I.
Mukadimah
Ihsan adalah puncak ibadah dan akhlaq yang senantiasa
menjadi target seluruh hamba Allah swt. Sebab, ihsan menjadikan kita sosok yang
mendapatkan kemuliaan dari-Nya. Sebaliknya, seorang hamba yang tidak mampu
mencapai target ini akan kehilangan kesempatan yang sangat mahal untuk
menduduki posisi terhormat di mata Allah swt. Rasulullah saw pun sangat menaruh
perhatian akan hal ini, sehingga seluruh ajaran-ajarannya mengarah kepada satu
hal, yaitu mencapai ibadah yang sempurna dan akhlaq yang mulia.
Oleh karenanya, seorang muslim hendaknya tidak
memandang ihsan itu hanya sebatas akhlaq yang utama saja, melainkan harus
dipandang sebagai bagian dari aqidah dan bagian terbesar dari keislamannya. Karena,
Islam dibangun di atas tiga landasan utama, yaitu iman, Islam, dan ihsan, seperti
yang telah diterangkan oleh Rasulullah saw dalam haditsnya yang shahih. Hadits
ini menceritakan saat Rasulullah saw menjawab pertanyaan Malaikat Jibril yang
menyamar sebagai seorang manusia, mengenai Islam, iman, dan ihsan. Setelah
Jibril pergi, Rasulullah saw bersabda kepada para sahabatnya:
فَإِنَّهُ
جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ.] رواه مسلم[
"Inilah Jibril yang datang mengajarkan
kepada kalian urusan agama kalian. "
Beliau menyebut ketiga hal di atas sebagai agama, dan
bahkan Allah swt memerintahkan untuk berbuat ihsan pada banyak tempat dalam
Al-Qur`an.
وَأَنفِقُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا تُلْقُوا۟
بِأَيْدِيكُمْ إِلَى ٱلتَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوٓا۟ ۛ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ
ٱلْمُحْسِنِينَ
Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan
janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat
baiklah, Karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (al-Baqarah:
195)
۞
إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَـٰنِ وَإِيتَآئِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ
وَيَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ وَٱلْبَغْىِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُونَ
" Sesungguhnya Allah menyuruh
(kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan
Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi
pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran " (An-Nahl:
90)
II. PENGERTIAN IHSAN
Ihsan berasal dari kata حَسُنَ yang artinya adalah berbuat baik, sedangkan
bentuk masdarnya adalah اِحْسَانْ,
yang artinya kebaikan. Allah swt
berfirman dalam Al-Qur`an mengenai hal ini.
إِنْ
أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا ۚ فَإِذَا
جَآءَ وَعْدُ ٱلْـَٔاخِرَةِ لِيَسُـۥٓـُٔوا۟ وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا۟
ٱلْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍۢ وَلِيُتَبِّرُوا۟ مَا عَلَوْا۟
تَتْبِيرًا
" Jika kamu berbuat
baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat
jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri dan apabila datang saat hukuman
bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk
menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana
musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan
sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai " (al-Isra': 7)
وَٱبْتَغِ
فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْـَٔاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ
ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ
ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ
"... Dan carilah pada apa yang telah
dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu
melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang
lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat
kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
berbuat kerusakan.... " (al-Qashash: 77)
Ibnu Katsir mengomentari ayat di atas dengan
mengatakan bahwa kebaikan yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah kebaikan
kepada seluruh makhluk Allah swt.
Landasan Syar'i Ihsan.
Pertama, Al Qur`anul
Karim.
Dalam
Al-Qur`an, terdapat seratus enam puluh enam ayat yang berbicara tentang ihsan
dan implementasinya. Dari sini kita dapat menarik satu makna, betapa
mulia dan agungnya perilaku dan sifat ini, hingga mendapat porsi yang sangat
istimewa dalam Al-Qur`an. Berikut
ini beberapa ayat yang menjadi landasan akan hal ini.
وَأَنفِقُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا تُلْقُوا۟
بِأَيْدِيكُمْ إِلَى ٱلتَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوٓا۟ ۛ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ
ٱلْمُحْسِنِينَ
"...
Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu
menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah karena
sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. " (al-Baqarah: 195)
۞ إِنَّ
ٱللَّهَ يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَـٰنِ وَإِيتَآئِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ
وَيَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ وَٱلْبَغْىِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُونَ
”Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil
dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari
perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu
agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (an-Nahl: 90)
وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَـٰقَ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ لَا
تَعْبُدُونَ إِلَّا ٱللَّهَ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَانًۭا وَذِى ٱلْقُرْبَىٰ
وَٱلْيَتَـٰمَىٰ وَٱلْمَسَـٰكِينِ وَقُولُوا۟ لِلنَّاسِ حُسْنًۭا وَأَقِيمُوا۟
ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًۭا
مِّنكُمْ وَأَنتُم مُّعْرِضُونَ
"...
Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Isrā`īl , (yaitu)
janganlah kamu menyembah selain Allah; dan berbuat baiklah kepada ibu bapak,
kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin; serta ucapkanlah
kata-kata yang baik kepada manusia; dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat.
