Sunday, April 5, 2026

Biografi Perawi Hadits

Kami memandang perlu untuk menuliskan biografi sebagian perawi masyhur dari kalangan Sahabat agar menjadi jelas bagi kita mengenai besarnya perhatian mereka terhadap Sunnah Nabawiyah, serta antusiasme mereka dalam menerima (talaqqi) maupun menyampaikannya (ada'). Ada baiknya sebelum itu kami sampaikan penjelasan singkat mengenai makna Sahabat, bagaimana persahabatan (shuhbah) itu diketahui, serta mengenai ijmak umat atas keadilan dan ketsiqahan mereka. Kami katakan:

Siapakah Sahabat Itu?

Para peneliti dari kalangan ahli hadis, seperti al-Bukhari dan Ahmad bin Hanbal, telah bersepakat bahwa Sahabat adalah orang yang bertemu Nabi dalam keadaan tamyiz (mampu membedakan baik dan buruk), beriman kepadanya, dan mati dalam keadaan Islam; baik masa duduk (majelis) bersamanya lama ataupun singkat, baik ia meriwayatkan hadis darinya ataupun tidak, dan baik ia ikut berperang bersamanya ataupun tidak.

Al-Bukhari berkata dalam Shahih-nya: "Siapa saja dari kalangan Muslimin yang mendampingi Nabi atau melihatnya, maka ia termasuk sahabatnya." Selesai kutipan.

Abu al-Mudhaffar al-Sam'ani berkata: "Ashabul hadis mutlak menyematkan nama Sahabat kepada setiap orang yang meriwayatkan darinya meski satu hadis atau satu kalimat, bahkan mereka meluaskan maknanya hingga menghitung orang yang sekadar melihatnya sebagai Sahabat. Hal ini dikarenakan mulianya kedudukan Nabi , sehingga mereka memberikan hukum keshahabatan kepada setiap orang yang melihatnya." Beliau juga menyebutkan bahwa secara bahasa dan lahiriah, sebutan Sahabat ditujukan bagi orang yang lama mendampingi Nabi dan banyak duduk bersamanya dalam rangka mengikutinya dan mengambil ilmu darinya. Beliau berkata: "Inilah jalan yang ditempuh oleh ahli ushul." Selesai kutipan.

Ibnu al-Shalah berkata dalam Muqaddimah-nya: Kami meriwayatkan dari Syu'bah, dari Musa al-Sailani—dan beliau memujinya dengan baik—ia berkata: Aku mendatangi Anas bin Malik lalu bertanya: "Apakah masih ada dari sahabat Rasulullah yang tersisa selain engkau?" Ia menjawab: "Masih tersisa orang-orang dari kalangan badui yang pernah melihat beliau, adapun orang yang mendampingi beliau (shohibahu) maka sudah tidak ada." Sanadnya jayyid (baik), diriwayatkan oleh Muslim di hadapan Abu Zur'ah. Selesai kutipan. Pendapat ini dekat dengan pendapat ahli ushul.

Bagaimana Status Keshahabatan Diketahui?

Seseorang diketahui sebagai Sahabat melalui:

  1. Mutawatir, seperti pada Khalifah yang empat.
  2. Istifadhah dan Masyhur yang tingkatannya di bawah mutawatir, seperti pada Dhimam bin Tsalabah dan Ukasyah bin Mihshan.
  3. Riwayat dari individu Sahabat bahwa seseorang adalah Sahabat, seperti pada Humamah bin Abi Humamah al-Dausi yang wafat di Isfahan karena sakit perut, di mana Abu Musa al-Asy'ari bersaksi baginya bahwa ia mendengar Nabi bersabda tentangnya.
  4. Pengakuan dari dirinya sendiri bahwa ia adalah Sahabat, setelah terbukti keadilannya dan bukti bahwa ia hidup sezaman dengan Nabi .
  5. Kabar dari seorang Tabi'in bahwa fulan adalah Sahabat, berdasarkan diterimanya rekomendasi (tazkiyah) dari satu orang yang adil, dan inilah pendapat yang kuat (rajih).

Ijmak Umat Atas Keadilan Para Sahabat

Para Sahabat secara keseluruhan memiliki kekhususan, yaitu tidak perlu lagi ditanyakan mengenai keadilan ('adalah) salah satu dari mereka. Hal ini telah diterima secara pasti di kalangan ulama karena mereka secara mutlak telah dinyatakan adil (mu'addalun) oleh nash-nash Al-Qur'an dan Sunnah, serta ijmak dari pihak-pihak yang diperhitungkan dalam ijmak umat.

Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman:

"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan ampunan dan pahala yang besar kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka." [QS. Al-Fath: 29].

Dalam nash-nash Sunnah yang bersaksi atas hal tersebut sangatlah banyak, di antaranya hadis Abu Said yang disepakati keshahihannya (muttafaqun 'alaih) bahwa Rasulullah bersabda: "Janganlah kalian mencela sahabatku! Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak akan menyamai satu mud (satu cakupan dua telapak tangan) dari infak salah seorang dari mereka, tidak pula setengahnya."

Di antaranya juga hadis Abdullah bin Mughaffal yang ada pada at-Tirmidzi dan Ibnu Hibban dalam Shahih-nya, ia berkata: Rasulullah bersabda: "Takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah tentang sahabatku. Janganlah kalian menjadikan mereka sasaran (celaan) setelahku. Barangsiapa yang mencintai mereka, maka karena mencintaiku ia mencintai mereka. Barangsiapa yang membenci mereka, maka karena membenciku ia membenci mereka. Barangsiapa yang menyakiti mereka, maka sungguh ia telah menyakitiku. Barangsiapa yang menyakitiku, maka sungguh ia telah menyakiti Allah. Dan barangsiapa yang menyakiti Allah, maka dikhawatirkan Allah akan menyiksanya."

