MENJAGA
KEHALALAN HARTA
وَالَّذِيْنَ
هَاجَرُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ثُمَّ قُتِلُوْٓا اَوْ مَاتُوْا
لَيَرْزُقَنَّهُمُ اللّٰهُ رِزْقًا حَسَنًاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَهُوَ خَيْرُ
الرّٰزِقِيْنَ
“Dan
sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki (QS.22:58).
Rasulullah
saw bersabda:
عَنْ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ : “أَنَّ النَّبِيَّ
قَالَ لَهُ يَا عَمْرُو نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ مَعَ الرَّجُلِ الصَّالِحِ” رَوَاهُ أَحْمَدُ
Dari Amru
bin Al-Ash : “Bahwa nabi saw berkata kepadanya; Ya Amru sebaik-baik harta
yang baik bersama orang yang salih”. (HR. Ahmad)
Syariat mencari harta
halal
- Mencari
halal untuk nafkah adalah wajib.
Rasulullah saw bersabda:
كَفَى
بِالْمَرْءِ إثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ
“Cukuplah seseorang berdosa jika
menyia-nyiakan orang yang harus diberi makan”. (HR. Abu Dawud dan Muslim).
- Mencari
harta halal yang bertujuan menambah harta, kedudukan, kesenangan,
kenikmatan dan membantu orang lain yang diiringi dengan menjaga kaidah
agama, jiwa dan kehormatan adalah perbuatan yang disunnahkan (dibolehkan).
Hakikat harta halal
Harta adalah merupakan rizki (anugrah) Allah,
masing-masing dari makhluk Allah telah diberikan jalannya untuk meraih dan
menjemput rizki yang sudah dipersiapkan oleh Allah SWT…apapun bentuk makhluk
tersebut, tidak terkecuali binatang melata; semut, ulat, cacing, binatang yang
berjalan dengan kaki dua; ayam, bebek dan lain-lainnya, binatang berkaki empat
piaraan; Sapi, kambing, kerbau dan lain-lainnya, binatang berkaki empat yang
liar; macam, kuda, harimau hingga binatang yang berada diudara; burung-burung,
apalagi manusia. Semuanya sudah dijamin oleh Allah rizki mereka, dan akan
mereka raih dan jemput sesuai dengan cara mereka masing-masing.
Ketika harimau berhasil menangkap mangsanya, lalu memakan
dagingnya hingga kenyang, dan tentunya tidak sampai dimakan, datang
burung-burung kecil itu hinggap di atas sisa-sisa daging yang dimakan oleh
harimau tadi, burung-burung mungil itu tidak takut, bahkan sambil
melompat-lompat kecil terlihat acuh menikmati makanan temuannya tanpa
menghiraukan taring sang harimau.
Setelah kenyang, sebagian makanan itu tidak lupa ia bawa
untuk anak-anak burung yang menunggu di sarangnya. Namun tidak semua sisa
daging itu dapat dimakan oleh anaknya. Sebagian sisa daging itu terjatuh.
Semut-semut yang menemukannya, secara bergotong-royong mengangkut sisa daging
tersebut ke dalam liangnya. Beberapa ekor kumbang juga ikut nimrung
menikmatinya karena sisa daging itu tidak terangkut semuanya oleh kawanan
semut. Tak ada rebutan paksa antar mereka. Kehidupan rukun dan damai antar
sesama binatang nampaknya sedang mereka tontonkan.... Subhanallah.
Di sisi lain dari hutan itu, seorang pemburu sedang
beristirahat setelah menikmati madu yang diperolehnya dari atas pohon tempat ia
beristirahat. Dengan perlahan, tupai-tupai yang menyadari sang pemburu
beristirahat, mendekati dan menikmati madu-madu itu.'Sungguh terasa di surga
ketika tupai-tupai menjilati jari, tangan dan lenganku, mencecap sisa-sisa madu
yang masih.' gumam pemburu antara tidur dan terjaga.
Maha suci Allah.. Jalinan siklus makanan yang kadang tidak
kita sadari keterkaitan dan keterikatannya. Masih banyak contoh kisah lain -
lebih rumit, lebih panjang dan yang lebih memiliki keterikatan dan keterkaitan
-- yang dapat kita temukan. Selain itu, melalui hubungan dan jalinan siklus
makanan itulah, keseimbangan alam dapat terwujud. Allah-lah Dzat sebaik-baik
Pemberi rezeki.
Itulah siklus pembagian rizki halal atas kehendak Allah
SWT, sehingga dapat terlintas difikiran kita bahwa 4 hal :
- Allah menjamin pembagian rezeki
setiap hamba-Nya.