Kemudian, kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebagian kecil dari kamu, dan
kamu selalu berpaling.... " (al-Baqarah: 83)
۞ وَٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًۭٔا
ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَـٰنًۭا وَبِذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَـٰمَىٰ
وَٱلْمَسَـٰكِينِ وَٱلْجَارِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْجَارِ ٱلْجُنُبِ وَٱلصَّاحِبِ
بِٱلْجَنۢبِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَـٰنُكُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ
لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًۭا فَخُورًا
"...
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan
berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim,
orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh dan teman
sejawat, ibnus sabīl1, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.... " (an-Nisaa`: 36)
Kedua, As-Sunnah.
Rasulullah saw pun sangat memberi perhatian terhadap masalah ihsan ini. Sebab,
ia merupakan puncak harapan dan perjuangan seorang hamba. Bahkan, di antara
hadits-hadits mengenai ihsan tersebut, ada beberapa yang menjadi landasan utama
dalam memahami agama ini. Rasulullah saw menerangkan mengenai ihsan ketika
menjawab pertanyaan Malaikat Jibril tentang ihsan dimana jawaban tersebut
dibenarkan oleh Jibril, dengan mengatakan:
أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ
تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ.
"Engkau
menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan apabila engkau tidak dapat
melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu. " (HR. Muslim)
Di
kesempatan yang lain, Rasulullah bersabda:
اِنَّ اللهَ كَتَبَ عَلَيْكُمُ اْلِاحْسَانَ عَلَى كُلِّ
شَيْءٍ, فَاِذَا قَتَلْتُمْ فَاَحْسِنُوْ الْقَتْلَةَ وَ اِذَا ذَبَحْتُمْ
فَاَحْسِنُوْ الذَّبْحَةَ
"Sesungguhnya
Allah telah mewajibkan kebaikan pada segala sesuatu, maka jika kamu membunuh, bunuhlah
dengan baik, dan jika kamu menyembelih, sembelihlah dengan baik... " (HR. Muslim)
III. TIGA ASPEK POKOK DALAM IHSAN
Ihsan
meliputi tiga aspek yang fundamental. Ketiga hal tersebut adalah ibadah, muamalah,
dan akhlaq. Ketiga hal
inilah yang menjadi pokok bahasan kita kali ini.
1.
Ibadah
Kita
berkewajiban ihsan dalam beribadah, yaitu dengan menunaikan semua jenis ibadah,
seperti shalat, puasa, haji, dan sebagainya dengan cara yang benar, yaitu
menyempurnakan syarat, rukun, sunnah, dan adab-adabnya. Hal ini tidak akan
mungkin dapat ditunaikan oleh seorang hamba, kecuali jika saat pelaksanaan
ibadah-ibadah tersebut ia dipenuhi dengan cita rasa yang sangat kuat (menikmatinya),
juga dengan kesadaran penuh bahwa Allah senantiasa memantaunya hingga ia merasa
bahwa ia sedang dilihat dan diperhatikan oleh-Nya. Minimal seorang hamba
merasakan bahwa Allah senantiasa memantaunya, karena dengan inilah ia dapat menunaikan
ibadah-ibadah tersebut dengan baik dan sempurna, sehingga hasil dari ibadah
tersebut akan seperti yang diharapkan. Inilah maksud dari perkataan Rasulullah
saw yang berbunyi, "Hendaklah kamu menyembah Allah seakan-akan engkau
melihat-Nya, dan jika engkau tak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia
melihatmu. "
Kini
jelaslah bagi kita bahwa sesungguhnya arti dari ibadah itu sendiri sangatlah
luas. Maka, selain jenis ibadah yang kita sebutkan tadi, yang tidak kalah
pentingnya adalah juga jenis ibadah lainnya seperti jihad, hormat terhadap
mukmin, mendidik anak, menyenangkan isteri, meniatkan setiap yang mubah untuk
mendapat ridha Allah, dan masih banyak lagi. Oleh karena itulah, Rasulullah saw
menghendaki umatnya senantiasa dalam keadaan seperti itu, yaitu senantiasa
sadar jika ia ingin mewujudkan ihsan dalam ibadahnya.
Tingkatan Ibadah dan Derajatnya.
Berdasarkan
nash-nash Al-Qur`an dan As Sunnah, maka ibadah mempunyai tiga tingkatan, yang
pada setiap tingkatan derajatnya masing-masing seorang hamba tidak dapat
mengukurnya. Karena itulah, kita berlomba untuk meraihnya. Pada setiap derajat,
ada tingkatan tersendiri dalam surga. Yang tertinggi adalah derajat muhsinin,
ia menempati jannatul firdaus, derajat tertinggi di dalam surga. Kelak,
para penghuni surga tingkat bawah akan saling memandang dengan penghuni surga tingkat
tertinggi, laksana penduduk bumi memandang bintang-bintang di langit yang menandakan
jauhnya jarak antara mereka.
Adapun
tiga tingkatan tersebut adalah sebagai berikut.
