Friday, April 17, 2026

Shifatul Insan

Sinopsis

Jiwa manusia diberi dua jalan yaitu takwa dan fujur (kesesatan). Jalan yang benar adalah jalan takwa sedangkan jalan yang salah adalah jalan fujur. Manusia yang bertakwa adalah manusia yang senantiasa membersihkan dirinya (tazkiatun nafs). Jiwa yang bersih akan memunculkan sifat seperti syukur, sabar, penyantun, penyayang, bijaksana, suka bertaubat, lemah lembut, jujur, dan dapat dipercaya, hingga akhirnya akan memperoleh keberhasilan. Allah memberikan dua pilihan kepada manusia. Manusia dengan potensi yang dimilikinya sangat mampu untuk menentukan mana yang benar dan many yang salah. Oleh karena itu, balasan yang diberikan Allah sangat tergantung kepada pilihan apa yang diambil manusia. Apabila fujur yang diambil maka nerakalah balasannya, sedangkan pilihan ketakwaan maka surga tempatnya. Balasan ini merupakan keadilan Allah kepada manusia. Mereka yang mengambil jalan ketakwaan akan mendapatkan sifat-sifat terpuji. Sifat terpuji yang diamalkan oleh orang yang bertakwa akan membawa kehidupannya baik dan diterima oleh masyarakatnya.

Sedangkan manusia yang menjalani hidupnya dengan jalan yang salah akan mengotori jiwanya. Mereka yang memperturutkan syahwatnya cenderung bersifat tergesa-gesa, berkeluh kesah, gelisah, enggan berbuat, bakhil, kufur, susah payah, senang berdebat, membantah, zalim, jahil, merugi dan akhirnya mereka akan merasakan kegagalan. Sifat tidak terpuji merupakan hasil dari pilihan fujur yang diambil manusia, sehingga mereka tidak disenangi oleh masyarakatnya dan tidak memperoleh kehidupan yang berbahagia.

1. Nafsul Insan (Jiwa Manusia)

·    Jiwa manusia diberikan kebebasan untuk memilih yang baik atau yang buruk. Sebelumnya, manusia sudah mengenal Islam melalui nabi dan rasul-Nya. Manusia dengan akal dan potensinya dapat memilih untuk mengikuti Islam atau tidak mengikutinya, serta memilih untuk menempuh jalan takwa atau jalan fujur. Dari pilihan ini manusia akan mendapatkan keberhasilan atau kegagalannya.

·    Jiwa manusia diberi dua jalan, walaupun demikian Allah telah menunjukkan jalan yang benar dari pada jalan yang salah. Tetapi sebagi an manusia tidak menggunakan akalnya mencerna kebenaran yang akhirnya menjadikan mereka sesat. Allah membiarkan mereka kafir dan mengajak mereka beriman. Begitu banyak petunjuk di alarn dan pada diri manusia untuk beriman kepada Allah, tetapi manusia tidak mengambil tanda keimanan tersebut.

Dalil

·    Q. 90:10. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.

·    Q. 91:8. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaannya.

·    Q. 76:3. Sesungguhnya Kami telahmenunjukinya jalanyang lurus ada yang bcrsyukur dan ada pula yang kafir.

·    Q. 64:2. Dialah yang menciptakan kamu maka di antara karnu ada yang kafir dan di antaramu ada yang beriman. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

·    Q.18:29. Dan katakanlah kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu maka barangsiapa yang ingin beriman hendaklah is beriman dan barang siapa yang ingin kafir biarlah is kafir. Sesungguhnya telah Kami sediakan bagi orang zalim itu neraka, yang gejolaknya rnengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang men ghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.

2. At Takwa (Takwa)

·   Takwa adalah jalan kebenaran. Barang siapa yang mengikutinya, is akan memiliki beberapa sifat seperti syukur, sabar, penyantun, penyayang, bijaksana, suka bertaubat, lemah lembut, jujur, serta dapat dipercaya. Al­lah menyebutkan bahwa beruntunglah mereka yang membersihkan jiwanya. Merekalah yang akan memperoleh kesuksesan serta kemenangan. Begitupun orang yang sering menyebut nama Allah serta melakukan ibadah.

