Tanya : Siapakah Malaikat itu?
Jawab :
Malaikat adalah makluk (ciptaan Allah swt) cahaya, tidak makan, tidak minum, tidak
tidur, dan tidak berjenis kelamin. Mereka adalah alam lain yang berdiri sendiri
dan berbeda fisik dan jasadnya.
Tanya : Dari manakah asal penciptaan mereka?
Jawab : Allah
swt telah menciptakan malaikat
dari cahaya, sebagaimana sabda Rasulullah saw:
خُلِقَتِ الْمَلاَئِكَةُ مِنْ نُوْرٍ
(رواه مسلم).
Malaikat
telah diciptakan dari cahaya (HR Muslim).
Tanya: Apa
tugas (pekerjaan) mereka?
Jawab:
Mereka mengurus alam semesta ini sesuai iradah dan masyi’ah (kehendak) Allah
swt. Dia mendayagunakan malaikat untuk melaksanakan perintah-Nya, dan mereka
pun tidak akan melakukan sesuatu kecuali dengan perintah Allah swt. Firman
Allah:
وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمٰنُ
وَلَدًا سُبْحٰنَهٗ ۗبَلْ عِبَادٌ مُّكْرَمُوْنَ ۙ ٢٦ لَا يَسْبِقُوْنَهٗ بِالْقَوْلِ
وَهُمْ بِاَمْرِهٖ يَعْمَلُوْنَ ٢٧
Dan mereka berkata: "Tuhan
yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak", Maha suci Allah,
sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan[957].
Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan Perkataan dan mereka mengerjakan
perintah-perintahNya. Q.S Al-Anbiya (21) ayat 26-27
[957] Ayat ini diturunkan untuk
membantah tuduhan-tuduhan orang-orang musyrik yang mengatakan bahwa malaikat-malaikat
itu anak Allah..
Di antara amal mereka adalah:
· Bertasbih dan tunduk secara total dan sempurna kepada
Allah swt.
·
Turun membawa wahyu.
·
Mencatat semua amal.
Firman Allah swt:
وَاِنَّ عَلَيْكُمْ لَحٰفِظِيْنَۙ
١٠ كِرَامًا كٰتِبِيْنَۙ ١١ يَعْلَمُوْنَ مَا تَفْعَلُوْنَ ١٢
Padahal
sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang
mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka
mengetahui apa yang kamu kerjakan. Q.S. Al-Infithar (82) ayat 10-12
·
Mewafatkan dan mencabut nyawa
Tanya: Apakah beriman kepada malaikat adalah
kewajiban?
Jawab: Ya. Allah swt telah mengabarkan kepada
kita tentang mereka dalam kitab-Nya, jadi iman kepada malaikat itu wajib dan
salah satu rukun iman. Firman Allah swt:
اٰمَنَ
الرَّسُوْلُ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِ مِنْ رَّبِّهٖ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ كُلٌّ اٰمَنَ
بِاللّٰهِ وَمَلٰۤىِٕكَتِهٖ وَكُتُبِهٖ وَرُسُلِهٖۗ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْ
رُّسُلِهٖ ۗ وَقَالُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ
Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan
kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya
beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan Rasul-Rasul-Nya.
(Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun
(dengan yang lain) dari Rasul-Rasul-Nya", dan mereka mengatakan:
"Kami dengar dan kami taat. " (mereka berdoa): "Ampunilah kami
Ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali. " Q.S. Al-Baqarah
(2) ayat 285.
Makna Malaikat
1.
Menurut mayoritas ulama Islam, malaikat adalah makhluk halus
yang diciptakan dari cahaya dan mampu berubah-ubah bentuk yang berbeda.
2.
Menurut sekte Nasrani, malaikat adalah ruh yang telah
terpisah dari tubuhnya, dapat berbicara, dan memiliki sifat bersih dan baik.
3. Menurut
golongan penyembah berhala, malaikat adalah bintang yang bertugas memberi
kebahagiaan atau kesengsaraan. Malikat pemberi kebahagiaan disebut Malaikat
Rahmah, dan malaikat yang memberi kesengsaraan disebut malaikat azab. Dengan
demikian bintang menurut mereka adalah makhluk hidup yang dapat berbicara. [1]
DALIL-DALIL IMAN PADA MALAIKAT
Sebagaimana telah kami katakan bahwa jalan menuju iman
kepada malaikat adalah melalui periwayatan yang shahih dari dalil-dalil Al Qur’an
dan sunnah, dan akal dalam hal ini tidak memiliki peran kecuali tunduk kepada
apa yang telah dijelaskan oleh wahyu. Sedangkan wahyu itu sendiri tidak
bertentangan dengan akal, dan kami berupaya untuk mencari dalil-dalil iman
kepada malaikat didalam Al Qur’an dan sunnah Nabi.
