Thursday, April 2, 2026

Menjaga dan Merawat Hubungan Bagian dari Iman

Teks Hadis dan Penjelasannya:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: "مَا غِرْتُ عَلَى امْرَأَةٍ مَا غِرْتُ عَلَى خَدِيجَةَ، وَلَقَدْ هَلَكَتْ قَبْلَ أَنْ يَتَزَوَّجَنِي بِثَلَاثِ سِنِينَ، لِمَا كُنْتُ أَسْمَعُهُ يَذْكُرُهَا، وَلَقَدْ أَمَرَهُ رَبُّهُ أَنْ يُبَشِّرَهَا بِبَيْتٍ فِي الْجَنَّةِ مِنْ قَصَبٍ، وَإِنْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيَذْبَحُ الشَّاةَ، ثُمَّ يُهْدِي فِي خُلَّتِهَا مِنْهَا". ) رواه البخاري(

Terjemahan Hadis:

Dari Aisyah —semoga Allah meridhainya— ia berkata: "Aku tidak pernah cemburu kepada seorang wanita melebihi rasa cemburuku kepada Khadijah. Padahal ia telah wafat tiga tahun sebelum Nabi menikahiku. Hal itu karena aku sering mendengar beliau menyebut-nyebut namanya. Dan sungguh, Tuhannya telah memerintahkan beliau untuk memberi kabar gembira kepadanya dengan sebuah rumah di surga yang terbuat dari bambu (mutiara yang berongga). Dan sesungguhnya Rasulullah SAW sering menyembelih seekor kambing, kemudian menghadiahkan sebagian darinya kepada teman-teman dekat Khadijah." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).


Syarah (Penjelasan):

"Bab" (dengan tanwin) "Husnul 'Ahd" (Menjaga Hubungan Baik): Sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Nihayah, maknanya adalah menjaga dan memelihara kehormatan, atau menjaga sesuatu dan memperhatikannya dari waktu ke waktu, sebagaimana dikatakan oleh Al-Raghib.

"Minal Iman" (Bagian dari Iman): Yakni bagian dari kesempurnaan iman.

"Ia (Aisyah) berkata: 'Ma ghirtu' (Aku tidak cemburu)": Kata Ma di sini berfungsi sebagai peniada (negasi).

"Ala imra'atin ma ghirtu" (Kepada seorang wanita melebihi cemburuku): Kata Ma yang kedua adalah maushulah (kata sambung) yang berarti "yang mana aku cemburu" "kepada Khadijah", yakni cemburu darinya (Khadijah) —semoga Allah meridhainya.

"Walaqad halakat" (Dan sungguh ia telah wafat/meninggal): "Tiga tahun sebelum beliau menikahiku" —shollallahu 'alayhi wasallam. "Lima" (Karena/Sebab): Yakni disebabkan oleh "apa yang aku dengar dari beliau" —shollallahu 'alayhi wasallam— "menyebut-nyebut namanya". Barangsiapa mencintai sesuatu, ia pasti akan sering menyebutnya.

"Dan sungguh Tuhannya telah memerintahkan beliau" —Azza wa Jalla— "untuk memberi kabar gembira kepadanya dengan sebuah rumah di surga dari qashab": Yakni dari mutiara yang berongga.

"Wa in kana" (Dan sesungguhnya ada): Kata In di sini adalah mukhaffafah (diringankan) dari tsaqilah, maknanya: "Dan sesungguhnya dahulu Rasulullah SAW 'layadzbahu ash-syah' (benar-benar menyembelih kambing)" (dengan lam taukid/penegas). "Tsumma yuhda" (Kemudian dihadiahkan) (dengan huruf ya di-dhammah, berasal dari kata ihda' atau pemberian hadiah) "fi khullatiha" (dengan huruf kha di-dhammah), maknanya: kepada orang-orang yang dicintai Khadijah dan teman-teman akrabnya. Pemberian hadiah Nabi SAW kepada teman-teman dan kenalan Khadijah setelah wafatnya adalah bentuk penjagaan dan pemeliharaan terhadap hubungan baik dengannya.

Siapakah yang lebih sempurna imannya daripada beliau SAW? Maka hadis ini menunjukkan bahwa menjaga hubungan baik (setia) adalah bagian dari iman.

Hadis ini diperkuat oleh riwayat Al-Hakim dan Al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman dari Aisyah RA, ia berkata: "Seorang wanita tua datang menemui Nabi SAW, lalu beliau bertanya: 'Bagaimana kabar kalian? Bagaimana keadaan kalian? Bagaimana keadaan kalian setelah (tidak bertemu) kami?' Wanita itu menjawab: 'Baik, demi ayah dan ibuku wahai Rasulullah.' Ketika wanita itu keluar, aku bertanya: 'Wahai Rasulullah, engkau menyambut wanita tua ini dengan sambutan sedemikian rupa?' Beliau menjawab: 'Wahai Aisyah, sesungguhnya dia dulu sering mendatangi kami pada zaman Khadijah, dan sesungguhnya menjaga hubungan baik (setia) adalah bagian dari iman.'"

Hadis ini mengandung lafaz yang menjadi judul bab tersebut. Al-Bukhari mencukupkan diri dengan hadis yang diisyaratkan oleh lafaz ini —sesuai kebiasaannya— untuk mengasah pikiran pembaca. Semoga Allah merahmatinya.


Referensi Belajar Mandiri:

  1. Riyadus Shalihin karya Imam Nawawi.
  2. At-Targhib wa At-Tarhib karya Al-Mundziri.

Penerapan Praktis Fakta dan Nilai Hadis dalam Aktivitas:

  • Menulis sebuah kisah yang menunjukkan kesetiaan seorang suami kepada istrinya setelah sang istri wafat.
  • Berbicara di depan para jamaah tentang pentingnya menjaga hubungan baik dengan istri, termasuk menjalin silaturahmi dengan teman-teman istri setelah ia wafat.

Evaluasi dan Pengukuran Mandiri:

  1. Ke arah manakah hadis mulia ini membimbing kita?
  2. Menunjukkan hal apakah perbuatan Rasulullah SAW tersebut?
  3. Mengapa Sayyidah Aisyah RA merasa cemburu kepada Ummul Mukminin Sayyidah Khadijah?
  4. Apa yang harus dilakukan seorang Muslim jika istrinya meninggal dunia?

Arahan Pendidikan:

  • Pentingnya kesetiaan yang baik bagi istri atau suami setelah pasangannya wafat.

 

No comments:

Post a Comment