Kami memandang perlu untuk menuliskan biografi sebagian perawi masyhur dari kalangan Sahabat agar menjadi jelas bagi kita mengenai besarnya perhatian mereka terhadap Sunnah Nabawiyah, serta antusiasme mereka dalam menerima (talaqqi) maupun menyampaikannya (ada'). Ada baiknya sebelum itu kami sampaikan penjelasan singkat mengenai makna Sahabat, bagaimana persahabatan (shuhbah) itu diketahui, serta mengenai ijmak umat atas keadilan dan ketsiqahan mereka. Kami katakan:
Siapakah Sahabat Itu?
Para peneliti dari kalangan ahli hadis, seperti al-Bukhari
dan Ahmad bin Hanbal, telah bersepakat bahwa Sahabat adalah orang yang bertemu
Nabi ﷺ dalam keadaan tamyiz
(mampu membedakan baik dan buruk), beriman kepadanya, dan mati dalam keadaan
Islam; baik masa duduk (majelis) bersamanya lama ataupun singkat, baik ia
meriwayatkan hadis darinya ataupun tidak, dan baik ia ikut berperang bersamanya
ataupun tidak.
Al-Bukhari berkata dalam Shahih-nya: "Siapa
saja dari kalangan Muslimin yang mendampingi Nabi ﷺ atau melihatnya, maka
ia termasuk sahabatnya." Selesai kutipan.
Abu al-Mudhaffar al-Sam'ani berkata: "Ashabul hadis
mutlak menyematkan nama Sahabat kepada setiap orang yang meriwayatkan darinya ﷺ meski satu hadis atau
satu kalimat, bahkan mereka meluaskan maknanya hingga menghitung orang yang
sekadar melihatnya sebagai Sahabat. Hal ini dikarenakan mulianya kedudukan Nabi
ﷺ,
sehingga mereka memberikan hukum keshahabatan kepada setiap orang yang
melihatnya." Beliau juga menyebutkan bahwa secara bahasa dan lahiriah,
sebutan Sahabat ditujukan bagi orang yang lama mendampingi Nabi ﷺ dan banyak duduk
bersamanya dalam rangka mengikutinya dan mengambil ilmu darinya. Beliau
berkata: "Inilah jalan yang ditempuh oleh ahli ushul." Selesai
kutipan.
Ibnu al-Shalah berkata dalam Muqaddimah-nya: Kami
meriwayatkan dari Syu'bah, dari Musa al-Sailani—dan beliau memujinya dengan
baik—ia berkata: Aku mendatangi Anas bin Malik lalu bertanya: "Apakah
masih ada dari sahabat Rasulullah ﷺ yang tersisa selain engkau?" Ia
menjawab: "Masih tersisa orang-orang dari kalangan badui yang pernah
melihat beliau, adapun orang yang mendampingi beliau (shohibahu) maka sudah
tidak ada." Sanadnya jayyid (baik), diriwayatkan oleh Muslim di
hadapan Abu Zur'ah. Selesai kutipan. Pendapat ini dekat dengan pendapat ahli
ushul.
Bagaimana Status Keshahabatan Diketahui?
Seseorang diketahui sebagai Sahabat melalui:
- Mutawatir,
seperti pada Khalifah yang empat.
- Istifadhah
dan Masyhur yang tingkatannya di bawah mutawatir, seperti pada Dhimam
bin Tsalabah dan Ukasyah bin Mihshan.
- Riwayat
dari individu Sahabat bahwa seseorang adalah Sahabat, seperti pada
Humamah bin Abi Humamah al-Dausi yang wafat di Isfahan karena sakit perut,
di mana Abu Musa al-Asy'ari bersaksi baginya bahwa ia mendengar Nabi ﷺ
bersabda tentangnya.
- Pengakuan
dari dirinya sendiri bahwa ia adalah Sahabat, setelah terbukti
keadilannya dan bukti bahwa ia hidup sezaman dengan Nabi ﷺ.
- Kabar
dari seorang Tabi'in bahwa fulan adalah Sahabat, berdasarkan
diterimanya rekomendasi (tazkiyah) dari satu orang yang adil, dan
inilah pendapat yang kuat (rajih).
Ijmak Umat Atas Keadilan Para Sahabat
Para Sahabat secara keseluruhan memiliki kekhususan, yaitu
tidak perlu lagi ditanyakan mengenai keadilan ('adalah) salah satu dari
mereka. Hal ini telah diterima secara pasti di kalangan ulama karena mereka
secara mutlak telah dinyatakan adil (mu'addalun) oleh nash-nash
Al-Qur'an dan Sunnah, serta ijmak dari pihak-pihak yang diperhitungkan dalam
ijmak umat.
Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman:
"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang
yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi
berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari
karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka
dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat
mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas
itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di
atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah
hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang
mukmin). Allah menjanjikan ampunan dan pahala yang besar kepada orang-orang
yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka." [QS.
Al-Fath: 29].
Dalam nash-nash Sunnah yang bersaksi atas hal tersebut
sangatlah banyak, di antaranya hadis Abu Said yang disepakati keshahihannya (muttafaqun
'alaih) bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda: "Janganlah kalian mencela sahabatku! Demi Dzat yang jiwaku
berada di tangan-Nya, seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas
sebesar gunung Uhud, niscaya tidak akan menyamai satu mud (satu cakupan dua
telapak tangan) dari infak salah seorang dari mereka, tidak pula
setengahnya."
Di antaranya juga hadis Abdullah bin Mughaffal yang ada pada
at-Tirmidzi dan Ibnu Hibban dalam Shahih-nya, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Takutlah
kepada Allah, takutlah kepada Allah tentang sahabatku. Janganlah kalian
menjadikan mereka sasaran (celaan) setelahku. Barangsiapa yang mencintai
mereka, maka karena mencintaiku ia mencintai mereka. Barangsiapa yang membenci
mereka, maka karena membenciku ia membenci mereka. Barangsiapa yang menyakiti
mereka, maka sungguh ia telah menyakitiku. Barangsiapa yang menyakitiku, maka
sungguh ia telah menyakiti Allah. Dan barangsiapa yang menyakiti Allah, maka
dikhawatirkan Allah akan menyiksanya."
