy, dibandingkan dengan
bentuknya yang cemerlang, mulia, lurus, jelas, lapang, lengkap, dan meliputi
yang dibawa kepada mereka oleh Nabi Muhammad saw.. Padahal, prinsip-prinsip
agama yang dibawa Nabi Muhammad itu sesuai dengan agama hanif yang pertama
(agama Nabi Ibrahim a.s.) dan telah mencapai puncak kesempurnaan yang sesuai
dengan keberadaannya sebagai risalah terakhir di muka bumi untuk berbicara
kepada akal manusia yang sehat hingga akhir zaman.
Terdapat
peralihan yang besar antara memper-sekutukan Allah dan bertuhan banyak, serta
semua pandangan dan kepercayaan yang carut marut yang menjadi unsur-unsur
akidah jahiliah... dengan ben-tuknya yang cemerlang yang dilukiskan Al-Qur'an
mengenai Zat Ilahi Yang Maha Esa dengan ke-agungan dan keluhurannya, dan
hubungan kehendak-Nya dengan semua makhluk.
Juga
terdapat peralihan besar antara kelas yang berkuasa di jazirah Arabia, para
dukun yang berkuasa dalam bidang keagamaan, kelas-kelas tertentu yang dipandang
terhormat, perawat Ka'bah, pelayan mereka dan bangsa Arab lainnya... dengan
kesetaraan dan kesamaan di hadapan Allah serta hubungan langsung antara Dia dan
hamba-hamba-Nya dengan tanpa perantaraan siapa pun sebagai mana diajarkan oleh
Al-Qur'an.
Demikian
juga peralihan dari akhlak yang berlaku di kalangan jahiliah dengan akhlak yang
diajarkan Al-Qur'an dan dibawa serta diserukan oleh Nabi Muhammad saw..
Peralihan
ini saja sudah cukup untuk menunjukkan perbenturan antara akidah yang baru
(Islam) dengan kaum Quraisy dengan segenap kepercayaan dan moralitasnya. Akan
tetapi, ini bukan satu-satunya, karena di samping itu terdapat
ungkapan-ungkapan yang boleh jadi lebih besar menurut ukuran orang Quraisy
daripada persoalan akidah sendiri, karena besarnya.
Di
sana terdapat ungkapan-ungkapan di kalangan masyarakat yang biasa diucapkan
oleh sebagian mereka sebagaimana direkam oleh Al-Qur'anul Karim,
"...Mengapa
Al- Qur an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri
ini?" (az-Zukhruf: 31)
Kedua
negeri itu adalah Mekah dan Thaif. Karena Rasulullah di samping kemuliaan
nasabnya dan termasuk dari golongan elit Quraisy, namun beliau tidak mempunyai
kedudukan dan kekuasaan terhadap mereka sebelum diangkat menjadi nabi.
Sedangkan, di sana sudah ada pemuka-pemuka Quraisy dan Tsaqif serta
lain-lainnya dalam suatu lingkungan yang menjadikan kedudukan dan kekuasaan
suku benar-benar diperhitungkan. Karena itu, tidak mudah bagi pemuka-pemuka itu
untuk mengikuti Nabi Muhammad saw..
Di
sana juga terdapat semboyan-semboyan kekeluargaan yang menjadikan seseorang
seperti Abu Jahal (Amr bin Hisyam) enggan menerima kebenaran yang sedang
menghadapinya dengan kekuatan risalah Islamiah, karena nabinya dari bani Abdi
Manaf.... Begitulah, sebagaimana disebutkan kisah bahwa Abu Jahal bersama
al-Akhnas bin Syuraiq dan Abu Sufyan bin Harb keluar selama tiga malam
berturut-turut untuk mendengarkan Al-Qur'an dengan sembunyi-sembunyi. Pada
setiap malam mereka saling berjanji tidak akan kembali ke sana lagi karena
khawatir diketahui orang lain, sehingga terjadilah sesuatu di dalam jiwa
mereka.
Ketika
al-Akhnas bin Syuraiq bertanya kepada Abu Jahal mengenai pendapatnya tentang
apa yang didengarnya dari Muhammad, maka jawabnya, "Apa yang saya dengar?
Kita telah berseteru dengan bani Abdi Manaf tentang kemuliaan. Mereka memberi
makan kepada orang miskin, maka kita juga memberi makan kepada orang miskin.
Mereka mau menanggung beban, maka kita juga menanggung beban. Mereka memberi,
maka kita juga memberi, hingga ketika kita sama-sama duduk berlutut di atas
kendaraan dan kita dengan mereka seperti dua kuda pacuan (sama tingkat
kedudukannya). Akan tetapi, mereka (banu Abdi Manaf) mengatakan, 'Di antara
kami ada yang menjadi nabi yang mendapat wahyu dari langit.' Maka, kapankah
kita mencapai tingkatan seperti ini? Demi Allah, kita tidak akan mempercayainya
selama-lamanya dan tidak akan membenarkannya!"
Masih
ada ungkapan-ungkapan lain yang berkenaan dengan jasa, kelas, dan kejiwaan yang
merupakan tumpukan kejahiliahan yang terdapat dalam syair-syair,
ilustrasi-ilustrasi, dan peraturan-peraturan yang semuanya sebagai upaya untuk
membunuh tanaman baru itu dengan segala cara sebelum akarnya mantap dan
menghunjam, sebelum berkembang ranting-rantingnya dan rimbun daunnya. Khususnya
setelah berlalu fase dakwah individual dan Allah memerintahkan Nabi saw. supaya
menyampaikan dakwah secara terang-terangan. Juga setelah rambu-rambu dakwah
menjadi jelas, sebagaimana Al-Qur'an telah turun dengan menganggap bodoh
terhadap akidah syirik beserta segala segala sesuatu yang ada di belakangnya
yang berupa berhala-berhala sembahan mereka, pandangan¬pandangan yang menyimpang,
dan tradisi-tradisi yang batil.
Meskipun
Muhammad saw. seorang nabi, menerima wahyu dari Tuhannya, dan dapat berhubungan
dengan makhluk kelas atas (malaikat), namun beliau tetaplah seorang manusia
dengan segenap perasaannya sebagai manusia biasa. Beliau menghadapi perseteruan
yang keras dan peperangan yang disulut oleh orang-orang musyrik, dan dengan
susah payah beliau bersama pengikutnya yang beriman yang sedikit jumlahnya
terpaksa menghadapi kaum musyrikin itu.
Rasulullah
dan orang-orang yang beriman kepada beliau sering mendengar apa yang diucapkan
kaum musyrikin ketika mengata-ngatai dan mencela kepribadian beliau yang mulia.
"...Dan
mereka berkata, 'Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila.
"' (al-Qalam: 51)
Perkataan
seperti ini hanya salah satu saja dari sekian banyak omelan dan cacian mereka
sebagai mana yang diceritakan Al-Qur' an dalam surah-surah lain. Ini salah satu
cacian yang ditujukan kepada pribadi beliau saw. dan orang-orang yang beriman
kepada beliau. Juga gangguan-gangguan lain yang ditimpakan kepada kebanyakan
mereka oleh keluarga-keluarga dekat mereka sendiri.
Caci
maki (apalagi yang dicaci maki itu keadaannya lemah dan jumlahnya sedikit)
sangat menyakitkan jiwa manusia, meski jiwa Rasul sekalipun.
Karena
itu, kita lihat dalam surah-surah Makkiyyah bahwa Allah seakan-akan mengasuh
Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman bersama beliau, mengasihi dan
menghiburnya, serta menyanjungnya dan menyanjung kaum mukminin. Ditonjolkan-Nya
unsur akhlak yang tercermin dalam dakwah ini dan nabinyayang mulia.
Disanggah-Nya apa yang diucapkan oleh orang-orang yang mengata-ngatai beliau.
Ditenangkan-Nya hati orang-orang yang lemah ini bahwa Dia akan selalu
melindungi mereka dari serangan musuh-musuh mereka. Dibebaskan-Nya mereka dari
memikirkan urusan musuh yang kuat dan kaya itu!
Hal
ini dapat kita jumpai dalam surah al-Qalam ini seperti firman Allah tentang
Nabi saw.,
"Nun,
demi kalam dan apa yang mereka tulis. Berkat nikmat Tuhanmu, kamu (Muhammad)
sekali-kali bukan orang gila. Sesungguhnya bagi kamu pahala yang besar yang
tidak putus putusnya. Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.
"(al-Qalam: 1-4)
Dan,
firman-Nya mengenai orang-orang yang beriman,
"Sesungguhnya
bagi orang-orang yang bertakwa (di-sediakan) surga-surga yang penuh kenikmatan
di sisi Tuhannya. Maka, apakah patut Kami menjadikan orang-orang lslam itu sama
dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Mengapa kamu (berbuat demikian),
bagaimanakah kamu mengambil keputusan?" (al-Qalam: 34-36)
Firman-Nya
mengenai salah seorang musuh Nabi yang menonjol.
'Janganlah
kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina. Yang banyak mencela,
yang kian ke mari menghambur fitnah. Yang sangat enggan berbuat baik, yang
melampaui batas lagi banyak dosa. Yang kaku kasar, selain dari itu, yang
terkenal kejahatannya, karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Apabila
dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, '(Ini adalah) dongeng-dongengan
orang¬orang dahulu kala.' Kelak akan Kami beri tanda dia di belalai(nya)."
(al-Qalam: 10-16)
Kemudian
firman-Nya mengenai serangan orang-orang yang mendustakan secara umum.
'Maka,
serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan
perkataan ini (Al-Qur an). Nanti Kami akan menarik mereka dengan
berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui, dan
Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh. "
(al¬Qalam: 44-45)
Ini,
belum lagi azab akhirat yang menghinakan orang-orang yang sombong,
"Pada
hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud, maka mereka tidak
kuasa, (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi
kehinaan. Sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan
mereka dalam keadaan sejahtera."(al-Qalam: 42-43)
Dijadikan
bagi mereka para pemilik kebun (kebun dunia) sebagai contoh bagaimana akibat
kesombongan mereka, yang hal ini sebagai ancaman bagi pembesar-pembesar Quraisy
yang terpedaya oleh harta dan anak-anak mereka, bagi mereka yang kaya dan
banyak anak, yang suka melakukan makar terhadap dakwah islamiah, bagi mereka
yang tidak mempunyai harta dan anak-anak.
Pada
bagian akhir surah Allah berpesan kepada Nabi saw. supaya bersabar dengan
kesabaran yang bagus,
'Maka,
bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu
seperti orang (Yunus) yang bernda dalam (perut) ikan.... "(al-Qalam: 48)
Dari
celah-celah pencurahan kasih sayang, sanjungan, dan pemantapan ini, juga di
samping ancaman keras kepada orang-orang yang mendustakan, Allah sendiri
melindungi beliau dari serangan mereka yang keras.... Dari celah-celah semua
ini, tampaklah ciri-ciri periode itu. Periode kelemahan dan minoritas,
masa-masa yang penuh kepayahan dan kemelaratan, masa-masa usaha yang keras
untuk menanamkan tanaman yang mulia di tanah yang keras.
Dari
celah-celah uslub, pengungkapan, dan tema-tema surah ini kita juga melihat
ciri-ciri lingkungan yang dihadapi dakwah Islam waktu itu. Yaitu, lingkungan
masyarakat yang masih bersahaja dan terbelakang dalam pola pikir, perasaan,
kepentingan-kepentingan, dan persoalan-persoalan yang di¬hadapinya.
Kita
lihat kebershajaan ini pada cara mereka memerangi dakwah dengan mengatakan
tentang Nabi saw., "...Sesungguhnya dia benar-benar orang yang gila.
"
Ini
adalah tuduhan yang sama sekali tidak berdasar dan dengan caci maki yang kasar
yang diucapkan tanpa pendahuluan dan tanpa bukti-bukti yang jelas, sebagaimana
yang biasa dikatakan oleh orang-orang kampungan yang masih bersahaja.
Kita
lihat bagaimana cara Allah menyanggah kebohongan mereka dengan jawaban yang
sesuai dengan keadaan mereka,
"Berkat
nikmat Tuhanmu, kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Sesungguhnya bagi
kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus putusnya. Sesungguhnya kamu
benar-benar berbudi pekerti yang agung. Maka, kelak kamu akan melihat dan
mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat, siapa di antara kamu yang gila.
"(al-Qalam: 2-6)
Demikian
juga dalam ancaman terbuka yang keras, firman-Nya,
'Maka,
serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan
perkataan ini (Al¬Qur an). Nanti Kami akan menarik mereka dengan
berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui, dan
Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh. "
(al¬Qalam: 44-45)
Kita
lihat juga di dalam menjawab caci maki ini kepada salah seorang dari mereka,
firman-Nya,
'Dan
janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina. Yang banyak
mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah. Yang sangat enggan berbuat baik,
yang melampaui batas lagi banyak dosa. Yang kaku kasar, selain dari itu, yang
terkenal ke-jahatannya. " (al-Qalam: 10-13)
Kita
lihat kebersahajaan itu pada kisah-kisah para pemilik kebun yang dijadikan
Allah percontohan bagi mereka. Yaitu, kisah kaum yang masih bersahaja
pemikirannya dan pandangannya, kesombongannya, perbuatannya, dan perkataannya.
'Maka,
pergilah mereka saling berbisik-bisikan, 'Pada hari ini janganlah ada seorang
miskin pun masuk ke dalam kebunmu. "' (al-Qalam: 23-24)
Akhirnya,
kita lihat kebersahajaan mereka dari celah-celah bantahan yang ditujukan kepada
mereka,
'Atau,
adakah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu membacanya
bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu? Atau,
apakah kamu memperoleh janji janji yang diperkuat dengan sumpah dari Kami) yang
tetap berlaku sampai hari Kiamat; sesungguhnya kamu benar-benar dapat mengambil
keputusan (sekehendakmu)? Tanyakanlah kepada mereka, 'Siapakah di antara mereka
yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu?"' (al-Qalam:
37-40)
Inilah
beberapa ciri yang tampak dengan jelas dari celah-celah pengungkapan (redaksi)
Al-Qur'an, dan sangat berguna di dalam mempelajari sejarah,
kejadian-kejadiannya, dan langkah-langkah dakwah padanya. Juga sejauh mana
sesudah itu Al-Qur'an mengangkat lingkungan ini dan jamaah itu pada masa-masa
terakhir Rasulullah. Dan, sejauh mana pula Al-Qur'an telah memindahkan mereka
dari kesederhanaan dan kebersahajaan mereka dalam berpikir, berpandangan,
perasaan, dan kepentingannya, sebagaimana tampak jelas di dalam metode
penyampaian ayat-ayatnya sesudah itu mengenai hakikat-hakikat, perasaan,
pandangan, dan kepentingan-kepentingan mereka sesudah dua puluh tahun, tidak
lebih.
Peralihan
yang besar dan menyeluruh ini tidak ditemukan serta tidak ada bandingannya di
dalam kehidupan bangsa-bangsa... yang dialami oleh jama’ah ini dalam waktu yang
singkat ini. Dengan ini pula, mereka diserahi memimpin manusia hingga berhasil
meningkatkan pola pikir dan pola pandang mereka beserta moralitasnya ke
tingkatan yang sangat tinggi yang tidak pernah dicapai oleh kepemimpinan mana pun
dalam sejarah manusia, dari segi karakter akidahnya dan pengaruh-pengaruh
riilnya dalam kehidupan manusia di muka bumi. Juga dari segi keluasan dan
kekomplitannya yang menyatukan seluruh kemanusiaan dalam ketoleranan dan
kelemahlembutan di bawah kepakan sayap-sayapnya. Serta, di dalam memenuhi setup
kebutuh an spiritualnya, kebutuhan pikirannya, kebutuhan sosialnya, dan
kebutuhan-kebutuhan peraturannya dalam semua lapangan.
