Bab Kedua Belas: Dia Mengetahui Rahasia dan Bisikan
Mereka
Pengetahuan tentang Apa yang Ada di Dalam Dada
Pertanyaan: Apakah Muhammad SAW pernah memberitahukan
sebagian dari apa yang terdetak di dalam dada (hati) manusia?
Jawaban: Ya, sungguh Allah telah memperlihatkan
kepadanya apa yang disembunyikan oleh sebagian orang di dalam dada mereka. Maka
Rasulullah SAW menyingkap hal tersebut kepada mereka, sehingga mereka
mengetahui bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dan bahwa Allah Subhanahu wa
Ta'ala dialah yang mengajarinya serta memberitahunya tentang apa yang mereka
rahasiakan dan apa yang mereka bicarakan secara berbisik-bisik.
Allah Ta'ala berfirman:
اَلَمْ يَعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ سِرَّهُمْ وَنَجْوٰىهُمْ
وَاَنَّ اللّٰهَ عَلَّامُ الْغُيُوْبِ
"Tidakkah mereka tahu bahwa Allah mengetahui rahasia dan
bisikan mereka, dan bahwa Allah Maha Mengetahui segala yang gaib?" (QS.
At-Taubah: 78)
يَعْلَمُ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُسِرُّوْنَ
وَمَا تُعْلِنُوْنَۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ ۢبِذَاتِ الصُّدُوْرِ
"Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, dan Dia
mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha
Mengetahui segala isi hati." (QS. At-Taghabun: 4)
Pertanyaan: Apakah pemberitahuan Muhammad SAW kepada
manusia tentang hakikat apa yang mereka sembunyikan di dalam dada dianggap
sebagai bagian dari tanda-tanda, bukti-bukti, dan mukjizat risalahnya SAW?
Jawaban: Ya. Tidak ada yang mengetahui apa yang ada
di dalam dada kecuali Allah. Maka ketika Muhammad SAW memberitahukannya, hal
itu menunjukkan kepada setiap orang yang berakal bahwa Muhammad adalah utusan
Allah.
Contoh-Contoh
Pertanyaan: Apa saja contoh-contoh mengenai hal
tersebut?
Jawaban: Contohnya sangat banyak sekali, bertebaran
di buku-buku hadis dan sirah (sejarah), dan Al-Qur'an telah menceritakan
sebagian darinya. Hal-hal ini telah menjadi sebab masuk Islamnya banyak orang
musyrik.
Peristiwa Thu’mah
Pertanyaan: Apa contohnya dari Al-Qur'an al-Karim?
Jawaban: (Thu’mah) adalah seorang pria dari kalangan
Muslim yang lemah imannya, yang hidup pada zaman Rasulullah SAW di Madinah. Ia
mencuri baju besi milik tetangganya, lalu menyembunyikannya di tempat seorang
Yahudi dan memintanya untuk menjaganya. Pemilik baju besi itu mulai mencari
barang mereka dan menemukannya di tempat si Yahudi.
Beberapa orang Yahudi bersaksi atas tidak bersalahnya kawan
mereka (si Yahudi tersebut) dan menyalahkan Thu’mah. Hal ini memicu fanatisme
dan kesukuan pada kaum Thu’mah. Mereka menganggap masalah ini sebagai aib yang
harus mereka singkirkan dari diri mereka dengan cara apa pun. Thu’mah bersumpah
bahwa ia tidak mengambilnya dan tidak tahu menahu tentangnya. Kaum Thu’mah
kemudian saling berbisik (berkomplot) untuk membebaskannya dari tuduhan dan
melemparkan tuduhan itu kepada si Yahudi.
Mereka pergi menemui Rasulullah SAW dan berkata:
"Sesungguhnya upaya Yahudi untuk menjatuhkan tuduhan kepada Thu’mah ini
hanyalah tipu daya Yahudi terhadap Islam." Mereka meminta Rasulullah SAW
untuk membelanya, serta bersaksi atas tidak bersalahnya kawan mereka dan
menuduh si Yahudi yang mencurinya.
Maka turunlah wahyu yang menyingkap perbuatan Thu’mah dan
kaumnya, serta membebaskan si Yahudi dari tuduhan. Setelah wahyu turun, tidak
ada seorang pun yang membantah kejadian tersebut.