1. Tingkat at Taqwa, yaitu tingkatan paling bawah dengan
derajat yang berbeda-beda.
2. Tingkat al Bir, yaitu tingkatan menengah dengan derajat
yang berbeda-beda.
3. Tingkat al Ihsan, yaitu tingkatan tertinggi dengan
derajat yang berbeda-beda pula.
Pertama, Tingkat at Taqwa.
Tingkat
taqwa adalah tingkatan dimana seluruh derajatnya dihuni oleh mereka yang masuk
katagori al Muttaqun, sesuai dengan derajat ketaqwaan masing-masing.
Taqwa
akan menjadi sempurna dengan menunaikan seluruh perintah Allah dan meninggalkan
seluruh larangan-Nya. Hal ini berarti meninggalkan salah satu perintah Allah
dapat mengakibatkan sangsi dan melakukan salah satu larangannya adalah dosa. Dengan
demikian, puncak taqwa adalah melakukan seluruh perintah Allah dan meninggalkan
semua larangan-Nya.
Namun,
ada satu hal yang harus kita pahami dengan baik, yaitu bahwa Allah swt Maha
Mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya yang memiliki berbagai kelemahan, yang
dengan kelemahannya itu seorang hamba melakukan dosa. Oleh karena itu, Allah
membuat satu cara penghapusan dosa, yaitu dengan cara tobat dan pengampunan. Melalui
hal tersebut, Allah swt akan mengampuni hamba-Nya yang berdosa karena
kelalaiannya dari menunaikan hak-hak taqwa. Sementara itu, ketika seorang hamba
naik pada peringkat puncak taqwa, boleh jadi ia akan naik pada peringkat bir
atau ihsan.
Peringkat
ini disebut martabat taqwa, karena amalan-amalan yang ada pada derajat ini
membebaskannya dari siksaan atas kesalahan yang dilakukannya. Adapun derajat
yang paling rendah dari peringkat ini adalah derajat dimana seseorang menjaga
dirinya dari kekalnya dalam neraka, yaitu dengan iman yang benar yang diterima
oleh Allah swt.
Kedua, Tingkat al Bir.
Peringkat ini akan dihuni oleh mereka yang masuk kategori al Abrar.
Hal ini sesuai dengan amalan-amalan kebaikan yang mereka lakukan dari
ibadah-ibadah sunnah serta segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah
swt. Hal ini dilakukan setelah mereka menunaikan segala yang wajib, atau yang
ada pada peringkat sebelumnya, yaitu peringkat taqwa.
Peringkat ini disebut martabat al Bir (kebaikan), karena derajat
ini merupakan perluasan pada hal-hal yang sifatnya sunnah, sesuatu sifatnya
semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah dan merupakan tambahan dari
batasan-batasan yang wajib serta yang diharamkan-Nya. Amalan-amalan ini tidak
diwajibkan Allah kepada hamba-hamba-Nya, tetapi perintah itu bersifat anjuran, sekaligus
terdapat janji pahala di dalamnya.
Akan tetapi, mereka yang melakukan amalan tambahan ini tidak akan masuk ke dalam
kelompok al bir, kecuali telah menunaikan peringkat yang pertama, yaitu
peringkat taqwa. Karena, melakukan hal pertama merupakan syarat mutlak untuk
naik pada peringkat selanjutnya.
Dengan
demikian, barang siapa yang mengklaim dirinya telah melakukan kebaikan sedang
dia tidak mengimani unsur-unsur qaidah iman dalam Islam, serta tidak terhidar
dari siksaan neraka, maka ia tidak dapat masuk dalam peringkat ini (al bir). Mengenai hal ini, Allah swt berfirman
dalam kitab-Nya.
۞ يَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِىَ مَوَٰقِيتُ
لِلنَّاسِ وَٱلْحَجِّ ۗ وَلَيْسَ ٱلْبِرُّ بِأَن تَأْتُوا۟ ٱلْبُيُوتَ مِن
ظُهُورِهَا وَلَـٰكِنَّ ٱلْبِرَّ مَنِ ٱتَّقَىٰ ۗ وَأْتُوا۟ ٱلْبُيُوتَ مِنْ
أَبْوَٰبِهَا ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
"...
Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah, "Bulan sabit itu
adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji; dan bukanlah
kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya akan tetapi kebajikan itu ialah
kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari
pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung. " (al-Baqarah: 189)
رَّبَّنَآ
إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًۭا يُنَادِى لِلْإِيمَـٰنِ أَنْ ءَامِنُوا۟
بِرَبِّكُمْ فَـَٔامَنَّا ۚ رَبَّنَا فَٱغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا
سَيِّـَٔاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ ٱلْأَبْرَارِ
"Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar seruan
orang yang menyeru kepada iman, yaitu: Berimanlah kamu kepada Tuhanmu, maka
kamipun beriman. Ya Tuhan kami ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan
hapuskanlah dari kami kesahan-kesalahan kami dan wafatkanlah kami bersama
orang-orang yang banyak berbuat baik. " (Ali ‘Imran: 193)
Ketiga, Tingkatan Ihsan
Tingkatan
ini akan dicapai oleh mereka yang masuk dalam kategori Muhsinun. Mereka adalah
orang-orang yang telah melalui peringkat pertama dan yang kedua (peringkat taqwa
dan al bir).