Sungguh
ini merupakan mukjizat (keluarbiasaan) yang tampak jelas dalam peralihan dari
kebersahajaan yang tampak ciri-cirinya dari celah-celah surah seperti ini
hingga ke kedalaman dan kekomplitannya. Ini adalah peralihan yang lebih luas
dan lebih benar daripada peralihan dari minoritas menjadi mayoritas, dan dari
lemah menjadi kuat, karena membangun jiwa dan pikiran itu lebih sulit daripada
menambah jumlah dan barisan.
Jawaban
dan Pengarahan
"Nun,
demi kalam dan apa yang mereka tulis. Berkat nikmat Tuhanmu, kamu (Muhammad)
sekali-kali bukan orang gila. Sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang
besar yang tidak putus putusnya. Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti
yang agung. Maka, kelak kamu akan melihat dan mereka (orang¬orang kafir) pun
akan melihat, siapa di antara kamu yang gila. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Yang
Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya, dan Dialah Yang Paling
Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. Maka, janganlah kamu ikuti
orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah). Maka, mereka menginginkan
supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).
Janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina. Yang banyak
mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah. Yang sangat enggan berbuat baik,
yang melampaui batas lagi banyak dosa. Yang kaku kasar, selain dari itu, yang
terkenal kejahatannya, karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Apabila
dibacakan kepadanya ayat-ayat kami, ia berkata, '(Ini adalah) dongeng-dongengan
orang-orang dahulu kala. 'Kelak akan Kami beri tanda dia di belalai(nya).
" (al-Qalam: 1-16)
نۤ ۚوَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُوْنَۙ ١
Allah
bersumpah dengan huruf Nun, kalam (pena, alat tulis), dan tulisan. Sangat jelas
hubungan antara huruf (Nun) sebagai salah satu huruf abjad dengan pena (alat
tulis), dan tulisan.... Bersumpah dengannya berarti mengagungkan nilainya, dan
memberikan arahan kepadanya, di tengah-tengah umat yang belum terarah untuk
belajar melalui jalan ini. Dan, tulis baca di kalangan umat ini masih
terbelakang dan jarang yang mengetahui, padahal karena peranannya yang penting,
maka diperlukan pengembangannya sedemikian rupa di antara mereka, supaya akidah
dan manhaj-manhaj kehidupan yang bertumpu atasnya dapat disebarluaskan ke
seluruh penjuru dunia. Selanjutnya, mereka akan ditugasi memimpin dunia dengan
kepemimpinan yang lurus. Oleh karena itu, tidak diragukan lagi bahwa tulis baca
merupakan unsur asasi di dalam pengembanan tugas yang sangat besar ini.
Di
antara yang menguatkan asumsi ini adalah dimulainya wahyu dengan firman Allah,
"Bacalah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia
dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah. Yang mengajar
(manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang
tidak diketahuinya. " (al-Alaq: 1-5)
Firman
ini ditujukan kepada Nabi yang buta huruf, yang ditakdirkan Allah buta huruf
karena suatu hikmah tertentu. Akan tetapi, permulaan wahyu yang diturunkan
kepada beliau ini menyerukan membaca dan belajar dengan pena. Kemudian hal ini
di sini diperkuat lagi dengan sumpah dengan huruf Nun, pena, dan apa yang
mereka tulis. Ini merupakan lingkaran dari manhaj Ilahi untuk mendidik umat ini
dan mempersiapkannya untuk menunaikan peranan yang besar yang telah ditakdirkan
buat mereka di dalam ilmu-Nya yang tersembunyi.
Allah
bersumpah dengan huruf Nun, pena, dan apa yang mereka tulis, untuk menunjukkan
nilai tulis baca ini dan untuk mengagungkannya sebagai-mana sudah kami
kemukakan. Juga untuk meniadakan dari Rasul-Nya saw. kebohongan yang dituduhkan
kaum musyrikin, dan untuk menjauhkan beliau dari yang demikian itu, sedang
nikmat-nikmat-Nya selalu dicurahkan kepada Rasul-Nya.
مَآ اَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُوْنٍ
٢
"Berkat
nikmat Tuhanmu, kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. "(al-Qalam:
2)
Dalam
ayat yang pendek ini, Allah menetapkan dan meniadakan sesuatu. Menetapkan
nikmat-Nya atas Nabi-Nya, yang diungkapkan dengan kalimat yang mengesaankan
adanya kedekatan dan kecintaan, ketika Dia menisbatkan beliau kepada diri-Nya
dengan kata-kata Rabbika Tuhanmu. Dan, ditiadakan-Nya sifat yang diada-adakan
oleh orang¬orang musyrik, yang tidak sinkron dengan nikmat¬Nya kepada hamba-Nya
yang dinisbatkan-Nya kepada-Nya, didekatkan kepada-Nya, dan dipilih-Nya.
Yang
mengherankan, tiap-tiap orang yang mempelajari riwayat hidup Rasulullah di
kalangan kaumnya, menerima saja apa yang mereka katakan tentang beliau itu.
Padahal, mereka sudah mengetahui keunggulan pikiran beliau sehingga mereka
menjadikan beliau sebagai hakim di antara mereka dalam masalah peletakan Hajar
Aswad beberapa tahun sebelum beliau menjadi nabi. Dan, mereka pulalah yang
memberi gelar kepada beliau dengan Al-Amin yang terpercaya', dan mereka biasa
menitipkan amanat-amanat mereka kepada beliau hingga saat beliau hijrah,
sesudah mereka memusuhi beliau dengan sengit.
Diriwayatkan
bahwa Ali menggantikan Rasulullah selama beberapa hari di Mekah, untuk
mengembalikan kepada mereka titipan-titipan mereka yang ada pada beliau, hingga
mereka menentang dan memusuhi beliau sedemikian keras. Mereka tidak pernah
melihat beliau berbohong walau hanya sekali sebelum diutus menjadi rasul. Maka,
ketika Heraklius bertanya kepada Abu Sufyan tentang beliau, "Apakah Anda
menuduhnya pernah berdusta ketika belum diutus sebagai nabi?" Abu Sufyan
menjawab, “Tidak." padahal dia adalah musuh beliau sebelum dia masuk
Islam. Heraklius berkata, "Orang yang tidak pernah berdusta terhadap
manusia tidak mungkin dia berdusta atas nama Allah."
Manusia
merasa heran mengapa kemarahan kaum musyrikin Quraisy sampai mendorong mereka
untuk mengucapkan perkataan ini (gila) dan lain-lainnya terhadap manusia yang
tinggi dan mulia ini, yang sudah populer di kalangan mereka dengan keunggulan
pikirannya dan akhlaknya yang lurus. Akan tetapi, rasa dendam telah menjadikan
mereka buta dan tuli. Demi mencapai tujuan, maka mereka tidak merasa keberatan
melontarkan tuduhan-tuduhan palsu, padahal orang yang menuduh itu sendiri
mengetahui sebelum seorang pun mengetahui bahwa dirinya adalah pembohong yang
berlumuran dosa.
"Berkat
nikmat Tuhanmu, kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila."(al-Qalam:
2)
Demikianlah
Allah berfirman dengan lemah lembut, menggembirakan, dan memuliakan beliau,
dalam menjawab kedengkian orang kafir itu dan kebohongannya yang tercela.
وَاِنَّ لَكَ لَاَجْرًا غَيْرَ مَمْنُوْنٍۚ
٣
"Sesungguhnya
bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus
-putusnya."(al-Qalam: 3)
Sungguh
engkau (Muhammad) benar-benar mendapatkan pahala yang kekal dan terus-menerus,
yang tidak akan terputus dan takkan berkesudahan. Pahala di sisi Tuhanmu yang
telah memberi nikmat kepadamu yang berupa kenabian dan kedudukan yang
terhormat....
Ini
adalah sesuatu yang menenangkan dan menggembirakan, dan sebagai ganti kerugian
yang melimpah ruah dari semua keterhalangan, semua kekerasan, dan semua tuduhan
bohong yang dilontarkan orang-orang musyrik. Nah, kalau begitu, apakah yang
hilang dari orang yang dikenai firman Tuhannya dengan penuh kelembutan, kasih
sayang, dan penghormatan, "Sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang
besar yang tidak putus -putusnya?"
Setelah
itu datanglah kesaksian terbesar dan penghormatan yang agung.
وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ ٤
"Sesungguhnya
kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. " (al-Qalam: 4)
Semua
penjuru mendapatkan jawaban dengan sanjungan yang unik terhadap nabi yang mulia
ini, dan mantaplah sanjungan yang tinggi ini di dasar alam wujud ini.
Semua
pena dan semua gambaran tidak mampu melukiskan nilai kalimat agung dari Tuhan
semesta alam ini. Dan, ini adalah kesaksian dari Allah, dalam timbangan Allah,
buat hamba Allah, yang Dia ber-firman kepadanya dalam hal ini,
"Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. " Jangkauan
budi pekerti yang agung yang ada di sisi Allah ini tidak dapat dijangkau oleh
pengetahuan seorang pun di alam semesta ini.
Petunjuk
kalimat yang agung atas keagungan Nabi Muhammad saw. ini tampak dari berbagai
sudut, antara lain sebagai berikut.
Tampak
dari keberadaan kalimat itu sendiri yang datang dari Allah Yang Maha Agung lagi
Maha-tinggi, yang dicatat oleh nurani alam semesta, mantap dalam eksistensinya,
dan berulang-ulang di kalangan golongan makhluk tertinggi hingga apa yang
dikehendaki Allah.
Dari
sisi lain, tampak dari sisi kemampuan Nabi Muhammad saw. menerimanya, sedang
beliau mengetahui ini dari Tuhannya, yang mengucapkan kalimat ini. Apakah dia?
Apa keagungannya? Apa petunjuk kalimat-kalimatnya? Sampai di mana
jang-kauannya? Bagaimana ukurannya? Dan, dia mengetahui siapakah dia di samping
keagungan yang mutlak ini, yang dia mengerti darinya apa yang tidak dimengerti
oleh seorang pun manusia di alam ini.
Sesungguhnya
kemampuan Nabi Muhammad saw. untuk menerima kalimat ini, dari sumber ini,
dengan demikian mantap, tidak lumat di bawah tekanannya yang besar, dan tidak
goncang kepribadiannya di bawah jatuhnya kalimat ini.... sebagai bukti yang
menunjukkan keagungan pribadinya, melebihi bukti apa pun.
Keagungan
akhlak beliau ini banyak diriwayatkan dalarn perjalanan hidup beliau dan
melalui lisan sahabat-sahabat beliau. Realitas kehidupan beliau merupakan
kesaksian yang Iebih besar daripada semua riwayat tentang beliau. Akan tetapi,
kalimat (firman Allah) ini lebih agung petunjuknya dari segala sesuatu yang
lain, lebih agung karena bersumber dari Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. Lebih
agung karena diterima oleh Nabi Muhammad saw. dari Zat yang beliau mengetahui
bahwa Dia adalah Mahatinggi lagi Mahabesar. Keberadaan beliau sesudah itu
adalah mantap, teguh, dan tenang, tidak sombong terhadap hamba-hamba Allah,
tidak angkuh, tidak tinggi hati, padahal beliau mendengar apa yang beliau
dengar dari Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.
Allah
lebih mengetahui di mana Dia menciptakan risalah-Nya. Tidak ada lain kecuali
Muhammad saw. yang diberi tugas untuk mengemban risalah terakhir ini dengan
segala keagungan alaminya yang terbesar ini. Maka, beliau sangat memadai
menyandang tugas ini, sebagaimana beliau juga sebagai gambar hidup risalah ini.
Sesungguhnya
risalah yang sempurna dan indah ini, agung dan lengkap, benar dan haq, tidak
ada yang layak mengembannya kecuali orang yang dipuji oleh Allah dengan
sanjungan ini, yang jiwanya mampu menerima sanjungan ini dengan mantap,
seimbang, dan tenang. Ketenangan hati yang besar hingga mampu memuat hakikat
risalah itu dan hakikat sanjungan yang agung ini. Kemudian beliau menerima
celaan dan teguran Tuhannya atas beberapa tindakan beliau, dengan penuh
kemantapan, keseimbangan, dan ketenangan. Semua ini beliau sampaikan,
sebagaimana beliau menyampaikan yang itu, dengan tidak ada sedikit pun yang
disembunyikan dan dirahasiakan.... Dan beliau, dalam kedua hal ini tetaplah
seorang nabi yang mulia, hamba yang patuh, dan mubaligh yang terpercaya.
Sesungguhnya
hakikat jiwa Nabi saw. ini termasuk hakikat jiwa risalah, dan keagungan jiwa
beliau ini termasuk keagungan jiwa risalah. Sesung-guhnya hakikat Muhammadiyah
(segala sesuatu yang berkenaan dengan Nabi Muhammad) adalah seperti hakikat
Islam, yang Iebih jauh jangkauannya dari pengeras suara manapun yang dimiliki
manusia. Pendek kata, tidak ada teropong yang mampu melihatnya dan membatasi
jangkauannya, karena agungnya hakikat ini, dan tidak ada yang dapat membatas
jalannya.
Pada
kali lain saya dapati diri saya terikat untuk berhenti di sisi petunjuk besar
mengenai penerimaan Rasulullah terhadap kalimat ini dari Tuhannya, sedangkan
beliau tetap mantap, seimbang, dan tenang.... Beliau pernah memuji salah
seorang sahabatnya, maka gemetarlah sahabat ini dan sahabat-sahabat yang lain
karena terjadinya pujian yang agung ini. Beliau adalah seorang manusia, dan
sahabat itu pun mengetahui bahwa beliau seorang manusia biasa. Sahabat-sahabat
yang lain pun tahu bahwa beliau adalah manusia biasa.
Memang
benar beliau seorang nabi, tetapi daerahnya sudah dimaklumi dan terbatas, dan
daerah manusia itu juga terbatas.... Adapun beliau menerima kalimat ini dari
Allah, dan beliau mengerti siapa Allah itu, bahkan orang khusus yang mengetahui
siapa dia Allah itu. Beliau mengetahui dari Allah apa yang tidak diketahui
orang lain, kemudian beliau sabar, teguh, menerimanya, dan melaksanakannya.
Maka, sesungguhnya itu adalah urusan di atas semua bayangan dan semua
perkiraan!!!
Sesungguhnya
hanya Nabi Muhammad sajalah yang dapat mencapai ufuk keagungan ini... Sesungguhnya
hanya Nabi Muhammad sajalah yang dapat mencapai puncak kesempurnaan manusiawi
yang sama-sama mendapat tiupan tiupan ruh dari Allah untuk eksistensi manusia
ini. Sesungguhnya hanya Nabi Muhammad sajalah yang mumpuni mengemban risalah
insaniah yang universal ini, hingga tercermin sebagai makhluk hidup pada diri
beliau, berjalan di muka bumi dengan berkulitkan manusia. Sesungguhnya hanya
Nabi Muhammad sajalah yang menurut pengetahuan Allah layak menyandang kedudukan
ini.
Allah
Maha Mengetahui di mana Dia mencipta¬kan risalah-Nya, dan dalam hal ini Dia
mengumumkan bahwa Rasulullah saw. berbudi pekerti yang agung. Pada tempat lain
Allah memberitahukan bahwa Dia Yang Mahaluhur dan Mahasuci zat-Nya dan sifat
Nya bershalawat atas Nabi, demikian pula para malaikat-Nya.
"Sesungguhnya
Allah dan malaikat-malaikat-Nya ber-shalawat untuk Nabi... " (al-Ahzab:
56)
Hanya
Allah sendiri yang mampu memberikan karunia yang agung itu kepada salah seorang
dari hamba-hamba-Nya...
Selanjutnya,
hak ini menunjukkan betapa mulia nya unsur akhlak dalam timbangan Allah.
Mendasarnya unsur akhlak ini di dalam hakikat Islam adalah seperti mendasarnya
hakikat ajaran Nabi Muhammad saw..