·    Tazkiyatun nafs (membersihkan diri) sebagai upaya untuk mencapai ketakwaan. Allah memuliakan orang yang bertakwa (Q. 49: 13) dan meninggikan derajatnya.

·    Orang yang bertakwa akan memperoleh keberuntungan dan kedamaian serta karunia dari Allah SWT

Dalil

·    Q. 91:9. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu

·    Q. 87:14-15. Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri dengan beriman. Dan dia ingat nama Tuhannya lalu dia sembahyang.

·     Q. 62:4. Demikianlah karunia Allah diberikanNya kepada siapa yang dikehendakinya dan Allah mempunyai karunia yang besar.

3. Al Fujur (Kejahatan)

·    Mereka yang memilih jalan fujur akan mengotori dirinya sendiri dengan kesesatan dan kemaksiatan. Mereka yang berada di jalan ini akan mengalami kegoncangan jiwa dan tekanan. Mereka tidak akan merasakan kedamaian dan ketenangan, justru mereka merasakan kesusahan dan kegelisahan yang berakibat pada kegagalan. Mereka yang mengikuti sifat fujur ini sering berkeluh kesah, gelisah, merasa sulit, zalim, jahil, dan bakhil. Sifat-sifat ini dialarni oleh mereka sehingga potensi diri dan jiwa yang bersih akan hilang, bahkan menghujam ke dasar tanah yang hina dan kotor.

·    Orang yang memilih kejahatan akan merugi dan akan memperoleh kegagalan kehidupan di dunia dan di akhirat.

Dalil

·    Q. 103:1-3. Demi masa sesungguhnya manusia itu benar­benar berada dalam kerugian, kecuali orang yang beriman dan mengerjakan aural saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

4. At Tazkiyah (Membersihkan Diri

  • Syukur (Bersyukur)
  • Sobur (Bersabar)
  • Roufun (Penyantun)
  • Rahim (Penyayang)
  • Halim (Bijaksana)
  • Awab (Suka Bertaubat)
  • Awah (Lemah Lembut)
  • Sodiqun (Sidiq)
  • Aminun (Dapat Dipercaya)

·    Tazkiyatun nafs (membersihkan diri) adalah aktivitas or­ang yang memilih jalan ketakwaan. Takwa juga merupakan hasi dari ibadah dan akan memunculkan sifat-sifat yang baik. Di antara sifat yang baik tersebut adalah hubungannya kepada manusia dan juga kepada Allah. Dengan sifat baik ini, manusia akan mendapatkan keridhaan dari Allah dan juga disenangi oleh manusia yang lainnya. Dengan sifat baik ini, kita tidak merusak alam dan bahkan membangun alam ini dengan kebaikannya.

·    Akan memperoleh keberuntungan bagi mereka yang bersifat baik. Syukur dan sabar adalah sikap utama dalarn menghadapi berbagai gejolak kehidupan dunia. Orang bertakwa tidak akan sombong apabila mendapatkan rezki karena bersyukur, dan tidak akan frustasi apabila mendapatkan musibah karena bersabar. Berbahagialah mereka yang bertakwa, segala macam keadaan dapat dilaluinya dengan ketenangan.

Hubungannya dengan manusia seperti penyantun, penyayang, bijaksana, lemah lembut, sidiq dan dapat dipercaya merupakan sifat yang disenangi oleh siapapun. Kepada Allah, orang yang bertakwa suka bertaubat. Manusia cendrung berbuat salah oleh karena itu perlu bertaubat setiap saat.

Dalil

·       Q. 91:9. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu

·       Q. 87:14-15. Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri dengan beriman. Dan dia ingat nama Tuhannya lalu dia sembahyang.

·       Q. 62:4. Demikianlah karunia Allah diberikanNya kepada siapa yang dikehendakinya dan Allah mempunyai karunia yang besar.

