Thursday, April 2, 2026

Bukti Kenabian Muhammad Saw (Pengetahuan Rasul Beberapa Hati Manusia)

Bab Kedua Belas: Dia Mengetahui Rahasia dan Bisikan Mereka

Pengetahuan tentang Apa yang Ada di Dalam Dada

Pertanyaan: Apakah Muhammad SAW pernah memberitahukan sebagian dari apa yang terdetak di dalam dada (hati) manusia?

Jawaban: Ya, sungguh Allah telah memperlihatkan kepadanya apa yang disembunyikan oleh sebagian orang di dalam dada mereka. Maka Rasulullah SAW menyingkap hal tersebut kepada mereka, sehingga mereka mengetahui bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala dialah yang mengajarinya serta memberitahunya tentang apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka bicarakan secara berbisik-bisik.

Allah Ta'ala berfirman:

اَلَمْ يَعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ سِرَّهُمْ وَنَجْوٰىهُمْ وَاَنَّ اللّٰهَ عَلَّامُ الْغُيُوْبِ

"Tidakkah mereka tahu bahwa Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwa Allah Maha Mengetahui segala yang gaib?" (QS. At-Taubah: 78)

يَعْلَمُ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُسِرُّوْنَ وَمَا تُعْلِنُوْنَۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ ۢبِذَاتِ الصُّدُوْرِ

"Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, dan Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati." (QS. At-Taghabun: 4)

Pertanyaan: Apakah pemberitahuan Muhammad SAW kepada manusia tentang hakikat apa yang mereka sembunyikan di dalam dada dianggap sebagai bagian dari tanda-tanda, bukti-bukti, dan mukjizat risalahnya SAW?

Jawaban: Ya. Tidak ada yang mengetahui apa yang ada di dalam dada kecuali Allah. Maka ketika Muhammad SAW memberitahukannya, hal itu menunjukkan kepada setiap orang yang berakal bahwa Muhammad adalah utusan Allah.


Contoh-Contoh

Pertanyaan: Apa saja contoh-contoh mengenai hal tersebut?

Jawaban: Contohnya sangat banyak sekali, bertebaran di buku-buku hadis dan sirah (sejarah), dan Al-Qur'an telah menceritakan sebagian darinya. Hal-hal ini telah menjadi sebab masuk Islamnya banyak orang musyrik.

Peristiwa Thu’mah

Pertanyaan: Apa contohnya dari Al-Qur'an al-Karim?

Jawaban: (Thu’mah) adalah seorang pria dari kalangan Muslim yang lemah imannya, yang hidup pada zaman Rasulullah SAW di Madinah. Ia mencuri baju besi milik tetangganya, lalu menyembunyikannya di tempat seorang Yahudi dan memintanya untuk menjaganya. Pemilik baju besi itu mulai mencari barang mereka dan menemukannya di tempat si Yahudi.

Beberapa orang Yahudi bersaksi atas tidak bersalahnya kawan mereka (si Yahudi tersebut) dan menyalahkan Thu’mah. Hal ini memicu fanatisme dan kesukuan pada kaum Thu’mah. Mereka menganggap masalah ini sebagai aib yang harus mereka singkirkan dari diri mereka dengan cara apa pun. Thu’mah bersumpah bahwa ia tidak mengambilnya dan tidak tahu menahu tentangnya. Kaum Thu’mah kemudian saling berbisik (berkomplot) untuk membebaskannya dari tuduhan dan melemparkan tuduhan itu kepada si Yahudi.

Mereka pergi menemui Rasulullah SAW dan berkata: "Sesungguhnya upaya Yahudi untuk menjatuhkan tuduhan kepada Thu’mah ini hanyalah tipu daya Yahudi terhadap Islam." Mereka meminta Rasulullah SAW untuk membelanya, serta bersaksi atas tidak bersalahnya kawan mereka dan menuduh si Yahudi yang mencurinya.