Orang
yang memperhatikan akidah islamiah ini seperti orang yang memperhatikan riwayat
hidup Rasul-Nya, dia akan menjumpai unsur akhlak demikian menonjol dan mendasar
di dalamnya, yang di atasnya berdiri tegak prinsip-prinsip syariatnya dan
prinsip-prinsip pendidikannya.... Seruan terbesar dalam akidah ini adalah
kepada kesucian, kebersihan, amanah, kejujuran, keadilan, kasih sayang,
kebajikan, memelihara perjanjian, keserasian kata dengan perbuatan, serta
kesesuaian keduanva dengan niat dan hati nurani. Juga mencegah tindakan aniaya,
zalim, menipu, curang, memakan harta orang lain secara batil, melanggar
kehormatan dan harga diri, dan melarang penyebaran kemungkaran dalam bentuk apa
pun. Dan, tasyri'at 'pensyariatan' di dalam akidah ini adalah untuk memelihara
asas-asas ini dan untuk melindungi unsur akhlak ini di dalam perasaan dan
perilaku, di dalam lubuk hati dan dalam realitas sosial, dan dalam
hubungan-hubungan pribadi, masyarakat, dan negara.
Rasul
yang mulia bersabda,
إِنَّمَا بُعِثْتُ
لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
"Sesungguhnya
aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang muka. " Maka,
difokuskanlah risalahnya untuk tujuan yang bagus ini, dan berdatanganlah
hadits-hadits beliau untuk menganjurkan dan memacu manusia kepada akhlak yang
mulia ini. Perjalanan hidup pribadi beliau sendiri menjadi teladan yang hidup,
lembaran yang bersih, lukisan yang tinggi, yang layak mendapatkan sanjungan
dari Allah di dalam kitab-Nya yang abadi, Sesungguhnya engkau berbudi pekerti
yang agung. "
Dengan
sanjungan ini, Dia memuji Nabi-Nya Saw, sebagaimana dengan sanjungan ini pula
Dia memuji unsur akhlak di dalam manhaj-Nya yang dibawa oleh nabi-Nya yang
mulia itu. Dengannya Dia mengikatkan bumi ke langit, dan dengannya Dia
menggantungkan hati orang-orang yang meng-harapkan keridhaan-Nya. Dia
menunjukkan mereka kepada akhlak lurus yang dicintai dan diridhai-Nya.
Pernyataan
ini adalah pernyataan tunggal tentang akhlak islam. Ia adalah akhlak yang tidak
bersumber pada lingkungan; ia tidak bersumber dari jargon-jargon dunia secara
mutlak; serta ia tidak berpijak dan tidak bersandar pada ungkapan-ungkapan
adat, kepentingan, atau pertalian-pertalian generasi. Tetapi, is berpijak dan
bersumber dari langit, bersumber dari suara langit ke bumi untuk melihat ke
ufuk. la bersumber dari sifat-sifat Allah yang mutlak supaya diaplikasikan
manusia sebatas kemampuannya, supaya mereka dapat merealisasikan kemanusiaannya
yang tertinggi, supaya mereka layak mendapatkan penghormatan dari Allah dan
menjadi khalifah di muka bumi, dan supaya mereka layak memperoleh kehidupan
yang tinggi di alam akhirat nanti.
"Di
tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa. " (al-Qamar: 55)
Oleh
karena itu, akhlak islam ini tidak terikat dan tidak dibatasi dengan
batas-batas jargon atau pepatah petitih apa pun di bumi ini. Ia lepas bebas
naik ke tempat yang tinggi yang tidak dapat dijangkau oleh manusia, karena ia
merefleksikan sifat-sifat Allah yang bebas dari semua batas dan ikatan.
Selanjutnya,
akhlak Islam bukanlah keutamaan-keutamaan yang bersifat tunggal,
sendiri-sendiri. jujur, amanah, adil, kasih sayang, bagus... Tetapi, ia
merupakan sebuah sistem yang integral, saling melengkapi, dan berinteraksi
dengan pendidikan dan pensyariatan hukum-hukumnya. la menjadi landasan pikiran
tentang kehidupan serta semua arah dan seginya, yang pada akhir perjalanannya
berujung pada Allah, bukan kepada semboyan kehidupan mana pun.
Akhlak
Islam dengan kesempurnaannya, keindahannya, keseimbangannya, kelurusannya, keaktualannya,
dan kemantapannya ini semua tercermin pada diri Nabi Muhammad saw. dan tercermin
dalam sanjungan Allah Yang Mahaagung dan firman-Nya,
"Sesungguhnya
engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung." (al-Qalam: 4)
Setelah
memberikan pujian yang mulia kepada hamba-Nya ini, Allah menenangkan hati
beliau mengenai hari-hari esoknya dalam menghadapi kaum musyrikin yang
menuduhnya dengan tuduhan yang hina. Allah mengancam mereka dengan akan
mempermalukan mereka dan menyingkap kebatilan dan kesesatan mereka yang sangat
jelas itu.
فَسَتُبْصِرُ وَيُبْصِرُوْنَۙ ٥ بِاَيِّىكُمُ
الْمَفْتُوْنُ ٦ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖۖ وَهُوَ
اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ ٧
'Maka,
kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat, siapa
di antara kamu yang gila. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Yang Paling Mengetahui
siapa yang sesat dari jalan-Nya, dan Dia-lah Yang Paling Mengetahui orang-orang
yang mendapat petunjuk."(al-Qalam: 5-7)
Orang
gila, yang Allah menenangkan hati nabi-Nya dengan akan menyingkap dan
menerangkannya itu adalah orang yang sesat. Atau, dialah orang yang akan diuji,
yang dengan ujian ini akan terkuak hakikatnya. Kedua hal ini saling
berdekatan.... Dan, janji Allah ini untuk menenangkan hati Rasulullah dan
orang-orang mukmin, di samping terdapat ancaman bagi orang-orang yang menentang
beliau dan melontarkan tuduhan yang bukan-bukan kepada beliau...
Apa
pun materi kegilaan yang mereka tuduhkan kepada beliau, maka dugaan yang paling
dekat bahwa mereka tidak bermaksud menuduh beliau hilang akalnya, karena
tuduhan semacam ini akan ditolak oleh kenyataan. Tetapi, yang mereka maksudkan
adalah kesurupan jin yang jin itu lantas membisikkan perkataan yang aneh tetapi
indah itu (Al-Qur'an-penj.), sebagaimana mereka menganggap setiap penyair
mempunyai setan yang membantunya menciptakan perkataan yang indah-indah. Materi
tuduhan semacam ini jauh dari realitas Nabi Muhammad saw. dan jauh dari
karakter perkataan yang mantap, benar, dan lurus yang diwahyukan kepada beliau.
Janji
Allah ini mengisyaratkan bahwa besok Dia akan akan menyingkap hakikat Nabi-Nya
dan hakikat orang-orang yang mendustakannya. Dia akan menetapkan siapa yang
gila atau sesat dalam hat ini. Dia menenangkan hati beliau dengan menyatakan
bahwa Tuhannya itulah "Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari
jalan-Nya, dan Dialah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat
petunjuk. " Tuhannyalah yang memberikan wahyu kepadanya. Karena itu,
Dialah yang mengetahui bahwa ia dan pengikut-pengikutnya adalah orang yang
mendapat petunjuk.
Ayat
ini untuk menenangkan hati Nabi saw. dan menggoncangkan hati musuh-musuhnya.
Juga menimbulkan rasa takut dan ketidaktenangan di dalam hati mereka
sebagaimana akan dijelaskan nanti.
Selanjutnya
Allah menyingkap hakikat keadaan mereka dan hakikat perasaan mereka yang selalu
memusuhi dan menentang kebenaran yang ada pada beliau dan menuduh beliau dengan
tuduhan
yang
bukan-bukan itu. Padahal, akidah mereka rapuh dan labil karena berisi
pandangan-pandangan jahiliah yang mereka tampak-tampakkan sebagai pegangan yang
kokoh. Mereka bersedia meninggalkan kebanyakan ajaran agama jahiliah itu dengan
catatan Rasulullah mau meninggalkan sebagian dari apa yang beliau serukan
kepada mereka. Mereka bersedia berlunak-lunak dan berlemah lembut serta
bertoleransi secara lahiriah saja, agar Rasulullah mau berlunak-lunak dan
berlemah lembut dengan mereka....
Maka,
mereka bukanlah orang yang memiliki akidah yang mereka percayai sebagai
kebenaran. Mereka hanyalah memiliki sikap-sikap lahiriah yang mereka pergunakan
untuk menutupi akidahnya yang amburadul itu.
فَلَا تُطِعِ الْمُكَذِّبِيْنَ ٨ وَدُّوْا
لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُوْنَۚ ٩
'Maka,
janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah). Maka,
mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula
kepadamu)."(al-Qalam: 8-9)
Nah,
kalau begitu, ini adalah tawar-menawar, dan mereka bertemu di tengah jalan,
sebagaimana yang mereka perbuat di dalam jual beli. Akan tetapi, perbedaan
antara akidah dengan perniagaan sangat besar. Pemilik akidah tidak akan
beranjak dari akidahnya sedikit pun, karena persoalan yang kecil dan besar
dalam akidah itu sama saja. Bahkan, di dalam akidah tidak ada urusan kecil dan
besar. Akidah adalah sebuah hakikat yang bagian-bagiannya saling melengkapi,
yang dalam hal ini pemilik atau pemeluknya tidak boleh mematuhi seorang pun
dengan meninggalkan bagian-bagian tertentu dari akidahnya.
Dalam
hal ini Islam tidak mungkin bertemu dengan jahiliah di tengah jalan, dan tidak
mungkin dapat bertemu di jalan mana pun.
Begitulah
sikap Islam terhadap jahiliah di semua waktu dan semua lokasi, baik jahiliah
tempo dulu, jahiliah masa kini, maupun jahiliah esok hari. Jurang pemisah
antara jahiliah dengan Islam tak terkatakan, tak dapat dipasang jembatan di
atasnya, tak dapat berbagi, dan tak dapat bersambung. Ini adalah permusuhan
total yang mustahil dapat dikompromikan.
Banyak
sekali riwayat yang menceritakan bagaimana kaum musyrikin berlunak-lunak kepada
Nabi saw. supaya beliau mau berlunak-lunak dan berlemah lembut dengan mereka,
serta tidak lagi mencela berhala-berhala sembahan mereka dan membodoh-bodohkan
tindak peribadatan terhadap berhala-berhala itu. Atau, agar beliau mau mengikuti
sedikit ajaran agama mereka dan mereka mau mengikuti agama beliau, dengan
menjaga air muka mereka di hadapan mayoritas bangsa Arab, sebagai mana layaknya
orang-orang yang tawar-menawar yang mencari pemecahan masalah.
Akan
tetapi, Rasulullah tetap bersikap teguh di dalam masalah agamanya, tidak mau
berlunak-lunak dan berlemah-lemah. Padahal, dalam persoalan non-agamis beliau
adalah manusia yang paling lemah lembut, paling bagus pergaulannya, paling memperhatikan
keluarga, dan paling antusias terhadap kemudahan dan memberikan kemudahan.
Adapun urusan agama, maka ia adalah agama! Dalam hal ini beliau sangat
berpegang teguh pada pengarahan Tuhannya,
'Maka,
janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah)!"
(al-Qalam: 8)
Rasulullah
tidak mau melakukan tawar-menawar dalam urusan agamanya, padahal beliau berada
dalam kondisi yang sangat memprihatinkan di Mekah. Beliau dibatasi dakwahnya,
dan sahabat-sahabatnya yang sedikit jumlahnya itu selalu diteror, disiksa, dan
disakiti dalam menjalankan agama Allah dengan gangguan yang sangat berat, namun
mereka bersabar. Akan tetapi, beliau tidak pernah diam dari menyampaikan
sepatah kata yang harus disampaikan ke hadapan orang-orang yang kuat dan
diktator, untuk melunakkan hati mereka atau untuk menolak gangguan mereka.
Beliau juga tidak pernah diam dari menjelaskan hakikat sesuatu yang bersentuhan
dengan akidah, baik kepada orang dekat maupun orang yang jauh.
Ibnu
Hisyam meriwayatkan dalam as-Sirah dari Ibnu Ishaq bahwa ketika Rasulullah
memperlihatkan dan menyampaikan Islam secara terang-terangan kepada kaumnya
sebagaimana diperintahkan oleh Allah, maka kaumnya tidak menjauhi beliau dan
tidak pula menyanggah beliau sehingga beliau menyebut-nyebut berhala-berhala
mereka dan mencelanya. Ketika beliau melakukan hal itu, maka mereka
menganggapnya sebagai sesuatu yang besar dan mereka mengingkarinya. Mereka bersepakat
menentang dan memusuhi beliau, kecuali orang yang dipelihara Allah dengan Islam
di antara mereka yang jumlahnya hanya sedikit dan bersembunyi-sembunyi. Akan
tetapi, paman beliau (Abu Thalib) menaruh simpati dan kasih sayang kepada
beliau dan berusaha melindungi beliau. Rasulullah terus melaksanakan perintah
Allah dengan terang-terangan, tanpa ada sesuatu pun yang dapat mencegahnya.
Ketika
orang-orang Quraisy melihat Rasulullah tidak mencela mereka mengenai sesuatu
yang mereka ingkari dengan meninggalkan mereka dan mencela berhala-berhala
sembahan mereka, dan mereka melihat bahwa paman beliau Abu Thalib menaruh
simpati kepada beliau dan melindungi beliau sehingga tidak mau menyerahkan
beliau kepada mereka,... maka beberapa pemuka Quraisy antara lain Utbah dan
Syaibah dua orang anak Rabi'ah, Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah, Abul Bakhtari
yang nama aslinya al-'Ash bin Hisyam, al-Aswad ibnul-Muthalib bin Asad, Abu
Jahal (nama aslinya Amr bin Hisyam dan dijuluki pula dengan Abul Hakam), al
Walid ibnul-Mughirah, Nabih dan Munabbih dua orang anak al-Hajjaj bin Amir, dan
beberapa orang lagi, datang kepada Abu Thalib seraya berkata, Wahai Abu Thalib,
anak saudaramu itu telah mencela sembahan-sembahan kami, mencela agama kami,
menganggap bodoh pikiran kami, dan menganggap sesat nenek moyang kami. Oleh
karena itu, kami berharap engkau cegah dia dari mencela kami atau biarkanlah
kami bertindak terhadapnya. Akan tetapi, karena engkau adalah seperti kami,
berbeda agama dengannya, maka kami kira cukup mendelegasikan engkau untuk
meng¬hadapinya." Kemudian Abu Thalib berkata kepada mereka dengan lemah
lembut dan menjawabnya dengan jawaban yang baik, lalu mereka kembali.
Rasulullah
terus menjalankan tugasnya, menyampaikan dan mendakwahkan agama Allah dengan
terang-terangan. Tetapi, kemudian persoalan antara beliau dengan mereka semakin
bertambah genting sehingga mereka semakin menjauh dan semakin benci. Kaum
Quraisy semakin sering menyebut-nyebut Rasulullah, murka, dan antara sebagian
dengan sebagian yang lain saling menambah kebencian kepada beliau. Kemudian
mereka datang lagi kepada Abu Thalib seraya berkata, "Wahai Abu Thalib,
sesungguhnya engkau adalah orang yang terpandang dan terhormat di kalangan
kami, dan kami telah memintamu agar mencegah anak saudaramu itu. Tetapi, engkau
tidak juga mencegahnya dari mencela sembahan dan agama kami. Karena itu, demi
Allah, kami sudah tidak sabar lagi terhadap hat ini, sehingga engkau
melindunginya dari kami, atau kami yang akan turun menghadapinya dan
menghadapimu. Sehingga, binasalah salah satu dari kedua golongan ini."
Kemudian mereka meninggalkan Abu Thalib. Maka, keberpisahan kaumnya dan
permusuhan mereka terhadap Nabi ini terasa berat oleh Abu Thalib. Dia tidak
rela menyerahkan Rasulullah ke-pada mereka dan tidak rela pula merendahkan
beliau.