7. Muflihun (Kesuksesan)

·    Seperti yang digambarkan tadi, bahwa sifat mulia tersebut akan mendapatkan balasan kebaikan dari Allah, dari manusia dan dari dirinya sendiri. Orang yang bertaubat disayangi oleh Allah, sehingga diberinya banyak kesuksesan dalarn hidupnya. Terhadap dirinya manusia memperoleh kemenangan karena sifat syukur dan sabar, manakala terhadap orang lain mendapatkan kasih saying dan penghargaan karena sifat penyantun, penyayang, lemah lei-abut dan bijaksana.

·    Dalam Al Quran, Allah berfirman bahwa dengan ketakwaan akan diberinya kesuksesan, selain itu mereka yang beriman, beramal saleh, persaudaraan muslim dan melakukan kegiatan amar makruf wa nahiy anil mungkar (menyuruh kebaikan dan melarang kemungkaran).

Dalil

·     Q. 3: 102-104.Orang yang mendapatkan kesuksesan adalah orang yang bertakwa, berukhuwah islamiyah dan berdakwah.

6. At Tadsiyah (Mengotori Jiwa)

·     Ajula (Tergesa-Gesa)

·     Halu'a (Keluh Kesah Lagi Kikir)

·    Jazu'a (Gelisah)

·     Thogia (Ogah Berbuat Baik)

·    Futuro (Pelit)

·     Kafuro (Ku fur)

·      Jadala (Susah Payah)

·    Kanuda (Pembantah)

·   Zuluma (Zalim)

·   Jahula (Bodoh)

·    Mengotori jiwa merupakan kegiatan yang dilakukan oleh manusia yang mengambil pililian fujur (kejahatan). Am t rugi bagi manusia yang mengotori jiwanya yang telah A. lah berikan kebersihan (fitrah) dengan kekotoran syahwa-. Mereka yang memperturutkan syahwat akan mempengaruhi sifatnya menjadi tergesa-gesa dan bahkan memperturutkan sifat tergesa-Q,esa. Ini adalah pengaruh da-i syahwat.

·   Allah menjadikan beberapa sift dasar manusia di antaranya adalah sifat tergesa-gesa, berkeluh kesah dan kikir. Namun demikian sikap dasar ini bisa di atasi dengan ketakwaaa apabila manusia menginginkannya. Manusia yang tidal mampu mengendalikan dirinya untuk kebaikan maka dia akan tetap bertingkah laku seperti dasarnya yaitu kelu1 kesah kalau ada kesulitan, tergesa-gesa kalau ada keingina-1 dan kikir kalau mempunyai uarsgSifat tergesa-gesa tersebut adalah sifat syaitan.

·    Selain beberapa sifat dasar di atas, enggan berbuat bail, susah payah, pembantah, pndebat, zalim, dan jahil. Allah berfirman bahwa manusia dilam menerima kebenaran seringkali mereka membantah dan mendebat perintah AL lah. Sehingga mereka cendrur g berbuat zalim dan bodoh karena sikap yang cenderung tidak amanat terhadap amanat yang diberikan kepadanya. Mar lusia dengan hawa nafsuny, cenderung enggan berbuat baik, sehingga membawa diriny, kufur.

Dalil

Q. 91:10. Dan sesungguhn,~ra merugilah orang yang mengotorinya

·     Q. 17:11. Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana is mendoa untuk kebaikan dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa

·     Q. 21:37. Manusia telah dijadikan bertabiat tergesa-gesa. Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda azabKu. Maka janganlah kamu minta kepadaku mendatangkannya dengan segera.

·     Q. 70:19. Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.

·     Q. 70:21. Dan apabila is mendapat kebaikan is amat kikir.

·     Q. 17:100. Katakanlah kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan rahmat Tuhanku niscaya perbendaharaan itu kamu tahan karena takut membelenjakannya dan adalah manusia itu sangat kikir.

·    Q. 14:34. Dan Dia telah memberikan kepadamu keperluanmu dari segala apa yang kamu mohonkan kepadaNya dan jika kamu menghitung nikmat Allah tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari nikmat Allah.