HUKUM BERIMAN KEPADA MALAIKAT
Keberadaan malaikat diperkuat dengan dalil al Qur’an, sunnah
dan ijma, maka iman kepada malaikat hukumnya wajib, dan barang siapa yang
mengingkari keberadaan mereka maka ia telah kafir.
DALIL-DALIL AL QUR’AN
اٰمَنَ الرَّسُوْلُ
بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِ مِنْ رَّبِّهٖ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ كُلٌّ اٰمَنَ
بِاللّٰهِ وَمَلٰۤىِٕكَتِهٖ وَكُتُبِهٖ وَرُسُلِهٖۗ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ
مِّنْ رُّسُلِهٖ ۗ وَقَالُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا
وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ
Rasul telah beriman kepada Al Qur’an
yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman,
Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan Rasul-Rasul-Nya.
(mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun
(dengan yang lain) dari Rasul-Rasul-Nya", dan mereka mengatakan:
"Kami dengar dan kami taat. " (mereka berdoa): "Ampunilah kami
Ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali. " QS Al Baqoroh ayat 285
Di Al Qur’an juga terdapat surat yang
diberi nama surat Malaikat yaitu surat Faathir.
DALIL-DALIL HADITS
Di antara hadits yang paling populer
berkaitan dengan tema ini adalah Hadits Jibril yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari
dan Imam Muslim dari Abu Hurairah ra, ia berkata :
Rasulullah
saw pada suatu hari bersama para sahabat lalu seorang laki-laki datang padanya
kemudian berkata ; Ya Rasulullah, apakah iman itu, Rasul menjawab : Iman adalah
kamu beriman pada Allah, malaikat, kitab-Nya, bertemu dengan-Nya, para Rasul
dan beriman kepada hari kebangkitan.
Dengan demikian jelaslah bahwa iman
kepada malaikat adalah salah satu rukun aqidah Islamiyah dan tidak akan
diterima iman seorang muslim tanpa mengimani rukun ini. Mungkin terlintas di pikiran
anda sebuah pertanyaan : Kenapa iman kepada malaikat menjadi salah satu
rukun iman ? Jawabannya adalah seperti yang dijelaskan oleh Imam Muhammad
Abduh didalam tafsirnya ia berkata : "Bahwa iman kepada malaikat adalah
pokok iman kepada wahyu, karena malaikat penyampai wahyu adalah ruhyang berakal
yang memiliki ilmu yang luas dengan izin Allah, disampaikannya kepada ruhNabi
sebagai pokok agama, karenanya penyebutan malaikat didahulukan atas penyebutan
kitab dan para Nabi. Sebab merekalah yang datang kepada para Nabi membawa kitab,
karenanya mengingkari malaikat berarti mengingkari wahyu, kenabian dan ruh, yang
demikian itu berarti mengingkari hari akhir, dan orang yang mengingkari hari
akhir tujuan utamanya adalah kenikmatan dunia, syahwat dan segala tuntutannya. Hal
ini adalah sumber kesengsaraan di dunia sebelum di akhirat. [2]
SIFAT-SIFAT MALAIKAT
Sebagaimana telah kami jelaskan bahwa dalil-dalil tentang malaikat telah
didukung dengan dalil wahyu, dan wahyulah yang menjelaskan kepada kita dari apa
mereka diciptakan dan seperti apa tabiat mereka : Allah swt telah menciptakan malaikat dari
cahaya sebagaimana Adam diciptakan dari tanah, jin diciptakan dari api.
Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah ra bahwa Rasulullah saw bersabda : "Malaikat
diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api, dan Adam diciptakan dari apa
yang telah diceritakan pada kamu (tanah). "
Para ulama berbicara tentang tabiat malaikat, mereka berkata : Para
malaikat adalah jawahir basithah yang diberi akal, tidak memerlukan tempat, ada
yang berhubungan dengan benda konkret seperti otak, adapula yang berhubungan
dengan yang abstrak seperti jiwa. Malaikat memiliki kemampuan logika akal yang
tidak sempurna, mereka dapat diciptakan melalui proses kelahiran, atau tanpa
proses kelahiran. Mereka tidak terhalang dari cahaya Allah dan tidak dilarang
berada bersamanya pada suatu waktu, pada suatu keadaan dengan tidur, lalai atau
syahwat bahkan mereka menikmati degan apa yang mereka saksikan dan mereka lihat
dari Allah, ketaatan mereka adalah karakter dan kemaksiatan mereka adalah tugas,
berbeda dengan manusia ketaatannya adalah tugas dan mengikuti hawa nafsu adalah
karakter. [3]
Allah berfirman dalam Q.S. An
Nahl ayat 50
يَخَافُوْنَ
رَبَّهُمْ مِّنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ ࣖ ۩
Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan
melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka).