Allah Ta'ala berfirman:
اِنَّآ اَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ
النَّاسِ بِمَآ اَرٰىكَ اللّٰهُ ۗوَلَا تَكُنْ لِّلْخَاۤىِٕنِيْنَ خَصِيْمًا ۙ
١٠٥ وَّاسْتَغْفِرِ اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ كَانَ غَفُوْرًا رَّحِيْمًاۚ ١٠٦ وَلَا
تُجَادِلْ عَنِ الَّذِيْنَ يَخْتَانُوْنَ اَنْفُسَهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ
مَنْ كَانَ خَوَّانًا اَثِيْمًاۙ ١٠٧ يَّسْتَخْفُوْنَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُوْنَ
مِنَ اللّٰهِ وَهُوَ مَعَهُمْ اِذْ يُبَيِّتُوْنَ مَا لَا يَرْضٰى مِنَ الْقَوْلِ
ۗ وَكَانَ اللّٰهُ بِمَا يَعْمَلُوْنَ مُحِيْطًا ١٠٨ هٰٓاَنْتُمْ هٰٓؤُلَاۤءِ جَادَلْتُمْ
عَنْهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۗ فَمَنْ يُّجَادِلُ اللّٰهَ عَنْهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ
اَمْ مَّنْ يَّكُوْنُ عَلَيْهِمْ وَكِيْلًا ١٠٩ وَمَنْ يَّعْمَلْ سُوْۤءًا اَوْ يَظْلِمْ
نَفْسَهٗ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللّٰهَ يَجِدِ اللّٰهَ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا ١١٠ وَمَنْ
يَّكْسِبْ اِثْمًا فَاِنَّمَا يَكْسِبُهٗ عَلٰى نَفْسِهٖ ۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَلِيْمًا
حَكِيْمًا ١١١ وَمَنْ يَّكْسِبْ خَطِيْۤـَٔةً اَوْ اِثْمًا ثُمَّ يَرْمِ بِهٖ بَرِيْۤـًٔا
فَقَدِ احْتَمَلَ بُهْتَانًا وَّاِثْمًا مُّبِيْنًا ࣖ ١١٢ وَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ
عَلَيْكَ وَرَحْمَتُهٗ لَهَمَّتْ طَّاۤىِٕفَةٌ مِّنْهُمْ اَنْ يُّضِلُّوْكَۗ وَمَا
يُضِلُّوْنَ اِلَّآ اَنْفُسَهُمْ وَمَا يَضُرُّوْنَكَ مِنْ شَيْءٍ ۗ وَاَنْزَلَ اللّٰهُ
عَلَيْكَ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُۗ وَكَانَ فَضْلُ
اللّٰهِ عَلَيْكَ عَظِيْمًا ١١٣
105. Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab
(Al-Qur’an) kepadamu (Nabi Muhammad) dengan hak agar kamu memutuskan (perkara)
di antara manusia dengan apa yang telah Allah ajarkan kepadamu. Janganlah
engkau menjadi penentang (orang yang tidak bersalah) karena (membela) para
pengkhianat.164)
164) Ayat ini diturunkan terkait dengan kasus
pencurian yang dilakukan oleh Tu‘mah. Dia menyembunyikan barang curiannya di
rumah seorang Yahudi dan menuduh orang itulah yang telah mencurinya. Ketika
kerabat-kerabat Tu‘mah meminta agar Nabi Muhammad saw. membela Tu‘mah dan
menghukum orang Yahudi itu, Nabi Muhammad saw. hampir terpengaruh, tetapi Allah
Swt. menurunkan ayat ini dan melarangnya untuk membela pengkhianat.
106.
Mohonlah ampunan kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang.
107.
Janganlah engkau (Nabi Muhammad) berdebat untuk (membela) orang-orang
yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
selalu berkhianat dan bergelimang dosa.
108.
Mereka dapat bersembunyi dari manusia, tetapi tidak dapat bersembunyi
dari Allah. Dia bersama (mengawasi) mereka ketika pada malam hari mereka
menetapkan keputusan rahasia yang tidak diridai-Nya. Allah Maha Meliputi apa
yang mereka kerjakan.