Ibnu
Ishaq mengatakan bahwa diceritakan oleh Ya'qub bin Uqbah ibnul-Mughirah
ibnul-Akhnas bahwa setelah kaum Quraisy berkata demikian kepada Abu Thalib,
maka pergilah Abu Thalib kepada Rasulullah seraya berkata kepada beliau,
"Wahai anak saudaraku, sesungguhnya kaummu telah datang kepadaku dan
berkata begini dan begini (sebagai mana yang mereka katakan itu). Maka,
bebaskanlah aku dan dirimu, dan janganlah engkau bebani aku dengan sesuatu yang
aku tidak sanggup memikulnya."
Rasulullah
mengira bahwa telah terjadi perubahan pada pamannya. Beliau mengira Abu Thalib
telah meremehkannya dan menyerahkannya kepada musuh, dan dia tidak mampu lagi
menolong dan melindungi beliau. Ialu Rasulullah berkata, " Wahai paman,
demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan
rembulan di tangan kiriku dengan catatan aku harus meninggalkan perintah Allah
ini, maka aku tidak akan meninggal-kannya, sehingga Allah memenangkan agama-Nya
atau aku binasa karenanya."
Maka,
Rasulullah menangis bercucuran air mata, kemudian berdiri. Maka, ketika beliau
hendak pergi, Abu Thalib memanggilnya seraya berkata, "Kemarilah wahai
anak saudaraku!" Kemudian Rasulullah menghadap kepadanya, lalu Abu Thalib
berkata, "Laksanakanlah wahai anak saudaraku, katakanlah apa yang ingin
engkau katakan. Maka demi Allah, aku tidak akan menyerahkanmu kepada sesuatu
pun selama-lamanya."
Begitulah
gambaran bagaimana Rasulullah terus saja menjalankan dakwahnya pada saat
pamannya sendiri berlepas tangan dari beliau. Padahal, paman inilah pelindung
dan pembela beliau, dan benteng terakhir beliau di muka bumi yang melindungi
beliau dari orang-orang yang menantikan kehancuran beliau dan membenci beliau.
Demikianlah
sebuah lukisan yang kuat, indah, dan baru jenisnya, dilihat dari segi
hakikatnya, bentuknya, bayangannya, ungkapannya, dan kata-katanya.... Baru
dengan keseriusan akidahnya, indah dengan keindahan akidahnya, dan kuat dengan
kekuatan akidahnya. Yah, lukisan yang mencerminkan firman Allah Yang Mahaagung,
"Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung. "
Gambaran
lain yang juga diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq, yang menggambarkan penawaran
langsung dari kaum musyrikin kepada Rasulullah setelah mereka merasa payah
memikirkan urusan beliau, dan masing-masing kabilah melompat hendak menerkam
setiap orang yang masuk Islam.
Ibnu
Ishaq mengatakan bahwa telah diceritakan oleh Yazid bin Ziyad, dari Muhammad
bin Ka'ab al-Qurazhi bahwa Utbah bin Rabi'ah yang menjadi pemuka kaumnya, pada
suatu hari duduk di balai pertemuan kaum Quraisy, lalu dia berkata, "Wahai
segenap kaum Quraisy! Bagaimana kalau aku datangi Muhammad lalu aku bicarakan
kepadanya dan aku suguhkan kepadanya beberapa hal yang boleh jadi dia akan
menerima sebagiannya, lantas kita berikan kepadanya apa yang dikehendakinya,
asalkan dia berhenti dari menyebarkan agamanya kepada kita?" Hal ini
terjadi setelah Hamzah masuk Islam, dan mereka melihat sahabat-sahabat Rasulullah
semakin bertambah banyak. Lalu mereka berkata, "Wahai Abul Walid, pergilah
dan berbicaralah kepadanya."
Kemudian
Utbah pergi menemui Rasulullah yang sendirian di masjid. Utbah duduk di sebelah
beliau, lalu dia berkata, "Wahai anak saudaraku, sesungguhnya engkau
termasuk golongan kami. Engkau tahu bahwa kita termasuk golongan yang
terpandang dalam keluarga dan punya kedudukan yang tinggi dalam nasab. Engkau
telah datang kepada kaummu dengan membawa persoalan yang besar. Engkau
pecah-belah persatuan mereka, engkau anggap bodoh akal mereka, engkau cela
tuhan-tuhan dan agama mereka, dan karenanya engkau kafirkan nenek moyang
mereka. Karena itu, dengarkanlah aku, aku hendak menawarkan beberapa hal
kepadamu untuk engkau pertimbangkan, barangkali engkau dapat menerima sebagiannya."
Lalu Rasulullah berkata kepada Utbah, "Silakan bicara wahai Abul Walid,
akan saya dengarkan. "
Utbah
berkata, "Wahai anak saudaraku, jika kedatanganmu dengan ajaranmu itu
dengan maksud hendak mencari harta kekayaan, maka kami akan mengumpulkan
kekayaan kami untukmu, sehingga engkau menjadi orang yang paling kaya di antara
kami. Jika engkau bermaksud untuk mendapatkan kehormatan, maka kami akan
menjadikanmu sebagai pemimpin kami, dan kami tidak perlu memutuskan hubungan
denganmu. Jika engkau menginginkan kekuasaan, maka kami akan men-jadikanmu raja
atas kami. Dan, jika yang datang kepadamu ini khadam jin yang tidak dapat
engkau tolak, maka kami akan mencarikan obat untukmu dan akan kami gunakan
seluruh harta kekayaan kami untuk itu sehingga engkau sembuh, karena mungkin
saja nanti akan ada orang yang dapat mengobatinya."
Setelah
Utbah selesai berkata, beliau bertanya kepadanya, "Wahai Abul Walid,
apakah Anda sudah selesai ?" Utbah menjawab, "Sudah." Rasulullah
berkata, "Maka, sekarang dengarkanlah saya. " Utbah menjawab,
"Silakan." Kemudian Rasulullah berkata (membaca firman Allah),
'Haa
Miim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan
ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang
membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka
berpaling (daripadanya); maka mereka tidak (mau) mendengarkan. Mereka berkata,
'Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami
kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan serta antara kami dan kamu ada dinding.
Maka, bekerjalah kamu, sesungguhnya kami bekerja (pula).' Katakanlah, Aku
hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan
kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju
kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan, kecelakaan yang besarlah bagi
orang-orang yang mempersekutukan (Nya). " (Fushshilat: 1-6)
Kemudian
Rasulullah melanjutkan bacaannya. Utbah diam dan mendengarkannya dengan penuh
perhatian. Ia meletakkan kedua tangannya di belakang punggungnya sambil
bersandar mendengarkannya. Kemudian sampailah Rasulullah pada ayat sajdah, lalu
beliau bersujud, kemudian beliau berkata kepada Utbah, 'Engkau telah
mendengarkannya wahai Abul Walid, maka sekarang terserah Anda. "
Kemudian
Utbah pergi menemui teman-teman-nya, lalu sebagian mereka berkata kepada
sebagian yang lain, "Kami bersumpah demi Allah, sesungguhnya Abul Walid
datang kepada kalian dengan wajah yang tidak sama dengan kepergiannya
tadi."
Setelah
Abu Walid duduk di sisi mereka, mereka bertanya, "Apa yang terjadi di
belakangmu, wahai Abul Walid?" Utbah menjawab, "Sesungguhnya aku
telah mendengar, demi Allah, perkataan yang belum pernah kudengar sama sekali.
Demi Allah, ia bukan syair, bukan sihir, dan bukan pedukunan. Wahai segenap
bangsa Quraisy, patuhilah aku, dan biarkanlah orang ini (Nabi Muhammad-penj.)
dengan urusannya, dan tinggalkanlah dia. Demi Allah, se-sungguhnya perkataannya
yang telah kudengar itu akan menjadi berita besar. Jika bangsa Arab menyukainya,
maka sesungguhnya kalian telah mencukupkan dia untuk selain kalian. Jika dia
mengungguli bangsa Arab, maka kekuasaannya adalah kekuasaan kalian juga, dan
kemuliaannya adalah kemuliaan kalian pula. Dan, kalian adalah orang yang paling
berbahagia dengan adanya dia."
Mereka
menjawab, "Demi Allah, dia telah menyihirmu dengan mulutnya, wahai Abul
Walid." Abul Walid menimpali, "Inilah pendapatku tentang dia, maka
terserahlah Anda mau berbuat apa....!"'
Di
dalam-riwayat lain diceritakan bahwa Utbah mendengarkan hingga Rasulullah
sampai pada ayat,
'Jika
mereka berpaling, maka katakanlah, “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir,
seperti petir yang menimpa kaum'Aad dan kaum Tsamud. "' (Fushshilat:
13)...
Lalu
dia berdiri dengan ketakutan, lantas meletakkan tangannya di mulut Rasulullah
seraya berkata, "Aku memohon kepadamu karena Allah dan jalinan kasih
sayang di antara kita, wahai Muhammad!" Ia berbuat demikian karena takut
akan yang diancamkan itu segera terjadi, lalu dia menghadap kepada kaumnya dan
berkata sebagaimana disebutkan di muka.
Bagaimanapun,
ini adalah bentuk lain dari bentuk-bentuk penawaran itu. Ini juga menunjukkan
salah satu gambaran akhlak Rasulullah yang agung, yang tampak di dalam sikap
beliau mendengarkan Utbah hingga selesai berkata, yang semestinya tidak perlu
dihiraukan oleh orang seperti Nabi Muhammad saw. yang demikian lurus
pandangannya terhadap alam semesta, dalam timbangan kebenarannya, dan luasnya
bumi ini. Akan tetapi, akhlaknya yang luhur menahan beliau agar tidak
memutuskan hubungan, agar tidak tergesa-gesa, tidak marah, dan tidak
menghardik, hingga orang itu selesai bicara, sedang beliau tekun
memperhatikannya. Kemudian beliau bertanya dengan tenang, 'Apakah sudah
selesai, wahai Abul Walid?" untuk menambah perhatian dan ketegasan.
Sesungguhnya
ini adalah ketenangan yang jujur terhadap kebenaran, yang disertai dengan
kesopanan yang tinggi di kala mendengar dan berbicara. Sikap ini juga
menunjukkan sebagian akhlak beliau yang mulia.
Dan,
bentuk ketiga tawar-menawar ini dilukiskan dalam riwayat Ibnu Ishaq bahwa
Rasulullah tawar-menawar dengan al-Aswad ibnul-Mthallib bin Asad bin Abdul
Uzza, al-Walid ibnul-Mughirah, Umayyah bin Khalaf, dan al-'Ash bin Wa-il
as-Sahmi, dan mereka ini dituakan (terpandang) di kalangan kaumnya. Mereka
berkata, "Wahai Muhammad, marilah kami menyembah apa yang engkau sembah,
dan engkau menyembah apa yang kami sembah. Kita, yakni kami dan engkau
bersekutu dalam urusan ini. Jika apa yang engkau sembah itu lebih baik daripada
apa yang kami sembah, maka kami akan mengambil bagian kami darinya. Dan, jika
apa yang kami sembah lebih baik daripada apa yang engkau sembah, maka engkau
harus mengambil bagianmu darinya." Lalu Allah menurunkan firman-Nya,
"Q,ul yaa ayyuhal kaafiruun. Laa a'budu maa ta'buduun... "Hingga
akhir surah.
Allah
memutuskan tawar-menawar yang menggelikan itu dengan keputusan yang pasti, dan
Rasulullah mengatakan kepada mereka dengan apa yang diperintahkan Allah itu....
Kemudian
tampak pulalah nilai unsur akhlak pada kali lain dalam pelarangan terhadap
Rasulullah dari mengikuti seorang yang suka mendustakan dengan sifat-sifatnya
yang tercela dan menjijikkan, yang kmudian diancamnya mereka dengan kerendahan
dan kehinaan.
وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِيْنٍۙ
١٠ هَمَّازٍ مَّشَّاۤءٍۢ بِنَمِيْمٍۙ ١١ مَّنَّاعٍ لِّلْخَيْرِ مُعْتَدٍ اَثِيْمٍۙ
١٢ عُتُلٍّۢ بَعْدَ ذٰلِكَ زَنِيْمٍۙ ١٣ اَنْ كَانَ ذَا مَالٍ وَّبَنِيْنَۗ ١٤ اِذَا
تُتْلٰى عَلَيْهِ اٰيٰتُنَا قَالَ اَسَاطِيْرُ الْاَوَّلِيْنَۗ ١٥ سَنَسِمُهٗ عَلَى
الْخُرْطُوْمِ ١٦
Janganlah
kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela,
yang kian kemari menghambur fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang
melampaui batas lagi banyak dosa, yang kaku kasar, selain dari itu, yang
terkenal kejahatannya, karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Apabila dibacakan
kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, '(Ini adalah) dongeng-dongengan
orang-orang dahulu kala.' Kelak akan Kami beri tanda dia di belalainya. "
(al-Qalam: 10-16)
Ada
yang mengatakan bahwa orang ini adalah al-Walid ibnul-Mughirah, dan dia pulalah
yang menjadi sasaran turunnya beberapa ayat dalam surah al-Muddatstsir.
'Biarkanlah
Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Aku
jadikan baginya harta benda yang banyak, dan anak-anak yang selalu bersama dia,
dan Kulapangkan baginya (rezeki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya,
kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan
Kutambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (Al-Qur’an). Aku
akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. Sesungguhnya dia telah
memikirkan dan menetapkan (apa yang di-tetapkannya). Maka, celakalah dia!
Bagaimana dia menetapkan? Kemudian celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan ? Kemudian
dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri. Kemudian dia memikirkan.
Sesudah itu dia bermasam muka dan merengut. Kemudian dia berpaling (dari
kebenaran) dan menyombong-kan diri. Lalu dia berkata, '(Al-Qur’an) ini tidak
lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu). Ini tidak lain
hanyalah perkataan manusia.' Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar.
" (al-Muddatstsir: 11-26)
Diriwayatkan
bahwa al-Walid ibnul-Mughirah ini melakukan bermacam-macam usaha di dalam menipu
Rasulullah dan menakut-nakuti para sahabat beliau, juga di dalam
menghalang-halangi dakwah dan menghalang-halangi manusia dari jalan Allah....
Sebagaimana dikatakan bahwa beberapa ayat surah al-Qalam turun berkenaan dengan
al-Akhanas bin Syuraiq. Keduanya (al-Walid dan al-Akhnas) adalah termasuk orang
yang memusuhi Rasulullah dan terus-menerus memerangi beliau serta membangkitkan
permusuhan terhadap beliau dalam masa yang panjang.
Serangan
Al-Qur'an yang keras di dalam surah ini, dan ancaman-ancaman yang sengit di
dalam surah lain, menjadi saksi betapa pentingnya peranan al-Walid atau
al-Akhnas ini, di dalam memerangi Rasulullah dan dakwah, sebagaimana hal ini
juga menjadi saksi atas kejelekan hatinya, kebusukan jiwanya, dan kosongnya
hati dan jiwa itu dari ke-baikan.
Di
sini Al-Qur'an menyifatinya dengan sembilan sifat yang semuanya tercela.
Pertama,
hallaaf.... banyak bersumpah. Tidak ada yang banyak bersumpah kecuali orang
yang tidak jujur, karena dia tahu bahwa masyarakat akan mendustakannya dan
tidak mempercayainya. Karena itu, dia bersumpah dan banyak bersumpah untuk
menutupi kebohongannya dan menarik kepercayaan orang lain kepadanya.
Kedua,
mahiin ..., hina. Tidak menghormati dirinya dan masyarakat pun tidak
menghormati perkataannya. Sebagai tanda kehinaannya ialah dia merasa perlu
bersumpah, dan dia tidak percaya kepada dirinya sendiri dan orang lain juga
tidak percaya kepadanya, meskipun dia orang kaya dan banyak anak, serta
berkedudukan. Karena, kehinaan itu merupakan sifat jiwa yang melekat pada
seseorang sekalipun dia itu penguasa tiran dan diktator. Kemuliaan itu juga
merupakan sifat kejiwaan yang tidak berpisah dari jiwa yang mulia, meskipun dia
tidak memiliki segala kekayaan duniawi.