Q.S. Al Anbiyaa
ayat 27
لَا يَسْبِقُوْنَهٗ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِاَمْرِهٖ يَعْمَلُوْنَ
Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan
mereka mengerjakan perintah-perintahNya.
Q.S. At Tahriim ayat 6
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا
وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ
لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan
keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu;
penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah
terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa
yang diperintahkan.
KEDUDUKAN DAN KEUTAMAAN MALAIKAT
Ulama
berbeda pendapat dalam menjadikan manusia lebih utama daripada malaikat:
- Pendapat yang
mengatakan bahwa para Rasul dari golongan manusia lebih utama dari para Rasul
dari golongan malaikat dan para wali dari golongan manusia lebih utama
dari para wali golongan malaikat.
- Pendapat
yang lain bahwa malaikat lebih utama dari manusia selain para Rasul.
MALAIKAT ADALAH MAKHLUK ISTIMEWA YANG TIDAK DISIFATI
DENGAN SIFAT LAKI-LAKI ATAU PEREMPUAN
Orang-orang musyrikin Arab Jahiliyah beranggapan bahwa
malaikat adalah anak-anak perempuan Allah, dan mereka telah melakuka kebodohan
besar ketika mengatakan bahwa Allah memiliki anak dan anak-anaknya adalah para
wanita (malaikat). Di sisi lain mereka tidak senang dengan anak-anak perempuan
sebagaimana firman Allah dalam QS An Nahl ayat 58
وَاِذَا بُشِّرَ اَحَدُهُمْ بِالْاُنْثٰى ظَلَّ وَجْهُهٗ مُسْوَدًّا وَّهُوَ
كَظِيْمٌۚ
Dan apabila
seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah
(merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah.
Tentang kebohongan mereka Allah menjelaskan di dalam Q.S.
Az Zukhruf ayat 19
وَجَعَلُوا الْمَلٰۤىِٕكَةَ الَّذِيْنَ هُمْ عِبٰدُ الرَّحْمٰنِ اِنَاثًا ۗ
اَشَهِدُوْا خَلْقَهُمْ ۗسَتُكْتَبُ شَهَادَتُهُمْ وَيُسْـَٔلُوْنَ
Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu
adalah hamba-hamba Allah yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan. Apakah
mereka menyaksikan penciptaan malaika-malaikat itu? Kelak akan dituliskan
persaksian mereka dan mereka akan dimintai pertanggungjawaban.
Dan juga di Q.S. Al Israa ayat 40
اَفَاَصْفٰىكُمْ رَبُّكُمْ بِالْبَنِيْنَ وَاتَّخَذَ مِنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ
اِنَاثًاۗ اِنَّكُمْ لَتَقُوْلُوْنَ قَوْلًا عَظِيْمًا ࣖ
Maka apakah patut Tuhan memilihkan bagimu anak-anak
laki-laki sedang dia sendiri mengambil anak-anak perempuan di antara para
malaikat? Sesungguhnya kamu benar-benar mengucapkan kata-kata yang besar
(dosanya).
Bukan sesuatu yang aneh keyakinan yang salah ini masih
mempengaruhi akal dan hati banyak orang, contoh yang paling jelas adalah
menyerupakan malaikat dengan perempuan-perempuan berkostum putih dan membuat patung atau gambar malaikat pada bentuk anak-anak perempuan dan wanita-wanita cantik yang
memiliki sayap, yang dijual di pasar-pasar dan sebagian kaum muslimin
memberikan ucapan selamat pada hari bahagia dan hari raya dengan memberi hadiah
boneka yang menyerupai bentuk malaikat. Hal ini adalah kekufuran yang jelas, dan
barang siapa yang meyakini bahwa suara perempuan adalah suara malaikat atau
para perempuan merupakan potret malaikat rahmah adalah kafir. [4]
Komentar saya (penulis) terhadap pendapat diatas bahwa
menggambar bentuk malaikat adalah bid'ah yang sangat berbahaya, dapat
mengeluarkan seorang muslim dari iman. Menurut saya hal ini tidak lebih dari
sekedar khayalan yang sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Kami
walaupun tidak setuju dengan penyerupaan tersebut, tidak sependapat dengan
syekh Al Bani yang mengkafirkan orang-orang yang berpendapat seperti itu, realitanya
tidak ada seorangpun yang meyakini bahwa suara wanita adalah sama dengan suara
malaikat.