Ketika
kita mencermati pengertian ihsan dengan sempurna seperti yang telah kita
sebutkan sebelumnya, maka kita akan mendapatkan suatu kesimpulan bahwa ihsan
memiliki dua sisi: Pertama, ihsan adalah kesempurnaan dalam
beramal sambil menjaga keikhlasan dan jujur pada saat beramal. Ini adalah ihsan
dalam tata cara (metode). Kedua, ihsan adalah senantiasa
memaksimalkan amalan-amalan sunnah yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, selama
hal itu adalah sesuatu yang diridhai-Nya dan dianjurkan untuk melakukannya.
Untuk
dapat naik ke martabat ihsan dalam segala amal, hanya bisa dicapai melalui
amalan-amalan wajib dan amalan-amalan sunnah yang dicintai oleh Allah, serta
dilakukan atas dasar mencari ridha Allah.
2. Muamalah
Dalam bab muamalah, ihsan
dijelaskan Allah swt pada surah an Nisaa' ayat 36, yang berbunyi sebagai
berikut:
۞ وَٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟
بِهِۦ شَيْـًۭٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَـٰنًۭا وَبِذِى ٱلْقُرْبَىٰ
وَٱلْيَتَـٰمَىٰ وَٱلْمَسَـٰكِينِ وَٱلْجَارِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْجَارِ
ٱلْجُنُبِ وَٱلصَّاحِبِ بِٱلْجَنۢبِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَـٰنُكُمْ
ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًۭا فَخُورًا
"...
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan
berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim,
orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh dan teman
sejawat, ibnus sabīl1, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.... " (an-Nisaa`: 36)
Kita
sebelumnya telah membahas bahwa ihsan adalah beribadah kepada Allah dengan
sikap seakan-akan kita melihat-Nya, dan jika kita tidak dapat melihat-Nya, maka
Allah melihat kita. Kini, kita akan membahas ihsan dari muamalah dan siapa saja
yang masuk dalam bahasannya. Berikut ini adalah mereka yang berhak mendapatkan
ihsan tersebut:
Pertama, Ihsan kepada kedua orang tua.
Allah
swt menjelaskan hal ini dalam kitab-Nya.
۞ وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ
وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَـٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ
أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّۢ وَلَا تَنْهَرْهُمَا
وَقُل لَّهُمَا قَوْلًۭا كَرِيمًۭا.. وَٱخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرْحَمْهُمَا
كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرًۭا.
"Dan
Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu tidak menyembah selain Dia dan
hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah
seorang di antara keduanya atau kedua-duanya berumur lanjut dalam
pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya
perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah
kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka
berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah
mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua mendidik aku diwaktu kecil. " (al-Israa':
23-24)
Ayat
di atas mengatakan kepada kita bahwa ihsan kepada ibu-bapak adalah sejajar
dengan ibadah kepada Allah. Dalam sebuah hadits riwayat Turmudzi, dari Ibnu
Amru bin Ash, Rasulullah saw Bersabda:
رِضَى اللهُ فِى رِضَى اْلوَالِدَيْنِ وَ سُخْطُ اللهِ فِى سُخْطِ
اْلوَاِلدَيْنِ
"Keridhaan
Allah berada pada keridhaan orang tua, dan kemurkaan Allah berada pada
kemurkaan orang tua. "
Dalil di atas menjelaskan bahwa ibadah kita kepada
Allah tidak akan diterima, jika tidak disertai dengan berbuat baik kepada kedua
orang tua. Apabila kita tidak memiliki kebaikan ini, maka bersamaan dengannya
akan hilang ketaqwaan, keimanan, dan keislaman. Dan Akhlaq kepada sesama
manusia yang paling utama kepada kedua orang tua, berakhlaq kepada mereka
adalah dengan berbakti kepada keduanya, baik ketika hidup aupun setelah
wafatnya, sebagimana hadits Nabi:
عَنْ أَبِي أُسَيْدٍ مَالِكِ بْنِ رَبِيعَةَ
السَّاعِدِيِّ قَالَ بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ بَنِي سَلَمَةَ فَقَالَ يَا رَسُولَ
اللَّهِ هَلْ بَقِيَ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ
مَوْتِهِمَا قَالَ نَعَمْ الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا
وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا تُوصَلُ
إِلَّا بِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا (رواه ابو داود)
Dari
Abu Usaid Malik bin Rabi’ah As-Sa’idy berkata: “Tatkala kami sedang bersama Rasulullah
saw, tiba-tiba datang seseorang dari Bani Salamah seraya bertanya: “Ya Rasulullah
apakah masih ada kesempatan untuk saya berbakti kepada Ibu Bapak saya setelah
keduanya wafat?” Nabi menjawab: “Ya, dengan mendoakan keduanya, memohon ampun untuknya,
melaksanakan janjinya dan menyambung silaturahim dari sanak saudaranya serta
memuliakan teman-temannya.