Setelah Allah Ta'ala dan Rasul-Nya menyatakan mereka adil, maka tidak satu pun dari mereka membutuhkan penshahihan (ta'dil) dari satu makhluk pun. Bahkan, seandainya tidak ada satu pun nash dari Allah dan Rasul-Nya yang mulia mengenai keadilan mereka, maka keadaan mereka sendiri sudah mewajibkan pernyataan adil bagi mereka; mengingat pengorbanan mereka dalam hijrah, jihad, menolong Islam, mengorbankan nyawa dan harta, membunuh ayah dan anak mereka sendiri di jalan Allah, saling menasihati dalam agama, serta kuatnya iman dan keyakinan mereka.

Abu Zur'ah al-Razi berkata: "Jika engkau melihat seseorang mencela salah satu dari sahabat Rasulullah , maka ketahuilah bahwa ia adalah seorang zindik. Hal itu karena Rasul adalah haq (benar), Al-Qur'an adalah haq, dan apa yang dibawa beliau adalah haq, dan sesungguhnya yang menyampaikan semua itu kepada kita adalah para Sahabat. Para zindik ini ingin menjatuhkan saksi-saksi kita untuk membatalkan Al-Kitab dan As-Sunnah, maka menjatuhkan mereka (zindik) jauh lebih utama."

Ibnu al-Shalah berkata: "Kemudian sesungguhnya umat telah berijmak atas keadilan seluruh Sahabat. Begitu pula bagi mereka yang terlibat dalam fitnah di antara mereka, hal itu juga berdasarkan ijmak ulama yang diperhitungkan dalam ijmak, demi berhusnuzan kepada mereka dan melihat pada jasa-jasa besar yang telah mereka bangun. Seolah-olah Allah Subhanahu wa Ta'ala memudahkan adanya ijmak atas hal tersebut dikarenakan mereka adalah para pembawa syariat." Selesai kutipan.

Jumlah Sahabat

Sahabat Rasulullah sangatlah banyak dan jumlah mereka tidak diketahui secara pasti. Ulama yang menghitungnya hanyalah bermaksud memberikan perkiraan (taqrib). Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa Ka'ab bin Malik berkata dalam kisah ketertinggalannya dari perang Tabuk: "Dan sahabat Rasulullah sangat banyak, tidak dapat dihimpun oleh satu kitab catatan (buku registrasi)."

Ditanyakan kepada Abu Zur'ah: "Bukankah dikatakan bahwa hadis Rasulullah berjumlah empat ribu hadis?" Beliau menjawab: "Itu adalah perkataan kaum zindik. Siapakah yang bisa menghitung hadis Rasulullah ? Rasulullah wafat meninggalkan seratus empat belas ribu Sahabat dari kalangan mereka yang meriwayatkan darinya dan mendengar darinya." Lalu ditanyakan kepadanya: "Mereka itu di mana dan di mana mereka mendengar dari beliau?" Beliau menjawab: "Penduduk Madinah, penduduk Mekkah, orang-orang di antara keduanya, orang badui, dan mereka yang hadir bersamanya saat Haji Wada'. Semuanya melihat beliau dan mendengar dari beliau di Arafah." Selesai kutipan.

Dari sini engkau dapat melihat bahwa para perawi dari kalangan Sahabat dari Rasulullah sangat banyak. Oleh karena itu, kami mencukupkan dengan menyebutkan sebagian dari mereka yang masyhur dengan hadis, dengan membatasi pada sisi hadis dari setiap perawi disertai ringkasan mengenai kehidupan umum mereka. Kami katakan:

Abu Hurairah

Beliau adalah Abdurrahman bin Sakhr, dan nama panggilannya (kunyah) adalah Abu Hurairah. Beliau masuk Islam dan datang menemui Nabi pada tahun penaklukan Khaibar, yaitu tahun ketujuh Hijriah di bulan Muharram. Beliau adalah orang yang paling hafal dalam meriwayatkan hadis pada zamannya berdasarkan kesaksian Imam Syafi'i radhiyallahu 'anhu dan ulama lainnya, meskipun masa kebersamaan beliau dengan Rasulullah tergolong singkat. Rahasia di balik hal tersebut adalah beberapa perkara yang kami sebutkan untuk Anda:

  • Pertama: Ketekunannya dalam menghadiri majelis-majelis Nabi . Imam Bukhari, Muslim, dan selainnya meriwayatkan bahwa Abu Hurairah berkata:

"Kalian mengira bahwa Abu Hurairah terlalu banyak meriwayatkan hadis dari Nabi . Sesungguhnya aku adalah seorang pria miskin yang mendampingi Nabi demi sekadar mengisi perutku (merasa cukup dengan makanan yang ada). Sementara kaum Muhajirin disibukkan oleh urusan perdagangan di pasar-pasar, dan kaum Anshar disibukkan oleh urusan mengelola harta benda mereka. Lalu aku menghadiri suatu majelis Nabi , beliau bersabda: 'Siapa yang membentangkan selendangnya hingga aku menyelesaikan perkataanku, kemudian ia merangkul selendang itu ke dadanya, niscaya ia tidak akan melupakan sesuatu pun yang ia dengar dariku.' Maka aku membentangkan pakaian luar (burdah) milikku hingga beliau menyelesaikan sabdanya, kemudian aku merangkulnya ke dadaku. Maka demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak ada sesuatu pun yang aku lupakan setelah itu."

  • Kedua: Keinginannya yang sangat kuat dalam menuntut ilmu hingga beliau mendapatkan doa Nabi agar tidak melupakan sedikit pun dari ilmu tersebut. Hal ini membuatnya melampaui rekan-rekan sejawatnya dalam banyaknya riwayat hadis dari Nabi , padahal beliau tidak mendampingi Nabi melainkan hanya selama tiga tahun.