Barangkali ketika ingatan kita masih kuat tentang
perkataan para wanita kepada Nabi Yusuf, ketika mereka menyamakannya dengan
malaikat, sebagaimana firman Allah Q.S . Yusuf ayat 31:
فَلَمَّا سَمِعَتْ بِمَكْرِهِنَّ اَرْسَلَتْ اِلَيْهِنَّ وَاَعْتَدَتْ لَهُنَّ
مُتَّكَاً وَّاٰتَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِّنْهُنَّ سِكِّيْنًا وَّقَالَتِ اخْرُجْ
عَلَيْهِنَّ ۚ فَلَمَّا رَاَيْنَهٗٓ اَكْبَرْنَهٗ وَقَطَّعْنَ اَيْدِيَهُنَّۖ
وَقُلْنَ حَاشَ لِلّٰهِ مَا هٰذَا بَشَرًاۗ اِنْ هٰذَآ اِلَّا مَلَكٌ كَرِيْمٌ
Maka
tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah
wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya
kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia
berkata (kepada Yusuf): "Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada
mereka". Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada
(keelokan rupa)nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: "Maha
sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah
malaikat yang mulia."
MALAIKAT TIDAK MAKAN DAN TIDAK MINUM
Dalil bahwa malaikat tidak makan dan tidak minum adalah
Al Qur’an yang menceritakan tentang para tamu Nabi Ibrahim dari golongan
malaikat yang diutus oleh Allah untuk menghancurkan perkampungan kaum Luth di
dalam Q.S. Adz Dzaariyaat ayat 24-28:
هَلْ اَتٰىكَ حَدِيْثُ ضَيْفِ اِبْرٰهِيْمَ الْمُكْرَمِيْنَۘ ٢٤ اِذْ
دَخَلُوْا عَلَيْهِ فَقَالُوْا سَلٰمًا ۗقَالَ سَلٰمٌۚ قَوْمٌ مُّنْكَرُوْنَ ٢٥
فَرَاغَ اِلٰٓى اَهْلِهٖ فَجَاۤءَ بِعِجْلٍ سَمِيْنٍۙ ٢٦ فَقَرَّبَهٗٓ اِلَيْهِمْۚ
قَالَ اَلَا تَأْكُلُوْنَ ٢٧ فَاَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيْفَةً ۗقَالُوْا لَا تَخَفْۗ
وَبَشَّرُوْهُ بِغُلٰمٍ عَلِيْمٍ ٢٨
Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim
(yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke
tempatnya lalu mengucapkan: "Salaamun". Ibrahim menjawab:
"Salaamun (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal. " Maka dia
pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, Kemudian dibawanya daging anak sapi
gemuk. Lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata: "Silahkan
anda makan. " (Tetapi mereka tidak mau makan), Karena itu Ibrahim merasa
takut terhadap mereka. Mereka berkata: "Janganlah kamu takut", dan
mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang
alim (Ishak).
MALAIKAT TIDAK DAPAT DILIHAT DALAM BENTUK ASLINYA.
Pada kisah tamu Ibrahim diatas bahwa malaikat dapat
dilihat disaat berbentuk pada wujud selain aslinya. Orang-orang tasawuf
mengklaim bahwa mereka menyaksikan malaikat di saat terjaga dalam keadaan sadar
dan mendengar suara mereka, bahkan Abu Sulaiman Ad Daroni mengaku bahwa
malaikat telah berbicara padanya, dan dia melihat dengan mata kepala sendiri, yang
mengakibatkan kemudian dia diusir dari Damasykus. Cerita seperti ini juga ditemui dari Sahal bin Abdullah
at Tusturi. [5]
Pendapat yang shahih bahwa malaikat tidak dapat dilihat
oleh manusia biasa, dalilnya adalah firman Allah Q.S. Al Furqan ayat
21-22:
۞ وَقَالَ
الَّذِيْنَ لَا يَرْجُوْنَ لِقَاۤءَنَا لَوْلَآ اُنْزِلَ عَلَيْنَا
الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَوْ نَرٰى رَبَّنَا ۗ لَقَدِ اسْتَكْبَرُوْا فِيْٓ اَنْفُسِهِمْ
وَعَتَوْ عُتُوًّا كَبِيْرًا ٢١ يَوْمَ يَرَوْنَ الْمَلٰۤىِٕكَةَ لَا بُشْرٰى
يَوْمَىِٕذٍ لِّلْمُجْرِمِيْنَ وَيَقُوْلُوْنَ حِجْرًا مَّحْجُوْرًا ٢٢
Berkatalah
orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan Kami:
"Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita
(tidak) melihat Tuhan kita?" Sesungguhnya mereka memandang besar tentang
diri mereka dan mereka benar-benar Telah melampaui batas(dalam melakukan)
kezaliman". Pada hari mereka melihat malaikat di hari itu tidak ada
kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa, mereka berkata: "Hijraan
mahjuuraa".
