Iman Kepada Qadar
I. MUKADIMAH
Apa pun yang terjadi di dunia dan yang menimpa diri
manusia pasti telah digariskan oleh Allah Yang Mahakuasa dan Yang
Mahabijaksana. Semua telah tercatat secara rapi dalam sebuah Kitab pada zaman azali.
Kematian, kelahiran, rizki, nasib, jodoh, bahagia, dan celaka telah ditetapkan
sesuai ketentuan-ketentuan ilahiah yang tidak pernah diketahui oleh manusia.
Dengan tidak adanya pengetahuan manusia tentang ketetapan dan ketentuan Allah
ini, maka ia memiliki peluang atau kesempatan untuk berlomba-lomba menjadi
hamba yang saleh-muslih, berusaha keras untuk mencapai yang dicita-citakan
tanpa berpangku tangan menunggu takdir, dan berupaya memperbaiki citra diri.
Dengan bekal keyakinan terhadap takdir yang telah
ditentukan oleh Allah SWT, seorang mukmin tidak pernah mengenal kata frustrasi
dalam kehidupannya, dan tidak berbangga diri dengan apa-apa yang telah
diberikan Allah SWT. Ia akan berubah menjadi batu karang yang tegar menghadapi
segala gelombang kehidupan dan senantiasa sabar dalam menyongsong badai ujian
yang silih berganti. Ia juga selalu bersyukur apabila kenikmatan demi
kenikmatan berada dalam genggamannya. Perhatikan beberapa ayat Allah dan hadits
Rasul berikut ini.
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan
(tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul-Mahfuzh)
sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi
Allah. (Kami jelaskan
yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari
kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.
Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,”
(al-Hadiid: 22-23)
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang
ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa
yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan
Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan
bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam
kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” (al-An’aam: 59)
“Tiada seorangpun dari kalian kecuali telah ditulis
tempatnya di neraka atau di surga. Salah seorang dari mereka berkata, ‘Bolehkah
kami bertawakal saja, ya, Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Tidak, (akan tetapi)
beramallah …karena setiap orang dimudahkan (dalam beramal).’ Kemudian, beliau
membaca ayat ini, ‘Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah),
bertakwa dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka kami kelak
akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil,
merasa dirinya cukup dan mendustakan pahala yang terbaik, maka kami kelak akan
menyiapkan baginya (jalan) yang sukar (al-Lail: 5-10).’” (HR Bukhari dan Muslim, dari Ali bin Abi
Thalib)
“Sangat mengherankan seorang mukmin itu, karena
semua urusannya mengandung kebaikan. Dan yang demikian itu tidak pernah
dimiliki seseorang kecuali orang mukmin; apabila ia diuji dengan kenikmatan
(kebahagiaan), ia bersyukur. Maka, inilah kebaikan baginya. Dan apabila ia
diuji dengan kemelaratan (kepayahan), ia bersabar. Maka, inilah kebaikan
baginya.” (HR Muslim dari,
Abu Yahya Shuhaib bin Shinan)
I.
DEFINISI DAN DALIL-DALILNYA
Secara etimologi, qadha memiliki banyak
pengertian sebagaimana berikut.
- Pemutusan, hukuman. Kita bisa temukan pada ayat berikut ini.
Dia (Musa) masuk ke kota559) ketika
penduduknya sedang lengah. Dia mendapati di dalam kota itu dua orang laki-laki
yang sedang berkelahi, seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang
(lagi) dari golongan musuhnya (kaum Firʻaun). Orang yang dari golongannya
meminta pertolongan kepadanya untuk (mengalahkan) orang yang dari golongan
musuhnya. Musa lalu memukulnya dan (tanpa sengaja) membunuhnya. Dia berkata,
“Ini termasuk perbuatan setan. Sesungguhnya dia adalah musuh yang jelas-jelas
menyesatkan.” (al-Qashash:15)
- Perintah, kita bisa temukan pengertian ini pada firman Allah di bawah
ini.
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya
kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu
bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau
kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali
janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan
janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan
yang mulia.” (al-Israa`:23)
- Pemberitaan, bisa kita temukan dalam ayat berikut ini.
“Dan
telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka
akan ditumpas habis di waktu subuh.” (al-Hijr: 66)
Imam az-Zuhri berkata, “Qadha secara
etimologi memiliki arti yang banyak. Dan semua pengertian yang berkaitan dengan
qadha kembali kepada makna kesempurnaan….” (An-Nihayat fii Ghariib al-Hadits,
Ibnu al-Atsir 4/78)
Adapun qadar secara etimologi berasal dari
kata qaddara yuqaddiru taqdiiran yang berarti penentuan. Pengertian ini
bisa kita lihat dalam ayat Allah berikut ini.
“Dan dia menciptakan di bumi itu
gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan
padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai
jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.” (Fushshilat: 10)
Dari sudut terminologi, qadha adalah
pengetahuan yang lampau, yang telah ditetapkan oleh Allah pada zaman azali.
Adapun qadar adalah terjadinya suatu ciptaan yang sesuai dengan penetapan
(qadha).
Ibnu Hajar berkata, “Para ulama
berpendapat bahwa qadha adalah hukum kulli (universal) ijmali
(secara global) pada zaman azali, sedangkan qadar adalah bagian-bagian
kecil dan perincian-perincian hukum tersebut.” (Fathul-Baari 11/477)
Ada juga dari kalangan ulama yang
berpendapat sebaliknya, yaitu qadar merupakan hukum kulli ijmali pada
zaman azali, sedangkan qadha adalah penciptaan yang terperinci.
Sebenarnya, qadha dan qadar ini merupakan
dua masalah yang saling berkaitan, tidak mungkin satu sama lain terpisahkan
oleh karena salah satu di antara keduanya merupakan asas atau pondasi dari
bangunan yang lain. Maka, barangsiapa yang ingin memisahkan di antara keduanya,
ia sungguh merobohkan bangunan tersebut (An-Nihayat fii Ghariib al-Hadits,
Ibnu Atsir 4/78, Jami’ al-Ushuul 10/104).