Kedua, Ihsan kepada kerabat karib.
Ihsan kepada kerabat adalah dengan jalan
membangun hubungan yang baik dengan mereka, bahkan Allah swt menyamakan
seseorang yang memutuskan hubungan silaturahim dengan perusak di muka bumi. Allah
berfirman:
فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا۟ فِى
ٱلْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوٓا۟ أَرْحَامَكُمْ
"Maka
apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan
memutuskan hubungan kekeluargaan. ?" (Muhammad: 22)
Silaturahim
adalah kunci untuk mendapatkan keridhaan Allah. Hal ini dikarenakan
sebab paling utama terputusnya hubungan seorang hamba dengan Tuhannya adalah
karena terputusnya hubungan silaturahim. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman:
أَنَا اللَّهُ وَأَنَا الرَّحْمَنُ خَلَقْتُ الرَّحِمَ
وَشَقَقْتُ لَهَا مِنْ اسْمِي فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ وَمَنْ قَطَعَهَا
بَتَتُّهُ
"Aku
adalah Allah, Aku adalah Rahman, dan Aku telah menciptakan rahim yang Kuberi
nama bagian dari nama-Ku. Maka, barang siapa yang menyambungnya, akan Ku
sambungkan pula baginya dan barang siapa yang memutuskannya, akan Ku putuskan
hubunganku dengannya. " (HR. Turmuzdi)
Dalam
hadits lain, Rasulullah bersabda, "Tidak akan masuk surga, orang yang
memutuskan tali silaturahmi. " (HR. Syaikhani dan Abu Dawud)
Ketiga, Ihsan kepada anak yatim dan fakir miskin.
Diriwayatkan
oleh Bukhari, Abu Dawud, dan Turmuzdi, bahwa Rasulullah saw bersabda, "Aku
dan orang yang memelihara anak yatim di surga kelak akan seperti ini... (seraya
menunjukkan jari telunjuk jari tengahnya). "
Diriwayatkan
oleh Turmuzdi, Nabi saw Bersabda:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَبَضَ يَتِيمًا مِنْ بَيْنِ الْمُسْلِمِينَ إِلَى
طَعَامِهِ وَشَرَابِهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ إِلَّا أَنْ يَعْمَلَ
ذَنْبًا لَا يُغْفَرُ لَهُ
Dari
Ibnu Abbas bahwasanya Nabi saw bersabda: "Barang siapa dari Kaum Muslimin yang
memelihara anak yatim dengan memberi makan dan minumnya, maka Allah akan
memasukkannya ke dalam surga selamanya, selama ia tidak melakukan dosa yang
tidak terampuni."
Keempat, Ihsan kepada tetangga dekat, tetangga jauh, serta teman sejawat.
Ihsan
kepada tetangga dekat meliputi tetangga dekat dari kerabat atau tetangga yang
berada di dekat rumah, serta tetangga jauh, baik jauh karena nasab maupun yang
berada jauh dari rumah.
Adapun
yang dimaksud teman sejawat adalah yang berkumpul dengan kita atas dasar
pekerjaan, pertemanan, teman sekolah atau kampus, perjalanan, ma'had, dan
sebagainya. Mereka semua masuk ke dalam katagori tetangga. Seorang tetangga
kafir mempunyai hak sebagai tetangga saja, tetapi tetangga muslim mempunyai dua
hak, yaitu sebagai tetangga dan sebagai muslim, sedang tetangga muslim dan
kerabat mempunyai tiga hak, yaitu sebagai tetangga, sebagai muslim dan sebagai
kerabat. Rasulullah saw menjelaskan hal ini dalam sabdanya:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا
يُسْلِمُ عَبْدٌ حَتَّى يَسْلَمَ قَلْبُهُ وَلِسَانُهُ وَلَا يُؤْمِنُ حَتَّى
يَأْمَنَ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
Dari
Abdullah bin Mas’ud RA berkata, bersabda Rasulullah saw: Demi Yang jiwaku
berada di tangan-Nya tidaklah selamat seorang hamba sampai hati dan lisannya
selamat (tidak berbuat dosa) dan tidaklah beriman (sempurna keimanannya) seorang
hamba sehingga tetangganya merasa aman dari gangguannya. (HR. Ahmad)
Pada hadits yang lain, Rasulullah
bersabda:
لاَ يُؤْمِنُ بِي مَنْ باَتَ شَبْعَانًا وَ جَارُهُ جَا
ئِعٌ وَهُوَ يَعْرِفُهُ
"Tidak
beriman kepadaku barang siapa yang kenyang pada suatu malam, sedangkan
tetangganya kelaparan, padahal ia megetahuinya." (HR. ath-Thabrani)
Kelima, Ihsan kepada ibnu sabil dan hamba sahaya.