Ibnu Hazm mengomentari ayat ini, ia berkata : ”Allah
telah menjadikan permintaan manusia akan diturunkannya malaikat sebagai suatu
masalah besar, yang dianggap sebagai kesombongan dan melampaui batas dan Allah
menjelaskan kepada kita bahwa kita sebagai manusia tidak akan pernah dapat
melihat malaikat sampai hari kiamat.” [6]
Jika manusia biasa tidak dapat melihat malaikat maka
dimungkinkan bagi Rasulullah seorang Nabi bisa melihat malaikat Jibril dalam
bentuk aslinya di malam isra mi'raj. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad
daalam musnadnya dari Masruq dia berkata : ”Aku pernah bersama A'isyah, belaiu
berkata ; Bukankah Allah telah berfirman Q.S. At Takwiir ayat 23
وَلَقَدْ رَاٰهُ بِالْاُفُقِ الْمُبِيْنِۚ
Dan Sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang
terang.
Dan Q.S. An Najm ayat 13
وَلَقَدْ رَاٰهُ نَزْلَةً اُخْرٰىۙ
Dan Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam
rupanya yang asli) pada waktu yang lain,
Lalu A'isyah berkata : ”Aku orang pertama dari umat
ini yang bertanya kepada Rasulullah tentang ayat diatas, maka Rasulullah saw menjawab
: sesungguhnya dia adalah malaikat Jibril. Rasul tidak melihatnya dalam bentuk
aslinya kecuali dua kali. Rasul melihatnya pertama kali di saat Malaikat Jibril
turun ke bumi dan sayapnya menutupi antara langit dan bumi.” [7]
Walaupun kita sebagai manusia tak dapat melihai malaikat,
namun ada sebagian makhluk yang diberi kelebihan khusus sehingga dapat melihat
malaikat, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim
dalam shahihnya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda : "Jika
kamu mendengar suara ayam jago, maka mintalah kepada Allah sebagian dari
karunianya, karena ayam jago itu dapat melihat malaikat, dan bila kamu
mendengar suara ringkik keledai maka berlindunglah kepada Allah dari syaitan
karena ia melihat syaitan.” [8]
Sebagian orang menganggap hadits seperti ini aneh, bagaimana
mungkin burung-burung dan binatang dapat menyaksikan apa-apa yang kita tidak
dapat saksikan. Jawabnya sederhana benda mati saja dapat memperlihatkan kepada
kita sesuartu yang kita tidak dapat melihatnya dalam kondisi biasa, contohnya
televisi dapat memperlihatkan gambar gambar dari jarak yang sangat jauh, yang
hal ini tidak tepisah dari lingkungan dimana kita hidup disana, di saat kita sedang
duduk di kamar. Kita lihat bahwa isi televisi itu kosong, sementara ia penuh
dengan gambar dan bermacam-macam suara melalui komponen elektronik yang dibuat
untuk itu.
MALAIKAT MAMPU BERUBAH-UBAH BENTUK
Pada kisah Ibrahim bersama tamunya, para malaikat, mereka
menjelma sebagai orang laki-laki dewasa sehingga Ibrahim langsung menjamu
mereka dan Ibrahim tidak akan dapat menyaksikan mereka seandainya mereka tidak
menjelma sebagai manusia. Contoh lain ketika malaikat datang kepada Maryam,
sebagaimana firman Allah dalam Q.S.
Maryam ayat 16 – 17.
وَاذْكُرْ فِى الْكِتٰبِ مَرْيَمَۘ اِذِ انْتَبَذَتْ مِنْ اَهْلِهَا مَكَانًا
شَرْقِيًّا ۙ ١٦ فَاتَّخَذَتْ مِنْ دُوْنِهِمْ حِجَابًاۗ فَاَرْسَلْنَآ اِلَيْهَا
رُوْحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا ١٧
Dan Ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Qur’an, yaitu
ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur., Maka
ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu kami mengutus ruh Kami[Jibril a. s ] kepadanya,
Maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.