Setelah Allah Ta'ala dan Rasul-Nya menyatakan mereka adil,
maka tidak satu pun dari mereka membutuhkan penshahihan (ta'dil) dari
satu makhluk pun. Bahkan, seandainya tidak ada satu pun nash dari Allah dan
Rasul-Nya yang mulia mengenai keadilan mereka, maka keadaan mereka sendiri
sudah mewajibkan pernyataan adil bagi mereka; mengingat pengorbanan mereka
dalam hijrah, jihad, menolong Islam, mengorbankan nyawa dan harta, membunuh
ayah dan anak mereka sendiri di jalan Allah, saling menasihati dalam agama,
serta kuatnya iman dan keyakinan mereka.
Abu Zur'ah al-Razi berkata: "Jika engkau melihat
seseorang mencela salah satu dari sahabat Rasulullah ﷺ, maka ketahuilah
bahwa ia adalah seorang zindik. Hal itu karena Rasul adalah haq (benar),
Al-Qur'an adalah haq, dan apa yang dibawa beliau adalah haq, dan sesungguhnya
yang menyampaikan semua itu kepada kita adalah para Sahabat. Para zindik ini
ingin menjatuhkan saksi-saksi kita untuk membatalkan Al-Kitab dan As-Sunnah,
maka menjatuhkan mereka (zindik) jauh lebih utama."
Ibnu al-Shalah berkata: "Kemudian sesungguhnya umat
telah berijmak atas keadilan seluruh Sahabat. Begitu pula bagi mereka yang
terlibat dalam fitnah di antara mereka, hal itu juga berdasarkan ijmak ulama
yang diperhitungkan dalam ijmak, demi berhusnuzan kepada mereka dan melihat
pada jasa-jasa besar yang telah mereka bangun. Seolah-olah Allah Subhanahu wa
Ta'ala memudahkan adanya ijmak atas hal tersebut dikarenakan mereka adalah para
pembawa syariat." Selesai kutipan.
Jumlah Sahabat
Sahabat Rasulullah ﷺ sangatlah banyak dan jumlah mereka tidak
diketahui secara pasti. Ulama yang menghitungnya hanyalah bermaksud memberikan
perkiraan (taqrib). Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya
bahwa Ka'ab bin Malik berkata dalam kisah ketertinggalannya dari perang Tabuk: "Dan
sahabat Rasulullah ﷺ
sangat banyak, tidak dapat dihimpun oleh satu kitab catatan (buku
registrasi)."
Ditanyakan kepada Abu Zur'ah: "Bukankah dikatakan
bahwa hadis Rasulullah ﷺ
berjumlah empat ribu hadis?" Beliau menjawab: "Itu adalah
perkataan kaum zindik. Siapakah yang bisa menghitung hadis Rasulullah ﷺ? Rasulullah wafat
meninggalkan seratus empat belas ribu Sahabat dari kalangan mereka yang
meriwayatkan darinya dan mendengar darinya." Lalu ditanyakan
kepadanya: "Mereka itu di mana dan di mana mereka mendengar dari
beliau?" Beliau menjawab: "Penduduk Madinah, penduduk Mekkah,
orang-orang di antara keduanya, orang badui, dan mereka yang hadir bersamanya
saat Haji Wada'. Semuanya melihat beliau dan mendengar dari beliau di
Arafah." Selesai kutipan.
Dari sini engkau dapat melihat bahwa para perawi dari
kalangan Sahabat dari Rasulullah ﷺ sangat banyak. Oleh karena itu, kami mencukupkan dengan
menyebutkan sebagian dari mereka yang masyhur dengan hadis, dengan membatasi
pada sisi hadis dari setiap perawi disertai ringkasan mengenai kehidupan umum
mereka. Kami katakan:
Abu Hurairah
Beliau adalah Abdurrahman bin Sakhr, dan nama panggilannya (kunyah)
adalah Abu Hurairah. Beliau masuk Islam dan datang menemui Nabi ﷺ pada tahun penaklukan
Khaibar, yaitu tahun ketujuh Hijriah di bulan Muharram. Beliau adalah orang
yang paling hafal dalam meriwayatkan hadis pada zamannya berdasarkan kesaksian
Imam Syafi'i radhiyallahu 'anhu dan ulama lainnya, meskipun masa
kebersamaan beliau dengan Rasulullah ﷺ tergolong singkat. Rahasia di balik hal tersebut adalah
beberapa perkara yang kami sebutkan untuk Anda:
- Pertama:
Ketekunannya dalam menghadiri majelis-majelis Nabi ﷺ. Imam Bukhari,
Muslim, dan selainnya meriwayatkan bahwa Abu Hurairah berkata:
"Kalian mengira bahwa Abu Hurairah terlalu banyak
meriwayatkan hadis dari Nabi ﷺ.
Sesungguhnya aku adalah seorang pria miskin yang mendampingi Nabi ﷺ demi sekadar mengisi
perutku (merasa cukup dengan makanan yang ada). Sementara kaum Muhajirin
disibukkan oleh urusan perdagangan di pasar-pasar, dan kaum Anshar disibukkan
oleh urusan mengelola harta benda mereka. Lalu aku menghadiri suatu majelis
Nabi ﷺ, beliau bersabda:
'Siapa yang membentangkan selendangnya hingga aku menyelesaikan perkataanku,
kemudian ia merangkul selendang itu ke dadanya, niscaya ia tidak akan melupakan
sesuatu pun yang ia dengar dariku.' Maka aku membentangkan pakaian luar (burdah)
milikku hingga beliau menyelesaikan sabdanya, kemudian aku merangkulnya ke
dadaku. Maka demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak ada sesuatu pun
yang aku lupakan setelah itu."
- Kedua:
Keinginannya yang sangat kuat dalam menuntut ilmu hingga beliau
mendapatkan doa Nabi ﷺ
agar tidak melupakan sedikit pun dari ilmu tersebut. Hal ini membuatnya
melampaui rekan-rekan sejawatnya dalam banyaknya riwayat hadis dari Nabi ﷺ,
padahal beliau tidak mendampingi Nabi melainkan hanya selama tiga tahun.
An-Nasa'i meriwayatkan dalam Bab Ilmu pada kitab Sunan-nya:
(Bahwa seorang pria datang kepada Zaid bin Tsabit dan
bertanya kepadanya tentang sesuatu, lalu Zaid berkata: "Hendaklah engkau
bertanya kepada Abu Hurairah. Karena ketika aku, Abu Hurairah, dan fulan sedang
duduk di masjid pada suatu hari sambil berdoa kepada Allah dan berzikir
kepada-Nya, tiba-tiba Nabi ﷺ
keluar menemui kami hingga beliau duduk bersama kami, maka kami pun diam.