Maka turunlah wahyu yang menyingkap perbuatan Thu’mah dan kaumnya, serta membebaskan si Yahudi dari tuduhan. Setelah wahyu turun, tidak ada seorang pun yang membantah kejadian tersebut.

Allah Ta'ala berfirman:

اِنَّآ اَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَآ اَرٰىكَ اللّٰهُ ۗوَلَا تَكُنْ لِّلْخَاۤىِٕنِيْنَ خَصِيْمًا ۙ ١٠٥ وَّاسْتَغْفِرِ اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ كَانَ غَفُوْرًا رَّحِيْمًاۚ ١٠٦ وَلَا تُجَادِلْ عَنِ الَّذِيْنَ يَخْتَانُوْنَ اَنْفُسَهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ خَوَّانًا اَثِيْمًاۙ ١٠٧ يَّسْتَخْفُوْنَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُوْنَ مِنَ اللّٰهِ وَهُوَ مَعَهُمْ اِذْ يُبَيِّتُوْنَ مَا لَا يَرْضٰى مِنَ الْقَوْلِ ۗ وَكَانَ اللّٰهُ بِمَا يَعْمَلُوْنَ مُحِيْطًا ١٠٨ هٰٓاَنْتُمْ هٰٓؤُلَاۤءِ جَادَلْتُمْ عَنْهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۗ فَمَنْ يُّجَادِلُ اللّٰهَ عَنْهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَمْ مَّنْ يَّكُوْنُ عَلَيْهِمْ وَكِيْلًا ١٠٩ وَمَنْ يَّعْمَلْ سُوْۤءًا اَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهٗ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللّٰهَ يَجِدِ اللّٰهَ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا ١١٠ وَمَنْ يَّكْسِبْ اِثْمًا فَاِنَّمَا يَكْسِبُهٗ عَلٰى نَفْسِهٖ ۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًا ١١١ وَمَنْ يَّكْسِبْ خَطِيْۤـَٔةً اَوْ اِثْمًا ثُمَّ يَرْمِ بِهٖ بَرِيْۤـًٔا فَقَدِ احْتَمَلَ بُهْتَانًا وَّاِثْمًا مُّبِيْنًا ࣖ ١١٢ وَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكَ وَرَحْمَتُهٗ لَهَمَّتْ طَّاۤىِٕفَةٌ مِّنْهُمْ اَنْ يُّضِلُّوْكَۗ وَمَا يُضِلُّوْنَ اِلَّآ اَنْفُسَهُمْ وَمَا يَضُرُّوْنَكَ مِنْ شَيْءٍ ۗ وَاَنْزَلَ اللّٰهُ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُۗ وَكَانَ فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكَ عَظِيْمًا ١١٣

105.   Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Nabi Muhammad) dengan hak agar kamu memutuskan (perkara) di antara manusia dengan apa yang telah Allah ajarkan kepadamu. Janganlah engkau menjadi penentang (orang yang tidak bersalah) karena (membela) para pengkhianat.164)

164) Ayat ini diturunkan terkait dengan kasus pencurian yang dilakukan oleh Tu‘mah. Dia menyembunyikan barang curiannya di rumah seorang Yahudi dan menuduh orang itulah yang telah mencurinya. Ketika kerabat-kerabat Tu‘mah meminta agar Nabi Muhammad saw. membela Tu‘mah dan menghukum orang Yahudi itu, Nabi Muhammad saw. hampir terpengaruh, tetapi Allah Swt. menurunkan ayat ini dan melarangnya untuk membela pengkhianat.

106.  Mohonlah ampunan kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

107.   Janganlah engkau (Nabi Muhammad) berdebat untuk (membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat dan bergelimang dosa.

108.  Mereka dapat bersembunyi dari manusia, tetapi tidak dapat bersembunyi dari Allah. Dia bersama (mengawasi) mereka ketika pada malam hari mereka menetapkan keputusan rahasia yang tidak diridai-Nya. Allah Maha Meliputi apa yang mereka kerjakan.