Ketiga,
hammaaz .., banyak mencela. Yang suka mencela dan mencaci manusia dengan
perkataan dan isyarat, baik di hadapan yang bersangkutan maupun ketika yang
bersangkutan tidak ada di hadapannya. Akhlak mencela ini sangat dibenci oieh
Islam, karena moralitas seperti ini bertentangan dengan muru'ah 'keperwiraan',
bertentangan dengan kesopanan dalam bergaul dengan orang lain. Juga
bertentangan dengan keharusan memelihara kemuliaan mereka, kecil ataupun besar,
muda ataupun tua.
Celaan
terhadap moralitas ini disebutkan secara berulang-ulang di dalam Al-Qur'an pada
tempat lain. Firman-Nya,
“Kecelakaanlah
bagi setiap pengumpat lagi pencela.... " (al-Humaza.h: 1)
“Hai
orang-orang yangberiman, janganlahsuatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena)
boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang
mengolok-olok). Dan, jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita
lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari
wanita (yang mengolok-olok). Janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan
janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.... " (al-Hujuraat:
11)
Semua
ini termasuk jenis mencela dalam salah satu bentuknya.
Keempat,
masysyaa-in bi namiim..., ke sana ke mari menghambur fitnah. Berjalan ke sana
ke mari di antara manusia dengan menyampaikan hal-hal yang merusak hati mereka,
memutuskan hubungan di antara mereka, dan menghilangkan kasih sayang sesama
mereka. Ini adalah akhlak yang tercela dan hina, yang tidak akan bersifat
dengannya dan menyandangnya orang yang masih menghormati dirinya sendiri atau
masih berharap dihormati orang lain. Bahkan, orang-orang yang mau membuka
telinganya untuk mendengarkan perkataannya pun tidak menghormatinya di dalam
lubuk hatinya dan tidak mencintainya.
Sesungguhnya
Rasulullah melarang seseorang menyampaikan kepada beliau tentang sesuatu yang
dapat mengubah perasaan hati beliau terhadap salah seorang sahabat beliau.
Beliau bersabda,
لا يُبْلِغْنِي أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِي عَنْ أَحَدٍ شَيْئًا
فَإِنِّي أَحِبُّ أَنْ
أَخْرُجَ إِلَيْكُمْ وَأَنَا سَلِيمُ الصَّدْر
“Janganlah
seseorang dari sahabatku menyampaikan kepadaku tentang sesuatu mengenai
seseorang, karena aku suka keluar kepadamu dalam keadaan hatiku sejahtera.
" (HR Abu Daud dan Tirmidzi)
Diriwayatkan
di dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari hadits Mujahid, dari Thawus,
dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah melewati dua buah kubur, lalu beliau bersabda,
إِنَّهُمَا لَيُعَذِّبَانِ ، وَمَا يُعَذِّبَانِ فِي
كَبِيْرِ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا
يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بالتميمة
"Sesungguhnya
keduanya sedang disiksa, dan mereka tidak disiksa karena masalah besar. Yang
satu karena tidak bersuci dari kencing, dan yang satu karena suka ke sana ke
mari menghambur fitnah (mengadu domba). "
Imam
Ahmad meriwayatkan dengan isnadnya dari Hudzaifah bahwa ia mendengar Rasulullah
bersabda,
"Tidak
akan masuk surga orang yang suka mengadu domba."(HR al-Jama'ah kecuali
Ibnu Majah)
Imam
Ahmad juga meriwayatkan dengan isnad¬nya dari Yazid bin as-Sakan bahwa Nabi
saw. bersabda,
أَلا أُخْبِرُكُمْ بِخِيَارِكُمْ ؟ قَالُوا : بَلَى
يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : الَّذِينَ إِذَا رُءُوا ذُكِرَ
اللَّهُ عَزَّ وَجَلٌ ، ثُمَّ قَالَ : أنا
أُخْبِرُكُمْ بِشِرَارِكُمْ ؟ الْمَشَاءُونَ بِالنَّمِيمَةِ الْمُفْسِدُونَ بَيْنَ الْأَحِيَّةِ
الْبَاعُونَ لِلْبُرَاءِ الْعَيْبَ
"Maukah
aku tunjukkan kepadamu orang yang paling baik di antara kamu?"Mereka
menjawab, "Mau, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Yaitu
orang-orang yang apabila dilihat, maka disebutlah nama Allah Azza wajalla.
"Kemudian beliau bersabda, 'Maukah aku tunjukkan kepadamu orang yang
paling buruk di antara kamu? Yaitu orang-orang yang kian kemari menghambur
fitnah (mengadu domba), merusak hubungan antar orang yang saling mencintai, dan
mencari-cari aib orang-orang yang tidak bersalah. "
Oleh
karena itu, sudah tentu Islam melarang keras moral yang tercela dan rendah ini,
yang dapat merusak hati sebagaimana merusak persahabatan. Perbuatan yang
merendahkan derajat pelakunya sendiri sebelum merusak masyarakat, memakan
hatinya dan moralnya sendiri sebelum memakan keselamatan masyarakat,
menghilangkan kepercayaan masyarakat, dan kadang kala menjadikan orang yang
baik-baik sebagai tertuduh (kambing hitam).
Kelima,
mannaa'in lil-khairi..., sangat enggan berbuat baik.... Enggan berbuat baik
terhadap dirinya sendiri dan orang lain. Bahkan, dia enggan beriman, padahal
iman ini merupakan sentral segala kebaikan. Sudah populer bahwa al-Walid
ibnul-Mughirah pernah berkata kepada anak-anaknya dan keluarganya, ketika dia
melihat ada kecenderungan pada mereka kepada Nabi saw., "Jika ada
seseorang dari kamu mengikuti agama Muhammad, maka aku tidak akan memberinya
sesuatu selama-lamanya." Maka, dengan ancaman ini, dia melarang mereka
memeluk Islam. Oleh karena itu, Al-Qur'an menetapkan sifat "sangat enggan
berbuat baik" ini kepadanya, karena tindakan dan perkataannya itu.
Keenam,
mu'tadin..., melampaui batas... melampaui batas kebenaran dan keadilan secara
mutlak. Kemudian dia juga melampaui batas terhadap Nabi saw. dan terhadap kaum
muslimin. Juga terhadap keluarga dan familinya sendiri dengan menghalang-halangi
mereka dari petunjuk dan mencegah mereka memeluk agama Islam....
Melampaui
batas adalah sifat yang tercela, yang mendapat perhatian yang serius dari
Al-Qur'an dan al-Hadits. Islam melarangnya dalam segala bentuknya, hingga
melampaui batas dalam makan dan minum sekalipun.
“Makanlah
di antara rezeki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah
melampaui batas padanya. " (Thaahaa: 81)
Karena
keadilan dan keseimbangan adalah cetakan Islam yang asli.
Ketujuh,
atsiim..., banyak dosa... suka melakukan kemaksiatan-kemaksiatan sehingga dia
pantas mendapatkan predikat tersebut. 'Atsiim "... banyak berbuat dosa,
tanpa batas jenis dosa yang dilakukannya. Maka, penggunaan bentuk kata ini
sudah mengarah kepada penetapan sifat tersebut dan melekatkannya pada jiwa yang
bersangkutan, seperti cetakan yang tetap.
Kedelapan,
'utull.., kaku kasar... Selain itu semua, dia juga kaku kasar. Ini adalah lafal
yang mengungkapkan gaungnya dan bayang-bayangnya tentang segenap sifat dan
ciri-ciri, yang tidak dapat dirangkum oleh berbagai macam kata dan identitas. Karena
itu, ada yang mengatakan bahwa arti kata 'utull’ adalah orang yang keras lagi
kasar. Dia adalah pemakan dan peminum, pelahap, sangat jahat dan suka
menghalang-halangi orang lain berbuat kebaikan, kasar tabiatnya, tercela
jiwanya, jelek pergaulannya. Diriwayatkan dari Abud Darda' r.a. bahwa 'utull
ialah seorang orang yang suka menusuk sampai ke bagian dalam, keras wataknya,
suka makan dan suka minum, rakus terhadap harta, sangat bakhil."
Akan
tetapi, keberadaan kata 'utull itu sendiri lebih banyak cakupannya daripada
semua ini, dan lebih mengena pelukisannya terhadap kepribadian yang yang
dibenci ini dari semua seginya.
Kesembilan,
zaniim ..., terkenal kejahatannya. Ini sebagai penutup sifat-sifat tercela dan
dibenci yang terhimpun pada setiap musuh islam, dan tidak ada yang memusuhi
Islam dan terus memusuhinya kecuali manusia-manusia yang bersifat tercela
seperti ini. Di antara makna kata zaniim yang melekat pada suatu kaum adalah
tidak mempunyai nasab pada mereka, atau nasab (hubungannya) hanya bersifat
dugaan. Dan, di antara makna kata zaniim ialah orang yang populer dan terkenal
dengan ketercelaannya, keburukannya, dan banyak kejahatannya. Makna yang kedua
inilah yang lebih dekat kepada al-Walid ibnul-Mughirah, meskipun lafalnya yang
mutlak membubuhinya dengan sifat yang mudah dimengerti masyarakat, yaitu
sombong dan congkak.
Kemudian
penyebutan sifat-sifat pribadi dan sikapnya terhadap ayat-ayat Allah ini
diakhiri dengan menunjukkan kejelekan sikap ini yang digunakan membalas nikmat
Allah yang telah memberinya harta dan anak-anak.
'Karena
dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat
Kami, dia berkata, '(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala.
(al-Qalam: 14-15)
Nah,
betapa buruknya manusia yang membalas nikmat Allah kepadanya yang berupa harta
dan anak-anak itu dengan balasan yang berupa penghinaan terhadap ayat-ayat-Nya,
penghinaan terhadap Rasul-Nya, dan penentangan terhadap agama-Nya. Ini saja
sudah cukup mewakili semua sifat tercela yang disebutkan di muka.
Oleh
karena itu, datanglah ancaman dari Tuhan Yang Mahaperkasa dan Mahakuasa
Memaksa, kepada jiwa yang menjadi tempat kesombongan dan membangga-banggakan
harta dan anak itu, sebagai mana sebelumnya telah disebutkan sifat-Nya ketika
menyebutkan kesombongan dan kecongkakan mereka. Dan, diperdengarkanlah ancaman
Allah yang pasti.
"Kelak
akan Kami beri tanda dia di belalainya. " (al-Qalam: 16)
Di
antara makna "khurthum" adalah ujung hidung (belalai) gajah.
Kemungkinan yang dimaksud di sini adalah kiasan dari hidungnya. Dan, hidung di
dalam pemakaian bahasa Arab sering digunakan untuk kiasan terhadap suatu
kedudukan. Maka, dikatakan hidungnya semerbak sebagai kiasan bagi orang yang
terhormat, hidungnya di tanah sebagai kiasan bagi orang yang hina. Dan,
dikatakan bengkak hidungnya dan panas hidungnya apabila seseorang itu marah.
Dan, di antaranya lagi adalah anfah yang berarti harga diri atau sombong. Dan,
ancaman dengan memberi tanda pada belalai mengandung dua macam penghinaan dan
perendahan. Pertama, diberi tanda seperti budak. Dan kedua, disamakan hidungnya
dengan belalai seperti babi (atau gajah).
Tidak
diragukan lagi bahwa jatuhnya ayat-ayat ini pada jiwa al-Walid itu merupakan
bencana yang membinasakan baginya, karena dia termasuk kalangan penyair
terkemuka yang penuh dengan celaan dan caci maki, yang semestinya orang yang
terhormat menjauhkan diri dari yang demikian itu. Maka, bagaimana dengan
kenyataan bahwa dia dikalahkan oleh kebenaran yang datangnya dari Pencipta
langit dan bumi, dengan metode yang tak tertandingi ini, di dalam dokumen yang
setiap lafalnya bertanya jawab dengan segala sisi alam wujud ini, yang kemudian
menetap di dalam eksistensi semesta ini:.. di dalam keabadian...?
Itulah
kebinasaan yang layak bagi musuh Islam, musuh Rasul yang mulia, dan musuh orang
yang berakhlak luhur...
Belajar
dari Sejarah
Sesuai
dengan isyarat terhadap harta dan anak, dan kesombongan yang dilakukan
orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah, maka Allah menampilkan untuk
mereka sebuah kisah yang tampaknya sudah populer di kalangan mereka.
Diingatkan-Nya mereka dengan akibat yang ditimbulkan oleh sikap sombong
terhadap nikmat, enggan berbuat kebaikan, dan melanggar hak-hak orang lain.
Juga diberikan kesan kepada mereka bahwa harta dan anak-anak yang ada di depan
mereka itu hanya ujian, sebagaimana ujian bagi pelaku kisah ini, sedang harta
itu sendiri akan ditinggalkan untuk orang sesudahnya, bukan untuk mereka
sendiri.
"Sesungguhnya
Kami telah menguji mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah menguji
pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh
akan memetik (hasil) nya di pagi hari, dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir
miskin). Lalu, kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari tuhanmu ketika
mereka sedang tidur. Maka, jadilah kebun itu hitam seperti malam yanggelap
gulita. Lalu mereka panggil-memanggil di pagi hari, 'Pergilah di pagi (ini) ke
kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya.' Maka, pergilah mereka saling
berbisik-bisikan. 'Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun masuk ke
dalam kebunmu.' Dan, berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi
(orang-orang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya). Tatkala mereka melihat
kebun itu, mereka berkata, 'Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang
sesat (jalan), bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya).' Berkatalah
seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka, 'Bukankah aku telah
mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Tuhanmu)?' Mereka
mengucapkan, Mahasuci Tuhan kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang
yangzalim.' Lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya
cela-mencela. Mereka berkata, Aduhai celakalah kita. Sesungguhnya kita ini
adalah orang-orang yang melampaui batas. Mudah-mudahan Tuhan kita memberikan
ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya
kita mengharapkan ampunan dari Tuhan kita.' Seperti itulah azab (dunia). Dan,
sesungguhnya azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui. "(al-Qalam:17-33)
Kisah
ini demikian populer di kalangan masyarakat. Tetapi, Al-Qur' an menyingkap
tindakan dan kekuasaan Allah yang ada di batik peristiwa-perisfiwanya, sebagai
ujian dan balasan terhadap sebagian hamba-hamba-Nya. Dan yang demikian ini
menimbulkan nuansa baru dalam penuturan Al-Qur'an.
Dari
celah-celah nash dan geraknya, kita melihat sekelompok manusia yang masih
sederhana dan bersahaja cara berpikir, pola pandang dan aktivitasnya, yang
lebih mirip dengan orang-orang desa yang masih bersahaja. Barangkali contoh
manusia tingkat ini lebih dekat dengan orang-orang yang diajak bicara dengan
kisah ini, yang keras kepala dan suka menentang, tetapi jiwanya tidak sangat
ruwet, melainkan lebih dekat kepada kesederhanaan dan kepolosan.
Kisah
ini dilihat dari sudut penyampaiannya mencerminkan salah satu metode
penyampaian kisah dalam Al-Qur' an yang indah. Di dalamnya terdapat hal-hal
yang mengejutkan dan menimbulkan kerinduan (keingintahuan), sebagaimana ia juga
mengandung tertawaan terhadap tipu daya manusia menghadapi program dan rencana
Allah. Kisah ini ditampilkan dengan suasana yang hidup, sehingga seolah-olah
pendengar atau pembaca menyaksikan cerita ini detil dan hidup dan
peristiwa-peristiwanya sedang terjadi dengan alurnya di hadapannya.
Marilah
kita mencoba melihatnya sebagaimana alur Al-Qur'an.