·     Q. 90:4. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.

·     Q. 18:54. Dan sesungguhnya Kami telah mengulangi bagi manusia dalam Al Quran itu bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.

·     Q. 100:6. Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar tidak berterinla kasih kepada Tuhannya.

·     Q.33:72. Sesungguhnya Kami telah mengernukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.

Khoibun (Gagal)

Tentunya sesuatu yang tidak sesuai dengan fitrah akan berlawanan dengan diri manusia. Allah telah memberikan nilai dan perintah yang fitrah tetapi manusia mengingkarinya. Nilai dan aturan tersebut akan membawa kemenangan tetapi bagi yang mengingkari akan mendapatkan kegagalan. Kegagalan terjadi karena yang diamalkannya berlawanan dengan fitrah manusia.

·     Perbuatan tidak baik yang digambarkan dalam tingkah laku buruk seperti keluh kesah, enggan beramal dan gelisah selain merugikan diri sendiri juga akan merusak hubungan dengan masyarakatnya seperti keluarga dan teman­ temannya. Hubungan dengan Allah pun menjadi tidak baik akibat dari sifat buruk orang-orang yang fujur tersebut.

 

Ringkasan Dalil

·    Jiwa manusia diberi dua jalan (Q. 90:10, 91:8, 76:3, 64:2,

18:29)

·    Jalan benar:

·    Tazkiyatun nafs (Q. 91:9, 87:14-15, 62:4): dengan

bersyukur, bersabar, penyantun, penyayang, bijaksana, suka

bertaubat, lemah lembut, senantiasa jujur, dapat dipercaya

- akan memperoleh kejayaan (kesuksesan)

·    Jalan salah: -mengotori jiwa (Q. 91:10)

·    Dengan memperturutkan sifat tergesa-gesa (Q. 17:11,

21:37)

·    Berkeluh kesah (Q. 70:19)

·   Gelisah (Q. 70:20)

·    Ogah berbuat baik (70:21)

·    Pelit (17:100)

·     Kufur (Q. 14:34)

·    Susah payah (Q. 90:4)

Pendebat (Q. 18:54)

·     Pembantah (Q. 100:6)

·    Zhalim (Q. 14:34,33:72)

·    Jahil (Q. 33:72)

·    Merugi (Q. 103: 1-3)

·    Akan memperoleh kegagalan

 


Thursday, April 16, 2026

Membangun Kepribadian Islam

URGENSI

Manusia adalah makhluk yang paling sempurna dan paling mulia dibanding dengan

۞ وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا ࣖ ٧٠

"Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak adam, Kami angkut mereka didaratan dan dilautan, Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan  yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan." (Al-Isra: 70)

Menjadi pribadi yang Islami   merupakan suatu hal yang sangat diperhatikan  dalam agama Islam. Hal ini karena Islam itu tidak hanya  ajaran normatif yang hanya diyakini dan difahami tanpa diwujudkan dalam kehidupan nyata, tapi Islam memadukan dua hal  antara keyakinan dan aplikasi, antara norma dan perbuatan , antara keimanan dan amal saleh. Oleh sebab itulah ajaran yang diyakini dalam islam harus tercermin dalam setiap tingkah laku, perbuatan dan sikap pribadi pribadi muslim.

Memang setiap jiwa yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Tapi bukan berarti kesucian dari lahir itu meniadakan upaya untuk membangun dan menjaganya, justru karena telah diawali dengan fitrah itulah, jiwa tersebut harus dijaga dan dirawat kesuciaannya dan selanjutnya dibangun agar menjadi pribadi yang islami.