Rasulullah saw bersabda mengenai
hal ini:
َمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
"Barang
siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah memuliakan tamunya. "
(HR. Jama'ah, kecuali Nasa'i)
Selain
itu, ihsan terhadap ibnu sabil adalah dengan cara memenuhi kebutuhannya, menjaga
hartanya, memelihara kehormatannya, menunjukinya jalan jika ia meminta, dan
memberinya pelayanan.
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَمْ أَعْفُو عَنْ الْخَادِمِ فَصَمَتَ
عَنْهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ يَا
رَسُولَ اللَّهِ كَمْ أَعْفُو عَنْ الْخَادِمِ فَقَالَ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعِينَ
مَرَّةً
Pada
riwayat yang lain, dikatakan bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw
dan berkata, "Ya, Rasulullah, berapa kali saya harus memaafkan hamba
sahayaku?" Rasulullah diam tidak menjawab. Orang itu berkata lagi, "Berapa
kali ya, Rasulullah?" Rasul menjawab," Maafkanlah
ia tujuh puluh kali dalam sehari. " (HR. Abu Daud dan at-Turmuzdi)
إِذَا صَنَعَ لِأَحَدِكُمْ خَادِمُهُ طَعَامَهُ ثُمَّ
جَاءَهُ بِهِ وَقَدْ وَلِيَ حَرَّهُ وَدُخَانَهُ فَلْيُقْعِدْهُ مَعَهُ
فَلْيَأْكُلْ فَإِنْ كَانَ الطَّعَامُ مَشْفُوهًا قَلِيلًا فَلْيَضَعْ فِي يَدِهِ
مِنْهُ أُكْلَةً أَوْ أُكْلَتَيْنِ
Dalam
riwayat yang lain, Rasulullah saw bersabda, "Jika seorang hamba sahaya
membuat makanan untuk salah seorang diantara kamu, kemudian ia datang membawa
makanan itu dan telah merasakan panas dan asapnya, maka hendaklah kamu
mempersilahkannya duduk dan makan bersamamu. Jika ia hanya makan sedikit, maka
hendaklah kamu mememberinya satu atau dua suapan. " (HR. Bukhari, Turmuzdi,
dan Abi Daud)
Adapun
muamalah terhadap pembantu atau karyawan dilakukan dengan membayar gajinya
sebelum keringatnya kering, tidak membebaninya dengan sesuatu yang ia tidak
sanggup melakukannya, menjaga kehormatannya, dan menghargai pribadinya. Jika ia
pembantu rumah tangga, maka hendaklah ia diberi makan dari apa yang kita makan,
dan diberi pakaian dari apa yang kita pakai.
Pada
akhir pembahasan mengenai bab muamalah ini, Allah swt menutup firman-Nya yang
berbunyi:
۞ إِنَّ ٱللَّهَ يُدَٰفِعُ عَنِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ ۗ
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ خَوَّانٍۢ كَفُورٍ
"Sesungguhnya Allah membela orang-orang
yang telah beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang
berkhianat lagi mengingkari nikmat.. " (al-Hajj: 38)
Ayat
di atas merupakan isyarat yang sangat jelas kepada siapa saja yang tidak
berlaku ihsan. Bahkan, hal itu adalah pertanda bahwa dalam dirinya ada
kecongkakan dan kesombongan, dua sifat yang sangat dibenci oleh Allah swt.
Keenam, Ihsan dengan perlakuan dan ucapan yang baik kepada manusia.
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
فَلْيَقُلْ خَيْرًا اَوْ لِيَصْمُتْ
Rasulullah
saw bersabda, "Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, hendaklah
ia berkata yang baik atau diam. " (HR. Bukhari dan Muslim)
Masih
riwayat dari Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda :
قَوْلُ اْلمَعْرُوْفِ صَدَقَةٌ
"Ucapan yang baik adalah
sedekah. "
Bagi manusia
secara umum, hendaklah kita melembutkan ucapan, saling menghargai dalam
pergaulan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegahnya dari kemungkaran, menunjukinya
jalan jika ia tersesat, mengajari mereka yang bodoh, mengakui hak-hak mereka, dan
tidak mengganggu mereka dengan tidak melakukan hal-hal dapat mengusik serta
melukai mereka.
Ketujuh,
Ihsan dengan berlaku baik kepada binatang.
Berbuat
ihsan terhadap binatang adalah dengan memberinya makan jika ia lapar, mengobatinya
jika ia sakit, tidak membebaninya diluar kemampuannya, tidak menyiksanya jika
ia bekerja, dan mengistirahatkannya jika ia lelah. Bahkan, pada saat
menyembelih, hendaklah dengan menyembelihnya dengan cara yang baik, tidak
menyiksanya, serta menggunakan pisau yang tajam.
Inilah
sisi-sisi ihsan yang datang dari nash Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw
Beberapa
contoh ihsan dalam hal muamalah
1) Pada Perang Uhud, orang-orang Quraisy
membunuh paman Rasulullah saw, yaitu Hamzah. Mereka mencincang tubuhnya, membelah
dadanya, serta memecahkan giginya, kemudian seorang sahabat meminta Rasulullah saw
berdoa agar mereka diazab oleh Allah. Akan tetapi, Rasulullah malah berkata :
اَلَّلهُمَّ
اهْدِ قَوْ مِيْ فَاِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ
"Ya Allah, ampunilah
mereka, karena mereka adalah kaum yang bodoh. "
2) Suatu hari, Umar
bin Abdul Aziz berkata kepada hamba sahaya perempuannya, "Kipasilah aku
sampai aku tertidur. " Lalu, hambanya pun mengipasinya sampai ia tertidur.