An-Nasa'i meriwayatkan dalam Bab Ilmu pada kitab Sunan-nya:

(Bahwa seorang pria datang kepada Zaid bin Tsabit dan bertanya kepadanya tentang sesuatu, lalu Zaid berkata: "Hendaklah engkau bertanya kepada Abu Hurairah. Karena ketika aku, Abu Hurairah, dan fulan sedang duduk di masjid pada suatu hari sambil berdoa kepada Allah dan berzikir kepada-Nya, tiba-tiba Nabi keluar menemui kami hingga beliau duduk bersama kami, maka kami pun diam. Beliau bersabda: 'Kembalilah pada apa yang sedang kalian lakukan tadi.' Zaid berkata: 'Maka aku dan temanku berdoa sebelum Abu Hurairah, dan Rasulullah mengaminkan doa kami. Kemudian Abu Hurairah berdoa dan berkata: Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu apa yang diminta oleh kedua temanku ini, dan aku memohon kepada-Mu ilmu yang tidak terlupakan.' Rasulullah bersabda: 'Amin.' Kami pun berkata: 'Wahai Rasulullah, kami juga memohon kepada Allah Ta'ala ilmu yang tidak terlupakan.' Beliau bersabda: 'Kalian telah didahului oleh pemuda dari kabilah Daus ini (Abu Hurairah)'.")

Al-Bukhari juga meriwayatkan dalam Bab "Antusiasme terhadap Hadis" dalam Kitab Ilmu dari Abu Hurairah bahwa ia berkata: "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling bahagia dengan syafaatmu pada hari kiamat?" Rasulullah bersabda:

"Sungguh aku telah menduga wahai Abu Hurairah, bahwa tidak ada seorang pun yang akan bertanya kepadaku tentang hadis ini yang lebih awal darimu, karena aku melihat betapa besarnya antusiasmemu terhadap hadis. Orang yang paling bahagia dengan syafaatku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan Laa ilaha illallah dengan ikhlas dari hatinya atau jiwanya."

  • Ketiga: Abu Hurairah menjumpai para sahabat senior dan mengambil banyak sekali hadis dari mereka, sehingga ilmunya tentang hadis menjadi sempurna dan wawasannya di bidang tersebut menjadi luas.
  • Keempat: Panjangnya usia beliau setelah wafatnya Nabi . Beliau hidup selama empat puluh tujuh tahun setelah beliau wafat, yang digunakan untuk menyebarkan dan menyiarkan hadis di tengah manusia, jauh dari jabatan, kesibukan duniawi, maupun fitnah.

Dari perkara-perkara yang terkumpul inilah, Abu Hurairah menjadi sahabat yang paling hafal hadis, mengungguli mereka dalam bab penerimaan (tahammul) sekaligus periwayatan (riwayah). Segala sesuatu yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah secara terkumpul, terbukti kebenarannya secara terpisah di kalangan seluruh sahabat atau banyak dari mereka. Oleh karena itu, para sahabat merujuk kepadanya dan bersandar padanya dalam periwayatan. Bahkan Ibnu Umar mendoakan rahmat untuknya saat jenazahnya dishalatkan dan berkata: "Beliau dahulu adalah penjaga hadis Nabi bagi kaum Muslimin."

Al-Bukhari berkata: "Telah meriwayatkan dari Abu Hurairah sekitar delapan ratus orang ahli ilmu dari kalangan sahabat, tabi'in, dan selain mereka." Selesai kutipan.

Hadis yang bersumber darinya berjumlah 5.374 (lima ribu tiga ratus tujuh puluh empat) hadis. Imam Bukhari dan Muslim bersepakat (muttafaqun 'alaih) atas 325 hadis. Imam Bukhari meriwayatkan secara sendirian sebanyak 93 hadis, dan Imam Muslim sebanyak 189 hadis.

Abu Hurairah wafat di Madinah pada tahun 57 (lima puluh tujuh) Hijriah menurut pendapat yang kuat, dalam usia tujuh puluh delapan tahun. Radhiyallahu 'anhu.


Abu Said al-Khudri

Beliau adalah Sa'ad bin Malik bin Sinan al-Khudri al-Anshari al-Khazraji. Ayahnya gugur sebagai syahid pada Perang Uhud dan tidak meninggalkan harta benda bagi beliau, sehingga Abu Said harus menanggung beban hidup dan kesulitan dunia sejak kecil. Namun, hal itu tidak menghalanginya untuk menghadiri majelis-majelis Nabi dan menerima hadis darinya dengan keinginan dan antusiasme yang luar biasa, hingga beliau mampu menyerap ilmu yang tidak didapatkan oleh orang-orang yang memiliki kesulitan ekonomi seperti beliau. Maka beliau benar-benar dianggap sebagai salah satu sahabat yang masyhur, mulia, ahli hadis yang produktif (muksirin), serta perawi yang cerdas.

Abu Said hidup selama enam puluh empat tahun setelah Rasulullah , yang memungkinkannya untuk menerima hadis dari para sahabat senior, kemudian menyebarkan dan menyampaikannya kepada orang-orang. Oleh karena itu, riwayat darinya sangat banyak hingga melampaui angka seribu. Para ahli hadis menukil darinya sebanyak 1.170 (seribu seratus tujuh puluh) hadis. Imam Bukhari dan Muslim bersepakat atas 46 hadis. Imam Bukhari meriwayatkan secara sendirian sebanyak 16 hadis, dan Imam Muslim sebanyak 52 hadis.

Banyak dari kalangan sahabat dan tabi'in yang meriwayatkan hadis dari Abu Said. Dari kalangan sahabat di antaranya Jabir, Zaid bin Tsabit, Ibnu Abbas, Anas, Ibnu Umar, dan Ibnu az-Zubair. Dari kalangan tabi'in di antaranya Said bin al-Musayyib, Abu Salamah, Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah, Atha' bin Yasar, dan lain-lain.

Beliau mengikuti dua belas peperangan bersama Nabi , yang pertamanya adalah Perang Khandaq. Beliau adalah orang yang selalu menyuarakan kebenaran dan tidak takut kepada siapa pun dalam membela kebenaran tersebut, betapa pun besarnya kekuasaan dan kedudukan orang itu.

Abu Said wafat di Madinah pada tahun 74 Hijriah dalam usia delapan puluh sekian tahun. Dalam masa hidupnya tersebut, beliau telah menyebarkan banyak hadis dan menjadi sosok yang sangat dihargai oleh para sahabat dan tabi'in. Semoga Allah meridhainya.