Dalil-dalil Qadha dan Qadar
Beriman kepada qadha dan qadar merupakan
salah satu rukun iman, yang mana iman seseorang tidaklah sempurna dan sah
kecuali beriman kepadanya. Ibnu Abbas pernah berkata, “Qadar adalah nidzam
(aturan) tauhid. Barangsiapa yang mentauhidkan Allah dan beriman kepada qadar,
maka tauhidnya sempurna. Dan barangsiapa yang mentauhidkan Allah dan
mendustakan qadar, maka dustanya merusakkan tauhidnya” (Majmu’ Fataawa
Syeikh al-Islam, 8/258).
Oleh karena itu, iman kepada qadha dan
qadar ini merupakan faridhah dan kewajiban yang harus dilakukan setiap
muslim dan mukmin. Hal ini berdasarkan beberapa hadits berikut ini.
- Hadits Jibril yang diriwayatkan Umar bin
Khaththab r.a., di saat Rasulullah saw. ditanya oleh Jibril tentang iman.
Beliau menjawab, “Kamu beriman kepada Allah, Malaikat, Kitab-kitab,
Rasul-rasul, Hari Akhir, dan kamu beriman kepada qadar baik maupun buruk.” (HR
Muslim)
-“Sekiranya Allah SWT menyiksa penduduk
langit dan bumi, maka Dia sungguh melakukannya tanpa menzalimi mereka. Dan
sekiranya Dia mengasihi mereka, maka rahmat-Nya lebih baik daripada amal
mereka. Dan sekiranya kamu memiliki emas seperti Gunung Uhud atau semisalnya,
lalu kamu infakkan di jalan Allah, maka Dia tidak akan menerimanya sehingga
kamu beriman terhadap qadar dan kamu mengetahui bahwa apa yang ditakdirkan
menimpamu tidak akan meleset darimu dan apa yang ditakdirkan bukan bagianmu
tidak akan mengenaimu, dan sesungguhnya jika kamu mati atas (aqidah) selain
ini, maka niscaya kamu masuk neraka.” (HR Ahmad, dari Zaid bin Tsabit)
Perhatikan beberapa ayat Allah dan hadits
Nabi yang berkaitan dengan qadha dan qadar-Nya berikut ini.
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di
bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul-Mahfuzh)
sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya, yang demikian itu adalah mudah bagi
Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita
terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira
terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang
yang sombong lagi membanggakan diri.” (al-Hadiid: 22-23)
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala
sesuatu menurut ukuran.” (al-Qamar:
49)
“(Yaitu di hari) ketika kamu berada di
pinggir lembah yang dekat dan mereka berada di pinggir lembah yang jauh, sedangkan
kafilah itu berada di bawah kamu. Sekiranya kamu mengadakan persetujuan (untuk
menentukan hari pertempuran), pastilah kamu tidak sependapat dalam menentukan
hari pertempuran itu, akan tetapi (Allah mempertemukan dua pasukan itu) agar
Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan, yaitu agar orang yang binasa
itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya
dengan keterangan yang nyata (pula). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi
Maha Mengetahui.” (al-Anfaal:
42)
Tidak ada suatu keberatan pun atas Nabi
tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. (Allah telah menetapkan yang
demikian) sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan
adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.” (al-Ahzab: 38)
“Yang pertama kali diciptakan Allah Yang
Mahaberkah lagi Mahaluhur adalah pena (al-qalam). Kemudian Dia berfirman
kepadanya, ‘Tulislah…,’ Ia bertanya, ‘Apa yang saya tulis?’ Dia berfirman,
‘Maka ia pun menulis apa yang ada dan yang bakal ada sampai hari kiamat.” (HR Ahmad)
“Tiada
seorang pun dari kalian kecuali telah ditulis tempatnya di neraka atau di
surga. Salah seorang dari mereka berkata, ‘Bolehkah kami bertawakal saja, ya,
Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Tidak, (akan tetapi) beramallah…karena setiap
orang dimudahkan (dalam beramal),’ kemudian beliau membaca ayat ini, ‘Adapun
orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah), bertakwa dan membenarkan
adanya pahala yang terbaik (surga), maka kami kelak akan menyiapkan baginya
jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil, merasa dirinya cukup dan
mendustakan pahala yang terbaik, maka kami kelak akan menyiapkan baginya
(jalan) yang sukar.’” (HR Bukhari dan Muslim, dari Ali bin Abi Thalib)
“Adapun orang yang memberikan (hartanya di
jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka
Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang
yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan pahala terbaik, maka
kelak Kami akan menyiapkan baginya
(jalan) yang sukar.” (al-Lail: 5-10)
II.
RUKUN-RUKUN
IMAN KEPADA QADHA DAN QADAR
Beriman kepada qadha dan qadar berarti
mengimani rukun-rukunnya. Rukun-rukun ini ibarat satuan-satuan anak tangga yang
harus dinaiki oleh setiap mukmin. Dan tidak akan pernah seorang mukmin mencapai
tangga kesempurnaan iman terhadap qadar kecuali harus meniti satuan anak tangga
tersebut.
Iman terhadap qadha dan qadar memiliki
empat rukun sebagai berikut.
Pertama, Ilmu Allah SWT. Beriman kepada qadha dan qadar
berarti harus beriman kepada Ilmu Allah yang merupakan deretan sifat-sifat-Nya
sejak azali. Dia mengetahui segala sesuatu. Tidak ada makhluk sekecil
apa pun di langit dan di bumi ini yang tidak Dia ketahui. Dia mengetahui
seluruh makhluk-Nya sebelum mereka diciptakan. Dia juga mengetahui kondisi dan
hal-ihwal mereka yang sudah terjadi dan yang akan terjadi di masa yang akan
datang oleh karena ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. Dialah Tuhan
Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata.