Beliau bersabda: 'Kembalilah pada apa yang sedang kalian lakukan tadi.' Zaid
berkata: 'Maka aku dan temanku berdoa sebelum Abu Hurairah, dan Rasulullah ﷺ mengaminkan doa kami.
Kemudian Abu Hurairah berdoa dan berkata: Ya Allah, sesungguhnya aku memohon
kepada-Mu apa yang diminta oleh kedua temanku ini, dan aku memohon kepada-Mu
ilmu yang tidak terlupakan.' Rasulullah ﷺ bersabda: 'Amin.' Kami pun berkata: 'Wahai
Rasulullah, kami juga memohon kepada Allah Ta'ala ilmu yang tidak terlupakan.'
Beliau bersabda: 'Kalian telah didahului oleh pemuda dari kabilah Daus ini (Abu
Hurairah)'.")
Al-Bukhari juga meriwayatkan dalam Bab "Antusiasme
terhadap Hadis" dalam Kitab Ilmu dari Abu Hurairah bahwa ia berkata:
"Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling bahagia dengan syafaatmu
pada hari kiamat?" Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sungguh aku telah menduga wahai Abu Hurairah, bahwa
tidak ada seorang pun yang akan bertanya kepadaku tentang hadis ini yang lebih
awal darimu, karena aku melihat betapa besarnya antusiasmemu terhadap hadis.
Orang yang paling bahagia dengan syafaatku pada hari kiamat adalah orang yang
mengucapkan Laa ilaha illallah dengan ikhlas dari hatinya atau
jiwanya."
- Ketiga:
Abu Hurairah menjumpai para sahabat senior dan mengambil banyak sekali
hadis dari mereka, sehingga ilmunya tentang hadis menjadi sempurna dan
wawasannya di bidang tersebut menjadi luas.
- Keempat:
Panjangnya usia beliau setelah wafatnya Nabi ﷺ. Beliau hidup
selama empat puluh tujuh tahun setelah beliau wafat, yang digunakan untuk
menyebarkan dan menyiarkan hadis di tengah manusia, jauh dari jabatan,
kesibukan duniawi, maupun fitnah.
Dari perkara-perkara yang terkumpul inilah, Abu Hurairah
menjadi sahabat yang paling hafal hadis, mengungguli mereka dalam bab
penerimaan (tahammul) sekaligus periwayatan (riwayah). Segala
sesuatu yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah secara terkumpul, terbukti
kebenarannya secara terpisah di kalangan seluruh sahabat atau banyak dari
mereka. Oleh karena itu, para sahabat merujuk kepadanya dan bersandar padanya
dalam periwayatan. Bahkan Ibnu Umar mendoakan rahmat untuknya saat jenazahnya
dishalatkan dan berkata: "Beliau dahulu adalah penjaga hadis Nabi ﷺ bagi kaum
Muslimin."
Al-Bukhari berkata: "Telah meriwayatkan dari Abu
Hurairah sekitar delapan ratus orang ahli ilmu dari kalangan sahabat, tabi'in,
dan selain mereka." Selesai kutipan.
Hadis yang bersumber darinya berjumlah 5.374 (lima ribu tiga
ratus tujuh puluh empat) hadis. Imam Bukhari dan Muslim bersepakat (muttafaqun
'alaih) atas 325 hadis. Imam Bukhari meriwayatkan secara sendirian sebanyak
93 hadis, dan Imam Muslim sebanyak 189 hadis.
Abu Hurairah wafat di Madinah pada tahun 57 (lima puluh
tujuh) Hijriah menurut pendapat yang kuat, dalam usia tujuh puluh delapan
tahun. Radhiyallahu 'anhu.
Abu Said al-Khudri
Beliau adalah Sa'ad bin Malik bin Sinan al-Khudri al-Anshari
al-Khazraji. Ayahnya gugur sebagai syahid pada Perang Uhud dan tidak
meninggalkan harta benda bagi beliau, sehingga Abu Said harus menanggung beban
hidup dan kesulitan dunia sejak kecil. Namun, hal itu tidak menghalanginya
untuk menghadiri majelis-majelis Nabi ﷺ dan menerima hadis darinya dengan
keinginan dan antusiasme yang luar biasa, hingga beliau mampu menyerap ilmu
yang tidak didapatkan oleh orang-orang yang memiliki kesulitan ekonomi seperti
beliau. Maka beliau benar-benar dianggap sebagai salah satu sahabat yang
masyhur, mulia, ahli hadis yang produktif (muksirin), serta perawi yang
cerdas.
Abu Said hidup selama enam puluh empat tahun setelah
Rasulullah ﷺ,
yang memungkinkannya untuk menerima hadis dari para sahabat senior, kemudian
menyebarkan dan menyampaikannya kepada orang-orang. Oleh karena itu, riwayat
darinya sangat banyak hingga melampaui angka seribu. Para ahli hadis menukil
darinya sebanyak 1.170 (seribu seratus tujuh puluh) hadis. Imam Bukhari dan
Muslim bersepakat atas 46 hadis. Imam Bukhari meriwayatkan secara sendirian
sebanyak 16 hadis, dan Imam Muslim sebanyak 52 hadis.
Banyak dari kalangan sahabat dan tabi'in yang meriwayatkan
hadis dari Abu Said. Dari kalangan sahabat di antaranya Jabir, Zaid bin Tsabit,
Ibnu Abbas, Anas, Ibnu Umar, dan Ibnu az-Zubair. Dari kalangan tabi'in di
antaranya Said bin al-Musayyib, Abu Salamah, Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah,
Atha' bin Yasar, dan lain-lain.
Beliau mengikuti dua belas peperangan bersama Nabi ﷺ, yang pertamanya
adalah Perang Khandaq. Beliau adalah orang yang selalu menyuarakan kebenaran
dan tidak takut kepada siapa pun dalam membela kebenaran tersebut, betapa pun
besarnya kekuasaan dan kedudukan orang itu.