Jabir bin Abdullah

Beliau adalah Jabir bin Abdullah bin Amru bin Haram al-Anshari al-Salami, seorang Sahabat putra dari seorang Sahabat, salah satu orang yang paling banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah .

Beliau meriwayatkan dari Nabi dan dari banyak sahabat beliau seperti Abu Bakar, Umar, dan Ali. Sedangkan yang meriwayatkan darinya adalah anak-anaknya yaitu Abdurrahman, Aqil, dan Muhammad, serta banyak dari kalangan Tabi'in seperti Said bin al-Musayyib, Amru bin Dinar, al-Hasan al-Bashri, dan selainnya.

Ayahnya gugur sebagai syahid dalam Perang Uhud dan meninggalkan anak-anak perempuan yang masih kecil serta hutang yang besar, hal ini membuat Jabir merasakan kepayahan hidup dan kesulitan ekonomi. Akan tetapi, Nabi menyambutnya dengan kasih sayang serta kedermawanan beliau, dan menjaganya dengan perhatian beliau hingga hutangnya terlunasi.

Kesulitan hidup yang dialami Jabir tidaklah menghalanginya untuk menuntut ilmu dan menerima hadis dari Nabi . Beliau senantiasa mendampingi Nabi dalam setiap peperangan setelah kematian ayahnya. Usianya yang masih muda, umurnya yang panjang, serta keberadaannya di masa para sahabat senior memungkinkannya untuk memperbanyak penerimaan (tahammul) dan periwayatan hadis, hingga beliau memiliki halaqah (lingkaran studi) di Masjid Nabawi tempat orang-orang mengambil ilmu darinya.

Jabir hidup selama enam puluh empat tahun setelah Rasulullah wafat, yang beliau habiskan untuk menyebarkan hadis hingga diriwayatkan darinya sebanyak 1.540 (seribu lima ratus empat puluh) hadis. Al-Bukhari dan Muslim bersepakat atas enam puluh hadis. Al-Bukhari meriwayatkan secara sendirian sebanyak dua puluh enam hadis, dan Muslim sebanyak seratus dua puluh enam hadis.

Keutamaan beliau radhiyallahu 'anhu sangat banyak, di antaranya adalah apa yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim darinya, ia berkata: Rasulullah bersabda kepada kami pada hari Hudaibiyah: "Kalian hari ini adalah penduduk bumi yang terbaik," dan saat itu jumlah kami adalah seribu empat ratus orang. Jabir berkata: "Seandainya aku bisa melihat hari ini, niscaya akan aku tunjukkan kepada kalian tempat pohon itu (pohon baiat)."

Beliau kehilangan penglihatannya di akhir usianya dan wafat pada tahun 78 Hijriah menurut salah satu pendapat. Semoga Allah meridhainya.


Anas bin Malik

Beliau adalah Anas bin Malik bin al-Nadhr al-Anshari al-Khazraji al-Najjari, pelayan Rasulullah dan penduduk Bashrah. Ibunya, Ummu Sulaim, membawanya kepada Rasulullah saat beliau baru tiba di Madinah dan berkata: "Wahai Rasulullah, ini adalah seorang anak laki-laki yang akan melayani Anda," maka Nabi menerimanya.

Anas mendapati pada diri Nabi penghibur terbesar atas kehilangan ayahnya. Beliau tumbuh besar di rumah kenabian dan menyaksikan apa yang tidak disaksikan oleh orang lain. Beliau mengetahui banyak hal mengenai keadaan dan perbuatan Nabi. Beliau hidup selama delapan puluh tiga tahun setelah Nabi wafat, hal ini membantunya untuk menerima banyak hadis dari Rasulullah dan dari para sahabat senior setelahnya. Umurnya yang panjang juga memungkinkannya untuk menyebarkan hadis di tengah manusia.

Beliau menetap di Bashrah setelah Madinah dan menjadi tokoh rujukan dalam periwayatan. Banyak imam hadis dari kalangan Tabi'in yang berguru kepadanya, seperti al-Hasan (al-Bashri), Ibnu Sirin, Humaid al-Thawil, Tsabit al-Bunani, dan selainnya.

Diriwayatkan dari Anas sebanyak 1.286 (seribu dua ratus delapan puluh enam) hadis. Al-Bukhari dan Muslim bersepakat atas seratus enam puluh delapan hadis. Al-Bukhari meriwayatkan secara sendirian sebanyak delapan puluh tiga hadis, dan Muslim sebanyak tujuh puluh satu hadis.

Al-Bukhari meriwayatkan dalam Tarikh-nya dari Qatadah, ia berkata: Ketika Anas wafat, Muwarriq berkata: "Hari ini telah hilang separuh ilmu." Ditanyakan kepadanya: "Bagaimana bisa demikian?" Ia menjawab: "Dahulu jika ada pengikut hawa nafsu menyelisihi kami dalam suatu hadis, kami akan berkata: Mari kita datangi orang yang mendengarnya langsung dari Nabi ."

Wafatnya Anas terjadi di luar kota Bashrah, sekitar satu setengah farsakh jauhnya, dan beliau dimakamkan di suatu tempat yang dikenal sebagai Qashr Anas (Istana Anas). Pendapat yang benar menurut mayoritas ulama adalah beliau wafat pada tahun 93 Hijriah.


Aisyah Ummul Mukminin

Beliau adalah Aisyah binti Abi Bakar ash-Shiddiq, salah satu Ummul Mukminin dan istri Nabi . Beliau lahir dua tahun setelah kenabian menurut salah satu pendapat. Telah tetap dalam kitab Shahih bahwa Nabi menikahinya saat beliau berusia enam tahun dan mulai hidup bersamanya (membangun rumah tangga) saat beliau berusia sembilan tahun pada bulan Syawal tahun pertama Hijriah. Ada pula yang menyebutkan pada tahun kedua setelah kepulangan Nabi dari perang Badar.