Hal ini bisa kita temukan dalam beberapa
ayat quraniah dan hadits nabawiah berikut ini.
“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit
dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui
bahwasanya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya
benar-benar meliputi segala sesuatu.” (ath-Thalaaq: 12)
“Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia,
Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (al-Hasyr: 22)
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua
yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia
mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang
gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam
kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan
tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” (al-An’aam: 59)
“Allah lebih mengetahui apa yang mereka
kerjakan ketika menciptakan mereka.” (HR Muslim)
Kedua, Penulisan Takdir. Di sini mukmin harus beriman
bahwa Allah SWT menulis dan mencatat takdir atau ketentuan-ketentuan yang
berkaitan dengan kehidupan manusia dan sunnah kauniah yang terjadi di bumi di
Lauh Mahfuzh—“buku catatan amal” yang dijaga. Tidak ada suatu apa pun yang
terlupakan oleh-Nya. Perhatikan beberapa ayat di bawah ini.
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di
bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul-Mahfuzh)
sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi
Allah. (Kami jelaskan
yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari
kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.
Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,”
(al-Hadiid: 22-23)
“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa
sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi; bahwasanya
yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang
demikian itu amat mudah bagi Allah.” (al-Hajj: 70)
“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada
di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat
(juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun dalam Al-Kitab, kemudian
kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.” (al-An’aam: 38)
“Yang pertama kali diciptakan Allah Yang
Mahaberkah lagi Mahaluhur adalah pena (al-qalam). Kemudian Dia berfirman
kepadanya, ‘Tulislah….” Ia bertanya, ‘Apa yang aku tulis?’ Dia berfirman, maka
ia pun menulis apa yang ada dan yang bakal ada sampai hari kiamat.” (HR Ahmad)
Ketiga, Masyi`atullah (Kehendak Allah) dan Qudrat
(Kekuasaan Allah). Seorang mukmin yang telah mengimani qadha dan qadar harus
mengimani masyi`ah (kehendak) Allah dan kekuasaan-Nya yang
menyeluruh. Apa pun yang Dia kehendaki pasti terjadi meskipun manusia tidak
menginginkannya. Begitu pula sebaliknya, apa pun yang tidak dikehendaki pasti
tidak akan terjadi meskipun manusia memohon dan menghendakinya. Hal ini bukan
dikarenakan Dia tidak mampu melainkan karena Dia tidak menghendakinya. Allah
berfirman,
“Dan tiada sesuatu pun yang dapat
melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (Faathir: 44)
Adapun dalil-dalil tentang masyi`atullah
sangat banyak kita temukan dalam Al-Qur`an, di antaranya sebagai berikut.
“Dan kamu tidak dapat menghendaki
(menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (at-Takwiir: 29)
“Dan orang-orang yang mendustakan
ayat-ayat Kami adalah pekak, bisu dan berada dalam gelap gulita. Barangsiapa
yang dikehendaki Allah (kesesatannya), niscaya disesatkan-Nya. Dan barangsiapa yang
dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya petunjuk), niscaya Dia menjadikan-Nya
berada di atas jalan yang lurus.” (al-An’aam: 39)
“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia
menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, ‘Jadilah!’ maka terjadilah ia.” (Yaasiin: 82)
“Siapa yang dikehendaki Allah menjadi
orang baik, maka Dia akan menjadikannya faqih (memahami) agama ini.” (HR Bukhari)
Simaklah apa jawaban Imam Syafi’i ketika
ditanya tentang qadar berikut ini.
“Maka, apa-apa yang Engkau kehendaki pasti terjadi
meskipun aku tidak berkehendak
Dan apapun yang aku kehendaki—apabila Engkau tidak
berkehendak—tidak akan pernah ada
Engkau menciptakan hamba-hamba ini sesuai yang
Engkau ketahui
Maka dalam (bingkai) ilmu ini, lahirlah pemuda dan
orang tua renta
Kepada (hamba) ini, Engkau
telah memberikan karunia dan kepada yang ini Engkau hinakan
Yang ini Engkau tolong dan yang ini Engkau biarkan
(tanpa pertolongan)
Maka, dari mereka ada yang celaka dan sebagian
mereka ada yang beruntung
Dari mereka ada yang jahat dan sebagian
mereka ada yang baik
Keempat, Penciptaan-Nya. Ketika beriman terhadap qadha
dan qodar, seorang mukmin harus mengimani bahwa Allah-lah pencipta segala
sesuatu, tidak ada Khaliq selain-Nya dan tidak ada Rabb semesta alam ini selain
Dia. Hal ini berdasarkan dalil-dalil berikut ini.
“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia
memelihara segala sesuatu.” (az-Zumar: 62)
“Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit
dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam
kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukuranya
dengan serapi-rapinya.” (al-Furqaan: 2)
“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu
dan apa yang kamu perbuat Itu.“ (ash-Shaaffat: 96)
“Sesungguhnya,
Allah adalah Pencipta semua pekerja dan pekerjaannya.” (HR Hakim)
Inilah empat rukun beriman kepada qadha
dan qadar yang harus diyakini setiap muslim. Maka, apabila salah satu di antara
empat ini diabaikan atau didustakan, niscaya ia tidak akan pernah sampai
gerbang keimanan yang sesungguhnya. Sebab, mendustakan satu di antara empat
rukun tersebut berarti merusak bangunan iman terhadap qadha dan qadar, dan
ketika bangunan iman terhadap qadar rusak, maka juga akan menimbulkan kerusakan
pada bangunan tauhid itu sendiri.
III.
MACAM-MACAM
TAKDIR
Takdir ada empat macam. Namun, semuanya
kembali kepada takdir yang ditentukan pada zaman azali dan kembali kepada Ilmu
Allah yang meliputi segala sesuatu. Keempat macam takdir tersebut adalah
sebagai berikut.