Abu Said wafat di Madinah pada tahun 74 Hijriah dalam usia
delapan puluh sekian tahun. Dalam masa hidupnya tersebut, beliau telah
menyebarkan banyak hadis dan menjadi sosok yang sangat dihargai oleh para
sahabat dan tabi'in. Semoga Allah meridhainya.
Jabir bin Abdullah
Beliau adalah Jabir bin Abdullah bin Amru bin Haram
al-Anshari al-Salami, seorang Sahabat putra dari seorang Sahabat, salah satu
orang yang paling banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah ﷺ.
Beliau meriwayatkan dari Nabi ﷺ dan dari banyak sahabat beliau seperti Abu
Bakar, Umar, dan Ali. Sedangkan yang meriwayatkan darinya adalah anak-anaknya
yaitu Abdurrahman, Aqil, dan Muhammad, serta banyak dari kalangan Tabi'in
seperti Said bin al-Musayyib, Amru bin Dinar, al-Hasan al-Bashri, dan
selainnya.
Ayahnya gugur sebagai syahid dalam Perang Uhud dan
meninggalkan anak-anak perempuan yang masih kecil serta hutang yang besar, hal
ini membuat Jabir merasakan kepayahan hidup dan kesulitan ekonomi. Akan tetapi,
Nabi ﷺ menyambutnya dengan
kasih sayang serta kedermawanan beliau, dan menjaganya dengan perhatian beliau
hingga hutangnya terlunasi.
Kesulitan hidup yang dialami Jabir tidaklah menghalanginya
untuk menuntut ilmu dan menerima hadis dari Nabi ﷺ. Beliau senantiasa mendampingi Nabi dalam
setiap peperangan setelah kematian ayahnya. Usianya yang masih muda, umurnya
yang panjang, serta keberadaannya di masa para sahabat senior memungkinkannya
untuk memperbanyak penerimaan (tahammul) dan periwayatan hadis, hingga
beliau memiliki halaqah (lingkaran studi) di Masjid Nabawi tempat orang-orang
mengambil ilmu darinya.
Jabir hidup selama enam puluh empat tahun setelah Rasulullah
ﷺ wafat, yang beliau
habiskan untuk menyebarkan hadis hingga diriwayatkan darinya sebanyak 1.540
(seribu lima ratus empat puluh) hadis. Al-Bukhari dan Muslim bersepakat atas
enam puluh hadis. Al-Bukhari meriwayatkan secara sendirian sebanyak dua puluh
enam hadis, dan Muslim sebanyak seratus dua puluh enam hadis.
Keutamaan beliau radhiyallahu 'anhu sangat banyak, di
antaranya adalah apa yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim darinya, ia
berkata: Rasulullah ﷺ
bersabda kepada kami pada hari Hudaibiyah: "Kalian hari ini adalah
penduduk bumi yang terbaik," dan saat itu jumlah kami adalah seribu
empat ratus orang. Jabir berkata: "Seandainya aku bisa melihat hari
ini, niscaya akan aku tunjukkan kepada kalian tempat pohon itu (pohon
baiat)."
Beliau kehilangan penglihatannya di akhir usianya dan wafat
pada tahun 78 Hijriah menurut salah satu pendapat. Semoga Allah meridhainya.
Anas bin Malik
Beliau adalah Anas bin Malik bin al-Nadhr al-Anshari
al-Khazraji al-Najjari, pelayan Rasulullah ﷺ dan penduduk Bashrah. Ibunya, Ummu Sulaim,
membawanya kepada Rasulullah ﷺ
saat beliau baru tiba di Madinah dan berkata: "Wahai Rasulullah, ini
adalah seorang anak laki-laki yang akan melayani Anda," maka Nabi ﷺ menerimanya.
Anas mendapati pada diri Nabi penghibur terbesar atas
kehilangan ayahnya. Beliau tumbuh besar di rumah kenabian dan menyaksikan apa
yang tidak disaksikan oleh orang lain. Beliau mengetahui banyak hal mengenai
keadaan dan perbuatan Nabi. Beliau hidup selama delapan puluh tiga tahun
setelah Nabi ﷺ
wafat, hal ini membantunya untuk menerima banyak hadis dari Rasulullah ﷺ dan dari para sahabat
senior setelahnya. Umurnya yang panjang juga memungkinkannya untuk menyebarkan
hadis di tengah manusia.
Beliau menetap di Bashrah setelah Madinah dan menjadi tokoh
rujukan dalam periwayatan. Banyak imam hadis dari kalangan Tabi'in yang berguru
kepadanya, seperti al-Hasan (al-Bashri), Ibnu Sirin, Humaid al-Thawil, Tsabit
al-Bunani, dan selainnya.
Diriwayatkan dari Anas sebanyak 1.286 (seribu dua ratus
delapan puluh enam) hadis. Al-Bukhari dan Muslim bersepakat atas seratus enam
puluh delapan hadis. Al-Bukhari meriwayatkan secara sendirian sebanyak delapan
puluh tiga hadis, dan Muslim sebanyak tujuh puluh satu hadis.
Al-Bukhari meriwayatkan dalam Tarikh-nya dari
Qatadah, ia berkata: Ketika Anas wafat, Muwarriq berkata: "Hari ini
telah hilang separuh ilmu." Ditanyakan kepadanya: "Bagaimana
bisa demikian?" Ia menjawab: "Dahulu jika ada pengikut hawa
nafsu menyelisihi kami dalam suatu hadis, kami akan berkata: Mari kita datangi
orang yang mendengarnya langsung dari Nabi ﷺ."
Wafatnya Anas terjadi di luar kota Bashrah, sekitar satu
setengah farsakh jauhnya, dan beliau dimakamkan di suatu tempat yang dikenal
sebagai Qashr Anas (Istana Anas). Pendapat yang benar menurut mayoritas
ulama adalah beliau wafat pada tahun 93 Hijriah.
Aisyah Ummul Mukminin
Beliau adalah Aisyah binti Abi Bakar ash-Shiddiq, salah satu
Ummul Mukminin dan istri Nabi ﷺ.
Beliau lahir dua tahun setelah kenabian menurut salah satu pendapat. Telah
tetap dalam kitab Shahih bahwa Nabi ﷺ menikahinya saat beliau berusia enam tahun
dan mulai hidup bersamanya (membangun rumah tangga) saat beliau berusia
sembilan tahun pada bulan Syawal tahun pertama Hijriah. Ada pula yang
menyebutkan pada tahun kedua setelah kepulangan Nabi dari perang Badar.