RUANG LINGKUP

Sisi yang harus dibangun pada pribadi muslim adalah sbb:

1.Ruhiyah (ma’nawiyah)

Aspek ruhiyah adalah aspek yang harus mendapatkan perhatian khusus oleh setiap muslim. Sebab ruhiyah menjadi motor utama sisi lainnya, hal ini bisa kita simak firman Allah swt di S. Asy-Syams : 7.-10

وَالْاَرْضِ وَمَا طَحٰىهَاۖ ٦ وَنَفْسٍ وَّمَا سَوّٰىهَاۖ ٧ فَاَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰىهَاۖ ٨

"Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya. Sungguh sangat merugi orang yang mensucikannya dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya,”(QS. Asy Syams:6-8).

Dan S. Al Hadid 16.

۞ اَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللّٰهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّۙ وَلَا يَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْاَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْۗ وَكَثِيْرٌ مِّنْهُمْ فٰسِقُوْنَ ١٦

" Belumkah datang waktunya untuk orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka berdzikir kepada Allah dan kepada kebenaran yang telah turun kapada mereka dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan alkitab didalamnya,kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras, dan kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang yang fasik " QS.Al-Hadid:16).

Ayat ayat diatas memberikan pelajaran kapada kita akan pentingnya untuk senantiasa menjaga ruhiyah , kerugian yang besar bagi orang yang mengotorinya dan peringatan keras agar kita meninggalkan amalan yang bisa mengeraskan hati. Bahkan tarbiyah ruhiyah adalah dasar dari seluruh bentuk tarbiyah, menjadi pendorong untuk beramal saleh dan dia juga memperkokoh jiwa manusia dalam mensikapi berbagai problematika kehidupan.

Aspek aspek yang sangat  terkait dengan dengan ma’nawiyah seseorang adalah:

  1. Aqidah.  Ruhiyah yng baik akan melahirkan aqidah yang lurus dan kokoh, dan sebaliknya ruhiyah  yang lemah bisa menyebabkan lemahnya aqidah. Padahal aqidah adalah suatu keyakinan yang akan mewarnai sikap dan tingkah laku seseorang. Oleh sebab itu kalau ingin aqidahnya terbangun dengan baik maka ruhiyahnya harus dikokohkan .Jadi ruhiyah menempati posisi yang sangat penting dalam kehidupan seorang muslim karena dia akan mempengaruhi bangunan aqidahnya..
  2. Aspek akhlaq. Akhlaq adalah bukti tingkah laku dari nilai yang diyakini seseorang. Akhlaq merupakan bagian penting dari keimanan. Akhlaq juga salah satu tolok ukur  kesempurnaan iman seseorang .Terawatnya ruhiyah akan membuahkan bagusnya akhlaq seseorang. Allah swt dalam beberpa ayat senantiasa menggandengkan antara iman dengan berbuat baik. Rasulullah saw pun ketika ditanya tentang siapakah yang paling baik imannya ternyata jawab rasulullah saw adalah yang baik akhlaqnya ("ahsnuhum khuluqan")

أي المؤمنين افضل إيمانا ؟ قال احسنهم خلقا. رواه ابو داود والترمذى والنسائ والحاكم.

"Mu'min mana yang paling baik imannya? Jawab Rasulullah " yang paling baik akhlaqnya" (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Nasa'i)

Bahkan diutusnya Rasulullah –shallallâhu `alaihi wa sallam-  pun untuk menyempurnakan akhlaq manusia sehingga menjadi akhlaq yang islami

َ                             إًَِنما بعثت لأتمم مكا رم الأخلاق

Tolok ukur dan patokan baik dan tidaknya akhlaq adalah al-qur'an.Itulah sebabnya akhlaq keseharian  Rasulullah –shallallâhu `alaihi wa sallam- merupakan cerminan dari Alquran yang beliau yakini. Hal ini terbukti dari jawaban Aisyah ra ketika ditanya tentang bagaimana akhlaq Rasulullah –shallallâhu `alaih i wa sallam-  , jawab beliau "Akhlaq Rasulullah –shallallâhu `alaihi wa sallam-  adalah al-Qur'an.