Allah berfirman : 'Dan tidak ada suatu
binatang melata pun di bumi ini melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan
Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu, dan tempat penyimpanannya. Semuanya
tertulis dalam kitab yang nyata (lauh Mahfudz) (QS. 11:6). Keyakinan akan
jaminan tersebut bukan dijadikan sebagai dasar untuk hanya berdiam diri menanti
harta datang dengan sendirinya. Menjadi makhluk yang bernyawa, -- makhluk yang
dapat bergerak karena nyawa itu -- berarti memiliki barbagai aktivitas hidup,
yang aktivitas tersebut mendukung makhluk itu dalam mempertahankan keberadaan
nyawanya. Semua hewan akan segera mencari tempat berlindung, ketika ia ingin
beristirahat. Tumbuh-tumbuhan akan mengering di musim kemarau untuk mengurangi
penguapan. Sedangkan manusia memiliki akal untuk melakukan kreativitas kegiatan
hidupnya. Selain dengan akal, Islam juga memberikan tuntunan bagaimana
seseorang memperoleh karunia Allah (lihat QS. Al-Jumu'ah : 10).
Disebutkan dalam al-qur'an
- Jalinan rezeki yang ada, menuntut
kita untuk saling berbagi dan lebih peduli, untuk kemudian
dimanifestasikan dalam bentuk nyata sesuai dengan tuntunan.
Dalam mencari
rezeki-Nya, setiap makhluk harus menyadari akan kebutuhannya, bukan keinginan.
Proporsional, sesuai dengan kebutuhan, tidak berlebihan dan tidak serakah yang
akhirnya mengakibatkan keinginan untuk menimbun, menguasai seluruh makanan,
harta dan materi yang ditemuinya. Bukankah burung-burung kecil itu tidak
mematuk lidah, gusi atau bagian lain dari mulut sang buaya? Bukankah
semut-semut itu tidak memaksakan diri untuk mengangkut seluruh sisa daging yang
ditemuinya? Dan seharusnya manusia lebih dapat menahan keinginannya untuk
berbagi dengan kepentingan orang lain.
- Berfikir akan siklus hidup tidak saja
merupakan kewajiban dan kerja akal semata.
Namun dengan
keterlibatan dan kehadiran hati, akan didapatinya bahwa Allah-lah, Sang
Kreator, Maha Pemberi rezeki, dan juga Maha 'merekayasa' pemberian semua ni'mat
yang tidak kita duga-duga. 'Atau siapakah dia ini yang memberi rezeki jika
Allah menahan Rezeki-Nya ?.' (QS. 67 : 21).
- Meyakini bahwa
Allah adalah dzat dan penyebab segala sumber ni'mat rezeki yang diperoleh
(diterima)
Menyadarkan
kita untuk selalu bersyukur. 'Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara
rezeki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu, dan bersyukurlah kepada Allah
jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.'. (QS. 2 : 172).
Tujuan mencari harta :
- Harta
untuk memenuhi nafkah
Rasulullah saw bersabda:
وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : "الْخَلْقُ عِيَالُ اللَّهِ ، وَأَحَبُّ
الْخَلْقِ إلَيْهِ أَنْفَعُهُمْ لِعِيَالِهِ " إسْنَادُهُ ضَعِيفٌ. وَرَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ وَابْنُ
مَرْدُوَيْهِ وَغَيْرُهُمَا .
Dari Anas ra, dari Nabi saw
bersabda : “Makhluk adalah keluarga Allah, sebaik-baik makhluk adalah yang
paling bermanfaat untuk keluarganya”.
(Sanadnya dlaif, HR. Thabrani dan Ibnu Mardaweh dan yang lainnya.
- Harta bukan untuk saling
bermegah-megahan
Rasulullah saw bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : "... وَمَنْ طَلَبَ
الدُّنْيَا حَلَالًا مُكَاثِرًا لَقِيَ اللَّهَ وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَانُ "
حَدِيثٌ حَسَنٌ وَمَكْحُولٌ لَمْ يَسْمَعْ مِنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
Dari Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah saw
bersabda : “… dan barangsiapa mencari dunia dengan cara halal untuk
bermegah-megahan maka akan bertemu Allah dengan wajah yang marah”. (Hadits hasan, dan Makhul –perawi hadits- tidak pernah
mendengar dari Abu Hurairah).
- Harta
dijadikan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan taat kepada-Nya.
- Harta
untuk menjalin tali silaturrahim.
Rasulullah saw:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : "مَنْ طَلَبَ
الدُّنْيَا حَلَالًا اسْتِعْفَافًا عَنْ الْمَسْأَلَةِ وَسَعْيًا عَلَى أَهْلِهِ
وَتَعَطُّفًا عَلَى جَارِهِ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَوَجْهُهُ كَالْقَمَرِ
لَيْلَةَ الْبَدْرِ”
Dari Abu Hurairah ra
berkata : Rasulullah saw bersabda : “Baragnsiapa yang mencari kehidupan dunia
dengan cara halal agar dapat memenuhi masalah keluarga, memenuhi kebutuhan
keluarganya, berbuat baik kepada tetangganya maka akan datang pada hari kiamat
wajahnya seperti bulan purnama di malam har ….”. (Hadits hasan, dan Makhul –perawi hadits- tidak pernah
mendengar dari Abu Hurairah).