Pertama, Takdir Umum (Takdir Azali). Takdir yang
meliputi segala sesuatu dalam lima puluh ribu tahun sebelum diciptakannya
langit dan bumi. Di saat Allah SWT memerintahkan al-Qalam (pena) untuk
menuliskan segala sesuatu yang terjadi dan yang belum terjadi sampai hari
kiamat. Hal ini berdasarkan dalil-dalil berikut ini.
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di
bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul-Mahfuzh)
sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi
Allah.”(al-Hadiid: 22)
“Allah-lah yang telah menuliskan takdir
segala makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum diciptakan langit dan bumi.
Beliau bersabda, ‘Dan ‘Arsy-Nya berada di atas air.” (HR Muslim)
Kedua, Takdir Umuri. Yaitu takdir yang
diberlakukan atas manusia pada awal penciptaannya ketika pembentukan air sperma
(usia empat bulan) dan bersifat umum. Takdir ini mencakup rizki, ajal,
kebahagiaan, dan kesengsaraan. Hal ini didasarkan sabda Rasulullah saw. berikut
ini.
“…Kemudian Allah mengutus seorang malaikat
yang diperintahkan untuk meniupkan ruhnya dan mencatat empat perkara: rizki,
ajal, sengsara, atau bahagia... .” (HR Bukhari)
Ketiga, Takdir Samawi. Yaitu takdir yang dicatat pada
malam Lailatul Qadar setiap tahun. Perhatikan firman Allah berikut ini.
“Pada malam itu dijelaskan segala urusan
yang penuh hikmah.” (ad-Dukhaan:
4-5)
Ahli tafsir menyebutkan bahwa pada malam
itu dicatat dan ditulis semua yang akan terjadi dalam setahun, mulai dari
kebaikan, keburukan, rizki, ajal, dan lain-lain yang berkaitan dengan peristiwa
dan kejadian dalam setahun. Hal ini sebelumnya telah dicatat pada Lauh Mahfudz.
Keempat, Takdir Yaumi. Yaitu takdir yang
dikhususkan untuk semua peristiwa yang akan terjadi dalam satu hari; mulai dari
penciptaan, rizki, menghidupkan, mematikan, mengampuni dosa, menghilangkan
kesusahan, dan lain sebagainya. Hal ini sesuai dengan firman Allah,
“Semua yang ada di langit dan bumi selalu
meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” (ar-Rahmaan: 29)
Ketiga takdir yang terakhir tersebut,
kembali kepada takdir azali: takdir yang telah ditentukan dan ditetapkan dalam
Lauh Mahfudz.
IV.
BERDALIH DENGAN
QADAR DALAM KEMAKSIATAN DAN MUSIBAH
Semua yang ditakdirkan oleh Allah SWT
selalu tersirat hikmah dan maslahat bagi manusia. Hikmah dan maslahat yang
telah diketahui oleh-Nya. Maka, Dia tidak pernah menciptakan kejelekan dan
keburukan murni yang tidak pernah melahirkan suatu kemaslahatan. Kejelekan dan
keburukan ini tidak boleh dinisbatkan kepada Allah SWT, melainkan dinisbatkan
kepada amal perbuatan manusia. Sesungguhnya, segala sesuatu yang dinisbatkan
kepada Allah mengandung keadilan, hikmah, dan rahmat
Hal ini berdasarkan firman Allah SWT.
“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah
dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu
sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah
menjadi saksi.” (an-Nisaa`:
79)
Maksudnya, segala kenikmatan dan kebaikan
yang dialami manusia berasal dari Allah SWT, sedangkan keburukan yang
menimpanya diakibatkan karena dosa dan kemaksiatannya.
Allah membenci kekufuran dan kemaksiatan
yang dilakukan hamba-hamba-Nya. Sebaliknya, Dia mencintai dan meridhai
ketakwaan dan kesalehan. Dia juga menunjukkan dua jalan untuk hamba-hamba-Nya,
sedangkan manusia diberikan akal untuk memilih salah satu jalan tersebut sesuai
pilihan dan kehendaknya. Maka, barangsiapa yang memilih jalan kebaikan ia
berhak mendapat ganjaran dan yang memilih jalan keburukan atau kebatilan maka
ia berhak mendapat siksa oleh karena hal ini dilakukan secara sadar dan atas
pilihannya sendiri tanpa ada unsur paksaan. Meskipun sebab-sebab dan
factor-faktor pendorong amal perbuatannya tidak lepas dari kehendak Allah SWT.
Maka, tidak ada alasan dan hujjah lagi
bagi manusia bahwa setiap kekufuran dan kemaksiantan yang dilakukannya karena
takdir Allah SWT. Oleh karena itu, Allah mencela orang-orang musyrik yang
berdalih dengan masyi-at Allah atas kekufuran mereka seperti dalam firmanNya;
“Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan,
akan mengatakan, ‘Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami
tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apa
pun.’ Demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para
rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah, ‘Adakah kamu mempunyai
sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada Kami?" Kamu
tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah
berdusta. Katakanlah, ‘Allah
mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat; maka jika Dia menghendaki, pasti Dia
memberi petunjuk kepada kamu semuanya.” (al-An’aam: 148-149)
“Dan berkatalah orang-orang musyrik, ‘Jika
Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apa pun selain
Dia, baik kami maupun bapak-bapak kami, dan tidak pula kami mengharamkan
sesuatu pun tanpa (izin)-Nya.’ Demikianlah yang diperbuat orang-orang sebelum
mereka, maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan
(amanat Allah) dengan terang. Tiap-tiap umat mempunyai rasul yang diutus untuk
menerangkan kebenaran.” (an-Nahl:
35)
Adapun berhujjah dengan takdir atas
musibah yang menimpa manusia dapat dibenarkan Islam. Sebagaimana dialog yang
terjadi antara Nabi Adam dan Nabi Musa tentang musibah dikeluarkannya Bani Adam
dari surga.