109.  Begitulah kamu. Kamu berdebat untuk (membela) mereka dalam kehidupan dunia ini. Akan tetapi, siapa yang akan menentang Allah untuk (membela) mereka pada hari Kiamat? Atau, siapakah yang menjadi pelindung mereka (dari azab Allah)?

110.  Siapa yang berbuat kejahatan atau menganiaya dirinya, kemudian memohon ampunan kepada Allah, niscaya akan mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

111.  Siapa yang berbuat dosa sesungguhnya dia mengerjakannya untuk merugikan dirinya sendiri. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

112.  Siapa yang berbuat kesalahan atau dosa, kemudian menuduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, sungguh telah memikul suatu kebohongan dan dosa yang nyata.

113.  Kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu (Nabi Muhammad), tentu segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu. Akan tetapi, mereka tidak menyesatkan, kecuali dirinya sendiri dan tidak membahayakanmu sedikit pun. Allah telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) dan hikmah (sunah) kepadamu serta telah mengajarkan kepadamu apa yang tadinya belum kamu ketahui. Karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu itu sangat besar. (QS. An-Nisa: 105-113).


Kisah Hatib

Pertanyaan: Apakah ada contoh yang lain?

Jawaban: Ya, contoh kedua adalah tentang seorang Muslim yang ditimpa kelemahan sehingga terjerumus ke dalam perkara besar, yaitu Hatib bin Abi Balta’ah.

Ketika Rasulullah SAW bertekad untuk menaklukkan Makkah setelah kaum kafir melanggar Perjanjian Hudaibiyah, beliau menyeru orang-orang untuk bersiap menaklukkan Makkah. Kaum Muslimin pun mulai mempersiapkan diri. Hatib merasa khawatir jika urusan kaum Muslimin gagal, maka Quraisy akan kembali membunuh keluarga kaum Muslimin yang masih berada di Makkah.

Ia memutuskan untuk mendekatkan diri kepada Quraisy dan mengambil hati mereka dengan memberitahu mereka terlebih dahulu tentang persiapan kaum Muslimin, agar jika penaklukan itu gagal, keluarganya di Makkah tetap selamat. Hatib menulis surat kepada Quraisy yang memberitahukan sebagian urusan Nabi SAW dan mengirimkan surat itu melalui seorang wanita.

Allah memberitahu Nabi-Nya, dan marilah kita biarkan Ali bin Abi Thalib melengkapi ceritanya untuk kita. Ali (Karamallahu Wajhah) berkata: "Rasulullah SAW mengutusku bersama Az-Zubair dan Al-Miqdad, lalu beliau bersabda: 'Pergilah kalian hingga sampai ke (Raudhah Khakh), karena di sana ada seorang wanita musafir yang membawa surat, maka ambillah surat itu darinya.'"

Kami pun berangkat dengan kuda kami yang berlari kencang hingga kami sampai di Raudhah. Di sana kami bertemu dengan wanita tersebut dan kami berkata: "Keluarkan surat itu!" Wanita itu menjawab: "Aku tidak membawa surat." Kami berkata: "Engkau harus mengeluarkan surat itu atau kami akan menanggalkan pakaianmu (untuk digeledah)!!"

Maka ia mengeluarkan surat itu dari gelungan rambutnya. Kami membawanya kepada Rasulullah SAW, dan ternyata isinya: "Dari Hatib bin Abi Balta’ah kepada orang-orang di Makkah dari kalangan kaum musyrik, memberitahu mereka sebagian urusan Rasulullah."

Rasulullah bertanya: "Wahai Hatib, apa ini?" Hatib menjawab: "Wahai Rasulullah, janganlah terburu-buru menghakimiku. Aku adalah orang yang menumpang di kalangan Quraisy (sekutu), bukan bagian asli dari mereka. Orang-orang Muhajirin bersamamu memiliki kerabat yang dapat melindungi keluarga dan harta mereka di Makkah. Maka aku ingin, karena aku tidak memiliki kedudukan nasab di antara mereka, untuk menanam budi agar mereka melindungi kerabatku. Aku tidak melakukannya karena murtad dari agamaku, tidak pula karena ridha pada kekafiran setelah Islam."

