Pembahasan Pertama: Deskripsi Kondisi Politik pada Masa Ini
Rasulullah ﷺ
wafat dan beliau tidak memberikan wasiat kekhalifahan kepada seorang pun dari
sahabatnya. Maka terjadilah perselisihan antara kaum Muhajirin dan Anshar
mengenai siapa yang akan memegang kekhalifahan; apakah dari kalangan Muhajirin
atau dari kalangan Anshar. Mereka berkumpul di Saqifah (Bani Sa'idah), lalu Abu
Bakar meyakinkan mereka bahwa kekhalifahan ada pada kaum Muhajirin sebagai
orang-orang yang paling awal memeluk Islam. Kemudian Umar bin Khattab maju dan
membaiat Abu Bakar Ash-Shiddiq, diikuti oleh orang-orang yang
berbondong-bondong membaiatnya, sehingga urusan tersebut selesai dan
perselisihan berhasil dipadamkan sejak dini.
Namun, belum lama Abu Bakar memegang tampuk kekhalifahan,
kemunafikan mulai muncul di Madinah, banyak suku yang murtad dari Islam, dan
sebagian lainnya menolak membayar zakat. Abu Bakar pun segera bersiap untuk
memerangi mereka. Mereka berkata: "Kami tetap shalat, tapi kami tidak akan
menunaikan zakat." Orang-orang (sahabat lain) berkata: "Terimalah itu
dari mereka, wahai Khalifah Rasulullah, karena masa ini masih baru (transisi),
orang Arab jumlahnya banyak sedangkan kita hanyalah kelompok kecil yang tidak
memiliki kekuatan melawan mereka. Lagipula Rasulullah ﷺ telah bersabda: 'Aku diperintahkan
untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan Laa ilaha illallah. Jika
mereka telah mengucapkannya, maka darah dan harta mereka terjaga dariku kecuali
dengan haknya, dan hisab mereka ada pada Allah.'"
Maka Abu Bakar menjawab: "Zakat ini adalah bagian dari
haknya (kalimat syahadat), maka harus diperangi." Umar bin Khattab awalnya
termasuk yang sependapat dengan orang-orang tersebut, namun Abu Bakar tidak
menerima usulannya dan mengucapkan kalimatnya yang masyhur: "Apakah
engkau perkasa di masa Jahiliyah namun lemah di masa Islam, wahai putra
Al-Khattab? Demi Allah, seandainya mereka menolak memberikan seekor tali
pengikat unta yang dahulu mereka tunaikan kepada Rasulullah ﷺ, niscaya aku akan
memerangi mereka karenanya. Dan jika aku tidak menemukan seorang pun untuk
memerangi mereka bersamaku, niscaya aku akan memerangi mereka sendirian hingga
Allah memberi keputusan antara aku dan mereka, dan Dia adalah sebaik-baik
Pemberi Keputusan." Maka Allah melapangkan dada mereka untuk menerima
pendapat Abu Bakar.
Abu Bakar radhiyallahu 'anhu berjalan di jalannya
tanpa merasa lemah maupun lunak. Beliau memerangi orang yang durhaka dengan
bantuan orang yang taat, dan memukul orang yang berpaling dengan bantuan orang
yang menghadap (setia), hingga mereka semua tunduk pada hukum Allah dan masuk
ke dalam Islam baik secara sukarela maupun terpaksa, serta menunaikan zakat
harta mereka ke Baitul Mal kaum muslimin. Maka urusan Islam menjadi teratur,
orang-orang memuji pendapat Abu Bakar, dan mereka menyadari kedudukan serta keutamaannya.
Urusan terus berlangsung dalam kondisi ini pada masa dua
Syekh (Abu Bakar dan Umar) serta permulaan masa kekhalifahan Usman radhiyallahu
'anhum dalam ketenangan dan stabilitas di segala aspek kehidupan, baik
politik maupun sosial. Maka para sahabat junior menyempurnakan ilmu-ilmu agama
mereka, dan banyak dari kalangan Tabi'in yang menerima (mempelajari) hadis,
hukum-hukum, fatwa-fatwa sahabat, serta keputusan-keputusan hukum mereka.
Kemudian, ketika orang-orang mulai mengkritik Usman radhiyallahu
'anhu dalam beberapa perkara yang mungkin beliau memiliki alasan di
dalamnya, masuklah ke dalam agama ini sekelompok orang Yahudi yang berselubung
Islam namun tidak menanamkannya dalam hati. Di pimpinan mereka adalah seorang
thaghut yang disebut Abdullah bin Saba' Al-Yahudi Al-Himyari. Si jahat ini
mulai meniupkan terompet fitnah dan menghasut orang-orang untuk melawan Usman
di berbagai wilayah, hingga terjadilah peristiwa pembunuhan Khalifah di
rumahnya secara zalim oleh tangan-tangan berdosa tersebut.
Sejak saat itulah, pintu keburukan yang besar terbuka bagi
kaum muslimin, dan merayaplah penyakit perselisihan di tengah mereka yang
menggugurkan kepala banyak sahabat Rasulullah ﷺ. Belum lama Khalifah keempat, Ali bin Abi
Thalib, memegang kekhalifahan, Muawiyah bangkit menuntut darah Usman, sehingga
terjadilah peperangan di antara keduanya yang mengoyak kaum muslimin dan
memecah belah persatuan mereka. Hal ini berakhir dengan perang Shiffin yang
dampaknya mengakibatkan perpecahan pengikut Ali menjadi Khawarij dan Syiah.
Perselisihan ini kemudian dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok dari
bangsa-bangsa yang kalah, seperti Yahudi, Persia, dan lainnya, yang mulai
melakukan tipu daya terhadap Islam semampu mereka.
No comments:
Post a Comment