Malaikat Jibril datang menjumpai Rasul dalam betuk
manusia yang berbeda-beda bentukya, kadangkala menyerupai seorang shahabat yang
bernama Dahyah bin Khalifah Al Kalbi, karena Dahyah seorang pemuda tampan dan
memiliki postur yang ideal. Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan di dalam
shahihnya dari Umar bin Khathab, ia berkata : ”Ketika kami sedang duduk di sisi
Rasul tiba-tiba muncul seorang laki-laki dengan mengenakan pakaian yang sangat
putih dan rambut yang sangat hitam, lalu menyandarkan kedua lututnya pada kedua
lutut Rasulullah dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas paha Rasul dan
ia berkata, ”wahai Muhamad, beritahu saya tentang Islam …. kemudian bertanya
lagi tentang iman, ihsan dan hari kimat. Kemudian meninggalkan tempat itu, lalu
Rasul bertanya kepada Umar : ”wahai Umar apakah kamu tahu siapa yang bertanya
tadi ? Umar menjawab Allah dan Rasul-Nya lebih tahu, kemudian Rasul menjelaskan
dia adalah malaikat Jibril yang telah datang kepadamu mengajarkan kamu tentang
agamamu.”
MALAIKAT MEMILIKI KEMAMPUAN YANG LUAR BIASA
Malaikat memiliki kemampuan yang luar biasa yang tidak
dapat dibayangkan, sebagai contoh 8 malaikat pemikul ‘arsy, Q.S. Al Haaqqah
ayat 17:
وَّالْمَلَكُ عَلٰٓى اَرْجَاۤىِٕهَاۗ وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ
يَوْمَىِٕذٍ ثَمٰنِيَةٌ ۗ
Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan
pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung ‘arsy Tuhanmu di atas (kepala)
mereka.
Kalau
kursi luasnya seluas tujuh lapis langit dan bumi maka coba bayangkan sebesar
apa ‘arsy dan bayangkan betapa dahsyatnya kekuatan yang dimiliki para malaikat
pemikul ‘arsy, dan bagaimana dengan kekuatan malaikat peniup sangkakala, di
saat sangkakala ditiupkan seluruh makhluk yang ada di langit dan bumi mati
seketika, sebagaimana firman Allah di dalam Q.S. Az-Zumar ayat 68:
وَنُفِخَ فِى الصُّوْرِ فَصَعِقَ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَمَنْ فِى الْاَرْضِ
اِلَّا مَنْ شَاۤءَ اللّٰهُ ۗ ثُمَّ نُفِخَ فِيْهِ اُخْرٰى فَاِذَا هُمْ قِيَامٌ
يَّنْظُرُوْنَ
Dan
ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali
siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka
tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).
Kekuatan
apa lagi ini?
Dan
bayangkan apa yang dilakukan malaikat terhadap kaum Nabi Luth, sebagaimana
firman Allah di dalam QS. Hud ayat 82:
فَلَمَّا جَاۤءَ اَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَاَمْطَرْنَا
عَلَيْهَا حِجَارَةً مِّنْ سِجِّيْلٍ مَّنْضُوْدٍ
Maka
tatkala datang azab kami, kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke
bawah (Kami balikkan), dan kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang
terbakar dengan bertubi-tubi,
Demikianlah gambaran yang
menakutkan tentang kekuatan malaikat. Adapun kecepatan malaikat lebih cepat
dari apa yang dibayangkan manusia, Allah berfirman di dalam Q.S. Al-Ma'arij
ayat 4:
تَعْرُجُ
الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ اِلَيْهِ فِيْ يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهٗ خَمْسِيْنَ
اَلْفَ سَنَةٍۚ
Malaikat-malaikat dan Jibril
naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun
Cukup untuk diketahui bahwa
malaikat Jibril memi'rajkan Rasulullah ke langit tertinggi kemudian kembali
lagi ke bumi hanya dalam satu malam, bahkan sebagian dari malam. Kita tahu
bahwa langit yang paling dekat ke bumi memerluken jutaan tahun kecepatan cahaya.
Artinya kita perlu hidup jutaan tahun untuk sampai ke
MALAIKAT DICIPTAKAN UNTUK UNTUK
TAAT DAN BERTASBIH
Ketaatan
dan ibadah bagi malaikat adalah sifat asli mereka (jibillah) sebagaimana Allah
mensifati mereka:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا
وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ
لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
Tidak
mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu
mengerjakan apa yang diperintahkan.Q.S. At Tahrim ayat 6
لَا يَسْبِقُوْنَهٗ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِاَمْرِهٖ يَعْمَلُوْنَ
Mereka itu tidak mendahului-Nya
dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintahNya. Q.S. Al Anbiya
ayat 27
يُسَبِّحُوْنَ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ لَا يَفْتُرُوْنَ
Mereka selalu bertasbih malam
dan siang tiada henti-hentinya. Q.S. Al-Anbiya ayat 20
وَلَهٗ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَمَنْ عِنْدَهٗ لَا
يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِهٖ وَلَا يَسْتَحْسِرُوْنَ ۚ
Dan
kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi. dan malaikat-malaikat yang
di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada
(pula) merasa letih. Q.S. Al Anbiya ayat 19
Para ulama berbeda pendapat
tentang cara tasbihnya malaikat, Ibnu Mas'ud
dan Ibnu Abbas berkata: tasbih mereka adalah shalat, diantaranya firman
Allah;
فَلَوْلاَ
اَنَّهُ كَانَ مِنَ اْلمُسَبِّحِيْنَ " seandainya ia bukan orang
yang selalu bertasbih." Yang
dimaksud dengan bertasbih di sini adalah shalat.