Pernikahannya dengan Rasulullah dan interaksinya yang intens dengan beliau, ditambah dengan kecerdasannya yang langka, kepintarannya yang luar biasa, pemikirannya yang tajam, serta keinginannya yang kuat untuk mengetahui hukum-hukum agama, telah mempersiapkan beliau untuk menyerap banyak hadis dan ilmu-ilmu Al-Qur'an hingga beliau memiliki andil yang besar dalam setiap bidang ilmu dan menjadi rujukan hukum ketika terjadi perselisihan. Maka tidak mengherankan jika para sahabat senior menimba ilmu darinya; bahkan Umar bin al-Khattab meriwayatkan hadis darinya meskipun Umar sangat sering mendampingi Rasulullah . Tambahan lagi, beliau tetap hidup selama tiga puluh sembilan tahun setelah wafatnya Nabi , di mana orang-orang menimba ilmu dari lautannya yang luas dan ilmunya yang melimpah.

Maka tidak dapat dipungkiri bahwa Aisyah terhitung sebagai salah satu orang yang paling banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah . Diriwayatkan darinya sebanyak 2.210 (dua ribu dua ratus sepuluh) hadis. Al-Bukhari dan Muslim bersepakat atas seratus tujuh puluh empat hadis. Al-Bukhari meriwayatkan secara sendirian sebanyak lima puluh empat hadis, dan Muslim sebanyak enam puluh delapan hadis.

Masruq berkata: "Aku melihat para tokoh senior dari sahabat Rasulullah bertanya kepadanya tentang ilmu faraid (waris)."

Beliau radhiyallahu 'anha wafat pada tahun 57 Hijriah.


Abdullah bin Abbas

Beliau adalah Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib, sepupu Rasulullah dan putra dari saudara perempuan istri beliau, Maimunah binti al-Harits al-Hilaliyah, Ummul Mukminin. Beliau lahir tiga tahun sebelum Hijrah menurut pendapat yang paling kuat, dan Rasulullah wafat saat beliau berusia tiga belas tahun menurut salah satu pendapat.

Disebutkan dalam kitab Shahih bahwa Nabi mendekapnya ke dada beliau seraya berdoa: "Ya Allah, ajarkanlah kepadanya hikmah."

Ibnu Abbas, dikarenakan kedekatan kekerabatannya dengan Nabi serta usianya yang masih muda, memiliki interaksi yang sangat banyak yang memungkinkannya untuk memperbanyak riwayat dari beliau. Ditambah lagi dengan kecenderungan alaminya untuk memperoleh hadis dan kegemarannya yang besar terhadapnya, hal ini menarik perhatian Nabi kepada beliau sehingga beliau merasa senang dan mendoakannya. Semua faktor ini telah menunjukkan pengaruhnya pada kepribadian sahabat yang mulia ini, hingga beliau menjadi Tarjuman al-Qur'an (Penafsir Al-Qur'an), Habr al-Ummah (Ulamanya Umat), dan terhitung sebagai salah satu orang yang paling banyak meriwayatkan hadis.

Ibnu Abbas hidup selama lima puluh delapan tahun setelah wafatnya Nabi , yang mana hal itu mempersiapkan baginya sebab-sebab untuk mengambil dan menerima ilmu dari para sahabat senior maupun junior. Al-Darimi meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Abdullah bin Abbas bahwa ia berkata:

"Ketika Rasulullah wafat, aku berkata kepada seorang pria dari kalangan Anshar: 'Kemarilah, mari kita bertanya kepada para sahabat Nabi , karena hari ini jumlah mereka masih banyak.' Pria itu menjawab: 'Sungguh mengherankan engkau ini, apakah engkau mengira orang-orang akan butuh kepadamu?' Ibnu Abbas berkata: 'Maka aku tinggalkan orang itu dan aku mulai bertanya. Jika sampai kepadaku sebuah hadis dari seseorang, maka aku mendatangi pintunya saat ia sedang tidur siang, lalu aku berbantalkan selendangku di depan pintunya sementara angin meniupkan debu ke arahku. Hingga pria itu keluar dan melihatku, lalu ia berkata: Wahai sepupu Rasulullah , apa yang membawamu kemari? Mengapa engkau tidak mengirim utusan kepadaku sehingga aku yang mendatangimu? Maka aku menjawab: Tidak, aku lebih berhak mendatangimu untuk bertanya kepadamu tentang hadis.' Kemudian pria Anshar itu hidup sampai ia melihatku ketika orang-orang telah berkumpul di sekelilingku untuk bertanya kepadaku. Maka ia berkata: 'Pemuda ini dahulu lebih berakal (cerdas) daripadaku'."

Dari atsar ini, engkau dapat menyimpulkan kadar kecerdasannya, antusiasmenya dalam mengumpulkan hadis, serta dedikasinya di bidang tersebut. Diambil pula darinya sejauh mana tingkat keimaman Ibnu Abbas dalam hadis dan upayanya dalam menyebarkannya hingga orang-orang berkumpul kepadanya dan mendengarkan hadisnya. Bahkan Umar bin al-Khattab, dengan keahlian, kecerdasan, dan ijtihadnya demi Allah dan kaum Muslimin, jika dihadapkan pada suatu masalah yang pelik, beliau akan berkata kepada Ibnu Abbas: "Sesungguhnya telah datang kepada kami masalah hukum yang sulit, maka engkaulah orangnya untuk masalah ini dan yang semisalnya," dan Umar pun mengambil pendapatnya.