Pernikahannya dengan Rasulullah ﷺ dan interaksinya yang intens dengan
beliau, ditambah dengan kecerdasannya yang langka, kepintarannya yang luar
biasa, pemikirannya yang tajam, serta keinginannya yang kuat untuk mengetahui
hukum-hukum agama, telah mempersiapkan beliau untuk menyerap banyak hadis dan
ilmu-ilmu Al-Qur'an hingga beliau memiliki andil yang besar dalam setiap bidang
ilmu dan menjadi rujukan hukum ketika terjadi perselisihan. Maka tidak
mengherankan jika para sahabat senior menimba ilmu darinya; bahkan Umar bin
al-Khattab meriwayatkan hadis darinya meskipun Umar sangat sering mendampingi
Rasulullah ﷺ.
Tambahan lagi, beliau tetap hidup selama tiga puluh sembilan tahun setelah
wafatnya Nabi ﷺ,
di mana orang-orang menimba ilmu dari lautannya yang luas dan ilmunya yang
melimpah.
Maka tidak dapat dipungkiri bahwa Aisyah terhitung sebagai
salah satu orang yang paling banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah ﷺ. Diriwayatkan darinya
sebanyak 2.210 (dua ribu dua ratus sepuluh) hadis. Al-Bukhari dan Muslim
bersepakat atas seratus tujuh puluh empat hadis. Al-Bukhari meriwayatkan secara
sendirian sebanyak lima puluh empat hadis, dan Muslim sebanyak enam puluh delapan
hadis.
Masruq berkata: "Aku melihat para tokoh senior dari
sahabat Rasulullah ﷺ
bertanya kepadanya tentang ilmu faraid (waris)."
Beliau radhiyallahu 'anha wafat pada tahun 57
Hijriah.
Abdullah bin Abbas
Beliau adalah Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib, sepupu
Rasulullah ﷺ
dan putra dari saudara perempuan istri beliau, Maimunah binti al-Harits
al-Hilaliyah, Ummul Mukminin. Beliau lahir tiga tahun sebelum Hijrah menurut
pendapat yang paling kuat, dan Rasulullah ﷺ wafat saat beliau berusia tiga belas tahun
menurut salah satu pendapat.
Disebutkan dalam kitab Shahih bahwa Nabi ﷺ mendekapnya ke dada
beliau seraya berdoa: "Ya Allah, ajarkanlah kepadanya hikmah."
Ibnu Abbas, dikarenakan kedekatan kekerabatannya dengan Nabi
ﷺ serta usianya yang
masih muda, memiliki interaksi yang sangat banyak yang memungkinkannya untuk
memperbanyak riwayat dari beliau. Ditambah lagi dengan kecenderungan alaminya
untuk memperoleh hadis dan kegemarannya yang besar terhadapnya, hal ini menarik
perhatian Nabi ﷺ
kepada beliau sehingga beliau merasa senang dan mendoakannya. Semua faktor ini
telah menunjukkan pengaruhnya pada kepribadian sahabat yang mulia ini, hingga
beliau menjadi Tarjuman al-Qur'an (Penafsir Al-Qur'an), Habr al-Ummah
(Ulamanya Umat), dan terhitung sebagai salah satu orang yang paling banyak
meriwayatkan hadis.
Ibnu Abbas hidup selama lima puluh delapan tahun setelah
wafatnya Nabi ﷺ,
yang mana hal itu mempersiapkan baginya sebab-sebab untuk mengambil dan
menerima ilmu dari para sahabat senior maupun junior. Al-Darimi meriwayatkan
dalam Musnad-nya dari Abdullah bin Abbas bahwa ia berkata:
"Ketika Rasulullah ﷺ wafat, aku berkata kepada seorang pria
dari kalangan Anshar: 'Kemarilah, mari kita bertanya kepada para sahabat Nabi ﷺ, karena hari ini
jumlah mereka masih banyak.' Pria itu menjawab: 'Sungguh mengherankan engkau
ini, apakah engkau mengira orang-orang akan butuh kepadamu?' Ibnu Abbas
berkata: 'Maka aku tinggalkan orang itu dan aku mulai bertanya. Jika sampai
kepadaku sebuah hadis dari seseorang, maka aku mendatangi pintunya saat ia
sedang tidur siang, lalu aku berbantalkan selendangku di depan pintunya
sementara angin meniupkan debu ke arahku. Hingga pria itu keluar dan melihatku,
lalu ia berkata: Wahai sepupu Rasulullah ﷺ, apa yang membawamu kemari? Mengapa engkau
tidak mengirim utusan kepadaku sehingga aku yang mendatangimu? Maka aku
menjawab: Tidak, aku lebih berhak mendatangimu untuk bertanya kepadamu tentang
hadis.' Kemudian pria Anshar itu hidup sampai ia melihatku ketika orang-orang
telah berkumpul di sekelilingku untuk bertanya kepadaku. Maka ia berkata:
'Pemuda ini dahulu lebih berakal (cerdas) daripadaku'."
Dari atsar ini, engkau dapat menyimpulkan kadar
kecerdasannya, antusiasmenya dalam mengumpulkan hadis, serta dedikasinya di
bidang tersebut. Diambil pula darinya sejauh mana tingkat keimaman Ibnu Abbas
dalam hadis dan upayanya dalam menyebarkannya hingga orang-orang berkumpul
kepadanya dan mendengarkan hadisnya. Bahkan Umar bin al-Khattab, dengan
keahlian, kecerdasan, dan ijtihadnya demi Allah dan kaum Muslimin, jika
dihadapkan pada suatu masalah yang pelik, beliau akan berkata kepada Ibnu
Abbas: "Sesungguhnya telah datang kepada kami masalah hukum yang sulit,
maka engkaulah orangnya untuk masalah ini dan yang semisalnya," dan
Umar pun mengambil pendapatnya.