109.
Begitulah kamu. Kamu berdebat untuk (membela) mereka dalam kehidupan
dunia ini. Akan tetapi, siapa yang akan menentang Allah untuk (membela) mereka
pada hari Kiamat? Atau, siapakah yang menjadi pelindung mereka (dari azab
Allah)?
110.
Siapa yang berbuat kejahatan atau menganiaya dirinya, kemudian memohon
ampunan kepada Allah, niscaya akan mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.
111.
Siapa yang berbuat dosa sesungguhnya dia mengerjakannya untuk merugikan
dirinya sendiri. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
112.
Siapa yang berbuat kesalahan atau dosa, kemudian menuduhkannya kepada
orang yang tidak bersalah, sungguh telah memikul suatu kebohongan dan dosa yang
nyata.
113.
Kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu (Nabi
Muhammad), tentu segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu.
Akan tetapi, mereka tidak menyesatkan, kecuali dirinya sendiri dan tidak
membahayakanmu sedikit pun. Allah telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) dan hikmah
(sunah) kepadamu serta telah mengajarkan kepadamu apa yang tadinya belum kamu
ketahui. Karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu itu sangat besar. (QS.
An-Nisa: 105-113).
Kisah Hatib
Pertanyaan: Apakah ada contoh yang lain?
Jawaban: Ya, contoh kedua adalah tentang seorang
Muslim yang ditimpa kelemahan sehingga terjerumus ke dalam perkara besar, yaitu
Hatib bin Abi Balta’ah.
Ketika Rasulullah SAW bertekad untuk menaklukkan Makkah
setelah kaum kafir melanggar Perjanjian Hudaibiyah, beliau menyeru orang-orang
untuk bersiap menaklukkan Makkah. Kaum Muslimin pun mulai mempersiapkan diri.
Hatib merasa khawatir jika urusan kaum Muslimin gagal, maka Quraisy akan
kembali membunuh keluarga kaum Muslimin yang masih berada di Makkah.
Ia memutuskan untuk mendekatkan diri kepada Quraisy dan
mengambil hati mereka dengan memberitahu mereka terlebih dahulu tentang
persiapan kaum Muslimin, agar jika penaklukan itu gagal, keluarganya di Makkah
tetap selamat. Hatib menulis surat kepada Quraisy yang memberitahukan sebagian
urusan Nabi SAW dan mengirimkan surat itu melalui seorang wanita.
Allah memberitahu Nabi-Nya, dan marilah kita biarkan Ali bin
Abi Thalib melengkapi ceritanya untuk kita. Ali (Karamallahu Wajhah) berkata:
"Rasulullah SAW mengutusku bersama Az-Zubair dan Al-Miqdad, lalu beliau
bersabda: 'Pergilah kalian hingga sampai ke (Raudhah Khakh), karena di sana ada
seorang wanita musafir yang membawa surat, maka ambillah surat itu
darinya.'"
Kami pun berangkat dengan kuda kami yang berlari kencang
hingga kami sampai di Raudhah. Di sana kami bertemu dengan wanita tersebut dan
kami berkata: "Keluarkan surat itu!" Wanita itu menjawab: "Aku
tidak membawa surat." Kami berkata: "Engkau harus mengeluarkan surat
itu atau kami akan menanggalkan pakaianmu (untuk digeledah)!!"
Maka ia mengeluarkan surat itu dari gelungan rambutnya. Kami
membawanya kepada Rasulullah SAW, dan ternyata isinya: "Dari Hatib bin Abi
Balta’ah kepada orang-orang di Makkah dari kalangan kaum musyrik, memberitahu
mereka sebagian urusan Rasulullah."
Rasulullah bertanya: "Wahai Hatib, apa ini?" Hatib
menjawab: "Wahai Rasulullah, janganlah terburu-buru menghakimiku. Aku
adalah orang yang menumpang di kalangan Quraisy (sekutu), bukan bagian asli
dari mereka. Orang-orang Muhajirin bersamamu memiliki kerabat yang dapat
melindungi keluarga dan harta mereka di Makkah. Maka aku ingin, karena aku
tidak memiliki kedudukan nasab di antara mereka, untuk menanam budi agar mereka
melindungi kerabatku. Aku tidak melakukannya karena murtad dari agamaku, tidak
pula karena ridha pada kekafiran setelah Islam."