Ibnu Abbas melampaui orang lain dalam ilmu, fikih, hadis, takwil, hitung-hitungan (hisab), faraid (waris), dan bahasa Arab. Hingga disebutkan bahwa beliau pernah duduk dalam suatu hari hanya membahas fikih, hari lain membahas takwil, hari lain membahas peperangan (maghazi), dan hari lain membahas sejarah bangsa Arab (ayyam al-Arab). Para ulama berkata: "Tidaklah seorang alim duduk bersamanya melainkan ia akan tunduk kepadanya, dan tidaklah seseorang bertanya kepadanya melainkan ia akan mendapatkan ilmu di sisinya." Sampai-sampai Thawus berkata ketika dikatakan kepadanya: "Mengapa engkau terus mendampingi pemuda ini dan meninggalkan para sahabat senior Rasulullah ?" Ia menjawab: "Sesungguhnya aku telah melihat tujuh puluh orang dari sahabat Rasulullah , jika mereka berselisih pendapat dalam suatu urusan, maka akhirnya mereka merujuk pada pendapat Ibnu Abbas."

Singkat kata, Ibnu Abbas adalah umat tersendiri dalam ilmu dan hadis. Diriwayatkan darinya sebanyak 1.660 (seribu enam ratus enam puluh) hadis. Al-Bukhari dan Muslim bersepakat meriwayatkan 95 hadis. Al-Bukhari meriwayatkan secara sendirian sebanyak 120 hadis, dan Muslim sebanyak 49 hadis.

Ali radhiyallahu 'anhu mengangkatnya menjadi gubernur di Bashrah, maka ia menetap di sana sebagai amir. Kemudian ia meninggalkannya sebelum terbunuhnya Ali dan kembali ke Hijaz. Ia menghabiskan hari-hari terakhirnya mengajar orang-orang di Mekkah dan wafat di Thaif pada tahun 68 Hijriah. Semoga Allah meridhainya.


Abdullah bin Umar bin al-Khattab

Abdullah masuk Islam sejak masa awal saat masih kecil, dan berhijrah bersama ayahnya, ada pula yang menyebutkan sebelum ayahnya. Beliau ikut serta dalam Perang Khandaq dan peperangan setelahnya bersama Rasulullah . Setelah wafatnya Rasulullah, beliau ikut serta dalam Perang Yarmuk serta penaklukan Mesir dan Afrika. Beliau sangat teguh dalam mengikuti jejak Rasulullah .

Beliau meriwayatkan dari Nabi , dari ayahnya (Umar), pamannya (Zaid), saudara perempuannya (Hafshah Ummul Mukminin), Abu Bakar, Usman, Ali, Bilal, Zaid bin Tsabit, Suhaib, Ibnu Mas'ud, Aisyah, Rafi' bin Khadij, dan selain mereka.

Banyak orang meriwayatkan darinya; dari kalangan Sahabat di antaranya Ibnu Abbas, Jabir, al-Agharr al-Muzani, dan lainnya. Dari kalangan Tabi'in di antaranya empat putranya: Bilal, Hamzah, Salim, dan Abdullah; juga maula (mantan budak) beliau Nafi', serta Aslam (maula Umar), Zaid dan Khalid putra dari Aslam, Urwah bin az-Zubair, dan selain mereka.

Al-Zubair bin Bakkar berkata: "Ibnu Umar benar-benar menghafal apa yang ia dengar dari Rasulullah dan bertanya kepada orang yang hadir—jika ia sedang absen—tentang sabda dan perbuatan beliau." Al-Baihaqi meriwayatkan dalam al-Madkhal dari al-Zuhri bahwa ia berkata: "Janganlah engkau membandingkan sesuatu dengan pendapat Ibnu Umar, karena sesungguhnya ia menetap selama enam puluh tahun setelah Rasulullah wafat, sehingga tidak ada sedikit pun urusan Rasulullah maupun urusan para sahabat beliau yang luput darinya."

Dari Malik disebutkan bahwa ia berkata: "Ibnu Umar menetap selama enam puluh tahun setelah wafatnya Rasulullah , di mana delegasi orang-orang berdatangan kepadanya (untuk menuntut ilmu)."

Ayahnya (Umar) menjauhkannya dari khilafah dan menjadikan suaranya dalam anggota Syura hanya sebagai penasihat saja. Oleh karena itu, Ibnu Umar bersikap netral dan tidak terlibat dalam fitnah maupun peperangan yang terjadi di antara para sahabat, melainkan beliau memfokuskan diri pada ilmu dan ibadah.

Abdullah (Ibnu Umar) terhitung sebagai salah satu orang yang paling banyak meriwayatkan hadis, dan hal itu didukung oleh beberapa perkara:

  1. Keislamannya yang sudah sejak awal, usianya yang panjang, ketekunannya menghadiri majelis Nabi , besarnya upaya beliau mengikuti atsar (jejak) Nabi, serta pertanyaannya jika beliau absen tentang sabda dan perbuatan Nabi; hal ini menunjukkan kegemarannya pada ilmu dan pencarian hadis.
  2. Hubungannya dengan Nabi melalui jalur pernikahan, di mana saudara perempuannya, Hafshah, adalah istri Nabi , sehingga memudahkan beliau untuk berinteraksi dengan Nabi di sebagian besar waktu.
  3. Kezuhudannya terhadap dunia dan jabatan, serta upayanya menjauhi peperangan yang berkecamuk di antara sahabat, yang membantunya untuk meluangkan waktu bagi hadis baik dalam hal penerimaan (tahammul) maupun penyampaian (ada').

Karena itu semua, Abdullah bin Umar termasuk dalam jajaran al-muksirin (perawi produktif). Diriwayatkan darinya sebanyak 1.630 (seribu enam ratus tiga puluh) hadis. Al-Bukhari dan Muslim bersepakat atas 170 hadis. Al-Bukhari meriwayatkan secara sendirian sebanyak 81 hadis, dan Muslim sebanyak 31 hadis. Selebihnya diriwayatkan oleh imam lainnya.

Beliau radhiyallahu 'anhu wafat pada tahun 73 H, tiga bulan setelah terbunuhnya Abdullah bin az-Zubair, dalam usia delapan puluh tujuh tahun menurut pendapat yang kuat.


Abdullah bin Amru bin al-Ash

Beliau adalah Abu Muhammad Abdullah bin Amru bin al-Ash al-Qurasyi al-Sahmi. Beliau masuk Islam sebelum ayahnya. Beliau adalah orang yang bersungguh-sungguh dalam ibadah, banyak membaca Al-Qur'an, sebagaimana beliau juga merupakan orang yang paling banyak mengambil hadis dan ilmu dari Rasulullah .