Ibnu Abbas melampaui orang lain dalam ilmu, fikih, hadis,
takwil, hitung-hitungan (hisab), faraid (waris), dan bahasa Arab. Hingga
disebutkan bahwa beliau pernah duduk dalam suatu hari hanya membahas fikih,
hari lain membahas takwil, hari lain membahas peperangan (maghazi), dan
hari lain membahas sejarah bangsa Arab (ayyam al-Arab). Para ulama
berkata: "Tidaklah seorang alim duduk bersamanya melainkan ia akan tunduk
kepadanya, dan tidaklah seseorang bertanya kepadanya melainkan ia akan
mendapatkan ilmu di sisinya." Sampai-sampai Thawus berkata ketika
dikatakan kepadanya: "Mengapa engkau terus mendampingi pemuda ini dan
meninggalkan para sahabat senior Rasulullah ﷺ?" Ia menjawab: "Sesungguhnya
aku telah melihat tujuh puluh orang dari sahabat Rasulullah ﷺ, jika mereka
berselisih pendapat dalam suatu urusan, maka akhirnya mereka merujuk pada
pendapat Ibnu Abbas."
Singkat kata, Ibnu Abbas adalah umat tersendiri dalam ilmu
dan hadis. Diriwayatkan darinya sebanyak 1.660 (seribu enam ratus enam puluh)
hadis. Al-Bukhari dan Muslim bersepakat meriwayatkan 95 hadis. Al-Bukhari
meriwayatkan secara sendirian sebanyak 120 hadis, dan Muslim sebanyak 49 hadis.
Ali radhiyallahu 'anhu mengangkatnya menjadi gubernur
di Bashrah, maka ia menetap di sana sebagai amir. Kemudian ia meninggalkannya
sebelum terbunuhnya Ali dan kembali ke Hijaz. Ia menghabiskan hari-hari
terakhirnya mengajar orang-orang di Mekkah dan wafat di Thaif pada tahun 68
Hijriah. Semoga Allah meridhainya.
Abdullah bin Umar bin al-Khattab
Abdullah masuk Islam sejak masa awal saat masih kecil, dan
berhijrah bersama ayahnya, ada pula yang menyebutkan sebelum ayahnya. Beliau
ikut serta dalam Perang Khandaq dan peperangan setelahnya bersama Rasulullah ﷺ. Setelah wafatnya
Rasulullah, beliau ikut serta dalam Perang Yarmuk serta penaklukan Mesir dan
Afrika. Beliau sangat teguh dalam mengikuti jejak Rasulullah ﷺ.
Beliau meriwayatkan dari Nabi ﷺ, dari ayahnya (Umar), pamannya (Zaid),
saudara perempuannya (Hafshah Ummul Mukminin), Abu Bakar, Usman, Ali, Bilal,
Zaid bin Tsabit, Suhaib, Ibnu Mas'ud, Aisyah, Rafi' bin Khadij, dan selain
mereka.
Banyak orang meriwayatkan darinya; dari kalangan Sahabat di
antaranya Ibnu Abbas, Jabir, al-Agharr al-Muzani, dan lainnya. Dari kalangan
Tabi'in di antaranya empat putranya: Bilal, Hamzah, Salim, dan Abdullah; juga
maula (mantan budak) beliau Nafi', serta Aslam (maula Umar), Zaid dan Khalid
putra dari Aslam, Urwah bin az-Zubair, dan selain mereka.
Al-Zubair bin Bakkar berkata: "Ibnu Umar benar-benar
menghafal apa yang ia dengar dari Rasulullah ﷺ dan bertanya kepada orang yang hadir—jika
ia sedang absen—tentang sabda dan perbuatan beliau." Al-Baihaqi
meriwayatkan dalam al-Madkhal dari al-Zuhri bahwa ia berkata: "Janganlah
engkau membandingkan sesuatu dengan pendapat Ibnu Umar, karena sesungguhnya ia
menetap selama enam puluh tahun setelah Rasulullah ﷺ wafat, sehingga tidak
ada sedikit pun urusan Rasulullah maupun urusan para sahabat beliau yang luput darinya."
Dari Malik disebutkan bahwa ia berkata: "Ibnu Umar
menetap selama enam puluh tahun setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, di mana delegasi
orang-orang berdatangan kepadanya (untuk menuntut ilmu)."
Ayahnya (Umar) menjauhkannya dari khilafah dan menjadikan
suaranya dalam anggota Syura hanya sebagai penasihat saja. Oleh karena
itu, Ibnu Umar bersikap netral dan tidak terlibat dalam fitnah maupun
peperangan yang terjadi di antara para sahabat, melainkan beliau memfokuskan
diri pada ilmu dan ibadah.
Abdullah (Ibnu Umar) terhitung sebagai salah satu orang yang
paling banyak meriwayatkan hadis, dan hal itu didukung oleh beberapa perkara:
- Keislamannya
yang sudah sejak awal, usianya yang panjang, ketekunannya menghadiri
majelis Nabi ﷺ,
besarnya upaya beliau mengikuti atsar (jejak) Nabi, serta pertanyaannya
jika beliau absen tentang sabda dan perbuatan Nabi; hal ini menunjukkan
kegemarannya pada ilmu dan pencarian hadis.
- Hubungannya
dengan Nabi ﷺ
melalui jalur pernikahan, di mana saudara perempuannya, Hafshah, adalah
istri Nabi ﷺ,
sehingga memudahkan beliau untuk berinteraksi dengan Nabi di sebagian
besar waktu.
- Kezuhudannya
terhadap dunia dan jabatan, serta upayanya menjauhi peperangan yang
berkecamuk di antara sahabat, yang membantunya untuk meluangkan waktu bagi
hadis baik dalam hal penerimaan (tahammul) maupun penyampaian (ada').
Karena itu semua, Abdullah bin Umar termasuk dalam jajaran al-muksirin
(perawi produktif). Diriwayatkan darinya sebanyak 1.630 (seribu enam ratus tiga
puluh) hadis. Al-Bukhari dan Muslim bersepakat atas 170 hadis. Al-Bukhari
meriwayatkan secara sendirian sebanyak 81 hadis, dan Muslim sebanyak 31 hadis.
Selebihnya diriwayatkan oleh imam lainnya.
Beliau radhiyallahu 'anhu wafat pada tahun 73 H, tiga
bulan setelah terbunuhnya Abdullah bin az-Zubair, dalam usia delapan puluh
tujuh tahun menurut pendapat yang kuat.
Abdullah bin Amru bin al-Ash
Beliau adalah Abu Muhammad Abdullah bin Amru bin al-Ash
al-Qurasyi al-Sahmi. Beliau masuk Islam sebelum ayahnya. Beliau adalah orang
yang bersungguh-sungguh dalam ibadah, banyak membaca Al-Qur'an, sebagaimana
beliau juga merupakan orang yang paling banyak mengambil hadis dan ilmu dari
Rasulullah ﷺ.