كان خلقه القرآن  

  1. Aspek tingkah laku. Tingkah laku adalah cerminan dari akhlaq yang melekat pada diri seseorang….

2. Fikriyah ('aqliyah) .Kepribadian islamy juga ditentukan oleh sejauh mana kokoh dan tidaknya aspek fikriyah. Kejernihan fikrah ,kekuatn akal seseorang akan memunculkan  amalan, kreatifitas dan akan lebih dirasa daya manfaat seseorang untuk orang lain. Fikrah yang dimaksud meliputi:

  1. Wawasan keislaman. Sebagai seorang muslim menjadi keniscayaan bagi dia untuk memperluas wawasan keislaman. Sebab dengan wawasan keislaman akan memperkokoh keyakinan keimanan dan daya manfaat diri untuk orag lain.
  2. Pola pikir islami. Pola pikir islami juga harus bibangun dalam diri seorang muslim.Semua alur berpikir seorang muslim harus mengarah dan bersumber pada satu sumber yaitu kebenaran dari Allah swt. Islam sangat menghargai kerja pikir ummtnya.Di dalam al-Qur'anpun sering kita jumpai ayat ayat yang mengnjurkan untuk berpikir, "afala ta'qiluun, afala tatafakkaruun, la'allakum ta'qiluun, la'allakum tadzakkaruun,"

افلا تعقلون ,أفلا تذكرون, افلا تتفكرون, لعلكم تعقلون,لعلكم تذكرون

Seorang muslim harus senatiasa menggunakan daya pikirnya .Allah mewujudkan fenomena alam untuk difikirkan, beraneka macamnya tingkah laku manusia sampai adanya aneka pemikiran dan pemahaman manusia hendaknya menjadi pemikiran seorang muslim. Tetapi satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa tujuan berpikir tidak lain adalah untuk meningkatkan keimanan kita kepada Allah –subhânahu wa ta`âlâ- bukan sebaliknnya.

  1. Disiplin (tepat) dan tetap (tsabat) dalam berislam. Sungguh kehidupan ini tidak terlepas dari ujian, rintangan dan tantangan serta hambatan.Ujian tersebut tidak akan berakhir sebelum nafasnya berakhir.Oleh sebab itulah untuk menghadapinya perlu tsabat dalam berpegang pada syariat Allah swt.

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنُ ࣖࣖ ٩٩

99. dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).

Disurat Ali Imran :102 Allah menjelaskan

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ١٠٢

"Wahai orang orang yang beriman bertaqwalah kamu sebenar-benar taqwa. Dan jangan sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama islam.

Begitu pentingnya tsabat dijalan Allah, sampai Rasulullah –shallallâhu `alaihi wa sallam-  mengajarkan do'a kepada ummatnya,sbb:

اللهم يا مقلب القلوب ثبت قلوبنا على دينك  (رواه الترمذى)

"Wahai dzat yang membolak-balikkan hati, kokohkanlah hati hati kami untuk tetap berada pada agamaMu "

3. Amaliyah (harokiyah). Diantara sisi yang harus dibangun pada pribadi muslim adalah sisi amaliahnya. Amaliah harakiah yang merubah kehidupan seorang mu'min menjadi lebih baik. Hal ini penting sebab amaliah adalah satu diantara tiga tuntutan iman dan islam seseorang. Tiga tuntutan tersebut adalah: al-iqror bil- lisan (ikrar dengan lisan), at-tashdiq bil-qalb ( meyakii dengan hati), dan  al-amal bil jawarih (beramal dengan seluruh anggota badan). Jadi tidak cukup seseorang menyatakan beriman tanpa mewujudkan apa yang diyakininya dalam bentuk amal yang nyata.

وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۚ ١٠٥

"Maka katakanlah "beramallah kamu niscaya Allah dan Rasulnya serta orang-orang beriman akan melihat amalanmu itu. Dan kamu akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberititakanNya kepadamu apa yang telah kamu kerjakan "(QS at-Taubah 105).