Al-Bukhari meriwayatkan dalam Kitab al-Ilmi bahwa Abu Hurairah berkata:

"Tidak ada seorang pun yang lebih banyak hadisnya dari Rasulullah dariku, kecuali apa yang ada pada Abdullah bin Amru, karena sesungguhnya ia menulis sedangkan aku tidak menulis."

Disebutkan tentangnya bahwa ia dahulu menulis segala sesuatu yang ia dengar dari Nabi , lalu para Sahabat melarangnya melakukan hal itu dan berkata kepadanya: "Sesungguhnya Nabi berbicara dalam keadaan marah dan ridha, maka janganlah engkau menulis segala yang engkau dengar." Maka ia bertanya kepada Nabi tentang hal itu, lalu beliau bersabda kepadanya: "Tulislah! Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah keluar dari keduanya kecuali kebenaran" [maksudnya dari kedua bibir beliau yang mulia].

Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa ia berkata kepada Urwah bin az-Zubair: "Wahai putra saudaraku, telah sampai kabar kepadaku bahwa Abdullah bin Amru melewati kita menuju haji, maka temuilah ia dan bertanyalah kepadanya, karena ia telah membawa banyak ilmu dari Nabi ."

Ibnu Sa'ad meriwayatkan dari Mujahid bahwa ia berkata: "Aku melihat sebuah catatan (shuhuf) di sisi Abdullah bin Amru bin al-Ash, lalu aku bertanya mengenainya, maka ia menjawab: Ini adalah al-Shadiqah, di dalamnya terdapat apa yang aku dengar dari Rasulullah , tidak ada antara aku dan beliau di dalamnya seorang perantara pun."

Ibnu Sa'ad juga meriwayatkan dari Abdullah bin Amru bahwa ia berkata: "Aku meminta izin kepada Nabi untuk menulis apa yang aku dengar dari beliau, maka beliau mengizinkanku, lalu aku pun menulisnya." Maka Abdullah menamai catatannya itu dengan sebutan al-Shadiqah.

Dari sini engkau dapat melihat bahwa Abdullah bin Amru telah memiliki faktor-faktor untuk menerima (tahammul) dan memperbanyak hadis yang tidak dimiliki oleh orang lain. Beliau telah masuk Islam lebih awal, menghafal hadis dengan dadanya, menjaganya dengan hatinya, dan membukukannya dengan penanya dalam lembaran-lembaran (shuhuf), hingga dinukil darinya bahwa ia berkata: "Aku telah menghafal dari Nabi seribu perumpamaan."

Mengapa Riwayatnya Lebih Sedikit dari Riwayat Abu Hurairah?

Mungkin akan ditanyakan: "Abu Hurairah tidak menulis hadis seperti Abdullah bin Amru, namun meskipun demikian, riwayat darinya berlipat-lipat lebih banyak daripada riwayat Abdullah, bagaimana hal ini sejalan dengan apa yang diriwayatkan al-Bukhari dari Abu Hurairah?"

Jawabannya adalah bahwa sebab banyaknya riwayat dari Abu Hurairah dan sedikitnya riwayat dari Abdullah bin Amru—padahal Abdullah menerima lebih banyak darinya—adalah karena beberapa perkara, di antaranya:

  • Pertama: Bahwa Abdullah lebih sibuk dengan ibadah daripada kesibukan mengajar, sehingga riwayat darinya menjadi sedikit, berbeda dengan Abu Hurairah yang memfokuskan diri untuk menyampaikan hadis (tahdits).
  • Kedua: Bahwa Abdullah lebih banyak menetap setelah masa penaklukan di Mesir atau di Thaif, dan perjalanan para penuntut hadis ke kedua tempat tersebut tidaklah seperti perjalanan menuju Madinah. Sedangkan Abu Hurairah menetap di Madinah, memfokuskan diri untuk memberi fatwa dan menyampaikan hadis hingga wafat. Hal ini tampak pada banyaknya orang yang mengambil hadis dari Abu Hurairah, di mana jumlah mereka mencapai delapan ratus orang dari kalangan Tabi'in, dan hal ini tidak terjadi pada sahabat lainnya sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
  • Ketiga: Keistimewaan Abu Hurairah berupa doa Nabi agar ia tidak lupa apa yang disampaikan kepada beliau, sebagaimana telah disebutkan dalam biografinya.
  • Keempat: Bahwa Abdullah bin Amru pernah mendapatkan buku-buku dari Ahli Kitab di Syam, lalu beliau melihatnya, menghafal sebagian kalimat darinya, dan menceritakannya. Oleh karena itu, banyak dari para imam Tabi'in yang menghindari pengambilan riwayat darinya (agar tidak bercampur dengan riwayat Israiliyat).

Karena sebab-sebab inilah, kita mendapati bahwa apa yang diriwayatkan darinya berupa hadis tidak sebanding dengan melimpahnya ilmu beliau serta banyaknya apa yang beliau hafal dan tulis dari Rasulullah . Maka tidak sampai kepada kita darinya kecuali tujuh ratus hadis. Al-Bukhari dan Muslim bersepakat atas tujuh belas hadis. Al-Bukhari meriwayatkan secara sendirian sebanyak delapan hadis, dan Muslim sebanyak dua puluh hadis.

Telah meriwayatkan dari Abdullah bin Amru banyak orang dari kalangan Tabi'in, di antaranya Said bin al-Musayyib, Urwah, Abu Salamah dan Humaid (keduanya putra Abdurrahman), Masruq, dan selain mereka. Beliau wafat di Mesir menurut salah satu pendapat pada tahun 63 H dalam usia tujuh puluh dua tahun. Beliau hidup selama lima puluh tiga tahun setelah wafatnya Rasulullah .