Al-Bukhari meriwayatkan dalam Kitab al-Ilmi bahwa Abu
Hurairah berkata:
"Tidak ada seorang pun yang lebih banyak hadisnya dari
Rasulullah ﷺ
dariku, kecuali apa yang ada pada Abdullah bin Amru, karena sesungguhnya ia
menulis sedangkan aku tidak menulis."
Disebutkan tentangnya bahwa ia dahulu menulis segala sesuatu
yang ia dengar dari Nabi ﷺ,
lalu para Sahabat melarangnya melakukan hal itu dan berkata kepadanya:
"Sesungguhnya Nabi ﷺ
berbicara dalam keadaan marah dan ridha, maka janganlah engkau menulis segala
yang engkau dengar." Maka ia bertanya kepada Nabi ﷺ tentang hal itu, lalu
beliau bersabda kepadanya: "Tulislah! Demi Dzat yang jiwaku berada di
tangan-Nya, tidaklah keluar dari keduanya kecuali kebenaran"
[maksudnya dari kedua bibir beliau yang mulia].
Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa ia
berkata kepada Urwah bin az-Zubair: "Wahai putra saudaraku, telah
sampai kabar kepadaku bahwa Abdullah bin Amru melewati kita menuju haji, maka
temuilah ia dan bertanyalah kepadanya, karena ia telah membawa banyak ilmu dari
Nabi ﷺ."
Ibnu Sa'ad meriwayatkan dari Mujahid bahwa ia berkata: "Aku
melihat sebuah catatan (shuhuf) di sisi Abdullah bin Amru bin al-Ash, lalu aku
bertanya mengenainya, maka ia menjawab: Ini adalah al-Shadiqah, di dalamnya
terdapat apa yang aku dengar dari Rasulullah ﷺ, tidak ada antara aku dan beliau di
dalamnya seorang perantara pun."
Ibnu Sa'ad juga meriwayatkan dari Abdullah bin Amru bahwa ia
berkata: "Aku meminta izin kepada Nabi ﷺ untuk menulis apa yang aku dengar dari
beliau, maka beliau mengizinkanku, lalu aku pun menulisnya." Maka
Abdullah menamai catatannya itu dengan sebutan al-Shadiqah.
Dari sini engkau dapat melihat bahwa Abdullah bin Amru telah
memiliki faktor-faktor untuk menerima (tahammul) dan memperbanyak hadis
yang tidak dimiliki oleh orang lain. Beliau telah masuk Islam lebih awal,
menghafal hadis dengan dadanya, menjaganya dengan hatinya, dan membukukannya
dengan penanya dalam lembaran-lembaran (shuhuf), hingga dinukil darinya
bahwa ia berkata: "Aku telah menghafal dari Nabi ﷺ seribu
perumpamaan."
Mengapa Riwayatnya Lebih Sedikit dari Riwayat Abu
Hurairah?
Mungkin akan ditanyakan: "Abu Hurairah tidak menulis
hadis seperti Abdullah bin Amru, namun meskipun demikian, riwayat darinya
berlipat-lipat lebih banyak daripada riwayat Abdullah, bagaimana hal ini
sejalan dengan apa yang diriwayatkan al-Bukhari dari Abu Hurairah?"
Jawabannya adalah bahwa sebab banyaknya riwayat dari Abu
Hurairah dan sedikitnya riwayat dari Abdullah bin Amru—padahal Abdullah
menerima lebih banyak darinya—adalah karena beberapa perkara, di antaranya:
- Pertama:
Bahwa Abdullah lebih sibuk dengan ibadah daripada kesibukan mengajar,
sehingga riwayat darinya menjadi sedikit, berbeda dengan Abu Hurairah yang
memfokuskan diri untuk menyampaikan hadis (tahdits).
- Kedua:
Bahwa Abdullah lebih banyak menetap setelah masa penaklukan di Mesir atau
di Thaif, dan perjalanan para penuntut hadis ke kedua tempat tersebut
tidaklah seperti perjalanan menuju Madinah. Sedangkan Abu Hurairah menetap
di Madinah, memfokuskan diri untuk memberi fatwa dan menyampaikan hadis
hingga wafat. Hal ini tampak pada banyaknya orang yang mengambil hadis
dari Abu Hurairah, di mana jumlah mereka mencapai delapan ratus orang dari
kalangan Tabi'in, dan hal ini tidak terjadi pada sahabat lainnya sebagaimana
telah dijelaskan sebelumnya.
- Ketiga:
Keistimewaan Abu Hurairah berupa doa Nabi ﷺ agar ia tidak
lupa apa yang disampaikan kepada beliau, sebagaimana telah disebutkan
dalam biografinya.
- Keempat:
Bahwa Abdullah bin Amru pernah mendapatkan buku-buku dari Ahli Kitab di
Syam, lalu beliau melihatnya, menghafal sebagian kalimat darinya, dan
menceritakannya. Oleh karena itu, banyak dari para imam Tabi'in yang
menghindari pengambilan riwayat darinya (agar tidak bercampur dengan
riwayat Israiliyat).
Karena sebab-sebab inilah, kita mendapati bahwa apa yang
diriwayatkan darinya berupa hadis tidak sebanding dengan melimpahnya ilmu
beliau serta banyaknya apa yang beliau hafal dan tulis dari Rasulullah ﷺ. Maka tidak sampai
kepada kita darinya kecuali tujuh ratus hadis. Al-Bukhari dan Muslim bersepakat
atas tujuh belas hadis. Al-Bukhari meriwayatkan secara sendirian sebanyak
delapan hadis, dan Muslim sebanyak dua puluh hadis.
Telah meriwayatkan dari Abdullah bin Amru banyak orang dari
kalangan Tabi'in, di antaranya Said bin al-Musayyib, Urwah, Abu Salamah dan
Humaid (keduanya putra Abdurrahman), Masruq, dan selain mereka. Beliau wafat di
Mesir menurut salah satu pendapat pada tahun 63 H dalam usia tujuh puluh dua
tahun. Beliau hidup selama lima puluh tiga tahun setelah wafatnya Rasulullah ﷺ.