“Adam dan Musa berbantah-bantahan. Musa
berkata, ‘Wahai, Adam, Anda adalah bapak kami yang telah mengecewakan dan
mengeluarkan kami dari surga. Lalu Adam menjawab, ‘Kamu, wahai Musa yang telah
dipilih Allah dengan Kalam-Nya dan menuliskan untkmu dengan Tangan-Nya, apakah
kamu mencela kepadamu atas suatu perkara yang mana Allah telah menakdirkan
kepadaku sebelum aku diciptakan empat puluh tahun?’ Maka Nabi bersabda, ‘Maka,
Adam telah membantah Musa, Adam telah membantah Musa.’” (HR Muslim)
V.
BUAH IMAN KEPADA QADAR
Muslim yang meyakini akan qadha dan qadar
Allah SWT secara benar akan melahirkan buah-buah positif dalam kehidupannya. Ia
tidak akan pernah frustrasi atas kegagalan atau harapan-harapan yang lari
darinya, dan ia tidak terlalu berbangga diri atas kenikmatan dan karunia yang
ada di genggamannya. Sabar dan syukur adalah dua senjata dalam menghadapi
setiap permasalahan hidup.
DR. Umar Sulaiman al-Asyqar dalam kitab “Al-Qadha
wa Al-Qadar” menyimpulkan buah beriman terhadap qadar sebagai berikut.
Pertama, jalan yang membebaskan kesyirikan.
Kedua, tetap istiqamah. “Sesungguhnya, manusia
diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia
berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali
orang-orang yang mengerjakan shalat.” (al-Ma’arij: 19-22)
Ketiga, selalu berhati-hati. “Maka apakah mereka
merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman
dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (al-A’raaf: 99)
Keempat, sabar dalam menghadapi segala problematika
kehidupan.
A-8. AR RIDHO
Ridho adalah
hasil dari cintanya mukmin kepada Allah.
Cinta berarti menerima semua keinginan dan tuntutan dari yang
dicintainya (Allah). Tuntutan dan
kehendak Allah ini terdapat di dalam Al-Qur’an.
Kehendak Allah terhadap manusia, alam semesta dan dari diri kita. Kehendak Allah terhadap manusia iaitu
diberikan ketentuan-ketentuan yang pasti seperti qadha dan qadar. Terhadap alam, Allah menghendaki alam sebagai
kajian untuk dikaji dan mengambil manfaat darinya, juga menggambarkan kehebatan
dan kekuasaan Allah di alam. Yang Allah
kehendaki dari diri manusia adalah melaksanakan petunjukNya, menjalankan
syariat dan iltizam. Dengan menerima semua ketentuan-ketentuan
yang diberikan kepada kita, alam dan yang dikehendaki dari kita, maka individu
tersebut beriman sebenarnya.
Ridho merupakan buah dari rasa cinta seseorang
mukmin terhadap Allah. Fenomena ridho
adalah menerima semua kehendak dan kemauan Allah tanpa reserve. Hal ini terdapat dalam
tiga dimensi.
Dalil
·
Q.2:207,
redha Allah adalah harapan orang-orang mukmin dan mereka rela berkorban untuk
mendapatkannya.
وَمِنَ النَّاسِ
مَنْ يَّشْرِيْ نَفْسَهُ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ رَءُوْفٌۢ
بِالْعِبَادِ
207. Dan di antara manusia ada orang yang
mengorbankan dirinya Karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun
kepada hamba-hamba-Nya.
· Q.76:31, makna redha
adalah menerima ketentuan Allah atas dirinya.
يُّدْخِلُ مَنْ
يَّشَاۤءُ فِيْ رَحْمَتِهٖۗ وَالظّٰلِمِيْنَ اَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا اَلِيْمًا ࣖ
31. Dan memasukkan siapa yang dikehendakinya ke
dalam rahmat-Nya (surga). dan bagi orang-orang zalim disediakan-Nya azab yang
pedih.
A.
1. Kehendak
dan Kemauan Allah Terhadap Kita (manusia).
Kehendak Allah terhadap kita iaitu kejadian yang telah berlangsung, tidak
dapat dielakkan, tidak diketahui sebelumnya (ghaib) seperti kelahiran,
kematian, pernikahan dan kehidupan dengan segala cabarannya seperti kekayaan,
kemiskinan, kemenangan, kekalahan, keimanan, kekafiran. Semua yang telah terjadi ini tidak mungkin
berlangsung kecuali dengan kehendak Allah.
Dalil :
· Q.4:78, semua
kejadian samada kebaikan maupun keburukan dari sisi Allah, misalnya kematian.
78. Di mana saja kamu berada, kematian akan
mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang Tinggi lagi kokoh, dan
jika mereka memperoleh kebaikan[319], mereka mengatakan: "Ini adalah dari
sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan:
"Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)". Katakanlah:
"Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka Mengapa orang-orang itu
(orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan[320] sedikitpun?
· Q.35:2, tak ada
seorangpun yang dapat menghindari rahmat Allah dan kecelakaan yang dikenakanNya
pada seseorang.
2. Apa saja yang Allah anugerahkan kepada
manusia berupa rahmat, Maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa
saja yang ditahan oleh Allah Maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya
sesudah itu. dan dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
· Q.11:6, setiap
makhluk di tangan Allahlah ketentuan rizkinya.
6. Dan tidak ada suatu binatang melata[709] pun
di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan dia mengetahui tempat
berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya[710]. semuanya tertulis dalam
Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).
· Q.9:52, semua kejadian pada diri orang-orang
mukmin adalah ketentuan Allah bagi mereka.
52. Katakanlah: "Tidak ada yang
kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan[646]. dan
kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab (yang
besar) dari sisi-Nya. sebab itu tunggulah, Sesungguhnya kami menunggu-nunggu
bersamamu."