Karena sangat mengantuk, sang hamba pun tertidur. Ketika Umar bangun, beliau
mengambil kipas tadi dan mengipasi hamba sahayanya. Ketika hamba sahaya itu
terbangun, maka ia pun berteriak menyaksikan tuannya melakukan hal tersebut. Umar
kemudian berkata, "Engkau adalah manusia biasa seperti diriku dan
mendapatkan kebaikan seperti halnya aku, maka aku pun melakukan hal ini
kepadamu, sebagaimana engkau melakukannya padaku".
3. Akhlaq.
Ihsan dalam akhlaq sesungguhnya merupakan buah dari
ibadah dan muamalah. Seseorang akan mencapai tingkat ihsan dalam akhlaqnya
apabila ia telah melakukan ibadah seperti yang menjadi harapan Rasulullah dalam
hadits yang telah dikemukakan di awal tulisan ini, yaitu menyembah Allah
seakan-akan melihat-Nya, dan jika kita tidak dapat melihat-Nya, maka
sesungguhnya Allah senantiasa melihat kita. Jika hal ini telah dicapai oleh
seorang hamba, maka sesungguhnya itulah puncak ihsan dalam ibadah. Pada
akhirnya, ia akan berbuah menjadi akhlaq atau perilaku, sehingga mereka yang
sampai pada tahap ihsan dalam ibadahnya akan terlihat jelas dalam perilaku dan
karakternya.
Jika kita ingin melihat nilai ihsan pada diri
seseorang yang diperoleh dari hasil maksimal ibadahnya, maka kita akan
menemukannya dalam muamalah kehidupannya. Bagaimana ia bermuamalah dengan
sesama manusia, lingkungannya, pekerjaannya, keluarganya, dan bahkan terhadap
dirinya sendiri. Berdasarkan ini semua, maka Rasulullah saw mengatakan dalam
sebuah hadits :
اِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ
مَكَارِمَ اْلأَ خْلَاقِ
"Aku diutus hanyalah demi menyempurnakan akhlaq
yang mulia. "
IV. PENUTUP
Ihsan
adalah puncak prestasi dalam ibadah, muamalah, dan akhlaq. Oleh karena itu, semua
orang yang menyadari akan hal ini tentu akan berusaha dengan seluruh potensi
diri yang dimilikinya agar sampai pada tingkat tersebut. Siapa pun kita, apa
pun profesi kita, di mata Allah tidak ada yang lebih mulia dari yang lain, kecuali
mereka yang telah naik ke tingkat ihsan dalam seluruh sisi dan nilai hidupnya. Semoga
kita semua dapat mencapai hal ini, sebelum Allah swt mengambil ruh ini dari
kita. Wallahu a'lam bish shawab.
Daftar Pustaka.
1.
Al-Qur`an dan terjemahannya.
2.
Shahih Al Bukhari.
3.
Shahih Muslim.
4.
Sunan Tirmidzi.
5.
Sunan Abu Daud.
6.
Sunan An-Nasa'i.
7.
Minhaju al-Muslim, Abu Bakr Jabir
al-Jazairy.
8.
Ibtila'ul Ibadah bil Imani wal Islami
wal Ibadah, Abdur Rahman Hasan Habannakah al-Maidany.
9.
Jundullah Tsaqafatan wa Akhlaqan, Sa'id
Hawa.
10. Adabud Dunya wa Dien, al Mawardi.
Penjelasan Rasmul bayan
1. Pengawasan Allah.
Dalil:
· Q.
50: 16-18, Dan demi sesungguhnya, Kami telah mencipta manusia dan Kami sedia
mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, sedang (pengetahuan) Kami lebih
dekat kepadanya daripada urat lehernya. Semasa dua malaikat (yang mengawal dan
menjaganya) menerima dan menulis segala perkataan dan perbuatannya, yang satu
duduk di sebelah kanannya, dan yang satu lagi di sebelah kirinya. Tidak ada
sembarang perkataan yang dilafazkannya (atau perbuatan yang dilakukannya) melainkan
ada di sisinya malaikat pengawas yang senantiasa sedia (menerima dan menulisnya).
·
Q. 80: 14, Yang tinggi
derajatnya lagi suci (dari segala gangguan).
·
Q. 2: 284, Segala yang ada di
langit dan yang ada di bumi adalah kepunyaan Allah. Dan jika kamu melahirkan
apa yang ada di dalam hati kamu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan
menghitung dan menyatakannya kepada kamu. Kemudian Ia mengampuni bagi siapa
yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya (menurut
undang-undang peraturan-Nya). Dan (ingatlah), Allah Maha Kuasa atas tiap-tiap
sesuatu.
2.
Kebaikan Allah.