Menjaga kehalalan harta
Allah SWT telah memerintahkan
kepada kita untuk selalu mencari harta halal, sebagaimana juga diperintahkan
untuk senantiasa menjaga kehalalan harta, agar selalu berada pada koridor
syariat Allah. Karena dalam hadits Rasulullah saw ditegaskan bahwa bahwa nanti
pada hari kiamat Allah akan menanyakan kepada manusia terhadap hartanya dua hal
yaitu darimana didapat harta yang dimiliki dan kemana diinfakkan (digunakan)
harta tersebut. Rasulullah saw bersabda :
عَنْ أَبِي بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيِّ
رَفَعَهُ " لاَ تَزُول قَدَمَا عَبْدٍ يَوْم الْقِيَامَة حَتَّى يُسْأَل عَنْ
أَرْبَع : عَنْ عُمُره فِيمَا أَفْنَاهُ , وَعَنْ جَسَده فِيمَا أَبْلَاهُ ,
وَعَنْ عَلَمِهِ فِيمَا عَمِلَ بِهِ , وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اِكْتَسَبَهُ
وَفِيمَ أَنْفَقَهُ "
“Tidak akan
tegak kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga akan ditanya kepadanya
4 perkara : tentang umurnya untuk apa dihabiskan, masa mudanya bagaimana
dilakukan, tentang ilmunya untuk apa dilakukan, tentang hartanya darimana
didapat dan kemana diinfakkan” (HR. Muslim)
Dalam hadtits diatas menegaskan 4
hal yang akan ditanyakan Allah kepada manusia pada hari kiamat nanti :
- Umur
- Masa Muda
- Ilmu
- Harta
Untuk katagori terkahir Allah SWT
akan menanyakan dua hal pada harta yaitu;
1. Mencari harta
2. Menginfakkan harta
1. Mencari harta
Dalam usaha
insan mencari nafkah, Allah menegaskan kriteria yang jelas dan gamblang yang
tidak boleh dilanggar olehnya terutama umat Islam. Adapun kriteria tersebut
adalah :
1) Halal dan baik
Allah SWT
berfirman:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا
فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ
اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
“Hai sekalian
manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan
janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; Karena Sesungguhnya syaitan
itu adalah musuh yang nyata bagimu”. (Al-Baqarah : 168)
2)
Dilakukan dengan cara yang
sah dan saling ridlo
Allah berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا
تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ
تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِّنْكُمْ ۗ وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْ ۗ اِنَّ
اللّٰهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا ٢٩ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ عُدْوَانًا وَّظُلْمًا
فَسَوْفَ نُصْلِيْهِ نَارًا ۗوَكَانَ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرًا ٣٠
"Hai
orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling makan harta kamu dengan tidak
sah, kecuali dengan cara perdagangan atsa dasar suka sama suka. janganlah kamu
membunuh (menghancurkan) diri sendiri, Allah sungguh Maha Pengasih kepada kamu.
Dan barang siapa melakukannya dengan melanggar hukum dan tidak adil, akan Kami
lemparkan ke dalam api neraka. Dan yang demikian bagi Allah mudah sekali"
(An-Nisa: 29-30).
Ayat di atas
hanya mengimbau orang-orang yang beriman. Mengapa tidak kepada semua orang?
Karena Allah Maha Tahu, yang akan percaya merenungkan dan mengamalkan Alquran
hanya orang yang beriman. Maka Hanya sekali-sekali saja Alquran mengimbau
seluruh manusia.
"Janganlah
kamu saling makan harta kamu dengan tidak sah". Karena dalam
perekonomian mustahil bisa berjalan sendiri, maka tiap pelaksanaan kegiatan
ekonomi pada dasarnya dilakukan lebih dari satu orang atau membutuhkan banyak
pihak, Pedagang membutuhkan pembeli dan begitu sebaliknya.
3) Tidak dengan cara curang
Allah berfirman:
وَلَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ
بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوْا بِهَآ اِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوْا
فَرِيْقًا مِّنْ اَمْوَالِ النَّاسِ بِالْاِثْمِ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ ࣖ ١٨٨
“Dan janganlah
sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan
yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim,
supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan
(jalan berbuat) dosa, padahal kamu Mengetahui”. (Al-Baqarah: 188)
4) Asas Manfaat.