Qotadah berkata, tasbih malaikat
adalah سُبْحَانَ الله sebagaimana difahami dari bahasa, Al-Qurthubi mendukung
pendapat ini, dalilnya adalah hadits riwayat abu Dzar ra. Bahwa Rasulullah saw.
pernah ditanya, ucapan apa yang paling afdhal? Rasul menjawab:"Ucapan
yang paling afdhal adalah kata-kata yang telah dipilihkan oleh Allah untuk
malaikat, ialah سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِه
" HR. Muslim.
Dan dari Abdurrahman bin Qorth, bahwa
Rasulullah pada malam Isra dan mi'raj mendengar suara tasbih di langit yang
paling atas:"سُبْحَانَ اْلعَلِيِّ اْلأَعْلى سُبْحَانَهُ
وَتَعَالى
"[9]
Dan shalatnya malaikat adalah
berdiri dan sujud, dari Hakim bin Hizam ia berkata:"Ketika Rasulullah
saw bersama para sahabat ia bersabda:"Apakah kalian mendengar apa yang
saya dengar? Mereka menjawab:kami tidak mendengar sesuatu, Rasul berkata: Sesungguhnya
aku mendengar hentakan langit, tidak ada satu jengkalpun bagian langit yang
terhentak melainkan di atasnya malaikat sedaang sujud atau sedang berdiri[10]
Keadaan malaikat diciptakan untuk beribadah, sehingga
sebagian ulama meyakini bahwa malaikat
bukan mahluk mukallaf. Yang sahih bahwa taklif mereka tidak sama dengan taklif
kita, adapun pendapat yang mengatakan bahwa mereka bukan makhluk mukallaf
adalah pendapat yang salah, karena mereka diperintahkan untuk beribadah dan
taat. Allah berfirman di dalam Q.S. An-Nahl
ayat 50:
يَخَافُوْنَ رَبَّهُمْ مِّنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ ࣖ ۩
Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan
melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka).
Khaif adalah di antara tingkatan ubudiyah dan ketaatan
yang paling tinggi[11].
Dalil
yang paling kuat bahwa malaikat makhluk mukallaf adalah kisah tentang perintah
Allah kepada mereka untuk sujud kepada Adam, Allah berfirman di dalam Q.S.
Al Baqarah ayat 34:
وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ
اِبْلِيْسَۗ اَبٰى وَاسْتَكْبَرَۖ وَكَانَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ
Dan (Ingatlah) ketika kami berfirman kepada para
malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam, " Maka sujudlah mereka kecuali
Iblis, ia enggan dan takabur dan ia adalah termasuk golongan orang-orang yang
kafir.
MALAIKAT TERJAGA DARI SALAH
Dari paparan diatas kita dapat menyimpulkan bahwa
malaikat terhindar dari kesalahan dan perbuatan dosa, disini kami ingin
memperkuat pendapat jumhur ulama yang mengatakan bahwa malaikat terhindar dari
perbuatan dosa, namun demikian ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa
malaikat tidak ma'shum. Dibawah ini dalil-dalil dua pandangan diatas :
Dalil jumhur ulama
Firman Allah swt dalam Q.S. Fushilat ayat 38
فَاِنِ اسْتَكْبَرُوْا فَالَّذِيْنَ عِنْدَ رَبِّكَ يُسَبِّحُوْنَ لَهٗ
بِالَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَهُمْ لَا يَسْـَٔمُوْنَ ۩
Jika mereka
menyombongkan diri, maka mereka (malaikat) yang di sisi Tuhanmu bertasbih
kepada-Nya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak jemu-jemu.
Pada ayat di atas
malaikat berkata : "Mengapa Engkau hendak menjadikan
(khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan
menumpahkan darah, mereka mencela terjadinya maksiat pada Adam dan
keturunannya yang berarti bahwa mereka bebas dari dosa dan sikap mereka itu
diperkuat dengan kata-kata : padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji
Engkau dan mensucikan Engkau. Yang
berarti mereka senantiasa bertasbih dan mensucikan Allah tanpa henti.