Abdullah bin Mas'ud
Beliau adalah Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas'ud. Nasabnya
bersambung kepada Hudzail bin Mudrikah bin Ilyas. Nama ibunya adalah Ummu 'Abd
binti 'Abduwad bin Sawa' bin Hudzail juga; sang ibu masuk Islam dan berhijrah.
Abdullah masuk Islam sejak awal, yaitu saat Said bin Zaid
masuk Islam, jauh sebelum Umar bin al-Khattab masuk Islam. Diriwayatkan darinya
bahwa ia berkata: "Sungguh aku melihat diriku sebagai orang keenam dari
enam orang, tidak ada seorang Muslim pun di muka bumi selain kami."
Beliau berhijrah ke Habasyah (Etiopia) kemudian ke Madinah. Beliau ikut serta
bersama Rasulullah ﷺ
dalam perang Badar, Uhud, Khandaq, Bai'at al-Ridwan, dan seluruh peperangan
lainnya. Beliaulah yang menghabisi Abu Jahal pada hari perang Badar,
sebagaimana beliau juga menyaksikan perang Yarmuk.
Beliau adalah pemegang sandal Rasulullah ﷺ; beliau yang
memakaikannya jika Nabi berdiri, dan jika Nabi melepasnya lalu duduk, Ibnu
Mas'ud menyimpannya di lengannya. Beliau sangat sering masuk menemui Rasulullah
ﷺ dan melayani beliau.
Dalam Shahihain disebutkan bahwa Abu Musa al-Asy'ari berkata: "Aku
dan saudaraku datang dari Yaman, kami menetap beberapa waktu dan kami tidak
melihat Ibnu Mas'ud dan ibunya melainkan sebagai bagian dari keluarga
Rasulullah ﷺ
karena seringnya ia dan ibunya masuk menemui Rasulullah ﷺ dan kedekatannya
dengan beliau."
Karena keislamannya yang sejak awal, kedekatannya dengan
Nabi ﷺ, serta antusiasmenya
dalam mengambil ilmu dari beliau, ia terhitung sebagai salah satu Sahabat
senior yang mulia, ahli fikih mereka, dan orang yang paling dikedepankan dalam
Al-Qur'an, hadis, serta fatwa. Hingga Rasulullah ﷺ bersaksi atas kejeniusannya dalam
Al-Qur'an dan ilmunya, beliau bersabda dalam riwayat Bukhari-Muslim: "Ambillah
Al-Qur'an dari empat orang: dari Abdullah (bin Mas'ud), Salim maula Abi
Hudzaifah, Mu'adz (bin Jabal), dan Ubay bin Ka'ab." Beliau radhiyallahu
'anhu sendiri berkata menceritakan nikmat ilmu: "Demi Dzat yang
tidak ada Tuhan selain-Nya, tidaklah ada satu surah pun dari Kitab Allah
melainkan aku tahu di mana ia diturunkan, dan tidaklah ada satu ayat pun
melainkan aku tahu mengenai apa ia diturunkan. Seandainya aku tahu ada
seseorang yang lebih tahu tentang Kitab Allah dariku yang dapat dijangkau oleh
unta, niscaya aku akan berkendara menemuinya."
Para sahabat senior juga mengakui kedudukannya dalam ilmu
dan kedalamannya di bidang tersebut. Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu
menulis surat kepada penduduk Kufah: "Aku telah mengutus kepada kalian
Ammar sebagai pemimpin (amir), dan Abdullah bin Mas'ud sebagai pengajar dan
menteri. Keduanya termasuk orang-orang pilihan dari sahabat Rasulullah ﷺ dan termasuk ahli
Badar. Maka teladanilah mereka berdua. Sesungguhnya aku telah lebih
mengutamakan kalian dengan (mengirim) Abdullah daripada diriku sendiri."
Cukuplah persaksian ini dari orang seperti Umar bin al-Khattab, terutama
ucapannya: "Aku telah mengutamakan kalian dengan Abdullah daripada
diriku sendiri." Umar adalah Umar yang Allah jadikan kebenaran pada
lisan dan hatinya. Dan Abu al-Darda' berkata saat Ibnu Mas'ud wafat: "Ia
tidak meninggalkan orang yang setara dengannya."
Banyak orang meriwayatkan hadis dari Ibnu Mas'ud. Dari
kalangan Sahabat di antaranya Abu Musa al-Asy'ari, Imran bin Hushain, Ibnu
Abbas, Ibnu Umar, Jabir, Anas, Ibnu az-Zubair, Abu Said al-Khudri, Abu
Hurairah, Abu Rafi', dan tokoh-tokoh lainnya. Dari kalangan Tabi'in di
antaranya Alqamah, Abu Wail, al-Aswad, Masruq, Ubaidah, Qais bin Abi Hazim, dan
tokoh-tokoh Tabi'in senior lainnya.
Riwayat-riwayatnya (Ibnu Mas'ud):
Diriwayatkan bagi Ibnu Mas'ud dari Nabi ﷺ sebanyak 848 (delapan
ratus empat puluh delapan) hadis. Imam Bukhari dan Muslim bersepakat (muttafaqun
'alaih) atas 64 hadis. Imam Bukhari meriwayatkan secara sendirian sebanyak
21 hadis, sedangkan Imam Muslim sebanyak 35 hadis.
Tadinya kita berharap bahwa hadis yang sampai kepada kita
dari Ibnu Mas'ud berjumlah berlipat-lipat dari apa yang telah sampai, mengingat
keislamannya yang sangat awal dan kedekatannya yang luar biasa dengan
Rasulullah ﷺ.
Hal tersebut memungkinkannya untuk menyerap banyak ilmu dari beliau, karena ia
menyaksikan seluruh era kenabian disertai kedekatan dengan Nabi ﷺ, antusiasme yang
tinggi terhadap hadis, kekuatan hafalan, kezuhudan terhadap dunia, serta
kefokusan dalam menuntut ilmu. Akan tetapi, usia beliau tidak panjang setelah
wafatnya Rasulullah ﷺ,
sehingga waktu bagi beliau untuk menyampaikan ilmu (zaman al-ada')
tidaklah seluas bagi Abu Hurairah dan sahabat lainnya yang telah kami sebutkan.
Ibnu Mas'ud wafat di Kufah (ada yang menyebut di Madinah) pada tahun 32 H dalam
usia enam puluh sekian tahun.
No comments:
Post a Comment