Nah,
kita sedang berada di depan para pemilik kebun (kebun dunia, bukan kebun
akhirat) dan itulah mereka sedang menyembunyikan sesuatu berkenaan dengan
kebunnya ini. Orang-orang miskin mempunyai bagian terhadap hasil kebun ini pada
masa masih dikuasai oleh pemiliknya yang baik dan saleh. Akan tetapi, para ahli
warisnya ingin memonopoli hasilnya sekarang, dan menghalang-halangi orang-orang
miskin dari mendapatkan bagiannya.... Nah, kalau begitu, marilah kita
perhatikan bagaimana jalannya peristiwa itu!
اِنَّا بَلَوْنٰهُمْ كَمَا بَلَوْنَآ اَصْحٰبَ
الْجَنَّةِۚ اِذْ اَقْسَمُوْا لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِيْنَۙ ١٧ وَلَا يَسْتَثْنُوْنَ
١٨
"Sesungguhnya
Kami telah menguji mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah menguji
pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh
akan memetik (hasil)nya di pagi hari, dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir
miskin). "(al-Qalam: 17-18)
Pikiran
mereka telah menetapkan untuk memetik buahnya pada pagi-pagi benar, dengan
tidak menyisihkan sedikit pun untuk orang miskin. Mereka bersumpah, berniat
bulat, dan melaksanakan perbuatan jahat yang telah ditetapkannya itu.... Yah,
kita biarkanlah mereka di dalam kelalaiannya itu, atau di dalam tipu dayanya
yang mereka sembunyikan semalam. Kita lihat apa yang terjadi di belakang mereka
di tengah malam dengan tanpa mereka sadari. Karena Allah selalu berjaga dan
tidak pernah tidur sebagaimana mereka tidur, dan Dia merencanakan sesuatu yang
berbeda dengan apa yang mereka rencanakan, sebagai balasan kesombongannya
terhadap nikmat dan keengganannya terhadap kebaikan, yang telah mereka
rencanakan semalam, dan bakhil terhadap hak fakir miskin yang sudah
diketahui....
Di
sana terdapat peristiwa yang mengejutkan, yang terjadi secara rahasia. Juga
terdapat gerakan halus seperti gerakan bayang-bayang di malam kelam ketika
manusia sedang terlelap tidur.
فَطَافَ عَلَيْهَا طَاۤىِٕفٌ مِّنْ رَّبِّكَ
وَهُمْ نَاۤىِٕمُوْنَ ١٩ فَاَصْبَحَتْ كَالصَّرِيْمِۙ ٢٠
"Lalu
kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang
tidur, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yanggelap gulita.
"(al-Qalam: 19-20)
Marilah
kita tinggalkan kebun itu dengan malapetaka yang menimpanya untuk sementara
waktu. Kita lihat apa yang dilakukan oleh para pemiliknya yang sedang mengatur
rencananya dengan sembunyi-sembunyi di malam hari.
Nah,
inilah mereka berangkat pagi-pagi sebagai mana yang mereka rencanakan, dan
mereka panggil-memanggil untuk melaksanakan apa yang telah mereka rencanakan
itu.
فَتَنَادَوْا مُصْبِحِيْنَۙ ٢١ اَنِ اغْدُوْا
عَلٰى حَرْثِكُمْ اِنْ كُنْتُمْ صٰرِمِيْنَ ٢٢
'Lalu
mereka panggil-memanggil di pagi hari, Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu
jika kamu hendak memetik buahnya. "' (al-Qalam: 21-22)
Sebagian
mereka mengingatkan sebagian yang lain, saling berpesan, dan saling
membangkitkan semangatnya.
KemudianAl-Qur'an
menertawakan mereka, dilukiskannya mereka sedang berangkat sambil berbisik-bisik,
untuk menambah kesan betapa mantapnya rencana mereka, untuk memetik seluruh
buahnya, dan menghalangi orang-orang miskin dari mendapatkannya.
فَانْطَلَقُوْا وَهُمْ يَتَخَافَتُوْنَۙ
٢٣ اَنْ لَّا يَدْخُلَنَّهَا الْيَوْمَ عَلَيْكُمْ مِّسْكِيْنٌۙ ٢٤
'Maka,
pergilah mereka saling berbisik-bisikan, 'Pada pagi hari ini janganlah ada
seorang miskin pun masuk ke dalam kebunmu. "' (al-Qalam: 23-24)
Seakan-akan
kita yang mendengar Al-Qur'an atau membacanya mengetahui apa yang tidak diketahui
oleh para pemilik kebun itu tentang urusan kebun mereka.... Ya, kita
menyaksikan tangan halus yang tersembunyi, yang menjulur ke kebun itu dan
mengambil seluruh buahnya, dan kita lihat seakan-akan buah-buah kebun itu sudah
terpotong setelah didatangi oleh sesuatu yang tersembunyi dan menakutkan.
Karena itu, marilah kita tahan napas kita untuk melihat apa yang diperbuat oleh
para pemakar yang menyembunyikan rencananya itu.
Al-Qur'an
terus menertawakan mereka.
وَّغَدَوْا عَلٰى حَرْدٍ قٰدِرِيْنَ ٢٥
"Dan
berangkatlah mereka pada pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin)
padahal mereka mampu (menolongnya). " (al-Qalam: 25)
Ya,
mereka mampu mencegah dan menghalanginya... menghalangi diri mereka sendiri
terhadap kekuasaan minimal sekalipun.
Inilah
mereka yang terkejut, terperanjat. Marilah kita ikuti penuturan Al-Qur'an
sambil menertawakan mereka, dan kita saksikan mereka terperanjat.
فَلَمَّا رَاَوْهَا قَالُوْٓا اِنَّا لَضَاۤلُّوْنَۙ
٢٦
"Tatkala
mereka melihat kebun itu, mereka berkata, 'Sesungguhnya kita benar-benar
orang-orang yang tersesat (jalan). "' (al-Qalam: 26)
Bukan
ini kebun kita yang lebat buahnya. Kita telah tersesat jalan.... Akan tetapi,
mereka kembali lagi, lalu menegaskan,
بَلْ نَحْنُ مَحْرُوْمُوْنَ ٢٧
'Bahkan
kita dihalangi (dari memperoleh buahnya)." (al-Qalam: 27)
Nah,
inilah berita yang meyakinkan!
Sekarang
mereka diliputi siksaan akibat tipu daya dan rencana jahat mereka, akibat
kesombongan dan keengganan berbuat baik. Seorang yang paling baik pikirannya
maju ke depan, dan tampaknya dia mempunyai pemikiran yang berbeda dengan
pemikiran mereka. Akan tetapi, dia mengikuti mereka ketika mereka berbeda
pendapat dengannya, sedang dia hanya sendirian saja dengan idenya itu, dan
tidak berani mengusulkan gagasannya yang benar itu karena takut akan dihalangi
sebagaimana yang dialami oleh mereka. Akan tetapi, pada akhirnya dia
mengingatkan mereka juga serta memberinya nasihat dan pengarahan.
قَالَ اَوْسَطُهُمْ اَلَمْ اَقُلْ لَّكُمْ
لَوْلَا تُسَبِّحُوْنَ ٢٨
"Berkatalah
seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka, 'Bukankah aku telah
mengatakan ke-padamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Tuhan-mu)?"'
(al-Qalam: 28)
Hanya
sekarang saja mereka mau mendengar nasihat, setelah habis waktunya.
قَالُوْا سُبْحٰنَ رَبِّنَآ اِنَّا كُنَّا
ظٰلِمِيْنَ ٢٩
'Mereka
mengucapkan, Mahasuci Tuhan kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang
zalim."' (al-Qalam: 29)
Sebagaimana
yang biasa terjadi bahwa setiap anggota persekutuan melepaskan tanggung jawab
setiap kali ditimpa akibat yang buruk, dan saling mencela, maka demikian
pulalah yang mereka perbuat.
فَاَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍ يَّتَلَاوَمُوْنَ
٣٠
“Lalu
sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela. "
(al-Qalam: 30)
Kemudian
mereka tinggalkan tindakan saling mencela itu untuk mengakui kesalahannya di
dalam menghadapi akibat yang buruk ini, dengan harapan mudah-mudahan Allah
mengampuni dosa mereka dan mengganti kebun mereka yang musnah sebagai akibat
kesombongan, keengganan berbuat baik, menipu, dan rencana jahat.
قَالُوْا يٰوَيْلَنَآ اِنَّا كُنَّا طٰغِيْنَ
٣١ عَسٰى رَبُّنَآ اَنْ يُّبْدِلَنَا خَيْرًا مِّنْهَآ اِنَّآ اِلٰى رَبِّنَا رٰغِبُوْنَ
٣٢
'Mereka
berkata, Aduhai celakalah kita, sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang
melampaui batas. Mudah-mudahan Tuhan kita memberikan ganti kepada kita dengan
(kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan
dari Tuhan kita. "' (al-Qalam: 31-32)
Sebelum
diturunkannya tirai untuk menutup pemandangan terakhir, kita dengarkan
komentar.
كَذٰلِكَ الْعَذَابُۗ وَلَعَذَابُ الْاٰخِرَةِ
اَكْبَرُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ ࣖ ٣٣
"Seperti
itulah azab (dunia). Sesungguhnya azab akhirat lebih besar jika mereka
mengetahui." (al-Qalam: 33)
Itulah
ujian dengan nikmat. Oleh karena itu, hendaklah kaum musyrikin Mekah mengetahui
bahwa "sesungguhnya Kami telah menguji mereka sebagaimana Kami telah
menguji pemilik -pemilik kebun ". Dan, hendaklah mereka perhatikan apa
yang terjadi di balik ujian itu... Kemudian hendaklah mereka berhati-hati
terhadap sesuatu yang lebih besar dari pada ujian dunia dan azab dunia.
"Sesungguhnya azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui. "
Balasan
bagi Orang yang Takwa
Demikianlah
pengalaman dari realitas lingkung¬an ini dipaparkan kepada kaum Quraisy, dan
kisah-kisah yang beredar di antara mereka. Maka, Allah menghubungkan sunnah-Nya
terhadap orang-orang dahulu dengan sunnah-Nya terhadap orang-orang sekarang.
Disentuh-Nya hati mereka dengan uslub yang paling dekat dengan realitas
kehidupan mereka. Pada waktu yang lama Dia memberikan kesan kepada orang-orang
mukmin bahwa apa yang mereka lihat pada kaum musyrikin (pembesar-pembesar
Quraisy) yang berupa kenikmatan dan kekayaan itu hanyalah ujian dari Allah,
yang akan memiliki akibat-akibat dan hasil-hasilnya. Dan, sudah menjadi
sunnah-Nya menguji dengan kenikmatan sebagaimana Dia menguji dengan penderitaan.
Adapun
orang-orang yang sombong, enggan berbuat kebaikan, dan tertipu dengan
kenikmatan yang ada pada mereka, maka seperti itulah contoh akibat yang akan
diterimanya, "Sesungguhnya azab akhirat lebih benar jika mereka
mengetahui."
Sedangkan,
orang-orang yang bertakwa dan berhati-hati, maka mereka akan mendapatkan surga
yang penuh kenikmatan di sisi Tuhan mereka.
اِنَّ لِلْمُتَّقِيْنَ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنّٰتِ
النَّعِيْمِ ٣٤
"Sesungguhnya
bagi orang-orang yang bertakwa (di-sediakan) surga-surga yang penuh kenikmatan
di sisi Tuhannya. " (al-Qalam: 34)
Ini
adalah akibat yang berlawanan, sebagaimana jalan dan hakikat mereka memang
berlawanan.... Yah, dua golongan yang berbeda jalannya, maka berbeda pulalah
kesudahannya!
Orang
Islam Versus Orang Kafir
Ketika
menyudahi paparan tentang kedua golongan ini, Allah masuk bersama mereka dalam
perdebatan yang tidak ditentukan dan disusun lebih dahulu. Ditantang-Nya mereka
dan dicecar-Nya mereka dengan pertanyaan-pertanyaan yang bertubi-tubi mengenai
berbagai persoalan yang tidak ada jawabannya kecuali sebuah jawaban saja yang
tidak mungkin salah. Diancam-Nya mereka di akhirat nanti dengan pemandangan
yang menakutkan, dan di dunia dengan diperangi oleh Yang Mahaperkasa, Yang
Mahakuasa, Yang Mahakuat lagi Mahakeras.
'Maka,
apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang
berdosa (orang kafir)? Mengapa kamu (berbuat demikian), bagai-manakah kamu
mengambil keputusan? Atau, adakah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan
Allah) yang kamu membacanya bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih
apa yang kamu sukai untukmu? Atau, apakah kamu memperoleh janji janji yang
diperkuat dengan sumpah dari Kami, yang tetap berlaku sampai hari kiamat;
sesungguhnya kamu benar-benar dapat mengambil keputusan (sekehendakmu) ?
Tanyakanlah kepada mereka, 'Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab
terhadap keputusan yang diambil itu?' Atau, apakah mereka mempunyai
sekutu-sekutu? Maka, hendaklah mereka mendatangkan sekutu-sekutunya jika mereka
adalah orang-orang yang benar. Pada hari betis disingkapkan dan mereka
dipanggil untuk bersujud, maka mereka tidak kuasa, (dalam keadaan) pandangan
mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Sesungguhnya mereka
dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera.
Maka, serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan
perkataan ini (Al-Qur an). Nanti Kami akan menarik mereka dengan
berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui, dan
Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh. Ataukah,
kamu meminta upah kepada mereka, lalu mereka diberati dengan utang? Ataukah,
ada pada mereka ilmu tentang yang gaib lalu mereka menulis (padanya apa yang
mereka tetapkan) ?" (al-Qalam: 35-47)
Ancaman
dengan azab akhirat dan peperangan di dunia pasti datang sebagaimana akan kita
lihat, di celah-celah perdebatan dan tantangan ini. Maka, meningkatlah suhu
perdebatan dan semakin bertambahlah tekanan tantangan itu.
Pertanyaan
pertama yang berisi pengingkaran yang berbunyi,
اَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِيْنَ كَالْمُجْرِمِيْنَۗ
٣٥
'Apakah
patut Kami menjadikan orang-orang lslam itu sama dengan orang-orang yang
berdosa (orang kafir) ?" (al-Qalam: 35)
Pertanyaan
itu kembali kepada akibat yang di-alami oleh masing-masing mereka sebagaimana
dipaparkan dalam ayat ayat sebelumnya. Pertanyaan ini hanya memiliki satu
jawaban saja, yaitu "Tidak", tidak mungkin. Maka, orang-orang Islam
yang tunduk dan pasrah kepada Tuhannya selamanya tidak akan pernah sama dengan
orang-orang berdosa (kafir) yang suka melakukan kejahatan-kejahatan dan
dosa-dosa sehingga mereka layak disifati dengan sifat yang tercela ini. Dan,
sudah tentu tidak boleh menurut akal dan keadilan bahwa balasan dan tempat
kembali orang-orang Islam dan orang¬orang yang berdosa (kafir) itu sama saja.
Karena
itulah, datang pertanyaan-pertanyaan pengingkaran lainnya.
مَا لَكُمْۗ كَيْفَ تَحْكُمُوْنَۚ ٣٦
'Mengapa
kamu (berbuat demikian)? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan?"
(al-Qalam: 36)
Mengapa
kamu berbuat demikian, dan bagaimana kamu membangun hukum-hukummu? Bagaimana
kamu menimbang dan mengukur nilai-nilai dan norma-norma hingga kamu samakan
dalam timbanganmu dan keputusanmu orang-orang Islam yang menyerah patuh kepada
Allah dengan orang¬orang yang suka berbuat dosa?
Dari
pertanyaan-pertanyaan yang bernada pengingkaran dan menjelekkan ini, beralihlah
pertanyaannya kepada pengejekan dan penghinaan terhadap mereka.