Abdullah bin Mas'ud

Beliau adalah Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas'ud. Nasabnya bersambung kepada Hudzail bin Mudrikah bin Ilyas. Nama ibunya adalah Ummu 'Abd binti 'Abduwad bin Sawa' bin Hudzail juga; sang ibu masuk Islam dan berhijrah.

Abdullah masuk Islam sejak awal, yaitu saat Said bin Zaid masuk Islam, jauh sebelum Umar bin al-Khattab masuk Islam. Diriwayatkan darinya bahwa ia berkata: "Sungguh aku melihat diriku sebagai orang keenam dari enam orang, tidak ada seorang Muslim pun di muka bumi selain kami." Beliau berhijrah ke Habasyah (Etiopia) kemudian ke Madinah. Beliau ikut serta bersama Rasulullah dalam perang Badar, Uhud, Khandaq, Bai'at al-Ridwan, dan seluruh peperangan lainnya. Beliaulah yang menghabisi Abu Jahal pada hari perang Badar, sebagaimana beliau juga menyaksikan perang Yarmuk.

Beliau adalah pemegang sandal Rasulullah ; beliau yang memakaikannya jika Nabi berdiri, dan jika Nabi melepasnya lalu duduk, Ibnu Mas'ud menyimpannya di lengannya. Beliau sangat sering masuk menemui Rasulullah dan melayani beliau. Dalam Shahihain disebutkan bahwa Abu Musa al-Asy'ari berkata: "Aku dan saudaraku datang dari Yaman, kami menetap beberapa waktu dan kami tidak melihat Ibnu Mas'ud dan ibunya melainkan sebagai bagian dari keluarga Rasulullah karena seringnya ia dan ibunya masuk menemui Rasulullah dan kedekatannya dengan beliau."

Karena keislamannya yang sejak awal, kedekatannya dengan Nabi , serta antusiasmenya dalam mengambil ilmu dari beliau, ia terhitung sebagai salah satu Sahabat senior yang mulia, ahli fikih mereka, dan orang yang paling dikedepankan dalam Al-Qur'an, hadis, serta fatwa. Hingga Rasulullah bersaksi atas kejeniusannya dalam Al-Qur'an dan ilmunya, beliau bersabda dalam riwayat Bukhari-Muslim: "Ambillah Al-Qur'an dari empat orang: dari Abdullah (bin Mas'ud), Salim maula Abi Hudzaifah, Mu'adz (bin Jabal), dan Ubay bin Ka'ab." Beliau radhiyallahu 'anhu sendiri berkata menceritakan nikmat ilmu: "Demi Dzat yang tidak ada Tuhan selain-Nya, tidaklah ada satu surah pun dari Kitab Allah melainkan aku tahu di mana ia diturunkan, dan tidaklah ada satu ayat pun melainkan aku tahu mengenai apa ia diturunkan. Seandainya aku tahu ada seseorang yang lebih tahu tentang Kitab Allah dariku yang dapat dijangkau oleh unta, niscaya aku akan berkendara menemuinya."

Para sahabat senior juga mengakui kedudukannya dalam ilmu dan kedalamannya di bidang tersebut. Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu menulis surat kepada penduduk Kufah: "Aku telah mengutus kepada kalian Ammar sebagai pemimpin (amir), dan Abdullah bin Mas'ud sebagai pengajar dan menteri. Keduanya termasuk orang-orang pilihan dari sahabat Rasulullah dan termasuk ahli Badar. Maka teladanilah mereka berdua. Sesungguhnya aku telah lebih mengutamakan kalian dengan (mengirim) Abdullah daripada diriku sendiri." Cukuplah persaksian ini dari orang seperti Umar bin al-Khattab, terutama ucapannya: "Aku telah mengutamakan kalian dengan Abdullah daripada diriku sendiri." Umar adalah Umar yang Allah jadikan kebenaran pada lisan dan hatinya. Dan Abu al-Darda' berkata saat Ibnu Mas'ud wafat: "Ia tidak meninggalkan orang yang setara dengannya."

Banyak orang meriwayatkan hadis dari Ibnu Mas'ud. Dari kalangan Sahabat di antaranya Abu Musa al-Asy'ari, Imran bin Hushain, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Jabir, Anas, Ibnu az-Zubair, Abu Said al-Khudri, Abu Hurairah, Abu Rafi', dan tokoh-tokoh lainnya. Dari kalangan Tabi'in di antaranya Alqamah, Abu Wail, al-Aswad, Masruq, Ubaidah, Qais bin Abi Hazim, dan tokoh-tokoh Tabi'in senior lainnya.


Riwayat-riwayatnya (Ibnu Mas'ud):

Diriwayatkan bagi Ibnu Mas'ud dari Nabi sebanyak 848 (delapan ratus empat puluh delapan) hadis. Imam Bukhari dan Muslim bersepakat (muttafaqun 'alaih) atas 64 hadis. Imam Bukhari meriwayatkan secara sendirian sebanyak 21 hadis, sedangkan Imam Muslim sebanyak 35 hadis.

Tadinya kita berharap bahwa hadis yang sampai kepada kita dari Ibnu Mas'ud berjumlah berlipat-lipat dari apa yang telah sampai, mengingat keislamannya yang sangat awal dan kedekatannya yang luar biasa dengan Rasulullah . Hal tersebut memungkinkannya untuk menyerap banyak ilmu dari beliau, karena ia menyaksikan seluruh era kenabian disertai kedekatan dengan Nabi , antusiasme yang tinggi terhadap hadis, kekuatan hafalan, kezuhudan terhadap dunia, serta kefokusan dalam menuntut ilmu. Akan tetapi, usia beliau tidak panjang setelah wafatnya Rasulullah , sehingga waktu bagi beliau untuk menyampaikan ilmu (zaman al-ada') tidaklah seluas bagi Abu Hurairah dan sahabat lainnya yang telah kami sebutkan. Ibnu Mas'ud wafat di Kufah (ada yang menyebut di Madinah) pada tahun 32 H dalam usia enam puluh sekian tahun.

 

No comments:

Post a Comment

Al Ikhtilaf Wa Adabuhu