Rasulullah SAW bersabda: "Adapun dia, sungguh dia telah berkata jujur kepada kalian!" Umar berkata: "Biarkan aku memenggal leher orang munafik ini." Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya dia termasuk orang yang ikut Perang Badar. Tahukah engkau, barangkali Allah telah melihat kepada ahli Badar lalu berfirman: 'Berbuatlah sesuka kalian, karena Aku telah mengampuni kalian.'"

Allah mengabadikan kejadian ini dalam Kitab-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوْا عَدُوِّيْ وَعَدُوَّكُمْ اَوْلِيَاۤءَ تُلْقُوْنَ اِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوْا بِمَا جَاۤءَكُمْ مِّنَ الْحَقِّۚ يُخْرِجُوْنَ الرَّسُوْلَ وَاِيَّاكُمْ اَنْ تُؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ رَبِّكُمْۗ اِنْ كُنْتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِيْ سَبِيْلِيْ وَابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِيْ تُسِرُّوْنَ اِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَاَنَا۠ اَعْلَمُ بِمَآ اَخْفَيْتُمْ وَمَآ اَعْلَنْتُمْۗ وَمَنْ يَّفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاۤءَ السَّبِيْلِ ١

 

Terjemahan Kemenag 2019

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوْا عَدُوِّيْ وَعَدُوَّكُمْ اَوْلِيَاۤءَ تُلْقُوْنَ اِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوْا بِمَا جَاۤءَكُمْ مِّنَ الْحَقِّۚ يُخْرِجُوْنَ الرَّسُوْلَ وَاِيَّاكُمْ اَنْ تُؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ رَبِّكُمْۗ اِنْ كُنْتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِيْ سَبِيْلِيْ وَابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِيْ تُسِرُّوْنَ اِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَاَنَا۠ اَعْلَمُ بِمَآ اَخْفَيْتُمْ وَمَآ اَعْلَنْتُمْۗ وَمَنْ يَّفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاۤءَ السَّبِيْلِ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan musuh-Ku dan musuhmu sebagai teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu... kamu menyembunyikan rasa kasih sayang kepada mereka, padahal Aku mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan..." (QS. Al-Mumtahanah: 1)


Ringkasan

Allah senantiasa memperlihatkan kepada Rasul-Nya SAW apa yang sedang terjadi di dalam jiwa sebagian manusia. Rasulullah kemudian memberitahu mereka tentang hal itu, sehingga sebagian orang kafir menjadi beriman, dan orang-orang mukmin bertambah keimanannya.

Di antara contoh yang disebutkan Al-Qur'an:

  1. Kisah Thu’mah: Yang mana kaumnya berkomplot untuk membebaskannya dan menyalahkan si Yahudi, lalu turun wahyu yang membebaskan si Yahudi dan menyalahkan si Muslim (Thu’mah).
  2. Kisah Hatib: Yang merahasiakan surat untuk Quraisy demi mendapatkan simpati mereka, lalu Allah memberitahu Rasul-Nya tentang perkara tersebut, tentang wanita pembawa surat, dan lokasi keberadaannya. Rasulullah mengutus Ali, Az-Zubair, dan Al-Miqdad, dan mereka menemukan wanita itu tepat di tempat yang diberitahukan Rasulullah, sebagaimana mereka juga menemukan surat tersebut.

Sesungguhnya pemberitahuan Rasulullah SAW tentang apa yang tersembunyi di dalam dada adalah hal yang banyak dan dikenal dalam buku-buku tafsir, hadis, dan sirah. Hal itu merupakan tanda, ayat, dan bukti nyata yang membenarkan risalah Rasulullah.

 


No comments:

Post a Comment