Umat islam dituntut oleh Allah –subhânahu wa ta`âlâ- untuk menunaikan sejumlah amal, baik yang bersifat individual maupun yang kolektif bahkan  kewajiban yang sisitemik. Kewajiban individual  akan lebih khusyu' dan lebih baik pelaksanaannya jika ditunjang dengan sisitem yang kondusif. Shalat, puasa , zakat dan haji misalnya akan lebih baik dan lebih khusyu' kalau dilaksanakan ditengah suasana yang aman tentram dan kondusif. Apalagi kewajiban yang bersifat sistemik seperti da'wah, amar ma'ruf nahi mungkar, jihad dsb, mutlak memerlukan  ketersediaan perangkat sistem yang memungkinkan terlaksananya amal tersebut.

Pentingnya amaliah harakiah dalam kehidupan seorang mu'min laksana air. Semakin banyak air bergerak dan mengalir semakin jernih dan semakin sehat air tersebut.  Demikian juga seorang muslim semakin banyak amal baiknya, akan semakin banyak daya untuk membersihkan dirinya, sebab amalan yang baik bisa menjadi penghapus dosa. Simaklah QS. Huud: 114

وَاِنَّ كُلًّا لَّمَّا لَيُوَفِّيَنَّهُمْ رَبُّكَ اَعْمَالَهُمْ ۗاِنَّهٗ بِمَا يَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ ١١١

"Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam, sesungguhnya perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuaan yang buruk (dosa), itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat".

Ada sedikitnya tiga alasan kenapa seorang harus beramal:

  1. Kewajiban diri pribadi.

Sebagai hamba Allah tentunya harus menyadari bahwa dirinya diciptakan bukan untuk hal yang sia-sia. Baik jin dan manusia Allah ciptakan untuk tujuan yang amat mulia yaitu untuk beribadah, menghamba kepada Allah –subhânahu wa ta`âlâ-.Amalan adalah bentuk refleksi dari rasa penghambaan diri kepada dzat yang mencipta.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ ٥٦

" Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah" (Adz-Dzariyat: 56)

Disamping itu pertanggung jawaban didepan mahkamah Allah nanti bersifat undividu. Setiap individu akan merasakan balasan amalan diri pribadinya.

وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ ٣٩ وَاَنَّ سَعْيَهٗ سَوْفَ يُرٰىۖ ٤٠ ثُمَّ يُجْزٰىهُ الْجَزَاۤءَ الْاَوْفٰىۙ ٤١

" Dan bahwasannya manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.Dan bahwasannya usahanya itu kelak akan diperlihatkan kepadanya. Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna"(QS,an-Najm:39-41).

  1. Kewajiban terhadap keluarga.

Keluarga adalah adalah lapisan kedua dalam pembentukan ummat. Lapisan ini akan memiliki pengaruh yang kuat baik dan rusaknya sebuah ummat. Oleh sebab itulah seseorang dituntut  untuk beramal karena terkait dengan kewajiban dia membentuk keluarga yang islamy,sebab tidak akan terbentuk masyarakat yang baik tanpa melalui pembentukan keluarga yang baik dan islami.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ ٦

" Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu" (QS. At-Tahrim :6)

Setiap muslim seharusnya mampu membentuk keluarga yang berkhidmad untuk Islam, seluruh anggota keluarga terlibat dalam amal islami diseluruh bidang kehidupan.

  1. Kewajiban terhadap da'wah.

Beramal haraki bagi seorang muslim bukan hanya atas tuntutan kewajiban diri dan keluarganya saja, akan tetapi juga karena tuntutan da'wah.Islam tidak hanya menuntut seseorang saleh secara individu tapi juga saleh secara sosial.

وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۘ يَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَيُطِيْعُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗاُولٰۤىِٕكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ ٧١

71. dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS. At-Taubah:71)

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ١٠٤

104. dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung. (Ali Imran: 104)

Ma'ruf: segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah; sedangkan Munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya.

Juga di QS. Fushshilat :33

وَمَنْ اَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّنْ دَعَآ اِلَى اللّٰهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَّقَالَ اِنَّنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ ٣٣

33. siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?"

 

Tahqiqu Maknasy Syahadatain