Dalil:
·
Q. 28: 77, Dan tuntutlah dengan
harta kekayaan yang telah dikaruniakan Allah kepadamu akan pahala dan
kebahagiaan hari akhirat dan janganlah engkau melupakan bahagianmu (keperluan
dan bekalanmu) dari dunia dan berbuat baiklah (kepada hamba-hamba Allah) sebagaimana
Allah berbuat baik kepadamu (dengan pemberian nikmat-Nya yang melimpah-limpah) dan
janganlah engkau melakukan kerusakan di muka bumi, sesungguhnya Allah tidak
suka kepada orang-orang yang berbuat kerusakan.
· Q. 1: 3, Yang Maha Pemurah lagi Maha Mengasihani.
·
Q. 2: 29, Dialah (Allah) yang menjadikan untuk kamu segala yang ada di
bumi, kemudian Ia menuju dengan kehendak-Nya ke arah (bahan-bahan) langit, lalu
dijadikannya tujuh langit dengan sempurna dan Ia Maha Mengetahui akan tiap-tiap
sesuatu.
· Q. 31: 20, Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Allah
telah memudahkan untuk kegunaan kamu apa yang ada di langit dan yang ada di
bumi, dan telah melimpahkan kepada kami nikmat-nikmat-Nya yang zahir dan yang
bathin. Dalam pada itu ada diantara manusia orang yang membantah mengenai (sifat-sifat)
Allah dengan tidak berdasarkan sembarang pengetahuan atau sembarang petunjuk
dan tidak juga berdasarkan nama-nama Kitab Allah yang menerangi kebenaran.
3. Niat Yang Ihsan.
Dalil:
·
Q. 2: 207, Dan di antara manusia
ada yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah semata-mata dan
Allah pula amat belas kasihan akan hamba-hambanya.
4.
Niat Yang Ikhlas.
Dalil:
·
Q. 98: 5, Padahal mereka tidak
diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ibadah kepadanya,
lagi tetap teguh di atas tauhid dan supaya mereka mendirikan shalat serta
memberi zakat. Dan demikian itulah agama yang benar.
5.
Pekerjaan Yang Tertib dan
Penyelesaian Yang Baik.
ان الله يحب اذا
عمل احدكم عملا ان
يتقنه
Sesungguhnya Allah mencinai amalan seorang
diantara kamu yang dilakukan dengan itqon (professional, optimal dan tuntas)
6.
Amal Yang Ihsan.
واحسن كما احسن الله اليك
77. dan berbuat baiklah (kepada orang
lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, (Al Qoshosh : 77)
7.
Kecintaan Dari Allah.
Dalil:
·
Q. 2: 195, Dan belanjakanlah (apa
yang ada pada kamu) karena (menegakkan) agama Allah, dan janganlah kamu sengaja
mencampakkan diri kamu ke dalam bahaya kebinasaan (dengan bersikap bakhil), dan
baikilah (dengan sebaik-baiknya segala usaha dan) perbuatan kamu, karena
sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang berusaha memperbaiki amalannya.
·
Q. 3: 134, Yaitu orang-orang
yang mendermakan hartanya pada masa senang dan susah, dan orang-orang yang
menahan kemarahannya dan orang-orang yang memaafkan kesalahan orang. Dan (ingatlah) Allah mengasihi orang-orang yang berbuat perkara-perkara
yang baik.
· Q. 3: 148, Oleh karena itu, Allah memberikan mereka
pahala dunia (kemenangan dan nama yang harum) dan pahala akhirat yang
sebaik-baiknya (nikmat Surga yang tidak ada bandingannya). Dan (ingatlah) Allah
senantiasa mengasihi orang-orang yang berbuat kebaikan.
8.
Pahala Dari Allah.
Dalil:
·
Q. 3: 148, Oleh karena itu Allah
memberikan mereka pahala dunia (kemenangan dan nama yang harum) dan pahala
akhirat yang sebaik-baiknya (nikmat surga yang tidak ada bandingannya). Dan (ingatlah)
Allah senantiasa mengasihi orang-orang yang berbuat kebaikan.
·
Q. 16: 97, Siapa yang beramal shalih
dari lelaki atau perempuan sedang ia beriman, maka sesungguhnya Kami akan
menghidupkan dia dengan kehidupan yang baik, dan sesungguhnya Kami akan
membalas mereka, dengan memberikan pahala yang lebih dari apa yang mereka telah
kerjakan.
9.
Pertolongan Allah.
Dalil:
·
Q. 16: 128, Sesungguhnya Allah
beserta orang-orang yang bertaqwa, dan orang-orang yang berusaha memperbaiki
amalannya.
· Q.
29: 69, Dan orang-orang yang berusaha dengan bersungguh-sungguh karena
memenuhi kehendak agama Kami, sesungguhnya Kami akan memimpin mereka ke
jalan-jalan Kami (yang menjadikan mereka bergembira serta beroleh keridhaan), dan
sesungguhnya (pertolongan dan bantuan) Allah adalah beserta orang-orang yang
berusaha memperbaiki amalannya.

No comments:
Post a Comment