Dalam usaha mencari rizki juga harus
diperhatikan asas manfaat bagi kehidupan manusia. Maka barang-barang yang
membawa madharat dan dampak negatif bagi kehidupan manusia dilarang
diperjualbelikan sehingga mendapatkan keuntungan dan rizki darinya, seperti:
minuman keras, obat-obatan terlarang dan sebagainya, karena tidak mempunyai
nilai guna.
Dalam kehidupan, Rasulullah mengatakan
bahwa makanan dan minuman yang masuk kedalam perut atau yang dikonsumsi akan
berpengaruh pada baik tidaknya perkembangan fisik maupun jiwa orang yang
memakan harta itu.
Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ
وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ
تُفْلِحُوْنَ ٩٠ اِنَّمَا يُرِيْدُ الشَّيْطٰنُ اَنْ يُّوْقِعَ بَيْنَكُمُ
الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاۤءَ فِى الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ
ذِكْرِ اللّٰهِ وَعَنِ الصَّلٰوةِ فَهَلْ اَنْتُمْ مُّنْتَهُوْنَ ٩١
“Hai orang-orang
yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk)
berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka
jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya
syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara
kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari
mengingat Allah dan sembahyang; Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan
pekerjaan itu).” (Al-Maidah: 90-91)
2. Menginfakkan harta
Jika manusia
telah meraih harta dengan cara yang baik dan halal sesuai dengan kriteria yang
telah ditetapkan maka kewajiban kedua adalah harus memperhatikan bagaimana
membelanjakan, menggunakan dan meneginfakkan harta tersebut.
Adapun kriteria
tersebut adalah sebagai berikut :
1) Digunakan sebagai sarana ibadah dan taat kepada Allah; seperti
syukur dan lain-lain
Allah SWT
berfirman:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ
شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ ٧
Dan (ingatlah
juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur,
pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari
(nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Ibrahim: 7)
2) Diinfakkan untuk memberi nafkah anak dan istri
3) Diinfakkan dijalan Allah; seperti sedekah, jihad, shadaqoh dan
lain-lain
Allah SWT berfirman :
۞ لَيْسَ الْبِرَّاَنْ تُوَلُّوْا
وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ
بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَ ۚ
وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ
وَابْنَ السَّبِيْلِۙ وَالسَّاۤىِٕلِيْنَ وَفِى الرِّقَابِۚ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ
وَاٰتَى الزَّكٰوةَ ۚ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عَاهَدُوْا ۚ
وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِۗ
اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ ١٧٧
“Bukanlah
menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi
Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian,
malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya
kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang
memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan)
hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang
menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam
kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang
benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa” (Al-Baqoroh:
177)
Allah berfirman :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا هَلْ
اَدُلُّكُمْ عَلٰى تِجَارَةٍ تُنْجِيْكُمْ مِّنْ عَذَابٍ اَلِيْمٍ ١٠ تُؤْمِنُوْنَ
بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَتُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ بِاَمْوَالِكُمْ
وَاَنْفُسِكُمْۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَۙ ١١
“Hai orang-orang
yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat
menyelamatkanmu dari azab yang pedih?
(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan
Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu
Mengetahui”. (As-Shaf : 10-11)
4) Tidak boros
Allah SWT berfirman:
يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ
عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا
يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ ࣖ
“Hai anak Adam,
pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah,
dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang
yang berlebih-lebihan”. (Al-A’raf: 31)
5) Tidak Tabdzir
Allah SWT
berfirman :
وَاٰتِ ذَا الْقُرْبٰى حَقَّهٗ
وَالْمِسْكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيْرًا ٢٦ اِنَّ
الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْٓا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِ ۗوَكَانَ الشَّيْطٰنُ
لِرَبِّهٖ كَفُوْرًا ٢٧
“Dan berikanlah
kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang
yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara
boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah Saudara-saudara syaitan dan
syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”. (Al-Israa: 26-27)
6) Tidak bakhil
Allah berfirman:
وَلَا
تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُوْلَةً اِلٰى عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ
فَتَقْعُدَ مَلُوْمًا مَّحْسُوْرًا ٢٩
“Dan janganlah kamu
jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu
mengulurkannya Karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal. (Maksudnya: jangan
kamu terlalu kikir, dan jangan pula terlalu Pemurah). (Al-Israa: 29)
وَالَّذِيْنَ اِذَآ اَنْفَقُوْا لَمْ
يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوْا وَكَانَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَامًا ٦٧
“Dan orang-orang
yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula)
kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian”.
(Al-Furqon : 67)
7) Tidak melalaikan akan dzikir dan beribadah keapda Allah.
Allah Berfirman
:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا
تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۚوَمَنْ
يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ ٩
“Hai orang-orang
beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat
Allah. barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang
merugi”. (Al-Munafiqun : 9)
8) Tidak dipergunakan untuk berfoya-foya
No comments:
Post a Comment