Rasulullah SAW bersabda: "Adapun dia, sungguh dia telah
berkata jujur kepada kalian!" Umar berkata: "Biarkan aku memenggal
leher orang munafik ini." Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya dia
termasuk orang yang ikut Perang Badar. Tahukah engkau, barangkali Allah telah
melihat kepada ahli Badar lalu berfirman: 'Berbuatlah sesuka kalian, karena Aku
telah mengampuni kalian.'"
Allah mengabadikan kejadian ini dalam Kitab-Nya:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوْا عَدُوِّيْ وَعَدُوَّكُمْ
اَوْلِيَاۤءَ تُلْقُوْنَ اِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوْا بِمَا جَاۤءَكُمْ
مِّنَ الْحَقِّۚ يُخْرِجُوْنَ الرَّسُوْلَ وَاِيَّاكُمْ اَنْ تُؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ
رَبِّكُمْۗ اِنْ كُنْتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِيْ سَبِيْلِيْ وَابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِيْ
تُسِرُّوْنَ اِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَاَنَا۠ اَعْلَمُ بِمَآ اَخْفَيْتُمْ وَمَآ
اَعْلَنْتُمْۗ وَمَنْ يَّفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاۤءَ السَّبِيْلِ ١
Terjemahan Kemenag 2019
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوْا
عَدُوِّيْ وَعَدُوَّكُمْ اَوْلِيَاۤءَ تُلْقُوْنَ اِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ
وَقَدْ كَفَرُوْا بِمَا جَاۤءَكُمْ مِّنَ الْحَقِّۚ يُخْرِجُوْنَ الرَّسُوْلَ
وَاِيَّاكُمْ اَنْ تُؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ رَبِّكُمْۗ اِنْ كُنْتُمْ خَرَجْتُمْ
جِهَادًا فِيْ سَبِيْلِيْ وَابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِيْ تُسِرُّوْنَ اِلَيْهِمْ
بِالْمَوَدَّةِ وَاَنَا۠ اَعْلَمُ بِمَآ اَخْفَيْتُمْ وَمَآ اَعْلَنْتُمْۗ
وَمَنْ يَّفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاۤءَ السَّبِيْلِ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan
musuh-Ku dan musuhmu sebagai teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada
mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal mereka telah
ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu... kamu menyembunyikan rasa kasih
sayang kepada mereka, padahal Aku mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa
yang kamu nyatakan..." (QS. Al-Mumtahanah: 1)
Ringkasan
Allah senantiasa memperlihatkan kepada Rasul-Nya SAW apa
yang sedang terjadi di dalam jiwa sebagian manusia. Rasulullah kemudian
memberitahu mereka tentang hal itu, sehingga sebagian orang kafir menjadi
beriman, dan orang-orang mukmin bertambah keimanannya.
Di antara contoh yang disebutkan Al-Qur'an:
- Kisah
Thu’mah: Yang mana kaumnya berkomplot untuk membebaskannya dan
menyalahkan si Yahudi, lalu turun wahyu yang membebaskan si Yahudi dan
menyalahkan si Muslim (Thu’mah).
- Kisah
Hatib: Yang merahasiakan surat untuk Quraisy demi mendapatkan simpati
mereka, lalu Allah memberitahu Rasul-Nya tentang perkara tersebut, tentang
wanita pembawa surat, dan lokasi keberadaannya. Rasulullah mengutus Ali,
Az-Zubair, dan Al-Miqdad, dan mereka menemukan wanita itu tepat di tempat
yang diberitahukan Rasulullah, sebagaimana mereka juga menemukan surat
tersebut.
Sesungguhnya pemberitahuan Rasulullah SAW tentang apa yang
tersembunyi di dalam dada adalah hal yang banyak dan dikenal dalam buku-buku
tafsir, hadis, dan sirah. Hal itu merupakan tanda, ayat, dan bukti nyata yang
membenarkan risalah Rasulullah.
No comments:
Post a Comment