Dalil yang mengatakan bahwa malaikat tidak ma'shum
Imam Ar Razi dalam tafsirnya telah memuat dalil-dalil mereka
dan beliau membantahnya:
1.
Bahwa
firman Allah : : "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah
di muka bumi. " mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan
(khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan
menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan
mensucikan Engkau?
Adalah
dalil yang mencela para malaikat bukannya sebagai dalil tetang bebasnya
malaikat dari kesalahan, hal itu ditinjau dari beberapa sisi ;
a.
Bahwa
perkataan malaikat : "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang
khalifah di muka bumi. " mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak
menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan
menumpahkan darah" adalah bantahan mereka terhadap Allah dan sikap ini
di antara dosa yang paling besar.
b.
Bahwa
para malaikat telah melakukan ghibah Adam dan keturunannya dengan
mempertanyakan tentang mereka, sementara ghibah adalah salah satu dosa besar.
c. Bahwa malaikat telah memuji diri mereka
sendiri setelah mempertanyakan keturunan Adam dengan perkataan : " Padahal
kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau”. Sedangkan
memuji diri sendiri adalah tercela dan dapat mengakibatkan ujub atau bangga
terhadap diri sendiri, dan ini adalah sikap tercela sebagaimana Allah berfirman
dalam Q.S. An Najm ayat 32.
2. Bahwa perkataan mereka : "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain
dari apa yang tTelah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang
Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. "
Adalah sikap minta permakluman dan itu tidak terjadi kecuali karena telah
melakukan kesalahan.
3. Bahwa firman Allah : "Sebutkanlah kepada-Ku nama
benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar! Dapat dipahami
bahwa mereka telah berdusta pada apa yang mereka katakan.
4. Bahwa firman Allah Q.S. Al Baqarah ayat
33 : "Bukankah
sudah Ku-katakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan
bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?" dapat
difahami bahwa mereka meragukan bahwa Allah mengetahui segala hal.
5.
Bahwa
tuduhan mereka terhadap manusia hanya berdasar dugaan atau dzhon dan ini tidak
dibenarkan sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al Israa ayat 36 :
وَلَا
تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ
اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai
pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya
itu akan diminta pertanggungan jawabnya.
6.
Bahwa
Iblis adalah dahulunya golongan Malaikat yang sangat dekat kepada Allah namun
demikian ia maksiat pada Allah dan menolak perintah sujud kepada Adam
sebagaimana firman Allah Q.S. Al Baqarah ayat 34
وَاِذْ
قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ اَبٰى
وَاسْتَكْبَرَۖ وَكَانَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ
Dan
(Ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah[36] kamu
kepada Adam, " Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur
dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.
27. Mereka
Itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.
Dan firmannya dalam Q.S. Al Anbiya ayat 29
۞ وَمَنْ يَّقُلْ مِنْهُمْ اِنِّيْٓ
اِلٰهٌ مِّنْ دُوْنِهٖ فَذٰلِكَ نَجْزِيْهِ جَهَنَّمَۗ كَذٰلِكَ نَجْزِى الظّٰلِمِيْنَ
ࣖ
Dan barang siapa
di antara mereka mengatakan: "Sesungguhnya Aku adalah Tuhan selain
daripada Allah", Maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahannam, demikian
kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zalim.
[1]
Ar Razi, At Tafsiirul Al Kabiir, juz 2 hal. 160.
[2]
Muhammad Abduh, Tafsir Al manaar juz 2 hal. 110.
[3]
Lihat : Al Kulliyat karya Abul Baqo' hal. 854, penerbit Ar Risalaat
[4] Al Albani, Arkanul Iman, hal. 12
tahun 1984
[5] Ibnu al Jauzi, Talbis Iblis, hal. 166-167.
[6] Ibnu Hazmin, Al Fashl, juz 4 hal. 57.
[7] Tafsir Ibnu katsir, juz 4 hal. 251-252.
[8] Hadits riwayat Bukhari, Kitabatul Kholqi,
bab Harta Seorang Muslim Yang Paling Baik adalah Kambing Ternak yang berada di
lereng gunung.
[9] Al-Baihaqi(tafsir Al-qurthubi juz 1/267)
[10] HR. At-Tabrani, Mu'jam al-kabir(
Al-Asyqar, 'alamul malaikah al-abrar, hal. 31, 1989)
[11]
Al-Asyqar, hal. 29, 1989.
No comments:
Post a Comment