اَمْ لَكُمْ كِتٰبٌ فِيْهِ تَدْرُسُوْنَۙ
٣٧ اِنَّ لَكُمْ فِيْهِ لَمَا تَخَيَّرُوْنَۚ ٣٨
'Atau
adakah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu membacanya
bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai
untukmu?"(al-Qalam: 37-38)
Ini
adalah ejekan dan penghinaan yang berupa pertanyaan kepada mereka jika mereka
mempunyai kitab suci yang mereka baca dan mereka jadikan rujukan untuk
memutuskan ketetapan yang tidak dapat diterima oleh akal sehat dan oleh
keadilan ini, yaitu keputusan mereka bahwa "orang-orang Islam sama dengan
orang-orang yang berbuat dosa (kafir) ". Nah, kalau ada kitab seperti itu,
tentu menggelikan, yang hanya cocok dengan hawa nafsu mereka dan kemauan
mereka. Sehingga, mereka dapat saja memilih sesuka hati hukum dan apa saja yang
mereka sukai. Kitab yang demikian itu tentu tidak berpijak pada kebenaran,
keadilan, rasionalitas, atau sesuatu yang makruf !
اَمْ لَكُمْ اَيْمَانٌ عَلَيْنَا بَالِغَةٌ
اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِۙ اِنَّ لَكُمْ لَمَا تَحْكُمُوْنَۚ ٣٩
'Atau
apakah kamu memperoleh janji janji yang diperkuat dengan sumpah dari Kami, yang
tetap berlaku sampai hari kiamat; sesungguhnya kamu benar-benar dapat mengambil
keputusan (sekehendakmu)?" (al-Qalam: 39)
Kalau
tidak begitu (tidak punya kitab suci yang demikian itu), maka inilah dia.
Yaitu, mereka memperoleh janji yang diperkuat dengan sumpah dari Allah, yang
berlaku hingga hari kiamat, yang isinya bahwa mereka boleh memutuskan dan
memilih apa saja yang sesuai dengan keinginan dan kesukaan mereka! Akan tetapi,
hal ini sama sekali tidak ada dan tidak terjadi. Mereka tidak memiliki janji
terhadap Allah dan tidak ada pula sumpah dari-Nya yang isinya seperti itu.
Kalau begitu, dengan dasar apa mereka berkata begitu? Dan kalau begitu, apakah
yang mereka jadikan sandaran dan pijakan?
سَلْهُمْ اَيُّهُمْ بِذٰلِكَ زَعِيْمٌۚ
٤٠
"Tanyakanlah
kepada mereka, 'Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap
keputusan yang diambil itu?"'(al-Qalam: 40)
Tanyakanlah
kepada mereka, siapakah di antara mereka yang telah mendapatkan janji seperti
ini? Siapakah di antara mereka yang telah mendapat jaminan dari Allah untuk
berbuat sekehendak hatinya dan mendapat jaminan yang berlaku hingga hari kiamat
bahwa mereka boleh membuat keputusan mereka yang mereka inginkan?
Ini
adalah ejekan yang menggelikan, yang mendalam dan mengena, yang dapat
meluluhkan wajah karena celaan dan tantangannya yang transparan dan terus
terang!
اَمْ لَهُمْ شُرَكَاۤءُۚ فَلْيَأْتُوْا بِشُرَكَاۤىِٕهِمْ
اِنْ كَانُوْا صٰدِقِيْنَ ٤١
'Atau
apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu? Maka, hendaklah mereka mendatangkan
sekutu-sekutunya jika mereka adalah orang-orang yang benar. "(al-Qalam:
41)
Mereka
sendiri mempersekutukan sesuatu dengan Allah, namun kalimat ini menyandarkan
persekutuan itu kepada mereka, bukan bagi Allah. Pertanyaan ini bernada
pura-pura tidak tahu bahwa di sana ada sekutu-sekutu. Dan, ditantangnya mereka
agar memanggil sekutu-sekutu mereka itu, jika memang mereka adalah orang-orang
yang benar.... Akan tetapi, bilakah mereka akan memanggil sekutu-sekutu mereka
itu?
يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَّيُدْعَوْنَ
اِلَى السُّجُوْدِ فَلَا يَسْتَطِيْعُوْنَۙ ٤٢ خَاشِعَةً اَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ
ذِلَّةٌ ۗوَقَدْ كَانُوْا يُدْعَوْنَ اِلَى السُّجُوْدِ وَهُمْ سٰلِمُوْنَ ٤٣
"Pada
hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak
kuasa, (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi
kehinaan. Sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan
mereka dalam keadaan sejahtera."(al-Qalam: 42-43)
Mereka
dihentikan berhadap-hadapan di hamparan pemandangan ini, seakan-akan Allah hadir
saat itu, dan seakan-akan mereka sedang ditantang-Nya untuk mendatangkan
sekutu-sekutu yang mereka dakwakan itu. Hari ini merupakan suatu hakikat yang hadir
di dalam ilmu Allah yang tidak terikat pengetahuan-Nya itu dengan masa. Tuntutan-Nya
kepada lawan bicara seperti ini menjadikan kejadiannya begitu mendalam dan
hidup serta hadir di dalam jiwa, sebagaimana yang biasa ditempuh oleh metode
Al-Qur'anul-Karim.
Dan “penyingkapan
terhadap betis" merupakan ungkapan yang sudah biasa dipakai dalam bahasa
Arab tentang penderitaan dan kesusahan. Maka, ini adalah hari Kiamat yang
disingsingkan lengan baju dan disingkap betis, dan penderitaan dan kesempitan
amat sangat.... Dan, orang-orang yang sombong itu dipanggil untuk bersujud,
tetapi mereka tidak dapat bersujud, mungkin karena waktunya sudah habis
(kedaluwarsa, bukan waktunya lagi) dan mungkin karena keadaan mereka seperti
diterangkan di tempat lain.
“Mereka
datang bergegas-gegas memenuhi panggilan dengan mengangkat kepalanya. "
(Ibrahim: 43)
Sedangkan,
tubuh dan saraf mereka diikat karena sangat takut dan susahnya, sehingga sudah
tidak punya kemauan apa-apa lagi. Bagaimanapun juga, ini adalah ungkapan yang
menunjukkan kesusahan, ketidakberdayaan, dan adanya tantangan yang menakutkan.
Kemudian
dilengkapilah pelukisan tentang kondisi mereka itu.
"(Dalam
keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan...
" (al-Qalam: 43)
Itulah
mereka yang sombong dan congkak, dan itulah mata yang tunduk dengan penuh
kehinaan. Itulah dua kondisi yang bertolak belakang, yaitu kesedihan yang
memilukan dan kesombongan yang angkuh. Dan, ini mengingatkan kita kepada
ancaman yang sudah disebutkan pada bagian awal surah.
"Kelak
Kami akan beri tanda dia di belalainya. "(al-Qalam: 16)
Maka,
penunjukan terhadap kehinaan dan kesedihan itu begitu jelas, mendalam, dan
mengena.
Ketika
mereka dalam kondisi yang menyedihkan dan penuh kehinaan ini, diingatkanlah
mereka terhadap penentangan dan kesombongan yang mereka lakukan.
"...Sesungguhnya
mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan
sejahtera." (al-Qalam: 43)
Yakni
mampu untuk melakukan sujud, namun mereka enggan dan menyombongkan diri. Maka
sekarang, dalam pemandangan yang menyedihkan dan penuh kehinaan ini, sedang
dunia sudah berada di belakang mereka, sekarang mereka diseru untuk bersujud,
namun mereka sudah tidak mampu lagi.
Ketika
mereka sedang dalam kesedihan yang seperti ini, tiba-tiba datang kepada mereka
ancaman yang menakutkan dan menggetarkan hati.
فَذَرْنِيْ وَمَنْ يُّكَذِّبُ بِهٰذَا الْحَدِيْثِۗ
…
"Maka,
serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan
perkataan ini (Al-Qur an)... " (al-Qalam: 44)
Ini
adalah ancaman yang menggocangkan hati.... Tuhan Yang Mahaperkasa dan Mahakuat
serta Mahakokoh berfirman kepada Rasul-Nya saw., "Biarkanlah Aku dan orang
yang mendustakan Al-Qur'an ini, biarkanlah Aku yang akan memeranginya, karena
Aku sudah cukup untuk meladeninya!"
Nah,
siapakah gerangan yang mendustakan Al-Qur'an ini?
Ternyata
dia hanyalah makhluk yang kecil, sepele, miskin, dan lemah! Ah, dia cuma
sebesar semut kecil, bahkan seperti sebutir debu saja... bahkan tidak berarti
apa-apa di hadapan Sang Mahaperkasa, Mahakuasa, lagi Mahaagung!
Oleh
karena itu, wahai Muhammad! Biarkanlah Aku yang akan menangani makhluk semacam
ini! Dan, istirahatkan engkau dan para pengikutmu, karena peperangan ini dengan
Aku bukan dengan kamu dan orang-orang mukmin. Peperangan ini dengan Aku, dan
makhluk seperti ini adalah musuh-Ku, dan Aku akan menyelesaikan urusannya.
Karena itu, tinggalkanlah dan biarkanlah Aku berhadapan dengannya, dan pergilah
engkau dan para pengikutmu beristirahat!
Nah,
mana lagi kesedihan yang menakutkan dan menggoncangkan bagi orang-orang yang
mendustakan ayat-ayat-Nya? Ketenangan macam apa pula bagi Nabi dan orang-orang
mukmin yang tertindas
Kemudian,
Tuhan Yang Mahaperkasa dan Mahakuasa menyingkapkan kepada mereka jalannya
peperangan terhadap makhluk yang kecil, kerdil, dan lemah itu.
…سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُوْنَۙ
٤٤ وَاُمْلِيْ لَهُمْۗ اِنَّ كَيْدِيْ مَتِيْنٌ ٤٥
“Nanti
Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah
yang tidak mereka ketahui. Dan, Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya
rencana-Ku amat teguh. " (al-Qalam: 44-45)
Urusan
orang-orang yang mendustakan dan urusan seluruh penduduk bumi ini sungguh lebih
enteng dan lebih kecil bagi Allah daripada mengatur rencana-rencana ini buat
mereka. Namun, Dia Yang Mahasuci menakut-nakuti mereka dengan diri-Nya supaya
mereka memahami diri mereka sebelum habis waktunya, dan supaya mereka mengerti
bahwa keamanan lahiriah yang diberikan Allah kepada mereka itu adalah perangkap
yang mereka dapat jatuh ke dalamnya dengan keteperdayaannya. Juga supaya
mengerti bahwa pemberian kesempatan kepada mereka untuk berbuat zalim,
melanggar batas, berpaling, dan berbuat sesat itu hanyalah istidraj (penarikan
secara berangsur-angsur) kepada tempat kembali (akibat) yang sejelek jeleknya.
Semua itu adalah rencana dari Allah supaya mereka menanggung dosa-dosa mereka
secara total dan datang di padang mahsyar dengan berlumuran dosa dan layak
mendapatkan kehinaan, kesedihan, dan siksaan.
Tidak
ada yang lebih besar daripada memberikan ancaman, menyingkap istidraj, dan
mengatur rencana, sebagai keadilan dan wujud kasih sayang. Allah telah
menghadapkan kepada musuh-musuh-Nya, musuh-musuh agama-Nya, dan musuh-musuh
Rasul-Nya, akan keadilan-Nya dan rahmat-Nya di dalam ancaman dan peringatan-Nya
itu. Sesudah itu terserahlah apa yang mereka pilih untuk diri mereka sendiri.
Dengan demikian, sudah terang dan jelaslah persoalannya!
Allah
memberi tangguh (kesempatan), namun Dia tidak mengabaikan. Dia memberi tangguh
kepada orang yang zalim. Sehingga, apabila Dia telah mengambil tindakan, maka
yang bersangkutan tidak akan dapat lepas. Di sini, Dia menyingkap apa yang
telah ditentukan-Nya dengan kehendak-Nya melalui cara-Nya dan sunnah-Nya. Dia
berfirman kepada Rasul-Nya saw., “Biarkan Aku bersama orang yang mendustakan
Al- Qur an ini... Biarkanlah Aku bersama orang-orang yang tertipu oleh harta,
anak-anak, kedudukan, dan kekuasaan ini!Aku akan memberi kesempatan kepada
mereka, dan akan Kujadikan nikmat ini sebagai perangkap bagi mereka. "
Maka,
ditenangkanlah Rasul-Nya dan diancam-Nya musuh-musuhnya...Kemudian dibiarkannya
mereka menghadap ancaman yang menakutkan itu.
Di
bawah bayang-bayang pemandangan hari Kiamat yang menyedihkan dan ancaman yang
menakutkan, selesailah perdebatan dan tantangan serta keanehan sikap mereka
yang ganjil itu.
اَمْ تَسْـَٔلُهُمْ اَجْرًا فَهُمْ مِّنْ
مَّغْرَمٍ مُّثْقَلُوْنَۚ ٤٦
“Ataukah
kamu meminta upah kepada mereka, lalu mereka diberati dengan utang?"
(al-Qalam: 46)
Apakah
kamu minta upah hingga beban utang yang kamu minta kepada mereka sebagai upah
tugasmu memberi petunjuk kepada mereka itu mendorong mereka untuk berpaling dan
men-dustakan? Juga menjadikan mereka lebih mementingkan tempat kembali yang
buruk itu daripada menanggung beratnya menunaikan tugas?
اَمْ عِنْدَهُمُ الْغَيْبُ فَهُمْ يَكْتُبُوْنَ
٤٧
“Ataukah
ada pada mereka ilmu tentang yang gaib lalu mereka menulis (padanya apa yang
mereka tetapkan) ?" (al-Qalam: 47)
Yang
dengan begitu mereka percaya pada apa yang terdapat di dalam ilmu gaibnya itu.
Sehingga, mereka tidak perlu takut kepada apa yang bakal menimpa mereka, karena
mereka telah melihatnya, menulisnya, dan mengetahuinya. Atau, mereka dapat
menulis apa saja yang hendak mereka tetapkan, lalu mereka tulis jaminan
terhadap apa saja yang mereka inginkan?
Tidak!
Sama sekali tidak! Baik ilmu gaib mau pun kekuasaan untuk menulis ketetapan itu
sama sekali tidak mereka miliki. Maka, mengapakah mereka bersikap dengan sikap
yang demikian ganjil dan aneh ini?
Dengan
pengungkapan yang mengagumkan, mengesankan, dan menakutkan yang berbunyi,
“Maka
serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan
perkataan (Al¬Q,ur an) ini"... dan dengan pemberitahuan tentang jalannya
peperangan dan penyingkapan sunnah peperangan antara Allah dengan
musuh-musuh-Nya yang tertipu itu..., maka dengan pengungkapan ini dan
pemberitahuan itu Allah melepaskan Nabi saw. dan kaum mukminin dari peperangan
antara iman dan kafir, dan antara kebenaran dan kebatilan, karena peperangan
ini dilakukan sendiri oleh Allah.
Begitulah
hakikatnya, meskipun tampaknya Nabi saw. dan kaum mukminin memiliki peranan
dalam peperangan ini. Sesungguhnya peranan mereka ketika mereka dimudahkan oleh
Allah untuk hal ini, maka yang demikian itu adalah bagian dari takdir Allah di
dalam peperangan-Nya terhadap musuh-musuh-Nya. Maka, mereka hanya sebagai alat
yang bisa saja dipergunakan oleh Allah atau tidak dipergunakan. Dalam kedua hal
ini, Allah selalu melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Dan, dalam kedua kondisi
ini, Allah melakukan peperangan sendiri sesuai dengan sunnah yang
dikehendaki-Nya.