1. Alam Ghaib.
Kehendak Allah
tersebut sebelum terjadinya merupakan sesuatu yang ghaib bagi manusia. Tidak dapat ditangkap dengan deria. Tidak dapat diketahui dengan jalan apapun. Ketentuan ini hanya Allah sahaja yang
mengetahuinya, semua telah tercatat dalam kitab yang nyata.
Dalil
:
·
Q.6:59, hanya
di sisi Allah pengetahuan yang ghaib.
59. Dan
pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya
kecuali dia sendiri, dan dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan
tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan dia mengetahuinya (pula), dan tidak
jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau
yang kering, melainkan tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)"
·
Q.31:34,
kelahiran dan kematian adalah ketentuan yang terdapat dalam pengetahuan Allah.
34.
Sesungguhnya Allah, Hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari
Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam
rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan
diusahakannya besok[1187]. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi
mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.
Q.11:6, Allah mengetahui tempat-tempat aktiviti
makhlukNya, semua tercatat dalam kitab yang nyata.
6. Dan
tidak ada suatu binatang melata[709] pun di bumi melainkan Allah-lah yang
memberi rezkinya, dan dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat
penyimpanannya[710]. semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).
·
Q.6:38, Luhul
Mahfuzh tidak meninggalkan sedikitpun melainkan dicatatnya.
38. Dan
tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang
dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. tiadalah kami
alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab[472], Kemudian kepada Tuhanlah mereka
dihimpunkan.
1. Qadha dan Qadar.
Sarahan
:
Kejadian yang pasti dan tak dapat dihindari ini disebut Qadha dan
Qadar. Ia merupakan bahagian dari rukun
iman yang enam. Setiap muslim wajib
mengimaninya samada merupakan kebaikan (menguntungkan) maupun keburukan
(merugikan) terhadap dirinya. Iman ini
membuat kita sadar dan tidak sombong terhadap apa-apa yang dimiliki serta tidak
kecewa terhadap apa-apa yang lepas dari kita.
Dalil
:
·
Hadits,
pernyataan Rasulullah tentang Iman, “….. dan engkau beriman dengan Qadar baik
maupun buruk”.
·
Q.57:22,
ketentuan Allah membuat kita tidak sombong dengan yang diperoleh dan tidak
kecewa dengan yang tepat dari kita.
مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى
الْاَرْضِ وَلَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ
نَّبْرَاَهَا ۗاِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌۖ
22.
Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (Tidak pula) pada dirimu
sendiri melainkan Telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami
menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
·
Hadits, Allah
telah menentukan bagi manusia di dalam rahim ibunya ketentuan. Lahir, mati, celaka, bahagia dan sebagainya.
2. Allah Tidak Ditanya Tentang Apa Yang Dikerjakannya.
Dalam bersikap
terhadap Qadha dan Qadar Allah, manusia tidak berhak menyalahkan atau menuduh
Allah. Sebab sebagai yang maha pencipta
dia berbuat sesuai dengan kehendakNya tanpa seorangpun dapat memprosesNya.
Dalil
:
·
Q.21:23,
Allah tidak dapat ditanya tentang apa yang diperbuatNya terhadap makhluk.
لَا يُسْـَٔلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ
يُسْـَٔلُوْنَ
23.
Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan
ditanyai.
·
Q.85:16,
Allah berbuat sekehendakNya tidak mengikuti peraturan siapapun selain diriNya.
فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيْدُۗ
16.
Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.
·
Q.2:284,
semua kepunyaan Allah, Allah bebas memberi ampun ataupun mengazab hambanya.
·
Hadits, jika
Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang maka diberikan cobaan. Maka siapa yang ridho (dengan cobaan itu)
baginya keredhaan Allah. Dan barang
siapa yang keberatan maka baginya kemarahan Allah.
284. Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di
langit dan apa yang ada di bumi. dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam
hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan
kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya
dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala
sesuatu.
3. Hikmah.
Allah tidak
bertindak melainkan di dalamnya terdapat suatu hikmah. Tetapi sedikit dari manusia yang dapat
memahaminya. Karena itu, terhadap
kejadian yang mengenanya mukmin berupaya mencari hikmah Allah tersebut. Ia senantiasa berbaik sangka kepada Allah
karena meyakini bahawa Allah maha pengasih lagi maha penyayang kepada
hamba-hambaNya.
Dalil
:
·
Q.2:216,
hikmah Allah dalam disyariatkannya berperang.
216.
Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu
yang kamu benci. boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui.
·
Hadits, orang
mukmin itu mengagumkan karena semua urutan mendatangkan kebaikan baginya. Jika dia diberi kebaikan ia bersyukur dan itu
baik baginya, jika ia tertimpa musibah ia bersabar dan itu baik pula baginya.
·
Hadits Qudsi,
sesungguhnya aku tergantung sangkaan hambaKu terhadapKu. Jika dia bersangka baik maka baik pula
baginya, jika dia bersangka buruk maka buruk pula baginya.
B.
1. Apa Yang Allah Kehendaki Terhadap Alam
Semesta.
Allah mengatur,
menetapkan, menentukan seluruh kejadian di alam semesta secara pasti dan
tepat. Tidak ada satu makhlukpun yang lepas dari aturan
Allah ini. Setiap fenomena yang terjadi
merupakan tanda-tanda kebesaran Allah dan keagunganNya.
Dalil
:
·
Q.25:2,
54:49, 87:1-2, 15:20, 36:38-40, 55:7, Allah menentukan qadar alam seluruh
ciptaan Nya dengan sangat rapih dan teratur.
وَجَعَلْنَا
لَكُمْ فِيْهَا مَعَايِشَ وَمَنْ لَّسْتُمْ لَهٗ بِرٰزِقِيْنَ
20. Dan kami Telah
menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan
pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezki kepadanya.
وَالسَّمَاۤءَ
رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيْزَانَۙ
7. Dan Allah Telah
meninggikan langit dan dia meletakkan neraca (keadilan).