Nash
ini turun ketika Nabi saw. berada di Mekah, dan kaum mukminin pengikut beliau
jumlahnya masih sedikit yang tidak mampu berbuat sesuatu. Maka, ayat-ayat ini
adalah untuk menenangkan kaum mukminin yang tertindas ini, dan untuk
menakut-nakuti orang-orang yang tertipu oleh kekuatan, kedudukan, harta, dan
anak-anak. Tetapi, kemudian situasi dan kondisi di Madinah berubah dan Allah
menghendaki Rasulullah dan kaum mukminin memegang peranan yang jelas dalam
peperangan. Tetapi, di sana ditegaskan lagi perkataan yang pernah
difirmankan-Nya kepada mereka pada waktu mereka di Mekah ketika jumlah mereka
sedikit dan dalam kondisi tertindas. Dia berfirman kepada mereka ketika mereka
mendapat kemenangan dalam Perang Badar,
“Maka
(yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, tetapi Allahlah yang
membunuh mereka. Bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah
yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk
memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik.
Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. "(al-Anfaal: 17)
Hal
itu untuk memantapkan hakikat ini di dalam hati mereka. Hakikat bahwa
peperangan itu adalah peperangan Allah, dan urusan itu adalah urusan Allah
juga. Ketika Dia menjadikan bagi mereka peranan dalam hal ini, maka yang
demikian itu hanyalah karena Dia hendak menguji mereka dengan ujian yang baik
yang dengan ujian ini mereka lamas diberi-Nya pahala. Adapun hakikat
peperangan, maka Dialah yang mengaturnya; dan hakikat kemenangan, maka Dia juga
yang menetapkannya. Allah memberlakukannya dengan mereka ataupun tanpa mereka.
Ketika mereka terjun di dalam kancah peperangan, maka sebenarnya mereka hanya
alat saja bagi kekuasaan-Nya, dan bukan cuma mereka satu-satunya alat yang ada
di tangan-Nya.
Hakikat
ini tampak sangat jelas dari celah-celah nash-nash Al-Qur'an pada semua tempat,
semua keadaan, dan semua temanya, sebagaimana hal ini juga merupakan hakikat
yang sesuai dengan tashawwur (pandangan) imam terhadap kekuasaan Allah dan
qadar-Nya, sunnah-Nya dan kehendak-Nya. Juga hakikat kemampuan manusia untuk
mengimplementasikan qadar Allah... yang mereka hanyalah alat... tidak lebih
dari sekadar alat.
Inilah
hakikat yang mengucurkan ketenangan di dalam hati orang yang beriman dalam
kedua ke-adaannya, ketika kuat dan ketika lemah, selama hatinya tulus kepada
Allah dan bertawakal kepada-Nya di dalam jihadnya. Maka, bukanlah kekuatannya
yang menolongnya di dalam peperangan antara kebenaran dengan kebatilan, dan
iman dengan ke-kafiran, tetapi hanya Allahlah yang memberinya jaminan
kemenangan. Dan, bukan kelemahannya pula yang menjadikannya kalah, karena
kekuatan Allah berada di belakangnya, dan kekuatan Allah inilah yang
mengendalikan peperangan dan mem-berinya kemenangan. Akan tetapi, Allah memberi
tangguh dan melakukan istidraj serta menentukan segala urusan pada waktunya
sesuai dengan kehendak dan kebijaksanaan-Nya, juga sesuai dengan keadilan dan
rahmat-Nya.
Dan,
ini juga merupakan hakikat yang menakut kan hati pihak musuh, baik orang mukmin
yang dihadapinya itu dalam kondisi lemah maupun kuat. Karena, bukan orang
mukmin itu yang menjatuhkan mereka, tetapi Allahlah yang menguasai peperangan
itu dengan kekuatan-Nya dan keperkasaan-Nya. Allah yang berfirman kepada
Nabi-Nya, "Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang yang
mendustakan perkataan (Al-Qur an) ini...!" Serahkanlah kepada-Ku orang
yang celaka dan keparat ini!
Allah
memberi tangguh dan menariknya kepada kebinasaan secara berangsur-angsur,
sedang dia (mereka) dalam serba ketakutan, meskipun secara lahiriah tampaknya
mereka kuat dan penuh persiapan. Karena, kekuatan ini adalah jerat, dan
per-siapannya itu sendiri adalah perangkap...
'Dan
Aku memberi tangguh kepada mereka, sesungguhnya rencana-Ku amat teguh. "
(al-Mulk: 45)
Adapun
mengenai masalah kapan terjadinya, maka hal itu berada di dalam ilmu Allah yang
tersembunyi. Maka, siapakah gerangan yang merasa aman terhadap ilmu gaib Allah
dan rencana-Nya? Dan bukankah tidak ada yang merasa aman terhadap rencana Allah
selain orang-orang yang fasik?
Urgensi
Kesabaran dalam Tugas dan Perjuangan
Setelah
memaparkan hakikat ini, Allah mengarahkan Nabi-Nya saw. untuk bersabar, sabar
mengemban tugas-tugas risalah, sabar menghadapi kekacauan jiwa, sabar
menghadapi gangguan, dan sabar menghadapi pendustaan orang kafir.... Ya,
bersabar hingga Allah memberi keputusan pada waktu yang telah ditentukan
sebagaimana yang dkehendaki-Nya. Diingatkan nabi-Nya dengan pengalaman yang
dialami saudaranya (sesama nabi) sebelumnya yang merasa sesak dada karena tugas-tugas
ini, yang seandainya tidak segera disusuli nikmat Allah, niscaya dia akan
terlempar dalam keadaan terhina.
فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُنْ
كَصَاحِبِ الْحُوْتِۘ اِذْ نَادٰى وَهُوَ مَكْظُوْمٌۗ ٤٨ لَوْلَآ اَنْ تَدٰرَكَهٗ
نِعْمَةٌ مِّنْ رَّبِّهٖ لَنُبِذَ بِالْعَرَاۤءِ وَهُوَ مَذْمُوْمٌ ٤٩ فَاجْتَبٰىهُ
رَبُّهٗ فَجَعَلَهٗ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ ٥٠
“Maka,
bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu
seperti orang (Yunus) yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia
dalam keadaan marah (kepada kaumnya). Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat
nikmat dari Tuhannya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan
tercela. Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang
saleh. " (al-Qalam: 48-50)
Orang
yang berada dalam perut ikan itu adalah Nabi Yunus a.s. sebagaimana disebutkan
dalam surah ash-Shaaffaat. Dan, inti pengalaman Yunus yang diceritakan Allah
kepada Nabi Muhammad saw. adalah untuk menjadi bekal dan persiapan bagi beliau
sebagai penutup para nabi, yang pada masa-masa sebelumnya telah banyak
pengalaman yang dihadapi semua nabi dalam kebun risalah, karena beliau akan
menjadi pemetik basil akhir, peneropong terakhir, dan pengguna bekal terakhir.
Maka,
diharapkan pengalaman ini akan dapat membantunya dalam mengemban tugas yang
berat dan besar. Tugas membimbing seluruh manusia, bukan cuma satu kabilah,
satu kampung, atau satu umat saja. Tugas memberi bimbingan kepada seluruh
generasi, bukan cuma satu generasi dan bukan cuma satu kurun waktu saja
sebagaimana tugas rasul-rasul sebelumnya. Juga tugas mengembangkan potensi
kemanusiaan sesudah itu dengan seluruh generasinya dan semua kaumnya dengan
manhaj yang kekal, mantap, dan layak untuk menyambut segala sesuatu yang
dijumpainya di dalam kehidupan yang berupa aneka ragam kondisi, peraturan, dan
pengalaman-pengalaman, yang setiap hari datang dengan suasana yang baru....
Inti
pengalaman itu adalah bahwa Yunus bin Mata a.s. diutus oleh Allah kepada
penduduk sebuah desa yang menurut suatu riwayat bernama Ninawa, di negeri
Maushil, tetapi mereka enggan beriman. Keengganan mereka ini dirasa berat oleh
Yunus, lalu dia tinggalkan mereka dengan rasa jengkel sambil berkata di dalam
hati, "Allah tidak akan mempersempit aku untuk tinggal di antara kaum yang
keras kepala ini, toh Dia Mahakuasa untuk mengutus aku kepada kaum yang
lain."
Kejengkelan
dan kemarahannya ini telah mem-bawanya ke tepi laut yang dari situ kemudian dia
naik perahu. Ketika mereka berada di tengah laut, perahunya menjadi keberatan
dan hampir tenggelam. Karena itu, mereka mengadakan undian di antara para
penumpang untuk meringankan beban dengan menurunkan salah seorang dari mereka
yang mendapat undian, kemudian undian itu terkena pada Yunus. Maka, mereka
lantas melemparkannya ke laut, kemudian ditelan ikan.
Pada
waktu itu Yunus berseru (dalam keadaan marah kepada kaumnya) dalam kesedihan
yang amat sangat, di dalam kegelapan di dalam perut ikan, di tengah lautan. Dia
berseru kepada Tuhannya,
"...Tidak
ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya
aku adalah termasuk orang-orang yang zalim. " (al-Anbiyaa': 87)
Maka,
is segera disusuli nikmat dari Tuhannya. Kemudian ikan itu memuntahkannya ke
pantai dengan berupa daging tanpa kulit, karena kulitnya sudah luruh di dalam
perut ikan, dan Allah memelihara kehidupannya dengan kekuasaan-Nya yang tidak
terikat oleh kebiasaan manusia yang terbatas.
Di
sini kita katakan bahwa seandainya tidak karena nikmat Allah ini, niscaya dia
dimuntahkan oleh ikan dalam keadaan tercela. Yakni, dicela oleh Tuhannya karena
perbuatannya dan ketidaksabarannya itu, dan tindakannya memperturutkan
nafsu-nya sebelum mendapat izin dari Allah. Akan tetapi, nikmat Allah datang
tepat pada waktunya. Allah menerima tasbihnya, pengakuan kesalahannya, dan
penyesalannya. Dia mengetahui adanya sesuatu pada dirinya yang dengannya dia
layak mendapatkan nikmat dan dipilih oleh Allah.
فَاجْتَبٰىهُ رَبُّهٗ فَجَعَلَهٗ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ
٥٠
“Lalu
Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh. "
(al- Qalam: 50)
Inilah
pengalaman yang dialami orang yang berada di dalam perut ikan (Nabi Yunus
a.s.), yang diceritakan Allah kepada Rasul-Nya Muhammad saw. ketika sedang
menghadapi kesulitan dan pendustaan dari kaum kafir, setelah dilepaskannya
beliau dari peperangan sebagaimana hakikat yang sebenarnya. Dan, diperintahkannya
beliau supaya menyerahkan urusan perang itu kepada-Nya sebagaimana yang Dia
kehendaki, dan kapan Dia menghendaki. Juga ditugasinya beliau untuk bersabar
terhadap keputusan Allah dan qadha-Nya dalam waktu yang telah ditentukan dan di
dalam menempuh jalan yang sulit hingga datang saat yang telah ditentukan itu.
Sesungguhnya
masyaqat 'kesulitan, kesukaran, kemelaratan' dakwah yang sebenarnya adalah kesukaran
bersabar terhadap keputusan Allah sehingga datang janji-Nya pada waktu yang
dikehendaki-Nya sesuai dengan kebijaksanaan-Nya. Di dalam perjalanannya banyak
sekali masyaqat, kesukaran yang berupa pendustaan orang lain dan penyiksaan,
kesukaran yang berupa tantangan dan kekerasan, kesukaran yang berupa berkembangnya
dan menggelembungnya kebatilan, kesukaran yang berupa terpedayanya manusia oleh
kebatilan yang cemerlang dan unggul dalam pandangan mata, dan kesulitan yang
berupa tertahannya jiwa di dalam menghadapi semua ini dengan rela, mantap, dap
tenang terhadap janji Allah yang benar ....
Ini
adalah kerja dan perjuangan besar yang membutuhkan keteguhan hati, kesabaran,
pertolongan, dan bimbingan dari Allah... Adapun mengenai peperangan itu
sendiri, maka Allah telah menetapkan dan menentukan bahwa Dialah yang
mengaturnya, sebagaimana Dia telah menentukan bahwa Dia yang memberi tangguh dan
melakukan istidraj untuk suatu hikmah yang hanya Dia yang mengetahuinya.
Demikian pula janji-Nya kepada Nabi-Nya yang mulia, yang kemudian dibuktikan
sesudah beberapa waktu.
Sikap
Orang Kafir terhadap Al-Qur an dan Rasulullah
Pada
penutup surah digambarkan pemandangan orang-orang kafir yang menghadapi dakwah
Rasul yang mulia ini dengan penuh kebencian dan kekerasan serta dendam yang
mendalam yang tertuangkan dalam pandangan yang beracun dan mematikan yang
ditujukan kepada Rasulullah, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Qur'an dengan tidak
ditambah-tambahi.
وَاِنْ يَّكَادُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَيُزْلِقُوْنَكَ
بِاَبْصَارِهِمْ لَمَّا سَمِعُوا الذِّكْرَ وَيَقُوْلُوْنَ اِنَّهٗ لَمَجْنُوْنٌ ۘ
٥١
"Sesungguhnya
orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandartgan
mereka, tatkala mereka mendengarAl-Qur’an dan mereka berkata, 'Sesungguhnya ia
(Muhammad) benar-benar orang yang gila. "' (al-Qalam: 51)
Pandangan
ini hampir mempengaruhi langkah Rasulullah hingga hampir terpeleset dan
kehilangan keseimbangan dan kemantapannya di muka bumi. Ini merupakan ungkapan
yang tinggi tentang apa yang dikandung oleh pandangan ini yang bermuatan
kebencian, dendam, kejahatan, kedengkian, keinginan untuk menyakiti, hati yang
panas dan beracun. Pandangan beracun ini dibarengi dengan caci-maki yang amat
buruk dan kebohongan yang tercela. "Dan mereka berkata, 'Sesungguhnya ia (Muhammad)
benar-benar orang yang gila.’
Inilah
pemandangan yang dilukis oleh kuas yang indah dan direkamnya dari
pemandangan-pemandangan dakwah secara umum di Mekah, yang berada di dalam
bingkai umum di antara para pembesar yang keras kepala dan penuh dosa. Dari
hati dan pandangan merekalah muncul semua dendam yang hina dan membara ini.
Semua
ini diakhiri dengan kata pasti yang menyudahi segala perkataan,
وَمَا هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعٰلَمِيْنَ
ࣖ ٥٢
“Al-
Qur’an ini tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat." (al-Qalam:
52)
Sedangkan,
peringatan itu tidak akan disampaikan oleh orang yang gila, dan tidak akan
dibawa oleh orang yang gila....
Mahabenar
Allah dan berdustalah para pendusta....
Sebelum
mengakhiri pembahasan perlu kiranya kita perhatikan kata lit-'aalamiin 'bagi
seluruh alam/umat'
Di
sini, di Mekah, dakwah sudah menghadapi tantangan, dan Rasulnya menghadapi
pandangan-pandangan beracun yang membara, sedang kaum musyrikin terus mengintai
hendak menyerangnya sernampu mungkin. Pada waktu sepagi ini, dalam kesempitan
yang mencekik ini, ia (dakwah) telah mengumumkan "kealamiahannya"
(internasionalisasinya), sesuai dengan tabiat dan hakikatnya. Karena itu,
sifatnya ini bukanlah hal baru sewaktu ia mendapat kemenangan di Madinah
sebagaimana anggapan para pembohong hari ini. Tetapi, 'alamiyah 'globalisasi'
dakwah Islam sudah menjadi sifatnya sejak awal pada masa periode Mekah, karena
ini merupakan hakikat yang mantap di ladang dakwah sejak kelahirannya.
Begitulah
yang dikehendaki Allah, begitulah ia menujukkan arahnya sejak hari-hari
pertamanya, dan begitulah ia akan selalu mengarah hingga akhir zaman.
Allahlah
yang menghendakinya sebagaimana yang dikehendaki-Nya. Dialah pemiliknya dan pemeliharanya.
Dialah pembelanya dan pelindungnya. Dan, Dialah yang melakukan peperangan
terhadap orang-orang yang mendustakannya, sedang para pengembannya tidak punya
kewajiban lain selain bersabar sehingga datang keputusan Allah. Dia adalah
sebaik-baik pemberi keputusan.
No comments:
Post a Comment