2. Alam Kajian.
Ketentuan Allah
tersebut bukan merupakan sesuatu yang ghaib tetapi juga tidak mudah untuk
difahami dan diketahui. Manusia akan
memahaminya dengan jalan belajar dan melakukan berbagai kajian tentang
ketentuan-ketentuan Allah tersebut.
Dalil
:
·
Hadits,
mengenai seseorang yang mendapat petunjuk Rasulullah cara bertanam korma. Ternyata hasil tuaiannya tidak memuaskan
kemudian dia datang kepada Rasul untuk melaporkan. Jawab Rasulullah SAW, “kamu lebih tahu urusan
duaniamu”
2. Undang-undang Allah Di Alam
Semesta.
Semua ketentuan dan peraturan Allah yang tidak tertulis di alam semesta itu
disebut Sunnatullah. Sifatnya tetap,
tidak berubah dan tidak berganti. Tetapi
Allah sendiri dapat merubahnya seperti pada mukjizat para Nabi. Kita mesti menyebutnya Sunnatullah dan bukan
hukum alam atau hukum sains tulin.
Dalil
:
·
Q.35:43,
33:62, 48:23, sunnatullah tidak mengalami perubahan atau pergantian.
62. Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas
orang-orang yang Telah terdahulu sebelum (mu), dan kamu sekali-kali tiada akan
mendapati peubahan pada sunnah Allah.
سُنَّةَ اللّٰهِ الَّتِيْ قَدْ خَلَتْ
مِنْ قَبْلُ ۖوَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللّٰهِ تَبْدِيْلًا
23.
Sebagai suatu sunnatullah[1403] yang Telah berlaku sejak dahulu, kamu
sekali-kali tiada akan menemukan peubahan bagi sunnatullah itu.
·
Q.21:68-69,
Nabi Ibrahim tidak hangus dimakan api bahkan selamat dengan izin Allah.
·
Q.20:77-78,
Nabi Musa mampu membelah laut dengan izin Allah dan sebagainya.
3. Mengkaji.
Sunnatullah hanya
dapat difahami setelah diselidiki, dipelajari, dianalisa dan dikaji. Sifatnya netral. Dapat dipelajari siapa sahaja. Tetapi orang mukmin lebih berhak untuk
memperolehnya. Itulah mengapa kitabullah banyak sekali menganjurkan mukminin
melakukan pengamatan terhadap alam semesta.
Dalil
:
·
Q.3:190-191,
10:5-6, 30:20-25, 30:8, contoh-contoh anjuran dan rangsangan Allah untuk
memperhatikan alam semesta.
190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan
bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi
orang-orang yang berakal,
191.
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau
dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi
(seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan
sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka.
·
Sabda
Rasulullah, “Hikmah itu kepunyaan orang mukmin, dimana sahaja mereka jumpai
hikmah itu, merekalah yang paling berhak atasnya”.
·
Q.3:137,
mengamati sejarah kehidupan manusia adalah perintah Allah.
قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌۙ
فَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ
137. Sesungguhnya Telah berlalu sebelum kamu
sunnah-sunnah Allah[230]; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan
perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).
4. Intifa.
Dengan mengkaji
sunnatullah kita mengambil manfaat sebesar-besarnya dari potensi alam untuk
memperkuat barisan kaum muslimin. Ilmu
pengetahuan dan teknologi sangat berguna untuk menjadi sarana dakwah. Karenanya kaum muslimin wajib menggalakkan
kembali pengamatan dan pengkajian terhadap alam semesta ini.
Dalil
:
·
Q.57:25,
Allah menyuruh memanfaatkan kekuatan besi (teknologi) untuk menegakkan
Islam.
·
Q.8:60,
perintah untuk mempersiapkan sarana-sarana jihad di jalan Allah. Ini tidak dapat berlangsung tanpa pemanfaatan
sains dan teknologi.
60. Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka
kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk
berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan
musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang
Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan
dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).
C.
1. Yang Allah Kehendaki dari Diri Kita.
Iaitu rela
melaksanakan petunjuk hidup yang didalamnya ada perintah dan larangan, halal
dan haram, peringatan dan anjuran, dan sebagainya. Kesemuanya dapat kita jumpai dalam kitabullah
dan sunnah Rasulullah. Setiap muslim
wajib menerima undang-undang Allah yang telah tertulis ini dengan tanpa
keraguan.
Dalil
:
·
Q.3:19, 3:85,
aturan hidup (dien) yang diterima disisi Allah hanyalah Islam. Ia merupakan kumpulan kehendak Allah dari diri kita. Disinilah Allah mengatur dan mengendalikan
hambaNya.
اِنَّ الدِّيْنَ
عِنْدَ اللّٰهِ الْاِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ
اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًاۢ بَيْنَهُمْ ۗوَمَنْ
يَّكْفُرْ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ فَاِنَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ
19. Sesungguhnya agama
(yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang
Telah diberi Al Kitab[189] kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka,
Karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. barangsiapa yang kafir terhadap
ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.
وَمَنْ يَّبْتَغِ
غَيْرَ الْاِسْلَامِ دِيْنًا فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْهُۚ وَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ
مِنَ الْخٰسِرِيْنَ
85. Barangsiapa mencari agama selain agama islam,
Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di
akhirat termasuk orang-orang yang rugi.
·
Q.42:15,
disyariatkannya dien bagi kita untuk ditegakkan dengan tidak bercerai-cerai.
2. Alam Yang Nyata.
Perintah-perintah
dan larangan-larangan Allah merupakan sesuatu yang jelas dan dapat difahami
dengan mudah. Ia berbicara tentang
realiti yang ada di sekitar manusia tentang hubungan manusia dengan penciptanya
dengan alam, hakikat kehidupan, hakikat manusia itu sendiri, dan hakikat
pengabdian. Semua sangat diperlukan oleh
setiap manusia.
Dalil
:
·
Q.5:15-16,
Rasulullah bagaikan cahaya yang terang membawa kitab yang sangat jelas bagi
kehidupan. Dengan kitab itulah Allah
menunjuki orang yang mencari keredhaanNya ke jalan keselamatan. Membebaskan mereka dari kegelapan (jahiliyah)
menjadi terang benderang (Islam).
·
Hadits,
pernyataan Rasulullah, “yang halal itu jelas dan yang haram itu juga jelas, dan
di antara keduanya ada yang mutasyabihat”.
3. Ketentuan Syariah.
Peraturan dan
petunjuk hidup Allah merupakan ketentuan syariah bagi kebahagiaan manusia. Manusia diberi kebebasan untuk menerima atau
menolaknya. Mereka yang menerima menjadi
orang beriman dan hidupnya akan bahagia.
Sedangkan yang menolak disebut orang kafir dan hidupnya akan celaka.
Dalil
:
·
Q.2:256,
18:29, Yang haq adalah yang datang dari Allah, manusia boleh memilih iman atau
kafir. Bila kafir maka ancamannya adalah
neraka.
لَآ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِۗ قَدْ
تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَّكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ
وَيُؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا
انْفِصَامَ لَهَا ۗوَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
256. Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama
(Islam); Sesungguhnya Telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.
Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut[162] dan beriman kepada
Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada buhul tali yang amat Kuat
yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.
وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّكُمْۗ
فَمَنْ شَاۤءَ فَلْيُؤْمِنْ وَّمَنْ شَاۤءَ فَلْيَكْفُرْۚ اِنَّآ اَعْتَدْنَا
لِلظّٰلِمِيْنَ نَارًاۙ اَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَاۗ وَاِنْ يَّسْتَغِيْثُوْا
يُغَاثُوْا بِمَاۤءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِى الْوُجُوْهَۗ بِئْسَ الشَّرَابُۗ
وَسَاۤءَتْ مُرْتَفَقًا
29.
Dan Katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka
barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang
ingin (kafir) Biarlah ia kafir". Sesungguhnya kami Telah sediakan bagi
orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. dan jika mereka
meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang
mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.
·
Q.24:1, 28:85, kewajiban melaksanakan syariat bagi
mereka yang mengaku beriman.
4. Mereka Akan Ditanya.
Pengetahuan
tersebut akan melahirkan amal yang kelak dipertanggung-jawabkan. Setiap insan mesti bertanggung-jawab terhadap pelaksanaan perintah dan
larangan Allah. Mukmin menerima qadha
dan qadar tetapi iapun menyadari bahawa taqdir syar’I menghendaki adanya sikap
tanggung jawab. Contohnya tatkala sakit
(qadha) maka syariat menentukan untuk berubat, tatkala ia kufur syariat
menyuruhnya mencari hidayah, ketika dalam keadaan maksiat syariat
memerintahkannya bertaubat tatkala kaya ia dimestikan bersyukur dan tatkala
miskin ia diperintah untuk sabar.
Dalil
:
·
Q.21:23,
setiap manusia akan ditanya apakah ia melaksanakan ketentuan syariah atai
tidak.
لَا يُسْـَٔلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ
يُسْـَٔلُوْنَ
23.
Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan
ditanyai.
·
Q.102:8,
semua manusia akan diminta pertanggung-jawabannya di akhirat.
ثُمَّ لَتُسْـَٔلُنَّ يَوْمَىِٕذٍ عَنِ
النَّعِيْمِ ࣖ
8.
Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang
kamu megah-megahkan di dunia itu).
·
Q.4:79,
42:30, Allah menyalahkan mereka yang tidak berikhtiar mengikuti syariat.
وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ
فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ
30.
Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh
perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari
kesalahan-kesalahanmu).
·
Hadits, sabda
Rasulullah, “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan ditanya
tentang tanggung jawabnya … “.
·
Sabda
Rasulullah SAW, “Setiap penyakit ada obatnya, maka berobatlah kamu”.
5. Iltizam.
Untuk terwujudnya
semua ketentuan Allah maka kewajiban kita adalah senantiasa iltizam (komitmen)
baik terhadap pengetahuan maupun pelaksanaan syariah. Semua yang dapat dilakukan secara individu
wajib dilaksanakan. Sedangkan yang belum
dapat dilaksanakan kecuali telah adanya wasilah (sarana) wajib diperjuangkan.
Dalil
:
·
Q.33:36, komitmen mukmin terhadap aturan
Allah. Bila Allah telah menetapkan
sesuatu maka tidak boleh ada pilihan lain baginya.
فَلَا وَرَبِّكَ
لَا يُؤْمِنُوْنَ حَتّٰى يُحَكِّمُوْكَ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا
يَجِدُوْا فِيْٓ اَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا
65. Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya)
tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka
perselisihkan, Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan
terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.
· Q.24:51, sikap mukmin
terhadap keputusan Allah dan Rasul adalah “mendengat dan taat”.
·
Q.5:35, perintah bertaqwa, mencari jalan untuk
mendekatkan diri kepada Allah, serta berjihad di jalan Allah.
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ
وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
35. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah
kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan
berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.
D.
Iman.
Penerimaan dan keredhaan terhadap ketiga
unsur taqdir diatas itulah yang disebut iman yang sebenarnya. Dengan rela menerima apa yang Allah tentukan
bagi dirinya dan alam semesta, maka mukmin berupaya menegakkan tuntutan Allah
pada dirinya. Sehingga hidupnya
sepenuhnya dalam bimbingan dan pimpinan Allah SWT, serta dalam keadaan berjihad
menegakkan syariah Islam.
Dalil
:
· Q.49:15, mukmin yang
sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul kemudian mereka
tidak ragu-ragu dan berjihad di jalan Allah.
اِنَّمَا
الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ لَمْ
يَرْتَابُوْا وَجَاهَدُوْا بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ
ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الصّٰدِقُوْنَ
15. Sesungguhnya
orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada
Allah dan Rasul-Nya, Kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang
(berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah
orang-orang yang benar.

Comments
Post a Comment